Haruskah Suami Terbuka Soal Gaji? Ini Jawaban Syariat dan Solusi Rumah Tangga

Apakah keterbukaan soal gaji itu wajib dalam rumah tangga? Atau justru bisa memicu konflik jika tidak disikapi dengan bijak? Tulisan ini akan mengupas tuntas antara tuntunan syariat dan realita psikologi keluarga, sehingga Anda bisa mengambil sikap yang paling tepat dan menenangkan hati.  Daftar Isi tutup 1. Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah Tangga 2. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan Syariat 3. Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga 3.1. 1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tangga 3.2. 2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluarga 3.3. 3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaran 3.4. 4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaan 3.5. 5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomi 4. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan 4.1. 1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angka 4.2. 2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginan 4.3. 3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpin 4.4. 4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikan 5. Nasihat Penutup 6. Pemesanan Buku  Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah TanggaKeterbukaan dan kejujuran membangun kepercayaan yang kokoh antara suami istri. Ini membantu mencegah kesalahpahaman dan mengurangi konflik dalam rumah tangga. Dengan demikian, keduanya sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas hubungan keluarga. Ketika suami istri terbuka dan jujur satu sama lain, konflik dapat diselesaikan engan cara yang lebih baik, sehingga mencapai perdamaian. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128). Ayat ini menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian melalui komunikasi yang jujur dan terbuka dalam rumah tangga.Dalam ajaran Islam, kejujuran adalah nilai yang sangat ditekankan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kalian ke surga. Jika seseorang terus-menerus berlaku jujur dan berupaya untuk selalu jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, waspadalah terhadap kebohongan, karena kebohongan akan menuntun pada kejahatan, dan kejahatan akan membawa kalian ke neraka. Jika seseorang terbiasa berbohong dan terus-menerus berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)Keterbukaan dalam rumah tangga sangat penting, baik dalam hal penghasilan maupun dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran secara jujur. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu atau membuat salah satu pasangan merasa tidak nyaman, penting untuk membicarakannya dengan penuh kasih dan tanpa menyalahkan. Dengan berbagi perasaan ini, pasangan dapat memahami satu sama lain lebih baik, mencegah kesalahpahaman, dan memperkuat ikatan emosional.Kisah Hindun binti ‘Utbah yang mengadu kepada Nabi ﷺ menunjukkan bahwa dalam rumah tangga para sahabat, istri idealnya mengetahui apakah nafkah yang diberikan suami sudah sesuai dengan kemampuan (gaji/penghasilan) suami atau belum.Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,جَاءَتْ هِنْدٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ، فَقَالَ: خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ.“Hindun datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang pelit. Ia tidak memberikan nafkah yang mencukupi untukku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dari hartanya sekadar yang mencukupi untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 3825 dan Muslim, no. 1714)Pelajaran: Agar istri tidak terjerumus mengambil harta suami secara diam-diam (yang berisiko menimbulkan konflik), maka keterbukaan suami mengenai kemampuan finansialnya menjadi sangat penting agar “kecukupan” tersebut bisa diukur bersama secara transparan. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan SyariatDalam tinjauan syariat, memang tidak ada dalil spesifik yang mewajibkan suami untuk menyebutkan angka nominal gajinya secara mendetail kepada istri. Kewajiban utama suami adalah menunaikan nafkah yang makruf (layak) sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلِيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7). Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tanggaDi zaman sekarang, godaan dan distraksi sangat banyak—mulai dari gaya hidup konsumtif, media sosial, hingga akses yang luas terhadap berbagai hal. Ketika suami tidak terbuka, terkadang istri bisa terjebak dalam prasangka: “Apakah ada pengeluaran yang disembunyikan?” atau “Apakah ada prioritas lain yang tidak saya ketahui?” Keterbukaan menjadi cara sederhana untuk menutup pintu setan sebelum prasangka berkembang menjadi konflik besar.2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluargaRumah tangga bukan perjalanan sendiri, tetapi kerja tim. Ketika kondisi finansial diketahui bersama, suami dan istri bisa saling mendukung: menentukan mana kebutuhan, mana keinginan, serta bagaimana mengatur pengeluaran bulanan. Ini sangat penting di masa sekarang, ketika kebutuhan hidup semakin kompleks dan biaya semakin tinggi.3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaranTidak semua permintaan bisa langsung dipenuhi, dan tidak semua keinginan harus dituruti. Ketika istri mengetahui kondisi finansial secara umum, ia akan lebih mudah memahami mengapa ada hal yang harus ditunda. Ini akan mengurangi tuntutan yang berlebihan dan menggantinya dengan sikap pengertian serta empati terhadap beban suami.4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaanKepercayaan dalam rumah tangga tidak muncul tiba-tiba, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil, termasuk kejujuran dalam hal finansial. Ketika suami terbuka, istri merasa dihargai sebagai partner hidup, bukan sekadar “penerima nafkah”. Dari sini lahir rasa aman, tenang, dan keyakinan bahwa rumah tangga dijalankan dengan penuh tanggung jawab.5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomiKondisi ekonomi bisa berubah kapan saja—usaha menurun, pekerjaan berubah, atau kebutuhan mendadak meningkat. Jika sejak awal sudah ada keterbukaan, istri akan lebih siap secara mental untuk bersabar dan beradaptasi. Ia tidak kaget dengan perubahan keadaan, bahkan bisa menjadi penopang utama dengan sikap qana’ah dan dukungan moral kepada suami.Penegasan:Keterbukaan bukan sekadar menyebut angka gaji, tetapi tentang membangun rasa aman, saling percaya, dan kerja sama dalam mengelola kehidupan. Di sinilah letak keberkahan rumah tangga—bukan pada besarnya harta, tetapi pada jujur dan lapangnya hati. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angkaDalam syariat, yang menjadi tolok ukur utama bukanlah seberapa terbuka suami tentang nominal gaji, tetapi apakah ia telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Jika kebutuhan pokok keluarga terpenuhi—makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan—maka pada dasarnya suami sudah menjalankan amanahnya. Di zaman sekarang, fokus pada “angka” terkadang justru membuat seseorang lupa melihat realita bahwa kebutuhan sebenarnya sudah tercukupi.2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginanTidak semua hal harus dipaksakan untuk diketahui. Dalam praktik rumah tangga, ada kalanya sebuah pertanyaan justru memicu ketegangan jika tidak disikapi dengan bijak. Jika pembahasan tentang gaji berpotensi menimbulkan konflik atau membuat suasana menjadi tidak nyaman, maka memilih untuk menjaga keharmonisan adalah sikap yang lebih utama. Karena rumah tangga yang tenang lebih berharga daripada sekadar rasa ingin tahu yang terpenuhi.3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpinSuami adalah qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga, yang diberi amanah untuk mengelola dan menafkahi keluarga. Ketika istri memberikan kepercayaan penuh, hal ini justru bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar pada diri suami. Di sisi lain, sikap tidak terus-menerus mempertanyakan atau “menginterogasi” dapat menjaga wibawa suami dan memperkuat hubungan emosional di antara keduanya.4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikanDi tengah budaya konsumtif saat ini, sikap qana’ah menjadi sesuatu yang sangat mahal. Istri yang mampu merasa cukup dan tidak membandingkan kehidupannya dengan orang lain akan lebih mudah merasakan ketenangan. Ia tidak menjadikan keterbukaan gaji sebagai standar kebahagiaan, tetapi menjadikan keberkahan dan kecukupan sebagai ukuran utama.Dalam kondisi ini, mengalah bisa menjadi bentuk kedewasaan dan kunci menjaga keutuhan rumah tangga.Dalam Islam, sikap menahan diri dari perdebatan dan memilih jalan damai bukanlah sikap lemah, justru merupakan akhlak mulia yang dijanjikan balasan besar oleh Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan jaminan khusus bagi orang yang mampu menahan diri dalam konflik.Dari Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجنةِ لِمَنْ تَرَكَ المرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبِبَيْتٍ فِي وَسطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا ، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُه.“Aku menjamin rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan meskipun hanya dalam bercanda. Aku menjamin rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak mulia.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Sikap mengalah juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para istri. Dalam situasi di mana konflik dalam rumah tangga berlangsung lama, istri dianjurkan untuk mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الجَنَّةِ؟ قُلْنَا بَلى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ وَدُوْدٌ وَلُوْدٌ غَضِبَتْ أَوْ أَسِيَ إِلَيْها أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا قَالَتْ هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian yang berada di surga?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Istri yang berada di surga adalah wanita yang penyayang, subur (memiliki banyak anak). Ketika ia marah, kecewa, atau ketika suaminya marah, ia berkata, ‘Inilah tanganku, aku letakkan di tanganmu, dan aku tidak akan memejamkan mata sampai engkau ridha kepadaku.’” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 5:361; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 14:19 dan dalam Al-Awsath, 6:301, 2:242; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4:303. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata bahwa sanad perawinya terpercaya, perawinya muslim, hadits ini memiliki penguat yang menguatkan. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 287, 3380)Penegasan:Dalam kondisi seperti ini, mengalah bukan berarti kalah, tetapi bentuk kedewasaan dan akhlak mulia yang dijanjikan balasan surga. Dengan sikap lapang dada dan meninggalkan perdebatan, banyak konflik bisa dicegah sejak awal. Rumah tangga tidak harus dipenuhi dengan tuntutan mengetahui segala hal secara detail, tetapi cukup dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan keinginan menjaga rida pasangan. Inilah jalan menuju keharmonisan sekaligus sebab meraih rida Allah Ta’ala dalam kehidupan rumah tangga. Nasihat PenutupRumah tangga tidak dibangun di atas rasa curiga, tetapi di atas kepercayaan. Keterbukaan memang indah, namun tidak semua hal harus dipaksakan hingga merusak suasana. Jika pasangan sudah menjalankan kewajiban, maka belajar ridha adalah kunci ketenangan. Ingat, tujuan rumah tangga bukan sekadar tahu segalanya, tetapi mencapai sakinah.اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif baina qulūbinā wa aṣliḥ dzāta baininā wahdinā subulas salām“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” Pemesanan BukuBahasan ini adalah bagian dari bahasan buku kami CINTA, JANJI, DAN UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Silakan dipesan di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701.—– Malam Rabu, 13 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak dan kewajiban suami keluarga sakinah keuangan keluarga komunikasi suami istri konflik rumah tangga nafkah suami psikologi keluarga qanaah rumah tangga islami transparansi gaji

Haruskah Suami Terbuka Soal Gaji? Ini Jawaban Syariat dan Solusi Rumah Tangga

Apakah keterbukaan soal gaji itu wajib dalam rumah tangga? Atau justru bisa memicu konflik jika tidak disikapi dengan bijak? Tulisan ini akan mengupas tuntas antara tuntunan syariat dan realita psikologi keluarga, sehingga Anda bisa mengambil sikap yang paling tepat dan menenangkan hati.  Daftar Isi tutup 1. Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah Tangga 2. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan Syariat 3. Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga 3.1. 1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tangga 3.2. 2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluarga 3.3. 3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaran 3.4. 4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaan 3.5. 5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomi 4. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan 4.1. 1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angka 4.2. 2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginan 4.3. 3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpin 4.4. 4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikan 5. Nasihat Penutup 6. Pemesanan Buku  Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah TanggaKeterbukaan dan kejujuran membangun kepercayaan yang kokoh antara suami istri. Ini membantu mencegah kesalahpahaman dan mengurangi konflik dalam rumah tangga. Dengan demikian, keduanya sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas hubungan keluarga. Ketika suami istri terbuka dan jujur satu sama lain, konflik dapat diselesaikan engan cara yang lebih baik, sehingga mencapai perdamaian. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128). Ayat ini menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian melalui komunikasi yang jujur dan terbuka dalam rumah tangga.Dalam ajaran Islam, kejujuran adalah nilai yang sangat ditekankan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kalian ke surga. Jika seseorang terus-menerus berlaku jujur dan berupaya untuk selalu jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, waspadalah terhadap kebohongan, karena kebohongan akan menuntun pada kejahatan, dan kejahatan akan membawa kalian ke neraka. Jika seseorang terbiasa berbohong dan terus-menerus berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)Keterbukaan dalam rumah tangga sangat penting, baik dalam hal penghasilan maupun dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran secara jujur. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu atau membuat salah satu pasangan merasa tidak nyaman, penting untuk membicarakannya dengan penuh kasih dan tanpa menyalahkan. Dengan berbagi perasaan ini, pasangan dapat memahami satu sama lain lebih baik, mencegah kesalahpahaman, dan memperkuat ikatan emosional.Kisah Hindun binti ‘Utbah yang mengadu kepada Nabi ﷺ menunjukkan bahwa dalam rumah tangga para sahabat, istri idealnya mengetahui apakah nafkah yang diberikan suami sudah sesuai dengan kemampuan (gaji/penghasilan) suami atau belum.Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,جَاءَتْ هِنْدٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ، فَقَالَ: خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ.“Hindun datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang pelit. Ia tidak memberikan nafkah yang mencukupi untukku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dari hartanya sekadar yang mencukupi untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 3825 dan Muslim, no. 1714)Pelajaran: Agar istri tidak terjerumus mengambil harta suami secara diam-diam (yang berisiko menimbulkan konflik), maka keterbukaan suami mengenai kemampuan finansialnya menjadi sangat penting agar “kecukupan” tersebut bisa diukur bersama secara transparan. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan SyariatDalam tinjauan syariat, memang tidak ada dalil spesifik yang mewajibkan suami untuk menyebutkan angka nominal gajinya secara mendetail kepada istri. Kewajiban utama suami adalah menunaikan nafkah yang makruf (layak) sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلِيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7). Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tanggaDi zaman sekarang, godaan dan distraksi sangat banyak—mulai dari gaya hidup konsumtif, media sosial, hingga akses yang luas terhadap berbagai hal. Ketika suami tidak terbuka, terkadang istri bisa terjebak dalam prasangka: “Apakah ada pengeluaran yang disembunyikan?” atau “Apakah ada prioritas lain yang tidak saya ketahui?” Keterbukaan menjadi cara sederhana untuk menutup pintu setan sebelum prasangka berkembang menjadi konflik besar.2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluargaRumah tangga bukan perjalanan sendiri, tetapi kerja tim. Ketika kondisi finansial diketahui bersama, suami dan istri bisa saling mendukung: menentukan mana kebutuhan, mana keinginan, serta bagaimana mengatur pengeluaran bulanan. Ini sangat penting di masa sekarang, ketika kebutuhan hidup semakin kompleks dan biaya semakin tinggi.3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaranTidak semua permintaan bisa langsung dipenuhi, dan tidak semua keinginan harus dituruti. Ketika istri mengetahui kondisi finansial secara umum, ia akan lebih mudah memahami mengapa ada hal yang harus ditunda. Ini akan mengurangi tuntutan yang berlebihan dan menggantinya dengan sikap pengertian serta empati terhadap beban suami.4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaanKepercayaan dalam rumah tangga tidak muncul tiba-tiba, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil, termasuk kejujuran dalam hal finansial. Ketika suami terbuka, istri merasa dihargai sebagai partner hidup, bukan sekadar “penerima nafkah”. Dari sini lahir rasa aman, tenang, dan keyakinan bahwa rumah tangga dijalankan dengan penuh tanggung jawab.5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomiKondisi ekonomi bisa berubah kapan saja—usaha menurun, pekerjaan berubah, atau kebutuhan mendadak meningkat. Jika sejak awal sudah ada keterbukaan, istri akan lebih siap secara mental untuk bersabar dan beradaptasi. Ia tidak kaget dengan perubahan keadaan, bahkan bisa menjadi penopang utama dengan sikap qana’ah dan dukungan moral kepada suami.Penegasan:Keterbukaan bukan sekadar menyebut angka gaji, tetapi tentang membangun rasa aman, saling percaya, dan kerja sama dalam mengelola kehidupan. Di sinilah letak keberkahan rumah tangga—bukan pada besarnya harta, tetapi pada jujur dan lapangnya hati. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angkaDalam syariat, yang menjadi tolok ukur utama bukanlah seberapa terbuka suami tentang nominal gaji, tetapi apakah ia telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Jika kebutuhan pokok keluarga terpenuhi—makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan—maka pada dasarnya suami sudah menjalankan amanahnya. Di zaman sekarang, fokus pada “angka” terkadang justru membuat seseorang lupa melihat realita bahwa kebutuhan sebenarnya sudah tercukupi.2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginanTidak semua hal harus dipaksakan untuk diketahui. Dalam praktik rumah tangga, ada kalanya sebuah pertanyaan justru memicu ketegangan jika tidak disikapi dengan bijak. Jika pembahasan tentang gaji berpotensi menimbulkan konflik atau membuat suasana menjadi tidak nyaman, maka memilih untuk menjaga keharmonisan adalah sikap yang lebih utama. Karena rumah tangga yang tenang lebih berharga daripada sekadar rasa ingin tahu yang terpenuhi.3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpinSuami adalah qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga, yang diberi amanah untuk mengelola dan menafkahi keluarga. Ketika istri memberikan kepercayaan penuh, hal ini justru bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar pada diri suami. Di sisi lain, sikap tidak terus-menerus mempertanyakan atau “menginterogasi” dapat menjaga wibawa suami dan memperkuat hubungan emosional di antara keduanya.4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikanDi tengah budaya konsumtif saat ini, sikap qana’ah menjadi sesuatu yang sangat mahal. Istri yang mampu merasa cukup dan tidak membandingkan kehidupannya dengan orang lain akan lebih mudah merasakan ketenangan. Ia tidak menjadikan keterbukaan gaji sebagai standar kebahagiaan, tetapi menjadikan keberkahan dan kecukupan sebagai ukuran utama.Dalam kondisi ini, mengalah bisa menjadi bentuk kedewasaan dan kunci menjaga keutuhan rumah tangga.Dalam Islam, sikap menahan diri dari perdebatan dan memilih jalan damai bukanlah sikap lemah, justru merupakan akhlak mulia yang dijanjikan balasan besar oleh Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan jaminan khusus bagi orang yang mampu menahan diri dalam konflik.Dari Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجنةِ لِمَنْ تَرَكَ المرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبِبَيْتٍ فِي وَسطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا ، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُه.“Aku menjamin rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan meskipun hanya dalam bercanda. Aku menjamin rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak mulia.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Sikap mengalah juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para istri. Dalam situasi di mana konflik dalam rumah tangga berlangsung lama, istri dianjurkan untuk mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الجَنَّةِ؟ قُلْنَا بَلى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ وَدُوْدٌ وَلُوْدٌ غَضِبَتْ أَوْ أَسِيَ إِلَيْها أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا قَالَتْ هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian yang berada di surga?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Istri yang berada di surga adalah wanita yang penyayang, subur (memiliki banyak anak). Ketika ia marah, kecewa, atau ketika suaminya marah, ia berkata, ‘Inilah tanganku, aku letakkan di tanganmu, dan aku tidak akan memejamkan mata sampai engkau ridha kepadaku.’” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 5:361; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 14:19 dan dalam Al-Awsath, 6:301, 2:242; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4:303. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata bahwa sanad perawinya terpercaya, perawinya muslim, hadits ini memiliki penguat yang menguatkan. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 287, 3380)Penegasan:Dalam kondisi seperti ini, mengalah bukan berarti kalah, tetapi bentuk kedewasaan dan akhlak mulia yang dijanjikan balasan surga. Dengan sikap lapang dada dan meninggalkan perdebatan, banyak konflik bisa dicegah sejak awal. Rumah tangga tidak harus dipenuhi dengan tuntutan mengetahui segala hal secara detail, tetapi cukup dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan keinginan menjaga rida pasangan. Inilah jalan menuju keharmonisan sekaligus sebab meraih rida Allah Ta’ala dalam kehidupan rumah tangga. Nasihat PenutupRumah tangga tidak dibangun di atas rasa curiga, tetapi di atas kepercayaan. Keterbukaan memang indah, namun tidak semua hal harus dipaksakan hingga merusak suasana. Jika pasangan sudah menjalankan kewajiban, maka belajar ridha adalah kunci ketenangan. Ingat, tujuan rumah tangga bukan sekadar tahu segalanya, tetapi mencapai sakinah.اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif baina qulūbinā wa aṣliḥ dzāta baininā wahdinā subulas salām“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” Pemesanan BukuBahasan ini adalah bagian dari bahasan buku kami CINTA, JANJI, DAN UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Silakan dipesan di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701.—– Malam Rabu, 13 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak dan kewajiban suami keluarga sakinah keuangan keluarga komunikasi suami istri konflik rumah tangga nafkah suami psikologi keluarga qanaah rumah tangga islami transparansi gaji
Apakah keterbukaan soal gaji itu wajib dalam rumah tangga? Atau justru bisa memicu konflik jika tidak disikapi dengan bijak? Tulisan ini akan mengupas tuntas antara tuntunan syariat dan realita psikologi keluarga, sehingga Anda bisa mengambil sikap yang paling tepat dan menenangkan hati.  Daftar Isi tutup 1. Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah Tangga 2. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan Syariat 3. Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga 3.1. 1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tangga 3.2. 2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluarga 3.3. 3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaran 3.4. 4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaan 3.5. 5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomi 4. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan 4.1. 1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angka 4.2. 2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginan 4.3. 3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpin 4.4. 4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikan 5. Nasihat Penutup 6. Pemesanan Buku  Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah TanggaKeterbukaan dan kejujuran membangun kepercayaan yang kokoh antara suami istri. Ini membantu mencegah kesalahpahaman dan mengurangi konflik dalam rumah tangga. Dengan demikian, keduanya sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas hubungan keluarga. Ketika suami istri terbuka dan jujur satu sama lain, konflik dapat diselesaikan engan cara yang lebih baik, sehingga mencapai perdamaian. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128). Ayat ini menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian melalui komunikasi yang jujur dan terbuka dalam rumah tangga.Dalam ajaran Islam, kejujuran adalah nilai yang sangat ditekankan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kalian ke surga. Jika seseorang terus-menerus berlaku jujur dan berupaya untuk selalu jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, waspadalah terhadap kebohongan, karena kebohongan akan menuntun pada kejahatan, dan kejahatan akan membawa kalian ke neraka. Jika seseorang terbiasa berbohong dan terus-menerus berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)Keterbukaan dalam rumah tangga sangat penting, baik dalam hal penghasilan maupun dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran secara jujur. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu atau membuat salah satu pasangan merasa tidak nyaman, penting untuk membicarakannya dengan penuh kasih dan tanpa menyalahkan. Dengan berbagi perasaan ini, pasangan dapat memahami satu sama lain lebih baik, mencegah kesalahpahaman, dan memperkuat ikatan emosional.Kisah Hindun binti ‘Utbah yang mengadu kepada Nabi ﷺ menunjukkan bahwa dalam rumah tangga para sahabat, istri idealnya mengetahui apakah nafkah yang diberikan suami sudah sesuai dengan kemampuan (gaji/penghasilan) suami atau belum.Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,جَاءَتْ هِنْدٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ، فَقَالَ: خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ.“Hindun datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang pelit. Ia tidak memberikan nafkah yang mencukupi untukku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dari hartanya sekadar yang mencukupi untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 3825 dan Muslim, no. 1714)Pelajaran: Agar istri tidak terjerumus mengambil harta suami secara diam-diam (yang berisiko menimbulkan konflik), maka keterbukaan suami mengenai kemampuan finansialnya menjadi sangat penting agar “kecukupan” tersebut bisa diukur bersama secara transparan. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan SyariatDalam tinjauan syariat, memang tidak ada dalil spesifik yang mewajibkan suami untuk menyebutkan angka nominal gajinya secara mendetail kepada istri. Kewajiban utama suami adalah menunaikan nafkah yang makruf (layak) sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلِيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7). Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tanggaDi zaman sekarang, godaan dan distraksi sangat banyak—mulai dari gaya hidup konsumtif, media sosial, hingga akses yang luas terhadap berbagai hal. Ketika suami tidak terbuka, terkadang istri bisa terjebak dalam prasangka: “Apakah ada pengeluaran yang disembunyikan?” atau “Apakah ada prioritas lain yang tidak saya ketahui?” Keterbukaan menjadi cara sederhana untuk menutup pintu setan sebelum prasangka berkembang menjadi konflik besar.2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluargaRumah tangga bukan perjalanan sendiri, tetapi kerja tim. Ketika kondisi finansial diketahui bersama, suami dan istri bisa saling mendukung: menentukan mana kebutuhan, mana keinginan, serta bagaimana mengatur pengeluaran bulanan. Ini sangat penting di masa sekarang, ketika kebutuhan hidup semakin kompleks dan biaya semakin tinggi.3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaranTidak semua permintaan bisa langsung dipenuhi, dan tidak semua keinginan harus dituruti. Ketika istri mengetahui kondisi finansial secara umum, ia akan lebih mudah memahami mengapa ada hal yang harus ditunda. Ini akan mengurangi tuntutan yang berlebihan dan menggantinya dengan sikap pengertian serta empati terhadap beban suami.4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaanKepercayaan dalam rumah tangga tidak muncul tiba-tiba, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil, termasuk kejujuran dalam hal finansial. Ketika suami terbuka, istri merasa dihargai sebagai partner hidup, bukan sekadar “penerima nafkah”. Dari sini lahir rasa aman, tenang, dan keyakinan bahwa rumah tangga dijalankan dengan penuh tanggung jawab.5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomiKondisi ekonomi bisa berubah kapan saja—usaha menurun, pekerjaan berubah, atau kebutuhan mendadak meningkat. Jika sejak awal sudah ada keterbukaan, istri akan lebih siap secara mental untuk bersabar dan beradaptasi. Ia tidak kaget dengan perubahan keadaan, bahkan bisa menjadi penopang utama dengan sikap qana’ah dan dukungan moral kepada suami.Penegasan:Keterbukaan bukan sekadar menyebut angka gaji, tetapi tentang membangun rasa aman, saling percaya, dan kerja sama dalam mengelola kehidupan. Di sinilah letak keberkahan rumah tangga—bukan pada besarnya harta, tetapi pada jujur dan lapangnya hati. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angkaDalam syariat, yang menjadi tolok ukur utama bukanlah seberapa terbuka suami tentang nominal gaji, tetapi apakah ia telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Jika kebutuhan pokok keluarga terpenuhi—makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan—maka pada dasarnya suami sudah menjalankan amanahnya. Di zaman sekarang, fokus pada “angka” terkadang justru membuat seseorang lupa melihat realita bahwa kebutuhan sebenarnya sudah tercukupi.2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginanTidak semua hal harus dipaksakan untuk diketahui. Dalam praktik rumah tangga, ada kalanya sebuah pertanyaan justru memicu ketegangan jika tidak disikapi dengan bijak. Jika pembahasan tentang gaji berpotensi menimbulkan konflik atau membuat suasana menjadi tidak nyaman, maka memilih untuk menjaga keharmonisan adalah sikap yang lebih utama. Karena rumah tangga yang tenang lebih berharga daripada sekadar rasa ingin tahu yang terpenuhi.3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpinSuami adalah qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga, yang diberi amanah untuk mengelola dan menafkahi keluarga. Ketika istri memberikan kepercayaan penuh, hal ini justru bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar pada diri suami. Di sisi lain, sikap tidak terus-menerus mempertanyakan atau “menginterogasi” dapat menjaga wibawa suami dan memperkuat hubungan emosional di antara keduanya.4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikanDi tengah budaya konsumtif saat ini, sikap qana’ah menjadi sesuatu yang sangat mahal. Istri yang mampu merasa cukup dan tidak membandingkan kehidupannya dengan orang lain akan lebih mudah merasakan ketenangan. Ia tidak menjadikan keterbukaan gaji sebagai standar kebahagiaan, tetapi menjadikan keberkahan dan kecukupan sebagai ukuran utama.Dalam kondisi ini, mengalah bisa menjadi bentuk kedewasaan dan kunci menjaga keutuhan rumah tangga.Dalam Islam, sikap menahan diri dari perdebatan dan memilih jalan damai bukanlah sikap lemah, justru merupakan akhlak mulia yang dijanjikan balasan besar oleh Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan jaminan khusus bagi orang yang mampu menahan diri dalam konflik.Dari Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجنةِ لِمَنْ تَرَكَ المرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبِبَيْتٍ فِي وَسطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا ، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُه.“Aku menjamin rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan meskipun hanya dalam bercanda. Aku menjamin rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak mulia.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Sikap mengalah juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para istri. Dalam situasi di mana konflik dalam rumah tangga berlangsung lama, istri dianjurkan untuk mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الجَنَّةِ؟ قُلْنَا بَلى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ وَدُوْدٌ وَلُوْدٌ غَضِبَتْ أَوْ أَسِيَ إِلَيْها أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا قَالَتْ هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian yang berada di surga?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Istri yang berada di surga adalah wanita yang penyayang, subur (memiliki banyak anak). Ketika ia marah, kecewa, atau ketika suaminya marah, ia berkata, ‘Inilah tanganku, aku letakkan di tanganmu, dan aku tidak akan memejamkan mata sampai engkau ridha kepadaku.’” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 5:361; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 14:19 dan dalam Al-Awsath, 6:301, 2:242; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4:303. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata bahwa sanad perawinya terpercaya, perawinya muslim, hadits ini memiliki penguat yang menguatkan. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 287, 3380)Penegasan:Dalam kondisi seperti ini, mengalah bukan berarti kalah, tetapi bentuk kedewasaan dan akhlak mulia yang dijanjikan balasan surga. Dengan sikap lapang dada dan meninggalkan perdebatan, banyak konflik bisa dicegah sejak awal. Rumah tangga tidak harus dipenuhi dengan tuntutan mengetahui segala hal secara detail, tetapi cukup dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan keinginan menjaga rida pasangan. Inilah jalan menuju keharmonisan sekaligus sebab meraih rida Allah Ta’ala dalam kehidupan rumah tangga. Nasihat PenutupRumah tangga tidak dibangun di atas rasa curiga, tetapi di atas kepercayaan. Keterbukaan memang indah, namun tidak semua hal harus dipaksakan hingga merusak suasana. Jika pasangan sudah menjalankan kewajiban, maka belajar ridha adalah kunci ketenangan. Ingat, tujuan rumah tangga bukan sekadar tahu segalanya, tetapi mencapai sakinah.اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif baina qulūbinā wa aṣliḥ dzāta baininā wahdinā subulas salām“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” Pemesanan BukuBahasan ini adalah bagian dari bahasan buku kami CINTA, JANJI, DAN UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Silakan dipesan di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701.—– Malam Rabu, 13 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak dan kewajiban suami keluarga sakinah keuangan keluarga komunikasi suami istri konflik rumah tangga nafkah suami psikologi keluarga qanaah rumah tangga islami transparansi gaji


Apakah keterbukaan soal gaji itu wajib dalam rumah tangga? Atau justru bisa memicu konflik jika tidak disikapi dengan bijak? Tulisan ini akan mengupas tuntas antara tuntunan syariat dan realita psikologi keluarga, sehingga Anda bisa mengambil sikap yang paling tepat dan menenangkan hati.  Daftar Isi tutup 1. Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah Tangga 2. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan Syariat 3. Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga 3.1. 1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tangga 3.2. 2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluarga 3.3. 3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaran 3.4. 4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaan 3.5. 5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomi 4. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan 4.1. 1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angka 4.2. 2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginan 4.3. 3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpin 4.4. 4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikan 5. Nasihat Penutup 6. Pemesanan Buku  Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan dalam Rumah TanggaKeterbukaan dan kejujuran membangun kepercayaan yang kokoh antara suami istri. Ini membantu mencegah kesalahpahaman dan mengurangi konflik dalam rumah tangga. Dengan demikian, keduanya sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas hubungan keluarga. Ketika suami istri terbuka dan jujur satu sama lain, konflik dapat diselesaikan engan cara yang lebih baik, sehingga mencapai perdamaian. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisaa’: 128). Ayat ini menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian melalui komunikasi yang jujur dan terbuka dalam rumah tangga.Dalam ajaran Islam, kejujuran adalah nilai yang sangat ditekankan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kalian ke surga. Jika seseorang terus-menerus berlaku jujur dan berupaya untuk selalu jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, waspadalah terhadap kebohongan, karena kebohongan akan menuntun pada kejahatan, dan kejahatan akan membawa kalian ke neraka. Jika seseorang terbiasa berbohong dan terus-menerus berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no. 2607)Keterbukaan dalam rumah tangga sangat penting, baik dalam hal penghasilan maupun dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran secara jujur. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu atau membuat salah satu pasangan merasa tidak nyaman, penting untuk membicarakannya dengan penuh kasih dan tanpa menyalahkan. Dengan berbagi perasaan ini, pasangan dapat memahami satu sama lain lebih baik, mencegah kesalahpahaman, dan memperkuat ikatan emosional.Kisah Hindun binti ‘Utbah yang mengadu kepada Nabi ﷺ menunjukkan bahwa dalam rumah tangga para sahabat, istri idealnya mengetahui apakah nafkah yang diberikan suami sudah sesuai dengan kemampuan (gaji/penghasilan) suami atau belum.Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,جَاءَتْ هِنْدٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ، فَقَالَ: خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ.“Hindun datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang pelit. Ia tidak memberikan nafkah yang mencukupi untukku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.”Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dari hartanya sekadar yang mencukupi untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. Bukhari, no. 3825 dan Muslim, no. 1714)Pelajaran: Agar istri tidak terjerumus mengambil harta suami secara diam-diam (yang berisiko menimbulkan konflik), maka keterbukaan suami mengenai kemampuan finansialnya menjadi sangat penting agar “kecukupan” tersebut bisa diukur bersama secara transparan. Hukum Transparansi Gaji dalam Pandangan SyariatDalam tinjauan syariat, memang tidak ada dalil spesifik yang mewajibkan suami untuk menyebutkan angka nominal gajinya secara mendetail kepada istri. Kewajiban utama suami adalah menunaikan nafkah yang makruf (layak) sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلِيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7). Manfaat Keterbukaan Finansial dalam Keluarga1. Menghindari prasangka buruk (suuzan) dalam rumah tanggaDi zaman sekarang, godaan dan distraksi sangat banyak—mulai dari gaya hidup konsumtif, media sosial, hingga akses yang luas terhadap berbagai hal. Ketika suami tidak terbuka, terkadang istri bisa terjebak dalam prasangka: “Apakah ada pengeluaran yang disembunyikan?” atau “Apakah ada prioritas lain yang tidak saya ketahui?” Keterbukaan menjadi cara sederhana untuk menutup pintu setan sebelum prasangka berkembang menjadi konflik besar.2. Memudahkan kerja sama dalam mengatur keuangan keluargaRumah tangga bukan perjalanan sendiri, tetapi kerja tim. Ketika kondisi finansial diketahui bersama, suami dan istri bisa saling mendukung: menentukan mana kebutuhan, mana keinginan, serta bagaimana mengatur pengeluaran bulanan. Ini sangat penting di masa sekarang, ketika kebutuhan hidup semakin kompleks dan biaya semakin tinggi.3. Membantu istri memahami prioritas pengeluaranTidak semua permintaan bisa langsung dipenuhi, dan tidak semua keinginan harus dituruti. Ketika istri mengetahui kondisi finansial secara umum, ia akan lebih mudah memahami mengapa ada hal yang harus ditunda. Ini akan mengurangi tuntutan yang berlebihan dan menggantinya dengan sikap pengertian serta empati terhadap beban suami.4. Menumbuhkan ketenangan dan kepercayaanKepercayaan dalam rumah tangga tidak muncul tiba-tiba, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil, termasuk kejujuran dalam hal finansial. Ketika suami terbuka, istri merasa dihargai sebagai partner hidup, bukan sekadar “penerima nafkah”. Dari sini lahir rasa aman, tenang, dan keyakinan bahwa rumah tangga dijalankan dengan penuh tanggung jawab.5. Menjadi benteng saat menghadapi krisis ekonomiKondisi ekonomi bisa berubah kapan saja—usaha menurun, pekerjaan berubah, atau kebutuhan mendadak meningkat. Jika sejak awal sudah ada keterbukaan, istri akan lebih siap secara mental untuk bersabar dan beradaptasi. Ia tidak kaget dengan perubahan keadaan, bahkan bisa menjadi penopang utama dengan sikap qana’ah dan dukungan moral kepada suami.Penegasan:Keterbukaan bukan sekadar menyebut angka gaji, tetapi tentang membangun rasa aman, saling percaya, dan kerja sama dalam mengelola kehidupan. Di sinilah letak keberkahan rumah tangga—bukan pada besarnya harta, tetapi pada jujur dan lapangnya hati. Sikap Bijak Istri Jika Suami Tidak Transparan1. Menilai dari pemenuhan nafkah, bukan dari keterbukaan angkaDalam syariat, yang menjadi tolok ukur utama bukanlah seberapa terbuka suami tentang nominal gaji, tetapi apakah ia telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Jika kebutuhan pokok keluarga terpenuhi—makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan—maka pada dasarnya suami sudah menjalankan amanahnya. Di zaman sekarang, fokus pada “angka” terkadang justru membuat seseorang lupa melihat realita bahwa kebutuhan sebenarnya sudah tercukupi.2. Mengedepankan keharmonisan dibanding memaksakan keinginanTidak semua hal harus dipaksakan untuk diketahui. Dalam praktik rumah tangga, ada kalanya sebuah pertanyaan justru memicu ketegangan jika tidak disikapi dengan bijak. Jika pembahasan tentang gaji berpotensi menimbulkan konflik atau membuat suasana menjadi tidak nyaman, maka memilih untuk menjaga keharmonisan adalah sikap yang lebih utama. Karena rumah tangga yang tenang lebih berharga daripada sekadar rasa ingin tahu yang terpenuhi.3. Memberikan kepercayaan kepada suami sebagai pemimpinSuami adalah qawwam (pemimpin) dalam rumah tangga, yang diberi amanah untuk mengelola dan menafkahi keluarga. Ketika istri memberikan kepercayaan penuh, hal ini justru bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar pada diri suami. Di sisi lain, sikap tidak terus-menerus mempertanyakan atau “menginterogasi” dapat menjaga wibawa suami dan memperkuat hubungan emosional di antara keduanya.4. Bersikap qana’ah dan rida atas apa yang diberikanDi tengah budaya konsumtif saat ini, sikap qana’ah menjadi sesuatu yang sangat mahal. Istri yang mampu merasa cukup dan tidak membandingkan kehidupannya dengan orang lain akan lebih mudah merasakan ketenangan. Ia tidak menjadikan keterbukaan gaji sebagai standar kebahagiaan, tetapi menjadikan keberkahan dan kecukupan sebagai ukuran utama.Dalam kondisi ini, mengalah bisa menjadi bentuk kedewasaan dan kunci menjaga keutuhan rumah tangga.Dalam Islam, sikap menahan diri dari perdebatan dan memilih jalan damai bukanlah sikap lemah, justru merupakan akhlak mulia yang dijanjikan balasan besar oleh Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan jaminan khusus bagi orang yang mampu menahan diri dalam konflik.Dari Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الجنةِ لِمَنْ تَرَكَ المرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبِبَيْتٍ فِي وَسطِ الجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا ، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُه.“Aku menjamin rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meski ia berada di pihak yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan meskipun hanya dalam bercanda. Aku menjamin rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak mulia.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).Sikap mengalah juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para istri. Dalam situasi di mana konflik dalam rumah tangga berlangsung lama, istri dianjurkan untuk mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الجَنَّةِ؟ قُلْنَا بَلى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ وَدُوْدٌ وَلُوْدٌ غَضِبَتْ أَوْ أَسِيَ إِلَيْها أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا قَالَتْ هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang istri kalian yang berada di surga?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Istri yang berada di surga adalah wanita yang penyayang, subur (memiliki banyak anak). Ketika ia marah, kecewa, atau ketika suaminya marah, ia berkata, ‘Inilah tanganku, aku letakkan di tanganmu, dan aku tidak akan memejamkan mata sampai engkau ridha kepadaku.’” (HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 5:361; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 14:19 dan dalam Al-Awsath, 6:301, 2:242; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4:303. Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata bahwa sanad perawinya terpercaya, perawinya muslim, hadits ini memiliki penguat yang menguatkan. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 287, 3380)Penegasan:Dalam kondisi seperti ini, mengalah bukan berarti kalah, tetapi bentuk kedewasaan dan akhlak mulia yang dijanjikan balasan surga. Dengan sikap lapang dada dan meninggalkan perdebatan, banyak konflik bisa dicegah sejak awal. Rumah tangga tidak harus dipenuhi dengan tuntutan mengetahui segala hal secara detail, tetapi cukup dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan keinginan menjaga rida pasangan. Inilah jalan menuju keharmonisan sekaligus sebab meraih rida Allah Ta’ala dalam kehidupan rumah tangga. Nasihat PenutupRumah tangga tidak dibangun di atas rasa curiga, tetapi di atas kepercayaan. Keterbukaan memang indah, namun tidak semua hal harus dipaksakan hingga merusak suasana. Jika pasangan sudah menjalankan kewajiban, maka belajar ridha adalah kunci ketenangan. Ingat, tujuan rumah tangga bukan sekadar tahu segalanya, tetapi mencapai sakinah.اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif baina qulūbinā wa aṣliḥ dzāta baininā wahdinā subulas salām“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” Pemesanan BukuBahasan ini adalah bagian dari bahasan buku kami CINTA, JANJI, DAN UJIAN DALAM BERUMAH TANGGA yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Silakan dipesan di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701.—– Malam Rabu, 13 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshak dan kewajiban suami keluarga sakinah keuangan keluarga komunikasi suami istri konflik rumah tangga nafkah suami psikologi keluarga qanaah rumah tangga islami transparansi gaji

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan bangun malam untuk bermunajat kepada Allah. Namun, ada banyak pertanyaan penting yang patut direnungkan: Apakah ketaatan itu akan tetap terjaga setelah Ramadan berlalu? Apakah orang yang berpuasa akan tetap seperti dirinya di bulan Ramadan setelah Ramadan berlalu? Ataukah ia akan kembali bermaksiat kepada Allah setelah Ramadan?Orang yang selama Ramadan rajin salat malam, berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bangun malam untuk beribadah dan berdoa, apakah semua itu akan terus ia jaga setelah Ramadan? Ataukah justru ia kembali melakukan berbagai dosa, maksiat, dan hal-hal yang membuat Allah murka kepadanya?Jika seorang muslim tetap menjaga amal salehnya setelah Ramadan, itu adalah tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah. Namun, jika setelah Ramadan ia meninggalkan amal saleh dan kembali mengikuti jalan setan, maka itu adalah tanda kehinaan dan keterpurukan dirinya.Karena jika seorang hamba telah menjadi hina di sisi Allah, tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)Yang mengherankan adalah ketika kita melihat sebagian orang di bulan Ramadan begitu rajin berpuasa, salat tarawih, bangun malam untuk beribadah, bersedekah, banyak beristigfar, dan taat kepada Allah. Namun begitu Ramadan selesai, keadaannya berubah drastis. Hatinya seperti kembali rusak, ia mulai bermaksiat kepada Alla. Ia mulai meninggalkan salat, menjauhi kebaikan, dan justru terjerumus dalam berbagai bentuk maksiat. Ia pun melakukan bermacam-macam dosa dan pelanggaran, menjauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Seorang muslim seharusnya menjadikan bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru, bertobat, kembali kepada Allah, menjaga ketaatan, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya setiap saat.Oleh karena itu, setelah bulan Ramadan, kita seharusnya tetap istikamah dalam kebaikan, terus melakukan amal saleh, dan menjauhi segala bentuk maksiat, sebagai bentuk kesinambungan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan yang mendekatkan kita kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)Tujuan Allah menciptakan manusia sebenarnya sangat jelas, yakni agar mereka beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Inilah tujuan hidup yang paling agung, yaitu menjadi hamba Allah yang sejati dan senantiasa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Di bulan Ramadan ini, kita sering melihat fenomena indah dari ibadah itu sendiri. Masjid-masjid dipenuhi orang yang datang berbondong-bondong untuk beribadah kepada Allah. Orang-orang berusaha menjaga salat tepat waktu, gemar bersedekah, salat malam, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersemangat melakukan amal saleh. Namun yang paling penting adalah siapa yang tetap istikamah setelah Ramadan.Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal saleh Dia angkat. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, mereka akan mendapat azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir: 10)Karena itu, amal saleh adalah salah satu cara terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah kapan pun dan di mana pun. Kita juga harus ingat bahwa Rabb kita di bulan Ramadan adalah juga Rabb kita di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.Puasa Ramadan memang sudah selesai, tetapi ibadah-ibadah yang lain masih tetap ada, baik salat lima waktu, sedekah, maupun ibadah-ibadah lainnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Seorang mukmin yang bertakwa dan bersih hatinya seharusnya selalu takut kepada Allah, berusaha taat kepada-Nya, menjaga ketakwaan, serta terus berusaha melakukan kebaikan. Ia juga harus berusaha mendakwahkan kebenaran, mengajak orang lain kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.Karena kehidupan seorang mukmin itu seperti tempat menyimpan amal. Setiap orang harus memperhatikan apa yang ia isi di dalamnya. Jika yang ia isi adalah amal kebaikan, maka kebaikan itu kelak akan menjadi saksi baginya di hadapan Allah pada hari kiamat. Namun, jika yang ia isi adalah keburukan, maka hal itu justru akan menjadi bencana dan kerugian bagi dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari segala bentuk kerugian.Para ulama juga mengatakan bahwa salah satu tanda amal diterima oleh Allah adalah ketika setelah melakukan satu kebaikan, seseorang terdorong melakukan kebaikan berikutnya. Seakan-akan kebaikan itu mengajak untuk melakukan kebaikan yang lain. Sebaliknya, dosa juga seperti itu, satu dosa akan mengajak kepada dosa lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.Jika Allah menerima amal seseorang di bulan Ramadan dan ia benar-benar mengambil pelajaran darinya, lalu tetap istikamah dalam ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang-orang yang berjalan bersama orang-orang yang senantiasa istikamah di dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta’.” (QS. Fussilat: 30–31)Artinya, perjalanan istikamah itu tidak berhenti setelah usainya Ramadan. Ia terus berjalan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)Seorang mukmin seharusnya terus istikamah dalam ketaatan jika ia memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Allah yang telah memberi kita taufik untuk beribadah dengan mudah dan baik di bulan Ramadan adalah Allah yang sama yang akan menolong kita untuk tetap beribadah setelah Ramadan.Karena itu, jangan lupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita di bulan Ramadan berupa nikmat iktikaf, sedekah, puasa, doa, dan doa yang dikabulkan. Jagalah semua kebaikan itu dengan baik. Jangan sampai kebaikan tersebut terhapus oleh dosa dan perbuatan yang sia-sia. Teruslah menanam kebaikan kapan pun dan di mana pun. Tetaplah istikamah dalam ketaatan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan surga-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberi kita nikmat ibadah, salat, berpuasa, iktikaf, bersedekah, dan ibadah lainnya, agar Dia juga memberikan kepada kita hidayah, ketakwaan, serta menerima amal-amal kita di bulan Ramadan ini.Semoga Allah juga memberi kita kekuatan untuk terus melakukan amal saleh dan tetap istikamah dalam melakukannya di bulan Ramadan maupun setelahnya. Karena terus menjaga amal kebaikan adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan bangun malam untuk bermunajat kepada Allah. Namun, ada banyak pertanyaan penting yang patut direnungkan: Apakah ketaatan itu akan tetap terjaga setelah Ramadan berlalu? Apakah orang yang berpuasa akan tetap seperti dirinya di bulan Ramadan setelah Ramadan berlalu? Ataukah ia akan kembali bermaksiat kepada Allah setelah Ramadan?Orang yang selama Ramadan rajin salat malam, berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bangun malam untuk beribadah dan berdoa, apakah semua itu akan terus ia jaga setelah Ramadan? Ataukah justru ia kembali melakukan berbagai dosa, maksiat, dan hal-hal yang membuat Allah murka kepadanya?Jika seorang muslim tetap menjaga amal salehnya setelah Ramadan, itu adalah tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah. Namun, jika setelah Ramadan ia meninggalkan amal saleh dan kembali mengikuti jalan setan, maka itu adalah tanda kehinaan dan keterpurukan dirinya.Karena jika seorang hamba telah menjadi hina di sisi Allah, tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)Yang mengherankan adalah ketika kita melihat sebagian orang di bulan Ramadan begitu rajin berpuasa, salat tarawih, bangun malam untuk beribadah, bersedekah, banyak beristigfar, dan taat kepada Allah. Namun begitu Ramadan selesai, keadaannya berubah drastis. Hatinya seperti kembali rusak, ia mulai bermaksiat kepada Alla. Ia mulai meninggalkan salat, menjauhi kebaikan, dan justru terjerumus dalam berbagai bentuk maksiat. Ia pun melakukan bermacam-macam dosa dan pelanggaran, menjauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Seorang muslim seharusnya menjadikan bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru, bertobat, kembali kepada Allah, menjaga ketaatan, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya setiap saat.Oleh karena itu, setelah bulan Ramadan, kita seharusnya tetap istikamah dalam kebaikan, terus melakukan amal saleh, dan menjauhi segala bentuk maksiat, sebagai bentuk kesinambungan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan yang mendekatkan kita kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)Tujuan Allah menciptakan manusia sebenarnya sangat jelas, yakni agar mereka beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Inilah tujuan hidup yang paling agung, yaitu menjadi hamba Allah yang sejati dan senantiasa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Di bulan Ramadan ini, kita sering melihat fenomena indah dari ibadah itu sendiri. Masjid-masjid dipenuhi orang yang datang berbondong-bondong untuk beribadah kepada Allah. Orang-orang berusaha menjaga salat tepat waktu, gemar bersedekah, salat malam, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersemangat melakukan amal saleh. Namun yang paling penting adalah siapa yang tetap istikamah setelah Ramadan.Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal saleh Dia angkat. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, mereka akan mendapat azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir: 10)Karena itu, amal saleh adalah salah satu cara terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah kapan pun dan di mana pun. Kita juga harus ingat bahwa Rabb kita di bulan Ramadan adalah juga Rabb kita di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.Puasa Ramadan memang sudah selesai, tetapi ibadah-ibadah yang lain masih tetap ada, baik salat lima waktu, sedekah, maupun ibadah-ibadah lainnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Seorang mukmin yang bertakwa dan bersih hatinya seharusnya selalu takut kepada Allah, berusaha taat kepada-Nya, menjaga ketakwaan, serta terus berusaha melakukan kebaikan. Ia juga harus berusaha mendakwahkan kebenaran, mengajak orang lain kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.Karena kehidupan seorang mukmin itu seperti tempat menyimpan amal. Setiap orang harus memperhatikan apa yang ia isi di dalamnya. Jika yang ia isi adalah amal kebaikan, maka kebaikan itu kelak akan menjadi saksi baginya di hadapan Allah pada hari kiamat. Namun, jika yang ia isi adalah keburukan, maka hal itu justru akan menjadi bencana dan kerugian bagi dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari segala bentuk kerugian.Para ulama juga mengatakan bahwa salah satu tanda amal diterima oleh Allah adalah ketika setelah melakukan satu kebaikan, seseorang terdorong melakukan kebaikan berikutnya. Seakan-akan kebaikan itu mengajak untuk melakukan kebaikan yang lain. Sebaliknya, dosa juga seperti itu, satu dosa akan mengajak kepada dosa lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.Jika Allah menerima amal seseorang di bulan Ramadan dan ia benar-benar mengambil pelajaran darinya, lalu tetap istikamah dalam ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang-orang yang berjalan bersama orang-orang yang senantiasa istikamah di dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta’.” (QS. Fussilat: 30–31)Artinya, perjalanan istikamah itu tidak berhenti setelah usainya Ramadan. Ia terus berjalan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)Seorang mukmin seharusnya terus istikamah dalam ketaatan jika ia memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Allah yang telah memberi kita taufik untuk beribadah dengan mudah dan baik di bulan Ramadan adalah Allah yang sama yang akan menolong kita untuk tetap beribadah setelah Ramadan.Karena itu, jangan lupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita di bulan Ramadan berupa nikmat iktikaf, sedekah, puasa, doa, dan doa yang dikabulkan. Jagalah semua kebaikan itu dengan baik. Jangan sampai kebaikan tersebut terhapus oleh dosa dan perbuatan yang sia-sia. Teruslah menanam kebaikan kapan pun dan di mana pun. Tetaplah istikamah dalam ketaatan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan surga-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberi kita nikmat ibadah, salat, berpuasa, iktikaf, bersedekah, dan ibadah lainnya, agar Dia juga memberikan kepada kita hidayah, ketakwaan, serta menerima amal-amal kita di bulan Ramadan ini.Semoga Allah juga memberi kita kekuatan untuk terus melakukan amal saleh dan tetap istikamah dalam melakukannya di bulan Ramadan maupun setelahnya. Karena terus menjaga amal kebaikan adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id
Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan bangun malam untuk bermunajat kepada Allah. Namun, ada banyak pertanyaan penting yang patut direnungkan: Apakah ketaatan itu akan tetap terjaga setelah Ramadan berlalu? Apakah orang yang berpuasa akan tetap seperti dirinya di bulan Ramadan setelah Ramadan berlalu? Ataukah ia akan kembali bermaksiat kepada Allah setelah Ramadan?Orang yang selama Ramadan rajin salat malam, berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bangun malam untuk beribadah dan berdoa, apakah semua itu akan terus ia jaga setelah Ramadan? Ataukah justru ia kembali melakukan berbagai dosa, maksiat, dan hal-hal yang membuat Allah murka kepadanya?Jika seorang muslim tetap menjaga amal salehnya setelah Ramadan, itu adalah tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah. Namun, jika setelah Ramadan ia meninggalkan amal saleh dan kembali mengikuti jalan setan, maka itu adalah tanda kehinaan dan keterpurukan dirinya.Karena jika seorang hamba telah menjadi hina di sisi Allah, tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)Yang mengherankan adalah ketika kita melihat sebagian orang di bulan Ramadan begitu rajin berpuasa, salat tarawih, bangun malam untuk beribadah, bersedekah, banyak beristigfar, dan taat kepada Allah. Namun begitu Ramadan selesai, keadaannya berubah drastis. Hatinya seperti kembali rusak, ia mulai bermaksiat kepada Alla. Ia mulai meninggalkan salat, menjauhi kebaikan, dan justru terjerumus dalam berbagai bentuk maksiat. Ia pun melakukan bermacam-macam dosa dan pelanggaran, menjauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Seorang muslim seharusnya menjadikan bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru, bertobat, kembali kepada Allah, menjaga ketaatan, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya setiap saat.Oleh karena itu, setelah bulan Ramadan, kita seharusnya tetap istikamah dalam kebaikan, terus melakukan amal saleh, dan menjauhi segala bentuk maksiat, sebagai bentuk kesinambungan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan yang mendekatkan kita kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)Tujuan Allah menciptakan manusia sebenarnya sangat jelas, yakni agar mereka beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Inilah tujuan hidup yang paling agung, yaitu menjadi hamba Allah yang sejati dan senantiasa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Di bulan Ramadan ini, kita sering melihat fenomena indah dari ibadah itu sendiri. Masjid-masjid dipenuhi orang yang datang berbondong-bondong untuk beribadah kepada Allah. Orang-orang berusaha menjaga salat tepat waktu, gemar bersedekah, salat malam, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersemangat melakukan amal saleh. Namun yang paling penting adalah siapa yang tetap istikamah setelah Ramadan.Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal saleh Dia angkat. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, mereka akan mendapat azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir: 10)Karena itu, amal saleh adalah salah satu cara terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah kapan pun dan di mana pun. Kita juga harus ingat bahwa Rabb kita di bulan Ramadan adalah juga Rabb kita di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.Puasa Ramadan memang sudah selesai, tetapi ibadah-ibadah yang lain masih tetap ada, baik salat lima waktu, sedekah, maupun ibadah-ibadah lainnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Seorang mukmin yang bertakwa dan bersih hatinya seharusnya selalu takut kepada Allah, berusaha taat kepada-Nya, menjaga ketakwaan, serta terus berusaha melakukan kebaikan. Ia juga harus berusaha mendakwahkan kebenaran, mengajak orang lain kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.Karena kehidupan seorang mukmin itu seperti tempat menyimpan amal. Setiap orang harus memperhatikan apa yang ia isi di dalamnya. Jika yang ia isi adalah amal kebaikan, maka kebaikan itu kelak akan menjadi saksi baginya di hadapan Allah pada hari kiamat. Namun, jika yang ia isi adalah keburukan, maka hal itu justru akan menjadi bencana dan kerugian bagi dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari segala bentuk kerugian.Para ulama juga mengatakan bahwa salah satu tanda amal diterima oleh Allah adalah ketika setelah melakukan satu kebaikan, seseorang terdorong melakukan kebaikan berikutnya. Seakan-akan kebaikan itu mengajak untuk melakukan kebaikan yang lain. Sebaliknya, dosa juga seperti itu, satu dosa akan mengajak kepada dosa lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.Jika Allah menerima amal seseorang di bulan Ramadan dan ia benar-benar mengambil pelajaran darinya, lalu tetap istikamah dalam ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang-orang yang berjalan bersama orang-orang yang senantiasa istikamah di dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta’.” (QS. Fussilat: 30–31)Artinya, perjalanan istikamah itu tidak berhenti setelah usainya Ramadan. Ia terus berjalan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)Seorang mukmin seharusnya terus istikamah dalam ketaatan jika ia memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Allah yang telah memberi kita taufik untuk beribadah dengan mudah dan baik di bulan Ramadan adalah Allah yang sama yang akan menolong kita untuk tetap beribadah setelah Ramadan.Karena itu, jangan lupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita di bulan Ramadan berupa nikmat iktikaf, sedekah, puasa, doa, dan doa yang dikabulkan. Jagalah semua kebaikan itu dengan baik. Jangan sampai kebaikan tersebut terhapus oleh dosa dan perbuatan yang sia-sia. Teruslah menanam kebaikan kapan pun dan di mana pun. Tetaplah istikamah dalam ketaatan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan surga-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberi kita nikmat ibadah, salat, berpuasa, iktikaf, bersedekah, dan ibadah lainnya, agar Dia juga memberikan kepada kita hidayah, ketakwaan, serta menerima amal-amal kita di bulan Ramadan ini.Semoga Allah juga memberi kita kekuatan untuk terus melakukan amal saleh dan tetap istikamah dalam melakukannya di bulan Ramadan maupun setelahnya. Karena terus menjaga amal kebaikan adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id


Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan bangun malam untuk bermunajat kepada Allah. Namun, ada banyak pertanyaan penting yang patut direnungkan: Apakah ketaatan itu akan tetap terjaga setelah Ramadan berlalu? Apakah orang yang berpuasa akan tetap seperti dirinya di bulan Ramadan setelah Ramadan berlalu? Ataukah ia akan kembali bermaksiat kepada Allah setelah Ramadan?Orang yang selama Ramadan rajin salat malam, berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bangun malam untuk beribadah dan berdoa, apakah semua itu akan terus ia jaga setelah Ramadan? Ataukah justru ia kembali melakukan berbagai dosa, maksiat, dan hal-hal yang membuat Allah murka kepadanya?Jika seorang muslim tetap menjaga amal salehnya setelah Ramadan, itu adalah tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah. Namun, jika setelah Ramadan ia meninggalkan amal saleh dan kembali mengikuti jalan setan, maka itu adalah tanda kehinaan dan keterpurukan dirinya.Karena jika seorang hamba telah menjadi hina di sisi Allah, tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)Yang mengherankan adalah ketika kita melihat sebagian orang di bulan Ramadan begitu rajin berpuasa, salat tarawih, bangun malam untuk beribadah, bersedekah, banyak beristigfar, dan taat kepada Allah. Namun begitu Ramadan selesai, keadaannya berubah drastis. Hatinya seperti kembali rusak, ia mulai bermaksiat kepada Alla. Ia mulai meninggalkan salat, menjauhi kebaikan, dan justru terjerumus dalam berbagai bentuk maksiat. Ia pun melakukan bermacam-macam dosa dan pelanggaran, menjauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Seorang muslim seharusnya menjadikan bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru, bertobat, kembali kepada Allah, menjaga ketaatan, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya setiap saat.Oleh karena itu, setelah bulan Ramadan, kita seharusnya tetap istikamah dalam kebaikan, terus melakukan amal saleh, dan menjauhi segala bentuk maksiat, sebagai bentuk kesinambungan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan yang mendekatkan kita kepada Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)Tujuan Allah menciptakan manusia sebenarnya sangat jelas, yakni agar mereka beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Inilah tujuan hidup yang paling agung, yaitu menjadi hamba Allah yang sejati dan senantiasa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Di bulan Ramadan ini, kita sering melihat fenomena indah dari ibadah itu sendiri. Masjid-masjid dipenuhi orang yang datang berbondong-bondong untuk beribadah kepada Allah. Orang-orang berusaha menjaga salat tepat waktu, gemar bersedekah, salat malam, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersemangat melakukan amal saleh. Namun yang paling penting adalah siapa yang tetap istikamah setelah Ramadan.Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal saleh Dia angkat. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, mereka akan mendapat azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir: 10)Karena itu, amal saleh adalah salah satu cara terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah kapan pun dan di mana pun. Kita juga harus ingat bahwa Rabb kita di bulan Ramadan adalah juga Rabb kita di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.Puasa Ramadan memang sudah selesai, tetapi ibadah-ibadah yang lain masih tetap ada, baik salat lima waktu, sedekah, maupun ibadah-ibadah lainnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.Seorang mukmin yang bertakwa dan bersih hatinya seharusnya selalu takut kepada Allah, berusaha taat kepada-Nya, menjaga ketakwaan, serta terus berusaha melakukan kebaikan. Ia juga harus berusaha mendakwahkan kebenaran, mengajak orang lain kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.Karena kehidupan seorang mukmin itu seperti tempat menyimpan amal. Setiap orang harus memperhatikan apa yang ia isi di dalamnya. Jika yang ia isi adalah amal kebaikan, maka kebaikan itu kelak akan menjadi saksi baginya di hadapan Allah pada hari kiamat. Namun, jika yang ia isi adalah keburukan, maka hal itu justru akan menjadi bencana dan kerugian bagi dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari segala bentuk kerugian.Para ulama juga mengatakan bahwa salah satu tanda amal diterima oleh Allah adalah ketika setelah melakukan satu kebaikan, seseorang terdorong melakukan kebaikan berikutnya. Seakan-akan kebaikan itu mengajak untuk melakukan kebaikan yang lain. Sebaliknya, dosa juga seperti itu, satu dosa akan mengajak kepada dosa lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.Jika Allah menerima amal seseorang di bulan Ramadan dan ia benar-benar mengambil pelajaran darinya, lalu tetap istikamah dalam ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang-orang yang berjalan bersama orang-orang yang senantiasa istikamah di dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta’.” (QS. Fussilat: 30–31)Artinya, perjalanan istikamah itu tidak berhenti setelah usainya Ramadan. Ia terus berjalan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)Seorang mukmin seharusnya terus istikamah dalam ketaatan jika ia memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Allah yang telah memberi kita taufik untuk beribadah dengan mudah dan baik di bulan Ramadan adalah Allah yang sama yang akan menolong kita untuk tetap beribadah setelah Ramadan.Karena itu, jangan lupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita di bulan Ramadan berupa nikmat iktikaf, sedekah, puasa, doa, dan doa yang dikabulkan. Jagalah semua kebaikan itu dengan baik. Jangan sampai kebaikan tersebut terhapus oleh dosa dan perbuatan yang sia-sia. Teruslah menanam kebaikan kapan pun dan di mana pun. Tetaplah istikamah dalam ketaatan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan surga-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberi kita nikmat ibadah, salat, berpuasa, iktikaf, bersedekah, dan ibadah lainnya, agar Dia juga memberikan kepada kita hidayah, ketakwaan, serta menerima amal-amal kita di bulan Ramadan ini.Semoga Allah juga memberi kita kekuatan untuk terus melakukan amal saleh dan tetap istikamah dalam melakukannya di bulan Ramadan maupun setelahnya. Karena terus menjaga amal kebaikan adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id

Pantas Saja Pikiranmu Melayang Saat Shalat, Ternyata Ini Cara Setan Menggodamu

Iblis tidak akan membiarkanmu! Selagi kamu masih hidup, dia tidak akan membiarkanmu! Sebagaimana kata Ibnul Qayyim: “Iblis itu mengendus isi hati seorang hamba. Iblis akan masuk melalui celah mana pun yang ia sanggup masuki.” Orang-orang berdiri di barisan shalat yang sama, tapi mayoritas mereka tidak benar-benar menghadirkan hatinya. Anehnya, pikiran mereka tidak melayang pada hal yang sama. Orang yang suka ilmu, Iblis akan menggodanya dengan urusan ilmu. Saat ia memulai shalat: “Allahu Akbar!” Iblis segera membisikkan sebuah masalah ilmiah. “Masalah ini ada perselisihan pendapat, jawabannya begini dan begitu…” Sampai ketika ia salam dari shalatnya, masalah ilmiah itu mendadak hilang dari pikirannya. Bagi penyuka sepak bola, Iblis datang membawa urusan bola. Bagi yang hobi memasak, Iblis datang membawa urusan memasak. Masing-masing digoda sesuai minatnya, hingga ia dapat mengalihkan hatinya dari shalatnya. Maka dari itu, hal ini perlu perjuangan yang besar. Setiap kali Iblis mulai mencuri perhatian hati seseorang, ia harus segera memaksanya kembali fokus. Sembari memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ketahuilah, kekhusyukan dalam shalat tidak akan mudah bagi Anda, hingga Anda bersungguh-sungguh dan bersabar dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya Anda meraih khusyuk, yang merupakan nikmat dunia yang terbesar. Sebuah kelezatan yang tiada tandingannya. ===== إِبْلِيسُ لَنْ يَتْرُكَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا لَنْ يَتْرُكَكَ وَكَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ يَشَامُ قَلْبَ الْعَبْدِ وَيَأْتِيهِ مِنْ حَيْثُ يَسْتَطِيعُ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي صَفٍّ وَاحِدٍ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يُحْضِرُونَ قُلُوبَهُمْ لَكِنْ لَيْسَ فِي شَيْءٍ وَاحِدٍ الَّذِي يُحِبُّ الْعِلْمَ يُجِيبُ لَهُ إِبْلِيسُ الْعِلْمَ إِذَا قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ جَابَ لَهُ إِبْلِيسُ مَسْأَلَةً وَعَلَيْهَا إِشْكَالٌ وَهَذَا يُحَلُّ بِكَذَا وَهَذَا كَذَا حَتَّى إِذَا سَلَّمَ رَاحَتِ الْمَسْأَلَةُ وَالَّذِي يُحِبُّ الْكُرَةَ يَأْتِيهِ بِالْكُرَةِ وَالَّذِي يُحِبُّ الطَّبْخَ يَأْتِيهِ بِالطَّبْخِ وَكُلٌّ يَأْتِيهِ بِمَا يَرَى حَتَّى يَصْرِفَ قَلْبَهُ عَنْ صَلَاتِهِ فَالْأَمْرُ يَحْتَاجُ إِلَى جِهَادٍ أَوَّلُ مَا يَأْخُذُ إِبْلِيسُ الْقَلْبَ يُعِيدُهُ الْإِنْسَانُ وَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَاعْلَمْ أَنَّ أَمْرَ الصَّلَاةِ لَنْ يَسْتَقِيمَ لَكَ حَتَّى تُجَاهِدَ وَتَصْبِرَ صَبْرًا طَوِيلًا فَتَصِلُ إِلَى الْخُشُوعِ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ نِعَمِ الدُّنْيَا لَذَّةٌ مَا بَعْدَهَا لَذَّةٌ

Pantas Saja Pikiranmu Melayang Saat Shalat, Ternyata Ini Cara Setan Menggodamu

Iblis tidak akan membiarkanmu! Selagi kamu masih hidup, dia tidak akan membiarkanmu! Sebagaimana kata Ibnul Qayyim: “Iblis itu mengendus isi hati seorang hamba. Iblis akan masuk melalui celah mana pun yang ia sanggup masuki.” Orang-orang berdiri di barisan shalat yang sama, tapi mayoritas mereka tidak benar-benar menghadirkan hatinya. Anehnya, pikiran mereka tidak melayang pada hal yang sama. Orang yang suka ilmu, Iblis akan menggodanya dengan urusan ilmu. Saat ia memulai shalat: “Allahu Akbar!” Iblis segera membisikkan sebuah masalah ilmiah. “Masalah ini ada perselisihan pendapat, jawabannya begini dan begitu…” Sampai ketika ia salam dari shalatnya, masalah ilmiah itu mendadak hilang dari pikirannya. Bagi penyuka sepak bola, Iblis datang membawa urusan bola. Bagi yang hobi memasak, Iblis datang membawa urusan memasak. Masing-masing digoda sesuai minatnya, hingga ia dapat mengalihkan hatinya dari shalatnya. Maka dari itu, hal ini perlu perjuangan yang besar. Setiap kali Iblis mulai mencuri perhatian hati seseorang, ia harus segera memaksanya kembali fokus. Sembari memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ketahuilah, kekhusyukan dalam shalat tidak akan mudah bagi Anda, hingga Anda bersungguh-sungguh dan bersabar dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya Anda meraih khusyuk, yang merupakan nikmat dunia yang terbesar. Sebuah kelezatan yang tiada tandingannya. ===== إِبْلِيسُ لَنْ يَتْرُكَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا لَنْ يَتْرُكَكَ وَكَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ يَشَامُ قَلْبَ الْعَبْدِ وَيَأْتِيهِ مِنْ حَيْثُ يَسْتَطِيعُ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي صَفٍّ وَاحِدٍ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يُحْضِرُونَ قُلُوبَهُمْ لَكِنْ لَيْسَ فِي شَيْءٍ وَاحِدٍ الَّذِي يُحِبُّ الْعِلْمَ يُجِيبُ لَهُ إِبْلِيسُ الْعِلْمَ إِذَا قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ جَابَ لَهُ إِبْلِيسُ مَسْأَلَةً وَعَلَيْهَا إِشْكَالٌ وَهَذَا يُحَلُّ بِكَذَا وَهَذَا كَذَا حَتَّى إِذَا سَلَّمَ رَاحَتِ الْمَسْأَلَةُ وَالَّذِي يُحِبُّ الْكُرَةَ يَأْتِيهِ بِالْكُرَةِ وَالَّذِي يُحِبُّ الطَّبْخَ يَأْتِيهِ بِالطَّبْخِ وَكُلٌّ يَأْتِيهِ بِمَا يَرَى حَتَّى يَصْرِفَ قَلْبَهُ عَنْ صَلَاتِهِ فَالْأَمْرُ يَحْتَاجُ إِلَى جِهَادٍ أَوَّلُ مَا يَأْخُذُ إِبْلِيسُ الْقَلْبَ يُعِيدُهُ الْإِنْسَانُ وَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَاعْلَمْ أَنَّ أَمْرَ الصَّلَاةِ لَنْ يَسْتَقِيمَ لَكَ حَتَّى تُجَاهِدَ وَتَصْبِرَ صَبْرًا طَوِيلًا فَتَصِلُ إِلَى الْخُشُوعِ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ نِعَمِ الدُّنْيَا لَذَّةٌ مَا بَعْدَهَا لَذَّةٌ
Iblis tidak akan membiarkanmu! Selagi kamu masih hidup, dia tidak akan membiarkanmu! Sebagaimana kata Ibnul Qayyim: “Iblis itu mengendus isi hati seorang hamba. Iblis akan masuk melalui celah mana pun yang ia sanggup masuki.” Orang-orang berdiri di barisan shalat yang sama, tapi mayoritas mereka tidak benar-benar menghadirkan hatinya. Anehnya, pikiran mereka tidak melayang pada hal yang sama. Orang yang suka ilmu, Iblis akan menggodanya dengan urusan ilmu. Saat ia memulai shalat: “Allahu Akbar!” Iblis segera membisikkan sebuah masalah ilmiah. “Masalah ini ada perselisihan pendapat, jawabannya begini dan begitu…” Sampai ketika ia salam dari shalatnya, masalah ilmiah itu mendadak hilang dari pikirannya. Bagi penyuka sepak bola, Iblis datang membawa urusan bola. Bagi yang hobi memasak, Iblis datang membawa urusan memasak. Masing-masing digoda sesuai minatnya, hingga ia dapat mengalihkan hatinya dari shalatnya. Maka dari itu, hal ini perlu perjuangan yang besar. Setiap kali Iblis mulai mencuri perhatian hati seseorang, ia harus segera memaksanya kembali fokus. Sembari memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ketahuilah, kekhusyukan dalam shalat tidak akan mudah bagi Anda, hingga Anda bersungguh-sungguh dan bersabar dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya Anda meraih khusyuk, yang merupakan nikmat dunia yang terbesar. Sebuah kelezatan yang tiada tandingannya. ===== إِبْلِيسُ لَنْ يَتْرُكَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا لَنْ يَتْرُكَكَ وَكَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ يَشَامُ قَلْبَ الْعَبْدِ وَيَأْتِيهِ مِنْ حَيْثُ يَسْتَطِيعُ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي صَفٍّ وَاحِدٍ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يُحْضِرُونَ قُلُوبَهُمْ لَكِنْ لَيْسَ فِي شَيْءٍ وَاحِدٍ الَّذِي يُحِبُّ الْعِلْمَ يُجِيبُ لَهُ إِبْلِيسُ الْعِلْمَ إِذَا قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ جَابَ لَهُ إِبْلِيسُ مَسْأَلَةً وَعَلَيْهَا إِشْكَالٌ وَهَذَا يُحَلُّ بِكَذَا وَهَذَا كَذَا حَتَّى إِذَا سَلَّمَ رَاحَتِ الْمَسْأَلَةُ وَالَّذِي يُحِبُّ الْكُرَةَ يَأْتِيهِ بِالْكُرَةِ وَالَّذِي يُحِبُّ الطَّبْخَ يَأْتِيهِ بِالطَّبْخِ وَكُلٌّ يَأْتِيهِ بِمَا يَرَى حَتَّى يَصْرِفَ قَلْبَهُ عَنْ صَلَاتِهِ فَالْأَمْرُ يَحْتَاجُ إِلَى جِهَادٍ أَوَّلُ مَا يَأْخُذُ إِبْلِيسُ الْقَلْبَ يُعِيدُهُ الْإِنْسَانُ وَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَاعْلَمْ أَنَّ أَمْرَ الصَّلَاةِ لَنْ يَسْتَقِيمَ لَكَ حَتَّى تُجَاهِدَ وَتَصْبِرَ صَبْرًا طَوِيلًا فَتَصِلُ إِلَى الْخُشُوعِ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ نِعَمِ الدُّنْيَا لَذَّةٌ مَا بَعْدَهَا لَذَّةٌ


Iblis tidak akan membiarkanmu! Selagi kamu masih hidup, dia tidak akan membiarkanmu! Sebagaimana kata Ibnul Qayyim: “Iblis itu mengendus isi hati seorang hamba. Iblis akan masuk melalui celah mana pun yang ia sanggup masuki.” Orang-orang berdiri di barisan shalat yang sama, tapi mayoritas mereka tidak benar-benar menghadirkan hatinya. Anehnya, pikiran mereka tidak melayang pada hal yang sama. Orang yang suka ilmu, Iblis akan menggodanya dengan urusan ilmu. Saat ia memulai shalat: “Allahu Akbar!” Iblis segera membisikkan sebuah masalah ilmiah. “Masalah ini ada perselisihan pendapat, jawabannya begini dan begitu…” Sampai ketika ia salam dari shalatnya, masalah ilmiah itu mendadak hilang dari pikirannya. Bagi penyuka sepak bola, Iblis datang membawa urusan bola. Bagi yang hobi memasak, Iblis datang membawa urusan memasak. Masing-masing digoda sesuai minatnya, hingga ia dapat mengalihkan hatinya dari shalatnya. Maka dari itu, hal ini perlu perjuangan yang besar. Setiap kali Iblis mulai mencuri perhatian hati seseorang, ia harus segera memaksanya kembali fokus. Sembari memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Ketahuilah, kekhusyukan dalam shalat tidak akan mudah bagi Anda, hingga Anda bersungguh-sungguh dan bersabar dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya Anda meraih khusyuk, yang merupakan nikmat dunia yang terbesar. Sebuah kelezatan yang tiada tandingannya. ===== إِبْلِيسُ لَنْ يَتْرُكَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا لَنْ يَتْرُكَكَ وَكَمَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ يَشَامُ قَلْبَ الْعَبْدِ وَيَأْتِيهِ مِنْ حَيْثُ يَسْتَطِيعُ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي صَفٍّ وَاحِدٍ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يُحْضِرُونَ قُلُوبَهُمْ لَكِنْ لَيْسَ فِي شَيْءٍ وَاحِدٍ الَّذِي يُحِبُّ الْعِلْمَ يُجِيبُ لَهُ إِبْلِيسُ الْعِلْمَ إِذَا قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ جَابَ لَهُ إِبْلِيسُ مَسْأَلَةً وَعَلَيْهَا إِشْكَالٌ وَهَذَا يُحَلُّ بِكَذَا وَهَذَا كَذَا حَتَّى إِذَا سَلَّمَ رَاحَتِ الْمَسْأَلَةُ وَالَّذِي يُحِبُّ الْكُرَةَ يَأْتِيهِ بِالْكُرَةِ وَالَّذِي يُحِبُّ الطَّبْخَ يَأْتِيهِ بِالطَّبْخِ وَكُلٌّ يَأْتِيهِ بِمَا يَرَى حَتَّى يَصْرِفَ قَلْبَهُ عَنْ صَلَاتِهِ فَالْأَمْرُ يَحْتَاجُ إِلَى جِهَادٍ أَوَّلُ مَا يَأْخُذُ إِبْلِيسُ الْقَلْبَ يُعِيدُهُ الْإِنْسَانُ وَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَاعْلَمْ أَنَّ أَمْرَ الصَّلَاةِ لَنْ يَسْتَقِيمَ لَكَ حَتَّى تُجَاهِدَ وَتَصْبِرَ صَبْرًا طَوِيلًا فَتَصِلُ إِلَى الْخُشُوعِ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ نِعَمِ الدُّنْيَا لَذَّةٌ مَا بَعْدَهَا لَذَّةٌ

Membongkar Kriteria Firqah Najiyah: Benarkah Cukup dengan Nama “Ahlussunnah”?

Firqah Najiyah (golongan yang selamat), yaitu golongan yang selamat dari amalan-amalan bid’ah selama di dunia, serta selamat dari azab Allah pada hari kiamat kelak. Golongan ini juga disebut sebagai Al-Firqah Al-Manshurah (golongan yang dimenangkan). Dimenangkan dengan jihad, atau dimenangkan dengan hujjah dan dalil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan terus ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran dan dimenangkan. Orang yang enggan menolong maupun yang menyelisihi tidak akan mampu membahayakan mereka, hingga datang ketetapan Allah.” Golongan yang selamat di dunia dan akhirat ini, telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan selainnya: “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Adapun umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu mereka yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para sahabatku.” Mereka selamat dari neraka berdasarkan sabda beliau: “Semuanya di neraka…” yang berarti semua golongan selain mereka terancam neraka. Mereka juga selamat dari bid’ah dan perkara baru dalam agama, berdasarkan sabda beliau: “Golongan yang menempuh jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.” Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kriteria ini sering kali diklaim oleh setiap golongan. Az-Zamakhsyari pernah menuliskan dalam mukadimah bukunya, mungkin di dalam kitab Al-Kasysyaf atau kitab lainnya: “Amma ba’du: Inilah keyakinan Firqah Najiyah, Ahlussunnah wal Jamaah…” Padahal yang beliau maksud dengan sebutan itu adalah golongan Al-Mu’tazilah. Lalu, apa yang menjadi penentu kebenaran dalam masalah ini? Penentunya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita harus meneliti apa yang dilakukan oleh golongan-golongan tersebut, apakah mereka melakukan penyelisihan dan bid’ah-bid’ah yang kini tengah marak? Apakah amalan mereka itu ada dasarnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Para pengikut golongan itu tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa amalan mereka ada di zaman Nabi. Jadi, barometer utamanya adalah keselarasan dengan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, serta kesesuaian dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah golongan yang selamat, dan itulah manhaj serta jalan hidup mereka. Demikian. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Anda. ===== الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ النَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ فِي الدُّنْيَا وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهِيَ الْفِرْقَةُ الْمَنْصُورَةُ أَيْضًا مَنْصُورَةٌ بِالْجِهَادِ أَوْ مَنْصُورَةٌ بِالْحُجَّةِ وَالْبُرْهانِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ مَنْصُورَةٌ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ أَشَارَ إِلَيْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ قَالُوا مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي النَّاجِيَةُ مِنَ النَّارِ لِقَوْلِهِ كُلُّهَا فِي النَّارِ كُلُّ الْفِرَقِ فِي النَّارِ وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ وَالْمُحْدَثَاتِ فِي الدِّيْنِ مِنْ قَوْلِهِ مَنْ كَانَ عَلَيْهِ الْيَوْمَ أَنَا وَأَصْحَابِي أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَهَذَا الْوَصْفُ يَدَّعِيْهِ كُلُّ أَحَدٍ الزَّمَخْشَرِيُّ قَالَ فِي مُقَدِّمَةٍ لَهُ يُمْكِنُ فِي الْكَشَّافِ أَوْ كَذَا كَذَا أَمَّا بَعْدُ فَهَذَا اعْتِقَادُ فِرْقَةٍ نَاجِيَةٍ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يَقْصِدُ بِهِمْ الْمُعْتَزِلَةَ فَمَا الفَصْلُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْفَصْلُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَنْظُرُ مَا عَلَيْهِ الْقَوْمُ مِنْ هَذِهِ الْمُخَالَفَاتِ وَهَذِه الْبِدَعِ الَّتِي تَعُجُّ هَلْ كَانَ شَيْءٌ مِنْهَا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْتَطِيعُ أَهْلُهَا أَنْ يَقُولُوا إِنَّهَا كَانَتْ مَوْجُودَةً أَبَدًا فَالْفَصْلُ الْمُوَافَقَةُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُوَافَقَةُ لِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ وَهَذَا نَهْجُهَا وَتِلْكَ طَرِيقَتُهَا نَعَمْ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلِيْكُمْ

Membongkar Kriteria Firqah Najiyah: Benarkah Cukup dengan Nama “Ahlussunnah”?

Firqah Najiyah (golongan yang selamat), yaitu golongan yang selamat dari amalan-amalan bid’ah selama di dunia, serta selamat dari azab Allah pada hari kiamat kelak. Golongan ini juga disebut sebagai Al-Firqah Al-Manshurah (golongan yang dimenangkan). Dimenangkan dengan jihad, atau dimenangkan dengan hujjah dan dalil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan terus ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran dan dimenangkan. Orang yang enggan menolong maupun yang menyelisihi tidak akan mampu membahayakan mereka, hingga datang ketetapan Allah.” Golongan yang selamat di dunia dan akhirat ini, telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan selainnya: “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Adapun umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu mereka yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para sahabatku.” Mereka selamat dari neraka berdasarkan sabda beliau: “Semuanya di neraka…” yang berarti semua golongan selain mereka terancam neraka. Mereka juga selamat dari bid’ah dan perkara baru dalam agama, berdasarkan sabda beliau: “Golongan yang menempuh jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.” Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kriteria ini sering kali diklaim oleh setiap golongan. Az-Zamakhsyari pernah menuliskan dalam mukadimah bukunya, mungkin di dalam kitab Al-Kasysyaf atau kitab lainnya: “Amma ba’du: Inilah keyakinan Firqah Najiyah, Ahlussunnah wal Jamaah…” Padahal yang beliau maksud dengan sebutan itu adalah golongan Al-Mu’tazilah. Lalu, apa yang menjadi penentu kebenaran dalam masalah ini? Penentunya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita harus meneliti apa yang dilakukan oleh golongan-golongan tersebut, apakah mereka melakukan penyelisihan dan bid’ah-bid’ah yang kini tengah marak? Apakah amalan mereka itu ada dasarnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Para pengikut golongan itu tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa amalan mereka ada di zaman Nabi. Jadi, barometer utamanya adalah keselarasan dengan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, serta kesesuaian dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah golongan yang selamat, dan itulah manhaj serta jalan hidup mereka. Demikian. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Anda. ===== الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ النَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ فِي الدُّنْيَا وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهِيَ الْفِرْقَةُ الْمَنْصُورَةُ أَيْضًا مَنْصُورَةٌ بِالْجِهَادِ أَوْ مَنْصُورَةٌ بِالْحُجَّةِ وَالْبُرْهانِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ مَنْصُورَةٌ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ أَشَارَ إِلَيْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ قَالُوا مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي النَّاجِيَةُ مِنَ النَّارِ لِقَوْلِهِ كُلُّهَا فِي النَّارِ كُلُّ الْفِرَقِ فِي النَّارِ وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ وَالْمُحْدَثَاتِ فِي الدِّيْنِ مِنْ قَوْلِهِ مَنْ كَانَ عَلَيْهِ الْيَوْمَ أَنَا وَأَصْحَابِي أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَهَذَا الْوَصْفُ يَدَّعِيْهِ كُلُّ أَحَدٍ الزَّمَخْشَرِيُّ قَالَ فِي مُقَدِّمَةٍ لَهُ يُمْكِنُ فِي الْكَشَّافِ أَوْ كَذَا كَذَا أَمَّا بَعْدُ فَهَذَا اعْتِقَادُ فِرْقَةٍ نَاجِيَةٍ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يَقْصِدُ بِهِمْ الْمُعْتَزِلَةَ فَمَا الفَصْلُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْفَصْلُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَنْظُرُ مَا عَلَيْهِ الْقَوْمُ مِنْ هَذِهِ الْمُخَالَفَاتِ وَهَذِه الْبِدَعِ الَّتِي تَعُجُّ هَلْ كَانَ شَيْءٌ مِنْهَا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْتَطِيعُ أَهْلُهَا أَنْ يَقُولُوا إِنَّهَا كَانَتْ مَوْجُودَةً أَبَدًا فَالْفَصْلُ الْمُوَافَقَةُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُوَافَقَةُ لِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ وَهَذَا نَهْجُهَا وَتِلْكَ طَرِيقَتُهَا نَعَمْ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلِيْكُمْ
Firqah Najiyah (golongan yang selamat), yaitu golongan yang selamat dari amalan-amalan bid’ah selama di dunia, serta selamat dari azab Allah pada hari kiamat kelak. Golongan ini juga disebut sebagai Al-Firqah Al-Manshurah (golongan yang dimenangkan). Dimenangkan dengan jihad, atau dimenangkan dengan hujjah dan dalil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan terus ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran dan dimenangkan. Orang yang enggan menolong maupun yang menyelisihi tidak akan mampu membahayakan mereka, hingga datang ketetapan Allah.” Golongan yang selamat di dunia dan akhirat ini, telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan selainnya: “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Adapun umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu mereka yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para sahabatku.” Mereka selamat dari neraka berdasarkan sabda beliau: “Semuanya di neraka…” yang berarti semua golongan selain mereka terancam neraka. Mereka juga selamat dari bid’ah dan perkara baru dalam agama, berdasarkan sabda beliau: “Golongan yang menempuh jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.” Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kriteria ini sering kali diklaim oleh setiap golongan. Az-Zamakhsyari pernah menuliskan dalam mukadimah bukunya, mungkin di dalam kitab Al-Kasysyaf atau kitab lainnya: “Amma ba’du: Inilah keyakinan Firqah Najiyah, Ahlussunnah wal Jamaah…” Padahal yang beliau maksud dengan sebutan itu adalah golongan Al-Mu’tazilah. Lalu, apa yang menjadi penentu kebenaran dalam masalah ini? Penentunya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita harus meneliti apa yang dilakukan oleh golongan-golongan tersebut, apakah mereka melakukan penyelisihan dan bid’ah-bid’ah yang kini tengah marak? Apakah amalan mereka itu ada dasarnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Para pengikut golongan itu tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa amalan mereka ada di zaman Nabi. Jadi, barometer utamanya adalah keselarasan dengan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, serta kesesuaian dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah golongan yang selamat, dan itulah manhaj serta jalan hidup mereka. Demikian. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Anda. ===== الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ النَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ فِي الدُّنْيَا وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهِيَ الْفِرْقَةُ الْمَنْصُورَةُ أَيْضًا مَنْصُورَةٌ بِالْجِهَادِ أَوْ مَنْصُورَةٌ بِالْحُجَّةِ وَالْبُرْهانِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ مَنْصُورَةٌ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ أَشَارَ إِلَيْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ قَالُوا مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي النَّاجِيَةُ مِنَ النَّارِ لِقَوْلِهِ كُلُّهَا فِي النَّارِ كُلُّ الْفِرَقِ فِي النَّارِ وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ وَالْمُحْدَثَاتِ فِي الدِّيْنِ مِنْ قَوْلِهِ مَنْ كَانَ عَلَيْهِ الْيَوْمَ أَنَا وَأَصْحَابِي أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَهَذَا الْوَصْفُ يَدَّعِيْهِ كُلُّ أَحَدٍ الزَّمَخْشَرِيُّ قَالَ فِي مُقَدِّمَةٍ لَهُ يُمْكِنُ فِي الْكَشَّافِ أَوْ كَذَا كَذَا أَمَّا بَعْدُ فَهَذَا اعْتِقَادُ فِرْقَةٍ نَاجِيَةٍ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يَقْصِدُ بِهِمْ الْمُعْتَزِلَةَ فَمَا الفَصْلُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْفَصْلُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَنْظُرُ مَا عَلَيْهِ الْقَوْمُ مِنْ هَذِهِ الْمُخَالَفَاتِ وَهَذِه الْبِدَعِ الَّتِي تَعُجُّ هَلْ كَانَ شَيْءٌ مِنْهَا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْتَطِيعُ أَهْلُهَا أَنْ يَقُولُوا إِنَّهَا كَانَتْ مَوْجُودَةً أَبَدًا فَالْفَصْلُ الْمُوَافَقَةُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُوَافَقَةُ لِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ وَهَذَا نَهْجُهَا وَتِلْكَ طَرِيقَتُهَا نَعَمْ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلِيْكُمْ


Firqah Najiyah (golongan yang selamat), yaitu golongan yang selamat dari amalan-amalan bid’ah selama di dunia, serta selamat dari azab Allah pada hari kiamat kelak. Golongan ini juga disebut sebagai Al-Firqah Al-Manshurah (golongan yang dimenangkan). Dimenangkan dengan jihad, atau dimenangkan dengan hujjah dan dalil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan terus ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran dan dimenangkan. Orang yang enggan menolong maupun yang menyelisihi tidak akan mampu membahayakan mereka, hingga datang ketetapan Allah.” Golongan yang selamat di dunia dan akhirat ini, telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan selainnya: “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Adapun umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu mereka yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para sahabatku.” Mereka selamat dari neraka berdasarkan sabda beliau: “Semuanya di neraka…” yang berarti semua golongan selain mereka terancam neraka. Mereka juga selamat dari bid’ah dan perkara baru dalam agama, berdasarkan sabda beliau: “Golongan yang menempuh jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.” Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kriteria ini sering kali diklaim oleh setiap golongan. Az-Zamakhsyari pernah menuliskan dalam mukadimah bukunya, mungkin di dalam kitab Al-Kasysyaf atau kitab lainnya: “Amma ba’du: Inilah keyakinan Firqah Najiyah, Ahlussunnah wal Jamaah…” Padahal yang beliau maksud dengan sebutan itu adalah golongan Al-Mu’tazilah. Lalu, apa yang menjadi penentu kebenaran dalam masalah ini? Penentunya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita harus meneliti apa yang dilakukan oleh golongan-golongan tersebut, apakah mereka melakukan penyelisihan dan bid’ah-bid’ah yang kini tengah marak? Apakah amalan mereka itu ada dasarnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Para pengikut golongan itu tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa amalan mereka ada di zaman Nabi. Jadi, barometer utamanya adalah keselarasan dengan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, serta kesesuaian dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah golongan yang selamat, dan itulah manhaj serta jalan hidup mereka. Demikian. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Anda. ===== الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ النَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ فِي الدُّنْيَا وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهِيَ الْفِرْقَةُ الْمَنْصُورَةُ أَيْضًا مَنْصُورَةٌ بِالْجِهَادِ أَوْ مَنْصُورَةٌ بِالْحُجَّةِ وَالْبُرْهانِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ مَنْصُورَةٌ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ أَشَارَ إِلَيْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَدِيثِ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةٌ قَالُوا مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي النَّاجِيَةُ مِنَ النَّارِ لِقَوْلِهِ كُلُّهَا فِي النَّارِ كُلُّ الْفِرَقِ فِي النَّارِ وَالنَّاجِيَةُ مِنَ الْبِدَعِ وَالْمُحْدَثَاتِ فِي الدِّيْنِ مِنْ قَوْلِهِ مَنْ كَانَ عَلَيْهِ الْيَوْمَ أَنَا وَأَصْحَابِي أَوْ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَهَذَا الْوَصْفُ يَدَّعِيْهِ كُلُّ أَحَدٍ الزَّمَخْشَرِيُّ قَالَ فِي مُقَدِّمَةٍ لَهُ يُمْكِنُ فِي الْكَشَّافِ أَوْ كَذَا كَذَا أَمَّا بَعْدُ فَهَذَا اعْتِقَادُ فِرْقَةٍ نَاجِيَةٍ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ يَقْصِدُ بِهِمْ الْمُعْتَزِلَةَ فَمَا الفَصْلُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْفَصْلُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَنْظُرُ مَا عَلَيْهِ الْقَوْمُ مِنْ هَذِهِ الْمُخَالَفَاتِ وَهَذِه الْبِدَعِ الَّتِي تَعُجُّ هَلْ كَانَ شَيْءٌ مِنْهَا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْتَطِيعُ أَهْلُهَا أَنْ يَقُولُوا إِنَّهَا كَانَتْ مَوْجُودَةً أَبَدًا فَالْفَصْلُ الْمُوَافَقَةُ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْمُوَافَقَةُ لِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ وَهَذَا نَهْجُهَا وَتِلْكَ طَرِيقَتُهَا نَعَمْ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلِيْكُمْ

Fatwa Ulama: Hukum Puasa Orang yang Meninggalkan Salat

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah puasa orang yang meninggalkan salat itu sah dan dibenarkan? Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama sepakat bahwa puasanya orang yang meninggalkan salat karena mengingkari kewajibannya (yakni tidak mengakui bahwa salat itu wajib) itu tidak sah. Hal itu karena ia dianggap kafir yang keluar dari Islam secara pasti menurut kesepakatan ulama. [1] Amal orang kafir tidak sah, karena sahnya suatu amal mensyaratkan adanya iman. Dalam keadaan ini, iman tidak ada padanya. Allah Ta‘ala berfirman,وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Allah Ta‘ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡ‍َٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡ‍ٔٗا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nur: 39)Dan Allah Ta‘ala berfirman,مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡۖ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَرَمَادٍ ٱشۡتَدَّتۡ بِهِ ٱلرِّيحُ فِي يَوۡمٍ عَاصِفٖۖ لَّا يَقۡدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَىٰ شَيۡءٖۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim: 18)Adapun orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas atau meremehkan, tetapi tetap mengakui bahwa salat itu wajib, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. [2] Sebagian ulama menganggap orang yang meninggalkan salat itu kafir, karena ada dalil-dalil syariat yang menunjukkan demikian. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad dan ulama lainnya. Sebagian ulama yang lain tidak mengkafirkannya, karena ada dalil-dalil lain yang menghalangi untuk menghukuminya kafir. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan lainnya.Penentuan hukum dalam masalah ini bergantung pada apakah orang tersebut dihukumi kafir atau tidak:Pertama: Bagi (ulama -pent.) yang mengkafirkan orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas, mereka menyamakannya dengan orang yang mengingkari kewajiban salat. Maka, mereka tidak menganggap puasanya dan seluruh amalnya (sebagaimana penjelasan di awal) karena hilangnya syarat iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Kedua: Bagi (ulama -pent.) yang tidak mengkafirkannya, mereka menilainya sebagai mukmin yang bermaksiat, dan tidak mengeluarkannya dari iman. Berdasarkan hal ini, maka amal dan puasanya sah, karena adanya iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Pendapat yang lebih kuat (rajih) dalam masalah ini adalah pendapat yang terperinci (tafshil), yaitu:1) Bahwa siapa yang meninggalkan salat secara total (sama sekali) dan meninggal dalam keadaan terus-menerus (bersikeras) di atas kelalaian tersebut, maka ia tidaklah beriman (bukan mukmin) dan tidak sah darinya puasa maupun amal (lainnya). Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘at-tarku al-muthlaq’ (meninggalkan secara mutlak atau total).2) Adapun orang yang terkadang salat dan terkadang meninggalkan, maka ia adalah orang yang tidak memelihara salatnya dan ia bukanlah seorang kafir, tetapi ia adalah seorang Muslim yang berada di bawah kehendak dan ancaman Allah, dan puasanya sah. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘mutlaq at-tark’ (meninggalkan dalam arti tidak memelihara/ tidak konsisten).Dan hal ini diperkuat oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ“Lima salat yang Allah wajibkan atas para hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dengan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka baginya di sisi Allah janji untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka tidak ada janji baginya di sisi Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” [3]Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ المُسْلِمُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلَاةُ المَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا: هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab pada seorang hamba Muslim di hari kiamat adalah salat wajib. Jika ia menyempurnakannya (maka baiklah), jika tidak, maka dikatakan (kepada malaikat), “Periksalah, apakah ia memiliki (amalan) salat sunah?” Jika ia memiliki salat sunah, maka salat wajibnya disempurnakan dengan salat sunahnya.” [4]Dan perincian ini termasuk di antara pilihan-pilihan (pendapat) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [5]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-314Catatan kaki:[1] Lihat penegasan ijmak dalam Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 7: 131; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 14.[2] Lihat Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Bidayat Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid, 1: 90; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 16.[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Witr (Bab tentang Orang yang Tidak Melakukan Salat Witir) no. 1420, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penjagaan atas Lima Salat Wajib) no. 461, dan Ahmad (no. 22693), dari hadis Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1: 271) no. 370 dan dalam Shahih Al-Jami’ no. 3243.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Ash-Shalah (Bab Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Setiap salat yang tidak disempurnakan oleh pelakunya, akan disempurnakan dengan salat sunahnya’) no. 864, At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah (Bab Tentang Permulaan Hisab Seorang Hamba di Hari Kiamat adalah Salat) no. 413, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penghisaban atas Salat) no. 466, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqamat Ash-Shalah wa As-Sunnah fiha (Bab Tentang: Pertama Kali Seorang Hamba Dihisab adalah Salat) no. 1425, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2020.[5] Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 614-616, 22: 49.

Fatwa Ulama: Hukum Puasa Orang yang Meninggalkan Salat

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah puasa orang yang meninggalkan salat itu sah dan dibenarkan? Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama sepakat bahwa puasanya orang yang meninggalkan salat karena mengingkari kewajibannya (yakni tidak mengakui bahwa salat itu wajib) itu tidak sah. Hal itu karena ia dianggap kafir yang keluar dari Islam secara pasti menurut kesepakatan ulama. [1] Amal orang kafir tidak sah, karena sahnya suatu amal mensyaratkan adanya iman. Dalam keadaan ini, iman tidak ada padanya. Allah Ta‘ala berfirman,وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Allah Ta‘ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡ‍َٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡ‍ٔٗا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nur: 39)Dan Allah Ta‘ala berfirman,مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡۖ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَرَمَادٍ ٱشۡتَدَّتۡ بِهِ ٱلرِّيحُ فِي يَوۡمٍ عَاصِفٖۖ لَّا يَقۡدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَىٰ شَيۡءٖۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim: 18)Adapun orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas atau meremehkan, tetapi tetap mengakui bahwa salat itu wajib, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. [2] Sebagian ulama menganggap orang yang meninggalkan salat itu kafir, karena ada dalil-dalil syariat yang menunjukkan demikian. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad dan ulama lainnya. Sebagian ulama yang lain tidak mengkafirkannya, karena ada dalil-dalil lain yang menghalangi untuk menghukuminya kafir. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan lainnya.Penentuan hukum dalam masalah ini bergantung pada apakah orang tersebut dihukumi kafir atau tidak:Pertama: Bagi (ulama -pent.) yang mengkafirkan orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas, mereka menyamakannya dengan orang yang mengingkari kewajiban salat. Maka, mereka tidak menganggap puasanya dan seluruh amalnya (sebagaimana penjelasan di awal) karena hilangnya syarat iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Kedua: Bagi (ulama -pent.) yang tidak mengkafirkannya, mereka menilainya sebagai mukmin yang bermaksiat, dan tidak mengeluarkannya dari iman. Berdasarkan hal ini, maka amal dan puasanya sah, karena adanya iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Pendapat yang lebih kuat (rajih) dalam masalah ini adalah pendapat yang terperinci (tafshil), yaitu:1) Bahwa siapa yang meninggalkan salat secara total (sama sekali) dan meninggal dalam keadaan terus-menerus (bersikeras) di atas kelalaian tersebut, maka ia tidaklah beriman (bukan mukmin) dan tidak sah darinya puasa maupun amal (lainnya). Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘at-tarku al-muthlaq’ (meninggalkan secara mutlak atau total).2) Adapun orang yang terkadang salat dan terkadang meninggalkan, maka ia adalah orang yang tidak memelihara salatnya dan ia bukanlah seorang kafir, tetapi ia adalah seorang Muslim yang berada di bawah kehendak dan ancaman Allah, dan puasanya sah. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘mutlaq at-tark’ (meninggalkan dalam arti tidak memelihara/ tidak konsisten).Dan hal ini diperkuat oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ“Lima salat yang Allah wajibkan atas para hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dengan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka baginya di sisi Allah janji untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka tidak ada janji baginya di sisi Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” [3]Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ المُسْلِمُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلَاةُ المَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا: هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab pada seorang hamba Muslim di hari kiamat adalah salat wajib. Jika ia menyempurnakannya (maka baiklah), jika tidak, maka dikatakan (kepada malaikat), “Periksalah, apakah ia memiliki (amalan) salat sunah?” Jika ia memiliki salat sunah, maka salat wajibnya disempurnakan dengan salat sunahnya.” [4]Dan perincian ini termasuk di antara pilihan-pilihan (pendapat) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [5]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-314Catatan kaki:[1] Lihat penegasan ijmak dalam Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 7: 131; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 14.[2] Lihat Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Bidayat Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid, 1: 90; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 16.[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Witr (Bab tentang Orang yang Tidak Melakukan Salat Witir) no. 1420, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penjagaan atas Lima Salat Wajib) no. 461, dan Ahmad (no. 22693), dari hadis Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1: 271) no. 370 dan dalam Shahih Al-Jami’ no. 3243.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Ash-Shalah (Bab Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Setiap salat yang tidak disempurnakan oleh pelakunya, akan disempurnakan dengan salat sunahnya’) no. 864, At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah (Bab Tentang Permulaan Hisab Seorang Hamba di Hari Kiamat adalah Salat) no. 413, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penghisaban atas Salat) no. 466, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqamat Ash-Shalah wa As-Sunnah fiha (Bab Tentang: Pertama Kali Seorang Hamba Dihisab adalah Salat) no. 1425, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2020.[5] Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 614-616, 22: 49.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah puasa orang yang meninggalkan salat itu sah dan dibenarkan? Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama sepakat bahwa puasanya orang yang meninggalkan salat karena mengingkari kewajibannya (yakni tidak mengakui bahwa salat itu wajib) itu tidak sah. Hal itu karena ia dianggap kafir yang keluar dari Islam secara pasti menurut kesepakatan ulama. [1] Amal orang kafir tidak sah, karena sahnya suatu amal mensyaratkan adanya iman. Dalam keadaan ini, iman tidak ada padanya. Allah Ta‘ala berfirman,وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Allah Ta‘ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡ‍َٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡ‍ٔٗا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nur: 39)Dan Allah Ta‘ala berfirman,مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡۖ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَرَمَادٍ ٱشۡتَدَّتۡ بِهِ ٱلرِّيحُ فِي يَوۡمٍ عَاصِفٖۖ لَّا يَقۡدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَىٰ شَيۡءٖۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim: 18)Adapun orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas atau meremehkan, tetapi tetap mengakui bahwa salat itu wajib, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. [2] Sebagian ulama menganggap orang yang meninggalkan salat itu kafir, karena ada dalil-dalil syariat yang menunjukkan demikian. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad dan ulama lainnya. Sebagian ulama yang lain tidak mengkafirkannya, karena ada dalil-dalil lain yang menghalangi untuk menghukuminya kafir. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan lainnya.Penentuan hukum dalam masalah ini bergantung pada apakah orang tersebut dihukumi kafir atau tidak:Pertama: Bagi (ulama -pent.) yang mengkafirkan orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas, mereka menyamakannya dengan orang yang mengingkari kewajiban salat. Maka, mereka tidak menganggap puasanya dan seluruh amalnya (sebagaimana penjelasan di awal) karena hilangnya syarat iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Kedua: Bagi (ulama -pent.) yang tidak mengkafirkannya, mereka menilainya sebagai mukmin yang bermaksiat, dan tidak mengeluarkannya dari iman. Berdasarkan hal ini, maka amal dan puasanya sah, karena adanya iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Pendapat yang lebih kuat (rajih) dalam masalah ini adalah pendapat yang terperinci (tafshil), yaitu:1) Bahwa siapa yang meninggalkan salat secara total (sama sekali) dan meninggal dalam keadaan terus-menerus (bersikeras) di atas kelalaian tersebut, maka ia tidaklah beriman (bukan mukmin) dan tidak sah darinya puasa maupun amal (lainnya). Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘at-tarku al-muthlaq’ (meninggalkan secara mutlak atau total).2) Adapun orang yang terkadang salat dan terkadang meninggalkan, maka ia adalah orang yang tidak memelihara salatnya dan ia bukanlah seorang kafir, tetapi ia adalah seorang Muslim yang berada di bawah kehendak dan ancaman Allah, dan puasanya sah. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘mutlaq at-tark’ (meninggalkan dalam arti tidak memelihara/ tidak konsisten).Dan hal ini diperkuat oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ“Lima salat yang Allah wajibkan atas para hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dengan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka baginya di sisi Allah janji untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka tidak ada janji baginya di sisi Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” [3]Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ المُسْلِمُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلَاةُ المَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا: هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab pada seorang hamba Muslim di hari kiamat adalah salat wajib. Jika ia menyempurnakannya (maka baiklah), jika tidak, maka dikatakan (kepada malaikat), “Periksalah, apakah ia memiliki (amalan) salat sunah?” Jika ia memiliki salat sunah, maka salat wajibnya disempurnakan dengan salat sunahnya.” [4]Dan perincian ini termasuk di antara pilihan-pilihan (pendapat) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [5]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-314Catatan kaki:[1] Lihat penegasan ijmak dalam Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 7: 131; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 14.[2] Lihat Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Bidayat Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid, 1: 90; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 16.[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Witr (Bab tentang Orang yang Tidak Melakukan Salat Witir) no. 1420, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penjagaan atas Lima Salat Wajib) no. 461, dan Ahmad (no. 22693), dari hadis Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1: 271) no. 370 dan dalam Shahih Al-Jami’ no. 3243.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Ash-Shalah (Bab Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Setiap salat yang tidak disempurnakan oleh pelakunya, akan disempurnakan dengan salat sunahnya’) no. 864, At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah (Bab Tentang Permulaan Hisab Seorang Hamba di Hari Kiamat adalah Salat) no. 413, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penghisaban atas Salat) no. 466, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqamat Ash-Shalah wa As-Sunnah fiha (Bab Tentang: Pertama Kali Seorang Hamba Dihisab adalah Salat) no. 1425, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2020.[5] Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 614-616, 22: 49.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus Pertanyaan:Apakah puasa orang yang meninggalkan salat itu sah dan dibenarkan? Jazakumullahu khairan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du.Para ulama sepakat bahwa puasanya orang yang meninggalkan salat karena mengingkari kewajibannya (yakni tidak mengakui bahwa salat itu wajib) itu tidak sah. Hal itu karena ia dianggap kafir yang keluar dari Islam secara pasti menurut kesepakatan ulama. [1] Amal orang kafir tidak sah, karena sahnya suatu amal mensyaratkan adanya iman. Dalam keadaan ini, iman tidak ada padanya. Allah Ta‘ala berfirman,وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)Allah Ta‘ala berfirman,وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۢ بِقِيعَةٖ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡ‍َٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡ‍ٔٗا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nur: 39)Dan Allah Ta‘ala berfirman,مَّثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡۖ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَرَمَادٍ ٱشۡتَدَّتۡ بِهِ ٱلرِّيحُ فِي يَوۡمٍ عَاصِفٖۖ لَّا يَقۡدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَىٰ شَيۡءٖۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim: 18)Adapun orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas atau meremehkan, tetapi tetap mengakui bahwa salat itu wajib, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. [2] Sebagian ulama menganggap orang yang meninggalkan salat itu kafir, karena ada dalil-dalil syariat yang menunjukkan demikian. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ahmad dan ulama lainnya. Sebagian ulama yang lain tidak mengkafirkannya, karena ada dalil-dalil lain yang menghalangi untuk menghukuminya kafir. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan lainnya.Penentuan hukum dalam masalah ini bergantung pada apakah orang tersebut dihukumi kafir atau tidak:Pertama: Bagi (ulama -pent.) yang mengkafirkan orang yang meninggalkan salat dengan sengaja karena malas, mereka menyamakannya dengan orang yang mengingkari kewajiban salat. Maka, mereka tidak menganggap puasanya dan seluruh amalnya (sebagaimana penjelasan di awal) karena hilangnya syarat iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Kedua: Bagi (ulama -pent.) yang tidak mengkafirkannya, mereka menilainya sebagai mukmin yang bermaksiat, dan tidak mengeluarkannya dari iman. Berdasarkan hal ini, maka amal dan puasanya sah, karena adanya iman yang menjadi landasan sahnya amal dan puasa.Pendapat yang lebih kuat (rajih) dalam masalah ini adalah pendapat yang terperinci (tafshil), yaitu:1) Bahwa siapa yang meninggalkan salat secara total (sama sekali) dan meninggal dalam keadaan terus-menerus (bersikeras) di atas kelalaian tersebut, maka ia tidaklah beriman (bukan mukmin) dan tidak sah darinya puasa maupun amal (lainnya). Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘at-tarku al-muthlaq’ (meninggalkan secara mutlak atau total).2) Adapun orang yang terkadang salat dan terkadang meninggalkan, maka ia adalah orang yang tidak memelihara salatnya dan ia bukanlah seorang kafir, tetapi ia adalah seorang Muslim yang berada di bawah kehendak dan ancaman Allah, dan puasanya sah. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan ‘mutlaq at-tark’ (meninggalkan dalam arti tidak memelihara/ tidak konsisten).Dan hal ini diperkuat oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ“Lima salat yang Allah wajibkan atas para hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dengan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka baginya di sisi Allah janji untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka tidak ada janji baginya di sisi Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” [3]Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ المُسْلِمُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلَاةُ المَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا: هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab pada seorang hamba Muslim di hari kiamat adalah salat wajib. Jika ia menyempurnakannya (maka baiklah), jika tidak, maka dikatakan (kepada malaikat), “Periksalah, apakah ia memiliki (amalan) salat sunah?” Jika ia memiliki salat sunah, maka salat wajibnya disempurnakan dengan salat sunahnya.” [4]Dan perincian ini termasuk di antara pilihan-pilihan (pendapat) Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. [5]Dan ilmu (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-314Catatan kaki:[1] Lihat penegasan ijmak dalam Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, 7: 131; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 14.[2] Lihat Al-Muqaddimat Al-Mumahhidat karya Ibnu Rusyd Al-Jadd, 1: 141; Bidayat Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid, 1: 90; dan Al-Majmu’ karya An-Nawawi, 3: 16.[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Witr (Bab tentang Orang yang Tidak Melakukan Salat Witir) no. 1420, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penjagaan atas Lima Salat Wajib) no. 461, dan Ahmad (no. 22693), dari hadis Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1: 271) no. 370 dan dalam Shahih Al-Jami’ no. 3243.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Ash-Shalah (Bab Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Setiap salat yang tidak disempurnakan oleh pelakunya, akan disempurnakan dengan salat sunahnya’) no. 864, At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah (Bab Tentang Permulaan Hisab Seorang Hamba di Hari Kiamat adalah Salat) no. 413, An-Nasa’i dalam kitab Ash-Shalah (Bab Penghisaban atas Salat) no. 466, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqamat Ash-Shalah wa As-Sunnah fiha (Bab Tentang: Pertama Kali Seorang Hamba Dihisab adalah Salat) no. 1425, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2020.[5] Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 614-616, 22: 49.

Khulu’ dalam Islam: Hukum, Dalil, dan Batasannya

Rumah tangga dalam Islam dibangun di atas ketenangan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Namun dalam kondisi tertentu, perpisahan menjadi jalan yang dibolehkan syariat. Salah satu bentuknya adalah khulu’, yaitu cerai atas permintaan istri dengan tebusan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada Alasan 3. Pensyari’atan Khulu’ 4. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata pada Matan Taqrib:وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَىٰ عِوَضٍ مَعْلُومٍ، وَتَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلَا رَجْعَةَ لَهُ عَلَيْهَا إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيدٍ، وَيَجُوزُ الْخُلْعُ فِي الطُّهْرِ وَفِي الْحَيْضِ، وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ.Khulu‘ (cerai atas permintaan istri dengan tebusan) hukumnya boleh, selama tebusannya jelas dan diketahui. Dengan khulu‘ tersebut, seorang perempuan menjadi berkuasa penuh atas dirinya (berpisah dari suaminya). Suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, kecuali dengan akad nikah yang baru.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak (khulu‘ tidak dihukumi sebagai talak). PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Khulu‘ dibaca dengan huruf kha berharakat dhammah. Kata ini berasal dari al-khal‘ (dengan fathah pada kha) yang berarti melepaskan atau mencabut. Secara istilah syariat, khulu‘ adalah perpisahan antara suami dan istri dengan adanya tebusan yang memang dimaksudkan. Dengan definisi ini, maka tidak termasuk khulu‘ perpisahan yang terjadi karena tebusan berupa darah atau semisalnya.Khulu‘ hukumnya boleh dilakukan dengan tebusan yang jelas dan diketahui, serta memungkinkan untuk diserahkan. Apabila khulu‘ dilakukan dengan tebusan yang tidak jelas—misalnya suami melakukan khulu‘ dengan istrinya dengan imbalan sebuah pakaian yang tidak ditentukan secara jelas—maka perpisahan tetap terjadi, dan istri berpisah dengan ketentuan mahar misil (mahar yang setara dengan mahar wanita sepadannya).Khulu‘ yang sah menyebabkan seorang perempuan menjadi berkuasa atas dirinya sendiri, dan suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, baik tebusan tersebut sah maupun tidak sah. Adapun ungkapan “kecuali dengan akad nikah yang baru”, maka kalimat ini tidak terdapat dalam kebanyakan naskah.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid, dan perbuatan tersebut tidak dihukumi haram. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak, berbeda dengan perempuan yang ditalak raj‘i, karena talak masih dapat berlaku dan menyertainya. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada AlasanDari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ“Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR. Abu Daud no. 2226, Tirmidzi no. 1187 dan Ibnu Majah no. 2055. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).Hadits di atas menjadi dalil bahwa terlarangnya seorang wanita meminta cerai atau melakukan gugat cerai kecuali jika ada alasan yang dibenarkan.Al Hafizh Al Mubarakfuri berkata bahwa kenikmatan yang pertama kali dirasakan penduduk surga adalah mendapatkan baunya surga. Inilah yang didapatkan oleh orang-orang yang berbuat baik. Sedangkan yang disebutkan dalam hadits adalah wanita tersebut tidak mendapatkan bau surga itu. Hal ini menunjukkan ancaman bagi istri yang memaksa minta diceraikan tanpa alasan. (Tuhfatul Ahwadzi, 4: 381, terbitan Darus Salam). Al ‘Azhim Abadi juga menyebutkan hal yang sama dalam ‘Aunul Ma’bud, 6: 201, terbitan Darul Minhal.Dalil di atas yang menjadi dalil bolehnya istri melakukan gugat cerai (baca: khulu’), juga berdasarkan ayat,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al Baqarah: 229).Tentu saja istri bisa mengajukan gugatan cerai lewat lembaga yang resmi, yaitu melakukan Kantor Urusan Agama. Merekalah yang berhak memproses hal itu. Pensyari’atan Khulu’Khulu’ disyari’atkan berdasarkan dalil-dalil berikut ini.1- Firman Allah Ta’ala,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” (QS. Al Baqarah: 229).Bayaran ini adalah kompensasi yang diberikan agar terjadi perpisahan. Inilah dalil yang menunjukkan dibolehkannya khulu’ jika hikmah yang dimaksud dalam ayat tidak mampu dijalankan. (Tafsir As Sa’di, hal. 93).2- Dalil dari hadits,عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِى دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ ، إِلاَّ أَنِّى أَخَافُ الْكُفْرَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ » . فَقَالَتْ نَعَمْ . فَرَدَّتْ عَلَيْهِ ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَاDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullahm aku tidaklah menjelekkan agama dan akhlak Tsabit. Namun aku cuma khawatir jadi kufur.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu kembalikanlah kebun miliknya.” Istrinya menjawab, “Iya kalau begitu.” Istrinya pun mengembalikan kebun tersebut pada Tsabit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintah pada Tsabit, akhirnya mereka berdua berpisah. (HR. Bukhari no. 5276).3- Para ulama telah bersepakat tentang adanya khulu’. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah Bakr bin ‘Abdullah Al Muzani. Nasihat PenutupJangan jadikan perceraian sebagai solusi cepat setiap ada masalah kecil dalam rumah tangga. Banyak masalah sebenarnya bisa diselesaikan dengan sabar, komunikasi, dan saling memahami. Khulu’ adalah solusi terakhir, bukan pilihan pertama. Bijaklah dalam mengambil keputusan, karena dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga. Doa:اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif bayna qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta bayninā, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerai dalam islam fiqih nikah gugat cerai istri hukum Islam hukum khulu hukum talak keluarga sakinah khulu matan taqrib matan taqrib kitab nikah perceraian islam rumah tangga islami

Khulu’ dalam Islam: Hukum, Dalil, dan Batasannya

Rumah tangga dalam Islam dibangun di atas ketenangan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Namun dalam kondisi tertentu, perpisahan menjadi jalan yang dibolehkan syariat. Salah satu bentuknya adalah khulu’, yaitu cerai atas permintaan istri dengan tebusan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada Alasan 3. Pensyari’atan Khulu’ 4. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata pada Matan Taqrib:وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَىٰ عِوَضٍ مَعْلُومٍ، وَتَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلَا رَجْعَةَ لَهُ عَلَيْهَا إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيدٍ، وَيَجُوزُ الْخُلْعُ فِي الطُّهْرِ وَفِي الْحَيْضِ، وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ.Khulu‘ (cerai atas permintaan istri dengan tebusan) hukumnya boleh, selama tebusannya jelas dan diketahui. Dengan khulu‘ tersebut, seorang perempuan menjadi berkuasa penuh atas dirinya (berpisah dari suaminya). Suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, kecuali dengan akad nikah yang baru.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak (khulu‘ tidak dihukumi sebagai talak). PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Khulu‘ dibaca dengan huruf kha berharakat dhammah. Kata ini berasal dari al-khal‘ (dengan fathah pada kha) yang berarti melepaskan atau mencabut. Secara istilah syariat, khulu‘ adalah perpisahan antara suami dan istri dengan adanya tebusan yang memang dimaksudkan. Dengan definisi ini, maka tidak termasuk khulu‘ perpisahan yang terjadi karena tebusan berupa darah atau semisalnya.Khulu‘ hukumnya boleh dilakukan dengan tebusan yang jelas dan diketahui, serta memungkinkan untuk diserahkan. Apabila khulu‘ dilakukan dengan tebusan yang tidak jelas—misalnya suami melakukan khulu‘ dengan istrinya dengan imbalan sebuah pakaian yang tidak ditentukan secara jelas—maka perpisahan tetap terjadi, dan istri berpisah dengan ketentuan mahar misil (mahar yang setara dengan mahar wanita sepadannya).Khulu‘ yang sah menyebabkan seorang perempuan menjadi berkuasa atas dirinya sendiri, dan suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, baik tebusan tersebut sah maupun tidak sah. Adapun ungkapan “kecuali dengan akad nikah yang baru”, maka kalimat ini tidak terdapat dalam kebanyakan naskah.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid, dan perbuatan tersebut tidak dihukumi haram. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak, berbeda dengan perempuan yang ditalak raj‘i, karena talak masih dapat berlaku dan menyertainya. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada AlasanDari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ“Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR. Abu Daud no. 2226, Tirmidzi no. 1187 dan Ibnu Majah no. 2055. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).Hadits di atas menjadi dalil bahwa terlarangnya seorang wanita meminta cerai atau melakukan gugat cerai kecuali jika ada alasan yang dibenarkan.Al Hafizh Al Mubarakfuri berkata bahwa kenikmatan yang pertama kali dirasakan penduduk surga adalah mendapatkan baunya surga. Inilah yang didapatkan oleh orang-orang yang berbuat baik. Sedangkan yang disebutkan dalam hadits adalah wanita tersebut tidak mendapatkan bau surga itu. Hal ini menunjukkan ancaman bagi istri yang memaksa minta diceraikan tanpa alasan. (Tuhfatul Ahwadzi, 4: 381, terbitan Darus Salam). Al ‘Azhim Abadi juga menyebutkan hal yang sama dalam ‘Aunul Ma’bud, 6: 201, terbitan Darul Minhal.Dalil di atas yang menjadi dalil bolehnya istri melakukan gugat cerai (baca: khulu’), juga berdasarkan ayat,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al Baqarah: 229).Tentu saja istri bisa mengajukan gugatan cerai lewat lembaga yang resmi, yaitu melakukan Kantor Urusan Agama. Merekalah yang berhak memproses hal itu. Pensyari’atan Khulu’Khulu’ disyari’atkan berdasarkan dalil-dalil berikut ini.1- Firman Allah Ta’ala,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” (QS. Al Baqarah: 229).Bayaran ini adalah kompensasi yang diberikan agar terjadi perpisahan. Inilah dalil yang menunjukkan dibolehkannya khulu’ jika hikmah yang dimaksud dalam ayat tidak mampu dijalankan. (Tafsir As Sa’di, hal. 93).2- Dalil dari hadits,عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِى دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ ، إِلاَّ أَنِّى أَخَافُ الْكُفْرَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ » . فَقَالَتْ نَعَمْ . فَرَدَّتْ عَلَيْهِ ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَاDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullahm aku tidaklah menjelekkan agama dan akhlak Tsabit. Namun aku cuma khawatir jadi kufur.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu kembalikanlah kebun miliknya.” Istrinya menjawab, “Iya kalau begitu.” Istrinya pun mengembalikan kebun tersebut pada Tsabit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintah pada Tsabit, akhirnya mereka berdua berpisah. (HR. Bukhari no. 5276).3- Para ulama telah bersepakat tentang adanya khulu’. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah Bakr bin ‘Abdullah Al Muzani. Nasihat PenutupJangan jadikan perceraian sebagai solusi cepat setiap ada masalah kecil dalam rumah tangga. Banyak masalah sebenarnya bisa diselesaikan dengan sabar, komunikasi, dan saling memahami. Khulu’ adalah solusi terakhir, bukan pilihan pertama. Bijaklah dalam mengambil keputusan, karena dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga. Doa:اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif bayna qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta bayninā, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerai dalam islam fiqih nikah gugat cerai istri hukum Islam hukum khulu hukum talak keluarga sakinah khulu matan taqrib matan taqrib kitab nikah perceraian islam rumah tangga islami
Rumah tangga dalam Islam dibangun di atas ketenangan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Namun dalam kondisi tertentu, perpisahan menjadi jalan yang dibolehkan syariat. Salah satu bentuknya adalah khulu’, yaitu cerai atas permintaan istri dengan tebusan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada Alasan 3. Pensyari’atan Khulu’ 4. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata pada Matan Taqrib:وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَىٰ عِوَضٍ مَعْلُومٍ، وَتَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلَا رَجْعَةَ لَهُ عَلَيْهَا إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيدٍ، وَيَجُوزُ الْخُلْعُ فِي الطُّهْرِ وَفِي الْحَيْضِ، وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ.Khulu‘ (cerai atas permintaan istri dengan tebusan) hukumnya boleh, selama tebusannya jelas dan diketahui. Dengan khulu‘ tersebut, seorang perempuan menjadi berkuasa penuh atas dirinya (berpisah dari suaminya). Suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, kecuali dengan akad nikah yang baru.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak (khulu‘ tidak dihukumi sebagai talak). PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Khulu‘ dibaca dengan huruf kha berharakat dhammah. Kata ini berasal dari al-khal‘ (dengan fathah pada kha) yang berarti melepaskan atau mencabut. Secara istilah syariat, khulu‘ adalah perpisahan antara suami dan istri dengan adanya tebusan yang memang dimaksudkan. Dengan definisi ini, maka tidak termasuk khulu‘ perpisahan yang terjadi karena tebusan berupa darah atau semisalnya.Khulu‘ hukumnya boleh dilakukan dengan tebusan yang jelas dan diketahui, serta memungkinkan untuk diserahkan. Apabila khulu‘ dilakukan dengan tebusan yang tidak jelas—misalnya suami melakukan khulu‘ dengan istrinya dengan imbalan sebuah pakaian yang tidak ditentukan secara jelas—maka perpisahan tetap terjadi, dan istri berpisah dengan ketentuan mahar misil (mahar yang setara dengan mahar wanita sepadannya).Khulu‘ yang sah menyebabkan seorang perempuan menjadi berkuasa atas dirinya sendiri, dan suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, baik tebusan tersebut sah maupun tidak sah. Adapun ungkapan “kecuali dengan akad nikah yang baru”, maka kalimat ini tidak terdapat dalam kebanyakan naskah.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid, dan perbuatan tersebut tidak dihukumi haram. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak, berbeda dengan perempuan yang ditalak raj‘i, karena talak masih dapat berlaku dan menyertainya. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada AlasanDari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ“Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR. Abu Daud no. 2226, Tirmidzi no. 1187 dan Ibnu Majah no. 2055. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).Hadits di atas menjadi dalil bahwa terlarangnya seorang wanita meminta cerai atau melakukan gugat cerai kecuali jika ada alasan yang dibenarkan.Al Hafizh Al Mubarakfuri berkata bahwa kenikmatan yang pertama kali dirasakan penduduk surga adalah mendapatkan baunya surga. Inilah yang didapatkan oleh orang-orang yang berbuat baik. Sedangkan yang disebutkan dalam hadits adalah wanita tersebut tidak mendapatkan bau surga itu. Hal ini menunjukkan ancaman bagi istri yang memaksa minta diceraikan tanpa alasan. (Tuhfatul Ahwadzi, 4: 381, terbitan Darus Salam). Al ‘Azhim Abadi juga menyebutkan hal yang sama dalam ‘Aunul Ma’bud, 6: 201, terbitan Darul Minhal.Dalil di atas yang menjadi dalil bolehnya istri melakukan gugat cerai (baca: khulu’), juga berdasarkan ayat,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al Baqarah: 229).Tentu saja istri bisa mengajukan gugatan cerai lewat lembaga yang resmi, yaitu melakukan Kantor Urusan Agama. Merekalah yang berhak memproses hal itu. Pensyari’atan Khulu’Khulu’ disyari’atkan berdasarkan dalil-dalil berikut ini.1- Firman Allah Ta’ala,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” (QS. Al Baqarah: 229).Bayaran ini adalah kompensasi yang diberikan agar terjadi perpisahan. Inilah dalil yang menunjukkan dibolehkannya khulu’ jika hikmah yang dimaksud dalam ayat tidak mampu dijalankan. (Tafsir As Sa’di, hal. 93).2- Dalil dari hadits,عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِى دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ ، إِلاَّ أَنِّى أَخَافُ الْكُفْرَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ » . فَقَالَتْ نَعَمْ . فَرَدَّتْ عَلَيْهِ ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَاDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullahm aku tidaklah menjelekkan agama dan akhlak Tsabit. Namun aku cuma khawatir jadi kufur.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu kembalikanlah kebun miliknya.” Istrinya menjawab, “Iya kalau begitu.” Istrinya pun mengembalikan kebun tersebut pada Tsabit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintah pada Tsabit, akhirnya mereka berdua berpisah. (HR. Bukhari no. 5276).3- Para ulama telah bersepakat tentang adanya khulu’. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah Bakr bin ‘Abdullah Al Muzani. Nasihat PenutupJangan jadikan perceraian sebagai solusi cepat setiap ada masalah kecil dalam rumah tangga. Banyak masalah sebenarnya bisa diselesaikan dengan sabar, komunikasi, dan saling memahami. Khulu’ adalah solusi terakhir, bukan pilihan pertama. Bijaklah dalam mengambil keputusan, karena dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga. Doa:اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif bayna qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta bayninā, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerai dalam islam fiqih nikah gugat cerai istri hukum Islam hukum khulu hukum talak keluarga sakinah khulu matan taqrib matan taqrib kitab nikah perceraian islam rumah tangga islami


Rumah tangga dalam Islam dibangun di atas ketenangan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Namun dalam kondisi tertentu, perpisahan menjadi jalan yang dibolehkan syariat. Salah satu bentuknya adalah khulu’, yaitu cerai atas permintaan istri dengan tebusan.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada Alasan 3. Pensyari’atan Khulu’ 4. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata pada Matan Taqrib:وَالْخُلْعُ جَائِزٌ عَلَىٰ عِوَضٍ مَعْلُومٍ، وَتَمْلِكُ بِهِ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا، وَلَا رَجْعَةَ لَهُ عَلَيْهَا إِلَّا بِنِكَاحٍ جَدِيدٍ، وَيَجُوزُ الْخُلْعُ فِي الطُّهْرِ وَفِي الْحَيْضِ، وَلَا يَلْحَقُ الْمُخْتَلِعَةَ الطَّلَاقُ.Khulu‘ (cerai atas permintaan istri dengan tebusan) hukumnya boleh, selama tebusannya jelas dan diketahui. Dengan khulu‘ tersebut, seorang perempuan menjadi berkuasa penuh atas dirinya (berpisah dari suaminya). Suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, kecuali dengan akad nikah yang baru.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak (khulu‘ tidak dihukumi sebagai talak). PenjelasanDalam Fathul Qarib disebutkan:Khulu‘ dibaca dengan huruf kha berharakat dhammah. Kata ini berasal dari al-khal‘ (dengan fathah pada kha) yang berarti melepaskan atau mencabut. Secara istilah syariat, khulu‘ adalah perpisahan antara suami dan istri dengan adanya tebusan yang memang dimaksudkan. Dengan definisi ini, maka tidak termasuk khulu‘ perpisahan yang terjadi karena tebusan berupa darah atau semisalnya.Khulu‘ hukumnya boleh dilakukan dengan tebusan yang jelas dan diketahui, serta memungkinkan untuk diserahkan. Apabila khulu‘ dilakukan dengan tebusan yang tidak jelas—misalnya suami melakukan khulu‘ dengan istrinya dengan imbalan sebuah pakaian yang tidak ditentukan secara jelas—maka perpisahan tetap terjadi, dan istri berpisah dengan ketentuan mahar misil (mahar yang setara dengan mahar wanita sepadannya).Khulu‘ yang sah menyebabkan seorang perempuan menjadi berkuasa atas dirinya sendiri, dan suami tidak memiliki hak rujuk kepadanya, baik tebusan tersebut sah maupun tidak sah. Adapun ungkapan “kecuali dengan akad nikah yang baru”, maka kalimat ini tidak terdapat dalam kebanyakan naskah.Khulu‘ boleh dilakukan baik ketika istri dalam keadaan suci maupun ketika sedang haid, dan perbuatan tersebut tidak dihukumi haram. Perempuan yang melakukan khulu‘ tidak terkena hukum talak, berbeda dengan perempuan yang ditalak raj‘i, karena talak masih dapat berlaku dan menyertainya. Bahaya Meminta Cerai Tanpa Ada AlasanDari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ“Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR. Abu Daud no. 2226, Tirmidzi no. 1187 dan Ibnu Majah no. 2055. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).Hadits di atas menjadi dalil bahwa terlarangnya seorang wanita meminta cerai atau melakukan gugat cerai kecuali jika ada alasan yang dibenarkan.Al Hafizh Al Mubarakfuri berkata bahwa kenikmatan yang pertama kali dirasakan penduduk surga adalah mendapatkan baunya surga. Inilah yang didapatkan oleh orang-orang yang berbuat baik. Sedangkan yang disebutkan dalam hadits adalah wanita tersebut tidak mendapatkan bau surga itu. Hal ini menunjukkan ancaman bagi istri yang memaksa minta diceraikan tanpa alasan. (Tuhfatul Ahwadzi, 4: 381, terbitan Darus Salam). Al ‘Azhim Abadi juga menyebutkan hal yang sama dalam ‘Aunul Ma’bud, 6: 201, terbitan Darul Minhal.Dalil di atas yang menjadi dalil bolehnya istri melakukan gugat cerai (baca: khulu’), juga berdasarkan ayat,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al Baqarah: 229).Tentu saja istri bisa mengajukan gugatan cerai lewat lembaga yang resmi, yaitu melakukan Kantor Urusan Agama. Merekalah yang berhak memproses hal itu. Pensyari’atan Khulu’Khulu’ disyari’atkan berdasarkan dalil-dalil berikut ini.1- Firman Allah Ta’ala,فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” (QS. Al Baqarah: 229).Bayaran ini adalah kompensasi yang diberikan agar terjadi perpisahan. Inilah dalil yang menunjukkan dibolehkannya khulu’ jika hikmah yang dimaksud dalam ayat tidak mampu dijalankan. (Tafsir As Sa’di, hal. 93).2- Dalil dari hadits,عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِى دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ ، إِلاَّ أَنِّى أَخَافُ الْكُفْرَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ » . فَقَالَتْ نَعَمْ . فَرَدَّتْ عَلَيْهِ ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَاDari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullahm aku tidaklah menjelekkan agama dan akhlak Tsabit. Namun aku cuma khawatir jadi kufur.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu kembalikanlah kebun miliknya.” Istrinya menjawab, “Iya kalau begitu.” Istrinya pun mengembalikan kebun tersebut pada Tsabit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintah pada Tsabit, akhirnya mereka berdua berpisah. (HR. Bukhari no. 5276).3- Para ulama telah bersepakat tentang adanya khulu’. Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah Bakr bin ‘Abdullah Al Muzani. Nasihat PenutupJangan jadikan perceraian sebagai solusi cepat setiap ada masalah kecil dalam rumah tangga. Banyak masalah sebenarnya bisa diselesaikan dengan sabar, komunikasi, dan saling memahami. Khulu’ adalah solusi terakhir, bukan pilihan pertama. Bijaklah dalam mengambil keputusan, karena dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga. Doa:اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِAllāhumma allif bayna qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta bayninā, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagscerai dalam islam fiqih nikah gugat cerai istri hukum Islam hukum khulu hukum talak keluarga sakinah khulu matan taqrib matan taqrib kitab nikah perceraian islam rumah tangga islami

Doa Paling Lengkap: Meminta Semua Kebaikan dan Cinta Allah

Doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk doa yang sangat agung dan mencakup seluruh kebaikan. Di dalamnya terkandung permohonan dunia dan akhirat sekaligus. Siapa yang memahaminya dan mengamalkannya, akan meraih kebahagiaan yang sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh Allah 2. Doa yang Paling Lengkap dan Agung 3. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua Keburukan 4. Keutamaan Mencintai Orang Miskin 5. Memohon Ampunan dan Rahmat Allah 6. Memohon Wafat Sebelum Datangnya Fitnah 7. Memohon Cinta Allah: Puncak Segala Harapan 8. Nasihat Penutup  Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh AllahDalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan, hadits dari Mu’adz bin Jabal:احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ، فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ، Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat menemui kami untuk shalat Shubuh, sampai-sampai kami hampir melihat matahari terbit. Lalu beliau keluar dengan cepat, iqamah pun dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengimami shalat dan meringankan shalat beliau.فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ فَقَالَ لَنَا: عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ، ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمُ الْغَدَاةَ:Setelah salam, beliau memanggil kami dengan suara keras, lalu bersabda, “Tetaplah di tempat shaf kalian sebagaimana adanya.” Kemudian beliau menoleh kepada kami dan bersabda, “Sungguh, aku akan menceritakan kepada kalian apa yang membuatku tertahan dari menemui kalian pagi ini.إِنِّي قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ فَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي، فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ، فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: رَبِّ لَبَّيْكَ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: لَا أَدْرِي رَبِّ، قَالَهَا ثَلَاثًا،Tadi malam aku bangun, lalu berwudhu dan mengerjakan shalat semampuku. Kemudian aku mengantuk dalam shalatku hingga terasa berat. Tiba-tiba aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta‘ala dalam bentuk yang paling indah. Lalu Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku.’ Hal itu diucapkan sampai tiga kali.قَالَ: فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ، فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ، Kemudian aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, hingga aku merasakan dingin ujung jari-jari-Nya di dadaku. Lalu menjadi jelas bagiku segala sesuatu, dan aku pun mengetahui jawabannya.فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَبِّ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: فِي الْكَفَّارَاتِ، قَالَ: مَا هُنَّ؟ قُلْتُ: مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ،Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Tentang amalan-amalan penghapus dosa.’ Dia berfirman, ‘Apa saja itu?’ Aku menjawab, ‘Melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan.’قَالَ: ثُمَّ فِيمَ؟ قُلْتُ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَلِينُ الْكَلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. Dia berfirman, ‘Lalu tentang apa lagi?’ Aku menjawab, ‘Memberi makan, berkata dengan lembut, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur.’قَالَ: سَلْ. قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ. Dia berfirman, ‘Mintalah.’ Ucapkanlah:‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku serta merahmatiku. Jika Engkau menghendaki adanya fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kepada cinta-Mu.’”قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sesungguhnya ini benar, maka pelajarilah dan kemudian pahamilah baik-baik.” (HR. Tirmidzi, no. 3235 dan Ahmad, no. 22162. Hadits ini sahih menurut Syaikh Al-Albani) Doa yang Paling Lengkap dan AgungDoa yang penuh keberkahan ini, wahai hamba Allah, termasuk doa yang paling mencakup dan paling sempurna. Doa ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung, karena di dalamnya terdapat permohonan kepada Allah Ta‘ala agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal terbaik dari berbagai kebaikan, serta permohonan agar dijaga dari semua kemungkaran, keburukan, dan berbagai fitnah serta ujian, baik dalam urusan agama, kehidupan dunia, maupun akhirat.Karena itu, seorang hamba seharusnya memperbanyak doa ini, memahami tujuan dan maknanya, serta mengamalkan kandungannya. Barang siapa mempelajarinya dan mengamalkannya, ia akan meraih kebahagiaan dan kenikmatan di dunia, alam barzakh, dan akhirat.Di antara keagungan dan tingginya kedudukan doa ini adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya ketika beliau melihat-Nya dalam mimpi—dan mimpi para nabi adalah benar. Allah berfirman kepadanya:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَAllahumma inni as’aluka fi’lal khairoot, wa tarkal munkaroot, wa hubbal masaakiin, wa an taghfira li wa tarhamani, wa idza arodta fitnata qoumin fatawaffani ghaira maftuunin, wa as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribuni ilaa hubbik.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, serta agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا وَتَعَلَّمُوهَا“Sesungguhnya doa ini benar, maka pelajarilah dan pahamilah.”Beliau memerintahkan untuk mempelajarinya, memahami makna dan tujuannya. Ini menunjukkan keistimewaan doa ini dibandingkan doa-doa lainnya, sebagaimana telah dijelaskan. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua KeburukanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran” mengandung permohonan untuk meraih seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh keburukan.Yang dimaksud dengan kebaikan mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan yang mendekatkan kepada-Nya, baik berupa amal perbuatan maupun ucapan, baik yang wajib maupun yang sunnah.Adapun kemungkaran mencakup segala sesuatu yang dibenci oleh Allah Ta‘ala dan menjauhkan dari-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.Siapa yang mendapatkan dua hal ini—melakukan semua kebaikan dan meninggalkan semua keburukan—maka ia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Ini termasuk kalimat yang sangat ringkas namun mencakup makna yang luas, yang merupakan bagian dari keistimewaan yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau memang menyukai doa-doa yang singkat namun penuh makna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang mencakup (banyak makna) dan meninggalkan selainnya.” (HR. Abu Daud, no. 1482; Ath-Thayalis, 2:444; Ibnu Abi Syaibah, 6:21. Syaikh Al-Albani membawakan hadits ini dalam kitab Sahih Sunan Abi Daud) Keutamaan Mencintai Orang MiskinUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ“Mencintai orang-orang miskin,” termasuk bagian dari melakukan kebaikan. Namun disebutkan secara khusus—padahal sudah masuk dalam makna umum kebaikan—karena menunjukkan kemuliaannya dan besarnya perhatian terhadap hal ini.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memohon kepada Allah agar dijadikan termasuk golongan mereka, serta dikumpulkan bersama mereka:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Bergaul dengan orang-orang fakir, no. 4126; juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, 4/322 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 308 dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3328).Mencintai orang miskin merupakan bagian dari dasar cinta karena Allah. Sebab, mereka tidak memiliki kenikmatan dunia yang membuat orang mencintai mereka karena dunia. Maka, mencintai mereka murni karena Allah ‘Azza wa Jalla.Cinta karena Allah termasuk ikatan iman yang paling kuat, bahkan termasuk bentuk iman yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud dalam Kitab As-Sunnah, Bab: Dalil bahwa iman itu bertambah, no. 4683; At-Tirmidzi dalam Kitab Sifat Hari Kiamat dan Raqa’iq, no. 2521 dengan lafaz yang serupa; juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, 24/383, Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 3/197, Ibnu Abi Syaibah, 11/47, Abu Ya‘la, 3/60, dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 8/134. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/657, no. 380 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 5965).Ia juga akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ“Ada tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab: Manisnya iman, no. 16; dan oleh Muslim—lafaz hadits ini miliknya—dalam Kitab Al-Iman, Bab: Penjelasan sifat-sifat yang jika dimiliki seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, no. 43).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ، وَقَرِّبِيهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; juga oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12 dan dalam Syu‘abul Iman, 3/50. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 3252). Memohon Ampunan dan Rahmat AllahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي“Maka ampunilah aku dan rahmatilah aku,”mengandung permohonan akan ampunan dan rahmat, karena keduanya mencakup seluruh kebaikan akhirat. Dengan ampunan, seorang hamba akan aman dari azab dan dari segala keburukan. Adapun rahmat, itu berarti masuk ke dalam surga dan mendapatkan derajat yang tinggi di dalamnya.Segala kenikmatan yang ada di surga merupakan bagian dari rahmat Allah Ta‘ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab: Firman Allah “Dan kamu berkata: apakah masih ada tambahan?” (QS. Qaf: 30), no. 4850; dan oleh Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Neraka dimasuki oleh orang-orang sombong dan surga dimasuki oleh orang-orang lemah, no. 2846).Maksud dari doa ini adalah: agar Allah menutupi dosa-dosa, menghapusnya, dan melimpahkan rahmat-Nya dengan terus-menerus, baik di dunia maupun di akhirat, serta memberi taufik untuk bertaubat dan menerima taubat tersebut. Memohon Wafat Sebelum Datangnya FitnahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ“Jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah,”maknanya: jika Allah hendak menimpakan fitnah dan hukuman kepada suatu kaum, baik berupa fitnah dalam agama, atau musibah dunia seperti berbagai ujian, bencana, dan azab, maka seorang hamba memohon agar diwafatkan sebelum hal itu terjadi dan sebelum manusia terjatuh ke dalamnya.Tujuan dari doa yang agung ini adalah agar selamat dari fitnah sepanjang hidup, serta terhindar dari segala keburukan sebelum hal itu menimpa. Juga agar Allah mewafatkan seorang hamba dalam keadaan selamat dan terjaga sebelum datangnya fitnah.Tidak diragukan lagi, ini termasuk doa yang sangat penting, karena di antara harapan terbesar seorang mukmin adalah hidup dalam keadaan selamat dari fitnah dan ujian, lalu diwafatkan oleh Allah sebelum fitnah itu datang.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah:تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”  (HR. Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Ditampakkannya tempat tinggal mayit dari surga atau neraka kepadanya, penetapan adanya azab kubur, dan anjuran berlindung darinya, no. 2867).Dalam hadits ini juga terdapat dalil bolehnya berdoa meminta kematian karena khawatir terkena fitnah dalam agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ“Ada dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian, padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah; dan sedikit harta, padahal sedikit harta lebih ringan dalam hisab.”  (HR. Ahmad, 39/36, no. 23625 dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat Ash-Shahabah, 5/2525, no. 6114. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/129 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 139). Memohon Cinta Allah: Puncak Segala HarapanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ“Dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,”kemudian beliau memohon sesuatu yang merupakan tuntutan paling agung, derajat paling tinggi, dan harapan paling mulia. Maksudnya: aku memohon agar Engkau mencintaiku. Ini adalah tujuan terbesar, yaitu seorang hamba menjadi orang yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Doa ini juga mengandung permohonan agar seorang hamba mencintai Rabbnya, yaitu: aku memohon agar aku mencintai-Mu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai daripada-Mu.Doa yang agung ini termasuk doa yang paling mulia karena mencakup makna yang sangat luas. Ia mengumpulkan seluruh kebaikan. Jika cinta kepada Allah telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka anggota tubuhnya akan bergerak mengikuti apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Ia akan mencintai semua amal dan ucapan yang dicintai Allah, sehingga ia melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemungkaran. Inilah kesempurnaan penghambaan kepada Allah, Rabb semesta alam.Barang siapa meminta cinta Allah, maka Allah akan memberinya lebih dari yang ia harapkan dari urusan dunia sebagai tambahan. Siapa yang dianugerahi cinta ini, maka seluruh ucapan dan perbuatannya akan sesuai dengan kehendak Allah. Ia juga akan diberi kecintaan dan penerimaan di bumi dan di langit, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih.Ucapan Nabi:وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ“Dan cinta kepada orang yang mencintai-Mu,”maksudnya: aku memohon agar mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, seperti para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.Ucapan beliau:وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ“Dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu,”maksudnya: aku memohon agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal saleh yang paling dicintai, yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu. Barang siapa dianugerahi cinta-cinta ini, maka ia telah beruntung di dunia dan akhirat.Permohonan tentang berbagai bentuk cinta ini sebenarnya sudah termasuk dalam awal doa, yaitu “melakukan kebaikan”. Namun disebutkan secara khusus sebagai bentuk perhatian besar terhadap hal ini, karena ia merupakan inti, puncak, dan pengumpul seluruh kebaikan.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memahami doa ini dan mengamalkannya, karena agungnya kandungan yang ada di dalamnya, berupa berbagai permohonan dan tujuan mulia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pemahaman lafaz-lafaznya, menghadirkan maknanya saat berdoa, karena hal itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan, lebih berpengaruh pada hati, serta menghadirkan manisnya iman dan nikmatnya bermunajat kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Nasihat PenutupBanyak orang sibuk dengan doa-doa panjang, tetapi lupa doa yang paling lengkap seperti ini. Padahal, doa ini mencakup seluruh kebutuhan hidup seorang hamba. Luangkan waktu untuk menghafal, memahami, dan mengamalkannya setiap hari. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah dan dijaga dari fitnah.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَAllahumma inna nas’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik, waghfir lana warhamna wa tsabbitna ‘ala dinik.Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan tetapkan kami di atas agama-Mu. Sumber rujukan: kalemtayeb.com —– Senin, 11 Syawal 1447 HDisusun saat perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul menuju Masjid Mina JakalPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh cinta Allah doa harian doa lengkap doa mustajab doa nabi doa terbaik fitnah dunia iman kumpulan doa rumaysho meninggalkan maksiat

Doa Paling Lengkap: Meminta Semua Kebaikan dan Cinta Allah

Doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk doa yang sangat agung dan mencakup seluruh kebaikan. Di dalamnya terkandung permohonan dunia dan akhirat sekaligus. Siapa yang memahaminya dan mengamalkannya, akan meraih kebahagiaan yang sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh Allah 2. Doa yang Paling Lengkap dan Agung 3. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua Keburukan 4. Keutamaan Mencintai Orang Miskin 5. Memohon Ampunan dan Rahmat Allah 6. Memohon Wafat Sebelum Datangnya Fitnah 7. Memohon Cinta Allah: Puncak Segala Harapan 8. Nasihat Penutup  Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh AllahDalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan, hadits dari Mu’adz bin Jabal:احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ، فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ، Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat menemui kami untuk shalat Shubuh, sampai-sampai kami hampir melihat matahari terbit. Lalu beliau keluar dengan cepat, iqamah pun dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengimami shalat dan meringankan shalat beliau.فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ فَقَالَ لَنَا: عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ، ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمُ الْغَدَاةَ:Setelah salam, beliau memanggil kami dengan suara keras, lalu bersabda, “Tetaplah di tempat shaf kalian sebagaimana adanya.” Kemudian beliau menoleh kepada kami dan bersabda, “Sungguh, aku akan menceritakan kepada kalian apa yang membuatku tertahan dari menemui kalian pagi ini.إِنِّي قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ فَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي، فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ، فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: رَبِّ لَبَّيْكَ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: لَا أَدْرِي رَبِّ، قَالَهَا ثَلَاثًا،Tadi malam aku bangun, lalu berwudhu dan mengerjakan shalat semampuku. Kemudian aku mengantuk dalam shalatku hingga terasa berat. Tiba-tiba aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta‘ala dalam bentuk yang paling indah. Lalu Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku.’ Hal itu diucapkan sampai tiga kali.قَالَ: فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ، فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ، Kemudian aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, hingga aku merasakan dingin ujung jari-jari-Nya di dadaku. Lalu menjadi jelas bagiku segala sesuatu, dan aku pun mengetahui jawabannya.فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَبِّ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: فِي الْكَفَّارَاتِ، قَالَ: مَا هُنَّ؟ قُلْتُ: مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ،Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Tentang amalan-amalan penghapus dosa.’ Dia berfirman, ‘Apa saja itu?’ Aku menjawab, ‘Melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan.’قَالَ: ثُمَّ فِيمَ؟ قُلْتُ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَلِينُ الْكَلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. Dia berfirman, ‘Lalu tentang apa lagi?’ Aku menjawab, ‘Memberi makan, berkata dengan lembut, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur.’قَالَ: سَلْ. قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ. Dia berfirman, ‘Mintalah.’ Ucapkanlah:‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku serta merahmatiku. Jika Engkau menghendaki adanya fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kepada cinta-Mu.’”قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sesungguhnya ini benar, maka pelajarilah dan kemudian pahamilah baik-baik.” (HR. Tirmidzi, no. 3235 dan Ahmad, no. 22162. Hadits ini sahih menurut Syaikh Al-Albani) Doa yang Paling Lengkap dan AgungDoa yang penuh keberkahan ini, wahai hamba Allah, termasuk doa yang paling mencakup dan paling sempurna. Doa ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung, karena di dalamnya terdapat permohonan kepada Allah Ta‘ala agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal terbaik dari berbagai kebaikan, serta permohonan agar dijaga dari semua kemungkaran, keburukan, dan berbagai fitnah serta ujian, baik dalam urusan agama, kehidupan dunia, maupun akhirat.Karena itu, seorang hamba seharusnya memperbanyak doa ini, memahami tujuan dan maknanya, serta mengamalkan kandungannya. Barang siapa mempelajarinya dan mengamalkannya, ia akan meraih kebahagiaan dan kenikmatan di dunia, alam barzakh, dan akhirat.Di antara keagungan dan tingginya kedudukan doa ini adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya ketika beliau melihat-Nya dalam mimpi—dan mimpi para nabi adalah benar. Allah berfirman kepadanya:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَAllahumma inni as’aluka fi’lal khairoot, wa tarkal munkaroot, wa hubbal masaakiin, wa an taghfira li wa tarhamani, wa idza arodta fitnata qoumin fatawaffani ghaira maftuunin, wa as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribuni ilaa hubbik.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, serta agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا وَتَعَلَّمُوهَا“Sesungguhnya doa ini benar, maka pelajarilah dan pahamilah.”Beliau memerintahkan untuk mempelajarinya, memahami makna dan tujuannya. Ini menunjukkan keistimewaan doa ini dibandingkan doa-doa lainnya, sebagaimana telah dijelaskan. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua KeburukanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran” mengandung permohonan untuk meraih seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh keburukan.Yang dimaksud dengan kebaikan mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan yang mendekatkan kepada-Nya, baik berupa amal perbuatan maupun ucapan, baik yang wajib maupun yang sunnah.Adapun kemungkaran mencakup segala sesuatu yang dibenci oleh Allah Ta‘ala dan menjauhkan dari-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.Siapa yang mendapatkan dua hal ini—melakukan semua kebaikan dan meninggalkan semua keburukan—maka ia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Ini termasuk kalimat yang sangat ringkas namun mencakup makna yang luas, yang merupakan bagian dari keistimewaan yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau memang menyukai doa-doa yang singkat namun penuh makna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang mencakup (banyak makna) dan meninggalkan selainnya.” (HR. Abu Daud, no. 1482; Ath-Thayalis, 2:444; Ibnu Abi Syaibah, 6:21. Syaikh Al-Albani membawakan hadits ini dalam kitab Sahih Sunan Abi Daud) Keutamaan Mencintai Orang MiskinUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ“Mencintai orang-orang miskin,” termasuk bagian dari melakukan kebaikan. Namun disebutkan secara khusus—padahal sudah masuk dalam makna umum kebaikan—karena menunjukkan kemuliaannya dan besarnya perhatian terhadap hal ini.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memohon kepada Allah agar dijadikan termasuk golongan mereka, serta dikumpulkan bersama mereka:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Bergaul dengan orang-orang fakir, no. 4126; juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, 4/322 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 308 dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3328).Mencintai orang miskin merupakan bagian dari dasar cinta karena Allah. Sebab, mereka tidak memiliki kenikmatan dunia yang membuat orang mencintai mereka karena dunia. Maka, mencintai mereka murni karena Allah ‘Azza wa Jalla.Cinta karena Allah termasuk ikatan iman yang paling kuat, bahkan termasuk bentuk iman yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud dalam Kitab As-Sunnah, Bab: Dalil bahwa iman itu bertambah, no. 4683; At-Tirmidzi dalam Kitab Sifat Hari Kiamat dan Raqa’iq, no. 2521 dengan lafaz yang serupa; juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, 24/383, Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 3/197, Ibnu Abi Syaibah, 11/47, Abu Ya‘la, 3/60, dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 8/134. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/657, no. 380 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 5965).Ia juga akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ“Ada tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab: Manisnya iman, no. 16; dan oleh Muslim—lafaz hadits ini miliknya—dalam Kitab Al-Iman, Bab: Penjelasan sifat-sifat yang jika dimiliki seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, no. 43).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ، وَقَرِّبِيهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; juga oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12 dan dalam Syu‘abul Iman, 3/50. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 3252). Memohon Ampunan dan Rahmat AllahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي“Maka ampunilah aku dan rahmatilah aku,”mengandung permohonan akan ampunan dan rahmat, karena keduanya mencakup seluruh kebaikan akhirat. Dengan ampunan, seorang hamba akan aman dari azab dan dari segala keburukan. Adapun rahmat, itu berarti masuk ke dalam surga dan mendapatkan derajat yang tinggi di dalamnya.Segala kenikmatan yang ada di surga merupakan bagian dari rahmat Allah Ta‘ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab: Firman Allah “Dan kamu berkata: apakah masih ada tambahan?” (QS. Qaf: 30), no. 4850; dan oleh Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Neraka dimasuki oleh orang-orang sombong dan surga dimasuki oleh orang-orang lemah, no. 2846).Maksud dari doa ini adalah: agar Allah menutupi dosa-dosa, menghapusnya, dan melimpahkan rahmat-Nya dengan terus-menerus, baik di dunia maupun di akhirat, serta memberi taufik untuk bertaubat dan menerima taubat tersebut. Memohon Wafat Sebelum Datangnya FitnahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ“Jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah,”maknanya: jika Allah hendak menimpakan fitnah dan hukuman kepada suatu kaum, baik berupa fitnah dalam agama, atau musibah dunia seperti berbagai ujian, bencana, dan azab, maka seorang hamba memohon agar diwafatkan sebelum hal itu terjadi dan sebelum manusia terjatuh ke dalamnya.Tujuan dari doa yang agung ini adalah agar selamat dari fitnah sepanjang hidup, serta terhindar dari segala keburukan sebelum hal itu menimpa. Juga agar Allah mewafatkan seorang hamba dalam keadaan selamat dan terjaga sebelum datangnya fitnah.Tidak diragukan lagi, ini termasuk doa yang sangat penting, karena di antara harapan terbesar seorang mukmin adalah hidup dalam keadaan selamat dari fitnah dan ujian, lalu diwafatkan oleh Allah sebelum fitnah itu datang.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah:تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”  (HR. Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Ditampakkannya tempat tinggal mayit dari surga atau neraka kepadanya, penetapan adanya azab kubur, dan anjuran berlindung darinya, no. 2867).Dalam hadits ini juga terdapat dalil bolehnya berdoa meminta kematian karena khawatir terkena fitnah dalam agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ“Ada dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian, padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah; dan sedikit harta, padahal sedikit harta lebih ringan dalam hisab.”  (HR. Ahmad, 39/36, no. 23625 dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat Ash-Shahabah, 5/2525, no. 6114. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/129 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 139). Memohon Cinta Allah: Puncak Segala HarapanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ“Dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,”kemudian beliau memohon sesuatu yang merupakan tuntutan paling agung, derajat paling tinggi, dan harapan paling mulia. Maksudnya: aku memohon agar Engkau mencintaiku. Ini adalah tujuan terbesar, yaitu seorang hamba menjadi orang yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Doa ini juga mengandung permohonan agar seorang hamba mencintai Rabbnya, yaitu: aku memohon agar aku mencintai-Mu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai daripada-Mu.Doa yang agung ini termasuk doa yang paling mulia karena mencakup makna yang sangat luas. Ia mengumpulkan seluruh kebaikan. Jika cinta kepada Allah telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka anggota tubuhnya akan bergerak mengikuti apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Ia akan mencintai semua amal dan ucapan yang dicintai Allah, sehingga ia melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemungkaran. Inilah kesempurnaan penghambaan kepada Allah, Rabb semesta alam.Barang siapa meminta cinta Allah, maka Allah akan memberinya lebih dari yang ia harapkan dari urusan dunia sebagai tambahan. Siapa yang dianugerahi cinta ini, maka seluruh ucapan dan perbuatannya akan sesuai dengan kehendak Allah. Ia juga akan diberi kecintaan dan penerimaan di bumi dan di langit, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih.Ucapan Nabi:وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ“Dan cinta kepada orang yang mencintai-Mu,”maksudnya: aku memohon agar mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, seperti para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.Ucapan beliau:وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ“Dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu,”maksudnya: aku memohon agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal saleh yang paling dicintai, yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu. Barang siapa dianugerahi cinta-cinta ini, maka ia telah beruntung di dunia dan akhirat.Permohonan tentang berbagai bentuk cinta ini sebenarnya sudah termasuk dalam awal doa, yaitu “melakukan kebaikan”. Namun disebutkan secara khusus sebagai bentuk perhatian besar terhadap hal ini, karena ia merupakan inti, puncak, dan pengumpul seluruh kebaikan.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memahami doa ini dan mengamalkannya, karena agungnya kandungan yang ada di dalamnya, berupa berbagai permohonan dan tujuan mulia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pemahaman lafaz-lafaznya, menghadirkan maknanya saat berdoa, karena hal itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan, lebih berpengaruh pada hati, serta menghadirkan manisnya iman dan nikmatnya bermunajat kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Nasihat PenutupBanyak orang sibuk dengan doa-doa panjang, tetapi lupa doa yang paling lengkap seperti ini. Padahal, doa ini mencakup seluruh kebutuhan hidup seorang hamba. Luangkan waktu untuk menghafal, memahami, dan mengamalkannya setiap hari. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah dan dijaga dari fitnah.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَAllahumma inna nas’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik, waghfir lana warhamna wa tsabbitna ‘ala dinik.Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan tetapkan kami di atas agama-Mu. Sumber rujukan: kalemtayeb.com —– Senin, 11 Syawal 1447 HDisusun saat perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul menuju Masjid Mina JakalPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh cinta Allah doa harian doa lengkap doa mustajab doa nabi doa terbaik fitnah dunia iman kumpulan doa rumaysho meninggalkan maksiat
Doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk doa yang sangat agung dan mencakup seluruh kebaikan. Di dalamnya terkandung permohonan dunia dan akhirat sekaligus. Siapa yang memahaminya dan mengamalkannya, akan meraih kebahagiaan yang sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh Allah 2. Doa yang Paling Lengkap dan Agung 3. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua Keburukan 4. Keutamaan Mencintai Orang Miskin 5. Memohon Ampunan dan Rahmat Allah 6. Memohon Wafat Sebelum Datangnya Fitnah 7. Memohon Cinta Allah: Puncak Segala Harapan 8. Nasihat Penutup  Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh AllahDalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan, hadits dari Mu’adz bin Jabal:احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ، فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ، Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat menemui kami untuk shalat Shubuh, sampai-sampai kami hampir melihat matahari terbit. Lalu beliau keluar dengan cepat, iqamah pun dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengimami shalat dan meringankan shalat beliau.فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ فَقَالَ لَنَا: عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ، ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمُ الْغَدَاةَ:Setelah salam, beliau memanggil kami dengan suara keras, lalu bersabda, “Tetaplah di tempat shaf kalian sebagaimana adanya.” Kemudian beliau menoleh kepada kami dan bersabda, “Sungguh, aku akan menceritakan kepada kalian apa yang membuatku tertahan dari menemui kalian pagi ini.إِنِّي قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ فَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي، فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ، فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: رَبِّ لَبَّيْكَ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: لَا أَدْرِي رَبِّ، قَالَهَا ثَلَاثًا،Tadi malam aku bangun, lalu berwudhu dan mengerjakan shalat semampuku. Kemudian aku mengantuk dalam shalatku hingga terasa berat. Tiba-tiba aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta‘ala dalam bentuk yang paling indah. Lalu Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku.’ Hal itu diucapkan sampai tiga kali.قَالَ: فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ، فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ، Kemudian aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, hingga aku merasakan dingin ujung jari-jari-Nya di dadaku. Lalu menjadi jelas bagiku segala sesuatu, dan aku pun mengetahui jawabannya.فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَبِّ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: فِي الْكَفَّارَاتِ، قَالَ: مَا هُنَّ؟ قُلْتُ: مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ،Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Tentang amalan-amalan penghapus dosa.’ Dia berfirman, ‘Apa saja itu?’ Aku menjawab, ‘Melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan.’قَالَ: ثُمَّ فِيمَ؟ قُلْتُ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَلِينُ الْكَلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. Dia berfirman, ‘Lalu tentang apa lagi?’ Aku menjawab, ‘Memberi makan, berkata dengan lembut, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur.’قَالَ: سَلْ. قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ. Dia berfirman, ‘Mintalah.’ Ucapkanlah:‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku serta merahmatiku. Jika Engkau menghendaki adanya fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kepada cinta-Mu.’”قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sesungguhnya ini benar, maka pelajarilah dan kemudian pahamilah baik-baik.” (HR. Tirmidzi, no. 3235 dan Ahmad, no. 22162. Hadits ini sahih menurut Syaikh Al-Albani) Doa yang Paling Lengkap dan AgungDoa yang penuh keberkahan ini, wahai hamba Allah, termasuk doa yang paling mencakup dan paling sempurna. Doa ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung, karena di dalamnya terdapat permohonan kepada Allah Ta‘ala agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal terbaik dari berbagai kebaikan, serta permohonan agar dijaga dari semua kemungkaran, keburukan, dan berbagai fitnah serta ujian, baik dalam urusan agama, kehidupan dunia, maupun akhirat.Karena itu, seorang hamba seharusnya memperbanyak doa ini, memahami tujuan dan maknanya, serta mengamalkan kandungannya. Barang siapa mempelajarinya dan mengamalkannya, ia akan meraih kebahagiaan dan kenikmatan di dunia, alam barzakh, dan akhirat.Di antara keagungan dan tingginya kedudukan doa ini adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya ketika beliau melihat-Nya dalam mimpi—dan mimpi para nabi adalah benar. Allah berfirman kepadanya:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَAllahumma inni as’aluka fi’lal khairoot, wa tarkal munkaroot, wa hubbal masaakiin, wa an taghfira li wa tarhamani, wa idza arodta fitnata qoumin fatawaffani ghaira maftuunin, wa as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribuni ilaa hubbik.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, serta agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا وَتَعَلَّمُوهَا“Sesungguhnya doa ini benar, maka pelajarilah dan pahamilah.”Beliau memerintahkan untuk mempelajarinya, memahami makna dan tujuannya. Ini menunjukkan keistimewaan doa ini dibandingkan doa-doa lainnya, sebagaimana telah dijelaskan. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua KeburukanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran” mengandung permohonan untuk meraih seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh keburukan.Yang dimaksud dengan kebaikan mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan yang mendekatkan kepada-Nya, baik berupa amal perbuatan maupun ucapan, baik yang wajib maupun yang sunnah.Adapun kemungkaran mencakup segala sesuatu yang dibenci oleh Allah Ta‘ala dan menjauhkan dari-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.Siapa yang mendapatkan dua hal ini—melakukan semua kebaikan dan meninggalkan semua keburukan—maka ia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Ini termasuk kalimat yang sangat ringkas namun mencakup makna yang luas, yang merupakan bagian dari keistimewaan yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau memang menyukai doa-doa yang singkat namun penuh makna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang mencakup (banyak makna) dan meninggalkan selainnya.” (HR. Abu Daud, no. 1482; Ath-Thayalis, 2:444; Ibnu Abi Syaibah, 6:21. Syaikh Al-Albani membawakan hadits ini dalam kitab Sahih Sunan Abi Daud) Keutamaan Mencintai Orang MiskinUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ“Mencintai orang-orang miskin,” termasuk bagian dari melakukan kebaikan. Namun disebutkan secara khusus—padahal sudah masuk dalam makna umum kebaikan—karena menunjukkan kemuliaannya dan besarnya perhatian terhadap hal ini.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memohon kepada Allah agar dijadikan termasuk golongan mereka, serta dikumpulkan bersama mereka:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Bergaul dengan orang-orang fakir, no. 4126; juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, 4/322 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 308 dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3328).Mencintai orang miskin merupakan bagian dari dasar cinta karena Allah. Sebab, mereka tidak memiliki kenikmatan dunia yang membuat orang mencintai mereka karena dunia. Maka, mencintai mereka murni karena Allah ‘Azza wa Jalla.Cinta karena Allah termasuk ikatan iman yang paling kuat, bahkan termasuk bentuk iman yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud dalam Kitab As-Sunnah, Bab: Dalil bahwa iman itu bertambah, no. 4683; At-Tirmidzi dalam Kitab Sifat Hari Kiamat dan Raqa’iq, no. 2521 dengan lafaz yang serupa; juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, 24/383, Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 3/197, Ibnu Abi Syaibah, 11/47, Abu Ya‘la, 3/60, dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 8/134. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/657, no. 380 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 5965).Ia juga akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ“Ada tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab: Manisnya iman, no. 16; dan oleh Muslim—lafaz hadits ini miliknya—dalam Kitab Al-Iman, Bab: Penjelasan sifat-sifat yang jika dimiliki seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, no. 43).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ، وَقَرِّبِيهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; juga oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12 dan dalam Syu‘abul Iman, 3/50. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 3252). Memohon Ampunan dan Rahmat AllahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي“Maka ampunilah aku dan rahmatilah aku,”mengandung permohonan akan ampunan dan rahmat, karena keduanya mencakup seluruh kebaikan akhirat. Dengan ampunan, seorang hamba akan aman dari azab dan dari segala keburukan. Adapun rahmat, itu berarti masuk ke dalam surga dan mendapatkan derajat yang tinggi di dalamnya.Segala kenikmatan yang ada di surga merupakan bagian dari rahmat Allah Ta‘ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab: Firman Allah “Dan kamu berkata: apakah masih ada tambahan?” (QS. Qaf: 30), no. 4850; dan oleh Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Neraka dimasuki oleh orang-orang sombong dan surga dimasuki oleh orang-orang lemah, no. 2846).Maksud dari doa ini adalah: agar Allah menutupi dosa-dosa, menghapusnya, dan melimpahkan rahmat-Nya dengan terus-menerus, baik di dunia maupun di akhirat, serta memberi taufik untuk bertaubat dan menerima taubat tersebut. Memohon Wafat Sebelum Datangnya FitnahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ“Jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah,”maknanya: jika Allah hendak menimpakan fitnah dan hukuman kepada suatu kaum, baik berupa fitnah dalam agama, atau musibah dunia seperti berbagai ujian, bencana, dan azab, maka seorang hamba memohon agar diwafatkan sebelum hal itu terjadi dan sebelum manusia terjatuh ke dalamnya.Tujuan dari doa yang agung ini adalah agar selamat dari fitnah sepanjang hidup, serta terhindar dari segala keburukan sebelum hal itu menimpa. Juga agar Allah mewafatkan seorang hamba dalam keadaan selamat dan terjaga sebelum datangnya fitnah.Tidak diragukan lagi, ini termasuk doa yang sangat penting, karena di antara harapan terbesar seorang mukmin adalah hidup dalam keadaan selamat dari fitnah dan ujian, lalu diwafatkan oleh Allah sebelum fitnah itu datang.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah:تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”  (HR. Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Ditampakkannya tempat tinggal mayit dari surga atau neraka kepadanya, penetapan adanya azab kubur, dan anjuran berlindung darinya, no. 2867).Dalam hadits ini juga terdapat dalil bolehnya berdoa meminta kematian karena khawatir terkena fitnah dalam agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ“Ada dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian, padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah; dan sedikit harta, padahal sedikit harta lebih ringan dalam hisab.”  (HR. Ahmad, 39/36, no. 23625 dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat Ash-Shahabah, 5/2525, no. 6114. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/129 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 139). Memohon Cinta Allah: Puncak Segala HarapanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ“Dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,”kemudian beliau memohon sesuatu yang merupakan tuntutan paling agung, derajat paling tinggi, dan harapan paling mulia. Maksudnya: aku memohon agar Engkau mencintaiku. Ini adalah tujuan terbesar, yaitu seorang hamba menjadi orang yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Doa ini juga mengandung permohonan agar seorang hamba mencintai Rabbnya, yaitu: aku memohon agar aku mencintai-Mu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai daripada-Mu.Doa yang agung ini termasuk doa yang paling mulia karena mencakup makna yang sangat luas. Ia mengumpulkan seluruh kebaikan. Jika cinta kepada Allah telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka anggota tubuhnya akan bergerak mengikuti apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Ia akan mencintai semua amal dan ucapan yang dicintai Allah, sehingga ia melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemungkaran. Inilah kesempurnaan penghambaan kepada Allah, Rabb semesta alam.Barang siapa meminta cinta Allah, maka Allah akan memberinya lebih dari yang ia harapkan dari urusan dunia sebagai tambahan. Siapa yang dianugerahi cinta ini, maka seluruh ucapan dan perbuatannya akan sesuai dengan kehendak Allah. Ia juga akan diberi kecintaan dan penerimaan di bumi dan di langit, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih.Ucapan Nabi:وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ“Dan cinta kepada orang yang mencintai-Mu,”maksudnya: aku memohon agar mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, seperti para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.Ucapan beliau:وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ“Dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu,”maksudnya: aku memohon agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal saleh yang paling dicintai, yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu. Barang siapa dianugerahi cinta-cinta ini, maka ia telah beruntung di dunia dan akhirat.Permohonan tentang berbagai bentuk cinta ini sebenarnya sudah termasuk dalam awal doa, yaitu “melakukan kebaikan”. Namun disebutkan secara khusus sebagai bentuk perhatian besar terhadap hal ini, karena ia merupakan inti, puncak, dan pengumpul seluruh kebaikan.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memahami doa ini dan mengamalkannya, karena agungnya kandungan yang ada di dalamnya, berupa berbagai permohonan dan tujuan mulia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pemahaman lafaz-lafaznya, menghadirkan maknanya saat berdoa, karena hal itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan, lebih berpengaruh pada hati, serta menghadirkan manisnya iman dan nikmatnya bermunajat kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Nasihat PenutupBanyak orang sibuk dengan doa-doa panjang, tetapi lupa doa yang paling lengkap seperti ini. Padahal, doa ini mencakup seluruh kebutuhan hidup seorang hamba. Luangkan waktu untuk menghafal, memahami, dan mengamalkannya setiap hari. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah dan dijaga dari fitnah.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَAllahumma inna nas’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik, waghfir lana warhamna wa tsabbitna ‘ala dinik.Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan tetapkan kami di atas agama-Mu. Sumber rujukan: kalemtayeb.com —– Senin, 11 Syawal 1447 HDisusun saat perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul menuju Masjid Mina JakalPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh cinta Allah doa harian doa lengkap doa mustajab doa nabi doa terbaik fitnah dunia iman kumpulan doa rumaysho meninggalkan maksiat


Doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini termasuk doa yang sangat agung dan mencakup seluruh kebaikan. Di dalamnya terkandung permohonan dunia dan akhirat sekaligus. Siapa yang memahaminya dan mengamalkannya, akan meraih kebahagiaan yang sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh Allah 2. Doa yang Paling Lengkap dan Agung 3. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua Keburukan 4. Keutamaan Mencintai Orang Miskin 5. Memohon Ampunan dan Rahmat Allah 6. Memohon Wafat Sebelum Datangnya Fitnah 7. Memohon Cinta Allah: Puncak Segala Harapan 8. Nasihat Penutup  Kisah Hadits: Doa yang Diajarkan Langsung oleh AllahDalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan, hadits dari Mu’adz bin Jabal:احْتُبِسَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ غَدَاةٍ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، حَتَّى كِدْنَا نَتَرَاءَى عَيْنَ الشَّمْسِ، فَخَرَجَ سَرِيعًا فَثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَجَوَّزَ فِي صَلَاتِهِ، Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat menemui kami untuk shalat Shubuh, sampai-sampai kami hampir melihat matahari terbit. Lalu beliau keluar dengan cepat, iqamah pun dikumandangkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengimami shalat dan meringankan shalat beliau.فَلَمَّا سَلَّمَ دَعَا بِصَوْتِهِ فَقَالَ لَنَا: عَلَى مَصَافِّكُمْ كَمَا أَنْتُمْ، ثُمَّ انْفَتَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: أَمَا إِنِّي سَأُحَدِّثُكُمْ مَا حَبَسَنِي عَنْكُمُ الْغَدَاةَ:Setelah salam, beliau memanggil kami dengan suara keras, lalu bersabda, “Tetaplah di tempat shaf kalian sebagaimana adanya.” Kemudian beliau menoleh kepada kami dan bersabda, “Sungguh, aku akan menceritakan kepada kalian apa yang membuatku tertahan dari menemui kalian pagi ini.إِنِّي قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَوَضَّأْتُ فَصَلَّيْتُ مَا قُدِّرَ لِي، فَنَعَسْتُ فِي صَلَاتِي فَاسْتَثْقَلْتُ، فَإِذَا أَنَا بِرَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: رَبِّ لَبَّيْكَ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: لَا أَدْرِي رَبِّ، قَالَهَا ثَلَاثًا،Tadi malam aku bangun, lalu berwudhu dan mengerjakan shalat semampuku. Kemudian aku mengantuk dalam shalatku hingga terasa berat. Tiba-tiba aku melihat Rabbku Tabaraka wa Ta‘ala dalam bentuk yang paling indah. Lalu Dia berfirman, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Rabbku.’ Hal itu diucapkan sampai tiga kali.قَالَ: فَرَأَيْتُهُ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ أَنَامِلِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ، فَتَجَلَّى لِي كُلُّ شَيْءٍ وَعَرَفْتُ، Kemudian aku melihat Dia meletakkan telapak tangan-Nya di antara kedua pundakku, hingga aku merasakan dingin ujung jari-jari-Nya di dadaku. Lalu menjadi jelas bagiku segala sesuatu, dan aku pun mengetahui jawabannya.فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، قُلْتُ: لَبَّيْكَ رَبِّ، قَالَ: فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قُلْتُ: فِي الْكَفَّارَاتِ، قَالَ: مَا هُنَّ؟ قُلْتُ: مَشْيُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَالْجُلُوسُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكْرُوهَاتِ،Dia berfirman lagi, ‘Wahai Muhammad.’ Aku menjawab, ‘Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Dia berfirman, ‘Tentang apa para malaikat di tempat yang tinggi saling memperbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Tentang amalan-amalan penghapus dosa.’ Dia berfirman, ‘Apa saja itu?’ Aku menjawab, ‘Melangkahkan kaki menuju shalat berjamaah, duduk di masjid setelah shalat, dan menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan.’قَالَ: ثُمَّ فِيمَ؟ قُلْتُ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَلِينُ الْكَلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ. Dia berfirman, ‘Lalu tentang apa lagi?’ Aku menjawab, ‘Memberi makan, berkata dengan lembut, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur.’قَالَ: سَلْ. قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ. Dia berfirman, ‘Mintalah.’ Ucapkanlah:‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuniku serta merahmatiku. Jika Engkau menghendaki adanya fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kepada cinta-Mu.’”قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Sesungguhnya ini benar, maka pelajarilah dan kemudian pahamilah baik-baik.” (HR. Tirmidzi, no. 3235 dan Ahmad, no. 22162. Hadits ini sahih menurut Syaikh Al-Albani) Doa yang Paling Lengkap dan AgungDoa yang penuh keberkahan ini, wahai hamba Allah, termasuk doa yang paling mencakup dan paling sempurna. Doa ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung, karena di dalamnya terdapat permohonan kepada Allah Ta‘ala agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal terbaik dari berbagai kebaikan, serta permohonan agar dijaga dari semua kemungkaran, keburukan, dan berbagai fitnah serta ujian, baik dalam urusan agama, kehidupan dunia, maupun akhirat.Karena itu, seorang hamba seharusnya memperbanyak doa ini, memahami tujuan dan maknanya, serta mengamalkan kandungannya. Barang siapa mempelajarinya dan mengamalkannya, ia akan meraih kebahagiaan dan kenikmatan di dunia, alam barzakh, dan akhirat.Di antara keagungan dan tingginya kedudukan doa ini adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta‘ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya ketika beliau melihat-Nya dalam mimpi—dan mimpi para nabi adalah benar. Allah berfirman kepadanya:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَAllahumma inni as’aluka fi’lal khairoot, wa tarkal munkaroot, wa hubbal masaakiin, wa an taghfira li wa tarhamani, wa idza arodta fitnata qoumin fatawaffani ghaira maftuunin, wa as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba ‘amalin yuqarribuni ilaa hubbik.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, serta agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah. Aku juga memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا وَتَعَلَّمُوهَا“Sesungguhnya doa ini benar, maka pelajarilah dan pahamilah.”Beliau memerintahkan untuk mempelajarinya, memahami makna dan tujuannya. Ini menunjukkan keistimewaan doa ini dibandingkan doa-doa lainnya, sebagaimana telah dijelaskan. Meminta Semua Kebaikan dan Menjauhi Semua KeburukanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai kemungkaran” mengandung permohonan untuk meraih seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh keburukan.Yang dimaksud dengan kebaikan mencakup segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan yang mendekatkan kepada-Nya, baik berupa amal perbuatan maupun ucapan, baik yang wajib maupun yang sunnah.Adapun kemungkaran mencakup segala sesuatu yang dibenci oleh Allah Ta‘ala dan menjauhkan dari-Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.Siapa yang mendapatkan dua hal ini—melakukan semua kebaikan dan meninggalkan semua keburukan—maka ia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Ini termasuk kalimat yang sangat ringkas namun mencakup makna yang luas, yang merupakan bagian dari keistimewaan yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau memang menyukai doa-doa yang singkat namun penuh makna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang mencakup (banyak makna) dan meninggalkan selainnya.” (HR. Abu Daud, no. 1482; Ath-Thayalis, 2:444; Ibnu Abi Syaibah, 6:21. Syaikh Al-Albani membawakan hadits ini dalam kitab Sahih Sunan Abi Daud) Keutamaan Mencintai Orang MiskinUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ“Mencintai orang-orang miskin,” termasuk bagian dari melakukan kebaikan. Namun disebutkan secara khusus—padahal sudah masuk dalam makna umum kebaikan—karena menunjukkan kemuliaannya dan besarnya perhatian terhadap hal ini.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memohon kepada Allah agar dijadikan termasuk golongan mereka, serta dikumpulkan bersama mereka:اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; Ibnu Majah dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Bergaul dengan orang-orang fakir, no. 4126; juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, 4/322 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 308 dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 3328).Mencintai orang miskin merupakan bagian dari dasar cinta karena Allah. Sebab, mereka tidak memiliki kenikmatan dunia yang membuat orang mencintai mereka karena dunia. Maka, mencintai mereka murni karena Allah ‘Azza wa Jalla.Cinta karena Allah termasuk ikatan iman yang paling kuat, bahkan termasuk bentuk iman yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud dalam Kitab As-Sunnah, Bab: Dalil bahwa iman itu bertambah, no. 4683; At-Tirmidzi dalam Kitab Sifat Hari Kiamat dan Raqa’iq, no. 2521 dengan lafaz yang serupa; juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, 24/383, Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 3/197, Ibnu Abi Syaibah, 11/47, Abu Ya‘la, 3/60, dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, 8/134. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/657, no. 380 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 5965).Ia juga akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ“Ada tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab: Manisnya iman, no. 16; dan oleh Muslim—lafaz hadits ini miliknya—dalam Kitab Al-Iman, Bab: Penjelasan sifat-sifat yang jika dimiliki seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, no. 43).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha:يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ، وَقَرِّبِيهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, karena Allah akan mendekatkanmu pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Az-Zuhud, Bab: Penjelasan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, no. 2352; juga oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7/12 dan dalam Syu‘abul Iman, 3/50. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, no. 3252). Memohon Ampunan dan Rahmat AllahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي“Maka ampunilah aku dan rahmatilah aku,”mengandung permohonan akan ampunan dan rahmat, karena keduanya mencakup seluruh kebaikan akhirat. Dengan ampunan, seorang hamba akan aman dari azab dan dari segala keburukan. Adapun rahmat, itu berarti masuk ke dalam surga dan mendapatkan derajat yang tinggi di dalamnya.Segala kenikmatan yang ada di surga merupakan bagian dari rahmat Allah Ta‘ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي، أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab: Firman Allah “Dan kamu berkata: apakah masih ada tambahan?” (QS. Qaf: 30), no. 4850; dan oleh Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Neraka dimasuki oleh orang-orang sombong dan surga dimasuki oleh orang-orang lemah, no. 2846).Maksud dari doa ini adalah: agar Allah menutupi dosa-dosa, menghapusnya, dan melimpahkan rahmat-Nya dengan terus-menerus, baik di dunia maupun di akhirat, serta memberi taufik untuk bertaubat dan menerima taubat tersebut. Memohon Wafat Sebelum Datangnya FitnahUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ“Jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah,”maknanya: jika Allah hendak menimpakan fitnah dan hukuman kepada suatu kaum, baik berupa fitnah dalam agama, atau musibah dunia seperti berbagai ujian, bencana, dan azab, maka seorang hamba memohon agar diwafatkan sebelum hal itu terjadi dan sebelum manusia terjatuh ke dalamnya.Tujuan dari doa yang agung ini adalah agar selamat dari fitnah sepanjang hidup, serta terhindar dari segala keburukan sebelum hal itu menimpa. Juga agar Allah mewafatkan seorang hamba dalam keadaan selamat dan terjaga sebelum datangnya fitnah.Tidak diragukan lagi, ini termasuk doa yang sangat penting, karena di antara harapan terbesar seorang mukmin adalah hidup dalam keadaan selamat dari fitnah dan ujian, lalu diwafatkan oleh Allah sebelum fitnah itu datang.Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah:تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”  (HR. Muslim dalam Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya serta Penghuninya, Bab: Ditampakkannya tempat tinggal mayit dari surga atau neraka kepadanya, penetapan adanya azab kubur, dan anjuran berlindung darinya, no. 2867).Dalam hadits ini juga terdapat dalil bolehnya berdoa meminta kematian karena khawatir terkena fitnah dalam agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ“Ada dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian, padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah; dan sedikit harta, padahal sedikit harta lebih ringan dalam hisab.”  (HR. Ahmad, 39/36, no. 23625 dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat Ash-Shahabah, 5/2525, no. 6114. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/129 dan dalam Shahih Al-Jami‘, no. 139). Memohon Cinta Allah: Puncak Segala HarapanUcapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ“Dan aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,”kemudian beliau memohon sesuatu yang merupakan tuntutan paling agung, derajat paling tinggi, dan harapan paling mulia. Maksudnya: aku memohon agar Engkau mencintaiku. Ini adalah tujuan terbesar, yaitu seorang hamba menjadi orang yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.Doa ini juga mengandung permohonan agar seorang hamba mencintai Rabbnya, yaitu: aku memohon agar aku mencintai-Mu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai daripada-Mu.Doa yang agung ini termasuk doa yang paling mulia karena mencakup makna yang sangat luas. Ia mengumpulkan seluruh kebaikan. Jika cinta kepada Allah telah tertanam dalam hati seorang hamba, maka anggota tubuhnya akan bergerak mengikuti apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Ia akan mencintai semua amal dan ucapan yang dicintai Allah, sehingga ia melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemungkaran. Inilah kesempurnaan penghambaan kepada Allah, Rabb semesta alam.Barang siapa meminta cinta Allah, maka Allah akan memberinya lebih dari yang ia harapkan dari urusan dunia sebagai tambahan. Siapa yang dianugerahi cinta ini, maka seluruh ucapan dan perbuatannya akan sesuai dengan kehendak Allah. Ia juga akan diberi kecintaan dan penerimaan di bumi dan di langit, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih.Ucapan Nabi:وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ“Dan cinta kepada orang yang mencintai-Mu,”maksudnya: aku memohon agar mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, seperti para nabi, ulama, dan orang-orang saleh.Ucapan beliau:وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ“Dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu,”maksudnya: aku memohon agar diberi taufik untuk melakukan amal-amal saleh yang paling dicintai, yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu. Barang siapa dianugerahi cinta-cinta ini, maka ia telah beruntung di dunia dan akhirat.Permohonan tentang berbagai bentuk cinta ini sebenarnya sudah termasuk dalam awal doa, yaitu “melakukan kebaikan”. Namun disebutkan secara khusus sebagai bentuk perhatian besar terhadap hal ini, karena ia merupakan inti, puncak, dan pengumpul seluruh kebaikan.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memahami doa ini dan mengamalkannya, karena agungnya kandungan yang ada di dalamnya, berupa berbagai permohonan dan tujuan mulia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pemahaman lafaz-lafaznya, menghadirkan maknanya saat berdoa, karena hal itu lebih besar harapannya untuk dikabulkan, lebih berpengaruh pada hati, serta menghadirkan manisnya iman dan nikmatnya bermunajat kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Nasihat PenutupBanyak orang sibuk dengan doa-doa panjang, tetapi lupa doa yang paling lengkap seperti ini. Padahal, doa ini mencakup seluruh kebutuhan hidup seorang hamba. Luangkan waktu untuk menghafal, memahami, dan mengamalkannya setiap hari. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah dan dijaga dari fitnah.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَAllahumma inna nas’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik, waghfir lana warhamna wa tsabbitna ‘ala dinik.Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu. Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan tetapkan kami di atas agama-Mu. Sumber rujukan: kalemtayeb.com —– Senin, 11 Syawal 1447 HDisusun saat perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul menuju Masjid Mina JakalPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh cinta Allah doa harian doa lengkap doa mustajab doa nabi doa terbaik fitnah dunia iman kumpulan doa rumaysho meninggalkan maksiat

Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah: Mana Lebih Tinggi?

Setiap hamba pasti membutuhkan ampunan Allah, namun tidak semua memahami perbedaan bentuk ampunan tersebut. Dalam Islam, terdapat istilah al-‘afwu dan maghfirah yang sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membuat doa dan harapan kita kepada Allah menjadi lebih dalam dan lebih tepat.  Daftar Isi tutup 1. Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah? 2. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada Manusia 3. Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah 4. Nasihat Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadan Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada ManusiaIslam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap Melupakan Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah AspekAl-‘AfwuMaghfirahMakna dasarMenghapus dan memaafkanMengampuni dan melindungiSifatnyaMelepaskan tuntutanMemberi kebaikan dan kasih sayangDampakTidak dihukumDilindungi dari akibat dosaHubunganBisa tanpa kedekatanDisertai kedekatan dan keridaanTingkatanDasarLebih tinggiUnsur tambahanTidak ada tuntutanAda ihsan, karunia, dan ridhaContoh“Saya maafkan, tapi tetap jaga jarak”“Saya maafkan, saya tutup aibmu, dan saya tetap berbuat baik” Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mudah berkata “saya maafkan”, namun masih menyimpan luka dan mengungkit kesalahan. Padahal, Islam mengajarkan naik kelas dalam memaafkan—dari sekadar tidak membalas, menuju memuliakan. Jika kita ingin mendapatkan ampunan terbaik dari Allah, maka belajarlah memberi maaf dengan cara terbaik. Karena balasan itu sesuai dengan amalan.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاعْفُ عَنَّا، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةًAllāhumma ighfir lanā dhunūbanā, wa‘fu ‘annā, warzuqnā qulūban salīmah.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, maafkan kami, dan karuniakan kepada kami hati yang bersih.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Syawal 1447 H, 29 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal ghazali al-‘Afwu doa lailatul qadar ibnu taimiyah maghfirah makna ampunan dalam islam memaafkan dalam islam perbedaan afwu dan maghfirah tafsir ampunan tingkatan memaafkan

Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah: Mana Lebih Tinggi?

Setiap hamba pasti membutuhkan ampunan Allah, namun tidak semua memahami perbedaan bentuk ampunan tersebut. Dalam Islam, terdapat istilah al-‘afwu dan maghfirah yang sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membuat doa dan harapan kita kepada Allah menjadi lebih dalam dan lebih tepat.  Daftar Isi tutup 1. Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah? 2. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada Manusia 3. Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah 4. Nasihat Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadan Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada ManusiaIslam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap Melupakan Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah AspekAl-‘AfwuMaghfirahMakna dasarMenghapus dan memaafkanMengampuni dan melindungiSifatnyaMelepaskan tuntutanMemberi kebaikan dan kasih sayangDampakTidak dihukumDilindungi dari akibat dosaHubunganBisa tanpa kedekatanDisertai kedekatan dan keridaanTingkatanDasarLebih tinggiUnsur tambahanTidak ada tuntutanAda ihsan, karunia, dan ridhaContoh“Saya maafkan, tapi tetap jaga jarak”“Saya maafkan, saya tutup aibmu, dan saya tetap berbuat baik” Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mudah berkata “saya maafkan”, namun masih menyimpan luka dan mengungkit kesalahan. Padahal, Islam mengajarkan naik kelas dalam memaafkan—dari sekadar tidak membalas, menuju memuliakan. Jika kita ingin mendapatkan ampunan terbaik dari Allah, maka belajarlah memberi maaf dengan cara terbaik. Karena balasan itu sesuai dengan amalan.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاعْفُ عَنَّا، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةًAllāhumma ighfir lanā dhunūbanā, wa‘fu ‘annā, warzuqnā qulūban salīmah.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, maafkan kami, dan karuniakan kepada kami hati yang bersih.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Syawal 1447 H, 29 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal ghazali al-‘Afwu doa lailatul qadar ibnu taimiyah maghfirah makna ampunan dalam islam memaafkan dalam islam perbedaan afwu dan maghfirah tafsir ampunan tingkatan memaafkan
Setiap hamba pasti membutuhkan ampunan Allah, namun tidak semua memahami perbedaan bentuk ampunan tersebut. Dalam Islam, terdapat istilah al-‘afwu dan maghfirah yang sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membuat doa dan harapan kita kepada Allah menjadi lebih dalam dan lebih tepat.  Daftar Isi tutup 1. Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah? 2. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada Manusia 3. Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah 4. Nasihat Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadan Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada ManusiaIslam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap Melupakan Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah AspekAl-‘AfwuMaghfirahMakna dasarMenghapus dan memaafkanMengampuni dan melindungiSifatnyaMelepaskan tuntutanMemberi kebaikan dan kasih sayangDampakTidak dihukumDilindungi dari akibat dosaHubunganBisa tanpa kedekatanDisertai kedekatan dan keridaanTingkatanDasarLebih tinggiUnsur tambahanTidak ada tuntutanAda ihsan, karunia, dan ridhaContoh“Saya maafkan, tapi tetap jaga jarak”“Saya maafkan, saya tutup aibmu, dan saya tetap berbuat baik” Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mudah berkata “saya maafkan”, namun masih menyimpan luka dan mengungkit kesalahan. Padahal, Islam mengajarkan naik kelas dalam memaafkan—dari sekadar tidak membalas, menuju memuliakan. Jika kita ingin mendapatkan ampunan terbaik dari Allah, maka belajarlah memberi maaf dengan cara terbaik. Karena balasan itu sesuai dengan amalan.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاعْفُ عَنَّا، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةًAllāhumma ighfir lanā dhunūbanā, wa‘fu ‘annā, warzuqnā qulūban salīmah.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, maafkan kami, dan karuniakan kepada kami hati yang bersih.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Syawal 1447 H, 29 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal ghazali al-‘Afwu doa lailatul qadar ibnu taimiyah maghfirah makna ampunan dalam islam memaafkan dalam islam perbedaan afwu dan maghfirah tafsir ampunan tingkatan memaafkan


Setiap hamba pasti membutuhkan ampunan Allah, namun tidak semua memahami perbedaan bentuk ampunan tersebut. Dalam Islam, terdapat istilah al-‘afwu dan maghfirah yang sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membuat doa dan harapan kita kepada Allah menjadi lebih dalam dan lebih tepat.  Daftar Isi tutup 1. Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah? 2. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada Manusia 3. Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah 4. Nasihat Penutup  Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah dosa-dosaku).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).Baca juga: 4 Cara Mudah Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadan Perbedaan ‘Afwu dan Maghfirah?Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Al-‘Afuw adalah Dzat yang menghapus keburukan-keburukan dan memaafkan perbuatan maksiat. Ia maknanya dekat dengan Al-Ghafūr, namun lebih kuat darinya. Sebab, ampunan (maghfirah) menunjukkan makna menutupi kesalahan, sedangkan ‘afwu menunjukkan makna menghapusnya. Dan menghapus itu lebih sempurna daripada sekadar menutupi.” (Dikutip dari Al-Maqṣad Al-Asnā, hlm. 140)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الْعَفْوُ مُتَضَمِّنٌ لِإِسْقَاطِ حَقِّهِ قِبَلِهِمْ وَمُسَامَحَتِهِمْ بِهِ، وَالْمَغْفِرَةُ مُتَضَمِّنَةٌ لِوِقَايَتِهِمْ شَرَّ ذُنُوبِهِمْ، وَإِقْبَالِهِ عَلَيْهِمْ، وَرِضَاهُ عَنْهُمْ؛ بِخِلَافِ الْعَفْوِ الْمُجَرَّدِ؛ فَإِنَّ الْعَافِيَ قَدْ يَعْفُو، وَلَا يُقْبِلُ عَلَى مَنْ عَفَا عَنْهُ، وَلَا يَرْضَى عَنْهُ.‘Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan rida kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.فَالْعَفْوُ تَرْكٌ مَحْضٌ، وَالْمَغْفِرَةُ إحْسَانٌ وَفَضْلٌ وَجُودٌMaka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan. (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 236863 menyatakan bahwa dengan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa maghfirah lebih tinggi tingkatannya daripada ‘afwu, menurut pendapat yang lebih kuat. Hal itu karena maghfirah mengandung unsur kebaikan, pemberian, dan kemurahan dari Allah.Adapun pendapat yang mengatakan bahwa maghfirah hanyalah memaafkan dosa sementara dosa itu masih tercatat dalam lembaran amal, sedangkan ‘afwu adalah memaafkan disertai penghapusan dosa dari catatan amal, maka pendapat ini tidak didukung oleh dalil.Kesimpulannya, ‘afwu dan maghfirah sama-sama bermakna ampunan, tetapi keduanya berada pada tingkat yang berbeda. ‘Afwu adalah sikap melepaskan tuntutan dan menggugurkan hak untuk menghukum, tanpa harus disertai kedekatan, penerimaan, atau keridaan. Sementara itu, maghfirah memiliki makna yang lebih tinggi, karena tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengandung unsur kebaikan, pemberian, perlindungan dari dampak buruk dosa, serta penerimaan dan keridaan dari Allah. Karena itu, ketika seorang hamba memohon ampun kepada Allah, harapannya bukan sekadar terbebas dari hukuman, tetapi juga memperoleh kasih sayang, penerimaan, dan keridaan-Nya, sehingga ampunan tersebut benar-benar membawa kebaikan dan kemuliaan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. ‘Afwu vs Maghfirah dari Sisi Memberikan Maaf pada ManusiaIslam tidak hanya mengajarkan untuk memaafkan, namun juga membimbing kita kepada bentuk pemaafan yang lebih luhur. Ulama seperti ath-Thahir bin ‘Ashur rahimahullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat tiga istilah yang menunjukkan tingkatan pemaafan, yaitu al-‘afwu, ash-shafh, dan al-maghfirah.Pertama, al-‘afwu berarti memaafkan, yaitu tidak membalas kesalahan orang lain dan menggugurkan hak untuk menuntut. Seseorang bisa saja memaafkan, namun tetap menyampaikan teguran agar tidak terulang kembali.Kedua, ash-shafh adalah memaafkan dengan kelapangan hati tanpa celaan, tanpa menyindir, dan tanpa mengungkit kesalahan di masa lalu. Ini menunjukkan kemurnian niat dan ketulusan dalam pemaafan.Ketiga, al-maghfirah adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya memaafkan dan melupakan, tetapi juga menutupi kesalahan orang lain, menjaga kehormatannya, dan tidak menyebarkan aib yang pernah dilakukan. Tiga tingkatan ini memberi kita panduan dalam bersikap saat menghadapi kesalahan orang lain. Semakin tinggi tingkatan pemaafan yang kita latih, semakin dekat pula kita dengan sifat-sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.Baca juga: Memaafkan Seperti Allah dengan Tetap Melupakan Perbedaan Al-‘Afwu dan Maghfirah AspekAl-‘AfwuMaghfirahMakna dasarMenghapus dan memaafkanMengampuni dan melindungiSifatnyaMelepaskan tuntutanMemberi kebaikan dan kasih sayangDampakTidak dihukumDilindungi dari akibat dosaHubunganBisa tanpa kedekatanDisertai kedekatan dan keridaanTingkatanDasarLebih tinggiUnsur tambahanTidak ada tuntutanAda ihsan, karunia, dan ridhaContoh“Saya maafkan, tapi tetap jaga jarak”“Saya maafkan, saya tutup aibmu, dan saya tetap berbuat baik” Nasihat PenutupDi zaman sekarang, banyak orang mudah berkata “saya maafkan”, namun masih menyimpan luka dan mengungkit kesalahan. Padahal, Islam mengajarkan naik kelas dalam memaafkan—dari sekadar tidak membalas, menuju memuliakan. Jika kita ingin mendapatkan ampunan terbaik dari Allah, maka belajarlah memberi maaf dengan cara terbaik. Karena balasan itu sesuai dengan amalan.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاعْفُ عَنَّا، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةًAllāhumma ighfir lanā dhunūbanā, wa‘fu ‘annā, warzuqnā qulūban salīmah.“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, maafkan kami, dan karuniakan kepada kami hati yang bersih.” —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Syawal 1447 H, 29 Maret 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal ghazali al-‘Afwu doa lailatul qadar ibnu taimiyah maghfirah makna ampunan dalam islam memaafkan dalam islam perbedaan afwu dan maghfirah tafsir ampunan tingkatan memaafkan

Adab Saat Ada Orang yang Kentut – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Penulis menyebutkan riwayat dengan sanadnya dari Abdullah bin Zam’ah, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia.” (HR. Bukhari & Muslim). Penafsiran hadis ini dijelaskan dalam riwayat lain bahwa beliau menyebutkan tentang kentut, lalu bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang juga keluar darinya?” “Sesuatu yang juga keluar darinya” merujuk pada angin yang keluar disertai dengan suara, yakni kentut dan yang semacamnya. Tindakan ini tentu tidak selayaknya dilakukan oleh seseorang. Sebab, hal itu bertentangan dengan rasa malu, sedangkan rasa malu adalah bagian dari iman. Karena malu bagian dari iman, maka ketika berada di suatu majelis, seseorang tidak boleh melakukan hal itu. Ia tidak boleh sengaja kentut atau semacamnya di hadapan orang lain. Namun, jika itu terjadi pada seseorang tanpa sengaja, maka sepantasnya orang lain tidak menertawakannya. Bagaimana mungkin Anda menertawakan orang lain, padahal Anda sendiri melakukan hal yang sama? Oleh sebab itu, perawi menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia. Dalam riwayat lain Nabi bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang ia juga mengeluarkannya?” Artinya, ini adalah tanda kurangnya akal sehat, jika seseorang menertawakan sesuatu yang juga keluar dari dirinya sendiri. Sebab, itu bukan hal asing, tidak hanya ia, itu juga terjadi pada Anda, si A dan si B. Jika hal itu terjadi pada seseorang, bisa jadi itu keluar tanpa unsur kesengajaan. Mungkin ia sedang mengalami gangguan pada usus besar. Mungkin ia sekadar bergerak, lalu tiba-tiba angin itu keluar begitu saja. Maka, tidak pantas bagi orang yang berakal untuk menertawakannya. Karena tawa Anda hanya akan membuatnya merasa sangat malu. Dahulu pada zaman jahiliah, apabila ada seseorang yang kentut, orang-orang akan menertawakannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kebiasaan tersebut. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa kita hendaknya bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu ketika mendengar suara kentut. Jika itu terjadi, sepantasnya berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa. Ini berlaku jika itu terjadi pada salah seorang di majelis tanpa disengaja. Sebab, menertawakan orang yang tidak sengaja melakukan itu dapat membuatnya sangat malu. Bayangkan jika hal itu terjadi pada seseorang seumpama punya problem di usus besarnya, lalu tiba-tiba suara kentut itu terdengar. Kemudian semua orang di majelis tertawa, bagaimana kira-kira perasaannya? Tidak diragukan lagi, pasti ia sangat terganggu. Maka dari itu, Islam mendidik adab para pengikutnya. Hendaknya kita bersikap tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Ini merupakan bagian dari akhlak mulia, apabila hal semacam ini terjadi, bersikaplah seolah-olah tidak mendengar apa pun. ===== ثُمَّ سَاقَ الْمُصَنِّفُ بِسَنَدِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ جَاءَ تَفْسِيرُ هَذَا فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى أَنَّهُ يَعْنِي ذَكَرَ الضَّرْطَةَ ثُمَّ قَالَ لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ وَمِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ هُوَ مَا يَخْرُجُ مِنَ الرِّيحِ الْمَصْحُوبَةِ بِالصَّوْتِ وَيَعْنِي كَضُرَاطٍ وَنَحْوِهِ فَهَذَا لَا يَتَعَمَّدُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْعَلَهُ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي الْحَيَاءَ وَالْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ لَا يَفْعَلُ هَذَا لَا يَتَعَمَّدُ أَنْ يَأْتِيَ بِالضُّرَاطِ وَنَحْوِهِ أَمَامَ الْآخَرِينَ لَكِنْ إِذَا حَصَلَ مِنْ أَحَدٍ رَغْمًا عَنْهُ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَلَّا يَضْحَكَ مِنْهُ كَيْفَ تَضْحَكُ مِنْ إِنْسَانٍ وَأَنْتَ يَخْرُجُ مِنْكَ مِثْلُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ وَلِهَذَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي هَذَا مِنْ قِلَّةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْحَكُ مِنْ شَيْءٍ يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي لَيْسَ شَيْئًا لَا يَخْرُجُ مِنْهُ يَخْرُجُ مِنْكَ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ لَكِنْ قُدِّرَ أَنَّ هَذَا الْإِنْسَانَ يَعْنِي خَرَجَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ قَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ مَثَلًا مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ قَدْ يَكُونُ تَحَرَّكَ ثُمَّ خَرَجَتْ مِنْهُ هَذِهِ الضَّرْطَةُ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ فَلَا يَلِيقُ بِالْعَاقِلِ أَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْهُ لِأَنَّ هَذَا الضَّحِكَ مِمَّا يُخَجِّلُهُ وَقَدْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَعَ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ ضَرْطَةٌجَعَلُوا يَضْحَكُونَ مِنْهُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّهُ يَنْبَغِي الْإِغْمَاضُ وَالتَّجَاهُلُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الضُّرَاطِ وَأَنَّهُ إِذَا وَقَعَ فَالْمَطْلُوبُ التَّغَافُلُ عَنْهُ وَهَذَا إِذَا وَقَعَ يَعْنِي مِنْ أَحَدِ الْحَاضِرِينَ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِأَنَّ الضَّحِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ هَذَا الشَّيْءُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ هَذَا يُسَبِّبُ لَهُ حَرَجًا عَظِيمًا لَوْ حَصَلَ هَذَا مِنْ إِنْسَانٍ مَثَلًا عِنْدَهُ مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ هَذَا الصَّوْتُ فَضَحِكَ جَمِيعُ مَنْ فِي الْمَجْلِسِ فَكَيْفَ تَكُونُ مَشَاعِرُهُ؟ لَا شَكَّ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ كَثِيرًا فَيَعْنِي الْإِسْلَامُ أَدَّبَ أَتْبَاعهُ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّغَافُلُ كَأَنَّكَ مَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَهَذَا مِنْ مَكَارِمِ الْخُلُقِ أَنَّهُ إِذَا حَصَلَ مِثْلُ هَذَا لِلْإِنْسَانِ يَعْنِي كَأَنَّهُ مَا سَمِعَ شَيْئًا

Adab Saat Ada Orang yang Kentut – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Penulis menyebutkan riwayat dengan sanadnya dari Abdullah bin Zam’ah, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia.” (HR. Bukhari & Muslim). Penafsiran hadis ini dijelaskan dalam riwayat lain bahwa beliau menyebutkan tentang kentut, lalu bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang juga keluar darinya?” “Sesuatu yang juga keluar darinya” merujuk pada angin yang keluar disertai dengan suara, yakni kentut dan yang semacamnya. Tindakan ini tentu tidak selayaknya dilakukan oleh seseorang. Sebab, hal itu bertentangan dengan rasa malu, sedangkan rasa malu adalah bagian dari iman. Karena malu bagian dari iman, maka ketika berada di suatu majelis, seseorang tidak boleh melakukan hal itu. Ia tidak boleh sengaja kentut atau semacamnya di hadapan orang lain. Namun, jika itu terjadi pada seseorang tanpa sengaja, maka sepantasnya orang lain tidak menertawakannya. Bagaimana mungkin Anda menertawakan orang lain, padahal Anda sendiri melakukan hal yang sama? Oleh sebab itu, perawi menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia. Dalam riwayat lain Nabi bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang ia juga mengeluarkannya?” Artinya, ini adalah tanda kurangnya akal sehat, jika seseorang menertawakan sesuatu yang juga keluar dari dirinya sendiri. Sebab, itu bukan hal asing, tidak hanya ia, itu juga terjadi pada Anda, si A dan si B. Jika hal itu terjadi pada seseorang, bisa jadi itu keluar tanpa unsur kesengajaan. Mungkin ia sedang mengalami gangguan pada usus besar. Mungkin ia sekadar bergerak, lalu tiba-tiba angin itu keluar begitu saja. Maka, tidak pantas bagi orang yang berakal untuk menertawakannya. Karena tawa Anda hanya akan membuatnya merasa sangat malu. Dahulu pada zaman jahiliah, apabila ada seseorang yang kentut, orang-orang akan menertawakannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kebiasaan tersebut. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa kita hendaknya bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu ketika mendengar suara kentut. Jika itu terjadi, sepantasnya berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa. Ini berlaku jika itu terjadi pada salah seorang di majelis tanpa disengaja. Sebab, menertawakan orang yang tidak sengaja melakukan itu dapat membuatnya sangat malu. Bayangkan jika hal itu terjadi pada seseorang seumpama punya problem di usus besarnya, lalu tiba-tiba suara kentut itu terdengar. Kemudian semua orang di majelis tertawa, bagaimana kira-kira perasaannya? Tidak diragukan lagi, pasti ia sangat terganggu. Maka dari itu, Islam mendidik adab para pengikutnya. Hendaknya kita bersikap tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Ini merupakan bagian dari akhlak mulia, apabila hal semacam ini terjadi, bersikaplah seolah-olah tidak mendengar apa pun. ===== ثُمَّ سَاقَ الْمُصَنِّفُ بِسَنَدِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ جَاءَ تَفْسِيرُ هَذَا فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى أَنَّهُ يَعْنِي ذَكَرَ الضَّرْطَةَ ثُمَّ قَالَ لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ وَمِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ هُوَ مَا يَخْرُجُ مِنَ الرِّيحِ الْمَصْحُوبَةِ بِالصَّوْتِ وَيَعْنِي كَضُرَاطٍ وَنَحْوِهِ فَهَذَا لَا يَتَعَمَّدُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْعَلَهُ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي الْحَيَاءَ وَالْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ لَا يَفْعَلُ هَذَا لَا يَتَعَمَّدُ أَنْ يَأْتِيَ بِالضُّرَاطِ وَنَحْوِهِ أَمَامَ الْآخَرِينَ لَكِنْ إِذَا حَصَلَ مِنْ أَحَدٍ رَغْمًا عَنْهُ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَلَّا يَضْحَكَ مِنْهُ كَيْفَ تَضْحَكُ مِنْ إِنْسَانٍ وَأَنْتَ يَخْرُجُ مِنْكَ مِثْلُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ وَلِهَذَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي هَذَا مِنْ قِلَّةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْحَكُ مِنْ شَيْءٍ يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي لَيْسَ شَيْئًا لَا يَخْرُجُ مِنْهُ يَخْرُجُ مِنْكَ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ لَكِنْ قُدِّرَ أَنَّ هَذَا الْإِنْسَانَ يَعْنِي خَرَجَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ قَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ مَثَلًا مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ قَدْ يَكُونُ تَحَرَّكَ ثُمَّ خَرَجَتْ مِنْهُ هَذِهِ الضَّرْطَةُ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ فَلَا يَلِيقُ بِالْعَاقِلِ أَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْهُ لِأَنَّ هَذَا الضَّحِكَ مِمَّا يُخَجِّلُهُ وَقَدْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَعَ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ ضَرْطَةٌجَعَلُوا يَضْحَكُونَ مِنْهُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّهُ يَنْبَغِي الْإِغْمَاضُ وَالتَّجَاهُلُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الضُّرَاطِ وَأَنَّهُ إِذَا وَقَعَ فَالْمَطْلُوبُ التَّغَافُلُ عَنْهُ وَهَذَا إِذَا وَقَعَ يَعْنِي مِنْ أَحَدِ الْحَاضِرِينَ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِأَنَّ الضَّحِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ هَذَا الشَّيْءُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ هَذَا يُسَبِّبُ لَهُ حَرَجًا عَظِيمًا لَوْ حَصَلَ هَذَا مِنْ إِنْسَانٍ مَثَلًا عِنْدَهُ مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ هَذَا الصَّوْتُ فَضَحِكَ جَمِيعُ مَنْ فِي الْمَجْلِسِ فَكَيْفَ تَكُونُ مَشَاعِرُهُ؟ لَا شَكَّ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ كَثِيرًا فَيَعْنِي الْإِسْلَامُ أَدَّبَ أَتْبَاعهُ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّغَافُلُ كَأَنَّكَ مَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَهَذَا مِنْ مَكَارِمِ الْخُلُقِ أَنَّهُ إِذَا حَصَلَ مِثْلُ هَذَا لِلْإِنْسَانِ يَعْنِي كَأَنَّهُ مَا سَمِعَ شَيْئًا
Penulis menyebutkan riwayat dengan sanadnya dari Abdullah bin Zam’ah, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia.” (HR. Bukhari & Muslim). Penafsiran hadis ini dijelaskan dalam riwayat lain bahwa beliau menyebutkan tentang kentut, lalu bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang juga keluar darinya?” “Sesuatu yang juga keluar darinya” merujuk pada angin yang keluar disertai dengan suara, yakni kentut dan yang semacamnya. Tindakan ini tentu tidak selayaknya dilakukan oleh seseorang. Sebab, hal itu bertentangan dengan rasa malu, sedangkan rasa malu adalah bagian dari iman. Karena malu bagian dari iman, maka ketika berada di suatu majelis, seseorang tidak boleh melakukan hal itu. Ia tidak boleh sengaja kentut atau semacamnya di hadapan orang lain. Namun, jika itu terjadi pada seseorang tanpa sengaja, maka sepantasnya orang lain tidak menertawakannya. Bagaimana mungkin Anda menertawakan orang lain, padahal Anda sendiri melakukan hal yang sama? Oleh sebab itu, perawi menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia. Dalam riwayat lain Nabi bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang ia juga mengeluarkannya?” Artinya, ini adalah tanda kurangnya akal sehat, jika seseorang menertawakan sesuatu yang juga keluar dari dirinya sendiri. Sebab, itu bukan hal asing, tidak hanya ia, itu juga terjadi pada Anda, si A dan si B. Jika hal itu terjadi pada seseorang, bisa jadi itu keluar tanpa unsur kesengajaan. Mungkin ia sedang mengalami gangguan pada usus besar. Mungkin ia sekadar bergerak, lalu tiba-tiba angin itu keluar begitu saja. Maka, tidak pantas bagi orang yang berakal untuk menertawakannya. Karena tawa Anda hanya akan membuatnya merasa sangat malu. Dahulu pada zaman jahiliah, apabila ada seseorang yang kentut, orang-orang akan menertawakannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kebiasaan tersebut. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa kita hendaknya bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu ketika mendengar suara kentut. Jika itu terjadi, sepantasnya berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa. Ini berlaku jika itu terjadi pada salah seorang di majelis tanpa disengaja. Sebab, menertawakan orang yang tidak sengaja melakukan itu dapat membuatnya sangat malu. Bayangkan jika hal itu terjadi pada seseorang seumpama punya problem di usus besarnya, lalu tiba-tiba suara kentut itu terdengar. Kemudian semua orang di majelis tertawa, bagaimana kira-kira perasaannya? Tidak diragukan lagi, pasti ia sangat terganggu. Maka dari itu, Islam mendidik adab para pengikutnya. Hendaknya kita bersikap tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Ini merupakan bagian dari akhlak mulia, apabila hal semacam ini terjadi, bersikaplah seolah-olah tidak mendengar apa pun. ===== ثُمَّ سَاقَ الْمُصَنِّفُ بِسَنَدِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ جَاءَ تَفْسِيرُ هَذَا فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى أَنَّهُ يَعْنِي ذَكَرَ الضَّرْطَةَ ثُمَّ قَالَ لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ وَمِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ هُوَ مَا يَخْرُجُ مِنَ الرِّيحِ الْمَصْحُوبَةِ بِالصَّوْتِ وَيَعْنِي كَضُرَاطٍ وَنَحْوِهِ فَهَذَا لَا يَتَعَمَّدُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْعَلَهُ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي الْحَيَاءَ وَالْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ لَا يَفْعَلُ هَذَا لَا يَتَعَمَّدُ أَنْ يَأْتِيَ بِالضُّرَاطِ وَنَحْوِهِ أَمَامَ الْآخَرِينَ لَكِنْ إِذَا حَصَلَ مِنْ أَحَدٍ رَغْمًا عَنْهُ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَلَّا يَضْحَكَ مِنْهُ كَيْفَ تَضْحَكُ مِنْ إِنْسَانٍ وَأَنْتَ يَخْرُجُ مِنْكَ مِثْلُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ وَلِهَذَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي هَذَا مِنْ قِلَّةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْحَكُ مِنْ شَيْءٍ يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي لَيْسَ شَيْئًا لَا يَخْرُجُ مِنْهُ يَخْرُجُ مِنْكَ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ لَكِنْ قُدِّرَ أَنَّ هَذَا الْإِنْسَانَ يَعْنِي خَرَجَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ قَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ مَثَلًا مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ قَدْ يَكُونُ تَحَرَّكَ ثُمَّ خَرَجَتْ مِنْهُ هَذِهِ الضَّرْطَةُ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ فَلَا يَلِيقُ بِالْعَاقِلِ أَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْهُ لِأَنَّ هَذَا الضَّحِكَ مِمَّا يُخَجِّلُهُ وَقَدْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَعَ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ ضَرْطَةٌجَعَلُوا يَضْحَكُونَ مِنْهُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّهُ يَنْبَغِي الْإِغْمَاضُ وَالتَّجَاهُلُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الضُّرَاطِ وَأَنَّهُ إِذَا وَقَعَ فَالْمَطْلُوبُ التَّغَافُلُ عَنْهُ وَهَذَا إِذَا وَقَعَ يَعْنِي مِنْ أَحَدِ الْحَاضِرِينَ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِأَنَّ الضَّحِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ هَذَا الشَّيْءُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ هَذَا يُسَبِّبُ لَهُ حَرَجًا عَظِيمًا لَوْ حَصَلَ هَذَا مِنْ إِنْسَانٍ مَثَلًا عِنْدَهُ مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ هَذَا الصَّوْتُ فَضَحِكَ جَمِيعُ مَنْ فِي الْمَجْلِسِ فَكَيْفَ تَكُونُ مَشَاعِرُهُ؟ لَا شَكَّ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ كَثِيرًا فَيَعْنِي الْإِسْلَامُ أَدَّبَ أَتْبَاعهُ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّغَافُلُ كَأَنَّكَ مَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَهَذَا مِنْ مَكَارِمِ الْخُلُقِ أَنَّهُ إِذَا حَصَلَ مِثْلُ هَذَا لِلْإِنْسَانِ يَعْنِي كَأَنَّهُ مَا سَمِعَ شَيْئًا


Penulis menyebutkan riwayat dengan sanadnya dari Abdullah bin Zam’ah, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia.” (HR. Bukhari & Muslim). Penafsiran hadis ini dijelaskan dalam riwayat lain bahwa beliau menyebutkan tentang kentut, lalu bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang juga keluar darinya?” “Sesuatu yang juga keluar darinya” merujuk pada angin yang keluar disertai dengan suara, yakni kentut dan yang semacamnya. Tindakan ini tentu tidak selayaknya dilakukan oleh seseorang. Sebab, hal itu bertentangan dengan rasa malu, sedangkan rasa malu adalah bagian dari iman. Karena malu bagian dari iman, maka ketika berada di suatu majelis, seseorang tidak boleh melakukan hal itu. Ia tidak boleh sengaja kentut atau semacamnya di hadapan orang lain. Namun, jika itu terjadi pada seseorang tanpa sengaja, maka sepantasnya orang lain tidak menertawakannya. Bagaimana mungkin Anda menertawakan orang lain, padahal Anda sendiri melakukan hal yang sama? Oleh sebab itu, perawi menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari diri manusia. Dalam riwayat lain Nabi bersabda: “Mengapa di antara kalian ada yang menertawakan sesuatu yang ia juga mengeluarkannya?” Artinya, ini adalah tanda kurangnya akal sehat, jika seseorang menertawakan sesuatu yang juga keluar dari dirinya sendiri. Sebab, itu bukan hal asing, tidak hanya ia, itu juga terjadi pada Anda, si A dan si B. Jika hal itu terjadi pada seseorang, bisa jadi itu keluar tanpa unsur kesengajaan. Mungkin ia sedang mengalami gangguan pada usus besar. Mungkin ia sekadar bergerak, lalu tiba-tiba angin itu keluar begitu saja. Maka, tidak pantas bagi orang yang berakal untuk menertawakannya. Karena tawa Anda hanya akan membuatnya merasa sangat malu. Dahulu pada zaman jahiliah, apabila ada seseorang yang kentut, orang-orang akan menertawakannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kebiasaan tersebut. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan bahwa kita hendaknya bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu ketika mendengar suara kentut. Jika itu terjadi, sepantasnya berpura-pura seolah-olah tidak ada apa-apa. Ini berlaku jika itu terjadi pada salah seorang di majelis tanpa disengaja. Sebab, menertawakan orang yang tidak sengaja melakukan itu dapat membuatnya sangat malu. Bayangkan jika hal itu terjadi pada seseorang seumpama punya problem di usus besarnya, lalu tiba-tiba suara kentut itu terdengar. Kemudian semua orang di majelis tertawa, bagaimana kira-kira perasaannya? Tidak diragukan lagi, pasti ia sangat terganggu. Maka dari itu, Islam mendidik adab para pengikutnya. Hendaknya kita bersikap tak acuh, seolah-olah tidak mendengar apa pun. Ini merupakan bagian dari akhlak mulia, apabila hal semacam ini terjadi, bersikaplah seolah-olah tidak mendengar apa pun. ===== ثُمَّ سَاقَ الْمُصَنِّفُ بِسَنَدِهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ جَاءَ تَفْسِيرُ هَذَا فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى أَنَّهُ يَعْنِي ذَكَرَ الضَّرْطَةَ ثُمَّ قَالَ لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ وَمِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ هُوَ مَا يَخْرُجُ مِنَ الرِّيحِ الْمَصْحُوبَةِ بِالصَّوْتِ وَيَعْنِي كَضُرَاطٍ وَنَحْوِهِ فَهَذَا لَا يَتَعَمَّدُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْعَلَهُ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي الْحَيَاءَ وَالْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يَكُونُ فِي الْمَجْلِسِ لَا يَفْعَلُ هَذَا لَا يَتَعَمَّدُ أَنْ يَأْتِيَ بِالضُّرَاطِ وَنَحْوِهِ أَمَامَ الْآخَرِينَ لَكِنْ إِذَا حَصَلَ مِنْ أَحَدٍ رَغْمًا عَنْهُ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَلَّا يَضْحَكَ مِنْهُ كَيْفَ تَضْحَكُ مِنْ إِنْسَانٍ وَأَنْتَ يَخْرُجُ مِنْكَ مِثْلُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ وَلِهَذَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَضْحَكَ الرَّجُلُ مِمَّا يَخْرُجُ مِنَ الْأَنْفُسِ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي هَذَا مِنْ قِلَّةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْحَكُ مِنْ شَيْءٍ يَخْرُجُ مِنْهُ يَعْنِي لَيْسَ شَيْئًا لَا يَخْرُجُ مِنْهُ يَخْرُجُ مِنْكَ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ وَيَخْرُجُ مِنْ فُلَانٍ لَكِنْ قُدِّرَ أَنَّ هَذَا الْإِنْسَانَ يَعْنِي خَرَجَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ قَدْ يَكُونُ عِنْدَهُ مَثَلًا مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ قَدْ يَكُونُ تَحَرَّكَ ثُمَّ خَرَجَتْ مِنْهُ هَذِهِ الضَّرْطَةُ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ فَلَا يَلِيقُ بِالْعَاقِلِ أَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْهُ لِأَنَّ هَذَا الضَّحِكَ مِمَّا يُخَجِّلُهُ وَقَدْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَعَ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ ضَرْطَةٌجَعَلُوا يَضْحَكُونَ مِنْهُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ إِنَّهُ يَنْبَغِي الْإِغْمَاضُ وَالتَّجَاهُلُ عِنْدَ سَمَاعِ صَوْتِ الضُّرَاطِ وَأَنَّهُ إِذَا وَقَعَ فَالْمَطْلُوبُ التَّغَافُلُ عَنْهُ وَهَذَا إِذَا وَقَعَ يَعْنِي مِنْ أَحَدِ الْحَاضِرِينَ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِأَنَّ الضَّحِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ إِذَا وَقَعَ مِنْهُ هَذَا الشَّيْءُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ هَذَا يُسَبِّبُ لَهُ حَرَجًا عَظِيمًا لَوْ حَصَلَ هَذَا مِنْ إِنْسَانٍ مَثَلًا عِنْدَهُ مَشَاكِلُ فِي الْقُولُونِ ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ هَذَا الصَّوْتُ فَضَحِكَ جَمِيعُ مَنْ فِي الْمَجْلِسِ فَكَيْفَ تَكُونُ مَشَاعِرُهُ؟ لَا شَكَّ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ كَثِيرًا فَيَعْنِي الْإِسْلَامُ أَدَّبَ أَتْبَاعهُ يَعْنِي يَنْبَغِي التَّغَافُلُ كَأَنَّكَ مَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَهَذَا مِنْ مَكَارِمِ الْخُلُقِ أَنَّهُ إِذَا حَصَلَ مِثْلُ هَذَا لِلْإِنْسَانِ يَعْنِي كَأَنَّهُ مَا سَمِعَ شَيْئًا

Zhihar dalam Islam: Kisah Khawlah, Hukum, dan Pelajaran Rumah Tangga

Masalah rumah tangga bukan hal baru, bahkan terjadi pada generasi sahabat. Salah satu kisah penting adalah zhihar yang dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Dari peristiwa ini, Allah turunkan hukum sekaligus pelajaran besar tentang menjaga lisan dan memperbaiki hubungan.Baca juga: Haramkah Memanggil Istri dengan Ibu, Ummi, Dek?  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Zhihar? 2. Kafarat Zhihar 3. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat Zhihar 4. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya Hukumnya 5. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labah 6. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib:فَصْلٌ وَالظِّهَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي، فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ وَلَمْ يُتْبِعْهُ بِالطَّلَاقِ صَارَ عَائِدًا، وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ، وَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيمَةٍ مِنَ الْعُيُوبِ الْمُضِرَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا، لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ، وَلَا يَحِلُّ لِلْمُظَاهِرِ وَطْؤُهَا حَتَّى يُكَفِّرَ.“Fasal.” Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Jika ia mengucapkan hal tersebut dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali (kepada istrinya) dan wajib atasnya kafarat. Adapun kafaratnya adalah memerdekakan seorang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengganggu kerja dan penghasilan. Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud. Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya sampai ia menunaikan kafarat. Apa itu Zhihar?Zhihar secara bahasa diambil dari kata “punggung”. Secara istilah syariat, zhihar adalah menyerupakan istri yang belum ditalak bain dengan perempuan yang tidak halal baginya.Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Disebutkan “punggung” bukan selainnya (seperti perut), karena punggung adalah tempat tunggangan, dan istri adalah tempat bagi suami.Jika seorang suami mengatakan hal tersebut kepada istrinya, yaitu “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali kepada istrinya, dan wajib baginya kafarat. Kafarat tersebut bersifat berurutan. Kafarat ZhiharKafarat pertama adalah memerdekakan seorang budak mukmin, yaitu seorang muslim, meskipun keislamannya karena salah satu orang tuanya, serta terbebas dari cacat yang jelas mengganggu kerja dan penghasilan.Jika tidak mendapatkan budak tersebut, baik karena tidak mampu secara nyata atau secara hukum, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Dua bulan tersebut dihitung berdasarkan bulan hijriyah, meskipun kurang dari tiga puluh hari. Puasa tersebut harus diniatkan sebagai kafarat sejak malam hari. Dalam pendapat yang lebih kuat, tidak disyaratkan niat khusus untuk berturut-turut.Jika tidak mampu berpuasa dua bulan atau tidak mampu menjalankannya secara berturut-turut, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin atau fakir. Setiap orang miskin atau fakir mendapatkan satu mud dari jenis makanan pokok yang digunakan dalam zakat fitrah, yaitu dari makanan pokok negeri setempat seperti gandum atau jelai, bukan berupa tepung atau makanan olahan.Jika orang yang wajib kafarat tidak mampu melakukan ketiga hal tersebut, maka kewajiban kafarat tetap menjadi tanggungannya. Jika suatu saat ia mampu, maka ia harus menunaikannya, walaupun hanya sebagian, seperti satu mud atau kurang dari itu, maka tetap dikeluarkan sesuai kemampuannya.Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya yang dizhihar sampai ia menunaikan kafarat tersebut. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat ZhiharAllah Ta’ala berfirman,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١)“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujādilah: 1)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Tafsir Surah Al-Mujādilah, dan surah ini adalah surah Madaniyah.Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu‘awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara aku berada di sudut rumah, aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Maka Allah menurunkan ayat: ‘Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya’ hingga akhir ayat.”Demikian pula diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dalam Kitab Tauhid secara mu‘allaq, ia berkata: Al-A‘mash dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, lalu menyebutkan hadits tersebut. Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Jarir dari berbagai jalur, dari Al-A‘mash dengan sanad yang sama.Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim, dari Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Maha Suci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku benar-benar mendengar ucapan Khawlah binti Tsa‘labah, namun sebagian ucapannya samar bagiku. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, ia telah menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan anak-anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan aku tidak lagi memiliki anak, ia melakukan zhihar kepadaku. Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu.’”Ia berkata: Tidak lama kemudian, Jibril turun membawa ayat ini:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَاDisebutkan bahwa suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit.Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad, dari ‘Urwah: Suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit. Ia memiliki semacam gangguan (emosi). Jika gangguan itu datang dan memuncak, ia melakukan zhihar terhadap istrinya. Jika keadaan itu hilang, ia tidak mengatakan apa-apa. Maka istrinya datang kepada Rasulullah untuk meminta fatwa dalam masalah tersebut, dan mengadukannya kepada Allah. Lalu Allah menurunkan ayat:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِDemikian pula diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki memiliki gangguan serupa, lalu disebutkan kisah yang sama.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma‘il Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Jarir—yaitu Ibnu Hazim—ia berkata: Aku mendengar Abu Yazid berkata:Aku bertemu dengan Umar bin Khattab, sementara beliau berjalan bersama orang-orang. Lalu seorang wanita—yang disebut Khawlah binti Tsa‘labah—menghentikannya. Maka beliau berhenti, mendekat kepadanya, menundukkan kepala untuk mendengarkannya, dan meletakkan tangannya di atas pundaknya hingga wanita itu selesai menyampaikan kebutuhannya, lalu ia pergi.Seorang lelaki berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, engkau menahan para pembesar Quraisy karena wanita tua ini?”Beliau menjawab: “Celaka engkau! Tahukah engkau siapa wanita ini?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Ini adalah wanita yang Allah mendengar pengaduannya dari atas tujuh langit. Ini adalah Khawlah binti Tsa‘labah. Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam, aku tidak akan meninggalkannya sampai ia menyelesaikan kebutuhannya, kecuali untuk shalat, lalu aku kembali kepadanya hingga ia selesai.”Riwayat ini terputus antara Abu Yazid dan Umar bin Khattab, namun diriwayatkan pula melalui jalur lain.Ibnu Abi Hatim juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mundzir bin Syadzan, telah menceritakan kepada kami Ya‘la, telah menceritakan kepada kami Zakariya dari ‘Amir, ia berkata: Wanita yang mengajukan gugatan tentang suaminya adalah Khawlah binti Ash-Shamit. Dan ibunya adalah Mu‘adzah, wanita yang disebut dalam firman Allah:وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا (النور: ٣٣)“Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, padahal mereka sendiri menginginkan kesucian.” (QS. An-Nur: 33)Yang benar adalah: Khawlah adalah istri dari Aus bin Ash-Shamit. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya HukumnyaAllah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢)“Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya), padahal istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka. Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mujādilah: 2)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa‘d bin Ibrahim dan Ya‘qub, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ma‘mar bin Abdullah bin Hanzhalah, dari Ibnu Abdullah bin Salam, dari Khuwailah binti Tsa‘labah, ia berkata:“Demi Allah, tentang diriku dan tentang Aus bin Ash-Shamit, Allah menurunkan permulaan surah Al-Mujādilah. Aku hidup bersamanya, dan ia adalah seorang lelaki tua yang akhlaknya buruk. Pada suatu hari ia masuk menemuiku, lalu aku membantahnya dalam suatu hal. Ia marah dan berkata: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’”Ia berkata: “Kemudian ia keluar dan duduk bersama kaumnya beberapa saat. Lalu ia kembali kepadaku dan ingin menggauliku. Aku berkata: ‘Tidak, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menyentuhku setelah ucapanmu itu, sampai Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum di antara kita.’”Ia berkata: “Ia mencoba mendekatiku, namun aku menolaknya, hingga aku berhasil mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan lelaki tua yang lemah, lalu aku menjauhkannya dariku.”Ia berkata: “Kemudian aku keluar menuju salah satu tetanggaku, meminjam pakaian darinya, lalu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau dan menceritakan apa yang aku alami, serta mengadukan buruknya akhlak suamiku.”Ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:‘Wahai Khuwailah, dia adalah sepupumu yang sudah tua, maka bertakwalah kepada Allah dalam menyikapinya.’”Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak beranjak hingga turun wahyu Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami keadaan saat menerima wahyu, kemudian setelah selesai, beliau bersabda:‘Wahai Khuwailah, sungguh Allah telah menurunkan ayat tentangmu dan tentang suamimu.’”Kemudian beliau membacakan:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِhingga firman-Nya:وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:“Perintahkan dia untuk memerdekakan seorang budak.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki budak untuk dimerdekakan.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia sudah tua dan tidak mampu berpuasa.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki itu.”Beliau bersabda: “Kami akan membantunya dengan satu ‘araq (takaran) kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan satu ‘araq lagi.”Beliau bersabda: “Engkau benar dan telah berbuat baik. Pergilah dan sedekahkan itu atas namanya, dan berwasiatlah agar ia berbuat baik.”Ia berkata: “Maka aku pun melakukannya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Thalaq melalui dua jalur dari Muhammad bin Ishaq. Dalam riwayat tersebut disebutkan: Khawlah binti Tsa‘labah, dan ada juga yang menyebutnya Khawlah binti Malik bin Tsa‘labah, serta diperkecil menjadi Khuwailah. Semua penyebutan ini tidak bertentangan.Inilah pendapat yang benar tentang sebab turunnya awal surah ini. Adapun hadits Salamah bin Shakhr, tidak disebutkan sebagai sebab turunnya ayat, namun ia diperintahkan menjalankan apa yang telah ditetapkan dalam ayat tersebut, yaitu memerdekakan budak, atau berpuasa, atau memberi makan.Disebutkan bahwa ia berkata:“Aku adalah seorang lelaki yang memiliki hasrat besar terhadap wanita. Ketika masuk bulan Ramadhan, aku melakukan zhihar terhadap istriku hingga selesai Ramadhan, karena khawatir aku akan mendatanginya di malam hari lalu berlanjut hingga siang hari dan aku tidak mampu menahan diri.”Kemudian ia melanggar hal tersebut, lalu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Nabi bersabda:“Apakah benar engkau melakukan itu?” Ia menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Merdekakan budak.” Ia menjawab: “Aku tidak mampu.”Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia menjawab: “Bukankah aku terkena masalah ini karena puasa?”Beliau bersabda: “Bersedekahlah.” Ia menjawab: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, kami tidak memiliki makanan untuk makan malam.”Beliau bersabda: “Pergilah kepada pengelola sedekah Bani Zuraik, ambillah darinya, lalu beri makan enam puluh orang miskin, dan sisanya gunakan untukmu dan keluargamu.”Ia berkata: “Aku kembali kepada kaumku dan berkata: Aku menemukan kesempitan dan buruknya pendapat pada kalian, namun aku menemukan kelapangan dan keberkahan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Diriwayatkan pula bahwa yang pertama kali melakukan zhihar dalam Islam adalah Aus bin Ash-Shamit, saudara dari Ubadah bin Ash-Shamit, dan istrinya adalah Khawlah binti Tsa‘labah.Pada masa jahiliah, zhihar dianggap sebagai talak. Namun Allah memberikan keringanan bagi umat ini, dengan menjadikannya bukan talak, tetapi mewajibkan kafarat.Firman Allah:مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ“Istri-istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka.”Artinya, seorang istri tidak menjadi ibu hanya karena ucapan suami: “Engkau seperti ibuku”, atau “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan semacamnya.Firman-Nya:وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا“Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.”Maksudnya, ucapan yang buruk dan batil.Firman-Nya:وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ“Dan sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”Maksudnya, Allah memaafkan apa yang terjadi di masa jahiliah, dan juga ucapan yang keluar tanpa sengaja dari lisan yang tidak dimaksudkan.Sebagaimana dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka beliau bersabda:“Apakah dia saudaramu?”Ini adalah bentuk pengingkaran, namun beliau tidak mengharamkan istrinya hanya karena ucapan tersebut, karena tidak dimaksudkan. Namun jika dimaksudkan, maka hukumnya haram, karena tidak ada perbedaan antara ibu dan selainnya dari mahram seperti saudara perempuan, bibi, dan yang semisalnya. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labahKisah zhihar yang dilakukan oleh Aus bin Ash-Shamit kepada istrinya Khawlah binti Tsa’labah bukan sekadar cerita hukum, tetapi sangat relevan dengan realita rumah tangga hari ini. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik:1. Emosi Sesaat Bisa Menghancurkan Rumah TanggaAus mengucapkan zhihar dalam kondisi marah. Ini menunjukkan bahwa ucapan yang keluar saat emosi bisa berdampak besar.Pelajaran hari ini:Banyak konflik rumah tangga bermula dari ucapan spontan—kata-kata kasar, ancaman cerai, atau merendahkan pasangan.Padahal satu kalimat bisa melukai, bahkan merusak hubungan bertahun-tahun.2. Jangan Main-Main dengan Ucapan SeriusDi masa jahiliah, zhihar dianggap talak. Islam mengoreksinya, namun tetap memberi konsekuensi berat (kafarat).Pelajaran hari ini:Ucapan seperti:“Aku capek sama kamu!”“Kita selesai saja!”“Kamu seperti bukan istriku!”Meskipun dianggap “sekadar emosi”, dalam Islam ucapan punya konsekuensi. Lisan tidak boleh diremehkan.3. Istri Boleh Mengadu dan Mencari SolusiKhawlah tidak diam. Ia mengadu kepada Nabi ﷺ dan kepada Allah.Pelajaran hari ini:Istri yang terzalimi tidak harus memendam semuanya.Ia boleh:mencari solusi,berkonsultasi,bahkan mengadukan kepada pihak yang amanah.Ini penting dalam membangun rumah tangga sehat, bukan rumah tangga yang “diam tapi penuh luka”.4. Allah Mendengar Keluhan Hamba-NyaAllah langsung menurunkan ayat karena keluhan Khawlah.Pelajaran hari ini:Tidak semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan manusia.Namun semua keluhan didengar oleh Allah.Kadang:kita tidak dipahami pasangan,tidak didengar keluarga,bahkan tidak ada solusi cepat.Tapi Allah Maha Mendengar.5. Suami Harus Bertanggung Jawab atas KesalahannyaAus tidak dibiarkan begitu saja. Ia wajib menunaikan kafarat.Pelajaran hari ini:Dalam rumah tangga:salah harus diakui,kesalahan harus ditebus,tidak cukup hanya “maaf ya”.Suami harus belajar bertanggung jawab, bukan sekadar meredakan konflik sesaat.6. Islam Menjaga Rumah Tangga, Bukan Mempermudah PerceraianZhihar diubah dari “talak” menjadi “dosa yang harus ditebus”.Pelajaran hari ini:Islam tidak ingin rumah tangga hancur karena emosi sesaat.Ada mekanisme:menahan,memperbaiki,menebus kesalahan.Ini pelajaran besar bagi pasangan yang mudah berkata “cerai”.7. Pentingnya Akhlak dalam Rumah TanggaDisebutkan bahwa Aus memiliki akhlak yang kurang baik.Pelajaran hari ini:Banyak masalah rumah tangga bukan karena ekonomi, tapi karena:akhlak buruk,mudah marah,tidak sabar,ego tinggi.Padahal kunci sakinah bukan harta, tapi akhlak. PenutupKisah zhihar ini mengajarkan bahwa masalah rumah tangga bukan hal baru—sudah ada sejak zaman sahabat. Namun solusi Islam sangat indah: menata lisan, menjaga emosi, memberi ruang pengaduan, dan menuntut tanggung jawab.Hari ini, yang sering rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena hal kecil yang dibesar-besarkan—ucapan yang tidak dijaga, emosi yang tidak dikendalikan, dan ego yang tidak ditundukkan.Semoga setiap rumah tangga kita dijaga dari ucapan yang merusak, dan dihiasi dengan kesabaran, kelembutan, serta tanggung jawab. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Tafsir Ibnu Katsir —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih keluarga hukum zhihar kafarat zhihar kisah sahabat konflik suami istri matan taqrib matan taqrib kitab nikah menjaga lisan nasihat pernikahan rumah tangga islami surat al mujadilah zhihar

Zhihar dalam Islam: Kisah Khawlah, Hukum, dan Pelajaran Rumah Tangga

Masalah rumah tangga bukan hal baru, bahkan terjadi pada generasi sahabat. Salah satu kisah penting adalah zhihar yang dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Dari peristiwa ini, Allah turunkan hukum sekaligus pelajaran besar tentang menjaga lisan dan memperbaiki hubungan.Baca juga: Haramkah Memanggil Istri dengan Ibu, Ummi, Dek?  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Zhihar? 2. Kafarat Zhihar 3. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat Zhihar 4. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya Hukumnya 5. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labah 6. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib:فَصْلٌ وَالظِّهَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي، فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ وَلَمْ يُتْبِعْهُ بِالطَّلَاقِ صَارَ عَائِدًا، وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ، وَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيمَةٍ مِنَ الْعُيُوبِ الْمُضِرَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا، لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ، وَلَا يَحِلُّ لِلْمُظَاهِرِ وَطْؤُهَا حَتَّى يُكَفِّرَ.“Fasal.” Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Jika ia mengucapkan hal tersebut dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali (kepada istrinya) dan wajib atasnya kafarat. Adapun kafaratnya adalah memerdekakan seorang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengganggu kerja dan penghasilan. Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud. Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya sampai ia menunaikan kafarat. Apa itu Zhihar?Zhihar secara bahasa diambil dari kata “punggung”. Secara istilah syariat, zhihar adalah menyerupakan istri yang belum ditalak bain dengan perempuan yang tidak halal baginya.Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Disebutkan “punggung” bukan selainnya (seperti perut), karena punggung adalah tempat tunggangan, dan istri adalah tempat bagi suami.Jika seorang suami mengatakan hal tersebut kepada istrinya, yaitu “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali kepada istrinya, dan wajib baginya kafarat. Kafarat tersebut bersifat berurutan. Kafarat ZhiharKafarat pertama adalah memerdekakan seorang budak mukmin, yaitu seorang muslim, meskipun keislamannya karena salah satu orang tuanya, serta terbebas dari cacat yang jelas mengganggu kerja dan penghasilan.Jika tidak mendapatkan budak tersebut, baik karena tidak mampu secara nyata atau secara hukum, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Dua bulan tersebut dihitung berdasarkan bulan hijriyah, meskipun kurang dari tiga puluh hari. Puasa tersebut harus diniatkan sebagai kafarat sejak malam hari. Dalam pendapat yang lebih kuat, tidak disyaratkan niat khusus untuk berturut-turut.Jika tidak mampu berpuasa dua bulan atau tidak mampu menjalankannya secara berturut-turut, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin atau fakir. Setiap orang miskin atau fakir mendapatkan satu mud dari jenis makanan pokok yang digunakan dalam zakat fitrah, yaitu dari makanan pokok negeri setempat seperti gandum atau jelai, bukan berupa tepung atau makanan olahan.Jika orang yang wajib kafarat tidak mampu melakukan ketiga hal tersebut, maka kewajiban kafarat tetap menjadi tanggungannya. Jika suatu saat ia mampu, maka ia harus menunaikannya, walaupun hanya sebagian, seperti satu mud atau kurang dari itu, maka tetap dikeluarkan sesuai kemampuannya.Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya yang dizhihar sampai ia menunaikan kafarat tersebut. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat ZhiharAllah Ta’ala berfirman,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١)“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujādilah: 1)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Tafsir Surah Al-Mujādilah, dan surah ini adalah surah Madaniyah.Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu‘awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara aku berada di sudut rumah, aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Maka Allah menurunkan ayat: ‘Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya’ hingga akhir ayat.”Demikian pula diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dalam Kitab Tauhid secara mu‘allaq, ia berkata: Al-A‘mash dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, lalu menyebutkan hadits tersebut. Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Jarir dari berbagai jalur, dari Al-A‘mash dengan sanad yang sama.Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim, dari Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Maha Suci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku benar-benar mendengar ucapan Khawlah binti Tsa‘labah, namun sebagian ucapannya samar bagiku. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, ia telah menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan anak-anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan aku tidak lagi memiliki anak, ia melakukan zhihar kepadaku. Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu.’”Ia berkata: Tidak lama kemudian, Jibril turun membawa ayat ini:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَاDisebutkan bahwa suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit.Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad, dari ‘Urwah: Suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit. Ia memiliki semacam gangguan (emosi). Jika gangguan itu datang dan memuncak, ia melakukan zhihar terhadap istrinya. Jika keadaan itu hilang, ia tidak mengatakan apa-apa. Maka istrinya datang kepada Rasulullah untuk meminta fatwa dalam masalah tersebut, dan mengadukannya kepada Allah. Lalu Allah menurunkan ayat:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِDemikian pula diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki memiliki gangguan serupa, lalu disebutkan kisah yang sama.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma‘il Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Jarir—yaitu Ibnu Hazim—ia berkata: Aku mendengar Abu Yazid berkata:Aku bertemu dengan Umar bin Khattab, sementara beliau berjalan bersama orang-orang. Lalu seorang wanita—yang disebut Khawlah binti Tsa‘labah—menghentikannya. Maka beliau berhenti, mendekat kepadanya, menundukkan kepala untuk mendengarkannya, dan meletakkan tangannya di atas pundaknya hingga wanita itu selesai menyampaikan kebutuhannya, lalu ia pergi.Seorang lelaki berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, engkau menahan para pembesar Quraisy karena wanita tua ini?”Beliau menjawab: “Celaka engkau! Tahukah engkau siapa wanita ini?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Ini adalah wanita yang Allah mendengar pengaduannya dari atas tujuh langit. Ini adalah Khawlah binti Tsa‘labah. Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam, aku tidak akan meninggalkannya sampai ia menyelesaikan kebutuhannya, kecuali untuk shalat, lalu aku kembali kepadanya hingga ia selesai.”Riwayat ini terputus antara Abu Yazid dan Umar bin Khattab, namun diriwayatkan pula melalui jalur lain.Ibnu Abi Hatim juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mundzir bin Syadzan, telah menceritakan kepada kami Ya‘la, telah menceritakan kepada kami Zakariya dari ‘Amir, ia berkata: Wanita yang mengajukan gugatan tentang suaminya adalah Khawlah binti Ash-Shamit. Dan ibunya adalah Mu‘adzah, wanita yang disebut dalam firman Allah:وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا (النور: ٣٣)“Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, padahal mereka sendiri menginginkan kesucian.” (QS. An-Nur: 33)Yang benar adalah: Khawlah adalah istri dari Aus bin Ash-Shamit. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya HukumnyaAllah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢)“Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya), padahal istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka. Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mujādilah: 2)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa‘d bin Ibrahim dan Ya‘qub, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ma‘mar bin Abdullah bin Hanzhalah, dari Ibnu Abdullah bin Salam, dari Khuwailah binti Tsa‘labah, ia berkata:“Demi Allah, tentang diriku dan tentang Aus bin Ash-Shamit, Allah menurunkan permulaan surah Al-Mujādilah. Aku hidup bersamanya, dan ia adalah seorang lelaki tua yang akhlaknya buruk. Pada suatu hari ia masuk menemuiku, lalu aku membantahnya dalam suatu hal. Ia marah dan berkata: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’”Ia berkata: “Kemudian ia keluar dan duduk bersama kaumnya beberapa saat. Lalu ia kembali kepadaku dan ingin menggauliku. Aku berkata: ‘Tidak, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menyentuhku setelah ucapanmu itu, sampai Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum di antara kita.’”Ia berkata: “Ia mencoba mendekatiku, namun aku menolaknya, hingga aku berhasil mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan lelaki tua yang lemah, lalu aku menjauhkannya dariku.”Ia berkata: “Kemudian aku keluar menuju salah satu tetanggaku, meminjam pakaian darinya, lalu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau dan menceritakan apa yang aku alami, serta mengadukan buruknya akhlak suamiku.”Ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:‘Wahai Khuwailah, dia adalah sepupumu yang sudah tua, maka bertakwalah kepada Allah dalam menyikapinya.’”Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak beranjak hingga turun wahyu Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami keadaan saat menerima wahyu, kemudian setelah selesai, beliau bersabda:‘Wahai Khuwailah, sungguh Allah telah menurunkan ayat tentangmu dan tentang suamimu.’”Kemudian beliau membacakan:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِhingga firman-Nya:وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:“Perintahkan dia untuk memerdekakan seorang budak.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki budak untuk dimerdekakan.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia sudah tua dan tidak mampu berpuasa.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki itu.”Beliau bersabda: “Kami akan membantunya dengan satu ‘araq (takaran) kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan satu ‘araq lagi.”Beliau bersabda: “Engkau benar dan telah berbuat baik. Pergilah dan sedekahkan itu atas namanya, dan berwasiatlah agar ia berbuat baik.”Ia berkata: “Maka aku pun melakukannya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Thalaq melalui dua jalur dari Muhammad bin Ishaq. Dalam riwayat tersebut disebutkan: Khawlah binti Tsa‘labah, dan ada juga yang menyebutnya Khawlah binti Malik bin Tsa‘labah, serta diperkecil menjadi Khuwailah. Semua penyebutan ini tidak bertentangan.Inilah pendapat yang benar tentang sebab turunnya awal surah ini. Adapun hadits Salamah bin Shakhr, tidak disebutkan sebagai sebab turunnya ayat, namun ia diperintahkan menjalankan apa yang telah ditetapkan dalam ayat tersebut, yaitu memerdekakan budak, atau berpuasa, atau memberi makan.Disebutkan bahwa ia berkata:“Aku adalah seorang lelaki yang memiliki hasrat besar terhadap wanita. Ketika masuk bulan Ramadhan, aku melakukan zhihar terhadap istriku hingga selesai Ramadhan, karena khawatir aku akan mendatanginya di malam hari lalu berlanjut hingga siang hari dan aku tidak mampu menahan diri.”Kemudian ia melanggar hal tersebut, lalu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Nabi bersabda:“Apakah benar engkau melakukan itu?” Ia menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Merdekakan budak.” Ia menjawab: “Aku tidak mampu.”Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia menjawab: “Bukankah aku terkena masalah ini karena puasa?”Beliau bersabda: “Bersedekahlah.” Ia menjawab: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, kami tidak memiliki makanan untuk makan malam.”Beliau bersabda: “Pergilah kepada pengelola sedekah Bani Zuraik, ambillah darinya, lalu beri makan enam puluh orang miskin, dan sisanya gunakan untukmu dan keluargamu.”Ia berkata: “Aku kembali kepada kaumku dan berkata: Aku menemukan kesempitan dan buruknya pendapat pada kalian, namun aku menemukan kelapangan dan keberkahan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Diriwayatkan pula bahwa yang pertama kali melakukan zhihar dalam Islam adalah Aus bin Ash-Shamit, saudara dari Ubadah bin Ash-Shamit, dan istrinya adalah Khawlah binti Tsa‘labah.Pada masa jahiliah, zhihar dianggap sebagai talak. Namun Allah memberikan keringanan bagi umat ini, dengan menjadikannya bukan talak, tetapi mewajibkan kafarat.Firman Allah:مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ“Istri-istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka.”Artinya, seorang istri tidak menjadi ibu hanya karena ucapan suami: “Engkau seperti ibuku”, atau “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan semacamnya.Firman-Nya:وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا“Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.”Maksudnya, ucapan yang buruk dan batil.Firman-Nya:وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ“Dan sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”Maksudnya, Allah memaafkan apa yang terjadi di masa jahiliah, dan juga ucapan yang keluar tanpa sengaja dari lisan yang tidak dimaksudkan.Sebagaimana dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka beliau bersabda:“Apakah dia saudaramu?”Ini adalah bentuk pengingkaran, namun beliau tidak mengharamkan istrinya hanya karena ucapan tersebut, karena tidak dimaksudkan. Namun jika dimaksudkan, maka hukumnya haram, karena tidak ada perbedaan antara ibu dan selainnya dari mahram seperti saudara perempuan, bibi, dan yang semisalnya. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labahKisah zhihar yang dilakukan oleh Aus bin Ash-Shamit kepada istrinya Khawlah binti Tsa’labah bukan sekadar cerita hukum, tetapi sangat relevan dengan realita rumah tangga hari ini. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik:1. Emosi Sesaat Bisa Menghancurkan Rumah TanggaAus mengucapkan zhihar dalam kondisi marah. Ini menunjukkan bahwa ucapan yang keluar saat emosi bisa berdampak besar.Pelajaran hari ini:Banyak konflik rumah tangga bermula dari ucapan spontan—kata-kata kasar, ancaman cerai, atau merendahkan pasangan.Padahal satu kalimat bisa melukai, bahkan merusak hubungan bertahun-tahun.2. Jangan Main-Main dengan Ucapan SeriusDi masa jahiliah, zhihar dianggap talak. Islam mengoreksinya, namun tetap memberi konsekuensi berat (kafarat).Pelajaran hari ini:Ucapan seperti:“Aku capek sama kamu!”“Kita selesai saja!”“Kamu seperti bukan istriku!”Meskipun dianggap “sekadar emosi”, dalam Islam ucapan punya konsekuensi. Lisan tidak boleh diremehkan.3. Istri Boleh Mengadu dan Mencari SolusiKhawlah tidak diam. Ia mengadu kepada Nabi ﷺ dan kepada Allah.Pelajaran hari ini:Istri yang terzalimi tidak harus memendam semuanya.Ia boleh:mencari solusi,berkonsultasi,bahkan mengadukan kepada pihak yang amanah.Ini penting dalam membangun rumah tangga sehat, bukan rumah tangga yang “diam tapi penuh luka”.4. Allah Mendengar Keluhan Hamba-NyaAllah langsung menurunkan ayat karena keluhan Khawlah.Pelajaran hari ini:Tidak semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan manusia.Namun semua keluhan didengar oleh Allah.Kadang:kita tidak dipahami pasangan,tidak didengar keluarga,bahkan tidak ada solusi cepat.Tapi Allah Maha Mendengar.5. Suami Harus Bertanggung Jawab atas KesalahannyaAus tidak dibiarkan begitu saja. Ia wajib menunaikan kafarat.Pelajaran hari ini:Dalam rumah tangga:salah harus diakui,kesalahan harus ditebus,tidak cukup hanya “maaf ya”.Suami harus belajar bertanggung jawab, bukan sekadar meredakan konflik sesaat.6. Islam Menjaga Rumah Tangga, Bukan Mempermudah PerceraianZhihar diubah dari “talak” menjadi “dosa yang harus ditebus”.Pelajaran hari ini:Islam tidak ingin rumah tangga hancur karena emosi sesaat.Ada mekanisme:menahan,memperbaiki,menebus kesalahan.Ini pelajaran besar bagi pasangan yang mudah berkata “cerai”.7. Pentingnya Akhlak dalam Rumah TanggaDisebutkan bahwa Aus memiliki akhlak yang kurang baik.Pelajaran hari ini:Banyak masalah rumah tangga bukan karena ekonomi, tapi karena:akhlak buruk,mudah marah,tidak sabar,ego tinggi.Padahal kunci sakinah bukan harta, tapi akhlak. PenutupKisah zhihar ini mengajarkan bahwa masalah rumah tangga bukan hal baru—sudah ada sejak zaman sahabat. Namun solusi Islam sangat indah: menata lisan, menjaga emosi, memberi ruang pengaduan, dan menuntut tanggung jawab.Hari ini, yang sering rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena hal kecil yang dibesar-besarkan—ucapan yang tidak dijaga, emosi yang tidak dikendalikan, dan ego yang tidak ditundukkan.Semoga setiap rumah tangga kita dijaga dari ucapan yang merusak, dan dihiasi dengan kesabaran, kelembutan, serta tanggung jawab. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Tafsir Ibnu Katsir —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih keluarga hukum zhihar kafarat zhihar kisah sahabat konflik suami istri matan taqrib matan taqrib kitab nikah menjaga lisan nasihat pernikahan rumah tangga islami surat al mujadilah zhihar
Masalah rumah tangga bukan hal baru, bahkan terjadi pada generasi sahabat. Salah satu kisah penting adalah zhihar yang dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Dari peristiwa ini, Allah turunkan hukum sekaligus pelajaran besar tentang menjaga lisan dan memperbaiki hubungan.Baca juga: Haramkah Memanggil Istri dengan Ibu, Ummi, Dek?  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Zhihar? 2. Kafarat Zhihar 3. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat Zhihar 4. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya Hukumnya 5. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labah 6. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib:فَصْلٌ وَالظِّهَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي، فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ وَلَمْ يُتْبِعْهُ بِالطَّلَاقِ صَارَ عَائِدًا، وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ، وَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيمَةٍ مِنَ الْعُيُوبِ الْمُضِرَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا، لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ، وَلَا يَحِلُّ لِلْمُظَاهِرِ وَطْؤُهَا حَتَّى يُكَفِّرَ.“Fasal.” Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Jika ia mengucapkan hal tersebut dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali (kepada istrinya) dan wajib atasnya kafarat. Adapun kafaratnya adalah memerdekakan seorang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengganggu kerja dan penghasilan. Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud. Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya sampai ia menunaikan kafarat. Apa itu Zhihar?Zhihar secara bahasa diambil dari kata “punggung”. Secara istilah syariat, zhihar adalah menyerupakan istri yang belum ditalak bain dengan perempuan yang tidak halal baginya.Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Disebutkan “punggung” bukan selainnya (seperti perut), karena punggung adalah tempat tunggangan, dan istri adalah tempat bagi suami.Jika seorang suami mengatakan hal tersebut kepada istrinya, yaitu “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali kepada istrinya, dan wajib baginya kafarat. Kafarat tersebut bersifat berurutan. Kafarat ZhiharKafarat pertama adalah memerdekakan seorang budak mukmin, yaitu seorang muslim, meskipun keislamannya karena salah satu orang tuanya, serta terbebas dari cacat yang jelas mengganggu kerja dan penghasilan.Jika tidak mendapatkan budak tersebut, baik karena tidak mampu secara nyata atau secara hukum, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Dua bulan tersebut dihitung berdasarkan bulan hijriyah, meskipun kurang dari tiga puluh hari. Puasa tersebut harus diniatkan sebagai kafarat sejak malam hari. Dalam pendapat yang lebih kuat, tidak disyaratkan niat khusus untuk berturut-turut.Jika tidak mampu berpuasa dua bulan atau tidak mampu menjalankannya secara berturut-turut, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin atau fakir. Setiap orang miskin atau fakir mendapatkan satu mud dari jenis makanan pokok yang digunakan dalam zakat fitrah, yaitu dari makanan pokok negeri setempat seperti gandum atau jelai, bukan berupa tepung atau makanan olahan.Jika orang yang wajib kafarat tidak mampu melakukan ketiga hal tersebut, maka kewajiban kafarat tetap menjadi tanggungannya. Jika suatu saat ia mampu, maka ia harus menunaikannya, walaupun hanya sebagian, seperti satu mud atau kurang dari itu, maka tetap dikeluarkan sesuai kemampuannya.Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya yang dizhihar sampai ia menunaikan kafarat tersebut. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat ZhiharAllah Ta’ala berfirman,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١)“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujādilah: 1)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Tafsir Surah Al-Mujādilah, dan surah ini adalah surah Madaniyah.Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu‘awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara aku berada di sudut rumah, aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Maka Allah menurunkan ayat: ‘Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya’ hingga akhir ayat.”Demikian pula diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dalam Kitab Tauhid secara mu‘allaq, ia berkata: Al-A‘mash dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, lalu menyebutkan hadits tersebut. Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Jarir dari berbagai jalur, dari Al-A‘mash dengan sanad yang sama.Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim, dari Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Maha Suci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku benar-benar mendengar ucapan Khawlah binti Tsa‘labah, namun sebagian ucapannya samar bagiku. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, ia telah menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan anak-anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan aku tidak lagi memiliki anak, ia melakukan zhihar kepadaku. Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu.’”Ia berkata: Tidak lama kemudian, Jibril turun membawa ayat ini:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَاDisebutkan bahwa suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit.Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad, dari ‘Urwah: Suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit. Ia memiliki semacam gangguan (emosi). Jika gangguan itu datang dan memuncak, ia melakukan zhihar terhadap istrinya. Jika keadaan itu hilang, ia tidak mengatakan apa-apa. Maka istrinya datang kepada Rasulullah untuk meminta fatwa dalam masalah tersebut, dan mengadukannya kepada Allah. Lalu Allah menurunkan ayat:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِDemikian pula diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki memiliki gangguan serupa, lalu disebutkan kisah yang sama.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma‘il Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Jarir—yaitu Ibnu Hazim—ia berkata: Aku mendengar Abu Yazid berkata:Aku bertemu dengan Umar bin Khattab, sementara beliau berjalan bersama orang-orang. Lalu seorang wanita—yang disebut Khawlah binti Tsa‘labah—menghentikannya. Maka beliau berhenti, mendekat kepadanya, menundukkan kepala untuk mendengarkannya, dan meletakkan tangannya di atas pundaknya hingga wanita itu selesai menyampaikan kebutuhannya, lalu ia pergi.Seorang lelaki berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, engkau menahan para pembesar Quraisy karena wanita tua ini?”Beliau menjawab: “Celaka engkau! Tahukah engkau siapa wanita ini?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Ini adalah wanita yang Allah mendengar pengaduannya dari atas tujuh langit. Ini adalah Khawlah binti Tsa‘labah. Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam, aku tidak akan meninggalkannya sampai ia menyelesaikan kebutuhannya, kecuali untuk shalat, lalu aku kembali kepadanya hingga ia selesai.”Riwayat ini terputus antara Abu Yazid dan Umar bin Khattab, namun diriwayatkan pula melalui jalur lain.Ibnu Abi Hatim juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mundzir bin Syadzan, telah menceritakan kepada kami Ya‘la, telah menceritakan kepada kami Zakariya dari ‘Amir, ia berkata: Wanita yang mengajukan gugatan tentang suaminya adalah Khawlah binti Ash-Shamit. Dan ibunya adalah Mu‘adzah, wanita yang disebut dalam firman Allah:وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا (النور: ٣٣)“Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, padahal mereka sendiri menginginkan kesucian.” (QS. An-Nur: 33)Yang benar adalah: Khawlah adalah istri dari Aus bin Ash-Shamit. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya HukumnyaAllah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢)“Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya), padahal istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka. Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mujādilah: 2)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa‘d bin Ibrahim dan Ya‘qub, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ma‘mar bin Abdullah bin Hanzhalah, dari Ibnu Abdullah bin Salam, dari Khuwailah binti Tsa‘labah, ia berkata:“Demi Allah, tentang diriku dan tentang Aus bin Ash-Shamit, Allah menurunkan permulaan surah Al-Mujādilah. Aku hidup bersamanya, dan ia adalah seorang lelaki tua yang akhlaknya buruk. Pada suatu hari ia masuk menemuiku, lalu aku membantahnya dalam suatu hal. Ia marah dan berkata: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’”Ia berkata: “Kemudian ia keluar dan duduk bersama kaumnya beberapa saat. Lalu ia kembali kepadaku dan ingin menggauliku. Aku berkata: ‘Tidak, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menyentuhku setelah ucapanmu itu, sampai Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum di antara kita.’”Ia berkata: “Ia mencoba mendekatiku, namun aku menolaknya, hingga aku berhasil mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan lelaki tua yang lemah, lalu aku menjauhkannya dariku.”Ia berkata: “Kemudian aku keluar menuju salah satu tetanggaku, meminjam pakaian darinya, lalu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau dan menceritakan apa yang aku alami, serta mengadukan buruknya akhlak suamiku.”Ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:‘Wahai Khuwailah, dia adalah sepupumu yang sudah tua, maka bertakwalah kepada Allah dalam menyikapinya.’”Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak beranjak hingga turun wahyu Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami keadaan saat menerima wahyu, kemudian setelah selesai, beliau bersabda:‘Wahai Khuwailah, sungguh Allah telah menurunkan ayat tentangmu dan tentang suamimu.’”Kemudian beliau membacakan:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِhingga firman-Nya:وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:“Perintahkan dia untuk memerdekakan seorang budak.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki budak untuk dimerdekakan.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia sudah tua dan tidak mampu berpuasa.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki itu.”Beliau bersabda: “Kami akan membantunya dengan satu ‘araq (takaran) kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan satu ‘araq lagi.”Beliau bersabda: “Engkau benar dan telah berbuat baik. Pergilah dan sedekahkan itu atas namanya, dan berwasiatlah agar ia berbuat baik.”Ia berkata: “Maka aku pun melakukannya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Thalaq melalui dua jalur dari Muhammad bin Ishaq. Dalam riwayat tersebut disebutkan: Khawlah binti Tsa‘labah, dan ada juga yang menyebutnya Khawlah binti Malik bin Tsa‘labah, serta diperkecil menjadi Khuwailah. Semua penyebutan ini tidak bertentangan.Inilah pendapat yang benar tentang sebab turunnya awal surah ini. Adapun hadits Salamah bin Shakhr, tidak disebutkan sebagai sebab turunnya ayat, namun ia diperintahkan menjalankan apa yang telah ditetapkan dalam ayat tersebut, yaitu memerdekakan budak, atau berpuasa, atau memberi makan.Disebutkan bahwa ia berkata:“Aku adalah seorang lelaki yang memiliki hasrat besar terhadap wanita. Ketika masuk bulan Ramadhan, aku melakukan zhihar terhadap istriku hingga selesai Ramadhan, karena khawatir aku akan mendatanginya di malam hari lalu berlanjut hingga siang hari dan aku tidak mampu menahan diri.”Kemudian ia melanggar hal tersebut, lalu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Nabi bersabda:“Apakah benar engkau melakukan itu?” Ia menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Merdekakan budak.” Ia menjawab: “Aku tidak mampu.”Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia menjawab: “Bukankah aku terkena masalah ini karena puasa?”Beliau bersabda: “Bersedekahlah.” Ia menjawab: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, kami tidak memiliki makanan untuk makan malam.”Beliau bersabda: “Pergilah kepada pengelola sedekah Bani Zuraik, ambillah darinya, lalu beri makan enam puluh orang miskin, dan sisanya gunakan untukmu dan keluargamu.”Ia berkata: “Aku kembali kepada kaumku dan berkata: Aku menemukan kesempitan dan buruknya pendapat pada kalian, namun aku menemukan kelapangan dan keberkahan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Diriwayatkan pula bahwa yang pertama kali melakukan zhihar dalam Islam adalah Aus bin Ash-Shamit, saudara dari Ubadah bin Ash-Shamit, dan istrinya adalah Khawlah binti Tsa‘labah.Pada masa jahiliah, zhihar dianggap sebagai talak. Namun Allah memberikan keringanan bagi umat ini, dengan menjadikannya bukan talak, tetapi mewajibkan kafarat.Firman Allah:مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ“Istri-istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka.”Artinya, seorang istri tidak menjadi ibu hanya karena ucapan suami: “Engkau seperti ibuku”, atau “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan semacamnya.Firman-Nya:وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا“Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.”Maksudnya, ucapan yang buruk dan batil.Firman-Nya:وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ“Dan sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”Maksudnya, Allah memaafkan apa yang terjadi di masa jahiliah, dan juga ucapan yang keluar tanpa sengaja dari lisan yang tidak dimaksudkan.Sebagaimana dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka beliau bersabda:“Apakah dia saudaramu?”Ini adalah bentuk pengingkaran, namun beliau tidak mengharamkan istrinya hanya karena ucapan tersebut, karena tidak dimaksudkan. Namun jika dimaksudkan, maka hukumnya haram, karena tidak ada perbedaan antara ibu dan selainnya dari mahram seperti saudara perempuan, bibi, dan yang semisalnya. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labahKisah zhihar yang dilakukan oleh Aus bin Ash-Shamit kepada istrinya Khawlah binti Tsa’labah bukan sekadar cerita hukum, tetapi sangat relevan dengan realita rumah tangga hari ini. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik:1. Emosi Sesaat Bisa Menghancurkan Rumah TanggaAus mengucapkan zhihar dalam kondisi marah. Ini menunjukkan bahwa ucapan yang keluar saat emosi bisa berdampak besar.Pelajaran hari ini:Banyak konflik rumah tangga bermula dari ucapan spontan—kata-kata kasar, ancaman cerai, atau merendahkan pasangan.Padahal satu kalimat bisa melukai, bahkan merusak hubungan bertahun-tahun.2. Jangan Main-Main dengan Ucapan SeriusDi masa jahiliah, zhihar dianggap talak. Islam mengoreksinya, namun tetap memberi konsekuensi berat (kafarat).Pelajaran hari ini:Ucapan seperti:“Aku capek sama kamu!”“Kita selesai saja!”“Kamu seperti bukan istriku!”Meskipun dianggap “sekadar emosi”, dalam Islam ucapan punya konsekuensi. Lisan tidak boleh diremehkan.3. Istri Boleh Mengadu dan Mencari SolusiKhawlah tidak diam. Ia mengadu kepada Nabi ﷺ dan kepada Allah.Pelajaran hari ini:Istri yang terzalimi tidak harus memendam semuanya.Ia boleh:mencari solusi,berkonsultasi,bahkan mengadukan kepada pihak yang amanah.Ini penting dalam membangun rumah tangga sehat, bukan rumah tangga yang “diam tapi penuh luka”.4. Allah Mendengar Keluhan Hamba-NyaAllah langsung menurunkan ayat karena keluhan Khawlah.Pelajaran hari ini:Tidak semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan manusia.Namun semua keluhan didengar oleh Allah.Kadang:kita tidak dipahami pasangan,tidak didengar keluarga,bahkan tidak ada solusi cepat.Tapi Allah Maha Mendengar.5. Suami Harus Bertanggung Jawab atas KesalahannyaAus tidak dibiarkan begitu saja. Ia wajib menunaikan kafarat.Pelajaran hari ini:Dalam rumah tangga:salah harus diakui,kesalahan harus ditebus,tidak cukup hanya “maaf ya”.Suami harus belajar bertanggung jawab, bukan sekadar meredakan konflik sesaat.6. Islam Menjaga Rumah Tangga, Bukan Mempermudah PerceraianZhihar diubah dari “talak” menjadi “dosa yang harus ditebus”.Pelajaran hari ini:Islam tidak ingin rumah tangga hancur karena emosi sesaat.Ada mekanisme:menahan,memperbaiki,menebus kesalahan.Ini pelajaran besar bagi pasangan yang mudah berkata “cerai”.7. Pentingnya Akhlak dalam Rumah TanggaDisebutkan bahwa Aus memiliki akhlak yang kurang baik.Pelajaran hari ini:Banyak masalah rumah tangga bukan karena ekonomi, tapi karena:akhlak buruk,mudah marah,tidak sabar,ego tinggi.Padahal kunci sakinah bukan harta, tapi akhlak. PenutupKisah zhihar ini mengajarkan bahwa masalah rumah tangga bukan hal baru—sudah ada sejak zaman sahabat. Namun solusi Islam sangat indah: menata lisan, menjaga emosi, memberi ruang pengaduan, dan menuntut tanggung jawab.Hari ini, yang sering rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena hal kecil yang dibesar-besarkan—ucapan yang tidak dijaga, emosi yang tidak dikendalikan, dan ego yang tidak ditundukkan.Semoga setiap rumah tangga kita dijaga dari ucapan yang merusak, dan dihiasi dengan kesabaran, kelembutan, serta tanggung jawab. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Tafsir Ibnu Katsir —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih keluarga hukum zhihar kafarat zhihar kisah sahabat konflik suami istri matan taqrib matan taqrib kitab nikah menjaga lisan nasihat pernikahan rumah tangga islami surat al mujadilah zhihar


Masalah rumah tangga bukan hal baru, bahkan terjadi pada generasi sahabat. Salah satu kisah penting adalah zhihar yang dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Dari peristiwa ini, Allah turunkan hukum sekaligus pelajaran besar tentang menjaga lisan dan memperbaiki hubungan.Baca juga: Haramkah Memanggil Istri dengan Ibu, Ummi, Dek?  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Zhihar? 2. Kafarat Zhihar 3. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat Zhihar 4. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya Hukumnya 5. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labah 6. Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib:فَصْلٌ وَالظِّهَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي، فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ وَلَمْ يُتْبِعْهُ بِالطَّلَاقِ صَارَ عَائِدًا، وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ، وَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ سَلِيمَةٍ مِنَ الْعُيُوبِ الْمُضِرَّةِ بِالْعَمَلِ وَالْكَسْبِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا، لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ، وَلَا يَحِلُّ لِلْمُظَاهِرِ وَطْؤُهَا حَتَّى يُكَفِّرَ.“Fasal.” Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Jika ia mengucapkan hal tersebut dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali (kepada istrinya) dan wajib atasnya kafarat. Adapun kafaratnya adalah memerdekakan seorang budak mukmin yang selamat dari cacat yang mengganggu kerja dan penghasilan. Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin, setiap orang miskin satu mud. Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya sampai ia menunaikan kafarat. Apa itu Zhihar?Zhihar secara bahasa diambil dari kata “punggung”. Secara istilah syariat, zhihar adalah menyerupakan istri yang belum ditalak bain dengan perempuan yang tidak halal baginya.Zhihar adalah ucapan seorang suami kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Disebutkan “punggung” bukan selainnya (seperti perut), karena punggung adalah tempat tunggangan, dan istri adalah tempat bagi suami.Jika seorang suami mengatakan hal tersebut kepada istrinya, yaitu “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan tidak diikuti dengan talak, maka ia dianggap kembali kepada istrinya, dan wajib baginya kafarat. Kafarat tersebut bersifat berurutan. Kafarat ZhiharKafarat pertama adalah memerdekakan seorang budak mukmin, yaitu seorang muslim, meskipun keislamannya karena salah satu orang tuanya, serta terbebas dari cacat yang jelas mengganggu kerja dan penghasilan.Jika tidak mendapatkan budak tersebut, baik karena tidak mampu secara nyata atau secara hukum, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Dua bulan tersebut dihitung berdasarkan bulan hijriyah, meskipun kurang dari tiga puluh hari. Puasa tersebut harus diniatkan sebagai kafarat sejak malam hari. Dalam pendapat yang lebih kuat, tidak disyaratkan niat khusus untuk berturut-turut.Jika tidak mampu berpuasa dua bulan atau tidak mampu menjalankannya secara berturut-turut, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin atau fakir. Setiap orang miskin atau fakir mendapatkan satu mud dari jenis makanan pokok yang digunakan dalam zakat fitrah, yaitu dari makanan pokok negeri setempat seperti gandum atau jelai, bukan berupa tepung atau makanan olahan.Jika orang yang wajib kafarat tidak mampu melakukan ketiga hal tersebut, maka kewajiban kafarat tetap menjadi tanggungannya. Jika suatu saat ia mampu, maka ia harus menunaikannya, walaupun hanya sebagian, seperti satu mud atau kurang dari itu, maka tetap dikeluarkan sesuai kemampuannya.Dan tidak halal bagi orang yang melakukan zhihar untuk menggauli istrinya yang dizhihar sampai ia menunaikan kafarat tersebut. Kisah Khawlah binti Tsa’labah dan Turunnya Ayat ZhiharAllah Ta’ala berfirman,قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (١)“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujādilah: 1)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Tafsir Surah Al-Mujādilah, dan surah ini adalah surah Madaniyah.Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu‘awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara aku berada di sudut rumah, aku tidak mendengar apa yang ia katakan. Maka Allah menurunkan ayat: ‘Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya’ hingga akhir ayat.”Demikian pula diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dalam Kitab Tauhid secara mu‘allaq, ia berkata: Al-A‘mash dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, lalu menyebutkan hadits tersebut. Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Jarir dari berbagai jalur, dari Al-A‘mash dengan sanad yang sama.Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim, dari Al-A‘mash, dari Tamim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata:“Maha Suci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku benar-benar mendengar ucapan Khawlah binti Tsa‘labah, namun sebagian ucapannya samar bagiku. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, ia telah menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan anak-anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan aku tidak lagi memiliki anak, ia melakukan zhihar kepadaku. Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu.’”Ia berkata: Tidak lama kemudian, Jibril turun membawa ayat ini:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَاDisebutkan bahwa suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit.Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan dari Abu Al-Aswad, dari ‘Urwah: Suaminya adalah Aus bin Ash-Shamit. Ia memiliki semacam gangguan (emosi). Jika gangguan itu datang dan memuncak, ia melakukan zhihar terhadap istrinya. Jika keadaan itu hilang, ia tidak mengatakan apa-apa. Maka istrinya datang kepada Rasulullah untuk meminta fatwa dalam masalah tersebut, dan mengadukannya kepada Allah. Lalu Allah menurunkan ayat:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِDemikian pula diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa seorang laki-laki memiliki gangguan serupa, lalu disebutkan kisah yang sama.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma‘il Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Jarir—yaitu Ibnu Hazim—ia berkata: Aku mendengar Abu Yazid berkata:Aku bertemu dengan Umar bin Khattab, sementara beliau berjalan bersama orang-orang. Lalu seorang wanita—yang disebut Khawlah binti Tsa‘labah—menghentikannya. Maka beliau berhenti, mendekat kepadanya, menundukkan kepala untuk mendengarkannya, dan meletakkan tangannya di atas pundaknya hingga wanita itu selesai menyampaikan kebutuhannya, lalu ia pergi.Seorang lelaki berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, engkau menahan para pembesar Quraisy karena wanita tua ini?”Beliau menjawab: “Celaka engkau! Tahukah engkau siapa wanita ini?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Ini adalah wanita yang Allah mendengar pengaduannya dari atas tujuh langit. Ini adalah Khawlah binti Tsa‘labah. Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam, aku tidak akan meninggalkannya sampai ia menyelesaikan kebutuhannya, kecuali untuk shalat, lalu aku kembali kepadanya hingga ia selesai.”Riwayat ini terputus antara Abu Yazid dan Umar bin Khattab, namun diriwayatkan pula melalui jalur lain.Ibnu Abi Hatim juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mundzir bin Syadzan, telah menceritakan kepada kami Ya‘la, telah menceritakan kepada kami Zakariya dari ‘Amir, ia berkata: Wanita yang mengajukan gugatan tentang suaminya adalah Khawlah binti Ash-Shamit. Dan ibunya adalah Mu‘adzah, wanita yang disebut dalam firman Allah:وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا (النور: ٣٣)“Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, padahal mereka sendiri menginginkan kesucian.” (QS. An-Nur: 33)Yang benar adalah: Khawlah adalah istri dari Aus bin Ash-Shamit. Asal Usul Zhihar dan Kisah Turunnya HukumnyaAllah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (٢)“Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya), padahal istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka. Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mujādilah: 2)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa‘d bin Ibrahim dan Ya‘qub, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ma‘mar bin Abdullah bin Hanzhalah, dari Ibnu Abdullah bin Salam, dari Khuwailah binti Tsa‘labah, ia berkata:“Demi Allah, tentang diriku dan tentang Aus bin Ash-Shamit, Allah menurunkan permulaan surah Al-Mujādilah. Aku hidup bersamanya, dan ia adalah seorang lelaki tua yang akhlaknya buruk. Pada suatu hari ia masuk menemuiku, lalu aku membantahnya dalam suatu hal. Ia marah dan berkata: ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’”Ia berkata: “Kemudian ia keluar dan duduk bersama kaumnya beberapa saat. Lalu ia kembali kepadaku dan ingin menggauliku. Aku berkata: ‘Tidak, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menyentuhku setelah ucapanmu itu, sampai Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum di antara kita.’”Ia berkata: “Ia mencoba mendekatiku, namun aku menolaknya, hingga aku berhasil mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan lelaki tua yang lemah, lalu aku menjauhkannya dariku.”Ia berkata: “Kemudian aku keluar menuju salah satu tetanggaku, meminjam pakaian darinya, lalu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau dan menceritakan apa yang aku alami, serta mengadukan buruknya akhlak suamiku.”Ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:‘Wahai Khuwailah, dia adalah sepupumu yang sudah tua, maka bertakwalah kepada Allah dalam menyikapinya.’”Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak beranjak hingga turun wahyu Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami keadaan saat menerima wahyu, kemudian setelah selesai, beliau bersabda:‘Wahai Khuwailah, sungguh Allah telah menurunkan ayat tentangmu dan tentang suamimu.’”Kemudian beliau membacakan:قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِhingga firman-Nya:وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌLalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku:“Perintahkan dia untuk memerdekakan seorang budak.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki budak untuk dimerdekakan.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia sudah tua dan tidak mampu berpuasa.”Beliau bersabda: “Kalau begitu, hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki itu.”Beliau bersabda: “Kami akan membantunya dengan satu ‘araq (takaran) kurma.”Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan satu ‘araq lagi.”Beliau bersabda: “Engkau benar dan telah berbuat baik. Pergilah dan sedekahkan itu atas namanya, dan berwasiatlah agar ia berbuat baik.”Ia berkata: “Maka aku pun melakukannya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Thalaq melalui dua jalur dari Muhammad bin Ishaq. Dalam riwayat tersebut disebutkan: Khawlah binti Tsa‘labah, dan ada juga yang menyebutnya Khawlah binti Malik bin Tsa‘labah, serta diperkecil menjadi Khuwailah. Semua penyebutan ini tidak bertentangan.Inilah pendapat yang benar tentang sebab turunnya awal surah ini. Adapun hadits Salamah bin Shakhr, tidak disebutkan sebagai sebab turunnya ayat, namun ia diperintahkan menjalankan apa yang telah ditetapkan dalam ayat tersebut, yaitu memerdekakan budak, atau berpuasa, atau memberi makan.Disebutkan bahwa ia berkata:“Aku adalah seorang lelaki yang memiliki hasrat besar terhadap wanita. Ketika masuk bulan Ramadhan, aku melakukan zhihar terhadap istriku hingga selesai Ramadhan, karena khawatir aku akan mendatanginya di malam hari lalu berlanjut hingga siang hari dan aku tidak mampu menahan diri.”Kemudian ia melanggar hal tersebut, lalu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Nabi bersabda:“Apakah benar engkau melakukan itu?” Ia menjawab: “Ya.”Beliau bersabda: “Merdekakan budak.” Ia menjawab: “Aku tidak mampu.”Beliau bersabda: “Berpuasalah dua bulan berturut-turut.” Ia menjawab: “Bukankah aku terkena masalah ini karena puasa?”Beliau bersabda: “Bersedekahlah.” Ia menjawab: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, kami tidak memiliki makanan untuk makan malam.”Beliau bersabda: “Pergilah kepada pengelola sedekah Bani Zuraik, ambillah darinya, lalu beri makan enam puluh orang miskin, dan sisanya gunakan untukmu dan keluargamu.”Ia berkata: “Aku kembali kepada kaumku dan berkata: Aku menemukan kesempitan dan buruknya pendapat pada kalian, namun aku menemukan kelapangan dan keberkahan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Diriwayatkan pula bahwa yang pertama kali melakukan zhihar dalam Islam adalah Aus bin Ash-Shamit, saudara dari Ubadah bin Ash-Shamit, dan istrinya adalah Khawlah binti Tsa‘labah.Pada masa jahiliah, zhihar dianggap sebagai talak. Namun Allah memberikan keringanan bagi umat ini, dengan menjadikannya bukan talak, tetapi mewajibkan kafarat.Firman Allah:مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ“Istri-istri mereka itu bukanlah ibu mereka. Ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkan mereka.”Artinya, seorang istri tidak menjadi ibu hanya karena ucapan suami: “Engkau seperti ibuku”, atau “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, dan semacamnya.Firman-Nya:وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُورًا“Dan sungguh mereka benar-benar telah mengucapkan perkataan yang mungkar dan dusta.”Maksudnya, ucapan yang buruk dan batil.Firman-Nya:وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ“Dan sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”Maksudnya, Allah memaafkan apa yang terjadi di masa jahiliah, dan juga ucapan yang keluar tanpa sengaja dari lisan yang tidak dimaksudkan.Sebagaimana dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka beliau bersabda:“Apakah dia saudaramu?”Ini adalah bentuk pengingkaran, namun beliau tidak mengharamkan istrinya hanya karena ucapan tersebut, karena tidak dimaksudkan. Namun jika dimaksudkan, maka hukumnya haram, karena tidak ada perbedaan antara ibu dan selainnya dari mahram seperti saudara perempuan, bibi, dan yang semisalnya. Pelajaran dari Kisah Zhihar Aus bin Ash-Shamit pada Istrinya Khawlah binti Tsa’labahKisah zhihar yang dilakukan oleh Aus bin Ash-Shamit kepada istrinya Khawlah binti Tsa’labah bukan sekadar cerita hukum, tetapi sangat relevan dengan realita rumah tangga hari ini. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita tarik:1. Emosi Sesaat Bisa Menghancurkan Rumah TanggaAus mengucapkan zhihar dalam kondisi marah. Ini menunjukkan bahwa ucapan yang keluar saat emosi bisa berdampak besar.Pelajaran hari ini:Banyak konflik rumah tangga bermula dari ucapan spontan—kata-kata kasar, ancaman cerai, atau merendahkan pasangan.Padahal satu kalimat bisa melukai, bahkan merusak hubungan bertahun-tahun.2. Jangan Main-Main dengan Ucapan SeriusDi masa jahiliah, zhihar dianggap talak. Islam mengoreksinya, namun tetap memberi konsekuensi berat (kafarat).Pelajaran hari ini:Ucapan seperti:“Aku capek sama kamu!”“Kita selesai saja!”“Kamu seperti bukan istriku!”Meskipun dianggap “sekadar emosi”, dalam Islam ucapan punya konsekuensi. Lisan tidak boleh diremehkan.3. Istri Boleh Mengadu dan Mencari SolusiKhawlah tidak diam. Ia mengadu kepada Nabi ﷺ dan kepada Allah.Pelajaran hari ini:Istri yang terzalimi tidak harus memendam semuanya.Ia boleh:mencari solusi,berkonsultasi,bahkan mengadukan kepada pihak yang amanah.Ini penting dalam membangun rumah tangga sehat, bukan rumah tangga yang “diam tapi penuh luka”.4. Allah Mendengar Keluhan Hamba-NyaAllah langsung menurunkan ayat karena keluhan Khawlah.Pelajaran hari ini:Tidak semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan manusia.Namun semua keluhan didengar oleh Allah.Kadang:kita tidak dipahami pasangan,tidak didengar keluarga,bahkan tidak ada solusi cepat.Tapi Allah Maha Mendengar.5. Suami Harus Bertanggung Jawab atas KesalahannyaAus tidak dibiarkan begitu saja. Ia wajib menunaikan kafarat.Pelajaran hari ini:Dalam rumah tangga:salah harus diakui,kesalahan harus ditebus,tidak cukup hanya “maaf ya”.Suami harus belajar bertanggung jawab, bukan sekadar meredakan konflik sesaat.6. Islam Menjaga Rumah Tangga, Bukan Mempermudah PerceraianZhihar diubah dari “talak” menjadi “dosa yang harus ditebus”.Pelajaran hari ini:Islam tidak ingin rumah tangga hancur karena emosi sesaat.Ada mekanisme:menahan,memperbaiki,menebus kesalahan.Ini pelajaran besar bagi pasangan yang mudah berkata “cerai”.7. Pentingnya Akhlak dalam Rumah TanggaDisebutkan bahwa Aus memiliki akhlak yang kurang baik.Pelajaran hari ini:Banyak masalah rumah tangga bukan karena ekonomi, tapi karena:akhlak buruk,mudah marah,tidak sabar,ego tinggi.Padahal kunci sakinah bukan harta, tapi akhlak. PenutupKisah zhihar ini mengajarkan bahwa masalah rumah tangga bukan hal baru—sudah ada sejak zaman sahabat. Namun solusi Islam sangat indah: menata lisan, menjaga emosi, memberi ruang pengaduan, dan menuntut tanggung jawab.Hari ini, yang sering rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena hal kecil yang dibesar-besarkan—ucapan yang tidak dijaga, emosi yang tidak dikendalikan, dan ego yang tidak ditundukkan.Semoga setiap rumah tangga kita dijaga dari ucapan yang merusak, dan dihiasi dengan kesabaran, kelembutan, serta tanggung jawab. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Tafsir Ibnu Katsir —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih keluarga hukum zhihar kafarat zhihar kisah sahabat konflik suami istri matan taqrib matan taqrib kitab nikah menjaga lisan nasihat pernikahan rumah tangga islami surat al mujadilah zhihar

Fatwa Ulama: Membatalkan Puasa untuk Menyelamatkan Orang yang Tenggelam

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seseorang yang sedang berpuasa di bulan Ramadan melihat di salah satu pantai bahwa seorang nelayan sedang berjuang melawan tenggelam. Ia merasa dirinya lemah secara fisik untuk menyelamatkannya jika ia tidak memakan sesuatu agar memperoleh kekuatan untuk menolongnya. Apakah boleh baginya membatalkan puasanya demi tujuan tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Barang siapa tidak mampu menyelamatkan orang yang hampir binasa karena tenggelam atau sebab lainnya kecuali dengan berbuka (membatalkan puasa), maka wajib baginya berbuka untuk menyelamatkannya. Ia berdosa jika tidak melakukannya. Namun, ia wajib mengqadha puasanya, dan tidak wajib membayar fidyah. (Al-Majmu’ oleh An Nawawi, 6: 329)Hal ini karena orang yang menyelamatkan orang tenggelam dipandang seperti orang yang sedang dalam keadaan darurat seperti orang yang hampir tenggelam itu sendiri. Ia disamakan dengan orang sakit dan musafir, yang wajib mengqadha tetapi tidak wajib membayar fidyah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala (yang artinya), “Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)Perlu juga diperhatikan bahwa orang yang mampu menyelamatkan orang lain karena tersedia sarana dan sebab-sebab penyelamatan seperti perahu, tali, atau sejenisnya yang berada dalam kemampuannya, namun ia sengaja tidak menggunakannya, maka ia berdosa karena meninggalkannya. Dan menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat ulama, ia wajib menanggung diyat (ganti rugi kematian) orang tersebut.Hal ini karena meninggalkan sesuatu (dalam keadaan mampu melakukannya) pada hakikatnya dianggap sebagai suatu perbuatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam pembahasan para ulama.Asy-Syinqithi رحمه الله memberikan banyak contoh dalam berbagai cabang hukum dari berbagai mazhab. Beliau berkata, “Seperti orang yang menahan kelebihan makanan atau minuman dari orang yang sangat membutuhkan hingga ia mati. Jika “meninggalkan” itu dianggap sebagai perbuatan, maka ia wajib menanggung diyat-nya; tetapi jika tidak dianggap sebagai perbuatan, maka tidak ada tanggungan baginya.Begitu pula orang yang menahan benang dari orang yang memiliki luka besar hingga ia mati; orang yang menahan kelebihan air dari tetangganya hingga tanamannya rusak; orang yang sengaja tidak membantu pemilik tembok yang hampir roboh hingga tembok itu jatuh; atau orang yang menahan dokumen hak hingga hak tersebut hilang. Contoh seperti ini sangat banyak dalam cabang-cabang fikih. Jika meninggalkan itu dianggap sebagai perbuatan, maka dalam semua kasus tersebut ia menanggung tanggungannya.” (Al-Faiq, 1: 246)Dan ilmu yang benar hanya di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app

Fatwa Ulama: Membatalkan Puasa untuk Menyelamatkan Orang yang Tenggelam

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seseorang yang sedang berpuasa di bulan Ramadan melihat di salah satu pantai bahwa seorang nelayan sedang berjuang melawan tenggelam. Ia merasa dirinya lemah secara fisik untuk menyelamatkannya jika ia tidak memakan sesuatu agar memperoleh kekuatan untuk menolongnya. Apakah boleh baginya membatalkan puasanya demi tujuan tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Barang siapa tidak mampu menyelamatkan orang yang hampir binasa karena tenggelam atau sebab lainnya kecuali dengan berbuka (membatalkan puasa), maka wajib baginya berbuka untuk menyelamatkannya. Ia berdosa jika tidak melakukannya. Namun, ia wajib mengqadha puasanya, dan tidak wajib membayar fidyah. (Al-Majmu’ oleh An Nawawi, 6: 329)Hal ini karena orang yang menyelamatkan orang tenggelam dipandang seperti orang yang sedang dalam keadaan darurat seperti orang yang hampir tenggelam itu sendiri. Ia disamakan dengan orang sakit dan musafir, yang wajib mengqadha tetapi tidak wajib membayar fidyah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala (yang artinya), “Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)Perlu juga diperhatikan bahwa orang yang mampu menyelamatkan orang lain karena tersedia sarana dan sebab-sebab penyelamatan seperti perahu, tali, atau sejenisnya yang berada dalam kemampuannya, namun ia sengaja tidak menggunakannya, maka ia berdosa karena meninggalkannya. Dan menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat ulama, ia wajib menanggung diyat (ganti rugi kematian) orang tersebut.Hal ini karena meninggalkan sesuatu (dalam keadaan mampu melakukannya) pada hakikatnya dianggap sebagai suatu perbuatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam pembahasan para ulama.Asy-Syinqithi رحمه الله memberikan banyak contoh dalam berbagai cabang hukum dari berbagai mazhab. Beliau berkata, “Seperti orang yang menahan kelebihan makanan atau minuman dari orang yang sangat membutuhkan hingga ia mati. Jika “meninggalkan” itu dianggap sebagai perbuatan, maka ia wajib menanggung diyat-nya; tetapi jika tidak dianggap sebagai perbuatan, maka tidak ada tanggungan baginya.Begitu pula orang yang menahan benang dari orang yang memiliki luka besar hingga ia mati; orang yang menahan kelebihan air dari tetangganya hingga tanamannya rusak; orang yang sengaja tidak membantu pemilik tembok yang hampir roboh hingga tembok itu jatuh; atau orang yang menahan dokumen hak hingga hak tersebut hilang. Contoh seperti ini sangat banyak dalam cabang-cabang fikih. Jika meninggalkan itu dianggap sebagai perbuatan, maka dalam semua kasus tersebut ia menanggung tanggungannya.” (Al-Faiq, 1: 246)Dan ilmu yang benar hanya di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seseorang yang sedang berpuasa di bulan Ramadan melihat di salah satu pantai bahwa seorang nelayan sedang berjuang melawan tenggelam. Ia merasa dirinya lemah secara fisik untuk menyelamatkannya jika ia tidak memakan sesuatu agar memperoleh kekuatan untuk menolongnya. Apakah boleh baginya membatalkan puasanya demi tujuan tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Barang siapa tidak mampu menyelamatkan orang yang hampir binasa karena tenggelam atau sebab lainnya kecuali dengan berbuka (membatalkan puasa), maka wajib baginya berbuka untuk menyelamatkannya. Ia berdosa jika tidak melakukannya. Namun, ia wajib mengqadha puasanya, dan tidak wajib membayar fidyah. (Al-Majmu’ oleh An Nawawi, 6: 329)Hal ini karena orang yang menyelamatkan orang tenggelam dipandang seperti orang yang sedang dalam keadaan darurat seperti orang yang hampir tenggelam itu sendiri. Ia disamakan dengan orang sakit dan musafir, yang wajib mengqadha tetapi tidak wajib membayar fidyah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala (yang artinya), “Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)Perlu juga diperhatikan bahwa orang yang mampu menyelamatkan orang lain karena tersedia sarana dan sebab-sebab penyelamatan seperti perahu, tali, atau sejenisnya yang berada dalam kemampuannya, namun ia sengaja tidak menggunakannya, maka ia berdosa karena meninggalkannya. Dan menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat ulama, ia wajib menanggung diyat (ganti rugi kematian) orang tersebut.Hal ini karena meninggalkan sesuatu (dalam keadaan mampu melakukannya) pada hakikatnya dianggap sebagai suatu perbuatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam pembahasan para ulama.Asy-Syinqithi رحمه الله memberikan banyak contoh dalam berbagai cabang hukum dari berbagai mazhab. Beliau berkata, “Seperti orang yang menahan kelebihan makanan atau minuman dari orang yang sangat membutuhkan hingga ia mati. Jika “meninggalkan” itu dianggap sebagai perbuatan, maka ia wajib menanggung diyat-nya; tetapi jika tidak dianggap sebagai perbuatan, maka tidak ada tanggungan baginya.Begitu pula orang yang menahan benang dari orang yang memiliki luka besar hingga ia mati; orang yang menahan kelebihan air dari tetangganya hingga tanamannya rusak; orang yang sengaja tidak membantu pemilik tembok yang hampir roboh hingga tembok itu jatuh; atau orang yang menahan dokumen hak hingga hak tersebut hilang. Contoh seperti ini sangat banyak dalam cabang-cabang fikih. Jika meninggalkan itu dianggap sebagai perbuatan, maka dalam semua kasus tersebut ia menanggung tanggungannya.” (Al-Faiq, 1: 246)Dan ilmu yang benar hanya di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Muhammad Ali FerkousPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Muhammad Ali Ferkous Pertanyaan:Seseorang yang sedang berpuasa di bulan Ramadan melihat di salah satu pantai bahwa seorang nelayan sedang berjuang melawan tenggelam. Ia merasa dirinya lemah secara fisik untuk menyelamatkannya jika ia tidak memakan sesuatu agar memperoleh kekuatan untuk menolongnya. Apakah boleh baginya membatalkan puasanya demi tujuan tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Jawaban:Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan. Amma ba‘du.Barang siapa tidak mampu menyelamatkan orang yang hampir binasa karena tenggelam atau sebab lainnya kecuali dengan berbuka (membatalkan puasa), maka wajib baginya berbuka untuk menyelamatkannya. Ia berdosa jika tidak melakukannya. Namun, ia wajib mengqadha puasanya, dan tidak wajib membayar fidyah. (Al-Majmu’ oleh An Nawawi, 6: 329)Hal ini karena orang yang menyelamatkan orang tenggelam dipandang seperti orang yang sedang dalam keadaan darurat seperti orang yang hampir tenggelam itu sendiri. Ia disamakan dengan orang sakit dan musafir, yang wajib mengqadha tetapi tidak wajib membayar fidyah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala (yang artinya), “Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)Perlu juga diperhatikan bahwa orang yang mampu menyelamatkan orang lain karena tersedia sarana dan sebab-sebab penyelamatan seperti perahu, tali, atau sejenisnya yang berada dalam kemampuannya, namun ia sengaja tidak menggunakannya, maka ia berdosa karena meninggalkannya. Dan menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat ulama, ia wajib menanggung diyat (ganti rugi kematian) orang tersebut.Hal ini karena meninggalkan sesuatu (dalam keadaan mampu melakukannya) pada hakikatnya dianggap sebagai suatu perbuatan, sebagaimana telah ditetapkan dalam pembahasan para ulama.Asy-Syinqithi رحمه الله memberikan banyak contoh dalam berbagai cabang hukum dari berbagai mazhab. Beliau berkata, “Seperti orang yang menahan kelebihan makanan atau minuman dari orang yang sangat membutuhkan hingga ia mati. Jika “meninggalkan” itu dianggap sebagai perbuatan, maka ia wajib menanggung diyat-nya; tetapi jika tidak dianggap sebagai perbuatan, maka tidak ada tanggungan baginya.Begitu pula orang yang menahan benang dari orang yang memiliki luka besar hingga ia mati; orang yang menahan kelebihan air dari tetangganya hingga tanamannya rusak; orang yang sengaja tidak membantu pemilik tembok yang hampir roboh hingga tembok itu jatuh; atau orang yang menahan dokumen hak hingga hak tersebut hilang. Contoh seperti ini sangat banyak dalam cabang-cabang fikih. Jika meninggalkan itu dianggap sebagai perbuatan, maka dalam semua kasus tersebut ia menanggung tanggungannya.” (Al-Faiq, 1: 246)Dan ilmu yang benar hanya di sisi Allah Ta‘ala. Akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam dengan sebenar-benarnya.***Penerjemah: Junaidi Abu IsaArtikel Muslim.or.id Sumber:ferkous.app

Nusyuz Istri dalam Islam: Pengertian, Hukum, dan Cara Mengatasinya

Rumah tangga tidak selalu berjalan mulus, terkadang muncul sikap pembangkangan yang disebut nusyuz. Islam tidak membiarkan masalah ini tanpa solusi, tetapi memberi tahapan penyelesaian yang bijak. Dengan memahami nusyuz, suami dan istri bisa menjaga keharmonisan sesuai tuntunan syariat.Baca juga: Menolak Hubungan Intim dengan Suami: Apakah Itu Nusyuz dan Ada Nafkah?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Apa itu Nusyuz? 3. Hukum Nusyuz 4. Bagaimana Nusyuz Terjadi? 5. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib berkata: وَإِذَا خَافَ نُشُوزَ الْمَرْأَةِ وَعَظَهَا، فَإِنْ أَبَتْ إِلَّا النُّشُوزَ هَجَرَهَا، فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا، وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوزِ قِسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا.Apabila suami khawatir istrinya mulai nusyuz (membangkang), ia menasihatinya terlebih dahulu. Jika istri tetap membangkang, maka suami boleh menghajr (menjauhi tempat tidurnya). Jika istri tetap begitu, ia boleh terus menghajr dan memberinya hukuman pukulan yang tidak menyakitkan (sesuai tuntunan syariat). Karena sikap nusyuz, hak giliran dan nafkah istri tersebut bisa gugur. PenjelasanApa itu Nusyuz?Nusyuz berarti sikap durhaka, yang diambil dari kata nisyz yang berarti ketidaktaatan. Nusyuz seorang wanita adalah ketidaktaatannya terhadap suami dan sikapnya yang menolak kewajiban yang Allah tetapkan padanya, yaitu taat kepada suami. Ibnu Faris berkata: “Nusyuz wanita berarti dia menolak suaminya.” Allah berfirman,وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ“Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya…” (QS. An-Nisa: 34), yang artinya kamu khawatir mereka akan berbuat durhaka. Hukum NusyuzNusyuz wanita adalah haram dan merupakan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهِ، فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu dia menolak dan tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya sampai pagi.” (HR. Bukhari, no. 3237, 5193 dan Muslim, no. 1436).Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهَا، فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا، حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun suami yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak, melainkan Tuhan di langit akan murka kepadanya hingga ia meridai istrinya.” (HR. Muslim, no. 1436).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan memenuhi hak Tuhan-Nya sampai dia memenuhi hak suaminya.” (HR. Ibnu Majah. no. 1515. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Bagaimana Nusyuz Terjadi?Nusyuz pada wanita terjadi jika dia keluar dari ketaatan kepada suami dan menentangnya, seperti:keluar dari rumah tanpa alasan yang sah atau tanpa izin suami,bepergian tanpa izin atau restu suami,tidak membuka pintu saat suami hendak masuk, ataumenolak ajakan suami untuk berhubungan intim tanpa alasan yang sah seperti sakit, atau sibuk dengan urusannya sendiri.Cara mengatasi nusyuz yang disebutkan di atas disebutkan dalam ayat,وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa’: 34).Dalam Fathul Qarib disebutkan:Apabila suami khawatir akan terjadinya nusyuz dari istrinya—dalam sebagian redaksi disebutkan, “apabila telah tampak nusyuz istri,” yakni sudah jelas—maka suami menasihatinya tanpa memukul dan tanpa mengasingkannya. Misalnya dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dalam menunaikan hak yang wajib engkau penuhi untukku, dan ketahuilah bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah dan giliran.”Mencela suami tidak termasuk nusyuz, namun karena perbuatan itu istri berhak diberi tindakan pendisiplinan oleh suami menurut pendapat yang lebih sahih, dan perkara tersebut tidak diangkat ke hadapan hakim.Jika setelah dinasihati istri tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya di tempat tidur, yaitu tidak menggaulinya di ranjangnya. Adapun mengasingkan dengan tidak berbicara lebih dari tiga hari hukumnya haram. Dalam kitab Ar-Raudhah disebutkan bahwa larangan ini berlaku apabila pengasingan dilakukan tanpa alasan syar‘i; jika ada alasan syar‘i, maka menambah dari tiga hari tidaklah haram.Jika istri tetap melakukan nusyuz dengan mengulanginya, maka suami boleh mengasingkannya dan memukulnya sebagai bentuk pendisiplinan. Apabila pukulan tersebut menyebabkan kematian, maka wajib dikenakan ganti rugi.Karena nusyuz, gugurlah hak giliran dan nafkah istri.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Apabila telah tampak nusyuz dari seorang istri, maka suami menasihatinya. Jika ia tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya. Jika ia tetap menetapi nusyuz tersebut, maka suami memukulnya. Dan karena nusyuz itu gugurlah hak giliran dan nafkahnya.Apabila dari seorang istri tampak tanda-tanda nusyuz, baik melalui ucapan maupun perbuatan—melalui ucapan misalnya sebelumnya ia terbiasa berbicara dengan baik, atau ketika dipanggil suaminya ia menjawab dengan “labbaik” dan semisalnya, lalu hal itu berubah; atau melalui perbuatan, yaitu sebelumnya ia bersikap ceria dan ramah kepada suaminya, lalu menampakkan wajah masam, atau menunjukkan sikap berpaling yang berbeda dari kebiasaan pergaulan baik yang telah dikenal—maka suami menasihatinya dengan ucapan. Misalnya dengan mengatakan, “Perubahan apa ini yang terjadi padamu? Dahulu aku mengenalmu tidak seperti ini. Bertakwalah kepada Allah, karena hakku wajib engkau penuhi.” Suami juga menjelaskan kepadanya bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah, pakaian, dan hak giliran. Dalil hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka.”Pada tahap ini suami tidak boleh mengasingkannya dan tidak boleh memukulnya, karena masih ada kemungkinan bahwa hal tersebut belum benar-benar nusyuz, atau bisa jadi istri memiliki alasan, atau ia akan bertobat. Bahkan dianjurkan bagi suami untuk berbuat baik kepadanya dan melunakkan hatinya.Jika istri tetap bersikeras melakukan nusyuz dan hal itu tampak jelas darinya, seperti ketika suami mengajaknya ke tempat tidur lalu ia menolak, dan penolakannya sampai pada tingkat yang membuat suami harus bersusah payah untuk mengembalikannya kepada ketaatan—bukan sekadar penolakan manja—atau ia keluar dari rumah suami, dan semisalnya, maka suami mengasingkannya di tempat tidur. Ia tidak mengasingkannya dengan tidak berbicara.Tentang mengasingkan istri (hajr) dengan tidak berbicara, apakah hukumnya haram atau makruh, terdapat dua pendapat dari Imam. Imam berkata, “Menurutku, tidak haram menahan diri dari berbicara sama sekali. Namun jika ia berbicara, maka ia wajib menjawab, seperti menjawab salam dan memulai salam.” Ar-Rafi‘i berkata, bagi yang berpendapat haram, dapat dikatakan bahwa meninggalkan berbicara tanpa maksud tidaklah terlarang. Akan tetapi jika dilakukan dengan niat mengasingkan, maka hukumnya haram. Sebagaimana parfum dan semisalnya, jika ditinggalkan seseorang tanpa maksud tertentu, maka ia tidak berdosa; namun jika ditinggalkan dengan niat berkabung, maka ia berdosa.Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi‘i bahwa apabila suami mengasingkan (hajr) istrinya dengan tidak berbicara, maka tidak boleh lebih dari tiga hari. Jika lebih dari itu, ia berdosa. Ibnu Ar-Rif‘ah berkata, tempat terjadinya perbedaan pendapat adalah pada waktu lebih dari tiga hari. Adapun tiga hari, maka tidak haram secara pasti. Imam Nawawi berkata, pendapat yang benar adalah memastikan keharaman mengasingkan lebih dari tiga hari, dan tidak haramnya tiga hari berdasarkan hadis sahih: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengasingkan saudaranya lebih dari tiga hari.”Para ulama kami dan selain mereka menjelaskan bahwa hal ini berlaku pada pengasingan tanpa alasan syar‘i. Adapun jika ada alasan, seperti orang yang diasingkan itu memiliki kondisi tercela karena bid‘ah, kefasikan, atau semisalnya, atau apabila pengasingan tersebut membawa kebaikan bagi agama pihak yang mengasingkan atau yang diasingkan, maka tidak haram. Dengan pengertian ini dipahami apa yang diriwayatkan tentang Nabi ﷺ yang mengasingkan Ka‘ab bin Malik dan dua sahabatnya, serta larangan beliau kepada para sahabat untuk berbicara dengan mereka. Demikian pula apa yang diriwayatkan tentang sebagian salaf yang mengasingkan sebagian lainnya.Disebutkan pula dalam Kitab Al-Iman bahwa mengasingkan seorang muslim lebih dari tiga hari adalah haram. Hal ini berlaku apabila pengasingan tersebut karena kepentingan hawa nafsu dan urusan dunia. Adapun jika orang yang diasingkan adalah pelaku bid‘ah, atau terang-terangan berbuat zalim atau fasik, maka tidak haram mengasingkannya selamanya. Demikian pula apabila dalam pengasingan tersebut terdapat kemaslahatan agama. Dan Allah Maha Mengetahui. Nasihat PenutupMasalah rumah tangga sering bermula dari hal kecil yang dibiarkan membesar. Jangan cepat melabeli pasangan dengan nusyuz tanpa tabayyun dan komunikasi yang baik. Suami harus bijak memimpin, dan istri hendaknya menjaga ketaatan dalam hal yang ma’ruf. Rumah tangga yang sakinah dibangun dengan ilmu, bukan emosi.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma aṣliḥ buyūtanā, wa allif bayna qulūbinā, warzuqnā al-mawaddata wa ar-raḥmah.“Ya Allah, perbaikilah rumah tangga kami, satukan hati kami, dan karuniakan kepada kami kasih sayang dan rahmat.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih rumah tangga hak suami istri hukum nusyuz islam keluarga keluarga sakinah masalah rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah nasihat pernikahan nusyuz istri solusi rumah tangga islam taat kepada suami

Nusyuz Istri dalam Islam: Pengertian, Hukum, dan Cara Mengatasinya

Rumah tangga tidak selalu berjalan mulus, terkadang muncul sikap pembangkangan yang disebut nusyuz. Islam tidak membiarkan masalah ini tanpa solusi, tetapi memberi tahapan penyelesaian yang bijak. Dengan memahami nusyuz, suami dan istri bisa menjaga keharmonisan sesuai tuntunan syariat.Baca juga: Menolak Hubungan Intim dengan Suami: Apakah Itu Nusyuz dan Ada Nafkah?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Apa itu Nusyuz? 3. Hukum Nusyuz 4. Bagaimana Nusyuz Terjadi? 5. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib berkata: وَإِذَا خَافَ نُشُوزَ الْمَرْأَةِ وَعَظَهَا، فَإِنْ أَبَتْ إِلَّا النُّشُوزَ هَجَرَهَا، فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا، وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوزِ قِسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا.Apabila suami khawatir istrinya mulai nusyuz (membangkang), ia menasihatinya terlebih dahulu. Jika istri tetap membangkang, maka suami boleh menghajr (menjauhi tempat tidurnya). Jika istri tetap begitu, ia boleh terus menghajr dan memberinya hukuman pukulan yang tidak menyakitkan (sesuai tuntunan syariat). Karena sikap nusyuz, hak giliran dan nafkah istri tersebut bisa gugur. PenjelasanApa itu Nusyuz?Nusyuz berarti sikap durhaka, yang diambil dari kata nisyz yang berarti ketidaktaatan. Nusyuz seorang wanita adalah ketidaktaatannya terhadap suami dan sikapnya yang menolak kewajiban yang Allah tetapkan padanya, yaitu taat kepada suami. Ibnu Faris berkata: “Nusyuz wanita berarti dia menolak suaminya.” Allah berfirman,وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ“Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya…” (QS. An-Nisa: 34), yang artinya kamu khawatir mereka akan berbuat durhaka. Hukum NusyuzNusyuz wanita adalah haram dan merupakan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهِ، فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu dia menolak dan tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya sampai pagi.” (HR. Bukhari, no. 3237, 5193 dan Muslim, no. 1436).Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهَا، فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا، حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun suami yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak, melainkan Tuhan di langit akan murka kepadanya hingga ia meridai istrinya.” (HR. Muslim, no. 1436).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan memenuhi hak Tuhan-Nya sampai dia memenuhi hak suaminya.” (HR. Ibnu Majah. no. 1515. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Bagaimana Nusyuz Terjadi?Nusyuz pada wanita terjadi jika dia keluar dari ketaatan kepada suami dan menentangnya, seperti:keluar dari rumah tanpa alasan yang sah atau tanpa izin suami,bepergian tanpa izin atau restu suami,tidak membuka pintu saat suami hendak masuk, ataumenolak ajakan suami untuk berhubungan intim tanpa alasan yang sah seperti sakit, atau sibuk dengan urusannya sendiri.Cara mengatasi nusyuz yang disebutkan di atas disebutkan dalam ayat,وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa’: 34).Dalam Fathul Qarib disebutkan:Apabila suami khawatir akan terjadinya nusyuz dari istrinya—dalam sebagian redaksi disebutkan, “apabila telah tampak nusyuz istri,” yakni sudah jelas—maka suami menasihatinya tanpa memukul dan tanpa mengasingkannya. Misalnya dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dalam menunaikan hak yang wajib engkau penuhi untukku, dan ketahuilah bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah dan giliran.”Mencela suami tidak termasuk nusyuz, namun karena perbuatan itu istri berhak diberi tindakan pendisiplinan oleh suami menurut pendapat yang lebih sahih, dan perkara tersebut tidak diangkat ke hadapan hakim.Jika setelah dinasihati istri tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya di tempat tidur, yaitu tidak menggaulinya di ranjangnya. Adapun mengasingkan dengan tidak berbicara lebih dari tiga hari hukumnya haram. Dalam kitab Ar-Raudhah disebutkan bahwa larangan ini berlaku apabila pengasingan dilakukan tanpa alasan syar‘i; jika ada alasan syar‘i, maka menambah dari tiga hari tidaklah haram.Jika istri tetap melakukan nusyuz dengan mengulanginya, maka suami boleh mengasingkannya dan memukulnya sebagai bentuk pendisiplinan. Apabila pukulan tersebut menyebabkan kematian, maka wajib dikenakan ganti rugi.Karena nusyuz, gugurlah hak giliran dan nafkah istri.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Apabila telah tampak nusyuz dari seorang istri, maka suami menasihatinya. Jika ia tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya. Jika ia tetap menetapi nusyuz tersebut, maka suami memukulnya. Dan karena nusyuz itu gugurlah hak giliran dan nafkahnya.Apabila dari seorang istri tampak tanda-tanda nusyuz, baik melalui ucapan maupun perbuatan—melalui ucapan misalnya sebelumnya ia terbiasa berbicara dengan baik, atau ketika dipanggil suaminya ia menjawab dengan “labbaik” dan semisalnya, lalu hal itu berubah; atau melalui perbuatan, yaitu sebelumnya ia bersikap ceria dan ramah kepada suaminya, lalu menampakkan wajah masam, atau menunjukkan sikap berpaling yang berbeda dari kebiasaan pergaulan baik yang telah dikenal—maka suami menasihatinya dengan ucapan. Misalnya dengan mengatakan, “Perubahan apa ini yang terjadi padamu? Dahulu aku mengenalmu tidak seperti ini. Bertakwalah kepada Allah, karena hakku wajib engkau penuhi.” Suami juga menjelaskan kepadanya bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah, pakaian, dan hak giliran. Dalil hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka.”Pada tahap ini suami tidak boleh mengasingkannya dan tidak boleh memukulnya, karena masih ada kemungkinan bahwa hal tersebut belum benar-benar nusyuz, atau bisa jadi istri memiliki alasan, atau ia akan bertobat. Bahkan dianjurkan bagi suami untuk berbuat baik kepadanya dan melunakkan hatinya.Jika istri tetap bersikeras melakukan nusyuz dan hal itu tampak jelas darinya, seperti ketika suami mengajaknya ke tempat tidur lalu ia menolak, dan penolakannya sampai pada tingkat yang membuat suami harus bersusah payah untuk mengembalikannya kepada ketaatan—bukan sekadar penolakan manja—atau ia keluar dari rumah suami, dan semisalnya, maka suami mengasingkannya di tempat tidur. Ia tidak mengasingkannya dengan tidak berbicara.Tentang mengasingkan istri (hajr) dengan tidak berbicara, apakah hukumnya haram atau makruh, terdapat dua pendapat dari Imam. Imam berkata, “Menurutku, tidak haram menahan diri dari berbicara sama sekali. Namun jika ia berbicara, maka ia wajib menjawab, seperti menjawab salam dan memulai salam.” Ar-Rafi‘i berkata, bagi yang berpendapat haram, dapat dikatakan bahwa meninggalkan berbicara tanpa maksud tidaklah terlarang. Akan tetapi jika dilakukan dengan niat mengasingkan, maka hukumnya haram. Sebagaimana parfum dan semisalnya, jika ditinggalkan seseorang tanpa maksud tertentu, maka ia tidak berdosa; namun jika ditinggalkan dengan niat berkabung, maka ia berdosa.Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi‘i bahwa apabila suami mengasingkan (hajr) istrinya dengan tidak berbicara, maka tidak boleh lebih dari tiga hari. Jika lebih dari itu, ia berdosa. Ibnu Ar-Rif‘ah berkata, tempat terjadinya perbedaan pendapat adalah pada waktu lebih dari tiga hari. Adapun tiga hari, maka tidak haram secara pasti. Imam Nawawi berkata, pendapat yang benar adalah memastikan keharaman mengasingkan lebih dari tiga hari, dan tidak haramnya tiga hari berdasarkan hadis sahih: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengasingkan saudaranya lebih dari tiga hari.”Para ulama kami dan selain mereka menjelaskan bahwa hal ini berlaku pada pengasingan tanpa alasan syar‘i. Adapun jika ada alasan, seperti orang yang diasingkan itu memiliki kondisi tercela karena bid‘ah, kefasikan, atau semisalnya, atau apabila pengasingan tersebut membawa kebaikan bagi agama pihak yang mengasingkan atau yang diasingkan, maka tidak haram. Dengan pengertian ini dipahami apa yang diriwayatkan tentang Nabi ﷺ yang mengasingkan Ka‘ab bin Malik dan dua sahabatnya, serta larangan beliau kepada para sahabat untuk berbicara dengan mereka. Demikian pula apa yang diriwayatkan tentang sebagian salaf yang mengasingkan sebagian lainnya.Disebutkan pula dalam Kitab Al-Iman bahwa mengasingkan seorang muslim lebih dari tiga hari adalah haram. Hal ini berlaku apabila pengasingan tersebut karena kepentingan hawa nafsu dan urusan dunia. Adapun jika orang yang diasingkan adalah pelaku bid‘ah, atau terang-terangan berbuat zalim atau fasik, maka tidak haram mengasingkannya selamanya. Demikian pula apabila dalam pengasingan tersebut terdapat kemaslahatan agama. Dan Allah Maha Mengetahui. Nasihat PenutupMasalah rumah tangga sering bermula dari hal kecil yang dibiarkan membesar. Jangan cepat melabeli pasangan dengan nusyuz tanpa tabayyun dan komunikasi yang baik. Suami harus bijak memimpin, dan istri hendaknya menjaga ketaatan dalam hal yang ma’ruf. Rumah tangga yang sakinah dibangun dengan ilmu, bukan emosi.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma aṣliḥ buyūtanā, wa allif bayna qulūbinā, warzuqnā al-mawaddata wa ar-raḥmah.“Ya Allah, perbaikilah rumah tangga kami, satukan hati kami, dan karuniakan kepada kami kasih sayang dan rahmat.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih rumah tangga hak suami istri hukum nusyuz islam keluarga keluarga sakinah masalah rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah nasihat pernikahan nusyuz istri solusi rumah tangga islam taat kepada suami
Rumah tangga tidak selalu berjalan mulus, terkadang muncul sikap pembangkangan yang disebut nusyuz. Islam tidak membiarkan masalah ini tanpa solusi, tetapi memberi tahapan penyelesaian yang bijak. Dengan memahami nusyuz, suami dan istri bisa menjaga keharmonisan sesuai tuntunan syariat.Baca juga: Menolak Hubungan Intim dengan Suami: Apakah Itu Nusyuz dan Ada Nafkah?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Apa itu Nusyuz? 3. Hukum Nusyuz 4. Bagaimana Nusyuz Terjadi? 5. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib berkata: وَإِذَا خَافَ نُشُوزَ الْمَرْأَةِ وَعَظَهَا، فَإِنْ أَبَتْ إِلَّا النُّشُوزَ هَجَرَهَا، فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا، وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوزِ قِسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا.Apabila suami khawatir istrinya mulai nusyuz (membangkang), ia menasihatinya terlebih dahulu. Jika istri tetap membangkang, maka suami boleh menghajr (menjauhi tempat tidurnya). Jika istri tetap begitu, ia boleh terus menghajr dan memberinya hukuman pukulan yang tidak menyakitkan (sesuai tuntunan syariat). Karena sikap nusyuz, hak giliran dan nafkah istri tersebut bisa gugur. PenjelasanApa itu Nusyuz?Nusyuz berarti sikap durhaka, yang diambil dari kata nisyz yang berarti ketidaktaatan. Nusyuz seorang wanita adalah ketidaktaatannya terhadap suami dan sikapnya yang menolak kewajiban yang Allah tetapkan padanya, yaitu taat kepada suami. Ibnu Faris berkata: “Nusyuz wanita berarti dia menolak suaminya.” Allah berfirman,وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ“Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya…” (QS. An-Nisa: 34), yang artinya kamu khawatir mereka akan berbuat durhaka. Hukum NusyuzNusyuz wanita adalah haram dan merupakan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهِ، فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu dia menolak dan tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya sampai pagi.” (HR. Bukhari, no. 3237, 5193 dan Muslim, no. 1436).Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهَا، فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا، حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun suami yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak, melainkan Tuhan di langit akan murka kepadanya hingga ia meridai istrinya.” (HR. Muslim, no. 1436).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan memenuhi hak Tuhan-Nya sampai dia memenuhi hak suaminya.” (HR. Ibnu Majah. no. 1515. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Bagaimana Nusyuz Terjadi?Nusyuz pada wanita terjadi jika dia keluar dari ketaatan kepada suami dan menentangnya, seperti:keluar dari rumah tanpa alasan yang sah atau tanpa izin suami,bepergian tanpa izin atau restu suami,tidak membuka pintu saat suami hendak masuk, ataumenolak ajakan suami untuk berhubungan intim tanpa alasan yang sah seperti sakit, atau sibuk dengan urusannya sendiri.Cara mengatasi nusyuz yang disebutkan di atas disebutkan dalam ayat,وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa’: 34).Dalam Fathul Qarib disebutkan:Apabila suami khawatir akan terjadinya nusyuz dari istrinya—dalam sebagian redaksi disebutkan, “apabila telah tampak nusyuz istri,” yakni sudah jelas—maka suami menasihatinya tanpa memukul dan tanpa mengasingkannya. Misalnya dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dalam menunaikan hak yang wajib engkau penuhi untukku, dan ketahuilah bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah dan giliran.”Mencela suami tidak termasuk nusyuz, namun karena perbuatan itu istri berhak diberi tindakan pendisiplinan oleh suami menurut pendapat yang lebih sahih, dan perkara tersebut tidak diangkat ke hadapan hakim.Jika setelah dinasihati istri tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya di tempat tidur, yaitu tidak menggaulinya di ranjangnya. Adapun mengasingkan dengan tidak berbicara lebih dari tiga hari hukumnya haram. Dalam kitab Ar-Raudhah disebutkan bahwa larangan ini berlaku apabila pengasingan dilakukan tanpa alasan syar‘i; jika ada alasan syar‘i, maka menambah dari tiga hari tidaklah haram.Jika istri tetap melakukan nusyuz dengan mengulanginya, maka suami boleh mengasingkannya dan memukulnya sebagai bentuk pendisiplinan. Apabila pukulan tersebut menyebabkan kematian, maka wajib dikenakan ganti rugi.Karena nusyuz, gugurlah hak giliran dan nafkah istri.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Apabila telah tampak nusyuz dari seorang istri, maka suami menasihatinya. Jika ia tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya. Jika ia tetap menetapi nusyuz tersebut, maka suami memukulnya. Dan karena nusyuz itu gugurlah hak giliran dan nafkahnya.Apabila dari seorang istri tampak tanda-tanda nusyuz, baik melalui ucapan maupun perbuatan—melalui ucapan misalnya sebelumnya ia terbiasa berbicara dengan baik, atau ketika dipanggil suaminya ia menjawab dengan “labbaik” dan semisalnya, lalu hal itu berubah; atau melalui perbuatan, yaitu sebelumnya ia bersikap ceria dan ramah kepada suaminya, lalu menampakkan wajah masam, atau menunjukkan sikap berpaling yang berbeda dari kebiasaan pergaulan baik yang telah dikenal—maka suami menasihatinya dengan ucapan. Misalnya dengan mengatakan, “Perubahan apa ini yang terjadi padamu? Dahulu aku mengenalmu tidak seperti ini. Bertakwalah kepada Allah, karena hakku wajib engkau penuhi.” Suami juga menjelaskan kepadanya bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah, pakaian, dan hak giliran. Dalil hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka.”Pada tahap ini suami tidak boleh mengasingkannya dan tidak boleh memukulnya, karena masih ada kemungkinan bahwa hal tersebut belum benar-benar nusyuz, atau bisa jadi istri memiliki alasan, atau ia akan bertobat. Bahkan dianjurkan bagi suami untuk berbuat baik kepadanya dan melunakkan hatinya.Jika istri tetap bersikeras melakukan nusyuz dan hal itu tampak jelas darinya, seperti ketika suami mengajaknya ke tempat tidur lalu ia menolak, dan penolakannya sampai pada tingkat yang membuat suami harus bersusah payah untuk mengembalikannya kepada ketaatan—bukan sekadar penolakan manja—atau ia keluar dari rumah suami, dan semisalnya, maka suami mengasingkannya di tempat tidur. Ia tidak mengasingkannya dengan tidak berbicara.Tentang mengasingkan istri (hajr) dengan tidak berbicara, apakah hukumnya haram atau makruh, terdapat dua pendapat dari Imam. Imam berkata, “Menurutku, tidak haram menahan diri dari berbicara sama sekali. Namun jika ia berbicara, maka ia wajib menjawab, seperti menjawab salam dan memulai salam.” Ar-Rafi‘i berkata, bagi yang berpendapat haram, dapat dikatakan bahwa meninggalkan berbicara tanpa maksud tidaklah terlarang. Akan tetapi jika dilakukan dengan niat mengasingkan, maka hukumnya haram. Sebagaimana parfum dan semisalnya, jika ditinggalkan seseorang tanpa maksud tertentu, maka ia tidak berdosa; namun jika ditinggalkan dengan niat berkabung, maka ia berdosa.Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi‘i bahwa apabila suami mengasingkan (hajr) istrinya dengan tidak berbicara, maka tidak boleh lebih dari tiga hari. Jika lebih dari itu, ia berdosa. Ibnu Ar-Rif‘ah berkata, tempat terjadinya perbedaan pendapat adalah pada waktu lebih dari tiga hari. Adapun tiga hari, maka tidak haram secara pasti. Imam Nawawi berkata, pendapat yang benar adalah memastikan keharaman mengasingkan lebih dari tiga hari, dan tidak haramnya tiga hari berdasarkan hadis sahih: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengasingkan saudaranya lebih dari tiga hari.”Para ulama kami dan selain mereka menjelaskan bahwa hal ini berlaku pada pengasingan tanpa alasan syar‘i. Adapun jika ada alasan, seperti orang yang diasingkan itu memiliki kondisi tercela karena bid‘ah, kefasikan, atau semisalnya, atau apabila pengasingan tersebut membawa kebaikan bagi agama pihak yang mengasingkan atau yang diasingkan, maka tidak haram. Dengan pengertian ini dipahami apa yang diriwayatkan tentang Nabi ﷺ yang mengasingkan Ka‘ab bin Malik dan dua sahabatnya, serta larangan beliau kepada para sahabat untuk berbicara dengan mereka. Demikian pula apa yang diriwayatkan tentang sebagian salaf yang mengasingkan sebagian lainnya.Disebutkan pula dalam Kitab Al-Iman bahwa mengasingkan seorang muslim lebih dari tiga hari adalah haram. Hal ini berlaku apabila pengasingan tersebut karena kepentingan hawa nafsu dan urusan dunia. Adapun jika orang yang diasingkan adalah pelaku bid‘ah, atau terang-terangan berbuat zalim atau fasik, maka tidak haram mengasingkannya selamanya. Demikian pula apabila dalam pengasingan tersebut terdapat kemaslahatan agama. Dan Allah Maha Mengetahui. Nasihat PenutupMasalah rumah tangga sering bermula dari hal kecil yang dibiarkan membesar. Jangan cepat melabeli pasangan dengan nusyuz tanpa tabayyun dan komunikasi yang baik. Suami harus bijak memimpin, dan istri hendaknya menjaga ketaatan dalam hal yang ma’ruf. Rumah tangga yang sakinah dibangun dengan ilmu, bukan emosi.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma aṣliḥ buyūtanā, wa allif bayna qulūbinā, warzuqnā al-mawaddata wa ar-raḥmah.“Ya Allah, perbaikilah rumah tangga kami, satukan hati kami, dan karuniakan kepada kami kasih sayang dan rahmat.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih rumah tangga hak suami istri hukum nusyuz islam keluarga keluarga sakinah masalah rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah nasihat pernikahan nusyuz istri solusi rumah tangga islam taat kepada suami


Rumah tangga tidak selalu berjalan mulus, terkadang muncul sikap pembangkangan yang disebut nusyuz. Islam tidak membiarkan masalah ini tanpa solusi, tetapi memberi tahapan penyelesaian yang bijak. Dengan memahami nusyuz, suami dan istri bisa menjaga keharmonisan sesuai tuntunan syariat.Baca juga: Menolak Hubungan Intim dengan Suami: Apakah Itu Nusyuz dan Ada Nafkah?  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Apa itu Nusyuz? 3. Hukum Nusyuz 4. Bagaimana Nusyuz Terjadi? 5. Nasihat Penutup  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib berkata: وَإِذَا خَافَ نُشُوزَ الْمَرْأَةِ وَعَظَهَا، فَإِنْ أَبَتْ إِلَّا النُّشُوزَ هَجَرَهَا، فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ هَجَرَهَا وَضَرَبَهَا، وَيَسْقُطُ بِالنُّشُوزِ قِسْمُهَا وَنَفَقَتُهَا.Apabila suami khawatir istrinya mulai nusyuz (membangkang), ia menasihatinya terlebih dahulu. Jika istri tetap membangkang, maka suami boleh menghajr (menjauhi tempat tidurnya). Jika istri tetap begitu, ia boleh terus menghajr dan memberinya hukuman pukulan yang tidak menyakitkan (sesuai tuntunan syariat). Karena sikap nusyuz, hak giliran dan nafkah istri tersebut bisa gugur. PenjelasanApa itu Nusyuz?Nusyuz berarti sikap durhaka, yang diambil dari kata nisyz yang berarti ketidaktaatan. Nusyuz seorang wanita adalah ketidaktaatannya terhadap suami dan sikapnya yang menolak kewajiban yang Allah tetapkan padanya, yaitu taat kepada suami. Ibnu Faris berkata: “Nusyuz wanita berarti dia menolak suaminya.” Allah berfirman,وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ“Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya…” (QS. An-Nisa: 34), yang artinya kamu khawatir mereka akan berbuat durhaka. Hukum NusyuzNusyuz wanita adalah haram dan merupakan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهِ، فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu dia menolak dan tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya sampai pagi.” (HR. Bukhari, no. 3237, 5193 dan Muslim, no. 1436).Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فَرَاشِهَا، فَتَأْبَى عَلَيْهِ، إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا، حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun suami yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak, melainkan Tuhan di langit akan murka kepadanya hingga ia meridai istrinya.” (HR. Muslim, no. 1436).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا“Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan memenuhi hak Tuhan-Nya sampai dia memenuhi hak suaminya.” (HR. Ibnu Majah. no. 1515. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). Bagaimana Nusyuz Terjadi?Nusyuz pada wanita terjadi jika dia keluar dari ketaatan kepada suami dan menentangnya, seperti:keluar dari rumah tanpa alasan yang sah atau tanpa izin suami,bepergian tanpa izin atau restu suami,tidak membuka pintu saat suami hendak masuk, ataumenolak ajakan suami untuk berhubungan intim tanpa alasan yang sah seperti sakit, atau sibuk dengan urusannya sendiri.Cara mengatasi nusyuz yang disebutkan di atas disebutkan dalam ayat,وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa’: 34).Dalam Fathul Qarib disebutkan:Apabila suami khawatir akan terjadinya nusyuz dari istrinya—dalam sebagian redaksi disebutkan, “apabila telah tampak nusyuz istri,” yakni sudah jelas—maka suami menasihatinya tanpa memukul dan tanpa mengasingkannya. Misalnya dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dalam menunaikan hak yang wajib engkau penuhi untukku, dan ketahuilah bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah dan giliran.”Mencela suami tidak termasuk nusyuz, namun karena perbuatan itu istri berhak diberi tindakan pendisiplinan oleh suami menurut pendapat yang lebih sahih, dan perkara tersebut tidak diangkat ke hadapan hakim.Jika setelah dinasihati istri tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya di tempat tidur, yaitu tidak menggaulinya di ranjangnya. Adapun mengasingkan dengan tidak berbicara lebih dari tiga hari hukumnya haram. Dalam kitab Ar-Raudhah disebutkan bahwa larangan ini berlaku apabila pengasingan dilakukan tanpa alasan syar‘i; jika ada alasan syar‘i, maka menambah dari tiga hari tidaklah haram.Jika istri tetap melakukan nusyuz dengan mengulanginya, maka suami boleh mengasingkannya dan memukulnya sebagai bentuk pendisiplinan. Apabila pukulan tersebut menyebabkan kematian, maka wajib dikenakan ganti rugi.Karena nusyuz, gugurlah hak giliran dan nafkah istri.Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan:Apabila telah tampak nusyuz dari seorang istri, maka suami menasihatinya. Jika ia tetap bersikeras melakukan nusyuz, maka suami mengasingkannya. Jika ia tetap menetapi nusyuz tersebut, maka suami memukulnya. Dan karena nusyuz itu gugurlah hak giliran dan nafkahnya.Apabila dari seorang istri tampak tanda-tanda nusyuz, baik melalui ucapan maupun perbuatan—melalui ucapan misalnya sebelumnya ia terbiasa berbicara dengan baik, atau ketika dipanggil suaminya ia menjawab dengan “labbaik” dan semisalnya, lalu hal itu berubah; atau melalui perbuatan, yaitu sebelumnya ia bersikap ceria dan ramah kepada suaminya, lalu menampakkan wajah masam, atau menunjukkan sikap berpaling yang berbeda dari kebiasaan pergaulan baik yang telah dikenal—maka suami menasihatinya dengan ucapan. Misalnya dengan mengatakan, “Perubahan apa ini yang terjadi padamu? Dahulu aku mengenalmu tidak seperti ini. Bertakwalah kepada Allah, karena hakku wajib engkau penuhi.” Suami juga menjelaskan kepadanya bahwa nusyuz dapat menggugurkan nafkah, pakaian, dan hak giliran. Dalil hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka.”Pada tahap ini suami tidak boleh mengasingkannya dan tidak boleh memukulnya, karena masih ada kemungkinan bahwa hal tersebut belum benar-benar nusyuz, atau bisa jadi istri memiliki alasan, atau ia akan bertobat. Bahkan dianjurkan bagi suami untuk berbuat baik kepadanya dan melunakkan hatinya.Jika istri tetap bersikeras melakukan nusyuz dan hal itu tampak jelas darinya, seperti ketika suami mengajaknya ke tempat tidur lalu ia menolak, dan penolakannya sampai pada tingkat yang membuat suami harus bersusah payah untuk mengembalikannya kepada ketaatan—bukan sekadar penolakan manja—atau ia keluar dari rumah suami, dan semisalnya, maka suami mengasingkannya di tempat tidur. Ia tidak mengasingkannya dengan tidak berbicara.Tentang mengasingkan istri (hajr) dengan tidak berbicara, apakah hukumnya haram atau makruh, terdapat dua pendapat dari Imam. Imam berkata, “Menurutku, tidak haram menahan diri dari berbicara sama sekali. Namun jika ia berbicara, maka ia wajib menjawab, seperti menjawab salam dan memulai salam.” Ar-Rafi‘i berkata, bagi yang berpendapat haram, dapat dikatakan bahwa meninggalkan berbicara tanpa maksud tidaklah terlarang. Akan tetapi jika dilakukan dengan niat mengasingkan, maka hukumnya haram. Sebagaimana parfum dan semisalnya, jika ditinggalkan seseorang tanpa maksud tertentu, maka ia tidak berdosa; namun jika ditinggalkan dengan niat berkabung, maka ia berdosa.Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi‘i bahwa apabila suami mengasingkan (hajr) istrinya dengan tidak berbicara, maka tidak boleh lebih dari tiga hari. Jika lebih dari itu, ia berdosa. Ibnu Ar-Rif‘ah berkata, tempat terjadinya perbedaan pendapat adalah pada waktu lebih dari tiga hari. Adapun tiga hari, maka tidak haram secara pasti. Imam Nawawi berkata, pendapat yang benar adalah memastikan keharaman mengasingkan lebih dari tiga hari, dan tidak haramnya tiga hari berdasarkan hadis sahih: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengasingkan saudaranya lebih dari tiga hari.”Para ulama kami dan selain mereka menjelaskan bahwa hal ini berlaku pada pengasingan tanpa alasan syar‘i. Adapun jika ada alasan, seperti orang yang diasingkan itu memiliki kondisi tercela karena bid‘ah, kefasikan, atau semisalnya, atau apabila pengasingan tersebut membawa kebaikan bagi agama pihak yang mengasingkan atau yang diasingkan, maka tidak haram. Dengan pengertian ini dipahami apa yang diriwayatkan tentang Nabi ﷺ yang mengasingkan Ka‘ab bin Malik dan dua sahabatnya, serta larangan beliau kepada para sahabat untuk berbicara dengan mereka. Demikian pula apa yang diriwayatkan tentang sebagian salaf yang mengasingkan sebagian lainnya.Disebutkan pula dalam Kitab Al-Iman bahwa mengasingkan seorang muslim lebih dari tiga hari adalah haram. Hal ini berlaku apabila pengasingan tersebut karena kepentingan hawa nafsu dan urusan dunia. Adapun jika orang yang diasingkan adalah pelaku bid‘ah, atau terang-terangan berbuat zalim atau fasik, maka tidak haram mengasingkannya selamanya. Demikian pula apabila dalam pengasingan tersebut terdapat kemaslahatan agama. Dan Allah Maha Mengetahui. Nasihat PenutupMasalah rumah tangga sering bermula dari hal kecil yang dibiarkan membesar. Jangan cepat melabeli pasangan dengan nusyuz tanpa tabayyun dan komunikasi yang baik. Suami harus bijak memimpin, dan istri hendaknya menjaga ketaatan dalam hal yang ma’ruf. Rumah tangga yang sakinah dibangun dengan ilmu, bukan emosi.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَAllāhumma aṣliḥ buyūtanā, wa allif bayna qulūbinā, warzuqnā al-mawaddata wa ar-raḥmah.“Ya Allah, perbaikilah rumah tangga kami, satukan hati kami, dan karuniakan kepada kami kasih sayang dan rahmat.” Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib, Kifayah Al-Akhyar —– Ahad, 10 Syawal 1447 H@ Pondok Pesantren Darush Sholihin GunungkidulPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih rumah tangga hak suami istri hukum nusyuz islam keluarga keluarga sakinah masalah rumah tangga matan taqrib matan taqrib kitab nikah nasihat pernikahan nusyuz istri solusi rumah tangga islam taat kepada suami

Jurus Rahasia Agar Bisa Menikmati Manisnya Shalat – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ

Jurus Rahasia Agar Bisa Menikmati Manisnya Shalat – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ
Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ


Saat menunaikan shalat, banyak di antara kita yang hatinya hanya hadir ketika mengucapkan takbiratul ihram “Allahu Akbar”, lalu ketika salam “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Sedangkan dalam rangkaian shalat di antara keduanya, hati hampir sepenuhnya melayang memikirkan hal-hal di luar shalat. Kondisi ini menuntut perjuangan yang besar. Setiap kali fokus hati menghilang, Anda harus segera menghadirkannya kembali. Saat fokus itu pergi lagi, Anda tarik kembali untuk hadir. Anda harus bersabar melakukan perjuangan ini selama setahun, dua tahun, atau bahkan 20 tahun. Bersungguh-sungguhlah dalam upaya mengejar khusyuk, hingga akhirnya Anda benar-benar bisa menikmati ibadah shalat. Sampai pada titik di mana ketika masuk ke dalam shalat, Anda melupakan dunia. Melupakan segala kegalauan hidup. Anda menemukan pelipur lara dari segala musibah di dalam shalat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi: “Tenteramkanlah hati kami dengan shalat, wahai Bilal!” (HR. Abu Daud). ===== فِي الصَّلَاةِ كَثِيرٌ مِنَّا الَّذِي يُدْرِكُهُ مِنْ صَلَاتِهِ بِحُضُورِ قَلْبٍ هُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ يَكَادُ يَكُونُ الْقَلْبُ خَارِجَ الصَّلَاةِ هَذَا يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدَةَ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ الْقَلْبُ يَذْهَبُ أَنْتَ تُحْضِرُهُ تَصْبِرُ عَلَى ذَلِكَ سَنَةً سَنَتَيْنِ عِشْرِينَ سَنَةً تَكُونُ صَادِقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ فَتَتَنَعَّمُ بِالصَّلَاةِ إِذَا دَخَلْتَ الصَّلَاةَ تَنْسَى الدُّنْيَا تَنْسَى الْهُمُومَ تَجِدُ رَاحَتَكَ مِنْ كُلِّ بَلاءٍ فِي الصَّلَاةِ أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلَالُ

Hukum Korupsi Dalam Islam

Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Hukum Korupsi Dalam Islam

Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDefinisi korupsiSuap-menyuap (risywah)Penggelapan harta negaraGratifikasiKorupsi tidak sama dengan mencuriDampak harta haramMenjadi sesatMenjerumuskan ke nerakaHilangnya keberkahanIbadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramDoanya tertolakAkan diadili di hari kiamatSudah kaya kok masih korupsi?Definisi korupsiKorupsi sebenarnya memiliki makna yang luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris yang artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua bentuk kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk keuntungan pribadi atau orang lain.Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, yaitu korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita melihat bahwa definisi dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.Namun, dari tujuh jenis korupsi yang disebutkan di atas, kita akan bahas yang paling sering terjadi di masyarakat:Suap-menyuap (risywah)Dari definisi di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, bahkan termasuk dosa besar.Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan risywah,الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu hajat yang dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada teman Anda agar teman Anda membuat-buat sesuatu hajat untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)Dari beberapa definisi di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan cara yang ilegal atau dibuat-buat.Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan uang yang didapatkan dari risywah adalah harta haram. Allah Ta’ala berfirman,سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka memakan suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah celaan terhadap pelaku risywah.Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي“Laknat Allah terhadap orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Dalam lafaz yang lain,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,الراشي والمُرتَشي في النارِ“Orang yang memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما“Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, yaitu orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad yang lemah)Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي“Di antara kejahatan yang dikenai hukuman ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu yang memiliki nilai, seperti harta atau hadiah, kepada seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan atau memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan syariat demi memberi keuntungan kepada pihak yang menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)Hukuman ta’zir adalah hukuman yang jenisnya kembali kepada ijtihad hakim di pengadilan.Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa YahudiPenggelapan harta negaraDalam definisi di atas, penggelapan harta negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan harta negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”Ibnu Atsir rahimahullah berkata ketika mendefinisikan ghulul,الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri harta ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua yang berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka ia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ“Sesungguhnya ghulul adalah berbuat khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), atau terhadap harta rampasan perang, dan amanah-amanah yang lainnya. Siapa saja yang mengkhianati amanah, maka ia berbuat ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa yang mengambilnya tanpa hak, maka ia berbuat ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan uang milik orang banyak secara umum, baik uang rakyat, uang kantor, uang yayasan, dan semisalnya. Di antara bentuk ghulul adalah sebagai berikut:Mengambil ghanimah sebelum dibagikanMenyembunyikan ghanimahMenyalahgunakan uang negaraMengambil kelebihan dana anggaranMengambil kelebihan uang dinas bagi ASNMenggunakan aset negara untuk keperluan pribadiMemotong uang bantuanMenggunakan uang usaha untuk keperluan pribadiMenggunakan uang kas kelas untuk keperluan pribadiHadiah bagi pegawai negeriOrang yang berbuat ghulul diancam akan ditimpakan harta yang ia diselewengkan. Harta yang diselewengkan akan didatangkan di hari kiamat menjadi suatu beban berat yang kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak harta yang diselewengkan, dia akan semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya akan dipikulkan harta yang diselewengkan nanti di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)Dalam hadis dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Ada beberapa orang yang membelanjakan harta Allah di jalan yang tidak benar, maka hukuman bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)Harta Allah yang dimaksud dalam hadis ini adalah harta kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak memiliki hak dari harta rampasan perang ini kecuali seperti hak salah seorang di antara kalian juga, kecuali seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua barang lainnya yang lebih besar dari keduanya. Janganlah kamu melakukan ghulul, karena itu merupakan celaan dan aib bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)Ghulul adalah dosa yang besar. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, ia berkata,قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lalu menyebutkan ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari kiamat aku bertemu seseorang dari kalian yang memikul kambing yang mengembik di lehernya, memikul kuda yang meringkik di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul harta di lehernya, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” Ada yang memikul kain di lehernya yang bergoyang-goyang, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu aku akan menjawab, “Aku tidak mampu menolongmu. Dahulu aku sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya yang bernama Mid’am yang dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا“Tidak! Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut yang dia ambil dari ghanimah Khaibar, yang belum dibagi, akan menyalakan api padanya.”Ketika mendengar hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali atau dua tali sandal, lalu berkata, “Ini barang yang aku ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ“Satu tali sandal atau dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah hukuman ta’zir dan harta yang diselewengkan harus dikembalikan. Sebagian ulama menambahkan harus dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف“Para ulama Muslimin bersepakat bahwa ghulul adalah perbuatan yang haram dengan keharaman yang sangat berat, dan bahwa ia termasuk dosa besar. Mereka juga bersepakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan harta yang diselewengkan … Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan ghulul. Mayoritas ulama dan para imam di berbagai negeri berpendapat bahwa ia diberi hukuman ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i berpendapat bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: kecuali senjatanya dan pakaian yang sedang ia pakai. Al-Hasan berkata: kecuali hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)GratifikasiDi antara bentuk korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan fasilitas lainnya yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)Hadis di atas pada asalnya berlaku untuk pegawai negara (ASN). Karena hadis di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,هدايا الأمراءِ غُلولٌ“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال“Karena hadiah tersebut tidaklah diberikan kecuali karena pelanggaran amanah yang mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi hadiah oleh pegawainya, atau pegawai negara diberi hadiah oleh rakyatnya, maka harta tersebut milik Baitul Mal sebagaimana yang terjadi di zaman salaf. Tidak halal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika ia terima hadiah tersebut, harus diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)Oleh karena itu, terlarang secara mutlak bagi pegawai negara apapun bidang pekerjaannya untuk menerima hadiah dari rakyat atas pekerjaan yang ia lakukan. Dikuatkan juga dengan hadis Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih berharga dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) yang akan ia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)Dalam hadis ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ“Barang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut, itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis di atas berlaku bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika hadiah tersebut karena pekerjaan yang ia lakukan; yang jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa hukum asalnya, hadiah yang diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai yang mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai yang mengurusi urusan khusus seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka hadiah dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk sebab yang terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada berbagai macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)Namun, jika hadiah yang diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم“Tidak boleh memberikan hadiah kepada pekerja berupa uang tip, karena ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun ia memberikan bonus makanan atau bonus pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan uang tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pelanggan tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pelanggan dengan kadar pelayanan yang sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari uang tip ini, maka tidak mengapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk berbuat baik kepada pegawai ini, dikarenakan ia orang miskin yang membutuhkan dan Anda bukan orang yang bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)Oleh karena itu, uang tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena uang tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, hadiah atau uang tip boleh diambil jika terpenuhi:Bukan pegawai negeri;Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pelanggan tertentu dan pelanggaran amanah;Diizinkan oleh perusahaan.Adapun pegawai atau penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, uang tip, dan semua bentuk gratifikasi. Dan sebagaimana hadis “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara yang menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa yang sama dan hukuman yang sama seperti pelaku ghulul.Korupsi tidak sama dengan mencuriPelaku korupsi tidak dijatuhkan hukuman potong tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika barang yang dicuri adalah sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,لا تقطع اليد في تمر معلق“Tidak dipotong tangan pencuri apabila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر“Para ahli fikih sepakat bahwa hukuman potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi hukuman potong tangan sebagaimana yang ada dalam ayat,وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)Dampak harta haramKaum Muslmimin, perlu diingat bahwa harta hasil korupsi adalah harta haram dan akan membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga akan mendapatkan banyak bahaya:Menjadi sesatAllah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja yang menerjang perkara yang Allah haramkan demi kenikmatan dunia dan meninggalkan yang halal, maka ia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)Menjerumuskan ke nerakaHarta haram akan menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ“Sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)Hilangnya keberkahanHarta yang haram akan Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun harta itu banyak dan melimpah, namun akan hilang atau sedikit kebaikan yang bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang harta riba,يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ“Allah akan menghancurkan keberkahan harta riba, dan mengembangkan keberkahan orang yang bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan harta haramIbadah yang dilakukan dengan harta haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa yang dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim no. 1015)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ“Tidak akan diterima salat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)Doanya tertolakDalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebutkan seorang yang safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari harta yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Akan diadili di hari kiamatRasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)Dan masih banyak bahaya lainnya di dunia disebabkan oleh harta haram. Lalu bagaimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.Sudah kaya kok masih korupsi?Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja masih korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas kalau kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)Keserakahan manusia terhadap harta lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِعلى المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; ia berkata, “hasan shahih.”)Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, akan selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)Oleh karena itu, waspadalah terhadap fitnah harta. Jadikan akhirat sebagai tujuan.Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk korupsi dan harta yang haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan harta yang halal dan berkah.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam. Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Prev     Next