Allah di Atas ‘Arsy Ataukah Dekat Bersama Kita?

Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Allah di Atas ‘Arsy Ataukah Dekat Bersama Kita?

Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan

 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa

Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan

 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa
 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa


 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) <img class="size-medium wp-image-60089 aligncenter" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-240x300.jpg 240w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-819x1024.jpg 819w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-768x960.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah.jpg 1024w" sizes="(max-width: 240px) 100vw, 240px" />KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)

Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)

Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Beliau Pun Menyimak dan Mencatat (Ikatlah Ilmu dengan Menulis)

Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis

Beliau Pun Menyimak dan Mencatat (Ikatlah Ilmu dengan Menulis)

Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis
Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis


Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis

Pendaftaran Santri Baru Ma’had Mekkah Tahfidzul Qur’an

MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTENTelah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel

Pendaftaran Santri Baru Ma’had Mekkah Tahfidzul Qur’an

MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTENTelah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel
MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTENTelah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel


MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTEN<img class="size-medium wp-image-60025 aligncenter" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-300x300.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-1024x1024.jpg 1024w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-150x150.jpg 150w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-768x768.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-250x250.jpg 250w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Telah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel

Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?

Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras

Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?

Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras
Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras


Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras

Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)

Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)

Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Bila Ada yang Mengkhianati Kita, Bagaimanakah Membalasnya?

Bila ada yang mengkhianati kita, bagaimanakah kita membalasnya? Daftar Isi tutup 1. Apa itu khianat? 2. Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? 3. Zalim 4. Muqtashid 5. Muhsin 6. Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN 7. Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? 7.1. Referensi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ ، وَلا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “Tunaikanlah amanat pada yang memberikan amanat kepadamu. Janganlah berlaku khianat pada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Tirmidzi, no. 1264; Abu Daud, no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al-Albani menyatakan sahih hadits ini). Hadits ini jadi dalil tentang perintah orang yang menunaikan amanat pada muamalat dan hal lainnya. Akan tetapi, jika ada yang berkhianat kepada kita, tak perlu membalas dengan khianat.   Apa itu khianat? Khianat itu lawan dari amanat. Dalam Mufradat Alfazh Al-Qur’an disebutkan bahwa khianat adalah, ‎مخالفة الحق بنقض العهد في السر “Menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian diam-diam.” Hakikat khianat menurut Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir adalah, ‎عمل من اؤتمن على شيء بضد ما اؤتمن لأجله، بدون علم صاحب الأمانة Menjalankan berbeda dari yang diamanatkan, tanpa diketahui orang yang memberi amanat. Pengertian di atas diambil dari dorar.net: https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا   Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan dalam Qa’idah fii Ash-Shabr bahwa manusia dalam membalas dendam ada tiga macam: Pertama, zalim yaitu yang membalas lebih dari kewajaran. Kedua, muqtashid yaitu yang membalas sewajarnya (sama dengan tindakan zalim). Ketiga, muhsinun yaitu yang memaafkan dan tidak membalas sama sekali. ‎قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله- في قاعدة في الصبر: ‎الناس عند مقابلة الأذى ثلاثة أقسام: 1- ظالم يأخذ فوق حقه ‎2-مقتصد يأخذ بقدر حقه. 3- محسن يعفو ويترك حقه.أهـ   Zalim Orang zalim adalah yang membalas lebih dari kewajaran. Kezaliman dengan berbagai macam bentuk itu diharamkan. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, ‎يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku tidak berbuat zalim dan Aku pun mengharamkan kalian berbuat zalim. Janganlah saling menzalimi satu sama lain.” (HR. Muslim, no. 2577) Ingatlah bahwa kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Hati-hati kezaliman karena zalim itu kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2578)   Muqtashid Muqtashid adalah orang yang membalas sewajarnya tanpa membalas lebih. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Dalam ayat lain disebutkan, ‎وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) ‎وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)   Muhsin Muhsin artinya orang yang memaafkan dan tidak membalas dendam sama sekali. Inilah sifat yang terpuji. Dalam ayat disebutkan, ‎وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22) ‎وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134) ‎فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ “maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)   Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN Allah Ta’ala berfirman, ‎وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Jika ada yang berbuat jelek kepadamu balaslah dengan kebaikan kepadanya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika ada yang berbuat salah kepadamu, maka balaslah dengan suatu ketaatan kepada Allah kepadanya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:529) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang ayat ini, “Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bersabar ketika marah dan bersikap lemah lembut menghadapi orang yang bodoh, lalu bersikap memberikan maaf kepada orang yang berbuat jelek. Jika seperti itu dilakukan, Allah akan menyelamatkan mereka dari gangguan setan, musuhnya akan tunduk, dan akhirnya menjadi teman yang sangat setia.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:530) Ingatlah, yang bisa membalas kejelekan dengan kebaikan hanyalah orang-orang yang bersabar.   Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? Caranya: Jaga jarak dengannya, tetapi jangan sampai putuskan hubungan. Fokus untuk menjadikan diri kita lebih baik. Jalin hubungan dengan banyak orang. Lakukan hal yang bermanfaat untuk dirimu dan orang lain. Jangan menyimpan dendam, besarkan hatimu untuk memaafkan. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maaliki Yaumid diin, Pemilik Hari Pembalasan kelak. Jika ada yang berkhianat kepada kita, pasti akan ada hukuman yang sangat adil oleh Al-Maalik di akhirat besok.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://rumaysho.com/768-balaslah-kejelekan-dengan-kebaikan.html https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا https://islamekk.net/play.php?catsmktba=2107 Baca Juga: Bulughul Maram – Akhlak: Membalas Kebaikan Orang Lain Sebab Hasad (Dengki) dan Cara Menghadapi Orang yang Hasad — Ahad sore di Darush Sholihin, 27 Rabi’uts Tsani 1442 H, 13 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat ciri munafik kemunafikan khianat munafik

Bila Ada yang Mengkhianati Kita, Bagaimanakah Membalasnya?

Bila ada yang mengkhianati kita, bagaimanakah kita membalasnya? Daftar Isi tutup 1. Apa itu khianat? 2. Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? 3. Zalim 4. Muqtashid 5. Muhsin 6. Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN 7. Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? 7.1. Referensi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ ، وَلا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “Tunaikanlah amanat pada yang memberikan amanat kepadamu. Janganlah berlaku khianat pada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Tirmidzi, no. 1264; Abu Daud, no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al-Albani menyatakan sahih hadits ini). Hadits ini jadi dalil tentang perintah orang yang menunaikan amanat pada muamalat dan hal lainnya. Akan tetapi, jika ada yang berkhianat kepada kita, tak perlu membalas dengan khianat.   Apa itu khianat? Khianat itu lawan dari amanat. Dalam Mufradat Alfazh Al-Qur’an disebutkan bahwa khianat adalah, ‎مخالفة الحق بنقض العهد في السر “Menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian diam-diam.” Hakikat khianat menurut Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir adalah, ‎عمل من اؤتمن على شيء بضد ما اؤتمن لأجله، بدون علم صاحب الأمانة Menjalankan berbeda dari yang diamanatkan, tanpa diketahui orang yang memberi amanat. Pengertian di atas diambil dari dorar.net: https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا   Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan dalam Qa’idah fii Ash-Shabr bahwa manusia dalam membalas dendam ada tiga macam: Pertama, zalim yaitu yang membalas lebih dari kewajaran. Kedua, muqtashid yaitu yang membalas sewajarnya (sama dengan tindakan zalim). Ketiga, muhsinun yaitu yang memaafkan dan tidak membalas sama sekali. ‎قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله- في قاعدة في الصبر: ‎الناس عند مقابلة الأذى ثلاثة أقسام: 1- ظالم يأخذ فوق حقه ‎2-مقتصد يأخذ بقدر حقه. 3- محسن يعفو ويترك حقه.أهـ   Zalim Orang zalim adalah yang membalas lebih dari kewajaran. Kezaliman dengan berbagai macam bentuk itu diharamkan. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, ‎يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku tidak berbuat zalim dan Aku pun mengharamkan kalian berbuat zalim. Janganlah saling menzalimi satu sama lain.” (HR. Muslim, no. 2577) Ingatlah bahwa kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Hati-hati kezaliman karena zalim itu kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2578)   Muqtashid Muqtashid adalah orang yang membalas sewajarnya tanpa membalas lebih. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Dalam ayat lain disebutkan, ‎وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) ‎وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)   Muhsin Muhsin artinya orang yang memaafkan dan tidak membalas dendam sama sekali. Inilah sifat yang terpuji. Dalam ayat disebutkan, ‎وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22) ‎وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134) ‎فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ “maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)   Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN Allah Ta’ala berfirman, ‎وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Jika ada yang berbuat jelek kepadamu balaslah dengan kebaikan kepadanya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika ada yang berbuat salah kepadamu, maka balaslah dengan suatu ketaatan kepada Allah kepadanya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:529) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang ayat ini, “Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bersabar ketika marah dan bersikap lemah lembut menghadapi orang yang bodoh, lalu bersikap memberikan maaf kepada orang yang berbuat jelek. Jika seperti itu dilakukan, Allah akan menyelamatkan mereka dari gangguan setan, musuhnya akan tunduk, dan akhirnya menjadi teman yang sangat setia.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:530) Ingatlah, yang bisa membalas kejelekan dengan kebaikan hanyalah orang-orang yang bersabar.   Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? Caranya: Jaga jarak dengannya, tetapi jangan sampai putuskan hubungan. Fokus untuk menjadikan diri kita lebih baik. Jalin hubungan dengan banyak orang. Lakukan hal yang bermanfaat untuk dirimu dan orang lain. Jangan menyimpan dendam, besarkan hatimu untuk memaafkan. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maaliki Yaumid diin, Pemilik Hari Pembalasan kelak. Jika ada yang berkhianat kepada kita, pasti akan ada hukuman yang sangat adil oleh Al-Maalik di akhirat besok.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://rumaysho.com/768-balaslah-kejelekan-dengan-kebaikan.html https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا https://islamekk.net/play.php?catsmktba=2107 Baca Juga: Bulughul Maram – Akhlak: Membalas Kebaikan Orang Lain Sebab Hasad (Dengki) dan Cara Menghadapi Orang yang Hasad — Ahad sore di Darush Sholihin, 27 Rabi’uts Tsani 1442 H, 13 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat ciri munafik kemunafikan khianat munafik
Bila ada yang mengkhianati kita, bagaimanakah kita membalasnya? Daftar Isi tutup 1. Apa itu khianat? 2. Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? 3. Zalim 4. Muqtashid 5. Muhsin 6. Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN 7. Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? 7.1. Referensi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ ، وَلا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “Tunaikanlah amanat pada yang memberikan amanat kepadamu. Janganlah berlaku khianat pada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Tirmidzi, no. 1264; Abu Daud, no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al-Albani menyatakan sahih hadits ini). Hadits ini jadi dalil tentang perintah orang yang menunaikan amanat pada muamalat dan hal lainnya. Akan tetapi, jika ada yang berkhianat kepada kita, tak perlu membalas dengan khianat.   Apa itu khianat? Khianat itu lawan dari amanat. Dalam Mufradat Alfazh Al-Qur’an disebutkan bahwa khianat adalah, ‎مخالفة الحق بنقض العهد في السر “Menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian diam-diam.” Hakikat khianat menurut Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir adalah, ‎عمل من اؤتمن على شيء بضد ما اؤتمن لأجله، بدون علم صاحب الأمانة Menjalankan berbeda dari yang diamanatkan, tanpa diketahui orang yang memberi amanat. Pengertian di atas diambil dari dorar.net: https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا   Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan dalam Qa’idah fii Ash-Shabr bahwa manusia dalam membalas dendam ada tiga macam: Pertama, zalim yaitu yang membalas lebih dari kewajaran. Kedua, muqtashid yaitu yang membalas sewajarnya (sama dengan tindakan zalim). Ketiga, muhsinun yaitu yang memaafkan dan tidak membalas sama sekali. ‎قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله- في قاعدة في الصبر: ‎الناس عند مقابلة الأذى ثلاثة أقسام: 1- ظالم يأخذ فوق حقه ‎2-مقتصد يأخذ بقدر حقه. 3- محسن يعفو ويترك حقه.أهـ   Zalim Orang zalim adalah yang membalas lebih dari kewajaran. Kezaliman dengan berbagai macam bentuk itu diharamkan. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, ‎يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku tidak berbuat zalim dan Aku pun mengharamkan kalian berbuat zalim. Janganlah saling menzalimi satu sama lain.” (HR. Muslim, no. 2577) Ingatlah bahwa kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Hati-hati kezaliman karena zalim itu kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2578)   Muqtashid Muqtashid adalah orang yang membalas sewajarnya tanpa membalas lebih. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Dalam ayat lain disebutkan, ‎وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) ‎وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)   Muhsin Muhsin artinya orang yang memaafkan dan tidak membalas dendam sama sekali. Inilah sifat yang terpuji. Dalam ayat disebutkan, ‎وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22) ‎وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134) ‎فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ “maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)   Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN Allah Ta’ala berfirman, ‎وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Jika ada yang berbuat jelek kepadamu balaslah dengan kebaikan kepadanya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika ada yang berbuat salah kepadamu, maka balaslah dengan suatu ketaatan kepada Allah kepadanya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:529) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang ayat ini, “Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bersabar ketika marah dan bersikap lemah lembut menghadapi orang yang bodoh, lalu bersikap memberikan maaf kepada orang yang berbuat jelek. Jika seperti itu dilakukan, Allah akan menyelamatkan mereka dari gangguan setan, musuhnya akan tunduk, dan akhirnya menjadi teman yang sangat setia.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:530) Ingatlah, yang bisa membalas kejelekan dengan kebaikan hanyalah orang-orang yang bersabar.   Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? Caranya: Jaga jarak dengannya, tetapi jangan sampai putuskan hubungan. Fokus untuk menjadikan diri kita lebih baik. Jalin hubungan dengan banyak orang. Lakukan hal yang bermanfaat untuk dirimu dan orang lain. Jangan menyimpan dendam, besarkan hatimu untuk memaafkan. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maaliki Yaumid diin, Pemilik Hari Pembalasan kelak. Jika ada yang berkhianat kepada kita, pasti akan ada hukuman yang sangat adil oleh Al-Maalik di akhirat besok.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://rumaysho.com/768-balaslah-kejelekan-dengan-kebaikan.html https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا https://islamekk.net/play.php?catsmktba=2107 Baca Juga: Bulughul Maram – Akhlak: Membalas Kebaikan Orang Lain Sebab Hasad (Dengki) dan Cara Menghadapi Orang yang Hasad — Ahad sore di Darush Sholihin, 27 Rabi’uts Tsani 1442 H, 13 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat ciri munafik kemunafikan khianat munafik


Bila ada yang mengkhianati kita, bagaimanakah kita membalasnya? Daftar Isi tutup 1. Apa itu khianat? 2. Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? 3. Zalim 4. Muqtashid 5. Muhsin 6. Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN 7. Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? 7.1. Referensi: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ ، وَلا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “Tunaikanlah amanat pada yang memberikan amanat kepadamu. Janganlah berlaku khianat pada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Tirmidzi, no. 1264; Abu Daud, no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al-Albani menyatakan sahih hadits ini). Hadits ini jadi dalil tentang perintah orang yang menunaikan amanat pada muamalat dan hal lainnya. Akan tetapi, jika ada yang berkhianat kepada kita, tak perlu membalas dengan khianat.   Apa itu khianat? Khianat itu lawan dari amanat. Dalam Mufradat Alfazh Al-Qur’an disebutkan bahwa khianat adalah, ‎مخالفة الحق بنقض العهد في السر “Menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian diam-diam.” Hakikat khianat menurut Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir adalah, ‎عمل من اؤتمن على شيء بضد ما اؤتمن لأجله، بدون علم صاحب الأمانة Menjalankan berbeda dari yang diamanatkan, tanpa diketahui orang yang memberi amanat. Pengertian di atas diambil dari dorar.net: https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا   Bagaimana membalas orang yang berkhianat kepada kita? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan dalam Qa’idah fii Ash-Shabr bahwa manusia dalam membalas dendam ada tiga macam: Pertama, zalim yaitu yang membalas lebih dari kewajaran. Kedua, muqtashid yaitu yang membalas sewajarnya (sama dengan tindakan zalim). Ketiga, muhsinun yaitu yang memaafkan dan tidak membalas sama sekali. ‎قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله- في قاعدة في الصبر: ‎الناس عند مقابلة الأذى ثلاثة أقسام: 1- ظالم يأخذ فوق حقه ‎2-مقتصد يأخذ بقدر حقه. 3- محسن يعفو ويترك حقه.أهـ   Zalim Orang zalim adalah yang membalas lebih dari kewajaran. Kezaliman dengan berbagai macam bentuk itu diharamkan. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, ‎يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku tidak berbuat zalim dan Aku pun mengharamkan kalian berbuat zalim. Janganlah saling menzalimi satu sama lain.” (HR. Muslim, no. 2577) Ingatlah bahwa kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Hati-hati kezaliman karena zalim itu kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2578)   Muqtashid Muqtashid adalah orang yang membalas sewajarnya tanpa membalas lebih. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ “Oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194) Dalam ayat lain disebutkan, ‎وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126) ‎وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)   Muhsin Muhsin artinya orang yang memaafkan dan tidak membalas dendam sama sekali. Inilah sifat yang terpuji. Dalam ayat disebutkan, ‎وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22) ‎وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134) ‎فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ “maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)   Yang terbaik adalah membalas keburukan dengan KEBAIKAN Allah Ta’ala berfirman, ‎وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Jika ada yang berbuat jelek kepadamu balaslah dengan kebaikan kepadanya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jika ada yang berbuat salah kepadamu, maka balaslah dengan suatu ketaatan kepada Allah kepadanya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:529) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang ayat ini, “Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk bersabar ketika marah dan bersikap lemah lembut menghadapi orang yang bodoh, lalu bersikap memberikan maaf kepada orang yang berbuat jelek. Jika seperti itu dilakukan, Allah akan menyelamatkan mereka dari gangguan setan, musuhnya akan tunduk, dan akhirnya menjadi teman yang sangat setia.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:530) Ingatlah, yang bisa membalas kejelekan dengan kebaikan hanyalah orang-orang yang bersabar.   Jika ada yang mengkhianatimu di dunia, bagaimana membalasnya? Caranya: Jaga jarak dengannya, tetapi jangan sampai putuskan hubungan. Fokus untuk menjadikan diri kita lebih baik. Jalin hubungan dengan banyak orang. Lakukan hal yang bermanfaat untuk dirimu dan orang lain. Jangan menyimpan dendam, besarkan hatimu untuk memaafkan. Allah itu Maha Adil. Allah itu Maaliki Yaumid diin, Pemilik Hari Pembalasan kelak. Jika ada yang berkhianat kepada kita, pasti akan ada hukuman yang sangat adil oleh Al-Maalik di akhirat besok.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://rumaysho.com/768-balaslah-kejelekan-dengan-kebaikan.html https://dorar.net/akhlaq/2182/معنى-الخيانة-لغة-واصطلاحا https://islamekk.net/play.php?catsmktba=2107 Baca Juga: Bulughul Maram – Akhlak: Membalas Kebaikan Orang Lain Sebab Hasad (Dengki) dan Cara Menghadapi Orang yang Hasad — Ahad sore di Darush Sholihin, 27 Rabi’uts Tsani 1442 H, 13 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat ciri munafik kemunafikan khianat munafik

Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh sebagian kaum muslimin ketika tertimpa musibah. Mereka menanyakan, “Apakah musibah ini ujian yang dapat meningkatkan derajat, ataukah azab atas dosa-dosa selama ini?”Jawabannya adalah, secara umum kita tidak bisa memastikan dengan benar-benar pasti bahwa apa yang Allah Ta’ala turunkan ini merupakan ujian yang meningkatkan derajat atau azab akibat dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita bisa mengetahui dari indikasi-indikasi tertentu, yaitu bagaimana seorang hamba menghadapi musibah tersebut.Tanda-tanda musibah ujian atau azabPerhatikanlah hadis berikut, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida, maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Jadi indikasinya adalah bagaimanakah sikap hamba tersebut dalam menyikapi musibah yang dia hadapi. Apabila dia rida, maka Allah Ta’ala akan rida padanya. Apabila dia murka dan tidak terima dengan musibah yang merupakan takdir dan perbuatan Allah, maka Allah pun murka kepadanya.Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah berkata,علامة الابتلاء على وجه العقوبة والمقابلة: عدم الصبر عند وجود البلاء، والجزع والشكوى إلى الخلق. وعلامة الابتلاء تكفيرا وتمحيصا للخطيئات: وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر والطاعات. وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات: وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس، والسكون للأقدار حتى تنكشف“Tanda bala (musibah) sebagai hukuman dan sebagai pembalasan adalah orang tersebut tidak bersabar, bahkan bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tanda bala (musibah) sebagai penebus dan penghapus kesalahan adalah kesabaran yang indah tanpa mengeluh, tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melaksanakan perintah dan ketaatan. Tanda bala  (musibah) sebagai pengangkat derajat adalah adanya rida, merasa cocok/sesuai (atas takdir Allah), dan merasa tenang jiwanya serta tunduk patuh terhadap takdir hingga hilangnya musibah tersebut” (At Tabaqatul Kubra As-Sya’rani, hal. 193).Baca Juga: Azab Lewat HujanSelalu husnuzan kepada Allah dan mengambil pelajaran atas setiap musibahHendaknya kita husnuzan dengan Allah Ta’ala agar kita selalu rida dengan apa yang Allah takdirkan kepada kita. Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik bagi kita.Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku” (HR. Bukhari).Salah satu cara agar kita selalu husnuzan kepada Allah bahwa musibah ini adalah takdir terbaik bagi kita yaitu dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan ujian bagi hamba yang Allah cintai.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida (menerimanya), maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Ujian yang disegerakan di dunia juga tanda kebaikan dari Allah Ta’ala.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak” (HR. Tirmidzi).Renungkan pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berikut ini,مصيبةٌ تُقبل بها على اللهِ، خيرٌ لكَ من نعمةٍ تُنسيك ذِكرَ الله“Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah” (Tasliyah Ahlil Mashaa-ib, hal. 227).Baca Juga:Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id

Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh sebagian kaum muslimin ketika tertimpa musibah. Mereka menanyakan, “Apakah musibah ini ujian yang dapat meningkatkan derajat, ataukah azab atas dosa-dosa selama ini?”Jawabannya adalah, secara umum kita tidak bisa memastikan dengan benar-benar pasti bahwa apa yang Allah Ta’ala turunkan ini merupakan ujian yang meningkatkan derajat atau azab akibat dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita bisa mengetahui dari indikasi-indikasi tertentu, yaitu bagaimana seorang hamba menghadapi musibah tersebut.Tanda-tanda musibah ujian atau azabPerhatikanlah hadis berikut, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida, maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Jadi indikasinya adalah bagaimanakah sikap hamba tersebut dalam menyikapi musibah yang dia hadapi. Apabila dia rida, maka Allah Ta’ala akan rida padanya. Apabila dia murka dan tidak terima dengan musibah yang merupakan takdir dan perbuatan Allah, maka Allah pun murka kepadanya.Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah berkata,علامة الابتلاء على وجه العقوبة والمقابلة: عدم الصبر عند وجود البلاء، والجزع والشكوى إلى الخلق. وعلامة الابتلاء تكفيرا وتمحيصا للخطيئات: وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر والطاعات. وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات: وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس، والسكون للأقدار حتى تنكشف“Tanda bala (musibah) sebagai hukuman dan sebagai pembalasan adalah orang tersebut tidak bersabar, bahkan bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tanda bala (musibah) sebagai penebus dan penghapus kesalahan adalah kesabaran yang indah tanpa mengeluh, tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melaksanakan perintah dan ketaatan. Tanda bala  (musibah) sebagai pengangkat derajat adalah adanya rida, merasa cocok/sesuai (atas takdir Allah), dan merasa tenang jiwanya serta tunduk patuh terhadap takdir hingga hilangnya musibah tersebut” (At Tabaqatul Kubra As-Sya’rani, hal. 193).Baca Juga: Azab Lewat HujanSelalu husnuzan kepada Allah dan mengambil pelajaran atas setiap musibahHendaknya kita husnuzan dengan Allah Ta’ala agar kita selalu rida dengan apa yang Allah takdirkan kepada kita. Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik bagi kita.Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku” (HR. Bukhari).Salah satu cara agar kita selalu husnuzan kepada Allah bahwa musibah ini adalah takdir terbaik bagi kita yaitu dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan ujian bagi hamba yang Allah cintai.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida (menerimanya), maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Ujian yang disegerakan di dunia juga tanda kebaikan dari Allah Ta’ala.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak” (HR. Tirmidzi).Renungkan pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berikut ini,مصيبةٌ تُقبل بها على اللهِ، خيرٌ لكَ من نعمةٍ تُنسيك ذِكرَ الله“Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah” (Tasliyah Ahlil Mashaa-ib, hal. 227).Baca Juga:Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id
Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh sebagian kaum muslimin ketika tertimpa musibah. Mereka menanyakan, “Apakah musibah ini ujian yang dapat meningkatkan derajat, ataukah azab atas dosa-dosa selama ini?”Jawabannya adalah, secara umum kita tidak bisa memastikan dengan benar-benar pasti bahwa apa yang Allah Ta’ala turunkan ini merupakan ujian yang meningkatkan derajat atau azab akibat dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita bisa mengetahui dari indikasi-indikasi tertentu, yaitu bagaimana seorang hamba menghadapi musibah tersebut.Tanda-tanda musibah ujian atau azabPerhatikanlah hadis berikut, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida, maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Jadi indikasinya adalah bagaimanakah sikap hamba tersebut dalam menyikapi musibah yang dia hadapi. Apabila dia rida, maka Allah Ta’ala akan rida padanya. Apabila dia murka dan tidak terima dengan musibah yang merupakan takdir dan perbuatan Allah, maka Allah pun murka kepadanya.Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah berkata,علامة الابتلاء على وجه العقوبة والمقابلة: عدم الصبر عند وجود البلاء، والجزع والشكوى إلى الخلق. وعلامة الابتلاء تكفيرا وتمحيصا للخطيئات: وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر والطاعات. وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات: وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس، والسكون للأقدار حتى تنكشف“Tanda bala (musibah) sebagai hukuman dan sebagai pembalasan adalah orang tersebut tidak bersabar, bahkan bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tanda bala (musibah) sebagai penebus dan penghapus kesalahan adalah kesabaran yang indah tanpa mengeluh, tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melaksanakan perintah dan ketaatan. Tanda bala  (musibah) sebagai pengangkat derajat adalah adanya rida, merasa cocok/sesuai (atas takdir Allah), dan merasa tenang jiwanya serta tunduk patuh terhadap takdir hingga hilangnya musibah tersebut” (At Tabaqatul Kubra As-Sya’rani, hal. 193).Baca Juga: Azab Lewat HujanSelalu husnuzan kepada Allah dan mengambil pelajaran atas setiap musibahHendaknya kita husnuzan dengan Allah Ta’ala agar kita selalu rida dengan apa yang Allah takdirkan kepada kita. Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik bagi kita.Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku” (HR. Bukhari).Salah satu cara agar kita selalu husnuzan kepada Allah bahwa musibah ini adalah takdir terbaik bagi kita yaitu dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan ujian bagi hamba yang Allah cintai.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida (menerimanya), maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Ujian yang disegerakan di dunia juga tanda kebaikan dari Allah Ta’ala.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak” (HR. Tirmidzi).Renungkan pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berikut ini,مصيبةٌ تُقبل بها على اللهِ، خيرٌ لكَ من نعمةٍ تُنسيك ذِكرَ الله“Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah” (Tasliyah Ahlil Mashaa-ib, hal. 227).Baca Juga:Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id


Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh sebagian kaum muslimin ketika tertimpa musibah. Mereka menanyakan, “Apakah musibah ini ujian yang dapat meningkatkan derajat, ataukah azab atas dosa-dosa selama ini?”Jawabannya adalah, secara umum kita tidak bisa memastikan dengan benar-benar pasti bahwa apa yang Allah Ta’ala turunkan ini merupakan ujian yang meningkatkan derajat atau azab akibat dosa-dosa kita. Akan tetapi, kita bisa mengetahui dari indikasi-indikasi tertentu, yaitu bagaimana seorang hamba menghadapi musibah tersebut.Tanda-tanda musibah ujian atau azabPerhatikanlah hadis berikut, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida, maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Jadi indikasinya adalah bagaimanakah sikap hamba tersebut dalam menyikapi musibah yang dia hadapi. Apabila dia rida, maka Allah Ta’ala akan rida padanya. Apabila dia murka dan tidak terima dengan musibah yang merupakan takdir dan perbuatan Allah, maka Allah pun murka kepadanya.Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah berkata,علامة الابتلاء على وجه العقوبة والمقابلة: عدم الصبر عند وجود البلاء، والجزع والشكوى إلى الخلق. وعلامة الابتلاء تكفيرا وتمحيصا للخطيئات: وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر والطاعات. وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات: وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس، والسكون للأقدار حتى تنكشف“Tanda bala (musibah) sebagai hukuman dan sebagai pembalasan adalah orang tersebut tidak bersabar, bahkan bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tanda bala (musibah) sebagai penebus dan penghapus kesalahan adalah kesabaran yang indah tanpa mengeluh, tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melaksanakan perintah dan ketaatan. Tanda bala  (musibah) sebagai pengangkat derajat adalah adanya rida, merasa cocok/sesuai (atas takdir Allah), dan merasa tenang jiwanya serta tunduk patuh terhadap takdir hingga hilangnya musibah tersebut” (At Tabaqatul Kubra As-Sya’rani, hal. 193).Baca Juga: Azab Lewat HujanSelalu husnuzan kepada Allah dan mengambil pelajaran atas setiap musibahHendaknya kita husnuzan dengan Allah Ta’ala agar kita selalu rida dengan apa yang Allah takdirkan kepada kita. Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik bagi kita.Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku” (HR. Bukhari).Salah satu cara agar kita selalu husnuzan kepada Allah bahwa musibah ini adalah takdir terbaik bagi kita yaitu dengan meyakini bahwa Allah akan memberikan ujian bagi hamba yang Allah cintai.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang rida (menerimanya), maka Allah akan meridainya. Dan barangsiapa yang murka (tidak menerimanya), maka Allah murka kepadanya” (HR. At-Tirmidzi).Ujian yang disegerakan di dunia juga tanda kebaikan dari Allah Ta’ala.Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang dia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak” (HR. Tirmidzi).Renungkan pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berikut ini,مصيبةٌ تُقبل بها على اللهِ، خيرٌ لكَ من نعمةٍ تُنسيك ذِكرَ الله“Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah lebih baik dari nikmat yang membuatmu lupa kepada Allah” (Tasliyah Ahlil Mashaa-ib, hal. 227).Baca Juga:Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.@ Lombok, Pulau seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id

Buku Gratis: Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan

Ini beberapa tips khutbah 15 menit, tetapi insya Allah berkesan. Langkah-langkahnya coba pelajari dalam poin-poin berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Jumat itu Singkat 2. Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai 3. Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah 4. Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan 4.1. Sebelum naik mimbar 4.2. Saat di mimbar 5. Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat 6. Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”: Khutbah Jumat itu Singkat Dari Jabir bin Samurah As-Suwaiy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasihat ketika hari Jumat tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud, no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, ‎خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhan, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian ‘Ammar berkata bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ  فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim, no. 869 dan Ahmad, 4:263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, khutbah dan shalatnya bersifat pertengahan, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Sebagaimana disebutkan oleh Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كُنْتُ أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu shalat beliau bersifat pertengahan, begitu pula khutbahnya.” (HR. Muslim, no. 866). Yang dimaksud bersikap pertengahan di sini adalah tidak terlalu panjang dan tidak terlalu singkat. Lihat Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:255.   Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ”Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan tampak marah. Seolah-olah beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi, musuh akan menyerang kamu pada waktu sore.’” (HR. Muslim, no. 867) Yang dimaksud hadits “tampak mata beliau memerah, suaranya lantang, dan tampak marah” adalah untuk menghilangkan kurang fokusnya hati saat mendengarkan khutbah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, benar-benar terasa keutamaan dan pengaruhnya sehingga jamaah Jumat fokus mendengarkan nasihat. Hadits ini dijadikan dalil bagaimana seorang khatib mesti menyatakan pentingnya isi khutbah yang ingin disampaikan, sehingga suara ketika itu begitu lantang. Nantinya ada jeda yang perlu disesuaikan, ada nasihat untuk memotivasi dan ada nasihat untuk mengingatkan. Adapun maksud tampak marah menunjukkan sangat pentingnya hal yang diingatkan. Lihat bahasan Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:257-258. Dalam riwayat lain, ‎وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ “Tetapi beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang dan jelas. Orang yang duduk menghadap beliau akan mudah menghafal perkataan beliau.” (HR. Tirmidzi, no. 3639. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Cara menjiwai adalah setiap yang ingin disampaikan, hendaklah diamalkan terlebih dahulu. Allah Ta’ala berfirman, ‎أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Ayat di atas tidaklah menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar makruf nahi mungkar secara total. Namun, ayat tersebut cuma menunjukkan ketercelaan karena seseorang meninggalkan dua kewajiban. Karena perlu dipahami bahwa manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Yang sempurna memang seseorang melakukan kedua-duanya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan). Perlu diketahui pula bahwa sifat jiwa tidaklah patuh pada orang yang berkata namun tindakan nyatanya itu berbeda. Manusia akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktikkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekadar berucap. Demikian, penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hal. 38. Dalam ayat lainnya disebutkan pula, ‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3)   Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‎فَلَا بُدَّ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ : الْعِلْمُ ؛ وَالرِّفْقُ ؛ وَالصَّبْرُ ؛ الْعِلْمُ قَبْلَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيُ ؛ وَالرِّفْقُ مَعَهُ وَالصَّبْرُ بَعْدَهُ “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: (1) ilmu, (2) lemah lembut, dan (3) sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir).” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ‎لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ إلَّا مَنْ كَانَ فَقِيهًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ فَقِيهًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ حَلِيمًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ حَلِيمًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ “Tidaklah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melainkan ia haruslah menjadi orang yang berilmu (faqih) pada apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; ia juga harus bersikap lemah lembut (rafiq) pada apa yang ia perintahkan dan ia larang; ia pun harus bersikap sabar (halim) pada apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Allah Ta’ala memerintahkan untuk berilmu dahulu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “Tahun-tahun yang penuh dengan penipuan akan datang di tengah-tengah manusia. Ketika itu, pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, no. 4036 dan Ahmad, 2:291. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‎العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:136) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang membekali dirinya dengan ilmu, maka itu akan membuat lebih cepat mengantarkan kepada tujuan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Kita diperintahkan untuk bersikap hikmah sebagaimana dalam ayat, ‎ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ ، فَنَهَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284) Di antara pengertian hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Sikap hikmah berarti berbicara sesuai pada tempatnya. Saat waktu berbicara keras, maka berbicaralah keras. Saat waktu berbicara lemah lembut, maka berbicaralah lemah lembut. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Al-‘Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajdah fii Sual wa Jawab, hlm. 315-316.   Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan Sebelum naik mimbar Niat karena Allah Persiapan fisik, pakaian, dan mental Persiapan ilmu dan materi Materi sebisa mungkin disusun dengan memperhatikan kondisi umat. Jika saat ini, masa perayaan non-muslim, bisa diingatkan kaum muslimin tidak perlu ikut serta dan tidak perlu mengganggu. Jika mau dekat puasa Arafah, diingatkan tentang puasa sunnah tersebut. Materi disusun secara lengkap, tetapi singkat. Lalu dibaca berulang kali untuk memahami materi. Materi dibuat poin demi poin untuk menunjukkan garis besarnya. Mencoba membaca materi dengan timer, usahakan khutbah berdurasi sekitar 10-15 menit. Jika materi terlalu panjang, hendaklah dipotong dan diedit.   Saat di mimbar Senyum ikhlas. Pahami materi 100%, bisa cukup menghafal dalil-dalil penting, walau masih diperkenankan melihat teks cukup pada poin-poin penting saja. Khusus khutbah Jumat, sampaikan dengan lantang. Jangan sampai berkhutbah dengan suara pelan, yang menunjukkan tidak semangat, sehingga membuat jamaah tambah kantuk. Jangan terlalu panjang. Durasi khutbah maksimal yang bisa membuat otak jammaah mendapatkan ilmu adalah antara 10-15 menit, ditambah doa penutup sekitar 2-3 menit. Lebih dari waktu itu, jamaah sudah tidak fokus. Gunakan gestur yang dinamis, tetapi tetap wajar dan natural. Gunakan suara yang dinamis, tidak monoton dengan intonasi yang sesuai. Itulah kenapa, khatib harus paham benar materi yang mau disampaikan.   Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Sirin berkata, ‎كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. “Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.” Ibnu ‘Aun mengatakan, ‎ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا “Saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibnu Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal, tidak menang dan tidak mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).” Lihat Tafsir Al-Qurthubi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasihat bagi yang mengalami kantuk saat mendengar khutbah yaitu berpindah tempat. Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ إِلَى مَقْعَدِ صَاحِبِهِ وَيَتَحَوَّلْ صَاحِبُهُ إِلَى مَقْعَدِهِ “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk pada hari Jumat (mendengar khutbah Jumat), hendaklah ia berpindah tempat ke tempat temannya, dan temannya menduduki tempat duduknya.”  (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3:238) Semoga bermanfaat.   — Sabtu pagi di Darush Sholihin, 26 Rabi’uts Tsani 1442 H, 12 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”:   Download Tagsbuku gratis download buku gratis khutbah jumat mendengar khutbah jumat naskah khutbah jumat

Buku Gratis: Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan

Ini beberapa tips khutbah 15 menit, tetapi insya Allah berkesan. Langkah-langkahnya coba pelajari dalam poin-poin berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Jumat itu Singkat 2. Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai 3. Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah 4. Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan 4.1. Sebelum naik mimbar 4.2. Saat di mimbar 5. Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat 6. Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”: Khutbah Jumat itu Singkat Dari Jabir bin Samurah As-Suwaiy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasihat ketika hari Jumat tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud, no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, ‎خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhan, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian ‘Ammar berkata bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ  فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim, no. 869 dan Ahmad, 4:263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, khutbah dan shalatnya bersifat pertengahan, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Sebagaimana disebutkan oleh Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كُنْتُ أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu shalat beliau bersifat pertengahan, begitu pula khutbahnya.” (HR. Muslim, no. 866). Yang dimaksud bersikap pertengahan di sini adalah tidak terlalu panjang dan tidak terlalu singkat. Lihat Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:255.   Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ”Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan tampak marah. Seolah-olah beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi, musuh akan menyerang kamu pada waktu sore.’” (HR. Muslim, no. 867) Yang dimaksud hadits “tampak mata beliau memerah, suaranya lantang, dan tampak marah” adalah untuk menghilangkan kurang fokusnya hati saat mendengarkan khutbah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, benar-benar terasa keutamaan dan pengaruhnya sehingga jamaah Jumat fokus mendengarkan nasihat. Hadits ini dijadikan dalil bagaimana seorang khatib mesti menyatakan pentingnya isi khutbah yang ingin disampaikan, sehingga suara ketika itu begitu lantang. Nantinya ada jeda yang perlu disesuaikan, ada nasihat untuk memotivasi dan ada nasihat untuk mengingatkan. Adapun maksud tampak marah menunjukkan sangat pentingnya hal yang diingatkan. Lihat bahasan Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:257-258. Dalam riwayat lain, ‎وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ “Tetapi beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang dan jelas. Orang yang duduk menghadap beliau akan mudah menghafal perkataan beliau.” (HR. Tirmidzi, no. 3639. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Cara menjiwai adalah setiap yang ingin disampaikan, hendaklah diamalkan terlebih dahulu. Allah Ta’ala berfirman, ‎أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Ayat di atas tidaklah menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar makruf nahi mungkar secara total. Namun, ayat tersebut cuma menunjukkan ketercelaan karena seseorang meninggalkan dua kewajiban. Karena perlu dipahami bahwa manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Yang sempurna memang seseorang melakukan kedua-duanya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan). Perlu diketahui pula bahwa sifat jiwa tidaklah patuh pada orang yang berkata namun tindakan nyatanya itu berbeda. Manusia akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktikkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekadar berucap. Demikian, penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hal. 38. Dalam ayat lainnya disebutkan pula, ‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3)   Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‎فَلَا بُدَّ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ : الْعِلْمُ ؛ وَالرِّفْقُ ؛ وَالصَّبْرُ ؛ الْعِلْمُ قَبْلَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيُ ؛ وَالرِّفْقُ مَعَهُ وَالصَّبْرُ بَعْدَهُ “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: (1) ilmu, (2) lemah lembut, dan (3) sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir).” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ‎لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ إلَّا مَنْ كَانَ فَقِيهًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ فَقِيهًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ حَلِيمًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ حَلِيمًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ “Tidaklah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melainkan ia haruslah menjadi orang yang berilmu (faqih) pada apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; ia juga harus bersikap lemah lembut (rafiq) pada apa yang ia perintahkan dan ia larang; ia pun harus bersikap sabar (halim) pada apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Allah Ta’ala memerintahkan untuk berilmu dahulu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “Tahun-tahun yang penuh dengan penipuan akan datang di tengah-tengah manusia. Ketika itu, pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, no. 4036 dan Ahmad, 2:291. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‎العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:136) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang membekali dirinya dengan ilmu, maka itu akan membuat lebih cepat mengantarkan kepada tujuan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Kita diperintahkan untuk bersikap hikmah sebagaimana dalam ayat, ‎ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ ، فَنَهَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284) Di antara pengertian hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Sikap hikmah berarti berbicara sesuai pada tempatnya. Saat waktu berbicara keras, maka berbicaralah keras. Saat waktu berbicara lemah lembut, maka berbicaralah lemah lembut. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Al-‘Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajdah fii Sual wa Jawab, hlm. 315-316.   Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan Sebelum naik mimbar Niat karena Allah Persiapan fisik, pakaian, dan mental Persiapan ilmu dan materi Materi sebisa mungkin disusun dengan memperhatikan kondisi umat. Jika saat ini, masa perayaan non-muslim, bisa diingatkan kaum muslimin tidak perlu ikut serta dan tidak perlu mengganggu. Jika mau dekat puasa Arafah, diingatkan tentang puasa sunnah tersebut. Materi disusun secara lengkap, tetapi singkat. Lalu dibaca berulang kali untuk memahami materi. Materi dibuat poin demi poin untuk menunjukkan garis besarnya. Mencoba membaca materi dengan timer, usahakan khutbah berdurasi sekitar 10-15 menit. Jika materi terlalu panjang, hendaklah dipotong dan diedit.   Saat di mimbar Senyum ikhlas. Pahami materi 100%, bisa cukup menghafal dalil-dalil penting, walau masih diperkenankan melihat teks cukup pada poin-poin penting saja. Khusus khutbah Jumat, sampaikan dengan lantang. Jangan sampai berkhutbah dengan suara pelan, yang menunjukkan tidak semangat, sehingga membuat jamaah tambah kantuk. Jangan terlalu panjang. Durasi khutbah maksimal yang bisa membuat otak jammaah mendapatkan ilmu adalah antara 10-15 menit, ditambah doa penutup sekitar 2-3 menit. Lebih dari waktu itu, jamaah sudah tidak fokus. Gunakan gestur yang dinamis, tetapi tetap wajar dan natural. Gunakan suara yang dinamis, tidak monoton dengan intonasi yang sesuai. Itulah kenapa, khatib harus paham benar materi yang mau disampaikan.   Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Sirin berkata, ‎كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. “Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.” Ibnu ‘Aun mengatakan, ‎ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا “Saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibnu Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal, tidak menang dan tidak mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).” Lihat Tafsir Al-Qurthubi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasihat bagi yang mengalami kantuk saat mendengar khutbah yaitu berpindah tempat. Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ إِلَى مَقْعَدِ صَاحِبِهِ وَيَتَحَوَّلْ صَاحِبُهُ إِلَى مَقْعَدِهِ “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk pada hari Jumat (mendengar khutbah Jumat), hendaklah ia berpindah tempat ke tempat temannya, dan temannya menduduki tempat duduknya.”  (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3:238) Semoga bermanfaat.   — Sabtu pagi di Darush Sholihin, 26 Rabi’uts Tsani 1442 H, 12 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”:   Download Tagsbuku gratis download buku gratis khutbah jumat mendengar khutbah jumat naskah khutbah jumat
Ini beberapa tips khutbah 15 menit, tetapi insya Allah berkesan. Langkah-langkahnya coba pelajari dalam poin-poin berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Jumat itu Singkat 2. Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai 3. Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah 4. Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan 4.1. Sebelum naik mimbar 4.2. Saat di mimbar 5. Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat 6. Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”: Khutbah Jumat itu Singkat Dari Jabir bin Samurah As-Suwaiy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasihat ketika hari Jumat tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud, no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, ‎خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhan, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian ‘Ammar berkata bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ  فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim, no. 869 dan Ahmad, 4:263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, khutbah dan shalatnya bersifat pertengahan, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Sebagaimana disebutkan oleh Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كُنْتُ أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu shalat beliau bersifat pertengahan, begitu pula khutbahnya.” (HR. Muslim, no. 866). Yang dimaksud bersikap pertengahan di sini adalah tidak terlalu panjang dan tidak terlalu singkat. Lihat Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:255.   Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ”Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan tampak marah. Seolah-olah beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi, musuh akan menyerang kamu pada waktu sore.’” (HR. Muslim, no. 867) Yang dimaksud hadits “tampak mata beliau memerah, suaranya lantang, dan tampak marah” adalah untuk menghilangkan kurang fokusnya hati saat mendengarkan khutbah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, benar-benar terasa keutamaan dan pengaruhnya sehingga jamaah Jumat fokus mendengarkan nasihat. Hadits ini dijadikan dalil bagaimana seorang khatib mesti menyatakan pentingnya isi khutbah yang ingin disampaikan, sehingga suara ketika itu begitu lantang. Nantinya ada jeda yang perlu disesuaikan, ada nasihat untuk memotivasi dan ada nasihat untuk mengingatkan. Adapun maksud tampak marah menunjukkan sangat pentingnya hal yang diingatkan. Lihat bahasan Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:257-258. Dalam riwayat lain, ‎وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ “Tetapi beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang dan jelas. Orang yang duduk menghadap beliau akan mudah menghafal perkataan beliau.” (HR. Tirmidzi, no. 3639. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Cara menjiwai adalah setiap yang ingin disampaikan, hendaklah diamalkan terlebih dahulu. Allah Ta’ala berfirman, ‎أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Ayat di atas tidaklah menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar makruf nahi mungkar secara total. Namun, ayat tersebut cuma menunjukkan ketercelaan karena seseorang meninggalkan dua kewajiban. Karena perlu dipahami bahwa manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Yang sempurna memang seseorang melakukan kedua-duanya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan). Perlu diketahui pula bahwa sifat jiwa tidaklah patuh pada orang yang berkata namun tindakan nyatanya itu berbeda. Manusia akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktikkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekadar berucap. Demikian, penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hal. 38. Dalam ayat lainnya disebutkan pula, ‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3)   Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‎فَلَا بُدَّ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ : الْعِلْمُ ؛ وَالرِّفْقُ ؛ وَالصَّبْرُ ؛ الْعِلْمُ قَبْلَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيُ ؛ وَالرِّفْقُ مَعَهُ وَالصَّبْرُ بَعْدَهُ “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: (1) ilmu, (2) lemah lembut, dan (3) sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir).” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ‎لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ إلَّا مَنْ كَانَ فَقِيهًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ فَقِيهًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ حَلِيمًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ حَلِيمًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ “Tidaklah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melainkan ia haruslah menjadi orang yang berilmu (faqih) pada apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; ia juga harus bersikap lemah lembut (rafiq) pada apa yang ia perintahkan dan ia larang; ia pun harus bersikap sabar (halim) pada apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Allah Ta’ala memerintahkan untuk berilmu dahulu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “Tahun-tahun yang penuh dengan penipuan akan datang di tengah-tengah manusia. Ketika itu, pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, no. 4036 dan Ahmad, 2:291. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‎العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:136) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang membekali dirinya dengan ilmu, maka itu akan membuat lebih cepat mengantarkan kepada tujuan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Kita diperintahkan untuk bersikap hikmah sebagaimana dalam ayat, ‎ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ ، فَنَهَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284) Di antara pengertian hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Sikap hikmah berarti berbicara sesuai pada tempatnya. Saat waktu berbicara keras, maka berbicaralah keras. Saat waktu berbicara lemah lembut, maka berbicaralah lemah lembut. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Al-‘Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajdah fii Sual wa Jawab, hlm. 315-316.   Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan Sebelum naik mimbar Niat karena Allah Persiapan fisik, pakaian, dan mental Persiapan ilmu dan materi Materi sebisa mungkin disusun dengan memperhatikan kondisi umat. Jika saat ini, masa perayaan non-muslim, bisa diingatkan kaum muslimin tidak perlu ikut serta dan tidak perlu mengganggu. Jika mau dekat puasa Arafah, diingatkan tentang puasa sunnah tersebut. Materi disusun secara lengkap, tetapi singkat. Lalu dibaca berulang kali untuk memahami materi. Materi dibuat poin demi poin untuk menunjukkan garis besarnya. Mencoba membaca materi dengan timer, usahakan khutbah berdurasi sekitar 10-15 menit. Jika materi terlalu panjang, hendaklah dipotong dan diedit.   Saat di mimbar Senyum ikhlas. Pahami materi 100%, bisa cukup menghafal dalil-dalil penting, walau masih diperkenankan melihat teks cukup pada poin-poin penting saja. Khusus khutbah Jumat, sampaikan dengan lantang. Jangan sampai berkhutbah dengan suara pelan, yang menunjukkan tidak semangat, sehingga membuat jamaah tambah kantuk. Jangan terlalu panjang. Durasi khutbah maksimal yang bisa membuat otak jammaah mendapatkan ilmu adalah antara 10-15 menit, ditambah doa penutup sekitar 2-3 menit. Lebih dari waktu itu, jamaah sudah tidak fokus. Gunakan gestur yang dinamis, tetapi tetap wajar dan natural. Gunakan suara yang dinamis, tidak monoton dengan intonasi yang sesuai. Itulah kenapa, khatib harus paham benar materi yang mau disampaikan.   Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Sirin berkata, ‎كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. “Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.” Ibnu ‘Aun mengatakan, ‎ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا “Saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibnu Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal, tidak menang dan tidak mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).” Lihat Tafsir Al-Qurthubi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasihat bagi yang mengalami kantuk saat mendengar khutbah yaitu berpindah tempat. Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ إِلَى مَقْعَدِ صَاحِبِهِ وَيَتَحَوَّلْ صَاحِبُهُ إِلَى مَقْعَدِهِ “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk pada hari Jumat (mendengar khutbah Jumat), hendaklah ia berpindah tempat ke tempat temannya, dan temannya menduduki tempat duduknya.”  (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3:238) Semoga bermanfaat.   — Sabtu pagi di Darush Sholihin, 26 Rabi’uts Tsani 1442 H, 12 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”:   Download Tagsbuku gratis download buku gratis khutbah jumat mendengar khutbah jumat naskah khutbah jumat


Ini beberapa tips khutbah 15 menit, tetapi insya Allah berkesan. Langkah-langkahnya coba pelajari dalam poin-poin berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Jumat itu Singkat 2. Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai 3. Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah 4. Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan 4.1. Sebelum naik mimbar 4.2. Saat di mimbar 5. Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat 6. Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”: Khutbah Jumat itu Singkat Dari Jabir bin Samurah As-Suwaiy radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberi nasihat ketika hari Jumat tidak begitu panjang. Kalimat yang beliau sampaikan adalah kalimat yang singkat.” (HR. Abu Daud, no. 1107. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Lihatlah pula contoh sahabat yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Wa’il berkata, ‎خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَبْلَغَ وَأَوْجَزَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ ‘Ammar pernah berkhutbah di hadapan kami lalu dia menyampaikan (isi khutbahnya) dengan singkat. Tatkala beliau turun (dari mimbar), kami mengatakan, “Wahai Abul Yaqzhan, sungguh engkau telah berkhutbah begitu singkat. Coba kalau engkau sedikit memperlama.” Kemudian ‘Ammar berkata bahwa ia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ  فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkatnya khutbah merupakan tanda kefaqihan dirinya (paham akan agama). Maka perlamalah shalat dan buat singkatlah khutbah. Karena penjelasan itu bisa mensihir.” (HR. Muslim, no. 869 dan Ahmad, 4:263. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, khutbah dan shalatnya bersifat pertengahan, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Sebagaimana disebutkan oleh Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كُنْتُ أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu shalat beliau bersifat pertengahan, begitu pula khutbahnya.” (HR. Muslim, no. 866). Yang dimaksud bersikap pertengahan di sini adalah tidak terlalu panjang dan tidak terlalu singkat. Lihat Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:255.   Khutbah Jumat itu Harus Mudah Dipahami dan Dijiwai Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ”Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan tampak marah. Seolah-olah beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi, musuh akan menyerang kamu pada waktu sore.’” (HR. Muslim, no. 867) Yang dimaksud hadits “tampak mata beliau memerah, suaranya lantang, dan tampak marah” adalah untuk menghilangkan kurang fokusnya hati saat mendengarkan khutbah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, benar-benar terasa keutamaan dan pengaruhnya sehingga jamaah Jumat fokus mendengarkan nasihat. Hadits ini dijadikan dalil bagaimana seorang khatib mesti menyatakan pentingnya isi khutbah yang ingin disampaikan, sehingga suara ketika itu begitu lantang. Nantinya ada jeda yang perlu disesuaikan, ada nasihat untuk memotivasi dan ada nasihat untuk mengingatkan. Adapun maksud tampak marah menunjukkan sangat pentingnya hal yang diingatkan. Lihat bahasan Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:257-258. Dalam riwayat lain, ‎وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ “Tetapi beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang dan jelas. Orang yang duduk menghadap beliau akan mudah menghafal perkataan beliau.” (HR. Tirmidzi, no. 3639. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Cara menjiwai adalah setiap yang ingin disampaikan, hendaklah diamalkan terlebih dahulu. Allah Ta’ala berfirman, ‎أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) Ayat di atas tidaklah menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengamalkan yang ia ilmui berarti ia meninggalkan amar makruf nahi mungkar secara total. Namun, ayat tersebut cuma menunjukkan ketercelaan karena seseorang meninggalkan dua kewajiban. Karena perlu dipahami bahwa manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintahkan (mendakwahi) orang lain dan mengajak pula diri sendiri. Jika seseorang meninggalkan salah satunya, jangan sampai ia meninggalkan yang lainnya. Yang sempurna memang seseorang melakukan kedua-duanya. Jika kedua-duanya ditinggalkan berarti itu kekurangan yang sempurna. Jika hanya menjalankan salah satunya, berarti tidak mencapai derajat pertama (derajat kesempurnaan), namun tidak tercela seperti yang terakhir (derajat ketidaksempurnaan). Perlu diketahui pula bahwa sifat jiwa tidaklah patuh pada orang yang berkata namun tindakan nyatanya itu berbeda. Manusia akan lebih senang mengikuti orang yang mempraktikkan langsung dibanding dengan orang yang cuma sekadar berucap. Demikian, penjelasan di atas adalah kutipan dari penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hal. 38. Dalam ayat lainnya disebutkan pula, ‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3)   Belajar dan Bersikap Hikmah Sebelum Menyampaikan Khutbah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, ‎فَلَا بُدَّ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ : الْعِلْمُ ؛ وَالرِّفْقُ ؛ وَالصَّبْرُ ؛ الْعِلْمُ قَبْلَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيُ ؛ وَالرِّفْقُ مَعَهُ وَالصَّبْرُ بَعْدَهُ “Orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar semestinya memiliki tiga bekal yaitu: (1) ilmu, (2) lemah lembut, dan (3) sabar. Ilmu haruslah ada sebelum amar ma’ruf nahi mungkar (di awal). Lemah lembut harus ada ketika ingin beramar ma’ruf nahi mungkar (di tengah-tengah). Sikap sabar harus ada sesudah beramar ma’ruf nahi mungkar (di akhir).” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ‎لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ إلَّا مَنْ كَانَ فَقِيهًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ فَقِيهًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ ؛ رَفِيقًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ ؛ حَلِيمًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ حَلِيمًا فِيمَا يَنْهَى عَنْهُ “Tidaklah seseorang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, melainkan ia haruslah menjadi orang yang berilmu (faqih) pada apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang; ia juga harus bersikap lemah lembut (rafiq) pada apa yang ia perintahkan dan ia larang; ia pun harus bersikap sabar (halim) pada apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Allah Ta’ala memerintahkan untuk berilmu dahulu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman, ‎فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “Tahun-tahun yang penuh dengan penipuan akan datang di tengah-tengah manusia. Ketika itu, pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, no. 4036 dan Ahmad, 2:291. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‎العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:136) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang membekali dirinya dengan ilmu, maka itu akan membuat lebih cepat mengantarkan kepada tujuan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 28:137) Kita diperintahkan untuk bersikap hikmah sebagaimana dalam ayat, ‎ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎جَاءَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ ، فَنَهَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284) Di antara pengertian hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Sikap hikmah berarti berbicara sesuai pada tempatnya. Saat waktu berbicara keras, maka berbicaralah keras. Saat waktu berbicara lemah lembut, maka berbicaralah lemah lembut. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Al-‘Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajdah fii Sual wa Jawab, hlm. 315-316.   Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan Sebelum naik mimbar Niat karena Allah Persiapan fisik, pakaian, dan mental Persiapan ilmu dan materi Materi sebisa mungkin disusun dengan memperhatikan kondisi umat. Jika saat ini, masa perayaan non-muslim, bisa diingatkan kaum muslimin tidak perlu ikut serta dan tidak perlu mengganggu. Jika mau dekat puasa Arafah, diingatkan tentang puasa sunnah tersebut. Materi disusun secara lengkap, tetapi singkat. Lalu dibaca berulang kali untuk memahami materi. Materi dibuat poin demi poin untuk menunjukkan garis besarnya. Mencoba membaca materi dengan timer, usahakan khutbah berdurasi sekitar 10-15 menit. Jika materi terlalu panjang, hendaklah dipotong dan diedit.   Saat di mimbar Senyum ikhlas. Pahami materi 100%, bisa cukup menghafal dalil-dalil penting, walau masih diperkenankan melihat teks cukup pada poin-poin penting saja. Khusus khutbah Jumat, sampaikan dengan lantang. Jangan sampai berkhutbah dengan suara pelan, yang menunjukkan tidak semangat, sehingga membuat jamaah tambah kantuk. Jangan terlalu panjang. Durasi khutbah maksimal yang bisa membuat otak jammaah mendapatkan ilmu adalah antara 10-15 menit, ditambah doa penutup sekitar 2-3 menit. Lebih dari waktu itu, jamaah sudah tidak fokus. Gunakan gestur yang dinamis, tetapi tetap wajar dan natural. Gunakan suara yang dinamis, tidak monoton dengan intonasi yang sesuai. Itulah kenapa, khatib harus paham benar materi yang mau disampaikan.   Jamaah Jangan Sampai Tidur Saat Mendengar Khutbah Jumat Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Sirin berkata, ‎كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. “Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.” Ibnu ‘Aun mengatakan, ‎ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا “Saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibnu Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal, tidak menang dan tidak mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).” Lihat Tafsir Al-Qurthubi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasihat bagi yang mengalami kantuk saat mendengar khutbah yaitu berpindah tempat. Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ إِلَى مَقْعَدِ صَاحِبِهِ وَيَتَحَوَّلْ صَاحِبُهُ إِلَى مَقْعَدِهِ “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk pada hari Jumat (mendengar khutbah Jumat), hendaklah ia berpindah tempat ke tempat temannya, dan temannya menduduki tempat duduknya.”  (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 3:238) Semoga bermanfaat.   — Sabtu pagi di Darush Sholihin, 26 Rabi’uts Tsani 1442 H, 12 Desember 2020 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh PDF “Tips Khutbah Jumat 15 Menit Paling Berkesan”:   Download Tagsbuku gratis download buku gratis khutbah jumat mendengar khutbah jumat naskah khutbah jumat

Hukum Membeli Diskon Natal dan Hari Raya Non-Muslim

Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan yahudi di Madinah dan orang kafir Quraisy, baik dalam jual beli, pinjam-meminjam, gadai dan dalam muamalah lainnya.Berikut hadits mengenai muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana baju perang beliau masih dalam keadaan tergadaikan pada seorang Yahudi ketika beliau meninggal.Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻳَﻬُﻮﺩِﻯٍّ ﺑِﺜَﻼَﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum.”[1]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini bolehnya bermuamalah dengan orang kafir, beliau berkataوفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه“Hadits ini merupakan dalil bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.”[2]Boleh membeli diskon natal dan perayaan non-muslim dengan syarat berikutSebagaimana kita ketahui bahwa agama kita melarang ikut serta dalam perayaan agama orang kafir dan tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka walaupun sekedar formalitas karena ini menunjukkan bentuk ridha pada perayaan agama mereka. Silahkan baca tulisan kami berikut:https://muslim.or.id/19360-ucapan-selamat-natal-satu-kalima…Muncul pertanyaan, ketika ada perayaan agama mereka, terkadang ada diskon pada beberapa toko dan penjualan produk, apakah muslim boleh membelinya atau tidak?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bolehnya hal ini dengan membawa kisah imam Ahmad yang ditanya, apakah boleh datang ke pasar mereka untuk membeli saja dan tidak sampai masuk ke gereja mereka, yaitu ketika ada perayaan agama mereka. Imam Ahmad membolehkan hal ini, kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,ﻓﻤﺎ ﺃﺟﺎﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻓﻘﻂ ﻟﻠﺸﺮﺍﺀ ﻣﻨﻬﺎ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ، ﻓﻴﺠﻮﺯ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻬﻮﺩ ﻣﻨﻜﺮ، ﻭﻻ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ؛“Adapun jawaban Imam Ahmad yang membolehkan datang ke pasar saja untuk menbeli tanpa masuk ke gereja, maka boleh saja, karena tidak termasuk menghadiri acara kemungkaran dan tidak membantu mereka dalam kemaksiatan.”[3]Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid juga menjelaskan bahwa hal ini boleh dengan dua syarat, beliau berkata:ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﻤﻼﺑﺲ ﻭﺍﻷﺛﺎﺙ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺳﻢ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻛﺎﻟﻜﺮﻳﺴﻤﺲ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻫﻢ .“Boleh menjual beli pakaian, perabotan dan lain-lainnya ketika terkait dengan momen perayaan agama orang kafir seperti natal, dengan syarat jual beli ini tidak membantu mereka untuk merayakan hari raya mereka atau menyerupai mereka dalam hari raya mereka.Beliau melanjutkan,ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﻓﺘﺢ ﻣﺘﺠﺮﻩ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ، ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ : ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﻋﻴﺪﻫﻢ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ“Boleh bagi seorang muslim melakukan jual-beli pada hari raya orang kafir dengan dua syarat:Pertama: Tidak menjual untuk mereka yang bisa membantu mereka untuk melakukan kemaksiatan dan membantu melakukan hari raya mereka (misalnya menjual perlengkapan natal atau kue-kue khas natal, pent)Kedua: Tidak menjual kepada kaum muslimin yang bisa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) pada hari raya tersebut (misalnya, menjual petasan, lonceng khas natal, topi sinterklas, pent).”[4] Muhammad Syam Al-Haq dalam kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan rinciannya, bahwa maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya. Beliau berkata,عن القاضي أبي المحاسن الحسن بن منصور الحنفي أن من اشترى فيه شيئاً لم يكن يشتريه في غيره أو أهدى فيه هدية فإن أراد بذلك تعظيم اليوم كما يعظمه الكفره فقد كفر وإن أراد بالشراء التنعم والتنزه وفي الإهداء التحاب جرياً على العادة لم يكن كفراً لكنه كان مكروه كراه التشبه بالكفرة فحينئذٍ يحترز عنه”“Dari Al-Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafi (berkata) bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut untuk bermaksud mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya. Akan tetapi jika ia bermaksud membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi”.[5] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:https://islamqa.info/ar/145676🔍 Allah Lebih Dekat Dari Urat Leher, Hukum Koperasi Simpan Pinjam Menurut Islam, Arti Berkhalwat Dalam Islam, Zakat Hasil Panen, Hadits Bulan Puasa

Hukum Membeli Diskon Natal dan Hari Raya Non-Muslim

Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan yahudi di Madinah dan orang kafir Quraisy, baik dalam jual beli, pinjam-meminjam, gadai dan dalam muamalah lainnya.Berikut hadits mengenai muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana baju perang beliau masih dalam keadaan tergadaikan pada seorang Yahudi ketika beliau meninggal.Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻳَﻬُﻮﺩِﻯٍّ ﺑِﺜَﻼَﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum.”[1]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini bolehnya bermuamalah dengan orang kafir, beliau berkataوفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه“Hadits ini merupakan dalil bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.”[2]Boleh membeli diskon natal dan perayaan non-muslim dengan syarat berikutSebagaimana kita ketahui bahwa agama kita melarang ikut serta dalam perayaan agama orang kafir dan tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka walaupun sekedar formalitas karena ini menunjukkan bentuk ridha pada perayaan agama mereka. Silahkan baca tulisan kami berikut:https://muslim.or.id/19360-ucapan-selamat-natal-satu-kalima…Muncul pertanyaan, ketika ada perayaan agama mereka, terkadang ada diskon pada beberapa toko dan penjualan produk, apakah muslim boleh membelinya atau tidak?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bolehnya hal ini dengan membawa kisah imam Ahmad yang ditanya, apakah boleh datang ke pasar mereka untuk membeli saja dan tidak sampai masuk ke gereja mereka, yaitu ketika ada perayaan agama mereka. Imam Ahmad membolehkan hal ini, kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,ﻓﻤﺎ ﺃﺟﺎﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻓﻘﻂ ﻟﻠﺸﺮﺍﺀ ﻣﻨﻬﺎ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ، ﻓﻴﺠﻮﺯ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻬﻮﺩ ﻣﻨﻜﺮ، ﻭﻻ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ؛“Adapun jawaban Imam Ahmad yang membolehkan datang ke pasar saja untuk menbeli tanpa masuk ke gereja, maka boleh saja, karena tidak termasuk menghadiri acara kemungkaran dan tidak membantu mereka dalam kemaksiatan.”[3]Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid juga menjelaskan bahwa hal ini boleh dengan dua syarat, beliau berkata:ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﻤﻼﺑﺲ ﻭﺍﻷﺛﺎﺙ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺳﻢ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻛﺎﻟﻜﺮﻳﺴﻤﺲ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻫﻢ .“Boleh menjual beli pakaian, perabotan dan lain-lainnya ketika terkait dengan momen perayaan agama orang kafir seperti natal, dengan syarat jual beli ini tidak membantu mereka untuk merayakan hari raya mereka atau menyerupai mereka dalam hari raya mereka.Beliau melanjutkan,ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﻓﺘﺢ ﻣﺘﺠﺮﻩ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ، ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ : ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﻋﻴﺪﻫﻢ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ“Boleh bagi seorang muslim melakukan jual-beli pada hari raya orang kafir dengan dua syarat:Pertama: Tidak menjual untuk mereka yang bisa membantu mereka untuk melakukan kemaksiatan dan membantu melakukan hari raya mereka (misalnya menjual perlengkapan natal atau kue-kue khas natal, pent)Kedua: Tidak menjual kepada kaum muslimin yang bisa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) pada hari raya tersebut (misalnya, menjual petasan, lonceng khas natal, topi sinterklas, pent).”[4] Muhammad Syam Al-Haq dalam kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan rinciannya, bahwa maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya. Beliau berkata,عن القاضي أبي المحاسن الحسن بن منصور الحنفي أن من اشترى فيه شيئاً لم يكن يشتريه في غيره أو أهدى فيه هدية فإن أراد بذلك تعظيم اليوم كما يعظمه الكفره فقد كفر وإن أراد بالشراء التنعم والتنزه وفي الإهداء التحاب جرياً على العادة لم يكن كفراً لكنه كان مكروه كراه التشبه بالكفرة فحينئذٍ يحترز عنه”“Dari Al-Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafi (berkata) bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut untuk bermaksud mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya. Akan tetapi jika ia bermaksud membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi”.[5] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:https://islamqa.info/ar/145676🔍 Allah Lebih Dekat Dari Urat Leher, Hukum Koperasi Simpan Pinjam Menurut Islam, Arti Berkhalwat Dalam Islam, Zakat Hasil Panen, Hadits Bulan Puasa
Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan yahudi di Madinah dan orang kafir Quraisy, baik dalam jual beli, pinjam-meminjam, gadai dan dalam muamalah lainnya.Berikut hadits mengenai muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana baju perang beliau masih dalam keadaan tergadaikan pada seorang Yahudi ketika beliau meninggal.Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻳَﻬُﻮﺩِﻯٍّ ﺑِﺜَﻼَﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum.”[1]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini bolehnya bermuamalah dengan orang kafir, beliau berkataوفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه“Hadits ini merupakan dalil bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.”[2]Boleh membeli diskon natal dan perayaan non-muslim dengan syarat berikutSebagaimana kita ketahui bahwa agama kita melarang ikut serta dalam perayaan agama orang kafir dan tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka walaupun sekedar formalitas karena ini menunjukkan bentuk ridha pada perayaan agama mereka. Silahkan baca tulisan kami berikut:https://muslim.or.id/19360-ucapan-selamat-natal-satu-kalima…Muncul pertanyaan, ketika ada perayaan agama mereka, terkadang ada diskon pada beberapa toko dan penjualan produk, apakah muslim boleh membelinya atau tidak?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bolehnya hal ini dengan membawa kisah imam Ahmad yang ditanya, apakah boleh datang ke pasar mereka untuk membeli saja dan tidak sampai masuk ke gereja mereka, yaitu ketika ada perayaan agama mereka. Imam Ahmad membolehkan hal ini, kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,ﻓﻤﺎ ﺃﺟﺎﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻓﻘﻂ ﻟﻠﺸﺮﺍﺀ ﻣﻨﻬﺎ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ، ﻓﻴﺠﻮﺯ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻬﻮﺩ ﻣﻨﻜﺮ، ﻭﻻ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ؛“Adapun jawaban Imam Ahmad yang membolehkan datang ke pasar saja untuk menbeli tanpa masuk ke gereja, maka boleh saja, karena tidak termasuk menghadiri acara kemungkaran dan tidak membantu mereka dalam kemaksiatan.”[3]Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid juga menjelaskan bahwa hal ini boleh dengan dua syarat, beliau berkata:ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﻤﻼﺑﺲ ﻭﺍﻷﺛﺎﺙ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺳﻢ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻛﺎﻟﻜﺮﻳﺴﻤﺲ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻫﻢ .“Boleh menjual beli pakaian, perabotan dan lain-lainnya ketika terkait dengan momen perayaan agama orang kafir seperti natal, dengan syarat jual beli ini tidak membantu mereka untuk merayakan hari raya mereka atau menyerupai mereka dalam hari raya mereka.Beliau melanjutkan,ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﻓﺘﺢ ﻣﺘﺠﺮﻩ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ، ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ : ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﻋﻴﺪﻫﻢ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ“Boleh bagi seorang muslim melakukan jual-beli pada hari raya orang kafir dengan dua syarat:Pertama: Tidak menjual untuk mereka yang bisa membantu mereka untuk melakukan kemaksiatan dan membantu melakukan hari raya mereka (misalnya menjual perlengkapan natal atau kue-kue khas natal, pent)Kedua: Tidak menjual kepada kaum muslimin yang bisa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) pada hari raya tersebut (misalnya, menjual petasan, lonceng khas natal, topi sinterklas, pent).”[4] Muhammad Syam Al-Haq dalam kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan rinciannya, bahwa maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya. Beliau berkata,عن القاضي أبي المحاسن الحسن بن منصور الحنفي أن من اشترى فيه شيئاً لم يكن يشتريه في غيره أو أهدى فيه هدية فإن أراد بذلك تعظيم اليوم كما يعظمه الكفره فقد كفر وإن أراد بالشراء التنعم والتنزه وفي الإهداء التحاب جرياً على العادة لم يكن كفراً لكنه كان مكروه كراه التشبه بالكفرة فحينئذٍ يحترز عنه”“Dari Al-Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafi (berkata) bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut untuk bermaksud mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya. Akan tetapi jika ia bermaksud membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi”.[5] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:https://islamqa.info/ar/145676🔍 Allah Lebih Dekat Dari Urat Leher, Hukum Koperasi Simpan Pinjam Menurut Islam, Arti Berkhalwat Dalam Islam, Zakat Hasil Panen, Hadits Bulan Puasa


Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan yahudi di Madinah dan orang kafir Quraisy, baik dalam jual beli, pinjam-meminjam, gadai dan dalam muamalah lainnya.Berikut hadits mengenai muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana baju perang beliau masih dalam keadaan tergadaikan pada seorang Yahudi ketika beliau meninggal.Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻳَﻬُﻮﺩِﻯٍّ ﺑِﺜَﻼَﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum.”[1]Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini bolehnya bermuamalah dengan orang kafir, beliau berkataوفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه“Hadits ini merupakan dalil bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.”[2]Boleh membeli diskon natal dan perayaan non-muslim dengan syarat berikutSebagaimana kita ketahui bahwa agama kita melarang ikut serta dalam perayaan agama orang kafir dan tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka walaupun sekedar formalitas karena ini menunjukkan bentuk ridha pada perayaan agama mereka. Silahkan baca tulisan kami berikut:https://muslim.or.id/19360-ucapan-selamat-natal-satu-kalima…Muncul pertanyaan, ketika ada perayaan agama mereka, terkadang ada diskon pada beberapa toko dan penjualan produk, apakah muslim boleh membelinya atau tidak?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bolehnya hal ini dengan membawa kisah imam Ahmad yang ditanya, apakah boleh datang ke pasar mereka untuk membeli saja dan tidak sampai masuk ke gereja mereka, yaitu ketika ada perayaan agama mereka. Imam Ahmad membolehkan hal ini, kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,ﻓﻤﺎ ﺃﺟﺎﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻓﻘﻂ ﻟﻠﺸﺮﺍﺀ ﻣﻨﻬﺎ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ، ﻓﻴﺠﻮﺯ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻬﻮﺩ ﻣﻨﻜﺮ، ﻭﻻ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ؛“Adapun jawaban Imam Ahmad yang membolehkan datang ke pasar saja untuk menbeli tanpa masuk ke gereja, maka boleh saja, karena tidak termasuk menghadiri acara kemungkaran dan tidak membantu mereka dalam kemaksiatan.”[3]Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid juga menjelaskan bahwa hal ini boleh dengan dua syarat, beliau berkata:ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﻤﻼﺑﺲ ﻭﺍﻷﺛﺎﺙ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺳﻢ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻛﺎﻟﻜﺮﻳﺴﻤﺲ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻫﻢ .“Boleh menjual beli pakaian, perabotan dan lain-lainnya ketika terkait dengan momen perayaan agama orang kafir seperti natal, dengan syarat jual beli ini tidak membantu mereka untuk merayakan hari raya mereka atau menyerupai mereka dalam hari raya mereka.Beliau melanjutkan,ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﻓﺘﺢ ﻣﺘﺠﺮﻩ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ، ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ : ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﻋﻴﺪﻫﻢ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ“Boleh bagi seorang muslim melakukan jual-beli pada hari raya orang kafir dengan dua syarat:Pertama: Tidak menjual untuk mereka yang bisa membantu mereka untuk melakukan kemaksiatan dan membantu melakukan hari raya mereka (misalnya menjual perlengkapan natal atau kue-kue khas natal, pent)Kedua: Tidak menjual kepada kaum muslimin yang bisa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) pada hari raya tersebut (misalnya, menjual petasan, lonceng khas natal, topi sinterklas, pent).”[4] Muhammad Syam Al-Haq dalam kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan rinciannya, bahwa maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya. Beliau berkata,عن القاضي أبي المحاسن الحسن بن منصور الحنفي أن من اشترى فيه شيئاً لم يكن يشتريه في غيره أو أهدى فيه هدية فإن أراد بذلك تعظيم اليوم كما يعظمه الكفره فقد كفر وإن أراد بالشراء التنعم والتنزه وفي الإهداء التحاب جرياً على العادة لم يكن كفراً لكنه كان مكروه كراه التشبه بالكفرة فحينئذٍ يحترز عنه”“Dari Al-Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafi (berkata) bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut untuk bermaksud mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya. Akan tetapi jika ia bermaksud membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi”.[5] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.idCatatan kaki:https://islamqa.info/ar/145676🔍 Allah Lebih Dekat Dari Urat Leher, Hukum Koperasi Simpan Pinjam Menurut Islam, Arti Berkhalwat Dalam Islam, Zakat Hasil Panen, Hadits Bulan Puasa

Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati

Apabila kita ditanya, “apa tujuan kita hidup di dunia atau apa sih yang kita cari di dunia ini?”  Tentu hampir semua jawabannya adalah sama, yaitu mencari kebahagiaan. Hanya saja, kebahagiaan itu berbeda-beda tergantung dari persepsi setiap orang. Ada yang bahagia ketika bermaksiat, ada yang berbahagia ketika melakukan hobi yang tidak bermanfaat, dan ada yang bahagia ketika melakukan hal-hal aneh yang merugikan masyarakat. Ini semua adalah kebahagiaan yang semu dan hanya sementara saja. Kebahagiaan yang tidak menenangkan hati dan menentramkan jiwa kita. Bahkan ada kebahagiaan yang menipu, yaitu menipu manusia, karena dia menyangka itu adalah kebahagiaan. Padahal hakikatnya, itu adalah kesengsaraan, semisalnya pecandu narkoba.Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, kita dibimbing oleh syariat agar bahagia dunia dan akhirat dengan kebahagiaan yang sejati. Bukan kebahagiaan yang semu, bahkan kebahagiaan yang menipu. Kebahagiaan secara umumSecara umum, kebahagiaan itu terdapat pada tiga perkara. Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan tanda tersebut, yaitu:إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة1. jika diberi kenikmatan, dia bersyukur,2. jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar,3. dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat),maka tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).Baca Juga: Meraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’iPerincian apa itu kebahagiaanSebagian ulama menjelaskan lebih rinci, apa itu kebahagiaan dan tanda-tandanya. Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah:1. dimudahkan ketaatan baginya,2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,3. berteman dengan orang-orang saleh,4. baiknya akhlak kepada sesama manusia,5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan7. pandai menjaga waktu” (Al-I’tishom, 2 : 152).Hal yang paling penting dan perlu diketahui bahwa kebahagiaan itu terutama terletak di hati, bukan pada harta, jabatan dan kedudukan. Hal ini sederhana, tetapi banyak dilupakan dan dilalaikan oleh mansuia. Mereka tertipu dengan dunia dan gemerlap dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Yang namanya kaya (ghina’), bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).Salah satu tanda kebahagiaan sejati yang juga sering dilupakan manusia adalah bahagia dengan membahagiakan orang lain atau senang karena membuat senang orang lain. Sebagaimana ungkapan bahasa Arab,سؤال: من أسعد الناس الجواب: من أسعد الناسPertanyaan, ‘Siapakan manusia yang paling berbahagia?’ Jawaban, ‘Mereka yang membuat manusia bahagia (membahagiakan orang lain).’”Hal ini selaras dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, bahwa salah satu amalan yang paling besar pahalanya di sisi Allah adalah memasukkan kebahagiaan di hati seorang muslim.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا“Sebaik-baik amal saleh adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman” (HR. Ibnu Abi Dunya, Jami’ush Shaghir no. 1096).Semoga kita selalu bahagia dunia-akhirat dengan taufik dari Allah Ta’ala dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97).Baca Juga:Demikian pembahasan kami, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id

Tanda-Tanda Kebahagiaan yang Sejati

Apabila kita ditanya, “apa tujuan kita hidup di dunia atau apa sih yang kita cari di dunia ini?”  Tentu hampir semua jawabannya adalah sama, yaitu mencari kebahagiaan. Hanya saja, kebahagiaan itu berbeda-beda tergantung dari persepsi setiap orang. Ada yang bahagia ketika bermaksiat, ada yang berbahagia ketika melakukan hobi yang tidak bermanfaat, dan ada yang bahagia ketika melakukan hal-hal aneh yang merugikan masyarakat. Ini semua adalah kebahagiaan yang semu dan hanya sementara saja. Kebahagiaan yang tidak menenangkan hati dan menentramkan jiwa kita. Bahkan ada kebahagiaan yang menipu, yaitu menipu manusia, karena dia menyangka itu adalah kebahagiaan. Padahal hakikatnya, itu adalah kesengsaraan, semisalnya pecandu narkoba.Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, kita dibimbing oleh syariat agar bahagia dunia dan akhirat dengan kebahagiaan yang sejati. Bukan kebahagiaan yang semu, bahkan kebahagiaan yang menipu. Kebahagiaan secara umumSecara umum, kebahagiaan itu terdapat pada tiga perkara. Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan tanda tersebut, yaitu:إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة1. jika diberi kenikmatan, dia bersyukur,2. jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar,3. dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat),maka tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).Baca Juga: Meraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’iPerincian apa itu kebahagiaanSebagian ulama menjelaskan lebih rinci, apa itu kebahagiaan dan tanda-tandanya. Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah:1. dimudahkan ketaatan baginya,2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,3. berteman dengan orang-orang saleh,4. baiknya akhlak kepada sesama manusia,5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan7. pandai menjaga waktu” (Al-I’tishom, 2 : 152).Hal yang paling penting dan perlu diketahui bahwa kebahagiaan itu terutama terletak di hati, bukan pada harta, jabatan dan kedudukan. Hal ini sederhana, tetapi banyak dilupakan dan dilalaikan oleh mansuia. Mereka tertipu dengan dunia dan gemerlap dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Yang namanya kaya (ghina’), bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).Salah satu tanda kebahagiaan sejati yang juga sering dilupakan manusia adalah bahagia dengan membahagiakan orang lain atau senang karena membuat senang orang lain. Sebagaimana ungkapan bahasa Arab,سؤال: من أسعد الناس الجواب: من أسعد الناسPertanyaan, ‘Siapakan manusia yang paling berbahagia?’ Jawaban, ‘Mereka yang membuat manusia bahagia (membahagiakan orang lain).’”Hal ini selaras dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, bahwa salah satu amalan yang paling besar pahalanya di sisi Allah adalah memasukkan kebahagiaan di hati seorang muslim.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا“Sebaik-baik amal saleh adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman” (HR. Ibnu Abi Dunya, Jami’ush Shaghir no. 1096).Semoga kita selalu bahagia dunia-akhirat dengan taufik dari Allah Ta’ala dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97).Baca Juga:Demikian pembahasan kami, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id
Apabila kita ditanya, “apa tujuan kita hidup di dunia atau apa sih yang kita cari di dunia ini?”  Tentu hampir semua jawabannya adalah sama, yaitu mencari kebahagiaan. Hanya saja, kebahagiaan itu berbeda-beda tergantung dari persepsi setiap orang. Ada yang bahagia ketika bermaksiat, ada yang berbahagia ketika melakukan hobi yang tidak bermanfaat, dan ada yang bahagia ketika melakukan hal-hal aneh yang merugikan masyarakat. Ini semua adalah kebahagiaan yang semu dan hanya sementara saja. Kebahagiaan yang tidak menenangkan hati dan menentramkan jiwa kita. Bahkan ada kebahagiaan yang menipu, yaitu menipu manusia, karena dia menyangka itu adalah kebahagiaan. Padahal hakikatnya, itu adalah kesengsaraan, semisalnya pecandu narkoba.Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, kita dibimbing oleh syariat agar bahagia dunia dan akhirat dengan kebahagiaan yang sejati. Bukan kebahagiaan yang semu, bahkan kebahagiaan yang menipu. Kebahagiaan secara umumSecara umum, kebahagiaan itu terdapat pada tiga perkara. Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan tanda tersebut, yaitu:إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة1. jika diberi kenikmatan, dia bersyukur,2. jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar,3. dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat),maka tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).Baca Juga: Meraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’iPerincian apa itu kebahagiaanSebagian ulama menjelaskan lebih rinci, apa itu kebahagiaan dan tanda-tandanya. Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah:1. dimudahkan ketaatan baginya,2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,3. berteman dengan orang-orang saleh,4. baiknya akhlak kepada sesama manusia,5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan7. pandai menjaga waktu” (Al-I’tishom, 2 : 152).Hal yang paling penting dan perlu diketahui bahwa kebahagiaan itu terutama terletak di hati, bukan pada harta, jabatan dan kedudukan. Hal ini sederhana, tetapi banyak dilupakan dan dilalaikan oleh mansuia. Mereka tertipu dengan dunia dan gemerlap dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Yang namanya kaya (ghina’), bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).Salah satu tanda kebahagiaan sejati yang juga sering dilupakan manusia adalah bahagia dengan membahagiakan orang lain atau senang karena membuat senang orang lain. Sebagaimana ungkapan bahasa Arab,سؤال: من أسعد الناس الجواب: من أسعد الناسPertanyaan, ‘Siapakan manusia yang paling berbahagia?’ Jawaban, ‘Mereka yang membuat manusia bahagia (membahagiakan orang lain).’”Hal ini selaras dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, bahwa salah satu amalan yang paling besar pahalanya di sisi Allah adalah memasukkan kebahagiaan di hati seorang muslim.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا“Sebaik-baik amal saleh adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman” (HR. Ibnu Abi Dunya, Jami’ush Shaghir no. 1096).Semoga kita selalu bahagia dunia-akhirat dengan taufik dari Allah Ta’ala dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97).Baca Juga:Demikian pembahasan kami, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id


Apabila kita ditanya, “apa tujuan kita hidup di dunia atau apa sih yang kita cari di dunia ini?”  Tentu hampir semua jawabannya adalah sama, yaitu mencari kebahagiaan. Hanya saja, kebahagiaan itu berbeda-beda tergantung dari persepsi setiap orang. Ada yang bahagia ketika bermaksiat, ada yang berbahagia ketika melakukan hobi yang tidak bermanfaat, dan ada yang bahagia ketika melakukan hal-hal aneh yang merugikan masyarakat. Ini semua adalah kebahagiaan yang semu dan hanya sementara saja. Kebahagiaan yang tidak menenangkan hati dan menentramkan jiwa kita. Bahkan ada kebahagiaan yang menipu, yaitu menipu manusia, karena dia menyangka itu adalah kebahagiaan. Padahal hakikatnya, itu adalah kesengsaraan, semisalnya pecandu narkoba.Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, kita dibimbing oleh syariat agar bahagia dunia dan akhirat dengan kebahagiaan yang sejati. Bukan kebahagiaan yang semu, bahkan kebahagiaan yang menipu. Kebahagiaan secara umumSecara umum, kebahagiaan itu terdapat pada tiga perkara. Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan tanda tersebut, yaitu:إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة1. jika diberi kenikmatan, dia bersyukur,2. jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar,3. dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat),maka tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).Baca Juga: Meraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’iPerincian apa itu kebahagiaanSebagian ulama menjelaskan lebih rinci, apa itu kebahagiaan dan tanda-tandanya. Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah:1. dimudahkan ketaatan baginya,2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,3. berteman dengan orang-orang saleh,4. baiknya akhlak kepada sesama manusia,5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan7. pandai menjaga waktu” (Al-I’tishom, 2 : 152).Hal yang paling penting dan perlu diketahui bahwa kebahagiaan itu terutama terletak di hati, bukan pada harta, jabatan dan kedudukan. Hal ini sederhana, tetapi banyak dilupakan dan dilalaikan oleh mansuia. Mereka tertipu dengan dunia dan gemerlap dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ“Yang namanya kaya (ghina’), bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).Salah satu tanda kebahagiaan sejati yang juga sering dilupakan manusia adalah bahagia dengan membahagiakan orang lain atau senang karena membuat senang orang lain. Sebagaimana ungkapan bahasa Arab,سؤال: من أسعد الناس الجواب: من أسعد الناسPertanyaan, ‘Siapakan manusia yang paling berbahagia?’ Jawaban, ‘Mereka yang membuat manusia bahagia (membahagiakan orang lain).’”Hal ini selaras dengan hadis Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam, bahwa salah satu amalan yang paling besar pahalanya di sisi Allah adalah memasukkan kebahagiaan di hati seorang muslim.Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا“Sebaik-baik amal saleh adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman” (HR. Ibnu Abi Dunya, Jami’ush Shaghir no. 1096).Semoga kita selalu bahagia dunia-akhirat dengan taufik dari Allah Ta’ala dan amal saleh. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97).Baca Juga:Demikian pembahasan kami, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id

Bagaimana Cara Ibadah Orang yang Mengubah Jenis Kelaminnya?

Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus –hafizhahullah–Pertanyaan :Ada seorang anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki, ia mempunyai orang tua yang kafir. Ketika telah dewasa, ia mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan dengan operasi (transgender). Sedangkan umurnya sekarang mendekati tiga puluh tahun. Penampilannya sekarang seperti penampilan perempuan dan berinteraksi seperti halnya perempuan, hingga cara bicaranya juga demikian. Ketika ia masuk Islam, ia menginginkan jenis kelaminnya kembali menjadi yang dahulu kala seperti aslinya yakni laki-laki. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan dana yang besar yang tidak ia mampui sekarang. Sedangkan kini ia ingin untuk pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Muncul kebingungan dalam dirinya apakah ia menempatkan dirinya di bagian laki-laki ataukah di bagian perempuan? Kami mohon faidah dan penjelasannya, jazaakumullahu khairan.Baca Juga: Dicari: LGBT Yang Mampu Dan Mau Memahami Al-Qur’an Dengan Benar!Jawab :الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا  بعدSyariat mengharamkan prosedur pengubahan jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Tanpa keraguan lagi, ini bukan termasuk dalam pengobatan medis. Sesungguhnya ini termasuk mengubah ciptaan Allah yang diawali dari godaan setan kepada manusia untuk berbuat durhaka. Dan setan juga mendiktekan manusia untuk mengikuti hawa nafsunya sehingga berkeinginan untuk merubah fisiknya untuk memperindah dan mempercantik dirinya, tanpa alasan yang darurat atau kebutuhan yang mendesak. Allah ta’ala berfirman menukil perkataan iblis la’anahullah :وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“dan akan aku (iblis) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya” (QS. An-Nisa’ : 119). Konteks ayat menunjukkan celaan dan menjelaskan suatu perkara yang haram. Diantaranya perkara tersebut adalah mengubah ciptaan Allah. Dan pelaku perbuatan ini juga mendapat laknat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah” (HR. Bukhari no. 5931, Muslim no.2125).Demikian, jika keinginan itu tumbuh pada laki-laki itu sebelum keislamannya, kemudian Allah menganugerahinya dengan nikmat islam dan istiqamah dalam beragama, maka sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ“Islamnya seseorang telah menghapus dosa-dosa yang sebelumnya” (HR. Ahmad no. 17777, dari sahabat Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 1280).Yakni memutus dan menghapus semua perbuatan kekafiran, kemaksiatan, dosa, yang pernah dilakukan sebelumnya. Baca Juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?Maka apabila ia sanggup untuk mengembalikan kelaminnya seperti semula tanpa mengakibatkan bahaya dan kerusakan karena luka-luka (yang sama atau lebih besar dari sebelumnya) maka itulah yang semestinya ia lakukan. Dan mengembalikan kelamin seperti semula ini tidak termasuk dalam larangan yang terdapat dalam hadits, dan hal itu juga tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. Akan tetapi ini dilakukan dengan syarat dapat mengembalikan organ-organ tubuhnya kelaki-lakiannya. Tidak boleh baginya menanam organ kelaki-lakian milik orang lain, berdasarkan salah satu pendapat ahli ilmu. Karena ini terkait dengan penjagaan keturunan dan memelihara dari tercampurnya pertalian nasab. Jika tidak mampu untuk mengembalikan pada bentuk aslinya maka sesungguhnya hukum syariat berlaku sesuai kapasitas dan kemampuan. Kaidah mengatakan: “tidak ada pembebanan kecuali sesuai dengan kemampuan”. Dan seseorang tidak diberi pilihan kecuali dalam opsi-opsi yang dimampui. Berdasarkan firman-Nya subhanahu wa ta’ala, لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَا“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 233). Dan firman-Nya, فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun 16). Dan juga firman-Nya, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Thalaq: 7).Dan sabda Nabi ﷺ :فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan suatu perkara kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhari no.7288, Muslim no.1337).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa ibadah-ibadah itu tidak diwajibkan kecuali pada orang yang mampu melakukannya. Dan orang mampu tetap dianggap mampu walaupun ia melanggar ibadah tersebut atau meninggalkannya. Sebagaimana orang mampu melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa, haji, namun ia tidak melakukannya. Maka dia tetap dianggap orang yang mampu, dengan kesepakatan salaful ummah dan para imam. Dan ia berhak mendapat dosa karena meninggalkan perintah padahal ia mampu dan tidak melakukannya. Bukan karena meninggalkan yang tidak mampu ia lakukan” (Majmu’ Al Fatawa, 8/479).Adapun soal ibadah dan muamalahnya, yang tepat, dihukumi sebagai perempuan. Dan hukum-hukum syar’i berlaku sesuai jenis kelaminnya saat ini, bukan jenis kelamin aslinya. Berdasarkan kaidah umum yang berlaku pada kasus seperti ini atau yang semisal: العِبْرَةَ بِالحَالِ لَا بِالمَآلِ“yang dianggap adalah keadaan yang sekarang, bukan keadaan sebelumnya”. Dan juga berlaku kaidah:مَا قَارَبَ الشَّيْءَ أَوْ أَشْرَفَ عَلَيْهِ يُعْطَى حُكْمَهُ“Semua yang mirip dengan sesuatu atau menyamainya, maka ia sama hukumnya”Dan tidak samar lagi bahwasanya dia sekarang menempel pada dirinya sifat-sifat perempuan dan memiliki tanda-tanda kewanitaan. Semisal adanya kelamin perempuan, kencing dari alat kelamin perempuannya tersebut, keluar haid dari tempat tersebut, memiliki payudara, dan yang lainnya. Dengan demikian dia dihukumi sesuai jenis kelaminnya yang nampak secara lahiriyah sekarang, bukan kelamin aslinya. Karena telah hilang tanda-tanda kelaki-lakian pada dirinya. Maka ia dihukumi sebagai perempuan, selama belum kembali kepada kelamin aslinya dan bentuk tubuhnya yang terdahulu.والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا. Aljazair, 20 Muharram 1439H / 10 Oktober 2017Baca Juga:Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1220Penerjemah: Rafif ZulfarihsanPemuraja’ah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Fiqih Puasa Ramadhan, Kehidupan Dunia Hanya Sementara, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Kalimat La Ilaha Illallah, Hadist Tentang Sholat Yang Tidak Diterima

Bagaimana Cara Ibadah Orang yang Mengubah Jenis Kelaminnya?

Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus –hafizhahullah–Pertanyaan :Ada seorang anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki, ia mempunyai orang tua yang kafir. Ketika telah dewasa, ia mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan dengan operasi (transgender). Sedangkan umurnya sekarang mendekati tiga puluh tahun. Penampilannya sekarang seperti penampilan perempuan dan berinteraksi seperti halnya perempuan, hingga cara bicaranya juga demikian. Ketika ia masuk Islam, ia menginginkan jenis kelaminnya kembali menjadi yang dahulu kala seperti aslinya yakni laki-laki. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan dana yang besar yang tidak ia mampui sekarang. Sedangkan kini ia ingin untuk pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Muncul kebingungan dalam dirinya apakah ia menempatkan dirinya di bagian laki-laki ataukah di bagian perempuan? Kami mohon faidah dan penjelasannya, jazaakumullahu khairan.Baca Juga: Dicari: LGBT Yang Mampu Dan Mau Memahami Al-Qur’an Dengan Benar!Jawab :الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا  بعدSyariat mengharamkan prosedur pengubahan jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Tanpa keraguan lagi, ini bukan termasuk dalam pengobatan medis. Sesungguhnya ini termasuk mengubah ciptaan Allah yang diawali dari godaan setan kepada manusia untuk berbuat durhaka. Dan setan juga mendiktekan manusia untuk mengikuti hawa nafsunya sehingga berkeinginan untuk merubah fisiknya untuk memperindah dan mempercantik dirinya, tanpa alasan yang darurat atau kebutuhan yang mendesak. Allah ta’ala berfirman menukil perkataan iblis la’anahullah :وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“dan akan aku (iblis) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya” (QS. An-Nisa’ : 119). Konteks ayat menunjukkan celaan dan menjelaskan suatu perkara yang haram. Diantaranya perkara tersebut adalah mengubah ciptaan Allah. Dan pelaku perbuatan ini juga mendapat laknat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah” (HR. Bukhari no. 5931, Muslim no.2125).Demikian, jika keinginan itu tumbuh pada laki-laki itu sebelum keislamannya, kemudian Allah menganugerahinya dengan nikmat islam dan istiqamah dalam beragama, maka sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ“Islamnya seseorang telah menghapus dosa-dosa yang sebelumnya” (HR. Ahmad no. 17777, dari sahabat Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 1280).Yakni memutus dan menghapus semua perbuatan kekafiran, kemaksiatan, dosa, yang pernah dilakukan sebelumnya. Baca Juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?Maka apabila ia sanggup untuk mengembalikan kelaminnya seperti semula tanpa mengakibatkan bahaya dan kerusakan karena luka-luka (yang sama atau lebih besar dari sebelumnya) maka itulah yang semestinya ia lakukan. Dan mengembalikan kelamin seperti semula ini tidak termasuk dalam larangan yang terdapat dalam hadits, dan hal itu juga tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. Akan tetapi ini dilakukan dengan syarat dapat mengembalikan organ-organ tubuhnya kelaki-lakiannya. Tidak boleh baginya menanam organ kelaki-lakian milik orang lain, berdasarkan salah satu pendapat ahli ilmu. Karena ini terkait dengan penjagaan keturunan dan memelihara dari tercampurnya pertalian nasab. Jika tidak mampu untuk mengembalikan pada bentuk aslinya maka sesungguhnya hukum syariat berlaku sesuai kapasitas dan kemampuan. Kaidah mengatakan: “tidak ada pembebanan kecuali sesuai dengan kemampuan”. Dan seseorang tidak diberi pilihan kecuali dalam opsi-opsi yang dimampui. Berdasarkan firman-Nya subhanahu wa ta’ala, لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَا“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 233). Dan firman-Nya, فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun 16). Dan juga firman-Nya, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Thalaq: 7).Dan sabda Nabi ﷺ :فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan suatu perkara kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhari no.7288, Muslim no.1337).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa ibadah-ibadah itu tidak diwajibkan kecuali pada orang yang mampu melakukannya. Dan orang mampu tetap dianggap mampu walaupun ia melanggar ibadah tersebut atau meninggalkannya. Sebagaimana orang mampu melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa, haji, namun ia tidak melakukannya. Maka dia tetap dianggap orang yang mampu, dengan kesepakatan salaful ummah dan para imam. Dan ia berhak mendapat dosa karena meninggalkan perintah padahal ia mampu dan tidak melakukannya. Bukan karena meninggalkan yang tidak mampu ia lakukan” (Majmu’ Al Fatawa, 8/479).Adapun soal ibadah dan muamalahnya, yang tepat, dihukumi sebagai perempuan. Dan hukum-hukum syar’i berlaku sesuai jenis kelaminnya saat ini, bukan jenis kelamin aslinya. Berdasarkan kaidah umum yang berlaku pada kasus seperti ini atau yang semisal: العِبْرَةَ بِالحَالِ لَا بِالمَآلِ“yang dianggap adalah keadaan yang sekarang, bukan keadaan sebelumnya”. Dan juga berlaku kaidah:مَا قَارَبَ الشَّيْءَ أَوْ أَشْرَفَ عَلَيْهِ يُعْطَى حُكْمَهُ“Semua yang mirip dengan sesuatu atau menyamainya, maka ia sama hukumnya”Dan tidak samar lagi bahwasanya dia sekarang menempel pada dirinya sifat-sifat perempuan dan memiliki tanda-tanda kewanitaan. Semisal adanya kelamin perempuan, kencing dari alat kelamin perempuannya tersebut, keluar haid dari tempat tersebut, memiliki payudara, dan yang lainnya. Dengan demikian dia dihukumi sesuai jenis kelaminnya yang nampak secara lahiriyah sekarang, bukan kelamin aslinya. Karena telah hilang tanda-tanda kelaki-lakian pada dirinya. Maka ia dihukumi sebagai perempuan, selama belum kembali kepada kelamin aslinya dan bentuk tubuhnya yang terdahulu.والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا. Aljazair, 20 Muharram 1439H / 10 Oktober 2017Baca Juga:Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1220Penerjemah: Rafif ZulfarihsanPemuraja’ah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Fiqih Puasa Ramadhan, Kehidupan Dunia Hanya Sementara, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Kalimat La Ilaha Illallah, Hadist Tentang Sholat Yang Tidak Diterima
Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus –hafizhahullah–Pertanyaan :Ada seorang anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki, ia mempunyai orang tua yang kafir. Ketika telah dewasa, ia mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan dengan operasi (transgender). Sedangkan umurnya sekarang mendekati tiga puluh tahun. Penampilannya sekarang seperti penampilan perempuan dan berinteraksi seperti halnya perempuan, hingga cara bicaranya juga demikian. Ketika ia masuk Islam, ia menginginkan jenis kelaminnya kembali menjadi yang dahulu kala seperti aslinya yakni laki-laki. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan dana yang besar yang tidak ia mampui sekarang. Sedangkan kini ia ingin untuk pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Muncul kebingungan dalam dirinya apakah ia menempatkan dirinya di bagian laki-laki ataukah di bagian perempuan? Kami mohon faidah dan penjelasannya, jazaakumullahu khairan.Baca Juga: Dicari: LGBT Yang Mampu Dan Mau Memahami Al-Qur’an Dengan Benar!Jawab :الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا  بعدSyariat mengharamkan prosedur pengubahan jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Tanpa keraguan lagi, ini bukan termasuk dalam pengobatan medis. Sesungguhnya ini termasuk mengubah ciptaan Allah yang diawali dari godaan setan kepada manusia untuk berbuat durhaka. Dan setan juga mendiktekan manusia untuk mengikuti hawa nafsunya sehingga berkeinginan untuk merubah fisiknya untuk memperindah dan mempercantik dirinya, tanpa alasan yang darurat atau kebutuhan yang mendesak. Allah ta’ala berfirman menukil perkataan iblis la’anahullah :وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“dan akan aku (iblis) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya” (QS. An-Nisa’ : 119). Konteks ayat menunjukkan celaan dan menjelaskan suatu perkara yang haram. Diantaranya perkara tersebut adalah mengubah ciptaan Allah. Dan pelaku perbuatan ini juga mendapat laknat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah” (HR. Bukhari no. 5931, Muslim no.2125).Demikian, jika keinginan itu tumbuh pada laki-laki itu sebelum keislamannya, kemudian Allah menganugerahinya dengan nikmat islam dan istiqamah dalam beragama, maka sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ“Islamnya seseorang telah menghapus dosa-dosa yang sebelumnya” (HR. Ahmad no. 17777, dari sahabat Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 1280).Yakni memutus dan menghapus semua perbuatan kekafiran, kemaksiatan, dosa, yang pernah dilakukan sebelumnya. Baca Juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?Maka apabila ia sanggup untuk mengembalikan kelaminnya seperti semula tanpa mengakibatkan bahaya dan kerusakan karena luka-luka (yang sama atau lebih besar dari sebelumnya) maka itulah yang semestinya ia lakukan. Dan mengembalikan kelamin seperti semula ini tidak termasuk dalam larangan yang terdapat dalam hadits, dan hal itu juga tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. Akan tetapi ini dilakukan dengan syarat dapat mengembalikan organ-organ tubuhnya kelaki-lakiannya. Tidak boleh baginya menanam organ kelaki-lakian milik orang lain, berdasarkan salah satu pendapat ahli ilmu. Karena ini terkait dengan penjagaan keturunan dan memelihara dari tercampurnya pertalian nasab. Jika tidak mampu untuk mengembalikan pada bentuk aslinya maka sesungguhnya hukum syariat berlaku sesuai kapasitas dan kemampuan. Kaidah mengatakan: “tidak ada pembebanan kecuali sesuai dengan kemampuan”. Dan seseorang tidak diberi pilihan kecuali dalam opsi-opsi yang dimampui. Berdasarkan firman-Nya subhanahu wa ta’ala, لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَا“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 233). Dan firman-Nya, فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun 16). Dan juga firman-Nya, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Thalaq: 7).Dan sabda Nabi ﷺ :فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan suatu perkara kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhari no.7288, Muslim no.1337).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa ibadah-ibadah itu tidak diwajibkan kecuali pada orang yang mampu melakukannya. Dan orang mampu tetap dianggap mampu walaupun ia melanggar ibadah tersebut atau meninggalkannya. Sebagaimana orang mampu melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa, haji, namun ia tidak melakukannya. Maka dia tetap dianggap orang yang mampu, dengan kesepakatan salaful ummah dan para imam. Dan ia berhak mendapat dosa karena meninggalkan perintah padahal ia mampu dan tidak melakukannya. Bukan karena meninggalkan yang tidak mampu ia lakukan” (Majmu’ Al Fatawa, 8/479).Adapun soal ibadah dan muamalahnya, yang tepat, dihukumi sebagai perempuan. Dan hukum-hukum syar’i berlaku sesuai jenis kelaminnya saat ini, bukan jenis kelamin aslinya. Berdasarkan kaidah umum yang berlaku pada kasus seperti ini atau yang semisal: العِبْرَةَ بِالحَالِ لَا بِالمَآلِ“yang dianggap adalah keadaan yang sekarang, bukan keadaan sebelumnya”. Dan juga berlaku kaidah:مَا قَارَبَ الشَّيْءَ أَوْ أَشْرَفَ عَلَيْهِ يُعْطَى حُكْمَهُ“Semua yang mirip dengan sesuatu atau menyamainya, maka ia sama hukumnya”Dan tidak samar lagi bahwasanya dia sekarang menempel pada dirinya sifat-sifat perempuan dan memiliki tanda-tanda kewanitaan. Semisal adanya kelamin perempuan, kencing dari alat kelamin perempuannya tersebut, keluar haid dari tempat tersebut, memiliki payudara, dan yang lainnya. Dengan demikian dia dihukumi sesuai jenis kelaminnya yang nampak secara lahiriyah sekarang, bukan kelamin aslinya. Karena telah hilang tanda-tanda kelaki-lakian pada dirinya. Maka ia dihukumi sebagai perempuan, selama belum kembali kepada kelamin aslinya dan bentuk tubuhnya yang terdahulu.والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا. Aljazair, 20 Muharram 1439H / 10 Oktober 2017Baca Juga:Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1220Penerjemah: Rafif ZulfarihsanPemuraja’ah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Fiqih Puasa Ramadhan, Kehidupan Dunia Hanya Sementara, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Kalimat La Ilaha Illallah, Hadist Tentang Sholat Yang Tidak Diterima


Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus –hafizhahullah–Pertanyaan :Ada seorang anak yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki, ia mempunyai orang tua yang kafir. Ketika telah dewasa, ia mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan dengan operasi (transgender). Sedangkan umurnya sekarang mendekati tiga puluh tahun. Penampilannya sekarang seperti penampilan perempuan dan berinteraksi seperti halnya perempuan, hingga cara bicaranya juga demikian. Ketika ia masuk Islam, ia menginginkan jenis kelaminnya kembali menjadi yang dahulu kala seperti aslinya yakni laki-laki. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan dana yang besar yang tidak ia mampui sekarang. Sedangkan kini ia ingin untuk pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Muncul kebingungan dalam dirinya apakah ia menempatkan dirinya di bagian laki-laki ataukah di bagian perempuan? Kami mohon faidah dan penjelasannya, jazaakumullahu khairan.Baca Juga: Dicari: LGBT Yang Mampu Dan Mau Memahami Al-Qur’an Dengan Benar!Jawab :الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا  بعدSyariat mengharamkan prosedur pengubahan jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Tanpa keraguan lagi, ini bukan termasuk dalam pengobatan medis. Sesungguhnya ini termasuk mengubah ciptaan Allah yang diawali dari godaan setan kepada manusia untuk berbuat durhaka. Dan setan juga mendiktekan manusia untuk mengikuti hawa nafsunya sehingga berkeinginan untuk merubah fisiknya untuk memperindah dan mempercantik dirinya, tanpa alasan yang darurat atau kebutuhan yang mendesak. Allah ta’ala berfirman menukil perkataan iblis la’anahullah :وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلۡقَ ٱللَّهِ“dan akan aku (iblis) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya” (QS. An-Nisa’ : 119). Konteks ayat menunjukkan celaan dan menjelaskan suatu perkara yang haram. Diantaranya perkara tersebut adalah mengubah ciptaan Allah. Dan pelaku perbuatan ini juga mendapat laknat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah” (HR. Bukhari no. 5931, Muslim no.2125).Demikian, jika keinginan itu tumbuh pada laki-laki itu sebelum keislamannya, kemudian Allah menganugerahinya dengan nikmat islam dan istiqamah dalam beragama, maka sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ“Islamnya seseorang telah menghapus dosa-dosa yang sebelumnya” (HR. Ahmad no. 17777, dari sahabat Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 1280).Yakni memutus dan menghapus semua perbuatan kekafiran, kemaksiatan, dosa, yang pernah dilakukan sebelumnya. Baca Juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?Maka apabila ia sanggup untuk mengembalikan kelaminnya seperti semula tanpa mengakibatkan bahaya dan kerusakan karena luka-luka (yang sama atau lebih besar dari sebelumnya) maka itulah yang semestinya ia lakukan. Dan mengembalikan kelamin seperti semula ini tidak termasuk dalam larangan yang terdapat dalam hadits, dan hal itu juga tidak termasuk mengubah ciptaan Allah. Akan tetapi ini dilakukan dengan syarat dapat mengembalikan organ-organ tubuhnya kelaki-lakiannya. Tidak boleh baginya menanam organ kelaki-lakian milik orang lain, berdasarkan salah satu pendapat ahli ilmu. Karena ini terkait dengan penjagaan keturunan dan memelihara dari tercampurnya pertalian nasab. Jika tidak mampu untuk mengembalikan pada bentuk aslinya maka sesungguhnya hukum syariat berlaku sesuai kapasitas dan kemampuan. Kaidah mengatakan: “tidak ada pembebanan kecuali sesuai dengan kemampuan”. Dan seseorang tidak diberi pilihan kecuali dalam opsi-opsi yang dimampui. Berdasarkan firman-Nya subhanahu wa ta’ala, لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَا“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 233). Dan firman-Nya, فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun 16). Dan juga firman-Nya, لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Thalaq: 7).Dan sabda Nabi ﷺ :فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku melarang sesuatu terhadap kalian, jauhilah. Dan jika aku memerintahkan suatu perkara kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhari no.7288, Muslim no.1337).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ulama sepakat bahwa ibadah-ibadah itu tidak diwajibkan kecuali pada orang yang mampu melakukannya. Dan orang mampu tetap dianggap mampu walaupun ia melanggar ibadah tersebut atau meninggalkannya. Sebagaimana orang mampu melaksanakan perintah agama seperti shalat, zakat, puasa, haji, namun ia tidak melakukannya. Maka dia tetap dianggap orang yang mampu, dengan kesepakatan salaful ummah dan para imam. Dan ia berhak mendapat dosa karena meninggalkan perintah padahal ia mampu dan tidak melakukannya. Bukan karena meninggalkan yang tidak mampu ia lakukan” (Majmu’ Al Fatawa, 8/479).Adapun soal ibadah dan muamalahnya, yang tepat, dihukumi sebagai perempuan. Dan hukum-hukum syar’i berlaku sesuai jenis kelaminnya saat ini, bukan jenis kelamin aslinya. Berdasarkan kaidah umum yang berlaku pada kasus seperti ini atau yang semisal: العِبْرَةَ بِالحَالِ لَا بِالمَآلِ“yang dianggap adalah keadaan yang sekarang, bukan keadaan sebelumnya”. Dan juga berlaku kaidah:مَا قَارَبَ الشَّيْءَ أَوْ أَشْرَفَ عَلَيْهِ يُعْطَى حُكْمَهُ“Semua yang mirip dengan sesuatu atau menyamainya, maka ia sama hukumnya”Dan tidak samar lagi bahwasanya dia sekarang menempel pada dirinya sifat-sifat perempuan dan memiliki tanda-tanda kewanitaan. Semisal adanya kelamin perempuan, kencing dari alat kelamin perempuannya tersebut, keluar haid dari tempat tersebut, memiliki payudara, dan yang lainnya. Dengan demikian dia dihukumi sesuai jenis kelaminnya yang nampak secara lahiriyah sekarang, bukan kelamin aslinya. Karena telah hilang tanda-tanda kelaki-lakian pada dirinya. Maka ia dihukumi sebagai perempuan, selama belum kembali kepada kelamin aslinya dan bentuk tubuhnya yang terdahulu.والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا. Aljazair, 20 Muharram 1439H / 10 Oktober 2017Baca Juga:Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1220Penerjemah: Rafif ZulfarihsanPemuraja’ah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Fiqih Puasa Ramadhan, Kehidupan Dunia Hanya Sementara, Ciri Ciri Wanita Sholihah, Kalimat La Ilaha Illallah, Hadist Tentang Sholat Yang Tidak Diterima

Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ah

Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”Mengapa Pelaku Bid’ah Sulit Bertaubat?Orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan, mereka menyangka kebid’ahan yang ada pada mereka itu sebagai kebaikan. Sehingga sulit bagi mereka untuk bertaubat dari kebid’ahan tersebut. Dan ketika diingkari oleh Ahlussunnah, mereka malah menuduh Ahlussunnah mengingkari kebaikan.Misalnya, orang-orang yang melakukan dzikir-dzikir bid’ah, ketika dinasehati mereka malah mengatakan, “mengapa kalian mengingkari dzikir? Apakah kalian benci dzikir?”.Orang-orang yang membaca shalawat-shalawat bid’ah, ketika dinasehati mereka mengatakan, “mengapa kalian mengingkari shalawat? Apakah kalian benci shalawat?”. Dan seterusnya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaNasihat Ulama Tentang Pelaku Bid’ahPerhatikan nasehat Sa’id bin Musayyab rahimahullah berikut ini.Sa’id bin Musayyab adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in, yang beliau dijuluki “alim ahlil Madinah” (ulamanya penduduk Madinah) dan juga “sayyidut tabi’in” (pemimpinnya para tabi’in). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya,رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة“Sa’id bin al Musayyab melihat seorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, yang ia memperpanjang rukuk dan sujudnya. Lalu Sa’id bin al Musayyab melarangnya. Maka orang tadi berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazab saya gara-gara saya shalat?Sa’id bin al Musayyab menjawab: bukan demikian, namun Allah akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah” (Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/466, Ad Darimi 1/404-405, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/236).Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”. Maka jawaban Sa’id bin Musayyab rahimahullah adalah jawaban telak. Yang dilarang bukan ibadahnya, namun bagian dari ibadah tersebut, baik penetapannya, tata caranya, pengkhususan waktu atau tempatnya, jumlah bilangannya dan semisalnya yang tidak ada tuntunannya dari sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan:وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب – رحمه الة تعالى -, وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم أنها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة!! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك“Ini merupakan diantara jawaban yang sangat telak dari Sa’id bin al Musayyab. Dan ini juga merupakan senjata bagi para ahlul bid’ah yang mereka menganggap baik banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan mengatakan bahwa yang mereka lakukan itu dzikir dan shalat. Kemudian mereka malah mengingkari Ahlussunnah yang mengingkari bid’ah mereka dengan mengesankan bahwa Ahlussunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal yang diingkari oleh Ahlussunnah adalah penentangan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan shalat serta ibadah lainnya” (Irwa’ul Ghalil, 2/236).Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanPara Sahabat Nabi Mengingkari Amalan Bid’ahDemikian pula para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali. Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”. Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).Baca Juga:Semoga Allah memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ah

Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”Mengapa Pelaku Bid’ah Sulit Bertaubat?Orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan, mereka menyangka kebid’ahan yang ada pada mereka itu sebagai kebaikan. Sehingga sulit bagi mereka untuk bertaubat dari kebid’ahan tersebut. Dan ketika diingkari oleh Ahlussunnah, mereka malah menuduh Ahlussunnah mengingkari kebaikan.Misalnya, orang-orang yang melakukan dzikir-dzikir bid’ah, ketika dinasehati mereka malah mengatakan, “mengapa kalian mengingkari dzikir? Apakah kalian benci dzikir?”.Orang-orang yang membaca shalawat-shalawat bid’ah, ketika dinasehati mereka mengatakan, “mengapa kalian mengingkari shalawat? Apakah kalian benci shalawat?”. Dan seterusnya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaNasihat Ulama Tentang Pelaku Bid’ahPerhatikan nasehat Sa’id bin Musayyab rahimahullah berikut ini.Sa’id bin Musayyab adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in, yang beliau dijuluki “alim ahlil Madinah” (ulamanya penduduk Madinah) dan juga “sayyidut tabi’in” (pemimpinnya para tabi’in). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya,رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة“Sa’id bin al Musayyab melihat seorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, yang ia memperpanjang rukuk dan sujudnya. Lalu Sa’id bin al Musayyab melarangnya. Maka orang tadi berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazab saya gara-gara saya shalat?Sa’id bin al Musayyab menjawab: bukan demikian, namun Allah akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah” (Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/466, Ad Darimi 1/404-405, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/236).Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”. Maka jawaban Sa’id bin Musayyab rahimahullah adalah jawaban telak. Yang dilarang bukan ibadahnya, namun bagian dari ibadah tersebut, baik penetapannya, tata caranya, pengkhususan waktu atau tempatnya, jumlah bilangannya dan semisalnya yang tidak ada tuntunannya dari sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan:وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب – رحمه الة تعالى -, وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم أنها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة!! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك“Ini merupakan diantara jawaban yang sangat telak dari Sa’id bin al Musayyab. Dan ini juga merupakan senjata bagi para ahlul bid’ah yang mereka menganggap baik banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan mengatakan bahwa yang mereka lakukan itu dzikir dan shalat. Kemudian mereka malah mengingkari Ahlussunnah yang mengingkari bid’ah mereka dengan mengesankan bahwa Ahlussunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal yang diingkari oleh Ahlussunnah adalah penentangan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan shalat serta ibadah lainnya” (Irwa’ul Ghalil, 2/236).Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanPara Sahabat Nabi Mengingkari Amalan Bid’ahDemikian pula para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali. Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”. Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).Baca Juga:Semoga Allah memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”Mengapa Pelaku Bid’ah Sulit Bertaubat?Orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan, mereka menyangka kebid’ahan yang ada pada mereka itu sebagai kebaikan. Sehingga sulit bagi mereka untuk bertaubat dari kebid’ahan tersebut. Dan ketika diingkari oleh Ahlussunnah, mereka malah menuduh Ahlussunnah mengingkari kebaikan.Misalnya, orang-orang yang melakukan dzikir-dzikir bid’ah, ketika dinasehati mereka malah mengatakan, “mengapa kalian mengingkari dzikir? Apakah kalian benci dzikir?”.Orang-orang yang membaca shalawat-shalawat bid’ah, ketika dinasehati mereka mengatakan, “mengapa kalian mengingkari shalawat? Apakah kalian benci shalawat?”. Dan seterusnya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaNasihat Ulama Tentang Pelaku Bid’ahPerhatikan nasehat Sa’id bin Musayyab rahimahullah berikut ini.Sa’id bin Musayyab adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in, yang beliau dijuluki “alim ahlil Madinah” (ulamanya penduduk Madinah) dan juga “sayyidut tabi’in” (pemimpinnya para tabi’in). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya,رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة“Sa’id bin al Musayyab melihat seorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, yang ia memperpanjang rukuk dan sujudnya. Lalu Sa’id bin al Musayyab melarangnya. Maka orang tadi berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazab saya gara-gara saya shalat?Sa’id bin al Musayyab menjawab: bukan demikian, namun Allah akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah” (Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/466, Ad Darimi 1/404-405, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/236).Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”. Maka jawaban Sa’id bin Musayyab rahimahullah adalah jawaban telak. Yang dilarang bukan ibadahnya, namun bagian dari ibadah tersebut, baik penetapannya, tata caranya, pengkhususan waktu atau tempatnya, jumlah bilangannya dan semisalnya yang tidak ada tuntunannya dari sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan:وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب – رحمه الة تعالى -, وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم أنها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة!! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك“Ini merupakan diantara jawaban yang sangat telak dari Sa’id bin al Musayyab. Dan ini juga merupakan senjata bagi para ahlul bid’ah yang mereka menganggap baik banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan mengatakan bahwa yang mereka lakukan itu dzikir dan shalat. Kemudian mereka malah mengingkari Ahlussunnah yang mengingkari bid’ah mereka dengan mengesankan bahwa Ahlussunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal yang diingkari oleh Ahlussunnah adalah penentangan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan shalat serta ibadah lainnya” (Irwa’ul Ghalil, 2/236).Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanPara Sahabat Nabi Mengingkari Amalan Bid’ahDemikian pula para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali. Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”. Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).Baca Juga:Semoga Allah memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”Mengapa Pelaku Bid’ah Sulit Bertaubat?Orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan, mereka menyangka kebid’ahan yang ada pada mereka itu sebagai kebaikan. Sehingga sulit bagi mereka untuk bertaubat dari kebid’ahan tersebut. Dan ketika diingkari oleh Ahlussunnah, mereka malah menuduh Ahlussunnah mengingkari kebaikan.Misalnya, orang-orang yang melakukan dzikir-dzikir bid’ah, ketika dinasehati mereka malah mengatakan, “mengapa kalian mengingkari dzikir? Apakah kalian benci dzikir?”.Orang-orang yang membaca shalawat-shalawat bid’ah, ketika dinasehati mereka mengatakan, “mengapa kalian mengingkari shalawat? Apakah kalian benci shalawat?”. Dan seterusnya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaNasihat Ulama Tentang Pelaku Bid’ahPerhatikan nasehat Sa’id bin Musayyab rahimahullah berikut ini.Sa’id bin Musayyab adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in, yang beliau dijuluki “alim ahlil Madinah” (ulamanya penduduk Madinah) dan juga “sayyidut tabi’in” (pemimpinnya para tabi’in). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya,رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة“Sa’id bin al Musayyab melihat seorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, yang ia memperpanjang rukuk dan sujudnya. Lalu Sa’id bin al Musayyab melarangnya. Maka orang tadi berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazab saya gara-gara saya shalat?Sa’id bin al Musayyab menjawab: bukan demikian, namun Allah akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah” (Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/466, Ad Darimi 1/404-405, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/236).Ketika ahlul bidah dinasehati agar jangan melakukan bid’ah, mereka akan mengatakan “ini kan baik, kenapa anda melarang orang berbuat baik?”. Maka jawaban Sa’id bin Musayyab rahimahullah adalah jawaban telak. Yang dilarang bukan ibadahnya, namun bagian dari ibadah tersebut, baik penetapannya, tata caranya, pengkhususan waktu atau tempatnya, jumlah bilangannya dan semisalnya yang tidak ada tuntunannya dari sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan:وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب – رحمه الة تعالى -, وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم أنها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة!! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك“Ini merupakan diantara jawaban yang sangat telak dari Sa’id bin al Musayyab. Dan ini juga merupakan senjata bagi para ahlul bid’ah yang mereka menganggap baik banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan mengatakan bahwa yang mereka lakukan itu dzikir dan shalat. Kemudian mereka malah mengingkari Ahlussunnah yang mengingkari bid’ah mereka dengan mengesankan bahwa Ahlussunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal yang diingkari oleh Ahlussunnah adalah penentangan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan shalat serta ibadah lainnya” (Irwa’ul Ghalil, 2/236).Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanPara Sahabat Nabi Mengingkari Amalan Bid’ahDemikian pula para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali. Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”. Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).Baca Juga:Semoga Allah memberi taufik.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Prev     Next