Syarhus Sunnah: 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga? Siapakah mereka?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ البَاقِيْنَ مِنَ العَشَرَةِ الَّذِيْنَ أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجَنَّةَ  , وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ المحَبَّةِ بِقَدْرِ الَّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ , ثُمَّ لِسَائِرِ أَصْحَابِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ وَيُقَالُ بِفَضْلِهِمْ وَيُذْكَرُوْنَ بِمَحَاسِنِ أَفْعَالِهِمْ , وَنُمْسِكُ عَنِ الخَوْضِ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ , فَهُمْ خِيَارُ أَهْلِ الأَرْضِ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ اِرْتَضَاهُمُ اللهُ لِنَبِيِّهِ وَجَعَلَهُمْ أَنْصَارًا لِدِيْنِهِ فَهُمْ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ وَأَعْلاَمُ المسْلِمِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ Kemudian sepuluh sahabat lainnya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakana tentang mereka bahwa mereka dijamin masuk surga. Kita pun diperintahkan untuk mencintai mereka dengan kadar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan karena keutamaan yang ada pada mereka. Kemudian sahabat yang lain selain itu. Semoga Allah meridai mereka semua. Keutamaan dan kebaikan perbuatan mereka disebut-sebut. Kita tahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka. Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya. Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga   Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung mereka tadi ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id (bin Zaid) berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga yang disebut dalam satu hadits sekaligus adalah: Abu Bakar Ash-Shiddiq Umar bin Al-Khaththab Utsman bin ‘Affan ‘Ali bin Abi Thalib Thalhah bin ‘Ubaidillah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ‘Abdurrahman bin ‘Auf Sa’ad bin Abi Waqqash Sa’id bin Zaid Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah   Semoga bermanfaat.   Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Siksaan Mengerikan pada Para Sahabat Nabi Karena Iman Mereka Syarhus Sunnah: Ada yang Masuk Surga, Ada yang Masuk Neraka — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 6 Februari 2021 (24 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi sepuluh sahabat dijamin surga syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan

Syarhus Sunnah: 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga? Siapakah mereka?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ البَاقِيْنَ مِنَ العَشَرَةِ الَّذِيْنَ أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجَنَّةَ  , وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ المحَبَّةِ بِقَدْرِ الَّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ , ثُمَّ لِسَائِرِ أَصْحَابِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ وَيُقَالُ بِفَضْلِهِمْ وَيُذْكَرُوْنَ بِمَحَاسِنِ أَفْعَالِهِمْ , وَنُمْسِكُ عَنِ الخَوْضِ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ , فَهُمْ خِيَارُ أَهْلِ الأَرْضِ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ اِرْتَضَاهُمُ اللهُ لِنَبِيِّهِ وَجَعَلَهُمْ أَنْصَارًا لِدِيْنِهِ فَهُمْ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ وَأَعْلاَمُ المسْلِمِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ Kemudian sepuluh sahabat lainnya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakana tentang mereka bahwa mereka dijamin masuk surga. Kita pun diperintahkan untuk mencintai mereka dengan kadar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan karena keutamaan yang ada pada mereka. Kemudian sahabat yang lain selain itu. Semoga Allah meridai mereka semua. Keutamaan dan kebaikan perbuatan mereka disebut-sebut. Kita tahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka. Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya. Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga   Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung mereka tadi ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id (bin Zaid) berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga yang disebut dalam satu hadits sekaligus adalah: Abu Bakar Ash-Shiddiq Umar bin Al-Khaththab Utsman bin ‘Affan ‘Ali bin Abi Thalib Thalhah bin ‘Ubaidillah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ‘Abdurrahman bin ‘Auf Sa’ad bin Abi Waqqash Sa’id bin Zaid Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah   Semoga bermanfaat.   Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Siksaan Mengerikan pada Para Sahabat Nabi Karena Iman Mereka Syarhus Sunnah: Ada yang Masuk Surga, Ada yang Masuk Neraka — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 6 Februari 2021 (24 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi sepuluh sahabat dijamin surga syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan
Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga? Siapakah mereka?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ البَاقِيْنَ مِنَ العَشَرَةِ الَّذِيْنَ أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجَنَّةَ  , وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ المحَبَّةِ بِقَدْرِ الَّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ , ثُمَّ لِسَائِرِ أَصْحَابِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ وَيُقَالُ بِفَضْلِهِمْ وَيُذْكَرُوْنَ بِمَحَاسِنِ أَفْعَالِهِمْ , وَنُمْسِكُ عَنِ الخَوْضِ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ , فَهُمْ خِيَارُ أَهْلِ الأَرْضِ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ اِرْتَضَاهُمُ اللهُ لِنَبِيِّهِ وَجَعَلَهُمْ أَنْصَارًا لِدِيْنِهِ فَهُمْ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ وَأَعْلاَمُ المسْلِمِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ Kemudian sepuluh sahabat lainnya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakana tentang mereka bahwa mereka dijamin masuk surga. Kita pun diperintahkan untuk mencintai mereka dengan kadar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan karena keutamaan yang ada pada mereka. Kemudian sahabat yang lain selain itu. Semoga Allah meridai mereka semua. Keutamaan dan kebaikan perbuatan mereka disebut-sebut. Kita tahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka. Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya. Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga   Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung mereka tadi ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id (bin Zaid) berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga yang disebut dalam satu hadits sekaligus adalah: Abu Bakar Ash-Shiddiq Umar bin Al-Khaththab Utsman bin ‘Affan ‘Ali bin Abi Thalib Thalhah bin ‘Ubaidillah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ‘Abdurrahman bin ‘Auf Sa’ad bin Abi Waqqash Sa’id bin Zaid Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah   Semoga bermanfaat.   Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Siksaan Mengerikan pada Para Sahabat Nabi Karena Iman Mereka Syarhus Sunnah: Ada yang Masuk Surga, Ada yang Masuk Neraka — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 6 Februari 2021 (24 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi sepuluh sahabat dijamin surga syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan


Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga? Siapakah mereka?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, ثُمَّ البَاقِيْنَ مِنَ العَشَرَةِ الَّذِيْنَ أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجَنَّةَ  , وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ المحَبَّةِ بِقَدْرِ الَّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ , ثُمَّ لِسَائِرِ أَصْحَابِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ وَيُقَالُ بِفَضْلِهِمْ وَيُذْكَرُوْنَ بِمَحَاسِنِ أَفْعَالِهِمْ , وَنُمْسِكُ عَنِ الخَوْضِ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ , فَهُمْ خِيَارُ أَهْلِ الأَرْضِ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ اِرْتَضَاهُمُ اللهُ لِنَبِيِّهِ وَجَعَلَهُمْ أَنْصَارًا لِدِيْنِهِ فَهُمْ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ وَأَعْلاَمُ المسْلِمِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ Kemudian sepuluh sahabat lainnya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakana tentang mereka bahwa mereka dijamin masuk surga. Kita pun diperintahkan untuk mencintai mereka dengan kadar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan karena keutamaan yang ada pada mereka. Kemudian sahabat yang lain selain itu. Semoga Allah meridai mereka semua. Keutamaan dan kebaikan perbuatan mereka disebut-sebut. Kita tahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka. Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya. Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga   Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung mereka tadi ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id (bin Zaid) berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga yang disebut dalam satu hadits sekaligus adalah: Abu Bakar Ash-Shiddiq Umar bin Al-Khaththab Utsman bin ‘Affan ‘Ali bin Abi Thalib Thalhah bin ‘Ubaidillah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ‘Abdurrahman bin ‘Auf Sa’ad bin Abi Waqqash Sa’id bin Zaid Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah   Semoga bermanfaat.   Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Siksaan Mengerikan pada Para Sahabat Nabi Karena Iman Mereka Syarhus Sunnah: Ada yang Masuk Surga, Ada yang Masuk Neraka — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 6 Februari 2021 (24 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi sepuluh sahabat dijamin surga syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan

Loyalitas yang Prioritas

Loyalitas kita, untuk siapa?Pernahkah kita melihat bagaimana loyalitas (ketaatan/kesetiaan) seorang pembantu kepada majikannya? Atau seorang staf kepada bosnya? Atau seorang pegawai istana kepada sultannya?Loyalitas yang begitu tinggi dipersembahkan untuk sang petinggi. Apapun suruhan sang majikan, dilaksanakan dengan sepenuh jiwa dan raga demi sesuap nasi dan sedikit gaji meskipun tenaga telah terkuras. Apapun perintah si bos, dikerjakan meski harus lembur hingga dini hari demi mengejar gaji yang tinggi. Seperti apapun titah sang sultan, akan dipenuhi demi sebuah kebanggaan sebagai seorang abdi kerajaan.Coba pula kita memperhatikan diri sendiri. Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang lain? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ayahanda yang telah menafkahi dan mendidik kita hingga dewasa? Pernahkah kita berhutang jasa kepada seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah menarik tangan kita saat diri ini berada dalam kubangan dosa dan maksiat? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah memberikan bantuan materi saat diri kita berada dalam keterpurukan ekonomi?Bukankah mereka berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, loyalitas, penghargaan, dan segala kebaikan dari kita yang memang layak bagi mereka sebagai bentuk balas budi atas jasa yang luar biasa ? Tentu saja, ya.Lalu, bagaimana dengan Zat Pencipta yang telah menciptakan kita, memberi kita nyawa, menyempurnakan bentuk tubuh kita, menganugerahkan akal, kecerdasan, dan pengetahuan kepada kita sehingga dengannya kita mendapatkan ilmu, harta dan segala pernik dunia?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. Al-Tīn: 4).Allah  Ta’ala juga berfirman,أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya (Allah). Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-A’rāf: 54).Begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang kebesaran Allah Ta’ala yang menentukan segala hal yang terjadi maupun tidak terjadi di jagat raya ini. Begitu pula seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya,اللَّهُ الصَّمَدُ“Allah adalah tempat meminta segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlās: 2).Maka, adakah yang lebih layak untuk ditunaikan haknya daripada Allah Ta’ala? Tentu jawabannya adalah tidak ada. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang setiap saat bergantung kepada-Nya di segala lini kehidupan, wajib bagi kita untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala atas diri kita.Baca Juga: Beberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang TerlarangDua hak Allah Ta’ala atas hamba-NyaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا“Hak Allah atas para hamba adalah para hamba beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (HR. Bukhari dan Muslim).Pertama, at-tauhidBerdasarkan hadis di atas diterangkan bahwa hak Allah yang paling utama pada diri seorang hamba adalah at-tauhid, yaitu mengesakan Allah. Syekh Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullāh menjelaskan dalam kitabnya al-Qaulul Mufīd menjelaskan makna tauhid,إفراد الله- تعالى- بما يختص به من الربوبية والألوهية والأسماء والصفات.“Mengesakan Allah Ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu dalam perkara al-rububiyyah, al-ulūhiyyah, dan al-asmā’ wa al-shifāt” (Al-Qaulul Mufīd, 1: 8).Para ulama telah banyak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana memenuhi hak Allah dengan mentauhidkan-Nya. Karena telah terang bagi kita tujuan penciptaan jin dan manusia adalah hanya untuk menyembah Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Zariyat: 56).Syekh Shalih al-Fauzān Hafizhahullāh menjelaskan makna ibadah yang dimaksudkan dalam ayat di atas,اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال  الباطنة والظاهرة“Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang Allah cintai dan ridai, berupa perkataan, perbuatan, perkara batin, dan perkara zahir” (al-Mulakhkhas fi Syarhi Kitāb al-Tauhid, 9: 428).Kedua, tidak dipersekutukanSedangkan hak selanjutnya bagi Allah Ta’ala adalah tidak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS. An-Nisā’: 36).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam'” (QS. Al-An’ām: 162).Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa kesyirikan termasuk di antara tujuh dosa yang membinasakan (al-mūbiqāt). Hal ini sebagaimana hadisnya,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِRasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh al-mūbiqāt (dosa yang membinasakan).” Mereka (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali dengan jalan yang benar, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qazaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89 dari hadis Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu).Baca Juga: Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?Hakikat memenuhi hak Allah Ta’alaBanyak ayat dan hadis yang menjelaskan tentang bahaya menyekutukan Allah karena memang ini adalah hak Allah yang mesti dipenuhi oleh seorang hamba. Apabila kita kaji, pada hakikatnya memenuhi hak-hak Allah yang ada pada diri kita jauh lebih mudah daripada memenuhi hak makhluk-Nya.Bagaimana tidak, apa sulitnya untuk memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Ta’ala yang berupa doa, salat, istigātsah, puasa, zakat, haji, dan berbagai macam ibadah lainnya? Sedangkan untuk memenuhi hak majikan seorang pembantu harus bekerja keras, seorang staf harus bersusah payah lembur demi tuntutan bosnya, serta seorang pegawai istana mesti berkeringat basah untuk mendapatkan pengakuan kesetiaannya.Persoalan yang kemudian menjadi tantangan bagi seorang hamba dalam menunaikan hak Tuhannya adalah kemauan dan tekad kuat untuk mempelajari ilmu agamanya.Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa dia telah mengesakan Allah Ta’ala dengan benar dan yakin bahwa di setiap ibadahnya tidak ada unsur menyekutukan Allah (kesyirikan) apabila dia tidak belajar tentang ilmu tauhid dan tidak mengerti apa itu kesyirikan?Bagaimana pula dia dapat menunaikan hak Tuhannya apabila dia tidak mengerjakan ibadah dengan benar sesuai petunjuk nabi-Nya apabila dia tidak belajar tentang fikih ibadah dan manhaj nabi-Nya?Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengetahui skala prioritas dalam menentukan loyalitas kita yang sesungguhnya. Orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan dari kita. Namun jangan pula kita lupakan bahwa Allah Ta’ala juga memiliki hak yang menjadi super prioritas untuk kita tunaikan sebagai bentuk penghambaan dan loyalitas tertinggi yang kita persembahkan hanya untuk-Nya.Wallāhu a’lamu bi al-shawāb.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id

Loyalitas yang Prioritas

Loyalitas kita, untuk siapa?Pernahkah kita melihat bagaimana loyalitas (ketaatan/kesetiaan) seorang pembantu kepada majikannya? Atau seorang staf kepada bosnya? Atau seorang pegawai istana kepada sultannya?Loyalitas yang begitu tinggi dipersembahkan untuk sang petinggi. Apapun suruhan sang majikan, dilaksanakan dengan sepenuh jiwa dan raga demi sesuap nasi dan sedikit gaji meskipun tenaga telah terkuras. Apapun perintah si bos, dikerjakan meski harus lembur hingga dini hari demi mengejar gaji yang tinggi. Seperti apapun titah sang sultan, akan dipenuhi demi sebuah kebanggaan sebagai seorang abdi kerajaan.Coba pula kita memperhatikan diri sendiri. Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang lain? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ayahanda yang telah menafkahi dan mendidik kita hingga dewasa? Pernahkah kita berhutang jasa kepada seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah menarik tangan kita saat diri ini berada dalam kubangan dosa dan maksiat? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah memberikan bantuan materi saat diri kita berada dalam keterpurukan ekonomi?Bukankah mereka berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, loyalitas, penghargaan, dan segala kebaikan dari kita yang memang layak bagi mereka sebagai bentuk balas budi atas jasa yang luar biasa ? Tentu saja, ya.Lalu, bagaimana dengan Zat Pencipta yang telah menciptakan kita, memberi kita nyawa, menyempurnakan bentuk tubuh kita, menganugerahkan akal, kecerdasan, dan pengetahuan kepada kita sehingga dengannya kita mendapatkan ilmu, harta dan segala pernik dunia?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. Al-Tīn: 4).Allah  Ta’ala juga berfirman,أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya (Allah). Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-A’rāf: 54).Begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang kebesaran Allah Ta’ala yang menentukan segala hal yang terjadi maupun tidak terjadi di jagat raya ini. Begitu pula seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya,اللَّهُ الصَّمَدُ“Allah adalah tempat meminta segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlās: 2).Maka, adakah yang lebih layak untuk ditunaikan haknya daripada Allah Ta’ala? Tentu jawabannya adalah tidak ada. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang setiap saat bergantung kepada-Nya di segala lini kehidupan, wajib bagi kita untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala atas diri kita.Baca Juga: Beberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang TerlarangDua hak Allah Ta’ala atas hamba-NyaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا“Hak Allah atas para hamba adalah para hamba beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (HR. Bukhari dan Muslim).Pertama, at-tauhidBerdasarkan hadis di atas diterangkan bahwa hak Allah yang paling utama pada diri seorang hamba adalah at-tauhid, yaitu mengesakan Allah. Syekh Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullāh menjelaskan dalam kitabnya al-Qaulul Mufīd menjelaskan makna tauhid,إفراد الله- تعالى- بما يختص به من الربوبية والألوهية والأسماء والصفات.“Mengesakan Allah Ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu dalam perkara al-rububiyyah, al-ulūhiyyah, dan al-asmā’ wa al-shifāt” (Al-Qaulul Mufīd, 1: 8).Para ulama telah banyak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana memenuhi hak Allah dengan mentauhidkan-Nya. Karena telah terang bagi kita tujuan penciptaan jin dan manusia adalah hanya untuk menyembah Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Zariyat: 56).Syekh Shalih al-Fauzān Hafizhahullāh menjelaskan makna ibadah yang dimaksudkan dalam ayat di atas,اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال  الباطنة والظاهرة“Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang Allah cintai dan ridai, berupa perkataan, perbuatan, perkara batin, dan perkara zahir” (al-Mulakhkhas fi Syarhi Kitāb al-Tauhid, 9: 428).Kedua, tidak dipersekutukanSedangkan hak selanjutnya bagi Allah Ta’ala adalah tidak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS. An-Nisā’: 36).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam'” (QS. Al-An’ām: 162).Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa kesyirikan termasuk di antara tujuh dosa yang membinasakan (al-mūbiqāt). Hal ini sebagaimana hadisnya,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِRasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh al-mūbiqāt (dosa yang membinasakan).” Mereka (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali dengan jalan yang benar, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qazaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89 dari hadis Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu).Baca Juga: Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?Hakikat memenuhi hak Allah Ta’alaBanyak ayat dan hadis yang menjelaskan tentang bahaya menyekutukan Allah karena memang ini adalah hak Allah yang mesti dipenuhi oleh seorang hamba. Apabila kita kaji, pada hakikatnya memenuhi hak-hak Allah yang ada pada diri kita jauh lebih mudah daripada memenuhi hak makhluk-Nya.Bagaimana tidak, apa sulitnya untuk memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Ta’ala yang berupa doa, salat, istigātsah, puasa, zakat, haji, dan berbagai macam ibadah lainnya? Sedangkan untuk memenuhi hak majikan seorang pembantu harus bekerja keras, seorang staf harus bersusah payah lembur demi tuntutan bosnya, serta seorang pegawai istana mesti berkeringat basah untuk mendapatkan pengakuan kesetiaannya.Persoalan yang kemudian menjadi tantangan bagi seorang hamba dalam menunaikan hak Tuhannya adalah kemauan dan tekad kuat untuk mempelajari ilmu agamanya.Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa dia telah mengesakan Allah Ta’ala dengan benar dan yakin bahwa di setiap ibadahnya tidak ada unsur menyekutukan Allah (kesyirikan) apabila dia tidak belajar tentang ilmu tauhid dan tidak mengerti apa itu kesyirikan?Bagaimana pula dia dapat menunaikan hak Tuhannya apabila dia tidak mengerjakan ibadah dengan benar sesuai petunjuk nabi-Nya apabila dia tidak belajar tentang fikih ibadah dan manhaj nabi-Nya?Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengetahui skala prioritas dalam menentukan loyalitas kita yang sesungguhnya. Orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan dari kita. Namun jangan pula kita lupakan bahwa Allah Ta’ala juga memiliki hak yang menjadi super prioritas untuk kita tunaikan sebagai bentuk penghambaan dan loyalitas tertinggi yang kita persembahkan hanya untuk-Nya.Wallāhu a’lamu bi al-shawāb.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id
Loyalitas kita, untuk siapa?Pernahkah kita melihat bagaimana loyalitas (ketaatan/kesetiaan) seorang pembantu kepada majikannya? Atau seorang staf kepada bosnya? Atau seorang pegawai istana kepada sultannya?Loyalitas yang begitu tinggi dipersembahkan untuk sang petinggi. Apapun suruhan sang majikan, dilaksanakan dengan sepenuh jiwa dan raga demi sesuap nasi dan sedikit gaji meskipun tenaga telah terkuras. Apapun perintah si bos, dikerjakan meski harus lembur hingga dini hari demi mengejar gaji yang tinggi. Seperti apapun titah sang sultan, akan dipenuhi demi sebuah kebanggaan sebagai seorang abdi kerajaan.Coba pula kita memperhatikan diri sendiri. Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang lain? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ayahanda yang telah menafkahi dan mendidik kita hingga dewasa? Pernahkah kita berhutang jasa kepada seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah menarik tangan kita saat diri ini berada dalam kubangan dosa dan maksiat? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah memberikan bantuan materi saat diri kita berada dalam keterpurukan ekonomi?Bukankah mereka berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, loyalitas, penghargaan, dan segala kebaikan dari kita yang memang layak bagi mereka sebagai bentuk balas budi atas jasa yang luar biasa ? Tentu saja, ya.Lalu, bagaimana dengan Zat Pencipta yang telah menciptakan kita, memberi kita nyawa, menyempurnakan bentuk tubuh kita, menganugerahkan akal, kecerdasan, dan pengetahuan kepada kita sehingga dengannya kita mendapatkan ilmu, harta dan segala pernik dunia?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. Al-Tīn: 4).Allah  Ta’ala juga berfirman,أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya (Allah). Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-A’rāf: 54).Begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang kebesaran Allah Ta’ala yang menentukan segala hal yang terjadi maupun tidak terjadi di jagat raya ini. Begitu pula seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya,اللَّهُ الصَّمَدُ“Allah adalah tempat meminta segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlās: 2).Maka, adakah yang lebih layak untuk ditunaikan haknya daripada Allah Ta’ala? Tentu jawabannya adalah tidak ada. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang setiap saat bergantung kepada-Nya di segala lini kehidupan, wajib bagi kita untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala atas diri kita.Baca Juga: Beberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang TerlarangDua hak Allah Ta’ala atas hamba-NyaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا“Hak Allah atas para hamba adalah para hamba beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (HR. Bukhari dan Muslim).Pertama, at-tauhidBerdasarkan hadis di atas diterangkan bahwa hak Allah yang paling utama pada diri seorang hamba adalah at-tauhid, yaitu mengesakan Allah. Syekh Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullāh menjelaskan dalam kitabnya al-Qaulul Mufīd menjelaskan makna tauhid,إفراد الله- تعالى- بما يختص به من الربوبية والألوهية والأسماء والصفات.“Mengesakan Allah Ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu dalam perkara al-rububiyyah, al-ulūhiyyah, dan al-asmā’ wa al-shifāt” (Al-Qaulul Mufīd, 1: 8).Para ulama telah banyak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana memenuhi hak Allah dengan mentauhidkan-Nya. Karena telah terang bagi kita tujuan penciptaan jin dan manusia adalah hanya untuk menyembah Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Zariyat: 56).Syekh Shalih al-Fauzān Hafizhahullāh menjelaskan makna ibadah yang dimaksudkan dalam ayat di atas,اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال  الباطنة والظاهرة“Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang Allah cintai dan ridai, berupa perkataan, perbuatan, perkara batin, dan perkara zahir” (al-Mulakhkhas fi Syarhi Kitāb al-Tauhid, 9: 428).Kedua, tidak dipersekutukanSedangkan hak selanjutnya bagi Allah Ta’ala adalah tidak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS. An-Nisā’: 36).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam'” (QS. Al-An’ām: 162).Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa kesyirikan termasuk di antara tujuh dosa yang membinasakan (al-mūbiqāt). Hal ini sebagaimana hadisnya,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِRasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh al-mūbiqāt (dosa yang membinasakan).” Mereka (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali dengan jalan yang benar, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qazaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89 dari hadis Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu).Baca Juga: Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?Hakikat memenuhi hak Allah Ta’alaBanyak ayat dan hadis yang menjelaskan tentang bahaya menyekutukan Allah karena memang ini adalah hak Allah yang mesti dipenuhi oleh seorang hamba. Apabila kita kaji, pada hakikatnya memenuhi hak-hak Allah yang ada pada diri kita jauh lebih mudah daripada memenuhi hak makhluk-Nya.Bagaimana tidak, apa sulitnya untuk memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Ta’ala yang berupa doa, salat, istigātsah, puasa, zakat, haji, dan berbagai macam ibadah lainnya? Sedangkan untuk memenuhi hak majikan seorang pembantu harus bekerja keras, seorang staf harus bersusah payah lembur demi tuntutan bosnya, serta seorang pegawai istana mesti berkeringat basah untuk mendapatkan pengakuan kesetiaannya.Persoalan yang kemudian menjadi tantangan bagi seorang hamba dalam menunaikan hak Tuhannya adalah kemauan dan tekad kuat untuk mempelajari ilmu agamanya.Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa dia telah mengesakan Allah Ta’ala dengan benar dan yakin bahwa di setiap ibadahnya tidak ada unsur menyekutukan Allah (kesyirikan) apabila dia tidak belajar tentang ilmu tauhid dan tidak mengerti apa itu kesyirikan?Bagaimana pula dia dapat menunaikan hak Tuhannya apabila dia tidak mengerjakan ibadah dengan benar sesuai petunjuk nabi-Nya apabila dia tidak belajar tentang fikih ibadah dan manhaj nabi-Nya?Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengetahui skala prioritas dalam menentukan loyalitas kita yang sesungguhnya. Orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan dari kita. Namun jangan pula kita lupakan bahwa Allah Ta’ala juga memiliki hak yang menjadi super prioritas untuk kita tunaikan sebagai bentuk penghambaan dan loyalitas tertinggi yang kita persembahkan hanya untuk-Nya.Wallāhu a’lamu bi al-shawāb.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id


Loyalitas kita, untuk siapa?Pernahkah kita melihat bagaimana loyalitas (ketaatan/kesetiaan) seorang pembantu kepada majikannya? Atau seorang staf kepada bosnya? Atau seorang pegawai istana kepada sultannya?Loyalitas yang begitu tinggi dipersembahkan untuk sang petinggi. Apapun suruhan sang majikan, dilaksanakan dengan sepenuh jiwa dan raga demi sesuap nasi dan sedikit gaji meskipun tenaga telah terkuras. Apapun perintah si bos, dikerjakan meski harus lembur hingga dini hari demi mengejar gaji yang tinggi. Seperti apapun titah sang sultan, akan dipenuhi demi sebuah kebanggaan sebagai seorang abdi kerajaan.Coba pula kita memperhatikan diri sendiri. Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang lain? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada ayahanda yang telah menafkahi dan mendidik kita hingga dewasa? Pernahkah kita berhutang jasa kepada seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa kita? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah menarik tangan kita saat diri ini berada dalam kubangan dosa dan maksiat? Pernahkah kita berhutang jasa kepada orang yang telah memberikan bantuan materi saat diri kita berada dalam keterpurukan ekonomi?Bukankah mereka berhak mendapatkan cinta, kasih sayang, loyalitas, penghargaan, dan segala kebaikan dari kita yang memang layak bagi mereka sebagai bentuk balas budi atas jasa yang luar biasa ? Tentu saja, ya.Lalu, bagaimana dengan Zat Pencipta yang telah menciptakan kita, memberi kita nyawa, menyempurnakan bentuk tubuh kita, menganugerahkan akal, kecerdasan, dan pengetahuan kepada kita sehingga dengannya kita mendapatkan ilmu, harta dan segala pernik dunia?Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. Al-Tīn: 4).Allah  Ta’ala juga berfirman,أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya (Allah). Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-A’rāf: 54).Begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang kebesaran Allah Ta’ala yang menentukan segala hal yang terjadi maupun tidak terjadi di jagat raya ini. Begitu pula seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya,اللَّهُ الصَّمَدُ“Allah adalah tempat meminta segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlās: 2).Maka, adakah yang lebih layak untuk ditunaikan haknya daripada Allah Ta’ala? Tentu jawabannya adalah tidak ada. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang setiap saat bergantung kepada-Nya di segala lini kehidupan, wajib bagi kita untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala atas diri kita.Baca Juga: Beberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang TerlarangDua hak Allah Ta’ala atas hamba-NyaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا“Hak Allah atas para hamba adalah para hamba beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (HR. Bukhari dan Muslim).Pertama, at-tauhidBerdasarkan hadis di atas diterangkan bahwa hak Allah yang paling utama pada diri seorang hamba adalah at-tauhid, yaitu mengesakan Allah. Syekh Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullāh menjelaskan dalam kitabnya al-Qaulul Mufīd menjelaskan makna tauhid,إفراد الله- تعالى- بما يختص به من الربوبية والألوهية والأسماء والصفات.“Mengesakan Allah Ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu dalam perkara al-rububiyyah, al-ulūhiyyah, dan al-asmā’ wa al-shifāt” (Al-Qaulul Mufīd, 1: 8).Para ulama telah banyak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana memenuhi hak Allah dengan mentauhidkan-Nya. Karena telah terang bagi kita tujuan penciptaan jin dan manusia adalah hanya untuk menyembah Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Zariyat: 56).Syekh Shalih al-Fauzān Hafizhahullāh menjelaskan makna ibadah yang dimaksudkan dalam ayat di atas,اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال  الباطنة والظاهرة“Ibadah adalah satu kata yang mencakup segala hal yang Allah cintai dan ridai, berupa perkataan, perbuatan, perkara batin, dan perkara zahir” (al-Mulakhkhas fi Syarhi Kitāb al-Tauhid, 9: 428).Kedua, tidak dipersekutukanSedangkan hak selanjutnya bagi Allah Ta’ala adalah tidak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS. An-Nisā’: 36).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam'” (QS. Al-An’ām: 162).Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa kesyirikan termasuk di antara tujuh dosa yang membinasakan (al-mūbiqāt). Hal ini sebagaimana hadisnya,اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِRasulullah bersabda, “Jauhilah tujuh al-mūbiqāt (dosa yang membinasakan).” Mereka (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali dengan jalan yang benar, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qazaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89 dari hadis Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu).Baca Juga: Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?Hakikat memenuhi hak Allah Ta’alaBanyak ayat dan hadis yang menjelaskan tentang bahaya menyekutukan Allah karena memang ini adalah hak Allah yang mesti dipenuhi oleh seorang hamba. Apabila kita kaji, pada hakikatnya memenuhi hak-hak Allah yang ada pada diri kita jauh lebih mudah daripada memenuhi hak makhluk-Nya.Bagaimana tidak, apa sulitnya untuk memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Ta’ala yang berupa doa, salat, istigātsah, puasa, zakat, haji, dan berbagai macam ibadah lainnya? Sedangkan untuk memenuhi hak majikan seorang pembantu harus bekerja keras, seorang staf harus bersusah payah lembur demi tuntutan bosnya, serta seorang pegawai istana mesti berkeringat basah untuk mendapatkan pengakuan kesetiaannya.Persoalan yang kemudian menjadi tantangan bagi seorang hamba dalam menunaikan hak Tuhannya adalah kemauan dan tekad kuat untuk mempelajari ilmu agamanya.Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa dia telah mengesakan Allah Ta’ala dengan benar dan yakin bahwa di setiap ibadahnya tidak ada unsur menyekutukan Allah (kesyirikan) apabila dia tidak belajar tentang ilmu tauhid dan tidak mengerti apa itu kesyirikan?Bagaimana pula dia dapat menunaikan hak Tuhannya apabila dia tidak mengerjakan ibadah dengan benar sesuai petunjuk nabi-Nya apabila dia tidak belajar tentang fikih ibadah dan manhaj nabi-Nya?Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengetahui skala prioritas dalam menentukan loyalitas kita yang sesungguhnya. Orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan dari kita. Namun jangan pula kita lupakan bahwa Allah Ta’ala juga memiliki hak yang menjadi super prioritas untuk kita tunaikan sebagai bentuk penghambaan dan loyalitas tertinggi yang kita persembahkan hanya untuk-Nya.Wallāhu a’lamu bi al-shawāb.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 14 – Keutamaan Membalas Kebaikan

Sun #unsplashKeutamaan Membalas KebaikanOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MAوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “مَنِ اسْتَعاَذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيْذُوْهُ، وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوْهُ، وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فاَدْعُوْا لَهُ.” أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ.Dari shahābat Ibnu ‘Umar radhiyallāhu anhumā ia berkata, dari Rasūlullāh ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa yang memohon pertolongan kepada kalian dengan bertawasul (dengan menyebut nama Allāh) maka tolonglah dia. Dan barangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikan tersebut). Jika kalian tidak mendapati (apa yang bisa kalian buat balas kebaikan tersebut) maka do’akanlah dia (orang yang berbuat baik tersebut).” (HR. Imam Baihaqi, hadist shahīh, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahumullāh Ta’āla)Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh ﷻ, hadits ini mengandung 3 permasalahan, yaituPermasalahan PertamaBarangsiapa yang memohon perlindungan kepada kalian dengan menyebut nama Allãh ﷻ maka lindungilah.Kenapa? Karena dia meminta kepada kita dengan nama Allãh. Dia mengatakan, “Tolonglah aku, demi Allãh, tolonglah aku.” Maka kita harus menolong dia kalau kita mampu, karena sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allãh, karena dia telah minta kepada kita dengan nama Allãh ﷻ.Permasalahan KeduaBarangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Sama seperti yang pertama, jika kita mampu maka kita harus memenuhi permintaannya.Misalnya seseorang punya utang kepada kita dan dia belum mampu membayar sehingga ia mengatakan, “Demi Allãh, tolong beri aku kesempatan lagi, aku belum bisa bayar, tundalah jatuh temponya.”Kalau kita mampu, kita harus memberi kesempatan karena dia minta dengan nama Allãh, kita tunda waktu pembayaran utangnya.Demikian halnya jika seseorang minta sesuatu dengan nama Allãh yang kita mampu untuk memberikannya, maka penuhilah permintaannya karena kita mengagungkan Allãh ﷻ.Dengan memenuhi permintaan yang dilakukan dengan menyebut nama Allah, berarti kita telah mengagungkan Allãh ﷻ. Insya Allah kita pun pasti akan medapatkan pahala dari Allãh ﷻ.Namun semua itu, sebagaimana penjelasan para ulama, kalau tidak menimbulkan kemudharatan bagi kita. Jika seseorang meminta sesuatu kepada kita yang kita tidak mampui atau akan mendatangkan kemudharatan kepada kita, maka tidak perlu kita penuhi. Meskipun ia meminta dengan nama Allãh. Allãh ﷻ berfirman,لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا“Allãh tidak membebani seorang hamba di luar daripada kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Permasalahan KetigaBarangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikan tersebut.Ini adalah ajaran Nabi ﷺ, sehingga tatkala ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita berusaha membalas kebaikan itu agar kita tidak punya utang budi. Karena utang budi itu sesuatu yang tidak enak dirasakan oleh seseorang.Jika seseorang berusaha hanya tunduk kepada Allãh ﷻ tetapi punya utang budi kepada orang lain, maka akan ada sedikit ketundukan kepada orang lain tersebut. Untuk itu, jika ada yang berbuat baik kepada kita, balaslah kebaikannya itu sebisa mungkin.Namun kata Nabi ﷺ, kalau kita tidak punya kemampuan maka do’akan orang yang telah berbuat baik kepada kita itu. Kita mengucapkan,جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allāh membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jami’ no. 6.368,  dari shahābat Usāmah bin Zayd)Boleh juga kita mengucapkan, “Terima kasih.” Kemudian kita doakan orang tersebut di dalam shalat kita atau pada kesempatan lainnya. Dalam riwayat disebutkan,فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Berdo’alah sampai kalian tahu bahwa kalian sudah bisa setimpal dalam membalas kebaikannya.” (HR. Imām Ahmad)Artinya, kita berdo’a dan berdo’a untuk orang yang telah berbuat baik kepada kita sampai menurut kita do’a-do’a itu sudah cukup untuk membalas kebaikannya.Kecuali jika orang yang membantu kita adalah orang yang memang menurut ‘urf (kebiasaan) dia tidak butuh balasan. Misalnya, seorang raja membantu kita, kita tidak perlu membalas. Namanya raja, kalau kita balas dia akan merasa malu, merasa dipermalukan, “Kok perlu dibalas?” Demikian pula orang lain yang secara kebiasaan memang tidak butuh dibalas. Kepada mereka ini cukuplah kita membalas dengan do’a.  Kita sering do’akan mereka dalam shalat kita dan dalam ibadah-ibadah kita.Maka kalau orang yang membantu kita adalah orang yang sederajat dengan kita atau lebih sedikit dari kita (tidak terlalu kaya) maka sebaiknya kita balas dengan harta sebagaimana dia memberikan harta kepada kita.  Hal itu akan lebih baik. Adapun kalau kita tidak mampu membalas, maka cukuplah dengan do’a.****MEDIA OFFICIAL* 🌏 Web | Firanda.com 📹 Youtube : youtube.com/firandaandirja 📺 Instagram : instagram.com/firanda_andirja_official 📠 Telegram : t.me/firanda_andirja 🎙️ Twitter : twitter.com/firanda_andirja 📱 Facebook : facebook.com/firandaandirja 🔊 Soundcloud : soundcloud.com/firanda-andirja

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 14 – Keutamaan Membalas Kebaikan

Sun #unsplashKeutamaan Membalas KebaikanOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MAوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “مَنِ اسْتَعاَذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيْذُوْهُ، وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوْهُ، وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فاَدْعُوْا لَهُ.” أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ.Dari shahābat Ibnu ‘Umar radhiyallāhu anhumā ia berkata, dari Rasūlullāh ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa yang memohon pertolongan kepada kalian dengan bertawasul (dengan menyebut nama Allāh) maka tolonglah dia. Dan barangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikan tersebut). Jika kalian tidak mendapati (apa yang bisa kalian buat balas kebaikan tersebut) maka do’akanlah dia (orang yang berbuat baik tersebut).” (HR. Imam Baihaqi, hadist shahīh, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahumullāh Ta’āla)Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh ﷻ, hadits ini mengandung 3 permasalahan, yaituPermasalahan PertamaBarangsiapa yang memohon perlindungan kepada kalian dengan menyebut nama Allãh ﷻ maka lindungilah.Kenapa? Karena dia meminta kepada kita dengan nama Allãh. Dia mengatakan, “Tolonglah aku, demi Allãh, tolonglah aku.” Maka kita harus menolong dia kalau kita mampu, karena sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allãh, karena dia telah minta kepada kita dengan nama Allãh ﷻ.Permasalahan KeduaBarangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Sama seperti yang pertama, jika kita mampu maka kita harus memenuhi permintaannya.Misalnya seseorang punya utang kepada kita dan dia belum mampu membayar sehingga ia mengatakan, “Demi Allãh, tolong beri aku kesempatan lagi, aku belum bisa bayar, tundalah jatuh temponya.”Kalau kita mampu, kita harus memberi kesempatan karena dia minta dengan nama Allãh, kita tunda waktu pembayaran utangnya.Demikian halnya jika seseorang minta sesuatu dengan nama Allãh yang kita mampu untuk memberikannya, maka penuhilah permintaannya karena kita mengagungkan Allãh ﷻ.Dengan memenuhi permintaan yang dilakukan dengan menyebut nama Allah, berarti kita telah mengagungkan Allãh ﷻ. Insya Allah kita pun pasti akan medapatkan pahala dari Allãh ﷻ.Namun semua itu, sebagaimana penjelasan para ulama, kalau tidak menimbulkan kemudharatan bagi kita. Jika seseorang meminta sesuatu kepada kita yang kita tidak mampui atau akan mendatangkan kemudharatan kepada kita, maka tidak perlu kita penuhi. Meskipun ia meminta dengan nama Allãh. Allãh ﷻ berfirman,لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا“Allãh tidak membebani seorang hamba di luar daripada kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Permasalahan KetigaBarangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikan tersebut.Ini adalah ajaran Nabi ﷺ, sehingga tatkala ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita berusaha membalas kebaikan itu agar kita tidak punya utang budi. Karena utang budi itu sesuatu yang tidak enak dirasakan oleh seseorang.Jika seseorang berusaha hanya tunduk kepada Allãh ﷻ tetapi punya utang budi kepada orang lain, maka akan ada sedikit ketundukan kepada orang lain tersebut. Untuk itu, jika ada yang berbuat baik kepada kita, balaslah kebaikannya itu sebisa mungkin.Namun kata Nabi ﷺ, kalau kita tidak punya kemampuan maka do’akan orang yang telah berbuat baik kepada kita itu. Kita mengucapkan,جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allāh membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jami’ no. 6.368,  dari shahābat Usāmah bin Zayd)Boleh juga kita mengucapkan, “Terima kasih.” Kemudian kita doakan orang tersebut di dalam shalat kita atau pada kesempatan lainnya. Dalam riwayat disebutkan,فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Berdo’alah sampai kalian tahu bahwa kalian sudah bisa setimpal dalam membalas kebaikannya.” (HR. Imām Ahmad)Artinya, kita berdo’a dan berdo’a untuk orang yang telah berbuat baik kepada kita sampai menurut kita do’a-do’a itu sudah cukup untuk membalas kebaikannya.Kecuali jika orang yang membantu kita adalah orang yang memang menurut ‘urf (kebiasaan) dia tidak butuh balasan. Misalnya, seorang raja membantu kita, kita tidak perlu membalas. Namanya raja, kalau kita balas dia akan merasa malu, merasa dipermalukan, “Kok perlu dibalas?” Demikian pula orang lain yang secara kebiasaan memang tidak butuh dibalas. Kepada mereka ini cukuplah kita membalas dengan do’a.  Kita sering do’akan mereka dalam shalat kita dan dalam ibadah-ibadah kita.Maka kalau orang yang membantu kita adalah orang yang sederajat dengan kita atau lebih sedikit dari kita (tidak terlalu kaya) maka sebaiknya kita balas dengan harta sebagaimana dia memberikan harta kepada kita.  Hal itu akan lebih baik. Adapun kalau kita tidak mampu membalas, maka cukuplah dengan do’a.****MEDIA OFFICIAL* 🌏 Web | Firanda.com 📹 Youtube : youtube.com/firandaandirja 📺 Instagram : instagram.com/firanda_andirja_official 📠 Telegram : t.me/firanda_andirja 🎙️ Twitter : twitter.com/firanda_andirja 📱 Facebook : facebook.com/firandaandirja 🔊 Soundcloud : soundcloud.com/firanda-andirja
Sun #unsplashKeutamaan Membalas KebaikanOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MAوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “مَنِ اسْتَعاَذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيْذُوْهُ، وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوْهُ، وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فاَدْعُوْا لَهُ.” أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ.Dari shahābat Ibnu ‘Umar radhiyallāhu anhumā ia berkata, dari Rasūlullāh ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa yang memohon pertolongan kepada kalian dengan bertawasul (dengan menyebut nama Allāh) maka tolonglah dia. Dan barangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikan tersebut). Jika kalian tidak mendapati (apa yang bisa kalian buat balas kebaikan tersebut) maka do’akanlah dia (orang yang berbuat baik tersebut).” (HR. Imam Baihaqi, hadist shahīh, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahumullāh Ta’āla)Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh ﷻ, hadits ini mengandung 3 permasalahan, yaituPermasalahan PertamaBarangsiapa yang memohon perlindungan kepada kalian dengan menyebut nama Allãh ﷻ maka lindungilah.Kenapa? Karena dia meminta kepada kita dengan nama Allãh. Dia mengatakan, “Tolonglah aku, demi Allãh, tolonglah aku.” Maka kita harus menolong dia kalau kita mampu, karena sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allãh, karena dia telah minta kepada kita dengan nama Allãh ﷻ.Permasalahan KeduaBarangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Sama seperti yang pertama, jika kita mampu maka kita harus memenuhi permintaannya.Misalnya seseorang punya utang kepada kita dan dia belum mampu membayar sehingga ia mengatakan, “Demi Allãh, tolong beri aku kesempatan lagi, aku belum bisa bayar, tundalah jatuh temponya.”Kalau kita mampu, kita harus memberi kesempatan karena dia minta dengan nama Allãh, kita tunda waktu pembayaran utangnya.Demikian halnya jika seseorang minta sesuatu dengan nama Allãh yang kita mampu untuk memberikannya, maka penuhilah permintaannya karena kita mengagungkan Allãh ﷻ.Dengan memenuhi permintaan yang dilakukan dengan menyebut nama Allah, berarti kita telah mengagungkan Allãh ﷻ. Insya Allah kita pun pasti akan medapatkan pahala dari Allãh ﷻ.Namun semua itu, sebagaimana penjelasan para ulama, kalau tidak menimbulkan kemudharatan bagi kita. Jika seseorang meminta sesuatu kepada kita yang kita tidak mampui atau akan mendatangkan kemudharatan kepada kita, maka tidak perlu kita penuhi. Meskipun ia meminta dengan nama Allãh. Allãh ﷻ berfirman,لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا“Allãh tidak membebani seorang hamba di luar daripada kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Permasalahan KetigaBarangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikan tersebut.Ini adalah ajaran Nabi ﷺ, sehingga tatkala ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita berusaha membalas kebaikan itu agar kita tidak punya utang budi. Karena utang budi itu sesuatu yang tidak enak dirasakan oleh seseorang.Jika seseorang berusaha hanya tunduk kepada Allãh ﷻ tetapi punya utang budi kepada orang lain, maka akan ada sedikit ketundukan kepada orang lain tersebut. Untuk itu, jika ada yang berbuat baik kepada kita, balaslah kebaikannya itu sebisa mungkin.Namun kata Nabi ﷺ, kalau kita tidak punya kemampuan maka do’akan orang yang telah berbuat baik kepada kita itu. Kita mengucapkan,جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allāh membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jami’ no. 6.368,  dari shahābat Usāmah bin Zayd)Boleh juga kita mengucapkan, “Terima kasih.” Kemudian kita doakan orang tersebut di dalam shalat kita atau pada kesempatan lainnya. Dalam riwayat disebutkan,فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Berdo’alah sampai kalian tahu bahwa kalian sudah bisa setimpal dalam membalas kebaikannya.” (HR. Imām Ahmad)Artinya, kita berdo’a dan berdo’a untuk orang yang telah berbuat baik kepada kita sampai menurut kita do’a-do’a itu sudah cukup untuk membalas kebaikannya.Kecuali jika orang yang membantu kita adalah orang yang memang menurut ‘urf (kebiasaan) dia tidak butuh balasan. Misalnya, seorang raja membantu kita, kita tidak perlu membalas. Namanya raja, kalau kita balas dia akan merasa malu, merasa dipermalukan, “Kok perlu dibalas?” Demikian pula orang lain yang secara kebiasaan memang tidak butuh dibalas. Kepada mereka ini cukuplah kita membalas dengan do’a.  Kita sering do’akan mereka dalam shalat kita dan dalam ibadah-ibadah kita.Maka kalau orang yang membantu kita adalah orang yang sederajat dengan kita atau lebih sedikit dari kita (tidak terlalu kaya) maka sebaiknya kita balas dengan harta sebagaimana dia memberikan harta kepada kita.  Hal itu akan lebih baik. Adapun kalau kita tidak mampu membalas, maka cukuplah dengan do’a.****MEDIA OFFICIAL* 🌏 Web | Firanda.com 📹 Youtube : youtube.com/firandaandirja 📺 Instagram : instagram.com/firanda_andirja_official 📠 Telegram : t.me/firanda_andirja 🎙️ Twitter : twitter.com/firanda_andirja 📱 Facebook : facebook.com/firandaandirja 🔊 Soundcloud : soundcloud.com/firanda-andirja


Sun #unsplashKeutamaan Membalas KebaikanOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MAوَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “مَنِ اسْتَعاَذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيْذُوْهُ، وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوْهُ، وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فاَدْعُوْا لَهُ.” أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ.Dari shahābat Ibnu ‘Umar radhiyallāhu anhumā ia berkata, dari Rasūlullāh ﷺ, beliau bersabda, “Barangsiapa yang memohon pertolongan kepada kalian dengan bertawasul (dengan menyebut nama Allāh) maka tolonglah dia. Dan barangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikan tersebut). Jika kalian tidak mendapati (apa yang bisa kalian buat balas kebaikan tersebut) maka do’akanlah dia (orang yang berbuat baik tersebut).” (HR. Imam Baihaqi, hadist shahīh, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahumullāh Ta’āla)Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh ﷻ, hadits ini mengandung 3 permasalahan, yaituPermasalahan PertamaBarangsiapa yang memohon perlindungan kepada kalian dengan menyebut nama Allãh ﷻ maka lindungilah.Kenapa? Karena dia meminta kepada kita dengan nama Allãh. Dia mengatakan, “Tolonglah aku, demi Allãh, tolonglah aku.” Maka kita harus menolong dia kalau kita mampu, karena sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allãh, karena dia telah minta kepada kita dengan nama Allãh ﷻ.Permasalahan KeduaBarangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Sama seperti yang pertama, jika kita mampu maka kita harus memenuhi permintaannya.Misalnya seseorang punya utang kepada kita dan dia belum mampu membayar sehingga ia mengatakan, “Demi Allãh, tolong beri aku kesempatan lagi, aku belum bisa bayar, tundalah jatuh temponya.”Kalau kita mampu, kita harus memberi kesempatan karena dia minta dengan nama Allãh, kita tunda waktu pembayaran utangnya.Demikian halnya jika seseorang minta sesuatu dengan nama Allãh yang kita mampu untuk memberikannya, maka penuhilah permintaannya karena kita mengagungkan Allãh ﷻ.Dengan memenuhi permintaan yang dilakukan dengan menyebut nama Allah, berarti kita telah mengagungkan Allãh ﷻ. Insya Allah kita pun pasti akan medapatkan pahala dari Allãh ﷻ.Namun semua itu, sebagaimana penjelasan para ulama, kalau tidak menimbulkan kemudharatan bagi kita. Jika seseorang meminta sesuatu kepada kita yang kita tidak mampui atau akan mendatangkan kemudharatan kepada kita, maka tidak perlu kita penuhi. Meskipun ia meminta dengan nama Allãh. Allãh ﷻ berfirman,لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا“Allãh tidak membebani seorang hamba di luar daripada kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)Permasalahan KetigaBarangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikan tersebut.Ini adalah ajaran Nabi ﷺ, sehingga tatkala ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita berusaha membalas kebaikan itu agar kita tidak punya utang budi. Karena utang budi itu sesuatu yang tidak enak dirasakan oleh seseorang.Jika seseorang berusaha hanya tunduk kepada Allãh ﷻ tetapi punya utang budi kepada orang lain, maka akan ada sedikit ketundukan kepada orang lain tersebut. Untuk itu, jika ada yang berbuat baik kepada kita, balaslah kebaikannya itu sebisa mungkin.Namun kata Nabi ﷺ, kalau kita tidak punya kemampuan maka do’akan orang yang telah berbuat baik kepada kita itu. Kita mengucapkan,جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allāh membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jami’ no. 6.368,  dari shahābat Usāmah bin Zayd)Boleh juga kita mengucapkan, “Terima kasih.” Kemudian kita doakan orang tersebut di dalam shalat kita atau pada kesempatan lainnya. Dalam riwayat disebutkan,فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Berdo’alah sampai kalian tahu bahwa kalian sudah bisa setimpal dalam membalas kebaikannya.” (HR. Imām Ahmad)Artinya, kita berdo’a dan berdo’a untuk orang yang telah berbuat baik kepada kita sampai menurut kita do’a-do’a itu sudah cukup untuk membalas kebaikannya.Kecuali jika orang yang membantu kita adalah orang yang memang menurut ‘urf (kebiasaan) dia tidak butuh balasan. Misalnya, seorang raja membantu kita, kita tidak perlu membalas. Namanya raja, kalau kita balas dia akan merasa malu, merasa dipermalukan, “Kok perlu dibalas?” Demikian pula orang lain yang secara kebiasaan memang tidak butuh dibalas. Kepada mereka ini cukuplah kita membalas dengan do’a.  Kita sering do’akan mereka dalam shalat kita dan dalam ibadah-ibadah kita.Maka kalau orang yang membantu kita adalah orang yang sederajat dengan kita atau lebih sedikit dari kita (tidak terlalu kaya) maka sebaiknya kita balas dengan harta sebagaimana dia memberikan harta kepada kita.  Hal itu akan lebih baik. Adapun kalau kita tidak mampu membalas, maka cukuplah dengan do’a.****MEDIA OFFICIAL* 🌏 Web | Firanda.com 📹 Youtube : youtube.com/firandaandirja 📺 Instagram : instagram.com/firanda_andirja_official 📠 Telegram : t.me/firanda_andirja 🎙️ Twitter : twitter.com/firanda_andirja 📱 Facebook : facebook.com/firandaandirja 🔊 Soundcloud : soundcloud.com/firanda-andirja

Hukum Jual Beli Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa

Apa hukum jual beli gambar dan patung makhluk bernyawa? Dari seorang tabiin, Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma . Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, ‘Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.’ Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kemudian berkata, ‘Tidaklah yang kusampaikan kepadamu selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal, ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.’ Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.’” (HR. Bukhari, no. 2225 dan Muslim, no. 2110) Hadits ini jadi dalil dilarang melukis sesuatu yang memiliki ruh dan dilarang bekerja sebagai seorang pelukis gambar semacam itu. Daftar Isi tutup 1. Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah 2. Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung 3. Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah Syirik adalah menyamakan Sang Khalik dengan makhluk. Ingat, syirik adalah kezaliman yang paling besar. Allah mengharamkan perbuatan syirik sebagaimana disebutkan dalam ayat, ۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” (QS. Al-An’am: 151) Seluruh benda yang digunakan untuk syirik dilarang diperjual belikan dan keuntungannya termasuk harta haram. Patung yang disembah seperti patung Budha, patung Nabi Isa, patung Bunda Maria, jimat, benda keramat seperti keris, pedang, cincin, air keramat, peci, atau benda-benda yang dipakai oleh seorang tokoh yang dikeramatkan, hewan-hewan yang dianggap mendatangkan berkah, gambar-gambar horoskop, semua ini haram untuk diperjualbelikan. Benda yang digunakan dalam ritual kesyirikan: Ayam hitam Salib Bunga valentine Pohon natal Kartu ucapan selamat natal Bintang David Menjual buku-buku yang merusak akidah juga dihukumi haram. Baca Juga: Solusi Agar Terhindar dari Ritual Pesugihan Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung Mengenai alasan haramnya jual beli patung, sebagian ulama mengatakan bahwa karena tidak ada manfaatnya. Ada yang berpendapat, jika patung tersebut dihancurkan, lalu yang sudah hancur tersebut dijual, baru dibolehkan. Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan, “Alasan larangan jual beli patung karena adanya larangan jual beli benda tersebut. Namun, boleh menjual yang sudah dihancurkan karena bukan lagi disebut patung atau berhala (ash-nam). Tidak ada satu pun dalil yang melarang jual beli patung yang sudah dihancurkan.” (Subul As-Salam, 5:11) Alasan lainnya dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan bahwa patung dilarang diperjualbelikan karena dapat mencederai agama serta sebagai perantara menuju kesyirikan.  Sama halnya dengan jual beli salib dan kitab yang berisi kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah, juga dihukumi haram. Wallahu a’lam. (Minhah Al-‘Allam, 6:17) Yang menunjukkan bahwa membuat patung adalah perantara menuju kesyirikan disebutkan dalam perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata, “Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ulama lainnya mengatakan bahwa mereka yang disebut dalam surah Nuh adalah orang-orang saleh di kaum Nuh. Ketika mereka wafat, orang-orang beriktikaf di sisi kubur mereka. Lalu mereka membuat patung orang saleh tersebut. Lantas orang saleh tersebut disembah. Ini sudah masyhur dalam kitab tafsir dan hadits, serta selainnya seperti disebutkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 1:151) Ayat yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah, وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23). Ibnu Katsir berkata bahwa ini adalah nama-nama berhala-berhala orang musyrik. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 389. Disebutkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa berhala-berhala tersebut adalah berhala yang disembah di zaman Nabi Nuh. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 390. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kesyirikan yang muncul di masa Nabi Nuh bahwasanya awal mula kesyirikan itu muncul dari sikap berlebihan terhadap orang saleh. Di antara sikap berlebihan adalah beriktikaf (bersemedi atau berdiam) di kuburnya, berdoa di sisi kubur orang saleh, membuatkan patung atau monumen untuk mengenang mereka. Baca Juga: Bantahan untuk Orang Musyrik (3): Patung Orang Musyrik Hanya Sebagai Perantara Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Membuat patung dan lukisan yang menyerupai manusia dan hewan, haram dimiliki, wajib dimusnahkan. Patung dan lukisan apakah benar karya seni? Jelas ini dilarang berdasarkan dalil yang sifatnya umum, baik patung dan lukisan disembah ataukah tidak. Karena bagi para pelukis dan pembuat patung, ia diperintahkan untuk meniupkan nyawa pada lukisan atau patung yang ia buat. Patung dan lukisan itu bukan suatu yang bernilai karena diperintahkan untuk dimusnahkan. Patung dan lukisan jika dijual termasuk harta haram. Semoga bermanfaat, moga Allah beri taufik dan hidayah.   Baca Juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang Hukum Menjual Coklat dan Kado Valentine — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 2 Februari 2021 (20 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberhala foto gambar harta haram hukum foto hukum gambar hukum patung patung

Hukum Jual Beli Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa

Apa hukum jual beli gambar dan patung makhluk bernyawa? Dari seorang tabiin, Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma . Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, ‘Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.’ Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kemudian berkata, ‘Tidaklah yang kusampaikan kepadamu selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal, ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.’ Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.’” (HR. Bukhari, no. 2225 dan Muslim, no. 2110) Hadits ini jadi dalil dilarang melukis sesuatu yang memiliki ruh dan dilarang bekerja sebagai seorang pelukis gambar semacam itu. Daftar Isi tutup 1. Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah 2. Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung 3. Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah Syirik adalah menyamakan Sang Khalik dengan makhluk. Ingat, syirik adalah kezaliman yang paling besar. Allah mengharamkan perbuatan syirik sebagaimana disebutkan dalam ayat, ۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” (QS. Al-An’am: 151) Seluruh benda yang digunakan untuk syirik dilarang diperjual belikan dan keuntungannya termasuk harta haram. Patung yang disembah seperti patung Budha, patung Nabi Isa, patung Bunda Maria, jimat, benda keramat seperti keris, pedang, cincin, air keramat, peci, atau benda-benda yang dipakai oleh seorang tokoh yang dikeramatkan, hewan-hewan yang dianggap mendatangkan berkah, gambar-gambar horoskop, semua ini haram untuk diperjualbelikan. Benda yang digunakan dalam ritual kesyirikan: Ayam hitam Salib Bunga valentine Pohon natal Kartu ucapan selamat natal Bintang David Menjual buku-buku yang merusak akidah juga dihukumi haram. Baca Juga: Solusi Agar Terhindar dari Ritual Pesugihan Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung Mengenai alasan haramnya jual beli patung, sebagian ulama mengatakan bahwa karena tidak ada manfaatnya. Ada yang berpendapat, jika patung tersebut dihancurkan, lalu yang sudah hancur tersebut dijual, baru dibolehkan. Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan, “Alasan larangan jual beli patung karena adanya larangan jual beli benda tersebut. Namun, boleh menjual yang sudah dihancurkan karena bukan lagi disebut patung atau berhala (ash-nam). Tidak ada satu pun dalil yang melarang jual beli patung yang sudah dihancurkan.” (Subul As-Salam, 5:11) Alasan lainnya dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan bahwa patung dilarang diperjualbelikan karena dapat mencederai agama serta sebagai perantara menuju kesyirikan.  Sama halnya dengan jual beli salib dan kitab yang berisi kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah, juga dihukumi haram. Wallahu a’lam. (Minhah Al-‘Allam, 6:17) Yang menunjukkan bahwa membuat patung adalah perantara menuju kesyirikan disebutkan dalam perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata, “Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ulama lainnya mengatakan bahwa mereka yang disebut dalam surah Nuh adalah orang-orang saleh di kaum Nuh. Ketika mereka wafat, orang-orang beriktikaf di sisi kubur mereka. Lalu mereka membuat patung orang saleh tersebut. Lantas orang saleh tersebut disembah. Ini sudah masyhur dalam kitab tafsir dan hadits, serta selainnya seperti disebutkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 1:151) Ayat yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah, وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23). Ibnu Katsir berkata bahwa ini adalah nama-nama berhala-berhala orang musyrik. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 389. Disebutkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa berhala-berhala tersebut adalah berhala yang disembah di zaman Nabi Nuh. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 390. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kesyirikan yang muncul di masa Nabi Nuh bahwasanya awal mula kesyirikan itu muncul dari sikap berlebihan terhadap orang saleh. Di antara sikap berlebihan adalah beriktikaf (bersemedi atau berdiam) di kuburnya, berdoa di sisi kubur orang saleh, membuatkan patung atau monumen untuk mengenang mereka. Baca Juga: Bantahan untuk Orang Musyrik (3): Patung Orang Musyrik Hanya Sebagai Perantara Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Membuat patung dan lukisan yang menyerupai manusia dan hewan, haram dimiliki, wajib dimusnahkan. Patung dan lukisan apakah benar karya seni? Jelas ini dilarang berdasarkan dalil yang sifatnya umum, baik patung dan lukisan disembah ataukah tidak. Karena bagi para pelukis dan pembuat patung, ia diperintahkan untuk meniupkan nyawa pada lukisan atau patung yang ia buat. Patung dan lukisan itu bukan suatu yang bernilai karena diperintahkan untuk dimusnahkan. Patung dan lukisan jika dijual termasuk harta haram. Semoga bermanfaat, moga Allah beri taufik dan hidayah.   Baca Juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang Hukum Menjual Coklat dan Kado Valentine — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 2 Februari 2021 (20 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberhala foto gambar harta haram hukum foto hukum gambar hukum patung patung
Apa hukum jual beli gambar dan patung makhluk bernyawa? Dari seorang tabiin, Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma . Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, ‘Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.’ Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kemudian berkata, ‘Tidaklah yang kusampaikan kepadamu selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal, ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.’ Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.’” (HR. Bukhari, no. 2225 dan Muslim, no. 2110) Hadits ini jadi dalil dilarang melukis sesuatu yang memiliki ruh dan dilarang bekerja sebagai seorang pelukis gambar semacam itu. Daftar Isi tutup 1. Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah 2. Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung 3. Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah Syirik adalah menyamakan Sang Khalik dengan makhluk. Ingat, syirik adalah kezaliman yang paling besar. Allah mengharamkan perbuatan syirik sebagaimana disebutkan dalam ayat, ۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” (QS. Al-An’am: 151) Seluruh benda yang digunakan untuk syirik dilarang diperjual belikan dan keuntungannya termasuk harta haram. Patung yang disembah seperti patung Budha, patung Nabi Isa, patung Bunda Maria, jimat, benda keramat seperti keris, pedang, cincin, air keramat, peci, atau benda-benda yang dipakai oleh seorang tokoh yang dikeramatkan, hewan-hewan yang dianggap mendatangkan berkah, gambar-gambar horoskop, semua ini haram untuk diperjualbelikan. Benda yang digunakan dalam ritual kesyirikan: Ayam hitam Salib Bunga valentine Pohon natal Kartu ucapan selamat natal Bintang David Menjual buku-buku yang merusak akidah juga dihukumi haram. Baca Juga: Solusi Agar Terhindar dari Ritual Pesugihan Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung Mengenai alasan haramnya jual beli patung, sebagian ulama mengatakan bahwa karena tidak ada manfaatnya. Ada yang berpendapat, jika patung tersebut dihancurkan, lalu yang sudah hancur tersebut dijual, baru dibolehkan. Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan, “Alasan larangan jual beli patung karena adanya larangan jual beli benda tersebut. Namun, boleh menjual yang sudah dihancurkan karena bukan lagi disebut patung atau berhala (ash-nam). Tidak ada satu pun dalil yang melarang jual beli patung yang sudah dihancurkan.” (Subul As-Salam, 5:11) Alasan lainnya dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan bahwa patung dilarang diperjualbelikan karena dapat mencederai agama serta sebagai perantara menuju kesyirikan.  Sama halnya dengan jual beli salib dan kitab yang berisi kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah, juga dihukumi haram. Wallahu a’lam. (Minhah Al-‘Allam, 6:17) Yang menunjukkan bahwa membuat patung adalah perantara menuju kesyirikan disebutkan dalam perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata, “Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ulama lainnya mengatakan bahwa mereka yang disebut dalam surah Nuh adalah orang-orang saleh di kaum Nuh. Ketika mereka wafat, orang-orang beriktikaf di sisi kubur mereka. Lalu mereka membuat patung orang saleh tersebut. Lantas orang saleh tersebut disembah. Ini sudah masyhur dalam kitab tafsir dan hadits, serta selainnya seperti disebutkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 1:151) Ayat yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah, وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23). Ibnu Katsir berkata bahwa ini adalah nama-nama berhala-berhala orang musyrik. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 389. Disebutkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa berhala-berhala tersebut adalah berhala yang disembah di zaman Nabi Nuh. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 390. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kesyirikan yang muncul di masa Nabi Nuh bahwasanya awal mula kesyirikan itu muncul dari sikap berlebihan terhadap orang saleh. Di antara sikap berlebihan adalah beriktikaf (bersemedi atau berdiam) di kuburnya, berdoa di sisi kubur orang saleh, membuatkan patung atau monumen untuk mengenang mereka. Baca Juga: Bantahan untuk Orang Musyrik (3): Patung Orang Musyrik Hanya Sebagai Perantara Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Membuat patung dan lukisan yang menyerupai manusia dan hewan, haram dimiliki, wajib dimusnahkan. Patung dan lukisan apakah benar karya seni? Jelas ini dilarang berdasarkan dalil yang sifatnya umum, baik patung dan lukisan disembah ataukah tidak. Karena bagi para pelukis dan pembuat patung, ia diperintahkan untuk meniupkan nyawa pada lukisan atau patung yang ia buat. Patung dan lukisan itu bukan suatu yang bernilai karena diperintahkan untuk dimusnahkan. Patung dan lukisan jika dijual termasuk harta haram. Semoga bermanfaat, moga Allah beri taufik dan hidayah.   Baca Juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang Hukum Menjual Coklat dan Kado Valentine — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 2 Februari 2021 (20 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberhala foto gambar harta haram hukum foto hukum gambar hukum patung patung


Apa hukum jual beli gambar dan patung makhluk bernyawa? Dari seorang tabiin, Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata, كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma . Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, ‘Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.’ Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kemudian berkata, ‘Tidaklah yang kusampaikan kepadamu selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal, ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.’ Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.’” (HR. Bukhari, no. 2225 dan Muslim, no. 2110) Hadits ini jadi dalil dilarang melukis sesuatu yang memiliki ruh dan dilarang bekerja sebagai seorang pelukis gambar semacam itu. Daftar Isi tutup 1. Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah 2. Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung 3. Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Pembahasan: Jual beli benda-benda yang mengandung unsur kesyirikan seperti patung yang disembah Syirik adalah menyamakan Sang Khalik dengan makhluk. Ingat, syirik adalah kezaliman yang paling besar. Allah mengharamkan perbuatan syirik sebagaimana disebutkan dalam ayat, ۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” (QS. Al-An’am: 151) Seluruh benda yang digunakan untuk syirik dilarang diperjual belikan dan keuntungannya termasuk harta haram. Patung yang disembah seperti patung Budha, patung Nabi Isa, patung Bunda Maria, jimat, benda keramat seperti keris, pedang, cincin, air keramat, peci, atau benda-benda yang dipakai oleh seorang tokoh yang dikeramatkan, hewan-hewan yang dianggap mendatangkan berkah, gambar-gambar horoskop, semua ini haram untuk diperjualbelikan. Benda yang digunakan dalam ritual kesyirikan: Ayam hitam Salib Bunga valentine Pohon natal Kartu ucapan selamat natal Bintang David Menjual buku-buku yang merusak akidah juga dihukumi haram. Baca Juga: Solusi Agar Terhindar dari Ritual Pesugihan Pembahasan: Alasan haramnya jual beli patung Mengenai alasan haramnya jual beli patung, sebagian ulama mengatakan bahwa karena tidak ada manfaatnya. Ada yang berpendapat, jika patung tersebut dihancurkan, lalu yang sudah hancur tersebut dijual, baru dibolehkan. Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan, “Alasan larangan jual beli patung karena adanya larangan jual beli benda tersebut. Namun, boleh menjual yang sudah dihancurkan karena bukan lagi disebut patung atau berhala (ash-nam). Tidak ada satu pun dalil yang melarang jual beli patung yang sudah dihancurkan.” (Subul As-Salam, 5:11) Alasan lainnya dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan bahwa patung dilarang diperjualbelikan karena dapat mencederai agama serta sebagai perantara menuju kesyirikan.  Sama halnya dengan jual beli salib dan kitab yang berisi kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah, juga dihukumi haram. Wallahu a’lam. (Minhah Al-‘Allam, 6:17) Yang menunjukkan bahwa membuat patung adalah perantara menuju kesyirikan disebutkan dalam perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata, “Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ulama lainnya mengatakan bahwa mereka yang disebut dalam surah Nuh adalah orang-orang saleh di kaum Nuh. Ketika mereka wafat, orang-orang beriktikaf di sisi kubur mereka. Lalu mereka membuat patung orang saleh tersebut. Lantas orang saleh tersebut disembah. Ini sudah masyhur dalam kitab tafsir dan hadits, serta selainnya seperti disebutkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 1:151) Ayat yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah, وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23). Ibnu Katsir berkata bahwa ini adalah nama-nama berhala-berhala orang musyrik. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 389. Disebutkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa berhala-berhala tersebut adalah berhala yang disembah di zaman Nabi Nuh. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 390. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kesyirikan yang muncul di masa Nabi Nuh bahwasanya awal mula kesyirikan itu muncul dari sikap berlebihan terhadap orang saleh. Di antara sikap berlebihan adalah beriktikaf (bersemedi atau berdiam) di kuburnya, berdoa di sisi kubur orang saleh, membuatkan patung atau monumen untuk mengenang mereka. Baca Juga: Bantahan untuk Orang Musyrik (3): Patung Orang Musyrik Hanya Sebagai Perantara Pembahasan: Hukum menjual patung dan lukisan yang tidak disembah Membuat patung dan lukisan yang menyerupai manusia dan hewan, haram dimiliki, wajib dimusnahkan. Patung dan lukisan apakah benar karya seni? Jelas ini dilarang berdasarkan dalil yang sifatnya umum, baik patung dan lukisan disembah ataukah tidak. Karena bagi para pelukis dan pembuat patung, ia diperintahkan untuk meniupkan nyawa pada lukisan atau patung yang ia buat. Patung dan lukisan itu bukan suatu yang bernilai karena diperintahkan untuk dimusnahkan. Patung dan lukisan jika dijual termasuk harta haram. Semoga bermanfaat, moga Allah beri taufik dan hidayah.   Baca Juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang Hukum Menjual Coklat dan Kado Valentine — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 2 Februari 2021 (20 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsberhala foto gambar harta haram hukum foto hukum gambar hukum patung patung

Hukum Belajar Ilmu Alat kepada Ahlul Bidah

Bagaimana hukum belajar ilmu alat seperti bahasa Arab (nahwu, saraf, imla, balaghah, badi’, khat, dll.) atau ilmu Alquraan (tajwid, tahsin, qiraah, dll.) kepada ahlul bid’ah ketika yang ada hanya mereka?Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah menjelaskan, dalam keadaan tidak ada guru yang dari kalangan orang-orang yang berpegang pada manhaj salaf, dibolehkan belajar ilmu alat dari orang-orang yang tidak bermanhaj salaf dengan dua syarat:Pertama, orang yang mau belajar tersebut harus sudah paham akidah yang benar dan ilmu syar’i secara umum.Kedua, orang yang mau belajar tersebut haruslah orang yang cerdas dan tidak mudah terpengaruh.(Fatwa lengkap: http://bit.ly/2LpXjJF)Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah juga ketika ditanya perihal yang sama, beliau menjawab,إذا كان هو متمكنا في العقيدة جاز ، وإلا فلا“Kalau orang yang hendak belajar tersebut sudah mantap ilmu aqidahnya, maka boleh. Jika belum, maka tidak boleh” (Fatwa lengkap: http://bit.ly/35cX8s7).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menasihatkan untuk orang yang tinggal di daerah yang tidak ada guru dari kalangan ahlus sunnah, agar berusaha belajar dari guru dari kalangan ahlus sunnah melalui media komunikasi, atau berkunjung ke daerah yang ada guru di sana, atau upaya-upaya yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah juga mengatakan,وإذا كان يريد أن يتعلم منهم فلا يتعلم منهم، حتى لو كان في غير العقيدة، حتى لو كان يدرسهم في النحو أو البلاغة. لا تقربهم؛ لأنهم قد يدسون السم في الدسم“Jika tujuan dari duduk di majelis ahlul bidah adalah untuk belajar, maka ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan untuk belajar akidah. Walaupun yang dipelajari adalah nahwu atau balaghah. Jangan dekati mereka. Karena dikhawatirkan akan mereka akan menyelipkan racun di dalam lemak” (Liqa Baabil Maftuh, rekaman nomor 162).Kesimpulan, tidak boleh bermudah-mudahan belajar ilmu alat kepada ahlul bidah, kecuali tidak ada lagi orang yang bisa mengajarkan kecuali mereka dan sudah punya dasar akidah dan manhaj yang kuat.Baca Juga:Wallahu Ta’ala a’lam.Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Laki Laki, Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim, Mencela, Surat Toha Dan Artinya, Kirim Alfatihah Untuk Orang Yang Masih Hidup

Hukum Belajar Ilmu Alat kepada Ahlul Bidah

Bagaimana hukum belajar ilmu alat seperti bahasa Arab (nahwu, saraf, imla, balaghah, badi’, khat, dll.) atau ilmu Alquraan (tajwid, tahsin, qiraah, dll.) kepada ahlul bid’ah ketika yang ada hanya mereka?Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah menjelaskan, dalam keadaan tidak ada guru yang dari kalangan orang-orang yang berpegang pada manhaj salaf, dibolehkan belajar ilmu alat dari orang-orang yang tidak bermanhaj salaf dengan dua syarat:Pertama, orang yang mau belajar tersebut harus sudah paham akidah yang benar dan ilmu syar’i secara umum.Kedua, orang yang mau belajar tersebut haruslah orang yang cerdas dan tidak mudah terpengaruh.(Fatwa lengkap: http://bit.ly/2LpXjJF)Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah juga ketika ditanya perihal yang sama, beliau menjawab,إذا كان هو متمكنا في العقيدة جاز ، وإلا فلا“Kalau orang yang hendak belajar tersebut sudah mantap ilmu aqidahnya, maka boleh. Jika belum, maka tidak boleh” (Fatwa lengkap: http://bit.ly/35cX8s7).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menasihatkan untuk orang yang tinggal di daerah yang tidak ada guru dari kalangan ahlus sunnah, agar berusaha belajar dari guru dari kalangan ahlus sunnah melalui media komunikasi, atau berkunjung ke daerah yang ada guru di sana, atau upaya-upaya yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah juga mengatakan,وإذا كان يريد أن يتعلم منهم فلا يتعلم منهم، حتى لو كان في غير العقيدة، حتى لو كان يدرسهم في النحو أو البلاغة. لا تقربهم؛ لأنهم قد يدسون السم في الدسم“Jika tujuan dari duduk di majelis ahlul bidah adalah untuk belajar, maka ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan untuk belajar akidah. Walaupun yang dipelajari adalah nahwu atau balaghah. Jangan dekati mereka. Karena dikhawatirkan akan mereka akan menyelipkan racun di dalam lemak” (Liqa Baabil Maftuh, rekaman nomor 162).Kesimpulan, tidak boleh bermudah-mudahan belajar ilmu alat kepada ahlul bidah, kecuali tidak ada lagi orang yang bisa mengajarkan kecuali mereka dan sudah punya dasar akidah dan manhaj yang kuat.Baca Juga:Wallahu Ta’ala a’lam.Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Laki Laki, Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim, Mencela, Surat Toha Dan Artinya, Kirim Alfatihah Untuk Orang Yang Masih Hidup
Bagaimana hukum belajar ilmu alat seperti bahasa Arab (nahwu, saraf, imla, balaghah, badi’, khat, dll.) atau ilmu Alquraan (tajwid, tahsin, qiraah, dll.) kepada ahlul bid’ah ketika yang ada hanya mereka?Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah menjelaskan, dalam keadaan tidak ada guru yang dari kalangan orang-orang yang berpegang pada manhaj salaf, dibolehkan belajar ilmu alat dari orang-orang yang tidak bermanhaj salaf dengan dua syarat:Pertama, orang yang mau belajar tersebut harus sudah paham akidah yang benar dan ilmu syar’i secara umum.Kedua, orang yang mau belajar tersebut haruslah orang yang cerdas dan tidak mudah terpengaruh.(Fatwa lengkap: http://bit.ly/2LpXjJF)Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah juga ketika ditanya perihal yang sama, beliau menjawab,إذا كان هو متمكنا في العقيدة جاز ، وإلا فلا“Kalau orang yang hendak belajar tersebut sudah mantap ilmu aqidahnya, maka boleh. Jika belum, maka tidak boleh” (Fatwa lengkap: http://bit.ly/35cX8s7).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menasihatkan untuk orang yang tinggal di daerah yang tidak ada guru dari kalangan ahlus sunnah, agar berusaha belajar dari guru dari kalangan ahlus sunnah melalui media komunikasi, atau berkunjung ke daerah yang ada guru di sana, atau upaya-upaya yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah juga mengatakan,وإذا كان يريد أن يتعلم منهم فلا يتعلم منهم، حتى لو كان في غير العقيدة، حتى لو كان يدرسهم في النحو أو البلاغة. لا تقربهم؛ لأنهم قد يدسون السم في الدسم“Jika tujuan dari duduk di majelis ahlul bidah adalah untuk belajar, maka ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan untuk belajar akidah. Walaupun yang dipelajari adalah nahwu atau balaghah. Jangan dekati mereka. Karena dikhawatirkan akan mereka akan menyelipkan racun di dalam lemak” (Liqa Baabil Maftuh, rekaman nomor 162).Kesimpulan, tidak boleh bermudah-mudahan belajar ilmu alat kepada ahlul bidah, kecuali tidak ada lagi orang yang bisa mengajarkan kecuali mereka dan sudah punya dasar akidah dan manhaj yang kuat.Baca Juga:Wallahu Ta’ala a’lam.Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Laki Laki, Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim, Mencela, Surat Toha Dan Artinya, Kirim Alfatihah Untuk Orang Yang Masih Hidup


Bagaimana hukum belajar ilmu alat seperti bahasa Arab (nahwu, saraf, imla, balaghah, badi’, khat, dll.) atau ilmu Alquraan (tajwid, tahsin, qiraah, dll.) kepada ahlul bid’ah ketika yang ada hanya mereka?Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah menjelaskan, dalam keadaan tidak ada guru yang dari kalangan orang-orang yang berpegang pada manhaj salaf, dibolehkan belajar ilmu alat dari orang-orang yang tidak bermanhaj salaf dengan dua syarat:Pertama, orang yang mau belajar tersebut harus sudah paham akidah yang benar dan ilmu syar’i secara umum.Kedua, orang yang mau belajar tersebut haruslah orang yang cerdas dan tidak mudah terpengaruh.(Fatwa lengkap: http://bit.ly/2LpXjJF)Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah juga ketika ditanya perihal yang sama, beliau menjawab,إذا كان هو متمكنا في العقيدة جاز ، وإلا فلا“Kalau orang yang hendak belajar tersebut sudah mantap ilmu aqidahnya, maka boleh. Jika belum, maka tidak boleh” (Fatwa lengkap: http://bit.ly/35cX8s7).Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menasihatkan untuk orang yang tinggal di daerah yang tidak ada guru dari kalangan ahlus sunnah, agar berusaha belajar dari guru dari kalangan ahlus sunnah melalui media komunikasi, atau berkunjung ke daerah yang ada guru di sana, atau upaya-upaya yang lain.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah juga mengatakan,وإذا كان يريد أن يتعلم منهم فلا يتعلم منهم، حتى لو كان في غير العقيدة، حتى لو كان يدرسهم في النحو أو البلاغة. لا تقربهم؛ لأنهم قد يدسون السم في الدسم“Jika tujuan dari duduk di majelis ahlul bidah adalah untuk belajar, maka ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan untuk belajar akidah. Walaupun yang dipelajari adalah nahwu atau balaghah. Jangan dekati mereka. Karena dikhawatirkan akan mereka akan menyelipkan racun di dalam lemak” (Liqa Baabil Maftuh, rekaman nomor 162).Kesimpulan, tidak boleh bermudah-mudahan belajar ilmu alat kepada ahlul bidah, kecuali tidak ada lagi orang yang bisa mengajarkan kecuali mereka dan sudah punya dasar akidah dan manhaj yang kuat.Baca Juga:Wallahu Ta’ala a’lam.Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Laki Laki, Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim, Mencela, Surat Toha Dan Artinya, Kirim Alfatihah Untuk Orang Yang Masih Hidup

Hubungan antara Seorang Hamba dengan Rabb dan dengan Sesama Manusia

Menjaga hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan menjaga hubungan antar sesama manusia (hablun minannas) merupakan hal yang sangat penting bagi seorang hamba yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Menjaga hablun minallah tentu saja dilakukan dengan memaksimalkan ibadah kepada-Nya dengan mempelajari dan mengamalkan segala konsekuensinya.Sementara menjaga hablun minannaas bukan berarti mencari rida manusia dengan mengorbankan konsekuensi hablun minallah. Menjaga hubungan dengan sesama manusia memang perkara yang penting. Namun, menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala adalah perkara yang jauh lebih penting. Tentu saja manusia yang cerdas adalah yang mampu menjaga hubungannya sesama manusia tanpa melanggar segala konsekuensi yang dapat merusak hubungannya dengan Alla Ta’ala.Perusak hubungan antara manusia dengan Rabbnya“Kaca yang pecah, jika disusun (disambung) kembali, tetap tidak akan sama dengan semula.”Sebuah ungkapan bijak yang populer, khususnya di kalangan remaja yang berada dalam masa pubertas. Menggambarkan perasaan yang hancur karena suatu sebab, baik karena hubungan yang bermasalah dengan orang tua maupun dengan teman-temannya. Kalimat tersebut memang dapat merefleksikan hubungan antar sesama manusia. Akan tetapi, apakah kalimat itu berlaku bagi Allah Ta’ala?Jawabannya tentu saja tidak. Karena Allah Ta’ala adalah Rabb Yang Maha Pengampun atas segala perbuatan dosa-dosa hamba-Nya yang setiap hari berbuat kekeliruan. Akan tetapi, ada sebuah perbuatan dosa yang sangat fatal dan dapat merusak hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dosa itu bernama “kesyirikan“. Itu pun masih ada celah untuk memperbaikinya dengan bertaubat sebelum ajal datang.Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar kedua makhluk ini senantiasa menyembah Rabbnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Konsekuensi yang paling penting dalam hal menyembah kepada Allah Ta’ala adalah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perbuatan menyekutukan Allah merupakan bentuk kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar dan tidak akan mendapatkan ampunan kecuali dengan bertaubat sebelum ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa’: 48).Kaidah-kaidah tentang kesyirikan tersebut tentu menjadi suatu hal yang umum diketahui oleh kaum muslimin. Namun, kaidah-kaidah tentang bentuk-bentuk ibadah secara rinci masih banyak yang tidak diketahui oleh sebagian besar muslimin.Banyak yang melakukan suatu ritual tertentu yang terlihat seperti ritual adat biasa, namun mengandung makna ibadah di dalamnya. Sedangkan maksud dari pelaku ritual tersebut bukanlah untuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Maka jatuhlah dia kepada kesyirikan. Seperti ritual sedekah bumi atau sedekah laut dimana di dalamnya ada penyembelihan hewan yang diniatkan untuk persembahan kepada bumi yang subur atau laut yang sedang berlimpahan ikan. Padahal menyembelih merupakan perkara ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’” (QS. Al-An’am: 162-163).Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa termasuk orang musyrik adalah mereka yang menyembelih kepada selain Allah. Beliau Rahimahullah berkata,يأمره تعالى أن يخبر المشركين الذين يعبدون غير الله ويذبحون لغير اسمه ، أنه مخالف لهم في ذلك“Allah memberintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberi tahu kepada orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah dan menyembelih dengan tidak menyebut nama Allah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka (tidak sesuai dengan ajaran Islam)”  (Tafsir Ibn Katsir).Berdasarkan dalil di atas, terdapat 2 (dua) hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba, yaitu (1) at-tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan) dan (2) menghindari kesyirikan. Apabila dua hak Allah Ta’ala atau salah satunya ini tidak dapat ditunaikan oleh seorang hamba, maka rusaklah hubungan (hablun) antara dia dengan Rabbnya. Hubungan yang rusak tersebut dapat menyengsarakan sang hamba yang sejatinya faqir terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala.Oleh karenanya, telah jelas bahwa tiada tujuan lain dari penciptaan manusia dan jin selain menyembah hanya kepada Allah Ta’ala. Sebagai seorang hamba, sangat layak bagi kita untuk mendalami secara terperinci konsekuensi dari peribadatan kepada Allah. Hal-hal apa saja yang wajib dan terlarang bagi kita dalam memberikan dua hak Allah tersebut. Tentu hal demikian itu kita lakukan agar hubungan kita dengan-Nya tidak rusak. Karena rusaknya hubungan dengan Allah akan menjerumuskan kita ke dalam kemurkaan dan azab-Nya –waliyadzubillah-.Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaPerusak hubungan antara sesama manusia Sering kita mendengar perjalanan hidup seorang manusia yang dihormati, dihargai, dipuja, dan dipuji baik karena ilmunya yang luas, jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah maupun karisma dan popularitas yang membawanya pada sebuah titik puncak kesuksesan duniawi.Namun, tidak jarang dalam hitungan detik decak kagum terhadap manusia tersebut berubah menjadi kebencian, caci maki hingga sumpah serapah. Dalam waktu yang bersamaan pula dia kehilangan jabatan, kekayaan dan popularitasnya. Apa sebab hal yang demikian itu terjadi?Jawabannya adalah karena ia tidak menjaga hubungan (hablun) dengan sesama manusia, yaitu adab dan akhlak. Seorang pejabat yang menyelewengkan jabatan atau menjalin hubungan terlarang dengan lawan jenis dapat menghacurkan popularitasnya. Seorang akademisi yang dikenal dengan ilmunya yang tinggi, namun tidak tahan dengan godaan plagiarisme, maka serta merta dia kehilangan reputasinya dari orang-orang yang menghormatinya. Seorang pengusaha kaya raya yang merusak komitmen dengan melakukan penipuan dan kecurangan, maka dia akan kehilangan mitra kerja dan dapat menghancurkan bisnisnya.Allah Ta’ala telah mengajarkan kita tentang bagaimana menghiasi diri dengan akhlak al-karimah agar menjadi amanah dalam kepemimpinannya sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (QS. An-Nisa’: 58).Dalam urusan bisnis, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita agar tidak berbuat curang sebagaimana firman-Nya,وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ,ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ, وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3).Secara terperinci juga Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam banyak menjelaskan tentang bagaimana menjaga hubungan baik antar sesama manusia, khususnya dalam urusan muamalah dengan mengedepankan adab dan akhlak yang tinggi. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,فيِ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ“Menolong semua makhluk bernyawa itu berpahala” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244).Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنّ الله كَتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيء“Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu” (HR. Muslim no. 5167).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان، ولا الفاحش، ولا البذي“Orang mukmin bukan orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor” (HR. Tirmidzi no. 1977).Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سباب المسلم فسوق، وقتاله كفر“Mencela seorang muslim itu merupakan kefasikan, dan membunuhnya merupakan kekufuran” (HR. Bukhari dan Muslim).Oleh karena itu, tidak ada yang dapat melanggengkan hubungan antar sesama manusia kecuali dengan adab dan akhlak yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan yang sempurna dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam hal adab dan akhlak seharusnya menjadi pedoman kita dalam rangka menjaga hablun minannaas. Sehingga dalam menjalankan prioritas kehidupan kita (yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala), kita dapat menjalankan dengan aman dan nyaman karena adanya kasih sayang dan cinta sesama manusia yang sama-sama mengharapkan ridha Rabbnya.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., M.PA Artikel: Muslim.or.id

Hubungan antara Seorang Hamba dengan Rabb dan dengan Sesama Manusia

Menjaga hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan menjaga hubungan antar sesama manusia (hablun minannas) merupakan hal yang sangat penting bagi seorang hamba yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Menjaga hablun minallah tentu saja dilakukan dengan memaksimalkan ibadah kepada-Nya dengan mempelajari dan mengamalkan segala konsekuensinya.Sementara menjaga hablun minannaas bukan berarti mencari rida manusia dengan mengorbankan konsekuensi hablun minallah. Menjaga hubungan dengan sesama manusia memang perkara yang penting. Namun, menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala adalah perkara yang jauh lebih penting. Tentu saja manusia yang cerdas adalah yang mampu menjaga hubungannya sesama manusia tanpa melanggar segala konsekuensi yang dapat merusak hubungannya dengan Alla Ta’ala.Perusak hubungan antara manusia dengan Rabbnya“Kaca yang pecah, jika disusun (disambung) kembali, tetap tidak akan sama dengan semula.”Sebuah ungkapan bijak yang populer, khususnya di kalangan remaja yang berada dalam masa pubertas. Menggambarkan perasaan yang hancur karena suatu sebab, baik karena hubungan yang bermasalah dengan orang tua maupun dengan teman-temannya. Kalimat tersebut memang dapat merefleksikan hubungan antar sesama manusia. Akan tetapi, apakah kalimat itu berlaku bagi Allah Ta’ala?Jawabannya tentu saja tidak. Karena Allah Ta’ala adalah Rabb Yang Maha Pengampun atas segala perbuatan dosa-dosa hamba-Nya yang setiap hari berbuat kekeliruan. Akan tetapi, ada sebuah perbuatan dosa yang sangat fatal dan dapat merusak hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dosa itu bernama “kesyirikan“. Itu pun masih ada celah untuk memperbaikinya dengan bertaubat sebelum ajal datang.Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar kedua makhluk ini senantiasa menyembah Rabbnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Konsekuensi yang paling penting dalam hal menyembah kepada Allah Ta’ala adalah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perbuatan menyekutukan Allah merupakan bentuk kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar dan tidak akan mendapatkan ampunan kecuali dengan bertaubat sebelum ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa’: 48).Kaidah-kaidah tentang kesyirikan tersebut tentu menjadi suatu hal yang umum diketahui oleh kaum muslimin. Namun, kaidah-kaidah tentang bentuk-bentuk ibadah secara rinci masih banyak yang tidak diketahui oleh sebagian besar muslimin.Banyak yang melakukan suatu ritual tertentu yang terlihat seperti ritual adat biasa, namun mengandung makna ibadah di dalamnya. Sedangkan maksud dari pelaku ritual tersebut bukanlah untuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Maka jatuhlah dia kepada kesyirikan. Seperti ritual sedekah bumi atau sedekah laut dimana di dalamnya ada penyembelihan hewan yang diniatkan untuk persembahan kepada bumi yang subur atau laut yang sedang berlimpahan ikan. Padahal menyembelih merupakan perkara ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’” (QS. Al-An’am: 162-163).Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa termasuk orang musyrik adalah mereka yang menyembelih kepada selain Allah. Beliau Rahimahullah berkata,يأمره تعالى أن يخبر المشركين الذين يعبدون غير الله ويذبحون لغير اسمه ، أنه مخالف لهم في ذلك“Allah memberintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberi tahu kepada orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah dan menyembelih dengan tidak menyebut nama Allah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka (tidak sesuai dengan ajaran Islam)”  (Tafsir Ibn Katsir).Berdasarkan dalil di atas, terdapat 2 (dua) hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba, yaitu (1) at-tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan) dan (2) menghindari kesyirikan. Apabila dua hak Allah Ta’ala atau salah satunya ini tidak dapat ditunaikan oleh seorang hamba, maka rusaklah hubungan (hablun) antara dia dengan Rabbnya. Hubungan yang rusak tersebut dapat menyengsarakan sang hamba yang sejatinya faqir terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala.Oleh karenanya, telah jelas bahwa tiada tujuan lain dari penciptaan manusia dan jin selain menyembah hanya kepada Allah Ta’ala. Sebagai seorang hamba, sangat layak bagi kita untuk mendalami secara terperinci konsekuensi dari peribadatan kepada Allah. Hal-hal apa saja yang wajib dan terlarang bagi kita dalam memberikan dua hak Allah tersebut. Tentu hal demikian itu kita lakukan agar hubungan kita dengan-Nya tidak rusak. Karena rusaknya hubungan dengan Allah akan menjerumuskan kita ke dalam kemurkaan dan azab-Nya –waliyadzubillah-.Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaPerusak hubungan antara sesama manusia Sering kita mendengar perjalanan hidup seorang manusia yang dihormati, dihargai, dipuja, dan dipuji baik karena ilmunya yang luas, jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah maupun karisma dan popularitas yang membawanya pada sebuah titik puncak kesuksesan duniawi.Namun, tidak jarang dalam hitungan detik decak kagum terhadap manusia tersebut berubah menjadi kebencian, caci maki hingga sumpah serapah. Dalam waktu yang bersamaan pula dia kehilangan jabatan, kekayaan dan popularitasnya. Apa sebab hal yang demikian itu terjadi?Jawabannya adalah karena ia tidak menjaga hubungan (hablun) dengan sesama manusia, yaitu adab dan akhlak. Seorang pejabat yang menyelewengkan jabatan atau menjalin hubungan terlarang dengan lawan jenis dapat menghacurkan popularitasnya. Seorang akademisi yang dikenal dengan ilmunya yang tinggi, namun tidak tahan dengan godaan plagiarisme, maka serta merta dia kehilangan reputasinya dari orang-orang yang menghormatinya. Seorang pengusaha kaya raya yang merusak komitmen dengan melakukan penipuan dan kecurangan, maka dia akan kehilangan mitra kerja dan dapat menghancurkan bisnisnya.Allah Ta’ala telah mengajarkan kita tentang bagaimana menghiasi diri dengan akhlak al-karimah agar menjadi amanah dalam kepemimpinannya sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (QS. An-Nisa’: 58).Dalam urusan bisnis, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita agar tidak berbuat curang sebagaimana firman-Nya,وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ,ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ, وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3).Secara terperinci juga Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam banyak menjelaskan tentang bagaimana menjaga hubungan baik antar sesama manusia, khususnya dalam urusan muamalah dengan mengedepankan adab dan akhlak yang tinggi. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,فيِ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ“Menolong semua makhluk bernyawa itu berpahala” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244).Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنّ الله كَتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيء“Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu” (HR. Muslim no. 5167).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان، ولا الفاحش، ولا البذي“Orang mukmin bukan orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor” (HR. Tirmidzi no. 1977).Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سباب المسلم فسوق، وقتاله كفر“Mencela seorang muslim itu merupakan kefasikan, dan membunuhnya merupakan kekufuran” (HR. Bukhari dan Muslim).Oleh karena itu, tidak ada yang dapat melanggengkan hubungan antar sesama manusia kecuali dengan adab dan akhlak yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan yang sempurna dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam hal adab dan akhlak seharusnya menjadi pedoman kita dalam rangka menjaga hablun minannaas. Sehingga dalam menjalankan prioritas kehidupan kita (yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala), kita dapat menjalankan dengan aman dan nyaman karena adanya kasih sayang dan cinta sesama manusia yang sama-sama mengharapkan ridha Rabbnya.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., M.PA Artikel: Muslim.or.id
Menjaga hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan menjaga hubungan antar sesama manusia (hablun minannas) merupakan hal yang sangat penting bagi seorang hamba yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Menjaga hablun minallah tentu saja dilakukan dengan memaksimalkan ibadah kepada-Nya dengan mempelajari dan mengamalkan segala konsekuensinya.Sementara menjaga hablun minannaas bukan berarti mencari rida manusia dengan mengorbankan konsekuensi hablun minallah. Menjaga hubungan dengan sesama manusia memang perkara yang penting. Namun, menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala adalah perkara yang jauh lebih penting. Tentu saja manusia yang cerdas adalah yang mampu menjaga hubungannya sesama manusia tanpa melanggar segala konsekuensi yang dapat merusak hubungannya dengan Alla Ta’ala.Perusak hubungan antara manusia dengan Rabbnya“Kaca yang pecah, jika disusun (disambung) kembali, tetap tidak akan sama dengan semula.”Sebuah ungkapan bijak yang populer, khususnya di kalangan remaja yang berada dalam masa pubertas. Menggambarkan perasaan yang hancur karena suatu sebab, baik karena hubungan yang bermasalah dengan orang tua maupun dengan teman-temannya. Kalimat tersebut memang dapat merefleksikan hubungan antar sesama manusia. Akan tetapi, apakah kalimat itu berlaku bagi Allah Ta’ala?Jawabannya tentu saja tidak. Karena Allah Ta’ala adalah Rabb Yang Maha Pengampun atas segala perbuatan dosa-dosa hamba-Nya yang setiap hari berbuat kekeliruan. Akan tetapi, ada sebuah perbuatan dosa yang sangat fatal dan dapat merusak hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dosa itu bernama “kesyirikan“. Itu pun masih ada celah untuk memperbaikinya dengan bertaubat sebelum ajal datang.Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar kedua makhluk ini senantiasa menyembah Rabbnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Konsekuensi yang paling penting dalam hal menyembah kepada Allah Ta’ala adalah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perbuatan menyekutukan Allah merupakan bentuk kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar dan tidak akan mendapatkan ampunan kecuali dengan bertaubat sebelum ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa’: 48).Kaidah-kaidah tentang kesyirikan tersebut tentu menjadi suatu hal yang umum diketahui oleh kaum muslimin. Namun, kaidah-kaidah tentang bentuk-bentuk ibadah secara rinci masih banyak yang tidak diketahui oleh sebagian besar muslimin.Banyak yang melakukan suatu ritual tertentu yang terlihat seperti ritual adat biasa, namun mengandung makna ibadah di dalamnya. Sedangkan maksud dari pelaku ritual tersebut bukanlah untuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Maka jatuhlah dia kepada kesyirikan. Seperti ritual sedekah bumi atau sedekah laut dimana di dalamnya ada penyembelihan hewan yang diniatkan untuk persembahan kepada bumi yang subur atau laut yang sedang berlimpahan ikan. Padahal menyembelih merupakan perkara ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’” (QS. Al-An’am: 162-163).Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa termasuk orang musyrik adalah mereka yang menyembelih kepada selain Allah. Beliau Rahimahullah berkata,يأمره تعالى أن يخبر المشركين الذين يعبدون غير الله ويذبحون لغير اسمه ، أنه مخالف لهم في ذلك“Allah memberintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberi tahu kepada orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah dan menyembelih dengan tidak menyebut nama Allah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka (tidak sesuai dengan ajaran Islam)”  (Tafsir Ibn Katsir).Berdasarkan dalil di atas, terdapat 2 (dua) hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba, yaitu (1) at-tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan) dan (2) menghindari kesyirikan. Apabila dua hak Allah Ta’ala atau salah satunya ini tidak dapat ditunaikan oleh seorang hamba, maka rusaklah hubungan (hablun) antara dia dengan Rabbnya. Hubungan yang rusak tersebut dapat menyengsarakan sang hamba yang sejatinya faqir terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala.Oleh karenanya, telah jelas bahwa tiada tujuan lain dari penciptaan manusia dan jin selain menyembah hanya kepada Allah Ta’ala. Sebagai seorang hamba, sangat layak bagi kita untuk mendalami secara terperinci konsekuensi dari peribadatan kepada Allah. Hal-hal apa saja yang wajib dan terlarang bagi kita dalam memberikan dua hak Allah tersebut. Tentu hal demikian itu kita lakukan agar hubungan kita dengan-Nya tidak rusak. Karena rusaknya hubungan dengan Allah akan menjerumuskan kita ke dalam kemurkaan dan azab-Nya –waliyadzubillah-.Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaPerusak hubungan antara sesama manusia Sering kita mendengar perjalanan hidup seorang manusia yang dihormati, dihargai, dipuja, dan dipuji baik karena ilmunya yang luas, jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah maupun karisma dan popularitas yang membawanya pada sebuah titik puncak kesuksesan duniawi.Namun, tidak jarang dalam hitungan detik decak kagum terhadap manusia tersebut berubah menjadi kebencian, caci maki hingga sumpah serapah. Dalam waktu yang bersamaan pula dia kehilangan jabatan, kekayaan dan popularitasnya. Apa sebab hal yang demikian itu terjadi?Jawabannya adalah karena ia tidak menjaga hubungan (hablun) dengan sesama manusia, yaitu adab dan akhlak. Seorang pejabat yang menyelewengkan jabatan atau menjalin hubungan terlarang dengan lawan jenis dapat menghacurkan popularitasnya. Seorang akademisi yang dikenal dengan ilmunya yang tinggi, namun tidak tahan dengan godaan plagiarisme, maka serta merta dia kehilangan reputasinya dari orang-orang yang menghormatinya. Seorang pengusaha kaya raya yang merusak komitmen dengan melakukan penipuan dan kecurangan, maka dia akan kehilangan mitra kerja dan dapat menghancurkan bisnisnya.Allah Ta’ala telah mengajarkan kita tentang bagaimana menghiasi diri dengan akhlak al-karimah agar menjadi amanah dalam kepemimpinannya sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (QS. An-Nisa’: 58).Dalam urusan bisnis, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita agar tidak berbuat curang sebagaimana firman-Nya,وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ,ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ, وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3).Secara terperinci juga Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam banyak menjelaskan tentang bagaimana menjaga hubungan baik antar sesama manusia, khususnya dalam urusan muamalah dengan mengedepankan adab dan akhlak yang tinggi. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,فيِ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ“Menolong semua makhluk bernyawa itu berpahala” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244).Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنّ الله كَتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيء“Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu” (HR. Muslim no. 5167).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان، ولا الفاحش، ولا البذي“Orang mukmin bukan orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor” (HR. Tirmidzi no. 1977).Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سباب المسلم فسوق، وقتاله كفر“Mencela seorang muslim itu merupakan kefasikan, dan membunuhnya merupakan kekufuran” (HR. Bukhari dan Muslim).Oleh karena itu, tidak ada yang dapat melanggengkan hubungan antar sesama manusia kecuali dengan adab dan akhlak yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan yang sempurna dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam hal adab dan akhlak seharusnya menjadi pedoman kita dalam rangka menjaga hablun minannaas. Sehingga dalam menjalankan prioritas kehidupan kita (yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala), kita dapat menjalankan dengan aman dan nyaman karena adanya kasih sayang dan cinta sesama manusia yang sama-sama mengharapkan ridha Rabbnya.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., M.PA Artikel: Muslim.or.id


Menjaga hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan menjaga hubungan antar sesama manusia (hablun minannas) merupakan hal yang sangat penting bagi seorang hamba yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Menjaga hablun minallah tentu saja dilakukan dengan memaksimalkan ibadah kepada-Nya dengan mempelajari dan mengamalkan segala konsekuensinya.Sementara menjaga hablun minannaas bukan berarti mencari rida manusia dengan mengorbankan konsekuensi hablun minallah. Menjaga hubungan dengan sesama manusia memang perkara yang penting. Namun, menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala adalah perkara yang jauh lebih penting. Tentu saja manusia yang cerdas adalah yang mampu menjaga hubungannya sesama manusia tanpa melanggar segala konsekuensi yang dapat merusak hubungannya dengan Alla Ta’ala.Perusak hubungan antara manusia dengan Rabbnya“Kaca yang pecah, jika disusun (disambung) kembali, tetap tidak akan sama dengan semula.”Sebuah ungkapan bijak yang populer, khususnya di kalangan remaja yang berada dalam masa pubertas. Menggambarkan perasaan yang hancur karena suatu sebab, baik karena hubungan yang bermasalah dengan orang tua maupun dengan teman-temannya. Kalimat tersebut memang dapat merefleksikan hubungan antar sesama manusia. Akan tetapi, apakah kalimat itu berlaku bagi Allah Ta’ala?Jawabannya tentu saja tidak. Karena Allah Ta’ala adalah Rabb Yang Maha Pengampun atas segala perbuatan dosa-dosa hamba-Nya yang setiap hari berbuat kekeliruan. Akan tetapi, ada sebuah perbuatan dosa yang sangat fatal dan dapat merusak hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dosa itu bernama “kesyirikan“. Itu pun masih ada celah untuk memperbaikinya dengan bertaubat sebelum ajal datang.Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar kedua makhluk ini senantiasa menyembah Rabbnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).Konsekuensi yang paling penting dalam hal menyembah kepada Allah Ta’ala adalah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perbuatan menyekutukan Allah merupakan bentuk kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar dan tidak akan mendapatkan ampunan kecuali dengan bertaubat sebelum ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa’: 48).Kaidah-kaidah tentang kesyirikan tersebut tentu menjadi suatu hal yang umum diketahui oleh kaum muslimin. Namun, kaidah-kaidah tentang bentuk-bentuk ibadah secara rinci masih banyak yang tidak diketahui oleh sebagian besar muslimin.Banyak yang melakukan suatu ritual tertentu yang terlihat seperti ritual adat biasa, namun mengandung makna ibadah di dalamnya. Sedangkan maksud dari pelaku ritual tersebut bukanlah untuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Maka jatuhlah dia kepada kesyirikan. Seperti ritual sedekah bumi atau sedekah laut dimana di dalamnya ada penyembelihan hewan yang diniatkan untuk persembahan kepada bumi yang subur atau laut yang sedang berlimpahan ikan. Padahal menyembelih merupakan perkara ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’” (QS. Al-An’am: 162-163).Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa termasuk orang musyrik adalah mereka yang menyembelih kepada selain Allah. Beliau Rahimahullah berkata,يأمره تعالى أن يخبر المشركين الذين يعبدون غير الله ويذبحون لغير اسمه ، أنه مخالف لهم في ذلك“Allah memberintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberi tahu kepada orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah dan menyembelih dengan tidak menyebut nama Allah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi mereka (tidak sesuai dengan ajaran Islam)”  (Tafsir Ibn Katsir).Berdasarkan dalil di atas, terdapat 2 (dua) hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba, yaitu (1) at-tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan) dan (2) menghindari kesyirikan. Apabila dua hak Allah Ta’ala atau salah satunya ini tidak dapat ditunaikan oleh seorang hamba, maka rusaklah hubungan (hablun) antara dia dengan Rabbnya. Hubungan yang rusak tersebut dapat menyengsarakan sang hamba yang sejatinya faqir terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala.Oleh karenanya, telah jelas bahwa tiada tujuan lain dari penciptaan manusia dan jin selain menyembah hanya kepada Allah Ta’ala. Sebagai seorang hamba, sangat layak bagi kita untuk mendalami secara terperinci konsekuensi dari peribadatan kepada Allah. Hal-hal apa saja yang wajib dan terlarang bagi kita dalam memberikan dua hak Allah tersebut. Tentu hal demikian itu kita lakukan agar hubungan kita dengan-Nya tidak rusak. Karena rusaknya hubungan dengan Allah akan menjerumuskan kita ke dalam kemurkaan dan azab-Nya –waliyadzubillah-.Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaPerusak hubungan antara sesama manusia Sering kita mendengar perjalanan hidup seorang manusia yang dihormati, dihargai, dipuja, dan dipuji baik karena ilmunya yang luas, jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah maupun karisma dan popularitas yang membawanya pada sebuah titik puncak kesuksesan duniawi.Namun, tidak jarang dalam hitungan detik decak kagum terhadap manusia tersebut berubah menjadi kebencian, caci maki hingga sumpah serapah. Dalam waktu yang bersamaan pula dia kehilangan jabatan, kekayaan dan popularitasnya. Apa sebab hal yang demikian itu terjadi?Jawabannya adalah karena ia tidak menjaga hubungan (hablun) dengan sesama manusia, yaitu adab dan akhlak. Seorang pejabat yang menyelewengkan jabatan atau menjalin hubungan terlarang dengan lawan jenis dapat menghacurkan popularitasnya. Seorang akademisi yang dikenal dengan ilmunya yang tinggi, namun tidak tahan dengan godaan plagiarisme, maka serta merta dia kehilangan reputasinya dari orang-orang yang menghormatinya. Seorang pengusaha kaya raya yang merusak komitmen dengan melakukan penipuan dan kecurangan, maka dia akan kehilangan mitra kerja dan dapat menghancurkan bisnisnya.Allah Ta’ala telah mengajarkan kita tentang bagaimana menghiasi diri dengan akhlak al-karimah agar menjadi amanah dalam kepemimpinannya sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (QS. An-Nisa’: 58).Dalam urusan bisnis, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita agar tidak berbuat curang sebagaimana firman-Nya,وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ ,ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكۡتَالُواْ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ, وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَو وَّزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3).Secara terperinci juga Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam banyak menjelaskan tentang bagaimana menjaga hubungan baik antar sesama manusia, khususnya dalam urusan muamalah dengan mengedepankan adab dan akhlak yang tinggi. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,فيِ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ“Menolong semua makhluk bernyawa itu berpahala” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244).Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنّ الله كَتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيء“Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu” (HR. Muslim no. 5167).Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان، ولا الفاحش، ولا البذي“Orang mukmin bukan orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor” (HR. Tirmidzi no. 1977).Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,سباب المسلم فسوق، وقتاله كفر“Mencela seorang muslim itu merupakan kefasikan, dan membunuhnya merupakan kekufuran” (HR. Bukhari dan Muslim).Oleh karena itu, tidak ada yang dapat melanggengkan hubungan antar sesama manusia kecuali dengan adab dan akhlak yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan yang sempurna dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam hal adab dan akhlak seharusnya menjadi pedoman kita dalam rangka menjaga hablun minannaas. Sehingga dalam menjalankan prioritas kehidupan kita (yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala), kita dapat menjalankan dengan aman dan nyaman karena adanya kasih sayang dan cinta sesama manusia yang sama-sama mengharapkan ridha Rabbnya.Baca Juga:***Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., M.PA Artikel: Muslim.or.id

Serial Fiqh Zakat (Bag. 11): Zakat Gaji Bulanan

Baca pembahasan sebelumnya Serial Fiqh Zakat (Bag. 10): Penggunaan Kalender Masehi dalam Penetapan Haul ZakatDefinisi Gaji BulananGaji bulanan adalah upah yang diperoleh pekerja tertentu di setiap bulan sebagai kompensasi atas pekerjaannya (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Inilah yang umumnya terjadi pada para pegawai saat ini, karena mereka menerima gaji secara bulanan, bukan tahunan.Agar kita mengetahui hakikat zakat dari gaji bulanan, terlebih dahulu kita harus menjelaskan perihal maal mustafad yang diperoleh di pertengahan haul harta zakat (obyek zakat) yang lain. Apakah ia mempunyai haul tersendiri, ataukah haul maal mustafad mengikuti harta zakat yang sudah ada?Zakat Maal Mustafad dan PembagiannyaApa itu maal mustafad? Dr. al-Qardhawi menyatakan bahwa maal mustafad adalah,هو المالُ الذي يدخُلُ في مِلكيَّة الشَّخصِ بعد أنْ لم يكنْ، سواءٌ كان من النَّقْدَين، أو من العَقارِ، أو من النَّعَمِ، أو غير ذلك، وهو يشمَلُ الدَّخلَ المنتظِمَ للإنسانِ مِن راتبٍ أو أجْرٍ، كما يشمَلُ المكافآتِ والأرباحَ العارضةَ، والهباتِ والإرثَ، ونحوَ ذلك“Harta yang menjadi milik seseorang setelah sebelumnya tidak ada, baik harta itu berupa emas dan perak; properti; hewan ternak; atau harta yang lain. Tercakup dalam maal mustafad adalah pendapatan rutin yang diperoleh seseorang seperti gaji atau upah, demikian pula mencakup pesangon, hasil keuntungan, hibah, warisan, dan yang sejenis” (Fiqh az-Zakah, 1: 164).Jadi, maal mustafad ini mencakup segala macam tambahan pendapatan selain harta zakat yang telah dimiliki seseorang (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Berkaitan dengan zakat maal mustafad, secara sederhana kita bisa mengategorikan sebagai berikut:Pertama: maal mustafad merupakan keuntungan perdagangan atau hasil ternakJika maal mustafad adalah keuntungan dari aktivitas perdagangan atau hasil ternak, maka haulnya mengikuti haul harta pokok.Sebagai contoh: A memiliki lima unta yang digembalakan (saa-imah) sejak bulan Muharram. Kemudian di akhir tahun, yaitu di bulan Dzulhijjah, kelima unta itu melahirkan sehingga diperoleh lima anak unta. Lima unta yang terakhir ini apakah memiliki haul sendiri atau mengikuti haul induknya?Dalam kasus ini, haul lima unta terakhir mengikuti haul induknya. Sehingga ketika bulan Muharram berikutnya tiba, A harus menunaikan zakat dari kepemilikan sepuluh unta tersebut, meskipun kelima anak unta itu baru dimiliki selama sebulan.Ibnu al-Mundzir Rahimahullah menyatakan,أجمع أهل العِلم أنَّ الرَّجلَ إذا كان عنده نِصابٌ، ويكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مالِ التِّجارة ونتائِجِ السائمة، يجب ضمُّه إلى ما عنده مِن أصلِه، فيَعتَبِر حولًا بحَوْلِه“Ulama bersepakat bahwa seorang dengan harta yang telah mencapai nishab, kemudian memperoleh tambahan dari perkembangan harta tersebut, baik berupa keuntungan harta perdagangan dan hasil ternak, maka wajib menggabungkannya dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok” (al-Isyraf, 3: 53).Ibnu Qudamah Rahimahullah menyampaikan adanya ijmak dalam hal ini. Beliau Rahimahullah menyatakan,أن يكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مال التِّجارة ونِتاجِ السائمة، فهذا يجب ضمُّه إلى ما عندَه من أصله، فيعتبر حَوله بِحَوْلِه. لا نعلمُ فيه خلافًا“Maal mustafad yang diperoleh karena berkembangnya harta pokok, seperti keuntungan dari komoditas perdagangan dan hasil ternak, maka maal mustafad seperti ini wajib digabungkan dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok. Kami tidak mengetahui ada pendapat lain yang menyelisihi” (al-Mughni, 2: 468).Demikian pula dengan keuntungan komoditas perdagangan yang dijadikan obyek jual-beli. Sebagai contoh, B adalah pemilik toko sembako yang mulai membuka tokonya di awal bulan Muharram dengan modal sembako senilai Rp85.000.000,-. Ketika tiba bulan Muharram berikutnya, dia telah memiliki komoditas perdagangan berupa sembako senilai Rp125.000.000,-. Dalam kasus ini, haul untuk penambahan komoditas perdagangan tersebut mengikuti haul harta pokoknya. Jadi ketika tiba bulan Muharram berikutnya, tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah barang-barang baru dan merupakan keuntungan yang baru diperoleh. Akan tetapi, haul penambahan komoditas perdagangan itu mengikuti haul harta pokoknya. Dengan demikian, B wajib menunaikan zakat seluruh komoditas perdagangan yang dimilikinya.Kedua: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; serta jenisnya berbeda dengan jenis harta yang telah adaDiasumsikan bahwa A mempunyai unta yang sudah mencapai nishab dan memperoleh sejumlah harta yang lain berupa warisan atau hibah. Misalnya, dia mendapat hibah uang sebesar Rp50.000.000,-; atau dia menerima gaji bulanan sebesar Rp10.000.000,- ; atau dia mewarisi harta ayahnya sebesar Rp100.000.000,-. Dalam kasus ini, mayoritas ulama menyatakan bahwa setiap harta tersebut tidak digabungkan dengan unta yang telah dimiliki. Dengan demikian, unta yang telah dimiliki memiliki haul tersendiri. Sementara berbagai tambahan harta di atas masing-masing memiliki haul tersendiri yang berlaku saat diperoleh jika telah mencapai nishab.Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan,أن يكون المستفادُ مِن غيرِ جِنس ما عنده، فهذا له حُكمُ نفْسِه، لا يُضمُّ إلى ما عنده في حَولٍ ولا نِصاب، بل إنْ كان نِصابًا استقبَلَ به حولًا وزكَّاه، وإلَّا فلا شيءَ فيه. وهذا قولُ جمهور العلماء. ورُوي عن ابن مسعودٍ وابن عباس ومعاوية أنَّ الزَّكاةَ تجب فيه حين استفادَه. قال أحمد عن غيرِ واحدٍ: يزكِّيه حين يستفيدُه. وروى بإسنادِه عن ابن مسعود، قال: كان عبدُ الله يُعطينا ويزكِّيه. وعن الأوزاعي فيمَن باع عبدَه أو دارَه، أنَّه يزكِّي الثَّمَن حين يقع في يدِه إلَّا أن يكونَ له شَهْرٌ يُعلَمُ، فيؤخِّره حتى يزكِّيَه مع ماله. وجمهورُ العلماء على خلافِ هذا القول؛ منهم أبو بكر وعمرُ وعثمانُ وعليٌ رَضِيَ اللهُ عنهم“Apabila maal mustafad merupakan harta yang tidak sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka maal mustafad ini memiliki hukum tersendiri. Sehingga haul dan nishab-nya tidak digabungkan dengan harta yang telah dimiliki. Bahkan apabila maal mustafad itu telah mencapai nishab, maka silakan dimiliki hingga haul terpenuhi kemudian ditunaikan zakatnya” (al-Mughni, 2: 468).Ketika menjelaskan jenis maal maustafad yang diperoleh di antara rentang waktu haul harta yang telah dimiliki seseorang, al-Kasani Rahimahullah menyatakan,فإن كان من خلافِ جنْسِه كالإبل مع البقر، والبقر مع الغنم، فإنَّه لا يُضمُّ إلى نِصاب الأصل، بل يستأنِفُ له الحَوْلَ بلا خلافٍ“Apabila maal mustafad itu berbeda jenis dengan harta yang telah dimiliki, seperti unta dan sapi, atau sapi dan kambing, maka tidak perlu menggabungkan maal mustafad dengan harta pokok (harta awal). Namun, maal mustafad memiliki haul tersendiri. Tak ada pendapat lain yang menyelisihi hal ini” (Badaai’ ash-Shanaai’, 2: 13).Ketiga: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; tapi sejenis dengan harta yang telah ada Misalnya, A mempunyai uang sebanyak Rp85.000.000,- kemudian ia menerima honor sebesar Rp10.000.000,. Apakah haul honor ini mengikuti haul uang yang telah dimilikinya atau ia memiliki haul tersendiri?Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat.Pendapat pertamaUlama Hanafiyah menyatakan bahwa selama maal mustafad itu sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka keduanya digabungkan sehingga memiliki haul yang sama dengan haul harta pokok.Pendapat keduaMayoritas ulama menyatakan masing-masing memiliki haul tersendiri (asy-Syarh al-Kabir, 1: 432; al-Majmu’, 5: 367; al-Mughni, 2: 468).Pendapat yang dikemukakan oleh mayoritas ulama tersebut adalah pendapat yang lebih tepat, karena penggabungan haul maal mustafad pada harta pokok terjadi setidaknya karena dua alasan: (a) maal mustafad terlahir dari harta pokok seperti domba yang terlahir dari induknya dan (b) maal mustafad merupakan cabang dari harta pokok seperti keuntungan yang diperoleh dari komoditas perdagangan. Adapun maal mustafad dengan kepemilikan yang baru tidaklah dimiliki dengan mengembangkan harta yang telah dimilikinya, sehingga tidak perlu digabungkan dengan haul harta pokok (al-Majmu’, 5: 367).Baca Juga: Zakat Profesi Dipotong Setiap Bulan adalah Tidak TepatZakat Gaji BulananKetika kita memahami uraian di atas dan perbedaan pendapat yang ada, sekarang kita bisa mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan zakat gaji bulanan. Misalnya, seorang pegawai menerima gaji pada bulan Muharram sebesar Rp10.000.000,-. Demikian juga di bulan Shafar, Rabi’ al-Awwal, dan seterusnya.Menurut ulama Hanafiyah, haul gaji tersebut dimulai pada awal penerimaan gaji, yaitu bulan Muharram. Hal ini karena mereka berpandangan maal mustafad harus digabungkan karena sejenis dengan harta pokok.Namun, berdasarkan pendapat mayoritas ulama, setiap gaji memiliki haul tersendiri. Dengan demikian, gaji yang diterima bulan Muharram wajib ditunaikan zakatnya di bulan Muharram berikutnya apabila jumlahnya masih mencapai nishab. Demikian pula dengan gaji yang diterima bulan Shafar wajib ditunaikan zakatnya di bulan Shafar berikutnya; dan demikian seterusnya.Akan tetapi, mempraktikkan hal ini sangat sulit karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Oleh karena itu, al-Lajnah ad-Daaimah Kerajaan Arab Saudi memfatwakan bahwa sebaiknya seseorang menentukan suatu waktu dan melihat berapa banyak gaji yang terkumpul di waktu itu. Untuk gaji yang telah memenuhi haul, dia menunaikan zakatnya tepat waktu. Adapun gaji yang belum memenuhi haul, maka dia bisa menunaikannya lebih awal. Hal ini mengingat menunaikan zakat lebih awal diperbolehkan menurut mayoritas ulama (Fatwa no. 282, Majmu’ Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah 9/280).Dengan demikian, apabila seseorang benar-benar mengutamakan pendapat mayoritas ulama, maka dia harus membuat jadwal penghitungan yang berisi kapan setiap gaji itu diterima dan kapan haul setiap gaji tersebut terpenuhi. Namun apabila hal ini sulit dipraktikkan, maka dia disarankan melakukan apa yang difatwakan al-Lajnah ad-Daaimah di atas.Baca Juga:Demikian yang dapat disampaikan. Wallahu ta’ala a’lam.[Bersambung]***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id Sumber:1. Nawaazil az-Zakat, Prof. Dr. Khalid ibn Aliy al-Musyaiqih.2. Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.3. الشُّروطُ المتعلِّقةُ بالمال, diakses dari: https://www.dorar.net/feqhia/2113/ المطلب-الثالث:-مضي-الحول

Serial Fiqh Zakat (Bag. 11): Zakat Gaji Bulanan

Baca pembahasan sebelumnya Serial Fiqh Zakat (Bag. 10): Penggunaan Kalender Masehi dalam Penetapan Haul ZakatDefinisi Gaji BulananGaji bulanan adalah upah yang diperoleh pekerja tertentu di setiap bulan sebagai kompensasi atas pekerjaannya (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Inilah yang umumnya terjadi pada para pegawai saat ini, karena mereka menerima gaji secara bulanan, bukan tahunan.Agar kita mengetahui hakikat zakat dari gaji bulanan, terlebih dahulu kita harus menjelaskan perihal maal mustafad yang diperoleh di pertengahan haul harta zakat (obyek zakat) yang lain. Apakah ia mempunyai haul tersendiri, ataukah haul maal mustafad mengikuti harta zakat yang sudah ada?Zakat Maal Mustafad dan PembagiannyaApa itu maal mustafad? Dr. al-Qardhawi menyatakan bahwa maal mustafad adalah,هو المالُ الذي يدخُلُ في مِلكيَّة الشَّخصِ بعد أنْ لم يكنْ، سواءٌ كان من النَّقْدَين، أو من العَقارِ، أو من النَّعَمِ، أو غير ذلك، وهو يشمَلُ الدَّخلَ المنتظِمَ للإنسانِ مِن راتبٍ أو أجْرٍ، كما يشمَلُ المكافآتِ والأرباحَ العارضةَ، والهباتِ والإرثَ، ونحوَ ذلك“Harta yang menjadi milik seseorang setelah sebelumnya tidak ada, baik harta itu berupa emas dan perak; properti; hewan ternak; atau harta yang lain. Tercakup dalam maal mustafad adalah pendapatan rutin yang diperoleh seseorang seperti gaji atau upah, demikian pula mencakup pesangon, hasil keuntungan, hibah, warisan, dan yang sejenis” (Fiqh az-Zakah, 1: 164).Jadi, maal mustafad ini mencakup segala macam tambahan pendapatan selain harta zakat yang telah dimiliki seseorang (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Berkaitan dengan zakat maal mustafad, secara sederhana kita bisa mengategorikan sebagai berikut:Pertama: maal mustafad merupakan keuntungan perdagangan atau hasil ternakJika maal mustafad adalah keuntungan dari aktivitas perdagangan atau hasil ternak, maka haulnya mengikuti haul harta pokok.Sebagai contoh: A memiliki lima unta yang digembalakan (saa-imah) sejak bulan Muharram. Kemudian di akhir tahun, yaitu di bulan Dzulhijjah, kelima unta itu melahirkan sehingga diperoleh lima anak unta. Lima unta yang terakhir ini apakah memiliki haul sendiri atau mengikuti haul induknya?Dalam kasus ini, haul lima unta terakhir mengikuti haul induknya. Sehingga ketika bulan Muharram berikutnya tiba, A harus menunaikan zakat dari kepemilikan sepuluh unta tersebut, meskipun kelima anak unta itu baru dimiliki selama sebulan.Ibnu al-Mundzir Rahimahullah menyatakan,أجمع أهل العِلم أنَّ الرَّجلَ إذا كان عنده نِصابٌ، ويكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مالِ التِّجارة ونتائِجِ السائمة، يجب ضمُّه إلى ما عنده مِن أصلِه، فيَعتَبِر حولًا بحَوْلِه“Ulama bersepakat bahwa seorang dengan harta yang telah mencapai nishab, kemudian memperoleh tambahan dari perkembangan harta tersebut, baik berupa keuntungan harta perdagangan dan hasil ternak, maka wajib menggabungkannya dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok” (al-Isyraf, 3: 53).Ibnu Qudamah Rahimahullah menyampaikan adanya ijmak dalam hal ini. Beliau Rahimahullah menyatakan,أن يكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مال التِّجارة ونِتاجِ السائمة، فهذا يجب ضمُّه إلى ما عندَه من أصله، فيعتبر حَوله بِحَوْلِه. لا نعلمُ فيه خلافًا“Maal mustafad yang diperoleh karena berkembangnya harta pokok, seperti keuntungan dari komoditas perdagangan dan hasil ternak, maka maal mustafad seperti ini wajib digabungkan dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok. Kami tidak mengetahui ada pendapat lain yang menyelisihi” (al-Mughni, 2: 468).Demikian pula dengan keuntungan komoditas perdagangan yang dijadikan obyek jual-beli. Sebagai contoh, B adalah pemilik toko sembako yang mulai membuka tokonya di awal bulan Muharram dengan modal sembako senilai Rp85.000.000,-. Ketika tiba bulan Muharram berikutnya, dia telah memiliki komoditas perdagangan berupa sembako senilai Rp125.000.000,-. Dalam kasus ini, haul untuk penambahan komoditas perdagangan tersebut mengikuti haul harta pokoknya. Jadi ketika tiba bulan Muharram berikutnya, tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah barang-barang baru dan merupakan keuntungan yang baru diperoleh. Akan tetapi, haul penambahan komoditas perdagangan itu mengikuti haul harta pokoknya. Dengan demikian, B wajib menunaikan zakat seluruh komoditas perdagangan yang dimilikinya.Kedua: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; serta jenisnya berbeda dengan jenis harta yang telah adaDiasumsikan bahwa A mempunyai unta yang sudah mencapai nishab dan memperoleh sejumlah harta yang lain berupa warisan atau hibah. Misalnya, dia mendapat hibah uang sebesar Rp50.000.000,-; atau dia menerima gaji bulanan sebesar Rp10.000.000,- ; atau dia mewarisi harta ayahnya sebesar Rp100.000.000,-. Dalam kasus ini, mayoritas ulama menyatakan bahwa setiap harta tersebut tidak digabungkan dengan unta yang telah dimiliki. Dengan demikian, unta yang telah dimiliki memiliki haul tersendiri. Sementara berbagai tambahan harta di atas masing-masing memiliki haul tersendiri yang berlaku saat diperoleh jika telah mencapai nishab.Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan,أن يكون المستفادُ مِن غيرِ جِنس ما عنده، فهذا له حُكمُ نفْسِه، لا يُضمُّ إلى ما عنده في حَولٍ ولا نِصاب، بل إنْ كان نِصابًا استقبَلَ به حولًا وزكَّاه، وإلَّا فلا شيءَ فيه. وهذا قولُ جمهور العلماء. ورُوي عن ابن مسعودٍ وابن عباس ومعاوية أنَّ الزَّكاةَ تجب فيه حين استفادَه. قال أحمد عن غيرِ واحدٍ: يزكِّيه حين يستفيدُه. وروى بإسنادِه عن ابن مسعود، قال: كان عبدُ الله يُعطينا ويزكِّيه. وعن الأوزاعي فيمَن باع عبدَه أو دارَه، أنَّه يزكِّي الثَّمَن حين يقع في يدِه إلَّا أن يكونَ له شَهْرٌ يُعلَمُ، فيؤخِّره حتى يزكِّيَه مع ماله. وجمهورُ العلماء على خلافِ هذا القول؛ منهم أبو بكر وعمرُ وعثمانُ وعليٌ رَضِيَ اللهُ عنهم“Apabila maal mustafad merupakan harta yang tidak sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka maal mustafad ini memiliki hukum tersendiri. Sehingga haul dan nishab-nya tidak digabungkan dengan harta yang telah dimiliki. Bahkan apabila maal mustafad itu telah mencapai nishab, maka silakan dimiliki hingga haul terpenuhi kemudian ditunaikan zakatnya” (al-Mughni, 2: 468).Ketika menjelaskan jenis maal maustafad yang diperoleh di antara rentang waktu haul harta yang telah dimiliki seseorang, al-Kasani Rahimahullah menyatakan,فإن كان من خلافِ جنْسِه كالإبل مع البقر، والبقر مع الغنم، فإنَّه لا يُضمُّ إلى نِصاب الأصل، بل يستأنِفُ له الحَوْلَ بلا خلافٍ“Apabila maal mustafad itu berbeda jenis dengan harta yang telah dimiliki, seperti unta dan sapi, atau sapi dan kambing, maka tidak perlu menggabungkan maal mustafad dengan harta pokok (harta awal). Namun, maal mustafad memiliki haul tersendiri. Tak ada pendapat lain yang menyelisihi hal ini” (Badaai’ ash-Shanaai’, 2: 13).Ketiga: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; tapi sejenis dengan harta yang telah ada Misalnya, A mempunyai uang sebanyak Rp85.000.000,- kemudian ia menerima honor sebesar Rp10.000.000,. Apakah haul honor ini mengikuti haul uang yang telah dimilikinya atau ia memiliki haul tersendiri?Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat.Pendapat pertamaUlama Hanafiyah menyatakan bahwa selama maal mustafad itu sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka keduanya digabungkan sehingga memiliki haul yang sama dengan haul harta pokok.Pendapat keduaMayoritas ulama menyatakan masing-masing memiliki haul tersendiri (asy-Syarh al-Kabir, 1: 432; al-Majmu’, 5: 367; al-Mughni, 2: 468).Pendapat yang dikemukakan oleh mayoritas ulama tersebut adalah pendapat yang lebih tepat, karena penggabungan haul maal mustafad pada harta pokok terjadi setidaknya karena dua alasan: (a) maal mustafad terlahir dari harta pokok seperti domba yang terlahir dari induknya dan (b) maal mustafad merupakan cabang dari harta pokok seperti keuntungan yang diperoleh dari komoditas perdagangan. Adapun maal mustafad dengan kepemilikan yang baru tidaklah dimiliki dengan mengembangkan harta yang telah dimilikinya, sehingga tidak perlu digabungkan dengan haul harta pokok (al-Majmu’, 5: 367).Baca Juga: Zakat Profesi Dipotong Setiap Bulan adalah Tidak TepatZakat Gaji BulananKetika kita memahami uraian di atas dan perbedaan pendapat yang ada, sekarang kita bisa mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan zakat gaji bulanan. Misalnya, seorang pegawai menerima gaji pada bulan Muharram sebesar Rp10.000.000,-. Demikian juga di bulan Shafar, Rabi’ al-Awwal, dan seterusnya.Menurut ulama Hanafiyah, haul gaji tersebut dimulai pada awal penerimaan gaji, yaitu bulan Muharram. Hal ini karena mereka berpandangan maal mustafad harus digabungkan karena sejenis dengan harta pokok.Namun, berdasarkan pendapat mayoritas ulama, setiap gaji memiliki haul tersendiri. Dengan demikian, gaji yang diterima bulan Muharram wajib ditunaikan zakatnya di bulan Muharram berikutnya apabila jumlahnya masih mencapai nishab. Demikian pula dengan gaji yang diterima bulan Shafar wajib ditunaikan zakatnya di bulan Shafar berikutnya; dan demikian seterusnya.Akan tetapi, mempraktikkan hal ini sangat sulit karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Oleh karena itu, al-Lajnah ad-Daaimah Kerajaan Arab Saudi memfatwakan bahwa sebaiknya seseorang menentukan suatu waktu dan melihat berapa banyak gaji yang terkumpul di waktu itu. Untuk gaji yang telah memenuhi haul, dia menunaikan zakatnya tepat waktu. Adapun gaji yang belum memenuhi haul, maka dia bisa menunaikannya lebih awal. Hal ini mengingat menunaikan zakat lebih awal diperbolehkan menurut mayoritas ulama (Fatwa no. 282, Majmu’ Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah 9/280).Dengan demikian, apabila seseorang benar-benar mengutamakan pendapat mayoritas ulama, maka dia harus membuat jadwal penghitungan yang berisi kapan setiap gaji itu diterima dan kapan haul setiap gaji tersebut terpenuhi. Namun apabila hal ini sulit dipraktikkan, maka dia disarankan melakukan apa yang difatwakan al-Lajnah ad-Daaimah di atas.Baca Juga:Demikian yang dapat disampaikan. Wallahu ta’ala a’lam.[Bersambung]***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id Sumber:1. Nawaazil az-Zakat, Prof. Dr. Khalid ibn Aliy al-Musyaiqih.2. Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.3. الشُّروطُ المتعلِّقةُ بالمال, diakses dari: https://www.dorar.net/feqhia/2113/ المطلب-الثالث:-مضي-الحول
Baca pembahasan sebelumnya Serial Fiqh Zakat (Bag. 10): Penggunaan Kalender Masehi dalam Penetapan Haul ZakatDefinisi Gaji BulananGaji bulanan adalah upah yang diperoleh pekerja tertentu di setiap bulan sebagai kompensasi atas pekerjaannya (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Inilah yang umumnya terjadi pada para pegawai saat ini, karena mereka menerima gaji secara bulanan, bukan tahunan.Agar kita mengetahui hakikat zakat dari gaji bulanan, terlebih dahulu kita harus menjelaskan perihal maal mustafad yang diperoleh di pertengahan haul harta zakat (obyek zakat) yang lain. Apakah ia mempunyai haul tersendiri, ataukah haul maal mustafad mengikuti harta zakat yang sudah ada?Zakat Maal Mustafad dan PembagiannyaApa itu maal mustafad? Dr. al-Qardhawi menyatakan bahwa maal mustafad adalah,هو المالُ الذي يدخُلُ في مِلكيَّة الشَّخصِ بعد أنْ لم يكنْ، سواءٌ كان من النَّقْدَين، أو من العَقارِ، أو من النَّعَمِ، أو غير ذلك، وهو يشمَلُ الدَّخلَ المنتظِمَ للإنسانِ مِن راتبٍ أو أجْرٍ، كما يشمَلُ المكافآتِ والأرباحَ العارضةَ، والهباتِ والإرثَ، ونحوَ ذلك“Harta yang menjadi milik seseorang setelah sebelumnya tidak ada, baik harta itu berupa emas dan perak; properti; hewan ternak; atau harta yang lain. Tercakup dalam maal mustafad adalah pendapatan rutin yang diperoleh seseorang seperti gaji atau upah, demikian pula mencakup pesangon, hasil keuntungan, hibah, warisan, dan yang sejenis” (Fiqh az-Zakah, 1: 164).Jadi, maal mustafad ini mencakup segala macam tambahan pendapatan selain harta zakat yang telah dimiliki seseorang (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Berkaitan dengan zakat maal mustafad, secara sederhana kita bisa mengategorikan sebagai berikut:Pertama: maal mustafad merupakan keuntungan perdagangan atau hasil ternakJika maal mustafad adalah keuntungan dari aktivitas perdagangan atau hasil ternak, maka haulnya mengikuti haul harta pokok.Sebagai contoh: A memiliki lima unta yang digembalakan (saa-imah) sejak bulan Muharram. Kemudian di akhir tahun, yaitu di bulan Dzulhijjah, kelima unta itu melahirkan sehingga diperoleh lima anak unta. Lima unta yang terakhir ini apakah memiliki haul sendiri atau mengikuti haul induknya?Dalam kasus ini, haul lima unta terakhir mengikuti haul induknya. Sehingga ketika bulan Muharram berikutnya tiba, A harus menunaikan zakat dari kepemilikan sepuluh unta tersebut, meskipun kelima anak unta itu baru dimiliki selama sebulan.Ibnu al-Mundzir Rahimahullah menyatakan,أجمع أهل العِلم أنَّ الرَّجلَ إذا كان عنده نِصابٌ، ويكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مالِ التِّجارة ونتائِجِ السائمة، يجب ضمُّه إلى ما عنده مِن أصلِه، فيَعتَبِر حولًا بحَوْلِه“Ulama bersepakat bahwa seorang dengan harta yang telah mencapai nishab, kemudian memperoleh tambahan dari perkembangan harta tersebut, baik berupa keuntungan harta perdagangan dan hasil ternak, maka wajib menggabungkannya dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok” (al-Isyraf, 3: 53).Ibnu Qudamah Rahimahullah menyampaikan adanya ijmak dalam hal ini. Beliau Rahimahullah menyatakan,أن يكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مال التِّجارة ونِتاجِ السائمة، فهذا يجب ضمُّه إلى ما عندَه من أصله، فيعتبر حَوله بِحَوْلِه. لا نعلمُ فيه خلافًا“Maal mustafad yang diperoleh karena berkembangnya harta pokok, seperti keuntungan dari komoditas perdagangan dan hasil ternak, maka maal mustafad seperti ini wajib digabungkan dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok. Kami tidak mengetahui ada pendapat lain yang menyelisihi” (al-Mughni, 2: 468).Demikian pula dengan keuntungan komoditas perdagangan yang dijadikan obyek jual-beli. Sebagai contoh, B adalah pemilik toko sembako yang mulai membuka tokonya di awal bulan Muharram dengan modal sembako senilai Rp85.000.000,-. Ketika tiba bulan Muharram berikutnya, dia telah memiliki komoditas perdagangan berupa sembako senilai Rp125.000.000,-. Dalam kasus ini, haul untuk penambahan komoditas perdagangan tersebut mengikuti haul harta pokoknya. Jadi ketika tiba bulan Muharram berikutnya, tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah barang-barang baru dan merupakan keuntungan yang baru diperoleh. Akan tetapi, haul penambahan komoditas perdagangan itu mengikuti haul harta pokoknya. Dengan demikian, B wajib menunaikan zakat seluruh komoditas perdagangan yang dimilikinya.Kedua: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; serta jenisnya berbeda dengan jenis harta yang telah adaDiasumsikan bahwa A mempunyai unta yang sudah mencapai nishab dan memperoleh sejumlah harta yang lain berupa warisan atau hibah. Misalnya, dia mendapat hibah uang sebesar Rp50.000.000,-; atau dia menerima gaji bulanan sebesar Rp10.000.000,- ; atau dia mewarisi harta ayahnya sebesar Rp100.000.000,-. Dalam kasus ini, mayoritas ulama menyatakan bahwa setiap harta tersebut tidak digabungkan dengan unta yang telah dimiliki. Dengan demikian, unta yang telah dimiliki memiliki haul tersendiri. Sementara berbagai tambahan harta di atas masing-masing memiliki haul tersendiri yang berlaku saat diperoleh jika telah mencapai nishab.Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan,أن يكون المستفادُ مِن غيرِ جِنس ما عنده، فهذا له حُكمُ نفْسِه، لا يُضمُّ إلى ما عنده في حَولٍ ولا نِصاب، بل إنْ كان نِصابًا استقبَلَ به حولًا وزكَّاه، وإلَّا فلا شيءَ فيه. وهذا قولُ جمهور العلماء. ورُوي عن ابن مسعودٍ وابن عباس ومعاوية أنَّ الزَّكاةَ تجب فيه حين استفادَه. قال أحمد عن غيرِ واحدٍ: يزكِّيه حين يستفيدُه. وروى بإسنادِه عن ابن مسعود، قال: كان عبدُ الله يُعطينا ويزكِّيه. وعن الأوزاعي فيمَن باع عبدَه أو دارَه، أنَّه يزكِّي الثَّمَن حين يقع في يدِه إلَّا أن يكونَ له شَهْرٌ يُعلَمُ، فيؤخِّره حتى يزكِّيَه مع ماله. وجمهورُ العلماء على خلافِ هذا القول؛ منهم أبو بكر وعمرُ وعثمانُ وعليٌ رَضِيَ اللهُ عنهم“Apabila maal mustafad merupakan harta yang tidak sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka maal mustafad ini memiliki hukum tersendiri. Sehingga haul dan nishab-nya tidak digabungkan dengan harta yang telah dimiliki. Bahkan apabila maal mustafad itu telah mencapai nishab, maka silakan dimiliki hingga haul terpenuhi kemudian ditunaikan zakatnya” (al-Mughni, 2: 468).Ketika menjelaskan jenis maal maustafad yang diperoleh di antara rentang waktu haul harta yang telah dimiliki seseorang, al-Kasani Rahimahullah menyatakan,فإن كان من خلافِ جنْسِه كالإبل مع البقر، والبقر مع الغنم، فإنَّه لا يُضمُّ إلى نِصاب الأصل، بل يستأنِفُ له الحَوْلَ بلا خلافٍ“Apabila maal mustafad itu berbeda jenis dengan harta yang telah dimiliki, seperti unta dan sapi, atau sapi dan kambing, maka tidak perlu menggabungkan maal mustafad dengan harta pokok (harta awal). Namun, maal mustafad memiliki haul tersendiri. Tak ada pendapat lain yang menyelisihi hal ini” (Badaai’ ash-Shanaai’, 2: 13).Ketiga: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; tapi sejenis dengan harta yang telah ada Misalnya, A mempunyai uang sebanyak Rp85.000.000,- kemudian ia menerima honor sebesar Rp10.000.000,. Apakah haul honor ini mengikuti haul uang yang telah dimilikinya atau ia memiliki haul tersendiri?Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat.Pendapat pertamaUlama Hanafiyah menyatakan bahwa selama maal mustafad itu sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka keduanya digabungkan sehingga memiliki haul yang sama dengan haul harta pokok.Pendapat keduaMayoritas ulama menyatakan masing-masing memiliki haul tersendiri (asy-Syarh al-Kabir, 1: 432; al-Majmu’, 5: 367; al-Mughni, 2: 468).Pendapat yang dikemukakan oleh mayoritas ulama tersebut adalah pendapat yang lebih tepat, karena penggabungan haul maal mustafad pada harta pokok terjadi setidaknya karena dua alasan: (a) maal mustafad terlahir dari harta pokok seperti domba yang terlahir dari induknya dan (b) maal mustafad merupakan cabang dari harta pokok seperti keuntungan yang diperoleh dari komoditas perdagangan. Adapun maal mustafad dengan kepemilikan yang baru tidaklah dimiliki dengan mengembangkan harta yang telah dimilikinya, sehingga tidak perlu digabungkan dengan haul harta pokok (al-Majmu’, 5: 367).Baca Juga: Zakat Profesi Dipotong Setiap Bulan adalah Tidak TepatZakat Gaji BulananKetika kita memahami uraian di atas dan perbedaan pendapat yang ada, sekarang kita bisa mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan zakat gaji bulanan. Misalnya, seorang pegawai menerima gaji pada bulan Muharram sebesar Rp10.000.000,-. Demikian juga di bulan Shafar, Rabi’ al-Awwal, dan seterusnya.Menurut ulama Hanafiyah, haul gaji tersebut dimulai pada awal penerimaan gaji, yaitu bulan Muharram. Hal ini karena mereka berpandangan maal mustafad harus digabungkan karena sejenis dengan harta pokok.Namun, berdasarkan pendapat mayoritas ulama, setiap gaji memiliki haul tersendiri. Dengan demikian, gaji yang diterima bulan Muharram wajib ditunaikan zakatnya di bulan Muharram berikutnya apabila jumlahnya masih mencapai nishab. Demikian pula dengan gaji yang diterima bulan Shafar wajib ditunaikan zakatnya di bulan Shafar berikutnya; dan demikian seterusnya.Akan tetapi, mempraktikkan hal ini sangat sulit karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Oleh karena itu, al-Lajnah ad-Daaimah Kerajaan Arab Saudi memfatwakan bahwa sebaiknya seseorang menentukan suatu waktu dan melihat berapa banyak gaji yang terkumpul di waktu itu. Untuk gaji yang telah memenuhi haul, dia menunaikan zakatnya tepat waktu. Adapun gaji yang belum memenuhi haul, maka dia bisa menunaikannya lebih awal. Hal ini mengingat menunaikan zakat lebih awal diperbolehkan menurut mayoritas ulama (Fatwa no. 282, Majmu’ Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah 9/280).Dengan demikian, apabila seseorang benar-benar mengutamakan pendapat mayoritas ulama, maka dia harus membuat jadwal penghitungan yang berisi kapan setiap gaji itu diterima dan kapan haul setiap gaji tersebut terpenuhi. Namun apabila hal ini sulit dipraktikkan, maka dia disarankan melakukan apa yang difatwakan al-Lajnah ad-Daaimah di atas.Baca Juga:Demikian yang dapat disampaikan. Wallahu ta’ala a’lam.[Bersambung]***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id Sumber:1. Nawaazil az-Zakat, Prof. Dr. Khalid ibn Aliy al-Musyaiqih.2. Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.3. الشُّروطُ المتعلِّقةُ بالمال, diakses dari: https://www.dorar.net/feqhia/2113/ المطلب-الثالث:-مضي-الحول


Baca pembahasan sebelumnya Serial Fiqh Zakat (Bag. 10): Penggunaan Kalender Masehi dalam Penetapan Haul ZakatDefinisi Gaji BulananGaji bulanan adalah upah yang diperoleh pekerja tertentu di setiap bulan sebagai kompensasi atas pekerjaannya (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Inilah yang umumnya terjadi pada para pegawai saat ini, karena mereka menerima gaji secara bulanan, bukan tahunan.Agar kita mengetahui hakikat zakat dari gaji bulanan, terlebih dahulu kita harus menjelaskan perihal maal mustafad yang diperoleh di pertengahan haul harta zakat (obyek zakat) yang lain. Apakah ia mempunyai haul tersendiri, ataukah haul maal mustafad mengikuti harta zakat yang sudah ada?Zakat Maal Mustafad dan PembagiannyaApa itu maal mustafad? Dr. al-Qardhawi menyatakan bahwa maal mustafad adalah,هو المالُ الذي يدخُلُ في مِلكيَّة الشَّخصِ بعد أنْ لم يكنْ، سواءٌ كان من النَّقْدَين، أو من العَقارِ، أو من النَّعَمِ، أو غير ذلك، وهو يشمَلُ الدَّخلَ المنتظِمَ للإنسانِ مِن راتبٍ أو أجْرٍ، كما يشمَلُ المكافآتِ والأرباحَ العارضةَ، والهباتِ والإرثَ، ونحوَ ذلك“Harta yang menjadi milik seseorang setelah sebelumnya tidak ada, baik harta itu berupa emas dan perak; properti; hewan ternak; atau harta yang lain. Tercakup dalam maal mustafad adalah pendapatan rutin yang diperoleh seseorang seperti gaji atau upah, demikian pula mencakup pesangon, hasil keuntungan, hibah, warisan, dan yang sejenis” (Fiqh az-Zakah, 1: 164).Jadi, maal mustafad ini mencakup segala macam tambahan pendapatan selain harta zakat yang telah dimiliki seseorang (Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, hlm. 287).Berkaitan dengan zakat maal mustafad, secara sederhana kita bisa mengategorikan sebagai berikut:Pertama: maal mustafad merupakan keuntungan perdagangan atau hasil ternakJika maal mustafad adalah keuntungan dari aktivitas perdagangan atau hasil ternak, maka haulnya mengikuti haul harta pokok.Sebagai contoh: A memiliki lima unta yang digembalakan (saa-imah) sejak bulan Muharram. Kemudian di akhir tahun, yaitu di bulan Dzulhijjah, kelima unta itu melahirkan sehingga diperoleh lima anak unta. Lima unta yang terakhir ini apakah memiliki haul sendiri atau mengikuti haul induknya?Dalam kasus ini, haul lima unta terakhir mengikuti haul induknya. Sehingga ketika bulan Muharram berikutnya tiba, A harus menunaikan zakat dari kepemilikan sepuluh unta tersebut, meskipun kelima anak unta itu baru dimiliki selama sebulan.Ibnu al-Mundzir Rahimahullah menyatakan,أجمع أهل العِلم أنَّ الرَّجلَ إذا كان عنده نِصابٌ، ويكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مالِ التِّجارة ونتائِجِ السائمة، يجب ضمُّه إلى ما عنده مِن أصلِه، فيَعتَبِر حولًا بحَوْلِه“Ulama bersepakat bahwa seorang dengan harta yang telah mencapai nishab, kemudian memperoleh tambahan dari perkembangan harta tersebut, baik berupa keuntungan harta perdagangan dan hasil ternak, maka wajib menggabungkannya dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok” (al-Isyraf, 3: 53).Ibnu Qudamah Rahimahullah menyampaikan adanya ijmak dalam hal ini. Beliau Rahimahullah menyatakan,أن يكون المستفادُ مِن نَمائِه كربحِ مال التِّجارة ونِتاجِ السائمة، فهذا يجب ضمُّه إلى ما عندَه من أصله، فيعتبر حَوله بِحَوْلِه. لا نعلمُ فيه خلافًا“Maal mustafad yang diperoleh karena berkembangnya harta pokok, seperti keuntungan dari komoditas perdagangan dan hasil ternak, maka maal mustafad seperti ini wajib digabungkan dengan harta pokok. Sehingga haulnya mengikuti haul harta pokok. Kami tidak mengetahui ada pendapat lain yang menyelisihi” (al-Mughni, 2: 468).Demikian pula dengan keuntungan komoditas perdagangan yang dijadikan obyek jual-beli. Sebagai contoh, B adalah pemilik toko sembako yang mulai membuka tokonya di awal bulan Muharram dengan modal sembako senilai Rp85.000.000,-. Ketika tiba bulan Muharram berikutnya, dia telah memiliki komoditas perdagangan berupa sembako senilai Rp125.000.000,-. Dalam kasus ini, haul untuk penambahan komoditas perdagangan tersebut mengikuti haul harta pokoknya. Jadi ketika tiba bulan Muharram berikutnya, tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah barang-barang baru dan merupakan keuntungan yang baru diperoleh. Akan tetapi, haul penambahan komoditas perdagangan itu mengikuti haul harta pokoknya. Dengan demikian, B wajib menunaikan zakat seluruh komoditas perdagangan yang dimilikinya.Kedua: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; serta jenisnya berbeda dengan jenis harta yang telah adaDiasumsikan bahwa A mempunyai unta yang sudah mencapai nishab dan memperoleh sejumlah harta yang lain berupa warisan atau hibah. Misalnya, dia mendapat hibah uang sebesar Rp50.000.000,-; atau dia menerima gaji bulanan sebesar Rp10.000.000,- ; atau dia mewarisi harta ayahnya sebesar Rp100.000.000,-. Dalam kasus ini, mayoritas ulama menyatakan bahwa setiap harta tersebut tidak digabungkan dengan unta yang telah dimiliki. Dengan demikian, unta yang telah dimiliki memiliki haul tersendiri. Sementara berbagai tambahan harta di atas masing-masing memiliki haul tersendiri yang berlaku saat diperoleh jika telah mencapai nishab.Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan,أن يكون المستفادُ مِن غيرِ جِنس ما عنده، فهذا له حُكمُ نفْسِه، لا يُضمُّ إلى ما عنده في حَولٍ ولا نِصاب، بل إنْ كان نِصابًا استقبَلَ به حولًا وزكَّاه، وإلَّا فلا شيءَ فيه. وهذا قولُ جمهور العلماء. ورُوي عن ابن مسعودٍ وابن عباس ومعاوية أنَّ الزَّكاةَ تجب فيه حين استفادَه. قال أحمد عن غيرِ واحدٍ: يزكِّيه حين يستفيدُه. وروى بإسنادِه عن ابن مسعود، قال: كان عبدُ الله يُعطينا ويزكِّيه. وعن الأوزاعي فيمَن باع عبدَه أو دارَه، أنَّه يزكِّي الثَّمَن حين يقع في يدِه إلَّا أن يكونَ له شَهْرٌ يُعلَمُ، فيؤخِّره حتى يزكِّيَه مع ماله. وجمهورُ العلماء على خلافِ هذا القول؛ منهم أبو بكر وعمرُ وعثمانُ وعليٌ رَضِيَ اللهُ عنهم“Apabila maal mustafad merupakan harta yang tidak sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka maal mustafad ini memiliki hukum tersendiri. Sehingga haul dan nishab-nya tidak digabungkan dengan harta yang telah dimiliki. Bahkan apabila maal mustafad itu telah mencapai nishab, maka silakan dimiliki hingga haul terpenuhi kemudian ditunaikan zakatnya” (al-Mughni, 2: 468).Ketika menjelaskan jenis maal maustafad yang diperoleh di antara rentang waktu haul harta yang telah dimiliki seseorang, al-Kasani Rahimahullah menyatakan,فإن كان من خلافِ جنْسِه كالإبل مع البقر، والبقر مع الغنم، فإنَّه لا يُضمُّ إلى نِصاب الأصل، بل يستأنِفُ له الحَوْلَ بلا خلافٍ“Apabila maal mustafad itu berbeda jenis dengan harta yang telah dimiliki, seperti unta dan sapi, atau sapi dan kambing, maka tidak perlu menggabungkan maal mustafad dengan harta pokok (harta awal). Namun, maal mustafad memiliki haul tersendiri. Tak ada pendapat lain yang menyelisihi hal ini” (Badaai’ ash-Shanaai’, 2: 13).Ketiga: maal mustafad bukan berupa keuntungan perdagangan atau hasil ternak; tapi sejenis dengan harta yang telah ada Misalnya, A mempunyai uang sebanyak Rp85.000.000,- kemudian ia menerima honor sebesar Rp10.000.000,. Apakah haul honor ini mengikuti haul uang yang telah dimilikinya atau ia memiliki haul tersendiri?Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat.Pendapat pertamaUlama Hanafiyah menyatakan bahwa selama maal mustafad itu sejenis dengan harta yang telah dimiliki, maka keduanya digabungkan sehingga memiliki haul yang sama dengan haul harta pokok.Pendapat keduaMayoritas ulama menyatakan masing-masing memiliki haul tersendiri (asy-Syarh al-Kabir, 1: 432; al-Majmu’, 5: 367; al-Mughni, 2: 468).Pendapat yang dikemukakan oleh mayoritas ulama tersebut adalah pendapat yang lebih tepat, karena penggabungan haul maal mustafad pada harta pokok terjadi setidaknya karena dua alasan: (a) maal mustafad terlahir dari harta pokok seperti domba yang terlahir dari induknya dan (b) maal mustafad merupakan cabang dari harta pokok seperti keuntungan yang diperoleh dari komoditas perdagangan. Adapun maal mustafad dengan kepemilikan yang baru tidaklah dimiliki dengan mengembangkan harta yang telah dimilikinya, sehingga tidak perlu digabungkan dengan haul harta pokok (al-Majmu’, 5: 367).Baca Juga: Zakat Profesi Dipotong Setiap Bulan adalah Tidak TepatZakat Gaji BulananKetika kita memahami uraian di atas dan perbedaan pendapat yang ada, sekarang kita bisa mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan zakat gaji bulanan. Misalnya, seorang pegawai menerima gaji pada bulan Muharram sebesar Rp10.000.000,-. Demikian juga di bulan Shafar, Rabi’ al-Awwal, dan seterusnya.Menurut ulama Hanafiyah, haul gaji tersebut dimulai pada awal penerimaan gaji, yaitu bulan Muharram. Hal ini karena mereka berpandangan maal mustafad harus digabungkan karena sejenis dengan harta pokok.Namun, berdasarkan pendapat mayoritas ulama, setiap gaji memiliki haul tersendiri. Dengan demikian, gaji yang diterima bulan Muharram wajib ditunaikan zakatnya di bulan Muharram berikutnya apabila jumlahnya masih mencapai nishab. Demikian pula dengan gaji yang diterima bulan Shafar wajib ditunaikan zakatnya di bulan Shafar berikutnya; dan demikian seterusnya.Akan tetapi, mempraktikkan hal ini sangat sulit karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Oleh karena itu, al-Lajnah ad-Daaimah Kerajaan Arab Saudi memfatwakan bahwa sebaiknya seseorang menentukan suatu waktu dan melihat berapa banyak gaji yang terkumpul di waktu itu. Untuk gaji yang telah memenuhi haul, dia menunaikan zakatnya tepat waktu. Adapun gaji yang belum memenuhi haul, maka dia bisa menunaikannya lebih awal. Hal ini mengingat menunaikan zakat lebih awal diperbolehkan menurut mayoritas ulama (Fatwa no. 282, Majmu’ Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah 9/280).Dengan demikian, apabila seseorang benar-benar mengutamakan pendapat mayoritas ulama, maka dia harus membuat jadwal penghitungan yang berisi kapan setiap gaji itu diterima dan kapan haul setiap gaji tersebut terpenuhi. Namun apabila hal ini sulit dipraktikkan, maka dia disarankan melakukan apa yang difatwakan al-Lajnah ad-Daaimah di atas.Baca Juga:Demikian yang dapat disampaikan. Wallahu ta’ala a’lam.[Bersambung]***Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: Muslim.or.id Sumber:1. Nawaazil az-Zakat, Prof. Dr. Khalid ibn Aliy al-Musyaiqih.2. Nawazil az-Zakat Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat az-Zakat, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.3. الشُّروطُ المتعلِّقةُ بالمال, diakses dari: https://www.dorar.net/feqhia/2113/ المطلب-الثالث:-مضي-الحول

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,Hadis Ketiga dan KeempatDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,َا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ“Manusia senantiasa saling bertanya (satu sama lain dalam masalah yang tidak bermanfaat), sampai dibisikkan (oleh setan) ucapan berikut ini, ‘Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Maka barangsiapa yang mendapatkan sesuatu (dari bisikan hati) tersebut, maka ucapkanlah, ‘Aamantu billaah‘ (Saya beriman kepada Allah)” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi?’ Lalu dia berkata, ‘Allah’ Kemudian beliau menyebutkan lafaz semisalnya dan menambahkan, ‘wa Rusulihi‘ (dan para Rasul-Nya)” (HR. Muslim).Baca Juga: Nasehat Ulama Bagi yang Gelisah Tak Kunjung HamilTerdapat dua hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dari dua hadis tersebut, yaitu:Pertama, was-was yang menyerang penderita was-was itu pada hakikatnya berasal dari setan, sebagaimana dalam hadis keempat.Kedua, solusi ketika mendapatkan was-was setan dalam hati berupa lintasan pikiran-pikiran kekufuran adalah dengan berhenti seketika itu juga, tanpa memikirkan dalil untuk membantahnya. Karena hanya sekedar was-was setan yang tidak menetap dalam hati, lalu mengatakan, “Aamantu billaah wa Rusulihi” (Saya beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya).Ulama menjelaskan tentang solusi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas bahwa perintah untuk berhenti dan berpaling dari was-was setan tersebut adalah tanpa memikirkan dalil dalam menyatakan kebatilannya dan tanpa membahasnya. Hal ini karena was-was tersebut sekedar lintasan batin yang tidak menetap dalam hati dan berasal dari bisikan setan yang jelas-jelas kebatilannya.Kesimpulan hadis kedua, ketiga, dan keempatDari hadis kedua, ketiga, dan keempat disimpulkan bahwa solusi was-was setan berupa bisikan kekufuran adalah sebagai berikut.Pertama, berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan,  “A’uudzu billaah minasy-syaitoonir rajiim”.Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).Hadis KelimaSeseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata,“Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan pada dirinya sesuatu (bisikan setan), yang mana dia dibakar sampai menjadi arang itu lebih baik baginya daripada dia harus mengucapkan bisikan tersebut.”Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).Hadis tersebut menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan setelah dia gagal menggoda orang saleh dengan ucapan dan perbuatan kekufuran dan dosa. Setan hanya mampu membisikkan was-was ke dalam hati seorang muslim dan ingin membuatnya sedih dan tersibukkan dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan yang tidak membahayakan agama orang yang terkena, selama dia tidak mengucapkan atau melakukan isi was-wasnya dalam hati tersebut. Was-was itu tidak merusak ibadahnya (ibadahnya sah) dan tidak merusak imannya (imannya juga tetap sah). Bahkan seandainya terucapkan pun – tanpa ada keinginan dan tanpa kehendaknya, namun karena terpaksa karena dikuasai oleh waswas -, maka hal itu tidak membahayakannya karena keadaan akalnya memang tertutup.KesimpulanDari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Jangan Putus Asa ketika Melihat Kerusakan di Tengah Masyarakat [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,Hadis Ketiga dan KeempatDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,َا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ“Manusia senantiasa saling bertanya (satu sama lain dalam masalah yang tidak bermanfaat), sampai dibisikkan (oleh setan) ucapan berikut ini, ‘Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Maka barangsiapa yang mendapatkan sesuatu (dari bisikan hati) tersebut, maka ucapkanlah, ‘Aamantu billaah‘ (Saya beriman kepada Allah)” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi?’ Lalu dia berkata, ‘Allah’ Kemudian beliau menyebutkan lafaz semisalnya dan menambahkan, ‘wa Rusulihi‘ (dan para Rasul-Nya)” (HR. Muslim).Baca Juga: Nasehat Ulama Bagi yang Gelisah Tak Kunjung HamilTerdapat dua hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dari dua hadis tersebut, yaitu:Pertama, was-was yang menyerang penderita was-was itu pada hakikatnya berasal dari setan, sebagaimana dalam hadis keempat.Kedua, solusi ketika mendapatkan was-was setan dalam hati berupa lintasan pikiran-pikiran kekufuran adalah dengan berhenti seketika itu juga, tanpa memikirkan dalil untuk membantahnya. Karena hanya sekedar was-was setan yang tidak menetap dalam hati, lalu mengatakan, “Aamantu billaah wa Rusulihi” (Saya beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya).Ulama menjelaskan tentang solusi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas bahwa perintah untuk berhenti dan berpaling dari was-was setan tersebut adalah tanpa memikirkan dalil dalam menyatakan kebatilannya dan tanpa membahasnya. Hal ini karena was-was tersebut sekedar lintasan batin yang tidak menetap dalam hati dan berasal dari bisikan setan yang jelas-jelas kebatilannya.Kesimpulan hadis kedua, ketiga, dan keempatDari hadis kedua, ketiga, dan keempat disimpulkan bahwa solusi was-was setan berupa bisikan kekufuran adalah sebagai berikut.Pertama, berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan,  “A’uudzu billaah minasy-syaitoonir rajiim”.Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).Hadis KelimaSeseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata,“Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan pada dirinya sesuatu (bisikan setan), yang mana dia dibakar sampai menjadi arang itu lebih baik baginya daripada dia harus mengucapkan bisikan tersebut.”Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).Hadis tersebut menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan setelah dia gagal menggoda orang saleh dengan ucapan dan perbuatan kekufuran dan dosa. Setan hanya mampu membisikkan was-was ke dalam hati seorang muslim dan ingin membuatnya sedih dan tersibukkan dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan yang tidak membahayakan agama orang yang terkena, selama dia tidak mengucapkan atau melakukan isi was-wasnya dalam hati tersebut. Was-was itu tidak merusak ibadahnya (ibadahnya sah) dan tidak merusak imannya (imannya juga tetap sah). Bahkan seandainya terucapkan pun – tanpa ada keinginan dan tanpa kehendaknya, namun karena terpaksa karena dikuasai oleh waswas -, maka hal itu tidak membahayakannya karena keadaan akalnya memang tertutup.KesimpulanDari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Jangan Putus Asa ketika Melihat Kerusakan di Tengah Masyarakat [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,Hadis Ketiga dan KeempatDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,َا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ“Manusia senantiasa saling bertanya (satu sama lain dalam masalah yang tidak bermanfaat), sampai dibisikkan (oleh setan) ucapan berikut ini, ‘Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Maka barangsiapa yang mendapatkan sesuatu (dari bisikan hati) tersebut, maka ucapkanlah, ‘Aamantu billaah‘ (Saya beriman kepada Allah)” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi?’ Lalu dia berkata, ‘Allah’ Kemudian beliau menyebutkan lafaz semisalnya dan menambahkan, ‘wa Rusulihi‘ (dan para Rasul-Nya)” (HR. Muslim).Baca Juga: Nasehat Ulama Bagi yang Gelisah Tak Kunjung HamilTerdapat dua hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dari dua hadis tersebut, yaitu:Pertama, was-was yang menyerang penderita was-was itu pada hakikatnya berasal dari setan, sebagaimana dalam hadis keempat.Kedua, solusi ketika mendapatkan was-was setan dalam hati berupa lintasan pikiran-pikiran kekufuran adalah dengan berhenti seketika itu juga, tanpa memikirkan dalil untuk membantahnya. Karena hanya sekedar was-was setan yang tidak menetap dalam hati, lalu mengatakan, “Aamantu billaah wa Rusulihi” (Saya beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya).Ulama menjelaskan tentang solusi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas bahwa perintah untuk berhenti dan berpaling dari was-was setan tersebut adalah tanpa memikirkan dalil dalam menyatakan kebatilannya dan tanpa membahasnya. Hal ini karena was-was tersebut sekedar lintasan batin yang tidak menetap dalam hati dan berasal dari bisikan setan yang jelas-jelas kebatilannya.Kesimpulan hadis kedua, ketiga, dan keempatDari hadis kedua, ketiga, dan keempat disimpulkan bahwa solusi was-was setan berupa bisikan kekufuran adalah sebagai berikut.Pertama, berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan,  “A’uudzu billaah minasy-syaitoonir rajiim”.Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).Hadis KelimaSeseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata,“Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan pada dirinya sesuatu (bisikan setan), yang mana dia dibakar sampai menjadi arang itu lebih baik baginya daripada dia harus mengucapkan bisikan tersebut.”Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).Hadis tersebut menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan setelah dia gagal menggoda orang saleh dengan ucapan dan perbuatan kekufuran dan dosa. Setan hanya mampu membisikkan was-was ke dalam hati seorang muslim dan ingin membuatnya sedih dan tersibukkan dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan yang tidak membahayakan agama orang yang terkena, selama dia tidak mengucapkan atau melakukan isi was-wasnya dalam hati tersebut. Was-was itu tidak merusak ibadahnya (ibadahnya sah) dan tidak merusak imannya (imannya juga tetap sah). Bahkan seandainya terucapkan pun – tanpa ada keinginan dan tanpa kehendaknya, namun karena terpaksa karena dikuasai oleh waswas -, maka hal itu tidak membahayakannya karena keadaan akalnya memang tertutup.KesimpulanDari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Jangan Putus Asa ketika Melihat Kerusakan di Tengah Masyarakat [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,Hadis Ketiga dan KeempatDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,َا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ“Manusia senantiasa saling bertanya (satu sama lain dalam masalah yang tidak bermanfaat), sampai dibisikkan (oleh setan) ucapan berikut ini, ‘Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Maka barangsiapa yang mendapatkan sesuatu (dari bisikan hati) tersebut, maka ucapkanlah, ‘Aamantu billaah‘ (Saya beriman kepada Allah)” (HR. Muslim).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu mengatakan, ‘Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi?’ Lalu dia berkata, ‘Allah’ Kemudian beliau menyebutkan lafaz semisalnya dan menambahkan, ‘wa Rusulihi‘ (dan para Rasul-Nya)” (HR. Muslim).Baca Juga: Nasehat Ulama Bagi yang Gelisah Tak Kunjung HamilTerdapat dua hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dari dua hadis tersebut, yaitu:Pertama, was-was yang menyerang penderita was-was itu pada hakikatnya berasal dari setan, sebagaimana dalam hadis keempat.Kedua, solusi ketika mendapatkan was-was setan dalam hati berupa lintasan pikiran-pikiran kekufuran adalah dengan berhenti seketika itu juga, tanpa memikirkan dalil untuk membantahnya. Karena hanya sekedar was-was setan yang tidak menetap dalam hati, lalu mengatakan, “Aamantu billaah wa Rusulihi” (Saya beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya).Ulama menjelaskan tentang solusi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas bahwa perintah untuk berhenti dan berpaling dari was-was setan tersebut adalah tanpa memikirkan dalil dalam menyatakan kebatilannya dan tanpa membahasnya. Hal ini karena was-was tersebut sekedar lintasan batin yang tidak menetap dalam hati dan berasal dari bisikan setan yang jelas-jelas kebatilannya.Kesimpulan hadis kedua, ketiga, dan keempatDari hadis kedua, ketiga, dan keempat disimpulkan bahwa solusi was-was setan berupa bisikan kekufuran adalah sebagai berikut.Pertama, berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan,  “A’uudzu billaah minasy-syaitoonir rajiim”.Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).Hadis KelimaSeseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata,“Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan pada dirinya sesuatu (bisikan setan), yang mana dia dibakar sampai menjadi arang itu lebih baik baginya daripada dia harus mengucapkan bisikan tersebut.”Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).Hadis tersebut menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan setelah dia gagal menggoda orang saleh dengan ucapan dan perbuatan kekufuran dan dosa. Setan hanya mampu membisikkan was-was ke dalam hati seorang muslim dan ingin membuatnya sedih dan tersibukkan dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Hal ini menunjukkan bahwa was-was adalah tipu daya setan yang tidak membahayakan agama orang yang terkena, selama dia tidak mengucapkan atau melakukan isi was-wasnya dalam hati tersebut. Was-was itu tidak merusak ibadahnya (ibadahnya sah) dan tidak merusak imannya (imannya juga tetap sah). Bahkan seandainya terucapkan pun – tanpa ada keinginan dan tanpa kehendaknya, namun karena terpaksa karena dikuasai oleh waswas -, maka hal itu tidak membahayakannya karena keadaan akalnya memang tertutup.KesimpulanDari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Jangan Putus Asa ketika Melihat Kerusakan di Tengah Masyarakat [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Saudaraku, Inilah Waktu Hijrahmu

Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.

Saudaraku, Inilah Waktu Hijrahmu

Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.
Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.


Berhijrah ke tempat yang lebih baikTidak ada kata lain selain “tinggalkan”. Tinggalkan hal-hal yang dapat mencelakai diri -baik secara duniawi maupun ukhrowi- yang tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarinya selain dengan meninggalkannya.Allah Ta’ala memerintahkan agar kita meninggalkan kesyirikan sebagaimana firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An-Nisa: 48).Namun, apabila kita tinggal di tempat sarang praktik kesyirikan, setiap orang-orang yang hidup di sekitar kita sulit untuk meninggalkan penyakit batin yang paling akut itu. Dakwah menyeru kepada tauhid dan sunah pun diabaikan. Tidak ada obat memang, selain doa untuk kebaikan mereka. Maka, tinggalkanlah tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik.Allah Ta’ala mewajibkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh utusan-Nya Shallahahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam perkara ukhrowi sebagaimana firman-Nya,مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisa: 80).Ibadah tidak diterima apabila tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak” (HR. Bukhâri no. 2697 dan Muslim no. 1718).Ketika kita hidup di tengah-tengah manusia yang mengangkangi ketentuan sunah yang jelas-jelas telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian telah datang kepada mereka seruan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Muhammad Shallahualaihi wa sallam, hendaklah bersegera tinggalkan tempat itu, berhijrahlah ke tempat yang lebih baik sebagaimana perintah hijrah dalam Alquran,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).Allah Ta’ala telah menerangkan secara gamblang kepada hamba-Nya, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam pun telah mengurai secara rinci halal-haramnya segala perkara duniawi-ukhrowi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)-Nya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).Ketika kita saat ini berada di tengah-tengah umat yang kental dan familiar dengan kemaksiatan kepada Sang Pencipta, kemudian mereka pun sejatinya mengetahui bahwa apa yang sedang mereka asyikkan itu adalah larangan, maka bergegaslah tinggalkan tempat itu, berhijrah ke tempat yang lebih baik.Baca Juga: Berguguran di Jalan Hijrah dan Dakwah Akibat buruk di tempat yang burukJika kita pertahankan hidup di tempat yang demikian, dikhawatirkan perlahan tapi pasti kita akan mengikuti jejak mereka -waliyadzu billah-. Karena setiap harinya kita berinteraksi dengan mereka, mau tak mau mereka adalah manusia yang kita mesti bermuamalah dengannya.Oleh sebab itu, berhijrahlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” … dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).Ketika lingkungan tidak lagi ramah terhadap perintah Allah Ta’ala, bahkan malah cenderung mengakomodir larangan-Nya, hijrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.Oleh karena itu, terima atau tidak mereka -orang-orang yang hidup di sekeliling kita-  adalah teman/saudara kita yang setiap hari bertatap muka dan saling bertegur sapa dengan kita. Sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927).Perbaiki niat sebelum berhijrahAkan tetapi, niat dalam hati perlu diperbaharui, kepada siapa tujuan hijrah kita. Karena setiap amal tergantung kepada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai berdasarkan bagaimana dia meletakkan niat di dalam hatinya, apakah dia ikhlas memurnikan tujuan hijrah hanya kepada Allah Ta’ala ataukah kepada selainnya. Ini merupakan perkara besar karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.Perhatikanlah hadis berikut. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).Baca Juga: Kiat Agar Hijrah Tidak GagalKhawatir terhadap rezeki ketika hijrah?Sumber ekonomi merupakan hal yang paling dikhawatirkan oleh seorang hamba apabila hendak berhijrah meninggalkan lingkungan yang tidak lagi bersahabat dengan syariat Allah. Padahal berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala akan membuka pintu rezeki sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” (QS. An-Nisa: 100).Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal: Pertama (مُرَاغَمًا ), Kedua (سَعَةً).Imam Ar-Razi Rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya.  Karena ketika orang di negeri asal mendengar berita bahwa kenikmatan dan kebaikan yang ia dapatkan di negeri asing tersebut mereka akan merasa malu atas buruknya muamalah yang mereka berikan. Maka dengan demikian mereka merasa hina [1].Sedangkan makna “سَعَةً” menurut Qatadah Rahimahullah adalah  “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” [2]. Maka kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru dengan berhijrah pintu rezeki terbuka dengan luasnya, insyaa Allah Ta’ala.Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah-Nya serta Allah Ta’ala mudahkan kita untuk beribadah, beramal, dan bermuamalah di lingkungan orang-orang yang takut terhadap azab Allah. Sehingga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk meningkatkan kualitas amal dan ibadah semata-mata hanya bagi Allah Ta’ala.Baca Juga:[Selesai]* * *Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP, MPAArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] At-Tafsirul Kabir, 11: 15. Lihat pula Tafsir Al-Qasimi, 5: 407 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 5: 180.[2] Tafsir Al-Qurthubi, 5: 348. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 1: 597.

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Hadis KeenamDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” (HR. Al-Bukhari).PenjelasanIbnu Hajar Rahimahullah menjelaskan bahwa waswasah (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah Ta’ala memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”Beliau Rahimahullah juga mengatakan,“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).DoaSemoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.[Selesai]Baca Juga: Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya? Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum  Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Hukum Menjual Obat yang Dicurigai akan Digunakan untuk Kejelekan

Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit

Hukum Menjual Obat yang Dicurigai akan Digunakan untuk Kejelekan

Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit
Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit


Fatwa Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz RahimahullahPertanyaan:Jazakumullaahu khairan. Seorang apoteker mengirimkan sejumlah pertanyaan, di antara pertanyaan tersebut adalah, “Saya hendak menanyakan tentang penjualan sebagian obat yang dicurigai oleh apoteker akan disalahgunakan oleh pembeli. Padahal obat tersebut termasuk bukan obat terlarang dan terbukti secara ilmiah bukan termasuk narkotika. Seandainya apoteker tersebut menahan diri supaya tidak menjualnya, dia akan menolak pembeli tersebut dengan berbohong bahwa apoteker tidak mempunyai obat tersebut. Padahal seharusnya obat tersebut tersedia di apotek karena termasuk obat penting yang biasa digunakan dalam pengobatan. Di sisi lain, seandainya apoteker tersebut menahan diri dan tidak mau menjualnya, dia juga akan mengalami kerugian dari sisi pemasukan omzet. Berikan arahan kepada kami terkait kasus ini. Jazakumullahu khairan.Jawaban:هذا فيه تفصيل: إن كان يعلم أن الحبوب التي تطلب يستعان بها على الزنا والفواحش هذا لا يبيع عليهم إذا كان يعرف عنهم هذا الشيء، أو يغلب على ظنه أن المشتري يستعملها فيما حرم الله.أما مجرد الشكوك والظنون السيئة فلا عبرة بها، يبيع ولا يمتنع ما دامت علاجًا للمرض الذي يريد الشراء من أجله، فلا يمتنع بل يبيع إلا إذا عرف أن هذا المشتري يستعملها فيما حرم الله، أو غلب على ظنه ذلك فهذا من باب التعاون على البر والتقوى، وعدم التعاون على الإثم والعدوان، لا مانع أن يمتنع من بيعها بأي عذر شرعي يستطيعه، نعم، يلتمس عذرًا شرعيًا ليس فيه كذب. نعم.Permasalahan dalam kasus ini perlu dirinci.Pertama, apabila apoteker tersebut mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa obat yang ingin dibeli itu akan digunakan untuk perbuatan zina, perbuatan keji, atau keburukan lainnya yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak boleh menjual obat tersebut.Kedua, apabila hanya sekedar keraguan dan persangkaan buruk semata (tidak tahu dan tidak berprasangka kuat), hal ini tidak teranggap. Maka boleh menjualnya dan tidak perlu menolak pembeli selama obat yang ingin dibeli tersebut untuk keperluan penyembuhan penyakitnya.Jadi apoteker tersebut boleh menjualnya, kecuali jika dia mengetahui atau berkeyakinan (berprasangka kuat) bahwa pembeli akan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan hal tersebut (menjual obat untuk penyembuhan penyakit) termasuk tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Tidak ada larangan apabila apoteker ingin menolak menjualnya asalkan dengan alasan syar’i semampu dia. Jika demikian yang diinginkannya, hendaknya dia menyampaikan alasan syar’i kenapa menolaknya dan tidak perlu berdusta kepada pembeli.[Selesai]Catatan tambahan dari penerjemah:Dalam dunia kefarmasian, ada beberapa kasus pembelian obat yang disalahgunakan. Di antara kasus tersebut adalah pembeli yang membuat resep palsu berisi obat-obat narkotika dan psikotropika. Selain kasus resep palsu narkotika dan psikotropika, terkadang ada pembeli yang membuat resep palsu atau membeli (tanpa resep) obat-obat tertentu yang digunakan untuk kemaksiatan.Contoh, membeli obat tertentu yang bisa digunakan untuk pencegahan kehamilan setelah berhubungan intim (baca: zina) asalkan belum melewati batas waktu tertentu. Contoh lainnya adalah ada orang yang membeli obat yang sebenarnya untuk disfungsi ereksi, namun dia gunakan sebagai ‘obat kuat’ untuk berzina. Wallahu Ta’ala a’lam.Baca Juga:***Penerjemah: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id Sumber:https://binbaz.org🔍 Ucapan Idul Fitri Sesuai Sunnah, Kesalahan Dalam Shalat, Artikel Wanita Sholeha, Doa Untuk Kedua Pengantin, Ayat Ayat Penyembuh Penyakit

Tetap Bersandar kepada Allah setelah Divaksinasi

Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Tetap Bersandar kepada Allah setelah Divaksinasi

Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin. Vaksinasi akan dilakukan secara bertahap dan beberapa daerah sudah mulai melakukan vaksinasi sebagai usaha dalam menghadapi pandemi. Vaksinasi ini sebagai salah satu bentuk usaha seseorang dalam menghadapi penyakit Covid-19. Seseorang yang divaksinasi berarti dia mengambil sebab untuk membentengi dan menjaga tubuh dari penyakit. Oleh karena itu, membahas tentang hal ini tidak lepas dari pembahasan terkait hukum pengambilan sebab.Sebuah bukti kesempurnaan Islam adalah adanya aturan bagaimana seharusnya seorang muslim melakukan pengambilan sebab dalam berbagai kasus. Mengetahui hukum pengambilan sebab menjadi sangat penting karena seseorang yang tidak mengenal tentang hukum pengambilan sebab bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah, dan bahkan kesyirikan.Prinsip mendasar dalam pengambilan sebabAda tiga prinsip mendasar dalam pengambilan sebab, yaitu:Pertama, tidak menjadikan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat tambahan yang harus dipenuhi adalah sebab tersebut tidak boleh berupa sesuatu yang dilarang syariat.Kedua, tidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin.Ketiga, sekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala.(Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rahimahullah)Baca Juga: Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai VaksinPrinsip pertamaTidak menjadikan sesauatu yang tidak terbukti secara syar’i atau qodari sebagai sebab. Syarat dibolehkannya sesuatu dijadikan sebab adalah sesuatu tersebut telah terbukti secara syar’i atau qodari. Terbukti secara syar’i adalah adanya dalil dari Alquran atau hadis yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut bisa dijadikan sebagai suatu sebab. Contohnya adalah rukiah, madu, dan habbatus saudaa’ (Syarhu Muyassar li Kitaabit Tauhid, hal. 57, Abdul Malik Al-Qosim).Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS. An-Nahl: 69).Sedangkan terbukti secara qodari maksudnya adalah terbukti secara ilmiah dan/atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sebab tersebut menyebabkan suatu akibat terjadi. Contoh, berbagai macam pengobatan dalam bidang kedokteran yang telah terbukti secara ilmiah menimbulkan kesembuhan (At-Tamhiid, hal. 94, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).Melakukan sebab yang terbukti secara qodari bisa dihukumi halal atau haram. Apabila sebab yang dilakukan adalah perbuatan yang tidak dilarang dalam syariat, maka mengambil sebab itu dihukumi halal. Misalnya, berdagang dengan cara yang diperbolehkan untuk mendapatkan penghasilan. Namun apabila sebab yang dilakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang syariat, maka hukumnya haram. Misalnya, mencuri untuk mendapatkan uang.Dapat disimpulkan bahwa hukum seseorang yang tidak memenuhi prinsip pertama dari tiga prinsip mendasar dalam permasalahan pengambilan sebab ini dibagi menjadi 2, yaitu:Pertama, syirik asghar (syirik kecil)Apabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i maupun qodari. Namun, orang tersebut masih meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala. (At-Tamhiid, hal. 94, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh)Kedua, maksiat dan tidak sampai tingkat kesyirikanApabila sebab yang diambil seseorang adalah sesuatu yang terbukti secara qodari, akan tetapi haram dilakukan, dan orang tersebut meyakini bahwa sesuatu yang dijadikan sebab tersebut tidak akan berpengaruh kecuali dengan izin dari Allah Ta’ala.Dalam kasus vaksinasi, apabila vaksin tersebut sudah terbukti secara ilmiah, maka termasuk ke dalam sebab qodari. Terkait hukum vaksinasi bisa dibaca selengkapnya: Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi.Baca Juga: Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?Prinsip keduaTidak menyandarkan hati kepada sebab, akan tetapi kepada Allah Ta’ala diiringi dengan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Sebab yang ada hanyalah perantara karena pada hakikatnya Allah Ta’ala yang menjadikan sebab itu berpengaruh. Oleh karena itu, seseorang harus menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala dan tidak boleh menyandarkan kepada sebab. Di samping penyandaran hati kepada Allah Ta’ala semata, seseorang wajib untuk melakukan usaha yang disyariatkan seoptimal mungkin. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز“Bersemangatlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah” (HR. Muslim no. 2664).Seseorang yang tidak memenuhi prinsip kedua ini, dia bisa terjatuh ke dalam syirik akbar apabila menyandarkan hati kepada sebab, bukan kepada Allah Ta’ala dan meyakini bahwa sebab tersebut yang berkehendak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh bertawakkal atau menyandarkan hatinya kepada vaksinasi dan tidak boleh meyakini bahwa vaksin tersebut menyembuhkan atau mencegah penyakit dengan sendirinya, dan bukan atas kehendak dari Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya, vaksin tersebut hanyalah sebab yang kita usahakan. Adapun yang menjaga kita adalah Allah Ta’ala. Kita tidak boleh bertawakkal kepada makhluk.Prinsip ketigaSekuat apapun sebab tersebut, tetap saja semua terkait dengan takdir Allah Ta’ala Allah Ta’ala mampu untuk menjadikan suatu sebab yang terbukti secara syar’i maupun qadari berpengaruh agar seseorang mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya. Allah Ta’ala juga mampu untuk menjadikan sebab tersebut tidak berpengaruh agar hati seseorang tidak bergantung kepada sebab dan agar seseorang tersebut mengetahui kesempurnaan kekuasaan dan kehendak-Nya. (Lihat Al-Qaulus Sadiid, hal. 105-106, Syekh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di)Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa sebab qodari tidak selamanya menyebabkan pengaruh adalah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam. Beliau ‘Alaihis salaam tidak terbakar oleh api walaupun secara qodari api itu terbukti bisa membakar dan menghanguskan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ .وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ .قَالُوا ابْنُوْا لَه بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ .فَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ.“Ibrahim berkata, ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.’ Mereka berkata, ‘Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.’ Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina” (QS. Ash-Shaffat: 95-98).Dan juga firman Allah Ta’ala,قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ .وَاَرَادُوْا بِه كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’ Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi” (QS. Al-Anbiya’: 69-70).Oleh karena itu, sehebat apapun sebab yang kita usahakan, kita harus tetap meyakini bahwa berhasil atau tidaknya sebab tersebut Allah Ta’ala  yang menentukan. Tugas kita adalah berusaha (mengambil sebab), adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. Begitu pula dalam kasus vaksinasi ini, keberhasilan vaksinasi tetap berada di bawah kehendak Allah Ta’ala.Begitu indahnya Islam. Dalam Islam diajarkan, kita harus semangat berusaha seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan untuk tubuh dan hati kita. Termasuk dengan mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang sudah terbukti secara ilmiah. Namun setelah melakukan berbagai usaha sebagai sebab tersebut, kita wajib tetap menyerahkan semua kepada Allah Ta’ala.Baca Juga:Wallahu a’lam bish shawab.Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.Penulis: apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Syarhus Sunnah: Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan

Syarhus Sunnah: Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan
Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan


Keutamaan Ali bin Abi Thalib apa saja? Anda sudah kenal?   Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيْفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَهُوَ أَفْضَلُ الخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُثَنِّي بَعْدَهُ بِالفَارُوْقِ وَهُوَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ فَهُمَا وَزِيْرَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَجِيْعَاهُ فِي قَبْرِهِ وَنُثَلِّثُ بِذِي النُّوْرَيْنِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ثُمَّ بِذِي الفَضْلِ وَالتُّقَى عَلٍّي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ “Dan dikatakan tentang keutamaan Khalifah (pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita sebutkan di urutan kedua setelahnya adalah Al-Faruq Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Keduanya adalah orang dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bersebelahan kuburnya. Kemudian kita sebutkan yang ketiga adalah Dzun Nuurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, kemudian (setelahnya) adalah pemilik kemuliaan dan ketakwaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum ‘ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka berempat). Daftar Isi tutup 1. Tentang ‘Ali bin Abi Thalib 2. Sifat Fisik ‘Ali 3. Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah 4. Keutamaan Ali bin Abi Thalib 4.1. – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga 4.2. – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali 4.3. – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah 5. Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga 6. Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib 7. Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Tentang ‘Ali bin Abi Thalib Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib (‘Abdu Manaf) bin ‘Abdul Muththalib (Syaibah) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Beliau adalah Abu Al-Hasan dan Al-Husain (putra beliau adalah Al-Hasan dan Al-Husain). Ali diberi kunyah Abu Turab, sepupu (anak dari saudara laki-laki ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putri beliau, Fathimah Az-Zahra. Ibu beliau adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai, ibunya digelari wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan putra Bani Hasyim. Ali memiliki beberapa saudara laki-laki: Thalib, ‘Aqil, dan Ja’far. Mereka semua lebih tua dari beliau, masing-masing terpaut sepuluh tahun. Beliau memiliki dua orang saudari perempuan: Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya adalah putri Fathimah bin Asad, ia telah masuk Islam dan turut berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman kandung yang sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nama Abu Thalib yang sebenarnya adalah Abdu Manaf. Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan sejarah. Abu Thalib ini sangat menyayangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak beriman kepada beliau. Bahkan ia mati di atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk sahabat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan rida kepadanya. Beliau adalah khalifah Rasyid yang keempat.   Sifat Fisik ‘Ali Beliau memiliki kulit berwarna sawo matang, bola mata beliau besar, dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, dan berkepala botak. Beliau berperawakan pendek dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada dan bahu yang lebat, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkah saat berjalan.   Keislaman ‘Ali bin Abi Thalib dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu masuk Islam saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun. Beliau termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau adalah dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana Khadijah adalah wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak (mawla) yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Motif ‘Ali bin Abi Thalib masuk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahlul bait beliau, termasuk di dalamnya Ali bin Abi Thalib segera memeluk Islam. Ali turut berhijrah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kota Makkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskannya untuk membereskan utang piutang beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif. Ali ikut serta dalam perang Badar, dan beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani mereka yang sangat popular, yakni Amr bin Abdu Wud Al-‘Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ar-Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan. Allah memberi kemenangan lewat tangannya. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Marhaban Al-Yahudi. Beliau juga mengikuti Fathul Makkah, peperangan Hunain, dan peperangan Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib sama seperti umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan menaati Abu Bakar merupakan kewajiban dan merupakan perkara yang paling ia sukai. Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyawarah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman. Baca Juga: Inilah Follower Sejati (Kisah Salman Al-Farisi Masuk Islam) Keutamaan Ali bin Abi Thalib – ‘Ali termasuk orang yang dijamin masuk surga Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, ‘Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, ‘Abdurrahman (bin Auf) di surga, Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah) di surga, dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga.” قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   – Rasulullah Mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khaibar, « لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ » “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di manakah ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa matanya ‘Ali sedang sakit. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407).   – Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata, خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِى فِى النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ فَقَالَ « أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ». “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari, no. 4416 dan Muslim, no. 2404. Lafaz hadits ini dari Bukhari).   Ayah Dari Pemimpin Pemuda Surga Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3781. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).   Cintailah ‘Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib mengatakan, وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim, no. 78)   Peristiwa Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Irak dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim, penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Ibnu Jarir dan pakar sejarah lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij, mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr (Ibnu Muljam Al-Himyari), Al-Burak bin ‘Abdillah At-Tamimi, dan Amr bin Bakr At-Tamimi, mereka mengenang Kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat untuk teman-teman mereka itu. Masing-masing mereka ingin membunuh Ali, Mu’awiyah, dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Ibnu Muljam membunuh Ali saat mau berangkat shalat Shubuh, Ketika itu Ibnu Muljam berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu, dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ali terbunuh pada malam Jumat waktu sahur pada 17 Ramadhan 40 H. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Beliau meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Setelah Ali wafat, kedua putranya yaitu Al-Hasan dan Al-Husain yang memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdillah bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putra tertua beliau, Al-Hasan. Jenazah Ali dimakamkan di Darul Imarah di Kufah. Semoga Allah senantiasa meridai ‘Ali bin Abi Thalib.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Imam Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (Ibnu Katsir). Tahqiq: Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Syarhus Sunnah: Keutamaan Utsman bin Affan — Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 30 Januari 2021 (17 Jumadal Akhirah 1442 H) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq ali bin abi thalib keutamaan ali bi abi thalib keutamaan sahabat nabi khulafaur rosyidin sahabat nabi syarhus sunnah syarhus sunnah imam al muzani umar bin khaththab ustman bin 'affan

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 

Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 
Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 


Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Makna was-wasBerdasarkan keterangan dari para ulama seperti Al-Baghawi dan Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dan selain keduanya, dapat disimpulkan bahwa was-was atau waswasah adalah ucapan tersembunyi yang bimbang, tidak menetap dalam hati, dibisikkan kepada manusia untuk tujuan menyesatkan, baik dengan suara yang hanya terdengar oleh manusia yang digoda (sebagaimana dilakukan oleh setan dari kalangan manusia), maupun tanpa suara (sebagaimana dibisikkan oleh setan kalangan jin ke dalam hati manusia, hal ini disebutkan dalam surat An-Naas)Banyaknya pengidap penyakit was-wasAllah Ta’ala menguji banyak saudara kita yang seiman dengan penyakit was-was ini. Semoga Allah Ta’ala segera menyembuhkan mereka dan memberkahi kesehatan mereka. Aamiin.Hal itu diketahui dari pertanyaan-pertanyaan seputar was-was yang banyak disampaikan kepada penulis dalam kanal Konsultasi Terapi Was-Was (binaan penulis dengan tinjauan syar’i dan dr. Luqman [Dokter residen PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNS] dengan tinjauan ilmu kejiwaan).Pertanyaan-pertanyaan tersebut misalnya:“Ana sering mendapati dalam diri ana keraguan terhadap Allah. Namun, ana tidak ingin mendapati keraguan tersebut. Apakah itu membahayakan iman ana? Dan bagaimana solusinya supaya ana bisa menguatkan iman ana?”“Was-was akidah saya semakin menjadi. Saya mulai ada bisikan siapa yang menciptakan Allah, apa yg harus saya lakukan?”“Ana pernah mengalami was-was terkait akidah. Hal itu ana alami setelah ana melihat video kajian tentang amal yang tidak diterima. (Seingat ana) intinya, kalau murtad itu amal tidak akan diterima. Dan ana merasa takut, kemudian ana mencari artikel tentang kemurtadan agar ana tidak sampai terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah ana tau, ana dihantui dengan perasaan was-was yang berhubungan dengan apa yang ana baca. Seakan-akan yang ana perbuat itu mengarah kepada hal yang tidak ana inginkan. Setelah perasaan satu selesai, perasaan yang lain kemudian datang, bahkan ana pernah mandi besar dan sering bersyahadat jika ana mengalamai was-was tersebut.”“Saya sering sekali was was “seakan-akan melihat” lafadz Jalalah di jalan. Ketika berjalan saya takut menginjak karena takut menghina.”“Dulu, ana diragukan akan adanya kehidupan akhirat (yakni, belum tentu akhirat – surga dan neraka – itu ada). Namun, ana tepis bahwa – akhirat adalah janji/kebenaran dari Allah – dan Allah tidak akan ingkar janji/mengatakan hal yang bohong. Namun, sebagian tidak langsung ana tepis. Ana diamkan. Tidak juga ana dustakan. Tidak juga ana berdzikir. Bahkan, ana seperti orang yang dibisiki keraguan oleh teman duduk, lalu ana tampung bisikan tersebut, tanpa ana mengingkarinya. Kemudian beberapa saat setelah itu, barulah tercetus fikiran yang membantah syubhat/bisikan kekufuran tersebut.”“Saya merasa penyakit was-was istihza’ dengan isyarat. Seperti jika mengingat sesuatu dari agama, tiba-tiba salah satu anggota tubuhnya (misal kaki) merasa tegang dan bergerak sedikit seperti perasaan sesuatu tersebut ada di kaki (na’udzubillahi min dzalik). Saya sangat takut jika perbuatan itu merupakan istihza’ (mengolok-olok agama, pent.) dengan isyarat (kaki tegang, pent.).”“Bismillah, mau tanya saya sering mengulang wudhu, mandi wajib setelah haid. Dan juga kadang-kadang kalau mau shalat kayak mau pipis tapi terkadang saya abaikan. Solusinya bagaimana ustadz. Jazaakallahu khayran.”“Lalu was-was saat puasa bibir saya kering, saya sengaja kelupas kemudian terjilat (takut ada darah di bibir yang tertelan) oleh jilatan saya. Baca bismillah saat buka puasa lebih dari sekali.”Baca Juga: Menolak Was-Was dalam ShalatResep mengobati was-wasResep wahyu ilahi pengobatan penyakit was-was itu sederhana dan mudah. Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan penyakit was-was, camkanlah bahwa:“Resep wahyu ilahi untuk pengobatan penyakit was-was sangatlah sederhana dan mudah. Namun setanlah yang menggambarkan berat dan sulit!”Di antara resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mendasar adalah apa yang terdapat dalam lima hadis berikut ini.Resep pertamaDiriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya, dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum, beliau berkata,جاء ناسٌ من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به“Datanglah sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang kami berat mengatakannya.’”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وقد وجدتموه ؟“Apakah kalian benar-benar mendapatkan hal itu pada diri kalian?”Mereka menjawab, “Iya.”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ذاك صريح الإيمان“Rasa berat mengucapkan itu menunjukkan iman yang murni.”Para ulama menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh sekolompok sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut adalah berupa was-was setan dalam hati yang mereka benci dan berat mengucapkannya itu. Misalnya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” atau “Allah terbuat dari apa?” serta pikiran dan lintasan batin buruk yang semisal.Dan rasa membenci was-was setan dalam hati dan rasa berat mengucapkan itu menunjukkan mereka takut terjatuh ke dalam hal yang buruk tersebut. Dengan demikian, dia tidak meyakini dan tidak membenarkan sesuatu yang buruk tersebut. Ini menunjukkan adanya iman yang murni pada diri mereka Radhiyallahu ‘anhum yang menghalangi mereka dari mengucapkan, membenarkan, dan meyakininya.Baca Juga: Sakit Badan Tidak Merasakan Lezatnya Makanan, Penyakit Hati Juga DemikianKesimpulan dari hadis pertamaLintasan buruk dalam hati penderita was-was tidak perlu digubris karena itu was-was dari setan dan tidak membahayakan iman, selama dia tidak rida. Hal itu ditunjukkan dengan perasaan resah hati dan berat untuk mengucapkannya. Bahkan kebencian dari hatinya dan rasa berat mengucapkannya itu adalah tanda keimanan yang murni.Hal ini menunjukkan was-was setan dalam hati itu tidak menyebabkan penderitanya berdosa, tidak menyebabkannya di azab, dan tidak menyebabkan dirinya terhalangi dari masuk surga serta tidak menyebabkan masuk neraka.Dengan demikian, sangat tidak benar perasaan penderita was-was bahwa dirinya kafir murtad dengan sebab was-was setan dalam hatinya. Itu hanyalah tipu daya setan, dan tipu daya setan itu hakikatnya sangat lemah.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Baca Juga: Berhati-Hati dari Wabah Asbun Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita [Bersambung]* * *Penulis: Sa’id Abu UkasyahArtikel: Muslim.or.id 
Prev     Next