Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah. Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah
Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah. Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam. —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah