Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ
Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ


Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ
Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ


Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ
Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ


Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ

Tentang Qunut yang Mungkin Kamu Belum Tahu – Syaikh Hamid Akram al-Bukhari #NasehatUlama

Tentang Qunut yang Mungkin Kamu Belum Tahu – Syaikh Hamid Akram al-Bukhari #NasehatUlama Perbedaan pendapat dalam masalah ini; apakah qunut senantiasa disyariatkan atau hanya ketika ada musibah (nazilah), mayoritas ulama berpendapat bahwa qunut hanya disyariatkan ketika terjadi musibah. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa qunut dapat dilakukan kapan saja, dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- dan juga pendapat Imam Malik. Pendapat Imam Malik dan pendapat Imam asy-Syafi’i. Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan pada rakaat kedua dalam shalat subuh, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Akan tetapi perbedaan pendapat di antara Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i adalah apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan mengeraskan suara bacaan doanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan dalam shalat subuh pada rakaat kedua sebelum ruku’ dengan memelankan (suara) bacaan doanya. Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut hanya dilakukan pada shalat witir. Namun mereka berdua berbeda pendapat, apakah dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ seperti pendapat Imam Malik. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ seperti pendapat Imam asy-Syafi’i. Jadi, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku. Sedangkan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat witir. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat subuh. Jadi, ada berapa pendapat pada masalah ini? Ada empat pendapat, ada empat pendapat. Pertama, pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa qunut dilakukan pada shalat witir sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan pelan, bahkan qunut pada witir di shalat tarawih. Dengan memelankan (suara) bacaan doanya bahkan pada qunut witir di shalat tarawih. Kedua, pendapat Imam Malik yang memiliki kemiripan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’-dalam hal ini Imam Malik sependapat dengan Imam Abu Hanifah-, akan tetapi menurut Imam Malik, qunut dilakukan pada shalat subuh, dan dengan memelankan bacaan seperti pada madzhab Hanafiyah, dan qunut dalam madzhab ini dilakukan dengan bacaan pelan meski pada qunut shalat witir yang dilakukan secara berjamaah seperti pada shalat tarawih. Pendapat ketiga, yaitu pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan (suara) bacaan yang dikeraskan (jahr) dalam shalat subuh, seperti yang dilakukan para penduduk negara kalian (Indonesia) Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan yang dipelankan (sirr), meskipun pada shalat jamaah, sehingga imam shalat melakukan qunut sebelum ruku’ dengan bacaan yang pelan (sirr). Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Anak itu tidur… jangan tidur!! Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- yaitu, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdiika, wa nastaghfiruka wa natuubu ilaika wa nutsnii ‘alaikalkhoiro kullahu, dan seterusnya seperti yang kalian hafal. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh al-Hasan. al-Hasan bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan kepadaku… kemudian ia menyebutkan doa qunut: Allahummahdinaa fiiman hadaita… Allahummahdinaa fiiman hadaita… dst…” Dan kedua doa ini baik, kedua doa ini baik dan memiliki landasan riwayatnya. Baik, mungkin akan ada orang yang berkata, dalil qunut yang dilakukan setelah ruku’ telah kami ketahui, yang mana itu? Yang tadi telah kita sebutkan… Lalu mana dalil tentang qunut yang dilakukan sebelum ruku’? Maka jawabannya adalah hadits riwayat Anas dan riwayat Umar. Hadits riwayat Anas terdapat dalam kitab ash-Shahih, dan akan kita sebutkan. Dalam ash-Shahih disebutkan, Anas -radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya, “Apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’…” Kemudian dikatakan kepadanya.. Kamu berani tidur di depanku? Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku..’” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah (kadzaba)”. Kadzaba berarti ‘salah’ dalam bahasa penduduk Hijaz. Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut… Alhamdulillah… alhamdulillah… Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalakum.. Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut…” Alhamdulillah… amin.. Anas menjawab, “Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni Anas berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ pada saat terdapat musibah (nazilah) Sebagaimana Rasulullah juga melakukan qunut setelah ruku’ ketika berdoa untuk keburukan Bani Ra’i dan Bani Dzikwan yang telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Adapun selain qunut nazilah, maka dilakukan sebelum ruku’. Demikianlah pendapat Anas. Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’..” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah. Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni selain daripada itu, Rasulullah melakukan qunut sebelum ruku’. Kami menyebutkan masalah ini dengan terperinci untuk menjelaskan pendapat-pendapat para ulama dalam perkara ini. Karena sebagian penuntut ilmu mengingkari syariat melakukan qunut setelah ruku’, atau mengingkari syariat qunut subuh. Oh iya, aku lupa untuk menjelaskan dalam madzhab Malikiyah, mereka melakukan qunut dengan bacaan suara pelan (sirr). Bagaimana itu? Jika imam shalat telah sampai pada rakaat kedua dan selesai membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, Maka dia akan diam sejenak. Diam beberapa saat. Diam sejenak untuk membaca doa qunut; Allahumma innaa nasta’iinuka wa nastahdiika.. dan seterusnya. Dia membacanya dengan bacaan pelan. Demikianlah dalam madzhab al-Malikiyah. Oleh sebab itu, jika kamu shalat di belakang imam yang bermadzhab Maliki ketika kamu berada di Afrika atau Maroko, maka kamu dapat memperhatikan bahwa imam itu pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, kemudian dia diam sejenak. Mengapa dia diam sejenak? Karena dia ketika itu membaca doa qunut. Ketika itu dia membaca doa qunut. Kemudian membaca dengan pelan doa yang diriwayatkan Walid dari Umar -radhiyallahu ‘anhu-, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdika…dst. Jika imam telah selesai membaca doa qunut, dia mengucapkan ‘Allahu akbar’ kemudian melakukan ruku’. Adapun di negara yang bermadzhab asy-Syafi’iyah, seperti di Asia Tenggara, Mesir, dan negara lainnya yang tersebar madzhab Imam asy-Syafi’i; maka kalian akan mendapati mereka melakukan qunut.. Oh benar! Begitu pula di negara Yaman, terlebih lagi di kota Hadramaut- mereka akan membaca doa qunut dengan suara yang dikeraskan (jahr) Imam shalat mereka akan membaca doa qunut secara jahr setelah ruku’ pada rakaat kedua. Saya ulangi sekali lagi, mengapa saya menjelaskan permasalahan ini? Karena sebagian penuntut ilmu yang sempit wawasannya dan sedikit ilmunya, melakukan pengingkaran. Mengingkari orang yang melakukan qunut setelah ruku’, dan mengatakan bahwa itu adalah bid’ah. Apakah ada orang yang berpandangan seperti ini di sini? Apakah ada? Apakah ada wahai Abu Abdurrahman? Dia berpandangan bahwa itu adalah bid’ah. Ini merupakan suatu kebodohannya dan kesempitan wawasannya. Apakah kamu berani berkata bahwa Imam Malik adalah pelaku bid’ah? Apakah kamu berani berkata bahwa Imam asy-Syafi’i adalah pelaku bid’ah? Tidak. Kemudian ketahuilah, bahwa banyak dari umat ini yang melakukan qunut ini. Para penduduk kota Madinah, dahulu melakukan qunut seperti ini pada zaman Imam Malik. Sebagaimana yang kalian ketahui, bahwa amalan para penduduk kota Madinah dikategorikan sebagai dalil dalam madzhab Imam Malik, karena beliau berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan oleh banyak orang dari banyak orang, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah dalil. Ini adalah amalan penduduk kota Madinah pada zaman Imam Malik. Para guru beliau siapa saja mereka? Mereka adalah tabi’uttabi’in (generasi setelah tabi’in). Jika semua tabi’uttabi’in meriwayatkan tentang suatu amalan dari… Bukan, bukan. Imam Malik adalah tabi’uttabi’in. Siapa para guru Imam Malik? Mereka adalah para tabi’in. Maka jika semua tabi’in meriwayatkan suatu amalan tanpa ada perbedaan pendapat -dan mereka adalah para tabi’in yang ada di Madinah-, dari para guru mereka yaitu para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-; maka Imam Malik berpendapat bahwa amalan ini dapat dijadikan sebagai dalil. Dia berpendapat bahwa dalil ini lebih kuat daripada apa yang diriwayatkan satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Imam Malik berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan banyak orang dari banyak orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih diutamakan daripada apa yang diriwayatkan oleh satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Dan qunut ini adalah) amalan yang didapati oleh Imam Malik yang dilakukan oleh para tabi’in di Madinah yang mereka dapati dari para sahabat. Apakah kamu berani untuk berkata bahwa ini adalah perkara bid’ah? Selain itu, Imam asy-Syafi’i yang merupakan imam bagi para penduduk kota Makkah, Beliau mendapati tabi’uttabi’in mengamalkan qunut ini, dan para tabi’uttabi’in mendapati para tabi’in mengamalkan qunut ini, dan mereka mendapati para sahabat mengamalkannya. Maka dari itu wahai para saudaraku, semakin sempit wawasan seorang penuntut ilmu dan semakin sedikit ilmunya, maka pengingkarannya akan semakin banyak. Semakin sedikit ilmumu, maka kamu akan semakin banyak melakukan pengingkaran terhadap apa yang dilakukan orang lain, karena kamu hanya mengetahui satu pendapat saja, sehingga setiap pendapat yang menyelisihi pendapat itu akan kamu ingkari! Jadi sebabnya adalah karena kamu tidak mengetahui! Karena kamu jahil! Ketika kamu tidak mengetahui selain satu pendapat saja, maka kamu akan mengingkari orang yang menyelisihimu! Dengan mengatakan, “Itu perkara bid’ah dan menyelisihi sunnah!” Dan jika ditanya, mana yang sesuai sunnah? Maka akan dijawab, sunnah adalah yang aku lakukan! Apa yang aku lakukan adalah sunnah, sedangkan yang menyelisihi aku adalah bid’ah! Maka semakin bertambah ilmumu, maka akan semakin luas wawasanmu dan kamu akan mengetahui bahwa dahulu para sahabat saling berbeda pendapat, akan tetapi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengikrarkan dan memaklumi perbedaan mereka. Beliau pernah bersabda, “Janganlah ada dari kalian yang shalat ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.” Dan apakah para sahabat berbeda pendapat tentang pelaksanaan perintah Rasulullah tersebut? Mereka berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan, “Rasulullah tidak bermaksud agar kita mendirikan shalat ashar setelah waktunya habis; namun beliau menginginkan agar kita bergegas untuk pergi ke tempat Bani Quraizhah.” Maka merekapun shalat di tengah perjalanan. Sedangkan para sahabat yang lain berpendapat, “Kita tidak akan mendirikan shalat ashar kecuali setelah sampai di tempat Bani Quraizhah.” Sehingga mereka mendirikan shalat ashar di sana setelah shalat maghrib. Ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- datang dan para sahabat menjelaskan perselisihan mereka, beliau meridhai kedua belah pihak, tanpa mengingkari salah satu dari mereka. Beliau tidak berkata kepada satu pihak, “Kalian salah” atau berkata kepada pihak yang lain “Kalian salah”. Suatu hari dua orang sahabat melakukan safar.. Kemudian kehabisan air, sehingga mereka bertayammum dan mendirikan shalat. Namun setelah itu mereka menemukan air saat waktu shalat masih tersisa. Salah satu dari mereka berwudhu dengan air itu kemudian berkata, “Waktu shalat masih ada, maka mari kita mengulangi shalat tadi.” Temannya itu menjawab, “Kita tidak perlu mengulangi shalat; mengapa kita harus mengulangi shalat, kita telah melakukan sesuai apa yang diperintahkan. Allah memerintahkan kita bertayammum jika tidak memiliki air, dan kita telah melakukan perintah Allah ini. Aku tidak akan mengulangi shalatku.” Sedangkan temannya mengulangi shalatnya. Ketika mereka telah pulang, mereka mendatangi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menceritakan apa yang mereka perselisihkan. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalat, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Kemudian beliau bersabda kepada orang yang mengulangi shalatnya, “Bagimu dua pahala shalat.” Apakah Rasulullah mengingkari mereka berdua? Tidak. Atau apakah Rasulullah mengingkari salah satu dari mereka? Tidak. Minuman ini memakai gula atau madu? Madu? Bagus. Beliau bersabda, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lain, “Bagimu dua pahala shalat.” Rasulullah tidak mengingkari apa yang telah mereka berdua lakukan. Jika kamu membaca kitab al-Mushannaf yang ditulis Ibnu Abi Syaibah yang merupakan kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-. Kami telah membacanya atau membaca sebagian besarnya, yaitu 12 jilidnya atau setengahnya. Kami membacanya di hadapan syeikh kami, asy-Syeikh al-Arkaniy -rahimahullah wa ghafara lahu-, ketika kami sampai pada jilid ke-12, beliau wafat. Beliau adalah teman seperguruan dengan syeikh kita ini; karena asy-Syeikh telah membaca Shahih Muslim pada al-Bilyawi, dan asy-Syeikh al-Arkaniy juga membaca Shahih Muslim pada asy-Syeikh al-Bilyawi dan membaca Shahih al-Bukhari pada Husain Ahmad al-Madaniy -rahimahullah-. Ketika kami membaca pada beliau kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, kami mendapati hal menakjubkan di dalamnya.. Sebagaimana telah saya katakan, Ibnu Abi Syaibah telah menulis kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat, sehingga kamu akan mendapati Ibnu Abi Syaibah menyebutkan fatwa-fatwa para sahabat dengan sanadnya, dan hampir tidak ada satupun permasalahan melainkan para sahabat memiliki pendapat yang berbeda-beda di dalamnya. Satu sahabat mengamalkan suatu pendapat, dan sahabat yang lain mengamalkan pendapat yang berbeda.. Padahal mereka semua tinggal di satu negeri, namun sahabat yang satu memaklumi perbedaan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak menyalahkan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak mengingkari sahabat yang lain, dan begitu pula sebaliknya.. Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan itulah yang dilakukan oleh para tabi’in dan yang dilakukan para tabi’uttabi’in. Sehingga inilah sikap para salaf dalam menyikapi perbedaan di antara mereka Kemudian kamu datang dengan berkata, “Perkara ini bid’ah!”. Padahal mereka memiliki dalil, baik itu dalam hal qunut yang terikat dengan waktu tertentu atau secara mutlak. Akan tetapi, bagaimanapun Rasulullah juga pernah melakukan qunut subuh.. Sehingga mereka memiliki dalil dalam hal ini.. Kemudian kamu datang dan berkata, “Perkara ini bid’ah!” Sungguh yang seperti ini tidak layak dilakukan, kerena itu menunjukkan bahwa kamu adalah orang bodoh. Dikisahkan bahwa al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi -Tidak mengapa aku keluar sedikit dari pembahasan, dan nanti kita kembali lagi- Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi; kalian mengetahuinya? Dia adalah ulama yang menetapkan kaidah-kaidah buhur asy-Syi’ri (kaidah penetapan nada pada syair arab). Kalian mengetahui buhur asy-Syi’ri? Kalian mempelajari ilmu ‘arudh atau tidak? Tidak? Kalau begitu bagaimana kalian akan membuat syair arab? Kalian tidak dapat membuat syair arab? Tidak juga. Lalu apakah kalian dapat menikmati indahnya syair arab? Bahkan untuk merasakan keindahannya pun tidak? Kalau begitu kalian tidak mengetahui bahasa arab! Kalian harus mempelajari bahasa arab Aku sampaikan ini bukan karena bertasa’assub kepada orang arab, bukan wahai saudaraku.. Akan tetapi al-Qur’an berbahasa arab, Nabi kita orang arab -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan hadits Nabi berbahasa arab.. Kamu tidak akan dapat memahami al-Qur’an dan as-Sunnah kecuali dengan bahasa arab.. Kitab-kitab ilmu seluruhnya atau mayoritasnya berbahasa arab.. Kitab-kitab penjelasan hadits-hadits, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tafsir, semuanya berbahasa arab. Jika kamu tidak memahami bahasa arab, maka bagaimana kalian akan memahami dan membaca kitab-kitab itu? Ala kulli hal, al-Khalil bin Ahmad adalah orang yang meletakkan kaidah buhur asy-syi’ri.. Karena pada awalnya orang arab dapat membuat syair dan mengetahui nadanya tanpa membutuhkan kaidah, sebagaimana mereka dapat berbicara tanpa mengalami kesalahan. Namun ketika orang-orang selain arab masuk Islam, mereka merusak bahasa orang arab; maka para ulama merasa perlu untuk meletakkan kaidah bahasa arab.. Maka dibuatlah kaidah nahwu dan sharaf; dan demikian pula dengan buhur asy-Syi’ri. Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi suatu hari duduk di rumahnya untuk meletakkan kaidah buhur asy-Syi’ri dan memotong-motong kalimat pada syair. Kemudian anaknya masuk menghampirinya. Dan anaknya adalah orang yang jahil dan tidak berilmu. Anaknya masuk dan mendapati ayahnya di dalam ruangan dengan mengulang-ulang kalimat ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ Dan kalimat ini merupakan salah satu nada pada syair arab. Anaknya melihat padanya dengan penuh kekhawatiran, sehingga ia pergi menemui ibunya seraya berkata, “Wahai Ibuku, tolonglah ayah, sepertinya dia sudah gila, dia duduk sendirian dan mengulang-ulang, ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ dia telah gila, maka tolonglah dia wahai Ibu..” Al-Khalil mendengar ucapan anaknya, sehingga ia berkata kepadanya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu…” Makna “عَذَرْتَنِيْ” yakni memaklumi, sedangkan makna “عَذَلْتَنِيْ” yakni mencela. Al-Khalil berkata kepada anaknya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu.” Yakni niscaya aku akan mengolok dan menghukummu karena telah mengatakan ayahmu menjadi gila. “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu. Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” Demikianlah orang yang bodoh; dia akan menganggap orang berakal sebagai orang gila. Maka jika ada orang bodoh yang tidak mengetahui dalam suatu permasalahan fiqih kecuali satu pendapat, kemudian mendapati ada orang yang menyelisihinya; niscaya dia akan mengingkarinya. Dia akan berkata, “Yang dia lakukan itu menyelisihi sunnah!” Padahal hal itu tidak menyelisihi sunnah, namun menyelisihi akalmu saja.. Oleh sebab itu wahai saudaraku, semakin bertambah ilmu seseorang maka wawasannya akan semakin luas dan pengingkarannya akan semakin sedikit. Semakin luas wawasanmu, maka pengingkaranmu terhadap orang lain akan semakin sedikit.. Kamu tidak lagi banyak mengingkari, karena mengetahui bahwa suatu pendapat itu bersumber dari para salaf, dan pendapat lain juga bersumber dari para salaf. Kedua pendapat bersumber dari para salaf. Pendapat ini memiliki dalil, dan pendapat lain juga memiliki dalil. Dan keduanya akan mendapat pahala -biidznillah ‘Azza wa Jalla- Oleh sebab itu, tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, karena ilmu akan mengangkat kebodohan, dan jika kebodohan telah diangkat dari seseorang, maka pengingkarannya terhadap orang lain akan menjadi sedikit. Wallahu Ta’ala a’lam.. === وَخِلَافُهُ هَلِ الْقُنُوْتُ بَاقٍ أَوْ أَنَّهُ كَانَ فَقَطْ لِلنَّوَازِلِ فّأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا الْقُنُوْتَ كَانَ لِلنَّوَازِلِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يَرَى أَنَّ هَذَا مُطْلَقٌ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَقَوْلُ مَالِكٍ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ إِذْ أَنَّ مَالِكاً وَالشَّافِعِيَّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا ذَهَبَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ لَكِنَّ الْخِلَافَ بَيْنَهُمَا هَلْ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْراً كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ لَكِنَّهُمَا اخْتَلَفَ هَلْ هُوَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ كَمَالِكٍ وَذَهَبَ أَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الرُّكُوْعَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ كَالشَّافِعِيِّ إِذًا ذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيْفَةَ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْفَجْرِ إِذًا كَمْ قَوْلًا صَارَ عِنْدَنَا؟ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ الأَوَّلُ قَوْلُ الإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ الْقَوْلُ الثَّانِيْ قَوْلُ مَالِكٍ مِثْلَ أَبِي حَنِيْفَةَ فِي جَانِبٍ وَهُوَ أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَافَقَ الإِمَامَ أَبِي حَنِيْفَةَ لَكِنَّهُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَسِرًّا كَالْحَنَفِيَّةِ الْقُنُوْتُ عِنْدَهُمْ سِرًّا حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَتْ حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَ الْوِتْرُ جَمَاعَةً كَالتَّرَاوِيْحِ سِرًّا الْقَوْلُ الثَّالِثُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْرًا فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ بِلَادِكُمْ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى لَوْ كَانَتْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ يَقْنُتُ الْإِمَامُ سِرًّا قَبْلَ الرُّكُوُعِ وَأَخَذَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَمَالِكٌ بِقُنُوْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ نَامَ الْغُلَيِّمُ لَا تَنَمْ أَخَذَ مَالِكٌ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ بِقُنُوْتِ عُمَرَ وَهُوَ اللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ الدُّعَاءُ تَحْفَظُوْنَهُ وَأَخَذَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بِقُنُوْتِ الْحَسَنِ الحَسَنِ ابْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الَّذِيْ قَالَ عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ذَكَرَ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ وَهُوَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ كُلُّهُ وَارِدٌ طَيِّبٌ قَدْ يَقُوْلُ قَائِلٌ دَلِيْلُ الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ عَرَفْنَاهَا أَيْنَ هُو؟ هَذَا أَيْنَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْقُنُوْتِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ؟ نَقُوْلُ حَدِيْثُ أَنَسٍ وَحَدِيْثُ عُمَرَ حَدِيْثُ أَنَسٍ فِي الصَّحِيْحِ سَيَأْتِيْ مَعَنَا فِي الصَّحِيْحِ سُئِلَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَلِ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ فَقِيْلَ لَهُ تَنَامُ أَنْتَ أَمَامِيْ قَالَ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَاناً يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ كَذَبَ يَعْنِي أَخْطَأَ بِلُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ الْحَمْدُ للهِ آمِيْن قَالَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْراً يَعْنِيْ كَانَ يَرَى أَنَسٌ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ لِلنَّوَازِلِ كَمَا قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ حِيْنَ دَعَا عَلَى رَعْلٍ وَذِكْوَانَ عُصَيَّة عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أَمَّا لِغَيْرِ النَّوَازِلِ فَالْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ هَكَذَا يَرَى أَنَسٌ قَالَ قِيْلَ لَهُ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْرًا يَعْنِيْ فِي غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ قُنُوْتُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ ذَكَرْنَا هَذَا التَّفْصِيْلَ لِنُبَيِّنَ أَقْوَالَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمَسْأَلَةِ فَإِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ أَوْ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ فَجْرًا نَعَمْ نَسِيْتُ أَنْ أَقُوْلَ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يَقْنُتُوْنَ سِرًّا… كَيْفَ؟ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ إِذَا انْتَهَى مِنَ الْفَاتِحَةِ وَانْتَهَى مِنَ السُّوْرَةِ يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَعْنِيْ لَحْظَةً وَيَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ يَقْرَأُهُ سِرًّا هَكَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَلِذَلِكَ إِذَا صَلَّيْتَ خَلْفَ مَالِكِيٍّ إِذَا كُنْتَ فِي إِفْرِيْقِيَا أَوْ فِي الْمَغْرِبِ تُلَاحِظُ هَذَا الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثُمَّ يَقْرَأُ السُّوْرَةَ وَيَسْكُتُ لِمَاذَا يَسْكُتُ؟ لِأَنَّهُ الْآنَ هُوَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ هُوَ الْآنَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ عَنْ وَالِد عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ سِرًّا فَإَذَا انْتَهَى قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ وَفِي الْبِلَادِ الشَّافِعِيَّةِ كَجَنُوْبِ شَرْقِ آسِيَا وَفِيْ مِصْرَ وَفِي الْبِلَادِ الَّتِي يَنْتَشِرُ فِيْهَا مَذْهَبُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ تَجِدُوْنَهُ يَقْنُتُوْنَ فِي الْيَمَنِ كَذَلِكَ خَاصَّةً فِي حَضْرَمَوْت يَقْنُتُوْنَ جَهْرًا الْإِمَامُ يَقْنُتُ جَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ أَعُوْدُ فَأَقُوْلُ لِمَاذَا أَنَا أَقُوْلُ هَذَا لِأَنَّ بَعْضَ مَنْ ضَاقَ أُفُقُهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَقَلَّ عِلْمُهُ يُنْكِرُ يُنْكِرُ عَلَى مَنْ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ يُوْجَدُ هَذَا يُوْجَدُ عِنْدَكُمْ يُوْجَدُ يُوْجَدُ أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ هَذَا جَهْلٌ مِنْهُ وَضِيْقُ أُفُقٍ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنْ مَالِكاً مُبْتَدِعٌ؟ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ مُبْتَدِعٌ؟ لَا ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ كَانَتْ تَفْعَلُ ذَلِكَ مِنَ الْأُمَّةِ جَمَاعَاتٌ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي زَمَنٍ فِي زَمَنِ مَالِكٍ وَتَعْلَمُوْنَ عَمَلَ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْدَ مَالِكٍ حُجَّةٌ لِأَنَّهُ يَرَى مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَّةٌ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فِي زَمَنِهِ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ فَإِذَا نَقَلَ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ كُلُّهُمْ عَمَلاً عَنْ لَا لَيْسَ هُوَ مِنْ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ التَّابِعُوْنَ فَإِذَا كَانَ التَّابِعُوْنَ كُلُّهُمْ نَقَلُوْا عَمَلاً بِاتِّفَاقِ وَهُمْ تَابِعُوْا أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْ شُيُوْخِهِمْ وَهُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَالِكاً يَرَى هَذَا حُجَّةٌ يَقُوْلُ هَذَا أَقْوَى مِنْ أَنْ يَقُوْلَهُ وَاحِدٌ عَنْ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَالِكٌ يُقَدَّمُ عَلَى مَا نَقَلَهُ الْوَاحِدُ عَنِ الْوَاحِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَلٌ أَدْرَكَ الْإِمَامُ مَالِكٌ التَّابِعِيْنَ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي الْمَدِيْنَةِ وَيَرْفَعُوْنَهُ إِلَى الصَّحَابَةِ تَجْرُأُ أَنْتَ أَنْ تَقُوْلَ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ ثُمَّ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ إِمَامُ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَدْرَكَ أَتْبَاعَ التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوْا التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوا الصَّحَابَةَ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ضَاقَ أُفُقُ الطَّالِبِ وَقَلَّ عِلْمُهُ كَثُرَ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا قَلَّ عِلْمُكَ كَثُرَ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ لِأَنَّكَ لَا تَعْرِفُ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا فَكُلُّ قَوْلٍ يُخَالِفُ هَذَا الْقَوْلَ تُنْكِرُهُ وَالسَّبَبُ مَا هُوَ أَنَّكَ جَاهِلٌ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَلَمَّا كُنْتَ جَاهِلًا لَا تَعْرِفُ إِلَّا إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا تُنْكِرُ عَلَى الْمُخَالِفِ تَقُوْلُ هَذَا مُبْتَدِعٌ خَالَفَ السُّنَّةَ أَيْنَ السُّنَّةُ؟ السُّنَّةُ مَا أَنَا عَلَيْهِ مَا أَنَا عَلَيْهِ سُنَّةٌ وَمَا خَالَفَنِيْ بِدْعَةٌ وَكُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ كُلَّمَا زَادَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُكَ اِتَّسَعَ أُفُقُكَ وَعَلِمْتَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَخْتَلِفُوْنَ وَالنَّبِيُّ يُقِرُّهُمْ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِلَافِهِمْ قَالَ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ اِخْتَلَفُوْا فِي تَطْبِيْقِ الْأَمْرِ؟ اخْتَلَفُوْا بَعْضُهُمْ قَالُوْا هُوَ مَا أَدْرَكَ مَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُخْرِجَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا إِنَّمَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُسْرِعَ فَصَلُّوْا فِي الطَّرِيْقِ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا نُصَلِّيْ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ فَيُصَلُّوْا الْعَصْرَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَرَضُوْا عَلَيْهِ أَقَرَّ الْفَرِيْقَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدٍ مَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ وَلَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ خَرَجَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَفَقَدُوْا الْمَاءَ فَتَيَمَّمُوْا وَصَلُّوْا فَتَيَمَّمَا وَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَتَوَضَّأَ قَالَ الْوَقْتُ بَاقٍ نُعِيْدُ الصَّلَاةَ فَقَالَ الْآخَرُ مَا نُعِيْدُ لِأَيْ شَيْءٍ نُعِيْدُ نَحْنُ أُمِرْنَا فَامْتَثَلْنَا اللهُ أَمَرَنَا قَالَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوا فَامْتَثَلْنَا مَا أُعِيْدُ الثَّانِي أَعَادَ عَادُوْا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْبَرُوْهُ فَقَالَ لِلَّذِيْ لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِيْ أَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ أَنْكَرَ عَلَيْهِمَا؟ لَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا؟ لَا هَذَا فِيْهِ سُكَّرٌ أَوْ عَسَلٌ؟ عَسَلٌ جَيِّدٌ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَقَالَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ قَالَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا وَلَوْ قَرَأْتَ الْمُصَنَّفَ لِابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَهَذَا كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانٌ عَظِيْمٌ جَمَعَ فِقْهَ الصَّحَابَةِ فِقْهَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَرَأْنَاهُ أَوْ قَرَأْنَا أَكْثَرَهُ اِثْنَيْ عَشَرَ مُجَلَّدًا مِنْهُ يَعْنِيْ نِصْفَهُ عَلَى شَيْخِنَا الشَّيْخِ رَحْمَةِ اللهِ الْأَرْكَانِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَغَفَرَ لَهُ وَنَحْنُ فِي الْمُجَلَّدِ الثَّانِيْ عَشَرَ تُوُفِّيَ وَهُوَ مِنْ أَقْرَانِ شَيْخِنَا مِنْ أَقْرَانِ الشَّيْخِ كَمَا أَنَّ الشَّيْخَ قَرَأَ مُسْلِماً عَلَى الْبِلْيَاوِيْ هُوَ قَرَأَ عَلَى الْبِلْيَاوِيْ مُسْلِماً وَقَرَأَ الْبُخَارِيَّ عَلَى حُسَيْنِ أَحْمَدَ الْمَدَنِيِّ رَحِمَهُ اللهُ فَلَمَّا قَرَأْنَا عَلَيْهِ مُصَنَّفَ ابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَجَدْنَا عَجَبًا كَمَا قُلْتُ مُصَنَّفَ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانُ فِقْهِ الصَّحَابَةِ فَتَجِدُ ابْنَ أَبِيْ شَيْبَةَ يَذْكُرُ بِأَسَانِيْدِهِ فَتَاوَى الصَّحَابَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ مَسْأَلَةً إِلَّا وَلِلصَّحَابَةِ فِيْهَا أَقْوَالٌ هَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَهَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَكُلٌّ فِيْ مَكَانٍ وَاحِدٍ هَذَا يَعْذُرُ هَذَا وَهَذَا يَعْذُرُ هَذَا هَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا وَهَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا هَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ وَهَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ هَذَا فِعلُ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا فِعْلُ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ وَهَذَا فِعْلُ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ فَأَمْرٌ دَرَجَ عَلَيْهِ السَّلَفُ 1تَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ وَلَهُمْ أَدِلَّةٌ سَوَاءً كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ أَوْ مُطْلَقَةً لَكِنْ قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْفَجْرِ لَهُمْ أَدِلَّةٌ فَتَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ؟ مَا يَنْبَغِيْ هَذَا، هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّكَ جَاهِلٌ قَالُوْا أَنَّ الْخَلِيْلَ بْنَ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ مَعْلَيْش أَخْرُجُ قَلِيْلاً مِنَ الْمَوْضُوْعِ ثُمَّ أَرْجِعُ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ تَعْرِفُوْنَهُ؟ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الْعِلْمِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ تَعْرِفُوْنَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ؟ دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ أَوْ مَا دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ؟ مَا دَرَسْتُمْ عِلْمَ الْعَرُوْضِ كَيْفَ تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ إِذًا؟ أَوْ لَا تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ؟ طَيِّبٌ مَا تَقُوْلُوْنَ. تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ حَتَّى ….. مَا تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ مَا عَرَفْتُمُ الْعَرَبِيَّةَ إِذًا لَا بُدَّ أَنْ تَتَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ لَيْسَ تَعَصُّبًا لِلْعَرَبِ يَا إِخْوَانُ لَكِنَّ اْلقُرْآنَ عَرَبِيٌّ وَنَبِيَّنَا عَرَبِيٌّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَدِيْثَ عَرَبِيٌّ وَأَنْتَ لَنْ تَفْهَمَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ إِلَّا بِلُغَةِ الْعَرَبِ وَكُتُبُ الْعِلْمِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ أَوْ جُلُّهَا أَوْ أَكْثَرُهَا كُتُبُ شُرُوْحِ الْأَحَادِيْثِ كُتُبُ الْفِقْهِ كُتُبُ التَّفْسِيْرِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَأَنْتَ إِذَا كُنْتَ لَا تَعْرِفُ الْعَرَبِيَّةَ كَيْفَ تَفْهَمُ هَذِهِ؟ كَيْفَ تَقْرَأُهَا؟ الْمُهِمُّ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ هَذَا هُوَ وَاضِعُ بُحُوْرِ الشِّعْرِ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَقُوْلُ شِعْرًا لَكِنْ تَقُوْلُهَا وَتَعْرِفُ بُحُوْرَهَا دُوْنَ قَوَاعِدَ كَمَا أَنَّهَا تَتَكَلَّمُ دُوْنَ أَنْ تَلْحَنَ فَلَمَّا دَخَلَ أَعَاجِمُ وَأَفْسَدُوْا لُغَةَ الْعَرَبِ اِحْتَاجَ الْعُلَمَاءُ إِلَى وَضْعِ قَوَاعِدَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَجُمِعَتْ قَوَاعِدَ النَّحْوِ وَالصَّرْفِ هَكَذَا بُحُوْرُ الشِّعْرِ فَكَانَ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيّ يَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَضَعُ بُحُوْرَ الشِّعْرِ وَيُقَيِّدُهَا وَيُقَطِّعُ الشِّعْرَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ ابْنُهُ وَكَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ كَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ أَبْلَةٌ دَخَلَ فَوَجَدَ أَبَاهُ فِيْ غُرْفَةٍ وَهُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ هَذِهِ مِنْ بُحُوْرِ الشِّعْرِ مُتفَاعِلٌ نَظَرَ إِلَى أَبِيْهِ خَافَ عَلَيْهِ ذَهَبَ إِلَى أُمِّهِ قَالَ يَا أُمَّاه أَدْرِكِيْ أَبِيْ فَقَدْ جُنَّ جَالِسٌ وَحْدَهُ يُكَلِّمُ نَفْسَهُ هُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ جُنَّ أَبِيْ أَدْرِكِيْهِ سَمِعَ أَبُوْهُ فَقَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ عَذَلْتُكَ لُمْتُكَ عَذَرْتَنِيْ يَعْنِيْ تَعْذُرُنِيْ مِنَ الْعُذْرِ وَعَذَلْتَنِيْ مِنَ اللَّوْمِ قَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ يَعْنِيْ لُمْتُكَ وَعَاقَبْتُكَ لِأَنَّكَ تَقُوْلُ عَلَى أَبِيْكَ مَجْنُوْنٌ كُنْتُ عَاقَبْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ هَكَذَا الْجَاهِلُ يَرَى الْعَاقِلَ مَجْنُوْنًا فَإِذَا رَأَى الْجَاهِلُ الَّذِيْ لَا يَعْرِفُ فِي الْفِقْهِ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا وَوَجَد مَنْ يُخَالِفُهُ أَنْكَرَ عَلَيْهِ أَنْكَرَ عَلَيْهِ يَقُوْلُ هَذَا خِلَافُ السُّنَّةِ لَيْسَ خِلَافَ السُّنَّةِ خِلَافُ عَقْلِكَ فَقَطْ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ازْدَادَ عِلْمُ الْإِنْسَانِ اِتَّسَعَ أُفُقُهُ وَقَلَّ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ قَلَّ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ مَا تُنْكِرُ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ وَهَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ هَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ اطْلُبُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَرْفَعُ الْجَهْلَ فَإِذَا رُفِعَ عَنِ الْإِنْسَانِ الْجَهْلُ قَلَّ إِنْكَارُهُ عَلَى غَيْرِهِ وَاللهُ أَعْلَمُ نَعَمْ      

Tentang Qunut yang Mungkin Kamu Belum Tahu – Syaikh Hamid Akram al-Bukhari #NasehatUlama

Tentang Qunut yang Mungkin Kamu Belum Tahu – Syaikh Hamid Akram al-Bukhari #NasehatUlama Perbedaan pendapat dalam masalah ini; apakah qunut senantiasa disyariatkan atau hanya ketika ada musibah (nazilah), mayoritas ulama berpendapat bahwa qunut hanya disyariatkan ketika terjadi musibah. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa qunut dapat dilakukan kapan saja, dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- dan juga pendapat Imam Malik. Pendapat Imam Malik dan pendapat Imam asy-Syafi’i. Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan pada rakaat kedua dalam shalat subuh, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Akan tetapi perbedaan pendapat di antara Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i adalah apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan mengeraskan suara bacaan doanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan dalam shalat subuh pada rakaat kedua sebelum ruku’ dengan memelankan (suara) bacaan doanya. Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut hanya dilakukan pada shalat witir. Namun mereka berdua berbeda pendapat, apakah dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ seperti pendapat Imam Malik. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ seperti pendapat Imam asy-Syafi’i. Jadi, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku. Sedangkan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat witir. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat subuh. Jadi, ada berapa pendapat pada masalah ini? Ada empat pendapat, ada empat pendapat. Pertama, pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa qunut dilakukan pada shalat witir sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan pelan, bahkan qunut pada witir di shalat tarawih. Dengan memelankan (suara) bacaan doanya bahkan pada qunut witir di shalat tarawih. Kedua, pendapat Imam Malik yang memiliki kemiripan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’-dalam hal ini Imam Malik sependapat dengan Imam Abu Hanifah-, akan tetapi menurut Imam Malik, qunut dilakukan pada shalat subuh, dan dengan memelankan bacaan seperti pada madzhab Hanafiyah, dan qunut dalam madzhab ini dilakukan dengan bacaan pelan meski pada qunut shalat witir yang dilakukan secara berjamaah seperti pada shalat tarawih. Pendapat ketiga, yaitu pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan (suara) bacaan yang dikeraskan (jahr) dalam shalat subuh, seperti yang dilakukan para penduduk negara kalian (Indonesia) Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan yang dipelankan (sirr), meskipun pada shalat jamaah, sehingga imam shalat melakukan qunut sebelum ruku’ dengan bacaan yang pelan (sirr). Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Anak itu tidur… jangan tidur!! Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- yaitu, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdiika, wa nastaghfiruka wa natuubu ilaika wa nutsnii ‘alaikalkhoiro kullahu, dan seterusnya seperti yang kalian hafal. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh al-Hasan. al-Hasan bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan kepadaku… kemudian ia menyebutkan doa qunut: Allahummahdinaa fiiman hadaita… Allahummahdinaa fiiman hadaita… dst…” Dan kedua doa ini baik, kedua doa ini baik dan memiliki landasan riwayatnya. Baik, mungkin akan ada orang yang berkata, dalil qunut yang dilakukan setelah ruku’ telah kami ketahui, yang mana itu? Yang tadi telah kita sebutkan… Lalu mana dalil tentang qunut yang dilakukan sebelum ruku’? Maka jawabannya adalah hadits riwayat Anas dan riwayat Umar. Hadits riwayat Anas terdapat dalam kitab ash-Shahih, dan akan kita sebutkan. Dalam ash-Shahih disebutkan, Anas -radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya, “Apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’…” Kemudian dikatakan kepadanya.. Kamu berani tidur di depanku? Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku..’” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah (kadzaba)”. Kadzaba berarti ‘salah’ dalam bahasa penduduk Hijaz. Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut… Alhamdulillah… alhamdulillah… Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalakum.. Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut…” Alhamdulillah… amin.. Anas menjawab, “Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni Anas berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ pada saat terdapat musibah (nazilah) Sebagaimana Rasulullah juga melakukan qunut setelah ruku’ ketika berdoa untuk keburukan Bani Ra’i dan Bani Dzikwan yang telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Adapun selain qunut nazilah, maka dilakukan sebelum ruku’. Demikianlah pendapat Anas. Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’..” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah. Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni selain daripada itu, Rasulullah melakukan qunut sebelum ruku’. Kami menyebutkan masalah ini dengan terperinci untuk menjelaskan pendapat-pendapat para ulama dalam perkara ini. Karena sebagian penuntut ilmu mengingkari syariat melakukan qunut setelah ruku’, atau mengingkari syariat qunut subuh. Oh iya, aku lupa untuk menjelaskan dalam madzhab Malikiyah, mereka melakukan qunut dengan bacaan suara pelan (sirr). Bagaimana itu? Jika imam shalat telah sampai pada rakaat kedua dan selesai membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, Maka dia akan diam sejenak. Diam beberapa saat. Diam sejenak untuk membaca doa qunut; Allahumma innaa nasta’iinuka wa nastahdiika.. dan seterusnya. Dia membacanya dengan bacaan pelan. Demikianlah dalam madzhab al-Malikiyah. Oleh sebab itu, jika kamu shalat di belakang imam yang bermadzhab Maliki ketika kamu berada di Afrika atau Maroko, maka kamu dapat memperhatikan bahwa imam itu pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, kemudian dia diam sejenak. Mengapa dia diam sejenak? Karena dia ketika itu membaca doa qunut. Ketika itu dia membaca doa qunut. Kemudian membaca dengan pelan doa yang diriwayatkan Walid dari Umar -radhiyallahu ‘anhu-, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdika…dst. Jika imam telah selesai membaca doa qunut, dia mengucapkan ‘Allahu akbar’ kemudian melakukan ruku’. Adapun di negara yang bermadzhab asy-Syafi’iyah, seperti di Asia Tenggara, Mesir, dan negara lainnya yang tersebar madzhab Imam asy-Syafi’i; maka kalian akan mendapati mereka melakukan qunut.. Oh benar! Begitu pula di negara Yaman, terlebih lagi di kota Hadramaut- mereka akan membaca doa qunut dengan suara yang dikeraskan (jahr) Imam shalat mereka akan membaca doa qunut secara jahr setelah ruku’ pada rakaat kedua. Saya ulangi sekali lagi, mengapa saya menjelaskan permasalahan ini? Karena sebagian penuntut ilmu yang sempit wawasannya dan sedikit ilmunya, melakukan pengingkaran. Mengingkari orang yang melakukan qunut setelah ruku’, dan mengatakan bahwa itu adalah bid’ah. Apakah ada orang yang berpandangan seperti ini di sini? Apakah ada? Apakah ada wahai Abu Abdurrahman? Dia berpandangan bahwa itu adalah bid’ah. Ini merupakan suatu kebodohannya dan kesempitan wawasannya. Apakah kamu berani berkata bahwa Imam Malik adalah pelaku bid’ah? Apakah kamu berani berkata bahwa Imam asy-Syafi’i adalah pelaku bid’ah? Tidak. Kemudian ketahuilah, bahwa banyak dari umat ini yang melakukan qunut ini. Para penduduk kota Madinah, dahulu melakukan qunut seperti ini pada zaman Imam Malik. Sebagaimana yang kalian ketahui, bahwa amalan para penduduk kota Madinah dikategorikan sebagai dalil dalam madzhab Imam Malik, karena beliau berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan oleh banyak orang dari banyak orang, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah dalil. Ini adalah amalan penduduk kota Madinah pada zaman Imam Malik. Para guru beliau siapa saja mereka? Mereka adalah tabi’uttabi’in (generasi setelah tabi’in). Jika semua tabi’uttabi’in meriwayatkan tentang suatu amalan dari… Bukan, bukan. Imam Malik adalah tabi’uttabi’in. Siapa para guru Imam Malik? Mereka adalah para tabi’in. Maka jika semua tabi’in meriwayatkan suatu amalan tanpa ada perbedaan pendapat -dan mereka adalah para tabi’in yang ada di Madinah-, dari para guru mereka yaitu para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-; maka Imam Malik berpendapat bahwa amalan ini dapat dijadikan sebagai dalil. Dia berpendapat bahwa dalil ini lebih kuat daripada apa yang diriwayatkan satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Imam Malik berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan banyak orang dari banyak orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih diutamakan daripada apa yang diriwayatkan oleh satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Dan qunut ini adalah) amalan yang didapati oleh Imam Malik yang dilakukan oleh para tabi’in di Madinah yang mereka dapati dari para sahabat. Apakah kamu berani untuk berkata bahwa ini adalah perkara bid’ah? Selain itu, Imam asy-Syafi’i yang merupakan imam bagi para penduduk kota Makkah, Beliau mendapati tabi’uttabi’in mengamalkan qunut ini, dan para tabi’uttabi’in mendapati para tabi’in mengamalkan qunut ini, dan mereka mendapati para sahabat mengamalkannya. Maka dari itu wahai para saudaraku, semakin sempit wawasan seorang penuntut ilmu dan semakin sedikit ilmunya, maka pengingkarannya akan semakin banyak. Semakin sedikit ilmumu, maka kamu akan semakin banyak melakukan pengingkaran terhadap apa yang dilakukan orang lain, karena kamu hanya mengetahui satu pendapat saja, sehingga setiap pendapat yang menyelisihi pendapat itu akan kamu ingkari! Jadi sebabnya adalah karena kamu tidak mengetahui! Karena kamu jahil! Ketika kamu tidak mengetahui selain satu pendapat saja, maka kamu akan mengingkari orang yang menyelisihimu! Dengan mengatakan, “Itu perkara bid’ah dan menyelisihi sunnah!” Dan jika ditanya, mana yang sesuai sunnah? Maka akan dijawab, sunnah adalah yang aku lakukan! Apa yang aku lakukan adalah sunnah, sedangkan yang menyelisihi aku adalah bid’ah! Maka semakin bertambah ilmumu, maka akan semakin luas wawasanmu dan kamu akan mengetahui bahwa dahulu para sahabat saling berbeda pendapat, akan tetapi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengikrarkan dan memaklumi perbedaan mereka. Beliau pernah bersabda, “Janganlah ada dari kalian yang shalat ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.” Dan apakah para sahabat berbeda pendapat tentang pelaksanaan perintah Rasulullah tersebut? Mereka berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan, “Rasulullah tidak bermaksud agar kita mendirikan shalat ashar setelah waktunya habis; namun beliau menginginkan agar kita bergegas untuk pergi ke tempat Bani Quraizhah.” Maka merekapun shalat di tengah perjalanan. Sedangkan para sahabat yang lain berpendapat, “Kita tidak akan mendirikan shalat ashar kecuali setelah sampai di tempat Bani Quraizhah.” Sehingga mereka mendirikan shalat ashar di sana setelah shalat maghrib. Ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- datang dan para sahabat menjelaskan perselisihan mereka, beliau meridhai kedua belah pihak, tanpa mengingkari salah satu dari mereka. Beliau tidak berkata kepada satu pihak, “Kalian salah” atau berkata kepada pihak yang lain “Kalian salah”. Suatu hari dua orang sahabat melakukan safar.. Kemudian kehabisan air, sehingga mereka bertayammum dan mendirikan shalat. Namun setelah itu mereka menemukan air saat waktu shalat masih tersisa. Salah satu dari mereka berwudhu dengan air itu kemudian berkata, “Waktu shalat masih ada, maka mari kita mengulangi shalat tadi.” Temannya itu menjawab, “Kita tidak perlu mengulangi shalat; mengapa kita harus mengulangi shalat, kita telah melakukan sesuai apa yang diperintahkan. Allah memerintahkan kita bertayammum jika tidak memiliki air, dan kita telah melakukan perintah Allah ini. Aku tidak akan mengulangi shalatku.” Sedangkan temannya mengulangi shalatnya. Ketika mereka telah pulang, mereka mendatangi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menceritakan apa yang mereka perselisihkan. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalat, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Kemudian beliau bersabda kepada orang yang mengulangi shalatnya, “Bagimu dua pahala shalat.” Apakah Rasulullah mengingkari mereka berdua? Tidak. Atau apakah Rasulullah mengingkari salah satu dari mereka? Tidak. Minuman ini memakai gula atau madu? Madu? Bagus. Beliau bersabda, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lain, “Bagimu dua pahala shalat.” Rasulullah tidak mengingkari apa yang telah mereka berdua lakukan. Jika kamu membaca kitab al-Mushannaf yang ditulis Ibnu Abi Syaibah yang merupakan kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-. Kami telah membacanya atau membaca sebagian besarnya, yaitu 12 jilidnya atau setengahnya. Kami membacanya di hadapan syeikh kami, asy-Syeikh al-Arkaniy -rahimahullah wa ghafara lahu-, ketika kami sampai pada jilid ke-12, beliau wafat. Beliau adalah teman seperguruan dengan syeikh kita ini; karena asy-Syeikh telah membaca Shahih Muslim pada al-Bilyawi, dan asy-Syeikh al-Arkaniy juga membaca Shahih Muslim pada asy-Syeikh al-Bilyawi dan membaca Shahih al-Bukhari pada Husain Ahmad al-Madaniy -rahimahullah-. Ketika kami membaca pada beliau kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, kami mendapati hal menakjubkan di dalamnya.. Sebagaimana telah saya katakan, Ibnu Abi Syaibah telah menulis kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat, sehingga kamu akan mendapati Ibnu Abi Syaibah menyebutkan fatwa-fatwa para sahabat dengan sanadnya, dan hampir tidak ada satupun permasalahan melainkan para sahabat memiliki pendapat yang berbeda-beda di dalamnya. Satu sahabat mengamalkan suatu pendapat, dan sahabat yang lain mengamalkan pendapat yang berbeda.. Padahal mereka semua tinggal di satu negeri, namun sahabat yang satu memaklumi perbedaan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak menyalahkan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak mengingkari sahabat yang lain, dan begitu pula sebaliknya.. Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan itulah yang dilakukan oleh para tabi’in dan yang dilakukan para tabi’uttabi’in. Sehingga inilah sikap para salaf dalam menyikapi perbedaan di antara mereka Kemudian kamu datang dengan berkata, “Perkara ini bid’ah!”. Padahal mereka memiliki dalil, baik itu dalam hal qunut yang terikat dengan waktu tertentu atau secara mutlak. Akan tetapi, bagaimanapun Rasulullah juga pernah melakukan qunut subuh.. Sehingga mereka memiliki dalil dalam hal ini.. Kemudian kamu datang dan berkata, “Perkara ini bid’ah!” Sungguh yang seperti ini tidak layak dilakukan, kerena itu menunjukkan bahwa kamu adalah orang bodoh. Dikisahkan bahwa al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi -Tidak mengapa aku keluar sedikit dari pembahasan, dan nanti kita kembali lagi- Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi; kalian mengetahuinya? Dia adalah ulama yang menetapkan kaidah-kaidah buhur asy-Syi’ri (kaidah penetapan nada pada syair arab). Kalian mengetahui buhur asy-Syi’ri? Kalian mempelajari ilmu ‘arudh atau tidak? Tidak? Kalau begitu bagaimana kalian akan membuat syair arab? Kalian tidak dapat membuat syair arab? Tidak juga. Lalu apakah kalian dapat menikmati indahnya syair arab? Bahkan untuk merasakan keindahannya pun tidak? Kalau begitu kalian tidak mengetahui bahasa arab! Kalian harus mempelajari bahasa arab Aku sampaikan ini bukan karena bertasa’assub kepada orang arab, bukan wahai saudaraku.. Akan tetapi al-Qur’an berbahasa arab, Nabi kita orang arab -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan hadits Nabi berbahasa arab.. Kamu tidak akan dapat memahami al-Qur’an dan as-Sunnah kecuali dengan bahasa arab.. Kitab-kitab ilmu seluruhnya atau mayoritasnya berbahasa arab.. Kitab-kitab penjelasan hadits-hadits, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tafsir, semuanya berbahasa arab. Jika kamu tidak memahami bahasa arab, maka bagaimana kalian akan memahami dan membaca kitab-kitab itu? Ala kulli hal, al-Khalil bin Ahmad adalah orang yang meletakkan kaidah buhur asy-syi’ri.. Karena pada awalnya orang arab dapat membuat syair dan mengetahui nadanya tanpa membutuhkan kaidah, sebagaimana mereka dapat berbicara tanpa mengalami kesalahan. Namun ketika orang-orang selain arab masuk Islam, mereka merusak bahasa orang arab; maka para ulama merasa perlu untuk meletakkan kaidah bahasa arab.. Maka dibuatlah kaidah nahwu dan sharaf; dan demikian pula dengan buhur asy-Syi’ri. Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi suatu hari duduk di rumahnya untuk meletakkan kaidah buhur asy-Syi’ri dan memotong-motong kalimat pada syair. Kemudian anaknya masuk menghampirinya. Dan anaknya adalah orang yang jahil dan tidak berilmu. Anaknya masuk dan mendapati ayahnya di dalam ruangan dengan mengulang-ulang kalimat ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ Dan kalimat ini merupakan salah satu nada pada syair arab. Anaknya melihat padanya dengan penuh kekhawatiran, sehingga ia pergi menemui ibunya seraya berkata, “Wahai Ibuku, tolonglah ayah, sepertinya dia sudah gila, dia duduk sendirian dan mengulang-ulang, ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ dia telah gila, maka tolonglah dia wahai Ibu..” Al-Khalil mendengar ucapan anaknya, sehingga ia berkata kepadanya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu…” Makna “عَذَرْتَنِيْ” yakni memaklumi, sedangkan makna “عَذَلْتَنِيْ” yakni mencela. Al-Khalil berkata kepada anaknya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu.” Yakni niscaya aku akan mengolok dan menghukummu karena telah mengatakan ayahmu menjadi gila. “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu. Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” Demikianlah orang yang bodoh; dia akan menganggap orang berakal sebagai orang gila. Maka jika ada orang bodoh yang tidak mengetahui dalam suatu permasalahan fiqih kecuali satu pendapat, kemudian mendapati ada orang yang menyelisihinya; niscaya dia akan mengingkarinya. Dia akan berkata, “Yang dia lakukan itu menyelisihi sunnah!” Padahal hal itu tidak menyelisihi sunnah, namun menyelisihi akalmu saja.. Oleh sebab itu wahai saudaraku, semakin bertambah ilmu seseorang maka wawasannya akan semakin luas dan pengingkarannya akan semakin sedikit. Semakin luas wawasanmu, maka pengingkaranmu terhadap orang lain akan semakin sedikit.. Kamu tidak lagi banyak mengingkari, karena mengetahui bahwa suatu pendapat itu bersumber dari para salaf, dan pendapat lain juga bersumber dari para salaf. Kedua pendapat bersumber dari para salaf. Pendapat ini memiliki dalil, dan pendapat lain juga memiliki dalil. Dan keduanya akan mendapat pahala -biidznillah ‘Azza wa Jalla- Oleh sebab itu, tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, karena ilmu akan mengangkat kebodohan, dan jika kebodohan telah diangkat dari seseorang, maka pengingkarannya terhadap orang lain akan menjadi sedikit. Wallahu Ta’ala a’lam.. === وَخِلَافُهُ هَلِ الْقُنُوْتُ بَاقٍ أَوْ أَنَّهُ كَانَ فَقَطْ لِلنَّوَازِلِ فّأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا الْقُنُوْتَ كَانَ لِلنَّوَازِلِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يَرَى أَنَّ هَذَا مُطْلَقٌ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَقَوْلُ مَالِكٍ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ إِذْ أَنَّ مَالِكاً وَالشَّافِعِيَّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا ذَهَبَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ لَكِنَّ الْخِلَافَ بَيْنَهُمَا هَلْ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْراً كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ لَكِنَّهُمَا اخْتَلَفَ هَلْ هُوَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ كَمَالِكٍ وَذَهَبَ أَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الرُّكُوْعَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ كَالشَّافِعِيِّ إِذًا ذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيْفَةَ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْفَجْرِ إِذًا كَمْ قَوْلًا صَارَ عِنْدَنَا؟ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ الأَوَّلُ قَوْلُ الإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ الْقَوْلُ الثَّانِيْ قَوْلُ مَالِكٍ مِثْلَ أَبِي حَنِيْفَةَ فِي جَانِبٍ وَهُوَ أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَافَقَ الإِمَامَ أَبِي حَنِيْفَةَ لَكِنَّهُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَسِرًّا كَالْحَنَفِيَّةِ الْقُنُوْتُ عِنْدَهُمْ سِرًّا حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَتْ حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَ الْوِتْرُ جَمَاعَةً كَالتَّرَاوِيْحِ سِرًّا الْقَوْلُ الثَّالِثُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْرًا فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ بِلَادِكُمْ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى لَوْ كَانَتْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ يَقْنُتُ الْإِمَامُ سِرًّا قَبْلَ الرُّكُوُعِ وَأَخَذَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَمَالِكٌ بِقُنُوْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ نَامَ الْغُلَيِّمُ لَا تَنَمْ أَخَذَ مَالِكٌ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ بِقُنُوْتِ عُمَرَ وَهُوَ اللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ الدُّعَاءُ تَحْفَظُوْنَهُ وَأَخَذَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بِقُنُوْتِ الْحَسَنِ الحَسَنِ ابْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الَّذِيْ قَالَ عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ذَكَرَ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ وَهُوَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ كُلُّهُ وَارِدٌ طَيِّبٌ قَدْ يَقُوْلُ قَائِلٌ دَلِيْلُ الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ عَرَفْنَاهَا أَيْنَ هُو؟ هَذَا أَيْنَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْقُنُوْتِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ؟ نَقُوْلُ حَدِيْثُ أَنَسٍ وَحَدِيْثُ عُمَرَ حَدِيْثُ أَنَسٍ فِي الصَّحِيْحِ سَيَأْتِيْ مَعَنَا فِي الصَّحِيْحِ سُئِلَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَلِ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ فَقِيْلَ لَهُ تَنَامُ أَنْتَ أَمَامِيْ قَالَ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَاناً يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ كَذَبَ يَعْنِي أَخْطَأَ بِلُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ الْحَمْدُ للهِ آمِيْن قَالَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْراً يَعْنِيْ كَانَ يَرَى أَنَسٌ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ لِلنَّوَازِلِ كَمَا قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ حِيْنَ دَعَا عَلَى رَعْلٍ وَذِكْوَانَ عُصَيَّة عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أَمَّا لِغَيْرِ النَّوَازِلِ فَالْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ هَكَذَا يَرَى أَنَسٌ قَالَ قِيْلَ لَهُ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْرًا يَعْنِيْ فِي غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ قُنُوْتُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ ذَكَرْنَا هَذَا التَّفْصِيْلَ لِنُبَيِّنَ أَقْوَالَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمَسْأَلَةِ فَإِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ أَوْ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ فَجْرًا نَعَمْ نَسِيْتُ أَنْ أَقُوْلَ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يَقْنُتُوْنَ سِرًّا… كَيْفَ؟ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ إِذَا انْتَهَى مِنَ الْفَاتِحَةِ وَانْتَهَى مِنَ السُّوْرَةِ يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَعْنِيْ لَحْظَةً وَيَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ يَقْرَأُهُ سِرًّا هَكَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَلِذَلِكَ إِذَا صَلَّيْتَ خَلْفَ مَالِكِيٍّ إِذَا كُنْتَ فِي إِفْرِيْقِيَا أَوْ فِي الْمَغْرِبِ تُلَاحِظُ هَذَا الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثُمَّ يَقْرَأُ السُّوْرَةَ وَيَسْكُتُ لِمَاذَا يَسْكُتُ؟ لِأَنَّهُ الْآنَ هُوَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ هُوَ الْآنَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ عَنْ وَالِد عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ سِرًّا فَإَذَا انْتَهَى قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ وَفِي الْبِلَادِ الشَّافِعِيَّةِ كَجَنُوْبِ شَرْقِ آسِيَا وَفِيْ مِصْرَ وَفِي الْبِلَادِ الَّتِي يَنْتَشِرُ فِيْهَا مَذْهَبُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ تَجِدُوْنَهُ يَقْنُتُوْنَ فِي الْيَمَنِ كَذَلِكَ خَاصَّةً فِي حَضْرَمَوْت يَقْنُتُوْنَ جَهْرًا الْإِمَامُ يَقْنُتُ جَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ أَعُوْدُ فَأَقُوْلُ لِمَاذَا أَنَا أَقُوْلُ هَذَا لِأَنَّ بَعْضَ مَنْ ضَاقَ أُفُقُهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَقَلَّ عِلْمُهُ يُنْكِرُ يُنْكِرُ عَلَى مَنْ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ يُوْجَدُ هَذَا يُوْجَدُ عِنْدَكُمْ يُوْجَدُ يُوْجَدُ أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ هَذَا جَهْلٌ مِنْهُ وَضِيْقُ أُفُقٍ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنْ مَالِكاً مُبْتَدِعٌ؟ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ مُبْتَدِعٌ؟ لَا ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ كَانَتْ تَفْعَلُ ذَلِكَ مِنَ الْأُمَّةِ جَمَاعَاتٌ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي زَمَنٍ فِي زَمَنِ مَالِكٍ وَتَعْلَمُوْنَ عَمَلَ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْدَ مَالِكٍ حُجَّةٌ لِأَنَّهُ يَرَى مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَّةٌ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فِي زَمَنِهِ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ فَإِذَا نَقَلَ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ كُلُّهُمْ عَمَلاً عَنْ لَا لَيْسَ هُوَ مِنْ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ التَّابِعُوْنَ فَإِذَا كَانَ التَّابِعُوْنَ كُلُّهُمْ نَقَلُوْا عَمَلاً بِاتِّفَاقِ وَهُمْ تَابِعُوْا أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْ شُيُوْخِهِمْ وَهُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَالِكاً يَرَى هَذَا حُجَّةٌ يَقُوْلُ هَذَا أَقْوَى مِنْ أَنْ يَقُوْلَهُ وَاحِدٌ عَنْ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَالِكٌ يُقَدَّمُ عَلَى مَا نَقَلَهُ الْوَاحِدُ عَنِ الْوَاحِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَلٌ أَدْرَكَ الْإِمَامُ مَالِكٌ التَّابِعِيْنَ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي الْمَدِيْنَةِ وَيَرْفَعُوْنَهُ إِلَى الصَّحَابَةِ تَجْرُأُ أَنْتَ أَنْ تَقُوْلَ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ ثُمَّ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ إِمَامُ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَدْرَكَ أَتْبَاعَ التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوْا التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوا الصَّحَابَةَ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ضَاقَ أُفُقُ الطَّالِبِ وَقَلَّ عِلْمُهُ كَثُرَ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا قَلَّ عِلْمُكَ كَثُرَ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ لِأَنَّكَ لَا تَعْرِفُ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا فَكُلُّ قَوْلٍ يُخَالِفُ هَذَا الْقَوْلَ تُنْكِرُهُ وَالسَّبَبُ مَا هُوَ أَنَّكَ جَاهِلٌ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَلَمَّا كُنْتَ جَاهِلًا لَا تَعْرِفُ إِلَّا إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا تُنْكِرُ عَلَى الْمُخَالِفِ تَقُوْلُ هَذَا مُبْتَدِعٌ خَالَفَ السُّنَّةَ أَيْنَ السُّنَّةُ؟ السُّنَّةُ مَا أَنَا عَلَيْهِ مَا أَنَا عَلَيْهِ سُنَّةٌ وَمَا خَالَفَنِيْ بِدْعَةٌ وَكُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ كُلَّمَا زَادَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُكَ اِتَّسَعَ أُفُقُكَ وَعَلِمْتَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَخْتَلِفُوْنَ وَالنَّبِيُّ يُقِرُّهُمْ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِلَافِهِمْ قَالَ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ اِخْتَلَفُوْا فِي تَطْبِيْقِ الْأَمْرِ؟ اخْتَلَفُوْا بَعْضُهُمْ قَالُوْا هُوَ مَا أَدْرَكَ مَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُخْرِجَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا إِنَّمَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُسْرِعَ فَصَلُّوْا فِي الطَّرِيْقِ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا نُصَلِّيْ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ فَيُصَلُّوْا الْعَصْرَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَرَضُوْا عَلَيْهِ أَقَرَّ الْفَرِيْقَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدٍ مَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ وَلَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ خَرَجَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَفَقَدُوْا الْمَاءَ فَتَيَمَّمُوْا وَصَلُّوْا فَتَيَمَّمَا وَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَتَوَضَّأَ قَالَ الْوَقْتُ بَاقٍ نُعِيْدُ الصَّلَاةَ فَقَالَ الْآخَرُ مَا نُعِيْدُ لِأَيْ شَيْءٍ نُعِيْدُ نَحْنُ أُمِرْنَا فَامْتَثَلْنَا اللهُ أَمَرَنَا قَالَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوا فَامْتَثَلْنَا مَا أُعِيْدُ الثَّانِي أَعَادَ عَادُوْا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْبَرُوْهُ فَقَالَ لِلَّذِيْ لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِيْ أَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ أَنْكَرَ عَلَيْهِمَا؟ لَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا؟ لَا هَذَا فِيْهِ سُكَّرٌ أَوْ عَسَلٌ؟ عَسَلٌ جَيِّدٌ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَقَالَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ قَالَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا وَلَوْ قَرَأْتَ الْمُصَنَّفَ لِابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَهَذَا كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانٌ عَظِيْمٌ جَمَعَ فِقْهَ الصَّحَابَةِ فِقْهَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَرَأْنَاهُ أَوْ قَرَأْنَا أَكْثَرَهُ اِثْنَيْ عَشَرَ مُجَلَّدًا مِنْهُ يَعْنِيْ نِصْفَهُ عَلَى شَيْخِنَا الشَّيْخِ رَحْمَةِ اللهِ الْأَرْكَانِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَغَفَرَ لَهُ وَنَحْنُ فِي الْمُجَلَّدِ الثَّانِيْ عَشَرَ تُوُفِّيَ وَهُوَ مِنْ أَقْرَانِ شَيْخِنَا مِنْ أَقْرَانِ الشَّيْخِ كَمَا أَنَّ الشَّيْخَ قَرَأَ مُسْلِماً عَلَى الْبِلْيَاوِيْ هُوَ قَرَأَ عَلَى الْبِلْيَاوِيْ مُسْلِماً وَقَرَأَ الْبُخَارِيَّ عَلَى حُسَيْنِ أَحْمَدَ الْمَدَنِيِّ رَحِمَهُ اللهُ فَلَمَّا قَرَأْنَا عَلَيْهِ مُصَنَّفَ ابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَجَدْنَا عَجَبًا كَمَا قُلْتُ مُصَنَّفَ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانُ فِقْهِ الصَّحَابَةِ فَتَجِدُ ابْنَ أَبِيْ شَيْبَةَ يَذْكُرُ بِأَسَانِيْدِهِ فَتَاوَى الصَّحَابَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ مَسْأَلَةً إِلَّا وَلِلصَّحَابَةِ فِيْهَا أَقْوَالٌ هَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَهَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَكُلٌّ فِيْ مَكَانٍ وَاحِدٍ هَذَا يَعْذُرُ هَذَا وَهَذَا يَعْذُرُ هَذَا هَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا وَهَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا هَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ وَهَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ هَذَا فِعلُ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا فِعْلُ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ وَهَذَا فِعْلُ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ فَأَمْرٌ دَرَجَ عَلَيْهِ السَّلَفُ 1تَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ وَلَهُمْ أَدِلَّةٌ سَوَاءً كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ أَوْ مُطْلَقَةً لَكِنْ قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْفَجْرِ لَهُمْ أَدِلَّةٌ فَتَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ؟ مَا يَنْبَغِيْ هَذَا، هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّكَ جَاهِلٌ قَالُوْا أَنَّ الْخَلِيْلَ بْنَ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ مَعْلَيْش أَخْرُجُ قَلِيْلاً مِنَ الْمَوْضُوْعِ ثُمَّ أَرْجِعُ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ تَعْرِفُوْنَهُ؟ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الْعِلْمِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ تَعْرِفُوْنَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ؟ دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ أَوْ مَا دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ؟ مَا دَرَسْتُمْ عِلْمَ الْعَرُوْضِ كَيْفَ تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ إِذًا؟ أَوْ لَا تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ؟ طَيِّبٌ مَا تَقُوْلُوْنَ. تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ حَتَّى ….. مَا تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ مَا عَرَفْتُمُ الْعَرَبِيَّةَ إِذًا لَا بُدَّ أَنْ تَتَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ لَيْسَ تَعَصُّبًا لِلْعَرَبِ يَا إِخْوَانُ لَكِنَّ اْلقُرْآنَ عَرَبِيٌّ وَنَبِيَّنَا عَرَبِيٌّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَدِيْثَ عَرَبِيٌّ وَأَنْتَ لَنْ تَفْهَمَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ إِلَّا بِلُغَةِ الْعَرَبِ وَكُتُبُ الْعِلْمِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ أَوْ جُلُّهَا أَوْ أَكْثَرُهَا كُتُبُ شُرُوْحِ الْأَحَادِيْثِ كُتُبُ الْفِقْهِ كُتُبُ التَّفْسِيْرِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَأَنْتَ إِذَا كُنْتَ لَا تَعْرِفُ الْعَرَبِيَّةَ كَيْفَ تَفْهَمُ هَذِهِ؟ كَيْفَ تَقْرَأُهَا؟ الْمُهِمُّ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ هَذَا هُوَ وَاضِعُ بُحُوْرِ الشِّعْرِ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَقُوْلُ شِعْرًا لَكِنْ تَقُوْلُهَا وَتَعْرِفُ بُحُوْرَهَا دُوْنَ قَوَاعِدَ كَمَا أَنَّهَا تَتَكَلَّمُ دُوْنَ أَنْ تَلْحَنَ فَلَمَّا دَخَلَ أَعَاجِمُ وَأَفْسَدُوْا لُغَةَ الْعَرَبِ اِحْتَاجَ الْعُلَمَاءُ إِلَى وَضْعِ قَوَاعِدَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَجُمِعَتْ قَوَاعِدَ النَّحْوِ وَالصَّرْفِ هَكَذَا بُحُوْرُ الشِّعْرِ فَكَانَ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيّ يَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَضَعُ بُحُوْرَ الشِّعْرِ وَيُقَيِّدُهَا وَيُقَطِّعُ الشِّعْرَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ ابْنُهُ وَكَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ كَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ أَبْلَةٌ دَخَلَ فَوَجَدَ أَبَاهُ فِيْ غُرْفَةٍ وَهُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ هَذِهِ مِنْ بُحُوْرِ الشِّعْرِ مُتفَاعِلٌ نَظَرَ إِلَى أَبِيْهِ خَافَ عَلَيْهِ ذَهَبَ إِلَى أُمِّهِ قَالَ يَا أُمَّاه أَدْرِكِيْ أَبِيْ فَقَدْ جُنَّ جَالِسٌ وَحْدَهُ يُكَلِّمُ نَفْسَهُ هُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ جُنَّ أَبِيْ أَدْرِكِيْهِ سَمِعَ أَبُوْهُ فَقَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ عَذَلْتُكَ لُمْتُكَ عَذَرْتَنِيْ يَعْنِيْ تَعْذُرُنِيْ مِنَ الْعُذْرِ وَعَذَلْتَنِيْ مِنَ اللَّوْمِ قَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ يَعْنِيْ لُمْتُكَ وَعَاقَبْتُكَ لِأَنَّكَ تَقُوْلُ عَلَى أَبِيْكَ مَجْنُوْنٌ كُنْتُ عَاقَبْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ هَكَذَا الْجَاهِلُ يَرَى الْعَاقِلَ مَجْنُوْنًا فَإِذَا رَأَى الْجَاهِلُ الَّذِيْ لَا يَعْرِفُ فِي الْفِقْهِ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا وَوَجَد مَنْ يُخَالِفُهُ أَنْكَرَ عَلَيْهِ أَنْكَرَ عَلَيْهِ يَقُوْلُ هَذَا خِلَافُ السُّنَّةِ لَيْسَ خِلَافَ السُّنَّةِ خِلَافُ عَقْلِكَ فَقَطْ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ازْدَادَ عِلْمُ الْإِنْسَانِ اِتَّسَعَ أُفُقُهُ وَقَلَّ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ قَلَّ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ مَا تُنْكِرُ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ وَهَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ هَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ اطْلُبُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَرْفَعُ الْجَهْلَ فَإِذَا رُفِعَ عَنِ الْإِنْسَانِ الْجَهْلُ قَلَّ إِنْكَارُهُ عَلَى غَيْرِهِ وَاللهُ أَعْلَمُ نَعَمْ      
Tentang Qunut yang Mungkin Kamu Belum Tahu – Syaikh Hamid Akram al-Bukhari #NasehatUlama Perbedaan pendapat dalam masalah ini; apakah qunut senantiasa disyariatkan atau hanya ketika ada musibah (nazilah), mayoritas ulama berpendapat bahwa qunut hanya disyariatkan ketika terjadi musibah. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa qunut dapat dilakukan kapan saja, dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- dan juga pendapat Imam Malik. Pendapat Imam Malik dan pendapat Imam asy-Syafi’i. Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan pada rakaat kedua dalam shalat subuh, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Akan tetapi perbedaan pendapat di antara Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i adalah apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan mengeraskan suara bacaan doanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan dalam shalat subuh pada rakaat kedua sebelum ruku’ dengan memelankan (suara) bacaan doanya. Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut hanya dilakukan pada shalat witir. Namun mereka berdua berbeda pendapat, apakah dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ seperti pendapat Imam Malik. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ seperti pendapat Imam asy-Syafi’i. Jadi, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku. Sedangkan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat witir. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat subuh. Jadi, ada berapa pendapat pada masalah ini? Ada empat pendapat, ada empat pendapat. Pertama, pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa qunut dilakukan pada shalat witir sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan pelan, bahkan qunut pada witir di shalat tarawih. Dengan memelankan (suara) bacaan doanya bahkan pada qunut witir di shalat tarawih. Kedua, pendapat Imam Malik yang memiliki kemiripan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’-dalam hal ini Imam Malik sependapat dengan Imam Abu Hanifah-, akan tetapi menurut Imam Malik, qunut dilakukan pada shalat subuh, dan dengan memelankan bacaan seperti pada madzhab Hanafiyah, dan qunut dalam madzhab ini dilakukan dengan bacaan pelan meski pada qunut shalat witir yang dilakukan secara berjamaah seperti pada shalat tarawih. Pendapat ketiga, yaitu pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan (suara) bacaan yang dikeraskan (jahr) dalam shalat subuh, seperti yang dilakukan para penduduk negara kalian (Indonesia) Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan yang dipelankan (sirr), meskipun pada shalat jamaah, sehingga imam shalat melakukan qunut sebelum ruku’ dengan bacaan yang pelan (sirr). Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Anak itu tidur… jangan tidur!! Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- yaitu, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdiika, wa nastaghfiruka wa natuubu ilaika wa nutsnii ‘alaikalkhoiro kullahu, dan seterusnya seperti yang kalian hafal. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh al-Hasan. al-Hasan bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan kepadaku… kemudian ia menyebutkan doa qunut: Allahummahdinaa fiiman hadaita… Allahummahdinaa fiiman hadaita… dst…” Dan kedua doa ini baik, kedua doa ini baik dan memiliki landasan riwayatnya. Baik, mungkin akan ada orang yang berkata, dalil qunut yang dilakukan setelah ruku’ telah kami ketahui, yang mana itu? Yang tadi telah kita sebutkan… Lalu mana dalil tentang qunut yang dilakukan sebelum ruku’? Maka jawabannya adalah hadits riwayat Anas dan riwayat Umar. Hadits riwayat Anas terdapat dalam kitab ash-Shahih, dan akan kita sebutkan. Dalam ash-Shahih disebutkan, Anas -radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya, “Apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’…” Kemudian dikatakan kepadanya.. Kamu berani tidur di depanku? Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku..’” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah (kadzaba)”. Kadzaba berarti ‘salah’ dalam bahasa penduduk Hijaz. Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut… Alhamdulillah… alhamdulillah… Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalakum.. Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut…” Alhamdulillah… amin.. Anas menjawab, “Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni Anas berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ pada saat terdapat musibah (nazilah) Sebagaimana Rasulullah juga melakukan qunut setelah ruku’ ketika berdoa untuk keburukan Bani Ra’i dan Bani Dzikwan yang telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Adapun selain qunut nazilah, maka dilakukan sebelum ruku’. Demikianlah pendapat Anas. Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’..” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah. Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni selain daripada itu, Rasulullah melakukan qunut sebelum ruku’. Kami menyebutkan masalah ini dengan terperinci untuk menjelaskan pendapat-pendapat para ulama dalam perkara ini. Karena sebagian penuntut ilmu mengingkari syariat melakukan qunut setelah ruku’, atau mengingkari syariat qunut subuh. Oh iya, aku lupa untuk menjelaskan dalam madzhab Malikiyah, mereka melakukan qunut dengan bacaan suara pelan (sirr). Bagaimana itu? Jika imam shalat telah sampai pada rakaat kedua dan selesai membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, Maka dia akan diam sejenak. Diam beberapa saat. Diam sejenak untuk membaca doa qunut; Allahumma innaa nasta’iinuka wa nastahdiika.. dan seterusnya. Dia membacanya dengan bacaan pelan. Demikianlah dalam madzhab al-Malikiyah. Oleh sebab itu, jika kamu shalat di belakang imam yang bermadzhab Maliki ketika kamu berada di Afrika atau Maroko, maka kamu dapat memperhatikan bahwa imam itu pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, kemudian dia diam sejenak. Mengapa dia diam sejenak? Karena dia ketika itu membaca doa qunut. Ketika itu dia membaca doa qunut. Kemudian membaca dengan pelan doa yang diriwayatkan Walid dari Umar -radhiyallahu ‘anhu-, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdika…dst. Jika imam telah selesai membaca doa qunut, dia mengucapkan ‘Allahu akbar’ kemudian melakukan ruku’. Adapun di negara yang bermadzhab asy-Syafi’iyah, seperti di Asia Tenggara, Mesir, dan negara lainnya yang tersebar madzhab Imam asy-Syafi’i; maka kalian akan mendapati mereka melakukan qunut.. Oh benar! Begitu pula di negara Yaman, terlebih lagi di kota Hadramaut- mereka akan membaca doa qunut dengan suara yang dikeraskan (jahr) Imam shalat mereka akan membaca doa qunut secara jahr setelah ruku’ pada rakaat kedua. Saya ulangi sekali lagi, mengapa saya menjelaskan permasalahan ini? Karena sebagian penuntut ilmu yang sempit wawasannya dan sedikit ilmunya, melakukan pengingkaran. Mengingkari orang yang melakukan qunut setelah ruku’, dan mengatakan bahwa itu adalah bid’ah. Apakah ada orang yang berpandangan seperti ini di sini? Apakah ada? Apakah ada wahai Abu Abdurrahman? Dia berpandangan bahwa itu adalah bid’ah. Ini merupakan suatu kebodohannya dan kesempitan wawasannya. Apakah kamu berani berkata bahwa Imam Malik adalah pelaku bid’ah? Apakah kamu berani berkata bahwa Imam asy-Syafi’i adalah pelaku bid’ah? Tidak. Kemudian ketahuilah, bahwa banyak dari umat ini yang melakukan qunut ini. Para penduduk kota Madinah, dahulu melakukan qunut seperti ini pada zaman Imam Malik. Sebagaimana yang kalian ketahui, bahwa amalan para penduduk kota Madinah dikategorikan sebagai dalil dalam madzhab Imam Malik, karena beliau berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan oleh banyak orang dari banyak orang, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah dalil. Ini adalah amalan penduduk kota Madinah pada zaman Imam Malik. Para guru beliau siapa saja mereka? Mereka adalah tabi’uttabi’in (generasi setelah tabi’in). Jika semua tabi’uttabi’in meriwayatkan tentang suatu amalan dari… Bukan, bukan. Imam Malik adalah tabi’uttabi’in. Siapa para guru Imam Malik? Mereka adalah para tabi’in. Maka jika semua tabi’in meriwayatkan suatu amalan tanpa ada perbedaan pendapat -dan mereka adalah para tabi’in yang ada di Madinah-, dari para guru mereka yaitu para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-; maka Imam Malik berpendapat bahwa amalan ini dapat dijadikan sebagai dalil. Dia berpendapat bahwa dalil ini lebih kuat daripada apa yang diriwayatkan satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Imam Malik berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan banyak orang dari banyak orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih diutamakan daripada apa yang diriwayatkan oleh satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Dan qunut ini adalah) amalan yang didapati oleh Imam Malik yang dilakukan oleh para tabi’in di Madinah yang mereka dapati dari para sahabat. Apakah kamu berani untuk berkata bahwa ini adalah perkara bid’ah? Selain itu, Imam asy-Syafi’i yang merupakan imam bagi para penduduk kota Makkah, Beliau mendapati tabi’uttabi’in mengamalkan qunut ini, dan para tabi’uttabi’in mendapati para tabi’in mengamalkan qunut ini, dan mereka mendapati para sahabat mengamalkannya. Maka dari itu wahai para saudaraku, semakin sempit wawasan seorang penuntut ilmu dan semakin sedikit ilmunya, maka pengingkarannya akan semakin banyak. Semakin sedikit ilmumu, maka kamu akan semakin banyak melakukan pengingkaran terhadap apa yang dilakukan orang lain, karena kamu hanya mengetahui satu pendapat saja, sehingga setiap pendapat yang menyelisihi pendapat itu akan kamu ingkari! Jadi sebabnya adalah karena kamu tidak mengetahui! Karena kamu jahil! Ketika kamu tidak mengetahui selain satu pendapat saja, maka kamu akan mengingkari orang yang menyelisihimu! Dengan mengatakan, “Itu perkara bid’ah dan menyelisihi sunnah!” Dan jika ditanya, mana yang sesuai sunnah? Maka akan dijawab, sunnah adalah yang aku lakukan! Apa yang aku lakukan adalah sunnah, sedangkan yang menyelisihi aku adalah bid’ah! Maka semakin bertambah ilmumu, maka akan semakin luas wawasanmu dan kamu akan mengetahui bahwa dahulu para sahabat saling berbeda pendapat, akan tetapi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengikrarkan dan memaklumi perbedaan mereka. Beliau pernah bersabda, “Janganlah ada dari kalian yang shalat ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.” Dan apakah para sahabat berbeda pendapat tentang pelaksanaan perintah Rasulullah tersebut? Mereka berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan, “Rasulullah tidak bermaksud agar kita mendirikan shalat ashar setelah waktunya habis; namun beliau menginginkan agar kita bergegas untuk pergi ke tempat Bani Quraizhah.” Maka merekapun shalat di tengah perjalanan. Sedangkan para sahabat yang lain berpendapat, “Kita tidak akan mendirikan shalat ashar kecuali setelah sampai di tempat Bani Quraizhah.” Sehingga mereka mendirikan shalat ashar di sana setelah shalat maghrib. Ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- datang dan para sahabat menjelaskan perselisihan mereka, beliau meridhai kedua belah pihak, tanpa mengingkari salah satu dari mereka. Beliau tidak berkata kepada satu pihak, “Kalian salah” atau berkata kepada pihak yang lain “Kalian salah”. Suatu hari dua orang sahabat melakukan safar.. Kemudian kehabisan air, sehingga mereka bertayammum dan mendirikan shalat. Namun setelah itu mereka menemukan air saat waktu shalat masih tersisa. Salah satu dari mereka berwudhu dengan air itu kemudian berkata, “Waktu shalat masih ada, maka mari kita mengulangi shalat tadi.” Temannya itu menjawab, “Kita tidak perlu mengulangi shalat; mengapa kita harus mengulangi shalat, kita telah melakukan sesuai apa yang diperintahkan. Allah memerintahkan kita bertayammum jika tidak memiliki air, dan kita telah melakukan perintah Allah ini. Aku tidak akan mengulangi shalatku.” Sedangkan temannya mengulangi shalatnya. Ketika mereka telah pulang, mereka mendatangi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menceritakan apa yang mereka perselisihkan. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalat, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Kemudian beliau bersabda kepada orang yang mengulangi shalatnya, “Bagimu dua pahala shalat.” Apakah Rasulullah mengingkari mereka berdua? Tidak. Atau apakah Rasulullah mengingkari salah satu dari mereka? Tidak. Minuman ini memakai gula atau madu? Madu? Bagus. Beliau bersabda, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lain, “Bagimu dua pahala shalat.” Rasulullah tidak mengingkari apa yang telah mereka berdua lakukan. Jika kamu membaca kitab al-Mushannaf yang ditulis Ibnu Abi Syaibah yang merupakan kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-. Kami telah membacanya atau membaca sebagian besarnya, yaitu 12 jilidnya atau setengahnya. Kami membacanya di hadapan syeikh kami, asy-Syeikh al-Arkaniy -rahimahullah wa ghafara lahu-, ketika kami sampai pada jilid ke-12, beliau wafat. Beliau adalah teman seperguruan dengan syeikh kita ini; karena asy-Syeikh telah membaca Shahih Muslim pada al-Bilyawi, dan asy-Syeikh al-Arkaniy juga membaca Shahih Muslim pada asy-Syeikh al-Bilyawi dan membaca Shahih al-Bukhari pada Husain Ahmad al-Madaniy -rahimahullah-. Ketika kami membaca pada beliau kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, kami mendapati hal menakjubkan di dalamnya.. Sebagaimana telah saya katakan, Ibnu Abi Syaibah telah menulis kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat, sehingga kamu akan mendapati Ibnu Abi Syaibah menyebutkan fatwa-fatwa para sahabat dengan sanadnya, dan hampir tidak ada satupun permasalahan melainkan para sahabat memiliki pendapat yang berbeda-beda di dalamnya. Satu sahabat mengamalkan suatu pendapat, dan sahabat yang lain mengamalkan pendapat yang berbeda.. Padahal mereka semua tinggal di satu negeri, namun sahabat yang satu memaklumi perbedaan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak menyalahkan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak mengingkari sahabat yang lain, dan begitu pula sebaliknya.. Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan itulah yang dilakukan oleh para tabi’in dan yang dilakukan para tabi’uttabi’in. Sehingga inilah sikap para salaf dalam menyikapi perbedaan di antara mereka Kemudian kamu datang dengan berkata, “Perkara ini bid’ah!”. Padahal mereka memiliki dalil, baik itu dalam hal qunut yang terikat dengan waktu tertentu atau secara mutlak. Akan tetapi, bagaimanapun Rasulullah juga pernah melakukan qunut subuh.. Sehingga mereka memiliki dalil dalam hal ini.. Kemudian kamu datang dan berkata, “Perkara ini bid’ah!” Sungguh yang seperti ini tidak layak dilakukan, kerena itu menunjukkan bahwa kamu adalah orang bodoh. Dikisahkan bahwa al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi -Tidak mengapa aku keluar sedikit dari pembahasan, dan nanti kita kembali lagi- Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi; kalian mengetahuinya? Dia adalah ulama yang menetapkan kaidah-kaidah buhur asy-Syi’ri (kaidah penetapan nada pada syair arab). Kalian mengetahui buhur asy-Syi’ri? Kalian mempelajari ilmu ‘arudh atau tidak? Tidak? Kalau begitu bagaimana kalian akan membuat syair arab? Kalian tidak dapat membuat syair arab? Tidak juga. Lalu apakah kalian dapat menikmati indahnya syair arab? Bahkan untuk merasakan keindahannya pun tidak? Kalau begitu kalian tidak mengetahui bahasa arab! Kalian harus mempelajari bahasa arab Aku sampaikan ini bukan karena bertasa’assub kepada orang arab, bukan wahai saudaraku.. Akan tetapi al-Qur’an berbahasa arab, Nabi kita orang arab -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan hadits Nabi berbahasa arab.. Kamu tidak akan dapat memahami al-Qur’an dan as-Sunnah kecuali dengan bahasa arab.. Kitab-kitab ilmu seluruhnya atau mayoritasnya berbahasa arab.. Kitab-kitab penjelasan hadits-hadits, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tafsir, semuanya berbahasa arab. Jika kamu tidak memahami bahasa arab, maka bagaimana kalian akan memahami dan membaca kitab-kitab itu? Ala kulli hal, al-Khalil bin Ahmad adalah orang yang meletakkan kaidah buhur asy-syi’ri.. Karena pada awalnya orang arab dapat membuat syair dan mengetahui nadanya tanpa membutuhkan kaidah, sebagaimana mereka dapat berbicara tanpa mengalami kesalahan. Namun ketika orang-orang selain arab masuk Islam, mereka merusak bahasa orang arab; maka para ulama merasa perlu untuk meletakkan kaidah bahasa arab.. Maka dibuatlah kaidah nahwu dan sharaf; dan demikian pula dengan buhur asy-Syi’ri. Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi suatu hari duduk di rumahnya untuk meletakkan kaidah buhur asy-Syi’ri dan memotong-motong kalimat pada syair. Kemudian anaknya masuk menghampirinya. Dan anaknya adalah orang yang jahil dan tidak berilmu. Anaknya masuk dan mendapati ayahnya di dalam ruangan dengan mengulang-ulang kalimat ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ Dan kalimat ini merupakan salah satu nada pada syair arab. Anaknya melihat padanya dengan penuh kekhawatiran, sehingga ia pergi menemui ibunya seraya berkata, “Wahai Ibuku, tolonglah ayah, sepertinya dia sudah gila, dia duduk sendirian dan mengulang-ulang, ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ dia telah gila, maka tolonglah dia wahai Ibu..” Al-Khalil mendengar ucapan anaknya, sehingga ia berkata kepadanya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu…” Makna “عَذَرْتَنِيْ” yakni memaklumi, sedangkan makna “عَذَلْتَنِيْ” yakni mencela. Al-Khalil berkata kepada anaknya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu.” Yakni niscaya aku akan mengolok dan menghukummu karena telah mengatakan ayahmu menjadi gila. “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu. Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” Demikianlah orang yang bodoh; dia akan menganggap orang berakal sebagai orang gila. Maka jika ada orang bodoh yang tidak mengetahui dalam suatu permasalahan fiqih kecuali satu pendapat, kemudian mendapati ada orang yang menyelisihinya; niscaya dia akan mengingkarinya. Dia akan berkata, “Yang dia lakukan itu menyelisihi sunnah!” Padahal hal itu tidak menyelisihi sunnah, namun menyelisihi akalmu saja.. Oleh sebab itu wahai saudaraku, semakin bertambah ilmu seseorang maka wawasannya akan semakin luas dan pengingkarannya akan semakin sedikit. Semakin luas wawasanmu, maka pengingkaranmu terhadap orang lain akan semakin sedikit.. Kamu tidak lagi banyak mengingkari, karena mengetahui bahwa suatu pendapat itu bersumber dari para salaf, dan pendapat lain juga bersumber dari para salaf. Kedua pendapat bersumber dari para salaf. Pendapat ini memiliki dalil, dan pendapat lain juga memiliki dalil. Dan keduanya akan mendapat pahala -biidznillah ‘Azza wa Jalla- Oleh sebab itu, tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, karena ilmu akan mengangkat kebodohan, dan jika kebodohan telah diangkat dari seseorang, maka pengingkarannya terhadap orang lain akan menjadi sedikit. Wallahu Ta’ala a’lam.. === وَخِلَافُهُ هَلِ الْقُنُوْتُ بَاقٍ أَوْ أَنَّهُ كَانَ فَقَطْ لِلنَّوَازِلِ فّأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا الْقُنُوْتَ كَانَ لِلنَّوَازِلِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يَرَى أَنَّ هَذَا مُطْلَقٌ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَقَوْلُ مَالِكٍ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ إِذْ أَنَّ مَالِكاً وَالشَّافِعِيَّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا ذَهَبَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ لَكِنَّ الْخِلَافَ بَيْنَهُمَا هَلْ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْراً كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ لَكِنَّهُمَا اخْتَلَفَ هَلْ هُوَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ كَمَالِكٍ وَذَهَبَ أَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الرُّكُوْعَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ كَالشَّافِعِيِّ إِذًا ذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيْفَةَ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْفَجْرِ إِذًا كَمْ قَوْلًا صَارَ عِنْدَنَا؟ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ الأَوَّلُ قَوْلُ الإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ الْقَوْلُ الثَّانِيْ قَوْلُ مَالِكٍ مِثْلَ أَبِي حَنِيْفَةَ فِي جَانِبٍ وَهُوَ أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَافَقَ الإِمَامَ أَبِي حَنِيْفَةَ لَكِنَّهُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَسِرًّا كَالْحَنَفِيَّةِ الْقُنُوْتُ عِنْدَهُمْ سِرًّا حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَتْ حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَ الْوِتْرُ جَمَاعَةً كَالتَّرَاوِيْحِ سِرًّا الْقَوْلُ الثَّالِثُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْرًا فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ بِلَادِكُمْ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى لَوْ كَانَتْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ يَقْنُتُ الْإِمَامُ سِرًّا قَبْلَ الرُّكُوُعِ وَأَخَذَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَمَالِكٌ بِقُنُوْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ نَامَ الْغُلَيِّمُ لَا تَنَمْ أَخَذَ مَالِكٌ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ بِقُنُوْتِ عُمَرَ وَهُوَ اللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ الدُّعَاءُ تَحْفَظُوْنَهُ وَأَخَذَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بِقُنُوْتِ الْحَسَنِ الحَسَنِ ابْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الَّذِيْ قَالَ عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ذَكَرَ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ وَهُوَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ كُلُّهُ وَارِدٌ طَيِّبٌ قَدْ يَقُوْلُ قَائِلٌ دَلِيْلُ الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ عَرَفْنَاهَا أَيْنَ هُو؟ هَذَا أَيْنَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْقُنُوْتِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ؟ نَقُوْلُ حَدِيْثُ أَنَسٍ وَحَدِيْثُ عُمَرَ حَدِيْثُ أَنَسٍ فِي الصَّحِيْحِ سَيَأْتِيْ مَعَنَا فِي الصَّحِيْحِ سُئِلَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَلِ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ فَقِيْلَ لَهُ تَنَامُ أَنْتَ أَمَامِيْ قَالَ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَاناً يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ كَذَبَ يَعْنِي أَخْطَأَ بِلُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ الْحَمْدُ للهِ آمِيْن قَالَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْراً يَعْنِيْ كَانَ يَرَى أَنَسٌ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ لِلنَّوَازِلِ كَمَا قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ حِيْنَ دَعَا عَلَى رَعْلٍ وَذِكْوَانَ عُصَيَّة عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أَمَّا لِغَيْرِ النَّوَازِلِ فَالْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ هَكَذَا يَرَى أَنَسٌ قَالَ قِيْلَ لَهُ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْرًا يَعْنِيْ فِي غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ قُنُوْتُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ ذَكَرْنَا هَذَا التَّفْصِيْلَ لِنُبَيِّنَ أَقْوَالَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمَسْأَلَةِ فَإِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ أَوْ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ فَجْرًا نَعَمْ نَسِيْتُ أَنْ أَقُوْلَ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يَقْنُتُوْنَ سِرًّا… كَيْفَ؟ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ إِذَا انْتَهَى مِنَ الْفَاتِحَةِ وَانْتَهَى مِنَ السُّوْرَةِ يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَعْنِيْ لَحْظَةً وَيَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ يَقْرَأُهُ سِرًّا هَكَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَلِذَلِكَ إِذَا صَلَّيْتَ خَلْفَ مَالِكِيٍّ إِذَا كُنْتَ فِي إِفْرِيْقِيَا أَوْ فِي الْمَغْرِبِ تُلَاحِظُ هَذَا الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثُمَّ يَقْرَأُ السُّوْرَةَ وَيَسْكُتُ لِمَاذَا يَسْكُتُ؟ لِأَنَّهُ الْآنَ هُوَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ هُوَ الْآنَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ عَنْ وَالِد عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ سِرًّا فَإَذَا انْتَهَى قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ وَفِي الْبِلَادِ الشَّافِعِيَّةِ كَجَنُوْبِ شَرْقِ آسِيَا وَفِيْ مِصْرَ وَفِي الْبِلَادِ الَّتِي يَنْتَشِرُ فِيْهَا مَذْهَبُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ تَجِدُوْنَهُ يَقْنُتُوْنَ فِي الْيَمَنِ كَذَلِكَ خَاصَّةً فِي حَضْرَمَوْت يَقْنُتُوْنَ جَهْرًا الْإِمَامُ يَقْنُتُ جَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ أَعُوْدُ فَأَقُوْلُ لِمَاذَا أَنَا أَقُوْلُ هَذَا لِأَنَّ بَعْضَ مَنْ ضَاقَ أُفُقُهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَقَلَّ عِلْمُهُ يُنْكِرُ يُنْكِرُ عَلَى مَنْ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ يُوْجَدُ هَذَا يُوْجَدُ عِنْدَكُمْ يُوْجَدُ يُوْجَدُ أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ هَذَا جَهْلٌ مِنْهُ وَضِيْقُ أُفُقٍ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنْ مَالِكاً مُبْتَدِعٌ؟ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ مُبْتَدِعٌ؟ لَا ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ كَانَتْ تَفْعَلُ ذَلِكَ مِنَ الْأُمَّةِ جَمَاعَاتٌ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي زَمَنٍ فِي زَمَنِ مَالِكٍ وَتَعْلَمُوْنَ عَمَلَ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْدَ مَالِكٍ حُجَّةٌ لِأَنَّهُ يَرَى مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَّةٌ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فِي زَمَنِهِ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ فَإِذَا نَقَلَ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ كُلُّهُمْ عَمَلاً عَنْ لَا لَيْسَ هُوَ مِنْ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ التَّابِعُوْنَ فَإِذَا كَانَ التَّابِعُوْنَ كُلُّهُمْ نَقَلُوْا عَمَلاً بِاتِّفَاقِ وَهُمْ تَابِعُوْا أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْ شُيُوْخِهِمْ وَهُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَالِكاً يَرَى هَذَا حُجَّةٌ يَقُوْلُ هَذَا أَقْوَى مِنْ أَنْ يَقُوْلَهُ وَاحِدٌ عَنْ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَالِكٌ يُقَدَّمُ عَلَى مَا نَقَلَهُ الْوَاحِدُ عَنِ الْوَاحِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَلٌ أَدْرَكَ الْإِمَامُ مَالِكٌ التَّابِعِيْنَ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي الْمَدِيْنَةِ وَيَرْفَعُوْنَهُ إِلَى الصَّحَابَةِ تَجْرُأُ أَنْتَ أَنْ تَقُوْلَ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ ثُمَّ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ إِمَامُ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَدْرَكَ أَتْبَاعَ التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوْا التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوا الصَّحَابَةَ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ضَاقَ أُفُقُ الطَّالِبِ وَقَلَّ عِلْمُهُ كَثُرَ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا قَلَّ عِلْمُكَ كَثُرَ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ لِأَنَّكَ لَا تَعْرِفُ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا فَكُلُّ قَوْلٍ يُخَالِفُ هَذَا الْقَوْلَ تُنْكِرُهُ وَالسَّبَبُ مَا هُوَ أَنَّكَ جَاهِلٌ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَلَمَّا كُنْتَ جَاهِلًا لَا تَعْرِفُ إِلَّا إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا تُنْكِرُ عَلَى الْمُخَالِفِ تَقُوْلُ هَذَا مُبْتَدِعٌ خَالَفَ السُّنَّةَ أَيْنَ السُّنَّةُ؟ السُّنَّةُ مَا أَنَا عَلَيْهِ مَا أَنَا عَلَيْهِ سُنَّةٌ وَمَا خَالَفَنِيْ بِدْعَةٌ وَكُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ كُلَّمَا زَادَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُكَ اِتَّسَعَ أُفُقُكَ وَعَلِمْتَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَخْتَلِفُوْنَ وَالنَّبِيُّ يُقِرُّهُمْ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِلَافِهِمْ قَالَ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ اِخْتَلَفُوْا فِي تَطْبِيْقِ الْأَمْرِ؟ اخْتَلَفُوْا بَعْضُهُمْ قَالُوْا هُوَ مَا أَدْرَكَ مَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُخْرِجَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا إِنَّمَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُسْرِعَ فَصَلُّوْا فِي الطَّرِيْقِ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا نُصَلِّيْ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ فَيُصَلُّوْا الْعَصْرَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَرَضُوْا عَلَيْهِ أَقَرَّ الْفَرِيْقَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدٍ مَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ وَلَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ خَرَجَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَفَقَدُوْا الْمَاءَ فَتَيَمَّمُوْا وَصَلُّوْا فَتَيَمَّمَا وَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَتَوَضَّأَ قَالَ الْوَقْتُ بَاقٍ نُعِيْدُ الصَّلَاةَ فَقَالَ الْآخَرُ مَا نُعِيْدُ لِأَيْ شَيْءٍ نُعِيْدُ نَحْنُ أُمِرْنَا فَامْتَثَلْنَا اللهُ أَمَرَنَا قَالَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوا فَامْتَثَلْنَا مَا أُعِيْدُ الثَّانِي أَعَادَ عَادُوْا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْبَرُوْهُ فَقَالَ لِلَّذِيْ لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِيْ أَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ أَنْكَرَ عَلَيْهِمَا؟ لَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا؟ لَا هَذَا فِيْهِ سُكَّرٌ أَوْ عَسَلٌ؟ عَسَلٌ جَيِّدٌ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَقَالَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ قَالَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا وَلَوْ قَرَأْتَ الْمُصَنَّفَ لِابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَهَذَا كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانٌ عَظِيْمٌ جَمَعَ فِقْهَ الصَّحَابَةِ فِقْهَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَرَأْنَاهُ أَوْ قَرَأْنَا أَكْثَرَهُ اِثْنَيْ عَشَرَ مُجَلَّدًا مِنْهُ يَعْنِيْ نِصْفَهُ عَلَى شَيْخِنَا الشَّيْخِ رَحْمَةِ اللهِ الْأَرْكَانِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَغَفَرَ لَهُ وَنَحْنُ فِي الْمُجَلَّدِ الثَّانِيْ عَشَرَ تُوُفِّيَ وَهُوَ مِنْ أَقْرَانِ شَيْخِنَا مِنْ أَقْرَانِ الشَّيْخِ كَمَا أَنَّ الشَّيْخَ قَرَأَ مُسْلِماً عَلَى الْبِلْيَاوِيْ هُوَ قَرَأَ عَلَى الْبِلْيَاوِيْ مُسْلِماً وَقَرَأَ الْبُخَارِيَّ عَلَى حُسَيْنِ أَحْمَدَ الْمَدَنِيِّ رَحِمَهُ اللهُ فَلَمَّا قَرَأْنَا عَلَيْهِ مُصَنَّفَ ابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَجَدْنَا عَجَبًا كَمَا قُلْتُ مُصَنَّفَ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانُ فِقْهِ الصَّحَابَةِ فَتَجِدُ ابْنَ أَبِيْ شَيْبَةَ يَذْكُرُ بِأَسَانِيْدِهِ فَتَاوَى الصَّحَابَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ مَسْأَلَةً إِلَّا وَلِلصَّحَابَةِ فِيْهَا أَقْوَالٌ هَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَهَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَكُلٌّ فِيْ مَكَانٍ وَاحِدٍ هَذَا يَعْذُرُ هَذَا وَهَذَا يَعْذُرُ هَذَا هَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا وَهَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا هَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ وَهَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ هَذَا فِعلُ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا فِعْلُ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ وَهَذَا فِعْلُ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ فَأَمْرٌ دَرَجَ عَلَيْهِ السَّلَفُ 1تَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ وَلَهُمْ أَدِلَّةٌ سَوَاءً كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ أَوْ مُطْلَقَةً لَكِنْ قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْفَجْرِ لَهُمْ أَدِلَّةٌ فَتَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ؟ مَا يَنْبَغِيْ هَذَا، هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّكَ جَاهِلٌ قَالُوْا أَنَّ الْخَلِيْلَ بْنَ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ مَعْلَيْش أَخْرُجُ قَلِيْلاً مِنَ الْمَوْضُوْعِ ثُمَّ أَرْجِعُ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ تَعْرِفُوْنَهُ؟ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الْعِلْمِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ تَعْرِفُوْنَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ؟ دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ أَوْ مَا دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ؟ مَا دَرَسْتُمْ عِلْمَ الْعَرُوْضِ كَيْفَ تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ إِذًا؟ أَوْ لَا تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ؟ طَيِّبٌ مَا تَقُوْلُوْنَ. تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ حَتَّى ….. مَا تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ مَا عَرَفْتُمُ الْعَرَبِيَّةَ إِذًا لَا بُدَّ أَنْ تَتَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ لَيْسَ تَعَصُّبًا لِلْعَرَبِ يَا إِخْوَانُ لَكِنَّ اْلقُرْآنَ عَرَبِيٌّ وَنَبِيَّنَا عَرَبِيٌّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَدِيْثَ عَرَبِيٌّ وَأَنْتَ لَنْ تَفْهَمَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ إِلَّا بِلُغَةِ الْعَرَبِ وَكُتُبُ الْعِلْمِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ أَوْ جُلُّهَا أَوْ أَكْثَرُهَا كُتُبُ شُرُوْحِ الْأَحَادِيْثِ كُتُبُ الْفِقْهِ كُتُبُ التَّفْسِيْرِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَأَنْتَ إِذَا كُنْتَ لَا تَعْرِفُ الْعَرَبِيَّةَ كَيْفَ تَفْهَمُ هَذِهِ؟ كَيْفَ تَقْرَأُهَا؟ الْمُهِمُّ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ هَذَا هُوَ وَاضِعُ بُحُوْرِ الشِّعْرِ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَقُوْلُ شِعْرًا لَكِنْ تَقُوْلُهَا وَتَعْرِفُ بُحُوْرَهَا دُوْنَ قَوَاعِدَ كَمَا أَنَّهَا تَتَكَلَّمُ دُوْنَ أَنْ تَلْحَنَ فَلَمَّا دَخَلَ أَعَاجِمُ وَأَفْسَدُوْا لُغَةَ الْعَرَبِ اِحْتَاجَ الْعُلَمَاءُ إِلَى وَضْعِ قَوَاعِدَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَجُمِعَتْ قَوَاعِدَ النَّحْوِ وَالصَّرْفِ هَكَذَا بُحُوْرُ الشِّعْرِ فَكَانَ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيّ يَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَضَعُ بُحُوْرَ الشِّعْرِ وَيُقَيِّدُهَا وَيُقَطِّعُ الشِّعْرَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ ابْنُهُ وَكَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ كَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ أَبْلَةٌ دَخَلَ فَوَجَدَ أَبَاهُ فِيْ غُرْفَةٍ وَهُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ هَذِهِ مِنْ بُحُوْرِ الشِّعْرِ مُتفَاعِلٌ نَظَرَ إِلَى أَبِيْهِ خَافَ عَلَيْهِ ذَهَبَ إِلَى أُمِّهِ قَالَ يَا أُمَّاه أَدْرِكِيْ أَبِيْ فَقَدْ جُنَّ جَالِسٌ وَحْدَهُ يُكَلِّمُ نَفْسَهُ هُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ جُنَّ أَبِيْ أَدْرِكِيْهِ سَمِعَ أَبُوْهُ فَقَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ عَذَلْتُكَ لُمْتُكَ عَذَرْتَنِيْ يَعْنِيْ تَعْذُرُنِيْ مِنَ الْعُذْرِ وَعَذَلْتَنِيْ مِنَ اللَّوْمِ قَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ يَعْنِيْ لُمْتُكَ وَعَاقَبْتُكَ لِأَنَّكَ تَقُوْلُ عَلَى أَبِيْكَ مَجْنُوْنٌ كُنْتُ عَاقَبْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ هَكَذَا الْجَاهِلُ يَرَى الْعَاقِلَ مَجْنُوْنًا فَإِذَا رَأَى الْجَاهِلُ الَّذِيْ لَا يَعْرِفُ فِي الْفِقْهِ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا وَوَجَد مَنْ يُخَالِفُهُ أَنْكَرَ عَلَيْهِ أَنْكَرَ عَلَيْهِ يَقُوْلُ هَذَا خِلَافُ السُّنَّةِ لَيْسَ خِلَافَ السُّنَّةِ خِلَافُ عَقْلِكَ فَقَطْ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ازْدَادَ عِلْمُ الْإِنْسَانِ اِتَّسَعَ أُفُقُهُ وَقَلَّ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ قَلَّ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ مَا تُنْكِرُ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ وَهَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ هَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ اطْلُبُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَرْفَعُ الْجَهْلَ فَإِذَا رُفِعَ عَنِ الْإِنْسَانِ الْجَهْلُ قَلَّ إِنْكَارُهُ عَلَى غَيْرِهِ وَاللهُ أَعْلَمُ نَعَمْ      


Tentang Qunut yang Mungkin Kamu Belum Tahu – Syaikh Hamid Akram al-Bukhari #NasehatUlama Perbedaan pendapat dalam masalah ini; apakah qunut senantiasa disyariatkan atau hanya ketika ada musibah (nazilah), mayoritas ulama berpendapat bahwa qunut hanya disyariatkan ketika terjadi musibah. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa qunut dapat dilakukan kapan saja, dan ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- dan juga pendapat Imam Malik. Pendapat Imam Malik dan pendapat Imam asy-Syafi’i. Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan pada rakaat kedua dalam shalat subuh, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Akan tetapi perbedaan pendapat di antara Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i adalah apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan mengeraskan suara bacaan doanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan dalam shalat subuh pada rakaat kedua sebelum ruku’ dengan memelankan (suara) bacaan doanya. Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut hanya dilakukan pada shalat witir. Namun mereka berdua berbeda pendapat, apakah dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya? Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ seperti pendapat Imam Malik. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ seperti pendapat Imam asy-Syafi’i. Jadi, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku. Sedangkan Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat witir. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan pada shalat subuh. Jadi, ada berapa pendapat pada masalah ini? Ada empat pendapat, ada empat pendapat. Pertama, pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa qunut dilakukan pada shalat witir sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan pelan, bahkan qunut pada witir di shalat tarawih. Dengan memelankan (suara) bacaan doanya bahkan pada qunut witir di shalat tarawih. Kedua, pendapat Imam Malik yang memiliki kemiripan dengan pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’-dalam hal ini Imam Malik sependapat dengan Imam Abu Hanifah-, akan tetapi menurut Imam Malik, qunut dilakukan pada shalat subuh, dan dengan memelankan bacaan seperti pada madzhab Hanafiyah, dan qunut dalam madzhab ini dilakukan dengan bacaan pelan meski pada qunut shalat witir yang dilakukan secara berjamaah seperti pada shalat tarawih. Pendapat ketiga, yaitu pendapat Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ dengan (suara) bacaan yang dikeraskan (jahr) dalam shalat subuh, seperti yang dilakukan para penduduk negara kalian (Indonesia) Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’ dengan (suara) bacaan yang dipelankan (sirr), meskipun pada shalat jamaah, sehingga imam shalat melakukan qunut sebelum ruku’ dengan bacaan yang pelan (sirr). Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Anak itu tidur… jangan tidur!! Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- yaitu, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdiika, wa nastaghfiruka wa natuubu ilaika wa nutsnii ‘alaikalkhoiro kullahu, dan seterusnya seperti yang kalian hafal. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad menggunakan doa qunut yang diriwayatkan oleh al-Hasan. al-Hasan bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan kepadaku… kemudian ia menyebutkan doa qunut: Allahummahdinaa fiiman hadaita… Allahummahdinaa fiiman hadaita… dst…” Dan kedua doa ini baik, kedua doa ini baik dan memiliki landasan riwayatnya. Baik, mungkin akan ada orang yang berkata, dalil qunut yang dilakukan setelah ruku’ telah kami ketahui, yang mana itu? Yang tadi telah kita sebutkan… Lalu mana dalil tentang qunut yang dilakukan sebelum ruku’? Maka jawabannya adalah hadits riwayat Anas dan riwayat Umar. Hadits riwayat Anas terdapat dalam kitab ash-Shahih, dan akan kita sebutkan. Dalam ash-Shahih disebutkan, Anas -radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya, “Apakah qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’…” Kemudian dikatakan kepadanya.. Kamu berani tidur di depanku? Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku..’” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah (kadzaba)”. Kadzaba berarti ‘salah’ dalam bahasa penduduk Hijaz. Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut… Alhamdulillah… alhamdulillah… Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalakum.. Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah, karena Rasulullah melakukan qunut…” Alhamdulillah… amin.. Anas menjawab, “Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni Anas berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ pada saat terdapat musibah (nazilah) Sebagaimana Rasulullah juga melakukan qunut setelah ruku’ ketika berdoa untuk keburukan Bani Ra’i dan Bani Dzikwan yang telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Adapun selain qunut nazilah, maka dilakukan sebelum ruku’. Demikianlah pendapat Anas. Anas ditanya, “Qunut dilakukan sebelum ruku’ atau setelahnya?” Dia menjawab, “Sebelum ruku’..” Kemudian dikatakan kepadanya, “Akan tetapi Si Fulan mengatakan kamu berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’..” Anas menjawab, “Ucapan Si Fulan itu salah. Karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut setelah ruku’ selama satu bulan.” Yakni selain daripada itu, Rasulullah melakukan qunut sebelum ruku’. Kami menyebutkan masalah ini dengan terperinci untuk menjelaskan pendapat-pendapat para ulama dalam perkara ini. Karena sebagian penuntut ilmu mengingkari syariat melakukan qunut setelah ruku’, atau mengingkari syariat qunut subuh. Oh iya, aku lupa untuk menjelaskan dalam madzhab Malikiyah, mereka melakukan qunut dengan bacaan suara pelan (sirr). Bagaimana itu? Jika imam shalat telah sampai pada rakaat kedua dan selesai membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, Maka dia akan diam sejenak. Diam beberapa saat. Diam sejenak untuk membaca doa qunut; Allahumma innaa nasta’iinuka wa nastahdiika.. dan seterusnya. Dia membacanya dengan bacaan pelan. Demikianlah dalam madzhab al-Malikiyah. Oleh sebab itu, jika kamu shalat di belakang imam yang bermadzhab Maliki ketika kamu berada di Afrika atau Maroko, maka kamu dapat memperhatikan bahwa imam itu pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan surat setelahnya, kemudian dia diam sejenak. Mengapa dia diam sejenak? Karena dia ketika itu membaca doa qunut. Ketika itu dia membaca doa qunut. Kemudian membaca dengan pelan doa yang diriwayatkan Walid dari Umar -radhiyallahu ‘anhu-, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastahdika…dst. Jika imam telah selesai membaca doa qunut, dia mengucapkan ‘Allahu akbar’ kemudian melakukan ruku’. Adapun di negara yang bermadzhab asy-Syafi’iyah, seperti di Asia Tenggara, Mesir, dan negara lainnya yang tersebar madzhab Imam asy-Syafi’i; maka kalian akan mendapati mereka melakukan qunut.. Oh benar! Begitu pula di negara Yaman, terlebih lagi di kota Hadramaut- mereka akan membaca doa qunut dengan suara yang dikeraskan (jahr) Imam shalat mereka akan membaca doa qunut secara jahr setelah ruku’ pada rakaat kedua. Saya ulangi sekali lagi, mengapa saya menjelaskan permasalahan ini? Karena sebagian penuntut ilmu yang sempit wawasannya dan sedikit ilmunya, melakukan pengingkaran. Mengingkari orang yang melakukan qunut setelah ruku’, dan mengatakan bahwa itu adalah bid’ah. Apakah ada orang yang berpandangan seperti ini di sini? Apakah ada? Apakah ada wahai Abu Abdurrahman? Dia berpandangan bahwa itu adalah bid’ah. Ini merupakan suatu kebodohannya dan kesempitan wawasannya. Apakah kamu berani berkata bahwa Imam Malik adalah pelaku bid’ah? Apakah kamu berani berkata bahwa Imam asy-Syafi’i adalah pelaku bid’ah? Tidak. Kemudian ketahuilah, bahwa banyak dari umat ini yang melakukan qunut ini. Para penduduk kota Madinah, dahulu melakukan qunut seperti ini pada zaman Imam Malik. Sebagaimana yang kalian ketahui, bahwa amalan para penduduk kota Madinah dikategorikan sebagai dalil dalam madzhab Imam Malik, karena beliau berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan oleh banyak orang dari banyak orang, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah dalil. Ini adalah amalan penduduk kota Madinah pada zaman Imam Malik. Para guru beliau siapa saja mereka? Mereka adalah tabi’uttabi’in (generasi setelah tabi’in). Jika semua tabi’uttabi’in meriwayatkan tentang suatu amalan dari… Bukan, bukan. Imam Malik adalah tabi’uttabi’in. Siapa para guru Imam Malik? Mereka adalah para tabi’in. Maka jika semua tabi’in meriwayatkan suatu amalan tanpa ada perbedaan pendapat -dan mereka adalah para tabi’in yang ada di Madinah-, dari para guru mereka yaitu para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-; maka Imam Malik berpendapat bahwa amalan ini dapat dijadikan sebagai dalil. Dia berpendapat bahwa dalil ini lebih kuat daripada apa yang diriwayatkan satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Imam Malik berpendapat bahwa apa yang diriwayatkan banyak orang dari banyak orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih diutamakan daripada apa yang diriwayatkan oleh satu orang dari satu orang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Dan qunut ini adalah) amalan yang didapati oleh Imam Malik yang dilakukan oleh para tabi’in di Madinah yang mereka dapati dari para sahabat. Apakah kamu berani untuk berkata bahwa ini adalah perkara bid’ah? Selain itu, Imam asy-Syafi’i yang merupakan imam bagi para penduduk kota Makkah, Beliau mendapati tabi’uttabi’in mengamalkan qunut ini, dan para tabi’uttabi’in mendapati para tabi’in mengamalkan qunut ini, dan mereka mendapati para sahabat mengamalkannya. Maka dari itu wahai para saudaraku, semakin sempit wawasan seorang penuntut ilmu dan semakin sedikit ilmunya, maka pengingkarannya akan semakin banyak. Semakin sedikit ilmumu, maka kamu akan semakin banyak melakukan pengingkaran terhadap apa yang dilakukan orang lain, karena kamu hanya mengetahui satu pendapat saja, sehingga setiap pendapat yang menyelisihi pendapat itu akan kamu ingkari! Jadi sebabnya adalah karena kamu tidak mengetahui! Karena kamu jahil! Ketika kamu tidak mengetahui selain satu pendapat saja, maka kamu akan mengingkari orang yang menyelisihimu! Dengan mengatakan, “Itu perkara bid’ah dan menyelisihi sunnah!” Dan jika ditanya, mana yang sesuai sunnah? Maka akan dijawab, sunnah adalah yang aku lakukan! Apa yang aku lakukan adalah sunnah, sedangkan yang menyelisihi aku adalah bid’ah! Maka semakin bertambah ilmumu, maka akan semakin luas wawasanmu dan kamu akan mengetahui bahwa dahulu para sahabat saling berbeda pendapat, akan tetapi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengikrarkan dan memaklumi perbedaan mereka. Beliau pernah bersabda, “Janganlah ada dari kalian yang shalat ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.” Dan apakah para sahabat berbeda pendapat tentang pelaksanaan perintah Rasulullah tersebut? Mereka berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan, “Rasulullah tidak bermaksud agar kita mendirikan shalat ashar setelah waktunya habis; namun beliau menginginkan agar kita bergegas untuk pergi ke tempat Bani Quraizhah.” Maka merekapun shalat di tengah perjalanan. Sedangkan para sahabat yang lain berpendapat, “Kita tidak akan mendirikan shalat ashar kecuali setelah sampai di tempat Bani Quraizhah.” Sehingga mereka mendirikan shalat ashar di sana setelah shalat maghrib. Ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- datang dan para sahabat menjelaskan perselisihan mereka, beliau meridhai kedua belah pihak, tanpa mengingkari salah satu dari mereka. Beliau tidak berkata kepada satu pihak, “Kalian salah” atau berkata kepada pihak yang lain “Kalian salah”. Suatu hari dua orang sahabat melakukan safar.. Kemudian kehabisan air, sehingga mereka bertayammum dan mendirikan shalat. Namun setelah itu mereka menemukan air saat waktu shalat masih tersisa. Salah satu dari mereka berwudhu dengan air itu kemudian berkata, “Waktu shalat masih ada, maka mari kita mengulangi shalat tadi.” Temannya itu menjawab, “Kita tidak perlu mengulangi shalat; mengapa kita harus mengulangi shalat, kita telah melakukan sesuai apa yang diperintahkan. Allah memerintahkan kita bertayammum jika tidak memiliki air, dan kita telah melakukan perintah Allah ini. Aku tidak akan mengulangi shalatku.” Sedangkan temannya mengulangi shalatnya. Ketika mereka telah pulang, mereka mendatangi Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menceritakan apa yang mereka perselisihkan. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalat, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Kemudian beliau bersabda kepada orang yang mengulangi shalatnya, “Bagimu dua pahala shalat.” Apakah Rasulullah mengingkari mereka berdua? Tidak. Atau apakah Rasulullah mengingkari salah satu dari mereka? Tidak. Minuman ini memakai gula atau madu? Madu? Bagus. Beliau bersabda, “Kamu telah berbuat sesuai sunnah, dan shalat yang kamu lakukan telah cukup bagimu.” Dan beliau bersabda kepada yang lain, “Bagimu dua pahala shalat.” Rasulullah tidak mengingkari apa yang telah mereka berdua lakukan. Jika kamu membaca kitab al-Mushannaf yang ditulis Ibnu Abi Syaibah yang merupakan kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-. Kami telah membacanya atau membaca sebagian besarnya, yaitu 12 jilidnya atau setengahnya. Kami membacanya di hadapan syeikh kami, asy-Syeikh al-Arkaniy -rahimahullah wa ghafara lahu-, ketika kami sampai pada jilid ke-12, beliau wafat. Beliau adalah teman seperguruan dengan syeikh kita ini; karena asy-Syeikh telah membaca Shahih Muslim pada al-Bilyawi, dan asy-Syeikh al-Arkaniy juga membaca Shahih Muslim pada asy-Syeikh al-Bilyawi dan membaca Shahih al-Bukhari pada Husain Ahmad al-Madaniy -rahimahullah-. Ketika kami membaca pada beliau kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, kami mendapati hal menakjubkan di dalamnya.. Sebagaimana telah saya katakan, Ibnu Abi Syaibah telah menulis kitab agung yang menghimpun fiqih para sahabat, sehingga kamu akan mendapati Ibnu Abi Syaibah menyebutkan fatwa-fatwa para sahabat dengan sanadnya, dan hampir tidak ada satupun permasalahan melainkan para sahabat memiliki pendapat yang berbeda-beda di dalamnya. Satu sahabat mengamalkan suatu pendapat, dan sahabat yang lain mengamalkan pendapat yang berbeda.. Padahal mereka semua tinggal di satu negeri, namun sahabat yang satu memaklumi perbedaan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak menyalahkan sahabat yang lain.. Sahabat yang satu tidak mengingkari sahabat yang lain, dan begitu pula sebaliknya.. Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan itulah yang dilakukan oleh para tabi’in dan yang dilakukan para tabi’uttabi’in. Sehingga inilah sikap para salaf dalam menyikapi perbedaan di antara mereka Kemudian kamu datang dengan berkata, “Perkara ini bid’ah!”. Padahal mereka memiliki dalil, baik itu dalam hal qunut yang terikat dengan waktu tertentu atau secara mutlak. Akan tetapi, bagaimanapun Rasulullah juga pernah melakukan qunut subuh.. Sehingga mereka memiliki dalil dalam hal ini.. Kemudian kamu datang dan berkata, “Perkara ini bid’ah!” Sungguh yang seperti ini tidak layak dilakukan, kerena itu menunjukkan bahwa kamu adalah orang bodoh. Dikisahkan bahwa al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi -Tidak mengapa aku keluar sedikit dari pembahasan, dan nanti kita kembali lagi- Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi; kalian mengetahuinya? Dia adalah ulama yang menetapkan kaidah-kaidah buhur asy-Syi’ri (kaidah penetapan nada pada syair arab). Kalian mengetahui buhur asy-Syi’ri? Kalian mempelajari ilmu ‘arudh atau tidak? Tidak? Kalau begitu bagaimana kalian akan membuat syair arab? Kalian tidak dapat membuat syair arab? Tidak juga. Lalu apakah kalian dapat menikmati indahnya syair arab? Bahkan untuk merasakan keindahannya pun tidak? Kalau begitu kalian tidak mengetahui bahasa arab! Kalian harus mempelajari bahasa arab Aku sampaikan ini bukan karena bertasa’assub kepada orang arab, bukan wahai saudaraku.. Akan tetapi al-Qur’an berbahasa arab, Nabi kita orang arab -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan hadits Nabi berbahasa arab.. Kamu tidak akan dapat memahami al-Qur’an dan as-Sunnah kecuali dengan bahasa arab.. Kitab-kitab ilmu seluruhnya atau mayoritasnya berbahasa arab.. Kitab-kitab penjelasan hadits-hadits, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tafsir, semuanya berbahasa arab. Jika kamu tidak memahami bahasa arab, maka bagaimana kalian akan memahami dan membaca kitab-kitab itu? Ala kulli hal, al-Khalil bin Ahmad adalah orang yang meletakkan kaidah buhur asy-syi’ri.. Karena pada awalnya orang arab dapat membuat syair dan mengetahui nadanya tanpa membutuhkan kaidah, sebagaimana mereka dapat berbicara tanpa mengalami kesalahan. Namun ketika orang-orang selain arab masuk Islam, mereka merusak bahasa orang arab; maka para ulama merasa perlu untuk meletakkan kaidah bahasa arab.. Maka dibuatlah kaidah nahwu dan sharaf; dan demikian pula dengan buhur asy-Syi’ri. Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi suatu hari duduk di rumahnya untuk meletakkan kaidah buhur asy-Syi’ri dan memotong-motong kalimat pada syair. Kemudian anaknya masuk menghampirinya. Dan anaknya adalah orang yang jahil dan tidak berilmu. Anaknya masuk dan mendapati ayahnya di dalam ruangan dengan mengulang-ulang kalimat ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ Dan kalimat ini merupakan salah satu nada pada syair arab. Anaknya melihat padanya dengan penuh kekhawatiran, sehingga ia pergi menemui ibunya seraya berkata, “Wahai Ibuku, tolonglah ayah, sepertinya dia sudah gila, dia duduk sendirian dan mengulang-ulang, ‘مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ’ dia telah gila, maka tolonglah dia wahai Ibu..” Al-Khalil mendengar ucapan anaknya, sehingga ia berkata kepadanya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu…” Makna “عَذَرْتَنِيْ” yakni memaklumi, sedangkan makna “عَذَلْتَنِيْ” yakni mencela. Al-Khalil berkata kepada anaknya, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu.” Yakni niscaya aku akan mengolok dan menghukummu karena telah mengatakan ayahmu menjadi gila. “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku katakan, niscaya kamu akan memaklumiku, atau seandainya aku mengetahui apa yang kamu katakan niscaya aku akan mencelamu. Akan tetapi kamu tidak mengetahui apa yang aku katakan, sehingga kamu mencelaku; dan aku mengetahui kalau kamu tidak memahami perkataanku, sehingga aku memaklumimu.” Demikianlah orang yang bodoh; dia akan menganggap orang berakal sebagai orang gila. Maka jika ada orang bodoh yang tidak mengetahui dalam suatu permasalahan fiqih kecuali satu pendapat, kemudian mendapati ada orang yang menyelisihinya; niscaya dia akan mengingkarinya. Dia akan berkata, “Yang dia lakukan itu menyelisihi sunnah!” Padahal hal itu tidak menyelisihi sunnah, namun menyelisihi akalmu saja.. Oleh sebab itu wahai saudaraku, semakin bertambah ilmu seseorang maka wawasannya akan semakin luas dan pengingkarannya akan semakin sedikit. Semakin luas wawasanmu, maka pengingkaranmu terhadap orang lain akan semakin sedikit.. Kamu tidak lagi banyak mengingkari, karena mengetahui bahwa suatu pendapat itu bersumber dari para salaf, dan pendapat lain juga bersumber dari para salaf. Kedua pendapat bersumber dari para salaf. Pendapat ini memiliki dalil, dan pendapat lain juga memiliki dalil. Dan keduanya akan mendapat pahala -biidznillah ‘Azza wa Jalla- Oleh sebab itu, tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, karena ilmu akan mengangkat kebodohan, dan jika kebodohan telah diangkat dari seseorang, maka pengingkarannya terhadap orang lain akan menjadi sedikit. Wallahu Ta’ala a’lam.. === وَخِلَافُهُ هَلِ الْقُنُوْتُ بَاقٍ أَوْ أَنَّهُ كَانَ فَقَطْ لِلنَّوَازِلِ فّأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا الْقُنُوْتَ كَانَ لِلنَّوَازِلِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يَرَى أَنَّ هَذَا مُطْلَقٌ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَقَوْلُ مَالِكٍ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ إِذْ أَنَّ مَالِكاً وَالشَّافِعِيَّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا ذَهَبَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ لَكِنَّ الْخِلَافَ بَيْنَهُمَا هَلْ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْراً كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ لَكِنَّهُمَا اخْتَلَفَ هَلْ هُوَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوْعِ فَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ كَمَالِكٍ وَذَهَبَ أَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الرُّكُوْعَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ كَالشَّافِعِيِّ إِذًا ذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيْفَةَ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ وَذَهَبَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْفَجْرِ إِذًا كَمْ قَوْلًا صَارَ عِنْدَنَا؟ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ الأَوَّلُ قَوْلُ الإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ سِرًّا حَتَّى فِي التَّرَاوِيْحِ الْقَوْلُ الثَّانِيْ قَوْلُ مَالِكٍ مِثْلَ أَبِي حَنِيْفَةَ فِي جَانِبٍ وَهُوَ أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ وَافَقَ الإِمَامَ أَبِي حَنِيْفَةَ لَكِنَّهُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَسِرًّا كَالْحَنَفِيَّةِ الْقُنُوْتُ عِنْدَهُمْ سِرًّا حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَتْ حَتَّى وَلَوْ صُلِّيَ الْوِتْرُ جَمَاعَةً كَالتَّرَاوِيْحِ سِرًّا الْقَوْلُ الثَّالِثُ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ جَهْرًا فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ بِلَادِكُمْ وَذَهَبَ مَالِكٌ إِلَى أَنَّ الْقُنُوْتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ سِرًّا حَتَّى لَوْ كَانَتْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ يَقْنُتُ الْإِمَامُ سِرًّا قَبْلَ الرُّكُوُعِ وَأَخَذَ أَبُو حَنِيْفَةَ وَمَالِكٌ بِقُنُوْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ نَامَ الْغُلَيِّمُ لَا تَنَمْ أَخَذَ مَالِكٌ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ بِقُنُوْتِ عُمَرَ وَهُوَ اللّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ الدُّعَاءُ تَحْفَظُوْنَهُ وَأَخَذَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بِقُنُوْتِ الْحَسَنِ الحَسَنِ ابْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الَّذِيْ قَالَ عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ذَكَرَ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ وَهُوَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ كُلُّهُ وَارِدٌ طَيِّبٌ قَدْ يَقُوْلُ قَائِلٌ دَلِيْلُ الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ عَرَفْنَاهَا أَيْنَ هُو؟ هَذَا أَيْنَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْقُنُوْتِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ؟ نَقُوْلُ حَدِيْثُ أَنَسٍ وَحَدِيْثُ عُمَرَ حَدِيْثُ أَنَسٍ فِي الصَّحِيْحِ سَيَأْتِيْ مَعَنَا فِي الصَّحِيْحِ سُئِلَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ هَلِ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ فَقِيْلَ لَهُ تَنَامُ أَنْتَ أَمَامِيْ قَالَ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَاناً يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ كَذَبَ يَعْنِي أَخْطَأَ بِلُغَةِ أَهْلِ الْحِجَازِ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ الْحَمْدُ للهِ آمِيْن قَالَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْراً يَعْنِيْ كَانَ يَرَى أَنَسٌ أَنَّ الْقُنُوْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ لِلنَّوَازِلِ كَمَا قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ حِيْنَ دَعَا عَلَى رَعْلٍ وَذِكْوَانَ عُصَيَّة عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أَمَّا لِغَيْرِ النَّوَازِلِ فَالْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ هَكَذَا يَرَى أَنَسٌ قَالَ قِيْلَ لَهُ الْقُنُوْتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا يَزْعُمُ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ قَالَ كَذَبَ فُلَانٌ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ شَهْرًا يَعْنِيْ فِي غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ قُنُوْتُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ ذَكَرْنَا هَذَا التَّفْصِيْلَ لِنُبَيِّنَ أَقْوَالَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْمَسْأَلَةِ فَإِنَّ بَعْضَ طَلَبَةِ الْعِلْمِ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ بَعْدَ الرُّكُوْعِ أَوْ يُنْكِرُ عَلَى الْقُنُوْتِ فَجْرًا نَعَمْ نَسِيْتُ أَنْ أَقُوْلَ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ يَقْنُتُوْنَ سِرًّا… كَيْفَ؟ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ إِذَا انْتَهَى مِنَ الْفَاتِحَةِ وَانْتَهَى مِنَ السُّوْرَةِ يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَسْكُتُ هُنَيْهَةً يَعْنِيْ لَحْظَةً وَيَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ يَقْرَأُهُ سِرًّا هَكَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَلِذَلِكَ إِذَا صَلَّيْتَ خَلْفَ مَالِكِيٍّ إِذَا كُنْتَ فِي إِفْرِيْقِيَا أَوْ فِي الْمَغْرِبِ تُلَاحِظُ هَذَا الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثُمَّ يَقْرَأُ السُّوْرَةَ وَيَسْكُتُ لِمَاذَا يَسْكُتُ؟ لِأَنَّهُ الْآنَ هُوَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ هُوَ الْآنَ يَقْرَأُ دُعَاءَ الْقُنُوْتِ عَنْ وَالِد عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ سِرًّا فَإَذَا انْتَهَى قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ وَرَكَعَ وَفِي الْبِلَادِ الشَّافِعِيَّةِ كَجَنُوْبِ شَرْقِ آسِيَا وَفِيْ مِصْرَ وَفِي الْبِلَادِ الَّتِي يَنْتَشِرُ فِيْهَا مَذْهَبُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ تَجِدُوْنَهُ يَقْنُتُوْنَ فِي الْيَمَنِ كَذَلِكَ خَاصَّةً فِي حَضْرَمَوْت يَقْنُتُوْنَ جَهْرًا الْإِمَامُ يَقْنُتُ جَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ أَعُوْدُ فَأَقُوْلُ لِمَاذَا أَنَا أَقُوْلُ هَذَا لِأَنَّ بَعْضَ مَنْ ضَاقَ أُفُقُهُ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَقَلَّ عِلْمُهُ يُنْكِرُ يُنْكِرُ عَلَى مَنْ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ يُوْجَدُ هَذَا يُوْجَدُ عِنْدَكُمْ يُوْجَدُ يُوْجَدُ أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُوْلُ هَذِهِ بِدْعَةٌ هَذَا جَهْلٌ مِنْهُ وَضِيْقُ أُفُقٍ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنْ مَالِكاً مُبْتَدِعٌ؟ أَتَجْرُأُ أَنْ تَقُوْلَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ مُبْتَدِعٌ؟ لَا ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ كَانَتْ تَفْعَلُ ذَلِكَ مِنَ الْأُمَّةِ جَمَاعَاتٌ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي زَمَنٍ فِي زَمَنِ مَالِكٍ وَتَعْلَمُوْنَ عَمَلَ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْدَ مَالِكٍ حُجَّةٌ لِأَنَّهُ يَرَى مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُجَّةٌ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فِي زَمَنِهِ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ فَإِذَا نَقَلَ أَتْبَاعُ التَّابِعِيْنَ كُلُّهُمْ عَمَلاً عَنْ لَا لَيْسَ هُوَ مِنْ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ شُيُوْخُهُ مَنْ هُمْ؟ التَّابِعُوْنَ فَإِذَا كَانَ التَّابِعُوْنَ كُلُّهُمْ نَقَلُوْا عَمَلاً بِاتِّفَاقِ وَهُمْ تَابِعُوْا أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَنْ شُيُوْخِهِمْ وَهُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مَالِكاً يَرَى هَذَا حُجَّةٌ يَقُوْلُ هَذَا أَقْوَى مِنْ أَنْ يَقُوْلَهُ وَاحِدٌ عَنْ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَقَلَهُ الْكَافَّةُ عَنِ الْكَافَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَالِكٌ يُقَدَّمُ عَلَى مَا نَقَلَهُ الْوَاحِدُ عَنِ الْوَاحِدِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَمَلٌ أَدْرَكَ الْإِمَامُ مَالِكٌ التَّابِعِيْنَ يَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ فِي الْمَدِيْنَةِ وَيَرْفَعُوْنَهُ إِلَى الصَّحَابَةِ تَجْرُأُ أَنْتَ أَنْ تَقُوْلَ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ ثُمَّ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ إِمَامُ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَدْرَكَ أَتْبَاعَ التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوْا التَّابِعِيْنَ عَلَيْهِ وَهُمْ أَدْرَكُوا الصَّحَابَةَ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ضَاقَ أُفُقُ الطَّالِبِ وَقَلَّ عِلْمُهُ كَثُرَ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا قَلَّ عِلْمُكَ كَثُرَ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ لِأَنَّكَ لَا تَعْرِفُ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا فَكُلُّ قَوْلٍ يُخَالِفُ هَذَا الْقَوْلَ تُنْكِرُهُ وَالسَّبَبُ مَا هُوَ أَنَّكَ جَاهِلٌ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَلَمَّا كُنْتَ جَاهِلًا لَا تَعْرِفُ إِلَّا إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا تُنْكِرُ عَلَى الْمُخَالِفِ تَقُوْلُ هَذَا مُبْتَدِعٌ خَالَفَ السُّنَّةَ أَيْنَ السُّنَّةُ؟ السُّنَّةُ مَا أَنَا عَلَيْهِ مَا أَنَا عَلَيْهِ سُنَّةٌ وَمَا خَالَفَنِيْ بِدْعَةٌ وَكُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ كُلَّمَا زَادَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُكَ اِتَّسَعَ أُفُقُكَ وَعَلِمْتَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَخْتَلِفُوْنَ وَالنَّبِيُّ يُقِرُّهُمْ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِلَافِهِمْ قَالَ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ اِخْتَلَفُوْا فِي تَطْبِيْقِ الْأَمْرِ؟ اخْتَلَفُوْا بَعْضُهُمْ قَالُوْا هُوَ مَا أَدْرَكَ مَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُخْرِجَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا إِنَّمَا أَرَادَ مِنَّا أَنْ نُسْرِعَ فَصَلُّوْا فِي الطَّرِيْقِ وَبَعْضُهُمْ قَالَ لَا نُصَلِّيْ إِلَّا فِي بَنِيْ قُرَيْظَةَ فَيُصَلُّوْا الْعَصْرَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَرَضُوْا عَلَيْهِ أَقَرَّ الْفَرِيْقَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدٍ مَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ وَلَا قَالَ لِهَؤُلَاءِ أَخْطَأْتُمْ خَرَجَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَفَقَدُوْا الْمَاءَ فَتَيَمَّمُوْا وَصَلُّوْا فَتَيَمَّمَا وَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ وَجَدَ الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَتَوَضَّأَ قَالَ الْوَقْتُ بَاقٍ نُعِيْدُ الصَّلَاةَ فَقَالَ الْآخَرُ مَا نُعِيْدُ لِأَيْ شَيْءٍ نُعِيْدُ نَحْنُ أُمِرْنَا فَامْتَثَلْنَا اللهُ أَمَرَنَا قَالَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوا فَامْتَثَلْنَا مَا أُعِيْدُ الثَّانِي أَعَادَ عَادُوْا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْبَرُوْهُ فَقَالَ لِلَّذِيْ لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ وَقَالَ لِلَّذِيْ أَعَادَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ أَنْكَرَ عَلَيْهِمَا؟ لَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا؟ لَا هَذَا فِيْهِ سُكَّرٌ أَوْ عَسَلٌ؟ عَسَلٌ جَيِّدٌ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَقَالَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ قَالَ لَكَ الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ مَا أَنْكَرَ عَلَى أَحَدِهِمَا وَلَوْ قَرَأْتَ الْمُصَنَّفَ لِابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَهَذَا كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانٌ عَظِيْمٌ جَمَعَ فِقْهَ الصَّحَابَةِ فِقْهَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَرَأْنَاهُ أَوْ قَرَأْنَا أَكْثَرَهُ اِثْنَيْ عَشَرَ مُجَلَّدًا مِنْهُ يَعْنِيْ نِصْفَهُ عَلَى شَيْخِنَا الشَّيْخِ رَحْمَةِ اللهِ الْأَرْكَانِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَغَفَرَ لَهُ وَنَحْنُ فِي الْمُجَلَّدِ الثَّانِيْ عَشَرَ تُوُفِّيَ وَهُوَ مِنْ أَقْرَانِ شَيْخِنَا مِنْ أَقْرَانِ الشَّيْخِ كَمَا أَنَّ الشَّيْخَ قَرَأَ مُسْلِماً عَلَى الْبِلْيَاوِيْ هُوَ قَرَأَ عَلَى الْبِلْيَاوِيْ مُسْلِماً وَقَرَأَ الْبُخَارِيَّ عَلَى حُسَيْنِ أَحْمَدَ الْمَدَنِيِّ رَحِمَهُ اللهُ فَلَمَّا قَرَأْنَا عَلَيْهِ مُصَنَّفَ ابْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ وَجَدْنَا عَجَبًا كَمَا قُلْتُ مُصَنَّفَ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ كِتَابٌ عَظِيْمٌ دِيْوَانُ فِقْهِ الصَّحَابَةِ فَتَجِدُ ابْنَ أَبِيْ شَيْبَةَ يَذْكُرُ بِأَسَانِيْدِهِ فَتَاوَى الصَّحَابَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ مَسْأَلَةً إِلَّا وَلِلصَّحَابَةِ فِيْهَا أَقْوَالٌ هَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَهَذَا يَعْمَلُ بِقَوْلٍ وَكُلٌّ فِيْ مَكَانٍ وَاحِدٍ هَذَا يَعْذُرُ هَذَا وَهَذَا يَعْذُرُ هَذَا هَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا وَهَذَا لَا يُثَرِّبُ عَلَى هَذَا هَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ وَهَذَا لَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ هَذَا فِعلُ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا فِعْلُ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ وَهَذَا فِعْلُ أَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ بَعْدَهُمْ فَأَمْرٌ دَرَجَ عَلَيْهِ السَّلَفُ 1تَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ وَلَهُمْ أَدِلَّةٌ سَوَاءً كَانَتْ مُقَيَّدَةً بِوَقْتٍ أَوْ مُطْلَقَةً لَكِنْ قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْفَجْرِ لَهُمْ أَدِلَّةٌ فَتَأْتِيْ أَنْتَ تَقُوْلُ هَذَا أَمْرٌ مُبْتَدِعٌ؟ مَا يَنْبَغِيْ هَذَا، هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّكَ جَاهِلٌ قَالُوْا أَنَّ الْخَلِيْلَ بْنَ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ مَعْلَيْش أَخْرُجُ قَلِيْلاً مِنَ الْمَوْضُوْعِ ثُمَّ أَرْجِعُ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيِّ تَعْرِفُوْنَهُ؟ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الْعِلْمِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ الَّذِيْ وَضَعَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ تَعْرِفُوْنَ بُحُوْرَ الشِّعْرِ؟ دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ أَوْ مَا دَرَسْتُمُ الْعَرُوْضَ؟ مَا دَرَسْتُمْ عِلْمَ الْعَرُوْضِ كَيْفَ تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ إِذًا؟ أَوْ لَا تَقُوْلُوْنَ الشِّعْرَ؟ طَيِّبٌ مَا تَقُوْلُوْنَ. تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ حَتَّى ….. مَا تَتَذَوَّقُوْنَهُ؟ مَا عَرَفْتُمُ الْعَرَبِيَّةَ إِذًا لَا بُدَّ أَنْ تَتَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ لَيْسَ تَعَصُّبًا لِلْعَرَبِ يَا إِخْوَانُ لَكِنَّ اْلقُرْآنَ عَرَبِيٌّ وَنَبِيَّنَا عَرَبِيٌّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَدِيْثَ عَرَبِيٌّ وَأَنْتَ لَنْ تَفْهَمَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ إِلَّا بِلُغَةِ الْعَرَبِ وَكُتُبُ الْعِلْمِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ أَوْ جُلُّهَا أَوْ أَكْثَرُهَا كُتُبُ شُرُوْحِ الْأَحَادِيْثِ كُتُبُ الْفِقْهِ كُتُبُ التَّفْسِيْرِ كُلُّهَا بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَأَنْتَ إِذَا كُنْتَ لَا تَعْرِفُ الْعَرَبِيَّةَ كَيْفَ تَفْهَمُ هَذِهِ؟ كَيْفَ تَقْرَأُهَا؟ الْمُهِمُّ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ هَذَا هُوَ وَاضِعُ بُحُوْرِ الشِّعْرِ لِأَنَّ الْعَرَبَ تَقُوْلُ شِعْرًا لَكِنْ تَقُوْلُهَا وَتَعْرِفُ بُحُوْرَهَا دُوْنَ قَوَاعِدَ كَمَا أَنَّهَا تَتَكَلَّمُ دُوْنَ أَنْ تَلْحَنَ فَلَمَّا دَخَلَ أَعَاجِمُ وَأَفْسَدُوْا لُغَةَ الْعَرَبِ اِحْتَاجَ الْعُلَمَاءُ إِلَى وَضْعِ قَوَاعِدَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَجُمِعَتْ قَوَاعِدَ النَّحْوِ وَالصَّرْفِ هَكَذَا بُحُوْرُ الشِّعْرِ فَكَانَ الْخَلِيْلُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَرَاهِيْدِيّ يَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَضَعُ بُحُوْرَ الشِّعْرِ وَيُقَيِّدُهَا وَيُقَطِّعُ الشِّعْرَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ ابْنُهُ وَكَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ كَانَ ابْنُهُ أَحْمَقُ أَبْلَةٌ دَخَلَ فَوَجَدَ أَبَاهُ فِيْ غُرْفَةٍ وَهُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ هَذِهِ مِنْ بُحُوْرِ الشِّعْرِ مُتفَاعِلٌ نَظَرَ إِلَى أَبِيْهِ خَافَ عَلَيْهِ ذَهَبَ إِلَى أُمِّهِ قَالَ يَا أُمَّاه أَدْرِكِيْ أَبِيْ فَقَدْ جُنَّ جَالِسٌ وَحْدَهُ يُكَلِّمُ نَفْسَهُ هُوَ يَقُوْلُ مُفَاعَلَةٌ مُفَاعَلَةٌ فَعُوْلُ جُنَّ أَبِيْ أَدْرِكِيْهِ سَمِعَ أَبُوْهُ فَقَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ عَذَلْتُكَ لُمْتُكَ عَذَرْتَنِيْ يَعْنِيْ تَعْذُرُنِيْ مِنَ الْعُذْرِ وَعَذَلْتَنِيْ مِنَ اللَّوْمِ قَالَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ يَعْنِيْ لُمْتُكَ وَعَاقَبْتُكَ لِأَنَّكَ تَقُوْلُ عَلَى أَبِيْكَ مَجْنُوْنٌ كُنْتُ عَاقَبْتُكَ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُوْلُ عَذَرْتَنِيْ أَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ مَا تَقُوْلُ عَذَلْتُكَ لَكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِيْ فَعَذَلْتَنِيْ وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَ هَكَذَا الْجَاهِلُ يَرَى الْعَاقِلَ مَجْنُوْنًا فَإِذَا رَأَى الْجَاهِلُ الَّذِيْ لَا يَعْرِفُ فِي الْفِقْهِ إِلَّا قَوْلًا وَاحِدًا وَوَجَد مَنْ يُخَالِفُهُ أَنْكَرَ عَلَيْهِ أَنْكَرَ عَلَيْهِ يَقُوْلُ هَذَا خِلَافُ السُّنَّةِ لَيْسَ خِلَافَ السُّنَّةِ خِلَافُ عَقْلِكَ فَقَطْ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَانُ كُلَّمَا ازْدَادَ عِلْمُ الْإِنْسَانِ اِتَّسَعَ أُفُقُهُ وَقَلَّ نَكِيْرُهُ كُلَّمَا اتَّسَعَ أُفُقُكَ قَلَّ إِنْكَارُكَ عَلَى النَّاسِ مَا تُنْكِرُ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ وَهَذَا وَارِدٌ عَنِ السَّلَفِ هَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا قَوْلٌ وَارِدٌ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَهَذَا لَهُ دَلِيْلُهُ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكُلٌّ مَأْجُوْرٌ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ اطْلُبُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ الْعِلْمَ يَرْفَعُ الْجَهْلَ فَإِذَا رُفِعَ عَنِ الْإِنْسَانِ الْجَهْلُ قَلَّ إِنْكَارُهُ عَلَى غَيْرِهِ وَاللهُ أَعْلَمُ نَعَمْ      

Beberapa Fawaid Seputar Ilmu Hadis

Penomoran hadis (tarqimul ahadits)Perlu diketahui bahwa umumnya para ulama terdahulu menulis kitab-kitab hadis tidak diberi nomor. Namun, nomor diberikan oleh para ulama-ulama setelahnya.Oleh karena itu, untuk suatu hadis yang sama, bisa jadi Anda temukan nomornya berbeda antara satu tulisan dengan tulisan yang lain yang menukil hadis tersebut.Jadi, masing-masing kitab hadis biasanya memiliki beberapa metode penomoran.Contoh untuk kitab Shahih Al-Bukhari, minimal ada 3 metode penomoran yang masyhur: Metode penomoran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Metode penomoran Syekh Musthafa Bugha Metode penomoran Al-‘Alamiyyah (yang dipakai aplikasi Lidwa) Untuk kitab Shahih Muslim, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Untuk kitab Sunan At-Tirmidzi, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Ahmad Syakir Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Jadi, kalau menemukan nomor hadis yang berbeda untuk hadis yang sama, jangan buru-buru mengklaim penulisnya dusta. Cek dulu lebih teliti.Baca Juga: Faidah Hadits Tentang Keutamaan IlmuBeberapa kaidah dalam penulisan takhrij hadisPertama, sebutkan takhrij hadis dari kitab mutaqaddimin.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxxHindari sebisa mungkin penyebutan takhrij hadits dari kitab muta’akhirin.Contoh kurang tepat: HR. An-Nawawi dalam Al Arba’in no. xxx, HR. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no. xx, HR. Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. xxxKedua, usahakan menyebutkan sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis ketika menukil hadis.Contoh: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda …”Jika tidak, maka sebutkan di takhrij hadis.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Ketiga, jika menyebutkan takhrij dari beberapa kitab, sebutkan secara berurutan.Ada 2 pilihan metode yang biasa digunakan para ulama:Pilihan pertama, urutan berdasarkan tahun wafat, yang lebih dahulu wafatnya lebih dahulu disebutkan.Contoh: Malik (wafat 179H) Asy-Syafi’i (wafat 204H) Al-Bukhari (wafat 256H) Muslim (wafat 261H) Abu Daud As-Sijistani (wafat 275H) At-Tirmidzi (wafat 279H) Sehingga penulisan yang benar: HR. Malik no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. At-Tirmidzi no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Malik no. xxxPilihan kedua, urutan berdasarkan kemasyhuran dan keagungan penulisnya. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan lebih dulu dari yang lain Kitab-kitab Al-Bukhari disebutkan lebih dahulu dari kitab yang lain Kutubus Sittah lebih didahulukan dari yang lain. Kitab hadis yang lebih dikenal lebih didahulukan dari kitab yang kurang dikenal Contoh yang benar: HR. Bukhari no. xxx, HR. Muslim no. xxx, HR. Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxx, HR. Bukhari no.xxxKeempat, ketika sebuah hadis tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari dan atau Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dan tidak dikenal status kesahihannya, maka sebutkan penghukuman hadisnya setelah takhrij.Contoh yang kurang tepat: HR. Al-Hakim (tidak ada keterangan sahih atau tidak).Contoh yang benar: HR. Al-Hakim no. xxx, beliau mengatakan: “sesuai syarat Bukhari-Muslim”, dan ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.Contoh benar yang lain: HR. Al-Baihaqi no.xxx, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. xxxBaca Juga: Kedudukan Ilmu dan Ulama HaditsApa yang dimaksud dengan takhrij hadis?Takhrij adalah seorang ulama hadis menyebutkan sanad suatu hadis mulai dari menyebutkan gurunya sampai kepada ujung sanad. Ujung sanad ini bisa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau sahabat Nabi, atau yang lainnya.Contoh, ketika kita mendapati perkataan:أخرجه البخاري في صحيحه“Al-Bukhari men-takhrij* hadis ini dalam Shahih-nya”.Maka maksudnya, Al-Bukhari menyebutkan sanad hadis tersebut dari gurunya sampai kepada ujung sanadnya di kitab Shahih Al-Bukhari.Namun, ada makna lain dari “takhrij” yang ini masyhur di kalangan ulama mu’ashirin (zaman sekarang).عزو الأحاديث إلى من ذكرها في كتابه من الأئمة وبيان درجتها من الصحة أو الحسن أو الضعف“Takhrij adalah menyandarkan hadis-hadis kepada para imam hadis yang menyebutkannya pada kitab-kitab mereka. Serta menjelaskan derajat hadis tersebut apakah shahih atau dha’if.” (Hasyiyah Kitab Al-Wasith fi Ulumi Musthalahil Hadits, hal. 353)Contohnya, setelah menyebutkan hadis lalu disebutkan bahwa hadis tersebut riwayat Al-Bukhari nomor sekian, riwayat Muslim nomor sekian, riwayat At-Tirmidzi nomor sekian disahihkan oleh Al-Albani, riwayat Al-Hakim juz sekian halaman sekian disahihkan oleh Adz-Dzahabi, dan semisalnya. Ini juga disebut takhrij hadis.Wallahu a’lam.*) sering diterjemahkan: “mengeluarkan”Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Beberapa Fawaid Seputar Ilmu Hadis

Penomoran hadis (tarqimul ahadits)Perlu diketahui bahwa umumnya para ulama terdahulu menulis kitab-kitab hadis tidak diberi nomor. Namun, nomor diberikan oleh para ulama-ulama setelahnya.Oleh karena itu, untuk suatu hadis yang sama, bisa jadi Anda temukan nomornya berbeda antara satu tulisan dengan tulisan yang lain yang menukil hadis tersebut.Jadi, masing-masing kitab hadis biasanya memiliki beberapa metode penomoran.Contoh untuk kitab Shahih Al-Bukhari, minimal ada 3 metode penomoran yang masyhur: Metode penomoran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Metode penomoran Syekh Musthafa Bugha Metode penomoran Al-‘Alamiyyah (yang dipakai aplikasi Lidwa) Untuk kitab Shahih Muslim, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Untuk kitab Sunan At-Tirmidzi, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Ahmad Syakir Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Jadi, kalau menemukan nomor hadis yang berbeda untuk hadis yang sama, jangan buru-buru mengklaim penulisnya dusta. Cek dulu lebih teliti.Baca Juga: Faidah Hadits Tentang Keutamaan IlmuBeberapa kaidah dalam penulisan takhrij hadisPertama, sebutkan takhrij hadis dari kitab mutaqaddimin.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxxHindari sebisa mungkin penyebutan takhrij hadits dari kitab muta’akhirin.Contoh kurang tepat: HR. An-Nawawi dalam Al Arba’in no. xxx, HR. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no. xx, HR. Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. xxxKedua, usahakan menyebutkan sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis ketika menukil hadis.Contoh: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda …”Jika tidak, maka sebutkan di takhrij hadis.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Ketiga, jika menyebutkan takhrij dari beberapa kitab, sebutkan secara berurutan.Ada 2 pilihan metode yang biasa digunakan para ulama:Pilihan pertama, urutan berdasarkan tahun wafat, yang lebih dahulu wafatnya lebih dahulu disebutkan.Contoh: Malik (wafat 179H) Asy-Syafi’i (wafat 204H) Al-Bukhari (wafat 256H) Muslim (wafat 261H) Abu Daud As-Sijistani (wafat 275H) At-Tirmidzi (wafat 279H) Sehingga penulisan yang benar: HR. Malik no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. At-Tirmidzi no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Malik no. xxxPilihan kedua, urutan berdasarkan kemasyhuran dan keagungan penulisnya. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan lebih dulu dari yang lain Kitab-kitab Al-Bukhari disebutkan lebih dahulu dari kitab yang lain Kutubus Sittah lebih didahulukan dari yang lain. Kitab hadis yang lebih dikenal lebih didahulukan dari kitab yang kurang dikenal Contoh yang benar: HR. Bukhari no. xxx, HR. Muslim no. xxx, HR. Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxx, HR. Bukhari no.xxxKeempat, ketika sebuah hadis tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari dan atau Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dan tidak dikenal status kesahihannya, maka sebutkan penghukuman hadisnya setelah takhrij.Contoh yang kurang tepat: HR. Al-Hakim (tidak ada keterangan sahih atau tidak).Contoh yang benar: HR. Al-Hakim no. xxx, beliau mengatakan: “sesuai syarat Bukhari-Muslim”, dan ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.Contoh benar yang lain: HR. Al-Baihaqi no.xxx, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. xxxBaca Juga: Kedudukan Ilmu dan Ulama HaditsApa yang dimaksud dengan takhrij hadis?Takhrij adalah seorang ulama hadis menyebutkan sanad suatu hadis mulai dari menyebutkan gurunya sampai kepada ujung sanad. Ujung sanad ini bisa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau sahabat Nabi, atau yang lainnya.Contoh, ketika kita mendapati perkataan:أخرجه البخاري في صحيحه“Al-Bukhari men-takhrij* hadis ini dalam Shahih-nya”.Maka maksudnya, Al-Bukhari menyebutkan sanad hadis tersebut dari gurunya sampai kepada ujung sanadnya di kitab Shahih Al-Bukhari.Namun, ada makna lain dari “takhrij” yang ini masyhur di kalangan ulama mu’ashirin (zaman sekarang).عزو الأحاديث إلى من ذكرها في كتابه من الأئمة وبيان درجتها من الصحة أو الحسن أو الضعف“Takhrij adalah menyandarkan hadis-hadis kepada para imam hadis yang menyebutkannya pada kitab-kitab mereka. Serta menjelaskan derajat hadis tersebut apakah shahih atau dha’if.” (Hasyiyah Kitab Al-Wasith fi Ulumi Musthalahil Hadits, hal. 353)Contohnya, setelah menyebutkan hadis lalu disebutkan bahwa hadis tersebut riwayat Al-Bukhari nomor sekian, riwayat Muslim nomor sekian, riwayat At-Tirmidzi nomor sekian disahihkan oleh Al-Albani, riwayat Al-Hakim juz sekian halaman sekian disahihkan oleh Adz-Dzahabi, dan semisalnya. Ini juga disebut takhrij hadis.Wallahu a’lam.*) sering diterjemahkan: “mengeluarkan”Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Penomoran hadis (tarqimul ahadits)Perlu diketahui bahwa umumnya para ulama terdahulu menulis kitab-kitab hadis tidak diberi nomor. Namun, nomor diberikan oleh para ulama-ulama setelahnya.Oleh karena itu, untuk suatu hadis yang sama, bisa jadi Anda temukan nomornya berbeda antara satu tulisan dengan tulisan yang lain yang menukil hadis tersebut.Jadi, masing-masing kitab hadis biasanya memiliki beberapa metode penomoran.Contoh untuk kitab Shahih Al-Bukhari, minimal ada 3 metode penomoran yang masyhur: Metode penomoran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Metode penomoran Syekh Musthafa Bugha Metode penomoran Al-‘Alamiyyah (yang dipakai aplikasi Lidwa) Untuk kitab Shahih Muslim, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Untuk kitab Sunan At-Tirmidzi, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Ahmad Syakir Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Jadi, kalau menemukan nomor hadis yang berbeda untuk hadis yang sama, jangan buru-buru mengklaim penulisnya dusta. Cek dulu lebih teliti.Baca Juga: Faidah Hadits Tentang Keutamaan IlmuBeberapa kaidah dalam penulisan takhrij hadisPertama, sebutkan takhrij hadis dari kitab mutaqaddimin.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxxHindari sebisa mungkin penyebutan takhrij hadits dari kitab muta’akhirin.Contoh kurang tepat: HR. An-Nawawi dalam Al Arba’in no. xxx, HR. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no. xx, HR. Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. xxxKedua, usahakan menyebutkan sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis ketika menukil hadis.Contoh: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda …”Jika tidak, maka sebutkan di takhrij hadis.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Ketiga, jika menyebutkan takhrij dari beberapa kitab, sebutkan secara berurutan.Ada 2 pilihan metode yang biasa digunakan para ulama:Pilihan pertama, urutan berdasarkan tahun wafat, yang lebih dahulu wafatnya lebih dahulu disebutkan.Contoh: Malik (wafat 179H) Asy-Syafi’i (wafat 204H) Al-Bukhari (wafat 256H) Muslim (wafat 261H) Abu Daud As-Sijistani (wafat 275H) At-Tirmidzi (wafat 279H) Sehingga penulisan yang benar: HR. Malik no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. At-Tirmidzi no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Malik no. xxxPilihan kedua, urutan berdasarkan kemasyhuran dan keagungan penulisnya. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan lebih dulu dari yang lain Kitab-kitab Al-Bukhari disebutkan lebih dahulu dari kitab yang lain Kutubus Sittah lebih didahulukan dari yang lain. Kitab hadis yang lebih dikenal lebih didahulukan dari kitab yang kurang dikenal Contoh yang benar: HR. Bukhari no. xxx, HR. Muslim no. xxx, HR. Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxx, HR. Bukhari no.xxxKeempat, ketika sebuah hadis tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari dan atau Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dan tidak dikenal status kesahihannya, maka sebutkan penghukuman hadisnya setelah takhrij.Contoh yang kurang tepat: HR. Al-Hakim (tidak ada keterangan sahih atau tidak).Contoh yang benar: HR. Al-Hakim no. xxx, beliau mengatakan: “sesuai syarat Bukhari-Muslim”, dan ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.Contoh benar yang lain: HR. Al-Baihaqi no.xxx, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. xxxBaca Juga: Kedudukan Ilmu dan Ulama HaditsApa yang dimaksud dengan takhrij hadis?Takhrij adalah seorang ulama hadis menyebutkan sanad suatu hadis mulai dari menyebutkan gurunya sampai kepada ujung sanad. Ujung sanad ini bisa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau sahabat Nabi, atau yang lainnya.Contoh, ketika kita mendapati perkataan:أخرجه البخاري في صحيحه“Al-Bukhari men-takhrij* hadis ini dalam Shahih-nya”.Maka maksudnya, Al-Bukhari menyebutkan sanad hadis tersebut dari gurunya sampai kepada ujung sanadnya di kitab Shahih Al-Bukhari.Namun, ada makna lain dari “takhrij” yang ini masyhur di kalangan ulama mu’ashirin (zaman sekarang).عزو الأحاديث إلى من ذكرها في كتابه من الأئمة وبيان درجتها من الصحة أو الحسن أو الضعف“Takhrij adalah menyandarkan hadis-hadis kepada para imam hadis yang menyebutkannya pada kitab-kitab mereka. Serta menjelaskan derajat hadis tersebut apakah shahih atau dha’if.” (Hasyiyah Kitab Al-Wasith fi Ulumi Musthalahil Hadits, hal. 353)Contohnya, setelah menyebutkan hadis lalu disebutkan bahwa hadis tersebut riwayat Al-Bukhari nomor sekian, riwayat Muslim nomor sekian, riwayat At-Tirmidzi nomor sekian disahihkan oleh Al-Albani, riwayat Al-Hakim juz sekian halaman sekian disahihkan oleh Adz-Dzahabi, dan semisalnya. Ini juga disebut takhrij hadis.Wallahu a’lam.*) sering diterjemahkan: “mengeluarkan”Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Penomoran hadis (tarqimul ahadits)Perlu diketahui bahwa umumnya para ulama terdahulu menulis kitab-kitab hadis tidak diberi nomor. Namun, nomor diberikan oleh para ulama-ulama setelahnya.Oleh karena itu, untuk suatu hadis yang sama, bisa jadi Anda temukan nomornya berbeda antara satu tulisan dengan tulisan yang lain yang menukil hadis tersebut.Jadi, masing-masing kitab hadis biasanya memiliki beberapa metode penomoran.Contoh untuk kitab Shahih Al-Bukhari, minimal ada 3 metode penomoran yang masyhur: Metode penomoran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Metode penomoran Syekh Musthafa Bugha Metode penomoran Al-‘Alamiyyah (yang dipakai aplikasi Lidwa) Untuk kitab Shahih Muslim, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Untuk kitab Sunan At-Tirmidzi, minimal ada 2 metode penomoran: Metode penomoran Syekh Ahmad Syakir Metode penomoran Al-‘Alamiyyah Jadi, kalau menemukan nomor hadis yang berbeda untuk hadis yang sama, jangan buru-buru mengklaim penulisnya dusta. Cek dulu lebih teliti.Baca Juga: Faidah Hadits Tentang Keutamaan IlmuBeberapa kaidah dalam penulisan takhrij hadisPertama, sebutkan takhrij hadis dari kitab mutaqaddimin.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxxHindari sebisa mungkin penyebutan takhrij hadits dari kitab muta’akhirin.Contoh kurang tepat: HR. An-Nawawi dalam Al Arba’in no. xxx, HR. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no. xx, HR. Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. xxxKedua, usahakan menyebutkan sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis ketika menukil hadis.Contoh: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda …”Jika tidak, maka sebutkan di takhrij hadis.Contoh: HR. Al-Bukhari no. xxx dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Ketiga, jika menyebutkan takhrij dari beberapa kitab, sebutkan secara berurutan.Ada 2 pilihan metode yang biasa digunakan para ulama:Pilihan pertama, urutan berdasarkan tahun wafat, yang lebih dahulu wafatnya lebih dahulu disebutkan.Contoh: Malik (wafat 179H) Asy-Syafi’i (wafat 204H) Al-Bukhari (wafat 256H) Muslim (wafat 261H) Abu Daud As-Sijistani (wafat 275H) At-Tirmidzi (wafat 279H) Sehingga penulisan yang benar: HR. Malik no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. At-Tirmidzi no. xxx, Al-Bukhari no. xxx, Malik no. xxxPilihan kedua, urutan berdasarkan kemasyhuran dan keagungan penulisnya. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan lebih dulu dari yang lain Kitab-kitab Al-Bukhari disebutkan lebih dahulu dari kitab yang lain Kutubus Sittah lebih didahulukan dari yang lain. Kitab hadis yang lebih dikenal lebih didahulukan dari kitab yang kurang dikenal Contoh yang benar: HR. Bukhari no. xxx, HR. Muslim no. xxx, HR. Abu Daud no. xxxContoh yang keliru: HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah no. xxx, HR. At-Tirmidzi no. xxx, HR. Bukhari no.xxxKeempat, ketika sebuah hadis tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari dan atau Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dan tidak dikenal status kesahihannya, maka sebutkan penghukuman hadisnya setelah takhrij.Contoh yang kurang tepat: HR. Al-Hakim (tidak ada keterangan sahih atau tidak).Contoh yang benar: HR. Al-Hakim no. xxx, beliau mengatakan: “sesuai syarat Bukhari-Muslim”, dan ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.Contoh benar yang lain: HR. Al-Baihaqi no.xxx, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. xxxBaca Juga: Kedudukan Ilmu dan Ulama HaditsApa yang dimaksud dengan takhrij hadis?Takhrij adalah seorang ulama hadis menyebutkan sanad suatu hadis mulai dari menyebutkan gurunya sampai kepada ujung sanad. Ujung sanad ini bisa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau sahabat Nabi, atau yang lainnya.Contoh, ketika kita mendapati perkataan:أخرجه البخاري في صحيحه“Al-Bukhari men-takhrij* hadis ini dalam Shahih-nya”.Maka maksudnya, Al-Bukhari menyebutkan sanad hadis tersebut dari gurunya sampai kepada ujung sanadnya di kitab Shahih Al-Bukhari.Namun, ada makna lain dari “takhrij” yang ini masyhur di kalangan ulama mu’ashirin (zaman sekarang).عزو الأحاديث إلى من ذكرها في كتابه من الأئمة وبيان درجتها من الصحة أو الحسن أو الضعف“Takhrij adalah menyandarkan hadis-hadis kepada para imam hadis yang menyebutkannya pada kitab-kitab mereka. Serta menjelaskan derajat hadis tersebut apakah shahih atau dha’if.” (Hasyiyah Kitab Al-Wasith fi Ulumi Musthalahil Hadits, hal. 353)Contohnya, setelah menyebutkan hadis lalu disebutkan bahwa hadis tersebut riwayat Al-Bukhari nomor sekian, riwayat Muslim nomor sekian, riwayat At-Tirmidzi nomor sekian disahihkan oleh Al-Albani, riwayat Al-Hakim juz sekian halaman sekian disahihkan oleh Adz-Dzahabi, dan semisalnya. Ini juga disebut takhrij hadis.Wallahu a’lam.*) sering diterjemahkan: “mengeluarkan”Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Beberapa Fawaid Seputar Babi

PertamaBabi itu haram seluruh bagiannya. Dagingnya, air liurnya, kulitnya, darahnya, lemaknya, semuanya. Ulama ijmak (sepakat) akan hal ini. Tidak ada khilafiah dalam masalah ini.Ayatnya jelas, Allah Ta’ala berfirman,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” (QS. Al Maa’idah: 3).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالْدَّمَ وَلَحْمَ الْخَنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah” (QS. An Nahl: 115).KeduaSelain haram, babi juga najis seluruh bagiannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama yaitu ulama madzhab Syafii, Hambali, dan Hanafi.Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu najis” (QS. Al An’am: 145).Baca Juga: Pencucian Benda Yang Terkena Babi, Harus Dengan Tanah?KetigaKulit babi tetap najis walaupun sudah disamak. Ini pendapat ulama 4 mazhab. Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 34),اتّفق الفقهاء على أنّه لا يطهر جلد الخنزير بالدّباغ ولا يجوز الانتفاع به لأنّه نجس العين“Para fuqaha sepakat bahwa kulit babi tidak bisa disucikan dengan cara disamak. Dan tidak boleh memanfaatkan kulit babi sama sekali, karena ia najis ‘ain.”KeempatMenurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah, najisnya babi adalah najis mughallazhah yang harus disucikan dengan cara dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَهُورُ إناءِ أحَدِكُمْ إذا ولَغَ فيه الكَلْبُ، أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاهُنَّ بالتُّرابِ“Cara mensucikan bejana kalian yang dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah” (HR. Muslim no.279).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20/34),قالوا‏:‏ فإذا ثبت هذا في الكلب فالخنزير أولى لأنّه أسوأ حالاً من الكلب وتحريمه أشدّ“Para ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyah) mengatakan, hadis ini berlaku untuk anjing. Sedangkan babi lebih buruk keadaannya daripada anjing dan pengharamannya lebih keras lagi.”KelimaJual-beli babi itu tidak sah. Artinya, jual-belinya dianggap batal dan hasilnya haram.Berdasarkan hadits dari Jabir Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung-patung.” Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah boleh menjual lemak bangkai? Karena ia dapat digunakan untuk mengecat perahu dan meminyaki kulit. Serta dapat dipakai untuk bahan bakar lampu?” Nabi menjawab, “Tidak boleh, ia tetap haram.”Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi ketika itu, “Semoga Allah memusnahkan orang Yahudi. Sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya, lalu mereka ubah bentuknya menjadi minyak, kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 1581).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 35):أجمع الفقهاء على عدم صحّة بيع الخنزير وشرائه، ولحديث جابر بن عبد اللّه‏“Para fuqaha sepakat tentang tidak sahnya jual-beli babi, berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah.”Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Arti Ramadhan Kareem, Zakat Binatang Ternak, Beriman Kepada Al Quran, Adakah Puasa Rajab, Mengapa Luqman Diberi Gelar Al Hakim

Beberapa Fawaid Seputar Babi

PertamaBabi itu haram seluruh bagiannya. Dagingnya, air liurnya, kulitnya, darahnya, lemaknya, semuanya. Ulama ijmak (sepakat) akan hal ini. Tidak ada khilafiah dalam masalah ini.Ayatnya jelas, Allah Ta’ala berfirman,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” (QS. Al Maa’idah: 3).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالْدَّمَ وَلَحْمَ الْخَنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah” (QS. An Nahl: 115).KeduaSelain haram, babi juga najis seluruh bagiannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama yaitu ulama madzhab Syafii, Hambali, dan Hanafi.Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu najis” (QS. Al An’am: 145).Baca Juga: Pencucian Benda Yang Terkena Babi, Harus Dengan Tanah?KetigaKulit babi tetap najis walaupun sudah disamak. Ini pendapat ulama 4 mazhab. Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 34),اتّفق الفقهاء على أنّه لا يطهر جلد الخنزير بالدّباغ ولا يجوز الانتفاع به لأنّه نجس العين“Para fuqaha sepakat bahwa kulit babi tidak bisa disucikan dengan cara disamak. Dan tidak boleh memanfaatkan kulit babi sama sekali, karena ia najis ‘ain.”KeempatMenurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah, najisnya babi adalah najis mughallazhah yang harus disucikan dengan cara dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَهُورُ إناءِ أحَدِكُمْ إذا ولَغَ فيه الكَلْبُ، أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاهُنَّ بالتُّرابِ“Cara mensucikan bejana kalian yang dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah” (HR. Muslim no.279).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20/34),قالوا‏:‏ فإذا ثبت هذا في الكلب فالخنزير أولى لأنّه أسوأ حالاً من الكلب وتحريمه أشدّ“Para ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyah) mengatakan, hadis ini berlaku untuk anjing. Sedangkan babi lebih buruk keadaannya daripada anjing dan pengharamannya lebih keras lagi.”KelimaJual-beli babi itu tidak sah. Artinya, jual-belinya dianggap batal dan hasilnya haram.Berdasarkan hadits dari Jabir Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung-patung.” Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah boleh menjual lemak bangkai? Karena ia dapat digunakan untuk mengecat perahu dan meminyaki kulit. Serta dapat dipakai untuk bahan bakar lampu?” Nabi menjawab, “Tidak boleh, ia tetap haram.”Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi ketika itu, “Semoga Allah memusnahkan orang Yahudi. Sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya, lalu mereka ubah bentuknya menjadi minyak, kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 1581).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 35):أجمع الفقهاء على عدم صحّة بيع الخنزير وشرائه، ولحديث جابر بن عبد اللّه‏“Para fuqaha sepakat tentang tidak sahnya jual-beli babi, berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah.”Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Arti Ramadhan Kareem, Zakat Binatang Ternak, Beriman Kepada Al Quran, Adakah Puasa Rajab, Mengapa Luqman Diberi Gelar Al Hakim
PertamaBabi itu haram seluruh bagiannya. Dagingnya, air liurnya, kulitnya, darahnya, lemaknya, semuanya. Ulama ijmak (sepakat) akan hal ini. Tidak ada khilafiah dalam masalah ini.Ayatnya jelas, Allah Ta’ala berfirman,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” (QS. Al Maa’idah: 3).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالْدَّمَ وَلَحْمَ الْخَنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah” (QS. An Nahl: 115).KeduaSelain haram, babi juga najis seluruh bagiannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama yaitu ulama madzhab Syafii, Hambali, dan Hanafi.Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu najis” (QS. Al An’am: 145).Baca Juga: Pencucian Benda Yang Terkena Babi, Harus Dengan Tanah?KetigaKulit babi tetap najis walaupun sudah disamak. Ini pendapat ulama 4 mazhab. Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 34),اتّفق الفقهاء على أنّه لا يطهر جلد الخنزير بالدّباغ ولا يجوز الانتفاع به لأنّه نجس العين“Para fuqaha sepakat bahwa kulit babi tidak bisa disucikan dengan cara disamak. Dan tidak boleh memanfaatkan kulit babi sama sekali, karena ia najis ‘ain.”KeempatMenurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah, najisnya babi adalah najis mughallazhah yang harus disucikan dengan cara dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَهُورُ إناءِ أحَدِكُمْ إذا ولَغَ فيه الكَلْبُ، أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاهُنَّ بالتُّرابِ“Cara mensucikan bejana kalian yang dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah” (HR. Muslim no.279).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20/34),قالوا‏:‏ فإذا ثبت هذا في الكلب فالخنزير أولى لأنّه أسوأ حالاً من الكلب وتحريمه أشدّ“Para ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyah) mengatakan, hadis ini berlaku untuk anjing. Sedangkan babi lebih buruk keadaannya daripada anjing dan pengharamannya lebih keras lagi.”KelimaJual-beli babi itu tidak sah. Artinya, jual-belinya dianggap batal dan hasilnya haram.Berdasarkan hadits dari Jabir Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung-patung.” Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah boleh menjual lemak bangkai? Karena ia dapat digunakan untuk mengecat perahu dan meminyaki kulit. Serta dapat dipakai untuk bahan bakar lampu?” Nabi menjawab, “Tidak boleh, ia tetap haram.”Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi ketika itu, “Semoga Allah memusnahkan orang Yahudi. Sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya, lalu mereka ubah bentuknya menjadi minyak, kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 1581).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 35):أجمع الفقهاء على عدم صحّة بيع الخنزير وشرائه، ولحديث جابر بن عبد اللّه‏“Para fuqaha sepakat tentang tidak sahnya jual-beli babi, berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah.”Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Arti Ramadhan Kareem, Zakat Binatang Ternak, Beriman Kepada Al Quran, Adakah Puasa Rajab, Mengapa Luqman Diberi Gelar Al Hakim


PertamaBabi itu haram seluruh bagiannya. Dagingnya, air liurnya, kulitnya, darahnya, lemaknya, semuanya. Ulama ijmak (sepakat) akan hal ini. Tidak ada khilafiah dalam masalah ini.Ayatnya jelas, Allah Ta’ala berfirman,حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” (QS. Al Maa’idah: 3).Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالْدَّمَ وَلَحْمَ الْخَنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah” (QS. An Nahl: 115).KeduaSelain haram, babi juga najis seluruh bagiannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama yaitu ulama madzhab Syafii, Hambali, dan Hanafi.Allah Ta’ala berfirman,قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu najis” (QS. Al An’am: 145).Baca Juga: Pencucian Benda Yang Terkena Babi, Harus Dengan Tanah?KetigaKulit babi tetap najis walaupun sudah disamak. Ini pendapat ulama 4 mazhab. Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 34),اتّفق الفقهاء على أنّه لا يطهر جلد الخنزير بالدّباغ ولا يجوز الانتفاع به لأنّه نجس العين“Para fuqaha sepakat bahwa kulit babi tidak bisa disucikan dengan cara disamak. Dan tidak boleh memanfaatkan kulit babi sama sekali, karena ia najis ‘ain.”KeempatMenurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah, najisnya babi adalah najis mughallazhah yang harus disucikan dengan cara dicuci 7 kali, salah satunya dengan tanah.Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,طَهُورُ إناءِ أحَدِكُمْ إذا ولَغَ فيه الكَلْبُ، أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاهُنَّ بالتُّرابِ“Cara mensucikan bejana kalian yang dijilat oleh anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan tanah” (HR. Muslim no.279).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20/34),قالوا‏:‏ فإذا ثبت هذا في الكلب فالخنزير أولى لأنّه أسوأ حالاً من الكلب وتحريمه أشدّ“Para ulama (Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyah) mengatakan, hadis ini berlaku untuk anjing. Sedangkan babi lebih buruk keadaannya daripada anjing dan pengharamannya lebih keras lagi.”KelimaJual-beli babi itu tidak sah. Artinya, jual-belinya dianggap batal dan hasilnya haram.Berdasarkan hadits dari Jabir Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْأَصْنَامِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ فَقَالَ لَا هُوَ حَرَامٌ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung-patung.” Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah boleh menjual lemak bangkai? Karena ia dapat digunakan untuk mengecat perahu dan meminyaki kulit. Serta dapat dipakai untuk bahan bakar lampu?” Nabi menjawab, “Tidak boleh, ia tetap haram.”Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi ketika itu, “Semoga Allah memusnahkan orang Yahudi. Sungguh Allah telah mengharamkan lemaknya, lalu mereka ubah bentuknya menjadi minyak, kemudian menjualnya dan memakan hasil penjualannya” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim no. 1581).Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (20: 35):أجمع الفقهاء على عدم صحّة بيع الخنزير وشرائه، ولحديث جابر بن عبد اللّه‏“Para fuqaha sepakat tentang tidak sahnya jual-beli babi, berdasarkan hadis Jabir bin Abdillah.”Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Arti Ramadhan Kareem, Zakat Binatang Ternak, Beriman Kepada Al Quran, Adakah Puasa Rajab, Mengapa Luqman Diberi Gelar Al Hakim

Keutamaan Sifat Samahah

Dari Ma’qal bin Yasar Radhiallahu ‘anhu secara marfu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam,أفضل الإيمان الصبر والسماحة“Sebaik-baik iman adalah sabar dan as-samahah.” (HR. Ad-Dailami [1/1/128], Abdullah bin Ahmad dalam Az Zuhd [10], disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah [1495]).Kata “sebaik-baik iman” dalam hadis ini maksudnya adalah sebaik-baik amalan dalam Islam. Iman di sini semakna dengan Islam, mencakup amalan lahiriah maupun amalan hati.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin Rahimahullah menjelaskan, “Iman dan Islam terkadang disebutkan secara bersamaan atau disebutkan secara terpisah. Apabila keduanya disebutkan bersamaan, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Iman bermakna amalan-amalan batin, sementara Islam bermakna amalan-amalan yang bersifat lahiriah … Adapun jika disebutkan secara bersendirian, maka keduanya memiliki makna yang sama” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3: 2).Kemudian “samahah” di sini sering dimaknai dengan toleran. Ini kurang tepat. Apalagi jika maksudnya toleran terhadap kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan, dan maksiat.Baca Juga: Akhlak Mulia, antara Tabiat (Bawaan) dan Usaha ManusiaAl-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjelaskan,الْمُرَادُ: الصَّبْرُ عَنِ الْمَعَاصِي، وَالسَّمَاحَةُ بِالطَّاعَةِ“Maksud hadis ini: (sebaik-baik iman adalah) sabar meninggalkan maksiat dan mudah dalam melakukan ketaatan” (Jami’ al ‘Ulum wal Hikam, 1: 333).Sejalan dengan apa yang dikatakan Al-Baihaqi Rahimahullah,يعني بالصبر عن محارم الله وبالسماحة أن يسمح بأداء ما افترض الله عليه“Maksudnya dengar sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dan dengan samahah, yaitu mudah dalam melaksanakan apa yang Allah wajibkan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Adapun Ash-Shan’ani Rahimahullah, beliau menjelaskan hadis ini,(أفضل الإيمان الصبر) على فعل المأمور وترك المحظور وما ورد من المقدور (والسماحة) الجود وسخاء النفس“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan yang dilarang, dan sabar terhadap takdir. [Dan samahah] yaitu pemurah dan hati yang mudah dalam memberi kebaikan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 2: 547).Di tempat lain, beliau mengatakan,(الإيمان الصبر) على الطاعات فعلًا وعن المعاصي تركًا (والسماحة) بالحقوق وبما يحبه الشارع“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat. [Dan samahah] yaitu mudah dalam menunaikan hak-hak dan melaksanakan hal yang dicintai oleh syariat” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Maka “samahah” di dalam hadis ini maksudnya,*mudah dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah*mudah dalam memberikan kebaikan kepada orang lain*mudah dalam menunaikan hak-hak orang lainIni sejalan dengan hadis dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,رَحِمَ اللهُ عبدًا سَمْحًا إذا باعَ ، سَمْحًا إذا اشْتَرى ، سَمْحًا إذا قَضَى ، سَمْحًا إذا اقْتَضَى“Semoga Allah merahmati orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, mudah ketika membayar hutang, dan mudah ketika menagih hutang” (HR. Bukhari no. 2076).Wallahu a’lam. Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Allahumma Firlaha, Jenis Air Mani, Hadist Tentang Sholat Jamaah, Lauful Mahfuz, Sholat Ba'diyah Ashar

Keutamaan Sifat Samahah

Dari Ma’qal bin Yasar Radhiallahu ‘anhu secara marfu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam,أفضل الإيمان الصبر والسماحة“Sebaik-baik iman adalah sabar dan as-samahah.” (HR. Ad-Dailami [1/1/128], Abdullah bin Ahmad dalam Az Zuhd [10], disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah [1495]).Kata “sebaik-baik iman” dalam hadis ini maksudnya adalah sebaik-baik amalan dalam Islam. Iman di sini semakna dengan Islam, mencakup amalan lahiriah maupun amalan hati.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin Rahimahullah menjelaskan, “Iman dan Islam terkadang disebutkan secara bersamaan atau disebutkan secara terpisah. Apabila keduanya disebutkan bersamaan, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Iman bermakna amalan-amalan batin, sementara Islam bermakna amalan-amalan yang bersifat lahiriah … Adapun jika disebutkan secara bersendirian, maka keduanya memiliki makna yang sama” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3: 2).Kemudian “samahah” di sini sering dimaknai dengan toleran. Ini kurang tepat. Apalagi jika maksudnya toleran terhadap kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan, dan maksiat.Baca Juga: Akhlak Mulia, antara Tabiat (Bawaan) dan Usaha ManusiaAl-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjelaskan,الْمُرَادُ: الصَّبْرُ عَنِ الْمَعَاصِي، وَالسَّمَاحَةُ بِالطَّاعَةِ“Maksud hadis ini: (sebaik-baik iman adalah) sabar meninggalkan maksiat dan mudah dalam melakukan ketaatan” (Jami’ al ‘Ulum wal Hikam, 1: 333).Sejalan dengan apa yang dikatakan Al-Baihaqi Rahimahullah,يعني بالصبر عن محارم الله وبالسماحة أن يسمح بأداء ما افترض الله عليه“Maksudnya dengar sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dan dengan samahah, yaitu mudah dalam melaksanakan apa yang Allah wajibkan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Adapun Ash-Shan’ani Rahimahullah, beliau menjelaskan hadis ini,(أفضل الإيمان الصبر) على فعل المأمور وترك المحظور وما ورد من المقدور (والسماحة) الجود وسخاء النفس“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan yang dilarang, dan sabar terhadap takdir. [Dan samahah] yaitu pemurah dan hati yang mudah dalam memberi kebaikan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 2: 547).Di tempat lain, beliau mengatakan,(الإيمان الصبر) على الطاعات فعلًا وعن المعاصي تركًا (والسماحة) بالحقوق وبما يحبه الشارع“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat. [Dan samahah] yaitu mudah dalam menunaikan hak-hak dan melaksanakan hal yang dicintai oleh syariat” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Maka “samahah” di dalam hadis ini maksudnya,*mudah dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah*mudah dalam memberikan kebaikan kepada orang lain*mudah dalam menunaikan hak-hak orang lainIni sejalan dengan hadis dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,رَحِمَ اللهُ عبدًا سَمْحًا إذا باعَ ، سَمْحًا إذا اشْتَرى ، سَمْحًا إذا قَضَى ، سَمْحًا إذا اقْتَضَى“Semoga Allah merahmati orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, mudah ketika membayar hutang, dan mudah ketika menagih hutang” (HR. Bukhari no. 2076).Wallahu a’lam. Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Allahumma Firlaha, Jenis Air Mani, Hadist Tentang Sholat Jamaah, Lauful Mahfuz, Sholat Ba'diyah Ashar
Dari Ma’qal bin Yasar Radhiallahu ‘anhu secara marfu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam,أفضل الإيمان الصبر والسماحة“Sebaik-baik iman adalah sabar dan as-samahah.” (HR. Ad-Dailami [1/1/128], Abdullah bin Ahmad dalam Az Zuhd [10], disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah [1495]).Kata “sebaik-baik iman” dalam hadis ini maksudnya adalah sebaik-baik amalan dalam Islam. Iman di sini semakna dengan Islam, mencakup amalan lahiriah maupun amalan hati.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin Rahimahullah menjelaskan, “Iman dan Islam terkadang disebutkan secara bersamaan atau disebutkan secara terpisah. Apabila keduanya disebutkan bersamaan, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Iman bermakna amalan-amalan batin, sementara Islam bermakna amalan-amalan yang bersifat lahiriah … Adapun jika disebutkan secara bersendirian, maka keduanya memiliki makna yang sama” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3: 2).Kemudian “samahah” di sini sering dimaknai dengan toleran. Ini kurang tepat. Apalagi jika maksudnya toleran terhadap kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan, dan maksiat.Baca Juga: Akhlak Mulia, antara Tabiat (Bawaan) dan Usaha ManusiaAl-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjelaskan,الْمُرَادُ: الصَّبْرُ عَنِ الْمَعَاصِي، وَالسَّمَاحَةُ بِالطَّاعَةِ“Maksud hadis ini: (sebaik-baik iman adalah) sabar meninggalkan maksiat dan mudah dalam melakukan ketaatan” (Jami’ al ‘Ulum wal Hikam, 1: 333).Sejalan dengan apa yang dikatakan Al-Baihaqi Rahimahullah,يعني بالصبر عن محارم الله وبالسماحة أن يسمح بأداء ما افترض الله عليه“Maksudnya dengar sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dan dengan samahah, yaitu mudah dalam melaksanakan apa yang Allah wajibkan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Adapun Ash-Shan’ani Rahimahullah, beliau menjelaskan hadis ini,(أفضل الإيمان الصبر) على فعل المأمور وترك المحظور وما ورد من المقدور (والسماحة) الجود وسخاء النفس“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan yang dilarang, dan sabar terhadap takdir. [Dan samahah] yaitu pemurah dan hati yang mudah dalam memberi kebaikan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 2: 547).Di tempat lain, beliau mengatakan,(الإيمان الصبر) على الطاعات فعلًا وعن المعاصي تركًا (والسماحة) بالحقوق وبما يحبه الشارع“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat. [Dan samahah] yaitu mudah dalam menunaikan hak-hak dan melaksanakan hal yang dicintai oleh syariat” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Maka “samahah” di dalam hadis ini maksudnya,*mudah dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah*mudah dalam memberikan kebaikan kepada orang lain*mudah dalam menunaikan hak-hak orang lainIni sejalan dengan hadis dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,رَحِمَ اللهُ عبدًا سَمْحًا إذا باعَ ، سَمْحًا إذا اشْتَرى ، سَمْحًا إذا قَضَى ، سَمْحًا إذا اقْتَضَى“Semoga Allah merahmati orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, mudah ketika membayar hutang, dan mudah ketika menagih hutang” (HR. Bukhari no. 2076).Wallahu a’lam. Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Allahumma Firlaha, Jenis Air Mani, Hadist Tentang Sholat Jamaah, Lauful Mahfuz, Sholat Ba'diyah Ashar


Dari Ma’qal bin Yasar Radhiallahu ‘anhu secara marfu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam,أفضل الإيمان الصبر والسماحة“Sebaik-baik iman adalah sabar dan as-samahah.” (HR. Ad-Dailami [1/1/128], Abdullah bin Ahmad dalam Az Zuhd [10], disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah [1495]).Kata “sebaik-baik iman” dalam hadis ini maksudnya adalah sebaik-baik amalan dalam Islam. Iman di sini semakna dengan Islam, mencakup amalan lahiriah maupun amalan hati.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsamin Rahimahullah menjelaskan, “Iman dan Islam terkadang disebutkan secara bersamaan atau disebutkan secara terpisah. Apabila keduanya disebutkan bersamaan, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Iman bermakna amalan-amalan batin, sementara Islam bermakna amalan-amalan yang bersifat lahiriah … Adapun jika disebutkan secara bersendirian, maka keduanya memiliki makna yang sama” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3: 2).Kemudian “samahah” di sini sering dimaknai dengan toleran. Ini kurang tepat. Apalagi jika maksudnya toleran terhadap kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan, dan maksiat.Baca Juga: Akhlak Mulia, antara Tabiat (Bawaan) dan Usaha ManusiaAl-Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjelaskan,الْمُرَادُ: الصَّبْرُ عَنِ الْمَعَاصِي، وَالسَّمَاحَةُ بِالطَّاعَةِ“Maksud hadis ini: (sebaik-baik iman adalah) sabar meninggalkan maksiat dan mudah dalam melakukan ketaatan” (Jami’ al ‘Ulum wal Hikam, 1: 333).Sejalan dengan apa yang dikatakan Al-Baihaqi Rahimahullah,يعني بالصبر عن محارم الله وبالسماحة أن يسمح بأداء ما افترض الله عليه“Maksudnya dengar sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dan dengan samahah, yaitu mudah dalam melaksanakan apa yang Allah wajibkan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Adapun Ash-Shan’ani Rahimahullah, beliau menjelaskan hadis ini,(أفضل الإيمان الصبر) على فعل المأمور وترك المحظور وما ورد من المقدور (والسماحة) الجود وسخاء النفس“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan yang dilarang, dan sabar terhadap takdir. [Dan samahah] yaitu pemurah dan hati yang mudah dalam memberi kebaikan” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 2: 547).Di tempat lain, beliau mengatakan,(الإيمان الصبر) على الطاعات فعلًا وعن المعاصي تركًا (والسماحة) بالحقوق وبما يحبه الشارع“[Sebaik-baik iman adalah sabar] dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat. [Dan samahah] yaitu mudah dalam menunaikan hak-hak dan melaksanakan hal yang dicintai oleh syariat” (At-Tanwir Syarah Jami’ish Shaghir, 4: 512).Maka “samahah” di dalam hadis ini maksudnya,*mudah dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah*mudah dalam memberikan kebaikan kepada orang lain*mudah dalam menunaikan hak-hak orang lainIni sejalan dengan hadis dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,رَحِمَ اللهُ عبدًا سَمْحًا إذا باعَ ، سَمْحًا إذا اشْتَرى ، سَمْحًا إذا قَضَى ، سَمْحًا إذا اقْتَضَى“Semoga Allah merahmati orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, mudah ketika membayar hutang, dan mudah ketika menagih hutang” (HR. Bukhari no. 2076).Wallahu a’lam. Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Allahumma Firlaha, Jenis Air Mani, Hadist Tentang Sholat Jamaah, Lauful Mahfuz, Sholat Ba'diyah Ashar

Fatwa Syeikh Shalih al-Fauzan Tentang Bermazhab – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Fatwa Syeikh Shalih al-Fauzan Tentang Bermazhab – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Syeikh Shalih al-Fauzan pernah berkata, -semoga Allah menjaga beliau-, dan beliau adalah salah satu gunung dari gunung-gunung ilmu, (pembawa) kebenaran dan sunnah pada zaman ini. Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan umat Islam manfaat dari ilmu beliau. Beliau berkata, “Bermazhab dengan salah satu mazhab dari empat mahzab, yaitu empat mazhab Ahlu Sunah wal Jamaah yang sudah dikenal, yang masih ada, terjaga dan terhimpun mazhabnya di tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada salah satunya tidaklah mengapa, sehingga seseorang disebut Syafi’i, fulan adalah Hambali, fulan adalah Hanafi atau fulan adalah Maliki. Dan penyebutan seperti ini masih ada dan telah ada sejak zaman dahulu di kalangan para ulama bahkan ulama-ulama besar, sehingga disebut fulan Hambali, misalnya Ibnu Taimiyah al-Hambali dan Ibnul Qayyim al-Hambali.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pada awal mulanya beliau bermazhab Hambali dalam masalah ushul dan furu’, dalam masalah-masalah pokok dan cabang-cabangnya. Kemudian beliau mulai berijtihad dengan memilih pendapat-pendapat para ulama dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah Imam Ahmad karena menurut beliau lebih dekat dengan sunah. Oleh sebab itulah sebagian ulama menisbatkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan karya-karya beliau kepada mazhab Hambali dan demikian pula Ibnul Qayyim. Dan yang semisalnya.” Ini adalah perkataan syeikh Shalih, “Dan yang demikian itu tidak masalah dan sekedar menisbatkan diri kepada suatu mazhab tidaklah mengapa. Namun dengan syarat bahwa dia tidak taklid pada mazhab ini sehingga dia mengambil semua dalam mazhab tersebut baik yang benar ataupun yang salah, baik yang tepat ataupun yang keliru. Dan seharusnya dia mengambil pendapat yang benar saja dan pendapat yang telah dia ketahui bahwa itu salah tidak boleh diamalkan. Maka ketika sudah jelas baginya pendapat yang benar, dia harus mengambil pendapat itu, baik pendapat itu berasal dari mazhab yang dia menisbatkan dirinya kepadanya atau berasal dari mazhab lain, …” demikian Syeikh berkata. Bagi siapa saja yang telah jelas baginya sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti perkataan orang lain. Sehingga yang boleh diikuti secara mutlak hanyalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Kita mengikuti suatu mazhab selama tidak menyelisihi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Apabila ada pendapat yang menyelisihi perkataan beliau maka ini adalah kesalahan dari seorang mujtahid dan wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengikuti sunah dan mengambil pendapat yang kuat yang bersesuaian dengan sunah dari pendapat-pendapat para mujtahid dari mazhab apapun mereka… Adapun orang yang mengikuti pendapat seorang imam secara mutlak, baik pendapat itu salah ataupun benar maka ini namanya adalah taklid buta.” Selesai perkataan syeikh Shalih al-Fauzan. ================================= قَالَ الشَّيْخُ صَالِحٌ الْفَوْزَانُ حَفِظَهُ اللهُ وَهُوَ جَبَلٌ مِنْ جِبَالِ الْعِلْمِ وَالْحَقِّ وَالسُّنَّةِ فِي هَذَا الزَّمَانِ حَفِظَهُ اللهُ وَنَفَعَ المُسْلِمِيْنَ بِعُلُومِهِ يَقُولُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ وَاحِدٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ الْاَرْبَعَةِ الْمَعْرُوفَةِ الَّتِي بَقِيَتْ وَحُفِظَتْ وَحُرِّرَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْاِنْتِسَابُ إِلَى مَذْهَبٍ مِنْهَا لَا مَانِعَ مِنْهُ فَيُقَالُ فُلَانٌ شَافِعِيّ وَفُلَانٌ حَنْبَلِيّ وَفُلَانٌ حَنَفِيّ وَفُلَانٌ مَالِكِيّ وَلَازَالَ هَذَا اللَّقَبُ مَوْجُودًا مِنْ قَدِيمٍ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ حَتَّى كِبَارِ الْعُلَمَاءِ يُقَالُ فُلَانٌ حَنْبَلِيّ يُقَالُ مَثَلًا ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَنْبَلِيُّ وَابْنُ الْقَيِّمِ الْحَنْبَلِيُّ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ كَانَ عَلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا ثُمَّ انْتَقَلَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى الْاِجْتِهَادِ فِي أَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَالْاِنْتِقَاءِ مَعَ لُزُومِهِ أُصُولَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ لِأَنَّهَا الْأَقْرَبُ إِلَى السُّنَّةِ فِي نَظَرِهِ وَلِذَلِكَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَنْسِبُونَ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ وَ كُتُبَهُ إِلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ وَكَذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ هَذَا كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ وَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ فَمُجَرَّدُ الْاِنْتِسَابِ إِلَى الْمَذْهَبِ لَا مَانِعَ مِنْهُ لَكِنْ بِالشَّرْطِ أَنْ لَا يَتَقَيَّدَ بِهَذَا الْمَذْهَبِ فَيَأْخُذَ كُلَّ مَا فِيهِ سَوَاءً كَانَ حَقًّا أَوْ خَطَأً وَسَوَاءً كَانَ صَوَابًا أَوْ خَطَأً بَلْ يَأْخُذُ مِنْهُ مَا كَانَ صَوَابًا وَمَا عَلِمَ أَنَّهُ خَطَأٌ لَا يَجُوزُ لَهُ الْعَمَلُ بِهِ وَإِذَا ظَهَرَ لَهُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَأْخُذَ بِهِ سَوَاءً كَانَ فِي مَذْهَبِهِ الَّذِي انْتَسَبَ إِلَيْهِ أَوْ فِي مَذْهَبٍ آخَرَ يَقُولُ الشَّيْخُ لِأَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ فَالْقُدْوَةُ الْمُطْلَقَةُ هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ نَأْخُذُ بِالْمَذْهَبِ مَا لَمْ يُخَالِفْ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ خَالَفَهُ فَهَذَا خَطَأٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نَتْرُكَهُ وَأَنْ نَأْخُذَ بِالسُّنَةِ وَنَأْخُذَ بِالْقَوْلِ الرَّاجِحِ الْمُطَابِقِ لِلسُّنَّةِ مِنْ أَيِّ مَذْهَبٍ كَانَ مِنْ مَذَاهِبِ الْمُجْتَهِدِينَ أَمَّا الَّذِي يَأْخُذُ بِقَوْلِ الْإِمَامِ مُطْلَقًا سَوَاءً كَانَ خَطَأً أَوْ صَوَابًا فَهَذَا تَقْلِيدٌ أَعْمَى اِنْتَهَى كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ الْفَوْزَانِ

Fatwa Syeikh Shalih al-Fauzan Tentang Bermazhab – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Fatwa Syeikh Shalih al-Fauzan Tentang Bermazhab – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Syeikh Shalih al-Fauzan pernah berkata, -semoga Allah menjaga beliau-, dan beliau adalah salah satu gunung dari gunung-gunung ilmu, (pembawa) kebenaran dan sunnah pada zaman ini. Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan umat Islam manfaat dari ilmu beliau. Beliau berkata, “Bermazhab dengan salah satu mazhab dari empat mahzab, yaitu empat mazhab Ahlu Sunah wal Jamaah yang sudah dikenal, yang masih ada, terjaga dan terhimpun mazhabnya di tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada salah satunya tidaklah mengapa, sehingga seseorang disebut Syafi’i, fulan adalah Hambali, fulan adalah Hanafi atau fulan adalah Maliki. Dan penyebutan seperti ini masih ada dan telah ada sejak zaman dahulu di kalangan para ulama bahkan ulama-ulama besar, sehingga disebut fulan Hambali, misalnya Ibnu Taimiyah al-Hambali dan Ibnul Qayyim al-Hambali.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pada awal mulanya beliau bermazhab Hambali dalam masalah ushul dan furu’, dalam masalah-masalah pokok dan cabang-cabangnya. Kemudian beliau mulai berijtihad dengan memilih pendapat-pendapat para ulama dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah Imam Ahmad karena menurut beliau lebih dekat dengan sunah. Oleh sebab itulah sebagian ulama menisbatkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan karya-karya beliau kepada mazhab Hambali dan demikian pula Ibnul Qayyim. Dan yang semisalnya.” Ini adalah perkataan syeikh Shalih, “Dan yang demikian itu tidak masalah dan sekedar menisbatkan diri kepada suatu mazhab tidaklah mengapa. Namun dengan syarat bahwa dia tidak taklid pada mazhab ini sehingga dia mengambil semua dalam mazhab tersebut baik yang benar ataupun yang salah, baik yang tepat ataupun yang keliru. Dan seharusnya dia mengambil pendapat yang benar saja dan pendapat yang telah dia ketahui bahwa itu salah tidak boleh diamalkan. Maka ketika sudah jelas baginya pendapat yang benar, dia harus mengambil pendapat itu, baik pendapat itu berasal dari mazhab yang dia menisbatkan dirinya kepadanya atau berasal dari mazhab lain, …” demikian Syeikh berkata. Bagi siapa saja yang telah jelas baginya sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti perkataan orang lain. Sehingga yang boleh diikuti secara mutlak hanyalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Kita mengikuti suatu mazhab selama tidak menyelisihi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Apabila ada pendapat yang menyelisihi perkataan beliau maka ini adalah kesalahan dari seorang mujtahid dan wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengikuti sunah dan mengambil pendapat yang kuat yang bersesuaian dengan sunah dari pendapat-pendapat para mujtahid dari mazhab apapun mereka… Adapun orang yang mengikuti pendapat seorang imam secara mutlak, baik pendapat itu salah ataupun benar maka ini namanya adalah taklid buta.” Selesai perkataan syeikh Shalih al-Fauzan. ================================= قَالَ الشَّيْخُ صَالِحٌ الْفَوْزَانُ حَفِظَهُ اللهُ وَهُوَ جَبَلٌ مِنْ جِبَالِ الْعِلْمِ وَالْحَقِّ وَالسُّنَّةِ فِي هَذَا الزَّمَانِ حَفِظَهُ اللهُ وَنَفَعَ المُسْلِمِيْنَ بِعُلُومِهِ يَقُولُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ وَاحِدٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ الْاَرْبَعَةِ الْمَعْرُوفَةِ الَّتِي بَقِيَتْ وَحُفِظَتْ وَحُرِّرَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْاِنْتِسَابُ إِلَى مَذْهَبٍ مِنْهَا لَا مَانِعَ مِنْهُ فَيُقَالُ فُلَانٌ شَافِعِيّ وَفُلَانٌ حَنْبَلِيّ وَفُلَانٌ حَنَفِيّ وَفُلَانٌ مَالِكِيّ وَلَازَالَ هَذَا اللَّقَبُ مَوْجُودًا مِنْ قَدِيمٍ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ حَتَّى كِبَارِ الْعُلَمَاءِ يُقَالُ فُلَانٌ حَنْبَلِيّ يُقَالُ مَثَلًا ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَنْبَلِيُّ وَابْنُ الْقَيِّمِ الْحَنْبَلِيُّ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ كَانَ عَلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا ثُمَّ انْتَقَلَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى الْاِجْتِهَادِ فِي أَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَالْاِنْتِقَاءِ مَعَ لُزُومِهِ أُصُولَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ لِأَنَّهَا الْأَقْرَبُ إِلَى السُّنَّةِ فِي نَظَرِهِ وَلِذَلِكَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَنْسِبُونَ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ وَ كُتُبَهُ إِلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ وَكَذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ هَذَا كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ وَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ فَمُجَرَّدُ الْاِنْتِسَابِ إِلَى الْمَذْهَبِ لَا مَانِعَ مِنْهُ لَكِنْ بِالشَّرْطِ أَنْ لَا يَتَقَيَّدَ بِهَذَا الْمَذْهَبِ فَيَأْخُذَ كُلَّ مَا فِيهِ سَوَاءً كَانَ حَقًّا أَوْ خَطَأً وَسَوَاءً كَانَ صَوَابًا أَوْ خَطَأً بَلْ يَأْخُذُ مِنْهُ مَا كَانَ صَوَابًا وَمَا عَلِمَ أَنَّهُ خَطَأٌ لَا يَجُوزُ لَهُ الْعَمَلُ بِهِ وَإِذَا ظَهَرَ لَهُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَأْخُذَ بِهِ سَوَاءً كَانَ فِي مَذْهَبِهِ الَّذِي انْتَسَبَ إِلَيْهِ أَوْ فِي مَذْهَبٍ آخَرَ يَقُولُ الشَّيْخُ لِأَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ فَالْقُدْوَةُ الْمُطْلَقَةُ هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ نَأْخُذُ بِالْمَذْهَبِ مَا لَمْ يُخَالِفْ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ خَالَفَهُ فَهَذَا خَطَأٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نَتْرُكَهُ وَأَنْ نَأْخُذَ بِالسُّنَةِ وَنَأْخُذَ بِالْقَوْلِ الرَّاجِحِ الْمُطَابِقِ لِلسُّنَّةِ مِنْ أَيِّ مَذْهَبٍ كَانَ مِنْ مَذَاهِبِ الْمُجْتَهِدِينَ أَمَّا الَّذِي يَأْخُذُ بِقَوْلِ الْإِمَامِ مُطْلَقًا سَوَاءً كَانَ خَطَأً أَوْ صَوَابًا فَهَذَا تَقْلِيدٌ أَعْمَى اِنْتَهَى كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ الْفَوْزَانِ
Fatwa Syeikh Shalih al-Fauzan Tentang Bermazhab – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Syeikh Shalih al-Fauzan pernah berkata, -semoga Allah menjaga beliau-, dan beliau adalah salah satu gunung dari gunung-gunung ilmu, (pembawa) kebenaran dan sunnah pada zaman ini. Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan umat Islam manfaat dari ilmu beliau. Beliau berkata, “Bermazhab dengan salah satu mazhab dari empat mahzab, yaitu empat mazhab Ahlu Sunah wal Jamaah yang sudah dikenal, yang masih ada, terjaga dan terhimpun mazhabnya di tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada salah satunya tidaklah mengapa, sehingga seseorang disebut Syafi’i, fulan adalah Hambali, fulan adalah Hanafi atau fulan adalah Maliki. Dan penyebutan seperti ini masih ada dan telah ada sejak zaman dahulu di kalangan para ulama bahkan ulama-ulama besar, sehingga disebut fulan Hambali, misalnya Ibnu Taimiyah al-Hambali dan Ibnul Qayyim al-Hambali.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pada awal mulanya beliau bermazhab Hambali dalam masalah ushul dan furu’, dalam masalah-masalah pokok dan cabang-cabangnya. Kemudian beliau mulai berijtihad dengan memilih pendapat-pendapat para ulama dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah Imam Ahmad karena menurut beliau lebih dekat dengan sunah. Oleh sebab itulah sebagian ulama menisbatkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan karya-karya beliau kepada mazhab Hambali dan demikian pula Ibnul Qayyim. Dan yang semisalnya.” Ini adalah perkataan syeikh Shalih, “Dan yang demikian itu tidak masalah dan sekedar menisbatkan diri kepada suatu mazhab tidaklah mengapa. Namun dengan syarat bahwa dia tidak taklid pada mazhab ini sehingga dia mengambil semua dalam mazhab tersebut baik yang benar ataupun yang salah, baik yang tepat ataupun yang keliru. Dan seharusnya dia mengambil pendapat yang benar saja dan pendapat yang telah dia ketahui bahwa itu salah tidak boleh diamalkan. Maka ketika sudah jelas baginya pendapat yang benar, dia harus mengambil pendapat itu, baik pendapat itu berasal dari mazhab yang dia menisbatkan dirinya kepadanya atau berasal dari mazhab lain, …” demikian Syeikh berkata. Bagi siapa saja yang telah jelas baginya sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti perkataan orang lain. Sehingga yang boleh diikuti secara mutlak hanyalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Kita mengikuti suatu mazhab selama tidak menyelisihi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Apabila ada pendapat yang menyelisihi perkataan beliau maka ini adalah kesalahan dari seorang mujtahid dan wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengikuti sunah dan mengambil pendapat yang kuat yang bersesuaian dengan sunah dari pendapat-pendapat para mujtahid dari mazhab apapun mereka… Adapun orang yang mengikuti pendapat seorang imam secara mutlak, baik pendapat itu salah ataupun benar maka ini namanya adalah taklid buta.” Selesai perkataan syeikh Shalih al-Fauzan. ================================= قَالَ الشَّيْخُ صَالِحٌ الْفَوْزَانُ حَفِظَهُ اللهُ وَهُوَ جَبَلٌ مِنْ جِبَالِ الْعِلْمِ وَالْحَقِّ وَالسُّنَّةِ فِي هَذَا الزَّمَانِ حَفِظَهُ اللهُ وَنَفَعَ المُسْلِمِيْنَ بِعُلُومِهِ يَقُولُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ وَاحِدٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ الْاَرْبَعَةِ الْمَعْرُوفَةِ الَّتِي بَقِيَتْ وَحُفِظَتْ وَحُرِّرَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْاِنْتِسَابُ إِلَى مَذْهَبٍ مِنْهَا لَا مَانِعَ مِنْهُ فَيُقَالُ فُلَانٌ شَافِعِيّ وَفُلَانٌ حَنْبَلِيّ وَفُلَانٌ حَنَفِيّ وَفُلَانٌ مَالِكِيّ وَلَازَالَ هَذَا اللَّقَبُ مَوْجُودًا مِنْ قَدِيمٍ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ حَتَّى كِبَارِ الْعُلَمَاءِ يُقَالُ فُلَانٌ حَنْبَلِيّ يُقَالُ مَثَلًا ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَنْبَلِيُّ وَابْنُ الْقَيِّمِ الْحَنْبَلِيُّ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ كَانَ عَلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا ثُمَّ انْتَقَلَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى الْاِجْتِهَادِ فِي أَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَالْاِنْتِقَاءِ مَعَ لُزُومِهِ أُصُولَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ لِأَنَّهَا الْأَقْرَبُ إِلَى السُّنَّةِ فِي نَظَرِهِ وَلِذَلِكَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَنْسِبُونَ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ وَ كُتُبَهُ إِلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ وَكَذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ هَذَا كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ وَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ فَمُجَرَّدُ الْاِنْتِسَابِ إِلَى الْمَذْهَبِ لَا مَانِعَ مِنْهُ لَكِنْ بِالشَّرْطِ أَنْ لَا يَتَقَيَّدَ بِهَذَا الْمَذْهَبِ فَيَأْخُذَ كُلَّ مَا فِيهِ سَوَاءً كَانَ حَقًّا أَوْ خَطَأً وَسَوَاءً كَانَ صَوَابًا أَوْ خَطَأً بَلْ يَأْخُذُ مِنْهُ مَا كَانَ صَوَابًا وَمَا عَلِمَ أَنَّهُ خَطَأٌ لَا يَجُوزُ لَهُ الْعَمَلُ بِهِ وَإِذَا ظَهَرَ لَهُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَأْخُذَ بِهِ سَوَاءً كَانَ فِي مَذْهَبِهِ الَّذِي انْتَسَبَ إِلَيْهِ أَوْ فِي مَذْهَبٍ آخَرَ يَقُولُ الشَّيْخُ لِأَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ فَالْقُدْوَةُ الْمُطْلَقَةُ هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ نَأْخُذُ بِالْمَذْهَبِ مَا لَمْ يُخَالِفْ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ خَالَفَهُ فَهَذَا خَطَأٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نَتْرُكَهُ وَأَنْ نَأْخُذَ بِالسُّنَةِ وَنَأْخُذَ بِالْقَوْلِ الرَّاجِحِ الْمُطَابِقِ لِلسُّنَّةِ مِنْ أَيِّ مَذْهَبٍ كَانَ مِنْ مَذَاهِبِ الْمُجْتَهِدِينَ أَمَّا الَّذِي يَأْخُذُ بِقَوْلِ الْإِمَامِ مُطْلَقًا سَوَاءً كَانَ خَطَأً أَوْ صَوَابًا فَهَذَا تَقْلِيدٌ أَعْمَى اِنْتَهَى كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ الْفَوْزَانِ


Fatwa Syeikh Shalih al-Fauzan Tentang Bermazhab – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Syeikh Shalih al-Fauzan pernah berkata, -semoga Allah menjaga beliau-, dan beliau adalah salah satu gunung dari gunung-gunung ilmu, (pembawa) kebenaran dan sunnah pada zaman ini. Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan umat Islam manfaat dari ilmu beliau. Beliau berkata, “Bermazhab dengan salah satu mazhab dari empat mahzab, yaitu empat mazhab Ahlu Sunah wal Jamaah yang sudah dikenal, yang masih ada, terjaga dan terhimpun mazhabnya di tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada salah satunya tidaklah mengapa, sehingga seseorang disebut Syafi’i, fulan adalah Hambali, fulan adalah Hanafi atau fulan adalah Maliki. Dan penyebutan seperti ini masih ada dan telah ada sejak zaman dahulu di kalangan para ulama bahkan ulama-ulama besar, sehingga disebut fulan Hambali, misalnya Ibnu Taimiyah al-Hambali dan Ibnul Qayyim al-Hambali.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pada awal mulanya beliau bermazhab Hambali dalam masalah ushul dan furu’, dalam masalah-masalah pokok dan cabang-cabangnya. Kemudian beliau mulai berijtihad dengan memilih pendapat-pendapat para ulama dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah Imam Ahmad karena menurut beliau lebih dekat dengan sunah. Oleh sebab itulah sebagian ulama menisbatkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan karya-karya beliau kepada mazhab Hambali dan demikian pula Ibnul Qayyim. Dan yang semisalnya.” Ini adalah perkataan syeikh Shalih, “Dan yang demikian itu tidak masalah dan sekedar menisbatkan diri kepada suatu mazhab tidaklah mengapa. Namun dengan syarat bahwa dia tidak taklid pada mazhab ini sehingga dia mengambil semua dalam mazhab tersebut baik yang benar ataupun yang salah, baik yang tepat ataupun yang keliru. Dan seharusnya dia mengambil pendapat yang benar saja dan pendapat yang telah dia ketahui bahwa itu salah tidak boleh diamalkan. Maka ketika sudah jelas baginya pendapat yang benar, dia harus mengambil pendapat itu, baik pendapat itu berasal dari mazhab yang dia menisbatkan dirinya kepadanya atau berasal dari mazhab lain, …” demikian Syeikh berkata. Bagi siapa saja yang telah jelas baginya sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti perkataan orang lain. Sehingga yang boleh diikuti secara mutlak hanyalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Kita mengikuti suatu mazhab selama tidak menyelisihi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Apabila ada pendapat yang menyelisihi perkataan beliau maka ini adalah kesalahan dari seorang mujtahid dan wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengikuti sunah dan mengambil pendapat yang kuat yang bersesuaian dengan sunah dari pendapat-pendapat para mujtahid dari mazhab apapun mereka… Adapun orang yang mengikuti pendapat seorang imam secara mutlak, baik pendapat itu salah ataupun benar maka ini namanya adalah taklid buta.” Selesai perkataan syeikh Shalih al-Fauzan. ================================= قَالَ الشَّيْخُ صَالِحٌ الْفَوْزَانُ حَفِظَهُ اللهُ وَهُوَ جَبَلٌ مِنْ جِبَالِ الْعِلْمِ وَالْحَقِّ وَالسُّنَّةِ فِي هَذَا الزَّمَانِ حَفِظَهُ اللهُ وَنَفَعَ المُسْلِمِيْنَ بِعُلُومِهِ يَقُولُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ وَاحِدٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ الْاَرْبَعَةِ الْمَعْرُوفَةِ الَّتِي بَقِيَتْ وَحُفِظَتْ وَحُرِّرَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْاِنْتِسَابُ إِلَى مَذْهَبٍ مِنْهَا لَا مَانِعَ مِنْهُ فَيُقَالُ فُلَانٌ شَافِعِيّ وَفُلَانٌ حَنْبَلِيّ وَفُلَانٌ حَنَفِيّ وَفُلَانٌ مَالِكِيّ وَلَازَالَ هَذَا اللَّقَبُ مَوْجُودًا مِنْ قَدِيمٍ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ حَتَّى كِبَارِ الْعُلَمَاءِ يُقَالُ فُلَانٌ حَنْبَلِيّ يُقَالُ مَثَلًا ابْنُ تَيْمِيَّةَ الْحَنْبَلِيُّ وَابْنُ الْقَيِّمِ الْحَنْبَلِيُّ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي أَوَّلِ أَمْرِهِ كَانَ عَلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا أُصُوْلًا وَفُرُوْعًا ثُمَّ انْتَقَلَ رَحِمَهُ اللهُ إِلَى الْاِجْتِهَادِ فِي أَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَالْاِنْتِقَاءِ مَعَ لُزُومِهِ أُصُولَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ لِأَنَّهَا الْأَقْرَبُ إِلَى السُّنَّةِ فِي نَظَرِهِ وَلِذَلِكَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَنْسِبُونَ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ وَ كُتُبَهُ إِلَى الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ وَكَذَلِكَ ابْنُ الْقَيِّمِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ هَذَا كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ وَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ فَمُجَرَّدُ الْاِنْتِسَابِ إِلَى الْمَذْهَبِ لَا مَانِعَ مِنْهُ لَكِنْ بِالشَّرْطِ أَنْ لَا يَتَقَيَّدَ بِهَذَا الْمَذْهَبِ فَيَأْخُذَ كُلَّ مَا فِيهِ سَوَاءً كَانَ حَقًّا أَوْ خَطَأً وَسَوَاءً كَانَ صَوَابًا أَوْ خَطَأً بَلْ يَأْخُذُ مِنْهُ مَا كَانَ صَوَابًا وَمَا عَلِمَ أَنَّهُ خَطَأٌ لَا يَجُوزُ لَهُ الْعَمَلُ بِهِ وَإِذَا ظَهَرَ لَهُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَأْخُذَ بِهِ سَوَاءً كَانَ فِي مَذْهَبِهِ الَّذِي انْتَسَبَ إِلَيْهِ أَوْ فِي مَذْهَبٍ آخَرَ يَقُولُ الشَّيْخُ لِأَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ فَالْقُدْوَةُ الْمُطْلَقَةُ هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ نَأْخُذُ بِالْمَذْهَبِ مَا لَمْ يُخَالِفْ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ خَالَفَهُ فَهَذَا خَطَأٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نَتْرُكَهُ وَأَنْ نَأْخُذَ بِالسُّنَةِ وَنَأْخُذَ بِالْقَوْلِ الرَّاجِحِ الْمُطَابِقِ لِلسُّنَّةِ مِنْ أَيِّ مَذْهَبٍ كَانَ مِنْ مَذَاهِبِ الْمُجْتَهِدِينَ أَمَّا الَّذِي يَأْخُذُ بِقَوْلِ الْإِمَامِ مُطْلَقًا سَوَاءً كَانَ خَطَأً أَوْ صَوَابًا فَهَذَا تَقْلِيدٌ أَعْمَى اِنْتَهَى كَلَامُ الشَّيْخِ صَالِحٍ الْفَوْزَانِ

Bentuk Penjagaan Ilmu Syar’i Dalam Berpakaian – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Bentuk Penjagaan Ilmu Syar’i Dalam Berpakaian – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diantara hal-hal yang berkaitan dengan penjagaan terhadap ilmu dalam hal penampilan dan adab adalah menjaga pakaian. Dan para ulama masih saja membahas masalah pakaian dan mereka memiliki penjelasan yang panjang yang kesimpulannya adalah sebagai berikut, Yang pertama, bahwa para ulama berkata; “Seorang penuntut ilmu wajib untuk tidak mengenakan pakaian syuhrah. ” Dan telah sampai kepada kita riwayat dari al-Baihaqi bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis pakaian, salah satu dari dua pakaian ini adalah pakaian syuhrah. Pakaian syuhroh yaitu pakaian yang dengannya seseorang menjadi tenar di tengah manusia, mencolok dan berbeda daripada yang lain seolah-olah dia berkata kepada manusia, “Aku di sini, lihatlah aku!” Ini disebut dengan pakaian syuhrah dan ini ada di tengah manusia, jika dia mengenakan pakaian ini muncul dalam dirinya sifat takjub kepada diri sendiri, timbul dalam dirinya sifat mengagungkan diri sendiri karena orang-orang melihat ke arahnya dan takjub dengannya. Namun sebaliknya, para ulama memiliki pakaian khusus, para ulama memiliki ciri khas dalam pakaian. Oleh sebab itu, Ibnu Abdussalam at-Tunisi pernah berkata, dan beliau bukan Izzudin bin Abdussalam, Ibnu Abdussalam at-Tunisi menulis sebuah kitab penjelasan yang bagus atas kitab al-Mukhtashar karya Ibnu Arafah. Dan dia bermazhab Maliki sedangkan Ibnu Abdussalam bermazhab Syafi’i, beliau dikenal dengan Abu Muhammad Izzudin bin Abdussalam, pengarang kitab al-Ghayah dan kitab-kitab lain. Ibnu Abdussalam al-Maliki pengarang kitab penjelasan Mukhtasar Ibnu Arafah berkata; “Aku pernah berhaji kemudian aku mengingkari perbuatan beberapa haji dari Maroko,-karena beliau dari Tunisia- “Aku mengingkari mereka dalam beberapa persoalan namun mereka tidak terima karena aku masih mengenakan pakaian ihram.” “Kemudian ketika aku mengenakan pakaian khas ulama yang biasa dipakai orang Maroko setelah aku selesai tahallul dari ihram, aku ingkari lagi perbuatan mereka yang tadi aku ingkari dan mereka menerima perkataanku.” Jadi, ulama memiliki pakaian khas yang dengannya mereka dikenal dan cara berpakaian yang dengannya mereka diketahui. Awal dari cara berpakaian ini adalah cara berpakaian sesuai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pakaian ulama harus tidak isbal. Karena isbal adalah perkara yang terlarang, sehingga pakaian khas ulama tidak boleh menjulur melebihi mata kaki. Sebagian ulama berkata; “Tidak boleh juga isbal pada pergelangan tangan.” Karena panjangnya lengan baju melebihi pergelangan tangan dilarang oleh sebagian ulama dan ini adalah pendapat terkenal dalam mazhab Ahmad. Oleh sebab itu, di sebagian negeri, mereka mengenakan lengan baju yang lebar, kemudian sebagian ulama memfatwakan bahwa itu terlarang dan merupakan perbuatan berlebih-lebihan karena tidak diperlukan. Sehingga termasuk dalam perbuatan isbal pada pergelangan tangan sehingga para ulama kemudian meninggalkan pakaian dengan lengan tangan yang panjang ini, yang sampai sekarang kita masih menyebutnya dengan baju ‘Murudana’. Hal ini difatwakan oleh syeikh Muhammad bin Ibrahim dan kemudian orang-orang meninggalkan pakaian ini. Jadi, para ulama dikenal dengan pakaian tertentu dalam penampilan mereka dan tanda pertamanya adalah bersesuaian dengan sunah. Karena bagaimana mungkin seseorang yang mengemban ilmu namun pakaiannya tidak sesuai sunah, penampilan ini tidak menunjukkan keilmuan sama sekali. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan pada kalian di awal, bahwa terkadang sebagian sunah boleh ditinggalkan untuk suatu maslahat. Telah saya sebutkan tiga kaidah ini di awal pembahasan saya, bahwa sebagian sunah terkadang ditinggalkan untuk suatu maslahat, sebagaimana diriwayatkan…. atau diantara contohnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ya’kub bin Sufyan al-Fasawi dalam kitab at-Tarikh, bahwa Ayub as-Sikhtiyani, guru imam Malik, berkata; “Dulu tasymir adalah sunah namun di zaman kita berubah menjadi pakaian syuhrah.” Guru imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- yang mengucapkan perkataan ini. Maka terkadang sebagian sunah ditinggalkan seperti tasymir yaitu kain yang diangkat sampai separuh betis, ini adalah sunah. Namun ini terkadang ditinggalkan oleh sebagian orang dalam beberapa keadaan, dan bukan dalam semua keadaan, untuk suatu maslahat tertentu. Adapun yang terjulur di bawah mata kaki, sebagaimana kalian ketahui, para muhaqiq dari kalangan ulama berpendapat haramnya hal tersebut jika dimaksudkan untuk kesombongan. Maka itu haram bahkan mereka menganggap bahwa hal tersebut termasuk dosa besar karena adanya ancaman bagi para pelakunya. Jadi, maksud dari pembahasan ini adalah tanda pertama yang harus ditunjukkan seorang penuntut dalam pakaiannya adalah sesuai dengan sunah. Dan ini adalah beberapa hal-hal penting yang harus dia perhatikan, cara berpakaiannya, pakaiannya, seluruh penampilan fisiknya dan sikap-sikapnya serta segala sesuatu yang berkaitan dengan zahirnya yang dilihat oleh manusia. Dan masalah kedua yang berhubungan dengan pakaian seorang penuntut ilmu, sebenarnya pembahasan ini panjang namun aku persingkat dengan membahas bagian ini, bahwa pakaian khas seorang ulama dikenakan ketika sedang berbicara tentang ilmu, ketika mengajarkan ilmu dan ketika seseorang tampil di majelis ilmu. Dan adat telah berlaku pada setiap negeri bahwa setiap negeri memiliki pakaian khusus ulama, bagi sebagian manusia pakaian khas untuk para ulama adalah pada sorbannya, pakaian khas mereka adalah sorban-sorban mereka, dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama adalah selendang mereka, misalkan gamis dan lain sebagainya. Dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama mereka adalah pada kemeja mereka, sehingga Anda dapati di beberapa daerah seorang ahli fikih dan ulama ketika ingin berceramah menggunakan beberapa jenis pakaian berupa kemeja. Maka ketika mengajarkan ilmu pada manusia kenakanlah pakaian ulama dan adapun dalam momen pribadi ketika tidak sedang mengajar, penampilan semacam ini di hadapan manusia mungkin bisa memunculkan sifat takjub dalam diri sendiri. Jadi, pakaian ulama yang dengannya mereka dikenal dikenakan ketika sedang mengajarkan ilmu pada manusia agar orang-orang tahu bahwa ini adalah ilmu, bahwa ini adalah pengajarnya dan inilah penampilannya. Dan ini merupakan pembahasan yang sudah lama sekali ada dan pembahasan ini dahulu sudah pernah aku sampaikan dalam sebuah kajian yang berhubungan dengan pakaian para ulama, dan pendapat syeikh Taqiyuddin tentang apakah hal tersebut sesuai dengan tempatnya atau tidak, yang berkaitan dengan pemilihnya. Dan tentu pembahasan ini sudah dibahas sejak dahulu oleh para ulama, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- berkata; “Aku tidak akan memberikan fatwa hingga tujuh puluh orang yang bersorban bersaksi bahwa aku adalah seorang mufti.” Dan Ibnu Nasruddin berkata; “Dan tidaklah orang-orang bersorban pada zaman itu kecuali mereka adalah ahli fikih.” Dan itu merupakan pakaian khas para ulama di masa-masa awal. ==============================   مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ أَيْضًا بِصِيَانَةِ الْعِلْمِ فِي الْهَيْئَةِ وَالْأَدَبِ صِيَانَتُهُ فِي اللِّبَاسِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يَتَكَلَّمُونَ عَنِ اللِّبَاسِ وَلَهُمْ كَلَاَمٌ طَوِيلٌ مُحَصَّلُهُ مَا يَلِي الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ الطَّالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَلْبِسَ لِبَاسَ الشُّهْرَةِ وَقَدْ رُوِيْنَا عِنْدَ الْبَيْهَقِيْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنْ لِبْسَتَيْنِ إحْدَى هَاتَيْنِ اللِّبْسَتَيْنِ هُوَ لِبَاسُ الشُّهْرَةِ الَّذِيْ يَكُونُ الْمَرْءُ بِهِ مُشْتَهِرًا عَنِ النَّاسِ مُمَيِّزًا لَهُمْ مُغَايِرًا فَكَأَنَّهُ يَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا هُنَا فَانْظُرُوْنِيْ هَذَا يُسَمَّى لِبَاسُ الشُّهْرَةِ وَهَذَا مَوْجُودٌ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ فَإِذَا لَبِسَ هَذَا اللِّبَاسَ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنَ الْعُجْبِ بِنَفْسِهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنْ تَعْظِيمِ ذَاتِهِ إِذِ النَّاسُ يَنْظُرُونَ لَهُ بِهَيْئَةِ الْإِقْبَالِ وَالْإِعْجَابِ فِي الْمُقَابِلِ أَنَّهُ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ وَلِذَا قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيّ وَهُوَ غَيْرُ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ فَإِنَّ لِابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيِّ شَرْحَ الْمُخْتَصَرِ لاِبْنِ عَرَفَةَ شَرحًا نَفِيْسًا وَهُوَ مَالِكِيُّ بَيْنَمَا ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الشَّافِعِيُّ مَعْرُوفٌ هُوَ أَبُو مُحَمَّدٍ عِزُّ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ السَّلَّامِ هُوَ صَاحِبُ الْغَايَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكُتُبِ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الْمَالِكِيّ صَاحِبُ شَرْحِ مُخْتَصَرِ ابْنِ عَرْفَةَ يَقُولُ كُنْتُ حَاجًّا فَأَنْكَرتُ عَلَى بَعْضِ الْحَجِيْجِ الْمَغَارِبَةِ لِأَنَّهُ مِنْ… مِنْ تُونِس فَأَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمَسَائِلِ فَلَمْ يَقْبَلُوْا مِنِّي لِأَنَّنِي كُنْتُ لَابِسًا لِلْإِحْرَامِ فَلَمَّا لَبِسْتُ زِيَّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي لَبِسَهُ الْمَغَارِبَةُ حِيْنَمَا تَحَلَّلْتُ مِنَ الْإِحْرَامِ أَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْكَرتُهُ قَبْلَ ذَلِكَ فَقَبِلُوْا بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يُعْرَفُونَ بِهِ وَهَيْئَةٌ يُعْرَفُونَ بِهَا أَوَّلُ هَذِهِ الْهَيْئَةِ هَيْئَةُ لُبْسِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِنَّ زِيَّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبَالَ فِيهِ إِذِ الْإِسْبَالُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، زِيُّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبِالَ فِيهِ… فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكَعْبِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ لَا إِسْبَالَ فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكُمِّ فَإِنَّ طُولَ الْكُمِّ كَانَ بَعْضُ أهْلِ الْعِلْمِ يَنْهَى عَنْهُ وَهُوَ مَشْهُورُ مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَلِذَا كَانَ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ كَانُوا يَلْبِسُونَ الْأَكْمَامَ الْوَسِيْعَةَ فَأَفْتَى بَعْضُ الْمَشَايِخِ بِأَنَّ هَذَا لَا يَجُوزُ وَ أَنَّهُ مِنَ الْإِسْرَافِ حَيْثُ لَا حَاجَةَ لَهُ فَيَدْخُلُ فِي الْإِسْبَالِ فِي الْكُمِّ فَتَرَكَ أَهْلُ الْعِلْمِ بَعْدَ ذَلِكَ ذَاتَ الْأَكْمَامِ الْوَسِيعَةِ الَّذِي كُنَّا نُسَمِّيْهِ إِلَى عَيْنٍ قَرِيْبٍ بِثِيَابِ الْمُرُوْدَن أَفْتَى بِذَلِكَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ إِبْرَاهِيْمُ فَتَركَهَا النَّاسُ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ أهْلُ الْعِلْمِ مَعْرُوفُونَ بِزِيٍّ مُعَيَّنٍ فِي لُبْسِهِمْ أَوَّلُ عَلَامَاتِهِ أَنَّهُ عَلَى السُّنَّةِ إِذْ كَيْفَ يَكُونُ الْمَرْءُ حَامِلًا لِلْعِلْمِ وَيَكُونُ زِيُّهُ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ هَذَا لَيْسَ مِنْ هَيْئَةِ الْعِلْمِ فِي شَيْءٍ لَكِنْ كَمَا ذَكَرتُ لَكُمْ ابْتِدَاءً أَنَّهُ قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَّةِ لِلْمَصْلَحَةِ ذَكَرتُ هَذِهِ قَوَاعِدَ الثَّلَاثِ فِي أَوَّلِ كَلَاَمِيْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ لِلْمَصْلَحَةِ كَمَا رَوَى ذَلِكَ… كَمَا… مِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ مَا رَوَى يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ الْفَسَوِي فِي كِتَابِهِ التَّارِيخُ أَنَّ أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِي شَيْخَ الْإمَامِ مَالَكٍ قَالَ كَانَ التَّشْمِيْرُ سُنَّةً فَأَصْبَحَ فِي زَمَانِنَا شُهْرَةً شَيْخُ الْإمَامِ مَالِكٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فَأَحْيَانًا قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ كَالتَّشْمِيرِ وَهُوَ إِذِ الثَّوْبُ أَنْ يَكُونَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ هَذَا السُّنَّةِ قَدْ يَتْرُكُهُ بَعْضُ النَّاسِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَلَيْسَ مُطْلَقًا لِمَصْلَحَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَأَمَّا مَا تَحْتَ الْكَعْبِ كَمَا تَعْلَمُونَ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ حَرَامٌ إِذَا كَانَ بِقَصْدِ الخُيَلَاءِ فَهُوَ حَرَامٌ بَلْ هُوَ عِنْدَهُمْ مَعْدُودٌ مِنَ الْكَبَائِرِ لِتَرْتِيبِ الْوَعِيدِ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَوَّلُ عَلَامَاتِ زِيِّهِ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ وَهَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَجِبُ أَنْ يَنْتَبِهَ لَهَا هَيْئَتُهُ وَلِبَاسُهُ وَسَائِرُ هَيْئَتِهِ فِي أَظْهَارِهِ وَشُعُورِهِ وَسَائِرِ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِظَاهِرِهِ الَّذِي يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ الأَمْرُ الثَّانِي الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِلِبَاسِ طَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْحَدِيثَ طَوِيلٌ لَكِنَّ سَأَخْتَصِرُ بِهَذِهِ الْجُزْئِيَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ مِنْ زِيِّ الْعُلَمَاءِ عِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ، فَعِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ وَعِنْدَمَا يَتَصَدَّرُ الْمَرْءُ فِي الْمَجْلِسِ فَقَدْ جَرَتِ الْعَادَةُ فِي كُلِّ بَلَدٍ أَنَّ لَهُمْ لِبَاسًا لِأَهْلِ الْعِلْمِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ لِأهْلِ الْعِلْمِ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي أَرْدِيَّتِهِمْ كَالْعَبَاءَةِ وَنَحوِهَا وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي قُمُصِهِمْ فَتَجِدُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ الْفَقِيهَ وَالْعَالِمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ لَبِسَ بَعْضَ أَنْوَاعِ اللِّبَاسِ الَّذِي يَكُونُ فِي الْقَمِيصِ فَعِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ تَلْبَسُ هَيْئَةَ أهْلِ الْعِلْمِ وَأَمَّا فِي خَاصَّتِكَ حَيْثُ لَا يَكُونُ هُنَاكَ تَعْلِيمٌ فَإِنَّهُ رُبَّمَا كَانَ هَذَا الْإِظْهَارُ أَمَامَ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ فِيهِ يَعْنِي نَوْعٌ لِحَظِّ النَّفْسِ إِذَنْ زِيُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي يُعْرَفُونَ بِهِ يَكُونُ عِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ لِكَيْ يُعْرَفُ الْعِلْمُ، يَعْرِفُ النَّاسُ أَنَّ هَذَا هُوَ الْمُعَلِّمُ وَأَنَّ هَذِهِ هَيْئَتُهُ وَهَذَا مَسْأَلَةٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَالْحَديثُ سَبَقَ أَنْ أُلْقِيَ فِيهَا مُحَاضَرَةٌ كَانَتْ تَتَعَلَّقُ بِزِيِّ الْعُلَمَاءِ وَكَلَامُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ هَلْ هُوَ فِي مَحَلِّهِ أَمْ لاَ يَتَعَلَّقُ بِالْاِخْتِيَارَاتِ طَبْعًا هَذَا الْكَلَاَمُ قَدِيمٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فَقَدْ ذَكَرَ الْإمَامُ مَالِكٌ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَالَ لَمْ أُفْتِ حَتَّى شَهِدَ لِي سَبْعُونَ مُعَمَّمًا أَنِّي أَهْلُ الْفَتْوَى وَقَالَ ابْنُ نَصْرِ الدِّينِ وَلَمْ يَكُنْ يَتَعَمَّمُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ إِلَّا فَقِيهٌ فَكَانَ مِنْ زِيِّ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ

Bentuk Penjagaan Ilmu Syar’i Dalam Berpakaian – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Bentuk Penjagaan Ilmu Syar’i Dalam Berpakaian – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diantara hal-hal yang berkaitan dengan penjagaan terhadap ilmu dalam hal penampilan dan adab adalah menjaga pakaian. Dan para ulama masih saja membahas masalah pakaian dan mereka memiliki penjelasan yang panjang yang kesimpulannya adalah sebagai berikut, Yang pertama, bahwa para ulama berkata; “Seorang penuntut ilmu wajib untuk tidak mengenakan pakaian syuhrah. ” Dan telah sampai kepada kita riwayat dari al-Baihaqi bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis pakaian, salah satu dari dua pakaian ini adalah pakaian syuhrah. Pakaian syuhroh yaitu pakaian yang dengannya seseorang menjadi tenar di tengah manusia, mencolok dan berbeda daripada yang lain seolah-olah dia berkata kepada manusia, “Aku di sini, lihatlah aku!” Ini disebut dengan pakaian syuhrah dan ini ada di tengah manusia, jika dia mengenakan pakaian ini muncul dalam dirinya sifat takjub kepada diri sendiri, timbul dalam dirinya sifat mengagungkan diri sendiri karena orang-orang melihat ke arahnya dan takjub dengannya. Namun sebaliknya, para ulama memiliki pakaian khusus, para ulama memiliki ciri khas dalam pakaian. Oleh sebab itu, Ibnu Abdussalam at-Tunisi pernah berkata, dan beliau bukan Izzudin bin Abdussalam, Ibnu Abdussalam at-Tunisi menulis sebuah kitab penjelasan yang bagus atas kitab al-Mukhtashar karya Ibnu Arafah. Dan dia bermazhab Maliki sedangkan Ibnu Abdussalam bermazhab Syafi’i, beliau dikenal dengan Abu Muhammad Izzudin bin Abdussalam, pengarang kitab al-Ghayah dan kitab-kitab lain. Ibnu Abdussalam al-Maliki pengarang kitab penjelasan Mukhtasar Ibnu Arafah berkata; “Aku pernah berhaji kemudian aku mengingkari perbuatan beberapa haji dari Maroko,-karena beliau dari Tunisia- “Aku mengingkari mereka dalam beberapa persoalan namun mereka tidak terima karena aku masih mengenakan pakaian ihram.” “Kemudian ketika aku mengenakan pakaian khas ulama yang biasa dipakai orang Maroko setelah aku selesai tahallul dari ihram, aku ingkari lagi perbuatan mereka yang tadi aku ingkari dan mereka menerima perkataanku.” Jadi, ulama memiliki pakaian khas yang dengannya mereka dikenal dan cara berpakaian yang dengannya mereka diketahui. Awal dari cara berpakaian ini adalah cara berpakaian sesuai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pakaian ulama harus tidak isbal. Karena isbal adalah perkara yang terlarang, sehingga pakaian khas ulama tidak boleh menjulur melebihi mata kaki. Sebagian ulama berkata; “Tidak boleh juga isbal pada pergelangan tangan.” Karena panjangnya lengan baju melebihi pergelangan tangan dilarang oleh sebagian ulama dan ini adalah pendapat terkenal dalam mazhab Ahmad. Oleh sebab itu, di sebagian negeri, mereka mengenakan lengan baju yang lebar, kemudian sebagian ulama memfatwakan bahwa itu terlarang dan merupakan perbuatan berlebih-lebihan karena tidak diperlukan. Sehingga termasuk dalam perbuatan isbal pada pergelangan tangan sehingga para ulama kemudian meninggalkan pakaian dengan lengan tangan yang panjang ini, yang sampai sekarang kita masih menyebutnya dengan baju ‘Murudana’. Hal ini difatwakan oleh syeikh Muhammad bin Ibrahim dan kemudian orang-orang meninggalkan pakaian ini. Jadi, para ulama dikenal dengan pakaian tertentu dalam penampilan mereka dan tanda pertamanya adalah bersesuaian dengan sunah. Karena bagaimana mungkin seseorang yang mengemban ilmu namun pakaiannya tidak sesuai sunah, penampilan ini tidak menunjukkan keilmuan sama sekali. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan pada kalian di awal, bahwa terkadang sebagian sunah boleh ditinggalkan untuk suatu maslahat. Telah saya sebutkan tiga kaidah ini di awal pembahasan saya, bahwa sebagian sunah terkadang ditinggalkan untuk suatu maslahat, sebagaimana diriwayatkan…. atau diantara contohnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ya’kub bin Sufyan al-Fasawi dalam kitab at-Tarikh, bahwa Ayub as-Sikhtiyani, guru imam Malik, berkata; “Dulu tasymir adalah sunah namun di zaman kita berubah menjadi pakaian syuhrah.” Guru imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- yang mengucapkan perkataan ini. Maka terkadang sebagian sunah ditinggalkan seperti tasymir yaitu kain yang diangkat sampai separuh betis, ini adalah sunah. Namun ini terkadang ditinggalkan oleh sebagian orang dalam beberapa keadaan, dan bukan dalam semua keadaan, untuk suatu maslahat tertentu. Adapun yang terjulur di bawah mata kaki, sebagaimana kalian ketahui, para muhaqiq dari kalangan ulama berpendapat haramnya hal tersebut jika dimaksudkan untuk kesombongan. Maka itu haram bahkan mereka menganggap bahwa hal tersebut termasuk dosa besar karena adanya ancaman bagi para pelakunya. Jadi, maksud dari pembahasan ini adalah tanda pertama yang harus ditunjukkan seorang penuntut dalam pakaiannya adalah sesuai dengan sunah. Dan ini adalah beberapa hal-hal penting yang harus dia perhatikan, cara berpakaiannya, pakaiannya, seluruh penampilan fisiknya dan sikap-sikapnya serta segala sesuatu yang berkaitan dengan zahirnya yang dilihat oleh manusia. Dan masalah kedua yang berhubungan dengan pakaian seorang penuntut ilmu, sebenarnya pembahasan ini panjang namun aku persingkat dengan membahas bagian ini, bahwa pakaian khas seorang ulama dikenakan ketika sedang berbicara tentang ilmu, ketika mengajarkan ilmu dan ketika seseorang tampil di majelis ilmu. Dan adat telah berlaku pada setiap negeri bahwa setiap negeri memiliki pakaian khusus ulama, bagi sebagian manusia pakaian khas untuk para ulama adalah pada sorbannya, pakaian khas mereka adalah sorban-sorban mereka, dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama adalah selendang mereka, misalkan gamis dan lain sebagainya. Dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama mereka adalah pada kemeja mereka, sehingga Anda dapati di beberapa daerah seorang ahli fikih dan ulama ketika ingin berceramah menggunakan beberapa jenis pakaian berupa kemeja. Maka ketika mengajarkan ilmu pada manusia kenakanlah pakaian ulama dan adapun dalam momen pribadi ketika tidak sedang mengajar, penampilan semacam ini di hadapan manusia mungkin bisa memunculkan sifat takjub dalam diri sendiri. Jadi, pakaian ulama yang dengannya mereka dikenal dikenakan ketika sedang mengajarkan ilmu pada manusia agar orang-orang tahu bahwa ini adalah ilmu, bahwa ini adalah pengajarnya dan inilah penampilannya. Dan ini merupakan pembahasan yang sudah lama sekali ada dan pembahasan ini dahulu sudah pernah aku sampaikan dalam sebuah kajian yang berhubungan dengan pakaian para ulama, dan pendapat syeikh Taqiyuddin tentang apakah hal tersebut sesuai dengan tempatnya atau tidak, yang berkaitan dengan pemilihnya. Dan tentu pembahasan ini sudah dibahas sejak dahulu oleh para ulama, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- berkata; “Aku tidak akan memberikan fatwa hingga tujuh puluh orang yang bersorban bersaksi bahwa aku adalah seorang mufti.” Dan Ibnu Nasruddin berkata; “Dan tidaklah orang-orang bersorban pada zaman itu kecuali mereka adalah ahli fikih.” Dan itu merupakan pakaian khas para ulama di masa-masa awal. ==============================   مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ أَيْضًا بِصِيَانَةِ الْعِلْمِ فِي الْهَيْئَةِ وَالْأَدَبِ صِيَانَتُهُ فِي اللِّبَاسِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يَتَكَلَّمُونَ عَنِ اللِّبَاسِ وَلَهُمْ كَلَاَمٌ طَوِيلٌ مُحَصَّلُهُ مَا يَلِي الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ الطَّالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَلْبِسَ لِبَاسَ الشُّهْرَةِ وَقَدْ رُوِيْنَا عِنْدَ الْبَيْهَقِيْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنْ لِبْسَتَيْنِ إحْدَى هَاتَيْنِ اللِّبْسَتَيْنِ هُوَ لِبَاسُ الشُّهْرَةِ الَّذِيْ يَكُونُ الْمَرْءُ بِهِ مُشْتَهِرًا عَنِ النَّاسِ مُمَيِّزًا لَهُمْ مُغَايِرًا فَكَأَنَّهُ يَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا هُنَا فَانْظُرُوْنِيْ هَذَا يُسَمَّى لِبَاسُ الشُّهْرَةِ وَهَذَا مَوْجُودٌ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ فَإِذَا لَبِسَ هَذَا اللِّبَاسَ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنَ الْعُجْبِ بِنَفْسِهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنْ تَعْظِيمِ ذَاتِهِ إِذِ النَّاسُ يَنْظُرُونَ لَهُ بِهَيْئَةِ الْإِقْبَالِ وَالْإِعْجَابِ فِي الْمُقَابِلِ أَنَّهُ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ وَلِذَا قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيّ وَهُوَ غَيْرُ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ فَإِنَّ لِابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيِّ شَرْحَ الْمُخْتَصَرِ لاِبْنِ عَرَفَةَ شَرحًا نَفِيْسًا وَهُوَ مَالِكِيُّ بَيْنَمَا ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الشَّافِعِيُّ مَعْرُوفٌ هُوَ أَبُو مُحَمَّدٍ عِزُّ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ السَّلَّامِ هُوَ صَاحِبُ الْغَايَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكُتُبِ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الْمَالِكِيّ صَاحِبُ شَرْحِ مُخْتَصَرِ ابْنِ عَرْفَةَ يَقُولُ كُنْتُ حَاجًّا فَأَنْكَرتُ عَلَى بَعْضِ الْحَجِيْجِ الْمَغَارِبَةِ لِأَنَّهُ مِنْ… مِنْ تُونِس فَأَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمَسَائِلِ فَلَمْ يَقْبَلُوْا مِنِّي لِأَنَّنِي كُنْتُ لَابِسًا لِلْإِحْرَامِ فَلَمَّا لَبِسْتُ زِيَّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي لَبِسَهُ الْمَغَارِبَةُ حِيْنَمَا تَحَلَّلْتُ مِنَ الْإِحْرَامِ أَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْكَرتُهُ قَبْلَ ذَلِكَ فَقَبِلُوْا بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يُعْرَفُونَ بِهِ وَهَيْئَةٌ يُعْرَفُونَ بِهَا أَوَّلُ هَذِهِ الْهَيْئَةِ هَيْئَةُ لُبْسِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِنَّ زِيَّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبَالَ فِيهِ إِذِ الْإِسْبَالُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، زِيُّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبِالَ فِيهِ… فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكَعْبِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ لَا إِسْبَالَ فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكُمِّ فَإِنَّ طُولَ الْكُمِّ كَانَ بَعْضُ أهْلِ الْعِلْمِ يَنْهَى عَنْهُ وَهُوَ مَشْهُورُ مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَلِذَا كَانَ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ كَانُوا يَلْبِسُونَ الْأَكْمَامَ الْوَسِيْعَةَ فَأَفْتَى بَعْضُ الْمَشَايِخِ بِأَنَّ هَذَا لَا يَجُوزُ وَ أَنَّهُ مِنَ الْإِسْرَافِ حَيْثُ لَا حَاجَةَ لَهُ فَيَدْخُلُ فِي الْإِسْبَالِ فِي الْكُمِّ فَتَرَكَ أَهْلُ الْعِلْمِ بَعْدَ ذَلِكَ ذَاتَ الْأَكْمَامِ الْوَسِيعَةِ الَّذِي كُنَّا نُسَمِّيْهِ إِلَى عَيْنٍ قَرِيْبٍ بِثِيَابِ الْمُرُوْدَن أَفْتَى بِذَلِكَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ إِبْرَاهِيْمُ فَتَركَهَا النَّاسُ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ أهْلُ الْعِلْمِ مَعْرُوفُونَ بِزِيٍّ مُعَيَّنٍ فِي لُبْسِهِمْ أَوَّلُ عَلَامَاتِهِ أَنَّهُ عَلَى السُّنَّةِ إِذْ كَيْفَ يَكُونُ الْمَرْءُ حَامِلًا لِلْعِلْمِ وَيَكُونُ زِيُّهُ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ هَذَا لَيْسَ مِنْ هَيْئَةِ الْعِلْمِ فِي شَيْءٍ لَكِنْ كَمَا ذَكَرتُ لَكُمْ ابْتِدَاءً أَنَّهُ قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَّةِ لِلْمَصْلَحَةِ ذَكَرتُ هَذِهِ قَوَاعِدَ الثَّلَاثِ فِي أَوَّلِ كَلَاَمِيْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ لِلْمَصْلَحَةِ كَمَا رَوَى ذَلِكَ… كَمَا… مِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ مَا رَوَى يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ الْفَسَوِي فِي كِتَابِهِ التَّارِيخُ أَنَّ أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِي شَيْخَ الْإمَامِ مَالَكٍ قَالَ كَانَ التَّشْمِيْرُ سُنَّةً فَأَصْبَحَ فِي زَمَانِنَا شُهْرَةً شَيْخُ الْإمَامِ مَالِكٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فَأَحْيَانًا قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ كَالتَّشْمِيرِ وَهُوَ إِذِ الثَّوْبُ أَنْ يَكُونَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ هَذَا السُّنَّةِ قَدْ يَتْرُكُهُ بَعْضُ النَّاسِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَلَيْسَ مُطْلَقًا لِمَصْلَحَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَأَمَّا مَا تَحْتَ الْكَعْبِ كَمَا تَعْلَمُونَ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ حَرَامٌ إِذَا كَانَ بِقَصْدِ الخُيَلَاءِ فَهُوَ حَرَامٌ بَلْ هُوَ عِنْدَهُمْ مَعْدُودٌ مِنَ الْكَبَائِرِ لِتَرْتِيبِ الْوَعِيدِ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَوَّلُ عَلَامَاتِ زِيِّهِ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ وَهَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَجِبُ أَنْ يَنْتَبِهَ لَهَا هَيْئَتُهُ وَلِبَاسُهُ وَسَائِرُ هَيْئَتِهِ فِي أَظْهَارِهِ وَشُعُورِهِ وَسَائِرِ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِظَاهِرِهِ الَّذِي يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ الأَمْرُ الثَّانِي الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِلِبَاسِ طَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْحَدِيثَ طَوِيلٌ لَكِنَّ سَأَخْتَصِرُ بِهَذِهِ الْجُزْئِيَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ مِنْ زِيِّ الْعُلَمَاءِ عِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ، فَعِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ وَعِنْدَمَا يَتَصَدَّرُ الْمَرْءُ فِي الْمَجْلِسِ فَقَدْ جَرَتِ الْعَادَةُ فِي كُلِّ بَلَدٍ أَنَّ لَهُمْ لِبَاسًا لِأَهْلِ الْعِلْمِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ لِأهْلِ الْعِلْمِ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي أَرْدِيَّتِهِمْ كَالْعَبَاءَةِ وَنَحوِهَا وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي قُمُصِهِمْ فَتَجِدُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ الْفَقِيهَ وَالْعَالِمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ لَبِسَ بَعْضَ أَنْوَاعِ اللِّبَاسِ الَّذِي يَكُونُ فِي الْقَمِيصِ فَعِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ تَلْبَسُ هَيْئَةَ أهْلِ الْعِلْمِ وَأَمَّا فِي خَاصَّتِكَ حَيْثُ لَا يَكُونُ هُنَاكَ تَعْلِيمٌ فَإِنَّهُ رُبَّمَا كَانَ هَذَا الْإِظْهَارُ أَمَامَ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ فِيهِ يَعْنِي نَوْعٌ لِحَظِّ النَّفْسِ إِذَنْ زِيُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي يُعْرَفُونَ بِهِ يَكُونُ عِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ لِكَيْ يُعْرَفُ الْعِلْمُ، يَعْرِفُ النَّاسُ أَنَّ هَذَا هُوَ الْمُعَلِّمُ وَأَنَّ هَذِهِ هَيْئَتُهُ وَهَذَا مَسْأَلَةٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَالْحَديثُ سَبَقَ أَنْ أُلْقِيَ فِيهَا مُحَاضَرَةٌ كَانَتْ تَتَعَلَّقُ بِزِيِّ الْعُلَمَاءِ وَكَلَامُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ هَلْ هُوَ فِي مَحَلِّهِ أَمْ لاَ يَتَعَلَّقُ بِالْاِخْتِيَارَاتِ طَبْعًا هَذَا الْكَلَاَمُ قَدِيمٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فَقَدْ ذَكَرَ الْإمَامُ مَالِكٌ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَالَ لَمْ أُفْتِ حَتَّى شَهِدَ لِي سَبْعُونَ مُعَمَّمًا أَنِّي أَهْلُ الْفَتْوَى وَقَالَ ابْنُ نَصْرِ الدِّينِ وَلَمْ يَكُنْ يَتَعَمَّمُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ إِلَّا فَقِيهٌ فَكَانَ مِنْ زِيِّ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ
Bentuk Penjagaan Ilmu Syar’i Dalam Berpakaian – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diantara hal-hal yang berkaitan dengan penjagaan terhadap ilmu dalam hal penampilan dan adab adalah menjaga pakaian. Dan para ulama masih saja membahas masalah pakaian dan mereka memiliki penjelasan yang panjang yang kesimpulannya adalah sebagai berikut, Yang pertama, bahwa para ulama berkata; “Seorang penuntut ilmu wajib untuk tidak mengenakan pakaian syuhrah. ” Dan telah sampai kepada kita riwayat dari al-Baihaqi bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis pakaian, salah satu dari dua pakaian ini adalah pakaian syuhrah. Pakaian syuhroh yaitu pakaian yang dengannya seseorang menjadi tenar di tengah manusia, mencolok dan berbeda daripada yang lain seolah-olah dia berkata kepada manusia, “Aku di sini, lihatlah aku!” Ini disebut dengan pakaian syuhrah dan ini ada di tengah manusia, jika dia mengenakan pakaian ini muncul dalam dirinya sifat takjub kepada diri sendiri, timbul dalam dirinya sifat mengagungkan diri sendiri karena orang-orang melihat ke arahnya dan takjub dengannya. Namun sebaliknya, para ulama memiliki pakaian khusus, para ulama memiliki ciri khas dalam pakaian. Oleh sebab itu, Ibnu Abdussalam at-Tunisi pernah berkata, dan beliau bukan Izzudin bin Abdussalam, Ibnu Abdussalam at-Tunisi menulis sebuah kitab penjelasan yang bagus atas kitab al-Mukhtashar karya Ibnu Arafah. Dan dia bermazhab Maliki sedangkan Ibnu Abdussalam bermazhab Syafi’i, beliau dikenal dengan Abu Muhammad Izzudin bin Abdussalam, pengarang kitab al-Ghayah dan kitab-kitab lain. Ibnu Abdussalam al-Maliki pengarang kitab penjelasan Mukhtasar Ibnu Arafah berkata; “Aku pernah berhaji kemudian aku mengingkari perbuatan beberapa haji dari Maroko,-karena beliau dari Tunisia- “Aku mengingkari mereka dalam beberapa persoalan namun mereka tidak terima karena aku masih mengenakan pakaian ihram.” “Kemudian ketika aku mengenakan pakaian khas ulama yang biasa dipakai orang Maroko setelah aku selesai tahallul dari ihram, aku ingkari lagi perbuatan mereka yang tadi aku ingkari dan mereka menerima perkataanku.” Jadi, ulama memiliki pakaian khas yang dengannya mereka dikenal dan cara berpakaian yang dengannya mereka diketahui. Awal dari cara berpakaian ini adalah cara berpakaian sesuai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pakaian ulama harus tidak isbal. Karena isbal adalah perkara yang terlarang, sehingga pakaian khas ulama tidak boleh menjulur melebihi mata kaki. Sebagian ulama berkata; “Tidak boleh juga isbal pada pergelangan tangan.” Karena panjangnya lengan baju melebihi pergelangan tangan dilarang oleh sebagian ulama dan ini adalah pendapat terkenal dalam mazhab Ahmad. Oleh sebab itu, di sebagian negeri, mereka mengenakan lengan baju yang lebar, kemudian sebagian ulama memfatwakan bahwa itu terlarang dan merupakan perbuatan berlebih-lebihan karena tidak diperlukan. Sehingga termasuk dalam perbuatan isbal pada pergelangan tangan sehingga para ulama kemudian meninggalkan pakaian dengan lengan tangan yang panjang ini, yang sampai sekarang kita masih menyebutnya dengan baju ‘Murudana’. Hal ini difatwakan oleh syeikh Muhammad bin Ibrahim dan kemudian orang-orang meninggalkan pakaian ini. Jadi, para ulama dikenal dengan pakaian tertentu dalam penampilan mereka dan tanda pertamanya adalah bersesuaian dengan sunah. Karena bagaimana mungkin seseorang yang mengemban ilmu namun pakaiannya tidak sesuai sunah, penampilan ini tidak menunjukkan keilmuan sama sekali. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan pada kalian di awal, bahwa terkadang sebagian sunah boleh ditinggalkan untuk suatu maslahat. Telah saya sebutkan tiga kaidah ini di awal pembahasan saya, bahwa sebagian sunah terkadang ditinggalkan untuk suatu maslahat, sebagaimana diriwayatkan…. atau diantara contohnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ya’kub bin Sufyan al-Fasawi dalam kitab at-Tarikh, bahwa Ayub as-Sikhtiyani, guru imam Malik, berkata; “Dulu tasymir adalah sunah namun di zaman kita berubah menjadi pakaian syuhrah.” Guru imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- yang mengucapkan perkataan ini. Maka terkadang sebagian sunah ditinggalkan seperti tasymir yaitu kain yang diangkat sampai separuh betis, ini adalah sunah. Namun ini terkadang ditinggalkan oleh sebagian orang dalam beberapa keadaan, dan bukan dalam semua keadaan, untuk suatu maslahat tertentu. Adapun yang terjulur di bawah mata kaki, sebagaimana kalian ketahui, para muhaqiq dari kalangan ulama berpendapat haramnya hal tersebut jika dimaksudkan untuk kesombongan. Maka itu haram bahkan mereka menganggap bahwa hal tersebut termasuk dosa besar karena adanya ancaman bagi para pelakunya. Jadi, maksud dari pembahasan ini adalah tanda pertama yang harus ditunjukkan seorang penuntut dalam pakaiannya adalah sesuai dengan sunah. Dan ini adalah beberapa hal-hal penting yang harus dia perhatikan, cara berpakaiannya, pakaiannya, seluruh penampilan fisiknya dan sikap-sikapnya serta segala sesuatu yang berkaitan dengan zahirnya yang dilihat oleh manusia. Dan masalah kedua yang berhubungan dengan pakaian seorang penuntut ilmu, sebenarnya pembahasan ini panjang namun aku persingkat dengan membahas bagian ini, bahwa pakaian khas seorang ulama dikenakan ketika sedang berbicara tentang ilmu, ketika mengajarkan ilmu dan ketika seseorang tampil di majelis ilmu. Dan adat telah berlaku pada setiap negeri bahwa setiap negeri memiliki pakaian khusus ulama, bagi sebagian manusia pakaian khas untuk para ulama adalah pada sorbannya, pakaian khas mereka adalah sorban-sorban mereka, dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama adalah selendang mereka, misalkan gamis dan lain sebagainya. Dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama mereka adalah pada kemeja mereka, sehingga Anda dapati di beberapa daerah seorang ahli fikih dan ulama ketika ingin berceramah menggunakan beberapa jenis pakaian berupa kemeja. Maka ketika mengajarkan ilmu pada manusia kenakanlah pakaian ulama dan adapun dalam momen pribadi ketika tidak sedang mengajar, penampilan semacam ini di hadapan manusia mungkin bisa memunculkan sifat takjub dalam diri sendiri. Jadi, pakaian ulama yang dengannya mereka dikenal dikenakan ketika sedang mengajarkan ilmu pada manusia agar orang-orang tahu bahwa ini adalah ilmu, bahwa ini adalah pengajarnya dan inilah penampilannya. Dan ini merupakan pembahasan yang sudah lama sekali ada dan pembahasan ini dahulu sudah pernah aku sampaikan dalam sebuah kajian yang berhubungan dengan pakaian para ulama, dan pendapat syeikh Taqiyuddin tentang apakah hal tersebut sesuai dengan tempatnya atau tidak, yang berkaitan dengan pemilihnya. Dan tentu pembahasan ini sudah dibahas sejak dahulu oleh para ulama, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- berkata; “Aku tidak akan memberikan fatwa hingga tujuh puluh orang yang bersorban bersaksi bahwa aku adalah seorang mufti.” Dan Ibnu Nasruddin berkata; “Dan tidaklah orang-orang bersorban pada zaman itu kecuali mereka adalah ahli fikih.” Dan itu merupakan pakaian khas para ulama di masa-masa awal. ==============================   مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ أَيْضًا بِصِيَانَةِ الْعِلْمِ فِي الْهَيْئَةِ وَالْأَدَبِ صِيَانَتُهُ فِي اللِّبَاسِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يَتَكَلَّمُونَ عَنِ اللِّبَاسِ وَلَهُمْ كَلَاَمٌ طَوِيلٌ مُحَصَّلُهُ مَا يَلِي الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ الطَّالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَلْبِسَ لِبَاسَ الشُّهْرَةِ وَقَدْ رُوِيْنَا عِنْدَ الْبَيْهَقِيْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنْ لِبْسَتَيْنِ إحْدَى هَاتَيْنِ اللِّبْسَتَيْنِ هُوَ لِبَاسُ الشُّهْرَةِ الَّذِيْ يَكُونُ الْمَرْءُ بِهِ مُشْتَهِرًا عَنِ النَّاسِ مُمَيِّزًا لَهُمْ مُغَايِرًا فَكَأَنَّهُ يَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا هُنَا فَانْظُرُوْنِيْ هَذَا يُسَمَّى لِبَاسُ الشُّهْرَةِ وَهَذَا مَوْجُودٌ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ فَإِذَا لَبِسَ هَذَا اللِّبَاسَ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنَ الْعُجْبِ بِنَفْسِهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنْ تَعْظِيمِ ذَاتِهِ إِذِ النَّاسُ يَنْظُرُونَ لَهُ بِهَيْئَةِ الْإِقْبَالِ وَالْإِعْجَابِ فِي الْمُقَابِلِ أَنَّهُ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ وَلِذَا قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيّ وَهُوَ غَيْرُ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ فَإِنَّ لِابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيِّ شَرْحَ الْمُخْتَصَرِ لاِبْنِ عَرَفَةَ شَرحًا نَفِيْسًا وَهُوَ مَالِكِيُّ بَيْنَمَا ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الشَّافِعِيُّ مَعْرُوفٌ هُوَ أَبُو مُحَمَّدٍ عِزُّ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ السَّلَّامِ هُوَ صَاحِبُ الْغَايَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكُتُبِ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الْمَالِكِيّ صَاحِبُ شَرْحِ مُخْتَصَرِ ابْنِ عَرْفَةَ يَقُولُ كُنْتُ حَاجًّا فَأَنْكَرتُ عَلَى بَعْضِ الْحَجِيْجِ الْمَغَارِبَةِ لِأَنَّهُ مِنْ… مِنْ تُونِس فَأَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمَسَائِلِ فَلَمْ يَقْبَلُوْا مِنِّي لِأَنَّنِي كُنْتُ لَابِسًا لِلْإِحْرَامِ فَلَمَّا لَبِسْتُ زِيَّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي لَبِسَهُ الْمَغَارِبَةُ حِيْنَمَا تَحَلَّلْتُ مِنَ الْإِحْرَامِ أَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْكَرتُهُ قَبْلَ ذَلِكَ فَقَبِلُوْا بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يُعْرَفُونَ بِهِ وَهَيْئَةٌ يُعْرَفُونَ بِهَا أَوَّلُ هَذِهِ الْهَيْئَةِ هَيْئَةُ لُبْسِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِنَّ زِيَّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبَالَ فِيهِ إِذِ الْإِسْبَالُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، زِيُّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبِالَ فِيهِ… فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكَعْبِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ لَا إِسْبَالَ فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكُمِّ فَإِنَّ طُولَ الْكُمِّ كَانَ بَعْضُ أهْلِ الْعِلْمِ يَنْهَى عَنْهُ وَهُوَ مَشْهُورُ مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَلِذَا كَانَ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ كَانُوا يَلْبِسُونَ الْأَكْمَامَ الْوَسِيْعَةَ فَأَفْتَى بَعْضُ الْمَشَايِخِ بِأَنَّ هَذَا لَا يَجُوزُ وَ أَنَّهُ مِنَ الْإِسْرَافِ حَيْثُ لَا حَاجَةَ لَهُ فَيَدْخُلُ فِي الْإِسْبَالِ فِي الْكُمِّ فَتَرَكَ أَهْلُ الْعِلْمِ بَعْدَ ذَلِكَ ذَاتَ الْأَكْمَامِ الْوَسِيعَةِ الَّذِي كُنَّا نُسَمِّيْهِ إِلَى عَيْنٍ قَرِيْبٍ بِثِيَابِ الْمُرُوْدَن أَفْتَى بِذَلِكَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ إِبْرَاهِيْمُ فَتَركَهَا النَّاسُ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ أهْلُ الْعِلْمِ مَعْرُوفُونَ بِزِيٍّ مُعَيَّنٍ فِي لُبْسِهِمْ أَوَّلُ عَلَامَاتِهِ أَنَّهُ عَلَى السُّنَّةِ إِذْ كَيْفَ يَكُونُ الْمَرْءُ حَامِلًا لِلْعِلْمِ وَيَكُونُ زِيُّهُ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ هَذَا لَيْسَ مِنْ هَيْئَةِ الْعِلْمِ فِي شَيْءٍ لَكِنْ كَمَا ذَكَرتُ لَكُمْ ابْتِدَاءً أَنَّهُ قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَّةِ لِلْمَصْلَحَةِ ذَكَرتُ هَذِهِ قَوَاعِدَ الثَّلَاثِ فِي أَوَّلِ كَلَاَمِيْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ لِلْمَصْلَحَةِ كَمَا رَوَى ذَلِكَ… كَمَا… مِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ مَا رَوَى يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ الْفَسَوِي فِي كِتَابِهِ التَّارِيخُ أَنَّ أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِي شَيْخَ الْإمَامِ مَالَكٍ قَالَ كَانَ التَّشْمِيْرُ سُنَّةً فَأَصْبَحَ فِي زَمَانِنَا شُهْرَةً شَيْخُ الْإمَامِ مَالِكٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فَأَحْيَانًا قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ كَالتَّشْمِيرِ وَهُوَ إِذِ الثَّوْبُ أَنْ يَكُونَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ هَذَا السُّنَّةِ قَدْ يَتْرُكُهُ بَعْضُ النَّاسِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَلَيْسَ مُطْلَقًا لِمَصْلَحَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَأَمَّا مَا تَحْتَ الْكَعْبِ كَمَا تَعْلَمُونَ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ حَرَامٌ إِذَا كَانَ بِقَصْدِ الخُيَلَاءِ فَهُوَ حَرَامٌ بَلْ هُوَ عِنْدَهُمْ مَعْدُودٌ مِنَ الْكَبَائِرِ لِتَرْتِيبِ الْوَعِيدِ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَوَّلُ عَلَامَاتِ زِيِّهِ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ وَهَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَجِبُ أَنْ يَنْتَبِهَ لَهَا هَيْئَتُهُ وَلِبَاسُهُ وَسَائِرُ هَيْئَتِهِ فِي أَظْهَارِهِ وَشُعُورِهِ وَسَائِرِ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِظَاهِرِهِ الَّذِي يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ الأَمْرُ الثَّانِي الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِلِبَاسِ طَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْحَدِيثَ طَوِيلٌ لَكِنَّ سَأَخْتَصِرُ بِهَذِهِ الْجُزْئِيَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ مِنْ زِيِّ الْعُلَمَاءِ عِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ، فَعِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ وَعِنْدَمَا يَتَصَدَّرُ الْمَرْءُ فِي الْمَجْلِسِ فَقَدْ جَرَتِ الْعَادَةُ فِي كُلِّ بَلَدٍ أَنَّ لَهُمْ لِبَاسًا لِأَهْلِ الْعِلْمِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ لِأهْلِ الْعِلْمِ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي أَرْدِيَّتِهِمْ كَالْعَبَاءَةِ وَنَحوِهَا وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي قُمُصِهِمْ فَتَجِدُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ الْفَقِيهَ وَالْعَالِمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ لَبِسَ بَعْضَ أَنْوَاعِ اللِّبَاسِ الَّذِي يَكُونُ فِي الْقَمِيصِ فَعِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ تَلْبَسُ هَيْئَةَ أهْلِ الْعِلْمِ وَأَمَّا فِي خَاصَّتِكَ حَيْثُ لَا يَكُونُ هُنَاكَ تَعْلِيمٌ فَإِنَّهُ رُبَّمَا كَانَ هَذَا الْإِظْهَارُ أَمَامَ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ فِيهِ يَعْنِي نَوْعٌ لِحَظِّ النَّفْسِ إِذَنْ زِيُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي يُعْرَفُونَ بِهِ يَكُونُ عِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ لِكَيْ يُعْرَفُ الْعِلْمُ، يَعْرِفُ النَّاسُ أَنَّ هَذَا هُوَ الْمُعَلِّمُ وَأَنَّ هَذِهِ هَيْئَتُهُ وَهَذَا مَسْأَلَةٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَالْحَديثُ سَبَقَ أَنْ أُلْقِيَ فِيهَا مُحَاضَرَةٌ كَانَتْ تَتَعَلَّقُ بِزِيِّ الْعُلَمَاءِ وَكَلَامُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ هَلْ هُوَ فِي مَحَلِّهِ أَمْ لاَ يَتَعَلَّقُ بِالْاِخْتِيَارَاتِ طَبْعًا هَذَا الْكَلَاَمُ قَدِيمٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فَقَدْ ذَكَرَ الْإمَامُ مَالِكٌ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَالَ لَمْ أُفْتِ حَتَّى شَهِدَ لِي سَبْعُونَ مُعَمَّمًا أَنِّي أَهْلُ الْفَتْوَى وَقَالَ ابْنُ نَصْرِ الدِّينِ وَلَمْ يَكُنْ يَتَعَمَّمُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ إِلَّا فَقِيهٌ فَكَانَ مِنْ زِيِّ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ


Bentuk Penjagaan Ilmu Syar’i Dalam Berpakaian – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diantara hal-hal yang berkaitan dengan penjagaan terhadap ilmu dalam hal penampilan dan adab adalah menjaga pakaian. Dan para ulama masih saja membahas masalah pakaian dan mereka memiliki penjelasan yang panjang yang kesimpulannya adalah sebagai berikut, Yang pertama, bahwa para ulama berkata; “Seorang penuntut ilmu wajib untuk tidak mengenakan pakaian syuhrah. ” Dan telah sampai kepada kita riwayat dari al-Baihaqi bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis pakaian, salah satu dari dua pakaian ini adalah pakaian syuhrah. Pakaian syuhroh yaitu pakaian yang dengannya seseorang menjadi tenar di tengah manusia, mencolok dan berbeda daripada yang lain seolah-olah dia berkata kepada manusia, “Aku di sini, lihatlah aku!” Ini disebut dengan pakaian syuhrah dan ini ada di tengah manusia, jika dia mengenakan pakaian ini muncul dalam dirinya sifat takjub kepada diri sendiri, timbul dalam dirinya sifat mengagungkan diri sendiri karena orang-orang melihat ke arahnya dan takjub dengannya. Namun sebaliknya, para ulama memiliki pakaian khusus, para ulama memiliki ciri khas dalam pakaian. Oleh sebab itu, Ibnu Abdussalam at-Tunisi pernah berkata, dan beliau bukan Izzudin bin Abdussalam, Ibnu Abdussalam at-Tunisi menulis sebuah kitab penjelasan yang bagus atas kitab al-Mukhtashar karya Ibnu Arafah. Dan dia bermazhab Maliki sedangkan Ibnu Abdussalam bermazhab Syafi’i, beliau dikenal dengan Abu Muhammad Izzudin bin Abdussalam, pengarang kitab al-Ghayah dan kitab-kitab lain. Ibnu Abdussalam al-Maliki pengarang kitab penjelasan Mukhtasar Ibnu Arafah berkata; “Aku pernah berhaji kemudian aku mengingkari perbuatan beberapa haji dari Maroko,-karena beliau dari Tunisia- “Aku mengingkari mereka dalam beberapa persoalan namun mereka tidak terima karena aku masih mengenakan pakaian ihram.” “Kemudian ketika aku mengenakan pakaian khas ulama yang biasa dipakai orang Maroko setelah aku selesai tahallul dari ihram, aku ingkari lagi perbuatan mereka yang tadi aku ingkari dan mereka menerima perkataanku.” Jadi, ulama memiliki pakaian khas yang dengannya mereka dikenal dan cara berpakaian yang dengannya mereka diketahui. Awal dari cara berpakaian ini adalah cara berpakaian sesuai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pakaian ulama harus tidak isbal. Karena isbal adalah perkara yang terlarang, sehingga pakaian khas ulama tidak boleh menjulur melebihi mata kaki. Sebagian ulama berkata; “Tidak boleh juga isbal pada pergelangan tangan.” Karena panjangnya lengan baju melebihi pergelangan tangan dilarang oleh sebagian ulama dan ini adalah pendapat terkenal dalam mazhab Ahmad. Oleh sebab itu, di sebagian negeri, mereka mengenakan lengan baju yang lebar, kemudian sebagian ulama memfatwakan bahwa itu terlarang dan merupakan perbuatan berlebih-lebihan karena tidak diperlukan. Sehingga termasuk dalam perbuatan isbal pada pergelangan tangan sehingga para ulama kemudian meninggalkan pakaian dengan lengan tangan yang panjang ini, yang sampai sekarang kita masih menyebutnya dengan baju ‘Murudana’. Hal ini difatwakan oleh syeikh Muhammad bin Ibrahim dan kemudian orang-orang meninggalkan pakaian ini. Jadi, para ulama dikenal dengan pakaian tertentu dalam penampilan mereka dan tanda pertamanya adalah bersesuaian dengan sunah. Karena bagaimana mungkin seseorang yang mengemban ilmu namun pakaiannya tidak sesuai sunah, penampilan ini tidak menunjukkan keilmuan sama sekali. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan pada kalian di awal, bahwa terkadang sebagian sunah boleh ditinggalkan untuk suatu maslahat. Telah saya sebutkan tiga kaidah ini di awal pembahasan saya, bahwa sebagian sunah terkadang ditinggalkan untuk suatu maslahat, sebagaimana diriwayatkan…. atau diantara contohnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ya’kub bin Sufyan al-Fasawi dalam kitab at-Tarikh, bahwa Ayub as-Sikhtiyani, guru imam Malik, berkata; “Dulu tasymir adalah sunah namun di zaman kita berubah menjadi pakaian syuhrah.” Guru imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- yang mengucapkan perkataan ini. Maka terkadang sebagian sunah ditinggalkan seperti tasymir yaitu kain yang diangkat sampai separuh betis, ini adalah sunah. Namun ini terkadang ditinggalkan oleh sebagian orang dalam beberapa keadaan, dan bukan dalam semua keadaan, untuk suatu maslahat tertentu. Adapun yang terjulur di bawah mata kaki, sebagaimana kalian ketahui, para muhaqiq dari kalangan ulama berpendapat haramnya hal tersebut jika dimaksudkan untuk kesombongan. Maka itu haram bahkan mereka menganggap bahwa hal tersebut termasuk dosa besar karena adanya ancaman bagi para pelakunya. Jadi, maksud dari pembahasan ini adalah tanda pertama yang harus ditunjukkan seorang penuntut dalam pakaiannya adalah sesuai dengan sunah. Dan ini adalah beberapa hal-hal penting yang harus dia perhatikan, cara berpakaiannya, pakaiannya, seluruh penampilan fisiknya dan sikap-sikapnya serta segala sesuatu yang berkaitan dengan zahirnya yang dilihat oleh manusia. Dan masalah kedua yang berhubungan dengan pakaian seorang penuntut ilmu, sebenarnya pembahasan ini panjang namun aku persingkat dengan membahas bagian ini, bahwa pakaian khas seorang ulama dikenakan ketika sedang berbicara tentang ilmu, ketika mengajarkan ilmu dan ketika seseorang tampil di majelis ilmu. Dan adat telah berlaku pada setiap negeri bahwa setiap negeri memiliki pakaian khusus ulama, bagi sebagian manusia pakaian khas untuk para ulama adalah pada sorbannya, pakaian khas mereka adalah sorban-sorban mereka, dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama adalah selendang mereka, misalkan gamis dan lain sebagainya. Dan bagi sebagian orang pakaian khas ulama mereka adalah pada kemeja mereka, sehingga Anda dapati di beberapa daerah seorang ahli fikih dan ulama ketika ingin berceramah menggunakan beberapa jenis pakaian berupa kemeja. Maka ketika mengajarkan ilmu pada manusia kenakanlah pakaian ulama dan adapun dalam momen pribadi ketika tidak sedang mengajar, penampilan semacam ini di hadapan manusia mungkin bisa memunculkan sifat takjub dalam diri sendiri. Jadi, pakaian ulama yang dengannya mereka dikenal dikenakan ketika sedang mengajarkan ilmu pada manusia agar orang-orang tahu bahwa ini adalah ilmu, bahwa ini adalah pengajarnya dan inilah penampilannya. Dan ini merupakan pembahasan yang sudah lama sekali ada dan pembahasan ini dahulu sudah pernah aku sampaikan dalam sebuah kajian yang berhubungan dengan pakaian para ulama, dan pendapat syeikh Taqiyuddin tentang apakah hal tersebut sesuai dengan tempatnya atau tidak, yang berkaitan dengan pemilihnya. Dan tentu pembahasan ini sudah dibahas sejak dahulu oleh para ulama, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- berkata; “Aku tidak akan memberikan fatwa hingga tujuh puluh orang yang bersorban bersaksi bahwa aku adalah seorang mufti.” Dan Ibnu Nasruddin berkata; “Dan tidaklah orang-orang bersorban pada zaman itu kecuali mereka adalah ahli fikih.” Dan itu merupakan pakaian khas para ulama di masa-masa awal. ==============================   مِنَ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ أَيْضًا بِصِيَانَةِ الْعِلْمِ فِي الْهَيْئَةِ وَالْأَدَبِ صِيَانَتُهُ فِي اللِّبَاسِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يَتَكَلَّمُونَ عَنِ اللِّبَاسِ وَلَهُمْ كَلَاَمٌ طَوِيلٌ مُحَصَّلُهُ مَا يَلِي الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْعُلَمَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ الطَّالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَلْبِسَ لِبَاسَ الشُّهْرَةِ وَقَدْ رُوِيْنَا عِنْدَ الْبَيْهَقِيْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنْ لِبْسَتَيْنِ إحْدَى هَاتَيْنِ اللِّبْسَتَيْنِ هُوَ لِبَاسُ الشُّهْرَةِ الَّذِيْ يَكُونُ الْمَرْءُ بِهِ مُشْتَهِرًا عَنِ النَّاسِ مُمَيِّزًا لَهُمْ مُغَايِرًا فَكَأَنَّهُ يَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا هُنَا فَانْظُرُوْنِيْ هَذَا يُسَمَّى لِبَاسُ الشُّهْرَةِ وَهَذَا مَوْجُودٌ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ فَإِذَا لَبِسَ هَذَا اللِّبَاسَ وَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنَ الْعُجْبِ بِنَفْسِهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِهِ مِنْ تَعْظِيمِ ذَاتِهِ إِذِ النَّاسُ يَنْظُرُونَ لَهُ بِهَيْئَةِ الْإِقْبَالِ وَالْإِعْجَابِ فِي الْمُقَابِلِ أَنَّهُ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يَخُصُّهُمْ وَلِذَا قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيّ وَهُوَ غَيْرُ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ فَإِنَّ لِابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ التُّوْنِسِيِّ شَرْحَ الْمُخْتَصَرِ لاِبْنِ عَرَفَةَ شَرحًا نَفِيْسًا وَهُوَ مَالِكِيُّ بَيْنَمَا ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الشَّافِعِيُّ مَعْرُوفٌ هُوَ أَبُو مُحَمَّدٍ عِزُّ الدِّينِ بْنُ عَبْدِ السَّلَّامِ هُوَ صَاحِبُ الْغَايَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْكُتُبِ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ الْمَالِكِيّ صَاحِبُ شَرْحِ مُخْتَصَرِ ابْنِ عَرْفَةَ يَقُولُ كُنْتُ حَاجًّا فَأَنْكَرتُ عَلَى بَعْضِ الْحَجِيْجِ الْمَغَارِبَةِ لِأَنَّهُ مِنْ… مِنْ تُونِس فَأَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمَسَائِلِ فَلَمْ يَقْبَلُوْا مِنِّي لِأَنَّنِي كُنْتُ لَابِسًا لِلْإِحْرَامِ فَلَمَّا لَبِسْتُ زِيَّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي لَبِسَهُ الْمَغَارِبَةُ حِيْنَمَا تَحَلَّلْتُ مِنَ الْإِحْرَامِ أَنْكَرتُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْكَرتُهُ قَبْلَ ذَلِكَ فَقَبِلُوْا بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ لِأَهْلِ الْعِلْمِ زِيٌّ يُعْرَفُونَ بِهِ وَهَيْئَةٌ يُعْرَفُونَ بِهَا أَوَّلُ هَذِهِ الْهَيْئَةِ هَيْئَةُ لُبْسِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِنَّ زِيَّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبَالَ فِيهِ إِذِ الْإِسْبَالُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، زِيُّ الْعُلَمَاءِ لَا إِسْبِالَ فِيهِ… فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكَعْبِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ لَا إِسْبَالَ فِيهِ مِنْ حَيْثُ الْكُمِّ فَإِنَّ طُولَ الْكُمِّ كَانَ بَعْضُ أهْلِ الْعِلْمِ يَنْهَى عَنْهُ وَهُوَ مَشْهُورُ مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَلِذَا كَانَ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ كَانُوا يَلْبِسُونَ الْأَكْمَامَ الْوَسِيْعَةَ فَأَفْتَى بَعْضُ الْمَشَايِخِ بِأَنَّ هَذَا لَا يَجُوزُ وَ أَنَّهُ مِنَ الْإِسْرَافِ حَيْثُ لَا حَاجَةَ لَهُ فَيَدْخُلُ فِي الْإِسْبَالِ فِي الْكُمِّ فَتَرَكَ أَهْلُ الْعِلْمِ بَعْدَ ذَلِكَ ذَاتَ الْأَكْمَامِ الْوَسِيعَةِ الَّذِي كُنَّا نُسَمِّيْهِ إِلَى عَيْنٍ قَرِيْبٍ بِثِيَابِ الْمُرُوْدَن أَفْتَى بِذَلِكَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ إِبْرَاهِيْمُ فَتَركَهَا النَّاسُ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَنْ أهْلُ الْعِلْمِ مَعْرُوفُونَ بِزِيٍّ مُعَيَّنٍ فِي لُبْسِهِمْ أَوَّلُ عَلَامَاتِهِ أَنَّهُ عَلَى السُّنَّةِ إِذْ كَيْفَ يَكُونُ الْمَرْءُ حَامِلًا لِلْعِلْمِ وَيَكُونُ زِيُّهُ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ هَذَا لَيْسَ مِنْ هَيْئَةِ الْعِلْمِ فِي شَيْءٍ لَكِنْ كَمَا ذَكَرتُ لَكُمْ ابْتِدَاءً أَنَّهُ قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَّةِ لِلْمَصْلَحَةِ ذَكَرتُ هَذِهِ قَوَاعِدَ الثَّلَاثِ فِي أَوَّلِ كَلَاَمِيْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ لِلْمَصْلَحَةِ كَمَا رَوَى ذَلِكَ… كَمَا… مِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ مَا رَوَى يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ الْفَسَوِي فِي كِتَابِهِ التَّارِيخُ أَنَّ أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِي شَيْخَ الْإمَامِ مَالَكٍ قَالَ كَانَ التَّشْمِيْرُ سُنَّةً فَأَصْبَحَ فِي زَمَانِنَا شُهْرَةً شَيْخُ الْإمَامِ مَالِكٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ فَأَحْيَانًا قَدْ تُتْرَكُ بَعْضُ السُّنَنِ كَالتَّشْمِيرِ وَهُوَ إِذِ الثَّوْبُ أَنْ يَكُونَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ هَذَا السُّنَّةِ قَدْ يَتْرُكُهُ بَعْضُ النَّاسِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَلَيْسَ مُطْلَقًا لِمَصْلَحَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَأَمَّا مَا تَحْتَ الْكَعْبِ كَمَا تَعْلَمُونَ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ حَرَامٌ إِذَا كَانَ بِقَصْدِ الخُيَلَاءِ فَهُوَ حَرَامٌ بَلْ هُوَ عِنْدَهُمْ مَعْدُودٌ مِنَ الْكَبَائِرِ لِتَرْتِيبِ الْوَعِيدِ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَوَّلُ عَلَامَاتِ زِيِّهِ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ وَهَذِهِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي يَجِبُ أَنْ يَنْتَبِهَ لَهَا هَيْئَتُهُ وَلِبَاسُهُ وَسَائِرُ هَيْئَتِهِ فِي أَظْهَارِهِ وَشُعُورِهِ وَسَائِرِ الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِظَاهِرِهِ الَّذِي يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهِ الأَمْرُ الثَّانِي الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِلِبَاسِ طَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْحَدِيثَ طَوِيلٌ لَكِنَّ سَأَخْتَصِرُ بِهَذِهِ الْجُزْئِيَّةِ أَنَّهُ يَكُونُ مِنْ زِيِّ الْعُلَمَاءِ عِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ، فَعِنْدَ الْكَلَامِ فِي الْعِلْمِ وَعِنْدَمَا يَتَصَدَّرُ الْمَرْءُ فِي الْمَجْلِسِ فَقَدْ جَرَتِ الْعَادَةُ فِي كُلِّ بَلَدٍ أَنَّ لَهُمْ لِبَاسًا لِأَهْلِ الْعِلْمِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ لِأهْلِ الْعِلْمِ لِبَاسُهُمْ فِي عَمَائِمِهِمْ وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي أَرْدِيَّتِهِمْ كَالْعَبَاءَةِ وَنَحوِهَا وَبَعْضُ النَّاسِ لِبَاسُهُمْ فِي قُمُصِهِمْ فَتَجِدُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ الْفَقِيهَ وَالْعَالِمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ لَبِسَ بَعْضَ أَنْوَاعِ اللِّبَاسِ الَّذِي يَكُونُ فِي الْقَمِيصِ فَعِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ تَلْبَسُ هَيْئَةَ أهْلِ الْعِلْمِ وَأَمَّا فِي خَاصَّتِكَ حَيْثُ لَا يَكُونُ هُنَاكَ تَعْلِيمٌ فَإِنَّهُ رُبَّمَا كَانَ هَذَا الْإِظْهَارُ أَمَامَ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ فِيهِ يَعْنِي نَوْعٌ لِحَظِّ النَّفْسِ إِذَنْ زِيُّ الْعُلَمَاءِ الَّذِي يُعْرَفُونَ بِهِ يَكُونُ عِنْدَ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْعِلْمَ لِكَيْ يُعْرَفُ الْعِلْمُ، يَعْرِفُ النَّاسُ أَنَّ هَذَا هُوَ الْمُعَلِّمُ وَأَنَّ هَذِهِ هَيْئَتُهُ وَهَذَا مَسْأَلَةٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَالْحَديثُ سَبَقَ أَنْ أُلْقِيَ فِيهَا مُحَاضَرَةٌ كَانَتْ تَتَعَلَّقُ بِزِيِّ الْعُلَمَاءِ وَكَلَامُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ هَلْ هُوَ فِي مَحَلِّهِ أَمْ لاَ يَتَعَلَّقُ بِالْاِخْتِيَارَاتِ طَبْعًا هَذَا الْكَلَاَمُ قَدِيمٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ فَقَدْ ذَكَرَ الْإمَامُ مَالِكٌ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَالَ لَمْ أُفْتِ حَتَّى شَهِدَ لِي سَبْعُونَ مُعَمَّمًا أَنِّي أَهْلُ الْفَتْوَى وَقَالَ ابْنُ نَصْرِ الدِّينِ وَلَمْ يَكُنْ يَتَعَمَّمُ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ إِلَّا فَقِيهٌ فَكَانَ مِنْ زِيِّ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ

Jangan Memakan Harta Secara Batil

Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 188).Harta adalah hal yang sakralDalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan kesakralan harta karena kehidupan dunia yang baik terwujud dengan adanya harta. Hal ini sebagaimana Allah menerangkan kesakralan agama yang dengannya akan terwujud kehidupan akhirat yang indah. Harta dan agama adalah hak Allah sehingga keduanya tidaklah dikelola kecuali dengan seizin-Nya. Karena itulah Allah mengaitkan harta dan agama pada diri-Nya sendiri sebagai bentuk penghormatan atas kesakralan keduanya.Terkait harta, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok harta Allah (baca: menggunakannya dengan cara yang tidak benar), bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat” (HR. Bukhari no. 3118).Adapun terkait agama, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain” (QS. al-An’am: 68).Allah Ta’ala menyebut pelanggaran terhadap harta dan agama-Nya sebagai khaudh (tindakan mengolok-olok).Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaBentuk-bentuk pelanggaran terhadap hartaPelanggaran terhadap harta bisa terjadi di tangan pemilik yang dianugerahi kepemilikan harta oleh Allah dan bisa terjadi di tangan orang lain. Manusia tidak sepenuhnya diperkenankan mengelola harta meski dia memilikinya, karena diri dan hartanya adalah milik Allah. Maka merusak harta pribadi adalah perbuatan yang diharamkan sebagaimana mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar.Itulah mengapa Allah Ta’ala berfirman “تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ” yang secara harfiah berarti “janganlah kalian memakan harta kalian sendiri di antara kalian”. Pada ayat tersebut, Allah menyamakan antara orang yang memakan harta orang lain secara batil dan orang yang memakan harta pribadi secara batil. Orang pertama merusak harta orang lain, sedangkan orang kedua merusak harta pribadinya. Meskipun demikian, kesakralan harta pada dasarnya sama.Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa dengki, tamak, dan egois adalah faktor yang mendorong jiwa untuk berbuat melampaui batas terhadap hak-hak orang lain. Jiwa yang memandang hak orang lain sebagai hal yang sakral sebagaimana haknya sendiri, tentu akan menghormati harta orang lain sebagaimana dia menghormati harta pribadinya.Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk pelanggaran terhadap harta dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak, baik dengan cara merampas, mencuri, mempraktikkan riba dan gharar, atau hal yang semisal. Hal yang paling buruk dari itu semua adalah merampas harta halal dengan trik yang melegalkan dan menggugurkan hak pemilik yang sah. Hal ini bisa terjadi entah karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik setelah harta itu dirampas darinya atau karena perampasan dan pengguguran hak dari pemilik yang sah dilegalkan dengan cara yang batil.Ali ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, beliau mengomentari ayat ini dengan perkataan beliau,فهذا في الرجل يكون عليه مالٌ، وليس عليه فيه بيِّنة، فيجحد المال، فيخاصمهم فيه إلى الحكام وهو يعرف أنّ الحق عليه، وهو يعلم أنه آثم: آكلٌ حراما“Ayat ini berkaitan dengan orang yang memiliki tanggungan harta (utang), namun tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Akibatnya, dia pun menentang kewajiban itu dan membawa sengketa ini ke hakim, sementara dia tahu kebenaran berseberangan dengan dirinya dan tahu dia berdosa karena memakan hal yang haram” (Tafsir ath-Thabari, 3: 277; Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Padahal, seyogyanya orang beriman mengakui kekeliruan ketika bersalah, bukan malah membela diri dan mempertahankan kesalahan. Apalagi sampai membawa sengketa tersebut ke sidang pengadilan untuk sekadar membuktikan pada masyarakat bahwa dirinya tidak bersalah. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata,لَا تُخَاصمْ وَأَنْتَ تعلمُ أنَّك ظَالِمٌ“Janganlah kamu bersengketa, sedangkan kamu tahu bahwa dirimu berada di pihak yang zalim” (Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaPutusan hakim yang keliru tidak mampu mengubah kebenaranAyat ini juga merupakan dalil bahwa ketetapan penguasa dan keputusan hakim tidaklah mengubah hak yang belum tersingkap, dalam kondisi si perampas mengetahui bahwa dia telah mengambil harta itu secara zalim. Putusan hakim hanya memutuskan perselisihan dan menyelesaikan sengketa yang nampak. Akan tetapi, ulama sepakat putusan terhadap harta tersebut tidak mengubah hak yang tersembunyi. Dalam hal ini, hakim boleh jadi diberi pahala atas putusannya selama tidak terlibat dalam tindak kezaliman tersebut, sedangkan tetap zalim lagi berdosa meski memenangkan putusan.Firman Allah Ta’ala “وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ”, “dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”, berarti Engkau tahu kebenaran, tetapi Engkau menyembunyikannya dari orang yang berhak dengan berupaya melegalkan perampasan yang Engkau lakukan dengan berbagai ketetapan dan putusan karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik harta. Perbuatan seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-Nya,إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَدَقَ فَأَقْضِيَ لَهُ بِذَلِكَ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنْ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ فَلْيَتْرُكْهَا“Aku ini hanyalah manusia biasa dan sesungguhnya pertengkaran (sengketa) seringkali dilaporkan kepadaku. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai bersilat lidah daripada lainnya. Lalu aku menganggap dia benar, kemudian aku berikan kepadanya sesuai pengakuannya itu. Maka siapa saja yang aku putuskan menang dengan mencederai hak seorang muslim, berarti itu adalah potongan dari api neraka. Karena itu, hendaklah dia ambil atau ditinggalkannya” (HR. Bukhari no. 2458 dan Muslim no. 1713).Baca Juga:Penulis: M. Nur Ichwan Muslim, ST. Artikel: Muslim.or.id

Jangan Memakan Harta Secara Batil

Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 188).Harta adalah hal yang sakralDalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan kesakralan harta karena kehidupan dunia yang baik terwujud dengan adanya harta. Hal ini sebagaimana Allah menerangkan kesakralan agama yang dengannya akan terwujud kehidupan akhirat yang indah. Harta dan agama adalah hak Allah sehingga keduanya tidaklah dikelola kecuali dengan seizin-Nya. Karena itulah Allah mengaitkan harta dan agama pada diri-Nya sendiri sebagai bentuk penghormatan atas kesakralan keduanya.Terkait harta, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok harta Allah (baca: menggunakannya dengan cara yang tidak benar), bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat” (HR. Bukhari no. 3118).Adapun terkait agama, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain” (QS. al-An’am: 68).Allah Ta’ala menyebut pelanggaran terhadap harta dan agama-Nya sebagai khaudh (tindakan mengolok-olok).Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaBentuk-bentuk pelanggaran terhadap hartaPelanggaran terhadap harta bisa terjadi di tangan pemilik yang dianugerahi kepemilikan harta oleh Allah dan bisa terjadi di tangan orang lain. Manusia tidak sepenuhnya diperkenankan mengelola harta meski dia memilikinya, karena diri dan hartanya adalah milik Allah. Maka merusak harta pribadi adalah perbuatan yang diharamkan sebagaimana mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar.Itulah mengapa Allah Ta’ala berfirman “تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ” yang secara harfiah berarti “janganlah kalian memakan harta kalian sendiri di antara kalian”. Pada ayat tersebut, Allah menyamakan antara orang yang memakan harta orang lain secara batil dan orang yang memakan harta pribadi secara batil. Orang pertama merusak harta orang lain, sedangkan orang kedua merusak harta pribadinya. Meskipun demikian, kesakralan harta pada dasarnya sama.Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa dengki, tamak, dan egois adalah faktor yang mendorong jiwa untuk berbuat melampaui batas terhadap hak-hak orang lain. Jiwa yang memandang hak orang lain sebagai hal yang sakral sebagaimana haknya sendiri, tentu akan menghormati harta orang lain sebagaimana dia menghormati harta pribadinya.Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk pelanggaran terhadap harta dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak, baik dengan cara merampas, mencuri, mempraktikkan riba dan gharar, atau hal yang semisal. Hal yang paling buruk dari itu semua adalah merampas harta halal dengan trik yang melegalkan dan menggugurkan hak pemilik yang sah. Hal ini bisa terjadi entah karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik setelah harta itu dirampas darinya atau karena perampasan dan pengguguran hak dari pemilik yang sah dilegalkan dengan cara yang batil.Ali ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, beliau mengomentari ayat ini dengan perkataan beliau,فهذا في الرجل يكون عليه مالٌ، وليس عليه فيه بيِّنة، فيجحد المال، فيخاصمهم فيه إلى الحكام وهو يعرف أنّ الحق عليه، وهو يعلم أنه آثم: آكلٌ حراما“Ayat ini berkaitan dengan orang yang memiliki tanggungan harta (utang), namun tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Akibatnya, dia pun menentang kewajiban itu dan membawa sengketa ini ke hakim, sementara dia tahu kebenaran berseberangan dengan dirinya dan tahu dia berdosa karena memakan hal yang haram” (Tafsir ath-Thabari, 3: 277; Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Padahal, seyogyanya orang beriman mengakui kekeliruan ketika bersalah, bukan malah membela diri dan mempertahankan kesalahan. Apalagi sampai membawa sengketa tersebut ke sidang pengadilan untuk sekadar membuktikan pada masyarakat bahwa dirinya tidak bersalah. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata,لَا تُخَاصمْ وَأَنْتَ تعلمُ أنَّك ظَالِمٌ“Janganlah kamu bersengketa, sedangkan kamu tahu bahwa dirimu berada di pihak yang zalim” (Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaPutusan hakim yang keliru tidak mampu mengubah kebenaranAyat ini juga merupakan dalil bahwa ketetapan penguasa dan keputusan hakim tidaklah mengubah hak yang belum tersingkap, dalam kondisi si perampas mengetahui bahwa dia telah mengambil harta itu secara zalim. Putusan hakim hanya memutuskan perselisihan dan menyelesaikan sengketa yang nampak. Akan tetapi, ulama sepakat putusan terhadap harta tersebut tidak mengubah hak yang tersembunyi. Dalam hal ini, hakim boleh jadi diberi pahala atas putusannya selama tidak terlibat dalam tindak kezaliman tersebut, sedangkan tetap zalim lagi berdosa meski memenangkan putusan.Firman Allah Ta’ala “وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ”, “dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”, berarti Engkau tahu kebenaran, tetapi Engkau menyembunyikannya dari orang yang berhak dengan berupaya melegalkan perampasan yang Engkau lakukan dengan berbagai ketetapan dan putusan karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik harta. Perbuatan seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-Nya,إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَدَقَ فَأَقْضِيَ لَهُ بِذَلِكَ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنْ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ فَلْيَتْرُكْهَا“Aku ini hanyalah manusia biasa dan sesungguhnya pertengkaran (sengketa) seringkali dilaporkan kepadaku. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai bersilat lidah daripada lainnya. Lalu aku menganggap dia benar, kemudian aku berikan kepadanya sesuai pengakuannya itu. Maka siapa saja yang aku putuskan menang dengan mencederai hak seorang muslim, berarti itu adalah potongan dari api neraka. Karena itu, hendaklah dia ambil atau ditinggalkannya” (HR. Bukhari no. 2458 dan Muslim no. 1713).Baca Juga:Penulis: M. Nur Ichwan Muslim, ST. Artikel: Muslim.or.id
Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 188).Harta adalah hal yang sakralDalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan kesakralan harta karena kehidupan dunia yang baik terwujud dengan adanya harta. Hal ini sebagaimana Allah menerangkan kesakralan agama yang dengannya akan terwujud kehidupan akhirat yang indah. Harta dan agama adalah hak Allah sehingga keduanya tidaklah dikelola kecuali dengan seizin-Nya. Karena itulah Allah mengaitkan harta dan agama pada diri-Nya sendiri sebagai bentuk penghormatan atas kesakralan keduanya.Terkait harta, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok harta Allah (baca: menggunakannya dengan cara yang tidak benar), bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat” (HR. Bukhari no. 3118).Adapun terkait agama, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain” (QS. al-An’am: 68).Allah Ta’ala menyebut pelanggaran terhadap harta dan agama-Nya sebagai khaudh (tindakan mengolok-olok).Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaBentuk-bentuk pelanggaran terhadap hartaPelanggaran terhadap harta bisa terjadi di tangan pemilik yang dianugerahi kepemilikan harta oleh Allah dan bisa terjadi di tangan orang lain. Manusia tidak sepenuhnya diperkenankan mengelola harta meski dia memilikinya, karena diri dan hartanya adalah milik Allah. Maka merusak harta pribadi adalah perbuatan yang diharamkan sebagaimana mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar.Itulah mengapa Allah Ta’ala berfirman “تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ” yang secara harfiah berarti “janganlah kalian memakan harta kalian sendiri di antara kalian”. Pada ayat tersebut, Allah menyamakan antara orang yang memakan harta orang lain secara batil dan orang yang memakan harta pribadi secara batil. Orang pertama merusak harta orang lain, sedangkan orang kedua merusak harta pribadinya. Meskipun demikian, kesakralan harta pada dasarnya sama.Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa dengki, tamak, dan egois adalah faktor yang mendorong jiwa untuk berbuat melampaui batas terhadap hak-hak orang lain. Jiwa yang memandang hak orang lain sebagai hal yang sakral sebagaimana haknya sendiri, tentu akan menghormati harta orang lain sebagaimana dia menghormati harta pribadinya.Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk pelanggaran terhadap harta dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak, baik dengan cara merampas, mencuri, mempraktikkan riba dan gharar, atau hal yang semisal. Hal yang paling buruk dari itu semua adalah merampas harta halal dengan trik yang melegalkan dan menggugurkan hak pemilik yang sah. Hal ini bisa terjadi entah karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik setelah harta itu dirampas darinya atau karena perampasan dan pengguguran hak dari pemilik yang sah dilegalkan dengan cara yang batil.Ali ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, beliau mengomentari ayat ini dengan perkataan beliau,فهذا في الرجل يكون عليه مالٌ، وليس عليه فيه بيِّنة، فيجحد المال، فيخاصمهم فيه إلى الحكام وهو يعرف أنّ الحق عليه، وهو يعلم أنه آثم: آكلٌ حراما“Ayat ini berkaitan dengan orang yang memiliki tanggungan harta (utang), namun tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Akibatnya, dia pun menentang kewajiban itu dan membawa sengketa ini ke hakim, sementara dia tahu kebenaran berseberangan dengan dirinya dan tahu dia berdosa karena memakan hal yang haram” (Tafsir ath-Thabari, 3: 277; Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Padahal, seyogyanya orang beriman mengakui kekeliruan ketika bersalah, bukan malah membela diri dan mempertahankan kesalahan. Apalagi sampai membawa sengketa tersebut ke sidang pengadilan untuk sekadar membuktikan pada masyarakat bahwa dirinya tidak bersalah. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata,لَا تُخَاصمْ وَأَنْتَ تعلمُ أنَّك ظَالِمٌ“Janganlah kamu bersengketa, sedangkan kamu tahu bahwa dirimu berada di pihak yang zalim” (Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaPutusan hakim yang keliru tidak mampu mengubah kebenaranAyat ini juga merupakan dalil bahwa ketetapan penguasa dan keputusan hakim tidaklah mengubah hak yang belum tersingkap, dalam kondisi si perampas mengetahui bahwa dia telah mengambil harta itu secara zalim. Putusan hakim hanya memutuskan perselisihan dan menyelesaikan sengketa yang nampak. Akan tetapi, ulama sepakat putusan terhadap harta tersebut tidak mengubah hak yang tersembunyi. Dalam hal ini, hakim boleh jadi diberi pahala atas putusannya selama tidak terlibat dalam tindak kezaliman tersebut, sedangkan tetap zalim lagi berdosa meski memenangkan putusan.Firman Allah Ta’ala “وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ”, “dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”, berarti Engkau tahu kebenaran, tetapi Engkau menyembunyikannya dari orang yang berhak dengan berupaya melegalkan perampasan yang Engkau lakukan dengan berbagai ketetapan dan putusan karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik harta. Perbuatan seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-Nya,إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَدَقَ فَأَقْضِيَ لَهُ بِذَلِكَ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنْ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ فَلْيَتْرُكْهَا“Aku ini hanyalah manusia biasa dan sesungguhnya pertengkaran (sengketa) seringkali dilaporkan kepadaku. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai bersilat lidah daripada lainnya. Lalu aku menganggap dia benar, kemudian aku berikan kepadanya sesuai pengakuannya itu. Maka siapa saja yang aku putuskan menang dengan mencederai hak seorang muslim, berarti itu adalah potongan dari api neraka. Karena itu, hendaklah dia ambil atau ditinggalkannya” (HR. Bukhari no. 2458 dan Muslim no. 1713).Baca Juga:Penulis: M. Nur Ichwan Muslim, ST. Artikel: Muslim.or.id


Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil. Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. al-Baqarah: 188).Harta adalah hal yang sakralDalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan kesakralan harta karena kehidupan dunia yang baik terwujud dengan adanya harta. Hal ini sebagaimana Allah menerangkan kesakralan agama yang dengannya akan terwujud kehidupan akhirat yang indah. Harta dan agama adalah hak Allah sehingga keduanya tidaklah dikelola kecuali dengan seizin-Nya. Karena itulah Allah mengaitkan harta dan agama pada diri-Nya sendiri sebagai bentuk penghormatan atas kesakralan keduanya.Terkait harta, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok harta Allah (baca: menggunakannya dengan cara yang tidak benar), bagi mereka adalah neraka pada hari kiamat” (HR. Bukhari no. 3118).Adapun terkait agama, Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain” (QS. al-An’am: 68).Allah Ta’ala menyebut pelanggaran terhadap harta dan agama-Nya sebagai khaudh (tindakan mengolok-olok).Baca Juga: Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat HilangnyaBentuk-bentuk pelanggaran terhadap hartaPelanggaran terhadap harta bisa terjadi di tangan pemilik yang dianugerahi kepemilikan harta oleh Allah dan bisa terjadi di tangan orang lain. Manusia tidak sepenuhnya diperkenankan mengelola harta meski dia memilikinya, karena diri dan hartanya adalah milik Allah. Maka merusak harta pribadi adalah perbuatan yang diharamkan sebagaimana mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar.Itulah mengapa Allah Ta’ala berfirman “تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ” yang secara harfiah berarti “janganlah kalian memakan harta kalian sendiri di antara kalian”. Pada ayat tersebut, Allah menyamakan antara orang yang memakan harta orang lain secara batil dan orang yang memakan harta pribadi secara batil. Orang pertama merusak harta orang lain, sedangkan orang kedua merusak harta pribadinya. Meskipun demikian, kesakralan harta pada dasarnya sama.Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa dengki, tamak, dan egois adalah faktor yang mendorong jiwa untuk berbuat melampaui batas terhadap hak-hak orang lain. Jiwa yang memandang hak orang lain sebagai hal yang sakral sebagaimana haknya sendiri, tentu akan menghormati harta orang lain sebagaimana dia menghormati harta pribadinya.Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk pelanggaran terhadap harta dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak, baik dengan cara merampas, mencuri, mempraktikkan riba dan gharar, atau hal yang semisal. Hal yang paling buruk dari itu semua adalah merampas harta halal dengan trik yang melegalkan dan menggugurkan hak pemilik yang sah. Hal ini bisa terjadi entah karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik setelah harta itu dirampas darinya atau karena perampasan dan pengguguran hak dari pemilik yang sah dilegalkan dengan cara yang batil.Ali ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, beliau mengomentari ayat ini dengan perkataan beliau,فهذا في الرجل يكون عليه مالٌ، وليس عليه فيه بيِّنة، فيجحد المال، فيخاصمهم فيه إلى الحكام وهو يعرف أنّ الحق عليه، وهو يعلم أنه آثم: آكلٌ حراما“Ayat ini berkaitan dengan orang yang memiliki tanggungan harta (utang), namun tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Akibatnya, dia pun menentang kewajiban itu dan membawa sengketa ini ke hakim, sementara dia tahu kebenaran berseberangan dengan dirinya dan tahu dia berdosa karena memakan hal yang haram” (Tafsir ath-Thabari, 3: 277; Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Padahal, seyogyanya orang beriman mengakui kekeliruan ketika bersalah, bukan malah membela diri dan mempertahankan kesalahan. Apalagi sampai membawa sengketa tersebut ke sidang pengadilan untuk sekadar membuktikan pada masyarakat bahwa dirinya tidak bersalah. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata,لَا تُخَاصمْ وَأَنْتَ تعلمُ أنَّك ظَالِمٌ“Janganlah kamu bersengketa, sedangkan kamu tahu bahwa dirimu berada di pihak yang zalim” (Tafsir Ibn Abi Hatim, 1: 321).Baca Juga: Bersikap Sewajarnya dalam Membelanjakan HartaPutusan hakim yang keliru tidak mampu mengubah kebenaranAyat ini juga merupakan dalil bahwa ketetapan penguasa dan keputusan hakim tidaklah mengubah hak yang belum tersingkap, dalam kondisi si perampas mengetahui bahwa dia telah mengambil harta itu secara zalim. Putusan hakim hanya memutuskan perselisihan dan menyelesaikan sengketa yang nampak. Akan tetapi, ulama sepakat putusan terhadap harta tersebut tidak mengubah hak yang tersembunyi. Dalam hal ini, hakim boleh jadi diberi pahala atas putusannya selama tidak terlibat dalam tindak kezaliman tersebut, sedangkan tetap zalim lagi berdosa meski memenangkan putusan.Firman Allah Ta’ala “وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ”, “dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”, berarti Engkau tahu kebenaran, tetapi Engkau menyembunyikannya dari orang yang berhak dengan berupaya melegalkan perampasan yang Engkau lakukan dengan berbagai ketetapan dan putusan karena ketiadaan bukti yang dimiliki oleh pemilik harta. Perbuatan seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-Nya,إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّهُ يَأْتِينِي الْخَصْمُ فَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَبْلَغَ مِنْ بَعْضٍ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَدَقَ فَأَقْضِيَ لَهُ بِذَلِكَ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ مُسْلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطْعَةٌ مِنْ النَّارِ فَلْيَأْخُذْهَا أَوْ فَلْيَتْرُكْهَا“Aku ini hanyalah manusia biasa dan sesungguhnya pertengkaran (sengketa) seringkali dilaporkan kepadaku. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian lebih pandai bersilat lidah daripada lainnya. Lalu aku menganggap dia benar, kemudian aku berikan kepadanya sesuai pengakuannya itu. Maka siapa saja yang aku putuskan menang dengan mencederai hak seorang muslim, berarti itu adalah potongan dari api neraka. Karena itu, hendaklah dia ambil atau ditinggalkannya” (HR. Bukhari no. 2458 dan Muslim no. 1713).Baca Juga:Penulis: M. Nur Ichwan Muslim, ST. Artikel: Muslim.or.id

Nasehat Ulama: Rahasia Meraih Keberkahan Waktu – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat Ulama: Rahasia Meraih Keberkahan Waktu – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Pada zaman sekarang, kita merasakan bahwa waktu berlalu begitu cepat, bagaimana cara seseorang mendapatkan keberkahan dalam waktunya? Waktu, dulu dan sekarang sama saja, namun yang berbeda adalah dalam keberkahannya. Wahai saudara-saudaraku, apabila kalian merenungkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat haji Wada’, pada hari penyembelihan binatang kurban, melempar Jumrah al-‘Aqabah pada waktu duha. Waktu duha pada hari penyembelihan, kemudian beliau menyembelih binatang kurban beliau, enam puluh tiga unta disembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- melanjutkan sembelihan beliau hingga unta ke seratus. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- yang melanjutkan pengurusan binatang kurban hingga dikuliti. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bagian berupa sepotong daging dari tiap-tiap unta. Kemudian daging-daging itu dikumpulkan dalam satu wadah kemudian dimasak. Dan kalian sudah faham tentang daging unta, butuh waktu untuk memasaknya. Kemudian Nabi menikmati kuah dagingnya dan memakan sebagiannya, lantas beliau mencukur rambut beliau kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang. Lalu beliau menunggangi binatang tunggangan beliau menuju Masjidil Haram, dengan unta. Ketika beliau tiba di Masjidil Haram, beliau melaksanakan tawaf al-Ifadhah. Semua itu selesai dilaksanakan sebelum berkumandang azan Zhuhur. Perhatikan, itulah keberkahan waktu. Dari waktu duha, bukan dari waktu subuh, bukan! Dari duha, dari pertengahan waktu pagi hingga azan Zhuhur, beliau bisa melakukan semua ini. Kemudian beliau kembali ke Mina dan mendapati sebagian sahabat beliau belum menunaikan salat zuhur, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami mereka untuk salat Zhuhur dan menyampaikan khutbah untuk mereka yang hadir. Dan rahasia keberkahan adalah jujur dengan Allah. Jujurlah kepada Allah, niscaya akan diberkahi waktu Anda. Barang siapa jujur kepada Allah dan Allah mengetahui bahwa dia memang jujur dari dalam hatinya dan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan memberikan keberkahan waktu kepadanya. Rahasia berikutnya adalah kesungguhan untuk tidak membuang-buang waktu. Sebenarnya kita sendiri yang membuang-buang waktu kita, kemudian kita beralasan, “Tidak ada waktu.” Padahal kita sendiri yang membuang-buang waktu tersebut. Jikalau kita memanfaatkan waktu kita pada hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, niscaya kita akan memiliki banyak waktu luang dan Allah akan memberkahi waktu kita. Dan di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, dan diperpanjang usianya, maka hendaknya dia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, Maksudnya diperbanyak rezekinya. Dan diperpanjang usianya, … Tentu, di sini sebagian ulama berkata bahwa makna “Diperpanjang usianya…” adalah diberkahi waktunya sehingga dalam waktu yang sedikit dia bisa melakukan banyak amal perbuatan. Sehingga seolah-olah dia hidup dengan umur yang panjang. Dan sebagian ulama yang lain berkata, “Bukan demikian! Maksud umur di sini, adalah umur yang masih berada di tangan malaikat. Akan tetapi umur dia yang tertulis di Lauh Mahfuz akan bersesuaian dengan amal perbuatannya.” Sehingga, misalnya, di tangan malaikat, seseorang tertulis bahwa dia akan meninggal pada usia enam puluh tahun, dia akan dicabut nyawanya pada penghujung usia enam puluh tahun. Ini yang ada di tangan malaikat. Ketika dia menyambung silaturahmi, maka dia akan dicabut nyawanya pada usia tujuh puluh tahun. Dan ini tidak berarti bahwa ketetapan umurnya yang telah ditakdirkan untuknya secara azali, yang sudah Allah ketahui dan sudah Allah tulis berubah, tidak! Yang berubah hanyalah catatan yang berada di tangan malaikat. Adapun takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz pasti terjadi, Allah tahu bahwa dia akan menyambung silaturahmi yang dengannya usianya akan mencapai tujuh puluh tahun. Maka yang menjadi ketetapan takdirnya adalah dia usianya mencapai tujuh puluh tahun, dan ini adalah pendapat yang kuat. Namun sebagian ulama berpendapat, dan pendapat ini yang menjadi penguat apa yang tadi saya sampaikan, bahwa maksud dari bertambahnya umur adalah keberkahan usia. Sehingga seseorang dalam rentang usianya bisa melakukan amalan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain yang memiliki rentang usia tidak jauh beda dengannya. Kesimpulannya adalah bahwasanya jujur kepada Allah dan menggunakan waktu dalam ketaatan kepada Allah adalah sebab untuk mendapatkan keberkahan waktu.

Nasehat Ulama: Rahasia Meraih Keberkahan Waktu – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat Ulama: Rahasia Meraih Keberkahan Waktu – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Pada zaman sekarang, kita merasakan bahwa waktu berlalu begitu cepat, bagaimana cara seseorang mendapatkan keberkahan dalam waktunya? Waktu, dulu dan sekarang sama saja, namun yang berbeda adalah dalam keberkahannya. Wahai saudara-saudaraku, apabila kalian merenungkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat haji Wada’, pada hari penyembelihan binatang kurban, melempar Jumrah al-‘Aqabah pada waktu duha. Waktu duha pada hari penyembelihan, kemudian beliau menyembelih binatang kurban beliau, enam puluh tiga unta disembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- melanjutkan sembelihan beliau hingga unta ke seratus. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- yang melanjutkan pengurusan binatang kurban hingga dikuliti. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bagian berupa sepotong daging dari tiap-tiap unta. Kemudian daging-daging itu dikumpulkan dalam satu wadah kemudian dimasak. Dan kalian sudah faham tentang daging unta, butuh waktu untuk memasaknya. Kemudian Nabi menikmati kuah dagingnya dan memakan sebagiannya, lantas beliau mencukur rambut beliau kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang. Lalu beliau menunggangi binatang tunggangan beliau menuju Masjidil Haram, dengan unta. Ketika beliau tiba di Masjidil Haram, beliau melaksanakan tawaf al-Ifadhah. Semua itu selesai dilaksanakan sebelum berkumandang azan Zhuhur. Perhatikan, itulah keberkahan waktu. Dari waktu duha, bukan dari waktu subuh, bukan! Dari duha, dari pertengahan waktu pagi hingga azan Zhuhur, beliau bisa melakukan semua ini. Kemudian beliau kembali ke Mina dan mendapati sebagian sahabat beliau belum menunaikan salat zuhur, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami mereka untuk salat Zhuhur dan menyampaikan khutbah untuk mereka yang hadir. Dan rahasia keberkahan adalah jujur dengan Allah. Jujurlah kepada Allah, niscaya akan diberkahi waktu Anda. Barang siapa jujur kepada Allah dan Allah mengetahui bahwa dia memang jujur dari dalam hatinya dan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan memberikan keberkahan waktu kepadanya. Rahasia berikutnya adalah kesungguhan untuk tidak membuang-buang waktu. Sebenarnya kita sendiri yang membuang-buang waktu kita, kemudian kita beralasan, “Tidak ada waktu.” Padahal kita sendiri yang membuang-buang waktu tersebut. Jikalau kita memanfaatkan waktu kita pada hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, niscaya kita akan memiliki banyak waktu luang dan Allah akan memberkahi waktu kita. Dan di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, dan diperpanjang usianya, maka hendaknya dia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, Maksudnya diperbanyak rezekinya. Dan diperpanjang usianya, … Tentu, di sini sebagian ulama berkata bahwa makna “Diperpanjang usianya…” adalah diberkahi waktunya sehingga dalam waktu yang sedikit dia bisa melakukan banyak amal perbuatan. Sehingga seolah-olah dia hidup dengan umur yang panjang. Dan sebagian ulama yang lain berkata, “Bukan demikian! Maksud umur di sini, adalah umur yang masih berada di tangan malaikat. Akan tetapi umur dia yang tertulis di Lauh Mahfuz akan bersesuaian dengan amal perbuatannya.” Sehingga, misalnya, di tangan malaikat, seseorang tertulis bahwa dia akan meninggal pada usia enam puluh tahun, dia akan dicabut nyawanya pada penghujung usia enam puluh tahun. Ini yang ada di tangan malaikat. Ketika dia menyambung silaturahmi, maka dia akan dicabut nyawanya pada usia tujuh puluh tahun. Dan ini tidak berarti bahwa ketetapan umurnya yang telah ditakdirkan untuknya secara azali, yang sudah Allah ketahui dan sudah Allah tulis berubah, tidak! Yang berubah hanyalah catatan yang berada di tangan malaikat. Adapun takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz pasti terjadi, Allah tahu bahwa dia akan menyambung silaturahmi yang dengannya usianya akan mencapai tujuh puluh tahun. Maka yang menjadi ketetapan takdirnya adalah dia usianya mencapai tujuh puluh tahun, dan ini adalah pendapat yang kuat. Namun sebagian ulama berpendapat, dan pendapat ini yang menjadi penguat apa yang tadi saya sampaikan, bahwa maksud dari bertambahnya umur adalah keberkahan usia. Sehingga seseorang dalam rentang usianya bisa melakukan amalan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain yang memiliki rentang usia tidak jauh beda dengannya. Kesimpulannya adalah bahwasanya jujur kepada Allah dan menggunakan waktu dalam ketaatan kepada Allah adalah sebab untuk mendapatkan keberkahan waktu.
Nasehat Ulama: Rahasia Meraih Keberkahan Waktu – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Pada zaman sekarang, kita merasakan bahwa waktu berlalu begitu cepat, bagaimana cara seseorang mendapatkan keberkahan dalam waktunya? Waktu, dulu dan sekarang sama saja, namun yang berbeda adalah dalam keberkahannya. Wahai saudara-saudaraku, apabila kalian merenungkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat haji Wada’, pada hari penyembelihan binatang kurban, melempar Jumrah al-‘Aqabah pada waktu duha. Waktu duha pada hari penyembelihan, kemudian beliau menyembelih binatang kurban beliau, enam puluh tiga unta disembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- melanjutkan sembelihan beliau hingga unta ke seratus. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- yang melanjutkan pengurusan binatang kurban hingga dikuliti. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bagian berupa sepotong daging dari tiap-tiap unta. Kemudian daging-daging itu dikumpulkan dalam satu wadah kemudian dimasak. Dan kalian sudah faham tentang daging unta, butuh waktu untuk memasaknya. Kemudian Nabi menikmati kuah dagingnya dan memakan sebagiannya, lantas beliau mencukur rambut beliau kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang. Lalu beliau menunggangi binatang tunggangan beliau menuju Masjidil Haram, dengan unta. Ketika beliau tiba di Masjidil Haram, beliau melaksanakan tawaf al-Ifadhah. Semua itu selesai dilaksanakan sebelum berkumandang azan Zhuhur. Perhatikan, itulah keberkahan waktu. Dari waktu duha, bukan dari waktu subuh, bukan! Dari duha, dari pertengahan waktu pagi hingga azan Zhuhur, beliau bisa melakukan semua ini. Kemudian beliau kembali ke Mina dan mendapati sebagian sahabat beliau belum menunaikan salat zuhur, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami mereka untuk salat Zhuhur dan menyampaikan khutbah untuk mereka yang hadir. Dan rahasia keberkahan adalah jujur dengan Allah. Jujurlah kepada Allah, niscaya akan diberkahi waktu Anda. Barang siapa jujur kepada Allah dan Allah mengetahui bahwa dia memang jujur dari dalam hatinya dan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan memberikan keberkahan waktu kepadanya. Rahasia berikutnya adalah kesungguhan untuk tidak membuang-buang waktu. Sebenarnya kita sendiri yang membuang-buang waktu kita, kemudian kita beralasan, “Tidak ada waktu.” Padahal kita sendiri yang membuang-buang waktu tersebut. Jikalau kita memanfaatkan waktu kita pada hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, niscaya kita akan memiliki banyak waktu luang dan Allah akan memberkahi waktu kita. Dan di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, dan diperpanjang usianya, maka hendaknya dia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, Maksudnya diperbanyak rezekinya. Dan diperpanjang usianya, … Tentu, di sini sebagian ulama berkata bahwa makna “Diperpanjang usianya…” adalah diberkahi waktunya sehingga dalam waktu yang sedikit dia bisa melakukan banyak amal perbuatan. Sehingga seolah-olah dia hidup dengan umur yang panjang. Dan sebagian ulama yang lain berkata, “Bukan demikian! Maksud umur di sini, adalah umur yang masih berada di tangan malaikat. Akan tetapi umur dia yang tertulis di Lauh Mahfuz akan bersesuaian dengan amal perbuatannya.” Sehingga, misalnya, di tangan malaikat, seseorang tertulis bahwa dia akan meninggal pada usia enam puluh tahun, dia akan dicabut nyawanya pada penghujung usia enam puluh tahun. Ini yang ada di tangan malaikat. Ketika dia menyambung silaturahmi, maka dia akan dicabut nyawanya pada usia tujuh puluh tahun. Dan ini tidak berarti bahwa ketetapan umurnya yang telah ditakdirkan untuknya secara azali, yang sudah Allah ketahui dan sudah Allah tulis berubah, tidak! Yang berubah hanyalah catatan yang berada di tangan malaikat. Adapun takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz pasti terjadi, Allah tahu bahwa dia akan menyambung silaturahmi yang dengannya usianya akan mencapai tujuh puluh tahun. Maka yang menjadi ketetapan takdirnya adalah dia usianya mencapai tujuh puluh tahun, dan ini adalah pendapat yang kuat. Namun sebagian ulama berpendapat, dan pendapat ini yang menjadi penguat apa yang tadi saya sampaikan, bahwa maksud dari bertambahnya umur adalah keberkahan usia. Sehingga seseorang dalam rentang usianya bisa melakukan amalan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain yang memiliki rentang usia tidak jauh beda dengannya. Kesimpulannya adalah bahwasanya jujur kepada Allah dan menggunakan waktu dalam ketaatan kepada Allah adalah sebab untuk mendapatkan keberkahan waktu.


Nasehat Ulama: Rahasia Meraih Keberkahan Waktu – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily Pada zaman sekarang, kita merasakan bahwa waktu berlalu begitu cepat, bagaimana cara seseorang mendapatkan keberkahan dalam waktunya? Waktu, dulu dan sekarang sama saja, namun yang berbeda adalah dalam keberkahannya. Wahai saudara-saudaraku, apabila kalian merenungkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat haji Wada’, pada hari penyembelihan binatang kurban, melempar Jumrah al-‘Aqabah pada waktu duha. Waktu duha pada hari penyembelihan, kemudian beliau menyembelih binatang kurban beliau, enam puluh tiga unta disembelih dengan tangan beliau sendiri yang mulia. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- melanjutkan sembelihan beliau hingga unta ke seratus. Kemudian Ali -Semoga Allah meridhainya- yang melanjutkan pengurusan binatang kurban hingga dikuliti. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bagian berupa sepotong daging dari tiap-tiap unta. Kemudian daging-daging itu dikumpulkan dalam satu wadah kemudian dimasak. Dan kalian sudah faham tentang daging unta, butuh waktu untuk memasaknya. Kemudian Nabi menikmati kuah dagingnya dan memakan sebagiannya, lantas beliau mencukur rambut beliau kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang. Lalu beliau menunggangi binatang tunggangan beliau menuju Masjidil Haram, dengan unta. Ketika beliau tiba di Masjidil Haram, beliau melaksanakan tawaf al-Ifadhah. Semua itu selesai dilaksanakan sebelum berkumandang azan Zhuhur. Perhatikan, itulah keberkahan waktu. Dari waktu duha, bukan dari waktu subuh, bukan! Dari duha, dari pertengahan waktu pagi hingga azan Zhuhur, beliau bisa melakukan semua ini. Kemudian beliau kembali ke Mina dan mendapati sebagian sahabat beliau belum menunaikan salat zuhur, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami mereka untuk salat Zhuhur dan menyampaikan khutbah untuk mereka yang hadir. Dan rahasia keberkahan adalah jujur dengan Allah. Jujurlah kepada Allah, niscaya akan diberkahi waktu Anda. Barang siapa jujur kepada Allah dan Allah mengetahui bahwa dia memang jujur dari dalam hatinya dan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan memberikan keberkahan waktu kepadanya. Rahasia berikutnya adalah kesungguhan untuk tidak membuang-buang waktu. Sebenarnya kita sendiri yang membuang-buang waktu kita, kemudian kita beralasan, “Tidak ada waktu.” Padahal kita sendiri yang membuang-buang waktu tersebut. Jikalau kita memanfaatkan waktu kita pada hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, niscaya kita akan memiliki banyak waktu luang dan Allah akan memberkahi waktu kita. Dan di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, dan diperpanjang usianya, maka hendaknya dia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang siapa ingin di lapangkan rezekinya, Maksudnya diperbanyak rezekinya. Dan diperpanjang usianya, … Tentu, di sini sebagian ulama berkata bahwa makna “Diperpanjang usianya…” adalah diberkahi waktunya sehingga dalam waktu yang sedikit dia bisa melakukan banyak amal perbuatan. Sehingga seolah-olah dia hidup dengan umur yang panjang. Dan sebagian ulama yang lain berkata, “Bukan demikian! Maksud umur di sini, adalah umur yang masih berada di tangan malaikat. Akan tetapi umur dia yang tertulis di Lauh Mahfuz akan bersesuaian dengan amal perbuatannya.” Sehingga, misalnya, di tangan malaikat, seseorang tertulis bahwa dia akan meninggal pada usia enam puluh tahun, dia akan dicabut nyawanya pada penghujung usia enam puluh tahun. Ini yang ada di tangan malaikat. Ketika dia menyambung silaturahmi, maka dia akan dicabut nyawanya pada usia tujuh puluh tahun. Dan ini tidak berarti bahwa ketetapan umurnya yang telah ditakdirkan untuknya secara azali, yang sudah Allah ketahui dan sudah Allah tulis berubah, tidak! Yang berubah hanyalah catatan yang berada di tangan malaikat. Adapun takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz pasti terjadi, Allah tahu bahwa dia akan menyambung silaturahmi yang dengannya usianya akan mencapai tujuh puluh tahun. Maka yang menjadi ketetapan takdirnya adalah dia usianya mencapai tujuh puluh tahun, dan ini adalah pendapat yang kuat. Namun sebagian ulama berpendapat, dan pendapat ini yang menjadi penguat apa yang tadi saya sampaikan, bahwa maksud dari bertambahnya umur adalah keberkahan usia. Sehingga seseorang dalam rentang usianya bisa melakukan amalan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain yang memiliki rentang usia tidak jauh beda dengannya. Kesimpulannya adalah bahwasanya jujur kepada Allah dan menggunakan waktu dalam ketaatan kepada Allah adalah sebab untuk mendapatkan keberkahan waktu.

Salah Kaprah Pelaku Terorisme Berkedok Jihad (Bag. 1)

Dalam artikel ini, akan kita bahas dengan ringkas beberapa syubhat (pemahaman yang salah kaprah) yang menjadi latar belakang sebagian orang melakukan terorisme berkedok jihad. Dengan harapan –musta’inan billah– tidak ada lagi orang-orang yang terjerumus pada terorisme karena pemahaman yang keliru.Salah kaprah: “Bom bunuh diri adalah jihad”Bagaimana mungkin bom bunuh diri adalah jihad, padahal bunuh diri itu dilarang dalam Islam dan termasuk dosa besar?Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30)Dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ومَن قَتَلَ نَفْسَهُ بشيءٍ في الدُّنْيا عُذِّبَ به يَومَ القِيامَةِ“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, dia akan di adzab dengan hal itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).Bahkan sebagian ulama memandang perbuatan bunuh diri adalah kekufuran (walaupun ini pendapat yang lemah), karena melihat zahir dari beberapa dalil. Di antaranya, dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘ahu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,كانَ فِيمَن كانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ به جُرْحٌ، فَجَزِعَ، فأخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بهَا يَدَهُ، فَما رَقَأَ الدَّمُ حتَّى مَاتَ، قالَ اللَّهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بنَفْسِهِ، حَرَّمْتُ عليه الجَنَّةَ“Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, dia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga dia mati. Allah Ta’ala berfirman, ”Hamba-Ku mendahului-Ku dengan dirinya, maka Aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).Namun yang tepat, orang yang bunuh diri itu tidak keluar dari Islam, namun mereka terjerumus dalam kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari Islam.‘Ala kulli haal, tidak mungkin perbuatan yang parah dan dosa besar seperti ini malah dianggap jihad?!Adapun amalan istisyhad (mencari status syahid) ini dilakukan dalam perang dan jihad yang syar’i, bukan dalam kondisi aman. Dan istisyhad yang dilakukan para salaf terdahulu bukan dengan bunuh diri, namun dengan menerjang musuh walaupun musuh dalam jumlah besar. Oleh karena itu, aksi bom bunuh diri dalam perang dan jihad yang syar’i pun dilarang oleh mayoritas ulama kibar Ahlussunnah seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syekh Shalih Al Fauzan, Syekh Shalih Alu Syekh dan selain mereka -semoga Allah merahmati mereka-.Syekh Abdullah bin Jibrin menjelaskan, “Baik ia adalah mu’ahhad dari kalangan Yahudi, Nasrani atau golongan orang kafir selain mereka. Perjanjian dengan mereka semua wajib ditepati dan tidak boleh memberikan gangguan kepada mereka hingga mereka kembali ke negeri mereka.Dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, berupa aksi pengeboman yang menyebabkan banyak korban jiwa serta korban luka-luka, tidak ragu lagi ini merupakan kejahatan yang mengerikan. Dan pengeboman ini menyebabkan korban jiwa dan korban luka dari orang-orang yang dijamin keamanannya serta juga kaum muslimin yang ada di tempat-tempat tersebut. Dan ini tidak ragu lagi merupakan pengkhianatan, dan merupakan gangguan terhadap orang-orang yang dijamin keamanannya serta membahayakan mereka. Orang-orang yang melakukan perbuatan ini adalah orang-orang mujrim (jahat). Keyakinan mereka bahwasanya perbuatan ini adalah jihad dengan alasan bahwa orang-orang yang ada di tempat tersebut adalah orang kafir dan halal darahnya, kami katakan, “ini adalah sebuah kesalahan.” Tidak diperbolehkan memerangi mereka, dan perang tidak terjadi kecuali setelah memberikan pemberitahuan perang kepada pihak kuffar dan setelah sepakat untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” (QS. Al Anfal: 58).Maka tidak boleh memerangi mereka yang dijamin keamanannya, demi kemaslahatan. Bahkan dengan memerangi mereka akan timbul mafsadah syar’iyyah, yaitu kaum Muslimin dituduh sembarangan sebagai kaum pengkhianat atau dituduh sebagai kaum teroris” (Sumber: web ibn-jebreen.com fatwa nomor 5318).Baca Juga: Jenggot Bukan Ciri TerorisSalah kaprah: “Membunuh non muslim di negeri kaum muslimin adalah jihad”Jihad itu ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة“Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya sahih).Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi,والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم“Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang salih maupun orang fajir (ahli maksiat)”.Sehingga yang dilakukan para teroris tersebut, berupa aksi-aksi individu atau kelompok saja, tentu tidak bisa disebut sebagai jihad yang syar’i.Juga di antara ketentuan jihad adalah tidak boleh membunuh non Muslim yang sudah ada perjanjian untuk hidup rukun dan dijamin keamanannya oleh kaum Muslimin. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَن قَتَلَ مُعاهَدًا لَمْ يَرِحْ رائِحَةَ الجَنَّةِ، وإنَّ رِيحَها تُوجَدُ مِن مَسِيرَةِ أرْبَعِينَ عامًا“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun” (HR. Bukhari no. 3166).Dan secara umum tidak boleh berbuat zalim walaupun kepada non Muslim. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah” (HR. Ahmad no. 12549, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 767).Juga di antara ketentuan jihad lainnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: tidak boleh membunuh wanita, tidak boleh membunuh anak-anak, tidak boleh menghancurkan gereja, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Yang andaikan aksi-aksi para teroris tersebut dianggap jihad yang syar’i (walaupun hakikatnya bukan), ternyata malah melanggar ketentuan-ketentuan ini. Allahul musta’an.Baca Juga: Berdialog Dengan TerorisSalah kaprah: “Membunuh polisi dan pejabat pemerintah di negeri kaum muslimin adalah jihad”Bagaimana mana mungkin seperti ini dikatakan jihad ketika ternyata yang dibunuh oleh para teroris itu adalah sesama kaum muslimin juga?!Padahal membunuh sesama muslim itu adalah dosa yang sangat besar. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,سِبابُ المسلِمِ فُسوقٌ ، و قتالُه كُفرٌ“Mencela seorang Muslim itu kefasikan, dan membunuh seorang Muslim itu kekufuran” (HR. Bukhari no. 48, Muslim no. 64).Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,لَزَوالُ الدُّنيا أهْوَنُ علَى اللَّهِ مِن قتلِ رجلٍ مسلمٍ“Hancurnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim” (HR. At Tirmdzi no. 1395, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).Dan para teroris tersebut mungkin menganggap orang yang mereka bunuh telah kafir keluar dari Islam. Maka ini juga bentuk penyimpangan. Yaitu bermudah-mudahan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada sesama muslim. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita waspada terhadap perbuatan seperti ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا“Apabila seseorang bermudahan mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim), “Wahai kafir”, maka status kafir itu akan kembali kepada salah satunya” (HR. Bukhari no. 312, Muslim no. 60).Masalah takfir (vonis kafir) itu masalah berat. Sehingga para ulama mengatakan: “salah ketika tidak mengkafirkan orang yang kafir, itu lebih ringan daripada salah memvonis kafir orang yang tidak kafir”.Demikian juga masalah berhukum dengan selain hukum Allah. Kita sepakat bahwa tidak boleh berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala. Namun tidak semua orang yang melakukannya itu kafir keluar dari Islam, dan juga bukan berarti itu dibolehkan. Namun ada rinciannya yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab akidah. Menggeneralisir semuanya kafir, polisi kafir, pejabat kafir, PNS kafir, karena berhukum dengan selain hukum Allah ini adalah pemahaman yang keliru. Syekh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,فمسألة الحكم بغير ما أنزل الله مسألة عظيمة وفيها تفصيل كما ذكر أهل التفسير فلا يطلق الكفر على كل من حكم بغير ما أنزل الله بل يفصل في هذا“Masalah berhukum dengan selain hukum Allah, ini adalah masalah yang besar. Dan di dalamnya ada rincian, sebagaimana disebutkan para ulama tafsir. Tidak boleh menggeneralisir semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Namun seharusnya merinci hal ini” (Syarah Nawaqidhul Islam).Selain itu juga, andaikan kita benarkan asumsi mereka, bahwa yang diperangi tersebut kafir keluar dari Islam, maka tidak semua orang kafir itu boleh diperangi atau dibunuh. Sebagaimana sudah disebutkan di atas.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Salah Kaprah Pelaku Terorisme Berkedok Jihad (Bag. 1)

Dalam artikel ini, akan kita bahas dengan ringkas beberapa syubhat (pemahaman yang salah kaprah) yang menjadi latar belakang sebagian orang melakukan terorisme berkedok jihad. Dengan harapan –musta’inan billah– tidak ada lagi orang-orang yang terjerumus pada terorisme karena pemahaman yang keliru.Salah kaprah: “Bom bunuh diri adalah jihad”Bagaimana mungkin bom bunuh diri adalah jihad, padahal bunuh diri itu dilarang dalam Islam dan termasuk dosa besar?Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30)Dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ومَن قَتَلَ نَفْسَهُ بشيءٍ في الدُّنْيا عُذِّبَ به يَومَ القِيامَةِ“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, dia akan di adzab dengan hal itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).Bahkan sebagian ulama memandang perbuatan bunuh diri adalah kekufuran (walaupun ini pendapat yang lemah), karena melihat zahir dari beberapa dalil. Di antaranya, dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘ahu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,كانَ فِيمَن كانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ به جُرْحٌ، فَجَزِعَ، فأخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بهَا يَدَهُ، فَما رَقَأَ الدَّمُ حتَّى مَاتَ، قالَ اللَّهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بنَفْسِهِ، حَرَّمْتُ عليه الجَنَّةَ“Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, dia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga dia mati. Allah Ta’ala berfirman, ”Hamba-Ku mendahului-Ku dengan dirinya, maka Aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).Namun yang tepat, orang yang bunuh diri itu tidak keluar dari Islam, namun mereka terjerumus dalam kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari Islam.‘Ala kulli haal, tidak mungkin perbuatan yang parah dan dosa besar seperti ini malah dianggap jihad?!Adapun amalan istisyhad (mencari status syahid) ini dilakukan dalam perang dan jihad yang syar’i, bukan dalam kondisi aman. Dan istisyhad yang dilakukan para salaf terdahulu bukan dengan bunuh diri, namun dengan menerjang musuh walaupun musuh dalam jumlah besar. Oleh karena itu, aksi bom bunuh diri dalam perang dan jihad yang syar’i pun dilarang oleh mayoritas ulama kibar Ahlussunnah seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syekh Shalih Al Fauzan, Syekh Shalih Alu Syekh dan selain mereka -semoga Allah merahmati mereka-.Syekh Abdullah bin Jibrin menjelaskan, “Baik ia adalah mu’ahhad dari kalangan Yahudi, Nasrani atau golongan orang kafir selain mereka. Perjanjian dengan mereka semua wajib ditepati dan tidak boleh memberikan gangguan kepada mereka hingga mereka kembali ke negeri mereka.Dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, berupa aksi pengeboman yang menyebabkan banyak korban jiwa serta korban luka-luka, tidak ragu lagi ini merupakan kejahatan yang mengerikan. Dan pengeboman ini menyebabkan korban jiwa dan korban luka dari orang-orang yang dijamin keamanannya serta juga kaum muslimin yang ada di tempat-tempat tersebut. Dan ini tidak ragu lagi merupakan pengkhianatan, dan merupakan gangguan terhadap orang-orang yang dijamin keamanannya serta membahayakan mereka. Orang-orang yang melakukan perbuatan ini adalah orang-orang mujrim (jahat). Keyakinan mereka bahwasanya perbuatan ini adalah jihad dengan alasan bahwa orang-orang yang ada di tempat tersebut adalah orang kafir dan halal darahnya, kami katakan, “ini adalah sebuah kesalahan.” Tidak diperbolehkan memerangi mereka, dan perang tidak terjadi kecuali setelah memberikan pemberitahuan perang kepada pihak kuffar dan setelah sepakat untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” (QS. Al Anfal: 58).Maka tidak boleh memerangi mereka yang dijamin keamanannya, demi kemaslahatan. Bahkan dengan memerangi mereka akan timbul mafsadah syar’iyyah, yaitu kaum Muslimin dituduh sembarangan sebagai kaum pengkhianat atau dituduh sebagai kaum teroris” (Sumber: web ibn-jebreen.com fatwa nomor 5318).Baca Juga: Jenggot Bukan Ciri TerorisSalah kaprah: “Membunuh non muslim di negeri kaum muslimin adalah jihad”Jihad itu ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة“Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya sahih).Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi,والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم“Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang salih maupun orang fajir (ahli maksiat)”.Sehingga yang dilakukan para teroris tersebut, berupa aksi-aksi individu atau kelompok saja, tentu tidak bisa disebut sebagai jihad yang syar’i.Juga di antara ketentuan jihad adalah tidak boleh membunuh non Muslim yang sudah ada perjanjian untuk hidup rukun dan dijamin keamanannya oleh kaum Muslimin. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَن قَتَلَ مُعاهَدًا لَمْ يَرِحْ رائِحَةَ الجَنَّةِ، وإنَّ رِيحَها تُوجَدُ مِن مَسِيرَةِ أرْبَعِينَ عامًا“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun” (HR. Bukhari no. 3166).Dan secara umum tidak boleh berbuat zalim walaupun kepada non Muslim. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah” (HR. Ahmad no. 12549, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 767).Juga di antara ketentuan jihad lainnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: tidak boleh membunuh wanita, tidak boleh membunuh anak-anak, tidak boleh menghancurkan gereja, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Yang andaikan aksi-aksi para teroris tersebut dianggap jihad yang syar’i (walaupun hakikatnya bukan), ternyata malah melanggar ketentuan-ketentuan ini. Allahul musta’an.Baca Juga: Berdialog Dengan TerorisSalah kaprah: “Membunuh polisi dan pejabat pemerintah di negeri kaum muslimin adalah jihad”Bagaimana mana mungkin seperti ini dikatakan jihad ketika ternyata yang dibunuh oleh para teroris itu adalah sesama kaum muslimin juga?!Padahal membunuh sesama muslim itu adalah dosa yang sangat besar. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,سِبابُ المسلِمِ فُسوقٌ ، و قتالُه كُفرٌ“Mencela seorang Muslim itu kefasikan, dan membunuh seorang Muslim itu kekufuran” (HR. Bukhari no. 48, Muslim no. 64).Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,لَزَوالُ الدُّنيا أهْوَنُ علَى اللَّهِ مِن قتلِ رجلٍ مسلمٍ“Hancurnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim” (HR. At Tirmdzi no. 1395, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).Dan para teroris tersebut mungkin menganggap orang yang mereka bunuh telah kafir keluar dari Islam. Maka ini juga bentuk penyimpangan. Yaitu bermudah-mudahan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada sesama muslim. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita waspada terhadap perbuatan seperti ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا“Apabila seseorang bermudahan mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim), “Wahai kafir”, maka status kafir itu akan kembali kepada salah satunya” (HR. Bukhari no. 312, Muslim no. 60).Masalah takfir (vonis kafir) itu masalah berat. Sehingga para ulama mengatakan: “salah ketika tidak mengkafirkan orang yang kafir, itu lebih ringan daripada salah memvonis kafir orang yang tidak kafir”.Demikian juga masalah berhukum dengan selain hukum Allah. Kita sepakat bahwa tidak boleh berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala. Namun tidak semua orang yang melakukannya itu kafir keluar dari Islam, dan juga bukan berarti itu dibolehkan. Namun ada rinciannya yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab akidah. Menggeneralisir semuanya kafir, polisi kafir, pejabat kafir, PNS kafir, karena berhukum dengan selain hukum Allah ini adalah pemahaman yang keliru. Syekh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,فمسألة الحكم بغير ما أنزل الله مسألة عظيمة وفيها تفصيل كما ذكر أهل التفسير فلا يطلق الكفر على كل من حكم بغير ما أنزل الله بل يفصل في هذا“Masalah berhukum dengan selain hukum Allah, ini adalah masalah yang besar. Dan di dalamnya ada rincian, sebagaimana disebutkan para ulama tafsir. Tidak boleh menggeneralisir semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Namun seharusnya merinci hal ini” (Syarah Nawaqidhul Islam).Selain itu juga, andaikan kita benarkan asumsi mereka, bahwa yang diperangi tersebut kafir keluar dari Islam, maka tidak semua orang kafir itu boleh diperangi atau dibunuh. Sebagaimana sudah disebutkan di atas.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Dalam artikel ini, akan kita bahas dengan ringkas beberapa syubhat (pemahaman yang salah kaprah) yang menjadi latar belakang sebagian orang melakukan terorisme berkedok jihad. Dengan harapan –musta’inan billah– tidak ada lagi orang-orang yang terjerumus pada terorisme karena pemahaman yang keliru.Salah kaprah: “Bom bunuh diri adalah jihad”Bagaimana mungkin bom bunuh diri adalah jihad, padahal bunuh diri itu dilarang dalam Islam dan termasuk dosa besar?Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30)Dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ومَن قَتَلَ نَفْسَهُ بشيءٍ في الدُّنْيا عُذِّبَ به يَومَ القِيامَةِ“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, dia akan di adzab dengan hal itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).Bahkan sebagian ulama memandang perbuatan bunuh diri adalah kekufuran (walaupun ini pendapat yang lemah), karena melihat zahir dari beberapa dalil. Di antaranya, dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘ahu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,كانَ فِيمَن كانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ به جُرْحٌ، فَجَزِعَ، فأخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بهَا يَدَهُ، فَما رَقَأَ الدَّمُ حتَّى مَاتَ، قالَ اللَّهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بنَفْسِهِ، حَرَّمْتُ عليه الجَنَّةَ“Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, dia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga dia mati. Allah Ta’ala berfirman, ”Hamba-Ku mendahului-Ku dengan dirinya, maka Aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).Namun yang tepat, orang yang bunuh diri itu tidak keluar dari Islam, namun mereka terjerumus dalam kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari Islam.‘Ala kulli haal, tidak mungkin perbuatan yang parah dan dosa besar seperti ini malah dianggap jihad?!Adapun amalan istisyhad (mencari status syahid) ini dilakukan dalam perang dan jihad yang syar’i, bukan dalam kondisi aman. Dan istisyhad yang dilakukan para salaf terdahulu bukan dengan bunuh diri, namun dengan menerjang musuh walaupun musuh dalam jumlah besar. Oleh karena itu, aksi bom bunuh diri dalam perang dan jihad yang syar’i pun dilarang oleh mayoritas ulama kibar Ahlussunnah seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syekh Shalih Al Fauzan, Syekh Shalih Alu Syekh dan selain mereka -semoga Allah merahmati mereka-.Syekh Abdullah bin Jibrin menjelaskan, “Baik ia adalah mu’ahhad dari kalangan Yahudi, Nasrani atau golongan orang kafir selain mereka. Perjanjian dengan mereka semua wajib ditepati dan tidak boleh memberikan gangguan kepada mereka hingga mereka kembali ke negeri mereka.Dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, berupa aksi pengeboman yang menyebabkan banyak korban jiwa serta korban luka-luka, tidak ragu lagi ini merupakan kejahatan yang mengerikan. Dan pengeboman ini menyebabkan korban jiwa dan korban luka dari orang-orang yang dijamin keamanannya serta juga kaum muslimin yang ada di tempat-tempat tersebut. Dan ini tidak ragu lagi merupakan pengkhianatan, dan merupakan gangguan terhadap orang-orang yang dijamin keamanannya serta membahayakan mereka. Orang-orang yang melakukan perbuatan ini adalah orang-orang mujrim (jahat). Keyakinan mereka bahwasanya perbuatan ini adalah jihad dengan alasan bahwa orang-orang yang ada di tempat tersebut adalah orang kafir dan halal darahnya, kami katakan, “ini adalah sebuah kesalahan.” Tidak diperbolehkan memerangi mereka, dan perang tidak terjadi kecuali setelah memberikan pemberitahuan perang kepada pihak kuffar dan setelah sepakat untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” (QS. Al Anfal: 58).Maka tidak boleh memerangi mereka yang dijamin keamanannya, demi kemaslahatan. Bahkan dengan memerangi mereka akan timbul mafsadah syar’iyyah, yaitu kaum Muslimin dituduh sembarangan sebagai kaum pengkhianat atau dituduh sebagai kaum teroris” (Sumber: web ibn-jebreen.com fatwa nomor 5318).Baca Juga: Jenggot Bukan Ciri TerorisSalah kaprah: “Membunuh non muslim di negeri kaum muslimin adalah jihad”Jihad itu ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة“Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya sahih).Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi,والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم“Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang salih maupun orang fajir (ahli maksiat)”.Sehingga yang dilakukan para teroris tersebut, berupa aksi-aksi individu atau kelompok saja, tentu tidak bisa disebut sebagai jihad yang syar’i.Juga di antara ketentuan jihad adalah tidak boleh membunuh non Muslim yang sudah ada perjanjian untuk hidup rukun dan dijamin keamanannya oleh kaum Muslimin. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَن قَتَلَ مُعاهَدًا لَمْ يَرِحْ رائِحَةَ الجَنَّةِ، وإنَّ رِيحَها تُوجَدُ مِن مَسِيرَةِ أرْبَعِينَ عامًا“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun” (HR. Bukhari no. 3166).Dan secara umum tidak boleh berbuat zalim walaupun kepada non Muslim. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah” (HR. Ahmad no. 12549, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 767).Juga di antara ketentuan jihad lainnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: tidak boleh membunuh wanita, tidak boleh membunuh anak-anak, tidak boleh menghancurkan gereja, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Yang andaikan aksi-aksi para teroris tersebut dianggap jihad yang syar’i (walaupun hakikatnya bukan), ternyata malah melanggar ketentuan-ketentuan ini. Allahul musta’an.Baca Juga: Berdialog Dengan TerorisSalah kaprah: “Membunuh polisi dan pejabat pemerintah di negeri kaum muslimin adalah jihad”Bagaimana mana mungkin seperti ini dikatakan jihad ketika ternyata yang dibunuh oleh para teroris itu adalah sesama kaum muslimin juga?!Padahal membunuh sesama muslim itu adalah dosa yang sangat besar. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,سِبابُ المسلِمِ فُسوقٌ ، و قتالُه كُفرٌ“Mencela seorang Muslim itu kefasikan, dan membunuh seorang Muslim itu kekufuran” (HR. Bukhari no. 48, Muslim no. 64).Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,لَزَوالُ الدُّنيا أهْوَنُ علَى اللَّهِ مِن قتلِ رجلٍ مسلمٍ“Hancurnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim” (HR. At Tirmdzi no. 1395, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).Dan para teroris tersebut mungkin menganggap orang yang mereka bunuh telah kafir keluar dari Islam. Maka ini juga bentuk penyimpangan. Yaitu bermudah-mudahan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada sesama muslim. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita waspada terhadap perbuatan seperti ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا“Apabila seseorang bermudahan mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim), “Wahai kafir”, maka status kafir itu akan kembali kepada salah satunya” (HR. Bukhari no. 312, Muslim no. 60).Masalah takfir (vonis kafir) itu masalah berat. Sehingga para ulama mengatakan: “salah ketika tidak mengkafirkan orang yang kafir, itu lebih ringan daripada salah memvonis kafir orang yang tidak kafir”.Demikian juga masalah berhukum dengan selain hukum Allah. Kita sepakat bahwa tidak boleh berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala. Namun tidak semua orang yang melakukannya itu kafir keluar dari Islam, dan juga bukan berarti itu dibolehkan. Namun ada rinciannya yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab akidah. Menggeneralisir semuanya kafir, polisi kafir, pejabat kafir, PNS kafir, karena berhukum dengan selain hukum Allah ini adalah pemahaman yang keliru. Syekh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,فمسألة الحكم بغير ما أنزل الله مسألة عظيمة وفيها تفصيل كما ذكر أهل التفسير فلا يطلق الكفر على كل من حكم بغير ما أنزل الله بل يفصل في هذا“Masalah berhukum dengan selain hukum Allah, ini adalah masalah yang besar. Dan di dalamnya ada rincian, sebagaimana disebutkan para ulama tafsir. Tidak boleh menggeneralisir semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Namun seharusnya merinci hal ini” (Syarah Nawaqidhul Islam).Selain itu juga, andaikan kita benarkan asumsi mereka, bahwa yang diperangi tersebut kafir keluar dari Islam, maka tidak semua orang kafir itu boleh diperangi atau dibunuh. Sebagaimana sudah disebutkan di atas.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Dalam artikel ini, akan kita bahas dengan ringkas beberapa syubhat (pemahaman yang salah kaprah) yang menjadi latar belakang sebagian orang melakukan terorisme berkedok jihad. Dengan harapan –musta’inan billah– tidak ada lagi orang-orang yang terjerumus pada terorisme karena pemahaman yang keliru.Salah kaprah: “Bom bunuh diri adalah jihad”Bagaimana mungkin bom bunuh diri adalah jihad, padahal bunuh diri itu dilarang dalam Islam dan termasuk dosa besar?Allah Ta’ala berfirman,وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30)Dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ومَن قَتَلَ نَفْسَهُ بشيءٍ في الدُّنْيا عُذِّبَ به يَومَ القِيامَةِ“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, dia akan di adzab dengan hal itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).Bahkan sebagian ulama memandang perbuatan bunuh diri adalah kekufuran (walaupun ini pendapat yang lemah), karena melihat zahir dari beberapa dalil. Di antaranya, dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘ahu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,كانَ فِيمَن كانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ به جُرْحٌ، فَجَزِعَ، فأخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بهَا يَدَهُ، فَما رَقَأَ الدَّمُ حتَّى مَاتَ، قالَ اللَّهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بنَفْسِهِ، حَرَّمْتُ عليه الجَنَّةَ“Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, dia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga dia mati. Allah Ta’ala berfirman, ”Hamba-Ku mendahului-Ku dengan dirinya, maka Aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).Namun yang tepat, orang yang bunuh diri itu tidak keluar dari Islam, namun mereka terjerumus dalam kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari Islam.‘Ala kulli haal, tidak mungkin perbuatan yang parah dan dosa besar seperti ini malah dianggap jihad?!Adapun amalan istisyhad (mencari status syahid) ini dilakukan dalam perang dan jihad yang syar’i, bukan dalam kondisi aman. Dan istisyhad yang dilakukan para salaf terdahulu bukan dengan bunuh diri, namun dengan menerjang musuh walaupun musuh dalam jumlah besar. Oleh karena itu, aksi bom bunuh diri dalam perang dan jihad yang syar’i pun dilarang oleh mayoritas ulama kibar Ahlussunnah seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syekh Shalih Al Fauzan, Syekh Shalih Alu Syekh dan selain mereka -semoga Allah merahmati mereka-.Syekh Abdullah bin Jibrin menjelaskan, “Baik ia adalah mu’ahhad dari kalangan Yahudi, Nasrani atau golongan orang kafir selain mereka. Perjanjian dengan mereka semua wajib ditepati dan tidak boleh memberikan gangguan kepada mereka hingga mereka kembali ke negeri mereka.Dan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, berupa aksi pengeboman yang menyebabkan banyak korban jiwa serta korban luka-luka, tidak ragu lagi ini merupakan kejahatan yang mengerikan. Dan pengeboman ini menyebabkan korban jiwa dan korban luka dari orang-orang yang dijamin keamanannya serta juga kaum muslimin yang ada di tempat-tempat tersebut. Dan ini tidak ragu lagi merupakan pengkhianatan, dan merupakan gangguan terhadap orang-orang yang dijamin keamanannya serta membahayakan mereka. Orang-orang yang melakukan perbuatan ini adalah orang-orang mujrim (jahat). Keyakinan mereka bahwasanya perbuatan ini adalah jihad dengan alasan bahwa orang-orang yang ada di tempat tersebut adalah orang kafir dan halal darahnya, kami katakan, “ini adalah sebuah kesalahan.” Tidak diperbolehkan memerangi mereka, dan perang tidak terjadi kecuali setelah memberikan pemberitahuan perang kepada pihak kuffar dan setelah sepakat untuk membatalkan perjanjian yang telah dibuat. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” (QS. Al Anfal: 58).Maka tidak boleh memerangi mereka yang dijamin keamanannya, demi kemaslahatan. Bahkan dengan memerangi mereka akan timbul mafsadah syar’iyyah, yaitu kaum Muslimin dituduh sembarangan sebagai kaum pengkhianat atau dituduh sebagai kaum teroris” (Sumber: web ibn-jebreen.com fatwa nomor 5318).Baca Juga: Jenggot Bukan Ciri TerorisSalah kaprah: “Membunuh non muslim di negeri kaum muslimin adalah jihad”Jihad itu ibadah yang agung. Oleh karena itu, yang namanya ibadah harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jihad yang tidak sesuai dengan tuntunan, maka sejatinya bukanlah jihad yang syar’i. Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,أرأيت رجلا خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فقتل أيدخل الجنة؟ فقال أبو موسى: نعم. فقال له حذيفة: لا. إن خرج يضرب بسيفه يبتغي وجه الله فأصاب أمر الله فقتل دخل الجنة“Apakah menurutmu orang yang keluar dengan pedangnya untuk berperang dengan mengharap ridha Allah, lalu terbunuh, ia akan masuk surga?” Abu Musa menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah lalu berkata kepadanya, ‘Tidak demikian. Jika ia keluar lalu berperang dengan pedangnya dengan mengharap ridha Allah dan menaati aturan Allah, lalu terbunuh, barulah ia masuk surga‘” (HR. Sa’id bin Manshur dalam Sunan-nya, sanadnya sahih).Maka jihad yang syar’i itu ada aturan-aturannya. Dan salah satu tuntunan jihad adalah dilakukan bersama ulil amri (pemerintah). Disebutkan dalam matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi,والحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين‏:‏ برهم وفاجرهم“Haji dan jihad itu terus ada (sampai hari kiamat). Dilakukan bersama ulil amri kaum Muslimin, baik mereka orang salih maupun orang fajir (ahli maksiat)”.Sehingga yang dilakukan para teroris tersebut, berupa aksi-aksi individu atau kelompok saja, tentu tidak bisa disebut sebagai jihad yang syar’i.Juga di antara ketentuan jihad adalah tidak boleh membunuh non Muslim yang sudah ada perjanjian untuk hidup rukun dan dijamin keamanannya oleh kaum Muslimin. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَن قَتَلَ مُعاهَدًا لَمْ يَرِحْ رائِحَةَ الجَنَّةِ، وإنَّ رِيحَها تُوجَدُ مِن مَسِيرَةِ أرْبَعِينَ عامًا“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium wangi surga. Padahal wanginya tercium dari jarak 40 tahun” (HR. Bukhari no. 3166).Dan secara umum tidak boleh berbuat zalim walaupun kepada non Muslim. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, walaupun ia kafir. Karena tidak ada hijab antara ia dengan Allah” (HR. Ahmad no. 12549, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 767).Juga di antara ketentuan jihad lainnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah: tidak boleh membunuh wanita, tidak boleh membunuh anak-anak, tidak boleh menghancurkan gereja, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Yang andaikan aksi-aksi para teroris tersebut dianggap jihad yang syar’i (walaupun hakikatnya bukan), ternyata malah melanggar ketentuan-ketentuan ini. Allahul musta’an.Baca Juga: Berdialog Dengan TerorisSalah kaprah: “Membunuh polisi dan pejabat pemerintah di negeri kaum muslimin adalah jihad”Bagaimana mana mungkin seperti ini dikatakan jihad ketika ternyata yang dibunuh oleh para teroris itu adalah sesama kaum muslimin juga?!Padahal membunuh sesama muslim itu adalah dosa yang sangat besar. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,سِبابُ المسلِمِ فُسوقٌ ، و قتالُه كُفرٌ“Mencela seorang Muslim itu kefasikan, dan membunuh seorang Muslim itu kekufuran” (HR. Bukhari no. 48, Muslim no. 64).Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,لَزَوالُ الدُّنيا أهْوَنُ علَى اللَّهِ مِن قتلِ رجلٍ مسلمٍ“Hancurnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim” (HR. At Tirmdzi no. 1395, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).Dan para teroris tersebut mungkin menganggap orang yang mereka bunuh telah kafir keluar dari Islam. Maka ini juga bentuk penyimpangan. Yaitu bermudah-mudahan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada sesama muslim. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita waspada terhadap perbuatan seperti ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا“Apabila seseorang bermudahan mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim), “Wahai kafir”, maka status kafir itu akan kembali kepada salah satunya” (HR. Bukhari no. 312, Muslim no. 60).Masalah takfir (vonis kafir) itu masalah berat. Sehingga para ulama mengatakan: “salah ketika tidak mengkafirkan orang yang kafir, itu lebih ringan daripada salah memvonis kafir orang yang tidak kafir”.Demikian juga masalah berhukum dengan selain hukum Allah. Kita sepakat bahwa tidak boleh berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala. Namun tidak semua orang yang melakukannya itu kafir keluar dari Islam, dan juga bukan berarti itu dibolehkan. Namun ada rinciannya yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab akidah. Menggeneralisir semuanya kafir, polisi kafir, pejabat kafir, PNS kafir, karena berhukum dengan selain hukum Allah ini adalah pemahaman yang keliru. Syekh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,فمسألة الحكم بغير ما أنزل الله مسألة عظيمة وفيها تفصيل كما ذكر أهل التفسير فلا يطلق الكفر على كل من حكم بغير ما أنزل الله بل يفصل في هذا“Masalah berhukum dengan selain hukum Allah, ini adalah masalah yang besar. Dan di dalamnya ada rincian, sebagaimana disebutkan para ulama tafsir. Tidak boleh menggeneralisir semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Namun seharusnya merinci hal ini” (Syarah Nawaqidhul Islam).Selain itu juga, andaikan kita benarkan asumsi mereka, bahwa yang diperangi tersebut kafir keluar dari Islam, maka tidak semua orang kafir itu boleh diperangi atau dibunuh. Sebagaimana sudah disebutkan di atas.[Bersambung]Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya

Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memahami hadits tentang sahabat berikut ini. Umar bin Khattab berkata,ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat yang saleh diantaranya: Sahabat yang saleh akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja. Sebuah ungkapan arab berbunyi: ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka” “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu” Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733) Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah.Perhatikan hadits berikut: عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “ “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim] Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.Hasan Al- Bashri berkata,استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).Demikian semoga bermanfaatAnda punya teman akrab? Coba baca artikel berikut. Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat ***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Puasa Senin Kamis, Doa Untuk Orang Kerasukan Makhluk Halus, Pengertian Kehidupan, Arti Khusuk, Cara Berdakwah

Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya

Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memahami hadits tentang sahabat berikut ini. Umar bin Khattab berkata,ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat yang saleh diantaranya: Sahabat yang saleh akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja. Sebuah ungkapan arab berbunyi: ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka” “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu” Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733) Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah.Perhatikan hadits berikut: عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “ “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim] Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.Hasan Al- Bashri berkata,استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).Demikian semoga bermanfaatAnda punya teman akrab? Coba baca artikel berikut. Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat ***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Puasa Senin Kamis, Doa Untuk Orang Kerasukan Makhluk Halus, Pengertian Kehidupan, Arti Khusuk, Cara Berdakwah
Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memahami hadits tentang sahabat berikut ini. Umar bin Khattab berkata,ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat yang saleh diantaranya: Sahabat yang saleh akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja. Sebuah ungkapan arab berbunyi: ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka” “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu” Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733) Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah.Perhatikan hadits berikut: عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “ “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim] Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.Hasan Al- Bashri berkata,استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).Demikian semoga bermanfaatAnda punya teman akrab? Coba baca artikel berikut. Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat ***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Puasa Senin Kamis, Doa Untuk Orang Kerasukan Makhluk Halus, Pengertian Kehidupan, Arti Khusuk, Cara Berdakwah


Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memahami hadits tentang sahabat berikut ini. Umar bin Khattab berkata,ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat yang saleh diantaranya: Sahabat yang saleh akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja. Sebuah ungkapan arab berbunyi: ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka” “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu” Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733) Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah.Perhatikan hadits berikut: عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “ “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim] Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.Hasan Al- Bashri berkata,استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).Demikian semoga bermanfaatAnda punya teman akrab? Coba baca artikel berikut. Teman Akrab Menjadi Musuh di Hari Kiamat ***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Puasa Senin Kamis, Doa Untuk Orang Kerasukan Makhluk Halus, Pengertian Kehidupan, Arti Khusuk, Cara Berdakwah

Haid Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Sholat Puasa?

Haid Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Sholat Puasa? Ust, ibu sy haid nya melebihi hari biasanya. Skrg sudah masuk hari ke 13 masih haid. Nah ibu sy ragu, apakah masih dihukumi haid atau tdk? Krn klo haid kan tdk sholat tdk puasa. Mohon arahannya Ust .. Dari: Dewangga, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Terjadi tambah atau berkurangnya hari haid daripada hari-hari biasanya adalah sesuatu yang wajar terjadi. Namun para ulama memberi batasan, jumlah hari haid maksimal adalah 15 hari. Selama bertambah hari haid kurang dari 15 hari, maka seorang wanita belum boleh sholat, puasa, dan juga towaf. Adapun jika telah lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan, وأكثر مدة الحيض خمسة عشر يوما عند جمهور أهل العلم، فإذا استمر معك الحيض إلى خمسة عشر يوم فهذا حيض، فإن زاد على ذلك صار استحاضة، “Waktu maksimal terjadi haid adalah 15 hari menurut mayoritas ulama (jumhur). Jika haid berlangsung sampai hari ke 15, maka darah yang keluar dihukumi haid. Namun jika lebih dari itu, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Darah istihadoh adalah darah yang keluar disebabkan sakit. Yaitu adanya pembuluh darah yang pecah di area rahim. Sifat darah ini berbeda dengan darah haid. Darah istihadoh merah segar, sementara darah haid gelap dan berbau. Wanita yang mengalami istihadoh, dihukumi seperti layaknya wanita yang suci dari haid. Dia wajib melaksanakan sholat dan puasa. Berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟ Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: “Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadoh) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan sholat?” Rasul menjawab: لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي “Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah sholat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu sholatlah.” (Muttafaqun ‘alaih). Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan, المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه “Wanita yang mustahadoh, tetap diperintahkan puasa, sholat, tawaf, membaca Al Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya.” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an 2/86). Yang sedikit membedakan dengan wanita suci adalah: – wanita mustahadoh wajib berwudhu setiap kali masuk waktu sholat wajib, artinya satu wudhu hanya boleh untuk satu sholat wajib beserta sholat-sholat sunah yang ada di bentangan waktu sholat wajib tersebut. Begitu beralih ke sholat wajib berikutnya, dia wajib wudhu kembali. Meskipun wudhu pada sholat sebelumnya belum batal. – Di samping itu, ia juga harus membersihkan darah istihadohnya setiap kali masuk pada waktu sholat berikutnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, ويكون الدم الذي معك المستمر هذا دم استحاضة يعني دم فساد لا يمنع الصلاة ولا يمنع الصوم ولا يمنع الزوج، ولكنك تتوضئين لكل صلاة تستنجين وتتوضئين لكل صلاة “Darah yang terus keluar melebihi 15 hari, adalah darah istihadoh. Yakni darah yang rusak (karena sakit). Tidak menghalangi kewajiban sholat, puasa, dan berjimak. Akan tetapi Anda harus berwudhu dan beristinja (membersihkan darah istihadoh) setiap kali sholat wajib.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Demikian. Wallahu a’lam bis showab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tidak Sholat Tapi Berbuat Baik, Shalat Sunat Rajab, Sholat Idul Adha Wajib Atau Sunnah, Amalan Untuk Ibu Hamil Menurut Islam, Bunga Bank Menurut Islam, Istri Tidak Mau Disentuh Suami Visited 154 times, 3 visit(s) today Post Views: 313 QRIS donasi Yufid

Haid Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Sholat Puasa?

Haid Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Sholat Puasa? Ust, ibu sy haid nya melebihi hari biasanya. Skrg sudah masuk hari ke 13 masih haid. Nah ibu sy ragu, apakah masih dihukumi haid atau tdk? Krn klo haid kan tdk sholat tdk puasa. Mohon arahannya Ust .. Dari: Dewangga, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Terjadi tambah atau berkurangnya hari haid daripada hari-hari biasanya adalah sesuatu yang wajar terjadi. Namun para ulama memberi batasan, jumlah hari haid maksimal adalah 15 hari. Selama bertambah hari haid kurang dari 15 hari, maka seorang wanita belum boleh sholat, puasa, dan juga towaf. Adapun jika telah lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan, وأكثر مدة الحيض خمسة عشر يوما عند جمهور أهل العلم، فإذا استمر معك الحيض إلى خمسة عشر يوم فهذا حيض، فإن زاد على ذلك صار استحاضة، “Waktu maksimal terjadi haid adalah 15 hari menurut mayoritas ulama (jumhur). Jika haid berlangsung sampai hari ke 15, maka darah yang keluar dihukumi haid. Namun jika lebih dari itu, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Darah istihadoh adalah darah yang keluar disebabkan sakit. Yaitu adanya pembuluh darah yang pecah di area rahim. Sifat darah ini berbeda dengan darah haid. Darah istihadoh merah segar, sementara darah haid gelap dan berbau. Wanita yang mengalami istihadoh, dihukumi seperti layaknya wanita yang suci dari haid. Dia wajib melaksanakan sholat dan puasa. Berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟ Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: “Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadoh) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan sholat?” Rasul menjawab: لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي “Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah sholat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu sholatlah.” (Muttafaqun ‘alaih). Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan, المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه “Wanita yang mustahadoh, tetap diperintahkan puasa, sholat, tawaf, membaca Al Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya.” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an 2/86). Yang sedikit membedakan dengan wanita suci adalah: – wanita mustahadoh wajib berwudhu setiap kali masuk waktu sholat wajib, artinya satu wudhu hanya boleh untuk satu sholat wajib beserta sholat-sholat sunah yang ada di bentangan waktu sholat wajib tersebut. Begitu beralih ke sholat wajib berikutnya, dia wajib wudhu kembali. Meskipun wudhu pada sholat sebelumnya belum batal. – Di samping itu, ia juga harus membersihkan darah istihadohnya setiap kali masuk pada waktu sholat berikutnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, ويكون الدم الذي معك المستمر هذا دم استحاضة يعني دم فساد لا يمنع الصلاة ولا يمنع الصوم ولا يمنع الزوج، ولكنك تتوضئين لكل صلاة تستنجين وتتوضئين لكل صلاة “Darah yang terus keluar melebihi 15 hari, adalah darah istihadoh. Yakni darah yang rusak (karena sakit). Tidak menghalangi kewajiban sholat, puasa, dan berjimak. Akan tetapi Anda harus berwudhu dan beristinja (membersihkan darah istihadoh) setiap kali sholat wajib.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Demikian. Wallahu a’lam bis showab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tidak Sholat Tapi Berbuat Baik, Shalat Sunat Rajab, Sholat Idul Adha Wajib Atau Sunnah, Amalan Untuk Ibu Hamil Menurut Islam, Bunga Bank Menurut Islam, Istri Tidak Mau Disentuh Suami Visited 154 times, 3 visit(s) today Post Views: 313 QRIS donasi Yufid
Haid Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Sholat Puasa? Ust, ibu sy haid nya melebihi hari biasanya. Skrg sudah masuk hari ke 13 masih haid. Nah ibu sy ragu, apakah masih dihukumi haid atau tdk? Krn klo haid kan tdk sholat tdk puasa. Mohon arahannya Ust .. Dari: Dewangga, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Terjadi tambah atau berkurangnya hari haid daripada hari-hari biasanya adalah sesuatu yang wajar terjadi. Namun para ulama memberi batasan, jumlah hari haid maksimal adalah 15 hari. Selama bertambah hari haid kurang dari 15 hari, maka seorang wanita belum boleh sholat, puasa, dan juga towaf. Adapun jika telah lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan, وأكثر مدة الحيض خمسة عشر يوما عند جمهور أهل العلم، فإذا استمر معك الحيض إلى خمسة عشر يوم فهذا حيض، فإن زاد على ذلك صار استحاضة، “Waktu maksimal terjadi haid adalah 15 hari menurut mayoritas ulama (jumhur). Jika haid berlangsung sampai hari ke 15, maka darah yang keluar dihukumi haid. Namun jika lebih dari itu, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Darah istihadoh adalah darah yang keluar disebabkan sakit. Yaitu adanya pembuluh darah yang pecah di area rahim. Sifat darah ini berbeda dengan darah haid. Darah istihadoh merah segar, sementara darah haid gelap dan berbau. Wanita yang mengalami istihadoh, dihukumi seperti layaknya wanita yang suci dari haid. Dia wajib melaksanakan sholat dan puasa. Berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟ Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: “Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadoh) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan sholat?” Rasul menjawab: لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي “Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah sholat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu sholatlah.” (Muttafaqun ‘alaih). Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan, المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه “Wanita yang mustahadoh, tetap diperintahkan puasa, sholat, tawaf, membaca Al Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya.” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an 2/86). Yang sedikit membedakan dengan wanita suci adalah: – wanita mustahadoh wajib berwudhu setiap kali masuk waktu sholat wajib, artinya satu wudhu hanya boleh untuk satu sholat wajib beserta sholat-sholat sunah yang ada di bentangan waktu sholat wajib tersebut. Begitu beralih ke sholat wajib berikutnya, dia wajib wudhu kembali. Meskipun wudhu pada sholat sebelumnya belum batal. – Di samping itu, ia juga harus membersihkan darah istihadohnya setiap kali masuk pada waktu sholat berikutnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, ويكون الدم الذي معك المستمر هذا دم استحاضة يعني دم فساد لا يمنع الصلاة ولا يمنع الصوم ولا يمنع الزوج، ولكنك تتوضئين لكل صلاة تستنجين وتتوضئين لكل صلاة “Darah yang terus keluar melebihi 15 hari, adalah darah istihadoh. Yakni darah yang rusak (karena sakit). Tidak menghalangi kewajiban sholat, puasa, dan berjimak. Akan tetapi Anda harus berwudhu dan beristinja (membersihkan darah istihadoh) setiap kali sholat wajib.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Demikian. Wallahu a’lam bis showab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tidak Sholat Tapi Berbuat Baik, Shalat Sunat Rajab, Sholat Idul Adha Wajib Atau Sunnah, Amalan Untuk Ibu Hamil Menurut Islam, Bunga Bank Menurut Islam, Istri Tidak Mau Disentuh Suami Visited 154 times, 3 visit(s) today Post Views: 313 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1226745280&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Haid Lebih dari Hari Biasanya, Kapan Sholat Puasa? Ust, ibu sy haid nya melebihi hari biasanya. Skrg sudah masuk hari ke 13 masih haid. Nah ibu sy ragu, apakah masih dihukumi haid atau tdk? Krn klo haid kan tdk sholat tdk puasa. Mohon arahannya Ust .. Dari: Dewangga, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Terjadi tambah atau berkurangnya hari haid daripada hari-hari biasanya adalah sesuatu yang wajar terjadi. Namun para ulama memberi batasan, jumlah hari haid maksimal adalah 15 hari. Selama bertambah hari haid kurang dari 15 hari, maka seorang wanita belum boleh sholat, puasa, dan juga towaf. Adapun jika telah lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan, وأكثر مدة الحيض خمسة عشر يوما عند جمهور أهل العلم، فإذا استمر معك الحيض إلى خمسة عشر يوم فهذا حيض، فإن زاد على ذلك صار استحاضة، “Waktu maksimal terjadi haid adalah 15 hari menurut mayoritas ulama (jumhur). Jika haid berlangsung sampai hari ke 15, maka darah yang keluar dihukumi haid. Namun jika lebih dari itu, maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadoh.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Darah istihadoh adalah darah yang keluar disebabkan sakit. Yaitu adanya pembuluh darah yang pecah di area rahim. Sifat darah ini berbeda dengan darah haid. Darah istihadoh merah segar, sementara darah haid gelap dan berbau. Wanita yang mengalami istihadoh, dihukumi seperti layaknya wanita yang suci dari haid. Dia wajib melaksanakan sholat dan puasa. Berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, جائت فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟ Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata: “Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadoh) dan tidak pernah suci. Bolehkah aku meninggalkan sholat?” Rasul menjawab: لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي “Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah sholat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu sholatlah.” (Muttafaqun ‘alaih). Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan, المستحاضة تصوم، وتصلِّي، وتطوف، وتقرأ، ويأتيها زوجه “Wanita yang mustahadoh, tetap diperintahkan puasa, sholat, tawaf, membaca Al Quran (meski dengan menyentuh mushaf, pent), dan diperbolehkan melakukan hubungan intim dengan suaminya.” (Al-Jami’ li Ahkam al Qur’an 2/86). Yang sedikit membedakan dengan wanita suci adalah: – wanita mustahadoh wajib berwudhu setiap kali masuk waktu sholat wajib, artinya satu wudhu hanya boleh untuk satu sholat wajib beserta sholat-sholat sunah yang ada di bentangan waktu sholat wajib tersebut. Begitu beralih ke sholat wajib berikutnya, dia wajib wudhu kembali. Meskipun wudhu pada sholat sebelumnya belum batal. – Di samping itu, ia juga harus membersihkan darah istihadohnya setiap kali masuk pada waktu sholat berikutnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, ويكون الدم الذي معك المستمر هذا دم استحاضة يعني دم فساد لا يمنع الصلاة ولا يمنع الصوم ولا يمنع الزوج، ولكنك تتوضئين لكل صلاة تستنجين وتتوضئين لكل صلاة “Darah yang terus keluar melebihi 15 hari, adalah darah istihadoh. Yakni darah yang rusak (karena sakit). Tidak menghalangi kewajiban sholat, puasa, dan berjimak. Akan tetapi Anda harus berwudhu dan beristinja (membersihkan darah istihadoh) setiap kali sholat wajib.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/28774/زيادة-ايام-الحيض-عن-العادة) Demikian. Wallahu a’lam bis showab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tidak Sholat Tapi Berbuat Baik, Shalat Sunat Rajab, Sholat Idul Adha Wajib Atau Sunnah, Amalan Untuk Ibu Hamil Menurut Islam, Bunga Bank Menurut Islam, Istri Tidak Mau Disentuh Suami Visited 154 times, 3 visit(s) today Post Views: 313 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next