Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 1)

Di manakah Allah?Di antara masalah yang disepelekan dan diremehkan oleh kaum muslimin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang sederhana yaitu, ”Di manakah Allah?” Buktinya, kalau kita sampaikan pertanyaan ini kepada mereka maka mungkin akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur. Pertama, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada di mana-mana atau di segala tempat. Kedua, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada dalam diri atau hati kita. Sedangkan yang lain mungkin akan menjawab, ”Saya tidak tahu.”Padahal kalau mereka mau berfikir sejenak, orang yang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala berada di setiap tempat atau Allah Ta’ala berada di mana-mana, konsekuensinya adalah menetapkan keberadaan Allah di jalan-jalan, di pasar, bahkan di tempat-tempat kotor seperti di parit, WC, tempat sampah, dan lainnya. Oleh karena itu, kita katakan kepada mereka,سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ“Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 91)Kalau memang Allah Ta’ala itu berada di mana-mana, lalu buat apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas langit untuk menerima perintah shalat dalam peristiwa isra’ mi’raj? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup menemui Allah Ta’ala di pojok kamarnya atau di ruang tamu rumahnya, dan tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan yang jauh (dan tidak masuk akal bagi kaum musyrikin ketika itu) untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam rangka menerima perintah shalat. Mengapa mereka tidak memperhatikan hal ini, padahal hampir setiap tahun mungkin mereka memperingati peristiwa isra’ mi’raj ini?Dan sama halnya juga dengan orang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala ada dalam setiap diri kita, karena konsekuensinya Allah Ta’ala itu banyak, sebanyak bilangan makhluk. Kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta, maka sebanyak itu pula jumlah Allah di Indonesia, karena Allah berada dalam diri setiap hamba-Nya. Sehingga kalau kita cermati, aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidah kaum Nasrani yang “hanya” mengakui adanya tiga tuhan (aqidah trinitas).Kalau Allah Ta’ala itu ada dalam setiap diri kita dan menyatu dengan diri kita, maka konsekuensinya adalah “Allah adalah saya dan saya adalah Allah!” Kalau sudah begini, siapa memerintahkan siapa? Maka aqidah inilah yang menjadi senjata orang-orang Sufi untuk menolak menjalankan kewajiban yang dibebankan syari’at. Karena dia meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan dirinya, maka dia tidak perlu shalat, puasa, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, karena dialah Allah! Na’udzu billah min dzalika.Lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena konsekuensinya berarti Allah itu tidak ada (??). Maka siapa Tuhan yang mereka sembah selama ini?Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan, “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan sifat-sifat yang salah satunya adalah bahwa Dia ber-istiwa’ (tinggi) di atas ‘arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kami tidak tahu” nyata-nyata telah berpaling dari maksud Allah Ta’ala.Yang mengherankan adalah, bagaimana mungkin kaum muslimin tidak mengetahui di mana Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala berfirman,الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas ‘arsy.” (QS. Thaha [20]: 5)Dalam Tafsir Jalalain disebutkan ketika menjelaskan ayat ini,اسْتِوَاء يَلِيق بِهِ“Istiwaa’ yang sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala.” (Tafsir Jalalain, 1/406)Dan dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘arsy.” (QS. Al-A’raf [7]: 54)’Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali. [1][Bersambung]Baca juga: Akidah Imam Asy Syafi’i Mengenai Istiwa Allah Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy ***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Penjelasan tentang ‘arsy dapat dilihat di tautan berikut ini: Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy🔍 Hadits 73 Golongan, Hukum Bermusik Dalam Islam, Arti Murajaah, Doa Di Bulan Muharram, Ayat Untuk Meruqyah Diri Sendiri

Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’ (Bag. 1)

Di manakah Allah?Di antara masalah yang disepelekan dan diremehkan oleh kaum muslimin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang sederhana yaitu, ”Di manakah Allah?” Buktinya, kalau kita sampaikan pertanyaan ini kepada mereka maka mungkin akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur. Pertama, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada di mana-mana atau di segala tempat. Kedua, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada dalam diri atau hati kita. Sedangkan yang lain mungkin akan menjawab, ”Saya tidak tahu.”Padahal kalau mereka mau berfikir sejenak, orang yang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala berada di setiap tempat atau Allah Ta’ala berada di mana-mana, konsekuensinya adalah menetapkan keberadaan Allah di jalan-jalan, di pasar, bahkan di tempat-tempat kotor seperti di parit, WC, tempat sampah, dan lainnya. Oleh karena itu, kita katakan kepada mereka,سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ“Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 91)Kalau memang Allah Ta’ala itu berada di mana-mana, lalu buat apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas langit untuk menerima perintah shalat dalam peristiwa isra’ mi’raj? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup menemui Allah Ta’ala di pojok kamarnya atau di ruang tamu rumahnya, dan tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan yang jauh (dan tidak masuk akal bagi kaum musyrikin ketika itu) untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam rangka menerima perintah shalat. Mengapa mereka tidak memperhatikan hal ini, padahal hampir setiap tahun mungkin mereka memperingati peristiwa isra’ mi’raj ini?Dan sama halnya juga dengan orang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala ada dalam setiap diri kita, karena konsekuensinya Allah Ta’ala itu banyak, sebanyak bilangan makhluk. Kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta, maka sebanyak itu pula jumlah Allah di Indonesia, karena Allah berada dalam diri setiap hamba-Nya. Sehingga kalau kita cermati, aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidah kaum Nasrani yang “hanya” mengakui adanya tiga tuhan (aqidah trinitas).Kalau Allah Ta’ala itu ada dalam setiap diri kita dan menyatu dengan diri kita, maka konsekuensinya adalah “Allah adalah saya dan saya adalah Allah!” Kalau sudah begini, siapa memerintahkan siapa? Maka aqidah inilah yang menjadi senjata orang-orang Sufi untuk menolak menjalankan kewajiban yang dibebankan syari’at. Karena dia meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan dirinya, maka dia tidak perlu shalat, puasa, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, karena dialah Allah! Na’udzu billah min dzalika.Lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena konsekuensinya berarti Allah itu tidak ada (??). Maka siapa Tuhan yang mereka sembah selama ini?Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan, “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan sifat-sifat yang salah satunya adalah bahwa Dia ber-istiwa’ (tinggi) di atas ‘arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kami tidak tahu” nyata-nyata telah berpaling dari maksud Allah Ta’ala.Yang mengherankan adalah, bagaimana mungkin kaum muslimin tidak mengetahui di mana Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala berfirman,الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas ‘arsy.” (QS. Thaha [20]: 5)Dalam Tafsir Jalalain disebutkan ketika menjelaskan ayat ini,اسْتِوَاء يَلِيق بِهِ“Istiwaa’ yang sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala.” (Tafsir Jalalain, 1/406)Dan dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘arsy.” (QS. Al-A’raf [7]: 54)’Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali. [1][Bersambung]Baca juga: Akidah Imam Asy Syafi’i Mengenai Istiwa Allah Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy ***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Penjelasan tentang ‘arsy dapat dilihat di tautan berikut ini: Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy🔍 Hadits 73 Golongan, Hukum Bermusik Dalam Islam, Arti Murajaah, Doa Di Bulan Muharram, Ayat Untuk Meruqyah Diri Sendiri
Di manakah Allah?Di antara masalah yang disepelekan dan diremehkan oleh kaum muslimin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang sederhana yaitu, ”Di manakah Allah?” Buktinya, kalau kita sampaikan pertanyaan ini kepada mereka maka mungkin akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur. Pertama, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada di mana-mana atau di segala tempat. Kedua, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada dalam diri atau hati kita. Sedangkan yang lain mungkin akan menjawab, ”Saya tidak tahu.”Padahal kalau mereka mau berfikir sejenak, orang yang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala berada di setiap tempat atau Allah Ta’ala berada di mana-mana, konsekuensinya adalah menetapkan keberadaan Allah di jalan-jalan, di pasar, bahkan di tempat-tempat kotor seperti di parit, WC, tempat sampah, dan lainnya. Oleh karena itu, kita katakan kepada mereka,سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ“Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 91)Kalau memang Allah Ta’ala itu berada di mana-mana, lalu buat apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas langit untuk menerima perintah shalat dalam peristiwa isra’ mi’raj? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup menemui Allah Ta’ala di pojok kamarnya atau di ruang tamu rumahnya, dan tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan yang jauh (dan tidak masuk akal bagi kaum musyrikin ketika itu) untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam rangka menerima perintah shalat. Mengapa mereka tidak memperhatikan hal ini, padahal hampir setiap tahun mungkin mereka memperingati peristiwa isra’ mi’raj ini?Dan sama halnya juga dengan orang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala ada dalam setiap diri kita, karena konsekuensinya Allah Ta’ala itu banyak, sebanyak bilangan makhluk. Kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta, maka sebanyak itu pula jumlah Allah di Indonesia, karena Allah berada dalam diri setiap hamba-Nya. Sehingga kalau kita cermati, aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidah kaum Nasrani yang “hanya” mengakui adanya tiga tuhan (aqidah trinitas).Kalau Allah Ta’ala itu ada dalam setiap diri kita dan menyatu dengan diri kita, maka konsekuensinya adalah “Allah adalah saya dan saya adalah Allah!” Kalau sudah begini, siapa memerintahkan siapa? Maka aqidah inilah yang menjadi senjata orang-orang Sufi untuk menolak menjalankan kewajiban yang dibebankan syari’at. Karena dia meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan dirinya, maka dia tidak perlu shalat, puasa, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, karena dialah Allah! Na’udzu billah min dzalika.Lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena konsekuensinya berarti Allah itu tidak ada (??). Maka siapa Tuhan yang mereka sembah selama ini?Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan, “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan sifat-sifat yang salah satunya adalah bahwa Dia ber-istiwa’ (tinggi) di atas ‘arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kami tidak tahu” nyata-nyata telah berpaling dari maksud Allah Ta’ala.Yang mengherankan adalah, bagaimana mungkin kaum muslimin tidak mengetahui di mana Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala berfirman,الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas ‘arsy.” (QS. Thaha [20]: 5)Dalam Tafsir Jalalain disebutkan ketika menjelaskan ayat ini,اسْتِوَاء يَلِيق بِهِ“Istiwaa’ yang sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala.” (Tafsir Jalalain, 1/406)Dan dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘arsy.” (QS. Al-A’raf [7]: 54)’Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali. [1][Bersambung]Baca juga: Akidah Imam Asy Syafi’i Mengenai Istiwa Allah Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy ***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Penjelasan tentang ‘arsy dapat dilihat di tautan berikut ini: Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy🔍 Hadits 73 Golongan, Hukum Bermusik Dalam Islam, Arti Murajaah, Doa Di Bulan Muharram, Ayat Untuk Meruqyah Diri Sendiri


Di manakah Allah?Di antara masalah yang disepelekan dan diremehkan oleh kaum muslimin adalah jawaban dari sebuah pertanyaan yang sederhana yaitu, ”Di manakah Allah?” Buktinya, kalau kita sampaikan pertanyaan ini kepada mereka maka mungkin akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur. Pertama, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada di mana-mana atau di segala tempat. Kedua, mereka mengatakan bahwasanya Allah ada dalam diri atau hati kita. Sedangkan yang lain mungkin akan menjawab, ”Saya tidak tahu.”Padahal kalau mereka mau berfikir sejenak, orang yang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala berada di setiap tempat atau Allah Ta’ala berada di mana-mana, konsekuensinya adalah menetapkan keberadaan Allah di jalan-jalan, di pasar, bahkan di tempat-tempat kotor seperti di parit, WC, tempat sampah, dan lainnya. Oleh karena itu, kita katakan kepada mereka,سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ“Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 91)Kalau memang Allah Ta’ala itu berada di mana-mana, lalu buat apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas langit untuk menerima perintah shalat dalam peristiwa isra’ mi’raj? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup menemui Allah Ta’ala di pojok kamarnya atau di ruang tamu rumahnya, dan tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan yang jauh (dan tidak masuk akal bagi kaum musyrikin ketika itu) untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dalam rangka menerima perintah shalat. Mengapa mereka tidak memperhatikan hal ini, padahal hampir setiap tahun mungkin mereka memperingati peristiwa isra’ mi’raj ini?Dan sama halnya juga dengan orang yang mengatakan bahwasanya Allah Ta’ala ada dalam setiap diri kita, karena konsekuensinya Allah Ta’ala itu banyak, sebanyak bilangan makhluk. Kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta, maka sebanyak itu pula jumlah Allah di Indonesia, karena Allah berada dalam diri setiap hamba-Nya. Sehingga kalau kita cermati, aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidah kaum Nasrani yang “hanya” mengakui adanya tiga tuhan (aqidah trinitas).Kalau Allah Ta’ala itu ada dalam setiap diri kita dan menyatu dengan diri kita, maka konsekuensinya adalah “Allah adalah saya dan saya adalah Allah!” Kalau sudah begini, siapa memerintahkan siapa? Maka aqidah inilah yang menjadi senjata orang-orang Sufi untuk menolak menjalankan kewajiban yang dibebankan syari’at. Karena dia meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menyatu dengan dirinya, maka dia tidak perlu shalat, puasa, dan melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, karena dialah Allah! Na’udzu billah min dzalika.Lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena konsekuensinya berarti Allah itu tidak ada (??). Maka siapa Tuhan yang mereka sembah selama ini?Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan, “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan sifat-sifat yang salah satunya adalah bahwa Dia ber-istiwa’ (tinggi) di atas ‘arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kami tidak tahu” nyata-nyata telah berpaling dari maksud Allah Ta’ala.Yang mengherankan adalah, bagaimana mungkin kaum muslimin tidak mengetahui di mana Allah Ta’ala, padahal Allah Ta’ala berfirman,الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas ‘arsy.” (QS. Thaha [20]: 5)Dalam Tafsir Jalalain disebutkan ketika menjelaskan ayat ini,اسْتِوَاء يَلِيق بِهِ“Istiwaa’ yang sesuai dengan (keagungan dan kebesaran) Allah Ta’ala.” (Tafsir Jalalain, 1/406)Dan dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia ber-istiwa’ di atas ‘arsy.” (QS. Al-A’raf [7]: 54)’Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali. [1][Bersambung]Baca juga: Akidah Imam Asy Syafi’i Mengenai Istiwa Allah Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy ***Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1]     Penjelasan tentang ‘arsy dapat dilihat di tautan berikut ini: Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy🔍 Hadits 73 Golongan, Hukum Bermusik Dalam Islam, Arti Murajaah, Doa Di Bulan Muharram, Ayat Untuk Meruqyah Diri Sendiri

Tanda Celaka

Tanda Celaka Ibnul Qayyim mengatakan,   طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ نَسِىَ عَيبَهُْ وَتَفَرَّغَ لِعُيُوْبِ النَّاسِ، فَالاوَّلُ عََلامَةُ السَّعَادَةِ، وَالثَّانِى عَلامَةُ الشَّقَاوَةِ “Sungguh beruntung orang yang sibuk dengan kekurangan dirinya sehingga tidak pernah memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sungguh celaka orang yang lupa kekurangan dirinya sendiri lantas fokus memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sikap pertama adalah indikator orang yang beruntung dan bahagia. Sedangkan sikap kedua adalah indikator orang yang sengsara lagi celaka.” (Thariq al-Hijratain karya Ibnul Qayyim hlm 271) Semua orang pasti punya kekurangan baik dalam iman, ibadah, ilmu, akhlak, adab, tutur kata dll. Tidak ada manusia yang sempurna.  Manusia hebat adalah orang yang mengenali dirinya dan mengenali kekurangan dirinya lantas sibuk memperbaiki diri. Sibuk memperbaiki diri adalah ciri orang hebat, beruntung dan bahagia dunia dan akhirat.  Sedangkan orang yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain tidak akan memperbaiki dirinya sendiri. Sehingga tidak ada peningkatan kualitas diri. Bahkan dia cenderung hobi membicarakan kekurangan orang lain dan menjadi orang yang bangkrut dan merugi di akhirat.  Kerugian yang paling jelek adalah kerugian di akhirat. Semoga Allah selamatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini sehingga tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Tanda Celaka

Tanda Celaka Ibnul Qayyim mengatakan,   طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ نَسِىَ عَيبَهُْ وَتَفَرَّغَ لِعُيُوْبِ النَّاسِ، فَالاوَّلُ عََلامَةُ السَّعَادَةِ، وَالثَّانِى عَلامَةُ الشَّقَاوَةِ “Sungguh beruntung orang yang sibuk dengan kekurangan dirinya sehingga tidak pernah memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sungguh celaka orang yang lupa kekurangan dirinya sendiri lantas fokus memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sikap pertama adalah indikator orang yang beruntung dan bahagia. Sedangkan sikap kedua adalah indikator orang yang sengsara lagi celaka.” (Thariq al-Hijratain karya Ibnul Qayyim hlm 271) Semua orang pasti punya kekurangan baik dalam iman, ibadah, ilmu, akhlak, adab, tutur kata dll. Tidak ada manusia yang sempurna.  Manusia hebat adalah orang yang mengenali dirinya dan mengenali kekurangan dirinya lantas sibuk memperbaiki diri. Sibuk memperbaiki diri adalah ciri orang hebat, beruntung dan bahagia dunia dan akhirat.  Sedangkan orang yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain tidak akan memperbaiki dirinya sendiri. Sehingga tidak ada peningkatan kualitas diri. Bahkan dia cenderung hobi membicarakan kekurangan orang lain dan menjadi orang yang bangkrut dan merugi di akhirat.  Kerugian yang paling jelek adalah kerugian di akhirat. Semoga Allah selamatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini sehingga tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Tanda Celaka Ibnul Qayyim mengatakan,   طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ نَسِىَ عَيبَهُْ وَتَفَرَّغَ لِعُيُوْبِ النَّاسِ، فَالاوَّلُ عََلامَةُ السَّعَادَةِ، وَالثَّانِى عَلامَةُ الشَّقَاوَةِ “Sungguh beruntung orang yang sibuk dengan kekurangan dirinya sehingga tidak pernah memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sungguh celaka orang yang lupa kekurangan dirinya sendiri lantas fokus memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sikap pertama adalah indikator orang yang beruntung dan bahagia. Sedangkan sikap kedua adalah indikator orang yang sengsara lagi celaka.” (Thariq al-Hijratain karya Ibnul Qayyim hlm 271) Semua orang pasti punya kekurangan baik dalam iman, ibadah, ilmu, akhlak, adab, tutur kata dll. Tidak ada manusia yang sempurna.  Manusia hebat adalah orang yang mengenali dirinya dan mengenali kekurangan dirinya lantas sibuk memperbaiki diri. Sibuk memperbaiki diri adalah ciri orang hebat, beruntung dan bahagia dunia dan akhirat.  Sedangkan orang yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain tidak akan memperbaiki dirinya sendiri. Sehingga tidak ada peningkatan kualitas diri. Bahkan dia cenderung hobi membicarakan kekurangan orang lain dan menjadi orang yang bangkrut dan merugi di akhirat.  Kerugian yang paling jelek adalah kerugian di akhirat. Semoga Allah selamatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini sehingga tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Tanda Celaka Ibnul Qayyim mengatakan,   طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ نَسِىَ عَيبَهُْ وَتَفَرَّغَ لِعُيُوْبِ النَّاسِ، فَالاوَّلُ عََلامَةُ السَّعَادَةِ، وَالثَّانِى عَلامَةُ الشَّقَاوَةِ “Sungguh beruntung orang yang sibuk dengan kekurangan dirinya sehingga tidak pernah memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sungguh celaka orang yang lupa kekurangan dirinya sendiri lantas fokus memikirkan dan membicarakan kekurangan orang lain. Sikap pertama adalah indikator orang yang beruntung dan bahagia. Sedangkan sikap kedua adalah indikator orang yang sengsara lagi celaka.” (Thariq al-Hijratain karya Ibnul Qayyim hlm 271) Semua orang pasti punya kekurangan baik dalam iman, ibadah, ilmu, akhlak, adab, tutur kata dll. Tidak ada manusia yang sempurna.  Manusia hebat adalah orang yang mengenali dirinya dan mengenali kekurangan dirinya lantas sibuk memperbaiki diri. Sibuk memperbaiki diri adalah ciri orang hebat, beruntung dan bahagia dunia dan akhirat.  Sedangkan orang yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain tidak akan memperbaiki dirinya sendiri. Sehingga tidak ada peningkatan kualitas diri. Bahkan dia cenderung hobi membicarakan kekurangan orang lain dan menjadi orang yang bangkrut dan merugi di akhirat.  Kerugian yang paling jelek adalah kerugian di akhirat. Semoga Allah selamatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini sehingga tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Hari Kebangkitan – Serial Menuju Akhirat #3

Ilustrasi gambar padang pasir @unsplashHari KebangkitanOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pada hari kebangkitan, terdapat khilaf di kalangan para ulama tentang apakah ada dua atau tiga tiupan sangkakala. Sebagian ulama mengatakan bahwa proses terjadinya hari kebangkitan adalah dengan tiga tiupan sangkakala.Tiupan yang pertama disebut dengan نَفْخَةُ الْفَزَعْ, yaitu tiupan yang akan mengagetkan seluruh manusia bahwa akan terjadi perubahan di seluruh alam semesta. Allah ﷻ berfirman,وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ (87)“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml : 87)Ketika tiupan ini telah berbunyi, maka pada saat itu terjadilah hari kiamat, hari yang sangat mengerikan. Allah ﷻ berfirman tentang yang terjadi tentang bumi,إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Al-Zalzalah : 1-2)Allah juga bercerita tentang lautan,وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)“Dan apabila lautan menjadikan meluap (ke seluruh muka bumi).” (QS. Al-Infithar : 3)وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6)“Dan apabila lautan dipanaskan (dinyalakan).” (QS. At-Takwir : 6)Allah juga bercerita tentang gunung-gunung pada hari itu,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105) {فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (106) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (107)“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” (QS. Taha : 105-107)وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (88)“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml : 88)Allah juga bercerita tentang langit,إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1)“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11)“Dan apabila langit dilenyapkan. (QS. At-Takwir : 11)وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar : 67)Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al-Hajj : 1-2)Kemudian selanjutnya adalah tiupan kedua yang disebut نفخة الصعق. Kata Allah ﷻ dalam firmanNya,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Dan ditiuplah sangkakala (kedua kali), maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az-Zumar : 68)Sebagian para ulama mengatkan bahwa makhluk Allah yang dikecualikan untuk tidak mati pada tiupan sangkakala kedua adalah malaikat jibril, ada yang mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah yang memikul ‘Arsy Allah, dan ada yang mengatakan bahwa malaikat Israfil pun mati setelah meniup sangkakala tersebut, akan tetapi Allah menghidupkannya kembali. Intinya seluruh makhluk mati kecuali yang Allah kehendaki.Kemudian selanjutnya adalah tiupan ketiga yang disebut نفخة البعث. Sebagaimana firman Allah  selanjutnya,ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar : 68)Inilah yang disebut dengan hari kebangkitan.Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang kondisi manusia setelah dibangkitkan. Allah ﷻ berfirman,خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ (7)“Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka seperti belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar : 7)Imam Al-Baghawi mengatakan bahwa mereka pada hari kebangkitan seperti belalang yang beterbangan dalam keadaan bingun tidak tahu arah, karena mereka kaget akan kebangkitan yang mereka alami. Dalam ayat lain Allah menggambarkan,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa : 34-37)Nabi ﷺ juga menggambarkan bagaimana kondisi manusia tatkala dibangkitkan. Nabi ﷺ bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا} صحيح مسلم (4/ 2194{(“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (HR. Muslim 4/2194 no. 2859)يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ} مسند أحمد بن حنبل (3/ 459{(“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat –atau bersabda dengan redaksi para hamba- dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak buhman” Lalu kami bertanya, “Apakah buhman itu?” Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang kalian bawa.” (HR. Al-Ahmad 3/459 no. 16085)Dalam riwayat yang lain Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا: {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ} الآيَةَ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Kalian dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan.” Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah kami mengulanginya’ (QS. Al-Anbiya’ : 104).” (HR. Bukhari 8/109 no. 6526)Maka sebagaimana seorang anak yang lahir di atas permukaan bumi ini dari perut ibunya yang tidak berpakaian, tidak beralas kaki, tidak membawa apa-apa, maka demikian pula tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat. Bahkan tatkala seseorang meninggal dunia dan dikuburkan, tidak ada yang dia bawa dari hartanya sepesarpun. Sampai-sampai tatkala seseorang meninggal dunia di Arab Saudi, benar-benar tidak ada harta yang dia bawa untuk dirinya, karena kain kafan dan proses penyelenggaraan jenazahnya garatis. Sehingga tidak ada sepeserpun harta yang dia kumpulkan untuk dia bawa kedalam kuburannya. Maka jangankan harta yang besar dan jabatan yang kuat, pakaian dan alas kakipun dia tidak punya pada hari kiamat kelak. Dan tidak ada jabatan di akhirat kecuali hanya dua, yaitu penghuni surga atau penghuni neraka. Oleh karenanya Allah akan berfirman pada hari tersebut,لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (16)“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir : 16)Maka dari itu wahai saudaraku, seseorang boleh mengumpulkan harta dan bersenang-senang di dunia. Akan tetapi seseorang harus memiliki simpanan untuk akhiratnya. Karena seluruh apa yang dikumpulkan di dunia, tidak akan dibawa baik ke dalam kubur, terlebih lagi pada hari kebangkitan. Sehingga setelah manusia telah dibangkitakan, maka semua dikumpulkan pada suatu tempat bernama padang mahsyar.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Hari Kebangkitan – Serial Menuju Akhirat #3

Ilustrasi gambar padang pasir @unsplashHari KebangkitanOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pada hari kebangkitan, terdapat khilaf di kalangan para ulama tentang apakah ada dua atau tiga tiupan sangkakala. Sebagian ulama mengatakan bahwa proses terjadinya hari kebangkitan adalah dengan tiga tiupan sangkakala.Tiupan yang pertama disebut dengan نَفْخَةُ الْفَزَعْ, yaitu tiupan yang akan mengagetkan seluruh manusia bahwa akan terjadi perubahan di seluruh alam semesta. Allah ﷻ berfirman,وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ (87)“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml : 87)Ketika tiupan ini telah berbunyi, maka pada saat itu terjadilah hari kiamat, hari yang sangat mengerikan. Allah ﷻ berfirman tentang yang terjadi tentang bumi,إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Al-Zalzalah : 1-2)Allah juga bercerita tentang lautan,وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)“Dan apabila lautan menjadikan meluap (ke seluruh muka bumi).” (QS. Al-Infithar : 3)وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6)“Dan apabila lautan dipanaskan (dinyalakan).” (QS. At-Takwir : 6)Allah juga bercerita tentang gunung-gunung pada hari itu,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105) {فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (106) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (107)“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” (QS. Taha : 105-107)وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (88)“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml : 88)Allah juga bercerita tentang langit,إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1)“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11)“Dan apabila langit dilenyapkan. (QS. At-Takwir : 11)وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar : 67)Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al-Hajj : 1-2)Kemudian selanjutnya adalah tiupan kedua yang disebut نفخة الصعق. Kata Allah ﷻ dalam firmanNya,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Dan ditiuplah sangkakala (kedua kali), maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az-Zumar : 68)Sebagian para ulama mengatkan bahwa makhluk Allah yang dikecualikan untuk tidak mati pada tiupan sangkakala kedua adalah malaikat jibril, ada yang mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah yang memikul ‘Arsy Allah, dan ada yang mengatakan bahwa malaikat Israfil pun mati setelah meniup sangkakala tersebut, akan tetapi Allah menghidupkannya kembali. Intinya seluruh makhluk mati kecuali yang Allah kehendaki.Kemudian selanjutnya adalah tiupan ketiga yang disebut نفخة البعث. Sebagaimana firman Allah  selanjutnya,ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar : 68)Inilah yang disebut dengan hari kebangkitan.Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang kondisi manusia setelah dibangkitkan. Allah ﷻ berfirman,خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ (7)“Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka seperti belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar : 7)Imam Al-Baghawi mengatakan bahwa mereka pada hari kebangkitan seperti belalang yang beterbangan dalam keadaan bingun tidak tahu arah, karena mereka kaget akan kebangkitan yang mereka alami. Dalam ayat lain Allah menggambarkan,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa : 34-37)Nabi ﷺ juga menggambarkan bagaimana kondisi manusia tatkala dibangkitkan. Nabi ﷺ bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا} صحيح مسلم (4/ 2194{(“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (HR. Muslim 4/2194 no. 2859)يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ} مسند أحمد بن حنبل (3/ 459{(“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat –atau bersabda dengan redaksi para hamba- dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak buhman” Lalu kami bertanya, “Apakah buhman itu?” Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang kalian bawa.” (HR. Al-Ahmad 3/459 no. 16085)Dalam riwayat yang lain Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا: {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ} الآيَةَ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Kalian dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan.” Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah kami mengulanginya’ (QS. Al-Anbiya’ : 104).” (HR. Bukhari 8/109 no. 6526)Maka sebagaimana seorang anak yang lahir di atas permukaan bumi ini dari perut ibunya yang tidak berpakaian, tidak beralas kaki, tidak membawa apa-apa, maka demikian pula tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat. Bahkan tatkala seseorang meninggal dunia dan dikuburkan, tidak ada yang dia bawa dari hartanya sepesarpun. Sampai-sampai tatkala seseorang meninggal dunia di Arab Saudi, benar-benar tidak ada harta yang dia bawa untuk dirinya, karena kain kafan dan proses penyelenggaraan jenazahnya garatis. Sehingga tidak ada sepeserpun harta yang dia kumpulkan untuk dia bawa kedalam kuburannya. Maka jangankan harta yang besar dan jabatan yang kuat, pakaian dan alas kakipun dia tidak punya pada hari kiamat kelak. Dan tidak ada jabatan di akhirat kecuali hanya dua, yaitu penghuni surga atau penghuni neraka. Oleh karenanya Allah akan berfirman pada hari tersebut,لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (16)“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir : 16)Maka dari itu wahai saudaraku, seseorang boleh mengumpulkan harta dan bersenang-senang di dunia. Akan tetapi seseorang harus memiliki simpanan untuk akhiratnya. Karena seluruh apa yang dikumpulkan di dunia, tidak akan dibawa baik ke dalam kubur, terlebih lagi pada hari kebangkitan. Sehingga setelah manusia telah dibangkitakan, maka semua dikumpulkan pada suatu tempat bernama padang mahsyar.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Ilustrasi gambar padang pasir @unsplashHari KebangkitanOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pada hari kebangkitan, terdapat khilaf di kalangan para ulama tentang apakah ada dua atau tiga tiupan sangkakala. Sebagian ulama mengatakan bahwa proses terjadinya hari kebangkitan adalah dengan tiga tiupan sangkakala.Tiupan yang pertama disebut dengan نَفْخَةُ الْفَزَعْ, yaitu tiupan yang akan mengagetkan seluruh manusia bahwa akan terjadi perubahan di seluruh alam semesta. Allah ﷻ berfirman,وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ (87)“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml : 87)Ketika tiupan ini telah berbunyi, maka pada saat itu terjadilah hari kiamat, hari yang sangat mengerikan. Allah ﷻ berfirman tentang yang terjadi tentang bumi,إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Al-Zalzalah : 1-2)Allah juga bercerita tentang lautan,وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)“Dan apabila lautan menjadikan meluap (ke seluruh muka bumi).” (QS. Al-Infithar : 3)وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6)“Dan apabila lautan dipanaskan (dinyalakan).” (QS. At-Takwir : 6)Allah juga bercerita tentang gunung-gunung pada hari itu,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105) {فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (106) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (107)“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” (QS. Taha : 105-107)وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (88)“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml : 88)Allah juga bercerita tentang langit,إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1)“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11)“Dan apabila langit dilenyapkan. (QS. At-Takwir : 11)وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar : 67)Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al-Hajj : 1-2)Kemudian selanjutnya adalah tiupan kedua yang disebut نفخة الصعق. Kata Allah ﷻ dalam firmanNya,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Dan ditiuplah sangkakala (kedua kali), maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az-Zumar : 68)Sebagian para ulama mengatkan bahwa makhluk Allah yang dikecualikan untuk tidak mati pada tiupan sangkakala kedua adalah malaikat jibril, ada yang mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah yang memikul ‘Arsy Allah, dan ada yang mengatakan bahwa malaikat Israfil pun mati setelah meniup sangkakala tersebut, akan tetapi Allah menghidupkannya kembali. Intinya seluruh makhluk mati kecuali yang Allah kehendaki.Kemudian selanjutnya adalah tiupan ketiga yang disebut نفخة البعث. Sebagaimana firman Allah  selanjutnya,ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar : 68)Inilah yang disebut dengan hari kebangkitan.Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang kondisi manusia setelah dibangkitkan. Allah ﷻ berfirman,خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ (7)“Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka seperti belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar : 7)Imam Al-Baghawi mengatakan bahwa mereka pada hari kebangkitan seperti belalang yang beterbangan dalam keadaan bingun tidak tahu arah, karena mereka kaget akan kebangkitan yang mereka alami. Dalam ayat lain Allah menggambarkan,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa : 34-37)Nabi ﷺ juga menggambarkan bagaimana kondisi manusia tatkala dibangkitkan. Nabi ﷺ bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا} صحيح مسلم (4/ 2194{(“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (HR. Muslim 4/2194 no. 2859)يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ} مسند أحمد بن حنبل (3/ 459{(“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat –atau bersabda dengan redaksi para hamba- dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak buhman” Lalu kami bertanya, “Apakah buhman itu?” Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang kalian bawa.” (HR. Al-Ahmad 3/459 no. 16085)Dalam riwayat yang lain Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا: {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ} الآيَةَ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Kalian dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan.” Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah kami mengulanginya’ (QS. Al-Anbiya’ : 104).” (HR. Bukhari 8/109 no. 6526)Maka sebagaimana seorang anak yang lahir di atas permukaan bumi ini dari perut ibunya yang tidak berpakaian, tidak beralas kaki, tidak membawa apa-apa, maka demikian pula tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat. Bahkan tatkala seseorang meninggal dunia dan dikuburkan, tidak ada yang dia bawa dari hartanya sepesarpun. Sampai-sampai tatkala seseorang meninggal dunia di Arab Saudi, benar-benar tidak ada harta yang dia bawa untuk dirinya, karena kain kafan dan proses penyelenggaraan jenazahnya garatis. Sehingga tidak ada sepeserpun harta yang dia kumpulkan untuk dia bawa kedalam kuburannya. Maka jangankan harta yang besar dan jabatan yang kuat, pakaian dan alas kakipun dia tidak punya pada hari kiamat kelak. Dan tidak ada jabatan di akhirat kecuali hanya dua, yaitu penghuni surga atau penghuni neraka. Oleh karenanya Allah akan berfirman pada hari tersebut,لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (16)“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir : 16)Maka dari itu wahai saudaraku, seseorang boleh mengumpulkan harta dan bersenang-senang di dunia. Akan tetapi seseorang harus memiliki simpanan untuk akhiratnya. Karena seluruh apa yang dikumpulkan di dunia, tidak akan dibawa baik ke dalam kubur, terlebih lagi pada hari kebangkitan. Sehingga setelah manusia telah dibangkitakan, maka semua dikumpulkan pada suatu tempat bernama padang mahsyar.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)


Ilustrasi gambar padang pasir @unsplashHari KebangkitanOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pada hari kebangkitan, terdapat khilaf di kalangan para ulama tentang apakah ada dua atau tiga tiupan sangkakala. Sebagian ulama mengatakan bahwa proses terjadinya hari kebangkitan adalah dengan tiga tiupan sangkakala.Tiupan yang pertama disebut dengan نَفْخَةُ الْفَزَعْ, yaitu tiupan yang akan mengagetkan seluruh manusia bahwa akan terjadi perubahan di seluruh alam semesta. Allah ﷻ berfirman,وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ (87)“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml : 87)Ketika tiupan ini telah berbunyi, maka pada saat itu terjadilah hari kiamat, hari yang sangat mengerikan. Allah ﷻ berfirman tentang yang terjadi tentang bumi,إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Al-Zalzalah : 1-2)Allah juga bercerita tentang lautan,وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)“Dan apabila lautan menjadikan meluap (ke seluruh muka bumi).” (QS. Al-Infithar : 3)وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6)“Dan apabila lautan dipanaskan (dinyalakan).” (QS. At-Takwir : 6)Allah juga bercerita tentang gunung-gunung pada hari itu,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105) {فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (106) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (107)“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.” (QS. Taha : 105-107)وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (88)“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml : 88)Allah juga bercerita tentang langit,إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1)“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11)“Dan apabila langit dilenyapkan. (QS. At-Takwir : 11)وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar : 67)Hari kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Allah ﷻ berfirman,يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al-Hajj : 1-2)Kemudian selanjutnya adalah tiupan kedua yang disebut نفخة الصعق. Kata Allah ﷻ dalam firmanNya,وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Dan ditiuplah sangkakala (kedua kali), maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az-Zumar : 68)Sebagian para ulama mengatkan bahwa makhluk Allah yang dikecualikan untuk tidak mati pada tiupan sangkakala kedua adalah malaikat jibril, ada yang mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah yang memikul ‘Arsy Allah, dan ada yang mengatakan bahwa malaikat Israfil pun mati setelah meniup sangkakala tersebut, akan tetapi Allah menghidupkannya kembali. Intinya seluruh makhluk mati kecuali yang Allah kehendaki.Kemudian selanjutnya adalah tiupan ketiga yang disebut نفخة البعث. Sebagaimana firman Allah  selanjutnya,ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68)“Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar : 68)Inilah yang disebut dengan hari kebangkitan.Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang kondisi manusia setelah dibangkitkan. Allah ﷻ berfirman,خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ (7)“Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka seperti belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar : 7)Imam Al-Baghawi mengatakan bahwa mereka pada hari kebangkitan seperti belalang yang beterbangan dalam keadaan bingun tidak tahu arah, karena mereka kaget akan kebangkitan yang mereka alami. Dalam ayat lain Allah menggambarkan,يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa : 34-37)Nabi ﷺ juga menggambarkan bagaimana kondisi manusia tatkala dibangkitkan. Nabi ﷺ bersabda,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا} صحيح مسلم (4/ 2194{(“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (HR. Muslim 4/2194 no. 2859)يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا ” قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: ” لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ} مسند أحمد بن حنبل (3/ 459{(“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat –atau bersabda dengan redaksi para hamba- dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak buhman” Lalu kami bertanya, “Apakah buhman itu?” Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang kalian bawa.” (HR. Al-Ahmad 3/459 no. 16085)Dalam riwayat yang lain Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda,إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا: {كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ} الآيَةَ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Kalian dikumpulkan (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan.” Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah kami mengulanginya’ (QS. Al-Anbiya’ : 104).” (HR. Bukhari 8/109 no. 6526)Maka sebagaimana seorang anak yang lahir di atas permukaan bumi ini dari perut ibunya yang tidak berpakaian, tidak beralas kaki, tidak membawa apa-apa, maka demikian pula tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat. Bahkan tatkala seseorang meninggal dunia dan dikuburkan, tidak ada yang dia bawa dari hartanya sepesarpun. Sampai-sampai tatkala seseorang meninggal dunia di Arab Saudi, benar-benar tidak ada harta yang dia bawa untuk dirinya, karena kain kafan dan proses penyelenggaraan jenazahnya garatis. Sehingga tidak ada sepeserpun harta yang dia kumpulkan untuk dia bawa kedalam kuburannya. Maka jangankan harta yang besar dan jabatan yang kuat, pakaian dan alas kakipun dia tidak punya pada hari kiamat kelak. Dan tidak ada jabatan di akhirat kecuali hanya dua, yaitu penghuni surga atau penghuni neraka. Oleh karenanya Allah akan berfirman pada hari tersebut,لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (16)“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Ghafir : 16)Maka dari itu wahai saudaraku, seseorang boleh mengumpulkan harta dan bersenang-senang di dunia. Akan tetapi seseorang harus memiliki simpanan untuk akhiratnya. Karena seluruh apa yang dikumpulkan di dunia, tidak akan dibawa baik ke dalam kubur, terlebih lagi pada hari kebangkitan. Sehingga setelah manusia telah dibangkitakan, maka semua dikumpulkan pada suatu tempat bernama padang mahsyar.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan

Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du. Bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram, yang dikenal mistis atau sial ini, ternyata menyimpan limpahan keberkahan. Menepis anggapan khurofat yang telah membudaya di masyarakat tanah air. Di antara lapis-lapis keberkahan di bulan Syuro adalah melakukan puasa di bulan ini, nilai pahalanya, puasa paling afdhol setelah puasa Ramadhan. Dalilnya hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim) Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan menukil pernyataan Abu Ubaid. قال أبو عبيد: إنَّما نسبه إلى الله عز وجل- والشُّهور كلها له – لتشريفه وتعظيمه ، وكل معظم ينسب إليه “Abu Ubaid menerangkan: “Bulan Muharram dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah Yang Maha Mulia padahal seluruh bulan adalah milik Allah, untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Segala yang mulia, selalu dinisbatkan kepada Allah.” (Kasyful Musykil jilid 3, hal. 597, tahqiq: Dr. Ali Husain Al-Bawab) Bagaimana dengan puasa di bulan Sya’ban? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai indikasi afdolnya puasa di bulan Sya’ban? Demikian yang diceritakan Aisyah radhiyallahu’anha. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun, hadis di atas bukan berarti puasa di bulan Sya’ban adalah yang terafdol setelah puasa Ramadhan, melebihi puasa bulan Muharram. Alasannya dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut. قوله صلى الله عليه وسلم (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّم) تصريح بأنَّه أفضل الشهور للصَّوم، وقد سبق الجواب عن إكثار النَّبي صلى الله عليه وسلم من صوم شعبان دون المُحرَّم وذكرنا فيه جوابين، أحدهما: لعله إنِّما علم فضله في آخر حياته. والثاني: لعله كان يعرض فيه أعذار من سفر أو مرض أو غيرهما “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram” adalah sebagai dalil tegas bahwa bulan Muharram adalah bulan paling afdol untuk melakukan puasa. Telah kami jelaskan jawaban pertanyaan tentang Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram, kami paparkan dua poin jawaban: Pertama, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, atau saat bertemu dengan bulan Muharram, beliau sedang berada dalam kondisi uzur tidak puasa. Bisa karena safar, sakit, atau yang lainnya.” (Shahih Muslim Bi Syarhi An-Nawawi 8/55) Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menambahkan penjelasan, bahwa pembagian afdoliyah puasa setelah puasa Ramadhan ada dua macam. Puasa bulanan yang paling afdol adalah puasa di bulan Muharram. Puasa harian yang paling afdol adalah puasa di hari-hari khusus yang dianjurkan puasa, seperti puasa Arofah, puasa Syawal, dan lain-lain. Dalam kitab karyanya yang berjudul Lathoiful Ma’arif, beliau rahimahullah menjelaskan: وهذا الحديث صريحٌ في أنَّ أفضل ما تُطوع به من الصِّيام بعد رمضان صوم شهر الله المحرَّم، وقد يحتمل أن يراد : أنَّه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملا بعد رمضان، فأمَّا بعض التَّطوع ببعض شهر فقد يكون أفضل من بعض أيامه كصيام يوم عرفه، أو عشر ذي الحجة، أو ستة أيام من شوال، و نحو ذلك “Hadis tersebut (tentang keutamaan puasa di bulan Muharram) sebagai dalil tegas bahwa puasa tathowwu’/sunah yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah yaitu Muharram. Dan mungkin saja maksudnya adalah puasa di bulan Muharram adalah puasa bulanan penuh yang paling afdol setelah puasa di bulan Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari yang terdapat dalam bulan-bulan maka pahalanya lebih afdol daripada puasa di hari yang selainnya, seperti puasa Arofah, puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa enam hari Syawal, dan yang lainnya.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 77, tahqiq: Yasin Muhammad Sawwas) Puasa apa yang bisa kita lakukan di bulan Syuro ini? Ya bisa puasa sunah yang populer seperti puasa Dawud, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, atau puasa Ayyamul Bidh. Atau bisa juga puasa tathowwu’, yaitu berniat puasa sunah yang tidak terikat oleh hari. Atau bisa diisi dengan puasa Qodo’ bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pertanyaan Tentang Mudharabah, Zakat Fitrah Berapa Kilo, Doa Penangkal Teluh, Sepatu Wanita Muslimah, Wahyu Terakhir Turun, Doa Dimudahkan Dalam Persalinan Visited 17 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 QRIS donasi Yufid

Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan

Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du. Bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram, yang dikenal mistis atau sial ini, ternyata menyimpan limpahan keberkahan. Menepis anggapan khurofat yang telah membudaya di masyarakat tanah air. Di antara lapis-lapis keberkahan di bulan Syuro adalah melakukan puasa di bulan ini, nilai pahalanya, puasa paling afdhol setelah puasa Ramadhan. Dalilnya hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim) Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan menukil pernyataan Abu Ubaid. قال أبو عبيد: إنَّما نسبه إلى الله عز وجل- والشُّهور كلها له – لتشريفه وتعظيمه ، وكل معظم ينسب إليه “Abu Ubaid menerangkan: “Bulan Muharram dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah Yang Maha Mulia padahal seluruh bulan adalah milik Allah, untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Segala yang mulia, selalu dinisbatkan kepada Allah.” (Kasyful Musykil jilid 3, hal. 597, tahqiq: Dr. Ali Husain Al-Bawab) Bagaimana dengan puasa di bulan Sya’ban? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai indikasi afdolnya puasa di bulan Sya’ban? Demikian yang diceritakan Aisyah radhiyallahu’anha. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun, hadis di atas bukan berarti puasa di bulan Sya’ban adalah yang terafdol setelah puasa Ramadhan, melebihi puasa bulan Muharram. Alasannya dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut. قوله صلى الله عليه وسلم (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّم) تصريح بأنَّه أفضل الشهور للصَّوم، وقد سبق الجواب عن إكثار النَّبي صلى الله عليه وسلم من صوم شعبان دون المُحرَّم وذكرنا فيه جوابين، أحدهما: لعله إنِّما علم فضله في آخر حياته. والثاني: لعله كان يعرض فيه أعذار من سفر أو مرض أو غيرهما “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram” adalah sebagai dalil tegas bahwa bulan Muharram adalah bulan paling afdol untuk melakukan puasa. Telah kami jelaskan jawaban pertanyaan tentang Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram, kami paparkan dua poin jawaban: Pertama, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, atau saat bertemu dengan bulan Muharram, beliau sedang berada dalam kondisi uzur tidak puasa. Bisa karena safar, sakit, atau yang lainnya.” (Shahih Muslim Bi Syarhi An-Nawawi 8/55) Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menambahkan penjelasan, bahwa pembagian afdoliyah puasa setelah puasa Ramadhan ada dua macam. Puasa bulanan yang paling afdol adalah puasa di bulan Muharram. Puasa harian yang paling afdol adalah puasa di hari-hari khusus yang dianjurkan puasa, seperti puasa Arofah, puasa Syawal, dan lain-lain. Dalam kitab karyanya yang berjudul Lathoiful Ma’arif, beliau rahimahullah menjelaskan: وهذا الحديث صريحٌ في أنَّ أفضل ما تُطوع به من الصِّيام بعد رمضان صوم شهر الله المحرَّم، وقد يحتمل أن يراد : أنَّه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملا بعد رمضان، فأمَّا بعض التَّطوع ببعض شهر فقد يكون أفضل من بعض أيامه كصيام يوم عرفه، أو عشر ذي الحجة، أو ستة أيام من شوال، و نحو ذلك “Hadis tersebut (tentang keutamaan puasa di bulan Muharram) sebagai dalil tegas bahwa puasa tathowwu’/sunah yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah yaitu Muharram. Dan mungkin saja maksudnya adalah puasa di bulan Muharram adalah puasa bulanan penuh yang paling afdol setelah puasa di bulan Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari yang terdapat dalam bulan-bulan maka pahalanya lebih afdol daripada puasa di hari yang selainnya, seperti puasa Arofah, puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa enam hari Syawal, dan yang lainnya.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 77, tahqiq: Yasin Muhammad Sawwas) Puasa apa yang bisa kita lakukan di bulan Syuro ini? Ya bisa puasa sunah yang populer seperti puasa Dawud, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, atau puasa Ayyamul Bidh. Atau bisa juga puasa tathowwu’, yaitu berniat puasa sunah yang tidak terikat oleh hari. Atau bisa diisi dengan puasa Qodo’ bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pertanyaan Tentang Mudharabah, Zakat Fitrah Berapa Kilo, Doa Penangkal Teluh, Sepatu Wanita Muslimah, Wahyu Terakhir Turun, Doa Dimudahkan Dalam Persalinan Visited 17 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 QRIS donasi Yufid
Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du. Bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram, yang dikenal mistis atau sial ini, ternyata menyimpan limpahan keberkahan. Menepis anggapan khurofat yang telah membudaya di masyarakat tanah air. Di antara lapis-lapis keberkahan di bulan Syuro adalah melakukan puasa di bulan ini, nilai pahalanya, puasa paling afdhol setelah puasa Ramadhan. Dalilnya hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim) Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan menukil pernyataan Abu Ubaid. قال أبو عبيد: إنَّما نسبه إلى الله عز وجل- والشُّهور كلها له – لتشريفه وتعظيمه ، وكل معظم ينسب إليه “Abu Ubaid menerangkan: “Bulan Muharram dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah Yang Maha Mulia padahal seluruh bulan adalah milik Allah, untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Segala yang mulia, selalu dinisbatkan kepada Allah.” (Kasyful Musykil jilid 3, hal. 597, tahqiq: Dr. Ali Husain Al-Bawab) Bagaimana dengan puasa di bulan Sya’ban? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai indikasi afdolnya puasa di bulan Sya’ban? Demikian yang diceritakan Aisyah radhiyallahu’anha. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun, hadis di atas bukan berarti puasa di bulan Sya’ban adalah yang terafdol setelah puasa Ramadhan, melebihi puasa bulan Muharram. Alasannya dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut. قوله صلى الله عليه وسلم (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّم) تصريح بأنَّه أفضل الشهور للصَّوم، وقد سبق الجواب عن إكثار النَّبي صلى الله عليه وسلم من صوم شعبان دون المُحرَّم وذكرنا فيه جوابين، أحدهما: لعله إنِّما علم فضله في آخر حياته. والثاني: لعله كان يعرض فيه أعذار من سفر أو مرض أو غيرهما “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram” adalah sebagai dalil tegas bahwa bulan Muharram adalah bulan paling afdol untuk melakukan puasa. Telah kami jelaskan jawaban pertanyaan tentang Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram, kami paparkan dua poin jawaban: Pertama, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, atau saat bertemu dengan bulan Muharram, beliau sedang berada dalam kondisi uzur tidak puasa. Bisa karena safar, sakit, atau yang lainnya.” (Shahih Muslim Bi Syarhi An-Nawawi 8/55) Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menambahkan penjelasan, bahwa pembagian afdoliyah puasa setelah puasa Ramadhan ada dua macam. Puasa bulanan yang paling afdol adalah puasa di bulan Muharram. Puasa harian yang paling afdol adalah puasa di hari-hari khusus yang dianjurkan puasa, seperti puasa Arofah, puasa Syawal, dan lain-lain. Dalam kitab karyanya yang berjudul Lathoiful Ma’arif, beliau rahimahullah menjelaskan: وهذا الحديث صريحٌ في أنَّ أفضل ما تُطوع به من الصِّيام بعد رمضان صوم شهر الله المحرَّم، وقد يحتمل أن يراد : أنَّه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملا بعد رمضان، فأمَّا بعض التَّطوع ببعض شهر فقد يكون أفضل من بعض أيامه كصيام يوم عرفه، أو عشر ذي الحجة، أو ستة أيام من شوال، و نحو ذلك “Hadis tersebut (tentang keutamaan puasa di bulan Muharram) sebagai dalil tegas bahwa puasa tathowwu’/sunah yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah yaitu Muharram. Dan mungkin saja maksudnya adalah puasa di bulan Muharram adalah puasa bulanan penuh yang paling afdol setelah puasa di bulan Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari yang terdapat dalam bulan-bulan maka pahalanya lebih afdol daripada puasa di hari yang selainnya, seperti puasa Arofah, puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa enam hari Syawal, dan yang lainnya.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 77, tahqiq: Yasin Muhammad Sawwas) Puasa apa yang bisa kita lakukan di bulan Syuro ini? Ya bisa puasa sunah yang populer seperti puasa Dawud, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, atau puasa Ayyamul Bidh. Atau bisa juga puasa tathowwu’, yaitu berniat puasa sunah yang tidak terikat oleh hari. Atau bisa diisi dengan puasa Qodo’ bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pertanyaan Tentang Mudharabah, Zakat Fitrah Berapa Kilo, Doa Penangkal Teluh, Sepatu Wanita Muslimah, Wahyu Terakhir Turun, Doa Dimudahkan Dalam Persalinan Visited 17 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 QRIS donasi Yufid


Ternyata Puasa di Bulan Syuro Adalah Puasa Paling Afdol Setelah Puasa Ramadhan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du. Bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram, yang dikenal mistis atau sial ini, ternyata menyimpan limpahan keberkahan. Menepis anggapan khurofat yang telah membudaya di masyarakat tanah air. Di antara lapis-lapis keberkahan di bulan Syuro adalah melakukan puasa di bulan ini, nilai pahalanya, puasa paling afdhol setelah puasa Ramadhan. Dalilnya hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim) Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan hadis di atas dengan menukil pernyataan Abu Ubaid. قال أبو عبيد: إنَّما نسبه إلى الله عز وجل- والشُّهور كلها له – لتشريفه وتعظيمه ، وكل معظم ينسب إليه “Abu Ubaid menerangkan: “Bulan Muharram dinisbatkan oleh Nabi kepada Allah Yang Maha Mulia padahal seluruh bulan adalah milik Allah, untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Segala yang mulia, selalu dinisbatkan kepada Allah.” (Kasyful Musykil jilid 3, hal. 597, tahqiq: Dr. Ali Husain Al-Bawab) Bagaimana dengan puasa di bulan Sya’ban? Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan tersebut sebagai indikasi afdolnya puasa di bulan Sya’ban? Demikian yang diceritakan Aisyah radhiyallahu’anha. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) Namun, hadis di atas bukan berarti puasa di bulan Sya’ban adalah yang terafdol setelah puasa Ramadhan, melebihi puasa bulan Muharram. Alasannya dijelaskan Imam Nawawi rahimahullah berikut. قوله صلى الله عليه وسلم (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّم) تصريح بأنَّه أفضل الشهور للصَّوم، وقد سبق الجواب عن إكثار النَّبي صلى الله عليه وسلم من صوم شعبان دون المُحرَّم وذكرنا فيه جوابين، أحدهما: لعله إنِّما علم فضله في آخر حياته. والثاني: لعله كان يعرض فيه أعذار من سفر أو مرض أو غيرهما “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah, yaitu Muharram” adalah sebagai dalil tegas bahwa bulan Muharram adalah bulan paling afdol untuk melakukan puasa. Telah kami jelaskan jawaban pertanyaan tentang Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram, kami paparkan dua poin jawaban: Pertama, bisa jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui keutamaan Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, atau saat bertemu dengan bulan Muharram, beliau sedang berada dalam kondisi uzur tidak puasa. Bisa karena safar, sakit, atau yang lainnya.” (Shahih Muslim Bi Syarhi An-Nawawi 8/55) Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menambahkan penjelasan, bahwa pembagian afdoliyah puasa setelah puasa Ramadhan ada dua macam. Puasa bulanan yang paling afdol adalah puasa di bulan Muharram. Puasa harian yang paling afdol adalah puasa di hari-hari khusus yang dianjurkan puasa, seperti puasa Arofah, puasa Syawal, dan lain-lain. Dalam kitab karyanya yang berjudul Lathoiful Ma’arif, beliau rahimahullah menjelaskan: وهذا الحديث صريحٌ في أنَّ أفضل ما تُطوع به من الصِّيام بعد رمضان صوم شهر الله المحرَّم، وقد يحتمل أن يراد : أنَّه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملا بعد رمضان، فأمَّا بعض التَّطوع ببعض شهر فقد يكون أفضل من بعض أيامه كصيام يوم عرفه، أو عشر ذي الحجة، أو ستة أيام من شوال، و نحو ذلك “Hadis tersebut (tentang keutamaan puasa di bulan Muharram) sebagai dalil tegas bahwa puasa tathowwu’/sunah yang paling afdol setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan di bulannya Allah yaitu Muharram. Dan mungkin saja maksudnya adalah puasa di bulan Muharram adalah puasa bulanan penuh yang paling afdol setelah puasa di bulan Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari yang terdapat dalam bulan-bulan maka pahalanya lebih afdol daripada puasa di hari yang selainnya, seperti puasa Arofah, puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa enam hari Syawal, dan yang lainnya.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 77, tahqiq: Yasin Muhammad Sawwas) Puasa apa yang bisa kita lakukan di bulan Syuro ini? Ya bisa puasa sunah yang populer seperti puasa Dawud, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, atau puasa Ayyamul Bidh. Atau bisa juga puasa tathowwu’, yaitu berniat puasa sunah yang tidak terikat oleh hari. Atau bisa diisi dengan puasa Qodo’ bagi yang memiliki hutang puasa Ramadhan. Wallahul muwaffiq. Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Pertanyaan Tentang Mudharabah, Zakat Fitrah Berapa Kilo, Doa Penangkal Teluh, Sepatu Wanita Muslimah, Wahyu Terakhir Turun, Doa Dimudahkan Dalam Persalinan Visited 17 times, 1 visit(s) today Post Views: 258 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Dua Hal Penting dalam Hidupmu

Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dua Hal Penting dalam Hidupmu

Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Dua Hal Penting dalam Hidupmu ينبغي للإنسان أن يعلم أن أعزّ الأشياء شيئان – قلبه. – ووقته. فإذا أهمل وقته وضيّع قلبه ذهبت منه الفوائد. Ibnul Jauzi, “Hendaknya setiap orang menyadari bahwa hal yang paling berharga itu dua; hati dan waktunya. Orang yang membuang-buang waktunya dan tidak memperhatikan asupan hatinya sungguh dia kehilangan berbagai hal yang penting dalam hidup ini.” (Hifzhul Umr karya Ibnu Jauzi hal. 59) Umur atau waktu adalah modal pokok seorang hamba untuk beribadah kepada Allah. Hati adalah penentu kuantitas dan kualitas ibadah seorang hamba. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sepanjang Hayat

Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sepanjang Hayat

Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Sepanjang Hayat Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani mengatakan bahwa sebagian ulama berkata,  مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا ثُمَّ تَابَ عَنْهُ لَزِمَهُ كُلَّمَا ذَكَرَهُ أَنْ يُجَدِّدَ التَّوْبَةَ لِأَنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى نَدْمِهِ إِلَى أَنْ يَلْقَي رَبَّهُ “Seorang yang berbuat dosa lantas bertaubat itu berkewajiban memperbarui taubatnya setiap kali teringat dosa tersebut. Orang yang bertaubat dari suatu dosa itu berkewajiban untuk terus-menerus menyesali dosanya sampai meninggal dunia.” (Tafsir Murah Labid 2/81, penjelasan QS an-Nur 31) Diantara unsur pokok taubat adalah serius menyesal.  Tanda orang yang serius bertaubat adalah memperbarui rasa penyesalan setiap kali teringat dosa tersebut. Ada tiga ciri orang yang serius memiliki rasa sesal: Setiap kali ingat dosa tersebut ada rasa sakit di dalam hati. Marah dengan diri sendiri mengapa sampai bisa terjerumus ke dalam dosa tersebut. Demikian benci dengan dosa tersebut melebihi rasa benci orang yang belum pernah terjerumus ke dalam dosa itu. Teringat dosa yang pernah dilakukan bisa terjadi ketika: Duduk sendiri teringat dosa.  Membaca tulisan atau mendengar kajian yang ternyata membahas atau menyinggung dosa tersebut.  Melewati tempat yang dulu digunakan untuk berbuat dosa.  Melihat atau menjumpai benda-benda yang mengingatkan dosa tersebut.  Saat teringat dosa tersebut, seorang yang bertaubat akan memperbanyak istighfar plus memperbarui rasa sesal di dalam hati. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam kondisi bertaubat dari semua dosa, wafat dalam keadaan dicintai oleh Allah karena kesungguhan taubat kita.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Buku Gratis: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah

Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis

Buku Gratis: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah

Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis
Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis


Silakan unduh buku terbaru karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim dengan judul “Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah”.     Di manakah Allah? Apakah pertanyaan ini perlu dijawab? Simpel sebenarnya, masa Rabb yang kita sembah, kita tidak mengetahui berada di mana. Semua orang pasti ingin tahu. Kalau Anda ingin mengetahui jawaban cerdasnya, buku ini insya Allah akan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan pun berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, serta perkataan berbagai ulama dari masa sahabat, ulama madzhab yang empat, serta ulama-ulama terkemuka. Baca dan simpan buku ini untuk pegangan akidah kita.     Judul Buku JAWABAN CERDAS, DI MANAKAH ALLAH   Penulis M. Abduh Tuasikal M. Saifudin Hakim   Info Buku 264 Halaman 148 x 210 mm   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF via dropbox: Jawaban Cerdas, Di Manakah Allah?   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Com, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis di mana Allah di manakah Allah download buku gratis

Jalan Kemuliaan Umat

Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis

Jalan Kemuliaan Umat

Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis
Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis


Bismillah.Islam adalah agama yang sempurna. Tiada kebaikan kecuali diajarkan dan tiada keburukan kecuali diperingatkan. Allah Ta’ala menerangkan jalan-jalan yang mengantarkan manusia menuju bahagia dan mulia. Sebagaimana Allah juga menjelaskan jalan-jalan yang menjerumuskan ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.Di antara jalan utama yang harus ditempuh apabila manusia menghendaki kemuliaan adalah dengan iman dan amal salih. Allah berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan dia beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas untuk mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)Iman dan amal salih yang dimaksud adalah keimanan yang bersih dari kotoran syirik dan kekafiran. Inilah keimanan yang akan mengantarkan menuju kemuliaan.Allah berfirman,فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. al-Kahfi: 110)Allah juga berfirman,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong. (QS. al-Maidah: 72)Kemuliaan yang didambakan, tidak bisa diraih kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, setiap hari kaum muslimin selalu membaca kalimat iyyaka nabudu wa iyyaka nastaiin; hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Karena Allah adalah Rabb; penguasa, pencipta dan pengatur alam ini. Allah muliakan siapa yang Dia kehendaki dan Allah akan hinakan siapa yang Dia kehendaki. Allah akan memuliakan umat Islam ketika mereka berpegang-teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ“Sesungguhnya Allah akan memuliakan dengan Kitab ini beberapa kaum dan akan merendahkan sebagian kaum yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim)Dan demikianlah, ketika generasi terdahulu dari umat ini berpegang-teguh dengan Islam yang murni dan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun menjadi bahagia dan mulia. Karena Allah telah menjanjikan hal itu dalam Kitab-Nya. Allah berfirman,فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)Allah berfirman tentang para sahabat generasi terdepan umat ini,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100)Sebaliknya, siapa yang lebih memilih jalan kesesatan dan mencari jalan lain yang tidak ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, maka Allah akan lemparkan mereka ke dalam kehinaan dan siksa neraka Jahannam. Allah berfirman,وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman; Kami akan biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam; dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisaa: 115)Karena itulah tidak heran jika para ulama kita mengatakan bahwa setiap kebaikan itu adalah dengan mengikuti orang-orang terdahulu (salafus shalih) dan setiap keburukan disebabkan perbuatan mengada-ada yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).Imam Malik rahimahullah berkata, Tidak akan bisa memperbaiki keadaan generasi akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah memperbaiki keadaan generasi awalnya.Imam al-Auzai rahimahullah berkata, Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak orang yang terdahulu (para sahabat nabi) meskipun orang-orang menolakmu. Dan jauhilah olehmu pendapat akal-akal manusia walaupun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.Mengikuti jalan yang ditempuh para sahabat bukanlah perkara sepele. Karena ini adalah pilar dan rambu-rambu yang akan membawa kepada kemuliaan. Sementara jalan kemuliaan itu kerapkali diliputi oleh berbagai rintangan dan hambatan. Seperti yang telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ“Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh syahwat/hawa nafsu, dan neraka itu diliputi hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)Begitu pula keadaan orang-orang yang pemperjuangkan nilai-nilai Islam, mau tidak mau dia akan mendapatkan penolakan dan hambatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam datang dalam keadaan terasing dan ia akan kembali pula dalam keadaan terasing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim)Di antara perkara paling pokok yang harus diikuti oleh kaum muslimin dari para sahabat itu adalah perkara aqidah dan tauhid. Karena inilah pokok di dalam agama Islam. Karena tauhid itulah manusia dan jin diciptakan. Allah berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Akcu ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)Banyak kita jumpai pada hari ini orang-orang yang membanggakan dirinya sebagai umat Islam tetapi dalam hal keyakinan dan tauhidnya amat sangat jauh dari apa yang diajarkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta apa yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu’anhum. Ini adalah musibah dan malapetaka besar yang menimpa kaum muslimin di zaman ini. Musibah berpalingnya manusia dari ajaran Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga banyak orang terpikat oleh pemikiran filsafat, pemahaman liberal dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Musibah ini jelas lebih membahayakan daripada terpaan wabah Corona yang kini melanda dunia …Jalan para sahabat inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah as-Sunnah atau manhaj salaf. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Malik; pemuka ulama di kota Madinah di kala itu, tatkala beliau mengatakan, “as-Sunnah ini adalah kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”Karena itulah para ulama kita sangat memuliakan dan mengagungkan para sahabat nabi. Karena kecintaan kepada mereka adalah bagian tak terpisahkan dari agama ini. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat ini dari mencela dan mencaci maki para sahabat. Sebab itu mereka itulah generasi terbaik umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ“Sebaik-baik manusia adalah di masaku, kemudian sesudah mereka, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia itu adalah orang zindik/sesat.”Di mana kah kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; apabila para sahabat dan pembela dakwahnya justru kita lecehkan dan kita bodoh-bodohkan. Padahal mereka itulah orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya. Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengikuti jalan mereka secara lahir dan batin. Wallahul musta’aan.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Definisi Bid Ah, Tahmid Dan Takbir, Ayat Tentang Dosa, Hadits Mengenai Menuntut Ilmu, Hadits Tentang Bisnis

Sederhana, Luar Biasa

Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sederhana, Luar Biasa

Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Sederhana, Luar Biasa Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita,  جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟  Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153) Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia. Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk. Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari. Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll. Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

2 Sumber Maksiat

2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

2 Sumber Maksiat

2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


2 Sumber Maksiat Ibnul Qayyim mengatakan,   أَكْثَرُ الْمَعَاصِى إِنَّمَا تَوَلُّدُهَا مِنْ فُضُوْلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ وَهُمَا أَوْسَعُ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ لَا يَمِلَّانِ وَلَا يَسْأَمَانِ “Mayoritas maksiat itu terjadi gara-gara berbicara yang tidak perlu dan memandang hal yang tidak perlu dipandang. Ucapan dan pandangan adalah pintu setan yang paling banyak menghasilkan dosa. Sebabnya adalah karena lidah dan mata merupakan dua anggota badan yang tidak pernah jemu dan bosan beraktivitas.” (Badai’ al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 2/498)  Ada dua sumber utama maksiat. Membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan. Dari ini muncul dosa mengejek, mengolok-olok, menghina, ghibah dll. Memandang hal yang tidak perlu dipandang. Dari ini muncul dosa melihat konten porno, zina, mencuri (karena melihat harta orang lain lantas menginginkannya) dll.  Kiat efektif mengurangi kadar maksiat adalah dengan mengendalikan pandangan mata dan perkataan dengan lisan atau tulisan. Mata dan lidah adalah dua makhluk Allah yang luar biasa. Seharian beraktivitas tanpa merasa capek dan bosan. Karena karakter ini, keduanya berpotensial besar melakukan fudhul, aktivitas nir manfaat yang seringkali berujung maksiat dan dosa.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk dosa-dosa lidah dan mata. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 4 – Keutamaan Keridhaan Orang Tua

Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 4 – Keutamaan Keridhaan Orang Tua

Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.
Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.


Ilustrasi #unsplashKeutamaan Keridhaan Orang TuaOleh: DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ  .أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُDari ‘Abdullāh bin ‘Amr bin Al-‘Āsh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā: dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda, “Keridhāan Allāh itu berada pada keridhāan kedua orang tua, dan kemarahan Allāh itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān dan Al-Hākim)Tidak diragukan lagi bahwasanya hak kedua orang tua sangatlah besar. Allāh ﷻ telah mengingatkan hal ini di banyak ayat dalam Al-Qurān. Di antaranya firman Allāh ﷻ berikut ini,أَنِ اشْكرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah (berterima-kasihlah) kepada kedua orangtuamu, dan kepada-Ku lah kalian akan kembali.” (QS. Luqmān: 14)Dalam ayat ini Allāh menggandengkan perintah untuk bersyukur kepada Allāh dengan perintah untuk bersyukur/berbakti/berterima kasih kepada kedua orang tua. Kemudian, Allāh menutup ayat tersebut dengan mengatakan, “Ingatlah, kalian akan dikembalikan kepada-Ku”. Artinya, kalian akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh ﷻ, apakah kalian bersyukur/berterima kasih kepada kedua orang tua atau tidak?وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ“Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allāh ﷻ dan berbaktilah kepada kedua orangtua kalian.”  (QS. Al-Isrā: 23)Dalam ayat ini, Allāh menggandengkan antara hak tauhid Allāh ﷻ dengan hak berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini menunjukkan agungnya hak berbakti kepada kedua orangtua.Barangsiapa yang mengerti bahasa Arab, kalimat  “إِحْسَانًا” adalah maf’ul muthlaq yang didatangkan untuk “penekanan”, seakan-akan taqdirnya (kalimat yang dimaksudkan)وَأَحْسِنُ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا“Berbaktilah kepada kedua orangtua dengan sebakti-baktinya.”Allāh memerintahkan kita tidak hanya sekedar berbakti sewajarnya. Tetapi Allāh menyuruh untuk berbakti sebakti-baktinya kepada kedua orangtua. Ini menunjukkan akan agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Oleh karenanya, barangsiapa yang tidak menggunakan kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtua, maka dia adalah orang yang celaka.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abū Hurairah, dari Nabi ﷺ, Beliau bersabda,رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قَيْلَ : مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدِهِمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ“Sungguh celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?” Nabi  berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua (jompo), salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak bisa masuk surga.”Kenapa Rasūlullāh ﷺ mengatakan “celaka”? Karena berbakti kepada orangtua di masa jompo mereka merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mendulang pahala. Pintu surga telah terbuka selebar-lebarnya agar kita bisa masuk  ke dalamnya dengan jalan berbakti kepada kedua orangtua, terutama tatkala mereka berdua dalam kondisi lemah lagi sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bantuan. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya dalam kondisi seperti itu, maka ia termasuk orang yang celaka. Dia menyia-nyiakan pintu surga yang sudah dibuka lebar-lebar dan bahkan memilih jalan ke neraka dengan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Maka, apa namanya orang yang demikian jika bukan orang yang celaka?Meskipun demikian, kita tidak boleh ta’at kepada orangtua jika dalam hal bermaksiat kepada Allāh ﷻ. Kita hanya ta’at kepada kedua orangtua tatkala mereka berdua menyuruh kita kepada perkara yang ma’ruf. Oleh karenanya, Allāh ingatkan dalam Al-Qurān:وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا“Dan jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik kepadaKu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah engkau ta’ati keduanya. Akan tetapi tetaplah pergaulilah mereka berdua dengan cara yang baik.” (QS. Luqmān: 15)Ayat ini menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua bagaimanapun kondisi mereka. Perhatikan dengan saksama ayat ini. Ayat ini menceritakan kedua orangtua  yang sangat besar dosanya. Mereka bukan hanya sekedar peminum khamr, pembunuh, atau pencuri melainkan mereka adalah orang musyrik dan bahkan juga menyuruh anaknya untuk berbuat syirik. Maka Allāh mengatakan bahwa sang anak tidak boleh ta’at kepada kedua orangtua, akan tetapi sang anak tetap diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya.Seringkali timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.“Ustadz, bagaimana jika orangtua saya ternyata menzhalimi saya?”“Ustadz, bagaimana jika ternyata orangtua saya dulu tidak menafkahi saya?”“Ustadz, bagaimana dengan ayah saya, sejak kecil saya dan ibu saya ditinggalkan oleh ayah saya.” “Bagaimana, apakah saya wajib untuk berbakti?”Maka jawabannya adalah tetap wajib berbakti bagai-manapun kondisi orangtua. Orang tua merupakan sebab seorang anak ada di dunia ini. Seandainya kedua orangtua tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka seorang anak tidak akan muncul di atas muka bumi ini. Maka bagaimanapun kondisi orangtua, tetap wajib bagi anak untuk berbakti kepadanya. Jangankan hanya sekedar orangtua tidak memberi nafkah, bahkan orangtua di atas kesyirikan pun wajib bagi si anak untuk berbakti kepada orangtua.Akan tetapi jika orangtua menyuruh kepada kemaksiatan maka tidak boleh dita’ati. Rasūlullāh ﷺ bersabda,لاَ طاَعَة لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخَالِقٍ“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bemaksiat kepada Allāh ﷻ.” (Shahih, HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lain, dengan lafadz Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani; Lihat As-Shahihah No. 179)Hadits ini merupakan kaidah dasar yang perlu dipahami. Jika ternyata orangtua memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh dita’ati. Tidaklah layak bagi seorang muslim untuk menyenangkan orangtua tetapi dengan mendatangkan kemurkaan Allāh ﷻ. Jika orangtua menyuruh untuk meninggalkan suatu yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Akan tetapi jika orang tua menyuruh kita kepada perkara-perkara baik atau perkara yang mubah (diperbolehkan), maka wajib ditaati oleh anaknya.Sebagian ulama menyebutkan, “Jika ada perkara ilmu agama yang wajib dipelajari tetapi orang tua tidak mengizinkan, maka seorang anak boleh untuk tidak meminta izin kepada orang tuanya dan tetap belajar tanpa izinnya.Misalnya, seseorang anak hendak melaksanakan ibadah haji tetapi ia tidak tahu cara berhaji. Dalam situasi seperti ini, wajib baginya belajar ilmu tentang haji. Contoh lainnya, seorang anak tidak tahu cara shalat yang benar, dia harus belajar fiqh shalat. Jika ia ingin menikah, maka ia pun wajib belajar ilmu tentang pernikahan. Dalam situasi seperti ini, ia wajib menuntut ilmu tanpa meminta izin orang tua meskipun orang tua tidak ridha.Mengapa demikian? Karena menuntut ilmu dalam situasi seperti itu termasuk fardhu ‘ain sedangkan melaksanakan kewajiban dari Allah ﷻ tidak boleh dikalahkan dengan kewajiban untuk membahagiakan orang tua.Ada permasalahan yang sering ditanyakan, “Bagaimana jika orangtua  menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?”Permasalahan seperti ini sering ditanyakan kepada para ulama. Maka para ulama menjelaskan permasalahan ini secara khusus.Jika orangtua benci dengan istri anaknya kemudian mereka menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya?Maka apa yang harus dilakukan oleh sang anak?Jawabannya adalah: bahwasanya menceraikan istri adalah perkara yang buruk dan dicintai oleh syaithān. Dengan demikian jika seorang anak disuruh orang tuanya untuk menceraikan istrinya tanpa ada alasan yang syar’i, maka perintah orang tua tersebut tidak boleh ditaati. Misalnya perintah orang tua itu hanya didasarkan pada silang pendapat antara dirinya dengan menantunya, persinggungan perasaan, atau hal-hal yang tidak syar’i lainnya.Bagaimana pun istri si anak memiliki hak terhadap suaminya. Dia telah dinikahi dan telah berkorban untuk suaminya. Maka istri tidak berhak diceraikan begitu saja tanpa ada alasan-alasan syar’i yang kuat.  Adapun jika alasannya  adalah alasan yang syar’i maka boleh saja perintah itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan.Ada seseorang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullāh: “Sesungguhnya ayahku memerintahkan aku untuk menceraikan istriku.” Maka kata Imam Ahmad: “Jangan engkau ceraikan istrimu.” Maka orang ini berkata: “Bukankah ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu pernah memerintahkan putranya (‘Abdullāh bin ‘Umar) untuk menceraikan istrinya?” Maka kata Imam Ahmad rahimahullāh: “Kalau ayahmu sudah seperti ‘Umar bin Khaththāb, lalu memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu, maka lakukanlah.”Inilah fiqih yang agung dari Imam Ahmad. Ketika ‘Umar bin Khaththāb radhiallahu ‘anhu menyuruh ‘Abdullah Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya tentu bukan tanpa alasan syar’i yang kuat. Bagaimana pun ‘Umar bin Khaththāb adalah seorang yang bertaqwa dan sangat memahami tentang masalah fiqh cerai. Maka jika ayah penanya sama ‘ālim dan bertaqwanya sebagaimana ‘Umar, kemudian ia memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka boleh saja perintah itu ditaati. Atau jika memang orang tua memerintahkan untuk mencerai namun memang perintahnya tersebut dibangun diatas alasan syar’i maka tidak mengapa sang anak menceraikan. Adapun jika ternyata orang tuanya tidak seperti Umar, perintah menceraikannya tidak dibangun diatas alasan yang syar’i, maka tidak boleh ditaati.Demikianlah, betapa agungnya berbakti kepada kedua orangtua. Jika seorang anak menjadikan orangtua ridhā kepadanya, berarti ia telah mendatangkan keridhāan Allāh kepada dirinya. Namun jika seorang anak menjadikan orangtua murka kepadanya, maka sesungguhnya anak tersebut telah mendatangkan kemurkaan Allāh bagi dirinya sendiri.Wallahu a’lam.

Karakter Lisan

Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Karakter Lisan

Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Karakter Lisan كما أن اللسان إذا اشتغل بتكلم بما لا ينفع لم يتمكن صاحبه من النطق بما ينفعه إلا إذا فرغ لسانه من النطق بالباطل Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Al-Fawaid mengatakan, “Lisan itu jika disibukkan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat maka pemilik lisan tersebut tidak akan memiliki kemampuan untuk mengucapkan hal-hal yang bermanfaat kecuali jika dia bersihkan lisannya terlebih dahulu dari hal yang sia-sia.” Termasuk lisan adalah tulisan.  Perkataan yang bermanfaat itu ada dua macam: Bermanfaat secara dunia karena menumbuhkan keakraban dan kedekatan hati, menghilangkan kesedihan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan dll.  Bermanfaat secara agama dan akherat karena berbuah pahala di sisi Allah berupa kalimat-kalimat dzikir, menebarkan ilmu agama, mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan jeleknya keburukan dll.  Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh lisan adalah membaca Al-Quran, firman-firman Allah.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ketika Iman Menurun

Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ketika Iman Menurun

Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ketika Iman Menurun Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama era tabi’in mengatakan,  إن القلوب تموت وتحيا فإذا هي ماتت فاحملوها على الفرائض فإذا هي  أحييت فأدبوها بالتطوع “Hati itu kadang mati kadang hidup normal. Jika hati sedang mati paksa badan untuk tetap melaksanakan hal-hal yang wajib. Jika hati sedang dalam kondisi hidup normal didik badan untuk melakukan hal-hal yang hukumnya dianjurkan.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hal 216). Iman yang ada di hati manusia itu kadang naik kadang turun. Ketika kondisi turun hati seakan-akan mati, tidak ada semangat untuk taat. Dalam kondisi ini upayakan agar tidak sampai meninggalkan kewajiban agama.  Sebaliknya ketika iman sedang naik sehingga hati itu hidup sempurna manfaatkan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal-amal sunnah.  “Kenalilah diri kita sendiri dan berikan model ibadah yang pas baginya.” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat

Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ketika turun ayat,الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ“Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ ( لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ) بِشِرْكٍ ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ ( يَا بُنَىَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ )“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Asal makna zalim dalam bahasa Arab adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa saja yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya maka dia dikatakan telah berbuat zalim dalam bahasa Arab. Dan sebesar-besar bentuk kezaliman -dalam artian meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya- adalah meletakkan ibadah kepada selain Yang menciptakan. Maka barangsiapa yang meletakkan ibadah kepada selain Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu artinya dia telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya … ” (Lihat al-‘Adzbu an-Namiir min Majalis asy-Syinqithi fit Tafsir, 1/82)Oleh sebab itulah, di dalam al-Qur’an Allah sering menyebut perbuatan syirik sebagai bentuk kezaliman. Di antaranya adalah firman Allah,وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ“Dan janganlah kamu menyeru/beribadah kepada selain Allah sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka dengan begitu kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus : 106)Baca Juga: Belajar Tauhid, Mengapa Tidak?Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Semakin bertambah nilai tauhid pada diri seorang hamba, maka akan terhapuslah dosa-dosa sebanding dengan kadar keagungan tauhid itu. Dan semakin bertambah tauhid pada seorang hamba maka dia akan meraih keamanan di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar keagungan tauhid itu di dalam dirinya … ” (Lihat at-Tam-hid, hal. 23) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Apabila seorang mukmin terbebas dari syirik besar dan kecil serta perbuatan zalim kepada sesama maka dia akan memperoleh hidayah dan keamanan yang sempurna di dunia dan di akhirat. Adapun, apabila dia terbebas dari syirik akbar namun tidak bersih dari syirik kecil atau sebagian dosa yang lain maka hidayah yang diperolehnya tidak sempurna. Keamanan yang dirasakannya pun tidak sempurna. Bahkan, bisa jadi dia harus masuk ke dalam neraka akibat kemaksiatan yang dia lakukan dan dia belum bertaubat darinya.” (Lihat Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 19-20, lihat juga at-Tam-hid, hal. 25)Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amalannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Konsekuensi dari syahadat ‘asyhadu anlaa ilaha illallah’ adalah mengikhlaskan amal untuk Allah semata sehingga tidaklah dipalingkan suatu bentuk ibadah apapun kepada selain-Nya, bahkan seluruh ibadah itu dimurnikan hanya untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan konsekuensi dari syahadat ‘wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ adalah ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak boleh diibadahi dengan bid’ah, perkara-perkara yang baru dalam agama ataupun segala bentuk kemungkaran. (Lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/190)Baca Juga: Menengok Agungnya Muatan Kitab TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً“Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (al-Furqan : 23).” (Lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik, bertentangan dengan Islam. Oleh sebab itulah, pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (Lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu, orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukanlah pemilik keimanan yang benar (Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 145)Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at,وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102); mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ (Lihat tafsir al-Baghawi yang berjudul Ma’alim at-Tanzil, hal. 229)   Baca Juga: Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah TauhidSyaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah tauhid merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka. Yaitu apabila di dalam hatinya masih terdapat tauhid, meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati, maka akan menghalangi masuk neraka secara keseluruhan (tidak masuk neraka sama sekali).” (Lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah Ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (Lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)    Syahadat laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada ma’bud [sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna ma’luh [sesembahan], sedangkan kata ta’alluh bermakna ta’abbud [beribadah]. Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan laa ilaha, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan illallah. Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan -setelah keimanan di dalam hati- bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah; dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. (Lihat Fatawa Arkan al-Islam hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat tauhid ini mengandung makna tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Yang dimaksud tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perbuatan hamba yang bernilai ibadah -secara lahir maupun batin- seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, menyembelih kurban, nadzar, cinta, takut, harap, tawakal, roghbah, rohbah, doa, dan lain sebagainya yang telah disyari’atkan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, tauhid ibadah adalah menujukan segala bentuk ibadah kepada Allah semata. Sehingga barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka dia termasuk golongan orang kafir dan musyrik (Lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidati as-Salaf [1/297] oleh Dr. Abdullah al-Ghafili)Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَتَانِي جِبْرِيلُ فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى قَالَ وَإِنْ سَرَقَ وَإِنْ زَنَى“Telah datang Jibril ‘alaihis salam kepadaku dan dia memberikan kabar gembira kepadaku; bahwa barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk surga.” Lalu aku berkata, “Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?”. Beliau menjawab, “Meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “ … Apabila dia -orang yang bertauhid- itu adalah seorang pelaku dosa besar yang meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya (belum bertaubat dari dosa besarnya) maka dia berada di bawah kehendak Allah (terserah Allah mau menghukum atau memaafkannya). Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia akan disiksa terlebih dulu lalu dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘meskipun dia berzina dan mencuri’, maka ini adalah hujjah/dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar -dari kalangan umat Islam, pent- tidak boleh dipastikan masuk ke dalam neraka. Dan apabila ternyata mereka diputuskan masuk (dihukum) ke dalamnya maka mereka [pada akhirnya] akan dikeluarkan dan akhir keadaan mereka adalah kekal di dalam surga … ” (Lihat Syarh Muslim [2/168])Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Dahulu saya pernah membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Ketika itu beliau berkata kepadaku, يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟“Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apakah hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba kepada Allah ialah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya kabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا“Jangan kabarkan berita gembira ini kepada mereka karena itu akan membuat mereka bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertauhid tempat kembali mereka adalah surga, walaupun sebagian diantara mereka harus diazab terlebih dulu di dalam neraka -karena dosanya- sebab tauhid itulah yang menjadi sebab keselamatan dirinya. Adapun orang-orang kafir, musyrik, dan munafik -nifak akbar- maka tempat tinggal mereka di akhirat adalah neraka. Mereka kekal di dalamnya dan tidak bisa masuk surga (Lihat I’anatul Mustafid, 1/64)Baca Juga:Demikian sedikit kumpulan catatan, semoga bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Minta Maaf Sebelum Ramadhan, Merapikan Jenggot, Penyakit Isyq, Taqlid Artinya, Minyak Wangi Buat Sholat
Prev     Next