Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam?

بسم الله الرحمن الرحيمAkibat perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam satu abad terakhir ini, banyak permasalahan kontemporer muncul di tengah-tengah umat yang belum pernah dijumpai pada abad sebelumnya. Di antara contoh yang sangat tersebar luas hari ini adalah telepon dengan segala fiturnya, yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain melalui panggilan telepon, menuliskan pesan dalam bentuk SMS ataupun chat, serta berselancar di dunia maya menggunakan jaringan internet.Baca Juga: Tidak Boleh Memulai Salam Kepada Orang Kafir ?Setiap ada masalah baru yang muncul, para ulama’ akan berusaha menentukan hukum fikih yang terkait dengannya. Misalnya, ketika fasilitas komunikasi jarak jauh bisa kita nikmati dengan melakukan panggilan telepon, para ulama’ menjelaskan bahwa hukum-hukum tentang berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain dapat diterapkan kepadanya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,فإن آداب الهاتف الشرعية مخرجة فقها على آداب الزيارة، والاستئذان، والكلام، والحديث مع الآخرين في المقدار، والزمان، والمكان، وجنس الكلام، وصفته“Sesungguhnya adab-adab syar’iy tentang telepon dikategorikan secara fikih ke dalam adab-adab berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain, baik dalam aspek kadarnya, waktunya, tempatnya, jenis pembicaraannya, dan sifatnya.”Itu mengapa beliau menerangkan bahwa ketika A menelepon B, maka yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali adalah A, bukan B seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh masyarakat. Ini karena A adalah orang yang menelepon, sehingga dialah yang seharusnya mengatakan salam pertama kali, sebagaimana ketika A berkunjung ke rumah B dan mengetok pintunya, A adalah yang mengucapkan salam pertama kali dan bukan B.Baca Juga: Inilah Faedah Seputar BasmalahFitur lain yang ada pada telepon adalah chat, yang merupakan percakapan antara dua orang atau lebih menggunakan tulisan yang dikirimkan melalui jaringan internet. Sebagian berpendapat bahwa karena chat adalah sebuah media tulisan, maka ia bisa dianggap sebagai sebuah surat. Dan sunnah dalam surat tertulis adalah memulainya dengan basmalah, dalam rangka meneladani perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu memulai surat-surat beliau dengan basmalah, dan perbuatan Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam yang memulai suratnya kepada Ratu Balqis, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: ‘Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’”Akan tetapi, jika dilihat dari sisi cepatnya tukar-menukar pesan dan informasi, maka chat bisa dianggap sebagai sebuah percakapan atau obrolan. Dan sunnah ketika kita menemui orang lain untuk berbicara kepadanya adalah memulai dengan ucapan salam, sebagaimana dalam sebuah hadits di mana seorang laki-laki dari Bani ‘Amir meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pelayannya, “Keluarlah untuk menemuinya, dan ajarkanlah dia cara untuk meminta izin, katakanlah kepadanya, ‘Katakan: Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” Laki-laki itu mendengar hal ini, lalu dia berkata, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilakannya dan ia pun masuk.Baca Juga: Jangan Suka Memprovokasi Sesama MuslimManakah yang lebih tepat? Apakah chat hendak dikategorikan sebagai surat sehingga lebih utama untuk memulainya dengan basmalah, atau hendak dikategorikan sebagai percakapan dan obrolan sehingga lebih utama untuk memulainya dengan salam?Jawabannya adalah tergantung apa yang hendak disampaikan melalui media chat tersebut. Jika seseorang hendak mengirimkan sebuah artikel dakwah misalnya, atau sebuah pengumuman penting yang tidak mengandung keharaman di dalamnya, maka memulainya dengan basmalah adalah lebih utama karena ia lebih dekat kepada makna surat. Akan tetapi, jika ia misalnya hendak menyapa rekannya, menanyakan kabar, atau menanyakan sedang berada di mana, yang mana ini semua adalah lebih dekat kepada percakapan dan obrolan, maka memulainya dengan salam adalah lebih utama.Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh ‘Ubaid ibn ‘Abdillah al-Jabiriy hafizhahullah:هل يجب رد السلام على الرسائل المكتوبة عبر الإنترنت أو من خلال رسائل الهواتف؟“Apakah wajib untuk menjawab salam dalam pesan yang dikirimkan melalui internet atau melalui sms?”Beliau menjawab:يعني هل هذه موجهة للعموم؟ هذا لا بد منه هذا السؤال. أم موجهة لمن أرسلت إليه؟ فإن كانت موجهة إلى شخص معين فلها حالتان: إحداهما: أن يبدأ المرسل بالسلام، فهنا يجب على المرسل إليه رد السلام. الحالة الثانية: ألا يبدأ المرسل بالسلام، يرسل الرسالة عادية غير مبدوأة بالسلام، فهنا المرسل إليه مخير إن شاء بدأ بالسلام وهو الأولى والأفضل، وإن شاء تركه. نعم. أما إذا كانت الرسائل للعامة: فالأمر فيه سعة. لكن من رد السلام فنرجو أنه أصاب السنة إن شاء الله تعالى. نعم“Yaitu, apakah pesan itu ditujukan kepada umum? Tidak boleh tidak, pertanyaan ini harus diajukan (terlebih dahulu). Ataukah pesan tersebut ditujukan hanya kepada orang tertentu saja?Jika pesan itu ditujukan kepada seseorang tertentu, maka ada dua kondisi:Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetKondisi pertamaOrang yang mengirimkannya memulai dengan salam. Maka di sini wajib bagi si penerima pesan untuk menjawab salam tersebut.Kondisi keduaOrang yang mengirimkannya tidak memulai dengan salam. Dia mengirimkan sebuah pesan biasa dan tidak dimulai dengan salam. Maka di sini si penerima pesan boleh memilih, dia bisa memulai dengan salam dan itulah yang lebih utama dan afdhal, dan dia juga boleh untuk tidak melakukannya. Na’am.Adapun jika pesan itu ditujukan kepada umum, maka perkaranya luas. Akan tetapi, barangsiapa yang menjawab salam tersebut maka kami harap dia telah mencocoki Sunnah insyaAllahu Ta’ala. Na’am.”Lihatlah bagaimana beliau hafizhahullah menyebutkan bahwa memulai dengan salam itu lebih utama dan afdhal ketika kita menuliskan sebuah pesan yang biasa dikirimkan melalui media chat atau sms, yaitu pesan yang bersifat seperti percakapan dan obrolan, dan beliau sama sekali tidak mengkategorikan pesan ini sebagai sebuah surat tertulis, yang lebih utama untuk dimulai dengan basmalah.Baca Juga: Mendengarkan Pelajaran Agama Via Internet Dikelilingi Malaikat?Secara logika, pendapat ini pun adalah yang lebih kuat. Jika kita mengkategorikan pesan dalam media chat dan sms itu sebagai layaknya sebuah surat tertulis, maka akan menjadi lebih utama bagi kita untuk menuliskan basmalah di setiap obrolan yang kita tuliskan. Jika dikatakan bahwa obrolan itu biasanya bukan sebuah perkara yang penting, sementara memulai pesan dengan basmalah itu baru disyari’atkan jika pesan itu berupa ilmu syar’iy atau perkara dunia yang bermanfaat, maka kita katakan bahwa betapa sering sebuah obrolan itu juga berisikan hal-hal yang penting atau bahkan sangat penting, baik ia terkait perkara agama ataupun perkara dunia, tetapi tidak pernah dijumpai bahwa kedua belah pihak memulai setiap pesan dalam obrolannya tersebut dengan basmalah. Namun, keduanya akan mengobrol secara mengalir, dan percakapannya itu akan diawali serta ditutup dengan salam.Baca Juga:Wallahu a’lam bish-shawab.Pogung Dalangan, 9 Jumada al-Awwal 1440 / 15 Januari 2019Penulis: Andy Octavian Latief Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Puasa Hari Sabtu, Khusyu Dalam Shalat, Siapakah Wali Allah Itu, Doa Kafaratul Majlis Dan Artinya, Pahala Shalat Di Masjid Nabawi

Lebih Utama Memulai Chat dengan Basmalah atau Salam?

بسم الله الرحمن الرحيمAkibat perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam satu abad terakhir ini, banyak permasalahan kontemporer muncul di tengah-tengah umat yang belum pernah dijumpai pada abad sebelumnya. Di antara contoh yang sangat tersebar luas hari ini adalah telepon dengan segala fiturnya, yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain melalui panggilan telepon, menuliskan pesan dalam bentuk SMS ataupun chat, serta berselancar di dunia maya menggunakan jaringan internet.Baca Juga: Tidak Boleh Memulai Salam Kepada Orang Kafir ?Setiap ada masalah baru yang muncul, para ulama’ akan berusaha menentukan hukum fikih yang terkait dengannya. Misalnya, ketika fasilitas komunikasi jarak jauh bisa kita nikmati dengan melakukan panggilan telepon, para ulama’ menjelaskan bahwa hukum-hukum tentang berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain dapat diterapkan kepadanya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,فإن آداب الهاتف الشرعية مخرجة فقها على آداب الزيارة، والاستئذان، والكلام، والحديث مع الآخرين في المقدار، والزمان، والمكان، وجنس الكلام، وصفته“Sesungguhnya adab-adab syar’iy tentang telepon dikategorikan secara fikih ke dalam adab-adab berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain, baik dalam aspek kadarnya, waktunya, tempatnya, jenis pembicaraannya, dan sifatnya.”Itu mengapa beliau menerangkan bahwa ketika A menelepon B, maka yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali adalah A, bukan B seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh masyarakat. Ini karena A adalah orang yang menelepon, sehingga dialah yang seharusnya mengatakan salam pertama kali, sebagaimana ketika A berkunjung ke rumah B dan mengetok pintunya, A adalah yang mengucapkan salam pertama kali dan bukan B.Baca Juga: Inilah Faedah Seputar BasmalahFitur lain yang ada pada telepon adalah chat, yang merupakan percakapan antara dua orang atau lebih menggunakan tulisan yang dikirimkan melalui jaringan internet. Sebagian berpendapat bahwa karena chat adalah sebuah media tulisan, maka ia bisa dianggap sebagai sebuah surat. Dan sunnah dalam surat tertulis adalah memulainya dengan basmalah, dalam rangka meneladani perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu memulai surat-surat beliau dengan basmalah, dan perbuatan Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam yang memulai suratnya kepada Ratu Balqis, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: ‘Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’”Akan tetapi, jika dilihat dari sisi cepatnya tukar-menukar pesan dan informasi, maka chat bisa dianggap sebagai sebuah percakapan atau obrolan. Dan sunnah ketika kita menemui orang lain untuk berbicara kepadanya adalah memulai dengan ucapan salam, sebagaimana dalam sebuah hadits di mana seorang laki-laki dari Bani ‘Amir meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pelayannya, “Keluarlah untuk menemuinya, dan ajarkanlah dia cara untuk meminta izin, katakanlah kepadanya, ‘Katakan: Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” Laki-laki itu mendengar hal ini, lalu dia berkata, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilakannya dan ia pun masuk.Baca Juga: Jangan Suka Memprovokasi Sesama MuslimManakah yang lebih tepat? Apakah chat hendak dikategorikan sebagai surat sehingga lebih utama untuk memulainya dengan basmalah, atau hendak dikategorikan sebagai percakapan dan obrolan sehingga lebih utama untuk memulainya dengan salam?Jawabannya adalah tergantung apa yang hendak disampaikan melalui media chat tersebut. Jika seseorang hendak mengirimkan sebuah artikel dakwah misalnya, atau sebuah pengumuman penting yang tidak mengandung keharaman di dalamnya, maka memulainya dengan basmalah adalah lebih utama karena ia lebih dekat kepada makna surat. Akan tetapi, jika ia misalnya hendak menyapa rekannya, menanyakan kabar, atau menanyakan sedang berada di mana, yang mana ini semua adalah lebih dekat kepada percakapan dan obrolan, maka memulainya dengan salam adalah lebih utama.Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh ‘Ubaid ibn ‘Abdillah al-Jabiriy hafizhahullah:هل يجب رد السلام على الرسائل المكتوبة عبر الإنترنت أو من خلال رسائل الهواتف؟“Apakah wajib untuk menjawab salam dalam pesan yang dikirimkan melalui internet atau melalui sms?”Beliau menjawab:يعني هل هذه موجهة للعموم؟ هذا لا بد منه هذا السؤال. أم موجهة لمن أرسلت إليه؟ فإن كانت موجهة إلى شخص معين فلها حالتان: إحداهما: أن يبدأ المرسل بالسلام، فهنا يجب على المرسل إليه رد السلام. الحالة الثانية: ألا يبدأ المرسل بالسلام، يرسل الرسالة عادية غير مبدوأة بالسلام، فهنا المرسل إليه مخير إن شاء بدأ بالسلام وهو الأولى والأفضل، وإن شاء تركه. نعم. أما إذا كانت الرسائل للعامة: فالأمر فيه سعة. لكن من رد السلام فنرجو أنه أصاب السنة إن شاء الله تعالى. نعم“Yaitu, apakah pesan itu ditujukan kepada umum? Tidak boleh tidak, pertanyaan ini harus diajukan (terlebih dahulu). Ataukah pesan tersebut ditujukan hanya kepada orang tertentu saja?Jika pesan itu ditujukan kepada seseorang tertentu, maka ada dua kondisi:Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetKondisi pertamaOrang yang mengirimkannya memulai dengan salam. Maka di sini wajib bagi si penerima pesan untuk menjawab salam tersebut.Kondisi keduaOrang yang mengirimkannya tidak memulai dengan salam. Dia mengirimkan sebuah pesan biasa dan tidak dimulai dengan salam. Maka di sini si penerima pesan boleh memilih, dia bisa memulai dengan salam dan itulah yang lebih utama dan afdhal, dan dia juga boleh untuk tidak melakukannya. Na’am.Adapun jika pesan itu ditujukan kepada umum, maka perkaranya luas. Akan tetapi, barangsiapa yang menjawab salam tersebut maka kami harap dia telah mencocoki Sunnah insyaAllahu Ta’ala. Na’am.”Lihatlah bagaimana beliau hafizhahullah menyebutkan bahwa memulai dengan salam itu lebih utama dan afdhal ketika kita menuliskan sebuah pesan yang biasa dikirimkan melalui media chat atau sms, yaitu pesan yang bersifat seperti percakapan dan obrolan, dan beliau sama sekali tidak mengkategorikan pesan ini sebagai sebuah surat tertulis, yang lebih utama untuk dimulai dengan basmalah.Baca Juga: Mendengarkan Pelajaran Agama Via Internet Dikelilingi Malaikat?Secara logika, pendapat ini pun adalah yang lebih kuat. Jika kita mengkategorikan pesan dalam media chat dan sms itu sebagai layaknya sebuah surat tertulis, maka akan menjadi lebih utama bagi kita untuk menuliskan basmalah di setiap obrolan yang kita tuliskan. Jika dikatakan bahwa obrolan itu biasanya bukan sebuah perkara yang penting, sementara memulai pesan dengan basmalah itu baru disyari’atkan jika pesan itu berupa ilmu syar’iy atau perkara dunia yang bermanfaat, maka kita katakan bahwa betapa sering sebuah obrolan itu juga berisikan hal-hal yang penting atau bahkan sangat penting, baik ia terkait perkara agama ataupun perkara dunia, tetapi tidak pernah dijumpai bahwa kedua belah pihak memulai setiap pesan dalam obrolannya tersebut dengan basmalah. Namun, keduanya akan mengobrol secara mengalir, dan percakapannya itu akan diawali serta ditutup dengan salam.Baca Juga:Wallahu a’lam bish-shawab.Pogung Dalangan, 9 Jumada al-Awwal 1440 / 15 Januari 2019Penulis: Andy Octavian Latief Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Puasa Hari Sabtu, Khusyu Dalam Shalat, Siapakah Wali Allah Itu, Doa Kafaratul Majlis Dan Artinya, Pahala Shalat Di Masjid Nabawi
بسم الله الرحمن الرحيمAkibat perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam satu abad terakhir ini, banyak permasalahan kontemporer muncul di tengah-tengah umat yang belum pernah dijumpai pada abad sebelumnya. Di antara contoh yang sangat tersebar luas hari ini adalah telepon dengan segala fiturnya, yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain melalui panggilan telepon, menuliskan pesan dalam bentuk SMS ataupun chat, serta berselancar di dunia maya menggunakan jaringan internet.Baca Juga: Tidak Boleh Memulai Salam Kepada Orang Kafir ?Setiap ada masalah baru yang muncul, para ulama’ akan berusaha menentukan hukum fikih yang terkait dengannya. Misalnya, ketika fasilitas komunikasi jarak jauh bisa kita nikmati dengan melakukan panggilan telepon, para ulama’ menjelaskan bahwa hukum-hukum tentang berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain dapat diterapkan kepadanya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,فإن آداب الهاتف الشرعية مخرجة فقها على آداب الزيارة، والاستئذان، والكلام، والحديث مع الآخرين في المقدار، والزمان، والمكان، وجنس الكلام، وصفته“Sesungguhnya adab-adab syar’iy tentang telepon dikategorikan secara fikih ke dalam adab-adab berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain, baik dalam aspek kadarnya, waktunya, tempatnya, jenis pembicaraannya, dan sifatnya.”Itu mengapa beliau menerangkan bahwa ketika A menelepon B, maka yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali adalah A, bukan B seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh masyarakat. Ini karena A adalah orang yang menelepon, sehingga dialah yang seharusnya mengatakan salam pertama kali, sebagaimana ketika A berkunjung ke rumah B dan mengetok pintunya, A adalah yang mengucapkan salam pertama kali dan bukan B.Baca Juga: Inilah Faedah Seputar BasmalahFitur lain yang ada pada telepon adalah chat, yang merupakan percakapan antara dua orang atau lebih menggunakan tulisan yang dikirimkan melalui jaringan internet. Sebagian berpendapat bahwa karena chat adalah sebuah media tulisan, maka ia bisa dianggap sebagai sebuah surat. Dan sunnah dalam surat tertulis adalah memulainya dengan basmalah, dalam rangka meneladani perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu memulai surat-surat beliau dengan basmalah, dan perbuatan Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam yang memulai suratnya kepada Ratu Balqis, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: ‘Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’”Akan tetapi, jika dilihat dari sisi cepatnya tukar-menukar pesan dan informasi, maka chat bisa dianggap sebagai sebuah percakapan atau obrolan. Dan sunnah ketika kita menemui orang lain untuk berbicara kepadanya adalah memulai dengan ucapan salam, sebagaimana dalam sebuah hadits di mana seorang laki-laki dari Bani ‘Amir meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pelayannya, “Keluarlah untuk menemuinya, dan ajarkanlah dia cara untuk meminta izin, katakanlah kepadanya, ‘Katakan: Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” Laki-laki itu mendengar hal ini, lalu dia berkata, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilakannya dan ia pun masuk.Baca Juga: Jangan Suka Memprovokasi Sesama MuslimManakah yang lebih tepat? Apakah chat hendak dikategorikan sebagai surat sehingga lebih utama untuk memulainya dengan basmalah, atau hendak dikategorikan sebagai percakapan dan obrolan sehingga lebih utama untuk memulainya dengan salam?Jawabannya adalah tergantung apa yang hendak disampaikan melalui media chat tersebut. Jika seseorang hendak mengirimkan sebuah artikel dakwah misalnya, atau sebuah pengumuman penting yang tidak mengandung keharaman di dalamnya, maka memulainya dengan basmalah adalah lebih utama karena ia lebih dekat kepada makna surat. Akan tetapi, jika ia misalnya hendak menyapa rekannya, menanyakan kabar, atau menanyakan sedang berada di mana, yang mana ini semua adalah lebih dekat kepada percakapan dan obrolan, maka memulainya dengan salam adalah lebih utama.Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh ‘Ubaid ibn ‘Abdillah al-Jabiriy hafizhahullah:هل يجب رد السلام على الرسائل المكتوبة عبر الإنترنت أو من خلال رسائل الهواتف؟“Apakah wajib untuk menjawab salam dalam pesan yang dikirimkan melalui internet atau melalui sms?”Beliau menjawab:يعني هل هذه موجهة للعموم؟ هذا لا بد منه هذا السؤال. أم موجهة لمن أرسلت إليه؟ فإن كانت موجهة إلى شخص معين فلها حالتان: إحداهما: أن يبدأ المرسل بالسلام، فهنا يجب على المرسل إليه رد السلام. الحالة الثانية: ألا يبدأ المرسل بالسلام، يرسل الرسالة عادية غير مبدوأة بالسلام، فهنا المرسل إليه مخير إن شاء بدأ بالسلام وهو الأولى والأفضل، وإن شاء تركه. نعم. أما إذا كانت الرسائل للعامة: فالأمر فيه سعة. لكن من رد السلام فنرجو أنه أصاب السنة إن شاء الله تعالى. نعم“Yaitu, apakah pesan itu ditujukan kepada umum? Tidak boleh tidak, pertanyaan ini harus diajukan (terlebih dahulu). Ataukah pesan tersebut ditujukan hanya kepada orang tertentu saja?Jika pesan itu ditujukan kepada seseorang tertentu, maka ada dua kondisi:Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetKondisi pertamaOrang yang mengirimkannya memulai dengan salam. Maka di sini wajib bagi si penerima pesan untuk menjawab salam tersebut.Kondisi keduaOrang yang mengirimkannya tidak memulai dengan salam. Dia mengirimkan sebuah pesan biasa dan tidak dimulai dengan salam. Maka di sini si penerima pesan boleh memilih, dia bisa memulai dengan salam dan itulah yang lebih utama dan afdhal, dan dia juga boleh untuk tidak melakukannya. Na’am.Adapun jika pesan itu ditujukan kepada umum, maka perkaranya luas. Akan tetapi, barangsiapa yang menjawab salam tersebut maka kami harap dia telah mencocoki Sunnah insyaAllahu Ta’ala. Na’am.”Lihatlah bagaimana beliau hafizhahullah menyebutkan bahwa memulai dengan salam itu lebih utama dan afdhal ketika kita menuliskan sebuah pesan yang biasa dikirimkan melalui media chat atau sms, yaitu pesan yang bersifat seperti percakapan dan obrolan, dan beliau sama sekali tidak mengkategorikan pesan ini sebagai sebuah surat tertulis, yang lebih utama untuk dimulai dengan basmalah.Baca Juga: Mendengarkan Pelajaran Agama Via Internet Dikelilingi Malaikat?Secara logika, pendapat ini pun adalah yang lebih kuat. Jika kita mengkategorikan pesan dalam media chat dan sms itu sebagai layaknya sebuah surat tertulis, maka akan menjadi lebih utama bagi kita untuk menuliskan basmalah di setiap obrolan yang kita tuliskan. Jika dikatakan bahwa obrolan itu biasanya bukan sebuah perkara yang penting, sementara memulai pesan dengan basmalah itu baru disyari’atkan jika pesan itu berupa ilmu syar’iy atau perkara dunia yang bermanfaat, maka kita katakan bahwa betapa sering sebuah obrolan itu juga berisikan hal-hal yang penting atau bahkan sangat penting, baik ia terkait perkara agama ataupun perkara dunia, tetapi tidak pernah dijumpai bahwa kedua belah pihak memulai setiap pesan dalam obrolannya tersebut dengan basmalah. Namun, keduanya akan mengobrol secara mengalir, dan percakapannya itu akan diawali serta ditutup dengan salam.Baca Juga:Wallahu a’lam bish-shawab.Pogung Dalangan, 9 Jumada al-Awwal 1440 / 15 Januari 2019Penulis: Andy Octavian Latief Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Puasa Hari Sabtu, Khusyu Dalam Shalat, Siapakah Wali Allah Itu, Doa Kafaratul Majlis Dan Artinya, Pahala Shalat Di Masjid Nabawi


بسم الله الرحمن الرحيمAkibat perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam satu abad terakhir ini, banyak permasalahan kontemporer muncul di tengah-tengah umat yang belum pernah dijumpai pada abad sebelumnya. Di antara contoh yang sangat tersebar luas hari ini adalah telepon dengan segala fiturnya, yang membuat kita bisa berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain melalui panggilan telepon, menuliskan pesan dalam bentuk SMS ataupun chat, serta berselancar di dunia maya menggunakan jaringan internet.Baca Juga: Tidak Boleh Memulai Salam Kepada Orang Kafir ?Setiap ada masalah baru yang muncul, para ulama’ akan berusaha menentukan hukum fikih yang terkait dengannya. Misalnya, ketika fasilitas komunikasi jarak jauh bisa kita nikmati dengan melakukan panggilan telepon, para ulama’ menjelaskan bahwa hukum-hukum tentang berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain dapat diterapkan kepadanya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,فإن آداب الهاتف الشرعية مخرجة فقها على آداب الزيارة، والاستئذان، والكلام، والحديث مع الآخرين في المقدار، والزمان، والمكان، وجنس الكلام، وصفته“Sesungguhnya adab-adab syar’iy tentang telepon dikategorikan secara fikih ke dalam adab-adab berkunjung, meminta izin, berbicara, dan bercakap-cakap dengan orang lain, baik dalam aspek kadarnya, waktunya, tempatnya, jenis pembicaraannya, dan sifatnya.”Itu mengapa beliau menerangkan bahwa ketika A menelepon B, maka yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali adalah A, bukan B seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh masyarakat. Ini karena A adalah orang yang menelepon, sehingga dialah yang seharusnya mengatakan salam pertama kali, sebagaimana ketika A berkunjung ke rumah B dan mengetok pintunya, A adalah yang mengucapkan salam pertama kali dan bukan B.Baca Juga: Inilah Faedah Seputar BasmalahFitur lain yang ada pada telepon adalah chat, yang merupakan percakapan antara dua orang atau lebih menggunakan tulisan yang dikirimkan melalui jaringan internet. Sebagian berpendapat bahwa karena chat adalah sebuah media tulisan, maka ia bisa dianggap sebagai sebuah surat. Dan sunnah dalam surat tertulis adalah memulainya dengan basmalah, dalam rangka meneladani perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu memulai surat-surat beliau dengan basmalah, dan perbuatan Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam yang memulai suratnya kepada Ratu Balqis, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: ‘Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’”Akan tetapi, jika dilihat dari sisi cepatnya tukar-menukar pesan dan informasi, maka chat bisa dianggap sebagai sebuah percakapan atau obrolan. Dan sunnah ketika kita menemui orang lain untuk berbicara kepadanya adalah memulai dengan ucapan salam, sebagaimana dalam sebuah hadits di mana seorang laki-laki dari Bani ‘Amir meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pelayannya, “Keluarlah untuk menemuinya, dan ajarkanlah dia cara untuk meminta izin, katakanlah kepadanya, ‘Katakan: Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’” Laki-laki itu mendengar hal ini, lalu dia berkata, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilakannya dan ia pun masuk.Baca Juga: Jangan Suka Memprovokasi Sesama MuslimManakah yang lebih tepat? Apakah chat hendak dikategorikan sebagai surat sehingga lebih utama untuk memulainya dengan basmalah, atau hendak dikategorikan sebagai percakapan dan obrolan sehingga lebih utama untuk memulainya dengan salam?Jawabannya adalah tergantung apa yang hendak disampaikan melalui media chat tersebut. Jika seseorang hendak mengirimkan sebuah artikel dakwah misalnya, atau sebuah pengumuman penting yang tidak mengandung keharaman di dalamnya, maka memulainya dengan basmalah adalah lebih utama karena ia lebih dekat kepada makna surat. Akan tetapi, jika ia misalnya hendak menyapa rekannya, menanyakan kabar, atau menanyakan sedang berada di mana, yang mana ini semua adalah lebih dekat kepada percakapan dan obrolan, maka memulainya dengan salam adalah lebih utama.Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh ‘Ubaid ibn ‘Abdillah al-Jabiriy hafizhahullah:هل يجب رد السلام على الرسائل المكتوبة عبر الإنترنت أو من خلال رسائل الهواتف؟“Apakah wajib untuk menjawab salam dalam pesan yang dikirimkan melalui internet atau melalui sms?”Beliau menjawab:يعني هل هذه موجهة للعموم؟ هذا لا بد منه هذا السؤال. أم موجهة لمن أرسلت إليه؟ فإن كانت موجهة إلى شخص معين فلها حالتان: إحداهما: أن يبدأ المرسل بالسلام، فهنا يجب على المرسل إليه رد السلام. الحالة الثانية: ألا يبدأ المرسل بالسلام، يرسل الرسالة عادية غير مبدوأة بالسلام، فهنا المرسل إليه مخير إن شاء بدأ بالسلام وهو الأولى والأفضل، وإن شاء تركه. نعم. أما إذا كانت الرسائل للعامة: فالأمر فيه سعة. لكن من رد السلام فنرجو أنه أصاب السنة إن شاء الله تعالى. نعم“Yaitu, apakah pesan itu ditujukan kepada umum? Tidak boleh tidak, pertanyaan ini harus diajukan (terlebih dahulu). Ataukah pesan tersebut ditujukan hanya kepada orang tertentu saja?Jika pesan itu ditujukan kepada seseorang tertentu, maka ada dua kondisi:Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetKondisi pertamaOrang yang mengirimkannya memulai dengan salam. Maka di sini wajib bagi si penerima pesan untuk menjawab salam tersebut.Kondisi keduaOrang yang mengirimkannya tidak memulai dengan salam. Dia mengirimkan sebuah pesan biasa dan tidak dimulai dengan salam. Maka di sini si penerima pesan boleh memilih, dia bisa memulai dengan salam dan itulah yang lebih utama dan afdhal, dan dia juga boleh untuk tidak melakukannya. Na’am.Adapun jika pesan itu ditujukan kepada umum, maka perkaranya luas. Akan tetapi, barangsiapa yang menjawab salam tersebut maka kami harap dia telah mencocoki Sunnah insyaAllahu Ta’ala. Na’am.”Lihatlah bagaimana beliau hafizhahullah menyebutkan bahwa memulai dengan salam itu lebih utama dan afdhal ketika kita menuliskan sebuah pesan yang biasa dikirimkan melalui media chat atau sms, yaitu pesan yang bersifat seperti percakapan dan obrolan, dan beliau sama sekali tidak mengkategorikan pesan ini sebagai sebuah surat tertulis, yang lebih utama untuk dimulai dengan basmalah.Baca Juga: Mendengarkan Pelajaran Agama Via Internet Dikelilingi Malaikat?Secara logika, pendapat ini pun adalah yang lebih kuat. Jika kita mengkategorikan pesan dalam media chat dan sms itu sebagai layaknya sebuah surat tertulis, maka akan menjadi lebih utama bagi kita untuk menuliskan basmalah di setiap obrolan yang kita tuliskan. Jika dikatakan bahwa obrolan itu biasanya bukan sebuah perkara yang penting, sementara memulai pesan dengan basmalah itu baru disyari’atkan jika pesan itu berupa ilmu syar’iy atau perkara dunia yang bermanfaat, maka kita katakan bahwa betapa sering sebuah obrolan itu juga berisikan hal-hal yang penting atau bahkan sangat penting, baik ia terkait perkara agama ataupun perkara dunia, tetapi tidak pernah dijumpai bahwa kedua belah pihak memulai setiap pesan dalam obrolannya tersebut dengan basmalah. Namun, keduanya akan mengobrol secara mengalir, dan percakapannya itu akan diawali serta ditutup dengan salam.Baca Juga:Wallahu a’lam bish-shawab.Pogung Dalangan, 9 Jumada al-Awwal 1440 / 15 Januari 2019Penulis: Andy Octavian Latief Artikel: Muslim.Or.Id🔍 Puasa Hari Sabtu, Khusyu Dalam Shalat, Siapakah Wali Allah Itu, Doa Kafaratul Majlis Dan Artinya, Pahala Shalat Di Masjid Nabawi

Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?

Salah satu masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah perdebatan mengenai bentuk bumi kita, apakah bulat ataukah datar. Pengetahuan yang selama ini diketahui umumnya orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga pemahaman bahwa bumi itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth. Beberapa ulama sebenarnya telah membahas hal ini, mereka membahas masalah bentuk bumi dari perspektif syariat. Tentunya mereka berdalil dengan yang tersirat dalam auat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengabarkan tentang alam semesta ini.Klaim ijma bumi itu bulatPerlu diketahui bahwa ada klaim ijma’ dari sebagian ulama bahwa bumi itu bulat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah termasuk ulama terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada cabang-cabang ilmu agama, yang termasuk dalam thabaqah/tingkatan kedua ulama dari pengikut imam Ahmad: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bolaBeliau juga berkata: “Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan seluruh pergerakannya baik itu di daratan maupun lautan, seperti bolaBeliau berkata lagi: “Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi terbit di timur dahulu sebelum terbit di bara”[1. Lihat Majmu’ Fatawa: 25/ 195].Demikian juga Ibnu Hazm rahimahullah berkata,أن أحد من أئمة المسلمين المستحقين لإسم الإمامة بالعلم رضي الله عنهم لم ينكروا تكوير الأرض ولا يحفظ لأحد منهم في دفعه كلمة بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها“Para Imam kaum muslimin yang berhak mendapar gelar imam radhiallahu anhum tidak mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak pula diketahui dari mereka yang membantah sama sekali, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan Sunnah membuktikan bahwa bumi itu bulat”[2. Fashl fil Milal 2/78, Maktabah Al-Kaniwy, Koiro, Syamilah].Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,في كون الأفلاك كروية الشكل والأرض كذلك وأن نور القمر مستفاد من نور الشمس وأن الكسوف القمرى عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس“Bahkan alam semesta dan bumi betuknya adalah bola, demikian juga penjelasan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari dan gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan matahari”[3. Miftah Daris Sa’adah 2/212, Darul Kutub Ilmiyah, Koiro, Syamilah].Demikian juga pendapat bahwa beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan ulama lainnya.Beberapa pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan klaim Ijma’Perlu diketahui juga bawa ada beberapa ulama ada yang menafikan bahwa bumi itu bulat seperti Al-Qahthaniy Al-Andalusy dalam kitab Nuniyah-nya,كذب المهندس والمنجم مثله … فهما لعلم الله مدعيانالأرض عند كليهما كروية … وهما بهذا القول مقترنانوالأرض عند أولي النهى لسطيحة … بدليل صدق واضح القرآن“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran”[4. Nuniyyah Al-Qahthani, Maktabah As-Sudaniy, Jeddah, Syamilah].Demikian juga dalam Tafsir Jalalain, ketika menafsirkan ayatوَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghaasyiyah: 20).Dijelaskan bahwa dzahir ayat bumi itu (سُطِحَتْ) “sutihat” menunjukkan bumi itu (سطحية) “sathiyyah” yaitu bulat, dalam tafsir dijelaskan,سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة“Makna ‘sutihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom”[5. Tafsir Jalalain 1/805, Darul Hadits, Koiro, Syamilah].Demikian juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya, membantah bahwa bumi bulat, ketika menafsirkan ayat,وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).Beliau Al-Qurthubi berkata,وهو يرد على من زعم أنها كالكرة“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”[6. Tafsir Al-Qurthubi 10/13, Darul Kutub Al-Mishriyyah, Koiro, 1384 H, Syamilah].Dari sini kita ketahui bahwa ada ulama yang menyelisihi klaim ijma’ yang disebutkan di atas, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm.Dalil-dalil yang digunakan kedua pendapat, dari Al-Quran dan As SunnahMasing-masing pendapat yang ada berdalil dengan Al Quran dan Sunnah dan saling membantah. Jika membahas dalil-dalil mereka maka cukup panjang, maka kita beri beberapa contoh saja:1) Dalil bahwa bumi itu bulat menurut pro bumi bulat, surat Az Zumar ayat 5Allah berfirman,يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ“Dia menutupkan/menggilirkan (takwrir) malam atas siang dan menutupkan/menggilirkan siang atas malam” (Az-Zumar : 5).Pro bumi bulat berkata bahwa takwir itu bermakna lingkaran atau melingkari, misalnya melingkari penutup kepala imamah, karenanya bumi itu bulat-bola bergantian siang dan malam.Pro bumi datar membantah bahwa justru itu dalil bahwa bumi itu datar dan berbentuk lingkaran (piring bulat), matahari dan bulan berputar melingkar di atas bumi dan menggantikan siang dan malam.2) Dalil bumi itu datar menurut pro bumi datar, surat At Thur ayat 6Yaitu posisi baitul makmur (ka’bah penduduk langit) yang berada tepat sejajar di atas ka’bah dunia di Mekkahوَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)Al-Baghawi rahimahullah berkata,” والبيت المعمور “، بكثرة الغاشية والأهل، وهو بيت في السماء حذاء العرش بحيال الكعبة“Baitul Makmur: banyaknya yang memenuhi dan penduduknya, yaitu rumah di langit sekitar ‘Arsy dan sejajar dengan Ka’bah bumi” [7. Ma’alimut Tanzil 7/382, Darut Thayyibah, cet. IV, 1414 H, syamilah. Silahkan baca tulisan kami selengkapnya mengenai posisinya sejajar di link https://muslim.or.id/16573-mengenal-baitul-makmur-kabah-penduduk-langit.html].Pro bumi datar berkata: “Bagaimana mungkin bumi bulat-bola dan berputar kemudian baitul makmur sejajar dengan baitullah di Mekkah, bagaimana bisa sejajar kalau bumi-bulat berputar? berarti baitul makmur mutar-mutar di atas langit ikut bumi? Ini tidak masuk akal. Kalau bumi datar maka masuk akal jika sejajar”.Pro bumi bulat membantah: “bisa jadi, ini hal ghaib yang tidak bisa masuk akal manusia, banyak hal ghaib yang tidak masuk akal kita sekarang, seperti di hari kiamat ada yang berjalan dengan wajahnya dalam Al-Quran. Orang dahulu tidak masuk akal jika ada yang bisa pergi ke tempat yang jauh dalam semalam saja, di zaman sekarang bisa saja dengan pesawat super cepat”.3) Dalil bumi datar menurut pro bumi datar, surat Al Ghasyiyah ayat 20Ayat yang menjelaskan bahwa bumi itu dihamparkan. Allah berfirman,وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan (apakah manusia tidak mau memikirkan) bagaimana bumi itu dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 20).Pro-datar berkata: “ini sangat jelas mengatakan bumi dihamparkan, menghamparkan permadani misalnya, tentu pada benda yang datar”.Pro-bulat membantah: “silahkan lihat penjelasan ulama semisal syaikh Al-Utsaimin[8. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/664] dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah[9. Fatwa Al-Lanah Ad-Daimah 26/414] yang menjelaskan bahwa bumi itu datar bagi pandangan manusia dari bumi, sedangkan bentuk sebenarnya adalah bulat-bola”.4) Dalil bumi bulat menurut pro bumi bulat, klaim ijma’ dari Syaikhul Islam, Ibnu Hazm dan beberapa ulama lain.Namun klaim ijma’ ini perlu dikritik karena adanya pendapat lain dari ulama terdahulu seperti Al Qurthuby dan penulis Tafsir Jalalain yang telah di sebutkan di atas.Sebenarnya masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang menjadi pembahasan dua kubu dan kita cukupkan saja contohnya sebagaimana di atas.Tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa bumi bulat atau datarSetelah kita melihat pendalilan dua kelompok yang berbeda pendapat, maka kita dapatkan dalam satu dalil yang sama, bisa mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka masing-masing yang bertentangan padahal dalilnya sama. Memang dalam Al-Quran dan Sunnah tidak didapatkan dalil yang tegas dan jelas mengenai hal ini yang menyebut dengan tegas “bumi bulat-bola” atau “bumi datar”.Kita bisa lihat yang pro-bulat menggunakan penjelasan syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa bumi itu bulat dengan dalil dan penjelasan oleh Syaikh. Akan tetapi di sisi lain, Syaikh Al-Ustaimin dan juga Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa bumi adalah pusat tata surya dan tidak berputar sedangkan matahari yang mengelilingi bumi. Tentu ini bertentangan dengan sebagian orang yang pro bumi bulat, yang mereka menyakini bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari.Tentunya Syaikh Al-‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa matahari mengelilingi bumi dengan penjelasan dalil dalam Al-Quran dan Sunnah. Syaikh Utsaimin menjelaskan,أما رأينا حول دوران الشمس على الأرض الذي يحصل به تعاقب الليل والنهار، فإننا مستمسكون بظاهر الكتاب والسنة من أن الشمس تدور على الأرض دورانا“Pendapat kami, matahari yang mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam, kami berpegang teguh dengan dzahir Al-Quran dan Sunnah bahwa matahari itu yang benar-benar mengelilingi bumi”[10. Majmu’ Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413 H, syamilah].Syaikh Bin Baz juga menafikan bahwa bumi berputar (berarti matahari yang berputar mengelilingi agar terjadi siang dan malam), beliau berkata,أما دورانها فقد أنكرته وبيَّنتُ الأدلة على بطلانه“Adapun perputaran bumi maka aku ingkari dan aku telah jelaskan dalil tidak benarnya (perputaran bumi)”[11. Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, bisa di akses di link ini juga: http://www.binbaz.org.sa/article/472].Dalil yang mereka gunakan untuk pernyataan “matahari mengelilingi bumi” juga banyak, salah satunya yang menurut mereka cukup jelas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, yaitu hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa matahari bergerak di peredarannya dan tatkala sampai di bawah Arsy maka matahari bersujud.عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”[12. HR. Bukhari dan Muslim].Akan tetapi yang mengatakan bahwa “bumi mengelilingi matahari” bisa membantah juga: matahari itu memang bergerak dan mengelilingi pusat tata surya. Mereka berpegangan pada fatwa ulama yaitu Syaikh Al-Albani yang menyatakan bahwa bumi itu berputar dan beliau pun membawakan dalil dan penjelasannya. Syaikh Al Albani berkata:نحن في الحقيقة لا نشك في أن قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا“Kami sejatinya tidak ragu bahwa perputaran bumi merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah”[13. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/497. Simak juga penjelasan beliau di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PdBDFXtYKhU].Demikianlah, kesimpulannya mengenai apakah bumi datar atau bulat-bola, maka tidak kita dapatkan dalil yang tegas menyebutkan “bumi itu bulat” atau “bumi itu datar”.Yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu duniaApakah bumi datar atau bulat maka kita kembalikan lagi kepada penelitian dan fakta ilmiah. Hal ini dicerminkan dari sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di mana beliau menggabungkan kedua ilmu yaitu fakta ilmu dunia (yang menurut beliau benar) dan “yang tersirat” dalam Al-Quran dan Sunnah.Simak tanya jawab beliau dan kehati-hatian beliau dalam berfatwa,سؤال من مسلم بريطاني / هل في رأيكم أن العالم كروي أو مستقيم ؟ ج الشيخ : هذا السؤال جغرافي وإلا ديني ؟ س / كلاهما ج الشيخ : كروي س / هل أخطأ ابن باز حينما قال انها مستقيمة ج الشيخ / مستقيمة أو مسطحة ؟ س / مسطحة ج الشيخ / ليت أن الخطأ وقف عند المسألة الجغرافيةPertanyaan untuk syaikh Al-Albani dari seorang muslim di Inggris:Penyana: Apa pendapatmu, apakah bumi itu bulat atau datar?Syaikh: Apakah ini pertanyaan geografi atau pertanyaan agama?Penyanya: KeduanyaSyaikh: Bumi itu bulat-bolaPenanya: Jika demikian syaikh Bin Baz salah mengatakan bumi lurus (ingat ada klarifikasi bahwa syaikh Bin Baz mengatakan bumi itu bulat, pent)Syaikh: Lurus atau datar?Penanya: DatarSyaikh: Saya berharap itu adalah kesalahan geografi (Syaikh Al-Albani yakin Syaikh bin Baz cerdas masalah agama sehingga, sehingga beliau berharap Syaikh bin Baz menjawab dengan pengetahuan beliau dari ilmu geografi, pent)[14. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Dari tanya jawab ini kita dapat dua pelajaran penting:Pertama: Syaikh Al-Albani sangat hati-hati berfatwa sehingga beliau bertanya apakah bumi bulat atau datar tersebut, apakah ditinjau dari segi ilmu agama atau ilmu geografi dan penanya menjawab “keduanya”. Maka syaikh Al-Albani menjawab bahwa bumi itu bulat, karena ditinjau dari ilmu geografi beliau bahwa bumi itu bulat, sedangkan dari ilmu agama, beliau lebih condong dengan dalil yang tersirat (bukan dalil tegas), karena tidak ada dalil yang tegas bahwa bumi itu bulatBeliau menjelaskan setelah tanya jawab tadi bahwa tidak ada dalil tegasnya, beliau berkata,ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد الوجهين المختلفين …بعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها“Tidak ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat yang berbeda ini… sebagian ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa jadi dipahami bahwa bumi itu tetap dan datar dan sebagian ayat lainnya bisa saja dipahami bumi bergerak dan berputar.”Bahkan beliau menegaskan selanjutnya, permasalahan bumi itu bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah, beliau berkataولهذا قلنا أن هذه ليست مسألة اعتقادية“Karenanya kami katakan bawa masalah ini bukanlah masalah i’tiqadiyah”[15. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Tentunya jika memang masalah aqidah tentu sudah dibahas dan menjadi penekanan utama oleh banyak ulama dalam berbagai kitab mereka.Kedua: Lihat sikap Syaikh Al-Albani yang bersebrangan dengan Syaikh Bin Baz, beliau sangat berharap Syaikh Bin Baz hanya salah dalam ilmu geografi saja dan ini wajar karena Syaikh Bin Baz bukan ahli geografi dan hanya ikut saja dari apa info yang sampai ke beliau.Patut direnungi oleh sebagian kecil saudara kita muslim yang mungkin saling berdebat apakah bumi itu bulat atau datar sampai tahap mencela, menyindir dan sampai bermusuhan dalam masalah ini, padahal mereka bersaudara dalam Islam dan yang lebih penting hal ini bukanlah permasalahan aqidah.Kesimpulan dari tulisan kami: Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar. Terdapat klaim ijma’ ulama bahwa bumi itu bulat dan ada pendapat beberapa ulama yang menyelisihi klaim ijma’ tersebut, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm. Permasalahan apakah bumi bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah. Jika memang bukan permasalahan aqidah terutama, tidak layak bagi kaum muslimin berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, menyindir dan bermusuhan dalam rangka mendukung pendapatnya. Karena bukan masalah aqidah maka tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena keyakinan apakah bumi bulat atau datar. Karenanya syaikh Bin Baz ketika mengingkari bumi berputar (beliau berpendapat bumi diam), tetapi beliau tidak mengkafirkan yang mengatakan bumi berputar, beliau berkata, ولكني لم أكفِّر من قال به “Akan tetapi aku tidak mengkafirkan mereka yang mengatakan demikian”[16. Majmu Fatawa syaikh Bin Baz 9/228, bisa diakses juga di link: http://www.binbaz.org.sa/article/472]. Apakah bumi itu bulat atau datar maka dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah dan tentunya oleh para ahlinya dalam masalah ini. Allah berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43). Dalil Al-Quran dan Sunnah yang sudah pasti dan tegas (dalil qath’i) tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah dan akal manusia yang sehat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tidak ada dalil tegas apakah bumi itu bulat atau datar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, كل ما قام عليه دليل قطعي سمعي يمتنع أن يعارضه قطعي عقلي “Semua yang telah ada dalil pasti/qath’i maka tidak bertentangan dengan akal yang sehat”[17. Dar’ut Ta’arudh 1/80]. Yang lebih penting adalah dari “bumi datar atau bulat” adalah kita hidup di atas bumi, akan meninggalkan bumi menuju kampung akhirat yang kekal serta bagaimana agar bumi sebagai tempat mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat yaitu bekal iman, takwa, amal kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk di muka bumi. Demikian pemabahasan ini, semoga bermanfaat bagi kita.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar, Sabalong-SamalewaPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id ___🔍 Talak 3 Dalam Keadaan Emosi, Jalan Ke Surga, Ilmu Putih Menurut Islam, Ta Ala, Imam As Syafii

Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?

Salah satu masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah perdebatan mengenai bentuk bumi kita, apakah bulat ataukah datar. Pengetahuan yang selama ini diketahui umumnya orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga pemahaman bahwa bumi itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth. Beberapa ulama sebenarnya telah membahas hal ini, mereka membahas masalah bentuk bumi dari perspektif syariat. Tentunya mereka berdalil dengan yang tersirat dalam auat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengabarkan tentang alam semesta ini.Klaim ijma bumi itu bulatPerlu diketahui bahwa ada klaim ijma’ dari sebagian ulama bahwa bumi itu bulat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah termasuk ulama terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada cabang-cabang ilmu agama, yang termasuk dalam thabaqah/tingkatan kedua ulama dari pengikut imam Ahmad: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bolaBeliau juga berkata: “Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan seluruh pergerakannya baik itu di daratan maupun lautan, seperti bolaBeliau berkata lagi: “Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi terbit di timur dahulu sebelum terbit di bara”[1. Lihat Majmu’ Fatawa: 25/ 195].Demikian juga Ibnu Hazm rahimahullah berkata,أن أحد من أئمة المسلمين المستحقين لإسم الإمامة بالعلم رضي الله عنهم لم ينكروا تكوير الأرض ولا يحفظ لأحد منهم في دفعه كلمة بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها“Para Imam kaum muslimin yang berhak mendapar gelar imam radhiallahu anhum tidak mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak pula diketahui dari mereka yang membantah sama sekali, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan Sunnah membuktikan bahwa bumi itu bulat”[2. Fashl fil Milal 2/78, Maktabah Al-Kaniwy, Koiro, Syamilah].Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,في كون الأفلاك كروية الشكل والأرض كذلك وأن نور القمر مستفاد من نور الشمس وأن الكسوف القمرى عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس“Bahkan alam semesta dan bumi betuknya adalah bola, demikian juga penjelasan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari dan gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan matahari”[3. Miftah Daris Sa’adah 2/212, Darul Kutub Ilmiyah, Koiro, Syamilah].Demikian juga pendapat bahwa beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan ulama lainnya.Beberapa pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan klaim Ijma’Perlu diketahui juga bawa ada beberapa ulama ada yang menafikan bahwa bumi itu bulat seperti Al-Qahthaniy Al-Andalusy dalam kitab Nuniyah-nya,كذب المهندس والمنجم مثله … فهما لعلم الله مدعيانالأرض عند كليهما كروية … وهما بهذا القول مقترنانوالأرض عند أولي النهى لسطيحة … بدليل صدق واضح القرآن“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran”[4. Nuniyyah Al-Qahthani, Maktabah As-Sudaniy, Jeddah, Syamilah].Demikian juga dalam Tafsir Jalalain, ketika menafsirkan ayatوَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghaasyiyah: 20).Dijelaskan bahwa dzahir ayat bumi itu (سُطِحَتْ) “sutihat” menunjukkan bumi itu (سطحية) “sathiyyah” yaitu bulat, dalam tafsir dijelaskan,سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة“Makna ‘sutihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom”[5. Tafsir Jalalain 1/805, Darul Hadits, Koiro, Syamilah].Demikian juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya, membantah bahwa bumi bulat, ketika menafsirkan ayat,وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).Beliau Al-Qurthubi berkata,وهو يرد على من زعم أنها كالكرة“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”[6. Tafsir Al-Qurthubi 10/13, Darul Kutub Al-Mishriyyah, Koiro, 1384 H, Syamilah].Dari sini kita ketahui bahwa ada ulama yang menyelisihi klaim ijma’ yang disebutkan di atas, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm.Dalil-dalil yang digunakan kedua pendapat, dari Al-Quran dan As SunnahMasing-masing pendapat yang ada berdalil dengan Al Quran dan Sunnah dan saling membantah. Jika membahas dalil-dalil mereka maka cukup panjang, maka kita beri beberapa contoh saja:1) Dalil bahwa bumi itu bulat menurut pro bumi bulat, surat Az Zumar ayat 5Allah berfirman,يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ“Dia menutupkan/menggilirkan (takwrir) malam atas siang dan menutupkan/menggilirkan siang atas malam” (Az-Zumar : 5).Pro bumi bulat berkata bahwa takwir itu bermakna lingkaran atau melingkari, misalnya melingkari penutup kepala imamah, karenanya bumi itu bulat-bola bergantian siang dan malam.Pro bumi datar membantah bahwa justru itu dalil bahwa bumi itu datar dan berbentuk lingkaran (piring bulat), matahari dan bulan berputar melingkar di atas bumi dan menggantikan siang dan malam.2) Dalil bumi itu datar menurut pro bumi datar, surat At Thur ayat 6Yaitu posisi baitul makmur (ka’bah penduduk langit) yang berada tepat sejajar di atas ka’bah dunia di Mekkahوَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)Al-Baghawi rahimahullah berkata,” والبيت المعمور “، بكثرة الغاشية والأهل، وهو بيت في السماء حذاء العرش بحيال الكعبة“Baitul Makmur: banyaknya yang memenuhi dan penduduknya, yaitu rumah di langit sekitar ‘Arsy dan sejajar dengan Ka’bah bumi” [7. Ma’alimut Tanzil 7/382, Darut Thayyibah, cet. IV, 1414 H, syamilah. Silahkan baca tulisan kami selengkapnya mengenai posisinya sejajar di link https://muslim.or.id/16573-mengenal-baitul-makmur-kabah-penduduk-langit.html].Pro bumi datar berkata: “Bagaimana mungkin bumi bulat-bola dan berputar kemudian baitul makmur sejajar dengan baitullah di Mekkah, bagaimana bisa sejajar kalau bumi-bulat berputar? berarti baitul makmur mutar-mutar di atas langit ikut bumi? Ini tidak masuk akal. Kalau bumi datar maka masuk akal jika sejajar”.Pro bumi bulat membantah: “bisa jadi, ini hal ghaib yang tidak bisa masuk akal manusia, banyak hal ghaib yang tidak masuk akal kita sekarang, seperti di hari kiamat ada yang berjalan dengan wajahnya dalam Al-Quran. Orang dahulu tidak masuk akal jika ada yang bisa pergi ke tempat yang jauh dalam semalam saja, di zaman sekarang bisa saja dengan pesawat super cepat”.3) Dalil bumi datar menurut pro bumi datar, surat Al Ghasyiyah ayat 20Ayat yang menjelaskan bahwa bumi itu dihamparkan. Allah berfirman,وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan (apakah manusia tidak mau memikirkan) bagaimana bumi itu dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 20).Pro-datar berkata: “ini sangat jelas mengatakan bumi dihamparkan, menghamparkan permadani misalnya, tentu pada benda yang datar”.Pro-bulat membantah: “silahkan lihat penjelasan ulama semisal syaikh Al-Utsaimin[8. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/664] dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah[9. Fatwa Al-Lanah Ad-Daimah 26/414] yang menjelaskan bahwa bumi itu datar bagi pandangan manusia dari bumi, sedangkan bentuk sebenarnya adalah bulat-bola”.4) Dalil bumi bulat menurut pro bumi bulat, klaim ijma’ dari Syaikhul Islam, Ibnu Hazm dan beberapa ulama lain.Namun klaim ijma’ ini perlu dikritik karena adanya pendapat lain dari ulama terdahulu seperti Al Qurthuby dan penulis Tafsir Jalalain yang telah di sebutkan di atas.Sebenarnya masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang menjadi pembahasan dua kubu dan kita cukupkan saja contohnya sebagaimana di atas.Tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa bumi bulat atau datarSetelah kita melihat pendalilan dua kelompok yang berbeda pendapat, maka kita dapatkan dalam satu dalil yang sama, bisa mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka masing-masing yang bertentangan padahal dalilnya sama. Memang dalam Al-Quran dan Sunnah tidak didapatkan dalil yang tegas dan jelas mengenai hal ini yang menyebut dengan tegas “bumi bulat-bola” atau “bumi datar”.Kita bisa lihat yang pro-bulat menggunakan penjelasan syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa bumi itu bulat dengan dalil dan penjelasan oleh Syaikh. Akan tetapi di sisi lain, Syaikh Al-Ustaimin dan juga Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa bumi adalah pusat tata surya dan tidak berputar sedangkan matahari yang mengelilingi bumi. Tentu ini bertentangan dengan sebagian orang yang pro bumi bulat, yang mereka menyakini bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari.Tentunya Syaikh Al-‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa matahari mengelilingi bumi dengan penjelasan dalil dalam Al-Quran dan Sunnah. Syaikh Utsaimin menjelaskan,أما رأينا حول دوران الشمس على الأرض الذي يحصل به تعاقب الليل والنهار، فإننا مستمسكون بظاهر الكتاب والسنة من أن الشمس تدور على الأرض دورانا“Pendapat kami, matahari yang mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam, kami berpegang teguh dengan dzahir Al-Quran dan Sunnah bahwa matahari itu yang benar-benar mengelilingi bumi”[10. Majmu’ Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413 H, syamilah].Syaikh Bin Baz juga menafikan bahwa bumi berputar (berarti matahari yang berputar mengelilingi agar terjadi siang dan malam), beliau berkata,أما دورانها فقد أنكرته وبيَّنتُ الأدلة على بطلانه“Adapun perputaran bumi maka aku ingkari dan aku telah jelaskan dalil tidak benarnya (perputaran bumi)”[11. Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, bisa di akses di link ini juga: http://www.binbaz.org.sa/article/472].Dalil yang mereka gunakan untuk pernyataan “matahari mengelilingi bumi” juga banyak, salah satunya yang menurut mereka cukup jelas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, yaitu hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa matahari bergerak di peredarannya dan tatkala sampai di bawah Arsy maka matahari bersujud.عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”[12. HR. Bukhari dan Muslim].Akan tetapi yang mengatakan bahwa “bumi mengelilingi matahari” bisa membantah juga: matahari itu memang bergerak dan mengelilingi pusat tata surya. Mereka berpegangan pada fatwa ulama yaitu Syaikh Al-Albani yang menyatakan bahwa bumi itu berputar dan beliau pun membawakan dalil dan penjelasannya. Syaikh Al Albani berkata:نحن في الحقيقة لا نشك في أن قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا“Kami sejatinya tidak ragu bahwa perputaran bumi merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah”[13. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/497. Simak juga penjelasan beliau di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PdBDFXtYKhU].Demikianlah, kesimpulannya mengenai apakah bumi datar atau bulat-bola, maka tidak kita dapatkan dalil yang tegas menyebutkan “bumi itu bulat” atau “bumi itu datar”.Yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu duniaApakah bumi datar atau bulat maka kita kembalikan lagi kepada penelitian dan fakta ilmiah. Hal ini dicerminkan dari sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di mana beliau menggabungkan kedua ilmu yaitu fakta ilmu dunia (yang menurut beliau benar) dan “yang tersirat” dalam Al-Quran dan Sunnah.Simak tanya jawab beliau dan kehati-hatian beliau dalam berfatwa,سؤال من مسلم بريطاني / هل في رأيكم أن العالم كروي أو مستقيم ؟ ج الشيخ : هذا السؤال جغرافي وإلا ديني ؟ س / كلاهما ج الشيخ : كروي س / هل أخطأ ابن باز حينما قال انها مستقيمة ج الشيخ / مستقيمة أو مسطحة ؟ س / مسطحة ج الشيخ / ليت أن الخطأ وقف عند المسألة الجغرافيةPertanyaan untuk syaikh Al-Albani dari seorang muslim di Inggris:Penyana: Apa pendapatmu, apakah bumi itu bulat atau datar?Syaikh: Apakah ini pertanyaan geografi atau pertanyaan agama?Penyanya: KeduanyaSyaikh: Bumi itu bulat-bolaPenanya: Jika demikian syaikh Bin Baz salah mengatakan bumi lurus (ingat ada klarifikasi bahwa syaikh Bin Baz mengatakan bumi itu bulat, pent)Syaikh: Lurus atau datar?Penanya: DatarSyaikh: Saya berharap itu adalah kesalahan geografi (Syaikh Al-Albani yakin Syaikh bin Baz cerdas masalah agama sehingga, sehingga beliau berharap Syaikh bin Baz menjawab dengan pengetahuan beliau dari ilmu geografi, pent)[14. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Dari tanya jawab ini kita dapat dua pelajaran penting:Pertama: Syaikh Al-Albani sangat hati-hati berfatwa sehingga beliau bertanya apakah bumi bulat atau datar tersebut, apakah ditinjau dari segi ilmu agama atau ilmu geografi dan penanya menjawab “keduanya”. Maka syaikh Al-Albani menjawab bahwa bumi itu bulat, karena ditinjau dari ilmu geografi beliau bahwa bumi itu bulat, sedangkan dari ilmu agama, beliau lebih condong dengan dalil yang tersirat (bukan dalil tegas), karena tidak ada dalil yang tegas bahwa bumi itu bulatBeliau menjelaskan setelah tanya jawab tadi bahwa tidak ada dalil tegasnya, beliau berkata,ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد الوجهين المختلفين …بعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها“Tidak ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat yang berbeda ini… sebagian ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa jadi dipahami bahwa bumi itu tetap dan datar dan sebagian ayat lainnya bisa saja dipahami bumi bergerak dan berputar.”Bahkan beliau menegaskan selanjutnya, permasalahan bumi itu bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah, beliau berkataولهذا قلنا أن هذه ليست مسألة اعتقادية“Karenanya kami katakan bawa masalah ini bukanlah masalah i’tiqadiyah”[15. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Tentunya jika memang masalah aqidah tentu sudah dibahas dan menjadi penekanan utama oleh banyak ulama dalam berbagai kitab mereka.Kedua: Lihat sikap Syaikh Al-Albani yang bersebrangan dengan Syaikh Bin Baz, beliau sangat berharap Syaikh Bin Baz hanya salah dalam ilmu geografi saja dan ini wajar karena Syaikh Bin Baz bukan ahli geografi dan hanya ikut saja dari apa info yang sampai ke beliau.Patut direnungi oleh sebagian kecil saudara kita muslim yang mungkin saling berdebat apakah bumi itu bulat atau datar sampai tahap mencela, menyindir dan sampai bermusuhan dalam masalah ini, padahal mereka bersaudara dalam Islam dan yang lebih penting hal ini bukanlah permasalahan aqidah.Kesimpulan dari tulisan kami: Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar. Terdapat klaim ijma’ ulama bahwa bumi itu bulat dan ada pendapat beberapa ulama yang menyelisihi klaim ijma’ tersebut, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm. Permasalahan apakah bumi bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah. Jika memang bukan permasalahan aqidah terutama, tidak layak bagi kaum muslimin berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, menyindir dan bermusuhan dalam rangka mendukung pendapatnya. Karena bukan masalah aqidah maka tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena keyakinan apakah bumi bulat atau datar. Karenanya syaikh Bin Baz ketika mengingkari bumi berputar (beliau berpendapat bumi diam), tetapi beliau tidak mengkafirkan yang mengatakan bumi berputar, beliau berkata, ولكني لم أكفِّر من قال به “Akan tetapi aku tidak mengkafirkan mereka yang mengatakan demikian”[16. Majmu Fatawa syaikh Bin Baz 9/228, bisa diakses juga di link: http://www.binbaz.org.sa/article/472]. Apakah bumi itu bulat atau datar maka dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah dan tentunya oleh para ahlinya dalam masalah ini. Allah berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43). Dalil Al-Quran dan Sunnah yang sudah pasti dan tegas (dalil qath’i) tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah dan akal manusia yang sehat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tidak ada dalil tegas apakah bumi itu bulat atau datar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, كل ما قام عليه دليل قطعي سمعي يمتنع أن يعارضه قطعي عقلي “Semua yang telah ada dalil pasti/qath’i maka tidak bertentangan dengan akal yang sehat”[17. Dar’ut Ta’arudh 1/80]. Yang lebih penting adalah dari “bumi datar atau bulat” adalah kita hidup di atas bumi, akan meninggalkan bumi menuju kampung akhirat yang kekal serta bagaimana agar bumi sebagai tempat mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat yaitu bekal iman, takwa, amal kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk di muka bumi. Demikian pemabahasan ini, semoga bermanfaat bagi kita.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar, Sabalong-SamalewaPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id ___🔍 Talak 3 Dalam Keadaan Emosi, Jalan Ke Surga, Ilmu Putih Menurut Islam, Ta Ala, Imam As Syafii
Salah satu masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah perdebatan mengenai bentuk bumi kita, apakah bulat ataukah datar. Pengetahuan yang selama ini diketahui umumnya orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga pemahaman bahwa bumi itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth. Beberapa ulama sebenarnya telah membahas hal ini, mereka membahas masalah bentuk bumi dari perspektif syariat. Tentunya mereka berdalil dengan yang tersirat dalam auat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengabarkan tentang alam semesta ini.Klaim ijma bumi itu bulatPerlu diketahui bahwa ada klaim ijma’ dari sebagian ulama bahwa bumi itu bulat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah termasuk ulama terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada cabang-cabang ilmu agama, yang termasuk dalam thabaqah/tingkatan kedua ulama dari pengikut imam Ahmad: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bolaBeliau juga berkata: “Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan seluruh pergerakannya baik itu di daratan maupun lautan, seperti bolaBeliau berkata lagi: “Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi terbit di timur dahulu sebelum terbit di bara”[1. Lihat Majmu’ Fatawa: 25/ 195].Demikian juga Ibnu Hazm rahimahullah berkata,أن أحد من أئمة المسلمين المستحقين لإسم الإمامة بالعلم رضي الله عنهم لم ينكروا تكوير الأرض ولا يحفظ لأحد منهم في دفعه كلمة بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها“Para Imam kaum muslimin yang berhak mendapar gelar imam radhiallahu anhum tidak mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak pula diketahui dari mereka yang membantah sama sekali, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan Sunnah membuktikan bahwa bumi itu bulat”[2. Fashl fil Milal 2/78, Maktabah Al-Kaniwy, Koiro, Syamilah].Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,في كون الأفلاك كروية الشكل والأرض كذلك وأن نور القمر مستفاد من نور الشمس وأن الكسوف القمرى عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس“Bahkan alam semesta dan bumi betuknya adalah bola, demikian juga penjelasan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari dan gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan matahari”[3. Miftah Daris Sa’adah 2/212, Darul Kutub Ilmiyah, Koiro, Syamilah].Demikian juga pendapat bahwa beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan ulama lainnya.Beberapa pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan klaim Ijma’Perlu diketahui juga bawa ada beberapa ulama ada yang menafikan bahwa bumi itu bulat seperti Al-Qahthaniy Al-Andalusy dalam kitab Nuniyah-nya,كذب المهندس والمنجم مثله … فهما لعلم الله مدعيانالأرض عند كليهما كروية … وهما بهذا القول مقترنانوالأرض عند أولي النهى لسطيحة … بدليل صدق واضح القرآن“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran”[4. Nuniyyah Al-Qahthani, Maktabah As-Sudaniy, Jeddah, Syamilah].Demikian juga dalam Tafsir Jalalain, ketika menafsirkan ayatوَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghaasyiyah: 20).Dijelaskan bahwa dzahir ayat bumi itu (سُطِحَتْ) “sutihat” menunjukkan bumi itu (سطحية) “sathiyyah” yaitu bulat, dalam tafsir dijelaskan,سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة“Makna ‘sutihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom”[5. Tafsir Jalalain 1/805, Darul Hadits, Koiro, Syamilah].Demikian juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya, membantah bahwa bumi bulat, ketika menafsirkan ayat,وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).Beliau Al-Qurthubi berkata,وهو يرد على من زعم أنها كالكرة“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”[6. Tafsir Al-Qurthubi 10/13, Darul Kutub Al-Mishriyyah, Koiro, 1384 H, Syamilah].Dari sini kita ketahui bahwa ada ulama yang menyelisihi klaim ijma’ yang disebutkan di atas, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm.Dalil-dalil yang digunakan kedua pendapat, dari Al-Quran dan As SunnahMasing-masing pendapat yang ada berdalil dengan Al Quran dan Sunnah dan saling membantah. Jika membahas dalil-dalil mereka maka cukup panjang, maka kita beri beberapa contoh saja:1) Dalil bahwa bumi itu bulat menurut pro bumi bulat, surat Az Zumar ayat 5Allah berfirman,يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ“Dia menutupkan/menggilirkan (takwrir) malam atas siang dan menutupkan/menggilirkan siang atas malam” (Az-Zumar : 5).Pro bumi bulat berkata bahwa takwir itu bermakna lingkaran atau melingkari, misalnya melingkari penutup kepala imamah, karenanya bumi itu bulat-bola bergantian siang dan malam.Pro bumi datar membantah bahwa justru itu dalil bahwa bumi itu datar dan berbentuk lingkaran (piring bulat), matahari dan bulan berputar melingkar di atas bumi dan menggantikan siang dan malam.2) Dalil bumi itu datar menurut pro bumi datar, surat At Thur ayat 6Yaitu posisi baitul makmur (ka’bah penduduk langit) yang berada tepat sejajar di atas ka’bah dunia di Mekkahوَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)Al-Baghawi rahimahullah berkata,” والبيت المعمور “، بكثرة الغاشية والأهل، وهو بيت في السماء حذاء العرش بحيال الكعبة“Baitul Makmur: banyaknya yang memenuhi dan penduduknya, yaitu rumah di langit sekitar ‘Arsy dan sejajar dengan Ka’bah bumi” [7. Ma’alimut Tanzil 7/382, Darut Thayyibah, cet. IV, 1414 H, syamilah. Silahkan baca tulisan kami selengkapnya mengenai posisinya sejajar di link https://muslim.or.id/16573-mengenal-baitul-makmur-kabah-penduduk-langit.html].Pro bumi datar berkata: “Bagaimana mungkin bumi bulat-bola dan berputar kemudian baitul makmur sejajar dengan baitullah di Mekkah, bagaimana bisa sejajar kalau bumi-bulat berputar? berarti baitul makmur mutar-mutar di atas langit ikut bumi? Ini tidak masuk akal. Kalau bumi datar maka masuk akal jika sejajar”.Pro bumi bulat membantah: “bisa jadi, ini hal ghaib yang tidak bisa masuk akal manusia, banyak hal ghaib yang tidak masuk akal kita sekarang, seperti di hari kiamat ada yang berjalan dengan wajahnya dalam Al-Quran. Orang dahulu tidak masuk akal jika ada yang bisa pergi ke tempat yang jauh dalam semalam saja, di zaman sekarang bisa saja dengan pesawat super cepat”.3) Dalil bumi datar menurut pro bumi datar, surat Al Ghasyiyah ayat 20Ayat yang menjelaskan bahwa bumi itu dihamparkan. Allah berfirman,وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan (apakah manusia tidak mau memikirkan) bagaimana bumi itu dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 20).Pro-datar berkata: “ini sangat jelas mengatakan bumi dihamparkan, menghamparkan permadani misalnya, tentu pada benda yang datar”.Pro-bulat membantah: “silahkan lihat penjelasan ulama semisal syaikh Al-Utsaimin[8. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/664] dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah[9. Fatwa Al-Lanah Ad-Daimah 26/414] yang menjelaskan bahwa bumi itu datar bagi pandangan manusia dari bumi, sedangkan bentuk sebenarnya adalah bulat-bola”.4) Dalil bumi bulat menurut pro bumi bulat, klaim ijma’ dari Syaikhul Islam, Ibnu Hazm dan beberapa ulama lain.Namun klaim ijma’ ini perlu dikritik karena adanya pendapat lain dari ulama terdahulu seperti Al Qurthuby dan penulis Tafsir Jalalain yang telah di sebutkan di atas.Sebenarnya masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang menjadi pembahasan dua kubu dan kita cukupkan saja contohnya sebagaimana di atas.Tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa bumi bulat atau datarSetelah kita melihat pendalilan dua kelompok yang berbeda pendapat, maka kita dapatkan dalam satu dalil yang sama, bisa mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka masing-masing yang bertentangan padahal dalilnya sama. Memang dalam Al-Quran dan Sunnah tidak didapatkan dalil yang tegas dan jelas mengenai hal ini yang menyebut dengan tegas “bumi bulat-bola” atau “bumi datar”.Kita bisa lihat yang pro-bulat menggunakan penjelasan syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa bumi itu bulat dengan dalil dan penjelasan oleh Syaikh. Akan tetapi di sisi lain, Syaikh Al-Ustaimin dan juga Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa bumi adalah pusat tata surya dan tidak berputar sedangkan matahari yang mengelilingi bumi. Tentu ini bertentangan dengan sebagian orang yang pro bumi bulat, yang mereka menyakini bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari.Tentunya Syaikh Al-‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa matahari mengelilingi bumi dengan penjelasan dalil dalam Al-Quran dan Sunnah. Syaikh Utsaimin menjelaskan,أما رأينا حول دوران الشمس على الأرض الذي يحصل به تعاقب الليل والنهار، فإننا مستمسكون بظاهر الكتاب والسنة من أن الشمس تدور على الأرض دورانا“Pendapat kami, matahari yang mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam, kami berpegang teguh dengan dzahir Al-Quran dan Sunnah bahwa matahari itu yang benar-benar mengelilingi bumi”[10. Majmu’ Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413 H, syamilah].Syaikh Bin Baz juga menafikan bahwa bumi berputar (berarti matahari yang berputar mengelilingi agar terjadi siang dan malam), beliau berkata,أما دورانها فقد أنكرته وبيَّنتُ الأدلة على بطلانه“Adapun perputaran bumi maka aku ingkari dan aku telah jelaskan dalil tidak benarnya (perputaran bumi)”[11. Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, bisa di akses di link ini juga: http://www.binbaz.org.sa/article/472].Dalil yang mereka gunakan untuk pernyataan “matahari mengelilingi bumi” juga banyak, salah satunya yang menurut mereka cukup jelas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, yaitu hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa matahari bergerak di peredarannya dan tatkala sampai di bawah Arsy maka matahari bersujud.عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”[12. HR. Bukhari dan Muslim].Akan tetapi yang mengatakan bahwa “bumi mengelilingi matahari” bisa membantah juga: matahari itu memang bergerak dan mengelilingi pusat tata surya. Mereka berpegangan pada fatwa ulama yaitu Syaikh Al-Albani yang menyatakan bahwa bumi itu berputar dan beliau pun membawakan dalil dan penjelasannya. Syaikh Al Albani berkata:نحن في الحقيقة لا نشك في أن قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا“Kami sejatinya tidak ragu bahwa perputaran bumi merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah”[13. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/497. Simak juga penjelasan beliau di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PdBDFXtYKhU].Demikianlah, kesimpulannya mengenai apakah bumi datar atau bulat-bola, maka tidak kita dapatkan dalil yang tegas menyebutkan “bumi itu bulat” atau “bumi itu datar”.Yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu duniaApakah bumi datar atau bulat maka kita kembalikan lagi kepada penelitian dan fakta ilmiah. Hal ini dicerminkan dari sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di mana beliau menggabungkan kedua ilmu yaitu fakta ilmu dunia (yang menurut beliau benar) dan “yang tersirat” dalam Al-Quran dan Sunnah.Simak tanya jawab beliau dan kehati-hatian beliau dalam berfatwa,سؤال من مسلم بريطاني / هل في رأيكم أن العالم كروي أو مستقيم ؟ ج الشيخ : هذا السؤال جغرافي وإلا ديني ؟ س / كلاهما ج الشيخ : كروي س / هل أخطأ ابن باز حينما قال انها مستقيمة ج الشيخ / مستقيمة أو مسطحة ؟ س / مسطحة ج الشيخ / ليت أن الخطأ وقف عند المسألة الجغرافيةPertanyaan untuk syaikh Al-Albani dari seorang muslim di Inggris:Penyana: Apa pendapatmu, apakah bumi itu bulat atau datar?Syaikh: Apakah ini pertanyaan geografi atau pertanyaan agama?Penyanya: KeduanyaSyaikh: Bumi itu bulat-bolaPenanya: Jika demikian syaikh Bin Baz salah mengatakan bumi lurus (ingat ada klarifikasi bahwa syaikh Bin Baz mengatakan bumi itu bulat, pent)Syaikh: Lurus atau datar?Penanya: DatarSyaikh: Saya berharap itu adalah kesalahan geografi (Syaikh Al-Albani yakin Syaikh bin Baz cerdas masalah agama sehingga, sehingga beliau berharap Syaikh bin Baz menjawab dengan pengetahuan beliau dari ilmu geografi, pent)[14. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Dari tanya jawab ini kita dapat dua pelajaran penting:Pertama: Syaikh Al-Albani sangat hati-hati berfatwa sehingga beliau bertanya apakah bumi bulat atau datar tersebut, apakah ditinjau dari segi ilmu agama atau ilmu geografi dan penanya menjawab “keduanya”. Maka syaikh Al-Albani menjawab bahwa bumi itu bulat, karena ditinjau dari ilmu geografi beliau bahwa bumi itu bulat, sedangkan dari ilmu agama, beliau lebih condong dengan dalil yang tersirat (bukan dalil tegas), karena tidak ada dalil yang tegas bahwa bumi itu bulatBeliau menjelaskan setelah tanya jawab tadi bahwa tidak ada dalil tegasnya, beliau berkata,ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد الوجهين المختلفين …بعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها“Tidak ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat yang berbeda ini… sebagian ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa jadi dipahami bahwa bumi itu tetap dan datar dan sebagian ayat lainnya bisa saja dipahami bumi bergerak dan berputar.”Bahkan beliau menegaskan selanjutnya, permasalahan bumi itu bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah, beliau berkataولهذا قلنا أن هذه ليست مسألة اعتقادية“Karenanya kami katakan bawa masalah ini bukanlah masalah i’tiqadiyah”[15. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Tentunya jika memang masalah aqidah tentu sudah dibahas dan menjadi penekanan utama oleh banyak ulama dalam berbagai kitab mereka.Kedua: Lihat sikap Syaikh Al-Albani yang bersebrangan dengan Syaikh Bin Baz, beliau sangat berharap Syaikh Bin Baz hanya salah dalam ilmu geografi saja dan ini wajar karena Syaikh Bin Baz bukan ahli geografi dan hanya ikut saja dari apa info yang sampai ke beliau.Patut direnungi oleh sebagian kecil saudara kita muslim yang mungkin saling berdebat apakah bumi itu bulat atau datar sampai tahap mencela, menyindir dan sampai bermusuhan dalam masalah ini, padahal mereka bersaudara dalam Islam dan yang lebih penting hal ini bukanlah permasalahan aqidah.Kesimpulan dari tulisan kami: Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar. Terdapat klaim ijma’ ulama bahwa bumi itu bulat dan ada pendapat beberapa ulama yang menyelisihi klaim ijma’ tersebut, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm. Permasalahan apakah bumi bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah. Jika memang bukan permasalahan aqidah terutama, tidak layak bagi kaum muslimin berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, menyindir dan bermusuhan dalam rangka mendukung pendapatnya. Karena bukan masalah aqidah maka tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena keyakinan apakah bumi bulat atau datar. Karenanya syaikh Bin Baz ketika mengingkari bumi berputar (beliau berpendapat bumi diam), tetapi beliau tidak mengkafirkan yang mengatakan bumi berputar, beliau berkata, ولكني لم أكفِّر من قال به “Akan tetapi aku tidak mengkafirkan mereka yang mengatakan demikian”[16. Majmu Fatawa syaikh Bin Baz 9/228, bisa diakses juga di link: http://www.binbaz.org.sa/article/472]. Apakah bumi itu bulat atau datar maka dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah dan tentunya oleh para ahlinya dalam masalah ini. Allah berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43). Dalil Al-Quran dan Sunnah yang sudah pasti dan tegas (dalil qath’i) tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah dan akal manusia yang sehat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tidak ada dalil tegas apakah bumi itu bulat atau datar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, كل ما قام عليه دليل قطعي سمعي يمتنع أن يعارضه قطعي عقلي “Semua yang telah ada dalil pasti/qath’i maka tidak bertentangan dengan akal yang sehat”[17. Dar’ut Ta’arudh 1/80]. Yang lebih penting adalah dari “bumi datar atau bulat” adalah kita hidup di atas bumi, akan meninggalkan bumi menuju kampung akhirat yang kekal serta bagaimana agar bumi sebagai tempat mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat yaitu bekal iman, takwa, amal kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk di muka bumi. Demikian pemabahasan ini, semoga bermanfaat bagi kita.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar, Sabalong-SamalewaPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id ___🔍 Talak 3 Dalam Keadaan Emosi, Jalan Ke Surga, Ilmu Putih Menurut Islam, Ta Ala, Imam As Syafii


Salah satu masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah perdebatan mengenai bentuk bumi kita, apakah bulat ataukah datar. Pengetahuan yang selama ini diketahui umumnya orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga pemahaman bahwa bumi itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth. Beberapa ulama sebenarnya telah membahas hal ini, mereka membahas masalah bentuk bumi dari perspektif syariat. Tentunya mereka berdalil dengan yang tersirat dalam auat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mengabarkan tentang alam semesta ini.Klaim ijma bumi itu bulatPerlu diketahui bahwa ada klaim ijma’ dari sebagian ulama bahwa bumi itu bulat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah termasuk ulama terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada cabang-cabang ilmu agama, yang termasuk dalam thabaqah/tingkatan kedua ulama dari pengikut imam Ahmad: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa langit itu seperti bolaBeliau juga berkata: “Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan seluruh pergerakannya baik itu di daratan maupun lautan, seperti bolaBeliau berkata lagi: “Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi terbit di timur dahulu sebelum terbit di bara”[1. Lihat Majmu’ Fatawa: 25/ 195].Demikian juga Ibnu Hazm rahimahullah berkata,أن أحد من أئمة المسلمين المستحقين لإسم الإمامة بالعلم رضي الله عنهم لم ينكروا تكوير الأرض ولا يحفظ لأحد منهم في دفعه كلمة بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها“Para Imam kaum muslimin yang berhak mendapar gelar imam radhiallahu anhum tidak mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak pula diketahui dari mereka yang membantah sama sekali, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan Sunnah membuktikan bahwa bumi itu bulat”[2. Fashl fil Milal 2/78, Maktabah Al-Kaniwy, Koiro, Syamilah].Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,في كون الأفلاك كروية الشكل والأرض كذلك وأن نور القمر مستفاد من نور الشمس وأن الكسوف القمرى عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس“Bahkan alam semesta dan bumi betuknya adalah bola, demikian juga penjelasan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari dan gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan matahari”[3. Miftah Daris Sa’adah 2/212, Darul Kutub Ilmiyah, Koiro, Syamilah].Demikian juga pendapat bahwa beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan ulama lainnya.Beberapa pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan klaim Ijma’Perlu diketahui juga bawa ada beberapa ulama ada yang menafikan bahwa bumi itu bulat seperti Al-Qahthaniy Al-Andalusy dalam kitab Nuniyah-nya,كذب المهندس والمنجم مثله … فهما لعلم الله مدعيانالأرض عند كليهما كروية … وهما بهذا القول مقترنانوالأرض عند أولي النهى لسطيحة … بدليل صدق واضح القرآن“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran”[4. Nuniyyah Al-Qahthani, Maktabah As-Sudaniy, Jeddah, Syamilah].Demikian juga dalam Tafsir Jalalain, ketika menafsirkan ayatوَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghaasyiyah: 20).Dijelaskan bahwa dzahir ayat bumi itu (سُطِحَتْ) “sutihat” menunjukkan bumi itu (سطحية) “sathiyyah” yaitu bulat, dalam tafsir dijelaskan,سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة“Makna ‘sutihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom”[5. Tafsir Jalalain 1/805, Darul Hadits, Koiro, Syamilah].Demikian juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya, membantah bahwa bumi bulat, ketika menafsirkan ayat,وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).Beliau Al-Qurthubi berkata,وهو يرد على من زعم أنها كالكرة“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”[6. Tafsir Al-Qurthubi 10/13, Darul Kutub Al-Mishriyyah, Koiro, 1384 H, Syamilah].Dari sini kita ketahui bahwa ada ulama yang menyelisihi klaim ijma’ yang disebutkan di atas, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm.Dalil-dalil yang digunakan kedua pendapat, dari Al-Quran dan As SunnahMasing-masing pendapat yang ada berdalil dengan Al Quran dan Sunnah dan saling membantah. Jika membahas dalil-dalil mereka maka cukup panjang, maka kita beri beberapa contoh saja:1) Dalil bahwa bumi itu bulat menurut pro bumi bulat, surat Az Zumar ayat 5Allah berfirman,يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ“Dia menutupkan/menggilirkan (takwrir) malam atas siang dan menutupkan/menggilirkan siang atas malam” (Az-Zumar : 5).Pro bumi bulat berkata bahwa takwir itu bermakna lingkaran atau melingkari, misalnya melingkari penutup kepala imamah, karenanya bumi itu bulat-bola bergantian siang dan malam.Pro bumi datar membantah bahwa justru itu dalil bahwa bumi itu datar dan berbentuk lingkaran (piring bulat), matahari dan bulan berputar melingkar di atas bumi dan menggantikan siang dan malam.2) Dalil bumi itu datar menurut pro bumi datar, surat At Thur ayat 6Yaitu posisi baitul makmur (ka’bah penduduk langit) yang berada tepat sejajar di atas ka’bah dunia di Mekkahوَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)Al-Baghawi rahimahullah berkata,” والبيت المعمور “، بكثرة الغاشية والأهل، وهو بيت في السماء حذاء العرش بحيال الكعبة“Baitul Makmur: banyaknya yang memenuhi dan penduduknya, yaitu rumah di langit sekitar ‘Arsy dan sejajar dengan Ka’bah bumi” [7. Ma’alimut Tanzil 7/382, Darut Thayyibah, cet. IV, 1414 H, syamilah. Silahkan baca tulisan kami selengkapnya mengenai posisinya sejajar di link https://muslim.or.id/16573-mengenal-baitul-makmur-kabah-penduduk-langit.html].Pro bumi datar berkata: “Bagaimana mungkin bumi bulat-bola dan berputar kemudian baitul makmur sejajar dengan baitullah di Mekkah, bagaimana bisa sejajar kalau bumi-bulat berputar? berarti baitul makmur mutar-mutar di atas langit ikut bumi? Ini tidak masuk akal. Kalau bumi datar maka masuk akal jika sejajar”.Pro bumi bulat membantah: “bisa jadi, ini hal ghaib yang tidak bisa masuk akal manusia, banyak hal ghaib yang tidak masuk akal kita sekarang, seperti di hari kiamat ada yang berjalan dengan wajahnya dalam Al-Quran. Orang dahulu tidak masuk akal jika ada yang bisa pergi ke tempat yang jauh dalam semalam saja, di zaman sekarang bisa saja dengan pesawat super cepat”.3) Dalil bumi datar menurut pro bumi datar, surat Al Ghasyiyah ayat 20Ayat yang menjelaskan bahwa bumi itu dihamparkan. Allah berfirman,وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ“Dan (apakah manusia tidak mau memikirkan) bagaimana bumi itu dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 20).Pro-datar berkata: “ini sangat jelas mengatakan bumi dihamparkan, menghamparkan permadani misalnya, tentu pada benda yang datar”.Pro-bulat membantah: “silahkan lihat penjelasan ulama semisal syaikh Al-Utsaimin[8. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/664] dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah[9. Fatwa Al-Lanah Ad-Daimah 26/414] yang menjelaskan bahwa bumi itu datar bagi pandangan manusia dari bumi, sedangkan bentuk sebenarnya adalah bulat-bola”.4) Dalil bumi bulat menurut pro bumi bulat, klaim ijma’ dari Syaikhul Islam, Ibnu Hazm dan beberapa ulama lain.Namun klaim ijma’ ini perlu dikritik karena adanya pendapat lain dari ulama terdahulu seperti Al Qurthuby dan penulis Tafsir Jalalain yang telah di sebutkan di atas.Sebenarnya masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang menjadi pembahasan dua kubu dan kita cukupkan saja contohnya sebagaimana di atas.Tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa bumi bulat atau datarSetelah kita melihat pendalilan dua kelompok yang berbeda pendapat, maka kita dapatkan dalam satu dalil yang sama, bisa mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka masing-masing yang bertentangan padahal dalilnya sama. Memang dalam Al-Quran dan Sunnah tidak didapatkan dalil yang tegas dan jelas mengenai hal ini yang menyebut dengan tegas “bumi bulat-bola” atau “bumi datar”.Kita bisa lihat yang pro-bulat menggunakan penjelasan syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa bumi itu bulat dengan dalil dan penjelasan oleh Syaikh. Akan tetapi di sisi lain, Syaikh Al-Ustaimin dan juga Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa bumi adalah pusat tata surya dan tidak berputar sedangkan matahari yang mengelilingi bumi. Tentu ini bertentangan dengan sebagian orang yang pro bumi bulat, yang mereka menyakini bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari.Tentunya Syaikh Al-‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa matahari mengelilingi bumi dengan penjelasan dalil dalam Al-Quran dan Sunnah. Syaikh Utsaimin menjelaskan,أما رأينا حول دوران الشمس على الأرض الذي يحصل به تعاقب الليل والنهار، فإننا مستمسكون بظاهر الكتاب والسنة من أن الشمس تدور على الأرض دورانا“Pendapat kami, matahari yang mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam, kami berpegang teguh dengan dzahir Al-Quran dan Sunnah bahwa matahari itu yang benar-benar mengelilingi bumi”[10. Majmu’ Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413 H, syamilah].Syaikh Bin Baz juga menafikan bahwa bumi berputar (berarti matahari yang berputar mengelilingi agar terjadi siang dan malam), beliau berkata,أما دورانها فقد أنكرته وبيَّنتُ الأدلة على بطلانه“Adapun perputaran bumi maka aku ingkari dan aku telah jelaskan dalil tidak benarnya (perputaran bumi)”[11. Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, bisa di akses di link ini juga: http://www.binbaz.org.sa/article/472].Dalil yang mereka gunakan untuk pernyataan “matahari mengelilingi bumi” juga banyak, salah satunya yang menurut mereka cukup jelas bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi, yaitu hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa matahari bergerak di peredarannya dan tatkala sampai di bawah Arsy maka matahari bersujud.عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”[12. HR. Bukhari dan Muslim].Akan tetapi yang mengatakan bahwa “bumi mengelilingi matahari” bisa membantah juga: matahari itu memang bergerak dan mengelilingi pusat tata surya. Mereka berpegangan pada fatwa ulama yaitu Syaikh Al-Albani yang menyatakan bahwa bumi itu berputar dan beliau pun membawakan dalil dan penjelasannya. Syaikh Al Albani berkata:نحن في الحقيقة لا نشك في أن قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا“Kami sejatinya tidak ragu bahwa perputaran bumi merupakan fakta yang ilmiah dan tidak bisa dibantah”[13. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/497. Simak juga penjelasan beliau di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PdBDFXtYKhU].Demikianlah, kesimpulannya mengenai apakah bumi datar atau bulat-bola, maka tidak kita dapatkan dalil yang tegas menyebutkan “bumi itu bulat” atau “bumi itu datar”.Yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu duniaApakah bumi datar atau bulat maka kita kembalikan lagi kepada penelitian dan fakta ilmiah. Hal ini dicerminkan dari sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di mana beliau menggabungkan kedua ilmu yaitu fakta ilmu dunia (yang menurut beliau benar) dan “yang tersirat” dalam Al-Quran dan Sunnah.Simak tanya jawab beliau dan kehati-hatian beliau dalam berfatwa,سؤال من مسلم بريطاني / هل في رأيكم أن العالم كروي أو مستقيم ؟ ج الشيخ : هذا السؤال جغرافي وإلا ديني ؟ س / كلاهما ج الشيخ : كروي س / هل أخطأ ابن باز حينما قال انها مستقيمة ج الشيخ / مستقيمة أو مسطحة ؟ س / مسطحة ج الشيخ / ليت أن الخطأ وقف عند المسألة الجغرافيةPertanyaan untuk syaikh Al-Albani dari seorang muslim di Inggris:Penyana: Apa pendapatmu, apakah bumi itu bulat atau datar?Syaikh: Apakah ini pertanyaan geografi atau pertanyaan agama?Penyanya: KeduanyaSyaikh: Bumi itu bulat-bolaPenanya: Jika demikian syaikh Bin Baz salah mengatakan bumi lurus (ingat ada klarifikasi bahwa syaikh Bin Baz mengatakan bumi itu bulat, pent)Syaikh: Lurus atau datar?Penanya: DatarSyaikh: Saya berharap itu adalah kesalahan geografi (Syaikh Al-Albani yakin Syaikh bin Baz cerdas masalah agama sehingga, sehingga beliau berharap Syaikh bin Baz menjawab dengan pengetahuan beliau dari ilmu geografi, pent)[14. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Dari tanya jawab ini kita dapat dua pelajaran penting:Pertama: Syaikh Al-Albani sangat hati-hati berfatwa sehingga beliau bertanya apakah bumi bulat atau datar tersebut, apakah ditinjau dari segi ilmu agama atau ilmu geografi dan penanya menjawab “keduanya”. Maka syaikh Al-Albani menjawab bahwa bumi itu bulat, karena ditinjau dari ilmu geografi beliau bahwa bumi itu bulat, sedangkan dari ilmu agama, beliau lebih condong dengan dalil yang tersirat (bukan dalil tegas), karena tidak ada dalil yang tegas bahwa bumi itu bulatBeliau menjelaskan setelah tanya jawab tadi bahwa tidak ada dalil tegasnya, beliau berkata,ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد الوجهين المختلفين …بعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها“Tidak ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat yang berbeda ini… sebagian ayat Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa jadi dipahami bahwa bumi itu tetap dan datar dan sebagian ayat lainnya bisa saja dipahami bumi bergerak dan berputar.”Bahkan beliau menegaskan selanjutnya, permasalahan bumi itu bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah, beliau berkataولهذا قلنا أن هذه ليست مسألة اعتقادية“Karenanya kami katakan bawa masalah ini bukanlah masalah i’tiqadiyah”[15. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436].Tentunya jika memang masalah aqidah tentu sudah dibahas dan menjadi penekanan utama oleh banyak ulama dalam berbagai kitab mereka.Kedua: Lihat sikap Syaikh Al-Albani yang bersebrangan dengan Syaikh Bin Baz, beliau sangat berharap Syaikh Bin Baz hanya salah dalam ilmu geografi saja dan ini wajar karena Syaikh Bin Baz bukan ahli geografi dan hanya ikut saja dari apa info yang sampai ke beliau.Patut direnungi oleh sebagian kecil saudara kita muslim yang mungkin saling berdebat apakah bumi itu bulat atau datar sampai tahap mencela, menyindir dan sampai bermusuhan dalam masalah ini, padahal mereka bersaudara dalam Islam dan yang lebih penting hal ini bukanlah permasalahan aqidah.Kesimpulan dari tulisan kami: Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar. Terdapat klaim ijma’ ulama bahwa bumi itu bulat dan ada pendapat beberapa ulama yang menyelisihi klaim ijma’ tersebut, akan tetapi klaim Ijma’ ulama tentu lebih dipertimbangkan karena klaim ijma’ diangkat oleh ulama yang sangat kompeten seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm. Permasalahan apakah bumi bulat atau datar bukanlah permasalahan aqidah. Jika memang bukan permasalahan aqidah terutama, tidak layak bagi kaum muslimin berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, menyindir dan bermusuhan dalam rangka mendukung pendapatnya. Karena bukan masalah aqidah maka tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena keyakinan apakah bumi bulat atau datar. Karenanya syaikh Bin Baz ketika mengingkari bumi berputar (beliau berpendapat bumi diam), tetapi beliau tidak mengkafirkan yang mengatakan bumi berputar, beliau berkata, ولكني لم أكفِّر من قال به “Akan tetapi aku tidak mengkafirkan mereka yang mengatakan demikian”[16. Majmu Fatawa syaikh Bin Baz 9/228, bisa diakses juga di link: http://www.binbaz.org.sa/article/472]. Apakah bumi itu bulat atau datar maka dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah dan tentunya oleh para ahlinya dalam masalah ini. Allah berfirman, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” (An-Nahl:43). Dalil Al-Quran dan Sunnah yang sudah pasti dan tegas (dalil qath’i) tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah dan akal manusia yang sehat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tidak ada dalil tegas apakah bumi itu bulat atau datar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, كل ما قام عليه دليل قطعي سمعي يمتنع أن يعارضه قطعي عقلي “Semua yang telah ada dalil pasti/qath’i maka tidak bertentangan dengan akal yang sehat”[17. Dar’ut Ta’arudh 1/80]. Yang lebih penting adalah dari “bumi datar atau bulat” adalah kita hidup di atas bumi, akan meninggalkan bumi menuju kampung akhirat yang kekal serta bagaimana agar bumi sebagai tempat mencari bekal untuk pulang ke kampung akhirat yaitu bekal iman, takwa, amal kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk di muka bumi. Demikian pemabahasan ini, semoga bermanfaat bagi kita.***@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar, Sabalong-SamalewaPenyusun: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id ___🔍 Talak 3 Dalam Keadaan Emosi, Jalan Ke Surga, Ilmu Putih Menurut Islam, Ta Ala, Imam As Syafii

Tauhid, Kunci Kejayaan Umat Islam

Bismillah,Alhamdulillah washolatu wassalamu ‘ala Rasulillah..Hari-hari kejayaan Islam tak akan lekang untuk dikenang. Masa-masa kebanggaan itu selamanya tertuang dalam keabadian sejarah. Bila sejarah gemilang itu dilukiskan di atas sebuah kanvas, maka siapapun yang berdiri menikmati pesonanya akan mematung terkesima. Pesona yang membentang dari timur ke barat, semerbak wanginya memenuhi seluruh penjuru.Baca Juga: Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?Tinta sejarah telah mengisahkan bagaimana Islam meruntuhkan keangkuhan hegemoni kekuasaan Romawi dan Persia. Islam dengan gagahnya membuat dua kekuatan adidaya itu bertekuk lutut. Tinta sejarah pun dengan rapi mencatat betapa majunya peradaban islam di segala bidang, baik itu keagamaan, ekonomi, sosial, militer, ilmu pengetahuan, dan arsitektur. Tahukah pembaca budiman, bahwa dahulu negeri Islam adalah kiblat ilmu pengetahuan dunia? Putra-putri terbaik dari seluruh penjuru dunia dahulu diutus oleh orang tua mereka untuk menimba ilmu di negeri-negeri kaum muslimin. Lembaran-lembaran bisu sejarah-lah saksinya, saksi betapa Islam dihormati dan disegani kala itu.Dimulai dari semenjak diutusnya Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah, semburat cahaya Islam menyebar menerangi jazirah Arab. Tatkala beliau wafat, tanah Mekah, Khaibar, Bahrain, Yaman, dan bagian jazirah Arab lainnya telah Allah taklukkan untuk kaum Muslimin.Kemudian diangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama, melanjutkan estafet dakwah dan memimpin umat. Melaluinya Allah perluas wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Abu Bakar mengutus pasukan ke Persia, dengan Khalid bin Walid sebagai panglimanya sehingga mereka menaklukkan sebagian wilayah Persia. Abu Bakar juga mengutus dua utusan lain dengan komando Abu Ubaidah ke dataran Syam dan Amr bin Ash ke negeri Mesir.Baca Juga: Anda Seorang Pemimpin? Siapakah Penasehat Anda?Setelah Abu Bakar wafat, naiklah Umar bin Khattab sebagai khalifah. Melaluinya Allah taklukkan untuk kaum muslimin seluruh wilayah Syam, Mesir, dan sebagian besar wilayah Persia, serta memukul mundur kaisar Romawi dari tanah Syam ke Konstantinopel. Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, wilayah kaum Muslimin semakin membentang dari timur ke barat. Cahaya Islam tersebar sampai ke Andalusia dan Cina.Islam perlahan tapi pasti terus berkembang sepeninggal khalifah yang empat. Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang memimpin setelah mereka, menaklukkan lebih banyak lagi bagian dari bumi Allah ini. Maka tersebarlah wilayah Islam sejauh mata memandang, manifestasi dari sabda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam,“Sesungguhnya Allah telah melipat bumi bagiku hingga kulihat timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan meliputi apa yang dilipat untukku.” (HR Bukhari)Mari sejenak kita tarik putaran masa ke tahun 187 H, untuk melihat sekilas kekuatan Islam kala itu. Seorang Raja Romawi bernama Niqfur (Nicephorus I) merusak perjanjian damai yang telah terjalin lama antara kerajaannya dan kaum Muslimin. Dengan pongahnya ia membangkang dan enggan menunaikan jizyah (pajak). Kemudian ia menuliskan secarik surat kepada Harun ar-Rasyid selaku khalifah Abbasiyah yang berkuasa saat itu, isinya adalah :“Dari Niqfur, Raja Romawi Teruntuk Harun Raja Arab, berikutnya. Sesungguhnya ratu sebelumku menempatkanmu layaknya benteng dan menempatkan dirinya sendiri bagaikan pion. Maka ia menyerahkan padamu sejumlah harta yang tidak selayaknya kini kuberikan padamu, itu semua tak lebih karena lemah dan bodohnya wanita. Jika kau membaca suratku ini, maka kembalikan semua harta yang dulu telah kau terima dan tebuslah dirimu atas apa telah kau rampas dahulu. Jika tidak, maka pedanglah antara kami dan kalian.” Baca Juga: Kunci Ketentraman, Sudahkah Kita Miliki?Tak ayal ultimatum ini memancing murka khalifah, maka ia pun meminta tinta untuk membalas surat tadi. Tak tanggung-tanggung, sebagai bentuk penghinaan kepada Raja Romawi, khalifah tidak menuliskannya di atas kertas baru, melainkan di sisi belakang surat Raja Romawi tersebut. Isinya adalah :Bismillahirrahmanirrahim, Dari Harun, Amirul-mukminin Teruntuk Niqfur, Anjing Romawi. Telah kubaca suratmu wahai anak wanita kafir, dan jawaban untukmu adalah apa yang akan segera kau saksikan, bukan apa yang kau dengar. WassalamMaka hari itu pula, bergegaslah khalifah bersama pasukannya menyerang. Membumihanguskan kota Heraclia dengan kemenangan gemilang. Akibat pembangkangannya, Niqfur yang sudah ciut dan terhina, diminta untuk melunasi semua pajak yang belum ia bayar, ditambah dengan hukuman membayar 2 kali lebih banyak untuk waktu-waktu berikutnya. Saksikanlah betapa hina Raja Romawi kala itu, dan betapa superior kekuatan Kaum Muslimin kala itu.Pembaca budiman, berkaca pada sejarah indah Islam di masa lampau tentu akan menyisakan sesak dan kesedihan bila membandingkannya dengan realita umat Islam dewasa ini. Dimana umat Islam sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan layaknya buih di lautan, menjadi mangsa santapan umat-umat yang lain.Dimanakah sisa kejayaan masa lalu itu ?Bisakah umat saat ini mengembalikan kembali sisa kejayaan itu ?Apakah sebab-sebab yang umat dewasa ini harus penuhi untuk bisa mewujudkan kembali kejayaan itu ?Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan penulis coba uraikan dalam karangan ilmiah sederhana ini.Menyelami Sebab Kejayaan Umat Islam Dahulu Ustadz Maududi hafidzohullah pernah memberi sebuah analogi yang menarik. Beliau mengatakan bahwa cara mudah bagi orang yang berada di kota A untuk sampai ke kota B adalah dengan bertanya kepada mereka yang sudah pernah pergi ke kota B. Kemudian beliau melanjutkan, “Maka barangsiapa yang ingin pergi ke Surga, tirulah orang-orang yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jamin Surga buat mereka.”Analogi ini bisa kita lontarkan kepada siapa saja yang bertanya, bagaimana mengembalikan kejayaan islam di masa lalu ? Maka jawabannya adalah mari sama-sama kita tiru bagaimana cara umat terdahulu  tersebut meraih kejayaan itu.Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka kembali menganut kepercayaan paganisme, kecuali segelintir dari mereka yang masih setia mengikuti millah-Ibrahim, menegaskan betapa syirik telah merajalela menyirnakan cahaya tauhid. Peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok.Tidak sebatas kerusakan di sisi ideologi, bangsa Arab pun telah ditimpa degradasi moral yang parah. Perjudian, perzinahan, dan penindasan secara merata merasuki umat kala itu. Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis sangatlah hina dan rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumahnya sebagai tanda mempersilakan bagi lelaki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dengannya dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang lelaki harus menerimanya.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazLalu diutuslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliau bagaikan hujan deras di tengah kering kerontangnya tanah Arab saat itu. Perlahan tapi pasti, beliau mengajarkan nilai-nilai tauhid dan meluruskan kembali norma-norma sosial yang telah rusak, bahkan menyempurnakannya.Sepuluh tahun lamanya beliau menanamkan tauhid di hati para sahabat pada periode Makkah. Bukan waktu yang sebentar, namun begitulah teladan yang telah beliau tinggalkan. Mengindikasikan urgensi tauhid sebagai cikal bakal kesuksesan umat. Banyak hadits-hadits yang menggambarkan kegigihan beliau agar akar-akar tauhid ini menghujam kuat di hati para pengikutnya.Tauhid adalah fokus pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membangun umat. Saat beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman dalam misi dakwah pada tahun 10H, hal pertama yang beliau ingin pastikan adalah agar Muadz bisa membuat masyarakat binaannya patuh mengikuti tauhid “laailaha illallah”. Baru kemudian ia bisa melanjutkan dakwah menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Baca Juga: Teladan Kepemimpinan Utsman bin ‘Affan Radhiallahu’anhuMengapa Tauhid ? Jawabannya tak lain karena tauhid adalah pondasi. Semegah apapun bangunan tanpa pondasi yang kuat, maka kemegahan itu bersifat semu, karena suatu saat pastilah akan roboh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun yakin akan janji Allah dalam surat An-Nur ayat 55, bahwa kejayaan umat ini akan bisa terlealisasi apabila mereka mentauhidkan Allah semata.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Q.S An-Nur : 55]Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat yang mulia ini, sebenarnya terdapat sumpah Allah  yang tersirat dari ungkapan “layastakhlifannahum….dst” yang diistilahkan oleh pakar bahasa al-Qur’an sebagai jawâbul-qasm (jawaban sumpah). Lalu apa sumpah Allah tersebut? Dia bersumpah akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi yang akan mengatur dunia dengan syari’at-Nya.Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan RasulullahAllah telah membuktikan sumpah tersebut pada umat-umat terdahulu, saat Allah menganugerahkan kekuatan dan kekuasaan kepada Sulaiman dan Daud ‘alaihimassalâm, dankepada Bani Isrâil saat mereka berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan-tangan Raja yang zalim di Mesir dan Syam. Allah juga bersumpah akan menjadikan Islam sebagai agama yang kokoh dan mengungguli agama-agama lainnya. Rasa aman akan tercipta, dan akan menggantikan ketakutan yang menyelimuti kaum muslimin.Namun janji Allah tersebut memiliki syarat yang harus terpenuhi agar bisa terwujud, dan syarat yang paling besar adalah mengesakan Allah semata dalam ibadah kita kepada-Nya. Maka seandainya kita menginginkan kejayaan tersebut, kita harus merealisasikan syarat tersebut dengan memulai dakwah kita dengan menanamkan di hati- hati kaum muslimin ketauhidan kepada Allah semata.Seandainya kita mau merenungi betapa lemahnya kaum muslimin saat ini, hal ini tidaklah terjadi kecuali karena kaum Muslimin jauh dari keatuhidan kepada Allah. Bila kita lihat realita umat Islam saat ini, kita akan dipaksa untuk mengakui bahwa umat Islam di zaman ini masih jauh dari kemurnian tauhid. Masih banyak di antara saudara-saudara kita yang terjerembab dalam kubangan lumpur kesyirikan, thawaf di kuburan, meminta-meminta di kuburan orang shalih (berharap agar shâhibul kubur bisa memberikan “uluran tangan” dari alam ghaib, sebagai mediator untuk mereka kepada Sang Khâlik atas segala hajat sekaligus musibah dan kesedihan mereka). Belum lagi maraknya praktek klenik perdukunan, menjamurnya orang-orang yang terbuai oleh janji-janji ramalan bintang, trend Feng-shui, dan kepercayaan akan kekuatan alam yang mandiri dan lepas dari Qudrâtullâh (kuasa Allah). Di sisi yang lain, manusia-manusia modern yang skeptis (tidak percaya) pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik, malah jatuh pada bentuk kesyirikan yang lain yaitu ketidakpercayaan terhadap perkara-perakara ghaib yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Sehingga lahirlah keangkuhan atheisme yang mengingkari eksistensi Allah, padahal ironinya fitrah mereka telah meyakini keberadaan-Nya.Ketika kita mampu menegakkan tauhid di muka bumi ini niscaya Allah akan menurunkan ke jayaan terhadap umat ini. Sebagaimana yang di nukil didalam tafsir “Taisir Karimurr Rahman” karya Al-Imam as-Sa’di rahimahullah (1376H) mengatakan:“(Janji Allah dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” [Tafsir as-Sa’di hal. 573]Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan Rasulullah Mengambil Pelajaran Dari Perang Uhud ***Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.IdReferensi :http://www.asysyariah.com Penulis : Ustadz Qomar Suaidi Judul: Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dengan sedikit pengurangan dan penambahanWikipediaTafsir As-Sa’di, Dar Ibnul Jauzi (cetakan kelima)At-tauhid Awwalan ya Dua’tul Islam, karya Syeikh Muhamad bin Nashiruddin Al-albany (cetakan tahun 1999)Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim, karya Imam Alhafidz Ibnu Katsir🔍 Bacaan Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Hadits Tentang Rasulullah, Ipar Adalah, Kata Kata Manusia Bodoh, Panduan Ibu Hamil Dalam Islam

Tauhid, Kunci Kejayaan Umat Islam

Bismillah,Alhamdulillah washolatu wassalamu ‘ala Rasulillah..Hari-hari kejayaan Islam tak akan lekang untuk dikenang. Masa-masa kebanggaan itu selamanya tertuang dalam keabadian sejarah. Bila sejarah gemilang itu dilukiskan di atas sebuah kanvas, maka siapapun yang berdiri menikmati pesonanya akan mematung terkesima. Pesona yang membentang dari timur ke barat, semerbak wanginya memenuhi seluruh penjuru.Baca Juga: Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?Tinta sejarah telah mengisahkan bagaimana Islam meruntuhkan keangkuhan hegemoni kekuasaan Romawi dan Persia. Islam dengan gagahnya membuat dua kekuatan adidaya itu bertekuk lutut. Tinta sejarah pun dengan rapi mencatat betapa majunya peradaban islam di segala bidang, baik itu keagamaan, ekonomi, sosial, militer, ilmu pengetahuan, dan arsitektur. Tahukah pembaca budiman, bahwa dahulu negeri Islam adalah kiblat ilmu pengetahuan dunia? Putra-putri terbaik dari seluruh penjuru dunia dahulu diutus oleh orang tua mereka untuk menimba ilmu di negeri-negeri kaum muslimin. Lembaran-lembaran bisu sejarah-lah saksinya, saksi betapa Islam dihormati dan disegani kala itu.Dimulai dari semenjak diutusnya Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah, semburat cahaya Islam menyebar menerangi jazirah Arab. Tatkala beliau wafat, tanah Mekah, Khaibar, Bahrain, Yaman, dan bagian jazirah Arab lainnya telah Allah taklukkan untuk kaum Muslimin.Kemudian diangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama, melanjutkan estafet dakwah dan memimpin umat. Melaluinya Allah perluas wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Abu Bakar mengutus pasukan ke Persia, dengan Khalid bin Walid sebagai panglimanya sehingga mereka menaklukkan sebagian wilayah Persia. Abu Bakar juga mengutus dua utusan lain dengan komando Abu Ubaidah ke dataran Syam dan Amr bin Ash ke negeri Mesir.Baca Juga: Anda Seorang Pemimpin? Siapakah Penasehat Anda?Setelah Abu Bakar wafat, naiklah Umar bin Khattab sebagai khalifah. Melaluinya Allah taklukkan untuk kaum muslimin seluruh wilayah Syam, Mesir, dan sebagian besar wilayah Persia, serta memukul mundur kaisar Romawi dari tanah Syam ke Konstantinopel. Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, wilayah kaum Muslimin semakin membentang dari timur ke barat. Cahaya Islam tersebar sampai ke Andalusia dan Cina.Islam perlahan tapi pasti terus berkembang sepeninggal khalifah yang empat. Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang memimpin setelah mereka, menaklukkan lebih banyak lagi bagian dari bumi Allah ini. Maka tersebarlah wilayah Islam sejauh mata memandang, manifestasi dari sabda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam,“Sesungguhnya Allah telah melipat bumi bagiku hingga kulihat timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan meliputi apa yang dilipat untukku.” (HR Bukhari)Mari sejenak kita tarik putaran masa ke tahun 187 H, untuk melihat sekilas kekuatan Islam kala itu. Seorang Raja Romawi bernama Niqfur (Nicephorus I) merusak perjanjian damai yang telah terjalin lama antara kerajaannya dan kaum Muslimin. Dengan pongahnya ia membangkang dan enggan menunaikan jizyah (pajak). Kemudian ia menuliskan secarik surat kepada Harun ar-Rasyid selaku khalifah Abbasiyah yang berkuasa saat itu, isinya adalah :“Dari Niqfur, Raja Romawi Teruntuk Harun Raja Arab, berikutnya. Sesungguhnya ratu sebelumku menempatkanmu layaknya benteng dan menempatkan dirinya sendiri bagaikan pion. Maka ia menyerahkan padamu sejumlah harta yang tidak selayaknya kini kuberikan padamu, itu semua tak lebih karena lemah dan bodohnya wanita. Jika kau membaca suratku ini, maka kembalikan semua harta yang dulu telah kau terima dan tebuslah dirimu atas apa telah kau rampas dahulu. Jika tidak, maka pedanglah antara kami dan kalian.” Baca Juga: Kunci Ketentraman, Sudahkah Kita Miliki?Tak ayal ultimatum ini memancing murka khalifah, maka ia pun meminta tinta untuk membalas surat tadi. Tak tanggung-tanggung, sebagai bentuk penghinaan kepada Raja Romawi, khalifah tidak menuliskannya di atas kertas baru, melainkan di sisi belakang surat Raja Romawi tersebut. Isinya adalah :Bismillahirrahmanirrahim, Dari Harun, Amirul-mukminin Teruntuk Niqfur, Anjing Romawi. Telah kubaca suratmu wahai anak wanita kafir, dan jawaban untukmu adalah apa yang akan segera kau saksikan, bukan apa yang kau dengar. WassalamMaka hari itu pula, bergegaslah khalifah bersama pasukannya menyerang. Membumihanguskan kota Heraclia dengan kemenangan gemilang. Akibat pembangkangannya, Niqfur yang sudah ciut dan terhina, diminta untuk melunasi semua pajak yang belum ia bayar, ditambah dengan hukuman membayar 2 kali lebih banyak untuk waktu-waktu berikutnya. Saksikanlah betapa hina Raja Romawi kala itu, dan betapa superior kekuatan Kaum Muslimin kala itu.Pembaca budiman, berkaca pada sejarah indah Islam di masa lampau tentu akan menyisakan sesak dan kesedihan bila membandingkannya dengan realita umat Islam dewasa ini. Dimana umat Islam sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan layaknya buih di lautan, menjadi mangsa santapan umat-umat yang lain.Dimanakah sisa kejayaan masa lalu itu ?Bisakah umat saat ini mengembalikan kembali sisa kejayaan itu ?Apakah sebab-sebab yang umat dewasa ini harus penuhi untuk bisa mewujudkan kembali kejayaan itu ?Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan penulis coba uraikan dalam karangan ilmiah sederhana ini.Menyelami Sebab Kejayaan Umat Islam Dahulu Ustadz Maududi hafidzohullah pernah memberi sebuah analogi yang menarik. Beliau mengatakan bahwa cara mudah bagi orang yang berada di kota A untuk sampai ke kota B adalah dengan bertanya kepada mereka yang sudah pernah pergi ke kota B. Kemudian beliau melanjutkan, “Maka barangsiapa yang ingin pergi ke Surga, tirulah orang-orang yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jamin Surga buat mereka.”Analogi ini bisa kita lontarkan kepada siapa saja yang bertanya, bagaimana mengembalikan kejayaan islam di masa lalu ? Maka jawabannya adalah mari sama-sama kita tiru bagaimana cara umat terdahulu  tersebut meraih kejayaan itu.Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka kembali menganut kepercayaan paganisme, kecuali segelintir dari mereka yang masih setia mengikuti millah-Ibrahim, menegaskan betapa syirik telah merajalela menyirnakan cahaya tauhid. Peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok.Tidak sebatas kerusakan di sisi ideologi, bangsa Arab pun telah ditimpa degradasi moral yang parah. Perjudian, perzinahan, dan penindasan secara merata merasuki umat kala itu. Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis sangatlah hina dan rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumahnya sebagai tanda mempersilakan bagi lelaki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dengannya dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang lelaki harus menerimanya.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazLalu diutuslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliau bagaikan hujan deras di tengah kering kerontangnya tanah Arab saat itu. Perlahan tapi pasti, beliau mengajarkan nilai-nilai tauhid dan meluruskan kembali norma-norma sosial yang telah rusak, bahkan menyempurnakannya.Sepuluh tahun lamanya beliau menanamkan tauhid di hati para sahabat pada periode Makkah. Bukan waktu yang sebentar, namun begitulah teladan yang telah beliau tinggalkan. Mengindikasikan urgensi tauhid sebagai cikal bakal kesuksesan umat. Banyak hadits-hadits yang menggambarkan kegigihan beliau agar akar-akar tauhid ini menghujam kuat di hati para pengikutnya.Tauhid adalah fokus pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membangun umat. Saat beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman dalam misi dakwah pada tahun 10H, hal pertama yang beliau ingin pastikan adalah agar Muadz bisa membuat masyarakat binaannya patuh mengikuti tauhid “laailaha illallah”. Baru kemudian ia bisa melanjutkan dakwah menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Baca Juga: Teladan Kepemimpinan Utsman bin ‘Affan Radhiallahu’anhuMengapa Tauhid ? Jawabannya tak lain karena tauhid adalah pondasi. Semegah apapun bangunan tanpa pondasi yang kuat, maka kemegahan itu bersifat semu, karena suatu saat pastilah akan roboh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun yakin akan janji Allah dalam surat An-Nur ayat 55, bahwa kejayaan umat ini akan bisa terlealisasi apabila mereka mentauhidkan Allah semata.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Q.S An-Nur : 55]Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat yang mulia ini, sebenarnya terdapat sumpah Allah  yang tersirat dari ungkapan “layastakhlifannahum….dst” yang diistilahkan oleh pakar bahasa al-Qur’an sebagai jawâbul-qasm (jawaban sumpah). Lalu apa sumpah Allah tersebut? Dia bersumpah akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi yang akan mengatur dunia dengan syari’at-Nya.Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan RasulullahAllah telah membuktikan sumpah tersebut pada umat-umat terdahulu, saat Allah menganugerahkan kekuatan dan kekuasaan kepada Sulaiman dan Daud ‘alaihimassalâm, dankepada Bani Isrâil saat mereka berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan-tangan Raja yang zalim di Mesir dan Syam. Allah juga bersumpah akan menjadikan Islam sebagai agama yang kokoh dan mengungguli agama-agama lainnya. Rasa aman akan tercipta, dan akan menggantikan ketakutan yang menyelimuti kaum muslimin.Namun janji Allah tersebut memiliki syarat yang harus terpenuhi agar bisa terwujud, dan syarat yang paling besar adalah mengesakan Allah semata dalam ibadah kita kepada-Nya. Maka seandainya kita menginginkan kejayaan tersebut, kita harus merealisasikan syarat tersebut dengan memulai dakwah kita dengan menanamkan di hati- hati kaum muslimin ketauhidan kepada Allah semata.Seandainya kita mau merenungi betapa lemahnya kaum muslimin saat ini, hal ini tidaklah terjadi kecuali karena kaum Muslimin jauh dari keatuhidan kepada Allah. Bila kita lihat realita umat Islam saat ini, kita akan dipaksa untuk mengakui bahwa umat Islam di zaman ini masih jauh dari kemurnian tauhid. Masih banyak di antara saudara-saudara kita yang terjerembab dalam kubangan lumpur kesyirikan, thawaf di kuburan, meminta-meminta di kuburan orang shalih (berharap agar shâhibul kubur bisa memberikan “uluran tangan” dari alam ghaib, sebagai mediator untuk mereka kepada Sang Khâlik atas segala hajat sekaligus musibah dan kesedihan mereka). Belum lagi maraknya praktek klenik perdukunan, menjamurnya orang-orang yang terbuai oleh janji-janji ramalan bintang, trend Feng-shui, dan kepercayaan akan kekuatan alam yang mandiri dan lepas dari Qudrâtullâh (kuasa Allah). Di sisi yang lain, manusia-manusia modern yang skeptis (tidak percaya) pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik, malah jatuh pada bentuk kesyirikan yang lain yaitu ketidakpercayaan terhadap perkara-perakara ghaib yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Sehingga lahirlah keangkuhan atheisme yang mengingkari eksistensi Allah, padahal ironinya fitrah mereka telah meyakini keberadaan-Nya.Ketika kita mampu menegakkan tauhid di muka bumi ini niscaya Allah akan menurunkan ke jayaan terhadap umat ini. Sebagaimana yang di nukil didalam tafsir “Taisir Karimurr Rahman” karya Al-Imam as-Sa’di rahimahullah (1376H) mengatakan:“(Janji Allah dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” [Tafsir as-Sa’di hal. 573]Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan Rasulullah Mengambil Pelajaran Dari Perang Uhud ***Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.IdReferensi :http://www.asysyariah.com Penulis : Ustadz Qomar Suaidi Judul: Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dengan sedikit pengurangan dan penambahanWikipediaTafsir As-Sa’di, Dar Ibnul Jauzi (cetakan kelima)At-tauhid Awwalan ya Dua’tul Islam, karya Syeikh Muhamad bin Nashiruddin Al-albany (cetakan tahun 1999)Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim, karya Imam Alhafidz Ibnu Katsir🔍 Bacaan Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Hadits Tentang Rasulullah, Ipar Adalah, Kata Kata Manusia Bodoh, Panduan Ibu Hamil Dalam Islam
Bismillah,Alhamdulillah washolatu wassalamu ‘ala Rasulillah..Hari-hari kejayaan Islam tak akan lekang untuk dikenang. Masa-masa kebanggaan itu selamanya tertuang dalam keabadian sejarah. Bila sejarah gemilang itu dilukiskan di atas sebuah kanvas, maka siapapun yang berdiri menikmati pesonanya akan mematung terkesima. Pesona yang membentang dari timur ke barat, semerbak wanginya memenuhi seluruh penjuru.Baca Juga: Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?Tinta sejarah telah mengisahkan bagaimana Islam meruntuhkan keangkuhan hegemoni kekuasaan Romawi dan Persia. Islam dengan gagahnya membuat dua kekuatan adidaya itu bertekuk lutut. Tinta sejarah pun dengan rapi mencatat betapa majunya peradaban islam di segala bidang, baik itu keagamaan, ekonomi, sosial, militer, ilmu pengetahuan, dan arsitektur. Tahukah pembaca budiman, bahwa dahulu negeri Islam adalah kiblat ilmu pengetahuan dunia? Putra-putri terbaik dari seluruh penjuru dunia dahulu diutus oleh orang tua mereka untuk menimba ilmu di negeri-negeri kaum muslimin. Lembaran-lembaran bisu sejarah-lah saksinya, saksi betapa Islam dihormati dan disegani kala itu.Dimulai dari semenjak diutusnya Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah, semburat cahaya Islam menyebar menerangi jazirah Arab. Tatkala beliau wafat, tanah Mekah, Khaibar, Bahrain, Yaman, dan bagian jazirah Arab lainnya telah Allah taklukkan untuk kaum Muslimin.Kemudian diangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama, melanjutkan estafet dakwah dan memimpin umat. Melaluinya Allah perluas wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Abu Bakar mengutus pasukan ke Persia, dengan Khalid bin Walid sebagai panglimanya sehingga mereka menaklukkan sebagian wilayah Persia. Abu Bakar juga mengutus dua utusan lain dengan komando Abu Ubaidah ke dataran Syam dan Amr bin Ash ke negeri Mesir.Baca Juga: Anda Seorang Pemimpin? Siapakah Penasehat Anda?Setelah Abu Bakar wafat, naiklah Umar bin Khattab sebagai khalifah. Melaluinya Allah taklukkan untuk kaum muslimin seluruh wilayah Syam, Mesir, dan sebagian besar wilayah Persia, serta memukul mundur kaisar Romawi dari tanah Syam ke Konstantinopel. Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, wilayah kaum Muslimin semakin membentang dari timur ke barat. Cahaya Islam tersebar sampai ke Andalusia dan Cina.Islam perlahan tapi pasti terus berkembang sepeninggal khalifah yang empat. Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang memimpin setelah mereka, menaklukkan lebih banyak lagi bagian dari bumi Allah ini. Maka tersebarlah wilayah Islam sejauh mata memandang, manifestasi dari sabda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam,“Sesungguhnya Allah telah melipat bumi bagiku hingga kulihat timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan meliputi apa yang dilipat untukku.” (HR Bukhari)Mari sejenak kita tarik putaran masa ke tahun 187 H, untuk melihat sekilas kekuatan Islam kala itu. Seorang Raja Romawi bernama Niqfur (Nicephorus I) merusak perjanjian damai yang telah terjalin lama antara kerajaannya dan kaum Muslimin. Dengan pongahnya ia membangkang dan enggan menunaikan jizyah (pajak). Kemudian ia menuliskan secarik surat kepada Harun ar-Rasyid selaku khalifah Abbasiyah yang berkuasa saat itu, isinya adalah :“Dari Niqfur, Raja Romawi Teruntuk Harun Raja Arab, berikutnya. Sesungguhnya ratu sebelumku menempatkanmu layaknya benteng dan menempatkan dirinya sendiri bagaikan pion. Maka ia menyerahkan padamu sejumlah harta yang tidak selayaknya kini kuberikan padamu, itu semua tak lebih karena lemah dan bodohnya wanita. Jika kau membaca suratku ini, maka kembalikan semua harta yang dulu telah kau terima dan tebuslah dirimu atas apa telah kau rampas dahulu. Jika tidak, maka pedanglah antara kami dan kalian.” Baca Juga: Kunci Ketentraman, Sudahkah Kita Miliki?Tak ayal ultimatum ini memancing murka khalifah, maka ia pun meminta tinta untuk membalas surat tadi. Tak tanggung-tanggung, sebagai bentuk penghinaan kepada Raja Romawi, khalifah tidak menuliskannya di atas kertas baru, melainkan di sisi belakang surat Raja Romawi tersebut. Isinya adalah :Bismillahirrahmanirrahim, Dari Harun, Amirul-mukminin Teruntuk Niqfur, Anjing Romawi. Telah kubaca suratmu wahai anak wanita kafir, dan jawaban untukmu adalah apa yang akan segera kau saksikan, bukan apa yang kau dengar. WassalamMaka hari itu pula, bergegaslah khalifah bersama pasukannya menyerang. Membumihanguskan kota Heraclia dengan kemenangan gemilang. Akibat pembangkangannya, Niqfur yang sudah ciut dan terhina, diminta untuk melunasi semua pajak yang belum ia bayar, ditambah dengan hukuman membayar 2 kali lebih banyak untuk waktu-waktu berikutnya. Saksikanlah betapa hina Raja Romawi kala itu, dan betapa superior kekuatan Kaum Muslimin kala itu.Pembaca budiman, berkaca pada sejarah indah Islam di masa lampau tentu akan menyisakan sesak dan kesedihan bila membandingkannya dengan realita umat Islam dewasa ini. Dimana umat Islam sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan layaknya buih di lautan, menjadi mangsa santapan umat-umat yang lain.Dimanakah sisa kejayaan masa lalu itu ?Bisakah umat saat ini mengembalikan kembali sisa kejayaan itu ?Apakah sebab-sebab yang umat dewasa ini harus penuhi untuk bisa mewujudkan kembali kejayaan itu ?Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan penulis coba uraikan dalam karangan ilmiah sederhana ini.Menyelami Sebab Kejayaan Umat Islam Dahulu Ustadz Maududi hafidzohullah pernah memberi sebuah analogi yang menarik. Beliau mengatakan bahwa cara mudah bagi orang yang berada di kota A untuk sampai ke kota B adalah dengan bertanya kepada mereka yang sudah pernah pergi ke kota B. Kemudian beliau melanjutkan, “Maka barangsiapa yang ingin pergi ke Surga, tirulah orang-orang yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jamin Surga buat mereka.”Analogi ini bisa kita lontarkan kepada siapa saja yang bertanya, bagaimana mengembalikan kejayaan islam di masa lalu ? Maka jawabannya adalah mari sama-sama kita tiru bagaimana cara umat terdahulu  tersebut meraih kejayaan itu.Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka kembali menganut kepercayaan paganisme, kecuali segelintir dari mereka yang masih setia mengikuti millah-Ibrahim, menegaskan betapa syirik telah merajalela menyirnakan cahaya tauhid. Peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok.Tidak sebatas kerusakan di sisi ideologi, bangsa Arab pun telah ditimpa degradasi moral yang parah. Perjudian, perzinahan, dan penindasan secara merata merasuki umat kala itu. Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis sangatlah hina dan rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumahnya sebagai tanda mempersilakan bagi lelaki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dengannya dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang lelaki harus menerimanya.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazLalu diutuslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliau bagaikan hujan deras di tengah kering kerontangnya tanah Arab saat itu. Perlahan tapi pasti, beliau mengajarkan nilai-nilai tauhid dan meluruskan kembali norma-norma sosial yang telah rusak, bahkan menyempurnakannya.Sepuluh tahun lamanya beliau menanamkan tauhid di hati para sahabat pada periode Makkah. Bukan waktu yang sebentar, namun begitulah teladan yang telah beliau tinggalkan. Mengindikasikan urgensi tauhid sebagai cikal bakal kesuksesan umat. Banyak hadits-hadits yang menggambarkan kegigihan beliau agar akar-akar tauhid ini menghujam kuat di hati para pengikutnya.Tauhid adalah fokus pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membangun umat. Saat beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman dalam misi dakwah pada tahun 10H, hal pertama yang beliau ingin pastikan adalah agar Muadz bisa membuat masyarakat binaannya patuh mengikuti tauhid “laailaha illallah”. Baru kemudian ia bisa melanjutkan dakwah menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Baca Juga: Teladan Kepemimpinan Utsman bin ‘Affan Radhiallahu’anhuMengapa Tauhid ? Jawabannya tak lain karena tauhid adalah pondasi. Semegah apapun bangunan tanpa pondasi yang kuat, maka kemegahan itu bersifat semu, karena suatu saat pastilah akan roboh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun yakin akan janji Allah dalam surat An-Nur ayat 55, bahwa kejayaan umat ini akan bisa terlealisasi apabila mereka mentauhidkan Allah semata.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Q.S An-Nur : 55]Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat yang mulia ini, sebenarnya terdapat sumpah Allah  yang tersirat dari ungkapan “layastakhlifannahum….dst” yang diistilahkan oleh pakar bahasa al-Qur’an sebagai jawâbul-qasm (jawaban sumpah). Lalu apa sumpah Allah tersebut? Dia bersumpah akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi yang akan mengatur dunia dengan syari’at-Nya.Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan RasulullahAllah telah membuktikan sumpah tersebut pada umat-umat terdahulu, saat Allah menganugerahkan kekuatan dan kekuasaan kepada Sulaiman dan Daud ‘alaihimassalâm, dankepada Bani Isrâil saat mereka berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan-tangan Raja yang zalim di Mesir dan Syam. Allah juga bersumpah akan menjadikan Islam sebagai agama yang kokoh dan mengungguli agama-agama lainnya. Rasa aman akan tercipta, dan akan menggantikan ketakutan yang menyelimuti kaum muslimin.Namun janji Allah tersebut memiliki syarat yang harus terpenuhi agar bisa terwujud, dan syarat yang paling besar adalah mengesakan Allah semata dalam ibadah kita kepada-Nya. Maka seandainya kita menginginkan kejayaan tersebut, kita harus merealisasikan syarat tersebut dengan memulai dakwah kita dengan menanamkan di hati- hati kaum muslimin ketauhidan kepada Allah semata.Seandainya kita mau merenungi betapa lemahnya kaum muslimin saat ini, hal ini tidaklah terjadi kecuali karena kaum Muslimin jauh dari keatuhidan kepada Allah. Bila kita lihat realita umat Islam saat ini, kita akan dipaksa untuk mengakui bahwa umat Islam di zaman ini masih jauh dari kemurnian tauhid. Masih banyak di antara saudara-saudara kita yang terjerembab dalam kubangan lumpur kesyirikan, thawaf di kuburan, meminta-meminta di kuburan orang shalih (berharap agar shâhibul kubur bisa memberikan “uluran tangan” dari alam ghaib, sebagai mediator untuk mereka kepada Sang Khâlik atas segala hajat sekaligus musibah dan kesedihan mereka). Belum lagi maraknya praktek klenik perdukunan, menjamurnya orang-orang yang terbuai oleh janji-janji ramalan bintang, trend Feng-shui, dan kepercayaan akan kekuatan alam yang mandiri dan lepas dari Qudrâtullâh (kuasa Allah). Di sisi yang lain, manusia-manusia modern yang skeptis (tidak percaya) pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik, malah jatuh pada bentuk kesyirikan yang lain yaitu ketidakpercayaan terhadap perkara-perakara ghaib yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Sehingga lahirlah keangkuhan atheisme yang mengingkari eksistensi Allah, padahal ironinya fitrah mereka telah meyakini keberadaan-Nya.Ketika kita mampu menegakkan tauhid di muka bumi ini niscaya Allah akan menurunkan ke jayaan terhadap umat ini. Sebagaimana yang di nukil didalam tafsir “Taisir Karimurr Rahman” karya Al-Imam as-Sa’di rahimahullah (1376H) mengatakan:“(Janji Allah dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” [Tafsir as-Sa’di hal. 573]Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan Rasulullah Mengambil Pelajaran Dari Perang Uhud ***Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.IdReferensi :http://www.asysyariah.com Penulis : Ustadz Qomar Suaidi Judul: Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dengan sedikit pengurangan dan penambahanWikipediaTafsir As-Sa’di, Dar Ibnul Jauzi (cetakan kelima)At-tauhid Awwalan ya Dua’tul Islam, karya Syeikh Muhamad bin Nashiruddin Al-albany (cetakan tahun 1999)Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim, karya Imam Alhafidz Ibnu Katsir🔍 Bacaan Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Hadits Tentang Rasulullah, Ipar Adalah, Kata Kata Manusia Bodoh, Panduan Ibu Hamil Dalam Islam


Bismillah,Alhamdulillah washolatu wassalamu ‘ala Rasulillah..Hari-hari kejayaan Islam tak akan lekang untuk dikenang. Masa-masa kebanggaan itu selamanya tertuang dalam keabadian sejarah. Bila sejarah gemilang itu dilukiskan di atas sebuah kanvas, maka siapapun yang berdiri menikmati pesonanya akan mematung terkesima. Pesona yang membentang dari timur ke barat, semerbak wanginya memenuhi seluruh penjuru.Baca Juga: Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?Tinta sejarah telah mengisahkan bagaimana Islam meruntuhkan keangkuhan hegemoni kekuasaan Romawi dan Persia. Islam dengan gagahnya membuat dua kekuatan adidaya itu bertekuk lutut. Tinta sejarah pun dengan rapi mencatat betapa majunya peradaban islam di segala bidang, baik itu keagamaan, ekonomi, sosial, militer, ilmu pengetahuan, dan arsitektur. Tahukah pembaca budiman, bahwa dahulu negeri Islam adalah kiblat ilmu pengetahuan dunia? Putra-putri terbaik dari seluruh penjuru dunia dahulu diutus oleh orang tua mereka untuk menimba ilmu di negeri-negeri kaum muslimin. Lembaran-lembaran bisu sejarah-lah saksinya, saksi betapa Islam dihormati dan disegani kala itu.Dimulai dari semenjak diutusnya Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam untuk menyampaikan risalah, semburat cahaya Islam menyebar menerangi jazirah Arab. Tatkala beliau wafat, tanah Mekah, Khaibar, Bahrain, Yaman, dan bagian jazirah Arab lainnya telah Allah taklukkan untuk kaum Muslimin.Kemudian diangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama, melanjutkan estafet dakwah dan memimpin umat. Melaluinya Allah perluas wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Abu Bakar mengutus pasukan ke Persia, dengan Khalid bin Walid sebagai panglimanya sehingga mereka menaklukkan sebagian wilayah Persia. Abu Bakar juga mengutus dua utusan lain dengan komando Abu Ubaidah ke dataran Syam dan Amr bin Ash ke negeri Mesir.Baca Juga: Anda Seorang Pemimpin? Siapakah Penasehat Anda?Setelah Abu Bakar wafat, naiklah Umar bin Khattab sebagai khalifah. Melaluinya Allah taklukkan untuk kaum muslimin seluruh wilayah Syam, Mesir, dan sebagian besar wilayah Persia, serta memukul mundur kaisar Romawi dari tanah Syam ke Konstantinopel. Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, wilayah kaum Muslimin semakin membentang dari timur ke barat. Cahaya Islam tersebar sampai ke Andalusia dan Cina.Islam perlahan tapi pasti terus berkembang sepeninggal khalifah yang empat. Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang memimpin setelah mereka, menaklukkan lebih banyak lagi bagian dari bumi Allah ini. Maka tersebarlah wilayah Islam sejauh mata memandang, manifestasi dari sabda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam,“Sesungguhnya Allah telah melipat bumi bagiku hingga kulihat timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan meliputi apa yang dilipat untukku.” (HR Bukhari)Mari sejenak kita tarik putaran masa ke tahun 187 H, untuk melihat sekilas kekuatan Islam kala itu. Seorang Raja Romawi bernama Niqfur (Nicephorus I) merusak perjanjian damai yang telah terjalin lama antara kerajaannya dan kaum Muslimin. Dengan pongahnya ia membangkang dan enggan menunaikan jizyah (pajak). Kemudian ia menuliskan secarik surat kepada Harun ar-Rasyid selaku khalifah Abbasiyah yang berkuasa saat itu, isinya adalah :“Dari Niqfur, Raja Romawi Teruntuk Harun Raja Arab, berikutnya. Sesungguhnya ratu sebelumku menempatkanmu layaknya benteng dan menempatkan dirinya sendiri bagaikan pion. Maka ia menyerahkan padamu sejumlah harta yang tidak selayaknya kini kuberikan padamu, itu semua tak lebih karena lemah dan bodohnya wanita. Jika kau membaca suratku ini, maka kembalikan semua harta yang dulu telah kau terima dan tebuslah dirimu atas apa telah kau rampas dahulu. Jika tidak, maka pedanglah antara kami dan kalian.” Baca Juga: Kunci Ketentraman, Sudahkah Kita Miliki?Tak ayal ultimatum ini memancing murka khalifah, maka ia pun meminta tinta untuk membalas surat tadi. Tak tanggung-tanggung, sebagai bentuk penghinaan kepada Raja Romawi, khalifah tidak menuliskannya di atas kertas baru, melainkan di sisi belakang surat Raja Romawi tersebut. Isinya adalah :Bismillahirrahmanirrahim, Dari Harun, Amirul-mukminin Teruntuk Niqfur, Anjing Romawi. Telah kubaca suratmu wahai anak wanita kafir, dan jawaban untukmu adalah apa yang akan segera kau saksikan, bukan apa yang kau dengar. WassalamMaka hari itu pula, bergegaslah khalifah bersama pasukannya menyerang. Membumihanguskan kota Heraclia dengan kemenangan gemilang. Akibat pembangkangannya, Niqfur yang sudah ciut dan terhina, diminta untuk melunasi semua pajak yang belum ia bayar, ditambah dengan hukuman membayar 2 kali lebih banyak untuk waktu-waktu berikutnya. Saksikanlah betapa hina Raja Romawi kala itu, dan betapa superior kekuatan Kaum Muslimin kala itu.Pembaca budiman, berkaca pada sejarah indah Islam di masa lampau tentu akan menyisakan sesak dan kesedihan bila membandingkannya dengan realita umat Islam dewasa ini. Dimana umat Islam sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan layaknya buih di lautan, menjadi mangsa santapan umat-umat yang lain.Dimanakah sisa kejayaan masa lalu itu ?Bisakah umat saat ini mengembalikan kembali sisa kejayaan itu ?Apakah sebab-sebab yang umat dewasa ini harus penuhi untuk bisa mewujudkan kembali kejayaan itu ?Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan penulis coba uraikan dalam karangan ilmiah sederhana ini.Menyelami Sebab Kejayaan Umat Islam Dahulu Ustadz Maududi hafidzohullah pernah memberi sebuah analogi yang menarik. Beliau mengatakan bahwa cara mudah bagi orang yang berada di kota A untuk sampai ke kota B adalah dengan bertanya kepada mereka yang sudah pernah pergi ke kota B. Kemudian beliau melanjutkan, “Maka barangsiapa yang ingin pergi ke Surga, tirulah orang-orang yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jamin Surga buat mereka.”Analogi ini bisa kita lontarkan kepada siapa saja yang bertanya, bagaimana mengembalikan kejayaan islam di masa lalu ? Maka jawabannya adalah mari sama-sama kita tiru bagaimana cara umat terdahulu  tersebut meraih kejayaan itu.Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka kembali menganut kepercayaan paganisme, kecuali segelintir dari mereka yang masih setia mengikuti millah-Ibrahim, menegaskan betapa syirik telah merajalela menyirnakan cahaya tauhid. Peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat mencolok.Tidak sebatas kerusakan di sisi ideologi, bangsa Arab pun telah ditimpa degradasi moral yang parah. Perjudian, perzinahan, dan penindasan secara merata merasuki umat kala itu. Kehidupan sosial kemasyarakatan dalam kaitannya dengan hubungan lain jenis sangatlah hina dan rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumahnya sebagai tanda mempersilakan bagi lelaki siapa saja yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dengannya dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang lelaki harus menerimanya.Baca Juga: Pelajaran Dari Jalur GazLalu diutuslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliau bagaikan hujan deras di tengah kering kerontangnya tanah Arab saat itu. Perlahan tapi pasti, beliau mengajarkan nilai-nilai tauhid dan meluruskan kembali norma-norma sosial yang telah rusak, bahkan menyempurnakannya.Sepuluh tahun lamanya beliau menanamkan tauhid di hati para sahabat pada periode Makkah. Bukan waktu yang sebentar, namun begitulah teladan yang telah beliau tinggalkan. Mengindikasikan urgensi tauhid sebagai cikal bakal kesuksesan umat. Banyak hadits-hadits yang menggambarkan kegigihan beliau agar akar-akar tauhid ini menghujam kuat di hati para pengikutnya.Tauhid adalah fokus pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membangun umat. Saat beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman dalam misi dakwah pada tahun 10H, hal pertama yang beliau ingin pastikan adalah agar Muadz bisa membuat masyarakat binaannya patuh mengikuti tauhid “laailaha illallah”. Baru kemudian ia bisa melanjutkan dakwah menegakkan shalat dan menunaikan zakat.Baca Juga: Teladan Kepemimpinan Utsman bin ‘Affan Radhiallahu’anhuMengapa Tauhid ? Jawabannya tak lain karena tauhid adalah pondasi. Semegah apapun bangunan tanpa pondasi yang kuat, maka kemegahan itu bersifat semu, karena suatu saat pastilah akan roboh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun yakin akan janji Allah dalam surat An-Nur ayat 55, bahwa kejayaan umat ini akan bisa terlealisasi apabila mereka mentauhidkan Allah semata.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [Q.S An-Nur : 55]Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat yang mulia ini, sebenarnya terdapat sumpah Allah  yang tersirat dari ungkapan “layastakhlifannahum….dst” yang diistilahkan oleh pakar bahasa al-Qur’an sebagai jawâbul-qasm (jawaban sumpah). Lalu apa sumpah Allah tersebut? Dia bersumpah akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi yang akan mengatur dunia dengan syari’at-Nya.Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan RasulullahAllah telah membuktikan sumpah tersebut pada umat-umat terdahulu, saat Allah menganugerahkan kekuatan dan kekuasaan kepada Sulaiman dan Daud ‘alaihimassalâm, dankepada Bani Isrâil saat mereka berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan-tangan Raja yang zalim di Mesir dan Syam. Allah juga bersumpah akan menjadikan Islam sebagai agama yang kokoh dan mengungguli agama-agama lainnya. Rasa aman akan tercipta, dan akan menggantikan ketakutan yang menyelimuti kaum muslimin.Namun janji Allah tersebut memiliki syarat yang harus terpenuhi agar bisa terwujud, dan syarat yang paling besar adalah mengesakan Allah semata dalam ibadah kita kepada-Nya. Maka seandainya kita menginginkan kejayaan tersebut, kita harus merealisasikan syarat tersebut dengan memulai dakwah kita dengan menanamkan di hati- hati kaum muslimin ketauhidan kepada Allah semata.Seandainya kita mau merenungi betapa lemahnya kaum muslimin saat ini, hal ini tidaklah terjadi kecuali karena kaum Muslimin jauh dari keatuhidan kepada Allah. Bila kita lihat realita umat Islam saat ini, kita akan dipaksa untuk mengakui bahwa umat Islam di zaman ini masih jauh dari kemurnian tauhid. Masih banyak di antara saudara-saudara kita yang terjerembab dalam kubangan lumpur kesyirikan, thawaf di kuburan, meminta-meminta di kuburan orang shalih (berharap agar shâhibul kubur bisa memberikan “uluran tangan” dari alam ghaib, sebagai mediator untuk mereka kepada Sang Khâlik atas segala hajat sekaligus musibah dan kesedihan mereka). Belum lagi maraknya praktek klenik perdukunan, menjamurnya orang-orang yang terbuai oleh janji-janji ramalan bintang, trend Feng-shui, dan kepercayaan akan kekuatan alam yang mandiri dan lepas dari Qudrâtullâh (kuasa Allah). Di sisi yang lain, manusia-manusia modern yang skeptis (tidak percaya) pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik, malah jatuh pada bentuk kesyirikan yang lain yaitu ketidakpercayaan terhadap perkara-perakara ghaib yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Sehingga lahirlah keangkuhan atheisme yang mengingkari eksistensi Allah, padahal ironinya fitrah mereka telah meyakini keberadaan-Nya.Ketika kita mampu menegakkan tauhid di muka bumi ini niscaya Allah akan menurunkan ke jayaan terhadap umat ini. Sebagaimana yang di nukil didalam tafsir “Taisir Karimurr Rahman” karya Al-Imam as-Sa’di rahimahullah (1376H) mengatakan:“(Janji Allah dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” [Tafsir as-Sa’di hal. 573]Baca Juga: Tundukan Akalmu Pada Tuntunan Rasulullah Mengambil Pelajaran Dari Perang Uhud ***Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.IdReferensi :http://www.asysyariah.com Penulis : Ustadz Qomar Suaidi Judul: Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dengan sedikit pengurangan dan penambahanWikipediaTafsir As-Sa’di, Dar Ibnul Jauzi (cetakan kelima)At-tauhid Awwalan ya Dua’tul Islam, karya Syeikh Muhamad bin Nashiruddin Al-albany (cetakan tahun 1999)Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim, karya Imam Alhafidz Ibnu Katsir🔍 Bacaan Shalat Jenazah Sesuai Sunnah, Hadits Tentang Rasulullah, Ipar Adalah, Kata Kata Manusia Bodoh, Panduan Ibu Hamil Dalam Islam

Memetik Pelajaran dari Pesan Nabi

بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah

Memetik Pelajaran dari Pesan Nabi

بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah
بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah


بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman
Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman


Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman

Jangan Pernah Melayani Perdebatan di Dunia Maya

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id

Jangan Pernah Melayani Perdebatan di Dunia Maya

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id


Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id

4 Nasihat untuk Penuntut Ilmu

Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh

4 Nasihat untuk Penuntut Ilmu

Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh
Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh


Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh

10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah

10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah

Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag. 1)

Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal

Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag. 1)

Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal
Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal


Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki
Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki


Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 10)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 10)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat
Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat


Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat

Peran Wanita Dalam Dakwah

Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut

Peran Wanita Dalam Dakwah

Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut
Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut


Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut

Program Tebar Qurban Tanah Air 1439 H / 2018 M

Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi

Program Tebar Qurban Tanah Air 1439 H / 2018 M

Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi
Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi


Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi

Mari Bantu Tebarkan Hewan Qurban ke Pelosok Indonesia Timur | 2016

Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj

Mari Bantu Tebarkan Hewan Qurban ke Pelosok Indonesia Timur | 2016

Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj
Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj


Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj
Prev     Next