Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017

Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan April 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan April 2017Adapun Rekap Donasi Bulan April 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buka Puasa Ramadhan         64.995.254 2 Buletin At-Tauhid           3.000.000 3 Kampus Tahfizh           2.200.000 4 Ma’had Al-‘Ilmi           3.050.000 5 Ma’had Umar Bin Khattab               250.000 6 Buku Saku Ramadhan         82.556.034 7 Pendidikan                 50.000 8 Peduli Muslim LN (Suriah)           1.000.000 9 SDIT Yaa Bunayya           5.873.000 10 Operasional / Umum           9.975.028 11 Website           3.720.000 12 Buletin Zuhairoh                 60.000 13 Donasi Pulsa               975.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 April 2012#Muamalat#Buletin At TauhidInfo Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Daftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 🔍 Bentuk Bumi Berdasarkan Al Quran, Keutamaan Akhlak, Muslimah Site, Kisah Teladan Luqman Dan Nasehatnya, Surat Al Anbiya Ayat 107

Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017

Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan April 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan April 2017Adapun Rekap Donasi Bulan April 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buka Puasa Ramadhan         64.995.254 2 Buletin At-Tauhid           3.000.000 3 Kampus Tahfizh           2.200.000 4 Ma’had Al-‘Ilmi           3.050.000 5 Ma’had Umar Bin Khattab               250.000 6 Buku Saku Ramadhan         82.556.034 7 Pendidikan                 50.000 8 Peduli Muslim LN (Suriah)           1.000.000 9 SDIT Yaa Bunayya           5.873.000 10 Operasional / Umum           9.975.028 11 Website           3.720.000 12 Buletin Zuhairoh                 60.000 13 Donasi Pulsa               975.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 April 2012#Muamalat#Buletin At TauhidInfo Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Daftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 🔍 Bentuk Bumi Berdasarkan Al Quran, Keutamaan Akhlak, Muslimah Site, Kisah Teladan Luqman Dan Nasehatnya, Surat Al Anbiya Ayat 107
Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan April 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan April 2017Adapun Rekap Donasi Bulan April 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buka Puasa Ramadhan         64.995.254 2 Buletin At-Tauhid           3.000.000 3 Kampus Tahfizh           2.200.000 4 Ma’had Al-‘Ilmi           3.050.000 5 Ma’had Umar Bin Khattab               250.000 6 Buku Saku Ramadhan         82.556.034 7 Pendidikan                 50.000 8 Peduli Muslim LN (Suriah)           1.000.000 9 SDIT Yaa Bunayya           5.873.000 10 Operasional / Umum           9.975.028 11 Website           3.720.000 12 Buletin Zuhairoh                 60.000 13 Donasi Pulsa               975.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 April 2012#Muamalat#Buletin At TauhidInfo Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Daftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 🔍 Bentuk Bumi Berdasarkan Al Quran, Keutamaan Akhlak, Muslimah Site, Kisah Teladan Luqman Dan Nasehatnya, Surat Al Anbiya Ayat 107


Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan April 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan April 2017Adapun Rekap Donasi Bulan April 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buka Puasa Ramadhan         64.995.254 2 Buletin At-Tauhid           3.000.000 3 Kampus Tahfizh           2.200.000 4 Ma’had Al-‘Ilmi           3.050.000 5 Ma’had Umar Bin Khattab               250.000 6 Buku Saku Ramadhan         82.556.034 7 Pendidikan                 50.000 8 Peduli Muslim LN (Suriah)           1.000.000 9 SDIT Yaa Bunayya           5.873.000 10 Operasional / Umum           9.975.028 11 Website           3.720.000 12 Buletin Zuhairoh                 60.000 13 Donasi Pulsa               975.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 April 2012#Muamalat#Buletin At TauhidInfo Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari <img class="alignnone wp-image-29881 size-full" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/logo-ypia.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/logo-ypia.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2017/05/logo-ypia-150x150.jpg 150w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Daftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 🔍 Bentuk Bumi Berdasarkan Al Quran, Keutamaan Akhlak, Muslimah Site, Kisah Teladan Luqman Dan Nasehatnya, Surat Al Anbiya Ayat 107

Syukur, Kiat-kiat dan Aplikasinya – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Syukur, Kiat-kiat dan Aplikasinya – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Syukur, Kiat-kiat dan Aplikasinya – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.

Syukur, Kiat-kiat dan Aplikasinya – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/
Syukur, Kiat-kiat dan Aplikasinya – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/


Syukur, Kiat-kiat dan Aplikasinya – Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.Ustadz Firanda Andirja Official Media Channel _____ 🌏 Web | https://firanda.com | BekalIslam.com 📹 Youtube: https://youtube.com/firandaandirja/ 📺 Instagram: https://instagram.com/firanda_andirja… 📠 Telegram: https://t.me/firanda_andirja/ 🎙 Twitter: https://twitter.com/firanda_andirja/ 📱 Facebook: https://facebook.com/firandaandirja/ 🔊 Soundcloud: https://soundcloud.com/firanda-andirja/

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Mei 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Mei 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Mei 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Bingkisan Hari Raya           1.500.000 2 Buka Puasa Ramadhan       383.826.952 3 Buletin At-Tauhid           2.745.124 4 Donasi Kitab           3.800.000 5 Forum Kajian Islam Mahasiswa               360.000 6 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari           1.545.000 7 Donasi Pengadaan HP           1.450.000 8 Kampus Tahfizh           1.628.614 9 Mahad Al-Ilmi           5.100.000 10 Mahad Umar bin Khattab               175.000 11 Pengadaan Buku Panduan Dzikir           8.441.966 12 Pendidikan               200.000 13 Penyebaran CD           1.500.000 14 Peduli Muslim (Zakat Maal)           2.000.000 15 Radio Muslim               175.000 16 SDIT Yaa Bunayya           2.130.000 17 Operasional (Umum)           4.461.844 18 Website           5.360.000 19 Donasi Pulsa               715.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Mei 2012#Muamalat#Buletin At TauhidDaftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017 🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Mei 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Mei 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Mei 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Bingkisan Hari Raya           1.500.000 2 Buka Puasa Ramadhan       383.826.952 3 Buletin At-Tauhid           2.745.124 4 Donasi Kitab           3.800.000 5 Forum Kajian Islam Mahasiswa               360.000 6 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari           1.545.000 7 Donasi Pengadaan HP           1.450.000 8 Kampus Tahfizh           1.628.614 9 Mahad Al-Ilmi           5.100.000 10 Mahad Umar bin Khattab               175.000 11 Pengadaan Buku Panduan Dzikir           8.441.966 12 Pendidikan               200.000 13 Penyebaran CD           1.500.000 14 Peduli Muslim (Zakat Maal)           2.000.000 15 Radio Muslim               175.000 16 SDIT Yaa Bunayya           2.130.000 17 Operasional (Umum)           4.461.844 18 Website           5.360.000 19 Donasi Pulsa               715.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Mei 2012#Muamalat#Buletin At TauhidDaftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017 🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja
Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Mei 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Mei 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Mei 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Bingkisan Hari Raya           1.500.000 2 Buka Puasa Ramadhan       383.826.952 3 Buletin At-Tauhid           2.745.124 4 Donasi Kitab           3.800.000 5 Forum Kajian Islam Mahasiswa               360.000 6 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari           1.545.000 7 Donasi Pengadaan HP           1.450.000 8 Kampus Tahfizh           1.628.614 9 Mahad Al-Ilmi           5.100.000 10 Mahad Umar bin Khattab               175.000 11 Pengadaan Buku Panduan Dzikir           8.441.966 12 Pendidikan               200.000 13 Penyebaran CD           1.500.000 14 Peduli Muslim (Zakat Maal)           2.000.000 15 Radio Muslim               175.000 16 SDIT Yaa Bunayya           2.130.000 17 Operasional (Umum)           4.461.844 18 Website           5.360.000 19 Donasi Pulsa               715.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Mei 2012#Muamalat#Buletin At TauhidDaftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017 🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja


Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Mei 2017. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Mei 2017Adapun Rekap Donasi Bulan Mei 2017  sebagai berikut: No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Bingkisan Hari Raya           1.500.000 2 Buka Puasa Ramadhan       383.826.952 3 Buletin At-Tauhid           2.745.124 4 Donasi Kitab           3.800.000 5 Forum Kajian Islam Mahasiswa               360.000 6 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari           1.545.000 7 Donasi Pengadaan HP           1.450.000 8 Kampus Tahfizh           1.628.614 9 Mahad Al-Ilmi           5.100.000 10 Mahad Umar bin Khattab               175.000 11 Pengadaan Buku Panduan Dzikir           8.441.966 12 Pendidikan               200.000 13 Penyebaran CD           1.500.000 14 Peduli Muslim (Zakat Maal)           2.000.000 15 Radio Muslim               175.000 16 SDIT Yaa Bunayya           2.130.000 17 Operasional (Umum)           4.461.844 18 Website           5.360.000 19 Donasi Pulsa               715.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Mei 2012#Muamalat#Buletin At TauhidDaftar Laporan Donasi Dakwah YPIA Periode Tahun 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Januari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Februari 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Maret 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan April 2017 Laporan Donasi YPIA periode Bulan Mei 2017 🔍 Hukum Merayakan Ulang Tahun Dalam Islam, Madzi Wanita, Doa Mohon Keturunan Yang Sholeh, Sejarah April Mop Menurut Islam, Abdullah Taslim Rodja

Apa yang Dimaksud dengan Berdoa di Akhir Salat?

Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Doa apa yang paling didengar (di-ijabah oleh Allah -pen.)?” Maka beliau bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta ‘dubur as-shalawat’ (akhir salat-salat) wajib.”Apakah yang dimaksud dalam hadis ini adalah doa setelah selesai salat (setelah salam) atau sebelumnya? Apabila yang dimaksud adalah sebelum selesai salat (sebelum salam), apakah waktu berdoa tersebut adalah setelah bacaan tasyahud akhir? Mohon pencerahannya. Jazakumullah khairan wa barakallah fiikum.Jawaban: الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعدKetahuilah bahwa yang dimaksud dengan “duburus shalah” adalah waktu yang paling terakhir dari salat atau aktivitas lainnya. Dan hendaknya membedakan antara doa dengan zikir yang ada dalam hadis-hadis yang membahas ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa di akhir salat sebelum selesai mengakhiri salat (sebelum salam). Maka waktu berdoa yang disyariatkan adalah sebelum salam.Tidak ada dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah salam di seluruh salat-salat beliau. Demikian juga, tidak ada sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum yang melakukan demikian. Namun, yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah salam adalah menghadap ke arah para sahabatnya dan berzikir serta mengajari mereka berzikir setelah salam dan setelah selesai salat.Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ -أَوْ فَاعِلُهُنَّ- دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً، وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً، وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً“Ada beberapa mu’aqqibat (zikir) setelah selesai salat. Tidak akan merugi bagi yang mengucapkan atau melakukannya. Yaitu, bertasbih 33x, bertahmid 33x, dan bertakbir 34x.” (HR. Muslim)Baca Juga: Beberapa Doa Berlindung dari Wabah dan Penyakit MengerikanMaksud dari mu’aqqibat dalam hadis di atas adalah kalimat (zikir -pen.) yang diucapkan setelah salat. Sebab, kata mu’aqqib artinya adalah perkara yang datang setelah perkara sebelumnya. Dan dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa sebelum beliau membalikkan badan untuk menghadap para sahabat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beristigfar 3x dan mengucapkan,اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ/Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom/“Ya Allah Engkaulah As-Salaam. Keselamatan hanya dari-Mu. Maha Suci Engkau, wahai Zat yang memiliki semua keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)Sebagaimana hadis sahih dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai melaksanakan salat  mengucapkan kalimat,لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدّ/laa ilaha illallooh wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a lima a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu/“Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan (bagi pemiliknya). Dari Engkaulah semua kekayaan dan kemuliaan.” (HR. Bukhari no. 6615 dan Muslim no. 593)Oleh karenanya, hadis Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang berkata,أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintaku untuk membaca muawwidzaat (surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas) setiap selesai salat.” (HR. Abu Dawuud)Maksud dari hadis ini adalah dibaca setelah selesai melaksanakan salat.Sedangkan hadis Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang berkata,يا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟“Ya Rasulullah! Doa apa yang paling didengar (diijabah Allah -pen.)?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta dubura as-shalawat (akhir salat-salat) wajib.” (HR. at-Tirmidzi no. 3499)Maka, doa yang dimaksud di sini adalah dibaca sebelum selesai salat.والعلم عند الله وآخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين وصلى الله على نبينا محمّد وعلى آله وسلّم تسليما Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-262Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Banyak Anak Banyak Rezeki, Hadits Tentang Membayar Hutang, Azab Suami Pembohong, Ciri Ciri Wanita Sholehah Idaman Pria, Doa Diantara Dua Sujud Yang Benar

Apa yang Dimaksud dengan Berdoa di Akhir Salat?

Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Doa apa yang paling didengar (di-ijabah oleh Allah -pen.)?” Maka beliau bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta ‘dubur as-shalawat’ (akhir salat-salat) wajib.”Apakah yang dimaksud dalam hadis ini adalah doa setelah selesai salat (setelah salam) atau sebelumnya? Apabila yang dimaksud adalah sebelum selesai salat (sebelum salam), apakah waktu berdoa tersebut adalah setelah bacaan tasyahud akhir? Mohon pencerahannya. Jazakumullah khairan wa barakallah fiikum.Jawaban: الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعدKetahuilah bahwa yang dimaksud dengan “duburus shalah” adalah waktu yang paling terakhir dari salat atau aktivitas lainnya. Dan hendaknya membedakan antara doa dengan zikir yang ada dalam hadis-hadis yang membahas ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa di akhir salat sebelum selesai mengakhiri salat (sebelum salam). Maka waktu berdoa yang disyariatkan adalah sebelum salam.Tidak ada dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah salam di seluruh salat-salat beliau. Demikian juga, tidak ada sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum yang melakukan demikian. Namun, yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah salam adalah menghadap ke arah para sahabatnya dan berzikir serta mengajari mereka berzikir setelah salam dan setelah selesai salat.Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ -أَوْ فَاعِلُهُنَّ- دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً، وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً، وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً“Ada beberapa mu’aqqibat (zikir) setelah selesai salat. Tidak akan merugi bagi yang mengucapkan atau melakukannya. Yaitu, bertasbih 33x, bertahmid 33x, dan bertakbir 34x.” (HR. Muslim)Baca Juga: Beberapa Doa Berlindung dari Wabah dan Penyakit MengerikanMaksud dari mu’aqqibat dalam hadis di atas adalah kalimat (zikir -pen.) yang diucapkan setelah salat. Sebab, kata mu’aqqib artinya adalah perkara yang datang setelah perkara sebelumnya. Dan dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa sebelum beliau membalikkan badan untuk menghadap para sahabat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beristigfar 3x dan mengucapkan,اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ/Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom/“Ya Allah Engkaulah As-Salaam. Keselamatan hanya dari-Mu. Maha Suci Engkau, wahai Zat yang memiliki semua keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)Sebagaimana hadis sahih dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai melaksanakan salat  mengucapkan kalimat,لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدّ/laa ilaha illallooh wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a lima a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu/“Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan (bagi pemiliknya). Dari Engkaulah semua kekayaan dan kemuliaan.” (HR. Bukhari no. 6615 dan Muslim no. 593)Oleh karenanya, hadis Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang berkata,أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintaku untuk membaca muawwidzaat (surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas) setiap selesai salat.” (HR. Abu Dawuud)Maksud dari hadis ini adalah dibaca setelah selesai melaksanakan salat.Sedangkan hadis Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang berkata,يا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟“Ya Rasulullah! Doa apa yang paling didengar (diijabah Allah -pen.)?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta dubura as-shalawat (akhir salat-salat) wajib.” (HR. at-Tirmidzi no. 3499)Maka, doa yang dimaksud di sini adalah dibaca sebelum selesai salat.والعلم عند الله وآخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين وصلى الله على نبينا محمّد وعلى آله وسلّم تسليما Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-262Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Banyak Anak Banyak Rezeki, Hadits Tentang Membayar Hutang, Azab Suami Pembohong, Ciri Ciri Wanita Sholehah Idaman Pria, Doa Diantara Dua Sujud Yang Benar
Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Doa apa yang paling didengar (di-ijabah oleh Allah -pen.)?” Maka beliau bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta ‘dubur as-shalawat’ (akhir salat-salat) wajib.”Apakah yang dimaksud dalam hadis ini adalah doa setelah selesai salat (setelah salam) atau sebelumnya? Apabila yang dimaksud adalah sebelum selesai salat (sebelum salam), apakah waktu berdoa tersebut adalah setelah bacaan tasyahud akhir? Mohon pencerahannya. Jazakumullah khairan wa barakallah fiikum.Jawaban: الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعدKetahuilah bahwa yang dimaksud dengan “duburus shalah” adalah waktu yang paling terakhir dari salat atau aktivitas lainnya. Dan hendaknya membedakan antara doa dengan zikir yang ada dalam hadis-hadis yang membahas ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa di akhir salat sebelum selesai mengakhiri salat (sebelum salam). Maka waktu berdoa yang disyariatkan adalah sebelum salam.Tidak ada dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah salam di seluruh salat-salat beliau. Demikian juga, tidak ada sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum yang melakukan demikian. Namun, yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah salam adalah menghadap ke arah para sahabatnya dan berzikir serta mengajari mereka berzikir setelah salam dan setelah selesai salat.Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ -أَوْ فَاعِلُهُنَّ- دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً، وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً، وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً“Ada beberapa mu’aqqibat (zikir) setelah selesai salat. Tidak akan merugi bagi yang mengucapkan atau melakukannya. Yaitu, bertasbih 33x, bertahmid 33x, dan bertakbir 34x.” (HR. Muslim)Baca Juga: Beberapa Doa Berlindung dari Wabah dan Penyakit MengerikanMaksud dari mu’aqqibat dalam hadis di atas adalah kalimat (zikir -pen.) yang diucapkan setelah salat. Sebab, kata mu’aqqib artinya adalah perkara yang datang setelah perkara sebelumnya. Dan dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa sebelum beliau membalikkan badan untuk menghadap para sahabat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beristigfar 3x dan mengucapkan,اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ/Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom/“Ya Allah Engkaulah As-Salaam. Keselamatan hanya dari-Mu. Maha Suci Engkau, wahai Zat yang memiliki semua keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)Sebagaimana hadis sahih dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai melaksanakan salat  mengucapkan kalimat,لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدّ/laa ilaha illallooh wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a lima a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu/“Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan (bagi pemiliknya). Dari Engkaulah semua kekayaan dan kemuliaan.” (HR. Bukhari no. 6615 dan Muslim no. 593)Oleh karenanya, hadis Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang berkata,أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintaku untuk membaca muawwidzaat (surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas) setiap selesai salat.” (HR. Abu Dawuud)Maksud dari hadis ini adalah dibaca setelah selesai melaksanakan salat.Sedangkan hadis Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang berkata,يا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟“Ya Rasulullah! Doa apa yang paling didengar (diijabah Allah -pen.)?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta dubura as-shalawat (akhir salat-salat) wajib.” (HR. at-Tirmidzi no. 3499)Maka, doa yang dimaksud di sini adalah dibaca sebelum selesai salat.والعلم عند الله وآخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين وصلى الله على نبينا محمّد وعلى آله وسلّم تسليما Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-262Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Banyak Anak Banyak Rezeki, Hadits Tentang Membayar Hutang, Azab Suami Pembohong, Ciri Ciri Wanita Sholehah Idaman Pria, Doa Diantara Dua Sujud Yang Benar


Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Doa apa yang paling didengar (di-ijabah oleh Allah -pen.)?” Maka beliau bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta ‘dubur as-shalawat’ (akhir salat-salat) wajib.”Apakah yang dimaksud dalam hadis ini adalah doa setelah selesai salat (setelah salam) atau sebelumnya? Apabila yang dimaksud adalah sebelum selesai salat (sebelum salam), apakah waktu berdoa tersebut adalah setelah bacaan tasyahud akhir? Mohon pencerahannya. Jazakumullah khairan wa barakallah fiikum.Jawaban: الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على مَن أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعدKetahuilah bahwa yang dimaksud dengan “duburus shalah” adalah waktu yang paling terakhir dari salat atau aktivitas lainnya. Dan hendaknya membedakan antara doa dengan zikir yang ada dalam hadis-hadis yang membahas ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdoa di akhir salat sebelum selesai mengakhiri salat (sebelum salam). Maka waktu berdoa yang disyariatkan adalah sebelum salam.Tidak ada dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa setelah salam di seluruh salat-salat beliau. Demikian juga, tidak ada sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum yang melakukan demikian. Namun, yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah salam adalah menghadap ke arah para sahabatnya dan berzikir serta mengajari mereka berzikir setelah salam dan setelah selesai salat.Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ -أَوْ فَاعِلُهُنَّ- دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً، وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً، وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً“Ada beberapa mu’aqqibat (zikir) setelah selesai salat. Tidak akan merugi bagi yang mengucapkan atau melakukannya. Yaitu, bertasbih 33x, bertahmid 33x, dan bertakbir 34x.” (HR. Muslim)Baca Juga: Beberapa Doa Berlindung dari Wabah dan Penyakit MengerikanMaksud dari mu’aqqibat dalam hadis di atas adalah kalimat (zikir -pen.) yang diucapkan setelah salat. Sebab, kata mu’aqqib artinya adalah perkara yang datang setelah perkara sebelumnya. Dan dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa sebelum beliau membalikkan badan untuk menghadap para sahabat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beristigfar 3x dan mengucapkan,اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ/Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom/“Ya Allah Engkaulah As-Salaam. Keselamatan hanya dari-Mu. Maha Suci Engkau, wahai Zat yang memiliki semua keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)Sebagaimana hadis sahih dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap selesai melaksanakan salat  mengucapkan kalimat,لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدّ/laa ilaha illallooh wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a lima a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu/“Tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan (bagi pemiliknya). Dari Engkaulah semua kekayaan dan kemuliaan.” (HR. Bukhari no. 6615 dan Muslim no. 593)Oleh karenanya, hadis Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang berkata,أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintaku untuk membaca muawwidzaat (surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas) setiap selesai salat.” (HR. Abu Dawuud)Maksud dari hadis ini adalah dibaca setelah selesai melaksanakan salat.Sedangkan hadis Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang berkata,يا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟“Ya Rasulullah! Doa apa yang paling didengar (diijabah Allah -pen.)?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ“Doa di malam terakhir, serta dubura as-shalawat (akhir salat-salat) wajib.” (HR. at-Tirmidzi no. 3499)Maka, doa yang dimaksud di sini adalah dibaca sebelum selesai salat.والعلم عند الله وآخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين وصلى الله على نبينا محمّد وعلى آله وسلّم تسليما Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-262Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: Muslim.or.id🔍 Banyak Anak Banyak Rezeki, Hadits Tentang Membayar Hutang, Azab Suami Pembohong, Ciri Ciri Wanita Sholehah Idaman Pria, Doa Diantara Dua Sujud Yang Benar

Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?

Orang berbuat maksiat lalu taubat, kemudian bermaksiat lagi, kemudian taubat lagi. Apakah taubatnya diterima?Pintu Taubat Dibuka LebarSungguh Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)Maka siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 48)Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.Baca Juga: Keutamaan TaubatMengulang Dosa Setelah TaubatMemang demikianlah sifat dasar manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun berkali-kali. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18).Perhatikan dalam hadits ini digunakan kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.Juga dalam sebuah hadits shahih disebutkan:أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).Baca Juga: Mengenal Taubat Lebih DekatApakah Ini Kabar Gembira Untuk Ahli Maksiat?Tentu ini bukan angin segar untuk terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat hendaknya ia sadari bahwa belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat nasuha setelah maksiat dan belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ“Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).Maka teruslah istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas kebaikan.Wallahu a’lam.Baca Juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?

Orang berbuat maksiat lalu taubat, kemudian bermaksiat lagi, kemudian taubat lagi. Apakah taubatnya diterima?Pintu Taubat Dibuka LebarSungguh Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)Maka siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 48)Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.Baca Juga: Keutamaan TaubatMengulang Dosa Setelah TaubatMemang demikianlah sifat dasar manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun berkali-kali. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18).Perhatikan dalam hadits ini digunakan kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.Juga dalam sebuah hadits shahih disebutkan:أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).Baca Juga: Mengenal Taubat Lebih DekatApakah Ini Kabar Gembira Untuk Ahli Maksiat?Tentu ini bukan angin segar untuk terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat hendaknya ia sadari bahwa belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat nasuha setelah maksiat dan belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ“Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).Maka teruslah istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas kebaikan.Wallahu a’lam.Baca Juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Orang berbuat maksiat lalu taubat, kemudian bermaksiat lagi, kemudian taubat lagi. Apakah taubatnya diterima?Pintu Taubat Dibuka LebarSungguh Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)Maka siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 48)Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.Baca Juga: Keutamaan TaubatMengulang Dosa Setelah TaubatMemang demikianlah sifat dasar manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun berkali-kali. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18).Perhatikan dalam hadits ini digunakan kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.Juga dalam sebuah hadits shahih disebutkan:أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).Baca Juga: Mengenal Taubat Lebih DekatApakah Ini Kabar Gembira Untuk Ahli Maksiat?Tentu ini bukan angin segar untuk terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat hendaknya ia sadari bahwa belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat nasuha setelah maksiat dan belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ“Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).Maka teruslah istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas kebaikan.Wallahu a’lam.Baca Juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Orang berbuat maksiat lalu taubat, kemudian bermaksiat lagi, kemudian taubat lagi. Apakah taubatnya diterima?Pintu Taubat Dibuka LebarSungguh Allah Ta’ala telah melapangkan dan melonggarkan serta memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk bertaubat kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ ، وَبِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ“Sungguh, Allah meluaskan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah meluaskan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari” (HR. Muslim no.7165)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ“Sungguh Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di kerongkongan” (HR. At Tirmidzi, 3880. Ia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Di-hasan-kan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita kisah seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang:فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ“Lelaki tersebut ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, ia mendatanginya dan bertanya: ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ahli ibadah tadi berkata: ‘Tidak’. Lelaki tersebut pun membunuhnya hingga genaplah 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk yang paling alim, dan ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia kemudian bertanya: ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah aku masih bisa bertaubat?’. Ulama tadi berkata: ‘Ya. Memangnya siapa yang bisa menghalangimu untuk mendapatkan taubat?’” (HR. Muslim, no.7184)Maka siapakah yang bisa menghalangi anda dari taubat, saudaraku? Kesempatan selalu terbuka lebar!Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Allah kehendaki” (QS. An Nisa: 48)Bahkan dosa syirik! Ketika seorang musyrik bertaubat kepada Allah dan ia kembali ke jalan Allah Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menghalangi ia dari Allah. Bahkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa orang musyrik dari kalangan ahlul kitab yang bertaubat, ia mendapat dua pahala dari taubatnya.Baca Juga: Keutamaan TaubatMengulang Dosa Setelah TaubatMemang demikianlah sifat dasar manusia, berbuat kesalahan tidak hanya sekali namun berkali-kali. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap manusia pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat” (HR. Tirmidzi no.2687. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”. Di-hasan-kan Al Albani dalam Al Jami Ash Shaghir, 291/18).Perhatikan dalam hadits ini digunakan kata خطاء yang artinya: banyak berbuat salah. Namun kata Nabi setelah itu, “sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang sering bertaubat”. Ini isyarat bahwa orang yang dosanya banyak, termasuk orang yang mengulang dosa yang sama setelah taubat, tetap akan diterima taubatnya.Juga dalam sebuah hadits shahih disebutkan:أإِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى قَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَغَفَرَ لَهُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا آخَرَ وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَقَالَ يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آخَرَ فَاغْفِرْ لِى فَقَالَ رَبُّهُ عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ فَقَالَ رَبُّهُ غَفَرْتُ لِعَبْدِى فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku’. Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa’. Lalu dosanya diampuni. Lalu Allah berfirman: ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya’” (HR. Bukhari no. 7068).Dalam Fathul Baari dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Makna dari firman Allah ‘Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya‘ adalah: ‘Selama engkau selalu bertaubat setiap kali bermaksiat, Aku telah ampuni dosamu’”. Beliau juga membawakan perkataan Imam An Nawawi: “Jika seseorang berbuat dosa seratus kali, seribu kali, atau bahkan lebih banyak, dan setiap berbuat dosa ia bertaubat, maka taubatnya diterima. Bahkan jika dari ribuan perbuatan dosa tadi setelahnya ia hanya sekali bertaubat, taubatnya pun diterima” (Fathul Baari, 89/21).Baca Juga: Mengenal Taubat Lebih DekatApakah Ini Kabar Gembira Untuk Ahli Maksiat?Tentu ini bukan angin segar untuk terus berbuat maksiat. Karena seseorang bermaksiat hendaknya ia sadari bahwa belum tentu ia mendapatkan taufiq untuk bertaubat nasuha setelah maksiat dan belum tentu ia mati dalam keadaan sudah bertaubat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا“Sungguh setiap amal tergantung pada bagian akhirnya” (HR. Bukhari no. 6493).Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ“Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga” (HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651).Maka teruslah istiqamah menjauhi maksiat dan terus bertaubat kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas kebaikan.Wallahu a’lam.Baca Juga: Syarat Agar Taubat Diterima***Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Ingin Jadi Youtuber Terkenal?

Mungkin di zaman ini banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi youtuber terkenal. Padahal senang pada popularitas itu akan merusak agama. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِ على المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih merusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan, yang itu akan merusak agamanya” (HR. Tirmidzi no. 2376, ia berkata, “hasan sahih”).“Jangan lupa like video saya ya … “Itulah slogan para Youtuber. Berharap penonton memuji videonya dan mereka terus mencari decak kagum para penonton. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ“Jauhilah sifat suka dipuji. Karena dengan dipuji-puji itu, seakan-akan Engkau disembelih” (HR. Ahmad no. 16460, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 2674).Al Munawi rahimahullah menjelaskan,لِما فيه من الآفة في دين المادح والممدوح، وسمّاه: ذبحاً، لأنه يُميت القلب فيخرُجُ من دينه، وفيه ذبحٌ للممدوح فإنه يَغُرّه بأحواله ويُغريه بالعُجب والكِبْر“Karena senang dipuji itu akan menjadi penyakit bagi agama orang yang memuji ataupun yang dipuji. Disebut oleh Nabi sebagai ‘disembelih’ karena ini akan mematikan hati, sehingga mati pula agamanya. Juga orang yang dipuji seperti disembelih, karena ia akan tertipu dengan sifat ujub dan sombong” (Faidhul Qadir, 3: 129).Dan jika ternyata berhasil jadi terkenal atau viral, namun yang ditampilkan adalah keburukan dan pelanggaran agama, ngerinya bisa menjadi dosa jariyah. Dosa yang mengalir terus selama diamalkan dan diikuti oleh para follower dan subscriber.Baca Juga: Mencari Viewer Youtube dengan Konten Tidak MendidikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من دعا إلى هدًى ، كان له من الأجرِ مثلُ أجورِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من أجورِهم شيئًا . ومن دعا إلى ضلالةٍ ، كان عليه من الإثمِ مثلُ آثامِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من آثامِهم شيئا“Barang siapa yang mendakwahkan kebenaran, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barang siapa mendakwahkan kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Itulah ngerinya menjadi terkenal.Oleh karena itu, para salaf dahulu benci popularitas. Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan,كفى فتنة للمرء أن يشار إليه بالأصابع في دين أو دنيا إلا من عصمه الله“Cukuplah sebagai fitnah (ujian) bagi seseorang, ketika jari-jari menunjuk padanya dalam masalah agama atau masalah dunia. Kecuali orang-orang yang Allah selamatkan” (Az Zuhd libni Surri, 2: 442).Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan,إياك والشهرة؛ فما أتيت أحدًا إلا وقد نهى عن الشهرة“Jauhilah cinta popularitas, dan aku tidak menemui satu guru pun kecuali mereka melarang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 7: 260).Bisyr bin Al Harits rahimahullah mengatakan,مَا اتَّقَى اللهَ مَنْ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ“Tidak akan bisa bertakwa kepada Allah, orang yang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 476).Bukan berarti terlarang untuk meng-upload video ke Youtube. Selama itu edukatif, bermanfaat, dan tidak mengandung perkara-perkara haram, maka tidak mengapa. Namun lebih baik jika tanpa disertai upaya untuk mencari popularitas diri. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan dan tersembunyi” (HR. Muslim no. 2965).Dijelaskan oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah,هو الذي لا يظهر نفسه ، ولا يهتم أن يظهر عند الناس أو يشار إليه بالبنان أو يتحدث الناس عنه“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang” (Syarah Riyadush Shalihin, 6: 29).Maka jangan jadikan “terkenal” dan “viral” sebagai cita-cita, karena itu adalah ujian dan bencana. Teruslah berkarya dalam hal yang manfaat untuk dunia dan akhirat, namun buang jauh-jauh rasa ingin dikenal.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Takbir Yang Dibaca Pertama Kali Pada Shalat Idul Fitri Sebelum Membaca Doa Iftitah Disebut, Merebut Istri Orang, Tata Cara Bertayamum, Hadits Tentang Orang Meninggal, Hukum Yasinan Menurut Muhammadiyah

Ingin Jadi Youtuber Terkenal?

Mungkin di zaman ini banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi youtuber terkenal. Padahal senang pada popularitas itu akan merusak agama. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِ على المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih merusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan, yang itu akan merusak agamanya” (HR. Tirmidzi no. 2376, ia berkata, “hasan sahih”).“Jangan lupa like video saya ya … “Itulah slogan para Youtuber. Berharap penonton memuji videonya dan mereka terus mencari decak kagum para penonton. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ“Jauhilah sifat suka dipuji. Karena dengan dipuji-puji itu, seakan-akan Engkau disembelih” (HR. Ahmad no. 16460, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 2674).Al Munawi rahimahullah menjelaskan,لِما فيه من الآفة في دين المادح والممدوح، وسمّاه: ذبحاً، لأنه يُميت القلب فيخرُجُ من دينه، وفيه ذبحٌ للممدوح فإنه يَغُرّه بأحواله ويُغريه بالعُجب والكِبْر“Karena senang dipuji itu akan menjadi penyakit bagi agama orang yang memuji ataupun yang dipuji. Disebut oleh Nabi sebagai ‘disembelih’ karena ini akan mematikan hati, sehingga mati pula agamanya. Juga orang yang dipuji seperti disembelih, karena ia akan tertipu dengan sifat ujub dan sombong” (Faidhul Qadir, 3: 129).Dan jika ternyata berhasil jadi terkenal atau viral, namun yang ditampilkan adalah keburukan dan pelanggaran agama, ngerinya bisa menjadi dosa jariyah. Dosa yang mengalir terus selama diamalkan dan diikuti oleh para follower dan subscriber.Baca Juga: Mencari Viewer Youtube dengan Konten Tidak MendidikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من دعا إلى هدًى ، كان له من الأجرِ مثلُ أجورِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من أجورِهم شيئًا . ومن دعا إلى ضلالةٍ ، كان عليه من الإثمِ مثلُ آثامِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من آثامِهم شيئا“Barang siapa yang mendakwahkan kebenaran, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barang siapa mendakwahkan kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Itulah ngerinya menjadi terkenal.Oleh karena itu, para salaf dahulu benci popularitas. Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan,كفى فتنة للمرء أن يشار إليه بالأصابع في دين أو دنيا إلا من عصمه الله“Cukuplah sebagai fitnah (ujian) bagi seseorang, ketika jari-jari menunjuk padanya dalam masalah agama atau masalah dunia. Kecuali orang-orang yang Allah selamatkan” (Az Zuhd libni Surri, 2: 442).Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan,إياك والشهرة؛ فما أتيت أحدًا إلا وقد نهى عن الشهرة“Jauhilah cinta popularitas, dan aku tidak menemui satu guru pun kecuali mereka melarang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 7: 260).Bisyr bin Al Harits rahimahullah mengatakan,مَا اتَّقَى اللهَ مَنْ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ“Tidak akan bisa bertakwa kepada Allah, orang yang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 476).Bukan berarti terlarang untuk meng-upload video ke Youtube. Selama itu edukatif, bermanfaat, dan tidak mengandung perkara-perkara haram, maka tidak mengapa. Namun lebih baik jika tanpa disertai upaya untuk mencari popularitas diri. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan dan tersembunyi” (HR. Muslim no. 2965).Dijelaskan oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah,هو الذي لا يظهر نفسه ، ولا يهتم أن يظهر عند الناس أو يشار إليه بالبنان أو يتحدث الناس عنه“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang” (Syarah Riyadush Shalihin, 6: 29).Maka jangan jadikan “terkenal” dan “viral” sebagai cita-cita, karena itu adalah ujian dan bencana. Teruslah berkarya dalam hal yang manfaat untuk dunia dan akhirat, namun buang jauh-jauh rasa ingin dikenal.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Takbir Yang Dibaca Pertama Kali Pada Shalat Idul Fitri Sebelum Membaca Doa Iftitah Disebut, Merebut Istri Orang, Tata Cara Bertayamum, Hadits Tentang Orang Meninggal, Hukum Yasinan Menurut Muhammadiyah
Mungkin di zaman ini banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi youtuber terkenal. Padahal senang pada popularitas itu akan merusak agama. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِ على المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih merusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan, yang itu akan merusak agamanya” (HR. Tirmidzi no. 2376, ia berkata, “hasan sahih”).“Jangan lupa like video saya ya … “Itulah slogan para Youtuber. Berharap penonton memuji videonya dan mereka terus mencari decak kagum para penonton. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ“Jauhilah sifat suka dipuji. Karena dengan dipuji-puji itu, seakan-akan Engkau disembelih” (HR. Ahmad no. 16460, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 2674).Al Munawi rahimahullah menjelaskan,لِما فيه من الآفة في دين المادح والممدوح، وسمّاه: ذبحاً، لأنه يُميت القلب فيخرُجُ من دينه، وفيه ذبحٌ للممدوح فإنه يَغُرّه بأحواله ويُغريه بالعُجب والكِبْر“Karena senang dipuji itu akan menjadi penyakit bagi agama orang yang memuji ataupun yang dipuji. Disebut oleh Nabi sebagai ‘disembelih’ karena ini akan mematikan hati, sehingga mati pula agamanya. Juga orang yang dipuji seperti disembelih, karena ia akan tertipu dengan sifat ujub dan sombong” (Faidhul Qadir, 3: 129).Dan jika ternyata berhasil jadi terkenal atau viral, namun yang ditampilkan adalah keburukan dan pelanggaran agama, ngerinya bisa menjadi dosa jariyah. Dosa yang mengalir terus selama diamalkan dan diikuti oleh para follower dan subscriber.Baca Juga: Mencari Viewer Youtube dengan Konten Tidak MendidikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من دعا إلى هدًى ، كان له من الأجرِ مثلُ أجورِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من أجورِهم شيئًا . ومن دعا إلى ضلالةٍ ، كان عليه من الإثمِ مثلُ آثامِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من آثامِهم شيئا“Barang siapa yang mendakwahkan kebenaran, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barang siapa mendakwahkan kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Itulah ngerinya menjadi terkenal.Oleh karena itu, para salaf dahulu benci popularitas. Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan,كفى فتنة للمرء أن يشار إليه بالأصابع في دين أو دنيا إلا من عصمه الله“Cukuplah sebagai fitnah (ujian) bagi seseorang, ketika jari-jari menunjuk padanya dalam masalah agama atau masalah dunia. Kecuali orang-orang yang Allah selamatkan” (Az Zuhd libni Surri, 2: 442).Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan,إياك والشهرة؛ فما أتيت أحدًا إلا وقد نهى عن الشهرة“Jauhilah cinta popularitas, dan aku tidak menemui satu guru pun kecuali mereka melarang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 7: 260).Bisyr bin Al Harits rahimahullah mengatakan,مَا اتَّقَى اللهَ مَنْ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ“Tidak akan bisa bertakwa kepada Allah, orang yang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 476).Bukan berarti terlarang untuk meng-upload video ke Youtube. Selama itu edukatif, bermanfaat, dan tidak mengandung perkara-perkara haram, maka tidak mengapa. Namun lebih baik jika tanpa disertai upaya untuk mencari popularitas diri. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan dan tersembunyi” (HR. Muslim no. 2965).Dijelaskan oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah,هو الذي لا يظهر نفسه ، ولا يهتم أن يظهر عند الناس أو يشار إليه بالبنان أو يتحدث الناس عنه“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang” (Syarah Riyadush Shalihin, 6: 29).Maka jangan jadikan “terkenal” dan “viral” sebagai cita-cita, karena itu adalah ujian dan bencana. Teruslah berkarya dalam hal yang manfaat untuk dunia dan akhirat, namun buang jauh-jauh rasa ingin dikenal.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Takbir Yang Dibaca Pertama Kali Pada Shalat Idul Fitri Sebelum Membaca Doa Iftitah Disebut, Merebut Istri Orang, Tata Cara Bertayamum, Hadits Tentang Orang Meninggal, Hukum Yasinan Menurut Muhammadiyah


Mungkin di zaman ini banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi youtuber terkenal. Padahal senang pada popularitas itu akan merusak agama. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِ على المالِ والشرفِ، لدِينه“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih merusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan, yang itu akan merusak agamanya” (HR. Tirmidzi no. 2376, ia berkata, “hasan sahih”).“Jangan lupa like video saya ya … “Itulah slogan para Youtuber. Berharap penonton memuji videonya dan mereka terus mencari decak kagum para penonton. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ“Jauhilah sifat suka dipuji. Karena dengan dipuji-puji itu, seakan-akan Engkau disembelih” (HR. Ahmad no. 16460, disahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 2674).Al Munawi rahimahullah menjelaskan,لِما فيه من الآفة في دين المادح والممدوح، وسمّاه: ذبحاً، لأنه يُميت القلب فيخرُجُ من دينه، وفيه ذبحٌ للممدوح فإنه يَغُرّه بأحواله ويُغريه بالعُجب والكِبْر“Karena senang dipuji itu akan menjadi penyakit bagi agama orang yang memuji ataupun yang dipuji. Disebut oleh Nabi sebagai ‘disembelih’ karena ini akan mematikan hati, sehingga mati pula agamanya. Juga orang yang dipuji seperti disembelih, karena ia akan tertipu dengan sifat ujub dan sombong” (Faidhul Qadir, 3: 129).Dan jika ternyata berhasil jadi terkenal atau viral, namun yang ditampilkan adalah keburukan dan pelanggaran agama, ngerinya bisa menjadi dosa jariyah. Dosa yang mengalir terus selama diamalkan dan diikuti oleh para follower dan subscriber.Baca Juga: Mencari Viewer Youtube dengan Konten Tidak MendidikRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,من دعا إلى هدًى ، كان له من الأجرِ مثلُ أجورِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من أجورِهم شيئًا . ومن دعا إلى ضلالةٍ ، كان عليه من الإثمِ مثلُ آثامِ من تبِعه ، لا يُنقِصُ ذلك من آثامِهم شيئا“Barang siapa yang mendakwahkan kebenaran, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barang siapa mendakwahkan kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim no. 2674).Itulah ngerinya menjadi terkenal.Oleh karena itu, para salaf dahulu benci popularitas. Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan,كفى فتنة للمرء أن يشار إليه بالأصابع في دين أو دنيا إلا من عصمه الله“Cukuplah sebagai fitnah (ujian) bagi seseorang, ketika jari-jari menunjuk padanya dalam masalah agama atau masalah dunia. Kecuali orang-orang yang Allah selamatkan” (Az Zuhd libni Surri, 2: 442).Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan,إياك والشهرة؛ فما أتيت أحدًا إلا وقد نهى عن الشهرة“Jauhilah cinta popularitas, dan aku tidak menemui satu guru pun kecuali mereka melarang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 7: 260).Bisyr bin Al Harits rahimahullah mengatakan,مَا اتَّقَى اللهَ مَنْ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ“Tidak akan bisa bertakwa kepada Allah, orang yang cinta popularitas” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 476).Bukan berarti terlarang untuk meng-upload video ke Youtube. Selama itu edukatif, bermanfaat, dan tidak mengandung perkara-perkara haram, maka tidak mengapa. Namun lebih baik jika tanpa disertai upaya untuk mencari popularitas diri. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan dan tersembunyi” (HR. Muslim no. 2965).Dijelaskan oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah,هو الذي لا يظهر نفسه ، ولا يهتم أن يظهر عند الناس أو يشار إليه بالبنان أو يتحدث الناس عنه“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang” (Syarah Riyadush Shalihin, 6: 29).Maka jangan jadikan “terkenal” dan “viral” sebagai cita-cita, karena itu adalah ujian dan bencana. Teruslah berkarya dalam hal yang manfaat untuk dunia dan akhirat, namun buang jauh-jauh rasa ingin dikenal.Baca Juga:Wallahu a’lam.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Bacaan Takbir Yang Dibaca Pertama Kali Pada Shalat Idul Fitri Sebelum Membaca Doa Iftitah Disebut, Merebut Istri Orang, Tata Cara Bertayamum, Hadits Tentang Orang Meninggal, Hukum Yasinan Menurut Muhammadiyah

Hati-hati dengan Aliran Agnostik dalam Beragama

Apa itu agnostik?Sebagian orang ada yang berkata,“Saya tidak mau dibilang ateis, tapi saya itu agnostik.”Ajaran ateis sudah jelas bagi masyarakat kita, yaitu tidak percaya dengan keberaaan Rabb Tuhan semesta Alam. Lalu apa itu agnostik?Menurut kamus KBBI agnostik adalah:ag·nos·tik n orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misalnya Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui.Definisi lainnya, agnostisisme adalah suatu pandangan bahwasanya ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui.Ringkasnya, ajaran agnostik ini meyakini bahwa keberadaan Tuhan itu tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Sebenarnya ajaran agnostik ini adalah wajah baru dari ateis, karena keyakinan ateis itu berasal dari keragu-raguan akan adanya yang Maha Pencipta dan tidak diketahui tanda-tanda keberadaan Tuhan. Lalu ateis mengambil kesimpulan tegas bahwa Tuhan itu tidak ada. Sedangkan agnostik memberikan kesimpulan tidak tegas, tapi mengarah ke arah pemikiran ateis.Walaupun ada sedikit perbedaan antara ateis dan agnostik, tapi tujuan utama arah pemikiran mereka sama yaitu:Pertama, keberadaan Tuhan itu tidak dapat diketahui;Kedua, ragu-ragu akan keberadaan Tuhan.Kita akan bahas dua poin tersebut dan akan menjelaskan bahwa keyakinan agnostik ini tidak sesuai dengan syariat dan logika.Keberadaan Allah Maha Pencipta itu mudah diketahuiYaitu, diketahui dengan tanda-tanda keberadaan Allah yang Maha Pencipta. Kita tidak bisa menemukan Allah di dunia ini, yaitu melihat dengan mata kepala dan panca indra. Akan tetapi, kita bisa menemukan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan bahwa Allah itu ada.Sesuatu yang tidak terlihat dan tidak kita rasakan dengan panca indra sekarang, bukan berarti tidak ada. Sekarang renungkanlah pertanyaan berikut,“Apakah Anda pernah melihat dan menemukan ibu dari nenek dari ibu dari nenek dari ibu dari nenekmu (ibu nenek ke tujuh Anda)? Kamu percaya mereka ada?”Demikianlah, ketika kita tidak melihat dan merasakan dengan panca indra, bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak ada. Akan tetapi, kita yakin bahwa ibu nenek ketujuh itu ada dengan melihat tanda-tanda yang sekarang, yaitu adanya ibu kita yang melahirkan kita.Demikian juga orang di zaman dahulu sebelum ada mikroskop, mereka tidak melihat bakteri, virus, sel darah merah dengan mata telanjang, tetapi mereka meyakini adanya wabah virus dan bakteri karena mereka melihat tanda-tanda adanya mereka.Begitulah keberadaan Allah Ta’ala yang Maha Pencipta. Tanda-tanda keberadaan-Nya itu ada dan sangat tampak serta bisa kita renungkan. Tanda keberadaan Allah ada pada alam dunia ini yang diciptakan dengan sempurna serta beraktivitas sesuai dengan tugasnya masing-masing secara teratur dan sempurna. Tidak mungkin terjadi secara kebetulan semuanya dengan bentuk yang sangat teratur dan sempurna.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran 190-191)Allah Ta’ala juga berfirman,اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ * وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra’du: 2-3)Tanda kebesaran Allah juga ada pada tubuh manusia. Dalam ilmu kedokteran modern, telah terbukti bahwa tubuh manusia tersusun dengan bentuk yang sangat teratur dan bekerja sempurna mulai dari tingkat sel sampai tingkat organ.Allah Ta’ala berfirman,وفي الأرض ءايات للموقنين (20) وفي أنفسكم أفلا تبصرون (21)“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah Engkau tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyaat: 20-21)Allah mengatur itu semua tanpa adanya ketimpangan atau semisal tabrakan antar planet sehingga hancur alam semesta. Allah Ta’ala berfirman,مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 3)Ragu-ragu akan keberadaan Allah termasuk kekufuranRagu-ragu dan tidak percaya sama saja, karena yang namanya iman itu harus yakin dan mantap. Salah satu pembatal ke-Islaman seseorang adalah ragu-ragu dalam pokok dasar agama.Allah Ta’ala berfirman menantang orang yang ragu tentang Al-Quran,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)Bahkan ragu akan kekufuran mereka yang kufur adalah bentuk kekufuran. Dalam salah satu pembatal keIslaman dijelaskan,الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” (Nawaqidul Islam, poin ke-3)Agnostik bisa jadi bentuk malas beragama dan menjalankan syariatOrang agnostik itu sebenarnya bisa jadi tidak mau terbebani alias malas menjalankan syariat agama, ingin bebas saja. Padahal kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan syariatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Menjalankan syariat Allah sebenarnya bukan artinya Allah yang butuh, tetapi sebenarnya Allah turunkan untuk mengatur kemaslahatan dan kebahagiaan manusia hidup di muka bumi ini, agar tidak mengedepankan hawa nafsu semata.Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lainnya secara logika dan nash yang menunjukkan adanya Allah. Orang ateis dan agnostik katanya menggunakan logika untuk menolak keberadaan Allah. Akan tetapi, justru logika mereka yang tidak tepat.Misalnya ada pertanyaan,“Siapakah yang menciptakan Allah?”Jawaban secara logika adalah pertanyaan ini adalah pertanyaan yang salah. Sebagaimana pertanyaan,“Kapan ayahmu melahirkan?”Tentu ini pertanyaan yang salah karena tidak ada ayah yang melahirkan. Demikian juga pertanyaan, siapa yang menciptakan pencipta? Ini pertanyaan yang salah dan tidak akan ada jawabannya. Karena yang namanya pencipta itu menciptakan, dia tidak diciptakan.Jika ada jawaban siapa yang menciptakan pencipta, maka  pertanyaan akan muncul terus dan tidak ada ujungnya,“Siapa yang menciptakan pencipta tadi?”Dan masih banyak pembahasan lainnya yang menunjukkan bahwa logika orang ateis dan agnostik ini tidak sesuai dengan nalar dan logika yang tepat.Mari kita didik anak generasi kita dengan akidah dan tauhid yang benar untuk membentengi umat dari pemikiran liberal, ateis, agnostik, dan yang semisal. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan kaum muslimin. Aamin.Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Ijab Qabul Zakat Fitrah, Ramadan Kareem Adalah, Labaik Kala Huma Labaik, Jangan Balas Kejahatan Dengan Kejahatan, Apa Itu Ujub

Hati-hati dengan Aliran Agnostik dalam Beragama

Apa itu agnostik?Sebagian orang ada yang berkata,“Saya tidak mau dibilang ateis, tapi saya itu agnostik.”Ajaran ateis sudah jelas bagi masyarakat kita, yaitu tidak percaya dengan keberaaan Rabb Tuhan semesta Alam. Lalu apa itu agnostik?Menurut kamus KBBI agnostik adalah:ag·nos·tik n orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misalnya Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui.Definisi lainnya, agnostisisme adalah suatu pandangan bahwasanya ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui.Ringkasnya, ajaran agnostik ini meyakini bahwa keberadaan Tuhan itu tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Sebenarnya ajaran agnostik ini adalah wajah baru dari ateis, karena keyakinan ateis itu berasal dari keragu-raguan akan adanya yang Maha Pencipta dan tidak diketahui tanda-tanda keberadaan Tuhan. Lalu ateis mengambil kesimpulan tegas bahwa Tuhan itu tidak ada. Sedangkan agnostik memberikan kesimpulan tidak tegas, tapi mengarah ke arah pemikiran ateis.Walaupun ada sedikit perbedaan antara ateis dan agnostik, tapi tujuan utama arah pemikiran mereka sama yaitu:Pertama, keberadaan Tuhan itu tidak dapat diketahui;Kedua, ragu-ragu akan keberadaan Tuhan.Kita akan bahas dua poin tersebut dan akan menjelaskan bahwa keyakinan agnostik ini tidak sesuai dengan syariat dan logika.Keberadaan Allah Maha Pencipta itu mudah diketahuiYaitu, diketahui dengan tanda-tanda keberadaan Allah yang Maha Pencipta. Kita tidak bisa menemukan Allah di dunia ini, yaitu melihat dengan mata kepala dan panca indra. Akan tetapi, kita bisa menemukan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan bahwa Allah itu ada.Sesuatu yang tidak terlihat dan tidak kita rasakan dengan panca indra sekarang, bukan berarti tidak ada. Sekarang renungkanlah pertanyaan berikut,“Apakah Anda pernah melihat dan menemukan ibu dari nenek dari ibu dari nenek dari ibu dari nenekmu (ibu nenek ke tujuh Anda)? Kamu percaya mereka ada?”Demikianlah, ketika kita tidak melihat dan merasakan dengan panca indra, bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak ada. Akan tetapi, kita yakin bahwa ibu nenek ketujuh itu ada dengan melihat tanda-tanda yang sekarang, yaitu adanya ibu kita yang melahirkan kita.Demikian juga orang di zaman dahulu sebelum ada mikroskop, mereka tidak melihat bakteri, virus, sel darah merah dengan mata telanjang, tetapi mereka meyakini adanya wabah virus dan bakteri karena mereka melihat tanda-tanda adanya mereka.Begitulah keberadaan Allah Ta’ala yang Maha Pencipta. Tanda-tanda keberadaan-Nya itu ada dan sangat tampak serta bisa kita renungkan. Tanda keberadaan Allah ada pada alam dunia ini yang diciptakan dengan sempurna serta beraktivitas sesuai dengan tugasnya masing-masing secara teratur dan sempurna. Tidak mungkin terjadi secara kebetulan semuanya dengan bentuk yang sangat teratur dan sempurna.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran 190-191)Allah Ta’ala juga berfirman,اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ * وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra’du: 2-3)Tanda kebesaran Allah juga ada pada tubuh manusia. Dalam ilmu kedokteran modern, telah terbukti bahwa tubuh manusia tersusun dengan bentuk yang sangat teratur dan bekerja sempurna mulai dari tingkat sel sampai tingkat organ.Allah Ta’ala berfirman,وفي الأرض ءايات للموقنين (20) وفي أنفسكم أفلا تبصرون (21)“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah Engkau tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyaat: 20-21)Allah mengatur itu semua tanpa adanya ketimpangan atau semisal tabrakan antar planet sehingga hancur alam semesta. Allah Ta’ala berfirman,مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 3)Ragu-ragu akan keberadaan Allah termasuk kekufuranRagu-ragu dan tidak percaya sama saja, karena yang namanya iman itu harus yakin dan mantap. Salah satu pembatal ke-Islaman seseorang adalah ragu-ragu dalam pokok dasar agama.Allah Ta’ala berfirman menantang orang yang ragu tentang Al-Quran,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)Bahkan ragu akan kekufuran mereka yang kufur adalah bentuk kekufuran. Dalam salah satu pembatal keIslaman dijelaskan,الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” (Nawaqidul Islam, poin ke-3)Agnostik bisa jadi bentuk malas beragama dan menjalankan syariatOrang agnostik itu sebenarnya bisa jadi tidak mau terbebani alias malas menjalankan syariat agama, ingin bebas saja. Padahal kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan syariatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Menjalankan syariat Allah sebenarnya bukan artinya Allah yang butuh, tetapi sebenarnya Allah turunkan untuk mengatur kemaslahatan dan kebahagiaan manusia hidup di muka bumi ini, agar tidak mengedepankan hawa nafsu semata.Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lainnya secara logika dan nash yang menunjukkan adanya Allah. Orang ateis dan agnostik katanya menggunakan logika untuk menolak keberadaan Allah. Akan tetapi, justru logika mereka yang tidak tepat.Misalnya ada pertanyaan,“Siapakah yang menciptakan Allah?”Jawaban secara logika adalah pertanyaan ini adalah pertanyaan yang salah. Sebagaimana pertanyaan,“Kapan ayahmu melahirkan?”Tentu ini pertanyaan yang salah karena tidak ada ayah yang melahirkan. Demikian juga pertanyaan, siapa yang menciptakan pencipta? Ini pertanyaan yang salah dan tidak akan ada jawabannya. Karena yang namanya pencipta itu menciptakan, dia tidak diciptakan.Jika ada jawaban siapa yang menciptakan pencipta, maka  pertanyaan akan muncul terus dan tidak ada ujungnya,“Siapa yang menciptakan pencipta tadi?”Dan masih banyak pembahasan lainnya yang menunjukkan bahwa logika orang ateis dan agnostik ini tidak sesuai dengan nalar dan logika yang tepat.Mari kita didik anak generasi kita dengan akidah dan tauhid yang benar untuk membentengi umat dari pemikiran liberal, ateis, agnostik, dan yang semisal. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan kaum muslimin. Aamin.Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Ijab Qabul Zakat Fitrah, Ramadan Kareem Adalah, Labaik Kala Huma Labaik, Jangan Balas Kejahatan Dengan Kejahatan, Apa Itu Ujub
Apa itu agnostik?Sebagian orang ada yang berkata,“Saya tidak mau dibilang ateis, tapi saya itu agnostik.”Ajaran ateis sudah jelas bagi masyarakat kita, yaitu tidak percaya dengan keberaaan Rabb Tuhan semesta Alam. Lalu apa itu agnostik?Menurut kamus KBBI agnostik adalah:ag·nos·tik n orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misalnya Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui.Definisi lainnya, agnostisisme adalah suatu pandangan bahwasanya ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui.Ringkasnya, ajaran agnostik ini meyakini bahwa keberadaan Tuhan itu tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Sebenarnya ajaran agnostik ini adalah wajah baru dari ateis, karena keyakinan ateis itu berasal dari keragu-raguan akan adanya yang Maha Pencipta dan tidak diketahui tanda-tanda keberadaan Tuhan. Lalu ateis mengambil kesimpulan tegas bahwa Tuhan itu tidak ada. Sedangkan agnostik memberikan kesimpulan tidak tegas, tapi mengarah ke arah pemikiran ateis.Walaupun ada sedikit perbedaan antara ateis dan agnostik, tapi tujuan utama arah pemikiran mereka sama yaitu:Pertama, keberadaan Tuhan itu tidak dapat diketahui;Kedua, ragu-ragu akan keberadaan Tuhan.Kita akan bahas dua poin tersebut dan akan menjelaskan bahwa keyakinan agnostik ini tidak sesuai dengan syariat dan logika.Keberadaan Allah Maha Pencipta itu mudah diketahuiYaitu, diketahui dengan tanda-tanda keberadaan Allah yang Maha Pencipta. Kita tidak bisa menemukan Allah di dunia ini, yaitu melihat dengan mata kepala dan panca indra. Akan tetapi, kita bisa menemukan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan bahwa Allah itu ada.Sesuatu yang tidak terlihat dan tidak kita rasakan dengan panca indra sekarang, bukan berarti tidak ada. Sekarang renungkanlah pertanyaan berikut,“Apakah Anda pernah melihat dan menemukan ibu dari nenek dari ibu dari nenek dari ibu dari nenekmu (ibu nenek ke tujuh Anda)? Kamu percaya mereka ada?”Demikianlah, ketika kita tidak melihat dan merasakan dengan panca indra, bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak ada. Akan tetapi, kita yakin bahwa ibu nenek ketujuh itu ada dengan melihat tanda-tanda yang sekarang, yaitu adanya ibu kita yang melahirkan kita.Demikian juga orang di zaman dahulu sebelum ada mikroskop, mereka tidak melihat bakteri, virus, sel darah merah dengan mata telanjang, tetapi mereka meyakini adanya wabah virus dan bakteri karena mereka melihat tanda-tanda adanya mereka.Begitulah keberadaan Allah Ta’ala yang Maha Pencipta. Tanda-tanda keberadaan-Nya itu ada dan sangat tampak serta bisa kita renungkan. Tanda keberadaan Allah ada pada alam dunia ini yang diciptakan dengan sempurna serta beraktivitas sesuai dengan tugasnya masing-masing secara teratur dan sempurna. Tidak mungkin terjadi secara kebetulan semuanya dengan bentuk yang sangat teratur dan sempurna.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran 190-191)Allah Ta’ala juga berfirman,اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ * وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra’du: 2-3)Tanda kebesaran Allah juga ada pada tubuh manusia. Dalam ilmu kedokteran modern, telah terbukti bahwa tubuh manusia tersusun dengan bentuk yang sangat teratur dan bekerja sempurna mulai dari tingkat sel sampai tingkat organ.Allah Ta’ala berfirman,وفي الأرض ءايات للموقنين (20) وفي أنفسكم أفلا تبصرون (21)“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah Engkau tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyaat: 20-21)Allah mengatur itu semua tanpa adanya ketimpangan atau semisal tabrakan antar planet sehingga hancur alam semesta. Allah Ta’ala berfirman,مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 3)Ragu-ragu akan keberadaan Allah termasuk kekufuranRagu-ragu dan tidak percaya sama saja, karena yang namanya iman itu harus yakin dan mantap. Salah satu pembatal ke-Islaman seseorang adalah ragu-ragu dalam pokok dasar agama.Allah Ta’ala berfirman menantang orang yang ragu tentang Al-Quran,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)Bahkan ragu akan kekufuran mereka yang kufur adalah bentuk kekufuran. Dalam salah satu pembatal keIslaman dijelaskan,الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” (Nawaqidul Islam, poin ke-3)Agnostik bisa jadi bentuk malas beragama dan menjalankan syariatOrang agnostik itu sebenarnya bisa jadi tidak mau terbebani alias malas menjalankan syariat agama, ingin bebas saja. Padahal kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan syariatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Menjalankan syariat Allah sebenarnya bukan artinya Allah yang butuh, tetapi sebenarnya Allah turunkan untuk mengatur kemaslahatan dan kebahagiaan manusia hidup di muka bumi ini, agar tidak mengedepankan hawa nafsu semata.Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lainnya secara logika dan nash yang menunjukkan adanya Allah. Orang ateis dan agnostik katanya menggunakan logika untuk menolak keberadaan Allah. Akan tetapi, justru logika mereka yang tidak tepat.Misalnya ada pertanyaan,“Siapakah yang menciptakan Allah?”Jawaban secara logika adalah pertanyaan ini adalah pertanyaan yang salah. Sebagaimana pertanyaan,“Kapan ayahmu melahirkan?”Tentu ini pertanyaan yang salah karena tidak ada ayah yang melahirkan. Demikian juga pertanyaan, siapa yang menciptakan pencipta? Ini pertanyaan yang salah dan tidak akan ada jawabannya. Karena yang namanya pencipta itu menciptakan, dia tidak diciptakan.Jika ada jawaban siapa yang menciptakan pencipta, maka  pertanyaan akan muncul terus dan tidak ada ujungnya,“Siapa yang menciptakan pencipta tadi?”Dan masih banyak pembahasan lainnya yang menunjukkan bahwa logika orang ateis dan agnostik ini tidak sesuai dengan nalar dan logika yang tepat.Mari kita didik anak generasi kita dengan akidah dan tauhid yang benar untuk membentengi umat dari pemikiran liberal, ateis, agnostik, dan yang semisal. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan kaum muslimin. Aamin.Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Ijab Qabul Zakat Fitrah, Ramadan Kareem Adalah, Labaik Kala Huma Labaik, Jangan Balas Kejahatan Dengan Kejahatan, Apa Itu Ujub


Apa itu agnostik?Sebagian orang ada yang berkata,“Saya tidak mau dibilang ateis, tapi saya itu agnostik.”Ajaran ateis sudah jelas bagi masyarakat kita, yaitu tidak percaya dengan keberaaan Rabb Tuhan semesta Alam. Lalu apa itu agnostik?Menurut kamus KBBI agnostik adalah:ag·nos·tik n orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misalnya Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui.Definisi lainnya, agnostisisme adalah suatu pandangan bahwasanya ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui.Ringkasnya, ajaran agnostik ini meyakini bahwa keberadaan Tuhan itu tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Sebenarnya ajaran agnostik ini adalah wajah baru dari ateis, karena keyakinan ateis itu berasal dari keragu-raguan akan adanya yang Maha Pencipta dan tidak diketahui tanda-tanda keberadaan Tuhan. Lalu ateis mengambil kesimpulan tegas bahwa Tuhan itu tidak ada. Sedangkan agnostik memberikan kesimpulan tidak tegas, tapi mengarah ke arah pemikiran ateis.Walaupun ada sedikit perbedaan antara ateis dan agnostik, tapi tujuan utama arah pemikiran mereka sama yaitu:Pertama, keberadaan Tuhan itu tidak dapat diketahui;Kedua, ragu-ragu akan keberadaan Tuhan.Kita akan bahas dua poin tersebut dan akan menjelaskan bahwa keyakinan agnostik ini tidak sesuai dengan syariat dan logika.Keberadaan Allah Maha Pencipta itu mudah diketahuiYaitu, diketahui dengan tanda-tanda keberadaan Allah yang Maha Pencipta. Kita tidak bisa menemukan Allah di dunia ini, yaitu melihat dengan mata kepala dan panca indra. Akan tetapi, kita bisa menemukan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan bahwa Allah itu ada.Sesuatu yang tidak terlihat dan tidak kita rasakan dengan panca indra sekarang, bukan berarti tidak ada. Sekarang renungkanlah pertanyaan berikut,“Apakah Anda pernah melihat dan menemukan ibu dari nenek dari ibu dari nenek dari ibu dari nenekmu (ibu nenek ke tujuh Anda)? Kamu percaya mereka ada?”Demikianlah, ketika kita tidak melihat dan merasakan dengan panca indra, bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak ada. Akan tetapi, kita yakin bahwa ibu nenek ketujuh itu ada dengan melihat tanda-tanda yang sekarang, yaitu adanya ibu kita yang melahirkan kita.Demikian juga orang di zaman dahulu sebelum ada mikroskop, mereka tidak melihat bakteri, virus, sel darah merah dengan mata telanjang, tetapi mereka meyakini adanya wabah virus dan bakteri karena mereka melihat tanda-tanda adanya mereka.Begitulah keberadaan Allah Ta’ala yang Maha Pencipta. Tanda-tanda keberadaan-Nya itu ada dan sangat tampak serta bisa kita renungkan. Tanda keberadaan Allah ada pada alam dunia ini yang diciptakan dengan sempurna serta beraktivitas sesuai dengan tugasnya masing-masing secara teratur dan sempurna. Tidak mungkin terjadi secara kebetulan semuanya dengan bentuk yang sangat teratur dan sempurna.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran 190-191)Allah Ta’ala juga berfirman,اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ * وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra’du: 2-3)Tanda kebesaran Allah juga ada pada tubuh manusia. Dalam ilmu kedokteran modern, telah terbukti bahwa tubuh manusia tersusun dengan bentuk yang sangat teratur dan bekerja sempurna mulai dari tingkat sel sampai tingkat organ.Allah Ta’ala berfirman,وفي الأرض ءايات للموقنين (20) وفي أنفسكم أفلا تبصرون (21)“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah Engkau tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyaat: 20-21)Allah mengatur itu semua tanpa adanya ketimpangan atau semisal tabrakan antar planet sehingga hancur alam semesta. Allah Ta’ala berfirman,مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 3)Ragu-ragu akan keberadaan Allah termasuk kekufuranRagu-ragu dan tidak percaya sama saja, karena yang namanya iman itu harus yakin dan mantap. Salah satu pembatal ke-Islaman seseorang adalah ragu-ragu dalam pokok dasar agama.Allah Ta’ala berfirman menantang orang yang ragu tentang Al-Quran,ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)Bahkan ragu akan kekufuran mereka yang kufur adalah bentuk kekufuran. Dalam salah satu pembatal keIslaman dijelaskan,الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” (Nawaqidul Islam, poin ke-3)Agnostik bisa jadi bentuk malas beragama dan menjalankan syariatOrang agnostik itu sebenarnya bisa jadi tidak mau terbebani alias malas menjalankan syariat agama, ingin bebas saja. Padahal kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan syariatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Menjalankan syariat Allah sebenarnya bukan artinya Allah yang butuh, tetapi sebenarnya Allah turunkan untuk mengatur kemaslahatan dan kebahagiaan manusia hidup di muka bumi ini, agar tidak mengedepankan hawa nafsu semata.Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lainnya secara logika dan nash yang menunjukkan adanya Allah. Orang ateis dan agnostik katanya menggunakan logika untuk menolak keberadaan Allah. Akan tetapi, justru logika mereka yang tidak tepat.Misalnya ada pertanyaan,“Siapakah yang menciptakan Allah?”Jawaban secara logika adalah pertanyaan ini adalah pertanyaan yang salah. Sebagaimana pertanyaan,“Kapan ayahmu melahirkan?”Tentu ini pertanyaan yang salah karena tidak ada ayah yang melahirkan. Demikian juga pertanyaan, siapa yang menciptakan pencipta? Ini pertanyaan yang salah dan tidak akan ada jawabannya. Karena yang namanya pencipta itu menciptakan, dia tidak diciptakan.Jika ada jawaban siapa yang menciptakan pencipta, maka  pertanyaan akan muncul terus dan tidak ada ujungnya,“Siapa yang menciptakan pencipta tadi?”Dan masih banyak pembahasan lainnya yang menunjukkan bahwa logika orang ateis dan agnostik ini tidak sesuai dengan nalar dan logika yang tepat.Mari kita didik anak generasi kita dengan akidah dan tauhid yang benar untuk membentengi umat dari pemikiran liberal, ateis, agnostik, dan yang semisal. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan kaum muslimin. Aamin.Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: Muslim.or.id🔍 Ijab Qabul Zakat Fitrah, Ramadan Kareem Adalah, Labaik Kala Huma Labaik, Jangan Balas Kejahatan Dengan Kejahatan, Apa Itu Ujub

Allah Membenci Orang yang Gemuk?

Terdapat hadis masyhur yang menyebar di masyarakat yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk. Akan tetapi, hadis ini tidak sahih. Terkadang hadis ini dibawa untuk memotivasi orang untuk melakukan diet agar menjadi kurus. Benarkah orang gemuk dibenci oleh Allah? Gemuk yang bagaimana? Berikut sedikit pembahasannya.Di bawah ini adalah hadis masyhur yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk,إنَّ الله يبغض الحبر السَّمين“Sesungguhnya Allah membenci seorang ahli ilmu yang berbadan gemuk.”Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid Hafidzahullah menjelaskan bahwa hadis ini tidak sahih dan tidak boleh disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata setelah melakukan penelusuran terhadap sanad hadis ini,بعد البحث عن هذا الحديث تبين لنا أنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فلا تصح نسبته إليه ، ولم يثبت عمن يُروَى عنهم أيضا من الصحابة رضوان الله عليهم .“Setelah menelusuri hadis ini, jelaslah bagi kita bahwa hadis ini tidak berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh menisbatkannya kepada beliau. Hadis ini tidak sahih dari berbagai riwayat para sahabat Radhiallahu ‘anhu.” (as-Su-aal Wal Jawab, no. 137177)Terdapat beberapa hadis lainnya yang secara dzahir menunjukkan tercelanya orang yang gemuk. Akan tetapi, perlu rincian penjelasan dari para ulama tentang apa maksud hadis tersebut. Hal ini karena hadis tersebut bukan mencela gemuk secara mutlak. Hadisnya sebagai berikut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang, akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya. Mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tetapi tidak melaksanakannya, dan tampak pada mereka kegemukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat yang lain,خَيْرُ أُمَّتِى الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ… ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ، يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datanglah suatu kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim dan Ahmad)Baca Juga: Larangan Memaksa Orang Sakit untuk Makan?Sebagian orang bertanya-tanya maksud hadits ini, yaitu bukankah ada orang yang sejal kecil gemuk dan bukan pilihannya? Mengapa dicela? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan dan memberikan jawaban. Beliau Rahimahullah berkata,وهذا الحديث مشكل ؛ لأن ظهور السمن ليس باختيار الإنسان فكيف يكون صفة ذم ؟ قال أهل العلم: المراد أن هؤلاء يعتنون بأسباب السمن من المطاعم والمشارب والترف ، فيكون همهم إصلاح أبدانهم وتسمينها. أما السمن الذي لا اختيار للإنسان فيه ، فلا يذم عليه ، كما لا يذم الإنسان على كونه طويلا أو قصيرا أو أسود أو أبيض“Hadis ini menjadi musykilah (tanda tanya bagi sebagian orang). Karena munculnya kegemukan (bisa jadi) bukan menjadi pilihan manusia. Sehingga bagaimana bisa dicela? Para ulama menjawab, maksudnya adalah mereka yang terlalu perhatian dengan sebab-sebab menjadi gemuk seperti makanan, minuman, dan kemewahan. Perhatian utama mereka adalah badan dan penggemukan. Adapun gemuk yang bukan karena pilihannya, tidaklah tercela sebagaimana tidak tercela pula orang yang tinggi, pendek, hitam, atau putih.” (Majmu’ Fatawa, 10: 1055)An-Nawawi Rahimahullah juga menjelaskan bahwa gemuk yang tercela bukanlah semata-mata gemuk secara alami SAJA, tetapi terkait dengan sikap makan dan minum yang berlebihan. Beliau Rahimahullah berkataوليس معناه أن يتمحضوا سمانا. قالوا: والمذموم منه من يستكسبه. وأما من هو فيه خلقة فلا يدخل في هذا، والمتكسب له هو المتوسع في المأكول والمشروب زائدا على المعتاد.“Maknanya bukan murni menjadi gemuk. Para ulama menjelaskan bahwa yang tercela yaitu yang mengusahakan menjadi gemuk. Adapun yang gemuk secara alami (dari awal), tidak termasuk dalam hadits ini. Maksudnya adalah orang yang sengaja mengusahakan gemuk dengan terlalu berlebihan makan dan minum dari ukuran normal.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 67)Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan dengan tambahan, yaitu orang gemuk yang tercela karena banyak makan dan melupakan akhirat karena gaya hidupnya. Beliau Rahimahullah berkata,يعني تعظم أجسامهم بسبب كثرة الأكل ونسيان الآخرة، يعني تعظم أجسامهم بسبب قلة إيمانهم وقلة خوفهم من الله وقلة مبالاتهم ، قد يسمن الإنسان بغير شيء، …أما السمن إذا كان عن غير إعراض فإنه لا يضر الإنسان، لكن إذا كان عن غفلة وإعراض فهذا هو المصيبة، نسأل الله العافية.“Yaitu badan mereka besar (gemuk) karena banyak makan dan melupakan akhirat. Badan mereka gemuk karena sebab sedikitnya iman dan rasa takur kepada Allah serta sedikitnya kepedulian terhadap hal tersebut … Adapun gemuk yang tidak menyebabkan berpaling, maka tidak membahayakan manusia. Akan tetapi, jika menyebabkan lalai dan berpaling, ini adalah maksiat.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/old/3881)Kesimpulan:1. Hadits dengan redaksi “Allah membenci orang gemuk” adalah tidak shahih.2. Ulama menjelaskan bahwa gemuk yang tercela adalah gemuk yang terjadi karena terlalu banyak makan dan minum, terlalu banyak santai serta lalai dengan akhirat, bukan gemuk yang menjadi bawaan lahir atau sekedar alasan gemuk saja menjadi tercela.Baca Juga: Suami Sering Makan Enak di Luar Rumah, Istri Makan Seadanya? Jangan Memakan Harta Secara Batil Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Jihad Dalam Islam, Rahmatan Lil Alamin Tulisan Arab, Hadits Tentang Fitnah, Ajaran Ajaran Syiah, Calon Imam Yang Baik

Allah Membenci Orang yang Gemuk?

Terdapat hadis masyhur yang menyebar di masyarakat yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk. Akan tetapi, hadis ini tidak sahih. Terkadang hadis ini dibawa untuk memotivasi orang untuk melakukan diet agar menjadi kurus. Benarkah orang gemuk dibenci oleh Allah? Gemuk yang bagaimana? Berikut sedikit pembahasannya.Di bawah ini adalah hadis masyhur yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk,إنَّ الله يبغض الحبر السَّمين“Sesungguhnya Allah membenci seorang ahli ilmu yang berbadan gemuk.”Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid Hafidzahullah menjelaskan bahwa hadis ini tidak sahih dan tidak boleh disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata setelah melakukan penelusuran terhadap sanad hadis ini,بعد البحث عن هذا الحديث تبين لنا أنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فلا تصح نسبته إليه ، ولم يثبت عمن يُروَى عنهم أيضا من الصحابة رضوان الله عليهم .“Setelah menelusuri hadis ini, jelaslah bagi kita bahwa hadis ini tidak berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh menisbatkannya kepada beliau. Hadis ini tidak sahih dari berbagai riwayat para sahabat Radhiallahu ‘anhu.” (as-Su-aal Wal Jawab, no. 137177)Terdapat beberapa hadis lainnya yang secara dzahir menunjukkan tercelanya orang yang gemuk. Akan tetapi, perlu rincian penjelasan dari para ulama tentang apa maksud hadis tersebut. Hal ini karena hadis tersebut bukan mencela gemuk secara mutlak. Hadisnya sebagai berikut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang, akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya. Mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tetapi tidak melaksanakannya, dan tampak pada mereka kegemukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat yang lain,خَيْرُ أُمَّتِى الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ… ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ، يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datanglah suatu kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim dan Ahmad)Baca Juga: Larangan Memaksa Orang Sakit untuk Makan?Sebagian orang bertanya-tanya maksud hadits ini, yaitu bukankah ada orang yang sejal kecil gemuk dan bukan pilihannya? Mengapa dicela? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan dan memberikan jawaban. Beliau Rahimahullah berkata,وهذا الحديث مشكل ؛ لأن ظهور السمن ليس باختيار الإنسان فكيف يكون صفة ذم ؟ قال أهل العلم: المراد أن هؤلاء يعتنون بأسباب السمن من المطاعم والمشارب والترف ، فيكون همهم إصلاح أبدانهم وتسمينها. أما السمن الذي لا اختيار للإنسان فيه ، فلا يذم عليه ، كما لا يذم الإنسان على كونه طويلا أو قصيرا أو أسود أو أبيض“Hadis ini menjadi musykilah (tanda tanya bagi sebagian orang). Karena munculnya kegemukan (bisa jadi) bukan menjadi pilihan manusia. Sehingga bagaimana bisa dicela? Para ulama menjawab, maksudnya adalah mereka yang terlalu perhatian dengan sebab-sebab menjadi gemuk seperti makanan, minuman, dan kemewahan. Perhatian utama mereka adalah badan dan penggemukan. Adapun gemuk yang bukan karena pilihannya, tidaklah tercela sebagaimana tidak tercela pula orang yang tinggi, pendek, hitam, atau putih.” (Majmu’ Fatawa, 10: 1055)An-Nawawi Rahimahullah juga menjelaskan bahwa gemuk yang tercela bukanlah semata-mata gemuk secara alami SAJA, tetapi terkait dengan sikap makan dan minum yang berlebihan. Beliau Rahimahullah berkataوليس معناه أن يتمحضوا سمانا. قالوا: والمذموم منه من يستكسبه. وأما من هو فيه خلقة فلا يدخل في هذا، والمتكسب له هو المتوسع في المأكول والمشروب زائدا على المعتاد.“Maknanya bukan murni menjadi gemuk. Para ulama menjelaskan bahwa yang tercela yaitu yang mengusahakan menjadi gemuk. Adapun yang gemuk secara alami (dari awal), tidak termasuk dalam hadits ini. Maksudnya adalah orang yang sengaja mengusahakan gemuk dengan terlalu berlebihan makan dan minum dari ukuran normal.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 67)Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan dengan tambahan, yaitu orang gemuk yang tercela karena banyak makan dan melupakan akhirat karena gaya hidupnya. Beliau Rahimahullah berkata,يعني تعظم أجسامهم بسبب كثرة الأكل ونسيان الآخرة، يعني تعظم أجسامهم بسبب قلة إيمانهم وقلة خوفهم من الله وقلة مبالاتهم ، قد يسمن الإنسان بغير شيء، …أما السمن إذا كان عن غير إعراض فإنه لا يضر الإنسان، لكن إذا كان عن غفلة وإعراض فهذا هو المصيبة، نسأل الله العافية.“Yaitu badan mereka besar (gemuk) karena banyak makan dan melupakan akhirat. Badan mereka gemuk karena sebab sedikitnya iman dan rasa takur kepada Allah serta sedikitnya kepedulian terhadap hal tersebut … Adapun gemuk yang tidak menyebabkan berpaling, maka tidak membahayakan manusia. Akan tetapi, jika menyebabkan lalai dan berpaling, ini adalah maksiat.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/old/3881)Kesimpulan:1. Hadits dengan redaksi “Allah membenci orang gemuk” adalah tidak shahih.2. Ulama menjelaskan bahwa gemuk yang tercela adalah gemuk yang terjadi karena terlalu banyak makan dan minum, terlalu banyak santai serta lalai dengan akhirat, bukan gemuk yang menjadi bawaan lahir atau sekedar alasan gemuk saja menjadi tercela.Baca Juga: Suami Sering Makan Enak di Luar Rumah, Istri Makan Seadanya? Jangan Memakan Harta Secara Batil Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Jihad Dalam Islam, Rahmatan Lil Alamin Tulisan Arab, Hadits Tentang Fitnah, Ajaran Ajaran Syiah, Calon Imam Yang Baik
Terdapat hadis masyhur yang menyebar di masyarakat yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk. Akan tetapi, hadis ini tidak sahih. Terkadang hadis ini dibawa untuk memotivasi orang untuk melakukan diet agar menjadi kurus. Benarkah orang gemuk dibenci oleh Allah? Gemuk yang bagaimana? Berikut sedikit pembahasannya.Di bawah ini adalah hadis masyhur yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk,إنَّ الله يبغض الحبر السَّمين“Sesungguhnya Allah membenci seorang ahli ilmu yang berbadan gemuk.”Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid Hafidzahullah menjelaskan bahwa hadis ini tidak sahih dan tidak boleh disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata setelah melakukan penelusuran terhadap sanad hadis ini,بعد البحث عن هذا الحديث تبين لنا أنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فلا تصح نسبته إليه ، ولم يثبت عمن يُروَى عنهم أيضا من الصحابة رضوان الله عليهم .“Setelah menelusuri hadis ini, jelaslah bagi kita bahwa hadis ini tidak berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh menisbatkannya kepada beliau. Hadis ini tidak sahih dari berbagai riwayat para sahabat Radhiallahu ‘anhu.” (as-Su-aal Wal Jawab, no. 137177)Terdapat beberapa hadis lainnya yang secara dzahir menunjukkan tercelanya orang yang gemuk. Akan tetapi, perlu rincian penjelasan dari para ulama tentang apa maksud hadis tersebut. Hal ini karena hadis tersebut bukan mencela gemuk secara mutlak. Hadisnya sebagai berikut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang, akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya. Mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tetapi tidak melaksanakannya, dan tampak pada mereka kegemukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat yang lain,خَيْرُ أُمَّتِى الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ… ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ، يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datanglah suatu kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim dan Ahmad)Baca Juga: Larangan Memaksa Orang Sakit untuk Makan?Sebagian orang bertanya-tanya maksud hadits ini, yaitu bukankah ada orang yang sejal kecil gemuk dan bukan pilihannya? Mengapa dicela? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan dan memberikan jawaban. Beliau Rahimahullah berkata,وهذا الحديث مشكل ؛ لأن ظهور السمن ليس باختيار الإنسان فكيف يكون صفة ذم ؟ قال أهل العلم: المراد أن هؤلاء يعتنون بأسباب السمن من المطاعم والمشارب والترف ، فيكون همهم إصلاح أبدانهم وتسمينها. أما السمن الذي لا اختيار للإنسان فيه ، فلا يذم عليه ، كما لا يذم الإنسان على كونه طويلا أو قصيرا أو أسود أو أبيض“Hadis ini menjadi musykilah (tanda tanya bagi sebagian orang). Karena munculnya kegemukan (bisa jadi) bukan menjadi pilihan manusia. Sehingga bagaimana bisa dicela? Para ulama menjawab, maksudnya adalah mereka yang terlalu perhatian dengan sebab-sebab menjadi gemuk seperti makanan, minuman, dan kemewahan. Perhatian utama mereka adalah badan dan penggemukan. Adapun gemuk yang bukan karena pilihannya, tidaklah tercela sebagaimana tidak tercela pula orang yang tinggi, pendek, hitam, atau putih.” (Majmu’ Fatawa, 10: 1055)An-Nawawi Rahimahullah juga menjelaskan bahwa gemuk yang tercela bukanlah semata-mata gemuk secara alami SAJA, tetapi terkait dengan sikap makan dan minum yang berlebihan. Beliau Rahimahullah berkataوليس معناه أن يتمحضوا سمانا. قالوا: والمذموم منه من يستكسبه. وأما من هو فيه خلقة فلا يدخل في هذا، والمتكسب له هو المتوسع في المأكول والمشروب زائدا على المعتاد.“Maknanya bukan murni menjadi gemuk. Para ulama menjelaskan bahwa yang tercela yaitu yang mengusahakan menjadi gemuk. Adapun yang gemuk secara alami (dari awal), tidak termasuk dalam hadits ini. Maksudnya adalah orang yang sengaja mengusahakan gemuk dengan terlalu berlebihan makan dan minum dari ukuran normal.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 67)Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan dengan tambahan, yaitu orang gemuk yang tercela karena banyak makan dan melupakan akhirat karena gaya hidupnya. Beliau Rahimahullah berkata,يعني تعظم أجسامهم بسبب كثرة الأكل ونسيان الآخرة، يعني تعظم أجسامهم بسبب قلة إيمانهم وقلة خوفهم من الله وقلة مبالاتهم ، قد يسمن الإنسان بغير شيء، …أما السمن إذا كان عن غير إعراض فإنه لا يضر الإنسان، لكن إذا كان عن غفلة وإعراض فهذا هو المصيبة، نسأل الله العافية.“Yaitu badan mereka besar (gemuk) karena banyak makan dan melupakan akhirat. Badan mereka gemuk karena sebab sedikitnya iman dan rasa takur kepada Allah serta sedikitnya kepedulian terhadap hal tersebut … Adapun gemuk yang tidak menyebabkan berpaling, maka tidak membahayakan manusia. Akan tetapi, jika menyebabkan lalai dan berpaling, ini adalah maksiat.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/old/3881)Kesimpulan:1. Hadits dengan redaksi “Allah membenci orang gemuk” adalah tidak shahih.2. Ulama menjelaskan bahwa gemuk yang tercela adalah gemuk yang terjadi karena terlalu banyak makan dan minum, terlalu banyak santai serta lalai dengan akhirat, bukan gemuk yang menjadi bawaan lahir atau sekedar alasan gemuk saja menjadi tercela.Baca Juga: Suami Sering Makan Enak di Luar Rumah, Istri Makan Seadanya? Jangan Memakan Harta Secara Batil Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Jihad Dalam Islam, Rahmatan Lil Alamin Tulisan Arab, Hadits Tentang Fitnah, Ajaran Ajaran Syiah, Calon Imam Yang Baik


Terdapat hadis masyhur yang menyebar di masyarakat yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk. Akan tetapi, hadis ini tidak sahih. Terkadang hadis ini dibawa untuk memotivasi orang untuk melakukan diet agar menjadi kurus. Benarkah orang gemuk dibenci oleh Allah? Gemuk yang bagaimana? Berikut sedikit pembahasannya.Di bawah ini adalah hadis masyhur yang menyatakan bahwa Allah membenci orang gemuk,إنَّ الله يبغض الحبر السَّمين“Sesungguhnya Allah membenci seorang ahli ilmu yang berbadan gemuk.”Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid Hafidzahullah menjelaskan bahwa hadis ini tidak sahih dan tidak boleh disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata setelah melakukan penelusuran terhadap sanad hadis ini,بعد البحث عن هذا الحديث تبين لنا أنه لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فلا تصح نسبته إليه ، ولم يثبت عمن يُروَى عنهم أيضا من الصحابة رضوان الله عليهم .“Setelah menelusuri hadis ini, jelaslah bagi kita bahwa hadis ini tidak berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh menisbatkannya kepada beliau. Hadis ini tidak sahih dari berbagai riwayat para sahabat Radhiallahu ‘anhu.” (as-Su-aal Wal Jawab, no. 137177)Terdapat beberapa hadis lainnya yang secara dzahir menunjukkan tercelanya orang yang gemuk. Akan tetapi, perlu rincian penjelasan dari para ulama tentang apa maksud hadis tersebut. Hal ini karena hadis tersebut bukan mencela gemuk secara mutlak. Hadisnya sebagai berikut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang, akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya. Mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tetapi tidak melaksanakannya, dan tampak pada mereka kegemukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam riwayat yang lain,خَيْرُ أُمَّتِى الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ… ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ، يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datanglah suatu kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim dan Ahmad)Baca Juga: Larangan Memaksa Orang Sakit untuk Makan?Sebagian orang bertanya-tanya maksud hadits ini, yaitu bukankah ada orang yang sejal kecil gemuk dan bukan pilihannya? Mengapa dicela? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan dan memberikan jawaban. Beliau Rahimahullah berkata,وهذا الحديث مشكل ؛ لأن ظهور السمن ليس باختيار الإنسان فكيف يكون صفة ذم ؟ قال أهل العلم: المراد أن هؤلاء يعتنون بأسباب السمن من المطاعم والمشارب والترف ، فيكون همهم إصلاح أبدانهم وتسمينها. أما السمن الذي لا اختيار للإنسان فيه ، فلا يذم عليه ، كما لا يذم الإنسان على كونه طويلا أو قصيرا أو أسود أو أبيض“Hadis ini menjadi musykilah (tanda tanya bagi sebagian orang). Karena munculnya kegemukan (bisa jadi) bukan menjadi pilihan manusia. Sehingga bagaimana bisa dicela? Para ulama menjawab, maksudnya adalah mereka yang terlalu perhatian dengan sebab-sebab menjadi gemuk seperti makanan, minuman, dan kemewahan. Perhatian utama mereka adalah badan dan penggemukan. Adapun gemuk yang bukan karena pilihannya, tidaklah tercela sebagaimana tidak tercela pula orang yang tinggi, pendek, hitam, atau putih.” (Majmu’ Fatawa, 10: 1055)An-Nawawi Rahimahullah juga menjelaskan bahwa gemuk yang tercela bukanlah semata-mata gemuk secara alami SAJA, tetapi terkait dengan sikap makan dan minum yang berlebihan. Beliau Rahimahullah berkataوليس معناه أن يتمحضوا سمانا. قالوا: والمذموم منه من يستكسبه. وأما من هو فيه خلقة فلا يدخل في هذا، والمتكسب له هو المتوسع في المأكول والمشروب زائدا على المعتاد.“Maknanya bukan murni menjadi gemuk. Para ulama menjelaskan bahwa yang tercela yaitu yang mengusahakan menjadi gemuk. Adapun yang gemuk secara alami (dari awal), tidak termasuk dalam hadits ini. Maksudnya adalah orang yang sengaja mengusahakan gemuk dengan terlalu berlebihan makan dan minum dari ukuran normal.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 67)Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah menjelaskan dengan tambahan, yaitu orang gemuk yang tercela karena banyak makan dan melupakan akhirat karena gaya hidupnya. Beliau Rahimahullah berkata,يعني تعظم أجسامهم بسبب كثرة الأكل ونسيان الآخرة، يعني تعظم أجسامهم بسبب قلة إيمانهم وقلة خوفهم من الله وقلة مبالاتهم ، قد يسمن الإنسان بغير شيء، …أما السمن إذا كان عن غير إعراض فإنه لا يضر الإنسان، لكن إذا كان عن غفلة وإعراض فهذا هو المصيبة، نسأل الله العافية.“Yaitu badan mereka besar (gemuk) karena banyak makan dan melupakan akhirat. Badan mereka gemuk karena sebab sedikitnya iman dan rasa takur kepada Allah serta sedikitnya kepedulian terhadap hal tersebut … Adapun gemuk yang tidak menyebabkan berpaling, maka tidak membahayakan manusia. Akan tetapi, jika menyebabkan lalai dan berpaling, ini adalah maksiat.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/old/3881)Kesimpulan:1. Hadits dengan redaksi “Allah membenci orang gemuk” adalah tidak shahih.2. Ulama menjelaskan bahwa gemuk yang tercela adalah gemuk yang terjadi karena terlalu banyak makan dan minum, terlalu banyak santai serta lalai dengan akhirat, bukan gemuk yang menjadi bawaan lahir atau sekedar alasan gemuk saja menjadi tercela.Baca Juga: Suami Sering Makan Enak di Luar Rumah, Istri Makan Seadanya? Jangan Memakan Harta Secara Batil Demikian, semoga bermanfaat.@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Jihad Dalam Islam, Rahmatan Lil Alamin Tulisan Arab, Hadits Tentang Fitnah, Ajaran Ajaran Syiah, Calon Imam Yang Baik

Saat Khutbah Jumat, Apakah Jamaah Mengaminkan Doa ataukah Diam?

Saat khutbah Jumat, apakah jamaah mengaminkan doa ataukah diam?   Pertanyaan Seputar Ibadah (24 September 2021) Dari: Reza Arnanda – Anggota Grup WA Shahib Rumaysho Ikhwan 26   “Assalamu’alaikum Ustadz, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi rahmat kepada Ustadz dan seluruh umat muslim. Bagaimana hukum mengucap ‘aamiin’ pada saat doa khutbah Jumat? Apakah dikeraskan, dipelankan, tidak berucap, atau cukup di dalam hati saja? Dan mana pendapat yang lebih kuat? Jazakallah khairan”.   Jawaban: Coba kita perhatikan hadits-hadits berikut ini tentang larangan berbicara saat khutbah Jumat berlangsung. Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا “Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jumat, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jumat saat ini dan Jumat sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela).” (HR. Muslim, no. 857) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ “Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad, 1:230. Hadits ini dhaif kata Syaikh Al-Albani) Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى “Apabila seseorang mandi pada hari Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya kemudian ia keluar rumah, lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR. Bukhari, no. 934 dan Muslim, no. 851).   Tentang Mengaminkan Doa dan Menjawab Shalawat Saat Khutbah Jumat Ada pertanyaan yang ditujukan kepada komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (nomor fatwa 17879): Jika imam pada hari Jumat di mimbar menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah disyariatkan untuk menjawabnya? Jawaban: Jika khatib memulai khutbah pada hari Jumat, kita diwajiban untuk diam. Ketia itu diharamkan untuk berbicara karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaih). Adapun jika khatib berdoa atau bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, boleh diaminkan dan boleh bershalawat, tetapi dilakukan dengan suara lirih, tidak dengan suara keras. Inilah pengompromian dua macam dalil. Karena shalawat dan mengaminkan doa tidak termasuk dalam kalam (berbicara) yang terlarang ketika mendengarkan khutbah. Kedua hal tadi adalah ibadah yang berdiri sendiri. Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 7:127-128, saat diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Semoga manfaat untuk yang bertanya dan menjadi ilmu bagi kita semua.   Baca Juga: Cara Wudhu dan Tata Cara Mendengar Khutbah Jumat Dalil Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jumat — Disusun pada 19 Safar 1443 H, 26 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab mendengar khutbah jumat khutbah jumat diam

Saat Khutbah Jumat, Apakah Jamaah Mengaminkan Doa ataukah Diam?

Saat khutbah Jumat, apakah jamaah mengaminkan doa ataukah diam?   Pertanyaan Seputar Ibadah (24 September 2021) Dari: Reza Arnanda – Anggota Grup WA Shahib Rumaysho Ikhwan 26   “Assalamu’alaikum Ustadz, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi rahmat kepada Ustadz dan seluruh umat muslim. Bagaimana hukum mengucap ‘aamiin’ pada saat doa khutbah Jumat? Apakah dikeraskan, dipelankan, tidak berucap, atau cukup di dalam hati saja? Dan mana pendapat yang lebih kuat? Jazakallah khairan”.   Jawaban: Coba kita perhatikan hadits-hadits berikut ini tentang larangan berbicara saat khutbah Jumat berlangsung. Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا “Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jumat, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jumat saat ini dan Jumat sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela).” (HR. Muslim, no. 857) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ “Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad, 1:230. Hadits ini dhaif kata Syaikh Al-Albani) Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى “Apabila seseorang mandi pada hari Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya kemudian ia keluar rumah, lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR. Bukhari, no. 934 dan Muslim, no. 851).   Tentang Mengaminkan Doa dan Menjawab Shalawat Saat Khutbah Jumat Ada pertanyaan yang ditujukan kepada komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (nomor fatwa 17879): Jika imam pada hari Jumat di mimbar menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah disyariatkan untuk menjawabnya? Jawaban: Jika khatib memulai khutbah pada hari Jumat, kita diwajiban untuk diam. Ketia itu diharamkan untuk berbicara karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaih). Adapun jika khatib berdoa atau bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, boleh diaminkan dan boleh bershalawat, tetapi dilakukan dengan suara lirih, tidak dengan suara keras. Inilah pengompromian dua macam dalil. Karena shalawat dan mengaminkan doa tidak termasuk dalam kalam (berbicara) yang terlarang ketika mendengarkan khutbah. Kedua hal tadi adalah ibadah yang berdiri sendiri. Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 7:127-128, saat diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Semoga manfaat untuk yang bertanya dan menjadi ilmu bagi kita semua.   Baca Juga: Cara Wudhu dan Tata Cara Mendengar Khutbah Jumat Dalil Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jumat — Disusun pada 19 Safar 1443 H, 26 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab mendengar khutbah jumat khutbah jumat diam
Saat khutbah Jumat, apakah jamaah mengaminkan doa ataukah diam?   Pertanyaan Seputar Ibadah (24 September 2021) Dari: Reza Arnanda – Anggota Grup WA Shahib Rumaysho Ikhwan 26   “Assalamu’alaikum Ustadz, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi rahmat kepada Ustadz dan seluruh umat muslim. Bagaimana hukum mengucap ‘aamiin’ pada saat doa khutbah Jumat? Apakah dikeraskan, dipelankan, tidak berucap, atau cukup di dalam hati saja? Dan mana pendapat yang lebih kuat? Jazakallah khairan”.   Jawaban: Coba kita perhatikan hadits-hadits berikut ini tentang larangan berbicara saat khutbah Jumat berlangsung. Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا “Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jumat, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jumat saat ini dan Jumat sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela).” (HR. Muslim, no. 857) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ “Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad, 1:230. Hadits ini dhaif kata Syaikh Al-Albani) Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى “Apabila seseorang mandi pada hari Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya kemudian ia keluar rumah, lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR. Bukhari, no. 934 dan Muslim, no. 851).   Tentang Mengaminkan Doa dan Menjawab Shalawat Saat Khutbah Jumat Ada pertanyaan yang ditujukan kepada komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (nomor fatwa 17879): Jika imam pada hari Jumat di mimbar menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah disyariatkan untuk menjawabnya? Jawaban: Jika khatib memulai khutbah pada hari Jumat, kita diwajiban untuk diam. Ketia itu diharamkan untuk berbicara karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaih). Adapun jika khatib berdoa atau bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, boleh diaminkan dan boleh bershalawat, tetapi dilakukan dengan suara lirih, tidak dengan suara keras. Inilah pengompromian dua macam dalil. Karena shalawat dan mengaminkan doa tidak termasuk dalam kalam (berbicara) yang terlarang ketika mendengarkan khutbah. Kedua hal tadi adalah ibadah yang berdiri sendiri. Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 7:127-128, saat diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Semoga manfaat untuk yang bertanya dan menjadi ilmu bagi kita semua.   Baca Juga: Cara Wudhu dan Tata Cara Mendengar Khutbah Jumat Dalil Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jumat — Disusun pada 19 Safar 1443 H, 26 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab mendengar khutbah jumat khutbah jumat diam


Saat khutbah Jumat, apakah jamaah mengaminkan doa ataukah diam?   Pertanyaan Seputar Ibadah (24 September 2021) Dari: Reza Arnanda – Anggota Grup WA Shahib Rumaysho Ikhwan 26   “Assalamu’alaikum Ustadz, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi rahmat kepada Ustadz dan seluruh umat muslim. Bagaimana hukum mengucap ‘aamiin’ pada saat doa khutbah Jumat? Apakah dikeraskan, dipelankan, tidak berucap, atau cukup di dalam hati saja? Dan mana pendapat yang lebih kuat? Jazakallah khairan”.   Jawaban: Coba kita perhatikan hadits-hadits berikut ini tentang larangan berbicara saat khutbah Jumat berlangsung. Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا “Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jumat, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jumat saat ini dan Jumat sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela).” (HR. Muslim, no. 857) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ “Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad, 1:230. Hadits ini dhaif kata Syaikh Al-Albani) Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى “Apabila seseorang mandi pada hari Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya kemudian ia keluar rumah, lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” (HR. Bukhari, no. 883) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR. Bukhari, no. 934 dan Muslim, no. 851).   Tentang Mengaminkan Doa dan Menjawab Shalawat Saat Khutbah Jumat Ada pertanyaan yang ditujukan kepada komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia (nomor fatwa 17879): Jika imam pada hari Jumat di mimbar menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah disyariatkan untuk menjawabnya? Jawaban: Jika khatib memulai khutbah pada hari Jumat, kita diwajiban untuk diam. Ketia itu diharamkan untuk berbicara karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaih). Adapun jika khatib berdoa atau bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, boleh diaminkan dan boleh bershalawat, tetapi dilakukan dengan suara lirih, tidak dengan suara keras. Inilah pengompromian dua macam dalil. Karena shalawat dan mengaminkan doa tidak termasuk dalam kalam (berbicara) yang terlarang ketika mendengarkan khutbah. Kedua hal tadi adalah ibadah yang berdiri sendiri. Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’, 7:127-128, saat diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Semoga manfaat untuk yang bertanya dan menjadi ilmu bagi kita semua.   Baca Juga: Cara Wudhu dan Tata Cara Mendengar Khutbah Jumat Dalil Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah Jumat — Disusun pada 19 Safar 1443 H, 26 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab mendengar khutbah jumat khutbah jumat diam

Dua Cara Pokok untuk Sukses dalam Belajar: Mendengarkan Saksama dan Fokus Memikirkan

Ada dua cara pokok agar kita sukses dalam belajar, yaitu mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan. Coba kita renungkan, jika kita mendengarkan dengan baik dan fokus saat mengambil ilmu (ngaji), walau kita tidak melihat penyampaian, pasti ilmu tetap masuk. Betul tidak?   Coba kita renungkan ayat berikut di mana Allah menyifati penduduk neraka dengan kebodohan. Mereka disebut bodoh karena terhalang dari jalan mendapatkan ilmu. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10-11). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Mereka tidak mendapatkan ilmu karena tidak mendengar dan tidak memikirkan. Mendengar dan memikirkan adalah dua asal pokok dari mendapatkan ilmu.” (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:242) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka tidaklah mendapatkan ilmu karena tidak memiliki tiga hal yaitu akal, mendengar, dan melihat. Sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan, صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ “Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 171) Dalam ayat lain disebutkan, أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ “Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (QS. Al-Ahqaf: 26)   Dalam Miftah Daar As-Sa’adah (1:242-243), “Orang yang masuk neraka disifatkan oleh Allah terkadang dengan: binatang ternak keledai yang membawa kitab yang tebal lebih sesat dari binatang ternak sejelek-jelek hewan orang mati, tidak hidup berada dalam kegelapan kebodohan dan kesesatan hati mereka tertutup telinga mereka tersumbat pandangan mereka penglihatan mereka tertutup Pensifatan ini semua menunjukkan akan jeleknya kebodohan. Pelakunya tercela dan dibenci. Sebaliknya, ahli ilmu itu dicintai, disanjung, dan dipuji.” Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca kemudahan dalam meraih ilmu dengan mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan.   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:242-243. Baca Juga: Muslim Harus Punya Motivasi Tinggi dalam Belajar Agama Biar Tertarik Belajar Agama (1) — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara belajar keutamaan ilmu kiat belajar

Dua Cara Pokok untuk Sukses dalam Belajar: Mendengarkan Saksama dan Fokus Memikirkan

Ada dua cara pokok agar kita sukses dalam belajar, yaitu mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan. Coba kita renungkan, jika kita mendengarkan dengan baik dan fokus saat mengambil ilmu (ngaji), walau kita tidak melihat penyampaian, pasti ilmu tetap masuk. Betul tidak?   Coba kita renungkan ayat berikut di mana Allah menyifati penduduk neraka dengan kebodohan. Mereka disebut bodoh karena terhalang dari jalan mendapatkan ilmu. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10-11). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Mereka tidak mendapatkan ilmu karena tidak mendengar dan tidak memikirkan. Mendengar dan memikirkan adalah dua asal pokok dari mendapatkan ilmu.” (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:242) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka tidaklah mendapatkan ilmu karena tidak memiliki tiga hal yaitu akal, mendengar, dan melihat. Sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan, صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ “Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 171) Dalam ayat lain disebutkan, أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ “Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (QS. Al-Ahqaf: 26)   Dalam Miftah Daar As-Sa’adah (1:242-243), “Orang yang masuk neraka disifatkan oleh Allah terkadang dengan: binatang ternak keledai yang membawa kitab yang tebal lebih sesat dari binatang ternak sejelek-jelek hewan orang mati, tidak hidup berada dalam kegelapan kebodohan dan kesesatan hati mereka tertutup telinga mereka tersumbat pandangan mereka penglihatan mereka tertutup Pensifatan ini semua menunjukkan akan jeleknya kebodohan. Pelakunya tercela dan dibenci. Sebaliknya, ahli ilmu itu dicintai, disanjung, dan dipuji.” Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca kemudahan dalam meraih ilmu dengan mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan.   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:242-243. Baca Juga: Muslim Harus Punya Motivasi Tinggi dalam Belajar Agama Biar Tertarik Belajar Agama (1) — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara belajar keutamaan ilmu kiat belajar
Ada dua cara pokok agar kita sukses dalam belajar, yaitu mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan. Coba kita renungkan, jika kita mendengarkan dengan baik dan fokus saat mengambil ilmu (ngaji), walau kita tidak melihat penyampaian, pasti ilmu tetap masuk. Betul tidak?   Coba kita renungkan ayat berikut di mana Allah menyifati penduduk neraka dengan kebodohan. Mereka disebut bodoh karena terhalang dari jalan mendapatkan ilmu. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10-11). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Mereka tidak mendapatkan ilmu karena tidak mendengar dan tidak memikirkan. Mendengar dan memikirkan adalah dua asal pokok dari mendapatkan ilmu.” (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:242) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka tidaklah mendapatkan ilmu karena tidak memiliki tiga hal yaitu akal, mendengar, dan melihat. Sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan, صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ “Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 171) Dalam ayat lain disebutkan, أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ “Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (QS. Al-Ahqaf: 26)   Dalam Miftah Daar As-Sa’adah (1:242-243), “Orang yang masuk neraka disifatkan oleh Allah terkadang dengan: binatang ternak keledai yang membawa kitab yang tebal lebih sesat dari binatang ternak sejelek-jelek hewan orang mati, tidak hidup berada dalam kegelapan kebodohan dan kesesatan hati mereka tertutup telinga mereka tersumbat pandangan mereka penglihatan mereka tertutup Pensifatan ini semua menunjukkan akan jeleknya kebodohan. Pelakunya tercela dan dibenci. Sebaliknya, ahli ilmu itu dicintai, disanjung, dan dipuji.” Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca kemudahan dalam meraih ilmu dengan mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan.   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:242-243. Baca Juga: Muslim Harus Punya Motivasi Tinggi dalam Belajar Agama Biar Tertarik Belajar Agama (1) — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara belajar keutamaan ilmu kiat belajar


Ada dua cara pokok agar kita sukses dalam belajar, yaitu mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan. Coba kita renungkan, jika kita mendengarkan dengan baik dan fokus saat mengambil ilmu (ngaji), walau kita tidak melihat penyampaian, pasti ilmu tetap masuk. Betul tidak?   Coba kita renungkan ayat berikut di mana Allah menyifati penduduk neraka dengan kebodohan. Mereka disebut bodoh karena terhalang dari jalan mendapatkan ilmu. Allah Ta’ala berfirman, وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10-11). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Mereka tidak mendapatkan ilmu karena tidak mendengar dan tidak memikirkan. Mendengar dan memikirkan adalah dua asal pokok dari mendapatkan ilmu.” (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:242) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka tidaklah mendapatkan ilmu karena tidak memiliki tiga hal yaitu akal, mendengar, dan melihat. Sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan, صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ “Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 171) Dalam ayat lain disebutkan, أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46) Dalam ayat lain disebutkan, وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ “Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (QS. Al-Ahqaf: 26)   Dalam Miftah Daar As-Sa’adah (1:242-243), “Orang yang masuk neraka disifatkan oleh Allah terkadang dengan: binatang ternak keledai yang membawa kitab yang tebal lebih sesat dari binatang ternak sejelek-jelek hewan orang mati, tidak hidup berada dalam kegelapan kebodohan dan kesesatan hati mereka tertutup telinga mereka tersumbat pandangan mereka penglihatan mereka tertutup Pensifatan ini semua menunjukkan akan jeleknya kebodohan. Pelakunya tercela dan dibenci. Sebaliknya, ahli ilmu itu dicintai, disanjung, dan dipuji.” Semoga Allah memberikan kepada penulis dan pembaca kemudahan dalam meraih ilmu dengan mendengarkan secara saksama dan fokus memikirkan.   Referensi: Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan. Mulai dari 1:242-243. Baca Juga: Muslim Harus Punya Motivasi Tinggi dalam Belajar Agama Biar Tertarik Belajar Agama (1) — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara belajar keutamaan ilmu kiat belajar

Hukum Melakukan Salat di Belakang Imam yang Melakukan Salat Wajib Sebelum Waktunya

Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jika salat wajib dilaksanakan sebelum waktunya, apakah boleh kami salat bersama para jamaah dengan niat salat sunnah, dan setelah masuk waktunya kami melakukan salat wajib?Jawaban:Dibolehkan salat bersama imam tersebut yang melakukan salat wajib sebelum waktunya, kemudian salat kembali ketika masuk waktu salat wajib. Hal ini karena menerapkan kaidah tentang bolehnya perbedaan niat (antara imam dan makmum). Kaidah ini diperkuat dengan dalil yang banyak. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim. Bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَت عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا؟“Bagaimana pendapatmu jika Engkau dipimpin oleh para penguasa yang mengakhirkan salat dari waktunya (baru mendirikan salat setelah waktu salat habis, pent.), atau meninggalkan salat dari waktunya?”قَالَ: قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي؟Aku menjawab, “Lantas apa yang Engkau perintahkan kepadaku?”قَالَ: صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌBeliau bersabda, “Lakukanlah salat tepat pada waktunya! Jika kamu mendapati bersama mereka (sedang salat), maka salatlah lagi! Sebab hal itu dihitung pahala sunnah bagimu.” (HR. Muslim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu).Dan tidak samar lagi bahwa melaksanakan salat setelah waktunya habis itu dinilai sama dengan melaksanakan salat sebelum masuk waktunya.والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-144Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dalil Shalat Berjamaah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Hadist Tentang Sholat Tarawih, Hadis Nabi Tentang Dajjal, Lafal Hadits Tentang Silaturahmi

Hukum Melakukan Salat di Belakang Imam yang Melakukan Salat Wajib Sebelum Waktunya

Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jika salat wajib dilaksanakan sebelum waktunya, apakah boleh kami salat bersama para jamaah dengan niat salat sunnah, dan setelah masuk waktunya kami melakukan salat wajib?Jawaban:Dibolehkan salat bersama imam tersebut yang melakukan salat wajib sebelum waktunya, kemudian salat kembali ketika masuk waktu salat wajib. Hal ini karena menerapkan kaidah tentang bolehnya perbedaan niat (antara imam dan makmum). Kaidah ini diperkuat dengan dalil yang banyak. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim. Bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَت عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا؟“Bagaimana pendapatmu jika Engkau dipimpin oleh para penguasa yang mengakhirkan salat dari waktunya (baru mendirikan salat setelah waktu salat habis, pent.), atau meninggalkan salat dari waktunya?”قَالَ: قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي؟Aku menjawab, “Lantas apa yang Engkau perintahkan kepadaku?”قَالَ: صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌBeliau bersabda, “Lakukanlah salat tepat pada waktunya! Jika kamu mendapati bersama mereka (sedang salat), maka salatlah lagi! Sebab hal itu dihitung pahala sunnah bagimu.” (HR. Muslim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu).Dan tidak samar lagi bahwa melaksanakan salat setelah waktunya habis itu dinilai sama dengan melaksanakan salat sebelum masuk waktunya.والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-144Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dalil Shalat Berjamaah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Hadist Tentang Sholat Tarawih, Hadis Nabi Tentang Dajjal, Lafal Hadits Tentang Silaturahmi
Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jika salat wajib dilaksanakan sebelum waktunya, apakah boleh kami salat bersama para jamaah dengan niat salat sunnah, dan setelah masuk waktunya kami melakukan salat wajib?Jawaban:Dibolehkan salat bersama imam tersebut yang melakukan salat wajib sebelum waktunya, kemudian salat kembali ketika masuk waktu salat wajib. Hal ini karena menerapkan kaidah tentang bolehnya perbedaan niat (antara imam dan makmum). Kaidah ini diperkuat dengan dalil yang banyak. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim. Bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَت عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا؟“Bagaimana pendapatmu jika Engkau dipimpin oleh para penguasa yang mengakhirkan salat dari waktunya (baru mendirikan salat setelah waktu salat habis, pent.), atau meninggalkan salat dari waktunya?”قَالَ: قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي؟Aku menjawab, “Lantas apa yang Engkau perintahkan kepadaku?”قَالَ: صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌBeliau bersabda, “Lakukanlah salat tepat pada waktunya! Jika kamu mendapati bersama mereka (sedang salat), maka salatlah lagi! Sebab hal itu dihitung pahala sunnah bagimu.” (HR. Muslim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu).Dan tidak samar lagi bahwa melaksanakan salat setelah waktunya habis itu dinilai sama dengan melaksanakan salat sebelum masuk waktunya.والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-144Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dalil Shalat Berjamaah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Hadist Tentang Sholat Tarawih, Hadis Nabi Tentang Dajjal, Lafal Hadits Tentang Silaturahmi


Fatwa Syekh Muhammad Ali FarkusPertanyaan:Jika salat wajib dilaksanakan sebelum waktunya, apakah boleh kami salat bersama para jamaah dengan niat salat sunnah, dan setelah masuk waktunya kami melakukan salat wajib?Jawaban:Dibolehkan salat bersama imam tersebut yang melakukan salat wajib sebelum waktunya, kemudian salat kembali ketika masuk waktu salat wajib. Hal ini karena menerapkan kaidah tentang bolehnya perbedaan niat (antara imam dan makmum). Kaidah ini diperkuat dengan dalil yang banyak. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim. Bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَت عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا؟“Bagaimana pendapatmu jika Engkau dipimpin oleh para penguasa yang mengakhirkan salat dari waktunya (baru mendirikan salat setelah waktu salat habis, pent.), atau meninggalkan salat dari waktunya?”قَالَ: قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي؟Aku menjawab, “Lantas apa yang Engkau perintahkan kepadaku?”قَالَ: صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌBeliau bersabda, “Lakukanlah salat tepat pada waktunya! Jika kamu mendapati bersama mereka (sedang salat), maka salatlah lagi! Sebab hal itu dihitung pahala sunnah bagimu.” (HR. Muslim dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu).Dan tidak samar lagi bahwa melaksanakan salat setelah waktunya habis itu dinilai sama dengan melaksanakan salat sebelum masuk waktunya.والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.Sumber: https://ferkous.com/home/?q=fatwa-144Baca Juga:Penerjemah: Fauzan Hidayat, S.STP., MPAArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dalil Shalat Berjamaah, Pasangan Yang Baik Menurut Islam, Hadist Tentang Sholat Tarawih, Hadis Nabi Tentang Dajjal, Lafal Hadits Tentang Silaturahmi

Bagian Dahi Tertutup Mukena Saat Sujud Ketika Shalat, Batalkah Shalatnya?

Apakah sah jika shalat dalam keadaan mukena menutupi dahi?   Pertanyaan Seputar Ibadah (13 September 2021) Dari: Mariya – Member Telegram Shahib Rumaysho   “Assalamualaikum. Izin bertanya Ustadz. Dalam shalat, telapak tangan, hidung, dan dahi harus menempel di tempat sujud/lantai, tetapi ketika saat sujud, bagian-bagian tersebut tertutupi oleh kerudung/mukena (kerudung/mukena mengahalangi bagian wajah/tangan untuk langsung menempel ke lantai/sajadah). Apakah hal seperti ini bisa membatalkan shalat? Jazakallah khair atas jawabannya”.   Jawaban: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812 dan Muslim, no. 490) Baca juga: Sujud pada Tujuh Anggota Tubuh Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dari anggota tubuh tersebut tidak menyentuh lantai, shalatnya berarti tidak sah. Namun, jika kita katakan wajib, bukan berarti telapak kaki dan lutut harus dalam keadaan terbuka. Adapun untuk telapak tangan wajib terbuka menurut salah satu pendapat ulama Syafi’iyah sebagaimana dahi demikian. Namun, yang lebih tepat adalah tidaklah wajib terbuka untuk kedua telapak tangan.” (Syarh Shahih Muslim, 4:185) Baca juga: Menempelkan Hidung Saat Sujud, Wajibkah?   Dari hadits di atas, ulama Syafiiyah menyimpulkan dalam syarat sujud sebagaimana disebutkan dalam Safinah An-Naja, وَ2- أَنْ تَكُوْنَ جَبْهَتُهَ مَكْشُوْفَةً. [2] dahinya terbuka,   Dahi adalah bagian wajah yang panjangnya antara dua pelipis (shudghoini), dan lebarnya antara rambut kepala dengan kedua alis. Dahi (jabhah) di sini harus dalam keadaan terbuka. Jika sebagian kulit dahi atau rambutnya dapat terkena secara langsung tempat sujudnya, sudah dianggap sah. Demikian dijelaskan dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja’, hlm. 246-247. Kalau bagian mukena atas (mukena yang menempel sekitar dahi) atau pecis ada yang menutupi dahi, tetapi masih ada bagian dahi yang terbuka lalu menempel pada tanah atau lantai, maka sujud dan shalat tetap sah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Bila masih ada sebagian dahi yang terbuka sehingga ada sebagian yang menempel pada tempat sujud, maka sujudnya sah, tetapi yang disunnahkan adalah dahi terbuka semua dan bisa menempel dengan sempurna.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, 1:145) Adapun kalau yang dimaksud adalah sujud di atas mukena yang melebar saat sujud, sehingga dahi saat sujud beralaskan mukena, maka ada penjelasan syarat sujud yang disebutkan dalam kitab Safinah An-Naja’ adalah: وَ5- أَنْ لاَ يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ. “tidak sujud di atas sesuatu yang bergerak-gerak (mengikuti gerakannya)“, maksudnya adalah tidak sujud di atas sesuatu yang dibawanya dan bergerak mengikuti gerakannya. Hal ini akan membatalkan shalat jika ia tahu dan sengaja. Jika tidak, maka sujudnya harus diulang. Lihat Nail Ar-Raja’, hlm. 247-248. Baca juga: Cara Sujud dari Penjelasan Safinah An-Naja’ Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.   Baca Juga: Aurat Terbuka dalam Shalat dan Langsung Ditutup, Apakah Shalatnya Batal? Melipat Celana dan Lengan Baju Saat Shalat — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat cara sujud

Bagian Dahi Tertutup Mukena Saat Sujud Ketika Shalat, Batalkah Shalatnya?

Apakah sah jika shalat dalam keadaan mukena menutupi dahi?   Pertanyaan Seputar Ibadah (13 September 2021) Dari: Mariya – Member Telegram Shahib Rumaysho   “Assalamualaikum. Izin bertanya Ustadz. Dalam shalat, telapak tangan, hidung, dan dahi harus menempel di tempat sujud/lantai, tetapi ketika saat sujud, bagian-bagian tersebut tertutupi oleh kerudung/mukena (kerudung/mukena mengahalangi bagian wajah/tangan untuk langsung menempel ke lantai/sajadah). Apakah hal seperti ini bisa membatalkan shalat? Jazakallah khair atas jawabannya”.   Jawaban: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812 dan Muslim, no. 490) Baca juga: Sujud pada Tujuh Anggota Tubuh Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dari anggota tubuh tersebut tidak menyentuh lantai, shalatnya berarti tidak sah. Namun, jika kita katakan wajib, bukan berarti telapak kaki dan lutut harus dalam keadaan terbuka. Adapun untuk telapak tangan wajib terbuka menurut salah satu pendapat ulama Syafi’iyah sebagaimana dahi demikian. Namun, yang lebih tepat adalah tidaklah wajib terbuka untuk kedua telapak tangan.” (Syarh Shahih Muslim, 4:185) Baca juga: Menempelkan Hidung Saat Sujud, Wajibkah?   Dari hadits di atas, ulama Syafiiyah menyimpulkan dalam syarat sujud sebagaimana disebutkan dalam Safinah An-Naja, وَ2- أَنْ تَكُوْنَ جَبْهَتُهَ مَكْشُوْفَةً. [2] dahinya terbuka,   Dahi adalah bagian wajah yang panjangnya antara dua pelipis (shudghoini), dan lebarnya antara rambut kepala dengan kedua alis. Dahi (jabhah) di sini harus dalam keadaan terbuka. Jika sebagian kulit dahi atau rambutnya dapat terkena secara langsung tempat sujudnya, sudah dianggap sah. Demikian dijelaskan dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja’, hlm. 246-247. Kalau bagian mukena atas (mukena yang menempel sekitar dahi) atau pecis ada yang menutupi dahi, tetapi masih ada bagian dahi yang terbuka lalu menempel pada tanah atau lantai, maka sujud dan shalat tetap sah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Bila masih ada sebagian dahi yang terbuka sehingga ada sebagian yang menempel pada tempat sujud, maka sujudnya sah, tetapi yang disunnahkan adalah dahi terbuka semua dan bisa menempel dengan sempurna.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, 1:145) Adapun kalau yang dimaksud adalah sujud di atas mukena yang melebar saat sujud, sehingga dahi saat sujud beralaskan mukena, maka ada penjelasan syarat sujud yang disebutkan dalam kitab Safinah An-Naja’ adalah: وَ5- أَنْ لاَ يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ. “tidak sujud di atas sesuatu yang bergerak-gerak (mengikuti gerakannya)“, maksudnya adalah tidak sujud di atas sesuatu yang dibawanya dan bergerak mengikuti gerakannya. Hal ini akan membatalkan shalat jika ia tahu dan sengaja. Jika tidak, maka sujudnya harus diulang. Lihat Nail Ar-Raja’, hlm. 247-248. Baca juga: Cara Sujud dari Penjelasan Safinah An-Naja’ Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.   Baca Juga: Aurat Terbuka dalam Shalat dan Langsung Ditutup, Apakah Shalatnya Batal? Melipat Celana dan Lengan Baju Saat Shalat — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat cara sujud
Apakah sah jika shalat dalam keadaan mukena menutupi dahi?   Pertanyaan Seputar Ibadah (13 September 2021) Dari: Mariya – Member Telegram Shahib Rumaysho   “Assalamualaikum. Izin bertanya Ustadz. Dalam shalat, telapak tangan, hidung, dan dahi harus menempel di tempat sujud/lantai, tetapi ketika saat sujud, bagian-bagian tersebut tertutupi oleh kerudung/mukena (kerudung/mukena mengahalangi bagian wajah/tangan untuk langsung menempel ke lantai/sajadah). Apakah hal seperti ini bisa membatalkan shalat? Jazakallah khair atas jawabannya”.   Jawaban: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812 dan Muslim, no. 490) Baca juga: Sujud pada Tujuh Anggota Tubuh Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dari anggota tubuh tersebut tidak menyentuh lantai, shalatnya berarti tidak sah. Namun, jika kita katakan wajib, bukan berarti telapak kaki dan lutut harus dalam keadaan terbuka. Adapun untuk telapak tangan wajib terbuka menurut salah satu pendapat ulama Syafi’iyah sebagaimana dahi demikian. Namun, yang lebih tepat adalah tidaklah wajib terbuka untuk kedua telapak tangan.” (Syarh Shahih Muslim, 4:185) Baca juga: Menempelkan Hidung Saat Sujud, Wajibkah?   Dari hadits di atas, ulama Syafiiyah menyimpulkan dalam syarat sujud sebagaimana disebutkan dalam Safinah An-Naja, وَ2- أَنْ تَكُوْنَ جَبْهَتُهَ مَكْشُوْفَةً. [2] dahinya terbuka,   Dahi adalah bagian wajah yang panjangnya antara dua pelipis (shudghoini), dan lebarnya antara rambut kepala dengan kedua alis. Dahi (jabhah) di sini harus dalam keadaan terbuka. Jika sebagian kulit dahi atau rambutnya dapat terkena secara langsung tempat sujudnya, sudah dianggap sah. Demikian dijelaskan dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja’, hlm. 246-247. Kalau bagian mukena atas (mukena yang menempel sekitar dahi) atau pecis ada yang menutupi dahi, tetapi masih ada bagian dahi yang terbuka lalu menempel pada tanah atau lantai, maka sujud dan shalat tetap sah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Bila masih ada sebagian dahi yang terbuka sehingga ada sebagian yang menempel pada tempat sujud, maka sujudnya sah, tetapi yang disunnahkan adalah dahi terbuka semua dan bisa menempel dengan sempurna.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, 1:145) Adapun kalau yang dimaksud adalah sujud di atas mukena yang melebar saat sujud, sehingga dahi saat sujud beralaskan mukena, maka ada penjelasan syarat sujud yang disebutkan dalam kitab Safinah An-Naja’ adalah: وَ5- أَنْ لاَ يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ. “tidak sujud di atas sesuatu yang bergerak-gerak (mengikuti gerakannya)“, maksudnya adalah tidak sujud di atas sesuatu yang dibawanya dan bergerak mengikuti gerakannya. Hal ini akan membatalkan shalat jika ia tahu dan sengaja. Jika tidak, maka sujudnya harus diulang. Lihat Nail Ar-Raja’, hlm. 247-248. Baca juga: Cara Sujud dari Penjelasan Safinah An-Naja’ Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.   Baca Juga: Aurat Terbuka dalam Shalat dan Langsung Ditutup, Apakah Shalatnya Batal? Melipat Celana dan Lengan Baju Saat Shalat — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat cara sujud


Apakah sah jika shalat dalam keadaan mukena menutupi dahi?   Pertanyaan Seputar Ibadah (13 September 2021) Dari: Mariya – Member Telegram Shahib Rumaysho   “Assalamualaikum. Izin bertanya Ustadz. Dalam shalat, telapak tangan, hidung, dan dahi harus menempel di tempat sujud/lantai, tetapi ketika saat sujud, bagian-bagian tersebut tertutupi oleh kerudung/mukena (kerudung/mukena mengahalangi bagian wajah/tangan untuk langsung menempel ke lantai/sajadah). Apakah hal seperti ini bisa membatalkan shalat? Jazakallah khair atas jawabannya”.   Jawaban: Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ “Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri.” (HR. Bukhari, no. 812 dan Muslim, no. 490) Baca juga: Sujud pada Tujuh Anggota Tubuh Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika dari anggota tubuh tersebut tidak menyentuh lantai, shalatnya berarti tidak sah. Namun, jika kita katakan wajib, bukan berarti telapak kaki dan lutut harus dalam keadaan terbuka. Adapun untuk telapak tangan wajib terbuka menurut salah satu pendapat ulama Syafi’iyah sebagaimana dahi demikian. Namun, yang lebih tepat adalah tidaklah wajib terbuka untuk kedua telapak tangan.” (Syarh Shahih Muslim, 4:185) Baca juga: Menempelkan Hidung Saat Sujud, Wajibkah?   Dari hadits di atas, ulama Syafiiyah menyimpulkan dalam syarat sujud sebagaimana disebutkan dalam Safinah An-Naja, وَ2- أَنْ تَكُوْنَ جَبْهَتُهَ مَكْشُوْفَةً. [2] dahinya terbuka,   Dahi adalah bagian wajah yang panjangnya antara dua pelipis (shudghoini), dan lebarnya antara rambut kepala dengan kedua alis. Dahi (jabhah) di sini harus dalam keadaan terbuka. Jika sebagian kulit dahi atau rambutnya dapat terkena secara langsung tempat sujudnya, sudah dianggap sah. Demikian dijelaskan dalam Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja’, hlm. 246-247. Kalau bagian mukena atas (mukena yang menempel sekitar dahi) atau pecis ada yang menutupi dahi, tetapi masih ada bagian dahi yang terbuka lalu menempel pada tanah atau lantai, maka sujud dan shalat tetap sah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Bila masih ada sebagian dahi yang terbuka sehingga ada sebagian yang menempel pada tempat sujud, maka sujudnya sah, tetapi yang disunnahkan adalah dahi terbuka semua dan bisa menempel dengan sempurna.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, 1:145) Adapun kalau yang dimaksud adalah sujud di atas mukena yang melebar saat sujud, sehingga dahi saat sujud beralaskan mukena, maka ada penjelasan syarat sujud yang disebutkan dalam kitab Safinah An-Naja’ adalah: وَ5- أَنْ لاَ يَسْجُدَ عَلَى شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ. “tidak sujud di atas sesuatu yang bergerak-gerak (mengikuti gerakannya)“, maksudnya adalah tidak sujud di atas sesuatu yang dibawanya dan bergerak mengikuti gerakannya. Hal ini akan membatalkan shalat jika ia tahu dan sengaja. Jika tidak, maka sujudnya harus diulang. Lihat Nail Ar-Raja’, hlm. 247-248. Baca juga: Cara Sujud dari Penjelasan Safinah An-Naja’ Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.   Baca Juga: Aurat Terbuka dalam Shalat dan Langsung Ditutup, Apakah Shalatnya Batal? Melipat Celana dan Lengan Baju Saat Shalat — Disusun pada 18 Safar 1443 H, 25 September 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat cara sujud

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama Beliau berkata, dan diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah. Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan dari bintang-bintang, dan (4) meratapi orang mati.” Kemudian beliau bersabda, “Dan wanita yang meratapi mayit, jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan memakai pakaian dari kuningan yang dilelehkan dan baju kurung dari penyakit kulit.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab ash-Shahihnya. Sungguh hadits yang sangat menakutkan! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah …” Maksud kata “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau, yakni muslimin. Yang beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maksud, kaum muslimin. “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau. Dan mereka adalah yang telah bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah. Mereka melakukan empat perkara itu. Beliau bersabda, “Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu.” Bukan berarti seluruh umat ini melakukannya, akan tetapi dari sebagian umat ada yang melakukan ini, ada yang sedikit melakukannya dan ada pula yang banyak. Mungkin di sebagian negeri, empat perkara itu dilakukan, di bagian negeri lain hanya tiga, dan di bagian negeri lain hanya dua, dan di bagian lain hanya satu. Di sebagian negeri terjadi penghinaan nasab, di negeri lain terjadi pembanggaan leluhur, di negeri lainnya terjadi peratapan mayit, dan di negeri lain dilakukan minta hujan kepada bintang-bintang. Pada intinya, empat perkara ini ada di umat ini secara umum. “Empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah.” Ketika beliau bersabda, “Berasal dari perkara jahiliyah”, maksudnya dari perbuatan dan ciri khas orang-orang jahiliyah. Yakni, mereka menirunya dari orang-orang jahiliyah. Mereka mencontohnya dari orang-orang jahiliyah. Mereka tetap melakukannya dengan cara orang-orang jahiliyah. Dan seburuk-buruk panutan adalah perkara jahiliyah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan empat perkara ini termasuk perkara jahiliyah, yakni termasuk perbuatan dan ciri khas jahiliyah: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan kepada bintang-bintang, Dan juga (4) meratapi orang mati. Dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dengan berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan?” Allah menyatakan segala hukum selain hukum Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hukum jahiliyah. Dan disebutkan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Mereka berprasangka kepada Allah yang tidak baik, prasangka jahiliyah.” Yakni prasangka orang-orang jahiliyah. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj jahiliyah.” Allah menjelaskan tabarruj ini sebagai tabarruj jahiliyah, yakni termasuk sifat orang-orang jahiliyah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Allah menjadikan dalam hati mereka keangkuhan jahiliyah.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,.. “Apakah kalian menyeru seruan jahiliyah, sedangkan aku berada di antara kalian?” Semua yang dinisbatkan pada jahiliyah menunjukkan itu adalah sesuatu yang tercela. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan itu sebagai peringatan darinya, dan pencelaan terhadap perkara itu. Dan tabiat manusia itu sendiri, tidak suka jika disifati dengan kejahilan. Tidak ada seorangpun yang suka dinisbatkan pada kejahilan. Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib berkata,“Cukuplah ilmu itu bagimu … sebagai kebanggaan … karena orang yang tidak memilikinya juga ikut mengakuinya. … Dan cukup bagimu kejahilan itu sebagai perkara yang hina … karena orang yang jahil juga ingin menghindarinya.” Yakni orang yang memiliki sifat itu, juga ingin berlepas diri darinya. Jadi perkara jahiliyah.Nabi menyebutkannya dan menisbatkannya pada kejahilan agar orang-orang menjauhinya, dan menjadikan perbuatan ini buruk pada pandangan mereka. ================================================== قَالَ وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالنِّيَاحَةُ ثُمَّ قَالَ وَالنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ حَدِيثٌ مُخِيفٌ جِدًّا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أُمَّتِي أَيْ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ أَيْ الْمُسْلِمُونَ يَعْنِي الْمُسْلِمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتِي هِيَ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ وَهُمُ الَّذِينَ شَهِدُوا أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ عِنْدَهُمْ هَذِهِ الْأُمُورُ قَالَ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ وَلَا يَعْنِي أَنَّ كُلَّ الْأُمَّةِ تَعْمَلُ هَذِهِ لَكِنْ فِيهِ مِنَ الْأُمَّةِ مَنْ يَقُومُ بِهَذَا بَيْن مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ قَدْ تَكُونُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الْأَرْبَعُ كُلُّهَا مَوْجُودَةً فِي بَعْضِ الْبِلَادِ ثَلَاثٌ مِنْهَا فِي بَعْضِ الْبِلَادِ اثْنَتَانِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَاحِدَةٌ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ فِي أُخْرَى الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ فِي ثَالِثَةٍ النِّيَاحَةُ فِي رَابِعَةٍ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الْمُهِمُّ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي مَجْمُوعِ الْأُمَّةِ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَعِنْدَمَا يَقُولُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ وَخِصَالِهِمْ يَعْنِي أَخَذُوهَا مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ قَلَّدُوا فِيهَا أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ اسْتَمَرُّوا فِيهَا عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَبِئْسَتِ الْقُدْوَةُ الْجَاهِلِيَّةُ وَجَعَلَ هَذِهِ الْأُمُورَ الْأَرْبَعَةَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ فِعْلِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ خِصَالِ الْجَاهِلِيَّة الْفَخْرُ بِالْأَحْسَاب الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الَّذِي هُوَ النُّجُومُ ثُمَّ النِّيَاحَةُ وَقَدْ جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَنْ رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى .. قَالَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ فَجَعَلَ كُلَّ حُكْمٍ دُونَ حُكْمِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ حُكْمُ جَاهِلِيَّةٍ وَجَاء كَذَلِكَ فِي قَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ ظَنَّ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ فَجَعَلَ هَذَا التَّبَرُّجَ تَبَرُّجَ جَاهِلِيَّةٍ يَعْنِي مِنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَعَلَ فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَكَذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدَعْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ فَكُلُّ مَا نُسِبَ إِلَى الجَاهِلِيَّةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَذْمُومٌ وَإِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنْفِيرِ وَالتَّقْبِيْحِ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْإِنْسَانُ بِطَبِيعَتِهِ لَا يُحِبُّ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ لَا يُحِبُّ أَيُّ أَحَدٍ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ حَسْبُكَ بِالْعِلْمِ فَخْرًا أَنَّهُ يَدَّعِيهِ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ وَحَسْبُكَ بِالْجَهْلِ مَذَمَّةً أَنَّهُ يَنْفِرُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ يَتَبَرَّأُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ فَأَمْرُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذًا ذَكَرَ النَّبِيُّ ذَلِكَ وَنَسَبَهُ إِلَى الْجَاهِلِيَّةِ لِيُنَفِّرَ النَّاسَ وَلِيُقَبِّحَ هَذَا الْفِعْلَ فِي أَعْيُنِهِمْ  

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama Beliau berkata, dan diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah. Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan dari bintang-bintang, dan (4) meratapi orang mati.” Kemudian beliau bersabda, “Dan wanita yang meratapi mayit, jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan memakai pakaian dari kuningan yang dilelehkan dan baju kurung dari penyakit kulit.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab ash-Shahihnya. Sungguh hadits yang sangat menakutkan! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah …” Maksud kata “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau, yakni muslimin. Yang beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maksud, kaum muslimin. “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau. Dan mereka adalah yang telah bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah. Mereka melakukan empat perkara itu. Beliau bersabda, “Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu.” Bukan berarti seluruh umat ini melakukannya, akan tetapi dari sebagian umat ada yang melakukan ini, ada yang sedikit melakukannya dan ada pula yang banyak. Mungkin di sebagian negeri, empat perkara itu dilakukan, di bagian negeri lain hanya tiga, dan di bagian negeri lain hanya dua, dan di bagian lain hanya satu. Di sebagian negeri terjadi penghinaan nasab, di negeri lain terjadi pembanggaan leluhur, di negeri lainnya terjadi peratapan mayit, dan di negeri lain dilakukan minta hujan kepada bintang-bintang. Pada intinya, empat perkara ini ada di umat ini secara umum. “Empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah.” Ketika beliau bersabda, “Berasal dari perkara jahiliyah”, maksudnya dari perbuatan dan ciri khas orang-orang jahiliyah. Yakni, mereka menirunya dari orang-orang jahiliyah. Mereka mencontohnya dari orang-orang jahiliyah. Mereka tetap melakukannya dengan cara orang-orang jahiliyah. Dan seburuk-buruk panutan adalah perkara jahiliyah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan empat perkara ini termasuk perkara jahiliyah, yakni termasuk perbuatan dan ciri khas jahiliyah: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan kepada bintang-bintang, Dan juga (4) meratapi orang mati. Dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dengan berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan?” Allah menyatakan segala hukum selain hukum Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hukum jahiliyah. Dan disebutkan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Mereka berprasangka kepada Allah yang tidak baik, prasangka jahiliyah.” Yakni prasangka orang-orang jahiliyah. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj jahiliyah.” Allah menjelaskan tabarruj ini sebagai tabarruj jahiliyah, yakni termasuk sifat orang-orang jahiliyah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Allah menjadikan dalam hati mereka keangkuhan jahiliyah.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,.. “Apakah kalian menyeru seruan jahiliyah, sedangkan aku berada di antara kalian?” Semua yang dinisbatkan pada jahiliyah menunjukkan itu adalah sesuatu yang tercela. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan itu sebagai peringatan darinya, dan pencelaan terhadap perkara itu. Dan tabiat manusia itu sendiri, tidak suka jika disifati dengan kejahilan. Tidak ada seorangpun yang suka dinisbatkan pada kejahilan. Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib berkata,“Cukuplah ilmu itu bagimu … sebagai kebanggaan … karena orang yang tidak memilikinya juga ikut mengakuinya. … Dan cukup bagimu kejahilan itu sebagai perkara yang hina … karena orang yang jahil juga ingin menghindarinya.” Yakni orang yang memiliki sifat itu, juga ingin berlepas diri darinya. Jadi perkara jahiliyah.Nabi menyebutkannya dan menisbatkannya pada kejahilan agar orang-orang menjauhinya, dan menjadikan perbuatan ini buruk pada pandangan mereka. ================================================== قَالَ وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالنِّيَاحَةُ ثُمَّ قَالَ وَالنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ حَدِيثٌ مُخِيفٌ جِدًّا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أُمَّتِي أَيْ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ أَيْ الْمُسْلِمُونَ يَعْنِي الْمُسْلِمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتِي هِيَ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ وَهُمُ الَّذِينَ شَهِدُوا أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ عِنْدَهُمْ هَذِهِ الْأُمُورُ قَالَ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ وَلَا يَعْنِي أَنَّ كُلَّ الْأُمَّةِ تَعْمَلُ هَذِهِ لَكِنْ فِيهِ مِنَ الْأُمَّةِ مَنْ يَقُومُ بِهَذَا بَيْن مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ قَدْ تَكُونُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الْأَرْبَعُ كُلُّهَا مَوْجُودَةً فِي بَعْضِ الْبِلَادِ ثَلَاثٌ مِنْهَا فِي بَعْضِ الْبِلَادِ اثْنَتَانِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَاحِدَةٌ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ فِي أُخْرَى الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ فِي ثَالِثَةٍ النِّيَاحَةُ فِي رَابِعَةٍ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الْمُهِمُّ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي مَجْمُوعِ الْأُمَّةِ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَعِنْدَمَا يَقُولُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ وَخِصَالِهِمْ يَعْنِي أَخَذُوهَا مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ قَلَّدُوا فِيهَا أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ اسْتَمَرُّوا فِيهَا عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَبِئْسَتِ الْقُدْوَةُ الْجَاهِلِيَّةُ وَجَعَلَ هَذِهِ الْأُمُورَ الْأَرْبَعَةَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ فِعْلِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ خِصَالِ الْجَاهِلِيَّة الْفَخْرُ بِالْأَحْسَاب الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الَّذِي هُوَ النُّجُومُ ثُمَّ النِّيَاحَةُ وَقَدْ جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَنْ رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى .. قَالَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ فَجَعَلَ كُلَّ حُكْمٍ دُونَ حُكْمِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ حُكْمُ جَاهِلِيَّةٍ وَجَاء كَذَلِكَ فِي قَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ ظَنَّ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ فَجَعَلَ هَذَا التَّبَرُّجَ تَبَرُّجَ جَاهِلِيَّةٍ يَعْنِي مِنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَعَلَ فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَكَذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدَعْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ فَكُلُّ مَا نُسِبَ إِلَى الجَاهِلِيَّةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَذْمُومٌ وَإِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنْفِيرِ وَالتَّقْبِيْحِ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْإِنْسَانُ بِطَبِيعَتِهِ لَا يُحِبُّ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ لَا يُحِبُّ أَيُّ أَحَدٍ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ حَسْبُكَ بِالْعِلْمِ فَخْرًا أَنَّهُ يَدَّعِيهِ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ وَحَسْبُكَ بِالْجَهْلِ مَذَمَّةً أَنَّهُ يَنْفِرُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ يَتَبَرَّأُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ فَأَمْرُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذًا ذَكَرَ النَّبِيُّ ذَلِكَ وَنَسَبَهُ إِلَى الْجَاهِلِيَّةِ لِيُنَفِّرَ النَّاسَ وَلِيُقَبِّحَ هَذَا الْفِعْلَ فِي أَعْيُنِهِمْ  
Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama Beliau berkata, dan diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah. Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan dari bintang-bintang, dan (4) meratapi orang mati.” Kemudian beliau bersabda, “Dan wanita yang meratapi mayit, jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan memakai pakaian dari kuningan yang dilelehkan dan baju kurung dari penyakit kulit.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab ash-Shahihnya. Sungguh hadits yang sangat menakutkan! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah …” Maksud kata “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau, yakni muslimin. Yang beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maksud, kaum muslimin. “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau. Dan mereka adalah yang telah bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah. Mereka melakukan empat perkara itu. Beliau bersabda, “Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu.” Bukan berarti seluruh umat ini melakukannya, akan tetapi dari sebagian umat ada yang melakukan ini, ada yang sedikit melakukannya dan ada pula yang banyak. Mungkin di sebagian negeri, empat perkara itu dilakukan, di bagian negeri lain hanya tiga, dan di bagian negeri lain hanya dua, dan di bagian lain hanya satu. Di sebagian negeri terjadi penghinaan nasab, di negeri lain terjadi pembanggaan leluhur, di negeri lainnya terjadi peratapan mayit, dan di negeri lain dilakukan minta hujan kepada bintang-bintang. Pada intinya, empat perkara ini ada di umat ini secara umum. “Empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah.” Ketika beliau bersabda, “Berasal dari perkara jahiliyah”, maksudnya dari perbuatan dan ciri khas orang-orang jahiliyah. Yakni, mereka menirunya dari orang-orang jahiliyah. Mereka mencontohnya dari orang-orang jahiliyah. Mereka tetap melakukannya dengan cara orang-orang jahiliyah. Dan seburuk-buruk panutan adalah perkara jahiliyah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan empat perkara ini termasuk perkara jahiliyah, yakni termasuk perbuatan dan ciri khas jahiliyah: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan kepada bintang-bintang, Dan juga (4) meratapi orang mati. Dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dengan berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan?” Allah menyatakan segala hukum selain hukum Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hukum jahiliyah. Dan disebutkan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Mereka berprasangka kepada Allah yang tidak baik, prasangka jahiliyah.” Yakni prasangka orang-orang jahiliyah. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj jahiliyah.” Allah menjelaskan tabarruj ini sebagai tabarruj jahiliyah, yakni termasuk sifat orang-orang jahiliyah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Allah menjadikan dalam hati mereka keangkuhan jahiliyah.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,.. “Apakah kalian menyeru seruan jahiliyah, sedangkan aku berada di antara kalian?” Semua yang dinisbatkan pada jahiliyah menunjukkan itu adalah sesuatu yang tercela. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan itu sebagai peringatan darinya, dan pencelaan terhadap perkara itu. Dan tabiat manusia itu sendiri, tidak suka jika disifati dengan kejahilan. Tidak ada seorangpun yang suka dinisbatkan pada kejahilan. Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib berkata,“Cukuplah ilmu itu bagimu … sebagai kebanggaan … karena orang yang tidak memilikinya juga ikut mengakuinya. … Dan cukup bagimu kejahilan itu sebagai perkara yang hina … karena orang yang jahil juga ingin menghindarinya.” Yakni orang yang memiliki sifat itu, juga ingin berlepas diri darinya. Jadi perkara jahiliyah.Nabi menyebutkannya dan menisbatkannya pada kejahilan agar orang-orang menjauhinya, dan menjadikan perbuatan ini buruk pada pandangan mereka. ================================================== قَالَ وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالنِّيَاحَةُ ثُمَّ قَالَ وَالنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ حَدِيثٌ مُخِيفٌ جِدًّا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أُمَّتِي أَيْ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ أَيْ الْمُسْلِمُونَ يَعْنِي الْمُسْلِمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتِي هِيَ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ وَهُمُ الَّذِينَ شَهِدُوا أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ عِنْدَهُمْ هَذِهِ الْأُمُورُ قَالَ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ وَلَا يَعْنِي أَنَّ كُلَّ الْأُمَّةِ تَعْمَلُ هَذِهِ لَكِنْ فِيهِ مِنَ الْأُمَّةِ مَنْ يَقُومُ بِهَذَا بَيْن مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ قَدْ تَكُونُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الْأَرْبَعُ كُلُّهَا مَوْجُودَةً فِي بَعْضِ الْبِلَادِ ثَلَاثٌ مِنْهَا فِي بَعْضِ الْبِلَادِ اثْنَتَانِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَاحِدَةٌ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ فِي أُخْرَى الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ فِي ثَالِثَةٍ النِّيَاحَةُ فِي رَابِعَةٍ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الْمُهِمُّ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي مَجْمُوعِ الْأُمَّةِ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَعِنْدَمَا يَقُولُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ وَخِصَالِهِمْ يَعْنِي أَخَذُوهَا مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ قَلَّدُوا فِيهَا أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ اسْتَمَرُّوا فِيهَا عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَبِئْسَتِ الْقُدْوَةُ الْجَاهِلِيَّةُ وَجَعَلَ هَذِهِ الْأُمُورَ الْأَرْبَعَةَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ فِعْلِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ خِصَالِ الْجَاهِلِيَّة الْفَخْرُ بِالْأَحْسَاب الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الَّذِي هُوَ النُّجُومُ ثُمَّ النِّيَاحَةُ وَقَدْ جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَنْ رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى .. قَالَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ فَجَعَلَ كُلَّ حُكْمٍ دُونَ حُكْمِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ حُكْمُ جَاهِلِيَّةٍ وَجَاء كَذَلِكَ فِي قَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ ظَنَّ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ فَجَعَلَ هَذَا التَّبَرُّجَ تَبَرُّجَ جَاهِلِيَّةٍ يَعْنِي مِنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَعَلَ فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَكَذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدَعْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ فَكُلُّ مَا نُسِبَ إِلَى الجَاهِلِيَّةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَذْمُومٌ وَإِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنْفِيرِ وَالتَّقْبِيْحِ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْإِنْسَانُ بِطَبِيعَتِهِ لَا يُحِبُّ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ لَا يُحِبُّ أَيُّ أَحَدٍ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ حَسْبُكَ بِالْعِلْمِ فَخْرًا أَنَّهُ يَدَّعِيهِ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ وَحَسْبُكَ بِالْجَهْلِ مَذَمَّةً أَنَّهُ يَنْفِرُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ يَتَبَرَّأُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ فَأَمْرُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذًا ذَكَرَ النَّبِيُّ ذَلِكَ وَنَسَبَهُ إِلَى الْجَاهِلِيَّةِ لِيُنَفِّرَ النَّاسَ وَلِيُقَبِّحَ هَذَا الْفِعْلَ فِي أَعْيُنِهِمْ  


Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama Beliau berkata, dan diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah. Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan dari bintang-bintang, dan (4) meratapi orang mati.” Kemudian beliau bersabda, “Dan wanita yang meratapi mayit, jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan memakai pakaian dari kuningan yang dilelehkan dan baju kurung dari penyakit kulit.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab ash-Shahihnya. Sungguh hadits yang sangat menakutkan! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah …” Maksud kata “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau, yakni muslimin. Yang beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maksud, kaum muslimin. “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau. Dan mereka adalah yang telah bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah. Mereka melakukan empat perkara itu. Beliau bersabda, “Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu.” Bukan berarti seluruh umat ini melakukannya, akan tetapi dari sebagian umat ada yang melakukan ini, ada yang sedikit melakukannya dan ada pula yang banyak. Mungkin di sebagian negeri, empat perkara itu dilakukan, di bagian negeri lain hanya tiga, dan di bagian negeri lain hanya dua, dan di bagian lain hanya satu. Di sebagian negeri terjadi penghinaan nasab, di negeri lain terjadi pembanggaan leluhur, di negeri lainnya terjadi peratapan mayit, dan di negeri lain dilakukan minta hujan kepada bintang-bintang. Pada intinya, empat perkara ini ada di umat ini secara umum. “Empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah.” Ketika beliau bersabda, “Berasal dari perkara jahiliyah”, maksudnya dari perbuatan dan ciri khas orang-orang jahiliyah. Yakni, mereka menirunya dari orang-orang jahiliyah. Mereka mencontohnya dari orang-orang jahiliyah. Mereka tetap melakukannya dengan cara orang-orang jahiliyah. Dan seburuk-buruk panutan adalah perkara jahiliyah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan empat perkara ini termasuk perkara jahiliyah, yakni termasuk perbuatan dan ciri khas jahiliyah: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan kepada bintang-bintang, Dan juga (4) meratapi orang mati. Dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dengan berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan?” Allah menyatakan segala hukum selain hukum Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hukum jahiliyah. Dan disebutkan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Mereka berprasangka kepada Allah yang tidak baik, prasangka jahiliyah.” Yakni prasangka orang-orang jahiliyah. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj jahiliyah.” Allah menjelaskan tabarruj ini sebagai tabarruj jahiliyah, yakni termasuk sifat orang-orang jahiliyah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Allah menjadikan dalam hati mereka keangkuhan jahiliyah.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,.. “Apakah kalian menyeru seruan jahiliyah, sedangkan aku berada di antara kalian?” Semua yang dinisbatkan pada jahiliyah menunjukkan itu adalah sesuatu yang tercela. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan itu sebagai peringatan darinya, dan pencelaan terhadap perkara itu. Dan tabiat manusia itu sendiri, tidak suka jika disifati dengan kejahilan. Tidak ada seorangpun yang suka dinisbatkan pada kejahilan. Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib berkata,“Cukuplah ilmu itu bagimu … sebagai kebanggaan … karena orang yang tidak memilikinya juga ikut mengakuinya. … Dan cukup bagimu kejahilan itu sebagai perkara yang hina … karena orang yang jahil juga ingin menghindarinya.” Yakni orang yang memiliki sifat itu, juga ingin berlepas diri darinya. Jadi perkara jahiliyah.Nabi menyebutkannya dan menisbatkannya pada kejahilan agar orang-orang menjauhinya, dan menjadikan perbuatan ini buruk pada pandangan mereka. ================================================== قَالَ وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالنِّيَاحَةُ ثُمَّ قَالَ وَالنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ حَدِيثٌ مُخِيفٌ جِدًّا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أُمَّتِي أَيْ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ أَيْ الْمُسْلِمُونَ يَعْنِي الْمُسْلِمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتِي هِيَ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ وَهُمُ الَّذِينَ شَهِدُوا أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ عِنْدَهُمْ هَذِهِ الْأُمُورُ قَالَ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ وَلَا يَعْنِي أَنَّ كُلَّ الْأُمَّةِ تَعْمَلُ هَذِهِ لَكِنْ فِيهِ مِنَ الْأُمَّةِ مَنْ يَقُومُ بِهَذَا بَيْن مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ قَدْ تَكُونُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الْأَرْبَعُ كُلُّهَا مَوْجُودَةً فِي بَعْضِ الْبِلَادِ ثَلَاثٌ مِنْهَا فِي بَعْضِ الْبِلَادِ اثْنَتَانِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَاحِدَةٌ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ فِي أُخْرَى الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ فِي ثَالِثَةٍ النِّيَاحَةُ فِي رَابِعَةٍ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الْمُهِمُّ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي مَجْمُوعِ الْأُمَّةِ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَعِنْدَمَا يَقُولُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ أَفْعَالِهِمْ وَخِصَالِهِمْ يَعْنِي أَخَذُوهَا مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ قَلَّدُوا فِيهَا أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ اسْتَمَرُّوا فِيهَا عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَبِئْسَتِ الْقُدْوَةُ الْجَاهِلِيَّةُ وَجَعَلَ هَذِهِ الْأُمُورَ الْأَرْبَعَةَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ مِنْ فِعْلِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ خِصَالِ الْجَاهِلِيَّة الْفَخْرُ بِالْأَحْسَاب الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الَّذِي هُوَ النُّجُومُ ثُمَّ النِّيَاحَةُ وَقَدْ جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَنْ رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى .. قَالَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ فَجَعَلَ كُلَّ حُكْمٍ دُونَ حُكْمِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ حُكْمُ جَاهِلِيَّةٍ وَجَاء كَذَلِكَ فِي قَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ ظَنَّ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ فَجَعَلَ هَذَا التَّبَرُّجَ تَبَرُّجَ جَاهِلِيَّةٍ يَعْنِي مِنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَعَلَ فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَكَذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدَعْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ فَكُلُّ مَا نُسِبَ إِلَى الجَاهِلِيَّةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَذْمُومٌ وَإِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنْفِيرِ وَالتَّقْبِيْحِ لِهَذَا الْأَمْرِ وَالْإِنْسَانُ بِطَبِيعَتِهِ لَا يُحِبُّ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ لَا يُحِبُّ أَيُّ أَحَدٍ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ حَسْبُكَ بِالْعِلْمِ فَخْرًا أَنَّهُ يَدَّعِيهِ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ وَحَسْبُكَ بِالْجَهْلِ مَذَمَّةً أَنَّهُ يَنْفِرُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ يَتَبَرَّأُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ فَأَمْرُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذًا ذَكَرَ النَّبِيُّ ذَلِكَ وَنَسَبَهُ إِلَى الْجَاهِلِيَّةِ لِيُنَفِّرَ النَّاسَ وَلِيُقَبِّحَ هَذَا الْفِعْلَ فِي أَعْيُنِهِمْ  
Prev     Next