Memaafkan Bisa, Melupakan Luka Butuh Proses (Belajar dari Kisah Wahsyi)

Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi

Memaafkan Bisa, Melupakan Luka Butuh Proses (Belajar dari Kisah Wahsyi)

Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi
Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi


Apakah memaafkan berarti hati harus langsung pulih dan melupakan semua luka? Kisah Nabi ﷺ dengan Wahsyi memberi pelajaran yang sangat halus: beliau menerima taubat, tetapi tetap jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan rahmat, keadilan, dan ketulusan hati secara seimbang.  Daftar Isi tutup 1. Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah? 2. Kesimpulan  Rasullah ﷺ Apakah Memaafkan Pembunuh Hamzah?Apakah Rasulullah ﷺ menolak bertemu dengan budak yang membunuh Hamzah, paman beliau, setelah ia masuk Islam?Jawaban:Nabi ﷺ pernah bertemu dengan Wahsyi—pembunuh Hamzah—ketika ia datang dalam keadaan telah masuk Islam. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk Thaif masuk Islam.Wahsyi menceritakan:فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآنِي قَالَ: أَنْتَ وَحْشِيٌّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، “Aku keluar bersama mereka hingga tiba di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, ‘Apakah engkau Wahsyi?’Aku menjawab, ‘Ya.’قَالَ: أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ؟ قُلْتُ: قَدْ كَانَ مِنَ الْأَمْرِ مَا بَلَغَكَ، Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau yang membunuh Hamzah?’Aku menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang telah sampai kepadamu.’قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ قَالَ: فَخَرَجْتُ.Lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau bisa menjauhkan wajahmu dariku?’ Maka aku pun pergi (menjauh).”Wahsyi melanjutkan: “Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, muncul Musailamah Al-Kazzab. Aku berkata, ‘Aku akan keluar menghadapi Musailamah. Mudah-mudahan aku bisa membunuhnya sebagai balasan atas Hamzah.’Aku pun keluar bersama orang-orang. Terjadilah pertempuran sebagaimana yang terjadi. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, seperti unta berwarna kelabu dengan rambut yang acak-acakan. Aku pun melemparnya dengan tombakku hingga menembus dadanya dan keluar dari punggungnya. Lalu seorang laki-laki dari kalangan Anshar melompat dan menebas kepalanya dengan pedang.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Bari:Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Wahsyi diperkenalkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda,دَعُوهُ، فَلَإِسْلَامُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قَتْلِ أَلْفِ كَافِرٍ.“Biarkan dia. Sungguh, masuk Islamnya satu orang lebih aku cintai daripada terbunuhnya seribu orang kafir.”Imam Ibnu Hajar memberikan beberapa kesimpulan:أَنَّ الْمَرْءَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى مَنْ أَوْصَلَ إِلَى قَرِيبِهِ أَوْ صَدِيقِهِ أَذًى، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ وُقُوعُ الْهِجْرَةِ الْمَنْهِيِّ بَيْنَهُمَا، وَفِيهِ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا قَبْلَهُ. انْتَهَى.Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seseorang wajar merasa tidak suka melihat orang yang telah menyakiti kerabat atau orang yang ia cintai. Namun, hal itu tidak berarti terjadinya pemutusan hubungan yang terlarang di antara keduanya. Di dalamnya juga terdapat kaidah bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu. KesimpulanKisah Wahsyi mengajarkan satu pelajaran yang halus namun dalam: memaafkan tidak berarti luka harus langsung hilang, tetapi luka itu tidak boleh mendorong kita berbuat zalim atau menutup pintu taubat bagi orang lain.Nabi ﷺ menerima keislaman Wahsyi sepenuhnya — tidak membalas, tidak menghukumnya atas masa lalu — namun beliau juga jujur dengan perasaan beliau sebagai manusia. Di sinilah Islam tampak realistis: pemaafan itu mulia, dan perasaan manusiawi tetap diakui.Dari kisah ini kita belajar bahwa tingkatan memaafkan itu bertahap — dari sekadar tidak membalas, hingga berlapang dada, hingga menutup kesalahan sepenuhnya. Yang terpenting: teruslah bergerak naik menuju pemaafan yang lebih sempurna, sesuai kemampuan.Wallahu a’lam. Bahasan ini terdapat dalam buku kami yang baru “SENI MEMAAFKAN”. Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 atau di Rumaysho Digital. ——- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 29 Syawal 1447 H, 17 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhlak islam Hamzah hati yang terluka kisah sahabat konflik keluarga maaf memaafkan memaafkan memaafkan dalam islam rumaysho seni memaafkan sifat Nabi taubat Wahsyi

Mengenal Nama Allah “Al-Qaabidh” dan “Al-Baasith”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Kandungan makna nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan "Al-Qaabidh Al-Baasith" secara berpasanganMakna "Al-Qaabidh Al-Baasith" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith" bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.

Mengenal Nama Allah “Al-Qaabidh” dan “Al-Baasith”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Kandungan makna nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan "Al-Qaabidh Al-Baasith" secara berpasanganMakna "Al-Qaabidh Al-Baasith" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith" bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Kandungan makna nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan "Al-Qaabidh Al-Baasith" secara berpasanganMakna "Al-Qaabidh Al-Baasith" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith" bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Kandungan makna nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith"Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithPenyebutan "Al-Qaabidh Al-Baasith" secara berpasanganMakna "Al-Qaabidh Al-Baasith" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Qaabidh Al-Baasith" bagi hambaBeriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaMenguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarBersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berkaitan dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَافَقَالَ:  إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاق“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)Adapun disebutkan dalam bentuk fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)Demikian pula dalam hadis,إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]Banyak dari para ulama yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-BaasithKata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, yaitu membentang atau meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasanganKedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, karena kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan bersamaan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, karena hal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks AllahTentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berarti Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan apabila Dia menguranginya, maka bukan berarti karena ketiadaan atau kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebutkan contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh bentuk penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, atau kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul HusnaSeorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam berdoa dan menempuh sebab yang benarDi antara buah iman terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari berbagai keburukan. Ia tidak hanya berhenti pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang benar dalam meraih kebaikan. [10]Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkanDalam konteks ini, terdapat peringatan penting bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, atau kedudukan, maka hendaknya ia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta berbuat baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya ia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang mampu melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang mampu menyempitkan apa yang Allah lapangkan.Sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya bersyukur ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, karena keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan bersyukur ketika dilapangkan. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi UtamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.Catatan kaki:[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 230

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026

Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 230
Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 230


Laporan Produksi Yufid Bulan Maret 2026 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 16 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 24.541 video dengan total 6.894.462 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.180 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 954.929.133 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 20.259 video Total Subscribers: 4.210.327 subscribers Total Tayangan Video: 751.146.736 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Maret 2026: 132 video Tayangan Video Maret 2026: 2.933.187 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 244.239 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +3.658 Selama bulan Maret 2026 tim Yufid menyiarkan 76 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.303 video Total Subscribers: 336.766 Total Tayangan Video: 23.425.057 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 22 video Produksi Video Maret 2026: 29 video Tayangan Video Maret 2026: 76.790 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 4.481 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +518 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 95 video Total Subscribers: 558.713 Total Tayangan Video: 176.243.686 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 1.532.322 views Waktu Tayang Video Maret 2026: 79.060 jam Penambahan Subscribers Maret 2026: +2.122 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 5.021 Total Tayangan Video: 483.335 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Maret 2026: 645 views Jam Tayang Video Maret 2026: 89 Jam Penambahan Subscribers Maret 2026: 3 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 58.700 Total Tayangan Video: 3.630.319 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Maret 2026: 0 video Tayangan Video Maret 2026: 32.198 views Penambahan Subscribers Maret 2026: +300 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 5.048 Postingan Total Pengikut: 1.201.455 followers Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 5.555.333 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +8.681 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.958 Postingan Total Pengikut: 523.480 Konten Bulan Maret 2026: 67 Views Konten Maret: 4.203.191 views Rata-Rata Produksi: 47 konten/bulan Penambahan Followers Maret 2026: +3.619 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 35 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 22 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.192 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.147 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 791 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 1 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.331 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 2 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.508 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 37.461 file mp3 dengan total ukuran 528 Gb dan pada bulan Maret 2026 ini telah mempublikasikan 913 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Maret 2026 ini saja telah didengarkan 13.029 kali dan telah di download sebanyak 135 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.843.551 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.817 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, project terjemahan ini telah menerjemahkan 60.658 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2.847 artikel dengan total durasi audio 272 jam dengan rata-rata perekaman 27 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Maret 2026, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 5 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Maret 2026. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 230

Panduan Lengkap Shalat Id dan Takbir Hari Raya

Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat IdSetelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal

Panduan Lengkap Shalat Id dan Takbir Hari Raya

Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat IdSetelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal
Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat IdSetelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal


Banyak kaum muslimin merayakan Id, tetapi belum memahami tata cara shalat dan takbirnya secara benar. Padahal, ada tuntunan rinci dari para ulama tentang jumlah takbir, waktu pelaksanaan, hingga khutbahnya. Artikel ini merangkum panduan lengkap shalat Id dan takbir hari raya secara ringkas dan mudah dipahami.  Daftar Isi tutup 1. Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat Id 2. Tata Cara Shalat Id 3. Khutbah Setelah Shalat Id 4. Pembagian Takbir Id  Al-Qadhi Abu Syuja’ dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib berkata:وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا، وَيُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيدِ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِي الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.Hukum Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri.Khutbah Setelah Shalat IdSetelah shalat Id, disunnahkan menyampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali.Waktu Takbir IdulfitriDisunnahkan bertakbir mulai dari terbenamnya matahari pada malam Id (malam 1 Syawal) hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Waktu Takbir IduladhaPada Iduladha, disunnahkan bertakbir setelah shalat-shalat fardhu, dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Penjelasan:Hukum dan Siapa yang Disunnahkan Shalat IdShalat Id (Idulfitri dan Iduladha) hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Shalat ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah, dan juga boleh dilakukan oleh orang yang shalat sendirian maupun musafir, baik laki-laki merdeka maupun budak, juga bagi khuntsa (yang berkelamin ganda) dan wanita. Namun, wanita yang cantik dan yang berhias tidak dianjurkan untuk keluar. Adapun wanita tua, ia boleh menghadiri shalat Id dengan pakaian rumahnya tanpa memakai wewangian.Waktu pelaksanaan shalat Id adalah sejak terbit matahari hingga sebelum tergelincirnya matahari (Zuhur). Tata Cara Shalat IdShalat Id terdiri dari dua rakaat. Shalat ini diawali dengan niat untuk shalat Idulfitri atau Iduladha, lalu membaca doa iftitah.Pada rakaat pertama, bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Surah ق (Qaf) dengan suara keras.Pada rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali selain takbir ketika bangkit berdiri, kemudian membaca ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dan Surah اقْتَرَبَتِ (Al-Qamar) dengan suara keras.Baca juga: Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha Khutbah Setelah Shalat IdDisunnahkan menyampaikan dua khutbah setelah shalat Id. Pada awal khutbah pertama, imam bertakbir sebanyak sembilan kali secara berurutan. Pada awal khutbah kedua, bertakbir sebanyak tujuh kali secara berurutan.Jika di antara takbir-takbir tersebut diselingi dengan pujian kepada Allah, tahlil, dan sanjungan, maka hal itu termasuk sesuatu yang baik. Pembagian Takbir IdTakbir pada hari raya terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.Takbir mursal adalah takbir yang tidak terkait dengan selesai shalat. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir pada IdulfitriPenulis memulai dengan takbir mursal, yaitu disunnahkan bertakbir bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang yang mukim maupun musafir. Takbir ini dilakukan di rumah, di jalan, di masjid, maupun di pasar. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam Idulfitri, dan terus berlangsung hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat Id.Adapun bertakbir setelah shalat pada malam Idulfitri, hal itu tidak disunnahkan. Namun, Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memilih pendapat bahwa hal tersebut tetap disunnahkan. Waktu Takbir Muqayyad pada IduladhaKemudian penulis menjelaskan takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah shalat. Takbir ini dilakukan pada Iduladha setelah shalat-shalat wajib, baik yang dikerjakan tepat waktu maupun yang diqadha. Demikian pula dibaca setelah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah mutlak, dan shalat jenazah.Waktunya dimulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari tasyriq. Referensi: Matan Taqrib, Fathul Qarib Baca juga:Inilah Lafaz Takbir Hari Raya (Tinjauan Madzhab Syafii)Memahami Lebih Dalam Takbir Mutlak dan Muqayyad pada Hari Raya—- 28  Syawal 1447 H, 16 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfiqih shalat id iduladha Idulfitri khutbah id matan taqrib matan taqrib kitab shalat panduan shalat id shalat id sunnah hari raya takbir hari raya takbir muqayyad takbir mursal

Mengenal Nama Allah “Al-Jaliil”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Jaliil"Kandungan makna nama Allah "Al-Jaliil"Makna bahasa dari "Al-Jaliil"Makna "Al-Jaliil" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Jaliil" bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info

Mengenal Nama Allah “Al-Jaliil”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Jaliil"Kandungan makna nama Allah "Al-Jaliil"Makna bahasa dari "Al-Jaliil"Makna "Al-Jaliil" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Jaliil" bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Jaliil"Kandungan makna nama Allah "Al-Jaliil"Makna bahasa dari "Al-Jaliil"Makna "Al-Jaliil" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Jaliil" bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah "Al-Jaliil"Kandungan makna nama Allah "Al-Jaliil"Makna bahasa dari "Al-Jaliil"Makna "Al-Jaliil" dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah "Al-Jaliil" bagi hambaBeriman dan menetapkan nama ini bagi AllahMenetapkan sifat keagungan bagi AllahBeradab dalam penggunaan nama iniSemakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk ia kepada-Nya, dan semakin kecil dunia di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga hal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta konsekuensi penting yang berkaitan dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.Dalil nama Allah “Al-Jaliil”Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dalam bentuk nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.Allah Ta’ala berfirman,وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Dan firman-Nya,تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Maha Suci nama Rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa atau tidak. Di antara ulama yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Jaliil”Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.Ibnu Fāris berkata,(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ“Akar kata jīm–lām–lām memiliki tiga makna dasar:sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berarti sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berarti keagungan Allah.sesuatu yang meliputi atau menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) apabila ia mengeluarkan suara.” [4]Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ“Sesuatu dikatakan jalla apabila ia menjadi besar (agung).” [5]Makna “Al-Jaliil” dalam konteks AllahKetika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran yang sempurna.ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ“Al-Jaliil adalah Dzat yang memiliki keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hambaPenetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:Beriman dan menetapkan nama ini bagi AllahTelah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang hal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]Menetapkan sifat keagungan bagi AllahSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah memiliki sifat jalāl (keagungan) dan berhak disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)Ibnu Katsir rahimahullah berkata,أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]Beradab dalam penggunaan nama iniNama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh karena itu:tidak digunakan untuk selain Allah dalam bentuk ma‘rifah (dengan “Al”);adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]Selain itu, di antara konsekuensi mengenal nama Al-Jaliil adalah: khusyuk dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa kecil di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.***Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utamaIbn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah. Catatan kaki:[1] Lihat: Nabulsi.com[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.[10] Lihat: Islamqa.info

Belum Punya Anak? Simak Nasihat Syaikh yang Akan Membuat Hatimu Kembali Tenang

Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا

Belum Punya Anak? Simak Nasihat Syaikh yang Akan Membuat Hatimu Kembali Tenang

Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا
Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا


Qurratu ‘ain bermakna ketetapan hati, kedamaian, dan ketenangan batin. Jadi, Anda memohon kepada Allah agar menganugerahkan ketenangan hati tersebut melalui pasangan Anda. Permohonan ini mencakup pasangan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di akhirat, seseorang tidak mungkin berpasangan kecuali jika ia berada di surga. Sebab di surgalah ia akan memiliki pasangan. Sedangkan di dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga hal yang termasuk dalam kebahagiaan…” Nabi menyebutkan salah satunya adalah ketika seseorang dianugerahi istri yang salehah selama hidup di dunia. Maka dari itu, wahai saudaraku muslim, hendaklah Anda memohon kepada Allah agar dikaruniai istri yang benar-benar menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Lihat, inilah kesempurnaan dalam berdoa! Jangan hanya sekadar meminta kecantikan. Jangan sekadar meminta harta. Jangan sekadar meminta kriteria-kriteria tertentu yang bersifat materi. Pasrahkanlah urusan itu sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah agar Anda mendapat istri yang salehah, dan ia menjadi penyejuk pandangan bagi Anda. Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda daripada diri Anda sendiri. Terkadang di waktu tertentu ada hal yang mengganggu dan tidak baik padanya. Namun, yang menjadi tolak ukur sebenarnya adalah akhir dan penutup dari segala urusan. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk pandangan bagi kami.” (QS. Al-Furqan: 74). Saat Anda merenungkan ketika meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla penyejuk pandangan pada keturunan, ketahuilah bahwa terkadang bentuk “penyejuk” itu justru berupa tidak diberinya keturunan. Saya mulai dengan membahas kondisi “tidak diberi” ini sebelum membahas kondisi “diberi”. Sebab, di antara bentuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla atas sebagian hamba-Nya adalah ketika Allah tidak memberinya keturunan. sebab di antara keturunan ada yang bisa menjadi sebab kebinasaan bagi orang tuanya. Bukankah ada kisah Musa bersama Khidir, dan mereka berdua adalah Nabi ‘alaihimassalam. Nabi Khidir membunuh seorang anak karena khawatir anak itu menjadi sebab kebinasaan kedua orang tuanya. Jadi, sebagian keturunan bisa saja menjadi penyebab hancurnya hidup orang tua, baik di dunia maupun di akhirat. Hancur di dunia karena terus-menerus didera kegundahan dan kesedihan karena ulah sang anak, serta berbagai kesulitan hidup lainnya yang menyengsarakan. Hingga hancur di akhirat, karena sang anak justru menjadi sebab bagi kesesatan orang tuanya. ===== قُرَّةُ الْعَيْنِ هِيَ اسْتِقْرَارُهَا وَطُمَأْنِينَتُهَا فَأَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ مِنْ أَزْوَاجِكَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ أَزْوَاجَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا الْآخِرَةُ فَلَا يَكُونُ لِلْمَرْءِ أَزْوَاجًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي الْجَنَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ لَهُ زَوْجٌ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَذَكَرَ مِنْ هَذِهِ السَّعَادَةِ أَنْ يُرْزَقَ الْمَرْءُ زَوْجَةً صَالِحَةً فِي الدُّنْيَا إِذًا أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنْتَ تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهَبَ لَكَ الزَّوْجَةَ الَّتِي تَقَرُّ عَيْنُكَ بِهَا انْظُرْ هَذَا هُوَ كَمَالُ الدُّعَاءِ لَا تَسْأَلْ جَمَالًا لَا تَسْأَلْ مَالًا لَا تَسْأَلْ تَفْصِيلًا مُعَيَّنًا كِلِ الْأَمْرَ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاسْأَلْهُ أَنْ تَكُونَ امْرَأَةً صَالِحَةً وَأَنْ تَكُونَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَكَ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَعْلَمُ بِكَ مِنْ نَفْسِكَ قَدْ يَكُونُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهَا ضَيْرٌ وَسُوءٌ لَكِنَّ الْعِبْرَةَ بِالْخَوَاتِيمِ وَأَوَاخِرِ الْأَمْرِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ عِنْدَمَا تَتَأَمَّلُ أَنَّكَ حِينَمَا تَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالذُّرِّيَّةِ تَارَةً تَكُونُ بِالْحِرْمَانِ وَأَبْدَأُ بِالْحِرْمَانِ قَبْلَ الْإِعْطَاءِ إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى بَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَحْرِمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذُّرِّيَّةَ إِذْ مِنَ الذُّرِّيَّةِ مَنْ يَكُونُ هَلَاكُ الْمَرْءِ بِهِمْ لَمْ تَكُ قِصَّةُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَدْ كَانَا نَبِيَّيْنِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَقَتَلَ رَجُلًا لِكَوْنِهِ خَشِيَ أَنْ يَكُونَ مُهْلِكًا لِوَالِدَيْهِ إِذًا قَدْ يَكُونُ بَعْضُ الذُّرِّيَّةِ سَبَبًا لِهَلَاكِ وَالِدَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هَلَاكِ الدُّنْيَا بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الشَّدِيدَةِ وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي إِضْلَالِهِمَا

Libur Beramal Agar Ibadah Semakin Bernilai

Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com

Libur Beramal Agar Ibadah Semakin Bernilai

Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com
Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com


Daftar Isi ToggleTeguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburTujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺKedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetiga: Agar esensi amal dapat diraihKeempat: Mengembalikan semangat beramalSebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Nabi ﷺ adalah suri teladan terbaik sebagaimana syariat yang dibawanya pun demikian. Allah ﷻ menjadikan syariat sebagai jalan untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara di surga nantinya. Meskipun demikian, Allah ﷻ sejatinya tidak membutuhkan banyaknya amalan yang kita lakukan. Akan tetapi, justru kita sebagai hamba yang butuh kepada amal tersebut yang dapat mengundang rida dan rahmat Allah ﷻ kepada kita. Oleh karena itu, amal sebagai bentuk taqarrub ilallah hendaknya sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Percuma melakukan amalan yang banyak, tetapi Allah ﷻ dan Rasul-Nya tidak rida dengan hal tersebut.Salah satu bentuk mencocoki syariat adalah dengan berselang-seling atau libur beramal. Hal ini merupakan salah satu bentuk keunikan syariat kita, yakni ketika tidak beramal pun dapat bernilai pahala. Nabi ﷺ memberikan teladan ini dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan sifat puasa Nabi ﷺ di luar puasa wajibnya,فأما صيامه من السنة فكان يسرد الصوم أحيانا والفطر أحيانا فيصوم حتى يقال: لا يفطر ويفطر حتى يقال: لا يصوم“Adapun puasa Nabi ﷺ sepanjang tahun, beliau kadang-kadang berpuasa terus-menerus dan kadang-kadang tidak berpuasa terus-menerus. Bahkan beliau berpuasa hingga dikatakan, “Beliau tidak pernah berbuka puasa.” Namun, apabila sedang tidak puasa, orang-orang mengatakan, “Beliau tidak pernah berpuasa.” (Lathaiful Maarif, hal. 123)[1]Hal ini dirangkum dari Ash-Shahihain dimana terdapat riwayat Ibunda Aisyah serta Anas pelayan Nabi ﷺ.Teguran Nabi ﷺ untuk yang terus-menerus beramal tanpa liburBahkan Nabi ﷺ menegur seseorang yang berpuasa terus-menerus serta amalan lainnya yang tidak diselingi jeda istirahat sebagai bentuk penyelisihan terhadap sunahnya.عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: “أتصوم النهار وتقوم الليل”؟ قال: نعم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام وأمس النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيDalam Ash-Shahîhain disebutkan dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi bersabda kepadanya, “Apakah kamu senantiasa berpuasa di siang hari dan salat di malam hari?” Abdullah menjawab, “Ya.” Nabi lantas bersabda, “Ketahuilah, aku berpuasa dan juga berbuka. Aku salat dan juga tidur. Aku juga menggauli perempuan. Barangsiapa membenci sunahku, dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)وفيهما عن أنس: أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال بعضهم: لا أتزوج النساء وقال بعضهم: لا آكل اللحم وقال بعضهم: لا أنام على فراش فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فخطب وقال: ما بال أقوام يقولون كذا وكذا لكني أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس منيMasih dalam Ash-Shahîhain dari Anas, bahwa ada beberapa sahabat Nabi saling bercerita satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Sahabat lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan sahabat lainnya berkata, “Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Percakapan mereka ini sampai ke telinga Nabi ﷺ. Saat berkhotbah, beliau pun bersabda, “Mengapa orang-orang ada yang mengatakan begini dan begitu? Sedangkan aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, serta aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunahku, maka dia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)Tujuan libur beramalPertama: Meneladani Nabi ﷺHadis-hadis ini mengingatkan bahwasanya tidak boleh berlebihan dalam beramal sampai tidak membiarkan waktu jeda. Sementara jeda dalam beramal itu adalah petunjuk Nabi ﷺ. Dalam riwayat semisal, terdapat ucapan Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa memberikan jeda dalam amal itu adalah bagian yang diteladankan Nabi ﷺ, dan insyaAllah bernilai pahala jika diniatkan dalam rangka ittiba’ lirasulillah.فمن اقتدى بي فهو مني ومن رغب عن سنتي فليس مني“Barangsiapa mengikuti teladanku, maka ia termasuk golonganku; dan barangsiapa berpaling dari sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5: 409)Kedua: Menjaga hak keluarga dan diri sendiriKetika sahabat Nabi ﷺ terus beramal tanpa ada libur bahkan menghabiskan seluruh waktunya, Nabi ﷺ mengingatkannya bahwa ada hak diri sendiri dan orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan meski sahabat, yakni Usman bin Madzun, kemudian beralasan bahwa ia melakukan itu karena bersemangat mengikuti sunah Nabi ﷺ, Nabi ﷺ bersabda,فاتق الله يا عثمان فإن لأهلك عليك حقا وإن لضيفك عليك حقا وإن لنفسك عليك حقا فصم وافطر وصل ونم“Bertakwalah, wahai Usman (bin Madzun)! Sungguh keluargamu memiliki hak yang harus kau tunaikan, tamumu punya hak yang harus kau tunaikan, dan dirimu punya hak yang harus kau tunaikan. Berpuasa dan berbukalah, salatlah dan tidurlah!” (HR. Abu Daud no. 1369)Ungkapan tambahan yang diberikan Salman radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu yang dibenarkan Nabi ﷺ adalah,فأعط كل ذي حق حقه“Berikanlah setiap yang punya hak itu haknya.” (HR. Bukhari no. 6139)Ketiga: Agar esensi amal dapat diraihNabi ﷺ melarang salah seorang sahabat yang melakukan puasa dahr (puasa yang dilakukan sepanjang tahun).[2] Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,وقد ورد النهي عن صيام الدهر والتشديد فيه وهذا كله يدل على أن أفضل الصيام أن لا يستدام“Terdapat banyak riwayat yang menyatakan bahwa terdapat larangan melakukan puasa dahr (terus-menerus) dan terdapat larangan yang sangat keras terhadapnya. Semua ini menunjukkan bahwa puasa terbaik bukanlah puasa terus-menerus, melainkan puasa berselang-seling antara berpuasa dan tidak puasa.”Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan bahwa ini adalah pandangan yang benar dari para ulama, dan ini juga pandangan Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat ketika Umar menerima laporan bahwa seseorang berpuasa terus-menerus. Lalu Umar memukul kepalanya dengan tongkat yang dimilikinya dan berkata, “Makanlah, wahai dahr! Makanlah, wahai dahr!” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 7871)Nabi ﷺ pun melarang Abdullah bin Amr Al-Ash untuk terus berpuasa dan juga memberikan solusinya, yakni berpuasa Daud yang mekanismenya sehari berpuasa sehari berbuka (tidak berpuasa). Nabi ﷺ menyatakan bahwa model puasa ini adalah puasa terbaik yang tidak ada yang lebih baik darinya.Alasan Nabi ﷺ melarang hal ini adaalah karena hilangnya esensi dari momen puasa ketika puasa itu telah menjadi keseharian semata. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan,قوله صلى الله عليه وسلم في صيام الدهر: “لا صام ولا أفطر” يعني أنه لا يجد مشقة الصيام ولا فقد الطعام والشراب والشهوة لأنه صار الصيام له عادة مألوفة“Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang puasa dahr, “Dia tidak berpuasa dan tidak pula berbuka”; artinya seseorang yang terus-menerus puasa tidak mengalami kesulitan berpuasa, tidak pula merasakan beratnya untuk jauh dari makanan, minuman, atau syahwat, karena puasa telah menjadi kebiasaan yang melekat padanya.فإذا صام تارة وأفطر أخرى حصل له بالصيام مقصوده بترك هذه الشهوات وفي نفسه داعية إليها وذلك أفضل من أن يتركها ونفسه لا تتوق إليهاJika ia berpuasa pada suatu waktu dan tidak puasa pada waktu lain, ia akan dapat mencapai tujuannya untuk menjauhi hasrat jiwa tersebut meskipun masih memiliki kecenderungan terhadapnya, dan itu lebih baik daripada menjauhi keinginan-keinginan tersebut sementara jiwanya sudah tidak menginginkannya.” (Lathaiful Maarif, hal.124)Ketika seseorang meninggalkan suatu perkara padahal jiwanya masih berhasrat untuknya, maka nilai pahalanya jauh lebih besar karena beratnya perjuangan tersebut. Ini adalah bentuk kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Sehingga seseorang mendapatkan pahala lebih dari amalan yang sejenis.Keempat: Mengembalikan semangat beramalTerkadang libur beramal bisa menguatkan kembali semangat untuk beramal. Inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Ibnul Jauzi yang mengkhususkan waktu untuk berjalan di kota sejenak sebagai jeda dalam proses produktif ilmunya.Kami pernah mendengar kisah seorang alim yang mengajar murid-muridnya dengan serius, lalu menyelinginya dengan pelajaran ringan penuh hikmah. Beliau adalah Imam Syuraih yang mengajak muridnya untuk melihat unta.[3]أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17)Lihatlah amalan sederhana ini. Bukan berarti benar-benar berlibur sehingga kosong dari amalan, tetapi megandung praktik amalan lainnya sebagai variasi.Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu, apakah kontradiksi?Dari ’Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)Jawabannya tidak. Karena yang dimaksudkan berlibur adalah membuat jeda dan memvariasikan amal. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa,من عمل طاعة من الطاعات وفرغ منها فعلامة قبولها أن يصلها بطاعة أخرى“Barangsiapa melaksanakan kebaikan, lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.” (Lathaiful Maarif, hal. 224)Apa yang diisyaratkan dari ucapan ini adalah bahwa yang dimaksudkan dari kebaikan selanjutnya adalah kebaikan yang lainnya. Dan ragam kebaikan itu banyak. Nabi ﷺ banyak meriwayatkan doa istiftah yang bermanfaat untuk memberikan variasi kepada kita semua.Ingatlah akan perkataan ini,كثرة المساس تميت الاحساس“Banyaknya interaksi mematikan sensitifitas.”Terkadang kita merasakan kajian yang kita hadiri terasa hambar, salat kita terasa biasa saja, bacaan Al-Quran terasa tiada nyawanya. Tentu faktornya adalah setan dan lemahnya iman. Namun, segala faktor tersebut dapat terhubung pada ibadah yang secara tidak sengaja menjadi rutinitas semata, tanpa ada maknanya. Maka, salah satu jalannya adalah dengan memberi jeda, bukan maksudnya memberikan alasan kepada kita untuk memutilasi konsistensi amal kita, tetapi sebagai wawasan baru bahwasanya libur pun merupakan jalan kebaikan jika kita jalani dengan ilmu.***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Shamela.ws[2] Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun dan tidak berbuka. Ada yang memaksudkan termasuk hari tasyrik dan ini jelas diharamkan. Ada yang memaknai maksudnya adalah sepanjang tahun selain lima hari yang diharamkan. Dalam makna demikian terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi pendapat Ibnu Rajab sepertinya cenderung kepada melarang atau tidak menyukainya.[3] Youtube.com

Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung 2. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga SurgaAllah Ta’ala berfirman,نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,memberi rasa aman pada hari kebangkitan,membantu kalian melewati jembatan shirath, danmengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid

Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung 2. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga SurgaAllah Ta’ala berfirman,نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,memberi rasa aman pada hari kebangkitan,membantu kalian melewati jembatan shirath, danmengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid
Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung 2. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga SurgaAllah Ta’ala berfirman,نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,memberi rasa aman pada hari kebangkitan,membantu kalian melewati jembatan shirath, danmengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid


Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?  Daftar Isi tutup 1. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan 1.1. Istikamah Bukan Sekadar Ucapan 1.2. Para Sahabat Memaknai Istikamah 1.3. Ayat Paling Lapang Bagi Manusia 1.4. Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama 1.5. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu 1.6. Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira 1.7. Kabar Gembira di Tiga Momen Agung 2. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho. Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak KeimananAllah Ta’ala berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْmereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan. Istikamah Bukan Sekadar UcapanAl-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواKemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas. Para Sahabat Memaknai IstikamahKemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُواMaka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya. Ayat Paling Lapang Bagi ManusiaIbnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.” Istikamah Menurut Umar dan Para UlamaAz-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.”Catatan:Rubah dijadikan perumpamaan karena:Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutarGerakannya diam-diam dan penuh tipu dayaTujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawanMaka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.Secara maknawi:Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariatTidak mencari-cari alasan untuk menyimpangTidak taat hanya ketika mudahJadi inti perumpamaan ini:Istikamah = lurus, tegas, konsistenRoghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsistenAli bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَAllāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya. Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga LisanmuImam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Malaikat Turun Membawa Kabar GembiraAdapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.'” Kabar Gembira di Tiga Momen AgungAda pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُLalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi. Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga SurgaAllah Ta’ala berfirman,نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ“Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,memberi rasa aman pada hari kebangkitan,membantu kalian melewati jembatan shirath, danmengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan. Pembahasan tafsir dua ayat ini diambil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Amalkan doa ini,اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1][1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24) Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701 Baca Juga:15 Kiat Istiqamah di Jalan Allah: Tetap Lurus Meski Banyak GodaanKiat Agar Tetap Istiqomah (seri 1) —- Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat dampak maksiat dosa itu candu ibnul qayyim iman istikamah malaikat nasihat ibnul qayyim nasihat Islami QS Fussilat sakaratul maut surga tafsir Ibnu Katsir tauhid

Iman Lagi Drop? Lakukan 4 Langkah Ini Agar Ibadah Kembali Bersemangat! – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ

Iman Lagi Drop? Lakukan 4 Langkah Ini Agar Ibadah Kembali Bersemangat! – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri

Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ
Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ


Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?” Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah: Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh. Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan. Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan. ===== أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ

Rezeki Seret? Inilah “Kunci Rahasia” dari Al-Qur’an untuk Membuka Pintu yang Tertutup

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Dalam ayat ini terdapat dalil yang disebut oleh para ulama sebagai dalalatul iqtiran (dalil penyandingan). Yaitu ketika Allah menyandingkan antara perintah shalat dengan jaminan rezeki. Ini menunjukkan bahwa menjaga shalat adalah sebab datangnya rezeki. Ada riwayat dari seorang ulama salaf, Bakar bin Abdullah Al-Muzani, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, dan mereka menginginkan sebuah harapan terwujud, maka beliau memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat. Beliau berpegang pada ayat ini: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Abu Hafsh Al-Ukbari menukil penjelasan dari Ibnul Qayyim, bahwa kisah serupa juga diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan bahwa jika ada seseorang yang mengeluhkan himpitan hajat hidup kepada Hudzaifah bin Al-Yaman, atau menginginkan suatu urusannya tercapai, maka beliau akan memerintahkannya untuk segera mendirikan shalat. Beliau pun berkata kepadanya: “Bantulah aku untuk menolong dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud.” Inti dari semua ini, wahai hamba yang diberi taufik, bahwa memperbanyak sujud dan menjaga shalat dengan khusyuk demi Allah ‘Azza wa Jalla, merupakan sebab terbukanya rezeki dunia dan akhirat. Adapun rezeki akhirat, terdapat hadis masyhur tentang seorang sahabat yang datang meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia bisa mendampingi beliau di surga. Nabi lalu bersabda kepadanya: “Maka bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” Adapun bukti mengenai rezeki dunia, saya telah memaparkan beberapa riwayat tersebut sebelumnya. Pengalaman nyata mengenai hal ini sangatlah banyak, baik pada orang-orang terdahulu maupun sekarang. Betapa banyak orang yang merasa dunianya begitu sempit, meski bumi ini amat luas, dan dunia terasa lebih sempit daripada lubang jarum. Namun, ketika ia segera menunaikan shalat, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan membaca firman-Nya, lalu dalam sujudnya ia bermunajat, memanggil, memohon, dan dan berharap kepada Allah, ia menumpahkan segala kegundahan hatinya kepada Allah, maka Allah pun menurunkan jalan keluar baginya. Betapa banyak orang yang saat dunianya terjepit, ia segera bersimpuh dalam shalat, kemudian Allah membukakan apa yang sebelumnya tertutup, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Akan tetapi, sebagian orang merasa rezekinya lambat datang, dan ini merupakan tanda lemahnya iman. Sebagian orang berdoa kepada Allah, tapi tidak tahu mana yang terbaik bagi dirinya. Bisa jadi, pilihan terbaik baginya adalah doanya belum dikabulkan saat itu. Sebab, ada beberapa doa yang jika dikabulkan, justru akan mendatangkan bahaya bagi hamba tersebut tanpa ia sadari. Iman yang sempurna adalah saat Anda berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berdoa kepada-Nya, dan saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud (dalam shalat). Saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud dalam shalat. Maka, jika Anda telah berdoa kepada Allah, lalu Anda tutup doa tersebut dengan penyerahan hati kepada-Nya, agar Allah memilihkan yang paling maslahat bagi Anda, baik itu dalam urusan duniamu, urusan jual beli, urusan menikah atau tidak, dan dalam segala urusanmu. Selama Anda telah bersungguh-sungguh meminta dan menempuh segala sebab agar doa terkabul, maka yakinlah bahwa Allah pasti akan menetapkan pilihan yang terbaik. Minimal Anda akan diberi apa yang Anda minta, atau yang lebih luar biasa, Allah memberi yang lebih baik dari permintaan Anda, atau menghindarkan Anda dari keburukan terselubung di balik doa itu. ===== ثُمَّ خَتَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الْآيَةَ بِقَوْلِهِ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى هَذِهِ فِيهَا دَلَالَةٌ أَخَذَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ تُسَمَّى دَلَالَةَ الِاقْتِرَانِ فَلَمَّا قَرَنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَبَيْنَ الرِّزْقِ دَلَّ عَلَى أَنَّ مُلَازَمَةَ الصَّلَاةِ سَبَبٌ لِلرِّزْقِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَهُوَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَ لِأَهْلِهِ خَصَاصَةٌ أَيْ حَاجَةٌ وَشِدَّةٌ وَأَرَادُوا أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ لِأَجْلِ هَذِهِ الْآيَةِ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى وَنَقَلَ أَبُو حَفْصٍ الْعُكْبَرِيُّ وَنَقَلَهُ عَنِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَنَّ هَذَا الْأَثَرَ رُوِيَ نَحْوُهُ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَدْ جَاءَ أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ كَانَ إِذَا اشْتَكَى لَهُ امْرُؤٌ حَاجَةً أَوْ رَغِبَ أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُ شَيْءٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُ بِأَنْ يَفْزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقَالَ لَهُ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْمُوفَّقُ أَنَّ كَثْرَةَ السُّجُودِ وَكَثْرَةَ الصَّلَاةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقُنُوتِ فِيهَا سَبَبٌ لِفَتْحِ رِزْقِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا رِزْقُ الْآخِرَةِ فَالْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ لَمَّا جَاءَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَأَلَهُ أَنْ يُصَاحِبَهُ فِي الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ وَأَمَّا رِزْقُ الدُّنْيَا فَقَدْ نَقَلْتُ لَكَ بَعْضَ هَذِهِ الْآثَارِ وَأَمَّا التَّجَارِبُ فِيهَا فَكَثِيرَةٌ عِنْدَ الْأَوَّائِلِ وَالْأَوَاخِرِ فَكَمْ مِنِ امْرِئٍ ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا وَضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا بِمَا رَحُبَتْ وَأَصْبَحَتِ الدُّنْيَا فِي عَيْنِهِ أَضْيَقَ مِنْ شَقِّ الْإِبْرَةِ فَلَمَّا فَزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتْلُو كَلَامَهُ ثُمَّ فِي سُجُودِهِ يُنَاجِي رَبَّهُ وَيُنَادِيهِ وَيَدْعُوهُ وَيَرْجُوهُ يَبُثُّ إِلَيْهِ هُمُومَهُ وَيَطْرَحُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا فِي قَلْبِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ رِكَابَهُ كَمْ مِنِ امْرِئٍ لَمَّا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا لَجَأَ إِلَى الصَّلَاةِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ مَا أُغْلِقَ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَلَكِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَسْتَبْطِئُ الرِّزْقَ وَهَذَا مِنْ ضَعْفِ إِيمَانِهِ وَبَعْضَ النَّاسِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَعْلَمُ مَا الْخِيَرَةُ فَقَدْ تَكُونُ الْخِيَرَةُ فِي أَلَّا يُسْتَجَابَ دُعَاؤُهُ فَإِنَّ بَعْضَ الدُّعَاءِ إِذَا اسْتُجِيبَ قَدْ يَكُونُ فِيهِ ضَرَرٌ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَكَمَالُ الْإِيمَانِ أَنْ تَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَتَدْعُوَهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ أَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ وَأَنْتَ فِي صَلَاةٍ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ خَتَمْتَ هَذَا الدُّعَاءَ بِتَفْوِيضِ الْقَلْبِ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَخْتَارَ لَكَ الْأَصْلَحَ فِي أَمْرِكَ فِي أَمْرِ دُنْيَاكَ فِي أَمْرِ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ فِي أَمْرِ زَوَاجٍ وَعَدَمِهِ فِي أَيِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِكَ وَقَدْ أَلْحَحْتَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَبَذَلْتَ الْوَسَائِلَ فِي إِجَابَةِ الدُّعَاءِ فَثِقْ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ سَيَكْتُبُ لَكَ الْخِيَرَةَ أَقَلُّ الْأَحْوَالِ أَنْ تُعْطَى مَا سَأَلْتَ وَأَعْظَمُهُ أَنْ يُعْطِيَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ مَا سَأَلْتَ

Rezeki Seret? Inilah “Kunci Rahasia” dari Al-Qur’an untuk Membuka Pintu yang Tertutup

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Dalam ayat ini terdapat dalil yang disebut oleh para ulama sebagai dalalatul iqtiran (dalil penyandingan). Yaitu ketika Allah menyandingkan antara perintah shalat dengan jaminan rezeki. Ini menunjukkan bahwa menjaga shalat adalah sebab datangnya rezeki. Ada riwayat dari seorang ulama salaf, Bakar bin Abdullah Al-Muzani, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, dan mereka menginginkan sebuah harapan terwujud, maka beliau memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat. Beliau berpegang pada ayat ini: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Abu Hafsh Al-Ukbari menukil penjelasan dari Ibnul Qayyim, bahwa kisah serupa juga diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan bahwa jika ada seseorang yang mengeluhkan himpitan hajat hidup kepada Hudzaifah bin Al-Yaman, atau menginginkan suatu urusannya tercapai, maka beliau akan memerintahkannya untuk segera mendirikan shalat. Beliau pun berkata kepadanya: “Bantulah aku untuk menolong dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud.” Inti dari semua ini, wahai hamba yang diberi taufik, bahwa memperbanyak sujud dan menjaga shalat dengan khusyuk demi Allah ‘Azza wa Jalla, merupakan sebab terbukanya rezeki dunia dan akhirat. Adapun rezeki akhirat, terdapat hadis masyhur tentang seorang sahabat yang datang meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia bisa mendampingi beliau di surga. Nabi lalu bersabda kepadanya: “Maka bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” Adapun bukti mengenai rezeki dunia, saya telah memaparkan beberapa riwayat tersebut sebelumnya. Pengalaman nyata mengenai hal ini sangatlah banyak, baik pada orang-orang terdahulu maupun sekarang. Betapa banyak orang yang merasa dunianya begitu sempit, meski bumi ini amat luas, dan dunia terasa lebih sempit daripada lubang jarum. Namun, ketika ia segera menunaikan shalat, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan membaca firman-Nya, lalu dalam sujudnya ia bermunajat, memanggil, memohon, dan dan berharap kepada Allah, ia menumpahkan segala kegundahan hatinya kepada Allah, maka Allah pun menurunkan jalan keluar baginya. Betapa banyak orang yang saat dunianya terjepit, ia segera bersimpuh dalam shalat, kemudian Allah membukakan apa yang sebelumnya tertutup, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Akan tetapi, sebagian orang merasa rezekinya lambat datang, dan ini merupakan tanda lemahnya iman. Sebagian orang berdoa kepada Allah, tapi tidak tahu mana yang terbaik bagi dirinya. Bisa jadi, pilihan terbaik baginya adalah doanya belum dikabulkan saat itu. Sebab, ada beberapa doa yang jika dikabulkan, justru akan mendatangkan bahaya bagi hamba tersebut tanpa ia sadari. Iman yang sempurna adalah saat Anda berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berdoa kepada-Nya, dan saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud (dalam shalat). Saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud dalam shalat. Maka, jika Anda telah berdoa kepada Allah, lalu Anda tutup doa tersebut dengan penyerahan hati kepada-Nya, agar Allah memilihkan yang paling maslahat bagi Anda, baik itu dalam urusan duniamu, urusan jual beli, urusan menikah atau tidak, dan dalam segala urusanmu. Selama Anda telah bersungguh-sungguh meminta dan menempuh segala sebab agar doa terkabul, maka yakinlah bahwa Allah pasti akan menetapkan pilihan yang terbaik. Minimal Anda akan diberi apa yang Anda minta, atau yang lebih luar biasa, Allah memberi yang lebih baik dari permintaan Anda, atau menghindarkan Anda dari keburukan terselubung di balik doa itu. ===== ثُمَّ خَتَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الْآيَةَ بِقَوْلِهِ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى هَذِهِ فِيهَا دَلَالَةٌ أَخَذَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ تُسَمَّى دَلَالَةَ الِاقْتِرَانِ فَلَمَّا قَرَنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَبَيْنَ الرِّزْقِ دَلَّ عَلَى أَنَّ مُلَازَمَةَ الصَّلَاةِ سَبَبٌ لِلرِّزْقِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَهُوَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَ لِأَهْلِهِ خَصَاصَةٌ أَيْ حَاجَةٌ وَشِدَّةٌ وَأَرَادُوا أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ لِأَجْلِ هَذِهِ الْآيَةِ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى وَنَقَلَ أَبُو حَفْصٍ الْعُكْبَرِيُّ وَنَقَلَهُ عَنِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَنَّ هَذَا الْأَثَرَ رُوِيَ نَحْوُهُ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَدْ جَاءَ أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ كَانَ إِذَا اشْتَكَى لَهُ امْرُؤٌ حَاجَةً أَوْ رَغِبَ أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُ شَيْءٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُ بِأَنْ يَفْزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقَالَ لَهُ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْمُوفَّقُ أَنَّ كَثْرَةَ السُّجُودِ وَكَثْرَةَ الصَّلَاةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقُنُوتِ فِيهَا سَبَبٌ لِفَتْحِ رِزْقِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا رِزْقُ الْآخِرَةِ فَالْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ لَمَّا جَاءَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَأَلَهُ أَنْ يُصَاحِبَهُ فِي الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ وَأَمَّا رِزْقُ الدُّنْيَا فَقَدْ نَقَلْتُ لَكَ بَعْضَ هَذِهِ الْآثَارِ وَأَمَّا التَّجَارِبُ فِيهَا فَكَثِيرَةٌ عِنْدَ الْأَوَّائِلِ وَالْأَوَاخِرِ فَكَمْ مِنِ امْرِئٍ ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا وَضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا بِمَا رَحُبَتْ وَأَصْبَحَتِ الدُّنْيَا فِي عَيْنِهِ أَضْيَقَ مِنْ شَقِّ الْإِبْرَةِ فَلَمَّا فَزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتْلُو كَلَامَهُ ثُمَّ فِي سُجُودِهِ يُنَاجِي رَبَّهُ وَيُنَادِيهِ وَيَدْعُوهُ وَيَرْجُوهُ يَبُثُّ إِلَيْهِ هُمُومَهُ وَيَطْرَحُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا فِي قَلْبِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ رِكَابَهُ كَمْ مِنِ امْرِئٍ لَمَّا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا لَجَأَ إِلَى الصَّلَاةِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ مَا أُغْلِقَ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَلَكِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَسْتَبْطِئُ الرِّزْقَ وَهَذَا مِنْ ضَعْفِ إِيمَانِهِ وَبَعْضَ النَّاسِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَعْلَمُ مَا الْخِيَرَةُ فَقَدْ تَكُونُ الْخِيَرَةُ فِي أَلَّا يُسْتَجَابَ دُعَاؤُهُ فَإِنَّ بَعْضَ الدُّعَاءِ إِذَا اسْتُجِيبَ قَدْ يَكُونُ فِيهِ ضَرَرٌ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَكَمَالُ الْإِيمَانِ أَنْ تَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَتَدْعُوَهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ أَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ وَأَنْتَ فِي صَلَاةٍ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ خَتَمْتَ هَذَا الدُّعَاءَ بِتَفْوِيضِ الْقَلْبِ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَخْتَارَ لَكَ الْأَصْلَحَ فِي أَمْرِكَ فِي أَمْرِ دُنْيَاكَ فِي أَمْرِ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ فِي أَمْرِ زَوَاجٍ وَعَدَمِهِ فِي أَيِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِكَ وَقَدْ أَلْحَحْتَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَبَذَلْتَ الْوَسَائِلَ فِي إِجَابَةِ الدُّعَاءِ فَثِقْ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ سَيَكْتُبُ لَكَ الْخِيَرَةَ أَقَلُّ الْأَحْوَالِ أَنْ تُعْطَى مَا سَأَلْتَ وَأَعْظَمُهُ أَنْ يُعْطِيَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ مَا سَأَلْتَ
Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Dalam ayat ini terdapat dalil yang disebut oleh para ulama sebagai dalalatul iqtiran (dalil penyandingan). Yaitu ketika Allah menyandingkan antara perintah shalat dengan jaminan rezeki. Ini menunjukkan bahwa menjaga shalat adalah sebab datangnya rezeki. Ada riwayat dari seorang ulama salaf, Bakar bin Abdullah Al-Muzani, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, dan mereka menginginkan sebuah harapan terwujud, maka beliau memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat. Beliau berpegang pada ayat ini: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Abu Hafsh Al-Ukbari menukil penjelasan dari Ibnul Qayyim, bahwa kisah serupa juga diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan bahwa jika ada seseorang yang mengeluhkan himpitan hajat hidup kepada Hudzaifah bin Al-Yaman, atau menginginkan suatu urusannya tercapai, maka beliau akan memerintahkannya untuk segera mendirikan shalat. Beliau pun berkata kepadanya: “Bantulah aku untuk menolong dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud.” Inti dari semua ini, wahai hamba yang diberi taufik, bahwa memperbanyak sujud dan menjaga shalat dengan khusyuk demi Allah ‘Azza wa Jalla, merupakan sebab terbukanya rezeki dunia dan akhirat. Adapun rezeki akhirat, terdapat hadis masyhur tentang seorang sahabat yang datang meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia bisa mendampingi beliau di surga. Nabi lalu bersabda kepadanya: “Maka bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” Adapun bukti mengenai rezeki dunia, saya telah memaparkan beberapa riwayat tersebut sebelumnya. Pengalaman nyata mengenai hal ini sangatlah banyak, baik pada orang-orang terdahulu maupun sekarang. Betapa banyak orang yang merasa dunianya begitu sempit, meski bumi ini amat luas, dan dunia terasa lebih sempit daripada lubang jarum. Namun, ketika ia segera menunaikan shalat, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan membaca firman-Nya, lalu dalam sujudnya ia bermunajat, memanggil, memohon, dan dan berharap kepada Allah, ia menumpahkan segala kegundahan hatinya kepada Allah, maka Allah pun menurunkan jalan keluar baginya. Betapa banyak orang yang saat dunianya terjepit, ia segera bersimpuh dalam shalat, kemudian Allah membukakan apa yang sebelumnya tertutup, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Akan tetapi, sebagian orang merasa rezekinya lambat datang, dan ini merupakan tanda lemahnya iman. Sebagian orang berdoa kepada Allah, tapi tidak tahu mana yang terbaik bagi dirinya. Bisa jadi, pilihan terbaik baginya adalah doanya belum dikabulkan saat itu. Sebab, ada beberapa doa yang jika dikabulkan, justru akan mendatangkan bahaya bagi hamba tersebut tanpa ia sadari. Iman yang sempurna adalah saat Anda berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berdoa kepada-Nya, dan saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud (dalam shalat). Saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud dalam shalat. Maka, jika Anda telah berdoa kepada Allah, lalu Anda tutup doa tersebut dengan penyerahan hati kepada-Nya, agar Allah memilihkan yang paling maslahat bagi Anda, baik itu dalam urusan duniamu, urusan jual beli, urusan menikah atau tidak, dan dalam segala urusanmu. Selama Anda telah bersungguh-sungguh meminta dan menempuh segala sebab agar doa terkabul, maka yakinlah bahwa Allah pasti akan menetapkan pilihan yang terbaik. Minimal Anda akan diberi apa yang Anda minta, atau yang lebih luar biasa, Allah memberi yang lebih baik dari permintaan Anda, atau menghindarkan Anda dari keburukan terselubung di balik doa itu. ===== ثُمَّ خَتَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الْآيَةَ بِقَوْلِهِ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى هَذِهِ فِيهَا دَلَالَةٌ أَخَذَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ تُسَمَّى دَلَالَةَ الِاقْتِرَانِ فَلَمَّا قَرَنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَبَيْنَ الرِّزْقِ دَلَّ عَلَى أَنَّ مُلَازَمَةَ الصَّلَاةِ سَبَبٌ لِلرِّزْقِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَهُوَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَ لِأَهْلِهِ خَصَاصَةٌ أَيْ حَاجَةٌ وَشِدَّةٌ وَأَرَادُوا أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ لِأَجْلِ هَذِهِ الْآيَةِ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى وَنَقَلَ أَبُو حَفْصٍ الْعُكْبَرِيُّ وَنَقَلَهُ عَنِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَنَّ هَذَا الْأَثَرَ رُوِيَ نَحْوُهُ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَدْ جَاءَ أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ كَانَ إِذَا اشْتَكَى لَهُ امْرُؤٌ حَاجَةً أَوْ رَغِبَ أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُ شَيْءٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُ بِأَنْ يَفْزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقَالَ لَهُ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْمُوفَّقُ أَنَّ كَثْرَةَ السُّجُودِ وَكَثْرَةَ الصَّلَاةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقُنُوتِ فِيهَا سَبَبٌ لِفَتْحِ رِزْقِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا رِزْقُ الْآخِرَةِ فَالْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ لَمَّا جَاءَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَأَلَهُ أَنْ يُصَاحِبَهُ فِي الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ وَأَمَّا رِزْقُ الدُّنْيَا فَقَدْ نَقَلْتُ لَكَ بَعْضَ هَذِهِ الْآثَارِ وَأَمَّا التَّجَارِبُ فِيهَا فَكَثِيرَةٌ عِنْدَ الْأَوَّائِلِ وَالْأَوَاخِرِ فَكَمْ مِنِ امْرِئٍ ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا وَضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا بِمَا رَحُبَتْ وَأَصْبَحَتِ الدُّنْيَا فِي عَيْنِهِ أَضْيَقَ مِنْ شَقِّ الْإِبْرَةِ فَلَمَّا فَزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتْلُو كَلَامَهُ ثُمَّ فِي سُجُودِهِ يُنَاجِي رَبَّهُ وَيُنَادِيهِ وَيَدْعُوهُ وَيَرْجُوهُ يَبُثُّ إِلَيْهِ هُمُومَهُ وَيَطْرَحُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا فِي قَلْبِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ رِكَابَهُ كَمْ مِنِ امْرِئٍ لَمَّا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا لَجَأَ إِلَى الصَّلَاةِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ مَا أُغْلِقَ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَلَكِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَسْتَبْطِئُ الرِّزْقَ وَهَذَا مِنْ ضَعْفِ إِيمَانِهِ وَبَعْضَ النَّاسِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَعْلَمُ مَا الْخِيَرَةُ فَقَدْ تَكُونُ الْخِيَرَةُ فِي أَلَّا يُسْتَجَابَ دُعَاؤُهُ فَإِنَّ بَعْضَ الدُّعَاءِ إِذَا اسْتُجِيبَ قَدْ يَكُونُ فِيهِ ضَرَرٌ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَكَمَالُ الْإِيمَانِ أَنْ تَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَتَدْعُوَهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ أَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ وَأَنْتَ فِي صَلَاةٍ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ خَتَمْتَ هَذَا الدُّعَاءَ بِتَفْوِيضِ الْقَلْبِ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَخْتَارَ لَكَ الْأَصْلَحَ فِي أَمْرِكَ فِي أَمْرِ دُنْيَاكَ فِي أَمْرِ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ فِي أَمْرِ زَوَاجٍ وَعَدَمِهِ فِي أَيِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِكَ وَقَدْ أَلْحَحْتَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَبَذَلْتَ الْوَسَائِلَ فِي إِجَابَةِ الدُّعَاءِ فَثِقْ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ سَيَكْتُبُ لَكَ الْخِيَرَةَ أَقَلُّ الْأَحْوَالِ أَنْ تُعْطَى مَا سَأَلْتَ وَأَعْظَمُهُ أَنْ يُعْطِيَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ مَا سَأَلْتَ


Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Dalam ayat ini terdapat dalil yang disebut oleh para ulama sebagai dalalatul iqtiran (dalil penyandingan). Yaitu ketika Allah menyandingkan antara perintah shalat dengan jaminan rezeki. Ini menunjukkan bahwa menjaga shalat adalah sebab datangnya rezeki. Ada riwayat dari seorang ulama salaf, Bakar bin Abdullah Al-Muzani, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, bahwa jika keluarganya sedang terdesak oleh suatu keperluan atau kesulitan hidup, dan mereka menginginkan sebuah harapan terwujud, maka beliau memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat. Beliau berpegang pada ayat ini: “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132). Abu Hafsh Al-Ukbari menukil penjelasan dari Ibnul Qayyim, bahwa kisah serupa juga diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Diceritakan bahwa jika ada seseorang yang mengeluhkan himpitan hajat hidup kepada Hudzaifah bin Al-Yaman, atau menginginkan suatu urusannya tercapai, maka beliau akan memerintahkannya untuk segera mendirikan shalat. Beliau pun berkata kepadanya: “Bantulah aku untuk menolong dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud.” Inti dari semua ini, wahai hamba yang diberi taufik, bahwa memperbanyak sujud dan menjaga shalat dengan khusyuk demi Allah ‘Azza wa Jalla, merupakan sebab terbukanya rezeki dunia dan akhirat. Adapun rezeki akhirat, terdapat hadis masyhur tentang seorang sahabat yang datang meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar ia bisa mendampingi beliau di surga. Nabi lalu bersabda kepadanya: “Maka bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” Adapun bukti mengenai rezeki dunia, saya telah memaparkan beberapa riwayat tersebut sebelumnya. Pengalaman nyata mengenai hal ini sangatlah banyak, baik pada orang-orang terdahulu maupun sekarang. Betapa banyak orang yang merasa dunianya begitu sempit, meski bumi ini amat luas, dan dunia terasa lebih sempit daripada lubang jarum. Namun, ketika ia segera menunaikan shalat, berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan membaca firman-Nya, lalu dalam sujudnya ia bermunajat, memanggil, memohon, dan dan berharap kepada Allah, ia menumpahkan segala kegundahan hatinya kepada Allah, maka Allah pun menurunkan jalan keluar baginya. Betapa banyak orang yang saat dunianya terjepit, ia segera bersimpuh dalam shalat, kemudian Allah membukakan apa yang sebelumnya tertutup, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Akan tetapi, sebagian orang merasa rezekinya lambat datang, dan ini merupakan tanda lemahnya iman. Sebagian orang berdoa kepada Allah, tapi tidak tahu mana yang terbaik bagi dirinya. Bisa jadi, pilihan terbaik baginya adalah doanya belum dikabulkan saat itu. Sebab, ada beberapa doa yang jika dikabulkan, justru akan mendatangkan bahaya bagi hamba tersebut tanpa ia sadari. Iman yang sempurna adalah saat Anda berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berdoa kepada-Nya, dan saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud (dalam shalat). Saat terbaik untuk berdoa adalah ketika Anda sedang bersujud dalam shalat. Maka, jika Anda telah berdoa kepada Allah, lalu Anda tutup doa tersebut dengan penyerahan hati kepada-Nya, agar Allah memilihkan yang paling maslahat bagi Anda, baik itu dalam urusan duniamu, urusan jual beli, urusan menikah atau tidak, dan dalam segala urusanmu. Selama Anda telah bersungguh-sungguh meminta dan menempuh segala sebab agar doa terkabul, maka yakinlah bahwa Allah pasti akan menetapkan pilihan yang terbaik. Minimal Anda akan diberi apa yang Anda minta, atau yang lebih luar biasa, Allah memberi yang lebih baik dari permintaan Anda, atau menghindarkan Anda dari keburukan terselubung di balik doa itu. ===== ثُمَّ خَتَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الْآيَةَ بِقَوْلِهِ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى هَذِهِ فِيهَا دَلَالَةٌ أَخَذَهَا أَهْلُ الْعِلْمِ تُسَمَّى دَلَالَةَ الِاقْتِرَانِ فَلَمَّا قَرَنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَبَيْنَ الرِّزْقِ دَلَّ عَلَى أَنَّ مُلَازَمَةَ الصَّلَاةِ سَبَبٌ لِلرِّزْقِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ وَهُوَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَ لِأَهْلِهِ خَصَاصَةٌ أَيْ حَاجَةٌ وَشِدَّةٌ وَأَرَادُوا أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ لِأَجْلِ هَذِهِ الْآيَةِ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى وَنَقَلَ أَبُو حَفْصٍ الْعُكْبَرِيُّ وَنَقَلَهُ عَنِ ابْنِ الْقَيِّمِ أَنَّ هَذَا الْأَثَرَ رُوِيَ نَحْوُهُ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَدْ جَاءَ أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ كَانَ إِذَا اشْتَكَى لَهُ امْرُؤٌ حَاجَةً أَوْ رَغِبَ أَنْ يَتَحَقَّقَ لَهُ شَيْءٌ مِنَ الْأُمُورِ أَمَرَهُ بِأَنْ يَفْزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقَالَ لَهُ أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْمُوفَّقُ أَنَّ كَثْرَةَ السُّجُودِ وَكَثْرَةَ الصَّلَاةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْقُنُوتِ فِيهَا سَبَبٌ لِفَتْحِ رِزْقِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَمَّا رِزْقُ الْآخِرَةِ فَالْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ لَمَّا جَاءَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَأَلَهُ أَنْ يُصَاحِبَهُ فِي الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ وَأَمَّا رِزْقُ الدُّنْيَا فَقَدْ نَقَلْتُ لَكَ بَعْضَ هَذِهِ الْآثَارِ وَأَمَّا التَّجَارِبُ فِيهَا فَكَثِيرَةٌ عِنْدَ الْأَوَّائِلِ وَالْأَوَاخِرِ فَكَمْ مِنِ امْرِئٍ ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا وَضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا بِمَا رَحُبَتْ وَأَصْبَحَتِ الدُّنْيَا فِي عَيْنِهِ أَضْيَقَ مِنْ شَقِّ الْإِبْرَةِ فَلَمَّا فَزَعَ إِلَى الصَّلَاةِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتْلُو كَلَامَهُ ثُمَّ فِي سُجُودِهِ يُنَاجِي رَبَّهُ وَيُنَادِيهِ وَيَدْعُوهُ وَيَرْجُوهُ يَبُثُّ إِلَيْهِ هُمُومَهُ وَيَطْرَحُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا فِي قَلْبِهِ فَيُنْزِلُ بِهِ رِكَابَهُ كَمْ مِنِ امْرِئٍ لَمَّا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا لَجَأَ إِلَى الصَّلَاةِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ مَا أُغْلِقَ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَلَكِنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَسْتَبْطِئُ الرِّزْقَ وَهَذَا مِنْ ضَعْفِ إِيمَانِهِ وَبَعْضَ النَّاسِ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَعْلَمُ مَا الْخِيَرَةُ فَقَدْ تَكُونُ الْخِيَرَةُ فِي أَلَّا يُسْتَجَابَ دُعَاؤُهُ فَإِنَّ بَعْضَ الدُّعَاءِ إِذَا اسْتُجِيبَ قَدْ يَكُونُ فِيهِ ضَرَرٌ عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَكَمَالُ الْإِيمَانِ أَنْ تَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَتَدْعُوَهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ أَفْضَلُ الدُّعَاءِ مَا كَانَ فِي السُّجُودِ وَأَنْتَ فِي صَلَاةٍ فَإِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ خَتَمْتَ هَذَا الدُّعَاءَ بِتَفْوِيضِ الْقَلْبِ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَخْتَارَ لَكَ الْأَصْلَحَ فِي أَمْرِكَ فِي أَمْرِ دُنْيَاكَ فِي أَمْرِ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ فِي أَمْرِ زَوَاجٍ وَعَدَمِهِ فِي أَيِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِكَ وَقَدْ أَلْحَحْتَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَبَذَلْتَ الْوَسَائِلَ فِي إِجَابَةِ الدُّعَاءِ فَثِقْ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ سَيَكْتُبُ لَكَ الْخِيَرَةَ أَقَلُّ الْأَحْوَالِ أَنْ تُعْطَى مَا سَأَلْتَ وَأَعْظَمُهُ أَنْ يُعْطِيَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتَ وَرُبَّمَا حُرِمْتَ مَا سَأَلْتَ

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 4): Pendapat Para Ulama tentang Ibnu Shayyad

Daftar Isi TogglePendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadPenutupPendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadAbu Abdullah al-Qurtubi rahimahullah berkata,الصّحيح أن ابن صيَّاد هو الدَّجَّال؛ بدلالة ما تقدَّم، وما يبعد أن يكون بالجزيرة في ذلك الوقت، ويكون بين أظهر الصّحابة في وقت آخر“Pendapat yang benar adalah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, hal ini didasarkan dengan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, dan bukan hal mustahil ia berada di pulau tersebut pada waktu itu dan berada di tengah-tengah para sahabat pada waktu lain.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,قال العلماء: وقصَّته مشكلة، وأمره مشتبه في أنّه هل هو المسيح الدَّجّال المشهور أم غيره، ولا شك في أنّه دجَّال من الدَّجاجلة“Para ulama berkata, kisahnya rumit dipahami, dan keadaannya membingungkan, apakah ia adalah Al-Masih ad-Dajjal yang terkenal atau bukan. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa ia termasuk dari golongan para penipu (Dajjal).Para ulama berkata, tampak dari hadis-hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi wahyu bahwa ia adalah Al-Masih ad-Dajjal atau bukan, melainkan hanya diberi wahyu tentang ciri-ciri Dajjal. Ibnu Sayyad memiliki petunjuk-petunjuk yang mungkin mengarah padanya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan dengan tegas bahwa ia Dajjal atau bukan. Itulah sebabnya beliau berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,إن يكن هو؛ فلن تستطيع قتله“Jika ia adalah Dajjal, kamu tidak akan mampu membunuhnya.”Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir; Dajjal tidak memiliki keturunan, sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan; dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah, padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah; semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.Di antara kerancuan kisahnya yang membingungkan dan fakta bahwa ia termasuk dari golongan penipu (Dajjalin) tampak dari ucapannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?’ dan klaimnya bahwa ia melihat kebenaran dan kebohongan datang kepadanya, bahwa ia melihat singgasana di atas air’, bahwa ia tidak keberatan menjadi Dajjal, dan perkataannya bahwa ia mengetahui tempat kelahirannya dan ayah serta ibunya, serta kesombongannya yang memenuhi jalan.Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya, itu sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.”Dari ucapan an-Nawawi ini, bisa dipahami bahwa ia cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal.Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,اختلف النَّاس في أمر ابن صياد اختلافًا شديدًا، وأشكل أمره، حتّى قيل فيه كلّ قول، وظاهر الحديث المذكور أن النّبيّ صلى الله عليه وسلم كان متردِّدًا في كونه الدَّجّال أم لا؟“Orang-orang berbeda pendapat tentang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam dan tampak, masalahnya sangat rumit sampai banyak pendapat yang mengatakan tentangnya. Tampak dari hadis yang disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu apakah ia Dajjal atau bukan?”Ada dua penafsiran tentang keraguan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu sebelum Allah memberitahunya bahwa ia adalah Dajjal. Ketika Allah memberitahunya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.Orang Arab terkadang mengeluarkan ucapan yang mengandung sebuah keraguan, walaupun dalam berita itu tidak ada keraguan.Yang menunjukkan bahwa ia adalah Dajjal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Razaq dengan sanad sahih dari Ibnu Umar, dia berkata,‘Suatu hari, aku bertemu Ibnu Shayyad (bersama seorang Yahudi), ternyata sebelah matanya telah padam dan menonjol seperti mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Demi Allah, wahai Ibnu Sayyad! Kapan matamu menonjol?” Ia menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu.” Aku berkata, “Kamu berdusta, padahal dia ada di kepalamu.” Ia mengusap matanya dan mendengus sebanyak tiga kali.’Kisah serupa juga pernah disebut dalam riwayat Imam Muslim.”Dari ucapan Imam Asy-Syaukani ini, tampak bahwa beliau rahimahullah cenderung mengikuti pendapat yang menganggap Ibnu Sayyad sebagai Dajjal.Imam Al-Baihaqi berkomentar tentang hadis Tamim yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya,“Dajjal besar yang akan keluar di akhir zaman bukan Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para penipu (Dajjal) yang telah diberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemunculan mereka. Kebanyakan dari mereka telah muncul. Mereka yang yakin bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal besar kemungkinan sepertinya belum mendengar kisah Tamim, karena menggabungkan keduanya sangat sulit. Bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini.Adapun sumpah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim radhiyallahu ‘anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.Sementara Jabir radhiyallahu ‘anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan Umar di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jabir radhiyallahu ‘anhu juga termasuk perawi hadis Tamim, sebagaimana disebut dalam riwayat Abu Dawud. Ia menceritakan kisah ‘al-Jassasah dan Dajjal’ seperti kisah Tamim, lalu Ibn Abi Salamah berkata,“Ada beberapa hal dalam hadis ini yang tidak aku ingat.” Dia berkata, “Jabir bersaksi bahwa ia adalah Ibnu Shayyad. Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal.Jabir radhiyallahu ‘anhu bersikeras bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, meskipun dikatakan bahwa ia masuk Islam, masuk Madinah, dan meninggal. Sebelumnya disebutkan bahwa ia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari al-Harrah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,“Atsar yang diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim al-Aṣbahni dalam Tarikh Asbahan menguatkan pendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Ia menyebutkan dari jalur Syubail bin ‘Arzah, dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman, dari ayahnya. Ia berkata:Ketika kami menaklukkan kota Asbahan, jarak antara pasukan kami dan kawasan Yahudiyyah adalah satu farsakh. Kami biasa mendatanginya untuk memilih (barang atau tawanan). Suatu hari aku pergi ke sana, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang. Aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kalangan mereka, dia berkata, “Raja kami, yang dengannya kami akan meraih kemenangan atas bangsa Arab, sedang masuk.”Maka aku bermalam bersamanya di atas sebuah atap. Aku melaksanakan salat Subuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan. Aku memperhatikannya, ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad. Kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari kiamat.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kabar dari Jabir (yaitu tentang hilangnya Ibnu Ṣayyad pada peristiwa al-Ḥarrah) tidak selaras dengan kabar dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman. Sebab penaklukan Asbahan terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Abu Nu‘aim dalam Tarikh Asbahan sedangkan jarak antara terbunuhnya ‘Umar dan peristiwa al-Ḥarrah adalah sekitar empat puluh tahun.Kemungkinan hal ini dapat dipadukan dengan memahami bahwa ayah Ḥassan menyaksikan kisah tersebut setelah penaklukan Asbahan dengan jeda waktu sepanjang itu. Dan jawaban dari (lamma) dalam ucapannya ‘Lamma iftataḥna Asbahan’ adalah sesuatu yang dihilangkan (mahzuf), dengan takdir, ‘Aku mulai sering mendatanginya dan bolak-balik ke sana, lalu terjadilah kisah Ibnu Sayyad.’ Dengan demikian, waktu penaklukan Asbahan tidak harus sama dengan waktu masuknya Ibnu Sayyad ke sana.”Kemudian Syekhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa,أمر ابن صياد قد أشكل على بعض الصّحابة، فظنُّوه الدَّجّال، وتوقَّف فيه النّبيّ صلى الله عليه وسلم حتّى تبيَّن له فيما بعد أنّه ليس هو الدَّجّال، وإنّما هو من جنس الكهَّان أصحاب الأحوال الشيطانية، ولذلك كان يذهب ليختبره“Perkara Ibnu Shayyad telah membingungkan sebagian sahabat. Mereka menyangka bahwa dialah Dajjal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) atas perkara itu hingga kemudian jelas bagi beliau bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal, melainkan salah seorang dari para kahin (dukun) yang memiliki kemampuan-kemampuan setan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya untuk menguji dan menelitinya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,والمقصود أن ابن صياد ليس بالدَّجّال الّذي يخرج في آخر الزّمان قطعًا؛ لحديث فاطمة بنت قيس الفهرية، وهو فيصل في هذا المقام“Maksudnya Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Hal ini berdasarkan hadis Fathimah binti Qais al-Fahriyyah, dan hadis tersebut merupakan penentu (pemutus) dalam masalah ini.”Inilah sejumlah pendapat para ulama tentang Ibnu Shayyad. Seperti yang terlihat, pendapat-pendapat itu saling berbeda dan bertentangan mengenai siapa sebenarnya Ibnu Shayyad  dan masing-masing pendapat memiliki dalil.Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berijtihad untuk menyelaraskan berbagai hadis yang tampak bertentangan tentang masalah ini. Ia berkata,أقرب ما يُجمع به بين ما تضمَّنه حديث تميم وكون ابن صياد هو الدَّجّال أن الدَّجّال بعينه هو الّذي شاهده تميم موثقًا، وأن ابن صياد شيطانٌ تبدَّى في سورة الدجال في تلك المدة، إلى أن توجّه إلى أصبهان، فاستتر مع قرينه، إلى أن تجيء المدة الّتي قدَّر الله تعالى خروجه فيها، ولشدَّة التباس الأمر في ذلك؛ سلك البخاريّ مسلك الترجيح، فاقتصر على حديث جابر عن عمر في ابن صيّاد، ولم يخرج حديث فاطمة بنت قيس في قصة تميم“Pendekatan yang paling memungkinkan untuk menyatukan kandungan hadis Tamim dengan anggapan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal ialah sebagai berikut: Dajjal yang sebenarnya adalah sosok yang dilihat oleh Tamim dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Shayyad hanyalah seorang setan yang menampakkan diri dalam rupa Dajjal pada masa tertentu. Hingga kemudian ia menuju ke Asbahan dan bersembunyi bersama temannya, sampai datang waktu yang telah Allah tetapkan untuk keluarnya Dajjal.Karena perkara ini begitu membingungkan, Imam al-Bukhari memilih jalan tarjih (menguatkan salah satu riwayat). Beliau hanya mencantumkan hadis Jabir dari Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak memasukkan hadis Fathimah binti Qais yang menceritakan kisah Tamim.”PenutupDengan demikian, sampailah kita di akhir dari serial kisah Ibnu Shayyad. Dari pembahasan yang sudah lewat, kita bisa melihat bahwa masalah ini memang tidak sederhana dan para ulama pun berbeda pendapat tentangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah Ibnu Shayyad termasuk perkara yang tidak mudah dipastikan, dan menjadi bagian dari pembahasan tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan akhir zaman.Perlu dipahami juga bahwa kisah Ibnu Shayyad ini sering dikaitkan dengan salah satu tanda besar kiamat, yaitu munculnya Dajjal. Karena itu, agar pemahamannya lebih utuh, pembaca bisa melanjutkan dengan membaca pembahasan khusus tentang Dajjal, serta mengenal tanda-tanda akhir zaman lainnya. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami satu kisah saja, tetapi juga mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi menjelang hari kiamat.Wallallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 245-267.

Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 4): Pendapat Para Ulama tentang Ibnu Shayyad

Daftar Isi TogglePendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadPenutupPendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadAbu Abdullah al-Qurtubi rahimahullah berkata,الصّحيح أن ابن صيَّاد هو الدَّجَّال؛ بدلالة ما تقدَّم، وما يبعد أن يكون بالجزيرة في ذلك الوقت، ويكون بين أظهر الصّحابة في وقت آخر“Pendapat yang benar adalah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, hal ini didasarkan dengan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, dan bukan hal mustahil ia berada di pulau tersebut pada waktu itu dan berada di tengah-tengah para sahabat pada waktu lain.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,قال العلماء: وقصَّته مشكلة، وأمره مشتبه في أنّه هل هو المسيح الدَّجّال المشهور أم غيره، ولا شك في أنّه دجَّال من الدَّجاجلة“Para ulama berkata, kisahnya rumit dipahami, dan keadaannya membingungkan, apakah ia adalah Al-Masih ad-Dajjal yang terkenal atau bukan. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa ia termasuk dari golongan para penipu (Dajjal).Para ulama berkata, tampak dari hadis-hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi wahyu bahwa ia adalah Al-Masih ad-Dajjal atau bukan, melainkan hanya diberi wahyu tentang ciri-ciri Dajjal. Ibnu Sayyad memiliki petunjuk-petunjuk yang mungkin mengarah padanya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan dengan tegas bahwa ia Dajjal atau bukan. Itulah sebabnya beliau berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,إن يكن هو؛ فلن تستطيع قتله“Jika ia adalah Dajjal, kamu tidak akan mampu membunuhnya.”Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir; Dajjal tidak memiliki keturunan, sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan; dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah, padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah; semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.Di antara kerancuan kisahnya yang membingungkan dan fakta bahwa ia termasuk dari golongan penipu (Dajjalin) tampak dari ucapannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?’ dan klaimnya bahwa ia melihat kebenaran dan kebohongan datang kepadanya, bahwa ia melihat singgasana di atas air’, bahwa ia tidak keberatan menjadi Dajjal, dan perkataannya bahwa ia mengetahui tempat kelahirannya dan ayah serta ibunya, serta kesombongannya yang memenuhi jalan.Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya, itu sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.”Dari ucapan an-Nawawi ini, bisa dipahami bahwa ia cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal.Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,اختلف النَّاس في أمر ابن صياد اختلافًا شديدًا، وأشكل أمره، حتّى قيل فيه كلّ قول، وظاهر الحديث المذكور أن النّبيّ صلى الله عليه وسلم كان متردِّدًا في كونه الدَّجّال أم لا؟“Orang-orang berbeda pendapat tentang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam dan tampak, masalahnya sangat rumit sampai banyak pendapat yang mengatakan tentangnya. Tampak dari hadis yang disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu apakah ia Dajjal atau bukan?”Ada dua penafsiran tentang keraguan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu sebelum Allah memberitahunya bahwa ia adalah Dajjal. Ketika Allah memberitahunya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.Orang Arab terkadang mengeluarkan ucapan yang mengandung sebuah keraguan, walaupun dalam berita itu tidak ada keraguan.Yang menunjukkan bahwa ia adalah Dajjal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Razaq dengan sanad sahih dari Ibnu Umar, dia berkata,‘Suatu hari, aku bertemu Ibnu Shayyad (bersama seorang Yahudi), ternyata sebelah matanya telah padam dan menonjol seperti mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Demi Allah, wahai Ibnu Sayyad! Kapan matamu menonjol?” Ia menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu.” Aku berkata, “Kamu berdusta, padahal dia ada di kepalamu.” Ia mengusap matanya dan mendengus sebanyak tiga kali.’Kisah serupa juga pernah disebut dalam riwayat Imam Muslim.”Dari ucapan Imam Asy-Syaukani ini, tampak bahwa beliau rahimahullah cenderung mengikuti pendapat yang menganggap Ibnu Sayyad sebagai Dajjal.Imam Al-Baihaqi berkomentar tentang hadis Tamim yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya,“Dajjal besar yang akan keluar di akhir zaman bukan Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para penipu (Dajjal) yang telah diberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemunculan mereka. Kebanyakan dari mereka telah muncul. Mereka yang yakin bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal besar kemungkinan sepertinya belum mendengar kisah Tamim, karena menggabungkan keduanya sangat sulit. Bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini.Adapun sumpah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim radhiyallahu ‘anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.Sementara Jabir radhiyallahu ‘anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan Umar di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jabir radhiyallahu ‘anhu juga termasuk perawi hadis Tamim, sebagaimana disebut dalam riwayat Abu Dawud. Ia menceritakan kisah ‘al-Jassasah dan Dajjal’ seperti kisah Tamim, lalu Ibn Abi Salamah berkata,“Ada beberapa hal dalam hadis ini yang tidak aku ingat.” Dia berkata, “Jabir bersaksi bahwa ia adalah Ibnu Shayyad. Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal.Jabir radhiyallahu ‘anhu bersikeras bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, meskipun dikatakan bahwa ia masuk Islam, masuk Madinah, dan meninggal. Sebelumnya disebutkan bahwa ia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari al-Harrah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,“Atsar yang diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim al-Aṣbahni dalam Tarikh Asbahan menguatkan pendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Ia menyebutkan dari jalur Syubail bin ‘Arzah, dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman, dari ayahnya. Ia berkata:Ketika kami menaklukkan kota Asbahan, jarak antara pasukan kami dan kawasan Yahudiyyah adalah satu farsakh. Kami biasa mendatanginya untuk memilih (barang atau tawanan). Suatu hari aku pergi ke sana, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang. Aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kalangan mereka, dia berkata, “Raja kami, yang dengannya kami akan meraih kemenangan atas bangsa Arab, sedang masuk.”Maka aku bermalam bersamanya di atas sebuah atap. Aku melaksanakan salat Subuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan. Aku memperhatikannya, ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad. Kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari kiamat.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kabar dari Jabir (yaitu tentang hilangnya Ibnu Ṣayyad pada peristiwa al-Ḥarrah) tidak selaras dengan kabar dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman. Sebab penaklukan Asbahan terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Abu Nu‘aim dalam Tarikh Asbahan sedangkan jarak antara terbunuhnya ‘Umar dan peristiwa al-Ḥarrah adalah sekitar empat puluh tahun.Kemungkinan hal ini dapat dipadukan dengan memahami bahwa ayah Ḥassan menyaksikan kisah tersebut setelah penaklukan Asbahan dengan jeda waktu sepanjang itu. Dan jawaban dari (lamma) dalam ucapannya ‘Lamma iftataḥna Asbahan’ adalah sesuatu yang dihilangkan (mahzuf), dengan takdir, ‘Aku mulai sering mendatanginya dan bolak-balik ke sana, lalu terjadilah kisah Ibnu Sayyad.’ Dengan demikian, waktu penaklukan Asbahan tidak harus sama dengan waktu masuknya Ibnu Sayyad ke sana.”Kemudian Syekhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa,أمر ابن صياد قد أشكل على بعض الصّحابة، فظنُّوه الدَّجّال، وتوقَّف فيه النّبيّ صلى الله عليه وسلم حتّى تبيَّن له فيما بعد أنّه ليس هو الدَّجّال، وإنّما هو من جنس الكهَّان أصحاب الأحوال الشيطانية، ولذلك كان يذهب ليختبره“Perkara Ibnu Shayyad telah membingungkan sebagian sahabat. Mereka menyangka bahwa dialah Dajjal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) atas perkara itu hingga kemudian jelas bagi beliau bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal, melainkan salah seorang dari para kahin (dukun) yang memiliki kemampuan-kemampuan setan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya untuk menguji dan menelitinya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,والمقصود أن ابن صياد ليس بالدَّجّال الّذي يخرج في آخر الزّمان قطعًا؛ لحديث فاطمة بنت قيس الفهرية، وهو فيصل في هذا المقام“Maksudnya Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Hal ini berdasarkan hadis Fathimah binti Qais al-Fahriyyah, dan hadis tersebut merupakan penentu (pemutus) dalam masalah ini.”Inilah sejumlah pendapat para ulama tentang Ibnu Shayyad. Seperti yang terlihat, pendapat-pendapat itu saling berbeda dan bertentangan mengenai siapa sebenarnya Ibnu Shayyad  dan masing-masing pendapat memiliki dalil.Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berijtihad untuk menyelaraskan berbagai hadis yang tampak bertentangan tentang masalah ini. Ia berkata,أقرب ما يُجمع به بين ما تضمَّنه حديث تميم وكون ابن صياد هو الدَّجّال أن الدَّجّال بعينه هو الّذي شاهده تميم موثقًا، وأن ابن صياد شيطانٌ تبدَّى في سورة الدجال في تلك المدة، إلى أن توجّه إلى أصبهان، فاستتر مع قرينه، إلى أن تجيء المدة الّتي قدَّر الله تعالى خروجه فيها، ولشدَّة التباس الأمر في ذلك؛ سلك البخاريّ مسلك الترجيح، فاقتصر على حديث جابر عن عمر في ابن صيّاد، ولم يخرج حديث فاطمة بنت قيس في قصة تميم“Pendekatan yang paling memungkinkan untuk menyatukan kandungan hadis Tamim dengan anggapan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal ialah sebagai berikut: Dajjal yang sebenarnya adalah sosok yang dilihat oleh Tamim dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Shayyad hanyalah seorang setan yang menampakkan diri dalam rupa Dajjal pada masa tertentu. Hingga kemudian ia menuju ke Asbahan dan bersembunyi bersama temannya, sampai datang waktu yang telah Allah tetapkan untuk keluarnya Dajjal.Karena perkara ini begitu membingungkan, Imam al-Bukhari memilih jalan tarjih (menguatkan salah satu riwayat). Beliau hanya mencantumkan hadis Jabir dari Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak memasukkan hadis Fathimah binti Qais yang menceritakan kisah Tamim.”PenutupDengan demikian, sampailah kita di akhir dari serial kisah Ibnu Shayyad. Dari pembahasan yang sudah lewat, kita bisa melihat bahwa masalah ini memang tidak sederhana dan para ulama pun berbeda pendapat tentangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah Ibnu Shayyad termasuk perkara yang tidak mudah dipastikan, dan menjadi bagian dari pembahasan tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan akhir zaman.Perlu dipahami juga bahwa kisah Ibnu Shayyad ini sering dikaitkan dengan salah satu tanda besar kiamat, yaitu munculnya Dajjal. Karena itu, agar pemahamannya lebih utuh, pembaca bisa melanjutkan dengan membaca pembahasan khusus tentang Dajjal, serta mengenal tanda-tanda akhir zaman lainnya. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami satu kisah saja, tetapi juga mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi menjelang hari kiamat.Wallallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 245-267.
Daftar Isi TogglePendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadPenutupPendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadAbu Abdullah al-Qurtubi rahimahullah berkata,الصّحيح أن ابن صيَّاد هو الدَّجَّال؛ بدلالة ما تقدَّم، وما يبعد أن يكون بالجزيرة في ذلك الوقت، ويكون بين أظهر الصّحابة في وقت آخر“Pendapat yang benar adalah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, hal ini didasarkan dengan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, dan bukan hal mustahil ia berada di pulau tersebut pada waktu itu dan berada di tengah-tengah para sahabat pada waktu lain.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,قال العلماء: وقصَّته مشكلة، وأمره مشتبه في أنّه هل هو المسيح الدَّجّال المشهور أم غيره، ولا شك في أنّه دجَّال من الدَّجاجلة“Para ulama berkata, kisahnya rumit dipahami, dan keadaannya membingungkan, apakah ia adalah Al-Masih ad-Dajjal yang terkenal atau bukan. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa ia termasuk dari golongan para penipu (Dajjal).Para ulama berkata, tampak dari hadis-hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi wahyu bahwa ia adalah Al-Masih ad-Dajjal atau bukan, melainkan hanya diberi wahyu tentang ciri-ciri Dajjal. Ibnu Sayyad memiliki petunjuk-petunjuk yang mungkin mengarah padanya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan dengan tegas bahwa ia Dajjal atau bukan. Itulah sebabnya beliau berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,إن يكن هو؛ فلن تستطيع قتله“Jika ia adalah Dajjal, kamu tidak akan mampu membunuhnya.”Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir; Dajjal tidak memiliki keturunan, sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan; dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah, padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah; semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.Di antara kerancuan kisahnya yang membingungkan dan fakta bahwa ia termasuk dari golongan penipu (Dajjalin) tampak dari ucapannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?’ dan klaimnya bahwa ia melihat kebenaran dan kebohongan datang kepadanya, bahwa ia melihat singgasana di atas air’, bahwa ia tidak keberatan menjadi Dajjal, dan perkataannya bahwa ia mengetahui tempat kelahirannya dan ayah serta ibunya, serta kesombongannya yang memenuhi jalan.Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya, itu sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.”Dari ucapan an-Nawawi ini, bisa dipahami bahwa ia cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal.Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,اختلف النَّاس في أمر ابن صياد اختلافًا شديدًا، وأشكل أمره، حتّى قيل فيه كلّ قول، وظاهر الحديث المذكور أن النّبيّ صلى الله عليه وسلم كان متردِّدًا في كونه الدَّجّال أم لا؟“Orang-orang berbeda pendapat tentang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam dan tampak, masalahnya sangat rumit sampai banyak pendapat yang mengatakan tentangnya. Tampak dari hadis yang disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu apakah ia Dajjal atau bukan?”Ada dua penafsiran tentang keraguan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu sebelum Allah memberitahunya bahwa ia adalah Dajjal. Ketika Allah memberitahunya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.Orang Arab terkadang mengeluarkan ucapan yang mengandung sebuah keraguan, walaupun dalam berita itu tidak ada keraguan.Yang menunjukkan bahwa ia adalah Dajjal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Razaq dengan sanad sahih dari Ibnu Umar, dia berkata,‘Suatu hari, aku bertemu Ibnu Shayyad (bersama seorang Yahudi), ternyata sebelah matanya telah padam dan menonjol seperti mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Demi Allah, wahai Ibnu Sayyad! Kapan matamu menonjol?” Ia menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu.” Aku berkata, “Kamu berdusta, padahal dia ada di kepalamu.” Ia mengusap matanya dan mendengus sebanyak tiga kali.’Kisah serupa juga pernah disebut dalam riwayat Imam Muslim.”Dari ucapan Imam Asy-Syaukani ini, tampak bahwa beliau rahimahullah cenderung mengikuti pendapat yang menganggap Ibnu Sayyad sebagai Dajjal.Imam Al-Baihaqi berkomentar tentang hadis Tamim yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya,“Dajjal besar yang akan keluar di akhir zaman bukan Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para penipu (Dajjal) yang telah diberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemunculan mereka. Kebanyakan dari mereka telah muncul. Mereka yang yakin bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal besar kemungkinan sepertinya belum mendengar kisah Tamim, karena menggabungkan keduanya sangat sulit. Bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini.Adapun sumpah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim radhiyallahu ‘anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.Sementara Jabir radhiyallahu ‘anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan Umar di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jabir radhiyallahu ‘anhu juga termasuk perawi hadis Tamim, sebagaimana disebut dalam riwayat Abu Dawud. Ia menceritakan kisah ‘al-Jassasah dan Dajjal’ seperti kisah Tamim, lalu Ibn Abi Salamah berkata,“Ada beberapa hal dalam hadis ini yang tidak aku ingat.” Dia berkata, “Jabir bersaksi bahwa ia adalah Ibnu Shayyad. Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal.Jabir radhiyallahu ‘anhu bersikeras bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, meskipun dikatakan bahwa ia masuk Islam, masuk Madinah, dan meninggal. Sebelumnya disebutkan bahwa ia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari al-Harrah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,“Atsar yang diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim al-Aṣbahni dalam Tarikh Asbahan menguatkan pendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Ia menyebutkan dari jalur Syubail bin ‘Arzah, dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman, dari ayahnya. Ia berkata:Ketika kami menaklukkan kota Asbahan, jarak antara pasukan kami dan kawasan Yahudiyyah adalah satu farsakh. Kami biasa mendatanginya untuk memilih (barang atau tawanan). Suatu hari aku pergi ke sana, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang. Aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kalangan mereka, dia berkata, “Raja kami, yang dengannya kami akan meraih kemenangan atas bangsa Arab, sedang masuk.”Maka aku bermalam bersamanya di atas sebuah atap. Aku melaksanakan salat Subuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan. Aku memperhatikannya, ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad. Kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari kiamat.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kabar dari Jabir (yaitu tentang hilangnya Ibnu Ṣayyad pada peristiwa al-Ḥarrah) tidak selaras dengan kabar dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman. Sebab penaklukan Asbahan terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Abu Nu‘aim dalam Tarikh Asbahan sedangkan jarak antara terbunuhnya ‘Umar dan peristiwa al-Ḥarrah adalah sekitar empat puluh tahun.Kemungkinan hal ini dapat dipadukan dengan memahami bahwa ayah Ḥassan menyaksikan kisah tersebut setelah penaklukan Asbahan dengan jeda waktu sepanjang itu. Dan jawaban dari (lamma) dalam ucapannya ‘Lamma iftataḥna Asbahan’ adalah sesuatu yang dihilangkan (mahzuf), dengan takdir, ‘Aku mulai sering mendatanginya dan bolak-balik ke sana, lalu terjadilah kisah Ibnu Sayyad.’ Dengan demikian, waktu penaklukan Asbahan tidak harus sama dengan waktu masuknya Ibnu Sayyad ke sana.”Kemudian Syekhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa,أمر ابن صياد قد أشكل على بعض الصّحابة، فظنُّوه الدَّجّال، وتوقَّف فيه النّبيّ صلى الله عليه وسلم حتّى تبيَّن له فيما بعد أنّه ليس هو الدَّجّال، وإنّما هو من جنس الكهَّان أصحاب الأحوال الشيطانية، ولذلك كان يذهب ليختبره“Perkara Ibnu Shayyad telah membingungkan sebagian sahabat. Mereka menyangka bahwa dialah Dajjal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) atas perkara itu hingga kemudian jelas bagi beliau bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal, melainkan salah seorang dari para kahin (dukun) yang memiliki kemampuan-kemampuan setan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya untuk menguji dan menelitinya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,والمقصود أن ابن صياد ليس بالدَّجّال الّذي يخرج في آخر الزّمان قطعًا؛ لحديث فاطمة بنت قيس الفهرية، وهو فيصل في هذا المقام“Maksudnya Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Hal ini berdasarkan hadis Fathimah binti Qais al-Fahriyyah, dan hadis tersebut merupakan penentu (pemutus) dalam masalah ini.”Inilah sejumlah pendapat para ulama tentang Ibnu Shayyad. Seperti yang terlihat, pendapat-pendapat itu saling berbeda dan bertentangan mengenai siapa sebenarnya Ibnu Shayyad  dan masing-masing pendapat memiliki dalil.Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berijtihad untuk menyelaraskan berbagai hadis yang tampak bertentangan tentang masalah ini. Ia berkata,أقرب ما يُجمع به بين ما تضمَّنه حديث تميم وكون ابن صياد هو الدَّجّال أن الدَّجّال بعينه هو الّذي شاهده تميم موثقًا، وأن ابن صياد شيطانٌ تبدَّى في سورة الدجال في تلك المدة، إلى أن توجّه إلى أصبهان، فاستتر مع قرينه، إلى أن تجيء المدة الّتي قدَّر الله تعالى خروجه فيها، ولشدَّة التباس الأمر في ذلك؛ سلك البخاريّ مسلك الترجيح، فاقتصر على حديث جابر عن عمر في ابن صيّاد، ولم يخرج حديث فاطمة بنت قيس في قصة تميم“Pendekatan yang paling memungkinkan untuk menyatukan kandungan hadis Tamim dengan anggapan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal ialah sebagai berikut: Dajjal yang sebenarnya adalah sosok yang dilihat oleh Tamim dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Shayyad hanyalah seorang setan yang menampakkan diri dalam rupa Dajjal pada masa tertentu. Hingga kemudian ia menuju ke Asbahan dan bersembunyi bersama temannya, sampai datang waktu yang telah Allah tetapkan untuk keluarnya Dajjal.Karena perkara ini begitu membingungkan, Imam al-Bukhari memilih jalan tarjih (menguatkan salah satu riwayat). Beliau hanya mencantumkan hadis Jabir dari Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak memasukkan hadis Fathimah binti Qais yang menceritakan kisah Tamim.”PenutupDengan demikian, sampailah kita di akhir dari serial kisah Ibnu Shayyad. Dari pembahasan yang sudah lewat, kita bisa melihat bahwa masalah ini memang tidak sederhana dan para ulama pun berbeda pendapat tentangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah Ibnu Shayyad termasuk perkara yang tidak mudah dipastikan, dan menjadi bagian dari pembahasan tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan akhir zaman.Perlu dipahami juga bahwa kisah Ibnu Shayyad ini sering dikaitkan dengan salah satu tanda besar kiamat, yaitu munculnya Dajjal. Karena itu, agar pemahamannya lebih utuh, pembaca bisa melanjutkan dengan membaca pembahasan khusus tentang Dajjal, serta mengenal tanda-tanda akhir zaman lainnya. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami satu kisah saja, tetapi juga mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi menjelang hari kiamat.Wallallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 245-267.


Daftar Isi TogglePendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadPenutupPendapat para ulama tentang Ibnu ShayyadAbu Abdullah al-Qurtubi rahimahullah berkata,الصّحيح أن ابن صيَّاد هو الدَّجَّال؛ بدلالة ما تقدَّم، وما يبعد أن يكون بالجزيرة في ذلك الوقت، ويكون بين أظهر الصّحابة في وقت آخر“Pendapat yang benar adalah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, hal ini didasarkan dengan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, dan bukan hal mustahil ia berada di pulau tersebut pada waktu itu dan berada di tengah-tengah para sahabat pada waktu lain.”Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,قال العلماء: وقصَّته مشكلة، وأمره مشتبه في أنّه هل هو المسيح الدَّجّال المشهور أم غيره، ولا شك في أنّه دجَّال من الدَّجاجلة“Para ulama berkata, kisahnya rumit dipahami, dan keadaannya membingungkan, apakah ia adalah Al-Masih ad-Dajjal yang terkenal atau bukan. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa ia termasuk dari golongan para penipu (Dajjal).Para ulama berkata, tampak dari hadis-hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi wahyu bahwa ia adalah Al-Masih ad-Dajjal atau bukan, melainkan hanya diberi wahyu tentang ciri-ciri Dajjal. Ibnu Sayyad memiliki petunjuk-petunjuk yang mungkin mengarah padanya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan dengan tegas bahwa ia Dajjal atau bukan. Itulah sebabnya beliau berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,إن يكن هو؛ فلن تستطيع قتله“Jika ia adalah Dajjal, kamu tidak akan mampu membunuhnya.”Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir; Dajjal tidak memiliki keturunan, sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan; dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah, padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah; semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.Di antara kerancuan kisahnya yang membingungkan dan fakta bahwa ia termasuk dari golongan penipu (Dajjalin) tampak dari ucapannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?’ dan klaimnya bahwa ia melihat kebenaran dan kebohongan datang kepadanya, bahwa ia melihat singgasana di atas air’, bahwa ia tidak keberatan menjadi Dajjal, dan perkataannya bahwa ia mengetahui tempat kelahirannya dan ayah serta ibunya, serta kesombongannya yang memenuhi jalan.Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya, itu sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.”Dari ucapan an-Nawawi ini, bisa dipahami bahwa ia cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal.Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,اختلف النَّاس في أمر ابن صياد اختلافًا شديدًا، وأشكل أمره، حتّى قيل فيه كلّ قول، وظاهر الحديث المذكور أن النّبيّ صلى الله عليه وسلم كان متردِّدًا في كونه الدَّجّال أم لا؟“Orang-orang berbeda pendapat tentang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam dan tampak, masalahnya sangat rumit sampai banyak pendapat yang mengatakan tentangnya. Tampak dari hadis yang disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu apakah ia Dajjal atau bukan?”Ada dua penafsiran tentang keraguan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu sebelum Allah memberitahunya bahwa ia adalah Dajjal. Ketika Allah memberitahunya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.Orang Arab terkadang mengeluarkan ucapan yang mengandung sebuah keraguan, walaupun dalam berita itu tidak ada keraguan.Yang menunjukkan bahwa ia adalah Dajjal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Razaq dengan sanad sahih dari Ibnu Umar, dia berkata,‘Suatu hari, aku bertemu Ibnu Shayyad (bersama seorang Yahudi), ternyata sebelah matanya telah padam dan menonjol seperti mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Demi Allah, wahai Ibnu Sayyad! Kapan matamu menonjol?” Ia menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu.” Aku berkata, “Kamu berdusta, padahal dia ada di kepalamu.” Ia mengusap matanya dan mendengus sebanyak tiga kali.’Kisah serupa juga pernah disebut dalam riwayat Imam Muslim.”Dari ucapan Imam Asy-Syaukani ini, tampak bahwa beliau rahimahullah cenderung mengikuti pendapat yang menganggap Ibnu Sayyad sebagai Dajjal.Imam Al-Baihaqi berkomentar tentang hadis Tamim yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya,“Dajjal besar yang akan keluar di akhir zaman bukan Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para penipu (Dajjal) yang telah diberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemunculan mereka. Kebanyakan dari mereka telah muncul. Mereka yang yakin bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal besar kemungkinan sepertinya belum mendengar kisah Tamim, karena menggabungkan keduanya sangat sulit. Bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini.Adapun sumpah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim radhiyallahu ‘anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.Sementara Jabir radhiyallahu ‘anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan Umar di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jabir radhiyallahu ‘anhu juga termasuk perawi hadis Tamim, sebagaimana disebut dalam riwayat Abu Dawud. Ia menceritakan kisah ‘al-Jassasah dan Dajjal’ seperti kisah Tamim, lalu Ibn Abi Salamah berkata,“Ada beberapa hal dalam hadis ini yang tidak aku ingat.” Dia berkata, “Jabir bersaksi bahwa ia adalah Ibnu Shayyad. Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal.Jabir radhiyallahu ‘anhu bersikeras bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, meskipun dikatakan bahwa ia masuk Islam, masuk Madinah, dan meninggal. Sebelumnya disebutkan bahwa ia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari al-Harrah.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,“Atsar yang diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim al-Aṣbahni dalam Tarikh Asbahan menguatkan pendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Ia menyebutkan dari jalur Syubail bin ‘Arzah, dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman, dari ayahnya. Ia berkata:Ketika kami menaklukkan kota Asbahan, jarak antara pasukan kami dan kawasan Yahudiyyah adalah satu farsakh. Kami biasa mendatanginya untuk memilih (barang atau tawanan). Suatu hari aku pergi ke sana, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang. Aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kalangan mereka, dia berkata, “Raja kami, yang dengannya kami akan meraih kemenangan atas bangsa Arab, sedang masuk.”Maka aku bermalam bersamanya di atas sebuah atap. Aku melaksanakan salat Subuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan. Aku memperhatikannya, ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad. Kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari kiamat.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kabar dari Jabir (yaitu tentang hilangnya Ibnu Ṣayyad pada peristiwa al-Ḥarrah) tidak selaras dengan kabar dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman. Sebab penaklukan Asbahan terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Abu Nu‘aim dalam Tarikh Asbahan sedangkan jarak antara terbunuhnya ‘Umar dan peristiwa al-Ḥarrah adalah sekitar empat puluh tahun.Kemungkinan hal ini dapat dipadukan dengan memahami bahwa ayah Ḥassan menyaksikan kisah tersebut setelah penaklukan Asbahan dengan jeda waktu sepanjang itu. Dan jawaban dari (lamma) dalam ucapannya ‘Lamma iftataḥna Asbahan’ adalah sesuatu yang dihilangkan (mahzuf), dengan takdir, ‘Aku mulai sering mendatanginya dan bolak-balik ke sana, lalu terjadilah kisah Ibnu Sayyad.’ Dengan demikian, waktu penaklukan Asbahan tidak harus sama dengan waktu masuknya Ibnu Sayyad ke sana.”Kemudian Syekhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa,أمر ابن صياد قد أشكل على بعض الصّحابة، فظنُّوه الدَّجّال، وتوقَّف فيه النّبيّ صلى الله عليه وسلم حتّى تبيَّن له فيما بعد أنّه ليس هو الدَّجّال، وإنّما هو من جنس الكهَّان أصحاب الأحوال الشيطانية، ولذلك كان يذهب ليختبره“Perkara Ibnu Shayyad telah membingungkan sebagian sahabat. Mereka menyangka bahwa dialah Dajjal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) atas perkara itu hingga kemudian jelas bagi beliau bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal, melainkan salah seorang dari para kahin (dukun) yang memiliki kemampuan-kemampuan setan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya untuk menguji dan menelitinya.”Ibnu Katsir rahimahullah berkata,والمقصود أن ابن صياد ليس بالدَّجّال الّذي يخرج في آخر الزّمان قطعًا؛ لحديث فاطمة بنت قيس الفهرية، وهو فيصل في هذا المقام“Maksudnya Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Hal ini berdasarkan hadis Fathimah binti Qais al-Fahriyyah, dan hadis tersebut merupakan penentu (pemutus) dalam masalah ini.”Inilah sejumlah pendapat para ulama tentang Ibnu Shayyad. Seperti yang terlihat, pendapat-pendapat itu saling berbeda dan bertentangan mengenai siapa sebenarnya Ibnu Shayyad  dan masing-masing pendapat memiliki dalil.Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berijtihad untuk menyelaraskan berbagai hadis yang tampak bertentangan tentang masalah ini. Ia berkata,أقرب ما يُجمع به بين ما تضمَّنه حديث تميم وكون ابن صياد هو الدَّجّال أن الدَّجّال بعينه هو الّذي شاهده تميم موثقًا، وأن ابن صياد شيطانٌ تبدَّى في سورة الدجال في تلك المدة، إلى أن توجّه إلى أصبهان، فاستتر مع قرينه، إلى أن تجيء المدة الّتي قدَّر الله تعالى خروجه فيها، ولشدَّة التباس الأمر في ذلك؛ سلك البخاريّ مسلك الترجيح، فاقتصر على حديث جابر عن عمر في ابن صيّاد، ولم يخرج حديث فاطمة بنت قيس في قصة تميم“Pendekatan yang paling memungkinkan untuk menyatukan kandungan hadis Tamim dengan anggapan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal ialah sebagai berikut: Dajjal yang sebenarnya adalah sosok yang dilihat oleh Tamim dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Shayyad hanyalah seorang setan yang menampakkan diri dalam rupa Dajjal pada masa tertentu. Hingga kemudian ia menuju ke Asbahan dan bersembunyi bersama temannya, sampai datang waktu yang telah Allah tetapkan untuk keluarnya Dajjal.Karena perkara ini begitu membingungkan, Imam al-Bukhari memilih jalan tarjih (menguatkan salah satu riwayat). Beliau hanya mencantumkan hadis Jabir dari Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak memasukkan hadis Fathimah binti Qais yang menceritakan kisah Tamim.”PenutupDengan demikian, sampailah kita di akhir dari serial kisah Ibnu Shayyad. Dari pembahasan yang sudah lewat, kita bisa melihat bahwa masalah ini memang tidak sederhana dan para ulama pun berbeda pendapat tentangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah Ibnu Shayyad termasuk perkara yang tidak mudah dipastikan, dan menjadi bagian dari pembahasan tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan akhir zaman.Perlu dipahami juga bahwa kisah Ibnu Shayyad ini sering dikaitkan dengan salah satu tanda besar kiamat, yaitu munculnya Dajjal. Karena itu, agar pemahamannya lebih utuh, pembaca bisa melanjutkan dengan membaca pembahasan khusus tentang Dajjal, serta mengenal tanda-tanda akhir zaman lainnya. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami satu kisah saja, tetapi juga mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi menjelang hari kiamat.Wallallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 3***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 245-267.

Banyak yang Belum Tahu: Amalan Mudah Ini Pahalanya Setara Puasa & Shalat Malam Ribuan Tahun

Ini adalah pahala puasa selama 5 ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama 5 ribu tahun. Namun, kelalaian dan kesibukan duniawi membuat kita lengah. Yaitu pada hari Jum’at: “Barang siapa yang mandi membasuh kepala dan seluruh badannya, lalu berangkat di awal waktu Shalat Jum’at, serta pergi dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan, lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Ini bukan balasan untuk satu rangkaian amalan tersebut secara utuh, bukan! Melainkan pahala untuk setiap langkahnya! “Ghossala waghtasala”, artinya mandi dengan mencuci kepalanya dan seluruh badannya. Ini pendapat yang paling kuat berkaitan dengan maknanya, dan ini pendapat mayoritas ulama. “Wabakkaro wabtakaro”, artinya berangkat di awal waktu Shalat Jum’at. Ia menyimak khutbah dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikit pun. “Serta pergi dengan berjalan kaki”, artinya ia menempuh seluruh perjalanannya dengan berjalan kaki tanpa menaiki kendaraan apa pun. “Ia lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan menuju masjid, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Artinya, setiap satu langkah kaki, seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh, dan mendirikan Shalat Malam selama setahun penuh pula. Jika jarak rumahnya ke masjid adalah seribu langkah, maka itu setara dengan pahala seribu tahun. Seribu tahun! Pahala puasa selama seribu tahun! Serta pahala Shalat Malam selama seribu tahun! Apabila jarak antara dirinya dengan masjid adalah 5 kilometer atau sekitar lima ribu langkah, maka itu setara dengan pahala puasa selama lima ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama lima ribu tahun. Namun, siapa di antara kita yang mengamalkannya saat ini? Banyak dari kita yang justru masih terlelap tidur di pagi hari Jum’at hingga mendekati waktu azan. Baru kemudian bergegas bangun, segera mandi, dan terburu-buru menuju masjid, dan ternyata imam sudah memulai khutbahnya. Betapa banyak pahala yang kita sia-siakan. Saya sarankan kepada Anda semua, cobalah lakukan ini setidaknya sebulan sekali dalam hidup Anda. Atau setiap dua atau tiga bulan sekali. Di pagi hari Jum’at, setelah matahari terbit, Anda mandi janabah, memakai parfum terbaik, dan mengenakan pakaian paling bagus yang Anda miliki. Lalu Anda berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Tidak harus ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, cukup Anda pergi ke masjid di lingkungan sekitar Anda yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Tentu, jika Anda bisa ke Masjid Nabawi, itu jauh lebih baik. Namun itu bukanlah sebuah keharusan. Kemudian Anda mendekat ke tempat imam, baik itu di shaf pertama atau shaf-shaf depan lainnya. Lalu Anda mendengarkan khutbahdengan penuh perhatian. Anda pergi dengan berjalan kaki, Anda akan meraih pahala yang amat besar ini. Pintu surga itu luas, saudara-saudaraku! Jalan menuju surga juga pun luas dan lapang. Allah ‘Azza wa Jalla sangat ingin hamba-Nya masuk ke dalam surga. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” (HR. Bukhari). Kecuali yang enggan! Sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku pasti masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku, dialah orang yang enggan.” (HR. Bukhari). ===== فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ لَكِنَّ الْغَفْلَةَ وَاللَّهْوَ بِالدُّنْيَا يَجْعَلُنَا نُقَصِّرُ يَعْنِي فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا مَا هُوَ يَعْنِي بِكُلِّ عَمَلِهِ لَا بِكُلِّ خُطْوَةٍ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَعْنِى غَسَّلَ رَأْسَهُ وَغَسَلَ بَقِيَّةَ جَسَدِهِ هَذَا أَرْجَحُ الْأَقْوَالِ فِيهَا وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ بَكَّرَ ذَهَبَ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ وَسَمِعَ الْخُطْبَةَ مِنْ أَوَّلِهَا فَلَمْ يَفُتْهُ شَيْءٌ وَمَشَى فَكَانَ ذَهَابُهُ مَشْيًا وَلَمْ يَرْكَبْ فِي الطَّرِيقِ كُلِّهِ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا يَعْنِي بِكُلِّ خُطْوَةٍ كَأَنَّهُ صَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً وَقَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً فَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ أَلْفُ خُطْوَةٍ فَهَذِهِ أَلْفُ سَنَةٍ أَلْفُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامٍ أَلْفَ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ أَلْفِ سَنَةٍ وَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ خَمْسَةُ كِيلُو خَمْسَةُ آلَافٍ فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ مَنْ الَّذِي يَفْعَلُ هَذَا مِنَّا الْيَوْمَ؟ يَبْقَى نَائِمًا فِي أَوَّلِ نَهَارِ الْجُمُعَةِ إِلَى قُرْبِ الْأَذَانِ يَقُومُ يَغْتَسِلُ بِسُرْعَةٍ وَيَذْهَبُ بِسُرْعَةٍ إِلَى الْمَسْجِدِ وَيَكُونُ الْإِمَامُ بَدَأَ فِي الْخُطْبَةِ كَمْ فَرَّطْنَا مِنْ أُجُورٍ؟ أَنَا أَقُولُ لِلْإِخْوَةِ لَوْ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ فِي شَهْرِكَ جُمُعَةً هَكَذَا فِي شَهْرِكَ أَوْ فِي كُلِّ شَهْرَيْنِ أَوْ فِي كُلِّ ثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ أَوَّلَ نَهَارِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ اغْتَسَلْتَ وَمَسَسْتَ مِنْ طِيْبِكَ وَلَبِسْتَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِكَ وَذَهَبْتَ إلَى الْمَسْجِدِ مَشْيًا مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي إِلَى الْحَرَمِ مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ تَأْتِي إِلَى الْمَسْجِدِ مَسْجِدِ الْحَيِّ الَّذِي تَسْتَطِيعُ أَنْ تَمْشِيَ إِلَيْهِ وَإِذَا جِئْتَ لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ فَهَذَا خَيْرٌ لَكِنَّ لَيْسَ بِلَازِمٍ وَدَنَوْتَ وَكُنْتَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ أَوْ نَحْوِهِ وَاسْتَمَعْتَ وَأَنْصَتَّ وَكُنْتَ مَاشِيًا فِي ذَهَابِكَ تَفُوزُ بِهَذَا الْأَجْرِ الْعَظِيمِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَا إِخْوَةُ وَاسِعَةٌ وَطُرُقُ الْجَنَّةِ وَاسِعَةٌ فَسِيحَةٌ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنَّا أَنْ نَدْخُلَ الجَنَّةَ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Banyak yang Belum Tahu: Amalan Mudah Ini Pahalanya Setara Puasa & Shalat Malam Ribuan Tahun

Ini adalah pahala puasa selama 5 ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama 5 ribu tahun. Namun, kelalaian dan kesibukan duniawi membuat kita lengah. Yaitu pada hari Jum’at: “Barang siapa yang mandi membasuh kepala dan seluruh badannya, lalu berangkat di awal waktu Shalat Jum’at, serta pergi dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan, lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Ini bukan balasan untuk satu rangkaian amalan tersebut secara utuh, bukan! Melainkan pahala untuk setiap langkahnya! “Ghossala waghtasala”, artinya mandi dengan mencuci kepalanya dan seluruh badannya. Ini pendapat yang paling kuat berkaitan dengan maknanya, dan ini pendapat mayoritas ulama. “Wabakkaro wabtakaro”, artinya berangkat di awal waktu Shalat Jum’at. Ia menyimak khutbah dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikit pun. “Serta pergi dengan berjalan kaki”, artinya ia menempuh seluruh perjalanannya dengan berjalan kaki tanpa menaiki kendaraan apa pun. “Ia lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan menuju masjid, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Artinya, setiap satu langkah kaki, seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh, dan mendirikan Shalat Malam selama setahun penuh pula. Jika jarak rumahnya ke masjid adalah seribu langkah, maka itu setara dengan pahala seribu tahun. Seribu tahun! Pahala puasa selama seribu tahun! Serta pahala Shalat Malam selama seribu tahun! Apabila jarak antara dirinya dengan masjid adalah 5 kilometer atau sekitar lima ribu langkah, maka itu setara dengan pahala puasa selama lima ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama lima ribu tahun. Namun, siapa di antara kita yang mengamalkannya saat ini? Banyak dari kita yang justru masih terlelap tidur di pagi hari Jum’at hingga mendekati waktu azan. Baru kemudian bergegas bangun, segera mandi, dan terburu-buru menuju masjid, dan ternyata imam sudah memulai khutbahnya. Betapa banyak pahala yang kita sia-siakan. Saya sarankan kepada Anda semua, cobalah lakukan ini setidaknya sebulan sekali dalam hidup Anda. Atau setiap dua atau tiga bulan sekali. Di pagi hari Jum’at, setelah matahari terbit, Anda mandi janabah, memakai parfum terbaik, dan mengenakan pakaian paling bagus yang Anda miliki. Lalu Anda berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Tidak harus ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, cukup Anda pergi ke masjid di lingkungan sekitar Anda yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Tentu, jika Anda bisa ke Masjid Nabawi, itu jauh lebih baik. Namun itu bukanlah sebuah keharusan. Kemudian Anda mendekat ke tempat imam, baik itu di shaf pertama atau shaf-shaf depan lainnya. Lalu Anda mendengarkan khutbahdengan penuh perhatian. Anda pergi dengan berjalan kaki, Anda akan meraih pahala yang amat besar ini. Pintu surga itu luas, saudara-saudaraku! Jalan menuju surga juga pun luas dan lapang. Allah ‘Azza wa Jalla sangat ingin hamba-Nya masuk ke dalam surga. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” (HR. Bukhari). Kecuali yang enggan! Sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku pasti masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku, dialah orang yang enggan.” (HR. Bukhari). ===== فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ لَكِنَّ الْغَفْلَةَ وَاللَّهْوَ بِالدُّنْيَا يَجْعَلُنَا نُقَصِّرُ يَعْنِي فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا مَا هُوَ يَعْنِي بِكُلِّ عَمَلِهِ لَا بِكُلِّ خُطْوَةٍ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَعْنِى غَسَّلَ رَأْسَهُ وَغَسَلَ بَقِيَّةَ جَسَدِهِ هَذَا أَرْجَحُ الْأَقْوَالِ فِيهَا وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ بَكَّرَ ذَهَبَ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ وَسَمِعَ الْخُطْبَةَ مِنْ أَوَّلِهَا فَلَمْ يَفُتْهُ شَيْءٌ وَمَشَى فَكَانَ ذَهَابُهُ مَشْيًا وَلَمْ يَرْكَبْ فِي الطَّرِيقِ كُلِّهِ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا يَعْنِي بِكُلِّ خُطْوَةٍ كَأَنَّهُ صَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً وَقَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً فَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ أَلْفُ خُطْوَةٍ فَهَذِهِ أَلْفُ سَنَةٍ أَلْفُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامٍ أَلْفَ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ أَلْفِ سَنَةٍ وَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ خَمْسَةُ كِيلُو خَمْسَةُ آلَافٍ فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ مَنْ الَّذِي يَفْعَلُ هَذَا مِنَّا الْيَوْمَ؟ يَبْقَى نَائِمًا فِي أَوَّلِ نَهَارِ الْجُمُعَةِ إِلَى قُرْبِ الْأَذَانِ يَقُومُ يَغْتَسِلُ بِسُرْعَةٍ وَيَذْهَبُ بِسُرْعَةٍ إِلَى الْمَسْجِدِ وَيَكُونُ الْإِمَامُ بَدَأَ فِي الْخُطْبَةِ كَمْ فَرَّطْنَا مِنْ أُجُورٍ؟ أَنَا أَقُولُ لِلْإِخْوَةِ لَوْ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ فِي شَهْرِكَ جُمُعَةً هَكَذَا فِي شَهْرِكَ أَوْ فِي كُلِّ شَهْرَيْنِ أَوْ فِي كُلِّ ثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ أَوَّلَ نَهَارِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ اغْتَسَلْتَ وَمَسَسْتَ مِنْ طِيْبِكَ وَلَبِسْتَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِكَ وَذَهَبْتَ إلَى الْمَسْجِدِ مَشْيًا مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي إِلَى الْحَرَمِ مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ تَأْتِي إِلَى الْمَسْجِدِ مَسْجِدِ الْحَيِّ الَّذِي تَسْتَطِيعُ أَنْ تَمْشِيَ إِلَيْهِ وَإِذَا جِئْتَ لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ فَهَذَا خَيْرٌ لَكِنَّ لَيْسَ بِلَازِمٍ وَدَنَوْتَ وَكُنْتَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ أَوْ نَحْوِهِ وَاسْتَمَعْتَ وَأَنْصَتَّ وَكُنْتَ مَاشِيًا فِي ذَهَابِكَ تَفُوزُ بِهَذَا الْأَجْرِ الْعَظِيمِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَا إِخْوَةُ وَاسِعَةٌ وَطُرُقُ الْجَنَّةِ وَاسِعَةٌ فَسِيحَةٌ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنَّا أَنْ نَدْخُلَ الجَنَّةَ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Ini adalah pahala puasa selama 5 ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama 5 ribu tahun. Namun, kelalaian dan kesibukan duniawi membuat kita lengah. Yaitu pada hari Jum’at: “Barang siapa yang mandi membasuh kepala dan seluruh badannya, lalu berangkat di awal waktu Shalat Jum’at, serta pergi dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan, lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Ini bukan balasan untuk satu rangkaian amalan tersebut secara utuh, bukan! Melainkan pahala untuk setiap langkahnya! “Ghossala waghtasala”, artinya mandi dengan mencuci kepalanya dan seluruh badannya. Ini pendapat yang paling kuat berkaitan dengan maknanya, dan ini pendapat mayoritas ulama. “Wabakkaro wabtakaro”, artinya berangkat di awal waktu Shalat Jum’at. Ia menyimak khutbah dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikit pun. “Serta pergi dengan berjalan kaki”, artinya ia menempuh seluruh perjalanannya dengan berjalan kaki tanpa menaiki kendaraan apa pun. “Ia lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan menuju masjid, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Artinya, setiap satu langkah kaki, seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh, dan mendirikan Shalat Malam selama setahun penuh pula. Jika jarak rumahnya ke masjid adalah seribu langkah, maka itu setara dengan pahala seribu tahun. Seribu tahun! Pahala puasa selama seribu tahun! Serta pahala Shalat Malam selama seribu tahun! Apabila jarak antara dirinya dengan masjid adalah 5 kilometer atau sekitar lima ribu langkah, maka itu setara dengan pahala puasa selama lima ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama lima ribu tahun. Namun, siapa di antara kita yang mengamalkannya saat ini? Banyak dari kita yang justru masih terlelap tidur di pagi hari Jum’at hingga mendekati waktu azan. Baru kemudian bergegas bangun, segera mandi, dan terburu-buru menuju masjid, dan ternyata imam sudah memulai khutbahnya. Betapa banyak pahala yang kita sia-siakan. Saya sarankan kepada Anda semua, cobalah lakukan ini setidaknya sebulan sekali dalam hidup Anda. Atau setiap dua atau tiga bulan sekali. Di pagi hari Jum’at, setelah matahari terbit, Anda mandi janabah, memakai parfum terbaik, dan mengenakan pakaian paling bagus yang Anda miliki. Lalu Anda berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Tidak harus ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, cukup Anda pergi ke masjid di lingkungan sekitar Anda yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Tentu, jika Anda bisa ke Masjid Nabawi, itu jauh lebih baik. Namun itu bukanlah sebuah keharusan. Kemudian Anda mendekat ke tempat imam, baik itu di shaf pertama atau shaf-shaf depan lainnya. Lalu Anda mendengarkan khutbahdengan penuh perhatian. Anda pergi dengan berjalan kaki, Anda akan meraih pahala yang amat besar ini. Pintu surga itu luas, saudara-saudaraku! Jalan menuju surga juga pun luas dan lapang. Allah ‘Azza wa Jalla sangat ingin hamba-Nya masuk ke dalam surga. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” (HR. Bukhari). Kecuali yang enggan! Sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku pasti masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku, dialah orang yang enggan.” (HR. Bukhari). ===== فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ لَكِنَّ الْغَفْلَةَ وَاللَّهْوَ بِالدُّنْيَا يَجْعَلُنَا نُقَصِّرُ يَعْنِي فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا مَا هُوَ يَعْنِي بِكُلِّ عَمَلِهِ لَا بِكُلِّ خُطْوَةٍ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَعْنِى غَسَّلَ رَأْسَهُ وَغَسَلَ بَقِيَّةَ جَسَدِهِ هَذَا أَرْجَحُ الْأَقْوَالِ فِيهَا وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ بَكَّرَ ذَهَبَ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ وَسَمِعَ الْخُطْبَةَ مِنْ أَوَّلِهَا فَلَمْ يَفُتْهُ شَيْءٌ وَمَشَى فَكَانَ ذَهَابُهُ مَشْيًا وَلَمْ يَرْكَبْ فِي الطَّرِيقِ كُلِّهِ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا يَعْنِي بِكُلِّ خُطْوَةٍ كَأَنَّهُ صَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً وَقَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً فَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ أَلْفُ خُطْوَةٍ فَهَذِهِ أَلْفُ سَنَةٍ أَلْفُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامٍ أَلْفَ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ أَلْفِ سَنَةٍ وَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ خَمْسَةُ كِيلُو خَمْسَةُ آلَافٍ فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ مَنْ الَّذِي يَفْعَلُ هَذَا مِنَّا الْيَوْمَ؟ يَبْقَى نَائِمًا فِي أَوَّلِ نَهَارِ الْجُمُعَةِ إِلَى قُرْبِ الْأَذَانِ يَقُومُ يَغْتَسِلُ بِسُرْعَةٍ وَيَذْهَبُ بِسُرْعَةٍ إِلَى الْمَسْجِدِ وَيَكُونُ الْإِمَامُ بَدَأَ فِي الْخُطْبَةِ كَمْ فَرَّطْنَا مِنْ أُجُورٍ؟ أَنَا أَقُولُ لِلْإِخْوَةِ لَوْ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ فِي شَهْرِكَ جُمُعَةً هَكَذَا فِي شَهْرِكَ أَوْ فِي كُلِّ شَهْرَيْنِ أَوْ فِي كُلِّ ثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ أَوَّلَ نَهَارِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ اغْتَسَلْتَ وَمَسَسْتَ مِنْ طِيْبِكَ وَلَبِسْتَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِكَ وَذَهَبْتَ إلَى الْمَسْجِدِ مَشْيًا مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي إِلَى الْحَرَمِ مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ تَأْتِي إِلَى الْمَسْجِدِ مَسْجِدِ الْحَيِّ الَّذِي تَسْتَطِيعُ أَنْ تَمْشِيَ إِلَيْهِ وَإِذَا جِئْتَ لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ فَهَذَا خَيْرٌ لَكِنَّ لَيْسَ بِلَازِمٍ وَدَنَوْتَ وَكُنْتَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ أَوْ نَحْوِهِ وَاسْتَمَعْتَ وَأَنْصَتَّ وَكُنْتَ مَاشِيًا فِي ذَهَابِكَ تَفُوزُ بِهَذَا الْأَجْرِ الْعَظِيمِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَا إِخْوَةُ وَاسِعَةٌ وَطُرُقُ الْجَنَّةِ وَاسِعَةٌ فَسِيحَةٌ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنَّا أَنْ نَدْخُلَ الجَنَّةَ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى


Ini adalah pahala puasa selama 5 ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama 5 ribu tahun. Namun, kelalaian dan kesibukan duniawi membuat kita lengah. Yaitu pada hari Jum’at: “Barang siapa yang mandi membasuh kepala dan seluruh badannya, lalu berangkat di awal waktu Shalat Jum’at, serta pergi dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan, lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Ini bukan balasan untuk satu rangkaian amalan tersebut secara utuh, bukan! Melainkan pahala untuk setiap langkahnya! “Ghossala waghtasala”, artinya mandi dengan mencuci kepalanya dan seluruh badannya. Ini pendapat yang paling kuat berkaitan dengan maknanya, dan ini pendapat mayoritas ulama. “Wabakkaro wabtakaro”, artinya berangkat di awal waktu Shalat Jum’at. Ia menyimak khutbah dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikit pun. “Serta pergi dengan berjalan kaki”, artinya ia menempuh seluruh perjalanannya dengan berjalan kaki tanpa menaiki kendaraan apa pun. “Ia lalu ia mendekat dengan imam, mendengarkan khutbah dengan saksama, maka dari setiap langkah yang ia ayunkan menuju masjid, ia akan mendapatkan pahala satu tahun puasa dan Shalat Malam.” (HR. Abu Daud). Artinya, setiap satu langkah kaki, seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh, dan mendirikan Shalat Malam selama setahun penuh pula. Jika jarak rumahnya ke masjid adalah seribu langkah, maka itu setara dengan pahala seribu tahun. Seribu tahun! Pahala puasa selama seribu tahun! Serta pahala Shalat Malam selama seribu tahun! Apabila jarak antara dirinya dengan masjid adalah 5 kilometer atau sekitar lima ribu langkah, maka itu setara dengan pahala puasa selama lima ribu tahun, dan pahala Shalat Malam selama lima ribu tahun. Namun, siapa di antara kita yang mengamalkannya saat ini? Banyak dari kita yang justru masih terlelap tidur di pagi hari Jum’at hingga mendekati waktu azan. Baru kemudian bergegas bangun, segera mandi, dan terburu-buru menuju masjid, dan ternyata imam sudah memulai khutbahnya. Betapa banyak pahala yang kita sia-siakan. Saya sarankan kepada Anda semua, cobalah lakukan ini setidaknya sebulan sekali dalam hidup Anda. Atau setiap dua atau tiga bulan sekali. Di pagi hari Jum’at, setelah matahari terbit, Anda mandi janabah, memakai parfum terbaik, dan mengenakan pakaian paling bagus yang Anda miliki. Lalu Anda berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Tidak harus ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, cukup Anda pergi ke masjid di lingkungan sekitar Anda yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Tentu, jika Anda bisa ke Masjid Nabawi, itu jauh lebih baik. Namun itu bukanlah sebuah keharusan. Kemudian Anda mendekat ke tempat imam, baik itu di shaf pertama atau shaf-shaf depan lainnya. Lalu Anda mendengarkan khutbahdengan penuh perhatian. Anda pergi dengan berjalan kaki, Anda akan meraih pahala yang amat besar ini. Pintu surga itu luas, saudara-saudaraku! Jalan menuju surga juga pun luas dan lapang. Allah ‘Azza wa Jalla sangat ingin hamba-Nya masuk ke dalam surga. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” (HR. Bukhari). Kecuali yang enggan! Sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku pasti masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku, dialah orang yang enggan.” (HR. Bukhari). ===== فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ لَكِنَّ الْغَفْلَةَ وَاللَّهْوَ بِالدُّنْيَا يَجْعَلُنَا نُقَصِّرُ يَعْنِي فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا مَا هُوَ يَعْنِي بِكُلِّ عَمَلِهِ لَا بِكُلِّ خُطْوَةٍ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَعْنِى غَسَّلَ رَأْسَهُ وَغَسَلَ بَقِيَّةَ جَسَدِهِ هَذَا أَرْجَحُ الْأَقْوَالِ فِيهَا وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ بَكَّرَ ذَهَبَ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ وَسَمِعَ الْخُطْبَةَ مِنْ أَوَّلِهَا فَلَمْ يَفُتْهُ شَيْءٌ وَمَشَى فَكَانَ ذَهَابُهُ مَشْيًا وَلَمْ يَرْكَبْ فِي الطَّرِيقِ كُلِّهِ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا يَعْنِي بِكُلِّ خُطْوَةٍ كَأَنَّهُ صَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً وَقَامَ السَّنَةَ كَامِلَةً فَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ أَلْفُ خُطْوَةٍ فَهَذِهِ أَلْفُ سَنَةٍ أَلْفُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامٍ أَلْفَ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ أَلْفِ سَنَةٍ وَإِذَا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ خَمْسَةُ كِيلُو خَمْسَةُ آلَافٍ فَهَذَا أَجْرُ صِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ وَأَجْرُ قِيَامِ خَمْسَةِ آلَافِ سَنَةٍ مَنْ الَّذِي يَفْعَلُ هَذَا مِنَّا الْيَوْمَ؟ يَبْقَى نَائِمًا فِي أَوَّلِ نَهَارِ الْجُمُعَةِ إِلَى قُرْبِ الْأَذَانِ يَقُومُ يَغْتَسِلُ بِسُرْعَةٍ وَيَذْهَبُ بِسُرْعَةٍ إِلَى الْمَسْجِدِ وَيَكُونُ الْإِمَامُ بَدَأَ فِي الْخُطْبَةِ كَمْ فَرَّطْنَا مِنْ أُجُورٍ؟ أَنَا أَقُولُ لِلْإِخْوَةِ لَوْ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ فِي شَهْرِكَ جُمُعَةً هَكَذَا فِي شَهْرِكَ أَوْ فِي كُلِّ شَهْرَيْنِ أَوْ فِي كُلِّ ثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ أَوَّلَ نَهَارِ الْجُمُعَةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ اغْتَسَلْتَ وَمَسَسْتَ مِنْ طِيْبِكَ وَلَبِسْتَ مِنْ صَالِحِ ثِيَابِكَ وَذَهَبْتَ إلَى الْمَسْجِدِ مَشْيًا مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي إِلَى الْحَرَمِ مَا هُوَ لَازِمٌ تَأْتِي لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ تَأْتِي إِلَى الْمَسْجِدِ مَسْجِدِ الْحَيِّ الَّذِي تَسْتَطِيعُ أَنْ تَمْشِيَ إِلَيْهِ وَإِذَا جِئْتَ لِلْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ فَهَذَا خَيْرٌ لَكِنَّ لَيْسَ بِلَازِمٍ وَدَنَوْتَ وَكُنْتَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ أَوْ نَحْوِهِ وَاسْتَمَعْتَ وَأَنْصَتَّ وَكُنْتَ مَاشِيًا فِي ذَهَابِكَ تَفُوزُ بِهَذَا الْأَجْرِ الْعَظِيمِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَا إِخْوَةُ وَاسِعَةٌ وَطُرُقُ الْجَنَّةِ وَاسِعَةٌ فَسِيحَةٌ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مِنَّا أَنْ نَدْخُلَ الجَنَّةَ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Kaidah Fikih: Pengaruh Niat dalam Sumpah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleTentang kaidahMakna kaidahMakna secara bahasaMakna secara umumContoh penerapan dari kaidahKaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraTelah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya bahwasanya niat seseorang sangat berpengaruh dalam sumpah. Dalam seri ini, kita akan membahas kaidah fikih selanjutnya yang masih berkaitan tentang sumpah, yang berbunyi:الأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah), bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Tentang kaidahTeks di atas merupakan kaidah yang disebutkan oleh para ulama mazhab Maliki dan Hanbali. Menurut kedua mazhab tersebut, segala macam bentuk sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Dengan dua ketentuan,– Jika lafaz sumpah yang diucapkan mengandung niat.– Orang yang bersumpah bukanlah orang yang zalim.Dengan kedua ketentuan di atas, sumpah dikembalikan kepada niat orang yang mengucapkannya, kendati terdapat perbedaan antara niat di dalam hati dengan lafaz yang diucapkannya.Adapun para ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i memandang bahwasanya tolok ukur dalam menilai sumpah adalah lafaz yang diucapkan, jika memang dapat difahami dari lafaz sumpah tersebut; jika tidak, maka dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah.Dari kedua pendapat tersebut, terdapat perbedaan dalam menentukan hukum dalam sumpah. Singkatnya,– Mazhab Maliki dan Hanbali: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah niat.– Mazhab Hanafi dan Syafi’i: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah lafaz.Pada pembahasan kaidah kali ini, pendapat yang lebih dikuatkan adalah bahwa tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, sebagaimana yang dipilih oleh para ulama dari mazhab Maliki dan Hanbali.Sehingga ashl (asas) dalam menghukumi sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Ini hukum asasnya, kendati di kemudian akan ada perincian dan pengecualian yang disampaikan oleh para ulama.Makna kaidahالأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah) bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Makna secara bahasa – Al-Ayman: artinya adalah sumpahSumpah yang dimaksudkan di sini adalah hanya sumpah atas nama Allah Ta’ala. Adapun sumpah kepada selain Allah, maka tidak termasuk dalam kaidah ini. Karena sumpah kepada selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,منْ حلفَ بغيرِ اللهِ فقدْ أشركَ“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu)– Al-Aghrad: artinya adalah tujuan atau niat.Makna secara umumAdapun makna secara umum yaitu, seseorang yang bersumpah atas nama Allah Ta’ala kemudian berbeda antara lafaz dengan niatnya, maka hukum yang berlaku adalah pada niatnya.Contoh penerapan dari kaidahContoh pertama: Jika ada orang tua yang sangat marah kepada anaknya, kemudian ia bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan membelikanmu apapun walaupun harganya seribu rupiah.” Setelah beberapa lama, ia membelikan kepada anaknya sesuatu dengan harga seratus ribu rupiah.Dari contoh ini, kalau dilihat dari kaidah yang digunakan mazhab Maliki dan Hanbali, maka orang tuanya telah melanggar sumpahnya dan wajib untuk membayar kaffarat sumpah. Karena maksud dan tujuannya tidak akan memberikan kepada anaknya sepeser uang pun, atau tidak membelikan untuk anaknya apapun. Kaidahnya berbunyi, “Tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, bukan lafaz.” Sehingga pada kasus ini, sesuai nash (teks) dari mazhab Maliki dan Hanbali, orang tuanya telah melanggar sumpah karena yang dilihat adalah niatnya, bukan lafaznya.Adapun jika melihat pada pendapat mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka orang tua tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz yang diucapkan pada sumpahnya adalah seribu rupiah, sedangkan yang dibelikan harganya seratus ribu rupiah. Artinya, yang terkena hukum bukan niatnya, tetapi lafaznya.Dalam hal ini, menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, orang tua tidak melanggar sumpahnya karena tidak membelikan sesuatu seharga seribu rupiah kepada anak yang dimarahinya.Contoh kedua: A bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan masuk ke rumah B.” Kemudian pada suatu hari, A datang ke rumah B dengan membawa tangga, A pun memanjat ke atap rumah B menggunakan tangga.Pada contoh ini, jika hukum diterapkan sesuai kaidah dari mazhab Maliki dan Hanafi, maka A telah melanggar sumpah. Karena niat atau maksud sumpahnya adalah tidak akan mendekati atau masuk ke rumah B. Sedangkan pada kasus ini, A telah mendekati rumah B dengan cara memanjat atap rumahnya B.Adapun jika melihat dari mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka A tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz sumpah yang diucapkan oleh A tidaklah dilanggar, karena A bukan masuk ke rumah B, melainkan memanjat atap rumah B menggunakan tangganya.Kaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memberikan pelajaran dari teks yang tertera, bahwasanya hukum dalam sumpah, jika terdapat perbedaan antara lafaz yang diucapkan oleh orang yang bersumpah dengan niatnya, maka yang dikedepankan atau yang dijadikan tolok ukur adalah niatnya, bukan lafaznya.Pada hal ini, terdapat kolerasi yang cukup kuat dengan kaidah kubra, karena kaidah kubra menentukan bahwasanya segala perbuatan seorang hamba dapat berbeda-beda hukum dan pahalanya, tergantung dari niat dan tujuannya.Sehingga mengambil pendapat yang sesuai dengan nash kaidah lebih menenangkan hati dikarenakan mengembalikan sumpah tersebut kepada niat atau tujuan yang mengucapkanya. Di samping kaidah tersebut sesuai dengan kaidah kubra yang juga diambil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segala perbuatan tergantung pada niatnya.” Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 6 Syawal 1447/ 26 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Kaidah Fikih: Pengaruh Niat dalam Sumpah (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleTentang kaidahMakna kaidahMakna secara bahasaMakna secara umumContoh penerapan dari kaidahKaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraTelah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya bahwasanya niat seseorang sangat berpengaruh dalam sumpah. Dalam seri ini, kita akan membahas kaidah fikih selanjutnya yang masih berkaitan tentang sumpah, yang berbunyi:الأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah), bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Tentang kaidahTeks di atas merupakan kaidah yang disebutkan oleh para ulama mazhab Maliki dan Hanbali. Menurut kedua mazhab tersebut, segala macam bentuk sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Dengan dua ketentuan,– Jika lafaz sumpah yang diucapkan mengandung niat.– Orang yang bersumpah bukanlah orang yang zalim.Dengan kedua ketentuan di atas, sumpah dikembalikan kepada niat orang yang mengucapkannya, kendati terdapat perbedaan antara niat di dalam hati dengan lafaz yang diucapkannya.Adapun para ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i memandang bahwasanya tolok ukur dalam menilai sumpah adalah lafaz yang diucapkan, jika memang dapat difahami dari lafaz sumpah tersebut; jika tidak, maka dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah.Dari kedua pendapat tersebut, terdapat perbedaan dalam menentukan hukum dalam sumpah. Singkatnya,– Mazhab Maliki dan Hanbali: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah niat.– Mazhab Hanafi dan Syafi’i: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah lafaz.Pada pembahasan kaidah kali ini, pendapat yang lebih dikuatkan adalah bahwa tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, sebagaimana yang dipilih oleh para ulama dari mazhab Maliki dan Hanbali.Sehingga ashl (asas) dalam menghukumi sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Ini hukum asasnya, kendati di kemudian akan ada perincian dan pengecualian yang disampaikan oleh para ulama.Makna kaidahالأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah) bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Makna secara bahasa – Al-Ayman: artinya adalah sumpahSumpah yang dimaksudkan di sini adalah hanya sumpah atas nama Allah Ta’ala. Adapun sumpah kepada selain Allah, maka tidak termasuk dalam kaidah ini. Karena sumpah kepada selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,منْ حلفَ بغيرِ اللهِ فقدْ أشركَ“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu)– Al-Aghrad: artinya adalah tujuan atau niat.Makna secara umumAdapun makna secara umum yaitu, seseorang yang bersumpah atas nama Allah Ta’ala kemudian berbeda antara lafaz dengan niatnya, maka hukum yang berlaku adalah pada niatnya.Contoh penerapan dari kaidahContoh pertama: Jika ada orang tua yang sangat marah kepada anaknya, kemudian ia bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan membelikanmu apapun walaupun harganya seribu rupiah.” Setelah beberapa lama, ia membelikan kepada anaknya sesuatu dengan harga seratus ribu rupiah.Dari contoh ini, kalau dilihat dari kaidah yang digunakan mazhab Maliki dan Hanbali, maka orang tuanya telah melanggar sumpahnya dan wajib untuk membayar kaffarat sumpah. Karena maksud dan tujuannya tidak akan memberikan kepada anaknya sepeser uang pun, atau tidak membelikan untuk anaknya apapun. Kaidahnya berbunyi, “Tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, bukan lafaz.” Sehingga pada kasus ini, sesuai nash (teks) dari mazhab Maliki dan Hanbali, orang tuanya telah melanggar sumpah karena yang dilihat adalah niatnya, bukan lafaznya.Adapun jika melihat pada pendapat mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka orang tua tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz yang diucapkan pada sumpahnya adalah seribu rupiah, sedangkan yang dibelikan harganya seratus ribu rupiah. Artinya, yang terkena hukum bukan niatnya, tetapi lafaznya.Dalam hal ini, menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, orang tua tidak melanggar sumpahnya karena tidak membelikan sesuatu seharga seribu rupiah kepada anak yang dimarahinya.Contoh kedua: A bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan masuk ke rumah B.” Kemudian pada suatu hari, A datang ke rumah B dengan membawa tangga, A pun memanjat ke atap rumah B menggunakan tangga.Pada contoh ini, jika hukum diterapkan sesuai kaidah dari mazhab Maliki dan Hanafi, maka A telah melanggar sumpah. Karena niat atau maksud sumpahnya adalah tidak akan mendekati atau masuk ke rumah B. Sedangkan pada kasus ini, A telah mendekati rumah B dengan cara memanjat atap rumahnya B.Adapun jika melihat dari mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka A tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz sumpah yang diucapkan oleh A tidaklah dilanggar, karena A bukan masuk ke rumah B, melainkan memanjat atap rumah B menggunakan tangganya.Kaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memberikan pelajaran dari teks yang tertera, bahwasanya hukum dalam sumpah, jika terdapat perbedaan antara lafaz yang diucapkan oleh orang yang bersumpah dengan niatnya, maka yang dikedepankan atau yang dijadikan tolok ukur adalah niatnya, bukan lafaznya.Pada hal ini, terdapat kolerasi yang cukup kuat dengan kaidah kubra, karena kaidah kubra menentukan bahwasanya segala perbuatan seorang hamba dapat berbeda-beda hukum dan pahalanya, tergantung dari niat dan tujuannya.Sehingga mengambil pendapat yang sesuai dengan nash kaidah lebih menenangkan hati dikarenakan mengembalikan sumpah tersebut kepada niat atau tujuan yang mengucapkanya. Di samping kaidah tersebut sesuai dengan kaidah kubra yang juga diambil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segala perbuatan tergantung pada niatnya.” Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 6 Syawal 1447/ 26 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.
Daftar Isi ToggleTentang kaidahMakna kaidahMakna secara bahasaMakna secara umumContoh penerapan dari kaidahKaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraTelah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya bahwasanya niat seseorang sangat berpengaruh dalam sumpah. Dalam seri ini, kita akan membahas kaidah fikih selanjutnya yang masih berkaitan tentang sumpah, yang berbunyi:الأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah), bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Tentang kaidahTeks di atas merupakan kaidah yang disebutkan oleh para ulama mazhab Maliki dan Hanbali. Menurut kedua mazhab tersebut, segala macam bentuk sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Dengan dua ketentuan,– Jika lafaz sumpah yang diucapkan mengandung niat.– Orang yang bersumpah bukanlah orang yang zalim.Dengan kedua ketentuan di atas, sumpah dikembalikan kepada niat orang yang mengucapkannya, kendati terdapat perbedaan antara niat di dalam hati dengan lafaz yang diucapkannya.Adapun para ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i memandang bahwasanya tolok ukur dalam menilai sumpah adalah lafaz yang diucapkan, jika memang dapat difahami dari lafaz sumpah tersebut; jika tidak, maka dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah.Dari kedua pendapat tersebut, terdapat perbedaan dalam menentukan hukum dalam sumpah. Singkatnya,– Mazhab Maliki dan Hanbali: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah niat.– Mazhab Hanafi dan Syafi’i: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah lafaz.Pada pembahasan kaidah kali ini, pendapat yang lebih dikuatkan adalah bahwa tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, sebagaimana yang dipilih oleh para ulama dari mazhab Maliki dan Hanbali.Sehingga ashl (asas) dalam menghukumi sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Ini hukum asasnya, kendati di kemudian akan ada perincian dan pengecualian yang disampaikan oleh para ulama.Makna kaidahالأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah) bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Makna secara bahasa – Al-Ayman: artinya adalah sumpahSumpah yang dimaksudkan di sini adalah hanya sumpah atas nama Allah Ta’ala. Adapun sumpah kepada selain Allah, maka tidak termasuk dalam kaidah ini. Karena sumpah kepada selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,منْ حلفَ بغيرِ اللهِ فقدْ أشركَ“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu)– Al-Aghrad: artinya adalah tujuan atau niat.Makna secara umumAdapun makna secara umum yaitu, seseorang yang bersumpah atas nama Allah Ta’ala kemudian berbeda antara lafaz dengan niatnya, maka hukum yang berlaku adalah pada niatnya.Contoh penerapan dari kaidahContoh pertama: Jika ada orang tua yang sangat marah kepada anaknya, kemudian ia bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan membelikanmu apapun walaupun harganya seribu rupiah.” Setelah beberapa lama, ia membelikan kepada anaknya sesuatu dengan harga seratus ribu rupiah.Dari contoh ini, kalau dilihat dari kaidah yang digunakan mazhab Maliki dan Hanbali, maka orang tuanya telah melanggar sumpahnya dan wajib untuk membayar kaffarat sumpah. Karena maksud dan tujuannya tidak akan memberikan kepada anaknya sepeser uang pun, atau tidak membelikan untuk anaknya apapun. Kaidahnya berbunyi, “Tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, bukan lafaz.” Sehingga pada kasus ini, sesuai nash (teks) dari mazhab Maliki dan Hanbali, orang tuanya telah melanggar sumpah karena yang dilihat adalah niatnya, bukan lafaznya.Adapun jika melihat pada pendapat mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka orang tua tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz yang diucapkan pada sumpahnya adalah seribu rupiah, sedangkan yang dibelikan harganya seratus ribu rupiah. Artinya, yang terkena hukum bukan niatnya, tetapi lafaznya.Dalam hal ini, menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, orang tua tidak melanggar sumpahnya karena tidak membelikan sesuatu seharga seribu rupiah kepada anak yang dimarahinya.Contoh kedua: A bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan masuk ke rumah B.” Kemudian pada suatu hari, A datang ke rumah B dengan membawa tangga, A pun memanjat ke atap rumah B menggunakan tangga.Pada contoh ini, jika hukum diterapkan sesuai kaidah dari mazhab Maliki dan Hanafi, maka A telah melanggar sumpah. Karena niat atau maksud sumpahnya adalah tidak akan mendekati atau masuk ke rumah B. Sedangkan pada kasus ini, A telah mendekati rumah B dengan cara memanjat atap rumahnya B.Adapun jika melihat dari mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka A tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz sumpah yang diucapkan oleh A tidaklah dilanggar, karena A bukan masuk ke rumah B, melainkan memanjat atap rumah B menggunakan tangganya.Kaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memberikan pelajaran dari teks yang tertera, bahwasanya hukum dalam sumpah, jika terdapat perbedaan antara lafaz yang diucapkan oleh orang yang bersumpah dengan niatnya, maka yang dikedepankan atau yang dijadikan tolok ukur adalah niatnya, bukan lafaznya.Pada hal ini, terdapat kolerasi yang cukup kuat dengan kaidah kubra, karena kaidah kubra menentukan bahwasanya segala perbuatan seorang hamba dapat berbeda-beda hukum dan pahalanya, tergantung dari niat dan tujuannya.Sehingga mengambil pendapat yang sesuai dengan nash kaidah lebih menenangkan hati dikarenakan mengembalikan sumpah tersebut kepada niat atau tujuan yang mengucapkanya. Di samping kaidah tersebut sesuai dengan kaidah kubra yang juga diambil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segala perbuatan tergantung pada niatnya.” Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 6 Syawal 1447/ 26 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.


Daftar Isi ToggleTentang kaidahMakna kaidahMakna secara bahasaMakna secara umumContoh penerapan dari kaidahKaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraTelah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya bahwasanya niat seseorang sangat berpengaruh dalam sumpah. Dalam seri ini, kita akan membahas kaidah fikih selanjutnya yang masih berkaitan tentang sumpah, yang berbunyi:الأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah), bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Tentang kaidahTeks di atas merupakan kaidah yang disebutkan oleh para ulama mazhab Maliki dan Hanbali. Menurut kedua mazhab tersebut, segala macam bentuk sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Dengan dua ketentuan,– Jika lafaz sumpah yang diucapkan mengandung niat.– Orang yang bersumpah bukanlah orang yang zalim.Dengan kedua ketentuan di atas, sumpah dikembalikan kepada niat orang yang mengucapkannya, kendati terdapat perbedaan antara niat di dalam hati dengan lafaz yang diucapkannya.Adapun para ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i memandang bahwasanya tolok ukur dalam menilai sumpah adalah lafaz yang diucapkan, jika memang dapat difahami dari lafaz sumpah tersebut; jika tidak, maka dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah.Dari kedua pendapat tersebut, terdapat perbedaan dalam menentukan hukum dalam sumpah. Singkatnya,– Mazhab Maliki dan Hanbali: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah niat.– Mazhab Hanafi dan Syafi’i: Tolok ukur menghukumi sumpah adalah lafaz.Pada pembahasan kaidah kali ini, pendapat yang lebih dikuatkan adalah bahwa tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, sebagaimana yang dipilih oleh para ulama dari mazhab Maliki dan Hanbali.Sehingga ashl (asas) dalam menghukumi sumpah dikembalikan kepada niat orang yang bersumpah. Ini hukum asasnya, kendati di kemudian akan ada perincian dan pengecualian yang disampaikan oleh para ulama.Makna kaidahالأَيْمَانُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الأَغْرَاضِ لاَ عَلَى الأَلفَاظِ“Tolok ukur dalam menilai atau menghukumi sebuah sumpah adalah niat (orang yang bersumpah) bukan sekedar dari lafaz yang diucapkan.” Makna secara bahasa – Al-Ayman: artinya adalah sumpahSumpah yang dimaksudkan di sini adalah hanya sumpah atas nama Allah Ta’ala. Adapun sumpah kepada selain Allah, maka tidak termasuk dalam kaidah ini. Karena sumpah kepada selain Allah Ta’ala termasuk kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,منْ حلفَ بغيرِ اللهِ فقدْ أشركَ“Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhu)– Al-Aghrad: artinya adalah tujuan atau niat.Makna secara umumAdapun makna secara umum yaitu, seseorang yang bersumpah atas nama Allah Ta’ala kemudian berbeda antara lafaz dengan niatnya, maka hukum yang berlaku adalah pada niatnya.Contoh penerapan dari kaidahContoh pertama: Jika ada orang tua yang sangat marah kepada anaknya, kemudian ia bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan membelikanmu apapun walaupun harganya seribu rupiah.” Setelah beberapa lama, ia membelikan kepada anaknya sesuatu dengan harga seratus ribu rupiah.Dari contoh ini, kalau dilihat dari kaidah yang digunakan mazhab Maliki dan Hanbali, maka orang tuanya telah melanggar sumpahnya dan wajib untuk membayar kaffarat sumpah. Karena maksud dan tujuannya tidak akan memberikan kepada anaknya sepeser uang pun, atau tidak membelikan untuk anaknya apapun. Kaidahnya berbunyi, “Tolok ukur dalam menghukumi sumpah adalah niat, bukan lafaz.” Sehingga pada kasus ini, sesuai nash (teks) dari mazhab Maliki dan Hanbali, orang tuanya telah melanggar sumpah karena yang dilihat adalah niatnya, bukan lafaznya.Adapun jika melihat pada pendapat mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka orang tua tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz yang diucapkan pada sumpahnya adalah seribu rupiah, sedangkan yang dibelikan harganya seratus ribu rupiah. Artinya, yang terkena hukum bukan niatnya, tetapi lafaznya.Dalam hal ini, menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, orang tua tidak melanggar sumpahnya karena tidak membelikan sesuatu seharga seribu rupiah kepada anak yang dimarahinya.Contoh kedua: A bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan masuk ke rumah B.” Kemudian pada suatu hari, A datang ke rumah B dengan membawa tangga, A pun memanjat ke atap rumah B menggunakan tangga.Pada contoh ini, jika hukum diterapkan sesuai kaidah dari mazhab Maliki dan Hanafi, maka A telah melanggar sumpah. Karena niat atau maksud sumpahnya adalah tidak akan mendekati atau masuk ke rumah B. Sedangkan pada kasus ini, A telah mendekati rumah B dengan cara memanjat atap rumahnya B.Adapun jika melihat dari mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka A tidak dikatakan melanggar sumpahnya. Karena lafaz sumpah yang diucapkan oleh A tidaklah dilanggar, karena A bukan masuk ke rumah B, melainkan memanjat atap rumah B menggunakan tangganya.Kaitan atau kolerasi kaidah ini dengan kaidah kubraKaidah ini memberikan pelajaran dari teks yang tertera, bahwasanya hukum dalam sumpah, jika terdapat perbedaan antara lafaz yang diucapkan oleh orang yang bersumpah dengan niatnya, maka yang dikedepankan atau yang dijadikan tolok ukur adalah niatnya, bukan lafaznya.Pada hal ini, terdapat kolerasi yang cukup kuat dengan kaidah kubra, karena kaidah kubra menentukan bahwasanya segala perbuatan seorang hamba dapat berbeda-beda hukum dan pahalanya, tergantung dari niat dan tujuannya.Sehingga mengambil pendapat yang sesuai dengan nash kaidah lebih menenangkan hati dikarenakan mengembalikan sumpah tersebut kepada niat atau tujuan yang mengucapkanya. Di samping kaidah tersebut sesuai dengan kaidah kubra yang juga diambil dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segala perbuatan tergantung pada niatnya.” Wallahu a’lam.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Depok, 6 Syawal 1447/ 26 Maret 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Ad-Dusary, Musallam bin Muhammad. Al-Mumti‘ fī al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1441 H/2020 M.

Stop Normalisasi “Diniatkan Ibadah” sebagai Pemanis Obsesi Duniawi Terselubung

Daftar Isi TogglePotret nasihat agama oknum tokoh publikSebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Allah Ta’ala telah membuka pintu ibadah seluas-luasnya, baik melalui jalur ibadah murni (mahdhah) maupun aktivitas harian (ghairu mahdhah) yang diniatkan secara benar. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang fundamental,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” [1]Terkait pembahasan niat di atas, ada satu fenomena yang perlu kita renungkan bersama. Fenomena ini kerap muncul dari pernyataan sebagian pakar, politisi, akademisi, kalangan profesional, maupun cendekiawan saat berbicara di ruang publik. Bahkan, tanpa sadar ia sering merayap ke dalam obrolan ringan kita selaku rakyat biasa, di ruang tongkrongan atau di sela-sela perbincangan kecil bersama sahabat dan keluarga.Potret nasihat agama oknum tokoh publikMari kita telaah dengan jujur. Dalam perbincangan kita dengan orang lain, adakalanya kita mendapatkan momen untuk memotivasi orang lain, baik berupa dorongan duniawi yang positif maupun nasihat seputar agama dan akhlak. Saat kita mendapatkan kesempatan untuk memotivasi urusan dunia, kadang kita begitu bersemangat membakar jiwa mereka demi mencapai ambisi. “Ayo kerja keras, kerja cerdas! Kita harus adaptif dan solutif! Dunia terus berubah, ia tidak akan menunggu kita. Kita harus menyesuaikan diri atau akan tertinggal,” maupun motivasi lainnya. Kalimat ini tidak salah. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.Masalah muncul ketika orang yang sama mendapat kesempatan memberikan sepatah dua patah kata nasihat agama, mari kita simak apa yang disampaikan, “Aktivitas duniawi kita juga bisa menjadi ibadah di sisi Allah jika kita meniatkannya.” Terkadang kalimat ini pun hanya muncul beberapa menit dari keseluruhan pidato yang amat panjang itu. Setelahnya, dilanjutkan pembahasan yang mayoritas isinya adalah seputar keduniaan. Bahkan, kerap kali kalimat tadi disambung dengan dorongan semacam, “Jangan jadi ritualis! Beragama jangan sekadar ritual saja. Bukankah selain ada hablumminallah, juga ada hablumminannas?” Meskipun bisa saja kita bertanya balik, “Bukankah selain ada hablumminannas, juga ada hablumminallah?”Sekali lagi, nasihat di atas benar secara tekstual. Namun, dikhawatirkan semua itu hanya kalimatul haq yuradu biha al-bathil (perkataannya benar, tetapi maksud halus di baliknya adalah sebuah kekeliruan). Kiranya ingin jujur, mari lihat skala prioritasnya. Saat membicarakan dunia, kita membakar semangat orang lain untuk mengejarnya, sedangkan saat menyampaikan nasihat agama, secara terselubung lagi-lagi kita justru mendorong orang untuk fokus pada dunia! Alhasil, semua yang keluar dari lisan kita adalah dunia. Jarang sekali ada nasihat yang murni terlepas bebas dari urusan keduniaan!Barangkali kita berdalih, “Saya bukan ustaz atau kiai, saya tidak ahli menyampaikan ajaran agama. Biar ahlinya saja.” Pertanyaannya, bukankah menyampaikan ajaran tentang menjaga niat dalam aktivitas dunia, serta konsep hablumminallah dan hablumminannas, juga merupakan bagian dari ajaran agama? Mengapa kita tebang pilih? Lagipula, kiranya oknum ini merasa bukan ahlinya, lantas mengapa berkenan naik ke atas mimbar di hadapan umat saat momen-momen ibadah? Padahal, banyak ajaran agama yang sangat sederhana untuk disampaikan tanpa harus menunggu menjadi ustaz terlebih dahulu. Menyampaikan nasihat agama bukan hanya tugas ustaz dan kyai, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang memiliki iman. Ia adalah bukti pembeda antara hamba yang beruntung dengan mereka yang bangkrut. Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)Maka, sekali lagi, jujurlah pada diri sendiri. Dan yang terpenting, jujurlah kepada Allah! Apakah benar aktivitas duniawi kita sudah benar-benar diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, atau ia hanyalah dalih agar kita bisa terus terobsesi pada dunia tanpa merasa bersalah?Baca juga: Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah: Tulus atau Modus?Sebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Lagipula, mengapa kita begitu tergila-gila pada dunia seolah ia begitu sempurna? Bukankah dunia ini banyak lelahnya? Semakin dewasa, semakin banyak tuntutan yang menghimpit, semakin banyak keputusan pahit yang harus diambil. Hidup di dunia ini sungguh menguras energi. Lantas, bukankah kita adalah umat yang meyakini bahwa salat adalah tempat istirahat dari segala kesulitan dan keletihan itu? Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu,يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” [2]Lalu, mana ajakan kita kepada sesama untuk menunaikan salat? Mengapa hanya strategi sukses dunia yang terus kita gaungkan?Bukankah hidup ini penuh masalah yang memusingkan kepala? Sedangkan tidak ada satu kitab pun yang sanggup menjadi solusi tuntas selain Al-Qur’an? Maka, mana ajakan kita untuk membaca dan merenungi maknanya?Bukankah dunia ini terlalu banyak sakit hatinya? Ketidakadilan di mana-mana, kezaliman datang dari segala arah. Ketidaktenangan yang sering menghantui, sesal atas masa lalu dan cemas akan masa depan. Padahal, tidak ada yang bisa menenangkan hati kecuali berzikir kepada Allah.أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)Selalu motivasi dunia yang disampaikan, entah di mana ajakan zikir itu disembunyikan. Bukankah firman Allah itu benar?وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS An-Nisa: 122) Pembaca sekalian, di dunia yang penuh akan hal di luar kendali kita ini, bukankah salah satu tujuan utama kita banting tulang berjibaku dengan dunia adalah untuk mencari rezeki? Dan bukankah tidak ada yang bisa menolong dan memberikan kita rezeki kecuali Allah Ta’ala? Lantas, mana ajakan kita untuk isti’anah, untuk meminta tolong kepada-Nya? Mana ajakan untuk mengetuk pintu Ar-Razzaq melalui doa? Ingat! Ad-du’a silahul mukmin, doa adalah senjata orang yang punya iman.Maka, prinsip yang benar adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS Al-Qasas: 77)Perhatikan, kejar akhirat, dan jangan lupakan dunia. Jangan dibalik! Alhasil, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan nasihat agama, ajaklah orang untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Ajak mereka salat, ajak mereka berzikir dulu. Barulah setelah itu, dengan kadar yang pas kita dorong mereka untuk giat menggapai dunia dengan tetap menjaga niatnya. Semua ada porsinya masing-masing. Alhasil, baik amalan akhirat maupun aktivitas dunia kita, 24 jam dalam sehari semuanya bernilai ibadah.Perlu dipahami bahwa tulisan ini adalah bentuk kritik sosial dan nasihat tulus guna mewujudkan perbaikan bersama. Semoga Allah memberikan kita taufik agar mampu jujur kepada Allah Ta’ala, juga kepada diri kita sendiri. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Zad Al-Ma’ad, 1: 256.

Stop Normalisasi “Diniatkan Ibadah” sebagai Pemanis Obsesi Duniawi Terselubung

Daftar Isi TogglePotret nasihat agama oknum tokoh publikSebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Allah Ta’ala telah membuka pintu ibadah seluas-luasnya, baik melalui jalur ibadah murni (mahdhah) maupun aktivitas harian (ghairu mahdhah) yang diniatkan secara benar. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang fundamental,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” [1]Terkait pembahasan niat di atas, ada satu fenomena yang perlu kita renungkan bersama. Fenomena ini kerap muncul dari pernyataan sebagian pakar, politisi, akademisi, kalangan profesional, maupun cendekiawan saat berbicara di ruang publik. Bahkan, tanpa sadar ia sering merayap ke dalam obrolan ringan kita selaku rakyat biasa, di ruang tongkrongan atau di sela-sela perbincangan kecil bersama sahabat dan keluarga.Potret nasihat agama oknum tokoh publikMari kita telaah dengan jujur. Dalam perbincangan kita dengan orang lain, adakalanya kita mendapatkan momen untuk memotivasi orang lain, baik berupa dorongan duniawi yang positif maupun nasihat seputar agama dan akhlak. Saat kita mendapatkan kesempatan untuk memotivasi urusan dunia, kadang kita begitu bersemangat membakar jiwa mereka demi mencapai ambisi. “Ayo kerja keras, kerja cerdas! Kita harus adaptif dan solutif! Dunia terus berubah, ia tidak akan menunggu kita. Kita harus menyesuaikan diri atau akan tertinggal,” maupun motivasi lainnya. Kalimat ini tidak salah. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.Masalah muncul ketika orang yang sama mendapat kesempatan memberikan sepatah dua patah kata nasihat agama, mari kita simak apa yang disampaikan, “Aktivitas duniawi kita juga bisa menjadi ibadah di sisi Allah jika kita meniatkannya.” Terkadang kalimat ini pun hanya muncul beberapa menit dari keseluruhan pidato yang amat panjang itu. Setelahnya, dilanjutkan pembahasan yang mayoritas isinya adalah seputar keduniaan. Bahkan, kerap kali kalimat tadi disambung dengan dorongan semacam, “Jangan jadi ritualis! Beragama jangan sekadar ritual saja. Bukankah selain ada hablumminallah, juga ada hablumminannas?” Meskipun bisa saja kita bertanya balik, “Bukankah selain ada hablumminannas, juga ada hablumminallah?”Sekali lagi, nasihat di atas benar secara tekstual. Namun, dikhawatirkan semua itu hanya kalimatul haq yuradu biha al-bathil (perkataannya benar, tetapi maksud halus di baliknya adalah sebuah kekeliruan). Kiranya ingin jujur, mari lihat skala prioritasnya. Saat membicarakan dunia, kita membakar semangat orang lain untuk mengejarnya, sedangkan saat menyampaikan nasihat agama, secara terselubung lagi-lagi kita justru mendorong orang untuk fokus pada dunia! Alhasil, semua yang keluar dari lisan kita adalah dunia. Jarang sekali ada nasihat yang murni terlepas bebas dari urusan keduniaan!Barangkali kita berdalih, “Saya bukan ustaz atau kiai, saya tidak ahli menyampaikan ajaran agama. Biar ahlinya saja.” Pertanyaannya, bukankah menyampaikan ajaran tentang menjaga niat dalam aktivitas dunia, serta konsep hablumminallah dan hablumminannas, juga merupakan bagian dari ajaran agama? Mengapa kita tebang pilih? Lagipula, kiranya oknum ini merasa bukan ahlinya, lantas mengapa berkenan naik ke atas mimbar di hadapan umat saat momen-momen ibadah? Padahal, banyak ajaran agama yang sangat sederhana untuk disampaikan tanpa harus menunggu menjadi ustaz terlebih dahulu. Menyampaikan nasihat agama bukan hanya tugas ustaz dan kyai, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang memiliki iman. Ia adalah bukti pembeda antara hamba yang beruntung dengan mereka yang bangkrut. Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)Maka, sekali lagi, jujurlah pada diri sendiri. Dan yang terpenting, jujurlah kepada Allah! Apakah benar aktivitas duniawi kita sudah benar-benar diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, atau ia hanyalah dalih agar kita bisa terus terobsesi pada dunia tanpa merasa bersalah?Baca juga: Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah: Tulus atau Modus?Sebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Lagipula, mengapa kita begitu tergila-gila pada dunia seolah ia begitu sempurna? Bukankah dunia ini banyak lelahnya? Semakin dewasa, semakin banyak tuntutan yang menghimpit, semakin banyak keputusan pahit yang harus diambil. Hidup di dunia ini sungguh menguras energi. Lantas, bukankah kita adalah umat yang meyakini bahwa salat adalah tempat istirahat dari segala kesulitan dan keletihan itu? Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu,يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” [2]Lalu, mana ajakan kita kepada sesama untuk menunaikan salat? Mengapa hanya strategi sukses dunia yang terus kita gaungkan?Bukankah hidup ini penuh masalah yang memusingkan kepala? Sedangkan tidak ada satu kitab pun yang sanggup menjadi solusi tuntas selain Al-Qur’an? Maka, mana ajakan kita untuk membaca dan merenungi maknanya?Bukankah dunia ini terlalu banyak sakit hatinya? Ketidakadilan di mana-mana, kezaliman datang dari segala arah. Ketidaktenangan yang sering menghantui, sesal atas masa lalu dan cemas akan masa depan. Padahal, tidak ada yang bisa menenangkan hati kecuali berzikir kepada Allah.أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)Selalu motivasi dunia yang disampaikan, entah di mana ajakan zikir itu disembunyikan. Bukankah firman Allah itu benar?وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS An-Nisa: 122) Pembaca sekalian, di dunia yang penuh akan hal di luar kendali kita ini, bukankah salah satu tujuan utama kita banting tulang berjibaku dengan dunia adalah untuk mencari rezeki? Dan bukankah tidak ada yang bisa menolong dan memberikan kita rezeki kecuali Allah Ta’ala? Lantas, mana ajakan kita untuk isti’anah, untuk meminta tolong kepada-Nya? Mana ajakan untuk mengetuk pintu Ar-Razzaq melalui doa? Ingat! Ad-du’a silahul mukmin, doa adalah senjata orang yang punya iman.Maka, prinsip yang benar adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS Al-Qasas: 77)Perhatikan, kejar akhirat, dan jangan lupakan dunia. Jangan dibalik! Alhasil, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan nasihat agama, ajaklah orang untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Ajak mereka salat, ajak mereka berzikir dulu. Barulah setelah itu, dengan kadar yang pas kita dorong mereka untuk giat menggapai dunia dengan tetap menjaga niatnya. Semua ada porsinya masing-masing. Alhasil, baik amalan akhirat maupun aktivitas dunia kita, 24 jam dalam sehari semuanya bernilai ibadah.Perlu dipahami bahwa tulisan ini adalah bentuk kritik sosial dan nasihat tulus guna mewujudkan perbaikan bersama. Semoga Allah memberikan kita taufik agar mampu jujur kepada Allah Ta’ala, juga kepada diri kita sendiri. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Zad Al-Ma’ad, 1: 256.
Daftar Isi TogglePotret nasihat agama oknum tokoh publikSebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Allah Ta’ala telah membuka pintu ibadah seluas-luasnya, baik melalui jalur ibadah murni (mahdhah) maupun aktivitas harian (ghairu mahdhah) yang diniatkan secara benar. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang fundamental,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” [1]Terkait pembahasan niat di atas, ada satu fenomena yang perlu kita renungkan bersama. Fenomena ini kerap muncul dari pernyataan sebagian pakar, politisi, akademisi, kalangan profesional, maupun cendekiawan saat berbicara di ruang publik. Bahkan, tanpa sadar ia sering merayap ke dalam obrolan ringan kita selaku rakyat biasa, di ruang tongkrongan atau di sela-sela perbincangan kecil bersama sahabat dan keluarga.Potret nasihat agama oknum tokoh publikMari kita telaah dengan jujur. Dalam perbincangan kita dengan orang lain, adakalanya kita mendapatkan momen untuk memotivasi orang lain, baik berupa dorongan duniawi yang positif maupun nasihat seputar agama dan akhlak. Saat kita mendapatkan kesempatan untuk memotivasi urusan dunia, kadang kita begitu bersemangat membakar jiwa mereka demi mencapai ambisi. “Ayo kerja keras, kerja cerdas! Kita harus adaptif dan solutif! Dunia terus berubah, ia tidak akan menunggu kita. Kita harus menyesuaikan diri atau akan tertinggal,” maupun motivasi lainnya. Kalimat ini tidak salah. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.Masalah muncul ketika orang yang sama mendapat kesempatan memberikan sepatah dua patah kata nasihat agama, mari kita simak apa yang disampaikan, “Aktivitas duniawi kita juga bisa menjadi ibadah di sisi Allah jika kita meniatkannya.” Terkadang kalimat ini pun hanya muncul beberapa menit dari keseluruhan pidato yang amat panjang itu. Setelahnya, dilanjutkan pembahasan yang mayoritas isinya adalah seputar keduniaan. Bahkan, kerap kali kalimat tadi disambung dengan dorongan semacam, “Jangan jadi ritualis! Beragama jangan sekadar ritual saja. Bukankah selain ada hablumminallah, juga ada hablumminannas?” Meskipun bisa saja kita bertanya balik, “Bukankah selain ada hablumminannas, juga ada hablumminallah?”Sekali lagi, nasihat di atas benar secara tekstual. Namun, dikhawatirkan semua itu hanya kalimatul haq yuradu biha al-bathil (perkataannya benar, tetapi maksud halus di baliknya adalah sebuah kekeliruan). Kiranya ingin jujur, mari lihat skala prioritasnya. Saat membicarakan dunia, kita membakar semangat orang lain untuk mengejarnya, sedangkan saat menyampaikan nasihat agama, secara terselubung lagi-lagi kita justru mendorong orang untuk fokus pada dunia! Alhasil, semua yang keluar dari lisan kita adalah dunia. Jarang sekali ada nasihat yang murni terlepas bebas dari urusan keduniaan!Barangkali kita berdalih, “Saya bukan ustaz atau kiai, saya tidak ahli menyampaikan ajaran agama. Biar ahlinya saja.” Pertanyaannya, bukankah menyampaikan ajaran tentang menjaga niat dalam aktivitas dunia, serta konsep hablumminallah dan hablumminannas, juga merupakan bagian dari ajaran agama? Mengapa kita tebang pilih? Lagipula, kiranya oknum ini merasa bukan ahlinya, lantas mengapa berkenan naik ke atas mimbar di hadapan umat saat momen-momen ibadah? Padahal, banyak ajaran agama yang sangat sederhana untuk disampaikan tanpa harus menunggu menjadi ustaz terlebih dahulu. Menyampaikan nasihat agama bukan hanya tugas ustaz dan kyai, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang memiliki iman. Ia adalah bukti pembeda antara hamba yang beruntung dengan mereka yang bangkrut. Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)Maka, sekali lagi, jujurlah pada diri sendiri. Dan yang terpenting, jujurlah kepada Allah! Apakah benar aktivitas duniawi kita sudah benar-benar diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, atau ia hanyalah dalih agar kita bisa terus terobsesi pada dunia tanpa merasa bersalah?Baca juga: Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah: Tulus atau Modus?Sebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Lagipula, mengapa kita begitu tergila-gila pada dunia seolah ia begitu sempurna? Bukankah dunia ini banyak lelahnya? Semakin dewasa, semakin banyak tuntutan yang menghimpit, semakin banyak keputusan pahit yang harus diambil. Hidup di dunia ini sungguh menguras energi. Lantas, bukankah kita adalah umat yang meyakini bahwa salat adalah tempat istirahat dari segala kesulitan dan keletihan itu? Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu,يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” [2]Lalu, mana ajakan kita kepada sesama untuk menunaikan salat? Mengapa hanya strategi sukses dunia yang terus kita gaungkan?Bukankah hidup ini penuh masalah yang memusingkan kepala? Sedangkan tidak ada satu kitab pun yang sanggup menjadi solusi tuntas selain Al-Qur’an? Maka, mana ajakan kita untuk membaca dan merenungi maknanya?Bukankah dunia ini terlalu banyak sakit hatinya? Ketidakadilan di mana-mana, kezaliman datang dari segala arah. Ketidaktenangan yang sering menghantui, sesal atas masa lalu dan cemas akan masa depan. Padahal, tidak ada yang bisa menenangkan hati kecuali berzikir kepada Allah.أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)Selalu motivasi dunia yang disampaikan, entah di mana ajakan zikir itu disembunyikan. Bukankah firman Allah itu benar?وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS An-Nisa: 122) Pembaca sekalian, di dunia yang penuh akan hal di luar kendali kita ini, bukankah salah satu tujuan utama kita banting tulang berjibaku dengan dunia adalah untuk mencari rezeki? Dan bukankah tidak ada yang bisa menolong dan memberikan kita rezeki kecuali Allah Ta’ala? Lantas, mana ajakan kita untuk isti’anah, untuk meminta tolong kepada-Nya? Mana ajakan untuk mengetuk pintu Ar-Razzaq melalui doa? Ingat! Ad-du’a silahul mukmin, doa adalah senjata orang yang punya iman.Maka, prinsip yang benar adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS Al-Qasas: 77)Perhatikan, kejar akhirat, dan jangan lupakan dunia. Jangan dibalik! Alhasil, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan nasihat agama, ajaklah orang untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Ajak mereka salat, ajak mereka berzikir dulu. Barulah setelah itu, dengan kadar yang pas kita dorong mereka untuk giat menggapai dunia dengan tetap menjaga niatnya. Semua ada porsinya masing-masing. Alhasil, baik amalan akhirat maupun aktivitas dunia kita, 24 jam dalam sehari semuanya bernilai ibadah.Perlu dipahami bahwa tulisan ini adalah bentuk kritik sosial dan nasihat tulus guna mewujudkan perbaikan bersama. Semoga Allah memberikan kita taufik agar mampu jujur kepada Allah Ta’ala, juga kepada diri kita sendiri. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Zad Al-Ma’ad, 1: 256.


Daftar Isi TogglePotret nasihat agama oknum tokoh publikSebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Allah Ta’ala telah membuka pintu ibadah seluas-luasnya, baik melalui jalur ibadah murni (mahdhah) maupun aktivitas harian (ghairu mahdhah) yang diniatkan secara benar. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang fundamental,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.” [1]Terkait pembahasan niat di atas, ada satu fenomena yang perlu kita renungkan bersama. Fenomena ini kerap muncul dari pernyataan sebagian pakar, politisi, akademisi, kalangan profesional, maupun cendekiawan saat berbicara di ruang publik. Bahkan, tanpa sadar ia sering merayap ke dalam obrolan ringan kita selaku rakyat biasa, di ruang tongkrongan atau di sela-sela perbincangan kecil bersama sahabat dan keluarga.Potret nasihat agama oknum tokoh publikMari kita telaah dengan jujur. Dalam perbincangan kita dengan orang lain, adakalanya kita mendapatkan momen untuk memotivasi orang lain, baik berupa dorongan duniawi yang positif maupun nasihat seputar agama dan akhlak. Saat kita mendapatkan kesempatan untuk memotivasi urusan dunia, kadang kita begitu bersemangat membakar jiwa mereka demi mencapai ambisi. “Ayo kerja keras, kerja cerdas! Kita harus adaptif dan solutif! Dunia terus berubah, ia tidak akan menunggu kita. Kita harus menyesuaikan diri atau akan tertinggal,” maupun motivasi lainnya. Kalimat ini tidak salah. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.Masalah muncul ketika orang yang sama mendapat kesempatan memberikan sepatah dua patah kata nasihat agama, mari kita simak apa yang disampaikan, “Aktivitas duniawi kita juga bisa menjadi ibadah di sisi Allah jika kita meniatkannya.” Terkadang kalimat ini pun hanya muncul beberapa menit dari keseluruhan pidato yang amat panjang itu. Setelahnya, dilanjutkan pembahasan yang mayoritas isinya adalah seputar keduniaan. Bahkan, kerap kali kalimat tadi disambung dengan dorongan semacam, “Jangan jadi ritualis! Beragama jangan sekadar ritual saja. Bukankah selain ada hablumminallah, juga ada hablumminannas?” Meskipun bisa saja kita bertanya balik, “Bukankah selain ada hablumminannas, juga ada hablumminallah?”Sekali lagi, nasihat di atas benar secara tekstual. Namun, dikhawatirkan semua itu hanya kalimatul haq yuradu biha al-bathil (perkataannya benar, tetapi maksud halus di baliknya adalah sebuah kekeliruan). Kiranya ingin jujur, mari lihat skala prioritasnya. Saat membicarakan dunia, kita membakar semangat orang lain untuk mengejarnya, sedangkan saat menyampaikan nasihat agama, secara terselubung lagi-lagi kita justru mendorong orang untuk fokus pada dunia! Alhasil, semua yang keluar dari lisan kita adalah dunia. Jarang sekali ada nasihat yang murni terlepas bebas dari urusan keduniaan!Barangkali kita berdalih, “Saya bukan ustaz atau kiai, saya tidak ahli menyampaikan ajaran agama. Biar ahlinya saja.” Pertanyaannya, bukankah menyampaikan ajaran tentang menjaga niat dalam aktivitas dunia, serta konsep hablumminallah dan hablumminannas, juga merupakan bagian dari ajaran agama? Mengapa kita tebang pilih? Lagipula, kiranya oknum ini merasa bukan ahlinya, lantas mengapa berkenan naik ke atas mimbar di hadapan umat saat momen-momen ibadah? Padahal, banyak ajaran agama yang sangat sederhana untuk disampaikan tanpa harus menunggu menjadi ustaz terlebih dahulu. Menyampaikan nasihat agama bukan hanya tugas ustaz dan kyai, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang memiliki iman. Ia adalah bukti pembeda antara hamba yang beruntung dengan mereka yang bangkrut. Allah Ta’ala berfirman,وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)Maka, sekali lagi, jujurlah pada diri sendiri. Dan yang terpenting, jujurlah kepada Allah! Apakah benar aktivitas duniawi kita sudah benar-benar diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya, atau ia hanyalah dalih agar kita bisa terus terobsesi pada dunia tanpa merasa bersalah?Baca juga: Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah: Tulus atau Modus?Sebegitu sempurnakah dunia di mata kita?Lagipula, mengapa kita begitu tergila-gila pada dunia seolah ia begitu sempurna? Bukankah dunia ini banyak lelahnya? Semakin dewasa, semakin banyak tuntutan yang menghimpit, semakin banyak keputusan pahit yang harus diambil. Hidup di dunia ini sungguh menguras energi. Lantas, bukankah kita adalah umat yang meyakini bahwa salat adalah tempat istirahat dari segala kesulitan dan keletihan itu? Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu,يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” [2]Lalu, mana ajakan kita kepada sesama untuk menunaikan salat? Mengapa hanya strategi sukses dunia yang terus kita gaungkan?Bukankah hidup ini penuh masalah yang memusingkan kepala? Sedangkan tidak ada satu kitab pun yang sanggup menjadi solusi tuntas selain Al-Qur’an? Maka, mana ajakan kita untuk membaca dan merenungi maknanya?Bukankah dunia ini terlalu banyak sakit hatinya? Ketidakadilan di mana-mana, kezaliman datang dari segala arah. Ketidaktenangan yang sering menghantui, sesal atas masa lalu dan cemas akan masa depan. Padahal, tidak ada yang bisa menenangkan hati kecuali berzikir kepada Allah.أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)Selalu motivasi dunia yang disampaikan, entah di mana ajakan zikir itu disembunyikan. Bukankah firman Allah itu benar?وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS An-Nisa: 122) Pembaca sekalian, di dunia yang penuh akan hal di luar kendali kita ini, bukankah salah satu tujuan utama kita banting tulang berjibaku dengan dunia adalah untuk mencari rezeki? Dan bukankah tidak ada yang bisa menolong dan memberikan kita rezeki kecuali Allah Ta’ala? Lantas, mana ajakan kita untuk isti’anah, untuk meminta tolong kepada-Nya? Mana ajakan untuk mengetuk pintu Ar-Razzaq melalui doa? Ingat! Ad-du’a silahul mukmin, doa adalah senjata orang yang punya iman.Maka, prinsip yang benar adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS Al-Qasas: 77)Perhatikan, kejar akhirat, dan jangan lupakan dunia. Jangan dibalik! Alhasil, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan nasihat agama, ajaklah orang untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Ajak mereka salat, ajak mereka berzikir dulu. Barulah setelah itu, dengan kadar yang pas kita dorong mereka untuk giat menggapai dunia dengan tetap menjaga niatnya. Semua ada porsinya masing-masing. Alhasil, baik amalan akhirat maupun aktivitas dunia kita, 24 jam dalam sehari semuanya bernilai ibadah.Perlu dipahami bahwa tulisan ini adalah bentuk kritik sosial dan nasihat tulus guna mewujudkan perbaikan bersama. Semoga Allah memberikan kita taufik agar mampu jujur kepada Allah Ta’ala, juga kepada diri kita sendiri. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.[2] HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Zad Al-Ma’ad, 1: 256.
Prev     Next