Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah?

Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas

Overthinking dalam Islam: Kapan Berpikir Menjadi Masalah?

Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas
Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas


Banyak orang mengira bahwa banyak berpikir selalu identik dengan overthinking. Padahal Islam justru memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal dalam memahami kehidupan. Lalu kapan berpikir yang bermanfaat berubah menjadi beban yang melelahkan jiwa dan mengganggu ketenangan hati? Artikel ini akan membantu kita bisa membedakan keduanya serta memberikan langkah praktis untuk mengatasinya.  Daftar Isi tutup 1. Berpikir Bukanlah Masalah 2. Berpikir Bisa Berubah Menjadi Masalah 3. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu Bermasalah 4. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan Waktu 5. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga Tingkatan 6. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga Jenis 7. Biasakan Diri Melalui Latihan Bersama 8. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki Niat 9. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk Overthinking 10. Nasihat Penutup  Berpikir Bukanlah MasalahMenggunakan akal dan pikiran untuk memikirkan urusan kehidupan, baik yang bersifat pribadi maupun umum, merupakan sesuatu yang penting dan sangat dibutuhkan. Dengan cara itulah kita dapat menghadapi berbagai persoalan sebagaimana mestinya dan mengambil manfaat darinya dengan baik.Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah Ta’ala, telah mendorong manusia untuk berpikir dalam banyak ayat, di antaranya:وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)Dan firman-Nya:وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)Demikian pula firman-Nya:أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ“Tidakkah kalian berpikir?”Dan firman-Nya:أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Tidakkah kalian menggunakan akal?”Serta banyak ayat lainnya yang mendorong kita untuk menggunakan pikiran dalam memahami urusan hidup, berbagai persoalan yang kita hadapi, bahkan merenungkan kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.Dengan demikian, berpikir itu sendiri bukanlah masalah. Bahkan, ia merupakan sesuatu yang penting dan diperlukan. Agama kita memerintahkannya, dan Al-Qur’an mendorong kita untuk melakukannya. Berpikir Bisa Berubah Menjadi MasalahBerpikir dapat berubah menjadi masalah psikologis atau sosial apabila ia menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan peran yang semestinya dalam kehidupan.Misalnya, ketika seseorang membesar-besarkan suatu persoalan melebihi kenyataannya, lalu menyibukkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan berubah meskipun dipikirkan berulang-ulang. Banyak berpikir dalam perkara seperti itu tidak akan mempercepat penyelesaiannya dan juga tidak akan menundanya.Akibatnya, pikiran tersebut berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu dan menghambat dirinya untuk maju, berkarya, dan mengambil inisiatif. Bahkan, hal itu dapat mendorongnya menjadi ragu-ragu, bingung, serta gagal mengambil keputusan apa pun.Berpikir juga dapat menjadi masalah dari sisi agama apabila seseorang melampaui batas kemampuan akal dan daya tangkapnya, yaitu dengan memikirkan perkara-perkara gaib yang berada di luar jangkauan manusia dan tidak mungkin dapat dipahami secara menyeluruh.Lebih dari itu, sikap seperti ini dapat membuka banyak pintu bagi setan untuk memengaruhi dan mengganggu dirinya. Tidak Semua Banyak Pikiran Itu BermasalahAdapun kondisi yang terlalu banyak memikirkan berbagai hal dan memikul beban dari setiap masalah, maka sampai batas tertentu hal itu masih termasuk sesuatu yang wajar, selama tidak menghalangi untuk menjalani kehidupan secara normal.Yang dimaksud adalah: apakah pemikiran yang terus-menerus itu membantu menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi? Apakah persoalan-persoalan tersebut memang layak mendapatkan waktu dan perhatian sebanyak yang dicurahkan untuk memikirkannya?Jika jawabannya ya, maka sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, pemikiran tersebut masih memberikan manfaat dan membantu penyelesaian persoalan.Namun, jika jawabannya tidak, maka dengan kesadaran bahwa masalah-masalah itu tidak layak mendapatkan porsi perhatian sebesar itu, sesungguhnya kita telah menempuh setengah jalan menuju penyembuhan. Sebab, langkah pertama dalam mengatasi suatu masalah adalah mengenali dan mengakui keberadaannya.Karena kapan pun kita mengetahui hakikat suatu masalah, akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya dan mengatasinya. Mengatasi Masalah Ini Membutuhkan Latihan dan WaktuMengatasi masalah ini memerlukan latihan yang berkelanjutan dan juga membutuhkan waktu. Namun, harus memiliki kemampuan untuk memulai langkah tersebut, dan dengan pertolongan serta taufik dari Allah, juga memiliki kemampuan untuk berhasil mengatasinya.Karena itu, harus memiliki kepercayaan diri dalam hal ini. Jangan merasa bahwa diri kita tidak mampu berubah atau tidak sanggup keluar dari lingkaran kekhawatiran yang berlebihan.Yakinlah bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Selama ada kemauan untuk memperbaiki diri, kesungguhan dalam berusaha, dan ketergantungan kepada Allah Ta’ala, maka sedikit demi sedikit kebiasaan berpikir berlebihan dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi pemikiran yang lebih sehat dan bermanfaat. Kelompokkan Masalah dan Kesibukan Menjadi Tiga TingkatanBerbagai kesibukan dan masalah yang dihadapi terdapat tiga tingkatan sebagai berikut:Tingkatan Pertama: Masalah yang Sangat BerpengaruhYaitu masalah atau kesibukan yang memiliki pengaruh langsung dan besar terhadap kehidupan rumah tangga maupun hubungan sosial, bahkan dapat berujung pada keretakan atau putusnya hubungan.Masalah seperti ini memang harus diberi perhatian yang cukup. Pikirkan secara objektif, carikan penyelesaiannya, dan bangun komunikasi yang baik untuk menyelesaikannya. Jangan membiarkannya menumpuk dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi semakin sulit untuk ditangani.Tingkatan Kedua: Masalah yang Pilihannya Sama-Sama MungkinYaitu persoalan yang sisi positif dan negatifnya relatif seimbang, dan kita merupakan pihak yang akan terdampak oleh keputusan tersebut.Dalam masalah seperti ini, lakukanlah istikharah kepada Allah. Tidak mengapa jika saling bermusyawarah, membandingkan berbagai alternatif yang ada, lalu mengambil keputusan yang dipandang paling tepat. Dalam hal ini, tetaplah mempertimbangkan ketentuan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat, tanpa berlebihan dalam meneliti dan memikirkannya.Tingkatan Ketiga: Masalah yang Tidak Berkaitan dengan KitaYaitu persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita karena berkaitan dengan urusan orang lain.Masalah seperti ini lebih baik tidak terlalu dipikirkan, tidak dijadikan bahan kesibukan, dan tidak menghabiskan waktu untuk membahasnya. Sebab, pada hakikatnya urusan tersebut bukanlah tanggung jawab kita.Lagi pula, pendapat kita dalam masalah tersebut sering kali tidak akan mengubah keadaan, tidak mempercepat penyelesaian, dan tidak pula menundanya. Karena itu, lebih baik fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam lingkup tanggung jawab dan pengaruh kita. Urusan Kehidupan Kita Tidak Lepas dari Tiga JenisPada dasarnya, berbagai urusan dan persoalan hidup yang kita hadapi dapat dibagi menjadi tiga kategori:Pertama: Urusan yang Sudah BerlaluYaitu berbagai peristiwa yang telah terjadi dan selesai.Kita tidak seharusnya terlalu banyak menyibukkan diri dengan hal-hal semacam ini, kecuali sebatas mengambil pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang pernah terjadi untuk bekal di masa depan. Masa lalu tidak akan kembali, sehingga tidak ada manfaatnya terus-menerus tenggelam dalam sesuatu yang telah berlalu.Kedua: Urusan yang Masih Akan DatangYaitu berbagai perkara yang berkaitan dengan masa depan.Sebaiknya kita tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal tersebut sebelum waktunya tiba, karena masa depan termasuk perkara gaib yang tidak diketahui manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyiapkan beberapa pilihan dan kemungkinan yang tersedia. Ketika waktunya tiba, kita bertawakal kepada Allah lalu mengambil keputusan yang diperlukan.Ketiga: Urusan yang Sedang Dihadapi Saat IniYaitu persoalan yang sedang kita jalani dan rasakan saat ini.Dalam menghadapi masalah seperti ini, hendaknya kita berusaha menimbang berbagai pilihan yang ada secara seimbang. Tidak mengapa bermusyawarah dan bertukar pendapat dengan orang lain, selama tidak berlebihan dan tidak disertai kecemasan yang berlebihan.Pada akhirnya, dengan izin Allah, segala sesuatu akan berjalan sebagaimana yang terbaik. Selama kita telah menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti beristikharah dan bermusyawarah, maka kita meyakini bahwa pilihan terbaik adalah apa yang Allah tetapkan untuk kita.“Masa lalu diambil pelajarannya, masa depan dipersiapkan seperlunya, dan masa kini dihadapi dengan ikhtiar serta tawakal.” Inilah salah satu kunci untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan dan memikul beban yang sebenarnya tidak perlu dipikul. Biasakan Diri Melalui Latihan BersamaMembiasakan diri untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan membutuhkan latihan yang terus-menerus.Kita dapat membuat kesepakatan dengan suami untuk saling membantu dalam hal ini. Ketika salah satu dari kita mulai terlalu larut memikirkan suatu masalah atau memberikan perhatian yang berlebihan terhadap suatu perkara, maka yang lain mengingatkannya dengan baik.Jika dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, insya Allah sedikit demi sedikit kita akan mendapati diri mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan lebih objektif dan lebih tenang. Memperbanyak Doa dan Memperbaiki NiatSebelum semua usaha tersebut, dan setelahnya, jangan lupakan hal yang paling penting, yaitu menghadirkan niat yang baik serta memperbanyak doa yang tulus kepada Allah.Mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan taufik, pertolongan, dan keteguhan kepada kita. Mintalah agar Allah membimbing langkah-langkah kita dan memudahkan kita menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang diridhai-Nya.Sebab, hati manusia berada di tangan Allah. Jika Allah memberikan ketenangan, maka berbagai persoalan yang besar akan terasa ringan. Sebaliknya, jika ketenangan itu dicabut, maka perkara-perkara kecil pun dapat terasa sangat membebani. Takwa dan Tawakal: Obat Paling Ampuh untuk OverthinkingDi antara cara paling ampuh untuk mengatasi kebiasaan berpikir berlebihan adalah memperkuat takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala.Banyak orang terjebak dalam overthinking karena merasa bahwa segala sesuatu harus berada dalam kendalinya. Ia ingin mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi, memastikan semua risiko dapat dihindari, dan menjamin bahwa hasil yang diinginkan pasti tercapai. Padahal, kemampuan manusia sangat terbatas, sedangkan masa depan merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.Karena itu, setelah seseorang berusaha, bermusyawarah, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, maka saatnya ia bertawakal kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” yaitu Allah mendatangkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.“Barang siapa bertawakal kepada Allah,” yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan bersandar kepada Allah dalam meraih apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, serta percaya kepada Allah dalam memudahkan semua itu.“Maka Allah akan mencukupinya,” yaitu Allah akan mencukupi urusan yang ia serahkan kepada-Nya. Jika suatu urusan berada dalam jaminan Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa, lagi Maha Penyayang, maka urusan itu lebih dekat kepada kebaikan bagi seorang hamba daripada apa pun yang lain.Ayat ini mengajarkan bahwa solusi berbagai persoalan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya perhitungan dan pemikiran, tetapi juga pada ketakwaan dan tawakal kepada Allah. Semakin kuat keyakinan seseorang bahwa Allah akan mengatur urusannya dengan sebaik-baiknya, semakin berkurang kegelisahan yang memenuhi hatinya.Sebab, overthinking sering kali muncul ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Adapun tawakal adalah sikap menyerahkan perkara yang berada di luar kendali kita kepada Zat yang menguasai segala sesuatu.Karena itu, lakukanlah ikhtiar yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama. Sebagian persoalan justru selesai ketika hati belajar lebih banyak bertawakal kepada-Nya.Baca juga: Kiat Meraih Sukses dengan TawakkalBerkaitan dengan pentingnya tawakal, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمَنْ اشْتَغَلَ بِاللَّهِ عَنِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مَؤُونَةَ النَّاسِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى نَفْسِهِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ بِالنَّاسِ عَنِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ.“Barang siapa menyibukkan dirinya dengan Allah sehingga tidak terlalu bergantung kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya terhadap manusia. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Barang siapa menyibukkan dirinya dengan manusia sehingga lalai dari Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (Al-Fawā’id)Perkataan yang agung ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak diperoleh dengan terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan dan kekhawatiran. Ketenangan justru lahir ketika hati bergantung kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.Semakin kuat tawakal seorang hamba, semakin ringan beban yang ia rasakan. Sebaliknya, semakin ia menggantungkan hati kepada dirinya sendiri atau kepada manusia, semakin besar pula kegelisahan yang akan menghimpitnya.Baca juga: Tawakkal pada Allah Yang Memberi Kecukupan Nasihat PenutupDi zaman media sosial saat ini, banyak orang menghabiskan energi untuk memikirkan urusan yang tidak berada dalam kendalinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran menjadi penuh, sementara masalah yang sebenarnya penting justru terabaikan. Belajarlah membedakan antara hal yang perlu dipikirkan dan hal yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan. Ketenangan bukanlah karena semua masalah selesai, tetapi karena hati percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur segala urusan. Referensi utama: Islamqa.ComBaca Juga:Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah: Ini Cara MengatasinyaTakut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?—- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsanxiety gangguan kesehatan mental istikharah kecemasan kesehatan mental kesehatan mental Islam ketenangan hati musyawarah nasihat islam overthinking pengendalian diri tawakal waswas

Takut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?

Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah

Takut Menikah karena Waswas, Bagaimana Solusinya?

Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah
Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah


Ada orang yang sangat ingin menikah, tetapi hatinya justru dipenuhi rasa takut, malu, ragu, dan waswas. Ia mencintai pernikahan, namun bayangan gagal, takut terhadap pasangan, dan kekhawatiran berlebihan membuatnya terus mundur. Islam mengajarkan bahwa waswas harus dilawan dengan iman, sabar, dzikir, doa, dan langkah nyata yang disertai tawakal kepada Allah.  Daftar Isi tutup 1. Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan Waswas 2. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan Berlebihan 2.1. Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala 2.2. Kedua: Bersabar dan Mengharap Pahala 2.3. Ketiga: Mengenali Masalah dengan Tepat 2.3.1. 1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari Setan 2.3.2. 2. Memperbanyak Membaca Surah Al-Baqarah 2.3.3. 3. Menjaga Dzikir pada Setiap Keadaan 2.3.4. 4. Memperbanyak Doa dan Istighfar 2.3.5. 5. Berusaha Kuat Melawan Waswas 2.3.6. 6. Berani Melangkah untuk Menikah 2.3.7. 7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli Psikologi 3. Doa Memohon Kesembuhan  Kasus: Ingin Menikah, tetapi Terhalang Takut, Malu, dan WaswasAda seorang pemuda yang sangat ingin menikah. Ia menginginkan istri yang salehah, agar mereka bisa hidup bersama dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan. Ia ingin menjalani rumah tangga dalam cinta, kejernihan hati, dan saling menasihati. Ia berharap bisa bangun malam bersama istrinya, merasa tenteram kepadanya, dan istrinya pun merasa nyaman bersamanya.Namun, pemuda ini hidup dalam rasa gentar dan takut yang sangat besar terhadap pernikahan dan terhadap sosok istri. Ia juga hidup dalam rasa malu dan sungkan. Sudah cukup lama ia ingin menikah, tetapi ia malu mengungkapkan keinginan itu kepada kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sering mendesaknya untuk menikah. Di dalam dirinya, ia seakan berteriak, “Aku ingin menikah.”Ia merasa bahwa rasa malu, sungkan, dan berbagai waswas tentang kemampuan seksualnya telah menjadi penghalang antara dirinya dan pernikahan, sampai ia menjadikan semua itu sebagai alasan untuk lari dari pernikahan.Ya, ia mencintai pernikahan. Namun, ia tidak tahu mengapa ia justru lari darinya. Apakah karena rasa takut dan malu? Ataukah karena tidak percaya diri, seakan kegagalan berdiri menghalangi dirinya dari sesuatu yang ia inginkan?Dalam beberapa keadaan, ia juga mengalami keraguan yang besar, terutama ketika hendak membeli atau menjual sesuatu.Ia hidup dalam keluarga yang konservatif. Keluarganya jarang sekali membicarakan urusan seksual, bahkan sekadar menyinggungnya secara tidak langsung pun hampir tidak pernah. Padahal, ia mendengar bagaimana kerabat-kerabatnya bercanda dengan anak-anak mereka dalam perkara yang berkaitan dengan seksual. Ia juga melihat bagaimana anak-anak kerabatnya memiliki rasa percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar, bukan hanya tentang urusan seksual, tetapi juga tentang pernikahan.Rasa takut gagal itu semakin besar hingga ia pernah pergi ke klinik andrologi untuk memeriksa ukuran dan fungsi organ, melakukan pemeriksaan hormon, dan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Ia tidak tahu apakah yang mendorongnya adalah rasa takut atau keinginan untuk menjauh dari pernikahan.Bahkan, sebagian hasil pemeriksaan dan tes itu justru memasukkan banyak keraguan ke dalam dirinya. Meskipun demikian, di dalam hati ia merasa bahwa bukan pemeriksaan-pemeriksaan itu yang menjadi sebab ia menjauh dari pernikahan. Sebab utamanya adalah rasa takut terhadap pernikahan itu sendiri. Ketika ia sudah bertekad untuk berbicara kepada keluarganya tentang pernikahan, ia merasakan rasa gentar dan takut yang kuat.Sebenarnya, dahulu ia hidup dengan keyakinan bahwa pernikahan baginya adalah sesuatu yang mustahil. Di dalam dirinya tertanam keyakinan, “Mustahil aku menikah. Aku akan tetap seperti ini.” Bahkan, ketika ada orang bertanya kepadanya, “Kapan menikah?” ia langsung menjawab, “Di surga.”Ia merasa bahwa apa yang disebut “alam bawah sadar” telah menyimpan kalimat-kalimat yang dahulu sering ia ulangi itu.Ia ingin menikah. Demi Allah, ia benar-benar ingin menikah. Namun, rasa takut ini—atau berbagai ketakutan terhadap perempuan, kegagalan, dan hubungan suami istri—telah menghalanginya dari pernikahan.Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya mungkin benar-benar menikah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berhubungan dengan seorang perempuan. Ia juga tidak bisa membayangkan dirinya tidur dan bepergian bersama seorang perempuan. Semua bayangan itu berdiri sebagai tembok besar antara dirinya dan pernikahan.Beberapa waktu sebelumnya, ia pernah memberanikan diri berbicara kepada keluarganya. Keluarganya pun melamarkan seorang gadis untuknya. Lamaran itu diterima, dan tahap berikutnya tinggal ia pergi untuk melihat calon tersebut. Namun, rasa takut yang sangat kuat menguasainya. Ia akhirnya berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak menginginkan gadis itu.Usianya kini telah melewati tiga puluh tahun. Ia merasa berdiri dalam keadaan tidak berdaya, meskipun harapan masih ada. Ia merasa ragu, meskipun semangat untuk menikah masih kuat. Ia merasa takut, meskipun keyakinan kadang-kadang tetap muncul dan menguat.Keadaan ini sangat memengaruhi kondisi psikologisnya. Ia pernah mendatangi beberapa dokter jiwa untuk mengadukan depresi dan kecemasannya. Mereka semua memberinya obat dan mengatakan agar ia mengonsumsinya. Namun, ia merasa mereka tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan.Sampai akhirnya, dokter terakhir yang ia datangi terus mendampinginya hingga menemukan pokok masalahnya, yaitu rasa takut terhadap perempuan, pernikahan, kegagalan, dan hubungan suami istri. Ia sangat membutuhkan nasihat dan arahan. Ia ingin memecahkan penghalang besar antara dirinya dan pernikahan. Allah mengetahui bahwa sebuah kata bisa sangat berpengaruh pada dirinya, baik pengaruh negatif maupun positif.Ia membutuhkan orang yang mau menggandeng tangannya dan membantunya menyeberang menuju ketenangan, keakraban, dan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Menghadapi Waswas, Takut Menikah, dan Keraguan BerlebihanYakinlah sepenuh hati bahwa setiap masalah yang dialami seorang Muslim adalah perkara yang juga patut kita rasakan bersama. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Musibahnya adalah musibah kita, kebahagiaannya menjadi kebahagiaan kita, dan kesedihannya pun ikut menyentuh hati kita. Karena itu, ketika seorang Muslim sedang berada dalam kesulitan, sudah sepatutnya kita berusaha menghadirkan solusi agar ia bisa keluar dari masalahnya dengan segera, insya Allah Ta’ala.Ketahuilah, orang yang sedang menghadapi masalah, dirundung gelisah, atau merasa sedih bukanlah satu-satunya orang yang mengalami keadaan seperti itu. Pada saat tertentu, seseorang bisa saja sedang menjalani ujian dari Allah. Ujian ini membutuhkan beberapa sikap agar ia dapat mengambil manfaat darinya dan keluar dari cobaan tersebut dengan membawa banyak kebaikan. Di antara sikap penting itu adalah sebagai berikut.Pertama: Berbaik Sangka kepada Allah Ta’alaSeorang Muslim hendaknya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apa pun yang Allah takdirkan kepadanya pasti mengandung hikmah besar yang Allah ketahui. Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya selama ia tetap istiqamah di atas perintah-Nya, berpegang teguh pada petunjuk-Nya, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi batasan dan larangan-Nya.Bisa jadi, ujian itu datang agar Allah menolak darinya sesuatu yang lebih berat dan lebih besar bahayanya. Bisa jadi pula, melalui ujian tersebut Allah menghindarkannya dari sebagian dosa besar dan perkara yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Maka, perbaikilah sangkaan kepada Rabb dan Pelindungmu. Semoga Allah mengeluarkanmu dari ujian itu dengan mudah, sebagaimana sehelai rambut keluar dari adonan.Kedua: Bersabar dan Mengharap PahalaUjian membutuhkan kesabaran dan ihtisab, yaitu mengharap pahala dari Allah. Allah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan menyiapkan bagi mereka pahala yang tidak tertandingi.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji kesabaran dan orang-orang yang berusaha menghias diri dengannya. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.“Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, no. 1400 dan Muslim, no. 1053)Maka, bersabarlah. Kesabaran adalah bekal saat menghadapi ujian dan bekal pula saat berada dalam kelapangan.Ketiga: Mengenali Masalah dengan TepatPara ahli kedokteran mengatakan, “Diagnosis adalah dua pertiga dari pengobatan.”Dari keadaan yang dijelaskan, tampak bahwa masalah yang dialami bukanlah penyakit fisik organik. Masalah itu juga bukan semata-mata gangguan kejiwaan yang biasanya ditangani dokter jiwa, tetapi lebih dekat kepada waswas yang bersifat kompulsif. Waswas ini menguasai seseorang pada sisi penting dalam hidupnya.Waswas adalah penyakit yang berbahaya. Jika sudah menguasai seorang hamba, ia bisa menyeretnya kepada kebinasaan. Bahkan, pada sebagian orang, waswas bisa sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Kita memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan.Namun, alhamdulillah, waswas seperti ini tidak berkaitan dengan akidah dan pokok agama, juga tidak berkaitan dengan ibadah dan rukun Islam. Waswas ini berkaitan dengan keraguan dalam urusan menikah, jual beli, dan semisalnya. Walaupun dalam hati orang yang mengalaminya perkara ini terasa sangat besar, sebenarnya masalah ini masih lebih ringan jika dibandingkan dengan waswas sebagian orang dalam masalah bersuci.Ada orang yang berkali-kali mandi, tetapi setelah itu tetap belum tenang bahwa dirinya sudah suci. Ada yang berwudhu lebih dari sepuluh kali, tetapi tetap tidak yakin dirinya sudah berwudhu. Ada pula yang mendapati takbiratul ihram bersama imam, tetapi rakaat pertama habis sementara ia masih berusaha mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu ia meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak tahu apakah ia sudah benar-benar takbiratul ihram atau belum. Alhamdulillah, jika seseorang tidak mengalami hal-hal seperti itu.Karena itu, ketahuilah bahwa pengobatan untuk masalah seperti ini, dengan izin Allah, ada pada langkah-langkah berikut.1. Menyadari bahwa Waswas Berasal dari SetanKetahuilah bahwa waswas itu berasal dari setan. Bahkan, Allah menamai setan dengan الْوَسْوَاسُ dalam Surah An-Nas, sebagaimana telah diketahui.Hal ini menuntut seseorang untuk memerangi setan dengan sungguh-sungguh. Setanlah yang memulai peperangan itu. Dialah yang menyerang, membelenggu, dan ingin merampas hak-hak seorang hamba. Maka, jangan berpaling darinya dengan sikap kalah. Jangan tunjukkan kelemahan di hadapannya.Setan itu lemah. Setan itu kalah. Setan itu الخنّاس, yang mundur dan bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Allah. Maka, beranilah dan yakinlah bahwa engkau mampu mengalahkannya selama engkau bersama Allah.Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ“Dan berpegangteguhlah kamu kepada Allah. Dialah Pelindungmu; maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Hajj: 78)2. Memperbanyak Membaca Surah Al-BaqarahHendaknya seorang Muslim memperbanyak membaca Surah Al-Baqarah dan mengkhatamkannya setiap tiga malam. Jika itu dilakukan dalam shalat malam, maka lebih utama.Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan, atau seakan-akan dua naungan, atau seakan-akan dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya; keduanya akan membela para pembacanya. Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim, no. 804)Makna فِرْقَانِ adalah dua kelompok atau dua kawanan. Makna تُحَاجَّانِ adalah keduanya membela dan menolak keburukan dari para pembacanya. Makna الْبَطَلَةُ adalah para tukang sihir.Setan tidak mampu mendengar Surah Al-Baqarah. Mereka lari darinya, melemah di hadapan orang yang membacanya, dan takut kepadanya.Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim, no. 780)3. Menjaga Dzikir pada Setiap KeadaanHendaknya seorang Muslim menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan sesuai waktunya. Di antaranya adalah dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir ketika masuk masjid dan keluar darinya, dzikir ketika masuk rumah dan keluar darinya, dzikir ketika masuk kamar mandi dan keluar darinya, serta dzikir ketika makan, minum, berpakaian, dan semisalnya.Pada setiap dzikir itu terdapat manfaat yang besar. Dzikir juga memutus jalan setan menuju diri seorang hamba.4. Memperbanyak Doa dan IstighfarHendaknya seseorang memperbanyak doa. Bahkan, hendaknya ia terus-menerus memohon kepada Rabb dan Pelindungnya agar Allah memberikan kelapangan, menghilangkan kesulitan, dan mengeluarkannya dari ujian.Carilah waktu-waktu terkabulnya doa. Sediakan waktu khusus untuk berdoa setiap malam pada sepertiga malam terakhir, pada waktu terakhir di hari Jumat, dan setelah shalat-shalat wajib. Doakan pula setiap orang yang sedang tertimpa ujian, karena para malaikat mengaminkan doa itu dan berkata, “Untukmu juga semisalnya.”Perbanyaklah istighfar dan tobat kepada Allah. Allah telah menjanjikan kebaikan besar bagi orang yang banyak beristighfar.Allah Ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)5. Berusaha Kuat Melawan WaswasDi samping semua usaha di atas, seseorang tetap harus mencurahkan kemampuannya untuk menolak waswas. Ia perlu melatih dirinya dengan keyakinan bahwa dirinya normal dan tidak memiliki masalah besar. Ia harus menolak setiap pikiran yang datang untuk melemahkannya. Ia juga perlu mengetahui bahwa semua pikiran itu bersumber dari satu hal, yaitu waswas. Mengalahkan waswas itu mudah dengan izin Allah Ta’ala.6. Berani Melangkah untuk MenikahMintalah pertolongan kepada Allah dan majulah untuk menikah. Mintalah bantuan keluarga dan sahabat-sahabat yang tulus agar urusan itu bisa berjalan.Pernah diketahui secara langsung adanya orang yang mengalami kondisi seperti ini. Keadaannya sama persis, bahkan lebih berat. Kemudian sebagian saudara dan orang-orang yang mencintainya mendorongnya untuk menikah, bahkan membawanya menuju pernikahan setelah mereka memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah fisik organik. Setelah itu, Allah Ta’ala memberinya taufik, melapangkan dadanya, dan urusan pernikahannya pun berjalan baik seperti orang lain.7. Tidak Mengapa Berkonsultasi kepada Ahli PsikologiTidak mengapa seseorang berkonsultasi kepada sebagian ahli psikologi dan menggunakan sebagian pengobatan psikologis yang membantu dalam masalah ini. Sebab, waswas juga termasuk penyakit psikologis yang dikenal oleh para ahli.Maka, tidak mengapa menggabungkan antara pengobatan yang telah disebutkan di atas dengan penanganan psikologis. Doa Memohon KesembuhanSemoga Allah Yang Mahaagung, Rabb Pemilik ‘Arasy yang agung, memberikan kesembuhan, menyegerakan jalan keluar, dan menghadirkan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Wallahu a’lam.  —- Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 1 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdzikir mengusir waswas gangguan kesehatan mental keluarga sakinah kesehatan mental kesehatan mental Islam menikah dalam Islam nasihat pernikahan overthinking menikah persiapan menikah solusi takut menikah surah al baqarah takut menikah waswas menikah

Jangan Lupakan Doa Ini Sebelum Bersama Istri Agar Lahir Anak Saleh

Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ

Jangan Lupakan Doa Ini Sebelum Bersama Istri Agar Lahir Anak Saleh

Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ
Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ


Dalam hubungan suami istri yang dilakukan seseorang dengan istrinya, jika saat hubungan suami istri itu, ia membaca:ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA“…WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA…Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (yaitu anak) yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) lalu ditakdirkan lahir seorang anak, maka Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam mengabarkanbahwa doa ini menjadi perlindungan baginya, yaitu perlindungan bagi anak tersebut, dan setan tidak akan mendekatinya. Saya mengenal seseorang yang saya kira termasuk ahli ibadah. Ia pernah bercerita kepada saya tentang anak-anaknya — ia sendiri seorang pekerja asing. Anak-anaknya tinggal di negeri lain, sedangkan ia berada di Madinah. Ia bercerita pada saya bahwa semua anaknya adalah anak-anak yang saleh. Ia memuji keistiqamahan dan adab mereka. Ia berkata kepada saya, “Saya tidak bersusah payah dalam mendidik mereka. Namun, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya mendatangi istri saya, kecuali saya membaca doa ini. Seingat saya, tidak pernah sekali pun saya mendatangi istri saya kecuali saya membaca doa ini.” ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA …“Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan…dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari & Muslim) Inilah perlindungan bagi anak sebelum ia lahir. ===== فِي الْمُعَاشَرَةِ الَّتِي تَكُونُ مِنَ الْمَرْءِ لِأَهْلِهِ إِنْ قَالَ فِي تِلْكَ الْمُعَاشَرَةِ: اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا وَقُدِّرَ لَهُ وَلَدٌ أَخْبَرَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ هَذَا تَحْصِينٌ لَهُ تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ وَأَنَّهُ لَا يَقْرُبُهُ الشَّيْطَانُ وَأَعْرِفُ أَحَدَ الْأَشْخَاصِ أَحْسِبُهُ مِنَ الْعُبَّادِ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ وَهُوَ مُغْتَرِبٌ أَوْلَادُهُ فِي بَلَدٍ وَهُوَ فِي الْمَدِينَةِ لَكِنْ يُخْبِرُنِي عَنْ أَوْلَادِهِ أَنَّهُمْ كُلُّهُمْ صُلَحَاءُ وَيُثْنِي عَلَى اسْتِقَامَتِهِمْ وَأَدَبِهِمْ وَيَقُولُ لِي: مَا لِي جُهْدٌ فِي تَرْبِيَتِهِمْ لَكِنَّنِي لَا أَذْكُرُ أَنِّي أَتَيْتُ أَهْلِي مَرَّةً إِلَّا وَقُلْتُ هَذَا الدُّعَاءَ وَمَا أَذْكُرُ أَنِّي فَاتَنِي وَلَا مَرَّةً إِلَّا وَأَتَيْتُ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَهَذَا تَحْصِينٌ لِلْوَلَدِ قَبْلَ مَجِيئِهِ

Hukum PDKT Online via Sosmed dalam Islam

Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.

Hukum PDKT Online via Sosmed dalam Islam

Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.
Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.


Daftar Isi TogglePandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAllah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSelama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaNasihat penutupMedia sosial memang memudahkan banyak hal. Termasuk dalam urusan berkenalan. Yang awalnya hanya saling follow, lama-lama jadi sering lihat story, lalu mulai saling membalas pesan, dan akhirnya terbiasa berkomunikasi hampir setiap hari. Banyak orang menganggap ini hal yang biasa, selama belum bertemu langsung dan belum terjadi sesuatu yang lebih jauh.Padahal, syariat tidak hanya berbicara tentang perbuatan besar di ujung jalan. Syariat juga memberi batasan pada jalan-jalan yang mengantarkan ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dan itu pasti mengenainya. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lisan, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah menyentuh; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati itu berkeinginan serta berangan-angan. Kemudian kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Muslim) [1]Hadis ini menunjukkan bahwa perkara besar kadang berawal dari sesuatu yang terlihat kecil. Dari pandangan, dari obrolan, dan dari hati yang mulai tertarik. Oleh karena itu, PDKT via sosmed tidak bisa dinilai hanya dari ada atau tidaknya pertemuan langsung.Pandangan adalah pintu awal yang sering diremehkanBanyak hubungan yang awalnya tidak direncanakan pun bermula dari pandangan yang terus diulang. Mula-mula hanya melihat profil. Setelah itu jadi sering membuka akun yang sama. Kemudian mulai menunggu unggahan barunya. Semua ini mungkin terasa ringan, tetapi justru di situlah masalah sering bermula. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 31)Ayat ini tentu tidak terbatas pada pandangan secara langsung. Pandangan melalui layar pun tetap termasuk dalam keumuman maknanya. Oleh karena itu, kebiasaan melihat akun lawan jenis nonmahram berulang-ulang, apalagi jika disertai rasa suka dan keinginan untuk terus menikmati, jelas hal yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama untukmu, sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad) [2]Maksudnya, pandangan pertama yang tidak disengaja akan dimaafkan. Adapun pandangan setelahnya, bisa terhitung dosa.Baca juga: Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah ZamanBerduaan di layar tetap membuka pintu fitnahAda yang merasa lebih tenang ketika hubungan itu hanya terjadi lewat chat. Tidak bertemu, tidak jalan berdua, tidak ada kontak fisik. Tetapi justru karena chat berlangsung diam-diam dan tidak terlihat orang lain, fitnahnya sering lebih mudah masuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Ketahuilah, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [3]Dan dalam hadis yang lain,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama perempuan itu ada mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Memang, chat pribadi tidak sama persis dengan khalwat fisik dalam semua rinciannya. Akan tetapi, dari sisi tertutupnya komunikasi dan besarnya peluang terjadinya fitnah, ia sangat dekat dengan makna itu. Terlebih jika obrolannya sudah masuk ke hal-hal pribadi, saling curhat, saling menunggu kabar, atau mulai merasa ada ikatan yang tidak lagi biasa.Di sinilah setan bekerja pelan-pelan. Tidak selalu dengan mendorong kepada dosa besar sekaligus, tetapi dengan membuat dua orang merasa bahwa semua ini masih aman dan wajar. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,حَرَّمَ الْخَلْوَةَ بِالْأَجْنَبِيَّةِ لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ، وَالْأَصْلُ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ“Khalwat dengan perempuan ajnabiyah diharamkan karena menjadi sebab fitnah. Kaidah dasarnya, setiap hal yang menjadi sebab fitnah, maka tidak boleh dilakukan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 15: 419) [5]Maka, yang menjadi ukuran bukan semata-mata ada atau tidaknya sentuhan fisik atau berduaan secara fisik, tetapi juga apakah interaksi itu membuka pintu fitnah atau tidak.Allah mengatur cara bicara, bukan hanya perbuatannyaSebagian orang cukup berhati-hati dalam tindakan, tetapi kurang memperhatikan cara berbicara. Padahal Al-Qur’an juga memberikan tuntunan dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman,فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا“Maka janganlah kamu melemah-lembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)Ayat ini memang turun berkenaan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kandungan adab di dalamnya menjadi pelajaran bagi wanita beriman secara umum. Maksudnya bukan larangan berbicara sama sekali, tetapi larangan berbicara dengan cara yang mengundang ketertarikan dan memancing fitnah.Oleh karena itu, obrolan yang sengaja dibuat akrab, pilihan kata yang dibuat manis, candaan yang menghangatkan suasana, atau voice note yang dilembut-lembutkan kepada nonmahram, semua ini perlu diwaspadai. Kadang yang membuat hati terpaut bukan topik pembicaraannya, tetapi suasana yang dibangun dari cara bicara itu sendiri.Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan bahwa wanita dilarang berbicara dengan cara yang lembut dan memikat sehingga membangkitkan keinginan orang yang di hatinya ada penyakit. [6]Selama belum ada akad, statusnya tetap ajnabi (bukan mahram)Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa jika dua orang sudah sama-sama serius, maka mereka boleh lebih bebas berkomunikasi. Padahal, ukuran halal dan haram dalam masalah ini bukan perasaan serius, tetapi akad nikah. Selama belum ada akad, keduanya tetap ajnabi, yakni laki-laki dan perempuan nonmahram.Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,إِذَا رَضِيَهَا وَتَمَّتِ الْخِطْبَةُ فَلَا يُكَلِّمُهَا… إِذَا كُنْتَ تُرِيدُ؛ اعْقِدْ عَلَيْهَا وَحَدِّثْهَا مَا شِئْتَ، أَمَّا أَنْ تُحَدِّثَهَا وَهِيَ أَجْنَبِيَّةٌ مِنْكَ وَلَمْ يَتِمَّ الْعَقْدُ؛ فَهَذَا لَا يَجُوزُ“Apabila lamaran sudah diterima dan khitbah telah terjadi, maka janganlah ia berbicara dengannya… Jika engkau mau, langsungkan akad, lalu berbicaralah sesukamu. Adapun berbicara dengannya sementara ia masih perempuan asing bagimu dan akad belum berlangsung, maka hal ini tidak boleh.” [7]Keterangan ini tegas. Bahkan setelah khitbah pun, statusnya belum berubah menjadi halal. Sehingga tidak tepat jika hubungan yang belum jelas arahnya justru dibiarkan berjalan lama melalui pesan pribadi, telepon, atau voice note, dengan alasan sedang saling mengenal.Dalam agama ini, menjaga diri dari perkara yang meragukan justru termasuk bentuk kehati-hatian yang terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [8]Jika suatu hubungan mulai menyeret hati, membuka ruang fitnah, dan membuat seseorang sulit menjaga batas, maka itu sudah cukup menjadi alasan untuk menghentikannya.Islam tidak melarang mencari pasangan, melainkan memberi batasannyaBukan berarti Islam menutup jalan bagi orang yang ingin menikah. Islam justru memberikan jalan yang bersih, jelas, dan menjaga kehormatan kedua belah pihak. Ketika Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu hendak meminang seorang perempuan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا“Lihatlah dia, karena itu lebih memungkinkan terjadinya kecocokan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) [9]Dalam riwayat lain disebutkan,إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا، فَلْيَفْعَلْ“Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat sesuatu darinya yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [10]Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang proses mengenal calon pasangan. Yang diatur adalah caranya. Ada ruang untuk ta’aruf yang serius, tetapi bukan dengan hubungan privat yang panjang, akrab, dan dibiarkan tanpa batas.Oleh karena itu, keterlibatan wali sangat penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ“Nikah itu tidak sah kecuali dengan wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah) [11]Wali bukan sekadar pelengkap akad. Kehadirannya sejak awal justru menjadi penjagaan. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang jelas. Sampaikan niat dengan baik. Libatkan keluarga. Jaga pembicaraan tetap seperlunya. Jangan membiasakan hubungan yang mesra sebelum halal.Adapun bagi yang sudah telanjur masuk dalam PDKT semacam ini, pintu tobat tetap terbuka. Yang perlu dilakukan bukan memperpanjang hubungan dengan alasan ingin menutupnya secara baik-baik, tetapi menghentikan pintu yang selama ini membuka fitnah, lalu memperbaiki diri di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Dan Allah Ta’ala juga berfirman,وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)Nasihat penutupPDKT melalui media sosial tidak bisa dinilai ringan hanya karena tidak diawali dengan pertemuan langsung. Di dalamnya bisa saja ada pandangan yang tidak dijaga, komunikasi privat yang membuka pintu fitnah, ucapan yang menghangatkan hubungan, dan keterikatan hati yang tumbuh di luar jalur yang dibenarkan syariat.Selama belum ada akad nikah, laki-laki dan perempuan tetap nonmahram. Oleh karena itu, batas-batas syariat tetap berlaku, meskipun keduanya mengaku serius atau merasa cocok satu sama lain.Islam tidak melarang seseorang mencari pasangan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar proses itu ditempuh dengan jalan yang bersih dan aman. Jika memang serius, tempuhlah jalan yang benar. Jika tidak, maka menjaga jarak lebih selamat bagi agama, hati, dan kehormatan.Adapun jika ada kebutuhan untuk berkomunikasi dalam rangka yang benar dan jelas, maka beberapa hal berikut perlu diperhatikan:Pertama, batasi pembicaraan pada hal yang memang diperlukan, dan jangan membuka obrolan yang hanya bertujuan untuk saling menghangatkan hubungan.Kedua, hindari chat pribadi yang terlalu sering, terlalu lama, atau berlangsung pada waktu-waktu yang rawan melalaikan, seperti larut malam.Ketiga, jaga cara bicara, pilihan kata, dan tata bahasa komunikasi. Jangan sampai mengarah kepada rayuan (flirting), candaan yang berlebihan, atau sikap saling membuat nyaman di luar batas syariat.Keempat, jika memang serius menuju pernikahan, libatkan wali atau keluarga sejak awal, agar prosesnya lebih terjaga dan jelas arahnya.Kelima, jika interaksi itu mulai menumbuhkan ketergantungan hati atau membuka pintu fitnah, maka yang lebih selamat adalah menghentikannya.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta memberi kita taufik untuk menempuh jalan yang diridai-Nya. Aamiin.Baca juga: Hukum Bertunangan Sebelum Menikah***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan Kaki[1] HR. Muslim no. 2657.[2] HR. Abu Dawud no. 2149, At-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad no. 1373, dihasankan oleh Al-Albani.[3] HR. At-Tirmidzi no. 2165. Dinilai sahih oleh Al-Albani.[4] HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 13411.[5] Ibnu Taimiyah, Majmu‘ al-Fatawa, 15: 419.[6] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, tafsir QS. al-Ahzab: 32.[7] Ibnu ‘Utsaimin, Al-Liqa’ Asy-Syahri, no. 28.[8] HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599.[9] HR. At-Tirmidzi no. 1087 dan Ibnu Majah no. 1866, disahihkan oleh Al-Albani.[10] HR. Abu Dawud no. 2082 dan Ahmad no. 23626.[11] HR. Abu Dawud no. 2085, At-Tirmidzi no. 1101, dan Ibnu Majah no. 1881. Disahihkan oleh Al-Albani. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2001.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Irwa’ Al-Ghalil fi Takhrij Ahadith Manar As-Sabil. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1985.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya‘b, 1987.Ad-Durar As-Saniyyah. Al-Mawsu‘ah Al-Hadithiyyah. Diakses melalui: https://dorar.netAs-Sa‘di, ‘Abdurrahman bin Nashir. Taysir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar-Risalah, 2000.At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami‘ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah.Ibn Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim. Majmu‘ Al-Fatawa. Madinah: Majma‘ Al-Malik Fahd li Thiba‘at Al-Mushaf Asy-Syarif, 1416 H/1995 M.Ibn ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Al-Liqa’ Asy-Shahri. Riyadh: Dar Al-Wathan.Muslim bin Al-Hajjaj. Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi.

Dosa dan Bahaya Perselingkuhan

Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.

Dosa dan Bahaya Perselingkuhan

Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.
Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.


Daftar Isi ToggleNikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan adalah jembatan menuju zinaDosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan duniaBagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriKesimpulanPerselingkuhan belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan nasional. Bukan tanpa alasan. Hal ini terjadi karena kasus perselingkuhan juga marak ditemukan di berbagai kalangan, baik skala regional maupun nasional. Tentu hal ini bukanlah hal yang baik. Karena perselingkuhan ini adalah salah satu jembatan menuju perzinaan. Allah Ta’ala sudah memperingatkan dengan firman-Nya,وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32)Allah tidak hanya melarang ‘melakukan’ zina, tapi Allah melarang ‘mendekatinya.’ Ini berarti semua langkah yang menuju ke sana, termasuk perselingkuhan, termasuk dalam larangan ini.Nikah dalam Islam adalah perjanjian yang memiliki tujuan dan konsekuensiUntuk memahami betapa beratnya dosa perselingkuhan, harus dipahami terlebih dahulu apa sesungguhnya makna pernikahan dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)Seharusnya pada ayat ini, setidaknya ada tiga tujuan besar ada dalam pernikahan: ketenangan (ketenteraman), kasih sayang, dan rahmat. Bukan sekadar legalitas hubungan, juga bukan formalitas. Agar ketiga tujuan itu terlindungi, Allah menamakan ikatan pernikahan dengan istilah yang tidak ringan,وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri, dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” (QS. An-Nisa: 21)‘Mitsaqan ghalizhan’, perjanjian yang berat, begitu Allah namakan ikatan perjanjian pernikahan ini. Kata yang sama Allah gunakan untuk menggambarkan perjanjian-Nya dengan para Nabi di surah Al-Ahzab ayat 7. Ini bukan bahasa yang digunakan untuk sesuatu yang biasa.Dalam perjanjian yang berat itu, suami dan istri masing-masing mengemban kewajiban yang Allah tegaskan. Di antaranya adalah memperlakukan pasangan dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)Lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas mereka yang berada dalam tanggungannya,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Nikah juga seharusnya benteng yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan untuk menjaga diri dari maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih mampu menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [2]Ketika pernikahan dianggap sebagai benteng dari perzinaan, maka perselingkuhan adalah upaya meruntuhkan benteng itu dari dalam.Baca juga: Selingkuh: Pengkhianatan dalam PernikahanSelingkuh adalah pengkhianatan amanah dan ciri kemunafikanPerselingkuhan tidak pernah terjadi tanpa kebohongan. Tidak ada perselingkuhan yang terjadi dengan disertai kejujuran kepada pasangannya. Selalu ada kebohongan dan pengkhianatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)Kepercayaan pasangan adalah amanah yang wajib dijaga. Mengkhianatinya sambil tahu bahwa itu salah, itulah yang Allah tegur langsung dalam ayat ini, “wa antum ta’lamun”, “sedangkan kamu mengetahui.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah sisi yang lebih berat. Kebohongan dan pengkhianatan yang menyertai perselingkuhan bukan hanya dosa biasa. Ia menyentuh tanda-tanda kemunafikan yang beliau sebutkan secara eksplisit,آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3]Orang yang selingkuh menjalankan ketiga tanda itu sekaligus: berbohong soal keberadaannya, mengingkari janji setia dalam pernikahan, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan. Ini bukan tuduhan yang dibuat-buat. Ini hanya membaca hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa adanya.Perselingkuhan adalah jembatan menuju zinaLarangan dalam surah Al-Isra ayat 32 bukan sekadar larangan melakukan zina. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ‘jangan mendekati’ mencakup semua yang menjadi pendahuluan dan jalan menuju ke sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merinci mekanisme ini dengan sangat gamblang,كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti mendapatinya. Kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang. Kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar. Lisan berzina dan zinanya adalah berbicara. Tangan berzina dan zinanya adalah memegang. Kaki berzina dan zinanya adalah melangkah. Hati merasakan keinginan dan kerinduan, sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]Hadis ini menjelaskan dengan tepat mengapa perselingkuhan berbahaya. Setiap pesan yang dikirimkan kepada seseorang yang bukan mahram dengan niat yang tidak halal adalah zina lisan. Setiap perjalanan menuju pertemuan tersembunyi adalah zina kaki. Setiap tatapan yang sengaja disimpan dari pasangan adalah zina mata. Setiap kerinduan yang dipelihara di dalam hati adalah zina hati. Semua ini memanglah ‘belum zina dalam artian sesungguhnya’, namun semua ini sudah merupakan bagian dari zina itu sendiri menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Satu hal yang kerap diremehkan adalah berduaan, baik secara fisik maupun lewat percakapan pribadi yang berkepanjangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas,لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan melainkan yang ketiga di antara keduanya adalah setan.” (HR. At-Tirmidzi) [5]Berduaan dalam dunia digital, chat pribadi tanpa batas, video call dua orang di malam hari, semuanya masuk dalam cakupan larangan ini. Mungkin awalnya hal ini hanya akan dibatasi dengan istilah pertemanan, namun setan yang menjadi ‘pihak ketiga’ itulah yang secara perlahan mengubah pertemanan menjadi ketertarikan, ketertarikan menjadi perselingkuhan, dan perselingkuhan menjadi zina.Dosa perselingkuhan dapat merusak kehidupan dunia Sebagian orang beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat saja. Pandangan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa zina dan dosa-dosa besar membawa konsekuensi yang dimulai dari kehidupan dunia,وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia mendapat hukuman yang berat. Azabnya akan dilipatgandakan pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69)Zina disejajarkan dengan syirik dan pembunuhan dalam satu ayat yang sama. Tiga dosa yang menghancurkan: tauhid, jiwa manusia, dan kehormatan serta tatanan keluarga.Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana dosa-dosa bekerja merusak kehidupan pelakunya. Beliau berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi,الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي تَضُرُّ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ مِمَّا اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَأَرْبَابُ السُّلُوكِ أَنَّ لِلْمَعَاصِي آثَارًا وَثَارَاتٍ، وَأَنَّ لَهَا عُقُوبَاتٍ عَلَى قَلْبِ الْعَاصِي وَبَدَنِهِ، وَعَلَى دِينِهِ وَعَقْلِهِ، وَعَلَى دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ“Dosa-dosa dan kemaksiatan pasti mendatangkan mudarat tanpa pengecualian. Sesungguhnya di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama dan ahli suluk adalah bahwa kemaksiatan meninggalkan bekas dan akibat, serta mendatangkan hukuman atas hati pelakunya dan badannya, atas agama dan akalnya, atas dunia dan akhiratnya.” [6]Beliau melanjutkan dengan menyebut apa yang dimaksud dampak itu. Di antara yang paling nyata adalah hilangnya cahaya ilmu dari hati,وَضَرَرُهَا فِي الْقُلُوبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا وَسَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي؟“Kerusakan (dosa-dosa) pada hati adalah seperti kerusakan racun pada badan. Adakah di dunia dan akhirat keburukan dan penyakit, kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?” [7]Dan secara lebih spesifik, beliau menyebut satu akibat yang sangat dirasakan oleh para pelaku maksiat,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ“Di antara (akibat dosa) adalah terhalangnya ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu.” [8]Inilah yang kerap dirasakan oleh orang yang terjerumus dalam perselingkuhan. Al-Qur’an terasa jauh. Ibadah terasa hampa. Hati menjadi keras dan susah menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah akibat dari dosa yang Allah dan Rasul-Nya sudah peringatkan jauh-jauh hari. Belum lagi kerusakan pada anak-anak yang kehilangan keutuhan keluarga, hancurnya kepercayaan yang bertahun-tahun dibangun, dan rusaknya institusi pernikahan yang merupakan fondasi masyarakat Islam.Bagi yang sudah terjerumus: Bertobatlah dengan taubat nasuha dan bentengi diriBagaimanapun beratnya dosa, Allah Ta’ala tidak menutup pintu bagi yang mau kembali. Ini bukan berarti dosa boleh dianggap ringan. Tapi bagi siapa pun yang sudah terlanjur, jalan keluar itu ada dan Allah tunjukkan dengan jelas,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim: 8)Taubat nasuha adalah tobat yang mencukupi syarat-syaratnya: menyesal atas apa yang telah berlalu; berhenti dari perbuatan itu saat ini juga; bertekad tidak kembali ke sana; dan jika ada hak orang lain yang dilanggar, maka diselesaikan. Dalam konteks perselingkuhan, ini berarti memutus seluruh hubungan terlarang itu secara total, bukan secara bertahap sambil mencari celah. Dan bagi yang bersungguh-sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira,التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ“Orang yang bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah) [9]Adapun agar tidak terjerumus lagi, atau bagi yang belum terjerumus agar tidak sampai ke sana, Islam memberikan panduan yang sangat konkret. Yang pertama dan paling mendasar adalah menjaga pandangan. Allah Ta’ala berfirman,قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)Yang kedua adalah menghindari segala bentuk khalwat, baik fisik maupun digital, sebagaimana sudah dijelaskan dari hadis At-Tirmidzi di atas. Yang ketiga adalah memperbaiki dan memperkuat pernikahan itu sendiri, karena pernikahan yang dibangun di atas ketaatan kepada Allah adalah benteng terkuat dari segala godaan di luar sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan nikah sebagai jalan terbaik untuk menjaga diri, sebagaimana sudah disebutkan dalam hadis di awal tulisan ini. [2]KesimpulanPerselingkuhan bukan kesalahan kecil yang bisa dimaklumi dengan alasan perasaan. Dalam Islam, ia adalah pengkhianatan terhadap perjanjian yang Allah sebut berat, bagian dari zina yang dimulai jauh sebelum pelanggaran fisik terjadi, dan sumber kerusakan nyata yang dampaknya terasa di dunia sebelum hukuman akhirat datang.Bagi yang pernah terjerumus, pintu tobat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Bagi yang belum, bentengnya sudah jelas: jaga pandangan, jauhi khalwat, dan bangun pernikahan di atas pondasi yang Allah ridai. Islam tidak hadir untuk menghakimi. Islam hadir dengan jalan keluar yang gamblang, baik untuk keluar dari kesalahan yang sudah terjadi maupun untuk tidak sampai ke sana sejak langkah pertama.Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita. Aamiin.Baca juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829.[2] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.[3] HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59.[4] HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657.[5] HR. At-Tirmidzi no. 1171, dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: hadis ini hasan sahih. Disahihkan pula oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 430.[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi, hal. 22.[7] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[8] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Jawab Al-Kafi, hal. 132.[9] HR. Ibnu Majah no. 4250. Disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah no. 360. Daftar PustakaAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Dar Asy-Sya’b, 1987.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. As-Silsilah As-Shahihah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1995.At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jami’ Al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami, 1998.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyyah, t.t.Ibn Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Jawab al-Kafi li Man Sa’ala an Ad-Dawa’ Asy-Syafi (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’). Maroko: Dar Al-Ma’rifah, cet. I, 1418 H/1997 M.Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi. Al-Jami’ Ash-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.

Kenapa Salat Terasa Biasa Saja? Sulit Khusyuk? Ini Rahasia Agar Ibadah Terasa Nikmat

Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ

Kenapa Salat Terasa Biasa Saja? Sulit Khusyuk? Ini Rahasia Agar Ibadah Terasa Nikmat

Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ
Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ


Wahai Syaikh kami, kita mulai dengan pertanyaan dari salah seorang saudari kita, yaitu Ummu Muhammad. Ia bertanya, “Bagaimana agar hati bisa hadir dalam ibadah?” “Bagaimana seseorang berdoa dengan hati yang hadir dan benar-benar merasakan doanya?” “Bagaimana seseorang bisa bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, serta berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat. Amma ba’du. Agar seorang muslim dapat mewujudkan makna-makna ini, ia harus memiliki bashirah dalam agama dan ilmu. Ia juga harus berusaha menuntut ilmu agar bisa mewujudkan amalan-amalan hati tersebut. Selain itu, ia juga dituntut untuk bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Sebab, nafsu memerlukan perjuangan untuk ditundukkan. Begitu pula berjuang melawan setan, musuh manusia. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Lalu, bagaimana seseorang bisa menghadirkan hati dalam salat? Bagaimana agar bisa khusyuk? Ini memerlukan perjuangan yang besar. Perjuangan besar melawan nafsu, dan perjuangan besar melawan setan, hingga hal itu benar-benar terwujud pada dirinya. Di antara perkara lain yang menjadi sebab seseorang dapat meraih kenikmatan dalam beribadah dan kehadiran hati adalah lisannya selalu basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, jika lisan seseorang senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka keterikatannya kepada Allah akan menguat, sedangkan keterikatannya pada perkara duniawi akan melemah. Sehingga hatinya menjadi lembut dan khusyuk. Karena itulah, pernah datang seseorang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dan menanyakan hal ini. Ia berkata, “Aku merasakan hatiku keras. Bagaimana cara menghilangkan kerasnya hati ini?” Beliau menjawab, “Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan memperbanyak zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Jika seseorang terlalu terikat dengan urusan dunia dan perkara materi, ia akan lalai dan melemah. Ia pun melakukan ibadah seolah-olah hanya rutinitas biasa. Ia tidak lagi merasakan nikmat dan manisnya ibadah. Namun, jika keterikatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menguat, dan itu diraih dengan memperbanyak zikir kepada-Nya, maka hati akan menjadi khusyuk dan lembut. Seiring berjalannya waktu, seorang muslim pun akan merasakan nikmatnya ibadah. ===== شَيْخَنَا، نَبْدَأُ بِسُؤَالٍ مِنْ أَحَدِ الْإِخْوَةِ أَوْ إِحْدَى الْأَخَوَاتِ، الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ تَقُولُ: كَيْفَ يَكُونُ حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَةِ؟ كَيْفَ يَدْعُو الْإِنْسَانُ وَيَكُونُ قَلْبُهُ حَاضِرًا وَيَسْتَشْعِرُ الدُّعَاءَ؟ وَكَيْفَ يَكُونُ الْإِنْسَانُ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ وَكَذَلِكَ مُحْسِنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ فَحَتَّى يُحَقِّقَ الْمُسْلِمُ هَذِهِ الْمَعَانِيَ، لَا بُدَّ مِنَ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ وَالْعِلْمِ وَأَنْ يَسْعَى الْمُسْلِمُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ حَتَّى يُحَقِّقَ هَذِهِ الْأَعْمَالَ الْقَلْبِيَّةَ كَذَلِكَ أَيْضًا مَطْلُوبٌ مِنْهُ الْمُجَاهَدَةُ فَالنَّفْسُ تَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ كَذَلِكَ مُجَاهَدَةُ الشَّيْطَانِ عَدُوِّ الْإِنْسَانِ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا فَكَيْفَ يُحَقِّقُ الْإِنْسَانُ حُضُورَ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ؟ كَيْفَ يُحَقِّقُ الْخُشُوعَ؟ هَذَا يَحْتَاجُ إِلَى مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ مُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلنَّفْسِ وَمُجَاهَدَةٍ عَظِيمَةٍ لِلشَّيْطَانِ حَتَّى يُتَحَقَّقَ لَهُ ذَلِكَ وَأَيْضًا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي يُحَصِّلُ بِهَا الْإِنْسَانُ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ وَالْحُضُورَ الْقَلْبِيَّ أَنْ يَكُونَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا كَانَ لِسَانُهُ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَوِيَ تَعَلُّقُهُ بِاللَّهِ وَضَعُفَ تَعَلُّقُهُ بِالْأُمُورِ الْمَادِّيَّةِ فَيَرِقُّ قَلْبُهُ وَيَخْشَعُ وَلِهَذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ وَقَالَ: إِنِّي أَجِدُ قَسْوَةً فِي قَلْبِي فَكَيْفَ أُزِيلُ هَذِهِ الْقَسْوَةَ؟ قَالَ: أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَالْإِنْسَانُ إِذَا تَعَلَّقَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِالْمَادَّةِ غَفَلَ وَضَعُفَ وَأَصْبَحَ يُؤَدِّي الْعِبَادَاتِ وَكَأَنَّهَا عَادَاتٌ وَلَا يَجِدُ لَذَّةً وَلَا حَلَاوَةً لِلْعِبَادَةِ لَكِنْ إِذَا قَوِيَ التَّعَلُّقُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ بِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ فَإِنَّ الْقَلْبَ يَخْشَعُ وَيَرِقُّ وَيَجِدُ الْمُسْلِمُ مَعَ مُرُورِ الْوَقْتِ لَذَّةَ الْعِبَادَةِ

Laporan Produksi Yufid — Mei 2026

(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 15

Laporan Produksi Yufid — Mei 2026

(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 15
(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 15


(Zulkaidah–Zulhijah 1447 H) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Laporan ini adalah bentuk amanah kami kepada Anda — para donatur, yang mendoakan, dan sahabat Yufid — atas setiap titipan dan doa yang menggerakkan dakwah ini. Inilah yang lahir sepanjang Mei 2026. Tiga Angka Bulan Ini Mei 2026MaknanyaKonten baru128 video, 116 konten Instagram, 20 artikel, 551 audio kajianSetiap hari dalam sebulan menyajikan 4 video baru — semuanya gratis untuk umatTayangan±14,7 juta tayangan lintas platform (4,3 jt YouTube + 10,4 jt Instagram)Setiap menit di bulan Mei, rata-rata ada 230 pemirsa yang sedang membuka konten YufidWaktu menyimak330.425 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan — hanya dalam satu bulan saja Cerita di Balik Angka: Bekal Haji dalam Semenit 330.425 jam. Itulah waktu yang dihabiskan pemirsa untuk menonton konten Yufid sepanjang bulan Mei saja — setara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 37 tahun 8 bulan. Di balik angka itu, mungkin ada ribuan pertanyaan yang mencari jawaban. Dan di bulan Mei 2026, bertepatan dengan Zulkaidah dan Zulhijah 1447 H, sebagian pertanyaan itu berputar pada satu tema: haji. Bolehkah meminum obat penunda haid agar tidak terhalang tawaf? Bagaimana hukum salat arbain bagi jamaah yang waktunya terbatas? Apa tanda haji yang mabrur?  Pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa menentukan keabsahan ibadah yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tim Yufid menjawabnya lewat tujuh video bersama Ustaz dr. Raehanul Bahraen. Bukan ceramah panjang, melainkan bekal ringkas yang bisa selesai ditonton dalam perjalanan menuju kantor imigrasi atau bandara. Setiap video satu pertanyaan, satu jawaban yang bersandar pada dalil, satu ketenangan untuk bekal ke tanah haram. Semuanya gratis. Semuanya bersandar pada dalil. Semuanya, insya Allah, ikut terbawa ke tanah haram. Ringkasan Produksi per Kanal Kanal / ProgramMei 2026April 2026Rata-rata/bulanYufid.TV (YouTube) — video baru101132111— di antaranya: Nasehat Ulama161916— di antaranya: Motion Graphics & Shorts696— siaran langsung (live)126120115Yufid EDU (YouTube) — video baru273322Yufid Kids (YouTube) — video baru0*0*1Al-‘Ilmu Nurun (YouTube) — video baru0*0*8Instagram Yufid.TV — konten584747Instagram Yufid Network — konten584747Artikel (4 situs web)**201012Terjemahan Arab–Indonesia (kata)62.38258.77853.964Audio kajian baru (Kajian.net)551395366Perekaman artikel menjadi audio9927*Dijelaskan pada bagian “Yang Belum Tercapai” di bawah.**Rincian artikel (Mei 2026): KonsultasiSyariah.com 18 artikel, KhotbahJumat.com 1 artikel, KisahMuslim.com 1 artikel, PengusahaMuslim.com 0. Pertumbuhan pengikut Mei 2026: +22.009 di seluruh platform (YouTube +6.968, Instagram +15.041). Total pengikut Yufid kini 6,88 juta di seluruh platform — 5,18 juta subscribers YouTube dan 1,70 juta pengikut Instagram. Di balik semua itu, tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah — termasuk situs sejumlah ulama — agar tetap menyala 24 jam. Yang Belum Tercapai Bulan Ini — dan Rencananya Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan juga yang belum berjalan sesuai harapan: Yufid Kids: 0 video baru. Produksi animasi anak memakan waktu 2 – 3 bulan per video. Sepanjang Mei 2026, tim animasi tetap bekerja penuh pada Serial Aktivitas Harian Ubay yang insya Allah terbit dalam waktu dekat. KisahMuslim.com dan PengusahaMuslim.com: 0 artikel. Tim artikel kami melayani seluruh situs secara bergiliran, dan giliran Mei 2026, banyak terserap ke KonsultasiSyariah.com. Tim redaksi sedang memilah artikel yang tepat masuk ke kedua situs tersebut untuk bulan-bulan berikutnya, insya Allah. Al-‘Ilmu Nurun: 0 video baru. Bulan ini tim memfokuskan sumber daya pada Yufid.TV dan Yufid EDU yang jadwal produksinya lebih intensif. Al-‘Ilmu Nurun tetap menjadi aset dakwah penting yang menyimpan ribuan menit faedah ilmiah dari para masyayikh, dan insya Allah akan kembali menghadirkan konten baru sesuai kesiapan materi. Kami memilih melaporkan angka nol apa adanya daripada menyamarkannya, karena kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap tayangan ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun, karena yang Allah lihat bukan besarnya: yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a’lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 16 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis: 24.834 video di lima kanal YouTube dengan total 963,8 juta tayangan, lebih dari 10.000 artikel, serta proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,1 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/ 🔍 Gambaran Surga Firdaus, Khasiat Daging Kambing Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah Dan Cuek, Cara Mengisi Khodam Ke Tubuh Sendiri, Jilbab Langsung Tangan Visited 71 times, 1 visit(s) today Post Views: 15

OCD dan Waswas: Ketika Keraguan Tidak Kunjung Berakhir

Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu

OCD dan Waswas: Ketika Keraguan Tidak Kunjung Berakhir

Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu
Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu


Pernahkah seseorang merasa ragu terus-menerus tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas? Misalnya, ragu apakah sudah berwudu, sudah berniat, atau bahkan sudah menjatuhkan talak kepada istrinya. Jika keraguan seperti ini terus berulang dan mengganggu kehidupan, bisa jadi itu bukan sekadar kehati-hatian, tetapi sudah termasuk waswas yang perlu diobati dengan ilmu dan sikap yang benar.  Daftar Isi tutup 1. Apa itu Waswas dalam Islam? 2. OCD dan Religious OCD dalam Psikologi 3. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya? 4. Contoh Kasus Talak 5. Solusi Waswas Menurut Syariat 5.1. 1. Abaikan Waswas 5.2. 2. Tambah Ilmu 5.3. 3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai Keyakinan 6. Kaidah Penting bagi Penderita Waswas 7. Cara Mengobati OCD Menurut Psikologi 7.1. 1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus 7.2. 2. Biarkan Pikiran Itu Lewat 7.3. 3. Tetap Lanjutkan Aktivitas 7.4. 4. Terima Adanya Ketidakpastian 7.5. 5. Kurangi Overthinking 8. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat Ulama 9. Nasihat Penutup  Apa itu Waswas dalam Islam?Dalam istilah syariat, penyakit ini disebut waswas (الوَسْوَاس), yaitu bisikan yang membuat seseorang ragu terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas atau sudah selesai hukumnya.Para ulama telah lama membahas penyakit ini jauh sebelum istilah psikologi modern dikenal. Waswas sering kali menjadi pintu masuk setan untuk membuat seorang hamba hidup dalam keraguan dan kesulitan. OCD dan Religious OCD dalam PsikologiDalam istilah psikologi modern, kasus seperti ini sering dikaitkan dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.Ciri-cirinya antara lain:Muncul pikiran yang berulang-ulang dan mengganggu (obsesi).Sulit merasa yakin walaupun bukti sudah jelas.Terus mencari kepastian.Selalu ingin memeriksa dan memastikan ulang.Contohnya:“Saya sudah talak atau belum?”“Saya sudah wudhu atau belum?”“Saya sudah niat atau belum?”Ada pula jenis yang dikenal dengan Religious OCD (Scrupulosity), yaitu OCD yang berkaitan dengan urusan agama.Kasus ini banyak ditemukan pada masalah:TalakNajisWudhuShalatNiatAkidahSering kali penderitanya mengira dirinya sedang sangat berhati-hati dalam beragama, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti waswas. Mengapa Banyak Anak Muda Mengalaminya?Beberapa faktor yang mungkin berperan di zaman sekarang adalah:Kurangnya dasar ilmu agama sehingga tidak memahami kaidah yakin dan ragu.Terlalu banyak mengonsumsi informasi yang saling bertentangan di internet.Kebiasaan mencari kepastian mutlak dalam segala hal.Tingginya tingkat kecemasan (anxiety).Kebiasaan overthinking sejak usia muda.Akibatnya, seseorang menjadi sulit mengambil keputusan dan selalu dihantui keraguan. Contoh Kasus TalakMisalnya seseorang berkata,“Jangan-jangan saya sudah menceraikan istri saya?”Padahal ia tidak ingat pernah mengucapkan talak secara jelas.Dalam kondisi seperti ini, hukum asalnya adalah:Pernikahan tetap sah.Hal ini berdasarkan kaidah besar dalam fikih:الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ “Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”Pernikahan adalah sesuatu yang sudah pasti. Adapun talak masih diragukan. Karena itu yang dipegang adalah sesuatu yang yakin, bukan sesuatu yang masih diragukan. Solusi Waswas Menurut Syariat1. Abaikan WaswasIni adalah terapi utama.Jangan melayani waswas.Semakin dilayani, semakin kuat.Semakin diabaikan, semakin lemah.2. Tambah IlmuBanyak waswas muncul karena seseorang tidak memahami kaidah-kaidah dasar agama.Di antaranya:Hukum asal sesuatu adalah suci.Hukum asal pernikahan tetap berlaku.Hukum asal ibadah adalah sah sampai ada bukti yang membatalkannya.Keyakinan tidak hilang karena keraguan.Ketika kaidah-kaidah ini dipahami dengan baik, banyak keraguan akan hilang dengan sendirinya.3. Jangan Menganggap Dugaan sebagai KeyakinanSering kali seseorang berkata,“Saya tidak yakin.”Padahal yang sebenarnya terjadi adalah:“Saya sudah yakin, tetapi ingin kepastian yang sempurna.”Dalam syariat, manusia tidak dituntut memiliki kepastian mutlak dalam setiap perkara.Banyak urusan kehidupan dijalankan berdasarkan ghalabatuzh-zhann, yaitu dugaan kuat yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kaidah Penting bagi Penderita WaswasPara ulama menasihatkan:“Jangan membuka pintu keraguan.”Maksudnya:Jangan mengulang-ulang pengecekan.Jangan terus bertanya tentang hal yang sama.Jangan mencari fatwa baru setiap hari.Pegang keputusan pertama yang sudah sesuai dengan ilmu.Tujuan setan bukan mencari kebenaran, tetapi membuat seseorang terus hidup dalam kebimbangan.Karena itu, dalam masalah talak, wudhu, shalat, dan najis, obat terbaik sering kali bukan menambah pemeriksaan, tetapi berhenti memeriksa dan kembali kepada hukum asal yang yakin. Cara Mengobati OCD Menurut PsikologiPsikologi modern memberikan beberapa pendekatan yang sejalan dengan prinsip syariat.1. Berhenti Mencari Kepastian Terus-Menerus(Stop reassurance seeking)Semakin sering seseorang mencari jawaban dan kepastian, semakin kuat OCD yang dialaminya.Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus dipastikan seratus persen.2. Biarkan Pikiran Itu LewatKetika muncul pikiran:“Jangan-jangan saya sudah cerai?”Jangan diperdebatkan dan jangan dianalisis panjang.Cukup katakan dalam hati:“Itu hanya pikiran, bukan fakta.”3. Tetap Lanjutkan AktivitasKembalilah fokus pada pekerjaan, ibadah, atau aktivitas yang sedang dilakukan.Jangan menghentikan aktivitas hanya untuk melayani keraguan.4. Terima Adanya KetidakpastianOrang yang sehat secara mental tidak menunggu kepastian mutlak dalam setiap perkara.Mereka mengambil keputusan berdasarkan bukti yang cukup.5. Kurangi OverthinkingSemakin lama seseorang menganalisis keraguannya, biasanya semakin banyak keraguan baru yang muncul.Karena itu, berhentilah memberi makan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Terapi ERP dan Kesesuaiannya dengan Nasihat UlamaDalam psikologi modern terdapat metode terkenal yang disebut ERP (Exposure and Response Prevention).Metode ini melatih seseorang untuk menghadapi rasa ragu tanpa melakukan ritual yang biasa dipakai untuk menenangkan diri, seperti:Mengecek berulang kali.Bertanya terus-menerus.Mengulang ibadah tanpa alasan yang benar.Mencari fatwa yang sama berkali-kali.Menariknya, prinsip ini sangat dekat dengan nasihat para ulama tentang waswas:Jangan layani keraguan.Pegang yang yakin.Lanjutkan hidup seperti biasa.Semakin dilayani, waswas semakin kuat.Sebaliknya, semakin diabaikan dengan benar dan disertai ilmu yang tepat, waswas akan semakin melemah.Baca juga: Jangan-Jangan Kita Terkena Penyakit Waswas, Ini Cara Mengobatinya Nasihat PenutupDi zaman media sosial dan banjir informasi seperti sekarang, banyak orang terjebak dalam keraguan yang sebenarnya tidak perlu. Jangan biarkan waswas merampas ketenangan ibadah, keluarga, dan kehidupan Anda. Peganglah kaidah syariat yang jelas, lalu jalani hidup dengan keyakinan yang wajar. Ingatlah bahwa agama ini dibangun di atas kemudahan, bukan di atas keraguan yang tidak berujung.اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَAllahumma innā na‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wa na‘ūdzu bika min wasāwisisy-syaithān, waj‘al qulūbanā muthma’innah bidzikrik.“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu.”Baca juga: Anxiety, Overthinking, dan Hati yang Gelisah, Ini Cara Mengatasinya —- Diselesaikan di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 27 Dzulhijjah 1447 H, 13 Juni 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsfikih kaidah fikih keraguan kesehatan mental OCD overthinking religious OCD talak waswas wudu

Sudah Salat, Tapi Masih Depresi? Inilah Jawaban Islam

Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.

Sudah Salat, Tapi Masih Depresi? Inilah Jawaban Islam

Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.
Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.


Daftar Isi ToggleKesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanSalat adalah obat, salat adalah solusiBoleh jadi salat kita belum sempurnaLangkah-langkah lain yang Islam ajarkanPertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anKedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamKetiga, membangun hubungan sosial yang baikKeempat, menjaga kesehatan fisikKelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarKesimpulanSetiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai agama atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)Di antara permasalahan yang manusia hadapi adalah permasalahan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, bahkan depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia akan mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam bahkan menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan agama yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah agama yang paling memahami permasalahan manusia dan memberikan solusi terbaik.Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaanKesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya abadi dalam Al-Qur’an,وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah atau menganggap dirinya beriman rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam. Namun, hal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia harus mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar ia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan usaha sungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baginya.” [3]Salat adalah obat, salat adalah solusiIslam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ نُورٌ“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar gerakan fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiBoleh jadi salat kita belum sempurnaJika seseorang telah rajin salat, namun depresi masih hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita benar-benar sempurna?Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu benar-benar melakukan salat, maka ia akan beruntung. Pertanyaannya, mengapa kita masih tidak merasa damai dengan salat kita? Apakah kita benar-benar telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan karena salatnya, melainkan karena salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa hakikat yang sebenarnya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah akan sembuh dari depresinya?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang ia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang ia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa khusyuk itu ibarat jasad tanpa ruh.” [8]Keterangan para ulama di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya gagal menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap gerakan dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat benar-benar mengubah akhlak dan perilaku sehari-hari.Langkah-langkah lain yang Islam ajarkanSelain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’anAllah Ta’ala berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Allah Ta’ala juga berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka bagaimana keadaan ikan apabila terpisah dari air?” [9]Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman IslamCara seseorang memandang musibah dan cobaan sangat mempengaruhi cara ia merasakannya. Seseorang yang memandang cobaan hanya sebagai beban, dia akan semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang cobaan sebagai hikmah dari Allah, dia akan menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [11]Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka akan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya akan menambah beban jiwa.Ketiga, membangun hubungan sosial yang baikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]Isolasi diri adalah salah satu faktor yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.Keempat, menjaga kesehatan fisikRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]Kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan aktivitas fisik yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.Kelima, mencari bantuan profesional sebagai ikhtiarRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu akan sembuh.” (HR. Muslim) [14]Mencari bantuan dokter atau psikolog adalah bentuk ikhtiar yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari bantuan profesional dengan keimanan seseorang. Ini adalah bagian dari usaha yang disertai tawakal kepada Allah.KesimpulanSeseorang yang salat, namun masih mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang gagal secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika ia melakukan ibadah namun masih depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah benar-benar khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً“Apabila seorang hamba menyempurnakan hakikat keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan cobaan menjadi karunia.” [15]Janji Allah ini berlaku untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam hadir bukan untuk menghakimi. Islam hadir untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.[2] HR. Bukhari no. 1303.[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.[4] HR. Muslim no. 223.[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.[10] HR. Muslim no. 2999.[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.[13] HR. Muslim no. 2664.[14] HR. Muslim no. 2204.[15]  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437. Daftar PustakaAbu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.
Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.


Daftar Isi ToggleDoa yang mengajarkan rasa cukupCukup dengan yang halalKaya karena AllahDampak rezeki halalPengakuan kehambaanBanyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.Doa yang mengajarkan rasa cukupRasulullah ﷺ mengajarkan doa,اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.Cukup dengan yang halalKalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]Kaya karena AllahBagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.Dampak rezeki halalTidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.Rasulullah ﷺ bersabda,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)Pengakuan kehambaanDoa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاوَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.Wallahu a’lam.Baca juga: Amalan-Amalan Pelancar Rezeki***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tahun 2007, hal. 67.

Fikih Riba (Bag. 13): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (1)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.

Fikih Riba (Bag. 13): Ketentuan-Ketentuan pada Riba Jual Beli (1)

Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.
Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.


Daftar Isi ToggleKetentuan-ketentuan “harus sejenis”Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar?Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Setelah membahas ‘illat pada keenam komoditas riba jual beli, di antara pembahasan yang tidak kalah penting adalah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan apa saja yang terdapat pada riba buyu’ (riba jual beli). Menyegarkan kembali ingatan, bahwasanya riba terbagi menjadi dua:Riba duyun (riba yang terkait dengan utang piutang)Riba buyu’ (riba yang terkait dengan jual beli)Perlu diketahui bahwa keenam komoditas yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu adalah masuk pada pembahasan riba buyu’ dan bukan riba duyun. Sehingga ketentuan ini tidak terlepas dari keenam komoditas ribawi atau barang yang serupa dengan komoditas tersebut.Telah dijelaskan pula terkait dengan keadaan dan kondisi transaksi komoditas ribawi pada riba buyu’, (pada tulisan Fikih Riba Bag. 9). Ringkasnya, terdapat empat keadaan:Pertama: Menukar barang yang satu jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan emas.Kedua: Menukar barang yang beda jenis dan satu ‘illat, seperti menukar emas dengan perak.Ketiga: Menukar barang yang beda ‘illat ribawi dan beda jenis, seperti menukar emas dengan beras.Keempat: Menukar barang yang bukan termasuk kategori barang ribawi, seperti menukar buku dengan pulpen.Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa pada empat keadaan ini, terdapat syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tersendiri yang harus terpenuhi. Seperti harus sejenis, sama rata dalam timbangan dan takaran, dan barang yang ditukar harus diberikan secara tunai.Secara spesifik, pembahasan ini akan menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan di atas.Ketentuan-ketentuan “harus sejenis” Apakah yang dimaksud dengan harus sejenis dalam tukar menukar? Perlu diketahui bahwa al-jins (jenis) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَنْوَاعِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda macam-macamnya.”  Adapun an-nau’ (macam) secara bahasa adalah,الشَّامِلُ لِأَشْيَاء مُخْتَلِفَةٍ بِأَشْخَاصِهَا“Istilah yang mencakup berbagai hal yang berbeda satuannya.” Contoh dari “jenis” adalah kurma dan contoh dari “macam” adalah kurma ajwa, kurma sukari, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, beras disebut dengan “jenis”; adapun beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, semua ini disebut dengan “macam”.– Sehingga ketentuannya adalah setiap dua macam yang berkumpul dalam satu nama khusus, maka keduanya adalah satu jenis. Seperti contoh yang disebutkan di atas, kurma ajwa dan kurma sukari itu sama jenisnya. Begitupun dengan beras pandan, beras merah, atau beras rojolele, ini semua sama jenisnya; karena secara keseluruhan, semuanya adalah beras.Artinya, walaupun namanya berbeda, akan tetapi tetap dari jenis yang sama. Apa konsekuensinya? Konskekuensinya adalah harus tetap adanya kesetaraan dan kesamaan, serta tidak boleh adanya lebih (selisih) ketika terjadi transaksi penukaran. Misalnya, antara kurma ajwa dan kurma sukari; ketika keduanya ditukar, maka tidak boleh ada lebih dalam takarannya. Jika ada lebih, inilah yang dinamakan dengan riba fadhl.Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadis ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ketentuan tidak boleh ada selisih adalah jika ditukar dengan jenis yang sama. Di kalangan para ulama pun tidak ada perbedaan tentang masalah wajibnya kesetaraan dalam penukaran barang atau komoditas ribawi yang sejenis, kendati macamnya berbeda.Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzaabanah. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهى عن المُزابنة والمُزابنةُ اشتراءُ الثمرِ بالتمرِ كيْلًا والكرْمُ بالزبيبِ كيْلًا“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli muzabanah. Muzabanah adalah membeli buah kurma basah (yang masih di pohon) dengan kurma kering dengan cara ditakar, dan (membeli) buah anggur basah dengan kismis (anggur kering) dengan cara ditakar.” (Muttafaqun ‘alaih)Mengapa jual beli muzabanah ini dilarang? Karena kedua barang yang ditukar berasal dari jenis yang sama, tentu syaratnya tidak boleh ada lebih dalam penukaran. Darimanakah lebihnya? Lebihnya adalah ketika kurma basah ditukar dengan kurma kering, maka terdapat perbedaan dalam takaran. Ketika kurma basah itu mengering, maka akan berkurang takaran dan timbangannya. Di situlah letak ribanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ سُئِلَ عن شراءِ التَّمرِ بالرُّطَبِ فقال أينقصُ الرُّطَبُ إذا يبِسَ؟ قالوا نعَم قال فلا إذَن“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hukum membeli kurma kering (tamr) dengan kurma basah (ruthab). Beliau pun bertanya, ‘Apakah kurma basah akan berkurang (timbangannya) ketika mengering?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau lalu bersabda, ‘Jika demikian, maka jangan (lakukan)’.” (HR. At-Tirmidzi)Apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Lebih dalam lagi membahas tentang “jenis” yaitu terkait dengan kesamaan pada nama yang khusus, apakah semua nama yang khusus itu pasti dikategorikan sejenis?Kesamaan pada nama yang khusus terikat dengan dua hal:Pertama, kesamaannya harus secara makna, bukan sekedar lafaz (ucapan) semata. Hal ini untuk mengecualikan suatu barang atau benda yang sama nama, namun beda hakikatnya.Contohnya seperti gula jawa (gula aren/merah) dengan gula pasir. Keduanya sama dalam nama, namun hakikat zatnya berbeda. Yang satu dari nira pohon palem/kelapa, dan yang satu lagi dari tebu. Sehingga keduanya bukan satu jenis yang sama, sehingga boleh menukar 1 kg gula jawa dengan 2 kg gula pasir secara barter tanpa terkena riba fadl.Kedua, kedua barang harus berserikat dalam satu sumber. Jika dua barang yang sama dalam nama khusus itu berasal dari dua asal yang berbeda, maka keduanya adalah dua jenis yang berbeda.Contohnya seperti tepung gandum dengan tepung jagung atau cuka apel dengan cuka anggur. Menurut jumhur ulama, ini termasuk dari jenis yang berbeda meskipun namanya sama. Hal ini karena sumbernya berbeda, meskipun namanya sama-sama tepung dan sama-sama cuka. Sehingga ketika terjadi transaksi berupa barter, tidak terkena riba fadl.Demikianlah hal yang berkaitan dengan ketentuan dari al-jins (jenis) pada pembahasan komoditas ribawi. Wallahu a’lam.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 12 LANJUT KE BAGIAN 14***Depok, 3 Zulhijah 1447/ 20 Mei 2026Penulis: Muhammad Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Pembahasan ini diambil dari kitab Shahih Fiqih Sunnah/Kasyful Akinnah (5: 185-188), dengan beberapa perubahan.Referensi:Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fikih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, tahun 2016.

Jangan Merasa Aman dengan Imanmu Hari Ini – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ

Jangan Merasa Aman dengan Imanmu Hari Ini – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ
Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ


Karena itu, wahai saudara-saudaraku, hendaknya seseorang senantiasa khawatir terhadap dirinya sendiri. “Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24) Ia harus khawatir terhadap dirinya. Hari ini engkau taat, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku maksiat. Hari ini engkau berada di atas sunah, boleh jadi besok engkau menjadi pelaku bid’ah. Hari ini engkau seorang muslim, boleh jadi besok engkau menjadi kafir. Keadaan kita tidak lebih baik daripada sebagian orang yang dahulu menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dan membersamai beliau, serta mendengar langsung sabda-sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu, mereka murtad dari Islam dan keluar darinya. Karena itu, siapa yang memperhatikan keadaan ini, niscaya rasa khawatir terhadap dirinya akan semakin besar. Maka ia tidak akan membawa dirinya ke dalam suatu urusan, kecuali yang sudah jelas baginya. Jika ada perkara yang belum jelas baginya, ia menyerahkannya kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan agar urusan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, ia menjaga agamanya. Namun, jika ia nekat masuk ke dalam perkara yang bukan kapasitasnya, boleh jadi ia akan berakhir pada kesudahan yang tidak terpuji. Siapa yang membaca sejarah, ia akan menemukan banyak pelajaran di dalamnya. Bacalah sejarah, sebab di dalamnya terdapat banyak pelajaran. Banyak kaum tersesat, karena mereka tidak mengetahui kabar yang benar. ===== لِذَلِكَ دَائِمًا يَا إِخْوَانُ الْإِنْسَانُ يَنْبَغِي أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْتَ الْيَوْمَ مُطِيعٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا عَاصِيًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ سُنِّيٌّ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا مُبْتَدِعًا وَأَنْتَ الْيَوْمَ مُسْلِمٌ وَرُبَّمَا تَكُونُ غَدًا كَافِرًا لَسْنَا فِي حَالٍ أَكْمَلَ مِنْ أُنَاسٍ كَانُوا فِي مَقَامِ مُشَاهَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصُحْبَتِهِ وَسَمَاعِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ارْتَدُّوا بَعْدَ ذَلِكَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَخَرَجُوا مِنْهُ لِذَلِكَ مَنْ نَظَرَ إِلَى هَذِهِ الْحَالِ عَظُمَ خَوْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يُورِدُ نَفْسَهُ إِلَّا فِيمَا تَبَيَّنَ لَهُ وَإِذَا لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ شَيْءٌ وَكَلَ الْأَمْرَ إِلَى أَهْلِهِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالرَّدِّ إِلَيْهِمْ فَيَحْفَظُ بِذَلِكَ دِينَهُ وَإِنْ تَقَحَّمَ مَا لَيْسَ لَهُ فَإِنَّهُ رُبَّمَا صَارَ إِلَى عَاقِبَةٍ لَا تُحْمَدُ وَمَنْ يَقْرَأ التَّارِيخَ يَجِدْ فِيهِ الْعِبَرَ اقْرَأ التَّارِيخَ إِذْ فِيهِ الْعِبَرُ ضَلَّ أَقْوَامٌ لَيْسَ يَدْرُونَ الْخَبَرَ

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

Fatwa Ulama: Hukum Zikir Setelah Salat Ketika Safar

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahPertanyaan:Jawaban: Catatan penerjemahFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Pertanyaan:Apakah zikir tasbih (subhanallah) setelah salat wajib ketika safar hukumnya sunah? Ataukah tidak ada zikir tasbih setelah salat Asar atau Zuhur ketika safar?Jawaban: Rangkaian zikir setelah salat hukumnya sunah, baik ketika safar maupun tidak, baik ketika sedang menunaikan ibadah haji maupun tidak, serta berlaku untuk pria maupun wanita. Setelah selesai mengucapkan salam, disunahkan untuk mengucapkan,أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“Aku memohon ampun kepada Allah.” (3x)  اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Ya Allah, Engkau adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan), dan dari-Mu lah keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Zat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat, bagi-Nya segala karunia, dan bagi-Nya pujian yang baik.”لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Dan tidaklah bermanfaat kekayaan orang yang kaya terhadap-Mu.”Semua zikir ini diucapkan oleh Nabi ﷺ setelah salat, baik itu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, maupun Subuh. Setelah salat Magrib dan Subuh, disunahkan untuk mengucapkan zikir tambahan berikut sebanyak sepuluh kali, baik ketika safar maupun mukim (tidak safar), لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”– Fatwa Selesai [1] –Catatan penerjemahSalah satu dari sekian banyak kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah keringanan syariat di kala situasi sulit, di antaranya ketika safar di mana salat wajib dapat dijamak dan diqasar dengan sejumlah kriteria tertentu. Melihat hal ini, barangkali ada yang berpikir: Jika yang wajib saja diringankan tata cara pelaksanaannya, bagaimana dengan amal sunah yang tidak mengapa jika ditinggalkan? Apakah amal sunah lebih baik ditinggalkan saja ketika safar, menimbang amal wajib pun diringankan pelaksanaannya?Melalui fatwa Syekh di atas, kita dapat memahami bahwa adanya keringanan pada amal yang wajib ketika safar, bukan berarti otomatis mengakibatkan semua amal sunah menjadi lebih utama ditinggalkan. Bahkan ketika safar, justru ada amalan-amalan sunah khusus seperti mengucap takbir ketika jalan menanjak, mengucap tasbih ketika jalan menurun, maupun memperbanyak doa.Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا“Ketika kami (para sahabat) berjalan menanjak, kami bertakbir. Dan apabila berjalan menurun, kami bertasbih.” [2]Rasulullah ﷺ bersabda,ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi keampuhannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir (yang sedang safar), dan doa orang tua untuk anaknya.” [3]Alhasil, apa pun kondisi yang sedang kita jalani, akan selalu ada peluang untuk beribadah. Selain itu, sebaiknya jangan biarkan safar kita menjadi perjalanan yang kosong dari ibadah sama sekali. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian jauh)***Semarang, 6 Zulhijah 1447Penerjemah: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibnu Baz, 30: 205, https://binbaz.org.sa/fatwas/20761[2] HR. Bukhari no. 2993.[3] HR. At-Tirmidzi no. 1905, At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

Jangan Sampai Shalat Kita Seperti Jasad Tanpa Ruh – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي

Jangan Sampai Shalat Kita Seperti Jasad Tanpa Ruh – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili #NasehatUlama

Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي
Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي


Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu. Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin. Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya. Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh. Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu? Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!” ===== مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي
Prev     Next