Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ
Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ


Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ

Rahasia Sayyidul Istighfar

Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346

Rahasia Sayyidul Istighfar

Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346
Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346


Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ
Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ


Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ

Jadilah Hamba Allah Yang Bersyukur

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas terkait hamba yang bersyukur. Berikut pembahasan lengkapnya.Apakah Makna Syukur?Syukur secara bahasa,الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).Syukur Adalah Salah Satu Sifat AllahKetahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun: 17).Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141).Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.Baca Juga: Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan SyukurSyukur Adalah Sifat Para NabiSenantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah, walau cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,ذرية من حملنا مع نوح إنه كان عبدا شكور“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).Allah Ta’ala menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين* شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus” (QS. An-Nahl: 120-121).Dan inilah dia sayyidul anbiya, pemimpin para Nabi, Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).Syukur Adalah IbadahAllah Ta’ala dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)Allah Ta’ala juga berfirman,يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.Buah Manis dari Syukur Syukur Adalah Sifat Orang Beriman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692). Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah Allah Ta’ala berfirman,وإن تشكروا يرضه لكم“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7). Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah Allah Ta’ala berfirman,ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147). Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat Allah Ta’ala berfirman,وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7). Ganjaran Di Dunia dan Akhirat Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman,وسنجزي الشاكرين“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).Baca Juga: Memahami SyukurTanda-Tanda Hamba yang Bersyukur Mengakui dan Menyadari Bahwa Allah Telah Memberinya Nikmat Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata,مُطِرَ النَّاسُ على عهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أصبحَ منَ النَّاسِ شاكرٌ ومنهم كافرٌ قالوا هذهِ رحمةُ اللَّهِ وقالَ بعضُهم لقد صدقَ نوءُ كذا وكذا“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.73). Menyebut-Nyebut Nikmat yang Diberikan Allah Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. “Saya sedang sakit ini.” “Saya baru dapat musibah itu..” “Saya kemarin rugi sekian rupiah..”, dll. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha: 11).Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri). Menunjukkan Rasa Syukur dalam Bentuk Ketaatan kepada Allah Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan berzakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran: 123).Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.Tips Agar Menjadi Hamba yang Bersyukur Senantiasa Berterima Kasih kepada Orang Lain Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,لا يشكر الله من لا يشكر الناس“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).Beliau juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” (HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَن صُنِعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلِهِ : جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Merenungkan Nikmat-Nikmat Allah Dalam Al-Qur’an sering kali Allah menggugah hati manusia bahwa banyak sekali nikmat yang Ia limpahkan sejak kita datang ke dunia ini, agar kita sadar dan bersyukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78). Qana’ah Senantiasa merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita membuat kita selalu bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, orang yang senantiasa merasa tidak puas, merasa kekurangan, ia merasa Allah tidak pernah memberi kenikmatan kepadanya sedikitpun. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ“Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur”(HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah). Sujud Syukur Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mendapat kenikmatan yang begitu besar adalah dengan melakukan sujud syukur.عن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جاءه أمر بشر به خر ساجدا؛ شاكرا لله“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits Radhiallahu’anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah” (HR. Abu Daud no.2776, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil). Berdzikir Berdzikir dan memuji Allah adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ada beberapa dzikir tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah khusus mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,من قال حين يصبح: اللهم ما أصبح بي من نعمة أو بأحد من خلقك فمنك وحدك لا شريك لك، فلك الحمد ولك الشكر. فقد أدى شكر يومه، ومن قال ذلك حين يمسي فقد أدى شكر ليلته“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.” (Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu) Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin).Baca Juga: Syukur di Kala Meraih SuksesCara Bersyukur yang Salah Bersyukur kepada Selain Allah Sebagian orang ketika mendapat kenikmatan, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada selain Allah, semisal kepada jin yang mengaku penguasa lautan, kepada berhala yang dianggap dewa bumi, atau kepada sesembahan lain selain Allah. Kita katakan kepada mereka,أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Apakah engkau kufur kepada Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian mengubahnya menjadi nutfah lalu menjadikanmu sebagai manusia?” (QS. Al-Kahfi: 37).Allah Ta’ala yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dari Allah sematalah segala kenikmatan, maka sungguh ‘tidak tahu terima kasih’ jika kita bersyukur kepada selain Allah. Dan telah kita ketahui bersama bahwa syukur adalah ibadah. Dan ibadah hanya pantas dan layak kita persembahkan kepada Allah semata. Tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala juga berfirman,بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur” (QS. Az-Zumar: 66). Ritualiasasi Rasa Syukur yang Tidak Diajarkan Agama Mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual sah-sah saja selama ritual tersebut diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Misalnya dengan sujud syukur atau dengan melafalkan dzikir. Andaikan ada bentuk lain ritual rasa syukur yang baik untuk dilakukan tentu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Lebih lagi sahabat Nabi yang paling fasih dalam urusan agama, paling bersyukur diantara ummat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, yang mereka jumlahnya puluhan ribu dan di antara mereka ada yang masih hidup satu abad setelah Rasulullah wafat, sebanyak dan selama itu tidak ada seorang pun yang terpikir untuk membuat ritual semacam perayaan hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan, syukuran rumah baru, sebagai bentuk rasa syukur mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari no.20, Muslim no.4590).Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar***Disarikan artikel berjudul ‘Asy Syukru’ karya Syaikh Dr. Mihran Mahir Utsman hafizhahullah dengan beberapa tambahan. Artikel asli: saaid.netPenyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Jadilah Hamba Allah Yang Bersyukur

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas terkait hamba yang bersyukur. Berikut pembahasan lengkapnya.Apakah Makna Syukur?Syukur secara bahasa,الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).Syukur Adalah Salah Satu Sifat AllahKetahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun: 17).Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141).Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.Baca Juga: Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan SyukurSyukur Adalah Sifat Para NabiSenantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah, walau cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,ذرية من حملنا مع نوح إنه كان عبدا شكور“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).Allah Ta’ala menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين* شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus” (QS. An-Nahl: 120-121).Dan inilah dia sayyidul anbiya, pemimpin para Nabi, Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).Syukur Adalah IbadahAllah Ta’ala dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)Allah Ta’ala juga berfirman,يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.Buah Manis dari Syukur Syukur Adalah Sifat Orang Beriman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692). Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah Allah Ta’ala berfirman,وإن تشكروا يرضه لكم“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7). Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah Allah Ta’ala berfirman,ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147). Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat Allah Ta’ala berfirman,وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7). Ganjaran Di Dunia dan Akhirat Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman,وسنجزي الشاكرين“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).Baca Juga: Memahami SyukurTanda-Tanda Hamba yang Bersyukur Mengakui dan Menyadari Bahwa Allah Telah Memberinya Nikmat Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata,مُطِرَ النَّاسُ على عهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أصبحَ منَ النَّاسِ شاكرٌ ومنهم كافرٌ قالوا هذهِ رحمةُ اللَّهِ وقالَ بعضُهم لقد صدقَ نوءُ كذا وكذا“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.73). Menyebut-Nyebut Nikmat yang Diberikan Allah Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. “Saya sedang sakit ini.” “Saya baru dapat musibah itu..” “Saya kemarin rugi sekian rupiah..”, dll. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha: 11).Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri). Menunjukkan Rasa Syukur dalam Bentuk Ketaatan kepada Allah Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan berzakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran: 123).Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.Tips Agar Menjadi Hamba yang Bersyukur Senantiasa Berterima Kasih kepada Orang Lain Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,لا يشكر الله من لا يشكر الناس“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).Beliau juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” (HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَن صُنِعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلِهِ : جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Merenungkan Nikmat-Nikmat Allah Dalam Al-Qur’an sering kali Allah menggugah hati manusia bahwa banyak sekali nikmat yang Ia limpahkan sejak kita datang ke dunia ini, agar kita sadar dan bersyukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78). Qana’ah Senantiasa merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita membuat kita selalu bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, orang yang senantiasa merasa tidak puas, merasa kekurangan, ia merasa Allah tidak pernah memberi kenikmatan kepadanya sedikitpun. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ“Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur”(HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah). Sujud Syukur Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mendapat kenikmatan yang begitu besar adalah dengan melakukan sujud syukur.عن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جاءه أمر بشر به خر ساجدا؛ شاكرا لله“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits Radhiallahu’anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah” (HR. Abu Daud no.2776, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil). Berdzikir Berdzikir dan memuji Allah adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ada beberapa dzikir tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah khusus mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,من قال حين يصبح: اللهم ما أصبح بي من نعمة أو بأحد من خلقك فمنك وحدك لا شريك لك، فلك الحمد ولك الشكر. فقد أدى شكر يومه، ومن قال ذلك حين يمسي فقد أدى شكر ليلته“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.” (Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu) Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin).Baca Juga: Syukur di Kala Meraih SuksesCara Bersyukur yang Salah Bersyukur kepada Selain Allah Sebagian orang ketika mendapat kenikmatan, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada selain Allah, semisal kepada jin yang mengaku penguasa lautan, kepada berhala yang dianggap dewa bumi, atau kepada sesembahan lain selain Allah. Kita katakan kepada mereka,أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Apakah engkau kufur kepada Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian mengubahnya menjadi nutfah lalu menjadikanmu sebagai manusia?” (QS. Al-Kahfi: 37).Allah Ta’ala yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dari Allah sematalah segala kenikmatan, maka sungguh ‘tidak tahu terima kasih’ jika kita bersyukur kepada selain Allah. Dan telah kita ketahui bersama bahwa syukur adalah ibadah. Dan ibadah hanya pantas dan layak kita persembahkan kepada Allah semata. Tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala juga berfirman,بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur” (QS. Az-Zumar: 66). Ritualiasasi Rasa Syukur yang Tidak Diajarkan Agama Mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual sah-sah saja selama ritual tersebut diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Misalnya dengan sujud syukur atau dengan melafalkan dzikir. Andaikan ada bentuk lain ritual rasa syukur yang baik untuk dilakukan tentu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Lebih lagi sahabat Nabi yang paling fasih dalam urusan agama, paling bersyukur diantara ummat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, yang mereka jumlahnya puluhan ribu dan di antara mereka ada yang masih hidup satu abad setelah Rasulullah wafat, sebanyak dan selama itu tidak ada seorang pun yang terpikir untuk membuat ritual semacam perayaan hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan, syukuran rumah baru, sebagai bentuk rasa syukur mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari no.20, Muslim no.4590).Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar***Disarikan artikel berjudul ‘Asy Syukru’ karya Syaikh Dr. Mihran Mahir Utsman hafizhahullah dengan beberapa tambahan. Artikel asli: saaid.netPenyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas terkait hamba yang bersyukur. Berikut pembahasan lengkapnya.Apakah Makna Syukur?Syukur secara bahasa,الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).Syukur Adalah Salah Satu Sifat AllahKetahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun: 17).Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141).Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.Baca Juga: Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan SyukurSyukur Adalah Sifat Para NabiSenantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah, walau cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,ذرية من حملنا مع نوح إنه كان عبدا شكور“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).Allah Ta’ala menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين* شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus” (QS. An-Nahl: 120-121).Dan inilah dia sayyidul anbiya, pemimpin para Nabi, Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).Syukur Adalah IbadahAllah Ta’ala dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)Allah Ta’ala juga berfirman,يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.Buah Manis dari Syukur Syukur Adalah Sifat Orang Beriman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692). Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah Allah Ta’ala berfirman,وإن تشكروا يرضه لكم“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7). Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah Allah Ta’ala berfirman,ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147). Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat Allah Ta’ala berfirman,وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7). Ganjaran Di Dunia dan Akhirat Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman,وسنجزي الشاكرين“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).Baca Juga: Memahami SyukurTanda-Tanda Hamba yang Bersyukur Mengakui dan Menyadari Bahwa Allah Telah Memberinya Nikmat Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata,مُطِرَ النَّاسُ على عهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أصبحَ منَ النَّاسِ شاكرٌ ومنهم كافرٌ قالوا هذهِ رحمةُ اللَّهِ وقالَ بعضُهم لقد صدقَ نوءُ كذا وكذا“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.73). Menyebut-Nyebut Nikmat yang Diberikan Allah Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. “Saya sedang sakit ini.” “Saya baru dapat musibah itu..” “Saya kemarin rugi sekian rupiah..”, dll. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha: 11).Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri). Menunjukkan Rasa Syukur dalam Bentuk Ketaatan kepada Allah Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan berzakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran: 123).Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.Tips Agar Menjadi Hamba yang Bersyukur Senantiasa Berterima Kasih kepada Orang Lain Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,لا يشكر الله من لا يشكر الناس“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).Beliau juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” (HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَن صُنِعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلِهِ : جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Merenungkan Nikmat-Nikmat Allah Dalam Al-Qur’an sering kali Allah menggugah hati manusia bahwa banyak sekali nikmat yang Ia limpahkan sejak kita datang ke dunia ini, agar kita sadar dan bersyukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78). Qana’ah Senantiasa merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita membuat kita selalu bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, orang yang senantiasa merasa tidak puas, merasa kekurangan, ia merasa Allah tidak pernah memberi kenikmatan kepadanya sedikitpun. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ“Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur”(HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah). Sujud Syukur Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mendapat kenikmatan yang begitu besar adalah dengan melakukan sujud syukur.عن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جاءه أمر بشر به خر ساجدا؛ شاكرا لله“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits Radhiallahu’anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah” (HR. Abu Daud no.2776, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil). Berdzikir Berdzikir dan memuji Allah adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ada beberapa dzikir tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah khusus mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,من قال حين يصبح: اللهم ما أصبح بي من نعمة أو بأحد من خلقك فمنك وحدك لا شريك لك، فلك الحمد ولك الشكر. فقد أدى شكر يومه، ومن قال ذلك حين يمسي فقد أدى شكر ليلته“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.” (Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu) Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin).Baca Juga: Syukur di Kala Meraih SuksesCara Bersyukur yang Salah Bersyukur kepada Selain Allah Sebagian orang ketika mendapat kenikmatan, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada selain Allah, semisal kepada jin yang mengaku penguasa lautan, kepada berhala yang dianggap dewa bumi, atau kepada sesembahan lain selain Allah. Kita katakan kepada mereka,أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Apakah engkau kufur kepada Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian mengubahnya menjadi nutfah lalu menjadikanmu sebagai manusia?” (QS. Al-Kahfi: 37).Allah Ta’ala yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dari Allah sematalah segala kenikmatan, maka sungguh ‘tidak tahu terima kasih’ jika kita bersyukur kepada selain Allah. Dan telah kita ketahui bersama bahwa syukur adalah ibadah. Dan ibadah hanya pantas dan layak kita persembahkan kepada Allah semata. Tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala juga berfirman,بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur” (QS. Az-Zumar: 66). Ritualiasasi Rasa Syukur yang Tidak Diajarkan Agama Mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual sah-sah saja selama ritual tersebut diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Misalnya dengan sujud syukur atau dengan melafalkan dzikir. Andaikan ada bentuk lain ritual rasa syukur yang baik untuk dilakukan tentu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Lebih lagi sahabat Nabi yang paling fasih dalam urusan agama, paling bersyukur diantara ummat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, yang mereka jumlahnya puluhan ribu dan di antara mereka ada yang masih hidup satu abad setelah Rasulullah wafat, sebanyak dan selama itu tidak ada seorang pun yang terpikir untuk membuat ritual semacam perayaan hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan, syukuran rumah baru, sebagai bentuk rasa syukur mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari no.20, Muslim no.4590).Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar***Disarikan artikel berjudul ‘Asy Syukru’ karya Syaikh Dr. Mihran Mahir Utsman hafizhahullah dengan beberapa tambahan. Artikel asli: saaid.netPenyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas terkait hamba yang bersyukur. Berikut pembahasan lengkapnya.Apakah Makna Syukur?Syukur secara bahasa,الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).Syukur Adalah Salah Satu Sifat AllahKetahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun: 17).Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141).Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.Baca Juga: Melestarikan Tauhid Dengan Dzikir dan SyukurSyukur Adalah Sifat Para NabiSenantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah, walau cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,ذرية من حملنا مع نوح إنه كان عبدا شكور“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).Allah Ta’ala menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين* شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus” (QS. An-Nahl: 120-121).Dan inilah dia sayyidul anbiya, pemimpin para Nabi, Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).Syukur Adalah IbadahAllah Ta’ala dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)Allah Ta’ala juga berfirman,يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.Buah Manis dari Syukur Syukur Adalah Sifat Orang Beriman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692). Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah Allah Ta’ala berfirman,وإن تشكروا يرضه لكم“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7). Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah Allah Ta’ala berfirman,ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147). Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat Allah Ta’ala berfirman,وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7). Ganjaran Di Dunia dan Akhirat Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman,وسنجزي الشاكرين“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).Baca Juga: Memahami SyukurTanda-Tanda Hamba yang Bersyukur Mengakui dan Menyadari Bahwa Allah Telah Memberinya Nikmat Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata,مُطِرَ النَّاسُ على عهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أصبحَ منَ النَّاسِ شاكرٌ ومنهم كافرٌ قالوا هذهِ رحمةُ اللَّهِ وقالَ بعضُهم لقد صدقَ نوءُ كذا وكذا“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.73). Menyebut-Nyebut Nikmat yang Diberikan Allah Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. “Saya sedang sakit ini.” “Saya baru dapat musibah itu..” “Saya kemarin rugi sekian rupiah..”, dll. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha: 11).Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri). Menunjukkan Rasa Syukur dalam Bentuk Ketaatan kepada Allah Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan berzakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran: 123).Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.Tips Agar Menjadi Hamba yang Bersyukur Senantiasa Berterima Kasih kepada Orang Lain Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,لا يشكر الله من لا يشكر الناس“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).Beliau juga bersabda,مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” (HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَن صُنِعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلِهِ : جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Merenungkan Nikmat-Nikmat Allah Dalam Al-Qur’an sering kali Allah menggugah hati manusia bahwa banyak sekali nikmat yang Ia limpahkan sejak kita datang ke dunia ini, agar kita sadar dan bersyukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78). Qana’ah Senantiasa merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita membuat kita selalu bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, orang yang senantiasa merasa tidak puas, merasa kekurangan, ia merasa Allah tidak pernah memberi kenikmatan kepadanya sedikitpun. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ“Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur”(HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah). Sujud Syukur Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mendapat kenikmatan yang begitu besar adalah dengan melakukan sujud syukur.عن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جاءه أمر بشر به خر ساجدا؛ شاكرا لله“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits Radhiallahu’anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah” (HR. Abu Daud no.2776, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil). Berdzikir Berdzikir dan memuji Allah adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ada beberapa dzikir tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah khusus mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,من قال حين يصبح: اللهم ما أصبح بي من نعمة أو بأحد من خلقك فمنك وحدك لا شريك لك، فلك الحمد ولك الشكر. فقد أدى شكر يومه، ومن قال ذلك حين يمسي فقد أدى شكر ليلته“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.” (Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu) Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin).Baca Juga: Syukur di Kala Meraih SuksesCara Bersyukur yang Salah Bersyukur kepada Selain Allah Sebagian orang ketika mendapat kenikmatan, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada selain Allah, semisal kepada jin yang mengaku penguasa lautan, kepada berhala yang dianggap dewa bumi, atau kepada sesembahan lain selain Allah. Kita katakan kepada mereka,أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا“Apakah engkau kufur kepada Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian mengubahnya menjadi nutfah lalu menjadikanmu sebagai manusia?” (QS. Al-Kahfi: 37).Allah Ta’ala yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dari Allah sematalah segala kenikmatan, maka sungguh ‘tidak tahu terima kasih’ jika kita bersyukur kepada selain Allah. Dan telah kita ketahui bersama bahwa syukur adalah ibadah. Dan ibadah hanya pantas dan layak kita persembahkan kepada Allah semata. Tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala juga berfirman,بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur” (QS. Az-Zumar: 66). Ritualiasasi Rasa Syukur yang Tidak Diajarkan Agama Mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual sah-sah saja selama ritual tersebut diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Misalnya dengan sujud syukur atau dengan melafalkan dzikir. Andaikan ada bentuk lain ritual rasa syukur yang baik untuk dilakukan tentu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Lebih lagi sahabat Nabi yang paling fasih dalam urusan agama, paling bersyukur diantara ummat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, yang mereka jumlahnya puluhan ribu dan di antara mereka ada yang masih hidup satu abad setelah Rasulullah wafat, sebanyak dan selama itu tidak ada seorang pun yang terpikir untuk membuat ritual semacam perayaan hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan, syukuran rumah baru, sebagai bentuk rasa syukur mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari no.20, Muslim no.4590).Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”Baca Juga: Rahasia Syukur, Sabar, dan Istighfar***Disarikan artikel berjudul ‘Asy Syukru’ karya Syaikh Dr. Mihran Mahir Utsman hafizhahullah dengan beberapa tambahan. Artikel asli: saaid.netPenyusun: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Laki-laki Pelindung Bagi Wanita – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Laki-laki Pelindung Bagi Wanita – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Laki-laki Pelindung Bagi Wanita – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Laki-laki Pelindung Bagi Wanita – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/
Laki-laki Pelindung Bagi Wanita – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/


Laki-laki Pelindung Bagi Wanita – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam Kitab Tauhid dengan judul:من الشرك النذر لغير الله“Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allah”Maksud syirik di sini adalah syirik besar. Mempersembahkan nadzar kepada selain Allah adalah syirik besar karena nadzar termasuk ke dalam ibadah.Definisi nadzarDefinisi nadzar yaitu seseorang mengharuskan kepada dirinya sendiri sesuatu yang hukum asalnya tidak wajib baginya, baik secara mutlaq (tanpa syarat) maupun muqoyyad (bersyarat).– Contoh nadzar mutlaq (tanpa syarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”– Contoh nadzar muqoyyad (bersyarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.”Perbedaan antara ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzarIbadah nadzar adalah ucapan seseorang ketika bernadzar. Misalnya, saya bernadzar menghatamkan Alquran untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.Ibadah penunaian nadzar dalam kasus di atas adalah menghatamkan Alquran ketika ia sembuh, dengan niat menunaikan nadzar tersebut.Ibadah nadzar, baik jenis mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Demikian pula ibadah penunaian nadzar, baik jenis penunaian nadzar mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzar yang dipersembahkan kepada Allah semata merupakan ibadah tauhid. Sedangkan jika keduanya dipersembahkan kepada selain-Nya, merupakan ibadah syirik.Kapan nadzar dikatakan ibadah, makruh, ataupun syirik?Pertama, nadzar mutlaq yang bernilai ibadah tauhid adalah jika bernadzar untuk Allah semata.Contoh: “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”Sedangkan nadzar mutlaq yang termasuk syirik apabila bernadzar untuk mayyit, jin penunggu/penguasa pantai selatan, wali/kyai fulan yang sudah meninggal dunia, dan bentuk yang ditujukan kepada selain Allah, dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada hal tersebut.Contoh: “Saya bernadzar menyembelih sapi untuk jin desa ini.”Kedua, penunaian nadzar mutlaq (tanpa syarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar mutlaq untuk jin, malaikat, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya adalah syirik.Ketiga, penunaian nadzar muqoyyad (bersyarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar muqoyyad untuk sunan fulan (mayyit), Ali bin Abi Tholib, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya, merupakan syirik.Keempat, adapun untuk nadzar muqoyyad, maka hukumnya makruh, ditinjau dari sisi keyakinan dan pensyaratan, bukan ditinjau dari sisi asal ibadah nadzar.Namun jika ditinjau dari sisi asal ibadah, maka nadzar muqoyyad itu ibadah yang harus dipersembahkan untuk Allah semata. Adapun nadzar muqoyyad bentuk yang syirik adalah dipersembahkan untuk selain Allah.Perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiatJika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiat dapat ditinjau sebagai berikut:Berdasarkan tujuan– Nadzar syirik adalah nadzar yang dipersembahkan untuk selain Allah. Tujuannya ber-taqarrub dan beribadah kepada selain Allah. Maka ini syirik besar.– Nadzar maksiat adalah nadzar untuk Allah, namun isi nadzarnya maksiat.Berdasarkan lafaz– Contoh lafaz nadzar syirik misalnya, “Saya bernadzar puasa untuk penghuni kubur ini.”– Contoh lafaz nadzar maksiat misalnya, “Saya bernadzar kepada Allah akan pesta miras jika lulus ujian.”Berdasarkan keabsahan– Nadzar maksiat itu sah, tapi tidak boleh dilaksanakan. Pelakunya wajib bertaubat dan menebus kaffarah.– Nadzar syirik besar itu tidak sah dan tidak ada kewajiban kaffarah. Hanya saja pelakunya murtad dan wajib taubat darinya.Berdasarkan jenis dosanya– Nadzar syirik adalah jenis dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu termasuk syirik besar.– Nadzar maksiat adalah jenis dosa yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu bukan termasuk syirik besar.Dalil-dalil tentang nadzar dan memenuhi nadzarSyekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam kitabnya Kitab Tauhid. Dalam bab tersebut menunjukkan bahwa nadzar dan memenuhi nadzar merupakan bentuk ibadah. Beliau menyebutkan 3 dalil dalam bab tersebut, yakni:Baca Juga: Nadzar dalam SorotanDalil pertama, QS. Al-Insan ayat 7 Untuk memahami ayat ke-7 ini, perlu mengetahui sebagian ayat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur” (QS. Al-Insan: 5).عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا“(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Insan: 6).يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” (QS. Al-Insan: 7).Pada Al-Insan ayat 5 sampai dengan 7 menyebutkan pujian terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan.Pujian Allah kepada mereka salah satunya disebabkan karena mereka memenuhi nadzar. Hal ini menunjukkan memenuhi nadzar adalah ibadah. Wasilah (sarana) kepada suatu ibadah merupakan ibadah. Sehingga wasilah memenuhi nadzar juga termasuk ibadah. Sehingga seseorang telah melakukan kesyirikan apabila dia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah. Sedangkan seseorang dikatakan ibadah dan mentauhidkan Allah apabila dia bernadzar dan dipersembahkan untuk Allah semata.Kesimpulan: baik nadzar maupun memenuhi nadzar, maka keduanya adalah ibadah.Baca Juga: Letak Pentingnya Tauhid dan KeimananDalil kedua, QS. Al Baqarah ayat 270وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al-Baqarah: 270).Pada ayat ini Allah Ta’ala mengorelasikan antara nadzar dengan ilmu-Nya. Maksud dari ayat ini adalah Allah akan memberikan jazaa’ (pahala) yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang bernadzar karena Allah mengetahui nadzar hamba-Nya. Tidaklah sesuatu dijanjikan pahala bagi pelakunya, kecuali sesuatu itu termasuk ibadah. Dimana jika ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.Kesimpulan: nadzar itu ibadah. Dikatakan tauhid jika seseorang bernadzar untuk Allah. Sedangkan dikatakan syirik apabila bernadzar untuk selain Allah.Dalil ketiga, hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anhaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«من نذر أن يطيع الله، فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله، فلا يعصه»“Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaatinya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah ia bermaksiat kepadanya” (HR. Bukhari).Alasan pendalilannya ada dua, yaitu:1. Jika nadzar tersebut berisikan ketaatan, maka statusnya disebutkan pelakunya mentaati Allah. Hal ini artinya nadzar adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah.2. Nadzar yang berisikan kemaksiatan tidak boleh dipenuhi (dan dalam fikih diwajibkan bagi orang yang bernadzar maksiat untuk menebus kaffarah yamiin/ sumpah). Hal ini menunjukkan asal perbuatan nadzar itu sah dengan bukti pelaku tersebut disuruh menebus sumpahnya.Tidak boleh sebuah amal dalam syariat dikatakan sah kecuali dia merupakan ibadah. Sehingga dari sisi ini nadzar itu ibadah. Jika ia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam Kitab Tauhid dengan judul:من الشرك النذر لغير الله“Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allah”Maksud syirik di sini adalah syirik besar. Mempersembahkan nadzar kepada selain Allah adalah syirik besar karena nadzar termasuk ke dalam ibadah.Definisi nadzarDefinisi nadzar yaitu seseorang mengharuskan kepada dirinya sendiri sesuatu yang hukum asalnya tidak wajib baginya, baik secara mutlaq (tanpa syarat) maupun muqoyyad (bersyarat).– Contoh nadzar mutlaq (tanpa syarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”– Contoh nadzar muqoyyad (bersyarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.”Perbedaan antara ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzarIbadah nadzar adalah ucapan seseorang ketika bernadzar. Misalnya, saya bernadzar menghatamkan Alquran untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.Ibadah penunaian nadzar dalam kasus di atas adalah menghatamkan Alquran ketika ia sembuh, dengan niat menunaikan nadzar tersebut.Ibadah nadzar, baik jenis mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Demikian pula ibadah penunaian nadzar, baik jenis penunaian nadzar mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzar yang dipersembahkan kepada Allah semata merupakan ibadah tauhid. Sedangkan jika keduanya dipersembahkan kepada selain-Nya, merupakan ibadah syirik.Kapan nadzar dikatakan ibadah, makruh, ataupun syirik?Pertama, nadzar mutlaq yang bernilai ibadah tauhid adalah jika bernadzar untuk Allah semata.Contoh: “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”Sedangkan nadzar mutlaq yang termasuk syirik apabila bernadzar untuk mayyit, jin penunggu/penguasa pantai selatan, wali/kyai fulan yang sudah meninggal dunia, dan bentuk yang ditujukan kepada selain Allah, dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada hal tersebut.Contoh: “Saya bernadzar menyembelih sapi untuk jin desa ini.”Kedua, penunaian nadzar mutlaq (tanpa syarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar mutlaq untuk jin, malaikat, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya adalah syirik.Ketiga, penunaian nadzar muqoyyad (bersyarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar muqoyyad untuk sunan fulan (mayyit), Ali bin Abi Tholib, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya, merupakan syirik.Keempat, adapun untuk nadzar muqoyyad, maka hukumnya makruh, ditinjau dari sisi keyakinan dan pensyaratan, bukan ditinjau dari sisi asal ibadah nadzar.Namun jika ditinjau dari sisi asal ibadah, maka nadzar muqoyyad itu ibadah yang harus dipersembahkan untuk Allah semata. Adapun nadzar muqoyyad bentuk yang syirik adalah dipersembahkan untuk selain Allah.Perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiatJika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiat dapat ditinjau sebagai berikut:Berdasarkan tujuan– Nadzar syirik adalah nadzar yang dipersembahkan untuk selain Allah. Tujuannya ber-taqarrub dan beribadah kepada selain Allah. Maka ini syirik besar.– Nadzar maksiat adalah nadzar untuk Allah, namun isi nadzarnya maksiat.Berdasarkan lafaz– Contoh lafaz nadzar syirik misalnya, “Saya bernadzar puasa untuk penghuni kubur ini.”– Contoh lafaz nadzar maksiat misalnya, “Saya bernadzar kepada Allah akan pesta miras jika lulus ujian.”Berdasarkan keabsahan– Nadzar maksiat itu sah, tapi tidak boleh dilaksanakan. Pelakunya wajib bertaubat dan menebus kaffarah.– Nadzar syirik besar itu tidak sah dan tidak ada kewajiban kaffarah. Hanya saja pelakunya murtad dan wajib taubat darinya.Berdasarkan jenis dosanya– Nadzar syirik adalah jenis dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu termasuk syirik besar.– Nadzar maksiat adalah jenis dosa yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu bukan termasuk syirik besar.Dalil-dalil tentang nadzar dan memenuhi nadzarSyekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam kitabnya Kitab Tauhid. Dalam bab tersebut menunjukkan bahwa nadzar dan memenuhi nadzar merupakan bentuk ibadah. Beliau menyebutkan 3 dalil dalam bab tersebut, yakni:Baca Juga: Nadzar dalam SorotanDalil pertama, QS. Al-Insan ayat 7 Untuk memahami ayat ke-7 ini, perlu mengetahui sebagian ayat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur” (QS. Al-Insan: 5).عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا“(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Insan: 6).يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” (QS. Al-Insan: 7).Pada Al-Insan ayat 5 sampai dengan 7 menyebutkan pujian terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan.Pujian Allah kepada mereka salah satunya disebabkan karena mereka memenuhi nadzar. Hal ini menunjukkan memenuhi nadzar adalah ibadah. Wasilah (sarana) kepada suatu ibadah merupakan ibadah. Sehingga wasilah memenuhi nadzar juga termasuk ibadah. Sehingga seseorang telah melakukan kesyirikan apabila dia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah. Sedangkan seseorang dikatakan ibadah dan mentauhidkan Allah apabila dia bernadzar dan dipersembahkan untuk Allah semata.Kesimpulan: baik nadzar maupun memenuhi nadzar, maka keduanya adalah ibadah.Baca Juga: Letak Pentingnya Tauhid dan KeimananDalil kedua, QS. Al Baqarah ayat 270وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al-Baqarah: 270).Pada ayat ini Allah Ta’ala mengorelasikan antara nadzar dengan ilmu-Nya. Maksud dari ayat ini adalah Allah akan memberikan jazaa’ (pahala) yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang bernadzar karena Allah mengetahui nadzar hamba-Nya. Tidaklah sesuatu dijanjikan pahala bagi pelakunya, kecuali sesuatu itu termasuk ibadah. Dimana jika ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.Kesimpulan: nadzar itu ibadah. Dikatakan tauhid jika seseorang bernadzar untuk Allah. Sedangkan dikatakan syirik apabila bernadzar untuk selain Allah.Dalil ketiga, hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anhaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«من نذر أن يطيع الله، فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله، فلا يعصه»“Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaatinya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah ia bermaksiat kepadanya” (HR. Bukhari).Alasan pendalilannya ada dua, yaitu:1. Jika nadzar tersebut berisikan ketaatan, maka statusnya disebutkan pelakunya mentaati Allah. Hal ini artinya nadzar adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah.2. Nadzar yang berisikan kemaksiatan tidak boleh dipenuhi (dan dalam fikih diwajibkan bagi orang yang bernadzar maksiat untuk menebus kaffarah yamiin/ sumpah). Hal ini menunjukkan asal perbuatan nadzar itu sah dengan bukti pelaku tersebut disuruh menebus sumpahnya.Tidak boleh sebuah amal dalam syariat dikatakan sah kecuali dia merupakan ibadah. Sehingga dari sisi ini nadzar itu ibadah. Jika ia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam Kitab Tauhid dengan judul:من الشرك النذر لغير الله“Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allah”Maksud syirik di sini adalah syirik besar. Mempersembahkan nadzar kepada selain Allah adalah syirik besar karena nadzar termasuk ke dalam ibadah.Definisi nadzarDefinisi nadzar yaitu seseorang mengharuskan kepada dirinya sendiri sesuatu yang hukum asalnya tidak wajib baginya, baik secara mutlaq (tanpa syarat) maupun muqoyyad (bersyarat).– Contoh nadzar mutlaq (tanpa syarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”– Contoh nadzar muqoyyad (bersyarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.”Perbedaan antara ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzarIbadah nadzar adalah ucapan seseorang ketika bernadzar. Misalnya, saya bernadzar menghatamkan Alquran untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.Ibadah penunaian nadzar dalam kasus di atas adalah menghatamkan Alquran ketika ia sembuh, dengan niat menunaikan nadzar tersebut.Ibadah nadzar, baik jenis mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Demikian pula ibadah penunaian nadzar, baik jenis penunaian nadzar mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzar yang dipersembahkan kepada Allah semata merupakan ibadah tauhid. Sedangkan jika keduanya dipersembahkan kepada selain-Nya, merupakan ibadah syirik.Kapan nadzar dikatakan ibadah, makruh, ataupun syirik?Pertama, nadzar mutlaq yang bernilai ibadah tauhid adalah jika bernadzar untuk Allah semata.Contoh: “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”Sedangkan nadzar mutlaq yang termasuk syirik apabila bernadzar untuk mayyit, jin penunggu/penguasa pantai selatan, wali/kyai fulan yang sudah meninggal dunia, dan bentuk yang ditujukan kepada selain Allah, dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada hal tersebut.Contoh: “Saya bernadzar menyembelih sapi untuk jin desa ini.”Kedua, penunaian nadzar mutlaq (tanpa syarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar mutlaq untuk jin, malaikat, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya adalah syirik.Ketiga, penunaian nadzar muqoyyad (bersyarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar muqoyyad untuk sunan fulan (mayyit), Ali bin Abi Tholib, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya, merupakan syirik.Keempat, adapun untuk nadzar muqoyyad, maka hukumnya makruh, ditinjau dari sisi keyakinan dan pensyaratan, bukan ditinjau dari sisi asal ibadah nadzar.Namun jika ditinjau dari sisi asal ibadah, maka nadzar muqoyyad itu ibadah yang harus dipersembahkan untuk Allah semata. Adapun nadzar muqoyyad bentuk yang syirik adalah dipersembahkan untuk selain Allah.Perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiatJika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiat dapat ditinjau sebagai berikut:Berdasarkan tujuan– Nadzar syirik adalah nadzar yang dipersembahkan untuk selain Allah. Tujuannya ber-taqarrub dan beribadah kepada selain Allah. Maka ini syirik besar.– Nadzar maksiat adalah nadzar untuk Allah, namun isi nadzarnya maksiat.Berdasarkan lafaz– Contoh lafaz nadzar syirik misalnya, “Saya bernadzar puasa untuk penghuni kubur ini.”– Contoh lafaz nadzar maksiat misalnya, “Saya bernadzar kepada Allah akan pesta miras jika lulus ujian.”Berdasarkan keabsahan– Nadzar maksiat itu sah, tapi tidak boleh dilaksanakan. Pelakunya wajib bertaubat dan menebus kaffarah.– Nadzar syirik besar itu tidak sah dan tidak ada kewajiban kaffarah. Hanya saja pelakunya murtad dan wajib taubat darinya.Berdasarkan jenis dosanya– Nadzar syirik adalah jenis dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu termasuk syirik besar.– Nadzar maksiat adalah jenis dosa yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu bukan termasuk syirik besar.Dalil-dalil tentang nadzar dan memenuhi nadzarSyekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam kitabnya Kitab Tauhid. Dalam bab tersebut menunjukkan bahwa nadzar dan memenuhi nadzar merupakan bentuk ibadah. Beliau menyebutkan 3 dalil dalam bab tersebut, yakni:Baca Juga: Nadzar dalam SorotanDalil pertama, QS. Al-Insan ayat 7 Untuk memahami ayat ke-7 ini, perlu mengetahui sebagian ayat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur” (QS. Al-Insan: 5).عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا“(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Insan: 6).يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” (QS. Al-Insan: 7).Pada Al-Insan ayat 5 sampai dengan 7 menyebutkan pujian terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan.Pujian Allah kepada mereka salah satunya disebabkan karena mereka memenuhi nadzar. Hal ini menunjukkan memenuhi nadzar adalah ibadah. Wasilah (sarana) kepada suatu ibadah merupakan ibadah. Sehingga wasilah memenuhi nadzar juga termasuk ibadah. Sehingga seseorang telah melakukan kesyirikan apabila dia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah. Sedangkan seseorang dikatakan ibadah dan mentauhidkan Allah apabila dia bernadzar dan dipersembahkan untuk Allah semata.Kesimpulan: baik nadzar maupun memenuhi nadzar, maka keduanya adalah ibadah.Baca Juga: Letak Pentingnya Tauhid dan KeimananDalil kedua, QS. Al Baqarah ayat 270وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al-Baqarah: 270).Pada ayat ini Allah Ta’ala mengorelasikan antara nadzar dengan ilmu-Nya. Maksud dari ayat ini adalah Allah akan memberikan jazaa’ (pahala) yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang bernadzar karena Allah mengetahui nadzar hamba-Nya. Tidaklah sesuatu dijanjikan pahala bagi pelakunya, kecuali sesuatu itu termasuk ibadah. Dimana jika ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.Kesimpulan: nadzar itu ibadah. Dikatakan tauhid jika seseorang bernadzar untuk Allah. Sedangkan dikatakan syirik apabila bernadzar untuk selain Allah.Dalil ketiga, hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anhaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«من نذر أن يطيع الله، فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله، فلا يعصه»“Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaatinya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah ia bermaksiat kepadanya” (HR. Bukhari).Alasan pendalilannya ada dua, yaitu:1. Jika nadzar tersebut berisikan ketaatan, maka statusnya disebutkan pelakunya mentaati Allah. Hal ini artinya nadzar adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah.2. Nadzar yang berisikan kemaksiatan tidak boleh dipenuhi (dan dalam fikih diwajibkan bagi orang yang bernadzar maksiat untuk menebus kaffarah yamiin/ sumpah). Hal ini menunjukkan asal perbuatan nadzar itu sah dengan bukti pelaku tersebut disuruh menebus sumpahnya.Tidak boleh sebuah amal dalam syariat dikatakan sah kecuali dia merupakan ibadah. Sehingga dari sisi ini nadzar itu ibadah. Jika ia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam Kitab Tauhid dengan judul:من الشرك النذر لغير الله“Termasuk kesyirikan adalah bernadzar untuk selain Allah”Maksud syirik di sini adalah syirik besar. Mempersembahkan nadzar kepada selain Allah adalah syirik besar karena nadzar termasuk ke dalam ibadah.Definisi nadzarDefinisi nadzar yaitu seseorang mengharuskan kepada dirinya sendiri sesuatu yang hukum asalnya tidak wajib baginya, baik secara mutlaq (tanpa syarat) maupun muqoyyad (bersyarat).– Contoh nadzar mutlaq (tanpa syarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”– Contoh nadzar muqoyyad (bersyarat) misalnya, “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.”Perbedaan antara ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzarIbadah nadzar adalah ucapan seseorang ketika bernadzar. Misalnya, saya bernadzar menghatamkan Alquran untuk Allah semata jika saya sembuh dari sakit.Ibadah penunaian nadzar dalam kasus di atas adalah menghatamkan Alquran ketika ia sembuh, dengan niat menunaikan nadzar tersebut.Ibadah nadzar, baik jenis mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Demikian pula ibadah penunaian nadzar, baik jenis penunaian nadzar mutlaq maupun muqoyyad, wajib dipersembahkan kepada Allah semata.Ibadah nadzar dan ibadah penunaian nadzar yang dipersembahkan kepada Allah semata merupakan ibadah tauhid. Sedangkan jika keduanya dipersembahkan kepada selain-Nya, merupakan ibadah syirik.Kapan nadzar dikatakan ibadah, makruh, ataupun syirik?Pertama, nadzar mutlaq yang bernilai ibadah tauhid adalah jika bernadzar untuk Allah semata.Contoh: “Saya bernadzar menunaikan salat malam untuk Allah semata.”Sedangkan nadzar mutlaq yang termasuk syirik apabila bernadzar untuk mayyit, jin penunggu/penguasa pantai selatan, wali/kyai fulan yang sudah meninggal dunia, dan bentuk yang ditujukan kepada selain Allah, dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada hal tersebut.Contoh: “Saya bernadzar menyembelih sapi untuk jin desa ini.”Kedua, penunaian nadzar mutlaq (tanpa syarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar mutlaq untuk jin, malaikat, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya adalah syirik.Ketiga, penunaian nadzar muqoyyad (bersyarat) untuk Allah semata itu bernilai ibadah tauhid.Adapun bentuk penunaian nadzar muqoyyad untuk sunan fulan (mayyit), Ali bin Abi Tholib, nabi, dan bentuk selain Allah lainnya, merupakan syirik.Keempat, adapun untuk nadzar muqoyyad, maka hukumnya makruh, ditinjau dari sisi keyakinan dan pensyaratan, bukan ditinjau dari sisi asal ibadah nadzar.Namun jika ditinjau dari sisi asal ibadah, maka nadzar muqoyyad itu ibadah yang harus dipersembahkan untuk Allah semata. Adapun nadzar muqoyyad bentuk yang syirik adalah dipersembahkan untuk selain Allah.Perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiatJika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbedaan nadzar syirik dengan nadzar maksiat dapat ditinjau sebagai berikut:Berdasarkan tujuan– Nadzar syirik adalah nadzar yang dipersembahkan untuk selain Allah. Tujuannya ber-taqarrub dan beribadah kepada selain Allah. Maka ini syirik besar.– Nadzar maksiat adalah nadzar untuk Allah, namun isi nadzarnya maksiat.Berdasarkan lafaz– Contoh lafaz nadzar syirik misalnya, “Saya bernadzar puasa untuk penghuni kubur ini.”– Contoh lafaz nadzar maksiat misalnya, “Saya bernadzar kepada Allah akan pesta miras jika lulus ujian.”Berdasarkan keabsahan– Nadzar maksiat itu sah, tapi tidak boleh dilaksanakan. Pelakunya wajib bertaubat dan menebus kaffarah.– Nadzar syirik besar itu tidak sah dan tidak ada kewajiban kaffarah. Hanya saja pelakunya murtad dan wajib taubat darinya.Berdasarkan jenis dosanya– Nadzar syirik adalah jenis dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu termasuk syirik besar.– Nadzar maksiat adalah jenis dosa yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena itu bukan termasuk syirik besar.Dalil-dalil tentang nadzar dan memenuhi nadzarSyekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah membuat bab tentang nadzar dalam kitabnya Kitab Tauhid. Dalam bab tersebut menunjukkan bahwa nadzar dan memenuhi nadzar merupakan bentuk ibadah. Beliau menyebutkan 3 dalil dalam bab tersebut, yakni:Baca Juga: Nadzar dalam SorotanDalil pertama, QS. Al-Insan ayat 7 Untuk memahami ayat ke-7 ini, perlu mengetahui sebagian ayat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur” (QS. Al-Insan: 5).عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا“(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Insan: 6).يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” (QS. Al-Insan: 7).Pada Al-Insan ayat 5 sampai dengan 7 menyebutkan pujian terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan.Pujian Allah kepada mereka salah satunya disebabkan karena mereka memenuhi nadzar. Hal ini menunjukkan memenuhi nadzar adalah ibadah. Wasilah (sarana) kepada suatu ibadah merupakan ibadah. Sehingga wasilah memenuhi nadzar juga termasuk ibadah. Sehingga seseorang telah melakukan kesyirikan apabila dia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah. Sedangkan seseorang dikatakan ibadah dan mentauhidkan Allah apabila dia bernadzar dan dipersembahkan untuk Allah semata.Kesimpulan: baik nadzar maupun memenuhi nadzar, maka keduanya adalah ibadah.Baca Juga: Letak Pentingnya Tauhid dan KeimananDalil kedua, QS. Al Baqarah ayat 270وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al-Baqarah: 270).Pada ayat ini Allah Ta’ala mengorelasikan antara nadzar dengan ilmu-Nya. Maksud dari ayat ini adalah Allah akan memberikan jazaa’ (pahala) yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang bernadzar karena Allah mengetahui nadzar hamba-Nya. Tidaklah sesuatu dijanjikan pahala bagi pelakunya, kecuali sesuatu itu termasuk ibadah. Dimana jika ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik.Kesimpulan: nadzar itu ibadah. Dikatakan tauhid jika seseorang bernadzar untuk Allah. Sedangkan dikatakan syirik apabila bernadzar untuk selain Allah.Dalil ketiga, hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anhaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,«من نذر أن يطيع الله، فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله، فلا يعصه»“Barangsiapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaatinya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah ia bermaksiat kepadanya” (HR. Bukhari).Alasan pendalilannya ada dua, yaitu:1. Jika nadzar tersebut berisikan ketaatan, maka statusnya disebutkan pelakunya mentaati Allah. Hal ini artinya nadzar adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah.2. Nadzar yang berisikan kemaksiatan tidak boleh dipenuhi (dan dalam fikih diwajibkan bagi orang yang bernadzar maksiat untuk menebus kaffarah yamiin/ sumpah). Hal ini menunjukkan asal perbuatan nadzar itu sah dengan bukti pelaku tersebut disuruh menebus sumpahnya.Tidak boleh sebuah amal dalam syariat dikatakan sah kecuali dia merupakan ibadah. Sehingga dari sisi ini nadzar itu ibadah. Jika ia mempersembahkan nadzar kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Kumis Dicukur Habis atau Dipendekkan?

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan bahwa seorang laki-laki muslim hendaknya membiarkan jenggot tumbuh (memelihara) dan mencukur kumisnya. Membiarkan jenggot tumbuh telah dipahami oleh banyak kaum muslimin. Akan tetapi, memotong kumis ini perlu penjelasan dan rincian, apakah dipotong pendek saja, atau dicukur habis sampai “licin”, atau apakah ada patokan mencukur sampai mana?Terdapat perbedaan pendapat ulama sejak dahulu kala, apakah kumis dipotong pendek atau dicukur habis. Ada ulama yang  berpendapat kumis itu dicukur pendek dengan patokan tidak melebihi turun sampai bibir atas. Ada ulama yang cukup keras dengan memberikan hukuman bagi yang mencukur habis dan mengatakan mencukur habis adalah bid’ah. Ada juga ulama yang membolehkan mencukur habis sampai licin. Dan ada ulama yang membolehkan keduanya, boleh cukur pendek dan boleh cukur habis.Dalam hal ini kami memegang pendapat ulama yang membolehkan keduanya karena tidak ada larangan mencukur habis serta nash umum perintah memotong kumis. Beberapa ulama masing-masing memiliki pendapat sendiri terkait tafsir kata-kata perintah dalam hadis tentang memotong kumis seperti kata-kata (انْهَكُوا) dan ( وَأَحْفُوا). Perbedaan tafsir dan penjelasan kata-kata ini yang menyebabkan perbedaan pendapat para ulama.Berikut sedikit pembahasannya:Beberapa Hadis Perintah Memotong KumisPertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot!” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik! Peliharalah jenggot, dan potonglah kumis!” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot! Selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari)!” (HR. Muslim)Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPendapat Ulama yang Menyatakan Memotong Pendek Kumis dan Larangan Mencukur sampai HabisImam An-Nawawi  rahimahullah menjelaskan,وَالْمُخْتَار فِي الشَّارِب تَرْكُ الِاسْتِئْصَال وَالِاقْتِصَار عَلَى مَا يَبْدُو بِهِ طَرَف الشَّفَة . وَاللَّهُ أَعْلَم“Pendapat terpilih terkait kumis adalah tidak mencukur habis dan (cukup) memotong pendek apa yang melebihi ujung bibir. Allahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 418)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menukil pendapat Imam Malik rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang mencukur habis kumisnya perlu diberi hukuman,ولهذا لما سئل مالك عمن يحفي شاربه؟ قال: أرى أن يوجع ضربا وقال لمن يحلق شاربه: هذه بدعة ظهرت في الناس رواه البيهقي وانظر ” فتح الباري ” (10/ 285 – 286)“Oleh karena itu, tatkala Imam Malik ditanya tentang orang yang mencukur habis kumisnya, maka beliau berkata, ‘Aku berpendapat (bahwa) ia dihukum dengan diberi pukulan.’ Beliau juga mengatakan kepada orang yang mencukur habis kumisnya, ‘Ini adalah bid’ah yang muncul di antara manusia.” Diriwayatkan Al-Baihaqi. (Lihat Fathul Bari, 10: 285-286)Syekh Al-Albani rahimahullah menjelaskan hal yang sama. Beliau rahimahullah berkata,والمراد المبالغة في قص ما طال على الشفة لا حلق الشارب كله فإنه خلاف السنة العملية الثابتة عنه صلى الله عليه وسلم“Yang dimaksud dengan ‘berlebihan’ dalam memotong yaitu apa yang memanjang melebihi bibir, bukan mencukur habis kumis semuanya. Maka sesungguhnya ini menyelisihi sunnah amaliyah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Adabus Zifaf, karya Syekh Al-Albani)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,الأفضل : قص الشارب كما جاءت به السنة… وأما حلقه فليس من السنة .“Yang afdhal (lebih utama) itu memotong pendek kumis, sebagaimana dalam sunnah. Adapun mencukur habis itu bukan sunnah.” (Majmu’ Al-Fatawa, Bab 11 Soal no. 54)Baca juga: Dalam Islam, Lelaki Itu Jantan!Pendapat Ulama yang Menyatakan bahwa Memotong Habis sampai “Licin” Itu Lebih BaikAt-Thahawiy rahimahullah menjelaskan,فَالنَّظَرُ عَلَى ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ حُكْمُ الشَّارِبِ قَصُّهُ حَسَنٌ ، وَإِحْفَاؤُهُ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ. وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَأَبِي يُوسُفَ ، وَمُحَمَّدٍ .“Dengan memperhatikan dalil-dalil tersebut yang terkait dengan hukum memotong kumis, maka memotong pendek itu baik, dan mencukur habis itu lebih baik dan lebih utama. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad.” (Syarh Ma’aanil Aatsar, 3: 320-322)Pendapat Ulama yang Membolehkan KeduanyaKami nukilkan pendapat para ulama yang membolehkan keduanya, karena patokannya adalah sampai nampak bibir atas dan tidak tertutupi oleh kumis.Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,فمن جز الشارب حتى تظهر الشفة العليا ، أو أحفاه : فلا حرج عليه ؛ لأن الأحاديث جاءت بالأمرين ، ولا يجوز ترك طرفي الشارب ، بل يقص الشارب كله ، أو يحفيه كله ؛ عملاً بالسنة“Barangsiapa yang memotong kumis sampai tampak bibir atas, atau mencukur sampai habis, maka keduanya tidak apa-apa. Karena hadis-hadis tersebut menyatakan dengan kedua perintah tersebut. Tidak boleh membiarkan kedua ujung bibir tertutup, tetapi hendaknya dipotong pendek kumis semuanya, atau dicukur habis semuanya, dalam rangka mengamalkan sunnah.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 5: 149)Demikian juga, pendapat At-Thabari dan Al-Qadhi ‘Iyadh. Mereka membolehkan keduanya, yaitu memotong pendek atau mencukur habis sampai gundul, sebagaimana dalam Fathul Bari (10: 347-348) dan Zadul Ma’ad (1: 171-175)Baca juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id

Kumis Dicukur Habis atau Dipendekkan?

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan bahwa seorang laki-laki muslim hendaknya membiarkan jenggot tumbuh (memelihara) dan mencukur kumisnya. Membiarkan jenggot tumbuh telah dipahami oleh banyak kaum muslimin. Akan tetapi, memotong kumis ini perlu penjelasan dan rincian, apakah dipotong pendek saja, atau dicukur habis sampai “licin”, atau apakah ada patokan mencukur sampai mana?Terdapat perbedaan pendapat ulama sejak dahulu kala, apakah kumis dipotong pendek atau dicukur habis. Ada ulama yang  berpendapat kumis itu dicukur pendek dengan patokan tidak melebihi turun sampai bibir atas. Ada ulama yang cukup keras dengan memberikan hukuman bagi yang mencukur habis dan mengatakan mencukur habis adalah bid’ah. Ada juga ulama yang membolehkan mencukur habis sampai licin. Dan ada ulama yang membolehkan keduanya, boleh cukur pendek dan boleh cukur habis.Dalam hal ini kami memegang pendapat ulama yang membolehkan keduanya karena tidak ada larangan mencukur habis serta nash umum perintah memotong kumis. Beberapa ulama masing-masing memiliki pendapat sendiri terkait tafsir kata-kata perintah dalam hadis tentang memotong kumis seperti kata-kata (انْهَكُوا) dan ( وَأَحْفُوا). Perbedaan tafsir dan penjelasan kata-kata ini yang menyebabkan perbedaan pendapat para ulama.Berikut sedikit pembahasannya:Beberapa Hadis Perintah Memotong KumisPertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot!” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik! Peliharalah jenggot, dan potonglah kumis!” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot! Selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari)!” (HR. Muslim)Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPendapat Ulama yang Menyatakan Memotong Pendek Kumis dan Larangan Mencukur sampai HabisImam An-Nawawi  rahimahullah menjelaskan,وَالْمُخْتَار فِي الشَّارِب تَرْكُ الِاسْتِئْصَال وَالِاقْتِصَار عَلَى مَا يَبْدُو بِهِ طَرَف الشَّفَة . وَاللَّهُ أَعْلَم“Pendapat terpilih terkait kumis adalah tidak mencukur habis dan (cukup) memotong pendek apa yang melebihi ujung bibir. Allahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 418)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menukil pendapat Imam Malik rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang mencukur habis kumisnya perlu diberi hukuman,ولهذا لما سئل مالك عمن يحفي شاربه؟ قال: أرى أن يوجع ضربا وقال لمن يحلق شاربه: هذه بدعة ظهرت في الناس رواه البيهقي وانظر ” فتح الباري ” (10/ 285 – 286)“Oleh karena itu, tatkala Imam Malik ditanya tentang orang yang mencukur habis kumisnya, maka beliau berkata, ‘Aku berpendapat (bahwa) ia dihukum dengan diberi pukulan.’ Beliau juga mengatakan kepada orang yang mencukur habis kumisnya, ‘Ini adalah bid’ah yang muncul di antara manusia.” Diriwayatkan Al-Baihaqi. (Lihat Fathul Bari, 10: 285-286)Syekh Al-Albani rahimahullah menjelaskan hal yang sama. Beliau rahimahullah berkata,والمراد المبالغة في قص ما طال على الشفة لا حلق الشارب كله فإنه خلاف السنة العملية الثابتة عنه صلى الله عليه وسلم“Yang dimaksud dengan ‘berlebihan’ dalam memotong yaitu apa yang memanjang melebihi bibir, bukan mencukur habis kumis semuanya. Maka sesungguhnya ini menyelisihi sunnah amaliyah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Adabus Zifaf, karya Syekh Al-Albani)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,الأفضل : قص الشارب كما جاءت به السنة… وأما حلقه فليس من السنة .“Yang afdhal (lebih utama) itu memotong pendek kumis, sebagaimana dalam sunnah. Adapun mencukur habis itu bukan sunnah.” (Majmu’ Al-Fatawa, Bab 11 Soal no. 54)Baca juga: Dalam Islam, Lelaki Itu Jantan!Pendapat Ulama yang Menyatakan bahwa Memotong Habis sampai “Licin” Itu Lebih BaikAt-Thahawiy rahimahullah menjelaskan,فَالنَّظَرُ عَلَى ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ حُكْمُ الشَّارِبِ قَصُّهُ حَسَنٌ ، وَإِحْفَاؤُهُ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ. وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَأَبِي يُوسُفَ ، وَمُحَمَّدٍ .“Dengan memperhatikan dalil-dalil tersebut yang terkait dengan hukum memotong kumis, maka memotong pendek itu baik, dan mencukur habis itu lebih baik dan lebih utama. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad.” (Syarh Ma’aanil Aatsar, 3: 320-322)Pendapat Ulama yang Membolehkan KeduanyaKami nukilkan pendapat para ulama yang membolehkan keduanya, karena patokannya adalah sampai nampak bibir atas dan tidak tertutupi oleh kumis.Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,فمن جز الشارب حتى تظهر الشفة العليا ، أو أحفاه : فلا حرج عليه ؛ لأن الأحاديث جاءت بالأمرين ، ولا يجوز ترك طرفي الشارب ، بل يقص الشارب كله ، أو يحفيه كله ؛ عملاً بالسنة“Barangsiapa yang memotong kumis sampai tampak bibir atas, atau mencukur sampai habis, maka keduanya tidak apa-apa. Karena hadis-hadis tersebut menyatakan dengan kedua perintah tersebut. Tidak boleh membiarkan kedua ujung bibir tertutup, tetapi hendaknya dipotong pendek kumis semuanya, atau dicukur habis semuanya, dalam rangka mengamalkan sunnah.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 5: 149)Demikian juga, pendapat At-Thabari dan Al-Qadhi ‘Iyadh. Mereka membolehkan keduanya, yaitu memotong pendek atau mencukur habis sampai gundul, sebagaimana dalam Fathul Bari (10: 347-348) dan Zadul Ma’ad (1: 171-175)Baca juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id
Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan bahwa seorang laki-laki muslim hendaknya membiarkan jenggot tumbuh (memelihara) dan mencukur kumisnya. Membiarkan jenggot tumbuh telah dipahami oleh banyak kaum muslimin. Akan tetapi, memotong kumis ini perlu penjelasan dan rincian, apakah dipotong pendek saja, atau dicukur habis sampai “licin”, atau apakah ada patokan mencukur sampai mana?Terdapat perbedaan pendapat ulama sejak dahulu kala, apakah kumis dipotong pendek atau dicukur habis. Ada ulama yang  berpendapat kumis itu dicukur pendek dengan patokan tidak melebihi turun sampai bibir atas. Ada ulama yang cukup keras dengan memberikan hukuman bagi yang mencukur habis dan mengatakan mencukur habis adalah bid’ah. Ada juga ulama yang membolehkan mencukur habis sampai licin. Dan ada ulama yang membolehkan keduanya, boleh cukur pendek dan boleh cukur habis.Dalam hal ini kami memegang pendapat ulama yang membolehkan keduanya karena tidak ada larangan mencukur habis serta nash umum perintah memotong kumis. Beberapa ulama masing-masing memiliki pendapat sendiri terkait tafsir kata-kata perintah dalam hadis tentang memotong kumis seperti kata-kata (انْهَكُوا) dan ( وَأَحْفُوا). Perbedaan tafsir dan penjelasan kata-kata ini yang menyebabkan perbedaan pendapat para ulama.Berikut sedikit pembahasannya:Beberapa Hadis Perintah Memotong KumisPertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot!” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik! Peliharalah jenggot, dan potonglah kumis!” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot! Selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari)!” (HR. Muslim)Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPendapat Ulama yang Menyatakan Memotong Pendek Kumis dan Larangan Mencukur sampai HabisImam An-Nawawi  rahimahullah menjelaskan,وَالْمُخْتَار فِي الشَّارِب تَرْكُ الِاسْتِئْصَال وَالِاقْتِصَار عَلَى مَا يَبْدُو بِهِ طَرَف الشَّفَة . وَاللَّهُ أَعْلَم“Pendapat terpilih terkait kumis adalah tidak mencukur habis dan (cukup) memotong pendek apa yang melebihi ujung bibir. Allahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 418)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menukil pendapat Imam Malik rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang mencukur habis kumisnya perlu diberi hukuman,ولهذا لما سئل مالك عمن يحفي شاربه؟ قال: أرى أن يوجع ضربا وقال لمن يحلق شاربه: هذه بدعة ظهرت في الناس رواه البيهقي وانظر ” فتح الباري ” (10/ 285 – 286)“Oleh karena itu, tatkala Imam Malik ditanya tentang orang yang mencukur habis kumisnya, maka beliau berkata, ‘Aku berpendapat (bahwa) ia dihukum dengan diberi pukulan.’ Beliau juga mengatakan kepada orang yang mencukur habis kumisnya, ‘Ini adalah bid’ah yang muncul di antara manusia.” Diriwayatkan Al-Baihaqi. (Lihat Fathul Bari, 10: 285-286)Syekh Al-Albani rahimahullah menjelaskan hal yang sama. Beliau rahimahullah berkata,والمراد المبالغة في قص ما طال على الشفة لا حلق الشارب كله فإنه خلاف السنة العملية الثابتة عنه صلى الله عليه وسلم“Yang dimaksud dengan ‘berlebihan’ dalam memotong yaitu apa yang memanjang melebihi bibir, bukan mencukur habis kumis semuanya. Maka sesungguhnya ini menyelisihi sunnah amaliyah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Adabus Zifaf, karya Syekh Al-Albani)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,الأفضل : قص الشارب كما جاءت به السنة… وأما حلقه فليس من السنة .“Yang afdhal (lebih utama) itu memotong pendek kumis, sebagaimana dalam sunnah. Adapun mencukur habis itu bukan sunnah.” (Majmu’ Al-Fatawa, Bab 11 Soal no. 54)Baca juga: Dalam Islam, Lelaki Itu Jantan!Pendapat Ulama yang Menyatakan bahwa Memotong Habis sampai “Licin” Itu Lebih BaikAt-Thahawiy rahimahullah menjelaskan,فَالنَّظَرُ عَلَى ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ حُكْمُ الشَّارِبِ قَصُّهُ حَسَنٌ ، وَإِحْفَاؤُهُ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ. وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَأَبِي يُوسُفَ ، وَمُحَمَّدٍ .“Dengan memperhatikan dalil-dalil tersebut yang terkait dengan hukum memotong kumis, maka memotong pendek itu baik, dan mencukur habis itu lebih baik dan lebih utama. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad.” (Syarh Ma’aanil Aatsar, 3: 320-322)Pendapat Ulama yang Membolehkan KeduanyaKami nukilkan pendapat para ulama yang membolehkan keduanya, karena patokannya adalah sampai nampak bibir atas dan tidak tertutupi oleh kumis.Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,فمن جز الشارب حتى تظهر الشفة العليا ، أو أحفاه : فلا حرج عليه ؛ لأن الأحاديث جاءت بالأمرين ، ولا يجوز ترك طرفي الشارب ، بل يقص الشارب كله ، أو يحفيه كله ؛ عملاً بالسنة“Barangsiapa yang memotong kumis sampai tampak bibir atas, atau mencukur sampai habis, maka keduanya tidak apa-apa. Karena hadis-hadis tersebut menyatakan dengan kedua perintah tersebut. Tidak boleh membiarkan kedua ujung bibir tertutup, tetapi hendaknya dipotong pendek kumis semuanya, atau dicukur habis semuanya, dalam rangka mengamalkan sunnah.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 5: 149)Demikian juga, pendapat At-Thabari dan Al-Qadhi ‘Iyadh. Mereka membolehkan keduanya, yaitu memotong pendek atau mencukur habis sampai gundul, sebagaimana dalam Fathul Bari (10: 347-348) dan Zadul Ma’ad (1: 171-175)Baca juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id


Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan bahwa seorang laki-laki muslim hendaknya membiarkan jenggot tumbuh (memelihara) dan mencukur kumisnya. Membiarkan jenggot tumbuh telah dipahami oleh banyak kaum muslimin. Akan tetapi, memotong kumis ini perlu penjelasan dan rincian, apakah dipotong pendek saja, atau dicukur habis sampai “licin”, atau apakah ada patokan mencukur sampai mana?Terdapat perbedaan pendapat ulama sejak dahulu kala, apakah kumis dipotong pendek atau dicukur habis. Ada ulama yang  berpendapat kumis itu dicukur pendek dengan patokan tidak melebihi turun sampai bibir atas. Ada ulama yang cukup keras dengan memberikan hukuman bagi yang mencukur habis dan mengatakan mencukur habis adalah bid’ah. Ada juga ulama yang membolehkan mencukur habis sampai licin. Dan ada ulama yang membolehkan keduanya, boleh cukur pendek dan boleh cukur habis.Dalam hal ini kami memegang pendapat ulama yang membolehkan keduanya karena tidak ada larangan mencukur habis serta nash umum perintah memotong kumis. Beberapa ulama masing-masing memiliki pendapat sendiri terkait tafsir kata-kata perintah dalam hadis tentang memotong kumis seperti kata-kata (انْهَكُوا) dan ( وَأَحْفُوا). Perbedaan tafsir dan penjelasan kata-kata ini yang menyebabkan perbedaan pendapat para ulama.Berikut sedikit pembahasannya:Beberapa Hadis Perintah Memotong KumisPertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot!” (HR. Bukhari dan Muslim)Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ“Selisihilah orang-orang musyrik! Peliharalah jenggot, dan potonglah kumis!” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot! Selisihilah orang-orang Majusi (penyembah matahari)!” (HR. Muslim)Baca juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaPendapat Ulama yang Menyatakan Memotong Pendek Kumis dan Larangan Mencukur sampai HabisImam An-Nawawi  rahimahullah menjelaskan,وَالْمُخْتَار فِي الشَّارِب تَرْكُ الِاسْتِئْصَال وَالِاقْتِصَار عَلَى مَا يَبْدُو بِهِ طَرَف الشَّفَة . وَاللَّهُ أَعْلَم“Pendapat terpilih terkait kumis adalah tidak mencukur habis dan (cukup) memotong pendek apa yang melebihi ujung bibir. Allahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 1: 418)Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menukil pendapat Imam Malik rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang mencukur habis kumisnya perlu diberi hukuman,ولهذا لما سئل مالك عمن يحفي شاربه؟ قال: أرى أن يوجع ضربا وقال لمن يحلق شاربه: هذه بدعة ظهرت في الناس رواه البيهقي وانظر ” فتح الباري ” (10/ 285 – 286)“Oleh karena itu, tatkala Imam Malik ditanya tentang orang yang mencukur habis kumisnya, maka beliau berkata, ‘Aku berpendapat (bahwa) ia dihukum dengan diberi pukulan.’ Beliau juga mengatakan kepada orang yang mencukur habis kumisnya, ‘Ini adalah bid’ah yang muncul di antara manusia.” Diriwayatkan Al-Baihaqi. (Lihat Fathul Bari, 10: 285-286)Syekh Al-Albani rahimahullah menjelaskan hal yang sama. Beliau rahimahullah berkata,والمراد المبالغة في قص ما طال على الشفة لا حلق الشارب كله فإنه خلاف السنة العملية الثابتة عنه صلى الله عليه وسلم“Yang dimaksud dengan ‘berlebihan’ dalam memotong yaitu apa yang memanjang melebihi bibir, bukan mencukur habis kumis semuanya. Maka sesungguhnya ini menyelisihi sunnah amaliyah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Adabus Zifaf, karya Syekh Al-Albani)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,الأفضل : قص الشارب كما جاءت به السنة… وأما حلقه فليس من السنة .“Yang afdhal (lebih utama) itu memotong pendek kumis, sebagaimana dalam sunnah. Adapun mencukur habis itu bukan sunnah.” (Majmu’ Al-Fatawa, Bab 11 Soal no. 54)Baca juga: Dalam Islam, Lelaki Itu Jantan!Pendapat Ulama yang Menyatakan bahwa Memotong Habis sampai “Licin” Itu Lebih BaikAt-Thahawiy rahimahullah menjelaskan,فَالنَّظَرُ عَلَى ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ حُكْمُ الشَّارِبِ قَصُّهُ حَسَنٌ ، وَإِحْفَاؤُهُ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ. وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَأَبِي يُوسُفَ ، وَمُحَمَّدٍ .“Dengan memperhatikan dalil-dalil tersebut yang terkait dengan hukum memotong kumis, maka memotong pendek itu baik, dan mencukur habis itu lebih baik dan lebih utama. Ini adalah mazhab Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad.” (Syarh Ma’aanil Aatsar, 3: 320-322)Pendapat Ulama yang Membolehkan KeduanyaKami nukilkan pendapat para ulama yang membolehkan keduanya, karena patokannya adalah sampai nampak bibir atas dan tidak tertutupi oleh kumis.Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,فمن جز الشارب حتى تظهر الشفة العليا ، أو أحفاه : فلا حرج عليه ؛ لأن الأحاديث جاءت بالأمرين ، ولا يجوز ترك طرفي الشارب ، بل يقص الشارب كله ، أو يحفيه كله ؛ عملاً بالسنة“Barangsiapa yang memotong kumis sampai tampak bibir atas, atau mencukur sampai habis, maka keduanya tidak apa-apa. Karena hadis-hadis tersebut menyatakan dengan kedua perintah tersebut. Tidak boleh membiarkan kedua ujung bibir tertutup, tetapi hendaknya dipotong pendek kumis semuanya, atau dicukur habis semuanya, dalam rangka mengamalkan sunnah.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 5: 149)Demikian juga, pendapat At-Thabari dan Al-Qadhi ‘Iyadh. Mereka membolehkan keduanya, yaitu memotong pendek atau mencukur habis sampai gundul, sebagaimana dalam Fathul Bari (10: 347-348) dan Zadul Ma’ad (1: 171-175)Baca juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id

Penjelasan Hadits “Kemuliaan Bagi Penduduk Dunia adalah Harta”

Terdapat sebuah hadis yang menyebutkan bahwa kemuliaan penduduk dunia adalah dengan memiliki banyak harta. Bagaimana maksud hadis ini? Apakah hadis ini adalah motivasi untuk mengumpulkan harta? Simak penjelasan singkat dalam artikel ini.Dari Buraidah Al Aslami Radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia adalah harta” (HR. Ahmad no. 23059. Syekh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “hadis ini sanadnya qawiy [kuat]”).Dalam riwayat lain,إنَّ أحسابَ أهلِ الدنيا الذين يذهبونَ إليه هذا المالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia, yang senantiasa mereka kejar-kejar, adalah harta” (HR. An Nasa’i no. 3225. Disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).Al Hafizh Al Iraqi Rahimahullah menjelaskan makna ahsab dalam hadis ini,الْحَسَبُ بِفَتْحِ السِّينِ أَصْلُهُ الشَّرَفُ بِالْآبَاءِ وَمَا يُعِدُّهُ الْإِنْسَانُ مِنْ مَفَاخِرِهِمْ وَجَمْعُهُ أَحْسَابٌ“Al hasab dengan huruf sin di-fathah, maknanya adalah kemuliaan terhadap nenek moyang dan hal-hal yang dianggap kebanggan oleh manusia. Bentuk jamaknya: ahsab” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 19).Kemudian beliau Rahimahullah menjelaskan,هَذَا الْحَدِيثُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ الذَّمِّ لِذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْأَحْسَابَ إنَّمَا هِيَ بِالْإِنْسَانِ لَا بِالْمَالِ فَصَاحِبُ النَّسَبِ الْعَالِي هُوَ الْحَسِيبُ، وَلَوْ كَانَ فَقِيرًا وَالْوَضِيعُ فِي نَسَبِهِ لَيْسَ حَسِيبًا وَلَوْ كَانَ ذَا مَالٍ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ التَّقْرِيرِ لَهُ وَالْإِعْلَامِ بِصِحَّتِهِ وَإِنْ تَفَاخَرَ الْإِنْسَانُ بِآبَائِهِ الَّذِينَ انْقَرَضُوا مَعَ فَقْرِهِ لَا يَحْصُلُ لَهُ حَسَبٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ حَسَبُهُ وَشَرَفُهُ بِمَالِهِ فَهُوَ الَّذِي يَرْفَعُ شَأْنَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ طَيِّبَ النَّسَبِ“Hadis ini bisa bermakna celaan (terhadap harta). Karena kemuliaan sesungguhnya dimiliki oleh orang yang bernasab mulia, walaupun dia fakir. Orang yang nasabnya rendah, maka ia bukan orang yang punya ahsab, walaupun dia kaya raya.Baca Juga: Status Harta Wasiat untuk Ahli WarisAtau hadis ini bermakna pemberitahuan tentang benarnya suatu fakta. Karena orang yang berbangga dengan nasabnya ketika dia miskin, maka ia tidak mendapatkan kemuliaan. Ia akan mendapatkan kemuliaan dengan hartanya. Inilah yang akan meninggikan dia di dunia, walaupun ia tidak baik nasabnya” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Beliau Rahimahullah lalu mengatakan,وَيَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَيْنِ الِاحْتِمَالَيْنِ أَنَّ الْمَالَ هَلْ هُوَ مُعْتَبَرٌ فِي كَفَاءَةِ النِّكَاحِ حَتَّى لَا يَكُونَ الْفَقِيرُ كُفُؤًا لِلْغَنِيَّةِ أَوْ لَيْسَ مُعْتَبَرًا … وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ لِأَصْحَابِنَا الشَّافِعِيَّةِ وَالْأَصَحُّ عِنْدَهُمْ عَدَمُ اعْتِبَارِهِ، وَقَدْ فَهِمَ النَّسَائِيّ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ هَذَا الْمَعْنَى فِي الْجُمْلَةِ“Dengan dua kemungkinan makna di atas, memberikan satu pertanyaan yaitu apakah harta menjadi pertimbangan dalam kafa’ah nikah sehingga lelaki yang fakir sebaiknya tidak menikahi wanita kaya? Ataukah tidak perlu menjadi pertimbangan? Dalam masalah ini ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama. Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, yang sahih harta tidak perlu menjadi pertimbangan. An Nasa’i juga memahami hadis ini dengan makna tersebut secara umum” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Dari sini kita ketahui bahwa hadis ini disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan kafa’ah (kesetaraan) dalam pernikahan, yaitu apakah perlu mempertimbangkan masalah harta dari calon pasangan ataukah tidak perlu? Menurut sebagian ulama, kesetaraan dalam masalah harta perlu dipertimbangkan, sebagaimana penjelasan Al Iraqi di atas. Sebagaimana juga dalam hadis Fathimah bintu Qais Radhiallahu’anha, ia berkata,أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏“Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku berkata, ‘Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya’” (HR. Muslim no. 1480).Perkataan beliau “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta” ini menunjukkan masalah harta boleh jadi pertimbangan.Namun hadis Buraidah di atas bukan berarti memotivasi untuk menjadikan masalah harta sebagai patokan utama atau motivasi untuk menumpuk dan mengejar harta dunia. Karena Al Iraqi menjelaskan, makna hadis ini tidak lepas dari dua:1. celaan terhadap harta;2. mengabarkan bahwa yang dianggap kemuliaan oleh penduduk dunia adalah harta.Ash Shan’ani Rahimahullah juga menjelaskan,(إن أحساب أهل الدنيا) التي هي همهم (الذين يذهبون إليه) يتفاخرون به (هذا المال) وفيه أن فخر أهل الآخرة هو الدين الذي ليس فوقه من فخر“[Sesungguhnya kemuliaan bagi penduduk dunia] yang mereka berambisi padanya, [yang mereka semangat mengejarnya], serta mereka berbangga dengannya [adalah harta]. Hadis ini menunjukkan bahwa kebanggaan ahlul akhirah (orang yang ambisinya pada akhirat) adalah agama dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi dari agama” (At Tanwir Syarhu Jami’is Shaghir, 3: 564).Semakna juga dengan perkataan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ’anhu,ألا وإن الدنيا قد ترحلت مدبرة ، ألا وإن الآخرة قد ترحلت مقبلة ، ولكل واحدة منهما بنون ، فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا ، فإن اليوم عمل ولا حساب ، وغدا حساب ولا عمل“Ketahuilah, bahwa dunia sedikit-demi-sedikit kita tinggalkan, sedangkan akhirat sedikit-demi-sedikit akan segera kita temui. Masing-masing mereka memiliki anak-anak. Maka jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini (di dunia) adalah waktunya beramal dan belum ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) waktunya hisab dan tidak ada lagi amalan” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7: 3426).Anak-anak dunia, merekalah yang menjadikan perkara duniawi sebagai kebanggaan dan patokan kemuliaan.Maka hadis ini, walaupun bisa bermakna bahwa dianjurkan kafa’ah (setara) dalam masalah harta dalam mencari calon pasangan, namun bukan berarti memuji harta atau menjadikan harta sebagai patokan utama. Patokan utama tetap saja masalah agama. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la: 16-17).Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya” (QS. An Nur: 32).Dalam ayat ini Allah perintahkan untuk menikahkan para bujang walaupun mereka miskin. Ini menunjukkan bahwa masalah harta bukan acuan utama. Lebih jelas lagi adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466).Baca Juga: Jangan Memakan Harta Secara BatilDari Zaid bin Tsabit Radhiallahu’ahu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.“Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya” (HR. Ahmad, disahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 950).Dalil-dalil ini jelas memotivasi kita untuk menjadikan masalah agama sebagai patokan utama dan sebagai parameter kemuliaan dunia dan akhirat. Bukan masalah dunia.Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Doa Doa Dalam Alquran, Hadits Tentang Qanaah, Ceramah Tentang Sombong, Niat Sholat Qodho Dhuhur Dan Ashar, Benarkah Bumi Itu Bulat

Penjelasan Hadits “Kemuliaan Bagi Penduduk Dunia adalah Harta”

Terdapat sebuah hadis yang menyebutkan bahwa kemuliaan penduduk dunia adalah dengan memiliki banyak harta. Bagaimana maksud hadis ini? Apakah hadis ini adalah motivasi untuk mengumpulkan harta? Simak penjelasan singkat dalam artikel ini.Dari Buraidah Al Aslami Radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia adalah harta” (HR. Ahmad no. 23059. Syekh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “hadis ini sanadnya qawiy [kuat]”).Dalam riwayat lain,إنَّ أحسابَ أهلِ الدنيا الذين يذهبونَ إليه هذا المالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia, yang senantiasa mereka kejar-kejar, adalah harta” (HR. An Nasa’i no. 3225. Disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).Al Hafizh Al Iraqi Rahimahullah menjelaskan makna ahsab dalam hadis ini,الْحَسَبُ بِفَتْحِ السِّينِ أَصْلُهُ الشَّرَفُ بِالْآبَاءِ وَمَا يُعِدُّهُ الْإِنْسَانُ مِنْ مَفَاخِرِهِمْ وَجَمْعُهُ أَحْسَابٌ“Al hasab dengan huruf sin di-fathah, maknanya adalah kemuliaan terhadap nenek moyang dan hal-hal yang dianggap kebanggan oleh manusia. Bentuk jamaknya: ahsab” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 19).Kemudian beliau Rahimahullah menjelaskan,هَذَا الْحَدِيثُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ الذَّمِّ لِذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْأَحْسَابَ إنَّمَا هِيَ بِالْإِنْسَانِ لَا بِالْمَالِ فَصَاحِبُ النَّسَبِ الْعَالِي هُوَ الْحَسِيبُ، وَلَوْ كَانَ فَقِيرًا وَالْوَضِيعُ فِي نَسَبِهِ لَيْسَ حَسِيبًا وَلَوْ كَانَ ذَا مَالٍ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ التَّقْرِيرِ لَهُ وَالْإِعْلَامِ بِصِحَّتِهِ وَإِنْ تَفَاخَرَ الْإِنْسَانُ بِآبَائِهِ الَّذِينَ انْقَرَضُوا مَعَ فَقْرِهِ لَا يَحْصُلُ لَهُ حَسَبٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ حَسَبُهُ وَشَرَفُهُ بِمَالِهِ فَهُوَ الَّذِي يَرْفَعُ شَأْنَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ طَيِّبَ النَّسَبِ“Hadis ini bisa bermakna celaan (terhadap harta). Karena kemuliaan sesungguhnya dimiliki oleh orang yang bernasab mulia, walaupun dia fakir. Orang yang nasabnya rendah, maka ia bukan orang yang punya ahsab, walaupun dia kaya raya.Baca Juga: Status Harta Wasiat untuk Ahli WarisAtau hadis ini bermakna pemberitahuan tentang benarnya suatu fakta. Karena orang yang berbangga dengan nasabnya ketika dia miskin, maka ia tidak mendapatkan kemuliaan. Ia akan mendapatkan kemuliaan dengan hartanya. Inilah yang akan meninggikan dia di dunia, walaupun ia tidak baik nasabnya” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Beliau Rahimahullah lalu mengatakan,وَيَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَيْنِ الِاحْتِمَالَيْنِ أَنَّ الْمَالَ هَلْ هُوَ مُعْتَبَرٌ فِي كَفَاءَةِ النِّكَاحِ حَتَّى لَا يَكُونَ الْفَقِيرُ كُفُؤًا لِلْغَنِيَّةِ أَوْ لَيْسَ مُعْتَبَرًا … وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ لِأَصْحَابِنَا الشَّافِعِيَّةِ وَالْأَصَحُّ عِنْدَهُمْ عَدَمُ اعْتِبَارِهِ، وَقَدْ فَهِمَ النَّسَائِيّ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ هَذَا الْمَعْنَى فِي الْجُمْلَةِ“Dengan dua kemungkinan makna di atas, memberikan satu pertanyaan yaitu apakah harta menjadi pertimbangan dalam kafa’ah nikah sehingga lelaki yang fakir sebaiknya tidak menikahi wanita kaya? Ataukah tidak perlu menjadi pertimbangan? Dalam masalah ini ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama. Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, yang sahih harta tidak perlu menjadi pertimbangan. An Nasa’i juga memahami hadis ini dengan makna tersebut secara umum” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Dari sini kita ketahui bahwa hadis ini disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan kafa’ah (kesetaraan) dalam pernikahan, yaitu apakah perlu mempertimbangkan masalah harta dari calon pasangan ataukah tidak perlu? Menurut sebagian ulama, kesetaraan dalam masalah harta perlu dipertimbangkan, sebagaimana penjelasan Al Iraqi di atas. Sebagaimana juga dalam hadis Fathimah bintu Qais Radhiallahu’anha, ia berkata,أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏“Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku berkata, ‘Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya’” (HR. Muslim no. 1480).Perkataan beliau “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta” ini menunjukkan masalah harta boleh jadi pertimbangan.Namun hadis Buraidah di atas bukan berarti memotivasi untuk menjadikan masalah harta sebagai patokan utama atau motivasi untuk menumpuk dan mengejar harta dunia. Karena Al Iraqi menjelaskan, makna hadis ini tidak lepas dari dua:1. celaan terhadap harta;2. mengabarkan bahwa yang dianggap kemuliaan oleh penduduk dunia adalah harta.Ash Shan’ani Rahimahullah juga menjelaskan,(إن أحساب أهل الدنيا) التي هي همهم (الذين يذهبون إليه) يتفاخرون به (هذا المال) وفيه أن فخر أهل الآخرة هو الدين الذي ليس فوقه من فخر“[Sesungguhnya kemuliaan bagi penduduk dunia] yang mereka berambisi padanya, [yang mereka semangat mengejarnya], serta mereka berbangga dengannya [adalah harta]. Hadis ini menunjukkan bahwa kebanggaan ahlul akhirah (orang yang ambisinya pada akhirat) adalah agama dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi dari agama” (At Tanwir Syarhu Jami’is Shaghir, 3: 564).Semakna juga dengan perkataan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ’anhu,ألا وإن الدنيا قد ترحلت مدبرة ، ألا وإن الآخرة قد ترحلت مقبلة ، ولكل واحدة منهما بنون ، فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا ، فإن اليوم عمل ولا حساب ، وغدا حساب ولا عمل“Ketahuilah, bahwa dunia sedikit-demi-sedikit kita tinggalkan, sedangkan akhirat sedikit-demi-sedikit akan segera kita temui. Masing-masing mereka memiliki anak-anak. Maka jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini (di dunia) adalah waktunya beramal dan belum ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) waktunya hisab dan tidak ada lagi amalan” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7: 3426).Anak-anak dunia, merekalah yang menjadikan perkara duniawi sebagai kebanggaan dan patokan kemuliaan.Maka hadis ini, walaupun bisa bermakna bahwa dianjurkan kafa’ah (setara) dalam masalah harta dalam mencari calon pasangan, namun bukan berarti memuji harta atau menjadikan harta sebagai patokan utama. Patokan utama tetap saja masalah agama. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la: 16-17).Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya” (QS. An Nur: 32).Dalam ayat ini Allah perintahkan untuk menikahkan para bujang walaupun mereka miskin. Ini menunjukkan bahwa masalah harta bukan acuan utama. Lebih jelas lagi adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466).Baca Juga: Jangan Memakan Harta Secara BatilDari Zaid bin Tsabit Radhiallahu’ahu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.“Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya” (HR. Ahmad, disahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 950).Dalil-dalil ini jelas memotivasi kita untuk menjadikan masalah agama sebagai patokan utama dan sebagai parameter kemuliaan dunia dan akhirat. Bukan masalah dunia.Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Doa Doa Dalam Alquran, Hadits Tentang Qanaah, Ceramah Tentang Sombong, Niat Sholat Qodho Dhuhur Dan Ashar, Benarkah Bumi Itu Bulat
Terdapat sebuah hadis yang menyebutkan bahwa kemuliaan penduduk dunia adalah dengan memiliki banyak harta. Bagaimana maksud hadis ini? Apakah hadis ini adalah motivasi untuk mengumpulkan harta? Simak penjelasan singkat dalam artikel ini.Dari Buraidah Al Aslami Radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia adalah harta” (HR. Ahmad no. 23059. Syekh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “hadis ini sanadnya qawiy [kuat]”).Dalam riwayat lain,إنَّ أحسابَ أهلِ الدنيا الذين يذهبونَ إليه هذا المالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia, yang senantiasa mereka kejar-kejar, adalah harta” (HR. An Nasa’i no. 3225. Disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).Al Hafizh Al Iraqi Rahimahullah menjelaskan makna ahsab dalam hadis ini,الْحَسَبُ بِفَتْحِ السِّينِ أَصْلُهُ الشَّرَفُ بِالْآبَاءِ وَمَا يُعِدُّهُ الْإِنْسَانُ مِنْ مَفَاخِرِهِمْ وَجَمْعُهُ أَحْسَابٌ“Al hasab dengan huruf sin di-fathah, maknanya adalah kemuliaan terhadap nenek moyang dan hal-hal yang dianggap kebanggan oleh manusia. Bentuk jamaknya: ahsab” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 19).Kemudian beliau Rahimahullah menjelaskan,هَذَا الْحَدِيثُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ الذَّمِّ لِذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْأَحْسَابَ إنَّمَا هِيَ بِالْإِنْسَانِ لَا بِالْمَالِ فَصَاحِبُ النَّسَبِ الْعَالِي هُوَ الْحَسِيبُ، وَلَوْ كَانَ فَقِيرًا وَالْوَضِيعُ فِي نَسَبِهِ لَيْسَ حَسِيبًا وَلَوْ كَانَ ذَا مَالٍ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ التَّقْرِيرِ لَهُ وَالْإِعْلَامِ بِصِحَّتِهِ وَإِنْ تَفَاخَرَ الْإِنْسَانُ بِآبَائِهِ الَّذِينَ انْقَرَضُوا مَعَ فَقْرِهِ لَا يَحْصُلُ لَهُ حَسَبٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ حَسَبُهُ وَشَرَفُهُ بِمَالِهِ فَهُوَ الَّذِي يَرْفَعُ شَأْنَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ طَيِّبَ النَّسَبِ“Hadis ini bisa bermakna celaan (terhadap harta). Karena kemuliaan sesungguhnya dimiliki oleh orang yang bernasab mulia, walaupun dia fakir. Orang yang nasabnya rendah, maka ia bukan orang yang punya ahsab, walaupun dia kaya raya.Baca Juga: Status Harta Wasiat untuk Ahli WarisAtau hadis ini bermakna pemberitahuan tentang benarnya suatu fakta. Karena orang yang berbangga dengan nasabnya ketika dia miskin, maka ia tidak mendapatkan kemuliaan. Ia akan mendapatkan kemuliaan dengan hartanya. Inilah yang akan meninggikan dia di dunia, walaupun ia tidak baik nasabnya” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Beliau Rahimahullah lalu mengatakan,وَيَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَيْنِ الِاحْتِمَالَيْنِ أَنَّ الْمَالَ هَلْ هُوَ مُعْتَبَرٌ فِي كَفَاءَةِ النِّكَاحِ حَتَّى لَا يَكُونَ الْفَقِيرُ كُفُؤًا لِلْغَنِيَّةِ أَوْ لَيْسَ مُعْتَبَرًا … وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ لِأَصْحَابِنَا الشَّافِعِيَّةِ وَالْأَصَحُّ عِنْدَهُمْ عَدَمُ اعْتِبَارِهِ، وَقَدْ فَهِمَ النَّسَائِيّ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ هَذَا الْمَعْنَى فِي الْجُمْلَةِ“Dengan dua kemungkinan makna di atas, memberikan satu pertanyaan yaitu apakah harta menjadi pertimbangan dalam kafa’ah nikah sehingga lelaki yang fakir sebaiknya tidak menikahi wanita kaya? Ataukah tidak perlu menjadi pertimbangan? Dalam masalah ini ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama. Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, yang sahih harta tidak perlu menjadi pertimbangan. An Nasa’i juga memahami hadis ini dengan makna tersebut secara umum” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Dari sini kita ketahui bahwa hadis ini disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan kafa’ah (kesetaraan) dalam pernikahan, yaitu apakah perlu mempertimbangkan masalah harta dari calon pasangan ataukah tidak perlu? Menurut sebagian ulama, kesetaraan dalam masalah harta perlu dipertimbangkan, sebagaimana penjelasan Al Iraqi di atas. Sebagaimana juga dalam hadis Fathimah bintu Qais Radhiallahu’anha, ia berkata,أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏“Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku berkata, ‘Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya’” (HR. Muslim no. 1480).Perkataan beliau “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta” ini menunjukkan masalah harta boleh jadi pertimbangan.Namun hadis Buraidah di atas bukan berarti memotivasi untuk menjadikan masalah harta sebagai patokan utama atau motivasi untuk menumpuk dan mengejar harta dunia. Karena Al Iraqi menjelaskan, makna hadis ini tidak lepas dari dua:1. celaan terhadap harta;2. mengabarkan bahwa yang dianggap kemuliaan oleh penduduk dunia adalah harta.Ash Shan’ani Rahimahullah juga menjelaskan,(إن أحساب أهل الدنيا) التي هي همهم (الذين يذهبون إليه) يتفاخرون به (هذا المال) وفيه أن فخر أهل الآخرة هو الدين الذي ليس فوقه من فخر“[Sesungguhnya kemuliaan bagi penduduk dunia] yang mereka berambisi padanya, [yang mereka semangat mengejarnya], serta mereka berbangga dengannya [adalah harta]. Hadis ini menunjukkan bahwa kebanggaan ahlul akhirah (orang yang ambisinya pada akhirat) adalah agama dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi dari agama” (At Tanwir Syarhu Jami’is Shaghir, 3: 564).Semakna juga dengan perkataan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ’anhu,ألا وإن الدنيا قد ترحلت مدبرة ، ألا وإن الآخرة قد ترحلت مقبلة ، ولكل واحدة منهما بنون ، فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا ، فإن اليوم عمل ولا حساب ، وغدا حساب ولا عمل“Ketahuilah, bahwa dunia sedikit-demi-sedikit kita tinggalkan, sedangkan akhirat sedikit-demi-sedikit akan segera kita temui. Masing-masing mereka memiliki anak-anak. Maka jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini (di dunia) adalah waktunya beramal dan belum ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) waktunya hisab dan tidak ada lagi amalan” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7: 3426).Anak-anak dunia, merekalah yang menjadikan perkara duniawi sebagai kebanggaan dan patokan kemuliaan.Maka hadis ini, walaupun bisa bermakna bahwa dianjurkan kafa’ah (setara) dalam masalah harta dalam mencari calon pasangan, namun bukan berarti memuji harta atau menjadikan harta sebagai patokan utama. Patokan utama tetap saja masalah agama. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la: 16-17).Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya” (QS. An Nur: 32).Dalam ayat ini Allah perintahkan untuk menikahkan para bujang walaupun mereka miskin. Ini menunjukkan bahwa masalah harta bukan acuan utama. Lebih jelas lagi adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466).Baca Juga: Jangan Memakan Harta Secara BatilDari Zaid bin Tsabit Radhiallahu’ahu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.“Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya” (HR. Ahmad, disahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 950).Dalil-dalil ini jelas memotivasi kita untuk menjadikan masalah agama sebagai patokan utama dan sebagai parameter kemuliaan dunia dan akhirat. Bukan masalah dunia.Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Doa Doa Dalam Alquran, Hadits Tentang Qanaah, Ceramah Tentang Sombong, Niat Sholat Qodho Dhuhur Dan Ashar, Benarkah Bumi Itu Bulat


Terdapat sebuah hadis yang menyebutkan bahwa kemuliaan penduduk dunia adalah dengan memiliki banyak harta. Bagaimana maksud hadis ini? Apakah hadis ini adalah motivasi untuk mengumpulkan harta? Simak penjelasan singkat dalam artikel ini.Dari Buraidah Al Aslami Radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia adalah harta” (HR. Ahmad no. 23059. Syekh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “hadis ini sanadnya qawiy [kuat]”).Dalam riwayat lain,إنَّ أحسابَ أهلِ الدنيا الذين يذهبونَ إليه هذا المالُ“Sesungguhnya ahsab (kemuliaan) bagi penduduk dunia, yang senantiasa mereka kejar-kejar, adalah harta” (HR. An Nasa’i no. 3225. Disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).Al Hafizh Al Iraqi Rahimahullah menjelaskan makna ahsab dalam hadis ini,الْحَسَبُ بِفَتْحِ السِّينِ أَصْلُهُ الشَّرَفُ بِالْآبَاءِ وَمَا يُعِدُّهُ الْإِنْسَانُ مِنْ مَفَاخِرِهِمْ وَجَمْعُهُ أَحْسَابٌ“Al hasab dengan huruf sin di-fathah, maknanya adalah kemuliaan terhadap nenek moyang dan hal-hal yang dianggap kebanggan oleh manusia. Bentuk jamaknya: ahsab” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 19).Kemudian beliau Rahimahullah menjelaskan,هَذَا الْحَدِيثُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ الذَّمِّ لِذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْأَحْسَابَ إنَّمَا هِيَ بِالْإِنْسَانِ لَا بِالْمَالِ فَصَاحِبُ النَّسَبِ الْعَالِي هُوَ الْحَسِيبُ، وَلَوْ كَانَ فَقِيرًا وَالْوَضِيعُ فِي نَسَبِهِ لَيْسَ حَسِيبًا وَلَوْ كَانَ ذَا مَالٍ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ خَرَجَ مَخْرَجَ التَّقْرِيرِ لَهُ وَالْإِعْلَامِ بِصِحَّتِهِ وَإِنْ تَفَاخَرَ الْإِنْسَانُ بِآبَائِهِ الَّذِينَ انْقَرَضُوا مَعَ فَقْرِهِ لَا يَحْصُلُ لَهُ حَسَبٌ وَإِنَّمَا يَكُونُ حَسَبُهُ وَشَرَفُهُ بِمَالِهِ فَهُوَ الَّذِي يَرْفَعُ شَأْنَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ طَيِّبَ النَّسَبِ“Hadis ini bisa bermakna celaan (terhadap harta). Karena kemuliaan sesungguhnya dimiliki oleh orang yang bernasab mulia, walaupun dia fakir. Orang yang nasabnya rendah, maka ia bukan orang yang punya ahsab, walaupun dia kaya raya.Baca Juga: Status Harta Wasiat untuk Ahli WarisAtau hadis ini bermakna pemberitahuan tentang benarnya suatu fakta. Karena orang yang berbangga dengan nasabnya ketika dia miskin, maka ia tidak mendapatkan kemuliaan. Ia akan mendapatkan kemuliaan dengan hartanya. Inilah yang akan meninggikan dia di dunia, walaupun ia tidak baik nasabnya” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Beliau Rahimahullah lalu mengatakan,وَيَتَرَتَّبُ عَلَى هَذَيْنِ الِاحْتِمَالَيْنِ أَنَّ الْمَالَ هَلْ هُوَ مُعْتَبَرٌ فِي كَفَاءَةِ النِّكَاحِ حَتَّى لَا يَكُونَ الْفَقِيرُ كُفُؤًا لِلْغَنِيَّةِ أَوْ لَيْسَ مُعْتَبَرًا … وَفِي ذَلِكَ خِلَافٌ لِأَصْحَابِنَا الشَّافِعِيَّةِ وَالْأَصَحُّ عِنْدَهُمْ عَدَمُ اعْتِبَارِهِ، وَقَدْ فَهِمَ النَّسَائِيّ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ هَذَا الْمَعْنَى فِي الْجُمْلَةِ“Dengan dua kemungkinan makna di atas, memberikan satu pertanyaan yaitu apakah harta menjadi pertimbangan dalam kafa’ah nikah sehingga lelaki yang fakir sebaiknya tidak menikahi wanita kaya? Ataukah tidak perlu menjadi pertimbangan? Dalam masalah ini ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara ulama. Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, yang sahih harta tidak perlu menjadi pertimbangan. An Nasa’i juga memahami hadis ini dengan makna tersebut secara umum” (Tharhu at-Tatsrib, 7: 20).Dari sini kita ketahui bahwa hadis ini disebutkan oleh para ulama dalam pembahasan kafa’ah (kesetaraan) dalam pernikahan, yaitu apakah perlu mempertimbangkan masalah harta dari calon pasangan ataukah tidak perlu? Menurut sebagian ulama, kesetaraan dalam masalah harta perlu dipertimbangkan, sebagaimana penjelasan Al Iraqi di atas. Sebagaimana juga dalam hadis Fathimah bintu Qais Radhiallahu’anha, ia berkata,أتيت النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت‏:‏ إن أبا الجهم ومعاوية خطباني‏؟‏ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏‏”‏أما معاوية، فصعلوك لا مال له ، وأما أبوالجهم، فلا يضع العصا عن عاتقه‏“Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku berkata, ‘Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta. Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya’” (HR. Muslim no. 1480).Perkataan beliau “Adapun Mu’awiyah adalah orang fakir, ia tidak mempunyai harta” ini menunjukkan masalah harta boleh jadi pertimbangan.Namun hadis Buraidah di atas bukan berarti memotivasi untuk menjadikan masalah harta sebagai patokan utama atau motivasi untuk menumpuk dan mengejar harta dunia. Karena Al Iraqi menjelaskan, makna hadis ini tidak lepas dari dua:1. celaan terhadap harta;2. mengabarkan bahwa yang dianggap kemuliaan oleh penduduk dunia adalah harta.Ash Shan’ani Rahimahullah juga menjelaskan,(إن أحساب أهل الدنيا) التي هي همهم (الذين يذهبون إليه) يتفاخرون به (هذا المال) وفيه أن فخر أهل الآخرة هو الدين الذي ليس فوقه من فخر“[Sesungguhnya kemuliaan bagi penduduk dunia] yang mereka berambisi padanya, [yang mereka semangat mengejarnya], serta mereka berbangga dengannya [adalah harta]. Hadis ini menunjukkan bahwa kebanggaan ahlul akhirah (orang yang ambisinya pada akhirat) adalah agama dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi dari agama” (At Tanwir Syarhu Jami’is Shaghir, 3: 564).Semakna juga dengan perkataan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ’anhu,ألا وإن الدنيا قد ترحلت مدبرة ، ألا وإن الآخرة قد ترحلت مقبلة ، ولكل واحدة منهما بنون ، فكونوا من أبناء الآخرة ولا تكونوا من أبناء الدنيا ، فإن اليوم عمل ولا حساب ، وغدا حساب ولا عمل“Ketahuilah, bahwa dunia sedikit-demi-sedikit kita tinggalkan, sedangkan akhirat sedikit-demi-sedikit akan segera kita temui. Masing-masing mereka memiliki anak-anak. Maka jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini (di dunia) adalah waktunya beramal dan belum ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) waktunya hisab dan tidak ada lagi amalan” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7: 3426).Anak-anak dunia, merekalah yang menjadikan perkara duniawi sebagai kebanggaan dan patokan kemuliaan.Maka hadis ini, walaupun bisa bermakna bahwa dianjurkan kafa’ah (setara) dalam masalah harta dalam mencari calon pasangan, namun bukan berarti memuji harta atau menjadikan harta sebagai patokan utama. Patokan utama tetap saja masalah agama. Allah Ta’ala berfirman,بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la: 16-17).Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kalian. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya” (QS. An Nur: 32).Dalam ayat ini Allah perintahkan untuk menikahkan para bujang walaupun mereka miskin. Ini menunjukkan bahwa masalah harta bukan acuan utama. Lebih jelas lagi adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466).Baca Juga: Jangan Memakan Harta Secara BatilDari Zaid bin Tsabit Radhiallahu’ahu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.“Barangsiapa ambisi terbesarnya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefaqiran di depan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, Allah akan memudahkan urusannya, Allah jadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam ia tidak menyangkanya” (HR. Ahmad, disahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 950).Dalil-dalil ini jelas memotivasi kita untuk menjadikan masalah agama sebagai patokan utama dan sebagai parameter kemuliaan dunia dan akhirat. Bukan masalah dunia.Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Doa Doa Dalam Alquran, Hadits Tentang Qanaah, Ceramah Tentang Sombong, Niat Sholat Qodho Dhuhur Dan Ashar, Benarkah Bumi Itu Bulat

Menggapai Pahala dalam Amarah

Allah Ta’ala menganugerahkan perasaan bagi manusia dengan segala hikmahnya. Ada rasa senang, sedih, bahagia, cemas, bahkan rasa benci dan marah. Semua jenis perasaan tersebut apabila dapat dikendalikan dengan niat ingin mendapatkan rida-Nya, tentu akan berbuah pahala. Sebab, bagaimanapun keadaan kita, baik dalam kesusahan maupun kesenangan, tetap saja ada celah untuk mendapatkan limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Itulah indahnya menjadi seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin (yang beriman). Semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya). Dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur. Maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar. Maka itu adalah kebaikan baginya.” [1] Amarah Ibarat Dua Sisi Mata PisauKita ambil contoh rasa marah. Ketika melihat atau mendengar seseorang yang melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Ta’ala, maka amarah yang kemudian timbul karena membenci perbuatan orang tersebut akan menjadi pahala. Hal ini karena kita telah menjalankan amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan lisannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” [2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kita untuk membenci perbuatan kufur untuk diri kita sendiri. Hal ini menandakan bahwa perasaan marah atau benci itu juga ada tempatnya. Bahkan rasa marah atau benci tersebut  bisa menghantarkan kita untuk mendapatkan manisnya iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:(1) Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.(2) Apabila ia mencintai seseorang yang ia mencintainya hanya karena Allah.(3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” [3] Namun, ketika kita tidak mampu mengendalikan semua perasaan itu, maka kita justru akan melakukan banyak kekeliruan yang bermuara pada dosa dan penyesalan. Seperti dalam kondisi marah, kadangkala kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Mulai dari berkata kasar, memecahkan benda-benda, menyalahkan siapa saja, hingga bertindak di luar kesadaran yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.Oleh karenanya, penting bagi kita untuk membekali diri dengan mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat perhatian terhadap pengendalian amarah. Kita dapat melihat banyak riwayat yang menerangkan betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan selalu mengajarkan ummatnya agar mampu untuk mengendalikan amarahnya.Baca Juga: Akibat Tidak Amanah dalam KepemimpinanPesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang AmarahPertama, wasiat dalam mengendalikan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pengendalian amarah sebagai wasiat kepada kita.Sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu  bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Berilah aku wasiat!”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau jangan marah!” (HR Al-Bukhari).Kedua, kendalikan amarah dengan duduk, berbaring, dan diamNabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk, berbaring, ataupun diam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk! Apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya). Dan jika belum, hendaklah ia berbaring!” [4] Diam juga menjadi solusi ketika amarah menghampiri diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam!” [5] Ketiga, menahan amarah, bentuk kekuatan yang hakikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” [6] Keempat, janji surga bagi orang yang mampu menahan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة“Janganlah kamu marah, dan bagimu surga.” [7] Kelima, bidadari dan tempat khusus di hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia, sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” [8] Saudaraku, betapa kita dapat membuktikan kasih sayang Allah Ta’ala di setiap lini kehidupan yang kita jalani. Semua hal yang terjadi pada diri kita dapat berbuah pahala dan kemuliaan di sisi Allah yang kemudian dapat memberikan jalan untuk menggapai surga-Nya. Bahkan, rasa amarah yang dari sudut pandang lain, kita ketahui bisa sebagai sumber malapetaka. Akan tetapi, dapat menjadi sumber pahala, tergantung pada bagaimana niat dan sikap kita dalam mengendalikannya sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keimanan dan ketakwaan kepada kita agar selalu ingat bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya.وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينCatatan Kaki: HR. Muslim no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ’anhu. HR. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al-Khudri. HR. Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa’i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033) dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu. HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. HR Ahmad (I/239, 283, 365), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), Al-Bazzar (no. 152- Kasyful Atsar) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. HR. Bukhari (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud (no. 4777), At-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440). Baca Juga:Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id

Menggapai Pahala dalam Amarah

Allah Ta’ala menganugerahkan perasaan bagi manusia dengan segala hikmahnya. Ada rasa senang, sedih, bahagia, cemas, bahkan rasa benci dan marah. Semua jenis perasaan tersebut apabila dapat dikendalikan dengan niat ingin mendapatkan rida-Nya, tentu akan berbuah pahala. Sebab, bagaimanapun keadaan kita, baik dalam kesusahan maupun kesenangan, tetap saja ada celah untuk mendapatkan limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Itulah indahnya menjadi seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin (yang beriman). Semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya). Dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur. Maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar. Maka itu adalah kebaikan baginya.” [1] Amarah Ibarat Dua Sisi Mata PisauKita ambil contoh rasa marah. Ketika melihat atau mendengar seseorang yang melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Ta’ala, maka amarah yang kemudian timbul karena membenci perbuatan orang tersebut akan menjadi pahala. Hal ini karena kita telah menjalankan amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan lisannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” [2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kita untuk membenci perbuatan kufur untuk diri kita sendiri. Hal ini menandakan bahwa perasaan marah atau benci itu juga ada tempatnya. Bahkan rasa marah atau benci tersebut  bisa menghantarkan kita untuk mendapatkan manisnya iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:(1) Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.(2) Apabila ia mencintai seseorang yang ia mencintainya hanya karena Allah.(3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” [3] Namun, ketika kita tidak mampu mengendalikan semua perasaan itu, maka kita justru akan melakukan banyak kekeliruan yang bermuara pada dosa dan penyesalan. Seperti dalam kondisi marah, kadangkala kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Mulai dari berkata kasar, memecahkan benda-benda, menyalahkan siapa saja, hingga bertindak di luar kesadaran yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.Oleh karenanya, penting bagi kita untuk membekali diri dengan mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat perhatian terhadap pengendalian amarah. Kita dapat melihat banyak riwayat yang menerangkan betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan selalu mengajarkan ummatnya agar mampu untuk mengendalikan amarahnya.Baca Juga: Akibat Tidak Amanah dalam KepemimpinanPesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang AmarahPertama, wasiat dalam mengendalikan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pengendalian amarah sebagai wasiat kepada kita.Sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu  bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Berilah aku wasiat!”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau jangan marah!” (HR Al-Bukhari).Kedua, kendalikan amarah dengan duduk, berbaring, dan diamNabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk, berbaring, ataupun diam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk! Apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya). Dan jika belum, hendaklah ia berbaring!” [4] Diam juga menjadi solusi ketika amarah menghampiri diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam!” [5] Ketiga, menahan amarah, bentuk kekuatan yang hakikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” [6] Keempat, janji surga bagi orang yang mampu menahan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة“Janganlah kamu marah, dan bagimu surga.” [7] Kelima, bidadari dan tempat khusus di hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia, sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” [8] Saudaraku, betapa kita dapat membuktikan kasih sayang Allah Ta’ala di setiap lini kehidupan yang kita jalani. Semua hal yang terjadi pada diri kita dapat berbuah pahala dan kemuliaan di sisi Allah yang kemudian dapat memberikan jalan untuk menggapai surga-Nya. Bahkan, rasa amarah yang dari sudut pandang lain, kita ketahui bisa sebagai sumber malapetaka. Akan tetapi, dapat menjadi sumber pahala, tergantung pada bagaimana niat dan sikap kita dalam mengendalikannya sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keimanan dan ketakwaan kepada kita agar selalu ingat bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya.وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينCatatan Kaki: HR. Muslim no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ’anhu. HR. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al-Khudri. HR. Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa’i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033) dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu. HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. HR Ahmad (I/239, 283, 365), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), Al-Bazzar (no. 152- Kasyful Atsar) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. HR. Bukhari (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud (no. 4777), At-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440). Baca Juga:Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id
Allah Ta’ala menganugerahkan perasaan bagi manusia dengan segala hikmahnya. Ada rasa senang, sedih, bahagia, cemas, bahkan rasa benci dan marah. Semua jenis perasaan tersebut apabila dapat dikendalikan dengan niat ingin mendapatkan rida-Nya, tentu akan berbuah pahala. Sebab, bagaimanapun keadaan kita, baik dalam kesusahan maupun kesenangan, tetap saja ada celah untuk mendapatkan limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Itulah indahnya menjadi seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin (yang beriman). Semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya). Dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur. Maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar. Maka itu adalah kebaikan baginya.” [1] Amarah Ibarat Dua Sisi Mata PisauKita ambil contoh rasa marah. Ketika melihat atau mendengar seseorang yang melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Ta’ala, maka amarah yang kemudian timbul karena membenci perbuatan orang tersebut akan menjadi pahala. Hal ini karena kita telah menjalankan amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan lisannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” [2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kita untuk membenci perbuatan kufur untuk diri kita sendiri. Hal ini menandakan bahwa perasaan marah atau benci itu juga ada tempatnya. Bahkan rasa marah atau benci tersebut  bisa menghantarkan kita untuk mendapatkan manisnya iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:(1) Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.(2) Apabila ia mencintai seseorang yang ia mencintainya hanya karena Allah.(3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” [3] Namun, ketika kita tidak mampu mengendalikan semua perasaan itu, maka kita justru akan melakukan banyak kekeliruan yang bermuara pada dosa dan penyesalan. Seperti dalam kondisi marah, kadangkala kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Mulai dari berkata kasar, memecahkan benda-benda, menyalahkan siapa saja, hingga bertindak di luar kesadaran yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.Oleh karenanya, penting bagi kita untuk membekali diri dengan mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat perhatian terhadap pengendalian amarah. Kita dapat melihat banyak riwayat yang menerangkan betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan selalu mengajarkan ummatnya agar mampu untuk mengendalikan amarahnya.Baca Juga: Akibat Tidak Amanah dalam KepemimpinanPesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang AmarahPertama, wasiat dalam mengendalikan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pengendalian amarah sebagai wasiat kepada kita.Sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu  bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Berilah aku wasiat!”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau jangan marah!” (HR Al-Bukhari).Kedua, kendalikan amarah dengan duduk, berbaring, dan diamNabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk, berbaring, ataupun diam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk! Apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya). Dan jika belum, hendaklah ia berbaring!” [4] Diam juga menjadi solusi ketika amarah menghampiri diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam!” [5] Ketiga, menahan amarah, bentuk kekuatan yang hakikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” [6] Keempat, janji surga bagi orang yang mampu menahan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة“Janganlah kamu marah, dan bagimu surga.” [7] Kelima, bidadari dan tempat khusus di hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia, sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” [8] Saudaraku, betapa kita dapat membuktikan kasih sayang Allah Ta’ala di setiap lini kehidupan yang kita jalani. Semua hal yang terjadi pada diri kita dapat berbuah pahala dan kemuliaan di sisi Allah yang kemudian dapat memberikan jalan untuk menggapai surga-Nya. Bahkan, rasa amarah yang dari sudut pandang lain, kita ketahui bisa sebagai sumber malapetaka. Akan tetapi, dapat menjadi sumber pahala, tergantung pada bagaimana niat dan sikap kita dalam mengendalikannya sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keimanan dan ketakwaan kepada kita agar selalu ingat bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya.وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينCatatan Kaki: HR. Muslim no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ’anhu. HR. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al-Khudri. HR. Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa’i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033) dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu. HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. HR Ahmad (I/239, 283, 365), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), Al-Bazzar (no. 152- Kasyful Atsar) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. HR. Bukhari (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud (no. 4777), At-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440). Baca Juga:Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id


Allah Ta’ala menganugerahkan perasaan bagi manusia dengan segala hikmahnya. Ada rasa senang, sedih, bahagia, cemas, bahkan rasa benci dan marah. Semua jenis perasaan tersebut apabila dapat dikendalikan dengan niat ingin mendapatkan rida-Nya, tentu akan berbuah pahala. Sebab, bagaimanapun keadaan kita, baik dalam kesusahan maupun kesenangan, tetap saja ada celah untuk mendapatkan limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Itulah indahnya menjadi seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له“Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin (yang beriman). Semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya). Dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur. Maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar. Maka itu adalah kebaikan baginya.” [1] Amarah Ibarat Dua Sisi Mata PisauKita ambil contoh rasa marah. Ketika melihat atau mendengar seseorang yang melakukan perbuatan melanggar syariat Allah Ta’ala, maka amarah yang kemudian timbul karena membenci perbuatan orang tersebut akan menjadi pahala. Hal ini karena kita telah menjalankan amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan lisannya. Apabila tidak sanggup, (ubahlah) dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” [2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kita untuk membenci perbuatan kufur untuk diri kita sendiri. Hal ini menandakan bahwa perasaan marah atau benci itu juga ada tempatnya. Bahkan rasa marah atau benci tersebut  bisa menghantarkan kita untuk mendapatkan manisnya iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:(1) Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.(2) Apabila ia mencintai seseorang yang ia mencintainya hanya karena Allah.(3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” [3] Namun, ketika kita tidak mampu mengendalikan semua perasaan itu, maka kita justru akan melakukan banyak kekeliruan yang bermuara pada dosa dan penyesalan. Seperti dalam kondisi marah, kadangkala kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Mulai dari berkata kasar, memecahkan benda-benda, menyalahkan siapa saja, hingga bertindak di luar kesadaran yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.Oleh karenanya, penting bagi kita untuk membekali diri dengan mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat perhatian terhadap pengendalian amarah. Kita dapat melihat banyak riwayat yang menerangkan betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di banyak kesempatan selalu mengajarkan ummatnya agar mampu untuk mengendalikan amarahnya.Baca Juga: Akibat Tidak Amanah dalam KepemimpinanPesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang AmarahPertama, wasiat dalam mengendalikan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan pengendalian amarah sebagai wasiat kepada kita.Sebagaimana hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu  bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Berilah aku wasiat!”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau jangan marah!” (HR Al-Bukhari).Kedua, kendalikan amarah dengan duduk, berbaring, dan diamNabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk, berbaring, ataupun diam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk! Apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya). Dan jika belum, hendaklah ia berbaring!” [4] Diam juga menjadi solusi ketika amarah menghampiri diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam!” [5] Ketiga, menahan amarah, bentuk kekuatan yang hakikiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” [6] Keempat, janji surga bagi orang yang mampu menahan amarahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة“Janganlah kamu marah, dan bagimu surga.” [7] Kelima, bidadari dan tempat khusus di hari kiamatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia, sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” [8] Saudaraku, betapa kita dapat membuktikan kasih sayang Allah Ta’ala di setiap lini kehidupan yang kita jalani. Semua hal yang terjadi pada diri kita dapat berbuah pahala dan kemuliaan di sisi Allah yang kemudian dapat memberikan jalan untuk menggapai surga-Nya. Bahkan, rasa amarah yang dari sudut pandang lain, kita ketahui bisa sebagai sumber malapetaka. Akan tetapi, dapat menjadi sumber pahala, tergantung pada bagaimana niat dan sikap kita dalam mengendalikannya sesuai dengan tuntunan syariat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keimanan dan ketakwaan kepada kita agar selalu ingat bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya.وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينCatatan Kaki: HR. Muslim no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ’anhu. HR. Muslim dan lainnya dari Abi Said Al-Khudri. HR. Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa’i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033) dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu. HR. Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. HR Ahmad (I/239, 283, 365), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), Al-Bazzar (no. 152- Kasyful Atsar) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. HR. Bukhari (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud (no. 4777), At-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440). Baca Juga:Penulis: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 2)

Baca penjelasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 1)Bismillah.Alhamdulillah, pada kesempatan ini Allah berikan kemudahan bagi kita untuk melanjutkan kembali pembahasan dari risalah Qawa’id Arba’ atau empat kaidah utama karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Pada bagian terdahulu kita telah membaca mukadimah atau pengantar dari beliau yang berisi doa bagi pembaca risalahnya agar mendapatkan pertolongan dari Allah dan diberkahi di mana pun ia berada.Kemudian, beliau berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristighfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanTidaklah diragukan bahwa kebahagiaan menjadi dambaan setiap insan. Tidak ada orang yang ingin hidup sengsara. Semua pasti ingin bahagia. Akan tetapi, banyak orang salah paham tentang hakikat kebahagiaan. Mereka menyangka bahwa kebahagiaan itu terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, ketenaran, atau ketampanan dan kecantikan. Oleh sebab itu, banyak orang hanyut dalam kerusakan akhlak dan kesesatan akidah dengan dalih demi mengejar kebahagiaan.Padahal, Allah menjadikan kebahagiaan itu akan bisa diraih dengan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123).Hakikat kebahagiaan itu adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, sebagaimana sering diulang-ulang oleh Ustaz Afifi Hafizhahullah dalam ceramahnya. Hal ini senada dengan penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah dalam kitabnya, at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, bahwa pokok kehidupan yang baik itu adalah kelapangan dan ketenangan hati (lihat at-Taudhih wal Bayan, hal. 50).Kebahagiaan hakiki itu hanya bisa digapai dengan iman dan amal salih. Allah Ta’ala berfirman,مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka benar-benar Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka amalkan” (QS. an-Nahl: 97).Iman dan amal salih inilah yang akan membuahkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.Bagi orang beriman, kelezatan hidup itu ada pada ketaatan. Kebahagiaan ada di tangan Allah Ta’ala dan tidak bisa diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Pasti merasakan lezatnya iman; orang yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul” (HR. Muslim).Malik bin Dinar Rahimahullah berkata,“Orang-orang yang malang dari penduduk dunia. Mereka yang keluar darinya dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang terbaik di dunia?” Beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia akan menyadari bahwa segala nikmat yang dia peroleh datangnya dari Allah, sehingga dia pun bersyukur kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia pun meyakini bahwa musibah adalah takdir Allah Ta’ala yang wajib dihadapi dengan kesabaran. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia menyadari dosa dan kesalahannya. Sehingga dia pun beristighfar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya. Ketiga hal ini: (1) syukur; (2) sabar; dan (3) istighfar merupakan tanda kebahagiaan hamba, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah di bagian awal kitabnya al-Wabil ash-Shayyib (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajDari sinilah kita mengetahui betapa besar nikmat hidayah dan petunjuk agama. Sebab tanpa hidayah dan petunjuk agama Islam, maka manusia akan tenggelam dalam kesesatan dan hanyut dalam kerusakan. Sehingga banyak orang diberi nikmat, akan tetapi tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala. Mereka tertimpa musibah tetapi tidak bersabar dalam menghadapinya, mereka marah kepada Allah dan tidak menerima ketetapan-Nya. Begitu pula tidak sedikit orang yang berbuat dosa dan tidak kunjung beristighfar, bahkan mereka berbangga dengan dosa dan tidak malu dengan maksiatnya.Sungguh hidayah agama ini merupakan kebahagiaan besar bagi seorang hamba, sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Sehingga dia akan meyakini bahwa kebahagiaan itu bukanlah dengan menumpuk-numpuk harta. Akan tetapi, hakikat orang bahagia adalah mereka yang menghiasi hati dan perilakunya dengan takwa. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman mengenai hari akhirat,يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ (٨٩)“Pada hari itu tiada berguna harta dan anak-anak kecuali bagi mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).Syukur kepada Allah dilandasi oleh keyakinan di dalam hati bahwa semua nikmat yang kita raih berasal dari Allah Ta’ala. Kemudian kita memuji Allah atas nikmat-nikmat itu, kita sandarkan nikmat kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Termasuk bentuk syukur adalah tidak menggunakan nikmat kecuali dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, melakukan segala bentuk amal salih pada hakikatnya merupakan aplikasi dari syukur kepada Allah Ta’ala. Pokok dari syukur itu adalah mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena hanya Allah Ta’ala yang menciptakan kita, maka hanya kepada-Nya kita beribadah. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. al-Baqarah: 21).Untuk bisa mewujudkan syukur kepada Allah, seorang hamba harus mewujudkan sikap musyahadatul minnah; yaitu menyaksikan dan menyadari berbagai macam nikmat yang Allah curahkan kepadanya. Sebagaimana tertuang dalam doa sayyidul istighfar pada kalimat ‘abuu’u laka bini’matika ‘alayya’ yang artinya, “Dan aku mengakui kepada-Mu akan segala nikmat yang Kau berikan kepadaku…” (HR. Bukhari).Dengan musyahadatul minnah inilah akan tumbuh kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah (lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib, hal. 11).Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita diajari untuk memuji Allah dalam kalimat alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, di dalam bacaan al-Fatihah. Tidak kurang dari 17 kali dalam 24 jam. Di setiap rakaat salat, kita memuji Allah dan menyanjung-Nya. “Alhamdulillah” adalah kalimat yang terucap dari setiap orang yang bersyukur kepada Allah. Dia memuji Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Dia memuji Allah atas sekian banyak nikmat yang Allah curahkan kepada dirinya. “Alhamdulilah” ini pula salah satu kalimat yang paling Allah cintai.Allah Mahaterpuji karena kesempurnaan sifat dan perbuatan-Nya. Allah juga terpuji karena limpahan nikmat yang tercurah kepada kita. Tidak ada satu pun nikmat yang ada pada diri kita, kecuali datangnya dari Allah semata. Bahkan pada setiap kali bangun tidur kita diajari untuk bersyukur kepada Allah dengan membaca doa alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatana… Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita kembali setelah mematikan kita… (HR. Bukhari)Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKehidupan ini adalah nikmat agung yang Allah berikan kepada kita dan wajib kita syukuri. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian yang lebih bagus amalnya” (QS. al-Mulk : 2).Dan sebagaimana telah ditafsirkan oleh ulama salaf bahwa yang paling bagus amalnya yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. “Ikhlas” ketika amal itu dilakukan karena Allah, sedangkan “benar” adalah apabila amalan itu sesuai dengan sunnah (tuntunan) rasul.Mensyukuri nikmat Allah bukanlah perkara yang sepele. Karena dengan syukur itulah, nikmat semakin Allah tambahkan, dan dengan syukur itu pula akan terjaga nikmat-nikmat yang telah kita dapatkan. Tanpa syukur kepada Allah, maka nikmat-nikmat itu justru akan berubah menjadi malapetaka. Sebagaimana telah diingatkan oleh Abu Hazim Rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah, maka pada hakikatnya itu adalah malapetaka.”Allah berikan nikmat itu demi menguji hamba apakah dia bersyukur kepada Allah ataukah justru kufur akan nikmat-Nya. Allah pun berikan cobaan berupa musibah kepada kita agar terlihat siapakah orang-orang yang sabar menghadapinya dan siapa yang justru marah kepada takdir-Nya. Inilah kehidupan yang kita jalani. Hidup penuh dengan ujian. Hanya orang beriman yang bisa menyambut nikmat dengan kesyukuran dan menyambut musibah dengan kesabaran.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Duduk Iq'a, Apa Itu Fiqh, Mudik Lebaran Menurut Islam, Orang Yang Beragama Islam Disebut, Apa Itu Qonaah

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 2)

Baca penjelasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 1)Bismillah.Alhamdulillah, pada kesempatan ini Allah berikan kemudahan bagi kita untuk melanjutkan kembali pembahasan dari risalah Qawa’id Arba’ atau empat kaidah utama karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Pada bagian terdahulu kita telah membaca mukadimah atau pengantar dari beliau yang berisi doa bagi pembaca risalahnya agar mendapatkan pertolongan dari Allah dan diberkahi di mana pun ia berada.Kemudian, beliau berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristighfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanTidaklah diragukan bahwa kebahagiaan menjadi dambaan setiap insan. Tidak ada orang yang ingin hidup sengsara. Semua pasti ingin bahagia. Akan tetapi, banyak orang salah paham tentang hakikat kebahagiaan. Mereka menyangka bahwa kebahagiaan itu terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, ketenaran, atau ketampanan dan kecantikan. Oleh sebab itu, banyak orang hanyut dalam kerusakan akhlak dan kesesatan akidah dengan dalih demi mengejar kebahagiaan.Padahal, Allah menjadikan kebahagiaan itu akan bisa diraih dengan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123).Hakikat kebahagiaan itu adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, sebagaimana sering diulang-ulang oleh Ustaz Afifi Hafizhahullah dalam ceramahnya. Hal ini senada dengan penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah dalam kitabnya, at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, bahwa pokok kehidupan yang baik itu adalah kelapangan dan ketenangan hati (lihat at-Taudhih wal Bayan, hal. 50).Kebahagiaan hakiki itu hanya bisa digapai dengan iman dan amal salih. Allah Ta’ala berfirman,مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka benar-benar Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka amalkan” (QS. an-Nahl: 97).Iman dan amal salih inilah yang akan membuahkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.Bagi orang beriman, kelezatan hidup itu ada pada ketaatan. Kebahagiaan ada di tangan Allah Ta’ala dan tidak bisa diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Pasti merasakan lezatnya iman; orang yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul” (HR. Muslim).Malik bin Dinar Rahimahullah berkata,“Orang-orang yang malang dari penduduk dunia. Mereka yang keluar darinya dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang terbaik di dunia?” Beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia akan menyadari bahwa segala nikmat yang dia peroleh datangnya dari Allah, sehingga dia pun bersyukur kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia pun meyakini bahwa musibah adalah takdir Allah Ta’ala yang wajib dihadapi dengan kesabaran. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia menyadari dosa dan kesalahannya. Sehingga dia pun beristighfar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya. Ketiga hal ini: (1) syukur; (2) sabar; dan (3) istighfar merupakan tanda kebahagiaan hamba, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah di bagian awal kitabnya al-Wabil ash-Shayyib (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajDari sinilah kita mengetahui betapa besar nikmat hidayah dan petunjuk agama. Sebab tanpa hidayah dan petunjuk agama Islam, maka manusia akan tenggelam dalam kesesatan dan hanyut dalam kerusakan. Sehingga banyak orang diberi nikmat, akan tetapi tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala. Mereka tertimpa musibah tetapi tidak bersabar dalam menghadapinya, mereka marah kepada Allah dan tidak menerima ketetapan-Nya. Begitu pula tidak sedikit orang yang berbuat dosa dan tidak kunjung beristighfar, bahkan mereka berbangga dengan dosa dan tidak malu dengan maksiatnya.Sungguh hidayah agama ini merupakan kebahagiaan besar bagi seorang hamba, sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Sehingga dia akan meyakini bahwa kebahagiaan itu bukanlah dengan menumpuk-numpuk harta. Akan tetapi, hakikat orang bahagia adalah mereka yang menghiasi hati dan perilakunya dengan takwa. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman mengenai hari akhirat,يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ (٨٩)“Pada hari itu tiada berguna harta dan anak-anak kecuali bagi mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).Syukur kepada Allah dilandasi oleh keyakinan di dalam hati bahwa semua nikmat yang kita raih berasal dari Allah Ta’ala. Kemudian kita memuji Allah atas nikmat-nikmat itu, kita sandarkan nikmat kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Termasuk bentuk syukur adalah tidak menggunakan nikmat kecuali dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, melakukan segala bentuk amal salih pada hakikatnya merupakan aplikasi dari syukur kepada Allah Ta’ala. Pokok dari syukur itu adalah mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena hanya Allah Ta’ala yang menciptakan kita, maka hanya kepada-Nya kita beribadah. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. al-Baqarah: 21).Untuk bisa mewujudkan syukur kepada Allah, seorang hamba harus mewujudkan sikap musyahadatul minnah; yaitu menyaksikan dan menyadari berbagai macam nikmat yang Allah curahkan kepadanya. Sebagaimana tertuang dalam doa sayyidul istighfar pada kalimat ‘abuu’u laka bini’matika ‘alayya’ yang artinya, “Dan aku mengakui kepada-Mu akan segala nikmat yang Kau berikan kepadaku…” (HR. Bukhari).Dengan musyahadatul minnah inilah akan tumbuh kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah (lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib, hal. 11).Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita diajari untuk memuji Allah dalam kalimat alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, di dalam bacaan al-Fatihah. Tidak kurang dari 17 kali dalam 24 jam. Di setiap rakaat salat, kita memuji Allah dan menyanjung-Nya. “Alhamdulillah” adalah kalimat yang terucap dari setiap orang yang bersyukur kepada Allah. Dia memuji Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Dia memuji Allah atas sekian banyak nikmat yang Allah curahkan kepada dirinya. “Alhamdulilah” ini pula salah satu kalimat yang paling Allah cintai.Allah Mahaterpuji karena kesempurnaan sifat dan perbuatan-Nya. Allah juga terpuji karena limpahan nikmat yang tercurah kepada kita. Tidak ada satu pun nikmat yang ada pada diri kita, kecuali datangnya dari Allah semata. Bahkan pada setiap kali bangun tidur kita diajari untuk bersyukur kepada Allah dengan membaca doa alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatana… Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita kembali setelah mematikan kita… (HR. Bukhari)Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKehidupan ini adalah nikmat agung yang Allah berikan kepada kita dan wajib kita syukuri. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian yang lebih bagus amalnya” (QS. al-Mulk : 2).Dan sebagaimana telah ditafsirkan oleh ulama salaf bahwa yang paling bagus amalnya yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. “Ikhlas” ketika amal itu dilakukan karena Allah, sedangkan “benar” adalah apabila amalan itu sesuai dengan sunnah (tuntunan) rasul.Mensyukuri nikmat Allah bukanlah perkara yang sepele. Karena dengan syukur itulah, nikmat semakin Allah tambahkan, dan dengan syukur itu pula akan terjaga nikmat-nikmat yang telah kita dapatkan. Tanpa syukur kepada Allah, maka nikmat-nikmat itu justru akan berubah menjadi malapetaka. Sebagaimana telah diingatkan oleh Abu Hazim Rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah, maka pada hakikatnya itu adalah malapetaka.”Allah berikan nikmat itu demi menguji hamba apakah dia bersyukur kepada Allah ataukah justru kufur akan nikmat-Nya. Allah pun berikan cobaan berupa musibah kepada kita agar terlihat siapakah orang-orang yang sabar menghadapinya dan siapa yang justru marah kepada takdir-Nya. Inilah kehidupan yang kita jalani. Hidup penuh dengan ujian. Hanya orang beriman yang bisa menyambut nikmat dengan kesyukuran dan menyambut musibah dengan kesabaran.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Duduk Iq'a, Apa Itu Fiqh, Mudik Lebaran Menurut Islam, Orang Yang Beragama Islam Disebut, Apa Itu Qonaah
Baca penjelasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 1)Bismillah.Alhamdulillah, pada kesempatan ini Allah berikan kemudahan bagi kita untuk melanjutkan kembali pembahasan dari risalah Qawa’id Arba’ atau empat kaidah utama karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Pada bagian terdahulu kita telah membaca mukadimah atau pengantar dari beliau yang berisi doa bagi pembaca risalahnya agar mendapatkan pertolongan dari Allah dan diberkahi di mana pun ia berada.Kemudian, beliau berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristighfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanTidaklah diragukan bahwa kebahagiaan menjadi dambaan setiap insan. Tidak ada orang yang ingin hidup sengsara. Semua pasti ingin bahagia. Akan tetapi, banyak orang salah paham tentang hakikat kebahagiaan. Mereka menyangka bahwa kebahagiaan itu terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, ketenaran, atau ketampanan dan kecantikan. Oleh sebab itu, banyak orang hanyut dalam kerusakan akhlak dan kesesatan akidah dengan dalih demi mengejar kebahagiaan.Padahal, Allah menjadikan kebahagiaan itu akan bisa diraih dengan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123).Hakikat kebahagiaan itu adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, sebagaimana sering diulang-ulang oleh Ustaz Afifi Hafizhahullah dalam ceramahnya. Hal ini senada dengan penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah dalam kitabnya, at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, bahwa pokok kehidupan yang baik itu adalah kelapangan dan ketenangan hati (lihat at-Taudhih wal Bayan, hal. 50).Kebahagiaan hakiki itu hanya bisa digapai dengan iman dan amal salih. Allah Ta’ala berfirman,مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka benar-benar Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka amalkan” (QS. an-Nahl: 97).Iman dan amal salih inilah yang akan membuahkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.Bagi orang beriman, kelezatan hidup itu ada pada ketaatan. Kebahagiaan ada di tangan Allah Ta’ala dan tidak bisa diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Pasti merasakan lezatnya iman; orang yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul” (HR. Muslim).Malik bin Dinar Rahimahullah berkata,“Orang-orang yang malang dari penduduk dunia. Mereka yang keluar darinya dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang terbaik di dunia?” Beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia akan menyadari bahwa segala nikmat yang dia peroleh datangnya dari Allah, sehingga dia pun bersyukur kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia pun meyakini bahwa musibah adalah takdir Allah Ta’ala yang wajib dihadapi dengan kesabaran. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia menyadari dosa dan kesalahannya. Sehingga dia pun beristighfar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya. Ketiga hal ini: (1) syukur; (2) sabar; dan (3) istighfar merupakan tanda kebahagiaan hamba, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah di bagian awal kitabnya al-Wabil ash-Shayyib (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajDari sinilah kita mengetahui betapa besar nikmat hidayah dan petunjuk agama. Sebab tanpa hidayah dan petunjuk agama Islam, maka manusia akan tenggelam dalam kesesatan dan hanyut dalam kerusakan. Sehingga banyak orang diberi nikmat, akan tetapi tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala. Mereka tertimpa musibah tetapi tidak bersabar dalam menghadapinya, mereka marah kepada Allah dan tidak menerima ketetapan-Nya. Begitu pula tidak sedikit orang yang berbuat dosa dan tidak kunjung beristighfar, bahkan mereka berbangga dengan dosa dan tidak malu dengan maksiatnya.Sungguh hidayah agama ini merupakan kebahagiaan besar bagi seorang hamba, sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Sehingga dia akan meyakini bahwa kebahagiaan itu bukanlah dengan menumpuk-numpuk harta. Akan tetapi, hakikat orang bahagia adalah mereka yang menghiasi hati dan perilakunya dengan takwa. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman mengenai hari akhirat,يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ (٨٩)“Pada hari itu tiada berguna harta dan anak-anak kecuali bagi mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).Syukur kepada Allah dilandasi oleh keyakinan di dalam hati bahwa semua nikmat yang kita raih berasal dari Allah Ta’ala. Kemudian kita memuji Allah atas nikmat-nikmat itu, kita sandarkan nikmat kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Termasuk bentuk syukur adalah tidak menggunakan nikmat kecuali dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, melakukan segala bentuk amal salih pada hakikatnya merupakan aplikasi dari syukur kepada Allah Ta’ala. Pokok dari syukur itu adalah mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena hanya Allah Ta’ala yang menciptakan kita, maka hanya kepada-Nya kita beribadah. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. al-Baqarah: 21).Untuk bisa mewujudkan syukur kepada Allah, seorang hamba harus mewujudkan sikap musyahadatul minnah; yaitu menyaksikan dan menyadari berbagai macam nikmat yang Allah curahkan kepadanya. Sebagaimana tertuang dalam doa sayyidul istighfar pada kalimat ‘abuu’u laka bini’matika ‘alayya’ yang artinya, “Dan aku mengakui kepada-Mu akan segala nikmat yang Kau berikan kepadaku…” (HR. Bukhari).Dengan musyahadatul minnah inilah akan tumbuh kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah (lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib, hal. 11).Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita diajari untuk memuji Allah dalam kalimat alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, di dalam bacaan al-Fatihah. Tidak kurang dari 17 kali dalam 24 jam. Di setiap rakaat salat, kita memuji Allah dan menyanjung-Nya. “Alhamdulillah” adalah kalimat yang terucap dari setiap orang yang bersyukur kepada Allah. Dia memuji Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Dia memuji Allah atas sekian banyak nikmat yang Allah curahkan kepada dirinya. “Alhamdulilah” ini pula salah satu kalimat yang paling Allah cintai.Allah Mahaterpuji karena kesempurnaan sifat dan perbuatan-Nya. Allah juga terpuji karena limpahan nikmat yang tercurah kepada kita. Tidak ada satu pun nikmat yang ada pada diri kita, kecuali datangnya dari Allah semata. Bahkan pada setiap kali bangun tidur kita diajari untuk bersyukur kepada Allah dengan membaca doa alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatana… Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita kembali setelah mematikan kita… (HR. Bukhari)Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKehidupan ini adalah nikmat agung yang Allah berikan kepada kita dan wajib kita syukuri. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian yang lebih bagus amalnya” (QS. al-Mulk : 2).Dan sebagaimana telah ditafsirkan oleh ulama salaf bahwa yang paling bagus amalnya yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. “Ikhlas” ketika amal itu dilakukan karena Allah, sedangkan “benar” adalah apabila amalan itu sesuai dengan sunnah (tuntunan) rasul.Mensyukuri nikmat Allah bukanlah perkara yang sepele. Karena dengan syukur itulah, nikmat semakin Allah tambahkan, dan dengan syukur itu pula akan terjaga nikmat-nikmat yang telah kita dapatkan. Tanpa syukur kepada Allah, maka nikmat-nikmat itu justru akan berubah menjadi malapetaka. Sebagaimana telah diingatkan oleh Abu Hazim Rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah, maka pada hakikatnya itu adalah malapetaka.”Allah berikan nikmat itu demi menguji hamba apakah dia bersyukur kepada Allah ataukah justru kufur akan nikmat-Nya. Allah pun berikan cobaan berupa musibah kepada kita agar terlihat siapakah orang-orang yang sabar menghadapinya dan siapa yang justru marah kepada takdir-Nya. Inilah kehidupan yang kita jalani. Hidup penuh dengan ujian. Hanya orang beriman yang bisa menyambut nikmat dengan kesyukuran dan menyambut musibah dengan kesabaran.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Duduk Iq'a, Apa Itu Fiqh, Mudik Lebaran Menurut Islam, Orang Yang Beragama Islam Disebut, Apa Itu Qonaah


Baca penjelasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 1)Bismillah.Alhamdulillah, pada kesempatan ini Allah berikan kemudahan bagi kita untuk melanjutkan kembali pembahasan dari risalah Qawa’id Arba’ atau empat kaidah utama karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. Pada bagian terdahulu kita telah membaca mukadimah atau pengantar dari beliau yang berisi doa bagi pembaca risalahnya agar mendapatkan pertolongan dari Allah dan diberkahi di mana pun ia berada.Kemudian, beliau berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristighfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanTidaklah diragukan bahwa kebahagiaan menjadi dambaan setiap insan. Tidak ada orang yang ingin hidup sengsara. Semua pasti ingin bahagia. Akan tetapi, banyak orang salah paham tentang hakikat kebahagiaan. Mereka menyangka bahwa kebahagiaan itu terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, ketenaran, atau ketampanan dan kecantikan. Oleh sebab itu, banyak orang hanyut dalam kerusakan akhlak dan kesesatan akidah dengan dalih demi mengejar kebahagiaan.Padahal, Allah menjadikan kebahagiaan itu akan bisa diraih dengan mengikuti petunjuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaha: 123).Hakikat kebahagiaan itu adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, sebagaimana sering diulang-ulang oleh Ustaz Afifi Hafizhahullah dalam ceramahnya. Hal ini senada dengan penjelasan Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah dalam kitabnya, at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, bahwa pokok kehidupan yang baik itu adalah kelapangan dan ketenangan hati (lihat at-Taudhih wal Bayan, hal. 50).Kebahagiaan hakiki itu hanya bisa digapai dengan iman dan amal salih. Allah Ta’ala berfirman,مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ“Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka benar-benar Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka amalkan” (QS. an-Nahl: 97).Iman dan amal salih inilah yang akan membuahkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.Bagi orang beriman, kelezatan hidup itu ada pada ketaatan. Kebahagiaan ada di tangan Allah Ta’ala dan tidak bisa diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Pasti merasakan lezatnya iman; orang yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul” (HR. Muslim).Malik bin Dinar Rahimahullah berkata,“Orang-orang yang malang dari penduduk dunia. Mereka yang keluar darinya dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang terbaik di dunia?” Beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia akan menyadari bahwa segala nikmat yang dia peroleh datangnya dari Allah, sehingga dia pun bersyukur kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia pun meyakini bahwa musibah adalah takdir Allah Ta’ala yang wajib dihadapi dengan kesabaran. Orang yang mengenal Allah Ta’ala, maka dia menyadari dosa dan kesalahannya. Sehingga dia pun beristighfar memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya. Ketiga hal ini: (1) syukur; (2) sabar; dan (3) istighfar merupakan tanda kebahagiaan hamba, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah di bagian awal kitabnya al-Wabil ash-Shayyib (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5).Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajDari sinilah kita mengetahui betapa besar nikmat hidayah dan petunjuk agama. Sebab tanpa hidayah dan petunjuk agama Islam, maka manusia akan tenggelam dalam kesesatan dan hanyut dalam kerusakan. Sehingga banyak orang diberi nikmat, akan tetapi tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala. Mereka tertimpa musibah tetapi tidak bersabar dalam menghadapinya, mereka marah kepada Allah dan tidak menerima ketetapan-Nya. Begitu pula tidak sedikit orang yang berbuat dosa dan tidak kunjung beristighfar, bahkan mereka berbangga dengan dosa dan tidak malu dengan maksiatnya.Sungguh hidayah agama ini merupakan kebahagiaan besar bagi seorang hamba, sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Sehingga dia akan meyakini bahwa kebahagiaan itu bukanlah dengan menumpuk-numpuk harta. Akan tetapi, hakikat orang bahagia adalah mereka yang menghiasi hati dan perilakunya dengan takwa. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman mengenai hari akhirat,يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ (٨٩)“Pada hari itu tiada berguna harta dan anak-anak kecuali bagi mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).Syukur kepada Allah dilandasi oleh keyakinan di dalam hati bahwa semua nikmat yang kita raih berasal dari Allah Ta’ala. Kemudian kita memuji Allah atas nikmat-nikmat itu, kita sandarkan nikmat kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya. Termasuk bentuk syukur adalah tidak menggunakan nikmat kecuali dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, melakukan segala bentuk amal salih pada hakikatnya merupakan aplikasi dari syukur kepada Allah Ta’ala. Pokok dari syukur itu adalah mentauhidkan Allah Ta’ala. Karena hanya Allah Ta’ala yang menciptakan kita, maka hanya kepada-Nya kita beribadah. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa” (QS. al-Baqarah: 21).Untuk bisa mewujudkan syukur kepada Allah, seorang hamba harus mewujudkan sikap musyahadatul minnah; yaitu menyaksikan dan menyadari berbagai macam nikmat yang Allah curahkan kepadanya. Sebagaimana tertuang dalam doa sayyidul istighfar pada kalimat ‘abuu’u laka bini’matika ‘alayya’ yang artinya, “Dan aku mengakui kepada-Mu akan segala nikmat yang Kau berikan kepadaku…” (HR. Bukhari).Dengan musyahadatul minnah inilah akan tumbuh kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah (lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib, hal. 11).Oleh sebab itu, setiap hari di dalam salat kita diajari untuk memuji Allah dalam kalimat alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, di dalam bacaan al-Fatihah. Tidak kurang dari 17 kali dalam 24 jam. Di setiap rakaat salat, kita memuji Allah dan menyanjung-Nya. “Alhamdulillah” adalah kalimat yang terucap dari setiap orang yang bersyukur kepada Allah. Dia memuji Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Dia memuji Allah atas sekian banyak nikmat yang Allah curahkan kepada dirinya. “Alhamdulilah” ini pula salah satu kalimat yang paling Allah cintai.Allah Mahaterpuji karena kesempurnaan sifat dan perbuatan-Nya. Allah juga terpuji karena limpahan nikmat yang tercurah kepada kita. Tidak ada satu pun nikmat yang ada pada diri kita, kecuali datangnya dari Allah semata. Bahkan pada setiap kali bangun tidur kita diajari untuk bersyukur kepada Allah dengan membaca doa alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatana… Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita kembali setelah mematikan kita… (HR. Bukhari)Baca Juga: Catatan Ringan Seputar AqidahKehidupan ini adalah nikmat agung yang Allah berikan kepada kita dan wajib kita syukuri. Bukankah Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ“[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian yang lebih bagus amalnya” (QS. al-Mulk : 2).Dan sebagaimana telah ditafsirkan oleh ulama salaf bahwa yang paling bagus amalnya yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. “Ikhlas” ketika amal itu dilakukan karena Allah, sedangkan “benar” adalah apabila amalan itu sesuai dengan sunnah (tuntunan) rasul.Mensyukuri nikmat Allah bukanlah perkara yang sepele. Karena dengan syukur itulah, nikmat semakin Allah tambahkan, dan dengan syukur itu pula akan terjaga nikmat-nikmat yang telah kita dapatkan. Tanpa syukur kepada Allah, maka nikmat-nikmat itu justru akan berubah menjadi malapetaka. Sebagaimana telah diingatkan oleh Abu Hazim Rahimahullah, “Setiap nikmat yang tidak semakin menambah dekat kepada Allah, maka pada hakikatnya itu adalah malapetaka.”Allah berikan nikmat itu demi menguji hamba apakah dia bersyukur kepada Allah ataukah justru kufur akan nikmat-Nya. Allah pun berikan cobaan berupa musibah kepada kita agar terlihat siapakah orang-orang yang sabar menghadapinya dan siapa yang justru marah kepada takdir-Nya. Inilah kehidupan yang kita jalani. Hidup penuh dengan ujian. Hanya orang beriman yang bisa menyambut nikmat dengan kesyukuran dan menyambut musibah dengan kesabaran.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: Muslim.or.id🔍 Duduk Iq'a, Apa Itu Fiqh, Mudik Lebaran Menurut Islam, Orang Yang Beragama Islam Disebut, Apa Itu Qonaah

Wanita Muslimah dengan Akhlak Al-Quran – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Wanita Muslimah dengan Akhlak Al-Quran – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Wanita Muslimah dengan Akhlak Al-Quran – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Wanita Muslimah dengan Akhlak Al-Quran – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/
Wanita Muslimah dengan Akhlak Al-Quran – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/


Wanita Muslimah dengan Akhlak Al-Quran – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Bulughul Maram – Shalat: Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat

Bagaimana hukum meludah dalam shalat? Apakah dibolehkan?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat   Daftar Isi tutup 1. Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat 1.1. Hadits #245 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat Hadits #245 وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ في الصَّلاَةِ فَإنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلاَ يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلاَ عَنَ يَمِينِهِ، وَلكِنْ عَنْ شِمالِهِ؛ تَحْتَ قَدَمِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وفي رِوايَةٍ: «أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ». Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu shalat sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya, tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 1214 dan Muslim, no. 551] Dalam suatu riwayat disebutkan, “Atau di bawah telapak kakinya.” [HR. Bukhari, no. 413]   Faedah hadits Bermunajat itu berarti menghadap Allah dengan dzikir, berdoa, dan tilawah ayat. Yang dilakukan saat bermunajat adalah khusyuk dan menghadap Allah. Hadits ini adalah dalil larangan bagi orang yang shalat agar menghindari meludah ke depan dan ke kanan. Larangan ini berlaku bagi yang shalat di dalam atau di luar masjid. Alasan terlarang meludah ke depan karena yang melaksanakan shalat sedang menghadap Allah dan bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits Ibnu ‘Umar disebutkan, “Karena Allah sedang berada di hadapannya saat ia shalat.” Sedangkan, larangan meludah ke kanan karena samping kanannya adalah malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 416). Secara eksplisit (zhahir), larangan dalam hadits menunjukkan haram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kemurkaannya ketika melihat ada yang meludah ke arah kiblat saat shalat. Jika memang darurat ingin meludah saat shalat, hendaklah meludah ke sebelah kiri atau meludah ke samping kiri di bawah telapak kakinya. Hal ini dilakukan ketika shalat di tempat terbuka atau di rumah yang lantainya tanah. Sedangkan meludah di dalam masjid, ada pembahasannya sendiri di pembahasan “Ahkamul Masaajid” (hukum-hukum seputar masjid) dari Bulughul Maram insya Allah. Yang jelas, kalau meludah di dalam masjid, lebih aman meludah di tisu atau sapu tangan. Seseorang yang sedang shalat berarti sedang bermunajat menghadap Allah, hendaklah khusyuk dalam shalatnya dengan mengikhlaskan hati dan menghadirkannya. Dalam shalat, hendaklah mengingat dan mengagungkan Allah, membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya. Allah Ta’ala tetap berada di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, walaupun kita katakan Allah di hadapan kita.   Baca juga: Allah itu Mahatinggi, Tidak Seperti Diyakini Jahmiyah   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:445-448. — Kamis Malam Jumat, 10 Safar 1443 H, 16 September 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk kiat shalat khusyuk munajat pembatal shalat shalat khusyuk

Bulughul Maram – Shalat: Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat

Bagaimana hukum meludah dalam shalat? Apakah dibolehkan?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat   Daftar Isi tutup 1. Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat 1.1. Hadits #245 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat Hadits #245 وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ في الصَّلاَةِ فَإنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلاَ يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلاَ عَنَ يَمِينِهِ، وَلكِنْ عَنْ شِمالِهِ؛ تَحْتَ قَدَمِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وفي رِوايَةٍ: «أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ». Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu shalat sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya, tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 1214 dan Muslim, no. 551] Dalam suatu riwayat disebutkan, “Atau di bawah telapak kakinya.” [HR. Bukhari, no. 413]   Faedah hadits Bermunajat itu berarti menghadap Allah dengan dzikir, berdoa, dan tilawah ayat. Yang dilakukan saat bermunajat adalah khusyuk dan menghadap Allah. Hadits ini adalah dalil larangan bagi orang yang shalat agar menghindari meludah ke depan dan ke kanan. Larangan ini berlaku bagi yang shalat di dalam atau di luar masjid. Alasan terlarang meludah ke depan karena yang melaksanakan shalat sedang menghadap Allah dan bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits Ibnu ‘Umar disebutkan, “Karena Allah sedang berada di hadapannya saat ia shalat.” Sedangkan, larangan meludah ke kanan karena samping kanannya adalah malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 416). Secara eksplisit (zhahir), larangan dalam hadits menunjukkan haram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kemurkaannya ketika melihat ada yang meludah ke arah kiblat saat shalat. Jika memang darurat ingin meludah saat shalat, hendaklah meludah ke sebelah kiri atau meludah ke samping kiri di bawah telapak kakinya. Hal ini dilakukan ketika shalat di tempat terbuka atau di rumah yang lantainya tanah. Sedangkan meludah di dalam masjid, ada pembahasannya sendiri di pembahasan “Ahkamul Masaajid” (hukum-hukum seputar masjid) dari Bulughul Maram insya Allah. Yang jelas, kalau meludah di dalam masjid, lebih aman meludah di tisu atau sapu tangan. Seseorang yang sedang shalat berarti sedang bermunajat menghadap Allah, hendaklah khusyuk dalam shalatnya dengan mengikhlaskan hati dan menghadirkannya. Dalam shalat, hendaklah mengingat dan mengagungkan Allah, membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya. Allah Ta’ala tetap berada di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, walaupun kita katakan Allah di hadapan kita.   Baca juga: Allah itu Mahatinggi, Tidak Seperti Diyakini Jahmiyah   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:445-448. — Kamis Malam Jumat, 10 Safar 1443 H, 16 September 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk kiat shalat khusyuk munajat pembatal shalat shalat khusyuk
Bagaimana hukum meludah dalam shalat? Apakah dibolehkan?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat   Daftar Isi tutup 1. Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat 1.1. Hadits #245 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat Hadits #245 وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ في الصَّلاَةِ فَإنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلاَ يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلاَ عَنَ يَمِينِهِ، وَلكِنْ عَنْ شِمالِهِ؛ تَحْتَ قَدَمِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وفي رِوايَةٍ: «أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ». Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu shalat sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya, tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 1214 dan Muslim, no. 551] Dalam suatu riwayat disebutkan, “Atau di bawah telapak kakinya.” [HR. Bukhari, no. 413]   Faedah hadits Bermunajat itu berarti menghadap Allah dengan dzikir, berdoa, dan tilawah ayat. Yang dilakukan saat bermunajat adalah khusyuk dan menghadap Allah. Hadits ini adalah dalil larangan bagi orang yang shalat agar menghindari meludah ke depan dan ke kanan. Larangan ini berlaku bagi yang shalat di dalam atau di luar masjid. Alasan terlarang meludah ke depan karena yang melaksanakan shalat sedang menghadap Allah dan bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits Ibnu ‘Umar disebutkan, “Karena Allah sedang berada di hadapannya saat ia shalat.” Sedangkan, larangan meludah ke kanan karena samping kanannya adalah malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 416). Secara eksplisit (zhahir), larangan dalam hadits menunjukkan haram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kemurkaannya ketika melihat ada yang meludah ke arah kiblat saat shalat. Jika memang darurat ingin meludah saat shalat, hendaklah meludah ke sebelah kiri atau meludah ke samping kiri di bawah telapak kakinya. Hal ini dilakukan ketika shalat di tempat terbuka atau di rumah yang lantainya tanah. Sedangkan meludah di dalam masjid, ada pembahasannya sendiri di pembahasan “Ahkamul Masaajid” (hukum-hukum seputar masjid) dari Bulughul Maram insya Allah. Yang jelas, kalau meludah di dalam masjid, lebih aman meludah di tisu atau sapu tangan. Seseorang yang sedang shalat berarti sedang bermunajat menghadap Allah, hendaklah khusyuk dalam shalatnya dengan mengikhlaskan hati dan menghadirkannya. Dalam shalat, hendaklah mengingat dan mengagungkan Allah, membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya. Allah Ta’ala tetap berada di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, walaupun kita katakan Allah di hadapan kita.   Baca juga: Allah itu Mahatinggi, Tidak Seperti Diyakini Jahmiyah   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:445-448. — Kamis Malam Jumat, 10 Safar 1443 H, 16 September 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk kiat shalat khusyuk munajat pembatal shalat shalat khusyuk


Bagaimana hukum meludah dalam shalat? Apakah dibolehkan?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat   Daftar Isi tutup 1. Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat 1.1. Hadits #245 1.2. Faedah hadits 1.2.1. Referensi: Larangan Meludah ke Depan dan ke Kanan Saat Shalat Hadits #245 وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا كَانَ أَحَدُكُمْ في الصَّلاَةِ فَإنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلاَ يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلاَ عَنَ يَمِينِهِ، وَلكِنْ عَنْ شِمالِهِ؛ تَحْتَ قَدَمِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وفي رِوايَةٍ: «أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ». Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu shalat sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya, tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya.” (Muttafaqun ‘alaih). [HR. Bukhari, no. 1214 dan Muslim, no. 551] Dalam suatu riwayat disebutkan, “Atau di bawah telapak kakinya.” [HR. Bukhari, no. 413]   Faedah hadits Bermunajat itu berarti menghadap Allah dengan dzikir, berdoa, dan tilawah ayat. Yang dilakukan saat bermunajat adalah khusyuk dan menghadap Allah. Hadits ini adalah dalil larangan bagi orang yang shalat agar menghindari meludah ke depan dan ke kanan. Larangan ini berlaku bagi yang shalat di dalam atau di luar masjid. Alasan terlarang meludah ke depan karena yang melaksanakan shalat sedang menghadap Allah dan bermunajat kepada-Nya. Dalam hadits Ibnu ‘Umar disebutkan, “Karena Allah sedang berada di hadapannya saat ia shalat.” Sedangkan, larangan meludah ke kanan karena samping kanannya adalah malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 416). Secara eksplisit (zhahir), larangan dalam hadits menunjukkan haram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kemurkaannya ketika melihat ada yang meludah ke arah kiblat saat shalat. Jika memang darurat ingin meludah saat shalat, hendaklah meludah ke sebelah kiri atau meludah ke samping kiri di bawah telapak kakinya. Hal ini dilakukan ketika shalat di tempat terbuka atau di rumah yang lantainya tanah. Sedangkan meludah di dalam masjid, ada pembahasannya sendiri di pembahasan “Ahkamul Masaajid” (hukum-hukum seputar masjid) dari Bulughul Maram insya Allah. Yang jelas, kalau meludah di dalam masjid, lebih aman meludah di tisu atau sapu tangan. Seseorang yang sedang shalat berarti sedang bermunajat menghadap Allah, hendaklah khusyuk dalam shalatnya dengan mengikhlaskan hati dan menghadirkannya. Dalam shalat, hendaklah mengingat dan mengagungkan Allah, membaca Al-Qur’an dan mentadaburinya. Allah Ta’ala tetap berada di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, walaupun kita katakan Allah di hadapan kita.   Baca juga: Allah itu Mahatinggi, Tidak Seperti Diyakini Jahmiyah   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:445-448. — Kamis Malam Jumat, 10 Safar 1443 H, 16 September 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk kiat shalat khusyuk munajat pembatal shalat shalat khusyuk

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran?

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran? Firman Allah: (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) yakni telah merugi kedua tangan Abu Lahab. Dia adalah salah satu dari paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan makna firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) Yakni telah merugi kedua tangannya, yaitu kedua tangan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib. Dan ‘kun-yah’ dalam bahasa arab digunakan sebagai apa? Sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. Sehingga jika kamu memanggil seseorang ‘Wahai Abu Fulan’, maka itu adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan baginya. Dan dengan cara ini orang-orang arab memberi penghormatan saat memanggil seseorang. Orang arab pada dasarnya tidak memberi penghormatan saat memanggil seseorang dengan menggunakan laqab (julukan) Dan laqab (julukan) sangat sedikit mereka gunakan. Namun mereka memberi penghormatan dengan menggunakan ‘kun-yah’ (yaitu menggunakan kata “abu” atau “ummu”) Lalu mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan Abu Lahab dengan kun-yahnya? Mengapa Allah menyebutnya dengan kun-yahnya, sedangkan dalam bahasa arab digunakan untuk penghormatan; padahal al-Quran juga menggunakan bahasa arab? Benar Karena nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hamba al-‘Uzza), sehingga Namanya itu tidak pantas untuk disebutkan dalam ayat ini. Baik, ada jawaban lain? Bagus! Ini dua jawaban yang lain, tinggal satu jawaban lagi. Bagus! Kita dapat menjawab hal ini dengan empat alasan: PERTAMA: Kun-yah Abu Lahab juga merupakan nama aslinya. Karena orang arab terkadang memanggil dengan nama asli dan terkadang dengan kun-yah dan terkadang dengan kun-yah. Seperti Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang tabi’in; Nama aslinya adalah Abu Salamah, beliau tidak memiliki nama lain. Sehingga terdapat pendapat bahwa Abu Lahab adalah nama aslinya yang berbentuk kun-yah. KEDUA: Pada salah satu pendapat, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Dalam salah satu pendapat disebutkan, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. KETIGA: Penyebutan kun-yahnya pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Penyebutan kun-yahnya (Abu Lahab) pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ) “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49) Yakni sebagai hinaan dan olokan baginya. Yakni jika kamu merasa sebagai orang yang perkasa dan mulia, maka sekarang rasakanlah azabmu ini! KEEMPAT: Karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan, karena kata ‘Lahab’ artinya adalah “kobaran api”, karena kata ‘Lahab’ berarti “kobaran api”, karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan. Karena kata ‘Lahab’ artinya adalah kobaran api. =============================== قَوْلُهُ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ أَنَّهُ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ أَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَالْكُنْيَةُ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِأَيِّ شَيْءٍ؟ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ فَإِذَا خَاطَبْتَ أَحَدًا قُلْتَ لَهُ يَا أَبَا فُلَانٍ هَذَا تَكْرِيْمٌ وَتَعْظِيْمٌ وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُعَظِّمُ بِهَذَا الْعَرَبُ مَا تُعَظِّمُ بِالْأَلْقَابِ فِيْ أَصْلِ كَلَامِهَا فَالْأَلْقَابُ عِنْدَهُمْ قَلِيْلَةٌ وَيَزْهَدُوْنَ فِيْهَا وَإِنَّمَا كَانُوا يُعَظِّمُوْنَ بِالْكُنْيَةِ فَكَيْفَ يَذْكُرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُنْيَةِ كَيْفَ يَذْكُرُهُ بِالْكُنْيَةِ وَهِيَ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ نَعَمْ لِاَنَّ اسْمَهُ عَبْدُ الْعُزَّى فَلَا يُنَاسِبُ تَعْبِيْدُهُ لِغَيْرِ اللهِ فِي الْآيَةِ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ طَيِّبٌ هَذِهِ وَجْهَيْنِ أُخْرَيَيْنِ طَيِّبٌ بَقِيَ وَجْهٌ وَاحِدٌ أَحْسَنْتَ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ أَوَّلُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ فَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي بِالاِسْمِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ فَمَثَلًا أَبُو سَلَمَةَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ مِنْ أَعْيَانِ التَّابِعِيْنَ هَذَا اسْمُهُ أَبُو سَلَمَةَ لَيْسَ لَهُ اسْمًا آخَرَ فَقِيْلَ إِنَّ أَبَا لَهَبٍ اسْمٌ لَهُ فِي صُوْرَةِ الْكُنْيَةِ وَثَانِيْهَا أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى وَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ فَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ وَثَالِثُهَا أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيْرِ وَالْمَهَانَةِ لَهُ بِأَنَّكَ أَنْتَ إِنْ كُنْتَ تَرَى أَنَّكَ عَزِيْزًا كَرِيْمًا فَهَذَا عَذَابُكَ وَرَابِعُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ فِيْهَا مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ أَنَّ كُنْيَتَهُ مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran?

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran? Firman Allah: (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) yakni telah merugi kedua tangan Abu Lahab. Dia adalah salah satu dari paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan makna firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) Yakni telah merugi kedua tangannya, yaitu kedua tangan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib. Dan ‘kun-yah’ dalam bahasa arab digunakan sebagai apa? Sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. Sehingga jika kamu memanggil seseorang ‘Wahai Abu Fulan’, maka itu adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan baginya. Dan dengan cara ini orang-orang arab memberi penghormatan saat memanggil seseorang. Orang arab pada dasarnya tidak memberi penghormatan saat memanggil seseorang dengan menggunakan laqab (julukan) Dan laqab (julukan) sangat sedikit mereka gunakan. Namun mereka memberi penghormatan dengan menggunakan ‘kun-yah’ (yaitu menggunakan kata “abu” atau “ummu”) Lalu mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan Abu Lahab dengan kun-yahnya? Mengapa Allah menyebutnya dengan kun-yahnya, sedangkan dalam bahasa arab digunakan untuk penghormatan; padahal al-Quran juga menggunakan bahasa arab? Benar Karena nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hamba al-‘Uzza), sehingga Namanya itu tidak pantas untuk disebutkan dalam ayat ini. Baik, ada jawaban lain? Bagus! Ini dua jawaban yang lain, tinggal satu jawaban lagi. Bagus! Kita dapat menjawab hal ini dengan empat alasan: PERTAMA: Kun-yah Abu Lahab juga merupakan nama aslinya. Karena orang arab terkadang memanggil dengan nama asli dan terkadang dengan kun-yah dan terkadang dengan kun-yah. Seperti Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang tabi’in; Nama aslinya adalah Abu Salamah, beliau tidak memiliki nama lain. Sehingga terdapat pendapat bahwa Abu Lahab adalah nama aslinya yang berbentuk kun-yah. KEDUA: Pada salah satu pendapat, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Dalam salah satu pendapat disebutkan, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. KETIGA: Penyebutan kun-yahnya pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Penyebutan kun-yahnya (Abu Lahab) pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ) “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49) Yakni sebagai hinaan dan olokan baginya. Yakni jika kamu merasa sebagai orang yang perkasa dan mulia, maka sekarang rasakanlah azabmu ini! KEEMPAT: Karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan, karena kata ‘Lahab’ artinya adalah “kobaran api”, karena kata ‘Lahab’ berarti “kobaran api”, karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan. Karena kata ‘Lahab’ artinya adalah kobaran api. =============================== قَوْلُهُ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ أَنَّهُ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ أَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَالْكُنْيَةُ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِأَيِّ شَيْءٍ؟ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ فَإِذَا خَاطَبْتَ أَحَدًا قُلْتَ لَهُ يَا أَبَا فُلَانٍ هَذَا تَكْرِيْمٌ وَتَعْظِيْمٌ وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُعَظِّمُ بِهَذَا الْعَرَبُ مَا تُعَظِّمُ بِالْأَلْقَابِ فِيْ أَصْلِ كَلَامِهَا فَالْأَلْقَابُ عِنْدَهُمْ قَلِيْلَةٌ وَيَزْهَدُوْنَ فِيْهَا وَإِنَّمَا كَانُوا يُعَظِّمُوْنَ بِالْكُنْيَةِ فَكَيْفَ يَذْكُرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُنْيَةِ كَيْفَ يَذْكُرُهُ بِالْكُنْيَةِ وَهِيَ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ نَعَمْ لِاَنَّ اسْمَهُ عَبْدُ الْعُزَّى فَلَا يُنَاسِبُ تَعْبِيْدُهُ لِغَيْرِ اللهِ فِي الْآيَةِ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ طَيِّبٌ هَذِهِ وَجْهَيْنِ أُخْرَيَيْنِ طَيِّبٌ بَقِيَ وَجْهٌ وَاحِدٌ أَحْسَنْتَ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ أَوَّلُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ فَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي بِالاِسْمِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ فَمَثَلًا أَبُو سَلَمَةَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ مِنْ أَعْيَانِ التَّابِعِيْنَ هَذَا اسْمُهُ أَبُو سَلَمَةَ لَيْسَ لَهُ اسْمًا آخَرَ فَقِيْلَ إِنَّ أَبَا لَهَبٍ اسْمٌ لَهُ فِي صُوْرَةِ الْكُنْيَةِ وَثَانِيْهَا أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى وَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ فَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ وَثَالِثُهَا أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيْرِ وَالْمَهَانَةِ لَهُ بِأَنَّكَ أَنْتَ إِنْ كُنْتَ تَرَى أَنَّكَ عَزِيْزًا كَرِيْمًا فَهَذَا عَذَابُكَ وَرَابِعُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ فِيْهَا مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ أَنَّ كُنْيَتَهُ مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ
Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran? Firman Allah: (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) yakni telah merugi kedua tangan Abu Lahab. Dia adalah salah satu dari paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan makna firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) Yakni telah merugi kedua tangannya, yaitu kedua tangan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib. Dan ‘kun-yah’ dalam bahasa arab digunakan sebagai apa? Sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. Sehingga jika kamu memanggil seseorang ‘Wahai Abu Fulan’, maka itu adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan baginya. Dan dengan cara ini orang-orang arab memberi penghormatan saat memanggil seseorang. Orang arab pada dasarnya tidak memberi penghormatan saat memanggil seseorang dengan menggunakan laqab (julukan) Dan laqab (julukan) sangat sedikit mereka gunakan. Namun mereka memberi penghormatan dengan menggunakan ‘kun-yah’ (yaitu menggunakan kata “abu” atau “ummu”) Lalu mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan Abu Lahab dengan kun-yahnya? Mengapa Allah menyebutnya dengan kun-yahnya, sedangkan dalam bahasa arab digunakan untuk penghormatan; padahal al-Quran juga menggunakan bahasa arab? Benar Karena nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hamba al-‘Uzza), sehingga Namanya itu tidak pantas untuk disebutkan dalam ayat ini. Baik, ada jawaban lain? Bagus! Ini dua jawaban yang lain, tinggal satu jawaban lagi. Bagus! Kita dapat menjawab hal ini dengan empat alasan: PERTAMA: Kun-yah Abu Lahab juga merupakan nama aslinya. Karena orang arab terkadang memanggil dengan nama asli dan terkadang dengan kun-yah dan terkadang dengan kun-yah. Seperti Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang tabi’in; Nama aslinya adalah Abu Salamah, beliau tidak memiliki nama lain. Sehingga terdapat pendapat bahwa Abu Lahab adalah nama aslinya yang berbentuk kun-yah. KEDUA: Pada salah satu pendapat, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Dalam salah satu pendapat disebutkan, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. KETIGA: Penyebutan kun-yahnya pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Penyebutan kun-yahnya (Abu Lahab) pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ) “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49) Yakni sebagai hinaan dan olokan baginya. Yakni jika kamu merasa sebagai orang yang perkasa dan mulia, maka sekarang rasakanlah azabmu ini! KEEMPAT: Karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan, karena kata ‘Lahab’ artinya adalah “kobaran api”, karena kata ‘Lahab’ berarti “kobaran api”, karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan. Karena kata ‘Lahab’ artinya adalah kobaran api. =============================== قَوْلُهُ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ أَنَّهُ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ أَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَالْكُنْيَةُ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِأَيِّ شَيْءٍ؟ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ فَإِذَا خَاطَبْتَ أَحَدًا قُلْتَ لَهُ يَا أَبَا فُلَانٍ هَذَا تَكْرِيْمٌ وَتَعْظِيْمٌ وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُعَظِّمُ بِهَذَا الْعَرَبُ مَا تُعَظِّمُ بِالْأَلْقَابِ فِيْ أَصْلِ كَلَامِهَا فَالْأَلْقَابُ عِنْدَهُمْ قَلِيْلَةٌ وَيَزْهَدُوْنَ فِيْهَا وَإِنَّمَا كَانُوا يُعَظِّمُوْنَ بِالْكُنْيَةِ فَكَيْفَ يَذْكُرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُنْيَةِ كَيْفَ يَذْكُرُهُ بِالْكُنْيَةِ وَهِيَ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ نَعَمْ لِاَنَّ اسْمَهُ عَبْدُ الْعُزَّى فَلَا يُنَاسِبُ تَعْبِيْدُهُ لِغَيْرِ اللهِ فِي الْآيَةِ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ طَيِّبٌ هَذِهِ وَجْهَيْنِ أُخْرَيَيْنِ طَيِّبٌ بَقِيَ وَجْهٌ وَاحِدٌ أَحْسَنْتَ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ أَوَّلُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ فَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي بِالاِسْمِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ فَمَثَلًا أَبُو سَلَمَةَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ مِنْ أَعْيَانِ التَّابِعِيْنَ هَذَا اسْمُهُ أَبُو سَلَمَةَ لَيْسَ لَهُ اسْمًا آخَرَ فَقِيْلَ إِنَّ أَبَا لَهَبٍ اسْمٌ لَهُ فِي صُوْرَةِ الْكُنْيَةِ وَثَانِيْهَا أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى وَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ فَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ وَثَالِثُهَا أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيْرِ وَالْمَهَانَةِ لَهُ بِأَنَّكَ أَنْتَ إِنْ كُنْتَ تَرَى أَنَّكَ عَزِيْزًا كَرِيْمًا فَهَذَا عَذَابُكَ وَرَابِعُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ فِيْهَا مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ أَنَّ كُنْيَتَهُ مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ


Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran? Firman Allah: (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) yakni telah merugi kedua tangan Abu Lahab. Dia adalah salah satu dari paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan makna firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) Yakni telah merugi kedua tangannya, yaitu kedua tangan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib. Dan ‘kun-yah’ dalam bahasa arab digunakan sebagai apa? Sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. Sehingga jika kamu memanggil seseorang ‘Wahai Abu Fulan’, maka itu adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan baginya. Dan dengan cara ini orang-orang arab memberi penghormatan saat memanggil seseorang. Orang arab pada dasarnya tidak memberi penghormatan saat memanggil seseorang dengan menggunakan laqab (julukan) Dan laqab (julukan) sangat sedikit mereka gunakan. Namun mereka memberi penghormatan dengan menggunakan ‘kun-yah’ (yaitu menggunakan kata “abu” atau “ummu”) Lalu mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan Abu Lahab dengan kun-yahnya? Mengapa Allah menyebutnya dengan kun-yahnya, sedangkan dalam bahasa arab digunakan untuk penghormatan; padahal al-Quran juga menggunakan bahasa arab? Benar Karena nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hamba al-‘Uzza), sehingga Namanya itu tidak pantas untuk disebutkan dalam ayat ini. Baik, ada jawaban lain? Bagus! Ini dua jawaban yang lain, tinggal satu jawaban lagi. Bagus! Kita dapat menjawab hal ini dengan empat alasan: PERTAMA: Kun-yah Abu Lahab juga merupakan nama aslinya. Karena orang arab terkadang memanggil dengan nama asli dan terkadang dengan kun-yah dan terkadang dengan kun-yah. Seperti Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang tabi’in; Nama aslinya adalah Abu Salamah, beliau tidak memiliki nama lain. Sehingga terdapat pendapat bahwa Abu Lahab adalah nama aslinya yang berbentuk kun-yah. KEDUA: Pada salah satu pendapat, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Dalam salah satu pendapat disebutkan, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. KETIGA: Penyebutan kun-yahnya pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Penyebutan kun-yahnya (Abu Lahab) pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ) “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49) Yakni sebagai hinaan dan olokan baginya. Yakni jika kamu merasa sebagai orang yang perkasa dan mulia, maka sekarang rasakanlah azabmu ini! KEEMPAT: Karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan, karena kata ‘Lahab’ artinya adalah “kobaran api”, karena kata ‘Lahab’ berarti “kobaran api”, karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan. Karena kata ‘Lahab’ artinya adalah kobaran api. =============================== قَوْلُهُ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ أَنَّهُ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ أَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَالْكُنْيَةُ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِأَيِّ شَيْءٍ؟ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ فَإِذَا خَاطَبْتَ أَحَدًا قُلْتَ لَهُ يَا أَبَا فُلَانٍ هَذَا تَكْرِيْمٌ وَتَعْظِيْمٌ وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُعَظِّمُ بِهَذَا الْعَرَبُ مَا تُعَظِّمُ بِالْأَلْقَابِ فِيْ أَصْلِ كَلَامِهَا فَالْأَلْقَابُ عِنْدَهُمْ قَلِيْلَةٌ وَيَزْهَدُوْنَ فِيْهَا وَإِنَّمَا كَانُوا يُعَظِّمُوْنَ بِالْكُنْيَةِ فَكَيْفَ يَذْكُرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُنْيَةِ كَيْفَ يَذْكُرُهُ بِالْكُنْيَةِ وَهِيَ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ نَعَمْ لِاَنَّ اسْمَهُ عَبْدُ الْعُزَّى فَلَا يُنَاسِبُ تَعْبِيْدُهُ لِغَيْرِ اللهِ فِي الْآيَةِ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ طَيِّبٌ هَذِهِ وَجْهَيْنِ أُخْرَيَيْنِ طَيِّبٌ بَقِيَ وَجْهٌ وَاحِدٌ أَحْسَنْتَ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ أَوَّلُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ فَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي بِالاِسْمِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ فَمَثَلًا أَبُو سَلَمَةَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ مِنْ أَعْيَانِ التَّابِعِيْنَ هَذَا اسْمُهُ أَبُو سَلَمَةَ لَيْسَ لَهُ اسْمًا آخَرَ فَقِيْلَ إِنَّ أَبَا لَهَبٍ اسْمٌ لَهُ فِي صُوْرَةِ الْكُنْيَةِ وَثَانِيْهَا أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى وَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ فَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ وَثَالِثُهَا أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيْرِ وَالْمَهَانَةِ لَهُ بِأَنَّكَ أَنْتَ إِنْ كُنْتَ تَرَى أَنَّكَ عَزِيْزًا كَرِيْمًا فَهَذَا عَذَابُكَ وَرَابِعُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ فِيْهَا مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ أَنَّ كُنْيَتَهُ مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama Beliau bertanya tentang tiga golongan yang salat mereka tidak akan diangkat melebihi kepala mereka, walaupun satu jengkal saja, siapa saja mereka? Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah untuk Nabi dan Rasul terbaik. Kemudian, saya berdoa agar Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik-Nya untuk kita semua, pada perkara-perkara yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla cintai dan ridai. Sesudah itu, seorang mukmin harus berupaya untuk melaksanakan salatnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, dan di antara cara melakukannya adalah dengan memperhatikan hal-hal yang dengannya salat bisa sempurna. Dan di antara hal tersebut adalah berusaha untuk menyempurnakan syarat-syarat sahnya salat, sunah-sunahnya, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya. Karena salat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Adapun yang ditanyakan oleh saudara Khalifah dari Oman, tentang tiga golongan yang salatnya tidak akan naik melebihi kepala mereka (yaitu salat mereka tidak diterima), ini adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan banyak ulama lain dengan sanad yang hasan, walaupun sebagian ulama menilai bahwa hadis ini memiliki cacat. Dan ketiga golongan itu: 1. Orang yang mengimami suatu kaum, namun mereka benci dengannya. 2. Wanita yang tidur di malam hari dalam keadaan suaminya marah kepadanya. Golongan ketiga adalah dua saudara yang saling memutus hubungan. Maksudnya, mereka saling memutus hubungan silaturahmi di antara mereka. Dan inilah yang disebutkan dalam hadis. Demikian. Baik. Dua saudara, apakah maksudnya saudara kandung? Ya, itu secara tekstual hadis, tapi tidak harus saudara kandung, bisa juga saudara sebapak saja, atau seibu saja. ================== أَنْ يَسْأَلَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ … فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ شِبْرًا مَنْهُمْ؟ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ وَأَتَمِّهَا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يُرَاعِيَ الصِّفَاتَ الَّتِي تَكْمُلُ بِهَا صَلَاتُهُ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَى شُرُوطِ الصَّلَاةِ وَضَوَابِطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَوَاجِبَاتِهَا فَإِنَّ الصَّلَاةَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْأَخُ خَلِيفَةُ مِنْ عُمَانَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ فَهَذَا حَدِيثٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ وَجَمَاعَةٌ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَإِنْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَصَفَهُ بِأَنَّهُ مَعْلُولٌ وَهَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَالثَّانِي امْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا وَالثَّالِثُ أَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ يَعْنِي قَدْ قَطَعَ الصِّلَةَ الَّتِي بَيْنَهُمَا فَهَذَا هُوَ الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ نَعَمْ نَعَمْ الْأَخَوَانِ تَقْصِدُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ؟ نَعَمْ هَذَا ظَاهِرُ الْحَدِيثِ لَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ الْإِخْوَةُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ حَتَّى وَلَوْ كَانَ مِنَ الْأَبِ أَوْ مِنَ الْأُمِّ فَقَطْ

Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama Beliau bertanya tentang tiga golongan yang salat mereka tidak akan diangkat melebihi kepala mereka, walaupun satu jengkal saja, siapa saja mereka? Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah untuk Nabi dan Rasul terbaik. Kemudian, saya berdoa agar Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik-Nya untuk kita semua, pada perkara-perkara yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla cintai dan ridai. Sesudah itu, seorang mukmin harus berupaya untuk melaksanakan salatnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, dan di antara cara melakukannya adalah dengan memperhatikan hal-hal yang dengannya salat bisa sempurna. Dan di antara hal tersebut adalah berusaha untuk menyempurnakan syarat-syarat sahnya salat, sunah-sunahnya, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya. Karena salat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Adapun yang ditanyakan oleh saudara Khalifah dari Oman, tentang tiga golongan yang salatnya tidak akan naik melebihi kepala mereka (yaitu salat mereka tidak diterima), ini adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan banyak ulama lain dengan sanad yang hasan, walaupun sebagian ulama menilai bahwa hadis ini memiliki cacat. Dan ketiga golongan itu: 1. Orang yang mengimami suatu kaum, namun mereka benci dengannya. 2. Wanita yang tidur di malam hari dalam keadaan suaminya marah kepadanya. Golongan ketiga adalah dua saudara yang saling memutus hubungan. Maksudnya, mereka saling memutus hubungan silaturahmi di antara mereka. Dan inilah yang disebutkan dalam hadis. Demikian. Baik. Dua saudara, apakah maksudnya saudara kandung? Ya, itu secara tekstual hadis, tapi tidak harus saudara kandung, bisa juga saudara sebapak saja, atau seibu saja. ================== أَنْ يَسْأَلَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ … فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ شِبْرًا مَنْهُمْ؟ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ وَأَتَمِّهَا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يُرَاعِيَ الصِّفَاتَ الَّتِي تَكْمُلُ بِهَا صَلَاتُهُ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَى شُرُوطِ الصَّلَاةِ وَضَوَابِطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَوَاجِبَاتِهَا فَإِنَّ الصَّلَاةَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْأَخُ خَلِيفَةُ مِنْ عُمَانَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ فَهَذَا حَدِيثٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ وَجَمَاعَةٌ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَإِنْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَصَفَهُ بِأَنَّهُ مَعْلُولٌ وَهَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَالثَّانِي امْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا وَالثَّالِثُ أَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ يَعْنِي قَدْ قَطَعَ الصِّلَةَ الَّتِي بَيْنَهُمَا فَهَذَا هُوَ الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ نَعَمْ نَعَمْ الْأَخَوَانِ تَقْصِدُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ؟ نَعَمْ هَذَا ظَاهِرُ الْحَدِيثِ لَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ الْإِخْوَةُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ حَتَّى وَلَوْ كَانَ مِنَ الْأَبِ أَوْ مِنَ الْأُمِّ فَقَطْ
Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama Beliau bertanya tentang tiga golongan yang salat mereka tidak akan diangkat melebihi kepala mereka, walaupun satu jengkal saja, siapa saja mereka? Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah untuk Nabi dan Rasul terbaik. Kemudian, saya berdoa agar Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik-Nya untuk kita semua, pada perkara-perkara yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla cintai dan ridai. Sesudah itu, seorang mukmin harus berupaya untuk melaksanakan salatnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, dan di antara cara melakukannya adalah dengan memperhatikan hal-hal yang dengannya salat bisa sempurna. Dan di antara hal tersebut adalah berusaha untuk menyempurnakan syarat-syarat sahnya salat, sunah-sunahnya, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya. Karena salat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Adapun yang ditanyakan oleh saudara Khalifah dari Oman, tentang tiga golongan yang salatnya tidak akan naik melebihi kepala mereka (yaitu salat mereka tidak diterima), ini adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan banyak ulama lain dengan sanad yang hasan, walaupun sebagian ulama menilai bahwa hadis ini memiliki cacat. Dan ketiga golongan itu: 1. Orang yang mengimami suatu kaum, namun mereka benci dengannya. 2. Wanita yang tidur di malam hari dalam keadaan suaminya marah kepadanya. Golongan ketiga adalah dua saudara yang saling memutus hubungan. Maksudnya, mereka saling memutus hubungan silaturahmi di antara mereka. Dan inilah yang disebutkan dalam hadis. Demikian. Baik. Dua saudara, apakah maksudnya saudara kandung? Ya, itu secara tekstual hadis, tapi tidak harus saudara kandung, bisa juga saudara sebapak saja, atau seibu saja. ================== أَنْ يَسْأَلَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ … فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ شِبْرًا مَنْهُمْ؟ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ وَأَتَمِّهَا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يُرَاعِيَ الصِّفَاتَ الَّتِي تَكْمُلُ بِهَا صَلَاتُهُ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَى شُرُوطِ الصَّلَاةِ وَضَوَابِطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَوَاجِبَاتِهَا فَإِنَّ الصَّلَاةَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْأَخُ خَلِيفَةُ مِنْ عُمَانَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ فَهَذَا حَدِيثٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ وَجَمَاعَةٌ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَإِنْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَصَفَهُ بِأَنَّهُ مَعْلُولٌ وَهَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَالثَّانِي امْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا وَالثَّالِثُ أَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ يَعْنِي قَدْ قَطَعَ الصِّلَةَ الَّتِي بَيْنَهُمَا فَهَذَا هُوَ الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ نَعَمْ نَعَمْ الْأَخَوَانِ تَقْصِدُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ؟ نَعَمْ هَذَا ظَاهِرُ الْحَدِيثِ لَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ الْإِخْوَةُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ حَتَّى وَلَوْ كَانَ مِنَ الْأَبِ أَوْ مِنَ الْأُمِّ فَقَطْ


Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama Beliau bertanya tentang tiga golongan yang salat mereka tidak akan diangkat melebihi kepala mereka, walaupun satu jengkal saja, siapa saja mereka? Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah untuk Nabi dan Rasul terbaik. Kemudian, saya berdoa agar Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik-Nya untuk kita semua, pada perkara-perkara yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla cintai dan ridai. Sesudah itu, seorang mukmin harus berupaya untuk melaksanakan salatnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, dan di antara cara melakukannya adalah dengan memperhatikan hal-hal yang dengannya salat bisa sempurna. Dan di antara hal tersebut adalah berusaha untuk menyempurnakan syarat-syarat sahnya salat, sunah-sunahnya, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya. Karena salat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Adapun yang ditanyakan oleh saudara Khalifah dari Oman, tentang tiga golongan yang salatnya tidak akan naik melebihi kepala mereka (yaitu salat mereka tidak diterima), ini adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan banyak ulama lain dengan sanad yang hasan, walaupun sebagian ulama menilai bahwa hadis ini memiliki cacat. Dan ketiga golongan itu: 1. Orang yang mengimami suatu kaum, namun mereka benci dengannya. 2. Wanita yang tidur di malam hari dalam keadaan suaminya marah kepadanya. Golongan ketiga adalah dua saudara yang saling memutus hubungan. Maksudnya, mereka saling memutus hubungan silaturahmi di antara mereka. Dan inilah yang disebutkan dalam hadis. Demikian. Baik. Dua saudara, apakah maksudnya saudara kandung? Ya, itu secara tekstual hadis, tapi tidak harus saudara kandung, bisa juga saudara sebapak saja, atau seibu saja. ================== أَنْ يَسْأَلَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ … فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ شِبْرًا مَنْهُمْ؟ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ وَأَتَمِّهَا وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يُرَاعِيَ الصِّفَاتَ الَّتِي تَكْمُلُ بِهَا صَلَاتُهُ وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَى شُرُوطِ الصَّلَاةِ وَضَوَابِطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَوَاجِبَاتِهَا فَإِنَّ الصَّلَاةَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْأَخُ خَلِيفَةُ مِنْ عُمَانَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ فَهَذَا حَدِيثٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ وَجَمَاعَةٌ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَإِنْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَصَفَهُ بِأَنَّهُ مَعْلُولٌ وَهَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَالثَّانِي امْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا وَالثَّالِثُ أَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ يَعْنِي قَدْ قَطَعَ الصِّلَةَ الَّتِي بَيْنَهُمَا فَهَذَا هُوَ الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ نَعَمْ نَعَمْ الْأَخَوَانِ تَقْصِدُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ؟ نَعَمْ هَذَا ظَاهِرُ الْحَدِيثِ لَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ الْإِخْوَةُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ حَتَّى وَلَوْ كَانَ مِنَ الْأَبِ أَوْ مِنَ الْأُمِّ فَقَطْ
Prev     Next