Dilarang Membunuh Ular di Dalam Rumah?

Dilarang Membunuh Ular di Dalam Rumah? Jika ada ular yang masuk rumah, ada yang mengatakan tidak boleh langsung dibunuh, tapi ditunggu 3 hari. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat beberapa hadis yang menganjurkan untuk membunuh ular, di antaranya: [1] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ “Bunuh semua jenis ular.” Ibnu Umar mengatakan, فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا Setelah itu, setiap kali saya lihat ular, langsung saya bunuh. (HR. Bukhari 3299 & Muslim 3233) [2] Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ كُلَّهُنَّ “Bunuh semua jenis ular.” (HR. Abu Daud 5249 dan dishahihkan al-Albani). Sementara itu, ada beberapa hadis yang menyebutkan bahwa jika seseorang menemukan ular di dalam rumah maka tidak boleh langsung dibunuh. Namun diperingatkan 3 kali atau 3 hari karena dikhawatirkan termasuk jin muslim. Berikut beberapa hadis yang menyebutkan hal tersebut. [1] Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam. Jika kalian melihat mereka (di rumah kalian) maka berikan peringatan selama 3 hari. Jika setelah itu dia muncul lagi, bunuh dia, karena itu setan. (HR. Muslim 5976) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan dan izin tinggal selama 3 hari. [2] Hadis dari Abu Said al-Khudri dalam riwayat lain, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلاَثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلاَّ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ Sesungguhnya di rumah kalian ada jin yang tinggal di dalamnya. Jika kalian melihat mereka, berikan peringatan 3 kali. Jika dia pergi, biarkan. Dan jika tidak pergi, bunuh dia. Karena dia itu kafir. (HR. Muslim 5977) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan sebanyak 3 kali tanpa menyebut bilangan hari. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan perbedaan pendapat ulama terkait makna peringatan 3 kali di sini. واختلف في المراد بالثلاث؛ فقيل: ثلاث مرات. وقيل: ثلاثة أيام Ulama berbeda pendapat mengenai makna 3 kali di sini, ada yang mengatakan 3 kali dan ada yang mengatakan 3 hari. (Fathul Bari, 6/349). Selanjutnya, ulama berbeda pendapat di manakah berlakunya aturan memberi peringatan ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa aturan ini hanya berlaku di Madinah. Sementara ulama yang lain mengatakan bahwa ini berlaku umum untuk semua ular yang masuk rumah, baik di Madinah maupun di luar Madinah. Ibnul Arabi menyebutkan, وقد ذهب قوم إلى أن ذلك مخصوص بالمدينة, لقوله في الصحيح: إن بالمدينة جنًّا أسلموا. وهذا لفظ مختص بها, فتختص بحكمها. قلنا: هذا يدل على أن غيرها من البيوت مثلها; لأنه لم يعلل بحرمة المدينة, فيكون ذلك الحكم مخصوصًا بها, وإنما علل بالإسلام, وذلك عام في غيرها Sebagian ulama berpendapat bahwa aturan ini hanya berlaku khusus di Madinah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shahih Muslim, “Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam.” lafadz ini menunjukkan khusus di Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku untuk Madinah. Menurut kami, hadis ini justru menunjukkan bahwa rumah-rumah yang lain juga memiliki hukum yang sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkan dengan kemuliaan Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku di Madinah, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan alasan dengan Islamnya jin itu, dan itu mencakup umum seluruh rumah. (Ahkam al-Quran, 4/318). Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Obat Galau Menurut Islam, Tata Cara Menempati Rumah Baru Menurut Islam, Qodho Sholat, Hukum Istri Mencium Kemaluan Suami, Susunan Acara Akad Nikah Syar'i, Banner Kajian Visited 508 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid

Dilarang Membunuh Ular di Dalam Rumah?

Dilarang Membunuh Ular di Dalam Rumah? Jika ada ular yang masuk rumah, ada yang mengatakan tidak boleh langsung dibunuh, tapi ditunggu 3 hari. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat beberapa hadis yang menganjurkan untuk membunuh ular, di antaranya: [1] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ “Bunuh semua jenis ular.” Ibnu Umar mengatakan, فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا Setelah itu, setiap kali saya lihat ular, langsung saya bunuh. (HR. Bukhari 3299 & Muslim 3233) [2] Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ كُلَّهُنَّ “Bunuh semua jenis ular.” (HR. Abu Daud 5249 dan dishahihkan al-Albani). Sementara itu, ada beberapa hadis yang menyebutkan bahwa jika seseorang menemukan ular di dalam rumah maka tidak boleh langsung dibunuh. Namun diperingatkan 3 kali atau 3 hari karena dikhawatirkan termasuk jin muslim. Berikut beberapa hadis yang menyebutkan hal tersebut. [1] Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam. Jika kalian melihat mereka (di rumah kalian) maka berikan peringatan selama 3 hari. Jika setelah itu dia muncul lagi, bunuh dia, karena itu setan. (HR. Muslim 5976) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan dan izin tinggal selama 3 hari. [2] Hadis dari Abu Said al-Khudri dalam riwayat lain, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلاَثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلاَّ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ Sesungguhnya di rumah kalian ada jin yang tinggal di dalamnya. Jika kalian melihat mereka, berikan peringatan 3 kali. Jika dia pergi, biarkan. Dan jika tidak pergi, bunuh dia. Karena dia itu kafir. (HR. Muslim 5977) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan sebanyak 3 kali tanpa menyebut bilangan hari. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan perbedaan pendapat ulama terkait makna peringatan 3 kali di sini. واختلف في المراد بالثلاث؛ فقيل: ثلاث مرات. وقيل: ثلاثة أيام Ulama berbeda pendapat mengenai makna 3 kali di sini, ada yang mengatakan 3 kali dan ada yang mengatakan 3 hari. (Fathul Bari, 6/349). Selanjutnya, ulama berbeda pendapat di manakah berlakunya aturan memberi peringatan ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa aturan ini hanya berlaku di Madinah. Sementara ulama yang lain mengatakan bahwa ini berlaku umum untuk semua ular yang masuk rumah, baik di Madinah maupun di luar Madinah. Ibnul Arabi menyebutkan, وقد ذهب قوم إلى أن ذلك مخصوص بالمدينة, لقوله في الصحيح: إن بالمدينة جنًّا أسلموا. وهذا لفظ مختص بها, فتختص بحكمها. قلنا: هذا يدل على أن غيرها من البيوت مثلها; لأنه لم يعلل بحرمة المدينة, فيكون ذلك الحكم مخصوصًا بها, وإنما علل بالإسلام, وذلك عام في غيرها Sebagian ulama berpendapat bahwa aturan ini hanya berlaku khusus di Madinah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shahih Muslim, “Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam.” lafadz ini menunjukkan khusus di Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku untuk Madinah. Menurut kami, hadis ini justru menunjukkan bahwa rumah-rumah yang lain juga memiliki hukum yang sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkan dengan kemuliaan Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku di Madinah, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan alasan dengan Islamnya jin itu, dan itu mencakup umum seluruh rumah. (Ahkam al-Quran, 4/318). Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Obat Galau Menurut Islam, Tata Cara Menempati Rumah Baru Menurut Islam, Qodho Sholat, Hukum Istri Mencium Kemaluan Suami, Susunan Acara Akad Nikah Syar'i, Banner Kajian Visited 508 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid
Dilarang Membunuh Ular di Dalam Rumah? Jika ada ular yang masuk rumah, ada yang mengatakan tidak boleh langsung dibunuh, tapi ditunggu 3 hari. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat beberapa hadis yang menganjurkan untuk membunuh ular, di antaranya: [1] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ “Bunuh semua jenis ular.” Ibnu Umar mengatakan, فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا Setelah itu, setiap kali saya lihat ular, langsung saya bunuh. (HR. Bukhari 3299 & Muslim 3233) [2] Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ كُلَّهُنَّ “Bunuh semua jenis ular.” (HR. Abu Daud 5249 dan dishahihkan al-Albani). Sementara itu, ada beberapa hadis yang menyebutkan bahwa jika seseorang menemukan ular di dalam rumah maka tidak boleh langsung dibunuh. Namun diperingatkan 3 kali atau 3 hari karena dikhawatirkan termasuk jin muslim. Berikut beberapa hadis yang menyebutkan hal tersebut. [1] Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam. Jika kalian melihat mereka (di rumah kalian) maka berikan peringatan selama 3 hari. Jika setelah itu dia muncul lagi, bunuh dia, karena itu setan. (HR. Muslim 5976) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan dan izin tinggal selama 3 hari. [2] Hadis dari Abu Said al-Khudri dalam riwayat lain, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلاَثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلاَّ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ Sesungguhnya di rumah kalian ada jin yang tinggal di dalamnya. Jika kalian melihat mereka, berikan peringatan 3 kali. Jika dia pergi, biarkan. Dan jika tidak pergi, bunuh dia. Karena dia itu kafir. (HR. Muslim 5977) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan sebanyak 3 kali tanpa menyebut bilangan hari. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan perbedaan pendapat ulama terkait makna peringatan 3 kali di sini. واختلف في المراد بالثلاث؛ فقيل: ثلاث مرات. وقيل: ثلاثة أيام Ulama berbeda pendapat mengenai makna 3 kali di sini, ada yang mengatakan 3 kali dan ada yang mengatakan 3 hari. (Fathul Bari, 6/349). Selanjutnya, ulama berbeda pendapat di manakah berlakunya aturan memberi peringatan ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa aturan ini hanya berlaku di Madinah. Sementara ulama yang lain mengatakan bahwa ini berlaku umum untuk semua ular yang masuk rumah, baik di Madinah maupun di luar Madinah. Ibnul Arabi menyebutkan, وقد ذهب قوم إلى أن ذلك مخصوص بالمدينة, لقوله في الصحيح: إن بالمدينة جنًّا أسلموا. وهذا لفظ مختص بها, فتختص بحكمها. قلنا: هذا يدل على أن غيرها من البيوت مثلها; لأنه لم يعلل بحرمة المدينة, فيكون ذلك الحكم مخصوصًا بها, وإنما علل بالإسلام, وذلك عام في غيرها Sebagian ulama berpendapat bahwa aturan ini hanya berlaku khusus di Madinah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shahih Muslim, “Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam.” lafadz ini menunjukkan khusus di Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku untuk Madinah. Menurut kami, hadis ini justru menunjukkan bahwa rumah-rumah yang lain juga memiliki hukum yang sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkan dengan kemuliaan Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku di Madinah, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan alasan dengan Islamnya jin itu, dan itu mencakup umum seluruh rumah. (Ahkam al-Quran, 4/318). Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Obat Galau Menurut Islam, Tata Cara Menempati Rumah Baru Menurut Islam, Qodho Sholat, Hukum Istri Mencium Kemaluan Suami, Susunan Acara Akad Nikah Syar'i, Banner Kajian Visited 508 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1036858981&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Dilarang Membunuh Ular di Dalam Rumah? Jika ada ular yang masuk rumah, ada yang mengatakan tidak boleh langsung dibunuh, tapi ditunggu 3 hari. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat beberapa hadis yang menganjurkan untuk membunuh ular, di antaranya: [1] Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ “Bunuh semua jenis ular.” Ibnu Umar mengatakan, فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا Setelah itu, setiap kali saya lihat ular, langsung saya bunuh. (HR. Bukhari 3299 & Muslim 3233) [2] Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ كُلَّهُنَّ “Bunuh semua jenis ular.” (HR. Abu Daud 5249 dan dishahihkan al-Albani). Sementara itu, ada beberapa hadis yang menyebutkan bahwa jika seseorang menemukan ular di dalam rumah maka tidak boleh langsung dibunuh. Namun diperingatkan 3 kali atau 3 hari karena dikhawatirkan termasuk jin muslim. Berikut beberapa hadis yang menyebutkan hal tersebut. [1] Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam. Jika kalian melihat mereka (di rumah kalian) maka berikan peringatan selama 3 hari. Jika setelah itu dia muncul lagi, bunuh dia, karena itu setan. (HR. Muslim 5976) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan dan izin tinggal selama 3 hari. [2] Hadis dari Abu Said al-Khudri dalam riwayat lain, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلاَثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلاَّ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ Sesungguhnya di rumah kalian ada jin yang tinggal di dalamnya. Jika kalian melihat mereka, berikan peringatan 3 kali. Jika dia pergi, biarkan. Dan jika tidak pergi, bunuh dia. Karena dia itu kafir. (HR. Muslim 5977) Dalam hadis ini terdapat perintah untuk memberikan peringatan sebanyak 3 kali tanpa menyebut bilangan hari. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan perbedaan pendapat ulama terkait makna peringatan 3 kali di sini. واختلف في المراد بالثلاث؛ فقيل: ثلاث مرات. وقيل: ثلاثة أيام Ulama berbeda pendapat mengenai makna 3 kali di sini, ada yang mengatakan 3 kali dan ada yang mengatakan 3 hari. (Fathul Bari, 6/349). Selanjutnya, ulama berbeda pendapat di manakah berlakunya aturan memberi peringatan ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa aturan ini hanya berlaku di Madinah. Sementara ulama yang lain mengatakan bahwa ini berlaku umum untuk semua ular yang masuk rumah, baik di Madinah maupun di luar Madinah. Ibnul Arabi menyebutkan, وقد ذهب قوم إلى أن ذلك مخصوص بالمدينة, لقوله في الصحيح: إن بالمدينة جنًّا أسلموا. وهذا لفظ مختص بها, فتختص بحكمها. قلنا: هذا يدل على أن غيرها من البيوت مثلها; لأنه لم يعلل بحرمة المدينة, فيكون ذلك الحكم مخصوصًا بها, وإنما علل بالإسلام, وذلك عام في غيرها Sebagian ulama berpendapat bahwa aturan ini hanya berlaku khusus di Madinah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shahih Muslim, “Sesungguhnya di Madinah ada jin yang sudah masuk islam.” lafadz ini menunjukkan khusus di Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku untuk Madinah. Menurut kami, hadis ini justru menunjukkan bahwa rumah-rumah yang lain juga memiliki hukum yang sama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkan dengan kemuliaan Madinah, sehingga hukumnya hanya berlaku di Madinah, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan alasan dengan Islamnya jin itu, dan itu mencakup umum seluruh rumah. (Ahkam al-Quran, 4/318). Demikian. Allahu  a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Obat Galau Menurut Islam, Tata Cara Menempati Rumah Baru Menurut Islam, Qodho Sholat, Hukum Istri Mencium Kemaluan Suami, Susunan Acara Akad Nikah Syar'i, Banner Kajian Visited 508 times, 1 visit(s) today Post Views: 380 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Syubhat Maulid Nabi: “Ini Hanya Sekedar Muamalah Bukan Ibadah”

Sebagian orang yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka beralasan: “perayaan Maulid ini hanya sekedar muamalah bukan ibadah, dan hukum asal muamalah adalah mubah.”Jawabannya, itu sekedar retorika saja yang tidak sesuai dengan kenyataan. Realitanya, yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka merasa sedang beribadah kepada Allah dengan merayakannya.Penjelasan para ulamaSyekh Alwi bin Abdil Qadir As Saqqaf hafizhahullah menjelaskan,“Perkataan mereka bahwa, ‘peringatan Maulid Nabi ini hanya ‘adah (muamalah), bukan ibadah, mengapa kalian mengingkari perkara adah?’.Jawabnya, ini adalah sebuah fallacy (pola pikir yang keliru) dari mereka. Dan merupakan bentuk lari dari kenyataan yang sebenarnya. Karena bagaimana mungkin acara kumpul-kumpul untuk membaca Al-Quran, berzikir, berdoa, mengingatkan tentang sirah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sifat-sifat beliau, dengan tujuan untuk ber-taqarrub kepada Allah ‘azza wa jalla, dan mereka mengajak serta memotivasi masyarakat untuk melakukannya, bahkan mereka mengklaim ini adalah amalan yang agung, dan akan mendapatkan pahala yang sangat besar, bagaimana mungkin disebut bahwa ini adalah ‘adah (muamalah) dan bukan ibadah? Kalau demikian, lalu apa makna ibadah?” (Al Maulid An Nabawi Syubuhat wa Rudud,  [1]).Syekh Khalid bin Bulihid hafizhahullah juga mengatakan,“Kalau kita tanya mereka apa hakekat perayaan Maulid Nabi ini? Mereka menjawab, ‘ini sekedar adat sebagaimana perayaan-perayaan duniawi yang lain, tidak ada kaitannya dengan agama. Maka hukum asalnya boleh dan memang dibolehkan merayakan Maulid Nabi sebagaimana bolehnya membuat perayaan naik pangkat, perayaan ditemukannya orang yang hilang, perayaan ketika dapat suatu nikmat harta atau kelahiran anak, atau semisalnya.’Sanggahannya, pernyataan mereka ini adalah sebuah fallacy yang fatal. Dan juga bentuk pengelabuan terhadap masyarakat juga terhadap ilmu mantiq (logika) dan juga terhadap akal sehat.Karena setiap orang, walaupun dia orang awam yang tidak bisa baca tulis sekalipun, ketika pertama kali melihat perayaan Maulid Nabi dia tentu akan menyatakan ini adalah perayaan agama. Dan orang yang merenungkan hakikat perayaan Maulid Nabi ini, dia akan yakin bahwa ini diadakan atas dasar cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan tujuan yang lebih besar dari itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana untuk membersihkan hati, berzikir, mengkhusyukkan diri, dan berdoa kepada Allah.Maka dari sini jelaslah bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah yang dianggap dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Bahkan mereka menjadikannya sebagai salah satu dari syiar Islam yang mereka senantiasa rutinkan. Mereka juga mengajak masyarakat untuk melakukannya. Bahkan mereka mengingkari orang-orang yang tidak mau melakukannya dan menuduh mereka radikal.Jika sudah jelas bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah, maka ibadah itu harus memenuhi syaratnya (yaitu ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi). Jika tidak, maka menjadi perkara yang batil dan tidak memiliki landasan” (Al Hiwar ma’a Ansharil Maulidin Nabawi, [2]).Baca Juga: Perayaan Maulid Nabi Adalah Masalah Khilafiyah?Maulid Nabi adalah id (hari raya) yang bidahKemudian jika kita asumsikan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah ‘adah (muamalah). Maka perkara muamalah juga bisa jadi ibadah dan bisa masuk dalam bab bidah jika menjadi suatu ritual untuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) tanpa dalil.Diantara kaidah lain dalam mengenal bidah adalah,كل تقرب إلى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة“Setiap bentuk taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan suatu perkara adat (non ibadah) atau muamalah dengan cara yang tidak dituntunkan syariat maka perbuatan tersebut adalah bidah.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 106).Contohnya, Nabi shallallahu’alaihi Wa sallam melarang tabattul, yaitu sengaja tidak menikah untuk taqarrub kepada Allah, seperti para rahib dan pendeta. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu, ia berkata:رَدَّ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى عُثْمَانَ بنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، ولو أذِنَ له لَاخْتَصَيْنَا“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang Utsman bin Mazh’un untuk melakukan tabattul. Andaikan tabattul dibolehkan, sungguh kami akan melakukan kebiri.” (HR. Bukhari no.5073, Muslim no. 1402).Padahal menikah atau tidak menikah itu perkara muamalah. Namun ketika tidak menikah diniatkan untuk taqarrub, maka menjadi bidah.Kemudian, jika suatu perayaan dianggap sebagai ‘adah (muamalah), jika ia dilakukan secara rutin dan berkala, kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mengekspresikan kegembiraan atau kesedihan, maka ini disebut dengan id, atau hari raya. Dalam kamus Lisaanul Arab disebutkan,والعِيدُ عند العرب الوقت الذي يَعُودُ فيه الفَرَح والحزن“id dalam bahasa Arab artinya waktu dimana orang-orang mengulang rasa sedih atau rasa gembira.”Dalam Maqayis Al Lughah juga disebutkan,العِيد: كلُّ يومِ مَجْمَع“id adalah hari yang dijadikan momen untuk kumpul-kumpul.”Dan ini salah satu poin bidahnya Maulid Nabi, yaitu karena ia merupakan suatu id (hari raya) yang dibuat-buat tanpa dalil. Sedangkan perkara membuat hari id, ini adalah perkara ibadah. Syekh Nashir Al-‘Aql menjelaskan,الأعياد من جملة الشرائع والمناسك ، كالقبلة ، والصلاة ، والصيام ، وليست مجرد عادات ، وهنا يكون أمر التشبه والتقليد فيها للكافرين أشد وأخطر ، وكذلك تشريع أعياد لم يشرعها الله يكون حكمًا بغير ما أنزل الله ، وقولًا على الله بغير علم ، وافتراء عليه ، وابتداعًا في دينه“Hari id termasuk syiar agama dan manasik (rangkaian ritual ibadah), sebagaimana kiblat, salat, dan puasa. Maka hari id itu bukan sekedar adat. Dari sini, maka perkara membuat hari id baru, selain termasuk tasyabbuh dan taqlid kepada orang kafir, bertambah lagi keharamannya dan bahayanya. Demikian juga, membuat hari id yang tidak pernah Allah syariatkan, ini termasuk berhukum dengan selain hukum yang Allah turunkan. Dan termasuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan membuat-buat kedustaan atas nama Allah, serta membuat kebidahan dalam agama Allah.” (Muqaddimah Iqtidha Shiratil Mustaqim, hal. 58).Kesimpulannya, perayaan Maulid Nabi tetap tidak dibenarkan walaupun mereka beralasan ini adalah ‘adah (muamalah) saja, karena perbuatan ‘adah jika diniatkan untuk taqarrub tanpa dalil maka ia juga termasuk bidah. Dan karena perayaan Maulid Nabi merupakan id baru yang tidak dilandasi dalil, sedangkan menetapkan id adalah perkara ibadah.Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi hidayah dan taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] https://bit.ly/2GHoeyx[2] http://www.saaid.net/Doat/binbulihed/8.htm

Syubhat Maulid Nabi: “Ini Hanya Sekedar Muamalah Bukan Ibadah”

Sebagian orang yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka beralasan: “perayaan Maulid ini hanya sekedar muamalah bukan ibadah, dan hukum asal muamalah adalah mubah.”Jawabannya, itu sekedar retorika saja yang tidak sesuai dengan kenyataan. Realitanya, yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka merasa sedang beribadah kepada Allah dengan merayakannya.Penjelasan para ulamaSyekh Alwi bin Abdil Qadir As Saqqaf hafizhahullah menjelaskan,“Perkataan mereka bahwa, ‘peringatan Maulid Nabi ini hanya ‘adah (muamalah), bukan ibadah, mengapa kalian mengingkari perkara adah?’.Jawabnya, ini adalah sebuah fallacy (pola pikir yang keliru) dari mereka. Dan merupakan bentuk lari dari kenyataan yang sebenarnya. Karena bagaimana mungkin acara kumpul-kumpul untuk membaca Al-Quran, berzikir, berdoa, mengingatkan tentang sirah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sifat-sifat beliau, dengan tujuan untuk ber-taqarrub kepada Allah ‘azza wa jalla, dan mereka mengajak serta memotivasi masyarakat untuk melakukannya, bahkan mereka mengklaim ini adalah amalan yang agung, dan akan mendapatkan pahala yang sangat besar, bagaimana mungkin disebut bahwa ini adalah ‘adah (muamalah) dan bukan ibadah? Kalau demikian, lalu apa makna ibadah?” (Al Maulid An Nabawi Syubuhat wa Rudud,  [1]).Syekh Khalid bin Bulihid hafizhahullah juga mengatakan,“Kalau kita tanya mereka apa hakekat perayaan Maulid Nabi ini? Mereka menjawab, ‘ini sekedar adat sebagaimana perayaan-perayaan duniawi yang lain, tidak ada kaitannya dengan agama. Maka hukum asalnya boleh dan memang dibolehkan merayakan Maulid Nabi sebagaimana bolehnya membuat perayaan naik pangkat, perayaan ditemukannya orang yang hilang, perayaan ketika dapat suatu nikmat harta atau kelahiran anak, atau semisalnya.’Sanggahannya, pernyataan mereka ini adalah sebuah fallacy yang fatal. Dan juga bentuk pengelabuan terhadap masyarakat juga terhadap ilmu mantiq (logika) dan juga terhadap akal sehat.Karena setiap orang, walaupun dia orang awam yang tidak bisa baca tulis sekalipun, ketika pertama kali melihat perayaan Maulid Nabi dia tentu akan menyatakan ini adalah perayaan agama. Dan orang yang merenungkan hakikat perayaan Maulid Nabi ini, dia akan yakin bahwa ini diadakan atas dasar cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan tujuan yang lebih besar dari itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana untuk membersihkan hati, berzikir, mengkhusyukkan diri, dan berdoa kepada Allah.Maka dari sini jelaslah bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah yang dianggap dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Bahkan mereka menjadikannya sebagai salah satu dari syiar Islam yang mereka senantiasa rutinkan. Mereka juga mengajak masyarakat untuk melakukannya. Bahkan mereka mengingkari orang-orang yang tidak mau melakukannya dan menuduh mereka radikal.Jika sudah jelas bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah, maka ibadah itu harus memenuhi syaratnya (yaitu ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi). Jika tidak, maka menjadi perkara yang batil dan tidak memiliki landasan” (Al Hiwar ma’a Ansharil Maulidin Nabawi, [2]).Baca Juga: Perayaan Maulid Nabi Adalah Masalah Khilafiyah?Maulid Nabi adalah id (hari raya) yang bidahKemudian jika kita asumsikan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah ‘adah (muamalah). Maka perkara muamalah juga bisa jadi ibadah dan bisa masuk dalam bab bidah jika menjadi suatu ritual untuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) tanpa dalil.Diantara kaidah lain dalam mengenal bidah adalah,كل تقرب إلى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة“Setiap bentuk taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan suatu perkara adat (non ibadah) atau muamalah dengan cara yang tidak dituntunkan syariat maka perbuatan tersebut adalah bidah.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 106).Contohnya, Nabi shallallahu’alaihi Wa sallam melarang tabattul, yaitu sengaja tidak menikah untuk taqarrub kepada Allah, seperti para rahib dan pendeta. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu, ia berkata:رَدَّ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى عُثْمَانَ بنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، ولو أذِنَ له لَاخْتَصَيْنَا“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang Utsman bin Mazh’un untuk melakukan tabattul. Andaikan tabattul dibolehkan, sungguh kami akan melakukan kebiri.” (HR. Bukhari no.5073, Muslim no. 1402).Padahal menikah atau tidak menikah itu perkara muamalah. Namun ketika tidak menikah diniatkan untuk taqarrub, maka menjadi bidah.Kemudian, jika suatu perayaan dianggap sebagai ‘adah (muamalah), jika ia dilakukan secara rutin dan berkala, kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mengekspresikan kegembiraan atau kesedihan, maka ini disebut dengan id, atau hari raya. Dalam kamus Lisaanul Arab disebutkan,والعِيدُ عند العرب الوقت الذي يَعُودُ فيه الفَرَح والحزن“id dalam bahasa Arab artinya waktu dimana orang-orang mengulang rasa sedih atau rasa gembira.”Dalam Maqayis Al Lughah juga disebutkan,العِيد: كلُّ يومِ مَجْمَع“id adalah hari yang dijadikan momen untuk kumpul-kumpul.”Dan ini salah satu poin bidahnya Maulid Nabi, yaitu karena ia merupakan suatu id (hari raya) yang dibuat-buat tanpa dalil. Sedangkan perkara membuat hari id, ini adalah perkara ibadah. Syekh Nashir Al-‘Aql menjelaskan,الأعياد من جملة الشرائع والمناسك ، كالقبلة ، والصلاة ، والصيام ، وليست مجرد عادات ، وهنا يكون أمر التشبه والتقليد فيها للكافرين أشد وأخطر ، وكذلك تشريع أعياد لم يشرعها الله يكون حكمًا بغير ما أنزل الله ، وقولًا على الله بغير علم ، وافتراء عليه ، وابتداعًا في دينه“Hari id termasuk syiar agama dan manasik (rangkaian ritual ibadah), sebagaimana kiblat, salat, dan puasa. Maka hari id itu bukan sekedar adat. Dari sini, maka perkara membuat hari id baru, selain termasuk tasyabbuh dan taqlid kepada orang kafir, bertambah lagi keharamannya dan bahayanya. Demikian juga, membuat hari id yang tidak pernah Allah syariatkan, ini termasuk berhukum dengan selain hukum yang Allah turunkan. Dan termasuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan membuat-buat kedustaan atas nama Allah, serta membuat kebidahan dalam agama Allah.” (Muqaddimah Iqtidha Shiratil Mustaqim, hal. 58).Kesimpulannya, perayaan Maulid Nabi tetap tidak dibenarkan walaupun mereka beralasan ini adalah ‘adah (muamalah) saja, karena perbuatan ‘adah jika diniatkan untuk taqarrub tanpa dalil maka ia juga termasuk bidah. Dan karena perayaan Maulid Nabi merupakan id baru yang tidak dilandasi dalil, sedangkan menetapkan id adalah perkara ibadah.Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi hidayah dan taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] https://bit.ly/2GHoeyx[2] http://www.saaid.net/Doat/binbulihed/8.htm
Sebagian orang yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka beralasan: “perayaan Maulid ini hanya sekedar muamalah bukan ibadah, dan hukum asal muamalah adalah mubah.”Jawabannya, itu sekedar retorika saja yang tidak sesuai dengan kenyataan. Realitanya, yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka merasa sedang beribadah kepada Allah dengan merayakannya.Penjelasan para ulamaSyekh Alwi bin Abdil Qadir As Saqqaf hafizhahullah menjelaskan,“Perkataan mereka bahwa, ‘peringatan Maulid Nabi ini hanya ‘adah (muamalah), bukan ibadah, mengapa kalian mengingkari perkara adah?’.Jawabnya, ini adalah sebuah fallacy (pola pikir yang keliru) dari mereka. Dan merupakan bentuk lari dari kenyataan yang sebenarnya. Karena bagaimana mungkin acara kumpul-kumpul untuk membaca Al-Quran, berzikir, berdoa, mengingatkan tentang sirah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sifat-sifat beliau, dengan tujuan untuk ber-taqarrub kepada Allah ‘azza wa jalla, dan mereka mengajak serta memotivasi masyarakat untuk melakukannya, bahkan mereka mengklaim ini adalah amalan yang agung, dan akan mendapatkan pahala yang sangat besar, bagaimana mungkin disebut bahwa ini adalah ‘adah (muamalah) dan bukan ibadah? Kalau demikian, lalu apa makna ibadah?” (Al Maulid An Nabawi Syubuhat wa Rudud,  [1]).Syekh Khalid bin Bulihid hafizhahullah juga mengatakan,“Kalau kita tanya mereka apa hakekat perayaan Maulid Nabi ini? Mereka menjawab, ‘ini sekedar adat sebagaimana perayaan-perayaan duniawi yang lain, tidak ada kaitannya dengan agama. Maka hukum asalnya boleh dan memang dibolehkan merayakan Maulid Nabi sebagaimana bolehnya membuat perayaan naik pangkat, perayaan ditemukannya orang yang hilang, perayaan ketika dapat suatu nikmat harta atau kelahiran anak, atau semisalnya.’Sanggahannya, pernyataan mereka ini adalah sebuah fallacy yang fatal. Dan juga bentuk pengelabuan terhadap masyarakat juga terhadap ilmu mantiq (logika) dan juga terhadap akal sehat.Karena setiap orang, walaupun dia orang awam yang tidak bisa baca tulis sekalipun, ketika pertama kali melihat perayaan Maulid Nabi dia tentu akan menyatakan ini adalah perayaan agama. Dan orang yang merenungkan hakikat perayaan Maulid Nabi ini, dia akan yakin bahwa ini diadakan atas dasar cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan tujuan yang lebih besar dari itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana untuk membersihkan hati, berzikir, mengkhusyukkan diri, dan berdoa kepada Allah.Maka dari sini jelaslah bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah yang dianggap dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Bahkan mereka menjadikannya sebagai salah satu dari syiar Islam yang mereka senantiasa rutinkan. Mereka juga mengajak masyarakat untuk melakukannya. Bahkan mereka mengingkari orang-orang yang tidak mau melakukannya dan menuduh mereka radikal.Jika sudah jelas bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah, maka ibadah itu harus memenuhi syaratnya (yaitu ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi). Jika tidak, maka menjadi perkara yang batil dan tidak memiliki landasan” (Al Hiwar ma’a Ansharil Maulidin Nabawi, [2]).Baca Juga: Perayaan Maulid Nabi Adalah Masalah Khilafiyah?Maulid Nabi adalah id (hari raya) yang bidahKemudian jika kita asumsikan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah ‘adah (muamalah). Maka perkara muamalah juga bisa jadi ibadah dan bisa masuk dalam bab bidah jika menjadi suatu ritual untuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) tanpa dalil.Diantara kaidah lain dalam mengenal bidah adalah,كل تقرب إلى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة“Setiap bentuk taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan suatu perkara adat (non ibadah) atau muamalah dengan cara yang tidak dituntunkan syariat maka perbuatan tersebut adalah bidah.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 106).Contohnya, Nabi shallallahu’alaihi Wa sallam melarang tabattul, yaitu sengaja tidak menikah untuk taqarrub kepada Allah, seperti para rahib dan pendeta. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu, ia berkata:رَدَّ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى عُثْمَانَ بنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، ولو أذِنَ له لَاخْتَصَيْنَا“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang Utsman bin Mazh’un untuk melakukan tabattul. Andaikan tabattul dibolehkan, sungguh kami akan melakukan kebiri.” (HR. Bukhari no.5073, Muslim no. 1402).Padahal menikah atau tidak menikah itu perkara muamalah. Namun ketika tidak menikah diniatkan untuk taqarrub, maka menjadi bidah.Kemudian, jika suatu perayaan dianggap sebagai ‘adah (muamalah), jika ia dilakukan secara rutin dan berkala, kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mengekspresikan kegembiraan atau kesedihan, maka ini disebut dengan id, atau hari raya. Dalam kamus Lisaanul Arab disebutkan,والعِيدُ عند العرب الوقت الذي يَعُودُ فيه الفَرَح والحزن“id dalam bahasa Arab artinya waktu dimana orang-orang mengulang rasa sedih atau rasa gembira.”Dalam Maqayis Al Lughah juga disebutkan,العِيد: كلُّ يومِ مَجْمَع“id adalah hari yang dijadikan momen untuk kumpul-kumpul.”Dan ini salah satu poin bidahnya Maulid Nabi, yaitu karena ia merupakan suatu id (hari raya) yang dibuat-buat tanpa dalil. Sedangkan perkara membuat hari id, ini adalah perkara ibadah. Syekh Nashir Al-‘Aql menjelaskan,الأعياد من جملة الشرائع والمناسك ، كالقبلة ، والصلاة ، والصيام ، وليست مجرد عادات ، وهنا يكون أمر التشبه والتقليد فيها للكافرين أشد وأخطر ، وكذلك تشريع أعياد لم يشرعها الله يكون حكمًا بغير ما أنزل الله ، وقولًا على الله بغير علم ، وافتراء عليه ، وابتداعًا في دينه“Hari id termasuk syiar agama dan manasik (rangkaian ritual ibadah), sebagaimana kiblat, salat, dan puasa. Maka hari id itu bukan sekedar adat. Dari sini, maka perkara membuat hari id baru, selain termasuk tasyabbuh dan taqlid kepada orang kafir, bertambah lagi keharamannya dan bahayanya. Demikian juga, membuat hari id yang tidak pernah Allah syariatkan, ini termasuk berhukum dengan selain hukum yang Allah turunkan. Dan termasuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan membuat-buat kedustaan atas nama Allah, serta membuat kebidahan dalam agama Allah.” (Muqaddimah Iqtidha Shiratil Mustaqim, hal. 58).Kesimpulannya, perayaan Maulid Nabi tetap tidak dibenarkan walaupun mereka beralasan ini adalah ‘adah (muamalah) saja, karena perbuatan ‘adah jika diniatkan untuk taqarrub tanpa dalil maka ia juga termasuk bidah. Dan karena perayaan Maulid Nabi merupakan id baru yang tidak dilandasi dalil, sedangkan menetapkan id adalah perkara ibadah.Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi hidayah dan taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] https://bit.ly/2GHoeyx[2] http://www.saaid.net/Doat/binbulihed/8.htm


Sebagian orang yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka beralasan: “perayaan Maulid ini hanya sekedar muamalah bukan ibadah, dan hukum asal muamalah adalah mubah.”Jawabannya, itu sekedar retorika saja yang tidak sesuai dengan kenyataan. Realitanya, yang merayakan peringatan Maulid Nabi mereka merasa sedang beribadah kepada Allah dengan merayakannya.Penjelasan para ulamaSyekh Alwi bin Abdil Qadir As Saqqaf hafizhahullah menjelaskan,“Perkataan mereka bahwa, ‘peringatan Maulid Nabi ini hanya ‘adah (muamalah), bukan ibadah, mengapa kalian mengingkari perkara adah?’.Jawabnya, ini adalah sebuah fallacy (pola pikir yang keliru) dari mereka. Dan merupakan bentuk lari dari kenyataan yang sebenarnya. Karena bagaimana mungkin acara kumpul-kumpul untuk membaca Al-Quran, berzikir, berdoa, mengingatkan tentang sirah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan sifat-sifat beliau, dengan tujuan untuk ber-taqarrub kepada Allah ‘azza wa jalla, dan mereka mengajak serta memotivasi masyarakat untuk melakukannya, bahkan mereka mengklaim ini adalah amalan yang agung, dan akan mendapatkan pahala yang sangat besar, bagaimana mungkin disebut bahwa ini adalah ‘adah (muamalah) dan bukan ibadah? Kalau demikian, lalu apa makna ibadah?” (Al Maulid An Nabawi Syubuhat wa Rudud,  [1]).Syekh Khalid bin Bulihid hafizhahullah juga mengatakan,“Kalau kita tanya mereka apa hakekat perayaan Maulid Nabi ini? Mereka menjawab, ‘ini sekedar adat sebagaimana perayaan-perayaan duniawi yang lain, tidak ada kaitannya dengan agama. Maka hukum asalnya boleh dan memang dibolehkan merayakan Maulid Nabi sebagaimana bolehnya membuat perayaan naik pangkat, perayaan ditemukannya orang yang hilang, perayaan ketika dapat suatu nikmat harta atau kelahiran anak, atau semisalnya.’Sanggahannya, pernyataan mereka ini adalah sebuah fallacy yang fatal. Dan juga bentuk pengelabuan terhadap masyarakat juga terhadap ilmu mantiq (logika) dan juga terhadap akal sehat.Karena setiap orang, walaupun dia orang awam yang tidak bisa baca tulis sekalipun, ketika pertama kali melihat perayaan Maulid Nabi dia tentu akan menyatakan ini adalah perayaan agama. Dan orang yang merenungkan hakikat perayaan Maulid Nabi ini, dia akan yakin bahwa ini diadakan atas dasar cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan tujuan yang lebih besar dari itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana untuk membersihkan hati, berzikir, mengkhusyukkan diri, dan berdoa kepada Allah.Maka dari sini jelaslah bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah yang dianggap dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Bahkan mereka menjadikannya sebagai salah satu dari syiar Islam yang mereka senantiasa rutinkan. Mereka juga mengajak masyarakat untuk melakukannya. Bahkan mereka mengingkari orang-orang yang tidak mau melakukannya dan menuduh mereka radikal.Jika sudah jelas bahwa perayaan ini adalah bentuk ibadah, maka ibadah itu harus memenuhi syaratnya (yaitu ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi). Jika tidak, maka menjadi perkara yang batil dan tidak memiliki landasan” (Al Hiwar ma’a Ansharil Maulidin Nabawi, [2]).Baca Juga: Perayaan Maulid Nabi Adalah Masalah Khilafiyah?Maulid Nabi adalah id (hari raya) yang bidahKemudian jika kita asumsikan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah ‘adah (muamalah). Maka perkara muamalah juga bisa jadi ibadah dan bisa masuk dalam bab bidah jika menjadi suatu ritual untuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) tanpa dalil.Diantara kaidah lain dalam mengenal bidah adalah,كل تقرب إلى الله بفعل شيئ من العادات أو المعاملات من وجه لم يعتبره الشارع فهو بدعة“Setiap bentuk taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan suatu perkara adat (non ibadah) atau muamalah dengan cara yang tidak dituntunkan syariat maka perbuatan tersebut adalah bidah.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 106).Contohnya, Nabi shallallahu’alaihi Wa sallam melarang tabattul, yaitu sengaja tidak menikah untuk taqarrub kepada Allah, seperti para rahib dan pendeta. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu, ia berkata:رَدَّ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى عُثْمَانَ بنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، ولو أذِنَ له لَاخْتَصَيْنَا“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang Utsman bin Mazh’un untuk melakukan tabattul. Andaikan tabattul dibolehkan, sungguh kami akan melakukan kebiri.” (HR. Bukhari no.5073, Muslim no. 1402).Padahal menikah atau tidak menikah itu perkara muamalah. Namun ketika tidak menikah diniatkan untuk taqarrub, maka menjadi bidah.Kemudian, jika suatu perayaan dianggap sebagai ‘adah (muamalah), jika ia dilakukan secara rutin dan berkala, kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mengekspresikan kegembiraan atau kesedihan, maka ini disebut dengan id, atau hari raya. Dalam kamus Lisaanul Arab disebutkan,والعِيدُ عند العرب الوقت الذي يَعُودُ فيه الفَرَح والحزن“id dalam bahasa Arab artinya waktu dimana orang-orang mengulang rasa sedih atau rasa gembira.”Dalam Maqayis Al Lughah juga disebutkan,العِيد: كلُّ يومِ مَجْمَع“id adalah hari yang dijadikan momen untuk kumpul-kumpul.”Dan ini salah satu poin bidahnya Maulid Nabi, yaitu karena ia merupakan suatu id (hari raya) yang dibuat-buat tanpa dalil. Sedangkan perkara membuat hari id, ini adalah perkara ibadah. Syekh Nashir Al-‘Aql menjelaskan,الأعياد من جملة الشرائع والمناسك ، كالقبلة ، والصلاة ، والصيام ، وليست مجرد عادات ، وهنا يكون أمر التشبه والتقليد فيها للكافرين أشد وأخطر ، وكذلك تشريع أعياد لم يشرعها الله يكون حكمًا بغير ما أنزل الله ، وقولًا على الله بغير علم ، وافتراء عليه ، وابتداعًا في دينه“Hari id termasuk syiar agama dan manasik (rangkaian ritual ibadah), sebagaimana kiblat, salat, dan puasa. Maka hari id itu bukan sekedar adat. Dari sini, maka perkara membuat hari id baru, selain termasuk tasyabbuh dan taqlid kepada orang kafir, bertambah lagi keharamannya dan bahayanya. Demikian juga, membuat hari id yang tidak pernah Allah syariatkan, ini termasuk berhukum dengan selain hukum yang Allah turunkan. Dan termasuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan membuat-buat kedustaan atas nama Allah, serta membuat kebidahan dalam agama Allah.” (Muqaddimah Iqtidha Shiratil Mustaqim, hal. 58).Kesimpulannya, perayaan Maulid Nabi tetap tidak dibenarkan walaupun mereka beralasan ini adalah ‘adah (muamalah) saja, karena perbuatan ‘adah jika diniatkan untuk taqarrub tanpa dalil maka ia juga termasuk bidah. Dan karena perayaan Maulid Nabi merupakan id baru yang tidak dilandasi dalil, sedangkan menetapkan id adalah perkara ibadah.Baca Juga:Semoga Allah ta’ala memberi hidayah dan taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] https://bit.ly/2GHoeyx[2] http://www.saaid.net/Doat/binbulihed/8.htm

Hukum Jual Beli Organ Tubuh Manusia (Hukum Jual Beli Ginjal)

Apa hukum menjual-belikan organ tubuh manusia? Seperti menjual ginjal atau anggota tubuh lainnya. Apakah sah? Anggota yang dipotong dari yang hidup adalah bangkai. Ginjal diambil, ginjal statusnya menjadi bangkai. Bangkai tidak diperjual belikan. Dalam hadits disebutkan, مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ “Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai.” (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Syarat sah jual beli: Objek yang diperjualbelikan haruslah suci, sedangkan bangkai itu najis. Saat ginjal itu dicangkokkan, bisa berfungsi kembali, apakah menjadi suci? Jawabannya, iya. Karena ginjal ini bukan lagi dikatakan dilepas dari yang hidup.   Masalahnya: Hukum jual beli ginjal dan organ tubuh manusia? Jawabannya, haram karena organ tubuh bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Haram hukumnya menjual yang bukan milik kita. Menjual organ termasuk merendahkan martabat manusia. Sepakat ulama kontemporer, haram menjual organ tubuh manusia. Akan tetapi, boleh mendermakan organ tubuh manusia pada yang membutuhkan tanpa imbalan dengan syarat: Si penderma tidak celaka Diyakini bahwa proses pencangkokan itu berhasil Adapun jika si penderma diberi hadiah, seperti itu tidak mengapa.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani. Baca Juga: Apa Hukum Jual Beli Gambar dan Lukisan? Apa Hukum Jual Beli Bangkai? — Disusun di Darush Sholihin, Rabu, 9 Rabiuts Tsani 1442 H (25 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram jual beli ginjal jual beli organ tubuh makanan halal organ tubuh manusia

Hukum Jual Beli Organ Tubuh Manusia (Hukum Jual Beli Ginjal)

Apa hukum menjual-belikan organ tubuh manusia? Seperti menjual ginjal atau anggota tubuh lainnya. Apakah sah? Anggota yang dipotong dari yang hidup adalah bangkai. Ginjal diambil, ginjal statusnya menjadi bangkai. Bangkai tidak diperjual belikan. Dalam hadits disebutkan, مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ “Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai.” (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Syarat sah jual beli: Objek yang diperjualbelikan haruslah suci, sedangkan bangkai itu najis. Saat ginjal itu dicangkokkan, bisa berfungsi kembali, apakah menjadi suci? Jawabannya, iya. Karena ginjal ini bukan lagi dikatakan dilepas dari yang hidup.   Masalahnya: Hukum jual beli ginjal dan organ tubuh manusia? Jawabannya, haram karena organ tubuh bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Haram hukumnya menjual yang bukan milik kita. Menjual organ termasuk merendahkan martabat manusia. Sepakat ulama kontemporer, haram menjual organ tubuh manusia. Akan tetapi, boleh mendermakan organ tubuh manusia pada yang membutuhkan tanpa imbalan dengan syarat: Si penderma tidak celaka Diyakini bahwa proses pencangkokan itu berhasil Adapun jika si penderma diberi hadiah, seperti itu tidak mengapa.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani. Baca Juga: Apa Hukum Jual Beli Gambar dan Lukisan? Apa Hukum Jual Beli Bangkai? — Disusun di Darush Sholihin, Rabu, 9 Rabiuts Tsani 1442 H (25 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram jual beli ginjal jual beli organ tubuh makanan halal organ tubuh manusia
Apa hukum menjual-belikan organ tubuh manusia? Seperti menjual ginjal atau anggota tubuh lainnya. Apakah sah? Anggota yang dipotong dari yang hidup adalah bangkai. Ginjal diambil, ginjal statusnya menjadi bangkai. Bangkai tidak diperjual belikan. Dalam hadits disebutkan, مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ “Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai.” (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Syarat sah jual beli: Objek yang diperjualbelikan haruslah suci, sedangkan bangkai itu najis. Saat ginjal itu dicangkokkan, bisa berfungsi kembali, apakah menjadi suci? Jawabannya, iya. Karena ginjal ini bukan lagi dikatakan dilepas dari yang hidup.   Masalahnya: Hukum jual beli ginjal dan organ tubuh manusia? Jawabannya, haram karena organ tubuh bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Haram hukumnya menjual yang bukan milik kita. Menjual organ termasuk merendahkan martabat manusia. Sepakat ulama kontemporer, haram menjual organ tubuh manusia. Akan tetapi, boleh mendermakan organ tubuh manusia pada yang membutuhkan tanpa imbalan dengan syarat: Si penderma tidak celaka Diyakini bahwa proses pencangkokan itu berhasil Adapun jika si penderma diberi hadiah, seperti itu tidak mengapa.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani. Baca Juga: Apa Hukum Jual Beli Gambar dan Lukisan? Apa Hukum Jual Beli Bangkai? — Disusun di Darush Sholihin, Rabu, 9 Rabiuts Tsani 1442 H (25 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram jual beli ginjal jual beli organ tubuh makanan halal organ tubuh manusia


Apa hukum menjual-belikan organ tubuh manusia? Seperti menjual ginjal atau anggota tubuh lainnya. Apakah sah? Anggota yang dipotong dari yang hidup adalah bangkai. Ginjal diambil, ginjal statusnya menjadi bangkai. Bangkai tidak diperjual belikan. Dalam hadits disebutkan, مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ “Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai.” (HR. ِAbu Daud, no. 2858; Tirmidzi, no. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Syarat sah jual beli: Objek yang diperjualbelikan haruslah suci, sedangkan bangkai itu najis. Saat ginjal itu dicangkokkan, bisa berfungsi kembali, apakah menjadi suci? Jawabannya, iya. Karena ginjal ini bukan lagi dikatakan dilepas dari yang hidup.   Masalahnya: Hukum jual beli ginjal dan organ tubuh manusia? Jawabannya, haram karena organ tubuh bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Haram hukumnya menjual yang bukan milik kita. Menjual organ termasuk merendahkan martabat manusia. Sepakat ulama kontemporer, haram menjual organ tubuh manusia. Akan tetapi, boleh mendermakan organ tubuh manusia pada yang membutuhkan tanpa imbalan dengan syarat: Si penderma tidak celaka Diyakini bahwa proses pencangkokan itu berhasil Adapun jika si penderma diberi hadiah, seperti itu tidak mengapa.   Referensi: Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani. Baca Juga: Apa Hukum Jual Beli Gambar dan Lukisan? Apa Hukum Jual Beli Bangkai? — Disusun di Darush Sholihin, Rabu, 9 Rabiuts Tsani 1442 H (25 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbangkai dampak harta haram halal haram harta haram hewan halal haram jual beli ginjal jual beli organ tubuh makanan halal organ tubuh manusia

Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah

Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Bismillah pak ustad ngeh. Pertanyaan. ada wanita dan laki2 yg berzina kemudian hamil. dlm keadaan hamil si wanita dinikahi oleh laki2 yg menghamilinya. inti dr pertanyaan sy apakah anak berikutnya itu termasuk anak haram yg dinasabkan sm ibu kandungnya. kan pernikahan itu tdk syah. misal anak pertama hasil zina trs dia melahirkan 2 anak lg. nah anak ke 2 dn ke 3 apakah berhak mendapatkan warisan dr bpknya. Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ala rasulillah wa ba’du. Pertama, kita bahas tentang hukum menikahi wanita yang dihamili di luar nikah atau yang biasa disebut dengan nikah karena ‘kecelakaan’. Ada dua pendapat ulama tentang keabsahannya: Pendapat pertama, mayoritas ulama (Jumhur): nikahnya sah. Pendapat kedua, Imam Ahmad bin Hambal: tidak sah, kecuali jika pelaku telah bertaubat. Pendapat kedua ini lebih kuat insyaallah, sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau menjelaskan, نكاح الزانية حرام حتى تتوب، سواء كان زنى بها هو أو غيره، هذا هو الصواب بلا ريب، وهو مذهب طائفة من السلف والخلف، منهم أحمد بن حنبل وغيره، وذهب كثير من السلف إلى جوازه، وهو قول الثلاثة Menikahi wanita berzina hukumnya haram, sampai dia bertaubat. Baik dinikahkan oleh lelaki yang menghamili atau oleh lelaki lain. Ini pendapat yang tepat tanpa keraguan. Pendapat ini menjadi mazhab sejumlah ulama dahulu (salaf) dan akhir-akhir (khalaf). Di antaranya Ahmad bin Hambal dan yang lainnya. Dan banyak ulama salaf juga yang membolehkan, ini pendapat ketiga. Dasarnya adalah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau pernah mengatakan tentang menikahi wanita yang hamil di luar nikah, كان أوله سفاح وآخره نكاح وأوله حرام وآخره حلال “Awalnya sifah (perzinahan), akhirnya nikah. Awalnya haram, akhirnya halal.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Al Kubro) Dan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa seorang lelaki berzina dengan seorang perempuan di zaman Khalifah Abu Bakr As-Shidiq radhiyallahu’anhu. Lalu Abu Bakr menghukum keduanya dengan seratus cambukan. Setelah itu keduanya dinikahkan oleh Abu Bakr. (Riwayat Ibnu Syihab, tersebut dalam Mushonnaf Abdur Razzaq) Demikian pula riwayat dari Sa’id dari Qotadah dari Jabir bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyab dan Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang berzina dengan wanita lalu menikahinya, mereka berkata, لا بأس بذلك إذا تابا وأصلحا وكرها ما كان “Tidak mengapa keduanya menikah asal sudah bertaubat, berdamai, dan membenci masa lalunya.” Sebagian ulama mensyaratkan syarat tambahan, yaitu harus selesai masa iddah wanita. Jika hamil maka masa iddahnya berakhir ketika melahirkan. Jika tidak hamil, masa iddahnya satu kali suci haid. Namun syarat ini diperselisihkan ulama: Hanafi dan Syafi’i berpandangan: tidak ada ketentuan iddah dalam pernikahan seperti ini. Alasannya air mani karena zina tidak memiliki kehormatan. Sehingga menjadikan boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang hamil di luar nikah sebelum dia melahirkan. Malikiyah dan Hambali: masa iddah berlaku dalam pernikahan karena kecelakaan. Alasannya sebagaimana yang berlaku pada pernikahan normal. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, pendapat kedua insyaAllah, bahwa dipersyaratkan berakhir masa iddah dalam pernikahan karena kecelakaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة “Tidak boleh menikahi wanita hamil sampai dia melahirkan. Dan wanita yang (dicerai) tidak hamil sampai dia mengalami haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, hadis yang senada diriwayatkan Imam Ahmad dan Ad-Darimi) Sebagaimana keterangan dalam Fatawa Islam no. 1677 berikut, ولكن الراجح وجوب الاستبراء – كما تقدم – لأن أكثر أهل العلم على أن الولد لا يجوز أن ينسب إلى أبيه من الزنا وإذا لم تستبرأ فيحتمل أن تكون قد حملت من وطئه الأول (وطء الزنى) فينسب إليه بغير حق. والله أعلم “Pendapat yang kuat adalah wajib menunggu lahirnya janin (berakhirnya iddah). Karena mayoritas ulama berpandangan bahwa anak tidak boleh dinasabkan kepada ayah biologis karena zina. Jika tidak disyaratkan lahirnya janin, bisa jadi perempuan itu hamil dari hubungannya pertama (saat zina). Lalu sang anak dinasabkan kepada ayah biologis tanpa haq. Wallahua’lam.” Sumber Islamweb.net Kedua, jika pernikahan sah dengan ketentuan yang sudah kita simak pada poin pertama di atas, maka anak yang lahir setelah akad nikah (sebagian ulama mensyaratkan tidak kurang dari 6 bulan pasca akad), dihukumi sebagai anak biologis yang syar’i. Sehingga ia berhak dinasabkan kepada ayah dan mendapatkan warisan dari ayah. Adapun anak hasil zina, tidak berhak menerima warisan dari ayah biologis dan sang ayah juga tidak menjadi ahli waris anak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَدُ زِنَا لَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ “Anak dari hasil zina tidak mendapat warisan dan tidak juga diwarisi oleh dan dari ayahnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai Shahih oleh Syekh Albani) Imam Tirmidzi menjelaskan hadis ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ وَلَدَ الزِّنَا لَا يَرِثُ مِنْ أَبِيهِ “Pengamalan terhadap hadis ini di kalangan para ulama bahwa anak hasil zina tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.” Adapun warisan ibunya maka ia berhak dapat dan ibunya juga berhak menjadi ahli warisnya. Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Rumah Tangga Islami, Pengertian Idul Fitri, Doa Agar Cepat Hafal Pelajaran, Doa Bayi Rewel, Kaos Warna Merah Maroon, Cara Memakai Cadar Yang Benar Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 398 QRIS donasi Yufid

Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah

Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Bismillah pak ustad ngeh. Pertanyaan. ada wanita dan laki2 yg berzina kemudian hamil. dlm keadaan hamil si wanita dinikahi oleh laki2 yg menghamilinya. inti dr pertanyaan sy apakah anak berikutnya itu termasuk anak haram yg dinasabkan sm ibu kandungnya. kan pernikahan itu tdk syah. misal anak pertama hasil zina trs dia melahirkan 2 anak lg. nah anak ke 2 dn ke 3 apakah berhak mendapatkan warisan dr bpknya. Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ala rasulillah wa ba’du. Pertama, kita bahas tentang hukum menikahi wanita yang dihamili di luar nikah atau yang biasa disebut dengan nikah karena ‘kecelakaan’. Ada dua pendapat ulama tentang keabsahannya: Pendapat pertama, mayoritas ulama (Jumhur): nikahnya sah. Pendapat kedua, Imam Ahmad bin Hambal: tidak sah, kecuali jika pelaku telah bertaubat. Pendapat kedua ini lebih kuat insyaallah, sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau menjelaskan, نكاح الزانية حرام حتى تتوب، سواء كان زنى بها هو أو غيره، هذا هو الصواب بلا ريب، وهو مذهب طائفة من السلف والخلف، منهم أحمد بن حنبل وغيره، وذهب كثير من السلف إلى جوازه، وهو قول الثلاثة Menikahi wanita berzina hukumnya haram, sampai dia bertaubat. Baik dinikahkan oleh lelaki yang menghamili atau oleh lelaki lain. Ini pendapat yang tepat tanpa keraguan. Pendapat ini menjadi mazhab sejumlah ulama dahulu (salaf) dan akhir-akhir (khalaf). Di antaranya Ahmad bin Hambal dan yang lainnya. Dan banyak ulama salaf juga yang membolehkan, ini pendapat ketiga. Dasarnya adalah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau pernah mengatakan tentang menikahi wanita yang hamil di luar nikah, كان أوله سفاح وآخره نكاح وأوله حرام وآخره حلال “Awalnya sifah (perzinahan), akhirnya nikah. Awalnya haram, akhirnya halal.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Al Kubro) Dan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa seorang lelaki berzina dengan seorang perempuan di zaman Khalifah Abu Bakr As-Shidiq radhiyallahu’anhu. Lalu Abu Bakr menghukum keduanya dengan seratus cambukan. Setelah itu keduanya dinikahkan oleh Abu Bakr. (Riwayat Ibnu Syihab, tersebut dalam Mushonnaf Abdur Razzaq) Demikian pula riwayat dari Sa’id dari Qotadah dari Jabir bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyab dan Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang berzina dengan wanita lalu menikahinya, mereka berkata, لا بأس بذلك إذا تابا وأصلحا وكرها ما كان “Tidak mengapa keduanya menikah asal sudah bertaubat, berdamai, dan membenci masa lalunya.” Sebagian ulama mensyaratkan syarat tambahan, yaitu harus selesai masa iddah wanita. Jika hamil maka masa iddahnya berakhir ketika melahirkan. Jika tidak hamil, masa iddahnya satu kali suci haid. Namun syarat ini diperselisihkan ulama: Hanafi dan Syafi’i berpandangan: tidak ada ketentuan iddah dalam pernikahan seperti ini. Alasannya air mani karena zina tidak memiliki kehormatan. Sehingga menjadikan boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang hamil di luar nikah sebelum dia melahirkan. Malikiyah dan Hambali: masa iddah berlaku dalam pernikahan karena kecelakaan. Alasannya sebagaimana yang berlaku pada pernikahan normal. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, pendapat kedua insyaAllah, bahwa dipersyaratkan berakhir masa iddah dalam pernikahan karena kecelakaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة “Tidak boleh menikahi wanita hamil sampai dia melahirkan. Dan wanita yang (dicerai) tidak hamil sampai dia mengalami haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, hadis yang senada diriwayatkan Imam Ahmad dan Ad-Darimi) Sebagaimana keterangan dalam Fatawa Islam no. 1677 berikut, ولكن الراجح وجوب الاستبراء – كما تقدم – لأن أكثر أهل العلم على أن الولد لا يجوز أن ينسب إلى أبيه من الزنا وإذا لم تستبرأ فيحتمل أن تكون قد حملت من وطئه الأول (وطء الزنى) فينسب إليه بغير حق. والله أعلم “Pendapat yang kuat adalah wajib menunggu lahirnya janin (berakhirnya iddah). Karena mayoritas ulama berpandangan bahwa anak tidak boleh dinasabkan kepada ayah biologis karena zina. Jika tidak disyaratkan lahirnya janin, bisa jadi perempuan itu hamil dari hubungannya pertama (saat zina). Lalu sang anak dinasabkan kepada ayah biologis tanpa haq. Wallahua’lam.” Sumber Islamweb.net Kedua, jika pernikahan sah dengan ketentuan yang sudah kita simak pada poin pertama di atas, maka anak yang lahir setelah akad nikah (sebagian ulama mensyaratkan tidak kurang dari 6 bulan pasca akad), dihukumi sebagai anak biologis yang syar’i. Sehingga ia berhak dinasabkan kepada ayah dan mendapatkan warisan dari ayah. Adapun anak hasil zina, tidak berhak menerima warisan dari ayah biologis dan sang ayah juga tidak menjadi ahli waris anak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَدُ زِنَا لَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ “Anak dari hasil zina tidak mendapat warisan dan tidak juga diwarisi oleh dan dari ayahnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai Shahih oleh Syekh Albani) Imam Tirmidzi menjelaskan hadis ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ وَلَدَ الزِّنَا لَا يَرِثُ مِنْ أَبِيهِ “Pengamalan terhadap hadis ini di kalangan para ulama bahwa anak hasil zina tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.” Adapun warisan ibunya maka ia berhak dapat dan ibunya juga berhak menjadi ahli warisnya. Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Rumah Tangga Islami, Pengertian Idul Fitri, Doa Agar Cepat Hafal Pelajaran, Doa Bayi Rewel, Kaos Warna Merah Maroon, Cara Memakai Cadar Yang Benar Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 398 QRIS donasi Yufid
Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Bismillah pak ustad ngeh. Pertanyaan. ada wanita dan laki2 yg berzina kemudian hamil. dlm keadaan hamil si wanita dinikahi oleh laki2 yg menghamilinya. inti dr pertanyaan sy apakah anak berikutnya itu termasuk anak haram yg dinasabkan sm ibu kandungnya. kan pernikahan itu tdk syah. misal anak pertama hasil zina trs dia melahirkan 2 anak lg. nah anak ke 2 dn ke 3 apakah berhak mendapatkan warisan dr bpknya. Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ala rasulillah wa ba’du. Pertama, kita bahas tentang hukum menikahi wanita yang dihamili di luar nikah atau yang biasa disebut dengan nikah karena ‘kecelakaan’. Ada dua pendapat ulama tentang keabsahannya: Pendapat pertama, mayoritas ulama (Jumhur): nikahnya sah. Pendapat kedua, Imam Ahmad bin Hambal: tidak sah, kecuali jika pelaku telah bertaubat. Pendapat kedua ini lebih kuat insyaallah, sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau menjelaskan, نكاح الزانية حرام حتى تتوب، سواء كان زنى بها هو أو غيره، هذا هو الصواب بلا ريب، وهو مذهب طائفة من السلف والخلف، منهم أحمد بن حنبل وغيره، وذهب كثير من السلف إلى جوازه، وهو قول الثلاثة Menikahi wanita berzina hukumnya haram, sampai dia bertaubat. Baik dinikahkan oleh lelaki yang menghamili atau oleh lelaki lain. Ini pendapat yang tepat tanpa keraguan. Pendapat ini menjadi mazhab sejumlah ulama dahulu (salaf) dan akhir-akhir (khalaf). Di antaranya Ahmad bin Hambal dan yang lainnya. Dan banyak ulama salaf juga yang membolehkan, ini pendapat ketiga. Dasarnya adalah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau pernah mengatakan tentang menikahi wanita yang hamil di luar nikah, كان أوله سفاح وآخره نكاح وأوله حرام وآخره حلال “Awalnya sifah (perzinahan), akhirnya nikah. Awalnya haram, akhirnya halal.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Al Kubro) Dan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa seorang lelaki berzina dengan seorang perempuan di zaman Khalifah Abu Bakr As-Shidiq radhiyallahu’anhu. Lalu Abu Bakr menghukum keduanya dengan seratus cambukan. Setelah itu keduanya dinikahkan oleh Abu Bakr. (Riwayat Ibnu Syihab, tersebut dalam Mushonnaf Abdur Razzaq) Demikian pula riwayat dari Sa’id dari Qotadah dari Jabir bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyab dan Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang berzina dengan wanita lalu menikahinya, mereka berkata, لا بأس بذلك إذا تابا وأصلحا وكرها ما كان “Tidak mengapa keduanya menikah asal sudah bertaubat, berdamai, dan membenci masa lalunya.” Sebagian ulama mensyaratkan syarat tambahan, yaitu harus selesai masa iddah wanita. Jika hamil maka masa iddahnya berakhir ketika melahirkan. Jika tidak hamil, masa iddahnya satu kali suci haid. Namun syarat ini diperselisihkan ulama: Hanafi dan Syafi’i berpandangan: tidak ada ketentuan iddah dalam pernikahan seperti ini. Alasannya air mani karena zina tidak memiliki kehormatan. Sehingga menjadikan boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang hamil di luar nikah sebelum dia melahirkan. Malikiyah dan Hambali: masa iddah berlaku dalam pernikahan karena kecelakaan. Alasannya sebagaimana yang berlaku pada pernikahan normal. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, pendapat kedua insyaAllah, bahwa dipersyaratkan berakhir masa iddah dalam pernikahan karena kecelakaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة “Tidak boleh menikahi wanita hamil sampai dia melahirkan. Dan wanita yang (dicerai) tidak hamil sampai dia mengalami haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, hadis yang senada diriwayatkan Imam Ahmad dan Ad-Darimi) Sebagaimana keterangan dalam Fatawa Islam no. 1677 berikut, ولكن الراجح وجوب الاستبراء – كما تقدم – لأن أكثر أهل العلم على أن الولد لا يجوز أن ينسب إلى أبيه من الزنا وإذا لم تستبرأ فيحتمل أن تكون قد حملت من وطئه الأول (وطء الزنى) فينسب إليه بغير حق. والله أعلم “Pendapat yang kuat adalah wajib menunggu lahirnya janin (berakhirnya iddah). Karena mayoritas ulama berpandangan bahwa anak tidak boleh dinasabkan kepada ayah biologis karena zina. Jika tidak disyaratkan lahirnya janin, bisa jadi perempuan itu hamil dari hubungannya pertama (saat zina). Lalu sang anak dinasabkan kepada ayah biologis tanpa haq. Wallahua’lam.” Sumber Islamweb.net Kedua, jika pernikahan sah dengan ketentuan yang sudah kita simak pada poin pertama di atas, maka anak yang lahir setelah akad nikah (sebagian ulama mensyaratkan tidak kurang dari 6 bulan pasca akad), dihukumi sebagai anak biologis yang syar’i. Sehingga ia berhak dinasabkan kepada ayah dan mendapatkan warisan dari ayah. Adapun anak hasil zina, tidak berhak menerima warisan dari ayah biologis dan sang ayah juga tidak menjadi ahli waris anak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَدُ زِنَا لَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ “Anak dari hasil zina tidak mendapat warisan dan tidak juga diwarisi oleh dan dari ayahnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai Shahih oleh Syekh Albani) Imam Tirmidzi menjelaskan hadis ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ وَلَدَ الزِّنَا لَا يَرِثُ مِنْ أَبِيهِ “Pengamalan terhadap hadis ini di kalangan para ulama bahwa anak hasil zina tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.” Adapun warisan ibunya maka ia berhak dapat dan ibunya juga berhak menjadi ahli warisnya. Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Rumah Tangga Islami, Pengertian Idul Fitri, Doa Agar Cepat Hafal Pelajaran, Doa Bayi Rewel, Kaos Warna Merah Maroon, Cara Memakai Cadar Yang Benar Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 398 QRIS donasi Yufid


Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Bismillah pak ustad ngeh. Pertanyaan. ada wanita dan laki2 yg berzina kemudian hamil. dlm keadaan hamil si wanita dinikahi oleh laki2 yg menghamilinya. inti dr pertanyaan sy apakah anak berikutnya itu termasuk anak haram yg dinasabkan sm ibu kandungnya. kan pernikahan itu tdk syah. misal anak pertama hasil zina trs dia melahirkan 2 anak lg. nah anak ke 2 dn ke 3 apakah berhak mendapatkan warisan dr bpknya. Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ala rasulillah wa ba’du. Pertama, kita bahas tentang hukum menikahi wanita yang dihamili di luar nikah atau yang biasa disebut dengan nikah karena ‘kecelakaan’. Ada dua pendapat ulama tentang keabsahannya: Pendapat pertama, mayoritas ulama (Jumhur): nikahnya sah. Pendapat kedua, Imam Ahmad bin Hambal: tidak sah, kecuali jika pelaku telah bertaubat. Pendapat kedua ini lebih kuat insyaallah, sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau menjelaskan, نكاح الزانية حرام حتى تتوب، سواء كان زنى بها هو أو غيره، هذا هو الصواب بلا ريب، وهو مذهب طائفة من السلف والخلف، منهم أحمد بن حنبل وغيره، وذهب كثير من السلف إلى جوازه، وهو قول الثلاثة Menikahi wanita berzina hukumnya haram, sampai dia bertaubat. Baik dinikahkan oleh lelaki yang menghamili atau oleh lelaki lain. Ini pendapat yang tepat tanpa keraguan. Pendapat ini menjadi mazhab sejumlah ulama dahulu (salaf) dan akhir-akhir (khalaf). Di antaranya Ahmad bin Hambal dan yang lainnya. Dan banyak ulama salaf juga yang membolehkan, ini pendapat ketiga. Dasarnya adalah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau pernah mengatakan tentang menikahi wanita yang hamil di luar nikah, كان أوله سفاح وآخره نكاح وأوله حرام وآخره حلال “Awalnya sifah (perzinahan), akhirnya nikah. Awalnya haram, akhirnya halal.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Al Kubro) Dan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa seorang lelaki berzina dengan seorang perempuan di zaman Khalifah Abu Bakr As-Shidiq radhiyallahu’anhu. Lalu Abu Bakr menghukum keduanya dengan seratus cambukan. Setelah itu keduanya dinikahkan oleh Abu Bakr. (Riwayat Ibnu Syihab, tersebut dalam Mushonnaf Abdur Razzaq) Demikian pula riwayat dari Sa’id dari Qotadah dari Jabir bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyab dan Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang berzina dengan wanita lalu menikahinya, mereka berkata, لا بأس بذلك إذا تابا وأصلحا وكرها ما كان “Tidak mengapa keduanya menikah asal sudah bertaubat, berdamai, dan membenci masa lalunya.” Sebagian ulama mensyaratkan syarat tambahan, yaitu harus selesai masa iddah wanita. Jika hamil maka masa iddahnya berakhir ketika melahirkan. Jika tidak hamil, masa iddahnya satu kali suci haid. Namun syarat ini diperselisihkan ulama: Hanafi dan Syafi’i berpandangan: tidak ada ketentuan iddah dalam pernikahan seperti ini. Alasannya air mani karena zina tidak memiliki kehormatan. Sehingga menjadikan boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang hamil di luar nikah sebelum dia melahirkan. Malikiyah dan Hambali: masa iddah berlaku dalam pernikahan karena kecelakaan. Alasannya sebagaimana yang berlaku pada pernikahan normal. Pendapat yang kuat dalam masalah ini, pendapat kedua insyaAllah, bahwa dipersyaratkan berakhir masa iddah dalam pernikahan karena kecelakaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة “Tidak boleh menikahi wanita hamil sampai dia melahirkan. Dan wanita yang (dicerai) tidak hamil sampai dia mengalami haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, hadis yang senada diriwayatkan Imam Ahmad dan Ad-Darimi) Sebagaimana keterangan dalam Fatawa Islam no. 1677 berikut, ولكن الراجح وجوب الاستبراء – كما تقدم – لأن أكثر أهل العلم على أن الولد لا يجوز أن ينسب إلى أبيه من الزنا وإذا لم تستبرأ فيحتمل أن تكون قد حملت من وطئه الأول (وطء الزنى) فينسب إليه بغير حق. والله أعلم “Pendapat yang kuat adalah wajib menunggu lahirnya janin (berakhirnya iddah). Karena mayoritas ulama berpandangan bahwa anak tidak boleh dinasabkan kepada ayah biologis karena zina. Jika tidak disyaratkan lahirnya janin, bisa jadi perempuan itu hamil dari hubungannya pertama (saat zina). Lalu sang anak dinasabkan kepada ayah biologis tanpa haq. Wallahua’lam.” Sumber Islamweb.net Kedua, jika pernikahan sah dengan ketentuan yang sudah kita simak pada poin pertama di atas, maka anak yang lahir setelah akad nikah (sebagian ulama mensyaratkan tidak kurang dari 6 bulan pasca akad), dihukumi sebagai anak biologis yang syar’i. Sehingga ia berhak dinasabkan kepada ayah dan mendapatkan warisan dari ayah. Adapun anak hasil zina, tidak berhak menerima warisan dari ayah biologis dan sang ayah juga tidak menjadi ahli waris anak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَدُ زِنَا لَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ “Anak dari hasil zina tidak mendapat warisan dan tidak juga diwarisi oleh dan dari ayahnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai Shahih oleh Syekh Albani) Imam Tirmidzi menjelaskan hadis ini, وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ وَلَدَ الزِّنَا لَا يَرِثُ مِنْ أَبِيهِ “Pengamalan terhadap hadis ini di kalangan para ulama bahwa anak hasil zina tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.” Adapun warisan ibunya maka ia berhak dapat dan ibunya juga berhak menjadi ahli warisnya. Wallahua’lam bish showab. Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Konsultasi Rumah Tangga Islami, Pengertian Idul Fitri, Doa Agar Cepat Hafal Pelajaran, Doa Bayi Rewel, Kaos Warna Merah Maroon, Cara Memakai Cadar Yang Benar Visited 122 times, 1 visit(s) today Post Views: 398 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Suci Haid setelah Asar, Apakah Harus Shalat Dzuhur?

Suci Haid setelah Asar, Apakah Harus Shalat Dzuhur? Jika wanita putus darah haidnya saat masuk waktu asar, apakah dia harus mengerjakan shalat dzuhur? Sehingga dia shalat dzuhur dijamak dengan asar. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Apabila wanita mengalami suci haid atau nifas setelah masuk waktu shalat asar, maka dia wajib mengerjakan shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Demikian pula ketika wanita suci dari haid atau nifas setelah masuk waktu isya, maka dia wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan jamak takhir. Demikian pendapat jumhur ulama, baik di kalangan sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan ulama generasi setelahnya. Ibnu Qudamah menyebutkan, وإذا تطهرت الحائض وأسلم الكافر وبلغ الصبي قبل أن تغرب الشمس صلوا الظهر فالعصر وأن بلغ الصبي وأسلم الكافر وطهرت الحائض قبل أن يطلع الفجر صلوا المغرب وعشاء الآخرة Apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum matahari terbenam, maka mereka shalat dzuhur dan asar. Demikian pula apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum terbit fajar, maka mereka shalat maghrib dan isya. Beliau melanjutkan, وروي هذا القول عن عبد الرحمن بن عوف وابن عباس وطاوس ومجاهد والنخعي والزهري وربيعة ومالك والليث والشافعي وإسحاق وأبي ثور Pendapat ini diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, Ibnu Abbas, Thawus, Mujahid, Ibrahim an-Nakhai, az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yi, Imam Malik, al-Laits bin Sa’d, Imam as-Syafii, Ishaq bin Rahuyah, dan Abu Tsaur. Ibnu Qudamah melanjutkan,  قال الإمام أحمد : عامة التابعين يقولون بهذا القول إلا الحسن وحده قال: لا تجب إلا الصلاة التي طهرت في وقتها وحدها، وهو قول الثوري وأصحاب الرأي Imam Ahmad mengatakan, mayoritas tabiin mengikuti pendapat ini kecuali Hasan al-Bashri saja. Beliau mengatakan, “Wanita yang mengalami suci haid tidak wajib mengerjakan shalat selain shalat saat dia suci”. Dan ini merupakan pendapat at-Tsauri dan para ulama Kufah. (al-Mughni, 1/441) Ibnu Qudamah juga menambahkan bahwa diriwayatkan oleh al-Atsram dan Ibnul Mundzir bahwa Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang wanita haid yang suci sebelum terbit fajar dan cukup untuk mengerjakan satu rakaat, تصلي المغرب والعشاء فإذا طهرت قبل أن تغرب الشمس صلت الظهر والعصر جميعا ولأن وقت الثانية وقت الأولى حال العذر فإذا أدركه المعذور لزمه فرضها كما يلزمه فرض الثانية Dia shalat maghrib dan isya. Dan jika suci sebelum terbenam matahari maka dia harus shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Karena waktu shalat kedua juga waktu shalat pertama ketika di sana ada udzur. Ketika udzur telah berakhir maka harus dikerjakan kewajibannya sebagaimana dia wajib mengerjakan kewajiban yang kedua. (al-Mughni, 1/441) Demikian. Allahu a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kafarat Sumpah, Kisah Abu Jahal Dan Abu Lahab, Doa Mendapat Restu Dari Calon Mertua, Tanda Siap Menikah Dalam Islam, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Doa Sesudah Sholat Gerhana Visited 191 times, 2 visit(s) today Post Views: 263 QRIS donasi Yufid

Suci Haid setelah Asar, Apakah Harus Shalat Dzuhur?

Suci Haid setelah Asar, Apakah Harus Shalat Dzuhur? Jika wanita putus darah haidnya saat masuk waktu asar, apakah dia harus mengerjakan shalat dzuhur? Sehingga dia shalat dzuhur dijamak dengan asar. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Apabila wanita mengalami suci haid atau nifas setelah masuk waktu shalat asar, maka dia wajib mengerjakan shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Demikian pula ketika wanita suci dari haid atau nifas setelah masuk waktu isya, maka dia wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan jamak takhir. Demikian pendapat jumhur ulama, baik di kalangan sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan ulama generasi setelahnya. Ibnu Qudamah menyebutkan, وإذا تطهرت الحائض وأسلم الكافر وبلغ الصبي قبل أن تغرب الشمس صلوا الظهر فالعصر وأن بلغ الصبي وأسلم الكافر وطهرت الحائض قبل أن يطلع الفجر صلوا المغرب وعشاء الآخرة Apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum matahari terbenam, maka mereka shalat dzuhur dan asar. Demikian pula apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum terbit fajar, maka mereka shalat maghrib dan isya. Beliau melanjutkan, وروي هذا القول عن عبد الرحمن بن عوف وابن عباس وطاوس ومجاهد والنخعي والزهري وربيعة ومالك والليث والشافعي وإسحاق وأبي ثور Pendapat ini diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, Ibnu Abbas, Thawus, Mujahid, Ibrahim an-Nakhai, az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yi, Imam Malik, al-Laits bin Sa’d, Imam as-Syafii, Ishaq bin Rahuyah, dan Abu Tsaur. Ibnu Qudamah melanjutkan,  قال الإمام أحمد : عامة التابعين يقولون بهذا القول إلا الحسن وحده قال: لا تجب إلا الصلاة التي طهرت في وقتها وحدها، وهو قول الثوري وأصحاب الرأي Imam Ahmad mengatakan, mayoritas tabiin mengikuti pendapat ini kecuali Hasan al-Bashri saja. Beliau mengatakan, “Wanita yang mengalami suci haid tidak wajib mengerjakan shalat selain shalat saat dia suci”. Dan ini merupakan pendapat at-Tsauri dan para ulama Kufah. (al-Mughni, 1/441) Ibnu Qudamah juga menambahkan bahwa diriwayatkan oleh al-Atsram dan Ibnul Mundzir bahwa Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang wanita haid yang suci sebelum terbit fajar dan cukup untuk mengerjakan satu rakaat, تصلي المغرب والعشاء فإذا طهرت قبل أن تغرب الشمس صلت الظهر والعصر جميعا ولأن وقت الثانية وقت الأولى حال العذر فإذا أدركه المعذور لزمه فرضها كما يلزمه فرض الثانية Dia shalat maghrib dan isya. Dan jika suci sebelum terbenam matahari maka dia harus shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Karena waktu shalat kedua juga waktu shalat pertama ketika di sana ada udzur. Ketika udzur telah berakhir maka harus dikerjakan kewajibannya sebagaimana dia wajib mengerjakan kewajiban yang kedua. (al-Mughni, 1/441) Demikian. Allahu a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kafarat Sumpah, Kisah Abu Jahal Dan Abu Lahab, Doa Mendapat Restu Dari Calon Mertua, Tanda Siap Menikah Dalam Islam, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Doa Sesudah Sholat Gerhana Visited 191 times, 2 visit(s) today Post Views: 263 QRIS donasi Yufid
Suci Haid setelah Asar, Apakah Harus Shalat Dzuhur? Jika wanita putus darah haidnya saat masuk waktu asar, apakah dia harus mengerjakan shalat dzuhur? Sehingga dia shalat dzuhur dijamak dengan asar. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Apabila wanita mengalami suci haid atau nifas setelah masuk waktu shalat asar, maka dia wajib mengerjakan shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Demikian pula ketika wanita suci dari haid atau nifas setelah masuk waktu isya, maka dia wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan jamak takhir. Demikian pendapat jumhur ulama, baik di kalangan sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan ulama generasi setelahnya. Ibnu Qudamah menyebutkan, وإذا تطهرت الحائض وأسلم الكافر وبلغ الصبي قبل أن تغرب الشمس صلوا الظهر فالعصر وأن بلغ الصبي وأسلم الكافر وطهرت الحائض قبل أن يطلع الفجر صلوا المغرب وعشاء الآخرة Apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum matahari terbenam, maka mereka shalat dzuhur dan asar. Demikian pula apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum terbit fajar, maka mereka shalat maghrib dan isya. Beliau melanjutkan, وروي هذا القول عن عبد الرحمن بن عوف وابن عباس وطاوس ومجاهد والنخعي والزهري وربيعة ومالك والليث والشافعي وإسحاق وأبي ثور Pendapat ini diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, Ibnu Abbas, Thawus, Mujahid, Ibrahim an-Nakhai, az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yi, Imam Malik, al-Laits bin Sa’d, Imam as-Syafii, Ishaq bin Rahuyah, dan Abu Tsaur. Ibnu Qudamah melanjutkan,  قال الإمام أحمد : عامة التابعين يقولون بهذا القول إلا الحسن وحده قال: لا تجب إلا الصلاة التي طهرت في وقتها وحدها، وهو قول الثوري وأصحاب الرأي Imam Ahmad mengatakan, mayoritas tabiin mengikuti pendapat ini kecuali Hasan al-Bashri saja. Beliau mengatakan, “Wanita yang mengalami suci haid tidak wajib mengerjakan shalat selain shalat saat dia suci”. Dan ini merupakan pendapat at-Tsauri dan para ulama Kufah. (al-Mughni, 1/441) Ibnu Qudamah juga menambahkan bahwa diriwayatkan oleh al-Atsram dan Ibnul Mundzir bahwa Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang wanita haid yang suci sebelum terbit fajar dan cukup untuk mengerjakan satu rakaat, تصلي المغرب والعشاء فإذا طهرت قبل أن تغرب الشمس صلت الظهر والعصر جميعا ولأن وقت الثانية وقت الأولى حال العذر فإذا أدركه المعذور لزمه فرضها كما يلزمه فرض الثانية Dia shalat maghrib dan isya. Dan jika suci sebelum terbenam matahari maka dia harus shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Karena waktu shalat kedua juga waktu shalat pertama ketika di sana ada udzur. Ketika udzur telah berakhir maka harus dikerjakan kewajibannya sebagaimana dia wajib mengerjakan kewajiban yang kedua. (al-Mughni, 1/441) Demikian. Allahu a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kafarat Sumpah, Kisah Abu Jahal Dan Abu Lahab, Doa Mendapat Restu Dari Calon Mertua, Tanda Siap Menikah Dalam Islam, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Doa Sesudah Sholat Gerhana Visited 191 times, 2 visit(s) today Post Views: 263 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1036858135&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Suci Haid setelah Asar, Apakah Harus Shalat Dzuhur? Jika wanita putus darah haidnya saat masuk waktu asar, apakah dia harus mengerjakan shalat dzuhur? Sehingga dia shalat dzuhur dijamak dengan asar. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Apabila wanita mengalami suci haid atau nifas setelah masuk waktu shalat asar, maka dia wajib mengerjakan shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Demikian pula ketika wanita suci dari haid atau nifas setelah masuk waktu isya, maka dia wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan jamak takhir. Demikian pendapat jumhur ulama, baik di kalangan sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan ulama generasi setelahnya. Ibnu Qudamah menyebutkan, وإذا تطهرت الحائض وأسلم الكافر وبلغ الصبي قبل أن تغرب الشمس صلوا الظهر فالعصر وأن بلغ الصبي وأسلم الكافر وطهرت الحائض قبل أن يطلع الفجر صلوا المغرب وعشاء الآخرة Apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum matahari terbenam, maka mereka shalat dzuhur dan asar. Demikian pula apabila ada wanita yang mengalami suci haid atau orang kafir yang masuk Islam atau anak kecil yang baligh pada saat sebelum terbit fajar, maka mereka shalat maghrib dan isya. Beliau melanjutkan, وروي هذا القول عن عبد الرحمن بن عوف وابن عباس وطاوس ومجاهد والنخعي والزهري وربيعة ومالك والليث والشافعي وإسحاق وأبي ثور Pendapat ini diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, Ibnu Abbas, Thawus, Mujahid, Ibrahim an-Nakhai, az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yi, Imam Malik, al-Laits bin Sa’d, Imam as-Syafii, Ishaq bin Rahuyah, dan Abu Tsaur. Ibnu Qudamah melanjutkan,  قال الإمام أحمد : عامة التابعين يقولون بهذا القول إلا الحسن وحده قال: لا تجب إلا الصلاة التي طهرت في وقتها وحدها، وهو قول الثوري وأصحاب الرأي Imam Ahmad mengatakan, mayoritas tabiin mengikuti pendapat ini kecuali Hasan al-Bashri saja. Beliau mengatakan, “Wanita yang mengalami suci haid tidak wajib mengerjakan shalat selain shalat saat dia suci”. Dan ini merupakan pendapat at-Tsauri dan para ulama Kufah. (al-Mughni, 1/441) Ibnu Qudamah juga menambahkan bahwa diriwayatkan oleh al-Atsram dan Ibnul Mundzir bahwa Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang wanita haid yang suci sebelum terbit fajar dan cukup untuk mengerjakan satu rakaat, تصلي المغرب والعشاء فإذا طهرت قبل أن تغرب الشمس صلت الظهر والعصر جميعا ولأن وقت الثانية وقت الأولى حال العذر فإذا أدركه المعذور لزمه فرضها كما يلزمه فرض الثانية Dia shalat maghrib dan isya. Dan jika suci sebelum terbenam matahari maka dia harus shalat dzuhur dan asar dengan jamak takhir. Karena waktu shalat kedua juga waktu shalat pertama ketika di sana ada udzur. Ketika udzur telah berakhir maka harus dikerjakan kewajibannya sebagaimana dia wajib mengerjakan kewajiban yang kedua. (al-Mughni, 1/441) Demikian. Allahu a’lam Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451) 🔍 Kafarat Sumpah, Kisah Abu Jahal Dan Abu Lahab, Doa Mendapat Restu Dari Calon Mertua, Tanda Siap Menikah Dalam Islam, Berapa Rakaat Sholat Idul Adha, Doa Sesudah Sholat Gerhana Visited 191 times, 2 visit(s) today Post Views: 263 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Wanita Dunia Penghuni Surga Lebih Cantik dari Bidadari Surga

Kita mungkin pernah mendengar ungkapan untuk memotivasi para wanita “agar bidadari cemburu padamu”. Maksud ungkapan tersebut adalah wanita dunia yang masuk surga akan lebih cantik dan lebih baik keadaannya dibandingkan bidadari surga. Ungkapan ini benar. Hanya saja, di surga tidak ada rasa cemburu dan hasad lagi.Sering kali wanita di dunia tidak “terlalu suka” dengan penjelasan bidadari surga dan kecantikan mereka. Padahal dengan membahas hal tersebut, mereka akan tahu bahwa mereka lebih baik keadaannya daripada bidadari surga.Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,هل الأوصاف التي ذكرت للحور العين في القرآن تشمل نساء الدنيا يا فضيلة الشيخ؟“Apakah sifat-sifat (kecantikan) bidadari dalam Al-Qur’an juga mencakup sifat para wanita dunia (yang masuk surga), wahai syaikh?Baca Juga: Inilah Para Wanita Perindu SurgaBeliau menjawab,الذي يظهر لي أن نساء الدنيا يكنّ خيراً من من الحور العين حتى في الصفات الظاهرة، والله أعلم.“Pendapat terkuat menurutku bahwa wanita dunia lebih baik daripada bidadari, termasuk sifat dan karakteristik lahiriahnya (penampilan dan kecantikan), wallahu a’lam.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard, kaset 283)Di kesempatan lain, beliau menjelaskan bahwa para suami mereka (wanita dunia) lebih tertarik pada wanita dunia (istri mereka di dunia) dibandingkan bidadari. Beliau rahimahullah berkata,المرأة الصالحة في الدنيا- يعني: الزوجة- تكون خيراً من الحور العين في الآخرة ، وأطيب وأرغب لزوجها“Wanita shalihah di dunia, yaitu para istri, lebih baik daripada bidadari di akhirat, lebih cantik dan lebih menarik bagi suaminya.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard 2: 4, Syamilah)Ahli Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah, menjelaskan bahwa wanita dunia lebih baik dan lebih cantik dari bidadari karena amal baik mereka di dunia, berbeda dengan bidadari yang langsung Allah Ta’ala ciptakan di dalam surga. Wanita dunia juga akan menjadi ratu dan tuan putri di surga. Beliau rahimahullah berkata,حال المرأة المؤمنة في الجنة أفضل من حال الحور العين وأعلى درجة وأكثر جمالا ؛ فالمرأة الصالحة من أهل الدنيا إذا دخلت الجنة فإنما تدخلها جزاءً على العمل الصالح وكرامة من الله لها لدينها وصلاحها ، أما الحور التي هي من نعيم الجنة فإنما خُلقت في الجنة من أجل غيرها وجُعلت جزاء للمؤمن على العمل الصالح ….؛ فالأولى ملكة سيدة آمرة ، والثانية – على عظم قدرها وجمالها – إلا أنها ـ فيما يتعارفه الناس ـ دون الملكة ، وهي مأمورة من سيدها المؤمن الذي خلقها الله تعالى جزاءً له“Keadaan wanita beriman di surga lebih utama dari bidadari dan lebih tinggi derajat dan kecantikannya. Wanita shalihah dari penduduk dunia masuk surga sebagai balasan atas amal saleh mereka. Hal ini adalah kemuliaan dari Allah untuk mereka karena bagusnya agama dan kebaikan mereka. Adapun bidadari adalah bagian dari kenikmatan surga. Mereka diciptakan di dalam surga sebagai kenikmatan bagi makhluk selainnya, sebagai balasan bagi orang beriman atas amal salihnya.Baca Juga: Istriku, dengan Siapa Engkau di Surga Nanti?Jenis yang pertama, (yaitu wanita dunia) adalah sebagai ratu, tuan putri, dan yang memerintah. Adapun jenis kedua, (bidadari surga) dengan keagungan kedudukan dan kecantikannya – sebagaimana yang diketahui oleh manusia – maka kedudukan bidadari di bawah ratu. Dia menjadi pelayan bagi tuannya yang beriman yang Allah ciptakan sebagai balasan bagi orang beriman.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 154)Berbahagialah wahai para wanita dunia, dengan beramal salih dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimasukkan surga Allah yang tertinggi. Kenikmatan surga tidak dapat dibayangkan sedikit pun, kecantikan para wanita surga kelak tidak bisa dibayangkan sedikit pun.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menukil firman Allah Ta’ala dalam hadis qudsi,يَقُوْلُ اللهُ : أَعْدَدَتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Allah telah berfirman, ‘Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang salih (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hadits Jibril, Arti Kata Bid'ah, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Simbol Allah Swt, Akhlak Kepada Orang Tua Dan Guru

Wanita Dunia Penghuni Surga Lebih Cantik dari Bidadari Surga

Kita mungkin pernah mendengar ungkapan untuk memotivasi para wanita “agar bidadari cemburu padamu”. Maksud ungkapan tersebut adalah wanita dunia yang masuk surga akan lebih cantik dan lebih baik keadaannya dibandingkan bidadari surga. Ungkapan ini benar. Hanya saja, di surga tidak ada rasa cemburu dan hasad lagi.Sering kali wanita di dunia tidak “terlalu suka” dengan penjelasan bidadari surga dan kecantikan mereka. Padahal dengan membahas hal tersebut, mereka akan tahu bahwa mereka lebih baik keadaannya daripada bidadari surga.Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,هل الأوصاف التي ذكرت للحور العين في القرآن تشمل نساء الدنيا يا فضيلة الشيخ؟“Apakah sifat-sifat (kecantikan) bidadari dalam Al-Qur’an juga mencakup sifat para wanita dunia (yang masuk surga), wahai syaikh?Baca Juga: Inilah Para Wanita Perindu SurgaBeliau menjawab,الذي يظهر لي أن نساء الدنيا يكنّ خيراً من من الحور العين حتى في الصفات الظاهرة، والله أعلم.“Pendapat terkuat menurutku bahwa wanita dunia lebih baik daripada bidadari, termasuk sifat dan karakteristik lahiriahnya (penampilan dan kecantikan), wallahu a’lam.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard, kaset 283)Di kesempatan lain, beliau menjelaskan bahwa para suami mereka (wanita dunia) lebih tertarik pada wanita dunia (istri mereka di dunia) dibandingkan bidadari. Beliau rahimahullah berkata,المرأة الصالحة في الدنيا- يعني: الزوجة- تكون خيراً من الحور العين في الآخرة ، وأطيب وأرغب لزوجها“Wanita shalihah di dunia, yaitu para istri, lebih baik daripada bidadari di akhirat, lebih cantik dan lebih menarik bagi suaminya.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard 2: 4, Syamilah)Ahli Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah, menjelaskan bahwa wanita dunia lebih baik dan lebih cantik dari bidadari karena amal baik mereka di dunia, berbeda dengan bidadari yang langsung Allah Ta’ala ciptakan di dalam surga. Wanita dunia juga akan menjadi ratu dan tuan putri di surga. Beliau rahimahullah berkata,حال المرأة المؤمنة في الجنة أفضل من حال الحور العين وأعلى درجة وأكثر جمالا ؛ فالمرأة الصالحة من أهل الدنيا إذا دخلت الجنة فإنما تدخلها جزاءً على العمل الصالح وكرامة من الله لها لدينها وصلاحها ، أما الحور التي هي من نعيم الجنة فإنما خُلقت في الجنة من أجل غيرها وجُعلت جزاء للمؤمن على العمل الصالح ….؛ فالأولى ملكة سيدة آمرة ، والثانية – على عظم قدرها وجمالها – إلا أنها ـ فيما يتعارفه الناس ـ دون الملكة ، وهي مأمورة من سيدها المؤمن الذي خلقها الله تعالى جزاءً له“Keadaan wanita beriman di surga lebih utama dari bidadari dan lebih tinggi derajat dan kecantikannya. Wanita shalihah dari penduduk dunia masuk surga sebagai balasan atas amal saleh mereka. Hal ini adalah kemuliaan dari Allah untuk mereka karena bagusnya agama dan kebaikan mereka. Adapun bidadari adalah bagian dari kenikmatan surga. Mereka diciptakan di dalam surga sebagai kenikmatan bagi makhluk selainnya, sebagai balasan bagi orang beriman atas amal salihnya.Baca Juga: Istriku, dengan Siapa Engkau di Surga Nanti?Jenis yang pertama, (yaitu wanita dunia) adalah sebagai ratu, tuan putri, dan yang memerintah. Adapun jenis kedua, (bidadari surga) dengan keagungan kedudukan dan kecantikannya – sebagaimana yang diketahui oleh manusia – maka kedudukan bidadari di bawah ratu. Dia menjadi pelayan bagi tuannya yang beriman yang Allah ciptakan sebagai balasan bagi orang beriman.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 154)Berbahagialah wahai para wanita dunia, dengan beramal salih dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimasukkan surga Allah yang tertinggi. Kenikmatan surga tidak dapat dibayangkan sedikit pun, kecantikan para wanita surga kelak tidak bisa dibayangkan sedikit pun.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menukil firman Allah Ta’ala dalam hadis qudsi,يَقُوْلُ اللهُ : أَعْدَدَتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Allah telah berfirman, ‘Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang salih (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hadits Jibril, Arti Kata Bid'ah, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Simbol Allah Swt, Akhlak Kepada Orang Tua Dan Guru
Kita mungkin pernah mendengar ungkapan untuk memotivasi para wanita “agar bidadari cemburu padamu”. Maksud ungkapan tersebut adalah wanita dunia yang masuk surga akan lebih cantik dan lebih baik keadaannya dibandingkan bidadari surga. Ungkapan ini benar. Hanya saja, di surga tidak ada rasa cemburu dan hasad lagi.Sering kali wanita di dunia tidak “terlalu suka” dengan penjelasan bidadari surga dan kecantikan mereka. Padahal dengan membahas hal tersebut, mereka akan tahu bahwa mereka lebih baik keadaannya daripada bidadari surga.Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,هل الأوصاف التي ذكرت للحور العين في القرآن تشمل نساء الدنيا يا فضيلة الشيخ؟“Apakah sifat-sifat (kecantikan) bidadari dalam Al-Qur’an juga mencakup sifat para wanita dunia (yang masuk surga), wahai syaikh?Baca Juga: Inilah Para Wanita Perindu SurgaBeliau menjawab,الذي يظهر لي أن نساء الدنيا يكنّ خيراً من من الحور العين حتى في الصفات الظاهرة، والله أعلم.“Pendapat terkuat menurutku bahwa wanita dunia lebih baik daripada bidadari, termasuk sifat dan karakteristik lahiriahnya (penampilan dan kecantikan), wallahu a’lam.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard, kaset 283)Di kesempatan lain, beliau menjelaskan bahwa para suami mereka (wanita dunia) lebih tertarik pada wanita dunia (istri mereka di dunia) dibandingkan bidadari. Beliau rahimahullah berkata,المرأة الصالحة في الدنيا- يعني: الزوجة- تكون خيراً من الحور العين في الآخرة ، وأطيب وأرغب لزوجها“Wanita shalihah di dunia, yaitu para istri, lebih baik daripada bidadari di akhirat, lebih cantik dan lebih menarik bagi suaminya.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard 2: 4, Syamilah)Ahli Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah, menjelaskan bahwa wanita dunia lebih baik dan lebih cantik dari bidadari karena amal baik mereka di dunia, berbeda dengan bidadari yang langsung Allah Ta’ala ciptakan di dalam surga. Wanita dunia juga akan menjadi ratu dan tuan putri di surga. Beliau rahimahullah berkata,حال المرأة المؤمنة في الجنة أفضل من حال الحور العين وأعلى درجة وأكثر جمالا ؛ فالمرأة الصالحة من أهل الدنيا إذا دخلت الجنة فإنما تدخلها جزاءً على العمل الصالح وكرامة من الله لها لدينها وصلاحها ، أما الحور التي هي من نعيم الجنة فإنما خُلقت في الجنة من أجل غيرها وجُعلت جزاء للمؤمن على العمل الصالح ….؛ فالأولى ملكة سيدة آمرة ، والثانية – على عظم قدرها وجمالها – إلا أنها ـ فيما يتعارفه الناس ـ دون الملكة ، وهي مأمورة من سيدها المؤمن الذي خلقها الله تعالى جزاءً له“Keadaan wanita beriman di surga lebih utama dari bidadari dan lebih tinggi derajat dan kecantikannya. Wanita shalihah dari penduduk dunia masuk surga sebagai balasan atas amal saleh mereka. Hal ini adalah kemuliaan dari Allah untuk mereka karena bagusnya agama dan kebaikan mereka. Adapun bidadari adalah bagian dari kenikmatan surga. Mereka diciptakan di dalam surga sebagai kenikmatan bagi makhluk selainnya, sebagai balasan bagi orang beriman atas amal salihnya.Baca Juga: Istriku, dengan Siapa Engkau di Surga Nanti?Jenis yang pertama, (yaitu wanita dunia) adalah sebagai ratu, tuan putri, dan yang memerintah. Adapun jenis kedua, (bidadari surga) dengan keagungan kedudukan dan kecantikannya – sebagaimana yang diketahui oleh manusia – maka kedudukan bidadari di bawah ratu. Dia menjadi pelayan bagi tuannya yang beriman yang Allah ciptakan sebagai balasan bagi orang beriman.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 154)Berbahagialah wahai para wanita dunia, dengan beramal salih dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimasukkan surga Allah yang tertinggi. Kenikmatan surga tidak dapat dibayangkan sedikit pun, kecantikan para wanita surga kelak tidak bisa dibayangkan sedikit pun.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menukil firman Allah Ta’ala dalam hadis qudsi,يَقُوْلُ اللهُ : أَعْدَدَتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Allah telah berfirman, ‘Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang salih (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hadits Jibril, Arti Kata Bid'ah, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Simbol Allah Swt, Akhlak Kepada Orang Tua Dan Guru


Kita mungkin pernah mendengar ungkapan untuk memotivasi para wanita “agar bidadari cemburu padamu”. Maksud ungkapan tersebut adalah wanita dunia yang masuk surga akan lebih cantik dan lebih baik keadaannya dibandingkan bidadari surga. Ungkapan ini benar. Hanya saja, di surga tidak ada rasa cemburu dan hasad lagi.Sering kali wanita di dunia tidak “terlalu suka” dengan penjelasan bidadari surga dan kecantikan mereka. Padahal dengan membahas hal tersebut, mereka akan tahu bahwa mereka lebih baik keadaannya daripada bidadari surga.Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,هل الأوصاف التي ذكرت للحور العين في القرآن تشمل نساء الدنيا يا فضيلة الشيخ؟“Apakah sifat-sifat (kecantikan) bidadari dalam Al-Qur’an juga mencakup sifat para wanita dunia (yang masuk surga), wahai syaikh?Baca Juga: Inilah Para Wanita Perindu SurgaBeliau menjawab,الذي يظهر لي أن نساء الدنيا يكنّ خيراً من من الحور العين حتى في الصفات الظاهرة، والله أعلم.“Pendapat terkuat menurutku bahwa wanita dunia lebih baik daripada bidadari, termasuk sifat dan karakteristik lahiriahnya (penampilan dan kecantikan), wallahu a’lam.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard, kaset 283)Di kesempatan lain, beliau menjelaskan bahwa para suami mereka (wanita dunia) lebih tertarik pada wanita dunia (istri mereka di dunia) dibandingkan bidadari. Beliau rahimahullah berkata,المرأة الصالحة في الدنيا- يعني: الزوجة- تكون خيراً من الحور العين في الآخرة ، وأطيب وأرغب لزوجها“Wanita shalihah di dunia, yaitu para istri, lebih baik daripada bidadari di akhirat, lebih cantik dan lebih menarik bagi suaminya.” (Fatwa Nur ‘Alad Dard 2: 4, Syamilah)Ahli Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah, menjelaskan bahwa wanita dunia lebih baik dan lebih cantik dari bidadari karena amal baik mereka di dunia, berbeda dengan bidadari yang langsung Allah Ta’ala ciptakan di dalam surga. Wanita dunia juga akan menjadi ratu dan tuan putri di surga. Beliau rahimahullah berkata,حال المرأة المؤمنة في الجنة أفضل من حال الحور العين وأعلى درجة وأكثر جمالا ؛ فالمرأة الصالحة من أهل الدنيا إذا دخلت الجنة فإنما تدخلها جزاءً على العمل الصالح وكرامة من الله لها لدينها وصلاحها ، أما الحور التي هي من نعيم الجنة فإنما خُلقت في الجنة من أجل غيرها وجُعلت جزاء للمؤمن على العمل الصالح ….؛ فالأولى ملكة سيدة آمرة ، والثانية – على عظم قدرها وجمالها – إلا أنها ـ فيما يتعارفه الناس ـ دون الملكة ، وهي مأمورة من سيدها المؤمن الذي خلقها الله تعالى جزاءً له“Keadaan wanita beriman di surga lebih utama dari bidadari dan lebih tinggi derajat dan kecantikannya. Wanita shalihah dari penduduk dunia masuk surga sebagai balasan atas amal saleh mereka. Hal ini adalah kemuliaan dari Allah untuk mereka karena bagusnya agama dan kebaikan mereka. Adapun bidadari adalah bagian dari kenikmatan surga. Mereka diciptakan di dalam surga sebagai kenikmatan bagi makhluk selainnya, sebagai balasan bagi orang beriman atas amal salihnya.Baca Juga: Istriku, dengan Siapa Engkau di Surga Nanti?Jenis yang pertama, (yaitu wanita dunia) adalah sebagai ratu, tuan putri, dan yang memerintah. Adapun jenis kedua, (bidadari surga) dengan keagungan kedudukan dan kecantikannya – sebagaimana yang diketahui oleh manusia – maka kedudukan bidadari di bawah ratu. Dia menjadi pelayan bagi tuannya yang beriman yang Allah ciptakan sebagai balasan bagi orang beriman.” (Tafsir Al-Qurthubi, 16: 154)Berbahagialah wahai para wanita dunia, dengan beramal salih dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimasukkan surga Allah yang tertinggi. Kenikmatan surga tidak dapat dibayangkan sedikit pun, kecantikan para wanita surga kelak tidak bisa dibayangkan sedikit pun.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menukil firman Allah Ta’ala dalam hadis qudsi,يَقُوْلُ اللهُ : أَعْدَدَتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ“Allah telah berfirman, ‘Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang salih (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga:Demikian semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hadits Jibril, Arti Kata Bid'ah, Ayat Tentang Nuzulul Qur'an, Simbol Allah Swt, Akhlak Kepada Orang Tua Dan Guru

Qantharah dan Surga – Serial Menuju Akhirat #10 – Selesai

Ilustrasi malam hari @unsplashQantharah dan SurgaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Qantharah adalah tempat setelah sirath dan sbeelum surga. Para ulama ada yang berbeda pendapat akan hal ini. apakah qantharah ini adalah lanjutan dari sirath atau bukan. Akan tetapi intinya qantharah tidak berada di atas neraka jahannam, dan kaum muslimin yang berhasil melewati sirath akan dikumpulkan di tempat tersebut untuk dibersihkan hatinya sebelum masuk ke dalam surga. Allah ﷻ berfirman,وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (47)“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr : 47)Oleh karenanya tatkala seseorang memasuki surga, maka tidak adalagi penyakit-penyakit hati dalam diri-diri seseroang. Rasa benci, jengkel dan yang lainnya akan dicabut oleh Allah ﷻ. Sehingga semua orang memiliki hati yang bersih dan kekal di dalam surga.Di antara penghuni surga dan penghuni neraka, ada yang namanya Ashabul A’raf, yaitu orang-orang yang timbangan amal kebaikan dan keburukan mereka sama berat. Allah ﷻ berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ (46) وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (47) وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ (48) أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (49)“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”. (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati“. (QS. Al-A’raf : 46-49)Maka ketika para Ashabul A’raf ini ditahan oleh Allah ﷻ dalam waktu yang cukup lama, barulah setelah itu Allah memasukkan mereka ke dalam surga.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Qantharah dan Surga – Serial Menuju Akhirat #10 – Selesai

Ilustrasi malam hari @unsplashQantharah dan SurgaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Qantharah adalah tempat setelah sirath dan sbeelum surga. Para ulama ada yang berbeda pendapat akan hal ini. apakah qantharah ini adalah lanjutan dari sirath atau bukan. Akan tetapi intinya qantharah tidak berada di atas neraka jahannam, dan kaum muslimin yang berhasil melewati sirath akan dikumpulkan di tempat tersebut untuk dibersihkan hatinya sebelum masuk ke dalam surga. Allah ﷻ berfirman,وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (47)“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr : 47)Oleh karenanya tatkala seseorang memasuki surga, maka tidak adalagi penyakit-penyakit hati dalam diri-diri seseroang. Rasa benci, jengkel dan yang lainnya akan dicabut oleh Allah ﷻ. Sehingga semua orang memiliki hati yang bersih dan kekal di dalam surga.Di antara penghuni surga dan penghuni neraka, ada yang namanya Ashabul A’raf, yaitu orang-orang yang timbangan amal kebaikan dan keburukan mereka sama berat. Allah ﷻ berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ (46) وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (47) وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ (48) أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (49)“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”. (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati“. (QS. Al-A’raf : 46-49)Maka ketika para Ashabul A’raf ini ditahan oleh Allah ﷻ dalam waktu yang cukup lama, barulah setelah itu Allah memasukkan mereka ke dalam surga.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Ilustrasi malam hari @unsplashQantharah dan SurgaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Qantharah adalah tempat setelah sirath dan sbeelum surga. Para ulama ada yang berbeda pendapat akan hal ini. apakah qantharah ini adalah lanjutan dari sirath atau bukan. Akan tetapi intinya qantharah tidak berada di atas neraka jahannam, dan kaum muslimin yang berhasil melewati sirath akan dikumpulkan di tempat tersebut untuk dibersihkan hatinya sebelum masuk ke dalam surga. Allah ﷻ berfirman,وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (47)“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr : 47)Oleh karenanya tatkala seseorang memasuki surga, maka tidak adalagi penyakit-penyakit hati dalam diri-diri seseroang. Rasa benci, jengkel dan yang lainnya akan dicabut oleh Allah ﷻ. Sehingga semua orang memiliki hati yang bersih dan kekal di dalam surga.Di antara penghuni surga dan penghuni neraka, ada yang namanya Ashabul A’raf, yaitu orang-orang yang timbangan amal kebaikan dan keburukan mereka sama berat. Allah ﷻ berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ (46) وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (47) وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ (48) أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (49)“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”. (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati“. (QS. Al-A’raf : 46-49)Maka ketika para Ashabul A’raf ini ditahan oleh Allah ﷻ dalam waktu yang cukup lama, barulah setelah itu Allah memasukkan mereka ke dalam surga.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)


Ilustrasi malam hari @unsplashQantharah dan SurgaOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Qantharah adalah tempat setelah sirath dan sbeelum surga. Para ulama ada yang berbeda pendapat akan hal ini. apakah qantharah ini adalah lanjutan dari sirath atau bukan. Akan tetapi intinya qantharah tidak berada di atas neraka jahannam, dan kaum muslimin yang berhasil melewati sirath akan dikumpulkan di tempat tersebut untuk dibersihkan hatinya sebelum masuk ke dalam surga. Allah ﷻ berfirman,وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (47)“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr : 47)Oleh karenanya tatkala seseorang memasuki surga, maka tidak adalagi penyakit-penyakit hati dalam diri-diri seseroang. Rasa benci, jengkel dan yang lainnya akan dicabut oleh Allah ﷻ. Sehingga semua orang memiliki hati yang bersih dan kekal di dalam surga.Di antara penghuni surga dan penghuni neraka, ada yang namanya Ashabul A’raf, yaitu orang-orang yang timbangan amal kebaikan dan keburukan mereka sama berat. Allah ﷻ berfirman,وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ (46) وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (47) وَنَادَى أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ (48) أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (49)“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”. (Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mukmin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati“. (QS. Al-A’raf : 46-49)Maka ketika para Ashabul A’raf ini ditahan oleh Allah ﷻ dalam waktu yang cukup lama, barulah setelah itu Allah memasukkan mereka ke dalam surga.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Alhamdulillah, telah kami sebutkan riwayat tentang wakaf Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum di serial artikel sebelumnya.Berikut ini beberapa riwayat tentang wakaf para sahabat selain Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum [1].Wakaf Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhuAl-Baihaqi rahimahullah berkata, “Al Humaidi menuturkan, ‘Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah dan Mesir kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra 11900).Aisyah putri Sa’ad radhiyallahu ‘anha berkata tentang wakaf ayahnya berupa rumah, “Sedekah ayahku adalah waqaf yang tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf 14).Namun, wakaf beliau sempat akan dijadikan harta waris oleh sebagian ahli waris beliau, lalu masalah tersebut diangkat ke Marwan, sang gubernur Madinah saat itu, lalu Gubernur tersebut mengumpulkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka radhiyallahu ‘anhum pun memutuskan bahwa harta itu adalah harta wakaf Sa’ad  radhiyallahu ‘anhu.Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaWakaf Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhuAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu pernah mewakafkan rumahnya.” (Sahihul Bukhari).Beliau menyatakan kepada putrinya agar ia menempati rumah tersebut tanpa merugikan dan dirugikan, lalu jika suaminya sudah bisa mencukupi kebutuhannya, maka ia tidak berhak lagi menempati rumah tersebut.Al-Baihaqi berkata, “Al-Humaidi berkata, ‘Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya yang ada di Mekah (Al-Haramiyyah), rumahnya di Mesir, serta hartanya di Madinah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Ibnu Umar mewakafkan jatah rumah yang didapatkan dari Umar, sebagai tempat tinggal bagi keluarga Abdullah yang membutuhkan.” (Shahihul Bukhari).Wakaf Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuZaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Baqi’ dan rumahnya yang berada di sebelah masjid (As-Sunan Al-Kubra).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaWakaf ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuBerkata Al-Baihaqi, “Al-Humaidi berkata,‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya di kota Thaif, serta mewakafkan rumahnya di Mekah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya bahwa, “Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah, tidak dijual, dan tidak diwariskan. Dan wakafnya itu masyhur.” (Ahkamul Auqaf).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang wakaf Khalid yang lainnya,وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا، قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ الله“Dan adapun Khalid, maka sesungguhnya kalian menzalimi Khalid [2], beliau telah mewakafkan baju besinya dan peralatan perangnya di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).Wakaf Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhuDisebutkan oleh Ibnu Syabbah bahwa beliau (Hakim bin Hizam) radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah Al-Munawwarah.Al-Bukhari berkata, “Anas mewakafkan sebuah rumah, beliau pun dahulu jika mendatangi rumah tersebut, singgah padanya.” (Shahihul Bukhari).Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta BendaWakaf Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuIbnu Syabbah menyebutkan dengan sanadnya sampai Nu’aim bin Abdullah berkata,“Saya mempersaksikan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hasyim bin Ahmad bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha membeli rumah, dan menuliskan (catatan) saat membelinya,“Sesungguhnya saya membeli rumah dan berniat sesuai dengan tujuanku dalam membelinya: diantaranya untuk tempat tinggal si A dan untuk keturunannya yang masih hidup setelahnya, dan untuk tempat tinggal si B (tak ada keterangan: ‘dan untuk keturunannya’), kemudian setelah itu dikembalikan kepada keluarga Abu Bakr.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhumAl-Khashshaf meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anha menyedekahkan rumahnya dalam bentuk wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya dari Musa bin Ya’qub, dari bibinya, dari bapaknya berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk sedekah wakaf, tak boleh dijual, dan tak boleh dihibahkan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Bisyr bahwa beliau menyebutkan tentang wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu berupa wakaf kepada budak, anak-anaknya, serta anak dari anak-anaknya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Manbat Al-Muzani berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Shafiyyah bintu Huyaiy radhiyallahu ‘anha (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.) berupa wakaf rumahnya untuk Bani Abdan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Baca Juga: 10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang HartaWakaf Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Salim Maula Tsabit, dari Amr bin Abdullah berkata,“Saya memasuki rumah Muhammad bin Jabir bin Abdullah, maka sayapun mengatakan, ‘Kebun mu ada di tempat ini dan itu.’ Muhammad bin Jabir berkata, ‘Kebun itu wakaf dari bapakku (Jabir), tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.’” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf menyebutkan bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sebagian hartanya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Su’ad Al-Juhani berkata,“’Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu menjadikan saya sebagai saksi atas rumah yang disedekahkan sebagai wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan, untuk anaknya, dan anak dari anaknya, lalu jika mereka telah tiada, maka kepada orang yang paling dekat denganku …”. (Ahkamul Auqaf).Wakaf Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Masurah berkata, “Saya mempersaksikan Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhu mewakafkan lahan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan selamanya.” (Ahkamul Auqaf).Sanad-sanad dari riwayat di atas, meski tidak lepas dari kritikan, namun kemasyhurannya menunjukkan bahwa masalah wakaf adalah masalah yang dikenal luas di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.RenunganMereka, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, adalah teladan umat ini, karena mereka adalah umat terbaik dari seluruh umat para Rasul ‘alaihi wa sallam.Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (QS. Ali-Imran: 110).Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik (umat) manusia adalah kurunku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).Para pembaca, persembahkan wakaf dari diri anda kepada Allah ta’ala, Tuhan alam semesta, baik banyak atau sedikit wakaf anda tersebut, agar anda berada dalam barisan orang-orang yang shaleh dengan mengikuti jalan salafus shalih, mendapatkan pahala amal jariah, sebagai umur kedua anda setelah anda meninggal dunia, serta sebagai salah satu bukti dari kebaikan iman Anda.Baca Juga:Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimu shalihat.Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki[1] Diintisarikan dari almoslim.net.[2] Mereka meminta kepada Khalid zakat mal baju besi dan peralatan perangnya karena menyangka bahwa barang-barang itu adalah barang dagangan Khalid radhiyallahu ‘anhu.[3] Bahwa aslinya adalah حائط yang bisa bermakna dinding, namun juga bisa bermakna kebun, wallahu a’lam. Mungkin makna “kebun” lah yang lebih mendekati kebenaran.

Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Alhamdulillah, telah kami sebutkan riwayat tentang wakaf Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum di serial artikel sebelumnya.Berikut ini beberapa riwayat tentang wakaf para sahabat selain Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum [1].Wakaf Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhuAl-Baihaqi rahimahullah berkata, “Al Humaidi menuturkan, ‘Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah dan Mesir kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra 11900).Aisyah putri Sa’ad radhiyallahu ‘anha berkata tentang wakaf ayahnya berupa rumah, “Sedekah ayahku adalah waqaf yang tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf 14).Namun, wakaf beliau sempat akan dijadikan harta waris oleh sebagian ahli waris beliau, lalu masalah tersebut diangkat ke Marwan, sang gubernur Madinah saat itu, lalu Gubernur tersebut mengumpulkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka radhiyallahu ‘anhum pun memutuskan bahwa harta itu adalah harta wakaf Sa’ad  radhiyallahu ‘anhu.Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaWakaf Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhuAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu pernah mewakafkan rumahnya.” (Sahihul Bukhari).Beliau menyatakan kepada putrinya agar ia menempati rumah tersebut tanpa merugikan dan dirugikan, lalu jika suaminya sudah bisa mencukupi kebutuhannya, maka ia tidak berhak lagi menempati rumah tersebut.Al-Baihaqi berkata, “Al-Humaidi berkata, ‘Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya yang ada di Mekah (Al-Haramiyyah), rumahnya di Mesir, serta hartanya di Madinah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Ibnu Umar mewakafkan jatah rumah yang didapatkan dari Umar, sebagai tempat tinggal bagi keluarga Abdullah yang membutuhkan.” (Shahihul Bukhari).Wakaf Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuZaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Baqi’ dan rumahnya yang berada di sebelah masjid (As-Sunan Al-Kubra).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaWakaf ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuBerkata Al-Baihaqi, “Al-Humaidi berkata,‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya di kota Thaif, serta mewakafkan rumahnya di Mekah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya bahwa, “Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah, tidak dijual, dan tidak diwariskan. Dan wakafnya itu masyhur.” (Ahkamul Auqaf).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang wakaf Khalid yang lainnya,وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا، قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ الله“Dan adapun Khalid, maka sesungguhnya kalian menzalimi Khalid [2], beliau telah mewakafkan baju besinya dan peralatan perangnya di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).Wakaf Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhuDisebutkan oleh Ibnu Syabbah bahwa beliau (Hakim bin Hizam) radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah Al-Munawwarah.Al-Bukhari berkata, “Anas mewakafkan sebuah rumah, beliau pun dahulu jika mendatangi rumah tersebut, singgah padanya.” (Shahihul Bukhari).Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta BendaWakaf Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuIbnu Syabbah menyebutkan dengan sanadnya sampai Nu’aim bin Abdullah berkata,“Saya mempersaksikan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hasyim bin Ahmad bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha membeli rumah, dan menuliskan (catatan) saat membelinya,“Sesungguhnya saya membeli rumah dan berniat sesuai dengan tujuanku dalam membelinya: diantaranya untuk tempat tinggal si A dan untuk keturunannya yang masih hidup setelahnya, dan untuk tempat tinggal si B (tak ada keterangan: ‘dan untuk keturunannya’), kemudian setelah itu dikembalikan kepada keluarga Abu Bakr.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhumAl-Khashshaf meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anha menyedekahkan rumahnya dalam bentuk wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya dari Musa bin Ya’qub, dari bibinya, dari bapaknya berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk sedekah wakaf, tak boleh dijual, dan tak boleh dihibahkan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Bisyr bahwa beliau menyebutkan tentang wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu berupa wakaf kepada budak, anak-anaknya, serta anak dari anak-anaknya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Manbat Al-Muzani berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Shafiyyah bintu Huyaiy radhiyallahu ‘anha (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.) berupa wakaf rumahnya untuk Bani Abdan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Baca Juga: 10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang HartaWakaf Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Salim Maula Tsabit, dari Amr bin Abdullah berkata,“Saya memasuki rumah Muhammad bin Jabir bin Abdullah, maka sayapun mengatakan, ‘Kebun mu ada di tempat ini dan itu.’ Muhammad bin Jabir berkata, ‘Kebun itu wakaf dari bapakku (Jabir), tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.’” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf menyebutkan bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sebagian hartanya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Su’ad Al-Juhani berkata,“’Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu menjadikan saya sebagai saksi atas rumah yang disedekahkan sebagai wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan, untuk anaknya, dan anak dari anaknya, lalu jika mereka telah tiada, maka kepada orang yang paling dekat denganku …”. (Ahkamul Auqaf).Wakaf Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Masurah berkata, “Saya mempersaksikan Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhu mewakafkan lahan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan selamanya.” (Ahkamul Auqaf).Sanad-sanad dari riwayat di atas, meski tidak lepas dari kritikan, namun kemasyhurannya menunjukkan bahwa masalah wakaf adalah masalah yang dikenal luas di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.RenunganMereka, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, adalah teladan umat ini, karena mereka adalah umat terbaik dari seluruh umat para Rasul ‘alaihi wa sallam.Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (QS. Ali-Imran: 110).Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik (umat) manusia adalah kurunku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).Para pembaca, persembahkan wakaf dari diri anda kepada Allah ta’ala, Tuhan alam semesta, baik banyak atau sedikit wakaf anda tersebut, agar anda berada dalam barisan orang-orang yang shaleh dengan mengikuti jalan salafus shalih, mendapatkan pahala amal jariah, sebagai umur kedua anda setelah anda meninggal dunia, serta sebagai salah satu bukti dari kebaikan iman Anda.Baca Juga:Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimu shalihat.Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki[1] Diintisarikan dari almoslim.net.[2] Mereka meminta kepada Khalid zakat mal baju besi dan peralatan perangnya karena menyangka bahwa barang-barang itu adalah barang dagangan Khalid radhiyallahu ‘anhu.[3] Bahwa aslinya adalah حائط yang bisa bermakna dinding, namun juga bisa bermakna kebun, wallahu a’lam. Mungkin makna “kebun” lah yang lebih mendekati kebenaran.
Baca pembahasan sebelumnya Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Alhamdulillah, telah kami sebutkan riwayat tentang wakaf Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum di serial artikel sebelumnya.Berikut ini beberapa riwayat tentang wakaf para sahabat selain Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum [1].Wakaf Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhuAl-Baihaqi rahimahullah berkata, “Al Humaidi menuturkan, ‘Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah dan Mesir kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra 11900).Aisyah putri Sa’ad radhiyallahu ‘anha berkata tentang wakaf ayahnya berupa rumah, “Sedekah ayahku adalah waqaf yang tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf 14).Namun, wakaf beliau sempat akan dijadikan harta waris oleh sebagian ahli waris beliau, lalu masalah tersebut diangkat ke Marwan, sang gubernur Madinah saat itu, lalu Gubernur tersebut mengumpulkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka radhiyallahu ‘anhum pun memutuskan bahwa harta itu adalah harta wakaf Sa’ad  radhiyallahu ‘anhu.Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaWakaf Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhuAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu pernah mewakafkan rumahnya.” (Sahihul Bukhari).Beliau menyatakan kepada putrinya agar ia menempati rumah tersebut tanpa merugikan dan dirugikan, lalu jika suaminya sudah bisa mencukupi kebutuhannya, maka ia tidak berhak lagi menempati rumah tersebut.Al-Baihaqi berkata, “Al-Humaidi berkata, ‘Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya yang ada di Mekah (Al-Haramiyyah), rumahnya di Mesir, serta hartanya di Madinah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Ibnu Umar mewakafkan jatah rumah yang didapatkan dari Umar, sebagai tempat tinggal bagi keluarga Abdullah yang membutuhkan.” (Shahihul Bukhari).Wakaf Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuZaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Baqi’ dan rumahnya yang berada di sebelah masjid (As-Sunan Al-Kubra).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaWakaf ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuBerkata Al-Baihaqi, “Al-Humaidi berkata,‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya di kota Thaif, serta mewakafkan rumahnya di Mekah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya bahwa, “Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah, tidak dijual, dan tidak diwariskan. Dan wakafnya itu masyhur.” (Ahkamul Auqaf).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang wakaf Khalid yang lainnya,وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا، قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ الله“Dan adapun Khalid, maka sesungguhnya kalian menzalimi Khalid [2], beliau telah mewakafkan baju besinya dan peralatan perangnya di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).Wakaf Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhuDisebutkan oleh Ibnu Syabbah bahwa beliau (Hakim bin Hizam) radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah Al-Munawwarah.Al-Bukhari berkata, “Anas mewakafkan sebuah rumah, beliau pun dahulu jika mendatangi rumah tersebut, singgah padanya.” (Shahihul Bukhari).Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta BendaWakaf Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuIbnu Syabbah menyebutkan dengan sanadnya sampai Nu’aim bin Abdullah berkata,“Saya mempersaksikan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hasyim bin Ahmad bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha membeli rumah, dan menuliskan (catatan) saat membelinya,“Sesungguhnya saya membeli rumah dan berniat sesuai dengan tujuanku dalam membelinya: diantaranya untuk tempat tinggal si A dan untuk keturunannya yang masih hidup setelahnya, dan untuk tempat tinggal si B (tak ada keterangan: ‘dan untuk keturunannya’), kemudian setelah itu dikembalikan kepada keluarga Abu Bakr.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhumAl-Khashshaf meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anha menyedekahkan rumahnya dalam bentuk wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya dari Musa bin Ya’qub, dari bibinya, dari bapaknya berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk sedekah wakaf, tak boleh dijual, dan tak boleh dihibahkan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Bisyr bahwa beliau menyebutkan tentang wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu berupa wakaf kepada budak, anak-anaknya, serta anak dari anak-anaknya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Manbat Al-Muzani berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Shafiyyah bintu Huyaiy radhiyallahu ‘anha (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.) berupa wakaf rumahnya untuk Bani Abdan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Baca Juga: 10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang HartaWakaf Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Salim Maula Tsabit, dari Amr bin Abdullah berkata,“Saya memasuki rumah Muhammad bin Jabir bin Abdullah, maka sayapun mengatakan, ‘Kebun mu ada di tempat ini dan itu.’ Muhammad bin Jabir berkata, ‘Kebun itu wakaf dari bapakku (Jabir), tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.’” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf menyebutkan bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sebagian hartanya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Su’ad Al-Juhani berkata,“’Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu menjadikan saya sebagai saksi atas rumah yang disedekahkan sebagai wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan, untuk anaknya, dan anak dari anaknya, lalu jika mereka telah tiada, maka kepada orang yang paling dekat denganku …”. (Ahkamul Auqaf).Wakaf Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Masurah berkata, “Saya mempersaksikan Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhu mewakafkan lahan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan selamanya.” (Ahkamul Auqaf).Sanad-sanad dari riwayat di atas, meski tidak lepas dari kritikan, namun kemasyhurannya menunjukkan bahwa masalah wakaf adalah masalah yang dikenal luas di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.RenunganMereka, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, adalah teladan umat ini, karena mereka adalah umat terbaik dari seluruh umat para Rasul ‘alaihi wa sallam.Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (QS. Ali-Imran: 110).Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik (umat) manusia adalah kurunku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).Para pembaca, persembahkan wakaf dari diri anda kepada Allah ta’ala, Tuhan alam semesta, baik banyak atau sedikit wakaf anda tersebut, agar anda berada dalam barisan orang-orang yang shaleh dengan mengikuti jalan salafus shalih, mendapatkan pahala amal jariah, sebagai umur kedua anda setelah anda meninggal dunia, serta sebagai salah satu bukti dari kebaikan iman Anda.Baca Juga:Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimu shalihat.Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki[1] Diintisarikan dari almoslim.net.[2] Mereka meminta kepada Khalid zakat mal baju besi dan peralatan perangnya karena menyangka bahwa barang-barang itu adalah barang dagangan Khalid radhiyallahu ‘anhu.[3] Bahwa aslinya adalah حائط yang bisa bermakna dinding, namun juga bisa bermakna kebun, wallahu a’lam. Mungkin makna “kebun” lah yang lebih mendekati kebenaran.


Baca pembahasan sebelumnya Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu‘anhum (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Alhamdulillah, telah kami sebutkan riwayat tentang wakaf Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum di serial artikel sebelumnya.Berikut ini beberapa riwayat tentang wakaf para sahabat selain Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum [1].Wakaf Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhuAl-Baihaqi rahimahullah berkata, “Al Humaidi menuturkan, ‘Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah dan Mesir kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra 11900).Aisyah putri Sa’ad radhiyallahu ‘anha berkata tentang wakaf ayahnya berupa rumah, “Sedekah ayahku adalah waqaf yang tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf 14).Namun, wakaf beliau sempat akan dijadikan harta waris oleh sebagian ahli waris beliau, lalu masalah tersebut diangkat ke Marwan, sang gubernur Madinah saat itu, lalu Gubernur tersebut mengumpulkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka radhiyallahu ‘anhum pun memutuskan bahwa harta itu adalah harta wakaf Sa’ad  radhiyallahu ‘anhu.Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaWakaf Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhuAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu pernah mewakafkan rumahnya.” (Sahihul Bukhari).Beliau menyatakan kepada putrinya agar ia menempati rumah tersebut tanpa merugikan dan dirugikan, lalu jika suaminya sudah bisa mencukupi kebutuhannya, maka ia tidak berhak lagi menempati rumah tersebut.Al-Baihaqi berkata, “Al-Humaidi berkata, ‘Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya yang ada di Mekah (Al-Haramiyyah), rumahnya di Mesir, serta hartanya di Madinah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumAl-Bukhari rahimahullah berkata, “Ibnu Umar mewakafkan jatah rumah yang didapatkan dari Umar, sebagai tempat tinggal bagi keluarga Abdullah yang membutuhkan.” (Shahihul Bukhari).Wakaf Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuZaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Baqi’ dan rumahnya yang berada di sebelah masjid (As-Sunan Al-Kubra).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaWakaf ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuBerkata Al-Baihaqi, “Al-Humaidi berkata,‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya di kota Thaif, serta mewakafkan rumahnya di Mekah kepada anaknya, dan wakaf tersebut masih ada sampai sekarang (di zaman Al-Humaidi,  pent.).’” (As-Sunan Al-Kubra).Wakaf Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya bahwa, “Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah, tidak dijual, dan tidak diwariskan. Dan wakafnya itu masyhur.” (Ahkamul Auqaf).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang wakaf Khalid yang lainnya,وَأَمَّا خَالِدٌ : فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا، قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ الله“Dan adapun Khalid, maka sesungguhnya kalian menzalimi Khalid [2], beliau telah mewakafkan baju besinya dan peralatan perangnya di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).Wakaf Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhuDisebutkan oleh Ibnu Syabbah bahwa beliau (Hakim bin Hizam) radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mewakafkan rumahnya di Madinah Al-Munawwarah.Al-Bukhari berkata, “Anas mewakafkan sebuah rumah, beliau pun dahulu jika mendatangi rumah tersebut, singgah padanya.” (Shahihul Bukhari).Baca Juga: Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta BendaWakaf Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuIbnu Syabbah menyebutkan dengan sanadnya sampai Nu’aim bin Abdullah berkata,“Saya mempersaksikan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mewakafkan tanahnya.” (Taariikhul Madiinah).Wakaf ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya kepada Hasyim bin Ahmad bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha membeli rumah, dan menuliskan (catatan) saat membelinya,“Sesungguhnya saya membeli rumah dan berniat sesuai dengan tujuanku dalam membelinya: diantaranya untuk tempat tinggal si A dan untuk keturunannya yang masih hidup setelahnya, dan untuk tempat tinggal si B (tak ada keterangan: ‘dan untuk keturunannya’), kemudian setelah itu dikembalikan kepada keluarga Abu Bakr.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhumAl-Khashshaf meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anha menyedekahkan rumahnya dalam bentuk wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, dan tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya dari Musa bin Ya’qub, dari bibinya, dari bapaknya berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk sedekah wakaf, tak boleh dijual, dan tak boleh dihibahkan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Bisyr bahwa beliau menyebutkan tentang wakaf Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu berupa wakaf kepada budak, anak-anaknya, serta anak dari anak-anaknya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan (Ahkamul Auqaf).Wakaf Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Manbat Al-Muzani berkata,“Saya mempersaksikan sedekah Shafiyyah bintu Huyaiy radhiyallahu ‘anha (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.) berupa wakaf rumahnya untuk Bani Abdan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Baca Juga: 10 Sebab Senantiasa Merasa Miskin Dan Kurang HartaWakaf Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Salim Maula Tsabit, dari Amr bin Abdullah berkata,“Saya memasuki rumah Muhammad bin Jabir bin Abdullah, maka sayapun mengatakan, ‘Kebun mu ada di tempat ini dan itu.’ Muhammad bin Jabir berkata, ‘Kebun itu wakaf dari bapakku (Jabir), tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.’” (Ahkamul Auqaf).Wakaf Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf menyebutkan bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sebagian hartanya, tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan.” (Ahkamul Auqaf).Wakaf ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Su’ad Al-Juhani berkata,“’Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu menjadikan saya sebagai saksi atas rumah yang disedekahkan sebagai wakaf,  tak boleh dijual, tak boleh dihibahkan, serta tak boleh diwariskan, untuk anaknya, dan anak dari anaknya, lalu jika mereka telah tiada, maka kepada orang yang paling dekat denganku …”. (Ahkamul Auqaf).Wakaf Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhuAl-Khashshaf meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Masurah berkata, “Saya mempersaksikan Abu Arwa Ad-Dausi radhiyallahu ‘anhu mewakafkan lahan, tak boleh dijual serta tak boleh diwariskan selamanya.” (Ahkamul Auqaf).Sanad-sanad dari riwayat di atas, meski tidak lepas dari kritikan, namun kemasyhurannya menunjukkan bahwa masalah wakaf adalah masalah yang dikenal luas di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.RenunganMereka, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, adalah teladan umat ini, karena mereka adalah umat terbaik dari seluruh umat para Rasul ‘alaihi wa sallam.Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”  (QS. Ali-Imran: 110).Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ“Sebaik-baik (umat) manusia adalah kurunku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).Para pembaca, persembahkan wakaf dari diri anda kepada Allah ta’ala, Tuhan alam semesta, baik banyak atau sedikit wakaf anda tersebut, agar anda berada dalam barisan orang-orang yang shaleh dengan mengikuti jalan salafus shalih, mendapatkan pahala amal jariah, sebagai umur kedua anda setelah anda meninggal dunia, serta sebagai salah satu bukti dari kebaikan iman Anda.Baca Juga:Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimu shalihat.Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki[1] Diintisarikan dari almoslim.net.[2] Mereka meminta kepada Khalid zakat mal baju besi dan peralatan perangnya karena menyangka bahwa barang-barang itu adalah barang dagangan Khalid radhiyallahu ‘anhu.[3] Bahwa aslinya adalah حائط yang bisa bermakna dinding, namun juga bisa bermakna kebun, wallahu a’lam. Mungkin makna “kebun” lah yang lebih mendekati kebenaran.

7 Amalan Agar Anda Didoakan Malaikat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Marilah, kita tunjukkan beberapa amalan yang pelakunya akan dimohonkan ampun oleh para malaikat. Terdapat dalam nash (al-Quran dan Hadis) beberapa amalan yang mana para malaikat memohonkan ampun untuk orang yang mengamalkannya. Misalnya, menunggu salat berjamaah di masjid. “Sesungguhnya para malaikat berselawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya, mereka berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadas dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam salat selama masih menunggu salat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika seseorang menunggu salat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas salat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadas maka malaikat juga mendoakan dia. Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba salat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya. Baiklah, orang yang salat di saf pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada yang berada di saf-saf pertama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan hadis ini sahih) Dan dalam riwayat lain, “Berselawat untuk orang yang berada di saf terdepan.” Ketiga, menuntut ilmu. “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang yang berilmu dari pada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi) Empat, mengajari kebaikan pada manusia. Orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, berbahagialah dia! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil. sampai seekor semut dalam sarangnya dan sampai ikan paus Dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, Allah hanya menyebutkan kepada kita yang terkecil dan yang terbesar, namun keseluruhan binatang di alam semesta, semua binatang yang berjalan di alam ini, -Wahai para jamaah- semua binatang melata, seluruh binatang yang berjalan di alam ini. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit  penduduk langit adalah para malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka, mereka itu adalah penduduk langit.  Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit…” Dan tentu di langit ada arwah para nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus…” Kenapa? Kenapa? “Sungguh mereka berselawat …” Mereka mendoakan kebaikan untuk siapa? Untuk siapa? Jumlah yang besar ini seluruhnya, ini jumlah yang besar, jumlah yang banyak. “Sungguh mereka berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmizi dan hadis ini sahih) Tentu, para jamaah, ini adalah sesuatu yang memotivasi kita semua, Anda para laki-laki dan wanita, dia, saya dan kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demi Allah, ini membahagiakan sekali, ajarkan al-Fatihah, ajarkan makna al-Qur’an, ajarkan surat-surat pendek, ajarkan hadis Arba’in Nawawiyah, makna-makna hadis dan lain sebagainya. Ajarkan kepada manusia hukum-hukum fikih, halal dan haram, tafsir surat al-Fatihah, Ajari orang-orang adab dan akhlak, sirah nabawi, ajari orang-orang kebaikan, ajarkan kebaikan. Demi Allah, apabila kita menyibukkan diri dalam mengajarkan kebaikan niscaya akan lenyap banyak sekali kebodohan dan akan hilang banyak bid’ah, dan demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan berubah, berganti menjadi ketaatan, ilmu, cahaya, iman dan hidayah di tengah manusia. Berilah pengajaran di masjid, mengajarlah di mimbar, mengajarlah dengan media pengumuman, mengajarlah di media sosial Facebook, mengajarlah melalui pesan-pesan WhatsApp, mengajarlah melalui surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat di ponsel, mengajarlah dengan telepon, mengajarlah di sekolah rumah, mengajarlah di kantor-kantor, mengajarlah di pertemuan-pertemuan warga, berilah pengajaran ketika komunitas Anda berkumpul bersama Anda, ketika Anda berkumpul dengan komunitas Anda, dengan sahabat-sahabat Anda, berilah pengajaran ketika ada pertemuan keluarga, mengajarlah saat perkumpulan hari raya besok, mengajarlah! Di semua tempat yang mungkin bagi Anda untuk menyampaikan pengajaran, maka ajarkanlah! Ajarilah, wahai jamaah, ajarilah kebaikan, ajarkan tauhid, ajarkan sunah, ajarkan sifat-sifat Allah, ajarkan makna asmaul husna yang agung, Ajarkan kepada mereka keadaan surga, neraka dan hari akhir serta segala sesuatu yang ada padanya dan apa yang akan mereka hadapi di sana. Ajari mereka tafsir surat al-Fatihah dan surat-surat pendek, ajari mereka hadis-hadis dan penjelasannya dan hukum-hukumnya, Ajari mereka adab dan akhlak, ajari mereka hal-hal yang meningkatkan iman dan melembutkan hati, ajarkan sirah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ajarkan sunah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarkan kehidupan Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkan kebaikan! Ajarkan kebaikan! Kebaikan, apapun yang merupakan kebaikan, sesuatu yang bermanfaat untuk manusia bagi dunia ataupun akhirat mereka.Ajarkanlah kebaikan, bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghindari hal-hal yang merupakan ancaman dalam badan mereka, yaitu pengajaran yang berhubungan dengan kesehatan. Ajarkan bagaimana cara untuk menghindari ancaman di dalam rumah dan di dalam kehidupan, yakni perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu pertahanan sipil dan protokol keselamatan dan pencegahan. Apapun yang merupakan kebaikan dan pokok kebaikan adalah agama, maka ajarkanlah al-Qur’an dan sunah, ilmu al-Qur’an dan sunah, Cukup apabila seseorang membayangkan bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi dan bahkan seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus dalam lautan, semua binatang melata, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, maka lakukanlah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Dan bayangkan saja, bagaimana pahalanya? Yakni, pada hari kiamat nanti, Anda tidak memiliki apa-apa kecuali lembaran-lembaran amal yang terbuka, yang di dalamnya terdapat doa-doa malaikat yang penuh bakti dan makhluk-makhluk Allah lain yang sangat banyak jumlahnya. Yang lain, amalan yang malaikat berselawat kepada orang yang mengamalkannya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani) Makan sahur, tidakkah membantu dalam ibadah? Tidakkah menjauhkan Anda dari perihnya rasa lapar, amarah dan rasa tidak nyaman? Dan menguatkan Anda dalam beribadah? Padanya terdapat berkah? Dan menyelisihi Ahli Kitab? Yang lain, “Tidaklah seseorang berselawat untukku kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” Lihat! Perhatikan ini! Perhatikan! “… kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” “Maka silakan seorang hamba memperbanyak selawat atau menyedikitkannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani) Anda berkata, “Ya Allah, haturkan selawat untuk Nabi Muhamad.” sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali. Maka setiap kali Anda duduk, berselawatlah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya merekapun (para malaikat) berselawat untuk Anda, mereka mendoakan kebaikan untuk Anda, para malaikat berselawat untuk Anda. Yang lainnya, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit,  maksudnya di pagi hari, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit, Anda menjenguk ke rumah sakit atau seseorang sakit dan Anda menjenguk dia di rumahnya. “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain yang sedang sakit di pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuk dia.” Tujuh puluh ribu, nolnya empat, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh puluh ribu malaikat!  “(Mereka berselawat) hingga sore hari.” Yakni dari pagi hari sampai sore hari. Jika sore hari dimulai pada waktu salat Ashar, yakni jam empat, dan Anda berangkat menjenguk pada jam delapan pagi, sehingga dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, delapan jam, para malaikat berselawat untuk Anda. “Dan apabila dia menjenguk pada waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuknya sampai pagi hari. Dan dia mendapatkan kharif di surga.” Kharif adalah panenan di surga, hasil panenan buah-buahan, buah-buahan ketika sudah dipanen, ini yang disebut dengan kharif di surga. Anda panen! Panen! Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan Ibnu Majah. Inilah beberapa amalan, beberapa amalan saja, belum seluruhnya, beberapa amalan yang membuat malaikat berselawat untuk orang yang mengamalkannya. Nanti, bayangkan! Malaikat ini, doanya mustajab, tidak bermaksiat kepada Allah, yang mendoakan Anda ini bukan pelaku maksiat dan tidak pernah lalai dengan kewajiban, yang mendoakan Anda adalah mereka yang tidak pernah membangkang apa yang Allah perintahkan dan selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka. Mungkin sebagian dari Anda berkata, “Mungkinkah bila Anda mengulang lagi kepada kami amalan-amalan yang tadi telah Anda sebutkan sehingga kami bisa ingat dan bersungguh-sungguh mengamalkannya?” Perhatikan saya sekali lagi! Pertama, menunggu salat jamaah dan duduk setelah salat di masjid, dan yang lebih besar pahalanya adalah menunggu salat berikutnya setelah salat. Kedua, berada di saf pertama (salat berjamaah). Ketiga, menuntut ilmu, dengan media apapun. melalui kanal dakwah, situs internet, membaca buku, majelis ilmu dan kajian, mengundang ahli ilmu atau apapun caranya. Keempat, mengajarkan kebaikan pada manusia. Kelima, makan sahur. Keenam, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketujuh, menjenguk orang sakit, inilah ketujuh amalan tersebut. Ada tujuh, -Wahai jamaah-, siapa yang bisa mengulanginya untuk kita? Siapa yang bisa menyebutkan lagi untuk kita? Ada tujuh, menjenguk orang sakit, betapa banyaknya orang sakit, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan sahur, mengajarkan kebaikan pada manusia, menuntut ilmu, berada di saf pertama dan menunggu salat. Tujuh amalan. Ya Allah, berikanlah kami taufik pada hal-hal yang membuat-Mu ridha, ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu. =====================   تَعَالَوْا نَسْتَعْرِضُ بَعْضَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا وَرَدَ فِي النُّصُوصِ أَعْمَالٌ تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا مِثَالٌ اِنْتِظَارُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ وَأَحَدُكُمْ فِي صَلاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَّلَاةُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ لَمَّا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو تَدْعُو لَهُ وَ بَعْدَ الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ بِدُونِ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ الْمَلَاَئِكَةُ تَدْعُو لَهُ جَلَسَ رُبُعَ سَاعَةٍ نِصْفَ سَاعَةٍ سَاعَةً سَاعَتَيْنِ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لَهُ طَيِّبٌ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الْأُوَلِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةٍ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ هَنِيئًا لَهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ أَكْبَرُ وَاحِدٍ أصْغَرُ وَاحِدٍ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَ الْكَائِنَاتِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ طَبْعًا وَكُلُّ مَا بَيْنَهُمَا كُلُّ الْحَيَوَانَاتِ الْأُخْرَى وَ الْمَخْلُوقَاتِ بَسْ هُوَ يَعْنِي أَعْطَانَا الصَّغِيرَ وَ الْكَبِيرَ لَكِنَّ شَامِلَ كُلَّ حَيَوَانٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ يَا جَمَاعَةٌ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ أَهْلَ السَّمَاوَاتِ اَلْمَلَائِكَةَ اَلْحُوْرَ الْعِيْنِ الْوِلْدَانَ الْمُخَلَّدُونَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمَاوَاتِ طَبْعًا السَّمَاوَاتُ فِيهَا أَرْوَاحُ أَنْبِيَاءٍ وَشُهَدَاءٍ وَ صَعَدَتْ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ حتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ أَيْ؟ أَيْ؟ لَيُصَلُّونَ عَلَى يَدْعُوْنَ لِمَنْ؟ مَنْ؟ كُلَّ الْعَدَدِ الْهَائِلِ الْهَائِلِ هَذَا الْعَدَدِ الْهَائِلِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيْحٌ بَلَى يَا جَمَاعَةٌ هَذَا مَا هُوَ دَافِعٌ لَنَا جَمِيعًا لَكَ لَكِ لَهُ لِي لَنَا أَنْ نَجْتَهِدَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَاللهِ سَعِيدٌ عَلِّمِ الْفَاتِحَةَ عَلِّمْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ عَلِّمْ قِصَارَ السُّوَرِ عَلِّمِ الْأَحَادِيثَ الْأَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةَ غَيْرَهَا مَعَانِيَ الْأَحَادِيثِ عَلِّمِ النَّاسَ أَحْكَامَ الْفِقْهِ الْحَلَالَ الْحَرَامَ تَفْسِيرَ سُوْرِةِ الْفَاتِحَةِ عَلِّمِ النَّاسَ الْآدَابَ وَالْأخْلَاقَ وَالسِّيْرَةَ النَّبَوِيَّةَ عَلِّمِ النَّاسَ الْخَيْرَ عَلِّمِ الْخَيْرَ لَوِ اشْتَغَلْنَا وَاللهِ فِي تَعْلِيمِ الْخَيْرِ لَانْمَحىَ جَهْلٌ كَثِيرٌ وَزَالَتْ بِدَعٌ كَثِيرَةٌ وَكَذَلِكَ تَغَيَّرَتْ مُنْكَرَاتٌ وَمَعَاصٍ وَصَارَتْ بَدَلًا مِنْهَا الطَاعَاتُ وَالْعِلْمُ وَالنُّورُ وَ الْإِيمَانُ وَالْهِدَايَةُ عِنْدَ النَّاسِ عَلِّمْ فِي الْمَسْجِدِ عَلِّمْ فِي الْمِنْبَرِ عَلِّمْ فِي الْإِعْلَامِ عَلِّمْ فِي مَوَاقِعِ التَّوَاصُلِ فِيسْ بُوْك عَلِّمْ فِي رَسَائِلِ وَاتْسَاب عَلِّمْ فِي الْبَريدِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَرَسَائِلِ الْجَوَّالِ عَلِّمْ بِالْاِتِّصَالِ عَلِّمْ بِدُرُوسِ بَيْتِيَّةِ عَلِّمْ فِي الدِّيوَانِيَّاتِ عَلِّمْ فِي مُلْتَقَى الْحَارَّةِ عَلِّمْ لَمَّا تُجْتَمِعُ الشِّلَّةُ مَعَكَ تَجْتَمِعُ مَعَهَا مَعَ أَصْحَابِكَ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْأَقَارِبِ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْعِيدِ الْقَادِمِ عَلِّمْ كُلَّ مَكَانٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ التَّعَالِيمَ عَلِّمْ عَلِّمْ يَا جَمَاعَةٌ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا التَّوْحِيدَ عَلِّمُوا السُّنَّةَ عَلِّمُوا صِفَاتِ اللهِ عَلِّمُوهُمْ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللهِ الْعَظِيمَةِ الْحُسْنَى عَلِّمُوهُمْ صِفَةَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَ مَاذَا يُوْجَدُ فِيهِ وَمَا هُمْ مُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ عَلِّمْهُمْ تَفْسِيرَ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ وَقِصَارِ السُّوَرِ عَلِّمْهُمْ عَلِّمْهُمْ الْأحَادِيثَ الشُّرُوحَ الْأَحَادِيثِ وَ الْأَحْكَامَ عَلِّمُوا الْآدَابَ عَلِّمُوا الْأَخْلَاقَ عَلِّمُوا الْإِيمَانِيَّاتِ الرَّقَائِقَ عَلِّمُوا سِيْرَةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا سُنَّةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا حَيَاةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ خَيْرًا أَيَّ شَيْءٍ اِسْمُهُ خَيْرٌ شَيْءٌ يَنْفَعُ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَ دُنْيَاهُمْ عَلِّمُوا الْخَيْرَ كَيْفَ حَتَّى يَتَوَقَّى أَشْيَاءً يَعْنِي مِنَ الآفَاتِ الَّتِي فِي الْجَسَدِ شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالطِّبِّ عَلِّمُوا كَيْفَ يَتَوَقَّى آفَاتَ فِي الْبَيْتِ فِي الْحَيَاةِ يَعْنِي أَشْيَاءٌ مِنْ عُلُومٍ مِنْ عُلُومِ الدِّفَاعِ الْمَدَنِيِّ السَّلَاَمَةِ إِجْرَاءَاتِ السَّلَاَمَةِ وَالْوِقَايَةِ أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٍ وَرَأْسُ الْخَيْرِ الدِّيْنُ عَلِّمُوا الدِّينَ الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ عُلُومَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ يَعْنِي وَاحِدٌ لَوْ بَسْ كَذَا يَتَخَيَّلُ يَعْنِي إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ كُلُّ الدَّوَابِّ كُلٌّ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَخَلِّهَا بِنِّيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلهِ وَشُفْ الْأَجْرَ كَيْفَ؟ يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَكَ إِلَّا صُحُفًا مُنَشَّرَةً فِيهَا أَدْعِيَةُ الْبَرَرَةِ وَمَخْلُوقَاتِ اللهِ الْكَثِيرَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ غَيْرُهُ أَعْمَالٌ الْمَلَاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَصْحَابِهَا إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ سُحُورٌ أَلَيْسَ يُعِيْنُ عَلَى الْعِبَادَةِ ؟ أَلَيْسَ جَعَلَكَ أَبْعَدَ عَنْ أَلَمِ الْجُوعِ وَالْعَصَبِيَّةِ وَالنَّرْفَزَةِ؟ وَيُقَوِّيْكَ عَلَى الْعِبَادَةِ؟ فِيهِ بَرَكَةٌ؟ يُخَالِفُ أهْلَ الْكِتَابِ؟ غَيْرُهُ مَا صَلَّى عَلَيَّ أحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ شُفْ لَاحِظْ هَذَا لَاحِظْ إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ فَلْيُقِلَّ العَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أوْ لِيُكْثِرَ رَوَاهُ الْإمَامُ أَحَمْدُ وَابْنُ مَاجَه وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ تَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشَرَ مرَّاتٍ مِائِةَ مَرَّةٍ ألْفَ مَرَّةٍ أَنْتَ وَمَا كُلَّمَا أَنْتَ جَالِسٌ صَلِّ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ تُصَلِّي عَلَيْكَ تَدْعُو لَكَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْكَ غَيْرُهُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً يَعْنِيْ صَبَاحًا مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً تُرَاحِلُ فِي المُسْتَشْفَى مَرِيْضٌ تَمُرُّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْتِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ أَلْفَ أَرْبَعَ أَصْفَارٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي يَعْنِي مِنَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ إِذَا كَانَ الْمَسَاءُ يُبْدَأُ الْعَصْرُ يَعْنِيْ السَّاعَةَ الأَرْبَعَةَ وَأَنْتَ رَحَلْتَ فِي السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ الصَّبَاحَ مِنَ السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ إِلَى السَّاعَةِ الأَرْبَعَةِ ثَمَانِيَ سَاعَاتٍ الْمَلَائِكَةُ شَغَلَ صَلَاةً صَلَاةً عَلَيْكَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ الْخَرِيْفُ خُرَافَةُ الْجَنَّةِ مُجْتَنَى الثِّمَارِ الثِّمَارُ إِذَا اجْتُنِيَتْ هَذَا خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ عِنْدَكَ مَحْصُولٌ مَحْصُولٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه هَذِهِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ مَا كُلُّ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُصَلِّي الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَصْحَابِهَا بَعْدٍ شُفْ مَلَكٌ هَذَا يَعْنِي مُجَابُ الدَّعْوَةِ مَا عَصَى اللهَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ مَا هُمْ عُصَاةٌ مُقَصِّرُونَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ يُمْكِنُ بَعْضُكُمْ يَقُولُ مُمْكِنُ تُعِيدُ لَنَا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ذَكَرْتَهَا حَتَّى نُثَبِّتَهَا وَنَجْتَهِدَ فِيهَا؟ خُذْ مَعِي مَرَّةً ثَانِيَةً وَاحِدٌ انْتِظَارُ صَلَاَةِ الْجَمَاعَةِ وَالْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ وَأَعْظَمُ مِنْهُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اِثْنَينِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ عَنْ طَرِيقِ قَنَاةٍ مَوْقِعٍ كِتَابٍ حَلْقَةِ الذِّكْرِ حَلْقَةِ الْعِلْمِ دَعْوِ الْعَالِمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ خَمْسَةٌ السُّحُورُ سِتَّةٌ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ هَذِهِ سَبْعَةُ أَعْمَالٍ سَبْعَةٌ يَا جَمَاعَةٌ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا ؟ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا؟ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَا أَكْثَرَ الْمَرْضَى الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ طَلَبُ الْعِلْمِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ  

7 Amalan Agar Anda Didoakan Malaikat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Marilah, kita tunjukkan beberapa amalan yang pelakunya akan dimohonkan ampun oleh para malaikat. Terdapat dalam nash (al-Quran dan Hadis) beberapa amalan yang mana para malaikat memohonkan ampun untuk orang yang mengamalkannya. Misalnya, menunggu salat berjamaah di masjid. “Sesungguhnya para malaikat berselawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya, mereka berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadas dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam salat selama masih menunggu salat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika seseorang menunggu salat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas salat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadas maka malaikat juga mendoakan dia. Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba salat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya. Baiklah, orang yang salat di saf pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada yang berada di saf-saf pertama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan hadis ini sahih) Dan dalam riwayat lain, “Berselawat untuk orang yang berada di saf terdepan.” Ketiga, menuntut ilmu. “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang yang berilmu dari pada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi) Empat, mengajari kebaikan pada manusia. Orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, berbahagialah dia! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil. sampai seekor semut dalam sarangnya dan sampai ikan paus Dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, Allah hanya menyebutkan kepada kita yang terkecil dan yang terbesar, namun keseluruhan binatang di alam semesta, semua binatang yang berjalan di alam ini, -Wahai para jamaah- semua binatang melata, seluruh binatang yang berjalan di alam ini. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit  penduduk langit adalah para malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka, mereka itu adalah penduduk langit.  Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit…” Dan tentu di langit ada arwah para nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus…” Kenapa? Kenapa? “Sungguh mereka berselawat …” Mereka mendoakan kebaikan untuk siapa? Untuk siapa? Jumlah yang besar ini seluruhnya, ini jumlah yang besar, jumlah yang banyak. “Sungguh mereka berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmizi dan hadis ini sahih) Tentu, para jamaah, ini adalah sesuatu yang memotivasi kita semua, Anda para laki-laki dan wanita, dia, saya dan kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demi Allah, ini membahagiakan sekali, ajarkan al-Fatihah, ajarkan makna al-Qur’an, ajarkan surat-surat pendek, ajarkan hadis Arba’in Nawawiyah, makna-makna hadis dan lain sebagainya. Ajarkan kepada manusia hukum-hukum fikih, halal dan haram, tafsir surat al-Fatihah, Ajari orang-orang adab dan akhlak, sirah nabawi, ajari orang-orang kebaikan, ajarkan kebaikan. Demi Allah, apabila kita menyibukkan diri dalam mengajarkan kebaikan niscaya akan lenyap banyak sekali kebodohan dan akan hilang banyak bid’ah, dan demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan berubah, berganti menjadi ketaatan, ilmu, cahaya, iman dan hidayah di tengah manusia. Berilah pengajaran di masjid, mengajarlah di mimbar, mengajarlah dengan media pengumuman, mengajarlah di media sosial Facebook, mengajarlah melalui pesan-pesan WhatsApp, mengajarlah melalui surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat di ponsel, mengajarlah dengan telepon, mengajarlah di sekolah rumah, mengajarlah di kantor-kantor, mengajarlah di pertemuan-pertemuan warga, berilah pengajaran ketika komunitas Anda berkumpul bersama Anda, ketika Anda berkumpul dengan komunitas Anda, dengan sahabat-sahabat Anda, berilah pengajaran ketika ada pertemuan keluarga, mengajarlah saat perkumpulan hari raya besok, mengajarlah! Di semua tempat yang mungkin bagi Anda untuk menyampaikan pengajaran, maka ajarkanlah! Ajarilah, wahai jamaah, ajarilah kebaikan, ajarkan tauhid, ajarkan sunah, ajarkan sifat-sifat Allah, ajarkan makna asmaul husna yang agung, Ajarkan kepada mereka keadaan surga, neraka dan hari akhir serta segala sesuatu yang ada padanya dan apa yang akan mereka hadapi di sana. Ajari mereka tafsir surat al-Fatihah dan surat-surat pendek, ajari mereka hadis-hadis dan penjelasannya dan hukum-hukumnya, Ajari mereka adab dan akhlak, ajari mereka hal-hal yang meningkatkan iman dan melembutkan hati, ajarkan sirah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ajarkan sunah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarkan kehidupan Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkan kebaikan! Ajarkan kebaikan! Kebaikan, apapun yang merupakan kebaikan, sesuatu yang bermanfaat untuk manusia bagi dunia ataupun akhirat mereka.Ajarkanlah kebaikan, bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghindari hal-hal yang merupakan ancaman dalam badan mereka, yaitu pengajaran yang berhubungan dengan kesehatan. Ajarkan bagaimana cara untuk menghindari ancaman di dalam rumah dan di dalam kehidupan, yakni perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu pertahanan sipil dan protokol keselamatan dan pencegahan. Apapun yang merupakan kebaikan dan pokok kebaikan adalah agama, maka ajarkanlah al-Qur’an dan sunah, ilmu al-Qur’an dan sunah, Cukup apabila seseorang membayangkan bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi dan bahkan seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus dalam lautan, semua binatang melata, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, maka lakukanlah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Dan bayangkan saja, bagaimana pahalanya? Yakni, pada hari kiamat nanti, Anda tidak memiliki apa-apa kecuali lembaran-lembaran amal yang terbuka, yang di dalamnya terdapat doa-doa malaikat yang penuh bakti dan makhluk-makhluk Allah lain yang sangat banyak jumlahnya. Yang lain, amalan yang malaikat berselawat kepada orang yang mengamalkannya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani) Makan sahur, tidakkah membantu dalam ibadah? Tidakkah menjauhkan Anda dari perihnya rasa lapar, amarah dan rasa tidak nyaman? Dan menguatkan Anda dalam beribadah? Padanya terdapat berkah? Dan menyelisihi Ahli Kitab? Yang lain, “Tidaklah seseorang berselawat untukku kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” Lihat! Perhatikan ini! Perhatikan! “… kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” “Maka silakan seorang hamba memperbanyak selawat atau menyedikitkannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani) Anda berkata, “Ya Allah, haturkan selawat untuk Nabi Muhamad.” sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali. Maka setiap kali Anda duduk, berselawatlah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya merekapun (para malaikat) berselawat untuk Anda, mereka mendoakan kebaikan untuk Anda, para malaikat berselawat untuk Anda. Yang lainnya, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit,  maksudnya di pagi hari, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit, Anda menjenguk ke rumah sakit atau seseorang sakit dan Anda menjenguk dia di rumahnya. “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain yang sedang sakit di pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuk dia.” Tujuh puluh ribu, nolnya empat, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh puluh ribu malaikat!  “(Mereka berselawat) hingga sore hari.” Yakni dari pagi hari sampai sore hari. Jika sore hari dimulai pada waktu salat Ashar, yakni jam empat, dan Anda berangkat menjenguk pada jam delapan pagi, sehingga dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, delapan jam, para malaikat berselawat untuk Anda. “Dan apabila dia menjenguk pada waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuknya sampai pagi hari. Dan dia mendapatkan kharif di surga.” Kharif adalah panenan di surga, hasil panenan buah-buahan, buah-buahan ketika sudah dipanen, ini yang disebut dengan kharif di surga. Anda panen! Panen! Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan Ibnu Majah. Inilah beberapa amalan, beberapa amalan saja, belum seluruhnya, beberapa amalan yang membuat malaikat berselawat untuk orang yang mengamalkannya. Nanti, bayangkan! Malaikat ini, doanya mustajab, tidak bermaksiat kepada Allah, yang mendoakan Anda ini bukan pelaku maksiat dan tidak pernah lalai dengan kewajiban, yang mendoakan Anda adalah mereka yang tidak pernah membangkang apa yang Allah perintahkan dan selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka. Mungkin sebagian dari Anda berkata, “Mungkinkah bila Anda mengulang lagi kepada kami amalan-amalan yang tadi telah Anda sebutkan sehingga kami bisa ingat dan bersungguh-sungguh mengamalkannya?” Perhatikan saya sekali lagi! Pertama, menunggu salat jamaah dan duduk setelah salat di masjid, dan yang lebih besar pahalanya adalah menunggu salat berikutnya setelah salat. Kedua, berada di saf pertama (salat berjamaah). Ketiga, menuntut ilmu, dengan media apapun. melalui kanal dakwah, situs internet, membaca buku, majelis ilmu dan kajian, mengundang ahli ilmu atau apapun caranya. Keempat, mengajarkan kebaikan pada manusia. Kelima, makan sahur. Keenam, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketujuh, menjenguk orang sakit, inilah ketujuh amalan tersebut. Ada tujuh, -Wahai jamaah-, siapa yang bisa mengulanginya untuk kita? Siapa yang bisa menyebutkan lagi untuk kita? Ada tujuh, menjenguk orang sakit, betapa banyaknya orang sakit, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan sahur, mengajarkan kebaikan pada manusia, menuntut ilmu, berada di saf pertama dan menunggu salat. Tujuh amalan. Ya Allah, berikanlah kami taufik pada hal-hal yang membuat-Mu ridha, ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu. =====================   تَعَالَوْا نَسْتَعْرِضُ بَعْضَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا وَرَدَ فِي النُّصُوصِ أَعْمَالٌ تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا مِثَالٌ اِنْتِظَارُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ وَأَحَدُكُمْ فِي صَلاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَّلَاةُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ لَمَّا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو تَدْعُو لَهُ وَ بَعْدَ الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ بِدُونِ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ الْمَلَاَئِكَةُ تَدْعُو لَهُ جَلَسَ رُبُعَ سَاعَةٍ نِصْفَ سَاعَةٍ سَاعَةً سَاعَتَيْنِ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لَهُ طَيِّبٌ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الْأُوَلِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةٍ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ هَنِيئًا لَهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ أَكْبَرُ وَاحِدٍ أصْغَرُ وَاحِدٍ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَ الْكَائِنَاتِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ طَبْعًا وَكُلُّ مَا بَيْنَهُمَا كُلُّ الْحَيَوَانَاتِ الْأُخْرَى وَ الْمَخْلُوقَاتِ بَسْ هُوَ يَعْنِي أَعْطَانَا الصَّغِيرَ وَ الْكَبِيرَ لَكِنَّ شَامِلَ كُلَّ حَيَوَانٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ يَا جَمَاعَةٌ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ أَهْلَ السَّمَاوَاتِ اَلْمَلَائِكَةَ اَلْحُوْرَ الْعِيْنِ الْوِلْدَانَ الْمُخَلَّدُونَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمَاوَاتِ طَبْعًا السَّمَاوَاتُ فِيهَا أَرْوَاحُ أَنْبِيَاءٍ وَشُهَدَاءٍ وَ صَعَدَتْ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ حتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ أَيْ؟ أَيْ؟ لَيُصَلُّونَ عَلَى يَدْعُوْنَ لِمَنْ؟ مَنْ؟ كُلَّ الْعَدَدِ الْهَائِلِ الْهَائِلِ هَذَا الْعَدَدِ الْهَائِلِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيْحٌ بَلَى يَا جَمَاعَةٌ هَذَا مَا هُوَ دَافِعٌ لَنَا جَمِيعًا لَكَ لَكِ لَهُ لِي لَنَا أَنْ نَجْتَهِدَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَاللهِ سَعِيدٌ عَلِّمِ الْفَاتِحَةَ عَلِّمْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ عَلِّمْ قِصَارَ السُّوَرِ عَلِّمِ الْأَحَادِيثَ الْأَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةَ غَيْرَهَا مَعَانِيَ الْأَحَادِيثِ عَلِّمِ النَّاسَ أَحْكَامَ الْفِقْهِ الْحَلَالَ الْحَرَامَ تَفْسِيرَ سُوْرِةِ الْفَاتِحَةِ عَلِّمِ النَّاسَ الْآدَابَ وَالْأخْلَاقَ وَالسِّيْرَةَ النَّبَوِيَّةَ عَلِّمِ النَّاسَ الْخَيْرَ عَلِّمِ الْخَيْرَ لَوِ اشْتَغَلْنَا وَاللهِ فِي تَعْلِيمِ الْخَيْرِ لَانْمَحىَ جَهْلٌ كَثِيرٌ وَزَالَتْ بِدَعٌ كَثِيرَةٌ وَكَذَلِكَ تَغَيَّرَتْ مُنْكَرَاتٌ وَمَعَاصٍ وَصَارَتْ بَدَلًا مِنْهَا الطَاعَاتُ وَالْعِلْمُ وَالنُّورُ وَ الْإِيمَانُ وَالْهِدَايَةُ عِنْدَ النَّاسِ عَلِّمْ فِي الْمَسْجِدِ عَلِّمْ فِي الْمِنْبَرِ عَلِّمْ فِي الْإِعْلَامِ عَلِّمْ فِي مَوَاقِعِ التَّوَاصُلِ فِيسْ بُوْك عَلِّمْ فِي رَسَائِلِ وَاتْسَاب عَلِّمْ فِي الْبَريدِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَرَسَائِلِ الْجَوَّالِ عَلِّمْ بِالْاِتِّصَالِ عَلِّمْ بِدُرُوسِ بَيْتِيَّةِ عَلِّمْ فِي الدِّيوَانِيَّاتِ عَلِّمْ فِي مُلْتَقَى الْحَارَّةِ عَلِّمْ لَمَّا تُجْتَمِعُ الشِّلَّةُ مَعَكَ تَجْتَمِعُ مَعَهَا مَعَ أَصْحَابِكَ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْأَقَارِبِ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْعِيدِ الْقَادِمِ عَلِّمْ كُلَّ مَكَانٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ التَّعَالِيمَ عَلِّمْ عَلِّمْ يَا جَمَاعَةٌ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا التَّوْحِيدَ عَلِّمُوا السُّنَّةَ عَلِّمُوا صِفَاتِ اللهِ عَلِّمُوهُمْ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللهِ الْعَظِيمَةِ الْحُسْنَى عَلِّمُوهُمْ صِفَةَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَ مَاذَا يُوْجَدُ فِيهِ وَمَا هُمْ مُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ عَلِّمْهُمْ تَفْسِيرَ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ وَقِصَارِ السُّوَرِ عَلِّمْهُمْ عَلِّمْهُمْ الْأحَادِيثَ الشُّرُوحَ الْأَحَادِيثِ وَ الْأَحْكَامَ عَلِّمُوا الْآدَابَ عَلِّمُوا الْأَخْلَاقَ عَلِّمُوا الْإِيمَانِيَّاتِ الرَّقَائِقَ عَلِّمُوا سِيْرَةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا سُنَّةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا حَيَاةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ خَيْرًا أَيَّ شَيْءٍ اِسْمُهُ خَيْرٌ شَيْءٌ يَنْفَعُ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَ دُنْيَاهُمْ عَلِّمُوا الْخَيْرَ كَيْفَ حَتَّى يَتَوَقَّى أَشْيَاءً يَعْنِي مِنَ الآفَاتِ الَّتِي فِي الْجَسَدِ شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالطِّبِّ عَلِّمُوا كَيْفَ يَتَوَقَّى آفَاتَ فِي الْبَيْتِ فِي الْحَيَاةِ يَعْنِي أَشْيَاءٌ مِنْ عُلُومٍ مِنْ عُلُومِ الدِّفَاعِ الْمَدَنِيِّ السَّلَاَمَةِ إِجْرَاءَاتِ السَّلَاَمَةِ وَالْوِقَايَةِ أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٍ وَرَأْسُ الْخَيْرِ الدِّيْنُ عَلِّمُوا الدِّينَ الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ عُلُومَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ يَعْنِي وَاحِدٌ لَوْ بَسْ كَذَا يَتَخَيَّلُ يَعْنِي إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ كُلُّ الدَّوَابِّ كُلٌّ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَخَلِّهَا بِنِّيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلهِ وَشُفْ الْأَجْرَ كَيْفَ؟ يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَكَ إِلَّا صُحُفًا مُنَشَّرَةً فِيهَا أَدْعِيَةُ الْبَرَرَةِ وَمَخْلُوقَاتِ اللهِ الْكَثِيرَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ غَيْرُهُ أَعْمَالٌ الْمَلَاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَصْحَابِهَا إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ سُحُورٌ أَلَيْسَ يُعِيْنُ عَلَى الْعِبَادَةِ ؟ أَلَيْسَ جَعَلَكَ أَبْعَدَ عَنْ أَلَمِ الْجُوعِ وَالْعَصَبِيَّةِ وَالنَّرْفَزَةِ؟ وَيُقَوِّيْكَ عَلَى الْعِبَادَةِ؟ فِيهِ بَرَكَةٌ؟ يُخَالِفُ أهْلَ الْكِتَابِ؟ غَيْرُهُ مَا صَلَّى عَلَيَّ أحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ شُفْ لَاحِظْ هَذَا لَاحِظْ إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ فَلْيُقِلَّ العَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أوْ لِيُكْثِرَ رَوَاهُ الْإمَامُ أَحَمْدُ وَابْنُ مَاجَه وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ تَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشَرَ مرَّاتٍ مِائِةَ مَرَّةٍ ألْفَ مَرَّةٍ أَنْتَ وَمَا كُلَّمَا أَنْتَ جَالِسٌ صَلِّ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ تُصَلِّي عَلَيْكَ تَدْعُو لَكَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْكَ غَيْرُهُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً يَعْنِيْ صَبَاحًا مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً تُرَاحِلُ فِي المُسْتَشْفَى مَرِيْضٌ تَمُرُّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْتِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ أَلْفَ أَرْبَعَ أَصْفَارٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي يَعْنِي مِنَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ إِذَا كَانَ الْمَسَاءُ يُبْدَأُ الْعَصْرُ يَعْنِيْ السَّاعَةَ الأَرْبَعَةَ وَأَنْتَ رَحَلْتَ فِي السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ الصَّبَاحَ مِنَ السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ إِلَى السَّاعَةِ الأَرْبَعَةِ ثَمَانِيَ سَاعَاتٍ الْمَلَائِكَةُ شَغَلَ صَلَاةً صَلَاةً عَلَيْكَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ الْخَرِيْفُ خُرَافَةُ الْجَنَّةِ مُجْتَنَى الثِّمَارِ الثِّمَارُ إِذَا اجْتُنِيَتْ هَذَا خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ عِنْدَكَ مَحْصُولٌ مَحْصُولٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه هَذِهِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ مَا كُلُّ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُصَلِّي الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَصْحَابِهَا بَعْدٍ شُفْ مَلَكٌ هَذَا يَعْنِي مُجَابُ الدَّعْوَةِ مَا عَصَى اللهَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ مَا هُمْ عُصَاةٌ مُقَصِّرُونَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ يُمْكِنُ بَعْضُكُمْ يَقُولُ مُمْكِنُ تُعِيدُ لَنَا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ذَكَرْتَهَا حَتَّى نُثَبِّتَهَا وَنَجْتَهِدَ فِيهَا؟ خُذْ مَعِي مَرَّةً ثَانِيَةً وَاحِدٌ انْتِظَارُ صَلَاَةِ الْجَمَاعَةِ وَالْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ وَأَعْظَمُ مِنْهُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اِثْنَينِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ عَنْ طَرِيقِ قَنَاةٍ مَوْقِعٍ كِتَابٍ حَلْقَةِ الذِّكْرِ حَلْقَةِ الْعِلْمِ دَعْوِ الْعَالِمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ خَمْسَةٌ السُّحُورُ سِتَّةٌ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ هَذِهِ سَبْعَةُ أَعْمَالٍ سَبْعَةٌ يَا جَمَاعَةٌ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا ؟ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا؟ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَا أَكْثَرَ الْمَرْضَى الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ طَلَبُ الْعِلْمِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ  
Marilah, kita tunjukkan beberapa amalan yang pelakunya akan dimohonkan ampun oleh para malaikat. Terdapat dalam nash (al-Quran dan Hadis) beberapa amalan yang mana para malaikat memohonkan ampun untuk orang yang mengamalkannya. Misalnya, menunggu salat berjamaah di masjid. “Sesungguhnya para malaikat berselawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya, mereka berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadas dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam salat selama masih menunggu salat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika seseorang menunggu salat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas salat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadas maka malaikat juga mendoakan dia. Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba salat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya. Baiklah, orang yang salat di saf pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada yang berada di saf-saf pertama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan hadis ini sahih) Dan dalam riwayat lain, “Berselawat untuk orang yang berada di saf terdepan.” Ketiga, menuntut ilmu. “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang yang berilmu dari pada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi) Empat, mengajari kebaikan pada manusia. Orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, berbahagialah dia! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil. sampai seekor semut dalam sarangnya dan sampai ikan paus Dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, Allah hanya menyebutkan kepada kita yang terkecil dan yang terbesar, namun keseluruhan binatang di alam semesta, semua binatang yang berjalan di alam ini, -Wahai para jamaah- semua binatang melata, seluruh binatang yang berjalan di alam ini. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit  penduduk langit adalah para malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka, mereka itu adalah penduduk langit.  Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit…” Dan tentu di langit ada arwah para nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus…” Kenapa? Kenapa? “Sungguh mereka berselawat …” Mereka mendoakan kebaikan untuk siapa? Untuk siapa? Jumlah yang besar ini seluruhnya, ini jumlah yang besar, jumlah yang banyak. “Sungguh mereka berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmizi dan hadis ini sahih) Tentu, para jamaah, ini adalah sesuatu yang memotivasi kita semua, Anda para laki-laki dan wanita, dia, saya dan kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demi Allah, ini membahagiakan sekali, ajarkan al-Fatihah, ajarkan makna al-Qur’an, ajarkan surat-surat pendek, ajarkan hadis Arba’in Nawawiyah, makna-makna hadis dan lain sebagainya. Ajarkan kepada manusia hukum-hukum fikih, halal dan haram, tafsir surat al-Fatihah, Ajari orang-orang adab dan akhlak, sirah nabawi, ajari orang-orang kebaikan, ajarkan kebaikan. Demi Allah, apabila kita menyibukkan diri dalam mengajarkan kebaikan niscaya akan lenyap banyak sekali kebodohan dan akan hilang banyak bid’ah, dan demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan berubah, berganti menjadi ketaatan, ilmu, cahaya, iman dan hidayah di tengah manusia. Berilah pengajaran di masjid, mengajarlah di mimbar, mengajarlah dengan media pengumuman, mengajarlah di media sosial Facebook, mengajarlah melalui pesan-pesan WhatsApp, mengajarlah melalui surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat di ponsel, mengajarlah dengan telepon, mengajarlah di sekolah rumah, mengajarlah di kantor-kantor, mengajarlah di pertemuan-pertemuan warga, berilah pengajaran ketika komunitas Anda berkumpul bersama Anda, ketika Anda berkumpul dengan komunitas Anda, dengan sahabat-sahabat Anda, berilah pengajaran ketika ada pertemuan keluarga, mengajarlah saat perkumpulan hari raya besok, mengajarlah! Di semua tempat yang mungkin bagi Anda untuk menyampaikan pengajaran, maka ajarkanlah! Ajarilah, wahai jamaah, ajarilah kebaikan, ajarkan tauhid, ajarkan sunah, ajarkan sifat-sifat Allah, ajarkan makna asmaul husna yang agung, Ajarkan kepada mereka keadaan surga, neraka dan hari akhir serta segala sesuatu yang ada padanya dan apa yang akan mereka hadapi di sana. Ajari mereka tafsir surat al-Fatihah dan surat-surat pendek, ajari mereka hadis-hadis dan penjelasannya dan hukum-hukumnya, Ajari mereka adab dan akhlak, ajari mereka hal-hal yang meningkatkan iman dan melembutkan hati, ajarkan sirah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ajarkan sunah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarkan kehidupan Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkan kebaikan! Ajarkan kebaikan! Kebaikan, apapun yang merupakan kebaikan, sesuatu yang bermanfaat untuk manusia bagi dunia ataupun akhirat mereka.Ajarkanlah kebaikan, bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghindari hal-hal yang merupakan ancaman dalam badan mereka, yaitu pengajaran yang berhubungan dengan kesehatan. Ajarkan bagaimana cara untuk menghindari ancaman di dalam rumah dan di dalam kehidupan, yakni perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu pertahanan sipil dan protokol keselamatan dan pencegahan. Apapun yang merupakan kebaikan dan pokok kebaikan adalah agama, maka ajarkanlah al-Qur’an dan sunah, ilmu al-Qur’an dan sunah, Cukup apabila seseorang membayangkan bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi dan bahkan seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus dalam lautan, semua binatang melata, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, maka lakukanlah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Dan bayangkan saja, bagaimana pahalanya? Yakni, pada hari kiamat nanti, Anda tidak memiliki apa-apa kecuali lembaran-lembaran amal yang terbuka, yang di dalamnya terdapat doa-doa malaikat yang penuh bakti dan makhluk-makhluk Allah lain yang sangat banyak jumlahnya. Yang lain, amalan yang malaikat berselawat kepada orang yang mengamalkannya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani) Makan sahur, tidakkah membantu dalam ibadah? Tidakkah menjauhkan Anda dari perihnya rasa lapar, amarah dan rasa tidak nyaman? Dan menguatkan Anda dalam beribadah? Padanya terdapat berkah? Dan menyelisihi Ahli Kitab? Yang lain, “Tidaklah seseorang berselawat untukku kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” Lihat! Perhatikan ini! Perhatikan! “… kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” “Maka silakan seorang hamba memperbanyak selawat atau menyedikitkannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani) Anda berkata, “Ya Allah, haturkan selawat untuk Nabi Muhamad.” sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali. Maka setiap kali Anda duduk, berselawatlah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya merekapun (para malaikat) berselawat untuk Anda, mereka mendoakan kebaikan untuk Anda, para malaikat berselawat untuk Anda. Yang lainnya, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit,  maksudnya di pagi hari, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit, Anda menjenguk ke rumah sakit atau seseorang sakit dan Anda menjenguk dia di rumahnya. “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain yang sedang sakit di pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuk dia.” Tujuh puluh ribu, nolnya empat, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh puluh ribu malaikat!  “(Mereka berselawat) hingga sore hari.” Yakni dari pagi hari sampai sore hari. Jika sore hari dimulai pada waktu salat Ashar, yakni jam empat, dan Anda berangkat menjenguk pada jam delapan pagi, sehingga dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, delapan jam, para malaikat berselawat untuk Anda. “Dan apabila dia menjenguk pada waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuknya sampai pagi hari. Dan dia mendapatkan kharif di surga.” Kharif adalah panenan di surga, hasil panenan buah-buahan, buah-buahan ketika sudah dipanen, ini yang disebut dengan kharif di surga. Anda panen! Panen! Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan Ibnu Majah. Inilah beberapa amalan, beberapa amalan saja, belum seluruhnya, beberapa amalan yang membuat malaikat berselawat untuk orang yang mengamalkannya. Nanti, bayangkan! Malaikat ini, doanya mustajab, tidak bermaksiat kepada Allah, yang mendoakan Anda ini bukan pelaku maksiat dan tidak pernah lalai dengan kewajiban, yang mendoakan Anda adalah mereka yang tidak pernah membangkang apa yang Allah perintahkan dan selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka. Mungkin sebagian dari Anda berkata, “Mungkinkah bila Anda mengulang lagi kepada kami amalan-amalan yang tadi telah Anda sebutkan sehingga kami bisa ingat dan bersungguh-sungguh mengamalkannya?” Perhatikan saya sekali lagi! Pertama, menunggu salat jamaah dan duduk setelah salat di masjid, dan yang lebih besar pahalanya adalah menunggu salat berikutnya setelah salat. Kedua, berada di saf pertama (salat berjamaah). Ketiga, menuntut ilmu, dengan media apapun. melalui kanal dakwah, situs internet, membaca buku, majelis ilmu dan kajian, mengundang ahli ilmu atau apapun caranya. Keempat, mengajarkan kebaikan pada manusia. Kelima, makan sahur. Keenam, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketujuh, menjenguk orang sakit, inilah ketujuh amalan tersebut. Ada tujuh, -Wahai jamaah-, siapa yang bisa mengulanginya untuk kita? Siapa yang bisa menyebutkan lagi untuk kita? Ada tujuh, menjenguk orang sakit, betapa banyaknya orang sakit, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan sahur, mengajarkan kebaikan pada manusia, menuntut ilmu, berada di saf pertama dan menunggu salat. Tujuh amalan. Ya Allah, berikanlah kami taufik pada hal-hal yang membuat-Mu ridha, ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu. =====================   تَعَالَوْا نَسْتَعْرِضُ بَعْضَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا وَرَدَ فِي النُّصُوصِ أَعْمَالٌ تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا مِثَالٌ اِنْتِظَارُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ وَأَحَدُكُمْ فِي صَلاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَّلَاةُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ لَمَّا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو تَدْعُو لَهُ وَ بَعْدَ الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ بِدُونِ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ الْمَلَاَئِكَةُ تَدْعُو لَهُ جَلَسَ رُبُعَ سَاعَةٍ نِصْفَ سَاعَةٍ سَاعَةً سَاعَتَيْنِ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لَهُ طَيِّبٌ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الْأُوَلِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةٍ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ هَنِيئًا لَهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ أَكْبَرُ وَاحِدٍ أصْغَرُ وَاحِدٍ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَ الْكَائِنَاتِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ طَبْعًا وَكُلُّ مَا بَيْنَهُمَا كُلُّ الْحَيَوَانَاتِ الْأُخْرَى وَ الْمَخْلُوقَاتِ بَسْ هُوَ يَعْنِي أَعْطَانَا الصَّغِيرَ وَ الْكَبِيرَ لَكِنَّ شَامِلَ كُلَّ حَيَوَانٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ يَا جَمَاعَةٌ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ أَهْلَ السَّمَاوَاتِ اَلْمَلَائِكَةَ اَلْحُوْرَ الْعِيْنِ الْوِلْدَانَ الْمُخَلَّدُونَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمَاوَاتِ طَبْعًا السَّمَاوَاتُ فِيهَا أَرْوَاحُ أَنْبِيَاءٍ وَشُهَدَاءٍ وَ صَعَدَتْ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ حتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ أَيْ؟ أَيْ؟ لَيُصَلُّونَ عَلَى يَدْعُوْنَ لِمَنْ؟ مَنْ؟ كُلَّ الْعَدَدِ الْهَائِلِ الْهَائِلِ هَذَا الْعَدَدِ الْهَائِلِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيْحٌ بَلَى يَا جَمَاعَةٌ هَذَا مَا هُوَ دَافِعٌ لَنَا جَمِيعًا لَكَ لَكِ لَهُ لِي لَنَا أَنْ نَجْتَهِدَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَاللهِ سَعِيدٌ عَلِّمِ الْفَاتِحَةَ عَلِّمْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ عَلِّمْ قِصَارَ السُّوَرِ عَلِّمِ الْأَحَادِيثَ الْأَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةَ غَيْرَهَا مَعَانِيَ الْأَحَادِيثِ عَلِّمِ النَّاسَ أَحْكَامَ الْفِقْهِ الْحَلَالَ الْحَرَامَ تَفْسِيرَ سُوْرِةِ الْفَاتِحَةِ عَلِّمِ النَّاسَ الْآدَابَ وَالْأخْلَاقَ وَالسِّيْرَةَ النَّبَوِيَّةَ عَلِّمِ النَّاسَ الْخَيْرَ عَلِّمِ الْخَيْرَ لَوِ اشْتَغَلْنَا وَاللهِ فِي تَعْلِيمِ الْخَيْرِ لَانْمَحىَ جَهْلٌ كَثِيرٌ وَزَالَتْ بِدَعٌ كَثِيرَةٌ وَكَذَلِكَ تَغَيَّرَتْ مُنْكَرَاتٌ وَمَعَاصٍ وَصَارَتْ بَدَلًا مِنْهَا الطَاعَاتُ وَالْعِلْمُ وَالنُّورُ وَ الْإِيمَانُ وَالْهِدَايَةُ عِنْدَ النَّاسِ عَلِّمْ فِي الْمَسْجِدِ عَلِّمْ فِي الْمِنْبَرِ عَلِّمْ فِي الْإِعْلَامِ عَلِّمْ فِي مَوَاقِعِ التَّوَاصُلِ فِيسْ بُوْك عَلِّمْ فِي رَسَائِلِ وَاتْسَاب عَلِّمْ فِي الْبَريدِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَرَسَائِلِ الْجَوَّالِ عَلِّمْ بِالْاِتِّصَالِ عَلِّمْ بِدُرُوسِ بَيْتِيَّةِ عَلِّمْ فِي الدِّيوَانِيَّاتِ عَلِّمْ فِي مُلْتَقَى الْحَارَّةِ عَلِّمْ لَمَّا تُجْتَمِعُ الشِّلَّةُ مَعَكَ تَجْتَمِعُ مَعَهَا مَعَ أَصْحَابِكَ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْأَقَارِبِ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْعِيدِ الْقَادِمِ عَلِّمْ كُلَّ مَكَانٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ التَّعَالِيمَ عَلِّمْ عَلِّمْ يَا جَمَاعَةٌ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا التَّوْحِيدَ عَلِّمُوا السُّنَّةَ عَلِّمُوا صِفَاتِ اللهِ عَلِّمُوهُمْ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللهِ الْعَظِيمَةِ الْحُسْنَى عَلِّمُوهُمْ صِفَةَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَ مَاذَا يُوْجَدُ فِيهِ وَمَا هُمْ مُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ عَلِّمْهُمْ تَفْسِيرَ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ وَقِصَارِ السُّوَرِ عَلِّمْهُمْ عَلِّمْهُمْ الْأحَادِيثَ الشُّرُوحَ الْأَحَادِيثِ وَ الْأَحْكَامَ عَلِّمُوا الْآدَابَ عَلِّمُوا الْأَخْلَاقَ عَلِّمُوا الْإِيمَانِيَّاتِ الرَّقَائِقَ عَلِّمُوا سِيْرَةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا سُنَّةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا حَيَاةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ خَيْرًا أَيَّ شَيْءٍ اِسْمُهُ خَيْرٌ شَيْءٌ يَنْفَعُ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَ دُنْيَاهُمْ عَلِّمُوا الْخَيْرَ كَيْفَ حَتَّى يَتَوَقَّى أَشْيَاءً يَعْنِي مِنَ الآفَاتِ الَّتِي فِي الْجَسَدِ شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالطِّبِّ عَلِّمُوا كَيْفَ يَتَوَقَّى آفَاتَ فِي الْبَيْتِ فِي الْحَيَاةِ يَعْنِي أَشْيَاءٌ مِنْ عُلُومٍ مِنْ عُلُومِ الدِّفَاعِ الْمَدَنِيِّ السَّلَاَمَةِ إِجْرَاءَاتِ السَّلَاَمَةِ وَالْوِقَايَةِ أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٍ وَرَأْسُ الْخَيْرِ الدِّيْنُ عَلِّمُوا الدِّينَ الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ عُلُومَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ يَعْنِي وَاحِدٌ لَوْ بَسْ كَذَا يَتَخَيَّلُ يَعْنِي إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ كُلُّ الدَّوَابِّ كُلٌّ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَخَلِّهَا بِنِّيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلهِ وَشُفْ الْأَجْرَ كَيْفَ؟ يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَكَ إِلَّا صُحُفًا مُنَشَّرَةً فِيهَا أَدْعِيَةُ الْبَرَرَةِ وَمَخْلُوقَاتِ اللهِ الْكَثِيرَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ غَيْرُهُ أَعْمَالٌ الْمَلَاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَصْحَابِهَا إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ سُحُورٌ أَلَيْسَ يُعِيْنُ عَلَى الْعِبَادَةِ ؟ أَلَيْسَ جَعَلَكَ أَبْعَدَ عَنْ أَلَمِ الْجُوعِ وَالْعَصَبِيَّةِ وَالنَّرْفَزَةِ؟ وَيُقَوِّيْكَ عَلَى الْعِبَادَةِ؟ فِيهِ بَرَكَةٌ؟ يُخَالِفُ أهْلَ الْكِتَابِ؟ غَيْرُهُ مَا صَلَّى عَلَيَّ أحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ شُفْ لَاحِظْ هَذَا لَاحِظْ إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ فَلْيُقِلَّ العَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أوْ لِيُكْثِرَ رَوَاهُ الْإمَامُ أَحَمْدُ وَابْنُ مَاجَه وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ تَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشَرَ مرَّاتٍ مِائِةَ مَرَّةٍ ألْفَ مَرَّةٍ أَنْتَ وَمَا كُلَّمَا أَنْتَ جَالِسٌ صَلِّ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ تُصَلِّي عَلَيْكَ تَدْعُو لَكَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْكَ غَيْرُهُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً يَعْنِيْ صَبَاحًا مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً تُرَاحِلُ فِي المُسْتَشْفَى مَرِيْضٌ تَمُرُّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْتِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ أَلْفَ أَرْبَعَ أَصْفَارٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي يَعْنِي مِنَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ إِذَا كَانَ الْمَسَاءُ يُبْدَأُ الْعَصْرُ يَعْنِيْ السَّاعَةَ الأَرْبَعَةَ وَأَنْتَ رَحَلْتَ فِي السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ الصَّبَاحَ مِنَ السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ إِلَى السَّاعَةِ الأَرْبَعَةِ ثَمَانِيَ سَاعَاتٍ الْمَلَائِكَةُ شَغَلَ صَلَاةً صَلَاةً عَلَيْكَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ الْخَرِيْفُ خُرَافَةُ الْجَنَّةِ مُجْتَنَى الثِّمَارِ الثِّمَارُ إِذَا اجْتُنِيَتْ هَذَا خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ عِنْدَكَ مَحْصُولٌ مَحْصُولٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه هَذِهِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ مَا كُلُّ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُصَلِّي الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَصْحَابِهَا بَعْدٍ شُفْ مَلَكٌ هَذَا يَعْنِي مُجَابُ الدَّعْوَةِ مَا عَصَى اللهَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ مَا هُمْ عُصَاةٌ مُقَصِّرُونَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ يُمْكِنُ بَعْضُكُمْ يَقُولُ مُمْكِنُ تُعِيدُ لَنَا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ذَكَرْتَهَا حَتَّى نُثَبِّتَهَا وَنَجْتَهِدَ فِيهَا؟ خُذْ مَعِي مَرَّةً ثَانِيَةً وَاحِدٌ انْتِظَارُ صَلَاَةِ الْجَمَاعَةِ وَالْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ وَأَعْظَمُ مِنْهُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اِثْنَينِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ عَنْ طَرِيقِ قَنَاةٍ مَوْقِعٍ كِتَابٍ حَلْقَةِ الذِّكْرِ حَلْقَةِ الْعِلْمِ دَعْوِ الْعَالِمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ خَمْسَةٌ السُّحُورُ سِتَّةٌ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ هَذِهِ سَبْعَةُ أَعْمَالٍ سَبْعَةٌ يَا جَمَاعَةٌ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا ؟ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا؟ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَا أَكْثَرَ الْمَرْضَى الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ طَلَبُ الْعِلْمِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ  


Marilah, kita tunjukkan beberapa amalan yang pelakunya akan dimohonkan ampun oleh para malaikat. Terdapat dalam nash (al-Quran dan Hadis) beberapa amalan yang mana para malaikat memohonkan ampun untuk orang yang mengamalkannya. Misalnya, menunggu salat berjamaah di masjid. “Sesungguhnya para malaikat berselawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya, mereka berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadas dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam salat selama masih menunggu salat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika seseorang menunggu salat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas salat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadas maka malaikat juga mendoakan dia. Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba salat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya. Baiklah, orang yang salat di saf pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada yang berada di saf-saf pertama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan hadis ini sahih) Dan dalam riwayat lain, “Berselawat untuk orang yang berada di saf terdepan.” Ketiga, menuntut ilmu. “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang yang berilmu dari pada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi) Empat, mengajari kebaikan pada manusia. Orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, berbahagialah dia! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil. sampai seekor semut dalam sarangnya dan sampai ikan paus Dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, Allah hanya menyebutkan kepada kita yang terkecil dan yang terbesar, namun keseluruhan binatang di alam semesta, semua binatang yang berjalan di alam ini, -Wahai para jamaah- semua binatang melata, seluruh binatang yang berjalan di alam ini. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit  penduduk langit adalah para malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka, mereka itu adalah penduduk langit.  Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit…” Dan tentu di langit ada arwah para nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus…” Kenapa? Kenapa? “Sungguh mereka berselawat …” Mereka mendoakan kebaikan untuk siapa? Untuk siapa? Jumlah yang besar ini seluruhnya, ini jumlah yang besar, jumlah yang banyak. “Sungguh mereka berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmizi dan hadis ini sahih) Tentu, para jamaah, ini adalah sesuatu yang memotivasi kita semua, Anda para laki-laki dan wanita, dia, saya dan kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demi Allah, ini membahagiakan sekali, ajarkan al-Fatihah, ajarkan makna al-Qur’an, ajarkan surat-surat pendek, ajarkan hadis Arba’in Nawawiyah, makna-makna hadis dan lain sebagainya. Ajarkan kepada manusia hukum-hukum fikih, halal dan haram, tafsir surat al-Fatihah, Ajari orang-orang adab dan akhlak, sirah nabawi, ajari orang-orang kebaikan, ajarkan kebaikan. Demi Allah, apabila kita menyibukkan diri dalam mengajarkan kebaikan niscaya akan lenyap banyak sekali kebodohan dan akan hilang banyak bid’ah, dan demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan berubah, berganti menjadi ketaatan, ilmu, cahaya, iman dan hidayah di tengah manusia. Berilah pengajaran di masjid, mengajarlah di mimbar, mengajarlah dengan media pengumuman, mengajarlah di media sosial Facebook, mengajarlah melalui pesan-pesan WhatsApp, mengajarlah melalui surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat di ponsel, mengajarlah dengan telepon, mengajarlah di sekolah rumah, mengajarlah di kantor-kantor, mengajarlah di pertemuan-pertemuan warga, berilah pengajaran ketika komunitas Anda berkumpul bersama Anda, ketika Anda berkumpul dengan komunitas Anda, dengan sahabat-sahabat Anda, berilah pengajaran ketika ada pertemuan keluarga, mengajarlah saat perkumpulan hari raya besok, mengajarlah! Di semua tempat yang mungkin bagi Anda untuk menyampaikan pengajaran, maka ajarkanlah! Ajarilah, wahai jamaah, ajarilah kebaikan, ajarkan tauhid, ajarkan sunah, ajarkan sifat-sifat Allah, ajarkan makna asmaul husna yang agung, Ajarkan kepada mereka keadaan surga, neraka dan hari akhir serta segala sesuatu yang ada padanya dan apa yang akan mereka hadapi di sana. Ajari mereka tafsir surat al-Fatihah dan surat-surat pendek, ajari mereka hadis-hadis dan penjelasannya dan hukum-hukumnya, Ajari mereka adab dan akhlak, ajari mereka hal-hal yang meningkatkan iman dan melembutkan hati, ajarkan sirah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ajarkan sunah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarkan kehidupan Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkan kebaikan! Ajarkan kebaikan! Kebaikan, apapun yang merupakan kebaikan, sesuatu yang bermanfaat untuk manusia bagi dunia ataupun akhirat mereka.Ajarkanlah kebaikan, bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghindari hal-hal yang merupakan ancaman dalam badan mereka, yaitu pengajaran yang berhubungan dengan kesehatan. Ajarkan bagaimana cara untuk menghindari ancaman di dalam rumah dan di dalam kehidupan, yakni perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu pertahanan sipil dan protokol keselamatan dan pencegahan. Apapun yang merupakan kebaikan dan pokok kebaikan adalah agama, maka ajarkanlah al-Qur’an dan sunah, ilmu al-Qur’an dan sunah, Cukup apabila seseorang membayangkan bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi dan bahkan seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus dalam lautan, semua binatang melata, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, maka lakukanlah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Dan bayangkan saja, bagaimana pahalanya? Yakni, pada hari kiamat nanti, Anda tidak memiliki apa-apa kecuali lembaran-lembaran amal yang terbuka, yang di dalamnya terdapat doa-doa malaikat yang penuh bakti dan makhluk-makhluk Allah lain yang sangat banyak jumlahnya. Yang lain, amalan yang malaikat berselawat kepada orang yang mengamalkannya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani) Makan sahur, tidakkah membantu dalam ibadah? Tidakkah menjauhkan Anda dari perihnya rasa lapar, amarah dan rasa tidak nyaman? Dan menguatkan Anda dalam beribadah? Padanya terdapat berkah? Dan menyelisihi Ahli Kitab? Yang lain, “Tidaklah seseorang berselawat untukku kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” Lihat! Perhatikan ini! Perhatikan! “… kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” “Maka silakan seorang hamba memperbanyak selawat atau menyedikitkannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani) Anda berkata, “Ya Allah, haturkan selawat untuk Nabi Muhamad.” sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali. Maka setiap kali Anda duduk, berselawatlah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya merekapun (para malaikat) berselawat untuk Anda, mereka mendoakan kebaikan untuk Anda, para malaikat berselawat untuk Anda. Yang lainnya, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit,  maksudnya di pagi hari, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit, Anda menjenguk ke rumah sakit atau seseorang sakit dan Anda menjenguk dia di rumahnya. “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain yang sedang sakit di pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuk dia.” Tujuh puluh ribu, nolnya empat, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh puluh ribu malaikat!  “(Mereka berselawat) hingga sore hari.” Yakni dari pagi hari sampai sore hari. Jika sore hari dimulai pada waktu salat Ashar, yakni jam empat, dan Anda berangkat menjenguk pada jam delapan pagi, sehingga dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, delapan jam, para malaikat berselawat untuk Anda. “Dan apabila dia menjenguk pada waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuknya sampai pagi hari. Dan dia mendapatkan kharif di surga.” Kharif adalah panenan di surga, hasil panenan buah-buahan, buah-buahan ketika sudah dipanen, ini yang disebut dengan kharif di surga. Anda panen! Panen! Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan Ibnu Majah. Inilah beberapa amalan, beberapa amalan saja, belum seluruhnya, beberapa amalan yang membuat malaikat berselawat untuk orang yang mengamalkannya. Nanti, bayangkan! Malaikat ini, doanya mustajab, tidak bermaksiat kepada Allah, yang mendoakan Anda ini bukan pelaku maksiat dan tidak pernah lalai dengan kewajiban, yang mendoakan Anda adalah mereka yang tidak pernah membangkang apa yang Allah perintahkan dan selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka. Mungkin sebagian dari Anda berkata, “Mungkinkah bila Anda mengulang lagi kepada kami amalan-amalan yang tadi telah Anda sebutkan sehingga kami bisa ingat dan bersungguh-sungguh mengamalkannya?” Perhatikan saya sekali lagi! Pertama, menunggu salat jamaah dan duduk setelah salat di masjid, dan yang lebih besar pahalanya adalah menunggu salat berikutnya setelah salat. Kedua, berada di saf pertama (salat berjamaah). Ketiga, menuntut ilmu, dengan media apapun. melalui kanal dakwah, situs internet, membaca buku, majelis ilmu dan kajian, mengundang ahli ilmu atau apapun caranya. Keempat, mengajarkan kebaikan pada manusia. Kelima, makan sahur. Keenam, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketujuh, menjenguk orang sakit, inilah ketujuh amalan tersebut. Ada tujuh, -Wahai jamaah-, siapa yang bisa mengulanginya untuk kita? Siapa yang bisa menyebutkan lagi untuk kita? Ada tujuh, menjenguk orang sakit, betapa banyaknya orang sakit, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan sahur, mengajarkan kebaikan pada manusia, menuntut ilmu, berada di saf pertama dan menunggu salat. Tujuh amalan. Ya Allah, berikanlah kami taufik pada hal-hal yang membuat-Mu ridha, ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu. =====================   تَعَالَوْا نَسْتَعْرِضُ بَعْضَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا وَرَدَ فِي النُّصُوصِ أَعْمَالٌ تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا مِثَالٌ اِنْتِظَارُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ وَأَحَدُكُمْ فِي صَلاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَّلَاةُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ لَمَّا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو تَدْعُو لَهُ وَ بَعْدَ الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ بِدُونِ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ الْمَلَاَئِكَةُ تَدْعُو لَهُ جَلَسَ رُبُعَ سَاعَةٍ نِصْفَ سَاعَةٍ سَاعَةً سَاعَتَيْنِ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لَهُ طَيِّبٌ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الْأُوَلِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةٍ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ هَنِيئًا لَهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ أَكْبَرُ وَاحِدٍ أصْغَرُ وَاحِدٍ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَ الْكَائِنَاتِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ طَبْعًا وَكُلُّ مَا بَيْنَهُمَا كُلُّ الْحَيَوَانَاتِ الْأُخْرَى وَ الْمَخْلُوقَاتِ بَسْ هُوَ يَعْنِي أَعْطَانَا الصَّغِيرَ وَ الْكَبِيرَ لَكِنَّ شَامِلَ كُلَّ حَيَوَانٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ يَا جَمَاعَةٌ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ أَهْلَ السَّمَاوَاتِ اَلْمَلَائِكَةَ اَلْحُوْرَ الْعِيْنِ الْوِلْدَانَ الْمُخَلَّدُونَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمَاوَاتِ طَبْعًا السَّمَاوَاتُ فِيهَا أَرْوَاحُ أَنْبِيَاءٍ وَشُهَدَاءٍ وَ صَعَدَتْ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ حتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ أَيْ؟ أَيْ؟ لَيُصَلُّونَ عَلَى يَدْعُوْنَ لِمَنْ؟ مَنْ؟ كُلَّ الْعَدَدِ الْهَائِلِ الْهَائِلِ هَذَا الْعَدَدِ الْهَائِلِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيْحٌ بَلَى يَا جَمَاعَةٌ هَذَا مَا هُوَ دَافِعٌ لَنَا جَمِيعًا لَكَ لَكِ لَهُ لِي لَنَا أَنْ نَجْتَهِدَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَاللهِ سَعِيدٌ عَلِّمِ الْفَاتِحَةَ عَلِّمْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ عَلِّمْ قِصَارَ السُّوَرِ عَلِّمِ الْأَحَادِيثَ الْأَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةَ غَيْرَهَا مَعَانِيَ الْأَحَادِيثِ عَلِّمِ النَّاسَ أَحْكَامَ الْفِقْهِ الْحَلَالَ الْحَرَامَ تَفْسِيرَ سُوْرِةِ الْفَاتِحَةِ عَلِّمِ النَّاسَ الْآدَابَ وَالْأخْلَاقَ وَالسِّيْرَةَ النَّبَوِيَّةَ عَلِّمِ النَّاسَ الْخَيْرَ عَلِّمِ الْخَيْرَ لَوِ اشْتَغَلْنَا وَاللهِ فِي تَعْلِيمِ الْخَيْرِ لَانْمَحىَ جَهْلٌ كَثِيرٌ وَزَالَتْ بِدَعٌ كَثِيرَةٌ وَكَذَلِكَ تَغَيَّرَتْ مُنْكَرَاتٌ وَمَعَاصٍ وَصَارَتْ بَدَلًا مِنْهَا الطَاعَاتُ وَالْعِلْمُ وَالنُّورُ وَ الْإِيمَانُ وَالْهِدَايَةُ عِنْدَ النَّاسِ عَلِّمْ فِي الْمَسْجِدِ عَلِّمْ فِي الْمِنْبَرِ عَلِّمْ فِي الْإِعْلَامِ عَلِّمْ فِي مَوَاقِعِ التَّوَاصُلِ فِيسْ بُوْك عَلِّمْ فِي رَسَائِلِ وَاتْسَاب عَلِّمْ فِي الْبَريدِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَرَسَائِلِ الْجَوَّالِ عَلِّمْ بِالْاِتِّصَالِ عَلِّمْ بِدُرُوسِ بَيْتِيَّةِ عَلِّمْ فِي الدِّيوَانِيَّاتِ عَلِّمْ فِي مُلْتَقَى الْحَارَّةِ عَلِّمْ لَمَّا تُجْتَمِعُ الشِّلَّةُ مَعَكَ تَجْتَمِعُ مَعَهَا مَعَ أَصْحَابِكَ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْأَقَارِبِ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْعِيدِ الْقَادِمِ عَلِّمْ كُلَّ مَكَانٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ التَّعَالِيمَ عَلِّمْ عَلِّمْ يَا جَمَاعَةٌ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا التَّوْحِيدَ عَلِّمُوا السُّنَّةَ عَلِّمُوا صِفَاتِ اللهِ عَلِّمُوهُمْ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللهِ الْعَظِيمَةِ الْحُسْنَى عَلِّمُوهُمْ صِفَةَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَ مَاذَا يُوْجَدُ فِيهِ وَمَا هُمْ مُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ عَلِّمْهُمْ تَفْسِيرَ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ وَقِصَارِ السُّوَرِ عَلِّمْهُمْ عَلِّمْهُمْ الْأحَادِيثَ الشُّرُوحَ الْأَحَادِيثِ وَ الْأَحْكَامَ عَلِّمُوا الْآدَابَ عَلِّمُوا الْأَخْلَاقَ عَلِّمُوا الْإِيمَانِيَّاتِ الرَّقَائِقَ عَلِّمُوا سِيْرَةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا سُنَّةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا حَيَاةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ خَيْرًا أَيَّ شَيْءٍ اِسْمُهُ خَيْرٌ شَيْءٌ يَنْفَعُ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَ دُنْيَاهُمْ عَلِّمُوا الْخَيْرَ كَيْفَ حَتَّى يَتَوَقَّى أَشْيَاءً يَعْنِي مِنَ الآفَاتِ الَّتِي فِي الْجَسَدِ شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالطِّبِّ عَلِّمُوا كَيْفَ يَتَوَقَّى آفَاتَ فِي الْبَيْتِ فِي الْحَيَاةِ يَعْنِي أَشْيَاءٌ مِنْ عُلُومٍ مِنْ عُلُومِ الدِّفَاعِ الْمَدَنِيِّ السَّلَاَمَةِ إِجْرَاءَاتِ السَّلَاَمَةِ وَالْوِقَايَةِ أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٍ وَرَأْسُ الْخَيْرِ الدِّيْنُ عَلِّمُوا الدِّينَ الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ عُلُومَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ يَعْنِي وَاحِدٌ لَوْ بَسْ كَذَا يَتَخَيَّلُ يَعْنِي إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ كُلُّ الدَّوَابِّ كُلٌّ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَخَلِّهَا بِنِّيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلهِ وَشُفْ الْأَجْرَ كَيْفَ؟ يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَكَ إِلَّا صُحُفًا مُنَشَّرَةً فِيهَا أَدْعِيَةُ الْبَرَرَةِ وَمَخْلُوقَاتِ اللهِ الْكَثِيرَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ غَيْرُهُ أَعْمَالٌ الْمَلَاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَصْحَابِهَا إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ سُحُورٌ أَلَيْسَ يُعِيْنُ عَلَى الْعِبَادَةِ ؟ أَلَيْسَ جَعَلَكَ أَبْعَدَ عَنْ أَلَمِ الْجُوعِ وَالْعَصَبِيَّةِ وَالنَّرْفَزَةِ؟ وَيُقَوِّيْكَ عَلَى الْعِبَادَةِ؟ فِيهِ بَرَكَةٌ؟ يُخَالِفُ أهْلَ الْكِتَابِ؟ غَيْرُهُ مَا صَلَّى عَلَيَّ أحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ شُفْ لَاحِظْ هَذَا لَاحِظْ إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ فَلْيُقِلَّ العَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أوْ لِيُكْثِرَ رَوَاهُ الْإمَامُ أَحَمْدُ وَابْنُ مَاجَه وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ تَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشَرَ مرَّاتٍ مِائِةَ مَرَّةٍ ألْفَ مَرَّةٍ أَنْتَ وَمَا كُلَّمَا أَنْتَ جَالِسٌ صَلِّ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ تُصَلِّي عَلَيْكَ تَدْعُو لَكَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْكَ غَيْرُهُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً يَعْنِيْ صَبَاحًا مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً تُرَاحِلُ فِي المُسْتَشْفَى مَرِيْضٌ تَمُرُّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْتِ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ أَلْفَ أَرْبَعَ أَصْفَارٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِي يَعْنِي مِنَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ إِذَا كَانَ الْمَسَاءُ يُبْدَأُ الْعَصْرُ يَعْنِيْ السَّاعَةَ الأَرْبَعَةَ وَأَنْتَ رَحَلْتَ فِي السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ الصَّبَاحَ مِنَ السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ إِلَى السَّاعَةِ الأَرْبَعَةِ ثَمَانِيَ سَاعَاتٍ الْمَلَائِكَةُ شَغَلَ صَلَاةً صَلَاةً عَلَيْكَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ الْخَرِيْفُ خُرَافَةُ الْجَنَّةِ مُجْتَنَى الثِّمَارِ الثِّمَارُ إِذَا اجْتُنِيَتْ هَذَا خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ عِنْدَكَ مَحْصُولٌ مَحْصُولٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه هَذِهِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ مَا كُلُّ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُصَلِّي الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَصْحَابِهَا بَعْدٍ شُفْ مَلَكٌ هَذَا يَعْنِي مُجَابُ الدَّعْوَةِ مَا عَصَى اللهَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ مَا هُمْ عُصَاةٌ مُقَصِّرُونَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ يُمْكِنُ بَعْضُكُمْ يَقُولُ مُمْكِنُ تُعِيدُ لَنَا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ذَكَرْتَهَا حَتَّى نُثَبِّتَهَا وَنَجْتَهِدَ فِيهَا؟ خُذْ مَعِي مَرَّةً ثَانِيَةً وَاحِدٌ انْتِظَارُ صَلَاَةِ الْجَمَاعَةِ وَالْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ وَأَعْظَمُ مِنْهُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اِثْنَينِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ عَنْ طَرِيقِ قَنَاةٍ مَوْقِعٍ كِتَابٍ حَلْقَةِ الذِّكْرِ حَلْقَةِ الْعِلْمِ دَعْوِ الْعَالِمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ خَمْسَةٌ السُّحُورُ سِتَّةٌ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ هَذِهِ سَبْعَةُ أَعْمَالٍ سَبْعَةٌ يَا جَمَاعَةٌ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا ؟ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا؟ سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَا أَكْثَرَ الْمَرْضَى الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ طَلَبُ الْعِلْمِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ  

Bulughul Maram – Akhlak: Menjauhi Syubhat

Syubhat itu apa? Bagaimana menjauhinya? Daftar Isi tutup 1. Hadits #1477 2. Faedah dari hadits 2.1. Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: 2.2. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1477 عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ- وَأَهْوَى اَلنُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ: – إِنَّ اَلْحَلَالَ بَيِّنٌ, وَإِنَّ اَلْحَرَامَ بَيِّنٌ, وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ, لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ اَلنَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى اَلشُّبُهَاتِ, فَقَدِ اِسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ, وَمَنْ وَقَعَ فِي اَلشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي اَلْحَرَامِِ, كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ اَلْحِمَى, يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ, أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى, أَلَا وَإِنَّ حِمَى اَللَّهِ مَحَارِمُهُ, أَلَا وَإِنَّ فِي اَلْجَسَدِ مُضْغَةً, إِذَا صَلَحَتْ, صَلَحَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلَا وَهِيَ اَلْقَلْبُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan Nu’man memasukkan jarinya ke dalam dua telinganya, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599]   Faedah dari hadits Pertama: Dalam hadits disebutkan bahwa An-Nu’man memasukkan jari ke dalam kedua telinganya (Imam Muslim bersendirian dalam menyebutkan hal ini), ini menunjukkan bahwa ia mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagai sanggahan kepada Al-Waaqidi dan yang mengikuti pendapatnya yang menyatakan bahwa An-Nu’man tidak pernah mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena An-Nu’man umurnya delapan tahun ketika wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini juga jadi dalil bahwa anak mumayyiz (yang sudah tamyiz, meskipun belum baligh), mendengar hadits (hamlul hadits) di usia kecil lalu menyampaikan hadits (addal hadits) ketika sudah berusia baligh, maka haditsnya diterima. Kedua: Yang halal itu jelas maksudnya tidak butuh penjelasan, semua mengenalnya, di mana sudah dinashkan oleh Allah dan Rasul-Nya akan halalnya atau sudah ada ijmak kaum muslimin tentang halalnya. Contohnya, firman Allah “Wa ahallallahul bai’a” dalam surah Al-Baqarah ayat 275, yaitu Allah menghalalkan jual beli. Termasuk juga makanan, minuman, pakaian yang telah diketahui halalnya oleh orang banyak. Ketiga: Yang haram itu jelas, yaitu telah ada dalil tegas dari Allah dan Rasul-Nya, atau ijmak kaum muslimin akan keharamannya secara langsung. Misalnya dalam firman Allah “wa harromar ribaa” dalam surah Al-Baqarah ayat 275. Yang termasuk keharaman yang sudah jelas adalah zina, minum khamar, bangkai, babi, menikahi yang masih punya hubungan mahram, riba dan judi yang termasuk pekerjaan yang haram. Keempat: Perkara musytabihaat adalah perkara antara halal dan haram yang masih diragukan. Perkara ini tidak diketahui kebanyakan manusia antara halal dan haramnya. Hadits ini bukan maksudnya kebanyakan dari manusia tidak mengetahui kalau perkara ini musytabihaat. Mengenal hukum masalah ini bisa saja, tetapi hanya sedikit dari manusia yang mengetahuinya yaitu dari kalangan mujtahid (ahli berijtihad). Yang tidak mengetahui perkara musytabihaat ada dua kelompok yaitu: Yang tawaqquf (berdiam diri) karena tidak mengetahui hukumnya. Yang meyakini, tetapi tidak sesuai kenyataan. Seorang mujtahid juga bisa jadi masih samar (isytibaah) tentang dalil tanpa bisa menguatkan antara dua dalil.   Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: Dalil dianggap bertentangan, tidak dapat mengkompromikan (jam’ud daliil) dan tidak dapat melakukan tarjih (penguatan dalil). Ini dari sisi seorang mujtahid. Perbedaan ulama dalam memahami dalil perintah atau larangan. Para ulama berselisih pendapat dalam masalah perintah apakah dihukumi wajib ataukah sunnah. Begitu pula mereka berselisih dalam masalah larangan apakah haram ataukah makruh. Misalnya adalah perintah mandi Jumat, apakah wajib ataukah sunnah. Adapun dari sisi para muqallid (pengikut) ada perselisihan pendapat. Sikap wara’ (hati-hati) adalah tawaqquf (mencari jalan aman) dalam perkara syubhat, yaitu tetap melakukan mandi Jumat. Dalil yang masih sama dan belum sampainya pada seorang mujtahid karena hanya dinukil dari sedikit orang. Dalil tersebut barangkali tidak sampai pada kebanyakan ahli ilmu. Masalah ini masih jadi musytabihaat (samar) bagi seorang mujtahid. Ia baru bisa berfatwa jika ada dalil yang melarang ataukah membolehkan. Kelima: Siapa yang menjauhi syubhat dan membatasi diri, ia telah menjaga diri dan kehormatannya. Keenam: Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat, maka ia akan terjerumus dalam yang haram tanpa ia sadari. Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat karena menganggap remeh, akhirnya ia dengan sengaja terjatuh dalam yang haram. Ketujuh: “Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya”, maksudnya yang banyak terjerumus dalam syubhat lama kelamaan, ia akan melakukan yang haram, akhirnya ia mendapatkan hukum lantaran itu. Kedelapan: Syariat ini dibagi menjadi perkara halal, haram, dan syubhat. Kesembilan: Perkara syubhat itu tetap ada yang mengetahui yaitu para ulama mujtahidin karena mereka memiliki ilmu yang berlebih. Adapun untuk para muqallid (hanya jadi pengikut), ia hanya mengikuti orang yang berilmu yang lebih berilmu dan lebih wara’. Pemilihan seperti ini akan lebih dekat pada kebenaran. Kesepuluh: Hendaklah menjauhi perkara syubhat, yang masih diragukan antara halal dan haramnya. Sikap seperti ini lebih menunjukkan kehati-hatian dalam agama dan lebih menjaga kehormatan. Kehati-hatian dalam agama berarti terkait dirinya dengan Allah. Sedangkan lebih menjaga kehormatan artinya menghindarkan diri dari celaan manusia. Kesebelas: Sebagian salaf mengatakan, مَنْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلتُّهَمِ فَلَا يَلُوْمَنَّ مَنْ أَسَاءَ الظَّنَّ بِهِ “Siapa yang menjatuhkan diri dalam prasangka jelek orang, janganlah salahkan jika ada orang yang suuzhan padanya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hadits no. 6) Kedua belas: Hendaklah setiap orang memperhatikan muruah, kehormatan diri. Ibnu ‘Arafah menyatakan bahwa muruah adalah melakukan perkara mubah yang bila ditinggalkan akan mendapatkan celaan secara ‘urf atau meninggalkan perkara mubah yang bila dikerjakan akan mendapatkan celaan secara ‘urf. (Syarh Hudud Ibnu ‘Arafah, diambil dari dorar.net). Ketiga belas: Pentingnya urusan hati, kita harus memperbaiki keadaan hati. Jika hati baik, segala sesuatu akan baik. Jika hati rusak, yang lainnya akan ikut rusak. Hati yang baik adalah dengan cinta dan rasa takut kepada Allah. Keempat belas: Baiknya batin menunjukkan baiknya lahiriyah. Jeleknya batin menunjukkan jeleknya lahiriyah. Kelima belas: Di antara jalan sampainya ilmu adalah dengan memberikan permisalan dan contoh. Keenam belas: Bentuk zuhud dan wara’ adalah menjauhi perkara syubhat, mencukupkan dengan yang halal, dan menjauhi yang haram. Semoga manfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh. https://dorar.net/akhlaq/1344/معنى-المروءة-لغة-واصطلاحا Baca Juga: Syarhus Sunnah: Tidak Mudah Mengafirkan Orang dan Menjauhi Ahli Bi’dah Hadits Arbain #41: Mengikuti Sunnah Nabi, Tundukkan Hawa Nafsu — Desa Pelem, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Sabtu siang, 5 Rabiuts Tsani 1442 H (21 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbarang haram bisnis haram bulughul maram adab bulughul maram akhlak dampak harta haram halal haram makanan halal syubhat wara zuhud

Bulughul Maram – Akhlak: Menjauhi Syubhat

Syubhat itu apa? Bagaimana menjauhinya? Daftar Isi tutup 1. Hadits #1477 2. Faedah dari hadits 2.1. Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: 2.2. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1477 عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ- وَأَهْوَى اَلنُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ: – إِنَّ اَلْحَلَالَ بَيِّنٌ, وَإِنَّ اَلْحَرَامَ بَيِّنٌ, وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ, لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ اَلنَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى اَلشُّبُهَاتِ, فَقَدِ اِسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ, وَمَنْ وَقَعَ فِي اَلشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي اَلْحَرَامِِ, كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ اَلْحِمَى, يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ, أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى, أَلَا وَإِنَّ حِمَى اَللَّهِ مَحَارِمُهُ, أَلَا وَإِنَّ فِي اَلْجَسَدِ مُضْغَةً, إِذَا صَلَحَتْ, صَلَحَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلَا وَهِيَ اَلْقَلْبُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan Nu’man memasukkan jarinya ke dalam dua telinganya, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599]   Faedah dari hadits Pertama: Dalam hadits disebutkan bahwa An-Nu’man memasukkan jari ke dalam kedua telinganya (Imam Muslim bersendirian dalam menyebutkan hal ini), ini menunjukkan bahwa ia mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagai sanggahan kepada Al-Waaqidi dan yang mengikuti pendapatnya yang menyatakan bahwa An-Nu’man tidak pernah mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena An-Nu’man umurnya delapan tahun ketika wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini juga jadi dalil bahwa anak mumayyiz (yang sudah tamyiz, meskipun belum baligh), mendengar hadits (hamlul hadits) di usia kecil lalu menyampaikan hadits (addal hadits) ketika sudah berusia baligh, maka haditsnya diterima. Kedua: Yang halal itu jelas maksudnya tidak butuh penjelasan, semua mengenalnya, di mana sudah dinashkan oleh Allah dan Rasul-Nya akan halalnya atau sudah ada ijmak kaum muslimin tentang halalnya. Contohnya, firman Allah “Wa ahallallahul bai’a” dalam surah Al-Baqarah ayat 275, yaitu Allah menghalalkan jual beli. Termasuk juga makanan, minuman, pakaian yang telah diketahui halalnya oleh orang banyak. Ketiga: Yang haram itu jelas, yaitu telah ada dalil tegas dari Allah dan Rasul-Nya, atau ijmak kaum muslimin akan keharamannya secara langsung. Misalnya dalam firman Allah “wa harromar ribaa” dalam surah Al-Baqarah ayat 275. Yang termasuk keharaman yang sudah jelas adalah zina, minum khamar, bangkai, babi, menikahi yang masih punya hubungan mahram, riba dan judi yang termasuk pekerjaan yang haram. Keempat: Perkara musytabihaat adalah perkara antara halal dan haram yang masih diragukan. Perkara ini tidak diketahui kebanyakan manusia antara halal dan haramnya. Hadits ini bukan maksudnya kebanyakan dari manusia tidak mengetahui kalau perkara ini musytabihaat. Mengenal hukum masalah ini bisa saja, tetapi hanya sedikit dari manusia yang mengetahuinya yaitu dari kalangan mujtahid (ahli berijtihad). Yang tidak mengetahui perkara musytabihaat ada dua kelompok yaitu: Yang tawaqquf (berdiam diri) karena tidak mengetahui hukumnya. Yang meyakini, tetapi tidak sesuai kenyataan. Seorang mujtahid juga bisa jadi masih samar (isytibaah) tentang dalil tanpa bisa menguatkan antara dua dalil.   Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: Dalil dianggap bertentangan, tidak dapat mengkompromikan (jam’ud daliil) dan tidak dapat melakukan tarjih (penguatan dalil). Ini dari sisi seorang mujtahid. Perbedaan ulama dalam memahami dalil perintah atau larangan. Para ulama berselisih pendapat dalam masalah perintah apakah dihukumi wajib ataukah sunnah. Begitu pula mereka berselisih dalam masalah larangan apakah haram ataukah makruh. Misalnya adalah perintah mandi Jumat, apakah wajib ataukah sunnah. Adapun dari sisi para muqallid (pengikut) ada perselisihan pendapat. Sikap wara’ (hati-hati) adalah tawaqquf (mencari jalan aman) dalam perkara syubhat, yaitu tetap melakukan mandi Jumat. Dalil yang masih sama dan belum sampainya pada seorang mujtahid karena hanya dinukil dari sedikit orang. Dalil tersebut barangkali tidak sampai pada kebanyakan ahli ilmu. Masalah ini masih jadi musytabihaat (samar) bagi seorang mujtahid. Ia baru bisa berfatwa jika ada dalil yang melarang ataukah membolehkan. Kelima: Siapa yang menjauhi syubhat dan membatasi diri, ia telah menjaga diri dan kehormatannya. Keenam: Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat, maka ia akan terjerumus dalam yang haram tanpa ia sadari. Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat karena menganggap remeh, akhirnya ia dengan sengaja terjatuh dalam yang haram. Ketujuh: “Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya”, maksudnya yang banyak terjerumus dalam syubhat lama kelamaan, ia akan melakukan yang haram, akhirnya ia mendapatkan hukum lantaran itu. Kedelapan: Syariat ini dibagi menjadi perkara halal, haram, dan syubhat. Kesembilan: Perkara syubhat itu tetap ada yang mengetahui yaitu para ulama mujtahidin karena mereka memiliki ilmu yang berlebih. Adapun untuk para muqallid (hanya jadi pengikut), ia hanya mengikuti orang yang berilmu yang lebih berilmu dan lebih wara’. Pemilihan seperti ini akan lebih dekat pada kebenaran. Kesepuluh: Hendaklah menjauhi perkara syubhat, yang masih diragukan antara halal dan haramnya. Sikap seperti ini lebih menunjukkan kehati-hatian dalam agama dan lebih menjaga kehormatan. Kehati-hatian dalam agama berarti terkait dirinya dengan Allah. Sedangkan lebih menjaga kehormatan artinya menghindarkan diri dari celaan manusia. Kesebelas: Sebagian salaf mengatakan, مَنْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلتُّهَمِ فَلَا يَلُوْمَنَّ مَنْ أَسَاءَ الظَّنَّ بِهِ “Siapa yang menjatuhkan diri dalam prasangka jelek orang, janganlah salahkan jika ada orang yang suuzhan padanya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hadits no. 6) Kedua belas: Hendaklah setiap orang memperhatikan muruah, kehormatan diri. Ibnu ‘Arafah menyatakan bahwa muruah adalah melakukan perkara mubah yang bila ditinggalkan akan mendapatkan celaan secara ‘urf atau meninggalkan perkara mubah yang bila dikerjakan akan mendapatkan celaan secara ‘urf. (Syarh Hudud Ibnu ‘Arafah, diambil dari dorar.net). Ketiga belas: Pentingnya urusan hati, kita harus memperbaiki keadaan hati. Jika hati baik, segala sesuatu akan baik. Jika hati rusak, yang lainnya akan ikut rusak. Hati yang baik adalah dengan cinta dan rasa takut kepada Allah. Keempat belas: Baiknya batin menunjukkan baiknya lahiriyah. Jeleknya batin menunjukkan jeleknya lahiriyah. Kelima belas: Di antara jalan sampainya ilmu adalah dengan memberikan permisalan dan contoh. Keenam belas: Bentuk zuhud dan wara’ adalah menjauhi perkara syubhat, mencukupkan dengan yang halal, dan menjauhi yang haram. Semoga manfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh. https://dorar.net/akhlaq/1344/معنى-المروءة-لغة-واصطلاحا Baca Juga: Syarhus Sunnah: Tidak Mudah Mengafirkan Orang dan Menjauhi Ahli Bi’dah Hadits Arbain #41: Mengikuti Sunnah Nabi, Tundukkan Hawa Nafsu — Desa Pelem, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Sabtu siang, 5 Rabiuts Tsani 1442 H (21 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbarang haram bisnis haram bulughul maram adab bulughul maram akhlak dampak harta haram halal haram makanan halal syubhat wara zuhud
Syubhat itu apa? Bagaimana menjauhinya? Daftar Isi tutup 1. Hadits #1477 2. Faedah dari hadits 2.1. Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: 2.2. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1477 عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ- وَأَهْوَى اَلنُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ: – إِنَّ اَلْحَلَالَ بَيِّنٌ, وَإِنَّ اَلْحَرَامَ بَيِّنٌ, وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ, لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ اَلنَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى اَلشُّبُهَاتِ, فَقَدِ اِسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ, وَمَنْ وَقَعَ فِي اَلشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي اَلْحَرَامِِ, كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ اَلْحِمَى, يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ, أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى, أَلَا وَإِنَّ حِمَى اَللَّهِ مَحَارِمُهُ, أَلَا وَإِنَّ فِي اَلْجَسَدِ مُضْغَةً, إِذَا صَلَحَتْ, صَلَحَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلَا وَهِيَ اَلْقَلْبُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan Nu’man memasukkan jarinya ke dalam dua telinganya, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599]   Faedah dari hadits Pertama: Dalam hadits disebutkan bahwa An-Nu’man memasukkan jari ke dalam kedua telinganya (Imam Muslim bersendirian dalam menyebutkan hal ini), ini menunjukkan bahwa ia mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagai sanggahan kepada Al-Waaqidi dan yang mengikuti pendapatnya yang menyatakan bahwa An-Nu’man tidak pernah mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena An-Nu’man umurnya delapan tahun ketika wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini juga jadi dalil bahwa anak mumayyiz (yang sudah tamyiz, meskipun belum baligh), mendengar hadits (hamlul hadits) di usia kecil lalu menyampaikan hadits (addal hadits) ketika sudah berusia baligh, maka haditsnya diterima. Kedua: Yang halal itu jelas maksudnya tidak butuh penjelasan, semua mengenalnya, di mana sudah dinashkan oleh Allah dan Rasul-Nya akan halalnya atau sudah ada ijmak kaum muslimin tentang halalnya. Contohnya, firman Allah “Wa ahallallahul bai’a” dalam surah Al-Baqarah ayat 275, yaitu Allah menghalalkan jual beli. Termasuk juga makanan, minuman, pakaian yang telah diketahui halalnya oleh orang banyak. Ketiga: Yang haram itu jelas, yaitu telah ada dalil tegas dari Allah dan Rasul-Nya, atau ijmak kaum muslimin akan keharamannya secara langsung. Misalnya dalam firman Allah “wa harromar ribaa” dalam surah Al-Baqarah ayat 275. Yang termasuk keharaman yang sudah jelas adalah zina, minum khamar, bangkai, babi, menikahi yang masih punya hubungan mahram, riba dan judi yang termasuk pekerjaan yang haram. Keempat: Perkara musytabihaat adalah perkara antara halal dan haram yang masih diragukan. Perkara ini tidak diketahui kebanyakan manusia antara halal dan haramnya. Hadits ini bukan maksudnya kebanyakan dari manusia tidak mengetahui kalau perkara ini musytabihaat. Mengenal hukum masalah ini bisa saja, tetapi hanya sedikit dari manusia yang mengetahuinya yaitu dari kalangan mujtahid (ahli berijtihad). Yang tidak mengetahui perkara musytabihaat ada dua kelompok yaitu: Yang tawaqquf (berdiam diri) karena tidak mengetahui hukumnya. Yang meyakini, tetapi tidak sesuai kenyataan. Seorang mujtahid juga bisa jadi masih samar (isytibaah) tentang dalil tanpa bisa menguatkan antara dua dalil.   Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: Dalil dianggap bertentangan, tidak dapat mengkompromikan (jam’ud daliil) dan tidak dapat melakukan tarjih (penguatan dalil). Ini dari sisi seorang mujtahid. Perbedaan ulama dalam memahami dalil perintah atau larangan. Para ulama berselisih pendapat dalam masalah perintah apakah dihukumi wajib ataukah sunnah. Begitu pula mereka berselisih dalam masalah larangan apakah haram ataukah makruh. Misalnya adalah perintah mandi Jumat, apakah wajib ataukah sunnah. Adapun dari sisi para muqallid (pengikut) ada perselisihan pendapat. Sikap wara’ (hati-hati) adalah tawaqquf (mencari jalan aman) dalam perkara syubhat, yaitu tetap melakukan mandi Jumat. Dalil yang masih sama dan belum sampainya pada seorang mujtahid karena hanya dinukil dari sedikit orang. Dalil tersebut barangkali tidak sampai pada kebanyakan ahli ilmu. Masalah ini masih jadi musytabihaat (samar) bagi seorang mujtahid. Ia baru bisa berfatwa jika ada dalil yang melarang ataukah membolehkan. Kelima: Siapa yang menjauhi syubhat dan membatasi diri, ia telah menjaga diri dan kehormatannya. Keenam: Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat, maka ia akan terjerumus dalam yang haram tanpa ia sadari. Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat karena menganggap remeh, akhirnya ia dengan sengaja terjatuh dalam yang haram. Ketujuh: “Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya”, maksudnya yang banyak terjerumus dalam syubhat lama kelamaan, ia akan melakukan yang haram, akhirnya ia mendapatkan hukum lantaran itu. Kedelapan: Syariat ini dibagi menjadi perkara halal, haram, dan syubhat. Kesembilan: Perkara syubhat itu tetap ada yang mengetahui yaitu para ulama mujtahidin karena mereka memiliki ilmu yang berlebih. Adapun untuk para muqallid (hanya jadi pengikut), ia hanya mengikuti orang yang berilmu yang lebih berilmu dan lebih wara’. Pemilihan seperti ini akan lebih dekat pada kebenaran. Kesepuluh: Hendaklah menjauhi perkara syubhat, yang masih diragukan antara halal dan haramnya. Sikap seperti ini lebih menunjukkan kehati-hatian dalam agama dan lebih menjaga kehormatan. Kehati-hatian dalam agama berarti terkait dirinya dengan Allah. Sedangkan lebih menjaga kehormatan artinya menghindarkan diri dari celaan manusia. Kesebelas: Sebagian salaf mengatakan, مَنْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلتُّهَمِ فَلَا يَلُوْمَنَّ مَنْ أَسَاءَ الظَّنَّ بِهِ “Siapa yang menjatuhkan diri dalam prasangka jelek orang, janganlah salahkan jika ada orang yang suuzhan padanya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hadits no. 6) Kedua belas: Hendaklah setiap orang memperhatikan muruah, kehormatan diri. Ibnu ‘Arafah menyatakan bahwa muruah adalah melakukan perkara mubah yang bila ditinggalkan akan mendapatkan celaan secara ‘urf atau meninggalkan perkara mubah yang bila dikerjakan akan mendapatkan celaan secara ‘urf. (Syarh Hudud Ibnu ‘Arafah, diambil dari dorar.net). Ketiga belas: Pentingnya urusan hati, kita harus memperbaiki keadaan hati. Jika hati baik, segala sesuatu akan baik. Jika hati rusak, yang lainnya akan ikut rusak. Hati yang baik adalah dengan cinta dan rasa takut kepada Allah. Keempat belas: Baiknya batin menunjukkan baiknya lahiriyah. Jeleknya batin menunjukkan jeleknya lahiriyah. Kelima belas: Di antara jalan sampainya ilmu adalah dengan memberikan permisalan dan contoh. Keenam belas: Bentuk zuhud dan wara’ adalah menjauhi perkara syubhat, mencukupkan dengan yang halal, dan menjauhi yang haram. Semoga manfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh. https://dorar.net/akhlaq/1344/معنى-المروءة-لغة-واصطلاحا Baca Juga: Syarhus Sunnah: Tidak Mudah Mengafirkan Orang dan Menjauhi Ahli Bi’dah Hadits Arbain #41: Mengikuti Sunnah Nabi, Tundukkan Hawa Nafsu — Desa Pelem, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Sabtu siang, 5 Rabiuts Tsani 1442 H (21 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbarang haram bisnis haram bulughul maram adab bulughul maram akhlak dampak harta haram halal haram makanan halal syubhat wara zuhud


Syubhat itu apa? Bagaimana menjauhinya? Daftar Isi tutup 1. Hadits #1477 2. Faedah dari hadits 2.1. Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: 2.2. Referensi:   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani  بَابُ الزُّهْدِ وَالوَرَعِ Bab Zuhud dan Wara’   Hadits #1477 عَنْ اَلنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ- وَأَهْوَى اَلنُّعْمَانُ بِإِصْبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ: – إِنَّ اَلْحَلَالَ بَيِّنٌ, وَإِنَّ اَلْحَرَامَ بَيِّنٌ, وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ, لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ اَلنَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى اَلشُّبُهَاتِ, فَقَدِ اِسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ, وَمَنْ وَقَعَ فِي اَلشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي اَلْحَرَامِِ, كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ اَلْحِمَى, يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ, أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى, أَلَا وَإِنَّ حِمَى اَللَّهِ مَحَارِمُهُ, أَلَا وَإِنَّ فِي اَلْجَسَدِ مُضْغَةً, إِذَا صَلَحَتْ, صَلَحَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلَا وَهِيَ اَلْقَلْبُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan Nu’man memasukkan jarinya ke dalam dua telinganya, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).’” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599]   Faedah dari hadits Pertama: Dalam hadits disebutkan bahwa An-Nu’man memasukkan jari ke dalam kedua telinganya (Imam Muslim bersendirian dalam menyebutkan hal ini), ini menunjukkan bahwa ia mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagai sanggahan kepada Al-Waaqidi dan yang mengikuti pendapatnya yang menyatakan bahwa An-Nu’man tidak pernah mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena An-Nu’man umurnya delapan tahun ketika wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini juga jadi dalil bahwa anak mumayyiz (yang sudah tamyiz, meskipun belum baligh), mendengar hadits (hamlul hadits) di usia kecil lalu menyampaikan hadits (addal hadits) ketika sudah berusia baligh, maka haditsnya diterima. Kedua: Yang halal itu jelas maksudnya tidak butuh penjelasan, semua mengenalnya, di mana sudah dinashkan oleh Allah dan Rasul-Nya akan halalnya atau sudah ada ijmak kaum muslimin tentang halalnya. Contohnya, firman Allah “Wa ahallallahul bai’a” dalam surah Al-Baqarah ayat 275, yaitu Allah menghalalkan jual beli. Termasuk juga makanan, minuman, pakaian yang telah diketahui halalnya oleh orang banyak. Ketiga: Yang haram itu jelas, yaitu telah ada dalil tegas dari Allah dan Rasul-Nya, atau ijmak kaum muslimin akan keharamannya secara langsung. Misalnya dalam firman Allah “wa harromar ribaa” dalam surah Al-Baqarah ayat 275. Yang termasuk keharaman yang sudah jelas adalah zina, minum khamar, bangkai, babi, menikahi yang masih punya hubungan mahram, riba dan judi yang termasuk pekerjaan yang haram. Keempat: Perkara musytabihaat adalah perkara antara halal dan haram yang masih diragukan. Perkara ini tidak diketahui kebanyakan manusia antara halal dan haramnya. Hadits ini bukan maksudnya kebanyakan dari manusia tidak mengetahui kalau perkara ini musytabihaat. Mengenal hukum masalah ini bisa saja, tetapi hanya sedikit dari manusia yang mengetahuinya yaitu dari kalangan mujtahid (ahli berijtihad). Yang tidak mengetahui perkara musytabihaat ada dua kelompok yaitu: Yang tawaqquf (berdiam diri) karena tidak mengetahui hukumnya. Yang meyakini, tetapi tidak sesuai kenyataan. Seorang mujtahid juga bisa jadi masih samar (isytibaah) tentang dalil tanpa bisa menguatkan antara dua dalil.   Adapun sebab terjadi kesamaran dalam memahami dalil karena: Dalil dianggap bertentangan, tidak dapat mengkompromikan (jam’ud daliil) dan tidak dapat melakukan tarjih (penguatan dalil). Ini dari sisi seorang mujtahid. Perbedaan ulama dalam memahami dalil perintah atau larangan. Para ulama berselisih pendapat dalam masalah perintah apakah dihukumi wajib ataukah sunnah. Begitu pula mereka berselisih dalam masalah larangan apakah haram ataukah makruh. Misalnya adalah perintah mandi Jumat, apakah wajib ataukah sunnah. Adapun dari sisi para muqallid (pengikut) ada perselisihan pendapat. Sikap wara’ (hati-hati) adalah tawaqquf (mencari jalan aman) dalam perkara syubhat, yaitu tetap melakukan mandi Jumat. Dalil yang masih sama dan belum sampainya pada seorang mujtahid karena hanya dinukil dari sedikit orang. Dalil tersebut barangkali tidak sampai pada kebanyakan ahli ilmu. Masalah ini masih jadi musytabihaat (samar) bagi seorang mujtahid. Ia baru bisa berfatwa jika ada dalil yang melarang ataukah membolehkan. Kelima: Siapa yang menjauhi syubhat dan membatasi diri, ia telah menjaga diri dan kehormatannya. Keenam: Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat, maka ia akan terjerumus dalam yang haram tanpa ia sadari. Siapa yang terjerumus dalam yang syubhat karena menganggap remeh, akhirnya ia dengan sengaja terjatuh dalam yang haram. Ketujuh: “Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya”, maksudnya yang banyak terjerumus dalam syubhat lama kelamaan, ia akan melakukan yang haram, akhirnya ia mendapatkan hukum lantaran itu. Kedelapan: Syariat ini dibagi menjadi perkara halal, haram, dan syubhat. Kesembilan: Perkara syubhat itu tetap ada yang mengetahui yaitu para ulama mujtahidin karena mereka memiliki ilmu yang berlebih. Adapun untuk para muqallid (hanya jadi pengikut), ia hanya mengikuti orang yang berilmu yang lebih berilmu dan lebih wara’. Pemilihan seperti ini akan lebih dekat pada kebenaran. Kesepuluh: Hendaklah menjauhi perkara syubhat, yang masih diragukan antara halal dan haramnya. Sikap seperti ini lebih menunjukkan kehati-hatian dalam agama dan lebih menjaga kehormatan. Kehati-hatian dalam agama berarti terkait dirinya dengan Allah. Sedangkan lebih menjaga kehormatan artinya menghindarkan diri dari celaan manusia. Kesebelas: Sebagian salaf mengatakan, مَنْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلتُّهَمِ فَلَا يَلُوْمَنَّ مَنْ أَسَاءَ الظَّنَّ بِهِ “Siapa yang menjatuhkan diri dalam prasangka jelek orang, janganlah salahkan jika ada orang yang suuzhan padanya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hadits no. 6) Kedua belas: Hendaklah setiap orang memperhatikan muruah, kehormatan diri. Ibnu ‘Arafah menyatakan bahwa muruah adalah melakukan perkara mubah yang bila ditinggalkan akan mendapatkan celaan secara ‘urf atau meninggalkan perkara mubah yang bila dikerjakan akan mendapatkan celaan secara ‘urf. (Syarh Hudud Ibnu ‘Arafah, diambil dari dorar.net). Ketiga belas: Pentingnya urusan hati, kita harus memperbaiki keadaan hati. Jika hati baik, segala sesuatu akan baik. Jika hati rusak, yang lainnya akan ikut rusak. Hati yang baik adalah dengan cinta dan rasa takut kepada Allah. Keempat belas: Baiknya batin menunjukkan baiknya lahiriyah. Jeleknya batin menunjukkan jeleknya lahiriyah. Kelima belas: Di antara jalan sampainya ilmu adalah dengan memberikan permisalan dan contoh. Keenam belas: Bentuk zuhud dan wara’ adalah menjauhi perkara syubhat, mencukupkan dengan yang halal, dan menjauhi yang haram. Semoga manfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh. https://dorar.net/akhlaq/1344/معنى-المروءة-لغة-واصطلاحا Baca Juga: Syarhus Sunnah: Tidak Mudah Mengafirkan Orang dan Menjauhi Ahli Bi’dah Hadits Arbain #41: Mengikuti Sunnah Nabi, Tundukkan Hawa Nafsu — Desa Pelem, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Sabtu siang, 5 Rabiuts Tsani 1442 H (21 November 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbarang haram bisnis haram bulughul maram adab bulughul maram akhlak dampak harta haram halal haram makanan halal syubhat wara zuhud

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan: harus lulus dulu, harus satu suku, harus dekat-dekat saja, harus PNS, harus kaya, dan lain-lain. Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).Baca Juga: Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non MuslimDan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه“Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya: berikan nasehat yang baik pada orang tua, gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut, cari waktu yang tepat, beri hadiah, tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga, coba berkali-kali, dan minta hidayah dari Allah untuk orang tua. Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.Baca Juga: Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah? 6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercayaJika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa: ustazmu atau ustazahmu, temanmu yang shaleh dan dipercaya, karib kerabatmu yang bisa dipercaya, saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain. Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).7. Berdoa dan istikharahJangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).Allah ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.Baca Juga:Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Keutamaan dan Keberkahan Waktu Pagi

Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112

Keutamaan dan Keberkahan Waktu Pagi

Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112
Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112


Kebiasaan Salafus Shalih di Pagi HariDiriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Waa’il radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Kami mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud di pagi hari setelah salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu, kemudian kami diizinkan untuk masuk. Kami pun menunggu sejenak. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Mengapa kalian tidak masuk ?’ Kemudian kami masuk ke dalam rumah sementara ‘Abdullah bin Mas’ud sedang duduk sambil berzikir. Beliau berkata kepada kami, ‘Apa yang menghalangi kalian untuk segera masuk padahal sudah aku beri izin?’ Kami menjawab, ‘Kami mengira sebagian anggota keluargamu sedang tidur.’ Beliau berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa keluargaku adalah orang yang lalai?’Kemudian beliau pun terus melanjutkan berzikir hingga kira-kira matahari telah terbit. Beliau memerintahkan kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun melihat keluar. Apabila ternyata belum terbit, maka beliau melanjutkan berzikir. Apabila beliau menyangka matahari telah terbit, beliau pun memerintahkan kembali kepada budaknya, ‘Lihatlah apakah matahari sudah terbit?’ Budaknya pun kembali melihat keluar. Apabila matahari sudah terbit, maka beliau mengucapkan,الحمد لله الذي أقالنا يومنا هذا، ولم يُهلكنا بذنوبنا‘Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami pada pagi hari ini dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami. ’” (HR. Muslim no. 822)Kisah di atas menjadi renungan tentang berharganya waktu -terutama waktu subuh- bagi para salafus shalih, khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka pun bersemangat untuk mengisinya dengan kebaikan karena mengetahui tentang keutamaan yang ada di dalamnya.Waktu kunjungan Abu Waa’il ke kediaman ‘Abdullah Ibnu Mas’ud adalah waktu yang berharga dan penuh berkah. Ini adalah waktu untuk berzikir kepada Allah dan waktu untuk bersungguh-sungguh serta bersemangat berbuat kebaikan. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan dan meremehkannya dan tidak mengetahui keagungan yang ada di dalamnya sehingga akhirnya menyepelekannya, baik dengan tidur, bermalas-malasan, kegiatan sia-sia, atau kesibukan lain yang tidak penting.Baca Juga: Antara Tidur dan Waktu Shalat yang TerlewatkanKeberkahan Waktu Pagi Bagi orang yang menjaga zikir di waktu pagi akan menjadikan dirinya memiliki kekuatan dalam sepanjang harinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,خضرت شيخ الإسلام ابن تيميه مرةً صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليّ وقال: هذه غدوتي ، ولو لَم أتغذَّ هذا الغِذاء سقطت قوتي، أو كلاماً قريباً من هذا“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah salat Subuh. Kemudian setelahnya beliau berzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah aktifitas sarapanku di pagi hari. Jika aku tidak sarapan dengan makanan ini (zikir), maka kekuatanku akan hilang – atau ucapan yang semisal ini – ’” (Al Waabilus Shayyib)Dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar memberi keberkahan di waktu pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اللهم بارك لأمتي في بكورها“Ya Allah, berilah keberkahan bagi umatku di pagi harinya.“Di antara kebiasan Nabi adalah ketika mengutus pasukan, maka beliau mengutusnya di pagi hari. Sahabat Shakr radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang. Beliau biasa mengirim dagangannya sejak pagi hari sehingga dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud)Baca Juga: Waktu Tidur Ideal Seorang MuslimDibenci Tidur di Pagi Hari Memperhatikan pentingnya waktu ini dan agungnya keberkahan di dalamnya serta banyaknya kebaikan yang ada, maka para salafus shalih terdahulu membenci tidur dan menyia-nyiakan waktu pagi dengan bermalas-malasan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,“Termasuk perbuatan yang dibenci para salafus shalih adalah tidur antara subuh dan terbitnya matahari karena itu adalah waktu yang sangat berharga. Siapa yang melewati waktu tersebut akan mendapat keuntungan yang besar.  Sampai-sampai apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rezeki, waktunya pembagian, dan waktu datangnya keberkahan. Dari situlah bermulanya perjalanan hari dan semua hukum yang terjadi. Semestinya tidur di waktu itu akan menjadi tidur yang gelisah dan tidak nyenyak.”Di antara atsar dari salaf mengenai pentingnya waktu pagi adalah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika beliau melihat anaknya tidur di waktu pagi. Beliau menegur dengan mengucapkan,قُم، أتنام في الساعة التي تقسَّم فيه الأرزاق“Bangun! Apakah Engkau tidur pada waktu di mana rezeki sedang dibagikan?”Demkianlah beberapa penjelasan mengenai keutamaan pagi hari setelah Subuh dan keberkahannya serta semangat para salafus shalih untuk beramal di waktu tersebut. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis: Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idSumber bacaan  : https://www.al-badr.net/ebook/112

Penjelasan Hadits: “Allah Menciptakan Adam dalam Bentuk-Nya”

Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Penjelasan Hadits: “Allah Menciptakan Adam dalam Bentuk-Nya”

Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Terdapat sebuah hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk-Nya. Bagaimana maksud hadis ini? Simak penjelasan ringkas berikut.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya. Tinggi beliau 60 hasta.” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).Dalam riwayat Muslim,إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [5/217] mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).Apakah maksud “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya”? Apakah hadis ini menyamakan Allah dengan Nabi Adam ‘alahissalam? Bukankah Allah ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11).Dan tidak boleh mengatakan bahwa dhamir “hi” dalam kata صُورَتِهِ di sini kembali kepada selain Allah. Ini adalah tahrif dan merupakan mazhab Jahmiyah. Syaikh Hamud bin Abdillah At Tuwaijiri mengatakan,والقول بأن الضمير فيه عائد إلى غير الله تعالى هو قول الجهمية ومن تبعهم على قولهم الباطل من علماء أهل السنة في المائة الثالثة فما بعدها“Pendapat yang mengatakan bahwa dhamir dalam hadis tersebut kembali kepada selain Allah, ini adalah pendapat Jahmiyah dan juga sebagian ulama Ahlussunnah yang mengikuti pendapat batil Jahmiyah dalam hal ini, di tahun 300 an Hijriyah dan setelahnya.” (Aqidatu Ahlil Iman fi Khalqi Adama ‘ala Shuratir Rahman, 1/6).Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinPenjelasan SingkatMasalah ini dijelaskan dengan ringkas dan baik oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan,“Jawaban umumnya, kita katakan, tidak mungkin hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Jika bisa dikompromikan, maka wajib dikompromikan. Jika tidak mampu mengkompromikan, maka cukup katakan,آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ  رَبِّنَا“Kami beriman kepada dalil tersebut, semuanya datang dari Rabb kami” (QS. Ali Imran: 7).Dan kita meyakini bahwa Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya. Dengan demikian anda akan selamat di hadapan Allah ‘azza wa jalla.Yang satu adalah kalamullah, yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya. Maka semuanya benar, tidak mungkin saling mendustakan satu sama lain. Karena semuanya dalam bentuk khabar, bukan dalam bentuk penyebutan hukum yang bisa di-nasakh (dihapus). Dan saya katakan, ayat tersebut menafikan adanya yang semisal dengan Allah, sedangkan hadis menetapkan adanya shurah (bentuk). Maka cukup katakan, “sesungguhnya Allah tidak semisal dengan satu apapun dan Allah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya, yang satu adalah kalamullah dan yang satu lagi adalah sabda Rasul-Nya, semuanya benar dan kami mengimaninya”. Dan juga katakan: “semuanya datang dari Rabb kami”. Kemudian setelah itu diam (tidak menambah apa-apa lagi), inilah maksimal yang bisa kita katakan (jika tidak mampu mengkompromikannya).Perincian JawabanAdapun jawaban secara detailnya dirinci sebagai berikut:Pertama:Kita katakan, yang mengatakan bahwa “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan beliau juga yang menyampaikan wahyu (yang artinya) “Tidak ada yang semisal dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11). Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mungkin berpaling dari apa yang beliau sampaikan.Dan juga orang yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” adalah orang yang sama yang juga bersabda,إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).Maka apakah dari sini anda meyakini bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya? Ataukah anda meyakini bahwa mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan?Jika anda meyakini kemungkinan yang pertama, berarti anda meyakini bahwa penduduk surga tidak punya mata, tidak punya hidung, tidak punya mulut? Kalau demikian maka mereka masuk surga dalam bentuk seperti batu! Namun jika  anda meyakini kemungkinan yang kedua, maka hilanglah isykal (kebingungan). Dan jelaslah bahwa ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya.Jika anda tidak terima dengan jawaban ini, dan anda belum bisa memahaminya, dan anda mengatakan: “saya tidak paham penjelasan anda, saya tetap merasa hadis tersebut menyamakan Allah dengan makhluk”. Maka, baiklah, ada jawaban yang kedua.Baca Juga: Derajat Hadits Larangan Menasehati Penguasa Terang-TeranganKedua:Bentuk idhafah صورته (bentuk-Nya) dalam hadis tersebut, merupakan idhafah (penyandaran) makhluk kepada Khaliq-nya (yaitu Allah). Maka lafadz على صورته (dalam bentuk-Nya) ini semisal dengan firman Allah ‘azza wa jalla tentang Nabi Adam,وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي“Aku tiupkan ruh-Ku pada Adam” (QS. Shad: 72).Tentu tidak mungkin Allah memberikan sebagian dari ruh Allah kepada Adam. Namun maksudnya, Allah meniupkan ruh yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan, kepada Adam. Namun Allah idhafah-kan dengan diri-Nya dalam rangka pemuliaan kepada Adam. Sebagaimana jika kita menyebut kata: ibaadullah (hamba Allah). Kata “hamba Allah” di sini mencakup orang kafir, orang muslim, orang mukmin, para syuhada, para ash shiddiq dan para Nabi. Namun kalau kita berkata, “Muhammad hamba Allah”, maka ini idhafah yang khusus, tidak sebagaimana yang penyebutan hamba sebelumnya.Maka lafaz “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” maknanya adalah: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana dalam ayat,لَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ“Telah kami ciptakan kalian, kemudian kami bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: sujudlah kepada Adam” (QS. Al A’raf: 11).Yang dibentuk oleh Allah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Maka bisa kita katakan “Adam dalam bentuk-Nya”, yaitu:  dalam bentuk yang merupakan ciptaan Allah. Dalam bentuk yang Allah siapkan sebagai bentuk yang terbaik di antara para makhluk. Allah berfirman:لَقَدْ خَلَقْنَا الأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk” (QS. At Tin: 4).Maka menyandarkan shurah dengan nama Allah (sehingga menjadi kata “bentuk-Nya”), ini dalam rangka pemuliaan. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla ingin memberikan peringatan pada perihal bentuk shurah tersebut. Karena sebab (pemuliaan) itulah, dilarang memukul wajah (sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar), yang ini akan menghinakan wajah secara fisik. Juga tidak boleh mencela wajah dengan berkata: qabbahallahu wajhak (semoga Allah memburukkan wajahmu), yang ini akan menghinakan wajah secara maknawi. Karena bentuk manusia adalah bentuk yang Allah buat dan Allah sandarkan kepada diri-Nya dalam rangka memuliakanya, maka tidak boleh menghinakannya secara fisik maupun maknawi.Kemudian, jawaban yang kedua ini, apakah termasuk tahrif (mengubah makna) ataukah lahu nazhir (memiliki sisi pandang yang masih ditoleransi secara bahasa)? Kita katakan, ia lahu nazhir. Sebagaimana kata baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), abdullah (hamba Allah). Karena bentuk dari Adam itu bukan bagian dari diri Allah. Dan semua yang Allah sandarkan pada dirinya (semisal: baitullah, naaqatullah, abdullah), bukan bagian dari diri Allah. Dan mereka semua adalah makhluk. Dengan demikian, telah hilangkan kerancuan.Namun jika ada yang bertanya: “mana jawaban yang paling selamat dari dua jawaban di atas?”. Kita katakan, jawaban yang pertama lebih selamat. Karena selama kita bisa memaknai lafaz dalil sebagaimana makna zahirnya dalam bahasa Arab, dan dapat diterima oleh akal, maka wajib untuk memaknainya demikian. Dan kita telah jelaskan bahwa lafaz shurah dikatakan seperti shurah yang lain, tidak berarti keduanya semisal. Sehingga ini jawaban yang lebih selamat yaitu kita makna secara zahirnya.(Syarah Al Aqidah Al Wasithiyyah, 1/108 – 110).Dari penjelasan beliau di atas, makna “Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” ada dua kemungkinan makna: Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk Allah secara hakiki. Namun, bukan berarti sama dalam keseluruhan sisinya. Karena dalam bahasa Arab, ketika sesuatu dikatakan ‘ala shurati sya’in (berbentuk sesuatu yang lain), bukan berarti dua hal ini semisal dalam segala sisinya. Jadi tetap saja, Allah tidak sama dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, dan Alalh tidak semisal dengan suatu apapun. Bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam suatu shurah (bentuk) yang merupakan ciptaan Allah. Baca Juga:Demikian semoga bisa dipahami. Wallahu ta’ala a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Bagaimanakah Para Salaf Menjaga Takbiratul Ihram Bersama Imam

Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Bagaimanakah Para Salaf Menjaga Takbiratul Ihram Bersama Imam

Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.


Keutamaan membersamai imam dalam takbiraul ihramDari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ“Barangsiapa salat berjamaah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no. 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)Hadis yang mulia ini menjelaskan betapa besarnya pahala bagi siapa saja yang menjaga takbiratul ihram dan memberikan perhatian besar agar bisa senantiasa membersamai imam dalam takbiratul ihram dan tidak terluput darinya. Bukanlah maksud di atas bahwa seseorang membersamai takbiratul ihram bersama imam selama empat puluh hari, setelah itu berhenti. Akan tetapi, yang dimaksud adalah jika hal itu bisa dilakukan selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah, hilanglah beban ketika beribadah, sehingga dia akhirnya bisa istikamah dan konsisten dalam kondisi seperti itu seterusnya. Tentunya dengan hidayah dan taufik dari Allah Ta’ala.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,“Dalam masa empat puluh hari, seseorang berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan di perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula (empat puluh hari, pent.). Lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134)Membersamai imam dalam takbiratul ihram adalah sunah yang ditekankan. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ صَلَّى لِلَّهِmaksudnya, dia benar-benar ikhlas dari dalam hatinya, bukan karena riya ataupun karena sum’ah (ingin dilihat atau didengar oleh orang lain).التَّكْبِيرَةَ الأُولَىMaksudnya, takbiratul ihram bersama imam.بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِMaksudnya, dia terbebas dan selamat dari api neraka.وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِMaksudnya, di dunia dia akan terbebas dari beramal sebagaimana amal orang-orang munafik. Juga terbebas dari azab sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang-orang munafik ketika di akhirat.Bagaimanakah para salaf menjaga takbiratul ihram bersama imamPara ulama salaf sangat memperhatikan takbiratul ihram bersama imam ini, dan menempatkannya dalam kedudukan yang tinggi dan mulia.Waki’ bin Al-Jarrah rahimahullah berkata,كان الأعمش قريبا من سبعين سنة لم تفته التكبيرة الأولى ، واختلفت إليه قريبا من ستين ، فما رأيته يقضي ركعة“Dulu Al-A’masy rahimahullah hampir selama tujuh puluh tahun tidak pernah terluput takbir pertama (dalam salat jama’ah). Aku sering mondar-mandir ke tempat beliau sekitar enam puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihatnya terluput satu rakaat sekali pun.” (Hilyatul Auliya’, 5: 49)Baca Juga: Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat BerjamaahGhassaan Al-Ghulabi rahimahullah berkata, “Anak laki-laki saudaraku, Bisyr bin Manshur, mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat pamanku tertinggal dari takbiratul ihram (bersama imam).’” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 360)Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram sejak lima puluh tahun. Dan aku tidak pernah melihat tengkuk orang lain ketika salat selama lima puluh tahun.” (Hilyatul Auliya’, 2: 163)Hal ini karena beliau selalu berada di shaf pertama.Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Aku tinggal selama empat puluh tahun, dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram bersama imam. Kecuali pada satu hari ketika ibuku meninggal dunia, maka aku tertinggal satu salat jamaah.” (Tarikh Baghdad, 3: 298, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 10: 646)Abu Daud rahimahullah berkata,كَانَ إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ رَجُلًا صَالِحًا، قَتَلَهُ أَبُو مُسْلِمٍ بِعَرَنْدَسَ، قَالَ: وَكَانَ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ فَسَمِعَ النِّدَاءَ سَيَّبَهَا“Ibrahim Ash-Shaigh adalah orang saleh. Dia dibunuh oleh Abu Muslim di ‘Arandas. ‘Atho` berkata, “Apabila dia mengangkat palu kemudian mendengar suara azan, maka ia meninggalkannya (untuk segera pergi ke masjid, pent.).” (Sunan Abu Dawud no. 3254)Ibrahim At-Taimi rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang meremehkan takbiratul ihram bersama imam, maka bersihkanlah tanganmu darinya (jauhilah dia, pent.).” (Tarikh Baghdad, 4: 215, Siyar A’laam An-Nubalaa’, 5: 62)Nasihat untuk para penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi)Di antara wasiat yang berharga bari para penuntut ilmu adalah wasiat Imam Abu Hanifah rahimahullah ke salah seorang muridnya, yaitu Abu Yusuf rahimahullah, “Jika muazin sudah mengumandangkan azan, bersegeralah menuju masjid, agar tidak ada orang awam yang mendahuluimu.” (Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 467, karya Ibnu Nujaim rahimahullah)Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata,“Kakekku adalah seorang hamba yang saleh, semoga Allah Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya di surga Firdaus. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hal ini (yaitu membersamai imam ketika takbiratul ihram). Sejak kami mengetahui keadaannya, dia setiap hari masuk masjid sebelum azan salat Ashar. Demikian pula setiap kali salat Isya dia keluar (menuju masjid), demikian pula dia ke masjid untuk salat Subuh dan Zuhur.Aku ingat bahwa beberapa penuntut ilmu bertanya kepada ayahku (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin hafizhahullah), dan ketika itu kakekku juga hadir, tentang status kesahihan hadis tersebut.  Ayahku menjawab bahwa hadis tersebut sahih.Lalu salah seorang di antara mereka mengatakan, “Siapa yang mampu melakukannya?”Ketika kakekku keluar dari majelis tersebut, dan aku berjalan bersama kakekku, kakekku berulang kali mengatakan (dengan nada heran), “Siapa yang mampu melakukannya?”Kakekku pun bertakbir karena heran ada perkataan semisal itu, lebih-lebih perkataan itu diucapkan oleh seorang penuntut ilmu agama (thalibul ‘ilmi).” (Ta’zhiim Ash-Shalaat, hal. 70)Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah dan taufik agar senantiasa menjaga salat dan bisa membersamai imam ketika takbiratul ihram.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 14 Rabi’ul awwal 1442/ 31 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 68-70, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Prev     Next