Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Ia Akan Diuji

Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apakah benar bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka ia akan diuji, karena kami sering mendengar pernyataan ini?Jawab:Benar, terdapat dalam sebuah hadits:إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”Dalam riwayat lain,الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/8751Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Anak Yatim, Sholat Di Raudhah, Sufi Tasawuf, Mencintai Wanita Dalam Islam, Doa Yang Paling Mujarab

Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Ia Akan Diuji

Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apakah benar bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka ia akan diuji, karena kami sering mendengar pernyataan ini?Jawab:Benar, terdapat dalam sebuah hadits:إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”Dalam riwayat lain,الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/8751Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Anak Yatim, Sholat Di Raudhah, Sufi Tasawuf, Mencintai Wanita Dalam Islam, Doa Yang Paling Mujarab
Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apakah benar bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka ia akan diuji, karena kami sering mendengar pernyataan ini?Jawab:Benar, terdapat dalam sebuah hadits:إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”Dalam riwayat lain,الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/8751Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Anak Yatim, Sholat Di Raudhah, Sufi Tasawuf, Mencintai Wanita Dalam Islam, Doa Yang Paling Mujarab


Syaikh Abdul Aziz bin BazSoal:Apakah benar bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka ia akan diuji, karena kami sering mendengar pernyataan ini?Jawab:Benar, terdapat dalam sebuah hadits:إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”Dalam riwayat lain,الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/8751Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Anak Yatim, Sholat Di Raudhah, Sufi Tasawuf, Mencintai Wanita Dalam Islam, Doa Yang Paling Mujarab

Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang Bertakwa

Kita sedang berjalan di atas sebuah jalan kehidupan. Menyusuri waktu demi waktu. Tertoreh berbagai kisah dalam lembaran kita. Canda, tawa, tangis dan air mata mengisi di antara lipatan cerita. Kisah pilu hingga heroik mungkin pernah mewarnai hari – hari. Berbagai ujian datang menguji ketegaran dan keteguhan keimanan. Sekencang apapun kita berlari dan bersembunyi, ujian akan tiba di sebuah titik di jalan yang kita tak pernah tahu itu sebelumnya.Jalan kita berbagai bentuk sesuai dengan ketentuan Nya. Ada kalanya jalan itu datar dan mulus, namun tak jarang pula jalan berkelok, berkerikil bahkan berduri. Namun, benarkah ada jalan buntu??Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahUjian Pasti DatangAllah ta’ala berfirmanكُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 35)Al Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” adalah Allah akan menguji manusia dengan musibah dan juga nikmat untuk melihat siapakah di antara hamba Nya yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa, sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342)Saat jalan kita mulus, bukan berarti kita tak diuji. Kemudahan itu juga merupakan ujian. Apakah di saat jalan kita tanpa duri kita masih mengingat Allah ta’ala? Apakah kita mensyukuri nikmat dari Nya? Apakah kita memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk ketaatan? Atau malah menggunakannya dalam berbagai kemaksiatan?Begitu pula saat jalan kita berkelok dan banyak rintangan yang kita hadapi. Apakah kita akan bersabar? Mampukah kita ridho dengan ketentuan dari Nya? Akankah kita memohon ampun atas dosa yang pernah kita perbuat? Apakah kita lantas bersimpuh dan sujud kepada Nya? Ataukah kita malah berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allah? Akankah kita malah semakin menjauh dari Allah ta’ala dan menambah kemaksiatan?Jalan tanpa hambatan bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Bukan pula parameter kebahagiaan  dalam kamus kehidupan. Lihatlah betapa terjal dan curamnya jalan yang harus dilalui oleh para Nabi dan Rasul, namun mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia. Jadi, beban yang sedang kita pikul bukanlah alasan bagi kita untuk seolah menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini.Baca Juga: Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-LakiJalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaDi saat semakin hari beban terasa semakin berat, pikiran terasa semakin penat, hujan kesedihan semakin lebat, dan jiwa terasa semakin terikat kuat, apakah saatnya kita bertekuk lutut dengan ini semua?? Tidak, karena Allah ta’ala telah berjanji :فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ وَأَشۡهِدُواْ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)Selama seseorang istiqomah melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang Nya, Allah ta’ala pasti akan memberinya jalan keluar. Syaikh As Sa’di menjelaskan terkait ayat tersebut bahwa Allah akan membalas dengan kebaikan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan mengutamakan keridhaan Allah dalam semua keadaannya. Allah ta’ala akan memberikan kelapangan dan jalan keluar dari setiap kesulitan dan kesempitan. Dan sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan terjatuh ke dalam kesempitan, beban dan belenggu. (Tafsir As Sa’di : 869/1)Baca Juga: Ujian Keimanan Di Balik MendoanJalan buntu Itu Tak Ada“Benarkah ada jalan buntu??”Terjawab sudah pertanyaan tersebut. Tak ada jalan buntu selama kita bertakwa kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala sendiri yang mengatakannya. Adakah perkataan yang lebih benar dibandingkan perkataan Dzat yang telah menciptakan alam semesta? Tentu tidak ada. Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu, termasuk ujian itu, maka Dia pula yang paling tahu apa dan bagaimana jalan keluarnya.Kita boleh bersedih, tapi jangan berlarut – larut dan jangan sampai berputus asa. Bisa saja kita merasa masalah kita sangat berat, tapi ingatlah bahwa ujian terberat adalah ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul. Semakin kuat iman seseorang maka semakin berat pula ujiannya. Namun pada realitanya, apakah Nabi dan Rasul pernah sampai stress?? Jawabannya ‘tidak’, karena mereka mengetahui ilmunya, mereka tahu bagaimana cara mengatasi permasalahan dan ujian.Apakah mereka tidak bersedih? Tidak perlu ditanyakan, karena kita ingat betul bagaimana sedihnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam  saat terus ditentang dan disakiti kaum musyrikin di saat hatinya pilu dengan kematian Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Pun dengan kisah sedih yang pernah dialami Nabi dan Rasul lainnya. Sebagai pelipur lara pula, kita harus senantiasa ingat bahwa pahala bersabar itu tanpa batas. Di sinilah saat yang tepat bagi kita untuk mengamalkan ibadah ini.إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)Kita juga harus senantiasa ingat bahwa seberat apapun ujian yang kita hadapi saat ini, suatu saat ujian itu akan berlalu. Bukankah kita pernah dijejali dengan slogan “badai pasti berlalu”? Ya, di suatu hari nanti, hari – hari berat ini akan menjadi sejarah dan bukti seberapa teguh iman kita. Hari – hari ini hanyalah hari – hari pendek tempat mengumpulkan bekal. Oleh karenanya tetaplah bersemangat menjalani, memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dan senantiasa berprasangka baik kepada Nya. Bilal bin Sa’ad rahimahullaahu berkata:عِبَادَ اللهِ، إِعْلَمُوا أَنَّكُمْ تَعْلَمُوْنَ فِي أَيَّامٍ قِصَارٍ لِأَيَّامٍ طُوَالٍ، وَ فِي دَارِ زَوَالٍ لِدَارِ مَقَامٍ، وَفِي دَارِ نَصَبٍ وَ حُزْنٍ لِدَارِ نَعِيْمٍ وَ خُلْدٍ“Wahai hamba Allah, ketahuilah sesungguhnya kalian hanya beramal pada hari – hari yang pendek untuk hari – hari yang panjang. Kalian hanya beramal di negeri yang akan lenyap untuk negeri yang menjadi tempat tinggal, di negeri penderitaan dan kesedihan untuk negeri kenikmatan dan keabadian.“ (Shifatu shafwah, 2/377)Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang Bertakwa

Kita sedang berjalan di atas sebuah jalan kehidupan. Menyusuri waktu demi waktu. Tertoreh berbagai kisah dalam lembaran kita. Canda, tawa, tangis dan air mata mengisi di antara lipatan cerita. Kisah pilu hingga heroik mungkin pernah mewarnai hari – hari. Berbagai ujian datang menguji ketegaran dan keteguhan keimanan. Sekencang apapun kita berlari dan bersembunyi, ujian akan tiba di sebuah titik di jalan yang kita tak pernah tahu itu sebelumnya.Jalan kita berbagai bentuk sesuai dengan ketentuan Nya. Ada kalanya jalan itu datar dan mulus, namun tak jarang pula jalan berkelok, berkerikil bahkan berduri. Namun, benarkah ada jalan buntu??Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahUjian Pasti DatangAllah ta’ala berfirmanكُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 35)Al Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” adalah Allah akan menguji manusia dengan musibah dan juga nikmat untuk melihat siapakah di antara hamba Nya yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa, sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342)Saat jalan kita mulus, bukan berarti kita tak diuji. Kemudahan itu juga merupakan ujian. Apakah di saat jalan kita tanpa duri kita masih mengingat Allah ta’ala? Apakah kita mensyukuri nikmat dari Nya? Apakah kita memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk ketaatan? Atau malah menggunakannya dalam berbagai kemaksiatan?Begitu pula saat jalan kita berkelok dan banyak rintangan yang kita hadapi. Apakah kita akan bersabar? Mampukah kita ridho dengan ketentuan dari Nya? Akankah kita memohon ampun atas dosa yang pernah kita perbuat? Apakah kita lantas bersimpuh dan sujud kepada Nya? Ataukah kita malah berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allah? Akankah kita malah semakin menjauh dari Allah ta’ala dan menambah kemaksiatan?Jalan tanpa hambatan bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Bukan pula parameter kebahagiaan  dalam kamus kehidupan. Lihatlah betapa terjal dan curamnya jalan yang harus dilalui oleh para Nabi dan Rasul, namun mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia. Jadi, beban yang sedang kita pikul bukanlah alasan bagi kita untuk seolah menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini.Baca Juga: Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-LakiJalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaDi saat semakin hari beban terasa semakin berat, pikiran terasa semakin penat, hujan kesedihan semakin lebat, dan jiwa terasa semakin terikat kuat, apakah saatnya kita bertekuk lutut dengan ini semua?? Tidak, karena Allah ta’ala telah berjanji :فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ وَأَشۡهِدُواْ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)Selama seseorang istiqomah melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang Nya, Allah ta’ala pasti akan memberinya jalan keluar. Syaikh As Sa’di menjelaskan terkait ayat tersebut bahwa Allah akan membalas dengan kebaikan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan mengutamakan keridhaan Allah dalam semua keadaannya. Allah ta’ala akan memberikan kelapangan dan jalan keluar dari setiap kesulitan dan kesempitan. Dan sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan terjatuh ke dalam kesempitan, beban dan belenggu. (Tafsir As Sa’di : 869/1)Baca Juga: Ujian Keimanan Di Balik MendoanJalan buntu Itu Tak Ada“Benarkah ada jalan buntu??”Terjawab sudah pertanyaan tersebut. Tak ada jalan buntu selama kita bertakwa kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala sendiri yang mengatakannya. Adakah perkataan yang lebih benar dibandingkan perkataan Dzat yang telah menciptakan alam semesta? Tentu tidak ada. Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu, termasuk ujian itu, maka Dia pula yang paling tahu apa dan bagaimana jalan keluarnya.Kita boleh bersedih, tapi jangan berlarut – larut dan jangan sampai berputus asa. Bisa saja kita merasa masalah kita sangat berat, tapi ingatlah bahwa ujian terberat adalah ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul. Semakin kuat iman seseorang maka semakin berat pula ujiannya. Namun pada realitanya, apakah Nabi dan Rasul pernah sampai stress?? Jawabannya ‘tidak’, karena mereka mengetahui ilmunya, mereka tahu bagaimana cara mengatasi permasalahan dan ujian.Apakah mereka tidak bersedih? Tidak perlu ditanyakan, karena kita ingat betul bagaimana sedihnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam  saat terus ditentang dan disakiti kaum musyrikin di saat hatinya pilu dengan kematian Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Pun dengan kisah sedih yang pernah dialami Nabi dan Rasul lainnya. Sebagai pelipur lara pula, kita harus senantiasa ingat bahwa pahala bersabar itu tanpa batas. Di sinilah saat yang tepat bagi kita untuk mengamalkan ibadah ini.إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)Kita juga harus senantiasa ingat bahwa seberat apapun ujian yang kita hadapi saat ini, suatu saat ujian itu akan berlalu. Bukankah kita pernah dijejali dengan slogan “badai pasti berlalu”? Ya, di suatu hari nanti, hari – hari berat ini akan menjadi sejarah dan bukti seberapa teguh iman kita. Hari – hari ini hanyalah hari – hari pendek tempat mengumpulkan bekal. Oleh karenanya tetaplah bersemangat menjalani, memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dan senantiasa berprasangka baik kepada Nya. Bilal bin Sa’ad rahimahullaahu berkata:عِبَادَ اللهِ، إِعْلَمُوا أَنَّكُمْ تَعْلَمُوْنَ فِي أَيَّامٍ قِصَارٍ لِأَيَّامٍ طُوَالٍ، وَ فِي دَارِ زَوَالٍ لِدَارِ مَقَامٍ، وَفِي دَارِ نَصَبٍ وَ حُزْنٍ لِدَارِ نَعِيْمٍ وَ خُلْدٍ“Wahai hamba Allah, ketahuilah sesungguhnya kalian hanya beramal pada hari – hari yang pendek untuk hari – hari yang panjang. Kalian hanya beramal di negeri yang akan lenyap untuk negeri yang menjadi tempat tinggal, di negeri penderitaan dan kesedihan untuk negeri kenikmatan dan keabadian.“ (Shifatu shafwah, 2/377)Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Kita sedang berjalan di atas sebuah jalan kehidupan. Menyusuri waktu demi waktu. Tertoreh berbagai kisah dalam lembaran kita. Canda, tawa, tangis dan air mata mengisi di antara lipatan cerita. Kisah pilu hingga heroik mungkin pernah mewarnai hari – hari. Berbagai ujian datang menguji ketegaran dan keteguhan keimanan. Sekencang apapun kita berlari dan bersembunyi, ujian akan tiba di sebuah titik di jalan yang kita tak pernah tahu itu sebelumnya.Jalan kita berbagai bentuk sesuai dengan ketentuan Nya. Ada kalanya jalan itu datar dan mulus, namun tak jarang pula jalan berkelok, berkerikil bahkan berduri. Namun, benarkah ada jalan buntu??Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahUjian Pasti DatangAllah ta’ala berfirmanكُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 35)Al Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” adalah Allah akan menguji manusia dengan musibah dan juga nikmat untuk melihat siapakah di antara hamba Nya yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa, sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342)Saat jalan kita mulus, bukan berarti kita tak diuji. Kemudahan itu juga merupakan ujian. Apakah di saat jalan kita tanpa duri kita masih mengingat Allah ta’ala? Apakah kita mensyukuri nikmat dari Nya? Apakah kita memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk ketaatan? Atau malah menggunakannya dalam berbagai kemaksiatan?Begitu pula saat jalan kita berkelok dan banyak rintangan yang kita hadapi. Apakah kita akan bersabar? Mampukah kita ridho dengan ketentuan dari Nya? Akankah kita memohon ampun atas dosa yang pernah kita perbuat? Apakah kita lantas bersimpuh dan sujud kepada Nya? Ataukah kita malah berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allah? Akankah kita malah semakin menjauh dari Allah ta’ala dan menambah kemaksiatan?Jalan tanpa hambatan bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Bukan pula parameter kebahagiaan  dalam kamus kehidupan. Lihatlah betapa terjal dan curamnya jalan yang harus dilalui oleh para Nabi dan Rasul, namun mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia. Jadi, beban yang sedang kita pikul bukanlah alasan bagi kita untuk seolah menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini.Baca Juga: Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-LakiJalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaDi saat semakin hari beban terasa semakin berat, pikiran terasa semakin penat, hujan kesedihan semakin lebat, dan jiwa terasa semakin terikat kuat, apakah saatnya kita bertekuk lutut dengan ini semua?? Tidak, karena Allah ta’ala telah berjanji :فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ وَأَشۡهِدُواْ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)Selama seseorang istiqomah melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang Nya, Allah ta’ala pasti akan memberinya jalan keluar. Syaikh As Sa’di menjelaskan terkait ayat tersebut bahwa Allah akan membalas dengan kebaikan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan mengutamakan keridhaan Allah dalam semua keadaannya. Allah ta’ala akan memberikan kelapangan dan jalan keluar dari setiap kesulitan dan kesempitan. Dan sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan terjatuh ke dalam kesempitan, beban dan belenggu. (Tafsir As Sa’di : 869/1)Baca Juga: Ujian Keimanan Di Balik MendoanJalan buntu Itu Tak Ada“Benarkah ada jalan buntu??”Terjawab sudah pertanyaan tersebut. Tak ada jalan buntu selama kita bertakwa kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala sendiri yang mengatakannya. Adakah perkataan yang lebih benar dibandingkan perkataan Dzat yang telah menciptakan alam semesta? Tentu tidak ada. Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu, termasuk ujian itu, maka Dia pula yang paling tahu apa dan bagaimana jalan keluarnya.Kita boleh bersedih, tapi jangan berlarut – larut dan jangan sampai berputus asa. Bisa saja kita merasa masalah kita sangat berat, tapi ingatlah bahwa ujian terberat adalah ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul. Semakin kuat iman seseorang maka semakin berat pula ujiannya. Namun pada realitanya, apakah Nabi dan Rasul pernah sampai stress?? Jawabannya ‘tidak’, karena mereka mengetahui ilmunya, mereka tahu bagaimana cara mengatasi permasalahan dan ujian.Apakah mereka tidak bersedih? Tidak perlu ditanyakan, karena kita ingat betul bagaimana sedihnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam  saat terus ditentang dan disakiti kaum musyrikin di saat hatinya pilu dengan kematian Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Pun dengan kisah sedih yang pernah dialami Nabi dan Rasul lainnya. Sebagai pelipur lara pula, kita harus senantiasa ingat bahwa pahala bersabar itu tanpa batas. Di sinilah saat yang tepat bagi kita untuk mengamalkan ibadah ini.إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)Kita juga harus senantiasa ingat bahwa seberat apapun ujian yang kita hadapi saat ini, suatu saat ujian itu akan berlalu. Bukankah kita pernah dijejali dengan slogan “badai pasti berlalu”? Ya, di suatu hari nanti, hari – hari berat ini akan menjadi sejarah dan bukti seberapa teguh iman kita. Hari – hari ini hanyalah hari – hari pendek tempat mengumpulkan bekal. Oleh karenanya tetaplah bersemangat menjalani, memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dan senantiasa berprasangka baik kepada Nya. Bilal bin Sa’ad rahimahullaahu berkata:عِبَادَ اللهِ، إِعْلَمُوا أَنَّكُمْ تَعْلَمُوْنَ فِي أَيَّامٍ قِصَارٍ لِأَيَّامٍ طُوَالٍ، وَ فِي دَارِ زَوَالٍ لِدَارِ مَقَامٍ، وَفِي دَارِ نَصَبٍ وَ حُزْنٍ لِدَارِ نَعِيْمٍ وَ خُلْدٍ“Wahai hamba Allah, ketahuilah sesungguhnya kalian hanya beramal pada hari – hari yang pendek untuk hari – hari yang panjang. Kalian hanya beramal di negeri yang akan lenyap untuk negeri yang menjadi tempat tinggal, di negeri penderitaan dan kesedihan untuk negeri kenikmatan dan keabadian.“ (Shifatu shafwah, 2/377)Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Kita sedang berjalan di atas sebuah jalan kehidupan. Menyusuri waktu demi waktu. Tertoreh berbagai kisah dalam lembaran kita. Canda, tawa, tangis dan air mata mengisi di antara lipatan cerita. Kisah pilu hingga heroik mungkin pernah mewarnai hari – hari. Berbagai ujian datang menguji ketegaran dan keteguhan keimanan. Sekencang apapun kita berlari dan bersembunyi, ujian akan tiba di sebuah titik di jalan yang kita tak pernah tahu itu sebelumnya.Jalan kita berbagai bentuk sesuai dengan ketentuan Nya. Ada kalanya jalan itu datar dan mulus, namun tak jarang pula jalan berkelok, berkerikil bahkan berduri. Namun, benarkah ada jalan buntu??Baca Juga: Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota MadinahUjian Pasti DatangAllah ta’ala berfirmanكُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 35)Al Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” adalah Allah akan menguji manusia dengan musibah dan juga nikmat untuk melihat siapakah di antara hamba Nya yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa, sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342)Saat jalan kita mulus, bukan berarti kita tak diuji. Kemudahan itu juga merupakan ujian. Apakah di saat jalan kita tanpa duri kita masih mengingat Allah ta’ala? Apakah kita mensyukuri nikmat dari Nya? Apakah kita memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk ketaatan? Atau malah menggunakannya dalam berbagai kemaksiatan?Begitu pula saat jalan kita berkelok dan banyak rintangan yang kita hadapi. Apakah kita akan bersabar? Mampukah kita ridho dengan ketentuan dari Nya? Akankah kita memohon ampun atas dosa yang pernah kita perbuat? Apakah kita lantas bersimpuh dan sujud kepada Nya? Ataukah kita malah berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allah? Akankah kita malah semakin menjauh dari Allah ta’ala dan menambah kemaksiatan?Jalan tanpa hambatan bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Bukan pula parameter kebahagiaan  dalam kamus kehidupan. Lihatlah betapa terjal dan curamnya jalan yang harus dilalui oleh para Nabi dan Rasul, namun mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia. Jadi, beban yang sedang kita pikul bukanlah alasan bagi kita untuk seolah menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini.Baca Juga: Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-LakiJalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaDi saat semakin hari beban terasa semakin berat, pikiran terasa semakin penat, hujan kesedihan semakin lebat, dan jiwa terasa semakin terikat kuat, apakah saatnya kita bertekuk lutut dengan ini semua?? Tidak, karena Allah ta’ala telah berjanji :فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ وَأَشۡهِدُواْ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)Selama seseorang istiqomah melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang Nya, Allah ta’ala pasti akan memberinya jalan keluar. Syaikh As Sa’di menjelaskan terkait ayat tersebut bahwa Allah akan membalas dengan kebaikan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan mengutamakan keridhaan Allah dalam semua keadaannya. Allah ta’ala akan memberikan kelapangan dan jalan keluar dari setiap kesulitan dan kesempitan. Dan sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan terjatuh ke dalam kesempitan, beban dan belenggu. (Tafsir As Sa’di : 869/1)Baca Juga: Ujian Keimanan Di Balik MendoanJalan buntu Itu Tak Ada“Benarkah ada jalan buntu??”Terjawab sudah pertanyaan tersebut. Tak ada jalan buntu selama kita bertakwa kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala sendiri yang mengatakannya. Adakah perkataan yang lebih benar dibandingkan perkataan Dzat yang telah menciptakan alam semesta? Tentu tidak ada. Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu, termasuk ujian itu, maka Dia pula yang paling tahu apa dan bagaimana jalan keluarnya.Kita boleh bersedih, tapi jangan berlarut – larut dan jangan sampai berputus asa. Bisa saja kita merasa masalah kita sangat berat, tapi ingatlah bahwa ujian terberat adalah ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul. Semakin kuat iman seseorang maka semakin berat pula ujiannya. Namun pada realitanya, apakah Nabi dan Rasul pernah sampai stress?? Jawabannya ‘tidak’, karena mereka mengetahui ilmunya, mereka tahu bagaimana cara mengatasi permasalahan dan ujian.Apakah mereka tidak bersedih? Tidak perlu ditanyakan, karena kita ingat betul bagaimana sedihnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam  saat terus ditentang dan disakiti kaum musyrikin di saat hatinya pilu dengan kematian Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Pun dengan kisah sedih yang pernah dialami Nabi dan Rasul lainnya. Sebagai pelipur lara pula, kita harus senantiasa ingat bahwa pahala bersabar itu tanpa batas. Di sinilah saat yang tepat bagi kita untuk mengamalkan ibadah ini.إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)Kita juga harus senantiasa ingat bahwa seberat apapun ujian yang kita hadapi saat ini, suatu saat ujian itu akan berlalu. Bukankah kita pernah dijejali dengan slogan “badai pasti berlalu”? Ya, di suatu hari nanti, hari – hari berat ini akan menjadi sejarah dan bukti seberapa teguh iman kita. Hari – hari ini hanyalah hari – hari pendek tempat mengumpulkan bekal. Oleh karenanya tetaplah bersemangat menjalani, memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dan senantiasa berprasangka baik kepada Nya. Bilal bin Sa’ad rahimahullaahu berkata:عِبَادَ اللهِ، إِعْلَمُوا أَنَّكُمْ تَعْلَمُوْنَ فِي أَيَّامٍ قِصَارٍ لِأَيَّامٍ طُوَالٍ، وَ فِي دَارِ زَوَالٍ لِدَارِ مَقَامٍ، وَفِي دَارِ نَصَبٍ وَ حُزْنٍ لِدَارِ نَعِيْمٍ وَ خُلْدٍ“Wahai hamba Allah, ketahuilah sesungguhnya kalian hanya beramal pada hari – hari yang pendek untuk hari – hari yang panjang. Kalian hanya beramal di negeri yang akan lenyap untuk negeri yang menjadi tempat tinggal, di negeri penderitaan dan kesedihan untuk negeri kenikmatan dan keabadian.“ (Shifatu shafwah, 2/377)Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.Baca Juga:Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Ujian Atau Adzab?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-Pertanyaan:Apabila seseorang ditimpa suatu musibah seperti penyakit atau musibah pada diri atau hartanya, maka bagaimana dia bisa mengetahui musibah itu ujian atau kemurkaan dari Allah Ta’ala?Jawab:Allah memberikan musibah kepada hambanya berupa kelapangan, kesempitan, kesusahan dan kelapangan, sebagai cobaan kepada hambanya untuk mengangkat derajatnya, meninggikan kedudukannya, dan melipat gandakan kebaikan-kebaikan untuknya. Sebagaimana cobaan yang dihadapi oleh para Nabi dan Rasul alaihimus shalatu was salam dan para hamba-hambanya yang saleh. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal, dan semisalnya” (HR. At Tirmidzi no. 2398, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.143).Baca Juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainTerkadang Allah Ta’ala menimpakan musibah diakibatkan oleh dosa dan maksiat yang diperbuat hamba, maka jadilah cobaan yang dihadapinya tersebut sebagai hukuman yang disegerakan oleh Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30).Umumnya manusia itu berbuat kesalahan dan tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan, maka musibah yang menimpanya adalah disebabkan dosa dan maksiat terhadap perintah Allah Ta’ala. Apabila salah seorang dari hamba Allah yang saleh diuji dengan suatu cobaan seperti sakit dan lain-lain, maka cobaannya ini sejenis dengan cobaan para nabi dan rasul yang fungsinya adalah untuk menaikkan derajatnya, membesarkan pahalanya, dan sebagai teladan bagi orang lain dalam hal kesabaran dan mengharapkan pahala.Kesimpulannya bahwa musibah bisa terjadi dalam rangka untuk mengangkat derajat dan membesarkan pahala sebagaimana musibah yang dihadapi oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh. Terkadang musibah bisa menjadi penghapus keburukan. Allah Ta’ala berfirman, مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه“Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu” (QS. An-Nisa’: 123).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :ما أصاب المسلم من هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها“Tidaklah menimpa kepada seorang muslim berupa kegelisahan, kesukaran, kesulitan, kesedihan, dan gangguan kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya meskipun berupa duri yang menusukknya sekalipun” (HR. Bukhari no.5641).Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُصِبْ منه“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan mengujinya” (HR. Bukhari no. 5645).Dan terkadang hukuman azab yang disegerakan disebabkan oleh maksiat yang diperbuat dan tidak bersegera dalam bertaubat. Sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة,  خرجه الترمذي وحسنه“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka Allah akan menyegerakan hukuman di dunia untuknya dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambanya, maka Allah akan menahan hukumannya di dunia dengan membiarkan dosanya sampai dibalas di hari kiamat” (HR. At Tirmidzi no.2396, ia menghasankannya. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga:*** Sumber binbaz.org.sa Penerjemah: Muhammad Bimo PArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Tasyahud Awal, Perjalanan Ruh Bayi Setelah Meninggal, Doa Agar Orang Bisa Kesurupan, Bacaan Ibadah Umroh, Pakaian Tipis

Ujian Atau Adzab?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-Pertanyaan:Apabila seseorang ditimpa suatu musibah seperti penyakit atau musibah pada diri atau hartanya, maka bagaimana dia bisa mengetahui musibah itu ujian atau kemurkaan dari Allah Ta’ala?Jawab:Allah memberikan musibah kepada hambanya berupa kelapangan, kesempitan, kesusahan dan kelapangan, sebagai cobaan kepada hambanya untuk mengangkat derajatnya, meninggikan kedudukannya, dan melipat gandakan kebaikan-kebaikan untuknya. Sebagaimana cobaan yang dihadapi oleh para Nabi dan Rasul alaihimus shalatu was salam dan para hamba-hambanya yang saleh. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal, dan semisalnya” (HR. At Tirmidzi no. 2398, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.143).Baca Juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainTerkadang Allah Ta’ala menimpakan musibah diakibatkan oleh dosa dan maksiat yang diperbuat hamba, maka jadilah cobaan yang dihadapinya tersebut sebagai hukuman yang disegerakan oleh Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30).Umumnya manusia itu berbuat kesalahan dan tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan, maka musibah yang menimpanya adalah disebabkan dosa dan maksiat terhadap perintah Allah Ta’ala. Apabila salah seorang dari hamba Allah yang saleh diuji dengan suatu cobaan seperti sakit dan lain-lain, maka cobaannya ini sejenis dengan cobaan para nabi dan rasul yang fungsinya adalah untuk menaikkan derajatnya, membesarkan pahalanya, dan sebagai teladan bagi orang lain dalam hal kesabaran dan mengharapkan pahala.Kesimpulannya bahwa musibah bisa terjadi dalam rangka untuk mengangkat derajat dan membesarkan pahala sebagaimana musibah yang dihadapi oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh. Terkadang musibah bisa menjadi penghapus keburukan. Allah Ta’ala berfirman, مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه“Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu” (QS. An-Nisa’: 123).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :ما أصاب المسلم من هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها“Tidaklah menimpa kepada seorang muslim berupa kegelisahan, kesukaran, kesulitan, kesedihan, dan gangguan kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya meskipun berupa duri yang menusukknya sekalipun” (HR. Bukhari no.5641).Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُصِبْ منه“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan mengujinya” (HR. Bukhari no. 5645).Dan terkadang hukuman azab yang disegerakan disebabkan oleh maksiat yang diperbuat dan tidak bersegera dalam bertaubat. Sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة,  خرجه الترمذي وحسنه“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka Allah akan menyegerakan hukuman di dunia untuknya dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambanya, maka Allah akan menahan hukumannya di dunia dengan membiarkan dosanya sampai dibalas di hari kiamat” (HR. At Tirmidzi no.2396, ia menghasankannya. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga:*** Sumber binbaz.org.sa Penerjemah: Muhammad Bimo PArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Tasyahud Awal, Perjalanan Ruh Bayi Setelah Meninggal, Doa Agar Orang Bisa Kesurupan, Bacaan Ibadah Umroh, Pakaian Tipis
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-Pertanyaan:Apabila seseorang ditimpa suatu musibah seperti penyakit atau musibah pada diri atau hartanya, maka bagaimana dia bisa mengetahui musibah itu ujian atau kemurkaan dari Allah Ta’ala?Jawab:Allah memberikan musibah kepada hambanya berupa kelapangan, kesempitan, kesusahan dan kelapangan, sebagai cobaan kepada hambanya untuk mengangkat derajatnya, meninggikan kedudukannya, dan melipat gandakan kebaikan-kebaikan untuknya. Sebagaimana cobaan yang dihadapi oleh para Nabi dan Rasul alaihimus shalatu was salam dan para hamba-hambanya yang saleh. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal, dan semisalnya” (HR. At Tirmidzi no. 2398, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.143).Baca Juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainTerkadang Allah Ta’ala menimpakan musibah diakibatkan oleh dosa dan maksiat yang diperbuat hamba, maka jadilah cobaan yang dihadapinya tersebut sebagai hukuman yang disegerakan oleh Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30).Umumnya manusia itu berbuat kesalahan dan tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan, maka musibah yang menimpanya adalah disebabkan dosa dan maksiat terhadap perintah Allah Ta’ala. Apabila salah seorang dari hamba Allah yang saleh diuji dengan suatu cobaan seperti sakit dan lain-lain, maka cobaannya ini sejenis dengan cobaan para nabi dan rasul yang fungsinya adalah untuk menaikkan derajatnya, membesarkan pahalanya, dan sebagai teladan bagi orang lain dalam hal kesabaran dan mengharapkan pahala.Kesimpulannya bahwa musibah bisa terjadi dalam rangka untuk mengangkat derajat dan membesarkan pahala sebagaimana musibah yang dihadapi oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh. Terkadang musibah bisa menjadi penghapus keburukan. Allah Ta’ala berfirman, مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه“Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu” (QS. An-Nisa’: 123).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :ما أصاب المسلم من هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها“Tidaklah menimpa kepada seorang muslim berupa kegelisahan, kesukaran, kesulitan, kesedihan, dan gangguan kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya meskipun berupa duri yang menusukknya sekalipun” (HR. Bukhari no.5641).Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُصِبْ منه“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan mengujinya” (HR. Bukhari no. 5645).Dan terkadang hukuman azab yang disegerakan disebabkan oleh maksiat yang diperbuat dan tidak bersegera dalam bertaubat. Sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة,  خرجه الترمذي وحسنه“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka Allah akan menyegerakan hukuman di dunia untuknya dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambanya, maka Allah akan menahan hukumannya di dunia dengan membiarkan dosanya sampai dibalas di hari kiamat” (HR. At Tirmidzi no.2396, ia menghasankannya. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga:*** Sumber binbaz.org.sa Penerjemah: Muhammad Bimo PArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Tasyahud Awal, Perjalanan Ruh Bayi Setelah Meninggal, Doa Agar Orang Bisa Kesurupan, Bacaan Ibadah Umroh, Pakaian Tipis


Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-Pertanyaan:Apabila seseorang ditimpa suatu musibah seperti penyakit atau musibah pada diri atau hartanya, maka bagaimana dia bisa mengetahui musibah itu ujian atau kemurkaan dari Allah Ta’ala?Jawab:Allah memberikan musibah kepada hambanya berupa kelapangan, kesempitan, kesusahan dan kelapangan, sebagai cobaan kepada hambanya untuk mengangkat derajatnya, meninggikan kedudukannya, dan melipat gandakan kebaikan-kebaikan untuknya. Sebagaimana cobaan yang dihadapi oleh para Nabi dan Rasul alaihimus shalatu was salam dan para hamba-hambanya yang saleh. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal, dan semisalnya” (HR. At Tirmidzi no. 2398, dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.143).Baca Juga: Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang LainTerkadang Allah Ta’ala menimpakan musibah diakibatkan oleh dosa dan maksiat yang diperbuat hamba, maka jadilah cobaan yang dihadapinya tersebut sebagai hukuman yang disegerakan oleh Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30).Umumnya manusia itu berbuat kesalahan dan tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan, maka musibah yang menimpanya adalah disebabkan dosa dan maksiat terhadap perintah Allah Ta’ala. Apabila salah seorang dari hamba Allah yang saleh diuji dengan suatu cobaan seperti sakit dan lain-lain, maka cobaannya ini sejenis dengan cobaan para nabi dan rasul yang fungsinya adalah untuk menaikkan derajatnya, membesarkan pahalanya, dan sebagai teladan bagi orang lain dalam hal kesabaran dan mengharapkan pahala.Kesimpulannya bahwa musibah bisa terjadi dalam rangka untuk mengangkat derajat dan membesarkan pahala sebagaimana musibah yang dihadapi oleh para nabi, rasul, dan orang-orang saleh. Terkadang musibah bisa menjadi penghapus keburukan. Allah Ta’ala berfirman, مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه“Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu” (QS. An-Nisa’: 123).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :ما أصاب المسلم من هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها“Tidaklah menimpa kepada seorang muslim berupa kegelisahan, kesukaran, kesulitan, kesedihan, dan gangguan kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya meskipun berupa duri yang menusukknya sekalipun” (HR. Bukhari no.5641).Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُصِبْ منه“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan mengujinya” (HR. Bukhari no. 5645).Dan terkadang hukuman azab yang disegerakan disebabkan oleh maksiat yang diperbuat dan tidak bersegera dalam bertaubat. Sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة,  خرجه الترمذي وحسنه“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka Allah akan menyegerakan hukuman di dunia untuknya dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambanya, maka Allah akan menahan hukumannya di dunia dengan membiarkan dosanya sampai dibalas di hari kiamat” (HR. At Tirmidzi no.2396, ia menghasankannya. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Baca Juga:*** Sumber binbaz.org.sa Penerjemah: Muhammad Bimo PArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Tasyahud Awal, Perjalanan Ruh Bayi Setelah Meninggal, Doa Agar Orang Bisa Kesurupan, Bacaan Ibadah Umroh, Pakaian Tipis

Kapan Menyebut “Kafir” dan Kapan Menyebut “Non-Muslim”

Terkait dengan istilah dan penggunaan kata “non-muslim” dan “kafir”, ada dua kelompok yang berlebihan atau ekstrim.Kelompok pertama, mereka mengatakan bahwa tidak boleh sama sekali menggunakan kata “non-muslim”, harus menggunakan kata “kafir”. Asumsi mereka, apabila menggunakan kata “non-muslim”, maka ini bertentangan total dengan Al-Qur’an yang menggunakan kata-kata “kafir.”Kelompok kedua, mereka mengatakan tidak boleh menggunakan “kafir” sama sekali karena ini terkesan kasar, keras, atau bahkan radikal.Pendapat yang pertengahan dan tepat adalah boleh menggunakan kata “kafir” pada kondisi yang sesuai dan menggunakan kata “non-muslim” pada kondisi yang sesuai pula.Inilah yang dimaksud dengan ungkapan,لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ“Setiap ucapan itu ada tempatnya.”Misalnya, ketika dalam pengajian. Kita membahas tentang kafir memakai kata-kata “kafir” serta menyebut mereka dengan “kafir”, ini tidak masalah. Namun, apabila sedang berbicara dengan orang lain kita gunakan “non-muslim”, apabila kondisinya sesuai. Misalnya berkata, “Dia tetangga saya, dia non-muslim.”Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanTentunya kita perlu bijak menggunakan sesuai dengan tempatnya. Perhatikan fatwa berikut ini,هل يجوز الإشارة إلى الكافر باليد والقول له أنت كافر علما بأنه كافر فهل يجوز ذلك“Apakah boleh menunjuk orang kafir dengan tangan dan mengatakan, ‘Hai kamu kafir?’ Perlu diketahui bahwa dia memang kafir (bukan Islam). Apakah boleh seperti ini?Jawab:فلا شك أن من لم يكفر الكافر أو يشك في كفره أنه كافر، وهذا أصل أصيل في الإسلام، إلا أن هذا لا يعني ما ذكره السائل من إسماع الكافر كونه كافراً، بل الغالب أن ذلك يتنافى مع الحكمة،“Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu terhadap kekafiran mereka, maka dia juga kafir. Ini adalah pelajaran sangat mendasar dalam Islam. Akan tetapi, hal ini tidaklah berarti bahwa apa yang disebutkan oleh penanya, yaitu menunjuk dan menyebut ‘kafir’ di depan orang kafir, itu boleh. Bahkan umumnya hal ini bertentangan dengan hikmah (dalam berdakwah).” (Fatwa Islamweb no. 39380, asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih)Mengenai panggilan “kafir” secara langsung kepada orang kafir pada kondisi yang tidak tepat, tentu ini tidak hikmah dalam dakwah. Bisa jadi mereka merasa terganggu dan semakin membuat mereka jauh dari Islam dan bahkan membenci Islam. Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,ﻳَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻌَﺴِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﺑَﺸِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻨَﻔِّﺮُﻭﺍ“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari.” (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734)Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut

Kapan Menyebut “Kafir” dan Kapan Menyebut “Non-Muslim”

Terkait dengan istilah dan penggunaan kata “non-muslim” dan “kafir”, ada dua kelompok yang berlebihan atau ekstrim.Kelompok pertama, mereka mengatakan bahwa tidak boleh sama sekali menggunakan kata “non-muslim”, harus menggunakan kata “kafir”. Asumsi mereka, apabila menggunakan kata “non-muslim”, maka ini bertentangan total dengan Al-Qur’an yang menggunakan kata-kata “kafir.”Kelompok kedua, mereka mengatakan tidak boleh menggunakan “kafir” sama sekali karena ini terkesan kasar, keras, atau bahkan radikal.Pendapat yang pertengahan dan tepat adalah boleh menggunakan kata “kafir” pada kondisi yang sesuai dan menggunakan kata “non-muslim” pada kondisi yang sesuai pula.Inilah yang dimaksud dengan ungkapan,لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ“Setiap ucapan itu ada tempatnya.”Misalnya, ketika dalam pengajian. Kita membahas tentang kafir memakai kata-kata “kafir” serta menyebut mereka dengan “kafir”, ini tidak masalah. Namun, apabila sedang berbicara dengan orang lain kita gunakan “non-muslim”, apabila kondisinya sesuai. Misalnya berkata, “Dia tetangga saya, dia non-muslim.”Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanTentunya kita perlu bijak menggunakan sesuai dengan tempatnya. Perhatikan fatwa berikut ini,هل يجوز الإشارة إلى الكافر باليد والقول له أنت كافر علما بأنه كافر فهل يجوز ذلك“Apakah boleh menunjuk orang kafir dengan tangan dan mengatakan, ‘Hai kamu kafir?’ Perlu diketahui bahwa dia memang kafir (bukan Islam). Apakah boleh seperti ini?Jawab:فلا شك أن من لم يكفر الكافر أو يشك في كفره أنه كافر، وهذا أصل أصيل في الإسلام، إلا أن هذا لا يعني ما ذكره السائل من إسماع الكافر كونه كافراً، بل الغالب أن ذلك يتنافى مع الحكمة،“Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu terhadap kekafiran mereka, maka dia juga kafir. Ini adalah pelajaran sangat mendasar dalam Islam. Akan tetapi, hal ini tidaklah berarti bahwa apa yang disebutkan oleh penanya, yaitu menunjuk dan menyebut ‘kafir’ di depan orang kafir, itu boleh. Bahkan umumnya hal ini bertentangan dengan hikmah (dalam berdakwah).” (Fatwa Islamweb no. 39380, asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih)Mengenai panggilan “kafir” secara langsung kepada orang kafir pada kondisi yang tidak tepat, tentu ini tidak hikmah dalam dakwah. Bisa jadi mereka merasa terganggu dan semakin membuat mereka jauh dari Islam dan bahkan membenci Islam. Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,ﻳَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻌَﺴِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﺑَﺸِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻨَﻔِّﺮُﻭﺍ“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari.” (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734)Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut
Terkait dengan istilah dan penggunaan kata “non-muslim” dan “kafir”, ada dua kelompok yang berlebihan atau ekstrim.Kelompok pertama, mereka mengatakan bahwa tidak boleh sama sekali menggunakan kata “non-muslim”, harus menggunakan kata “kafir”. Asumsi mereka, apabila menggunakan kata “non-muslim”, maka ini bertentangan total dengan Al-Qur’an yang menggunakan kata-kata “kafir.”Kelompok kedua, mereka mengatakan tidak boleh menggunakan “kafir” sama sekali karena ini terkesan kasar, keras, atau bahkan radikal.Pendapat yang pertengahan dan tepat adalah boleh menggunakan kata “kafir” pada kondisi yang sesuai dan menggunakan kata “non-muslim” pada kondisi yang sesuai pula.Inilah yang dimaksud dengan ungkapan,لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ“Setiap ucapan itu ada tempatnya.”Misalnya, ketika dalam pengajian. Kita membahas tentang kafir memakai kata-kata “kafir” serta menyebut mereka dengan “kafir”, ini tidak masalah. Namun, apabila sedang berbicara dengan orang lain kita gunakan “non-muslim”, apabila kondisinya sesuai. Misalnya berkata, “Dia tetangga saya, dia non-muslim.”Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanTentunya kita perlu bijak menggunakan sesuai dengan tempatnya. Perhatikan fatwa berikut ini,هل يجوز الإشارة إلى الكافر باليد والقول له أنت كافر علما بأنه كافر فهل يجوز ذلك“Apakah boleh menunjuk orang kafir dengan tangan dan mengatakan, ‘Hai kamu kafir?’ Perlu diketahui bahwa dia memang kafir (bukan Islam). Apakah boleh seperti ini?Jawab:فلا شك أن من لم يكفر الكافر أو يشك في كفره أنه كافر، وهذا أصل أصيل في الإسلام، إلا أن هذا لا يعني ما ذكره السائل من إسماع الكافر كونه كافراً، بل الغالب أن ذلك يتنافى مع الحكمة،“Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu terhadap kekafiran mereka, maka dia juga kafir. Ini adalah pelajaran sangat mendasar dalam Islam. Akan tetapi, hal ini tidaklah berarti bahwa apa yang disebutkan oleh penanya, yaitu menunjuk dan menyebut ‘kafir’ di depan orang kafir, itu boleh. Bahkan umumnya hal ini bertentangan dengan hikmah (dalam berdakwah).” (Fatwa Islamweb no. 39380, asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih)Mengenai panggilan “kafir” secara langsung kepada orang kafir pada kondisi yang tidak tepat, tentu ini tidak hikmah dalam dakwah. Bisa jadi mereka merasa terganggu dan semakin membuat mereka jauh dari Islam dan bahkan membenci Islam. Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,ﻳَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻌَﺴِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﺑَﺸِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻨَﻔِّﺮُﻭﺍ“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari.” (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734)Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut


Terkait dengan istilah dan penggunaan kata “non-muslim” dan “kafir”, ada dua kelompok yang berlebihan atau ekstrim.Kelompok pertama, mereka mengatakan bahwa tidak boleh sama sekali menggunakan kata “non-muslim”, harus menggunakan kata “kafir”. Asumsi mereka, apabila menggunakan kata “non-muslim”, maka ini bertentangan total dengan Al-Qur’an yang menggunakan kata-kata “kafir.”Kelompok kedua, mereka mengatakan tidak boleh menggunakan “kafir” sama sekali karena ini terkesan kasar, keras, atau bahkan radikal.Pendapat yang pertengahan dan tepat adalah boleh menggunakan kata “kafir” pada kondisi yang sesuai dan menggunakan kata “non-muslim” pada kondisi yang sesuai pula.Inilah yang dimaksud dengan ungkapan,لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ“Setiap ucapan itu ada tempatnya.”Misalnya, ketika dalam pengajian. Kita membahas tentang kafir memakai kata-kata “kafir” serta menyebut mereka dengan “kafir”, ini tidak masalah. Namun, apabila sedang berbicara dengan orang lain kita gunakan “non-muslim”, apabila kondisinya sesuai. Misalnya berkata, “Dia tetangga saya, dia non-muslim.”Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanTentunya kita perlu bijak menggunakan sesuai dengan tempatnya. Perhatikan fatwa berikut ini,هل يجوز الإشارة إلى الكافر باليد والقول له أنت كافر علما بأنه كافر فهل يجوز ذلك“Apakah boleh menunjuk orang kafir dengan tangan dan mengatakan, ‘Hai kamu kafir?’ Perlu diketahui bahwa dia memang kafir (bukan Islam). Apakah boleh seperti ini?Jawab:فلا شك أن من لم يكفر الكافر أو يشك في كفره أنه كافر، وهذا أصل أصيل في الإسلام، إلا أن هذا لا يعني ما ذكره السائل من إسماع الكافر كونه كافراً، بل الغالب أن ذلك يتنافى مع الحكمة،“Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu terhadap kekafiran mereka, maka dia juga kafir. Ini adalah pelajaran sangat mendasar dalam Islam. Akan tetapi, hal ini tidaklah berarti bahwa apa yang disebutkan oleh penanya, yaitu menunjuk dan menyebut ‘kafir’ di depan orang kafir, itu boleh. Bahkan umumnya hal ini bertentangan dengan hikmah (dalam berdakwah).” (Fatwa Islamweb no. 39380, asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih)Mengenai panggilan “kafir” secara langsung kepada orang kafir pada kondisi yang tidak tepat, tentu ini tidak hikmah dalam dakwah. Bisa jadi mereka merasa terganggu dan semakin membuat mereka jauh dari Islam dan bahkan membenci Islam. Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,ﻳَﺴِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻌَﺴِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﺑَﺸِّﺮُﻭﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﻨَﻔِّﺮُﻭﺍ“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari.” (HR. Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734)Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut

Hukum Mendengarkan Nyanyian Tanpa Musik

Fatwa dari Dewan Fatwa IslamWebSoal:Nasyid yang tanpa disertai ritme dan musik, semisal nasyid “Ya Rabb nawwir darbi”, “Sawfa nabqa nuna”, “Kai yazuula aalam”, dan semisalnya, apakah hal tersebut diharamkan atau tidak?Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanJawab :الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله، وصحبه، ومن والاه، أما بعد:Nasyid yang tidak disertai musik, namun di dalamnya ada suara-suara yang menyerupai bunyi alat musik, maka status hukumnya sama seperti hukum nyanyian yang diiringi dengan alat musik (baca: haram). Tidak boleh mendengarkan kedua model nyanyian tersebut. Apabila tidak seperti bunyi alat musik, maka ini diperbolehkan untuk mendengarkannya, selama tidak dijadikan sebagai kebiasaan.Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- menjelaskan tentang nasyid,الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكنها تطورت وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون دفًّا ويمكن أن يكون غير دف. ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضًا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك: بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال، ولا بأنها ممنوعة على كل حال، لكن إن خلت من الأمور التي أشرنا إليها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كانت مختارًا لها ذوو الأصوات الجميلة التي تفتن، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة، فإنه لا يجوز الاستماع لها … اهـ.“Ada banyak pembicaraan tentang nasyid Islami. Dan saya belum pernah mendengarnya kecuali dahulu kala, ketika awal-awal masa kemunculannya. Dan hukumnya tidaklah mengapa. Selama nasyid tersebut tidak diiringi dengan rebana, isi nasyidnya tidak ada membawa kepada fitnah (misalnya, berisi tentang syahwat, pent.), dan tidak memakai nada-nada (langgam-langgam) yang diharamkan.Akan tetapi, nyanyian kini semakin berkembang dan jadilah sekarang terdengar seperti ada ketukan-ketukan yang bisa jadi dari rebana dan bisa jadi dari selainnya. Lalu berkembang lagi dengan adanya pilihan penyanyi indah yang suaranya bisa menimbulkan fitnah. Kemudian berkembang lagi sampai kepada tingkatan nyanyian tersebut mengandung hal yang diharamkan. Sehingga menyisakan di dalam hati pendengarnya suatu perasaan tertentu atau kegelisahan hati.Dan tidak mungkin bagi seseorang menfatwakan bahwa nyanyian itu boleh dalam segala kondisi. Juga tidak mungkin seseorang menfatwakan bahwa nyanyian terlarang dalam segala kondisi. Akan tetapi yang benar, jika nyanyian tersebut terbebas dari perkara-perkara yang terlarang seperti yang telah kami sebutkan tadi, maka hukumnya adalah boleh-boleh saja. Adapun jika nyanyian tersebut ada padanya suara-suara ketukan seperti rebana, adanya suara-suara indah yang menimbulkan fitnah, dan mengandung nada-nada yang hina, maka hal ini tidak diperbolehkan untuk mendengarkannya … ” [selesai kutipan] ***Hendaknya bagi saudara yang bertanya bisa melihat fatwa-fatwa dan kaidah-kaidah seputar permasalahan ini agar dia dapat menghukumi jenis nasyid yang ia tanyakan. Jika dia ragu-ragu apakah nyanyian ini hukumnya boleh atau haram, maka hendaknya dia mengetahui bahwa menjauhi syubhat-syubhat itu lebih baik daripada terjatuh di dalamnya. Dan sikap seperti ini dapat menyelamatkan agamanya, yang tidak terhitung harganya.Wallahu ‘alamBaca Juga:Sumber Islamweb.netPenerjemah: Muhammad Bimo PrasetyoArtkel: Muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut

Hukum Mendengarkan Nyanyian Tanpa Musik

Fatwa dari Dewan Fatwa IslamWebSoal:Nasyid yang tanpa disertai ritme dan musik, semisal nasyid “Ya Rabb nawwir darbi”, “Sawfa nabqa nuna”, “Kai yazuula aalam”, dan semisalnya, apakah hal tersebut diharamkan atau tidak?Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanJawab :الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله، وصحبه، ومن والاه، أما بعد:Nasyid yang tidak disertai musik, namun di dalamnya ada suara-suara yang menyerupai bunyi alat musik, maka status hukumnya sama seperti hukum nyanyian yang diiringi dengan alat musik (baca: haram). Tidak boleh mendengarkan kedua model nyanyian tersebut. Apabila tidak seperti bunyi alat musik, maka ini diperbolehkan untuk mendengarkannya, selama tidak dijadikan sebagai kebiasaan.Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- menjelaskan tentang nasyid,الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكنها تطورت وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون دفًّا ويمكن أن يكون غير دف. ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضًا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك: بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال، ولا بأنها ممنوعة على كل حال، لكن إن خلت من الأمور التي أشرنا إليها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كانت مختارًا لها ذوو الأصوات الجميلة التي تفتن، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة، فإنه لا يجوز الاستماع لها … اهـ.“Ada banyak pembicaraan tentang nasyid Islami. Dan saya belum pernah mendengarnya kecuali dahulu kala, ketika awal-awal masa kemunculannya. Dan hukumnya tidaklah mengapa. Selama nasyid tersebut tidak diiringi dengan rebana, isi nasyidnya tidak ada membawa kepada fitnah (misalnya, berisi tentang syahwat, pent.), dan tidak memakai nada-nada (langgam-langgam) yang diharamkan.Akan tetapi, nyanyian kini semakin berkembang dan jadilah sekarang terdengar seperti ada ketukan-ketukan yang bisa jadi dari rebana dan bisa jadi dari selainnya. Lalu berkembang lagi dengan adanya pilihan penyanyi indah yang suaranya bisa menimbulkan fitnah. Kemudian berkembang lagi sampai kepada tingkatan nyanyian tersebut mengandung hal yang diharamkan. Sehingga menyisakan di dalam hati pendengarnya suatu perasaan tertentu atau kegelisahan hati.Dan tidak mungkin bagi seseorang menfatwakan bahwa nyanyian itu boleh dalam segala kondisi. Juga tidak mungkin seseorang menfatwakan bahwa nyanyian terlarang dalam segala kondisi. Akan tetapi yang benar, jika nyanyian tersebut terbebas dari perkara-perkara yang terlarang seperti yang telah kami sebutkan tadi, maka hukumnya adalah boleh-boleh saja. Adapun jika nyanyian tersebut ada padanya suara-suara ketukan seperti rebana, adanya suara-suara indah yang menimbulkan fitnah, dan mengandung nada-nada yang hina, maka hal ini tidak diperbolehkan untuk mendengarkannya … ” [selesai kutipan] ***Hendaknya bagi saudara yang bertanya bisa melihat fatwa-fatwa dan kaidah-kaidah seputar permasalahan ini agar dia dapat menghukumi jenis nasyid yang ia tanyakan. Jika dia ragu-ragu apakah nyanyian ini hukumnya boleh atau haram, maka hendaknya dia mengetahui bahwa menjauhi syubhat-syubhat itu lebih baik daripada terjatuh di dalamnya. Dan sikap seperti ini dapat menyelamatkan agamanya, yang tidak terhitung harganya.Wallahu ‘alamBaca Juga:Sumber Islamweb.netPenerjemah: Muhammad Bimo PrasetyoArtkel: Muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut
Fatwa dari Dewan Fatwa IslamWebSoal:Nasyid yang tanpa disertai ritme dan musik, semisal nasyid “Ya Rabb nawwir darbi”, “Sawfa nabqa nuna”, “Kai yazuula aalam”, dan semisalnya, apakah hal tersebut diharamkan atau tidak?Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanJawab :الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله، وصحبه، ومن والاه، أما بعد:Nasyid yang tidak disertai musik, namun di dalamnya ada suara-suara yang menyerupai bunyi alat musik, maka status hukumnya sama seperti hukum nyanyian yang diiringi dengan alat musik (baca: haram). Tidak boleh mendengarkan kedua model nyanyian tersebut. Apabila tidak seperti bunyi alat musik, maka ini diperbolehkan untuk mendengarkannya, selama tidak dijadikan sebagai kebiasaan.Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- menjelaskan tentang nasyid,الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكنها تطورت وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون دفًّا ويمكن أن يكون غير دف. ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضًا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك: بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال، ولا بأنها ممنوعة على كل حال، لكن إن خلت من الأمور التي أشرنا إليها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كانت مختارًا لها ذوو الأصوات الجميلة التي تفتن، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة، فإنه لا يجوز الاستماع لها … اهـ.“Ada banyak pembicaraan tentang nasyid Islami. Dan saya belum pernah mendengarnya kecuali dahulu kala, ketika awal-awal masa kemunculannya. Dan hukumnya tidaklah mengapa. Selama nasyid tersebut tidak diiringi dengan rebana, isi nasyidnya tidak ada membawa kepada fitnah (misalnya, berisi tentang syahwat, pent.), dan tidak memakai nada-nada (langgam-langgam) yang diharamkan.Akan tetapi, nyanyian kini semakin berkembang dan jadilah sekarang terdengar seperti ada ketukan-ketukan yang bisa jadi dari rebana dan bisa jadi dari selainnya. Lalu berkembang lagi dengan adanya pilihan penyanyi indah yang suaranya bisa menimbulkan fitnah. Kemudian berkembang lagi sampai kepada tingkatan nyanyian tersebut mengandung hal yang diharamkan. Sehingga menyisakan di dalam hati pendengarnya suatu perasaan tertentu atau kegelisahan hati.Dan tidak mungkin bagi seseorang menfatwakan bahwa nyanyian itu boleh dalam segala kondisi. Juga tidak mungkin seseorang menfatwakan bahwa nyanyian terlarang dalam segala kondisi. Akan tetapi yang benar, jika nyanyian tersebut terbebas dari perkara-perkara yang terlarang seperti yang telah kami sebutkan tadi, maka hukumnya adalah boleh-boleh saja. Adapun jika nyanyian tersebut ada padanya suara-suara ketukan seperti rebana, adanya suara-suara indah yang menimbulkan fitnah, dan mengandung nada-nada yang hina, maka hal ini tidak diperbolehkan untuk mendengarkannya … ” [selesai kutipan] ***Hendaknya bagi saudara yang bertanya bisa melihat fatwa-fatwa dan kaidah-kaidah seputar permasalahan ini agar dia dapat menghukumi jenis nasyid yang ia tanyakan. Jika dia ragu-ragu apakah nyanyian ini hukumnya boleh atau haram, maka hendaknya dia mengetahui bahwa menjauhi syubhat-syubhat itu lebih baik daripada terjatuh di dalamnya. Dan sikap seperti ini dapat menyelamatkan agamanya, yang tidak terhitung harganya.Wallahu ‘alamBaca Juga:Sumber Islamweb.netPenerjemah: Muhammad Bimo PrasetyoArtkel: Muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut


Fatwa dari Dewan Fatwa IslamWebSoal:Nasyid yang tanpa disertai ritme dan musik, semisal nasyid “Ya Rabb nawwir darbi”, “Sawfa nabqa nuna”, “Kai yazuula aalam”, dan semisalnya, apakah hal tersebut diharamkan atau tidak?Baca Juga: Musik Adalah Seruling SetanJawab :الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله، وصحبه، ومن والاه، أما بعد:Nasyid yang tidak disertai musik, namun di dalamnya ada suara-suara yang menyerupai bunyi alat musik, maka status hukumnya sama seperti hukum nyanyian yang diiringi dengan alat musik (baca: haram). Tidak boleh mendengarkan kedua model nyanyian tersebut. Apabila tidak seperti bunyi alat musik, maka ini diperbolehkan untuk mendengarkannya, selama tidak dijadikan sebagai kebiasaan.Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- menjelaskan tentang nasyid,الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكنها تطورت وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون دفًّا ويمكن أن يكون غير دف. ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضًا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك: بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال، ولا بأنها ممنوعة على كل حال، لكن إن خلت من الأمور التي أشرنا إليها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كانت مختارًا لها ذوو الأصوات الجميلة التي تفتن، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة، فإنه لا يجوز الاستماع لها … اهـ.“Ada banyak pembicaraan tentang nasyid Islami. Dan saya belum pernah mendengarnya kecuali dahulu kala, ketika awal-awal masa kemunculannya. Dan hukumnya tidaklah mengapa. Selama nasyid tersebut tidak diiringi dengan rebana, isi nasyidnya tidak ada membawa kepada fitnah (misalnya, berisi tentang syahwat, pent.), dan tidak memakai nada-nada (langgam-langgam) yang diharamkan.Akan tetapi, nyanyian kini semakin berkembang dan jadilah sekarang terdengar seperti ada ketukan-ketukan yang bisa jadi dari rebana dan bisa jadi dari selainnya. Lalu berkembang lagi dengan adanya pilihan penyanyi indah yang suaranya bisa menimbulkan fitnah. Kemudian berkembang lagi sampai kepada tingkatan nyanyian tersebut mengandung hal yang diharamkan. Sehingga menyisakan di dalam hati pendengarnya suatu perasaan tertentu atau kegelisahan hati.Dan tidak mungkin bagi seseorang menfatwakan bahwa nyanyian itu boleh dalam segala kondisi. Juga tidak mungkin seseorang menfatwakan bahwa nyanyian terlarang dalam segala kondisi. Akan tetapi yang benar, jika nyanyian tersebut terbebas dari perkara-perkara yang terlarang seperti yang telah kami sebutkan tadi, maka hukumnya adalah boleh-boleh saja. Adapun jika nyanyian tersebut ada padanya suara-suara ketukan seperti rebana, adanya suara-suara indah yang menimbulkan fitnah, dan mengandung nada-nada yang hina, maka hal ini tidak diperbolehkan untuk mendengarkannya … ” [selesai kutipan] ***Hendaknya bagi saudara yang bertanya bisa melihat fatwa-fatwa dan kaidah-kaidah seputar permasalahan ini agar dia dapat menghukumi jenis nasyid yang ia tanyakan. Jika dia ragu-ragu apakah nyanyian ini hukumnya boleh atau haram, maka hendaknya dia mengetahui bahwa menjauhi syubhat-syubhat itu lebih baik daripada terjatuh di dalamnya. Dan sikap seperti ini dapat menyelamatkan agamanya, yang tidak terhitung harganya.Wallahu ‘alamBaca Juga:Sumber Islamweb.netPenerjemah: Muhammad Bimo PrasetyoArtkel: Muslim.or.id🔍 Kesyirikan, Berapa Kali Sangkakala Ditiup, Cara Berbakti Kepada Suami, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Cara Membuat Istri Jadi Penurut

Apakah Lebih Utama Berdoa dengan Suara Keras atau Pelan?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahSoal :Manakah yang lebih utama dalam berdoa? Dengan suara yang pelan (sirr) ataukah suara keras (jahr)? Dan apakah maksud dari firman Allah Ta’ala,{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ} “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah.” (QS. Al-Mulk: 13)Baca Juga: Bolehkah Berdoa “Rahimahullah” untuk Seorang Muslim yang Masih Hidup?Jawab :Apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan orang lain, maka doa tersebut dibaca jahr (keras). Seperti doa imam saat qunut dibaca dengan jahr karena doa tersebut untuk dirinya dan orang lain. Dan doa tersebut dibaca dengan bentuk jamak (plural) seperti “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan, sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan”.(Doa tersebut) tidak dibaca, “Ya Allah berilah saya petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk”. Karena apabila doa tersebut dimaksudkan untuk dirinya sendiri, sedangkan orang lain mendengar dan mengamininya, maka hal itu termasuk khianat. Hal ini karena jika doa tersebut untuk dirinya dan orang lain, maka doa tersebut bersifat kolektif. Sedangkan mengkhususkan untuk dirinya sendiri saja merupakan bentuk sifat khianat.Oleh karena itu kami katakan, jika doa tersebut bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, maka dibaca dengan jahr (keras). Namun doa yang bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, ini hanya sebatas pada doa-doa yang disebutkan syari’at saja (untuk dikerjakan secara berjamaah). Tidak boleh mengada-adakan doa-doa berjamaah yang tidak didasari oleh dalil syar’i. Karena mengada-adakan amalan semisal itu merupakan bid’ah yang terlarang.Adapun apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri, maka ada beberapa rincian: Apabila doa tersebut di dalam shalat, maka tidak boleh mengeraskan doa tersebut, walaupun dalam shalat jamaah. Tetap tidak boleh mengeraskannya. Karena hal tersebut dapat mengacaukan orang-orang yang shalat di sekitarnya. Oleh karena itu, dijumpai sebagian makmum mengeraskan doanya kepada Allah ketika duduk di antara sujud, atau ketika sujud, atau ketika tasyahud. Hal ini tidak diperbolehkan sebagaimana telah datang penjelasan dari Nabi ﷺ kepada para sahabat. Pada suatu hari, mereka shalat dengan mengeraskan bacaan Al-Qur’an, maka Nabi ﷺ pun melarang mereka untuk mengeraskan bacaan antara satu sama lain.Adapun jika seseorang berdoa untuk dirinya sendiri (di luar shalat) dan di sekitarnya tidak terdapat orang lain, dan dia bisa merasa lebih baik untuk hatinya, maka lebih utama dibaca dengan suara pelan. Sedangkan jika dia merasa lebih baik dibaca dengan suara keras, maka dibaca dengan suara keras. Akan tetapi, tidak diperbolehkan mengeraskan bacaan doa sampai menyulitkan (membebani) dirinya sendiri. Karena Nabi ﷺ pernah mengingatkan kepada para sahabat yang mengeraskan suara mereka, أيها الناس، أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، فإنكم تدعون سميعاً قريباً، وهو معكم، إن الذي تدعونه أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته. والله سبحانه وتعالى قريب مجيب“Wahai manusia, rendahkan diri kalian. Karena sesungguhnya kamu semua tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib. Akan tetapi, Anda berdoa kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dan Dia bersama kalian. Sesungguhya yang kamu semua tuju dalam berdoa itu lebih dekat dari salah satu di antara kamu dari punuk kendaraannya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi, dekat dan mengabulkan doa.” (HR. Bukhari no. 6384 dan Muslim no. 2704)Baca Juga:Sumber: http://iswy.co/e29ron Penerjemah: Rafif ZulfarihsanArtikel: Muslim.or.id🔍 Istri Tidak Nurut Suami, Doa Pelindung Diri Dari Bahaya, Berita Langit, Siluet Muslim, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah

Apakah Lebih Utama Berdoa dengan Suara Keras atau Pelan?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahSoal :Manakah yang lebih utama dalam berdoa? Dengan suara yang pelan (sirr) ataukah suara keras (jahr)? Dan apakah maksud dari firman Allah Ta’ala,{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ} “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah.” (QS. Al-Mulk: 13)Baca Juga: Bolehkah Berdoa “Rahimahullah” untuk Seorang Muslim yang Masih Hidup?Jawab :Apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan orang lain, maka doa tersebut dibaca jahr (keras). Seperti doa imam saat qunut dibaca dengan jahr karena doa tersebut untuk dirinya dan orang lain. Dan doa tersebut dibaca dengan bentuk jamak (plural) seperti “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan, sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan”.(Doa tersebut) tidak dibaca, “Ya Allah berilah saya petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk”. Karena apabila doa tersebut dimaksudkan untuk dirinya sendiri, sedangkan orang lain mendengar dan mengamininya, maka hal itu termasuk khianat. Hal ini karena jika doa tersebut untuk dirinya dan orang lain, maka doa tersebut bersifat kolektif. Sedangkan mengkhususkan untuk dirinya sendiri saja merupakan bentuk sifat khianat.Oleh karena itu kami katakan, jika doa tersebut bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, maka dibaca dengan jahr (keras). Namun doa yang bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, ini hanya sebatas pada doa-doa yang disebutkan syari’at saja (untuk dikerjakan secara berjamaah). Tidak boleh mengada-adakan doa-doa berjamaah yang tidak didasari oleh dalil syar’i. Karena mengada-adakan amalan semisal itu merupakan bid’ah yang terlarang.Adapun apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri, maka ada beberapa rincian: Apabila doa tersebut di dalam shalat, maka tidak boleh mengeraskan doa tersebut, walaupun dalam shalat jamaah. Tetap tidak boleh mengeraskannya. Karena hal tersebut dapat mengacaukan orang-orang yang shalat di sekitarnya. Oleh karena itu, dijumpai sebagian makmum mengeraskan doanya kepada Allah ketika duduk di antara sujud, atau ketika sujud, atau ketika tasyahud. Hal ini tidak diperbolehkan sebagaimana telah datang penjelasan dari Nabi ﷺ kepada para sahabat. Pada suatu hari, mereka shalat dengan mengeraskan bacaan Al-Qur’an, maka Nabi ﷺ pun melarang mereka untuk mengeraskan bacaan antara satu sama lain.Adapun jika seseorang berdoa untuk dirinya sendiri (di luar shalat) dan di sekitarnya tidak terdapat orang lain, dan dia bisa merasa lebih baik untuk hatinya, maka lebih utama dibaca dengan suara pelan. Sedangkan jika dia merasa lebih baik dibaca dengan suara keras, maka dibaca dengan suara keras. Akan tetapi, tidak diperbolehkan mengeraskan bacaan doa sampai menyulitkan (membebani) dirinya sendiri. Karena Nabi ﷺ pernah mengingatkan kepada para sahabat yang mengeraskan suara mereka, أيها الناس، أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، فإنكم تدعون سميعاً قريباً، وهو معكم، إن الذي تدعونه أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته. والله سبحانه وتعالى قريب مجيب“Wahai manusia, rendahkan diri kalian. Karena sesungguhnya kamu semua tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib. Akan tetapi, Anda berdoa kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dan Dia bersama kalian. Sesungguhya yang kamu semua tuju dalam berdoa itu lebih dekat dari salah satu di antara kamu dari punuk kendaraannya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi, dekat dan mengabulkan doa.” (HR. Bukhari no. 6384 dan Muslim no. 2704)Baca Juga:Sumber: http://iswy.co/e29ron Penerjemah: Rafif ZulfarihsanArtikel: Muslim.or.id🔍 Istri Tidak Nurut Suami, Doa Pelindung Diri Dari Bahaya, Berita Langit, Siluet Muslim, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahSoal :Manakah yang lebih utama dalam berdoa? Dengan suara yang pelan (sirr) ataukah suara keras (jahr)? Dan apakah maksud dari firman Allah Ta’ala,{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ} “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah.” (QS. Al-Mulk: 13)Baca Juga: Bolehkah Berdoa “Rahimahullah” untuk Seorang Muslim yang Masih Hidup?Jawab :Apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan orang lain, maka doa tersebut dibaca jahr (keras). Seperti doa imam saat qunut dibaca dengan jahr karena doa tersebut untuk dirinya dan orang lain. Dan doa tersebut dibaca dengan bentuk jamak (plural) seperti “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan, sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan”.(Doa tersebut) tidak dibaca, “Ya Allah berilah saya petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk”. Karena apabila doa tersebut dimaksudkan untuk dirinya sendiri, sedangkan orang lain mendengar dan mengamininya, maka hal itu termasuk khianat. Hal ini karena jika doa tersebut untuk dirinya dan orang lain, maka doa tersebut bersifat kolektif. Sedangkan mengkhususkan untuk dirinya sendiri saja merupakan bentuk sifat khianat.Oleh karena itu kami katakan, jika doa tersebut bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, maka dibaca dengan jahr (keras). Namun doa yang bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, ini hanya sebatas pada doa-doa yang disebutkan syari’at saja (untuk dikerjakan secara berjamaah). Tidak boleh mengada-adakan doa-doa berjamaah yang tidak didasari oleh dalil syar’i. Karena mengada-adakan amalan semisal itu merupakan bid’ah yang terlarang.Adapun apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri, maka ada beberapa rincian: Apabila doa tersebut di dalam shalat, maka tidak boleh mengeraskan doa tersebut, walaupun dalam shalat jamaah. Tetap tidak boleh mengeraskannya. Karena hal tersebut dapat mengacaukan orang-orang yang shalat di sekitarnya. Oleh karena itu, dijumpai sebagian makmum mengeraskan doanya kepada Allah ketika duduk di antara sujud, atau ketika sujud, atau ketika tasyahud. Hal ini tidak diperbolehkan sebagaimana telah datang penjelasan dari Nabi ﷺ kepada para sahabat. Pada suatu hari, mereka shalat dengan mengeraskan bacaan Al-Qur’an, maka Nabi ﷺ pun melarang mereka untuk mengeraskan bacaan antara satu sama lain.Adapun jika seseorang berdoa untuk dirinya sendiri (di luar shalat) dan di sekitarnya tidak terdapat orang lain, dan dia bisa merasa lebih baik untuk hatinya, maka lebih utama dibaca dengan suara pelan. Sedangkan jika dia merasa lebih baik dibaca dengan suara keras, maka dibaca dengan suara keras. Akan tetapi, tidak diperbolehkan mengeraskan bacaan doa sampai menyulitkan (membebani) dirinya sendiri. Karena Nabi ﷺ pernah mengingatkan kepada para sahabat yang mengeraskan suara mereka, أيها الناس، أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، فإنكم تدعون سميعاً قريباً، وهو معكم، إن الذي تدعونه أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته. والله سبحانه وتعالى قريب مجيب“Wahai manusia, rendahkan diri kalian. Karena sesungguhnya kamu semua tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib. Akan tetapi, Anda berdoa kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dan Dia bersama kalian. Sesungguhya yang kamu semua tuju dalam berdoa itu lebih dekat dari salah satu di antara kamu dari punuk kendaraannya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi, dekat dan mengabulkan doa.” (HR. Bukhari no. 6384 dan Muslim no. 2704)Baca Juga:Sumber: http://iswy.co/e29ron Penerjemah: Rafif ZulfarihsanArtikel: Muslim.or.id🔍 Istri Tidak Nurut Suami, Doa Pelindung Diri Dari Bahaya, Berita Langit, Siluet Muslim, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahSoal :Manakah yang lebih utama dalam berdoa? Dengan suara yang pelan (sirr) ataukah suara keras (jahr)? Dan apakah maksud dari firman Allah Ta’ala,{وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ} “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah.” (QS. Al-Mulk: 13)Baca Juga: Bolehkah Berdoa “Rahimahullah” untuk Seorang Muslim yang Masih Hidup?Jawab :Apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan orang lain, maka doa tersebut dibaca jahr (keras). Seperti doa imam saat qunut dibaca dengan jahr karena doa tersebut untuk dirinya dan orang lain. Dan doa tersebut dibaca dengan bentuk jamak (plural) seperti “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan, sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan”.(Doa tersebut) tidak dibaca, “Ya Allah berilah saya petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk”. Karena apabila doa tersebut dimaksudkan untuk dirinya sendiri, sedangkan orang lain mendengar dan mengamininya, maka hal itu termasuk khianat. Hal ini karena jika doa tersebut untuk dirinya dan orang lain, maka doa tersebut bersifat kolektif. Sedangkan mengkhususkan untuk dirinya sendiri saja merupakan bentuk sifat khianat.Oleh karena itu kami katakan, jika doa tersebut bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, maka dibaca dengan jahr (keras). Namun doa yang bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, ini hanya sebatas pada doa-doa yang disebutkan syari’at saja (untuk dikerjakan secara berjamaah). Tidak boleh mengada-adakan doa-doa berjamaah yang tidak didasari oleh dalil syar’i. Karena mengada-adakan amalan semisal itu merupakan bid’ah yang terlarang.Adapun apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri, maka ada beberapa rincian: Apabila doa tersebut di dalam shalat, maka tidak boleh mengeraskan doa tersebut, walaupun dalam shalat jamaah. Tetap tidak boleh mengeraskannya. Karena hal tersebut dapat mengacaukan orang-orang yang shalat di sekitarnya. Oleh karena itu, dijumpai sebagian makmum mengeraskan doanya kepada Allah ketika duduk di antara sujud, atau ketika sujud, atau ketika tasyahud. Hal ini tidak diperbolehkan sebagaimana telah datang penjelasan dari Nabi ﷺ kepada para sahabat. Pada suatu hari, mereka shalat dengan mengeraskan bacaan Al-Qur’an, maka Nabi ﷺ pun melarang mereka untuk mengeraskan bacaan antara satu sama lain.Adapun jika seseorang berdoa untuk dirinya sendiri (di luar shalat) dan di sekitarnya tidak terdapat orang lain, dan dia bisa merasa lebih baik untuk hatinya, maka lebih utama dibaca dengan suara pelan. Sedangkan jika dia merasa lebih baik dibaca dengan suara keras, maka dibaca dengan suara keras. Akan tetapi, tidak diperbolehkan mengeraskan bacaan doa sampai menyulitkan (membebani) dirinya sendiri. Karena Nabi ﷺ pernah mengingatkan kepada para sahabat yang mengeraskan suara mereka, أيها الناس، أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، فإنكم تدعون سميعاً قريباً، وهو معكم، إن الذي تدعونه أقرب إلى أحدكم من عنق راحلته. والله سبحانه وتعالى قريب مجيب“Wahai manusia, rendahkan diri kalian. Karena sesungguhnya kamu semua tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib. Akan tetapi, Anda berdoa kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dan Dia bersama kalian. Sesungguhya yang kamu semua tuju dalam berdoa itu lebih dekat dari salah satu di antara kamu dari punuk kendaraannya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi, dekat dan mengabulkan doa.” (HR. Bukhari no. 6384 dan Muslim no. 2704)Baca Juga:Sumber: http://iswy.co/e29ron Penerjemah: Rafif ZulfarihsanArtikel: Muslim.or.id🔍 Istri Tidak Nurut Suami, Doa Pelindung Diri Dari Bahaya, Berita Langit, Siluet Muslim, Kehidupan Di Alam Kubur Menurut Rasulullah

Hukum Budidaya Larva BSF untuk Pakan

Hukum Budidaya Larva BSF untuk Pakan Bagaimana hukum budidaya larva lalat jenis BSF (black soldier flies) – lalat tentara hitam? Larva ini digunakan untuk pakan ternak atau ikan. Mohon pencerahannya? Jawab: Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berbicara budidaya berarti berbicara mengenai pemanfaatan. Selama hewan itu memiliki sisi manfaat yang mubah dan bukan termasuk benda najis, maka boleh diperjualbelikan dan termasuk juga boleh dibudidayakan. Lalat dan serangga-serangga kecil lainnya (al-Hasyarat) termasuk di antara binatang yang haram untuk dikonsumsi manusia. An-Nawawi menyebutkan, وأما الحشرات فكلها مستخبثة وكلها محرمة سوى ما يدرج منها وما يطير Semua serangga adalah hewan menjijikkan dan semuanya haram kecuali yang loncat dan terbang (belalang). (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 9/15) Hanya saja, hewan ini tidak najis, baik ketika masih hidup maupun ketika jadi bangkai. Dan ini merupakan pendapat Jumhur ulama. Karena serangga termasuk binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah (laisa lahuu nafsun sailah). Ibnu Qudamah mengatakan, كل ما ليس له دم سائل، كالذي ذكره الخرقي من الحيوان البري، أو حيوان البحر، منه العلق، والديدان، والسرطان، ونحوها، لا يتنجس بالموت، ولا يتنجس الماء إذا مات فيه، في قول عامة الفقهاء؛ قال ابن المنذر: لا أعلم في ذلك خلافا، إلا ما كان من أحد قولي الشافعي Semua binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah, seperti beberapa hewan darat dan laut yang disebutkan oleh al-Khiraqi, di antaranya lintah, ulat, kepiting, atau semisalnya. Tidak najis ketika jadi bangkai, dan air yang terkena bangkai ini juga tidak najis. Demikian menurut pendapat jumhur ulama. Ibnul Mundzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini, selain salah satu pendapat Imam as-Syafi’i.” (al-Mughni, 1/68). Dalil yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً Apabila ada lalat yang masuk ke minuman kalian maka hendaknya dia mencelupkannya, kemudian buang lalat itu. Karena di salah satu sayapnya ada obat, sementara di sayap yang lain ada penyakit. (HR. Bukhari 3320 dan yang lainnya) Andaikan lalat yang hinggap di air itu najis, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk dicelupkan terlebih dahulu, namun seharusnya langsung dibuang. Karena air yang najis tidak bisa dimanfaatkan apalagi diminum. Selanjutnya, apakah larva seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, halal diperjualbelikan? Kaidah dalam masalah objek jual beli adalah mengikuti prinsip halal manfaat. Terdapat kaidah yang menyatakan, كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُهُ صَحَّ بَيعُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan kecuali jika ada dalil. Allah ciptakan bumi dan isinya untuk dimanfaatkan manusia. Allah berfirman, وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Jatsiyah: 13) Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, اتفق الفقهاء على عدم جواز بيع الحشرات التي لا نفع فيها، إذ يشترط في المبيع أن يكون منتفعا به، فلا يجوز بيع الفئران، والحيات والعقارب، والخنافس، والنمل ونحوها، إذ لا نفع فيها يقابل بالمال Ulama sepakat, tidak boleh menjual serangga yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Karena syarat barang yang dijual, harus memiliki manfaat. Sehingga tidak boleh menjual tikus, ular, kalajengking, kumbang ampal, semut, dan seterusnya. Karena hewan-hewan ini tidak memiliki manfaat yang senilai dengan harta. أما إذا وجد من الحشرات ما فيه منفعة، فإنه يجوز بيعه كدود القز، حيث يخرج منه الحرير الذي هو أفخر الملابس، والنحل حيث ينتج العسل Sementara hewan kecil yang punya manfaat, boleh dijual, seperti ulat sutra, yang bisa menghasilkan sutra, kain termahal. Atau lebah yang bisa menghasilkan madu. وقد نص الحنفية والشافعية والحنابلة على جواز بيع دود العلق، لحاجة الناس إليه للتداوي بمصه الدم … وقال الحنابلة: بجواز بيع الديدان لصيد السمك. Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali mengatakan bolehnya menjual lintah, karena orang butuh untuk pengobatan dengan menghisap darah… ulama Hambali menegaskan, boleh menjual ulat untuk umpan mancing ikan. Terdapat kaidah umum yang disampaikan al-Hashkafi tentang jual beli hasyarat (hewan kecil), وقد وضع الحصكفي من الحنفية ضابطا لبيع الحشرات، فقال: إن جواز البيع يدور مع حل الانتفاع Al-Hashkafi – ulama Hanafiyah – membuat batasan untuk jual beli hasyarat. Dia menyatakan, “Boleh menjual hasyarat kembali pada adanya unsur manfaat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/280 – 281). Ibnu Qudamah pernah menyinggung khilaf ulama mengenai jual beli ulat untuk mancing. Beliau mengatakan, في بيع العلق التي ينتفع بها، مثل التي تعلق على وجه صاحب الكلف، فتمص الدم، والديدان التي تترك في الشص، فيصاد بها السمك، وجهان؛ أصحهما جواز بيعها؛ لحصول نفعها، فهي كالسمك Mengenai jual beli lintah yang bisa dimanfaatkan, seperti digunakan untuk terapi orang yang terkena jerawat, agar disedot darahnya. Atau ulat yang ditaruh di perangkap untuk menangkap ikan, di sana ada 2 pendapat dalam madzhab Hambali. Pendapat yang benar, boleh diperjual-belikan karena ada manfaatnya, sehingga statusnya sebagaimana ikan. (al-Mughni, 4/327). Jika kita telah mendapat kesimpulan bahwa hukum jual beli serangga semacam ini dibolehkan, karena memiliki manfaat yang mubah, maka hukum budidaya serangga ini juga dibolehkan. Hanya saja, tidak boleh dikonsumsi manusia. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit Barang, Nama Nama Pintu Surga, Fatwa Mui Tentang Ldii, Gambaran Kematian Menurut Islam, Doa Meminta Keturunan Anak Perempuan, Fadilah Sholawat Nabi Visited 282 times, 1 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid

Hukum Budidaya Larva BSF untuk Pakan

Hukum Budidaya Larva BSF untuk Pakan Bagaimana hukum budidaya larva lalat jenis BSF (black soldier flies) – lalat tentara hitam? Larva ini digunakan untuk pakan ternak atau ikan. Mohon pencerahannya? Jawab: Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berbicara budidaya berarti berbicara mengenai pemanfaatan. Selama hewan itu memiliki sisi manfaat yang mubah dan bukan termasuk benda najis, maka boleh diperjualbelikan dan termasuk juga boleh dibudidayakan. Lalat dan serangga-serangga kecil lainnya (al-Hasyarat) termasuk di antara binatang yang haram untuk dikonsumsi manusia. An-Nawawi menyebutkan, وأما الحشرات فكلها مستخبثة وكلها محرمة سوى ما يدرج منها وما يطير Semua serangga adalah hewan menjijikkan dan semuanya haram kecuali yang loncat dan terbang (belalang). (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 9/15) Hanya saja, hewan ini tidak najis, baik ketika masih hidup maupun ketika jadi bangkai. Dan ini merupakan pendapat Jumhur ulama. Karena serangga termasuk binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah (laisa lahuu nafsun sailah). Ibnu Qudamah mengatakan, كل ما ليس له دم سائل، كالذي ذكره الخرقي من الحيوان البري، أو حيوان البحر، منه العلق، والديدان، والسرطان، ونحوها، لا يتنجس بالموت، ولا يتنجس الماء إذا مات فيه، في قول عامة الفقهاء؛ قال ابن المنذر: لا أعلم في ذلك خلافا، إلا ما كان من أحد قولي الشافعي Semua binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah, seperti beberapa hewan darat dan laut yang disebutkan oleh al-Khiraqi, di antaranya lintah, ulat, kepiting, atau semisalnya. Tidak najis ketika jadi bangkai, dan air yang terkena bangkai ini juga tidak najis. Demikian menurut pendapat jumhur ulama. Ibnul Mundzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini, selain salah satu pendapat Imam as-Syafi’i.” (al-Mughni, 1/68). Dalil yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً Apabila ada lalat yang masuk ke minuman kalian maka hendaknya dia mencelupkannya, kemudian buang lalat itu. Karena di salah satu sayapnya ada obat, sementara di sayap yang lain ada penyakit. (HR. Bukhari 3320 dan yang lainnya) Andaikan lalat yang hinggap di air itu najis, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk dicelupkan terlebih dahulu, namun seharusnya langsung dibuang. Karena air yang najis tidak bisa dimanfaatkan apalagi diminum. Selanjutnya, apakah larva seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, halal diperjualbelikan? Kaidah dalam masalah objek jual beli adalah mengikuti prinsip halal manfaat. Terdapat kaidah yang menyatakan, كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُهُ صَحَّ بَيعُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan kecuali jika ada dalil. Allah ciptakan bumi dan isinya untuk dimanfaatkan manusia. Allah berfirman, وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Jatsiyah: 13) Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, اتفق الفقهاء على عدم جواز بيع الحشرات التي لا نفع فيها، إذ يشترط في المبيع أن يكون منتفعا به، فلا يجوز بيع الفئران، والحيات والعقارب، والخنافس، والنمل ونحوها، إذ لا نفع فيها يقابل بالمال Ulama sepakat, tidak boleh menjual serangga yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Karena syarat barang yang dijual, harus memiliki manfaat. Sehingga tidak boleh menjual tikus, ular, kalajengking, kumbang ampal, semut, dan seterusnya. Karena hewan-hewan ini tidak memiliki manfaat yang senilai dengan harta. أما إذا وجد من الحشرات ما فيه منفعة، فإنه يجوز بيعه كدود القز، حيث يخرج منه الحرير الذي هو أفخر الملابس، والنحل حيث ينتج العسل Sementara hewan kecil yang punya manfaat, boleh dijual, seperti ulat sutra, yang bisa menghasilkan sutra, kain termahal. Atau lebah yang bisa menghasilkan madu. وقد نص الحنفية والشافعية والحنابلة على جواز بيع دود العلق، لحاجة الناس إليه للتداوي بمصه الدم … وقال الحنابلة: بجواز بيع الديدان لصيد السمك. Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali mengatakan bolehnya menjual lintah, karena orang butuh untuk pengobatan dengan menghisap darah… ulama Hambali menegaskan, boleh menjual ulat untuk umpan mancing ikan. Terdapat kaidah umum yang disampaikan al-Hashkafi tentang jual beli hasyarat (hewan kecil), وقد وضع الحصكفي من الحنفية ضابطا لبيع الحشرات، فقال: إن جواز البيع يدور مع حل الانتفاع Al-Hashkafi – ulama Hanafiyah – membuat batasan untuk jual beli hasyarat. Dia menyatakan, “Boleh menjual hasyarat kembali pada adanya unsur manfaat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/280 – 281). Ibnu Qudamah pernah menyinggung khilaf ulama mengenai jual beli ulat untuk mancing. Beliau mengatakan, في بيع العلق التي ينتفع بها، مثل التي تعلق على وجه صاحب الكلف، فتمص الدم، والديدان التي تترك في الشص، فيصاد بها السمك، وجهان؛ أصحهما جواز بيعها؛ لحصول نفعها، فهي كالسمك Mengenai jual beli lintah yang bisa dimanfaatkan, seperti digunakan untuk terapi orang yang terkena jerawat, agar disedot darahnya. Atau ulat yang ditaruh di perangkap untuk menangkap ikan, di sana ada 2 pendapat dalam madzhab Hambali. Pendapat yang benar, boleh diperjual-belikan karena ada manfaatnya, sehingga statusnya sebagaimana ikan. (al-Mughni, 4/327). Jika kita telah mendapat kesimpulan bahwa hukum jual beli serangga semacam ini dibolehkan, karena memiliki manfaat yang mubah, maka hukum budidaya serangga ini juga dibolehkan. Hanya saja, tidak boleh dikonsumsi manusia. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit Barang, Nama Nama Pintu Surga, Fatwa Mui Tentang Ldii, Gambaran Kematian Menurut Islam, Doa Meminta Keturunan Anak Perempuan, Fadilah Sholawat Nabi Visited 282 times, 1 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid
Hukum Budidaya Larva BSF untuk Pakan Bagaimana hukum budidaya larva lalat jenis BSF (black soldier flies) – lalat tentara hitam? Larva ini digunakan untuk pakan ternak atau ikan. Mohon pencerahannya? Jawab: Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berbicara budidaya berarti berbicara mengenai pemanfaatan. Selama hewan itu memiliki sisi manfaat yang mubah dan bukan termasuk benda najis, maka boleh diperjualbelikan dan termasuk juga boleh dibudidayakan. Lalat dan serangga-serangga kecil lainnya (al-Hasyarat) termasuk di antara binatang yang haram untuk dikonsumsi manusia. An-Nawawi menyebutkan, وأما الحشرات فكلها مستخبثة وكلها محرمة سوى ما يدرج منها وما يطير Semua serangga adalah hewan menjijikkan dan semuanya haram kecuali yang loncat dan terbang (belalang). (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 9/15) Hanya saja, hewan ini tidak najis, baik ketika masih hidup maupun ketika jadi bangkai. Dan ini merupakan pendapat Jumhur ulama. Karena serangga termasuk binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah (laisa lahuu nafsun sailah). Ibnu Qudamah mengatakan, كل ما ليس له دم سائل، كالذي ذكره الخرقي من الحيوان البري، أو حيوان البحر، منه العلق، والديدان، والسرطان، ونحوها، لا يتنجس بالموت، ولا يتنجس الماء إذا مات فيه، في قول عامة الفقهاء؛ قال ابن المنذر: لا أعلم في ذلك خلافا، إلا ما كان من أحد قولي الشافعي Semua binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah, seperti beberapa hewan darat dan laut yang disebutkan oleh al-Khiraqi, di antaranya lintah, ulat, kepiting, atau semisalnya. Tidak najis ketika jadi bangkai, dan air yang terkena bangkai ini juga tidak najis. Demikian menurut pendapat jumhur ulama. Ibnul Mundzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini, selain salah satu pendapat Imam as-Syafi’i.” (al-Mughni, 1/68). Dalil yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً Apabila ada lalat yang masuk ke minuman kalian maka hendaknya dia mencelupkannya, kemudian buang lalat itu. Karena di salah satu sayapnya ada obat, sementara di sayap yang lain ada penyakit. (HR. Bukhari 3320 dan yang lainnya) Andaikan lalat yang hinggap di air itu najis, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk dicelupkan terlebih dahulu, namun seharusnya langsung dibuang. Karena air yang najis tidak bisa dimanfaatkan apalagi diminum. Selanjutnya, apakah larva seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, halal diperjualbelikan? Kaidah dalam masalah objek jual beli adalah mengikuti prinsip halal manfaat. Terdapat kaidah yang menyatakan, كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُهُ صَحَّ بَيعُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan kecuali jika ada dalil. Allah ciptakan bumi dan isinya untuk dimanfaatkan manusia. Allah berfirman, وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Jatsiyah: 13) Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, اتفق الفقهاء على عدم جواز بيع الحشرات التي لا نفع فيها، إذ يشترط في المبيع أن يكون منتفعا به، فلا يجوز بيع الفئران، والحيات والعقارب، والخنافس، والنمل ونحوها، إذ لا نفع فيها يقابل بالمال Ulama sepakat, tidak boleh menjual serangga yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Karena syarat barang yang dijual, harus memiliki manfaat. Sehingga tidak boleh menjual tikus, ular, kalajengking, kumbang ampal, semut, dan seterusnya. Karena hewan-hewan ini tidak memiliki manfaat yang senilai dengan harta. أما إذا وجد من الحشرات ما فيه منفعة، فإنه يجوز بيعه كدود القز، حيث يخرج منه الحرير الذي هو أفخر الملابس، والنحل حيث ينتج العسل Sementara hewan kecil yang punya manfaat, boleh dijual, seperti ulat sutra, yang bisa menghasilkan sutra, kain termahal. Atau lebah yang bisa menghasilkan madu. وقد نص الحنفية والشافعية والحنابلة على جواز بيع دود العلق، لحاجة الناس إليه للتداوي بمصه الدم … وقال الحنابلة: بجواز بيع الديدان لصيد السمك. Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali mengatakan bolehnya menjual lintah, karena orang butuh untuk pengobatan dengan menghisap darah… ulama Hambali menegaskan, boleh menjual ulat untuk umpan mancing ikan. Terdapat kaidah umum yang disampaikan al-Hashkafi tentang jual beli hasyarat (hewan kecil), وقد وضع الحصكفي من الحنفية ضابطا لبيع الحشرات، فقال: إن جواز البيع يدور مع حل الانتفاع Al-Hashkafi – ulama Hanafiyah – membuat batasan untuk jual beli hasyarat. Dia menyatakan, “Boleh menjual hasyarat kembali pada adanya unsur manfaat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/280 – 281). Ibnu Qudamah pernah menyinggung khilaf ulama mengenai jual beli ulat untuk mancing. Beliau mengatakan, في بيع العلق التي ينتفع بها، مثل التي تعلق على وجه صاحب الكلف، فتمص الدم، والديدان التي تترك في الشص، فيصاد بها السمك، وجهان؛ أصحهما جواز بيعها؛ لحصول نفعها، فهي كالسمك Mengenai jual beli lintah yang bisa dimanfaatkan, seperti digunakan untuk terapi orang yang terkena jerawat, agar disedot darahnya. Atau ulat yang ditaruh di perangkap untuk menangkap ikan, di sana ada 2 pendapat dalam madzhab Hambali. Pendapat yang benar, boleh diperjual-belikan karena ada manfaatnya, sehingga statusnya sebagaimana ikan. (al-Mughni, 4/327). Jika kita telah mendapat kesimpulan bahwa hukum jual beli serangga semacam ini dibolehkan, karena memiliki manfaat yang mubah, maka hukum budidaya serangga ini juga dibolehkan. Hanya saja, tidak boleh dikonsumsi manusia. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit Barang, Nama Nama Pintu Surga, Fatwa Mui Tentang Ldii, Gambaran Kematian Menurut Islam, Doa Meminta Keturunan Anak Perempuan, Fadilah Sholawat Nabi Visited 282 times, 1 visit(s) today Post Views: 420 QRIS donasi Yufid


Hukum Budidaya Larva BSF untuk Pakan Bagaimana hukum budidaya larva lalat jenis BSF (black soldier flies) – lalat tentara hitam? Larva ini digunakan untuk pakan ternak atau ikan. Mohon pencerahannya? Jawab: Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berbicara budidaya berarti berbicara mengenai pemanfaatan. Selama hewan itu memiliki sisi manfaat yang mubah dan bukan termasuk benda najis, maka boleh diperjualbelikan dan termasuk juga boleh dibudidayakan. Lalat dan serangga-serangga kecil lainnya (al-Hasyarat) termasuk di antara binatang yang haram untuk dikonsumsi manusia. An-Nawawi menyebutkan, وأما الحشرات فكلها مستخبثة وكلها محرمة سوى ما يدرج منها وما يطير Semua serangga adalah hewan menjijikkan dan semuanya haram kecuali yang loncat dan terbang (belalang). (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 9/15) Hanya saja, hewan ini tidak najis, baik ketika masih hidup maupun ketika jadi bangkai. Dan ini merupakan pendapat Jumhur ulama. Karena serangga termasuk binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah (laisa lahuu nafsun sailah). Ibnu Qudamah mengatakan, كل ما ليس له دم سائل، كالذي ذكره الخرقي من الحيوان البري، أو حيوان البحر، منه العلق، والديدان، والسرطان، ونحوها، لا يتنجس بالموت، ولا يتنجس الماء إذا مات فيه، في قول عامة الفقهاء؛ قال ابن المنذر: لا أعلم في ذلك خلافا، إلا ما كان من أحد قولي الشافعي Semua binatang yang tidak memiliki sistem transportasi darah merah, seperti beberapa hewan darat dan laut yang disebutkan oleh al-Khiraqi, di antaranya lintah, ulat, kepiting, atau semisalnya. Tidak najis ketika jadi bangkai, dan air yang terkena bangkai ini juga tidak najis. Demikian menurut pendapat jumhur ulama. Ibnul Mundzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan dalam masalah ini, selain salah satu pendapat Imam as-Syafi’i.” (al-Mughni, 1/68). Dalil yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً Apabila ada lalat yang masuk ke minuman kalian maka hendaknya dia mencelupkannya, kemudian buang lalat itu. Karena di salah satu sayapnya ada obat, sementara di sayap yang lain ada penyakit. (HR. Bukhari 3320 dan yang lainnya) Andaikan lalat yang hinggap di air itu najis, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk dicelupkan terlebih dahulu, namun seharusnya langsung dibuang. Karena air yang najis tidak bisa dimanfaatkan apalagi diminum. Selanjutnya, apakah larva seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, halal diperjualbelikan? Kaidah dalam masalah objek jual beli adalah mengikuti prinsip halal manfaat. Terdapat kaidah yang menyatakan, كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُهُ صَحَّ بَيعُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan kecuali jika ada dalil. Allah ciptakan bumi dan isinya untuk dimanfaatkan manusia. Allah berfirman, وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Jatsiyah: 13) Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, اتفق الفقهاء على عدم جواز بيع الحشرات التي لا نفع فيها، إذ يشترط في المبيع أن يكون منتفعا به، فلا يجوز بيع الفئران، والحيات والعقارب، والخنافس، والنمل ونحوها، إذ لا نفع فيها يقابل بالمال Ulama sepakat, tidak boleh menjual serangga yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Karena syarat barang yang dijual, harus memiliki manfaat. Sehingga tidak boleh menjual tikus, ular, kalajengking, kumbang ampal, semut, dan seterusnya. Karena hewan-hewan ini tidak memiliki manfaat yang senilai dengan harta. أما إذا وجد من الحشرات ما فيه منفعة، فإنه يجوز بيعه كدود القز، حيث يخرج منه الحرير الذي هو أفخر الملابس، والنحل حيث ينتج العسل Sementara hewan kecil yang punya manfaat, boleh dijual, seperti ulat sutra, yang bisa menghasilkan sutra, kain termahal. Atau lebah yang bisa menghasilkan madu. وقد نص الحنفية والشافعية والحنابلة على جواز بيع دود العلق، لحاجة الناس إليه للتداوي بمصه الدم … وقال الحنابلة: بجواز بيع الديدان لصيد السمك. Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali mengatakan bolehnya menjual lintah, karena orang butuh untuk pengobatan dengan menghisap darah… ulama Hambali menegaskan, boleh menjual ulat untuk umpan mancing ikan. Terdapat kaidah umum yang disampaikan al-Hashkafi tentang jual beli hasyarat (hewan kecil), وقد وضع الحصكفي من الحنفية ضابطا لبيع الحشرات، فقال: إن جواز البيع يدور مع حل الانتفاع Al-Hashkafi – ulama Hanafiyah – membuat batasan untuk jual beli hasyarat. Dia menyatakan, “Boleh menjual hasyarat kembali pada adanya unsur manfaat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/280 – 281). Ibnu Qudamah pernah menyinggung khilaf ulama mengenai jual beli ulat untuk mancing. Beliau mengatakan, في بيع العلق التي ينتفع بها، مثل التي تعلق على وجه صاحب الكلف، فتمص الدم، والديدان التي تترك في الشص، فيصاد بها السمك، وجهان؛ أصحهما جواز بيعها؛ لحصول نفعها، فهي كالسمك Mengenai jual beli lintah yang bisa dimanfaatkan, seperti digunakan untuk terapi orang yang terkena jerawat, agar disedot darahnya. Atau ulat yang ditaruh di perangkap untuk menangkap ikan, di sana ada 2 pendapat dalam madzhab Hambali. Pendapat yang benar, boleh diperjual-belikan karena ada manfaatnya, sehingga statusnya sebagaimana ikan. (al-Mughni, 4/327). Jika kita telah mendapat kesimpulan bahwa hukum jual beli serangga semacam ini dibolehkan, karena memiliki manfaat yang mubah, maka hukum budidaya serangga ini juga dibolehkan. Hanya saja, tidak boleh dikonsumsi manusia. Demikian. Allahu a’lam. Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Hukum Kredit Barang, Nama Nama Pintu Surga, Fatwa Mui Tentang Ldii, Gambaran Kematian Menurut Islam, Doa Meminta Keturunan Anak Perempuan, Fadilah Sholawat Nabi Visited 282 times, 1 visit(s) today Post Views: 420 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sirath dan Neraka – Serial Menuju Akhirat #9

Ilustrasi Unplash @brett_ritchie_photographySirath dan NerakaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Sirath adalah sebuah jembatan yang diletakkan di atas neraka jahannam. dan sebagaimana kita ketahui bahwa banyak dalil yang menunjukkan betapa luasnya neraka jahannam. Di antara yang menunjukkan bahwa neraka itu sangat luas adalah adanya matahari dan ada bulan di neraka, agar orang-orang yang menyembah matahari dan bulan sadar dan menyesal bahwa yang mereka sembah juga ada di dalam neraka. Kemudian di antara yang menunjukkan bahwa nereka jahannam itu sangat luas adalah sabda nabi yang menceritakan perjalanan batu di neraka selama tujuh puluh tahun. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.} صحيح مسلم (4/ 2184{(“Kami bersama nabi ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi ﷺ bertanya: “Tahukah kalian apa itu?” kami menjawab: Allah dan rasulNya lebih tahu. Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuhpuluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya.” (HR. Muslim 4/2184 no. 2844)Oleh karenanya jika neraka jahannam sangat panjang dan luas, maka kita menyimpulkan bahwa jembatan sirath juga sangat panjang. Sedangkan disebutkan bahwa di antara sifat-sifat sirath adalah,دَحْضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ… أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ.} صحيح مسلم (1/167{(“Licin (lagi) mengelincirkan, di atasnya ada besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan…Jembatannya lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (HR. Muslim 1/167 no. 183)Maka pada waktu itu seseorang akan sangat butuh cahaya untuk bisa melewati sirath. Jika seseorang tidak memiliki cahaya, maka dia pasti akan terjatuh dengan sifat sirath yang telah kita sebutkan di atas. Namun orang-orang kafir, musyrikin, atheis, penyembah berhala, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah pada waktu itu akan langsung masuk ke dalam neraka tanpa melalui sirath sebagaimana penjelasan para ulama. Sehingga yang akan melewati sirath adalah orang mukmin dan orang munafik.Maka terpisahlah antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Kemudian Allah memberikan kepada mereka masing-masing cahaya. Maka seketika senanglah orang-orang munafik dengan pemberian tersebut. Akan tetapi tiba-tiba Allah mencabut cahaya tersebut dari mereka. Allah ﷻ berfirman,يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah : 9)Ketika orang-orang munafik menipu Allah dan orang-orang yang beriman di dunia dengan keimanan mereka, padahal sebenarnya mereka benci syariat islam, mereka tidak ridha Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi mereka, maka Allah pun menipu mereka di akhirat. Allah memberikan kepada mereka cahaya, namun Allah ambil kembali cahaya tersebut sebelum mereka melewati sirath.Sementara cahaya bagi orang-orang beriman tetap ada. Sehingga orang-orang munafik akan meminta sebagian cahaya orang-orang beriman. Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14)“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu dijadikan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Hadid : 13-14)Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bagaimana orang-orang munafik itu sifatnya senantiasa menungguh kehancuran islam dan mereka adalah orang-orang yang bahagia jika hal tersebut terjadi. Mereka akhirnya terperdaya hingga meninggal dunia, kemudian dibangkitkan, dan pada hari itu mereka tidak mendapatkan cahaya sedikitpun, sehingga mereka terjatuh ke dalam neraka jahannam.Kemudian tinggallah orang-orang yang beriman. Sebagian dari mereka diberikan cahaya setinggi gunung, ada yang diberikan cahaya setinggi pohon kurma. Dan sebagian mereka ada yang diberikan cahaya kecil di ujung jari jempol mereka, mereka berjalan tatkala lampu tersebut menyala, dan jika lampunya padam maka mereka pun berhenti. Kemudian ada sebagian di antara orang-orang beriman ada yang berjalan dengan sangat cepat seperti kejapan mata, adapula melwati sirath seperti kuda yang berlari, adapula yang melewati sirath seperti unta yang berlari. Mereka semua akan melewati sirath sesua dengan kadar keimanan mereka masing-masing. Akan tetapi tidak semua umat Nabi Muhammad ﷺ akan mendaatkan syafaat beliau pada hari itu. Nabi ﷺ yang lebih dahulu melewati sirath pun meminta kepada Allah agar umatnya diselamatkan. Namun ada dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang terjatuh ke dalam neraka jahannam karena tidak kuasa melewati sirath yang dipingirnya ada besi yang mencabik-cabik tubuhnya. Dan ada pula orang yang meskipun terkena besi-besi yang tajam tersebut, tetap bisa sampai ke surga meskipun dalam keadaan telah tercabik-cabik, atau bahkan telah hilang salah satu dari bagian tubuhnya. Para ulama mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang memiliki dosa namun tidak mengharuskan mereka masuk ke dalam neraka. Cukuplah azab yang ada di jembatan sirath sebagai penggugur dosa-dosa mereka.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Sirath dan Neraka – Serial Menuju Akhirat #9

Ilustrasi Unplash @brett_ritchie_photographySirath dan NerakaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Sirath adalah sebuah jembatan yang diletakkan di atas neraka jahannam. dan sebagaimana kita ketahui bahwa banyak dalil yang menunjukkan betapa luasnya neraka jahannam. Di antara yang menunjukkan bahwa neraka itu sangat luas adalah adanya matahari dan ada bulan di neraka, agar orang-orang yang menyembah matahari dan bulan sadar dan menyesal bahwa yang mereka sembah juga ada di dalam neraka. Kemudian di antara yang menunjukkan bahwa nereka jahannam itu sangat luas adalah sabda nabi yang menceritakan perjalanan batu di neraka selama tujuh puluh tahun. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.} صحيح مسلم (4/ 2184{(“Kami bersama nabi ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi ﷺ bertanya: “Tahukah kalian apa itu?” kami menjawab: Allah dan rasulNya lebih tahu. Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuhpuluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya.” (HR. Muslim 4/2184 no. 2844)Oleh karenanya jika neraka jahannam sangat panjang dan luas, maka kita menyimpulkan bahwa jembatan sirath juga sangat panjang. Sedangkan disebutkan bahwa di antara sifat-sifat sirath adalah,دَحْضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ… أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ.} صحيح مسلم (1/167{(“Licin (lagi) mengelincirkan, di atasnya ada besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan…Jembatannya lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (HR. Muslim 1/167 no. 183)Maka pada waktu itu seseorang akan sangat butuh cahaya untuk bisa melewati sirath. Jika seseorang tidak memiliki cahaya, maka dia pasti akan terjatuh dengan sifat sirath yang telah kita sebutkan di atas. Namun orang-orang kafir, musyrikin, atheis, penyembah berhala, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah pada waktu itu akan langsung masuk ke dalam neraka tanpa melalui sirath sebagaimana penjelasan para ulama. Sehingga yang akan melewati sirath adalah orang mukmin dan orang munafik.Maka terpisahlah antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Kemudian Allah memberikan kepada mereka masing-masing cahaya. Maka seketika senanglah orang-orang munafik dengan pemberian tersebut. Akan tetapi tiba-tiba Allah mencabut cahaya tersebut dari mereka. Allah ﷻ berfirman,يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah : 9)Ketika orang-orang munafik menipu Allah dan orang-orang yang beriman di dunia dengan keimanan mereka, padahal sebenarnya mereka benci syariat islam, mereka tidak ridha Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi mereka, maka Allah pun menipu mereka di akhirat. Allah memberikan kepada mereka cahaya, namun Allah ambil kembali cahaya tersebut sebelum mereka melewati sirath.Sementara cahaya bagi orang-orang beriman tetap ada. Sehingga orang-orang munafik akan meminta sebagian cahaya orang-orang beriman. Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14)“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu dijadikan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Hadid : 13-14)Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bagaimana orang-orang munafik itu sifatnya senantiasa menungguh kehancuran islam dan mereka adalah orang-orang yang bahagia jika hal tersebut terjadi. Mereka akhirnya terperdaya hingga meninggal dunia, kemudian dibangkitkan, dan pada hari itu mereka tidak mendapatkan cahaya sedikitpun, sehingga mereka terjatuh ke dalam neraka jahannam.Kemudian tinggallah orang-orang yang beriman. Sebagian dari mereka diberikan cahaya setinggi gunung, ada yang diberikan cahaya setinggi pohon kurma. Dan sebagian mereka ada yang diberikan cahaya kecil di ujung jari jempol mereka, mereka berjalan tatkala lampu tersebut menyala, dan jika lampunya padam maka mereka pun berhenti. Kemudian ada sebagian di antara orang-orang beriman ada yang berjalan dengan sangat cepat seperti kejapan mata, adapula melwati sirath seperti kuda yang berlari, adapula yang melewati sirath seperti unta yang berlari. Mereka semua akan melewati sirath sesua dengan kadar keimanan mereka masing-masing. Akan tetapi tidak semua umat Nabi Muhammad ﷺ akan mendaatkan syafaat beliau pada hari itu. Nabi ﷺ yang lebih dahulu melewati sirath pun meminta kepada Allah agar umatnya diselamatkan. Namun ada dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang terjatuh ke dalam neraka jahannam karena tidak kuasa melewati sirath yang dipingirnya ada besi yang mencabik-cabik tubuhnya. Dan ada pula orang yang meskipun terkena besi-besi yang tajam tersebut, tetap bisa sampai ke surga meskipun dalam keadaan telah tercabik-cabik, atau bahkan telah hilang salah satu dari bagian tubuhnya. Para ulama mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang memiliki dosa namun tidak mengharuskan mereka masuk ke dalam neraka. Cukuplah azab yang ada di jembatan sirath sebagai penggugur dosa-dosa mereka.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Ilustrasi Unplash @brett_ritchie_photographySirath dan NerakaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Sirath adalah sebuah jembatan yang diletakkan di atas neraka jahannam. dan sebagaimana kita ketahui bahwa banyak dalil yang menunjukkan betapa luasnya neraka jahannam. Di antara yang menunjukkan bahwa neraka itu sangat luas adalah adanya matahari dan ada bulan di neraka, agar orang-orang yang menyembah matahari dan bulan sadar dan menyesal bahwa yang mereka sembah juga ada di dalam neraka. Kemudian di antara yang menunjukkan bahwa nereka jahannam itu sangat luas adalah sabda nabi yang menceritakan perjalanan batu di neraka selama tujuh puluh tahun. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.} صحيح مسلم (4/ 2184{(“Kami bersama nabi ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi ﷺ bertanya: “Tahukah kalian apa itu?” kami menjawab: Allah dan rasulNya lebih tahu. Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuhpuluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya.” (HR. Muslim 4/2184 no. 2844)Oleh karenanya jika neraka jahannam sangat panjang dan luas, maka kita menyimpulkan bahwa jembatan sirath juga sangat panjang. Sedangkan disebutkan bahwa di antara sifat-sifat sirath adalah,دَحْضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ… أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ.} صحيح مسلم (1/167{(“Licin (lagi) mengelincirkan, di atasnya ada besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan…Jembatannya lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (HR. Muslim 1/167 no. 183)Maka pada waktu itu seseorang akan sangat butuh cahaya untuk bisa melewati sirath. Jika seseorang tidak memiliki cahaya, maka dia pasti akan terjatuh dengan sifat sirath yang telah kita sebutkan di atas. Namun orang-orang kafir, musyrikin, atheis, penyembah berhala, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah pada waktu itu akan langsung masuk ke dalam neraka tanpa melalui sirath sebagaimana penjelasan para ulama. Sehingga yang akan melewati sirath adalah orang mukmin dan orang munafik.Maka terpisahlah antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Kemudian Allah memberikan kepada mereka masing-masing cahaya. Maka seketika senanglah orang-orang munafik dengan pemberian tersebut. Akan tetapi tiba-tiba Allah mencabut cahaya tersebut dari mereka. Allah ﷻ berfirman,يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah : 9)Ketika orang-orang munafik menipu Allah dan orang-orang yang beriman di dunia dengan keimanan mereka, padahal sebenarnya mereka benci syariat islam, mereka tidak ridha Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi mereka, maka Allah pun menipu mereka di akhirat. Allah memberikan kepada mereka cahaya, namun Allah ambil kembali cahaya tersebut sebelum mereka melewati sirath.Sementara cahaya bagi orang-orang beriman tetap ada. Sehingga orang-orang munafik akan meminta sebagian cahaya orang-orang beriman. Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14)“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu dijadikan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Hadid : 13-14)Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bagaimana orang-orang munafik itu sifatnya senantiasa menungguh kehancuran islam dan mereka adalah orang-orang yang bahagia jika hal tersebut terjadi. Mereka akhirnya terperdaya hingga meninggal dunia, kemudian dibangkitkan, dan pada hari itu mereka tidak mendapatkan cahaya sedikitpun, sehingga mereka terjatuh ke dalam neraka jahannam.Kemudian tinggallah orang-orang yang beriman. Sebagian dari mereka diberikan cahaya setinggi gunung, ada yang diberikan cahaya setinggi pohon kurma. Dan sebagian mereka ada yang diberikan cahaya kecil di ujung jari jempol mereka, mereka berjalan tatkala lampu tersebut menyala, dan jika lampunya padam maka mereka pun berhenti. Kemudian ada sebagian di antara orang-orang beriman ada yang berjalan dengan sangat cepat seperti kejapan mata, adapula melwati sirath seperti kuda yang berlari, adapula yang melewati sirath seperti unta yang berlari. Mereka semua akan melewati sirath sesua dengan kadar keimanan mereka masing-masing. Akan tetapi tidak semua umat Nabi Muhammad ﷺ akan mendaatkan syafaat beliau pada hari itu. Nabi ﷺ yang lebih dahulu melewati sirath pun meminta kepada Allah agar umatnya diselamatkan. Namun ada dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang terjatuh ke dalam neraka jahannam karena tidak kuasa melewati sirath yang dipingirnya ada besi yang mencabik-cabik tubuhnya. Dan ada pula orang yang meskipun terkena besi-besi yang tajam tersebut, tetap bisa sampai ke surga meskipun dalam keadaan telah tercabik-cabik, atau bahkan telah hilang salah satu dari bagian tubuhnya. Para ulama mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang memiliki dosa namun tidak mengharuskan mereka masuk ke dalam neraka. Cukuplah azab yang ada di jembatan sirath sebagai penggugur dosa-dosa mereka.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)


Ilustrasi Unplash @brett_ritchie_photographySirath dan NerakaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Sirath adalah sebuah jembatan yang diletakkan di atas neraka jahannam. dan sebagaimana kita ketahui bahwa banyak dalil yang menunjukkan betapa luasnya neraka jahannam. Di antara yang menunjukkan bahwa neraka itu sangat luas adalah adanya matahari dan ada bulan di neraka, agar orang-orang yang menyembah matahari dan bulan sadar dan menyesal bahwa yang mereka sembah juga ada di dalam neraka. Kemudian di antara yang menunjukkan bahwa nereka jahannam itu sangat luas adalah sabda nabi yang menceritakan perjalanan batu di neraka selama tujuh puluh tahun. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.} صحيح مسلم (4/ 2184{(“Kami bersama nabi ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi ﷺ bertanya: “Tahukah kalian apa itu?” kami menjawab: Allah dan rasulNya lebih tahu. Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuhpuluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya.” (HR. Muslim 4/2184 no. 2844)Oleh karenanya jika neraka jahannam sangat panjang dan luas, maka kita menyimpulkan bahwa jembatan sirath juga sangat panjang. Sedangkan disebutkan bahwa di antara sifat-sifat sirath adalah,دَحْضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ… أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنْ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنْ السَّيْفِ.} صحيح مسلم (1/167{(“Licin (lagi) mengelincirkan, di atasnya ada besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan…Jembatannya lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (HR. Muslim 1/167 no. 183)Maka pada waktu itu seseorang akan sangat butuh cahaya untuk bisa melewati sirath. Jika seseorang tidak memiliki cahaya, maka dia pasti akan terjatuh dengan sifat sirath yang telah kita sebutkan di atas. Namun orang-orang kafir, musyrikin, atheis, penyembah berhala, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah pada waktu itu akan langsung masuk ke dalam neraka tanpa melalui sirath sebagaimana penjelasan para ulama. Sehingga yang akan melewati sirath adalah orang mukmin dan orang munafik.Maka terpisahlah antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Kemudian Allah memberikan kepada mereka masing-masing cahaya. Maka seketika senanglah orang-orang munafik dengan pemberian tersebut. Akan tetapi tiba-tiba Allah mencabut cahaya tersebut dari mereka. Allah ﷻ berfirman,يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah : 9)Ketika orang-orang munafik menipu Allah dan orang-orang yang beriman di dunia dengan keimanan mereka, padahal sebenarnya mereka benci syariat islam, mereka tidak ridha Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi mereka, maka Allah pun menipu mereka di akhirat. Allah memberikan kepada mereka cahaya, namun Allah ambil kembali cahaya tersebut sebelum mereka melewati sirath.Sementara cahaya bagi orang-orang beriman tetap ada. Sehingga orang-orang munafik akan meminta sebagian cahaya orang-orang beriman. Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14)“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu dijadikan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Hadid : 13-14)Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bagaimana orang-orang munafik itu sifatnya senantiasa menungguh kehancuran islam dan mereka adalah orang-orang yang bahagia jika hal tersebut terjadi. Mereka akhirnya terperdaya hingga meninggal dunia, kemudian dibangkitkan, dan pada hari itu mereka tidak mendapatkan cahaya sedikitpun, sehingga mereka terjatuh ke dalam neraka jahannam.Kemudian tinggallah orang-orang yang beriman. Sebagian dari mereka diberikan cahaya setinggi gunung, ada yang diberikan cahaya setinggi pohon kurma. Dan sebagian mereka ada yang diberikan cahaya kecil di ujung jari jempol mereka, mereka berjalan tatkala lampu tersebut menyala, dan jika lampunya padam maka mereka pun berhenti. Kemudian ada sebagian di antara orang-orang beriman ada yang berjalan dengan sangat cepat seperti kejapan mata, adapula melwati sirath seperti kuda yang berlari, adapula yang melewati sirath seperti unta yang berlari. Mereka semua akan melewati sirath sesua dengan kadar keimanan mereka masing-masing. Akan tetapi tidak semua umat Nabi Muhammad ﷺ akan mendaatkan syafaat beliau pada hari itu. Nabi ﷺ yang lebih dahulu melewati sirath pun meminta kepada Allah agar umatnya diselamatkan. Namun ada dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang terjatuh ke dalam neraka jahannam karena tidak kuasa melewati sirath yang dipingirnya ada besi yang mencabik-cabik tubuhnya. Dan ada pula orang yang meskipun terkena besi-besi yang tajam tersebut, tetap bisa sampai ke surga meskipun dalam keadaan telah tercabik-cabik, atau bahkan telah hilang salah satu dari bagian tubuhnya. Para ulama mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang memiliki dosa namun tidak mengharuskan mereka masuk ke dalam neraka. Cukuplah azab yang ada di jembatan sirath sebagai penggugur dosa-dosa mereka.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Berbuat Baik Pada Yang Telah Tiada – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Berbuat Baik Pada Yang Telah Tiada – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/
Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/


Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Bahaya Laten Komunisme Dan Sosialisme

Al-Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami*)Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.Majelis Al-Majma Al-Fiqhi telah mempelajari suatu masalah yang sangat berbahaya, yaitu masalah “Komunisme dan Sosialisme”. Kami juga telah mempelajari hal-hal yang terkait masalah ini yang tersebar di tengah dunia Islam, yang berupa ghazwul fikri (perang pemikiran) yang merancukan entitas kesatuan negara serta membuat rancu entitas perkembangan individu dan akidah mereka. Kekeliruan-kekeliruan yang ada di dalam pemerintahan serta masyarakatnya membuat mereka tidak perhatian terhadap bahaya perang pemikiran ini (yang dilancarkan oleh pengusung komunisme dan sosialisme).Al-Majma Al-Fiqhi merasa bahwa banyak negara di dunia Muslim menderita kevakuman intelektual dan ideologis, terutama berkaitan ide-ide dan keyakinan komunis dan sosialis ini telah diimpor dan disusun sedemikian rupa untuk diterapkan di masyarakat Muslim. Hal ini menyebabkan kegoncangan dalam akidah dan kerusakan pemikiran, perilaku serta nilai-nilai kemanusiaan, juga menyebabkan destabilisasi semua komponen kebaikan yang ada di masyarakat. Tampak jelas sekali bahwa negara-negara besar dengan berbagai rezimnya masing-masing berusaha keras untuk merusak seluruh negara yang menisbatkan diri pada Islam dengan semangat permusuhan dan khawatir akan kebangkitan kaum Muslimin.Oleh karena itu, semua negara anti-Islam mengincar dua hal penting: akidah dan akhlak. Dalam ranah akidah, mereka mendorong setiap orang yang memeluk prinsip komunisme untuk menyatakan kepada banyak orang bahwa prinsip mereka adalah sosialisme, maka mereka mengerahkan stasiun radio, surat kabar dan media propaganda dan penulis-penulis yang disewa. Lalu terkadang mereka menamai gerakan-gerakan mereka ini dengan kebebasan berekspresi, terkadang dinamai modernisme atau terkadang dinamai demokrasi dan sebutan-sebutan lainnya. Adapun hal-hal yang bertentangan dengan ideologi mereka yang merupakan perbaikan dan penjagaan terhadap nilai-nilai serta cita-cita luhur ajaran Islam, mereka sebut sebagai gerakan reaksioner, kemunduran, oportunisme atau semisalnya.Dalam ranah akhlak, mereka menyerukan pornografi dan percampur-bauran lawan jenis, yang mereka namai juga sebagai modernisme dan kebebasan berekspresi. Mereka mengetahui dengan sangat baik bahwa ketika akidah dan akhlak telah dikuasai maka akan dikuasai pula  panel kontrol terhadap pemikiran dan politik. Jika itu terjadi, maka dikuasailah semua pilar-pilar kebaikan dan perbaikan, serta mereka bisa mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka.Maka munculah dari situ konflik intelektual serta konflik ideologi dan politik. Dikuatkanlah semua elemen-elemen pendukung mereka, bahkan didukung dengan penguatan dana, senjata dan media propaganda. Bahkan para pendukung itu ditempatkan di tengah masyarakat dan mengontrol pemerintahan. Maka jangan bertanya lagi apa yang terjadi setelahnya, berupa pembunuhan, penculikan, pengekangan kebebasan dan penahanan bagi semua orang yang memiliki agama atau fitrah yang lurus. Inilah sebabnya mengapa invasi Komunis telah berhasil menyerang negara-negara Muslim yang belum memiliki kekebalan dalam nilai-nilai agama dan akhlaknya untuk menghadapi invasi dari luar. Maka Al-Majma Al-Fiqhi dengan segala keterbatasannya memberikan peringatan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh perang pemikiran, akidah dan politik ini, yang bisa diwujudkan dalam berbagai sarana, baik melalui media, militer dan lainnya.Maka konfrensi Al-Majma Al-Fiqhi yang diselenggarakan di Mekah memutuskan: Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua program belajar dan kurikulum yang saat ini diterapkan di sekolah-sekolah, apakah terbukti telah disusupi oleh pemikiran atheisme, komunisme yang beracun dan secara samar diselipkan untuk memerangi negara-negara berlatar belakang Islam melalui tangan anak-anak, para guru, para penulis dan yang selain mereka. Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua sistem di negara-negara Islam, khususnya di bidang media, ekonomi, perdagangan internal, perdagangan eksternal dan perangkat-perangkat pemerintah daerah, dalam rangka memperbaiki, mengevaluasi dan mempertahankan pilar-pilar ajaran Islam yang shahih (benar), yang hakikatnya pilar-pilar Islam ini berperan dalam menyelamatkan entitas negara dan bangsa serta menjaga masyarakat dari kebencian dan permusuhan sertamenyebarkan semangat persaudaraan, kerja sama dan kerukunan. Kerjasama antara negara dengan masyarakat Islam untuk mempersiapkan sekolah khusus dan pembentukan para du’atul amna’ (para da’i yang menyerukan keamanan), sebagai bentuk langkah konservatif untuk melawan invasi dengan segala bentuknya, serta menghadapinya dengan pendidikan yang mendalam dan mudah diakses oleh semua orang yang tertarik untuk mempelajari hakikat invasi asing dan bahayanya di satu sisi, serta mempelajari hakikat Islam dan keindahan-keindahan Islam pada sisi yang lain. Kemudian sekolah-sekolah dan para da’i tersebut ketika sudah menjamur di negara-negara Islam, diharapkan mereka bisa meng-counter pemikiran-pemikiran Barat yang menyimpang tersebut, sehingga tegaklah barisan ilmiah, amaliyah yang terstruktur dan realistis untuk membendung semua arus yang mengincar sisa-sisa nilai-nilai Islam di hati rakyat. Al-Majma Al-Fiqhi juga menyerukan kepada seluruh ulama Muslim dimanapun berada dan seluruh organisasi Islam di dunia untuk bergandengan tangan melawan pemikiran-pemikiran menyimpang yang berbahaya yang mengincar agama, akidah dan syariat Islam. Dan mengusulkan hukuman bagi para penyerunya di negara masing-masing serta menjelaskan kepada masyarakat mengenai hakikat sosialisme dan komunisme, bahwa sosialisme dan komunisme ini memerangi Islam.Sungguh Allah lah yang memfirmankan kebenaran dan Dia pula yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya seluruhnya.Sumber: http://iswy.co/e42s1___Fatwa Asy Syaikh Abdul Aziz bin BazAsy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:ليس عند الشيوعية إلا الفساد: فساد الأخلاق، وفساد الأديان، والحرمان من كل خير، فهي تشيع الرذيلة، وتقتل الفضيلة، وتحارب الأديان كلها، كل ما يسمى دين ولاسيما دين الإسلام الحق، وهي تزيد الفقير فقرًا، وتحارب الغنى وترد أهله إلى الفقر، وتستولي على مصالح البلاد وثرواتها وخيراتها، ويختص بها الحزب الشيوعي الحاكم يتمتع بخيراتها وما فيها من النعم، وتبقى الشعوب محرومة مضطهدة مظلومة في أشد الفقر والحاجة والبؤس والبعد عما يجب عليهم من دين الله“Tidak ada dalam komunisme itu kecuali keburukan: Degradasi akhlak Degradasi agama Terhalangnya semua kebaikan Menyebarkan keburukan-keburukan Mengebiri berbagai keutamaan Memerangi semua agama. Semua yang disebut sebagai agama, diperangi oleh komunisme. Terutama agama Islam yang haq Orang miskin bertambah miskin Memerangi orang-orang kaya, sehingga mereka kembali miskin Mereka merebut kepentingan, kekayaan dan aset-aset negara. Terutama partai komunis yang menguasai pemerintahan, mereka akan menikmati semua kekayaan dan aset negara Sedangkan masyarakat terus dirampas dan ditindas, sehingga terus berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan paling ekstrem, serta jauh dari agama Allah”. Sumber: https://bit.ly/3e6FGYQ***Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id*) Adalah divisi khusus dari OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang membahas fikih Islam. OKI sendiri saat ini terdiri dari 57 negara.🔍 Hijrah Menjadi Lebih Baik, Cerita Atau Kejadian Nyata Tentang Al Khabir, Urutan Bacaan Dzikir, Allahummaghfirlaha Warhamha Tulisan Arab, Sabda Rasulullah Tentang Jodoh

Bahaya Laten Komunisme Dan Sosialisme

Al-Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami*)Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.Majelis Al-Majma Al-Fiqhi telah mempelajari suatu masalah yang sangat berbahaya, yaitu masalah “Komunisme dan Sosialisme”. Kami juga telah mempelajari hal-hal yang terkait masalah ini yang tersebar di tengah dunia Islam, yang berupa ghazwul fikri (perang pemikiran) yang merancukan entitas kesatuan negara serta membuat rancu entitas perkembangan individu dan akidah mereka. Kekeliruan-kekeliruan yang ada di dalam pemerintahan serta masyarakatnya membuat mereka tidak perhatian terhadap bahaya perang pemikiran ini (yang dilancarkan oleh pengusung komunisme dan sosialisme).Al-Majma Al-Fiqhi merasa bahwa banyak negara di dunia Muslim menderita kevakuman intelektual dan ideologis, terutama berkaitan ide-ide dan keyakinan komunis dan sosialis ini telah diimpor dan disusun sedemikian rupa untuk diterapkan di masyarakat Muslim. Hal ini menyebabkan kegoncangan dalam akidah dan kerusakan pemikiran, perilaku serta nilai-nilai kemanusiaan, juga menyebabkan destabilisasi semua komponen kebaikan yang ada di masyarakat. Tampak jelas sekali bahwa negara-negara besar dengan berbagai rezimnya masing-masing berusaha keras untuk merusak seluruh negara yang menisbatkan diri pada Islam dengan semangat permusuhan dan khawatir akan kebangkitan kaum Muslimin.Oleh karena itu, semua negara anti-Islam mengincar dua hal penting: akidah dan akhlak. Dalam ranah akidah, mereka mendorong setiap orang yang memeluk prinsip komunisme untuk menyatakan kepada banyak orang bahwa prinsip mereka adalah sosialisme, maka mereka mengerahkan stasiun radio, surat kabar dan media propaganda dan penulis-penulis yang disewa. Lalu terkadang mereka menamai gerakan-gerakan mereka ini dengan kebebasan berekspresi, terkadang dinamai modernisme atau terkadang dinamai demokrasi dan sebutan-sebutan lainnya. Adapun hal-hal yang bertentangan dengan ideologi mereka yang merupakan perbaikan dan penjagaan terhadap nilai-nilai serta cita-cita luhur ajaran Islam, mereka sebut sebagai gerakan reaksioner, kemunduran, oportunisme atau semisalnya.Dalam ranah akhlak, mereka menyerukan pornografi dan percampur-bauran lawan jenis, yang mereka namai juga sebagai modernisme dan kebebasan berekspresi. Mereka mengetahui dengan sangat baik bahwa ketika akidah dan akhlak telah dikuasai maka akan dikuasai pula  panel kontrol terhadap pemikiran dan politik. Jika itu terjadi, maka dikuasailah semua pilar-pilar kebaikan dan perbaikan, serta mereka bisa mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka.Maka munculah dari situ konflik intelektual serta konflik ideologi dan politik. Dikuatkanlah semua elemen-elemen pendukung mereka, bahkan didukung dengan penguatan dana, senjata dan media propaganda. Bahkan para pendukung itu ditempatkan di tengah masyarakat dan mengontrol pemerintahan. Maka jangan bertanya lagi apa yang terjadi setelahnya, berupa pembunuhan, penculikan, pengekangan kebebasan dan penahanan bagi semua orang yang memiliki agama atau fitrah yang lurus. Inilah sebabnya mengapa invasi Komunis telah berhasil menyerang negara-negara Muslim yang belum memiliki kekebalan dalam nilai-nilai agama dan akhlaknya untuk menghadapi invasi dari luar. Maka Al-Majma Al-Fiqhi dengan segala keterbatasannya memberikan peringatan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh perang pemikiran, akidah dan politik ini, yang bisa diwujudkan dalam berbagai sarana, baik melalui media, militer dan lainnya.Maka konfrensi Al-Majma Al-Fiqhi yang diselenggarakan di Mekah memutuskan: Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua program belajar dan kurikulum yang saat ini diterapkan di sekolah-sekolah, apakah terbukti telah disusupi oleh pemikiran atheisme, komunisme yang beracun dan secara samar diselipkan untuk memerangi negara-negara berlatar belakang Islam melalui tangan anak-anak, para guru, para penulis dan yang selain mereka. Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua sistem di negara-negara Islam, khususnya di bidang media, ekonomi, perdagangan internal, perdagangan eksternal dan perangkat-perangkat pemerintah daerah, dalam rangka memperbaiki, mengevaluasi dan mempertahankan pilar-pilar ajaran Islam yang shahih (benar), yang hakikatnya pilar-pilar Islam ini berperan dalam menyelamatkan entitas negara dan bangsa serta menjaga masyarakat dari kebencian dan permusuhan sertamenyebarkan semangat persaudaraan, kerja sama dan kerukunan. Kerjasama antara negara dengan masyarakat Islam untuk mempersiapkan sekolah khusus dan pembentukan para du’atul amna’ (para da’i yang menyerukan keamanan), sebagai bentuk langkah konservatif untuk melawan invasi dengan segala bentuknya, serta menghadapinya dengan pendidikan yang mendalam dan mudah diakses oleh semua orang yang tertarik untuk mempelajari hakikat invasi asing dan bahayanya di satu sisi, serta mempelajari hakikat Islam dan keindahan-keindahan Islam pada sisi yang lain. Kemudian sekolah-sekolah dan para da’i tersebut ketika sudah menjamur di negara-negara Islam, diharapkan mereka bisa meng-counter pemikiran-pemikiran Barat yang menyimpang tersebut, sehingga tegaklah barisan ilmiah, amaliyah yang terstruktur dan realistis untuk membendung semua arus yang mengincar sisa-sisa nilai-nilai Islam di hati rakyat. Al-Majma Al-Fiqhi juga menyerukan kepada seluruh ulama Muslim dimanapun berada dan seluruh organisasi Islam di dunia untuk bergandengan tangan melawan pemikiran-pemikiran menyimpang yang berbahaya yang mengincar agama, akidah dan syariat Islam. Dan mengusulkan hukuman bagi para penyerunya di negara masing-masing serta menjelaskan kepada masyarakat mengenai hakikat sosialisme dan komunisme, bahwa sosialisme dan komunisme ini memerangi Islam.Sungguh Allah lah yang memfirmankan kebenaran dan Dia pula yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya seluruhnya.Sumber: http://iswy.co/e42s1___Fatwa Asy Syaikh Abdul Aziz bin BazAsy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:ليس عند الشيوعية إلا الفساد: فساد الأخلاق، وفساد الأديان، والحرمان من كل خير، فهي تشيع الرذيلة، وتقتل الفضيلة، وتحارب الأديان كلها، كل ما يسمى دين ولاسيما دين الإسلام الحق، وهي تزيد الفقير فقرًا، وتحارب الغنى وترد أهله إلى الفقر، وتستولي على مصالح البلاد وثرواتها وخيراتها، ويختص بها الحزب الشيوعي الحاكم يتمتع بخيراتها وما فيها من النعم، وتبقى الشعوب محرومة مضطهدة مظلومة في أشد الفقر والحاجة والبؤس والبعد عما يجب عليهم من دين الله“Tidak ada dalam komunisme itu kecuali keburukan: Degradasi akhlak Degradasi agama Terhalangnya semua kebaikan Menyebarkan keburukan-keburukan Mengebiri berbagai keutamaan Memerangi semua agama. Semua yang disebut sebagai agama, diperangi oleh komunisme. Terutama agama Islam yang haq Orang miskin bertambah miskin Memerangi orang-orang kaya, sehingga mereka kembali miskin Mereka merebut kepentingan, kekayaan dan aset-aset negara. Terutama partai komunis yang menguasai pemerintahan, mereka akan menikmati semua kekayaan dan aset negara Sedangkan masyarakat terus dirampas dan ditindas, sehingga terus berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan paling ekstrem, serta jauh dari agama Allah”. Sumber: https://bit.ly/3e6FGYQ***Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id*) Adalah divisi khusus dari OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang membahas fikih Islam. OKI sendiri saat ini terdiri dari 57 negara.🔍 Hijrah Menjadi Lebih Baik, Cerita Atau Kejadian Nyata Tentang Al Khabir, Urutan Bacaan Dzikir, Allahummaghfirlaha Warhamha Tulisan Arab, Sabda Rasulullah Tentang Jodoh
Al-Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami*)Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.Majelis Al-Majma Al-Fiqhi telah mempelajari suatu masalah yang sangat berbahaya, yaitu masalah “Komunisme dan Sosialisme”. Kami juga telah mempelajari hal-hal yang terkait masalah ini yang tersebar di tengah dunia Islam, yang berupa ghazwul fikri (perang pemikiran) yang merancukan entitas kesatuan negara serta membuat rancu entitas perkembangan individu dan akidah mereka. Kekeliruan-kekeliruan yang ada di dalam pemerintahan serta masyarakatnya membuat mereka tidak perhatian terhadap bahaya perang pemikiran ini (yang dilancarkan oleh pengusung komunisme dan sosialisme).Al-Majma Al-Fiqhi merasa bahwa banyak negara di dunia Muslim menderita kevakuman intelektual dan ideologis, terutama berkaitan ide-ide dan keyakinan komunis dan sosialis ini telah diimpor dan disusun sedemikian rupa untuk diterapkan di masyarakat Muslim. Hal ini menyebabkan kegoncangan dalam akidah dan kerusakan pemikiran, perilaku serta nilai-nilai kemanusiaan, juga menyebabkan destabilisasi semua komponen kebaikan yang ada di masyarakat. Tampak jelas sekali bahwa negara-negara besar dengan berbagai rezimnya masing-masing berusaha keras untuk merusak seluruh negara yang menisbatkan diri pada Islam dengan semangat permusuhan dan khawatir akan kebangkitan kaum Muslimin.Oleh karena itu, semua negara anti-Islam mengincar dua hal penting: akidah dan akhlak. Dalam ranah akidah, mereka mendorong setiap orang yang memeluk prinsip komunisme untuk menyatakan kepada banyak orang bahwa prinsip mereka adalah sosialisme, maka mereka mengerahkan stasiun radio, surat kabar dan media propaganda dan penulis-penulis yang disewa. Lalu terkadang mereka menamai gerakan-gerakan mereka ini dengan kebebasan berekspresi, terkadang dinamai modernisme atau terkadang dinamai demokrasi dan sebutan-sebutan lainnya. Adapun hal-hal yang bertentangan dengan ideologi mereka yang merupakan perbaikan dan penjagaan terhadap nilai-nilai serta cita-cita luhur ajaran Islam, mereka sebut sebagai gerakan reaksioner, kemunduran, oportunisme atau semisalnya.Dalam ranah akhlak, mereka menyerukan pornografi dan percampur-bauran lawan jenis, yang mereka namai juga sebagai modernisme dan kebebasan berekspresi. Mereka mengetahui dengan sangat baik bahwa ketika akidah dan akhlak telah dikuasai maka akan dikuasai pula  panel kontrol terhadap pemikiran dan politik. Jika itu terjadi, maka dikuasailah semua pilar-pilar kebaikan dan perbaikan, serta mereka bisa mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka.Maka munculah dari situ konflik intelektual serta konflik ideologi dan politik. Dikuatkanlah semua elemen-elemen pendukung mereka, bahkan didukung dengan penguatan dana, senjata dan media propaganda. Bahkan para pendukung itu ditempatkan di tengah masyarakat dan mengontrol pemerintahan. Maka jangan bertanya lagi apa yang terjadi setelahnya, berupa pembunuhan, penculikan, pengekangan kebebasan dan penahanan bagi semua orang yang memiliki agama atau fitrah yang lurus. Inilah sebabnya mengapa invasi Komunis telah berhasil menyerang negara-negara Muslim yang belum memiliki kekebalan dalam nilai-nilai agama dan akhlaknya untuk menghadapi invasi dari luar. Maka Al-Majma Al-Fiqhi dengan segala keterbatasannya memberikan peringatan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh perang pemikiran, akidah dan politik ini, yang bisa diwujudkan dalam berbagai sarana, baik melalui media, militer dan lainnya.Maka konfrensi Al-Majma Al-Fiqhi yang diselenggarakan di Mekah memutuskan: Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua program belajar dan kurikulum yang saat ini diterapkan di sekolah-sekolah, apakah terbukti telah disusupi oleh pemikiran atheisme, komunisme yang beracun dan secara samar diselipkan untuk memerangi negara-negara berlatar belakang Islam melalui tangan anak-anak, para guru, para penulis dan yang selain mereka. Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua sistem di negara-negara Islam, khususnya di bidang media, ekonomi, perdagangan internal, perdagangan eksternal dan perangkat-perangkat pemerintah daerah, dalam rangka memperbaiki, mengevaluasi dan mempertahankan pilar-pilar ajaran Islam yang shahih (benar), yang hakikatnya pilar-pilar Islam ini berperan dalam menyelamatkan entitas negara dan bangsa serta menjaga masyarakat dari kebencian dan permusuhan sertamenyebarkan semangat persaudaraan, kerja sama dan kerukunan. Kerjasama antara negara dengan masyarakat Islam untuk mempersiapkan sekolah khusus dan pembentukan para du’atul amna’ (para da’i yang menyerukan keamanan), sebagai bentuk langkah konservatif untuk melawan invasi dengan segala bentuknya, serta menghadapinya dengan pendidikan yang mendalam dan mudah diakses oleh semua orang yang tertarik untuk mempelajari hakikat invasi asing dan bahayanya di satu sisi, serta mempelajari hakikat Islam dan keindahan-keindahan Islam pada sisi yang lain. Kemudian sekolah-sekolah dan para da’i tersebut ketika sudah menjamur di negara-negara Islam, diharapkan mereka bisa meng-counter pemikiran-pemikiran Barat yang menyimpang tersebut, sehingga tegaklah barisan ilmiah, amaliyah yang terstruktur dan realistis untuk membendung semua arus yang mengincar sisa-sisa nilai-nilai Islam di hati rakyat. Al-Majma Al-Fiqhi juga menyerukan kepada seluruh ulama Muslim dimanapun berada dan seluruh organisasi Islam di dunia untuk bergandengan tangan melawan pemikiran-pemikiran menyimpang yang berbahaya yang mengincar agama, akidah dan syariat Islam. Dan mengusulkan hukuman bagi para penyerunya di negara masing-masing serta menjelaskan kepada masyarakat mengenai hakikat sosialisme dan komunisme, bahwa sosialisme dan komunisme ini memerangi Islam.Sungguh Allah lah yang memfirmankan kebenaran dan Dia pula yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya seluruhnya.Sumber: http://iswy.co/e42s1___Fatwa Asy Syaikh Abdul Aziz bin BazAsy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:ليس عند الشيوعية إلا الفساد: فساد الأخلاق، وفساد الأديان، والحرمان من كل خير، فهي تشيع الرذيلة، وتقتل الفضيلة، وتحارب الأديان كلها، كل ما يسمى دين ولاسيما دين الإسلام الحق، وهي تزيد الفقير فقرًا، وتحارب الغنى وترد أهله إلى الفقر، وتستولي على مصالح البلاد وثرواتها وخيراتها، ويختص بها الحزب الشيوعي الحاكم يتمتع بخيراتها وما فيها من النعم، وتبقى الشعوب محرومة مضطهدة مظلومة في أشد الفقر والحاجة والبؤس والبعد عما يجب عليهم من دين الله“Tidak ada dalam komunisme itu kecuali keburukan: Degradasi akhlak Degradasi agama Terhalangnya semua kebaikan Menyebarkan keburukan-keburukan Mengebiri berbagai keutamaan Memerangi semua agama. Semua yang disebut sebagai agama, diperangi oleh komunisme. Terutama agama Islam yang haq Orang miskin bertambah miskin Memerangi orang-orang kaya, sehingga mereka kembali miskin Mereka merebut kepentingan, kekayaan dan aset-aset negara. Terutama partai komunis yang menguasai pemerintahan, mereka akan menikmati semua kekayaan dan aset negara Sedangkan masyarakat terus dirampas dan ditindas, sehingga terus berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan paling ekstrem, serta jauh dari agama Allah”. Sumber: https://bit.ly/3e6FGYQ***Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id*) Adalah divisi khusus dari OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang membahas fikih Islam. OKI sendiri saat ini terdiri dari 57 negara.🔍 Hijrah Menjadi Lebih Baik, Cerita Atau Kejadian Nyata Tentang Al Khabir, Urutan Bacaan Dzikir, Allahummaghfirlaha Warhamha Tulisan Arab, Sabda Rasulullah Tentang Jodoh


Al-Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami*)Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi yang tidak ada Nabi lagi setelahnya.Majelis Al-Majma Al-Fiqhi telah mempelajari suatu masalah yang sangat berbahaya, yaitu masalah “Komunisme dan Sosialisme”. Kami juga telah mempelajari hal-hal yang terkait masalah ini yang tersebar di tengah dunia Islam, yang berupa ghazwul fikri (perang pemikiran) yang merancukan entitas kesatuan negara serta membuat rancu entitas perkembangan individu dan akidah mereka. Kekeliruan-kekeliruan yang ada di dalam pemerintahan serta masyarakatnya membuat mereka tidak perhatian terhadap bahaya perang pemikiran ini (yang dilancarkan oleh pengusung komunisme dan sosialisme).Al-Majma Al-Fiqhi merasa bahwa banyak negara di dunia Muslim menderita kevakuman intelektual dan ideologis, terutama berkaitan ide-ide dan keyakinan komunis dan sosialis ini telah diimpor dan disusun sedemikian rupa untuk diterapkan di masyarakat Muslim. Hal ini menyebabkan kegoncangan dalam akidah dan kerusakan pemikiran, perilaku serta nilai-nilai kemanusiaan, juga menyebabkan destabilisasi semua komponen kebaikan yang ada di masyarakat. Tampak jelas sekali bahwa negara-negara besar dengan berbagai rezimnya masing-masing berusaha keras untuk merusak seluruh negara yang menisbatkan diri pada Islam dengan semangat permusuhan dan khawatir akan kebangkitan kaum Muslimin.Oleh karena itu, semua negara anti-Islam mengincar dua hal penting: akidah dan akhlak. Dalam ranah akidah, mereka mendorong setiap orang yang memeluk prinsip komunisme untuk menyatakan kepada banyak orang bahwa prinsip mereka adalah sosialisme, maka mereka mengerahkan stasiun radio, surat kabar dan media propaganda dan penulis-penulis yang disewa. Lalu terkadang mereka menamai gerakan-gerakan mereka ini dengan kebebasan berekspresi, terkadang dinamai modernisme atau terkadang dinamai demokrasi dan sebutan-sebutan lainnya. Adapun hal-hal yang bertentangan dengan ideologi mereka yang merupakan perbaikan dan penjagaan terhadap nilai-nilai serta cita-cita luhur ajaran Islam, mereka sebut sebagai gerakan reaksioner, kemunduran, oportunisme atau semisalnya.Dalam ranah akhlak, mereka menyerukan pornografi dan percampur-bauran lawan jenis, yang mereka namai juga sebagai modernisme dan kebebasan berekspresi. Mereka mengetahui dengan sangat baik bahwa ketika akidah dan akhlak telah dikuasai maka akan dikuasai pula  panel kontrol terhadap pemikiran dan politik. Jika itu terjadi, maka dikuasailah semua pilar-pilar kebaikan dan perbaikan, serta mereka bisa mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka.Maka munculah dari situ konflik intelektual serta konflik ideologi dan politik. Dikuatkanlah semua elemen-elemen pendukung mereka, bahkan didukung dengan penguatan dana, senjata dan media propaganda. Bahkan para pendukung itu ditempatkan di tengah masyarakat dan mengontrol pemerintahan. Maka jangan bertanya lagi apa yang terjadi setelahnya, berupa pembunuhan, penculikan, pengekangan kebebasan dan penahanan bagi semua orang yang memiliki agama atau fitrah yang lurus. Inilah sebabnya mengapa invasi Komunis telah berhasil menyerang negara-negara Muslim yang belum memiliki kekebalan dalam nilai-nilai agama dan akhlaknya untuk menghadapi invasi dari luar. Maka Al-Majma Al-Fiqhi dengan segala keterbatasannya memberikan peringatan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh perang pemikiran, akidah dan politik ini, yang bisa diwujudkan dalam berbagai sarana, baik melalui media, militer dan lainnya.Maka konfrensi Al-Majma Al-Fiqhi yang diselenggarakan di Mekah memutuskan: Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua program belajar dan kurikulum yang saat ini diterapkan di sekolah-sekolah, apakah terbukti telah disusupi oleh pemikiran atheisme, komunisme yang beracun dan secara samar diselipkan untuk memerangi negara-negara berlatar belakang Islam melalui tangan anak-anak, para guru, para penulis dan yang selain mereka. Secepatnya kembali mengecek ulang terhadap semua sistem di negara-negara Islam, khususnya di bidang media, ekonomi, perdagangan internal, perdagangan eksternal dan perangkat-perangkat pemerintah daerah, dalam rangka memperbaiki, mengevaluasi dan mempertahankan pilar-pilar ajaran Islam yang shahih (benar), yang hakikatnya pilar-pilar Islam ini berperan dalam menyelamatkan entitas negara dan bangsa serta menjaga masyarakat dari kebencian dan permusuhan sertamenyebarkan semangat persaudaraan, kerja sama dan kerukunan. Kerjasama antara negara dengan masyarakat Islam untuk mempersiapkan sekolah khusus dan pembentukan para du’atul amna’ (para da’i yang menyerukan keamanan), sebagai bentuk langkah konservatif untuk melawan invasi dengan segala bentuknya, serta menghadapinya dengan pendidikan yang mendalam dan mudah diakses oleh semua orang yang tertarik untuk mempelajari hakikat invasi asing dan bahayanya di satu sisi, serta mempelajari hakikat Islam dan keindahan-keindahan Islam pada sisi yang lain. Kemudian sekolah-sekolah dan para da’i tersebut ketika sudah menjamur di negara-negara Islam, diharapkan mereka bisa meng-counter pemikiran-pemikiran Barat yang menyimpang tersebut, sehingga tegaklah barisan ilmiah, amaliyah yang terstruktur dan realistis untuk membendung semua arus yang mengincar sisa-sisa nilai-nilai Islam di hati rakyat. Al-Majma Al-Fiqhi juga menyerukan kepada seluruh ulama Muslim dimanapun berada dan seluruh organisasi Islam di dunia untuk bergandengan tangan melawan pemikiran-pemikiran menyimpang yang berbahaya yang mengincar agama, akidah dan syariat Islam. Dan mengusulkan hukuman bagi para penyerunya di negara masing-masing serta menjelaskan kepada masyarakat mengenai hakikat sosialisme dan komunisme, bahwa sosialisme dan komunisme ini memerangi Islam.Sungguh Allah lah yang memfirmankan kebenaran dan Dia pula yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya seluruhnya.Sumber: http://iswy.co/e42s1___Fatwa Asy Syaikh Abdul Aziz bin BazAsy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:ليس عند الشيوعية إلا الفساد: فساد الأخلاق، وفساد الأديان، والحرمان من كل خير، فهي تشيع الرذيلة، وتقتل الفضيلة، وتحارب الأديان كلها، كل ما يسمى دين ولاسيما دين الإسلام الحق، وهي تزيد الفقير فقرًا، وتحارب الغنى وترد أهله إلى الفقر، وتستولي على مصالح البلاد وثرواتها وخيراتها، ويختص بها الحزب الشيوعي الحاكم يتمتع بخيراتها وما فيها من النعم، وتبقى الشعوب محرومة مضطهدة مظلومة في أشد الفقر والحاجة والبؤس والبعد عما يجب عليهم من دين الله“Tidak ada dalam komunisme itu kecuali keburukan: Degradasi akhlak Degradasi agama Terhalangnya semua kebaikan Menyebarkan keburukan-keburukan Mengebiri berbagai keutamaan Memerangi semua agama. Semua yang disebut sebagai agama, diperangi oleh komunisme. Terutama agama Islam yang haq Orang miskin bertambah miskin Memerangi orang-orang kaya, sehingga mereka kembali miskin Mereka merebut kepentingan, kekayaan dan aset-aset negara. Terutama partai komunis yang menguasai pemerintahan, mereka akan menikmati semua kekayaan dan aset negara Sedangkan masyarakat terus dirampas dan ditindas, sehingga terus berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan paling ekstrem, serta jauh dari agama Allah”. Sumber: https://bit.ly/3e6FGYQ***Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id*) Adalah divisi khusus dari OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang membahas fikih Islam. OKI sendiri saat ini terdiri dari 57 negara.🔍 Hijrah Menjadi Lebih Baik, Cerita Atau Kejadian Nyata Tentang Al Khabir, Urutan Bacaan Dzikir, Allahummaghfirlaha Warhamha Tulisan Arab, Sabda Rasulullah Tentang Jodoh

Inilah Resep Manjur Menangkal Penyakit Hasad

Sobat! Anda merasa khawatir dijangkiti penyakit hasad? Atau bahkan anda merasa bahwa diri anda benar-benar telah dijangkiti penyakit kronis ini?Bisa jadi, ketika anda membaca status ini anda merasa tersinggung dan berkata: “aaah, sori ya, saya tuh orangnya baik, jadi pantang hasad kepada siapapun“. Ya, saat ini anda berkata demikian, namun benarkan faktanya demikian? Coba diingat-ingat lagi, sikap anda tatkala mengetahui atau melihat saudara anda mendapat nikmat baru. Anda acuh tak acuh atau anda hanyut dalam pembicaran tentang nikmat tersebut, minimal anda kagu dengan nikmat yang dia dapat dan tidak anda miliki tersebut? Ya, sadarilah bahwa sikap anda ini adalah awal dari jalan pintas masuknya hasad atau iri pada hati anda.Baca Juga: Kerusakan Dari Sifat Dengki (Hasad)Sekarang anda memuji, atau kagum, dan membicarakannya, namun tatkala anda telah menyendiri, anda mulai berpikir, bagaimana caranya anda bisa memiliki kenikmatan serupa, dan bisa jadi di hati anda terbetik ucapan: “mengapa dia kok bisa mendapatkannya sedangkan anda tidak atau belum bisa memilikinya?” Itulah benih benih hasad mulai tumbuh dan bersemi di hati anda.Sobat! Jangan kawatir, ada resep manjur penawar dan sekaligus penangkal penyakit hasad. Resep ini murah, mudah dan tentu berkah. Setiap kali anda melihat saudara anda memiliki satu kelebihan atau nikmat, segera angkat kedua tangan anda dan pusatkan hati anda untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan melimpahkan kepada anda kenikmatan serupa atau bahkan lebih darinya.Ingat! Allah Ta’ala tiada pernah kehabisan stok kenikmatan serupa bahkan yang lebih baik dari yang dimiliki saudara anda, dan Allah Ta’ala juga kuasa memberikannya kepada anda.SImak dan camkanlah kisah berikut:فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ {37} هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء {38} فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”” (QS. Ali Imran 37-39).Cermatilah, bagaimana nabi Zakaria ‘alaihissalam setelah mendapat jawaban bahwa itu adalah karunia Allah, nabi Zakaria alaihissalam, segera berdoa, bukan hanyut dalam kekaguman atau ikut sibuk mencicipi atau mendengarkan cerita kronologi datangnya makanan tersebut.Sobat! Sejak sekarang, mari kita rubah kebiasaan lama anda, setiap kali anda melihat atau mengetahui saudara anda mendapat nikmat baru, segera sibukkan diri dengan berdoa meminta kepada Allah Ta’ala kenikmatan serupa atau yang lebih baik darinya. Jangan sampai anda hanyut dalam kekaguman apalagi sampai melotot terbelalak karenanya.وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى“Dan janganlah kamu pusatkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thaha 131).Baca Juga:Selamat mencoba resep ini, semoga anda terbebas dari benih-benih hasad dan iri kepada siapapun yang mendapat karunia dan nikmat.***Penulis: Ust. Dr. Muhammad Arifin BaderiArtikel Muslim.or.id🔍 Makna Surat Al Fatihah, Takut Allah, Ayat Tentang Manusia, Kata Mutiara Imam Syafi'i Bahasa Arab, Doa Shalat Istisqa

Inilah Resep Manjur Menangkal Penyakit Hasad

Sobat! Anda merasa khawatir dijangkiti penyakit hasad? Atau bahkan anda merasa bahwa diri anda benar-benar telah dijangkiti penyakit kronis ini?Bisa jadi, ketika anda membaca status ini anda merasa tersinggung dan berkata: “aaah, sori ya, saya tuh orangnya baik, jadi pantang hasad kepada siapapun“. Ya, saat ini anda berkata demikian, namun benarkan faktanya demikian? Coba diingat-ingat lagi, sikap anda tatkala mengetahui atau melihat saudara anda mendapat nikmat baru. Anda acuh tak acuh atau anda hanyut dalam pembicaran tentang nikmat tersebut, minimal anda kagu dengan nikmat yang dia dapat dan tidak anda miliki tersebut? Ya, sadarilah bahwa sikap anda ini adalah awal dari jalan pintas masuknya hasad atau iri pada hati anda.Baca Juga: Kerusakan Dari Sifat Dengki (Hasad)Sekarang anda memuji, atau kagum, dan membicarakannya, namun tatkala anda telah menyendiri, anda mulai berpikir, bagaimana caranya anda bisa memiliki kenikmatan serupa, dan bisa jadi di hati anda terbetik ucapan: “mengapa dia kok bisa mendapatkannya sedangkan anda tidak atau belum bisa memilikinya?” Itulah benih benih hasad mulai tumbuh dan bersemi di hati anda.Sobat! Jangan kawatir, ada resep manjur penawar dan sekaligus penangkal penyakit hasad. Resep ini murah, mudah dan tentu berkah. Setiap kali anda melihat saudara anda memiliki satu kelebihan atau nikmat, segera angkat kedua tangan anda dan pusatkan hati anda untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan melimpahkan kepada anda kenikmatan serupa atau bahkan lebih darinya.Ingat! Allah Ta’ala tiada pernah kehabisan stok kenikmatan serupa bahkan yang lebih baik dari yang dimiliki saudara anda, dan Allah Ta’ala juga kuasa memberikannya kepada anda.SImak dan camkanlah kisah berikut:فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ {37} هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء {38} فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”” (QS. Ali Imran 37-39).Cermatilah, bagaimana nabi Zakaria ‘alaihissalam setelah mendapat jawaban bahwa itu adalah karunia Allah, nabi Zakaria alaihissalam, segera berdoa, bukan hanyut dalam kekaguman atau ikut sibuk mencicipi atau mendengarkan cerita kronologi datangnya makanan tersebut.Sobat! Sejak sekarang, mari kita rubah kebiasaan lama anda, setiap kali anda melihat atau mengetahui saudara anda mendapat nikmat baru, segera sibukkan diri dengan berdoa meminta kepada Allah Ta’ala kenikmatan serupa atau yang lebih baik darinya. Jangan sampai anda hanyut dalam kekaguman apalagi sampai melotot terbelalak karenanya.وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى“Dan janganlah kamu pusatkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thaha 131).Baca Juga:Selamat mencoba resep ini, semoga anda terbebas dari benih-benih hasad dan iri kepada siapapun yang mendapat karunia dan nikmat.***Penulis: Ust. Dr. Muhammad Arifin BaderiArtikel Muslim.or.id🔍 Makna Surat Al Fatihah, Takut Allah, Ayat Tentang Manusia, Kata Mutiara Imam Syafi'i Bahasa Arab, Doa Shalat Istisqa
Sobat! Anda merasa khawatir dijangkiti penyakit hasad? Atau bahkan anda merasa bahwa diri anda benar-benar telah dijangkiti penyakit kronis ini?Bisa jadi, ketika anda membaca status ini anda merasa tersinggung dan berkata: “aaah, sori ya, saya tuh orangnya baik, jadi pantang hasad kepada siapapun“. Ya, saat ini anda berkata demikian, namun benarkan faktanya demikian? Coba diingat-ingat lagi, sikap anda tatkala mengetahui atau melihat saudara anda mendapat nikmat baru. Anda acuh tak acuh atau anda hanyut dalam pembicaran tentang nikmat tersebut, minimal anda kagu dengan nikmat yang dia dapat dan tidak anda miliki tersebut? Ya, sadarilah bahwa sikap anda ini adalah awal dari jalan pintas masuknya hasad atau iri pada hati anda.Baca Juga: Kerusakan Dari Sifat Dengki (Hasad)Sekarang anda memuji, atau kagum, dan membicarakannya, namun tatkala anda telah menyendiri, anda mulai berpikir, bagaimana caranya anda bisa memiliki kenikmatan serupa, dan bisa jadi di hati anda terbetik ucapan: “mengapa dia kok bisa mendapatkannya sedangkan anda tidak atau belum bisa memilikinya?” Itulah benih benih hasad mulai tumbuh dan bersemi di hati anda.Sobat! Jangan kawatir, ada resep manjur penawar dan sekaligus penangkal penyakit hasad. Resep ini murah, mudah dan tentu berkah. Setiap kali anda melihat saudara anda memiliki satu kelebihan atau nikmat, segera angkat kedua tangan anda dan pusatkan hati anda untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan melimpahkan kepada anda kenikmatan serupa atau bahkan lebih darinya.Ingat! Allah Ta’ala tiada pernah kehabisan stok kenikmatan serupa bahkan yang lebih baik dari yang dimiliki saudara anda, dan Allah Ta’ala juga kuasa memberikannya kepada anda.SImak dan camkanlah kisah berikut:فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ {37} هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء {38} فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”” (QS. Ali Imran 37-39).Cermatilah, bagaimana nabi Zakaria ‘alaihissalam setelah mendapat jawaban bahwa itu adalah karunia Allah, nabi Zakaria alaihissalam, segera berdoa, bukan hanyut dalam kekaguman atau ikut sibuk mencicipi atau mendengarkan cerita kronologi datangnya makanan tersebut.Sobat! Sejak sekarang, mari kita rubah kebiasaan lama anda, setiap kali anda melihat atau mengetahui saudara anda mendapat nikmat baru, segera sibukkan diri dengan berdoa meminta kepada Allah Ta’ala kenikmatan serupa atau yang lebih baik darinya. Jangan sampai anda hanyut dalam kekaguman apalagi sampai melotot terbelalak karenanya.وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى“Dan janganlah kamu pusatkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thaha 131).Baca Juga:Selamat mencoba resep ini, semoga anda terbebas dari benih-benih hasad dan iri kepada siapapun yang mendapat karunia dan nikmat.***Penulis: Ust. Dr. Muhammad Arifin BaderiArtikel Muslim.or.id🔍 Makna Surat Al Fatihah, Takut Allah, Ayat Tentang Manusia, Kata Mutiara Imam Syafi'i Bahasa Arab, Doa Shalat Istisqa


Sobat! Anda merasa khawatir dijangkiti penyakit hasad? Atau bahkan anda merasa bahwa diri anda benar-benar telah dijangkiti penyakit kronis ini?Bisa jadi, ketika anda membaca status ini anda merasa tersinggung dan berkata: “aaah, sori ya, saya tuh orangnya baik, jadi pantang hasad kepada siapapun“. Ya, saat ini anda berkata demikian, namun benarkan faktanya demikian? Coba diingat-ingat lagi, sikap anda tatkala mengetahui atau melihat saudara anda mendapat nikmat baru. Anda acuh tak acuh atau anda hanyut dalam pembicaran tentang nikmat tersebut, minimal anda kagu dengan nikmat yang dia dapat dan tidak anda miliki tersebut? Ya, sadarilah bahwa sikap anda ini adalah awal dari jalan pintas masuknya hasad atau iri pada hati anda.Baca Juga: Kerusakan Dari Sifat Dengki (Hasad)Sekarang anda memuji, atau kagum, dan membicarakannya, namun tatkala anda telah menyendiri, anda mulai berpikir, bagaimana caranya anda bisa memiliki kenikmatan serupa, dan bisa jadi di hati anda terbetik ucapan: “mengapa dia kok bisa mendapatkannya sedangkan anda tidak atau belum bisa memilikinya?” Itulah benih benih hasad mulai tumbuh dan bersemi di hati anda.Sobat! Jangan kawatir, ada resep manjur penawar dan sekaligus penangkal penyakit hasad. Resep ini murah, mudah dan tentu berkah. Setiap kali anda melihat saudara anda memiliki satu kelebihan atau nikmat, segera angkat kedua tangan anda dan pusatkan hati anda untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan melimpahkan kepada anda kenikmatan serupa atau bahkan lebih darinya.Ingat! Allah Ta’ala tiada pernah kehabisan stok kenikmatan serupa bahkan yang lebih baik dari yang dimiliki saudara anda, dan Allah Ta’ala juga kuasa memberikannya kepada anda.SImak dan camkanlah kisah berikut:فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ {37} هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء {38} فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”” (QS. Ali Imran 37-39).Cermatilah, bagaimana nabi Zakaria ‘alaihissalam setelah mendapat jawaban bahwa itu adalah karunia Allah, nabi Zakaria alaihissalam, segera berdoa, bukan hanyut dalam kekaguman atau ikut sibuk mencicipi atau mendengarkan cerita kronologi datangnya makanan tersebut.Sobat! Sejak sekarang, mari kita rubah kebiasaan lama anda, setiap kali anda melihat atau mengetahui saudara anda mendapat nikmat baru, segera sibukkan diri dengan berdoa meminta kepada Allah Ta’ala kenikmatan serupa atau yang lebih baik darinya. Jangan sampai anda hanyut dalam kekaguman apalagi sampai melotot terbelalak karenanya.وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى“Dan janganlah kamu pusatkan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thaha 131).Baca Juga:Selamat mencoba resep ini, semoga anda terbebas dari benih-benih hasad dan iri kepada siapapun yang mendapat karunia dan nikmat.***Penulis: Ust. Dr. Muhammad Arifin BaderiArtikel Muslim.or.id🔍 Makna Surat Al Fatihah, Takut Allah, Ayat Tentang Manusia, Kata Mutiara Imam Syafi'i Bahasa Arab, Doa Shalat Istisqa

Nasihat Berharga dari Syaikh Bin Baz Untuk Kaum Muslimin

Dan aku wasiatkan kepada semua orang yang sampai kepada mereka ucapanku ini, aku wasiatkan agar mereka memberi perhatian pada Al-Quran. Dalam kitab Allah terdapat petunjuk dan cahaya dan ia merupakan pangkal segala kebaikan. “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9) “Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.'” (QS. Fussilat: 33). Dan Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89) Maka sudah menjadi kewajiban bagi ulama, penuntut ilmu dan juga orang yang membaca kitab Allah, baik dengan hafalan ataupun melihat untuk benar-benar perhatian terhadap kitab yang agung ini dan selalu membacanya dengan sepenuh hati, mempelajarinya, menadaburinya dan memikirkan kandungannya pada waktu-waktu yang tepat dalam setiap malamnya dan siangnya dan juga pada waktu-waktu luangnya sehingga dia bisa mengambil manfaat dari firman Tuhan-nya, mengenali siapa Tuhannya dan kemudian mengamalkannya, Allah yang Maha Suci berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29) Allah yang Maha Suci berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) Maka wajib bagi semua muslim secara umum, para ulama secara khusus, dan juga penuntut ilmu untuk memberi perhatian secara khusus dan mendalam terhadap Al-Quran yang agung ini dengan menadaburinya, memikirkan kandungannya, memperbanyak membacanya, mencari faedahnya, dan kemudian mengamalkannya. Dan apabila dia menemukan kesulitan, hendaknya seorang yang berilmu menemui temannya dan orang yang memiliki ilmu dalam bidang ini, dan dia bahas masalah yang sulit baginya bersama dia dan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang sudah terkenal karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak  seperti tafsir Ibnu Jarir, Al-Baghawi, Ibnu Katsir dan lain sebagainya, kemudian dia pelajari lagi apa yang sulit baginya dan mengambil manfaat dari kesulitan tersebut, dan merujuk pada dalil-dalil dari hadis jika ada perkara yang kurang jelas dari sebuah ayat. Dan tidak bermudah-mudahan walaupun, -Alhamdulillah- semua kitab-kitab ini mudah. Dan ilmu-ilmu pendukung yang mempermudah memahami Al-Quran juga mudah didapatkan, seperti kitab kata-kata asing, bahasa, hadis, usul fikih, mustalah al-hadis, dan ilmu-ilmu lain yang diperlukan oleh seorang penuntut ilmu. Dan bagi yang membaca Al-Quran namun dia tidak memahaminya, niscaya nanti Allah akan mudahkan baginya jika dia punya tekad untuk menadaburinya dan memikirkan kandungannya, dan dengan membacanya akan melembutkan hatinya, menguatkan imannya, mengingatkannya pada akhirat dan hak-hak Allah, Dan padanya terdapat sebab bertambahnya ilmu, petunjuk dan ketakwaan dan dia tidak akan dihalangi dari mengambil ilmu dari Al-Quran dan kebaikan yang ingin dia dapatkan. Kemudian perhatikan sunnah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia adalah wahyu kedua, ia merupakan sumber kedua, barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir. Siapa yang mengingkarinya dan berkata, “Tidak perlu menggunakan sunnah.” Maka dia telah kafir dan sesat menurut kesepakatan umat Islam. Sunnah adalah sumber hukum kedua yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya untuk menafsirkan kitab Allah, menjadi dalil penguat dalam Al-Quran dan menjelaskan hukum-hukum lain yang hanya ada dalam sunnah. Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (QS. An-Nahl: 44) Allah telah menjadikan Nabi-Nya orang yang menjelaskan dan menerangkan kepada manusia apa-apa yang terkadang tidak mereka fahami dari kitab Allah. Maka, sunnah itu menjelaskan Al-Quran, menjadi dalil untuknya, dan menjabarkannya. Oleh sebab itu, aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku, para ulama dan penuntut ilmu agar memberikan perhatian terhadap sunnah, bersemangat terhadapnya, mengulang-ulang matan-matannya dan sanad-sanadnya, dan bersemangat untuk menghafalkan semampu yang mereka bisa. Dan aku wasiatkan juga untuk menghafal kitab ‘Umdatul Hadis dan Bulughul Maram, dua kitab ini sangat bermanfaat. Terutama sekali bagi para penuntut ilmu, dua kitab ini sangat penting kedudukannya dan apabila dia mampu menghafal Muntaqal Akhbar maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan dan cahaya di atas cahaya. Namun minimal dia menghafal Umdatul Hadis karya Syeikh Abdul Ghani dan Bulughul Maram karya Al-Hafiz Ibnu Hajar. Kitab ini adalah dua di antara banyak kitab yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya. Maka aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk menghafal keduanya dan memberi perhatian khusus pada keduanya karena hal itu akan membantu dalam memahami maksud Al-Quran dan kandungan sunnah. Kemudian aku juga mewasiatkan kepada saudaraku semuanya, para lelaki dan wanita, selain wasiat di muka untuk Al-Quran terhadap Al-Quran dan Sunnah, aku juga berwasiat agar mendengarkan Quran Radio karena sebagian orang belum bisa membaca dengan baik sehingga bacaan al-Qurannya buruk. Maka hendaknya dia mendengarkan bacaan al-Quran dari Quran Radio karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan juga ada faedahnya. Padanya terdapat pembahasan-pembahasan seputar agama yang bisa diambil manfaatnya oleh penuntut ilmu dan juga oleh yang awam ataupun yang sudah mengerti agama baik kalangan pria atau wanita. Maka aku sarankan Quran Radio, menyimaknya dengan baik dan mengambil manfaat darinya. Dan aku juga mewasiatkan agar menyimak program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, yang di situ terdapat tanya jawab bersama sejumlah ulama. Maka aku sarankan untuk menyimak program ini dan mengambil manfaat darinya terutama bagi kalangan laki-laki dan wanita yang masih awam. Karena dari program tersebut ada manfaat yang sangat besar, kaum muslim dan muslimah bisa mengambil faedah dari program tersebut meskipun mereka berada di atas tempat tidur, di tempat duduknya masing-masing ataupun di dalam mobil mereka. Dan ini merupakan salah satu nikmat dari Allah dan keutamaan dari-Nya yang sepantasnya dimanfaatkan baik-baik dan kita sibukkan diri dengannya. Demikian wasiatku dan aku tidak ingin berpanjang lebar. Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberikan taufik pada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih. ======= وَأُوْصِيْ جَمِيعَ مَنْ تَبْلُغُهُمْ كَلِمَتِيْ هَذِهِ وَأُوصِيهِمْ بِأَنْ يُعْنَوْا بِكِتَابِ الله فَكِتَابُ الله فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَهُوَ أَصْلٌ لِكُلِّ خَيْرٍ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ الإِسْرَاءُ – اَلآيَةُ 9 قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ فُصِّلَتْ – اَلآيَةُ 44 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ اَلنَّحْلُ – اَلآيَةُ 89 فَالْوَاجِبُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَعَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَعَلَى مَنْ يَقْرَأُ كِتَابَ الله حِفْظًا أَوْ نَظَرًا أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ الْعَظِيمِ وَيُقْبِلَ عَلِيْهِ بِكُلِّ قَلْبِهِ دِرَاسَةً وَتَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا فِي الْأَوْقَاتِ الْمُنَاسِبَةِ فِي لَيْلِهِ وَنَهَارِهِ وَأَوْقَاتِ فَرَاغِهِ حَتَّى يَسْتَفِيْدَ مِنْ كَلَاَمِ رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْلَمَ عَلَى رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْمَلَ بِذَلِكَ، يَقُولُ سُبْحَانَهُ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ص – اَلْآيَةُ 29 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا مُحَمَّدٌ – اَلْآيَةُ 24 فَعَلَى الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً وَعَلَى الْعُلَمَاءِ خَاصَّةً وَطَلَبَةِ الْعِلْمِ أَنْ يُعْنَوْا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ عِنَايَةً خَاصَّةً تَامَّةً تَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا وَإِكْثَارًا مِنْ تِلَاوَتِهِ وَطَلَبًا لِلْفَائِدَةِ ثُمَّ الْعَمَلُ وَعِنْدَ الْإِشْكَالِ يُرَاجِعُ الْعَالِمُ زَمِيلَهُ وَمَنْ لَدَيْهِ فَائِدَةٌ فِي هَذَا وَيَبْحَثُ مَعَهُ بِمَا أَشْكَلَ وَيُرَاجِعُ كُتُبَ التَّفْسِيرِ الْمَعْرُوفَةِ وَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيرٌ كَابْنِ جَرِيرٍ وَالْبَغَوِيِّ وَابْنِ كَثِيرٍ وَغَيْرِهِمْ يُرَاجِعُهَا بِمَا أَشْكَلَ وَيَسْتَفِيْدُ فِي حَلِّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ وَيُرَاجِعُ الْأَدِلَّةَ مِنَ الْأَحَادِيثِ إِذَا خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ مِنَ الْآيَةِ وَلَا يَتَسَاهَلُ وَلَوْ هَذِهِ الْكُتُبُ- بِحَمْدِ الله- مُيَسَّرَةٌ وَالْأَدَوَاتُ الَّتِي يُسْتَعَانُ بِهَا مُيَسَّرَةٌ مِنْ كُتُبِ الْغَرِيبِ وَ كُتُبِ اللُّغَةِ وَكُتُبِ الْحَدِيثِ وَأُصُولِ الْفِقْهِ وَمُصْطَلَحِ الْحَديثِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَحْتَاجُهُ طَالِبُ الْعِلْمِ وَمَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَيْسَ بِعَالَمٍ سَوْفَ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ إِذَا تَدَبَّرَ وَتَعَقَّلَ وَفِي ذَلِكَ أَيْضًا رِقَّةٌ لِقَلْبِهُ وَقُوَّةٌ لِإِيمَانِهِ وَتَذْكِيرٌ لَهُ بِالْآخِرَةِ وَبِحَقِّ الله وَفِيْهِ زِيَادَتُهُ عِلْمًا وَهُدًى وَتَقْوَى وَلَا يُحْرَمُ مِنْ عِلْمٍ يَسْتَفِيْدُهُ وَخَيْرٍ يَصِلُ إِلَيْهِ ثُمَّ السُّنَّةُ سُنَّةُ الرَّسُولِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْوَحْيُ الثَانِيْ وَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ مَنْ أَنْكَرَهَا قَدْ كَفَرَ مَنْ أَنْكَرَهَا وَقَالَ: لَا حَاجَةَ إِلَيْهَا فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ لِتَفْسِيرِ كِتَابِ اللهِ وَالدَّلَالَةِ عَلَى مَا فِيْهِ وَلِبَيَانِ أَحْكَامٍ أُخْرَى جَاءْتْ بِهَا السُّنَّةُ قَالَ سُبْحَانَهُ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ تُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ النَّحْلُ – اَلْآيَةُ 44 وَاللهُ جَعَلَ نَبِيَّهُ مُبَيِّنًا لِلنَّاسِ مُوَضِّحًا لَهُمْ مَا قَدْ يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ الله فَالسُّنَّةُ تُبَيِّنُ الْقُرْآنَ وَتَدَلُّ عَلَيْهِ وَتُعَبِّرُ عَنْهُ فَأُوْصِيْ إِخْوَانِيْ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطَلَبَةَ الْعِلْمِ بِالْعِنَايَةِ بِالسُّنَّةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا وَمُرَاجَعَةِ مُتُنِهَا وَأَسَانِيْدِهَا وَالْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ ذَلِكَ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِعُمْدَةِ الْحَديثِ وَبُلُوغِ الْمَرَامِ بِحِفْظِ هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ فَإِنَّهُمَا مُفِيدَانِ جِدًا وَلَا سِيَّمَا لِحَقِّ طَالِبِ الْعِلْمِ هَذَانِ كِتَابَانِ لَهُمَا شَأْنٌ وَإِذَا اِسْتَطَاعَ أَنْ يَحْفَظَ مُنْتَقَى الْأَخْبَارِ فَذَلِكَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ وَ نُوْرٌ إلى نُوْرٍ وَلَكِنَّ عَلَى الْأَقَلِّ عُمْدَةُ الْحَديثِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْغَنِيِّ وَبُلُوغُ الْمَرَامِ لِلْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ هَذَانِ كِتَابَانِ مِنْ أَحْسَنِ الْكُتُبِ وَمِنْ أَنْفَعِ الْكُتُبِ فَأَنَا أُوْصِيْ إِخْوَانِيْ بِحِفْظِهِمَا وَعِنَايَةٍ بِهِمَا لِأَنَّهُمَا يُعِيْنَانِ عَلَى فَهْمِ الْكِتَابِ وَعَلَى مَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ ثُمَّ أُوْصِيْ أَيْضًا إِخْوَانِيْ جَمِيعًا مِن الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِكِتَابِ الله وَالسُّنَّةِ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِسَمَاعِ إذَاعَةِ القُرْآنِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ لَا تَتَيَسَّرُ لَهُ الْقِرَاءَةُ وَتَكُونُ قِرَاءَتُهُ ضَعِيفَةً فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسْمَعَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ مِنَ الْإذَاعَةِ فَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ وَفِيهَا فَائِدَةٌ وَفِيهَا أَحَادِيثُ دِينِيَّةٌ يَسْتَفِيْدُ مِنْهَا طَالِبُ الْعِلْمِ وَيَسْتَفِيْدُ مِنْهَا الْعَامَّةُ وَالْخَاصَّةُ وَالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ فَأَنَا أُوْصِيْ بِإذَاعَةِ الْقُرْآنِ وَالْاِشْتِغَالِ بِسَمَاعِهَا وَ الْاِسْتِفَادَةِ مِنْهَا كَمَا أُوْصِيْ أَيْضًا بِبَرْنَامَجِ النُّورِ عَلَى الدَّرْبِ بَرْنَامَجِ الْنُوْرِ عَلَى الدَّرْبِ فِيهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُسْأَلُوْنَ وَ يُجِيْبُوْنَ فَأَنَا أُوْصِيْ بِسَمَاعِ هَذَا الْبَرْنَامَجِ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْهُ وَلَا سِيَّمَا لِعَامَّةِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَإِنَّ فَائِدَةً مِنْ ذَلِكَ عَظِيْمَةٌ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ وَالْمُؤْمِنَةَ يَسْتَفِيْدَانِ مِنْ هَذَا الْبَرْناَمَجِ وَهُمَا عَلَى فِرَاشِهِمَا وَهُمَا فِي مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا فِي سَيَّارَتِهِمَا وَهَذِهِ نِعْمَةٌ مِنْ نِعَمِ الله وَفَضْلٌ مِنَ الله فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُشْتَغَلَ إِلَى هَذَا وَيُغْتَنَمَ هَذَا وَلَا أُحِبُّ أَنْ أُطِيْلَ وَأَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

Nasihat Berharga dari Syaikh Bin Baz Untuk Kaum Muslimin

Dan aku wasiatkan kepada semua orang yang sampai kepada mereka ucapanku ini, aku wasiatkan agar mereka memberi perhatian pada Al-Quran. Dalam kitab Allah terdapat petunjuk dan cahaya dan ia merupakan pangkal segala kebaikan. “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9) “Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.'” (QS. Fussilat: 33). Dan Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89) Maka sudah menjadi kewajiban bagi ulama, penuntut ilmu dan juga orang yang membaca kitab Allah, baik dengan hafalan ataupun melihat untuk benar-benar perhatian terhadap kitab yang agung ini dan selalu membacanya dengan sepenuh hati, mempelajarinya, menadaburinya dan memikirkan kandungannya pada waktu-waktu yang tepat dalam setiap malamnya dan siangnya dan juga pada waktu-waktu luangnya sehingga dia bisa mengambil manfaat dari firman Tuhan-nya, mengenali siapa Tuhannya dan kemudian mengamalkannya, Allah yang Maha Suci berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29) Allah yang Maha Suci berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) Maka wajib bagi semua muslim secara umum, para ulama secara khusus, dan juga penuntut ilmu untuk memberi perhatian secara khusus dan mendalam terhadap Al-Quran yang agung ini dengan menadaburinya, memikirkan kandungannya, memperbanyak membacanya, mencari faedahnya, dan kemudian mengamalkannya. Dan apabila dia menemukan kesulitan, hendaknya seorang yang berilmu menemui temannya dan orang yang memiliki ilmu dalam bidang ini, dan dia bahas masalah yang sulit baginya bersama dia dan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang sudah terkenal karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak  seperti tafsir Ibnu Jarir, Al-Baghawi, Ibnu Katsir dan lain sebagainya, kemudian dia pelajari lagi apa yang sulit baginya dan mengambil manfaat dari kesulitan tersebut, dan merujuk pada dalil-dalil dari hadis jika ada perkara yang kurang jelas dari sebuah ayat. Dan tidak bermudah-mudahan walaupun, -Alhamdulillah- semua kitab-kitab ini mudah. Dan ilmu-ilmu pendukung yang mempermudah memahami Al-Quran juga mudah didapatkan, seperti kitab kata-kata asing, bahasa, hadis, usul fikih, mustalah al-hadis, dan ilmu-ilmu lain yang diperlukan oleh seorang penuntut ilmu. Dan bagi yang membaca Al-Quran namun dia tidak memahaminya, niscaya nanti Allah akan mudahkan baginya jika dia punya tekad untuk menadaburinya dan memikirkan kandungannya, dan dengan membacanya akan melembutkan hatinya, menguatkan imannya, mengingatkannya pada akhirat dan hak-hak Allah, Dan padanya terdapat sebab bertambahnya ilmu, petunjuk dan ketakwaan dan dia tidak akan dihalangi dari mengambil ilmu dari Al-Quran dan kebaikan yang ingin dia dapatkan. Kemudian perhatikan sunnah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia adalah wahyu kedua, ia merupakan sumber kedua, barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir. Siapa yang mengingkarinya dan berkata, “Tidak perlu menggunakan sunnah.” Maka dia telah kafir dan sesat menurut kesepakatan umat Islam. Sunnah adalah sumber hukum kedua yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya untuk menafsirkan kitab Allah, menjadi dalil penguat dalam Al-Quran dan menjelaskan hukum-hukum lain yang hanya ada dalam sunnah. Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (QS. An-Nahl: 44) Allah telah menjadikan Nabi-Nya orang yang menjelaskan dan menerangkan kepada manusia apa-apa yang terkadang tidak mereka fahami dari kitab Allah. Maka, sunnah itu menjelaskan Al-Quran, menjadi dalil untuknya, dan menjabarkannya. Oleh sebab itu, aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku, para ulama dan penuntut ilmu agar memberikan perhatian terhadap sunnah, bersemangat terhadapnya, mengulang-ulang matan-matannya dan sanad-sanadnya, dan bersemangat untuk menghafalkan semampu yang mereka bisa. Dan aku wasiatkan juga untuk menghafal kitab ‘Umdatul Hadis dan Bulughul Maram, dua kitab ini sangat bermanfaat. Terutama sekali bagi para penuntut ilmu, dua kitab ini sangat penting kedudukannya dan apabila dia mampu menghafal Muntaqal Akhbar maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan dan cahaya di atas cahaya. Namun minimal dia menghafal Umdatul Hadis karya Syeikh Abdul Ghani dan Bulughul Maram karya Al-Hafiz Ibnu Hajar. Kitab ini adalah dua di antara banyak kitab yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya. Maka aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk menghafal keduanya dan memberi perhatian khusus pada keduanya karena hal itu akan membantu dalam memahami maksud Al-Quran dan kandungan sunnah. Kemudian aku juga mewasiatkan kepada saudaraku semuanya, para lelaki dan wanita, selain wasiat di muka untuk Al-Quran terhadap Al-Quran dan Sunnah, aku juga berwasiat agar mendengarkan Quran Radio karena sebagian orang belum bisa membaca dengan baik sehingga bacaan al-Qurannya buruk. Maka hendaknya dia mendengarkan bacaan al-Quran dari Quran Radio karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan juga ada faedahnya. Padanya terdapat pembahasan-pembahasan seputar agama yang bisa diambil manfaatnya oleh penuntut ilmu dan juga oleh yang awam ataupun yang sudah mengerti agama baik kalangan pria atau wanita. Maka aku sarankan Quran Radio, menyimaknya dengan baik dan mengambil manfaat darinya. Dan aku juga mewasiatkan agar menyimak program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, yang di situ terdapat tanya jawab bersama sejumlah ulama. Maka aku sarankan untuk menyimak program ini dan mengambil manfaat darinya terutama bagi kalangan laki-laki dan wanita yang masih awam. Karena dari program tersebut ada manfaat yang sangat besar, kaum muslim dan muslimah bisa mengambil faedah dari program tersebut meskipun mereka berada di atas tempat tidur, di tempat duduknya masing-masing ataupun di dalam mobil mereka. Dan ini merupakan salah satu nikmat dari Allah dan keutamaan dari-Nya yang sepantasnya dimanfaatkan baik-baik dan kita sibukkan diri dengannya. Demikian wasiatku dan aku tidak ingin berpanjang lebar. Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberikan taufik pada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih. ======= وَأُوْصِيْ جَمِيعَ مَنْ تَبْلُغُهُمْ كَلِمَتِيْ هَذِهِ وَأُوصِيهِمْ بِأَنْ يُعْنَوْا بِكِتَابِ الله فَكِتَابُ الله فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَهُوَ أَصْلٌ لِكُلِّ خَيْرٍ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ الإِسْرَاءُ – اَلآيَةُ 9 قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ فُصِّلَتْ – اَلآيَةُ 44 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ اَلنَّحْلُ – اَلآيَةُ 89 فَالْوَاجِبُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَعَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَعَلَى مَنْ يَقْرَأُ كِتَابَ الله حِفْظًا أَوْ نَظَرًا أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ الْعَظِيمِ وَيُقْبِلَ عَلِيْهِ بِكُلِّ قَلْبِهِ دِرَاسَةً وَتَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا فِي الْأَوْقَاتِ الْمُنَاسِبَةِ فِي لَيْلِهِ وَنَهَارِهِ وَأَوْقَاتِ فَرَاغِهِ حَتَّى يَسْتَفِيْدَ مِنْ كَلَاَمِ رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْلَمَ عَلَى رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْمَلَ بِذَلِكَ، يَقُولُ سُبْحَانَهُ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ص – اَلْآيَةُ 29 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا مُحَمَّدٌ – اَلْآيَةُ 24 فَعَلَى الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً وَعَلَى الْعُلَمَاءِ خَاصَّةً وَطَلَبَةِ الْعِلْمِ أَنْ يُعْنَوْا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ عِنَايَةً خَاصَّةً تَامَّةً تَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا وَإِكْثَارًا مِنْ تِلَاوَتِهِ وَطَلَبًا لِلْفَائِدَةِ ثُمَّ الْعَمَلُ وَعِنْدَ الْإِشْكَالِ يُرَاجِعُ الْعَالِمُ زَمِيلَهُ وَمَنْ لَدَيْهِ فَائِدَةٌ فِي هَذَا وَيَبْحَثُ مَعَهُ بِمَا أَشْكَلَ وَيُرَاجِعُ كُتُبَ التَّفْسِيرِ الْمَعْرُوفَةِ وَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيرٌ كَابْنِ جَرِيرٍ وَالْبَغَوِيِّ وَابْنِ كَثِيرٍ وَغَيْرِهِمْ يُرَاجِعُهَا بِمَا أَشْكَلَ وَيَسْتَفِيْدُ فِي حَلِّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ وَيُرَاجِعُ الْأَدِلَّةَ مِنَ الْأَحَادِيثِ إِذَا خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ مِنَ الْآيَةِ وَلَا يَتَسَاهَلُ وَلَوْ هَذِهِ الْكُتُبُ- بِحَمْدِ الله- مُيَسَّرَةٌ وَالْأَدَوَاتُ الَّتِي يُسْتَعَانُ بِهَا مُيَسَّرَةٌ مِنْ كُتُبِ الْغَرِيبِ وَ كُتُبِ اللُّغَةِ وَكُتُبِ الْحَدِيثِ وَأُصُولِ الْفِقْهِ وَمُصْطَلَحِ الْحَديثِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَحْتَاجُهُ طَالِبُ الْعِلْمِ وَمَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَيْسَ بِعَالَمٍ سَوْفَ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ إِذَا تَدَبَّرَ وَتَعَقَّلَ وَفِي ذَلِكَ أَيْضًا رِقَّةٌ لِقَلْبِهُ وَقُوَّةٌ لِإِيمَانِهِ وَتَذْكِيرٌ لَهُ بِالْآخِرَةِ وَبِحَقِّ الله وَفِيْهِ زِيَادَتُهُ عِلْمًا وَهُدًى وَتَقْوَى وَلَا يُحْرَمُ مِنْ عِلْمٍ يَسْتَفِيْدُهُ وَخَيْرٍ يَصِلُ إِلَيْهِ ثُمَّ السُّنَّةُ سُنَّةُ الرَّسُولِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْوَحْيُ الثَانِيْ وَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ مَنْ أَنْكَرَهَا قَدْ كَفَرَ مَنْ أَنْكَرَهَا وَقَالَ: لَا حَاجَةَ إِلَيْهَا فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ لِتَفْسِيرِ كِتَابِ اللهِ وَالدَّلَالَةِ عَلَى مَا فِيْهِ وَلِبَيَانِ أَحْكَامٍ أُخْرَى جَاءْتْ بِهَا السُّنَّةُ قَالَ سُبْحَانَهُ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ تُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ النَّحْلُ – اَلْآيَةُ 44 وَاللهُ جَعَلَ نَبِيَّهُ مُبَيِّنًا لِلنَّاسِ مُوَضِّحًا لَهُمْ مَا قَدْ يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ الله فَالسُّنَّةُ تُبَيِّنُ الْقُرْآنَ وَتَدَلُّ عَلَيْهِ وَتُعَبِّرُ عَنْهُ فَأُوْصِيْ إِخْوَانِيْ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطَلَبَةَ الْعِلْمِ بِالْعِنَايَةِ بِالسُّنَّةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا وَمُرَاجَعَةِ مُتُنِهَا وَأَسَانِيْدِهَا وَالْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ ذَلِكَ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِعُمْدَةِ الْحَديثِ وَبُلُوغِ الْمَرَامِ بِحِفْظِ هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ فَإِنَّهُمَا مُفِيدَانِ جِدًا وَلَا سِيَّمَا لِحَقِّ طَالِبِ الْعِلْمِ هَذَانِ كِتَابَانِ لَهُمَا شَأْنٌ وَإِذَا اِسْتَطَاعَ أَنْ يَحْفَظَ مُنْتَقَى الْأَخْبَارِ فَذَلِكَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ وَ نُوْرٌ إلى نُوْرٍ وَلَكِنَّ عَلَى الْأَقَلِّ عُمْدَةُ الْحَديثِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْغَنِيِّ وَبُلُوغُ الْمَرَامِ لِلْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ هَذَانِ كِتَابَانِ مِنْ أَحْسَنِ الْكُتُبِ وَمِنْ أَنْفَعِ الْكُتُبِ فَأَنَا أُوْصِيْ إِخْوَانِيْ بِحِفْظِهِمَا وَعِنَايَةٍ بِهِمَا لِأَنَّهُمَا يُعِيْنَانِ عَلَى فَهْمِ الْكِتَابِ وَعَلَى مَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ ثُمَّ أُوْصِيْ أَيْضًا إِخْوَانِيْ جَمِيعًا مِن الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِكِتَابِ الله وَالسُّنَّةِ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِسَمَاعِ إذَاعَةِ القُرْآنِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ لَا تَتَيَسَّرُ لَهُ الْقِرَاءَةُ وَتَكُونُ قِرَاءَتُهُ ضَعِيفَةً فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسْمَعَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ مِنَ الْإذَاعَةِ فَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ وَفِيهَا فَائِدَةٌ وَفِيهَا أَحَادِيثُ دِينِيَّةٌ يَسْتَفِيْدُ مِنْهَا طَالِبُ الْعِلْمِ وَيَسْتَفِيْدُ مِنْهَا الْعَامَّةُ وَالْخَاصَّةُ وَالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ فَأَنَا أُوْصِيْ بِإذَاعَةِ الْقُرْآنِ وَالْاِشْتِغَالِ بِسَمَاعِهَا وَ الْاِسْتِفَادَةِ مِنْهَا كَمَا أُوْصِيْ أَيْضًا بِبَرْنَامَجِ النُّورِ عَلَى الدَّرْبِ بَرْنَامَجِ الْنُوْرِ عَلَى الدَّرْبِ فِيهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُسْأَلُوْنَ وَ يُجِيْبُوْنَ فَأَنَا أُوْصِيْ بِسَمَاعِ هَذَا الْبَرْنَامَجِ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْهُ وَلَا سِيَّمَا لِعَامَّةِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَإِنَّ فَائِدَةً مِنْ ذَلِكَ عَظِيْمَةٌ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ وَالْمُؤْمِنَةَ يَسْتَفِيْدَانِ مِنْ هَذَا الْبَرْناَمَجِ وَهُمَا عَلَى فِرَاشِهِمَا وَهُمَا فِي مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا فِي سَيَّارَتِهِمَا وَهَذِهِ نِعْمَةٌ مِنْ نِعَمِ الله وَفَضْلٌ مِنَ الله فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُشْتَغَلَ إِلَى هَذَا وَيُغْتَنَمَ هَذَا وَلَا أُحِبُّ أَنْ أُطِيْلَ وَأَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ
Dan aku wasiatkan kepada semua orang yang sampai kepada mereka ucapanku ini, aku wasiatkan agar mereka memberi perhatian pada Al-Quran. Dalam kitab Allah terdapat petunjuk dan cahaya dan ia merupakan pangkal segala kebaikan. “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9) “Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.'” (QS. Fussilat: 33). Dan Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89) Maka sudah menjadi kewajiban bagi ulama, penuntut ilmu dan juga orang yang membaca kitab Allah, baik dengan hafalan ataupun melihat untuk benar-benar perhatian terhadap kitab yang agung ini dan selalu membacanya dengan sepenuh hati, mempelajarinya, menadaburinya dan memikirkan kandungannya pada waktu-waktu yang tepat dalam setiap malamnya dan siangnya dan juga pada waktu-waktu luangnya sehingga dia bisa mengambil manfaat dari firman Tuhan-nya, mengenali siapa Tuhannya dan kemudian mengamalkannya, Allah yang Maha Suci berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29) Allah yang Maha Suci berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) Maka wajib bagi semua muslim secara umum, para ulama secara khusus, dan juga penuntut ilmu untuk memberi perhatian secara khusus dan mendalam terhadap Al-Quran yang agung ini dengan menadaburinya, memikirkan kandungannya, memperbanyak membacanya, mencari faedahnya, dan kemudian mengamalkannya. Dan apabila dia menemukan kesulitan, hendaknya seorang yang berilmu menemui temannya dan orang yang memiliki ilmu dalam bidang ini, dan dia bahas masalah yang sulit baginya bersama dia dan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang sudah terkenal karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak  seperti tafsir Ibnu Jarir, Al-Baghawi, Ibnu Katsir dan lain sebagainya, kemudian dia pelajari lagi apa yang sulit baginya dan mengambil manfaat dari kesulitan tersebut, dan merujuk pada dalil-dalil dari hadis jika ada perkara yang kurang jelas dari sebuah ayat. Dan tidak bermudah-mudahan walaupun, -Alhamdulillah- semua kitab-kitab ini mudah. Dan ilmu-ilmu pendukung yang mempermudah memahami Al-Quran juga mudah didapatkan, seperti kitab kata-kata asing, bahasa, hadis, usul fikih, mustalah al-hadis, dan ilmu-ilmu lain yang diperlukan oleh seorang penuntut ilmu. Dan bagi yang membaca Al-Quran namun dia tidak memahaminya, niscaya nanti Allah akan mudahkan baginya jika dia punya tekad untuk menadaburinya dan memikirkan kandungannya, dan dengan membacanya akan melembutkan hatinya, menguatkan imannya, mengingatkannya pada akhirat dan hak-hak Allah, Dan padanya terdapat sebab bertambahnya ilmu, petunjuk dan ketakwaan dan dia tidak akan dihalangi dari mengambil ilmu dari Al-Quran dan kebaikan yang ingin dia dapatkan. Kemudian perhatikan sunnah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia adalah wahyu kedua, ia merupakan sumber kedua, barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir. Siapa yang mengingkarinya dan berkata, “Tidak perlu menggunakan sunnah.” Maka dia telah kafir dan sesat menurut kesepakatan umat Islam. Sunnah adalah sumber hukum kedua yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya untuk menafsirkan kitab Allah, menjadi dalil penguat dalam Al-Quran dan menjelaskan hukum-hukum lain yang hanya ada dalam sunnah. Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (QS. An-Nahl: 44) Allah telah menjadikan Nabi-Nya orang yang menjelaskan dan menerangkan kepada manusia apa-apa yang terkadang tidak mereka fahami dari kitab Allah. Maka, sunnah itu menjelaskan Al-Quran, menjadi dalil untuknya, dan menjabarkannya. Oleh sebab itu, aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku, para ulama dan penuntut ilmu agar memberikan perhatian terhadap sunnah, bersemangat terhadapnya, mengulang-ulang matan-matannya dan sanad-sanadnya, dan bersemangat untuk menghafalkan semampu yang mereka bisa. Dan aku wasiatkan juga untuk menghafal kitab ‘Umdatul Hadis dan Bulughul Maram, dua kitab ini sangat bermanfaat. Terutama sekali bagi para penuntut ilmu, dua kitab ini sangat penting kedudukannya dan apabila dia mampu menghafal Muntaqal Akhbar maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan dan cahaya di atas cahaya. Namun minimal dia menghafal Umdatul Hadis karya Syeikh Abdul Ghani dan Bulughul Maram karya Al-Hafiz Ibnu Hajar. Kitab ini adalah dua di antara banyak kitab yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya. Maka aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk menghafal keduanya dan memberi perhatian khusus pada keduanya karena hal itu akan membantu dalam memahami maksud Al-Quran dan kandungan sunnah. Kemudian aku juga mewasiatkan kepada saudaraku semuanya, para lelaki dan wanita, selain wasiat di muka untuk Al-Quran terhadap Al-Quran dan Sunnah, aku juga berwasiat agar mendengarkan Quran Radio karena sebagian orang belum bisa membaca dengan baik sehingga bacaan al-Qurannya buruk. Maka hendaknya dia mendengarkan bacaan al-Quran dari Quran Radio karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan juga ada faedahnya. Padanya terdapat pembahasan-pembahasan seputar agama yang bisa diambil manfaatnya oleh penuntut ilmu dan juga oleh yang awam ataupun yang sudah mengerti agama baik kalangan pria atau wanita. Maka aku sarankan Quran Radio, menyimaknya dengan baik dan mengambil manfaat darinya. Dan aku juga mewasiatkan agar menyimak program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, yang di situ terdapat tanya jawab bersama sejumlah ulama. Maka aku sarankan untuk menyimak program ini dan mengambil manfaat darinya terutama bagi kalangan laki-laki dan wanita yang masih awam. Karena dari program tersebut ada manfaat yang sangat besar, kaum muslim dan muslimah bisa mengambil faedah dari program tersebut meskipun mereka berada di atas tempat tidur, di tempat duduknya masing-masing ataupun di dalam mobil mereka. Dan ini merupakan salah satu nikmat dari Allah dan keutamaan dari-Nya yang sepantasnya dimanfaatkan baik-baik dan kita sibukkan diri dengannya. Demikian wasiatku dan aku tidak ingin berpanjang lebar. Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberikan taufik pada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih. ======= وَأُوْصِيْ جَمِيعَ مَنْ تَبْلُغُهُمْ كَلِمَتِيْ هَذِهِ وَأُوصِيهِمْ بِأَنْ يُعْنَوْا بِكِتَابِ الله فَكِتَابُ الله فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَهُوَ أَصْلٌ لِكُلِّ خَيْرٍ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ الإِسْرَاءُ – اَلآيَةُ 9 قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ فُصِّلَتْ – اَلآيَةُ 44 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ اَلنَّحْلُ – اَلآيَةُ 89 فَالْوَاجِبُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَعَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَعَلَى مَنْ يَقْرَأُ كِتَابَ الله حِفْظًا أَوْ نَظَرًا أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ الْعَظِيمِ وَيُقْبِلَ عَلِيْهِ بِكُلِّ قَلْبِهِ دِرَاسَةً وَتَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا فِي الْأَوْقَاتِ الْمُنَاسِبَةِ فِي لَيْلِهِ وَنَهَارِهِ وَأَوْقَاتِ فَرَاغِهِ حَتَّى يَسْتَفِيْدَ مِنْ كَلَاَمِ رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْلَمَ عَلَى رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْمَلَ بِذَلِكَ، يَقُولُ سُبْحَانَهُ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ص – اَلْآيَةُ 29 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا مُحَمَّدٌ – اَلْآيَةُ 24 فَعَلَى الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً وَعَلَى الْعُلَمَاءِ خَاصَّةً وَطَلَبَةِ الْعِلْمِ أَنْ يُعْنَوْا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ عِنَايَةً خَاصَّةً تَامَّةً تَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا وَإِكْثَارًا مِنْ تِلَاوَتِهِ وَطَلَبًا لِلْفَائِدَةِ ثُمَّ الْعَمَلُ وَعِنْدَ الْإِشْكَالِ يُرَاجِعُ الْعَالِمُ زَمِيلَهُ وَمَنْ لَدَيْهِ فَائِدَةٌ فِي هَذَا وَيَبْحَثُ مَعَهُ بِمَا أَشْكَلَ وَيُرَاجِعُ كُتُبَ التَّفْسِيرِ الْمَعْرُوفَةِ وَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيرٌ كَابْنِ جَرِيرٍ وَالْبَغَوِيِّ وَابْنِ كَثِيرٍ وَغَيْرِهِمْ يُرَاجِعُهَا بِمَا أَشْكَلَ وَيَسْتَفِيْدُ فِي حَلِّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ وَيُرَاجِعُ الْأَدِلَّةَ مِنَ الْأَحَادِيثِ إِذَا خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ مِنَ الْآيَةِ وَلَا يَتَسَاهَلُ وَلَوْ هَذِهِ الْكُتُبُ- بِحَمْدِ الله- مُيَسَّرَةٌ وَالْأَدَوَاتُ الَّتِي يُسْتَعَانُ بِهَا مُيَسَّرَةٌ مِنْ كُتُبِ الْغَرِيبِ وَ كُتُبِ اللُّغَةِ وَكُتُبِ الْحَدِيثِ وَأُصُولِ الْفِقْهِ وَمُصْطَلَحِ الْحَديثِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَحْتَاجُهُ طَالِبُ الْعِلْمِ وَمَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَيْسَ بِعَالَمٍ سَوْفَ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ إِذَا تَدَبَّرَ وَتَعَقَّلَ وَفِي ذَلِكَ أَيْضًا رِقَّةٌ لِقَلْبِهُ وَقُوَّةٌ لِإِيمَانِهِ وَتَذْكِيرٌ لَهُ بِالْآخِرَةِ وَبِحَقِّ الله وَفِيْهِ زِيَادَتُهُ عِلْمًا وَهُدًى وَتَقْوَى وَلَا يُحْرَمُ مِنْ عِلْمٍ يَسْتَفِيْدُهُ وَخَيْرٍ يَصِلُ إِلَيْهِ ثُمَّ السُّنَّةُ سُنَّةُ الرَّسُولِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْوَحْيُ الثَانِيْ وَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ مَنْ أَنْكَرَهَا قَدْ كَفَرَ مَنْ أَنْكَرَهَا وَقَالَ: لَا حَاجَةَ إِلَيْهَا فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ لِتَفْسِيرِ كِتَابِ اللهِ وَالدَّلَالَةِ عَلَى مَا فِيْهِ وَلِبَيَانِ أَحْكَامٍ أُخْرَى جَاءْتْ بِهَا السُّنَّةُ قَالَ سُبْحَانَهُ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ تُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ النَّحْلُ – اَلْآيَةُ 44 وَاللهُ جَعَلَ نَبِيَّهُ مُبَيِّنًا لِلنَّاسِ مُوَضِّحًا لَهُمْ مَا قَدْ يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ الله فَالسُّنَّةُ تُبَيِّنُ الْقُرْآنَ وَتَدَلُّ عَلَيْهِ وَتُعَبِّرُ عَنْهُ فَأُوْصِيْ إِخْوَانِيْ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطَلَبَةَ الْعِلْمِ بِالْعِنَايَةِ بِالسُّنَّةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا وَمُرَاجَعَةِ مُتُنِهَا وَأَسَانِيْدِهَا وَالْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ ذَلِكَ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِعُمْدَةِ الْحَديثِ وَبُلُوغِ الْمَرَامِ بِحِفْظِ هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ فَإِنَّهُمَا مُفِيدَانِ جِدًا وَلَا سِيَّمَا لِحَقِّ طَالِبِ الْعِلْمِ هَذَانِ كِتَابَانِ لَهُمَا شَأْنٌ وَإِذَا اِسْتَطَاعَ أَنْ يَحْفَظَ مُنْتَقَى الْأَخْبَارِ فَذَلِكَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ وَ نُوْرٌ إلى نُوْرٍ وَلَكِنَّ عَلَى الْأَقَلِّ عُمْدَةُ الْحَديثِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْغَنِيِّ وَبُلُوغُ الْمَرَامِ لِلْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ هَذَانِ كِتَابَانِ مِنْ أَحْسَنِ الْكُتُبِ وَمِنْ أَنْفَعِ الْكُتُبِ فَأَنَا أُوْصِيْ إِخْوَانِيْ بِحِفْظِهِمَا وَعِنَايَةٍ بِهِمَا لِأَنَّهُمَا يُعِيْنَانِ عَلَى فَهْمِ الْكِتَابِ وَعَلَى مَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ ثُمَّ أُوْصِيْ أَيْضًا إِخْوَانِيْ جَمِيعًا مِن الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِكِتَابِ الله وَالسُّنَّةِ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِسَمَاعِ إذَاعَةِ القُرْآنِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ لَا تَتَيَسَّرُ لَهُ الْقِرَاءَةُ وَتَكُونُ قِرَاءَتُهُ ضَعِيفَةً فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسْمَعَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ مِنَ الْإذَاعَةِ فَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ وَفِيهَا فَائِدَةٌ وَفِيهَا أَحَادِيثُ دِينِيَّةٌ يَسْتَفِيْدُ مِنْهَا طَالِبُ الْعِلْمِ وَيَسْتَفِيْدُ مِنْهَا الْعَامَّةُ وَالْخَاصَّةُ وَالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ فَأَنَا أُوْصِيْ بِإذَاعَةِ الْقُرْآنِ وَالْاِشْتِغَالِ بِسَمَاعِهَا وَ الْاِسْتِفَادَةِ مِنْهَا كَمَا أُوْصِيْ أَيْضًا بِبَرْنَامَجِ النُّورِ عَلَى الدَّرْبِ بَرْنَامَجِ الْنُوْرِ عَلَى الدَّرْبِ فِيهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُسْأَلُوْنَ وَ يُجِيْبُوْنَ فَأَنَا أُوْصِيْ بِسَمَاعِ هَذَا الْبَرْنَامَجِ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْهُ وَلَا سِيَّمَا لِعَامَّةِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَإِنَّ فَائِدَةً مِنْ ذَلِكَ عَظِيْمَةٌ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ وَالْمُؤْمِنَةَ يَسْتَفِيْدَانِ مِنْ هَذَا الْبَرْناَمَجِ وَهُمَا عَلَى فِرَاشِهِمَا وَهُمَا فِي مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا فِي سَيَّارَتِهِمَا وَهَذِهِ نِعْمَةٌ مِنْ نِعَمِ الله وَفَضْلٌ مِنَ الله فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُشْتَغَلَ إِلَى هَذَا وَيُغْتَنَمَ هَذَا وَلَا أُحِبُّ أَنْ أُطِيْلَ وَأَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ


Dan aku wasiatkan kepada semua orang yang sampai kepada mereka ucapanku ini, aku wasiatkan agar mereka memberi perhatian pada Al-Quran. Dalam kitab Allah terdapat petunjuk dan cahaya dan ia merupakan pangkal segala kebaikan. “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9) “Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.'” (QS. Fussilat: 33). Dan Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89) Maka sudah menjadi kewajiban bagi ulama, penuntut ilmu dan juga orang yang membaca kitab Allah, baik dengan hafalan ataupun melihat untuk benar-benar perhatian terhadap kitab yang agung ini dan selalu membacanya dengan sepenuh hati, mempelajarinya, menadaburinya dan memikirkan kandungannya pada waktu-waktu yang tepat dalam setiap malamnya dan siangnya dan juga pada waktu-waktu luangnya sehingga dia bisa mengambil manfaat dari firman Tuhan-nya, mengenali siapa Tuhannya dan kemudian mengamalkannya, Allah yang Maha Suci berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29) Allah yang Maha Suci berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24) Maka wajib bagi semua muslim secara umum, para ulama secara khusus, dan juga penuntut ilmu untuk memberi perhatian secara khusus dan mendalam terhadap Al-Quran yang agung ini dengan menadaburinya, memikirkan kandungannya, memperbanyak membacanya, mencari faedahnya, dan kemudian mengamalkannya. Dan apabila dia menemukan kesulitan, hendaknya seorang yang berilmu menemui temannya dan orang yang memiliki ilmu dalam bidang ini, dan dia bahas masalah yang sulit baginya bersama dia dan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang sudah terkenal karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak  seperti tafsir Ibnu Jarir, Al-Baghawi, Ibnu Katsir dan lain sebagainya, kemudian dia pelajari lagi apa yang sulit baginya dan mengambil manfaat dari kesulitan tersebut, dan merujuk pada dalil-dalil dari hadis jika ada perkara yang kurang jelas dari sebuah ayat. Dan tidak bermudah-mudahan walaupun, -Alhamdulillah- semua kitab-kitab ini mudah. Dan ilmu-ilmu pendukung yang mempermudah memahami Al-Quran juga mudah didapatkan, seperti kitab kata-kata asing, bahasa, hadis, usul fikih, mustalah al-hadis, dan ilmu-ilmu lain yang diperlukan oleh seorang penuntut ilmu. Dan bagi yang membaca Al-Quran namun dia tidak memahaminya, niscaya nanti Allah akan mudahkan baginya jika dia punya tekad untuk menadaburinya dan memikirkan kandungannya, dan dengan membacanya akan melembutkan hatinya, menguatkan imannya, mengingatkannya pada akhirat dan hak-hak Allah, Dan padanya terdapat sebab bertambahnya ilmu, petunjuk dan ketakwaan dan dia tidak akan dihalangi dari mengambil ilmu dari Al-Quran dan kebaikan yang ingin dia dapatkan. Kemudian perhatikan sunnah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia adalah wahyu kedua, ia merupakan sumber kedua, barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir. Siapa yang mengingkarinya dan berkata, “Tidak perlu menggunakan sunnah.” Maka dia telah kafir dan sesat menurut kesepakatan umat Islam. Sunnah adalah sumber hukum kedua yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya untuk menafsirkan kitab Allah, menjadi dalil penguat dalam Al-Quran dan menjelaskan hukum-hukum lain yang hanya ada dalam sunnah. Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (QS. An-Nahl: 44) Allah telah menjadikan Nabi-Nya orang yang menjelaskan dan menerangkan kepada manusia apa-apa yang terkadang tidak mereka fahami dari kitab Allah. Maka, sunnah itu menjelaskan Al-Quran, menjadi dalil untuknya, dan menjabarkannya. Oleh sebab itu, aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku, para ulama dan penuntut ilmu agar memberikan perhatian terhadap sunnah, bersemangat terhadapnya, mengulang-ulang matan-matannya dan sanad-sanadnya, dan bersemangat untuk menghafalkan semampu yang mereka bisa. Dan aku wasiatkan juga untuk menghafal kitab ‘Umdatul Hadis dan Bulughul Maram, dua kitab ini sangat bermanfaat. Terutama sekali bagi para penuntut ilmu, dua kitab ini sangat penting kedudukannya dan apabila dia mampu menghafal Muntaqal Akhbar maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan dan cahaya di atas cahaya. Namun minimal dia menghafal Umdatul Hadis karya Syeikh Abdul Ghani dan Bulughul Maram karya Al-Hafiz Ibnu Hajar. Kitab ini adalah dua di antara banyak kitab yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya. Maka aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk menghafal keduanya dan memberi perhatian khusus pada keduanya karena hal itu akan membantu dalam memahami maksud Al-Quran dan kandungan sunnah. Kemudian aku juga mewasiatkan kepada saudaraku semuanya, para lelaki dan wanita, selain wasiat di muka untuk Al-Quran terhadap Al-Quran dan Sunnah, aku juga berwasiat agar mendengarkan Quran Radio karena sebagian orang belum bisa membaca dengan baik sehingga bacaan al-Qurannya buruk. Maka hendaknya dia mendengarkan bacaan al-Quran dari Quran Radio karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan juga ada faedahnya. Padanya terdapat pembahasan-pembahasan seputar agama yang bisa diambil manfaatnya oleh penuntut ilmu dan juga oleh yang awam ataupun yang sudah mengerti agama baik kalangan pria atau wanita. Maka aku sarankan Quran Radio, menyimaknya dengan baik dan mengambil manfaat darinya. Dan aku juga mewasiatkan agar menyimak program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, yang di situ terdapat tanya jawab bersama sejumlah ulama. Maka aku sarankan untuk menyimak program ini dan mengambil manfaat darinya terutama bagi kalangan laki-laki dan wanita yang masih awam. Karena dari program tersebut ada manfaat yang sangat besar, kaum muslim dan muslimah bisa mengambil faedah dari program tersebut meskipun mereka berada di atas tempat tidur, di tempat duduknya masing-masing ataupun di dalam mobil mereka. Dan ini merupakan salah satu nikmat dari Allah dan keutamaan dari-Nya yang sepantasnya dimanfaatkan baik-baik dan kita sibukkan diri dengannya. Demikian wasiatku dan aku tidak ingin berpanjang lebar. Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberikan taufik pada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih. ======= وَأُوْصِيْ جَمِيعَ مَنْ تَبْلُغُهُمْ كَلِمَتِيْ هَذِهِ وَأُوصِيهِمْ بِأَنْ يُعْنَوْا بِكِتَابِ الله فَكِتَابُ الله فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَهُوَ أَصْلٌ لِكُلِّ خَيْرٍ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ الإِسْرَاءُ – اَلآيَةُ 9 قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ فُصِّلَتْ – اَلآيَةُ 44 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ اَلنَّحْلُ – اَلآيَةُ 89 فَالْوَاجِبُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَعَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَعَلَى مَنْ يَقْرَأُ كِتَابَ الله حِفْظًا أَوْ نَظَرًا أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ الْعَظِيمِ وَيُقْبِلَ عَلِيْهِ بِكُلِّ قَلْبِهِ دِرَاسَةً وَتَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا فِي الْأَوْقَاتِ الْمُنَاسِبَةِ فِي لَيْلِهِ وَنَهَارِهِ وَأَوْقَاتِ فَرَاغِهِ حَتَّى يَسْتَفِيْدَ مِنْ كَلَاَمِ رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْلَمَ عَلَى رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْمَلَ بِذَلِكَ، يَقُولُ سُبْحَانَهُ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ص – اَلْآيَةُ 29 وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا مُحَمَّدٌ – اَلْآيَةُ 24 فَعَلَى الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً وَعَلَى الْعُلَمَاءِ خَاصَّةً وَطَلَبَةِ الْعِلْمِ أَنْ يُعْنَوْا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ عِنَايَةً خَاصَّةً تَامَّةً تَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا وَإِكْثَارًا مِنْ تِلَاوَتِهِ وَطَلَبًا لِلْفَائِدَةِ ثُمَّ الْعَمَلُ وَعِنْدَ الْإِشْكَالِ يُرَاجِعُ الْعَالِمُ زَمِيلَهُ وَمَنْ لَدَيْهِ فَائِدَةٌ فِي هَذَا وَيَبْحَثُ مَعَهُ بِمَا أَشْكَلَ وَيُرَاجِعُ كُتُبَ التَّفْسِيرِ الْمَعْرُوفَةِ وَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيرٌ كَابْنِ جَرِيرٍ وَالْبَغَوِيِّ وَابْنِ كَثِيرٍ وَغَيْرِهِمْ يُرَاجِعُهَا بِمَا أَشْكَلَ وَيَسْتَفِيْدُ فِي حَلِّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ وَيُرَاجِعُ الْأَدِلَّةَ مِنَ الْأَحَادِيثِ إِذَا خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ مِنَ الْآيَةِ وَلَا يَتَسَاهَلُ وَلَوْ هَذِهِ الْكُتُبُ- بِحَمْدِ الله- مُيَسَّرَةٌ وَالْأَدَوَاتُ الَّتِي يُسْتَعَانُ بِهَا مُيَسَّرَةٌ مِنْ كُتُبِ الْغَرِيبِ وَ كُتُبِ اللُّغَةِ وَكُتُبِ الْحَدِيثِ وَأُصُولِ الْفِقْهِ وَمُصْطَلَحِ الْحَديثِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَحْتَاجُهُ طَالِبُ الْعِلْمِ وَمَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَيْسَ بِعَالَمٍ سَوْفَ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ إِذَا تَدَبَّرَ وَتَعَقَّلَ وَفِي ذَلِكَ أَيْضًا رِقَّةٌ لِقَلْبِهُ وَقُوَّةٌ لِإِيمَانِهِ وَتَذْكِيرٌ لَهُ بِالْآخِرَةِ وَبِحَقِّ الله وَفِيْهِ زِيَادَتُهُ عِلْمًا وَهُدًى وَتَقْوَى وَلَا يُحْرَمُ مِنْ عِلْمٍ يَسْتَفِيْدُهُ وَخَيْرٍ يَصِلُ إِلَيْهِ ثُمَّ السُّنَّةُ سُنَّةُ الرَّسُولِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْوَحْيُ الثَانِيْ وَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ مَنْ أَنْكَرَهَا قَدْ كَفَرَ مَنْ أَنْكَرَهَا وَقَالَ: لَا حَاجَةَ إِلَيْهَا فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ لِتَفْسِيرِ كِتَابِ اللهِ وَالدَّلَالَةِ عَلَى مَا فِيْهِ وَلِبَيَانِ أَحْكَامٍ أُخْرَى جَاءْتْ بِهَا السُّنَّةُ قَالَ سُبْحَانَهُ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ تُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ النَّحْلُ – اَلْآيَةُ 44 وَاللهُ جَعَلَ نَبِيَّهُ مُبَيِّنًا لِلنَّاسِ مُوَضِّحًا لَهُمْ مَا قَدْ يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ الله فَالسُّنَّةُ تُبَيِّنُ الْقُرْآنَ وَتَدَلُّ عَلَيْهِ وَتُعَبِّرُ عَنْهُ فَأُوْصِيْ إِخْوَانِيْ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطَلَبَةَ الْعِلْمِ بِالْعِنَايَةِ بِالسُّنَّةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا وَمُرَاجَعَةِ مُتُنِهَا وَأَسَانِيْدِهَا وَالْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ ذَلِكَ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِعُمْدَةِ الْحَديثِ وَبُلُوغِ الْمَرَامِ بِحِفْظِ هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ فَإِنَّهُمَا مُفِيدَانِ جِدًا وَلَا سِيَّمَا لِحَقِّ طَالِبِ الْعِلْمِ هَذَانِ كِتَابَانِ لَهُمَا شَأْنٌ وَإِذَا اِسْتَطَاعَ أَنْ يَحْفَظَ مُنْتَقَى الْأَخْبَارِ فَذَلِكَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ وَ نُوْرٌ إلى نُوْرٍ وَلَكِنَّ عَلَى الْأَقَلِّ عُمْدَةُ الْحَديثِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْغَنِيِّ وَبُلُوغُ الْمَرَامِ لِلْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ هَذَانِ كِتَابَانِ مِنْ أَحْسَنِ الْكُتُبِ وَمِنْ أَنْفَعِ الْكُتُبِ فَأَنَا أُوْصِيْ إِخْوَانِيْ بِحِفْظِهِمَا وَعِنَايَةٍ بِهِمَا لِأَنَّهُمَا يُعِيْنَانِ عَلَى فَهْمِ الْكِتَابِ وَعَلَى مَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ ثُمَّ أُوْصِيْ أَيْضًا إِخْوَانِيْ جَمِيعًا مِن الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِكِتَابِ الله وَالسُّنَّةِ وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِسَمَاعِ إذَاعَةِ القُرْآنِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ لَا تَتَيَسَّرُ لَهُ الْقِرَاءَةُ وَتَكُونُ قِرَاءَتُهُ ضَعِيفَةً فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسْمَعَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ مِنَ الْإذَاعَةِ فَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ وَفِيهَا فَائِدَةٌ وَفِيهَا أَحَادِيثُ دِينِيَّةٌ يَسْتَفِيْدُ مِنْهَا طَالِبُ الْعِلْمِ وَيَسْتَفِيْدُ مِنْهَا الْعَامَّةُ وَالْخَاصَّةُ وَالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ فَأَنَا أُوْصِيْ بِإذَاعَةِ الْقُرْآنِ وَالْاِشْتِغَالِ بِسَمَاعِهَا وَ الْاِسْتِفَادَةِ مِنْهَا كَمَا أُوْصِيْ أَيْضًا بِبَرْنَامَجِ النُّورِ عَلَى الدَّرْبِ بَرْنَامَجِ الْنُوْرِ عَلَى الدَّرْبِ فِيهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُسْأَلُوْنَ وَ يُجِيْبُوْنَ فَأَنَا أُوْصِيْ بِسَمَاعِ هَذَا الْبَرْنَامَجِ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْهُ وَلَا سِيَّمَا لِعَامَّةِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَإِنَّ فَائِدَةً مِنْ ذَلِكَ عَظِيْمَةٌ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ وَالْمُؤْمِنَةَ يَسْتَفِيْدَانِ مِنْ هَذَا الْبَرْناَمَجِ وَهُمَا عَلَى فِرَاشِهِمَا وَهُمَا فِي مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا فِي سَيَّارَتِهِمَا وَهَذِهِ نِعْمَةٌ مِنْ نِعَمِ الله وَفَضْلٌ مِنَ الله فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُشْتَغَلَ إِلَى هَذَا وَيُغْتَنَمَ هَذَا وَلَا أُحِبُّ أَنْ أُطِيْلَ وَأَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

Tasyabuh Yang Boleh Dan Tidak – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Tasyabuh Yang Boleh Dan Tidak – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Dalam Surat AlFatihan Allah memperingatkan agar hambanya tidak bertasyabuh dengan orang-orang kafir.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.Simak lebih lanjut videonya

Tasyabuh Yang Boleh Dan Tidak – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Tasyabuh Yang Boleh Dan Tidak – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Dalam Surat AlFatihan Allah memperingatkan agar hambanya tidak bertasyabuh dengan orang-orang kafir.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.Simak lebih lanjut videonya
Tasyabuh Yang Boleh Dan Tidak – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Dalam Surat AlFatihan Allah memperingatkan agar hambanya tidak bertasyabuh dengan orang-orang kafir.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.Simak lebih lanjut videonya


Tasyabuh Yang Boleh Dan Tidak – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Dalam Surat AlFatihan Allah memperingatkan agar hambanya tidak bertasyabuh dengan orang-orang kafir.اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.Simak lebih lanjut videonya

Indikator Mencintai Allah

Seorang ahli ibadah yang biasa disebut Dzun Nun mendapatkan pertanyaan, “Kapan aku dinilai mencintai Tuhanku? “.  Jawaban beliau:  إِذَا كَانَ مَا يُبْغِضُهُ عِنْدَكَ أَمَرُّ مِنَ الصَّبِرِ “Jika hal-hal yang Allah benci  (baca: maksiat) menurut perasaanmu lebih pahit dibandingkan brotowali (tanaman super pahit)” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali 1/503) Penggemar maksiat adalah orang yang menyakini jeleknya maksiat namun merasa maksiat itu suatu yang nikmat.  Oleh karena itu meski berkeyakinan zina itu buruk namun zina tetap dilakukan.  Meski yakin ghibah itu tercela, ghibah tidak juga ditinggalkan karena ada rasa nikmat di dalamnya.  Lain halnya dengan orang yang benar-benar mencintai Allahﷻ.  Ada dua hal yang terdapat dalam diri orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allahﷻ: Yakin sepenuh hati bahwa maksiat itu jelek, buruk, tercela dan dilarang serta dibenci oleh Allahﷻ  Ada perasaan jijik, muak, tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya dan heran mengapa ada orang yang beranggapan bahwa maksiat itu nikmat. Orang yang betul-betul cinta Allahﷻ tidak memiliki hasrat, minat, antusias dan semangat untuk melakukan maksiat.  Mari kita periksa hati kita, apakah kita sudah berada pada level mencintai Allahﷻ ataukah baru pada level mengaku cinta kepada Allahﷻ Moga Allahﷻ berikan taufik kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa jijik dan muak dengan semua varian maksiat.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Indikator Mencintai Allah

Seorang ahli ibadah yang biasa disebut Dzun Nun mendapatkan pertanyaan, “Kapan aku dinilai mencintai Tuhanku? “.  Jawaban beliau:  إِذَا كَانَ مَا يُبْغِضُهُ عِنْدَكَ أَمَرُّ مِنَ الصَّبِرِ “Jika hal-hal yang Allah benci  (baca: maksiat) menurut perasaanmu lebih pahit dibandingkan brotowali (tanaman super pahit)” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali 1/503) Penggemar maksiat adalah orang yang menyakini jeleknya maksiat namun merasa maksiat itu suatu yang nikmat.  Oleh karena itu meski berkeyakinan zina itu buruk namun zina tetap dilakukan.  Meski yakin ghibah itu tercela, ghibah tidak juga ditinggalkan karena ada rasa nikmat di dalamnya.  Lain halnya dengan orang yang benar-benar mencintai Allahﷻ.  Ada dua hal yang terdapat dalam diri orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allahﷻ: Yakin sepenuh hati bahwa maksiat itu jelek, buruk, tercela dan dilarang serta dibenci oleh Allahﷻ  Ada perasaan jijik, muak, tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya dan heran mengapa ada orang yang beranggapan bahwa maksiat itu nikmat. Orang yang betul-betul cinta Allahﷻ tidak memiliki hasrat, minat, antusias dan semangat untuk melakukan maksiat.  Mari kita periksa hati kita, apakah kita sudah berada pada level mencintai Allahﷻ ataukah baru pada level mengaku cinta kepada Allahﷻ Moga Allahﷻ berikan taufik kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa jijik dan muak dengan semua varian maksiat.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Seorang ahli ibadah yang biasa disebut Dzun Nun mendapatkan pertanyaan, “Kapan aku dinilai mencintai Tuhanku? “.  Jawaban beliau:  إِذَا كَانَ مَا يُبْغِضُهُ عِنْدَكَ أَمَرُّ مِنَ الصَّبِرِ “Jika hal-hal yang Allah benci  (baca: maksiat) menurut perasaanmu lebih pahit dibandingkan brotowali (tanaman super pahit)” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali 1/503) Penggemar maksiat adalah orang yang menyakini jeleknya maksiat namun merasa maksiat itu suatu yang nikmat.  Oleh karena itu meski berkeyakinan zina itu buruk namun zina tetap dilakukan.  Meski yakin ghibah itu tercela, ghibah tidak juga ditinggalkan karena ada rasa nikmat di dalamnya.  Lain halnya dengan orang yang benar-benar mencintai Allahﷻ.  Ada dua hal yang terdapat dalam diri orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allahﷻ: Yakin sepenuh hati bahwa maksiat itu jelek, buruk, tercela dan dilarang serta dibenci oleh Allahﷻ  Ada perasaan jijik, muak, tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya dan heran mengapa ada orang yang beranggapan bahwa maksiat itu nikmat. Orang yang betul-betul cinta Allahﷻ tidak memiliki hasrat, minat, antusias dan semangat untuk melakukan maksiat.  Mari kita periksa hati kita, apakah kita sudah berada pada level mencintai Allahﷻ ataukah baru pada level mengaku cinta kepada Allahﷻ Moga Allahﷻ berikan taufik kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa jijik dan muak dengan semua varian maksiat.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Seorang ahli ibadah yang biasa disebut Dzun Nun mendapatkan pertanyaan, “Kapan aku dinilai mencintai Tuhanku? “.  Jawaban beliau:  إِذَا كَانَ مَا يُبْغِضُهُ عِنْدَكَ أَمَرُّ مِنَ الصَّبِرِ “Jika hal-hal yang Allah benci  (baca: maksiat) menurut perasaanmu lebih pahit dibandingkan brotowali (tanaman super pahit)” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali 1/503) Penggemar maksiat adalah orang yang menyakini jeleknya maksiat namun merasa maksiat itu suatu yang nikmat.  Oleh karena itu meski berkeyakinan zina itu buruk namun zina tetap dilakukan.  Meski yakin ghibah itu tercela, ghibah tidak juga ditinggalkan karena ada rasa nikmat di dalamnya.  Lain halnya dengan orang yang benar-benar mencintai Allahﷻ.  Ada dua hal yang terdapat dalam diri orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allahﷻ: Yakin sepenuh hati bahwa maksiat itu jelek, buruk, tercela dan dilarang serta dibenci oleh Allahﷻ  Ada perasaan jijik, muak, tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya dan heran mengapa ada orang yang beranggapan bahwa maksiat itu nikmat. Orang yang betul-betul cinta Allahﷻ tidak memiliki hasrat, minat, antusias dan semangat untuk melakukan maksiat.  Mari kita periksa hati kita, apakah kita sudah berada pada level mencintai Allahﷻ ataukah baru pada level mengaku cinta kepada Allahﷻ Moga Allahﷻ berikan taufik kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa jijik dan muak dengan semua varian maksiat.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Prev     Next