Pendaftaran Kampus Tahfizh Program Ramadhan 1442H

 “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan Mengajarkannya” (HR Bukhari)Alhamdulillah Kampus Tahfizh Yogyakarta kembali membuka program Ramadhan 1442 H dengan sistem daring/online bagi anda yang ingin mempelajari tentang tatacara membaca Al Qur’an yang baik dan benar.MASA PENDAFTARAN 9-15 Sya’ban 1442 H/ 22-28 Maret 2021 MPilihan Kelas :1️⃣ Kelas Pra TahsinMerupakan kelas awal yang bertujuan agar santri dapat membaca Al Quran dengan lancar dan baik.▪Teori: Huruf hijaiyyah, harakat, tanwin, membedakan 2 huruf yang sering tertukar, sukun, tasydid, hukum bacaan alif lam, dan lain-lain….▪Syarat: Mengetahui huruf-huruf hijaiyah Belum lancar membaca Al-Quran atau terbata-bata dalam membacanya ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Iqra’2️⃣ Kelas Tahsin Dasar 1Merupakan lanjutan dari kelas pra tahsin dan fokus utama dalam kelas ini adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat fatal saat membaca Al Quran.▪Teori : Hukum bacaan AL, mengenal cara baca lafadzh Jalalah Allah, makharijul huruf, sekilas tentang sifatul huruf, hukum nun sukun dan tanwin, berbagai hukum mad, dll….▪Syarat: Lancar membaca Al Quran Mengirimkan rekaman surat al-Fatihah disambung dengan Qaf ayat 1-15. Lolos seleksi. ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid3️⃣ Kelas Tahsin Dasar 2 (Khusus Putri)Merupakan lanjutan dari kelas tahsin dasar 1 dan fokus utama adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat ringan.▪Teori : pemantapan makharijul huruf dan sifatul huruf, pendalaman hukum-hukum tajwid, waqaf dan ibtida’, nabr, ayat-ayat gharibah, dll….▪Syarat: Pernah belajar di kampus Tahfizh kelas dasar, atau pernah belajar dasar-dasar makharijul dan sifatul huruf dengan ustadz tertentu. Mengirimkan rekaman surat al-fatihah disambung dengan Ar Ra’du ayat 6-13. Lolosseleksi. ▪Kitab  : Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid📌 Syarat batas usia agar bisa mengikuti program adalah diatas 15 tahun🎙️ Pengajar: Staff pengajar Kampus Tahfizh Yogyakarta.💼 Fasilitas: Sertifikat(PDF) bagi yang menyelesaikan program. Hadiah bagi santri berprestasi 🗓️ Masa Belajar:Tanggal : 1-20 Ramadhan 1442 H/ 13 April – 5 Mei 2021 MWaktu Belajar : Setiap hari selama 20 hari pertama bulan Ramadhan | Pilihan jam belajar terdapat di dalam form pendaftaran.💻 Media Pembelajaran: Aplikasi video-conference : Zoom.♻️ Mekanisme Pendaftaran: Mengisiformulir pendaftaran melalui: – Pendaftaran Putra – Pendaftaran Putri Mengirimkan pesan konfirmasi via WhatsApp dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat ke nomor berikut: wa.me/6282138711658 (Putra) wa.me/6282383233828 (Putri) Bagi pendaftar Kelas Tahsin Dasar 1 dan Tahsin Dasar 2 wajib mengirimkan rekaman suara bacaan ke e-mail Kampus Tahfizh dengan format nama file & subjek email: Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat. Bagi pendaftar Kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman dan mengikuti tes. Pembayaran Waktu pembayaran untuk kelas Pra Tahsin dapat dilakukan setelah dinyatakan diterima, yaitu mulai tanggal 22 April – 10 Mei 2021.Bagi santri yang tidak membayar pada waktu tersebut tanpa adanya uzur maqbul, maka pengurus berhak untuk menggugurkannya dari program.💳 Berikut teknis pembayaran yang dapat dilakukan peserta:▪ TransferTransfer ke rekening BNI Syariah no rek. 7755331115 a.n. Yayasan Pendidikan Islam (kode bank 427)Setelah transfer harap konfirmasi ke link berikut >>> Konfirmasi Pembayaran Catatan : Tidak menerima pembayaran langsung.💵 Biaya per program :1.Pra Tahsin dan Tahsin Dasar 1= Rp. 150.0002.Tahsin Dasar 2 = Rp. 165.000*(Kampus Tahfizh tidak menyediakan layanan pemesanan kitab, diimbau bagi para calon santri dapat membelinya secara online atau di toko buku dekat tempat tinggal masing-masing)CATATAN: Audio kelas Tahsin Dasar 1 & 2 dapat dikirimkan ke e-mail kampus tahfizh dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat selambat-lambatnya pada hari Ahad, 28 Maret 2021 pukul 23.59 WIB. Untuk kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman. Mengingat kuota terbatas, bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau paling akhir dalam mengumpulkan syarat dan tidak melakukan pembayaran pada waktu yang telah kami tentukan tanpa udzur, maka dinyatakan gugur dalam pendaftaran. =======📡 Broadcasted by:| Kampus Tahfizh Yogyakarta| YPIA Academy📲* Hubungi WhatsApp (WA)* :| Ikhwan: wa.me/6282138711658| Akhowat: wa.me/6282383233828| Facebook : Kampus Tahfizh| Instagram : @kampus.tahfizh| Telegram : t.me/ypia_academy📬 Email :| Ikhwan: kampustahfizh.ikhwan@gmail.com| Akhowat: kampustahfizh.akhwat@gmail.com🔍 Hadits Tentang Meninggalkan Shalat, Ayat Tentang Kekuasaan Allah, Hadis Puasa Arafah, Tema Kajian Islam Yang Menarik, Sholat Asar

Pendaftaran Kampus Tahfizh Program Ramadhan 1442H

 “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan Mengajarkannya” (HR Bukhari)Alhamdulillah Kampus Tahfizh Yogyakarta kembali membuka program Ramadhan 1442 H dengan sistem daring/online bagi anda yang ingin mempelajari tentang tatacara membaca Al Qur’an yang baik dan benar.MASA PENDAFTARAN 9-15 Sya’ban 1442 H/ 22-28 Maret 2021 MPilihan Kelas :1️⃣ Kelas Pra TahsinMerupakan kelas awal yang bertujuan agar santri dapat membaca Al Quran dengan lancar dan baik.▪Teori: Huruf hijaiyyah, harakat, tanwin, membedakan 2 huruf yang sering tertukar, sukun, tasydid, hukum bacaan alif lam, dan lain-lain….▪Syarat: Mengetahui huruf-huruf hijaiyah Belum lancar membaca Al-Quran atau terbata-bata dalam membacanya ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Iqra’2️⃣ Kelas Tahsin Dasar 1Merupakan lanjutan dari kelas pra tahsin dan fokus utama dalam kelas ini adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat fatal saat membaca Al Quran.▪Teori : Hukum bacaan AL, mengenal cara baca lafadzh Jalalah Allah, makharijul huruf, sekilas tentang sifatul huruf, hukum nun sukun dan tanwin, berbagai hukum mad, dll….▪Syarat: Lancar membaca Al Quran Mengirimkan rekaman surat al-Fatihah disambung dengan Qaf ayat 1-15. Lolos seleksi. ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid3️⃣ Kelas Tahsin Dasar 2 (Khusus Putri)Merupakan lanjutan dari kelas tahsin dasar 1 dan fokus utama adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat ringan.▪Teori : pemantapan makharijul huruf dan sifatul huruf, pendalaman hukum-hukum tajwid, waqaf dan ibtida’, nabr, ayat-ayat gharibah, dll….▪Syarat: Pernah belajar di kampus Tahfizh kelas dasar, atau pernah belajar dasar-dasar makharijul dan sifatul huruf dengan ustadz tertentu. Mengirimkan rekaman surat al-fatihah disambung dengan Ar Ra’du ayat 6-13. Lolosseleksi. ▪Kitab  : Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid📌 Syarat batas usia agar bisa mengikuti program adalah diatas 15 tahun🎙️ Pengajar: Staff pengajar Kampus Tahfizh Yogyakarta.💼 Fasilitas: Sertifikat(PDF) bagi yang menyelesaikan program. Hadiah bagi santri berprestasi 🗓️ Masa Belajar:Tanggal : 1-20 Ramadhan 1442 H/ 13 April – 5 Mei 2021 MWaktu Belajar : Setiap hari selama 20 hari pertama bulan Ramadhan | Pilihan jam belajar terdapat di dalam form pendaftaran.💻 Media Pembelajaran: Aplikasi video-conference : Zoom.♻️ Mekanisme Pendaftaran: Mengisiformulir pendaftaran melalui: – Pendaftaran Putra – Pendaftaran Putri Mengirimkan pesan konfirmasi via WhatsApp dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat ke nomor berikut: wa.me/6282138711658 (Putra) wa.me/6282383233828 (Putri) Bagi pendaftar Kelas Tahsin Dasar 1 dan Tahsin Dasar 2 wajib mengirimkan rekaman suara bacaan ke e-mail Kampus Tahfizh dengan format nama file & subjek email: Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat. Bagi pendaftar Kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman dan mengikuti tes. Pembayaran Waktu pembayaran untuk kelas Pra Tahsin dapat dilakukan setelah dinyatakan diterima, yaitu mulai tanggal 22 April – 10 Mei 2021.Bagi santri yang tidak membayar pada waktu tersebut tanpa adanya uzur maqbul, maka pengurus berhak untuk menggugurkannya dari program.💳 Berikut teknis pembayaran yang dapat dilakukan peserta:▪ TransferTransfer ke rekening BNI Syariah no rek. 7755331115 a.n. Yayasan Pendidikan Islam (kode bank 427)Setelah transfer harap konfirmasi ke link berikut >>> Konfirmasi Pembayaran Catatan : Tidak menerima pembayaran langsung.💵 Biaya per program :1.Pra Tahsin dan Tahsin Dasar 1= Rp. 150.0002.Tahsin Dasar 2 = Rp. 165.000*(Kampus Tahfizh tidak menyediakan layanan pemesanan kitab, diimbau bagi para calon santri dapat membelinya secara online atau di toko buku dekat tempat tinggal masing-masing)CATATAN: Audio kelas Tahsin Dasar 1 & 2 dapat dikirimkan ke e-mail kampus tahfizh dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat selambat-lambatnya pada hari Ahad, 28 Maret 2021 pukul 23.59 WIB. Untuk kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman. Mengingat kuota terbatas, bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau paling akhir dalam mengumpulkan syarat dan tidak melakukan pembayaran pada waktu yang telah kami tentukan tanpa udzur, maka dinyatakan gugur dalam pendaftaran. =======📡 Broadcasted by:| Kampus Tahfizh Yogyakarta| YPIA Academy📲* Hubungi WhatsApp (WA)* :| Ikhwan: wa.me/6282138711658| Akhowat: wa.me/6282383233828| Facebook : Kampus Tahfizh| Instagram : @kampus.tahfizh| Telegram : t.me/ypia_academy📬 Email :| Ikhwan: kampustahfizh.ikhwan@gmail.com| Akhowat: kampustahfizh.akhwat@gmail.com🔍 Hadits Tentang Meninggalkan Shalat, Ayat Tentang Kekuasaan Allah, Hadis Puasa Arafah, Tema Kajian Islam Yang Menarik, Sholat Asar
 “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan Mengajarkannya” (HR Bukhari)Alhamdulillah Kampus Tahfizh Yogyakarta kembali membuka program Ramadhan 1442 H dengan sistem daring/online bagi anda yang ingin mempelajari tentang tatacara membaca Al Qur’an yang baik dan benar.MASA PENDAFTARAN 9-15 Sya’ban 1442 H/ 22-28 Maret 2021 MPilihan Kelas :1️⃣ Kelas Pra TahsinMerupakan kelas awal yang bertujuan agar santri dapat membaca Al Quran dengan lancar dan baik.▪Teori: Huruf hijaiyyah, harakat, tanwin, membedakan 2 huruf yang sering tertukar, sukun, tasydid, hukum bacaan alif lam, dan lain-lain….▪Syarat: Mengetahui huruf-huruf hijaiyah Belum lancar membaca Al-Quran atau terbata-bata dalam membacanya ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Iqra’2️⃣ Kelas Tahsin Dasar 1Merupakan lanjutan dari kelas pra tahsin dan fokus utama dalam kelas ini adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat fatal saat membaca Al Quran.▪Teori : Hukum bacaan AL, mengenal cara baca lafadzh Jalalah Allah, makharijul huruf, sekilas tentang sifatul huruf, hukum nun sukun dan tanwin, berbagai hukum mad, dll….▪Syarat: Lancar membaca Al Quran Mengirimkan rekaman surat al-Fatihah disambung dengan Qaf ayat 1-15. Lolos seleksi. ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid3️⃣ Kelas Tahsin Dasar 2 (Khusus Putri)Merupakan lanjutan dari kelas tahsin dasar 1 dan fokus utama adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat ringan.▪Teori : pemantapan makharijul huruf dan sifatul huruf, pendalaman hukum-hukum tajwid, waqaf dan ibtida’, nabr, ayat-ayat gharibah, dll….▪Syarat: Pernah belajar di kampus Tahfizh kelas dasar, atau pernah belajar dasar-dasar makharijul dan sifatul huruf dengan ustadz tertentu. Mengirimkan rekaman surat al-fatihah disambung dengan Ar Ra’du ayat 6-13. Lolosseleksi. ▪Kitab  : Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid📌 Syarat batas usia agar bisa mengikuti program adalah diatas 15 tahun🎙️ Pengajar: Staff pengajar Kampus Tahfizh Yogyakarta.💼 Fasilitas: Sertifikat(PDF) bagi yang menyelesaikan program. Hadiah bagi santri berprestasi 🗓️ Masa Belajar:Tanggal : 1-20 Ramadhan 1442 H/ 13 April – 5 Mei 2021 MWaktu Belajar : Setiap hari selama 20 hari pertama bulan Ramadhan | Pilihan jam belajar terdapat di dalam form pendaftaran.💻 Media Pembelajaran: Aplikasi video-conference : Zoom.♻️ Mekanisme Pendaftaran: Mengisiformulir pendaftaran melalui: – Pendaftaran Putra – Pendaftaran Putri Mengirimkan pesan konfirmasi via WhatsApp dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat ke nomor berikut: wa.me/6282138711658 (Putra) wa.me/6282383233828 (Putri) Bagi pendaftar Kelas Tahsin Dasar 1 dan Tahsin Dasar 2 wajib mengirimkan rekaman suara bacaan ke e-mail Kampus Tahfizh dengan format nama file & subjek email: Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat. Bagi pendaftar Kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman dan mengikuti tes. Pembayaran Waktu pembayaran untuk kelas Pra Tahsin dapat dilakukan setelah dinyatakan diterima, yaitu mulai tanggal 22 April – 10 Mei 2021.Bagi santri yang tidak membayar pada waktu tersebut tanpa adanya uzur maqbul, maka pengurus berhak untuk menggugurkannya dari program.💳 Berikut teknis pembayaran yang dapat dilakukan peserta:▪ TransferTransfer ke rekening BNI Syariah no rek. 7755331115 a.n. Yayasan Pendidikan Islam (kode bank 427)Setelah transfer harap konfirmasi ke link berikut >>> Konfirmasi Pembayaran Catatan : Tidak menerima pembayaran langsung.💵 Biaya per program :1.Pra Tahsin dan Tahsin Dasar 1= Rp. 150.0002.Tahsin Dasar 2 = Rp. 165.000*(Kampus Tahfizh tidak menyediakan layanan pemesanan kitab, diimbau bagi para calon santri dapat membelinya secara online atau di toko buku dekat tempat tinggal masing-masing)CATATAN: Audio kelas Tahsin Dasar 1 & 2 dapat dikirimkan ke e-mail kampus tahfizh dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat selambat-lambatnya pada hari Ahad, 28 Maret 2021 pukul 23.59 WIB. Untuk kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman. Mengingat kuota terbatas, bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau paling akhir dalam mengumpulkan syarat dan tidak melakukan pembayaran pada waktu yang telah kami tentukan tanpa udzur, maka dinyatakan gugur dalam pendaftaran. =======📡 Broadcasted by:| Kampus Tahfizh Yogyakarta| YPIA Academy📲* Hubungi WhatsApp (WA)* :| Ikhwan: wa.me/6282138711658| Akhowat: wa.me/6282383233828| Facebook : Kampus Tahfizh| Instagram : @kampus.tahfizh| Telegram : t.me/ypia_academy📬 Email :| Ikhwan: kampustahfizh.ikhwan@gmail.com| Akhowat: kampustahfizh.akhwat@gmail.com🔍 Hadits Tentang Meninggalkan Shalat, Ayat Tentang Kekuasaan Allah, Hadis Puasa Arafah, Tema Kajian Islam Yang Menarik, Sholat Asar


<img class="alignnone size-full wp-image-2945" src="https://ypia.or.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-23-at-11.25.00-AM.jpeg" alt="" width="1280" height="1280" /> “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan Mengajarkannya” (HR Bukhari)Alhamdulillah Kampus Tahfizh Yogyakarta kembali membuka program Ramadhan 1442 H dengan sistem daring/online bagi anda yang ingin mempelajari tentang tatacara membaca Al Qur’an yang baik dan benar.MASA PENDAFTARAN 9-15 Sya’ban 1442 H/ 22-28 Maret 2021 MPilihan Kelas :1️⃣ Kelas Pra TahsinMerupakan kelas awal yang bertujuan agar santri dapat membaca Al Quran dengan lancar dan baik.▪Teori: Huruf hijaiyyah, harakat, tanwin, membedakan 2 huruf yang sering tertukar, sukun, tasydid, hukum bacaan alif lam, dan lain-lain….▪Syarat: Mengetahui huruf-huruf hijaiyah Belum lancar membaca Al-Quran atau terbata-bata dalam membacanya ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Iqra’2️⃣ Kelas Tahsin Dasar 1Merupakan lanjutan dari kelas pra tahsin dan fokus utama dalam kelas ini adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat fatal saat membaca Al Quran.▪Teori : Hukum bacaan AL, mengenal cara baca lafadzh Jalalah Allah, makharijul huruf, sekilas tentang sifatul huruf, hukum nun sukun dan tanwin, berbagai hukum mad, dll….▪Syarat: Lancar membaca Al Quran Mengirimkan rekaman surat al-Fatihah disambung dengan Qaf ayat 1-15. Lolos seleksi. ▪Kitab: Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid3️⃣ Kelas Tahsin Dasar 2 (Khusus Putri)Merupakan lanjutan dari kelas tahsin dasar 1 dan fokus utama adalah memperbaiki kesalahan yang bersifat ringan.▪Teori : pemantapan makharijul huruf dan sifatul huruf, pendalaman hukum-hukum tajwid, waqaf dan ibtida’, nabr, ayat-ayat gharibah, dll….▪Syarat: Pernah belajar di kampus Tahfizh kelas dasar, atau pernah belajar dasar-dasar makharijul dan sifatul huruf dengan ustadz tertentu. Mengirimkan rekaman surat al-fatihah disambung dengan Ar Ra’du ayat 6-13. Lolosseleksi. ▪Kitab  : Buku metode Asy-Syafi’i kelas Tajwid📌 Syarat batas usia agar bisa mengikuti program adalah diatas 15 tahun🎙️ Pengajar: Staff pengajar Kampus Tahfizh Yogyakarta.💼 Fasilitas: Sertifikat(PDF) bagi yang menyelesaikan program. Hadiah bagi santri berprestasi 🗓️ Masa Belajar:Tanggal : 1-20 Ramadhan 1442 H/ 13 April – 5 Mei 2021 MWaktu Belajar : Setiap hari selama 20 hari pertama bulan Ramadhan | Pilihan jam belajar terdapat di dalam form pendaftaran.💻 Media Pembelajaran: Aplikasi video-conference : Zoom.♻️ Mekanisme Pendaftaran: Mengisiformulir pendaftaran melalui: – Pendaftaran Putra – Pendaftaran Putri Mengirimkan pesan konfirmasi via WhatsApp dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat ke nomor berikut: wa.me/6282138711658 (Putra) wa.me/6282383233828 (Putri) Bagi pendaftar Kelas Tahsin Dasar 1 dan Tahsin Dasar 2 wajib mengirimkan rekaman suara bacaan ke e-mail Kampus Tahfizh dengan format nama file & subjek email: Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat. Bagi pendaftar Kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman dan mengikuti tes. Pembayaran Waktu pembayaran untuk kelas Pra Tahsin dapat dilakukan setelah dinyatakan diterima, yaitu mulai tanggal 22 April – 10 Mei 2021.Bagi santri yang tidak membayar pada waktu tersebut tanpa adanya uzur maqbul, maka pengurus berhak untuk menggugurkannya dari program.💳 Berikut teknis pembayaran yang dapat dilakukan peserta:▪ TransferTransfer ke rekening BNI Syariah no rek. 7755331115 a.n. Yayasan Pendidikan Islam (kode bank 427)Setelah transfer harap konfirmasi ke link berikut >>> Konfirmasi Pembayaran Catatan : Tidak menerima pembayaran langsung.💵 Biaya per program :1.Pra Tahsin dan Tahsin Dasar 1= Rp. 150.0002.Tahsin Dasar 2 = Rp. 165.000*(Kampus Tahfizh tidak menyediakan layanan pemesanan kitab, diimbau bagi para calon santri dapat membelinya secara online atau di toko buku dekat tempat tinggal masing-masing)CATATAN: Audio kelas Tahsin Dasar 1 & 2 dapat dikirimkan ke e-mail kampus tahfizh dengan format Nama_Pilihan Kelas_Pekerjaan_Alamat selambat-lambatnya pada hari Ahad, 28 Maret 2021 pukul 23.59 WIB. Untuk kelas Pra Tahsin tidak perlu mengirimkan rekaman. Mengingat kuota terbatas, bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau paling akhir dalam mengumpulkan syarat dan tidak melakukan pembayaran pada waktu yang telah kami tentukan tanpa udzur, maka dinyatakan gugur dalam pendaftaran. =======📡 Broadcasted by:| Kampus Tahfizh Yogyakarta| YPIA Academy📲* Hubungi WhatsApp (WA)* :| Ikhwan: wa.me/6282138711658| Akhowat: wa.me/6282383233828| Facebook : Kampus Tahfizh| Instagram : @kampus.tahfizh| Telegram : t.me/ypia_academy📬 Email :| Ikhwan: kampustahfizh.ikhwan@gmail.com| Akhowat: kampustahfizh.akhwat@gmail.com🔍 Hadits Tentang Meninggalkan Shalat, Ayat Tentang Kekuasaan Allah, Hadis Puasa Arafah, Tema Kajian Islam Yang Menarik, Sholat Asar

Larangan Sangat Keras Pergi ke Dukun

Perdukunan menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat kaum muslimin. Oleh karena itu, Islam mengecam berbagai macam praktik perdukunan dan melarang keras untuk mendatangi dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari” (HR. Muslim).Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Quran yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad, hasan).Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara yang gaib. Termasuk kategori dukun adalah paranormal, tukang ramal, ahli nujum, dan yang semisal mereka. Siapa saja yang menceritakan tentang perkara di masa datang yang belum terjadi atau mengaku mengetahui perkara gaib, maka statusnya adalah dukun.Baca Juga: Beberapa Tanda Tukang Sihir dan DukunDi antara faidah penting dari dua hadits di atasPertama. Menunjukkan batilnya praktik perdukunan dan siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara gaib. Semua yang mengaku mengetahui perkara gaib, itu merupakan kebatilan karena tidak ada yang mengetahui perkara gaib tersebut kecuali hanya Allah saja. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“ Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali hanya Allah.” (QS. An-Naml: 65)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi-Nya,وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ“Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-A’raf: 88)Para rasul tidaklah mengetahui perkara gaib kecuali hanya sedikit dari yang telah Allah ajarkan kepada mereka,عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)Allah telah memberi sedikit ilmu tentang perkara gaib kepada para rasul-Nya sebagai hujjah dan sekaligus menunjukkan mukjizat yang ada pada diri mereka bagi para umatnya.Kedua. Hadits di atas menunjukkan wajibnya mendustakan para dukun, tukang ramal, dan sejenisnya. Tidak boleh ada pada diri hamba sedikit pun keraguan untuk mendustakan ucapan mereka. Barangsiapa yang membenarkannya, atau ragu tentang kedustaannya, atau tidak membenarkan dan juga tidak mendustakan, maka dia telah kufur dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Oleh karena itu, wajib untuk meyakini dengan pasti tentang kedustaaan yang ada pada para dukun.Ketiga. Hadits di atas menjelaskan haramnya mendatangi dukun meskipun tidak membenarkan ucapannya. Jika ada orang yang melakukannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari. Ini menunjukkan sangat kerasnya hukuman bagi orang yang mendatangi dukun. Shalat mereka tidak akan diterima di sisi Allah Ta’ala, maksudnya tidak akan mendapat pahala sama sekali.Keempat. Jika membenarkan berita dari dukun maka hukumannya lebih keras lagi, yaitu dianggap kufur terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud adalah kufur terhadap Al Qur’an dan al-hadits. Hal ini karena tidak akan pernah bersatu pembenaran terhadap apa yang Allah turunkan kepada Muhammad dengan apa yang disampaikan oleh dukun yang merupakan perbuatan setan. Keduanya saling bertentangan dan tidak akan mungkin bersatu.  Tidak akan mungkin membenarkan Al Quran dan sekaligus juga membenarkan perdukunan. Maka dhahir-nya, perbuatan membenarkan ucapan dukun akan menyebabkan pelakunya kufur akbar dan keluar dari Islam.Kelima. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya memberi hukuman kepada para dukun dan orang yang mendatanginya oleh para penguasa. Hal ini penting untuk menjaga kaum muslimin dari kejelekan mereka dan menjaga masyarakat dari berbagai kerusakan yang ditimbulkannya. Kerusakan di masyarakat yang diakibatkan karena perdukunan sangat parah karena merusak akidah tauhid. Selain itu juga akan menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat, karena dukun akan memunculkan teror dengan berbagi berita dusta kepada masyarakat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً“ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa ketakutan. “ (QS. Al-Jin: 6)Mari bersama kita menjaga diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dari bahaya perdukunan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al Fauzan hafidzahullah🔍 Biografi Imam Muslim, Pertanyaan Tentang Ijma, Macam Macam Ilmu Fiqih, Keutamaan Shalat Subuh Sendiri, Orang Menggambar

Larangan Sangat Keras Pergi ke Dukun

Perdukunan menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat kaum muslimin. Oleh karena itu, Islam mengecam berbagai macam praktik perdukunan dan melarang keras untuk mendatangi dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari” (HR. Muslim).Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Quran yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad, hasan).Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara yang gaib. Termasuk kategori dukun adalah paranormal, tukang ramal, ahli nujum, dan yang semisal mereka. Siapa saja yang menceritakan tentang perkara di masa datang yang belum terjadi atau mengaku mengetahui perkara gaib, maka statusnya adalah dukun.Baca Juga: Beberapa Tanda Tukang Sihir dan DukunDi antara faidah penting dari dua hadits di atasPertama. Menunjukkan batilnya praktik perdukunan dan siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara gaib. Semua yang mengaku mengetahui perkara gaib, itu merupakan kebatilan karena tidak ada yang mengetahui perkara gaib tersebut kecuali hanya Allah saja. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“ Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali hanya Allah.” (QS. An-Naml: 65)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi-Nya,وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ“Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-A’raf: 88)Para rasul tidaklah mengetahui perkara gaib kecuali hanya sedikit dari yang telah Allah ajarkan kepada mereka,عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)Allah telah memberi sedikit ilmu tentang perkara gaib kepada para rasul-Nya sebagai hujjah dan sekaligus menunjukkan mukjizat yang ada pada diri mereka bagi para umatnya.Kedua. Hadits di atas menunjukkan wajibnya mendustakan para dukun, tukang ramal, dan sejenisnya. Tidak boleh ada pada diri hamba sedikit pun keraguan untuk mendustakan ucapan mereka. Barangsiapa yang membenarkannya, atau ragu tentang kedustaannya, atau tidak membenarkan dan juga tidak mendustakan, maka dia telah kufur dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Oleh karena itu, wajib untuk meyakini dengan pasti tentang kedustaaan yang ada pada para dukun.Ketiga. Hadits di atas menjelaskan haramnya mendatangi dukun meskipun tidak membenarkan ucapannya. Jika ada orang yang melakukannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari. Ini menunjukkan sangat kerasnya hukuman bagi orang yang mendatangi dukun. Shalat mereka tidak akan diterima di sisi Allah Ta’ala, maksudnya tidak akan mendapat pahala sama sekali.Keempat. Jika membenarkan berita dari dukun maka hukumannya lebih keras lagi, yaitu dianggap kufur terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud adalah kufur terhadap Al Qur’an dan al-hadits. Hal ini karena tidak akan pernah bersatu pembenaran terhadap apa yang Allah turunkan kepada Muhammad dengan apa yang disampaikan oleh dukun yang merupakan perbuatan setan. Keduanya saling bertentangan dan tidak akan mungkin bersatu.  Tidak akan mungkin membenarkan Al Quran dan sekaligus juga membenarkan perdukunan. Maka dhahir-nya, perbuatan membenarkan ucapan dukun akan menyebabkan pelakunya kufur akbar dan keluar dari Islam.Kelima. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya memberi hukuman kepada para dukun dan orang yang mendatanginya oleh para penguasa. Hal ini penting untuk menjaga kaum muslimin dari kejelekan mereka dan menjaga masyarakat dari berbagai kerusakan yang ditimbulkannya. Kerusakan di masyarakat yang diakibatkan karena perdukunan sangat parah karena merusak akidah tauhid. Selain itu juga akan menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat, karena dukun akan memunculkan teror dengan berbagi berita dusta kepada masyarakat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً“ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa ketakutan. “ (QS. Al-Jin: 6)Mari bersama kita menjaga diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dari bahaya perdukunan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al Fauzan hafidzahullah🔍 Biografi Imam Muslim, Pertanyaan Tentang Ijma, Macam Macam Ilmu Fiqih, Keutamaan Shalat Subuh Sendiri, Orang Menggambar
Perdukunan menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat kaum muslimin. Oleh karena itu, Islam mengecam berbagai macam praktik perdukunan dan melarang keras untuk mendatangi dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari” (HR. Muslim).Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Quran yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad, hasan).Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara yang gaib. Termasuk kategori dukun adalah paranormal, tukang ramal, ahli nujum, dan yang semisal mereka. Siapa saja yang menceritakan tentang perkara di masa datang yang belum terjadi atau mengaku mengetahui perkara gaib, maka statusnya adalah dukun.Baca Juga: Beberapa Tanda Tukang Sihir dan DukunDi antara faidah penting dari dua hadits di atasPertama. Menunjukkan batilnya praktik perdukunan dan siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara gaib. Semua yang mengaku mengetahui perkara gaib, itu merupakan kebatilan karena tidak ada yang mengetahui perkara gaib tersebut kecuali hanya Allah saja. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“ Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali hanya Allah.” (QS. An-Naml: 65)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi-Nya,وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ“Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-A’raf: 88)Para rasul tidaklah mengetahui perkara gaib kecuali hanya sedikit dari yang telah Allah ajarkan kepada mereka,عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)Allah telah memberi sedikit ilmu tentang perkara gaib kepada para rasul-Nya sebagai hujjah dan sekaligus menunjukkan mukjizat yang ada pada diri mereka bagi para umatnya.Kedua. Hadits di atas menunjukkan wajibnya mendustakan para dukun, tukang ramal, dan sejenisnya. Tidak boleh ada pada diri hamba sedikit pun keraguan untuk mendustakan ucapan mereka. Barangsiapa yang membenarkannya, atau ragu tentang kedustaannya, atau tidak membenarkan dan juga tidak mendustakan, maka dia telah kufur dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Oleh karena itu, wajib untuk meyakini dengan pasti tentang kedustaaan yang ada pada para dukun.Ketiga. Hadits di atas menjelaskan haramnya mendatangi dukun meskipun tidak membenarkan ucapannya. Jika ada orang yang melakukannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari. Ini menunjukkan sangat kerasnya hukuman bagi orang yang mendatangi dukun. Shalat mereka tidak akan diterima di sisi Allah Ta’ala, maksudnya tidak akan mendapat pahala sama sekali.Keempat. Jika membenarkan berita dari dukun maka hukumannya lebih keras lagi, yaitu dianggap kufur terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud adalah kufur terhadap Al Qur’an dan al-hadits. Hal ini karena tidak akan pernah bersatu pembenaran terhadap apa yang Allah turunkan kepada Muhammad dengan apa yang disampaikan oleh dukun yang merupakan perbuatan setan. Keduanya saling bertentangan dan tidak akan mungkin bersatu.  Tidak akan mungkin membenarkan Al Quran dan sekaligus juga membenarkan perdukunan. Maka dhahir-nya, perbuatan membenarkan ucapan dukun akan menyebabkan pelakunya kufur akbar dan keluar dari Islam.Kelima. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya memberi hukuman kepada para dukun dan orang yang mendatanginya oleh para penguasa. Hal ini penting untuk menjaga kaum muslimin dari kejelekan mereka dan menjaga masyarakat dari berbagai kerusakan yang ditimbulkannya. Kerusakan di masyarakat yang diakibatkan karena perdukunan sangat parah karena merusak akidah tauhid. Selain itu juga akan menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat, karena dukun akan memunculkan teror dengan berbagi berita dusta kepada masyarakat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً“ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa ketakutan. “ (QS. Al-Jin: 6)Mari bersama kita menjaga diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dari bahaya perdukunan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al Fauzan hafidzahullah🔍 Biografi Imam Muslim, Pertanyaan Tentang Ijma, Macam Macam Ilmu Fiqih, Keutamaan Shalat Subuh Sendiri, Orang Menggambar


Perdukunan menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat kaum muslimin. Oleh karena itu, Islam mengecam berbagai macam praktik perdukunan dan melarang keras untuk mendatangi dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari” (HR. Muslim).Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Quran yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad, hasan).Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara yang gaib. Termasuk kategori dukun adalah paranormal, tukang ramal, ahli nujum, dan yang semisal mereka. Siapa saja yang menceritakan tentang perkara di masa datang yang belum terjadi atau mengaku mengetahui perkara gaib, maka statusnya adalah dukun.Baca Juga: Beberapa Tanda Tukang Sihir dan DukunDi antara faidah penting dari dua hadits di atasPertama. Menunjukkan batilnya praktik perdukunan dan siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara gaib. Semua yang mengaku mengetahui perkara gaib, itu merupakan kebatilan karena tidak ada yang mengetahui perkara gaib tersebut kecuali hanya Allah saja. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“ Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali hanya Allah.” (QS. An-Naml: 65)Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi-Nya,وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ“Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-A’raf: 88)Para rasul tidaklah mengetahui perkara gaib kecuali hanya sedikit dari yang telah Allah ajarkan kepada mereka,عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداًلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”  (QS. Al-Jin: 26-27)Allah telah memberi sedikit ilmu tentang perkara gaib kepada para rasul-Nya sebagai hujjah dan sekaligus menunjukkan mukjizat yang ada pada diri mereka bagi para umatnya.Kedua. Hadits di atas menunjukkan wajibnya mendustakan para dukun, tukang ramal, dan sejenisnya. Tidak boleh ada pada diri hamba sedikit pun keraguan untuk mendustakan ucapan mereka. Barangsiapa yang membenarkannya, atau ragu tentang kedustaannya, atau tidak membenarkan dan juga tidak mendustakan, maka dia telah kufur dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Oleh karena itu, wajib untuk meyakini dengan pasti tentang kedustaaan yang ada pada para dukun.Ketiga. Hadits di atas menjelaskan haramnya mendatangi dukun meskipun tidak membenarkan ucapannya. Jika ada orang yang melakukannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari. Ini menunjukkan sangat kerasnya hukuman bagi orang yang mendatangi dukun. Shalat mereka tidak akan diterima di sisi Allah Ta’ala, maksudnya tidak akan mendapat pahala sama sekali.Keempat. Jika membenarkan berita dari dukun maka hukumannya lebih keras lagi, yaitu dianggap kufur terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud adalah kufur terhadap Al Qur’an dan al-hadits. Hal ini karena tidak akan pernah bersatu pembenaran terhadap apa yang Allah turunkan kepada Muhammad dengan apa yang disampaikan oleh dukun yang merupakan perbuatan setan. Keduanya saling bertentangan dan tidak akan mungkin bersatu.  Tidak akan mungkin membenarkan Al Quran dan sekaligus juga membenarkan perdukunan. Maka dhahir-nya, perbuatan membenarkan ucapan dukun akan menyebabkan pelakunya kufur akbar dan keluar dari Islam.Kelima. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya memberi hukuman kepada para dukun dan orang yang mendatanginya oleh para penguasa. Hal ini penting untuk menjaga kaum muslimin dari kejelekan mereka dan menjaga masyarakat dari berbagai kerusakan yang ditimbulkannya. Kerusakan di masyarakat yang diakibatkan karena perdukunan sangat parah karena merusak akidah tauhid. Selain itu juga akan menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat, karena dukun akan memunculkan teror dengan berbagi berita dusta kepada masyarakat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً“ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa ketakutan. “ (QS. Al-Jin: 6)Mari bersama kita menjaga diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dari bahaya perdukunan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi : I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al Fauzan hafidzahullah🔍 Biografi Imam Muslim, Pertanyaan Tentang Ijma, Macam Macam Ilmu Fiqih, Keutamaan Shalat Subuh Sendiri, Orang Menggambar

Mendamaikan Hubungan Dua Orang yang Bermusuhan

Mendamaikan hubungan antara dua orang muslim yang saling bermusuhan adalah salah satu di antara amal dan akhlak yang mulia. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan keutamaan amal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’ [4]: 128)Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfaal [8]: 1)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 10)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala bahkan memerintahkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 9)Bentuk “al-ishlaah” (mendamaikan) hubungan antar manusia adalah jika ada sikap permusuhan dan kebencian antara dua orang, maka ada seseorang yang mendamaikan dan memperbaiki hubungan di antara mereka berdua. Sehingga hilanglah rasa kebencian dan permusuhan di antara dua orang tersebut. Semakin dekat hubungan kekeluargaan antara dua orang yang bermusuhan, maka perdamaian di antara keduanya tentu akan lebih ditekankan. Dengan kata lain, jika putusnya hubungan di antara dua orang yang bermusuhan itu lebih besar bahayanya, maka mendamaikan di antara keduanya menjadi semakin ditekankan. Jadi, jika seorang ayah dan anak itu berseteru, tentu mendamaikan di antara keduanya lebih afdhal dibandingkan jika yang berseteru adalah dua orang teman biasa. Hal ini karena putusnya jalinan silaturahmi antara seorang ayah dan anak tentu perkara yang lebih besar bahayanya.Mendamaikan dan berusaha menjadi penengah antara dua orang yang berselisih adalah salah satu amal yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Yang dimaksud dengan “najwa” dalam ayat di atas adalah perkataan yang tersembunyi antara seseorang dengan saudara atau sahabatnya (semacam bisikan). Maka dalam ayat di atas, mayoritas najwa itu tidak ada kebaikan di dalamnya, kecuali pada ajakan untuk memberi sedekah, berbuat kebaikan (ma’ruf), dan mengadakan perdamaian di antara manusia.  Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pahala yang besar dari amal tersebut, yaitu:وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً“Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Oleh karena itu, jika kita melihat ada di antara saudara sesama muslim yang berselisih, bermusuhan, atau berseteru, berusahalah dengan sekuat tenaga untuk mendamaikan di antara keduanya. Meskipun ketika dalam prosesnya, kita mungkin mengeluarkan sejumlah harta (uang) yang kita miliki.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 7 Sya’ban 1442/21 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Makaarim Al-Akhlaaq karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 39-41.🔍 Hadits Tentang Asmaul Husna, Iqamah, Islam Dan Wanita, Pemimpin Wanita Menurut Islam, Isa Almasih Di Alquran

Mendamaikan Hubungan Dua Orang yang Bermusuhan

Mendamaikan hubungan antara dua orang muslim yang saling bermusuhan adalah salah satu di antara amal dan akhlak yang mulia. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan keutamaan amal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’ [4]: 128)Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfaal [8]: 1)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 10)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala bahkan memerintahkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 9)Bentuk “al-ishlaah” (mendamaikan) hubungan antar manusia adalah jika ada sikap permusuhan dan kebencian antara dua orang, maka ada seseorang yang mendamaikan dan memperbaiki hubungan di antara mereka berdua. Sehingga hilanglah rasa kebencian dan permusuhan di antara dua orang tersebut. Semakin dekat hubungan kekeluargaan antara dua orang yang bermusuhan, maka perdamaian di antara keduanya tentu akan lebih ditekankan. Dengan kata lain, jika putusnya hubungan di antara dua orang yang bermusuhan itu lebih besar bahayanya, maka mendamaikan di antara keduanya menjadi semakin ditekankan. Jadi, jika seorang ayah dan anak itu berseteru, tentu mendamaikan di antara keduanya lebih afdhal dibandingkan jika yang berseteru adalah dua orang teman biasa. Hal ini karena putusnya jalinan silaturahmi antara seorang ayah dan anak tentu perkara yang lebih besar bahayanya.Mendamaikan dan berusaha menjadi penengah antara dua orang yang berselisih adalah salah satu amal yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Yang dimaksud dengan “najwa” dalam ayat di atas adalah perkataan yang tersembunyi antara seseorang dengan saudara atau sahabatnya (semacam bisikan). Maka dalam ayat di atas, mayoritas najwa itu tidak ada kebaikan di dalamnya, kecuali pada ajakan untuk memberi sedekah, berbuat kebaikan (ma’ruf), dan mengadakan perdamaian di antara manusia.  Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pahala yang besar dari amal tersebut, yaitu:وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً“Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Oleh karena itu, jika kita melihat ada di antara saudara sesama muslim yang berselisih, bermusuhan, atau berseteru, berusahalah dengan sekuat tenaga untuk mendamaikan di antara keduanya. Meskipun ketika dalam prosesnya, kita mungkin mengeluarkan sejumlah harta (uang) yang kita miliki.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 7 Sya’ban 1442/21 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Makaarim Al-Akhlaaq karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 39-41.🔍 Hadits Tentang Asmaul Husna, Iqamah, Islam Dan Wanita, Pemimpin Wanita Menurut Islam, Isa Almasih Di Alquran
Mendamaikan hubungan antara dua orang muslim yang saling bermusuhan adalah salah satu di antara amal dan akhlak yang mulia. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan keutamaan amal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’ [4]: 128)Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfaal [8]: 1)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 10)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala bahkan memerintahkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 9)Bentuk “al-ishlaah” (mendamaikan) hubungan antar manusia adalah jika ada sikap permusuhan dan kebencian antara dua orang, maka ada seseorang yang mendamaikan dan memperbaiki hubungan di antara mereka berdua. Sehingga hilanglah rasa kebencian dan permusuhan di antara dua orang tersebut. Semakin dekat hubungan kekeluargaan antara dua orang yang bermusuhan, maka perdamaian di antara keduanya tentu akan lebih ditekankan. Dengan kata lain, jika putusnya hubungan di antara dua orang yang bermusuhan itu lebih besar bahayanya, maka mendamaikan di antara keduanya menjadi semakin ditekankan. Jadi, jika seorang ayah dan anak itu berseteru, tentu mendamaikan di antara keduanya lebih afdhal dibandingkan jika yang berseteru adalah dua orang teman biasa. Hal ini karena putusnya jalinan silaturahmi antara seorang ayah dan anak tentu perkara yang lebih besar bahayanya.Mendamaikan dan berusaha menjadi penengah antara dua orang yang berselisih adalah salah satu amal yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Yang dimaksud dengan “najwa” dalam ayat di atas adalah perkataan yang tersembunyi antara seseorang dengan saudara atau sahabatnya (semacam bisikan). Maka dalam ayat di atas, mayoritas najwa itu tidak ada kebaikan di dalamnya, kecuali pada ajakan untuk memberi sedekah, berbuat kebaikan (ma’ruf), dan mengadakan perdamaian di antara manusia.  Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pahala yang besar dari amal tersebut, yaitu:وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً“Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Oleh karena itu, jika kita melihat ada di antara saudara sesama muslim yang berselisih, bermusuhan, atau berseteru, berusahalah dengan sekuat tenaga untuk mendamaikan di antara keduanya. Meskipun ketika dalam prosesnya, kita mungkin mengeluarkan sejumlah harta (uang) yang kita miliki.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 7 Sya’ban 1442/21 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Makaarim Al-Akhlaaq karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 39-41.🔍 Hadits Tentang Asmaul Husna, Iqamah, Islam Dan Wanita, Pemimpin Wanita Menurut Islam, Isa Almasih Di Alquran


Mendamaikan hubungan antara dua orang muslim yang saling bermusuhan adalah salah satu di antara amal dan akhlak yang mulia. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan keutamaan amal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,وَالصُّلْحُ خَيْرٌ“Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’ [4]: 128)Allah Ta’ala berfirman,فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (QS. Al-Anfaal [8]: 1)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 10)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala bahkan memerintahkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 9)Bentuk “al-ishlaah” (mendamaikan) hubungan antar manusia adalah jika ada sikap permusuhan dan kebencian antara dua orang, maka ada seseorang yang mendamaikan dan memperbaiki hubungan di antara mereka berdua. Sehingga hilanglah rasa kebencian dan permusuhan di antara dua orang tersebut. Semakin dekat hubungan kekeluargaan antara dua orang yang bermusuhan, maka perdamaian di antara keduanya tentu akan lebih ditekankan. Dengan kata lain, jika putusnya hubungan di antara dua orang yang bermusuhan itu lebih besar bahayanya, maka mendamaikan di antara keduanya menjadi semakin ditekankan. Jadi, jika seorang ayah dan anak itu berseteru, tentu mendamaikan di antara keduanya lebih afdhal dibandingkan jika yang berseteru adalah dua orang teman biasa. Hal ini karena putusnya jalinan silaturahmi antara seorang ayah dan anak tentu perkara yang lebih besar bahayanya.Mendamaikan dan berusaha menjadi penengah antara dua orang yang berselisih adalah salah satu amal yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Yang dimaksud dengan “najwa” dalam ayat di atas adalah perkataan yang tersembunyi antara seseorang dengan saudara atau sahabatnya (semacam bisikan). Maka dalam ayat di atas, mayoritas najwa itu tidak ada kebaikan di dalamnya, kecuali pada ajakan untuk memberi sedekah, berbuat kebaikan (ma’ruf), dan mengadakan perdamaian di antara manusia.  Kemudian Allah Ta’ala sebutkan pahala yang besar dari amal tersebut, yaitu:وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً“Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 114)Oleh karena itu, jika kita melihat ada di antara saudara sesama muslim yang berselisih, bermusuhan, atau berseteru, berusahalah dengan sekuat tenaga untuk mendamaikan di antara keduanya. Meskipun ketika dalam prosesnya, kita mungkin mengeluarkan sejumlah harta (uang) yang kita miliki.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor YPIA, 7 Sya’ban 1442/21 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Makaarim Al-Akhlaaq karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 39-41.🔍 Hadits Tentang Asmaul Husna, Iqamah, Islam Dan Wanita, Pemimpin Wanita Menurut Islam, Isa Almasih Di Alquran

Silakan Unduh 8 E-Book Gratis Terkait Puasa, Zakat, dan Syawal

Ini delapan e-book gratis dan bermanfaat membantu Anda untuk memahami puasa, zakat, dan syawal. Jangan lupa disebarkan yah. Daftar Isi tutup Pertama: Fikih Bulan Syawal Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Pertama: Fikih Bulan Syawal Buku ini berisi bahasan motivasi untuk melakukan puasa Syawal, hingga penjelasan qadha dan fidyah dimuat lengkap dalam buku ini. Unduh buku: Fikih Bulan Syawal   Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Buku ini berisi pembahasan hukum zakat dari pemahaman dasar, dimulai dari hukum dan syarat zakat, harta yang terkena zakat, hingga perhitungan praktis, serta panduan zakat fitrah dan siapakah yang berhak menerima zakat. Unduh buku: Panduan Zakat Minimal 2,5%   Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Buku “Untaian Faedah dari Ayat Puasa” ini berisi pembahasan tafsir dari lima ayat yang disebut dengan ayat puasa, yaitu surah Al-Baqarah ayat 183-187. Di dalamnya berisi penjelasan ayat demi ayat, lalu faedah dari masing-masing ayat di mana mayoritas faedah ayat diambil dari penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Unduh buku: Untaian Faedah dari Ayat Puasa   Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Buku ini berisi 21 materi yang membahas keutamaan Ramadan, keutamaan puasa, hukum puasa (dengan pendekatan pada fikih Syafii), doa dan dzikir pada bulan Ramadan, skedul anak selama Ramadan, cara anak khatam Alquran, serta hal-hal sia-sia dan maksiat yang mesti dijauhi saat berpuasa. Buku ini berisi pembahasan tambahan tentang shalat yang cukup di rumah saja di saat wabah melanda. Unduh buku: Fikih Puasa untuk Anak   Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Buku ini berisi catatan faedah dari hadits-hadits kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Bahasan di dalam kitab tersebut insya Allah akan dibagi menjadi beberapa serial buku. Kali ini diangkat sebelas pembahasan dari empat belas hadits. Berisi bahasan pengertian ash-shiyam (puasa), faedah dan hikmah puasa, bagaimana kita mengawali Ramadan, masalah penentuan awal Ramadan, cara berniat puasa, bagaimana makan sahur dan berbuka puasa, hingga puasa wishal dan bermaksiat saat berpuasa. Unduh buku: Hadits Puasa dari Bulughul Maram   Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Unduh buku: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Ada empat puluh amalan dalam sehari yang bisa diamalkan dengan mudah dalam 24 jam sehingga buku ini diberi judul “24 Jam di bulan Ramadhan”. Buku ini tak luput dari penjelasan dalil untuk setiap amalan sehingga lebih menambah keyakinan untuk beramal.  Unduh buku: 24 Jam di Bulan Ramadhan   Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Buku ini berisi bahasan motivasi amal di bulan Ramadhan, keutamaan puasa, fikih puasa, dan dzikir di bulan Ramadhan. Unduh buku: Ramadhan Bersama Nabi   Unduh juga e-book gratis Siap Dipinang Semoga manfaat.   Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan cara bayar zakat cara puasa syawal e-book gratis hukum puasa puasa syawal

Silakan Unduh 8 E-Book Gratis Terkait Puasa, Zakat, dan Syawal

Ini delapan e-book gratis dan bermanfaat membantu Anda untuk memahami puasa, zakat, dan syawal. Jangan lupa disebarkan yah. Daftar Isi tutup Pertama: Fikih Bulan Syawal Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Pertama: Fikih Bulan Syawal Buku ini berisi bahasan motivasi untuk melakukan puasa Syawal, hingga penjelasan qadha dan fidyah dimuat lengkap dalam buku ini. Unduh buku: Fikih Bulan Syawal   Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Buku ini berisi pembahasan hukum zakat dari pemahaman dasar, dimulai dari hukum dan syarat zakat, harta yang terkena zakat, hingga perhitungan praktis, serta panduan zakat fitrah dan siapakah yang berhak menerima zakat. Unduh buku: Panduan Zakat Minimal 2,5%   Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Buku “Untaian Faedah dari Ayat Puasa” ini berisi pembahasan tafsir dari lima ayat yang disebut dengan ayat puasa, yaitu surah Al-Baqarah ayat 183-187. Di dalamnya berisi penjelasan ayat demi ayat, lalu faedah dari masing-masing ayat di mana mayoritas faedah ayat diambil dari penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Unduh buku: Untaian Faedah dari Ayat Puasa   Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Buku ini berisi 21 materi yang membahas keutamaan Ramadan, keutamaan puasa, hukum puasa (dengan pendekatan pada fikih Syafii), doa dan dzikir pada bulan Ramadan, skedul anak selama Ramadan, cara anak khatam Alquran, serta hal-hal sia-sia dan maksiat yang mesti dijauhi saat berpuasa. Buku ini berisi pembahasan tambahan tentang shalat yang cukup di rumah saja di saat wabah melanda. Unduh buku: Fikih Puasa untuk Anak   Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Buku ini berisi catatan faedah dari hadits-hadits kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Bahasan di dalam kitab tersebut insya Allah akan dibagi menjadi beberapa serial buku. Kali ini diangkat sebelas pembahasan dari empat belas hadits. Berisi bahasan pengertian ash-shiyam (puasa), faedah dan hikmah puasa, bagaimana kita mengawali Ramadan, masalah penentuan awal Ramadan, cara berniat puasa, bagaimana makan sahur dan berbuka puasa, hingga puasa wishal dan bermaksiat saat berpuasa. Unduh buku: Hadits Puasa dari Bulughul Maram   Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Unduh buku: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Ada empat puluh amalan dalam sehari yang bisa diamalkan dengan mudah dalam 24 jam sehingga buku ini diberi judul “24 Jam di bulan Ramadhan”. Buku ini tak luput dari penjelasan dalil untuk setiap amalan sehingga lebih menambah keyakinan untuk beramal.  Unduh buku: 24 Jam di Bulan Ramadhan   Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Buku ini berisi bahasan motivasi amal di bulan Ramadhan, keutamaan puasa, fikih puasa, dan dzikir di bulan Ramadhan. Unduh buku: Ramadhan Bersama Nabi   Unduh juga e-book gratis Siap Dipinang Semoga manfaat.   Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan cara bayar zakat cara puasa syawal e-book gratis hukum puasa puasa syawal
Ini delapan e-book gratis dan bermanfaat membantu Anda untuk memahami puasa, zakat, dan syawal. Jangan lupa disebarkan yah. Daftar Isi tutup Pertama: Fikih Bulan Syawal Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Pertama: Fikih Bulan Syawal Buku ini berisi bahasan motivasi untuk melakukan puasa Syawal, hingga penjelasan qadha dan fidyah dimuat lengkap dalam buku ini. Unduh buku: Fikih Bulan Syawal   Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Buku ini berisi pembahasan hukum zakat dari pemahaman dasar, dimulai dari hukum dan syarat zakat, harta yang terkena zakat, hingga perhitungan praktis, serta panduan zakat fitrah dan siapakah yang berhak menerima zakat. Unduh buku: Panduan Zakat Minimal 2,5%   Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Buku “Untaian Faedah dari Ayat Puasa” ini berisi pembahasan tafsir dari lima ayat yang disebut dengan ayat puasa, yaitu surah Al-Baqarah ayat 183-187. Di dalamnya berisi penjelasan ayat demi ayat, lalu faedah dari masing-masing ayat di mana mayoritas faedah ayat diambil dari penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Unduh buku: Untaian Faedah dari Ayat Puasa   Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Buku ini berisi 21 materi yang membahas keutamaan Ramadan, keutamaan puasa, hukum puasa (dengan pendekatan pada fikih Syafii), doa dan dzikir pada bulan Ramadan, skedul anak selama Ramadan, cara anak khatam Alquran, serta hal-hal sia-sia dan maksiat yang mesti dijauhi saat berpuasa. Buku ini berisi pembahasan tambahan tentang shalat yang cukup di rumah saja di saat wabah melanda. Unduh buku: Fikih Puasa untuk Anak   Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Buku ini berisi catatan faedah dari hadits-hadits kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Bahasan di dalam kitab tersebut insya Allah akan dibagi menjadi beberapa serial buku. Kali ini diangkat sebelas pembahasan dari empat belas hadits. Berisi bahasan pengertian ash-shiyam (puasa), faedah dan hikmah puasa, bagaimana kita mengawali Ramadan, masalah penentuan awal Ramadan, cara berniat puasa, bagaimana makan sahur dan berbuka puasa, hingga puasa wishal dan bermaksiat saat berpuasa. Unduh buku: Hadits Puasa dari Bulughul Maram   Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Unduh buku: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Ada empat puluh amalan dalam sehari yang bisa diamalkan dengan mudah dalam 24 jam sehingga buku ini diberi judul “24 Jam di bulan Ramadhan”. Buku ini tak luput dari penjelasan dalil untuk setiap amalan sehingga lebih menambah keyakinan untuk beramal.  Unduh buku: 24 Jam di Bulan Ramadhan   Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Buku ini berisi bahasan motivasi amal di bulan Ramadhan, keutamaan puasa, fikih puasa, dan dzikir di bulan Ramadhan. Unduh buku: Ramadhan Bersama Nabi   Unduh juga e-book gratis Siap Dipinang Semoga manfaat.   Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan cara bayar zakat cara puasa syawal e-book gratis hukum puasa puasa syawal


Ini delapan e-book gratis dan bermanfaat membantu Anda untuk memahami puasa, zakat, dan syawal. Jangan lupa disebarkan yah. Daftar Isi tutup Pertama: Fikih Bulan Syawal Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Pertama: Fikih Bulan Syawal Buku ini berisi bahasan motivasi untuk melakukan puasa Syawal, hingga penjelasan qadha dan fidyah dimuat lengkap dalam buku ini. Unduh buku: Fikih Bulan Syawal   Kedua: Panduan Zakat Minimal 2,5% Buku ini berisi pembahasan hukum zakat dari pemahaman dasar, dimulai dari hukum dan syarat zakat, harta yang terkena zakat, hingga perhitungan praktis, serta panduan zakat fitrah dan siapakah yang berhak menerima zakat. Unduh buku: Panduan Zakat Minimal 2,5%   Ketiga: Untaian Faedah dari Ayat Puasa Buku “Untaian Faedah dari Ayat Puasa” ini berisi pembahasan tafsir dari lima ayat yang disebut dengan ayat puasa, yaitu surah Al-Baqarah ayat 183-187. Di dalamnya berisi penjelasan ayat demi ayat, lalu faedah dari masing-masing ayat di mana mayoritas faedah ayat diambil dari penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Unduh buku: Untaian Faedah dari Ayat Puasa   Keempat: Fikih Puasa untuk Anak (Materi Parenting) Buku ini berisi 21 materi yang membahas keutamaan Ramadan, keutamaan puasa, hukum puasa (dengan pendekatan pada fikih Syafii), doa dan dzikir pada bulan Ramadan, skedul anak selama Ramadan, cara anak khatam Alquran, serta hal-hal sia-sia dan maksiat yang mesti dijauhi saat berpuasa. Buku ini berisi pembahasan tambahan tentang shalat yang cukup di rumah saja di saat wabah melanda. Unduh buku: Fikih Puasa untuk Anak   Kelima: Hadits Puasa dari Bulughul Maram Buku ini berisi catatan faedah dari hadits-hadits kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Bahasan di dalam kitab tersebut insya Allah akan dibagi menjadi beberapa serial buku. Kali ini diangkat sebelas pembahasan dari empat belas hadits. Berisi bahasan pengertian ash-shiyam (puasa), faedah dan hikmah puasa, bagaimana kita mengawali Ramadan, masalah penentuan awal Ramadan, cara berniat puasa, bagaimana makan sahur dan berbuka puasa, hingga puasa wishal dan bermaksiat saat berpuasa. Unduh buku: Hadits Puasa dari Bulughul Maram   Keenam: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Unduh buku: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Ketujuh: 24 Jam di Bulan Ramadhan Ada empat puluh amalan dalam sehari yang bisa diamalkan dengan mudah dalam 24 jam sehingga buku ini diberi judul “24 Jam di bulan Ramadhan”. Buku ini tak luput dari penjelasan dalil untuk setiap amalan sehingga lebih menambah keyakinan untuk beramal.  Unduh buku: 24 Jam di Bulan Ramadhan   Kedelapan: Ramadhan Bersama Nabi Buku ini berisi bahasan motivasi amal di bulan Ramadhan, keutamaan puasa, fikih puasa, dan dzikir di bulan Ramadhan. Unduh buku: Ramadhan Bersama Nabi   Unduh juga e-book gratis Siap Dipinang Semoga manfaat.   Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan cara bayar zakat cara puasa syawal e-book gratis hukum puasa puasa syawal

5 Bacaan Penting di Bulan Ramadhan yang Harus Anda Hafal

Ada lima bacaan penting berikut ini berupa doa dan dzikir yang rugi jika tidak dihafalkan dan diamalkan di bulan Ramadhan. Daftar Isi tutup 1. Doa Bakda Shalat Witir 2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) 3. Doa Bakda Shalat Dhuha 4. Doa Ketika Berbuka Puasa 5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa Sumber rujukan: 1.    Doa Bakda Shalat Witir سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ “SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS” (artinya: Maha Suci Allah Yang Maha Merajai, lagi suci dari berbagai kejelekan) (dibaca tiga kali). * Dianjurkan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.[1] رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ “ROBBIL MALAIKATI WAR RUUH” (artinya: Allah itu Rabb malaikat dan Ruh—yaitu Jibril–)[2] اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ “ALLOHUMMA INNII A’UUDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” (artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri).[3] Baca juga: Doa Setelah Shalat Witir Doa dan Dzikir di Shalat Tarawih dan Witir   2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “ALLOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI” (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).[4] Baca juga: Doa Malam Lailatul Qadar   3. Doa Bakda Shalat Dhuha اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ “ALLOHUMMAGH-FIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM” (artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang)(dibaca seratus kali).[5] Baca juga: Doa Shahih Setelah Shalat Dhuha   4.    Doa Ketika Berbuka Puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH” (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah).[6] Baca juga: 11 Amalan Ketika Berbuka Puasa   5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “ALLOHUMMA ATH’IM MAN ATH’AMANII WA ASQI MAN ASQOONII” (artinya: Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku).[7] Baca juga: 24 Jam di Bulan Ramadhan (Aktivitas Sebelum Tidur) 8 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa   Semoga doa dan dzikir di atas bisa diamalkan. Semoga Ramadhan kita menjadi penuh kebaikan.   — [1] HR. An-Nasai, no. 1732 dan Ahmad, 3:406. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [2] HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, 3:40 dan Sunan Ad-Daruquthni, 4:371. Tambahan ‘robbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah—diterima–. [3] HR. Abu Daud, no. 1427; Tirmidzi, no. 3566; An-Nasai, no. 1100; Ibnu Majah, no. 1179. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [4] HR. Tirmidzi, no. 3513; Ibnu Majah, no. 3850; Ahmad, 6:171. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat dalam satu manuskrip pun. Lihat Tarooju’at, hlm. 39. [5] HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya sahih. [6] HR. Abu Daud, no. 2357. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [7] HR. Muslim, no. 2055.   Sumber rujukan: Pandun Ramadhan Kontemporer, Penerbit Rumaysho, karya Muhammad Abduh Tuasikal Pesan di WA: 085200171222 atau lewat www.ruwaifi.store/reseller atau Marketplace RumayshoStore (Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Muslimlife Shop)   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 10 Syakban 1442 H, 24 Maret 2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberbuka puasa buka puasa cara shalat dhuha dhuha panduan shalat tarawih shalat witir tarawih witir

5 Bacaan Penting di Bulan Ramadhan yang Harus Anda Hafal

Ada lima bacaan penting berikut ini berupa doa dan dzikir yang rugi jika tidak dihafalkan dan diamalkan di bulan Ramadhan. Daftar Isi tutup 1. Doa Bakda Shalat Witir 2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) 3. Doa Bakda Shalat Dhuha 4. Doa Ketika Berbuka Puasa 5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa Sumber rujukan: 1.    Doa Bakda Shalat Witir سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ “SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS” (artinya: Maha Suci Allah Yang Maha Merajai, lagi suci dari berbagai kejelekan) (dibaca tiga kali). * Dianjurkan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.[1] رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ “ROBBIL MALAIKATI WAR RUUH” (artinya: Allah itu Rabb malaikat dan Ruh—yaitu Jibril–)[2] اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ “ALLOHUMMA INNII A’UUDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” (artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri).[3] Baca juga: Doa Setelah Shalat Witir Doa dan Dzikir di Shalat Tarawih dan Witir   2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “ALLOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI” (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).[4] Baca juga: Doa Malam Lailatul Qadar   3. Doa Bakda Shalat Dhuha اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ “ALLOHUMMAGH-FIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM” (artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang)(dibaca seratus kali).[5] Baca juga: Doa Shahih Setelah Shalat Dhuha   4.    Doa Ketika Berbuka Puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH” (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah).[6] Baca juga: 11 Amalan Ketika Berbuka Puasa   5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “ALLOHUMMA ATH’IM MAN ATH’AMANII WA ASQI MAN ASQOONII” (artinya: Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku).[7] Baca juga: 24 Jam di Bulan Ramadhan (Aktivitas Sebelum Tidur) 8 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa   Semoga doa dan dzikir di atas bisa diamalkan. Semoga Ramadhan kita menjadi penuh kebaikan.   — [1] HR. An-Nasai, no. 1732 dan Ahmad, 3:406. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [2] HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, 3:40 dan Sunan Ad-Daruquthni, 4:371. Tambahan ‘robbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah—diterima–. [3] HR. Abu Daud, no. 1427; Tirmidzi, no. 3566; An-Nasai, no. 1100; Ibnu Majah, no. 1179. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [4] HR. Tirmidzi, no. 3513; Ibnu Majah, no. 3850; Ahmad, 6:171. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat dalam satu manuskrip pun. Lihat Tarooju’at, hlm. 39. [5] HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya sahih. [6] HR. Abu Daud, no. 2357. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [7] HR. Muslim, no. 2055.   Sumber rujukan: Pandun Ramadhan Kontemporer, Penerbit Rumaysho, karya Muhammad Abduh Tuasikal Pesan di WA: 085200171222 atau lewat www.ruwaifi.store/reseller atau Marketplace RumayshoStore (Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Muslimlife Shop)   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 10 Syakban 1442 H, 24 Maret 2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberbuka puasa buka puasa cara shalat dhuha dhuha panduan shalat tarawih shalat witir tarawih witir
Ada lima bacaan penting berikut ini berupa doa dan dzikir yang rugi jika tidak dihafalkan dan diamalkan di bulan Ramadhan. Daftar Isi tutup 1. Doa Bakda Shalat Witir 2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) 3. Doa Bakda Shalat Dhuha 4. Doa Ketika Berbuka Puasa 5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa Sumber rujukan: 1.    Doa Bakda Shalat Witir سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ “SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS” (artinya: Maha Suci Allah Yang Maha Merajai, lagi suci dari berbagai kejelekan) (dibaca tiga kali). * Dianjurkan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.[1] رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ “ROBBIL MALAIKATI WAR RUUH” (artinya: Allah itu Rabb malaikat dan Ruh—yaitu Jibril–)[2] اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ “ALLOHUMMA INNII A’UUDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” (artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri).[3] Baca juga: Doa Setelah Shalat Witir Doa dan Dzikir di Shalat Tarawih dan Witir   2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “ALLOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI” (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).[4] Baca juga: Doa Malam Lailatul Qadar   3. Doa Bakda Shalat Dhuha اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ “ALLOHUMMAGH-FIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM” (artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang)(dibaca seratus kali).[5] Baca juga: Doa Shahih Setelah Shalat Dhuha   4.    Doa Ketika Berbuka Puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH” (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah).[6] Baca juga: 11 Amalan Ketika Berbuka Puasa   5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “ALLOHUMMA ATH’IM MAN ATH’AMANII WA ASQI MAN ASQOONII” (artinya: Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku).[7] Baca juga: 24 Jam di Bulan Ramadhan (Aktivitas Sebelum Tidur) 8 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa   Semoga doa dan dzikir di atas bisa diamalkan. Semoga Ramadhan kita menjadi penuh kebaikan.   — [1] HR. An-Nasai, no. 1732 dan Ahmad, 3:406. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [2] HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, 3:40 dan Sunan Ad-Daruquthni, 4:371. Tambahan ‘robbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah—diterima–. [3] HR. Abu Daud, no. 1427; Tirmidzi, no. 3566; An-Nasai, no. 1100; Ibnu Majah, no. 1179. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [4] HR. Tirmidzi, no. 3513; Ibnu Majah, no. 3850; Ahmad, 6:171. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat dalam satu manuskrip pun. Lihat Tarooju’at, hlm. 39. [5] HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya sahih. [6] HR. Abu Daud, no. 2357. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [7] HR. Muslim, no. 2055.   Sumber rujukan: Pandun Ramadhan Kontemporer, Penerbit Rumaysho, karya Muhammad Abduh Tuasikal Pesan di WA: 085200171222 atau lewat www.ruwaifi.store/reseller atau Marketplace RumayshoStore (Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Muslimlife Shop)   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 10 Syakban 1442 H, 24 Maret 2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberbuka puasa buka puasa cara shalat dhuha dhuha panduan shalat tarawih shalat witir tarawih witir


Ada lima bacaan penting berikut ini berupa doa dan dzikir yang rugi jika tidak dihafalkan dan diamalkan di bulan Ramadhan. Daftar Isi tutup 1. Doa Bakda Shalat Witir 2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) 3. Doa Bakda Shalat Dhuha 4. Doa Ketika Berbuka Puasa 5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa Sumber rujukan: 1.    Doa Bakda Shalat Witir سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ “SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS” (artinya: Maha Suci Allah Yang Maha Merajai, lagi suci dari berbagai kejelekan) (dibaca tiga kali). * Dianjurkan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.[1] رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ “ROBBIL MALAIKATI WAR RUUH” (artinya: Allah itu Rabb malaikat dan Ruh—yaitu Jibril–)[2] اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ “ALLOHUMMA INNII A’UUDZU BI RIDHOOKA MIN SAKHOTIK WA BI MU’AFAATIKA MIN ‘UQUUBATIK, WA A’UDZU BIKA MINKA LAA UH-SHI TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALA NAFSIK” (artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri).[3] Baca juga: Doa Setelah Shalat Witir Doa dan Dzikir di Shalat Tarawih dan Witir   2. Doa pada Malam Lailatul Qadar (Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan) اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “ALLOHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI” (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).[4] Baca juga: Doa Malam Lailatul Qadar   3. Doa Bakda Shalat Dhuha اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ “ALLOHUMMAGH-FIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWAABUR ROHIIM” (artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang)(dibaca seratus kali).[5] Baca juga: Doa Shahih Setelah Shalat Dhuha   4.    Doa Ketika Berbuka Puasa ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “DZAHABAZH ZHOMA-U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH” (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah).[6] Baca juga: 11 Amalan Ketika Berbuka Puasa   5. Doa Teruntuk Orang yang Memberi Makan dan Minum Saat Berbuka Puasa اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “ALLOHUMMA ATH’IM MAN ATH’AMANII WA ASQI MAN ASQOONII” (artinya: Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku).[7] Baca juga: 24 Jam di Bulan Ramadhan (Aktivitas Sebelum Tidur) 8 Keutamaan Memberi Makan Buka Puasa   Semoga doa dan dzikir di atas bisa diamalkan. Semoga Ramadhan kita menjadi penuh kebaikan.   — [1] HR. An-Nasai, no. 1732 dan Ahmad, 3:406. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [2] HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, 3:40 dan Sunan Ad-Daruquthni, 4:371. Tambahan ‘robbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah—diterima–. [3] HR. Abu Daud, no. 1427; Tirmidzi, no. 3566; An-Nasai, no. 1100; Ibnu Majah, no. 1179. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. [4] HR. Tirmidzi, no. 3513; Ibnu Majah, no. 3850; Ahmad, 6:171. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat dalam satu manuskrip pun. Lihat Tarooju’at, hlm. 39. [5] HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya sahih. [6] HR. Abu Daud, no. 2357. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [7] HR. Muslim, no. 2055.   Sumber rujukan: Pandun Ramadhan Kontemporer, Penerbit Rumaysho, karya Muhammad Abduh Tuasikal Pesan di WA: 085200171222 atau lewat www.ruwaifi.store/reseller atau Marketplace RumayshoStore (Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Muslimlife Shop)   — Selesai disusun di Darush Sholihin, Malam Rabu, 10 Syakban 1442 H, 24 Maret 2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberbuka puasa buka puasa cara shalat dhuha dhuha panduan shalat tarawih shalat witir tarawih witir

Rahasia di Balik Doa Masuk WC

Bismillah…Ada dua doa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat masuk WC :Pertama, membaca bismilllah.Agar aurat kita tertutupi dari pandangan jin. Sebagaimana keterangan dalam hadis,ستر ما بين أعين الجن وعورات بني آدم إذا دخل أحدكم الكنيف أن يقول باسم الله“Penutup pandangan jin kepada aurat manusia adalah, jika kalian masuk WC maka ucapkan bismillah (arti : dengan menyebut nama Allah)” (HR. Tirmidzi no. 606, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil)Kedua, membaca doa :اللهم إني أعوذبك من الخبث والخبائث ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAA-ITSArtinya : “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari Khubuts dan Khobaa’its.”Apa itu Khubuts dan apa itu Khobaa’its?Ada dua cara baca dua lafaz di atas : huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts huruf “ba’’ dibaca sukun : Khubtsu Jika huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts, maka status lafaz ini adalah bentuk jamak dari kata tunggal (mufrad) Khobiits; yang artinya kekejian. Maksudnya adalah setan laki-laki. Kemudian Khobaa-its maknanya adalah setan perempuan.Sebingga arti doa di atas : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari setan laki-laki dan setan perempuan.Adapun jika huruf “ba’’ pada doa dibaca sukun : Khubtsu, maka maknanya adalah keburukan, kemudian Khobaa-its maknanya adalah jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Berdasarkan cara baca versi kedua ini, arti doa menjadi berubah : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari keburukan dan setan, jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Mengapa Kita Disunnahkan Membaca Doa – Doa Ini Saat Masuk WC?Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, ولأن هذا المكان مأوى الخبثاء فهو مأوى الشياطين، فناسب أن يستعيذ عند ذلك حتى لا يصيبه الخبث وهو الشر ولا الخبائث وهي النفوس الشريرة“Karena WC / kamar mandi adalah tempat persembunyian hal yang keji; tempat persembunyian setan-setan. Sehingga tepat ketika seorang masuk WC / kamar mandi berlindung dari setan-setan tersebut. Agar dia tidak terkena keburukan atau bahaya dari jiwa-jiwa yang jahat.” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Faqih, ringkasan Syarah Al-Mumti’ karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)Wallahu a’lam bis showab.Baca Juga:Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id 🔍 Mengusap Wajah Setelah Berdoa, Kafir Menurut Alquran, Al Fatihah Untuk Arwah, Wanita Menurut Al Quran, Seorang Muslim Wajib Beriman Kepada Malaikat Allah Swt. Maksud Dari Beriman Adalah

Rahasia di Balik Doa Masuk WC

Bismillah…Ada dua doa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat masuk WC :Pertama, membaca bismilllah.Agar aurat kita tertutupi dari pandangan jin. Sebagaimana keterangan dalam hadis,ستر ما بين أعين الجن وعورات بني آدم إذا دخل أحدكم الكنيف أن يقول باسم الله“Penutup pandangan jin kepada aurat manusia adalah, jika kalian masuk WC maka ucapkan bismillah (arti : dengan menyebut nama Allah)” (HR. Tirmidzi no. 606, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil)Kedua, membaca doa :اللهم إني أعوذبك من الخبث والخبائث ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAA-ITSArtinya : “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari Khubuts dan Khobaa’its.”Apa itu Khubuts dan apa itu Khobaa’its?Ada dua cara baca dua lafaz di atas : huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts huruf “ba’’ dibaca sukun : Khubtsu Jika huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts, maka status lafaz ini adalah bentuk jamak dari kata tunggal (mufrad) Khobiits; yang artinya kekejian. Maksudnya adalah setan laki-laki. Kemudian Khobaa-its maknanya adalah setan perempuan.Sebingga arti doa di atas : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari setan laki-laki dan setan perempuan.Adapun jika huruf “ba’’ pada doa dibaca sukun : Khubtsu, maka maknanya adalah keburukan, kemudian Khobaa-its maknanya adalah jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Berdasarkan cara baca versi kedua ini, arti doa menjadi berubah : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari keburukan dan setan, jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Mengapa Kita Disunnahkan Membaca Doa – Doa Ini Saat Masuk WC?Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, ولأن هذا المكان مأوى الخبثاء فهو مأوى الشياطين، فناسب أن يستعيذ عند ذلك حتى لا يصيبه الخبث وهو الشر ولا الخبائث وهي النفوس الشريرة“Karena WC / kamar mandi adalah tempat persembunyian hal yang keji; tempat persembunyian setan-setan. Sehingga tepat ketika seorang masuk WC / kamar mandi berlindung dari setan-setan tersebut. Agar dia tidak terkena keburukan atau bahaya dari jiwa-jiwa yang jahat.” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Faqih, ringkasan Syarah Al-Mumti’ karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)Wallahu a’lam bis showab.Baca Juga:Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id 🔍 Mengusap Wajah Setelah Berdoa, Kafir Menurut Alquran, Al Fatihah Untuk Arwah, Wanita Menurut Al Quran, Seorang Muslim Wajib Beriman Kepada Malaikat Allah Swt. Maksud Dari Beriman Adalah
Bismillah…Ada dua doa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat masuk WC :Pertama, membaca bismilllah.Agar aurat kita tertutupi dari pandangan jin. Sebagaimana keterangan dalam hadis,ستر ما بين أعين الجن وعورات بني آدم إذا دخل أحدكم الكنيف أن يقول باسم الله“Penutup pandangan jin kepada aurat manusia adalah, jika kalian masuk WC maka ucapkan bismillah (arti : dengan menyebut nama Allah)” (HR. Tirmidzi no. 606, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil)Kedua, membaca doa :اللهم إني أعوذبك من الخبث والخبائث ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAA-ITSArtinya : “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari Khubuts dan Khobaa’its.”Apa itu Khubuts dan apa itu Khobaa’its?Ada dua cara baca dua lafaz di atas : huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts huruf “ba’’ dibaca sukun : Khubtsu Jika huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts, maka status lafaz ini adalah bentuk jamak dari kata tunggal (mufrad) Khobiits; yang artinya kekejian. Maksudnya adalah setan laki-laki. Kemudian Khobaa-its maknanya adalah setan perempuan.Sebingga arti doa di atas : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari setan laki-laki dan setan perempuan.Adapun jika huruf “ba’’ pada doa dibaca sukun : Khubtsu, maka maknanya adalah keburukan, kemudian Khobaa-its maknanya adalah jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Berdasarkan cara baca versi kedua ini, arti doa menjadi berubah : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari keburukan dan setan, jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Mengapa Kita Disunnahkan Membaca Doa – Doa Ini Saat Masuk WC?Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, ولأن هذا المكان مأوى الخبثاء فهو مأوى الشياطين، فناسب أن يستعيذ عند ذلك حتى لا يصيبه الخبث وهو الشر ولا الخبائث وهي النفوس الشريرة“Karena WC / kamar mandi adalah tempat persembunyian hal yang keji; tempat persembunyian setan-setan. Sehingga tepat ketika seorang masuk WC / kamar mandi berlindung dari setan-setan tersebut. Agar dia tidak terkena keburukan atau bahaya dari jiwa-jiwa yang jahat.” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Faqih, ringkasan Syarah Al-Mumti’ karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)Wallahu a’lam bis showab.Baca Juga:Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id 🔍 Mengusap Wajah Setelah Berdoa, Kafir Menurut Alquran, Al Fatihah Untuk Arwah, Wanita Menurut Al Quran, Seorang Muslim Wajib Beriman Kepada Malaikat Allah Swt. Maksud Dari Beriman Adalah


Bismillah…Ada dua doa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat masuk WC :Pertama, membaca bismilllah.Agar aurat kita tertutupi dari pandangan jin. Sebagaimana keterangan dalam hadis,ستر ما بين أعين الجن وعورات بني آدم إذا دخل أحدكم الكنيف أن يقول باسم الله“Penutup pandangan jin kepada aurat manusia adalah, jika kalian masuk WC maka ucapkan bismillah (arti : dengan menyebut nama Allah)” (HR. Tirmidzi no. 606, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil)Kedua, membaca doa :اللهم إني أعوذبك من الخبث والخبائث ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAA-ITSArtinya : “Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari Khubuts dan Khobaa’its.”Apa itu Khubuts dan apa itu Khobaa’its?Ada dua cara baca dua lafaz di atas : huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts huruf “ba’’ dibaca sukun : Khubtsu Jika huruf “ba’’ dibaca dhummah : Khubuts, maka status lafaz ini adalah bentuk jamak dari kata tunggal (mufrad) Khobiits; yang artinya kekejian. Maksudnya adalah setan laki-laki. Kemudian Khobaa-its maknanya adalah setan perempuan.Sebingga arti doa di atas : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari setan laki-laki dan setan perempuan.Adapun jika huruf “ba’’ pada doa dibaca sukun : Khubtsu, maka maknanya adalah keburukan, kemudian Khobaa-its maknanya adalah jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Berdasarkan cara baca versi kedua ini, arti doa menjadi berubah : Ya Allah aku berlindung kepada engkau dari keburukan dan setan, jiwa-jiwa yang jelek/jahat.Mengapa Kita Disunnahkan Membaca Doa – Doa Ini Saat Masuk WC?Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, ولأن هذا المكان مأوى الخبثاء فهو مأوى الشياطين، فناسب أن يستعيذ عند ذلك حتى لا يصيبه الخبث وهو الشر ولا الخبائث وهي النفوس الشريرة“Karena WC / kamar mandi adalah tempat persembunyian hal yang keji; tempat persembunyian setan-setan. Sehingga tepat ketika seorang masuk WC / kamar mandi berlindung dari setan-setan tersebut. Agar dia tidak terkena keburukan atau bahaya dari jiwa-jiwa yang jahat.” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Faqih, ringkasan Syarah Al-Mumti’ karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)Wallahu a’lam bis showab.Baca Juga:Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id 🔍 Mengusap Wajah Setelah Berdoa, Kafir Menurut Alquran, Al Fatihah Untuk Arwah, Wanita Menurut Al Quran, Seorang Muslim Wajib Beriman Kepada Malaikat Allah Swt. Maksud Dari Beriman Adalah

Hukum Takbir Setelah Salam dalam Shalat

Pertanyaan:Apa hukumnya takbir setelah salam pada salat fardhu?Jawaban:Alhamdulillah wash shalatu was salamu ’ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ‘amma ba’duTerdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dan selainnya dari Tsauban Radhiyallahu’anhu, ia berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا انصرف من صلاته، استغفر ثلاثًا، وقال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت ذا الجلال والإكرام. قال الوليد: فقلت للأوزاعي: كيف الاستغفار؟ قال: تقول: أستغفر الله، أستغفر الله“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar tiga kali, dan beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Al-Walid berkata, ‘Aku berkata kepada Al-Auza’i, ‘Bagaimana cara beristighfar?’ Ia berkata, ‘Ucapkan: Astaghfirullah, astaghfirullah”” (HR. Muslim no. 591).Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, mereka ditanya,“Apakah disyariatkan bagi orang yang salat setelah salam membaca, ‘Allahu akbar‘ sebelum beristighfar tiga kali, berdasarkan pada lafaz (takbir) pada hadis ibnu abbas Radhiyallahu ’anhuma,كنت أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Aku mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir’ (Muttafaq ‘alaih). Jika tidak boleh demikian, maka apa yang dimaksud dengan takbir pada hadis tersebut?”Al Lajnah Ad Daimah menjawab,“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan zikir-zikir yang lain.Adapun takbir yang disebutkan dalam hadis tersebut, yang dimaksud adalah bacaan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’, yang dibaca setelah shalat sebanyak 33 kali. Dan demikianlah cara mengkompromikan hadis-hadis yang membahas hal tersebut.”Di dalam syarah Sunan Abu Dawud karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, disebutkan,“Abu Dawud membawakan lafaz hadis ini – yaitu hadis takbir setelah salat – maksudnya adalah bertakbir dan berzikir dengan mengeraskan suara. Karena dalam satu riwayat disebutkan ‘takbir’ dalam lafaz hadisnya, dan disebutkan ‘zikir’ di riwayat yang kedua. Dan zikir itu lebih umum daripada takbir. Karena zikir itu mencakup takbir dan juga yang selain takbir.Dan Abu Dawud setelah membawakan riwayat pertama, beliau juga membawakan riwayat dari Ibnu Abbas,كان يعلم انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Dia mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir.’Maksudnya adalah orang yang terlambat mendatangi shalat jamaah, dia akan mendengar takbir yang diucapkan imam. Dan penyebutan ‘takbir’ tidak disebutkan bahwasanya itu diucapkan setelah salam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah salam membaca, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah’, kemudian dilanjutkan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’. Inilah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu takbir diucapkan bersamaan dengan tasbih dan tahmid.Maka yang terdapat pada riwayat adalah,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سلم، استغفر ثلاثًا، ثم قال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت يا ذا الجلال والإكرام‘Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian).’Kemudian riwayat kedua menyebutkan lafadz ‘zikir’ yang mencakup takbir dan selain takbir. Makna lafaz ‘zikir’ tersebut sesuai dengan yang terdapat pada riwayat-riwayat lainnya. Ini semua menunjukkan bahwa setelah salat, hendaknya berzikir. Yang diawali istighfar, kemudian ‘Allahumma antassalam wa minkas salam ….’ Dan pada riwayat ini terdapat penyebutan ‘takbir’ yang takbir ini dimaknai sebagai takbir yang ucapkan bersama dengan tasbih dan tahmid setelah salat” (selesai nukilan dari Syarah Sunan Abu Daud).Kesimpulannya, amalan yang dibaca langsung setelah salat fardhu adalah membaca istighfra 3 kali, sebagaimana yang telah kita ketahui. Sedangkan takbir yang dibaca langsung setelah salam pada salat fardhu merupakan amalan yang tidak ditemukan petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:Wallahua’lam***Penerjamah: Rafif ZufarihsanArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Fatwa Dewan Fatwa Islamweb, (http://bit.ly/3cDV9Qm).🔍 Namimah Adalah, Arti Bid Ah, Nishab Zakat Maal, Biaya Masuk Pesantren Tunas Ilmu, Bahasa Inggris Agama Islam

Hukum Takbir Setelah Salam dalam Shalat

Pertanyaan:Apa hukumnya takbir setelah salam pada salat fardhu?Jawaban:Alhamdulillah wash shalatu was salamu ’ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ‘amma ba’duTerdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dan selainnya dari Tsauban Radhiyallahu’anhu, ia berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا انصرف من صلاته، استغفر ثلاثًا، وقال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت ذا الجلال والإكرام. قال الوليد: فقلت للأوزاعي: كيف الاستغفار؟ قال: تقول: أستغفر الله، أستغفر الله“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar tiga kali, dan beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Al-Walid berkata, ‘Aku berkata kepada Al-Auza’i, ‘Bagaimana cara beristighfar?’ Ia berkata, ‘Ucapkan: Astaghfirullah, astaghfirullah”” (HR. Muslim no. 591).Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, mereka ditanya,“Apakah disyariatkan bagi orang yang salat setelah salam membaca, ‘Allahu akbar‘ sebelum beristighfar tiga kali, berdasarkan pada lafaz (takbir) pada hadis ibnu abbas Radhiyallahu ’anhuma,كنت أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Aku mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir’ (Muttafaq ‘alaih). Jika tidak boleh demikian, maka apa yang dimaksud dengan takbir pada hadis tersebut?”Al Lajnah Ad Daimah menjawab,“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan zikir-zikir yang lain.Adapun takbir yang disebutkan dalam hadis tersebut, yang dimaksud adalah bacaan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’, yang dibaca setelah shalat sebanyak 33 kali. Dan demikianlah cara mengkompromikan hadis-hadis yang membahas hal tersebut.”Di dalam syarah Sunan Abu Dawud karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, disebutkan,“Abu Dawud membawakan lafaz hadis ini – yaitu hadis takbir setelah salat – maksudnya adalah bertakbir dan berzikir dengan mengeraskan suara. Karena dalam satu riwayat disebutkan ‘takbir’ dalam lafaz hadisnya, dan disebutkan ‘zikir’ di riwayat yang kedua. Dan zikir itu lebih umum daripada takbir. Karena zikir itu mencakup takbir dan juga yang selain takbir.Dan Abu Dawud setelah membawakan riwayat pertama, beliau juga membawakan riwayat dari Ibnu Abbas,كان يعلم انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Dia mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir.’Maksudnya adalah orang yang terlambat mendatangi shalat jamaah, dia akan mendengar takbir yang diucapkan imam. Dan penyebutan ‘takbir’ tidak disebutkan bahwasanya itu diucapkan setelah salam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah salam membaca, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah’, kemudian dilanjutkan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’. Inilah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu takbir diucapkan bersamaan dengan tasbih dan tahmid.Maka yang terdapat pada riwayat adalah,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سلم، استغفر ثلاثًا، ثم قال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت يا ذا الجلال والإكرام‘Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian).’Kemudian riwayat kedua menyebutkan lafadz ‘zikir’ yang mencakup takbir dan selain takbir. Makna lafaz ‘zikir’ tersebut sesuai dengan yang terdapat pada riwayat-riwayat lainnya. Ini semua menunjukkan bahwa setelah salat, hendaknya berzikir. Yang diawali istighfar, kemudian ‘Allahumma antassalam wa minkas salam ….’ Dan pada riwayat ini terdapat penyebutan ‘takbir’ yang takbir ini dimaknai sebagai takbir yang ucapkan bersama dengan tasbih dan tahmid setelah salat” (selesai nukilan dari Syarah Sunan Abu Daud).Kesimpulannya, amalan yang dibaca langsung setelah salat fardhu adalah membaca istighfra 3 kali, sebagaimana yang telah kita ketahui. Sedangkan takbir yang dibaca langsung setelah salam pada salat fardhu merupakan amalan yang tidak ditemukan petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:Wallahua’lam***Penerjamah: Rafif ZufarihsanArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Fatwa Dewan Fatwa Islamweb, (http://bit.ly/3cDV9Qm).🔍 Namimah Adalah, Arti Bid Ah, Nishab Zakat Maal, Biaya Masuk Pesantren Tunas Ilmu, Bahasa Inggris Agama Islam
Pertanyaan:Apa hukumnya takbir setelah salam pada salat fardhu?Jawaban:Alhamdulillah wash shalatu was salamu ’ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ‘amma ba’duTerdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dan selainnya dari Tsauban Radhiyallahu’anhu, ia berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا انصرف من صلاته، استغفر ثلاثًا، وقال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت ذا الجلال والإكرام. قال الوليد: فقلت للأوزاعي: كيف الاستغفار؟ قال: تقول: أستغفر الله، أستغفر الله“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar tiga kali, dan beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Al-Walid berkata, ‘Aku berkata kepada Al-Auza’i, ‘Bagaimana cara beristighfar?’ Ia berkata, ‘Ucapkan: Astaghfirullah, astaghfirullah”” (HR. Muslim no. 591).Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, mereka ditanya,“Apakah disyariatkan bagi orang yang salat setelah salam membaca, ‘Allahu akbar‘ sebelum beristighfar tiga kali, berdasarkan pada lafaz (takbir) pada hadis ibnu abbas Radhiyallahu ’anhuma,كنت أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Aku mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir’ (Muttafaq ‘alaih). Jika tidak boleh demikian, maka apa yang dimaksud dengan takbir pada hadis tersebut?”Al Lajnah Ad Daimah menjawab,“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan zikir-zikir yang lain.Adapun takbir yang disebutkan dalam hadis tersebut, yang dimaksud adalah bacaan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’, yang dibaca setelah shalat sebanyak 33 kali. Dan demikianlah cara mengkompromikan hadis-hadis yang membahas hal tersebut.”Di dalam syarah Sunan Abu Dawud karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, disebutkan,“Abu Dawud membawakan lafaz hadis ini – yaitu hadis takbir setelah salat – maksudnya adalah bertakbir dan berzikir dengan mengeraskan suara. Karena dalam satu riwayat disebutkan ‘takbir’ dalam lafaz hadisnya, dan disebutkan ‘zikir’ di riwayat yang kedua. Dan zikir itu lebih umum daripada takbir. Karena zikir itu mencakup takbir dan juga yang selain takbir.Dan Abu Dawud setelah membawakan riwayat pertama, beliau juga membawakan riwayat dari Ibnu Abbas,كان يعلم انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Dia mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir.’Maksudnya adalah orang yang terlambat mendatangi shalat jamaah, dia akan mendengar takbir yang diucapkan imam. Dan penyebutan ‘takbir’ tidak disebutkan bahwasanya itu diucapkan setelah salam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah salam membaca, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah’, kemudian dilanjutkan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’. Inilah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu takbir diucapkan bersamaan dengan tasbih dan tahmid.Maka yang terdapat pada riwayat adalah,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سلم، استغفر ثلاثًا، ثم قال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت يا ذا الجلال والإكرام‘Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian).’Kemudian riwayat kedua menyebutkan lafadz ‘zikir’ yang mencakup takbir dan selain takbir. Makna lafaz ‘zikir’ tersebut sesuai dengan yang terdapat pada riwayat-riwayat lainnya. Ini semua menunjukkan bahwa setelah salat, hendaknya berzikir. Yang diawali istighfar, kemudian ‘Allahumma antassalam wa minkas salam ….’ Dan pada riwayat ini terdapat penyebutan ‘takbir’ yang takbir ini dimaknai sebagai takbir yang ucapkan bersama dengan tasbih dan tahmid setelah salat” (selesai nukilan dari Syarah Sunan Abu Daud).Kesimpulannya, amalan yang dibaca langsung setelah salat fardhu adalah membaca istighfra 3 kali, sebagaimana yang telah kita ketahui. Sedangkan takbir yang dibaca langsung setelah salam pada salat fardhu merupakan amalan yang tidak ditemukan petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:Wallahua’lam***Penerjamah: Rafif ZufarihsanArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Fatwa Dewan Fatwa Islamweb, (http://bit.ly/3cDV9Qm).🔍 Namimah Adalah, Arti Bid Ah, Nishab Zakat Maal, Biaya Masuk Pesantren Tunas Ilmu, Bahasa Inggris Agama Islam


Pertanyaan:Apa hukumnya takbir setelah salam pada salat fardhu?Jawaban:Alhamdulillah wash shalatu was salamu ’ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ‘amma ba’duTerdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dan selainnya dari Tsauban Radhiyallahu’anhu, ia berkata,كان رسول الله صلى الله عليه وسلم، إذا انصرف من صلاته، استغفر ثلاثًا، وقال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت ذا الجلال والإكرام. قال الوليد: فقلت للأوزاعي: كيف الاستغفار؟ قال: تقول: أستغفر الله، أستغفر الله“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar tiga kali, dan beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Al-Walid berkata, ‘Aku berkata kepada Al-Auza’i, ‘Bagaimana cara beristighfar?’ Ia berkata, ‘Ucapkan: Astaghfirullah, astaghfirullah”” (HR. Muslim no. 591).Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, mereka ditanya,“Apakah disyariatkan bagi orang yang salat setelah salam membaca, ‘Allahu akbar‘ sebelum beristighfar tiga kali, berdasarkan pada lafaz (takbir) pada hadis ibnu abbas Radhiyallahu ’anhuma,كنت أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Aku mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir’ (Muttafaq ‘alaih). Jika tidak boleh demikian, maka apa yang dimaksud dengan takbir pada hadis tersebut?”Al Lajnah Ad Daimah menjawab,“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Artinya: Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan dengan zikir-zikir yang lain.Adapun takbir yang disebutkan dalam hadis tersebut, yang dimaksud adalah bacaan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’, yang dibaca setelah shalat sebanyak 33 kali. Dan demikianlah cara mengkompromikan hadis-hadis yang membahas hal tersebut.”Di dalam syarah Sunan Abu Dawud karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, disebutkan,“Abu Dawud membawakan lafaz hadis ini – yaitu hadis takbir setelah salat – maksudnya adalah bertakbir dan berzikir dengan mengeraskan suara. Karena dalam satu riwayat disebutkan ‘takbir’ dalam lafaz hadisnya, dan disebutkan ‘zikir’ di riwayat yang kedua. Dan zikir itu lebih umum daripada takbir. Karena zikir itu mencakup takbir dan juga yang selain takbir.Dan Abu Dawud setelah membawakan riwayat pertama, beliau juga membawakan riwayat dari Ibnu Abbas,كان يعلم انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير‘Dia mengetahui salat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berakhir dengan mendengar takbir.’Maksudnya adalah orang yang terlambat mendatangi shalat jamaah, dia akan mendengar takbir yang diucapkan imam. Dan penyebutan ‘takbir’ tidak disebutkan bahwasanya itu diucapkan setelah salam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah salam membaca, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah’, kemudian dilanjutkan, ‘Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar’. Inilah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu takbir diucapkan bersamaan dengan tasbih dan tahmid.Maka yang terdapat pada riwayat adalah,أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سلم، استغفر ثلاثًا، ثم قال: اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت يا ذا الجلال والإكرام‘Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari salat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan beristighfar tiga kali, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: /Allaahumma antassalaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaali wal ikraam/ (Ya Allah Engkau-lah As-Salam, dan keselamatan hanya dari-Mu, Maha Suci Engkau wahai Dzat yang memiliki semua keagungan dan kemulian).’Kemudian riwayat kedua menyebutkan lafadz ‘zikir’ yang mencakup takbir dan selain takbir. Makna lafaz ‘zikir’ tersebut sesuai dengan yang terdapat pada riwayat-riwayat lainnya. Ini semua menunjukkan bahwa setelah salat, hendaknya berzikir. Yang diawali istighfar, kemudian ‘Allahumma antassalam wa minkas salam ….’ Dan pada riwayat ini terdapat penyebutan ‘takbir’ yang takbir ini dimaknai sebagai takbir yang ucapkan bersama dengan tasbih dan tahmid setelah salat” (selesai nukilan dari Syarah Sunan Abu Daud).Kesimpulannya, amalan yang dibaca langsung setelah salat fardhu adalah membaca istighfra 3 kali, sebagaimana yang telah kita ketahui. Sedangkan takbir yang dibaca langsung setelah salam pada salat fardhu merupakan amalan yang tidak ditemukan petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca Juga:Wallahua’lam***Penerjamah: Rafif ZufarihsanArtikel: Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Fatwa Dewan Fatwa Islamweb, (http://bit.ly/3cDV9Qm).🔍 Namimah Adalah, Arti Bid Ah, Nishab Zakat Maal, Biaya Masuk Pesantren Tunas Ilmu, Bahasa Inggris Agama Islam

Piring dan Gelas Emas, Ingat Orang-Orang Miskin di Sekitar Anda

BismillahirrahmanirrahiimIslam melarang makan dan minum di piring gelas yang terbuat atau dilapisi emas. Baik itu gelas piring besar maupun kecil. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,لا تشربوا في آنية الذهب والفضة, ولا تأكلوا في صحافهاما, فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرة“Jangan kalian minum di bejana emas dan perak, jangan pula makan di piring emas dan perak, karena sesunggunya itu untuk orang-orang kafir di dunia, dan untuk kalian di akhirat kelak” (HR. Bukhori (5427), Muslim (2067)).Pesan yang mulian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam lebih tegas lagi disampaikan di hadis yang lain,الذي يشرب في آنية الذهب والفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم“Orang yang minum di gelas emas atau perak, itu api neraka sedang bergejolak di dalam perutnya” (HR. Bukhori (5634) dan Muslim (2065)).Dua hadis di atas tegas menunjukkan haram makan dan minum di piring gelas emas. Indikasinya adalah, keterangan diperuntukkan orang kafir di dunia dan ancaman api neraka bagi pelakunya.Bukan untuk makan dan minum?Bolehkah jika untuk pajangan saja atau simpanan saja, tidak untuk makan dan minum?Kaidah fikih ini dapat membantu menjawabnya,الأصل في الأشياء الإباحة“Hukum asal segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi adalah mubah (boleh dinikmati).”Termasuk di sini adalah piring dan gelas emas atau perak. Pada asalnya halal atau mubah, sampai ada dalil syariat yang melarangnya. Di sini ada dalil yang merubah hukum halal itu, yaitu dua hadis yang kami cantumkan di atas, namun tidak melarang secara mutlak, hanya menyangkut satu penggunaan piring emas dan perak, yaitu untuk makan dan minum. Sehingga selain bukan digunakan makan dan minum, hukum kembali kepada asalnnya, yaitu mubah atau halal.Ummu Salamah Radhiyallahu’anha pernah punya mangkuk yang terbuat dari perak. Untuk wadah rambut-rambut Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Orang-orang menggunakan rambut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat. Lalu Allah sembuhkan penyakit yang diderita (Riwayat Bukhori no. 5896).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang Ummu Salamah, kalau saja haram, tentu telah Nabi larang. Karena Nabi tidak pernah mendiamkan kemungkaran dan tak pernah menunda penjelasan di saat dibutuhkan.Meskipun boleh, kami tidak menyarankan memajang piring emas dan perak. Demi menjaga perasaan orang-orang miskin di sekitar kita.Mengapa hanya dilarang untuk makan dan minum?Syaikh Sholih Al-‘Utsaimin menjawabnya,كون النبي صلى الله عليه وسلم يعلق الحكم بالأكل والشرب لأن مظهرالأمة بالترف في الأكل والشرب أبلغ منه في مظهرها في غري ذلك“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkaitkan larangan hanya pada makan dan minum, karena aura kemewahan lebih kental pada penggunakan piring gelas dari emas dan perak, daripada penggunaan selain makan dan minum” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Fakih, ringkasan Syarah, Al-Mumti’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).Wallahu a’lam bis showab.Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Naca Juga:Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id

Piring dan Gelas Emas, Ingat Orang-Orang Miskin di Sekitar Anda

BismillahirrahmanirrahiimIslam melarang makan dan minum di piring gelas yang terbuat atau dilapisi emas. Baik itu gelas piring besar maupun kecil. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,لا تشربوا في آنية الذهب والفضة, ولا تأكلوا في صحافهاما, فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرة“Jangan kalian minum di bejana emas dan perak, jangan pula makan di piring emas dan perak, karena sesunggunya itu untuk orang-orang kafir di dunia, dan untuk kalian di akhirat kelak” (HR. Bukhori (5427), Muslim (2067)).Pesan yang mulian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam lebih tegas lagi disampaikan di hadis yang lain,الذي يشرب في آنية الذهب والفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم“Orang yang minum di gelas emas atau perak, itu api neraka sedang bergejolak di dalam perutnya” (HR. Bukhori (5634) dan Muslim (2065)).Dua hadis di atas tegas menunjukkan haram makan dan minum di piring gelas emas. Indikasinya adalah, keterangan diperuntukkan orang kafir di dunia dan ancaman api neraka bagi pelakunya.Bukan untuk makan dan minum?Bolehkah jika untuk pajangan saja atau simpanan saja, tidak untuk makan dan minum?Kaidah fikih ini dapat membantu menjawabnya,الأصل في الأشياء الإباحة“Hukum asal segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi adalah mubah (boleh dinikmati).”Termasuk di sini adalah piring dan gelas emas atau perak. Pada asalnya halal atau mubah, sampai ada dalil syariat yang melarangnya. Di sini ada dalil yang merubah hukum halal itu, yaitu dua hadis yang kami cantumkan di atas, namun tidak melarang secara mutlak, hanya menyangkut satu penggunaan piring emas dan perak, yaitu untuk makan dan minum. Sehingga selain bukan digunakan makan dan minum, hukum kembali kepada asalnnya, yaitu mubah atau halal.Ummu Salamah Radhiyallahu’anha pernah punya mangkuk yang terbuat dari perak. Untuk wadah rambut-rambut Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Orang-orang menggunakan rambut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat. Lalu Allah sembuhkan penyakit yang diderita (Riwayat Bukhori no. 5896).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang Ummu Salamah, kalau saja haram, tentu telah Nabi larang. Karena Nabi tidak pernah mendiamkan kemungkaran dan tak pernah menunda penjelasan di saat dibutuhkan.Meskipun boleh, kami tidak menyarankan memajang piring emas dan perak. Demi menjaga perasaan orang-orang miskin di sekitar kita.Mengapa hanya dilarang untuk makan dan minum?Syaikh Sholih Al-‘Utsaimin menjawabnya,كون النبي صلى الله عليه وسلم يعلق الحكم بالأكل والشرب لأن مظهرالأمة بالترف في الأكل والشرب أبلغ منه في مظهرها في غري ذلك“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkaitkan larangan hanya pada makan dan minum, karena aura kemewahan lebih kental pada penggunakan piring gelas dari emas dan perak, daripada penggunaan selain makan dan minum” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Fakih, ringkasan Syarah, Al-Mumti’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).Wallahu a’lam bis showab.Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Naca Juga:Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id
BismillahirrahmanirrahiimIslam melarang makan dan minum di piring gelas yang terbuat atau dilapisi emas. Baik itu gelas piring besar maupun kecil. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,لا تشربوا في آنية الذهب والفضة, ولا تأكلوا في صحافهاما, فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرة“Jangan kalian minum di bejana emas dan perak, jangan pula makan di piring emas dan perak, karena sesunggunya itu untuk orang-orang kafir di dunia, dan untuk kalian di akhirat kelak” (HR. Bukhori (5427), Muslim (2067)).Pesan yang mulian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam lebih tegas lagi disampaikan di hadis yang lain,الذي يشرب في آنية الذهب والفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم“Orang yang minum di gelas emas atau perak, itu api neraka sedang bergejolak di dalam perutnya” (HR. Bukhori (5634) dan Muslim (2065)).Dua hadis di atas tegas menunjukkan haram makan dan minum di piring gelas emas. Indikasinya adalah, keterangan diperuntukkan orang kafir di dunia dan ancaman api neraka bagi pelakunya.Bukan untuk makan dan minum?Bolehkah jika untuk pajangan saja atau simpanan saja, tidak untuk makan dan minum?Kaidah fikih ini dapat membantu menjawabnya,الأصل في الأشياء الإباحة“Hukum asal segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi adalah mubah (boleh dinikmati).”Termasuk di sini adalah piring dan gelas emas atau perak. Pada asalnya halal atau mubah, sampai ada dalil syariat yang melarangnya. Di sini ada dalil yang merubah hukum halal itu, yaitu dua hadis yang kami cantumkan di atas, namun tidak melarang secara mutlak, hanya menyangkut satu penggunaan piring emas dan perak, yaitu untuk makan dan minum. Sehingga selain bukan digunakan makan dan minum, hukum kembali kepada asalnnya, yaitu mubah atau halal.Ummu Salamah Radhiyallahu’anha pernah punya mangkuk yang terbuat dari perak. Untuk wadah rambut-rambut Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Orang-orang menggunakan rambut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat. Lalu Allah sembuhkan penyakit yang diderita (Riwayat Bukhori no. 5896).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang Ummu Salamah, kalau saja haram, tentu telah Nabi larang. Karena Nabi tidak pernah mendiamkan kemungkaran dan tak pernah menunda penjelasan di saat dibutuhkan.Meskipun boleh, kami tidak menyarankan memajang piring emas dan perak. Demi menjaga perasaan orang-orang miskin di sekitar kita.Mengapa hanya dilarang untuk makan dan minum?Syaikh Sholih Al-‘Utsaimin menjawabnya,كون النبي صلى الله عليه وسلم يعلق الحكم بالأكل والشرب لأن مظهرالأمة بالترف في الأكل والشرب أبلغ منه في مظهرها في غري ذلك“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkaitkan larangan hanya pada makan dan minum, karena aura kemewahan lebih kental pada penggunakan piring gelas dari emas dan perak, daripada penggunaan selain makan dan minum” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Fakih, ringkasan Syarah, Al-Mumti’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).Wallahu a’lam bis showab.Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Naca Juga:Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id


BismillahirrahmanirrahiimIslam melarang makan dan minum di piring gelas yang terbuat atau dilapisi emas. Baik itu gelas piring besar maupun kecil. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,لا تشربوا في آنية الذهب والفضة, ولا تأكلوا في صحافهاما, فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرة“Jangan kalian minum di bejana emas dan perak, jangan pula makan di piring emas dan perak, karena sesunggunya itu untuk orang-orang kafir di dunia, dan untuk kalian di akhirat kelak” (HR. Bukhori (5427), Muslim (2067)).Pesan yang mulian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam lebih tegas lagi disampaikan di hadis yang lain,الذي يشرب في آنية الذهب والفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم“Orang yang minum di gelas emas atau perak, itu api neraka sedang bergejolak di dalam perutnya” (HR. Bukhori (5634) dan Muslim (2065)).Dua hadis di atas tegas menunjukkan haram makan dan minum di piring gelas emas. Indikasinya adalah, keterangan diperuntukkan orang kafir di dunia dan ancaman api neraka bagi pelakunya.Bukan untuk makan dan minum?Bolehkah jika untuk pajangan saja atau simpanan saja, tidak untuk makan dan minum?Kaidah fikih ini dapat membantu menjawabnya,الأصل في الأشياء الإباحة“Hukum asal segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi adalah mubah (boleh dinikmati).”Termasuk di sini adalah piring dan gelas emas atau perak. Pada asalnya halal atau mubah, sampai ada dalil syariat yang melarangnya. Di sini ada dalil yang merubah hukum halal itu, yaitu dua hadis yang kami cantumkan di atas, namun tidak melarang secara mutlak, hanya menyangkut satu penggunaan piring emas dan perak, yaitu untuk makan dan minum. Sehingga selain bukan digunakan makan dan minum, hukum kembali kepada asalnnya, yaitu mubah atau halal.Ummu Salamah Radhiyallahu’anha pernah punya mangkuk yang terbuat dari perak. Untuk wadah rambut-rambut Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Orang-orang menggunakan rambut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat. Lalu Allah sembuhkan penyakit yang diderita (Riwayat Bukhori no. 5896).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang Ummu Salamah, kalau saja haram, tentu telah Nabi larang. Karena Nabi tidak pernah mendiamkan kemungkaran dan tak pernah menunda penjelasan di saat dibutuhkan.Meskipun boleh, kami tidak menyarankan memajang piring emas dan perak. Demi menjaga perasaan orang-orang miskin di sekitar kita.Mengapa hanya dilarang untuk makan dan minum?Syaikh Sholih Al-‘Utsaimin menjawabnya,كون النبي صلى الله عليه وسلم يعلق الحكم بالأكل والشرب لأن مظهرالأمة بالترف في الأكل والشرب أبلغ منه في مظهرها في غري ذلك“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkaitkan larangan hanya pada makan dan minum, karena aura kemewahan lebih kental pada penggunakan piring gelas dari emas dan perak, daripada penggunaan selain makan dan minum” (Dikutip secara ringkas dari kitab Bidayatul Fakih, ringkasan Syarah, Al-Mumti’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).Wallahu a’lam bis showab.Referensi:Bidayatul Faqih, karya Dr. Salim Al-Ajmi, penerbit Maktabah Ahlul Atsar.Naca Juga:Ditulis oleh: Ahmad AnshoriArtikel: Muslim.or.id

Adakah Nabi dari Kalangan Wanita?

Pendapat ahlus sunnah dalam masalah iniYang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Yang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah, dan pendapat ahlus sunnah ini telah disebutkan oleh Syekh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari rahimahullah, bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Yang ada dari kalangan wanita adalah shiddiqah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala tentang wanita yang paling mulia, yaitu Maryam binti ‘Imran, ketika Allah Ta’ala berfirman,مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.” (QS. Al-Maidah [5]: 75)Allah Ta’ala mensifati (Maryam) dalam kedudukan yang paling mulia, yaitu sebagai shiddiqah. Seandainya beliau adalah Nabi wanita, tentu akan disebutkan dalam posisi pemuliaan dan pengagungan tersebut. Maka beliau (Maryam) adalah shiddiqah berdasarkan dalil tegas dari Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Ahlus sunnah juga berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf [12]: 109)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala berfirman menyebutkan Nabi Muhammad, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali orang laki-laki, bukan wanita, dan bukan pula malaikat.” (Tafsir Ath-Thabari, 16: 293)Baca Juga: Tingkatan Keutamaan para Nabi dan RasulPendapat yang menyelisihi ahlus sunnahTerdapat pendapat yang menyelisihi ahlus sunnah dalam masalah ini, yaitu yang dikemukakan oleh Ibnu Hazm dan Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahumallah. Di antara yang dianggap sebagai Nabi dari kalangan wanita adalah Sarah istri Nabi Ibrahim, ibunda dari Nabi Musa, Maryam ibunda dari Nabi Isa, dan Asiyah istri Fir’aun.Ibnu Hazm rahimahullah berkata setelah menetapkan adanya kenabian bagi kaum wanita dan di antara Nabi wanita adalah Maryam ‘alaihassalam, “Dan firman Allah Ta’ala,وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Dan ibunya seorang yang sangat benar”; tidaklah artinya melainkan bahwa Maryam adalah Nabi wanita.” (Al-Fashlu fil Milali wal Ahwaa’ wan Nihal, 5: 13)Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Pendapat yang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita.” (Tafsir Al-Qurthubi, 4: 83)Pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dapat disanggah dengan perkataan Ibnu Katsir rahimahullah yang telah kami kutip sebelumnya. Yaitu jika memang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi tentu akan disebutkan dalam ayat tersebut, karena ayat tersebut sedang berbicara tentang kemuliaan ibunda Maryam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam rangka menyanggah pendapat Ibnu Hazm,“Abu Muhammad (yaitu Ibnu Hazm), beliau adalah ulama yang luas ilmunya dan juga menyampaikan banyak faidah ilmu yang agung. Akan tetapi, selain memiliki perkataan-perkataan baik dan brilian yang mengagumkan, beliau juga memiliki perkataan-perkataan munkar dan syadz (ganjil) yang mengherankan. Salah satu contohnya adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita. Telah disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Bakr, Al-Qadhi Abu Ya’la, Abul Ma’alai, dan selain mereka, adanya ijma’ (ahlus sunnah) bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Ulama yang mengatakan bahwa ada Nabi dari kalangan wanita juga berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ“Manusia yang sempurna dari kalangan laki-laki sekian banyak, namun tidak ada manusia sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam binti ‘Imran, Asiyah, dan istrinya Fir’aun.” (HR. Bukhari no. 3769)Cara berdalil seperti ini dapat disanggah bahwa kata “sempurna” tidaklah otomatis menunjukkan bahwa Nabi bisa berasal dari kalangan wanita. Hal ini karena yang dimaksud dengan “sempurna” dalam hadits tersebut adalah mencapai puncak keutamaan dan kemuliaan yang sesuai dengan kondisi (kodrat) para wanita. (Lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar, 6: 447)Juga sebagian mereka menyangka bahwa ada Nabi dari kalangan wanita karena sebagian wanita mulia tersebut mendapatkan kabar berita dari malaikat. Sebagaimana kepada ibu dari Nabi Musa ‘alaihis salaam dalam firman Allah Ta’ala,وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia”.” (QS. Al-Qashash [28]: 7)Juga malaikat datang kepada ibunda Maryam dan memberikan kabar tentang ‘Isa ‘alaihis salaam,وَإِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 42)Anggapan ini pun bisa disanggah bahwa semata-mata mendapatkan kabar berita dari malaikat tidaklah otomatis menunjukkan bahwa para wanita mulia tersebut diangkat menjadi Nabi. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Baca Juga: Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah NabiKesimpulan dalam masalah iniPendapat yang benar dalam masalah ini adalah sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Adapun perkataan yang menyelisihi pendapat tersebut adalah pendapat yang syadz (ganjil) yang tidak boleh dianggap.An-Nawawi rahimahullah berkata setelah mengutip perkataan Al-Qadhi ‘Iyadh, “Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keduanya (yaitu Asiyah istri Fir’aun dan Maryam) adalah Nabi adalah pendapat yang dha’if. Dan sejumlah ulama telah mengutip ijma’ bahwa keduanya bukanlah Nabi.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 199)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Perkataan ini (bahwa ada Nabi dari kalangan wanita) adalah perkataan syadz yang tidak pernah dikatakan oleh satu pun para ulama salaf.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1442/14 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 110-112. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.

Adakah Nabi dari Kalangan Wanita?

Pendapat ahlus sunnah dalam masalah iniYang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Yang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah, dan pendapat ahlus sunnah ini telah disebutkan oleh Syekh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari rahimahullah, bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Yang ada dari kalangan wanita adalah shiddiqah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala tentang wanita yang paling mulia, yaitu Maryam binti ‘Imran, ketika Allah Ta’ala berfirman,مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.” (QS. Al-Maidah [5]: 75)Allah Ta’ala mensifati (Maryam) dalam kedudukan yang paling mulia, yaitu sebagai shiddiqah. Seandainya beliau adalah Nabi wanita, tentu akan disebutkan dalam posisi pemuliaan dan pengagungan tersebut. Maka beliau (Maryam) adalah shiddiqah berdasarkan dalil tegas dari Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Ahlus sunnah juga berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf [12]: 109)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala berfirman menyebutkan Nabi Muhammad, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali orang laki-laki, bukan wanita, dan bukan pula malaikat.” (Tafsir Ath-Thabari, 16: 293)Baca Juga: Tingkatan Keutamaan para Nabi dan RasulPendapat yang menyelisihi ahlus sunnahTerdapat pendapat yang menyelisihi ahlus sunnah dalam masalah ini, yaitu yang dikemukakan oleh Ibnu Hazm dan Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahumallah. Di antara yang dianggap sebagai Nabi dari kalangan wanita adalah Sarah istri Nabi Ibrahim, ibunda dari Nabi Musa, Maryam ibunda dari Nabi Isa, dan Asiyah istri Fir’aun.Ibnu Hazm rahimahullah berkata setelah menetapkan adanya kenabian bagi kaum wanita dan di antara Nabi wanita adalah Maryam ‘alaihassalam, “Dan firman Allah Ta’ala,وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Dan ibunya seorang yang sangat benar”; tidaklah artinya melainkan bahwa Maryam adalah Nabi wanita.” (Al-Fashlu fil Milali wal Ahwaa’ wan Nihal, 5: 13)Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Pendapat yang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita.” (Tafsir Al-Qurthubi, 4: 83)Pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dapat disanggah dengan perkataan Ibnu Katsir rahimahullah yang telah kami kutip sebelumnya. Yaitu jika memang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi tentu akan disebutkan dalam ayat tersebut, karena ayat tersebut sedang berbicara tentang kemuliaan ibunda Maryam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam rangka menyanggah pendapat Ibnu Hazm,“Abu Muhammad (yaitu Ibnu Hazm), beliau adalah ulama yang luas ilmunya dan juga menyampaikan banyak faidah ilmu yang agung. Akan tetapi, selain memiliki perkataan-perkataan baik dan brilian yang mengagumkan, beliau juga memiliki perkataan-perkataan munkar dan syadz (ganjil) yang mengherankan. Salah satu contohnya adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita. Telah disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Bakr, Al-Qadhi Abu Ya’la, Abul Ma’alai, dan selain mereka, adanya ijma’ (ahlus sunnah) bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Ulama yang mengatakan bahwa ada Nabi dari kalangan wanita juga berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ“Manusia yang sempurna dari kalangan laki-laki sekian banyak, namun tidak ada manusia sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam binti ‘Imran, Asiyah, dan istrinya Fir’aun.” (HR. Bukhari no. 3769)Cara berdalil seperti ini dapat disanggah bahwa kata “sempurna” tidaklah otomatis menunjukkan bahwa Nabi bisa berasal dari kalangan wanita. Hal ini karena yang dimaksud dengan “sempurna” dalam hadits tersebut adalah mencapai puncak keutamaan dan kemuliaan yang sesuai dengan kondisi (kodrat) para wanita. (Lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar, 6: 447)Juga sebagian mereka menyangka bahwa ada Nabi dari kalangan wanita karena sebagian wanita mulia tersebut mendapatkan kabar berita dari malaikat. Sebagaimana kepada ibu dari Nabi Musa ‘alaihis salaam dalam firman Allah Ta’ala,وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia”.” (QS. Al-Qashash [28]: 7)Juga malaikat datang kepada ibunda Maryam dan memberikan kabar tentang ‘Isa ‘alaihis salaam,وَإِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 42)Anggapan ini pun bisa disanggah bahwa semata-mata mendapatkan kabar berita dari malaikat tidaklah otomatis menunjukkan bahwa para wanita mulia tersebut diangkat menjadi Nabi. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Baca Juga: Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah NabiKesimpulan dalam masalah iniPendapat yang benar dalam masalah ini adalah sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Adapun perkataan yang menyelisihi pendapat tersebut adalah pendapat yang syadz (ganjil) yang tidak boleh dianggap.An-Nawawi rahimahullah berkata setelah mengutip perkataan Al-Qadhi ‘Iyadh, “Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keduanya (yaitu Asiyah istri Fir’aun dan Maryam) adalah Nabi adalah pendapat yang dha’if. Dan sejumlah ulama telah mengutip ijma’ bahwa keduanya bukanlah Nabi.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 199)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Perkataan ini (bahwa ada Nabi dari kalangan wanita) adalah perkataan syadz yang tidak pernah dikatakan oleh satu pun para ulama salaf.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1442/14 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 110-112. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.
Pendapat ahlus sunnah dalam masalah iniYang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Yang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah, dan pendapat ahlus sunnah ini telah disebutkan oleh Syekh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari rahimahullah, bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Yang ada dari kalangan wanita adalah shiddiqah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala tentang wanita yang paling mulia, yaitu Maryam binti ‘Imran, ketika Allah Ta’ala berfirman,مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.” (QS. Al-Maidah [5]: 75)Allah Ta’ala mensifati (Maryam) dalam kedudukan yang paling mulia, yaitu sebagai shiddiqah. Seandainya beliau adalah Nabi wanita, tentu akan disebutkan dalam posisi pemuliaan dan pengagungan tersebut. Maka beliau (Maryam) adalah shiddiqah berdasarkan dalil tegas dari Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Ahlus sunnah juga berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf [12]: 109)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala berfirman menyebutkan Nabi Muhammad, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali orang laki-laki, bukan wanita, dan bukan pula malaikat.” (Tafsir Ath-Thabari, 16: 293)Baca Juga: Tingkatan Keutamaan para Nabi dan RasulPendapat yang menyelisihi ahlus sunnahTerdapat pendapat yang menyelisihi ahlus sunnah dalam masalah ini, yaitu yang dikemukakan oleh Ibnu Hazm dan Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahumallah. Di antara yang dianggap sebagai Nabi dari kalangan wanita adalah Sarah istri Nabi Ibrahim, ibunda dari Nabi Musa, Maryam ibunda dari Nabi Isa, dan Asiyah istri Fir’aun.Ibnu Hazm rahimahullah berkata setelah menetapkan adanya kenabian bagi kaum wanita dan di antara Nabi wanita adalah Maryam ‘alaihassalam, “Dan firman Allah Ta’ala,وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Dan ibunya seorang yang sangat benar”; tidaklah artinya melainkan bahwa Maryam adalah Nabi wanita.” (Al-Fashlu fil Milali wal Ahwaa’ wan Nihal, 5: 13)Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Pendapat yang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita.” (Tafsir Al-Qurthubi, 4: 83)Pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dapat disanggah dengan perkataan Ibnu Katsir rahimahullah yang telah kami kutip sebelumnya. Yaitu jika memang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi tentu akan disebutkan dalam ayat tersebut, karena ayat tersebut sedang berbicara tentang kemuliaan ibunda Maryam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam rangka menyanggah pendapat Ibnu Hazm,“Abu Muhammad (yaitu Ibnu Hazm), beliau adalah ulama yang luas ilmunya dan juga menyampaikan banyak faidah ilmu yang agung. Akan tetapi, selain memiliki perkataan-perkataan baik dan brilian yang mengagumkan, beliau juga memiliki perkataan-perkataan munkar dan syadz (ganjil) yang mengherankan. Salah satu contohnya adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita. Telah disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Bakr, Al-Qadhi Abu Ya’la, Abul Ma’alai, dan selain mereka, adanya ijma’ (ahlus sunnah) bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Ulama yang mengatakan bahwa ada Nabi dari kalangan wanita juga berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ“Manusia yang sempurna dari kalangan laki-laki sekian banyak, namun tidak ada manusia sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam binti ‘Imran, Asiyah, dan istrinya Fir’aun.” (HR. Bukhari no. 3769)Cara berdalil seperti ini dapat disanggah bahwa kata “sempurna” tidaklah otomatis menunjukkan bahwa Nabi bisa berasal dari kalangan wanita. Hal ini karena yang dimaksud dengan “sempurna” dalam hadits tersebut adalah mencapai puncak keutamaan dan kemuliaan yang sesuai dengan kondisi (kodrat) para wanita. (Lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar, 6: 447)Juga sebagian mereka menyangka bahwa ada Nabi dari kalangan wanita karena sebagian wanita mulia tersebut mendapatkan kabar berita dari malaikat. Sebagaimana kepada ibu dari Nabi Musa ‘alaihis salaam dalam firman Allah Ta’ala,وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia”.” (QS. Al-Qashash [28]: 7)Juga malaikat datang kepada ibunda Maryam dan memberikan kabar tentang ‘Isa ‘alaihis salaam,وَإِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 42)Anggapan ini pun bisa disanggah bahwa semata-mata mendapatkan kabar berita dari malaikat tidaklah otomatis menunjukkan bahwa para wanita mulia tersebut diangkat menjadi Nabi. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Baca Juga: Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah NabiKesimpulan dalam masalah iniPendapat yang benar dalam masalah ini adalah sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Adapun perkataan yang menyelisihi pendapat tersebut adalah pendapat yang syadz (ganjil) yang tidak boleh dianggap.An-Nawawi rahimahullah berkata setelah mengutip perkataan Al-Qadhi ‘Iyadh, “Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keduanya (yaitu Asiyah istri Fir’aun dan Maryam) adalah Nabi adalah pendapat yang dha’if. Dan sejumlah ulama telah mengutip ijma’ bahwa keduanya bukanlah Nabi.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 199)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Perkataan ini (bahwa ada Nabi dari kalangan wanita) adalah perkataan syadz yang tidak pernah dikatakan oleh satu pun para ulama salaf.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1442/14 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 110-112. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.


Pendapat ahlus sunnah dalam masalah iniYang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Yang menjadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah, dan pendapat ahlus sunnah ini telah disebutkan oleh Syekh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il Al-Asy’ari rahimahullah, bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Yang ada dari kalangan wanita adalah shiddiqah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala tentang wanita yang paling mulia, yaitu Maryam binti ‘Imran, ketika Allah Ta’ala berfirman,مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar.” (QS. Al-Maidah [5]: 75)Allah Ta’ala mensifati (Maryam) dalam kedudukan yang paling mulia, yaitu sebagai shiddiqah. Seandainya beliau adalah Nabi wanita, tentu akan disebutkan dalam posisi pemuliaan dan pengagungan tersebut. Maka beliau (Maryam) adalah shiddiqah berdasarkan dalil tegas dari Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Ahlus sunnah juga berdalil dengan firman Allah Ta’ala,وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf [12]: 109)Ath-Thabari rahimahullah berkata,“Allah Ta’ala berfirman menyebutkan Nabi Muhammad, “Kami tidak mengutus sebelum kamu, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali orang laki-laki, bukan wanita, dan bukan pula malaikat.” (Tafsir Ath-Thabari, 16: 293)Baca Juga: Tingkatan Keutamaan para Nabi dan RasulPendapat yang menyelisihi ahlus sunnahTerdapat pendapat yang menyelisihi ahlus sunnah dalam masalah ini, yaitu yang dikemukakan oleh Ibnu Hazm dan Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahumallah. Di antara yang dianggap sebagai Nabi dari kalangan wanita adalah Sarah istri Nabi Ibrahim, ibunda dari Nabi Musa, Maryam ibunda dari Nabi Isa, dan Asiyah istri Fir’aun.Ibnu Hazm rahimahullah berkata setelah menetapkan adanya kenabian bagi kaum wanita dan di antara Nabi wanita adalah Maryam ‘alaihassalam, “Dan firman Allah Ta’ala,وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ“Dan ibunya seorang yang sangat benar”; tidaklah artinya melainkan bahwa Maryam adalah Nabi wanita.” (Al-Fashlu fil Milali wal Ahwaa’ wan Nihal, 5: 13)Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah berkata,“Pendapat yang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita.” (Tafsir Al-Qurthubi, 4: 83)Pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dapat disanggah dengan perkataan Ibnu Katsir rahimahullah yang telah kami kutip sebelumnya. Yaitu jika memang benar bahwa Maryam adalah seorang Nabi tentu akan disebutkan dalam ayat tersebut, karena ayat tersebut sedang berbicara tentang kemuliaan ibunda Maryam.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam rangka menyanggah pendapat Ibnu Hazm,“Abu Muhammad (yaitu Ibnu Hazm), beliau adalah ulama yang luas ilmunya dan juga menyampaikan banyak faidah ilmu yang agung. Akan tetapi, selain memiliki perkataan-perkataan baik dan brilian yang mengagumkan, beliau juga memiliki perkataan-perkataan munkar dan syadz (ganjil) yang mengherankan. Salah satu contohnya adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa Maryam adalah seorang Nabi wanita. Telah disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Bakr, Al-Qadhi Abu Ya’la, Abul Ma’alai, dan selain mereka, adanya ijma’ (ahlus sunnah) bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Ulama yang mengatakan bahwa ada Nabi dari kalangan wanita juga berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ“Manusia yang sempurna dari kalangan laki-laki sekian banyak, namun tidak ada manusia sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam binti ‘Imran, Asiyah, dan istrinya Fir’aun.” (HR. Bukhari no. 3769)Cara berdalil seperti ini dapat disanggah bahwa kata “sempurna” tidaklah otomatis menunjukkan bahwa Nabi bisa berasal dari kalangan wanita. Hal ini karena yang dimaksud dengan “sempurna” dalam hadits tersebut adalah mencapai puncak keutamaan dan kemuliaan yang sesuai dengan kondisi (kodrat) para wanita. (Lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar, 6: 447)Juga sebagian mereka menyangka bahwa ada Nabi dari kalangan wanita karena sebagian wanita mulia tersebut mendapatkan kabar berita dari malaikat. Sebagaimana kepada ibu dari Nabi Musa ‘alaihis salaam dalam firman Allah Ta’ala,وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia”.” (QS. Al-Qashash [28]: 7)Juga malaikat datang kepada ibunda Maryam dan memberikan kabar tentang ‘Isa ‘alaihis salaam,وَإِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 42)Anggapan ini pun bisa disanggah bahwa semata-mata mendapatkan kabar berita dari malaikat tidaklah otomatis menunjukkan bahwa para wanita mulia tersebut diangkat menjadi Nabi. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4: 423)Baca Juga: Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah NabiKesimpulan dalam masalah iniPendapat yang benar dalam masalah ini adalah sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah bahwa tidak ada Nabi dari kalangan wanita. Adapun perkataan yang menyelisihi pendapat tersebut adalah pendapat yang syadz (ganjil) yang tidak boleh dianggap.An-Nawawi rahimahullah berkata setelah mengutip perkataan Al-Qadhi ‘Iyadh, “Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keduanya (yaitu Asiyah istri Fir’aun dan Maryam) adalah Nabi adalah pendapat yang dha’if. Dan sejumlah ulama telah mengutip ijma’ bahwa keduanya bukanlah Nabi.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 199)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,“Perkataan ini (bahwa ada Nabi dari kalangan wanita) adalah perkataan syadz yang tidak pernah dikatakan oleh satu pun para ulama salaf.” (Majmu’ Al-Fataawa, 4: 396)Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1442/14 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar, hal. 110-112. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.

Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin (Bag. 3)

Baca  Pembahasan sebelumnya: Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin (Bag. 2)Hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpinTerdapat sepuluh hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpin, yaitu:Pertama, menjaga dan mempertahankan wilayah negeri kaum muslimin, yaitu dengan menyiapkan pasukan, mempersiapkan persenjataan, atau memperkuat benteng pertahanan. Sehingga bisa mempertahankan diri dari serangan orang-orang musyrik, atau untuk memerangi para pemberontak yang mengacaukan keamanan negeri kaum muslimin.Kedua, menjaga kemurnian agama dari perkara-perkara baru (bid’ah) yang dapat merusak agama, di antaranya dengan menyebarkan ilmu syar’i (ilmu agama) yang bermanfaat. Senantiasa bersama ulama, meminta petunjuk, nasihat, dan bimbingan dari mereka, serta bermusyawarah dengan mereka. Hendaknya pemimpin kaum muslimin memperhatikan hal ini. Di antaranya dengan memudahkan dan memfasilitasi majelis-majelis ilmu agama yang dengannya akan tersebarlah ilmu syar’i yang bermanfaat ke seluruh penjuru negeri.Ketiga, menegakkan dan menjamin terlaksananya syi’ar-syi’ar agama Islam, seperti shalat lima waktu secara berjamaah; azan dan iqamah; memberikan perhatian terhadap urusan puasa (Ramadan) dan hari raya; juga mengatur urusan haji dan umrah. Termasuk juga adalah memberikan kemudahan terhadap calon jamaah haji dari seluruh penjuru negeri, dengan memberikan kemudahan dan keamanan kepada mereka selama di perjalanan.Keempat, memberikan keputusan hukum terkait sengketa dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat; mencegah kezaliman dari sebagian orang-orang yang zalim. Lalu tidaklah menyerahkan urusan tersebut kecuali kepada orang-orang yang amanah, terpercaya dari sisi agamanya, yaitu para ulama.Hal ini karena para pemimpin akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpin. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ رَاعٍ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang mereka pimpin.” (HR. Ahmad no. 5869, shahih).Kelima, menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah bagi dirinya dan juga pasukannya. Dengan mengutus pasukan tersebut ketika memang dibutuhkan.Keenam, menegakkan hukuman had yang syar’i, sesuai dengan syarat dan ketentuan dari syariat. Hal ini dalam rangka menjaga kehormatan Allah Ta’ala dari orang-orang yang bersikap lancang kepada-Nya. Dan juga menjaga kehormatan rakyatnya dari perbuatan orang-orang yang berbuat zalim kepada mereka. Dalam menegakkan hukum had ini, pemimpin tidak boleh membeda-bedakan antara rakyat yang lemah (rakyat biasa) dan rakyat yang kuat (yaitu para pejabat dan orang-orang kaya).Ketujuh, menyalurkan harta zakat dan harta jizyah kepada mereka yang berhak, juga menyalurkan harta rampasan perang sesuai dengan aturan syariat, dengan senantiasa menyerahkan atau berkonsultasi kepada para ulama terkait hal tersebut.Kedelapan, memperhatikan urusan wakaf yang diperuntukkan untuk kebajikan dan ibadah ketaatan. Dan menyalurkannya pada kebutuhan yang sesuai. Merawat jembatan-jembatan dan juga fasilitas jalan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinKesembilan, jika mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah), maka pemimpin harus memberikan perhatian dalam pembagian dan pendistribusian harta tersebut dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat.Kesepuluh, bersikap adil dalam memimpin dan juga dalam semua urusan yang berkaitan dengan kepemimpinannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90).Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, meskipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am: 152).Demikianlah pembahasan yang dapat kami susun berkaitan dengan masalah ini, semoga menjadi ilmu bermanfaat bagi kita semuanya.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor Mikro, 1 Sya’ban 1442/15 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Tanbiih Dzawil ‘Uquul As-Saliimah ila Fawaaid Mustanbathah min As-Sittatil Ushuul Al-‘Adhiimah, karya Syekh ‘Ubaid bin ‘Abdullah bin Sulaiman Al-Jabiri hafidzahullahu Ta’ala, hal. 63-64 (cetakan ke dua tahun 1425, penerbit Maktabah Al-Furqan KSA)🔍 Hadits Saling Memberi Hadiah, Hadits Tentang Anjing, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ciri Ciri Wanita Solehah Menurut Al Quran, Orang Yang Bertauhid Disebut

Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin (Bag. 3)

Baca  Pembahasan sebelumnya: Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin (Bag. 2)Hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpinTerdapat sepuluh hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpin, yaitu:Pertama, menjaga dan mempertahankan wilayah negeri kaum muslimin, yaitu dengan menyiapkan pasukan, mempersiapkan persenjataan, atau memperkuat benteng pertahanan. Sehingga bisa mempertahankan diri dari serangan orang-orang musyrik, atau untuk memerangi para pemberontak yang mengacaukan keamanan negeri kaum muslimin.Kedua, menjaga kemurnian agama dari perkara-perkara baru (bid’ah) yang dapat merusak agama, di antaranya dengan menyebarkan ilmu syar’i (ilmu agama) yang bermanfaat. Senantiasa bersama ulama, meminta petunjuk, nasihat, dan bimbingan dari mereka, serta bermusyawarah dengan mereka. Hendaknya pemimpin kaum muslimin memperhatikan hal ini. Di antaranya dengan memudahkan dan memfasilitasi majelis-majelis ilmu agama yang dengannya akan tersebarlah ilmu syar’i yang bermanfaat ke seluruh penjuru negeri.Ketiga, menegakkan dan menjamin terlaksananya syi’ar-syi’ar agama Islam, seperti shalat lima waktu secara berjamaah; azan dan iqamah; memberikan perhatian terhadap urusan puasa (Ramadan) dan hari raya; juga mengatur urusan haji dan umrah. Termasuk juga adalah memberikan kemudahan terhadap calon jamaah haji dari seluruh penjuru negeri, dengan memberikan kemudahan dan keamanan kepada mereka selama di perjalanan.Keempat, memberikan keputusan hukum terkait sengketa dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat; mencegah kezaliman dari sebagian orang-orang yang zalim. Lalu tidaklah menyerahkan urusan tersebut kecuali kepada orang-orang yang amanah, terpercaya dari sisi agamanya, yaitu para ulama.Hal ini karena para pemimpin akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpin. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ رَاعٍ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang mereka pimpin.” (HR. Ahmad no. 5869, shahih).Kelima, menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah bagi dirinya dan juga pasukannya. Dengan mengutus pasukan tersebut ketika memang dibutuhkan.Keenam, menegakkan hukuman had yang syar’i, sesuai dengan syarat dan ketentuan dari syariat. Hal ini dalam rangka menjaga kehormatan Allah Ta’ala dari orang-orang yang bersikap lancang kepada-Nya. Dan juga menjaga kehormatan rakyatnya dari perbuatan orang-orang yang berbuat zalim kepada mereka. Dalam menegakkan hukum had ini, pemimpin tidak boleh membeda-bedakan antara rakyat yang lemah (rakyat biasa) dan rakyat yang kuat (yaitu para pejabat dan orang-orang kaya).Ketujuh, menyalurkan harta zakat dan harta jizyah kepada mereka yang berhak, juga menyalurkan harta rampasan perang sesuai dengan aturan syariat, dengan senantiasa menyerahkan atau berkonsultasi kepada para ulama terkait hal tersebut.Kedelapan, memperhatikan urusan wakaf yang diperuntukkan untuk kebajikan dan ibadah ketaatan. Dan menyalurkannya pada kebutuhan yang sesuai. Merawat jembatan-jembatan dan juga fasilitas jalan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinKesembilan, jika mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah), maka pemimpin harus memberikan perhatian dalam pembagian dan pendistribusian harta tersebut dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat.Kesepuluh, bersikap adil dalam memimpin dan juga dalam semua urusan yang berkaitan dengan kepemimpinannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90).Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, meskipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am: 152).Demikianlah pembahasan yang dapat kami susun berkaitan dengan masalah ini, semoga menjadi ilmu bermanfaat bagi kita semuanya.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor Mikro, 1 Sya’ban 1442/15 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Tanbiih Dzawil ‘Uquul As-Saliimah ila Fawaaid Mustanbathah min As-Sittatil Ushuul Al-‘Adhiimah, karya Syekh ‘Ubaid bin ‘Abdullah bin Sulaiman Al-Jabiri hafidzahullahu Ta’ala, hal. 63-64 (cetakan ke dua tahun 1425, penerbit Maktabah Al-Furqan KSA)🔍 Hadits Saling Memberi Hadiah, Hadits Tentang Anjing, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ciri Ciri Wanita Solehah Menurut Al Quran, Orang Yang Bertauhid Disebut
Baca  Pembahasan sebelumnya: Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin (Bag. 2)Hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpinTerdapat sepuluh hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpin, yaitu:Pertama, menjaga dan mempertahankan wilayah negeri kaum muslimin, yaitu dengan menyiapkan pasukan, mempersiapkan persenjataan, atau memperkuat benteng pertahanan. Sehingga bisa mempertahankan diri dari serangan orang-orang musyrik, atau untuk memerangi para pemberontak yang mengacaukan keamanan negeri kaum muslimin.Kedua, menjaga kemurnian agama dari perkara-perkara baru (bid’ah) yang dapat merusak agama, di antaranya dengan menyebarkan ilmu syar’i (ilmu agama) yang bermanfaat. Senantiasa bersama ulama, meminta petunjuk, nasihat, dan bimbingan dari mereka, serta bermusyawarah dengan mereka. Hendaknya pemimpin kaum muslimin memperhatikan hal ini. Di antaranya dengan memudahkan dan memfasilitasi majelis-majelis ilmu agama yang dengannya akan tersebarlah ilmu syar’i yang bermanfaat ke seluruh penjuru negeri.Ketiga, menegakkan dan menjamin terlaksananya syi’ar-syi’ar agama Islam, seperti shalat lima waktu secara berjamaah; azan dan iqamah; memberikan perhatian terhadap urusan puasa (Ramadan) dan hari raya; juga mengatur urusan haji dan umrah. Termasuk juga adalah memberikan kemudahan terhadap calon jamaah haji dari seluruh penjuru negeri, dengan memberikan kemudahan dan keamanan kepada mereka selama di perjalanan.Keempat, memberikan keputusan hukum terkait sengketa dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat; mencegah kezaliman dari sebagian orang-orang yang zalim. Lalu tidaklah menyerahkan urusan tersebut kecuali kepada orang-orang yang amanah, terpercaya dari sisi agamanya, yaitu para ulama.Hal ini karena para pemimpin akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpin. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ رَاعٍ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang mereka pimpin.” (HR. Ahmad no. 5869, shahih).Kelima, menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah bagi dirinya dan juga pasukannya. Dengan mengutus pasukan tersebut ketika memang dibutuhkan.Keenam, menegakkan hukuman had yang syar’i, sesuai dengan syarat dan ketentuan dari syariat. Hal ini dalam rangka menjaga kehormatan Allah Ta’ala dari orang-orang yang bersikap lancang kepada-Nya. Dan juga menjaga kehormatan rakyatnya dari perbuatan orang-orang yang berbuat zalim kepada mereka. Dalam menegakkan hukum had ini, pemimpin tidak boleh membeda-bedakan antara rakyat yang lemah (rakyat biasa) dan rakyat yang kuat (yaitu para pejabat dan orang-orang kaya).Ketujuh, menyalurkan harta zakat dan harta jizyah kepada mereka yang berhak, juga menyalurkan harta rampasan perang sesuai dengan aturan syariat, dengan senantiasa menyerahkan atau berkonsultasi kepada para ulama terkait hal tersebut.Kedelapan, memperhatikan urusan wakaf yang diperuntukkan untuk kebajikan dan ibadah ketaatan. Dan menyalurkannya pada kebutuhan yang sesuai. Merawat jembatan-jembatan dan juga fasilitas jalan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinKesembilan, jika mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah), maka pemimpin harus memberikan perhatian dalam pembagian dan pendistribusian harta tersebut dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat.Kesepuluh, bersikap adil dalam memimpin dan juga dalam semua urusan yang berkaitan dengan kepemimpinannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90).Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, meskipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am: 152).Demikianlah pembahasan yang dapat kami susun berkaitan dengan masalah ini, semoga menjadi ilmu bermanfaat bagi kita semuanya.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor Mikro, 1 Sya’ban 1442/15 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Tanbiih Dzawil ‘Uquul As-Saliimah ila Fawaaid Mustanbathah min As-Sittatil Ushuul Al-‘Adhiimah, karya Syekh ‘Ubaid bin ‘Abdullah bin Sulaiman Al-Jabiri hafidzahullahu Ta’ala, hal. 63-64 (cetakan ke dua tahun 1425, penerbit Maktabah Al-Furqan KSA)🔍 Hadits Saling Memberi Hadiah, Hadits Tentang Anjing, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ciri Ciri Wanita Solehah Menurut Al Quran, Orang Yang Bertauhid Disebut


Baca  Pembahasan sebelumnya: Hak dan Kewajiban Pemimpin dan Rakyat yang Dipimpin (Bag. 2)Hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpinTerdapat sepuluh hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpin, yaitu:Pertama, menjaga dan mempertahankan wilayah negeri kaum muslimin, yaitu dengan menyiapkan pasukan, mempersiapkan persenjataan, atau memperkuat benteng pertahanan. Sehingga bisa mempertahankan diri dari serangan orang-orang musyrik, atau untuk memerangi para pemberontak yang mengacaukan keamanan negeri kaum muslimin.Kedua, menjaga kemurnian agama dari perkara-perkara baru (bid’ah) yang dapat merusak agama, di antaranya dengan menyebarkan ilmu syar’i (ilmu agama) yang bermanfaat. Senantiasa bersama ulama, meminta petunjuk, nasihat, dan bimbingan dari mereka, serta bermusyawarah dengan mereka. Hendaknya pemimpin kaum muslimin memperhatikan hal ini. Di antaranya dengan memudahkan dan memfasilitasi majelis-majelis ilmu agama yang dengannya akan tersebarlah ilmu syar’i yang bermanfaat ke seluruh penjuru negeri.Ketiga, menegakkan dan menjamin terlaksananya syi’ar-syi’ar agama Islam, seperti shalat lima waktu secara berjamaah; azan dan iqamah; memberikan perhatian terhadap urusan puasa (Ramadan) dan hari raya; juga mengatur urusan haji dan umrah. Termasuk juga adalah memberikan kemudahan terhadap calon jamaah haji dari seluruh penjuru negeri, dengan memberikan kemudahan dan keamanan kepada mereka selama di perjalanan.Keempat, memberikan keputusan hukum terkait sengketa dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat; mencegah kezaliman dari sebagian orang-orang yang zalim. Lalu tidaklah menyerahkan urusan tersebut kecuali kepada orang-orang yang amanah, terpercaya dari sisi agamanya, yaitu para ulama.Hal ini karena para pemimpin akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpin. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,كُلُّ رَاعٍ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang mereka pimpin.” (HR. Ahmad no. 5869, shahih).Kelima, menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah bagi dirinya dan juga pasukannya. Dengan mengutus pasukan tersebut ketika memang dibutuhkan.Keenam, menegakkan hukuman had yang syar’i, sesuai dengan syarat dan ketentuan dari syariat. Hal ini dalam rangka menjaga kehormatan Allah Ta’ala dari orang-orang yang bersikap lancang kepada-Nya. Dan juga menjaga kehormatan rakyatnya dari perbuatan orang-orang yang berbuat zalim kepada mereka. Dalam menegakkan hukum had ini, pemimpin tidak boleh membeda-bedakan antara rakyat yang lemah (rakyat biasa) dan rakyat yang kuat (yaitu para pejabat dan orang-orang kaya).Ketujuh, menyalurkan harta zakat dan harta jizyah kepada mereka yang berhak, juga menyalurkan harta rampasan perang sesuai dengan aturan syariat, dengan senantiasa menyerahkan atau berkonsultasi kepada para ulama terkait hal tersebut.Kedelapan, memperhatikan urusan wakaf yang diperuntukkan untuk kebajikan dan ibadah ketaatan. Dan menyalurkannya pada kebutuhan yang sesuai. Merawat jembatan-jembatan dan juga fasilitas jalan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.Baca Juga: Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para PemimpinKesembilan, jika mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah), maka pemimpin harus memberikan perhatian dalam pembagian dan pendistribusian harta tersebut dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat.Kesepuluh, bersikap adil dalam memimpin dan juga dalam semua urusan yang berkaitan dengan kepemimpinannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90).Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, meskipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am: 152).Demikianlah pembahasan yang dapat kami susun berkaitan dengan masalah ini, semoga menjadi ilmu bermanfaat bagi kita semuanya.Baca Juga:[Selesai]***@Kantor Mikro, 1 Sya’ban 1442/15 Maret 2021Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Tanbiih Dzawil ‘Uquul As-Saliimah ila Fawaaid Mustanbathah min As-Sittatil Ushuul Al-‘Adhiimah, karya Syekh ‘Ubaid bin ‘Abdullah bin Sulaiman Al-Jabiri hafidzahullahu Ta’ala, hal. 63-64 (cetakan ke dua tahun 1425, penerbit Maktabah Al-Furqan KSA)🔍 Hadits Saling Memberi Hadiah, Hadits Tentang Anjing, Makanan Sehat Ala Rasulullah, Ciri Ciri Wanita Solehah Menurut Al Quran, Orang Yang Bertauhid Disebut

Muslim Harus Punya Motivasi Tinggi dalam Belajar Agama

Kita harus punya motivasi tinggi dalam belajar agama. Bagaimana kita bisa termotivasi dalam hal ini? Coba baca baik-baik tulisan berikut.   Kita mungkin banyak menyaksikan realita di sekitar kita, ketika seorang muslim saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan nomor satu dalam masalah dunia. Akan tetapi untuk masalah akhirat, dia sangat rela ketika orang lain yang menjadi “sang juara”. Hal ini bertolak belakang dengan seruan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setiap muslim saling berlomba dalam ketaatan dan ketakwaan untuk meraih berbagai kenikmatan di surga. Daftar Isi tutup 1. Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi 2. Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi Islam adalah agama yang memotivasi agar umatnya memiliki semangat beramal yang tinggi serta menyibukkan diri dan memperhatikan masalah-masalah yang penting dan memiliki keutamaan yang agung. Islam juga menyeru kita untuk menjauhkan diri dari tenggelam ke dalam permasalahan-permasalahan sepele yang tidak banyak manfaatnya, baik manfaat di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Allah Ta’ala juga menyifati hamba-hambaNya yang shalih karena mereka bersegera dalam kebaikan, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 90) Begitu pula dengan firman Allah Ta’ala yang menyeru kita untuk bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba untuk dalam mengerjakan amal shalih yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Baca Juga: Beralasan Sibuk Sehingga Enggan Belajar Agama Belajar Agama Hanya untuk Mencari Dunia Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Ketika ditanya tentang cita-cita, mungkin sebagian besar di antara kita menjawab dengan menyebutkan berbagai cita-cita yang berkaitan dengan urusan duniawi. Dalam hal duniawi pula, sebagian besar di antara kita berlomba-lomba di dunia ini, entah untuk meraih gelar akademik tertinggi; berlomba-lomba untuk meraih pangkat, jabatan, atau popularitas; atau bersaing dalam masalah harta dan kemewahan hidup di dunia. Sedikit di antara kita yang memposisikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi dalam hidup kita di dunia ini. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang shahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Wahai Rabi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,”Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata, “Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,”Ya, itu saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Bukhari, no. 489) Oleh karena itu, sangat jauhlah perbedaan antara orang yang cita-citanya tertuju pada makanan, minuman dan syahwat, dengan orang yang cita-citanya tertuju pada istana di surga! Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya cita-cita itu ada dua macam, (pertama) cita-cita yang kembalinya kepada dubur (makanan) dan qubul (seks); dan (ke dua) cita-cita yang terikat dengan yang berada di atas ‘Arsy, yaitu Allah Ta’ala.”  (Al-Fawaa’id karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i, hlm. 16-17.) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang menyaingimu dalam masalah dunia, maka saingilah dia dalam masalah akhirat.” (Lathaf Al-Ma’arif, hlm. 428.) Wuhaib bin Warad rahimahullah mengatakan, “Jika Engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu menuju Allah, maka lakukanlah!”  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 428.) Niat yang ikhlas dan motivasi yang tinggi hendaknya menjadi jiwa yang menerangi langkah seorang muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana seseorang bisa memiliki semangat yang membara untuk mengejar dunia, maka semangat yang lebih besar dan lebih tinggi harus dimiliki oleh seorang muslim untuk mengejar akhirat. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan menuai hasilnya karena surga Allah Ta’ala itu sangat mahal harganya. Setiap detik waktu yang dimiliki oleh seorang mukmin hendaknya diisi dengan semangat, karena dia mengetahui betapa mulianya waktu tersebut. Barangsiapa yang menginginkan pahala, maka akan terasa ringanlah segala beban yang dia rasakan. Semakin tinggi cita-cita seseorang, maka segala rintangan, hambatan, kesulitan, dan keletihan yang dia alami akan terasa sangat kecil dan ringan. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sungguh aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku (untuk menuntut ilmu, pent.).” Dan ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Kapankah seorang hamba merasakan nikmat istirahat (dari menuntut ilmu dan beramal, pent.)?, maka beliau rahimahullah menjawab, “Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di surga.” (Ar-Raqa’iq karya Muhammad Ar-Rasyid. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i,, hlm. 17.) Oleh karena itu, cita-cita harus kita arahkan pada idealisme tertinggi demi meraih ilmu. Seorang tholibul ‘ilmi hendaklah memiliki cita-cita yang tinggi di dalam menuntut ilmu. Inilah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang tholibul ‘ilmi dalam kehidupan ilmiyahnya. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata, ”Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral dan faktor pendorong bagi dirimu, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tidak terputus dengan izin Allah, agar Engkau bisa mencapai derajat yang sempurna. Cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal.”  (Hilyah Tholib Al-‘Ilmi, hlm. 35.) Perkataan ini lantas dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Cita-cita tinggi inilah jadi sebab seseorang bisa semangat dalam mencari ilmu. Oleh karenanya seorang penuntut ilmu harusnya memiliki suatu target ketika ia belajar. Jangan sampai ia menyia-nyiakan waktu untuk menggapai cita-cita tersebut.” (Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 161) Baca Juga: Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala Biar Tertarik Belajar Agama (1) Sumber: Buku “Mahasantri” karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar belajar agama belajar agama di masjid belajar islam ilmu agama keutamaan belajar agama motivasi belajar

Muslim Harus Punya Motivasi Tinggi dalam Belajar Agama

Kita harus punya motivasi tinggi dalam belajar agama. Bagaimana kita bisa termotivasi dalam hal ini? Coba baca baik-baik tulisan berikut.   Kita mungkin banyak menyaksikan realita di sekitar kita, ketika seorang muslim saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan nomor satu dalam masalah dunia. Akan tetapi untuk masalah akhirat, dia sangat rela ketika orang lain yang menjadi “sang juara”. Hal ini bertolak belakang dengan seruan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setiap muslim saling berlomba dalam ketaatan dan ketakwaan untuk meraih berbagai kenikmatan di surga. Daftar Isi tutup 1. Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi 2. Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi Islam adalah agama yang memotivasi agar umatnya memiliki semangat beramal yang tinggi serta menyibukkan diri dan memperhatikan masalah-masalah yang penting dan memiliki keutamaan yang agung. Islam juga menyeru kita untuk menjauhkan diri dari tenggelam ke dalam permasalahan-permasalahan sepele yang tidak banyak manfaatnya, baik manfaat di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Allah Ta’ala juga menyifati hamba-hambaNya yang shalih karena mereka bersegera dalam kebaikan, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 90) Begitu pula dengan firman Allah Ta’ala yang menyeru kita untuk bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba untuk dalam mengerjakan amal shalih yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Baca Juga: Beralasan Sibuk Sehingga Enggan Belajar Agama Belajar Agama Hanya untuk Mencari Dunia Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Ketika ditanya tentang cita-cita, mungkin sebagian besar di antara kita menjawab dengan menyebutkan berbagai cita-cita yang berkaitan dengan urusan duniawi. Dalam hal duniawi pula, sebagian besar di antara kita berlomba-lomba di dunia ini, entah untuk meraih gelar akademik tertinggi; berlomba-lomba untuk meraih pangkat, jabatan, atau popularitas; atau bersaing dalam masalah harta dan kemewahan hidup di dunia. Sedikit di antara kita yang memposisikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi dalam hidup kita di dunia ini. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang shahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Wahai Rabi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,”Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata, “Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,”Ya, itu saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Bukhari, no. 489) Oleh karena itu, sangat jauhlah perbedaan antara orang yang cita-citanya tertuju pada makanan, minuman dan syahwat, dengan orang yang cita-citanya tertuju pada istana di surga! Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya cita-cita itu ada dua macam, (pertama) cita-cita yang kembalinya kepada dubur (makanan) dan qubul (seks); dan (ke dua) cita-cita yang terikat dengan yang berada di atas ‘Arsy, yaitu Allah Ta’ala.”  (Al-Fawaa’id karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i, hlm. 16-17.) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang menyaingimu dalam masalah dunia, maka saingilah dia dalam masalah akhirat.” (Lathaf Al-Ma’arif, hlm. 428.) Wuhaib bin Warad rahimahullah mengatakan, “Jika Engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu menuju Allah, maka lakukanlah!”  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 428.) Niat yang ikhlas dan motivasi yang tinggi hendaknya menjadi jiwa yang menerangi langkah seorang muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana seseorang bisa memiliki semangat yang membara untuk mengejar dunia, maka semangat yang lebih besar dan lebih tinggi harus dimiliki oleh seorang muslim untuk mengejar akhirat. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan menuai hasilnya karena surga Allah Ta’ala itu sangat mahal harganya. Setiap detik waktu yang dimiliki oleh seorang mukmin hendaknya diisi dengan semangat, karena dia mengetahui betapa mulianya waktu tersebut. Barangsiapa yang menginginkan pahala, maka akan terasa ringanlah segala beban yang dia rasakan. Semakin tinggi cita-cita seseorang, maka segala rintangan, hambatan, kesulitan, dan keletihan yang dia alami akan terasa sangat kecil dan ringan. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sungguh aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku (untuk menuntut ilmu, pent.).” Dan ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Kapankah seorang hamba merasakan nikmat istirahat (dari menuntut ilmu dan beramal, pent.)?, maka beliau rahimahullah menjawab, “Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di surga.” (Ar-Raqa’iq karya Muhammad Ar-Rasyid. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i,, hlm. 17.) Oleh karena itu, cita-cita harus kita arahkan pada idealisme tertinggi demi meraih ilmu. Seorang tholibul ‘ilmi hendaklah memiliki cita-cita yang tinggi di dalam menuntut ilmu. Inilah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang tholibul ‘ilmi dalam kehidupan ilmiyahnya. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata, ”Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral dan faktor pendorong bagi dirimu, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tidak terputus dengan izin Allah, agar Engkau bisa mencapai derajat yang sempurna. Cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal.”  (Hilyah Tholib Al-‘Ilmi, hlm. 35.) Perkataan ini lantas dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Cita-cita tinggi inilah jadi sebab seseorang bisa semangat dalam mencari ilmu. Oleh karenanya seorang penuntut ilmu harusnya memiliki suatu target ketika ia belajar. Jangan sampai ia menyia-nyiakan waktu untuk menggapai cita-cita tersebut.” (Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 161) Baca Juga: Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala Biar Tertarik Belajar Agama (1) Sumber: Buku “Mahasantri” karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar belajar agama belajar agama di masjid belajar islam ilmu agama keutamaan belajar agama motivasi belajar
Kita harus punya motivasi tinggi dalam belajar agama. Bagaimana kita bisa termotivasi dalam hal ini? Coba baca baik-baik tulisan berikut.   Kita mungkin banyak menyaksikan realita di sekitar kita, ketika seorang muslim saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan nomor satu dalam masalah dunia. Akan tetapi untuk masalah akhirat, dia sangat rela ketika orang lain yang menjadi “sang juara”. Hal ini bertolak belakang dengan seruan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setiap muslim saling berlomba dalam ketaatan dan ketakwaan untuk meraih berbagai kenikmatan di surga. Daftar Isi tutup 1. Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi 2. Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi Islam adalah agama yang memotivasi agar umatnya memiliki semangat beramal yang tinggi serta menyibukkan diri dan memperhatikan masalah-masalah yang penting dan memiliki keutamaan yang agung. Islam juga menyeru kita untuk menjauhkan diri dari tenggelam ke dalam permasalahan-permasalahan sepele yang tidak banyak manfaatnya, baik manfaat di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Allah Ta’ala juga menyifati hamba-hambaNya yang shalih karena mereka bersegera dalam kebaikan, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 90) Begitu pula dengan firman Allah Ta’ala yang menyeru kita untuk bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba untuk dalam mengerjakan amal shalih yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Baca Juga: Beralasan Sibuk Sehingga Enggan Belajar Agama Belajar Agama Hanya untuk Mencari Dunia Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Ketika ditanya tentang cita-cita, mungkin sebagian besar di antara kita menjawab dengan menyebutkan berbagai cita-cita yang berkaitan dengan urusan duniawi. Dalam hal duniawi pula, sebagian besar di antara kita berlomba-lomba di dunia ini, entah untuk meraih gelar akademik tertinggi; berlomba-lomba untuk meraih pangkat, jabatan, atau popularitas; atau bersaing dalam masalah harta dan kemewahan hidup di dunia. Sedikit di antara kita yang memposisikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi dalam hidup kita di dunia ini. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang shahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Wahai Rabi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,”Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata, “Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,”Ya, itu saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Bukhari, no. 489) Oleh karena itu, sangat jauhlah perbedaan antara orang yang cita-citanya tertuju pada makanan, minuman dan syahwat, dengan orang yang cita-citanya tertuju pada istana di surga! Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya cita-cita itu ada dua macam, (pertama) cita-cita yang kembalinya kepada dubur (makanan) dan qubul (seks); dan (ke dua) cita-cita yang terikat dengan yang berada di atas ‘Arsy, yaitu Allah Ta’ala.”  (Al-Fawaa’id karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i, hlm. 16-17.) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang menyaingimu dalam masalah dunia, maka saingilah dia dalam masalah akhirat.” (Lathaf Al-Ma’arif, hlm. 428.) Wuhaib bin Warad rahimahullah mengatakan, “Jika Engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu menuju Allah, maka lakukanlah!”  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 428.) Niat yang ikhlas dan motivasi yang tinggi hendaknya menjadi jiwa yang menerangi langkah seorang muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana seseorang bisa memiliki semangat yang membara untuk mengejar dunia, maka semangat yang lebih besar dan lebih tinggi harus dimiliki oleh seorang muslim untuk mengejar akhirat. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan menuai hasilnya karena surga Allah Ta’ala itu sangat mahal harganya. Setiap detik waktu yang dimiliki oleh seorang mukmin hendaknya diisi dengan semangat, karena dia mengetahui betapa mulianya waktu tersebut. Barangsiapa yang menginginkan pahala, maka akan terasa ringanlah segala beban yang dia rasakan. Semakin tinggi cita-cita seseorang, maka segala rintangan, hambatan, kesulitan, dan keletihan yang dia alami akan terasa sangat kecil dan ringan. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sungguh aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku (untuk menuntut ilmu, pent.).” Dan ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Kapankah seorang hamba merasakan nikmat istirahat (dari menuntut ilmu dan beramal, pent.)?, maka beliau rahimahullah menjawab, “Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di surga.” (Ar-Raqa’iq karya Muhammad Ar-Rasyid. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i,, hlm. 17.) Oleh karena itu, cita-cita harus kita arahkan pada idealisme tertinggi demi meraih ilmu. Seorang tholibul ‘ilmi hendaklah memiliki cita-cita yang tinggi di dalam menuntut ilmu. Inilah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang tholibul ‘ilmi dalam kehidupan ilmiyahnya. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata, ”Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral dan faktor pendorong bagi dirimu, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tidak terputus dengan izin Allah, agar Engkau bisa mencapai derajat yang sempurna. Cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal.”  (Hilyah Tholib Al-‘Ilmi, hlm. 35.) Perkataan ini lantas dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Cita-cita tinggi inilah jadi sebab seseorang bisa semangat dalam mencari ilmu. Oleh karenanya seorang penuntut ilmu harusnya memiliki suatu target ketika ia belajar. Jangan sampai ia menyia-nyiakan waktu untuk menggapai cita-cita tersebut.” (Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 161) Baca Juga: Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala Biar Tertarik Belajar Agama (1) Sumber: Buku “Mahasantri” karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar belajar agama belajar agama di masjid belajar islam ilmu agama keutamaan belajar agama motivasi belajar


Kita harus punya motivasi tinggi dalam belajar agama. Bagaimana kita bisa termotivasi dalam hal ini? Coba baca baik-baik tulisan berikut.   Kita mungkin banyak menyaksikan realita di sekitar kita, ketika seorang muslim saling berlomba untuk menjadi yang terdepan dan nomor satu dalam masalah dunia. Akan tetapi untuk masalah akhirat, dia sangat rela ketika orang lain yang menjadi “sang juara”. Hal ini bertolak belakang dengan seruan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setiap muslim saling berlomba dalam ketaatan dan ketakwaan untuk meraih berbagai kenikmatan di surga. Daftar Isi tutup 1. Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi 2. Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Islam Mendorong Seseorang untuk Memiliki Semangat dan Motivasi yang Tinggi Islam adalah agama yang memotivasi agar umatnya memiliki semangat beramal yang tinggi serta menyibukkan diri dan memperhatikan masalah-masalah yang penting dan memiliki keutamaan yang agung. Islam juga menyeru kita untuk menjauhkan diri dari tenggelam ke dalam permasalahan-permasalahan sepele yang tidak banyak manfaatnya, baik manfaat di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Allah Ta’ala juga menyifati hamba-hambaNya yang shalih karena mereka bersegera dalam kebaikan, ketika Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 90) Begitu pula dengan firman Allah Ta’ala yang menyeru kita untuk bersegera dalam kebaikan dan berlomba-lomba untuk dalam mengerjakan amal shalih yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ “Dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26) Baca Juga: Beralasan Sibuk Sehingga Enggan Belajar Agama Belajar Agama Hanya untuk Mencari Dunia Apakah Cita-Citamu yang Paling Tinggi? Ketika ditanya tentang cita-cita, mungkin sebagian besar di antara kita menjawab dengan menyebutkan berbagai cita-cita yang berkaitan dengan urusan duniawi. Dalam hal duniawi pula, sebagian besar di antara kita berlomba-lomba di dunia ini, entah untuk meraih gelar akademik tertinggi; berlomba-lomba untuk meraih pangkat, jabatan, atau popularitas; atau bersaing dalam masalah harta dan kemewahan hidup di dunia. Sedikit di antara kita yang memposisikan akhirat sebagai cita-cita tertinggi dalam hidup kita di dunia ini. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang shahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Wahai Rabi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,”Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata, “Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,”Ya, itu saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Bukhari, no. 489) Oleh karena itu, sangat jauhlah perbedaan antara orang yang cita-citanya tertuju pada makanan, minuman dan syahwat, dengan orang yang cita-citanya tertuju pada istana di surga! Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya cita-cita itu ada dua macam, (pertama) cita-cita yang kembalinya kepada dubur (makanan) dan qubul (seks); dan (ke dua) cita-cita yang terikat dengan yang berada di atas ‘Arsy, yaitu Allah Ta’ala.”  (Al-Fawaa’id karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i, hlm. 16-17.) Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika Engkau melihat ada seseorang yang menyaingimu dalam masalah dunia, maka saingilah dia dalam masalah akhirat.” (Lathaf Al-Ma’arif, hlm. 428.) Wuhaib bin Warad rahimahullah mengatakan, “Jika Engkau mampu agar tidak ada seorang pun yang mendahuluimu menuju Allah, maka lakukanlah!”  (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 428.) Niat yang ikhlas dan motivasi yang tinggi hendaknya menjadi jiwa yang menerangi langkah seorang muslim dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana seseorang bisa memiliki semangat yang membara untuk mengejar dunia, maka semangat yang lebih besar dan lebih tinggi harus dimiliki oleh seorang muslim untuk mengejar akhirat. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka dialah yang akan menuai hasilnya karena surga Allah Ta’ala itu sangat mahal harganya. Setiap detik waktu yang dimiliki oleh seorang mukmin hendaknya diisi dengan semangat, karena dia mengetahui betapa mulianya waktu tersebut. Barangsiapa yang menginginkan pahala, maka akan terasa ringanlah segala beban yang dia rasakan. Semakin tinggi cita-cita seseorang, maka segala rintangan, hambatan, kesulitan, dan keletihan yang dia alami akan terasa sangat kecil dan ringan. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Sungguh aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku (untuk menuntut ilmu, pent.).” Dan ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Kapankah seorang hamba merasakan nikmat istirahat (dari menuntut ilmu dan beramal, pent.)?, maka beliau rahimahullah menjawab, “Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di surga.” (Ar-Raqa’iq karya Muhammad Ar-Rasyid. Dikutip dari Kaifa Tatahammas li Tholab Al-‘Ilmi Syar’i,, hlm. 17.) Oleh karena itu, cita-cita harus kita arahkan pada idealisme tertinggi demi meraih ilmu. Seorang tholibul ‘ilmi hendaklah memiliki cita-cita yang tinggi di dalam menuntut ilmu. Inilah salah satu adab yang harus dimiliki oleh seorang tholibul ‘ilmi dalam kehidupan ilmiyahnya. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata, ”Di antara akhlak Islam adalah berhias diri dengan cita-cita tinggi, yang menjadi titik sentral dan faktor pendorong bagi dirimu, juga yang mengawasi gerak-gerik badanmu. Cita-cita yang tinggi bisa mendatangkan kebaikan yang tidak terputus dengan izin Allah, agar Engkau bisa mencapai derajat yang sempurna. Cita-cita itu akan mengalirkan darah kesatriaan dalam urat nadimu dan mengayunkan langkah untuk menjalani dunia ilmu dan amal.”  (Hilyah Tholib Al-‘Ilmi, hlm. 35.) Perkataan ini lantas dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Cita-cita tinggi inilah jadi sebab seseorang bisa semangat dalam mencari ilmu. Oleh karenanya seorang penuntut ilmu harusnya memiliki suatu target ketika ia belajar. Jangan sampai ia menyia-nyiakan waktu untuk menggapai cita-cita tersebut.” (Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 161) Baca Juga: Makin Sulit dalam Belajar Agama, Makin Besar Pahala Biar Tertarik Belajar Agama (1) Sumber: Buku “Mahasantri” karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim Artikel Rumasyho.Com Tagsbelajar belajar agama belajar agama di masjid belajar islam ilmu agama keutamaan belajar agama motivasi belajar

Tidak Ada Dukun Putih

Sebagian dukun menamai diri mereka dengan istilah “dukun putih”. Mereka menggunakan sihir, jampi-jampi, jimat, bantuan jin, dan praktek-praktek perdukunan lainnya, namun disebut “dukun putih” karena tidak menyantet orang dan yang mereka lakukan adalah membantu orang, menurut klaim mereka, semisal:– “membantu” orang mendapatkan kekasih dengan ilmu pelet;– “membantu” orang agar usaha laris;– “membantu” orang agar baik jabatan;– “membantu” menahan atau menurunkan hujan;– “membantu” orang menangkal santet;– meramal masa depan orang untuk membantu peruntungan.Para pembaca yang budiman, jangan tertipu dengan kata-kata para dukun bahwa mereka “membantu” dan “menolong” orang lain. Karena dalam hadis, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta,فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ“… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan” (HR. Bukhari no. 3288).Mereka para dukun senantiasa dibisiki kedustaan oleh para setan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk percaya kepada dukun.Dan jangan tertipu dengan kata-kata “membantu”. Karena sejatinya mereka menjerumuskan manusia kepada jurang maksiat dan kesyirikan dengan iming-iming kenikmatan dan kemudahan dunia. Setan senantiasa membungkus kebatilan dengan kata-kata yang indah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (kalangan) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (QS. An-An’am: 112).Amalan-amalan yang mereka lakukan pun, tetap saja merupakan amalan-amalan maksiat dan kesyirikan walaupun mereka mengaku “dukun putih” dan mengaku “membantu”. Beberapa di antara perbuatan-perbuatan mereka akan kami jelaskan di bawah ini.PeletDari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الرقَى والتمائمَ والتولةَ شركٌ“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), jimat dan pelet adalah kesyirikan” (HR. Abu Dawud no. 3883, disahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan,التولة شيء يصنعونه يزعمون أنه يحبب المرأة إلى زوجها والزوج إلى امرأته“Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh dukun dan diklaim dapat membuat wanita cinta kepada suaminya atau membuat suami cinta kepada istrinya” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 371).Baca Juga: Larangan Sangat Keras Pergi ke DukunJimat penglaris usaha dan agar naik jabatanDari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang memakai tamimah (jimat), ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad no. 17422, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 492).Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi menjelaskan: “Memakai jimat, menggunakan pelet, tathayyur, semua ini adalah bentuk syirik asghar. Jika diyakini hal-hal tersebut sekedar wasilah (perantara) yang memberikan manfaat jika memakainya. Sebagaimana diyakini kebanyakan para pemakainya. Mereka masih meyakini bahwa yang menentukan adalah Allah Ta’ala. Namun jika pemakainya meyakini bahwa jimat kalung atau jimat gelang atau jimat yang digantung, ini semua memiliki kuasa dengan sendirinya, bisa memberikan manfaat dan menghindarkan mudarat dengan sendirinya, maka ini syirik akbar” (Durusun fil Aqidah, 11/6).Menahan dan mendatangkan hujanPerkara menahan dan mendatangkan hujan adalah perkara rububiyah Allah. Siapa saja yang mengklaim ada pihak lain yang bisa menahan dan mendatangkan hujan, maka ia telah terjerumus dalam syirik pada perkara rububiyah.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ“Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan turun ini atas karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Sedangkan hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan ini turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu’, maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang” (HR. Bukhari, no. 1038).Jika menyandarkan hujan kepada benda-benda langit saja dikatakan kufur oleh Allah, apalagi jika menyandarkan hujan kepada pawang hujan atau dukun.Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanBekerja sama dengan jinYang rajih, bekerja sama dengan jin itu perkara yang diharamkan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al-Jin: 6).Syaikh As Sa’di dalam Taisir Kariimirrahman menjelaskan, kata فَزَادُوهُمْ memiliki dua kemungkinan: Kemungkinan pertama, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ dan هم mengacu pada jin. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia. Kemungkinan kedua, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ dan هم mengacu pada manusia. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia tersebut beristi’adzah kepada selain Allah dan ia pun akan menjadi orang yang senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir. Sebagaimana sebagian orang ketika baru mau masuk lembah saja sudah khawatir dan berkata: “Wahai penunggu lembah lindungi saya dari temanmu yang jahat”. Memang ada khilaf ulama masalah ini. Namun ulama yang membolehkan kerjasama dengan jin, mereka memberikan syarat-syarat yang ketat. Namun jika yang kerjasama dengan jin adalah dukun, maka jelas sekali keharamannya. Para ulama dalam Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta mengatakan: “Tidak boleh seorang Muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran” (Fatawa Al Lajnah no.15924).Melawan sihir dengan sihirMenangkal santet dengan ilmu perdukunan, melawan santet dengan santet, melawan sihir dengan sihir, ini disebut nusyrah. Dan nusyrah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata,سُئِلَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن النُّشْرةِ، فقال: هو من عَمَلِ الشَّيطانِ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya tentang nusyrah. Beliau menjawab: itu adalah amalan setan” (HR. Abu Daud no.3868, dihasankan oleh Ibnu Hajar di Takhrij Misykatul Mashabih [4/278]).Dan orang yang melawan sihir dengan ilmu sihir juga, pelakunya tetap dihukumi sebagai tukang sihir. Al Hasan Al Bashri Rahimahullah mengatakan,لا يحل السحر إلا الساحر“Tidaklah orang yang menangkal sihir dengan sihir juga, kecuali dia adalah penyihir” (Fathul Bari, 10/233).Padahal Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Tukang sihir tak akan pernah beruntung dari mana pun ia datang” (QS. Thaha: 69).Meramal masa depanMeramal masa depan dan perkara-perkara gaib, apapun alasannya, adalah perbuatan kesyirikan dan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” (QS. An-Naml: 65).Orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia mendustakan ayat ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “orang yang mengklaim tahu perkara gaib, maka ia kafir. Orang yang membenarkan orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia juga kafir. Berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”” (QS. An-Naml : 65). Maka tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah semata” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/292).‘Ala kulli haal, tidak ada pembagian “dukun hitam” atau “dukun putih”, semua dukun itu hitam dan sesat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutlakkan dukun dan tidak membeda-bedakannya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 5939).Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah agar tidak terpedaya kesesatan para dukun.Baca Juga:Penulis: Yulian Purnama, S.KomArtikel: Muslim.or.id

Tidak Ada Dukun Putih

Sebagian dukun menamai diri mereka dengan istilah “dukun putih”. Mereka menggunakan sihir, jampi-jampi, jimat, bantuan jin, dan praktek-praktek perdukunan lainnya, namun disebut “dukun putih” karena tidak menyantet orang dan yang mereka lakukan adalah membantu orang, menurut klaim mereka, semisal:– “membantu” orang mendapatkan kekasih dengan ilmu pelet;– “membantu” orang agar usaha laris;– “membantu” orang agar baik jabatan;– “membantu” menahan atau menurunkan hujan;– “membantu” orang menangkal santet;– meramal masa depan orang untuk membantu peruntungan.Para pembaca yang budiman, jangan tertipu dengan kata-kata para dukun bahwa mereka “membantu” dan “menolong” orang lain. Karena dalam hadis, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta,فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ“… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan” (HR. Bukhari no. 3288).Mereka para dukun senantiasa dibisiki kedustaan oleh para setan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk percaya kepada dukun.Dan jangan tertipu dengan kata-kata “membantu”. Karena sejatinya mereka menjerumuskan manusia kepada jurang maksiat dan kesyirikan dengan iming-iming kenikmatan dan kemudahan dunia. Setan senantiasa membungkus kebatilan dengan kata-kata yang indah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (kalangan) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (QS. An-An’am: 112).Amalan-amalan yang mereka lakukan pun, tetap saja merupakan amalan-amalan maksiat dan kesyirikan walaupun mereka mengaku “dukun putih” dan mengaku “membantu”. Beberapa di antara perbuatan-perbuatan mereka akan kami jelaskan di bawah ini.PeletDari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الرقَى والتمائمَ والتولةَ شركٌ“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), jimat dan pelet adalah kesyirikan” (HR. Abu Dawud no. 3883, disahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan,التولة شيء يصنعونه يزعمون أنه يحبب المرأة إلى زوجها والزوج إلى امرأته“Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh dukun dan diklaim dapat membuat wanita cinta kepada suaminya atau membuat suami cinta kepada istrinya” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 371).Baca Juga: Larangan Sangat Keras Pergi ke DukunJimat penglaris usaha dan agar naik jabatanDari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang memakai tamimah (jimat), ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad no. 17422, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 492).Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi menjelaskan: “Memakai jimat, menggunakan pelet, tathayyur, semua ini adalah bentuk syirik asghar. Jika diyakini hal-hal tersebut sekedar wasilah (perantara) yang memberikan manfaat jika memakainya. Sebagaimana diyakini kebanyakan para pemakainya. Mereka masih meyakini bahwa yang menentukan adalah Allah Ta’ala. Namun jika pemakainya meyakini bahwa jimat kalung atau jimat gelang atau jimat yang digantung, ini semua memiliki kuasa dengan sendirinya, bisa memberikan manfaat dan menghindarkan mudarat dengan sendirinya, maka ini syirik akbar” (Durusun fil Aqidah, 11/6).Menahan dan mendatangkan hujanPerkara menahan dan mendatangkan hujan adalah perkara rububiyah Allah. Siapa saja yang mengklaim ada pihak lain yang bisa menahan dan mendatangkan hujan, maka ia telah terjerumus dalam syirik pada perkara rububiyah.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ“Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan turun ini atas karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Sedangkan hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan ini turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu’, maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang” (HR. Bukhari, no. 1038).Jika menyandarkan hujan kepada benda-benda langit saja dikatakan kufur oleh Allah, apalagi jika menyandarkan hujan kepada pawang hujan atau dukun.Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanBekerja sama dengan jinYang rajih, bekerja sama dengan jin itu perkara yang diharamkan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al-Jin: 6).Syaikh As Sa’di dalam Taisir Kariimirrahman menjelaskan, kata فَزَادُوهُمْ memiliki dua kemungkinan: Kemungkinan pertama, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ dan هم mengacu pada jin. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia. Kemungkinan kedua, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ dan هم mengacu pada manusia. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia tersebut beristi’adzah kepada selain Allah dan ia pun akan menjadi orang yang senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir. Sebagaimana sebagian orang ketika baru mau masuk lembah saja sudah khawatir dan berkata: “Wahai penunggu lembah lindungi saya dari temanmu yang jahat”. Memang ada khilaf ulama masalah ini. Namun ulama yang membolehkan kerjasama dengan jin, mereka memberikan syarat-syarat yang ketat. Namun jika yang kerjasama dengan jin adalah dukun, maka jelas sekali keharamannya. Para ulama dalam Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta mengatakan: “Tidak boleh seorang Muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran” (Fatawa Al Lajnah no.15924).Melawan sihir dengan sihirMenangkal santet dengan ilmu perdukunan, melawan santet dengan santet, melawan sihir dengan sihir, ini disebut nusyrah. Dan nusyrah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata,سُئِلَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن النُّشْرةِ، فقال: هو من عَمَلِ الشَّيطانِ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya tentang nusyrah. Beliau menjawab: itu adalah amalan setan” (HR. Abu Daud no.3868, dihasankan oleh Ibnu Hajar di Takhrij Misykatul Mashabih [4/278]).Dan orang yang melawan sihir dengan ilmu sihir juga, pelakunya tetap dihukumi sebagai tukang sihir. Al Hasan Al Bashri Rahimahullah mengatakan,لا يحل السحر إلا الساحر“Tidaklah orang yang menangkal sihir dengan sihir juga, kecuali dia adalah penyihir” (Fathul Bari, 10/233).Padahal Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Tukang sihir tak akan pernah beruntung dari mana pun ia datang” (QS. Thaha: 69).Meramal masa depanMeramal masa depan dan perkara-perkara gaib, apapun alasannya, adalah perbuatan kesyirikan dan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” (QS. An-Naml: 65).Orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia mendustakan ayat ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “orang yang mengklaim tahu perkara gaib, maka ia kafir. Orang yang membenarkan orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia juga kafir. Berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”” (QS. An-Naml : 65). Maka tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah semata” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/292).‘Ala kulli haal, tidak ada pembagian “dukun hitam” atau “dukun putih”, semua dukun itu hitam dan sesat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutlakkan dukun dan tidak membeda-bedakannya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 5939).Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah agar tidak terpedaya kesesatan para dukun.Baca Juga:Penulis: Yulian Purnama, S.KomArtikel: Muslim.or.id
Sebagian dukun menamai diri mereka dengan istilah “dukun putih”. Mereka menggunakan sihir, jampi-jampi, jimat, bantuan jin, dan praktek-praktek perdukunan lainnya, namun disebut “dukun putih” karena tidak menyantet orang dan yang mereka lakukan adalah membantu orang, menurut klaim mereka, semisal:– “membantu” orang mendapatkan kekasih dengan ilmu pelet;– “membantu” orang agar usaha laris;– “membantu” orang agar baik jabatan;– “membantu” menahan atau menurunkan hujan;– “membantu” orang menangkal santet;– meramal masa depan orang untuk membantu peruntungan.Para pembaca yang budiman, jangan tertipu dengan kata-kata para dukun bahwa mereka “membantu” dan “menolong” orang lain. Karena dalam hadis, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta,فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ“… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan” (HR. Bukhari no. 3288).Mereka para dukun senantiasa dibisiki kedustaan oleh para setan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk percaya kepada dukun.Dan jangan tertipu dengan kata-kata “membantu”. Karena sejatinya mereka menjerumuskan manusia kepada jurang maksiat dan kesyirikan dengan iming-iming kenikmatan dan kemudahan dunia. Setan senantiasa membungkus kebatilan dengan kata-kata yang indah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (kalangan) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (QS. An-An’am: 112).Amalan-amalan yang mereka lakukan pun, tetap saja merupakan amalan-amalan maksiat dan kesyirikan walaupun mereka mengaku “dukun putih” dan mengaku “membantu”. Beberapa di antara perbuatan-perbuatan mereka akan kami jelaskan di bawah ini.PeletDari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الرقَى والتمائمَ والتولةَ شركٌ“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), jimat dan pelet adalah kesyirikan” (HR. Abu Dawud no. 3883, disahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan,التولة شيء يصنعونه يزعمون أنه يحبب المرأة إلى زوجها والزوج إلى امرأته“Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh dukun dan diklaim dapat membuat wanita cinta kepada suaminya atau membuat suami cinta kepada istrinya” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 371).Baca Juga: Larangan Sangat Keras Pergi ke DukunJimat penglaris usaha dan agar naik jabatanDari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang memakai tamimah (jimat), ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad no. 17422, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 492).Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi menjelaskan: “Memakai jimat, menggunakan pelet, tathayyur, semua ini adalah bentuk syirik asghar. Jika diyakini hal-hal tersebut sekedar wasilah (perantara) yang memberikan manfaat jika memakainya. Sebagaimana diyakini kebanyakan para pemakainya. Mereka masih meyakini bahwa yang menentukan adalah Allah Ta’ala. Namun jika pemakainya meyakini bahwa jimat kalung atau jimat gelang atau jimat yang digantung, ini semua memiliki kuasa dengan sendirinya, bisa memberikan manfaat dan menghindarkan mudarat dengan sendirinya, maka ini syirik akbar” (Durusun fil Aqidah, 11/6).Menahan dan mendatangkan hujanPerkara menahan dan mendatangkan hujan adalah perkara rububiyah Allah. Siapa saja yang mengklaim ada pihak lain yang bisa menahan dan mendatangkan hujan, maka ia telah terjerumus dalam syirik pada perkara rububiyah.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ“Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan turun ini atas karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Sedangkan hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan ini turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu’, maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang” (HR. Bukhari, no. 1038).Jika menyandarkan hujan kepada benda-benda langit saja dikatakan kufur oleh Allah, apalagi jika menyandarkan hujan kepada pawang hujan atau dukun.Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanBekerja sama dengan jinYang rajih, bekerja sama dengan jin itu perkara yang diharamkan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al-Jin: 6).Syaikh As Sa’di dalam Taisir Kariimirrahman menjelaskan, kata فَزَادُوهُمْ memiliki dua kemungkinan: Kemungkinan pertama, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ dan هم mengacu pada jin. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia. Kemungkinan kedua, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ dan هم mengacu pada manusia. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia tersebut beristi’adzah kepada selain Allah dan ia pun akan menjadi orang yang senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir. Sebagaimana sebagian orang ketika baru mau masuk lembah saja sudah khawatir dan berkata: “Wahai penunggu lembah lindungi saya dari temanmu yang jahat”. Memang ada khilaf ulama masalah ini. Namun ulama yang membolehkan kerjasama dengan jin, mereka memberikan syarat-syarat yang ketat. Namun jika yang kerjasama dengan jin adalah dukun, maka jelas sekali keharamannya. Para ulama dalam Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta mengatakan: “Tidak boleh seorang Muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran” (Fatawa Al Lajnah no.15924).Melawan sihir dengan sihirMenangkal santet dengan ilmu perdukunan, melawan santet dengan santet, melawan sihir dengan sihir, ini disebut nusyrah. Dan nusyrah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata,سُئِلَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن النُّشْرةِ، فقال: هو من عَمَلِ الشَّيطانِ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya tentang nusyrah. Beliau menjawab: itu adalah amalan setan” (HR. Abu Daud no.3868, dihasankan oleh Ibnu Hajar di Takhrij Misykatul Mashabih [4/278]).Dan orang yang melawan sihir dengan ilmu sihir juga, pelakunya tetap dihukumi sebagai tukang sihir. Al Hasan Al Bashri Rahimahullah mengatakan,لا يحل السحر إلا الساحر“Tidaklah orang yang menangkal sihir dengan sihir juga, kecuali dia adalah penyihir” (Fathul Bari, 10/233).Padahal Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Tukang sihir tak akan pernah beruntung dari mana pun ia datang” (QS. Thaha: 69).Meramal masa depanMeramal masa depan dan perkara-perkara gaib, apapun alasannya, adalah perbuatan kesyirikan dan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” (QS. An-Naml: 65).Orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia mendustakan ayat ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “orang yang mengklaim tahu perkara gaib, maka ia kafir. Orang yang membenarkan orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia juga kafir. Berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”” (QS. An-Naml : 65). Maka tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah semata” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/292).‘Ala kulli haal, tidak ada pembagian “dukun hitam” atau “dukun putih”, semua dukun itu hitam dan sesat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutlakkan dukun dan tidak membeda-bedakannya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 5939).Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah agar tidak terpedaya kesesatan para dukun.Baca Juga:Penulis: Yulian Purnama, S.KomArtikel: Muslim.or.id


Sebagian dukun menamai diri mereka dengan istilah “dukun putih”. Mereka menggunakan sihir, jampi-jampi, jimat, bantuan jin, dan praktek-praktek perdukunan lainnya, namun disebut “dukun putih” karena tidak menyantet orang dan yang mereka lakukan adalah membantu orang, menurut klaim mereka, semisal:– “membantu” orang mendapatkan kekasih dengan ilmu pelet;– “membantu” orang agar usaha laris;– “membantu” orang agar baik jabatan;– “membantu” menahan atau menurunkan hujan;– “membantu” orang menangkal santet;– meramal masa depan orang untuk membantu peruntungan.Para pembaca yang budiman, jangan tertipu dengan kata-kata para dukun bahwa mereka “membantu” dan “menolong” orang lain. Karena dalam hadis, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan bahwa mereka tukang dusta,فَتَقُرُّهَا فِى أُذُنِ الْكَاهِنِ ، كَمَا تُقَرُّ الْقَارُورَةُ ، فَيَزِيدُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذِبَةٍ“… setan-setan itu pun membisikkannya kabar-kabar langit pada telinga para dukun. Seperti meniupkan angin ke botol-botol. Lalu setan-setan itu pun menambahkan kabar-kabar tersebut dengan 100 kedustaan” (HR. Bukhari no. 3288).Mereka para dukun senantiasa dibisiki kedustaan oleh para setan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk percaya kepada dukun.Dan jangan tertipu dengan kata-kata “membantu”. Karena sejatinya mereka menjerumuskan manusia kepada jurang maksiat dan kesyirikan dengan iming-iming kenikmatan dan kemudahan dunia. Setan senantiasa membungkus kebatilan dengan kata-kata yang indah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (kalangan) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (QS. An-An’am: 112).Amalan-amalan yang mereka lakukan pun, tetap saja merupakan amalan-amalan maksiat dan kesyirikan walaupun mereka mengaku “dukun putih” dan mengaku “membantu”. Beberapa di antara perbuatan-perbuatan mereka akan kami jelaskan di bawah ini.PeletDari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إن الرقَى والتمائمَ والتولةَ شركٌ“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), jimat dan pelet adalah kesyirikan” (HR. Abu Dawud no. 3883, disahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan,التولة شيء يصنعونه يزعمون أنه يحبب المرأة إلى زوجها والزوج إلى امرأته“Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh dukun dan diklaim dapat membuat wanita cinta kepada suaminya atau membuat suami cinta kepada istrinya” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no. 371).Baca Juga: Larangan Sangat Keras Pergi ke DukunJimat penglaris usaha dan agar naik jabatanDari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ“Barangsiapa yang memakai tamimah (jimat), ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad no. 17422, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 492).Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi menjelaskan: “Memakai jimat, menggunakan pelet, tathayyur, semua ini adalah bentuk syirik asghar. Jika diyakini hal-hal tersebut sekedar wasilah (perantara) yang memberikan manfaat jika memakainya. Sebagaimana diyakini kebanyakan para pemakainya. Mereka masih meyakini bahwa yang menentukan adalah Allah Ta’ala. Namun jika pemakainya meyakini bahwa jimat kalung atau jimat gelang atau jimat yang digantung, ini semua memiliki kuasa dengan sendirinya, bisa memberikan manfaat dan menghindarkan mudarat dengan sendirinya, maka ini syirik akbar” (Durusun fil Aqidah, 11/6).Menahan dan mendatangkan hujanPerkara menahan dan mendatangkan hujan adalah perkara rububiyah Allah. Siapa saja yang mengklaim ada pihak lain yang bisa menahan dan mendatangkan hujan, maka ia telah terjerumus dalam syirik pada perkara rububiyah.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ“Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan turun ini atas karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Sedangkan hamba-Ku yang mengatakan: ‘Hujan ini turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu’, maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang” (HR. Bukhari, no. 1038).Jika menyandarkan hujan kepada benda-benda langit saja dikatakan kufur oleh Allah, apalagi jika menyandarkan hujan kepada pawang hujan atau dukun.Baca Juga: Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung KemaksiatanBekerja sama dengan jinYang rajih, bekerja sama dengan jin itu perkara yang diharamkan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al-Jin: 6).Syaikh As Sa’di dalam Taisir Kariimirrahman menjelaskan, kata فَزَادُوهُمْ memiliki dua kemungkinan: Kemungkinan pertama, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ dan هم mengacu pada jin. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia. Kemungkinan kedua, fa’il-nya mengacu pada رِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ dan هم mengacu pada manusia. Artinya perbuatan tersebut menambahkan dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia tersebut beristi’adzah kepada selain Allah dan ia pun akan menjadi orang yang senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir. Sebagaimana sebagian orang ketika baru mau masuk lembah saja sudah khawatir dan berkata: “Wahai penunggu lembah lindungi saya dari temanmu yang jahat”. Memang ada khilaf ulama masalah ini. Namun ulama yang membolehkan kerjasama dengan jin, mereka memberikan syarat-syarat yang ketat. Namun jika yang kerjasama dengan jin adalah dukun, maka jelas sekali keharamannya. Para ulama dalam Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta mengatakan: “Tidak boleh seorang Muslim meminta bantuan jin untuk tujuan apapun. Karena mereka tidak memberi bantuan kecuali manusia menaati para jin dalam berbuat maksiat kepada Allah dan berbuat kesyirikan atau kekufuran” (Fatawa Al Lajnah no.15924).Melawan sihir dengan sihirMenangkal santet dengan ilmu perdukunan, melawan santet dengan santet, melawan sihir dengan sihir, ini disebut nusyrah. Dan nusyrah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata,سُئِلَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن النُّشْرةِ، فقال: هو من عَمَلِ الشَّيطانِ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya tentang nusyrah. Beliau menjawab: itu adalah amalan setan” (HR. Abu Daud no.3868, dihasankan oleh Ibnu Hajar di Takhrij Misykatul Mashabih [4/278]).Dan orang yang melawan sihir dengan ilmu sihir juga, pelakunya tetap dihukumi sebagai tukang sihir. Al Hasan Al Bashri Rahimahullah mengatakan,لا يحل السحر إلا الساحر“Tidaklah orang yang menangkal sihir dengan sihir juga, kecuali dia adalah penyihir” (Fathul Bari, 10/233).Padahal Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Tukang sihir tak akan pernah beruntung dari mana pun ia datang” (QS. Thaha: 69).Meramal masa depanMeramal masa depan dan perkara-perkara gaib, apapun alasannya, adalah perbuatan kesyirikan dan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan” (QS. An-Naml: 65).Orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia mendustakan ayat ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “orang yang mengklaim tahu perkara gaib, maka ia kafir. Orang yang membenarkan orang yang mengklaim tahu perkara gaib, ia juga kafir. Berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”” (QS. An-Naml : 65). Maka tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah semata” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/292).‘Ala kulli haal, tidak ada pembagian “dukun hitam” atau “dukun putih”, semua dukun itu hitam dan sesat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutlakkan dukun dan tidak membeda-bedakannya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau mendatangi tukang ramal, kemudian ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad no. 9536, Abu Daud no. 3904, Tirmidzi no. 135, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 5939).Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah agar tidak terpedaya kesesatan para dukun.Baca Juga:Penulis: Yulian Purnama, S.KomArtikel: Muslim.or.id
Prev     Next