Manisnya Ibadah

Ada seorang yang bertanya kepada Wuhaib bin al-Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah itu bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah?”. Jawaban beliau,  لَا، وَلَا مَنْ هَمَّ بِالْمَعْصِيَةِ “Orang yang bermaksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Bahkan orang yang berniat hendak melakukan maksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah.” (Syu’abul Iman karya al-Baihaqi no 6756) Ritual ibadah kepada Allah itu memiliki rasa manis yang tak terbayangkan. Rasa manis dan nikmat melebihi kenikmatan hidup para raja dan pangeran yang hidup penuh kemewahan dan fasilitas hidup yang serba wah.  Akan tetapi nikmat ini tidaklah dirasakan oleh semua orang yang nampaknya beribadah.  Tidak bisa merasakan manis dan nikmatnya berdzikir, bersholawat, membaca Al-Quran, sholat rawatib, sholat Dhuha, sholat Tahajjud, puasa Senin Kamis dll adalah salah satu bentuk hukuman dari Allah. Itulah bentuk hukuman karena maksiat dan merencanakan maksiat.  Orang yang rajin bermaksiat bisa saja tetap rutin melakukan sejumlah ritual ibadah namun dia tidak akan bisa merasakan kenikmatannya. Hukuman maksiat itu tidak harus hal yang ngeri-ngeri.  Dulu bisa merasakan nikmatnya sholat namun nikmat tersebut sekarang sudah hilang itu sudah cukup sebagai hukuman dan adzab Allah.  Obat agar bisa kembali merasakan nikmatnya ibadah adalah dengan serius bertaubat dan mengkondisikan hati agar tidak lagi punya keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.  Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini nikmat merasakan manis dan indahnya ibadah kepada Allah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Manisnya Ibadah

Ada seorang yang bertanya kepada Wuhaib bin al-Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah itu bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah?”. Jawaban beliau,  لَا، وَلَا مَنْ هَمَّ بِالْمَعْصِيَةِ “Orang yang bermaksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Bahkan orang yang berniat hendak melakukan maksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah.” (Syu’abul Iman karya al-Baihaqi no 6756) Ritual ibadah kepada Allah itu memiliki rasa manis yang tak terbayangkan. Rasa manis dan nikmat melebihi kenikmatan hidup para raja dan pangeran yang hidup penuh kemewahan dan fasilitas hidup yang serba wah.  Akan tetapi nikmat ini tidaklah dirasakan oleh semua orang yang nampaknya beribadah.  Tidak bisa merasakan manis dan nikmatnya berdzikir, bersholawat, membaca Al-Quran, sholat rawatib, sholat Dhuha, sholat Tahajjud, puasa Senin Kamis dll adalah salah satu bentuk hukuman dari Allah. Itulah bentuk hukuman karena maksiat dan merencanakan maksiat.  Orang yang rajin bermaksiat bisa saja tetap rutin melakukan sejumlah ritual ibadah namun dia tidak akan bisa merasakan kenikmatannya. Hukuman maksiat itu tidak harus hal yang ngeri-ngeri.  Dulu bisa merasakan nikmatnya sholat namun nikmat tersebut sekarang sudah hilang itu sudah cukup sebagai hukuman dan adzab Allah.  Obat agar bisa kembali merasakan nikmatnya ibadah adalah dengan serius bertaubat dan mengkondisikan hati agar tidak lagi punya keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.  Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini nikmat merasakan manis dan indahnya ibadah kepada Allah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ada seorang yang bertanya kepada Wuhaib bin al-Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah itu bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah?”. Jawaban beliau,  لَا، وَلَا مَنْ هَمَّ بِالْمَعْصِيَةِ “Orang yang bermaksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Bahkan orang yang berniat hendak melakukan maksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah.” (Syu’abul Iman karya al-Baihaqi no 6756) Ritual ibadah kepada Allah itu memiliki rasa manis yang tak terbayangkan. Rasa manis dan nikmat melebihi kenikmatan hidup para raja dan pangeran yang hidup penuh kemewahan dan fasilitas hidup yang serba wah.  Akan tetapi nikmat ini tidaklah dirasakan oleh semua orang yang nampaknya beribadah.  Tidak bisa merasakan manis dan nikmatnya berdzikir, bersholawat, membaca Al-Quran, sholat rawatib, sholat Dhuha, sholat Tahajjud, puasa Senin Kamis dll adalah salah satu bentuk hukuman dari Allah. Itulah bentuk hukuman karena maksiat dan merencanakan maksiat.  Orang yang rajin bermaksiat bisa saja tetap rutin melakukan sejumlah ritual ibadah namun dia tidak akan bisa merasakan kenikmatannya. Hukuman maksiat itu tidak harus hal yang ngeri-ngeri.  Dulu bisa merasakan nikmatnya sholat namun nikmat tersebut sekarang sudah hilang itu sudah cukup sebagai hukuman dan adzab Allah.  Obat agar bisa kembali merasakan nikmatnya ibadah adalah dengan serius bertaubat dan mengkondisikan hati agar tidak lagi punya keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.  Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini nikmat merasakan manis dan indahnya ibadah kepada Allah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ada seorang yang bertanya kepada Wuhaib bin al-Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah itu bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah?”. Jawaban beliau,  لَا، وَلَا مَنْ هَمَّ بِالْمَعْصِيَةِ “Orang yang bermaksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Bahkan orang yang berniat hendak melakukan maksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah.” (Syu’abul Iman karya al-Baihaqi no 6756) Ritual ibadah kepada Allah itu memiliki rasa manis yang tak terbayangkan. Rasa manis dan nikmat melebihi kenikmatan hidup para raja dan pangeran yang hidup penuh kemewahan dan fasilitas hidup yang serba wah.  Akan tetapi nikmat ini tidaklah dirasakan oleh semua orang yang nampaknya beribadah.  Tidak bisa merasakan manis dan nikmatnya berdzikir, bersholawat, membaca Al-Quran, sholat rawatib, sholat Dhuha, sholat Tahajjud, puasa Senin Kamis dll adalah salah satu bentuk hukuman dari Allah. Itulah bentuk hukuman karena maksiat dan merencanakan maksiat.  Orang yang rajin bermaksiat bisa saja tetap rutin melakukan sejumlah ritual ibadah namun dia tidak akan bisa merasakan kenikmatannya. Hukuman maksiat itu tidak harus hal yang ngeri-ngeri.  Dulu bisa merasakan nikmatnya sholat namun nikmat tersebut sekarang sudah hilang itu sudah cukup sebagai hukuman dan adzab Allah.  Obat agar bisa kembali merasakan nikmatnya ibadah adalah dengan serius bertaubat dan mengkondisikan hati agar tidak lagi punya keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.  Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini nikmat merasakan manis dan indahnya ibadah kepada Allah. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Memberontak Dalam Rangka Amar Ma’ruf Nahi Mungkar?

Sebagian saudara kita berdalil atas tindakan pemberontakan kepada penguasa dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Diantara dalil yang mereka jadikan pegangan adalah hadis berikut,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman”(HR Muslim).Benarkah hadis ini bisa dijadikan dalil memberontak penguasa yang zalim? Simak pemaparannya berikut :Bila kita perhatikan hadis ini dan hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar lainnya yang dijadikan dalil atas tindakan memberontak, maka kita dapati bahwa dalil yang menjadi pegangan adalah dalil-dalil yang sifatnya umum. Sementara hadis terkait larangan memberontak (khuruj) terhadap penguasa dzolim bersifat khusus. Kaidah ushul fikihnya, dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil umum.Seperti diterangkan oleh Imam Syaukani –rahimahullah– dalam Nailul Author,وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا ، وهي متواترة المعنى كما يعرف ذلك من له أنسة بعلم السنة“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dzolim, mereka berdalil dengan keumuman dalil Al Quran dan Hadis yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadis-hadis yang disebutkan oleh penulis di bab ini (pent. Hadis-hadis tentang kewajiban taat pada penguasa dzolim) lebih khusus daripada dalil umum tersebut (pent. Hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar). Dan makna hadis-hadis tersebut mutawatir, sebagaimana diketahui oleh mereka yang memiliki bagian dalam ilmu hadis” (Nailul Author, 7/208).Ini menunjukkan bahwa cara amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, berbeda dengan umumnya masyarakat. Tidak boleh dilakukan dengan tangan yang kemudian diaplikasikan menjadi revolusi atau memberontak pemerintah dzalim. Kemudian juga menasehati penguasa dilakukan di hadapan mereka (bisa melalui orang-orang terdekat beliau atau yang memiliki link ke presiden). Bukan dengan membicarakan aibnya di belakang atau di depan khalayak. Dan mengingkari kemungkaran mereka dengan cara yang santun, untuk menjaga wibawa mereka. Karena apabila wibawa seorang pemimpin jatuh, makan akan jatuh pula wibawa suatu bangsa, dan dapat memicu terjadinya pemberontakan kepada pemerintah muslim yang hukumnya haram dalam Islam. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa hukum wasilah mengikuti hukum tujuan. Oleh karenanya, salah seorang ulama berkata,اثنان إذا سقط هيبتهما سقط الخير كله، العلماء و السلطان“Ada dua jenis manusia yang apabila wibawa mereka jatuh maka akan jatuh seluruh kebaikan, mereka adalah ulama dan penguasa”.Dalil yang membenarkan pernyataan bahwa cara menasehati penguasa tidak sama dengan umumnya masyarakat adalah, hadis Abu Ruqoyyah Tamim Ad-Dāri radhiyallahu’anhu,الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ»، قُلنا: لمَن يا رسول الله؟ قال: للهِ ولكتابِهِ ولرسولِهِ، ولأئمَّةِ المسلمينَ وعامَّتِهم“Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat.” Kata Tamim, “Kami bertanya, ‘Nasihat untuk siapa wahai Rasulullah’? Beliau ﷺ menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum’” (HR. Muslim).Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin menerangkan, “Rasulullah ﷺ membedakan antara penguasa dengan umumnya kaum muslimin, beliau bersabda ,”untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.” menunjukkan bahwa nasehat untuk para pemimpin tidak seperti nasehat kepada umumnya masyarakat. Karena ketika menasehati pemimpin, seorang harus memperhatikan kedudukannya, sehingga nasehat benar-benar sesuai dengan posisinya sebagai pemimpin. Ini termasuk memposisikan seorang sesuai dengan posisinya, ini termasuk sikap hikmah” (Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm, 15/411).Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita tentang cara mengingkari kemungkaran penguasa. Beliau sampaikan pada sabda beliau berikut,مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasehati para penguasa dengan suatu urusan maka jangan dengan terang-terangan. Akan tetapi pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diharapkan, bila tidak diterima maka anda telah menyampaikan haknya” (HR Ahmad : 15369, dishahihkan oleh Al Albani di kitab Fi Dzilalil Jannah : 1096).Dan sungguh sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah ﷺ.Kalaupun hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar tersebut bisa dijadikan dalil (meski sejatinya tidak bisa!), kita katakan bahwa mengingkari kemungkaran dengan tangan, apabila menimbulkan mafsadah yang lebih besar, maka menjadi terlarang. Sebagaimana kaidah yang berlaku dalam mengingkari kemungkaran,أن لا يترتب إنكار المنكر على المفسدة الأعظم“Mengingkari kemungkaran tidak boleh menimbulkan kerusakan yang lebih besar“.Oleh karenanya Nabi ﷺ melarang kita mengingkari kedzoliman penguasa dengan tangan, karena dapat menimbulkan kerusakan/mafsadah yang lebih besar. Anda bisa saksikan kekacauan yang terjadi di Suriah, ternyata berawal dari revolusi. Juga yang terjadi di Tunisia dan Libia, juga berawal dari revolusi.Ibnul Qoyyim rahimahullah menerangkan,إذا كان إنكار المنكر يستلزم ما هو أنكر منه ، وأبغض إلى الله ورسوله فإنه لا يسوغ إنكاره ، وإن كان الله يبغضه ، ويمقت أهله . وهذا كالإنكار على الملوك والولاة بالخروج عليهم ، فإنه أساس كل شر ، وفتنة إلى آخر الدهر ، وقد استأذن الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم في قتال الأمراء الذين يؤخرون الصلاة عن وقتها ، وقالوا : أفلا نقاتلهم ؟ فقال : (لا ما أقاموا الصلاة)، ومن تأمل ما جرى على الإسلام في الفتن الكبار والصغار رآها من إضاعة هذا الأصل ، وعدم الصبر على منكر ، فطلب إزالته، فتولد منه ما هو أكبر ، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرى بمكة أكبر المنكرات ولا يستطيع تغييرها, بل لما فتح الله مكة وصارت دار إسلام عزم على تغيير البيت ورده على قواعد إبراهيم ، ومنعه من ذلك – مع قدرته عليه – خشية وقوع ما هو أعظم منه“Apabila mengingkari kemungkaran menyebabkan kemungkaran yang lebih besar serta kemungkaran yang lebih dibenci oleh Allah dan RasulNya, maka tidak boleh dilakukan. Meskipun sebenarnya Allah membenci dan memurkai pelaku kemungkaran tersebut. Diantaranya seperti mengingkari kemungkaran para raja dan penguasa, dengan melakukan pemberontakan kepada mereka. Karena sesungguhnya perbuatan seperti itu sumber mala petaka dan musibah sepanjang zaman.Salah seorang sahabat telah memohon izin kepada Rasulullah ﷺ untuk memerangi para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktunya, mereka berkata, “Tidakkah mereka kita perangi saja wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, selagi mereka masih melaksanakan shalat.”Siapa yang merenungi petaka yang terjadi pada umat Islam, baik petaka besar maupun kecil, maka itu terjadi disebabkan mengabaikan prinsip ini, serta tidak bersabar terhadap kemungkaran penguasa. Sehingga ia menuntut untuk melengserkannya, yang menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar. Nabi ﷺ telah menyaksikan di kota Makkah kemungkaran yang paling besar (kemusyrikan), namun beliau tidak mampu mengubahnya. Barulah ketika Allah membukakan kota Makkah dan menjadi negeri Islam, beliau bertekad merenovasi Ka’bah, untuk dikembalikan seperti pondasi Ibrahim. Namun beliau urung melakukannya -padahal beliau mampu- karena khawatir terjatuh pada mafsadah yang lebih besar…” (I’laam Al-Muwaqq’iin 4/338-339).Mari kita perhatikan seksama pesan-pesan Rasulullah ﷺ berikut. Nasehat yang sangat cocok di zaman fitnah ini, seakan beliau berada di tengah-tengah kita.Pertama, sabda Rasulullah ﷺ,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan an membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka“.Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak). “Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?”Nabi ﷺ menjawab,َِ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“TIDAK…! Selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tak baik maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka” (HR. Muslim No.3447).Kemudian dalam hadis dari sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu’anhu disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang merek tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti sunahku.”“Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Tanya sahabat Hudzaifah.Rasulullah menjawab,تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“Hendaknya kamu mendengar dan taat kepada penguasa tersebut, walaupun punggungmu dicambuk (menyengsarakan rakyat) dan hartamu dirampas olehnya (seperti korupsi), dengarlah perintahnya dan taatilah” (Hadis shahih, diriwayatkan Imam Muslim no.1476, 1847. Sebagian ulama (diantara Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah menerangkan bahwa kalimat “walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya” adalah dho’if).Kedua, hadis dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami,َ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا“Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois (red. kezaliman penguasa seperti korupsi dan lain-lain) sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari” .Para sahabat bertanya, “Lantas bagaimana anda menyuruh kami ya Rasulullah?”Nabi menjawab,أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ“Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!” (HR. Bukhori).Ketiga, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar atas hal tersebut. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (persatuan kaum muslimin) satu jengkal lalu ia meninggal dunia, ia meninggal dunia seperti mati jahiliyah” (HR Bukhari : 7054, Muslim : 1849).Wallahua’lam bis showab. ***Referensi : I’lām Al-Muwaqq’iin ‘an Rabbi Al-‘Ālamin. Ibnul Qoyyim. Dar Ibnul Jauzi: Damam, KSA. Cet. Pertama, th 1423 H. Nailul Authõr. Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani. Darul hadist : Kairo, Mesir. Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm. Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin. Madār Al-Wathon Li An-Nasyr : Riyadh, KSA. Cet. Pertama, th 1435 H / 2014 M. Muhadoroh Syaikh Abdulmalik Romadhoni -hafidzohullah- : https://youtu.be/NBPRvYBRhRk Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 22 Rabi’usstani 1438 H.Penulis : Ahmad Anshori Artikel Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah, Bacaan Al Fatihah Dalam Sholat, Menjadi Imam Yang Baik, Dzikir Setelah Sholat, Bahasa Alquran

Memberontak Dalam Rangka Amar Ma’ruf Nahi Mungkar?

Sebagian saudara kita berdalil atas tindakan pemberontakan kepada penguasa dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Diantara dalil yang mereka jadikan pegangan adalah hadis berikut,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman”(HR Muslim).Benarkah hadis ini bisa dijadikan dalil memberontak penguasa yang zalim? Simak pemaparannya berikut :Bila kita perhatikan hadis ini dan hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar lainnya yang dijadikan dalil atas tindakan memberontak, maka kita dapati bahwa dalil yang menjadi pegangan adalah dalil-dalil yang sifatnya umum. Sementara hadis terkait larangan memberontak (khuruj) terhadap penguasa dzolim bersifat khusus. Kaidah ushul fikihnya, dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil umum.Seperti diterangkan oleh Imam Syaukani –rahimahullah– dalam Nailul Author,وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا ، وهي متواترة المعنى كما يعرف ذلك من له أنسة بعلم السنة“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dzolim, mereka berdalil dengan keumuman dalil Al Quran dan Hadis yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadis-hadis yang disebutkan oleh penulis di bab ini (pent. Hadis-hadis tentang kewajiban taat pada penguasa dzolim) lebih khusus daripada dalil umum tersebut (pent. Hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar). Dan makna hadis-hadis tersebut mutawatir, sebagaimana diketahui oleh mereka yang memiliki bagian dalam ilmu hadis” (Nailul Author, 7/208).Ini menunjukkan bahwa cara amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, berbeda dengan umumnya masyarakat. Tidak boleh dilakukan dengan tangan yang kemudian diaplikasikan menjadi revolusi atau memberontak pemerintah dzalim. Kemudian juga menasehati penguasa dilakukan di hadapan mereka (bisa melalui orang-orang terdekat beliau atau yang memiliki link ke presiden). Bukan dengan membicarakan aibnya di belakang atau di depan khalayak. Dan mengingkari kemungkaran mereka dengan cara yang santun, untuk menjaga wibawa mereka. Karena apabila wibawa seorang pemimpin jatuh, makan akan jatuh pula wibawa suatu bangsa, dan dapat memicu terjadinya pemberontakan kepada pemerintah muslim yang hukumnya haram dalam Islam. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa hukum wasilah mengikuti hukum tujuan. Oleh karenanya, salah seorang ulama berkata,اثنان إذا سقط هيبتهما سقط الخير كله، العلماء و السلطان“Ada dua jenis manusia yang apabila wibawa mereka jatuh maka akan jatuh seluruh kebaikan, mereka adalah ulama dan penguasa”.Dalil yang membenarkan pernyataan bahwa cara menasehati penguasa tidak sama dengan umumnya masyarakat adalah, hadis Abu Ruqoyyah Tamim Ad-Dāri radhiyallahu’anhu,الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ»، قُلنا: لمَن يا رسول الله؟ قال: للهِ ولكتابِهِ ولرسولِهِ، ولأئمَّةِ المسلمينَ وعامَّتِهم“Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat.” Kata Tamim, “Kami bertanya, ‘Nasihat untuk siapa wahai Rasulullah’? Beliau ﷺ menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum’” (HR. Muslim).Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin menerangkan, “Rasulullah ﷺ membedakan antara penguasa dengan umumnya kaum muslimin, beliau bersabda ,”untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.” menunjukkan bahwa nasehat untuk para pemimpin tidak seperti nasehat kepada umumnya masyarakat. Karena ketika menasehati pemimpin, seorang harus memperhatikan kedudukannya, sehingga nasehat benar-benar sesuai dengan posisinya sebagai pemimpin. Ini termasuk memposisikan seorang sesuai dengan posisinya, ini termasuk sikap hikmah” (Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm, 15/411).Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita tentang cara mengingkari kemungkaran penguasa. Beliau sampaikan pada sabda beliau berikut,مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasehati para penguasa dengan suatu urusan maka jangan dengan terang-terangan. Akan tetapi pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diharapkan, bila tidak diterima maka anda telah menyampaikan haknya” (HR Ahmad : 15369, dishahihkan oleh Al Albani di kitab Fi Dzilalil Jannah : 1096).Dan sungguh sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah ﷺ.Kalaupun hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar tersebut bisa dijadikan dalil (meski sejatinya tidak bisa!), kita katakan bahwa mengingkari kemungkaran dengan tangan, apabila menimbulkan mafsadah yang lebih besar, maka menjadi terlarang. Sebagaimana kaidah yang berlaku dalam mengingkari kemungkaran,أن لا يترتب إنكار المنكر على المفسدة الأعظم“Mengingkari kemungkaran tidak boleh menimbulkan kerusakan yang lebih besar“.Oleh karenanya Nabi ﷺ melarang kita mengingkari kedzoliman penguasa dengan tangan, karena dapat menimbulkan kerusakan/mafsadah yang lebih besar. Anda bisa saksikan kekacauan yang terjadi di Suriah, ternyata berawal dari revolusi. Juga yang terjadi di Tunisia dan Libia, juga berawal dari revolusi.Ibnul Qoyyim rahimahullah menerangkan,إذا كان إنكار المنكر يستلزم ما هو أنكر منه ، وأبغض إلى الله ورسوله فإنه لا يسوغ إنكاره ، وإن كان الله يبغضه ، ويمقت أهله . وهذا كالإنكار على الملوك والولاة بالخروج عليهم ، فإنه أساس كل شر ، وفتنة إلى آخر الدهر ، وقد استأذن الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم في قتال الأمراء الذين يؤخرون الصلاة عن وقتها ، وقالوا : أفلا نقاتلهم ؟ فقال : (لا ما أقاموا الصلاة)، ومن تأمل ما جرى على الإسلام في الفتن الكبار والصغار رآها من إضاعة هذا الأصل ، وعدم الصبر على منكر ، فطلب إزالته، فتولد منه ما هو أكبر ، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرى بمكة أكبر المنكرات ولا يستطيع تغييرها, بل لما فتح الله مكة وصارت دار إسلام عزم على تغيير البيت ورده على قواعد إبراهيم ، ومنعه من ذلك – مع قدرته عليه – خشية وقوع ما هو أعظم منه“Apabila mengingkari kemungkaran menyebabkan kemungkaran yang lebih besar serta kemungkaran yang lebih dibenci oleh Allah dan RasulNya, maka tidak boleh dilakukan. Meskipun sebenarnya Allah membenci dan memurkai pelaku kemungkaran tersebut. Diantaranya seperti mengingkari kemungkaran para raja dan penguasa, dengan melakukan pemberontakan kepada mereka. Karena sesungguhnya perbuatan seperti itu sumber mala petaka dan musibah sepanjang zaman.Salah seorang sahabat telah memohon izin kepada Rasulullah ﷺ untuk memerangi para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktunya, mereka berkata, “Tidakkah mereka kita perangi saja wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, selagi mereka masih melaksanakan shalat.”Siapa yang merenungi petaka yang terjadi pada umat Islam, baik petaka besar maupun kecil, maka itu terjadi disebabkan mengabaikan prinsip ini, serta tidak bersabar terhadap kemungkaran penguasa. Sehingga ia menuntut untuk melengserkannya, yang menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar. Nabi ﷺ telah menyaksikan di kota Makkah kemungkaran yang paling besar (kemusyrikan), namun beliau tidak mampu mengubahnya. Barulah ketika Allah membukakan kota Makkah dan menjadi negeri Islam, beliau bertekad merenovasi Ka’bah, untuk dikembalikan seperti pondasi Ibrahim. Namun beliau urung melakukannya -padahal beliau mampu- karena khawatir terjatuh pada mafsadah yang lebih besar…” (I’laam Al-Muwaqq’iin 4/338-339).Mari kita perhatikan seksama pesan-pesan Rasulullah ﷺ berikut. Nasehat yang sangat cocok di zaman fitnah ini, seakan beliau berada di tengah-tengah kita.Pertama, sabda Rasulullah ﷺ,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan an membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka“.Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak). “Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?”Nabi ﷺ menjawab,َِ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“TIDAK…! Selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tak baik maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka” (HR. Muslim No.3447).Kemudian dalam hadis dari sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu’anhu disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang merek tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti sunahku.”“Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Tanya sahabat Hudzaifah.Rasulullah menjawab,تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“Hendaknya kamu mendengar dan taat kepada penguasa tersebut, walaupun punggungmu dicambuk (menyengsarakan rakyat) dan hartamu dirampas olehnya (seperti korupsi), dengarlah perintahnya dan taatilah” (Hadis shahih, diriwayatkan Imam Muslim no.1476, 1847. Sebagian ulama (diantara Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah menerangkan bahwa kalimat “walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya” adalah dho’if).Kedua, hadis dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami,َ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا“Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois (red. kezaliman penguasa seperti korupsi dan lain-lain) sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari” .Para sahabat bertanya, “Lantas bagaimana anda menyuruh kami ya Rasulullah?”Nabi menjawab,أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ“Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!” (HR. Bukhori).Ketiga, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar atas hal tersebut. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (persatuan kaum muslimin) satu jengkal lalu ia meninggal dunia, ia meninggal dunia seperti mati jahiliyah” (HR Bukhari : 7054, Muslim : 1849).Wallahua’lam bis showab. ***Referensi : I’lām Al-Muwaqq’iin ‘an Rabbi Al-‘Ālamin. Ibnul Qoyyim. Dar Ibnul Jauzi: Damam, KSA. Cet. Pertama, th 1423 H. Nailul Authõr. Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani. Darul hadist : Kairo, Mesir. Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm. Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin. Madār Al-Wathon Li An-Nasyr : Riyadh, KSA. Cet. Pertama, th 1435 H / 2014 M. Muhadoroh Syaikh Abdulmalik Romadhoni -hafidzohullah- : https://youtu.be/NBPRvYBRhRk Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 22 Rabi’usstani 1438 H.Penulis : Ahmad Anshori Artikel Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah, Bacaan Al Fatihah Dalam Sholat, Menjadi Imam Yang Baik, Dzikir Setelah Sholat, Bahasa Alquran
Sebagian saudara kita berdalil atas tindakan pemberontakan kepada penguasa dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Diantara dalil yang mereka jadikan pegangan adalah hadis berikut,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman”(HR Muslim).Benarkah hadis ini bisa dijadikan dalil memberontak penguasa yang zalim? Simak pemaparannya berikut :Bila kita perhatikan hadis ini dan hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar lainnya yang dijadikan dalil atas tindakan memberontak, maka kita dapati bahwa dalil yang menjadi pegangan adalah dalil-dalil yang sifatnya umum. Sementara hadis terkait larangan memberontak (khuruj) terhadap penguasa dzolim bersifat khusus. Kaidah ushul fikihnya, dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil umum.Seperti diterangkan oleh Imam Syaukani –rahimahullah– dalam Nailul Author,وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا ، وهي متواترة المعنى كما يعرف ذلك من له أنسة بعلم السنة“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dzolim, mereka berdalil dengan keumuman dalil Al Quran dan Hadis yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadis-hadis yang disebutkan oleh penulis di bab ini (pent. Hadis-hadis tentang kewajiban taat pada penguasa dzolim) lebih khusus daripada dalil umum tersebut (pent. Hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar). Dan makna hadis-hadis tersebut mutawatir, sebagaimana diketahui oleh mereka yang memiliki bagian dalam ilmu hadis” (Nailul Author, 7/208).Ini menunjukkan bahwa cara amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, berbeda dengan umumnya masyarakat. Tidak boleh dilakukan dengan tangan yang kemudian diaplikasikan menjadi revolusi atau memberontak pemerintah dzalim. Kemudian juga menasehati penguasa dilakukan di hadapan mereka (bisa melalui orang-orang terdekat beliau atau yang memiliki link ke presiden). Bukan dengan membicarakan aibnya di belakang atau di depan khalayak. Dan mengingkari kemungkaran mereka dengan cara yang santun, untuk menjaga wibawa mereka. Karena apabila wibawa seorang pemimpin jatuh, makan akan jatuh pula wibawa suatu bangsa, dan dapat memicu terjadinya pemberontakan kepada pemerintah muslim yang hukumnya haram dalam Islam. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa hukum wasilah mengikuti hukum tujuan. Oleh karenanya, salah seorang ulama berkata,اثنان إذا سقط هيبتهما سقط الخير كله، العلماء و السلطان“Ada dua jenis manusia yang apabila wibawa mereka jatuh maka akan jatuh seluruh kebaikan, mereka adalah ulama dan penguasa”.Dalil yang membenarkan pernyataan bahwa cara menasehati penguasa tidak sama dengan umumnya masyarakat adalah, hadis Abu Ruqoyyah Tamim Ad-Dāri radhiyallahu’anhu,الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ»، قُلنا: لمَن يا رسول الله؟ قال: للهِ ولكتابِهِ ولرسولِهِ، ولأئمَّةِ المسلمينَ وعامَّتِهم“Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat.” Kata Tamim, “Kami bertanya, ‘Nasihat untuk siapa wahai Rasulullah’? Beliau ﷺ menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum’” (HR. Muslim).Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin menerangkan, “Rasulullah ﷺ membedakan antara penguasa dengan umumnya kaum muslimin, beliau bersabda ,”untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.” menunjukkan bahwa nasehat untuk para pemimpin tidak seperti nasehat kepada umumnya masyarakat. Karena ketika menasehati pemimpin, seorang harus memperhatikan kedudukannya, sehingga nasehat benar-benar sesuai dengan posisinya sebagai pemimpin. Ini termasuk memposisikan seorang sesuai dengan posisinya, ini termasuk sikap hikmah” (Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm, 15/411).Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita tentang cara mengingkari kemungkaran penguasa. Beliau sampaikan pada sabda beliau berikut,مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasehati para penguasa dengan suatu urusan maka jangan dengan terang-terangan. Akan tetapi pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diharapkan, bila tidak diterima maka anda telah menyampaikan haknya” (HR Ahmad : 15369, dishahihkan oleh Al Albani di kitab Fi Dzilalil Jannah : 1096).Dan sungguh sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah ﷺ.Kalaupun hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar tersebut bisa dijadikan dalil (meski sejatinya tidak bisa!), kita katakan bahwa mengingkari kemungkaran dengan tangan, apabila menimbulkan mafsadah yang lebih besar, maka menjadi terlarang. Sebagaimana kaidah yang berlaku dalam mengingkari kemungkaran,أن لا يترتب إنكار المنكر على المفسدة الأعظم“Mengingkari kemungkaran tidak boleh menimbulkan kerusakan yang lebih besar“.Oleh karenanya Nabi ﷺ melarang kita mengingkari kedzoliman penguasa dengan tangan, karena dapat menimbulkan kerusakan/mafsadah yang lebih besar. Anda bisa saksikan kekacauan yang terjadi di Suriah, ternyata berawal dari revolusi. Juga yang terjadi di Tunisia dan Libia, juga berawal dari revolusi.Ibnul Qoyyim rahimahullah menerangkan,إذا كان إنكار المنكر يستلزم ما هو أنكر منه ، وأبغض إلى الله ورسوله فإنه لا يسوغ إنكاره ، وإن كان الله يبغضه ، ويمقت أهله . وهذا كالإنكار على الملوك والولاة بالخروج عليهم ، فإنه أساس كل شر ، وفتنة إلى آخر الدهر ، وقد استأذن الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم في قتال الأمراء الذين يؤخرون الصلاة عن وقتها ، وقالوا : أفلا نقاتلهم ؟ فقال : (لا ما أقاموا الصلاة)، ومن تأمل ما جرى على الإسلام في الفتن الكبار والصغار رآها من إضاعة هذا الأصل ، وعدم الصبر على منكر ، فطلب إزالته، فتولد منه ما هو أكبر ، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرى بمكة أكبر المنكرات ولا يستطيع تغييرها, بل لما فتح الله مكة وصارت دار إسلام عزم على تغيير البيت ورده على قواعد إبراهيم ، ومنعه من ذلك – مع قدرته عليه – خشية وقوع ما هو أعظم منه“Apabila mengingkari kemungkaran menyebabkan kemungkaran yang lebih besar serta kemungkaran yang lebih dibenci oleh Allah dan RasulNya, maka tidak boleh dilakukan. Meskipun sebenarnya Allah membenci dan memurkai pelaku kemungkaran tersebut. Diantaranya seperti mengingkari kemungkaran para raja dan penguasa, dengan melakukan pemberontakan kepada mereka. Karena sesungguhnya perbuatan seperti itu sumber mala petaka dan musibah sepanjang zaman.Salah seorang sahabat telah memohon izin kepada Rasulullah ﷺ untuk memerangi para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktunya, mereka berkata, “Tidakkah mereka kita perangi saja wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, selagi mereka masih melaksanakan shalat.”Siapa yang merenungi petaka yang terjadi pada umat Islam, baik petaka besar maupun kecil, maka itu terjadi disebabkan mengabaikan prinsip ini, serta tidak bersabar terhadap kemungkaran penguasa. Sehingga ia menuntut untuk melengserkannya, yang menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar. Nabi ﷺ telah menyaksikan di kota Makkah kemungkaran yang paling besar (kemusyrikan), namun beliau tidak mampu mengubahnya. Barulah ketika Allah membukakan kota Makkah dan menjadi negeri Islam, beliau bertekad merenovasi Ka’bah, untuk dikembalikan seperti pondasi Ibrahim. Namun beliau urung melakukannya -padahal beliau mampu- karena khawatir terjatuh pada mafsadah yang lebih besar…” (I’laam Al-Muwaqq’iin 4/338-339).Mari kita perhatikan seksama pesan-pesan Rasulullah ﷺ berikut. Nasehat yang sangat cocok di zaman fitnah ini, seakan beliau berada di tengah-tengah kita.Pertama, sabda Rasulullah ﷺ,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan an membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka“.Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak). “Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?”Nabi ﷺ menjawab,َِ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“TIDAK…! Selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tak baik maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka” (HR. Muslim No.3447).Kemudian dalam hadis dari sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu’anhu disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang merek tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti sunahku.”“Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Tanya sahabat Hudzaifah.Rasulullah menjawab,تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“Hendaknya kamu mendengar dan taat kepada penguasa tersebut, walaupun punggungmu dicambuk (menyengsarakan rakyat) dan hartamu dirampas olehnya (seperti korupsi), dengarlah perintahnya dan taatilah” (Hadis shahih, diriwayatkan Imam Muslim no.1476, 1847. Sebagian ulama (diantara Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah menerangkan bahwa kalimat “walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya” adalah dho’if).Kedua, hadis dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami,َ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا“Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois (red. kezaliman penguasa seperti korupsi dan lain-lain) sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari” .Para sahabat bertanya, “Lantas bagaimana anda menyuruh kami ya Rasulullah?”Nabi menjawab,أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ“Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!” (HR. Bukhori).Ketiga, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar atas hal tersebut. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (persatuan kaum muslimin) satu jengkal lalu ia meninggal dunia, ia meninggal dunia seperti mati jahiliyah” (HR Bukhari : 7054, Muslim : 1849).Wallahua’lam bis showab. ***Referensi : I’lām Al-Muwaqq’iin ‘an Rabbi Al-‘Ālamin. Ibnul Qoyyim. Dar Ibnul Jauzi: Damam, KSA. Cet. Pertama, th 1423 H. Nailul Authõr. Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani. Darul hadist : Kairo, Mesir. Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm. Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin. Madār Al-Wathon Li An-Nasyr : Riyadh, KSA. Cet. Pertama, th 1435 H / 2014 M. Muhadoroh Syaikh Abdulmalik Romadhoni -hafidzohullah- : https://youtu.be/NBPRvYBRhRk Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 22 Rabi’usstani 1438 H.Penulis : Ahmad Anshori Artikel Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah, Bacaan Al Fatihah Dalam Sholat, Menjadi Imam Yang Baik, Dzikir Setelah Sholat, Bahasa Alquran


Sebagian saudara kita berdalil atas tindakan pemberontakan kepada penguasa dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Diantara dalil yang mereka jadikan pegangan adalah hadis berikut,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman”(HR Muslim).Benarkah hadis ini bisa dijadikan dalil memberontak penguasa yang zalim? Simak pemaparannya berikut :Bila kita perhatikan hadis ini dan hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar lainnya yang dijadikan dalil atas tindakan memberontak, maka kita dapati bahwa dalil yang menjadi pegangan adalah dalil-dalil yang sifatnya umum. Sementara hadis terkait larangan memberontak (khuruj) terhadap penguasa dzolim bersifat khusus. Kaidah ushul fikihnya, dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil umum.Seperti diterangkan oleh Imam Syaukani –rahimahullah– dalam Nailul Author,وقد استدل القائلون بوجوب الخروج على الظلمة ومنابذتهم بالسيف ومكافحتهم بالقتال بعمومات بالكتاب والسنة في وجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .ولا شك ولا ريب أن الأحاديث التي ذكرها المصنف في هذا الباب وذكرناها أخص من تلك العمومات مطلقا ، وهي متواترة المعنى كما يعرف ذلك من له أنسة بعلم السنة“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dzolim, mereka berdalil dengan keumuman dalil Al Quran dan Hadis yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadis-hadis yang disebutkan oleh penulis di bab ini (pent. Hadis-hadis tentang kewajiban taat pada penguasa dzolim) lebih khusus daripada dalil umum tersebut (pent. Hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar). Dan makna hadis-hadis tersebut mutawatir, sebagaimana diketahui oleh mereka yang memiliki bagian dalam ilmu hadis” (Nailul Author, 7/208).Ini menunjukkan bahwa cara amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, berbeda dengan umumnya masyarakat. Tidak boleh dilakukan dengan tangan yang kemudian diaplikasikan menjadi revolusi atau memberontak pemerintah dzalim. Kemudian juga menasehati penguasa dilakukan di hadapan mereka (bisa melalui orang-orang terdekat beliau atau yang memiliki link ke presiden). Bukan dengan membicarakan aibnya di belakang atau di depan khalayak. Dan mengingkari kemungkaran mereka dengan cara yang santun, untuk menjaga wibawa mereka. Karena apabila wibawa seorang pemimpin jatuh, makan akan jatuh pula wibawa suatu bangsa, dan dapat memicu terjadinya pemberontakan kepada pemerintah muslim yang hukumnya haram dalam Islam. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa hukum wasilah mengikuti hukum tujuan. Oleh karenanya, salah seorang ulama berkata,اثنان إذا سقط هيبتهما سقط الخير كله، العلماء و السلطان“Ada dua jenis manusia yang apabila wibawa mereka jatuh maka akan jatuh seluruh kebaikan, mereka adalah ulama dan penguasa”.Dalil yang membenarkan pernyataan bahwa cara menasehati penguasa tidak sama dengan umumnya masyarakat adalah, hadis Abu Ruqoyyah Tamim Ad-Dāri radhiyallahu’anhu,الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ، الدِّينُ النَّصيحةُ»، قُلنا: لمَن يا رسول الله؟ قال: للهِ ولكتابِهِ ولرسولِهِ، ولأئمَّةِ المسلمينَ وعامَّتِهم“Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat. Agama itu adalah nasihat.” Kata Tamim, “Kami bertanya, ‘Nasihat untuk siapa wahai Rasulullah’? Beliau ﷺ menjawab, ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum’” (HR. Muslim).Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin menerangkan, “Rasulullah ﷺ membedakan antara penguasa dengan umumnya kaum muslimin, beliau bersabda ,”untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.” menunjukkan bahwa nasehat untuk para pemimpin tidak seperti nasehat kepada umumnya masyarakat. Karena ketika menasehati pemimpin, seorang harus memperhatikan kedudukannya, sehingga nasehat benar-benar sesuai dengan posisinya sebagai pemimpin. Ini termasuk memposisikan seorang sesuai dengan posisinya, ini termasuk sikap hikmah” (Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm, 15/411).Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita tentang cara mengingkari kemungkaran penguasa. Beliau sampaikan pada sabda beliau berikut,مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ، فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ، فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ“Barang siapa yang ingin menasehati para penguasa dengan suatu urusan maka jangan dengan terang-terangan. Akan tetapi pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diharapkan, bila tidak diterima maka anda telah menyampaikan haknya” (HR Ahmad : 15369, dishahihkan oleh Al Albani di kitab Fi Dzilalil Jannah : 1096).Dan sungguh sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah ﷺ.Kalaupun hadis tentang amar ma’ruf nahi munkar tersebut bisa dijadikan dalil (meski sejatinya tidak bisa!), kita katakan bahwa mengingkari kemungkaran dengan tangan, apabila menimbulkan mafsadah yang lebih besar, maka menjadi terlarang. Sebagaimana kaidah yang berlaku dalam mengingkari kemungkaran,أن لا يترتب إنكار المنكر على المفسدة الأعظم“Mengingkari kemungkaran tidak boleh menimbulkan kerusakan yang lebih besar“.Oleh karenanya Nabi ﷺ melarang kita mengingkari kedzoliman penguasa dengan tangan, karena dapat menimbulkan kerusakan/mafsadah yang lebih besar. Anda bisa saksikan kekacauan yang terjadi di Suriah, ternyata berawal dari revolusi. Juga yang terjadi di Tunisia dan Libia, juga berawal dari revolusi.Ibnul Qoyyim rahimahullah menerangkan,إذا كان إنكار المنكر يستلزم ما هو أنكر منه ، وأبغض إلى الله ورسوله فإنه لا يسوغ إنكاره ، وإن كان الله يبغضه ، ويمقت أهله . وهذا كالإنكار على الملوك والولاة بالخروج عليهم ، فإنه أساس كل شر ، وفتنة إلى آخر الدهر ، وقد استأذن الصحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم في قتال الأمراء الذين يؤخرون الصلاة عن وقتها ، وقالوا : أفلا نقاتلهم ؟ فقال : (لا ما أقاموا الصلاة)، ومن تأمل ما جرى على الإسلام في الفتن الكبار والصغار رآها من إضاعة هذا الأصل ، وعدم الصبر على منكر ، فطلب إزالته، فتولد منه ما هو أكبر ، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرى بمكة أكبر المنكرات ولا يستطيع تغييرها, بل لما فتح الله مكة وصارت دار إسلام عزم على تغيير البيت ورده على قواعد إبراهيم ، ومنعه من ذلك – مع قدرته عليه – خشية وقوع ما هو أعظم منه“Apabila mengingkari kemungkaran menyebabkan kemungkaran yang lebih besar serta kemungkaran yang lebih dibenci oleh Allah dan RasulNya, maka tidak boleh dilakukan. Meskipun sebenarnya Allah membenci dan memurkai pelaku kemungkaran tersebut. Diantaranya seperti mengingkari kemungkaran para raja dan penguasa, dengan melakukan pemberontakan kepada mereka. Karena sesungguhnya perbuatan seperti itu sumber mala petaka dan musibah sepanjang zaman.Salah seorang sahabat telah memohon izin kepada Rasulullah ﷺ untuk memerangi para penguasa yang mengakhirkan sholat dari waktunya, mereka berkata, “Tidakkah mereka kita perangi saja wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, selagi mereka masih melaksanakan shalat.”Siapa yang merenungi petaka yang terjadi pada umat Islam, baik petaka besar maupun kecil, maka itu terjadi disebabkan mengabaikan prinsip ini, serta tidak bersabar terhadap kemungkaran penguasa. Sehingga ia menuntut untuk melengserkannya, yang menyebabkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar. Nabi ﷺ telah menyaksikan di kota Makkah kemungkaran yang paling besar (kemusyrikan), namun beliau tidak mampu mengubahnya. Barulah ketika Allah membukakan kota Makkah dan menjadi negeri Islam, beliau bertekad merenovasi Ka’bah, untuk dikembalikan seperti pondasi Ibrahim. Namun beliau urung melakukannya -padahal beliau mampu- karena khawatir terjatuh pada mafsadah yang lebih besar…” (I’laam Al-Muwaqq’iin 4/338-339).Mari kita perhatikan seksama pesan-pesan Rasulullah ﷺ berikut. Nasehat yang sangat cocok di zaman fitnah ini, seakan beliau berada di tengah-tengah kita.Pertama, sabda Rasulullah ﷺ,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan an membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka“.Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak). “Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?”Nabi ﷺ menjawab,َِ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“TIDAK…! Selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tak baik maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka” (HR. Muslim No.3447).Kemudian dalam hadis dari sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu’anhu disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ“Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang merek tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti sunahku.”“Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Tanya sahabat Hudzaifah.Rasulullah menjawab,تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ“Hendaknya kamu mendengar dan taat kepada penguasa tersebut, walaupun punggungmu dicambuk (menyengsarakan rakyat) dan hartamu dirampas olehnya (seperti korupsi), dengarlah perintahnya dan taatilah” (Hadis shahih, diriwayatkan Imam Muslim no.1476, 1847. Sebagian ulama (diantara Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah menerangkan bahwa kalimat “walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya” adalah dho’if).Kedua, hadis dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami,َ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا“Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois (red. kezaliman penguasa seperti korupsi dan lain-lain) sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari” .Para sahabat bertanya, “Lantas bagaimana anda menyuruh kami ya Rasulullah?”Nabi menjawab,أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ“Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!” (HR. Bukhori).Ketiga, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar atas hal tersebut. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (persatuan kaum muslimin) satu jengkal lalu ia meninggal dunia, ia meninggal dunia seperti mati jahiliyah” (HR Bukhari : 7054, Muslim : 1849).Wallahua’lam bis showab. ***Referensi : I’lām Al-Muwaqq’iin ‘an Rabbi Al-‘Ālamin. Ibnul Qoyyim. Dar Ibnul Jauzi: Damam, KSA. Cet. Pertama, th 1423 H. Nailul Authõr. Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani. Darul hadist : Kairo, Mesir. Fathu Dzi al Jalāl wal Ikrām bi Syarahi Bulūgh al Marõm. Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin. Madār Al-Wathon Li An-Nasyr : Riyadh, KSA. Cet. Pertama, th 1435 H / 2014 M. Muhadoroh Syaikh Abdulmalik Romadhoni -hafidzohullah- : https://youtu.be/NBPRvYBRhRk Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 22 Rabi’usstani 1438 H.Penulis : Ahmad Anshori Artikel Muslim.or.id🔍 Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah, Bacaan Al Fatihah Dalam Sholat, Menjadi Imam Yang Baik, Dzikir Setelah Sholat, Bahasa Alquran

Manusia Berbahagia

Dikutip oleh asy-Syathibi al-Maliki bahwa Abu Ali al-Hasan bin Ali az-Zaujazani mengatakan,  مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ عَلَى الْعَبْدِ تَيْسِيْرُ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ وَمُوَافَقَةُ السُّنَّةِ فِيْ أََفْعَالِهِ وَصُحْبَتُهُ لِأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحُسْنُ أَخْلَاقِهِ مع الْإِخْوَانِ وَاِهْتِمَامُهُ لِلْمُسْلِمِيْنِ وَمُرَاعَاتُهُ لِأَوْقَاتِهِ “Diantara orang yang beruntung dan bahagia adalah diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan, tindak tanduknya sesuai dengan tuntunan Nabi, berkawan dekat dengan orang-orang shalih, berakhak mulia dengan orang-orang dekatnya, suka berbuat baik kepada semua makhluk, perhatian dengan kondisi kaum muslimin dan tidak suka buang-buang waktu.” (al-I’tisham karya asy-Syathibi hlm 70, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah) Ada tujuh tanda manusia beruntung dan berbahagia di dunia dan akhirat. Ringan badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk kegiatan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun berat badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk aktifitas yang tidak bermanfaat apalagi yang bernilai dosa.  Ibadah dan perbuatannya berdasarkan ilmu agama yang benar sehingga sesuai dengan tuntunan Nabi. Artinya menjadi orang yang bersemangat untuk terus belajar agar amal semakin  berkualitas karena semakin sempurna dalam mencontoh Nabi.  Berkawan dengan orang-orang shalih di dunia nyata dan dunia maya, hanya subscribe channel YouTube yang bermanfaat, follow akun medsos yang kaya ilmu dan nasehat dst.  Berakhlak mulia kepada orang-orang di sekelilingnya.  Akhlak mulia adalah: Suka menolong dan meringankan beban orang lain Tidak pernah mengganggu orang lain. Selalu berwajah ceria penuh senyum manis. Bersabar menghadapi sikap-sikap yang tidak nyaman dari orang-orang di sekitarnya. Senang berbuat baik karena berbuat baik kepada semua makhluk hidup baik manusia ataupun hewan adalah perbuatan bernilai pahala.  Punya peduli, empati dan solidaritas yang tinggi kepada kaum muslimin minimal dengan doa penuh khusyu untuk kebaikan kaum muslimin.  Pandai memenej waktu dengan berkegiatan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan di akhirat nanti.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini manusia-manusia yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Manusia Berbahagia

Dikutip oleh asy-Syathibi al-Maliki bahwa Abu Ali al-Hasan bin Ali az-Zaujazani mengatakan,  مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ عَلَى الْعَبْدِ تَيْسِيْرُ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ وَمُوَافَقَةُ السُّنَّةِ فِيْ أََفْعَالِهِ وَصُحْبَتُهُ لِأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحُسْنُ أَخْلَاقِهِ مع الْإِخْوَانِ وَاِهْتِمَامُهُ لِلْمُسْلِمِيْنِ وَمُرَاعَاتُهُ لِأَوْقَاتِهِ “Diantara orang yang beruntung dan bahagia adalah diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan, tindak tanduknya sesuai dengan tuntunan Nabi, berkawan dekat dengan orang-orang shalih, berakhak mulia dengan orang-orang dekatnya, suka berbuat baik kepada semua makhluk, perhatian dengan kondisi kaum muslimin dan tidak suka buang-buang waktu.” (al-I’tisham karya asy-Syathibi hlm 70, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah) Ada tujuh tanda manusia beruntung dan berbahagia di dunia dan akhirat. Ringan badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk kegiatan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun berat badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk aktifitas yang tidak bermanfaat apalagi yang bernilai dosa.  Ibadah dan perbuatannya berdasarkan ilmu agama yang benar sehingga sesuai dengan tuntunan Nabi. Artinya menjadi orang yang bersemangat untuk terus belajar agar amal semakin  berkualitas karena semakin sempurna dalam mencontoh Nabi.  Berkawan dengan orang-orang shalih di dunia nyata dan dunia maya, hanya subscribe channel YouTube yang bermanfaat, follow akun medsos yang kaya ilmu dan nasehat dst.  Berakhlak mulia kepada orang-orang di sekelilingnya.  Akhlak mulia adalah: Suka menolong dan meringankan beban orang lain Tidak pernah mengganggu orang lain. Selalu berwajah ceria penuh senyum manis. Bersabar menghadapi sikap-sikap yang tidak nyaman dari orang-orang di sekitarnya. Senang berbuat baik karena berbuat baik kepada semua makhluk hidup baik manusia ataupun hewan adalah perbuatan bernilai pahala.  Punya peduli, empati dan solidaritas yang tinggi kepada kaum muslimin minimal dengan doa penuh khusyu untuk kebaikan kaum muslimin.  Pandai memenej waktu dengan berkegiatan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan di akhirat nanti.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini manusia-manusia yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  
Dikutip oleh asy-Syathibi al-Maliki bahwa Abu Ali al-Hasan bin Ali az-Zaujazani mengatakan,  مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ عَلَى الْعَبْدِ تَيْسِيْرُ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ وَمُوَافَقَةُ السُّنَّةِ فِيْ أََفْعَالِهِ وَصُحْبَتُهُ لِأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحُسْنُ أَخْلَاقِهِ مع الْإِخْوَانِ وَاِهْتِمَامُهُ لِلْمُسْلِمِيْنِ وَمُرَاعَاتُهُ لِأَوْقَاتِهِ “Diantara orang yang beruntung dan bahagia adalah diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan, tindak tanduknya sesuai dengan tuntunan Nabi, berkawan dekat dengan orang-orang shalih, berakhak mulia dengan orang-orang dekatnya, suka berbuat baik kepada semua makhluk, perhatian dengan kondisi kaum muslimin dan tidak suka buang-buang waktu.” (al-I’tisham karya asy-Syathibi hlm 70, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah) Ada tujuh tanda manusia beruntung dan berbahagia di dunia dan akhirat. Ringan badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk kegiatan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun berat badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk aktifitas yang tidak bermanfaat apalagi yang bernilai dosa.  Ibadah dan perbuatannya berdasarkan ilmu agama yang benar sehingga sesuai dengan tuntunan Nabi. Artinya menjadi orang yang bersemangat untuk terus belajar agar amal semakin  berkualitas karena semakin sempurna dalam mencontoh Nabi.  Berkawan dengan orang-orang shalih di dunia nyata dan dunia maya, hanya subscribe channel YouTube yang bermanfaat, follow akun medsos yang kaya ilmu dan nasehat dst.  Berakhlak mulia kepada orang-orang di sekelilingnya.  Akhlak mulia adalah: Suka menolong dan meringankan beban orang lain Tidak pernah mengganggu orang lain. Selalu berwajah ceria penuh senyum manis. Bersabar menghadapi sikap-sikap yang tidak nyaman dari orang-orang di sekitarnya. Senang berbuat baik karena berbuat baik kepada semua makhluk hidup baik manusia ataupun hewan adalah perbuatan bernilai pahala.  Punya peduli, empati dan solidaritas yang tinggi kepada kaum muslimin minimal dengan doa penuh khusyu untuk kebaikan kaum muslimin.  Pandai memenej waktu dengan berkegiatan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan di akhirat nanti.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini manusia-manusia yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  


Dikutip oleh asy-Syathibi al-Maliki bahwa Abu Ali al-Hasan bin Ali az-Zaujazani mengatakan,  مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ عَلَى الْعَبْدِ تَيْسِيْرُ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ وَمُوَافَقَةُ السُّنَّةِ فِيْ أََفْعَالِهِ وَصُحْبَتُهُ لِأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحُسْنُ أَخْلَاقِهِ مع الْإِخْوَانِ وَاِهْتِمَامُهُ لِلْمُسْلِمِيْنِ وَمُرَاعَاتُهُ لِأَوْقَاتِهِ “Diantara orang yang beruntung dan bahagia adalah diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan, tindak tanduknya sesuai dengan tuntunan Nabi, berkawan dekat dengan orang-orang shalih, berakhak mulia dengan orang-orang dekatnya, suka berbuat baik kepada semua makhluk, perhatian dengan kondisi kaum muslimin dan tidak suka buang-buang waktu.” (al-I’tisham karya asy-Syathibi hlm 70, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah) Ada tujuh tanda manusia beruntung dan berbahagia di dunia dan akhirat. Ringan badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk kegiatan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun berat badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk aktifitas yang tidak bermanfaat apalagi yang bernilai dosa.  Ibadah dan perbuatannya berdasarkan ilmu agama yang benar sehingga sesuai dengan tuntunan Nabi. Artinya menjadi orang yang bersemangat untuk terus belajar agar amal semakin  berkualitas karena semakin sempurna dalam mencontoh Nabi.  Berkawan dengan orang-orang shalih di dunia nyata dan dunia maya, hanya subscribe channel YouTube yang bermanfaat, follow akun medsos yang kaya ilmu dan nasehat dst.  Berakhlak mulia kepada orang-orang di sekelilingnya.  Akhlak mulia adalah: Suka menolong dan meringankan beban orang lain Tidak pernah mengganggu orang lain. Selalu berwajah ceria penuh senyum manis. Bersabar menghadapi sikap-sikap yang tidak nyaman dari orang-orang di sekitarnya. Senang berbuat baik karena berbuat baik kepada semua makhluk hidup baik manusia ataupun hewan adalah perbuatan bernilai pahala.  Punya peduli, empati dan solidaritas yang tinggi kepada kaum muslimin minimal dengan doa penuh khusyu untuk kebaikan kaum muslimin.  Pandai memenej waktu dengan berkegiatan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan di akhirat nanti.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini manusia-manusia yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Haramnya Darah, Harta, dan Kehormatan Seorang Muslim

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDiantara perkara yang paling agung yang ditekankan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam khutbah beliau ketika Haji Wada, setelah beliau menekankan kembali masalah tauhid dan keikhlasan, adalah perkara penjagaan terhadap hak-hak sesama Muslim dan peringatan keras terhadap pelanggaran hak-hak sesama Muslim. Baik hak-hak yang terkait dengan darah, harta dan kehormatan seorang Muslim. Barangsiapa yang merenungi khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan nasehat-nasehat beliau yang agung ketika haji Wada, ia akan menemukan bahwa beliau sangat menekankan dan betul-betul memperhatikan perihal ini. Maka marilah kita renungkan sejenak khutbah tersebut, dari khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang beliau sampaikan di hari Arafah, hari Idul Adha, serta hari-hari Tasyriq.عن جابر رضي الله عنه في سياق حجة النبي صلى الله عليه وسلم قال : « حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ، فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِي فَخَطَبَ النَّاسَ وَقَالَ: إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا… » الحديث . رواه مسلم .Dari Jabi radhiallahu’anhu di tengah haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “… sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar unta Al-Qashwa’ dipersiapkan. Ia pun dipasangi pelana. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah dan berkhutbah: ‘Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini di negeri kalian ini…‘“ (HR. Muslim).عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ: (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا: بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟، قَالُوا: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فَأَعَادَهَا مِرَارًا ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ – قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَوَصِيَّتُهُ إِلَى أُمَّتِهِ – فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ )) رواه البخاري .Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Idul Adha. Beliau bersabda: “Wahai manusia, hari apakah ini? Mereka menjawab: “Hari ini hari haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu negeri apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini tanah haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu bulan apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini bulan suci”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”. Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh”. (HR. Al Bukhari).وعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ: أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: أَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، فَقَالَ: أَلَيْسَ ذُو الحَجَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ : أَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ ، قَالَ : أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الحَرَامِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا ، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ ، قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Abu Bakrah radhiallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasalllam berkhutbah di depan kami pada hari Idul Adha. Beliau bersabda: “apakah kalian tahu hari apa ini?”. Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Lalu beliau terdiam sejenak hingga kami mengira beliau akan menamai hari ini dengan nama lain. Lalu Nabi bersabda: “bukankah hari ini yaumun nahr (Idul Adha)?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bertanya lagi: “bukankah kita ini berada di tanah haram?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “maka sesungguhnya darah kalian dan harta kalian itu haram atas sesama kalian, seperti haramnya hari ini, seperti haramnya bulan ini, dan seperti haramnya negeri ini, sampai hari kalian bertemu Rabb kalian. Persaksikanlah bukankah aku telah menyampaikan hal ini? ”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “Ya Allah persaksikanlah! Hendaknya yang hadir di sini menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir. Karena terkadang orang disampaikan lebih paham daripada yang menyampaikan. Dan hendaknya kalian tidak kembali kepada kekafiran, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh” (Muttafaq ‘alaih).وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَقَالَ: فَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: بَلَدٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا )) رواه البخاري .Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “tahukah engkau hari apa ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “sesungguhnya ini adalah hari yang haram (suci). Apakah engkau tahu negeri apa ini?. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah negeri yang haram (suci). Apakah kalian tahu bulan apakah ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah bulan haram (suci)”. Lalu beliau bersabda lagi: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).وعن جرير ابن عبد الله البجلي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له في حجة الوداع: «اسْتَنْصِتِ النَّاسَ» فَقَالَ: ((لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “suruhlah orang-orang untuk diam!”. Lalu beliau bersabda: “janganlah kalian kembali kepada kekufuran, sehingga kalian saling membunuh satu sama lain” (Muttafaqun ‘alahi).وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : ((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ : مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ: مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ: مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ )) رواه أحمد .Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji wada: “Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa” (HR. Ahmad).وعن سلمة ابن قيس الأشجعي رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: (( أَلَا إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ : أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَلَا تَزْنُوا ، وَلَا تَسْرِقُوا )) رواه أحمد Dari Salamah bin Qais Al Asyja’i radhiallahu’anhu ia berkata: Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “ketahuilah ada empat hal (yang paling penting), yaitu janganlah kaluan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, janganlah berzina, dan janganlah mencuri” (HR. Ahmad).Dalam larangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap pembunuhan jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, terdapat penjelasan yang agung mengenai haramnya (mulianya) darah. Dalam larangan zina terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) kehormatan. Dalam larangan mencuri terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) harta.Barangsiapa yang merenungi hadits-hadits yang agung ini, serta peringatan-peringatan lainnya dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika haji Wada akan menemukan bahwa khutbah tersebut adalah khutbah yang sakral dan agung. Dan juga akan menemukan bahwa darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin itu mulia dan haram. Tidak diperkenankan untuk merusaknya serta tidak diperbolehkan berbuat zalim terhadapnya dengan segala bentuk kezaliman.Dan siapa yang melihat realita kaum Muslimin, terlebih lagi di masa ini, ia akan menemukan banyak orang-orang yang menganggap sangat remeh dan sepele perkara darah, harta dan kehormatan ini. Tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah dan tanpa merasa diawasi oleh Allah Jalla wa ‘ala. Tanpa merasa bahwa ia akan dikembalikan dan akan menghadap Allah.وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS. Asy Syu’ara: 227).Dan siapa yang memahami urgensi perkara ini dan mengenal agungnya perkara ini, maka sungguh ia telah mencapai menjadi seorang alim yang mapan dan seorang faqih yang agung. Untuk merenungi hal tersebut, berikut ini sebuah kisah yang bermanfaat:كتب رجلٌ إلى عبد الله بن عمر رضي الله عنهما «أن اكتب لي بالعلم كله» ، فكتب إليه رضي الله عنه : «إن العلم كثير ، ولكن إن استطعت أن تلقى الله يوم القيامة خفيف الظهر من دماء المسلمين ، خميص البطن من أموالهم، كافَّ اللسان عن أعراضهم ، لازمًا لجماعتهم فافعل»Seorang lelaki menulis surat kepada Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma yang berisi: “tuliskanlah untukku sebuah tulisan yang mencakup semua ilmu”. Maka Ibnu Umar pun menulis sebuah tulisan untuknya yang berisi: “Sesungguhnya ilmu itu banyak, namun jika engkau mampu untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan menjaga darah kaum Muslimin, menjaga harta mereka, dan menahan lisan dari merusak kehormatan mereka, maka lakukanlah”[selesai nukilan].Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menganggap bahwa tiga perkara ini; menjaga darah, kehormatan dan harta kaum Muslimin sebagai sebuah tingkat kepahaman ilmu yang besar. Barangsiapa yang diberi taufik untuk memahami hal ini, sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang besar.Maka wajib hendaknya kita semua memperhatikan perkara yang agung ini dan kita jaga tiga hal tersebut dengan penjagaan yang sungguh-sungguh. Dan hendaknya kita takut untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan jiwa kita sudah terkotori oleh perbuatan melanggar darah seorang Muslim atau kehormatannya atau hartanya. Karena perkaranya tidaklah ringan.Semoga Allah Jalla wa ‘ala menyelamatkan kita dan menjaga kita dari keburukan, semoga Allah menjadikan semua urusan kita dalam keadaan baik, sungguh Ia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.Baca Juga:***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/4089Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Artikel Labaik Allahuma Labaik Tulisan Arab, Hukum Mencuri Menurut Islam, Foto Batu Hajar Aswad, Sofyan Baswedan, Ciri-ciri Orang Yang Sering Sholat Tahajud

Haramnya Darah, Harta, dan Kehormatan Seorang Muslim

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDiantara perkara yang paling agung yang ditekankan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam khutbah beliau ketika Haji Wada, setelah beliau menekankan kembali masalah tauhid dan keikhlasan, adalah perkara penjagaan terhadap hak-hak sesama Muslim dan peringatan keras terhadap pelanggaran hak-hak sesama Muslim. Baik hak-hak yang terkait dengan darah, harta dan kehormatan seorang Muslim. Barangsiapa yang merenungi khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan nasehat-nasehat beliau yang agung ketika haji Wada, ia akan menemukan bahwa beliau sangat menekankan dan betul-betul memperhatikan perihal ini. Maka marilah kita renungkan sejenak khutbah tersebut, dari khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang beliau sampaikan di hari Arafah, hari Idul Adha, serta hari-hari Tasyriq.عن جابر رضي الله عنه في سياق حجة النبي صلى الله عليه وسلم قال : « حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ، فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِي فَخَطَبَ النَّاسَ وَقَالَ: إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا… » الحديث . رواه مسلم .Dari Jabi radhiallahu’anhu di tengah haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “… sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar unta Al-Qashwa’ dipersiapkan. Ia pun dipasangi pelana. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah dan berkhutbah: ‘Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini di negeri kalian ini…‘“ (HR. Muslim).عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ: (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا: بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟، قَالُوا: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فَأَعَادَهَا مِرَارًا ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ – قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَوَصِيَّتُهُ إِلَى أُمَّتِهِ – فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ )) رواه البخاري .Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Idul Adha. Beliau bersabda: “Wahai manusia, hari apakah ini? Mereka menjawab: “Hari ini hari haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu negeri apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini tanah haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu bulan apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini bulan suci”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”. Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh”. (HR. Al Bukhari).وعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ: أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: أَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، فَقَالَ: أَلَيْسَ ذُو الحَجَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ : أَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ ، قَالَ : أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الحَرَامِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا ، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ ، قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Abu Bakrah radhiallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasalllam berkhutbah di depan kami pada hari Idul Adha. Beliau bersabda: “apakah kalian tahu hari apa ini?”. Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Lalu beliau terdiam sejenak hingga kami mengira beliau akan menamai hari ini dengan nama lain. Lalu Nabi bersabda: “bukankah hari ini yaumun nahr (Idul Adha)?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bertanya lagi: “bukankah kita ini berada di tanah haram?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “maka sesungguhnya darah kalian dan harta kalian itu haram atas sesama kalian, seperti haramnya hari ini, seperti haramnya bulan ini, dan seperti haramnya negeri ini, sampai hari kalian bertemu Rabb kalian. Persaksikanlah bukankah aku telah menyampaikan hal ini? ”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “Ya Allah persaksikanlah! Hendaknya yang hadir di sini menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir. Karena terkadang orang disampaikan lebih paham daripada yang menyampaikan. Dan hendaknya kalian tidak kembali kepada kekafiran, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh” (Muttafaq ‘alaih).وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَقَالَ: فَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: بَلَدٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا )) رواه البخاري .Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “tahukah engkau hari apa ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “sesungguhnya ini adalah hari yang haram (suci). Apakah engkau tahu negeri apa ini?. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah negeri yang haram (suci). Apakah kalian tahu bulan apakah ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah bulan haram (suci)”. Lalu beliau bersabda lagi: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).وعن جرير ابن عبد الله البجلي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له في حجة الوداع: «اسْتَنْصِتِ النَّاسَ» فَقَالَ: ((لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “suruhlah orang-orang untuk diam!”. Lalu beliau bersabda: “janganlah kalian kembali kepada kekufuran, sehingga kalian saling membunuh satu sama lain” (Muttafaqun ‘alahi).وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : ((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ : مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ: مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ: مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ )) رواه أحمد .Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji wada: “Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa” (HR. Ahmad).وعن سلمة ابن قيس الأشجعي رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: (( أَلَا إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ : أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَلَا تَزْنُوا ، وَلَا تَسْرِقُوا )) رواه أحمد Dari Salamah bin Qais Al Asyja’i radhiallahu’anhu ia berkata: Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “ketahuilah ada empat hal (yang paling penting), yaitu janganlah kaluan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, janganlah berzina, dan janganlah mencuri” (HR. Ahmad).Dalam larangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap pembunuhan jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, terdapat penjelasan yang agung mengenai haramnya (mulianya) darah. Dalam larangan zina terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) kehormatan. Dalam larangan mencuri terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) harta.Barangsiapa yang merenungi hadits-hadits yang agung ini, serta peringatan-peringatan lainnya dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika haji Wada akan menemukan bahwa khutbah tersebut adalah khutbah yang sakral dan agung. Dan juga akan menemukan bahwa darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin itu mulia dan haram. Tidak diperkenankan untuk merusaknya serta tidak diperbolehkan berbuat zalim terhadapnya dengan segala bentuk kezaliman.Dan siapa yang melihat realita kaum Muslimin, terlebih lagi di masa ini, ia akan menemukan banyak orang-orang yang menganggap sangat remeh dan sepele perkara darah, harta dan kehormatan ini. Tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah dan tanpa merasa diawasi oleh Allah Jalla wa ‘ala. Tanpa merasa bahwa ia akan dikembalikan dan akan menghadap Allah.وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS. Asy Syu’ara: 227).Dan siapa yang memahami urgensi perkara ini dan mengenal agungnya perkara ini, maka sungguh ia telah mencapai menjadi seorang alim yang mapan dan seorang faqih yang agung. Untuk merenungi hal tersebut, berikut ini sebuah kisah yang bermanfaat:كتب رجلٌ إلى عبد الله بن عمر رضي الله عنهما «أن اكتب لي بالعلم كله» ، فكتب إليه رضي الله عنه : «إن العلم كثير ، ولكن إن استطعت أن تلقى الله يوم القيامة خفيف الظهر من دماء المسلمين ، خميص البطن من أموالهم، كافَّ اللسان عن أعراضهم ، لازمًا لجماعتهم فافعل»Seorang lelaki menulis surat kepada Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma yang berisi: “tuliskanlah untukku sebuah tulisan yang mencakup semua ilmu”. Maka Ibnu Umar pun menulis sebuah tulisan untuknya yang berisi: “Sesungguhnya ilmu itu banyak, namun jika engkau mampu untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan menjaga darah kaum Muslimin, menjaga harta mereka, dan menahan lisan dari merusak kehormatan mereka, maka lakukanlah”[selesai nukilan].Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menganggap bahwa tiga perkara ini; menjaga darah, kehormatan dan harta kaum Muslimin sebagai sebuah tingkat kepahaman ilmu yang besar. Barangsiapa yang diberi taufik untuk memahami hal ini, sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang besar.Maka wajib hendaknya kita semua memperhatikan perkara yang agung ini dan kita jaga tiga hal tersebut dengan penjagaan yang sungguh-sungguh. Dan hendaknya kita takut untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan jiwa kita sudah terkotori oleh perbuatan melanggar darah seorang Muslim atau kehormatannya atau hartanya. Karena perkaranya tidaklah ringan.Semoga Allah Jalla wa ‘ala menyelamatkan kita dan menjaga kita dari keburukan, semoga Allah menjadikan semua urusan kita dalam keadaan baik, sungguh Ia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.Baca Juga:***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/4089Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Artikel Labaik Allahuma Labaik Tulisan Arab, Hukum Mencuri Menurut Islam, Foto Batu Hajar Aswad, Sofyan Baswedan, Ciri-ciri Orang Yang Sering Sholat Tahajud
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDiantara perkara yang paling agung yang ditekankan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam khutbah beliau ketika Haji Wada, setelah beliau menekankan kembali masalah tauhid dan keikhlasan, adalah perkara penjagaan terhadap hak-hak sesama Muslim dan peringatan keras terhadap pelanggaran hak-hak sesama Muslim. Baik hak-hak yang terkait dengan darah, harta dan kehormatan seorang Muslim. Barangsiapa yang merenungi khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan nasehat-nasehat beliau yang agung ketika haji Wada, ia akan menemukan bahwa beliau sangat menekankan dan betul-betul memperhatikan perihal ini. Maka marilah kita renungkan sejenak khutbah tersebut, dari khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang beliau sampaikan di hari Arafah, hari Idul Adha, serta hari-hari Tasyriq.عن جابر رضي الله عنه في سياق حجة النبي صلى الله عليه وسلم قال : « حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ، فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِي فَخَطَبَ النَّاسَ وَقَالَ: إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا… » الحديث . رواه مسلم .Dari Jabi radhiallahu’anhu di tengah haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “… sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar unta Al-Qashwa’ dipersiapkan. Ia pun dipasangi pelana. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah dan berkhutbah: ‘Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini di negeri kalian ini…‘“ (HR. Muslim).عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ: (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا: بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟، قَالُوا: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فَأَعَادَهَا مِرَارًا ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ – قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَوَصِيَّتُهُ إِلَى أُمَّتِهِ – فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ )) رواه البخاري .Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Idul Adha. Beliau bersabda: “Wahai manusia, hari apakah ini? Mereka menjawab: “Hari ini hari haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu negeri apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini tanah haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu bulan apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini bulan suci”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”. Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh”. (HR. Al Bukhari).وعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ: أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: أَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، فَقَالَ: أَلَيْسَ ذُو الحَجَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ : أَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ ، قَالَ : أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الحَرَامِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا ، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ ، قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Abu Bakrah radhiallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasalllam berkhutbah di depan kami pada hari Idul Adha. Beliau bersabda: “apakah kalian tahu hari apa ini?”. Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Lalu beliau terdiam sejenak hingga kami mengira beliau akan menamai hari ini dengan nama lain. Lalu Nabi bersabda: “bukankah hari ini yaumun nahr (Idul Adha)?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bertanya lagi: “bukankah kita ini berada di tanah haram?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “maka sesungguhnya darah kalian dan harta kalian itu haram atas sesama kalian, seperti haramnya hari ini, seperti haramnya bulan ini, dan seperti haramnya negeri ini, sampai hari kalian bertemu Rabb kalian. Persaksikanlah bukankah aku telah menyampaikan hal ini? ”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “Ya Allah persaksikanlah! Hendaknya yang hadir di sini menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir. Karena terkadang orang disampaikan lebih paham daripada yang menyampaikan. Dan hendaknya kalian tidak kembali kepada kekafiran, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh” (Muttafaq ‘alaih).وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَقَالَ: فَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: بَلَدٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا )) رواه البخاري .Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “tahukah engkau hari apa ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “sesungguhnya ini adalah hari yang haram (suci). Apakah engkau tahu negeri apa ini?. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah negeri yang haram (suci). Apakah kalian tahu bulan apakah ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah bulan haram (suci)”. Lalu beliau bersabda lagi: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).وعن جرير ابن عبد الله البجلي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له في حجة الوداع: «اسْتَنْصِتِ النَّاسَ» فَقَالَ: ((لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “suruhlah orang-orang untuk diam!”. Lalu beliau bersabda: “janganlah kalian kembali kepada kekufuran, sehingga kalian saling membunuh satu sama lain” (Muttafaqun ‘alahi).وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : ((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ : مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ: مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ: مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ )) رواه أحمد .Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji wada: “Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa” (HR. Ahmad).وعن سلمة ابن قيس الأشجعي رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: (( أَلَا إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ : أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَلَا تَزْنُوا ، وَلَا تَسْرِقُوا )) رواه أحمد Dari Salamah bin Qais Al Asyja’i radhiallahu’anhu ia berkata: Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “ketahuilah ada empat hal (yang paling penting), yaitu janganlah kaluan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, janganlah berzina, dan janganlah mencuri” (HR. Ahmad).Dalam larangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap pembunuhan jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, terdapat penjelasan yang agung mengenai haramnya (mulianya) darah. Dalam larangan zina terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) kehormatan. Dalam larangan mencuri terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) harta.Barangsiapa yang merenungi hadits-hadits yang agung ini, serta peringatan-peringatan lainnya dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika haji Wada akan menemukan bahwa khutbah tersebut adalah khutbah yang sakral dan agung. Dan juga akan menemukan bahwa darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin itu mulia dan haram. Tidak diperkenankan untuk merusaknya serta tidak diperbolehkan berbuat zalim terhadapnya dengan segala bentuk kezaliman.Dan siapa yang melihat realita kaum Muslimin, terlebih lagi di masa ini, ia akan menemukan banyak orang-orang yang menganggap sangat remeh dan sepele perkara darah, harta dan kehormatan ini. Tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah dan tanpa merasa diawasi oleh Allah Jalla wa ‘ala. Tanpa merasa bahwa ia akan dikembalikan dan akan menghadap Allah.وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS. Asy Syu’ara: 227).Dan siapa yang memahami urgensi perkara ini dan mengenal agungnya perkara ini, maka sungguh ia telah mencapai menjadi seorang alim yang mapan dan seorang faqih yang agung. Untuk merenungi hal tersebut, berikut ini sebuah kisah yang bermanfaat:كتب رجلٌ إلى عبد الله بن عمر رضي الله عنهما «أن اكتب لي بالعلم كله» ، فكتب إليه رضي الله عنه : «إن العلم كثير ، ولكن إن استطعت أن تلقى الله يوم القيامة خفيف الظهر من دماء المسلمين ، خميص البطن من أموالهم، كافَّ اللسان عن أعراضهم ، لازمًا لجماعتهم فافعل»Seorang lelaki menulis surat kepada Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma yang berisi: “tuliskanlah untukku sebuah tulisan yang mencakup semua ilmu”. Maka Ibnu Umar pun menulis sebuah tulisan untuknya yang berisi: “Sesungguhnya ilmu itu banyak, namun jika engkau mampu untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan menjaga darah kaum Muslimin, menjaga harta mereka, dan menahan lisan dari merusak kehormatan mereka, maka lakukanlah”[selesai nukilan].Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menganggap bahwa tiga perkara ini; menjaga darah, kehormatan dan harta kaum Muslimin sebagai sebuah tingkat kepahaman ilmu yang besar. Barangsiapa yang diberi taufik untuk memahami hal ini, sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang besar.Maka wajib hendaknya kita semua memperhatikan perkara yang agung ini dan kita jaga tiga hal tersebut dengan penjagaan yang sungguh-sungguh. Dan hendaknya kita takut untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan jiwa kita sudah terkotori oleh perbuatan melanggar darah seorang Muslim atau kehormatannya atau hartanya. Karena perkaranya tidaklah ringan.Semoga Allah Jalla wa ‘ala menyelamatkan kita dan menjaga kita dari keburukan, semoga Allah menjadikan semua urusan kita dalam keadaan baik, sungguh Ia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.Baca Juga:***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/4089Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Artikel Labaik Allahuma Labaik Tulisan Arab, Hukum Mencuri Menurut Islam, Foto Batu Hajar Aswad, Sofyan Baswedan, Ciri-ciri Orang Yang Sering Sholat Tahajud


Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDiantara perkara yang paling agung yang ditekankan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam khutbah beliau ketika Haji Wada, setelah beliau menekankan kembali masalah tauhid dan keikhlasan, adalah perkara penjagaan terhadap hak-hak sesama Muslim dan peringatan keras terhadap pelanggaran hak-hak sesama Muslim. Baik hak-hak yang terkait dengan darah, harta dan kehormatan seorang Muslim. Barangsiapa yang merenungi khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan nasehat-nasehat beliau yang agung ketika haji Wada, ia akan menemukan bahwa beliau sangat menekankan dan betul-betul memperhatikan perihal ini. Maka marilah kita renungkan sejenak khutbah tersebut, dari khutbah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang beliau sampaikan di hari Arafah, hari Idul Adha, serta hari-hari Tasyriq.عن جابر رضي الله عنه في سياق حجة النبي صلى الله عليه وسلم قال : « حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ، فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِي فَخَطَبَ النَّاسَ وَقَالَ: إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا… » الحديث . رواه مسلم .Dari Jabi radhiallahu’anhu di tengah haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “… sehingga saat matahari tergelincir, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar unta Al-Qashwa’ dipersiapkan. Ia pun dipasangi pelana. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tengah lembah dan berkhutbah: ‘Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini di negeri kalian ini…‘“ (HR. Muslim).عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ: (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا: بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟، قَالُوا: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فَأَعَادَهَا مِرَارًا ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ، اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ – قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَوَصِيَّتُهُ إِلَى أُمَّتِهِ – فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ )) رواه البخاري .Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Idul Adha. Beliau bersabda: “Wahai manusia, hari apakah ini? Mereka menjawab: “Hari ini hari haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu negeri apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini tanah haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu bulan apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini bulan suci”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”. Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh”. (HR. Al Bukhari).وعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : خَطَبَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ: أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: أَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، فَقَالَ: أَلَيْسَ ذُو الحَجَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ : أَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ ، قَالَ : أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الحَرَامِ؟ قُلْنَا: بَلَى ، قَالَ: فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا ، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ ، قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Abu Bakrah radhiallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasalllam berkhutbah di depan kami pada hari Idul Adha. Beliau bersabda: “apakah kalian tahu hari apa ini?”. Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Lalu beliau terdiam sejenak hingga kami mengira beliau akan menamai hari ini dengan nama lain. Lalu Nabi bersabda: “bukankah hari ini yaumun nahr (Idul Adha)?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bertanya lagi: “bukankah kita ini berada di tanah haram?”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “maka sesungguhnya darah kalian dan harta kalian itu haram atas sesama kalian, seperti haramnya hari ini, seperti haramnya bulan ini, dan seperti haramnya negeri ini, sampai hari kalian bertemu Rabb kalian. Persaksikanlah bukankah aku telah menyampaikan hal ini? ”. Lalu kami menjawab: “benar wahai Rasulullah”. Lalu beliau bersabda: “Ya Allah persaksikanlah! Hendaknya yang hadir di sini menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir. Karena terkadang orang disampaikan lebih paham daripada yang menyampaikan. Dan hendaknya kalian tidak kembali kepada kekafiran, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh” (Muttafaq ‘alaih).وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَقَالَ: فَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: بَلَدٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا )) رواه البخاري .Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “tahukah engkau hari apa ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “sesungguhnya ini adalah hari yang haram (suci). Apakah engkau tahu negeri apa ini?. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah negeri yang haram (suci). Apakah kalian tahu bulan apakah ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah bulan haram (suci)”. Lalu beliau bersabda lagi: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).وعن جرير ابن عبد الله البجلي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له في حجة الوداع: «اسْتَنْصِتِ النَّاسَ» فَقَالَ: ((لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ)) متفق عليه .Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “suruhlah orang-orang untuk diam!”. Lalu beliau bersabda: “janganlah kalian kembali kepada kekufuran, sehingga kalian saling membunuh satu sama lain” (Muttafaqun ‘alahi).وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ : ((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ : مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ: مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ: مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ )) رواه أحمد .Dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji wada: “Maukah aku kabarkan kalian tentang ciri seorang mukmin? Yaitu orang yang orang lain merasa aman dari gangguannya terhadap harta dan jiwanya. Dan muslim, adalah orang yang orang lain merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan mujahid, adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Dan muhajir (orang yang hijrah), adakah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa” (HR. Ahmad).وعن سلمة ابن قيس الأشجعي رضي الله عنه قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: (( أَلَا إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ : أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَلَا تَزْنُوا ، وَلَا تَسْرِقُوا )) رواه أحمد Dari Salamah bin Qais Al Asyja’i radhiallahu’anhu ia berkata: Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika haji Wada: “ketahuilah ada empat hal (yang paling penting), yaitu janganlah kaluan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, janganlah berzina, dan janganlah mencuri” (HR. Ahmad).Dalam larangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap pembunuhan jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya kecuali dengan hak, terdapat penjelasan yang agung mengenai haramnya (mulianya) darah. Dalam larangan zina terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) kehormatan. Dalam larangan mencuri terdapat penjelasan mengenai haramnya (mulianya) harta.Barangsiapa yang merenungi hadits-hadits yang agung ini, serta peringatan-peringatan lainnya dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika haji Wada akan menemukan bahwa khutbah tersebut adalah khutbah yang sakral dan agung. Dan juga akan menemukan bahwa darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin itu mulia dan haram. Tidak diperkenankan untuk merusaknya serta tidak diperbolehkan berbuat zalim terhadapnya dengan segala bentuk kezaliman.Dan siapa yang melihat realita kaum Muslimin, terlebih lagi di masa ini, ia akan menemukan banyak orang-orang yang menganggap sangat remeh dan sepele perkara darah, harta dan kehormatan ini. Tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah dan tanpa merasa diawasi oleh Allah Jalla wa ‘ala. Tanpa merasa bahwa ia akan dikembalikan dan akan menghadap Allah.وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS. Asy Syu’ara: 227).Dan siapa yang memahami urgensi perkara ini dan mengenal agungnya perkara ini, maka sungguh ia telah mencapai menjadi seorang alim yang mapan dan seorang faqih yang agung. Untuk merenungi hal tersebut, berikut ini sebuah kisah yang bermanfaat:كتب رجلٌ إلى عبد الله بن عمر رضي الله عنهما «أن اكتب لي بالعلم كله» ، فكتب إليه رضي الله عنه : «إن العلم كثير ، ولكن إن استطعت أن تلقى الله يوم القيامة خفيف الظهر من دماء المسلمين ، خميص البطن من أموالهم، كافَّ اللسان عن أعراضهم ، لازمًا لجماعتهم فافعل»Seorang lelaki menulis surat kepada Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma yang berisi: “tuliskanlah untukku sebuah tulisan yang mencakup semua ilmu”. Maka Ibnu Umar pun menulis sebuah tulisan untuknya yang berisi: “Sesungguhnya ilmu itu banyak, namun jika engkau mampu untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan menjaga darah kaum Muslimin, menjaga harta mereka, dan menahan lisan dari merusak kehormatan mereka, maka lakukanlah”[selesai nukilan].Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menganggap bahwa tiga perkara ini; menjaga darah, kehormatan dan harta kaum Muslimin sebagai sebuah tingkat kepahaman ilmu yang besar. Barangsiapa yang diberi taufik untuk memahami hal ini, sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang besar.Maka wajib hendaknya kita semua memperhatikan perkara yang agung ini dan kita jaga tiga hal tersebut dengan penjagaan yang sungguh-sungguh. Dan hendaknya kita takut untuk bertemu Allah di hari kiamat dalam keadaan jiwa kita sudah terkotori oleh perbuatan melanggar darah seorang Muslim atau kehormatannya atau hartanya. Karena perkaranya tidaklah ringan.Semoga Allah Jalla wa ‘ala menyelamatkan kita dan menjaga kita dari keburukan, semoga Allah menjadikan semua urusan kita dalam keadaan baik, sungguh Ia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.Baca Juga:***Sumber: http://al-badr.net/muqolat/4089Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Artikel Labaik Allahuma Labaik Tulisan Arab, Hukum Mencuri Menurut Islam, Foto Batu Hajar Aswad, Sofyan Baswedan, Ciri-ciri Orang Yang Sering Sholat Tahajud

Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal

Sepak bola adalah salah satu olahraga populer dunia yang mendunia. Sepakbola sudah mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik politik, ekonomi dan psikologi manusia, bahkan sebagian orang mengatakan bahwa sepakbola adalah “agama baru”. Demikian juga olahraga futsal sebagai perkembangan dan variasi dari olahraga sepakbolaAgama Islam tentu sangat mendorong dan memotivasi umatnya agar melakukan olahraga. Terlebih olahraga yang dapat mendukung umat Islam untuk  jihad membela kehormatan diri, harta, keluarga dan agamanya.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,ﻛُﻞُّ ﺷَﺊْ ٍﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﻟَﻌِﺐٌ ﺇِﻻَّ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣُﻼَﻋَﺒَﺔُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﻭَﺗَﺄْﺩِﻳْﺐُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓَﺮَﺳَﻪُ ﻭَﻣَﺸْﻴُﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮْﺿَﻴْﻦِ ﻭَﺗَﻌْﻠِﻴْﻢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺴِّﺒَﺎﺣَﺔَ“Segala sesuatu yang tidak mengandung dzikirullah padanya maka itu adalah kesia-siaan dan main-main kecuali empat perkara: yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasai, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no.4534)Baca Juga: Agar Olah Raga Bersepeda BerpahalaIslam juga memotivasi agar umatnya menjaga kesehatan tubuh, salah satunya dengan olahraga rutin. Olahraga membuat tubuh menjadi sehat, kuat, dan berstamina. Ini lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)Secara umum, sepakbola adalah jenis permainan dan hukum asalnya adalah mubah dan boleh. Secara kaidah, hukum asal urusan dunia (permainan dan olahraga) adalah boleh. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, permainan sepak bola lebih dikembangkan oleh negara barat yang notabene tidak beragama Islam dan tidak memperhatikan kaidah beragama. Sehingga ada beberapa hal dalam permainan sepak bola yang melanggar syariat. Oleh karena itu, kami paparkan fatwa ulama yang membolehkan permainan sepakbola, asalkan dipenuhi syarat-syarat berikut:Baca Juga: Hukum Berolah Raga di Malam Hari Syaikh Al-Albani rahimahullah ditanya,ما هي شروط لعب كرة القدم ؟“Apa saja syarat bolehnya bermain sepakbola?”Beliau rahimahullah menjawab,الشيخ الألباني رحمه الل: الشرط الأول: أن تكون النية من اللعب تقوية البدن أو الترفيه عن النفس. الشرط الثاني: ألا تكشف فيها العورات. الشرط الثالث: ألا يترتب على اللعب تضيع الواجبات الشرعية  كأداء الصلاة في المسجد. الشرط الرابع: أن يكون اللعب بما يسمى اليوم بالروح الرياضية فلا يترتب على اللعب بالكرة الشحناء والبغضاء والقتال والضرب ونحو ذلك .“Syarat pertama: Hendaknya niat bermain adalah untuk menguatkan badan dan relaksasi jiwa.Syarat kedua: Hendaknya tidak membuka aurat.Syarat ketiga: Permainan ini tidak melalaikan kewajiban syar’i seperti menunaikan shalat di masjid.Syarat keempat: Hendaknya permainan ini tujuannya adalah olahraga dan tidak menimbulkan permusuhan, kebencian, saling perang (antar pemain dan suporter), pemukulan dan lain-lainnya.” (Fatwa Jeddah kaset no. 13, dishare oleh guru kami ustadz Aris Munandar hafidzahullah)Tambahan dari kami, hendaknya tidak ikut melakukan judi (taruhan) dalam sepakbola. Hal ini telah menjadi biasa dan legal (sah) di negeri barat. Hendaknya seorang muslim tidak ikut-ikutan, karena jelas judi diharamkan dalam Islam dan merupakan dosa besar, serta hampir seluruh dunia tahu bahwa Islam mengharamkan judi.Allah Ta’ala berfirmanيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah,  “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219)Baca Juga:—@ Di antara langit dan bumi Allah  pesawat Lion Air Lombok – Denpasar – MakasarPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Karma Dalam Islam, Apalah Arti Sebuah Nama, Arti Dibalik Sebuah Nama, Cara Menghadapi Suami Pembohong Menurut Islam, Islam Ahmadiyah

Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal

Sepak bola adalah salah satu olahraga populer dunia yang mendunia. Sepakbola sudah mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik politik, ekonomi dan psikologi manusia, bahkan sebagian orang mengatakan bahwa sepakbola adalah “agama baru”. Demikian juga olahraga futsal sebagai perkembangan dan variasi dari olahraga sepakbolaAgama Islam tentu sangat mendorong dan memotivasi umatnya agar melakukan olahraga. Terlebih olahraga yang dapat mendukung umat Islam untuk  jihad membela kehormatan diri, harta, keluarga dan agamanya.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,ﻛُﻞُّ ﺷَﺊْ ٍﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﻟَﻌِﺐٌ ﺇِﻻَّ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣُﻼَﻋَﺒَﺔُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﻭَﺗَﺄْﺩِﻳْﺐُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓَﺮَﺳَﻪُ ﻭَﻣَﺸْﻴُﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮْﺿَﻴْﻦِ ﻭَﺗَﻌْﻠِﻴْﻢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺴِّﺒَﺎﺣَﺔَ“Segala sesuatu yang tidak mengandung dzikirullah padanya maka itu adalah kesia-siaan dan main-main kecuali empat perkara: yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasai, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no.4534)Baca Juga: Agar Olah Raga Bersepeda BerpahalaIslam juga memotivasi agar umatnya menjaga kesehatan tubuh, salah satunya dengan olahraga rutin. Olahraga membuat tubuh menjadi sehat, kuat, dan berstamina. Ini lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)Secara umum, sepakbola adalah jenis permainan dan hukum asalnya adalah mubah dan boleh. Secara kaidah, hukum asal urusan dunia (permainan dan olahraga) adalah boleh. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, permainan sepak bola lebih dikembangkan oleh negara barat yang notabene tidak beragama Islam dan tidak memperhatikan kaidah beragama. Sehingga ada beberapa hal dalam permainan sepak bola yang melanggar syariat. Oleh karena itu, kami paparkan fatwa ulama yang membolehkan permainan sepakbola, asalkan dipenuhi syarat-syarat berikut:Baca Juga: Hukum Berolah Raga di Malam Hari Syaikh Al-Albani rahimahullah ditanya,ما هي شروط لعب كرة القدم ؟“Apa saja syarat bolehnya bermain sepakbola?”Beliau rahimahullah menjawab,الشيخ الألباني رحمه الل: الشرط الأول: أن تكون النية من اللعب تقوية البدن أو الترفيه عن النفس. الشرط الثاني: ألا تكشف فيها العورات. الشرط الثالث: ألا يترتب على اللعب تضيع الواجبات الشرعية  كأداء الصلاة في المسجد. الشرط الرابع: أن يكون اللعب بما يسمى اليوم بالروح الرياضية فلا يترتب على اللعب بالكرة الشحناء والبغضاء والقتال والضرب ونحو ذلك .“Syarat pertama: Hendaknya niat bermain adalah untuk menguatkan badan dan relaksasi jiwa.Syarat kedua: Hendaknya tidak membuka aurat.Syarat ketiga: Permainan ini tidak melalaikan kewajiban syar’i seperti menunaikan shalat di masjid.Syarat keempat: Hendaknya permainan ini tujuannya adalah olahraga dan tidak menimbulkan permusuhan, kebencian, saling perang (antar pemain dan suporter), pemukulan dan lain-lainnya.” (Fatwa Jeddah kaset no. 13, dishare oleh guru kami ustadz Aris Munandar hafidzahullah)Tambahan dari kami, hendaknya tidak ikut melakukan judi (taruhan) dalam sepakbola. Hal ini telah menjadi biasa dan legal (sah) di negeri barat. Hendaknya seorang muslim tidak ikut-ikutan, karena jelas judi diharamkan dalam Islam dan merupakan dosa besar, serta hampir seluruh dunia tahu bahwa Islam mengharamkan judi.Allah Ta’ala berfirmanيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah,  “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219)Baca Juga:—@ Di antara langit dan bumi Allah  pesawat Lion Air Lombok – Denpasar – MakasarPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Karma Dalam Islam, Apalah Arti Sebuah Nama, Arti Dibalik Sebuah Nama, Cara Menghadapi Suami Pembohong Menurut Islam, Islam Ahmadiyah
Sepak bola adalah salah satu olahraga populer dunia yang mendunia. Sepakbola sudah mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik politik, ekonomi dan psikologi manusia, bahkan sebagian orang mengatakan bahwa sepakbola adalah “agama baru”. Demikian juga olahraga futsal sebagai perkembangan dan variasi dari olahraga sepakbolaAgama Islam tentu sangat mendorong dan memotivasi umatnya agar melakukan olahraga. Terlebih olahraga yang dapat mendukung umat Islam untuk  jihad membela kehormatan diri, harta, keluarga dan agamanya.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,ﻛُﻞُّ ﺷَﺊْ ٍﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﻟَﻌِﺐٌ ﺇِﻻَّ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣُﻼَﻋَﺒَﺔُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﻭَﺗَﺄْﺩِﻳْﺐُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓَﺮَﺳَﻪُ ﻭَﻣَﺸْﻴُﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮْﺿَﻴْﻦِ ﻭَﺗَﻌْﻠِﻴْﻢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺴِّﺒَﺎﺣَﺔَ“Segala sesuatu yang tidak mengandung dzikirullah padanya maka itu adalah kesia-siaan dan main-main kecuali empat perkara: yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasai, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no.4534)Baca Juga: Agar Olah Raga Bersepeda BerpahalaIslam juga memotivasi agar umatnya menjaga kesehatan tubuh, salah satunya dengan olahraga rutin. Olahraga membuat tubuh menjadi sehat, kuat, dan berstamina. Ini lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)Secara umum, sepakbola adalah jenis permainan dan hukum asalnya adalah mubah dan boleh. Secara kaidah, hukum asal urusan dunia (permainan dan olahraga) adalah boleh. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, permainan sepak bola lebih dikembangkan oleh negara barat yang notabene tidak beragama Islam dan tidak memperhatikan kaidah beragama. Sehingga ada beberapa hal dalam permainan sepak bola yang melanggar syariat. Oleh karena itu, kami paparkan fatwa ulama yang membolehkan permainan sepakbola, asalkan dipenuhi syarat-syarat berikut:Baca Juga: Hukum Berolah Raga di Malam Hari Syaikh Al-Albani rahimahullah ditanya,ما هي شروط لعب كرة القدم ؟“Apa saja syarat bolehnya bermain sepakbola?”Beliau rahimahullah menjawab,الشيخ الألباني رحمه الل: الشرط الأول: أن تكون النية من اللعب تقوية البدن أو الترفيه عن النفس. الشرط الثاني: ألا تكشف فيها العورات. الشرط الثالث: ألا يترتب على اللعب تضيع الواجبات الشرعية  كأداء الصلاة في المسجد. الشرط الرابع: أن يكون اللعب بما يسمى اليوم بالروح الرياضية فلا يترتب على اللعب بالكرة الشحناء والبغضاء والقتال والضرب ونحو ذلك .“Syarat pertama: Hendaknya niat bermain adalah untuk menguatkan badan dan relaksasi jiwa.Syarat kedua: Hendaknya tidak membuka aurat.Syarat ketiga: Permainan ini tidak melalaikan kewajiban syar’i seperti menunaikan shalat di masjid.Syarat keempat: Hendaknya permainan ini tujuannya adalah olahraga dan tidak menimbulkan permusuhan, kebencian, saling perang (antar pemain dan suporter), pemukulan dan lain-lainnya.” (Fatwa Jeddah kaset no. 13, dishare oleh guru kami ustadz Aris Munandar hafidzahullah)Tambahan dari kami, hendaknya tidak ikut melakukan judi (taruhan) dalam sepakbola. Hal ini telah menjadi biasa dan legal (sah) di negeri barat. Hendaknya seorang muslim tidak ikut-ikutan, karena jelas judi diharamkan dalam Islam dan merupakan dosa besar, serta hampir seluruh dunia tahu bahwa Islam mengharamkan judi.Allah Ta’ala berfirmanيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah,  “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219)Baca Juga:—@ Di antara langit dan bumi Allah  pesawat Lion Air Lombok – Denpasar – MakasarPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Karma Dalam Islam, Apalah Arti Sebuah Nama, Arti Dibalik Sebuah Nama, Cara Menghadapi Suami Pembohong Menurut Islam, Islam Ahmadiyah


Sepak bola adalah salah satu olahraga populer dunia yang mendunia. Sepakbola sudah mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik politik, ekonomi dan psikologi manusia, bahkan sebagian orang mengatakan bahwa sepakbola adalah “agama baru”. Demikian juga olahraga futsal sebagai perkembangan dan variasi dari olahraga sepakbolaAgama Islam tentu sangat mendorong dan memotivasi umatnya agar melakukan olahraga. Terlebih olahraga yang dapat mendukung umat Islam untuk  jihad membela kehormatan diri, harta, keluarga dan agamanya.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,ﻛُﻞُّ ﺷَﺊْ ٍﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴْﻪِ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﻟَﻌِﺐٌ ﺇِﻻَّ ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﻣُﻼَﻋَﺒَﺔُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﻭَﺗَﺄْﺩِﻳْﺐُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻓَﺮَﺳَﻪُ ﻭَﻣَﺸْﻴُﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻐَﺮْﺿَﻴْﻦِ ﻭَﺗَﻌْﻠِﻴْﻢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺴِّﺒَﺎﺣَﺔَ“Segala sesuatu yang tidak mengandung dzikirullah padanya maka itu adalah kesia-siaan dan main-main kecuali empat perkara: yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasai, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no.4534)Baca Juga: Agar Olah Raga Bersepeda BerpahalaIslam juga memotivasi agar umatnya menjaga kesehatan tubuh, salah satunya dengan olahraga rutin. Olahraga membuat tubuh menjadi sehat, kuat, dan berstamina. Ini lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)Secara umum, sepakbola adalah jenis permainan dan hukum asalnya adalah mubah dan boleh. Secara kaidah, hukum asal urusan dunia (permainan dan olahraga) adalah boleh. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, permainan sepak bola lebih dikembangkan oleh negara barat yang notabene tidak beragama Islam dan tidak memperhatikan kaidah beragama. Sehingga ada beberapa hal dalam permainan sepak bola yang melanggar syariat. Oleh karena itu, kami paparkan fatwa ulama yang membolehkan permainan sepakbola, asalkan dipenuhi syarat-syarat berikut:Baca Juga: Hukum Berolah Raga di Malam Hari Syaikh Al-Albani rahimahullah ditanya,ما هي شروط لعب كرة القدم ؟“Apa saja syarat bolehnya bermain sepakbola?”Beliau rahimahullah menjawab,الشيخ الألباني رحمه الل: الشرط الأول: أن تكون النية من اللعب تقوية البدن أو الترفيه عن النفس. الشرط الثاني: ألا تكشف فيها العورات. الشرط الثالث: ألا يترتب على اللعب تضيع الواجبات الشرعية  كأداء الصلاة في المسجد. الشرط الرابع: أن يكون اللعب بما يسمى اليوم بالروح الرياضية فلا يترتب على اللعب بالكرة الشحناء والبغضاء والقتال والضرب ونحو ذلك .“Syarat pertama: Hendaknya niat bermain adalah untuk menguatkan badan dan relaksasi jiwa.Syarat kedua: Hendaknya tidak membuka aurat.Syarat ketiga: Permainan ini tidak melalaikan kewajiban syar’i seperti menunaikan shalat di masjid.Syarat keempat: Hendaknya permainan ini tujuannya adalah olahraga dan tidak menimbulkan permusuhan, kebencian, saling perang (antar pemain dan suporter), pemukulan dan lain-lainnya.” (Fatwa Jeddah kaset no. 13, dishare oleh guru kami ustadz Aris Munandar hafidzahullah)Tambahan dari kami, hendaknya tidak ikut melakukan judi (taruhan) dalam sepakbola. Hal ini telah menjadi biasa dan legal (sah) di negeri barat. Hendaknya seorang muslim tidak ikut-ikutan, karena jelas judi diharamkan dalam Islam dan merupakan dosa besar, serta hampir seluruh dunia tahu bahwa Islam mengharamkan judi.Allah Ta’ala berfirmanيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah,  “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219)Baca Juga:—@ Di antara langit dan bumi Allah  pesawat Lion Air Lombok – Denpasar – MakasarPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Karma Dalam Islam, Apalah Arti Sebuah Nama, Arti Dibalik Sebuah Nama, Cara Menghadapi Suami Pembohong Menurut Islam, Islam Ahmadiyah

Masuk Surga Karena Dosa

Salah satu ulama Salaf mengatakan,  إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار “Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13) “Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.”  “Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.” Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat. Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana? *** Al-Hasan al-Bashri mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ  “Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338) Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah. Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa.  Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah. Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut.  Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih.  Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Masuk Surga Karena Dosa

Salah satu ulama Salaf mengatakan,  إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار “Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13) “Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.”  “Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.” Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat. Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana? *** Al-Hasan al-Bashri mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ  “Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338) Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah. Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa.  Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah. Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut.  Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih.  Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Salah satu ulama Salaf mengatakan,  إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار “Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13) “Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.”  “Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.” Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat. Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana? *** Al-Hasan al-Bashri mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ  “Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338) Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah. Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa.  Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah. Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut.  Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih.  Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Salah satu ulama Salaf mengatakan,  إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار “Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13) “Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.”  “Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.” Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat. Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana? *** Al-Hasan al-Bashri mengatakan,  إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ  “Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338) Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah. Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa.  Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah. Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut.  Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih.  Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah. Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Bingkisan untuk Penggiat Dakwah (Flash Donation 4 Hari, 15-18 September 2020)

Peduli dan peka. Walau sederhana, keduanya adalah barang berharga di tengah musibah wabah COVID-19 yang sedang melanda negeri kita.Tak perlu menunggu berharap dipinta. Sebab mereka, tak akan meminta-minta.Min Baabil Wafaa.Tak mesti dengan yang mewah. Tak harus selalu dengan yang berlimpah.Begitu banyak cara sederhana, yang bisa membuat bahagia guru dana asatidzah kita tercinta.—Di penghujung bulan Muharram yang mulia ini, Satgas Tanggap COVID-19 YPIA mengajak ikhwah sekalian untuk turut serta memberikan sedikit hadiah untuk segenap guru kita, pengajar ma’had, da’i, dan asatidzah di Yogyakarta pada umumnya.Direncanakan target donasi yang terkumpul sebesar 30 juta rupiah dan akan dijadikan sebanyak 100 paket bingkisan.—Donasi dapat disalurkan melalui rekening :💳 BNI Syariah no. rekening 77-55-33-11-60 (kode bank 427) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari📱 Konfirmasi donasi ke nomor 0822-2597-9555 (WhatsApp)📝Format konfirmasi: Nama # Domisili # BesarDonasi # TanggalTransfer # Rek.Tujuan # Donasi BingkisanContoh: Abdullah # Yogya # 1juta # 18 April # 77-55-33-11-60 # Donasi BingkisanBarakallahu fikum=====⁣🔊 Broadcasted by : Satgas Tanggap COVID-19 YPIA Yogyakarta (Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari) CP Donasi: 0822-2597-9555 | @ypiaorid 🌐 ypia.or.id🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar

Bingkisan untuk Penggiat Dakwah (Flash Donation 4 Hari, 15-18 September 2020)

Peduli dan peka. Walau sederhana, keduanya adalah barang berharga di tengah musibah wabah COVID-19 yang sedang melanda negeri kita.Tak perlu menunggu berharap dipinta. Sebab mereka, tak akan meminta-minta.Min Baabil Wafaa.Tak mesti dengan yang mewah. Tak harus selalu dengan yang berlimpah.Begitu banyak cara sederhana, yang bisa membuat bahagia guru dana asatidzah kita tercinta.—Di penghujung bulan Muharram yang mulia ini, Satgas Tanggap COVID-19 YPIA mengajak ikhwah sekalian untuk turut serta memberikan sedikit hadiah untuk segenap guru kita, pengajar ma’had, da’i, dan asatidzah di Yogyakarta pada umumnya.Direncanakan target donasi yang terkumpul sebesar 30 juta rupiah dan akan dijadikan sebanyak 100 paket bingkisan.—Donasi dapat disalurkan melalui rekening :💳 BNI Syariah no. rekening 77-55-33-11-60 (kode bank 427) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari📱 Konfirmasi donasi ke nomor 0822-2597-9555 (WhatsApp)📝Format konfirmasi: Nama # Domisili # BesarDonasi # TanggalTransfer # Rek.Tujuan # Donasi BingkisanContoh: Abdullah # Yogya # 1juta # 18 April # 77-55-33-11-60 # Donasi BingkisanBarakallahu fikum=====⁣🔊 Broadcasted by : Satgas Tanggap COVID-19 YPIA Yogyakarta (Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari) CP Donasi: 0822-2597-9555 | @ypiaorid 🌐 ypia.or.id🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar
Peduli dan peka. Walau sederhana, keduanya adalah barang berharga di tengah musibah wabah COVID-19 yang sedang melanda negeri kita.Tak perlu menunggu berharap dipinta. Sebab mereka, tak akan meminta-minta.Min Baabil Wafaa.Tak mesti dengan yang mewah. Tak harus selalu dengan yang berlimpah.Begitu banyak cara sederhana, yang bisa membuat bahagia guru dana asatidzah kita tercinta.—Di penghujung bulan Muharram yang mulia ini, Satgas Tanggap COVID-19 YPIA mengajak ikhwah sekalian untuk turut serta memberikan sedikit hadiah untuk segenap guru kita, pengajar ma’had, da’i, dan asatidzah di Yogyakarta pada umumnya.Direncanakan target donasi yang terkumpul sebesar 30 juta rupiah dan akan dijadikan sebanyak 100 paket bingkisan.—Donasi dapat disalurkan melalui rekening :💳 BNI Syariah no. rekening 77-55-33-11-60 (kode bank 427) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari📱 Konfirmasi donasi ke nomor 0822-2597-9555 (WhatsApp)📝Format konfirmasi: Nama # Domisili # BesarDonasi # TanggalTransfer # Rek.Tujuan # Donasi BingkisanContoh: Abdullah # Yogya # 1juta # 18 April # 77-55-33-11-60 # Donasi BingkisanBarakallahu fikum=====⁣🔊 Broadcasted by : Satgas Tanggap COVID-19 YPIA Yogyakarta (Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari) CP Donasi: 0822-2597-9555 | @ypiaorid 🌐 ypia.or.id🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar


Peduli dan peka. Walau sederhana, keduanya adalah barang berharga di tengah musibah wabah COVID-19 yang sedang melanda negeri kita.Tak perlu menunggu berharap dipinta. Sebab mereka, tak akan meminta-minta.Min Baabil Wafaa.Tak mesti dengan yang mewah. Tak harus selalu dengan yang berlimpah.Begitu banyak cara sederhana, yang bisa membuat bahagia guru dana asatidzah kita tercinta.—Di penghujung bulan Muharram yang mulia ini, Satgas Tanggap COVID-19 YPIA mengajak ikhwah sekalian untuk turut serta memberikan sedikit hadiah untuk segenap guru kita, pengajar ma’had, da’i, dan asatidzah di Yogyakarta pada umumnya.Direncanakan target donasi yang terkumpul sebesar 30 juta rupiah dan akan dijadikan sebanyak 100 paket bingkisan.—Donasi dapat disalurkan melalui rekening :💳 BNI Syariah no. rekening 77-55-33-11-60 (kode bank 427) a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari📱 Konfirmasi donasi ke nomor 0822-2597-9555 (WhatsApp)📝Format konfirmasi: Nama # Domisili # BesarDonasi # TanggalTransfer # Rek.Tujuan # Donasi BingkisanContoh: Abdullah # Yogya # 1juta # 18 April # 77-55-33-11-60 # Donasi BingkisanBarakallahu fikum=====⁣🔊 Broadcasted by : Satgas Tanggap COVID-19 YPIA Yogyakarta (Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari) CP Donasi: 0822-2597-9555 | @ypiaorid 🌐 ypia.or.id🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar

Manusia Mulia

Ayub as-Sikhtiyani mengatakan,  لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ  “Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331) Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama. Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut.  Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya. Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf.  Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya.  Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya.  Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Manusia Mulia

Ayub as-Sikhtiyani mengatakan,  لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ  “Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331) Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama. Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut.  Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya. Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf.  Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya.  Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya.  Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ayub as-Sikhtiyani mengatakan,  لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ  “Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331) Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama. Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut.  Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya. Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf.  Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya.  Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya.  Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ayub as-Sikhtiyani mengatakan,  لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ  “Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331) Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama. Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut.  Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya. Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf.  Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya.  Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya.  Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya.  Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Hakikat Amal Shalih

Dua Syarat Amal ShalihSemua bentuk ibadah baik lahir maupun batin harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sehingga setiap amalan yang tidak ikhlas untuk mencari wajah Allah maka itu adalah batil. Demikian pula setiap amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tertolak. Amalan yang memenuhi kedua syarat inilah yang diterima di sisi Allah Ta’ala. (lihat ad-Durrah al-Fakhirah fit Ta’liq ‘ala Manzhumah as-Sair ila Allah wad Daril Akhirah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 15)Kedua syarat ini telah tercakup di dalam ayat,بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Tidak demikian, barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan/kebaikan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya, dan mereka tidak akan takut ataupun bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 112)Kalimat “memasrahkan wajahnya kepada Allah” artinya niat dan keinginannya semata-mata untuk Allah; yaitu dia mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah. Adapun “dia berbuat ihsan” maksudnya adalah mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi bid’ah. (lihat at-Ta’liq al-Mukhtashar ‘ala al-Qashidah an-Nuniyah karya Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/824-825) Dengan demikian hakikat amal salih itu adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah disebut sebagai amal salih yang sebenarnya kecuali apabila memenuhi kedua syarat ini. Dikarenakan begitu pentingnya ikhlas dalam beribadah maka Allah menegaskan hal itu secara khusus dalam firman-Nya,فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dan ketika jelas bagi kita bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta ini maka tidak layak Allah dipersekutukan dalam hal ibadah dengan siapa pun juga. (lihat Tafsir Surah al-Kahfi karya Syaikh al-Utsaimin, hal. 153)  Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari’at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah (ikhlas), inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya. (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/154] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits)Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama diri-Ku maka Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara di dalam urusan [agama] kami ini yang bukan berasal darinya, maka ia pasti tertolak.” Di dalam riwayat Muslim, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnul Majisyun berkata, Aku pernah mendengar Malik berkata, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah yang dia anggap baik (baca: bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.” Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu bukan termasuk agama.” (lihat al-I’tisham, [1/64-65])Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan. Yaitu: Untuk siapa? dan Bagaimana? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya. (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)Baca Juga: Orang yang Paling Merugi AmalannyaPentingnya IkhlasSyaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. Al-Furqan: 23).” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (Jilid 1, hal. 60-61).Beliau juga memaparkan, bahwasanya kedua syarat ini merupakan kandungan dari kedua kalimat syahadat. Syahadat “laa ilaha illallah” bermakna kita harus mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah. Syahadat “Muhammad rasulullah” bermakna kita harus mengikuti tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1, hal. 61)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka bukanlah perkara yang terpenting adalah bagaimana orang itu melakukan puasa atau sholat, atau memperbanyak ibadah-ibadah. Sebab yang terpenting adalah ikhlas. Oleh sebab itu sedikit namun dibarengi dengan keikhlasan itu lebih baik daripada banyak tanpa disertai keikhlasan. Seandainya ada seorang insan yang melakukan sholat di malam hari dan di siang hari, bersedekah dengan harta-hartanya, dan melakukan berbagai macam amalan akan tetapi tanpa keikhlasan maka tidak ada faidah pada amalnya itu; karena itulah dibutuhkan keikhlasan … ” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 17-18)Baca Juga: Mereka yang Beramal karena Omongan OrangPerintah Mengikuti SunnahDi dalam hadits Irbadh bin Sariyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى“Hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku …” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata : hadits ini hasan sahih). Yang dimaksud dengan istilah “sunnah” di sini adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya janganlah kalian mengada-adakan di dalam agama ini sesuatu yang bukan termasuk bagian dari ajarannya dan jangan keluar dari syari’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Arba’in oleh al-Utsaimin, hal. 302)Dengan demikian istilah “sunnah” di sini bermakna umum mencakup keyakinan, amalan, dan ucapan. Inilah sunnah dengan makna yang lengkap. Oleh sebab itu para ulama salaf tidak memakai istilah sunnah kecuali dengan maksud yang mencakup ini semua/seluruh ajaran agama. Kemudian para ulama belakangan setelah mereka sering menggunakan istilah “sunnah” dengan makna yang lebih khusus yaitu yang berkaitan dengan urusan akidah atau keyakinan. Hal ini bisa dipahami karena masalah akidah merupakan pondasi agama sehingga orang yang menyimpang dalam perkara ini berada dalam bahaya yang sangat besar. (lihat Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, hal. 333)Istilah “sunnah” inilah yang sering kita dengar dalam penyebutan ahlus sunnah wal jama’ah. Sebab sunnah di sini maknanya adalah jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebelum munculnya berbagai bentuk bid’ah dan pendapat-pendapat yang menyimpang. Adapun istilah “jama’ah” di sini maksudnya adalah orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yaitu para sahabat dan tabi’in; para pendahulu yang salih dari umat ini (lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 61 tahqiq Alawi Abdul Qadir as-Saqqaf)Baca Juga:Semoga yang singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id

Hakikat Amal Shalih

Dua Syarat Amal ShalihSemua bentuk ibadah baik lahir maupun batin harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sehingga setiap amalan yang tidak ikhlas untuk mencari wajah Allah maka itu adalah batil. Demikian pula setiap amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tertolak. Amalan yang memenuhi kedua syarat inilah yang diterima di sisi Allah Ta’ala. (lihat ad-Durrah al-Fakhirah fit Ta’liq ‘ala Manzhumah as-Sair ila Allah wad Daril Akhirah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 15)Kedua syarat ini telah tercakup di dalam ayat,بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Tidak demikian, barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan/kebaikan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya, dan mereka tidak akan takut ataupun bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 112)Kalimat “memasrahkan wajahnya kepada Allah” artinya niat dan keinginannya semata-mata untuk Allah; yaitu dia mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah. Adapun “dia berbuat ihsan” maksudnya adalah mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi bid’ah. (lihat at-Ta’liq al-Mukhtashar ‘ala al-Qashidah an-Nuniyah karya Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/824-825) Dengan demikian hakikat amal salih itu adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah disebut sebagai amal salih yang sebenarnya kecuali apabila memenuhi kedua syarat ini. Dikarenakan begitu pentingnya ikhlas dalam beribadah maka Allah menegaskan hal itu secara khusus dalam firman-Nya,فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dan ketika jelas bagi kita bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta ini maka tidak layak Allah dipersekutukan dalam hal ibadah dengan siapa pun juga. (lihat Tafsir Surah al-Kahfi karya Syaikh al-Utsaimin, hal. 153)  Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari’at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah (ikhlas), inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya. (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/154] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits)Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama diri-Ku maka Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara di dalam urusan [agama] kami ini yang bukan berasal darinya, maka ia pasti tertolak.” Di dalam riwayat Muslim, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnul Majisyun berkata, Aku pernah mendengar Malik berkata, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah yang dia anggap baik (baca: bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.” Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu bukan termasuk agama.” (lihat al-I’tisham, [1/64-65])Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan. Yaitu: Untuk siapa? dan Bagaimana? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya. (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)Baca Juga: Orang yang Paling Merugi AmalannyaPentingnya IkhlasSyaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. Al-Furqan: 23).” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (Jilid 1, hal. 60-61).Beliau juga memaparkan, bahwasanya kedua syarat ini merupakan kandungan dari kedua kalimat syahadat. Syahadat “laa ilaha illallah” bermakna kita harus mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah. Syahadat “Muhammad rasulullah” bermakna kita harus mengikuti tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1, hal. 61)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka bukanlah perkara yang terpenting adalah bagaimana orang itu melakukan puasa atau sholat, atau memperbanyak ibadah-ibadah. Sebab yang terpenting adalah ikhlas. Oleh sebab itu sedikit namun dibarengi dengan keikhlasan itu lebih baik daripada banyak tanpa disertai keikhlasan. Seandainya ada seorang insan yang melakukan sholat di malam hari dan di siang hari, bersedekah dengan harta-hartanya, dan melakukan berbagai macam amalan akan tetapi tanpa keikhlasan maka tidak ada faidah pada amalnya itu; karena itulah dibutuhkan keikhlasan … ” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 17-18)Baca Juga: Mereka yang Beramal karena Omongan OrangPerintah Mengikuti SunnahDi dalam hadits Irbadh bin Sariyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى“Hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku …” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata : hadits ini hasan sahih). Yang dimaksud dengan istilah “sunnah” di sini adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya janganlah kalian mengada-adakan di dalam agama ini sesuatu yang bukan termasuk bagian dari ajarannya dan jangan keluar dari syari’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Arba’in oleh al-Utsaimin, hal. 302)Dengan demikian istilah “sunnah” di sini bermakna umum mencakup keyakinan, amalan, dan ucapan. Inilah sunnah dengan makna yang lengkap. Oleh sebab itu para ulama salaf tidak memakai istilah sunnah kecuali dengan maksud yang mencakup ini semua/seluruh ajaran agama. Kemudian para ulama belakangan setelah mereka sering menggunakan istilah “sunnah” dengan makna yang lebih khusus yaitu yang berkaitan dengan urusan akidah atau keyakinan. Hal ini bisa dipahami karena masalah akidah merupakan pondasi agama sehingga orang yang menyimpang dalam perkara ini berada dalam bahaya yang sangat besar. (lihat Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, hal. 333)Istilah “sunnah” inilah yang sering kita dengar dalam penyebutan ahlus sunnah wal jama’ah. Sebab sunnah di sini maknanya adalah jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebelum munculnya berbagai bentuk bid’ah dan pendapat-pendapat yang menyimpang. Adapun istilah “jama’ah” di sini maksudnya adalah orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yaitu para sahabat dan tabi’in; para pendahulu yang salih dari umat ini (lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 61 tahqiq Alawi Abdul Qadir as-Saqqaf)Baca Juga:Semoga yang singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id
Dua Syarat Amal ShalihSemua bentuk ibadah baik lahir maupun batin harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sehingga setiap amalan yang tidak ikhlas untuk mencari wajah Allah maka itu adalah batil. Demikian pula setiap amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tertolak. Amalan yang memenuhi kedua syarat inilah yang diterima di sisi Allah Ta’ala. (lihat ad-Durrah al-Fakhirah fit Ta’liq ‘ala Manzhumah as-Sair ila Allah wad Daril Akhirah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 15)Kedua syarat ini telah tercakup di dalam ayat,بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Tidak demikian, barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan/kebaikan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya, dan mereka tidak akan takut ataupun bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 112)Kalimat “memasrahkan wajahnya kepada Allah” artinya niat dan keinginannya semata-mata untuk Allah; yaitu dia mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah. Adapun “dia berbuat ihsan” maksudnya adalah mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi bid’ah. (lihat at-Ta’liq al-Mukhtashar ‘ala al-Qashidah an-Nuniyah karya Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/824-825) Dengan demikian hakikat amal salih itu adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah disebut sebagai amal salih yang sebenarnya kecuali apabila memenuhi kedua syarat ini. Dikarenakan begitu pentingnya ikhlas dalam beribadah maka Allah menegaskan hal itu secara khusus dalam firman-Nya,فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dan ketika jelas bagi kita bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta ini maka tidak layak Allah dipersekutukan dalam hal ibadah dengan siapa pun juga. (lihat Tafsir Surah al-Kahfi karya Syaikh al-Utsaimin, hal. 153)  Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari’at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah (ikhlas), inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya. (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/154] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits)Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama diri-Ku maka Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara di dalam urusan [agama] kami ini yang bukan berasal darinya, maka ia pasti tertolak.” Di dalam riwayat Muslim, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnul Majisyun berkata, Aku pernah mendengar Malik berkata, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah yang dia anggap baik (baca: bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.” Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu bukan termasuk agama.” (lihat al-I’tisham, [1/64-65])Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan. Yaitu: Untuk siapa? dan Bagaimana? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya. (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)Baca Juga: Orang yang Paling Merugi AmalannyaPentingnya IkhlasSyaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. Al-Furqan: 23).” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (Jilid 1, hal. 60-61).Beliau juga memaparkan, bahwasanya kedua syarat ini merupakan kandungan dari kedua kalimat syahadat. Syahadat “laa ilaha illallah” bermakna kita harus mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah. Syahadat “Muhammad rasulullah” bermakna kita harus mengikuti tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1, hal. 61)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka bukanlah perkara yang terpenting adalah bagaimana orang itu melakukan puasa atau sholat, atau memperbanyak ibadah-ibadah. Sebab yang terpenting adalah ikhlas. Oleh sebab itu sedikit namun dibarengi dengan keikhlasan itu lebih baik daripada banyak tanpa disertai keikhlasan. Seandainya ada seorang insan yang melakukan sholat di malam hari dan di siang hari, bersedekah dengan harta-hartanya, dan melakukan berbagai macam amalan akan tetapi tanpa keikhlasan maka tidak ada faidah pada amalnya itu; karena itulah dibutuhkan keikhlasan … ” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 17-18)Baca Juga: Mereka yang Beramal karena Omongan OrangPerintah Mengikuti SunnahDi dalam hadits Irbadh bin Sariyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى“Hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku …” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata : hadits ini hasan sahih). Yang dimaksud dengan istilah “sunnah” di sini adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya janganlah kalian mengada-adakan di dalam agama ini sesuatu yang bukan termasuk bagian dari ajarannya dan jangan keluar dari syari’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Arba’in oleh al-Utsaimin, hal. 302)Dengan demikian istilah “sunnah” di sini bermakna umum mencakup keyakinan, amalan, dan ucapan. Inilah sunnah dengan makna yang lengkap. Oleh sebab itu para ulama salaf tidak memakai istilah sunnah kecuali dengan maksud yang mencakup ini semua/seluruh ajaran agama. Kemudian para ulama belakangan setelah mereka sering menggunakan istilah “sunnah” dengan makna yang lebih khusus yaitu yang berkaitan dengan urusan akidah atau keyakinan. Hal ini bisa dipahami karena masalah akidah merupakan pondasi agama sehingga orang yang menyimpang dalam perkara ini berada dalam bahaya yang sangat besar. (lihat Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, hal. 333)Istilah “sunnah” inilah yang sering kita dengar dalam penyebutan ahlus sunnah wal jama’ah. Sebab sunnah di sini maknanya adalah jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebelum munculnya berbagai bentuk bid’ah dan pendapat-pendapat yang menyimpang. Adapun istilah “jama’ah” di sini maksudnya adalah orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yaitu para sahabat dan tabi’in; para pendahulu yang salih dari umat ini (lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 61 tahqiq Alawi Abdul Qadir as-Saqqaf)Baca Juga:Semoga yang singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id


Dua Syarat Amal ShalihSemua bentuk ibadah baik lahir maupun batin harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sehingga setiap amalan yang tidak ikhlas untuk mencari wajah Allah maka itu adalah batil. Demikian pula setiap amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tertolak. Amalan yang memenuhi kedua syarat inilah yang diterima di sisi Allah Ta’ala. (lihat ad-Durrah al-Fakhirah fit Ta’liq ‘ala Manzhumah as-Sair ila Allah wad Daril Akhirah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 15)Kedua syarat ini telah tercakup di dalam ayat,بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Tidak demikian, barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan/kebaikan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya, dan mereka tidak akan takut ataupun bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 112)Kalimat “memasrahkan wajahnya kepada Allah” artinya niat dan keinginannya semata-mata untuk Allah; yaitu dia mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah. Adapun “dia berbuat ihsan” maksudnya adalah mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi bid’ah. (lihat at-Ta’liq al-Mukhtashar ‘ala al-Qashidah an-Nuniyah karya Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/824-825) Dengan demikian hakikat amal salih itu adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah disebut sebagai amal salih yang sebenarnya kecuali apabila memenuhi kedua syarat ini. Dikarenakan begitu pentingnya ikhlas dalam beribadah maka Allah menegaskan hal itu secara khusus dalam firman-Nya,فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً“Hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)Dan ketika jelas bagi kita bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta ini maka tidak layak Allah dipersekutukan dalam hal ibadah dengan siapa pun juga. (lihat Tafsir Surah al-Kahfi karya Syaikh al-Utsaimin, hal. 153)  Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari’at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah (ikhlas), inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya. (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/154] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits)Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama diri-Ku maka Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara di dalam urusan [agama] kami ini yang bukan berasal darinya, maka ia pasti tertolak.” Di dalam riwayat Muslim, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia pasti tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnul Majisyun berkata, Aku pernah mendengar Malik berkata, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah yang dia anggap baik (baca: bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.” Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu bukan termasuk agama.” (lihat al-I’tisham, [1/64-65])Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan. Yaitu: Untuk siapa? dan Bagaimana? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya. (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)Baca Juga: Orang yang Paling Merugi AmalannyaPentingnya IkhlasSyaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa mengikhlaskan amal-amalnya untuk Allah serta dalam beramal itu dia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka inilah orang yang amalnya diterima. Barangsiapa yang kehilangan dua perkara ini -ikhlas dan mengikuti tuntunan- atau salah satunya maka amalnya tertolak. Sehingga ia termasuk dalam cakupan hukum firman Allah Ta’ala,وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‘Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka perbuat kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.’ (QS. Al-Furqan: 23).” (lihat Bahjah al-Qulub al-Abrar, hal. 14 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya ibadah dan segala bentuk amalan tidaklah menjadi benar kecuali dengan dua syarat; ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla, dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian sebagaimana beliau terangkan dalam I’anatul Mustafid (Jilid 1, hal. 60-61).Beliau juga memaparkan, bahwasanya kedua syarat ini merupakan kandungan dari kedua kalimat syahadat. Syahadat “laa ilaha illallah” bermakna kita harus mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk Allah. Syahadat “Muhammad rasulullah” bermakna kita harus mengikuti tuntunan dan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’anatul Mustafid, Jilid 1, hal. 61)Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Maka bukanlah perkara yang terpenting adalah bagaimana orang itu melakukan puasa atau sholat, atau memperbanyak ibadah-ibadah. Sebab yang terpenting adalah ikhlas. Oleh sebab itu sedikit namun dibarengi dengan keikhlasan itu lebih baik daripada banyak tanpa disertai keikhlasan. Seandainya ada seorang insan yang melakukan sholat di malam hari dan di siang hari, bersedekah dengan harta-hartanya, dan melakukan berbagai macam amalan akan tetapi tanpa keikhlasan maka tidak ada faidah pada amalnya itu; karena itulah dibutuhkan keikhlasan … ” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 17-18)Baca Juga: Mereka yang Beramal karena Omongan OrangPerintah Mengikuti SunnahDi dalam hadits Irbadh bin Sariyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى“Hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku …” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata : hadits ini hasan sahih). Yang dimaksud dengan istilah “sunnah” di sini adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya janganlah kalian mengada-adakan di dalam agama ini sesuatu yang bukan termasuk bagian dari ajarannya dan jangan keluar dari syari’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Arba’in oleh al-Utsaimin, hal. 302)Dengan demikian istilah “sunnah” di sini bermakna umum mencakup keyakinan, amalan, dan ucapan. Inilah sunnah dengan makna yang lengkap. Oleh sebab itu para ulama salaf tidak memakai istilah sunnah kecuali dengan maksud yang mencakup ini semua/seluruh ajaran agama. Kemudian para ulama belakangan setelah mereka sering menggunakan istilah “sunnah” dengan makna yang lebih khusus yaitu yang berkaitan dengan urusan akidah atau keyakinan. Hal ini bisa dipahami karena masalah akidah merupakan pondasi agama sehingga orang yang menyimpang dalam perkara ini berada dalam bahaya yang sangat besar. (lihat Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, hal. 333)Istilah “sunnah” inilah yang sering kita dengar dalam penyebutan ahlus sunnah wal jama’ah. Sebab sunnah di sini maknanya adalah jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebelum munculnya berbagai bentuk bid’ah dan pendapat-pendapat yang menyimpang. Adapun istilah “jama’ah” di sini maksudnya adalah orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yaitu para sahabat dan tabi’in; para pendahulu yang salih dari umat ini (lihat Syarh al-Wasithiyah oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras, hal. 61 tahqiq Alawi Abdul Qadir as-Saqqaf)Baca Juga:Semoga yang singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id

Untuk Apa Kamu Hidup?

Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi

Untuk Apa Kamu Hidup?

Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi
Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi


Bismillah.Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman, وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463)Baca Juga: Agar Hidup Lebih BermaknaImam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal salih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya), وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Ibadah kepada Allah tujuan hidup kita. Banyak orang lupa atau pura-pura lupa. Inilah sebenarnya tujuan hidup mereka. Bukan sekedar mengumpulkan harta, mengejar kesenangan dunia tanpa peduli hukum agama, atau menjual agama demi menjilat recehan dunia. Hidup ini ujian dari Allah bagi kita; apakah kita mau patuh kepada-Nya atau justru membangkang. Allah berfirman (yang artinya), ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang lebih bagus amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)Ibadah kepada Allah adalah modal kebahagiaan hamba. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan. Kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tiada penghidupan sejati kecuali penghidupan akhirat.” (HR. Bukhari)Kebahagiaan berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya. Itu hanya akan dapat digapai dengan iman dan amal salih ikhlas karena-Nya. Allah berfirman, قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)Baca Juga: Apakah Manusia Bisa Hidup di Selain Planet Bumi?Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan, “Harapan itu disertai dengan mengerahkan kesungguhan dan bertawakal dengan sebaik-baiknya. Namun ia berubah menjadi angan-angan tatkala upayanya dilakukan dengan bermalas-malasan.” (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 59) Kehidupan seorang hamba di alam dunia ini adalah dengan ilmu dan keimanan. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa seperti curahan air hujan yang membasahi bumi. Adapun berjalan dengan kaki, memungut dengan tangan, dan mengeluarkan suara dengan lisan, maka hewan pun bisa melakukan. Karena itulah sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Kalau bukan karena para ulama -setelah taufik dari Allah tentu saja- niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang.”Hidup untuk beribadah kepada Allah artinya adalah tunduk patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Mujahid menafsirkan maksud ‘kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku’ yaitu ‘supaya Aku perintah dan Aku larang mereka’, dan inilah tafsiran yang dipilih oleh Syaikhul Islam (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 8)Allah berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah memasang perlindungan dari azab Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (lihat Ahkam minal Qur’an al-Karim, 1/113)Baca Juga: Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan HidupKaum muslimin yang dirahmati Allah, pada saat-saat pandemi masih berkecamuk seperti sekarang ini kita bisa melihat bersama ada orang-orang yang taat dengan protokol dan arahan para ahli dan pemerintah dalam mencegah penularan wabah. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang abai dan tidak peduli dengan aturan dan tidak peka dengan keadaan. Akibatnya, bisa kita lihat bagaimana wabah di negeri ini pun semakin membuncah. Ini baru soal aturan dunia yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia. Bagaimana lagi dengan aturan agama; yang itu menjaga keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Bukankah tidak sedikit orang yang abai dan tidak mematuhinya?Memang, ujian itu akan menampakkan kepada kita bagaimana sifat dan karakter manusia. Mereka yang beriman dan tunduk kepada Allah akan membuktikan imannya dan ketaatannya kepada hukum agama. Sebaliknya, mereka yang beribadah kepada Allah di pinggiran; apabila tertimpa musibah maka ia pun berbalik ke belakang meninggalkan keimanan, wal ‘iyadzu billah. Allah berfirman, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ“Dan diantara manusia ada orang-orang yang beribadah kepada Allah di tepian. Apabila menimpanya kebaikan dia pun merasa tenang dengannya. Akan tetapi apabila menimpanya fitnah/ujian maka dia pun berpaling ke belakang. Dia pun merugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang sangat nyata.” (QS. Al-Haj : 11)Para ulama tafsir, diantaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik maka dia pun beribadah tetapi apabila urusan dunianya rusak maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan ‘berpaling ke belakang’ maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah/cobaan-cobaan maka dia pun menyimpang dari agamanya, hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent-…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 10) Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hal. 11)Hasan Al-Bashri menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 859-860)Syaikh As-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 534)Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya menyebutkan firman Allah, مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun : 11). Alqomah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Ayat ini berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah datang dari sisi Allah, maka dia pun ridha dan pasrah.” Diantara faidah ayat itu ialah sabar menjadi sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu diantara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 278) Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara menghapuskan dosa-dosa. Selain itu dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 175).Allah berfirman (yang artinya),  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta.” (QS. Al-’Ankabut : 2-3)Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan… (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 279)Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriKetundukan seorang hamba kepada Allah dibuktikan dengan ketundukan dirinya terhadap perintah dan larangan Allah. Pengagungan seorang mukmin terhadap perintah dan larangan Allah merupakan tanda pengagungan dirinya kepada pemberi perintah dan larangan. Sebuah ketundukan yang harus dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Ketundukan yang dibangun di atas akidah yang lurus dan bersih dari kemunafikan akbar. Karena bisa jadi seorang melakukan perintah karena ingin dilihat orang. Atau karena mencari kedudukan di mata mereka. Atau dia menjauhi larangan karena takut kedudukannya jatuh dalam pandangan mereka. Maka orang yang semacam ini ketundukannya kepada perintah dan larangan bukan berasal dari pengagungan kepada Allah; Yang memberikan perintah dan larangan itu (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 15-16)Diantara cara paling efektif untuk menumbuhkan pengagungan kepada Allah adalah mempelajari dan mengamalkan konsekuensi dari nama dan sifat Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Kamilah Al-Kiwari bahwa ilmu tentang nama Allah dan sifat-sifat-Nya, pemahaman makna dan pengamalan terhadap tuntutan/konsekuensinya serta berdoa kepada Allah dengan nama-nama itu/asma’ul husna akan membuahkan pengagungan kepada Allah di dalam hati, munculnya penyucian dan kecintaan kepada-Nya, harap dan takut, tawakal dan inabah kepada-Nya. Dengan cara inilah seorang bisa merealisasikan tauhid di dalam sanubari dan terwujudlah ketenangan jiwa tunduk kepada keagungan Allah jalla wa ‘ala (lihat al-Mujalla, hal. 22-23)Baca Juga: Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Tasawuf, Arti Hijab, Sabar Sebagian Dari Iman, Tiga Aspek Iman, Ayat Alquran Tentang Emosi

Kapan Riya’ dan Sum’ah Menjadi Syirik Besar?

Beramal dengan ikhlas merupakan suatu hal yang selalu dituntut oleh Allah Ta’ala. Hal ini karena sebuah amal harus bersih dari riya’ atau sum’ah.Sum’ah merupakan perbuatan menonjolkan ibadah agar didengar oleh orang atau menyebutkan amal yang dikerjakan agar orang-orang memujinya. Seperti seseorang yang melakukan suatu amalan di malam hari, lalu di pagi atau siang harinya, dia ceritakan kepada teman-temannya.Jadi, perbedaan antara riya’ dengan sum’ah adalah bahwa riya’ itu berkaitan dengan ibadah yang ingin diliat orang. Adapun sum’ah berkaitan dengan ibadah yang ingin didengarkan orang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah). (HR. Bukhari)Dan dua penyakit tersebut dihukumi syirik kecil. Sebagaiamana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ” قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” الرِّيَاءُ،“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)Lalu, kapan dua syirik kecil ini dapat menjadi syirik besar?Yaitu dengan tiga hal,Pertama, jika dia tidak akan pernah melakukan ibadah, kecuali dengan praktek riya. atau sum’ah. Dia sembunyikan kufurnya, dan dia perlihatkan imannya. Ini yang dikatakan riya’ murni, tidak terbayangkan ada pada seseorang yang mempunyai iman melakukannya, karena riya atau sum’ah murni ini biasanya dipraktekan oleh para munafik.Kedua, mayoritas amalannya berjalan di atas riya atau sum’ah.Ketiga, keinginan pelaku dalam amalannya adalah dunia, tidak pernah mengharapkan wajah Allah atau balasan di akhirat.Semoga Allah membebaskan kita dari syirik besar dan kecil.***Penulis: Muhammad Halid Syarie, Lc.Artikel: Muslim.Or.IdReferensi:Al-Mufid fii Muhimmati Tauhid, karya Dr. Abdul Qadir bin Muhammad Ato Sufi.🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar

Kapan Riya’ dan Sum’ah Menjadi Syirik Besar?

Beramal dengan ikhlas merupakan suatu hal yang selalu dituntut oleh Allah Ta’ala. Hal ini karena sebuah amal harus bersih dari riya’ atau sum’ah.Sum’ah merupakan perbuatan menonjolkan ibadah agar didengar oleh orang atau menyebutkan amal yang dikerjakan agar orang-orang memujinya. Seperti seseorang yang melakukan suatu amalan di malam hari, lalu di pagi atau siang harinya, dia ceritakan kepada teman-temannya.Jadi, perbedaan antara riya’ dengan sum’ah adalah bahwa riya’ itu berkaitan dengan ibadah yang ingin diliat orang. Adapun sum’ah berkaitan dengan ibadah yang ingin didengarkan orang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah). (HR. Bukhari)Dan dua penyakit tersebut dihukumi syirik kecil. Sebagaiamana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ” قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” الرِّيَاءُ،“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)Lalu, kapan dua syirik kecil ini dapat menjadi syirik besar?Yaitu dengan tiga hal,Pertama, jika dia tidak akan pernah melakukan ibadah, kecuali dengan praktek riya. atau sum’ah. Dia sembunyikan kufurnya, dan dia perlihatkan imannya. Ini yang dikatakan riya’ murni, tidak terbayangkan ada pada seseorang yang mempunyai iman melakukannya, karena riya atau sum’ah murni ini biasanya dipraktekan oleh para munafik.Kedua, mayoritas amalannya berjalan di atas riya atau sum’ah.Ketiga, keinginan pelaku dalam amalannya adalah dunia, tidak pernah mengharapkan wajah Allah atau balasan di akhirat.Semoga Allah membebaskan kita dari syirik besar dan kecil.***Penulis: Muhammad Halid Syarie, Lc.Artikel: Muslim.Or.IdReferensi:Al-Mufid fii Muhimmati Tauhid, karya Dr. Abdul Qadir bin Muhammad Ato Sufi.🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar
Beramal dengan ikhlas merupakan suatu hal yang selalu dituntut oleh Allah Ta’ala. Hal ini karena sebuah amal harus bersih dari riya’ atau sum’ah.Sum’ah merupakan perbuatan menonjolkan ibadah agar didengar oleh orang atau menyebutkan amal yang dikerjakan agar orang-orang memujinya. Seperti seseorang yang melakukan suatu amalan di malam hari, lalu di pagi atau siang harinya, dia ceritakan kepada teman-temannya.Jadi, perbedaan antara riya’ dengan sum’ah adalah bahwa riya’ itu berkaitan dengan ibadah yang ingin diliat orang. Adapun sum’ah berkaitan dengan ibadah yang ingin didengarkan orang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah). (HR. Bukhari)Dan dua penyakit tersebut dihukumi syirik kecil. Sebagaiamana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ” قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” الرِّيَاءُ،“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)Lalu, kapan dua syirik kecil ini dapat menjadi syirik besar?Yaitu dengan tiga hal,Pertama, jika dia tidak akan pernah melakukan ibadah, kecuali dengan praktek riya. atau sum’ah. Dia sembunyikan kufurnya, dan dia perlihatkan imannya. Ini yang dikatakan riya’ murni, tidak terbayangkan ada pada seseorang yang mempunyai iman melakukannya, karena riya atau sum’ah murni ini biasanya dipraktekan oleh para munafik.Kedua, mayoritas amalannya berjalan di atas riya atau sum’ah.Ketiga, keinginan pelaku dalam amalannya adalah dunia, tidak pernah mengharapkan wajah Allah atau balasan di akhirat.Semoga Allah membebaskan kita dari syirik besar dan kecil.***Penulis: Muhammad Halid Syarie, Lc.Artikel: Muslim.Or.IdReferensi:Al-Mufid fii Muhimmati Tauhid, karya Dr. Abdul Qadir bin Muhammad Ato Sufi.🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar


Beramal dengan ikhlas merupakan suatu hal yang selalu dituntut oleh Allah Ta’ala. Hal ini karena sebuah amal harus bersih dari riya’ atau sum’ah.Sum’ah merupakan perbuatan menonjolkan ibadah agar didengar oleh orang atau menyebutkan amal yang dikerjakan agar orang-orang memujinya. Seperti seseorang yang melakukan suatu amalan di malam hari, lalu di pagi atau siang harinya, dia ceritakan kepada teman-temannya.Jadi, perbedaan antara riya’ dengan sum’ah adalah bahwa riya’ itu berkaitan dengan ibadah yang ingin diliat orang. Adapun sum’ah berkaitan dengan ibadah yang ingin didengarkan orang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah). (HR. Bukhari)Dan dua penyakit tersebut dihukumi syirik kecil. Sebagaiamana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ” قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” الرِّيَاءُ،“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)Lalu, kapan dua syirik kecil ini dapat menjadi syirik besar?Yaitu dengan tiga hal,Pertama, jika dia tidak akan pernah melakukan ibadah, kecuali dengan praktek riya. atau sum’ah. Dia sembunyikan kufurnya, dan dia perlihatkan imannya. Ini yang dikatakan riya’ murni, tidak terbayangkan ada pada seseorang yang mempunyai iman melakukannya, karena riya atau sum’ah murni ini biasanya dipraktekan oleh para munafik.Kedua, mayoritas amalannya berjalan di atas riya atau sum’ah.Ketiga, keinginan pelaku dalam amalannya adalah dunia, tidak pernah mengharapkan wajah Allah atau balasan di akhirat.Semoga Allah membebaskan kita dari syirik besar dan kecil.***Penulis: Muhammad Halid Syarie, Lc.Artikel: Muslim.Or.IdReferensi:Al-Mufid fii Muhimmati Tauhid, karya Dr. Abdul Qadir bin Muhammad Ato Sufi.🔍 Khuf Adalah, Nama Lain Hari Kiamat Dan Artinya, Yajuj Dan Majuj Dalam Alquran, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syarat Shalat Jamak Dan Qasar

Membantah Orang Tua Itu Durhaka

Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Membantah Orang Tua Itu Durhaka

Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Yazid bin Abu Habib mengatakan,  إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ “Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi) Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka. Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua.  Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita.  Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa.  Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama. Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka. Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka.  Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Mengungkit Kebaikan Yang Diperbolehkan

Syaikh al-Babili, seorang ulama fikih bermazhab Syafi’i yang wafat tahun 1077 H mengatakan,  اَلْمَنُّ مِنَ الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ لَيْسَ ذَمًّا “Menyebut nyebut kebaikan di masa silam yang dilakukan oleh ortu atau guru ngaji bukanlah tindakan yang tercela.” (Fath Maula al-Mawahib ‘ala Hidayah ar-Raghib 1/12, Muassasah ar-Risalah) Menyebut nyebut atau mengingatkan jasa dan kebaikan yang pernah diberikan dan dilakukan adalah hal yang terpuji jika dilakukan oleh Allah dan ditujukan kepada para hamba-Nya. Tujuan dari hal ini agar manusia bersemangat untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya.  Hukum asalnya mengungkit ungkit kebaikan itu tercela jika dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia. Lebih tercela lagi jika manusia merasa berjasa kepada Allah dengan ibadah dan dakwah yang dilakukan. Tidak semua tindakan seorang mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain itu tercela.  Dalilnya Nabi pernah mengingatkan jasa dan kebaikan beliau kepada para shahabat Ansor ketika mereka merasa kecewa karena tidak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang Hunain. Demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.  Mengingatkan kebaikan  dan jasa dalam rangka agar orang yang diingatkan menjadi orang yang tahu berterima kasih itu diperbolehkan untuk dua jenis manusia PERTAMA: Orang tua kepada anak. Orang tua boleh mengingatkan jasa-jasa ortu kepada anak agar anak berbakti atau makin berbakti kepada orang tua.  KEDUA: Guru ngaji kepada muridnya. Guru ngaji diperbolehkan menyebut dan mengingatkan jasa dan kebaikannya kepada murid-muridnya untuk menanamkan nilai-nilai positif di jiwa murid-muridnya.  Semoga Allah anugerahkan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak biologis dan anak-anak ideologis (baca: murid) yang berbakti. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Mengungkit Kebaikan Yang Diperbolehkan

Syaikh al-Babili, seorang ulama fikih bermazhab Syafi’i yang wafat tahun 1077 H mengatakan,  اَلْمَنُّ مِنَ الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ لَيْسَ ذَمًّا “Menyebut nyebut kebaikan di masa silam yang dilakukan oleh ortu atau guru ngaji bukanlah tindakan yang tercela.” (Fath Maula al-Mawahib ‘ala Hidayah ar-Raghib 1/12, Muassasah ar-Risalah) Menyebut nyebut atau mengingatkan jasa dan kebaikan yang pernah diberikan dan dilakukan adalah hal yang terpuji jika dilakukan oleh Allah dan ditujukan kepada para hamba-Nya. Tujuan dari hal ini agar manusia bersemangat untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya.  Hukum asalnya mengungkit ungkit kebaikan itu tercela jika dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia. Lebih tercela lagi jika manusia merasa berjasa kepada Allah dengan ibadah dan dakwah yang dilakukan. Tidak semua tindakan seorang mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain itu tercela.  Dalilnya Nabi pernah mengingatkan jasa dan kebaikan beliau kepada para shahabat Ansor ketika mereka merasa kecewa karena tidak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang Hunain. Demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.  Mengingatkan kebaikan  dan jasa dalam rangka agar orang yang diingatkan menjadi orang yang tahu berterima kasih itu diperbolehkan untuk dua jenis manusia PERTAMA: Orang tua kepada anak. Orang tua boleh mengingatkan jasa-jasa ortu kepada anak agar anak berbakti atau makin berbakti kepada orang tua.  KEDUA: Guru ngaji kepada muridnya. Guru ngaji diperbolehkan menyebut dan mengingatkan jasa dan kebaikannya kepada murid-muridnya untuk menanamkan nilai-nilai positif di jiwa murid-muridnya.  Semoga Allah anugerahkan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak biologis dan anak-anak ideologis (baca: murid) yang berbakti. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Syaikh al-Babili, seorang ulama fikih bermazhab Syafi’i yang wafat tahun 1077 H mengatakan,  اَلْمَنُّ مِنَ الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ لَيْسَ ذَمًّا “Menyebut nyebut kebaikan di masa silam yang dilakukan oleh ortu atau guru ngaji bukanlah tindakan yang tercela.” (Fath Maula al-Mawahib ‘ala Hidayah ar-Raghib 1/12, Muassasah ar-Risalah) Menyebut nyebut atau mengingatkan jasa dan kebaikan yang pernah diberikan dan dilakukan adalah hal yang terpuji jika dilakukan oleh Allah dan ditujukan kepada para hamba-Nya. Tujuan dari hal ini agar manusia bersemangat untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya.  Hukum asalnya mengungkit ungkit kebaikan itu tercela jika dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia. Lebih tercela lagi jika manusia merasa berjasa kepada Allah dengan ibadah dan dakwah yang dilakukan. Tidak semua tindakan seorang mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain itu tercela.  Dalilnya Nabi pernah mengingatkan jasa dan kebaikan beliau kepada para shahabat Ansor ketika mereka merasa kecewa karena tidak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang Hunain. Demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.  Mengingatkan kebaikan  dan jasa dalam rangka agar orang yang diingatkan menjadi orang yang tahu berterima kasih itu diperbolehkan untuk dua jenis manusia PERTAMA: Orang tua kepada anak. Orang tua boleh mengingatkan jasa-jasa ortu kepada anak agar anak berbakti atau makin berbakti kepada orang tua.  KEDUA: Guru ngaji kepada muridnya. Guru ngaji diperbolehkan menyebut dan mengingatkan jasa dan kebaikannya kepada murid-muridnya untuk menanamkan nilai-nilai positif di jiwa murid-muridnya.  Semoga Allah anugerahkan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak biologis dan anak-anak ideologis (baca: murid) yang berbakti. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Syaikh al-Babili, seorang ulama fikih bermazhab Syafi’i yang wafat tahun 1077 H mengatakan,  اَلْمَنُّ مِنَ الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ لَيْسَ ذَمًّا “Menyebut nyebut kebaikan di masa silam yang dilakukan oleh ortu atau guru ngaji bukanlah tindakan yang tercela.” (Fath Maula al-Mawahib ‘ala Hidayah ar-Raghib 1/12, Muassasah ar-Risalah) Menyebut nyebut atau mengingatkan jasa dan kebaikan yang pernah diberikan dan dilakukan adalah hal yang terpuji jika dilakukan oleh Allah dan ditujukan kepada para hamba-Nya. Tujuan dari hal ini agar manusia bersemangat untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya.  Hukum asalnya mengungkit ungkit kebaikan itu tercela jika dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia. Lebih tercela lagi jika manusia merasa berjasa kepada Allah dengan ibadah dan dakwah yang dilakukan. Tidak semua tindakan seorang mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain itu tercela.  Dalilnya Nabi pernah mengingatkan jasa dan kebaikan beliau kepada para shahabat Ansor ketika mereka merasa kecewa karena tidak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang Hunain. Demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.  Mengingatkan kebaikan  dan jasa dalam rangka agar orang yang diingatkan menjadi orang yang tahu berterima kasih itu diperbolehkan untuk dua jenis manusia PERTAMA: Orang tua kepada anak. Orang tua boleh mengingatkan jasa-jasa ortu kepada anak agar anak berbakti atau makin berbakti kepada orang tua.  KEDUA: Guru ngaji kepada muridnya. Guru ngaji diperbolehkan menyebut dan mengingatkan jasa dan kebaikannya kepada murid-muridnya untuk menanamkan nilai-nilai positif di jiwa murid-muridnya.  Semoga Allah anugerahkan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak biologis dan anak-anak ideologis (baca: murid) yang berbakti. Aamiin. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya

Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya

Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id
Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id


Bismillah. Wa bihi nasta’iinuAdalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Cakupan ImanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman, إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman,وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ“Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalIman dan IslamSebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman,إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ .Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar Hijrah kepada Allah dan Rasul-NyaIman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat, فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ“Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QS. adz-Dzariyat : 50) Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang Baca Juga: Hukum Mengucapkan Kata ‘Seandainya’Urgensi Belajar AgamaKaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). Baca Juga:Wallahul muwaffiq. Penulis: Abu Muslih Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id
Prev     Next