Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat

Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram

Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat

Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram
Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram


Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ba’da ashar di hari Jumat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[HR. Abu Dawud] Iman Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa waktu mustajab itu adalah ba’da ashar, beliau berkata,قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Ibnul Qayyim berkata,وهذه الساعة هي آخر ساعة بعد العصر، يُعَظِّمُها جميع أهل الملل“Waktu ini ini adalah akhir waktu ashar dan diagungkan oleh semua orang yang beragama” [Zadul Ma’ad 1/384] Bagaimana maksud ba’da ashar tersebut? Berikut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah. Beliau berkata,فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها:١. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازلوكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس٢. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل٣. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازلBagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara: Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggi. Said bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. [Fatwa Sual Wal Jawab no.112165] Perhatikan bagaimana semangat para salaf dahulu memanfaatkan berkahnya waktu ba’da ashar di hari Jumat.Ibnul Qayyim berkata,كان سعيد بن جبير إذا صلى العصر، لم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس – يعني كان منشغلا بالدعاء“Dahulu Sa’id bin Jubair apabila telah shalat ashar, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib) karena sibuk dengan berdoa.” [Zadul Ma’ad 1/384] كان طاووس بن كيسان إذا صلى العصر يوم الجمعة، استقبل القبلة، ولم يكلم أحدًا حتى تغرب الشمس“Dahulu Thawus bin Kaisan jika shalat ashar pada hari Jumat menghadap kiblat, ia tidak berbicara dengan seorang pun sampai tenggelam matahari (magrib).” [Tarikh Waasith] Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bisa dkabulkan, akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab. Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat. Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.” [ Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270] Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaAgar tidak salah dalam beramal di hari jum’at, coba baca artikel berikut. Beberapa Kesalahan di Hari Jumat ***Penyusun: Raehanul BahraenArtikel: muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Bid Ah, Tugas Wanita Dalam Islam, Kitab Shahih Muslim, Filosofi Sabar, Main Catur Haram

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Apakah Musibahmu Karena Maksiat? – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Semoga Allah memberkahi Anda, wahai syeikh yang mulia.. bagaimana orang yang sedang diuji tahu bahwa musibah yang menimpanya adalah untuk mengangkat derajatnya dan bukan disebabkan dosa-dosanya? Memberikan musibah adalah satu dari perbuatan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla tidak berbuat apapun kecuali dengan hikmah. Tidaklah seorang mukmin diuji kecuali ada hikmah padanya dan Allah Maha Mengetahui akan hal tersebut. Terkadang, musibah menjadi pengingat dari kelalaian ketika seseorang sudah jauh dari pintu Allah dan melalaikan hak Allah ‘azza wa jalla. Maka Allah turunkan musibah kepadanya untuk mengingatkan dia dari kelalaiannya ini, agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terkadang musibah menjadi penghapus dosa ketika seorang hamba berbuat dosa, kemudian Allah berikan musibah kepadanya untuk menghapus dosanya tersebut. Terkadang musibah akan mengangkat derajat seorang hamba, yaitu ketika Allah ingin memberikan kedudukan yang tinggi di surga yang tidak bisa dia capai dengan amalnya, sehingga Allah berikan musibah kepadanya agar dia bisa mencapai derajat itu di surga. Ketika musibah menimpa, para ulama mengatakan bahwa seorang mukmin hendaknya berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sendiri. Dia berprasangka baik pada Tuhannya karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya dan dia berprasangka buruk pada dirinya sendiri dengan berkata, “Tidaklah musibah ini menimpa diriku kecuali karena dosaku.” Sehingga dia bisa mengintrospeksi dirinya dan memeriksa kembali keadaan dirinya agar dia kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saudara-saudara, musibah juga terkadang menjadi penghapus dosa. Apapun sebab musibah tersebut, tidaklah musibah menimpa seorang mukmin kecuali akan mendatangkan kebaikan untuknya atau menghindarkan keburukan darinya. Di balik ujian dari Allah terdapat banyak hikmah yang agung. Akan tetapi hendaknya seseorang tidak perlu berpikir untuk mengetahui apakah musibah yang menimpanya karena ini atau karena itu, namun cukuplah baginya untuk berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka buruk kepada dirinya sehingga ujiannya tersebut menjadi sebab kebaikan untuk dirinya dan kembalinya dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala. =============================================================================== بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ كَيْفَ يَعْرِفُ الْمُبْتَلَى أَنَّهُ ابْتِلَاءُهُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَاتِ وَلَيْسَ بِذُنُوبِهِ؟ الْاِبْتِلَاءُ مِنْ أَفْعَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَفْعَلُ إِلَّا لِحِكْمَةٍ وَلَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِمُؤْمِنٍ إِلَّا وَفِيهِ مِنَ الْحِكَمِ فَاللهُ بِهِ عَلِيمٌ فَقَدْ يَكُونُ الْبَلَاءُ تَنْبِيهًا مِنْ غَفْلَةٍ فَيَكُونُ الْإِنْسَانُ بَعُدَ عَنْ بَابِ اللهِ وَقَصَّرَ فِي حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً يُنَبِّهُهُ بِهِ مِنْ هَذِهِ الْغَفْلَةِ لِيَعُودَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِذَنْبٍ فَيَكُونُ الْعَبْدُ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَيُنْزِلُ اللهُ بِهِ بَلَاءً تَكْفِيرًا لِذَنْبِهِ وَقَدْ يَكُونُ رِفْعَةً لِلدَّرَجَةِ فَيَكُونُ اللهُ أَرَادَ بِالْعَبْدِ مَنْزِلَةً فِي الْجَنَّةِ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ الْبَلَاءَ لِيَبْلُغَ تِلْكَ الدَّرَجَةَ فِي الْجَنَّةِ وَإِذَا نَزَلَ الْبَلَاءُ يَقُولُ الْعُلَمَاءُ الْمُؤْمِنُ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَاللهُ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِهِ بِهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ يَقُولُ مَا نَزَلَ بِي هَذَا الْبَلَاءُ إِلَّا بِذَنْبِي وَيُرَاجِعُ نَفْسَهُ وَيَتَفَقَّدُ حَالَهُ لِيَرْجِعَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْبَلَاءُ يَا إِخْوَةُ أَيْضًا قَدْ يَكُونُ تَكْفِيرًا لِلسَّيِّئَاتِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ لَا يَنْزِلُ بَلَاءٌ بِالْمُؤْمِنِ إِلَّا لِتَحْقِيقِ مَصْلَحَةٍ لَهُ أَوْ دَفْعِ مَفْسَدَةٍ عَنْهُ فَالْاِبْتِلَاءُ مِنَ اللهِ لِحِكَمٍ عَظِيمَةٍ لَكِنْ لَا يَعْتَنِي الْإِنْسَانُ بِأَنْ يَعْرِفَ هَلْ هَذَا الْبَلَاءُ لِكَذَا أَوْ لِكَذَا وَإِنَّمَا يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ وَيُسِيءُ الظَّنَّ بِنَفْسِهِ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ سَبَبًا لِخَيْرِهِ وَرُجُوعِهِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    
Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    


Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan mengabulkan permintaannya Dan memenuhi kebutuhan dan permohonannya Allah -Jalla fi ‘Ulahu- tidak akan mengecewakannya. Tiga perkara ini adalah Yang pertama jujur kepada Allah –‘Azza wa Jalla-.Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan dalam membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- larang Jujur dalam hal tersebut Dan kejujuran merupakan perkara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba dalam urusan agama dan dunianya Yang Aku maksud, jujur kepada Allah merupakan tingkat kejujuran tertinggi “Inilah saat orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujurannya.” (QS. Al-Maidah: 119) Kejujuran kepada Allah -‘Azza wa Jalla- sangat besar manfaatnya bagi seorang hamba Baik itu di dunia maupun di akhirat Salah satu bentuk kejujuran kepada Allah -Jalla wa ‘Ala- adalah Kejujuran dalam mencintai syariat-Nya Dalam mencintai apa yang Allah perintahkan Dan membenci apa yang Allah larang Melakukan hal itu benar-benar dari hatinya Mencintai apa yang Allah cintai Dan membenci apa yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- benci Ini yang pertama. Sedangkan yang kedua adalah melakukan ikhtiar dan bersungguh-sungguh dalam menggapai tujuan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 60). Dan yang ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah Dan menyerahkan urusan kepada-Nya -Jalla wa ‘Ala- Jika telah terkumpul tiga perkara ini dalam diri seorang hamba; Jujur kepada Allah dalam mencintai apa yang Allah perintahkan…Dan membenci apa yang Allah larang Dan yang kedua, berikhtiar Berusaha agar dapat menjalankan perintah. Dan menjauhi larangan Dan ketiga, memohon pertolongan dari Allah dan bertawakkal kepada-Nya Maka dengan tiga ini -dengan izin Allah –‘Azza wa Jalla tidak akan dikecewakan oleh Allah Sebanyak apapun masalah dan sebesar apapun musibah yang dihadapi Dan asy-Syaikh -rahimahullah- memberi contoh dalam hal ini Dengan kisah Nabi Yusuf yang telah Allah –‘Azza wa Jalla- muliakan Dengan memohon perlindungan-Nya ketika berada dalam keadaan yang sangat sulit Banyak sekali godaan yang menghampiri Nabi Yusuf ketika itu Setiap godaannya cukup untuk membinasakan manusia Dan menjerumuskannya dalam kehancuran Banyak godaan yang menimpa beliau, lebih dari sepuluh godaan Setiap godaan cukup untuk membinasakan seseorang Meski godaan itu begitu banyak dan beraneka ragam Beliau memohon perlindungan dengan karunia Allah baginya Sehingga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyelamatkannya Dan menjauhkannya dari keburukan dan perbuatan keji. Ini merupakan contoh ketika tiga perkara ini terpenuhi Namun aku akan memberi contoh yang serupa Dari sudut pandang yang berbeda Agar hal ini lebih jelas Banyak sekali yang mengadu, terlebih lagi para pemuda Tentang berbagai dorongan untuk berbuat keji Dorongan-dorongan untuk berbuat keji dan banyaknya godaan Bahkan sebagian mereka beranggapan Akibat banyaknya godaan di negara atau di tempatnya Bahwa menjauhkan diri perbuatan keji tidak mungkin lagi dilakukan Demikianlah dia menyerah dan angkat tangan Bahkan dia meyakinkan dirinya bahwa dengan banyaknya godaan tersebut, Dia tidak akan mampu untuk menjauhkan diri dan selamat dari godaan itu Maka dari itu -wal’iyadzu billah- dia menyerahkan dirinya kepada berbagai godaan itu Dan terjerumus ke dalam apa yang Allah -Jalla fi ‘Ula- murkai Andai saja dia mencermati tiga perkara ini Dan memeriksa hubungan dirinya dengannya Niscaya dia akan mendapati bahwa dia tidaklah terjerumus ke dalam godaan Kecuali karena dia tidak melakukan tiga perkara ini Atau tidak tidak melakukan salah satunya. Dari situlah semua terjadi Namun jika tiga perkara ini ada dalam dirinya Maka dengan izin Allah akan seperti apa yang penulis katakan Sebanyak apapun godaan yang menerpa, dia akan selamat Sebanyak apapun godaan itu dan sebesar apapun kekuatannya Sebanyak apapun itu, ia akan selamat jika dalam dirinya terdapat tiga perkara ini Oleh sebab itu, setiap pemuda terlebih lagi ketika berada dalam godaan, Harus menumbuhkan tiga perkara ini dalam hatinya dan meneguhkannya dalam dirinya Karena itu merupakan perlindungan baginya dari perbuatan keji, hina, dan haram, Sebesar apapun godaannya Karena jika tiga perkara ini telah dilakukan, maka perlindungan dari godaan itu Akan menjadi karunia dari Allah baginya “Demikianlah agar Kami memalingkannya (dari perbuatan keji)…” (QS. Yusuf: 24). Allah-lah yang memalingkannya darinya Dan suatu saat dia akan terheran bagaimana dia dapat selamat dari godaan yang begitu banyak …berkat kelembutan dan karunia Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Padahal, biasanya orang tidak akan selamat darinya Maka setiap pemuda harus berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tiga perkara ini. ============================================================================== نَعَمْ هَذِهِ فَائِدَةٌ يَذْكُرُهَا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ أُمُورٌ ثَلَاثَةٌ لِلْعَبْدِ فَإِنَّهُ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ فِيمَا أَمَّلَ وَلَا يَرُدُّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيمَا سَأَلَ بَلْ يُعْطِيَهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَيُحَقِّقَ لَهُ حَاجَتَهُ وَطِلْبَتَهُ وَلَا يُخَيِّبُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُهَا الصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَكُونَ صَادِقًا وَالصِّدْقُ هُوَ أَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ أَعْنِي الصِّدْقَ مَعَ اللهِ وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الصِّدْقِ وَأَرْفَعُهَا هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقَيْنِ صِدْقُهُمْ فَالصِّدْقُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَارُهُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّادِقِ عَظِيمَةٌ جِدًا فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ وَمِنِ الصِّدْقِ مَعَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا صِدْقُهُ فِي حُبِّ شَرْعِ اللهِ حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَيَكُونُ صَادِقًا فِي ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ يُحِبُّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَكْرَهُ مَا يَكْرَهُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذِهِ وَاحِدَةٌ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ وَمُجَاهِدَةُ النَّفْسِ عَلَى تَحْصِيلِ الْمَطْلُوبِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لِنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنَيْنِ وَالثَّالِثَةُ الْاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ وَتَفْوِيضُ الْأَمْرِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ قَدِ اجْتَمَعَتْ فِي هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثَةِ صِدْقُهُ مَعَ اللهِ فِي حُبِّ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَكَرَاهِيَّةِ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ الثَّانِيَةُ بَذْلُ السَّبَبِ بَذَلَ السَّبَبَ فِي تَحْصِيلِ الْمَأْمُورِ وَاجْتِنَابِ الْمَنْهِيِّ وَالثَّالِثَةُ طَلَبُ الْمَدِّ وَالْعَوْنِ مِنَ اللهِ مُسْتَعِينًا بِهِ مُتَوَكِّلًا عَلَيْهِ فَهَذَا بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخَيِّبُهُ اللهُ مَهْمَا كَثُرَتِ الْوَارِدَاتُ وَمَهْمَا عَظُمَتْ الْمُهْلِكَاتُ وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ ضَرَبَ مَثَلًا عَلَى ذَلِكَ فِي قِصَّةِ يُوْسُفَ مَا أكْرَمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنِ اسْتِعْصَامٍ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْعَصِيبِ الشَّدِيدِ لِأَنَّهُ اِجْتَمَعَ عَلَى يُوْسُفَ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ مُغْرِيَاتٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا وَعَدِيدَةٌ كُلُّ وَاحِدَةٍ كَافِيَةٌ فِي أَنْ تُهْلِكَ الْإِنْسَانَ وَأَنْ تُوقِعَهُ فِي الْهَلَاكِ اِجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ تَزِيدُ عَلَى عَشْرَةِ أُمُورٍ كَلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا كَافِيَةٌ فِي إِهْلَاَكِ الْمَرْءِ وَمَعَ كَثْرَةِ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَتَنَوُّعِهَا وَتَعَدُّدِهَا اِسْتَعْصَمَ بِمِنَّةِ اللهِ عَلَيْهِ وَفَضْلِهِ وَنَجَّاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَرَفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ فَهَذَا مِثَالٌ لِتَحَقُّقِ هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ لَكِنَّنِي أَضْرِبُ الْمِثَالَ نَفْسَهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى لِيَتَّضِحَ الْأَمْرُ أَكْثَرُ كَثِيرٌ مَا يَشْتَكِي خَاصَّةً الشَّبَابُ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ وَكَثْرَةَ الْمُغْرِيَاتِ حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ يَزْعُمُ مَعَ كَثْرَةِ دَوَاعِي الْفِتْنَةِ فِي بَلَدِهِ وَمَوْطِنِهِ أَنَّ الِاسْتِعْصَامَ مِنَ الْفَاحِشَةِ غَيْرُ مُمْكِنٍ هَكَذَا اِسْتَسْلَمَ وَاِنْهَزَمَ وَأَقْنَعَ نَفْسَهُ أَنَّهُ مَعَ هَذِهِ الْمُغْرِيَاتِ وَكَثْرَتِهَا أَصْلًا غَيْرُ مُمْكِنٍ الِاسْتِعْصَامُ وَالنَّجَاةُ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَبِالتَّالِيْ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ سَلَّمَ نَفْسَهُ لِهَذِهِ الْفِتَنِ وَوَقَعَ فِيمَا يُغْضِبُ اللهُ وَيُسْخِطُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ إِذَا تَأَمَّلَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ وَفَتَّشَ حَالَهُ مَعَهُ فَلَنْ يُؤْتَى فِي هَذَا الْبَابِ إِلَّا مِنْ إِخْلَالٍ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ أَوْ بِوَاحِدَةٍ مِنْهَا مِنْ هُنَا يُؤْتَى لَكِنْ إِنْ وُجِدَتْ هَذِهِ الثَّلَاثُ بِإِذْنِ اللهِ مِثْلُ مَا قَالَ الْمُصَنِّفُ مَهْمَا تَكَاثَرَتِ الْأَسْبَابُ الْمُعَارِضَةُ يَسْلَمُ مَهْمَا تَكَاثَرَتْ وَعَظُمَتْ وَاِشْتَدَّ خَطْبُهَا مَهْمَا تَكَاثَرَتْ يَسْلَمُ إِذَا اِجْتَمَعَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الشَّابُّ وَخَاصَّةً فِي مَوَاطِنِ الْفِتَنِ أَنْ يُنَمِّيَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ فِي قَلْبِهِ وَيُمَتِّنُهَا فِي نَفْسِهِ فَإِنَّهَا عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَالْخَسَائِسِ وَالْمُحَرَّمَاتِ مَهْمَا كَانَتِ الدَّوَافِعُ لِأَنَّ صَرْفَهَا عَنْهُ وَصَرْفَهُ عَنْهَا إِذَا حَقَّقَ هَذِهِ الْأُمُورَ الثَّلَاثَةَ سَيَكُونُ عَطِيَّةً لَهُ مِنَ اللهِ وَمِنَّةً كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ اللهُ الَّذِي يَصْرِفُ عَنْهُ هُوَ سَيَتَعَجَّبُ فِيمَا بَعْدُ كَيْفَ أَنَّهُ مَعَ كَثْرَتِهَا نَجَا بِلُطْفِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنِّهِ وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْجُو لَكِنْ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ يَنْبَغِيْ عَلَى الشَّابِّ أَنْ يَعْمَلَ جَاهِدًا عَلَى تَحْقِيقِهَا    

Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang

Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang

Tips Cerdas Menghindari Gali Lubang Tutup Lubang dalam Utang

Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang
Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang


Menyelesaikan utang dengan gali lubang tutup lubang (alias: cari utangan lagi untuk menutupi utang yang lain), bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya menambah masalah. Ada yang punya usaha, ingin kembangkan, ia cari pinjaman utang (riba). Eh ternyata usaha sekarang gak jalan, utang pun dicari lagi untuk menutupi utang sebelumnya. Ada yang beli mobil secara cicilan (sebenarnya untuk mendukung usaha, lalu sedikit tambah gaya). Ternyata usaha tidak berjalan lancar seperti dulu, utang pun jadi menumpuk. Jadinya yang dipikirkan bagaimana bisa untuk gali lubang tutup lubang.    Apa solusinya agar tidak gali lubang tutup lubang lagi? Pertama, tundalah kesenangan. Pangkas pengeluaran yang tidak terlalu penting atau masih bisa ditunda. Kalau gaji harus digunakan untuk membayar utang lebih banyak, tekan angaran untuk bersenang-senang, seperti traveling, hang out, menonton film di bioskop, atau belanja yang hanya sekadar untuk menambah keren. Baca juga: Cara Melunasi Utang Ratusan Juta dalam Waktu Singkat Kedua, mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kurangi gengsi, ingin keren, dan hal tak penting lainnya. Jangan berutang untuk hal-hal seperti ini lagi. Baca juga: Banyak Gaya dengan Utang Keempat, jual aset jika ingin utang cepat lunas. Kelima, memikirkan strategi bisnis yang baik jika utang tersebut terkait bisnis. Keenam, sebenarnya ibadah juga perlu dikoreksi karena bisa jadi lubang baru itu muncul karena kita jauh dari mendapat pertolongan Allah.  Kenapa tak ditolong oleh Allah? Iya, karena kita sendiri tak mau dekat dengan Allah, tak mau ibadah. Wong, ke masjid saja jarang. Kepala saja tidak pernah digunakan untuk sujud di tanah. Sajadah dan perlengkapan shalat saja barulah keluar dari lemari ketika Idulfitri tiba. Ada majelis ilmu dekat dari rumah dan mudah dijangkau, para ustadz dan kyai sudah siap beri ilmu yang menuntun pada kebaikan itu saja tidak pernah didatangi.  Coba kita renungkan kenapa pertolongan Allah tak kunjung datang dan kita terus merasa susah saat ini. Padahal Allah sudah janjikan, takwa itu membuka jalan keluar dan menyebabkan rezeki itu datang dari pintu mana saja yang tak disangka-sangka.  Baca juga: Allah Akan Menolong Orang yang Berutang Ketujuh, bertekad untuk tidak utang lagi, apalagi utang riba. Sudahlah, gak usah menambah utang lagi, hindari prinsip gali lubang tutup lubang. Kami hanya bisa terus ingatkan dan doakan Anda, semoga utang Anda cepat lunas.    Baca juga: Lagi Dikejar Utang 6 Milyar Hidup Mewah dengan Utang Riba 7 Solusi Utang Riba Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampangan-Gampangan untuk Utang — Catatan 16 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba cari kredit mudah doa lunas utang komoditas ribawi kredit kredit riba mobil kredit motor kredit pemakan riba riba bank solusi utang riba utang utang piutang

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟
Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟


Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan. Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik? =========================================================================== أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟ فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟ وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ
Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ


Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.” Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak. ================================================================================ وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  
Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  


Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan. Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan” Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya =============================================================================== ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ لِمَاذَا؟ لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا أَحْسَنْتَ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ فَمَنْ صَمَتَ نَجَا وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ  

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ
Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ


Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab? Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf =============================================================================== يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟ ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ

Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Huruf Alif dan Lam dalam kata (الْيَهُوْدُ) dan (النَّصَارَى) adalah untuk istighraqiyyah (mencakup keseluruhan) yakni seluruh orang Yahudi dan Nasrani adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan orang-orang yang dimurkai. Namun sebutan ini tidak mencakup orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa –‘alaihishalatu wassalam- dan kepada Nabi Isa –‘alaihishalatu wassalam-. Dan orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa disebut mukminun Bani Israil sedangkan orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa disebut al-Masihiyun Adapun orang-orang yang mengubah dan mengganti agama Yahudi dan Nasrani sehingga mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan kesesatan, maka mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti para Nabi mereka. ============================================================================== الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الْأَلِفُ وَالَّلامُ هُنَا فِيْهِمَا اِسْتِغْرَاقِيَّةٌ بِاعْتِبَارِ كُلٌ مَنْ كَانَ مِنَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّهُ يَكُوْنُ مِنَ الضَّالِّيْنَ وَالْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِسْمُ اسْماً لِلْمُؤْمِنِيْنَ بِمُوْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبِعِيْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَالْمُؤْمِنُوْنَ بِمُوْسَى هُمْ مُؤْمِنُوْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَالْمُؤْمْنُوْنَ بِعِيْسَى هُمُ الْمَسِيْحِيُّوْنَ وَأَمَّا الَّذِيْنَ غَيَّرُوْا وَبَدَّلُوْا وَصَارَ لَهُمْ حَظٌّ مِنَ الْغَضَبِ وَالضَّلَالِ فَهُمُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الَّذِيْنَ لَمْ يَتْبَعُوا الْأَنْبِيَاءَ

Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Huruf Alif dan Lam dalam kata (الْيَهُوْدُ) dan (النَّصَارَى) adalah untuk istighraqiyyah (mencakup keseluruhan) yakni seluruh orang Yahudi dan Nasrani adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan orang-orang yang dimurkai. Namun sebutan ini tidak mencakup orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa –‘alaihishalatu wassalam- dan kepada Nabi Isa –‘alaihishalatu wassalam-. Dan orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa disebut mukminun Bani Israil sedangkan orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa disebut al-Masihiyun Adapun orang-orang yang mengubah dan mengganti agama Yahudi dan Nasrani sehingga mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan kesesatan, maka mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti para Nabi mereka. ============================================================================== الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الْأَلِفُ وَالَّلامُ هُنَا فِيْهِمَا اِسْتِغْرَاقِيَّةٌ بِاعْتِبَارِ كُلٌ مَنْ كَانَ مِنَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّهُ يَكُوْنُ مِنَ الضَّالِّيْنَ وَالْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِسْمُ اسْماً لِلْمُؤْمِنِيْنَ بِمُوْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبِعِيْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَالْمُؤْمِنُوْنَ بِمُوْسَى هُمْ مُؤْمِنُوْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَالْمُؤْمْنُوْنَ بِعِيْسَى هُمُ الْمَسِيْحِيُّوْنَ وَأَمَّا الَّذِيْنَ غَيَّرُوْا وَبَدَّلُوْا وَصَارَ لَهُمْ حَظٌّ مِنَ الْغَضَبِ وَالضَّلَالِ فَهُمُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الَّذِيْنَ لَمْ يَتْبَعُوا الْأَنْبِيَاءَ
Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Huruf Alif dan Lam dalam kata (الْيَهُوْدُ) dan (النَّصَارَى) adalah untuk istighraqiyyah (mencakup keseluruhan) yakni seluruh orang Yahudi dan Nasrani adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan orang-orang yang dimurkai. Namun sebutan ini tidak mencakup orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa –‘alaihishalatu wassalam- dan kepada Nabi Isa –‘alaihishalatu wassalam-. Dan orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa disebut mukminun Bani Israil sedangkan orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa disebut al-Masihiyun Adapun orang-orang yang mengubah dan mengganti agama Yahudi dan Nasrani sehingga mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan kesesatan, maka mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti para Nabi mereka. ============================================================================== الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الْأَلِفُ وَالَّلامُ هُنَا فِيْهِمَا اِسْتِغْرَاقِيَّةٌ بِاعْتِبَارِ كُلٌ مَنْ كَانَ مِنَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّهُ يَكُوْنُ مِنَ الضَّالِّيْنَ وَالْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِسْمُ اسْماً لِلْمُؤْمِنِيْنَ بِمُوْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبِعِيْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَالْمُؤْمِنُوْنَ بِمُوْسَى هُمْ مُؤْمِنُوْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَالْمُؤْمْنُوْنَ بِعِيْسَى هُمُ الْمَسِيْحِيُّوْنَ وَأَمَّا الَّذِيْنَ غَيَّرُوْا وَبَدَّلُوْا وَصَارَ لَهُمْ حَظٌّ مِنَ الْغَضَبِ وَالضَّلَالِ فَهُمُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الَّذِيْنَ لَمْ يَتْبَعُوا الْأَنْبِيَاءَ


Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Huruf Alif dan Lam dalam kata (الْيَهُوْدُ) dan (النَّصَارَى) adalah untuk istighraqiyyah (mencakup keseluruhan) yakni seluruh orang Yahudi dan Nasrani adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan orang-orang yang dimurkai. Namun sebutan ini tidak mencakup orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa –‘alaihishalatu wassalam- dan kepada Nabi Isa –‘alaihishalatu wassalam-. Dan orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa disebut mukminun Bani Israil sedangkan orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa disebut al-Masihiyun Adapun orang-orang yang mengubah dan mengganti agama Yahudi dan Nasrani sehingga mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan kesesatan, maka mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti para Nabi mereka. ============================================================================== الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الْأَلِفُ وَالَّلامُ هُنَا فِيْهِمَا اِسْتِغْرَاقِيَّةٌ بِاعْتِبَارِ كُلٌ مَنْ كَانَ مِنَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّهُ يَكُوْنُ مِنَ الضَّالِّيْنَ وَالْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِسْمُ اسْماً لِلْمُؤْمِنِيْنَ بِمُوْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبِعِيْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَالْمُؤْمِنُوْنَ بِمُوْسَى هُمْ مُؤْمِنُوْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ وَالْمُؤْمْنُوْنَ بِعِيْسَى هُمُ الْمَسِيْحِيُّوْنَ وَأَمَّا الَّذِيْنَ غَيَّرُوْا وَبَدَّلُوْا وَصَارَ لَهُمْ حَظٌّ مِنَ الْغَضَبِ وَالضَّلَالِ فَهُمُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الَّذِيْنَ لَمْ يَتْبَعُوا الْأَنْبِيَاءَ

Belajarlah Diam- Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Belajarlah Diam- Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Perkara kedelapan: (الصَّمْتُ) “Diam” Jabir bin Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Belajarlah diam” “Belajarlah diam” diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman Abu ad-Darda’ -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara” “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara.” Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dalam kitab Makarim al-Akhlaq Makna (الصَّمْتُ) yakni menahan diri untuk tidak berbicara meski dia mampu untuk melakukannya Dan makna diam dari kata (الصَّمْتُ) merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekedar diam yang berasal dari kata (السُّكُوْتُ) Karena orang yang melakukan (السُّكُوْتُ) bisa jadi memiliki kemampuan untuk berbicara atau tidak Sedangkan orang yang melakukan (الصَّمْتُ) adalah orang yang memiliki kemampuan untuk berbicara… Namun dia menahan lisannya untuk tidak mengucapkan apapun Jika seseorang membiasakan diri untuk diam, maka itu akan menjadi kemampuan besar yang menunjukkan kesempurnaan kepribadiannya dan dahulu para salaf belajar dan berusaha mengamalkan hal ini Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” Yakni beliau selalu membiasakan dirinya untuk diam Hingga dirinya dapat beristiqamah dan terbiasa untuk diam Dan diam yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran adalah diam agar tidak mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Jika seseorang dapat menahan lisannya Maka tidak akan keluar darinya ucapan yang mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Dan tidak suka membuat, mencari, dan menyebarkan berita yang dapat membahayakan akalnya Barangsiapa yang menjaga lisannya, maka akan kuat hatinya Dan barangsiapa yang kuat hatinya, maka akan sempurna akalnya Sehingga menjaga lisan dan tidak banyak bicara akan membuahkan kekuatan akal bagi seseorang Dan para salaf -rahimahumullah- senantiasa memperhatikan hal ini Dan mereka mengetahui bahwa salah satu penjaga akal adalah dengan sedikit berbicara Bahkan dahulu mereka dapat menghitung ucapan mereka dari satu jum’at hingga jum’at berikutnya Untuk menunjukkan bahwa sedikit bicara akan membuahkan kekuatan akal Jika akal menjadi kuat, maka ia tidak akan terjerumus ke dalam hal yang merusak ketentramannya Sebaliknya, penjagaan lisannya adalah sebab bagi kekuatan akalnya Sehingga orang-orang yang diam dan berbicara hanya ketika dibutuhkan, adalah orang-orang yang paling sempurna akalnya Dan kesempurnaan akal mereka akan menuntun mereka kepada kesempurnaan agama mereka Sehingga kamu hampir tidak dapat menemui orang yang senantiasa menjaga lisan yang rusak pola pikirnya Baik itu dalam hal keamanan dirinya atau hal lainnya Dan mayoritas orang yang terganggu pola pikirnya, Baik itu dalam perkara ketentraman, ekonomi, kehidupan berkeluarga, dan lainnya… Adalah orang yang banyak bicara dan banyak membual Karena orang yang banyak bicara, maka akalnya tidak dapat fokus Dan orang yang tidak dapat fokus, maka keadaannya akan menjadi buruk Di antara penyebabnya adalah kerusakan dan gangguan yang terjadi pada akalnya Maka hendaklah setiap orang untuk sungguh-sungguh belajar untuk diam Demi menjaga akalnya dari berbagai gangguan Yang di antaranya dapat membahayakan dirinya dan merusak ketentramannya ============================ الْمُفْرَدَةُ الثَّامِنَةُ الصَّمْتُ قَالَ جَابِرٌ بْنُ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا تَعَلَّمُوْا الصَّمْتَ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيْ فِي شُعَبِ الْإِيْمَانِ وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ رَوَاهُ الْخَرَائِطِيُّ فِي مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالصَّمْتُ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْكَلَامِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلِيْهِ وَهُوَ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ مُجَرَّدِ السُّكُوْتِ فَإِنَّ السَّاكِتَ قَدْ يَكُوْنُ قَادِراً عَلَى إِبْدَاءِ شَيْءٍ بِكَلَامٍ وَقَدْ لَا يَكُوْنُ قَادِراً  وَأَمَّا الصَّامِتُ فَعِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْكَلَامِ  لَكِنَّهُ يُلْجِمُ لِسَانَهُ عَنْ جَرَيَانِهِ بِشَيءٍ  فَإِذَا اعْتَادَ الْمَرْءُ الصَّمْتَ صَارَتْ هَذِهِ مَلَكَةً قَوِيَّةً تَدُلُّ عَلَى تَمَامِ قُدْرَتِهِ النَّفْسَانِيَّةِ  وَكَانَ السَّلَفُ يَتَعَلَّمُوْنَ هَذَا وَيَحْرِصُوْنَ عَلَيْهِ وَيُجَاهِدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ عَلَيْهِ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ فَهُوَ لَمْ يَزَلْ يَعْتَادُ نَفْسَهُ بِتَذْكِيْرِهَا بِالصَّمْتِ حَتَّى اسْتَقَامَتْ نَفْسُهُ فَصَارَ قَادِراً عَلَى إِمْسَاكِ لِسَانِهِ وَهَذَا الْإِمْسَاكُ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأْمْنِ الْفِكْرِيِّ  إِمْسَاكٌ لَهُ عَمَّا يَكُوْنُ فِتْنَةً لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ فَالْمَرْءُ إِذَا أَمْسَكَ لِسَانَهُ لَمْ يَجْرِ عَلَى  لِسَانِهِ كَلَامٌ تَكُوْنُ بِهِ فِتْنَةٌ لَهُ وَلَا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَكُنْ مُحِبّاً لِاسْتِنْشَاءِ الأَخْبَارِ وَجَمْعِهَا وَنَقْلِهَا فِيْمَا يَضُرُّ بِعَقْلِهِ وَمَنْ خَزَنَ لِسَانَهُ قَوِيَ قَلْبُهُ وَمَنْ قَوِيَ قَلْبُهُ تَمَّ عَقْلُهُ. فَخَزْنُ اللِّسَانِ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ يُثْمِرُ فِي الْعَبْدِ قُوَّةَ الْعَقْلِ وَكَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ يَتَعَاهَدُوْنَ هَذَا وَيَعْرِفُوْنَ أَنَّ مِنْ عُقْدَةِ عَقْلِ الرَّجُلِ قِلَّةُ كَلَامِهِ وَكَانُوْا يَعُدُّوْنَ كَلَامَ أَحَدِهِمْ مِنَ الْجُمْعَةِ إِلَى الْجُمْعَةِ إِعْلَاماً بِأَنَّ قِلَّةَ الْكَلَامِ تُوْرِثُ الْعَبْدَ قُوَّةَ عَقْلِهِ فَإِذَا قَوِيَ الْعَقْلُ لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ شَيْءٌ مِمَّا يُفْسِدُ أَمْنَهُ بَلْ كَانَ إِمْسَاكُهُ سَبَباً لِأَنْ يَقْوَى عَقْلُهُ فَالصَّامِتُوْنَ الْمُتَكَلِّمُوْنَ بِمَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ هُمْ أَكْمَلُ النَّاسِ عَقْلاً وَكَمَالُ عُقُوْلِهِمْ يُرْشِدُهُمْ إِلَى كَمَالِ دِيْنِهِمْ فَلَا تَكَادُ تَجِدُ إِنْسَاناً كَثِيْرَ الصَّمْتِ اخْتَلَّ نِظَامُ عَقْلِهِ سَوَاءٌ فِي أَمْنِهِ أَوْ فِي غَيْرِهِ بِسَبَبِ شَيْءٍ مِنْ الْأَشْيَاءِ وَغَالِبُ مَنْ يَقَعُ لَهُ الْاِخْتِلَالُ وَالْاِضْطِرَابُ فِي عَقْلِهِ  سَوَاءٌ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِأَمْنٍ أَوِ اقْتِصَادٍ أَوْ حَيَاةٍ زَوْجِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا يَكُوْنُ مِهْذَاراً ثَرْثَاراً كَثِيْرَ الْكَلَامِ فَمَنْ كَثُرَ هَذْرُهُ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ وَمَنْ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ سَاءَتْ حَالُهُ وَمِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَا يَحْصُلُ مِنْ فَسَادِ عَقْلِهِ بِاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ  فَيَنْبَغِي يَتَعَلَّمُ الْمَرْءُ الصَّمْتَ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ حِفْظاً لِعَقْلِهِ مِنْ غَوَائِلَ مِنْ جُمْلَتِهَا مَا يَضُرُّهُ وَيُفْسِدُ أَمْنَهُ وَاسْتِقْرَارَهُ

Belajarlah Diam- Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Belajarlah Diam- Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Perkara kedelapan: (الصَّمْتُ) “Diam” Jabir bin Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Belajarlah diam” “Belajarlah diam” diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman Abu ad-Darda’ -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara” “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara.” Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dalam kitab Makarim al-Akhlaq Makna (الصَّمْتُ) yakni menahan diri untuk tidak berbicara meski dia mampu untuk melakukannya Dan makna diam dari kata (الصَّمْتُ) merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekedar diam yang berasal dari kata (السُّكُوْتُ) Karena orang yang melakukan (السُّكُوْتُ) bisa jadi memiliki kemampuan untuk berbicara atau tidak Sedangkan orang yang melakukan (الصَّمْتُ) adalah orang yang memiliki kemampuan untuk berbicara… Namun dia menahan lisannya untuk tidak mengucapkan apapun Jika seseorang membiasakan diri untuk diam, maka itu akan menjadi kemampuan besar yang menunjukkan kesempurnaan kepribadiannya dan dahulu para salaf belajar dan berusaha mengamalkan hal ini Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” Yakni beliau selalu membiasakan dirinya untuk diam Hingga dirinya dapat beristiqamah dan terbiasa untuk diam Dan diam yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran adalah diam agar tidak mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Jika seseorang dapat menahan lisannya Maka tidak akan keluar darinya ucapan yang mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Dan tidak suka membuat, mencari, dan menyebarkan berita yang dapat membahayakan akalnya Barangsiapa yang menjaga lisannya, maka akan kuat hatinya Dan barangsiapa yang kuat hatinya, maka akan sempurna akalnya Sehingga menjaga lisan dan tidak banyak bicara akan membuahkan kekuatan akal bagi seseorang Dan para salaf -rahimahumullah- senantiasa memperhatikan hal ini Dan mereka mengetahui bahwa salah satu penjaga akal adalah dengan sedikit berbicara Bahkan dahulu mereka dapat menghitung ucapan mereka dari satu jum’at hingga jum’at berikutnya Untuk menunjukkan bahwa sedikit bicara akan membuahkan kekuatan akal Jika akal menjadi kuat, maka ia tidak akan terjerumus ke dalam hal yang merusak ketentramannya Sebaliknya, penjagaan lisannya adalah sebab bagi kekuatan akalnya Sehingga orang-orang yang diam dan berbicara hanya ketika dibutuhkan, adalah orang-orang yang paling sempurna akalnya Dan kesempurnaan akal mereka akan menuntun mereka kepada kesempurnaan agama mereka Sehingga kamu hampir tidak dapat menemui orang yang senantiasa menjaga lisan yang rusak pola pikirnya Baik itu dalam hal keamanan dirinya atau hal lainnya Dan mayoritas orang yang terganggu pola pikirnya, Baik itu dalam perkara ketentraman, ekonomi, kehidupan berkeluarga, dan lainnya… Adalah orang yang banyak bicara dan banyak membual Karena orang yang banyak bicara, maka akalnya tidak dapat fokus Dan orang yang tidak dapat fokus, maka keadaannya akan menjadi buruk Di antara penyebabnya adalah kerusakan dan gangguan yang terjadi pada akalnya Maka hendaklah setiap orang untuk sungguh-sungguh belajar untuk diam Demi menjaga akalnya dari berbagai gangguan Yang di antaranya dapat membahayakan dirinya dan merusak ketentramannya ============================ الْمُفْرَدَةُ الثَّامِنَةُ الصَّمْتُ قَالَ جَابِرٌ بْنُ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا تَعَلَّمُوْا الصَّمْتَ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيْ فِي شُعَبِ الْإِيْمَانِ وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ رَوَاهُ الْخَرَائِطِيُّ فِي مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالصَّمْتُ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْكَلَامِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلِيْهِ وَهُوَ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ مُجَرَّدِ السُّكُوْتِ فَإِنَّ السَّاكِتَ قَدْ يَكُوْنُ قَادِراً عَلَى إِبْدَاءِ شَيْءٍ بِكَلَامٍ وَقَدْ لَا يَكُوْنُ قَادِراً  وَأَمَّا الصَّامِتُ فَعِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْكَلَامِ  لَكِنَّهُ يُلْجِمُ لِسَانَهُ عَنْ جَرَيَانِهِ بِشَيءٍ  فَإِذَا اعْتَادَ الْمَرْءُ الصَّمْتَ صَارَتْ هَذِهِ مَلَكَةً قَوِيَّةً تَدُلُّ عَلَى تَمَامِ قُدْرَتِهِ النَّفْسَانِيَّةِ  وَكَانَ السَّلَفُ يَتَعَلَّمُوْنَ هَذَا وَيَحْرِصُوْنَ عَلَيْهِ وَيُجَاهِدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ عَلَيْهِ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ فَهُوَ لَمْ يَزَلْ يَعْتَادُ نَفْسَهُ بِتَذْكِيْرِهَا بِالصَّمْتِ حَتَّى اسْتَقَامَتْ نَفْسُهُ فَصَارَ قَادِراً عَلَى إِمْسَاكِ لِسَانِهِ وَهَذَا الْإِمْسَاكُ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأْمْنِ الْفِكْرِيِّ  إِمْسَاكٌ لَهُ عَمَّا يَكُوْنُ فِتْنَةً لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ فَالْمَرْءُ إِذَا أَمْسَكَ لِسَانَهُ لَمْ يَجْرِ عَلَى  لِسَانِهِ كَلَامٌ تَكُوْنُ بِهِ فِتْنَةٌ لَهُ وَلَا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَكُنْ مُحِبّاً لِاسْتِنْشَاءِ الأَخْبَارِ وَجَمْعِهَا وَنَقْلِهَا فِيْمَا يَضُرُّ بِعَقْلِهِ وَمَنْ خَزَنَ لِسَانَهُ قَوِيَ قَلْبُهُ وَمَنْ قَوِيَ قَلْبُهُ تَمَّ عَقْلُهُ. فَخَزْنُ اللِّسَانِ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ يُثْمِرُ فِي الْعَبْدِ قُوَّةَ الْعَقْلِ وَكَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ يَتَعَاهَدُوْنَ هَذَا وَيَعْرِفُوْنَ أَنَّ مِنْ عُقْدَةِ عَقْلِ الرَّجُلِ قِلَّةُ كَلَامِهِ وَكَانُوْا يَعُدُّوْنَ كَلَامَ أَحَدِهِمْ مِنَ الْجُمْعَةِ إِلَى الْجُمْعَةِ إِعْلَاماً بِأَنَّ قِلَّةَ الْكَلَامِ تُوْرِثُ الْعَبْدَ قُوَّةَ عَقْلِهِ فَإِذَا قَوِيَ الْعَقْلُ لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ شَيْءٌ مِمَّا يُفْسِدُ أَمْنَهُ بَلْ كَانَ إِمْسَاكُهُ سَبَباً لِأَنْ يَقْوَى عَقْلُهُ فَالصَّامِتُوْنَ الْمُتَكَلِّمُوْنَ بِمَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ هُمْ أَكْمَلُ النَّاسِ عَقْلاً وَكَمَالُ عُقُوْلِهِمْ يُرْشِدُهُمْ إِلَى كَمَالِ دِيْنِهِمْ فَلَا تَكَادُ تَجِدُ إِنْسَاناً كَثِيْرَ الصَّمْتِ اخْتَلَّ نِظَامُ عَقْلِهِ سَوَاءٌ فِي أَمْنِهِ أَوْ فِي غَيْرِهِ بِسَبَبِ شَيْءٍ مِنْ الْأَشْيَاءِ وَغَالِبُ مَنْ يَقَعُ لَهُ الْاِخْتِلَالُ وَالْاِضْطِرَابُ فِي عَقْلِهِ  سَوَاءٌ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِأَمْنٍ أَوِ اقْتِصَادٍ أَوْ حَيَاةٍ زَوْجِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا يَكُوْنُ مِهْذَاراً ثَرْثَاراً كَثِيْرَ الْكَلَامِ فَمَنْ كَثُرَ هَذْرُهُ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ وَمَنْ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ سَاءَتْ حَالُهُ وَمِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَا يَحْصُلُ مِنْ فَسَادِ عَقْلِهِ بِاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ  فَيَنْبَغِي يَتَعَلَّمُ الْمَرْءُ الصَّمْتَ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ حِفْظاً لِعَقْلِهِ مِنْ غَوَائِلَ مِنْ جُمْلَتِهَا مَا يَضُرُّهُ وَيُفْسِدُ أَمْنَهُ وَاسْتِقْرَارَهُ
Belajarlah Diam- Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Perkara kedelapan: (الصَّمْتُ) “Diam” Jabir bin Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Belajarlah diam” “Belajarlah diam” diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman Abu ad-Darda’ -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara” “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara.” Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dalam kitab Makarim al-Akhlaq Makna (الصَّمْتُ) yakni menahan diri untuk tidak berbicara meski dia mampu untuk melakukannya Dan makna diam dari kata (الصَّمْتُ) merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekedar diam yang berasal dari kata (السُّكُوْتُ) Karena orang yang melakukan (السُّكُوْتُ) bisa jadi memiliki kemampuan untuk berbicara atau tidak Sedangkan orang yang melakukan (الصَّمْتُ) adalah orang yang memiliki kemampuan untuk berbicara… Namun dia menahan lisannya untuk tidak mengucapkan apapun Jika seseorang membiasakan diri untuk diam, maka itu akan menjadi kemampuan besar yang menunjukkan kesempurnaan kepribadiannya dan dahulu para salaf belajar dan berusaha mengamalkan hal ini Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” Yakni beliau selalu membiasakan dirinya untuk diam Hingga dirinya dapat beristiqamah dan terbiasa untuk diam Dan diam yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran adalah diam agar tidak mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Jika seseorang dapat menahan lisannya Maka tidak akan keluar darinya ucapan yang mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Dan tidak suka membuat, mencari, dan menyebarkan berita yang dapat membahayakan akalnya Barangsiapa yang menjaga lisannya, maka akan kuat hatinya Dan barangsiapa yang kuat hatinya, maka akan sempurna akalnya Sehingga menjaga lisan dan tidak banyak bicara akan membuahkan kekuatan akal bagi seseorang Dan para salaf -rahimahumullah- senantiasa memperhatikan hal ini Dan mereka mengetahui bahwa salah satu penjaga akal adalah dengan sedikit berbicara Bahkan dahulu mereka dapat menghitung ucapan mereka dari satu jum’at hingga jum’at berikutnya Untuk menunjukkan bahwa sedikit bicara akan membuahkan kekuatan akal Jika akal menjadi kuat, maka ia tidak akan terjerumus ke dalam hal yang merusak ketentramannya Sebaliknya, penjagaan lisannya adalah sebab bagi kekuatan akalnya Sehingga orang-orang yang diam dan berbicara hanya ketika dibutuhkan, adalah orang-orang yang paling sempurna akalnya Dan kesempurnaan akal mereka akan menuntun mereka kepada kesempurnaan agama mereka Sehingga kamu hampir tidak dapat menemui orang yang senantiasa menjaga lisan yang rusak pola pikirnya Baik itu dalam hal keamanan dirinya atau hal lainnya Dan mayoritas orang yang terganggu pola pikirnya, Baik itu dalam perkara ketentraman, ekonomi, kehidupan berkeluarga, dan lainnya… Adalah orang yang banyak bicara dan banyak membual Karena orang yang banyak bicara, maka akalnya tidak dapat fokus Dan orang yang tidak dapat fokus, maka keadaannya akan menjadi buruk Di antara penyebabnya adalah kerusakan dan gangguan yang terjadi pada akalnya Maka hendaklah setiap orang untuk sungguh-sungguh belajar untuk diam Demi menjaga akalnya dari berbagai gangguan Yang di antaranya dapat membahayakan dirinya dan merusak ketentramannya ============================ الْمُفْرَدَةُ الثَّامِنَةُ الصَّمْتُ قَالَ جَابِرٌ بْنُ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا تَعَلَّمُوْا الصَّمْتَ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيْ فِي شُعَبِ الْإِيْمَانِ وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ رَوَاهُ الْخَرَائِطِيُّ فِي مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالصَّمْتُ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْكَلَامِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلِيْهِ وَهُوَ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ مُجَرَّدِ السُّكُوْتِ فَإِنَّ السَّاكِتَ قَدْ يَكُوْنُ قَادِراً عَلَى إِبْدَاءِ شَيْءٍ بِكَلَامٍ وَقَدْ لَا يَكُوْنُ قَادِراً  وَأَمَّا الصَّامِتُ فَعِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْكَلَامِ  لَكِنَّهُ يُلْجِمُ لِسَانَهُ عَنْ جَرَيَانِهِ بِشَيءٍ  فَإِذَا اعْتَادَ الْمَرْءُ الصَّمْتَ صَارَتْ هَذِهِ مَلَكَةً قَوِيَّةً تَدُلُّ عَلَى تَمَامِ قُدْرَتِهِ النَّفْسَانِيَّةِ  وَكَانَ السَّلَفُ يَتَعَلَّمُوْنَ هَذَا وَيَحْرِصُوْنَ عَلَيْهِ وَيُجَاهِدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ عَلَيْهِ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ فَهُوَ لَمْ يَزَلْ يَعْتَادُ نَفْسَهُ بِتَذْكِيْرِهَا بِالصَّمْتِ حَتَّى اسْتَقَامَتْ نَفْسُهُ فَصَارَ قَادِراً عَلَى إِمْسَاكِ لِسَانِهِ وَهَذَا الْإِمْسَاكُ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأْمْنِ الْفِكْرِيِّ  إِمْسَاكٌ لَهُ عَمَّا يَكُوْنُ فِتْنَةً لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ فَالْمَرْءُ إِذَا أَمْسَكَ لِسَانَهُ لَمْ يَجْرِ عَلَى  لِسَانِهِ كَلَامٌ تَكُوْنُ بِهِ فِتْنَةٌ لَهُ وَلَا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَكُنْ مُحِبّاً لِاسْتِنْشَاءِ الأَخْبَارِ وَجَمْعِهَا وَنَقْلِهَا فِيْمَا يَضُرُّ بِعَقْلِهِ وَمَنْ خَزَنَ لِسَانَهُ قَوِيَ قَلْبُهُ وَمَنْ قَوِيَ قَلْبُهُ تَمَّ عَقْلُهُ. فَخَزْنُ اللِّسَانِ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ يُثْمِرُ فِي الْعَبْدِ قُوَّةَ الْعَقْلِ وَكَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ يَتَعَاهَدُوْنَ هَذَا وَيَعْرِفُوْنَ أَنَّ مِنْ عُقْدَةِ عَقْلِ الرَّجُلِ قِلَّةُ كَلَامِهِ وَكَانُوْا يَعُدُّوْنَ كَلَامَ أَحَدِهِمْ مِنَ الْجُمْعَةِ إِلَى الْجُمْعَةِ إِعْلَاماً بِأَنَّ قِلَّةَ الْكَلَامِ تُوْرِثُ الْعَبْدَ قُوَّةَ عَقْلِهِ فَإِذَا قَوِيَ الْعَقْلُ لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ شَيْءٌ مِمَّا يُفْسِدُ أَمْنَهُ بَلْ كَانَ إِمْسَاكُهُ سَبَباً لِأَنْ يَقْوَى عَقْلُهُ فَالصَّامِتُوْنَ الْمُتَكَلِّمُوْنَ بِمَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ هُمْ أَكْمَلُ النَّاسِ عَقْلاً وَكَمَالُ عُقُوْلِهِمْ يُرْشِدُهُمْ إِلَى كَمَالِ دِيْنِهِمْ فَلَا تَكَادُ تَجِدُ إِنْسَاناً كَثِيْرَ الصَّمْتِ اخْتَلَّ نِظَامُ عَقْلِهِ سَوَاءٌ فِي أَمْنِهِ أَوْ فِي غَيْرِهِ بِسَبَبِ شَيْءٍ مِنْ الْأَشْيَاءِ وَغَالِبُ مَنْ يَقَعُ لَهُ الْاِخْتِلَالُ وَالْاِضْطِرَابُ فِي عَقْلِهِ  سَوَاءٌ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِأَمْنٍ أَوِ اقْتِصَادٍ أَوْ حَيَاةٍ زَوْجِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا يَكُوْنُ مِهْذَاراً ثَرْثَاراً كَثِيْرَ الْكَلَامِ فَمَنْ كَثُرَ هَذْرُهُ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ وَمَنْ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ سَاءَتْ حَالُهُ وَمِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَا يَحْصُلُ مِنْ فَسَادِ عَقْلِهِ بِاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ  فَيَنْبَغِي يَتَعَلَّمُ الْمَرْءُ الصَّمْتَ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ حِفْظاً لِعَقْلِهِ مِنْ غَوَائِلَ مِنْ جُمْلَتِهَا مَا يَضُرُّهُ وَيُفْسِدُ أَمْنَهُ وَاسْتِقْرَارَهُ


Belajarlah Diam- Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama Perkara kedelapan: (الصَّمْتُ) “Diam” Jabir bin Abdullah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Belajarlah diam” “Belajarlah diam” diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman Abu ad-Darda’ -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara” “Belajarlah diam sebagaimana kalian belajar berbicara.” Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dalam kitab Makarim al-Akhlaq Makna (الصَّمْتُ) yakni menahan diri untuk tidak berbicara meski dia mampu untuk melakukannya Dan makna diam dari kata (الصَّمْتُ) merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekedar diam yang berasal dari kata (السُّكُوْتُ) Karena orang yang melakukan (السُّكُوْتُ) bisa jadi memiliki kemampuan untuk berbicara atau tidak Sedangkan orang yang melakukan (الصَّمْتُ) adalah orang yang memiliki kemampuan untuk berbicara… Namun dia menahan lisannya untuk tidak mengucapkan apapun Jika seseorang membiasakan diri untuk diam, maka itu akan menjadi kemampuan besar yang menunjukkan kesempurnaan kepribadiannya dan dahulu para salaf belajar dan berusaha mengamalkan hal ini Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” Yakni beliau selalu membiasakan dirinya untuk diam Hingga dirinya dapat beristiqamah dan terbiasa untuk diam Dan diam yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran adalah diam agar tidak mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Jika seseorang dapat menahan lisannya Maka tidak akan keluar darinya ucapan yang mendatangkan fitnah dan cobaan bagi dirinya dan orang lain Dan tidak suka membuat, mencari, dan menyebarkan berita yang dapat membahayakan akalnya Barangsiapa yang menjaga lisannya, maka akan kuat hatinya Dan barangsiapa yang kuat hatinya, maka akan sempurna akalnya Sehingga menjaga lisan dan tidak banyak bicara akan membuahkan kekuatan akal bagi seseorang Dan para salaf -rahimahumullah- senantiasa memperhatikan hal ini Dan mereka mengetahui bahwa salah satu penjaga akal adalah dengan sedikit berbicara Bahkan dahulu mereka dapat menghitung ucapan mereka dari satu jum’at hingga jum’at berikutnya Untuk menunjukkan bahwa sedikit bicara akan membuahkan kekuatan akal Jika akal menjadi kuat, maka ia tidak akan terjerumus ke dalam hal yang merusak ketentramannya Sebaliknya, penjagaan lisannya adalah sebab bagi kekuatan akalnya Sehingga orang-orang yang diam dan berbicara hanya ketika dibutuhkan, adalah orang-orang yang paling sempurna akalnya Dan kesempurnaan akal mereka akan menuntun mereka kepada kesempurnaan agama mereka Sehingga kamu hampir tidak dapat menemui orang yang senantiasa menjaga lisan yang rusak pola pikirnya Baik itu dalam hal keamanan dirinya atau hal lainnya Dan mayoritas orang yang terganggu pola pikirnya, Baik itu dalam perkara ketentraman, ekonomi, kehidupan berkeluarga, dan lainnya… Adalah orang yang banyak bicara dan banyak membual Karena orang yang banyak bicara, maka akalnya tidak dapat fokus Dan orang yang tidak dapat fokus, maka keadaannya akan menjadi buruk Di antara penyebabnya adalah kerusakan dan gangguan yang terjadi pada akalnya Maka hendaklah setiap orang untuk sungguh-sungguh belajar untuk diam Demi menjaga akalnya dari berbagai gangguan Yang di antaranya dapat membahayakan dirinya dan merusak ketentramannya ============================ الْمُفْرَدَةُ الثَّامِنَةُ الصَّمْتُ قَالَ جَابِرٌ بْنُ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا تَعَلَّمُوْا الصَّمْتَ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيْ فِي شُعَبِ الْإِيْمَانِ وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامِ رَوَاهُ الْخَرَائِطِيُّ فِي مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالصَّمْتُ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْكَلَامِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلِيْهِ وَهُوَ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ مُجَرَّدِ السُّكُوْتِ فَإِنَّ السَّاكِتَ قَدْ يَكُوْنُ قَادِراً عَلَى إِبْدَاءِ شَيْءٍ بِكَلَامٍ وَقَدْ لَا يَكُوْنُ قَادِراً  وَأَمَّا الصَّامِتُ فَعِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْكَلَامِ  لَكِنَّهُ يُلْجِمُ لِسَانَهُ عَنْ جَرَيَانِهِ بِشَيءٍ  فَإِذَا اعْتَادَ الْمَرْءُ الصَّمْتَ صَارَتْ هَذِهِ مَلَكَةً قَوِيَّةً تَدُلُّ عَلَى تَمَامِ قُدْرَتِهِ النَّفْسَانِيَّةِ  وَكَانَ السَّلَفُ يَتَعَلَّمُوْنَ هَذَا وَيَحْرِصُوْنَ عَلَيْهِ وَيُجَاهِدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ عَلَيْهِ وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ فَهُوَ لَمْ يَزَلْ يَعْتَادُ نَفْسَهُ بِتَذْكِيْرِهَا بِالصَّمْتِ حَتَّى اسْتَقَامَتْ نَفْسُهُ فَصَارَ قَادِراً عَلَى إِمْسَاكِ لِسَانِهِ وَهَذَا الْإِمْسَاكُ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأْمْنِ الْفِكْرِيِّ  إِمْسَاكٌ لَهُ عَمَّا يَكُوْنُ فِتْنَةً لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ فَالْمَرْءُ إِذَا أَمْسَكَ لِسَانَهُ لَمْ يَجْرِ عَلَى  لِسَانِهِ كَلَامٌ تَكُوْنُ بِهِ فِتْنَةٌ لَهُ وَلَا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَكُنْ مُحِبّاً لِاسْتِنْشَاءِ الأَخْبَارِ وَجَمْعِهَا وَنَقْلِهَا فِيْمَا يَضُرُّ بِعَقْلِهِ وَمَنْ خَزَنَ لِسَانَهُ قَوِيَ قَلْبُهُ وَمَنْ قَوِيَ قَلْبُهُ تَمَّ عَقْلُهُ. فَخَزْنُ اللِّسَانِ وَقِلَّةُ الْكَلَامِ يُثْمِرُ فِي الْعَبْدِ قُوَّةَ الْعَقْلِ وَكَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ يَتَعَاهَدُوْنَ هَذَا وَيَعْرِفُوْنَ أَنَّ مِنْ عُقْدَةِ عَقْلِ الرَّجُلِ قِلَّةُ كَلَامِهِ وَكَانُوْا يَعُدُّوْنَ كَلَامَ أَحَدِهِمْ مِنَ الْجُمْعَةِ إِلَى الْجُمْعَةِ إِعْلَاماً بِأَنَّ قِلَّةَ الْكَلَامِ تُوْرِثُ الْعَبْدَ قُوَّةَ عَقْلِهِ فَإِذَا قَوِيَ الْعَقْلُ لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ شَيْءٌ مِمَّا يُفْسِدُ أَمْنَهُ بَلْ كَانَ إِمْسَاكُهُ سَبَباً لِأَنْ يَقْوَى عَقْلُهُ فَالصَّامِتُوْنَ الْمُتَكَلِّمُوْنَ بِمَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ هُمْ أَكْمَلُ النَّاسِ عَقْلاً وَكَمَالُ عُقُوْلِهِمْ يُرْشِدُهُمْ إِلَى كَمَالِ دِيْنِهِمْ فَلَا تَكَادُ تَجِدُ إِنْسَاناً كَثِيْرَ الصَّمْتِ اخْتَلَّ نِظَامُ عَقْلِهِ سَوَاءٌ فِي أَمْنِهِ أَوْ فِي غَيْرِهِ بِسَبَبِ شَيْءٍ مِنْ الْأَشْيَاءِ وَغَالِبُ مَنْ يَقَعُ لَهُ الْاِخْتِلَالُ وَالْاِضْطِرَابُ فِي عَقْلِهِ  سَوَاءٌ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِأَمْنٍ أَوِ اقْتِصَادٍ أَوْ حَيَاةٍ زَوْجِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا يَكُوْنُ مِهْذَاراً ثَرْثَاراً كَثِيْرَ الْكَلَامِ فَمَنْ كَثُرَ هَذْرُهُ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ وَمَنْ تَفَرَّقَ عَقْلُهُ سَاءَتْ حَالُهُ وَمِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ مَا يَحْصُلُ مِنْ فَسَادِ عَقْلِهِ بِاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ  فَيَنْبَغِي يَتَعَلَّمُ الْمَرْءُ الصَّمْتَ وَأَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ حِفْظاً لِعَقْلِهِ مِنْ غَوَائِلَ مِنْ جُمْلَتِهَا مَا يَضُرُّهُ وَيُفْسِدُ أَمْنَهُ وَاسْتِقْرَارَهُ

Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah

Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah Sedari pertama kali memandang, aura kesucian dan keindahan telah nampak, menarik hati untuk melihatnya di rumah Allah yang Maha Tahu segala yang gaib. Tiga ratus enam puluh lima hari dihabiskan untuk membuat maha karya yang indah nan suci ini. Di kompleks produksi Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang Mulia di Makkah Mukarramah, di sanalah terkumpul berbagai jenis sutra terbaik dari penjuru dunia. Melalui pengujian standar kualitas yang dilaksanakan tersentral dan detail untuk menjaga dari pengaruh gesekan dan perbedaan iklim yang ekstrim sekalipun demi menghasilkan kualitas terbaik serta mengkombinasikan kelembutan dan ketahanan secara berimbang yang layak untuk Kiswah Ka’bah yang mulia yang selanjutnya disiapkan untuk tahap pencelupan warna. Sutra mentah ditempatkan pada tempat khusus untuk persiapan pencucian, kemudian air mengalir ke sela-sela benang-benang sutra dan dengan pengaturan derajat panas yang detail dan waktu tertentu menjadikan sutra tersebut benang-benang putih yang lembut dan berkilau. Kemudian zat warna hitam dimasukkan ke dalam tangki pencelupan dan didiamkan di sana sembari menyelesaikan uji teknis agar warna meresap ke dalam benang-benang sutra mewah ini. Dan setelah beberapa saat, warna hitam telah mendapatkan tempat barunya pada sutra dan beberapa jam kemudian udara dihembuskan dengan perlahan untuk menggerakkan benang-benang tersebut setelah kering. Roda pekerjaan berputar mengubah benang-benang sutra menjadi gulungan-gulungan di Departemen Penenunan Otomatis yang merupakan tahap ketiga di mana benang-benang sutra akan diubah menjadi benang yang besar yang terdiri dari sembilan benang yang kemudian disatukan menjadi gulungan-gulungan yang besar dan rapi. Dan dari gulungan-gulungan yang terdiri dari benang-benang yang besar tersebut kemudian dirajut menjadi dua jenis kain berbeda. Kain pertama yang akan dihiasi dengan tulisan ayat-ayat al-Qur’an berlapis emas yang tersusun atas sepuluh ribu benang dan kain kedua yang akan menjadi latar belakang kalimat tauhid dalam bentuk ornamen-ornamen yang indah sepanjang satu meter yang disatukan menjadi sehelai kain saja. Ayat-ayat al-Qur’an emas secara indrawi dan maknawi ini ditulis dengan khat Ats-Tsuluts Al-Ashiil dan tidaklah siapapun mendekati keindahannya kecuali akan menemukan bahwa pada setiap garis dan titik terdapat kisah yang ditulis dengan tinta dan kerajinan tangan. Di mana ayat-ayat tersebut ditulis dengan ukuran-ukuran tertentu sebagai persiapan untuk diproses dalam tahap penyablonan dan pembordiran. Warna merah di sini menunjukkan terbatasnya akses ke dalam laboratorium yang membuat papan-papan sablon untuk semua tulisan-tulisan al-Qur’an dan ornamen-ornamennya. Dan ini adalah dasar latar belakang awal dari tulisan-tulisan dan ornamen-ornamen tersebut. Kain hitam yang kuat tersebut diletakkan di atas meja sablon dari kayu. Dan dengan pengukuran tertentu, warna perlahan menyatu pada kain sehingga membentuk garis-garis yang jelas yang akan menjadi pedoman bagi para ahli kaligrafi profesional. Benang-benang kawat perak yang dilapisi emas menyulam benang-benang katun berwarna kuning dan benang-benang kawat perak murni menyulam benang-benang katun berwarna putih untuk membentuk lembaran permadani yang sangat indah dengan tulisan timbul bersulam emas dan perak, sangat detail pada tiap ujung jarumnya, menggambarkan keselarasan ketrampilan tangan dan seni kerajinan, untuk menguatkan wujud keimanan Kerajaan Arab Saudi bahwa Allah Maha Indah dan Dia mencintai keindahan. Hasil akhir dari proses tenun ini adalah berupa potongan-potongan terpisah yang akan menutup setiap sisi Ka’bah sehingga menjadi empat potongan dan potongan kelima adalah penutup pintu Ka’bah yang kemudian disambungkan satu dengan yang lainnya untuk membentuk keindahan yang agung bagi Ka’bah. Dengan alat khusus, proses penggabungan setiap sisi Kiswah dilakukan dengan jahitan dalam berwarna putih dengan alur yang lurus dan kokoh. Dan ayat-ayat berlapis emas memberikan sentuhan-sentuhan akhir di atas kain penuh keindahan dan kesucian ini. Kemudian Kiswah ini diperiksa untuk dievaluasi secara mendetail untuk menjamin kebagusan dan ketinggian kualitasnya. Dan pada pertangahan bulan Zul Qa’dah, regu khusus pembawa Kiswah membawa kain hitam dengan tangan mereka untuk dipasang pada Ka’bah yang mulia. Penutup pada Ka’bah diangkat tiga meter sebagai bentuk persiapan musim haji. Dan pada tanggal delapan Zul Hijjah paku-paku emas pada Kiswah dicopot dan penutup pintu Ka’bah dilepas. Kiswah yang baru dibawa ke Ka’bah pada fajar tanggal sembilan Zul Hijjah, mereka membawanya dengan kerinduan seolah Kiswah ini rindu segera menempati tempatnya, menempati tempatnya yang tinggi di atas Ka’bah dan menduduki kedudukan layak sesuai dengan keagungannya. Perlahan, Kiswah lama di lepas di hadapan orang-orang yang sedang melaksanakan tawaf dan salat. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS. Al-Baqarah: 144) Setiap tahun Ka’bah yang mulia diberi penutup yang baru untuk mempertegas perhatian yang diberikan oleh kerajaan terhadap Dua Tanah Suci. Dan sebagai bentuk menunaikan amanah kepada yang berhak, Kiswah Ka’bah yang baru diserahkan kepada sesepuh dari para pembesar Baitullah yang suci. Batu pertama yang diletakkan oleh raja yang mulia Abdul Aziz -Semoga Allah merahmati beliau- dalam pembuatan Kiswah Ka’bah pada tahun 1347 Hijriah dan kemudian dilanjutkan oleh putra-putra beliau telah membuat pembeda dalam sejarah perjalanan pengabdian kepada Dua Tanah Suci yang mulia dan menjadi seperti bangunan yang kokoh yang setiap bagiannya saling menguatkan.

Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah

Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah Sedari pertama kali memandang, aura kesucian dan keindahan telah nampak, menarik hati untuk melihatnya di rumah Allah yang Maha Tahu segala yang gaib. Tiga ratus enam puluh lima hari dihabiskan untuk membuat maha karya yang indah nan suci ini. Di kompleks produksi Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang Mulia di Makkah Mukarramah, di sanalah terkumpul berbagai jenis sutra terbaik dari penjuru dunia. Melalui pengujian standar kualitas yang dilaksanakan tersentral dan detail untuk menjaga dari pengaruh gesekan dan perbedaan iklim yang ekstrim sekalipun demi menghasilkan kualitas terbaik serta mengkombinasikan kelembutan dan ketahanan secara berimbang yang layak untuk Kiswah Ka’bah yang mulia yang selanjutnya disiapkan untuk tahap pencelupan warna. Sutra mentah ditempatkan pada tempat khusus untuk persiapan pencucian, kemudian air mengalir ke sela-sela benang-benang sutra dan dengan pengaturan derajat panas yang detail dan waktu tertentu menjadikan sutra tersebut benang-benang putih yang lembut dan berkilau. Kemudian zat warna hitam dimasukkan ke dalam tangki pencelupan dan didiamkan di sana sembari menyelesaikan uji teknis agar warna meresap ke dalam benang-benang sutra mewah ini. Dan setelah beberapa saat, warna hitam telah mendapatkan tempat barunya pada sutra dan beberapa jam kemudian udara dihembuskan dengan perlahan untuk menggerakkan benang-benang tersebut setelah kering. Roda pekerjaan berputar mengubah benang-benang sutra menjadi gulungan-gulungan di Departemen Penenunan Otomatis yang merupakan tahap ketiga di mana benang-benang sutra akan diubah menjadi benang yang besar yang terdiri dari sembilan benang yang kemudian disatukan menjadi gulungan-gulungan yang besar dan rapi. Dan dari gulungan-gulungan yang terdiri dari benang-benang yang besar tersebut kemudian dirajut menjadi dua jenis kain berbeda. Kain pertama yang akan dihiasi dengan tulisan ayat-ayat al-Qur’an berlapis emas yang tersusun atas sepuluh ribu benang dan kain kedua yang akan menjadi latar belakang kalimat tauhid dalam bentuk ornamen-ornamen yang indah sepanjang satu meter yang disatukan menjadi sehelai kain saja. Ayat-ayat al-Qur’an emas secara indrawi dan maknawi ini ditulis dengan khat Ats-Tsuluts Al-Ashiil dan tidaklah siapapun mendekati keindahannya kecuali akan menemukan bahwa pada setiap garis dan titik terdapat kisah yang ditulis dengan tinta dan kerajinan tangan. Di mana ayat-ayat tersebut ditulis dengan ukuran-ukuran tertentu sebagai persiapan untuk diproses dalam tahap penyablonan dan pembordiran. Warna merah di sini menunjukkan terbatasnya akses ke dalam laboratorium yang membuat papan-papan sablon untuk semua tulisan-tulisan al-Qur’an dan ornamen-ornamennya. Dan ini adalah dasar latar belakang awal dari tulisan-tulisan dan ornamen-ornamen tersebut. Kain hitam yang kuat tersebut diletakkan di atas meja sablon dari kayu. Dan dengan pengukuran tertentu, warna perlahan menyatu pada kain sehingga membentuk garis-garis yang jelas yang akan menjadi pedoman bagi para ahli kaligrafi profesional. Benang-benang kawat perak yang dilapisi emas menyulam benang-benang katun berwarna kuning dan benang-benang kawat perak murni menyulam benang-benang katun berwarna putih untuk membentuk lembaran permadani yang sangat indah dengan tulisan timbul bersulam emas dan perak, sangat detail pada tiap ujung jarumnya, menggambarkan keselarasan ketrampilan tangan dan seni kerajinan, untuk menguatkan wujud keimanan Kerajaan Arab Saudi bahwa Allah Maha Indah dan Dia mencintai keindahan. Hasil akhir dari proses tenun ini adalah berupa potongan-potongan terpisah yang akan menutup setiap sisi Ka’bah sehingga menjadi empat potongan dan potongan kelima adalah penutup pintu Ka’bah yang kemudian disambungkan satu dengan yang lainnya untuk membentuk keindahan yang agung bagi Ka’bah. Dengan alat khusus, proses penggabungan setiap sisi Kiswah dilakukan dengan jahitan dalam berwarna putih dengan alur yang lurus dan kokoh. Dan ayat-ayat berlapis emas memberikan sentuhan-sentuhan akhir di atas kain penuh keindahan dan kesucian ini. Kemudian Kiswah ini diperiksa untuk dievaluasi secara mendetail untuk menjamin kebagusan dan ketinggian kualitasnya. Dan pada pertangahan bulan Zul Qa’dah, regu khusus pembawa Kiswah membawa kain hitam dengan tangan mereka untuk dipasang pada Ka’bah yang mulia. Penutup pada Ka’bah diangkat tiga meter sebagai bentuk persiapan musim haji. Dan pada tanggal delapan Zul Hijjah paku-paku emas pada Kiswah dicopot dan penutup pintu Ka’bah dilepas. Kiswah yang baru dibawa ke Ka’bah pada fajar tanggal sembilan Zul Hijjah, mereka membawanya dengan kerinduan seolah Kiswah ini rindu segera menempati tempatnya, menempati tempatnya yang tinggi di atas Ka’bah dan menduduki kedudukan layak sesuai dengan keagungannya. Perlahan, Kiswah lama di lepas di hadapan orang-orang yang sedang melaksanakan tawaf dan salat. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS. Al-Baqarah: 144) Setiap tahun Ka’bah yang mulia diberi penutup yang baru untuk mempertegas perhatian yang diberikan oleh kerajaan terhadap Dua Tanah Suci. Dan sebagai bentuk menunaikan amanah kepada yang berhak, Kiswah Ka’bah yang baru diserahkan kepada sesepuh dari para pembesar Baitullah yang suci. Batu pertama yang diletakkan oleh raja yang mulia Abdul Aziz -Semoga Allah merahmati beliau- dalam pembuatan Kiswah Ka’bah pada tahun 1347 Hijriah dan kemudian dilanjutkan oleh putra-putra beliau telah membuat pembeda dalam sejarah perjalanan pengabdian kepada Dua Tanah Suci yang mulia dan menjadi seperti bangunan yang kokoh yang setiap bagiannya saling menguatkan.
Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah Sedari pertama kali memandang, aura kesucian dan keindahan telah nampak, menarik hati untuk melihatnya di rumah Allah yang Maha Tahu segala yang gaib. Tiga ratus enam puluh lima hari dihabiskan untuk membuat maha karya yang indah nan suci ini. Di kompleks produksi Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang Mulia di Makkah Mukarramah, di sanalah terkumpul berbagai jenis sutra terbaik dari penjuru dunia. Melalui pengujian standar kualitas yang dilaksanakan tersentral dan detail untuk menjaga dari pengaruh gesekan dan perbedaan iklim yang ekstrim sekalipun demi menghasilkan kualitas terbaik serta mengkombinasikan kelembutan dan ketahanan secara berimbang yang layak untuk Kiswah Ka’bah yang mulia yang selanjutnya disiapkan untuk tahap pencelupan warna. Sutra mentah ditempatkan pada tempat khusus untuk persiapan pencucian, kemudian air mengalir ke sela-sela benang-benang sutra dan dengan pengaturan derajat panas yang detail dan waktu tertentu menjadikan sutra tersebut benang-benang putih yang lembut dan berkilau. Kemudian zat warna hitam dimasukkan ke dalam tangki pencelupan dan didiamkan di sana sembari menyelesaikan uji teknis agar warna meresap ke dalam benang-benang sutra mewah ini. Dan setelah beberapa saat, warna hitam telah mendapatkan tempat barunya pada sutra dan beberapa jam kemudian udara dihembuskan dengan perlahan untuk menggerakkan benang-benang tersebut setelah kering. Roda pekerjaan berputar mengubah benang-benang sutra menjadi gulungan-gulungan di Departemen Penenunan Otomatis yang merupakan tahap ketiga di mana benang-benang sutra akan diubah menjadi benang yang besar yang terdiri dari sembilan benang yang kemudian disatukan menjadi gulungan-gulungan yang besar dan rapi. Dan dari gulungan-gulungan yang terdiri dari benang-benang yang besar tersebut kemudian dirajut menjadi dua jenis kain berbeda. Kain pertama yang akan dihiasi dengan tulisan ayat-ayat al-Qur’an berlapis emas yang tersusun atas sepuluh ribu benang dan kain kedua yang akan menjadi latar belakang kalimat tauhid dalam bentuk ornamen-ornamen yang indah sepanjang satu meter yang disatukan menjadi sehelai kain saja. Ayat-ayat al-Qur’an emas secara indrawi dan maknawi ini ditulis dengan khat Ats-Tsuluts Al-Ashiil dan tidaklah siapapun mendekati keindahannya kecuali akan menemukan bahwa pada setiap garis dan titik terdapat kisah yang ditulis dengan tinta dan kerajinan tangan. Di mana ayat-ayat tersebut ditulis dengan ukuran-ukuran tertentu sebagai persiapan untuk diproses dalam tahap penyablonan dan pembordiran. Warna merah di sini menunjukkan terbatasnya akses ke dalam laboratorium yang membuat papan-papan sablon untuk semua tulisan-tulisan al-Qur’an dan ornamen-ornamennya. Dan ini adalah dasar latar belakang awal dari tulisan-tulisan dan ornamen-ornamen tersebut. Kain hitam yang kuat tersebut diletakkan di atas meja sablon dari kayu. Dan dengan pengukuran tertentu, warna perlahan menyatu pada kain sehingga membentuk garis-garis yang jelas yang akan menjadi pedoman bagi para ahli kaligrafi profesional. Benang-benang kawat perak yang dilapisi emas menyulam benang-benang katun berwarna kuning dan benang-benang kawat perak murni menyulam benang-benang katun berwarna putih untuk membentuk lembaran permadani yang sangat indah dengan tulisan timbul bersulam emas dan perak, sangat detail pada tiap ujung jarumnya, menggambarkan keselarasan ketrampilan tangan dan seni kerajinan, untuk menguatkan wujud keimanan Kerajaan Arab Saudi bahwa Allah Maha Indah dan Dia mencintai keindahan. Hasil akhir dari proses tenun ini adalah berupa potongan-potongan terpisah yang akan menutup setiap sisi Ka’bah sehingga menjadi empat potongan dan potongan kelima adalah penutup pintu Ka’bah yang kemudian disambungkan satu dengan yang lainnya untuk membentuk keindahan yang agung bagi Ka’bah. Dengan alat khusus, proses penggabungan setiap sisi Kiswah dilakukan dengan jahitan dalam berwarna putih dengan alur yang lurus dan kokoh. Dan ayat-ayat berlapis emas memberikan sentuhan-sentuhan akhir di atas kain penuh keindahan dan kesucian ini. Kemudian Kiswah ini diperiksa untuk dievaluasi secara mendetail untuk menjamin kebagusan dan ketinggian kualitasnya. Dan pada pertangahan bulan Zul Qa’dah, regu khusus pembawa Kiswah membawa kain hitam dengan tangan mereka untuk dipasang pada Ka’bah yang mulia. Penutup pada Ka’bah diangkat tiga meter sebagai bentuk persiapan musim haji. Dan pada tanggal delapan Zul Hijjah paku-paku emas pada Kiswah dicopot dan penutup pintu Ka’bah dilepas. Kiswah yang baru dibawa ke Ka’bah pada fajar tanggal sembilan Zul Hijjah, mereka membawanya dengan kerinduan seolah Kiswah ini rindu segera menempati tempatnya, menempati tempatnya yang tinggi di atas Ka’bah dan menduduki kedudukan layak sesuai dengan keagungannya. Perlahan, Kiswah lama di lepas di hadapan orang-orang yang sedang melaksanakan tawaf dan salat. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS. Al-Baqarah: 144) Setiap tahun Ka’bah yang mulia diberi penutup yang baru untuk mempertegas perhatian yang diberikan oleh kerajaan terhadap Dua Tanah Suci. Dan sebagai bentuk menunaikan amanah kepada yang berhak, Kiswah Ka’bah yang baru diserahkan kepada sesepuh dari para pembesar Baitullah yang suci. Batu pertama yang diletakkan oleh raja yang mulia Abdul Aziz -Semoga Allah merahmati beliau- dalam pembuatan Kiswah Ka’bah pada tahun 1347 Hijriah dan kemudian dilanjutkan oleh putra-putra beliau telah membuat pembeda dalam sejarah perjalanan pengabdian kepada Dua Tanah Suci yang mulia dan menjadi seperti bangunan yang kokoh yang setiap bagiannya saling menguatkan.


Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah Sedari pertama kali memandang, aura kesucian dan keindahan telah nampak, menarik hati untuk melihatnya di rumah Allah yang Maha Tahu segala yang gaib. Tiga ratus enam puluh lima hari dihabiskan untuk membuat maha karya yang indah nan suci ini. Di kompleks produksi Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang Mulia di Makkah Mukarramah, di sanalah terkumpul berbagai jenis sutra terbaik dari penjuru dunia. Melalui pengujian standar kualitas yang dilaksanakan tersentral dan detail untuk menjaga dari pengaruh gesekan dan perbedaan iklim yang ekstrim sekalipun demi menghasilkan kualitas terbaik serta mengkombinasikan kelembutan dan ketahanan secara berimbang yang layak untuk Kiswah Ka’bah yang mulia yang selanjutnya disiapkan untuk tahap pencelupan warna. Sutra mentah ditempatkan pada tempat khusus untuk persiapan pencucian, kemudian air mengalir ke sela-sela benang-benang sutra dan dengan pengaturan derajat panas yang detail dan waktu tertentu menjadikan sutra tersebut benang-benang putih yang lembut dan berkilau. Kemudian zat warna hitam dimasukkan ke dalam tangki pencelupan dan didiamkan di sana sembari menyelesaikan uji teknis agar warna meresap ke dalam benang-benang sutra mewah ini. Dan setelah beberapa saat, warna hitam telah mendapatkan tempat barunya pada sutra dan beberapa jam kemudian udara dihembuskan dengan perlahan untuk menggerakkan benang-benang tersebut setelah kering. Roda pekerjaan berputar mengubah benang-benang sutra menjadi gulungan-gulungan di Departemen Penenunan Otomatis yang merupakan tahap ketiga di mana benang-benang sutra akan diubah menjadi benang yang besar yang terdiri dari sembilan benang yang kemudian disatukan menjadi gulungan-gulungan yang besar dan rapi. Dan dari gulungan-gulungan yang terdiri dari benang-benang yang besar tersebut kemudian dirajut menjadi dua jenis kain berbeda. Kain pertama yang akan dihiasi dengan tulisan ayat-ayat al-Qur’an berlapis emas yang tersusun atas sepuluh ribu benang dan kain kedua yang akan menjadi latar belakang kalimat tauhid dalam bentuk ornamen-ornamen yang indah sepanjang satu meter yang disatukan menjadi sehelai kain saja. Ayat-ayat al-Qur’an emas secara indrawi dan maknawi ini ditulis dengan khat Ats-Tsuluts Al-Ashiil dan tidaklah siapapun mendekati keindahannya kecuali akan menemukan bahwa pada setiap garis dan titik terdapat kisah yang ditulis dengan tinta dan kerajinan tangan. Di mana ayat-ayat tersebut ditulis dengan ukuran-ukuran tertentu sebagai persiapan untuk diproses dalam tahap penyablonan dan pembordiran. Warna merah di sini menunjukkan terbatasnya akses ke dalam laboratorium yang membuat papan-papan sablon untuk semua tulisan-tulisan al-Qur’an dan ornamen-ornamennya. Dan ini adalah dasar latar belakang awal dari tulisan-tulisan dan ornamen-ornamen tersebut. Kain hitam yang kuat tersebut diletakkan di atas meja sablon dari kayu. Dan dengan pengukuran tertentu, warna perlahan menyatu pada kain sehingga membentuk garis-garis yang jelas yang akan menjadi pedoman bagi para ahli kaligrafi profesional. Benang-benang kawat perak yang dilapisi emas menyulam benang-benang katun berwarna kuning dan benang-benang kawat perak murni menyulam benang-benang katun berwarna putih untuk membentuk lembaran permadani yang sangat indah dengan tulisan timbul bersulam emas dan perak, sangat detail pada tiap ujung jarumnya, menggambarkan keselarasan ketrampilan tangan dan seni kerajinan, untuk menguatkan wujud keimanan Kerajaan Arab Saudi bahwa Allah Maha Indah dan Dia mencintai keindahan. Hasil akhir dari proses tenun ini adalah berupa potongan-potongan terpisah yang akan menutup setiap sisi Ka’bah sehingga menjadi empat potongan dan potongan kelima adalah penutup pintu Ka’bah yang kemudian disambungkan satu dengan yang lainnya untuk membentuk keindahan yang agung bagi Ka’bah. Dengan alat khusus, proses penggabungan setiap sisi Kiswah dilakukan dengan jahitan dalam berwarna putih dengan alur yang lurus dan kokoh. Dan ayat-ayat berlapis emas memberikan sentuhan-sentuhan akhir di atas kain penuh keindahan dan kesucian ini. Kemudian Kiswah ini diperiksa untuk dievaluasi secara mendetail untuk menjamin kebagusan dan ketinggian kualitasnya. Dan pada pertangahan bulan Zul Qa’dah, regu khusus pembawa Kiswah membawa kain hitam dengan tangan mereka untuk dipasang pada Ka’bah yang mulia. Penutup pada Ka’bah diangkat tiga meter sebagai bentuk persiapan musim haji. Dan pada tanggal delapan Zul Hijjah paku-paku emas pada Kiswah dicopot dan penutup pintu Ka’bah dilepas. Kiswah yang baru dibawa ke Ka’bah pada fajar tanggal sembilan Zul Hijjah, mereka membawanya dengan kerinduan seolah Kiswah ini rindu segera menempati tempatnya, menempati tempatnya yang tinggi di atas Ka’bah dan menduduki kedudukan layak sesuai dengan keagungannya. Perlahan, Kiswah lama di lepas di hadapan orang-orang yang sedang melaksanakan tawaf dan salat. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS. Al-Baqarah: 144) Setiap tahun Ka’bah yang mulia diberi penutup yang baru untuk mempertegas perhatian yang diberikan oleh kerajaan terhadap Dua Tanah Suci. Dan sebagai bentuk menunaikan amanah kepada yang berhak, Kiswah Ka’bah yang baru diserahkan kepada sesepuh dari para pembesar Baitullah yang suci. Batu pertama yang diletakkan oleh raja yang mulia Abdul Aziz -Semoga Allah merahmati beliau- dalam pembuatan Kiswah Ka’bah pada tahun 1347 Hijriah dan kemudian dilanjutkan oleh putra-putra beliau telah membuat pembeda dalam sejarah perjalanan pengabdian kepada Dua Tanah Suci yang mulia dan menjadi seperti bangunan yang kokoh yang setiap bagiannya saling menguatkan.

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ
Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ


Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan. Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan. Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.” Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat. Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu. PERTAMA: Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.” Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau- Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu. KEDUA: Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan. Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara, sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad. Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!” Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.” KETIGA: Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah. Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut” Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu. Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.” Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka. =================== فَإِنَّ الْكَفَّ فِي الْحَقِيقَةِ طَرِيقٌ لِطَرِيقِ بَذْلِ الْعِلْمِ وَتَوْجِيهِهِ وَلِذَا تَقَرَّرَ مِنَ الْقَوَاعِدِ الْأُصُولِيَّةِ الَّتِي يُسْتَنْبَطُ مِنْهَا أَوْ بِوَاسِطَتِهَا الْأَحْكَامُ وَيُمْكِنُ الْاِسْتِدْلَالُ بِهَا فِي كَلَامِنَا الْعَامِّ أَنَّ السُّكُوتَ فِي مَقَامِ الْبَيَانِ بَيَانٌ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ سُكُوتَ الْعَالِمِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَ عَدَمَ كَلَامِهِ فِيهَا فَإِنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ تَوْضِيحٌ وَبَيَانٌ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ كَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَم وَمُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا أَشَدُّ النَّاسِ عَلَى الشَّيْطَانِ الْعَالِمُ إِذَا تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ وَإِذَا سَكَتَ سَكَتَ بِعِلْمٍ وَفِي لَفْظٍ سَكَتَ بِحِلْمٍ إِذَنْ سُكُوتُ الْعَالِمِ لَهُ فَوَائِدُ عَظِيمَةٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي مَوَاضِعَ ذَكَرَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ وَبَيَّنُوا أَنَّ لِسُكُوتِهِ هَذَا أَثَرٌ وَالْحَديثُ فِي هَذِهِ كَثِيرٌ جِدًّا وَلَكِنْ أُشِيرُ لِبَعْضِ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي سُكُوتِ أَهْلِ الْعِلْمِ فَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّ الْعَالِمَ رُبَّمَا سَكَتَ عَنِ الْإِجَابَةِ تَأْدِيبًا لِتِلْمِيذِهِ وَكَرَاهِيَّةً لِسُؤَالِهِ وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حُرِمَ عِلْمًا كَثِيرًا كَمَا قَالَ ذَلِكَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَقِيلَ لَهُ لَوْ رَفَقْتَ بِابْنِ عَبَّاسٍ لَاسْتَخْرَجْتَ مِنْهُ عِلْمًا كَثِيرًا قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَكَانَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَثِيرَ المُمَارَاةِ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَابْنُ عَبَّاسٍ لِتَأْدِيبِهِ أَبَا سَلَمَةَ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ إِجَابَةِ سُؤَالِهِ وَيَمْتَنِعُ مِنْ إِعْطَائِهِ سُؤْلَهُ فَفَاتَهُ مِنْ ذَلِكَ عِلْمٌ كَثِيرٌ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ السُّكُوتُ إِذَا تَرَدَّدَ فِي التَّرْجِيحِ وَاخْتَلَفَ عِنْدَهُ النَّظَرُ بَلْ إِنَّ الْمَرْءَ كُلَّمَا زَادَ عِلْمُهُ وَطَالَ بَاعُهُ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ كُلَّمَا كَثُرَ سُكُوتُهُ وَصَمْتُهُ وَكُلَّمَا قَلَّ تَوَقُّفُهُ وَعَدَمُ اجْتِهَادِهِ وَلِذَا فَإِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى سُئِلَ عَنْ نَحْوِ مِنْ سِتِّينَ مَسْأَلَةً فَأَجَابَ فِي أَكْثَرَ مِنْ خَمْسِينَ لَا أَدْرِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا أَخْطَأَ لَا أَدْرِي فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ وَمِنْ ذَلِكَ مَا ذَكَرَهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَفْرَدُوا لَهُ كُتُبًا أَنَّ السُّكُوتَ فِي بَعْضِ الْمَوَاطِنِ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْأَمْنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَقَدْ أَلَّفَ الشَّيْخُ ْإِمَامُ ابْنُ الْبَنَّا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابًا سَمَّاهُ الْغُنْيَةَ فِي السُّكُوتِ فِي هَذَا الْكِتَابِ بَيَّنَ أَنَّ الْعَالِمَ يَجِبُ عَلَيْهِ السُّكُوتُ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ بِشُرُوطٍ يَعْرِفُهَا أهْلُ الْعِلْمِ وَيَحُدُّونَهَا بِحُدودٍ وَأَخْتِمُ كَلَامِي فِي هَذَا وَفِي الْمَوْضُوعِ كُلِّهِ بِمَا جَاءَ عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ إِنَّ مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ وَأَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ وَعَلَى ذَلِكَ فَمَنْ كَانَ بِضِدِّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ الْمُوَفَّقُ لِلطَّرِيقِ الَّذِي بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَكُونُ سَبَبًا فِي الْمَقْصُودِ الَّذِي قُصِدَ لِأَجْلِهِ الْعِلْمُ وَهُوَ تَعْلِيمُ النَّاسِ وَدِلَالَتُهُمْ عَ

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ
Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ


Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda? Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar, bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah. Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan. ============ الْحَمْدُ لِلهِ أَحْيَانًا الدَّاعِيُّ الَّذِي يَدْعُو اللهَ بِشَيْءٍ يَنْشَغِلُ ذِهْنُهُ بِذَلِكَ الشَّيْءِ هُوَ حَصَلَ ؟ مَا حَصَلَ ؟ تَأَخَّرَ…؟ وَرُبَّمَا يَنْسَى أَنَّ الدُّعَاءَ نَفْسَهُ الَّذِي قَامَ بِهِ أَجْرُهُ عَظِيمٌ وَرُبَّمَا يَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الْحَاجَةِ الَّتِي سَأَلَهَا لِأَنَّهُ لُجُوءٌ إِلَى اللهِ وَافْتِقَارٌ إِظْهَارُ الْحَاجَةِ تَوْحِيدٌ لِله وَلِذَلِكَ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَهُ حَتَّى لَوْ مَا اسْتُجِيبَ لِحَاجَتِهِ

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ
Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ


Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa yang sombong dan merasa dirinya hebat sehingga menolak untuk belajar, tidak mau duduk di majelis-majelis ilmu dan enggan bersahabat dengan para pembelajar dan penuntut ilmu, maka sungguh Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberikan ilmu kepadanya sampai kapanpun. Terdapat hadis sahih dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang apabila dia merendahkan hatinya…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini, yakni menurunkan telapak tangan beliau “Niscaya Allah ‘azza wa jalla akan meninggikannya.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangan beliau yang mulia seperti ini. “Dan sesungguhnya seseorang apabila dia tinggi hati dan menyombongkan diri niscaya Allah ‘azza wa jalla akan merendahkannya.” Siapa saja yang tawadhu dalam suatu hal niscaya Allah akan angkat dirinya dengan hal tersebut. Sebaliknya, siapa saja yang sombong niscaya Allah ‘azza wa jalla akan rendahkan dia. Barang siapa yang sombong dalam menuntut ilmu, sungguh dia tidak akan mendapatkannya sedikitpun. Sebabnya adalah kebanyakan orang yang menuntut ilmu hanyalah anak-anak orang fakir, sebagaimana disampaikan oleh Abu Abdillah al-Abbasi atau Abu Hayyan at-Tauhidi -saya lupa persisnya siapa di antara mereka berdua, sedangkan kalangan bangsawan dan orang kaya merasa menjadi aib dan kehinaan bagi dirinya apabila berkumpul dan duduk bersama orang-orang fakir seperti mereka ketika menuntut ilmu. Oleh sebab itu, para bangsawan zaman dahulu ketika ingin menuntut ilmu atau ingin meriwayatkan hadis, mereka meminta perawi hadis untuk mendatangi mereka. Dan banyak para perawi hadis menolak untuk mendatangi mereka, dan berkata bahwa “ilmu hanya dipelajari di masjid, barang siapa yang menginginkannya hendaklah mendatanginya.” Dan kisah-kisah seperti ini ada banyak namun cukup bagi kita apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz yang juga terdapat dalam Sahih Bukhari secara mu’allaq bahwa beliau berkata, “Umat ini akan senantiasa dalam kebaikan selama ilmu masih ada di masjid.” Karena ilmu bukanlah hak seseorang sehingga yang lain tidak dapat, ilmu tidak khusus bagi golongan bangsawan sehingga golongan lain di bawah mereka tidak dapat, dan ilmu tidak terbatas untuk seseorang sehingga yang lain tidak, namun ilmu itu untuk siapa saja. Wahai orang-orang yang diberi taufik, perhatikan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ibnu Abbas, yang dijuluki “ulamanya umat ini dan penerjemah al-Quran” oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- memiliki perjuangan menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Suatu ketika beliau mendatangi Muadz bin Jabal dan menunggu di depan rumahnya. Beliau duduk di depan pintu rumahnya, namun karena Muadz lama tidak keluar rumah, Ibnu Abbas tertidur di depan rumahnya, di anak tangga, ambang pintu rumahnya. Dan ketika Muadz keluar rumah, dia mendapati Ibnu Abbas tertidur di depan pintunya dengan berbantalkan anak tangga, ambang pintu rumahnya. Maka beliau berkata kepadanya, “Wahai sepupu Rasulullah, jikalau kau mengetuk pintu niscaya aku akan keluar menemuimu.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Kemudian Muadz berjalan dan Ibnu Abbas mengikuti di sampingnya, lantas beliau memegang tali kekang unta Muadz, lantas Muadz berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, tidak perlu berbuat demikian.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh demikianlah kami memperlakukan para ulama kami.” Demi Allah, saya berkata tanpa dusta tapi berdasarkan ilmu, pengetahuan dan kabar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang, bahwa barang siapa yang merendahkan dirinya dalam menuntut ilmu, menundukkan dirinya di hadapan para ulama, mengerahkan seluruh jiwanya semaksimal mungkin dan tidak menyombongkan diri terhadap satu ucapanpun yang disampaikan kepadanya, dan tidak enggan menghadiri majelis ilmu walaupun ada sesuatu yang menghalanginya, sungguh orang seperti inilah yang akan diberi taufik dan orang inilah yang akan mendapatkan ilmu. Ada salah seorang syeikh kita yang telah wafat belum lama ini, beliau terkenal suka menguji murid-muridnya dengan obrolan untuk mengetahui siapa yang jujur dan yang bohong, siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sehingga beliau bisa berkata bahwa orang ini rendah hati terhadap ilmu dan orang ini tidak rendah hati sehingga beliau tidak memberi perhatian kepadanya. Pembahasan masalah ini pajang, namun cukup bagi kita inti dari pembahasan ini, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Mujahid bahwa orang pemalu dan sombong tidak akan mendapatkan ilmu. Dan di sini, pada kata ‘pemalu’, kita harus tahu bahwa sifat malu seluruhnya adalah kebaikan, sifat malu tidak akan mendatangkan keburukan sama sekali. Adapun maksud Mujahid -semoga Allah meridai beliau- ketika berkata bahwa pemalu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu, maksudnya adalah kesombongan yang ditutupi dengan kata malu. Karena setan menggoda sebagian orang dan menghalangi mereka melakukan perbuatan baik dengan memberikan “alasan malu”, padahal sebenarnya karena sombong semata. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun duduk di majelis ilmu yang biasanya hanya dihadiri orang-orang berusia di bawah dua puluh tahun!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang pengajar duduk bersama siswa-siswanya di halaqah al-Qur’an atau di majelis lain!? Ini sombong, bukan malu. Bagaimana mungkin seorang direktur harus berkumpul bersama para karyawan dan bawahan-bawahannya dalam majelis ilmu!? Ini sombong, bukan malu. Intinya, kesombongan merupakan penghalang terbesar dalam ilmu. Dan kita sudah bahas tadi mengenai sombong dalam menuntut ilmu. Selain itu, kesombongan dalam mengajarkan ilmu juga menjadi penghalang kesempurnaan ilmu. Sungguh salah satu sebab terbesar yang membuat Allah ‘azza wa jalla menambah dan mengembangkan ilmu seseorang adalah dengan memberikannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu, Imam Ahmad ketika ditanya karena sebelumnya beliau berkata, “Tidak selayaknya seseorang menuntut ilmu kecuali dengan niat yang ikhlas.” Mereka bertanya, “Bagaimana niatnya?” Beliau berkata, “Berniat mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.” Maka dalam menuntut ilmu, niat yang benar adalah agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, karena segala sesuatu akan bertambah apabila dikeluarkan zakatnya. Zakat ilmu adalah mengajarkannya kepada manusia. Barang siapa yang menyombongkan diri dalam mengajarkannya pada manusia, dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya bahkan hanya membuat ilmunya terus berkurang dan tidak berkembang. Dan bentuk menyombongkan diri dalam mengajarkan ilmu kepada manusia adalah ketika dia tidak mau mengajar orang-orang kecil atau mereka yang masih awam. Dia berkata, “Aku hanya mau mengajari orang-orang mulia saja!” Orang seperti ini tidak merendahkan dirinya (tawadhu) kepada ilmu. Bentuk kesombongan lainnya adalah ketika seseorang tidak mau mengajar kecuali jika ada sebabnya; jika orang yang datang pengajian hanya sedikit, dia malas mengajar. Namun jika banyak, dia mau. Seperti ini juga bentuk kesombongan dalam mengajarkan ilmu. Maksudnya, hendaknya seseorang selalu berupaya keras untuk tidak menyombongkan diri terhadap ilmu, baik ketika menuntutnya ataupun ketika mengajarkannya. ============== فَأَوَّلُ عَائِقٍ يَمْنَعُ الْمَرْءَ مِنْ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ الْمَرْءُ مُتَكَبِّرًا فِيهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِي الْبُخَارِيِّ عَنْ مُجَاهِد بْنِ جَبْرٍ تِلْميذ… تِلْميذِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ مَنْ تَكَبَّرَ وَتَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ عَلَى أَنْ لَا يَطْلُبَ الْعِلْمَ وَلَا يَجْلِسَ فِي مَجَالِسِ أَهْلِهِ وَلَا يُصَافَى مَنْ طَلَبُوهُ وَقَصَدُوهُ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْزُقُهُ الْعِلْمَ أَبَدًا وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الْكَرِيمَةِ هَكَذَا يُنَزِّلُ يَدَهُ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا تَوَاضَعَ… إِذَا تَعَظَّمَ وَتَكَبَّرَ خَفَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كُلُّ مَنْ تَوَاضَعَ فِي شَيْءٍ رَفَعَهُ اللهُ فِيهِ وَكُلُّ مَنْ تَكَبَّرَ فِي شَيْءٍ خَفَضَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مَنْ تَكَبَّرَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ فَإِنَّهُ لَا يُرْزَقُ مِنْهُ شَيْئًا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِنَّمَا هُمْ مِنْ أَبْنَاءِ الْفُقَرَاءِ كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْعَبَّاسِيّ أَوْ أَبُو حَيَّان التَّوْحِيدِيّ نَسِيْتُ الْآنَ فَمَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الشَّرَفِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالْمَالِ فَإِنَّهُ يَرَى مِنَ الْمَنْقَصَةِ فِي حَقِّهِ وَالْغَضَاضَةِ فِي شَأْنِهِ أَنْ يُجَالِسَ مِثْلَ هَؤُلَاءِ فَيَجْلِسَ مَعَهُمْ وَلِذَلِكَ كَانَ أَهْلُ الشَّرَفِ عِنْدَ الْأَوَائِلِ عِنْدَمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَطْلُبُوا الْعِلْمَ أَوْ يَرْوُوا الْحَدِيثَ يَطْلُبُوا الْمُحَدِّثَ أَنْ يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ فَكَانَ كَثِيرٌ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ يَرْفُضُ وَيَقُولُ إِنَّمَا يَكُونُ الْعِلْمُ فِي الْمَسْجِدِ فَمَنْ أَرَادَهُ فَلَيَأْتِ وَهَذِهِ الْقِصَصُ فِيهَا كَثِيرَةٌ وَلَكِنْ يَكْفِينَا قَوْلُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَهُوَ فِي الْبُخَارِيِّ أَيْضًا مُعَلَّقَةً أَنَّهُ قَالَ لَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِالْخَيْرِ فِي خَيْرٍ مَا كَانَ الْعِلْمُ فِي الْمَسَاجِدِ فَهُوَ لَيْسَ حَقًّا عَلَى أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِهِ لِعُلْيَةِ الْقَوْمِ دُونَ مَنْهُمْ مِنْ أَوَاسِطِهِمْ وَلَيْسَ مَضْنُونًا بِهِ عَنْ أَحَدٍ دُونَ أَحَدٍ بَلْ هُوَ لِكُلٍّ وَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ لاِبْنِ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ أَعْنِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ الَّذِي سَمَّاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَ تُرْجُمَانَ قُرْآنِهَا فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ شَأْنًا عَظِيمًا فَيَأْتِي مَرَّةً فَيَجْلِسُ عَلَى بَيْتِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَيَجْلِسُ عِنْدَ بَابِ بَيْتِهِ فَيُطِيلُ مُعَاذٌ الْخُرُوجَ فَتَغْلِبُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَيْنُهُ فَيَنَامُ عِنْدَهُ عِنْدَ عَتَبَةِ بَيْتِهِ فَلَمَّا يَخْرُجُ مُعَاذٌ يَجِدُ ابْنَ عَبَّاسٍ عِنْدَ الْبَابِ وَقَدْ تَوَسَّدَ عَتَبَتَهُ فَيَقُولُ لَهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَوْ طَرَقْتَ الْبَابَ لَخَرَجْتُ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا ثُمَّ يَمْشِي مُعَاذٌ فَيَأْتِي ابْنُ عَبَّاسٍ مَعَهُ فَيُمْسِكُ بِزِمَامِ نَاقَتِهِ فَيَقُولُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ لَا تَفْعَلْ ذَلِكَ قَالَ إِنَّا كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِعُلَمَائِنَا وَ وَاللهِ أَقُولُهَا غَيْرَ حَانِثٍ عَنْ عِلْمٍ وَمَعْرِفَةٍ وَخَبَرٍ مِنَ الْأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ أَنَّ مَنْ أَذَلَّ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَأَنْقَصَ قَدْرَهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَذَلَهَا الْبَذْلَ التَّامَّ وَلَمْ يَتَكَبَّرْ لِكَلِمَةٍ قِيلَتْ لَهُ أَوْ يَمْتَنِعْ مِنْ حُضُورٍ لِشَيْءٍ مُنِعَ مِنْهُ فَإِنَّهُ الَّذِي يُوَفَّقُ وَإِنَّهُ الَّذِي يُرْزَقُ وَكَانَ أَحَدُ مَشَايِخِنَا قَدْ مَاتَ قَرِيبًا وَهُوَ مَعْرُوفٌ يَمْتَحِنُ بَعْضَ طُلَّابِهِ بِالْكَلَامِ لِيَعْرِفَ الصَّادِقَ مِنَ الْكَاذِبِ فَيَعْرِفَ مَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ لَا يَصْبِرُ فَيَقُولُ هَذَا تَوَاضَعَ لِلْعِلْمِ وَهَذَا لَمْ يَتَوَاضَعْ لَهُ فَلَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْحَدِيثَ فِي هَذَا الْأَمْرِ طَوِيلٌ وَلَكِنْ نَكْتَفِي مِنَ الْقِلَادَةِ مَا أَحَاطَ بِالْعُنُقِ وَكَمَا قَالَ مُجَاهِد لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَ لَا مُسْتَكْبِرٌ وَهُنَا فِي كَلِمَةِ مُسْتَحٍ لِنَعْرِفَ أَنَّ الْحَيَاءَ كُلَّهُ خَيْرٌ فَإِنَّ الْحَيَاءَ لَا يَأْتِي بِشَرٍّ أَبَدًا وَإِنَّمَا قَصْدُ مُجَاهِد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمَّا قَالَ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مُسْتَحٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ أَيْ الْكِبْرُ الَّذِي أُلْبِسَ لُبْسَ الْحَيَاءِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ بَعْضِ الْأَفَاعِيلِ بِحُجَّةِ الْحَيَاءِ وَإِنَّمَا هُوَ حَقِيقَةً مُنِعَ بِحُجَّةِ الْكِبْرِ فَكَيْفَ يَكُونُ ذَاكَ الرَّجُلُ الَّذِي بَلَغَ مِنَ الْعُمْرِ فَوْقَ الْأَرْبَعِيْنِ يَجْلِسُ فِي حَلَقَةٍ إِنَّمَا يَجْلِسُ فِيهَا مَنْ دُونَ الْعِشْرِيْنَ هَذَا الْكِبْرُ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُعَلِّمُ مَعَ طُلَّابِهِ فِي حَلَقَةِ قُرْآنٍ أَوْ نَحوِهَا هَذَا كِبْرٌ لَيْسَ حَيَاءً كَيْفَ يَجْلِسُ الْمُدِيرُ مَعَ مُوَظَّفِيهِ وَمَنْ هُمْ دُونَهُ هَذَا كِبْرٌ وَلَيْسَ حَيَاءً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ الْكِبْرَ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَيَتَعَلَّقُ بِالْكِبْرِ أَيْضًا الْكِبْرُ كَمَا تَكَلَّمْنَا عَنْهُ قَبْلَ قَلِيلٍ عَنِ الْكِبْرِ فِي تَحْصِيلِ الْعِلْمِ فَإِنَّ الْكِبْرَ فِي بَذْلِهِ مِنْ عَوَائِقِ تَمَامِهِ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَزِيدُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عِلْمَ الْمَرْءِ وَيُنَمِّيهِ لَهُ أَنْ يَبْذُلَهُ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ إِيَّاهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْإمَامَ أَحْمَدَ لَمَّا سُئِلَ لَمَّا قَالَ أَوَّلًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَطْلُبَ الْعِلْمَ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ قَالُوا مَا النِّيَّةُ ؟ قَالَ أَنْ يَنْفِيَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَنْ يُعَلِّمَ غَيْرَهُ فَالْعِلْمُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِيهِ أَنْ تُعَلِّمَ غَيْرَكَ وَلِذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ زِيَادَتُهُ فِي زَكَاتِهِ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ تَعْلِيمُ النَّاسِ فِيهِ وَمَنْ تَكَبَّرَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِي عِلْمِهِ وَإِنَّمَا كَانَ إِلَى نَقْصٍ لَا إِلَى نَمَاءٍ وَيَتَكَبَّرُ الْمَرْءُ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ حِينَمَا يَأْنَفُ أَنْ يُعَلِّمَ أُنَاسًا مِنْ صَغَائِرِ النَّاسِ وَمِنْ عَوَامِّهِمْ وَيَقُولُ إِنَّمَا أَنَا لَا أُعَلِّمُ إِلَّا الْأَكَابِرَ فَحَسَبَ هَذَا رَجُلٌ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِي الْعِلْمِ الْآخَرُ مَنْ لَمْ يَجْلِسْ مَنْ لَا يَجْلِسُ إِلَّا أَنْ يُجْلَسَ لَهُ فَإِذَا جَلَسَ لَهُ الْعَدَدُ الْقَلِيلُ اِمْتَنَعَ وَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ الْعَدَدُ الْكَبِيرُ جَلَسَ ذَاكَ أَيْضًا مُتَكَبِّرٌ فِي بَذْلِهِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْمَرْءَ يَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ فِي الْعِلْمِ حَالَ طَلَبِهِ أَوْ حَالَ بَذْلِهِ
Prev     Next