Hadis: “Siapa Menyentuh Hajar Aswad, Ia Menyentuh Tangan Allah”

Hadis: “Siapa Menyentuh Hajar Aswad, Ia Menyentuh Tangan Allah” Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya mengenai hadits Ibnu Majah nomor 2957. Wahai Abu Muhammad, hadis apa yang sampai kepadamu tentang pojok hajar aswad ini? ‘Atha` mengatakan: Abu Hurairah menceritakan kepadaku bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menyentuhnya, maka sungguh ia menyentuh tangan Ar-Rahman.” Apakah hadits ini shahih ustadz? jazakallahu khayran Jawaban: Hadis tersebut memang benar diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah (no.2975) dengan lafadz, قالَ عطاءٌ حدَّثَني أبو هُرَيْرةَ أنَّهُ سمِعَ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ من فاوضَهُ فإنَّما يفاوضُ يدَ الرَّحمن “Atha’ berkata: Abu Hurairah menyampaikan hadis kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: siapa yang menyentuh hajar aswad, maka sesungguhnya ia menyentuh tangan Ar Rahman”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalan Ismail bin ‘Ayyasy, ia berkata: Humaid bin Abi Sawiyyah (yaitu Humaid bin Abi Suwaid) menyampaikan hadis kepadaku: aku mendengar Ibnu Hisyam bertanya kepada ‘Atha, dan seterusnya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (no.8400), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274). Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata tentang Humaid bin Abi Suwaid: منكر الحديث، وحميد بن أبي سويد هذا قد حدث عنه ابن عياش يعني هذه الأحاديث وكأنه قد أخذ عطاء بن أبي رباح قباله وهذه الأحاديث عن عطاء غير محفوظات الذي يرويها عنه “Ia munkarul hadis. Dan Humaid bin Abi Suwaid ini menyampaikan hadis kepada Ibnu ‘Ayyasy beberapa hadis yang seakan-akan diterima dari ‘Atha bin Abi Rabah padahal hadis-hadis tersebut tidak mahfuzh sebagaimana yang diriwayatkan dari Atha” (Al Kamil fid Dhu’afa, 3/79). Ismail bin Ayyash juga perawi yang dipermasalahkan riwayatnya jika meriwayatkan dari perawi yang selain Ahlus Syam. Al Hakim mengatakan: “Dhaif riwayatnya jika bukan dari penduduk Syam”. Al Bukhari berkata: “Jika ia meriwayatkan hadis dari penduduk Syam, maka shahih. Namun jika dari selainnya, maka perlu dicek lagi”. Waki’ bin Jarrah mengatakan: “Pengambilan hadisnya tercampur (mukhtalith)”. Dan Humaid bin Abi Suwaid dari Mekkah. Sehingga dalam riwayat ini Ibnu Ayyasy meriwayatkan bukan dari penduduk Syam. Dari keterangan ini jelaslah tentang kedhaifan riwayat di atas. Sebagaimana didhaifkan oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274), juga oleh Al Albani dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah (no.721). Terdapat riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: الْحَجَرُ يَمِينُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ يصافح به عباده “Al Hajarul Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para hamba-Nya”. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (1/557), dari jalan Ali bin Muhammad bin Hatim, ia berkata: Muhammad bin Ali Al Azdi menyampaikan hadis kepadaku: Ishaq bin Bisyr Abu Ma’syar Al Madyani menyampaikan hadis kepadaku: dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyat (no.944). Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Bisyr yang ia adalah perawi kadzab dan sering memalsukan hadis. Dengan demikian, riwayat ini juga tidak shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: إسناده لا يثبت ، والمشهور إنما هو عن ابن عباس “Sanad hadis ini tidak shahih, yang masyhur ini adalah perkataan dari Ibnu Abbas” (Majmu’ Al Fatawa, 6/397). Mengingat hadis ini bicara tentang perkara gaib dan tidak shahih dari Nabi, maka tidak perlu dilihat lagi. Oleh karena itu Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan: حديث باطل فلا يلتفت إليه “Hadis ini batil tidak perlu dilihat sama sekali” (dinukil dari Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Terlebih lagi, riwayat dari Ibnu ‘Abbas juga dha’if. Disebutkan Syarhus Sunnah, عنِ ابنِ عباسٍ قال: الرُّكنُ -يَعني الحَجَرَ- يَمينُ اللهِ في الأرضِ، يُصافِحُ بها خَلْقَه مُصافَحةَ الرَّجُلِ أخاه “Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rukun ini (yaitu rukun Hajar Aswad) adalah tangan kanan Allah di bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para makhluk-Nya sebagaimana manusia bersalaman dengan saudaranya”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth rahimahullah mengomentari riwayat ini: “Di dalamnya sanadnya terdapat Ibrahim bin Yazid Al Jauri, ia perawi yang matruk” (Takhrij Syarhus Sunnah, 7/114). Kita asumsikan riwayat ini shahih, karena sebagaimana dikatakan oleh Al Mundziri ketika mengomentari riwayat dari Abu Hurairah di atas: حسنه بعض مشايخنا “Dihasankan oleh sebagian Masyaikh kami” (At Targhib wat Tarhib, 2/186). Maka makna riwayat ini bukan berarti Allah ta’ala benar-benar bersalaman dengan makhluk-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Andaikan riwayat ini shahih, sudah jelas bahwa Hajar Aswad bukan benar-benar tangan kanan Allah. Karena yang disebutkan di dalam riwayat ini: يَمينُ اللهِ في الأرضِ “Tangan kanan Allah di muka bumi”. Lafadznya muqayyad (diberikan keterangan) dengan “di muka bumi”, tidak disebutkan secara mutlak. Dan hukum lafadz yang mutlak tentu berbeda dengan lafadz yang muqayyad. Dan kita ketahui bersama bahwa Allah ta’ala berada di langit. Dan dalam riwayat ini juga disebutkan: “siapa yang menyentuh dan mencium hajar aswad maka seakan-akan ia menyentuh dan mencium tangan kanan Allah”. Dan kita ketahui bersama bahwa al musyabbah (objek yang dianggap serupa) berbeda dengan al musyabbah bihi (objek yang diserupakan). Sehingga atsar ini jelas mengatakan bahwa menyentuh hajar aswad bukan berarti bersalaman dengan Allah langsung” (Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Namun ini jawaban bagi yang menganggap riwayatnya bisa diterima. Dan yang tepat, wallahu a’lam, riwayat ini tidak bisa diterima karena derajatnya dha’if (lemah) bahkan mungkar. Sehingga tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Perbedaan Mahram Dan Muhrim, Jumlah Rakaat Shalat Witir, Apakah Bank Itu Riba, Hukum Suap, Cara Sholat Ghoib, Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah Pdf Visited 802 times, 4 visit(s) today Post Views: 393 QRIS donasi Yufid

Hadis: “Siapa Menyentuh Hajar Aswad, Ia Menyentuh Tangan Allah”

Hadis: “Siapa Menyentuh Hajar Aswad, Ia Menyentuh Tangan Allah” Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya mengenai hadits Ibnu Majah nomor 2957. Wahai Abu Muhammad, hadis apa yang sampai kepadamu tentang pojok hajar aswad ini? ‘Atha` mengatakan: Abu Hurairah menceritakan kepadaku bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menyentuhnya, maka sungguh ia menyentuh tangan Ar-Rahman.” Apakah hadits ini shahih ustadz? jazakallahu khayran Jawaban: Hadis tersebut memang benar diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah (no.2975) dengan lafadz, قالَ عطاءٌ حدَّثَني أبو هُرَيْرةَ أنَّهُ سمِعَ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ من فاوضَهُ فإنَّما يفاوضُ يدَ الرَّحمن “Atha’ berkata: Abu Hurairah menyampaikan hadis kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: siapa yang menyentuh hajar aswad, maka sesungguhnya ia menyentuh tangan Ar Rahman”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalan Ismail bin ‘Ayyasy, ia berkata: Humaid bin Abi Sawiyyah (yaitu Humaid bin Abi Suwaid) menyampaikan hadis kepadaku: aku mendengar Ibnu Hisyam bertanya kepada ‘Atha, dan seterusnya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (no.8400), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274). Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata tentang Humaid bin Abi Suwaid: منكر الحديث، وحميد بن أبي سويد هذا قد حدث عنه ابن عياش يعني هذه الأحاديث وكأنه قد أخذ عطاء بن أبي رباح قباله وهذه الأحاديث عن عطاء غير محفوظات الذي يرويها عنه “Ia munkarul hadis. Dan Humaid bin Abi Suwaid ini menyampaikan hadis kepada Ibnu ‘Ayyasy beberapa hadis yang seakan-akan diterima dari ‘Atha bin Abi Rabah padahal hadis-hadis tersebut tidak mahfuzh sebagaimana yang diriwayatkan dari Atha” (Al Kamil fid Dhu’afa, 3/79). Ismail bin Ayyash juga perawi yang dipermasalahkan riwayatnya jika meriwayatkan dari perawi yang selain Ahlus Syam. Al Hakim mengatakan: “Dhaif riwayatnya jika bukan dari penduduk Syam”. Al Bukhari berkata: “Jika ia meriwayatkan hadis dari penduduk Syam, maka shahih. Namun jika dari selainnya, maka perlu dicek lagi”. Waki’ bin Jarrah mengatakan: “Pengambilan hadisnya tercampur (mukhtalith)”. Dan Humaid bin Abi Suwaid dari Mekkah. Sehingga dalam riwayat ini Ibnu Ayyasy meriwayatkan bukan dari penduduk Syam. Dari keterangan ini jelaslah tentang kedhaifan riwayat di atas. Sebagaimana didhaifkan oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274), juga oleh Al Albani dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah (no.721). Terdapat riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: الْحَجَرُ يَمِينُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ يصافح به عباده “Al Hajarul Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para hamba-Nya”. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (1/557), dari jalan Ali bin Muhammad bin Hatim, ia berkata: Muhammad bin Ali Al Azdi menyampaikan hadis kepadaku: Ishaq bin Bisyr Abu Ma’syar Al Madyani menyampaikan hadis kepadaku: dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyat (no.944). Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Bisyr yang ia adalah perawi kadzab dan sering memalsukan hadis. Dengan demikian, riwayat ini juga tidak shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: إسناده لا يثبت ، والمشهور إنما هو عن ابن عباس “Sanad hadis ini tidak shahih, yang masyhur ini adalah perkataan dari Ibnu Abbas” (Majmu’ Al Fatawa, 6/397). Mengingat hadis ini bicara tentang perkara gaib dan tidak shahih dari Nabi, maka tidak perlu dilihat lagi. Oleh karena itu Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan: حديث باطل فلا يلتفت إليه “Hadis ini batil tidak perlu dilihat sama sekali” (dinukil dari Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Terlebih lagi, riwayat dari Ibnu ‘Abbas juga dha’if. Disebutkan Syarhus Sunnah, عنِ ابنِ عباسٍ قال: الرُّكنُ -يَعني الحَجَرَ- يَمينُ اللهِ في الأرضِ، يُصافِحُ بها خَلْقَه مُصافَحةَ الرَّجُلِ أخاه “Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rukun ini (yaitu rukun Hajar Aswad) adalah tangan kanan Allah di bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para makhluk-Nya sebagaimana manusia bersalaman dengan saudaranya”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth rahimahullah mengomentari riwayat ini: “Di dalamnya sanadnya terdapat Ibrahim bin Yazid Al Jauri, ia perawi yang matruk” (Takhrij Syarhus Sunnah, 7/114). Kita asumsikan riwayat ini shahih, karena sebagaimana dikatakan oleh Al Mundziri ketika mengomentari riwayat dari Abu Hurairah di atas: حسنه بعض مشايخنا “Dihasankan oleh sebagian Masyaikh kami” (At Targhib wat Tarhib, 2/186). Maka makna riwayat ini bukan berarti Allah ta’ala benar-benar bersalaman dengan makhluk-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Andaikan riwayat ini shahih, sudah jelas bahwa Hajar Aswad bukan benar-benar tangan kanan Allah. Karena yang disebutkan di dalam riwayat ini: يَمينُ اللهِ في الأرضِ “Tangan kanan Allah di muka bumi”. Lafadznya muqayyad (diberikan keterangan) dengan “di muka bumi”, tidak disebutkan secara mutlak. Dan hukum lafadz yang mutlak tentu berbeda dengan lafadz yang muqayyad. Dan kita ketahui bersama bahwa Allah ta’ala berada di langit. Dan dalam riwayat ini juga disebutkan: “siapa yang menyentuh dan mencium hajar aswad maka seakan-akan ia menyentuh dan mencium tangan kanan Allah”. Dan kita ketahui bersama bahwa al musyabbah (objek yang dianggap serupa) berbeda dengan al musyabbah bihi (objek yang diserupakan). Sehingga atsar ini jelas mengatakan bahwa menyentuh hajar aswad bukan berarti bersalaman dengan Allah langsung” (Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Namun ini jawaban bagi yang menganggap riwayatnya bisa diterima. Dan yang tepat, wallahu a’lam, riwayat ini tidak bisa diterima karena derajatnya dha’if (lemah) bahkan mungkar. Sehingga tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Perbedaan Mahram Dan Muhrim, Jumlah Rakaat Shalat Witir, Apakah Bank Itu Riba, Hukum Suap, Cara Sholat Ghoib, Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah Pdf Visited 802 times, 4 visit(s) today Post Views: 393 QRIS donasi Yufid
Hadis: “Siapa Menyentuh Hajar Aswad, Ia Menyentuh Tangan Allah” Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya mengenai hadits Ibnu Majah nomor 2957. Wahai Abu Muhammad, hadis apa yang sampai kepadamu tentang pojok hajar aswad ini? ‘Atha` mengatakan: Abu Hurairah menceritakan kepadaku bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menyentuhnya, maka sungguh ia menyentuh tangan Ar-Rahman.” Apakah hadits ini shahih ustadz? jazakallahu khayran Jawaban: Hadis tersebut memang benar diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah (no.2975) dengan lafadz, قالَ عطاءٌ حدَّثَني أبو هُرَيْرةَ أنَّهُ سمِعَ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ من فاوضَهُ فإنَّما يفاوضُ يدَ الرَّحمن “Atha’ berkata: Abu Hurairah menyampaikan hadis kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: siapa yang menyentuh hajar aswad, maka sesungguhnya ia menyentuh tangan Ar Rahman”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalan Ismail bin ‘Ayyasy, ia berkata: Humaid bin Abi Sawiyyah (yaitu Humaid bin Abi Suwaid) menyampaikan hadis kepadaku: aku mendengar Ibnu Hisyam bertanya kepada ‘Atha, dan seterusnya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (no.8400), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274). Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata tentang Humaid bin Abi Suwaid: منكر الحديث، وحميد بن أبي سويد هذا قد حدث عنه ابن عياش يعني هذه الأحاديث وكأنه قد أخذ عطاء بن أبي رباح قباله وهذه الأحاديث عن عطاء غير محفوظات الذي يرويها عنه “Ia munkarul hadis. Dan Humaid bin Abi Suwaid ini menyampaikan hadis kepada Ibnu ‘Ayyasy beberapa hadis yang seakan-akan diterima dari ‘Atha bin Abi Rabah padahal hadis-hadis tersebut tidak mahfuzh sebagaimana yang diriwayatkan dari Atha” (Al Kamil fid Dhu’afa, 3/79). Ismail bin Ayyash juga perawi yang dipermasalahkan riwayatnya jika meriwayatkan dari perawi yang selain Ahlus Syam. Al Hakim mengatakan: “Dhaif riwayatnya jika bukan dari penduduk Syam”. Al Bukhari berkata: “Jika ia meriwayatkan hadis dari penduduk Syam, maka shahih. Namun jika dari selainnya, maka perlu dicek lagi”. Waki’ bin Jarrah mengatakan: “Pengambilan hadisnya tercampur (mukhtalith)”. Dan Humaid bin Abi Suwaid dari Mekkah. Sehingga dalam riwayat ini Ibnu Ayyasy meriwayatkan bukan dari penduduk Syam. Dari keterangan ini jelaslah tentang kedhaifan riwayat di atas. Sebagaimana didhaifkan oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274), juga oleh Al Albani dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah (no.721). Terdapat riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: الْحَجَرُ يَمِينُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ يصافح به عباده “Al Hajarul Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para hamba-Nya”. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (1/557), dari jalan Ali bin Muhammad bin Hatim, ia berkata: Muhammad bin Ali Al Azdi menyampaikan hadis kepadaku: Ishaq bin Bisyr Abu Ma’syar Al Madyani menyampaikan hadis kepadaku: dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyat (no.944). Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Bisyr yang ia adalah perawi kadzab dan sering memalsukan hadis. Dengan demikian, riwayat ini juga tidak shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: إسناده لا يثبت ، والمشهور إنما هو عن ابن عباس “Sanad hadis ini tidak shahih, yang masyhur ini adalah perkataan dari Ibnu Abbas” (Majmu’ Al Fatawa, 6/397). Mengingat hadis ini bicara tentang perkara gaib dan tidak shahih dari Nabi, maka tidak perlu dilihat lagi. Oleh karena itu Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan: حديث باطل فلا يلتفت إليه “Hadis ini batil tidak perlu dilihat sama sekali” (dinukil dari Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Terlebih lagi, riwayat dari Ibnu ‘Abbas juga dha’if. Disebutkan Syarhus Sunnah, عنِ ابنِ عباسٍ قال: الرُّكنُ -يَعني الحَجَرَ- يَمينُ اللهِ في الأرضِ، يُصافِحُ بها خَلْقَه مُصافَحةَ الرَّجُلِ أخاه “Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rukun ini (yaitu rukun Hajar Aswad) adalah tangan kanan Allah di bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para makhluk-Nya sebagaimana manusia bersalaman dengan saudaranya”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth rahimahullah mengomentari riwayat ini: “Di dalamnya sanadnya terdapat Ibrahim bin Yazid Al Jauri, ia perawi yang matruk” (Takhrij Syarhus Sunnah, 7/114). Kita asumsikan riwayat ini shahih, karena sebagaimana dikatakan oleh Al Mundziri ketika mengomentari riwayat dari Abu Hurairah di atas: حسنه بعض مشايخنا “Dihasankan oleh sebagian Masyaikh kami” (At Targhib wat Tarhib, 2/186). Maka makna riwayat ini bukan berarti Allah ta’ala benar-benar bersalaman dengan makhluk-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Andaikan riwayat ini shahih, sudah jelas bahwa Hajar Aswad bukan benar-benar tangan kanan Allah. Karena yang disebutkan di dalam riwayat ini: يَمينُ اللهِ في الأرضِ “Tangan kanan Allah di muka bumi”. Lafadznya muqayyad (diberikan keterangan) dengan “di muka bumi”, tidak disebutkan secara mutlak. Dan hukum lafadz yang mutlak tentu berbeda dengan lafadz yang muqayyad. Dan kita ketahui bersama bahwa Allah ta’ala berada di langit. Dan dalam riwayat ini juga disebutkan: “siapa yang menyentuh dan mencium hajar aswad maka seakan-akan ia menyentuh dan mencium tangan kanan Allah”. Dan kita ketahui bersama bahwa al musyabbah (objek yang dianggap serupa) berbeda dengan al musyabbah bihi (objek yang diserupakan). Sehingga atsar ini jelas mengatakan bahwa menyentuh hajar aswad bukan berarti bersalaman dengan Allah langsung” (Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Namun ini jawaban bagi yang menganggap riwayatnya bisa diterima. Dan yang tepat, wallahu a’lam, riwayat ini tidak bisa diterima karena derajatnya dha’if (lemah) bahkan mungkar. Sehingga tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Perbedaan Mahram Dan Muhrim, Jumlah Rakaat Shalat Witir, Apakah Bank Itu Riba, Hukum Suap, Cara Sholat Ghoib, Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah Pdf Visited 802 times, 4 visit(s) today Post Views: 393 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1334831200&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hadis: “Siapa Menyentuh Hajar Aswad, Ia Menyentuh Tangan Allah” Pertanyaan: Assalamu’alaikum ustadz, izin bertanya mengenai hadits Ibnu Majah nomor 2957. Wahai Abu Muhammad, hadis apa yang sampai kepadamu tentang pojok hajar aswad ini? ‘Atha` mengatakan: Abu Hurairah menceritakan kepadaku bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang menyentuhnya, maka sungguh ia menyentuh tangan Ar-Rahman.” Apakah hadits ini shahih ustadz? jazakallahu khayran Jawaban: Hadis tersebut memang benar diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah (no.2975) dengan lafadz, قالَ عطاءٌ حدَّثَني أبو هُرَيْرةَ أنَّهُ سمِعَ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ من فاوضَهُ فإنَّما يفاوضُ يدَ الرَّحمن “Atha’ berkata: Abu Hurairah menyampaikan hadis kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: siapa yang menyentuh hajar aswad, maka sesungguhnya ia menyentuh tangan Ar Rahman”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalan Ismail bin ‘Ayyasy, ia berkata: Humaid bin Abi Sawiyyah (yaitu Humaid bin Abi Suwaid) menyampaikan hadis kepadaku: aku mendengar Ibnu Hisyam bertanya kepada ‘Atha, dan seterusnya. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (no.8400), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274). Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata tentang Humaid bin Abi Suwaid: منكر الحديث، وحميد بن أبي سويد هذا قد حدث عنه ابن عياش يعني هذه الأحاديث وكأنه قد أخذ عطاء بن أبي رباح قباله وهذه الأحاديث عن عطاء غير محفوظات الذي يرويها عنه “Ia munkarul hadis. Dan Humaid bin Abi Suwaid ini menyampaikan hadis kepada Ibnu ‘Ayyasy beberapa hadis yang seakan-akan diterima dari ‘Atha bin Abi Rabah padahal hadis-hadis tersebut tidak mahfuzh sebagaimana yang diriwayatkan dari Atha” (Al Kamil fid Dhu’afa, 3/79). Ismail bin Ayyash juga perawi yang dipermasalahkan riwayatnya jika meriwayatkan dari perawi yang selain Ahlus Syam. Al Hakim mengatakan: “Dhaif riwayatnya jika bukan dari penduduk Syam”. Al Bukhari berkata: “Jika ia meriwayatkan hadis dari penduduk Syam, maka shahih. Namun jika dari selainnya, maka perlu dicek lagi”. Waki’ bin Jarrah mengatakan: “Pengambilan hadisnya tercampur (mukhtalith)”. Dan Humaid bin Abi Suwaid dari Mekkah. Sehingga dalam riwayat ini Ibnu Ayyasy meriwayatkan bukan dari penduduk Syam. Dari keterangan ini jelaslah tentang kedhaifan riwayat di atas. Sebagaimana didhaifkan oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (2/274), juga oleh Al Albani dalam Dha’if Sunan Ibnu Majah (no.721). Terdapat riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: الْحَجَرُ يَمِينُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ يصافح به عباده “Al Hajarul Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para hamba-Nya”. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil fid Dhu’afa (1/557), dari jalan Ali bin Muhammad bin Hatim, ia berkata: Muhammad bin Ali Al Azdi menyampaikan hadis kepadaku: Ishaq bin Bisyr Abu Ma’syar Al Madyani menyampaikan hadis kepadaku: dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyat (no.944). Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Bisyr yang ia adalah perawi kadzab dan sering memalsukan hadis. Dengan demikian, riwayat ini juga tidak shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: إسناده لا يثبت ، والمشهور إنما هو عن ابن عباس “Sanad hadis ini tidak shahih, yang masyhur ini adalah perkataan dari Ibnu Abbas” (Majmu’ Al Fatawa, 6/397). Mengingat hadis ini bicara tentang perkara gaib dan tidak shahih dari Nabi, maka tidak perlu dilihat lagi. Oleh karena itu Ibnul ‘Arabi rahimahullah mengatakan: حديث باطل فلا يلتفت إليه “Hadis ini batil tidak perlu dilihat sama sekali” (dinukil dari Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Terlebih lagi, riwayat dari Ibnu ‘Abbas juga dha’if. Disebutkan Syarhus Sunnah, عنِ ابنِ عباسٍ قال: الرُّكنُ -يَعني الحَجَرَ- يَمينُ اللهِ في الأرضِ، يُصافِحُ بها خَلْقَه مُصافَحةَ الرَّجُلِ أخاه “Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rukun ini (yaitu rukun Hajar Aswad) adalah tangan kanan Allah di bumi, yang dengannya Allah menjabat tangan para makhluk-Nya sebagaimana manusia bersalaman dengan saudaranya”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth rahimahullah mengomentari riwayat ini: “Di dalamnya sanadnya terdapat Ibrahim bin Yazid Al Jauri, ia perawi yang matruk” (Takhrij Syarhus Sunnah, 7/114). Kita asumsikan riwayat ini shahih, karena sebagaimana dikatakan oleh Al Mundziri ketika mengomentari riwayat dari Abu Hurairah di atas: حسنه بعض مشايخنا “Dihasankan oleh sebagian Masyaikh kami” (At Targhib wat Tarhib, 2/186). Maka makna riwayat ini bukan berarti Allah ta’ala benar-benar bersalaman dengan makhluk-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Andaikan riwayat ini shahih, sudah jelas bahwa Hajar Aswad bukan benar-benar tangan kanan Allah. Karena yang disebutkan di dalam riwayat ini: يَمينُ اللهِ في الأرضِ “Tangan kanan Allah di muka bumi”. Lafadznya muqayyad (diberikan keterangan) dengan “di muka bumi”, tidak disebutkan secara mutlak. Dan hukum lafadz yang mutlak tentu berbeda dengan lafadz yang muqayyad. Dan kita ketahui bersama bahwa Allah ta’ala berada di langit. Dan dalam riwayat ini juga disebutkan: “siapa yang menyentuh dan mencium hajar aswad maka seakan-akan ia menyentuh dan mencium tangan kanan Allah”. Dan kita ketahui bersama bahwa al musyabbah (objek yang dianggap serupa) berbeda dengan al musyabbah bihi (objek yang diserupakan). Sehingga atsar ini jelas mengatakan bahwa menyentuh hajar aswad bukan berarti bersalaman dengan Allah langsung” (Taqrib At Tadmuriyah, hal. 63). Namun ini jawaban bagi yang menganggap riwayatnya bisa diterima. Dan yang tepat, wallahu a’lam, riwayat ini tidak bisa diterima karena derajatnya dha’if (lemah) bahkan mungkar. Sehingga tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Perbedaan Mahram Dan Muhrim, Jumlah Rakaat Shalat Witir, Apakah Bank Itu Riba, Hukum Suap, Cara Sholat Ghoib, Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah Pdf Visited 802 times, 4 visit(s) today Post Views: 393 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk mewujudkan kebaikan dalam diri kita sendiri dan perbaikan pada lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabb-mu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117)Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman وأهلها صالحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan), akan tetapi Allah berfirman وأهلها مصلحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan). Itulah perbedaan antara shalah (kebaikan) dengan ishlah (perbaikan). Jika seseorang adalah orang yang berbuat kebaikan, maka dia adalah seorang yang shalih. Akan tetapi, jika dia tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga berbuat perbaikan terhadap orang lain dan lingkungannya, maka dia tidak hanya seorang yang shalih, tetapi juga seorang yang mushlih. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas bahwa suatu negeri tidak akan dibinasakan oleh Allah selama penduduknya berbuat perbaikan, yaitu selama mereka tidak hanya menyimpan amalan kebaikan untuk diri mereka sendiri. (Lihat At-Ta’liq ‘Ala Al-Qawa’id Al-Hisan, karya Syekh Muhammad ibn Shalih Al-’Utsaimin, kaidah ke-45, hlm. 196.)Bisa jadi seseorang bertanya, “Bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105)?”Secara zahir, ayat ini seolah mengatakan kepada kita bahwa kesesatan orang yang sesat itu tidak akan membahayakan kita, sehingga dapat disimpulkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, ini adalah pemahaman yang salah, berdasarkan hadis berikut ini.Dari Qais ibn Abi Hazim rahimahullah, bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,يا أيها الناس إنكم تقرءون هذه الآية وتضعونها على غير مواضعها: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ}، وإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه أوشك أن يعمهم الله بعقاب منه)“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan meletakkannya pada tempat yang bukan semestinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma’idah: 105) Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya manusia jika melihat seseorang yang berbuat kezaliman lalu tidak mencegahnya, maka ‘adzab Allah akan menimpa mereka semua.’” [Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4338) dan At-Tirmidziy (no. 2168)]Demikian pula, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 105 di atas, perhatikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إذا اهتديتم (jika kamu telah mendapat petunjuk). Termasuk dalam hidayah atau petunjuk ini adalah mewujudkan ishlah atau perbaikan, yaitu dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, ketika seseorang tidak mendakwahkan kebenaran, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran, padahal dia sebenarnya mampu untuk melakukan hal tersebut, maka itu berarti dia bukanlah orang yang mendapat petunjuk. Adapun jika dia tidak mampu mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, tetapi dia telah berusaha mengubahnya dengan lisannya, yaitu dengan dakwah yang hak dan nasihat yang baik, maka barulah pada saat itu amalan kesesatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain tersebut tidak akan membahayakannya. (Lihat Hasyiyah Musnad Imam Ahmad, karya As-Sindiy, 1: 13)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik untuk bisa menjadi orang yang tidak hanya shalih, tetapi juga mushlih, tidak hanya mewujudkan shalah, tetapi juga mewujudkan ishlah. Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga SekarangPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Hukum Asuransi Jiwa, Arti Thaha, Azab Orang Sombong, Hidup Di DuniaTags: adabAkhlakdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahhikmah dalam dakwahishlahManhajmanhaj salafshalah

Wajibnya Mewujudkan Shalah (Kebaikan) dan Ishlah (Perbaikan)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk mewujudkan kebaikan dalam diri kita sendiri dan perbaikan pada lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabb-mu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117)Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman وأهلها صالحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan), akan tetapi Allah berfirman وأهلها مصلحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan). Itulah perbedaan antara shalah (kebaikan) dengan ishlah (perbaikan). Jika seseorang adalah orang yang berbuat kebaikan, maka dia adalah seorang yang shalih. Akan tetapi, jika dia tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga berbuat perbaikan terhadap orang lain dan lingkungannya, maka dia tidak hanya seorang yang shalih, tetapi juga seorang yang mushlih. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas bahwa suatu negeri tidak akan dibinasakan oleh Allah selama penduduknya berbuat perbaikan, yaitu selama mereka tidak hanya menyimpan amalan kebaikan untuk diri mereka sendiri. (Lihat At-Ta’liq ‘Ala Al-Qawa’id Al-Hisan, karya Syekh Muhammad ibn Shalih Al-’Utsaimin, kaidah ke-45, hlm. 196.)Bisa jadi seseorang bertanya, “Bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105)?”Secara zahir, ayat ini seolah mengatakan kepada kita bahwa kesesatan orang yang sesat itu tidak akan membahayakan kita, sehingga dapat disimpulkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, ini adalah pemahaman yang salah, berdasarkan hadis berikut ini.Dari Qais ibn Abi Hazim rahimahullah, bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,يا أيها الناس إنكم تقرءون هذه الآية وتضعونها على غير مواضعها: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ}، وإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه أوشك أن يعمهم الله بعقاب منه)“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan meletakkannya pada tempat yang bukan semestinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma’idah: 105) Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya manusia jika melihat seseorang yang berbuat kezaliman lalu tidak mencegahnya, maka ‘adzab Allah akan menimpa mereka semua.’” [Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4338) dan At-Tirmidziy (no. 2168)]Demikian pula, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 105 di atas, perhatikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إذا اهتديتم (jika kamu telah mendapat petunjuk). Termasuk dalam hidayah atau petunjuk ini adalah mewujudkan ishlah atau perbaikan, yaitu dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, ketika seseorang tidak mendakwahkan kebenaran, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran, padahal dia sebenarnya mampu untuk melakukan hal tersebut, maka itu berarti dia bukanlah orang yang mendapat petunjuk. Adapun jika dia tidak mampu mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, tetapi dia telah berusaha mengubahnya dengan lisannya, yaitu dengan dakwah yang hak dan nasihat yang baik, maka barulah pada saat itu amalan kesesatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain tersebut tidak akan membahayakannya. (Lihat Hasyiyah Musnad Imam Ahmad, karya As-Sindiy, 1: 13)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik untuk bisa menjadi orang yang tidak hanya shalih, tetapi juga mushlih, tidak hanya mewujudkan shalah, tetapi juga mewujudkan ishlah. Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga SekarangPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Hukum Asuransi Jiwa, Arti Thaha, Azab Orang Sombong, Hidup Di DuniaTags: adabAkhlakdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahhikmah dalam dakwahishlahManhajmanhaj salafshalah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk mewujudkan kebaikan dalam diri kita sendiri dan perbaikan pada lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabb-mu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117)Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman وأهلها صالحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan), akan tetapi Allah berfirman وأهلها مصلحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan). Itulah perbedaan antara shalah (kebaikan) dengan ishlah (perbaikan). Jika seseorang adalah orang yang berbuat kebaikan, maka dia adalah seorang yang shalih. Akan tetapi, jika dia tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga berbuat perbaikan terhadap orang lain dan lingkungannya, maka dia tidak hanya seorang yang shalih, tetapi juga seorang yang mushlih. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas bahwa suatu negeri tidak akan dibinasakan oleh Allah selama penduduknya berbuat perbaikan, yaitu selama mereka tidak hanya menyimpan amalan kebaikan untuk diri mereka sendiri. (Lihat At-Ta’liq ‘Ala Al-Qawa’id Al-Hisan, karya Syekh Muhammad ibn Shalih Al-’Utsaimin, kaidah ke-45, hlm. 196.)Bisa jadi seseorang bertanya, “Bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105)?”Secara zahir, ayat ini seolah mengatakan kepada kita bahwa kesesatan orang yang sesat itu tidak akan membahayakan kita, sehingga dapat disimpulkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, ini adalah pemahaman yang salah, berdasarkan hadis berikut ini.Dari Qais ibn Abi Hazim rahimahullah, bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,يا أيها الناس إنكم تقرءون هذه الآية وتضعونها على غير مواضعها: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ}، وإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه أوشك أن يعمهم الله بعقاب منه)“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan meletakkannya pada tempat yang bukan semestinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma’idah: 105) Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya manusia jika melihat seseorang yang berbuat kezaliman lalu tidak mencegahnya, maka ‘adzab Allah akan menimpa mereka semua.’” [Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4338) dan At-Tirmidziy (no. 2168)]Demikian pula, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 105 di atas, perhatikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إذا اهتديتم (jika kamu telah mendapat petunjuk). Termasuk dalam hidayah atau petunjuk ini adalah mewujudkan ishlah atau perbaikan, yaitu dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, ketika seseorang tidak mendakwahkan kebenaran, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran, padahal dia sebenarnya mampu untuk melakukan hal tersebut, maka itu berarti dia bukanlah orang yang mendapat petunjuk. Adapun jika dia tidak mampu mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, tetapi dia telah berusaha mengubahnya dengan lisannya, yaitu dengan dakwah yang hak dan nasihat yang baik, maka barulah pada saat itu amalan kesesatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain tersebut tidak akan membahayakannya. (Lihat Hasyiyah Musnad Imam Ahmad, karya As-Sindiy, 1: 13)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik untuk bisa menjadi orang yang tidak hanya shalih, tetapi juga mushlih, tidak hanya mewujudkan shalah, tetapi juga mewujudkan ishlah. Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga SekarangPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Hukum Asuransi Jiwa, Arti Thaha, Azab Orang Sombong, Hidup Di DuniaTags: adabAkhlakdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahhikmah dalam dakwahishlahManhajmanhaj salafshalah


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita di dalam Al-Qur’an untuk mewujudkan kebaikan dalam diri kita sendiri dan perbaikan pada lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabb-mu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan.” (QS. Hud: 117)Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman وأهلها صالحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan), akan tetapi Allah berfirman وأهلها مصلحون (sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat perbaikan). Itulah perbedaan antara shalah (kebaikan) dengan ishlah (perbaikan). Jika seseorang adalah orang yang berbuat kebaikan, maka dia adalah seorang yang shalih. Akan tetapi, jika dia tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga berbuat perbaikan terhadap orang lain dan lingkungannya, maka dia tidak hanya seorang yang shalih, tetapi juga seorang yang mushlih. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas bahwa suatu negeri tidak akan dibinasakan oleh Allah selama penduduknya berbuat perbaikan, yaitu selama mereka tidak hanya menyimpan amalan kebaikan untuk diri mereka sendiri. (Lihat At-Ta’liq ‘Ala Al-Qawa’id Al-Hisan, karya Syekh Muhammad ibn Shalih Al-’Utsaimin, kaidah ke-45, hlm. 196.)Bisa jadi seseorang bertanya, “Bagaimana dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105)?”Secara zahir, ayat ini seolah mengatakan kepada kita bahwa kesesatan orang yang sesat itu tidak akan membahayakan kita, sehingga dapat disimpulkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu bukanlah suatu kewajiban. Akan tetapi, ini adalah pemahaman yang salah, berdasarkan hadis berikut ini.Dari Qais ibn Abi Hazim rahimahullah, bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata,يا أيها الناس إنكم تقرءون هذه الآية وتضعونها على غير مواضعها: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ}، وإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إن الناس إذا رأوا الظالم فلم يأخذوا على يديه أوشك أن يعمهم الله بعقاب منه)“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan meletakkannya pada tempat yang bukan semestinya, ‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kamu telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma’idah: 105) Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya manusia jika melihat seseorang yang berbuat kezaliman lalu tidak mencegahnya, maka ‘adzab Allah akan menimpa mereka semua.’” [Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4338) dan At-Tirmidziy (no. 2168)]Demikian pula, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 105 di atas, perhatikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman إذا اهتديتم (jika kamu telah mendapat petunjuk). Termasuk dalam hidayah atau petunjuk ini adalah mewujudkan ishlah atau perbaikan, yaitu dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, ketika seseorang tidak mendakwahkan kebenaran, memerintahkan kebaikan, dan melarang kemungkaran, padahal dia sebenarnya mampu untuk melakukan hal tersebut, maka itu berarti dia bukanlah orang yang mendapat petunjuk. Adapun jika dia tidak mampu mengubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, tetapi dia telah berusaha mengubahnya dengan lisannya, yaitu dengan dakwah yang hak dan nasihat yang baik, maka barulah pada saat itu amalan kesesatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain tersebut tidak akan membahayakannya. (Lihat Hasyiyah Musnad Imam Ahmad, karya As-Sindiy, 1: 13)Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufik untuk bisa menjadi orang yang tidak hanya shalih, tetapi juga mushlih, tidak hanya mewujudkan shalah, tetapi juga mewujudkan ishlah. Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga SekarangPenulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Hukum Asuransi Jiwa, Arti Thaha, Azab Orang Sombong, Hidup Di DuniaTags: adabAkhlakdakwahDakwah Islamdakwah salafdakwah sunnahhikmah dalam dakwahishlahManhajmanhaj salafshalah

Bolehkah Mengucapkan Salam dengan “Salamun ‘Alaikum”?

Bolehkah Mengucapkan Salam dengan “Salamun ‘Alaikum“? Pertanyaan: Apakah boleh mengucapkan salam dengan “Salamun ‘alaikum” atau “Salam ‘alaikum” bukan “Assalamu’alaikum”? Jawaban: Telah ma’ruf bahwa ucapan salam yang paling sempurna dan ideal adalah ucapan: السَّلامُ عليكُمْ ورحمةُ اللَّهِ وبركاتُهُ “assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh” Ini berdasarkan hadis Imran bin Hushain radhiallahu’anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, At Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadis dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: كنت رَديفَ أبي بكرٍ ، فيمرُّ على القومِ فيقول : السلامُ عليكم ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، ويقول : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُه ، فقال أبو بكرٍ : فضلَنا الناسُ اليومَ بزيادةٍ كثيرةٍ “Aku pernah dibonceng oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Kami melewati suatu kaum lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Mereka pun menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Lalu kami melewati kaum lain lagi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Mereka menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Maka Abu Bakar berkata: Hari ini orang-orang memberi banyak tambahan kepada kita” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.758, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad). Namun boleh juga mencukupkan ucapan salam sampai “warahmatullah“ saja. Yaitu “assalamu ‘alaikum warahmatullah“. Berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا، فَلَمَّا خَلَقَهُ قالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ علَى أُولَئِكَ النَّفَرِ مِنَ المَلائِكَةِ، جُلُوسٌ، فاسْتَمِعْ ما يُحَيُّونَكَ؛ فإنَّها تَحِيَّتُكَ وتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فقالَ: السَّلامُ علَيْكُم، فقالوا: السَّلامُ عَلَيْكَ ورَحْمَةُ اللَّهِ، فَزادُوهُ: ورَحْمَةُ اللَّهِ “Allah menciptakan Nabi Adam dalam bentukNya. Tingginya 60 hasta. Ketika ia diciptakan, Allah berfirman kepada Adam: ‘Pergilah dan berilah salam kepada sekelompok makhluk itu (yaitu Malaikat), dan dengarkanlah ucapan tahiyyah dari mereka kepadamu. Karena itu adalah ucapan tahiyyah (yang disyariatkan untuk) engkau dan keturunanmu’. Lalu Adam pergi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Para Malaikat menjawab: Wa ‘alaikumussalam Warahmatullah. Mereka menambahkan kata warahmatullah” (HR. Bukhari no. 6227, Muslim no. 2841). Ucapan Salam yang Paling Minimal Secara umum, lafadz yang terdapat dalam Al Qur’an adalah dalam bentuk nakirah (tanpa alif-lam). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: سَلامٌ عليكم بما صَبَرْتُمْ “keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian” (QS. Ar Ra’d: 24). Allah Ta’ala juga berfirman: إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ “ketika mereka memasukinya mereka mengatakan: salaam. ia pun mengatakan: salaam” (QS. Adz Dzariyat: 25). Sehingga ucapan yang paling minimal adalah “salamun ‘alaikum“. Namun yang lebih utama untuk salam paling minimal adalah “assalaamu ‘alaikum” (dengan alif-lam), sebagaimana dimuat dalam hadis-hadis yang telah disebutkan, yaitu hadis Imran bin Hushain, hadis Abu Hurairah, hadis Umar bin Khattab dan hadis-hadis lainnya. Demikian juga hadis lain dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: أنَّه أتَى النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو في مَشرُبةٍ له، فقال: السَّلامُ عليك يا رسولَ اللهِ، السَّلامُ عليكم، أيدخُلُ عُمَرُ؟ “Bahwa Umar datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Nabi ada di kamarnya. Umar berkata: Assalamu ‘alaikum wahai Rasulullah… Assalamu ‘alaikum… Apakah Umar boleh masuk?” (HR. Abu Daud no.5201, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Hadis-hadis di atas menunjukkan lafadz salam yang paling minimal adalah “assalamu ‘alaikum“. Dan dhamir “kum” bisa diganti sesuai lawan bicaranya: Jika lawan bicara hanya satu orang laki-laki, maka “assalaamu ‘alaika“. Jika lawan bicara hanya satu orang wanita, maka “assalaamu ‘alaiki“. Jika lawan bicara hanya dua orang laki-laki atau wanita, maka “assalaamu ‘alaikuma“. Jika lawan bicara adalah banyak wanita, maka “assalaamu ‘alaikunna“. Sedangkan “assalamu ‘alaikum” bisa digunakan untuk semua orang baik laki-laki maupun wanita, baik satu orang, dua orang, atau pun banyak.  Bolehnya mengucapkan “salamun ‘alaikum“, dijelaskan oleh imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Ucapan salam yang paling minimal adalah: Assalamu ’alaikum. Kalau hanya ada satu orang Muslim, maka ucapan paling minimal adalah: Assalamu ’alaika. Namun yang lebih utama adalah mengucapkan: Assalamu ’alaikum, agar salam tersebut tersampaikan kepadanya dan dua Malaikatnya. Dan yang lebih sempurna lagi adalah dengan menambahkan warahmatullah, dan juga menambahkan wabarakatuh. Kalau seseorang mengucapkan: salam ‘alaikum, itu sudah mencukupi. Para ulama menganjurkan penambahan warahmatullah dan wabarakatuh dengan firman Allah Ta’ala yang mengabarkan ucapan salam Malaikat (yang artinya): ‘Rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga dilimpahkan atas kalian, wahai ahlul bait‘ (QS. Hud: 73). Dan juga berdalil dengan ucapan dalam tasyahud: Assalamu ’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakatuh” (Syarah Shahih Muslim, 14/140). Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Melayani Suami Saat Haid Menurut Islam, Makna Surat Al Kahfi, Hukum Dagang Menurut Islam, Arti Walimatul Aqiqah, Pertanyaan Tentang Dakwah, Shalat Tahajud Tanpa Witir Visited 943 times, 8 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Mengucapkan Salam dengan “Salamun ‘Alaikum”?

Bolehkah Mengucapkan Salam dengan “Salamun ‘Alaikum“? Pertanyaan: Apakah boleh mengucapkan salam dengan “Salamun ‘alaikum” atau “Salam ‘alaikum” bukan “Assalamu’alaikum”? Jawaban: Telah ma’ruf bahwa ucapan salam yang paling sempurna dan ideal adalah ucapan: السَّلامُ عليكُمْ ورحمةُ اللَّهِ وبركاتُهُ “assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh” Ini berdasarkan hadis Imran bin Hushain radhiallahu’anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, At Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadis dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: كنت رَديفَ أبي بكرٍ ، فيمرُّ على القومِ فيقول : السلامُ عليكم ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، ويقول : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُه ، فقال أبو بكرٍ : فضلَنا الناسُ اليومَ بزيادةٍ كثيرةٍ “Aku pernah dibonceng oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Kami melewati suatu kaum lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Mereka pun menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Lalu kami melewati kaum lain lagi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Mereka menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Maka Abu Bakar berkata: Hari ini orang-orang memberi banyak tambahan kepada kita” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.758, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad). Namun boleh juga mencukupkan ucapan salam sampai “warahmatullah“ saja. Yaitu “assalamu ‘alaikum warahmatullah“. Berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا، فَلَمَّا خَلَقَهُ قالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ علَى أُولَئِكَ النَّفَرِ مِنَ المَلائِكَةِ، جُلُوسٌ، فاسْتَمِعْ ما يُحَيُّونَكَ؛ فإنَّها تَحِيَّتُكَ وتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فقالَ: السَّلامُ علَيْكُم، فقالوا: السَّلامُ عَلَيْكَ ورَحْمَةُ اللَّهِ، فَزادُوهُ: ورَحْمَةُ اللَّهِ “Allah menciptakan Nabi Adam dalam bentukNya. Tingginya 60 hasta. Ketika ia diciptakan, Allah berfirman kepada Adam: ‘Pergilah dan berilah salam kepada sekelompok makhluk itu (yaitu Malaikat), dan dengarkanlah ucapan tahiyyah dari mereka kepadamu. Karena itu adalah ucapan tahiyyah (yang disyariatkan untuk) engkau dan keturunanmu’. Lalu Adam pergi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Para Malaikat menjawab: Wa ‘alaikumussalam Warahmatullah. Mereka menambahkan kata warahmatullah” (HR. Bukhari no. 6227, Muslim no. 2841). Ucapan Salam yang Paling Minimal Secara umum, lafadz yang terdapat dalam Al Qur’an adalah dalam bentuk nakirah (tanpa alif-lam). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: سَلامٌ عليكم بما صَبَرْتُمْ “keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian” (QS. Ar Ra’d: 24). Allah Ta’ala juga berfirman: إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ “ketika mereka memasukinya mereka mengatakan: salaam. ia pun mengatakan: salaam” (QS. Adz Dzariyat: 25). Sehingga ucapan yang paling minimal adalah “salamun ‘alaikum“. Namun yang lebih utama untuk salam paling minimal adalah “assalaamu ‘alaikum” (dengan alif-lam), sebagaimana dimuat dalam hadis-hadis yang telah disebutkan, yaitu hadis Imran bin Hushain, hadis Abu Hurairah, hadis Umar bin Khattab dan hadis-hadis lainnya. Demikian juga hadis lain dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: أنَّه أتَى النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو في مَشرُبةٍ له، فقال: السَّلامُ عليك يا رسولَ اللهِ، السَّلامُ عليكم، أيدخُلُ عُمَرُ؟ “Bahwa Umar datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Nabi ada di kamarnya. Umar berkata: Assalamu ‘alaikum wahai Rasulullah… Assalamu ‘alaikum… Apakah Umar boleh masuk?” (HR. Abu Daud no.5201, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Hadis-hadis di atas menunjukkan lafadz salam yang paling minimal adalah “assalamu ‘alaikum“. Dan dhamir “kum” bisa diganti sesuai lawan bicaranya: Jika lawan bicara hanya satu orang laki-laki, maka “assalaamu ‘alaika“. Jika lawan bicara hanya satu orang wanita, maka “assalaamu ‘alaiki“. Jika lawan bicara hanya dua orang laki-laki atau wanita, maka “assalaamu ‘alaikuma“. Jika lawan bicara adalah banyak wanita, maka “assalaamu ‘alaikunna“. Sedangkan “assalamu ‘alaikum” bisa digunakan untuk semua orang baik laki-laki maupun wanita, baik satu orang, dua orang, atau pun banyak.  Bolehnya mengucapkan “salamun ‘alaikum“, dijelaskan oleh imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Ucapan salam yang paling minimal adalah: Assalamu ’alaikum. Kalau hanya ada satu orang Muslim, maka ucapan paling minimal adalah: Assalamu ’alaika. Namun yang lebih utama adalah mengucapkan: Assalamu ’alaikum, agar salam tersebut tersampaikan kepadanya dan dua Malaikatnya. Dan yang lebih sempurna lagi adalah dengan menambahkan warahmatullah, dan juga menambahkan wabarakatuh. Kalau seseorang mengucapkan: salam ‘alaikum, itu sudah mencukupi. Para ulama menganjurkan penambahan warahmatullah dan wabarakatuh dengan firman Allah Ta’ala yang mengabarkan ucapan salam Malaikat (yang artinya): ‘Rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga dilimpahkan atas kalian, wahai ahlul bait‘ (QS. Hud: 73). Dan juga berdalil dengan ucapan dalam tasyahud: Assalamu ’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakatuh” (Syarah Shahih Muslim, 14/140). Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Melayani Suami Saat Haid Menurut Islam, Makna Surat Al Kahfi, Hukum Dagang Menurut Islam, Arti Walimatul Aqiqah, Pertanyaan Tentang Dakwah, Shalat Tahajud Tanpa Witir Visited 943 times, 8 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid
Bolehkah Mengucapkan Salam dengan “Salamun ‘Alaikum“? Pertanyaan: Apakah boleh mengucapkan salam dengan “Salamun ‘alaikum” atau “Salam ‘alaikum” bukan “Assalamu’alaikum”? Jawaban: Telah ma’ruf bahwa ucapan salam yang paling sempurna dan ideal adalah ucapan: السَّلامُ عليكُمْ ورحمةُ اللَّهِ وبركاتُهُ “assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh” Ini berdasarkan hadis Imran bin Hushain radhiallahu’anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, At Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadis dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: كنت رَديفَ أبي بكرٍ ، فيمرُّ على القومِ فيقول : السلامُ عليكم ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، ويقول : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُه ، فقال أبو بكرٍ : فضلَنا الناسُ اليومَ بزيادةٍ كثيرةٍ “Aku pernah dibonceng oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Kami melewati suatu kaum lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Mereka pun menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Lalu kami melewati kaum lain lagi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Mereka menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Maka Abu Bakar berkata: Hari ini orang-orang memberi banyak tambahan kepada kita” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.758, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad). Namun boleh juga mencukupkan ucapan salam sampai “warahmatullah“ saja. Yaitu “assalamu ‘alaikum warahmatullah“. Berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا، فَلَمَّا خَلَقَهُ قالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ علَى أُولَئِكَ النَّفَرِ مِنَ المَلائِكَةِ، جُلُوسٌ، فاسْتَمِعْ ما يُحَيُّونَكَ؛ فإنَّها تَحِيَّتُكَ وتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فقالَ: السَّلامُ علَيْكُم، فقالوا: السَّلامُ عَلَيْكَ ورَحْمَةُ اللَّهِ، فَزادُوهُ: ورَحْمَةُ اللَّهِ “Allah menciptakan Nabi Adam dalam bentukNya. Tingginya 60 hasta. Ketika ia diciptakan, Allah berfirman kepada Adam: ‘Pergilah dan berilah salam kepada sekelompok makhluk itu (yaitu Malaikat), dan dengarkanlah ucapan tahiyyah dari mereka kepadamu. Karena itu adalah ucapan tahiyyah (yang disyariatkan untuk) engkau dan keturunanmu’. Lalu Adam pergi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Para Malaikat menjawab: Wa ‘alaikumussalam Warahmatullah. Mereka menambahkan kata warahmatullah” (HR. Bukhari no. 6227, Muslim no. 2841). Ucapan Salam yang Paling Minimal Secara umum, lafadz yang terdapat dalam Al Qur’an adalah dalam bentuk nakirah (tanpa alif-lam). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: سَلامٌ عليكم بما صَبَرْتُمْ “keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian” (QS. Ar Ra’d: 24). Allah Ta’ala juga berfirman: إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ “ketika mereka memasukinya mereka mengatakan: salaam. ia pun mengatakan: salaam” (QS. Adz Dzariyat: 25). Sehingga ucapan yang paling minimal adalah “salamun ‘alaikum“. Namun yang lebih utama untuk salam paling minimal adalah “assalaamu ‘alaikum” (dengan alif-lam), sebagaimana dimuat dalam hadis-hadis yang telah disebutkan, yaitu hadis Imran bin Hushain, hadis Abu Hurairah, hadis Umar bin Khattab dan hadis-hadis lainnya. Demikian juga hadis lain dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: أنَّه أتَى النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو في مَشرُبةٍ له، فقال: السَّلامُ عليك يا رسولَ اللهِ، السَّلامُ عليكم، أيدخُلُ عُمَرُ؟ “Bahwa Umar datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Nabi ada di kamarnya. Umar berkata: Assalamu ‘alaikum wahai Rasulullah… Assalamu ‘alaikum… Apakah Umar boleh masuk?” (HR. Abu Daud no.5201, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Hadis-hadis di atas menunjukkan lafadz salam yang paling minimal adalah “assalamu ‘alaikum“. Dan dhamir “kum” bisa diganti sesuai lawan bicaranya: Jika lawan bicara hanya satu orang laki-laki, maka “assalaamu ‘alaika“. Jika lawan bicara hanya satu orang wanita, maka “assalaamu ‘alaiki“. Jika lawan bicara hanya dua orang laki-laki atau wanita, maka “assalaamu ‘alaikuma“. Jika lawan bicara adalah banyak wanita, maka “assalaamu ‘alaikunna“. Sedangkan “assalamu ‘alaikum” bisa digunakan untuk semua orang baik laki-laki maupun wanita, baik satu orang, dua orang, atau pun banyak.  Bolehnya mengucapkan “salamun ‘alaikum“, dijelaskan oleh imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Ucapan salam yang paling minimal adalah: Assalamu ’alaikum. Kalau hanya ada satu orang Muslim, maka ucapan paling minimal adalah: Assalamu ’alaika. Namun yang lebih utama adalah mengucapkan: Assalamu ’alaikum, agar salam tersebut tersampaikan kepadanya dan dua Malaikatnya. Dan yang lebih sempurna lagi adalah dengan menambahkan warahmatullah, dan juga menambahkan wabarakatuh. Kalau seseorang mengucapkan: salam ‘alaikum, itu sudah mencukupi. Para ulama menganjurkan penambahan warahmatullah dan wabarakatuh dengan firman Allah Ta’ala yang mengabarkan ucapan salam Malaikat (yang artinya): ‘Rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga dilimpahkan atas kalian, wahai ahlul bait‘ (QS. Hud: 73). Dan juga berdalil dengan ucapan dalam tasyahud: Assalamu ’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakatuh” (Syarah Shahih Muslim, 14/140). Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Melayani Suami Saat Haid Menurut Islam, Makna Surat Al Kahfi, Hukum Dagang Menurut Islam, Arti Walimatul Aqiqah, Pertanyaan Tentang Dakwah, Shalat Tahajud Tanpa Witir Visited 943 times, 8 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1331516578&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Bolehkah Mengucapkan Salam dengan “Salamun ‘Alaikum“? Pertanyaan: Apakah boleh mengucapkan salam dengan “Salamun ‘alaikum” atau “Salam ‘alaikum” bukan “Assalamu’alaikum”? Jawaban: Telah ma’ruf bahwa ucapan salam yang paling sempurna dan ideal adalah ucapan: السَّلامُ عليكُمْ ورحمةُ اللَّهِ وبركاتُهُ “assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh” Ini berdasarkan hadis Imran bin Hushain radhiallahu’anhu: جاء رجلٌ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، فقال : السلامُ عليكم ، فرَدَّ عليه ، ثم جَلَس ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : عَشْرٌ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : عِشْرُونَ . ثم جاء آخَرُ ، فقال : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبَرَكاتُه ، فرَدَّ عليه ، فجلس ، فقال : ثلاثونَ “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata: Assalamu ‘alaikum. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: sepuluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: dua puluh! Kemudian datang orang yang lain, ia berkata: Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kemudian Nabi membalas salamnya, kemudian orang tadi duduk. Nabi bersabda: tiga puluh!” (HR. Abu Daud no.5195, At Tirmidzi no.2689, Ahmad no. 19962, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Juga hadis dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: كنت رَديفَ أبي بكرٍ ، فيمرُّ على القومِ فيقول : السلامُ عليكم ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، ويقول : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ ، فيقولون : السلامُ عليكم ورحمةُ اللهِ وبركاتُه ، فقال أبو بكرٍ : فضلَنا الناسُ اليومَ بزيادةٍ كثيرةٍ “Aku pernah dibonceng oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Kami melewati suatu kaum lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Mereka pun menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Lalu kami melewati kaum lain lagi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah. Mereka menjawab: Assalamu ‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Maka Abu Bakar berkata: Hari ini orang-orang memberi banyak tambahan kepada kita” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.758, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad). Namun boleh juga mencukupkan ucapan salam sampai “warahmatullah“ saja. Yaitu “assalamu ‘alaikum warahmatullah“. Berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا، فَلَمَّا خَلَقَهُ قالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ علَى أُولَئِكَ النَّفَرِ مِنَ المَلائِكَةِ، جُلُوسٌ، فاسْتَمِعْ ما يُحَيُّونَكَ؛ فإنَّها تَحِيَّتُكَ وتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فقالَ: السَّلامُ علَيْكُم، فقالوا: السَّلامُ عَلَيْكَ ورَحْمَةُ اللَّهِ، فَزادُوهُ: ورَحْمَةُ اللَّهِ “Allah menciptakan Nabi Adam dalam bentukNya. Tingginya 60 hasta. Ketika ia diciptakan, Allah berfirman kepada Adam: ‘Pergilah dan berilah salam kepada sekelompok makhluk itu (yaitu Malaikat), dan dengarkanlah ucapan tahiyyah dari mereka kepadamu. Karena itu adalah ucapan tahiyyah (yang disyariatkan untuk) engkau dan keturunanmu’. Lalu Adam pergi dan mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Para Malaikat menjawab: Wa ‘alaikumussalam Warahmatullah. Mereka menambahkan kata warahmatullah” (HR. Bukhari no. 6227, Muslim no. 2841). Ucapan Salam yang Paling Minimal Secara umum, lafadz yang terdapat dalam Al Qur’an adalah dalam bentuk nakirah (tanpa alif-lam). Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: سَلامٌ عليكم بما صَبَرْتُمْ “keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian” (QS. Ar Ra’d: 24). Allah Ta’ala juga berfirman: إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ “ketika mereka memasukinya mereka mengatakan: salaam. ia pun mengatakan: salaam” (QS. Adz Dzariyat: 25). Sehingga ucapan yang paling minimal adalah “salamun ‘alaikum“. Namun yang lebih utama untuk salam paling minimal adalah “assalaamu ‘alaikum” (dengan alif-lam), sebagaimana dimuat dalam hadis-hadis yang telah disebutkan, yaitu hadis Imran bin Hushain, hadis Abu Hurairah, hadis Umar bin Khattab dan hadis-hadis lainnya. Demikian juga hadis lain dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu: أنَّه أتَى النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو في مَشرُبةٍ له، فقال: السَّلامُ عليك يا رسولَ اللهِ، السَّلامُ عليكم، أيدخُلُ عُمَرُ؟ “Bahwa Umar datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Nabi ada di kamarnya. Umar berkata: Assalamu ‘alaikum wahai Rasulullah… Assalamu ‘alaikum… Apakah Umar boleh masuk?” (HR. Abu Daud no.5201, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Hadis-hadis di atas menunjukkan lafadz salam yang paling minimal adalah “assalamu ‘alaikum“. Dan dhamir “kum” bisa diganti sesuai lawan bicaranya: Jika lawan bicara hanya satu orang laki-laki, maka “assalaamu ‘alaika“. Jika lawan bicara hanya satu orang wanita, maka “assalaamu ‘alaiki“. Jika lawan bicara hanya dua orang laki-laki atau wanita, maka “assalaamu ‘alaikuma“. Jika lawan bicara adalah banyak wanita, maka “assalaamu ‘alaikunna“. Sedangkan “assalamu ‘alaikum” bisa digunakan untuk semua orang baik laki-laki maupun wanita, baik satu orang, dua orang, atau pun banyak.  Bolehnya mengucapkan “salamun ‘alaikum“, dijelaskan oleh imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Ucapan salam yang paling minimal adalah: Assalamu ’alaikum. Kalau hanya ada satu orang Muslim, maka ucapan paling minimal adalah: Assalamu ’alaika. Namun yang lebih utama adalah mengucapkan: Assalamu ’alaikum, agar salam tersebut tersampaikan kepadanya dan dua Malaikatnya. Dan yang lebih sempurna lagi adalah dengan menambahkan warahmatullah, dan juga menambahkan wabarakatuh. Kalau seseorang mengucapkan: salam ‘alaikum, itu sudah mencukupi. Para ulama menganjurkan penambahan warahmatullah dan wabarakatuh dengan firman Allah Ta’ala yang mengabarkan ucapan salam Malaikat (yang artinya): ‘Rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga dilimpahkan atas kalian, wahai ahlul bait‘ (QS. Hud: 73). Dan juga berdalil dengan ucapan dalam tasyahud: Assalamu ’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakatuh” (Syarah Shahih Muslim, 14/140). Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Melayani Suami Saat Haid Menurut Islam, Makna Surat Al Kahfi, Hukum Dagang Menurut Islam, Arti Walimatul Aqiqah, Pertanyaan Tentang Dakwah, Shalat Tahajud Tanpa Witir Visited 943 times, 8 visit(s) today Post Views: 600 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)ismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah selanjutnya, yaitu: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun Salat 2. Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam Alquran 3. Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang) 4. Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya Doa 5. Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat Ini 6. Keutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis Besar Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun SalatTidaklah sah salat seseorang yang sengaja tidak membaca Al-Fatihah, padahal ia mampu membacanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ“Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa ini adalah mazhab jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, serta generasi setelahnya.Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam AlquranRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam At-Taurah, Al-Injil, Az-Zabur, dan Al-Furqan (Alquran), semisal (semulia) Al-Fatihah.” (HR. At-Tirmidzi, sahih)Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang)Allah Ta’ala brfirman dalam surah Al-Hijr ayat 87,وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ<“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”Dan salah satu tafsir dari As-Sab’ul Matsani di sini adalah Al-Fatihah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjelaskan surah yang paling agung dalam Alquran, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (surah Al-Fatihah) adalah As-Sab’ul Matsani dan ia adalah Alquran Al-‘Azhiim yang dianugerahkan kepadaku.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa ulama rahimahumullah berbeda pendapat tentang makna As-Sab’ul Matsani. Beberapa pendapat tersebut yaitu:-Tujuh ayat yang diulang-ulang dalam setiap rakaat salat.– Surah yang kandungannya pujian kepada Allah Ta’ala.– Surah yang dikhususkan hanya diturunkan kepada umat Islam ini, dan tidak diturunkan kepada umat-umat sebelumnya.Dan semua pendapat di atas diambil dari kata “Matsani”.Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya DoaIbnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Al-Fatihah menggabungkan antara dua macam sebab dikabulkannya sebuah doa, yaitu:–Tawassul dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya,– Tawassul dengan penghambaan kepada Allah dan pengesaan-Nya.Baru setelah itu adalah doa yang terpenting dan harapan paling bagus, yaitu meminta hidayah kepada Allah Ta’ala. Disebutkannya doa ini setelah dua macam tawassul tersebut, merupakan sebab dikabulkannya oleh Allah Ta’ala. Doa yang dimaksud oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah adalah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”Sedangkan dua macam tawassul tersebut ada pada ayat-ayat sebelumnya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa doa yang paling bermanfaat adalalah doa yang terdapat dalam Al-Fatihah, yaitu memohon pertolongan untuk mendapatkan keridaan-Nya, yaitu:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.”Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat IniDijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, hal itu karena Ash-Shiroth Al-Mustaqiim (jalan lurus) dalam Al-Fatihah mengandung ilmu yang hak dan ketundukan kepada Allah Ta’ala dengan mengamalkannya, mendakwahkannya serta berjihad di jalan Allah memerangi musuh-musuh-Nya. Sedangkan jalan lurus ini adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Adapun seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta ahli bid’ah di antara umat ini, tentunya melanggar ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari sinilah dikatakan bahwa Al-Fatihah mengandung bantahan ke seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta bantahan terhadap ahli bid’ah di antara umat ini.Baca Juga: Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar SalatKeutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis BesarHal ini disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa menukilkan perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,فمن علم تفسيرها كان كمن علم تفسير جميع كتب الله المنزلة“Barangsiapa yang mengetahui tafsirnya (Al-Fatihah), seolah-olah ia mengetahui tafsir seluruh kitab-kitab Allah yang diturunkan.”Hal ini dikarenakan Alquran menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sedangkan Al-Fatihah merupakan induk Alquran yang mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan maksud-maksud terbesarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” QS. (An-Nahl : 89)Pakar Tafsir di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum, Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Allah telah menjelaskan dalam Alquran ini semua pengetahuan dan segala perkara.”Ibnu Katsir rahimahullah setelah menukilkan ucapan Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Tafsirnya, lalu mengatakan, “Karena sesungguhnya Alquran mencakup semua ilmu bermanfaat dari khabar yang telah lalu dan pengetahuan yang akan datang, hukum setiap yang halal-haram, serta segala yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, hidup dan nasib mereka di akhirat.”Kesimpulan:Surah Al-Fatihah adalah kunci seluruh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Baca Juga:Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir DoaKhasiat Rahasia Surat Al-Fatihah***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi:https://Islamqa.info/ar/answers/132386https://www.Islamweb.net/ar/article/204127/dan sumber-sumber lainnya.🔍 Hadits Tentang Persahabatan, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Hasbunallah Wanimal Wakil, Doa Manasik UmrohTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah

Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)ismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah selanjutnya, yaitu: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun Salat 2. Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam Alquran 3. Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang) 4. Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya Doa 5. Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat Ini 6. Keutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis Besar Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun SalatTidaklah sah salat seseorang yang sengaja tidak membaca Al-Fatihah, padahal ia mampu membacanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ“Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa ini adalah mazhab jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, serta generasi setelahnya.Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam AlquranRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam At-Taurah, Al-Injil, Az-Zabur, dan Al-Furqan (Alquran), semisal (semulia) Al-Fatihah.” (HR. At-Tirmidzi, sahih)Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang)Allah Ta’ala brfirman dalam surah Al-Hijr ayat 87,وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ<“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”Dan salah satu tafsir dari As-Sab’ul Matsani di sini adalah Al-Fatihah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjelaskan surah yang paling agung dalam Alquran, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (surah Al-Fatihah) adalah As-Sab’ul Matsani dan ia adalah Alquran Al-‘Azhiim yang dianugerahkan kepadaku.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa ulama rahimahumullah berbeda pendapat tentang makna As-Sab’ul Matsani. Beberapa pendapat tersebut yaitu:-Tujuh ayat yang diulang-ulang dalam setiap rakaat salat.– Surah yang kandungannya pujian kepada Allah Ta’ala.– Surah yang dikhususkan hanya diturunkan kepada umat Islam ini, dan tidak diturunkan kepada umat-umat sebelumnya.Dan semua pendapat di atas diambil dari kata “Matsani”.Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya DoaIbnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Al-Fatihah menggabungkan antara dua macam sebab dikabulkannya sebuah doa, yaitu:–Tawassul dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya,– Tawassul dengan penghambaan kepada Allah dan pengesaan-Nya.Baru setelah itu adalah doa yang terpenting dan harapan paling bagus, yaitu meminta hidayah kepada Allah Ta’ala. Disebutkannya doa ini setelah dua macam tawassul tersebut, merupakan sebab dikabulkannya oleh Allah Ta’ala. Doa yang dimaksud oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah adalah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”Sedangkan dua macam tawassul tersebut ada pada ayat-ayat sebelumnya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa doa yang paling bermanfaat adalalah doa yang terdapat dalam Al-Fatihah, yaitu memohon pertolongan untuk mendapatkan keridaan-Nya, yaitu:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.”Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat IniDijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, hal itu karena Ash-Shiroth Al-Mustaqiim (jalan lurus) dalam Al-Fatihah mengandung ilmu yang hak dan ketundukan kepada Allah Ta’ala dengan mengamalkannya, mendakwahkannya serta berjihad di jalan Allah memerangi musuh-musuh-Nya. Sedangkan jalan lurus ini adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Adapun seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta ahli bid’ah di antara umat ini, tentunya melanggar ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari sinilah dikatakan bahwa Al-Fatihah mengandung bantahan ke seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta bantahan terhadap ahli bid’ah di antara umat ini.Baca Juga: Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar SalatKeutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis BesarHal ini disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa menukilkan perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,فمن علم تفسيرها كان كمن علم تفسير جميع كتب الله المنزلة“Barangsiapa yang mengetahui tafsirnya (Al-Fatihah), seolah-olah ia mengetahui tafsir seluruh kitab-kitab Allah yang diturunkan.”Hal ini dikarenakan Alquran menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sedangkan Al-Fatihah merupakan induk Alquran yang mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan maksud-maksud terbesarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” QS. (An-Nahl : 89)Pakar Tafsir di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum, Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Allah telah menjelaskan dalam Alquran ini semua pengetahuan dan segala perkara.”Ibnu Katsir rahimahullah setelah menukilkan ucapan Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Tafsirnya, lalu mengatakan, “Karena sesungguhnya Alquran mencakup semua ilmu bermanfaat dari khabar yang telah lalu dan pengetahuan yang akan datang, hukum setiap yang halal-haram, serta segala yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, hidup dan nasib mereka di akhirat.”Kesimpulan:Surah Al-Fatihah adalah kunci seluruh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Baca Juga:Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir DoaKhasiat Rahasia Surat Al-Fatihah***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi:https://Islamqa.info/ar/answers/132386https://www.Islamweb.net/ar/article/204127/dan sumber-sumber lainnya.🔍 Hadits Tentang Persahabatan, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Hasbunallah Wanimal Wakil, Doa Manasik UmrohTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah
Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)ismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah selanjutnya, yaitu: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun Salat 2. Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam Alquran 3. Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang) 4. Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya Doa 5. Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat Ini 6. Keutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis Besar Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun SalatTidaklah sah salat seseorang yang sengaja tidak membaca Al-Fatihah, padahal ia mampu membacanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ“Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa ini adalah mazhab jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, serta generasi setelahnya.Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam AlquranRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam At-Taurah, Al-Injil, Az-Zabur, dan Al-Furqan (Alquran), semisal (semulia) Al-Fatihah.” (HR. At-Tirmidzi, sahih)Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang)Allah Ta’ala brfirman dalam surah Al-Hijr ayat 87,وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ<“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”Dan salah satu tafsir dari As-Sab’ul Matsani di sini adalah Al-Fatihah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjelaskan surah yang paling agung dalam Alquran, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (surah Al-Fatihah) adalah As-Sab’ul Matsani dan ia adalah Alquran Al-‘Azhiim yang dianugerahkan kepadaku.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa ulama rahimahumullah berbeda pendapat tentang makna As-Sab’ul Matsani. Beberapa pendapat tersebut yaitu:-Tujuh ayat yang diulang-ulang dalam setiap rakaat salat.– Surah yang kandungannya pujian kepada Allah Ta’ala.– Surah yang dikhususkan hanya diturunkan kepada umat Islam ini, dan tidak diturunkan kepada umat-umat sebelumnya.Dan semua pendapat di atas diambil dari kata “Matsani”.Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya DoaIbnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Al-Fatihah menggabungkan antara dua macam sebab dikabulkannya sebuah doa, yaitu:–Tawassul dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya,– Tawassul dengan penghambaan kepada Allah dan pengesaan-Nya.Baru setelah itu adalah doa yang terpenting dan harapan paling bagus, yaitu meminta hidayah kepada Allah Ta’ala. Disebutkannya doa ini setelah dua macam tawassul tersebut, merupakan sebab dikabulkannya oleh Allah Ta’ala. Doa yang dimaksud oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah adalah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”Sedangkan dua macam tawassul tersebut ada pada ayat-ayat sebelumnya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa doa yang paling bermanfaat adalalah doa yang terdapat dalam Al-Fatihah, yaitu memohon pertolongan untuk mendapatkan keridaan-Nya, yaitu:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.”Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat IniDijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, hal itu karena Ash-Shiroth Al-Mustaqiim (jalan lurus) dalam Al-Fatihah mengandung ilmu yang hak dan ketundukan kepada Allah Ta’ala dengan mengamalkannya, mendakwahkannya serta berjihad di jalan Allah memerangi musuh-musuh-Nya. Sedangkan jalan lurus ini adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Adapun seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta ahli bid’ah di antara umat ini, tentunya melanggar ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari sinilah dikatakan bahwa Al-Fatihah mengandung bantahan ke seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta bantahan terhadap ahli bid’ah di antara umat ini.Baca Juga: Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar SalatKeutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis BesarHal ini disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa menukilkan perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,فمن علم تفسيرها كان كمن علم تفسير جميع كتب الله المنزلة“Barangsiapa yang mengetahui tafsirnya (Al-Fatihah), seolah-olah ia mengetahui tafsir seluruh kitab-kitab Allah yang diturunkan.”Hal ini dikarenakan Alquran menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sedangkan Al-Fatihah merupakan induk Alquran yang mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan maksud-maksud terbesarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” QS. (An-Nahl : 89)Pakar Tafsir di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum, Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Allah telah menjelaskan dalam Alquran ini semua pengetahuan dan segala perkara.”Ibnu Katsir rahimahullah setelah menukilkan ucapan Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Tafsirnya, lalu mengatakan, “Karena sesungguhnya Alquran mencakup semua ilmu bermanfaat dari khabar yang telah lalu dan pengetahuan yang akan datang, hukum setiap yang halal-haram, serta segala yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, hidup dan nasib mereka di akhirat.”Kesimpulan:Surah Al-Fatihah adalah kunci seluruh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Baca Juga:Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir DoaKhasiat Rahasia Surat Al-Fatihah***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi:https://Islamqa.info/ar/answers/132386https://www.Islamweb.net/ar/article/204127/dan sumber-sumber lainnya.🔍 Hadits Tentang Persahabatan, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Hasbunallah Wanimal Wakil, Doa Manasik UmrohTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah


Baca pembahasan sebelumnya Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)ismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du,Keutamaan surah Al-Fatihah selanjutnya, yaitu: Daftar Isi sembunyikan 1. Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun Salat 2. Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam Alquran 3. Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang) 4. Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya Doa 5. Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat Ini 6. Keutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis Besar Keutamaan Kelima: Membaca Al-Fatihah adalah Rukun SalatTidaklah sah salat seseorang yang sengaja tidak membaca Al-Fatihah, padahal ia mampu membacanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ“Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa ini adalah mazhab jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, serta generasi setelahnya.Keutamaan Keenam: Al-Fatihah adalah Surat Paling Utama Dalam AlquranRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam At-Taurah, Al-Injil, Az-Zabur, dan Al-Furqan (Alquran), semisal (semulia) Al-Fatihah.” (HR. At-Tirmidzi, sahih)Keutamaan Ketujuh: Al-Fatihah Disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-Ulang)Allah Ta’ala brfirman dalam surah Al-Hijr ayat 87,وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ<“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”Dan salah satu tafsir dari As-Sab’ul Matsani di sini adalah Al-Fatihah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menjelaskan surah yang paling agung dalam Alquran, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin (surah Al-Fatihah) adalah As-Sab’ul Matsani dan ia adalah Alquran Al-‘Azhiim yang dianugerahkan kepadaku.”Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa ulama rahimahumullah berbeda pendapat tentang makna As-Sab’ul Matsani. Beberapa pendapat tersebut yaitu:-Tujuh ayat yang diulang-ulang dalam setiap rakaat salat.– Surah yang kandungannya pujian kepada Allah Ta’ala.– Surah yang dikhususkan hanya diturunkan kepada umat Islam ini, dan tidak diturunkan kepada umat-umat sebelumnya.Dan semua pendapat di atas diambil dari kata “Matsani”.Keutamaan Kedelapan: Mengandung Doa Terpenting dan Sebab Terkabulkannya DoaIbnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Al-Fatihah menggabungkan antara dua macam sebab dikabulkannya sebuah doa, yaitu:–Tawassul dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya,– Tawassul dengan penghambaan kepada Allah dan pengesaan-Nya.Baru setelah itu adalah doa yang terpenting dan harapan paling bagus, yaitu meminta hidayah kepada Allah Ta’ala. Disebutkannya doa ini setelah dua macam tawassul tersebut, merupakan sebab dikabulkannya oleh Allah Ta’ala. Doa yang dimaksud oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah adalah,اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”Sedangkan dua macam tawassul tersebut ada pada ayat-ayat sebelumnya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan bahwa doa yang paling bermanfaat adalalah doa yang terdapat dalam Al-Fatihah, yaitu memohon pertolongan untuk mendapatkan keridaan-Nya, yaitu:اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.”Keutamaan Kesembilan: Al-Fatihah Mengandung Bantahan ke Seluruh Ahli Kebatilan dari Berbagai Aliran Non-Islam serta Bantahan terhadap Ahli Bid’ah di antara Umat IniDijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, hal itu karena Ash-Shiroth Al-Mustaqiim (jalan lurus) dalam Al-Fatihah mengandung ilmu yang hak dan ketundukan kepada Allah Ta’ala dengan mengamalkannya, mendakwahkannya serta berjihad di jalan Allah memerangi musuh-musuh-Nya. Sedangkan jalan lurus ini adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Adapun seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta ahli bid’ah di antara umat ini, tentunya melanggar ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari sinilah dikatakan bahwa Al-Fatihah mengandung bantahan ke seluruh ahli kebatilan dari berbagai aliran non-Islam serta bantahan terhadap ahli bid’ah di antara umat ini.Baca Juga: Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar SalatKeutamaan Kesepuluh: Surat Al-Fatihah Mengandung Makna Seluruh Kitab-Kitab Allah yang Diturunkan Secara Garis BesarHal ini disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa menukilkan perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,فمن علم تفسيرها كان كمن علم تفسير جميع كتب الله المنزلة“Barangsiapa yang mengetahui tafsirnya (Al-Fatihah), seolah-olah ia mengetahui tafsir seluruh kitab-kitab Allah yang diturunkan.”Hal ini dikarenakan Alquran menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sedangkan Al-Fatihah merupakan induk Alquran yang mengandung dasar dari seluruh perincian Alquran dan maksud-maksud terbesarnya.Allah Ta’ala berfirman,وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ “Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” QS. (An-Nahl : 89)Pakar Tafsir di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum, Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Allah telah menjelaskan dalam Alquran ini semua pengetahuan dan segala perkara.”Ibnu Katsir rahimahullah setelah menukilkan ucapan Abdullah bin Ma’ud radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Tafsirnya, lalu mengatakan, “Karena sesungguhnya Alquran mencakup semua ilmu bermanfaat dari khabar yang telah lalu dan pengetahuan yang akan datang, hukum setiap yang halal-haram, serta segala yang dibutuhkan manusia dalam urusan dunia, agama, hidup dan nasib mereka di akhirat.”Kesimpulan:Surah Al-Fatihah adalah kunci seluruh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.Baca Juga:Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir DoaKhasiat Rahasia Surat Al-Fatihah***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi:https://Islamqa.info/ar/answers/132386https://www.Islamweb.net/ar/article/204127/dan sumber-sumber lainnya.🔍 Hadits Tentang Persahabatan, Tata Cara Tayamum Muhammadiyah, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Hasbunallah Wanimal Wakil, Doa Manasik UmrohTags: alquranfaidah surat alfatihahkeutamaan alfatihahkeutamaan surat alfatihahnasihatnasihat islamsurat alfatihah

Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan disyariatkan pada bulan Syakban tahun 2 Hijriyah. Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadits berikut. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Adapun periode puasa, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau puasa setiap bulannya tiga hari. Kemudian beliau menambah puasa hingga 17 bulan dari Rabi’ul Awwal sampai Ramadhan (Yazid mengatakan 19 bulan dari Rabi’ul Awwal hingga Ramadhan), setiap bulannya tiga hari puasa. Kemudian beliau juga puasa Asyura (sepuluh Muharram). Kemudian Allah mewajibkan puasa dengan menurunkan ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Hingga ayat, وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِين “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184). Maka barang siapa ingin puasa, silakan. Siapa yang mau tunaikan fidyah dengan memberi makan orang miskin, dibolehkan pula. Kemudian diturunkan ayat, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Maka diwajibkan puasa bagi yang mukim, sehat, dan diberikan keringanan bagi orang sakit, musafir. Sedangkan untuk yang sudah berusia lanjut yang tidak sanggup lagi untuk berpuasa, maka dikenakan fidyah dengan memberi makan pada orang miskin. Inilah periode kedua. Maka orang-orang saat itu makan, minum, dan menggauli istri mereka selama mereka belum tidur malam. Ketika sudah tidur, maka tidak boleh melakukan hal-hal tadi lagi. Diceritakan bahwa ada seseorang bernama Shirmah, siang hari ia bekerja hingga petang. Kemudian ia mendatangi keluarganya, kemudian ia shalat Isya, kemudian langsung tertidur dan tidak sempat makan maupun minum hingga datang Subuh, maka ia dari tertidur tadi sudah dalam keadaan berpuasa. Lantas di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya yang sudah dalam keadaan letih berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan kepadanya, مَا لِى أَرَاكَ قَدْ جَهَدْتَ جَهْداً شَدِيداً “Sepertinya engkau dalam keadaan letih berat.” Ia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى عَمِلْتُ أَمْسِ فَجِئْتُ حِينَ جِئْتُ فَأَلْقَيْتُ نَفْسِى فَنِمْتُ وَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِماً “Iya wahai Rasulullah. Aku kemarin bekerja berat. Aku pulang lantas tertidur hingga aku berpuasa pada pagi hari.” Umar pun menggauli budak wanitanya atau istrinya setelah Umar tidur, kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kasus yang ia alami. Lantas turunlah firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).” (HR. Ahmad, 5:246). Kesimpulannya, tiga tahapan puasa adalah: Puasa itu wajib, tetapi masih diberikan pilihan untuk bayar fidyah. (QS. Al-Baqarah: 183-184) Puasa menjadi wajib bagi yang mampu berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 185) Puasa wajib mulai dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, disunnahkan makan sahur. (QS. Al-Baqarah: 187) Baca juga: Kisah Shirmah yang Tidak Kuat Puasa   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Puasa Pertama:  Hikmah dalam pensyariatan puasa secara bertahap. Puasa tidak dijadikan wajib dalam satu tahapan. Namun, pensyariatan puasa ini datang melalui beberapa tahap. Awalnya adalah disyariatkannya puasa tiga hari, lalu beralih hingga puasa sebulan penuh dengan ketentuan boleh memilih antara puasa atau fidyah. Hingga, puasa jadi terbiasa, maka diwajibkanlah puasa sebulan penuh yang tiada tawar menawar, kecuali bagi orang yang sakit, musafir, atau pun karena uzur yang tidak mungkin melaksanakan puasa. Lalu puasa diberi keringanan dengan dibolehkan makan, minum, dan hubungan intim hingga waktu terbit fajar Shubuh. Dengan demikian dapat kita ambil sebuah pelajaran dalam berdakwah itu setahap demi setahap. Baca juga: Puasa Umat Sebelum Islam Kedua: Pensyariatan puasa dipenuhi dengan kemudahan dan keringanan serta tidak bertujuan untuk membuat umat ini susah. Dilihat dari awal diwajibkannya puasa mulai setelah shalat Isya atau dari tidur malam hingga tenggelam matahari. Kemudian diberi keringanan dengan firman Allah Ta’ala, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Hal ini menunjukkan Islam itu mudah, ringan, dan tidak memberatkan. Baca juga: Ajaran Islam itu Tidak Membuat Susah Ketiga: Pada permulaan ayat tentang pensyariatan puasa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dari sini, kita dapatkan sebuah pelajaran bagi para dai dalam berdakwah untuk memakai metode yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam proses pensyariatan puasa. Puasa itu diwajibkan kepada umat Muhammad dan umat terdahulu. Dari ayat ini ada dua faedah: Gunakanlah metode motivasi diri dan perbaikan hati, seperti di dalam ayat dimotivasi untuk meraih takwa. Karena pada dasarnya, ibadah puasa adalah susah dan memberatkan. Namun, pekerjaan yang susah dan berat jika seseorang tidak merasa terbebani, itu akan terasa mudah dipikulnya, karena bukan hanya ia seorang yang berpuasa, tetapi yang lainnya juga. Gunakanlah metode menyemangati untuk berlomba-lomba dengan umat-umat sebelumnya. Ini berarti kita diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dua metode motivasi diri dan perbaikan hati serta berlomba-lomba dalam kebaikan bisa digunakan oleh para dai dalam berdakwah. Baca juga: Empat Kaidah dalam Berdakwah Keempat: Pensyariatan puasa juga menimbulkan kepekaan sosial yang tinggi. Puasa itu mengingatkan pada orang kaya bagaimanakah susahnya orang miskin. Puasa juga menguatkan ikatan persaudaraan antarsesama. Puasa juga untuk melatih diri agar dapat mengalahkan syahwat. Baca juga: Kenapa Pahala Puasa Ramadhan itu Tak Terhingga? Kelima: Berpuasa dan berbuka mempunyai batasan waktu yang telah ditentukan. Kita lihat waktu menahan diri dari pembatal hanya sebentar dan berbuka juga demikian. Selain itu, hal ini merupakan ciri dari sebuah aturan, juga harus tepat dan konsisten dalam menjalankannya. Sifat disiplin seperti ini harus diterapkan dalam keseharian kaum muslimin agar terhindar dari perbuatan sia-sia. Fenomena disiplin ini dapat kita saksikan di Masjidil Haram ketika ratusan ribu orang berbuka puasa dalam satu waktu pada awal kalimat azan. Sikap disiplin seperti ini harusnya diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan kaum muslimin. Keenam: Kewajiban puasa membiasakan setiap muslim untuk menjaga dirinya sendiri. Seorang muslim mungkin saja menampakkan dirinya berpuasa. Kemudian ketika di rumah, ia bisa saja mengunci pintu lalu makan dan minum di dalam kamar semaunya. Itu kalau ia ingin berkhianat saat berpuasa. Oleh karena itu, Allah memberi pahala yang besar bagi orang yang menjalani puasa dengan benar sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’” (HR. Muslim, no. 1151) Baca juga: Ganjaran untuk Mereka yang Berpuasa   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Untaian Faedah dari Ayat Puasa. Cetakan pertama, Tahun 2019. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.   —  Selesai disusun pada Jumat siang, 6 Ramadhan 1443 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara puasa faedah sirah faedah sirah nabi puasa wajib sejarah puasa sirah nabi tafsir ayat puasa tahap pensyariatan puasa

Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan disyariatkan pada bulan Syakban tahun 2 Hijriyah. Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadits berikut. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Adapun periode puasa, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau puasa setiap bulannya tiga hari. Kemudian beliau menambah puasa hingga 17 bulan dari Rabi’ul Awwal sampai Ramadhan (Yazid mengatakan 19 bulan dari Rabi’ul Awwal hingga Ramadhan), setiap bulannya tiga hari puasa. Kemudian beliau juga puasa Asyura (sepuluh Muharram). Kemudian Allah mewajibkan puasa dengan menurunkan ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Hingga ayat, وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِين “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184). Maka barang siapa ingin puasa, silakan. Siapa yang mau tunaikan fidyah dengan memberi makan orang miskin, dibolehkan pula. Kemudian diturunkan ayat, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Maka diwajibkan puasa bagi yang mukim, sehat, dan diberikan keringanan bagi orang sakit, musafir. Sedangkan untuk yang sudah berusia lanjut yang tidak sanggup lagi untuk berpuasa, maka dikenakan fidyah dengan memberi makan pada orang miskin. Inilah periode kedua. Maka orang-orang saat itu makan, minum, dan menggauli istri mereka selama mereka belum tidur malam. Ketika sudah tidur, maka tidak boleh melakukan hal-hal tadi lagi. Diceritakan bahwa ada seseorang bernama Shirmah, siang hari ia bekerja hingga petang. Kemudian ia mendatangi keluarganya, kemudian ia shalat Isya, kemudian langsung tertidur dan tidak sempat makan maupun minum hingga datang Subuh, maka ia dari tertidur tadi sudah dalam keadaan berpuasa. Lantas di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya yang sudah dalam keadaan letih berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan kepadanya, مَا لِى أَرَاكَ قَدْ جَهَدْتَ جَهْداً شَدِيداً “Sepertinya engkau dalam keadaan letih berat.” Ia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى عَمِلْتُ أَمْسِ فَجِئْتُ حِينَ جِئْتُ فَأَلْقَيْتُ نَفْسِى فَنِمْتُ وَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِماً “Iya wahai Rasulullah. Aku kemarin bekerja berat. Aku pulang lantas tertidur hingga aku berpuasa pada pagi hari.” Umar pun menggauli budak wanitanya atau istrinya setelah Umar tidur, kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kasus yang ia alami. Lantas turunlah firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).” (HR. Ahmad, 5:246). Kesimpulannya, tiga tahapan puasa adalah: Puasa itu wajib, tetapi masih diberikan pilihan untuk bayar fidyah. (QS. Al-Baqarah: 183-184) Puasa menjadi wajib bagi yang mampu berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 185) Puasa wajib mulai dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, disunnahkan makan sahur. (QS. Al-Baqarah: 187) Baca juga: Kisah Shirmah yang Tidak Kuat Puasa   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Puasa Pertama:  Hikmah dalam pensyariatan puasa secara bertahap. Puasa tidak dijadikan wajib dalam satu tahapan. Namun, pensyariatan puasa ini datang melalui beberapa tahap. Awalnya adalah disyariatkannya puasa tiga hari, lalu beralih hingga puasa sebulan penuh dengan ketentuan boleh memilih antara puasa atau fidyah. Hingga, puasa jadi terbiasa, maka diwajibkanlah puasa sebulan penuh yang tiada tawar menawar, kecuali bagi orang yang sakit, musafir, atau pun karena uzur yang tidak mungkin melaksanakan puasa. Lalu puasa diberi keringanan dengan dibolehkan makan, minum, dan hubungan intim hingga waktu terbit fajar Shubuh. Dengan demikian dapat kita ambil sebuah pelajaran dalam berdakwah itu setahap demi setahap. Baca juga: Puasa Umat Sebelum Islam Kedua: Pensyariatan puasa dipenuhi dengan kemudahan dan keringanan serta tidak bertujuan untuk membuat umat ini susah. Dilihat dari awal diwajibkannya puasa mulai setelah shalat Isya atau dari tidur malam hingga tenggelam matahari. Kemudian diberi keringanan dengan firman Allah Ta’ala, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Hal ini menunjukkan Islam itu mudah, ringan, dan tidak memberatkan. Baca juga: Ajaran Islam itu Tidak Membuat Susah Ketiga: Pada permulaan ayat tentang pensyariatan puasa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dari sini, kita dapatkan sebuah pelajaran bagi para dai dalam berdakwah untuk memakai metode yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam proses pensyariatan puasa. Puasa itu diwajibkan kepada umat Muhammad dan umat terdahulu. Dari ayat ini ada dua faedah: Gunakanlah metode motivasi diri dan perbaikan hati, seperti di dalam ayat dimotivasi untuk meraih takwa. Karena pada dasarnya, ibadah puasa adalah susah dan memberatkan. Namun, pekerjaan yang susah dan berat jika seseorang tidak merasa terbebani, itu akan terasa mudah dipikulnya, karena bukan hanya ia seorang yang berpuasa, tetapi yang lainnya juga. Gunakanlah metode menyemangati untuk berlomba-lomba dengan umat-umat sebelumnya. Ini berarti kita diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dua metode motivasi diri dan perbaikan hati serta berlomba-lomba dalam kebaikan bisa digunakan oleh para dai dalam berdakwah. Baca juga: Empat Kaidah dalam Berdakwah Keempat: Pensyariatan puasa juga menimbulkan kepekaan sosial yang tinggi. Puasa itu mengingatkan pada orang kaya bagaimanakah susahnya orang miskin. Puasa juga menguatkan ikatan persaudaraan antarsesama. Puasa juga untuk melatih diri agar dapat mengalahkan syahwat. Baca juga: Kenapa Pahala Puasa Ramadhan itu Tak Terhingga? Kelima: Berpuasa dan berbuka mempunyai batasan waktu yang telah ditentukan. Kita lihat waktu menahan diri dari pembatal hanya sebentar dan berbuka juga demikian. Selain itu, hal ini merupakan ciri dari sebuah aturan, juga harus tepat dan konsisten dalam menjalankannya. Sifat disiplin seperti ini harus diterapkan dalam keseharian kaum muslimin agar terhindar dari perbuatan sia-sia. Fenomena disiplin ini dapat kita saksikan di Masjidil Haram ketika ratusan ribu orang berbuka puasa dalam satu waktu pada awal kalimat azan. Sikap disiplin seperti ini harusnya diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan kaum muslimin. Keenam: Kewajiban puasa membiasakan setiap muslim untuk menjaga dirinya sendiri. Seorang muslim mungkin saja menampakkan dirinya berpuasa. Kemudian ketika di rumah, ia bisa saja mengunci pintu lalu makan dan minum di dalam kamar semaunya. Itu kalau ia ingin berkhianat saat berpuasa. Oleh karena itu, Allah memberi pahala yang besar bagi orang yang menjalani puasa dengan benar sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’” (HR. Muslim, no. 1151) Baca juga: Ganjaran untuk Mereka yang Berpuasa   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Untaian Faedah dari Ayat Puasa. Cetakan pertama, Tahun 2019. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.   —  Selesai disusun pada Jumat siang, 6 Ramadhan 1443 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara puasa faedah sirah faedah sirah nabi puasa wajib sejarah puasa sirah nabi tafsir ayat puasa tahap pensyariatan puasa
Puasa Ramadhan disyariatkan pada bulan Syakban tahun 2 Hijriyah. Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadits berikut. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Adapun periode puasa, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau puasa setiap bulannya tiga hari. Kemudian beliau menambah puasa hingga 17 bulan dari Rabi’ul Awwal sampai Ramadhan (Yazid mengatakan 19 bulan dari Rabi’ul Awwal hingga Ramadhan), setiap bulannya tiga hari puasa. Kemudian beliau juga puasa Asyura (sepuluh Muharram). Kemudian Allah mewajibkan puasa dengan menurunkan ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Hingga ayat, وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِين “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184). Maka barang siapa ingin puasa, silakan. Siapa yang mau tunaikan fidyah dengan memberi makan orang miskin, dibolehkan pula. Kemudian diturunkan ayat, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Maka diwajibkan puasa bagi yang mukim, sehat, dan diberikan keringanan bagi orang sakit, musafir. Sedangkan untuk yang sudah berusia lanjut yang tidak sanggup lagi untuk berpuasa, maka dikenakan fidyah dengan memberi makan pada orang miskin. Inilah periode kedua. Maka orang-orang saat itu makan, minum, dan menggauli istri mereka selama mereka belum tidur malam. Ketika sudah tidur, maka tidak boleh melakukan hal-hal tadi lagi. Diceritakan bahwa ada seseorang bernama Shirmah, siang hari ia bekerja hingga petang. Kemudian ia mendatangi keluarganya, kemudian ia shalat Isya, kemudian langsung tertidur dan tidak sempat makan maupun minum hingga datang Subuh, maka ia dari tertidur tadi sudah dalam keadaan berpuasa. Lantas di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya yang sudah dalam keadaan letih berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan kepadanya, مَا لِى أَرَاكَ قَدْ جَهَدْتَ جَهْداً شَدِيداً “Sepertinya engkau dalam keadaan letih berat.” Ia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى عَمِلْتُ أَمْسِ فَجِئْتُ حِينَ جِئْتُ فَأَلْقَيْتُ نَفْسِى فَنِمْتُ وَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِماً “Iya wahai Rasulullah. Aku kemarin bekerja berat. Aku pulang lantas tertidur hingga aku berpuasa pada pagi hari.” Umar pun menggauli budak wanitanya atau istrinya setelah Umar tidur, kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kasus yang ia alami. Lantas turunlah firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).” (HR. Ahmad, 5:246). Kesimpulannya, tiga tahapan puasa adalah: Puasa itu wajib, tetapi masih diberikan pilihan untuk bayar fidyah. (QS. Al-Baqarah: 183-184) Puasa menjadi wajib bagi yang mampu berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 185) Puasa wajib mulai dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, disunnahkan makan sahur. (QS. Al-Baqarah: 187) Baca juga: Kisah Shirmah yang Tidak Kuat Puasa   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Puasa Pertama:  Hikmah dalam pensyariatan puasa secara bertahap. Puasa tidak dijadikan wajib dalam satu tahapan. Namun, pensyariatan puasa ini datang melalui beberapa tahap. Awalnya adalah disyariatkannya puasa tiga hari, lalu beralih hingga puasa sebulan penuh dengan ketentuan boleh memilih antara puasa atau fidyah. Hingga, puasa jadi terbiasa, maka diwajibkanlah puasa sebulan penuh yang tiada tawar menawar, kecuali bagi orang yang sakit, musafir, atau pun karena uzur yang tidak mungkin melaksanakan puasa. Lalu puasa diberi keringanan dengan dibolehkan makan, minum, dan hubungan intim hingga waktu terbit fajar Shubuh. Dengan demikian dapat kita ambil sebuah pelajaran dalam berdakwah itu setahap demi setahap. Baca juga: Puasa Umat Sebelum Islam Kedua: Pensyariatan puasa dipenuhi dengan kemudahan dan keringanan serta tidak bertujuan untuk membuat umat ini susah. Dilihat dari awal diwajibkannya puasa mulai setelah shalat Isya atau dari tidur malam hingga tenggelam matahari. Kemudian diberi keringanan dengan firman Allah Ta’ala, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Hal ini menunjukkan Islam itu mudah, ringan, dan tidak memberatkan. Baca juga: Ajaran Islam itu Tidak Membuat Susah Ketiga: Pada permulaan ayat tentang pensyariatan puasa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dari sini, kita dapatkan sebuah pelajaran bagi para dai dalam berdakwah untuk memakai metode yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam proses pensyariatan puasa. Puasa itu diwajibkan kepada umat Muhammad dan umat terdahulu. Dari ayat ini ada dua faedah: Gunakanlah metode motivasi diri dan perbaikan hati, seperti di dalam ayat dimotivasi untuk meraih takwa. Karena pada dasarnya, ibadah puasa adalah susah dan memberatkan. Namun, pekerjaan yang susah dan berat jika seseorang tidak merasa terbebani, itu akan terasa mudah dipikulnya, karena bukan hanya ia seorang yang berpuasa, tetapi yang lainnya juga. Gunakanlah metode menyemangati untuk berlomba-lomba dengan umat-umat sebelumnya. Ini berarti kita diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dua metode motivasi diri dan perbaikan hati serta berlomba-lomba dalam kebaikan bisa digunakan oleh para dai dalam berdakwah. Baca juga: Empat Kaidah dalam Berdakwah Keempat: Pensyariatan puasa juga menimbulkan kepekaan sosial yang tinggi. Puasa itu mengingatkan pada orang kaya bagaimanakah susahnya orang miskin. Puasa juga menguatkan ikatan persaudaraan antarsesama. Puasa juga untuk melatih diri agar dapat mengalahkan syahwat. Baca juga: Kenapa Pahala Puasa Ramadhan itu Tak Terhingga? Kelima: Berpuasa dan berbuka mempunyai batasan waktu yang telah ditentukan. Kita lihat waktu menahan diri dari pembatal hanya sebentar dan berbuka juga demikian. Selain itu, hal ini merupakan ciri dari sebuah aturan, juga harus tepat dan konsisten dalam menjalankannya. Sifat disiplin seperti ini harus diterapkan dalam keseharian kaum muslimin agar terhindar dari perbuatan sia-sia. Fenomena disiplin ini dapat kita saksikan di Masjidil Haram ketika ratusan ribu orang berbuka puasa dalam satu waktu pada awal kalimat azan. Sikap disiplin seperti ini harusnya diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan kaum muslimin. Keenam: Kewajiban puasa membiasakan setiap muslim untuk menjaga dirinya sendiri. Seorang muslim mungkin saja menampakkan dirinya berpuasa. Kemudian ketika di rumah, ia bisa saja mengunci pintu lalu makan dan minum di dalam kamar semaunya. Itu kalau ia ingin berkhianat saat berpuasa. Oleh karena itu, Allah memberi pahala yang besar bagi orang yang menjalani puasa dengan benar sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’” (HR. Muslim, no. 1151) Baca juga: Ganjaran untuk Mereka yang Berpuasa   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Untaian Faedah dari Ayat Puasa. Cetakan pertama, Tahun 2019. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.   —  Selesai disusun pada Jumat siang, 6 Ramadhan 1443 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara puasa faedah sirah faedah sirah nabi puasa wajib sejarah puasa sirah nabi tafsir ayat puasa tahap pensyariatan puasa


Puasa Ramadhan disyariatkan pada bulan Syakban tahun 2 Hijriyah. Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadits berikut. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Adapun periode puasa, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau puasa setiap bulannya tiga hari. Kemudian beliau menambah puasa hingga 17 bulan dari Rabi’ul Awwal sampai Ramadhan (Yazid mengatakan 19 bulan dari Rabi’ul Awwal hingga Ramadhan), setiap bulannya tiga hari puasa. Kemudian beliau juga puasa Asyura (sepuluh Muharram). Kemudian Allah mewajibkan puasa dengan menurunkan ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Hingga ayat, وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِين “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184). Maka barang siapa ingin puasa, silakan. Siapa yang mau tunaikan fidyah dengan memberi makan orang miskin, dibolehkan pula. Kemudian diturunkan ayat, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Maka diwajibkan puasa bagi yang mukim, sehat, dan diberikan keringanan bagi orang sakit, musafir. Sedangkan untuk yang sudah berusia lanjut yang tidak sanggup lagi untuk berpuasa, maka dikenakan fidyah dengan memberi makan pada orang miskin. Inilah periode kedua. Maka orang-orang saat itu makan, minum, dan menggauli istri mereka selama mereka belum tidur malam. Ketika sudah tidur, maka tidak boleh melakukan hal-hal tadi lagi. Diceritakan bahwa ada seseorang bernama Shirmah, siang hari ia bekerja hingga petang. Kemudian ia mendatangi keluarganya, kemudian ia shalat Isya, kemudian langsung tertidur dan tidak sempat makan maupun minum hingga datang Subuh, maka ia dari tertidur tadi sudah dalam keadaan berpuasa. Lantas di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya yang sudah dalam keadaan letih berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan kepadanya, مَا لِى أَرَاكَ قَدْ جَهَدْتَ جَهْداً شَدِيداً “Sepertinya engkau dalam keadaan letih berat.” Ia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى عَمِلْتُ أَمْسِ فَجِئْتُ حِينَ جِئْتُ فَأَلْقَيْتُ نَفْسِى فَنِمْتُ وَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِماً “Iya wahai Rasulullah. Aku kemarin bekerja berat. Aku pulang lantas tertidur hingga aku berpuasa pada pagi hari.” Umar pun menggauli budak wanitanya atau istrinya setelah Umar tidur, kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kasus yang ia alami. Lantas turunlah firman Allah, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).” (HR. Ahmad, 5:246). Kesimpulannya, tiga tahapan puasa adalah: Puasa itu wajib, tetapi masih diberikan pilihan untuk bayar fidyah. (QS. Al-Baqarah: 183-184) Puasa menjadi wajib bagi yang mampu berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 185) Puasa wajib mulai dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, disunnahkan makan sahur. (QS. Al-Baqarah: 187) Baca juga: Kisah Shirmah yang Tidak Kuat Puasa   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Puasa Pertama:  Hikmah dalam pensyariatan puasa secara bertahap. Puasa tidak dijadikan wajib dalam satu tahapan. Namun, pensyariatan puasa ini datang melalui beberapa tahap. Awalnya adalah disyariatkannya puasa tiga hari, lalu beralih hingga puasa sebulan penuh dengan ketentuan boleh memilih antara puasa atau fidyah. Hingga, puasa jadi terbiasa, maka diwajibkanlah puasa sebulan penuh yang tiada tawar menawar, kecuali bagi orang yang sakit, musafir, atau pun karena uzur yang tidak mungkin melaksanakan puasa. Lalu puasa diberi keringanan dengan dibolehkan makan, minum, dan hubungan intim hingga waktu terbit fajar Shubuh. Dengan demikian dapat kita ambil sebuah pelajaran dalam berdakwah itu setahap demi setahap. Baca juga: Puasa Umat Sebelum Islam Kedua: Pensyariatan puasa dipenuhi dengan kemudahan dan keringanan serta tidak bertujuan untuk membuat umat ini susah. Dilihat dari awal diwajibkannya puasa mulai setelah shalat Isya atau dari tidur malam hingga tenggelam matahari. Kemudian diberi keringanan dengan firman Allah Ta’ala, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Hal ini menunjukkan Islam itu mudah, ringan, dan tidak memberatkan. Baca juga: Ajaran Islam itu Tidak Membuat Susah Ketiga: Pada permulaan ayat tentang pensyariatan puasa, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dari sini, kita dapatkan sebuah pelajaran bagi para dai dalam berdakwah untuk memakai metode yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam proses pensyariatan puasa. Puasa itu diwajibkan kepada umat Muhammad dan umat terdahulu. Dari ayat ini ada dua faedah: Gunakanlah metode motivasi diri dan perbaikan hati, seperti di dalam ayat dimotivasi untuk meraih takwa. Karena pada dasarnya, ibadah puasa adalah susah dan memberatkan. Namun, pekerjaan yang susah dan berat jika seseorang tidak merasa terbebani, itu akan terasa mudah dipikulnya, karena bukan hanya ia seorang yang berpuasa, tetapi yang lainnya juga. Gunakanlah metode menyemangati untuk berlomba-lomba dengan umat-umat sebelumnya. Ini berarti kita diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dua metode motivasi diri dan perbaikan hati serta berlomba-lomba dalam kebaikan bisa digunakan oleh para dai dalam berdakwah. Baca juga: Empat Kaidah dalam Berdakwah Keempat: Pensyariatan puasa juga menimbulkan kepekaan sosial yang tinggi. Puasa itu mengingatkan pada orang kaya bagaimanakah susahnya orang miskin. Puasa juga menguatkan ikatan persaudaraan antarsesama. Puasa juga untuk melatih diri agar dapat mengalahkan syahwat. Baca juga: Kenapa Pahala Puasa Ramadhan itu Tak Terhingga? Kelima: Berpuasa dan berbuka mempunyai batasan waktu yang telah ditentukan. Kita lihat waktu menahan diri dari pembatal hanya sebentar dan berbuka juga demikian. Selain itu, hal ini merupakan ciri dari sebuah aturan, juga harus tepat dan konsisten dalam menjalankannya. Sifat disiplin seperti ini harus diterapkan dalam keseharian kaum muslimin agar terhindar dari perbuatan sia-sia. Fenomena disiplin ini dapat kita saksikan di Masjidil Haram ketika ratusan ribu orang berbuka puasa dalam satu waktu pada awal kalimat azan. Sikap disiplin seperti ini harusnya diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan kaum muslimin. Keenam: Kewajiban puasa membiasakan setiap muslim untuk menjaga dirinya sendiri. Seorang muslim mungkin saja menampakkan dirinya berpuasa. Kemudian ketika di rumah, ia bisa saja mengunci pintu lalu makan dan minum di dalam kamar semaunya. Itu kalau ia ingin berkhianat saat berpuasa. Oleh karena itu, Allah memberi pahala yang besar bagi orang yang menjalani puasa dengan benar sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.’” (HR. Muslim, no. 1151) Baca juga: Ganjaran untuk Mereka yang Berpuasa   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Untaian Faedah dari Ayat Puasa. Cetakan pertama, Tahun 2019. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.   —  Selesai disusun pada Jumat siang, 6 Ramadhan 1443 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara puasa faedah sirah faedah sirah nabi puasa wajib sejarah puasa sirah nabi tafsir ayat puasa tahap pensyariatan puasa

Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 3)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Makna اللهم (allahumma) 1.1. Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا الله 1.2. Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya 2. Apakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja? Makna اللهم (allahumma)Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا اللهIbnul Jauzi Rahimahullah menyebutkan dalam Zadul Masir perkataan Az-Zujaj Rahimahullah bahwa Al-Khalil, Sibawih, dan seluruh pakar Nahwu yang terpercaya menyatakan bahwa “اللهم itu maknanya adalah يا الله. Huruf mim bertasydid itu penganti huruf يا karena tidak ada mim saat disebutkan يا الله. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa huruf mim bertasydid pada اللهم itu pengganti huruf يا pada يا الله [1].Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-NyaDi antara rahasia indah dalam lafaz allahumma adalah huruf mim pada kata tersebut menunjukkan pengagungan. Hal ini karena huruf mim menunjukkan makna jama’, yaitu dengan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala.Banyak bukti dalam bahasa Arab bahwa huruf mim menunjukkan makna jama’. Misalnya, kata-kata sebagai berikut:– أَنْت kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi أَنْتُم.– هُو kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi هم.– لَمّ mengandung makna menggabungkan seperti dalam surat Al-Fajr: 19.– الْأُم juga menunjukkan makna menggabungkan. Oleh karena itu, Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an. Makkah disebut sebagai Ummul Qura. Al-Lauhul Mahfuzh disebut sebagai Ummul Kitab [2].Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba yang berdoa kepada Allah Ta’ala semata dengan menyeru “allahumma hakikatnya ia memohon kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya.Maka ucapan, “Allahumma inni as’aluka (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…)” dimana hakikatnya bermakna, “Ya Allah, yang memiliki seluruh nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang ‘ulya, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…” [3].Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menukilkan beberapa riwayat salaf shaleh tentang hal ini [4],“Seorang ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan,(اللهم) مجمع الدعاء‘Lafaz allahumma adalah sumber doa’Seorang imam besar, murid Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Abu Raja’ Al-‘Utharidi Rahimahullah mengatakan,إن الميم في قوله : (اللهم) فيها تسعة و تسعون اسما من أسماء الله تعالى‘Sesungguhnya huruf mim pada ucapan allahumma di dalamnya terdapat 99 nama Allah Ta’ala.’Ulama nahwu sekaligus seorang hakim, An-Nadhr bin Syumail Rahimahullah mengatakan,من قال (اللهم) فقد دعا الله بجميع أسمائه‘Barangsiapa yang mengatakan allahumma, pada hakikatnya ia telah berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebut seluruh nama-Nya’.”Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahApakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja?Tidak disyariatkan berzikir hanya dengan menyebut nama الله saja. Misalnya, berzikir hanya dengan menyebut, “Allah, Allah, Allah…!”Sebagian orang berzikir dengan cara ini. Mereka mengulang-ulang lafzhul jalalah الله berkali-kali. Terkadang mereka malah berzikir bersama sambil duduk atau berdiri, bergoyang kepalanya ke kanan dan ke kiri, bahkan saking cepatnya sehingga tidaklah tersisa kecuali lafaz huwa, huwa, huwa, atau kurang dari itu.Zikir seperti ini bukanlah ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada riwayat yang sahih tentang zikir, lafzhul jalalah “الله” tidaklah disebutkan dengan sendirian, kecuali selalu disebutkan bersama dengan kata lainnya. Misalnya seperti subhanallah, allhamdulillah, allahu akbar, astaghfirullah, dan lainnya.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’alaAllah Tidak Perlu Dibela?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar HafizhahullahFiqhul Asma’il Husna, Syekh Abdur Razzaaq HafizhahullahSyarhul Asma’il Husna, DR. Sa’id Al-Qohthani HafizhahullahAsma’ullahul Husna lilImam Ibnil Qoyyim, ‘Imad Al-Barudi HafizhahullahTafsir Asma’illahil Husna, Syekh As-Sa’di Rahimahullah, ‘Ubaid bin Ali Al-‘Ubaid hafizhahullahhttps://www.alukah.net/sharia/0/126372/https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/https://www.alukah.net/sharia/0/110575/ https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/187369/https://kalemtayeb.com/safahat/item/1297https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/72571/https://bit.ly/35mEh1ahttps://bit.ly/3Ce5dfjCatatan Kaki: [1] Meski terkadang disebutkan dalam sya’ir يا اللهم tapi ini jarang sekali (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/3/26). [2] https://www.alukah.net/sharia/0/126372/. [3] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar. [4] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 35 DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar.🔍 Bacaan Sholat Sesuai Sunnah, Sahabat Dunia Akhirat, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Macam Macam Akidah, Sebab Sujud SyukurTags: Aqidahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahLafzhul JalaalahManhajmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 3)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Makna اللهم (allahumma) 1.1. Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا الله 1.2. Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya 2. Apakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja? Makna اللهم (allahumma)Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا اللهIbnul Jauzi Rahimahullah menyebutkan dalam Zadul Masir perkataan Az-Zujaj Rahimahullah bahwa Al-Khalil, Sibawih, dan seluruh pakar Nahwu yang terpercaya menyatakan bahwa “اللهم itu maknanya adalah يا الله. Huruf mim bertasydid itu penganti huruf يا karena tidak ada mim saat disebutkan يا الله. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa huruf mim bertasydid pada اللهم itu pengganti huruf يا pada يا الله [1].Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-NyaDi antara rahasia indah dalam lafaz allahumma adalah huruf mim pada kata tersebut menunjukkan pengagungan. Hal ini karena huruf mim menunjukkan makna jama’, yaitu dengan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala.Banyak bukti dalam bahasa Arab bahwa huruf mim menunjukkan makna jama’. Misalnya, kata-kata sebagai berikut:– أَنْت kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi أَنْتُم.– هُو kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi هم.– لَمّ mengandung makna menggabungkan seperti dalam surat Al-Fajr: 19.– الْأُم juga menunjukkan makna menggabungkan. Oleh karena itu, Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an. Makkah disebut sebagai Ummul Qura. Al-Lauhul Mahfuzh disebut sebagai Ummul Kitab [2].Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba yang berdoa kepada Allah Ta’ala semata dengan menyeru “allahumma hakikatnya ia memohon kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya.Maka ucapan, “Allahumma inni as’aluka (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…)” dimana hakikatnya bermakna, “Ya Allah, yang memiliki seluruh nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang ‘ulya, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…” [3].Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menukilkan beberapa riwayat salaf shaleh tentang hal ini [4],“Seorang ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan,(اللهم) مجمع الدعاء‘Lafaz allahumma adalah sumber doa’Seorang imam besar, murid Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Abu Raja’ Al-‘Utharidi Rahimahullah mengatakan,إن الميم في قوله : (اللهم) فيها تسعة و تسعون اسما من أسماء الله تعالى‘Sesungguhnya huruf mim pada ucapan allahumma di dalamnya terdapat 99 nama Allah Ta’ala.’Ulama nahwu sekaligus seorang hakim, An-Nadhr bin Syumail Rahimahullah mengatakan,من قال (اللهم) فقد دعا الله بجميع أسمائه‘Barangsiapa yang mengatakan allahumma, pada hakikatnya ia telah berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebut seluruh nama-Nya’.”Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahApakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja?Tidak disyariatkan berzikir hanya dengan menyebut nama الله saja. Misalnya, berzikir hanya dengan menyebut, “Allah, Allah, Allah…!”Sebagian orang berzikir dengan cara ini. Mereka mengulang-ulang lafzhul jalalah الله berkali-kali. Terkadang mereka malah berzikir bersama sambil duduk atau berdiri, bergoyang kepalanya ke kanan dan ke kiri, bahkan saking cepatnya sehingga tidaklah tersisa kecuali lafaz huwa, huwa, huwa, atau kurang dari itu.Zikir seperti ini bukanlah ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada riwayat yang sahih tentang zikir, lafzhul jalalah “الله” tidaklah disebutkan dengan sendirian, kecuali selalu disebutkan bersama dengan kata lainnya. Misalnya seperti subhanallah, allhamdulillah, allahu akbar, astaghfirullah, dan lainnya.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’alaAllah Tidak Perlu Dibela?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar HafizhahullahFiqhul Asma’il Husna, Syekh Abdur Razzaaq HafizhahullahSyarhul Asma’il Husna, DR. Sa’id Al-Qohthani HafizhahullahAsma’ullahul Husna lilImam Ibnil Qoyyim, ‘Imad Al-Barudi HafizhahullahTafsir Asma’illahil Husna, Syekh As-Sa’di Rahimahullah, ‘Ubaid bin Ali Al-‘Ubaid hafizhahullahhttps://www.alukah.net/sharia/0/126372/https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/https://www.alukah.net/sharia/0/110575/ https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/187369/https://kalemtayeb.com/safahat/item/1297https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/72571/https://bit.ly/35mEh1ahttps://bit.ly/3Ce5dfjCatatan Kaki: [1] Meski terkadang disebutkan dalam sya’ir يا اللهم tapi ini jarang sekali (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/3/26). [2] https://www.alukah.net/sharia/0/126372/. [3] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar. [4] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 35 DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar.🔍 Bacaan Sholat Sesuai Sunnah, Sahabat Dunia Akhirat, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Macam Macam Akidah, Sebab Sujud SyukurTags: Aqidahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahLafzhul JalaalahManhajmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Makna اللهم (allahumma) 1.1. Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا الله 1.2. Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya 2. Apakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja? Makna اللهم (allahumma)Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا اللهIbnul Jauzi Rahimahullah menyebutkan dalam Zadul Masir perkataan Az-Zujaj Rahimahullah bahwa Al-Khalil, Sibawih, dan seluruh pakar Nahwu yang terpercaya menyatakan bahwa “اللهم itu maknanya adalah يا الله. Huruf mim bertasydid itu penganti huruf يا karena tidak ada mim saat disebutkan يا الله. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa huruf mim bertasydid pada اللهم itu pengganti huruf يا pada يا الله [1].Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-NyaDi antara rahasia indah dalam lafaz allahumma adalah huruf mim pada kata tersebut menunjukkan pengagungan. Hal ini karena huruf mim menunjukkan makna jama’, yaitu dengan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala.Banyak bukti dalam bahasa Arab bahwa huruf mim menunjukkan makna jama’. Misalnya, kata-kata sebagai berikut:– أَنْت kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi أَنْتُم.– هُو kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi هم.– لَمّ mengandung makna menggabungkan seperti dalam surat Al-Fajr: 19.– الْأُم juga menunjukkan makna menggabungkan. Oleh karena itu, Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an. Makkah disebut sebagai Ummul Qura. Al-Lauhul Mahfuzh disebut sebagai Ummul Kitab [2].Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba yang berdoa kepada Allah Ta’ala semata dengan menyeru “allahumma hakikatnya ia memohon kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya.Maka ucapan, “Allahumma inni as’aluka (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…)” dimana hakikatnya bermakna, “Ya Allah, yang memiliki seluruh nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang ‘ulya, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…” [3].Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menukilkan beberapa riwayat salaf shaleh tentang hal ini [4],“Seorang ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan,(اللهم) مجمع الدعاء‘Lafaz allahumma adalah sumber doa’Seorang imam besar, murid Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Abu Raja’ Al-‘Utharidi Rahimahullah mengatakan,إن الميم في قوله : (اللهم) فيها تسعة و تسعون اسما من أسماء الله تعالى‘Sesungguhnya huruf mim pada ucapan allahumma di dalamnya terdapat 99 nama Allah Ta’ala.’Ulama nahwu sekaligus seorang hakim, An-Nadhr bin Syumail Rahimahullah mengatakan,من قال (اللهم) فقد دعا الله بجميع أسمائه‘Barangsiapa yang mengatakan allahumma, pada hakikatnya ia telah berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebut seluruh nama-Nya’.”Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahApakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja?Tidak disyariatkan berzikir hanya dengan menyebut nama الله saja. Misalnya, berzikir hanya dengan menyebut, “Allah, Allah, Allah…!”Sebagian orang berzikir dengan cara ini. Mereka mengulang-ulang lafzhul jalalah الله berkali-kali. Terkadang mereka malah berzikir bersama sambil duduk atau berdiri, bergoyang kepalanya ke kanan dan ke kiri, bahkan saking cepatnya sehingga tidaklah tersisa kecuali lafaz huwa, huwa, huwa, atau kurang dari itu.Zikir seperti ini bukanlah ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada riwayat yang sahih tentang zikir, lafzhul jalalah “الله” tidaklah disebutkan dengan sendirian, kecuali selalu disebutkan bersama dengan kata lainnya. Misalnya seperti subhanallah, allhamdulillah, allahu akbar, astaghfirullah, dan lainnya.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’alaAllah Tidak Perlu Dibela?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar HafizhahullahFiqhul Asma’il Husna, Syekh Abdur Razzaaq HafizhahullahSyarhul Asma’il Husna, DR. Sa’id Al-Qohthani HafizhahullahAsma’ullahul Husna lilImam Ibnil Qoyyim, ‘Imad Al-Barudi HafizhahullahTafsir Asma’illahil Husna, Syekh As-Sa’di Rahimahullah, ‘Ubaid bin Ali Al-‘Ubaid hafizhahullahhttps://www.alukah.net/sharia/0/126372/https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/https://www.alukah.net/sharia/0/110575/ https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/187369/https://kalemtayeb.com/safahat/item/1297https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/72571/https://bit.ly/35mEh1ahttps://bit.ly/3Ce5dfjCatatan Kaki: [1] Meski terkadang disebutkan dalam sya’ir يا اللهم tapi ini jarang sekali (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/3/26). [2] https://www.alukah.net/sharia/0/126372/. [3] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar. [4] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 35 DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar.🔍 Bacaan Sholat Sesuai Sunnah, Sahabat Dunia Akhirat, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Macam Macam Akidah, Sebab Sujud SyukurTags: Aqidahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahLafzhul JalaalahManhajmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Penjelasan Lafzhul Jalaalah “Allah” (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Daftar Isi sembunyikan 1. Makna اللهم (allahumma) 1.1. Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا الله 1.2. Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya 2. Apakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja? Makna اللهم (allahumma)Huruf mim bertasydid pada اللهم sebagai penganti huruf يا pada يا اللهIbnul Jauzi Rahimahullah menyebutkan dalam Zadul Masir perkataan Az-Zujaj Rahimahullah bahwa Al-Khalil, Sibawih, dan seluruh pakar Nahwu yang terpercaya menyatakan bahwa “اللهم itu maknanya adalah يا الله. Huruf mim bertasydid itu penganti huruf يا karena tidak ada mim saat disebutkan يا الله. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa huruf mim bertasydid pada اللهم itu pengganti huruf يا pada يا الله [1].Lafaz allahumma hakikatnya adalah doa kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-NyaDi antara rahasia indah dalam lafaz allahumma adalah huruf mim pada kata tersebut menunjukkan pengagungan. Hal ini karena huruf mim menunjukkan makna jama’, yaitu dengan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala.Banyak bukti dalam bahasa Arab bahwa huruf mim menunjukkan makna jama’. Misalnya, kata-kata sebagai berikut:– أَنْت kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi أَنْتُم.– هُو kata tunggal (mufrod), jika hendak dibuat bentuk jamak menjadi هم.– لَمّ mengandung makna menggabungkan seperti dalam surat Al-Fajr: 19.– الْأُم juga menunjukkan makna menggabungkan. Oleh karena itu, Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Qur’an. Makkah disebut sebagai Ummul Qura. Al-Lauhul Mahfuzh disebut sebagai Ummul Kitab [2].Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa seorang hamba yang berdoa kepada Allah Ta’ala semata dengan menyeru “allahumma hakikatnya ia memohon kepada-Nya dengan seluruh nama dan sifat-Nya.Maka ucapan, “Allahumma inni as’aluka (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…)” dimana hakikatnya bermakna, “Ya Allah, yang memiliki seluruh nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang ‘ulya, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu…” [3].Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menukilkan beberapa riwayat salaf shaleh tentang hal ini [4],“Seorang ulama tabi’in, Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah mengatakan,(اللهم) مجمع الدعاء‘Lafaz allahumma adalah sumber doa’Seorang imam besar, murid Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Abu Raja’ Al-‘Utharidi Rahimahullah mengatakan,إن الميم في قوله : (اللهم) فيها تسعة و تسعون اسما من أسماء الله تعالى‘Sesungguhnya huruf mim pada ucapan allahumma di dalamnya terdapat 99 nama Allah Ta’ala.’Ulama nahwu sekaligus seorang hakim, An-Nadhr bin Syumail Rahimahullah mengatakan,من قال (اللهم) فقد دعا الله بجميع أسمائه‘Barangsiapa yang mengatakan allahumma, pada hakikatnya ia telah berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebut seluruh nama-Nya’.”Baca Juga: Perbanyaklah Bersujud kepada AllahApakah disyariatkan berzikir dengan hanya menyebut nama “الله” saja?Tidak disyariatkan berzikir hanya dengan menyebut nama الله saja. Misalnya, berzikir hanya dengan menyebut, “Allah, Allah, Allah…!”Sebagian orang berzikir dengan cara ini. Mereka mengulang-ulang lafzhul jalalah الله berkali-kali. Terkadang mereka malah berzikir bersama sambil duduk atau berdiri, bergoyang kepalanya ke kanan dan ke kiri, bahkan saking cepatnya sehingga tidaklah tersisa kecuali lafaz huwa, huwa, huwa, atau kurang dari itu.Zikir seperti ini bukanlah ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada riwayat yang sahih tentang zikir, lafzhul jalalah “الله” tidaklah disebutkan dengan sendirian, kecuali selalu disebutkan bersama dengan kata lainnya. Misalnya seperti subhanallah, allhamdulillah, allahu akbar, astaghfirullah, dan lainnya.Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُBaca Juga:Macam-Macam Sesembahan selain Allah Ta’alaAllah Tidak Perlu Dibela?***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Referensi:Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar HafizhahullahFiqhul Asma’il Husna, Syekh Abdur Razzaaq HafizhahullahSyarhul Asma’il Husna, DR. Sa’id Al-Qohthani HafizhahullahAsma’ullahul Husna lilImam Ibnil Qoyyim, ‘Imad Al-Barudi HafizhahullahTafsir Asma’illahil Husna, Syekh As-Sa’di Rahimahullah, ‘Ubaid bin Ali Al-‘Ubaid hafizhahullahhttps://www.alukah.net/sharia/0/126372/https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/64836/https://www.alukah.net/sharia/0/110575/ https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/187369/https://kalemtayeb.com/safahat/item/1297https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/72571/https://bit.ly/35mEh1ahttps://bit.ly/3Ce5dfjCatatan Kaki: [1] Meski terkadang disebutkan dalam sya’ir يا اللهم tapi ini jarang sekali (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/3/26). [2] https://www.alukah.net/sharia/0/126372/. [3] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 34, DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar. [4] Syarhu Ibnil Qoyyim li Asma’illahil Husna, hal. 35 DR. Umar Sulaiman Al-Asyqar.🔍 Bacaan Sholat Sesuai Sunnah, Sahabat Dunia Akhirat, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Macam Macam Akidah, Sebab Sujud SyukurTags: Aqidahaqidah islamaqidah yang lurusbelajar aqidahLafzhul JalaalahManhajmanhaj salafTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Buku Gratis: Ramadhan Bersama Keluarga

Ini adalah buku materi parenting sederhana yang kami susun untuk jadi ilmu yang manfaat pada ayah bunda. Moga buku ini bisa diajarkan pada anak-anak di rumah dengan mudah. Anak sangat penting diajarkan sedari kecil, agar saat balig lebih mudah menjalankan kewajiban rukun Islam yang satu ini. Walaupun memang anak-anak belum sampai dikenakan beban syariat sampai mereka balig. Buku ini berisi 27 materi yang membahas keutamaan Ramadhan, keutamaan puasa, hukum puasa, doa dan dzikir pada bulan Ramadhan, skedul anak selama Ramadhan, cara anak khatam Al-Qur’an dan adab membaca Al-Qur’an, serta hal-hal sia-sia yang mesti dijauhi saat berpuasa.   Penting sekali mendidik anak dan keluarga untuk berpuasa Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Imam Syafii dan ulama Syafiiyyah berpendapat bahwa wajib hukumnya bagi para ayah dan ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka yang masih kecil berbagai hal yang mereka butuhkan ketika mereka sudah baligh. Orang tua hendaklah mengajarkan kepada anak-anaknya thaharah (bersuci), shalat, puasa, dan sebagainya. Hendaklah anak-anak juga diingatkan mengenai perkara haram seperti zina, liwath (hubungan sesama jenis), mencuri, meminum khamar, berbohong, ghibah, dan semacamnya. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa usia baligh berarti sudah masuk fase taklif (dibebankan hukum syariat), di samping itu memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka butuhkan pada usia tersebut.” (Aadab Al-‘Aalim wa Al-Muta’allim, hlm. 52)   Judul Buku Ramadhan Bersama Keluarga   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Info Buku 92 Halaman   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF versi tablet dan versi cetak* via dropbox: Ramadhan Bersama Keluarga   Secara garis besar isi buku elektronik di atas adalah: Orang tua harus mendidik anak puasa sejak kecil Kiat-kiat mendidik anak berpuasa Motivasi puasa dan beramal di bulan Ramadhan Fikih terkait puasa hingga iktikaf (mayoritas pendapat berdasarkan madzhab Syafii) Motivasi untuk shalat tarawih Adab membaca Al-Qur’an dan cara mengkhatamkannya   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal – Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS) – Silakan sebar pada yang lain.   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis e-book gratis ebook gratis fikih puasa fikih puasa untuk anak

Buku Gratis: Ramadhan Bersama Keluarga

Ini adalah buku materi parenting sederhana yang kami susun untuk jadi ilmu yang manfaat pada ayah bunda. Moga buku ini bisa diajarkan pada anak-anak di rumah dengan mudah. Anak sangat penting diajarkan sedari kecil, agar saat balig lebih mudah menjalankan kewajiban rukun Islam yang satu ini. Walaupun memang anak-anak belum sampai dikenakan beban syariat sampai mereka balig. Buku ini berisi 27 materi yang membahas keutamaan Ramadhan, keutamaan puasa, hukum puasa, doa dan dzikir pada bulan Ramadhan, skedul anak selama Ramadhan, cara anak khatam Al-Qur’an dan adab membaca Al-Qur’an, serta hal-hal sia-sia yang mesti dijauhi saat berpuasa.   Penting sekali mendidik anak dan keluarga untuk berpuasa Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Imam Syafii dan ulama Syafiiyyah berpendapat bahwa wajib hukumnya bagi para ayah dan ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka yang masih kecil berbagai hal yang mereka butuhkan ketika mereka sudah baligh. Orang tua hendaklah mengajarkan kepada anak-anaknya thaharah (bersuci), shalat, puasa, dan sebagainya. Hendaklah anak-anak juga diingatkan mengenai perkara haram seperti zina, liwath (hubungan sesama jenis), mencuri, meminum khamar, berbohong, ghibah, dan semacamnya. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa usia baligh berarti sudah masuk fase taklif (dibebankan hukum syariat), di samping itu memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka butuhkan pada usia tersebut.” (Aadab Al-‘Aalim wa Al-Muta’allim, hlm. 52)   Judul Buku Ramadhan Bersama Keluarga   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Info Buku 92 Halaman   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF versi tablet dan versi cetak* via dropbox: Ramadhan Bersama Keluarga   Secara garis besar isi buku elektronik di atas adalah: Orang tua harus mendidik anak puasa sejak kecil Kiat-kiat mendidik anak berpuasa Motivasi puasa dan beramal di bulan Ramadhan Fikih terkait puasa hingga iktikaf (mayoritas pendapat berdasarkan madzhab Syafii) Motivasi untuk shalat tarawih Adab membaca Al-Qur’an dan cara mengkhatamkannya   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal – Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS) – Silakan sebar pada yang lain.   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis e-book gratis ebook gratis fikih puasa fikih puasa untuk anak
Ini adalah buku materi parenting sederhana yang kami susun untuk jadi ilmu yang manfaat pada ayah bunda. Moga buku ini bisa diajarkan pada anak-anak di rumah dengan mudah. Anak sangat penting diajarkan sedari kecil, agar saat balig lebih mudah menjalankan kewajiban rukun Islam yang satu ini. Walaupun memang anak-anak belum sampai dikenakan beban syariat sampai mereka balig. Buku ini berisi 27 materi yang membahas keutamaan Ramadhan, keutamaan puasa, hukum puasa, doa dan dzikir pada bulan Ramadhan, skedul anak selama Ramadhan, cara anak khatam Al-Qur’an dan adab membaca Al-Qur’an, serta hal-hal sia-sia yang mesti dijauhi saat berpuasa.   Penting sekali mendidik anak dan keluarga untuk berpuasa Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Imam Syafii dan ulama Syafiiyyah berpendapat bahwa wajib hukumnya bagi para ayah dan ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka yang masih kecil berbagai hal yang mereka butuhkan ketika mereka sudah baligh. Orang tua hendaklah mengajarkan kepada anak-anaknya thaharah (bersuci), shalat, puasa, dan sebagainya. Hendaklah anak-anak juga diingatkan mengenai perkara haram seperti zina, liwath (hubungan sesama jenis), mencuri, meminum khamar, berbohong, ghibah, dan semacamnya. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa usia baligh berarti sudah masuk fase taklif (dibebankan hukum syariat), di samping itu memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka butuhkan pada usia tersebut.” (Aadab Al-‘Aalim wa Al-Muta’allim, hlm. 52)   Judul Buku Ramadhan Bersama Keluarga   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Info Buku 92 Halaman   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF versi tablet dan versi cetak* via dropbox: Ramadhan Bersama Keluarga   Secara garis besar isi buku elektronik di atas adalah: Orang tua harus mendidik anak puasa sejak kecil Kiat-kiat mendidik anak berpuasa Motivasi puasa dan beramal di bulan Ramadhan Fikih terkait puasa hingga iktikaf (mayoritas pendapat berdasarkan madzhab Syafii) Motivasi untuk shalat tarawih Adab membaca Al-Qur’an dan cara mengkhatamkannya   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal – Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS) – Silakan sebar pada yang lain.   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis e-book gratis ebook gratis fikih puasa fikih puasa untuk anak


Ini adalah buku materi parenting sederhana yang kami susun untuk jadi ilmu yang manfaat pada ayah bunda. Moga buku ini bisa diajarkan pada anak-anak di rumah dengan mudah. Anak sangat penting diajarkan sedari kecil, agar saat balig lebih mudah menjalankan kewajiban rukun Islam yang satu ini. Walaupun memang anak-anak belum sampai dikenakan beban syariat sampai mereka balig. Buku ini berisi 27 materi yang membahas keutamaan Ramadhan, keutamaan puasa, hukum puasa, doa dan dzikir pada bulan Ramadhan, skedul anak selama Ramadhan, cara anak khatam Al-Qur’an dan adab membaca Al-Qur’an, serta hal-hal sia-sia yang mesti dijauhi saat berpuasa.   Penting sekali mendidik anak dan keluarga untuk berpuasa Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Imam Syafii dan ulama Syafiiyyah berpendapat bahwa wajib hukumnya bagi para ayah dan ibu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka yang masih kecil berbagai hal yang mereka butuhkan ketika mereka sudah baligh. Orang tua hendaklah mengajarkan kepada anak-anaknya thaharah (bersuci), shalat, puasa, dan sebagainya. Hendaklah anak-anak juga diingatkan mengenai perkara haram seperti zina, liwath (hubungan sesama jenis), mencuri, meminum khamar, berbohong, ghibah, dan semacamnya. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa usia baligh berarti sudah masuk fase taklif (dibebankan hukum syariat), di samping itu memberitahukan kepada mereka hal-hal yang mereka butuhkan pada usia tersebut.” (Aadab Al-‘Aalim wa Al-Muta’allim, hlm. 52)   Judul Buku Ramadhan Bersama Keluarga   Penulis Muhammad Abduh Tuasikal   Info Buku 92 Halaman   Penerbit Rumaysho Dusun Warak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta   Silakan download buku PDF versi tablet dan versi cetak* via dropbox: Ramadhan Bersama Keluarga   Secara garis besar isi buku elektronik di atas adalah: Orang tua harus mendidik anak puasa sejak kecil Kiat-kiat mendidik anak berpuasa Motivasi puasa dan beramal di bulan Ramadhan Fikih terkait puasa hingga iktikaf (mayoritas pendapat berdasarkan madzhab Syafii) Motivasi untuk shalat tarawih Adab membaca Al-Qur’an dan cara mengkhatamkannya   Buku lainnya dalam bentuk PDF: Download Buku Gratis Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal – Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS) – Silakan sebar pada yang lain.   Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis download buku gratis e-book gratis ebook gratis fikih puasa fikih puasa untuk anak

Bahaya Maksiat di Bulan Ramadan

Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanya 2. Meninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatan 3. Mendengarkan musik di bulan Ramadan Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanyaSudah menjadi keharusan bagi seorang muslim, baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, untuk selalu berusaha melawan hawa nafsunya yang senantiasa menyuruh dirinya kepada keburukan. Dengan demikian, hati dan jiwanya itu menjadi tenang dan selalu mendukung dirinya dalam berbuat kebaikan. Seorang muslim juga wajib bagi dirinya untuk memerangi musuh Allah Ta’ala, yaitu iblis laknatullah dan bala tentaranya, sehingga ia selamat dari keburukan dan tipu daya mereka.Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling mulia. Bulan yang di dalamnya penuh ampunan, rahmat, dan keutamaan. Oleh karena itu, amalan kebaikan di dalam bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu pun maksiat-maksiat pada bulan Ramadan dosanya menjadi lebih berat dan lebih besar.Dosa di bulan puasa bukan berarti menjadi berlipat ganda sebagaimana pahala, hanya saja kadar dan nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar Ramadan. Karena sejatinya, hakikat dosa tidaklah sama dengan hakikat pahala. Allah Ta’ala berfirman,مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-An’am: 160).Di dalam kitab Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir disebutkan,“(maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya). Tidak lebih dari itu, sesuai dengan besar dan kecilnya keburukan tersebut. Perbuatan syirik akan dibalas dengan siksa yang kekal di neraka. Orang beriman yang berbuat maksiat akan dibalas dengan balasan setimpal sesuai dengan siksaan yang telah dijelaskan ukurannya apabila ia tidak bertaubat. Adapun bagi orang yang telah bertaubat dan amalan kebaikannya mengalahkan amal keburukannya, atau Allah memberikan rahmat dan karunia ampunan-Nya kepadanya, maka ia tidak akan disiksa.”Walaupun dosa di bulan Ramadan itu tidak dilipatgandakan, tetap saja ia lebih parah dari dosa bermaksiat di bulan-bulan lainnya. Di dalam kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih rahimahullah, beliau menyebutkan perkataan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Syekh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatgandakan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”Banyak sekali dalil yang mendukung kaidah ini, di antaranya,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih” (QS. al-Hajj: 25).Baru sebatas keinginan untuk berbuat kezaliman di Mekah saja sudah Allah Ta’ala berikan ancaman berupa siksa yang pedih. Di sisi lain, kalau itu dilakukan di luar tanah haram (Mekah), maka Allah tidak akan menghukumnya dengan siksaan kecuali ketika kezaliman itu telah dilakukan.Ada dua kemaksiatan ditekankan dan diingatkan oleh Syekh bin Baz Rahimahullah agar tidak dilakukan, terutama di bulan Ramadan. Karena keduanya seringkali tidak diperhatikan oleh kebanyakan kaum muslimin dan menjadi sasaran empuk setan untuk mencuri pahala dari kita, terutama pahala puasa kita di bulan suci Ramadan.Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanMeninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatanDi antara kemaksiatan yang paling buruk dan paling bahaya bagi seorang muslim adalah apa yang menimpa kebanyakan dari mereka, yaitu bermalas-malasan mendirikan salat serta meremehkan salat berjamaah. Tidak diragukan lagi, perkara ini merupakan ciri terburuk dari orang munafik serta merupakan sebab kesesatan dan kehancuran. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa’: 142).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من سمع النداء فلم يأت فلا صلاة له إلا من عذر“Siapa saja yang mendengar azan, namun tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, kecuali ada uzur” (HR. Ibnu Majah no. 793, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6300).Hadis ini secara jelas menunjukkan kewajiban salat berjamaah. Menurut pendapat yang kuat, laki-laki yang salat di rumahnya atau salat sendirian, maka salatnya tetap sah. Akan tetapi, pelakunya berdosa dan berhak mendapatkan murka Allah Ta’ala karena dia telah melakukan kemaksiatan, yaitu meninggalkan salat berjamaah tanpa ada uzur yang dibenarkan oleh syariat.Di dalam hadis yang lain, seorang laki-laki yang buta berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam,يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ“’Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki orang yang menuntunku untuk mendatangi masjid.’ Laki-laki tersebut meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam agar diberi keringanan untuk salat di rumahnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika laki-laki tersebut berpaling, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya kembali dan bertanya, ‘Apakah kamu mendengar azan panggilan untuk salat?’ Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, jawablah (datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah)’” (HR. Muslim no. 653).Pada riwayat yang lain bahkan nabi berkata, “Tidak ada rukhsoh (keringanan) bagimu” (HR. Abu Daud no. 552 dan Ibnu Majah no. 792).Apabila orang yang dalam keadaan buta, jarak rumahnya dengan masjid jauh dan tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya saja tidak ada keringanan baginya untuk meninggalkan salat berjamaah, lalu bagaimana dengan orang yang dalam kondisi sehat bugar?!Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, salah satu pemuka sahabat Nabi, berkata,لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة في الجماعة إلا منافق معلوم النفاق أو مريض“Sungguh saya telah melihat sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan salat berjamaah melainkan ia adalah seorang munafik yang sangat nyata kemunafikannya atau karena sakit.” (HR. Ibnu Majah: 792).Beliau radhiyallahu anhu juga berkata,لو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم“Seandainya kalian salat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan salat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan ajaran nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim no. 1520).Setelah mengetahui dalil-dalil di atas, bagaimana bisa seorang muslim yang sedang dalam kondisi berpuasa meninggalkan amalan yang wajib dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala? Sungguh hal tersebut menunjukkan rendahnya pengetahuan mereka terhadap syariat agama ini.Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Mendengarkan musik di bulan RamadanTidak diragukan lagi bahwa mendengarkan musik, kemudian menyetelnya dengan keras di pusat perbelanjaan dan di jalanan, adalah salah satu sebab terbesar sakitnya hati dan menghalangi manusia dari mengingat Allah Ta’ala. Misalnya, menghalangi dari melaksanakan salat dan mendengarkan Al-Qur’an. Belum lagi, mendengarkan musik mengakibatkan pelakunya divonis dengan penyakit nifak dan akan membuatnya tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (QS. Luqman: 6). Para ahli ilmu menafsirkan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadis) sebagai musik dan alat-alat yang melenakan, serta setiap ucapan yang menghalangi kebenaran. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليكوننَّ من أُمَّتي أقوام يَستحلُّونَ الْحِرَ والحَريرَ والخمر والمعازِف“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif).” (HR. Bukhari no. 5590 dan Abu Dawud no. 4041).Sungguh hadis ini menunjukkan tanda-tanda benarnya kenabian Muhammad Shallallahu alaihi ‘wasallam dan merupakan bukti bahwa dirinya diutus oleh Allah Ta’ala. Apa yang beliau kabarkan ribuan tahun yang lalu ini sungguh benar-benar terjadi. Di antara umatnya sendiri ada yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan alat musik. Naudzubillahi min dzalik.Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن الغناء ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء الزرع“Sesungguhnya nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.” (HR. Baihaqi no. 21536).Bagaimana bisa orang yang berpuasa di bulan Ramadan, bulan Al-Qur’an, di waktu itu juga ia melakukan perbuatan yang sangat berlawanan dengan Al-Qur’an tersebut. Padahal Allah Ta’ala berfirman,شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang tidak merugi di bulan Ramadan karena kemaksiatan yang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita agar Ramadan kita dipenuhi dengan ketaatan kepada-Nya. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Semoga Kita Diampuni Selama Ramadhan***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih.Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadirkarya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar.Website resmi syaikh Binbaz Rahimahullah: binbaz.org.sa🔍 Ain, Ancaman Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Ketentuan Shalat Jamak, Memilih Jodoh Yang Baik Menurut Islam, Shalat Sunnah Setelah Shalat WajibTags: dosa besardosa di bulan ramadhandosa kecilhikmah ramadhankeutamaan bulan ramadhanmaksiat di bulan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhan

Bahaya Maksiat di Bulan Ramadan

Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanya 2. Meninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatan 3. Mendengarkan musik di bulan Ramadan Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanyaSudah menjadi keharusan bagi seorang muslim, baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, untuk selalu berusaha melawan hawa nafsunya yang senantiasa menyuruh dirinya kepada keburukan. Dengan demikian, hati dan jiwanya itu menjadi tenang dan selalu mendukung dirinya dalam berbuat kebaikan. Seorang muslim juga wajib bagi dirinya untuk memerangi musuh Allah Ta’ala, yaitu iblis laknatullah dan bala tentaranya, sehingga ia selamat dari keburukan dan tipu daya mereka.Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling mulia. Bulan yang di dalamnya penuh ampunan, rahmat, dan keutamaan. Oleh karena itu, amalan kebaikan di dalam bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu pun maksiat-maksiat pada bulan Ramadan dosanya menjadi lebih berat dan lebih besar.Dosa di bulan puasa bukan berarti menjadi berlipat ganda sebagaimana pahala, hanya saja kadar dan nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar Ramadan. Karena sejatinya, hakikat dosa tidaklah sama dengan hakikat pahala. Allah Ta’ala berfirman,مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-An’am: 160).Di dalam kitab Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir disebutkan,“(maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya). Tidak lebih dari itu, sesuai dengan besar dan kecilnya keburukan tersebut. Perbuatan syirik akan dibalas dengan siksa yang kekal di neraka. Orang beriman yang berbuat maksiat akan dibalas dengan balasan setimpal sesuai dengan siksaan yang telah dijelaskan ukurannya apabila ia tidak bertaubat. Adapun bagi orang yang telah bertaubat dan amalan kebaikannya mengalahkan amal keburukannya, atau Allah memberikan rahmat dan karunia ampunan-Nya kepadanya, maka ia tidak akan disiksa.”Walaupun dosa di bulan Ramadan itu tidak dilipatgandakan, tetap saja ia lebih parah dari dosa bermaksiat di bulan-bulan lainnya. Di dalam kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih rahimahullah, beliau menyebutkan perkataan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Syekh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatgandakan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”Banyak sekali dalil yang mendukung kaidah ini, di antaranya,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih” (QS. al-Hajj: 25).Baru sebatas keinginan untuk berbuat kezaliman di Mekah saja sudah Allah Ta’ala berikan ancaman berupa siksa yang pedih. Di sisi lain, kalau itu dilakukan di luar tanah haram (Mekah), maka Allah tidak akan menghukumnya dengan siksaan kecuali ketika kezaliman itu telah dilakukan.Ada dua kemaksiatan ditekankan dan diingatkan oleh Syekh bin Baz Rahimahullah agar tidak dilakukan, terutama di bulan Ramadan. Karena keduanya seringkali tidak diperhatikan oleh kebanyakan kaum muslimin dan menjadi sasaran empuk setan untuk mencuri pahala dari kita, terutama pahala puasa kita di bulan suci Ramadan.Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanMeninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatanDi antara kemaksiatan yang paling buruk dan paling bahaya bagi seorang muslim adalah apa yang menimpa kebanyakan dari mereka, yaitu bermalas-malasan mendirikan salat serta meremehkan salat berjamaah. Tidak diragukan lagi, perkara ini merupakan ciri terburuk dari orang munafik serta merupakan sebab kesesatan dan kehancuran. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa’: 142).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من سمع النداء فلم يأت فلا صلاة له إلا من عذر“Siapa saja yang mendengar azan, namun tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, kecuali ada uzur” (HR. Ibnu Majah no. 793, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6300).Hadis ini secara jelas menunjukkan kewajiban salat berjamaah. Menurut pendapat yang kuat, laki-laki yang salat di rumahnya atau salat sendirian, maka salatnya tetap sah. Akan tetapi, pelakunya berdosa dan berhak mendapatkan murka Allah Ta’ala karena dia telah melakukan kemaksiatan, yaitu meninggalkan salat berjamaah tanpa ada uzur yang dibenarkan oleh syariat.Di dalam hadis yang lain, seorang laki-laki yang buta berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam,يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ“’Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki orang yang menuntunku untuk mendatangi masjid.’ Laki-laki tersebut meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam agar diberi keringanan untuk salat di rumahnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika laki-laki tersebut berpaling, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya kembali dan bertanya, ‘Apakah kamu mendengar azan panggilan untuk salat?’ Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, jawablah (datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah)’” (HR. Muslim no. 653).Pada riwayat yang lain bahkan nabi berkata, “Tidak ada rukhsoh (keringanan) bagimu” (HR. Abu Daud no. 552 dan Ibnu Majah no. 792).Apabila orang yang dalam keadaan buta, jarak rumahnya dengan masjid jauh dan tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya saja tidak ada keringanan baginya untuk meninggalkan salat berjamaah, lalu bagaimana dengan orang yang dalam kondisi sehat bugar?!Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, salah satu pemuka sahabat Nabi, berkata,لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة في الجماعة إلا منافق معلوم النفاق أو مريض“Sungguh saya telah melihat sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan salat berjamaah melainkan ia adalah seorang munafik yang sangat nyata kemunafikannya atau karena sakit.” (HR. Ibnu Majah: 792).Beliau radhiyallahu anhu juga berkata,لو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم“Seandainya kalian salat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan salat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan ajaran nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim no. 1520).Setelah mengetahui dalil-dalil di atas, bagaimana bisa seorang muslim yang sedang dalam kondisi berpuasa meninggalkan amalan yang wajib dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala? Sungguh hal tersebut menunjukkan rendahnya pengetahuan mereka terhadap syariat agama ini.Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Mendengarkan musik di bulan RamadanTidak diragukan lagi bahwa mendengarkan musik, kemudian menyetelnya dengan keras di pusat perbelanjaan dan di jalanan, adalah salah satu sebab terbesar sakitnya hati dan menghalangi manusia dari mengingat Allah Ta’ala. Misalnya, menghalangi dari melaksanakan salat dan mendengarkan Al-Qur’an. Belum lagi, mendengarkan musik mengakibatkan pelakunya divonis dengan penyakit nifak dan akan membuatnya tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (QS. Luqman: 6). Para ahli ilmu menafsirkan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadis) sebagai musik dan alat-alat yang melenakan, serta setiap ucapan yang menghalangi kebenaran. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليكوننَّ من أُمَّتي أقوام يَستحلُّونَ الْحِرَ والحَريرَ والخمر والمعازِف“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif).” (HR. Bukhari no. 5590 dan Abu Dawud no. 4041).Sungguh hadis ini menunjukkan tanda-tanda benarnya kenabian Muhammad Shallallahu alaihi ‘wasallam dan merupakan bukti bahwa dirinya diutus oleh Allah Ta’ala. Apa yang beliau kabarkan ribuan tahun yang lalu ini sungguh benar-benar terjadi. Di antara umatnya sendiri ada yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan alat musik. Naudzubillahi min dzalik.Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن الغناء ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء الزرع“Sesungguhnya nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.” (HR. Baihaqi no. 21536).Bagaimana bisa orang yang berpuasa di bulan Ramadan, bulan Al-Qur’an, di waktu itu juga ia melakukan perbuatan yang sangat berlawanan dengan Al-Qur’an tersebut. Padahal Allah Ta’ala berfirman,شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang tidak merugi di bulan Ramadan karena kemaksiatan yang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita agar Ramadan kita dipenuhi dengan ketaatan kepada-Nya. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Semoga Kita Diampuni Selama Ramadhan***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih.Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadirkarya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar.Website resmi syaikh Binbaz Rahimahullah: binbaz.org.sa🔍 Ain, Ancaman Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Ketentuan Shalat Jamak, Memilih Jodoh Yang Baik Menurut Islam, Shalat Sunnah Setelah Shalat WajibTags: dosa besardosa di bulan ramadhandosa kecilhikmah ramadhankeutamaan bulan ramadhanmaksiat di bulan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhan
Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanya 2. Meninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatan 3. Mendengarkan musik di bulan Ramadan Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanyaSudah menjadi keharusan bagi seorang muslim, baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, untuk selalu berusaha melawan hawa nafsunya yang senantiasa menyuruh dirinya kepada keburukan. Dengan demikian, hati dan jiwanya itu menjadi tenang dan selalu mendukung dirinya dalam berbuat kebaikan. Seorang muslim juga wajib bagi dirinya untuk memerangi musuh Allah Ta’ala, yaitu iblis laknatullah dan bala tentaranya, sehingga ia selamat dari keburukan dan tipu daya mereka.Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling mulia. Bulan yang di dalamnya penuh ampunan, rahmat, dan keutamaan. Oleh karena itu, amalan kebaikan di dalam bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu pun maksiat-maksiat pada bulan Ramadan dosanya menjadi lebih berat dan lebih besar.Dosa di bulan puasa bukan berarti menjadi berlipat ganda sebagaimana pahala, hanya saja kadar dan nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar Ramadan. Karena sejatinya, hakikat dosa tidaklah sama dengan hakikat pahala. Allah Ta’ala berfirman,مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-An’am: 160).Di dalam kitab Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir disebutkan,“(maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya). Tidak lebih dari itu, sesuai dengan besar dan kecilnya keburukan tersebut. Perbuatan syirik akan dibalas dengan siksa yang kekal di neraka. Orang beriman yang berbuat maksiat akan dibalas dengan balasan setimpal sesuai dengan siksaan yang telah dijelaskan ukurannya apabila ia tidak bertaubat. Adapun bagi orang yang telah bertaubat dan amalan kebaikannya mengalahkan amal keburukannya, atau Allah memberikan rahmat dan karunia ampunan-Nya kepadanya, maka ia tidak akan disiksa.”Walaupun dosa di bulan Ramadan itu tidak dilipatgandakan, tetap saja ia lebih parah dari dosa bermaksiat di bulan-bulan lainnya. Di dalam kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih rahimahullah, beliau menyebutkan perkataan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Syekh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatgandakan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”Banyak sekali dalil yang mendukung kaidah ini, di antaranya,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih” (QS. al-Hajj: 25).Baru sebatas keinginan untuk berbuat kezaliman di Mekah saja sudah Allah Ta’ala berikan ancaman berupa siksa yang pedih. Di sisi lain, kalau itu dilakukan di luar tanah haram (Mekah), maka Allah tidak akan menghukumnya dengan siksaan kecuali ketika kezaliman itu telah dilakukan.Ada dua kemaksiatan ditekankan dan diingatkan oleh Syekh bin Baz Rahimahullah agar tidak dilakukan, terutama di bulan Ramadan. Karena keduanya seringkali tidak diperhatikan oleh kebanyakan kaum muslimin dan menjadi sasaran empuk setan untuk mencuri pahala dari kita, terutama pahala puasa kita di bulan suci Ramadan.Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanMeninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatanDi antara kemaksiatan yang paling buruk dan paling bahaya bagi seorang muslim adalah apa yang menimpa kebanyakan dari mereka, yaitu bermalas-malasan mendirikan salat serta meremehkan salat berjamaah. Tidak diragukan lagi, perkara ini merupakan ciri terburuk dari orang munafik serta merupakan sebab kesesatan dan kehancuran. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa’: 142).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من سمع النداء فلم يأت فلا صلاة له إلا من عذر“Siapa saja yang mendengar azan, namun tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, kecuali ada uzur” (HR. Ibnu Majah no. 793, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6300).Hadis ini secara jelas menunjukkan kewajiban salat berjamaah. Menurut pendapat yang kuat, laki-laki yang salat di rumahnya atau salat sendirian, maka salatnya tetap sah. Akan tetapi, pelakunya berdosa dan berhak mendapatkan murka Allah Ta’ala karena dia telah melakukan kemaksiatan, yaitu meninggalkan salat berjamaah tanpa ada uzur yang dibenarkan oleh syariat.Di dalam hadis yang lain, seorang laki-laki yang buta berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam,يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ“’Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki orang yang menuntunku untuk mendatangi masjid.’ Laki-laki tersebut meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam agar diberi keringanan untuk salat di rumahnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika laki-laki tersebut berpaling, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya kembali dan bertanya, ‘Apakah kamu mendengar azan panggilan untuk salat?’ Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, jawablah (datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah)’” (HR. Muslim no. 653).Pada riwayat yang lain bahkan nabi berkata, “Tidak ada rukhsoh (keringanan) bagimu” (HR. Abu Daud no. 552 dan Ibnu Majah no. 792).Apabila orang yang dalam keadaan buta, jarak rumahnya dengan masjid jauh dan tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya saja tidak ada keringanan baginya untuk meninggalkan salat berjamaah, lalu bagaimana dengan orang yang dalam kondisi sehat bugar?!Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, salah satu pemuka sahabat Nabi, berkata,لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة في الجماعة إلا منافق معلوم النفاق أو مريض“Sungguh saya telah melihat sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan salat berjamaah melainkan ia adalah seorang munafik yang sangat nyata kemunafikannya atau karena sakit.” (HR. Ibnu Majah: 792).Beliau radhiyallahu anhu juga berkata,لو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم“Seandainya kalian salat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan salat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan ajaran nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim no. 1520).Setelah mengetahui dalil-dalil di atas, bagaimana bisa seorang muslim yang sedang dalam kondisi berpuasa meninggalkan amalan yang wajib dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala? Sungguh hal tersebut menunjukkan rendahnya pengetahuan mereka terhadap syariat agama ini.Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Mendengarkan musik di bulan RamadanTidak diragukan lagi bahwa mendengarkan musik, kemudian menyetelnya dengan keras di pusat perbelanjaan dan di jalanan, adalah salah satu sebab terbesar sakitnya hati dan menghalangi manusia dari mengingat Allah Ta’ala. Misalnya, menghalangi dari melaksanakan salat dan mendengarkan Al-Qur’an. Belum lagi, mendengarkan musik mengakibatkan pelakunya divonis dengan penyakit nifak dan akan membuatnya tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (QS. Luqman: 6). Para ahli ilmu menafsirkan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadis) sebagai musik dan alat-alat yang melenakan, serta setiap ucapan yang menghalangi kebenaran. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليكوننَّ من أُمَّتي أقوام يَستحلُّونَ الْحِرَ والحَريرَ والخمر والمعازِف“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif).” (HR. Bukhari no. 5590 dan Abu Dawud no. 4041).Sungguh hadis ini menunjukkan tanda-tanda benarnya kenabian Muhammad Shallallahu alaihi ‘wasallam dan merupakan bukti bahwa dirinya diutus oleh Allah Ta’ala. Apa yang beliau kabarkan ribuan tahun yang lalu ini sungguh benar-benar terjadi. Di antara umatnya sendiri ada yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan alat musik. Naudzubillahi min dzalik.Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن الغناء ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء الزرع“Sesungguhnya nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.” (HR. Baihaqi no. 21536).Bagaimana bisa orang yang berpuasa di bulan Ramadan, bulan Al-Qur’an, di waktu itu juga ia melakukan perbuatan yang sangat berlawanan dengan Al-Qur’an tersebut. Padahal Allah Ta’ala berfirman,شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang tidak merugi di bulan Ramadan karena kemaksiatan yang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita agar Ramadan kita dipenuhi dengan ketaatan kepada-Nya. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Semoga Kita Diampuni Selama Ramadhan***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih.Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadirkarya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar.Website resmi syaikh Binbaz Rahimahullah: binbaz.org.sa🔍 Ain, Ancaman Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Ketentuan Shalat Jamak, Memilih Jodoh Yang Baik Menurut Islam, Shalat Sunnah Setelah Shalat WajibTags: dosa besardosa di bulan ramadhandosa kecilhikmah ramadhankeutamaan bulan ramadhanmaksiat di bulan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhan


Daftar Isi sembunyikan 1. Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanya 2. Meninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatan 3. Mendengarkan musik di bulan Ramadan Hakikat dosa kemaksiatan di bulan Ramadan serta bahayanyaSudah menjadi keharusan bagi seorang muslim, baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, untuk selalu berusaha melawan hawa nafsunya yang senantiasa menyuruh dirinya kepada keburukan. Dengan demikian, hati dan jiwanya itu menjadi tenang dan selalu mendukung dirinya dalam berbuat kebaikan. Seorang muslim juga wajib bagi dirinya untuk memerangi musuh Allah Ta’ala, yaitu iblis laknatullah dan bala tentaranya, sehingga ia selamat dari keburukan dan tipu daya mereka.Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling mulia. Bulan yang di dalamnya penuh ampunan, rahmat, dan keutamaan. Oleh karena itu, amalan kebaikan di dalam bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu pun maksiat-maksiat pada bulan Ramadan dosanya menjadi lebih berat dan lebih besar.Dosa di bulan puasa bukan berarti menjadi berlipat ganda sebagaimana pahala, hanya saja kadar dan nilainya lebih besar dibandingkan ketika maksiat itu dilakukan di luar Ramadan. Karena sejatinya, hakikat dosa tidaklah sama dengan hakikat pahala. Allah Ta’ala berfirman,مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-An’am: 160).Di dalam kitab Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir disebutkan,“(maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya). Tidak lebih dari itu, sesuai dengan besar dan kecilnya keburukan tersebut. Perbuatan syirik akan dibalas dengan siksa yang kekal di neraka. Orang beriman yang berbuat maksiat akan dibalas dengan balasan setimpal sesuai dengan siksaan yang telah dijelaskan ukurannya apabila ia tidak bertaubat. Adapun bagi orang yang telah bertaubat dan amalan kebaikannya mengalahkan amal keburukannya, atau Allah memberikan rahmat dan karunia ampunan-Nya kepadanya, maka ia tidak akan disiksa.”Walaupun dosa di bulan Ramadan itu tidak dilipatgandakan, tetap saja ia lebih parah dari dosa bermaksiat di bulan-bulan lainnya. Di dalam kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih rahimahullah, beliau menyebutkan perkataan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان“Syekh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatgandakan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut.”Banyak sekali dalil yang mendukung kaidah ini, di antaranya,وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ“Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih” (QS. al-Hajj: 25).Baru sebatas keinginan untuk berbuat kezaliman di Mekah saja sudah Allah Ta’ala berikan ancaman berupa siksa yang pedih. Di sisi lain, kalau itu dilakukan di luar tanah haram (Mekah), maka Allah tidak akan menghukumnya dengan siksaan kecuali ketika kezaliman itu telah dilakukan.Ada dua kemaksiatan ditekankan dan diingatkan oleh Syekh bin Baz Rahimahullah agar tidak dilakukan, terutama di bulan Ramadan. Karena keduanya seringkali tidak diperhatikan oleh kebanyakan kaum muslimin dan menjadi sasaran empuk setan untuk mencuri pahala dari kita, terutama pahala puasa kita di bulan suci Ramadan.Baca Juga: Bertekad Kuat Mengkhatamkan Al-Quran Selama RamadhanMeninggalkan salat berjamaah termasuk kemaksiatanDi antara kemaksiatan yang paling buruk dan paling bahaya bagi seorang muslim adalah apa yang menimpa kebanyakan dari mereka, yaitu bermalas-malasan mendirikan salat serta meremehkan salat berjamaah. Tidak diragukan lagi, perkara ini merupakan ciri terburuk dari orang munafik serta merupakan sebab kesesatan dan kehancuran. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An-Nisa’: 142).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من سمع النداء فلم يأت فلا صلاة له إلا من عذر“Siapa saja yang mendengar azan, namun tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, kecuali ada uzur” (HR. Ibnu Majah no. 793, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6300).Hadis ini secara jelas menunjukkan kewajiban salat berjamaah. Menurut pendapat yang kuat, laki-laki yang salat di rumahnya atau salat sendirian, maka salatnya tetap sah. Akan tetapi, pelakunya berdosa dan berhak mendapatkan murka Allah Ta’ala karena dia telah melakukan kemaksiatan, yaitu meninggalkan salat berjamaah tanpa ada uzur yang dibenarkan oleh syariat.Di dalam hadis yang lain, seorang laki-laki yang buta berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam,يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ“’Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki orang yang menuntunku untuk mendatangi masjid.’ Laki-laki tersebut meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam agar diberi keringanan untuk salat di rumahnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika laki-laki tersebut berpaling, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya kembali dan bertanya, ‘Apakah kamu mendengar azan panggilan untuk salat?’ Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, jawablah (datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah)’” (HR. Muslim no. 653).Pada riwayat yang lain bahkan nabi berkata, “Tidak ada rukhsoh (keringanan) bagimu” (HR. Abu Daud no. 552 dan Ibnu Majah no. 792).Apabila orang yang dalam keadaan buta, jarak rumahnya dengan masjid jauh dan tidak memiliki orang yang bisa menuntunnya saja tidak ada keringanan baginya untuk meninggalkan salat berjamaah, lalu bagaimana dengan orang yang dalam kondisi sehat bugar?!Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, salah satu pemuka sahabat Nabi, berkata,لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة في الجماعة إلا منافق معلوم النفاق أو مريض“Sungguh saya telah melihat sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan salat berjamaah melainkan ia adalah seorang munafik yang sangat nyata kemunafikannya atau karena sakit.” (HR. Ibnu Majah: 792).Beliau radhiyallahu anhu juga berkata,لو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم“Seandainya kalian salat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan salat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan ajaran nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim no. 1520).Setelah mengetahui dalil-dalil di atas, bagaimana bisa seorang muslim yang sedang dalam kondisi berpuasa meninggalkan amalan yang wajib dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala? Sungguh hal tersebut menunjukkan rendahnya pengetahuan mereka terhadap syariat agama ini.Baca Juga: Perbanyak Baca Al-Quran Di Saat Wabah dan Bulan Ramadhan Mendengarkan musik di bulan RamadanTidak diragukan lagi bahwa mendengarkan musik, kemudian menyetelnya dengan keras di pusat perbelanjaan dan di jalanan, adalah salah satu sebab terbesar sakitnya hati dan menghalangi manusia dari mengingat Allah Ta’ala. Misalnya, menghalangi dari melaksanakan salat dan mendengarkan Al-Qur’an. Belum lagi, mendengarkan musik mengakibatkan pelakunya divonis dengan penyakit nifak dan akan membuatnya tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (QS. Luqman: 6). Para ahli ilmu menafsirkan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadis) sebagai musik dan alat-alat yang melenakan, serta setiap ucapan yang menghalangi kebenaran. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ليكوننَّ من أُمَّتي أقوام يَستحلُّونَ الْحِرَ والحَريرَ والخمر والمعازِف“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif).” (HR. Bukhari no. 5590 dan Abu Dawud no. 4041).Sungguh hadis ini menunjukkan tanda-tanda benarnya kenabian Muhammad Shallallahu alaihi ‘wasallam dan merupakan bukti bahwa dirinya diutus oleh Allah Ta’ala. Apa yang beliau kabarkan ribuan tahun yang lalu ini sungguh benar-benar terjadi. Di antara umatnya sendiri ada yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan alat musik. Naudzubillahi min dzalik.Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,إن الغناء ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء الزرع“Sesungguhnya nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman.” (HR. Baihaqi no. 21536).Bagaimana bisa orang yang berpuasa di bulan Ramadan, bulan Al-Qur’an, di waktu itu juga ia melakukan perbuatan yang sangat berlawanan dengan Al-Qur’an tersebut. Padahal Allah Ta’ala berfirman,شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى و الفرقان“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang tidak merugi di bulan Ramadan karena kemaksiatan yang kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita agar Ramadan kita dipenuhi dengan ketaatan kepada-Nya. Amiin Ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan Semoga Kita Diampuni Selama Ramadhan***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih.Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadirkarya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar.Website resmi syaikh Binbaz Rahimahullah: binbaz.org.sa🔍 Ain, Ancaman Meninggalkan Sholat 5 Waktu, Ketentuan Shalat Jamak, Memilih Jodoh Yang Baik Menurut Islam, Shalat Sunnah Setelah Shalat WajibTags: dosa besardosa di bulan ramadhandosa kecilhikmah ramadhankeutamaan bulan ramadhanmaksiat di bulan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhan

Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu?

Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu? Di dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa kepada kaum terdahulu. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Puasa apakah yang “diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” dalam ayat ini? Yang jelas ini bukanlah puasa Ramadhan. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di tahun ke-2 setelah hijrah. An Nawawi rahimahullah mengatakan: صام رسول الله ﷺ رمضان تسع سنين ، لأنه فرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وتوفي النبي ﷺ في شهر ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Ramadhan selama 9 tahun. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di bulan Sya’ban pada tahun ke-2 setelah hijrah (ke Madinah). Dan beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke-11 setelah hijrah” (Al Majmu’, 6/250). Ath Thabari dalam Tafsir-nya membawakan riwayat dari sebagian sahabat dan tabi’in, bahwa yang dimaksud adalah puasa tiga hari di setiap bulan. Karena dahulu puasa tiga hari di setiap bulan hukumnya wajib, kemudian mansukh (dihapus) setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Di antaranya riwayat dari ‘Atha rahimahullah: عن عطاء , قال : كان عليهم الصيام ثلاثة أيام من كل شهر , ولم يسم الشهر أياما معدودات , قال : وكان هذا صيام الناس قبل ثم فرض الله عز وجل على الناس شهر رمضان “Dari ‘Atha, ia berkata: “Dahulu wajib bagi manusia untuk puasa tiga hari di setiap bulan. Dan puasa sebulan penuh tidaklah disebut dengan ayyaman ma’dudat (hari-hari yang tertentu)”. Atha’ juga berkata: “Dahulu puasa tiga hari setiap bulan wajib bagi orang-orang. Sampai Allah ‘azza wa jalla wajibkan puasa Ramadhan bagi manusia” (HR. Ath Thabari dalam Tafsir-nya, 3/4130). Namun riwayat ini dha’if, karena terdapat Abu Hudzaifah Musa bin Mas’ud An Nahdi. Imam Ahmad berkata: “ia adalah orang yang paling banyak kekeliruannya”. Bundar mengatakan, “ia dha’if”. Abu Hatim berkata, “ia banyak melakukan tas-hif”. Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu dan Qatadah rahimahullah. Namun semuanya tidak lepas dari kelemahan.  Di sisi lain, terdapat riwayat-riwayat yang shahih bahwa dahulu kaum muslimin diwajibkan untuk puasa Asyura di hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Kemudian ketika turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa Asyura tidak lagi menjadi wajib melainkan mustahab (sunnah). Sebagaimana perkataan ‘Aisyah radhiallahu’anha, كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أمَرَ بصِيَامِ يَومِ عَاشُورَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كانَ مَن شَاءَ صَامَ ومَن شَاءَ أفْطَرَ “Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk puasa hari Asyura. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan yang ingin berbuka juga dipersilahkan” (HR. Bukhari no.2001, 4502, Muslim no.1125). Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mulai ada pelonggaran terhadap kewajiban puasa Asyura. Sampai akhirnya turun ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan. Dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata: كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ : ( مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ) “Orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun melakukannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau juga puasa Asyura dan memerintahkan (mewajibkan) para sahabat untuk melakukannya. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau bersabda: ‘barangsiapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau juga silakan‘” (HR. Bukhari no. 1794, Muslim no. 1125). Abul Abbas Al Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Perkataan Aisyah [orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah] menunjukkan bahwa puasa Asyura ini sudah diketahui pensyariatannya. Mereka juga mengetahui kedudukannya. Bisa jadi ini dikarenakan mereka bersandar pada syariat Nabi Ibrahim dan Ismail shalawatullah ‘alaihima. Karena orang-orang jahiliyah bersandar pada syariat keduanya. Demikian juga mereka bersandar pada keduanya dalam hukum-hukum haji dan perkara lainnya” (Al Mufhim, 3/190-191). Kesimpulannya, puasa yang diwajibkan kepada kaum muslimin sebelum puasa Ramadhan adalah puasa Asyura. Bukan puasa tiga hari di setiap bulan. Wallahu a’lam. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Memelihara Burung Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah, Khutbatun Nikah, Dosa Perselingkuhan, Adzan Langgam Jawa Mp3, Cara Mengqadha Shalat Yang Tertinggal Bertahun Tahun Visited 51 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 QRIS donasi Yufid

Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu?

Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu? Di dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa kepada kaum terdahulu. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Puasa apakah yang “diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” dalam ayat ini? Yang jelas ini bukanlah puasa Ramadhan. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di tahun ke-2 setelah hijrah. An Nawawi rahimahullah mengatakan: صام رسول الله ﷺ رمضان تسع سنين ، لأنه فرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وتوفي النبي ﷺ في شهر ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Ramadhan selama 9 tahun. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di bulan Sya’ban pada tahun ke-2 setelah hijrah (ke Madinah). Dan beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke-11 setelah hijrah” (Al Majmu’, 6/250). Ath Thabari dalam Tafsir-nya membawakan riwayat dari sebagian sahabat dan tabi’in, bahwa yang dimaksud adalah puasa tiga hari di setiap bulan. Karena dahulu puasa tiga hari di setiap bulan hukumnya wajib, kemudian mansukh (dihapus) setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Di antaranya riwayat dari ‘Atha rahimahullah: عن عطاء , قال : كان عليهم الصيام ثلاثة أيام من كل شهر , ولم يسم الشهر أياما معدودات , قال : وكان هذا صيام الناس قبل ثم فرض الله عز وجل على الناس شهر رمضان “Dari ‘Atha, ia berkata: “Dahulu wajib bagi manusia untuk puasa tiga hari di setiap bulan. Dan puasa sebulan penuh tidaklah disebut dengan ayyaman ma’dudat (hari-hari yang tertentu)”. Atha’ juga berkata: “Dahulu puasa tiga hari setiap bulan wajib bagi orang-orang. Sampai Allah ‘azza wa jalla wajibkan puasa Ramadhan bagi manusia” (HR. Ath Thabari dalam Tafsir-nya, 3/4130). Namun riwayat ini dha’if, karena terdapat Abu Hudzaifah Musa bin Mas’ud An Nahdi. Imam Ahmad berkata: “ia adalah orang yang paling banyak kekeliruannya”. Bundar mengatakan, “ia dha’if”. Abu Hatim berkata, “ia banyak melakukan tas-hif”. Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu dan Qatadah rahimahullah. Namun semuanya tidak lepas dari kelemahan.  Di sisi lain, terdapat riwayat-riwayat yang shahih bahwa dahulu kaum muslimin diwajibkan untuk puasa Asyura di hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Kemudian ketika turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa Asyura tidak lagi menjadi wajib melainkan mustahab (sunnah). Sebagaimana perkataan ‘Aisyah radhiallahu’anha, كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أمَرَ بصِيَامِ يَومِ عَاشُورَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كانَ مَن شَاءَ صَامَ ومَن شَاءَ أفْطَرَ “Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk puasa hari Asyura. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan yang ingin berbuka juga dipersilahkan” (HR. Bukhari no.2001, 4502, Muslim no.1125). Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mulai ada pelonggaran terhadap kewajiban puasa Asyura. Sampai akhirnya turun ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan. Dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata: كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ : ( مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ) “Orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun melakukannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau juga puasa Asyura dan memerintahkan (mewajibkan) para sahabat untuk melakukannya. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau bersabda: ‘barangsiapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau juga silakan‘” (HR. Bukhari no. 1794, Muslim no. 1125). Abul Abbas Al Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Perkataan Aisyah [orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah] menunjukkan bahwa puasa Asyura ini sudah diketahui pensyariatannya. Mereka juga mengetahui kedudukannya. Bisa jadi ini dikarenakan mereka bersandar pada syariat Nabi Ibrahim dan Ismail shalawatullah ‘alaihima. Karena orang-orang jahiliyah bersandar pada syariat keduanya. Demikian juga mereka bersandar pada keduanya dalam hukum-hukum haji dan perkara lainnya” (Al Mufhim, 3/190-191). Kesimpulannya, puasa yang diwajibkan kepada kaum muslimin sebelum puasa Ramadhan adalah puasa Asyura. Bukan puasa tiga hari di setiap bulan. Wallahu a’lam. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Memelihara Burung Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah, Khutbatun Nikah, Dosa Perselingkuhan, Adzan Langgam Jawa Mp3, Cara Mengqadha Shalat Yang Tertinggal Bertahun Tahun Visited 51 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 QRIS donasi Yufid
Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu? Di dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa kepada kaum terdahulu. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Puasa apakah yang “diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” dalam ayat ini? Yang jelas ini bukanlah puasa Ramadhan. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di tahun ke-2 setelah hijrah. An Nawawi rahimahullah mengatakan: صام رسول الله ﷺ رمضان تسع سنين ، لأنه فرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وتوفي النبي ﷺ في شهر ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Ramadhan selama 9 tahun. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di bulan Sya’ban pada tahun ke-2 setelah hijrah (ke Madinah). Dan beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke-11 setelah hijrah” (Al Majmu’, 6/250). Ath Thabari dalam Tafsir-nya membawakan riwayat dari sebagian sahabat dan tabi’in, bahwa yang dimaksud adalah puasa tiga hari di setiap bulan. Karena dahulu puasa tiga hari di setiap bulan hukumnya wajib, kemudian mansukh (dihapus) setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Di antaranya riwayat dari ‘Atha rahimahullah: عن عطاء , قال : كان عليهم الصيام ثلاثة أيام من كل شهر , ولم يسم الشهر أياما معدودات , قال : وكان هذا صيام الناس قبل ثم فرض الله عز وجل على الناس شهر رمضان “Dari ‘Atha, ia berkata: “Dahulu wajib bagi manusia untuk puasa tiga hari di setiap bulan. Dan puasa sebulan penuh tidaklah disebut dengan ayyaman ma’dudat (hari-hari yang tertentu)”. Atha’ juga berkata: “Dahulu puasa tiga hari setiap bulan wajib bagi orang-orang. Sampai Allah ‘azza wa jalla wajibkan puasa Ramadhan bagi manusia” (HR. Ath Thabari dalam Tafsir-nya, 3/4130). Namun riwayat ini dha’if, karena terdapat Abu Hudzaifah Musa bin Mas’ud An Nahdi. Imam Ahmad berkata: “ia adalah orang yang paling banyak kekeliruannya”. Bundar mengatakan, “ia dha’if”. Abu Hatim berkata, “ia banyak melakukan tas-hif”. Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu dan Qatadah rahimahullah. Namun semuanya tidak lepas dari kelemahan.  Di sisi lain, terdapat riwayat-riwayat yang shahih bahwa dahulu kaum muslimin diwajibkan untuk puasa Asyura di hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Kemudian ketika turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa Asyura tidak lagi menjadi wajib melainkan mustahab (sunnah). Sebagaimana perkataan ‘Aisyah radhiallahu’anha, كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أمَرَ بصِيَامِ يَومِ عَاشُورَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كانَ مَن شَاءَ صَامَ ومَن شَاءَ أفْطَرَ “Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk puasa hari Asyura. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan yang ingin berbuka juga dipersilahkan” (HR. Bukhari no.2001, 4502, Muslim no.1125). Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mulai ada pelonggaran terhadap kewajiban puasa Asyura. Sampai akhirnya turun ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan. Dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata: كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ : ( مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ) “Orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun melakukannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau juga puasa Asyura dan memerintahkan (mewajibkan) para sahabat untuk melakukannya. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau bersabda: ‘barangsiapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau juga silakan‘” (HR. Bukhari no. 1794, Muslim no. 1125). Abul Abbas Al Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Perkataan Aisyah [orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah] menunjukkan bahwa puasa Asyura ini sudah diketahui pensyariatannya. Mereka juga mengetahui kedudukannya. Bisa jadi ini dikarenakan mereka bersandar pada syariat Nabi Ibrahim dan Ismail shalawatullah ‘alaihima. Karena orang-orang jahiliyah bersandar pada syariat keduanya. Demikian juga mereka bersandar pada keduanya dalam hukum-hukum haji dan perkara lainnya” (Al Mufhim, 3/190-191). Kesimpulannya, puasa yang diwajibkan kepada kaum muslimin sebelum puasa Ramadhan adalah puasa Asyura. Bukan puasa tiga hari di setiap bulan. Wallahu a’lam. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Memelihara Burung Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah, Khutbatun Nikah, Dosa Perselingkuhan, Adzan Langgam Jawa Mp3, Cara Mengqadha Shalat Yang Tertinggal Bertahun Tahun Visited 51 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1440576109&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu? Di dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa kepada kaum terdahulu. Allah ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Puasa apakah yang “diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” dalam ayat ini? Yang jelas ini bukanlah puasa Ramadhan. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di tahun ke-2 setelah hijrah. An Nawawi rahimahullah mengatakan: صام رسول الله ﷺ رمضان تسع سنين ، لأنه فرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وتوفي النبي ﷺ في شهر ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Ramadhan selama 9 tahun. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di bulan Sya’ban pada tahun ke-2 setelah hijrah (ke Madinah). Dan beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke-11 setelah hijrah” (Al Majmu’, 6/250). Ath Thabari dalam Tafsir-nya membawakan riwayat dari sebagian sahabat dan tabi’in, bahwa yang dimaksud adalah puasa tiga hari di setiap bulan. Karena dahulu puasa tiga hari di setiap bulan hukumnya wajib, kemudian mansukh (dihapus) setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Di antaranya riwayat dari ‘Atha rahimahullah: عن عطاء , قال : كان عليهم الصيام ثلاثة أيام من كل شهر , ولم يسم الشهر أياما معدودات , قال : وكان هذا صيام الناس قبل ثم فرض الله عز وجل على الناس شهر رمضان “Dari ‘Atha, ia berkata: “Dahulu wajib bagi manusia untuk puasa tiga hari di setiap bulan. Dan puasa sebulan penuh tidaklah disebut dengan ayyaman ma’dudat (hari-hari yang tertentu)”. Atha’ juga berkata: “Dahulu puasa tiga hari setiap bulan wajib bagi orang-orang. Sampai Allah ‘azza wa jalla wajibkan puasa Ramadhan bagi manusia” (HR. Ath Thabari dalam Tafsir-nya, 3/4130). Namun riwayat ini dha’if, karena terdapat Abu Hudzaifah Musa bin Mas’ud An Nahdi. Imam Ahmad berkata: “ia adalah orang yang paling banyak kekeliruannya”. Bundar mengatakan, “ia dha’if”. Abu Hatim berkata, “ia banyak melakukan tas-hif”. Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Mu’adz bin Jabal radhiallahu’anhu dan Qatadah rahimahullah. Namun semuanya tidak lepas dari kelemahan.  Di sisi lain, terdapat riwayat-riwayat yang shahih bahwa dahulu kaum muslimin diwajibkan untuk puasa Asyura di hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Kemudian ketika turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa Asyura tidak lagi menjadi wajib melainkan mustahab (sunnah). Sebagaimana perkataan ‘Aisyah radhiallahu’anha, كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أمَرَ بصِيَامِ يَومِ عَاشُورَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كانَ مَن شَاءَ صَامَ ومَن شَاءَ أفْطَرَ “Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk puasa hari Asyura. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan yang ingin berbuka juga dipersilahkan” (HR. Bukhari no.2001, 4502, Muslim no.1125). Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mulai ada pelonggaran terhadap kewajiban puasa Asyura. Sampai akhirnya turun ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan. Dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata: كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ : ( مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ) “Orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun melakukannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau juga puasa Asyura dan memerintahkan (mewajibkan) para sahabat untuk melakukannya. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau bersabda: ‘barangsiapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau juga silakan‘” (HR. Bukhari no. 1794, Muslim no. 1125). Abul Abbas Al Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Perkataan Aisyah [orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah] menunjukkan bahwa puasa Asyura ini sudah diketahui pensyariatannya. Mereka juga mengetahui kedudukannya. Bisa jadi ini dikarenakan mereka bersandar pada syariat Nabi Ibrahim dan Ismail shalawatullah ‘alaihima. Karena orang-orang jahiliyah bersandar pada syariat keduanya. Demikian juga mereka bersandar pada keduanya dalam hukum-hukum haji dan perkara lainnya” (Al Mufhim, 3/190-191). Kesimpulannya, puasa yang diwajibkan kepada kaum muslimin sebelum puasa Ramadhan adalah puasa Asyura. Bukan puasa tiga hari di setiap bulan. Wallahu a’lam. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Memelihara Burung Menurut Islam, Cara Mengatasi Suami Pemarah, Khutbatun Nikah, Dosa Perselingkuhan, Adzan Langgam Jawa Mp3, Cara Mengqadha Shalat Yang Tertinggal Bertahun Tahun Visited 51 times, 1 visit(s) today Post Views: 240 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa

Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Tidak Perlu Meng-qadha Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. ‘Aisyah radhiallahu’anha pernah ditanya: ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقالَتْ: أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ. قالَتْ: كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Mengapa wanita haid harus meng-qadha puasa dan tidak perlu meng-qadha shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam), namun kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat” (HR. Al Bukhari no. 321, Muslim no. 335). Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya di luar Ramadhan.  Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Cukup Bayar Fidyah Ini keyakinan yang keliru. Sebagaimana dalam riwayat di atas, wanita haid itu meng-qadha puasanya. Kecuali jika ia sakit dengan penyakit yang berat dan tidak diharapkan kesembuhannya atau sudah tua renta dan tidak mampu puasa lagi. Maka ketika itu barulah ia membayar fidyah. Berbohong Membatalkan Puasa Tidak ada dalil yang membuktikan bahwa berbohong itu membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum” (HR. Bukhari no. 6057). Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa, bisa jadi puasanya sah sehingga ia tidak dituntut untuk mengulang kembali namun pahalanya berkurang atau hangus. Andaikan berbohong membatalkan puasa maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadis di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Makan Sahur itu Pukul 2 Malam atau Pukul 3 Malam Walaupun tidak keliru secara total dan makan sahurnya tetap sah, namun ini tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan. Karena dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu, كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً “Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat” (HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097). Demikian juga, makan sahur pukul 2 atau 3 malam, membuat seseorang mengantuk setelahnya dan terlewat shalat subuh.  Namun makan sahur pada waktu demikian tetap sah karena awal waktu sahur adalah pertengahan malam. An Nawawi rahimahullah mengatakan: وقت السحور بين نصف الليل وطلوع الفجر “Waktu sahur itu antara pertengahan malam hingga terbit fajar” (Al Majmu’). Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah, maka Perbanyaklah Tidur Hadis: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437). Hadis ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadis ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696). Terdapat juga riwayat yang lain: الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadis ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653). Tidak Keramas di Siang Hari karena Nanti Masuk Pori-pori dan Batal Puasanya Ini keyakinan yang tidak berdasar sama sekali. Karena andaikan air masuk pori-pori kulit pun, maka itu tidak sama dengan minum dan tidak membatalkan puasa. Terlebih lagi terdapat hadis dari sebagian sahabat Nabi: لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بالعرجِ يصبُّ علَى رأسِهِ الماءَ ، وَهوَ صائمٌ منَ العطشِ ، أو منَ الحرِّ “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam ketika di Al ‘Urj beliau menyiram kepalanya dengan air dalam keadaan sedang berpuasa. Beliau lakukan demikian karena saking hausnya atau saking panasnya” (HR. Abu Daud no.2365, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Tidak Boleh Bermaksiat ketika Puasa, namun setelah Berbuka Baru Bermaksiat Terkadang ada orang yang menahan diri untuk tidak pacaran di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia pacaran. Ada yang menahan diri untuk tidak ghibah dan berbohong di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia ghibah dan berbohong. Dan sebagainya. Ini keyakinan yang aneh sekali. Karena maksiat itu diharamkan baik ketika puasa maupun setelah berbuka. Bahkan diharamkan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan ibadah puasa adalah untuk melatih kita agar terbiasa menjauhkan diri dari maksiat. Karena jika yang mubah saja kita bisa menahan diri, maka apalagi yang haram. Sehingga orang yang bermaksiat setelah berbuka, seakan-akan ibadah puasa tidak ada manfaatnya buat dia. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tanah Haram, Perjalanan Ruh Manusia, Nabi Khidir As Masih Hidup, Managemen Qolbu, Video Jimak, Cara Memanggil Jin Wanita Cantik Visited 38 times, 2 visit(s) today Post Views: 373 QRIS donasi Yufid

Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa

Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Tidak Perlu Meng-qadha Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. ‘Aisyah radhiallahu’anha pernah ditanya: ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقالَتْ: أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ. قالَتْ: كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Mengapa wanita haid harus meng-qadha puasa dan tidak perlu meng-qadha shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam), namun kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat” (HR. Al Bukhari no. 321, Muslim no. 335). Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya di luar Ramadhan.  Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Cukup Bayar Fidyah Ini keyakinan yang keliru. Sebagaimana dalam riwayat di atas, wanita haid itu meng-qadha puasanya. Kecuali jika ia sakit dengan penyakit yang berat dan tidak diharapkan kesembuhannya atau sudah tua renta dan tidak mampu puasa lagi. Maka ketika itu barulah ia membayar fidyah. Berbohong Membatalkan Puasa Tidak ada dalil yang membuktikan bahwa berbohong itu membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum” (HR. Bukhari no. 6057). Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa, bisa jadi puasanya sah sehingga ia tidak dituntut untuk mengulang kembali namun pahalanya berkurang atau hangus. Andaikan berbohong membatalkan puasa maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadis di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Makan Sahur itu Pukul 2 Malam atau Pukul 3 Malam Walaupun tidak keliru secara total dan makan sahurnya tetap sah, namun ini tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan. Karena dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu, كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً “Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat” (HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097). Demikian juga, makan sahur pukul 2 atau 3 malam, membuat seseorang mengantuk setelahnya dan terlewat shalat subuh.  Namun makan sahur pada waktu demikian tetap sah karena awal waktu sahur adalah pertengahan malam. An Nawawi rahimahullah mengatakan: وقت السحور بين نصف الليل وطلوع الفجر “Waktu sahur itu antara pertengahan malam hingga terbit fajar” (Al Majmu’). Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah, maka Perbanyaklah Tidur Hadis: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437). Hadis ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadis ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696). Terdapat juga riwayat yang lain: الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadis ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653). Tidak Keramas di Siang Hari karena Nanti Masuk Pori-pori dan Batal Puasanya Ini keyakinan yang tidak berdasar sama sekali. Karena andaikan air masuk pori-pori kulit pun, maka itu tidak sama dengan minum dan tidak membatalkan puasa. Terlebih lagi terdapat hadis dari sebagian sahabat Nabi: لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بالعرجِ يصبُّ علَى رأسِهِ الماءَ ، وَهوَ صائمٌ منَ العطشِ ، أو منَ الحرِّ “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam ketika di Al ‘Urj beliau menyiram kepalanya dengan air dalam keadaan sedang berpuasa. Beliau lakukan demikian karena saking hausnya atau saking panasnya” (HR. Abu Daud no.2365, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Tidak Boleh Bermaksiat ketika Puasa, namun setelah Berbuka Baru Bermaksiat Terkadang ada orang yang menahan diri untuk tidak pacaran di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia pacaran. Ada yang menahan diri untuk tidak ghibah dan berbohong di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia ghibah dan berbohong. Dan sebagainya. Ini keyakinan yang aneh sekali. Karena maksiat itu diharamkan baik ketika puasa maupun setelah berbuka. Bahkan diharamkan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan ibadah puasa adalah untuk melatih kita agar terbiasa menjauhkan diri dari maksiat. Karena jika yang mubah saja kita bisa menahan diri, maka apalagi yang haram. Sehingga orang yang bermaksiat setelah berbuka, seakan-akan ibadah puasa tidak ada manfaatnya buat dia. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tanah Haram, Perjalanan Ruh Manusia, Nabi Khidir As Masih Hidup, Managemen Qolbu, Video Jimak, Cara Memanggil Jin Wanita Cantik Visited 38 times, 2 visit(s) today Post Views: 373 QRIS donasi Yufid
Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Tidak Perlu Meng-qadha Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. ‘Aisyah radhiallahu’anha pernah ditanya: ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقالَتْ: أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ. قالَتْ: كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Mengapa wanita haid harus meng-qadha puasa dan tidak perlu meng-qadha shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam), namun kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat” (HR. Al Bukhari no. 321, Muslim no. 335). Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya di luar Ramadhan.  Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Cukup Bayar Fidyah Ini keyakinan yang keliru. Sebagaimana dalam riwayat di atas, wanita haid itu meng-qadha puasanya. Kecuali jika ia sakit dengan penyakit yang berat dan tidak diharapkan kesembuhannya atau sudah tua renta dan tidak mampu puasa lagi. Maka ketika itu barulah ia membayar fidyah. Berbohong Membatalkan Puasa Tidak ada dalil yang membuktikan bahwa berbohong itu membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum” (HR. Bukhari no. 6057). Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa, bisa jadi puasanya sah sehingga ia tidak dituntut untuk mengulang kembali namun pahalanya berkurang atau hangus. Andaikan berbohong membatalkan puasa maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadis di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Makan Sahur itu Pukul 2 Malam atau Pukul 3 Malam Walaupun tidak keliru secara total dan makan sahurnya tetap sah, namun ini tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan. Karena dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu, كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً “Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat” (HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097). Demikian juga, makan sahur pukul 2 atau 3 malam, membuat seseorang mengantuk setelahnya dan terlewat shalat subuh.  Namun makan sahur pada waktu demikian tetap sah karena awal waktu sahur adalah pertengahan malam. An Nawawi rahimahullah mengatakan: وقت السحور بين نصف الليل وطلوع الفجر “Waktu sahur itu antara pertengahan malam hingga terbit fajar” (Al Majmu’). Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah, maka Perbanyaklah Tidur Hadis: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437). Hadis ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadis ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696). Terdapat juga riwayat yang lain: الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadis ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653). Tidak Keramas di Siang Hari karena Nanti Masuk Pori-pori dan Batal Puasanya Ini keyakinan yang tidak berdasar sama sekali. Karena andaikan air masuk pori-pori kulit pun, maka itu tidak sama dengan minum dan tidak membatalkan puasa. Terlebih lagi terdapat hadis dari sebagian sahabat Nabi: لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بالعرجِ يصبُّ علَى رأسِهِ الماءَ ، وَهوَ صائمٌ منَ العطشِ ، أو منَ الحرِّ “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam ketika di Al ‘Urj beliau menyiram kepalanya dengan air dalam keadaan sedang berpuasa. Beliau lakukan demikian karena saking hausnya atau saking panasnya” (HR. Abu Daud no.2365, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Tidak Boleh Bermaksiat ketika Puasa, namun setelah Berbuka Baru Bermaksiat Terkadang ada orang yang menahan diri untuk tidak pacaran di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia pacaran. Ada yang menahan diri untuk tidak ghibah dan berbohong di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia ghibah dan berbohong. Dan sebagainya. Ini keyakinan yang aneh sekali. Karena maksiat itu diharamkan baik ketika puasa maupun setelah berbuka. Bahkan diharamkan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan ibadah puasa adalah untuk melatih kita agar terbiasa menjauhkan diri dari maksiat. Karena jika yang mubah saja kita bisa menahan diri, maka apalagi yang haram. Sehingga orang yang bermaksiat setelah berbuka, seakan-akan ibadah puasa tidak ada manfaatnya buat dia. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tanah Haram, Perjalanan Ruh Manusia, Nabi Khidir As Masih Hidup, Managemen Qolbu, Video Jimak, Cara Memanggil Jin Wanita Cantik Visited 38 times, 2 visit(s) today Post Views: 373 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1440574969&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Tidak Perlu Meng-qadha Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. ‘Aisyah radhiallahu’anha pernah ditanya: ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقالَتْ: أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ. قالَتْ: كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ “Mengapa wanita haid harus meng-qadha puasa dan tidak perlu meng-qadha shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam), namun kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat” (HR. Al Bukhari no. 321, Muslim no. 335). Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-qadha puasanya di luar Ramadhan.  Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Cukup Bayar Fidyah Ini keyakinan yang keliru. Sebagaimana dalam riwayat di atas, wanita haid itu meng-qadha puasanya. Kecuali jika ia sakit dengan penyakit yang berat dan tidak diharapkan kesembuhannya atau sudah tua renta dan tidak mampu puasa lagi. Maka ketika itu barulah ia membayar fidyah. Berbohong Membatalkan Puasa Tidak ada dalil yang membuktikan bahwa berbohong itu membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum” (HR. Bukhari no. 6057). Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa, bisa jadi puasanya sah sehingga ia tidak dituntut untuk mengulang kembali namun pahalanya berkurang atau hangus. Andaikan berbohong membatalkan puasa maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadis di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja. Makan Sahur itu Pukul 2 Malam atau Pukul 3 Malam Walaupun tidak keliru secara total dan makan sahurnya tetap sah, namun ini tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan. Karena dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma bertanya kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu, كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً “Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat” (HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097). Demikian juga, makan sahur pukul 2 atau 3 malam, membuat seseorang mengantuk setelahnya dan terlewat shalat subuh.  Namun makan sahur pada waktu demikian tetap sah karena awal waktu sahur adalah pertengahan malam. An Nawawi rahimahullah mengatakan: وقت السحور بين نصف الليل وطلوع الفجر “Waktu sahur itu antara pertengahan malam hingga terbit fajar” (Al Majmu’). Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah, maka Perbanyaklah Tidur Hadis: نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437). Hadis ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadis ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696). Terdapat juga riwayat yang lain: الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadis ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653). Tidak Keramas di Siang Hari karena Nanti Masuk Pori-pori dan Batal Puasanya Ini keyakinan yang tidak berdasar sama sekali. Karena andaikan air masuk pori-pori kulit pun, maka itu tidak sama dengan minum dan tidak membatalkan puasa. Terlebih lagi terdapat hadis dari sebagian sahabat Nabi: لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بالعرجِ يصبُّ علَى رأسِهِ الماءَ ، وَهوَ صائمٌ منَ العطشِ ، أو منَ الحرِّ “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam ketika di Al ‘Urj beliau menyiram kepalanya dengan air dalam keadaan sedang berpuasa. Beliau lakukan demikian karena saking hausnya atau saking panasnya” (HR. Abu Daud no.2365, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Tidak Boleh Bermaksiat ketika Puasa, namun setelah Berbuka Baru Bermaksiat Terkadang ada orang yang menahan diri untuk tidak pacaran di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia pacaran. Ada yang menahan diri untuk tidak ghibah dan berbohong di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia ghibah dan berbohong. Dan sebagainya. Ini keyakinan yang aneh sekali. Karena maksiat itu diharamkan baik ketika puasa maupun setelah berbuka. Bahkan diharamkan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Bahkan ibadah puasa adalah untuk melatih kita agar terbiasa menjauhkan diri dari maksiat. Karena jika yang mubah saja kita bisa menahan diri, maka apalagi yang haram. Sehingga orang yang bermaksiat setelah berbuka, seakan-akan ibadah puasa tidak ada manfaatnya buat dia. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Tanah Haram, Perjalanan Ruh Manusia, Nabi Khidir As Masih Hidup, Managemen Qolbu, Video Jimak, Cara Memanggil Jin Wanita Cantik Visited 38 times, 2 visit(s) today Post Views: 373 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fatwa: Bagaimana Menjawab Pengingkar Azab Kubur

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan:Bagaimana kita menjawab orang yang mengingkari azab kubur dan berdalih (beralasan) bahwa kalau kita membongkar makam, akan didapati kondisi makam yang tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas?Jawaban:Kita jawab terhadap orang yang mengingkari azab kubur dengan dalih bahwa seandainya kita membongkar makam, maka kita dapati kondisi makam tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas, dengan beberapa jawaban berikut ini:Pertama, azab kubur adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh syariat. Allah Ta’ala berfirman tentang keluarga Fir’aun,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Andai kalian tidak berlarian, niscaya aku berdoa kepada Allah agar memperdengarkan azab kubur pada kalian seperti yang aku dengar.” Setelah itu, beliau menghadapkan wajah ke arah kami (para sahabat) lalu bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab neraka.” Mereka (para sahabat) berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab neraka.” Beliau bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab kubur.” Mereka berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab kubur.” (HR. Muslim no. 2867)Demikian pula, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan kondisi orang mukmin,يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ“Dia (hamba mukmin itu) akan dilapangkan di dalam kuburnya.” (HR. Bukhari no. 1374 dan Muslim no. 2870)Dan juga dalil-dalil lain (yang menunjukkan adanya azab kubur, pent.). Oleh karena itu, kita tidak boleh menentang dalil-dalil tersebut dengan sangkaan-sangkaan yang lemah, bahkan yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dan taat.Kedua, pada asalnya, azab kubur itu ditujukan kepada ruh, dan bukan merupakan perkara yang bisa dirasakan (diindera) oleh badan [1]. Seandainya azab kubur itu bisa diindera oleh badan, maka tidak perlu ada iman terhadap perkara yang gaib. Keimanan terhadap perkara yang gaib menjadi tidak berfaedah. Akan tetapi, azab kubur termasuk perkara gaib. Dan kondisi (alam) barzakh itu tidak bisa dianalogikan dengan alam dunia.Ketiga, azab dan nikmat kubur, demikian pula lapang dan sempitnya alam kubur, hanyalah dirasakan oleh si mayit, bukan yang lain (orang yang masih hidup, pent.). Manusia terkadang bermimpi, padahal dia dalam kondisi tidur (berbaring) di kasurnya, bahwa dia berdiri, pergi, atau pulang, memukul, atau dipukul, atau bermimpi dia berada di tempat yang sempit atau yang sangat lapang (luas). Sedangkan orang di sekitarnya tidak melihat dan tidak pula merasakannya.Oleh karena itu, yang menjadi kewajiban kita terhadap semisal perkara ini adalah mengatakan, “Kami mendengar, kami taat, kami beriman, dan kami membenarkan.”Baca Juga:Peristiwa Penghimpitan di Alam KubuAlam Kubur Itu Benar Adanya***@Rumah Kasongan, 25 Jumadil akhirah 1443/ 28 Januari 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dengan kata lain, dampak (akibat) dari azab kubur itu tidak bisa dilihat pada badan si mayit.[2] Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 129-130, pertanyaan no. 54.🔍 Hukum Shalat Jumat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Cabut Uban Dalam Islam, Cara Membaguskan Suara Untuk MengajiTags: akhiratalam kuburazabazab kuburdalil azab kuburfatwaFatwa Ulamafitnah kuburkematianmengingkari azab kuburpengingat kematiansiksa kubur

Fatwa: Bagaimana Menjawab Pengingkar Azab Kubur

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan:Bagaimana kita menjawab orang yang mengingkari azab kubur dan berdalih (beralasan) bahwa kalau kita membongkar makam, akan didapati kondisi makam yang tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas?Jawaban:Kita jawab terhadap orang yang mengingkari azab kubur dengan dalih bahwa seandainya kita membongkar makam, maka kita dapati kondisi makam tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas, dengan beberapa jawaban berikut ini:Pertama, azab kubur adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh syariat. Allah Ta’ala berfirman tentang keluarga Fir’aun,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Andai kalian tidak berlarian, niscaya aku berdoa kepada Allah agar memperdengarkan azab kubur pada kalian seperti yang aku dengar.” Setelah itu, beliau menghadapkan wajah ke arah kami (para sahabat) lalu bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab neraka.” Mereka (para sahabat) berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab neraka.” Beliau bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab kubur.” Mereka berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab kubur.” (HR. Muslim no. 2867)Demikian pula, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan kondisi orang mukmin,يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ“Dia (hamba mukmin itu) akan dilapangkan di dalam kuburnya.” (HR. Bukhari no. 1374 dan Muslim no. 2870)Dan juga dalil-dalil lain (yang menunjukkan adanya azab kubur, pent.). Oleh karena itu, kita tidak boleh menentang dalil-dalil tersebut dengan sangkaan-sangkaan yang lemah, bahkan yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dan taat.Kedua, pada asalnya, azab kubur itu ditujukan kepada ruh, dan bukan merupakan perkara yang bisa dirasakan (diindera) oleh badan [1]. Seandainya azab kubur itu bisa diindera oleh badan, maka tidak perlu ada iman terhadap perkara yang gaib. Keimanan terhadap perkara yang gaib menjadi tidak berfaedah. Akan tetapi, azab kubur termasuk perkara gaib. Dan kondisi (alam) barzakh itu tidak bisa dianalogikan dengan alam dunia.Ketiga, azab dan nikmat kubur, demikian pula lapang dan sempitnya alam kubur, hanyalah dirasakan oleh si mayit, bukan yang lain (orang yang masih hidup, pent.). Manusia terkadang bermimpi, padahal dia dalam kondisi tidur (berbaring) di kasurnya, bahwa dia berdiri, pergi, atau pulang, memukul, atau dipukul, atau bermimpi dia berada di tempat yang sempit atau yang sangat lapang (luas). Sedangkan orang di sekitarnya tidak melihat dan tidak pula merasakannya.Oleh karena itu, yang menjadi kewajiban kita terhadap semisal perkara ini adalah mengatakan, “Kami mendengar, kami taat, kami beriman, dan kami membenarkan.”Baca Juga:Peristiwa Penghimpitan di Alam KubuAlam Kubur Itu Benar Adanya***@Rumah Kasongan, 25 Jumadil akhirah 1443/ 28 Januari 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dengan kata lain, dampak (akibat) dari azab kubur itu tidak bisa dilihat pada badan si mayit.[2] Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 129-130, pertanyaan no. 54.🔍 Hukum Shalat Jumat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Cabut Uban Dalam Islam, Cara Membaguskan Suara Untuk MengajiTags: akhiratalam kuburazabazab kuburdalil azab kuburfatwaFatwa Ulamafitnah kuburkematianmengingkari azab kuburpengingat kematiansiksa kubur
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan:Bagaimana kita menjawab orang yang mengingkari azab kubur dan berdalih (beralasan) bahwa kalau kita membongkar makam, akan didapati kondisi makam yang tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas?Jawaban:Kita jawab terhadap orang yang mengingkari azab kubur dengan dalih bahwa seandainya kita membongkar makam, maka kita dapati kondisi makam tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas, dengan beberapa jawaban berikut ini:Pertama, azab kubur adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh syariat. Allah Ta’ala berfirman tentang keluarga Fir’aun,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Andai kalian tidak berlarian, niscaya aku berdoa kepada Allah agar memperdengarkan azab kubur pada kalian seperti yang aku dengar.” Setelah itu, beliau menghadapkan wajah ke arah kami (para sahabat) lalu bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab neraka.” Mereka (para sahabat) berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab neraka.” Beliau bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab kubur.” Mereka berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab kubur.” (HR. Muslim no. 2867)Demikian pula, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan kondisi orang mukmin,يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ“Dia (hamba mukmin itu) akan dilapangkan di dalam kuburnya.” (HR. Bukhari no. 1374 dan Muslim no. 2870)Dan juga dalil-dalil lain (yang menunjukkan adanya azab kubur, pent.). Oleh karena itu, kita tidak boleh menentang dalil-dalil tersebut dengan sangkaan-sangkaan yang lemah, bahkan yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dan taat.Kedua, pada asalnya, azab kubur itu ditujukan kepada ruh, dan bukan merupakan perkara yang bisa dirasakan (diindera) oleh badan [1]. Seandainya azab kubur itu bisa diindera oleh badan, maka tidak perlu ada iman terhadap perkara yang gaib. Keimanan terhadap perkara yang gaib menjadi tidak berfaedah. Akan tetapi, azab kubur termasuk perkara gaib. Dan kondisi (alam) barzakh itu tidak bisa dianalogikan dengan alam dunia.Ketiga, azab dan nikmat kubur, demikian pula lapang dan sempitnya alam kubur, hanyalah dirasakan oleh si mayit, bukan yang lain (orang yang masih hidup, pent.). Manusia terkadang bermimpi, padahal dia dalam kondisi tidur (berbaring) di kasurnya, bahwa dia berdiri, pergi, atau pulang, memukul, atau dipukul, atau bermimpi dia berada di tempat yang sempit atau yang sangat lapang (luas). Sedangkan orang di sekitarnya tidak melihat dan tidak pula merasakannya.Oleh karena itu, yang menjadi kewajiban kita terhadap semisal perkara ini adalah mengatakan, “Kami mendengar, kami taat, kami beriman, dan kami membenarkan.”Baca Juga:Peristiwa Penghimpitan di Alam KubuAlam Kubur Itu Benar Adanya***@Rumah Kasongan, 25 Jumadil akhirah 1443/ 28 Januari 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dengan kata lain, dampak (akibat) dari azab kubur itu tidak bisa dilihat pada badan si mayit.[2] Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 129-130, pertanyaan no. 54.🔍 Hukum Shalat Jumat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Cabut Uban Dalam Islam, Cara Membaguskan Suara Untuk MengajiTags: akhiratalam kuburazabazab kuburdalil azab kuburfatwaFatwa Ulamafitnah kuburkematianmengingkari azab kuburpengingat kematiansiksa kubur


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan:Bagaimana kita menjawab orang yang mengingkari azab kubur dan berdalih (beralasan) bahwa kalau kita membongkar makam, akan didapati kondisi makam yang tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas?Jawaban:Kita jawab terhadap orang yang mengingkari azab kubur dengan dalih bahwa seandainya kita membongkar makam, maka kita dapati kondisi makam tidak berubah, tidak menjadi lebih sempit, dan tidak pula menjadi lebih luas, dengan beberapa jawaban berikut ini:Pertama, azab kubur adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh syariat. Allah Ta’ala berfirman tentang keluarga Fir’aun,النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Andai kalian tidak berlarian, niscaya aku berdoa kepada Allah agar memperdengarkan azab kubur pada kalian seperti yang aku dengar.” Setelah itu, beliau menghadapkan wajah ke arah kami (para sahabat) lalu bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab neraka.” Mereka (para sahabat) berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab neraka.” Beliau bersabda, “Berlindunglah diri kepada Allah dari azab kubur.” Mereka berkata, “Kami berlindung diri kepada Allah dari azab kubur.” (HR. Muslim no. 2867)Demikian pula, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan kondisi orang mukmin,يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ“Dia (hamba mukmin itu) akan dilapangkan di dalam kuburnya.” (HR. Bukhari no. 1374 dan Muslim no. 2870)Dan juga dalil-dalil lain (yang menunjukkan adanya azab kubur, pent.). Oleh karena itu, kita tidak boleh menentang dalil-dalil tersebut dengan sangkaan-sangkaan yang lemah, bahkan yang menjadi kewajiban kita adalah membenarkan dan taat.Kedua, pada asalnya, azab kubur itu ditujukan kepada ruh, dan bukan merupakan perkara yang bisa dirasakan (diindera) oleh badan [1]. Seandainya azab kubur itu bisa diindera oleh badan, maka tidak perlu ada iman terhadap perkara yang gaib. Keimanan terhadap perkara yang gaib menjadi tidak berfaedah. Akan tetapi, azab kubur termasuk perkara gaib. Dan kondisi (alam) barzakh itu tidak bisa dianalogikan dengan alam dunia.Ketiga, azab dan nikmat kubur, demikian pula lapang dan sempitnya alam kubur, hanyalah dirasakan oleh si mayit, bukan yang lain (orang yang masih hidup, pent.). Manusia terkadang bermimpi, padahal dia dalam kondisi tidur (berbaring) di kasurnya, bahwa dia berdiri, pergi, atau pulang, memukul, atau dipukul, atau bermimpi dia berada di tempat yang sempit atau yang sangat lapang (luas). Sedangkan orang di sekitarnya tidak melihat dan tidak pula merasakannya.Oleh karena itu, yang menjadi kewajiban kita terhadap semisal perkara ini adalah mengatakan, “Kami mendengar, kami taat, kami beriman, dan kami membenarkan.”Baca Juga:Peristiwa Penghimpitan di Alam KubuAlam Kubur Itu Benar Adanya***@Rumah Kasongan, 25 Jumadil akhirah 1443/ 28 Januari 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] Dengan kata lain, dampak (akibat) dari azab kubur itu tidak bisa dilihat pada badan si mayit.[2] Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 129-130, pertanyaan no. 54.🔍 Hukum Shalat Jumat, Wanita Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja, Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Cabut Uban Dalam Islam, Cara Membaguskan Suara Untuk MengajiTags: akhiratalam kuburazabazab kuburdalil azab kuburfatwaFatwa Ulamafitnah kuburkematianmengingkari azab kuburpengingat kematiansiksa kubur

Siapa yang Pertama Kali Menyusun Kalender Hijriah? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Siapa yang Pertama Kali Menyusun Kalender Hijriah? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Dia adalah orang pertama yang menyusun kalender Islam (hijriah). Umar bin Khattab yang pertama menyusun kalender hijriah. Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat, lalu bertanya, “Kapan tahun hijriah ini dimulai?” Tentu, Umar bukan orang yang menyusun bulan-bulan hijriah, karena ini sudah berlangsung lama, sejak Allah menciptakan langit-langit dan bumi. “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan, sebagaimana ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, …” (QS. At-Taubah: 36) Jadi, bulan-bulan ini telah lama ada. Namun, yang menetapkannya sebagai kalender adalah Umar bin Khattab. Umar bertanya, “Bagaimana pendapat kalian?” Ada yang berkata, “Dimulai sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah.” Ada juga yang berkata, “Dimulai sejak Nabi berhijrah.” Dan inilah pendapat yang diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali berkata, “Sejak Nabi berhijrah, saat beliau meninggalkan negeri kafir ke negeri Islam.” Maka, Umar memilih pendapat ini. Dan pada akhirnya, kalender hijriah dimulai sejak waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah menuju kota Madinah. Dan ada yang bertanya, “Nabi berhijrah di bulan Rabiul Awal, lalu bagaimana kok bulan Muharram dapat menjadi bulan pertama?” Tidak demikian! Muharram adalah bulan pertama sejak dulu, sebelum kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. (1) Muharram, (2) Safar, (3) Rabiul Awal, (4) Rabiuts Tsani, (5) Jumadal Ula, (6) Jumadal Akhirah, (7) Rajab, (8) Syakban, (9) Ramadhan, dst… Bulan-bulan ini telah lama ada, bukan hal yang baru. Dan dahulu kaum Arab bermain-main dengan bulan. “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram, itu hanya menambah kekafiran. …” (QS. At-Taubah: 37) Dahulu, mereka bermain-main dengan bulan-bulan; mengakhirkan suatu bulan dan mendahulukan bulan lainnya. Jadi, bulan-bulan ini bukan hal yang baru, sudah ada sejak lama sekali. Kaum Arab dan lainnya telah menamai bulan-bulan ini, sejak lama. Jadi, maksudnya adalah bulan-bulan ini bukan baru dibuat, tetapi penggunaannya sebagai kalender, berdasarkan bulan-bulan ini: Muharram, Syawal, dst. (dimulai dari hijrah Nabi) adalah tahun pertama. Dan tahun pertama perhitungannya dimulai dari bulan Muharram. Jadi, maksudnya bulan-bulan ini bukan baru dibuat, akan tetapi yang dimaksud adalah dimulainya awal perhitungan tahun sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. =============================================================================== هُوَ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الْإِسْلَامِيَّ عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الهِجْرِيَّ وَجَمَعَ الصَّحَابَةَ فَقَالَ مَتَى يَعْنِي تَبْدَأُ هَذِهِ السَّنَةُ طَبْعًا لَيْسَ هُوَ وَضَعَ الْأَشْهُرَ الْهِجْرِيَّةَ الْأَشْهُرُ الْهِجْرِيَّةُ قَدِيمَةٌ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ يَعْنِي قَدِيْمًا لَكِنِ الْقَصْدُ أَنَّهُ التَّأْرِيْخُ بِهَا فَعُمَرُ قَالَ مَا تَقُولُونَ؟ فَبَعْضُهُمْ قَالَ مُنْذُ بِعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعْضُهُمْ قَالَ مِنَ الْهِجْرَةِ مُنْذُ هِجْرَةِ النَّبِيِّ وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَشَارَ بِهِ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مُنْذُ هَاجَرَ النَّبِيُّ تَرَكَ بِلَادَ الْكُفْرِ إِلَى بِلَادِ الْإِسْلَامِ فَاخْتَارَهُ عُمَرُ وَفِعْلًا صَارَ التَّوْقِيتُ الْهِجْرِيُّ أَوِ التَّقْوِيمُ الْهِجْرِيُّ مُنْذُ أَنْ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ النَّبِيُّ هَاجَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَكَيْفَ يَعْنِي صَارَ مُحَرَّمٌ هُوَ شَهْرٌ وَاحِدٌ؟ لَا مُحَرَّمٌ شَهْرٌ وَاحِدٌ مِنْ زَمَانٍ قَبْلَ وِلَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مُحَرَّمٌ وَصَفَرٌ وَرَبِيْعُ الْأَوَّلِ رَبِيعُ الثَّانِي وَجُمَادَى الْأُوْلَى وَجُمَادَى الْآخِرَةِ وَرَجَبٌ وَشَعْبَانُ وَرَمَضَانُ قَدِيمَةٌ هَذِهِ الْأَشْهُرُ لَيْسَتْ جَدِيدَةً وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَتَلَعَّبُ إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ كَانُوا يَتَلَاعَبُونَ بِالْأَشْهُرِ يُؤَخِّرُونَ هَذَا وَيُقَدِّمُونَ هَذَا فَالْأَشْهُرُ لَيْسَتْ حَدِيثَةً أَشْهُرٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَسَمَّتْهَا الْعَرَبُ مِنَ الْقَدِيمِ وَغَيْرُ الْعَرَبِ فَالْقَصْدُ إِذًا أَنَّهُ لَمْ تُؤَسِّسْ هَذِهِ الْأَشْهُرَ وَإِنَّمَا صَارَ التَّقْوِيمَ بِهَا بِاعْتِمَادِ مُحَرَّمٌ شَوَّالٌ بِأَنَّهَا سَنَةٌ أُوْلَى بَسْ السَّنَةُ الْأُولَى بَدَأَ الْعَدُّ مِنْ مُحَرَّمٍ فَلَيْسَ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ الْأَشْهُرُ اسْتُحْدِثَتْ وَإِنَّمَا بَدَأَ الْحِسَابُ يَوْمَ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ

Siapa yang Pertama Kali Menyusun Kalender Hijriah? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Siapa yang Pertama Kali Menyusun Kalender Hijriah? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Dia adalah orang pertama yang menyusun kalender Islam (hijriah). Umar bin Khattab yang pertama menyusun kalender hijriah. Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat, lalu bertanya, “Kapan tahun hijriah ini dimulai?” Tentu, Umar bukan orang yang menyusun bulan-bulan hijriah, karena ini sudah berlangsung lama, sejak Allah menciptakan langit-langit dan bumi. “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan, sebagaimana ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, …” (QS. At-Taubah: 36) Jadi, bulan-bulan ini telah lama ada. Namun, yang menetapkannya sebagai kalender adalah Umar bin Khattab. Umar bertanya, “Bagaimana pendapat kalian?” Ada yang berkata, “Dimulai sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah.” Ada juga yang berkata, “Dimulai sejak Nabi berhijrah.” Dan inilah pendapat yang diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali berkata, “Sejak Nabi berhijrah, saat beliau meninggalkan negeri kafir ke negeri Islam.” Maka, Umar memilih pendapat ini. Dan pada akhirnya, kalender hijriah dimulai sejak waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah menuju kota Madinah. Dan ada yang bertanya, “Nabi berhijrah di bulan Rabiul Awal, lalu bagaimana kok bulan Muharram dapat menjadi bulan pertama?” Tidak demikian! Muharram adalah bulan pertama sejak dulu, sebelum kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. (1) Muharram, (2) Safar, (3) Rabiul Awal, (4) Rabiuts Tsani, (5) Jumadal Ula, (6) Jumadal Akhirah, (7) Rajab, (8) Syakban, (9) Ramadhan, dst… Bulan-bulan ini telah lama ada, bukan hal yang baru. Dan dahulu kaum Arab bermain-main dengan bulan. “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram, itu hanya menambah kekafiran. …” (QS. At-Taubah: 37) Dahulu, mereka bermain-main dengan bulan-bulan; mengakhirkan suatu bulan dan mendahulukan bulan lainnya. Jadi, bulan-bulan ini bukan hal yang baru, sudah ada sejak lama sekali. Kaum Arab dan lainnya telah menamai bulan-bulan ini, sejak lama. Jadi, maksudnya adalah bulan-bulan ini bukan baru dibuat, tetapi penggunaannya sebagai kalender, berdasarkan bulan-bulan ini: Muharram, Syawal, dst. (dimulai dari hijrah Nabi) adalah tahun pertama. Dan tahun pertama perhitungannya dimulai dari bulan Muharram. Jadi, maksudnya bulan-bulan ini bukan baru dibuat, akan tetapi yang dimaksud adalah dimulainya awal perhitungan tahun sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. =============================================================================== هُوَ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الْإِسْلَامِيَّ عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الهِجْرِيَّ وَجَمَعَ الصَّحَابَةَ فَقَالَ مَتَى يَعْنِي تَبْدَأُ هَذِهِ السَّنَةُ طَبْعًا لَيْسَ هُوَ وَضَعَ الْأَشْهُرَ الْهِجْرِيَّةَ الْأَشْهُرُ الْهِجْرِيَّةُ قَدِيمَةٌ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ يَعْنِي قَدِيْمًا لَكِنِ الْقَصْدُ أَنَّهُ التَّأْرِيْخُ بِهَا فَعُمَرُ قَالَ مَا تَقُولُونَ؟ فَبَعْضُهُمْ قَالَ مُنْذُ بِعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعْضُهُمْ قَالَ مِنَ الْهِجْرَةِ مُنْذُ هِجْرَةِ النَّبِيِّ وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَشَارَ بِهِ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مُنْذُ هَاجَرَ النَّبِيُّ تَرَكَ بِلَادَ الْكُفْرِ إِلَى بِلَادِ الْإِسْلَامِ فَاخْتَارَهُ عُمَرُ وَفِعْلًا صَارَ التَّوْقِيتُ الْهِجْرِيُّ أَوِ التَّقْوِيمُ الْهِجْرِيُّ مُنْذُ أَنْ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ النَّبِيُّ هَاجَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَكَيْفَ يَعْنِي صَارَ مُحَرَّمٌ هُوَ شَهْرٌ وَاحِدٌ؟ لَا مُحَرَّمٌ شَهْرٌ وَاحِدٌ مِنْ زَمَانٍ قَبْلَ وِلَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مُحَرَّمٌ وَصَفَرٌ وَرَبِيْعُ الْأَوَّلِ رَبِيعُ الثَّانِي وَجُمَادَى الْأُوْلَى وَجُمَادَى الْآخِرَةِ وَرَجَبٌ وَشَعْبَانُ وَرَمَضَانُ قَدِيمَةٌ هَذِهِ الْأَشْهُرُ لَيْسَتْ جَدِيدَةً وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَتَلَعَّبُ إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ كَانُوا يَتَلَاعَبُونَ بِالْأَشْهُرِ يُؤَخِّرُونَ هَذَا وَيُقَدِّمُونَ هَذَا فَالْأَشْهُرُ لَيْسَتْ حَدِيثَةً أَشْهُرٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَسَمَّتْهَا الْعَرَبُ مِنَ الْقَدِيمِ وَغَيْرُ الْعَرَبِ فَالْقَصْدُ إِذًا أَنَّهُ لَمْ تُؤَسِّسْ هَذِهِ الْأَشْهُرَ وَإِنَّمَا صَارَ التَّقْوِيمَ بِهَا بِاعْتِمَادِ مُحَرَّمٌ شَوَّالٌ بِأَنَّهَا سَنَةٌ أُوْلَى بَسْ السَّنَةُ الْأُولَى بَدَأَ الْعَدُّ مِنْ مُحَرَّمٍ فَلَيْسَ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ الْأَشْهُرُ اسْتُحْدِثَتْ وَإِنَّمَا بَدَأَ الْحِسَابُ يَوْمَ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ
Siapa yang Pertama Kali Menyusun Kalender Hijriah? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Dia adalah orang pertama yang menyusun kalender Islam (hijriah). Umar bin Khattab yang pertama menyusun kalender hijriah. Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat, lalu bertanya, “Kapan tahun hijriah ini dimulai?” Tentu, Umar bukan orang yang menyusun bulan-bulan hijriah, karena ini sudah berlangsung lama, sejak Allah menciptakan langit-langit dan bumi. “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan, sebagaimana ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, …” (QS. At-Taubah: 36) Jadi, bulan-bulan ini telah lama ada. Namun, yang menetapkannya sebagai kalender adalah Umar bin Khattab. Umar bertanya, “Bagaimana pendapat kalian?” Ada yang berkata, “Dimulai sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah.” Ada juga yang berkata, “Dimulai sejak Nabi berhijrah.” Dan inilah pendapat yang diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali berkata, “Sejak Nabi berhijrah, saat beliau meninggalkan negeri kafir ke negeri Islam.” Maka, Umar memilih pendapat ini. Dan pada akhirnya, kalender hijriah dimulai sejak waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah menuju kota Madinah. Dan ada yang bertanya, “Nabi berhijrah di bulan Rabiul Awal, lalu bagaimana kok bulan Muharram dapat menjadi bulan pertama?” Tidak demikian! Muharram adalah bulan pertama sejak dulu, sebelum kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. (1) Muharram, (2) Safar, (3) Rabiul Awal, (4) Rabiuts Tsani, (5) Jumadal Ula, (6) Jumadal Akhirah, (7) Rajab, (8) Syakban, (9) Ramadhan, dst… Bulan-bulan ini telah lama ada, bukan hal yang baru. Dan dahulu kaum Arab bermain-main dengan bulan. “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram, itu hanya menambah kekafiran. …” (QS. At-Taubah: 37) Dahulu, mereka bermain-main dengan bulan-bulan; mengakhirkan suatu bulan dan mendahulukan bulan lainnya. Jadi, bulan-bulan ini bukan hal yang baru, sudah ada sejak lama sekali. Kaum Arab dan lainnya telah menamai bulan-bulan ini, sejak lama. Jadi, maksudnya adalah bulan-bulan ini bukan baru dibuat, tetapi penggunaannya sebagai kalender, berdasarkan bulan-bulan ini: Muharram, Syawal, dst. (dimulai dari hijrah Nabi) adalah tahun pertama. Dan tahun pertama perhitungannya dimulai dari bulan Muharram. Jadi, maksudnya bulan-bulan ini bukan baru dibuat, akan tetapi yang dimaksud adalah dimulainya awal perhitungan tahun sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. =============================================================================== هُوَ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الْإِسْلَامِيَّ عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الهِجْرِيَّ وَجَمَعَ الصَّحَابَةَ فَقَالَ مَتَى يَعْنِي تَبْدَأُ هَذِهِ السَّنَةُ طَبْعًا لَيْسَ هُوَ وَضَعَ الْأَشْهُرَ الْهِجْرِيَّةَ الْأَشْهُرُ الْهِجْرِيَّةُ قَدِيمَةٌ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ يَعْنِي قَدِيْمًا لَكِنِ الْقَصْدُ أَنَّهُ التَّأْرِيْخُ بِهَا فَعُمَرُ قَالَ مَا تَقُولُونَ؟ فَبَعْضُهُمْ قَالَ مُنْذُ بِعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعْضُهُمْ قَالَ مِنَ الْهِجْرَةِ مُنْذُ هِجْرَةِ النَّبِيِّ وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَشَارَ بِهِ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مُنْذُ هَاجَرَ النَّبِيُّ تَرَكَ بِلَادَ الْكُفْرِ إِلَى بِلَادِ الْإِسْلَامِ فَاخْتَارَهُ عُمَرُ وَفِعْلًا صَارَ التَّوْقِيتُ الْهِجْرِيُّ أَوِ التَّقْوِيمُ الْهِجْرِيُّ مُنْذُ أَنْ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ النَّبِيُّ هَاجَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَكَيْفَ يَعْنِي صَارَ مُحَرَّمٌ هُوَ شَهْرٌ وَاحِدٌ؟ لَا مُحَرَّمٌ شَهْرٌ وَاحِدٌ مِنْ زَمَانٍ قَبْلَ وِلَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مُحَرَّمٌ وَصَفَرٌ وَرَبِيْعُ الْأَوَّلِ رَبِيعُ الثَّانِي وَجُمَادَى الْأُوْلَى وَجُمَادَى الْآخِرَةِ وَرَجَبٌ وَشَعْبَانُ وَرَمَضَانُ قَدِيمَةٌ هَذِهِ الْأَشْهُرُ لَيْسَتْ جَدِيدَةً وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَتَلَعَّبُ إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ كَانُوا يَتَلَاعَبُونَ بِالْأَشْهُرِ يُؤَخِّرُونَ هَذَا وَيُقَدِّمُونَ هَذَا فَالْأَشْهُرُ لَيْسَتْ حَدِيثَةً أَشْهُرٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَسَمَّتْهَا الْعَرَبُ مِنَ الْقَدِيمِ وَغَيْرُ الْعَرَبِ فَالْقَصْدُ إِذًا أَنَّهُ لَمْ تُؤَسِّسْ هَذِهِ الْأَشْهُرَ وَإِنَّمَا صَارَ التَّقْوِيمَ بِهَا بِاعْتِمَادِ مُحَرَّمٌ شَوَّالٌ بِأَنَّهَا سَنَةٌ أُوْلَى بَسْ السَّنَةُ الْأُولَى بَدَأَ الْعَدُّ مِنْ مُحَرَّمٍ فَلَيْسَ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ الْأَشْهُرُ اسْتُحْدِثَتْ وَإِنَّمَا بَدَأَ الْحِسَابُ يَوْمَ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ


Siapa yang Pertama Kali Menyusun Kalender Hijriah? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Dia adalah orang pertama yang menyusun kalender Islam (hijriah). Umar bin Khattab yang pertama menyusun kalender hijriah. Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat, lalu bertanya, “Kapan tahun hijriah ini dimulai?” Tentu, Umar bukan orang yang menyusun bulan-bulan hijriah, karena ini sudah berlangsung lama, sejak Allah menciptakan langit-langit dan bumi. “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan, sebagaimana ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, …” (QS. At-Taubah: 36) Jadi, bulan-bulan ini telah lama ada. Namun, yang menetapkannya sebagai kalender adalah Umar bin Khattab. Umar bertanya, “Bagaimana pendapat kalian?” Ada yang berkata, “Dimulai sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah.” Ada juga yang berkata, “Dimulai sejak Nabi berhijrah.” Dan inilah pendapat yang diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali berkata, “Sejak Nabi berhijrah, saat beliau meninggalkan negeri kafir ke negeri Islam.” Maka, Umar memilih pendapat ini. Dan pada akhirnya, kalender hijriah dimulai sejak waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah menuju kota Madinah. Dan ada yang bertanya, “Nabi berhijrah di bulan Rabiul Awal, lalu bagaimana kok bulan Muharram dapat menjadi bulan pertama?” Tidak demikian! Muharram adalah bulan pertama sejak dulu, sebelum kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sejak Allah menciptakan langit dan bumi. (1) Muharram, (2) Safar, (3) Rabiul Awal, (4) Rabiuts Tsani, (5) Jumadal Ula, (6) Jumadal Akhirah, (7) Rajab, (8) Syakban, (9) Ramadhan, dst… Bulan-bulan ini telah lama ada, bukan hal yang baru. Dan dahulu kaum Arab bermain-main dengan bulan. “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram, itu hanya menambah kekafiran. …” (QS. At-Taubah: 37) Dahulu, mereka bermain-main dengan bulan-bulan; mengakhirkan suatu bulan dan mendahulukan bulan lainnya. Jadi, bulan-bulan ini bukan hal yang baru, sudah ada sejak lama sekali. Kaum Arab dan lainnya telah menamai bulan-bulan ini, sejak lama. Jadi, maksudnya adalah bulan-bulan ini bukan baru dibuat, tetapi penggunaannya sebagai kalender, berdasarkan bulan-bulan ini: Muharram, Syawal, dst. (dimulai dari hijrah Nabi) adalah tahun pertama. Dan tahun pertama perhitungannya dimulai dari bulan Muharram. Jadi, maksudnya bulan-bulan ini bukan baru dibuat, akan tetapi yang dimaksud adalah dimulainya awal perhitungan tahun sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah. =============================================================================== هُوَ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الْإِسْلَامِيَّ عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ وَضَعَ التَّقْوِيمَ الهِجْرِيَّ وَجَمَعَ الصَّحَابَةَ فَقَالَ مَتَى يَعْنِي تَبْدَأُ هَذِهِ السَّنَةُ طَبْعًا لَيْسَ هُوَ وَضَعَ الْأَشْهُرَ الْهِجْرِيَّةَ الْأَشْهُرُ الْهِجْرِيَّةُ قَدِيمَةٌ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ يَعْنِي قَدِيْمًا لَكِنِ الْقَصْدُ أَنَّهُ التَّأْرِيْخُ بِهَا فَعُمَرُ قَالَ مَا تَقُولُونَ؟ فَبَعْضُهُمْ قَالَ مُنْذُ بِعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَعْضُهُمْ قَالَ مِنَ الْهِجْرَةِ مُنْذُ هِجْرَةِ النَّبِيِّ وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَشَارَ بِهِ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مُنْذُ هَاجَرَ النَّبِيُّ تَرَكَ بِلَادَ الْكُفْرِ إِلَى بِلَادِ الْإِسْلَامِ فَاخْتَارَهُ عُمَرُ وَفِعْلًا صَارَ التَّوْقِيتُ الْهِجْرِيُّ أَوِ التَّقْوِيمُ الْهِجْرِيُّ مُنْذُ أَنْ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ النَّبِيُّ هَاجَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَكَيْفَ يَعْنِي صَارَ مُحَرَّمٌ هُوَ شَهْرٌ وَاحِدٌ؟ لَا مُحَرَّمٌ شَهْرٌ وَاحِدٌ مِنْ زَمَانٍ قَبْلَ وِلَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مُحَرَّمٌ وَصَفَرٌ وَرَبِيْعُ الْأَوَّلِ رَبِيعُ الثَّانِي وَجُمَادَى الْأُوْلَى وَجُمَادَى الْآخِرَةِ وَرَجَبٌ وَشَعْبَانُ وَرَمَضَانُ قَدِيمَةٌ هَذِهِ الْأَشْهُرُ لَيْسَتْ جَدِيدَةً وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَتَلَعَّبُ إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ كَانُوا يَتَلَاعَبُونَ بِالْأَشْهُرِ يُؤَخِّرُونَ هَذَا وَيُقَدِّمُونَ هَذَا فَالْأَشْهُرُ لَيْسَتْ حَدِيثَةً أَشْهُرٌ قَدِيمَةٌ جِدًّا وَسَمَّتْهَا الْعَرَبُ مِنَ الْقَدِيمِ وَغَيْرُ الْعَرَبِ فَالْقَصْدُ إِذًا أَنَّهُ لَمْ تُؤَسِّسْ هَذِهِ الْأَشْهُرَ وَإِنَّمَا صَارَ التَّقْوِيمَ بِهَا بِاعْتِمَادِ مُحَرَّمٌ شَوَّالٌ بِأَنَّهَا سَنَةٌ أُوْلَى بَسْ السَّنَةُ الْأُولَى بَدَأَ الْعَدُّ مِنْ مُحَرَّمٍ فَلَيْسَ الْمَقْصُودُ أَنَّهُ الْأَشْهُرُ اسْتُحْدِثَتْ وَإِنَّمَا بَدَأَ الْحِسَابُ يَوْمَ هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ

Khotbah Jumat: Pentingnya Upgrade Iman di Bulan Ramadan

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Apalagi di bulan ramadan yang mulia ini.Harus kita ketahui, keimanan pada hati seorang hamba itu hakikatnya bisa bertambah dan bisa berkurang. Saat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjalankan perintah Allah Ta’ala, menghidupkan sunah nabi-Nya, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dan dibenci Allah Ta’ala, maka tentu saja kadar keimanan di hatinya akan bertambah. Sedangkan ketika ia berbuat kemaksiatan, meninggalkan kewajiban, melanggar aturan-aturan Allah, maka tentu saja semua hal itu akan mengurangi kadar keimanan di hatinya.Salah dan keliru, bila ada yang mengatakan “yang penting isi hatinya” dengan meyakini bahwasanya kemaksiatan tidak akan mengurangi dan mempengaruhi keimanannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatstsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Di dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ »Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Muslim no. 35 dan Tirmidzi no. 2614)Karena dinyatakan dalam hadis bahwa iman itu ada yang rendah dan ada yang tinggi, hal ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah Ta’ala.Kondisi keimanan hamba yang naik dan turun ini bahkan terjadi juga di bulan Ramadan yang mulia ini. Terlebih lagi ketika seorang hamba hanya menjadikan Ramadan sebagai rutinitas tahunan yang perlu ia lalui saja, atau bisa jadi karena Ramadan ini sudah sering ia rasakan akhirnya membuat dirinya merasa bosan dan kosong. Kondisi inilah yang menjadikan keimanannya melemah serta berkurang. Kendornya semangat dalam beramal ini semakin terlihat jelas ketika sudah memasuki pertengahan Ramadan, di mana masjid-masjid mulai sepi dari jemaah salat wajib, Al-Quran mulai jarang dibuka, dan pasar-pasar serta mal-mal mulai penuh dipadati pembeli.Oleh karenanya, dalam kondisi seperti ini seorang hamba perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengembalikan semangatnya dalam ibadah serta menambah kadar keimanannya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanJemaah Salat Jumat yang dicintai Allah.Berikut ini adalah 6 hal yang insyaAllah akan memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kita, terutama di bulan Ramadan.Pertama, mengenal lebih dekat Rabb yang kita sembah.Hal ini harus kita dahulukan dari yang lain, dan tentunya harus kita lakukan dengan cara yang benar dan sesuai syariat. Oleh karenanya, proses mengenal Allah serta takut kepada-Nya hanya bisa dicapai dengan belajar dan menuntut ilmu. Karena berilmu merupakan kunci dari munculnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)Kedua, hidup bersama Al-Qur’an.Tidak hanya sekedar membaca saja, cobalah sembari menadaburinya dan menghayati maknanya. Karena hal ini merupakan salah satu sifat orang mukmin yang diterangkan oleh Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya.” (QS. Al-Anfal:3) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Membaca suatu ayat dengan disertai penghayatan dan pemahaman itu jauh lebih baik dari sekedar mengkhatamkan tanpa disertai penghayatan dan pemahaman, serta lebih bermanfaat untuk hati dan lebih ampuh di dalam menambah keimanan dan merasakan lezatnya Al-Qur’an.”Ketiga, selalu mengingat Allah di setiap keadaan.Senantiasa menjadikan lisan kita berzikir kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya, bertasbih kepada-Nya di setiap keadaan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berzikir) dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779)Keempat, menyelesihi hawa nafsu dengan cara mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43 dan Tirmidzi no. 2624)Kelima, bersemangat di dalam menghadiri majelis ilmu di mana di dalamnya digunakan untuk mengingat Allah Ta’ala.Bila belum mampu, maka selektiflah di dalam berteman, pilihlah teman-teman yang saleh, teman yang senantiasa mengingatkanmu akan Allah Ta’ala karena ini merupakan kebiasaan para sahabat. Contoh saja Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau duduk-duduk dengan salah satu sahabatnya, ia akan berkata, “Duduklah bersama kami untuk (memperbarui) iman walau hanya sebentar.” Sesungguhnya teman itu sebagaimana yang sering dikatakan adalah “penarik”.Seorang penyair juga pernah berkata,عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه.. فكل قرين بالمقارن يقتدي“Tentang seseorang jangan tanya (siapa dia), tetapi tanyalah siapa temannya. Maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”Keenam, dan yang terakhir, bersemangatlah di dalam melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan serta tidak lupa terus-menerus berdoa dan bergantung kepada Allah Ta’ala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Fitnah akan dihamparkan ke hati seperti tikar dihamparkan sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang menyelaminya, maka akan berbekas titik hitam padanya. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, maka akan berbekas titik putih. Sehingga keadaan hati menjadi dua bagian. Putih seperti batu yang licin yang tidak terpengaruh oleh fitnah selama ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi hitam berdebu seperti cangkir yang terbalik. (Akibatnya ia) tidak mengenal yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar, selain yang diserap hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keistikamahan kita di dalam beramal, menjadikan bulan Ramadan kali ini sebagai perbaikan diri kita, bukan hanya untuk bulan Ramadan ini saja, namun berkelanjutan hingga ajal menjemput kita.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca Juga: Doa Sepanjang RamadhanKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Dosa Juga Dilipatgandakan Di Bulan RamadhanBenarkah Al-Quran Turun Tanggal 17 Ramadhan?Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Adab Di Masjid, Al-nawawi, Menghina Allah, Siwak Artinya, Sebutkan Sikapmu Yang Harus Ditunjukkan Ketika Terlihat Oleh Mata Ada KemaksiatanTags: Aqidahaqidah islambulan ramadhanimanjum'atkeutamaan ramadhankhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamRamadhanTauhidteks khutbah jumat

Khotbah Jumat: Pentingnya Upgrade Iman di Bulan Ramadan

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Apalagi di bulan ramadan yang mulia ini.Harus kita ketahui, keimanan pada hati seorang hamba itu hakikatnya bisa bertambah dan bisa berkurang. Saat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjalankan perintah Allah Ta’ala, menghidupkan sunah nabi-Nya, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dan dibenci Allah Ta’ala, maka tentu saja kadar keimanan di hatinya akan bertambah. Sedangkan ketika ia berbuat kemaksiatan, meninggalkan kewajiban, melanggar aturan-aturan Allah, maka tentu saja semua hal itu akan mengurangi kadar keimanan di hatinya.Salah dan keliru, bila ada yang mengatakan “yang penting isi hatinya” dengan meyakini bahwasanya kemaksiatan tidak akan mengurangi dan mempengaruhi keimanannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatstsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Di dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ »Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Muslim no. 35 dan Tirmidzi no. 2614)Karena dinyatakan dalam hadis bahwa iman itu ada yang rendah dan ada yang tinggi, hal ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah Ta’ala.Kondisi keimanan hamba yang naik dan turun ini bahkan terjadi juga di bulan Ramadan yang mulia ini. Terlebih lagi ketika seorang hamba hanya menjadikan Ramadan sebagai rutinitas tahunan yang perlu ia lalui saja, atau bisa jadi karena Ramadan ini sudah sering ia rasakan akhirnya membuat dirinya merasa bosan dan kosong. Kondisi inilah yang menjadikan keimanannya melemah serta berkurang. Kendornya semangat dalam beramal ini semakin terlihat jelas ketika sudah memasuki pertengahan Ramadan, di mana masjid-masjid mulai sepi dari jemaah salat wajib, Al-Quran mulai jarang dibuka, dan pasar-pasar serta mal-mal mulai penuh dipadati pembeli.Oleh karenanya, dalam kondisi seperti ini seorang hamba perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengembalikan semangatnya dalam ibadah serta menambah kadar keimanannya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanJemaah Salat Jumat yang dicintai Allah.Berikut ini adalah 6 hal yang insyaAllah akan memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kita, terutama di bulan Ramadan.Pertama, mengenal lebih dekat Rabb yang kita sembah.Hal ini harus kita dahulukan dari yang lain, dan tentunya harus kita lakukan dengan cara yang benar dan sesuai syariat. Oleh karenanya, proses mengenal Allah serta takut kepada-Nya hanya bisa dicapai dengan belajar dan menuntut ilmu. Karena berilmu merupakan kunci dari munculnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)Kedua, hidup bersama Al-Qur’an.Tidak hanya sekedar membaca saja, cobalah sembari menadaburinya dan menghayati maknanya. Karena hal ini merupakan salah satu sifat orang mukmin yang diterangkan oleh Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya.” (QS. Al-Anfal:3) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Membaca suatu ayat dengan disertai penghayatan dan pemahaman itu jauh lebih baik dari sekedar mengkhatamkan tanpa disertai penghayatan dan pemahaman, serta lebih bermanfaat untuk hati dan lebih ampuh di dalam menambah keimanan dan merasakan lezatnya Al-Qur’an.”Ketiga, selalu mengingat Allah di setiap keadaan.Senantiasa menjadikan lisan kita berzikir kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya, bertasbih kepada-Nya di setiap keadaan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berzikir) dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779)Keempat, menyelesihi hawa nafsu dengan cara mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43 dan Tirmidzi no. 2624)Kelima, bersemangat di dalam menghadiri majelis ilmu di mana di dalamnya digunakan untuk mengingat Allah Ta’ala.Bila belum mampu, maka selektiflah di dalam berteman, pilihlah teman-teman yang saleh, teman yang senantiasa mengingatkanmu akan Allah Ta’ala karena ini merupakan kebiasaan para sahabat. Contoh saja Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau duduk-duduk dengan salah satu sahabatnya, ia akan berkata, “Duduklah bersama kami untuk (memperbarui) iman walau hanya sebentar.” Sesungguhnya teman itu sebagaimana yang sering dikatakan adalah “penarik”.Seorang penyair juga pernah berkata,عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه.. فكل قرين بالمقارن يقتدي“Tentang seseorang jangan tanya (siapa dia), tetapi tanyalah siapa temannya. Maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”Keenam, dan yang terakhir, bersemangatlah di dalam melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan serta tidak lupa terus-menerus berdoa dan bergantung kepada Allah Ta’ala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Fitnah akan dihamparkan ke hati seperti tikar dihamparkan sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang menyelaminya, maka akan berbekas titik hitam padanya. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, maka akan berbekas titik putih. Sehingga keadaan hati menjadi dua bagian. Putih seperti batu yang licin yang tidak terpengaruh oleh fitnah selama ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi hitam berdebu seperti cangkir yang terbalik. (Akibatnya ia) tidak mengenal yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar, selain yang diserap hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keistikamahan kita di dalam beramal, menjadikan bulan Ramadan kali ini sebagai perbaikan diri kita, bukan hanya untuk bulan Ramadan ini saja, namun berkelanjutan hingga ajal menjemput kita.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca Juga: Doa Sepanjang RamadhanKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Dosa Juga Dilipatgandakan Di Bulan RamadhanBenarkah Al-Quran Turun Tanggal 17 Ramadhan?Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Adab Di Masjid, Al-nawawi, Menghina Allah, Siwak Artinya, Sebutkan Sikapmu Yang Harus Ditunjukkan Ketika Terlihat Oleh Mata Ada KemaksiatanTags: Aqidahaqidah islambulan ramadhanimanjum'atkeutamaan ramadhankhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamRamadhanTauhidteks khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Apalagi di bulan ramadan yang mulia ini.Harus kita ketahui, keimanan pada hati seorang hamba itu hakikatnya bisa bertambah dan bisa berkurang. Saat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjalankan perintah Allah Ta’ala, menghidupkan sunah nabi-Nya, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dan dibenci Allah Ta’ala, maka tentu saja kadar keimanan di hatinya akan bertambah. Sedangkan ketika ia berbuat kemaksiatan, meninggalkan kewajiban, melanggar aturan-aturan Allah, maka tentu saja semua hal itu akan mengurangi kadar keimanan di hatinya.Salah dan keliru, bila ada yang mengatakan “yang penting isi hatinya” dengan meyakini bahwasanya kemaksiatan tidak akan mengurangi dan mempengaruhi keimanannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatstsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Di dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ »Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Muslim no. 35 dan Tirmidzi no. 2614)Karena dinyatakan dalam hadis bahwa iman itu ada yang rendah dan ada yang tinggi, hal ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah Ta’ala.Kondisi keimanan hamba yang naik dan turun ini bahkan terjadi juga di bulan Ramadan yang mulia ini. Terlebih lagi ketika seorang hamba hanya menjadikan Ramadan sebagai rutinitas tahunan yang perlu ia lalui saja, atau bisa jadi karena Ramadan ini sudah sering ia rasakan akhirnya membuat dirinya merasa bosan dan kosong. Kondisi inilah yang menjadikan keimanannya melemah serta berkurang. Kendornya semangat dalam beramal ini semakin terlihat jelas ketika sudah memasuki pertengahan Ramadan, di mana masjid-masjid mulai sepi dari jemaah salat wajib, Al-Quran mulai jarang dibuka, dan pasar-pasar serta mal-mal mulai penuh dipadati pembeli.Oleh karenanya, dalam kondisi seperti ini seorang hamba perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengembalikan semangatnya dalam ibadah serta menambah kadar keimanannya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanJemaah Salat Jumat yang dicintai Allah.Berikut ini adalah 6 hal yang insyaAllah akan memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kita, terutama di bulan Ramadan.Pertama, mengenal lebih dekat Rabb yang kita sembah.Hal ini harus kita dahulukan dari yang lain, dan tentunya harus kita lakukan dengan cara yang benar dan sesuai syariat. Oleh karenanya, proses mengenal Allah serta takut kepada-Nya hanya bisa dicapai dengan belajar dan menuntut ilmu. Karena berilmu merupakan kunci dari munculnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)Kedua, hidup bersama Al-Qur’an.Tidak hanya sekedar membaca saja, cobalah sembari menadaburinya dan menghayati maknanya. Karena hal ini merupakan salah satu sifat orang mukmin yang diterangkan oleh Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya.” (QS. Al-Anfal:3) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Membaca suatu ayat dengan disertai penghayatan dan pemahaman itu jauh lebih baik dari sekedar mengkhatamkan tanpa disertai penghayatan dan pemahaman, serta lebih bermanfaat untuk hati dan lebih ampuh di dalam menambah keimanan dan merasakan lezatnya Al-Qur’an.”Ketiga, selalu mengingat Allah di setiap keadaan.Senantiasa menjadikan lisan kita berzikir kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya, bertasbih kepada-Nya di setiap keadaan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berzikir) dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779)Keempat, menyelesihi hawa nafsu dengan cara mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43 dan Tirmidzi no. 2624)Kelima, bersemangat di dalam menghadiri majelis ilmu di mana di dalamnya digunakan untuk mengingat Allah Ta’ala.Bila belum mampu, maka selektiflah di dalam berteman, pilihlah teman-teman yang saleh, teman yang senantiasa mengingatkanmu akan Allah Ta’ala karena ini merupakan kebiasaan para sahabat. Contoh saja Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau duduk-duduk dengan salah satu sahabatnya, ia akan berkata, “Duduklah bersama kami untuk (memperbarui) iman walau hanya sebentar.” Sesungguhnya teman itu sebagaimana yang sering dikatakan adalah “penarik”.Seorang penyair juga pernah berkata,عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه.. فكل قرين بالمقارن يقتدي“Tentang seseorang jangan tanya (siapa dia), tetapi tanyalah siapa temannya. Maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”Keenam, dan yang terakhir, bersemangatlah di dalam melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan serta tidak lupa terus-menerus berdoa dan bergantung kepada Allah Ta’ala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Fitnah akan dihamparkan ke hati seperti tikar dihamparkan sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang menyelaminya, maka akan berbekas titik hitam padanya. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, maka akan berbekas titik putih. Sehingga keadaan hati menjadi dua bagian. Putih seperti batu yang licin yang tidak terpengaruh oleh fitnah selama ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi hitam berdebu seperti cangkir yang terbalik. (Akibatnya ia) tidak mengenal yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar, selain yang diserap hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keistikamahan kita di dalam beramal, menjadikan bulan Ramadan kali ini sebagai perbaikan diri kita, bukan hanya untuk bulan Ramadan ini saja, namun berkelanjutan hingga ajal menjemput kita.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca Juga: Doa Sepanjang RamadhanKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Dosa Juga Dilipatgandakan Di Bulan RamadhanBenarkah Al-Quran Turun Tanggal 17 Ramadhan?Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Adab Di Masjid, Al-nawawi, Menghina Allah, Siwak Artinya, Sebutkan Sikapmu Yang Harus Ditunjukkan Ketika Terlihat Oleh Mata Ada KemaksiatanTags: Aqidahaqidah islambulan ramadhanimanjum'atkeutamaan ramadhankhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamRamadhanTauhidteks khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُإِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Apalagi di bulan ramadan yang mulia ini.Harus kita ketahui, keimanan pada hati seorang hamba itu hakikatnya bisa bertambah dan bisa berkurang. Saat seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjalankan perintah Allah Ta’ala, menghidupkan sunah nabi-Nya, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dan dibenci Allah Ta’ala, maka tentu saja kadar keimanan di hatinya akan bertambah. Sedangkan ketika ia berbuat kemaksiatan, meninggalkan kewajiban, melanggar aturan-aturan Allah, maka tentu saja semua hal itu akan mengurangi kadar keimanan di hatinya.Salah dan keliru, bila ada yang mengatakan “yang penting isi hatinya” dengan meyakini bahwasanya kemaksiatan tidak akan mengurangi dan mempengaruhi keimanannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (QS. Al-Anfal: 2)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatstsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)Di dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ »Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian pintu. Yang paling rendah dari iman adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Muslim no. 35 dan Tirmidzi no. 2614)Karena dinyatakan dalam hadis bahwa iman itu ada yang rendah dan ada yang tinggi, hal ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dirahmati Allah Ta’ala.Kondisi keimanan hamba yang naik dan turun ini bahkan terjadi juga di bulan Ramadan yang mulia ini. Terlebih lagi ketika seorang hamba hanya menjadikan Ramadan sebagai rutinitas tahunan yang perlu ia lalui saja, atau bisa jadi karena Ramadan ini sudah sering ia rasakan akhirnya membuat dirinya merasa bosan dan kosong. Kondisi inilah yang menjadikan keimanannya melemah serta berkurang. Kendornya semangat dalam beramal ini semakin terlihat jelas ketika sudah memasuki pertengahan Ramadan, di mana masjid-masjid mulai sepi dari jemaah salat wajib, Al-Quran mulai jarang dibuka, dan pasar-pasar serta mal-mal mulai penuh dipadati pembeli.Oleh karenanya, dalam kondisi seperti ini seorang hamba perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengembalikan semangatnya dalam ibadah serta menambah kadar keimanannya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Dua Masalah Terkait Niat Puasa di Bulan RamadhanJemaah Salat Jumat yang dicintai Allah.Berikut ini adalah 6 hal yang insyaAllah akan memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kita, terutama di bulan Ramadan.Pertama, mengenal lebih dekat Rabb yang kita sembah.Hal ini harus kita dahulukan dari yang lain, dan tentunya harus kita lakukan dengan cara yang benar dan sesuai syariat. Oleh karenanya, proses mengenal Allah serta takut kepada-Nya hanya bisa dicapai dengan belajar dan menuntut ilmu. Karena berilmu merupakan kunci dari munculnya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)Kedua, hidup bersama Al-Qur’an.Tidak hanya sekedar membaca saja, cobalah sembari menadaburinya dan menghayati maknanya. Karena hal ini merupakan salah satu sifat orang mukmin yang diterangkan oleh Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya.” (QS. Al-Anfal:3) Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Membaca suatu ayat dengan disertai penghayatan dan pemahaman itu jauh lebih baik dari sekedar mengkhatamkan tanpa disertai penghayatan dan pemahaman, serta lebih bermanfaat untuk hati dan lebih ampuh di dalam menambah keimanan dan merasakan lezatnya Al-Qur’an.”Ketiga, selalu mengingat Allah di setiap keadaan.Senantiasa menjadikan lisan kita berzikir kepada Allah Ta’ala, meminta ampun kepada-Nya, bertasbih kepada-Nya di setiap keadaan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berzikir) dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779)Keempat, menyelesihi hawa nafsu dengan cara mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43 dan Tirmidzi no. 2624)Kelima, bersemangat di dalam menghadiri majelis ilmu di mana di dalamnya digunakan untuk mengingat Allah Ta’ala.Bila belum mampu, maka selektiflah di dalam berteman, pilihlah teman-teman yang saleh, teman yang senantiasa mengingatkanmu akan Allah Ta’ala karena ini merupakan kebiasaan para sahabat. Contoh saja Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau duduk-duduk dengan salah satu sahabatnya, ia akan berkata, “Duduklah bersama kami untuk (memperbarui) iman walau hanya sebentar.” Sesungguhnya teman itu sebagaimana yang sering dikatakan adalah “penarik”.Seorang penyair juga pernah berkata,عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه.. فكل قرين بالمقارن يقتدي“Tentang seseorang jangan tanya (siapa dia), tetapi tanyalah siapa temannya. Maka setiap teman akan mengikuti orang yang dia temani.”Keenam, dan yang terakhir, bersemangatlah di dalam melakukan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan serta tidak lupa terus-menerus berdoa dan bergantung kepada Allah Ta’ala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya, “Fitnah akan dihamparkan ke hati seperti tikar dihamparkan sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang menyelaminya, maka akan berbekas titik hitam padanya. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, maka akan berbekas titik putih. Sehingga keadaan hati menjadi dua bagian. Putih seperti batu yang licin yang tidak terpengaruh oleh fitnah selama ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi hitam berdebu seperti cangkir yang terbalik. (Akibatnya ia) tidak mengenal yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar, selain yang diserap hawa nafsunya.” (HR. Muslim no. 144)Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keistikamahan kita di dalam beramal, menjadikan bulan Ramadan kali ini sebagai perbaikan diri kita, bukan hanya untuk bulan Ramadan ini saja, namun berkelanjutan hingga ajal menjemput kita.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca Juga: Doa Sepanjang RamadhanKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Dosa Juga Dilipatgandakan Di Bulan RamadhanBenarkah Al-Quran Turun Tanggal 17 Ramadhan?Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Adab Di Masjid, Al-nawawi, Menghina Allah, Siwak Artinya, Sebutkan Sikapmu Yang Harus Ditunjukkan Ketika Terlihat Oleh Mata Ada KemaksiatanTags: Aqidahaqidah islambulan ramadhanimanjum'atkeutamaan ramadhankhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamRamadhanTauhidteks khutbah jumat

Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad

Shalat rawatib adalah shalat yang mengiringi shalat wajib, ada shalat qabliyah dan ada shalat bakdiyah. Shalat rawatib dalam sehari totalnya ada 22 rakaat.   Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Rincian Penjelasan Shalat Sunnah Rawatib dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di   Syaikh Ibrahim Al-Baajuri rahimahullah memberikan kaidah untuk shalat qabliyah dan shalat bakdiyah sebagai berikut. وَاعْلَمْ: أَنَّهُ يَدْخُلُ وَقْتُ القَبْلِيَّةِ بِدُخُوْلِ وَقْتِ الفَرْضِ وَالبَعْدِيَّةُ بِفِعْلِهِ وَيَخْرُجُ وَقْتُ النَّوْعَيْنِ بِخُرُوْجِ وَقْتِ الفَرْضِ وَيُنْدَبُ قَضَاؤُهُمَا بَعْدَهُ لِأَنَّهُ إِذَا فَاتَ نَفْلٌ مُؤَقَّتٌ نُدِبَ قَضَاؤُهُ وَأُلْحِقَ بِهِ التَّهَجُدُ “Ketahuilah bahwa waktu shalat qabliyah itu masuk saat waktu shalat fardhu telah masuk. Sedangkan waktu shalat bakdiyah itu setelah shalat fardhu dilakukan. Waktu shalat qabliyah dan bakdiyah berakhir dengan berakhirnya waktu shalat fardhu. Namun, shalat qabliyah dan bakdiyah masih boleh diqadha’ setelah itu (setelah keluar waktunya). Karena shalat sunnah yang punya ketetapan waktu tertentu disunnahkan mengqadha’nya, sama halnya shalat tahajud pun demikian.” (Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:535). Kaidah di atas menunjukkan bahwa: Shalat qabliyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib yang penting masih di waktunya. Shalat bakdiyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sesudah shalat wajib, tidak boleh sebelum sebelum shalat wajib, yang penting masih di waktunya. Kesimpulannya, jika ada shalat qabliyah yang belum sempat dilakukan sebelum shalat wajib, berarti boleh dilakukan setelah shalat wajib, dan itu bukan qadha’, tetapi masih dikerjakan di waktunya (shalat ada’an). Demikian kaidah ini didapatkan dari kajian Syaikhuna Dr. Labib Najid saat membahas kitab Al-Yaaqut An-Nafiis. Baca juga: Jumlah Rakaat Shalat Rawatib Sehari Semalam   Keutamaan 12 Rakaat Rawatib dalam Sehari Ada 12 rakaat dalam sehari yang akan dijanjikan istana di surga: 2 rakaat qabliyah Shubuh 4 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Baca juga: Rincian Shalat Rawatib Zhuhur   Dalil mengenai keutamaan 12 rakaat dalam sehari adalah hadits-hadits berikut. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Rincian Dalil Mengenai Shalat Sunnah Rawatib dalam Sehari   Referensi utama: Bughyah Al-Mutathawwi’ fii Shalah At-Tathowwu’. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Saalim Bazmul. Penerbit Daar At-Tauhid. Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuri. Penerbit Daar Al-Minhaj. Hadits-hadits dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi.   Baca juga: Nabi Rutinkan Shalat Sunnah Bakdiyah Ashar Dua Rakaat   – Bakda Magrib, 5 Ramadhan 1443 H, 6 April 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsshalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib

Penjelasan Shalat Rawatib Muakkad dan Ghairu Muakkad

Shalat rawatib adalah shalat yang mengiringi shalat wajib, ada shalat qabliyah dan ada shalat bakdiyah. Shalat rawatib dalam sehari totalnya ada 22 rakaat.   Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Rincian Penjelasan Shalat Sunnah Rawatib dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di   Syaikh Ibrahim Al-Baajuri rahimahullah memberikan kaidah untuk shalat qabliyah dan shalat bakdiyah sebagai berikut. وَاعْلَمْ: أَنَّهُ يَدْخُلُ وَقْتُ القَبْلِيَّةِ بِدُخُوْلِ وَقْتِ الفَرْضِ وَالبَعْدِيَّةُ بِفِعْلِهِ وَيَخْرُجُ وَقْتُ النَّوْعَيْنِ بِخُرُوْجِ وَقْتِ الفَرْضِ وَيُنْدَبُ قَضَاؤُهُمَا بَعْدَهُ لِأَنَّهُ إِذَا فَاتَ نَفْلٌ مُؤَقَّتٌ نُدِبَ قَضَاؤُهُ وَأُلْحِقَ بِهِ التَّهَجُدُ “Ketahuilah bahwa waktu shalat qabliyah itu masuk saat waktu shalat fardhu telah masuk. Sedangkan waktu shalat bakdiyah itu setelah shalat fardhu dilakukan. Waktu shalat qabliyah dan bakdiyah berakhir dengan berakhirnya waktu shalat fardhu. Namun, shalat qabliyah dan bakdiyah masih boleh diqadha’ setelah itu (setelah keluar waktunya). Karena shalat sunnah yang punya ketetapan waktu tertentu disunnahkan mengqadha’nya, sama halnya shalat tahajud pun demikian.” (Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:535). Kaidah di atas menunjukkan bahwa: Shalat qabliyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib yang penting masih di waktunya. Shalat bakdiyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sesudah shalat wajib, tidak boleh sebelum sebelum shalat wajib, yang penting masih di waktunya. Kesimpulannya, jika ada shalat qabliyah yang belum sempat dilakukan sebelum shalat wajib, berarti boleh dilakukan setelah shalat wajib, dan itu bukan qadha’, tetapi masih dikerjakan di waktunya (shalat ada’an). Demikian kaidah ini didapatkan dari kajian Syaikhuna Dr. Labib Najid saat membahas kitab Al-Yaaqut An-Nafiis. Baca juga: Jumlah Rakaat Shalat Rawatib Sehari Semalam   Keutamaan 12 Rakaat Rawatib dalam Sehari Ada 12 rakaat dalam sehari yang akan dijanjikan istana di surga: 2 rakaat qabliyah Shubuh 4 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Baca juga: Rincian Shalat Rawatib Zhuhur   Dalil mengenai keutamaan 12 rakaat dalam sehari adalah hadits-hadits berikut. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Rincian Dalil Mengenai Shalat Sunnah Rawatib dalam Sehari   Referensi utama: Bughyah Al-Mutathawwi’ fii Shalah At-Tathowwu’. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Saalim Bazmul. Penerbit Daar At-Tauhid. Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuri. Penerbit Daar Al-Minhaj. Hadits-hadits dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi.   Baca juga: Nabi Rutinkan Shalat Sunnah Bakdiyah Ashar Dua Rakaat   – Bakda Magrib, 5 Ramadhan 1443 H, 6 April 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsshalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib
Shalat rawatib adalah shalat yang mengiringi shalat wajib, ada shalat qabliyah dan ada shalat bakdiyah. Shalat rawatib dalam sehari totalnya ada 22 rakaat.   Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Rincian Penjelasan Shalat Sunnah Rawatib dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di   Syaikh Ibrahim Al-Baajuri rahimahullah memberikan kaidah untuk shalat qabliyah dan shalat bakdiyah sebagai berikut. وَاعْلَمْ: أَنَّهُ يَدْخُلُ وَقْتُ القَبْلِيَّةِ بِدُخُوْلِ وَقْتِ الفَرْضِ وَالبَعْدِيَّةُ بِفِعْلِهِ وَيَخْرُجُ وَقْتُ النَّوْعَيْنِ بِخُرُوْجِ وَقْتِ الفَرْضِ وَيُنْدَبُ قَضَاؤُهُمَا بَعْدَهُ لِأَنَّهُ إِذَا فَاتَ نَفْلٌ مُؤَقَّتٌ نُدِبَ قَضَاؤُهُ وَأُلْحِقَ بِهِ التَّهَجُدُ “Ketahuilah bahwa waktu shalat qabliyah itu masuk saat waktu shalat fardhu telah masuk. Sedangkan waktu shalat bakdiyah itu setelah shalat fardhu dilakukan. Waktu shalat qabliyah dan bakdiyah berakhir dengan berakhirnya waktu shalat fardhu. Namun, shalat qabliyah dan bakdiyah masih boleh diqadha’ setelah itu (setelah keluar waktunya). Karena shalat sunnah yang punya ketetapan waktu tertentu disunnahkan mengqadha’nya, sama halnya shalat tahajud pun demikian.” (Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:535). Kaidah di atas menunjukkan bahwa: Shalat qabliyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib yang penting masih di waktunya. Shalat bakdiyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sesudah shalat wajib, tidak boleh sebelum sebelum shalat wajib, yang penting masih di waktunya. Kesimpulannya, jika ada shalat qabliyah yang belum sempat dilakukan sebelum shalat wajib, berarti boleh dilakukan setelah shalat wajib, dan itu bukan qadha’, tetapi masih dikerjakan di waktunya (shalat ada’an). Demikian kaidah ini didapatkan dari kajian Syaikhuna Dr. Labib Najid saat membahas kitab Al-Yaaqut An-Nafiis. Baca juga: Jumlah Rakaat Shalat Rawatib Sehari Semalam   Keutamaan 12 Rakaat Rawatib dalam Sehari Ada 12 rakaat dalam sehari yang akan dijanjikan istana di surga: 2 rakaat qabliyah Shubuh 4 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Baca juga: Rincian Shalat Rawatib Zhuhur   Dalil mengenai keutamaan 12 rakaat dalam sehari adalah hadits-hadits berikut. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Rincian Dalil Mengenai Shalat Sunnah Rawatib dalam Sehari   Referensi utama: Bughyah Al-Mutathawwi’ fii Shalah At-Tathowwu’. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Saalim Bazmul. Penerbit Daar At-Tauhid. Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuri. Penerbit Daar Al-Minhaj. Hadits-hadits dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi.   Baca juga: Nabi Rutinkan Shalat Sunnah Bakdiyah Ashar Dua Rakaat   – Bakda Magrib, 5 Ramadhan 1443 H, 6 April 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsshalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib


Shalat rawatib adalah shalat yang mengiringi shalat wajib, ada shalat qabliyah dan ada shalat bakdiyah. Shalat rawatib dalam sehari totalnya ada 22 rakaat.   Shalat rawatib itu ada dua macam: Shalat rawatib muakkad (yang sangat ditekankan), ada 10 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan), ada 12 rakaat dalam sehari. Shalat rawatib muakkad, ada 10 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Shubuh 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari: 2 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 4 rakaat qabliyah Ashar 2 rakaat qabliyah Magrib 2 rakaat qabliyah Isya Rincian di atas diringkas dari Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:532-536. Baca juga: Rincian Penjelasan Shalat Sunnah Rawatib dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di   Syaikh Ibrahim Al-Baajuri rahimahullah memberikan kaidah untuk shalat qabliyah dan shalat bakdiyah sebagai berikut. وَاعْلَمْ: أَنَّهُ يَدْخُلُ وَقْتُ القَبْلِيَّةِ بِدُخُوْلِ وَقْتِ الفَرْضِ وَالبَعْدِيَّةُ بِفِعْلِهِ وَيَخْرُجُ وَقْتُ النَّوْعَيْنِ بِخُرُوْجِ وَقْتِ الفَرْضِ وَيُنْدَبُ قَضَاؤُهُمَا بَعْدَهُ لِأَنَّهُ إِذَا فَاتَ نَفْلٌ مُؤَقَّتٌ نُدِبَ قَضَاؤُهُ وَأُلْحِقَ بِهِ التَّهَجُدُ “Ketahuilah bahwa waktu shalat qabliyah itu masuk saat waktu shalat fardhu telah masuk. Sedangkan waktu shalat bakdiyah itu setelah shalat fardhu dilakukan. Waktu shalat qabliyah dan bakdiyah berakhir dengan berakhirnya waktu shalat fardhu. Namun, shalat qabliyah dan bakdiyah masih boleh diqadha’ setelah itu (setelah keluar waktunya). Karena shalat sunnah yang punya ketetapan waktu tertentu disunnahkan mengqadha’nya, sama halnya shalat tahajud pun demikian.” (Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:535). Kaidah di atas menunjukkan bahwa: Shalat qabliyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib yang penting masih di waktunya. Shalat bakdiyah adalah shalat sunnah yang dilakukan sesudah shalat wajib, tidak boleh sebelum sebelum shalat wajib, yang penting masih di waktunya. Kesimpulannya, jika ada shalat qabliyah yang belum sempat dilakukan sebelum shalat wajib, berarti boleh dilakukan setelah shalat wajib, dan itu bukan qadha’, tetapi masih dikerjakan di waktunya (shalat ada’an). Demikian kaidah ini didapatkan dari kajian Syaikhuna Dr. Labib Najid saat membahas kitab Al-Yaaqut An-Nafiis. Baca juga: Jumlah Rakaat Shalat Rawatib Sehari Semalam   Keutamaan 12 Rakaat Rawatib dalam Sehari Ada 12 rakaat dalam sehari yang akan dijanjikan istana di surga: 2 rakaat qabliyah Shubuh 4 rakaat qabliyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Zhuhur 2 rakaat bakdiyah Magrib 2 rakaat bakdiyah Isya Baca juga: Rincian Shalat Rawatib Zhuhur   Dalil mengenai keutamaan 12 rakaat dalam sehari adalah hadits-hadits berikut. Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhuma–istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul mukminin–, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ “Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728) Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: Rincian Dalil Mengenai Shalat Sunnah Rawatib dalam Sehari   Referensi utama: Bughyah Al-Mutathawwi’ fii Shalah At-Tathowwu’. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Saalim Bazmul. Penerbit Daar At-Tauhid. Hasyiyah Al-Baajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baajuri. Penerbit Daar Al-Minhaj. Hadits-hadits dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi.   Baca juga: Nabi Rutinkan Shalat Sunnah Bakdiyah Ashar Dua Rakaat   – Bakda Magrib, 5 Ramadhan 1443 H, 6 April 2022 Muhammad Abduh Tuasikal  Artikel Rumaysho.Com Tagsshalat rawatib shalat sunnah shalat sunnah rawatib
Prev     Next