Mendoakan Saudara Semuslim Tanpa Sepengetahuannya adalah Tanda Jujurnya Keimanan

Salah satu sunnah yang mungkin sangat jarang kita lakukan adalah mendoakan sesama muslim semisal teman, sahabat, guru dan lain-lain tanpa sepengetahuan dia. Kita doakan dia dengan ikhlas dan tulus agar dia mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.Tidak mudah melakukan sunnah ini, karena butuh keimanan yang tinggi serta hati yang tulus dan ikhlas. Hal ini karena sifat dasar manusia yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja. Setelah semua kebutuhan manusia terpenuhi, barulah dia memperhatikan orang lain. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa sunnah ini adalah tanda jujurnya keimanan seseorang.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,الدعاء بظهر الغيب يدل دلالة واضحة على صدق الايمانلأن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه)“Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya menunjukkan jujurnya keimanan seseorang. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah sempurna keimanan kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 6: 54)Mengenai sunnah ini, terdapat dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan sunnah ini. Yaitu apabila kita mendoakan saudara muslim, maka malaikat akan mendoakan bagi kita yang semisal doa yang kita panjatkan. Jadi apa yang kita doakan kepada saudara kita, kita pun akan mendapatkannya dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)Dalam riwayat lainnya,دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.’Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik umat ini dengan keimanan yang jujur dan ikhlas. Salah satu riwayat dari mereka yang menerapkan sunnah ini adalah riwayat dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.  Istri beliau,  Ummu Darda’ menceritakan,كان لأبي الدرداء ستون وثلاث مئة خليل في الله يدعو لهم في الصلاة، فقلت له في ذلك، فقال : إنه ليس رجل يدعو لأخيه في الغيب إلا وكل الله به ملكين يقولان : « ولك بمثل » أفلا أرغب أن تدعو لي الملائكة‘Dahulu Abu Darda’ memiliki sekitar 300 orang sahabat (pertemanan di dalam ketaatan). Di dalam shalatnya, Abu Darda’ seringkali mendoakan mereka. Aku pun berkata kepadanya tentang apa yang dia lakukan.’Maka dia pun berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah seseorang mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, ‘Begitu juga denganmu.’ Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?’” (Siyar A’lamin Nubala’, 2: 351)Dalam hadits disebutkan bahwa malaikat ikut mendoakan bagi yang berdoa. Para ulama mejelaskan bahwa doa malaikat itu mustajab.Abul Hasan Al-Mufarakfuri rahimahullah berkata,دعاء الملائكة مستجاب“Doa para malaikat itu mustajab.” (Mura’atul Mafatih, 5: 309)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga: Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia? Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita —@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Kalimat Talqin, Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab, Udkhulu Fissilmi Kaffah, Ajaran Imam Syafi'i, Bukti Allah Itu Ada

Mendoakan Saudara Semuslim Tanpa Sepengetahuannya adalah Tanda Jujurnya Keimanan

Salah satu sunnah yang mungkin sangat jarang kita lakukan adalah mendoakan sesama muslim semisal teman, sahabat, guru dan lain-lain tanpa sepengetahuan dia. Kita doakan dia dengan ikhlas dan tulus agar dia mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.Tidak mudah melakukan sunnah ini, karena butuh keimanan yang tinggi serta hati yang tulus dan ikhlas. Hal ini karena sifat dasar manusia yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja. Setelah semua kebutuhan manusia terpenuhi, barulah dia memperhatikan orang lain. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa sunnah ini adalah tanda jujurnya keimanan seseorang.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,الدعاء بظهر الغيب يدل دلالة واضحة على صدق الايمانلأن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه)“Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya menunjukkan jujurnya keimanan seseorang. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah sempurna keimanan kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 6: 54)Mengenai sunnah ini, terdapat dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan sunnah ini. Yaitu apabila kita mendoakan saudara muslim, maka malaikat akan mendoakan bagi kita yang semisal doa yang kita panjatkan. Jadi apa yang kita doakan kepada saudara kita, kita pun akan mendapatkannya dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)Dalam riwayat lainnya,دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.’Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik umat ini dengan keimanan yang jujur dan ikhlas. Salah satu riwayat dari mereka yang menerapkan sunnah ini adalah riwayat dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.  Istri beliau,  Ummu Darda’ menceritakan,كان لأبي الدرداء ستون وثلاث مئة خليل في الله يدعو لهم في الصلاة، فقلت له في ذلك، فقال : إنه ليس رجل يدعو لأخيه في الغيب إلا وكل الله به ملكين يقولان : « ولك بمثل » أفلا أرغب أن تدعو لي الملائكة‘Dahulu Abu Darda’ memiliki sekitar 300 orang sahabat (pertemanan di dalam ketaatan). Di dalam shalatnya, Abu Darda’ seringkali mendoakan mereka. Aku pun berkata kepadanya tentang apa yang dia lakukan.’Maka dia pun berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah seseorang mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, ‘Begitu juga denganmu.’ Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?’” (Siyar A’lamin Nubala’, 2: 351)Dalam hadits disebutkan bahwa malaikat ikut mendoakan bagi yang berdoa. Para ulama mejelaskan bahwa doa malaikat itu mustajab.Abul Hasan Al-Mufarakfuri rahimahullah berkata,دعاء الملائكة مستجاب“Doa para malaikat itu mustajab.” (Mura’atul Mafatih, 5: 309)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga: Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia? Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita —@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Kalimat Talqin, Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab, Udkhulu Fissilmi Kaffah, Ajaran Imam Syafi'i, Bukti Allah Itu Ada
Salah satu sunnah yang mungkin sangat jarang kita lakukan adalah mendoakan sesama muslim semisal teman, sahabat, guru dan lain-lain tanpa sepengetahuan dia. Kita doakan dia dengan ikhlas dan tulus agar dia mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.Tidak mudah melakukan sunnah ini, karena butuh keimanan yang tinggi serta hati yang tulus dan ikhlas. Hal ini karena sifat dasar manusia yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja. Setelah semua kebutuhan manusia terpenuhi, barulah dia memperhatikan orang lain. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa sunnah ini adalah tanda jujurnya keimanan seseorang.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,الدعاء بظهر الغيب يدل دلالة واضحة على صدق الايمانلأن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه)“Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya menunjukkan jujurnya keimanan seseorang. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah sempurna keimanan kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 6: 54)Mengenai sunnah ini, terdapat dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan sunnah ini. Yaitu apabila kita mendoakan saudara muslim, maka malaikat akan mendoakan bagi kita yang semisal doa yang kita panjatkan. Jadi apa yang kita doakan kepada saudara kita, kita pun akan mendapatkannya dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)Dalam riwayat lainnya,دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.’Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik umat ini dengan keimanan yang jujur dan ikhlas. Salah satu riwayat dari mereka yang menerapkan sunnah ini adalah riwayat dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.  Istri beliau,  Ummu Darda’ menceritakan,كان لأبي الدرداء ستون وثلاث مئة خليل في الله يدعو لهم في الصلاة، فقلت له في ذلك، فقال : إنه ليس رجل يدعو لأخيه في الغيب إلا وكل الله به ملكين يقولان : « ولك بمثل » أفلا أرغب أن تدعو لي الملائكة‘Dahulu Abu Darda’ memiliki sekitar 300 orang sahabat (pertemanan di dalam ketaatan). Di dalam shalatnya, Abu Darda’ seringkali mendoakan mereka. Aku pun berkata kepadanya tentang apa yang dia lakukan.’Maka dia pun berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah seseorang mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, ‘Begitu juga denganmu.’ Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?’” (Siyar A’lamin Nubala’, 2: 351)Dalam hadits disebutkan bahwa malaikat ikut mendoakan bagi yang berdoa. Para ulama mejelaskan bahwa doa malaikat itu mustajab.Abul Hasan Al-Mufarakfuri rahimahullah berkata,دعاء الملائكة مستجاب“Doa para malaikat itu mustajab.” (Mura’atul Mafatih, 5: 309)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga: Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia? Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita —@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Kalimat Talqin, Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab, Udkhulu Fissilmi Kaffah, Ajaran Imam Syafi'i, Bukti Allah Itu Ada


Salah satu sunnah yang mungkin sangat jarang kita lakukan adalah mendoakan sesama muslim semisal teman, sahabat, guru dan lain-lain tanpa sepengetahuan dia. Kita doakan dia dengan ikhlas dan tulus agar dia mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.Tidak mudah melakukan sunnah ini, karena butuh keimanan yang tinggi serta hati yang tulus dan ikhlas. Hal ini karena sifat dasar manusia yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja. Setelah semua kebutuhan manusia terpenuhi, barulah dia memperhatikan orang lain. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa sunnah ini adalah tanda jujurnya keimanan seseorang.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,الدعاء بظهر الغيب يدل دلالة واضحة على صدق الايمانلأن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه)“Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya menunjukkan jujurnya keimanan seseorang. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah sempurna keimanan kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 6: 54)Mengenai sunnah ini, terdapat dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan sunnah ini. Yaitu apabila kita mendoakan saudara muslim, maka malaikat akan mendoakan bagi kita yang semisal doa yang kita panjatkan. Jadi apa yang kita doakan kepada saudara kita, kita pun akan mendapatkannya dengan izin Allah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)Dalam riwayat lainnya,دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.’Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik umat ini dengan keimanan yang jujur dan ikhlas. Salah satu riwayat dari mereka yang menerapkan sunnah ini adalah riwayat dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.  Istri beliau,  Ummu Darda’ menceritakan,كان لأبي الدرداء ستون وثلاث مئة خليل في الله يدعو لهم في الصلاة، فقلت له في ذلك، فقال : إنه ليس رجل يدعو لأخيه في الغيب إلا وكل الله به ملكين يقولان : « ولك بمثل » أفلا أرغب أن تدعو لي الملائكة‘Dahulu Abu Darda’ memiliki sekitar 300 orang sahabat (pertemanan di dalam ketaatan). Di dalam shalatnya, Abu Darda’ seringkali mendoakan mereka. Aku pun berkata kepadanya tentang apa yang dia lakukan.’Maka dia pun berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah seseorang mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, ‘Begitu juga denganmu.’ Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?’” (Siyar A’lamin Nubala’, 2: 351)Dalam hadits disebutkan bahwa malaikat ikut mendoakan bagi yang berdoa. Para ulama mejelaskan bahwa doa malaikat itu mustajab.Abul Hasan Al-Mufarakfuri rahimahullah berkata,دعاء الملائكة مستجاب“Doa para malaikat itu mustajab.” (Mura’atul Mafatih, 5: 309)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga: Pernahkah Kita Mendoakan Kebaikan untuk Indonesia? Mari Mendoakan Kebaikan bagi Para Pemimpin Kita —@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Kalimat Talqin, Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab, Udkhulu Fissilmi Kaffah, Ajaran Imam Syafi'i, Bukti Allah Itu Ada

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Apa maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)? == “Keberkahan ada pada orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya), dan kebaikan ada pada mereka. Orang tua yang dimaksud, ada dua jenis: (1) orang tua secara keilmuan, mereka dituakan karena ilmu mereka terhadap alquran dan sunah, walaupun usia mereka masih muda, keberkahan ada pada mereka. Di manapun Anda bertemu orang yang paham alquran dan sunah, mengajarkan keduanya, dan mengajarkan manhaj salafus saleh -semoga Allah meridai mereka semua-maka dia termasuk orang tua. Kemudian dari orang-orang berilmu tersebut, keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara mereka. Jadi, semua orang yang jujur berdakwah kepada alquran dan sunah, dan bukti kejujurannya adalah mengikuti manhaj salaf, mereka itulah orang tua, kemudian mereka berbeda-beda derajatnya berdasarkan usia dan ilmu mereka. (2) orang tua jenis kedua adalah tua secara usia, walaupun mereka tidak berilmu, ada keberkahan bersama mereka, dan kebaikan ada pada mereka. Karena meskipun mereka tidak memiliki ilmu agama, mereka memiliki kebijaksanaan yang mereka pelajari dari dunia ini. Wahai saudaraku! Oleh sebab itulah, para pengikut hawa nafsu menjauhkan diri mereka dari kedua jenis orang tua tersebut, karena mereka tahu bahwa orang tua dari kalangan ulama akan menutup jalan syubhat mereka, dan orang yang tua usianya juga menuntun para pemuda ke jalan kebaikan dengan fitrah dan pengalaman mereka. Sekarang, sebagian orang tua mengingkari pemberontakan dan upaya menjelek-jelekkan pemerintah, bukan karena ilmu agama mereka, melainkan karena kebijaksanaan dari tuanya usia mereka. Dan ketika pengikut hawa nafsu menyadari penghalang terbesar mereka dalam mempengaruhi para pemuda adalah orang-orang tua, maka mereka mencela orang tua, menjelekkan para ulama, memberi gelar jelek, menyifatkan dengan buruk, dan menjauhkan diri dari mereka, sehingga anak-anak muda merasa tidak butuh orang tua. Mereka berkata, “Ayahmu memang tua, namun dia awam! Tetaplah bersama para pemuda!” Sehingga seorang pemuda berubah sikap di depan ayahnya, dia tidak menghargai ayahnya sama sekali. Ayahnya berkata padanya, “Wahai anakku, …” Namun dia anggap ayahnya hina dan bodoh, dia terkena pengaruh pengikut hawa nafsu, bahkan sebagian pemuda pulang ke rumah, menemui keluarganya seperti seekor singa. Ayah dan ibunya sedang duduk, kalaupun menyapa hanya mengucapkan salam saja, kemudian langsung masuk kamarnya sampai dia pergi lagi berkumpul bersama pemuda. Demi Allah! Semacam ini adalah perilaku pengikut hawa nafsu! Adapun pengikut sunah, mereka memerintahkan untuk membersamai orang tua, yaitu ulama dan orang yang tua usianya, belajar dari pengalaman mereka, dan memuliakan mereka. Demi Allah! Tidak ada yang memuliakan orang tua kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang merendahkan mereka kecuali orang yang tercela.Dan keberkahan ada bersama orang yang tua secara keilmuan dan secara umur. Jadi, siapa yang ingin keberkahan, sebaiknya dia selalu mematuhi arahan para ulama senior, dan bersama orang yang tua umurnya, dengan memuliakan, menghargai, dan memahami kedudukan mereka. Dan Allah yang lebih tinggi dan lebih tahu. ========================================= مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيرُهُ؟ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ – وَالْخَيْرُ فِي الْأَكَابِرِ وَالْأَكَابِرُ نَوْعَانِ أَكَابَرُ فِي الْعِلْمِ كَبَّرَهُمْ عِلْمُهُمْ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِنْ كَانُوا صِغَارَ السِّنِّ فَالْبَرَكَةُ مَعَهُمْ فَحَيْثُمَا وَجَدْتَ عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَلِّمُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيُعَلِّمُ مَنْهَجَ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَبِيرٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْعُلَمَاءُ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ فَكُلُّ مَنْ دَعَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ صَادِقًا وَعَلَامَةُ الصِّدْقِ مَنْهَجُ السَّلَفِ فَهُمْ كِبَارٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْكِبَارُ يَتَفَاضَلُونَ بِحَسَبِ سِنِّهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَكَابِرُ فِي السِّنِّ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ وَهَؤُلَاءِ مَعَهُمُ الْبَرَكَةُ وَمَعَهُمُ الْخَيْرُ فَإِنَّهُمْ إِنْ فَاتَهُمُ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ لَمْ تَفُتْهُمُ الْحِكْمَةُ الَّتِي تَعَلَّمُوهَا مِنَ الدُّنْيَا وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ يُزَهِّدُونَ فِي الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَفِي كِبَارِ السِّنِّ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ الْكِبَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقْطَعُونَ عَلَيْهِمْ طَرِيقَ الشُّبُهَاتِ وَأَنَّ الْكِبَارَ مِنَ السِّنِّ يَدُلُّونَ الشَّبَابَ عَلَى الْخَيْرِ بِفِطْرَتِهِمْ وَخِبْرَتِهِمْ الْآنَ بَعْضُ كِبَارِ السِّنِّ يُنْكِرُونَ مَا يَقَعُ خُرُوجٌ عَلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَمِنْ طَعْنٍ فِيهِ لَا بِعِلْمٍ عِنْدَهُمْ وَإِنَّمَا بِحِكْمَةِ سِنِينَ فَلَمَّا عَلِمَ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ أَنَّ الْحَاجِزَ الْمَنِيعَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ تَخَطُّفِ الشَّبَابِ إِنَّمَا هُوَ الْأَكَابِرُ طَعَنُوا فِيهِمْ فَطَعَنُوا فِي الْعُلَمَاءِ وَلَقَّبُوهُمْ وَوَصَفُوهُمْ وَزَهَّدُوا فِيهِمْ وَزَهَّدُوا الصِّغَارُ فِي الْكِبَارِ يَقُولُونَ أَبُوكَ كَبِيرٌ فِي السِّنِّ لَكِنَّهُ عَامِّيٌّ خَلِّك مَعَ الشَّبَابِ حَتَّى يُصْبِحَ الشَّابُّ يَدْخُلُ عَلَى أَبِيهِ لَا يُقِيمُ لِأَبِيهِ وَزْنًا يَقُولُ لَهُ أَبُوهُ يَا بُنَيَّ يَا بُنَيَّ يَضَعُ لِنَفْسِهِ أَنَّهُ مِسْكِينٌ مَا يَدْرِي عَنْ شَيْءٍ فَيَتَخَطَّفُهُ أَهْلُ الْاَهْوَاءِ حَتَّى أَصْبَحَ بَعْضُ الشَّبَابِ يَدْخُلُ بَيْتَ أَهْلِهِ كَأَنَّهُ أَسَدٌ أُمُّهُ وَأَبُوهُ جَالِسَانِ إِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِمَا فَحَسْبُ ثُمَّ يَدْخُلُ غُرْفَتَهُ حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الشَّبَابِ وَاللهِ هَذَا مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَيَأْمُرُونَ بِلُزُومِ الْكِبَارِ لُزُومِ الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَلُزُومِ الْكِبَارِ السِّنِّ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْ تَجَارِبِهِمْ وَإِكْرَامِهِمْ وَاللهِ لَا يُكْرِمُ كِبَارَ السِّنِّ إِلَّا كَرِيمٌ وَلَا يُهِينُهُمْ إِلَّا لَئِيمٌ وَالْبَرَكَةُ مَعَ الْأَكَابِرِ فِي الْعِلْمِ وَفِي السِّنِّ فَمَنْ أَرَادَ الْبَرَكَةَ فَلْيَلْزَمْ غَرْزَ الْعُلَمَاءِ الْأَكَابِرِ وَلْيَكُنْ مَعَ كِبَارِ السِّنِّ مُحْتَرِمًا لَهُمْ مُوَقِّرًا لَهُمْ عَارِفًا قَدْرَهُمْ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ  

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Apa maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)? == “Keberkahan ada pada orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya), dan kebaikan ada pada mereka. Orang tua yang dimaksud, ada dua jenis: (1) orang tua secara keilmuan, mereka dituakan karena ilmu mereka terhadap alquran dan sunah, walaupun usia mereka masih muda, keberkahan ada pada mereka. Di manapun Anda bertemu orang yang paham alquran dan sunah, mengajarkan keduanya, dan mengajarkan manhaj salafus saleh -semoga Allah meridai mereka semua-maka dia termasuk orang tua. Kemudian dari orang-orang berilmu tersebut, keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara mereka. Jadi, semua orang yang jujur berdakwah kepada alquran dan sunah, dan bukti kejujurannya adalah mengikuti manhaj salaf, mereka itulah orang tua, kemudian mereka berbeda-beda derajatnya berdasarkan usia dan ilmu mereka. (2) orang tua jenis kedua adalah tua secara usia, walaupun mereka tidak berilmu, ada keberkahan bersama mereka, dan kebaikan ada pada mereka. Karena meskipun mereka tidak memiliki ilmu agama, mereka memiliki kebijaksanaan yang mereka pelajari dari dunia ini. Wahai saudaraku! Oleh sebab itulah, para pengikut hawa nafsu menjauhkan diri mereka dari kedua jenis orang tua tersebut, karena mereka tahu bahwa orang tua dari kalangan ulama akan menutup jalan syubhat mereka, dan orang yang tua usianya juga menuntun para pemuda ke jalan kebaikan dengan fitrah dan pengalaman mereka. Sekarang, sebagian orang tua mengingkari pemberontakan dan upaya menjelek-jelekkan pemerintah, bukan karena ilmu agama mereka, melainkan karena kebijaksanaan dari tuanya usia mereka. Dan ketika pengikut hawa nafsu menyadari penghalang terbesar mereka dalam mempengaruhi para pemuda adalah orang-orang tua, maka mereka mencela orang tua, menjelekkan para ulama, memberi gelar jelek, menyifatkan dengan buruk, dan menjauhkan diri dari mereka, sehingga anak-anak muda merasa tidak butuh orang tua. Mereka berkata, “Ayahmu memang tua, namun dia awam! Tetaplah bersama para pemuda!” Sehingga seorang pemuda berubah sikap di depan ayahnya, dia tidak menghargai ayahnya sama sekali. Ayahnya berkata padanya, “Wahai anakku, …” Namun dia anggap ayahnya hina dan bodoh, dia terkena pengaruh pengikut hawa nafsu, bahkan sebagian pemuda pulang ke rumah, menemui keluarganya seperti seekor singa. Ayah dan ibunya sedang duduk, kalaupun menyapa hanya mengucapkan salam saja, kemudian langsung masuk kamarnya sampai dia pergi lagi berkumpul bersama pemuda. Demi Allah! Semacam ini adalah perilaku pengikut hawa nafsu! Adapun pengikut sunah, mereka memerintahkan untuk membersamai orang tua, yaitu ulama dan orang yang tua usianya, belajar dari pengalaman mereka, dan memuliakan mereka. Demi Allah! Tidak ada yang memuliakan orang tua kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang merendahkan mereka kecuali orang yang tercela.Dan keberkahan ada bersama orang yang tua secara keilmuan dan secara umur. Jadi, siapa yang ingin keberkahan, sebaiknya dia selalu mematuhi arahan para ulama senior, dan bersama orang yang tua umurnya, dengan memuliakan, menghargai, dan memahami kedudukan mereka. Dan Allah yang lebih tinggi dan lebih tahu. ========================================= مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيرُهُ؟ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ – وَالْخَيْرُ فِي الْأَكَابِرِ وَالْأَكَابِرُ نَوْعَانِ أَكَابَرُ فِي الْعِلْمِ كَبَّرَهُمْ عِلْمُهُمْ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِنْ كَانُوا صِغَارَ السِّنِّ فَالْبَرَكَةُ مَعَهُمْ فَحَيْثُمَا وَجَدْتَ عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَلِّمُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيُعَلِّمُ مَنْهَجَ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَبِيرٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْعُلَمَاءُ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ فَكُلُّ مَنْ دَعَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ صَادِقًا وَعَلَامَةُ الصِّدْقِ مَنْهَجُ السَّلَفِ فَهُمْ كِبَارٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْكِبَارُ يَتَفَاضَلُونَ بِحَسَبِ سِنِّهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَكَابِرُ فِي السِّنِّ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ وَهَؤُلَاءِ مَعَهُمُ الْبَرَكَةُ وَمَعَهُمُ الْخَيْرُ فَإِنَّهُمْ إِنْ فَاتَهُمُ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ لَمْ تَفُتْهُمُ الْحِكْمَةُ الَّتِي تَعَلَّمُوهَا مِنَ الدُّنْيَا وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ يُزَهِّدُونَ فِي الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَفِي كِبَارِ السِّنِّ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ الْكِبَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقْطَعُونَ عَلَيْهِمْ طَرِيقَ الشُّبُهَاتِ وَأَنَّ الْكِبَارَ مِنَ السِّنِّ يَدُلُّونَ الشَّبَابَ عَلَى الْخَيْرِ بِفِطْرَتِهِمْ وَخِبْرَتِهِمْ الْآنَ بَعْضُ كِبَارِ السِّنِّ يُنْكِرُونَ مَا يَقَعُ خُرُوجٌ عَلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَمِنْ طَعْنٍ فِيهِ لَا بِعِلْمٍ عِنْدَهُمْ وَإِنَّمَا بِحِكْمَةِ سِنِينَ فَلَمَّا عَلِمَ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ أَنَّ الْحَاجِزَ الْمَنِيعَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ تَخَطُّفِ الشَّبَابِ إِنَّمَا هُوَ الْأَكَابِرُ طَعَنُوا فِيهِمْ فَطَعَنُوا فِي الْعُلَمَاءِ وَلَقَّبُوهُمْ وَوَصَفُوهُمْ وَزَهَّدُوا فِيهِمْ وَزَهَّدُوا الصِّغَارُ فِي الْكِبَارِ يَقُولُونَ أَبُوكَ كَبِيرٌ فِي السِّنِّ لَكِنَّهُ عَامِّيٌّ خَلِّك مَعَ الشَّبَابِ حَتَّى يُصْبِحَ الشَّابُّ يَدْخُلُ عَلَى أَبِيهِ لَا يُقِيمُ لِأَبِيهِ وَزْنًا يَقُولُ لَهُ أَبُوهُ يَا بُنَيَّ يَا بُنَيَّ يَضَعُ لِنَفْسِهِ أَنَّهُ مِسْكِينٌ مَا يَدْرِي عَنْ شَيْءٍ فَيَتَخَطَّفُهُ أَهْلُ الْاَهْوَاءِ حَتَّى أَصْبَحَ بَعْضُ الشَّبَابِ يَدْخُلُ بَيْتَ أَهْلِهِ كَأَنَّهُ أَسَدٌ أُمُّهُ وَأَبُوهُ جَالِسَانِ إِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِمَا فَحَسْبُ ثُمَّ يَدْخُلُ غُرْفَتَهُ حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الشَّبَابِ وَاللهِ هَذَا مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَيَأْمُرُونَ بِلُزُومِ الْكِبَارِ لُزُومِ الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَلُزُومِ الْكِبَارِ السِّنِّ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْ تَجَارِبِهِمْ وَإِكْرَامِهِمْ وَاللهِ لَا يُكْرِمُ كِبَارَ السِّنِّ إِلَّا كَرِيمٌ وَلَا يُهِينُهُمْ إِلَّا لَئِيمٌ وَالْبَرَكَةُ مَعَ الْأَكَابِرِ فِي الْعِلْمِ وَفِي السِّنِّ فَمَنْ أَرَادَ الْبَرَكَةَ فَلْيَلْزَمْ غَرْزَ الْعُلَمَاءِ الْأَكَابِرِ وَلْيَكُنْ مَعَ كِبَارِ السِّنِّ مُحْتَرِمًا لَهُمْ مُوَقِّرًا لَهُمْ عَارِفًا قَدْرَهُمْ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ  
Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Apa maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)? == “Keberkahan ada pada orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya), dan kebaikan ada pada mereka. Orang tua yang dimaksud, ada dua jenis: (1) orang tua secara keilmuan, mereka dituakan karena ilmu mereka terhadap alquran dan sunah, walaupun usia mereka masih muda, keberkahan ada pada mereka. Di manapun Anda bertemu orang yang paham alquran dan sunah, mengajarkan keduanya, dan mengajarkan manhaj salafus saleh -semoga Allah meridai mereka semua-maka dia termasuk orang tua. Kemudian dari orang-orang berilmu tersebut, keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara mereka. Jadi, semua orang yang jujur berdakwah kepada alquran dan sunah, dan bukti kejujurannya adalah mengikuti manhaj salaf, mereka itulah orang tua, kemudian mereka berbeda-beda derajatnya berdasarkan usia dan ilmu mereka. (2) orang tua jenis kedua adalah tua secara usia, walaupun mereka tidak berilmu, ada keberkahan bersama mereka, dan kebaikan ada pada mereka. Karena meskipun mereka tidak memiliki ilmu agama, mereka memiliki kebijaksanaan yang mereka pelajari dari dunia ini. Wahai saudaraku! Oleh sebab itulah, para pengikut hawa nafsu menjauhkan diri mereka dari kedua jenis orang tua tersebut, karena mereka tahu bahwa orang tua dari kalangan ulama akan menutup jalan syubhat mereka, dan orang yang tua usianya juga menuntun para pemuda ke jalan kebaikan dengan fitrah dan pengalaman mereka. Sekarang, sebagian orang tua mengingkari pemberontakan dan upaya menjelek-jelekkan pemerintah, bukan karena ilmu agama mereka, melainkan karena kebijaksanaan dari tuanya usia mereka. Dan ketika pengikut hawa nafsu menyadari penghalang terbesar mereka dalam mempengaruhi para pemuda adalah orang-orang tua, maka mereka mencela orang tua, menjelekkan para ulama, memberi gelar jelek, menyifatkan dengan buruk, dan menjauhkan diri dari mereka, sehingga anak-anak muda merasa tidak butuh orang tua. Mereka berkata, “Ayahmu memang tua, namun dia awam! Tetaplah bersama para pemuda!” Sehingga seorang pemuda berubah sikap di depan ayahnya, dia tidak menghargai ayahnya sama sekali. Ayahnya berkata padanya, “Wahai anakku, …” Namun dia anggap ayahnya hina dan bodoh, dia terkena pengaruh pengikut hawa nafsu, bahkan sebagian pemuda pulang ke rumah, menemui keluarganya seperti seekor singa. Ayah dan ibunya sedang duduk, kalaupun menyapa hanya mengucapkan salam saja, kemudian langsung masuk kamarnya sampai dia pergi lagi berkumpul bersama pemuda. Demi Allah! Semacam ini adalah perilaku pengikut hawa nafsu! Adapun pengikut sunah, mereka memerintahkan untuk membersamai orang tua, yaitu ulama dan orang yang tua usianya, belajar dari pengalaman mereka, dan memuliakan mereka. Demi Allah! Tidak ada yang memuliakan orang tua kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang merendahkan mereka kecuali orang yang tercela.Dan keberkahan ada bersama orang yang tua secara keilmuan dan secara umur. Jadi, siapa yang ingin keberkahan, sebaiknya dia selalu mematuhi arahan para ulama senior, dan bersama orang yang tua umurnya, dengan memuliakan, menghargai, dan memahami kedudukan mereka. Dan Allah yang lebih tinggi dan lebih tahu. ========================================= مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيرُهُ؟ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ – وَالْخَيْرُ فِي الْأَكَابِرِ وَالْأَكَابِرُ نَوْعَانِ أَكَابَرُ فِي الْعِلْمِ كَبَّرَهُمْ عِلْمُهُمْ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِنْ كَانُوا صِغَارَ السِّنِّ فَالْبَرَكَةُ مَعَهُمْ فَحَيْثُمَا وَجَدْتَ عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَلِّمُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيُعَلِّمُ مَنْهَجَ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَبِيرٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْعُلَمَاءُ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ فَكُلُّ مَنْ دَعَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ صَادِقًا وَعَلَامَةُ الصِّدْقِ مَنْهَجُ السَّلَفِ فَهُمْ كِبَارٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْكِبَارُ يَتَفَاضَلُونَ بِحَسَبِ سِنِّهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَكَابِرُ فِي السِّنِّ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ وَهَؤُلَاءِ مَعَهُمُ الْبَرَكَةُ وَمَعَهُمُ الْخَيْرُ فَإِنَّهُمْ إِنْ فَاتَهُمُ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ لَمْ تَفُتْهُمُ الْحِكْمَةُ الَّتِي تَعَلَّمُوهَا مِنَ الدُّنْيَا وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ يُزَهِّدُونَ فِي الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَفِي كِبَارِ السِّنِّ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ الْكِبَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقْطَعُونَ عَلَيْهِمْ طَرِيقَ الشُّبُهَاتِ وَأَنَّ الْكِبَارَ مِنَ السِّنِّ يَدُلُّونَ الشَّبَابَ عَلَى الْخَيْرِ بِفِطْرَتِهِمْ وَخِبْرَتِهِمْ الْآنَ بَعْضُ كِبَارِ السِّنِّ يُنْكِرُونَ مَا يَقَعُ خُرُوجٌ عَلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَمِنْ طَعْنٍ فِيهِ لَا بِعِلْمٍ عِنْدَهُمْ وَإِنَّمَا بِحِكْمَةِ سِنِينَ فَلَمَّا عَلِمَ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ أَنَّ الْحَاجِزَ الْمَنِيعَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ تَخَطُّفِ الشَّبَابِ إِنَّمَا هُوَ الْأَكَابِرُ طَعَنُوا فِيهِمْ فَطَعَنُوا فِي الْعُلَمَاءِ وَلَقَّبُوهُمْ وَوَصَفُوهُمْ وَزَهَّدُوا فِيهِمْ وَزَهَّدُوا الصِّغَارُ فِي الْكِبَارِ يَقُولُونَ أَبُوكَ كَبِيرٌ فِي السِّنِّ لَكِنَّهُ عَامِّيٌّ خَلِّك مَعَ الشَّبَابِ حَتَّى يُصْبِحَ الشَّابُّ يَدْخُلُ عَلَى أَبِيهِ لَا يُقِيمُ لِأَبِيهِ وَزْنًا يَقُولُ لَهُ أَبُوهُ يَا بُنَيَّ يَا بُنَيَّ يَضَعُ لِنَفْسِهِ أَنَّهُ مِسْكِينٌ مَا يَدْرِي عَنْ شَيْءٍ فَيَتَخَطَّفُهُ أَهْلُ الْاَهْوَاءِ حَتَّى أَصْبَحَ بَعْضُ الشَّبَابِ يَدْخُلُ بَيْتَ أَهْلِهِ كَأَنَّهُ أَسَدٌ أُمُّهُ وَأَبُوهُ جَالِسَانِ إِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِمَا فَحَسْبُ ثُمَّ يَدْخُلُ غُرْفَتَهُ حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الشَّبَابِ وَاللهِ هَذَا مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَيَأْمُرُونَ بِلُزُومِ الْكِبَارِ لُزُومِ الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَلُزُومِ الْكِبَارِ السِّنِّ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْ تَجَارِبِهِمْ وَإِكْرَامِهِمْ وَاللهِ لَا يُكْرِمُ كِبَارَ السِّنِّ إِلَّا كَرِيمٌ وَلَا يُهِينُهُمْ إِلَّا لَئِيمٌ وَالْبَرَكَةُ مَعَ الْأَكَابِرِ فِي الْعِلْمِ وَفِي السِّنِّ فَمَنْ أَرَادَ الْبَرَكَةَ فَلْيَلْزَمْ غَرْزَ الْعُلَمَاءِ الْأَكَابِرِ وَلْيَكُنْ مَعَ كِبَارِ السِّنِّ مُحْتَرِمًا لَهُمْ مُوَقِّرًا لَهُمْ عَارِفًا قَدْرَهُمْ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ  


Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Apa maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)? == “Keberkahan ada pada orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya), dan kebaikan ada pada mereka. Orang tua yang dimaksud, ada dua jenis: (1) orang tua secara keilmuan, mereka dituakan karena ilmu mereka terhadap alquran dan sunah, walaupun usia mereka masih muda, keberkahan ada pada mereka. Di manapun Anda bertemu orang yang paham alquran dan sunah, mengajarkan keduanya, dan mengajarkan manhaj salafus saleh -semoga Allah meridai mereka semua-maka dia termasuk orang tua. Kemudian dari orang-orang berilmu tersebut, keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara mereka. Jadi, semua orang yang jujur berdakwah kepada alquran dan sunah, dan bukti kejujurannya adalah mengikuti manhaj salaf, mereka itulah orang tua, kemudian mereka berbeda-beda derajatnya berdasarkan usia dan ilmu mereka. (2) orang tua jenis kedua adalah tua secara usia, walaupun mereka tidak berilmu, ada keberkahan bersama mereka, dan kebaikan ada pada mereka. Karena meskipun mereka tidak memiliki ilmu agama, mereka memiliki kebijaksanaan yang mereka pelajari dari dunia ini. Wahai saudaraku! Oleh sebab itulah, para pengikut hawa nafsu menjauhkan diri mereka dari kedua jenis orang tua tersebut, karena mereka tahu bahwa orang tua dari kalangan ulama akan menutup jalan syubhat mereka, dan orang yang tua usianya juga menuntun para pemuda ke jalan kebaikan dengan fitrah dan pengalaman mereka. Sekarang, sebagian orang tua mengingkari pemberontakan dan upaya menjelek-jelekkan pemerintah, bukan karena ilmu agama mereka, melainkan karena kebijaksanaan dari tuanya usia mereka. Dan ketika pengikut hawa nafsu menyadari penghalang terbesar mereka dalam mempengaruhi para pemuda adalah orang-orang tua, maka mereka mencela orang tua, menjelekkan para ulama, memberi gelar jelek, menyifatkan dengan buruk, dan menjauhkan diri dari mereka, sehingga anak-anak muda merasa tidak butuh orang tua. Mereka berkata, “Ayahmu memang tua, namun dia awam! Tetaplah bersama para pemuda!” Sehingga seorang pemuda berubah sikap di depan ayahnya, dia tidak menghargai ayahnya sama sekali. Ayahnya berkata padanya, “Wahai anakku, …” Namun dia anggap ayahnya hina dan bodoh, dia terkena pengaruh pengikut hawa nafsu, bahkan sebagian pemuda pulang ke rumah, menemui keluarganya seperti seekor singa. Ayah dan ibunya sedang duduk, kalaupun menyapa hanya mengucapkan salam saja, kemudian langsung masuk kamarnya sampai dia pergi lagi berkumpul bersama pemuda. Demi Allah! Semacam ini adalah perilaku pengikut hawa nafsu! Adapun pengikut sunah, mereka memerintahkan untuk membersamai orang tua, yaitu ulama dan orang yang tua usianya, belajar dari pengalaman mereka, dan memuliakan mereka. Demi Allah! Tidak ada yang memuliakan orang tua kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang merendahkan mereka kecuali orang yang tercela.Dan keberkahan ada bersama orang yang tua secara keilmuan dan secara umur. Jadi, siapa yang ingin keberkahan, sebaiknya dia selalu mematuhi arahan para ulama senior, dan bersama orang yang tua umurnya, dengan memuliakan, menghargai, dan memahami kedudukan mereka. Dan Allah yang lebih tinggi dan lebih tahu. ========================================= مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيرُهُ؟ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ – وَالْخَيْرُ فِي الْأَكَابِرِ وَالْأَكَابِرُ نَوْعَانِ أَكَابَرُ فِي الْعِلْمِ كَبَّرَهُمْ عِلْمُهُمْ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِنْ كَانُوا صِغَارَ السِّنِّ فَالْبَرَكَةُ مَعَهُمْ فَحَيْثُمَا وَجَدْتَ عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَلِّمُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيُعَلِّمُ مَنْهَجَ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَبِيرٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْعُلَمَاءُ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ فَكُلُّ مَنْ دَعَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ صَادِقًا وَعَلَامَةُ الصِّدْقِ مَنْهَجُ السَّلَفِ فَهُمْ كِبَارٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْكِبَارُ يَتَفَاضَلُونَ بِحَسَبِ سِنِّهِمْ وَعِلْمِهِمْ وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَكَابِرُ فِي السِّنِّ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ وَهَؤُلَاءِ مَعَهُمُ الْبَرَكَةُ وَمَعَهُمُ الْخَيْرُ فَإِنَّهُمْ إِنْ فَاتَهُمُ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ لَمْ تَفُتْهُمُ الْحِكْمَةُ الَّتِي تَعَلَّمُوهَا مِنَ الدُّنْيَا وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ يُزَهِّدُونَ فِي الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَفِي كِبَارِ السِّنِّ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ الْكِبَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقْطَعُونَ عَلَيْهِمْ طَرِيقَ الشُّبُهَاتِ وَأَنَّ الْكِبَارَ مِنَ السِّنِّ يَدُلُّونَ الشَّبَابَ عَلَى الْخَيْرِ بِفِطْرَتِهِمْ وَخِبْرَتِهِمْ الْآنَ بَعْضُ كِبَارِ السِّنِّ يُنْكِرُونَ مَا يَقَعُ خُرُوجٌ عَلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَمِنْ طَعْنٍ فِيهِ لَا بِعِلْمٍ عِنْدَهُمْ وَإِنَّمَا بِحِكْمَةِ سِنِينَ فَلَمَّا عَلِمَ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ أَنَّ الْحَاجِزَ الْمَنِيعَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ تَخَطُّفِ الشَّبَابِ إِنَّمَا هُوَ الْأَكَابِرُ طَعَنُوا فِيهِمْ فَطَعَنُوا فِي الْعُلَمَاءِ وَلَقَّبُوهُمْ وَوَصَفُوهُمْ وَزَهَّدُوا فِيهِمْ وَزَهَّدُوا الصِّغَارُ فِي الْكِبَارِ يَقُولُونَ أَبُوكَ كَبِيرٌ فِي السِّنِّ لَكِنَّهُ عَامِّيٌّ خَلِّك مَعَ الشَّبَابِ حَتَّى يُصْبِحَ الشَّابُّ يَدْخُلُ عَلَى أَبِيهِ لَا يُقِيمُ لِأَبِيهِ وَزْنًا يَقُولُ لَهُ أَبُوهُ يَا بُنَيَّ يَا بُنَيَّ يَضَعُ لِنَفْسِهِ أَنَّهُ مِسْكِينٌ مَا يَدْرِي عَنْ شَيْءٍ فَيَتَخَطَّفُهُ أَهْلُ الْاَهْوَاءِ حَتَّى أَصْبَحَ بَعْضُ الشَّبَابِ يَدْخُلُ بَيْتَ أَهْلِهِ كَأَنَّهُ أَسَدٌ أُمُّهُ وَأَبُوهُ جَالِسَانِ إِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِمَا فَحَسْبُ ثُمَّ يَدْخُلُ غُرْفَتَهُ حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الشَّبَابِ وَاللهِ هَذَا مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَيَأْمُرُونَ بِلُزُومِ الْكِبَارِ لُزُومِ الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَلُزُومِ الْكِبَارِ السِّنِّ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْ تَجَارِبِهِمْ وَإِكْرَامِهِمْ وَاللهِ لَا يُكْرِمُ كِبَارَ السِّنِّ إِلَّا كَرِيمٌ وَلَا يُهِينُهُمْ إِلَّا لَئِيمٌ وَالْبَرَكَةُ مَعَ الْأَكَابِرِ فِي الْعِلْمِ وَفِي السِّنِّ فَمَنْ أَرَادَ الْبَرَكَةَ فَلْيَلْزَمْ غَرْزَ الْعُلَمَاءِ الْأَكَابِرِ وَلْيَكُنْ مَعَ كِبَارِ السِّنِّ مُحْتَرِمًا لَهُمْ مُوَقِّرًا لَهُمْ عَارِفًا قَدْرَهُمْ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ  

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama Dan tidak ada jalan keselamatan dari perkara ini, kecuali dengan (1) BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada Allah ‘azza wa jalla, dan (2) menghadap Allah dengan BERDOA SAAT KAMU BERSENDIRIAN, juga (3) BERDOA DI SETIAP KESEMPATAN, dengan doa yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan dalam sabda beliau, YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSAB-BIT QOLBII ‘ALAA DIINIK “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmizi), dibarengi TERUS BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis qudsi yang dikomentari oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai hadis yang paling agung tentang wali Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, tidak ada amalan yang dengannya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu. Dan jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan,… seperti keragu-raguan-Ku terhadap pencabutan nyawa seorang hamba yang beriman … … ketika dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyusahkannya.” (HR. Bukhari) Wahai saudara-saudara, ini bukanlah fatwa seorang ulama ataupun pendapat seorang imam, melainkan firman Tuhan kalian yang berbicara kepada kita semua. Inilah cara agar teguh beragama: (4) MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN AMALAN WAJIB, kemudian (5) BERSEGERA MENGERJAKAN AMALAN SUNAH, hingga mencapai derajat ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku …. … dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Ketika Allah mencintainya, maka kebaikan pasti didapat. Kemudian Allah berfirman, “Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, …” … menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, ….. menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, ….. dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.” Dengar! Seolah-olah hamba ini terjaga dari segala dosa. Pendengarannya tunduk dalam ketaatan kepada Allah, jiwanya benci dengan kemaksiatan dan condong kepada ketaatan. Oleh sebab itulah, Anda akan dapati sebagian muslim, dan ini nyata adanya, mereka kuat menahan cambukan, namun tidak tahan mendengar suara musik, dan ketika sebagian musuh-musuh Islam mengetahui perkara ini, mereka kemudian menyiksa sebagian ulama dengan ini. Ketika Ibrahim Pasha memasuki negeri ini dan menyerang para ulama, dan kala itu, di antara ulama yang ditawan adalah syeikh Sulaiman bin Abdullah, pengarang kitab Taisir al-Aziz al-Hamid, disebutkan dalam biografi beliau, bahwa mereka ketika menawan beliau, mereka memperdengarkan alat-alat musik kepada beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tersakiti dengan yang demikian itu, mereka mengerti bahwa beliau tersakiti dengan suara alat-alat musik. Dan ini salah satu bukti bahwa orang-orang sesat mengerti bahwa seorang mukmin tersakiti dengan perkara-perkara semacam ini. Dan sebaliknya, sebagian putra-putri Islam zaman sekarang, mereka tidak tidur kecuali sambil mendengar musik! Perhatikan bedanya, ada orang yang tersakiti dengan musik walaupun hanya terdengar dari jalan, namun rasanya seperti dicambuk di punggungnya, Maha Suci Allah! Yang ini manusia dan yang itu juga manusia! Bagaimana bisa demikian, yang ini tersakiti karena lantunan musik,dan yang itu hampir-hampir tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik? Inilah bedanya dan inilah buahnya, inilah buah dari ibadah,dan buah dari kesungguhan, dia tunduk dalam ketaatan kepada Allah, sehingga telinganya hanya tunduk kepada apa yang Allah ridhai. =========================================== هَذَا الْأَمْرُ لَا نَجَاةَ مِنْهُ إِلَّا بِلُزُومِ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَلَوَاتِ وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ بِمَا كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مَعَ مُلَازَمَةِ الطَّاعَةِ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ الَّذِي يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ هُوَ أَعْظَمُ حَدِيثٍ فِي الْأَوْلِيَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ بَعْدَ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ قَبْضِي نَفْسِ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ لَيْسَتْ فَتْوَى عَالِمٍ وَلَا اجْتِهَادَ إِمَامٍ وَإِنَّمَا كَلَامُ رَبِّكُمْ يُخَاطِبُنَا بِهِ وَهُوَ طَرِيقُ الثَّبَاتِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ بِالْفَرَائِضِ ثُمَّ الْمُسَارَعَةُ إِلَى النَّوَافِلِ حَتَّى تَحْصُلَ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ إِذَا أَحَبَّهُ اللهُ حَصَلَ الْخَيْرُ ثُمَّ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا . وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا . اِسْمَعْ! كَأَنَّ هَذَا الْعَبْدَ عُصِمَ مِنَ الذُّنُوبِ سَمْعُهُ مُنْقَادٌ لِطَاعَةِ اللهِ فَاشْمَئَزَّتْ نَفْسُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَتُقْبِلُ عَلَى الطَّاعَةِ وَلِهَذَا تَجِدُ بَعْضَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا مَوْجُودٌ لَرُبَّمَا يَتَحَمَّلُ السِّيَاطَ وَلَا يَتَحَمَّلُ الْمُوسِيقَى وَلَمَّا عَرَفَ بَعْضُ أَعْدَاءِ الْإِسْلَامِ هَذَا الْأَمْرَ كَادُوا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ بِهَذَا الْأَمْرِ لَمَّا دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بَاشَا هَذِهِ الْبِلَادَ وَقَاتَلَ الْأَئِمَّةَ وَكَانَ مِنْ مِمَّنْ أُسِرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ صَاحِبُ تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَبَضُوا عَلَى الشَّيْخِ أَتَوْا بِالْمَعَازِفِ عِنْدَ الشَّيْخِ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِهَا يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِالْمَعَازِفِ وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الضُّلَّالُ يَعْلَمُونَ تَأَذِّيَ الْمُؤْمِنِينَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ فِي مُقَابِلٍ بَعْضُ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ الْآنَ مَا يَنَامُ إِلَّا عَلَى الْمُوسِيقَى يَعْنِي انْظُرُوْا إِلَى الْفَرْقِ رَجُلٌ يَتَأَذَّى بِالْمُوسِيقَى وَلَوْ كَانَتْ فِي الطَّرِيقِ وَكَأَنَّهَا سِيَاطٌ فِي ظَهْرِهِ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا بَشَرٌ وَهَذَا بَشَرٌ كَيْفَ أَصْبَحَ يَعْنِي هَذِهِ يَتَأَذَّى بِمُوسِيقَى وَهَذَا لَا يَكَادُ يَنَامُ إِلَّا عَلَيْهَا؟ هَذَا الْفَرْقُ هَذِهِ الثَّمَرَةُ هَذِهِ ثَمَرَةُ الْعِبَادَةِ وَثَمَرَةُ الْجُهْدِ انْقَادَ لِطَاعَةِ اللهِ فَانْقَادَ سَمْعُهُ بِمَا يُرْضِيَ اللهَ

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama Dan tidak ada jalan keselamatan dari perkara ini, kecuali dengan (1) BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada Allah ‘azza wa jalla, dan (2) menghadap Allah dengan BERDOA SAAT KAMU BERSENDIRIAN, juga (3) BERDOA DI SETIAP KESEMPATAN, dengan doa yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan dalam sabda beliau, YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSAB-BIT QOLBII ‘ALAA DIINIK “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmizi), dibarengi TERUS BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis qudsi yang dikomentari oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai hadis yang paling agung tentang wali Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, tidak ada amalan yang dengannya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu. Dan jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan,… seperti keragu-raguan-Ku terhadap pencabutan nyawa seorang hamba yang beriman … … ketika dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyusahkannya.” (HR. Bukhari) Wahai saudara-saudara, ini bukanlah fatwa seorang ulama ataupun pendapat seorang imam, melainkan firman Tuhan kalian yang berbicara kepada kita semua. Inilah cara agar teguh beragama: (4) MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN AMALAN WAJIB, kemudian (5) BERSEGERA MENGERJAKAN AMALAN SUNAH, hingga mencapai derajat ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku …. … dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Ketika Allah mencintainya, maka kebaikan pasti didapat. Kemudian Allah berfirman, “Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, …” … menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, ….. menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, ….. dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.” Dengar! Seolah-olah hamba ini terjaga dari segala dosa. Pendengarannya tunduk dalam ketaatan kepada Allah, jiwanya benci dengan kemaksiatan dan condong kepada ketaatan. Oleh sebab itulah, Anda akan dapati sebagian muslim, dan ini nyata adanya, mereka kuat menahan cambukan, namun tidak tahan mendengar suara musik, dan ketika sebagian musuh-musuh Islam mengetahui perkara ini, mereka kemudian menyiksa sebagian ulama dengan ini. Ketika Ibrahim Pasha memasuki negeri ini dan menyerang para ulama, dan kala itu, di antara ulama yang ditawan adalah syeikh Sulaiman bin Abdullah, pengarang kitab Taisir al-Aziz al-Hamid, disebutkan dalam biografi beliau, bahwa mereka ketika menawan beliau, mereka memperdengarkan alat-alat musik kepada beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tersakiti dengan yang demikian itu, mereka mengerti bahwa beliau tersakiti dengan suara alat-alat musik. Dan ini salah satu bukti bahwa orang-orang sesat mengerti bahwa seorang mukmin tersakiti dengan perkara-perkara semacam ini. Dan sebaliknya, sebagian putra-putri Islam zaman sekarang, mereka tidak tidur kecuali sambil mendengar musik! Perhatikan bedanya, ada orang yang tersakiti dengan musik walaupun hanya terdengar dari jalan, namun rasanya seperti dicambuk di punggungnya, Maha Suci Allah! Yang ini manusia dan yang itu juga manusia! Bagaimana bisa demikian, yang ini tersakiti karena lantunan musik,dan yang itu hampir-hampir tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik? Inilah bedanya dan inilah buahnya, inilah buah dari ibadah,dan buah dari kesungguhan, dia tunduk dalam ketaatan kepada Allah, sehingga telinganya hanya tunduk kepada apa yang Allah ridhai. =========================================== هَذَا الْأَمْرُ لَا نَجَاةَ مِنْهُ إِلَّا بِلُزُومِ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَلَوَاتِ وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ بِمَا كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مَعَ مُلَازَمَةِ الطَّاعَةِ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ الَّذِي يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ هُوَ أَعْظَمُ حَدِيثٍ فِي الْأَوْلِيَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ بَعْدَ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ قَبْضِي نَفْسِ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ لَيْسَتْ فَتْوَى عَالِمٍ وَلَا اجْتِهَادَ إِمَامٍ وَإِنَّمَا كَلَامُ رَبِّكُمْ يُخَاطِبُنَا بِهِ وَهُوَ طَرِيقُ الثَّبَاتِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ بِالْفَرَائِضِ ثُمَّ الْمُسَارَعَةُ إِلَى النَّوَافِلِ حَتَّى تَحْصُلَ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ إِذَا أَحَبَّهُ اللهُ حَصَلَ الْخَيْرُ ثُمَّ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا . وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا . اِسْمَعْ! كَأَنَّ هَذَا الْعَبْدَ عُصِمَ مِنَ الذُّنُوبِ سَمْعُهُ مُنْقَادٌ لِطَاعَةِ اللهِ فَاشْمَئَزَّتْ نَفْسُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَتُقْبِلُ عَلَى الطَّاعَةِ وَلِهَذَا تَجِدُ بَعْضَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا مَوْجُودٌ لَرُبَّمَا يَتَحَمَّلُ السِّيَاطَ وَلَا يَتَحَمَّلُ الْمُوسِيقَى وَلَمَّا عَرَفَ بَعْضُ أَعْدَاءِ الْإِسْلَامِ هَذَا الْأَمْرَ كَادُوا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ بِهَذَا الْأَمْرِ لَمَّا دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بَاشَا هَذِهِ الْبِلَادَ وَقَاتَلَ الْأَئِمَّةَ وَكَانَ مِنْ مِمَّنْ أُسِرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ صَاحِبُ تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَبَضُوا عَلَى الشَّيْخِ أَتَوْا بِالْمَعَازِفِ عِنْدَ الشَّيْخِ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِهَا يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِالْمَعَازِفِ وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الضُّلَّالُ يَعْلَمُونَ تَأَذِّيَ الْمُؤْمِنِينَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ فِي مُقَابِلٍ بَعْضُ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ الْآنَ مَا يَنَامُ إِلَّا عَلَى الْمُوسِيقَى يَعْنِي انْظُرُوْا إِلَى الْفَرْقِ رَجُلٌ يَتَأَذَّى بِالْمُوسِيقَى وَلَوْ كَانَتْ فِي الطَّرِيقِ وَكَأَنَّهَا سِيَاطٌ فِي ظَهْرِهِ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا بَشَرٌ وَهَذَا بَشَرٌ كَيْفَ أَصْبَحَ يَعْنِي هَذِهِ يَتَأَذَّى بِمُوسِيقَى وَهَذَا لَا يَكَادُ يَنَامُ إِلَّا عَلَيْهَا؟ هَذَا الْفَرْقُ هَذِهِ الثَّمَرَةُ هَذِهِ ثَمَرَةُ الْعِبَادَةِ وَثَمَرَةُ الْجُهْدِ انْقَادَ لِطَاعَةِ اللهِ فَانْقَادَ سَمْعُهُ بِمَا يُرْضِيَ اللهَ
Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama Dan tidak ada jalan keselamatan dari perkara ini, kecuali dengan (1) BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada Allah ‘azza wa jalla, dan (2) menghadap Allah dengan BERDOA SAAT KAMU BERSENDIRIAN, juga (3) BERDOA DI SETIAP KESEMPATAN, dengan doa yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan dalam sabda beliau, YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSAB-BIT QOLBII ‘ALAA DIINIK “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmizi), dibarengi TERUS BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis qudsi yang dikomentari oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai hadis yang paling agung tentang wali Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, tidak ada amalan yang dengannya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu. Dan jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan,… seperti keragu-raguan-Ku terhadap pencabutan nyawa seorang hamba yang beriman … … ketika dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyusahkannya.” (HR. Bukhari) Wahai saudara-saudara, ini bukanlah fatwa seorang ulama ataupun pendapat seorang imam, melainkan firman Tuhan kalian yang berbicara kepada kita semua. Inilah cara agar teguh beragama: (4) MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN AMALAN WAJIB, kemudian (5) BERSEGERA MENGERJAKAN AMALAN SUNAH, hingga mencapai derajat ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku …. … dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Ketika Allah mencintainya, maka kebaikan pasti didapat. Kemudian Allah berfirman, “Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, …” … menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, ….. menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, ….. dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.” Dengar! Seolah-olah hamba ini terjaga dari segala dosa. Pendengarannya tunduk dalam ketaatan kepada Allah, jiwanya benci dengan kemaksiatan dan condong kepada ketaatan. Oleh sebab itulah, Anda akan dapati sebagian muslim, dan ini nyata adanya, mereka kuat menahan cambukan, namun tidak tahan mendengar suara musik, dan ketika sebagian musuh-musuh Islam mengetahui perkara ini, mereka kemudian menyiksa sebagian ulama dengan ini. Ketika Ibrahim Pasha memasuki negeri ini dan menyerang para ulama, dan kala itu, di antara ulama yang ditawan adalah syeikh Sulaiman bin Abdullah, pengarang kitab Taisir al-Aziz al-Hamid, disebutkan dalam biografi beliau, bahwa mereka ketika menawan beliau, mereka memperdengarkan alat-alat musik kepada beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tersakiti dengan yang demikian itu, mereka mengerti bahwa beliau tersakiti dengan suara alat-alat musik. Dan ini salah satu bukti bahwa orang-orang sesat mengerti bahwa seorang mukmin tersakiti dengan perkara-perkara semacam ini. Dan sebaliknya, sebagian putra-putri Islam zaman sekarang, mereka tidak tidur kecuali sambil mendengar musik! Perhatikan bedanya, ada orang yang tersakiti dengan musik walaupun hanya terdengar dari jalan, namun rasanya seperti dicambuk di punggungnya, Maha Suci Allah! Yang ini manusia dan yang itu juga manusia! Bagaimana bisa demikian, yang ini tersakiti karena lantunan musik,dan yang itu hampir-hampir tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik? Inilah bedanya dan inilah buahnya, inilah buah dari ibadah,dan buah dari kesungguhan, dia tunduk dalam ketaatan kepada Allah, sehingga telinganya hanya tunduk kepada apa yang Allah ridhai. =========================================== هَذَا الْأَمْرُ لَا نَجَاةَ مِنْهُ إِلَّا بِلُزُومِ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَلَوَاتِ وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ بِمَا كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مَعَ مُلَازَمَةِ الطَّاعَةِ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ الَّذِي يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ هُوَ أَعْظَمُ حَدِيثٍ فِي الْأَوْلِيَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ بَعْدَ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ قَبْضِي نَفْسِ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ لَيْسَتْ فَتْوَى عَالِمٍ وَلَا اجْتِهَادَ إِمَامٍ وَإِنَّمَا كَلَامُ رَبِّكُمْ يُخَاطِبُنَا بِهِ وَهُوَ طَرِيقُ الثَّبَاتِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ بِالْفَرَائِضِ ثُمَّ الْمُسَارَعَةُ إِلَى النَّوَافِلِ حَتَّى تَحْصُلَ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ إِذَا أَحَبَّهُ اللهُ حَصَلَ الْخَيْرُ ثُمَّ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا . وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا . اِسْمَعْ! كَأَنَّ هَذَا الْعَبْدَ عُصِمَ مِنَ الذُّنُوبِ سَمْعُهُ مُنْقَادٌ لِطَاعَةِ اللهِ فَاشْمَئَزَّتْ نَفْسُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَتُقْبِلُ عَلَى الطَّاعَةِ وَلِهَذَا تَجِدُ بَعْضَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا مَوْجُودٌ لَرُبَّمَا يَتَحَمَّلُ السِّيَاطَ وَلَا يَتَحَمَّلُ الْمُوسِيقَى وَلَمَّا عَرَفَ بَعْضُ أَعْدَاءِ الْإِسْلَامِ هَذَا الْأَمْرَ كَادُوا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ بِهَذَا الْأَمْرِ لَمَّا دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بَاشَا هَذِهِ الْبِلَادَ وَقَاتَلَ الْأَئِمَّةَ وَكَانَ مِنْ مِمَّنْ أُسِرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ صَاحِبُ تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَبَضُوا عَلَى الشَّيْخِ أَتَوْا بِالْمَعَازِفِ عِنْدَ الشَّيْخِ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِهَا يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِالْمَعَازِفِ وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الضُّلَّالُ يَعْلَمُونَ تَأَذِّيَ الْمُؤْمِنِينَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ فِي مُقَابِلٍ بَعْضُ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ الْآنَ مَا يَنَامُ إِلَّا عَلَى الْمُوسِيقَى يَعْنِي انْظُرُوْا إِلَى الْفَرْقِ رَجُلٌ يَتَأَذَّى بِالْمُوسِيقَى وَلَوْ كَانَتْ فِي الطَّرِيقِ وَكَأَنَّهَا سِيَاطٌ فِي ظَهْرِهِ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا بَشَرٌ وَهَذَا بَشَرٌ كَيْفَ أَصْبَحَ يَعْنِي هَذِهِ يَتَأَذَّى بِمُوسِيقَى وَهَذَا لَا يَكَادُ يَنَامُ إِلَّا عَلَيْهَا؟ هَذَا الْفَرْقُ هَذِهِ الثَّمَرَةُ هَذِهِ ثَمَرَةُ الْعِبَادَةِ وَثَمَرَةُ الْجُهْدِ انْقَادَ لِطَاعَةِ اللهِ فَانْقَادَ سَمْعُهُ بِمَا يُرْضِيَ اللهَ


Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama Dan tidak ada jalan keselamatan dari perkara ini, kecuali dengan (1) BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada Allah ‘azza wa jalla, dan (2) menghadap Allah dengan BERDOA SAAT KAMU BERSENDIRIAN, juga (3) BERDOA DI SETIAP KESEMPATAN, dengan doa yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan dalam sabda beliau, YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSAB-BIT QOLBII ‘ALAA DIINIK “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmizi), dibarengi TERUS BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis qudsi yang dikomentari oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai hadis yang paling agung tentang wali Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, tidak ada amalan yang dengannya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu. Dan jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan,… seperti keragu-raguan-Ku terhadap pencabutan nyawa seorang hamba yang beriman … … ketika dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyusahkannya.” (HR. Bukhari) Wahai saudara-saudara, ini bukanlah fatwa seorang ulama ataupun pendapat seorang imam, melainkan firman Tuhan kalian yang berbicara kepada kita semua. Inilah cara agar teguh beragama: (4) MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN AMALAN WAJIB, kemudian (5) BERSEGERA MENGERJAKAN AMALAN SUNAH, hingga mencapai derajat ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku …. … dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Ketika Allah mencintainya, maka kebaikan pasti didapat. Kemudian Allah berfirman, “Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, …” … menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, ….. menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, ….. dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.” Dengar! Seolah-olah hamba ini terjaga dari segala dosa. Pendengarannya tunduk dalam ketaatan kepada Allah, jiwanya benci dengan kemaksiatan dan condong kepada ketaatan. Oleh sebab itulah, Anda akan dapati sebagian muslim, dan ini nyata adanya, mereka kuat menahan cambukan, namun tidak tahan mendengar suara musik, dan ketika sebagian musuh-musuh Islam mengetahui perkara ini, mereka kemudian menyiksa sebagian ulama dengan ini. Ketika Ibrahim Pasha memasuki negeri ini dan menyerang para ulama, dan kala itu, di antara ulama yang ditawan adalah syeikh Sulaiman bin Abdullah, pengarang kitab Taisir al-Aziz al-Hamid, disebutkan dalam biografi beliau, bahwa mereka ketika menawan beliau, mereka memperdengarkan alat-alat musik kepada beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tersakiti dengan yang demikian itu, mereka mengerti bahwa beliau tersakiti dengan suara alat-alat musik. Dan ini salah satu bukti bahwa orang-orang sesat mengerti bahwa seorang mukmin tersakiti dengan perkara-perkara semacam ini. Dan sebaliknya, sebagian putra-putri Islam zaman sekarang, mereka tidak tidur kecuali sambil mendengar musik! Perhatikan bedanya, ada orang yang tersakiti dengan musik walaupun hanya terdengar dari jalan, namun rasanya seperti dicambuk di punggungnya, Maha Suci Allah! Yang ini manusia dan yang itu juga manusia! Bagaimana bisa demikian, yang ini tersakiti karena lantunan musik,dan yang itu hampir-hampir tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik? Inilah bedanya dan inilah buahnya, inilah buah dari ibadah,dan buah dari kesungguhan, dia tunduk dalam ketaatan kepada Allah, sehingga telinganya hanya tunduk kepada apa yang Allah ridhai. =========================================== هَذَا الْأَمْرُ لَا نَجَاةَ مِنْهُ إِلَّا بِلُزُومِ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَلَوَاتِ وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ بِمَا كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ مَعَ مُلَازَمَةِ الطَّاعَةِ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ الَّذِي يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ هُوَ أَعْظَمُ حَدِيثٍ فِي الْأَوْلِيَاءِ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ بَعْدَ وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ قَبْضِي نَفْسِ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ لَيْسَتْ فَتْوَى عَالِمٍ وَلَا اجْتِهَادَ إِمَامٍ وَإِنَّمَا كَلَامُ رَبِّكُمْ يُخَاطِبُنَا بِهِ وَهُوَ طَرِيقُ الثَّبَاتِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ بِالْفَرَائِضِ ثُمَّ الْمُسَارَعَةُ إِلَى النَّوَافِلِ حَتَّى تَحْصُلَ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ إِذَا أَحَبَّهُ اللهُ حَصَلَ الْخَيْرُ ثُمَّ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا . وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا . اِسْمَعْ! كَأَنَّ هَذَا الْعَبْدَ عُصِمَ مِنَ الذُّنُوبِ سَمْعُهُ مُنْقَادٌ لِطَاعَةِ اللهِ فَاشْمَئَزَّتْ نَفْسُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَتُقْبِلُ عَلَى الطَّاعَةِ وَلِهَذَا تَجِدُ بَعْضَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا مَوْجُودٌ لَرُبَّمَا يَتَحَمَّلُ السِّيَاطَ وَلَا يَتَحَمَّلُ الْمُوسِيقَى وَلَمَّا عَرَفَ بَعْضُ أَعْدَاءِ الْإِسْلَامِ هَذَا الْأَمْرَ كَادُوا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ بِهَذَا الْأَمْرِ لَمَّا دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بَاشَا هَذِهِ الْبِلَادَ وَقَاتَلَ الْأَئِمَّةَ وَكَانَ مِنْ مِمَّنْ أُسِرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ صَاحِبُ تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ أَنَّهُمْ لَمَّا قَبَضُوا عَلَى الشَّيْخِ أَتَوْا بِالْمَعَازِفِ عِنْدَ الشَّيْخِ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِهَا يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِالْمَعَازِفِ وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الضُّلَّالُ يَعْلَمُونَ تَأَذِّيَ الْمُؤْمِنِينَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ فِي مُقَابِلٍ بَعْضُ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ الْآنَ مَا يَنَامُ إِلَّا عَلَى الْمُوسِيقَى يَعْنِي انْظُرُوْا إِلَى الْفَرْقِ رَجُلٌ يَتَأَذَّى بِالْمُوسِيقَى وَلَوْ كَانَتْ فِي الطَّرِيقِ وَكَأَنَّهَا سِيَاطٌ فِي ظَهْرِهِ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا بَشَرٌ وَهَذَا بَشَرٌ كَيْفَ أَصْبَحَ يَعْنِي هَذِهِ يَتَأَذَّى بِمُوسِيقَى وَهَذَا لَا يَكَادُ يَنَامُ إِلَّا عَلَيْهَا؟ هَذَا الْفَرْقُ هَذِهِ الثَّمَرَةُ هَذِهِ ثَمَرَةُ الْعِبَادَةِ وَثَمَرَةُ الْجُهْدِ انْقَادَ لِطَاعَةِ اللهِ فَانْقَادَ سَمْعُهُ بِمَا يُرْضِيَ اللهَ

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”. =============== ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11 فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2 وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ  

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”. =============== ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11 فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2 وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ  
Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”. =============== ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11 فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2 وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ  


Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain. Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”. =============== ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11 فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2 وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ  

Bulughul Maram – Shalat: Lukisan di Arah Kiblat Saat Shalat, Baiknya Dihindari

Hati-hati dengan gambar atau lukisan di arah kiblat karena dapat mengganggu shalat kita.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat Daftar Isi tutup 1. Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat 1.1. Hadits #246 1.2. Hadits #247 1.2.1. Faedah hadits 1.2.2. Referensi: Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat Hadits #246 وَعَنْهُ قَالَ: كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلاَتِي». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aisyah mempunyai tirai yang digunakan untuk menutup samping rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Singkirkanlah tirai ini dari kita, karena sungguh gambar-gambar ini menggangguku ketika aku shalat.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 374]   Hadits #247 ـ وَاتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِهَا فِي قِصَّةِ أَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ، وَفِيهِ: «فَإنَّها ألْهَتْنِي عَنْ صَلاَتِي». Dari Al-Bukhari dan Muslim juga sepakat atas hadits ‘Aisyah tentang kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dari Abu Jahm. Dalam hadits tersebut disebutkan, “Sesungguhnya ia melalaikan shalatku.” [HR. Bukhari, no. 373 dan Muslim, no. 556]   Kosakata hadits: Qirom adalah kain tipis terbuat dari wol dengan berbagai warna. Abu Jahm di sini adalah ‘Ubaid atau ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, masuk Islam ketika Fathul Makkah. Kabah dibangun kembali sampai pada zamannya Ibnu Az-Zubair. Ia pun mendapati waktu pembangunan Kabah pada zamannya, begitu pula pada masa Jahiliyah. Ia termasuk pemuka Quraisy dan yang jadi rujukan dalam ilmu nasab. Ia meninggal dunia pada akhir khilafah Ibnu Az-Zubair. Kain anbijaniyyah adalah kain tebal yang tidak ada garis-garisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kain anbijaniyyah sebagai ganti dari kain yang dikembalikan oleh beliau. Awalnya, hati Abu Jahm hancur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hadiahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas meminta ganti dengan kain anbijaniyyah. Alasannya, karena kain yang diberi pertama melalaikan dalam shalat sehingga tidak khusyuk. Padahal beliau hanya terlalaikan dari sebagian shalat saja ketika sekali memandang garis-garis pada kain tadi.   Faedah hadits Hendaklah orang yang shalat menjauhkan segala hal yang melalaikan dari shalatnya. Yang membuat lalai di sini bisa jadi adalah ukiran, gambar, tulisan-tulisan, dan semacamnya. Shalat dituntut untuk khusyuk dengan menghadirkan hati dan menenangkan badan, lalu benar-benar menghadap Allah Ta’ala. Disunnahkan pada orang yang shalat untuk memandang tempat sujud, tidak melihat ke yang lainnya. Hal ini bukan berarti tidak boleh memakai pakaian bagus dalam shalat. Bahkan ayat Al-Qur’an memerintahkan kita untuk memakai pakaian yang bagus. Namun, jangan sampai pakaian bagus ini sebagai ajang takabur atau hal larangan lainnya. Yang baiknya dihindari di arah kiblat adalah tulisan-tulisan seperti ayat Al-Qur’an, hiasan, jam dinding, dan gambar-gambar lainnya yang bisa melalaikan dari shalat. Karena arah kiblat adalah arah kita menghadap. Baiknya tidak memajang gambar manusia atau hewan pada dinding atau pintu karena ini tasyabbuh (menyerupai) kelakuan penyembah berhala. Bahkan memajang gambar (lebih-lebih orang saleh) dapat mengantarkan kepada penyembahan terhadapnya. Hal ini seperti pernah terjadi kepada kaum Nuh, Yahudi, dan Nasrani. Wallahu a’lam. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Tidak Boleh Memandang ke Atas Saat Shalat Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:449-452. — Senin pagi, 13 Safar 1443 H, 20 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk foto fotografi gambar hukum foto hukum gambar kiat shalat khusyuk pembatal shalat shalat khusyuk

Bulughul Maram – Shalat: Lukisan di Arah Kiblat Saat Shalat, Baiknya Dihindari

Hati-hati dengan gambar atau lukisan di arah kiblat karena dapat mengganggu shalat kita.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat Daftar Isi tutup 1. Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat 1.1. Hadits #246 1.2. Hadits #247 1.2.1. Faedah hadits 1.2.2. Referensi: Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat Hadits #246 وَعَنْهُ قَالَ: كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلاَتِي». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aisyah mempunyai tirai yang digunakan untuk menutup samping rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Singkirkanlah tirai ini dari kita, karena sungguh gambar-gambar ini menggangguku ketika aku shalat.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 374]   Hadits #247 ـ وَاتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِهَا فِي قِصَّةِ أَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ، وَفِيهِ: «فَإنَّها ألْهَتْنِي عَنْ صَلاَتِي». Dari Al-Bukhari dan Muslim juga sepakat atas hadits ‘Aisyah tentang kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dari Abu Jahm. Dalam hadits tersebut disebutkan, “Sesungguhnya ia melalaikan shalatku.” [HR. Bukhari, no. 373 dan Muslim, no. 556]   Kosakata hadits: Qirom adalah kain tipis terbuat dari wol dengan berbagai warna. Abu Jahm di sini adalah ‘Ubaid atau ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, masuk Islam ketika Fathul Makkah. Kabah dibangun kembali sampai pada zamannya Ibnu Az-Zubair. Ia pun mendapati waktu pembangunan Kabah pada zamannya, begitu pula pada masa Jahiliyah. Ia termasuk pemuka Quraisy dan yang jadi rujukan dalam ilmu nasab. Ia meninggal dunia pada akhir khilafah Ibnu Az-Zubair. Kain anbijaniyyah adalah kain tebal yang tidak ada garis-garisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kain anbijaniyyah sebagai ganti dari kain yang dikembalikan oleh beliau. Awalnya, hati Abu Jahm hancur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hadiahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas meminta ganti dengan kain anbijaniyyah. Alasannya, karena kain yang diberi pertama melalaikan dalam shalat sehingga tidak khusyuk. Padahal beliau hanya terlalaikan dari sebagian shalat saja ketika sekali memandang garis-garis pada kain tadi.   Faedah hadits Hendaklah orang yang shalat menjauhkan segala hal yang melalaikan dari shalatnya. Yang membuat lalai di sini bisa jadi adalah ukiran, gambar, tulisan-tulisan, dan semacamnya. Shalat dituntut untuk khusyuk dengan menghadirkan hati dan menenangkan badan, lalu benar-benar menghadap Allah Ta’ala. Disunnahkan pada orang yang shalat untuk memandang tempat sujud, tidak melihat ke yang lainnya. Hal ini bukan berarti tidak boleh memakai pakaian bagus dalam shalat. Bahkan ayat Al-Qur’an memerintahkan kita untuk memakai pakaian yang bagus. Namun, jangan sampai pakaian bagus ini sebagai ajang takabur atau hal larangan lainnya. Yang baiknya dihindari di arah kiblat adalah tulisan-tulisan seperti ayat Al-Qur’an, hiasan, jam dinding, dan gambar-gambar lainnya yang bisa melalaikan dari shalat. Karena arah kiblat adalah arah kita menghadap. Baiknya tidak memajang gambar manusia atau hewan pada dinding atau pintu karena ini tasyabbuh (menyerupai) kelakuan penyembah berhala. Bahkan memajang gambar (lebih-lebih orang saleh) dapat mengantarkan kepada penyembahan terhadapnya. Hal ini seperti pernah terjadi kepada kaum Nuh, Yahudi, dan Nasrani. Wallahu a’lam. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Tidak Boleh Memandang ke Atas Saat Shalat Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:449-452. — Senin pagi, 13 Safar 1443 H, 20 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk foto fotografi gambar hukum foto hukum gambar kiat shalat khusyuk pembatal shalat shalat khusyuk
Hati-hati dengan gambar atau lukisan di arah kiblat karena dapat mengganggu shalat kita.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat Daftar Isi tutup 1. Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat 1.1. Hadits #246 1.2. Hadits #247 1.2.1. Faedah hadits 1.2.2. Referensi: Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat Hadits #246 وَعَنْهُ قَالَ: كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلاَتِي». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aisyah mempunyai tirai yang digunakan untuk menutup samping rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Singkirkanlah tirai ini dari kita, karena sungguh gambar-gambar ini menggangguku ketika aku shalat.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 374]   Hadits #247 ـ وَاتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِهَا فِي قِصَّةِ أَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ، وَفِيهِ: «فَإنَّها ألْهَتْنِي عَنْ صَلاَتِي». Dari Al-Bukhari dan Muslim juga sepakat atas hadits ‘Aisyah tentang kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dari Abu Jahm. Dalam hadits tersebut disebutkan, “Sesungguhnya ia melalaikan shalatku.” [HR. Bukhari, no. 373 dan Muslim, no. 556]   Kosakata hadits: Qirom adalah kain tipis terbuat dari wol dengan berbagai warna. Abu Jahm di sini adalah ‘Ubaid atau ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, masuk Islam ketika Fathul Makkah. Kabah dibangun kembali sampai pada zamannya Ibnu Az-Zubair. Ia pun mendapati waktu pembangunan Kabah pada zamannya, begitu pula pada masa Jahiliyah. Ia termasuk pemuka Quraisy dan yang jadi rujukan dalam ilmu nasab. Ia meninggal dunia pada akhir khilafah Ibnu Az-Zubair. Kain anbijaniyyah adalah kain tebal yang tidak ada garis-garisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kain anbijaniyyah sebagai ganti dari kain yang dikembalikan oleh beliau. Awalnya, hati Abu Jahm hancur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hadiahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas meminta ganti dengan kain anbijaniyyah. Alasannya, karena kain yang diberi pertama melalaikan dalam shalat sehingga tidak khusyuk. Padahal beliau hanya terlalaikan dari sebagian shalat saja ketika sekali memandang garis-garis pada kain tadi.   Faedah hadits Hendaklah orang yang shalat menjauhkan segala hal yang melalaikan dari shalatnya. Yang membuat lalai di sini bisa jadi adalah ukiran, gambar, tulisan-tulisan, dan semacamnya. Shalat dituntut untuk khusyuk dengan menghadirkan hati dan menenangkan badan, lalu benar-benar menghadap Allah Ta’ala. Disunnahkan pada orang yang shalat untuk memandang tempat sujud, tidak melihat ke yang lainnya. Hal ini bukan berarti tidak boleh memakai pakaian bagus dalam shalat. Bahkan ayat Al-Qur’an memerintahkan kita untuk memakai pakaian yang bagus. Namun, jangan sampai pakaian bagus ini sebagai ajang takabur atau hal larangan lainnya. Yang baiknya dihindari di arah kiblat adalah tulisan-tulisan seperti ayat Al-Qur’an, hiasan, jam dinding, dan gambar-gambar lainnya yang bisa melalaikan dari shalat. Karena arah kiblat adalah arah kita menghadap. Baiknya tidak memajang gambar manusia atau hewan pada dinding atau pintu karena ini tasyabbuh (menyerupai) kelakuan penyembah berhala. Bahkan memajang gambar (lebih-lebih orang saleh) dapat mengantarkan kepada penyembahan terhadapnya. Hal ini seperti pernah terjadi kepada kaum Nuh, Yahudi, dan Nasrani. Wallahu a’lam. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Tidak Boleh Memandang ke Atas Saat Shalat Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:449-452. — Senin pagi, 13 Safar 1443 H, 20 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk foto fotografi gambar hukum foto hukum gambar kiat shalat khusyuk pembatal shalat shalat khusyuk


Hati-hati dengan gambar atau lukisan di arah kiblat karena dapat mengganggu shalat kita.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat Daftar Isi tutup 1. Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat 1.1. Hadits #246 1.2. Hadits #247 1.2.1. Faedah hadits 1.2.2. Referensi: Menjauhi Gambar yang Melalaikan Ketika Shalat Hadits #246 وَعَنْهُ قَالَ: كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلاَتِي». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aisyah mempunyai tirai yang digunakan untuk menutup samping rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Singkirkanlah tirai ini dari kita, karena sungguh gambar-gambar ini menggangguku ketika aku shalat.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 374]   Hadits #247 ـ وَاتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِهَا فِي قِصَّةِ أَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ، وَفِيهِ: «فَإنَّها ألْهَتْنِي عَنْ صَلاَتِي». Dari Al-Bukhari dan Muslim juga sepakat atas hadits ‘Aisyah tentang kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dari Abu Jahm. Dalam hadits tersebut disebutkan, “Sesungguhnya ia melalaikan shalatku.” [HR. Bukhari, no. 373 dan Muslim, no. 556]   Kosakata hadits: Qirom adalah kain tipis terbuat dari wol dengan berbagai warna. Abu Jahm di sini adalah ‘Ubaid atau ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, masuk Islam ketika Fathul Makkah. Kabah dibangun kembali sampai pada zamannya Ibnu Az-Zubair. Ia pun mendapati waktu pembangunan Kabah pada zamannya, begitu pula pada masa Jahiliyah. Ia termasuk pemuka Quraisy dan yang jadi rujukan dalam ilmu nasab. Ia meninggal dunia pada akhir khilafah Ibnu Az-Zubair. Kain anbijaniyyah adalah kain tebal yang tidak ada garis-garisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kain anbijaniyyah sebagai ganti dari kain yang dikembalikan oleh beliau. Awalnya, hati Abu Jahm hancur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hadiahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas meminta ganti dengan kain anbijaniyyah. Alasannya, karena kain yang diberi pertama melalaikan dalam shalat sehingga tidak khusyuk. Padahal beliau hanya terlalaikan dari sebagian shalat saja ketika sekali memandang garis-garis pada kain tadi.   Faedah hadits Hendaklah orang yang shalat menjauhkan segala hal yang melalaikan dari shalatnya. Yang membuat lalai di sini bisa jadi adalah ukiran, gambar, tulisan-tulisan, dan semacamnya. Shalat dituntut untuk khusyuk dengan menghadirkan hati dan menenangkan badan, lalu benar-benar menghadap Allah Ta’ala. Disunnahkan pada orang yang shalat untuk memandang tempat sujud, tidak melihat ke yang lainnya. Hal ini bukan berarti tidak boleh memakai pakaian bagus dalam shalat. Bahkan ayat Al-Qur’an memerintahkan kita untuk memakai pakaian yang bagus. Namun, jangan sampai pakaian bagus ini sebagai ajang takabur atau hal larangan lainnya. Yang baiknya dihindari di arah kiblat adalah tulisan-tulisan seperti ayat Al-Qur’an, hiasan, jam dinding, dan gambar-gambar lainnya yang bisa melalaikan dari shalat. Karena arah kiblat adalah arah kita menghadap. Baiknya tidak memajang gambar manusia atau hewan pada dinding atau pintu karena ini tasyabbuh (menyerupai) kelakuan penyembah berhala. Bahkan memajang gambar (lebih-lebih orang saleh) dapat mengantarkan kepada penyembahan terhadapnya. Hal ini seperti pernah terjadi kepada kaum Nuh, Yahudi, dan Nasrani. Wallahu a’lam. Baca Juga: Bulughul Maram – Shalat: Tidak Boleh Memandang ke Atas Saat Shalat Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:449-452. — Senin pagi, 13 Safar 1443 H, 20 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat khusyuk cara shalat khusyuk foto fotografi gambar hukum foto hukum gambar kiat shalat khusyuk pembatal shalat shalat khusyuk

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka. Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain. Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka. =========================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ  

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka. Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain. Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka. =========================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ  
Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka. Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain. Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka. =========================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ  


Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka. Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain. Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka. =========================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ  

Childfree dalam Pandangan Islam

Saudaraku yang semoga disayangi Allah Ta’ala. Sebelum Engkau memutuskan untuk melakukan “Childfree” yaitu memutuskan tidak punya anak dalam pernikahan, kami ajak Anda merenung. Salah satunya adalah renungkan kalimat berikut,“Kita tidak ada di dunia,  jika orang tua kita memutuskan childfree.”Ya, kalimat di atas untuk memberikan renungan bagi mereka yang memutuskan untuk melakukan childfree. Benar, salah satu dampak memutuskan childfree yaitu tidak mempunyai anak dalam pernikahan.Apabila kita berbicara masalah hak asasi dan hak memilih, memang benar, setiap orang berhak untuk memutuskan tidak punya anak, baik untuk sementara maupun selamanya dengan alasan apapun. Karena hidup itu adalah pilihan. Bahkan apabila ada orang memilih tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, kita tidak bisa memaksa mereka untuk beriman. Tidak ada paksaan dalam agama ini.Allah Ta’ala berfirman,لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)Akan tetapi, kita adalah muslim yang beriman, tentu kita berusaha menjalankan syariat Islam yang Allah Ta’ala turunkan dan Allah Ta’ala hanya ridha dengan agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ“Sesungguhnya agama yang diridai dan diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)Patut kita camkan bahwa Allah Ta’ala yang lebih mengetahui bagaimana cara manusia hidup berbahagia dengan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu semata. Konsep kehidupan selain dari konsep Islam yang Allah Ta’ala turunkan hanyalah membawa kepada kesengsaraan yang terlihat seolah-olah kebahagiaan. Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta sehingga Allah Ta’ala yang paling tahu konsep dan cara untuk berbahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ“Katakanlah, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?” (QS. Al-Baqarah: 140)Tentu saja konsep childfree ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, sangat banyak sekali poin-poinnya, di antaranya:Pertama, mempunyai anak adalah fitrah manusia dan kebahagiaan orang tua adalah memiliki anak. Betapa banyak pasangan mandul yang sampai saat ini berusaha memiliki anak. Mereka bahkan rela mengorbankan apa saja untuk berobat agar memiliki anak. Pasangan yang mandul ini tentu saja sedih hidup mereka belum dikarunai anak.Anak-anak adalah permata hati dan kebahagiaan bagi mereka yang masih berada dalah fitrah.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)Para Nabi ada yang belum dikaruniai anak sampai mereka berumur tua. seperti Nabi Ibrahim dan Zakaria ‘alaihimassalam. Mereka tentu sedih jika tidak mempunyai anak dan yang meneruskan generasi dan gen mereka di muka bumi. Mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai anak dan Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka.Perhatikan doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam berikut ini,وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَْفَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung.” (QS. Al-Anbiya’: 89-90)Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, memiliki anak dan mendidik dengan baik termasuk sunnah.عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban. Lihat Al-Irwa’ no. 1784)Ketiga, terlalu banyak dalil perintah agar kita memiliki dan memperbanyak keturunan.Salah satunya bahwa jumlah keturunan yang banyak adalah karunia. Sehingga Kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam diperingatkan tentang karunia mereka, yaitu jumlah yang banyak padahal dahulunya sedikit,وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ“Dan ingatlah di waktu dahulu kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al-A’raf: 86)Keempat, anak mendatangkan rizki dengan izin Allah Ta’ala.Yaitu dengan menjemput rizki dan tidak bermalas-malasan. Allah Ta’ala menyebut memberi rizki anak DAN baru kemudian orang tuanya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra’: 31)Kelima, anak-anak adalah harapan kita ketika sudah tua. Bisa jadi ketika kita tua renta kelak akan berpenyakitan seperti terkena stroke (semoga Allah Ta’ala menjaga kita). Dalam keadaan seperti ini, yang paling ikhlas merawat kita adalah anak-anak kita.Terlebih anak tersebut adalah anak yang shalih yang berusaha berbakti mencari ridha orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)Keenam, anak-anak adalah amal jariyah paling berharga yang akan mendoakan kita ketika kita sudah meninggal kelak. Anak-anaklah yang paling mengingat kita dan mendoakan kita di saat orang lain melupakan kita.Bisa jadi orang tua akan terkaget-kaget di akhirat, karena dia mendapat kedudukan tinggi. Dia bertanya-tanya, ternyata karena doa anak-anaknya, bukan orang lain.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga.” Maka ia pun bertanya, “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab, “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Katsir berkata, isnadnya shahih)Tentu masih banyak poin pembahasan lainnya.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.idArtikel www.muslim.or.id🔍 Gambar Hukum, Pelajaran Al Qur An, Tanda Tubuh Dihuni Jin, Apakah Sepupu Itu Mahram, Pesantren Bin Baz

Childfree dalam Pandangan Islam

Saudaraku yang semoga disayangi Allah Ta’ala. Sebelum Engkau memutuskan untuk melakukan “Childfree” yaitu memutuskan tidak punya anak dalam pernikahan, kami ajak Anda merenung. Salah satunya adalah renungkan kalimat berikut,“Kita tidak ada di dunia,  jika orang tua kita memutuskan childfree.”Ya, kalimat di atas untuk memberikan renungan bagi mereka yang memutuskan untuk melakukan childfree. Benar, salah satu dampak memutuskan childfree yaitu tidak mempunyai anak dalam pernikahan.Apabila kita berbicara masalah hak asasi dan hak memilih, memang benar, setiap orang berhak untuk memutuskan tidak punya anak, baik untuk sementara maupun selamanya dengan alasan apapun. Karena hidup itu adalah pilihan. Bahkan apabila ada orang memilih tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, kita tidak bisa memaksa mereka untuk beriman. Tidak ada paksaan dalam agama ini.Allah Ta’ala berfirman,لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)Akan tetapi, kita adalah muslim yang beriman, tentu kita berusaha menjalankan syariat Islam yang Allah Ta’ala turunkan dan Allah Ta’ala hanya ridha dengan agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ“Sesungguhnya agama yang diridai dan diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)Patut kita camkan bahwa Allah Ta’ala yang lebih mengetahui bagaimana cara manusia hidup berbahagia dengan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu semata. Konsep kehidupan selain dari konsep Islam yang Allah Ta’ala turunkan hanyalah membawa kepada kesengsaraan yang terlihat seolah-olah kebahagiaan. Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta sehingga Allah Ta’ala yang paling tahu konsep dan cara untuk berbahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ“Katakanlah, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?” (QS. Al-Baqarah: 140)Tentu saja konsep childfree ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, sangat banyak sekali poin-poinnya, di antaranya:Pertama, mempunyai anak adalah fitrah manusia dan kebahagiaan orang tua adalah memiliki anak. Betapa banyak pasangan mandul yang sampai saat ini berusaha memiliki anak. Mereka bahkan rela mengorbankan apa saja untuk berobat agar memiliki anak. Pasangan yang mandul ini tentu saja sedih hidup mereka belum dikarunai anak.Anak-anak adalah permata hati dan kebahagiaan bagi mereka yang masih berada dalah fitrah.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)Para Nabi ada yang belum dikaruniai anak sampai mereka berumur tua. seperti Nabi Ibrahim dan Zakaria ‘alaihimassalam. Mereka tentu sedih jika tidak mempunyai anak dan yang meneruskan generasi dan gen mereka di muka bumi. Mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai anak dan Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka.Perhatikan doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam berikut ini,وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَْفَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung.” (QS. Al-Anbiya’: 89-90)Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, memiliki anak dan mendidik dengan baik termasuk sunnah.عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban. Lihat Al-Irwa’ no. 1784)Ketiga, terlalu banyak dalil perintah agar kita memiliki dan memperbanyak keturunan.Salah satunya bahwa jumlah keturunan yang banyak adalah karunia. Sehingga Kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam diperingatkan tentang karunia mereka, yaitu jumlah yang banyak padahal dahulunya sedikit,وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ“Dan ingatlah di waktu dahulu kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al-A’raf: 86)Keempat, anak mendatangkan rizki dengan izin Allah Ta’ala.Yaitu dengan menjemput rizki dan tidak bermalas-malasan. Allah Ta’ala menyebut memberi rizki anak DAN baru kemudian orang tuanya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra’: 31)Kelima, anak-anak adalah harapan kita ketika sudah tua. Bisa jadi ketika kita tua renta kelak akan berpenyakitan seperti terkena stroke (semoga Allah Ta’ala menjaga kita). Dalam keadaan seperti ini, yang paling ikhlas merawat kita adalah anak-anak kita.Terlebih anak tersebut adalah anak yang shalih yang berusaha berbakti mencari ridha orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)Keenam, anak-anak adalah amal jariyah paling berharga yang akan mendoakan kita ketika kita sudah meninggal kelak. Anak-anaklah yang paling mengingat kita dan mendoakan kita di saat orang lain melupakan kita.Bisa jadi orang tua akan terkaget-kaget di akhirat, karena dia mendapat kedudukan tinggi. Dia bertanya-tanya, ternyata karena doa anak-anaknya, bukan orang lain.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga.” Maka ia pun bertanya, “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab, “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Katsir berkata, isnadnya shahih)Tentu masih banyak poin pembahasan lainnya.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.idArtikel www.muslim.or.id🔍 Gambar Hukum, Pelajaran Al Qur An, Tanda Tubuh Dihuni Jin, Apakah Sepupu Itu Mahram, Pesantren Bin Baz
Saudaraku yang semoga disayangi Allah Ta’ala. Sebelum Engkau memutuskan untuk melakukan “Childfree” yaitu memutuskan tidak punya anak dalam pernikahan, kami ajak Anda merenung. Salah satunya adalah renungkan kalimat berikut,“Kita tidak ada di dunia,  jika orang tua kita memutuskan childfree.”Ya, kalimat di atas untuk memberikan renungan bagi mereka yang memutuskan untuk melakukan childfree. Benar, salah satu dampak memutuskan childfree yaitu tidak mempunyai anak dalam pernikahan.Apabila kita berbicara masalah hak asasi dan hak memilih, memang benar, setiap orang berhak untuk memutuskan tidak punya anak, baik untuk sementara maupun selamanya dengan alasan apapun. Karena hidup itu adalah pilihan. Bahkan apabila ada orang memilih tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, kita tidak bisa memaksa mereka untuk beriman. Tidak ada paksaan dalam agama ini.Allah Ta’ala berfirman,لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)Akan tetapi, kita adalah muslim yang beriman, tentu kita berusaha menjalankan syariat Islam yang Allah Ta’ala turunkan dan Allah Ta’ala hanya ridha dengan agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ“Sesungguhnya agama yang diridai dan diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)Patut kita camkan bahwa Allah Ta’ala yang lebih mengetahui bagaimana cara manusia hidup berbahagia dengan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu semata. Konsep kehidupan selain dari konsep Islam yang Allah Ta’ala turunkan hanyalah membawa kepada kesengsaraan yang terlihat seolah-olah kebahagiaan. Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta sehingga Allah Ta’ala yang paling tahu konsep dan cara untuk berbahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ“Katakanlah, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?” (QS. Al-Baqarah: 140)Tentu saja konsep childfree ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, sangat banyak sekali poin-poinnya, di antaranya:Pertama, mempunyai anak adalah fitrah manusia dan kebahagiaan orang tua adalah memiliki anak. Betapa banyak pasangan mandul yang sampai saat ini berusaha memiliki anak. Mereka bahkan rela mengorbankan apa saja untuk berobat agar memiliki anak. Pasangan yang mandul ini tentu saja sedih hidup mereka belum dikarunai anak.Anak-anak adalah permata hati dan kebahagiaan bagi mereka yang masih berada dalah fitrah.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)Para Nabi ada yang belum dikaruniai anak sampai mereka berumur tua. seperti Nabi Ibrahim dan Zakaria ‘alaihimassalam. Mereka tentu sedih jika tidak mempunyai anak dan yang meneruskan generasi dan gen mereka di muka bumi. Mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai anak dan Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka.Perhatikan doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam berikut ini,وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَْفَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung.” (QS. Al-Anbiya’: 89-90)Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, memiliki anak dan mendidik dengan baik termasuk sunnah.عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban. Lihat Al-Irwa’ no. 1784)Ketiga, terlalu banyak dalil perintah agar kita memiliki dan memperbanyak keturunan.Salah satunya bahwa jumlah keturunan yang banyak adalah karunia. Sehingga Kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam diperingatkan tentang karunia mereka, yaitu jumlah yang banyak padahal dahulunya sedikit,وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ“Dan ingatlah di waktu dahulu kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al-A’raf: 86)Keempat, anak mendatangkan rizki dengan izin Allah Ta’ala.Yaitu dengan menjemput rizki dan tidak bermalas-malasan. Allah Ta’ala menyebut memberi rizki anak DAN baru kemudian orang tuanya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra’: 31)Kelima, anak-anak adalah harapan kita ketika sudah tua. Bisa jadi ketika kita tua renta kelak akan berpenyakitan seperti terkena stroke (semoga Allah Ta’ala menjaga kita). Dalam keadaan seperti ini, yang paling ikhlas merawat kita adalah anak-anak kita.Terlebih anak tersebut adalah anak yang shalih yang berusaha berbakti mencari ridha orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)Keenam, anak-anak adalah amal jariyah paling berharga yang akan mendoakan kita ketika kita sudah meninggal kelak. Anak-anaklah yang paling mengingat kita dan mendoakan kita di saat orang lain melupakan kita.Bisa jadi orang tua akan terkaget-kaget di akhirat, karena dia mendapat kedudukan tinggi. Dia bertanya-tanya, ternyata karena doa anak-anaknya, bukan orang lain.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga.” Maka ia pun bertanya, “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab, “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Katsir berkata, isnadnya shahih)Tentu masih banyak poin pembahasan lainnya.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.idArtikel www.muslim.or.id🔍 Gambar Hukum, Pelajaran Al Qur An, Tanda Tubuh Dihuni Jin, Apakah Sepupu Itu Mahram, Pesantren Bin Baz


Saudaraku yang semoga disayangi Allah Ta’ala. Sebelum Engkau memutuskan untuk melakukan “Childfree” yaitu memutuskan tidak punya anak dalam pernikahan, kami ajak Anda merenung. Salah satunya adalah renungkan kalimat berikut,“Kita tidak ada di dunia,  jika orang tua kita memutuskan childfree.”Ya, kalimat di atas untuk memberikan renungan bagi mereka yang memutuskan untuk melakukan childfree. Benar, salah satu dampak memutuskan childfree yaitu tidak mempunyai anak dalam pernikahan.Apabila kita berbicara masalah hak asasi dan hak memilih, memang benar, setiap orang berhak untuk memutuskan tidak punya anak, baik untuk sementara maupun selamanya dengan alasan apapun. Karena hidup itu adalah pilihan. Bahkan apabila ada orang memilih tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, kita tidak bisa memaksa mereka untuk beriman. Tidak ada paksaan dalam agama ini.Allah Ta’ala berfirman,لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)Akan tetapi, kita adalah muslim yang beriman, tentu kita berusaha menjalankan syariat Islam yang Allah Ta’ala turunkan dan Allah Ta’ala hanya ridha dengan agama Islam.Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ“Sesungguhnya agama yang diridai dan diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)Patut kita camkan bahwa Allah Ta’ala yang lebih mengetahui bagaimana cara manusia hidup berbahagia dengan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu semata. Konsep kehidupan selain dari konsep Islam yang Allah Ta’ala turunkan hanyalah membawa kepada kesengsaraan yang terlihat seolah-olah kebahagiaan. Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta sehingga Allah Ta’ala yang paling tahu konsep dan cara untuk berbahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ“Katakanlah, “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?” (QS. Al-Baqarah: 140)Tentu saja konsep childfree ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, sangat banyak sekali poin-poinnya, di antaranya:Pertama, mempunyai anak adalah fitrah manusia dan kebahagiaan orang tua adalah memiliki anak. Betapa banyak pasangan mandul yang sampai saat ini berusaha memiliki anak. Mereka bahkan rela mengorbankan apa saja untuk berobat agar memiliki anak. Pasangan yang mandul ini tentu saja sedih hidup mereka belum dikarunai anak.Anak-anak adalah permata hati dan kebahagiaan bagi mereka yang masih berada dalah fitrah.Allah Ta’ala berfirman,زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)Para Nabi ada yang belum dikaruniai anak sampai mereka berumur tua. seperti Nabi Ibrahim dan Zakaria ‘alaihimassalam. Mereka tentu sedih jika tidak mempunyai anak dan yang meneruskan generasi dan gen mereka di muka bumi. Mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai anak dan Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka.Perhatikan doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam berikut ini,وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَْفَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung.” (QS. Al-Anbiya’: 89-90)Baca Juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik AnakKedua, memiliki anak dan mendidik dengan baik termasuk sunnah.عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِAnas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban. Lihat Al-Irwa’ no. 1784)Ketiga, terlalu banyak dalil perintah agar kita memiliki dan memperbanyak keturunan.Salah satunya bahwa jumlah keturunan yang banyak adalah karunia. Sehingga Kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam diperingatkan tentang karunia mereka, yaitu jumlah yang banyak padahal dahulunya sedikit,وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ“Dan ingatlah di waktu dahulu kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al-A’raf: 86)Keempat, anak mendatangkan rizki dengan izin Allah Ta’ala.Yaitu dengan menjemput rizki dan tidak bermalas-malasan. Allah Ta’ala menyebut memberi rizki anak DAN baru kemudian orang tuanya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra’: 31)Kelima, anak-anak adalah harapan kita ketika sudah tua. Bisa jadi ketika kita tua renta kelak akan berpenyakitan seperti terkena stroke (semoga Allah Ta’ala menjaga kita). Dalam keadaan seperti ini, yang paling ikhlas merawat kita adalah anak-anak kita.Terlebih anak tersebut adalah anak yang shalih yang berusaha berbakti mencari ridha orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)Keenam, anak-anak adalah amal jariyah paling berharga yang akan mendoakan kita ketika kita sudah meninggal kelak. Anak-anaklah yang paling mengingat kita dan mendoakan kita di saat orang lain melupakan kita.Bisa jadi orang tua akan terkaget-kaget di akhirat, karena dia mendapat kedudukan tinggi. Dia bertanya-tanya, ternyata karena doa anak-anaknya, bukan orang lain.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga.” Maka ia pun bertanya, “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab, “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Katsir berkata, isnadnya shahih)Tentu masih banyak poin pembahasan lainnya.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.idArtikel www.muslim.or.id🔍 Gambar Hukum, Pelajaran Al Qur An, Tanda Tubuh Dihuni Jin, Apakah Sepupu Itu Mahram, Pesantren Bin Baz

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.” Dan Shalat Fardhu adalah ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Shalat Fardhu merupakan ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah ibadah yang paling mulia, yaitu tauhid. Shalat Fardhu adalah rukun Islam yang paling mulia setelah tauhid. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran adalah membacanya ketika mendirikan Shalat Fardhu. Dan waktu yang paling baik untuk mendengarkan al-Quran adalah ketika Shalat Fardhu, saat imam membacanya. Dan waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran ada di waktu tersebut. Dan catatlah faedah berharga dari Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, beliau berkata, “Dan keutamaan yang ada …” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” Orang lainnya, yaitu selain orang yang shalat. Dan katakan juga demikian bahwa keutamaan bagi orang yang mendengar al-Quran mencakup orang yang mendengarnya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya. Juga keutamaan dalam mentadabburi al-Quran mencakup orang yang mentadabburinya saat shalat, melebihi cakupannya pada orang lain. Ketika kita memiliki kelemahan dalam memahami perkara yang seperti ini, maka kamu mendapati beberapa makmum yang jika imam sedikit memperpanjang bacaannya, ia akan mengeluh. Lalu setelah ia bertasbih sehabis shalatnya, ia membuka mushaf al-Quran dan membacanya, masya Allah! Membacanya berlembar-lembar, padahal bacaan al-Quran dalam shalat lebih baik. ======================= مَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِتَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَقُولُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَالصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ أَجَلِّ الْقُرَبِ الَّتِي هِيَ التَّوْحِيدُ فَالْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ التَّوْحِيْدِ وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدٌ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ َبُّ إِلَى اللهِ مِمَّا افْتَرَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ فَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قِرَاءَتُهُ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ تَسْتَمِعُ لِلْقُرْآنِ أَنْ تَسْتَمِعَ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ عِنْدَمَا يَتْلُو الْإِمَامُ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ هُوَ هَذَا الْوَقْتُ وَقَيِّدُوا هَذِهِ الْفَائِدَةَ الثَّمِينَةَ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ غَيْرَ الْمُصَلِّي أَيْضًا قُلْ مِثْلَ هَذَا مَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ لَّمَا كَانَ عِنْدَنَا خَلَلٌ فِي فَهْمِ مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا طَوَّلَ الْإِمَامُ فِي الْقِرَاءَةِ قَلِيلًا تَضَجَّرَ ثُمَّ بَعْدَ أَنْ يُسَبِّحَ هُوَ مِنْ صَلَاتِهِ يَفْتَحُ الْمُصْحَفَ وَيَقْرَأُ مَا شَاءَ اللهُ يَقْرَأُ صَفَحَاتٍ مَعَ أَنَّ مَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.” Dan Shalat Fardhu adalah ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Shalat Fardhu merupakan ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah ibadah yang paling mulia, yaitu tauhid. Shalat Fardhu adalah rukun Islam yang paling mulia setelah tauhid. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran adalah membacanya ketika mendirikan Shalat Fardhu. Dan waktu yang paling baik untuk mendengarkan al-Quran adalah ketika Shalat Fardhu, saat imam membacanya. Dan waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran ada di waktu tersebut. Dan catatlah faedah berharga dari Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, beliau berkata, “Dan keutamaan yang ada …” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” Orang lainnya, yaitu selain orang yang shalat. Dan katakan juga demikian bahwa keutamaan bagi orang yang mendengar al-Quran mencakup orang yang mendengarnya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya. Juga keutamaan dalam mentadabburi al-Quran mencakup orang yang mentadabburinya saat shalat, melebihi cakupannya pada orang lain. Ketika kita memiliki kelemahan dalam memahami perkara yang seperti ini, maka kamu mendapati beberapa makmum yang jika imam sedikit memperpanjang bacaannya, ia akan mengeluh. Lalu setelah ia bertasbih sehabis shalatnya, ia membuka mushaf al-Quran dan membacanya, masya Allah! Membacanya berlembar-lembar, padahal bacaan al-Quran dalam shalat lebih baik. ======================= مَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِتَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَقُولُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَالصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ أَجَلِّ الْقُرَبِ الَّتِي هِيَ التَّوْحِيدُ فَالْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ التَّوْحِيْدِ وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدٌ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ َبُّ إِلَى اللهِ مِمَّا افْتَرَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ فَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قِرَاءَتُهُ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ تَسْتَمِعُ لِلْقُرْآنِ أَنْ تَسْتَمِعَ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ عِنْدَمَا يَتْلُو الْإِمَامُ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ هُوَ هَذَا الْوَقْتُ وَقَيِّدُوا هَذِهِ الْفَائِدَةَ الثَّمِينَةَ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ غَيْرَ الْمُصَلِّي أَيْضًا قُلْ مِثْلَ هَذَا مَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ لَّمَا كَانَ عِنْدَنَا خَلَلٌ فِي فَهْمِ مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا طَوَّلَ الْإِمَامُ فِي الْقِرَاءَةِ قَلِيلًا تَضَجَّرَ ثُمَّ بَعْدَ أَنْ يُسَبِّحَ هُوَ مِنْ صَلَاتِهِ يَفْتَحُ الْمُصْحَفَ وَيَقْرَأُ مَا شَاءَ اللهُ يَقْرَأُ صَفَحَاتٍ مَعَ أَنَّ مَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ
Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.” Dan Shalat Fardhu adalah ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Shalat Fardhu merupakan ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah ibadah yang paling mulia, yaitu tauhid. Shalat Fardhu adalah rukun Islam yang paling mulia setelah tauhid. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran adalah membacanya ketika mendirikan Shalat Fardhu. Dan waktu yang paling baik untuk mendengarkan al-Quran adalah ketika Shalat Fardhu, saat imam membacanya. Dan waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran ada di waktu tersebut. Dan catatlah faedah berharga dari Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, beliau berkata, “Dan keutamaan yang ada …” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” Orang lainnya, yaitu selain orang yang shalat. Dan katakan juga demikian bahwa keutamaan bagi orang yang mendengar al-Quran mencakup orang yang mendengarnya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya. Juga keutamaan dalam mentadabburi al-Quran mencakup orang yang mentadabburinya saat shalat, melebihi cakupannya pada orang lain. Ketika kita memiliki kelemahan dalam memahami perkara yang seperti ini, maka kamu mendapati beberapa makmum yang jika imam sedikit memperpanjang bacaannya, ia akan mengeluh. Lalu setelah ia bertasbih sehabis shalatnya, ia membuka mushaf al-Quran dan membacanya, masya Allah! Membacanya berlembar-lembar, padahal bacaan al-Quran dalam shalat lebih baik. ======================= مَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِتَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَقُولُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَالصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ أَجَلِّ الْقُرَبِ الَّتِي هِيَ التَّوْحِيدُ فَالْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ التَّوْحِيْدِ وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدٌ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ َبُّ إِلَى اللهِ مِمَّا افْتَرَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ فَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قِرَاءَتُهُ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ تَسْتَمِعُ لِلْقُرْآنِ أَنْ تَسْتَمِعَ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ عِنْدَمَا يَتْلُو الْإِمَامُ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ هُوَ هَذَا الْوَقْتُ وَقَيِّدُوا هَذِهِ الْفَائِدَةَ الثَّمِينَةَ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ غَيْرَ الْمُصَلِّي أَيْضًا قُلْ مِثْلَ هَذَا مَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ لَّمَا كَانَ عِنْدَنَا خَلَلٌ فِي فَهْمِ مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا طَوَّلَ الْإِمَامُ فِي الْقِرَاءَةِ قَلِيلًا تَضَجَّرَ ثُمَّ بَعْدَ أَنْ يُسَبِّحَ هُوَ مِنْ صَلَاتِهِ يَفْتَحُ الْمُصْحَفَ وَيَقْرَأُ مَا شَاءَ اللهُ يَقْرَأُ صَفَحَاتٍ مَعَ أَنَّ مَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ


Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.” Dan Shalat Fardhu adalah ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Shalat Fardhu merupakan ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah ibadah yang paling mulia, yaitu tauhid. Shalat Fardhu adalah rukun Islam yang paling mulia setelah tauhid. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran adalah membacanya ketika mendirikan Shalat Fardhu. Dan waktu yang paling baik untuk mendengarkan al-Quran adalah ketika Shalat Fardhu, saat imam membacanya. Dan waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran ada di waktu tersebut. Dan catatlah faedah berharga dari Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, beliau berkata, “Dan keutamaan yang ada …” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” Orang lainnya, yaitu selain orang yang shalat. Dan katakan juga demikian bahwa keutamaan bagi orang yang mendengar al-Quran mencakup orang yang mendengarnya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya. Juga keutamaan dalam mentadabburi al-Quran mencakup orang yang mentadabburinya saat shalat, melebihi cakupannya pada orang lain. Ketika kita memiliki kelemahan dalam memahami perkara yang seperti ini, maka kamu mendapati beberapa makmum yang jika imam sedikit memperpanjang bacaannya, ia akan mengeluh. Lalu setelah ia bertasbih sehabis shalatnya, ia membuka mushaf al-Quran dan membacanya, masya Allah! Membacanya berlembar-lembar, padahal bacaan al-Quran dalam shalat lebih baik. ======================= مَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِتَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَقُولُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَالصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ أَجَلِّ الْقُرَبِ الَّتِي هِيَ التَّوْحِيدُ فَالْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ التَّوْحِيْدِ وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدٌ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ َبُّ إِلَى اللهِ مِمَّا افْتَرَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ فَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قِرَاءَتُهُ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ تَسْتَمِعُ لِلْقُرْآنِ أَنْ تَسْتَمِعَ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ عِنْدَمَا يَتْلُو الْإِمَامُ وَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ هُوَ هَذَا الْوَقْتُ وَقَيِّدُوا هَذِهِ الْفَائِدَةَ الثَّمِينَةَ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُولُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ غَيْرَ الْمُصَلِّي أَيْضًا قُلْ مِثْلَ هَذَا مَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ لَّمَا كَانَ عِنْدَنَا خَلَلٌ فِي فَهْمِ مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا طَوَّلَ الْإِمَامُ فِي الْقِرَاءَةِ قَلِيلًا تَضَجَّرَ ثُمَّ بَعْدَ أَنْ يُسَبِّحَ هُوَ مِنْ صَلَاتِهِ يَفْتَحُ الْمُصْحَفَ وَيَقْرَأُ مَا شَاءَ اللهُ يَقْرَأُ صَفَحَاتٍ مَعَ أَنَّ مَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ

Siap Ditinggal & Meninggalkan Orang yang Dicintai – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Siap Ditinggal & Meninggalkan Orang yang Dicintai – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Siap Ditinggal & Meninggalkan Orang yang Dicintai – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Siap Ditinggal & Meninggalkan Orang yang Dicintai – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/
Siap Ditinggal & Meninggalkan Orang yang Dicintai – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/


Siap Ditinggal & Meninggalkan Orang yang Dicintai – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Fatwa Ulama: Hukum Rekreasi Ke Tempat Peribadatan Kaum Musyrikin

Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al BarrakSoal:Saya bercerita kepada sahabat saya tentang keadaan para pemuda yang mereka masuk ke tempat-tempat peribadatan orang Budha. Dan pengurus tempat peribadatan tersebut meminta mereka untuk menjaga tempat ibadah tersebut dan meminta uang dari mereka untuk berhala. Saya menceritakan demikian semata-mata mengingatkan tentang apa yang terjadi di tengah para pemuda kita. Lalu dia mengatakan, “jika saya dalam posisi mereka, saya tetap akan memberikan uang masuk tersebut sehingga mereka tidak memerangi saya“. Lalu saya pun terheran, dan saya katakan kepadanya, “apakah engkau ingin berbuat syirik kepada Allah?“. Ia lalu menjawab, “ini karena keadaan terpaksa dan karena darah seorang muslim itu tidak ringan, apakah ingin diperangi gara-gara tidak memberi 1/4 real?“. Lalu saya sampaikan kepadanya hadits tentang orang yang memberikan kurban seekor lalat kepada selain Allah, ia malah menyanggah, “apakah kamu ingin mengkafirkan saya?“.Salah satu teman saya yang lain juga mengatakan bahwa ia pernah masuk ke tempat peribadatan orang Budha dan dikenai biaya masuk dengan jumlah tertentu. Apa pendapat anda wahai Syaikh mengenai hal ini dan bagaimana membantah mereka?Jawab:Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah.ِ Amma ba’du.Tempat peribadatan orang kafir tidak terlepas dari pemandangan-pemandangan yang merupakan praktek kesyirikan, baik berupa perkataan, perbuatan, dan simbol-simbol seperti gambar-gambar syirik dan juga patung berhala. Maka tidak boleh masuk ke sana dalam rangka sekedar melihat-lihat dan jalan-jalan. Karena semua ini termasuk az zuur yang disebutkan dalam firman Allah:وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً“(hamba Ar Rahman yang sejati adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur. Jika mereka menemuinya, mereka melewatinya dengan wibawa dan mulia” (QS. Al Furqan: 72).Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ“maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan az zuur. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. Al Hajj: 30-31).Bagaimana mungkin seorang Muslim jiwanya menjadi rileks/senang dengan memasuki tempat-tempat seperti ini yang di dalamnya terdapat orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan berbuat syirik kepada Allah dan merendahkan Allah. Bagaimana mungkin ia tidak marah karena Allah? Atau marah karena belum sanggup untuk mengubah dan mengingkari kemungkaran tersebut? Dan telah maklum bahwa orang-orang yang masuk ke tempat tersebut untuk rekreasi mereka tidak ada gairah untuk berdakwah dan mengingkari kemungkaran. Bahkan mereka bersikap dingin saja. Lemah sekali rasa berlepas diri mereka terhadap kaum Musyrikin dan kesyirikan. Dan mereka tidak menjadikan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya sebagai teladan mereka. Allah Ta’ala berfirman:قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُر ءَآؤاْ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”” (QS. Al Mumtahanah: 4).Dan para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat di gereja Nasrani. Jumhur ulama berpendapat hukumnya tidak sah shalat di sana. Sebagian ulama ada yang membolehkan dengan syarat tidak ada gambar-gambar. Namun secara umum gereja itu tidak lepas dari adanya gambar-gambar orang-orang yang mereka agungkan dan gambar sesembahan-sesembahan mereka yang disalib dan yang lainnya.Maka wajib bagi seorang Muslim untuk bertaqwa kepada Allah dan mencukupkan diri untuk melakukan rekreasi dan jalan-jalan pada perkara-perkara yang Allah bolehkan. Itu sangat cukup dan banyak sehingga kita tidak butuh pada sarana rekreasi yang haram. Inilah yang membedakan seorang Muslim dengan pemeluk agama lain dan ini juga akan semakin mengokohkan predikat Islam pada dirinya.Demikian, semoga shalawat senantiasa terlimpah atas Nabi kita Muhammad serta keluarganya.Baca Juga: My Trip, My Adventure? Fatwa Ulama: Hukum Mengunjungi Gua Hira Dan Tempat Bersejarah Lainnya Ketika Haji ***Sumber: ar.islamway.netPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.d🔍 Siksa Kubur Dalam Al Quran, Budak Menurut Islam, Rukun Shalat Dan Bacaannya, Hadis Anak Soleh, Hukum Memotong Kuku Sebelum Idul Adha

Fatwa Ulama: Hukum Rekreasi Ke Tempat Peribadatan Kaum Musyrikin

Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al BarrakSoal:Saya bercerita kepada sahabat saya tentang keadaan para pemuda yang mereka masuk ke tempat-tempat peribadatan orang Budha. Dan pengurus tempat peribadatan tersebut meminta mereka untuk menjaga tempat ibadah tersebut dan meminta uang dari mereka untuk berhala. Saya menceritakan demikian semata-mata mengingatkan tentang apa yang terjadi di tengah para pemuda kita. Lalu dia mengatakan, “jika saya dalam posisi mereka, saya tetap akan memberikan uang masuk tersebut sehingga mereka tidak memerangi saya“. Lalu saya pun terheran, dan saya katakan kepadanya, “apakah engkau ingin berbuat syirik kepada Allah?“. Ia lalu menjawab, “ini karena keadaan terpaksa dan karena darah seorang muslim itu tidak ringan, apakah ingin diperangi gara-gara tidak memberi 1/4 real?“. Lalu saya sampaikan kepadanya hadits tentang orang yang memberikan kurban seekor lalat kepada selain Allah, ia malah menyanggah, “apakah kamu ingin mengkafirkan saya?“.Salah satu teman saya yang lain juga mengatakan bahwa ia pernah masuk ke tempat peribadatan orang Budha dan dikenai biaya masuk dengan jumlah tertentu. Apa pendapat anda wahai Syaikh mengenai hal ini dan bagaimana membantah mereka?Jawab:Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah.ِ Amma ba’du.Tempat peribadatan orang kafir tidak terlepas dari pemandangan-pemandangan yang merupakan praktek kesyirikan, baik berupa perkataan, perbuatan, dan simbol-simbol seperti gambar-gambar syirik dan juga patung berhala. Maka tidak boleh masuk ke sana dalam rangka sekedar melihat-lihat dan jalan-jalan. Karena semua ini termasuk az zuur yang disebutkan dalam firman Allah:وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً“(hamba Ar Rahman yang sejati adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur. Jika mereka menemuinya, mereka melewatinya dengan wibawa dan mulia” (QS. Al Furqan: 72).Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ“maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan az zuur. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. Al Hajj: 30-31).Bagaimana mungkin seorang Muslim jiwanya menjadi rileks/senang dengan memasuki tempat-tempat seperti ini yang di dalamnya terdapat orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan berbuat syirik kepada Allah dan merendahkan Allah. Bagaimana mungkin ia tidak marah karena Allah? Atau marah karena belum sanggup untuk mengubah dan mengingkari kemungkaran tersebut? Dan telah maklum bahwa orang-orang yang masuk ke tempat tersebut untuk rekreasi mereka tidak ada gairah untuk berdakwah dan mengingkari kemungkaran. Bahkan mereka bersikap dingin saja. Lemah sekali rasa berlepas diri mereka terhadap kaum Musyrikin dan kesyirikan. Dan mereka tidak menjadikan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya sebagai teladan mereka. Allah Ta’ala berfirman:قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُر ءَآؤاْ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”” (QS. Al Mumtahanah: 4).Dan para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat di gereja Nasrani. Jumhur ulama berpendapat hukumnya tidak sah shalat di sana. Sebagian ulama ada yang membolehkan dengan syarat tidak ada gambar-gambar. Namun secara umum gereja itu tidak lepas dari adanya gambar-gambar orang-orang yang mereka agungkan dan gambar sesembahan-sesembahan mereka yang disalib dan yang lainnya.Maka wajib bagi seorang Muslim untuk bertaqwa kepada Allah dan mencukupkan diri untuk melakukan rekreasi dan jalan-jalan pada perkara-perkara yang Allah bolehkan. Itu sangat cukup dan banyak sehingga kita tidak butuh pada sarana rekreasi yang haram. Inilah yang membedakan seorang Muslim dengan pemeluk agama lain dan ini juga akan semakin mengokohkan predikat Islam pada dirinya.Demikian, semoga shalawat senantiasa terlimpah atas Nabi kita Muhammad serta keluarganya.Baca Juga: My Trip, My Adventure? Fatwa Ulama: Hukum Mengunjungi Gua Hira Dan Tempat Bersejarah Lainnya Ketika Haji ***Sumber: ar.islamway.netPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.d🔍 Siksa Kubur Dalam Al Quran, Budak Menurut Islam, Rukun Shalat Dan Bacaannya, Hadis Anak Soleh, Hukum Memotong Kuku Sebelum Idul Adha
Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al BarrakSoal:Saya bercerita kepada sahabat saya tentang keadaan para pemuda yang mereka masuk ke tempat-tempat peribadatan orang Budha. Dan pengurus tempat peribadatan tersebut meminta mereka untuk menjaga tempat ibadah tersebut dan meminta uang dari mereka untuk berhala. Saya menceritakan demikian semata-mata mengingatkan tentang apa yang terjadi di tengah para pemuda kita. Lalu dia mengatakan, “jika saya dalam posisi mereka, saya tetap akan memberikan uang masuk tersebut sehingga mereka tidak memerangi saya“. Lalu saya pun terheran, dan saya katakan kepadanya, “apakah engkau ingin berbuat syirik kepada Allah?“. Ia lalu menjawab, “ini karena keadaan terpaksa dan karena darah seorang muslim itu tidak ringan, apakah ingin diperangi gara-gara tidak memberi 1/4 real?“. Lalu saya sampaikan kepadanya hadits tentang orang yang memberikan kurban seekor lalat kepada selain Allah, ia malah menyanggah, “apakah kamu ingin mengkafirkan saya?“.Salah satu teman saya yang lain juga mengatakan bahwa ia pernah masuk ke tempat peribadatan orang Budha dan dikenai biaya masuk dengan jumlah tertentu. Apa pendapat anda wahai Syaikh mengenai hal ini dan bagaimana membantah mereka?Jawab:Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah.ِ Amma ba’du.Tempat peribadatan orang kafir tidak terlepas dari pemandangan-pemandangan yang merupakan praktek kesyirikan, baik berupa perkataan, perbuatan, dan simbol-simbol seperti gambar-gambar syirik dan juga patung berhala. Maka tidak boleh masuk ke sana dalam rangka sekedar melihat-lihat dan jalan-jalan. Karena semua ini termasuk az zuur yang disebutkan dalam firman Allah:وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً“(hamba Ar Rahman yang sejati adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur. Jika mereka menemuinya, mereka melewatinya dengan wibawa dan mulia” (QS. Al Furqan: 72).Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ“maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan az zuur. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. Al Hajj: 30-31).Bagaimana mungkin seorang Muslim jiwanya menjadi rileks/senang dengan memasuki tempat-tempat seperti ini yang di dalamnya terdapat orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan berbuat syirik kepada Allah dan merendahkan Allah. Bagaimana mungkin ia tidak marah karena Allah? Atau marah karena belum sanggup untuk mengubah dan mengingkari kemungkaran tersebut? Dan telah maklum bahwa orang-orang yang masuk ke tempat tersebut untuk rekreasi mereka tidak ada gairah untuk berdakwah dan mengingkari kemungkaran. Bahkan mereka bersikap dingin saja. Lemah sekali rasa berlepas diri mereka terhadap kaum Musyrikin dan kesyirikan. Dan mereka tidak menjadikan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya sebagai teladan mereka. Allah Ta’ala berfirman:قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُر ءَآؤاْ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”” (QS. Al Mumtahanah: 4).Dan para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat di gereja Nasrani. Jumhur ulama berpendapat hukumnya tidak sah shalat di sana. Sebagian ulama ada yang membolehkan dengan syarat tidak ada gambar-gambar. Namun secara umum gereja itu tidak lepas dari adanya gambar-gambar orang-orang yang mereka agungkan dan gambar sesembahan-sesembahan mereka yang disalib dan yang lainnya.Maka wajib bagi seorang Muslim untuk bertaqwa kepada Allah dan mencukupkan diri untuk melakukan rekreasi dan jalan-jalan pada perkara-perkara yang Allah bolehkan. Itu sangat cukup dan banyak sehingga kita tidak butuh pada sarana rekreasi yang haram. Inilah yang membedakan seorang Muslim dengan pemeluk agama lain dan ini juga akan semakin mengokohkan predikat Islam pada dirinya.Demikian, semoga shalawat senantiasa terlimpah atas Nabi kita Muhammad serta keluarganya.Baca Juga: My Trip, My Adventure? Fatwa Ulama: Hukum Mengunjungi Gua Hira Dan Tempat Bersejarah Lainnya Ketika Haji ***Sumber: ar.islamway.netPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.d🔍 Siksa Kubur Dalam Al Quran, Budak Menurut Islam, Rukun Shalat Dan Bacaannya, Hadis Anak Soleh, Hukum Memotong Kuku Sebelum Idul Adha


Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al BarrakSoal:Saya bercerita kepada sahabat saya tentang keadaan para pemuda yang mereka masuk ke tempat-tempat peribadatan orang Budha. Dan pengurus tempat peribadatan tersebut meminta mereka untuk menjaga tempat ibadah tersebut dan meminta uang dari mereka untuk berhala. Saya menceritakan demikian semata-mata mengingatkan tentang apa yang terjadi di tengah para pemuda kita. Lalu dia mengatakan, “jika saya dalam posisi mereka, saya tetap akan memberikan uang masuk tersebut sehingga mereka tidak memerangi saya“. Lalu saya pun terheran, dan saya katakan kepadanya, “apakah engkau ingin berbuat syirik kepada Allah?“. Ia lalu menjawab, “ini karena keadaan terpaksa dan karena darah seorang muslim itu tidak ringan, apakah ingin diperangi gara-gara tidak memberi 1/4 real?“. Lalu saya sampaikan kepadanya hadits tentang orang yang memberikan kurban seekor lalat kepada selain Allah, ia malah menyanggah, “apakah kamu ingin mengkafirkan saya?“.Salah satu teman saya yang lain juga mengatakan bahwa ia pernah masuk ke tempat peribadatan orang Budha dan dikenai biaya masuk dengan jumlah tertentu. Apa pendapat anda wahai Syaikh mengenai hal ini dan bagaimana membantah mereka?Jawab:Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah.ِ Amma ba’du.Tempat peribadatan orang kafir tidak terlepas dari pemandangan-pemandangan yang merupakan praktek kesyirikan, baik berupa perkataan, perbuatan, dan simbol-simbol seperti gambar-gambar syirik dan juga patung berhala. Maka tidak boleh masuk ke sana dalam rangka sekedar melihat-lihat dan jalan-jalan. Karena semua ini termasuk az zuur yang disebutkan dalam firman Allah:وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً“(hamba Ar Rahman yang sejati adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur. Jika mereka menemuinya, mereka melewatinya dengan wibawa dan mulia” (QS. Al Furqan: 72).Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ“maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan az zuur. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. Al Hajj: 30-31).Bagaimana mungkin seorang Muslim jiwanya menjadi rileks/senang dengan memasuki tempat-tempat seperti ini yang di dalamnya terdapat orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan berbuat syirik kepada Allah dan merendahkan Allah. Bagaimana mungkin ia tidak marah karena Allah? Atau marah karena belum sanggup untuk mengubah dan mengingkari kemungkaran tersebut? Dan telah maklum bahwa orang-orang yang masuk ke tempat tersebut untuk rekreasi mereka tidak ada gairah untuk berdakwah dan mengingkari kemungkaran. Bahkan mereka bersikap dingin saja. Lemah sekali rasa berlepas diri mereka terhadap kaum Musyrikin dan kesyirikan. Dan mereka tidak menjadikan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya sebagai teladan mereka. Allah Ta’ala berfirman:قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُر ءَآؤاْ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”” (QS. Al Mumtahanah: 4).Dan para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat di gereja Nasrani. Jumhur ulama berpendapat hukumnya tidak sah shalat di sana. Sebagian ulama ada yang membolehkan dengan syarat tidak ada gambar-gambar. Namun secara umum gereja itu tidak lepas dari adanya gambar-gambar orang-orang yang mereka agungkan dan gambar sesembahan-sesembahan mereka yang disalib dan yang lainnya.Maka wajib bagi seorang Muslim untuk bertaqwa kepada Allah dan mencukupkan diri untuk melakukan rekreasi dan jalan-jalan pada perkara-perkara yang Allah bolehkan. Itu sangat cukup dan banyak sehingga kita tidak butuh pada sarana rekreasi yang haram. Inilah yang membedakan seorang Muslim dengan pemeluk agama lain dan ini juga akan semakin mengokohkan predikat Islam pada dirinya.Demikian, semoga shalawat senantiasa terlimpah atas Nabi kita Muhammad serta keluarganya.Baca Juga: My Trip, My Adventure? Fatwa Ulama: Hukum Mengunjungi Gua Hira Dan Tempat Bersejarah Lainnya Ketika Haji ***Sumber: ar.islamway.netPenerjemah: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.d🔍 Siksa Kubur Dalam Al Quran, Budak Menurut Islam, Rukun Shalat Dan Bacaannya, Hadis Anak Soleh, Hukum Memotong Kuku Sebelum Idul Adha

Hukum Menepati Janji

Sebagian orang sangat mudah membuat janji, namun mudah pula menyelisihi janji yang dibuatnya dan tidak mau berusaha menepati janjinya. Tindakan semacam ini termasuk dosa lisan, dan merupakan salah satu tanda kemunafikan. Berikut kami akan coba jelaskan hukum menepati janji.Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan diksi “ayat” (tanda). Dalam bahasa Arab, “ayat” adalah tanda yang tidak mungkin meleset, berbeda dengan “alamat” (yang juga memiliki makna “tanda” dalam bahasa Indonesia) yang bisa jadi meleset. Sehingga dapat dipahami dari hadits di atas, bahwa siapa saja yang memiliki tiga karakter di atas, maka bisa dipastikan bahwa terdapat cabang kemunafikan dalam dirinya. Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ“Terdapat empat perkara yang jika semuanya ada pada diri seseorang, maka jadilah dia orang munafik tulen (maksudnya, akan mengantarkan kepada nifak akbar, pen.). Dan jika ada pada dirinya salah satunya, maka dia memiliki sifat kemunafikan, sampai dia meninggalkannya, (yaitu): (1) jika berbicara, dia berdusta; (2) jika membuat perjanjian, dia melanggarnya; (3) jika membuat janji (untuk berbuat baik kepada orang lain, pen.), dia menyelisihi janjinya; dan (4) jika bertengkar (berdebat), dia melampaui batas.” (HR. Bukhari no. 34 dan Muslim no. 59, lafadz hadits ini milik Bukhari)Terdapat dua kondisi dalam diri seseorang yang melanggar (menyelisihi) janji, yaitu:Pertama, membuat janji untuk berbuat baik kepada orang lain (misalnya memberi hadiah), akan tetapi ketika membuat janji, dia sudah berniat dan bertekad untuk tidak memenuhi janji tersebut, dan secara riil memang dia tidak memenuhi janji yang sudah dibuat. Ini adalah perbuatan menyelisihi janji yang paling jelek.Ke dua, ketika membuat janji tidak ada niat untuk tidak memenuhi janji tersebut. Dia memiliki tekad untuk memenuhi janjinya. Namun ketika tiba hari H, dia tiba-tiba tidak memenuhi janjinya tersebut tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Dua perbuatan ini termasuk dalam perbuatan menyelisihi janji atau tidak menepati (memenuhi) janji yang telah dibuat.Baca Juga: Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarDalam masalah hukum menepati janji atau hukum menyelisihi janji, ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.Pendapat pertama yaitu pendapat jumhur ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum memenuhi janji yang itu murni berbuat baik kepada orang lain adalah sunnah (mustahab) dan tidak wajib. Janji yang murni berbuat baik kepada orang lain misalnya seseorang berjanji jika dia mendapatkan bonus gaji, dia akan mentraktir makan bakso temannya. Maka menurut jumhur ulama, janji semacam ini hukumnya sunnah untuk dipenuhi, tidak sampai derajat wajib.Pendapat ke dua adalah pendapat Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa hukum memenuhi janji itu wajib jika janji tersebut menyebabkan orang lain sudah melakukan suatu tindakan tertentu, dan jika janji tersebut tidak dipenuhi, maka orang tersebut akan menderita kerugian atau mengalami kesusahan.Misalnya, ada seorang pemuda bujangan yang ingin menikah namun tidak memiliki dana untuk melangsungkan pernikahan. Lalu seseorang berjanji kepada pemuda tersebut bahwa dia lah yang akan menanggung mahar dan biaya pernikahannya. Dengan janji tersebut, sang pemuda melamar wanita yang hendak dinikahinya. Janji seperti inilah yang dalam madzhab Imam Malik rahimahullah wajib untuk ditunaikan dan haram diselisihi karena akan menimbulkan kesusahan bagi orang lain.Pendapat ke tiga mengatakan bahwa memenuhi janji hukumnya wajib secara mutlak dan menyelisihi janji hukumnya haram. Dan wallahu a’lam, pendapat ke tiga inilah yang paling kuat karena menyelishi janji adalah tanda kemunafikan, sehingga tidak mungkin kita katakan bahwa hukum menyelisihi janji itu tidak sampai derajat haram. Dan juga, menyelisihi janji disamakan dengan berkata dusta, sedangkan dusta (bohong) itu haram, sehingga tidak mungkin kalau menyelisihi janji itu tidak haram (sebatas makruh saja, misalnya). Sehingga yang lebih tepat, menyelisihi janji itu hukumnya haram dan sebaliknya, hukum memenuhi janji adalah wajib.Oleh karena itu, karena hukum menepati janji adalah wajib, dan menyelisihinya adalah haram, maka sudah seharusnya seorang muslim berhati-hati dalam membuat janji. Seorang muslim tidak akan bermudah-mudah mengobral janji kemudian melupakan dan menyelisihi janjinya sendiri.[Selesai]Baca Juga: Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan Wajibnya Bai’at Kepada Ulil Amri ***@Jogjakarta, 10 Syawwal 1440/14 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.IdCatatan kaki:Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 97-98 dengan tambahan penjelasan dari guru kami, Ustadz Aris Munandari hafidzahullahu Ta’ala ketika menjelaskan bab tersebut.🔍 Qadha Shalat, Contoh Ilmu Fardhu Ain, Rukyah Adalah, Gambar Tentang Ilmu, Cerahkan Nurani Dengan Saling Menasehati

Hukum Menepati Janji

Sebagian orang sangat mudah membuat janji, namun mudah pula menyelisihi janji yang dibuatnya dan tidak mau berusaha menepati janjinya. Tindakan semacam ini termasuk dosa lisan, dan merupakan salah satu tanda kemunafikan. Berikut kami akan coba jelaskan hukum menepati janji.Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan diksi “ayat” (tanda). Dalam bahasa Arab, “ayat” adalah tanda yang tidak mungkin meleset, berbeda dengan “alamat” (yang juga memiliki makna “tanda” dalam bahasa Indonesia) yang bisa jadi meleset. Sehingga dapat dipahami dari hadits di atas, bahwa siapa saja yang memiliki tiga karakter di atas, maka bisa dipastikan bahwa terdapat cabang kemunafikan dalam dirinya. Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ“Terdapat empat perkara yang jika semuanya ada pada diri seseorang, maka jadilah dia orang munafik tulen (maksudnya, akan mengantarkan kepada nifak akbar, pen.). Dan jika ada pada dirinya salah satunya, maka dia memiliki sifat kemunafikan, sampai dia meninggalkannya, (yaitu): (1) jika berbicara, dia berdusta; (2) jika membuat perjanjian, dia melanggarnya; (3) jika membuat janji (untuk berbuat baik kepada orang lain, pen.), dia menyelisihi janjinya; dan (4) jika bertengkar (berdebat), dia melampaui batas.” (HR. Bukhari no. 34 dan Muslim no. 59, lafadz hadits ini milik Bukhari)Terdapat dua kondisi dalam diri seseorang yang melanggar (menyelisihi) janji, yaitu:Pertama, membuat janji untuk berbuat baik kepada orang lain (misalnya memberi hadiah), akan tetapi ketika membuat janji, dia sudah berniat dan bertekad untuk tidak memenuhi janji tersebut, dan secara riil memang dia tidak memenuhi janji yang sudah dibuat. Ini adalah perbuatan menyelisihi janji yang paling jelek.Ke dua, ketika membuat janji tidak ada niat untuk tidak memenuhi janji tersebut. Dia memiliki tekad untuk memenuhi janjinya. Namun ketika tiba hari H, dia tiba-tiba tidak memenuhi janjinya tersebut tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Dua perbuatan ini termasuk dalam perbuatan menyelisihi janji atau tidak menepati (memenuhi) janji yang telah dibuat.Baca Juga: Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarDalam masalah hukum menepati janji atau hukum menyelisihi janji, ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.Pendapat pertama yaitu pendapat jumhur ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum memenuhi janji yang itu murni berbuat baik kepada orang lain adalah sunnah (mustahab) dan tidak wajib. Janji yang murni berbuat baik kepada orang lain misalnya seseorang berjanji jika dia mendapatkan bonus gaji, dia akan mentraktir makan bakso temannya. Maka menurut jumhur ulama, janji semacam ini hukumnya sunnah untuk dipenuhi, tidak sampai derajat wajib.Pendapat ke dua adalah pendapat Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa hukum memenuhi janji itu wajib jika janji tersebut menyebabkan orang lain sudah melakukan suatu tindakan tertentu, dan jika janji tersebut tidak dipenuhi, maka orang tersebut akan menderita kerugian atau mengalami kesusahan.Misalnya, ada seorang pemuda bujangan yang ingin menikah namun tidak memiliki dana untuk melangsungkan pernikahan. Lalu seseorang berjanji kepada pemuda tersebut bahwa dia lah yang akan menanggung mahar dan biaya pernikahannya. Dengan janji tersebut, sang pemuda melamar wanita yang hendak dinikahinya. Janji seperti inilah yang dalam madzhab Imam Malik rahimahullah wajib untuk ditunaikan dan haram diselisihi karena akan menimbulkan kesusahan bagi orang lain.Pendapat ke tiga mengatakan bahwa memenuhi janji hukumnya wajib secara mutlak dan menyelisihi janji hukumnya haram. Dan wallahu a’lam, pendapat ke tiga inilah yang paling kuat karena menyelishi janji adalah tanda kemunafikan, sehingga tidak mungkin kita katakan bahwa hukum menyelisihi janji itu tidak sampai derajat haram. Dan juga, menyelisihi janji disamakan dengan berkata dusta, sedangkan dusta (bohong) itu haram, sehingga tidak mungkin kalau menyelisihi janji itu tidak haram (sebatas makruh saja, misalnya). Sehingga yang lebih tepat, menyelisihi janji itu hukumnya haram dan sebaliknya, hukum memenuhi janji adalah wajib.Oleh karena itu, karena hukum menepati janji adalah wajib, dan menyelisihinya adalah haram, maka sudah seharusnya seorang muslim berhati-hati dalam membuat janji. Seorang muslim tidak akan bermudah-mudah mengobral janji kemudian melupakan dan menyelisihi janjinya sendiri.[Selesai]Baca Juga: Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan Wajibnya Bai’at Kepada Ulil Amri ***@Jogjakarta, 10 Syawwal 1440/14 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.IdCatatan kaki:Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 97-98 dengan tambahan penjelasan dari guru kami, Ustadz Aris Munandari hafidzahullahu Ta’ala ketika menjelaskan bab tersebut.🔍 Qadha Shalat, Contoh Ilmu Fardhu Ain, Rukyah Adalah, Gambar Tentang Ilmu, Cerahkan Nurani Dengan Saling Menasehati
Sebagian orang sangat mudah membuat janji, namun mudah pula menyelisihi janji yang dibuatnya dan tidak mau berusaha menepati janjinya. Tindakan semacam ini termasuk dosa lisan, dan merupakan salah satu tanda kemunafikan. Berikut kami akan coba jelaskan hukum menepati janji.Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan diksi “ayat” (tanda). Dalam bahasa Arab, “ayat” adalah tanda yang tidak mungkin meleset, berbeda dengan “alamat” (yang juga memiliki makna “tanda” dalam bahasa Indonesia) yang bisa jadi meleset. Sehingga dapat dipahami dari hadits di atas, bahwa siapa saja yang memiliki tiga karakter di atas, maka bisa dipastikan bahwa terdapat cabang kemunafikan dalam dirinya. Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ“Terdapat empat perkara yang jika semuanya ada pada diri seseorang, maka jadilah dia orang munafik tulen (maksudnya, akan mengantarkan kepada nifak akbar, pen.). Dan jika ada pada dirinya salah satunya, maka dia memiliki sifat kemunafikan, sampai dia meninggalkannya, (yaitu): (1) jika berbicara, dia berdusta; (2) jika membuat perjanjian, dia melanggarnya; (3) jika membuat janji (untuk berbuat baik kepada orang lain, pen.), dia menyelisihi janjinya; dan (4) jika bertengkar (berdebat), dia melampaui batas.” (HR. Bukhari no. 34 dan Muslim no. 59, lafadz hadits ini milik Bukhari)Terdapat dua kondisi dalam diri seseorang yang melanggar (menyelisihi) janji, yaitu:Pertama, membuat janji untuk berbuat baik kepada orang lain (misalnya memberi hadiah), akan tetapi ketika membuat janji, dia sudah berniat dan bertekad untuk tidak memenuhi janji tersebut, dan secara riil memang dia tidak memenuhi janji yang sudah dibuat. Ini adalah perbuatan menyelisihi janji yang paling jelek.Ke dua, ketika membuat janji tidak ada niat untuk tidak memenuhi janji tersebut. Dia memiliki tekad untuk memenuhi janjinya. Namun ketika tiba hari H, dia tiba-tiba tidak memenuhi janjinya tersebut tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Dua perbuatan ini termasuk dalam perbuatan menyelisihi janji atau tidak menepati (memenuhi) janji yang telah dibuat.Baca Juga: Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarDalam masalah hukum menepati janji atau hukum menyelisihi janji, ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.Pendapat pertama yaitu pendapat jumhur ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum memenuhi janji yang itu murni berbuat baik kepada orang lain adalah sunnah (mustahab) dan tidak wajib. Janji yang murni berbuat baik kepada orang lain misalnya seseorang berjanji jika dia mendapatkan bonus gaji, dia akan mentraktir makan bakso temannya. Maka menurut jumhur ulama, janji semacam ini hukumnya sunnah untuk dipenuhi, tidak sampai derajat wajib.Pendapat ke dua adalah pendapat Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa hukum memenuhi janji itu wajib jika janji tersebut menyebabkan orang lain sudah melakukan suatu tindakan tertentu, dan jika janji tersebut tidak dipenuhi, maka orang tersebut akan menderita kerugian atau mengalami kesusahan.Misalnya, ada seorang pemuda bujangan yang ingin menikah namun tidak memiliki dana untuk melangsungkan pernikahan. Lalu seseorang berjanji kepada pemuda tersebut bahwa dia lah yang akan menanggung mahar dan biaya pernikahannya. Dengan janji tersebut, sang pemuda melamar wanita yang hendak dinikahinya. Janji seperti inilah yang dalam madzhab Imam Malik rahimahullah wajib untuk ditunaikan dan haram diselisihi karena akan menimbulkan kesusahan bagi orang lain.Pendapat ke tiga mengatakan bahwa memenuhi janji hukumnya wajib secara mutlak dan menyelisihi janji hukumnya haram. Dan wallahu a’lam, pendapat ke tiga inilah yang paling kuat karena menyelishi janji adalah tanda kemunafikan, sehingga tidak mungkin kita katakan bahwa hukum menyelisihi janji itu tidak sampai derajat haram. Dan juga, menyelisihi janji disamakan dengan berkata dusta, sedangkan dusta (bohong) itu haram, sehingga tidak mungkin kalau menyelisihi janji itu tidak haram (sebatas makruh saja, misalnya). Sehingga yang lebih tepat, menyelisihi janji itu hukumnya haram dan sebaliknya, hukum memenuhi janji adalah wajib.Oleh karena itu, karena hukum menepati janji adalah wajib, dan menyelisihinya adalah haram, maka sudah seharusnya seorang muslim berhati-hati dalam membuat janji. Seorang muslim tidak akan bermudah-mudah mengobral janji kemudian melupakan dan menyelisihi janjinya sendiri.[Selesai]Baca Juga: Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan Wajibnya Bai’at Kepada Ulil Amri ***@Jogjakarta, 10 Syawwal 1440/14 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.IdCatatan kaki:Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 97-98 dengan tambahan penjelasan dari guru kami, Ustadz Aris Munandari hafidzahullahu Ta’ala ketika menjelaskan bab tersebut.🔍 Qadha Shalat, Contoh Ilmu Fardhu Ain, Rukyah Adalah, Gambar Tentang Ilmu, Cerahkan Nurani Dengan Saling Menasehati


Sebagian orang sangat mudah membuat janji, namun mudah pula menyelisihi janji yang dibuatnya dan tidak mau berusaha menepati janjinya. Tindakan semacam ini termasuk dosa lisan, dan merupakan salah satu tanda kemunafikan. Berikut kami akan coba jelaskan hukum menepati janji.Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59)Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan diksi “ayat” (tanda). Dalam bahasa Arab, “ayat” adalah tanda yang tidak mungkin meleset, berbeda dengan “alamat” (yang juga memiliki makna “tanda” dalam bahasa Indonesia) yang bisa jadi meleset. Sehingga dapat dipahami dari hadits di atas, bahwa siapa saja yang memiliki tiga karakter di atas, maka bisa dipastikan bahwa terdapat cabang kemunafikan dalam dirinya. Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ“Terdapat empat perkara yang jika semuanya ada pada diri seseorang, maka jadilah dia orang munafik tulen (maksudnya, akan mengantarkan kepada nifak akbar, pen.). Dan jika ada pada dirinya salah satunya, maka dia memiliki sifat kemunafikan, sampai dia meninggalkannya, (yaitu): (1) jika berbicara, dia berdusta; (2) jika membuat perjanjian, dia melanggarnya; (3) jika membuat janji (untuk berbuat baik kepada orang lain, pen.), dia menyelisihi janjinya; dan (4) jika bertengkar (berdebat), dia melampaui batas.” (HR. Bukhari no. 34 dan Muslim no. 59, lafadz hadits ini milik Bukhari)Terdapat dua kondisi dalam diri seseorang yang melanggar (menyelisihi) janji, yaitu:Pertama, membuat janji untuk berbuat baik kepada orang lain (misalnya memberi hadiah), akan tetapi ketika membuat janji, dia sudah berniat dan bertekad untuk tidak memenuhi janji tersebut, dan secara riil memang dia tidak memenuhi janji yang sudah dibuat. Ini adalah perbuatan menyelisihi janji yang paling jelek.Ke dua, ketika membuat janji tidak ada niat untuk tidak memenuhi janji tersebut. Dia memiliki tekad untuk memenuhi janjinya. Namun ketika tiba hari H, dia tiba-tiba tidak memenuhi janjinya tersebut tanpa alasan yang bisa dibenarkan. Dua perbuatan ini termasuk dalam perbuatan menyelisihi janji atau tidak menepati (memenuhi) janji yang telah dibuat.Baca Juga: Pandemi: Kepastian Janji Allah dan Ujian bagi Orang-Orang SabarDalam masalah hukum menepati janji atau hukum menyelisihi janji, ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini.Pendapat pertama yaitu pendapat jumhur ulama. Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum memenuhi janji yang itu murni berbuat baik kepada orang lain adalah sunnah (mustahab) dan tidak wajib. Janji yang murni berbuat baik kepada orang lain misalnya seseorang berjanji jika dia mendapatkan bonus gaji, dia akan mentraktir makan bakso temannya. Maka menurut jumhur ulama, janji semacam ini hukumnya sunnah untuk dipenuhi, tidak sampai derajat wajib.Pendapat ke dua adalah pendapat Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa hukum memenuhi janji itu wajib jika janji tersebut menyebabkan orang lain sudah melakukan suatu tindakan tertentu, dan jika janji tersebut tidak dipenuhi, maka orang tersebut akan menderita kerugian atau mengalami kesusahan.Misalnya, ada seorang pemuda bujangan yang ingin menikah namun tidak memiliki dana untuk melangsungkan pernikahan. Lalu seseorang berjanji kepada pemuda tersebut bahwa dia lah yang akan menanggung mahar dan biaya pernikahannya. Dengan janji tersebut, sang pemuda melamar wanita yang hendak dinikahinya. Janji seperti inilah yang dalam madzhab Imam Malik rahimahullah wajib untuk ditunaikan dan haram diselisihi karena akan menimbulkan kesusahan bagi orang lain.Pendapat ke tiga mengatakan bahwa memenuhi janji hukumnya wajib secara mutlak dan menyelisihi janji hukumnya haram. Dan wallahu a’lam, pendapat ke tiga inilah yang paling kuat karena menyelishi janji adalah tanda kemunafikan, sehingga tidak mungkin kita katakan bahwa hukum menyelisihi janji itu tidak sampai derajat haram. Dan juga, menyelisihi janji disamakan dengan berkata dusta, sedangkan dusta (bohong) itu haram, sehingga tidak mungkin kalau menyelisihi janji itu tidak haram (sebatas makruh saja, misalnya). Sehingga yang lebih tepat, menyelisihi janji itu hukumnya haram dan sebaliknya, hukum memenuhi janji adalah wajib.Oleh karena itu, karena hukum menepati janji adalah wajib, dan menyelisihinya adalah haram, maka sudah seharusnya seorang muslim berhati-hati dalam membuat janji. Seorang muslim tidak akan bermudah-mudah mengobral janji kemudian melupakan dan menyelisihi janjinya sendiri.[Selesai]Baca Juga: Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan Wajibnya Bai’at Kepada Ulil Amri ***@Jogjakarta, 10 Syawwal 1440/14 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.IdCatatan kaki:Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 97-98 dengan tambahan penjelasan dari guru kami, Ustadz Aris Munandari hafidzahullahu Ta’ala ketika menjelaskan bab tersebut.🔍 Qadha Shalat, Contoh Ilmu Fardhu Ain, Rukyah Adalah, Gambar Tentang Ilmu, Cerahkan Nurani Dengan Saling Menasehati

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ
Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ


Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya. Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna. Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”. Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.” Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.” Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya. Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam: Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian. =================== تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ قَالَ اللهُ تَعَالَى اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْمُتَقَدِّمُ عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ وَالسِنَةُ النُّعَاسُ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ نَعَمْ

Rahasia Sayyidul Istighfar

Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346

Rahasia Sayyidul Istighfar

Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346
Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346


Rahasia Sayyidul IstighfarOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA. (Artikel dari Buku Syarah Kitabul Jami’)وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ اَلِاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ اَلْعَبْدُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت.َ  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ“Dari Syaddad Ibnu Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba membaca (artinya = Ya Allah Engkaulah Tuhanku tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau).” ([1])Sayyid artinya pemimpin atau yang terdepan. Hadits ini menunjukkan bahwa bentuk zikir istighfar itu banyak namun lafal inilah yang terbaik. Di antara lafal istighfar Di antaranya, Lafal,أَسْتَغْفِر ُاللهَLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِيLafal,رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اْلغَفُوْرُ، أو التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Tuhanku! Ampunilah aku dan berilah Tobat kepadaku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun, (atau) Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengasih”Dan lafal-lafal lainnya, maka hendaknya seseorang Perhatian dengan istighfar ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,اسْتِغْفارُ الإِنْسانِ أَهَمُّ مِنْ جَميعِ الأَدْعيَةِ“Istighfar seseorang lebih baik dari seluruh doa.” ([2])Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk beristighfar bagi umatnya. Allah ﷻ berfirman,فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” ([3])Demikian pula bagaimana para malaikat ketika mendoakan ampunan untuk kaum mukminin. Allah berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman.” ([4])Ini semua menunjukkan bahwasanya istighfar adalah doa yang agung. Bahkan dalam shalat banyak bacaan yang mengandung istighfar. Di antaranya pada doa istiftah,اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” ([5])Di dalam doa tersebut mengandung bentuk istighfar kepada Allah. Demikian pula dalam bacaan rukuk dan sujud,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku.” ([6])Di dalam doa duduk Di antara dua sujud,رَبِّ اغْفِرْ لِي“Ya Allah ampunilah aku.”Bahkan setelah shalat zikir-zikirnya juga dengan istighfar. Ini semua menunjukkan bahwa istighfar adalah zikir yang sangat agung. Hendaknya setiap muslim memperbanyak mengucapkan istighfar, sebagaimana Nabi juga memperbanyak istighfarnya. Nabi ﷺ juga bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” ([7])Di dalam hadits yang lain, Nabi mengatakan tentang keutamaan banyak beristighfar,طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا“Keberuntungan bagi seseorang yang menjumpai banyak istighfar di lembar catatan amalannya.” ([8])Di antara lafal istighfar yang sangat layak untuk diamalkan adalah sayyidul istighfar.خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ“Engkau yang telah menciptakan diriku aku hamba-Mu”. Kalimat ini adalah kalimat pengakuan dan penghambaan kepada Allah. Sebagian ulama semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah([9]) dan juga dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin([10]) mengatakan bahwa lafal وَأَنَا عَبْدُكَ bisa diganti وَأَنَا أَمَتُكَ jika yang mengucapkannya adalah perempuan.عَلَى عَهْدِكَ“di atas janji-Mu” yakni janji untuk beramal saleh dan meninggalkan maksiat.وَوَعْدِكَ“dan perjanjian-Mu” yakni Allah berjanji akan mengampuni hambanya yang bersalah.مَا اسْتَطَعْتُ“selama aku mampu” yakni janji taat tersebut sesuai kemampuan karena terkadang diri tersebut tidak mampu, terkadang dikuasai oleh hawa nafsu, atau terkadang terjerat oleh syubhat.أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ“aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat” yakni berlindung dari akibat dosa tersebut, karena dosa pasti ada akibatnya. Akibat dari dosa minimal akan membuat hati jadi keras, sebagian kebahagiaan dicabut, dan seterusnya. Sehingga sang hamba tersebut mengakui dosanya dan segera berlindung dari dosanya agar tidak menimpa dunia dan agamanya.أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ“aku mengaku kepada-Mu dengan nikmat yang Engkau berikan kepadaku.” Nikmat di sini mencakup semua jenis nikmat baik nikmat duniawi maupun nikmat agama berupa ketenteraman, keimanan, semangat beribadah, dan lain-lain.وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي“aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku”. Al-Khaththabi berkata,تَقُوْلُ الْعَرَبُ بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهًا لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ“Orang Arab jika berkata ba’a fulan bidzanbihi artinya dia memikul dosanya dalam kondisi tidak suka namun dia tidak mampu menolak dosa tersebut.” ([11])Dia tahu bahwa itu adalah dosa, dia tahu bahwa itu buruk, namun dia tidak mampu meninggalkannya. Tetapi dia mengakuinya, membencinya, dan mengadukannya kepada Allah. Setelah itu dia berdoa,فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ“maka ampunilah aku sebab tiada yang akan mengampuni dosa selain Engkau.” Dari keseluruhan lafal sayyidul istighfar ini, yang menjadi doa atau permintaan adalah pada lafal فَاغْفِرْ لِي, sedangkan lafal sebelumnya dan sesudahnya adalah bentuk tawasul agar doanya dikabulkan. Dia bertawasul dengan nama Allah, bertawasul dengan sifat Allah, dan bertawasul dengan kondisinya yang hina dan rendah di hadapan Allah. Inilah keistimewaan doa sayyidul istighfar yang mengumpulkan antara pengagungan Allah dan pengakuan hinanya sang hamba. Sehingga jika digabungkan antara pengagungan dan pengakuan akan menghasilkan doa yang mujarab.Lantas kapan doa ini dibaca? Jawabannya adalah boleh dibaca kapan saja, saat bersendirian, di dalam sujudnya, dan seterusnya. Namun disunahkan secara khusus untuk dibaca di saat pagi dan petang.Tawasul dalam BerdoaTawasul dalam berdoa adalah sesuatu yang disyariatkan dan bisa membuat doa mudah dikabulkan. Namun tawasul terbagi menjadi dua,Pertama, tawasul yang disyariatkan/dibolehkan Di antaranya tawasul dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah, seperti yang ada dalam sayyidul istighfar. Di antaranya bertawasul dengan kondisi hamba, juga sebagaimana dalam sayyidul istighfar atau seperti doa Nabi Zakariya u,قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاDia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” ([12])Di antara yang disyariatkan adalah tawasul dengan amal saleh. Seperti dalam hadits panjang tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu gua kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah ﷻ dengan menyebutkan amalan baik mereka.”فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَSalah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang yang lain pun berdoa, “Ya Allah, dahulu ada putri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua.قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ“Nabi ﷺ bersabda, lantas orang ketiga berdoa, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas gua yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. ([13])Di antara yang disyariatkan juga adalah tawasul dengan doa yang diharapkan dikabulkan doanya. Seperti dalam sebuah hadits, yang menggabungkan antara bentuk tawasul ini dan tawasul terhadap amal saleh. Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي  سَلْ ، فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِAku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)’.” ([14])Kedua, tawasul yang dilarangTawasul yang dilarang ada yang berupa tawasul syirik seperti meminta atau berdoa kepada mayat, ruh-ruh, jin, dan makhluk gaib lainnya. Di antara bentuk tawasul yang dilarang adalah tawasul yang bid’ah seperti bertawasul dengan kedudukan Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa tawasul dengan kedudukan Rasulullah itu bid’ah karena tidak ada hubungannya dengan kita, berbeda dengan tawasul dengan amalan saleh kita sendiri([15]). Footnote:____________([1]) HR. Bukhari, no. 6306([2]) Jami’ Al-Masail, 6/277([3]) QS. Muhammad: 19([4]) QS. Ghafir: 7([5]) HR. Bukhari no. 744, Muslim no. 598, An-Nasa’i no. 896, lafalnya adalah dari An-Nasa’i([6]) HR. Bukhari, no. 817 dan Muslim, no. 484([7]) HR. Muslim, no. 2702([8]) Sahih Al-Jami’, no. 3930([9]) Al-Fatawa Al-Kubra, 5/344([10]) Durus Li As-Syaikh Al-‘Utsaimin 9/6([11]) Ma’alim As-Sunan, 4/154([12]) QS. Maryam: 4-5.([13]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743([14]) HR. Muslim, no. 489([15]) Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Al-‘Utsaimin 2/346

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ
Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ


Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya. Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal. Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik. ================================================== قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟ فَمَا الجَوَابُ؟ الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ !أَحْسَنْتَ أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ
Prev     Next