Memetik Pelajaran dari Pesan Nabi

بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah

Memetik Pelajaran dari Pesan Nabi

بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah
بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah


بسم الله الرحمن الرحيممSaudaraku…Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:“Lihatlah kepada yang lebih rendah (kondisinya) darimu dan jangan melihat yang di atasmu, itu akan  membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” (Mutafaq ‘alaih).Pesan singkat diatas memuat dua buah butir nasehat yang patut kita renungi, yaitu:Baca Juga: Resep Hidup BahagiaHendaknya bagi seorang muslim untuk  tidak memandang kepada saudara-saudaranya yang berada di atasnya  dalam masalah dunia, karena hal tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit diantaranya: Hasad atau yang akrab di telinga kita disebut dengan kedengkian. Kedengkian yang terjadi antara manusia biasanya besumber dari kecenderungan seseorang terhadap dunia atau ketidak puasan dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Contohnya saja pembunuhan antara Habil dan saudaranya Qabil tidak lain ternyata berakar dari ketidak puasan yang diberikan kepada Qabil. Tapi satu hal perlu kita ketahui bahwa iri atau dengki tidak selalu buruk dan tercela dalam agama,  di sana ada bentuk iri/dengki yang terpuji yaitu kedengkian terhadap amalan sholeh yang dilakukan seseorang,  yang disebut dalam istilah syar’i dengan alghibtoh.Hal ini sebagaimana yang dikabarkan baginda Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dalam sebuah hadits yang sahih.عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :( لا تحاسدوا إلا في اثنتين رجل آتاه الله القرآن فهو يتلوه آناء الليل والنهار فهو يقول لو أتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت ما أوتي هذا لفعلت كما يفعل ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه في حقه يقول لو أوتيت هذا لفعلت كما يفعل ) رواه البخاريDari Abu hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam besabda: ”janganlahlah kalian saling mendengki,  kecuali dalam dua perkara, yaitu seorang yang Allah berikan kepadanya Al-qur’an (penghafal al-Qur’an) yang mana ia selalu membacanya siang dan malam kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku seperti dia niscaya akupun akan melakukannya’, atau seseorang  yang Allah beri rizki kepadanya dan ia infaqkan harta tersebut, kemudian seorang yang lain mengatakan ‘seandainya aku diberi rizki seperti dia niscaya aku akan infaqan harta tersebut” [H.R Bukhari]Baca Juga: Keadaan Susah atau Stres, Tetap Perhatikan Kebutuhan Hidup dan Keadaan DiriAtau iri kepada sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seandainya aku boleh menggangkat seorang khalil (kekasih terdekat) selain Rabbku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”Iri kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta izin masuk untuk bertemu dengan Rosulullah, Baginda berkata:”Biarkan ia masuk, dan beri kabar gembira bahwa ia termasuk penghuni Surga.”Iri kepada Ali ketika mendengar Rosul bersabda:”Sungguh aku akan berikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya serta dicintai  Allah dan Rosul-Nya”Iri kepada ‘Aisyah karena mendengar namanya paling pertama disebut oleh Rosul  ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling engkau cintai beliaupun seraya menjawab “Aisyah…”.Baca Juga: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian LayuIni adalah beberapa bentuk iri yang terpuji yang tidak dilarang oleh agama. Berburuk sangka kepada Allah atau yang sering disebut dalam bahasa arab suudzon billah karena ia merasa bahwa Allah tidak adil terhadap hamba-hambanya. Maha Suci Allah dari perasangka buruk dari hamba- hambaNya. Tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, ia tidak puas dengan yang ia terima. Padahal seandainya ia mau mensyukuri apa yang ada,  niscaya Allah akan menambahkan kenikmatan yang Ia berikan kepdanya. Allah sendiri berjanji atas hal itu dalam firman-Nya: لَئِنْ شَكَرْتُم لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ“Seandainya kalian bersyukur niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya atas kalian akan tetapi seandaainya kalian mengingkari nikmat-Nya sesungguhnya adzab-Nya amat pedih.”(QS. Ibrohim: 7)Maka dari itu, seandainya hamba tersebut mau menengok sejenak orang-orang yang berada di bawah mereka (kondisinya) maka ia akan mendapati betapa masih  banyak disana yang jauh menderita, sengsara dalam jeritan nestapa yang tiada tara.Dengan demikian, ia akan senantiasa mensyukuri dengan apa yang Allah titipkan kepdanya, selalu berprasangka baik kepda Allah Dzat yang Maha Pemurah, dan mengikis segala rasa dengki atau hasad kepada saudaranya. karena ia yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap yang Allah gariskan atasnya adalah kado terbaik yang Allah pilihkan untuknya yang terkandung jutaan hikmah dan mutiara  yang tidak diketahui di balik itu semua.Hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku merupakan anugerah yang penuh dengan teka-teki yang sulit untuk kita pahami, yang terkadang setiap apa yang  disangka oleh seorang hamba itu adalah baik untuknya.Oh, pada nestapa yang siap menerkam suatu saat, dan terkadang apa yang ia sangka itu adalah buruk, jelek, tidak baik untuk dirinya… Ternyata di balik itu semua terdapat segudang mutiara kebahagian yang tidak disangka-sangka menantinya…Baca Juga: Manfaat Belajar Sejarah Hidup Nabi MuhammadAkan tetapi dalam masalah beramal  yang nantinya sebagai bekal dan pemberat mizan (timbangan) di akhirat kelak, hendaknya seorang muslim sejati selalu menengadahkan penglihatannya ke atas melihat orang-orang yang berada di shaf terdepan  dalam amalan kebajikan yang mereka lakukan, diantaranya: Kita lihat bagaimana besarnya pengorbanan dan kesabaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam yang mana beliau mengucurkan keringat dan darahnya untuk tegaknya agama Allah ini dan  beliau pun tak sedikit mendapatkan cobaan yang sangat berat dan cacian yang menjijikan. Akan tetapi beliau tetap tegar di dalam mengemban risalah yang berat ini, sampai tegaklah agama Islam di muka bumi yang mana harumnya masih kita rasakan sampai saat ini. Dan kita bisa  melihat besarnya amalan para sahabat yang mereka curahkan untuk Islam dan kaum muslimin, seperti: Kedermawannan Abu Bakar As- Shiddiq, yang mana beliau telah menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai-sampai beliau tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rosul-Nya saja. Begitu pula kedermawanan Ustman bin ‘Affan,  Abdurrahman bin Auf yang tak kalah besarnya. Kekokohan iman Bilal  bin Rabbah ketika melewati detik-detik nestapa yang bertubi-tubi menimpa dirinya, dan beliau tetap tegak dan bersabar  atas cobaan tersebut hanya untuk mempertahankan keimanannya yang tertancap kokoh bagaikan akar pohon kurma. Dan beliau hanya pasrah dengan  mengatakan ”Al ahad alahad Allahussamad”. Keberanian dan kegigihan Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dalam memerangi musuh-musuh Allah dan menghunuskan pedang-pedang mereka dijalan-Nya, yang dengannya Islam tersebar luas di sebagian penjuru dunia. Kefaqihan dan ke’aliman Ummul mukminin A’isyah binti Abu bakar,  Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, dan Abu Hurairah yang mana mereka  telah bersumbangsih dalam mencerdaskan ummat islam. Bahkan diriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah mengganjal perutnya karena pedihnya lapar yang tidak tertahan hanya untuk bisa bermajlis dengan baginda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca Juga: Saat Terindah dalam Hidup ManusiaDan kita pun bisa melihat beberapa contoh suri teladan dari beberapa  tabi’in di dalam kiprahnya yang wangi semerbak bak wangi kasturi, diantaranya: Berbaktinya  Uwais Al-Qorni terhadap ibunya, yang dengannya  namanya semerbak harum dan sudah disebut-sebut oleh baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di kalangan para sahabat-sahabatnya. Ke’aliman dan ke ‘arifan Thowus bin Kaisan, Muhammad bin Shirin, Sufyan At-Tsaury, Hasan Al-Bashri . Kedermwanan Abdullah bin Mubarok. Dan masih banyak lagi para salafus sholih yang telah menggoreskan nama-nama mereka dengan segudang amalan luar biasa yang ditulis oleh para ulama dengan tinta emas, sehingga namanya harum sampai saat ini rodhiyallohu ‘anhum wa rohimahumullah.Mudah-mudah dengan mengetahuinya, pengorbanan yang mereka curahkan dan amalan yang mereka lakukan dapat memotivasi kita di dalam memperbanyak dalam melakukan amal sholih dan mengikuti jejak baik mereka.Disebutkan dalam kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syeikh Sholeh bin Abdullah Al-Ushaimy:فتشبهواان لم تكونوا مثلهم ان تشابه بالكرام فلاح“Teladanilah mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka. Sesungguhnya meneladani orang yang mulia itu sebuah keberuntungan”Jelas sekali dari bait yang ditulis dengan tinta emas ini mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya meneladani orang-orang  sholih walaupun kita tidak bisa meneladani secara sempurna, akan tetapi dengan usaha kita di dalam meneladani mereka akan mendapatkan bingkisan yang luar bisa yang dijanjikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang dikabarkan dalam sebuah haditsnya:قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم -: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» (رواه أبو داود، وقال الألباني: حسن صحيح)،”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka di termasuk kelompok tersebut” [H.R Abu Daud dan syekh albani mengatakan hasan shohih]Baca Juga: Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan DuniaSeandainya seseorang menyerupai orang-orang kafir, pelaku maksiat atau mengikuti trend, model, perkataan atau  perilaku mereka, ditakutkan ia digolongkan ke dalam kelompok mereka. Dan sebaliknya pula seandainya seseorang mengikuti dan meneladani orang-orang sholih bahkan meneladani orang-orang yang dijamin masuk Surga oleh baginda Rosulullah nicaya ia pun akan mendapati apa yang dianugerahkan kepada orang-orang  yang ia teladani tersebut.Semoga dua faidah yang diambil dari pesan singkat yang di tuturkan oleh baginda Nabi ini bermanfaat, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi sebuah renungan sejenak dan bisa mengamalkanya… Aamiin.Baca Juga: Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia Curhat Hanya Kepada Allah @Perum Jamiyyatul Bir, Madinah Al-Munawwaroh, 11 oktober 2014Penulis: Argi Abdul Muhsin As-sundawyArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Uban Menurut Islam, Hadits Tentang Perzinahan, Hisab Di Akhirat, Ayat Bahasa Inggris, Kumpulan Shalat Sunnah

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman

Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman
Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman


Baca pembahasan sebelumnya Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)Penjelasan para Ulama rahimahumullah tentang Makna Kalimat TauhidUntuk melengkapi pembahasan di atas, berikut ini penulis kumpulkan beberapa penjelasan para ulama tentang makna kalimat tauhid. Sehingga pembaca dapat mengetahui bahwa makna kalimat tauhid yang benar sebagaimana penjelasan di atas bukanlah makna yang dibuat-buat pada waktu belakangan ini saja. Akan tetapi, memang inilah makna kalimat tauhid yang telah diajarkan oleh para ulama kita rahimahumullah sejak zaman dahulu.Ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) ketika menjelaskan QS. Al-An’am : 106,اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah selain Dia” beliau rahimahullah mengatakan,لا معبود يستحق عليك إخلاص العبادة له إلا الله“Tidak ada sesembahan yang memiliki hak untuk diibadahi dengan ikhlas kecuali Allah.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wil Al-Qur’an, 12: 32)Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat th. 597 H) berkata ketika menjelaskan tafsir QS. Thaha [20] : 98,إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا“Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”Baca Juga: Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Pada penggalan ayat “sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي يستحق العبادة“Dia-lah yang memiliki hak untuk disembah.” (Zaadul Maisiir, 4: 321)Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) ketika menjelaskan QS. Ali Imran : ayat 6,هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,هو الذي خلق، وهو المستحق للإلهية وحده لا شريك له“Dia-lah (Allah) yang menciptakan, Dia-lah satu-satunya yang memiliki hak uluhiyyah (disembah oleh makhluk), tidak ada sekutu baginya.” (Tafsiir Al-Qur’an Al-‘Adziim, 2: 6)As-Suyuthi rahimahullah (wafat th. 911 H) ketika menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah :255,اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ”Allah, tidak ada ilah melainkan Dia”, beliau langsung menafsirkannya dengan berkata,لا معبود بحق في الوجود”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah di alam semesta ini (selain Allah).” (Tafsiir Jalalain, 1: 261)Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) ketika menjelaskan permulaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah :255),اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”Pada penggalan ayat “tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia”, beliau rahimahullah berkata,لا معبود بحق إلا هو“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia.” (Fathul Qaadir, 1: 366)Itulah penjelasan para ulama dari generasi ke generasi yang sangat mendalam ilmunya tentang makna kalimat “laa ilaaha illallah”. Semoga kutipan-kutipan tersebut semakin meneguhkan hati kita bahwa penjelasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid ini bukanlah penjelasan yang kami buat-buat sendiri atau ajaran baru dalam agama Islam yang tidak dikenal oleh para ulama sebelumnya. Kita dapat melihat bersama, meskipun mereka rahimahumullah menjelaskan kalimat tersebut dengan berbagai model lafadz (kalimat), namun hakikatnya kembali kepada makna yang satu, yaitu “tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”.Baca Juga: Bagaimana Membuktikan Kita Bertauhid Dengan Benar?PenutupDemikianlah pembahasan tentang makna yang benar dari kalimat tauhid. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat mengangkat sedikit di antara kebodohan diri kita tentang agama ini. Dan sungguh, memahami kalimat tauhid merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar bagi hamba-Nya. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,ما أنعم الله على عبد من العباد نعمة أعظم من أن عرفهم لا إله إلا الله وإن لا إله إلا الله لأهل الجنة كالماء البارد لأهل الدنيا ولأجلها أعدت دار الثواب ودار العقاب ولأجلها أمرت الرسل بالجهاد فمن قالها عصم ماله ودمه ومن أباها فماله ودمه هدر وهي مفتاح الجنة ومفتاح دعوة الرسل وبها كلم الله موسى كفاحا“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba dengan suatu nikmat yang lebih agung dari nikmat diberikan pemahaman terhadap kalimat ‘laa ilaaha illallah’. Sesungguhnya kalimat ‘laa ilaaha illallah’ bagi penduduk surga itu bagaikan air yang menyejukkan bagi penduduk dunia. Karena kalimat itulah disiapkan negeri kenikmatan (yaitu surga, pent.) dan negeri hukuman (yaitu neraka, pent.). Karena kalimat itu pula para rasul diperintahkan untuk berjihad.Barangsiapa yang mengatakan kalimat tersebut, maka harta dan darahnya akan terjaga. Dan barangsiapa yang enggan mengatakannya, maka halal-lah harta dan darahnya. Kalimat tersebut adalah kunci surga, dan kunci pembuka dakwah para Rasul. Dan dengan kalimat itu pula, Allah Ta’ala berbicara kepada Musa secara langsung.” (Kalimatul Ikhlas, 1: 53)Baca Juga: Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan Terus Mengulang Pelajaran Tauhid [Selesai]***@Rumah Lendah, 29 Rabiul Akhir 1440/ 6 Januari 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdCatatan kaki:Dalam menyusun pembahasan ini, penulis banyak mengambil inspirasi dan faidah dari tulisan saudara dan sahabat kami, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah, yang berjudul, ”Kalimat Syahadat dalam Sorotan”:🔍 Bentuk Bumi Menurut Alquran, Hukum Jual Beli Kucing Dalam Islam, Hadits Tentang Keutamaan Qurban, Doa Istikharah Cinta, Bagaimana Cara Memuji Seorang Teman

Jangan Pernah Melayani Perdebatan di Dunia Maya

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id

Jangan Pernah Melayani Perdebatan di Dunia Maya

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id


Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan agar kita sebaiknya meninggalkan perdebatan di dunia maya atau sosial media. Beberapa pertimbangannya adalah sebagai berikut:1. Perintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.2. Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran. Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah.3. Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita, bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.4. Debat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat menjadi hobi.5. Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok padahal sesama muslim itu bersaudara.Berikut ini akan kami jelaskan perinciannya.Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat KusirPerintah agar kita meninggalkan debat, meskipun kita benar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, sementara dia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga” (Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 138).Debat di dunia maya cukup sulit mencapai tujuan, yaitu untuk mencari kebenaran.Debat di dunia maya tidak ada aturan seperti diskusi ilmiah, semisal pembahasan loncat-loncat dan tidak ada kesepakatan patokan ilmiah. Setiap orang akan semaunya sendiri saja ketika berbicara dan setiap orang memiliki patokan dan prinsip ilmiah yang berbeda-beda.Apabila kita berdebat dengan orang yang tidak tidak memiliki standar ilmiah yang benar, tentu akan sia-sia berdebat dengan orang tersebut. Agama Islam adalah agama yang ilmiah, berlandaskan Al-Quran dan As-Sunah berdasarkan pemahaman salafus shalih.Terkadang kita tidak mengenal lawat debat kita. Bisa jadi dia adalah orang yang kurang berilmu dengan modal googling saja, belum lagi kalau lawan debat ternyata memakai akun palsu.Apabila lawan debat kita orang yang tidak berilmu atau bahkan orang yang (maaf) bodoh, tentu ini akan membuang-buang waktu saja. Perhatikanlah syair dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,إذا نطق السفيه فلا تجبه .. فخير من إجابته السكوتفإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت“Apabila orang dungu itu berbicara, maka tidak usah dijawab.Sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam.Jika kamu menjawabnya, kamu memberi jalan untuknya.Jika kamu biarkan, dia akan mati sambil marah” (Diiwaan Asy-Syafi’i).Baca Juga: “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak BermanfaatDebat dapat mengeraskan hati dan membuat tersesat apabila debat itu menjadi hobiRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah, kecuali orang yang suka berdebat. Kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja’” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).Tidak jarang debat di dunia maya hanya berujung “saling ngotot” yang berujung saling mengolok-ngolok, padahal sesama muslim itu bersaudara.Perhatikan wasiat Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya,يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ“Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan dia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (Syu’abul Iman no. 8076, Al-Baihaqi).Baca Juga:Demikian, semoga bermanfaat.***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id

4 Nasihat untuk Penuntut Ilmu

Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh

4 Nasihat untuk Penuntut Ilmu

Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh
Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh


Di akhir majelis yang membahas hadits ke-146 dari kitab ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menyampaikan beberapa nasihat penting kepada para penuntut ilmu dengan mengatakan,“Kita tutup majelis ini dengan beberapa kalimat yang ringkas, aku meminta kepada Allah Ta’ala untuk bisa mengambil manfaat darinya.Pertama, aku menyampaikan kabar gembira kepada saudara sekalian yang hadir untuk menuntut ilmu pada zaman ini bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan pahala, dan mereka termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)Lebih-lebih mereka menahan beratnya safar (perjalanan jauh), terpisah dari keluarga dan kampung halaman. Aku berharap kepada Allah Ta’ala untuk melipatgandakan pahala bagi mereka.Baca Juga: Derajat Mulia Penuntut Ilmu AgamaKedua, sesungguhnya seseorang yang melatih (membiasakan) dirinya untuk menanggung kesulitan selama menuntut ilmu termasuk dalam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Karena hal itu termasuk dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahKetiga, aku berharap agar semua yang hadir dapat mengambil manfaat dari ilmu yang didapatkan. Bukan manfaat dari sisi hapalan dan pemahaman, dua hal ini insyaa Allah juga ditekankan, akan tetapi (yang lebih penting adalah) manfaat dengan diamalkan dan (perubahan) akhlak. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan. Bukanlah maksud dari ilmu adalah sebagai argumen (hujjah) yang menyudutkan orang yang mempelajarinya (karena tidak diamalkan, pent.).Wajib atas kalian untuk beramal dengan semua ilmu yang shahih yang telah sampai kepada kalian, sehingga ilmu tersebut berfaidah, menancap dan kokoh di hati kalian. Oleh karena itu dikatakan,العلم يهتف بالعمل، فإن أجاب و إلا ارتحل“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”Perkataan ini benar. Karena jika Engkau mengamalkan ilmumu, maka hal itu akan lebih memperkokoh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga bashirah.Baca Juga: Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu Yang Baik Untuk BelajarKeempat, demikian pula aku berharap kepada para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu, hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya dan tidak memiliki penyakit hasad kepada mereka. Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Bahkan kami katakan, “Jika Engkau mengajari saudaramu, Engkau menjadi lebih berilmu darinya.” Karena Allah Ta’ala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.Terdapat hadits yang valid dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Dan Allah akan senantiasa meonolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)Jika Engkau menolong saudaramu dengan mengajarkannya suatu masalah (bab) ilmu, Allah Ta’ala akan membantumu dengan mengajarkan ilmu lainnya yang belum Engkau miliki. Maka janganlah hasad dengan saudaramu, sebarkanlah ilmu di tengah-tengah mereka, inginkanlah bagi mereka sama seperti apa yang Engkau inginkan bagi dirimu sendiri.”Baca Juga: Adab-Adab Penuntut Ilmu Mengokohkan Ilmu dengan Beramal [Selesai]***@Jogjakarta tercinta, 6 Rabi’ul akhir 1440/ 14 Desember 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, jilid 2, hal. 369-370 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437).🔍 Lelaki Muslim, Aqidah Yang Benar Dalam Islam, Menjamak Shalat Karena Pekerjaan, Penyebab Hati Menjadi Keras, Keajaiban Dunia Kapal Nabi Nuh

10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah

10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 12): Nasihat Ulama Salaf Tentang Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat JiwaPenutup: Perkataan para salaf dalam bab pensucian jiwaSetelah menjelaskan kaidah-kaidah yang dapat membantu seorang hamba dalam membersihkan dan menyucikan jiwa, nampak secara jelas kebutuhan hamba untuk mengintrospeksi diri selama masih berada di dunia, yang merupakan negeri fana dan tempat untuk beramal, sebelum hamba berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, yang apabila dia lalai memperbaiki diri, niscaya hal itulah yang menjadi sebab kebinasaannya.Dulu, para salafus shalih telah memperingatkan dan mewasiatkan manusia betapa pentingnya menyucikan dan memperbaiki jiwa sebelum terlambat dan tak ada lagi kesempatan. Di akhir risalah ini, kami mengutip sebagian wasiat salafush shalih yang tercakup dalam topik ini, terutama wasiat keempat Khulafaur Rasyidin.Baca Juga: Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ahKhalifah Ar-Rasyid yang pertama, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,اعْلَمُوا عِبَادَ اللَّهِ أَنَّكُمْ تَغْدُونَ وَتَرُوحُونَ فِي أَجَلٍ قَدْ غُيِّبَ عَنْكُمْ عِلْمُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْقَضِيَ الْآجَالُ وَأَنْتُمْ فِي عَمَلِ اللَّهِ فَافْعَلُوا , وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا ذَلِكَ إِلَّا بِاللَّهِ , فَسَابِقُوا فِي مَهَلٍ آجَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تَنْقَضِيَ آجَالُكُمْ فَيَرُدَّكُمْ إِلَى أَسْوَأِ أَعْمَالِكُمْ , فَإِنَّ أَقْوَامًا جَعَلُوا آجَالَهُمْ لِغَيْرِهِمْ وَنَسُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَنْهَاكُمْ أَنْ تَكُونُوا أَمْثَالَهُمْ فَالْوَحَاءَ الْوَحَاءَ، وَالنَّجَاءَ النَّجَاءَ , فَإِنَّ وَرَاءَكُمْ طَالِبًا حَثِيثًا مَرُّهُ سَرِيعٌ“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)Khalifah Ar-Rasyid yang ke dua, ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ , يَوْمَ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)Baca Juga: Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan MinumKhalifah Ar-rasyid yang ke tiga, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)Khalifah Ar-rasyid yang ke empat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata,“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)Baca Juga: Inilah Semangat Para Ulama Salaf Dalam Menuntut IlmuAl-Hasan Al-Bashri rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)Maimun bin Mihran rahimahullahu Ta’ala berkata,“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)Kondisi ini semakin ditekankan pada zaman ini dimana banyak terjadi fitnah dan berbagai hal yang memalingkan seseorang dari kebenaran, selain banyaknya kejelekan yang membujuk jiwa untuk melakukan dan menghias-hiasi kebatilan.‘Abdullah bin Mubarak rahimahullahu Ta’ala, salah seorang ulama tabi’in yang mulia, berkata pada zaman beliau,إِنَّ الصَّالِحِينَ فِيمَا مَضَى كَانَتْ أَنْفُسُهُمْ تُوَاتِيهِمْ عَلَى الْخَيْرِ عَفْوًا وَإِنَّ أَنْفُسَنَا لَا تَكَادُ تُوَاتِينَا إِلا عَلَى كُرْهٍ فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نُكْرِهَهَا“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).Menurut anda, bagaimana halnya dengan kondisi di zaman kita ini?!Kami meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-Nya yang agung untuk memperbaiki agama kami yang merupakan harta kami yang paling berharga, untuk memperbaiki dunia kami yang merupakan tempat kami tinggal, untuk memperbaiki akhirat kami yang merupakan tempat kami kembali, dan untuk menjadikan hidup kami sebagai sarana bertambahnya semua kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai tempat istirahat dari semua keburukan.Ya Allah, berikanlah jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah pelindung dan penolongnya.Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang Salafi Bukan Aliran Tertentu [Selesai]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 44-48, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. Diterbitkan oleh Maktabah Itqan KSA, cetakan pertama tahun 1439 / 2018 M.🔍 Bacaan Ruku Dan Sujud Yang Shahih, Sunnah Puasa Syawal, Kaidah Fiqh, Ilmu Kedokteran, Pembebasan Kota Mekah

Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag. 1)

Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal

Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag. 1)

Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal
Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal


Pandai-pandailah melihat hakekat sebuah amal!Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah berkata,فالعاقل ينظر إلى الحقائق لا إلى الظواهر“(Ciri khas) orang yang berakal (sehat) adalah (pandai) melihat hakikat (sesuatu), dan tidak terjebak dengan zahirnya (semata)”.Benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas, karena dalam ajaran Islam, kita dituntut untuk memperhatikan hakikat, bukan semata-mata memperhatikan sisi lahiriyyah (zhahir) amalan semata, walaupun perkara zhahir itu penting diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah, namun hakikat dan perkara batin, hati, dan hakekat sebuah amal lebih penting lagi diperhatikan agar sesuai dengan Sunnah pula.Baca Juga: Apakah Besar Kecil Pahala Suatu Amalan Tergantung dari Niatnya?Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Bada’iul Fawaid (3/244):أعمال القلوب هي الأصل، وأعمال الجوارح تبع ومكملة، وإنّ النيّة بمنزلة الروح، والعمل بمنزلة الجسد للأعضاء، الذي إذا فارق الروح ماتت، فمعرفة أحكام القلوب أهم من معرفة أحكام الجوارحAmal hati itu adalah dasar (dari seluruh amal), dan anggota tubuh lahiriyyah pengikut dan penyempurna. Sesungguhnya niat itu seperti kedudukan ruh, sedangkan amal seperti kedudukan jasad pada tubuh, yang apabila ruh berpisah dengannya, maka akan mati (jasad tersebut), dengan demikian mengenal hukum-hukum amalan hati lebih penting daripada mengenal hukum-hukum amalan anggota tubuh lahiriyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu’ul Fatawa (11/81):والأعمال الظاهرة لا تكون صالحة مقبولة إلا بتوسّط عمل القلب، فإن القلب ملكٌ، والأعضاء جنوده، فإذا خبث خبثت جنوده، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم: إنّ في الجسد مضغة… الحديث“Amal lahiriyyah tak akan menjadi shalih dan diterima kecuali dengan perantara amalan hati, karena hati itu raja, sedangkan anggota tubuh itu pasukannya, maka jika hati buruk, maka buruk pula pasukannya, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إنّ في الجسد مضغةSesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging…” (Al-Hadits)Di dalam Madarijus-Salikin (1/121), Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan macam-macam amal hati dan amal anggota tubuh lahiriyyah, dan keutamaan amalan hati, setelah beliau menyebutkan beberapa contoh amal hati, Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur :وغير ذلك من أعمال القلوب التي فرضها أفرض من أعمال الجوارح، ومستحبها أحب إلى الله من مستحبها، وعمل الجوارح بدونها إما عديمة أو قليلة المنفعة“Dan selainnya dari contoh-contoh amalan hati, yang mana amalan hati yang hukumnya wajib itu lebih wajib daripada amalan wajib lahiriyyah, sedangkan amalan sunnah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahiriyyah. Amalan lahiriyyah tanpa amalan hati, berakibat pada tidak sahnya (tertolaknya) amalan lahiriyyah atau sedikit manfaatnya”Baca Juga: Besarnya Pahala Menghitung Nama-Nama Allah Ta’alaKelurusan dan kebagusan hati, seperti ikhlas, mengharap keridaan Allah, tawakal memohon taufik dan pertolongan-Nya agar sukses dalam beramal, bertekad agar sesuai amalannya dengan Sunnah, mengharap pahala-Nya, dan semacamnya, sangatlah diperlukan untuk sebuah hakekat amal dan kualitasnya.Adapun perkara lainnya yang berpengaruh terhadap amal saleh adalah mutaba’ah (mengikuti Sunnah).Sedangkan ikhlas dan mutaba’ah ini, keduanya adalah dua syarat diterimanya amal saleh dan ibadah seorang hamba.Syarat Diterimanya IbadahIkhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah) adalah syarat diterimanya sebuah ibadah sekaligus inti ujian hidup manusia, Allah Ta’ala berfirman,الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).Al Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan makna أَحْسَنُ عَمَلًا :هو أخلصه وأصوبه“yaitu yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan agama)”Karena demikian tingginya kedudukan ikhlas dan mutaba’ah dalam agama Islam ini, maka pantas jika kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap amal yang kita lakukan.Baca Juga: Dengan Niat, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Yang DermawanPengaruh IkhlasNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرفُ؛ وَمَا كُتِبَ إِلا عُشُرُ صلاتِهِ، تُسُعُها، ثُمنُها، سُبُعُها، سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثلُثُها، نِصْفها“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya dari pahala sholatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فَإِنَّ الْأَعْمَالَ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ مَا في الْقُلُوْبِ مِنَ الإِيْمَانِ وَالْإِخْلاَصِ، وَإِنَّ الرَّجُلَيْنِ لَيَكُوْنَ مَقَامُهُمَا فِي الصَّفِّ وَاحِدًا وَبَيْنَ صَلاَتَيْهِمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاء وَالْأَرْضِ“Sesungguhnya amalan-amalan itu berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu saf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”.Baca Juga: Bolehkah Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah?Pengaruh Mutaba’ahDisebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim) bahwa ada salah seorang yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ), maksudnya, “Kambingmu adalah kambing yang hanya bisa dimanfaatkan dagingnya (untuk dirimu sendiri dan tidak terhitung sebagai kambing kurban)”, mengapa demikian? Karena waktu ibadah menyembelih kurban itu sudah ada ketentuannya dalam sunnah Easulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan diterima ibadah kurban seseorang jika dilakukan di luar waktunya, walaupun niatnya baik.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits tersebut,مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ“Barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sebelum shalat ‘Ied, maka dia menyembelih untuk (diambil manfaatnya ) oleh dirinya sendiri (tidak terhitung sebagai kambing kurban) dan barangsiapa yang menyembelih hewan kurban sesudah shalat ‘Ied, maka telah sempurna ibadahnya dan sesuai dengan sunnatul muslimin (tata cara kaum muslimin)”.(Bersambung) Baca Selanjutnya: Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana (Bag.2)Baca Juga: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala? Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah Penulis: Ustadz Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Zikir, Lelaki Jantan, Al Quran Indah, Sejarah Kaum Yahudi Menurut Islam, Artikel Tentang Dajjal

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki
Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki


Baca pembahasan sebelumnya Pembagian Tauhid Menjadi Tiga, Ide Siapa? (Bag. 2)Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.Baca Juga: Tauhid, Misi Utama Para Nabi dan RasulContohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,من ربك؟(Siapakah Rabbmu), adalah:من إلهك وخالقك؟(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.Baca Juga: Dakwah Tauhid Kepada KeluargaPertanyaan kubur bukanlah pertanyaan hapalanKita telah mengetahui bahwa jawaban atas pertanyaan di alam kubur nanti sangat tergantung pada amalan kita ketika di dunia. Apakah ketika kita di dunia ini menjadi hamba dan penyembah Allah Ta’ala, ataukah menjadi hamba dan penyembah selain Allah Ta’ala. Semua orang sebelum mati, bahkan anak SD sekalipun, sudah hafal jawaban atas pertanyaan-pertanyaan alam kubur. Akan tetapi, pertanyaan di atas bukanlah ujian hapalan. Bisa jadi seseorang sangat hapal jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, namun ketika di alam kubur nanti dia tidak mampu menjawabnya. Karena sekali lagi, kemampuan kita menjawab pertanyaan di atas sangat tergantung dengan amalan kita ketika di dunia.Pertanyaan “man rabbuka” bukanlah untuk menguji apakah seseorang meyakini tauhid rububiyyah ataukah tidak. Karena rububiyyah Allah Ta’ala itu sudah menjadi fitrah manusia, bahkan orang-orang kafir musyrik sekalipun. Jika pertanyaan tersebut untuk menguji keimanaan terhadap tauhid rububiyyah, tentu kaum musyrikin akan mampu menjawabnya.Misalnya, dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ’Allah’. Maka katakanlah, ’Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus [10]: 31)Baca Juga: Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada BadanOleh karena itu, mencukupkan diri dengan meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, tidaklah menyelamatkan seseorang dari neraka dan tidaklah memasukkan seseorang ke dalam agama Islam. Buktinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Arab, meskipun mereka meyakini rububiyyah Allah Ta’ala. Rasulullah perangi mereka sampai mereka meyakini dan menetapkan tauhid uluhiyyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah). Siapa saja yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah, sungguh terjagalah nyawa dan harta mereka, kecuali karena hak (Islam). Sedangkan perhitungannya ada di sisi Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 2946 dan Muslim no. 21)Jika tauhid rububiyyah itu sudah terpatri dalam fitrah manusia, lalu buat apa Allah Ta’ala menyebutkan tauhid rububiyyah dalam Al-Qur’an?Jawabannya adalah keyakinan mereka tentang tauhid rububiyyah itu Allah Ta’ala jadikan sebagai dalil dan bukti untuk menetapkan tauhid uluhiyyah. Maksudnya, bagaimana mungkin kalian orang-orang musyrik meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, namun kalian tidak menetapkan hak uluhiyyah hanya untuk Allah Ta’ala semata?Oleh karena itu, kita jumpai perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah, kemudian Allah Ta’ala sebutkan alasannya yaitu adanya keyakinan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ؛ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21-22)Baca Juga: Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala menyebutkan perintah untuk menyembah-Nya (tauhid uluhiyyah), Allah Ta’ala menyebutkan alasannya, yaitu karena kalian telah meyakini tauhid rububiyyah, dengan meyakini Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia, pencipta bumi dan yang menurunkan hujan dari langit.Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan orang-orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, padahal sesembahan mereka itu tidak memiliki andil sedikit pun dalam penciptaan. Perbuatan mereka itu tidaklah konsisten dan sangat kontradiktif. Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4) [2]Baca Juga: Kisah Pemuda Ahli Tauhid Yang Pemberani Kurang Perhatian Terhadap Dakwah Tauhid, Sebab Perpecahan [Bersambung]***@Puri Gardenia I10, 6 Rabi’ul awwal 1440/ 14 November 2018Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Lihat kitab Al-Irsyaad ila Shahiihil I’tiqaad, ha;. 27-28 karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala (penerbit Maktabah Salsabila).[2] Lihat kitab Duruus minal Qur’anil Kariim, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala, hal. 25-26 (penerbit Daarul ‘Ashimah KSA, cetakan pertama tahun 1421).🔍 Brosur Kajian, Sejarah Awal Mulanya Tahun Masehi, Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Akad Nikah Muslim, Surat Tentang Rezeki

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 10)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat

Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 10)

Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat
Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat


Baca pembahasan sebelumnya Apakah Engkau Ingin Menjadi Pembuka Pintu-Pintu Kebaikan? (Bag. 9)Ke dua belas: Bersemangat untuk menebarkan kebaikanYaitu dengan senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain ketika berkumpul dengan mereka, agar mereka menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan menjauhi segala bentuk keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الدِّينُ النَّصِيحَةُ“Agama ini hanyalah nasihat.” (HR. Muslim no. 55)Seorang hamba tidak akan mampu menjadi kunci kebaikan, kecuali dalam setiap tempat dia berusaha untuk menyebarkan kebaikan.Oleh karena itu, ketika menjelaskan makna firman Allah Ta’ala,وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS. Maryam [19]: 31)Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata, “Yaitu mengajarkan kebaikan, berdakwah kepada Allah Ta’ala, mengingatkan manusia, dan memotivasi untuk taat kepada-Nya. Barangsiapa yang tidak memiliki hal-hal tersebut, maka dia tidak mendapatkan keberkahan. Dicabutlah keberkahan ketika bertemu dan berkumpul dengannya.” (Risalah Ibnul Qayyim li Ahadi Ikhwanihi, hal. 5)Baca juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi no. 2263, Ahmad no. 8812, dan Ibnu Hibban no. 528. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2603). Ke tiga belas: Pintu kebaikan itu saling menyambungYang hendaknya selalu kita ingat adalah bahwa pintu kebaikan itu saling menyambung. Maksudnya, ketika satu pintu kebaikan terbuka, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu kebaikan yang lainnya. Dan ini termasuk di antara nikmat Allah Ta’ala kepada kita.Ketika hati kita dilapangkan untuk membuka pintu kebaikan, bersemangat untuk mengerjakannya, maka kebaikan tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)Meskipun kebaikan itu tampak kecil dan remeh, bersegeralah membukanya dengan penuh semangat dan antusias, sebelum pintu kebaikan tersebut ditutup. Karena jika kita telah membuka pintu kebaikan dan memasukinya, meskipun perkara yang kecil, maka akan kita dapati bahwa kebaikan yang kecil tersebut akan memanggil kebaikan yang lainnya dan akan membuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.Hal ini juga sebagaimana kejelekan yang akan memanggil kejelakan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk.” (QS. Ar-Ruum [30]: 10)Juga terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semakna dengan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian (sedekah), dengan maksud untuk menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah Ta’ala tambahkan untuknya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad no. 9624 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3140. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2231)Oleh karena itu, jangan sekali-kali meremehkan kebaikan, meskipun tampak kecil, remeh dan sedikit. Karena kebaikan yang kecil-kecil itu sesungguhnya adalah pintu awal kebaikan yang sangat banyak.[Bersambung]Baca juga: Al-Fattaah, Maha Pembuka Kebaikan dan Pemberi Keputusan Kebaikan Hilang Karena Maksiat ***@Sint-Jobskade 718 NL, 16 Syawwal 1439/ 30 Juni 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Kaifa takuunu miftaahan lil khair karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 51-54.🔍 Sahabat Menurut Islam, Hadits Qudsi Tentang Memakmurkan Masjid, Hadits Jumatan, Manhaj Dan Mazhab, Dzikir Sebelum Shalat Jumat

Peran Wanita Dalam Dakwah

Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut

Peran Wanita Dalam Dakwah

Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut
Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut


Syaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan:Bagaimana peran wanita dalam dakwah ilallah? Bolehkan wanita keluar dari rumahnya atau negerinya untuk berdakwah ilallah?Jawab:Wanita punya peran dalam dakwah ilallah sesuai dengan kemampuannya. Ia punya peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia bisa berdakwah di rumahnya bersama dengan para Muslimah yang lain, atau di daerahnya, atau di jalan, atau di pasar atau di tempat-tempat lain yang ia mampu untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan dakwah ilallah.Tentunya dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik dan tetap melazimi hijab yang syar’i, serta melazimi ketentuan-ketentuan bagi Muslimah yang Allah syariatkan bagi mereka.Mereka juga boleh bersafar untuk dakwah jika memang diharuskan untuk bersafar, namun wajib bersafar bersama mahram mereka.Ini semua termasuk dalam cakupan ayat:وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (QS. At Taubah: 71).Demikian juga Allah Ta’ala berfirman:وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ“Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang mengajak orang lain kepada Allah?” (QS. Fushilat: 33).Ini semua berlaku umum (mencakup wanita juga).Namun tentu setiap orang melakukannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Laki-laki berdakwah sesuai dengan kadarnya. Wanita berdakwah sesuai dengan kadarnya.فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16). *** Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/3516Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Tingkatan Dzikir Tertinggi, Dunia Datar Menurut Islam, Lukman Al Hakim, Riyadus, Hari Perhitungan Amal Perbuatan Manusia Disebut

Program Tebar Qurban Tanah Air 1439 H / 2018 M

Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi

Program Tebar Qurban Tanah Air 1439 H / 2018 M

Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi
Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi


Insya Allah, dalam tahun ini Tim Peduli Muslim kembali membuka program Tebar Qurban Tanah Air, dengan target utama penyaluran di daerah rintisan dakwah di berbagai pelosok pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Kami masih menjumpai banyaknya desa muslim di kedua kawasan tersebut yang warganya mengalami kendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban. Di sebagian tempat, bahkan merupakan kawasan rawan pemurtadan.Tim Peduli Muslim juga tetap menyasar daerah Jateng – DIY, dengan tetap memprioritaskan hanya daerah yang warganya benar-benar terkendala ekonomi dalam penyelenggaraan qurban.Rincian harga hewan qurban yang diselenggarakan Peduli Muslim adalah sebagai berikut:👉 1/7 sapi: Rp 1.950.000 atau 1 sapi: Rp 13.650.000 (berat hidup +/- 330 kg) 👉 1 kambing: Rp 2.150.000 (berat hidup +/- 35 kg) (Harga sudah termasuk biaya operasional & distribusi daging qurban)Rekening transfer: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 4444.4322.11 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Batas akhir penerimaan: Rabu, 15 Agustus 2018 Konfirmasi Transfer: 0823.2258.9997 (sms/wa) √ Format sms/wa konfirmasi: Qurban / Jenis qurban / Nama / Alamat / Tanggal Transfer / Bang Asal Transfer / Nominal Transfer √ Contoh: Qurban / 1/7 sapi / Ahmad / Surabaya / 1 Juli 2018 / BCA / 1.950.000Sasaran utama distribusi hewan qurban di berbagai kawasan berikut: Penjuru pulau Sulawesi (sapi) Nusa Tenggara Timur (sapi) Jateng – DIY (kambing) Biaya herwan qurban di atas sudah diperhitungkan dengan biaya operasional, perawatan hewan pra penyembelihan, dan distribusi daging qurban. Akan tetapi, kaum muslimin yang ingin membantu menambah bantuan pembiayaan operasional, dapat menyalurkannya melalui rekening khusus operasional berikut: BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta) no. 0.4444.4322.2 a.n. Peduli Muslim Kode transfer bank: 009 atau 427 Semoga ibadah qurban para shahibul qurban diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga daging qurban dari program ini, dapat turut memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di beberapa kawasan yang masih kesulitan dalam penyelenggaraan qurban secara mandiri. Aamiin.🔍 Safar, Bertawasul Adalah, Bacaan Shalat Persis Dan Artinya, Binatang Halal Dan Haram, Jenggot Nabi

Mari Bantu Tebarkan Hewan Qurban ke Pelosok Indonesia Timur | 2016

Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj

Mari Bantu Tebarkan Hewan Qurban ke Pelosok Indonesia Timur | 2016

Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj
Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj


Insya Allah, pada tahun 2016 ini, tim Peduli Muslim akan mengadakan program Tebar Hewan Qurban ke wilayah timur Indonesia, khususnya Sulawesi dan NTT. Daerah di Sulawesi yang sudah menjadi target program adalah Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang. Adapun target program di NTT adalah Ende dan Soe – Timor Tengah Selatan. Tidak menutup kemungkinan apabila nanti kawasan distribusi akan diperluas ke kabupaten lain, ataupun di pulau sekitarnya. Kawasan ini kami pilih karena masih banyak kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut berada dalam garis kemiskinan, dan sebagiannya menjadi kawasan rawan program missionaris.📌 Ketentuan Harga Hewan QurbanKhusus untuk program Sulawesi & NTT, kami hanya membuka penyaluran SAPI, dengan harga: Rp. 1.700.000,00 per 1/7 bagian sapi, atau Rp. 11.900.000,00 per satu ekor sapi. 🔍 Arti Aqidah, Introspeksi Diri Dalam Islam, Gambar Gosip, Uzur Artinya, Sejarah Peristiwa Isra Mi Raj

Fatwa Ulama: Bolehkah Menunda Shalat Karena Pekerjaan?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum menunda shalat karena pekerjaan?Jawab:Jika penundaan shalat tersebut masih dalam rentang awal hingga akhir waktu, dan shalat masih dikerjakan pada waktunya, maka tidak mengapa. Karena menyegerakan shalat di awal waktu adalah perkara afdhaliyah (hal yang utama), tidak sampai wajib. Ini jika tidak ada shalat jama’ah di masjid. Jika ada shalat jama’ah di masjid, maka wajib menghadiri shalat jama’ah. Kecuali bila ia memiliki udzur syar’i untuk tidak menghadiri shalat jama’ah.Jika penundaan shalat tersebut sampai keluar dari waktunya, maka ini tidak diperbolehkan. Kecuali jika seseorang itu lupa atau tenggelam dalam kesibukannya sehingga terlewat dari shalat, dalam hal ini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها“barangsiapa yang tertidur hingga ia melewatkan shalat, atau terlupa, maka hendaknya ia shalat ketika ia ingat”Maka untuk kasus demikian, ketika ia ingat, segeralah ia kerjakan shalat, dan ini tidak mengapa.Namun jika kasusnya, ia sebenarnya ingat waktu shalat, namun karena alasan sibuk dengan pekerjaan lalu ia tunda shalatnya (hingga keluar dari waktunya) maka ini haram dan tidak boleh. Andaikan ia tetap mengerjakan shalat setelah habis waktunya, shalatnya tetap tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد“barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa orang yang sengaja menunda shalat sehingga keluar dari waktunya tanpa udzur syar’i maka ia tidak bisa mengganti shalat tersebut. Karena sudah keluar dari waktu yang diperintahkan oleh syariat untuk mengerjakannya tanpa udzur, sehingga ia menjadi amalan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Wallahul muwaffiq.*** Sumber: http://islamancient.com/newsite/play.php?catsmktba=10316Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Apa Itu Madzi, Belajar Islami, Adab Membaca Al Qur'an, Berapa Hari Kita Puasa Sya Ban, Hadits Tentang Suap Menyuap

Fatwa Ulama: Bolehkah Menunda Shalat Karena Pekerjaan?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum menunda shalat karena pekerjaan?Jawab:Jika penundaan shalat tersebut masih dalam rentang awal hingga akhir waktu, dan shalat masih dikerjakan pada waktunya, maka tidak mengapa. Karena menyegerakan shalat di awal waktu adalah perkara afdhaliyah (hal yang utama), tidak sampai wajib. Ini jika tidak ada shalat jama’ah di masjid. Jika ada shalat jama’ah di masjid, maka wajib menghadiri shalat jama’ah. Kecuali bila ia memiliki udzur syar’i untuk tidak menghadiri shalat jama’ah.Jika penundaan shalat tersebut sampai keluar dari waktunya, maka ini tidak diperbolehkan. Kecuali jika seseorang itu lupa atau tenggelam dalam kesibukannya sehingga terlewat dari shalat, dalam hal ini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها“barangsiapa yang tertidur hingga ia melewatkan shalat, atau terlupa, maka hendaknya ia shalat ketika ia ingat”Maka untuk kasus demikian, ketika ia ingat, segeralah ia kerjakan shalat, dan ini tidak mengapa.Namun jika kasusnya, ia sebenarnya ingat waktu shalat, namun karena alasan sibuk dengan pekerjaan lalu ia tunda shalatnya (hingga keluar dari waktunya) maka ini haram dan tidak boleh. Andaikan ia tetap mengerjakan shalat setelah habis waktunya, shalatnya tetap tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد“barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa orang yang sengaja menunda shalat sehingga keluar dari waktunya tanpa udzur syar’i maka ia tidak bisa mengganti shalat tersebut. Karena sudah keluar dari waktu yang diperintahkan oleh syariat untuk mengerjakannya tanpa udzur, sehingga ia menjadi amalan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Wallahul muwaffiq.*** Sumber: http://islamancient.com/newsite/play.php?catsmktba=10316Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Apa Itu Madzi, Belajar Islami, Adab Membaca Al Qur'an, Berapa Hari Kita Puasa Sya Ban, Hadits Tentang Suap Menyuap
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum menunda shalat karena pekerjaan?Jawab:Jika penundaan shalat tersebut masih dalam rentang awal hingga akhir waktu, dan shalat masih dikerjakan pada waktunya, maka tidak mengapa. Karena menyegerakan shalat di awal waktu adalah perkara afdhaliyah (hal yang utama), tidak sampai wajib. Ini jika tidak ada shalat jama’ah di masjid. Jika ada shalat jama’ah di masjid, maka wajib menghadiri shalat jama’ah. Kecuali bila ia memiliki udzur syar’i untuk tidak menghadiri shalat jama’ah.Jika penundaan shalat tersebut sampai keluar dari waktunya, maka ini tidak diperbolehkan. Kecuali jika seseorang itu lupa atau tenggelam dalam kesibukannya sehingga terlewat dari shalat, dalam hal ini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها“barangsiapa yang tertidur hingga ia melewatkan shalat, atau terlupa, maka hendaknya ia shalat ketika ia ingat”Maka untuk kasus demikian, ketika ia ingat, segeralah ia kerjakan shalat, dan ini tidak mengapa.Namun jika kasusnya, ia sebenarnya ingat waktu shalat, namun karena alasan sibuk dengan pekerjaan lalu ia tunda shalatnya (hingga keluar dari waktunya) maka ini haram dan tidak boleh. Andaikan ia tetap mengerjakan shalat setelah habis waktunya, shalatnya tetap tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد“barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa orang yang sengaja menunda shalat sehingga keluar dari waktunya tanpa udzur syar’i maka ia tidak bisa mengganti shalat tersebut. Karena sudah keluar dari waktu yang diperintahkan oleh syariat untuk mengerjakannya tanpa udzur, sehingga ia menjadi amalan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Wallahul muwaffiq.*** Sumber: http://islamancient.com/newsite/play.php?catsmktba=10316Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Apa Itu Madzi, Belajar Islami, Adab Membaca Al Qur'an, Berapa Hari Kita Puasa Sya Ban, Hadits Tentang Suap Menyuap


Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al UtsaiminSoal:Apa hukum menunda shalat karena pekerjaan?Jawab:Jika penundaan shalat tersebut masih dalam rentang awal hingga akhir waktu, dan shalat masih dikerjakan pada waktunya, maka tidak mengapa. Karena menyegerakan shalat di awal waktu adalah perkara afdhaliyah (hal yang utama), tidak sampai wajib. Ini jika tidak ada shalat jama’ah di masjid. Jika ada shalat jama’ah di masjid, maka wajib menghadiri shalat jama’ah. Kecuali bila ia memiliki udzur syar’i untuk tidak menghadiri shalat jama’ah.Jika penundaan shalat tersebut sampai keluar dari waktunya, maka ini tidak diperbolehkan. Kecuali jika seseorang itu lupa atau tenggelam dalam kesibukannya sehingga terlewat dari shalat, dalam hal ini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها“barangsiapa yang tertidur hingga ia melewatkan shalat, atau terlupa, maka hendaknya ia shalat ketika ia ingat”Maka untuk kasus demikian, ketika ia ingat, segeralah ia kerjakan shalat, dan ini tidak mengapa.Namun jika kasusnya, ia sebenarnya ingat waktu shalat, namun karena alasan sibuk dengan pekerjaan lalu ia tunda shalatnya (hingga keluar dari waktunya) maka ini haram dan tidak boleh. Andaikan ia tetap mengerjakan shalat setelah habis waktunya, shalatnya tetap tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد“barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa orang yang sengaja menunda shalat sehingga keluar dari waktunya tanpa udzur syar’i maka ia tidak bisa mengganti shalat tersebut. Karena sudah keluar dari waktu yang diperintahkan oleh syariat untuk mengerjakannya tanpa udzur, sehingga ia menjadi amalan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Wallahul muwaffiq.*** Sumber: http://islamancient.com/newsite/play.php?catsmktba=10316Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id🔍 Apa Itu Madzi, Belajar Islami, Adab Membaca Al Qur'an, Berapa Hari Kita Puasa Sya Ban, Hadits Tentang Suap Menyuap

Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai Vaksin

Berikut kami sajikan fatwa-fatwa dewan fatwa internasional mengenai bolehnya vaksin, bahkan ada yang fatwanya berisi motivasi dan anjuran agar melakukan vaksin.Kami cukupkan 3 fatwa Dewan Fatwa yang cukup diakui lintas internasional.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiLembaga ini nama resminya adalah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami di bawah naungan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami atau Liga Muslim Sedunia adalah organisasi Islam Internasional terbesar yang berdiri di Makkah Al-Mukarramah pada 14 Zulhijjah 1381 H/Mei 1962 M oleh 22 negara Islam.2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahDewan fatwa di Saudi Arabia yang fatwanya sering dipakai mayoritas kaum muslimin di dunia.3. Fatwa Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and ResearchLembaga ini berkedudukan di Republik Irlandia. Majelis ini mulai didirikan dari sebuah pertemuan yang diadakan di London di Inggris pada 29-30 Maret 1997, yang dihadiri lebih dari lima belas ulama dunia, atas prakarsa dari Ittihad Munazhzhamah fi Urubba (Persatuan Organisasi Islam di Eropa).Perlu diketahui bahwa ulama tidak gegabah berfatwa, mereka juga perlu tahu fiqhul waqi’ (realita), karenanya mereka sebelum berfatwa mencari tahu hakikat persoalan. Misalnya Majma’ Fiqhi Al-Islami, terkait vaksinasi, maka mereka mengundang para ahli vaksin dan dokter untuk dihadirkan dalam muktamar dan diminta menjelaskan mengenai hakikat dan cara pembuatan vaksin serta hal-hal terkait vaksinKarena jika salah memahami fiqhul waqi’, maka salah juga mengeluarkan fatwa, sebagaimana dikenal dalam kaidah,الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ“Fatwa mengenai hukum tertentu merupakan bagian dari pemahaman orang yang memberi fatwa (terhadap pertanyaan yang disampaikan).”Artinya: Jika informasi yang sampai ke pemberi fatwa salah, maka salah juga fatwanya (dalam hal ini bukan salah ustadz/ulamanya).Misalnya ada pertanyaan: “Ustadz, apa hukum vaksin yang MENGANDUNG babi dan berbahaya.”Ustadz menjawab: HaramMaka menyebarlah fatwa “vaksin haram”Padahal: Faktanya TIDAK demikian, program vaksinasi di Indonesia tidak ada satupun yang mengandung babi.[1] Mohon maaf, ada sebagian orang yang bukan ahli fikih bukan juga ahli kesehatan tapi berani bicara vaksin dan hukumnya (ada juga ustadz yang selama ini jadi panutannya dan diikuti segala hal fikihnya, tiba-tiba ustadznya bicara vaksin berdasarkan fakta yang benar mengenai mubahnya vaksin, tiba-tiba ia tolak dan tidak terima, kemudian hilang lah sisi ilmiah pada dirinya).Ini bentuk hati-hati para ulama sebelum berfatwa, jika saja para ulama sudah diragukan fatwanya, tentu kurang baik.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiMajma’ Fiqhi Al-Islami, dengan judul(بيان للتشجيع على التطعيم ضد شلل الأطفال)“Penjelasan untuk MEMOTIVASI gerakan imunisasi memberantas penyakit POLIOBerikut isi fatwanya:إن دفع الأمراض بالتطعيم لا ينافي التوكل؛ كما لا ينافيه دفع داء الجوع والعطش والحر والبرد بأضدادها، بل لا تتم حقيقة التوكل إلا بمباشرة الأسباب الظاهرة التي نصبها الله تعالى مقتضيات لمسبباتها قدرا وشرعا، وقد يكون ترك التطعيم إذا ترتب عليه ضرر محرما.“Mencegah penyakit dengan imunisasi tidak menafikkan tawakal, sebagaimana mencegah lapar, haus, panas dan dingin. Bahkan tidak sempurna hakikat tawakal kecuali dengan melakukan sebab-sebab nyata yang telah Allah tetapkan sebagai penyebabnya baik sebagai sebab qadariyah (sebab-akibat, pent) atau sebagai sebab syar’i. Dan bisa jadi tidak melakukan imunisasi kemudian muncul bahaya, maka ini hukumnya haram.”[2] 2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahVaksin mubah dan termasuk perkara yang disyariatkan menempuh sebab secara ilmiah.وبعد دراسة اللجنة للمعاملة أفتت: بأن استعمال اللقاح المذكور في السؤال وغيره من الأدوية المباحة أمر مشروع وهو من عمل الأسباب المشروعة التي يدفع الله بها الأمراض، ويحصن بها الإنسان أطفاله لما يرجى من النفع في التحصن من الأمراض الخطيرة كالشلل وغيره لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من تصبح بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر أخرجه البخاري ومسلم في (صحيحيهما).وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه، وهو لا ينافي التوكل؛ لأنه من فعل الأسباب المشروعة للتوقي من الأدواء والأمراض التي يخشى نزولها، وقد قال صلى الله عليه وسلم: اعقلها وتوكل أخرجه الترمذي في (جامعه) من حديث أنس رضي الله عنه، والحاكم في (المستدرك) من حديث عمرو بن أمية الضمري، كما أخرجه الطبراني من طرق، وقال الذهبي في (تلخيص المستدرك): (سنده جيد).Setelah al-Lajnah Lil Muamalah menelaah (program imunisasi), maka al-Lajnah berfatwa:“Penggunaan vaksin yang telah disebutkan (oleh Kementerian Kesehatan Saudi Arabia) ataupun vaksin/obat lainnya yang mubah, maka ini termasuk perkara yang disyariatkan dan merupakan bentuk menempuh sebab yang disyariatkan, yang dengannya Allah akan menghindarkan hambanya dari berbagai macam penyakit.Masyarakat bisa melindungi anak-anaknya, karena adanya manfaat yang diharapkan dengan imunitas tubuh dari bermacam-macam penyakit yang berbahaya. Misalnya Polio, atau penyakit lainnya yang timbul karena adanya wabah ataupun sebab-sebab lainnya yang dikhawatirkan timbulnya penyakit karenanya.Hal ini berdasarkan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Barangsiapa yang pada pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwah, maka tidak ada satupun racun dan sihir yang akan membahayakannya pada hari tersebut” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam kitab Shahihnya).Hal ini termasuk dalam kategori mencegah bahaya sebelum terjadinya, dan tidak bertentangan dengan tawakal, karena merupakan upaya yang disyariatkan untuk melindungi diri dari bermacam-macam penyakit dan akibatnya yang dikhawatirkan terjadi.”[3] 3. Fatwa negara Islam Eropa, yaitu Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and Research ( ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﺍﻷﻭﺭﻭﺑﻲ ﻟﻺﻓﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﺒﺤﻮﺙ )Isinya menjelaskan kehalalan vaksin dan memotivasi penggunaan vaksinBerikut fatwanya, terkait vaksin, memutuskan dua hal:أولا: إن استعمال هذا الدواء السائل قد ثبتت فائدته طبيا وأنه يؤدي إلى تحصين الأطفال ووقايتهم من الشلل بإذن الله تعالى، كما أنه لا يوجد له بديل آخر إلى الآن، وبناء على ذلك فاستعماله في المداواة والوقاية جائز لما يترتب على منع استعماله من أضرار كبيرة، فأبواب الفقه واسعة في العفو عن النجاسات – على القول بنجاسة هذا السائل – وخاصة أن هذه النجاسة مستهلكة في المكاثرة والغسل، كما أن هذه الحالة تدخل في باب الضرورات أو الحاجيات التي تن-زل من-زلة الضرورة، وأن من المعلوم أن من أهم مقاصد الشريعة هو تحقيق المصالح والمنافع ودرء المفاسد والمضار.ثانيا: يوصي المجلس أئمة المسلمين ومسئولي مراكزهم أن لا يتشددوا في مثل هذه الأمور الاجتهادية التي تحقق مصالح معتبرة لأبناء المسلمين ما دامت لا تتعارض مع النصوص القطعيةPertama:Penggunaan obat semacam itu ada manfaatnya dari segi medis. Obat semacam itu dapat melindungi anak dan mencegah mereka dari kelumpuhan dengan izin Allah. Dan obat semacam ini (dari enzim babi) belum ada gantinya hingga saat ini. Dengan menimbang hal ini, maka penggunaan obat semacam itu dalam rangka berobat dan pencegahan dibolehkan. Hal ini dengan alasan karena mencegah bahaya (penyakit) yang lebih parah. Dalam bab fikih, masalah ini ada sisi kelonggaran yaitu tidak mengapa menggunakan yang najis (jika memang cairan tersebut dinilai najis). Namun sebenarnya cairan najis tersebut telah mengalami istihlak (melebur) karena bercampur dengan zat suci yang berjumlah banyak. Begitu pula masalah ini masuk dalam hal darurat dan begitu primer, dibutuhkan untuk menghilangkan bahaya. Dan di antara tujuan syari’at adalah menggapai maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.Kedua:Majelis merekomendasikan pada para imam dan pejabat yang berwenang hendaklah posisi mereka tidak bersikap keras dalam perkara ijtihadiyah ini yang nampak ada maslahat bagi anak-anak kaum muslimin selama tidak bertentangan dengan dalil yang definitif (qath’i).[4] Jika ada yang berkata: “Pegangan kita adalah Al-Quran dan As-sunnah, bukan fatwa”Jawab: Ulama juga berfatwa berdasarkan Al-Quran dan sunnah dan ulama lebih paham mengenai hal iniDemikian semoga bermanfaatNOTE:Vaksin Saudi diimpor juga dari Indonesia, Indonesia ekspor banyak sekali vaksin ke berbagai negara, termasuk 30 lebih negara Islam, memenuhi kebutuhan Asia Tenggara, karena vaksin Indonesia buatan dalam negeri oleh PT Biofarma sejak zaman Belanda, bukan buatan Yahudi atau Amerika bahkan sebelum negara Israel ada.Baca Indonesia ekspor vaksin ke Saudi:@ Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel muslim.or.id Catatan kaki:https://muslimafiyah.com/semua-bisa-ngomong-tentang-vaksin.htmlhttp://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=15445&PageNo=1&BookID=3🔍 Hadist Islam Tentang Wanita, Mencari Kesalahan Orang Lain, Penyakit 'ain Dalam Islam, Pemimpin Pemerintah Kumpulan Ulama, Puasa Di Bulan Safar

Fatwa Dewan Fatwa Internasional Mengenai Vaksin

Berikut kami sajikan fatwa-fatwa dewan fatwa internasional mengenai bolehnya vaksin, bahkan ada yang fatwanya berisi motivasi dan anjuran agar melakukan vaksin.Kami cukupkan 3 fatwa Dewan Fatwa yang cukup diakui lintas internasional.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiLembaga ini nama resminya adalah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami di bawah naungan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami atau Liga Muslim Sedunia adalah organisasi Islam Internasional terbesar yang berdiri di Makkah Al-Mukarramah pada 14 Zulhijjah 1381 H/Mei 1962 M oleh 22 negara Islam.2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahDewan fatwa di Saudi Arabia yang fatwanya sering dipakai mayoritas kaum muslimin di dunia.3. Fatwa Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and ResearchLembaga ini berkedudukan di Republik Irlandia. Majelis ini mulai didirikan dari sebuah pertemuan yang diadakan di London di Inggris pada 29-30 Maret 1997, yang dihadiri lebih dari lima belas ulama dunia, atas prakarsa dari Ittihad Munazhzhamah fi Urubba (Persatuan Organisasi Islam di Eropa).Perlu diketahui bahwa ulama tidak gegabah berfatwa, mereka juga perlu tahu fiqhul waqi’ (realita), karenanya mereka sebelum berfatwa mencari tahu hakikat persoalan. Misalnya Majma’ Fiqhi Al-Islami, terkait vaksinasi, maka mereka mengundang para ahli vaksin dan dokter untuk dihadirkan dalam muktamar dan diminta menjelaskan mengenai hakikat dan cara pembuatan vaksin serta hal-hal terkait vaksinKarena jika salah memahami fiqhul waqi’, maka salah juga mengeluarkan fatwa, sebagaimana dikenal dalam kaidah,الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ“Fatwa mengenai hukum tertentu merupakan bagian dari pemahaman orang yang memberi fatwa (terhadap pertanyaan yang disampaikan).”Artinya: Jika informasi yang sampai ke pemberi fatwa salah, maka salah juga fatwanya (dalam hal ini bukan salah ustadz/ulamanya).Misalnya ada pertanyaan: “Ustadz, apa hukum vaksin yang MENGANDUNG babi dan berbahaya.”Ustadz menjawab: HaramMaka menyebarlah fatwa “vaksin haram”Padahal: Faktanya TIDAK demikian, program vaksinasi di Indonesia tidak ada satupun yang mengandung babi.[1] Mohon maaf, ada sebagian orang yang bukan ahli fikih bukan juga ahli kesehatan tapi berani bicara vaksin dan hukumnya (ada juga ustadz yang selama ini jadi panutannya dan diikuti segala hal fikihnya, tiba-tiba ustadznya bicara vaksin berdasarkan fakta yang benar mengenai mubahnya vaksin, tiba-tiba ia tolak dan tidak terima, kemudian hilang lah sisi ilmiah pada dirinya).Ini bentuk hati-hati para ulama sebelum berfatwa, jika saja para ulama sudah diragukan fatwanya, tentu kurang baik.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiMajma’ Fiqhi Al-Islami, dengan judul(بيان للتشجيع على التطعيم ضد شلل الأطفال)“Penjelasan untuk MEMOTIVASI gerakan imunisasi memberantas penyakit POLIOBerikut isi fatwanya:إن دفع الأمراض بالتطعيم لا ينافي التوكل؛ كما لا ينافيه دفع داء الجوع والعطش والحر والبرد بأضدادها، بل لا تتم حقيقة التوكل إلا بمباشرة الأسباب الظاهرة التي نصبها الله تعالى مقتضيات لمسبباتها قدرا وشرعا، وقد يكون ترك التطعيم إذا ترتب عليه ضرر محرما.“Mencegah penyakit dengan imunisasi tidak menafikkan tawakal, sebagaimana mencegah lapar, haus, panas dan dingin. Bahkan tidak sempurna hakikat tawakal kecuali dengan melakukan sebab-sebab nyata yang telah Allah tetapkan sebagai penyebabnya baik sebagai sebab qadariyah (sebab-akibat, pent) atau sebagai sebab syar’i. Dan bisa jadi tidak melakukan imunisasi kemudian muncul bahaya, maka ini hukumnya haram.”[2] 2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahVaksin mubah dan termasuk perkara yang disyariatkan menempuh sebab secara ilmiah.وبعد دراسة اللجنة للمعاملة أفتت: بأن استعمال اللقاح المذكور في السؤال وغيره من الأدوية المباحة أمر مشروع وهو من عمل الأسباب المشروعة التي يدفع الله بها الأمراض، ويحصن بها الإنسان أطفاله لما يرجى من النفع في التحصن من الأمراض الخطيرة كالشلل وغيره لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من تصبح بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر أخرجه البخاري ومسلم في (صحيحيهما).وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه، وهو لا ينافي التوكل؛ لأنه من فعل الأسباب المشروعة للتوقي من الأدواء والأمراض التي يخشى نزولها، وقد قال صلى الله عليه وسلم: اعقلها وتوكل أخرجه الترمذي في (جامعه) من حديث أنس رضي الله عنه، والحاكم في (المستدرك) من حديث عمرو بن أمية الضمري، كما أخرجه الطبراني من طرق، وقال الذهبي في (تلخيص المستدرك): (سنده جيد).Setelah al-Lajnah Lil Muamalah menelaah (program imunisasi), maka al-Lajnah berfatwa:“Penggunaan vaksin yang telah disebutkan (oleh Kementerian Kesehatan Saudi Arabia) ataupun vaksin/obat lainnya yang mubah, maka ini termasuk perkara yang disyariatkan dan merupakan bentuk menempuh sebab yang disyariatkan, yang dengannya Allah akan menghindarkan hambanya dari berbagai macam penyakit.Masyarakat bisa melindungi anak-anaknya, karena adanya manfaat yang diharapkan dengan imunitas tubuh dari bermacam-macam penyakit yang berbahaya. Misalnya Polio, atau penyakit lainnya yang timbul karena adanya wabah ataupun sebab-sebab lainnya yang dikhawatirkan timbulnya penyakit karenanya.Hal ini berdasarkan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Barangsiapa yang pada pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwah, maka tidak ada satupun racun dan sihir yang akan membahayakannya pada hari tersebut” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam kitab Shahihnya).Hal ini termasuk dalam kategori mencegah bahaya sebelum terjadinya, dan tidak bertentangan dengan tawakal, karena merupakan upaya yang disyariatkan untuk melindungi diri dari bermacam-macam penyakit dan akibatnya yang dikhawatirkan terjadi.”[3] 3. Fatwa negara Islam Eropa, yaitu Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and Research ( ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﺍﻷﻭﺭﻭﺑﻲ ﻟﻺﻓﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﺒﺤﻮﺙ )Isinya menjelaskan kehalalan vaksin dan memotivasi penggunaan vaksinBerikut fatwanya, terkait vaksin, memutuskan dua hal:أولا: إن استعمال هذا الدواء السائل قد ثبتت فائدته طبيا وأنه يؤدي إلى تحصين الأطفال ووقايتهم من الشلل بإذن الله تعالى، كما أنه لا يوجد له بديل آخر إلى الآن، وبناء على ذلك فاستعماله في المداواة والوقاية جائز لما يترتب على منع استعماله من أضرار كبيرة، فأبواب الفقه واسعة في العفو عن النجاسات – على القول بنجاسة هذا السائل – وخاصة أن هذه النجاسة مستهلكة في المكاثرة والغسل، كما أن هذه الحالة تدخل في باب الضرورات أو الحاجيات التي تن-زل من-زلة الضرورة، وأن من المعلوم أن من أهم مقاصد الشريعة هو تحقيق المصالح والمنافع ودرء المفاسد والمضار.ثانيا: يوصي المجلس أئمة المسلمين ومسئولي مراكزهم أن لا يتشددوا في مثل هذه الأمور الاجتهادية التي تحقق مصالح معتبرة لأبناء المسلمين ما دامت لا تتعارض مع النصوص القطعيةPertama:Penggunaan obat semacam itu ada manfaatnya dari segi medis. Obat semacam itu dapat melindungi anak dan mencegah mereka dari kelumpuhan dengan izin Allah. Dan obat semacam ini (dari enzim babi) belum ada gantinya hingga saat ini. Dengan menimbang hal ini, maka penggunaan obat semacam itu dalam rangka berobat dan pencegahan dibolehkan. Hal ini dengan alasan karena mencegah bahaya (penyakit) yang lebih parah. Dalam bab fikih, masalah ini ada sisi kelonggaran yaitu tidak mengapa menggunakan yang najis (jika memang cairan tersebut dinilai najis). Namun sebenarnya cairan najis tersebut telah mengalami istihlak (melebur) karena bercampur dengan zat suci yang berjumlah banyak. Begitu pula masalah ini masuk dalam hal darurat dan begitu primer, dibutuhkan untuk menghilangkan bahaya. Dan di antara tujuan syari’at adalah menggapai maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.Kedua:Majelis merekomendasikan pada para imam dan pejabat yang berwenang hendaklah posisi mereka tidak bersikap keras dalam perkara ijtihadiyah ini yang nampak ada maslahat bagi anak-anak kaum muslimin selama tidak bertentangan dengan dalil yang definitif (qath’i).[4] Jika ada yang berkata: “Pegangan kita adalah Al-Quran dan As-sunnah, bukan fatwa”Jawab: Ulama juga berfatwa berdasarkan Al-Quran dan sunnah dan ulama lebih paham mengenai hal iniDemikian semoga bermanfaatNOTE:Vaksin Saudi diimpor juga dari Indonesia, Indonesia ekspor banyak sekali vaksin ke berbagai negara, termasuk 30 lebih negara Islam, memenuhi kebutuhan Asia Tenggara, karena vaksin Indonesia buatan dalam negeri oleh PT Biofarma sejak zaman Belanda, bukan buatan Yahudi atau Amerika bahkan sebelum negara Israel ada.Baca Indonesia ekspor vaksin ke Saudi:@ Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel muslim.or.id Catatan kaki:https://muslimafiyah.com/semua-bisa-ngomong-tentang-vaksin.htmlhttp://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=15445&PageNo=1&BookID=3🔍 Hadist Islam Tentang Wanita, Mencari Kesalahan Orang Lain, Penyakit 'ain Dalam Islam, Pemimpin Pemerintah Kumpulan Ulama, Puasa Di Bulan Safar
Berikut kami sajikan fatwa-fatwa dewan fatwa internasional mengenai bolehnya vaksin, bahkan ada yang fatwanya berisi motivasi dan anjuran agar melakukan vaksin.Kami cukupkan 3 fatwa Dewan Fatwa yang cukup diakui lintas internasional.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiLembaga ini nama resminya adalah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami di bawah naungan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami atau Liga Muslim Sedunia adalah organisasi Islam Internasional terbesar yang berdiri di Makkah Al-Mukarramah pada 14 Zulhijjah 1381 H/Mei 1962 M oleh 22 negara Islam.2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahDewan fatwa di Saudi Arabia yang fatwanya sering dipakai mayoritas kaum muslimin di dunia.3. Fatwa Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and ResearchLembaga ini berkedudukan di Republik Irlandia. Majelis ini mulai didirikan dari sebuah pertemuan yang diadakan di London di Inggris pada 29-30 Maret 1997, yang dihadiri lebih dari lima belas ulama dunia, atas prakarsa dari Ittihad Munazhzhamah fi Urubba (Persatuan Organisasi Islam di Eropa).Perlu diketahui bahwa ulama tidak gegabah berfatwa, mereka juga perlu tahu fiqhul waqi’ (realita), karenanya mereka sebelum berfatwa mencari tahu hakikat persoalan. Misalnya Majma’ Fiqhi Al-Islami, terkait vaksinasi, maka mereka mengundang para ahli vaksin dan dokter untuk dihadirkan dalam muktamar dan diminta menjelaskan mengenai hakikat dan cara pembuatan vaksin serta hal-hal terkait vaksinKarena jika salah memahami fiqhul waqi’, maka salah juga mengeluarkan fatwa, sebagaimana dikenal dalam kaidah,الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ“Fatwa mengenai hukum tertentu merupakan bagian dari pemahaman orang yang memberi fatwa (terhadap pertanyaan yang disampaikan).”Artinya: Jika informasi yang sampai ke pemberi fatwa salah, maka salah juga fatwanya (dalam hal ini bukan salah ustadz/ulamanya).Misalnya ada pertanyaan: “Ustadz, apa hukum vaksin yang MENGANDUNG babi dan berbahaya.”Ustadz menjawab: HaramMaka menyebarlah fatwa “vaksin haram”Padahal: Faktanya TIDAK demikian, program vaksinasi di Indonesia tidak ada satupun yang mengandung babi.[1] Mohon maaf, ada sebagian orang yang bukan ahli fikih bukan juga ahli kesehatan tapi berani bicara vaksin dan hukumnya (ada juga ustadz yang selama ini jadi panutannya dan diikuti segala hal fikihnya, tiba-tiba ustadznya bicara vaksin berdasarkan fakta yang benar mengenai mubahnya vaksin, tiba-tiba ia tolak dan tidak terima, kemudian hilang lah sisi ilmiah pada dirinya).Ini bentuk hati-hati para ulama sebelum berfatwa, jika saja para ulama sudah diragukan fatwanya, tentu kurang baik.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiMajma’ Fiqhi Al-Islami, dengan judul(بيان للتشجيع على التطعيم ضد شلل الأطفال)“Penjelasan untuk MEMOTIVASI gerakan imunisasi memberantas penyakit POLIOBerikut isi fatwanya:إن دفع الأمراض بالتطعيم لا ينافي التوكل؛ كما لا ينافيه دفع داء الجوع والعطش والحر والبرد بأضدادها، بل لا تتم حقيقة التوكل إلا بمباشرة الأسباب الظاهرة التي نصبها الله تعالى مقتضيات لمسبباتها قدرا وشرعا، وقد يكون ترك التطعيم إذا ترتب عليه ضرر محرما.“Mencegah penyakit dengan imunisasi tidak menafikkan tawakal, sebagaimana mencegah lapar, haus, panas dan dingin. Bahkan tidak sempurna hakikat tawakal kecuali dengan melakukan sebab-sebab nyata yang telah Allah tetapkan sebagai penyebabnya baik sebagai sebab qadariyah (sebab-akibat, pent) atau sebagai sebab syar’i. Dan bisa jadi tidak melakukan imunisasi kemudian muncul bahaya, maka ini hukumnya haram.”[2] 2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahVaksin mubah dan termasuk perkara yang disyariatkan menempuh sebab secara ilmiah.وبعد دراسة اللجنة للمعاملة أفتت: بأن استعمال اللقاح المذكور في السؤال وغيره من الأدوية المباحة أمر مشروع وهو من عمل الأسباب المشروعة التي يدفع الله بها الأمراض، ويحصن بها الإنسان أطفاله لما يرجى من النفع في التحصن من الأمراض الخطيرة كالشلل وغيره لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من تصبح بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر أخرجه البخاري ومسلم في (صحيحيهما).وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه، وهو لا ينافي التوكل؛ لأنه من فعل الأسباب المشروعة للتوقي من الأدواء والأمراض التي يخشى نزولها، وقد قال صلى الله عليه وسلم: اعقلها وتوكل أخرجه الترمذي في (جامعه) من حديث أنس رضي الله عنه، والحاكم في (المستدرك) من حديث عمرو بن أمية الضمري، كما أخرجه الطبراني من طرق، وقال الذهبي في (تلخيص المستدرك): (سنده جيد).Setelah al-Lajnah Lil Muamalah menelaah (program imunisasi), maka al-Lajnah berfatwa:“Penggunaan vaksin yang telah disebutkan (oleh Kementerian Kesehatan Saudi Arabia) ataupun vaksin/obat lainnya yang mubah, maka ini termasuk perkara yang disyariatkan dan merupakan bentuk menempuh sebab yang disyariatkan, yang dengannya Allah akan menghindarkan hambanya dari berbagai macam penyakit.Masyarakat bisa melindungi anak-anaknya, karena adanya manfaat yang diharapkan dengan imunitas tubuh dari bermacam-macam penyakit yang berbahaya. Misalnya Polio, atau penyakit lainnya yang timbul karena adanya wabah ataupun sebab-sebab lainnya yang dikhawatirkan timbulnya penyakit karenanya.Hal ini berdasarkan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Barangsiapa yang pada pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwah, maka tidak ada satupun racun dan sihir yang akan membahayakannya pada hari tersebut” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam kitab Shahihnya).Hal ini termasuk dalam kategori mencegah bahaya sebelum terjadinya, dan tidak bertentangan dengan tawakal, karena merupakan upaya yang disyariatkan untuk melindungi diri dari bermacam-macam penyakit dan akibatnya yang dikhawatirkan terjadi.”[3] 3. Fatwa negara Islam Eropa, yaitu Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and Research ( ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﺍﻷﻭﺭﻭﺑﻲ ﻟﻺﻓﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﺒﺤﻮﺙ )Isinya menjelaskan kehalalan vaksin dan memotivasi penggunaan vaksinBerikut fatwanya, terkait vaksin, memutuskan dua hal:أولا: إن استعمال هذا الدواء السائل قد ثبتت فائدته طبيا وأنه يؤدي إلى تحصين الأطفال ووقايتهم من الشلل بإذن الله تعالى، كما أنه لا يوجد له بديل آخر إلى الآن، وبناء على ذلك فاستعماله في المداواة والوقاية جائز لما يترتب على منع استعماله من أضرار كبيرة، فأبواب الفقه واسعة في العفو عن النجاسات – على القول بنجاسة هذا السائل – وخاصة أن هذه النجاسة مستهلكة في المكاثرة والغسل، كما أن هذه الحالة تدخل في باب الضرورات أو الحاجيات التي تن-زل من-زلة الضرورة، وأن من المعلوم أن من أهم مقاصد الشريعة هو تحقيق المصالح والمنافع ودرء المفاسد والمضار.ثانيا: يوصي المجلس أئمة المسلمين ومسئولي مراكزهم أن لا يتشددوا في مثل هذه الأمور الاجتهادية التي تحقق مصالح معتبرة لأبناء المسلمين ما دامت لا تتعارض مع النصوص القطعيةPertama:Penggunaan obat semacam itu ada manfaatnya dari segi medis. Obat semacam itu dapat melindungi anak dan mencegah mereka dari kelumpuhan dengan izin Allah. Dan obat semacam ini (dari enzim babi) belum ada gantinya hingga saat ini. Dengan menimbang hal ini, maka penggunaan obat semacam itu dalam rangka berobat dan pencegahan dibolehkan. Hal ini dengan alasan karena mencegah bahaya (penyakit) yang lebih parah. Dalam bab fikih, masalah ini ada sisi kelonggaran yaitu tidak mengapa menggunakan yang najis (jika memang cairan tersebut dinilai najis). Namun sebenarnya cairan najis tersebut telah mengalami istihlak (melebur) karena bercampur dengan zat suci yang berjumlah banyak. Begitu pula masalah ini masuk dalam hal darurat dan begitu primer, dibutuhkan untuk menghilangkan bahaya. Dan di antara tujuan syari’at adalah menggapai maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.Kedua:Majelis merekomendasikan pada para imam dan pejabat yang berwenang hendaklah posisi mereka tidak bersikap keras dalam perkara ijtihadiyah ini yang nampak ada maslahat bagi anak-anak kaum muslimin selama tidak bertentangan dengan dalil yang definitif (qath’i).[4] Jika ada yang berkata: “Pegangan kita adalah Al-Quran dan As-sunnah, bukan fatwa”Jawab: Ulama juga berfatwa berdasarkan Al-Quran dan sunnah dan ulama lebih paham mengenai hal iniDemikian semoga bermanfaatNOTE:Vaksin Saudi diimpor juga dari Indonesia, Indonesia ekspor banyak sekali vaksin ke berbagai negara, termasuk 30 lebih negara Islam, memenuhi kebutuhan Asia Tenggara, karena vaksin Indonesia buatan dalam negeri oleh PT Biofarma sejak zaman Belanda, bukan buatan Yahudi atau Amerika bahkan sebelum negara Israel ada.Baca Indonesia ekspor vaksin ke Saudi:@ Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel muslim.or.id Catatan kaki:https://muslimafiyah.com/semua-bisa-ngomong-tentang-vaksin.htmlhttp://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=15445&PageNo=1&BookID=3🔍 Hadist Islam Tentang Wanita, Mencari Kesalahan Orang Lain, Penyakit 'ain Dalam Islam, Pemimpin Pemerintah Kumpulan Ulama, Puasa Di Bulan Safar


Berikut kami sajikan fatwa-fatwa dewan fatwa internasional mengenai bolehnya vaksin, bahkan ada yang fatwanya berisi motivasi dan anjuran agar melakukan vaksin.Kami cukupkan 3 fatwa Dewan Fatwa yang cukup diakui lintas internasional.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiLembaga ini nama resminya adalah Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami di bawah naungan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami atau Liga Muslim Sedunia adalah organisasi Islam Internasional terbesar yang berdiri di Makkah Al-Mukarramah pada 14 Zulhijjah 1381 H/Mei 1962 M oleh 22 negara Islam.2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahDewan fatwa di Saudi Arabia yang fatwanya sering dipakai mayoritas kaum muslimin di dunia.3. Fatwa Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and ResearchLembaga ini berkedudukan di Republik Irlandia. Majelis ini mulai didirikan dari sebuah pertemuan yang diadakan di London di Inggris pada 29-30 Maret 1997, yang dihadiri lebih dari lima belas ulama dunia, atas prakarsa dari Ittihad Munazhzhamah fi Urubba (Persatuan Organisasi Islam di Eropa).Perlu diketahui bahwa ulama tidak gegabah berfatwa, mereka juga perlu tahu fiqhul waqi’ (realita), karenanya mereka sebelum berfatwa mencari tahu hakikat persoalan. Misalnya Majma’ Fiqhi Al-Islami, terkait vaksinasi, maka mereka mengundang para ahli vaksin dan dokter untuk dihadirkan dalam muktamar dan diminta menjelaskan mengenai hakikat dan cara pembuatan vaksin serta hal-hal terkait vaksinKarena jika salah memahami fiqhul waqi’, maka salah juga mengeluarkan fatwa, sebagaimana dikenal dalam kaidah,الْحُكْمَ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ“Fatwa mengenai hukum tertentu merupakan bagian dari pemahaman orang yang memberi fatwa (terhadap pertanyaan yang disampaikan).”Artinya: Jika informasi yang sampai ke pemberi fatwa salah, maka salah juga fatwanya (dalam hal ini bukan salah ustadz/ulamanya).Misalnya ada pertanyaan: “Ustadz, apa hukum vaksin yang MENGANDUNG babi dan berbahaya.”Ustadz menjawab: HaramMaka menyebarlah fatwa “vaksin haram”Padahal: Faktanya TIDAK demikian, program vaksinasi di Indonesia tidak ada satupun yang mengandung babi.[1] Mohon maaf, ada sebagian orang yang bukan ahli fikih bukan juga ahli kesehatan tapi berani bicara vaksin dan hukumnya (ada juga ustadz yang selama ini jadi panutannya dan diikuti segala hal fikihnya, tiba-tiba ustadznya bicara vaksin berdasarkan fakta yang benar mengenai mubahnya vaksin, tiba-tiba ia tolak dan tidak terima, kemudian hilang lah sisi ilmiah pada dirinya).Ini bentuk hati-hati para ulama sebelum berfatwa, jika saja para ulama sudah diragukan fatwanya, tentu kurang baik.1. Fatwa Majma’ Fiqhi Al-IslamiMajma’ Fiqhi Al-Islami, dengan judul(بيان للتشجيع على التطعيم ضد شلل الأطفال)“Penjelasan untuk MEMOTIVASI gerakan imunisasi memberantas penyakit POLIOBerikut isi fatwanya:إن دفع الأمراض بالتطعيم لا ينافي التوكل؛ كما لا ينافيه دفع داء الجوع والعطش والحر والبرد بأضدادها، بل لا تتم حقيقة التوكل إلا بمباشرة الأسباب الظاهرة التي نصبها الله تعالى مقتضيات لمسبباتها قدرا وشرعا، وقد يكون ترك التطعيم إذا ترتب عليه ضرر محرما.“Mencegah penyakit dengan imunisasi tidak menafikkan tawakal, sebagaimana mencegah lapar, haus, panas dan dingin. Bahkan tidak sempurna hakikat tawakal kecuali dengan melakukan sebab-sebab nyata yang telah Allah tetapkan sebagai penyebabnya baik sebagai sebab qadariyah (sebab-akibat, pent) atau sebagai sebab syar’i. Dan bisa jadi tidak melakukan imunisasi kemudian muncul bahaya, maka ini hukumnya haram.”[2] 2. Fatwa Al-Lajnah Ad-DaimahVaksin mubah dan termasuk perkara yang disyariatkan menempuh sebab secara ilmiah.وبعد دراسة اللجنة للمعاملة أفتت: بأن استعمال اللقاح المذكور في السؤال وغيره من الأدوية المباحة أمر مشروع وهو من عمل الأسباب المشروعة التي يدفع الله بها الأمراض، ويحصن بها الإنسان أطفاله لما يرجى من النفع في التحصن من الأمراض الخطيرة كالشلل وغيره لوجود وباء أو أسباب أخرى يخشى من وقوع الداء بسببها؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من تصبح بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر أخرجه البخاري ومسلم في (صحيحيهما).وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه، وهو لا ينافي التوكل؛ لأنه من فعل الأسباب المشروعة للتوقي من الأدواء والأمراض التي يخشى نزولها، وقد قال صلى الله عليه وسلم: اعقلها وتوكل أخرجه الترمذي في (جامعه) من حديث أنس رضي الله عنه، والحاكم في (المستدرك) من حديث عمرو بن أمية الضمري، كما أخرجه الطبراني من طرق، وقال الذهبي في (تلخيص المستدرك): (سنده جيد).Setelah al-Lajnah Lil Muamalah menelaah (program imunisasi), maka al-Lajnah berfatwa:“Penggunaan vaksin yang telah disebutkan (oleh Kementerian Kesehatan Saudi Arabia) ataupun vaksin/obat lainnya yang mubah, maka ini termasuk perkara yang disyariatkan dan merupakan bentuk menempuh sebab yang disyariatkan, yang dengannya Allah akan menghindarkan hambanya dari berbagai macam penyakit.Masyarakat bisa melindungi anak-anaknya, karena adanya manfaat yang diharapkan dengan imunitas tubuh dari bermacam-macam penyakit yang berbahaya. Misalnya Polio, atau penyakit lainnya yang timbul karena adanya wabah ataupun sebab-sebab lainnya yang dikhawatirkan timbulnya penyakit karenanya.Hal ini berdasarkan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Barangsiapa yang pada pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwah, maka tidak ada satupun racun dan sihir yang akan membahayakannya pada hari tersebut” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam kitab Shahihnya).Hal ini termasuk dalam kategori mencegah bahaya sebelum terjadinya, dan tidak bertentangan dengan tawakal, karena merupakan upaya yang disyariatkan untuk melindungi diri dari bermacam-macam penyakit dan akibatnya yang dikhawatirkan terjadi.”[3] 3. Fatwa negara Islam Eropa, yaitu Al-Majelis Al-Urubi li Al-Ifta’ wa Al-Buhuts atau European Council for Fatwa and Research ( ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﺍﻷﻭﺭﻭﺑﻲ ﻟﻺﻓﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﺒﺤﻮﺙ )Isinya menjelaskan kehalalan vaksin dan memotivasi penggunaan vaksinBerikut fatwanya, terkait vaksin, memutuskan dua hal:أولا: إن استعمال هذا الدواء السائل قد ثبتت فائدته طبيا وأنه يؤدي إلى تحصين الأطفال ووقايتهم من الشلل بإذن الله تعالى، كما أنه لا يوجد له بديل آخر إلى الآن، وبناء على ذلك فاستعماله في المداواة والوقاية جائز لما يترتب على منع استعماله من أضرار كبيرة، فأبواب الفقه واسعة في العفو عن النجاسات – على القول بنجاسة هذا السائل – وخاصة أن هذه النجاسة مستهلكة في المكاثرة والغسل، كما أن هذه الحالة تدخل في باب الضرورات أو الحاجيات التي تن-زل من-زلة الضرورة، وأن من المعلوم أن من أهم مقاصد الشريعة هو تحقيق المصالح والمنافع ودرء المفاسد والمضار.ثانيا: يوصي المجلس أئمة المسلمين ومسئولي مراكزهم أن لا يتشددوا في مثل هذه الأمور الاجتهادية التي تحقق مصالح معتبرة لأبناء المسلمين ما دامت لا تتعارض مع النصوص القطعيةPertama:Penggunaan obat semacam itu ada manfaatnya dari segi medis. Obat semacam itu dapat melindungi anak dan mencegah mereka dari kelumpuhan dengan izin Allah. Dan obat semacam ini (dari enzim babi) belum ada gantinya hingga saat ini. Dengan menimbang hal ini, maka penggunaan obat semacam itu dalam rangka berobat dan pencegahan dibolehkan. Hal ini dengan alasan karena mencegah bahaya (penyakit) yang lebih parah. Dalam bab fikih, masalah ini ada sisi kelonggaran yaitu tidak mengapa menggunakan yang najis (jika memang cairan tersebut dinilai najis). Namun sebenarnya cairan najis tersebut telah mengalami istihlak (melebur) karena bercampur dengan zat suci yang berjumlah banyak. Begitu pula masalah ini masuk dalam hal darurat dan begitu primer, dibutuhkan untuk menghilangkan bahaya. Dan di antara tujuan syari’at adalah menggapai maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.Kedua:Majelis merekomendasikan pada para imam dan pejabat yang berwenang hendaklah posisi mereka tidak bersikap keras dalam perkara ijtihadiyah ini yang nampak ada maslahat bagi anak-anak kaum muslimin selama tidak bertentangan dengan dalil yang definitif (qath’i).[4] Jika ada yang berkata: “Pegangan kita adalah Al-Quran dan As-sunnah, bukan fatwa”Jawab: Ulama juga berfatwa berdasarkan Al-Quran dan sunnah dan ulama lebih paham mengenai hal iniDemikian semoga bermanfaatNOTE:Vaksin Saudi diimpor juga dari Indonesia, Indonesia ekspor banyak sekali vaksin ke berbagai negara, termasuk 30 lebih negara Islam, memenuhi kebutuhan Asia Tenggara, karena vaksin Indonesia buatan dalam negeri oleh PT Biofarma sejak zaman Belanda, bukan buatan Yahudi atau Amerika bahkan sebelum negara Israel ada.Baca Indonesia ekspor vaksin ke Saudi:@ Yogyakarta TercintaPenyusun: dr. Raehanul Bahraen Artikel muslim.or.id Catatan kaki:https://muslimafiyah.com/semua-bisa-ngomong-tentang-vaksin.htmlhttp://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=15445&PageNo=1&BookID=3🔍 Hadist Islam Tentang Wanita, Mencari Kesalahan Orang Lain, Penyakit 'ain Dalam Islam, Pemimpin Pemerintah Kumpulan Ulama, Puasa Di Bulan Safar

Bantuan Darurat Musim Dingin untuk Para Korban Perang Suriah | Flash Donation 1-13 Februari 2018

Menimbang dahsyatnya peperangan di dalam negeri Suriah, terutama di kawasan Ghouta dan Saraqib yang terus menerus menimbulkan korban sipil berjatuhan, ditambah kondisi musim dingin yang semakin memperberat beban rakyat Suriah, tim kemanusiaan Yayasan Peduli Muslim memutuskan membuka donasi kilat (13 hari) untuk menambah alokasi bantuan kemanusiaan korban perang Suriah yang sudah disiapkan sebelumnya.Donasi dapat disalurkan melalui rekening khusus misi kemanusiaan luar negeri Peduli Muslim:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no: 0.4444.4321.1 a.n. Peduli Muslim > Kode Bank: 009 atau 427 > Swift Code transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA > CP Informasi: 0823.2258.9997 > Batas akhir donasi: Selasa, 13 Februari 2018 —Suriah merupakan salah satu bagian terluas dari tanah Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai Syam:عَلَيْكُمْ بِالشَّامِ فَإنَّهَا صَفْوَةُ بِلَادِ اللهِ يَسْكُنُهَا خِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ.. “Beradalah kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Allah, dihuni oleh makhluk pilihanNya. (Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3089)Apabila kita belum memungkinkan untuk ke negeri Syam, negeri pilihan Allah, sudah sepatutnya kita membantu penduduknya yang saat ini mengalami ujian berat.Semoga Allah ta’ala membalas segenap langkah dan upaya kita dalam membantu meringankan beban penduduk Syam. Aamiin. 🔍 Islam Tidak Mengenal Karma, Hadis Nabi Saw Tentang Keutamaan Bulan Rajab, Perbedaan Fakir Dan Miskin Menurut Islam, Faceapp Haram, Pertanyaan Tentang Hadis

Bantuan Darurat Musim Dingin untuk Para Korban Perang Suriah | Flash Donation 1-13 Februari 2018

Menimbang dahsyatnya peperangan di dalam negeri Suriah, terutama di kawasan Ghouta dan Saraqib yang terus menerus menimbulkan korban sipil berjatuhan, ditambah kondisi musim dingin yang semakin memperberat beban rakyat Suriah, tim kemanusiaan Yayasan Peduli Muslim memutuskan membuka donasi kilat (13 hari) untuk menambah alokasi bantuan kemanusiaan korban perang Suriah yang sudah disiapkan sebelumnya.Donasi dapat disalurkan melalui rekening khusus misi kemanusiaan luar negeri Peduli Muslim:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no: 0.4444.4321.1 a.n. Peduli Muslim > Kode Bank: 009 atau 427 > Swift Code transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA > CP Informasi: 0823.2258.9997 > Batas akhir donasi: Selasa, 13 Februari 2018 —Suriah merupakan salah satu bagian terluas dari tanah Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai Syam:عَلَيْكُمْ بِالشَّامِ فَإنَّهَا صَفْوَةُ بِلَادِ اللهِ يَسْكُنُهَا خِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ.. “Beradalah kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Allah, dihuni oleh makhluk pilihanNya. (Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3089)Apabila kita belum memungkinkan untuk ke negeri Syam, negeri pilihan Allah, sudah sepatutnya kita membantu penduduknya yang saat ini mengalami ujian berat.Semoga Allah ta’ala membalas segenap langkah dan upaya kita dalam membantu meringankan beban penduduk Syam. Aamiin. 🔍 Islam Tidak Mengenal Karma, Hadis Nabi Saw Tentang Keutamaan Bulan Rajab, Perbedaan Fakir Dan Miskin Menurut Islam, Faceapp Haram, Pertanyaan Tentang Hadis
Menimbang dahsyatnya peperangan di dalam negeri Suriah, terutama di kawasan Ghouta dan Saraqib yang terus menerus menimbulkan korban sipil berjatuhan, ditambah kondisi musim dingin yang semakin memperberat beban rakyat Suriah, tim kemanusiaan Yayasan Peduli Muslim memutuskan membuka donasi kilat (13 hari) untuk menambah alokasi bantuan kemanusiaan korban perang Suriah yang sudah disiapkan sebelumnya.Donasi dapat disalurkan melalui rekening khusus misi kemanusiaan luar negeri Peduli Muslim:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no: 0.4444.4321.1 a.n. Peduli Muslim > Kode Bank: 009 atau 427 > Swift Code transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA > CP Informasi: 0823.2258.9997 > Batas akhir donasi: Selasa, 13 Februari 2018 —Suriah merupakan salah satu bagian terluas dari tanah Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai Syam:عَلَيْكُمْ بِالشَّامِ فَإنَّهَا صَفْوَةُ بِلَادِ اللهِ يَسْكُنُهَا خِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ.. “Beradalah kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Allah, dihuni oleh makhluk pilihanNya. (Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3089)Apabila kita belum memungkinkan untuk ke negeri Syam, negeri pilihan Allah, sudah sepatutnya kita membantu penduduknya yang saat ini mengalami ujian berat.Semoga Allah ta’ala membalas segenap langkah dan upaya kita dalam membantu meringankan beban penduduk Syam. Aamiin. 🔍 Islam Tidak Mengenal Karma, Hadis Nabi Saw Tentang Keutamaan Bulan Rajab, Perbedaan Fakir Dan Miskin Menurut Islam, Faceapp Haram, Pertanyaan Tentang Hadis


Menimbang dahsyatnya peperangan di dalam negeri Suriah, terutama di kawasan Ghouta dan Saraqib yang terus menerus menimbulkan korban sipil berjatuhan, ditambah kondisi musim dingin yang semakin memperberat beban rakyat Suriah, tim kemanusiaan Yayasan Peduli Muslim memutuskan membuka donasi kilat (13 hari) untuk menambah alokasi bantuan kemanusiaan korban perang Suriah yang sudah disiapkan sebelumnya.Donasi dapat disalurkan melalui rekening khusus misi kemanusiaan luar negeri Peduli Muslim:BNI Syariah (Kantor Cabang Yogyakarta), no: 0.4444.4321.1 a.n. Peduli Muslim > Kode Bank: 009 atau 427 > Swift Code transfer dari bank luar negeri: BNINIDJA > CP Informasi: 0823.2258.9997 > Batas akhir donasi: Selasa, 13 Februari 2018 —Suriah merupakan salah satu bagian terluas dari tanah Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai Syam:عَلَيْكُمْ بِالشَّامِ فَإنَّهَا صَفْوَةُ بِلَادِ اللهِ يَسْكُنُهَا خِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ.. “Beradalah kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Allah, dihuni oleh makhluk pilihanNya. (Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3089)Apabila kita belum memungkinkan untuk ke negeri Syam, negeri pilihan Allah, sudah sepatutnya kita membantu penduduknya yang saat ini mengalami ujian berat.Semoga Allah ta’ala membalas segenap langkah dan upaya kita dalam membantu meringankan beban penduduk Syam. Aamiin. 🔍 Islam Tidak Mengenal Karma, Hadis Nabi Saw Tentang Keutamaan Bulan Rajab, Perbedaan Fakir Dan Miskin Menurut Islam, Faceapp Haram, Pertanyaan Tentang Hadis
Prev     Next