Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya

Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw

Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya

Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw
Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw


Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw

7 Pertengkaran Para Penghuni Neraka yang Wajib Kita Ketahui

Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)

7 Pertengkaran Para Penghuni Neraka yang Wajib Kita Ketahui

Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)
Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)


Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)

Bahaya Misinformasi dalam Bidang Kesehatan dan Bagaimana Seorang Muslim Bersikap

Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id

Bahaya Misinformasi dalam Bidang Kesehatan dan Bagaimana Seorang Muslim Bersikap

Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id
Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id


Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id

Memetik Buah Amal

Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani

Memetik Buah Amal

Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani
Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani


Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani

Kaidah Rezeki: Jika Satu Pintu Rezeki Ditutup, Harus Yakin Masih Ada Pintu yang Lain

Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki

Kaidah Rezeki: Jika Satu Pintu Rezeki Ditutup, Harus Yakin Masih Ada Pintu yang Lain

Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki
Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki


Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki

Fenomena Mengemis Online

Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik

Fenomena Mengemis Online

Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik
Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik


Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik

Larangan Meminta-Minta Kepada Orang Lain

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id

Larangan Meminta-Minta Kepada Orang Lain

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id


Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id

Tauhid dan Terangkatnya Musibah

Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad

Tauhid dan Terangkatnya Musibah

Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad
Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad


Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad

Mencuri Adalah Dosa Besar

Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id

Mencuri Adalah Dosa Besar

Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id
Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id


Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  
Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  


Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ
Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ


Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ
Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ


Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  
Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  


Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ
Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ


Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ
Prev     Next