7 Dalil Kafirnya Tukang Sihir – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

7 Dalil Kafirnya Tukang Sihir – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Rangkaian kalimat yang penuh berkah ini menunjukkan, sebagaimana disebutkan oleh para ulama—semoga Allah Ta’ālā merahmati mereka tentang kafirnya Tukang Sihir dari tujuh sisi pendalilan: PERTAMA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah itu ke belakang punggung mereka, …” (QS. Al-Baqarah: 101) Perbuatan melemparkan kitab Allah ini jelas kekafiran tanpa keraguan. KEDUA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” Mengikuti ini adalah mengikuti kesyirikan yang didakwahkan oleh para setan, seperti doa dalam sebuah hadis, “Aku berlindung kepada-Mu dari setan dan kesyirikannya.” (HR. Tirmizi) Maksudnya, adalah ajakan setan untuk berbuat syirik dan kafir kepada Allah. KETIGA: Allah membebaskan Nabi-Nya, Sulaiman ʿalaihis salām dari apa yang mereka tuduhkan bahwa beliau melakukan sihir, dengan firman-Nya Jalla wa ʿAlā: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” Allah bebaskan dia dari sihir dengan firman-Nya: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” yang menunjukkan bahwa mengajarkan dan melakukan sihir adalah kufur, karena Allah membebaskan Sulaiman ʿalaihis salām dari sihir dengan mengatakan: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” KEEMPAT: Dalam firman Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “… namun para setanlah yang kafir karena mengajarkan sihir, …” Allah menyatakan kafirnya setan bersamaan dengan pengajaran sihir mereka kepada orang-orang. KELIMA: Firman Allah tentang dua malaikat yang diturunkan sebagai cobaan dan ujian, Allah berfirman: “Keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun kecuali mengatakan,‘Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah kamu kafir.’” KEENAM: Dalam firman Allah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “Sungguh mereka telah mengetahui bahwa orang yang menukarnya (kitab Allah dengan sihir), tiada baginya sedikit pun bagian di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 102) Yaitu, dia tidak dapat keuntungan atau bagian dari Surga. KETUJUH: Berdasarkan firman-Nya: “Dan jika mereka beriman dan bertakwa, balasan bagi mereka di sisi Allah adalah lebih baik, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103) Ini adalah tujuh sisi pendalilan dari rangkaian kalimat yang penuh berkah ini, yang menunjukkan kafirnya penyihir. =============================================================================== وَقَدْ دَلَّ هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ كَمَا ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ مِنْ وُجُوهٍ سَبْعَةٍ الْأَوَّلُ فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَهَذَا النَّبْذُ لِكِتَابِ اللهِ كُفْرٌ بِلَا رَيْبٍ الْوَجْهُ الثَّانِي فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَهَذَا الْاِتِّبَاعُ اِتِّبَاعٌ لِلشَّيَاطِينِ فِيمَا تَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ: أَعُوذُ بكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ أَيْ مَا يَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ بِاللهِ الْوَجْهُ الثَّالِثُ تَبْرِئَةُ اللهِ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَا نَسَبَهُ إِلَيْهِ هَؤُلَاءِ مِنَ التَّعَاطِيْ لِلسِّحْرِ بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – فَبَرَّأَهُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَعَلُّمَ السِّحْرِ وَتَعَاطِيَهُ كُفْرٌ لِأَنَّ اللهَ بَرَّأَ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ الْوَجْهُ الرَّابِعُ قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ فَذَكَرَ كُفْرَ الشَّيَاطِينِ مَقْرُونًا بِتَعْلِيمِهِمْ لِلنَّاسِ السِّحْرَ الْوَجْهُ الْخَامِسُ مَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنِ الْمَلَكَيْنِ اللَّذَيْنِ أَنْزَلَهُمَا ابْتِلَاءً وَامْتِحَانًا قَالَ: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ وَالْوَجْهُ السَّادِسُ فِي قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ أَيْ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ وَلَا نَصِيبٌ وَالسَّابِعُ فِي قَوْلِهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَهَذِهِ وُجُوهٌ سَبْعَةٌ دَلَّ عَلَيْهَا هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ  

7 Dalil Kafirnya Tukang Sihir – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

7 Dalil Kafirnya Tukang Sihir – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Rangkaian kalimat yang penuh berkah ini menunjukkan, sebagaimana disebutkan oleh para ulama—semoga Allah Ta’ālā merahmati mereka tentang kafirnya Tukang Sihir dari tujuh sisi pendalilan: PERTAMA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah itu ke belakang punggung mereka, …” (QS. Al-Baqarah: 101) Perbuatan melemparkan kitab Allah ini jelas kekafiran tanpa keraguan. KEDUA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” Mengikuti ini adalah mengikuti kesyirikan yang didakwahkan oleh para setan, seperti doa dalam sebuah hadis, “Aku berlindung kepada-Mu dari setan dan kesyirikannya.” (HR. Tirmizi) Maksudnya, adalah ajakan setan untuk berbuat syirik dan kafir kepada Allah. KETIGA: Allah membebaskan Nabi-Nya, Sulaiman ʿalaihis salām dari apa yang mereka tuduhkan bahwa beliau melakukan sihir, dengan firman-Nya Jalla wa ʿAlā: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” Allah bebaskan dia dari sihir dengan firman-Nya: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” yang menunjukkan bahwa mengajarkan dan melakukan sihir adalah kufur, karena Allah membebaskan Sulaiman ʿalaihis salām dari sihir dengan mengatakan: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” KEEMPAT: Dalam firman Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “… namun para setanlah yang kafir karena mengajarkan sihir, …” Allah menyatakan kafirnya setan bersamaan dengan pengajaran sihir mereka kepada orang-orang. KELIMA: Firman Allah tentang dua malaikat yang diturunkan sebagai cobaan dan ujian, Allah berfirman: “Keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun kecuali mengatakan,‘Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah kamu kafir.’” KEENAM: Dalam firman Allah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “Sungguh mereka telah mengetahui bahwa orang yang menukarnya (kitab Allah dengan sihir), tiada baginya sedikit pun bagian di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 102) Yaitu, dia tidak dapat keuntungan atau bagian dari Surga. KETUJUH: Berdasarkan firman-Nya: “Dan jika mereka beriman dan bertakwa, balasan bagi mereka di sisi Allah adalah lebih baik, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103) Ini adalah tujuh sisi pendalilan dari rangkaian kalimat yang penuh berkah ini, yang menunjukkan kafirnya penyihir. =============================================================================== وَقَدْ دَلَّ هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ كَمَا ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ مِنْ وُجُوهٍ سَبْعَةٍ الْأَوَّلُ فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَهَذَا النَّبْذُ لِكِتَابِ اللهِ كُفْرٌ بِلَا رَيْبٍ الْوَجْهُ الثَّانِي فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَهَذَا الْاِتِّبَاعُ اِتِّبَاعٌ لِلشَّيَاطِينِ فِيمَا تَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ: أَعُوذُ بكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ أَيْ مَا يَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ بِاللهِ الْوَجْهُ الثَّالِثُ تَبْرِئَةُ اللهِ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَا نَسَبَهُ إِلَيْهِ هَؤُلَاءِ مِنَ التَّعَاطِيْ لِلسِّحْرِ بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – فَبَرَّأَهُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَعَلُّمَ السِّحْرِ وَتَعَاطِيَهُ كُفْرٌ لِأَنَّ اللهَ بَرَّأَ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ الْوَجْهُ الرَّابِعُ قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ فَذَكَرَ كُفْرَ الشَّيَاطِينِ مَقْرُونًا بِتَعْلِيمِهِمْ لِلنَّاسِ السِّحْرَ الْوَجْهُ الْخَامِسُ مَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنِ الْمَلَكَيْنِ اللَّذَيْنِ أَنْزَلَهُمَا ابْتِلَاءً وَامْتِحَانًا قَالَ: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ وَالْوَجْهُ السَّادِسُ فِي قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ أَيْ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ وَلَا نَصِيبٌ وَالسَّابِعُ فِي قَوْلِهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَهَذِهِ وُجُوهٌ سَبْعَةٌ دَلَّ عَلَيْهَا هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ  
7 Dalil Kafirnya Tukang Sihir – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Rangkaian kalimat yang penuh berkah ini menunjukkan, sebagaimana disebutkan oleh para ulama—semoga Allah Ta’ālā merahmati mereka tentang kafirnya Tukang Sihir dari tujuh sisi pendalilan: PERTAMA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah itu ke belakang punggung mereka, …” (QS. Al-Baqarah: 101) Perbuatan melemparkan kitab Allah ini jelas kekafiran tanpa keraguan. KEDUA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” Mengikuti ini adalah mengikuti kesyirikan yang didakwahkan oleh para setan, seperti doa dalam sebuah hadis, “Aku berlindung kepada-Mu dari setan dan kesyirikannya.” (HR. Tirmizi) Maksudnya, adalah ajakan setan untuk berbuat syirik dan kafir kepada Allah. KETIGA: Allah membebaskan Nabi-Nya, Sulaiman ʿalaihis salām dari apa yang mereka tuduhkan bahwa beliau melakukan sihir, dengan firman-Nya Jalla wa ʿAlā: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” Allah bebaskan dia dari sihir dengan firman-Nya: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” yang menunjukkan bahwa mengajarkan dan melakukan sihir adalah kufur, karena Allah membebaskan Sulaiman ʿalaihis salām dari sihir dengan mengatakan: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” KEEMPAT: Dalam firman Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “… namun para setanlah yang kafir karena mengajarkan sihir, …” Allah menyatakan kafirnya setan bersamaan dengan pengajaran sihir mereka kepada orang-orang. KELIMA: Firman Allah tentang dua malaikat yang diturunkan sebagai cobaan dan ujian, Allah berfirman: “Keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun kecuali mengatakan,‘Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah kamu kafir.’” KEENAM: Dalam firman Allah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “Sungguh mereka telah mengetahui bahwa orang yang menukarnya (kitab Allah dengan sihir), tiada baginya sedikit pun bagian di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 102) Yaitu, dia tidak dapat keuntungan atau bagian dari Surga. KETUJUH: Berdasarkan firman-Nya: “Dan jika mereka beriman dan bertakwa, balasan bagi mereka di sisi Allah adalah lebih baik, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103) Ini adalah tujuh sisi pendalilan dari rangkaian kalimat yang penuh berkah ini, yang menunjukkan kafirnya penyihir. =============================================================================== وَقَدْ دَلَّ هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ كَمَا ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ مِنْ وُجُوهٍ سَبْعَةٍ الْأَوَّلُ فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَهَذَا النَّبْذُ لِكِتَابِ اللهِ كُفْرٌ بِلَا رَيْبٍ الْوَجْهُ الثَّانِي فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَهَذَا الْاِتِّبَاعُ اِتِّبَاعٌ لِلشَّيَاطِينِ فِيمَا تَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ: أَعُوذُ بكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ أَيْ مَا يَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ بِاللهِ الْوَجْهُ الثَّالِثُ تَبْرِئَةُ اللهِ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَا نَسَبَهُ إِلَيْهِ هَؤُلَاءِ مِنَ التَّعَاطِيْ لِلسِّحْرِ بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – فَبَرَّأَهُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَعَلُّمَ السِّحْرِ وَتَعَاطِيَهُ كُفْرٌ لِأَنَّ اللهَ بَرَّأَ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ الْوَجْهُ الرَّابِعُ قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ فَذَكَرَ كُفْرَ الشَّيَاطِينِ مَقْرُونًا بِتَعْلِيمِهِمْ لِلنَّاسِ السِّحْرَ الْوَجْهُ الْخَامِسُ مَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنِ الْمَلَكَيْنِ اللَّذَيْنِ أَنْزَلَهُمَا ابْتِلَاءً وَامْتِحَانًا قَالَ: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ وَالْوَجْهُ السَّادِسُ فِي قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ أَيْ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ وَلَا نَصِيبٌ وَالسَّابِعُ فِي قَوْلِهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَهَذِهِ وُجُوهٌ سَبْعَةٌ دَلَّ عَلَيْهَا هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ  


7 Dalil Kafirnya Tukang Sihir – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Rangkaian kalimat yang penuh berkah ini menunjukkan, sebagaimana disebutkan oleh para ulama—semoga Allah Ta’ālā merahmati mereka tentang kafirnya Tukang Sihir dari tujuh sisi pendalilan: PERTAMA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah itu ke belakang punggung mereka, …” (QS. Al-Baqarah: 101) Perbuatan melemparkan kitab Allah ini jelas kekafiran tanpa keraguan. KEDUA: Dalam firman-Nya Tabāraka wa Ta’ālā: “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” “Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan para setan di masa kerajaan Sulaiman, …” Mengikuti ini adalah mengikuti kesyirikan yang didakwahkan oleh para setan, seperti doa dalam sebuah hadis, “Aku berlindung kepada-Mu dari setan dan kesyirikannya.” (HR. Tirmizi) Maksudnya, adalah ajakan setan untuk berbuat syirik dan kafir kepada Allah. KETIGA: Allah membebaskan Nabi-Nya, Sulaiman ʿalaihis salām dari apa yang mereka tuduhkan bahwa beliau melakukan sihir, dengan firman-Nya Jalla wa ʿAlā: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” Allah bebaskan dia dari sihir dengan firman-Nya: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” yang menunjukkan bahwa mengajarkan dan melakukan sihir adalah kufur, karena Allah membebaskan Sulaiman ʿalaihis salām dari sihir dengan mengatakan: “… dan Sulaiman tidaklah kafir, …” KEEMPAT: Dalam firman Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “… namun para setanlah yang kafir karena mengajarkan sihir, …” Allah menyatakan kafirnya setan bersamaan dengan pengajaran sihir mereka kepada orang-orang. KELIMA: Firman Allah tentang dua malaikat yang diturunkan sebagai cobaan dan ujian, Allah berfirman: “Keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun kecuali mengatakan,‘Sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah kamu kafir.’” KEENAM: Dalam firman Allah Allah Subẖānahu wa Ta’ālā: “Sungguh mereka telah mengetahui bahwa orang yang menukarnya (kitab Allah dengan sihir), tiada baginya sedikit pun bagian di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 102) Yaitu, dia tidak dapat keuntungan atau bagian dari Surga. KETUJUH: Berdasarkan firman-Nya: “Dan jika mereka beriman dan bertakwa, balasan bagi mereka di sisi Allah adalah lebih baik, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103) Ini adalah tujuh sisi pendalilan dari rangkaian kalimat yang penuh berkah ini, yang menunjukkan kafirnya penyihir. =============================================================================== وَقَدْ دَلَّ هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ كَمَا ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ مِنْ وُجُوهٍ سَبْعَةٍ الْأَوَّلُ فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَهَذَا النَّبْذُ لِكِتَابِ اللهِ كُفْرٌ بِلَا رَيْبٍ الْوَجْهُ الثَّانِي فِي قَوْلِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَهَذَا الْاِتِّبَاعُ اِتِّبَاعٌ لِلشَّيَاطِينِ فِيمَا تَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ: أَعُوذُ بكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ أَيْ مَا يَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ بِاللهِ الْوَجْهُ الثَّالِثُ تَبْرِئَةُ اللهِ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَا نَسَبَهُ إِلَيْهِ هَؤُلَاءِ مِنَ التَّعَاطِيْ لِلسِّحْرِ بِقَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – فَبَرَّأَهُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ – مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَعَلُّمَ السِّحْرِ وَتَعَاطِيَهُ كُفْرٌ لِأَنَّ اللهَ بَرَّأَ سُلَيمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ السِّحْرِ بِقَوْلِهِ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ الْوَجْهُ الرَّابِعُ قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ فَذَكَرَ كُفْرَ الشَّيَاطِينِ مَقْرُونًا بِتَعْلِيمِهِمْ لِلنَّاسِ السِّحْرَ الْوَجْهُ الْخَامِسُ مَا ذَكَرَهُ اللهُ عَنِ الْمَلَكَيْنِ اللَّذَيْنِ أَنْزَلَهُمَا ابْتِلَاءً وَامْتِحَانًا قَالَ: وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ وَالْوَجْهُ السَّادِسُ فِي قَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ أَيْ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ وَلَا نَصِيبٌ وَالسَّابِعُ فِي قَوْلِهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ فَهَذِهِ وُجُوهٌ سَبْعَةٌ دَلَّ عَلَيْهَا هَذَا السِّيَاقُ الْمُبَارَكُ عَلَى كُفْرِ السَّاحِرِ  

Beda Doa Rahmat untuk Orang Hidup dan Mati – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Beda Doa Rahmat untuk Orang Hidup dan Mati – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Sebagian ulama bahasa Arab dan balaghah menyebutkan, bahwa ada perbedaan antara doa meminta rahmat untuk orang yang masih hidup dan yang telah wafat, yaitu orang yang telah wafat didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya). Sedangkan orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il mudhari’, dengan mengucapkan “Yarhamuhullah”. Dan ini salah satu dialek dalam bahasa Arab. Dan boleh juga orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah”. Sekelompok ulama bahasa Arab menjelaskan hal ini, dan di antaranya adalah penulis buku Kasyf al-Mughattha ‘ala Syarh al-Muwattha, yang bernama Ibnu ‘Asyur, beliau menyebutkan hal ini, sekaligus menyebutkan dalil yang menjadi landasan para ulama bahasa. Tentu bukan disebutkan dalam pembahasan hadits ini, namun hadits lain. Berdasarkan hal ini, sebagian sahabat memahami berdasarkan salah satu dialek orang Arab ini, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa beliau akan segera wafat, karena doa ini diungkapkan untuk orang yang wafat, sebab hal ini memiliki dua dialek dalam bahasa Arab. =============================================================================== ذَكَرَ بَعْضُ عُلَمَاءِ اللُّغَةِ وَالْبَلَاغَةِ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَ الدُّعَاءِ بِالرَّحْمَةِ لِلْحَيِّ وَالْمَيِّتِ بِأَنَّ الْمَيِّتَ يُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ وَأَمَّا الْحَيُّ فَيُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْحَاضِرِ فَيُقَالُ يَرْحَمُهُ اللهُ وَهَذِهِ لُغَةٌ وَيَجُوزُ أَنْ يُدْعَى لِلْحَيِّ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ كَذَلِكَ نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ جَمْعٌ مِنَ اللُّغَوِيِّينَ وَمِمَّنْ نَبَّهَ عَلَى هَذِهِ صَاحِبُ كَشْفِ المُغَطَّى عَلَى شَرْحِ الْمُوَطَّأ وَهُوَ ابْنُ عَاشُورٍ ذَكَرَ هَذَا وَذَكَرَ مُسْتَنَدَ أَهْلِ اللُّغَةِ فِيهَا طَبْعًا فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنَّمَا فِي حَدِيثٍ آخَرَ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ فَهِمَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنْ إِحْدَى لُغَاتِ الْعَرَبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَمُوتُ لِأَنَّ هَذَا الدُّعَاءَ إِنَّمَا يَكُونُ لِمَيِّتٍ لِأَنَّ فِيهَا وَجْهَانِ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ  

Beda Doa Rahmat untuk Orang Hidup dan Mati – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Beda Doa Rahmat untuk Orang Hidup dan Mati – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Sebagian ulama bahasa Arab dan balaghah menyebutkan, bahwa ada perbedaan antara doa meminta rahmat untuk orang yang masih hidup dan yang telah wafat, yaitu orang yang telah wafat didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya). Sedangkan orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il mudhari’, dengan mengucapkan “Yarhamuhullah”. Dan ini salah satu dialek dalam bahasa Arab. Dan boleh juga orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah”. Sekelompok ulama bahasa Arab menjelaskan hal ini, dan di antaranya adalah penulis buku Kasyf al-Mughattha ‘ala Syarh al-Muwattha, yang bernama Ibnu ‘Asyur, beliau menyebutkan hal ini, sekaligus menyebutkan dalil yang menjadi landasan para ulama bahasa. Tentu bukan disebutkan dalam pembahasan hadits ini, namun hadits lain. Berdasarkan hal ini, sebagian sahabat memahami berdasarkan salah satu dialek orang Arab ini, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa beliau akan segera wafat, karena doa ini diungkapkan untuk orang yang wafat, sebab hal ini memiliki dua dialek dalam bahasa Arab. =============================================================================== ذَكَرَ بَعْضُ عُلَمَاءِ اللُّغَةِ وَالْبَلَاغَةِ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَ الدُّعَاءِ بِالرَّحْمَةِ لِلْحَيِّ وَالْمَيِّتِ بِأَنَّ الْمَيِّتَ يُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ وَأَمَّا الْحَيُّ فَيُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْحَاضِرِ فَيُقَالُ يَرْحَمُهُ اللهُ وَهَذِهِ لُغَةٌ وَيَجُوزُ أَنْ يُدْعَى لِلْحَيِّ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ كَذَلِكَ نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ جَمْعٌ مِنَ اللُّغَوِيِّينَ وَمِمَّنْ نَبَّهَ عَلَى هَذِهِ صَاحِبُ كَشْفِ المُغَطَّى عَلَى شَرْحِ الْمُوَطَّأ وَهُوَ ابْنُ عَاشُورٍ ذَكَرَ هَذَا وَذَكَرَ مُسْتَنَدَ أَهْلِ اللُّغَةِ فِيهَا طَبْعًا فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنَّمَا فِي حَدِيثٍ آخَرَ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ فَهِمَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنْ إِحْدَى لُغَاتِ الْعَرَبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَمُوتُ لِأَنَّ هَذَا الدُّعَاءَ إِنَّمَا يَكُونُ لِمَيِّتٍ لِأَنَّ فِيهَا وَجْهَانِ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ  
Beda Doa Rahmat untuk Orang Hidup dan Mati – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Sebagian ulama bahasa Arab dan balaghah menyebutkan, bahwa ada perbedaan antara doa meminta rahmat untuk orang yang masih hidup dan yang telah wafat, yaitu orang yang telah wafat didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya). Sedangkan orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il mudhari’, dengan mengucapkan “Yarhamuhullah”. Dan ini salah satu dialek dalam bahasa Arab. Dan boleh juga orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah”. Sekelompok ulama bahasa Arab menjelaskan hal ini, dan di antaranya adalah penulis buku Kasyf al-Mughattha ‘ala Syarh al-Muwattha, yang bernama Ibnu ‘Asyur, beliau menyebutkan hal ini, sekaligus menyebutkan dalil yang menjadi landasan para ulama bahasa. Tentu bukan disebutkan dalam pembahasan hadits ini, namun hadits lain. Berdasarkan hal ini, sebagian sahabat memahami berdasarkan salah satu dialek orang Arab ini, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa beliau akan segera wafat, karena doa ini diungkapkan untuk orang yang wafat, sebab hal ini memiliki dua dialek dalam bahasa Arab. =============================================================================== ذَكَرَ بَعْضُ عُلَمَاءِ اللُّغَةِ وَالْبَلَاغَةِ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَ الدُّعَاءِ بِالرَّحْمَةِ لِلْحَيِّ وَالْمَيِّتِ بِأَنَّ الْمَيِّتَ يُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ وَأَمَّا الْحَيُّ فَيُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْحَاضِرِ فَيُقَالُ يَرْحَمُهُ اللهُ وَهَذِهِ لُغَةٌ وَيَجُوزُ أَنْ يُدْعَى لِلْحَيِّ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ كَذَلِكَ نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ جَمْعٌ مِنَ اللُّغَوِيِّينَ وَمِمَّنْ نَبَّهَ عَلَى هَذِهِ صَاحِبُ كَشْفِ المُغَطَّى عَلَى شَرْحِ الْمُوَطَّأ وَهُوَ ابْنُ عَاشُورٍ ذَكَرَ هَذَا وَذَكَرَ مُسْتَنَدَ أَهْلِ اللُّغَةِ فِيهَا طَبْعًا فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنَّمَا فِي حَدِيثٍ آخَرَ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ فَهِمَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنْ إِحْدَى لُغَاتِ الْعَرَبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَمُوتُ لِأَنَّ هَذَا الدُّعَاءَ إِنَّمَا يَكُونُ لِمَيِّتٍ لِأَنَّ فِيهَا وَجْهَانِ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ  


Beda Doa Rahmat untuk Orang Hidup dan Mati – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Sebagian ulama bahasa Arab dan balaghah menyebutkan, bahwa ada perbedaan antara doa meminta rahmat untuk orang yang masih hidup dan yang telah wafat, yaitu orang yang telah wafat didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya). Sedangkan orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il mudhari’, dengan mengucapkan “Yarhamuhullah”. Dan ini salah satu dialek dalam bahasa Arab. Dan boleh juga orang yang masih hidup didoakan dengan ungkapan fi’il madhi, dengan mengucapkan “Rahimahullah”. Sekelompok ulama bahasa Arab menjelaskan hal ini, dan di antaranya adalah penulis buku Kasyf al-Mughattha ‘ala Syarh al-Muwattha, yang bernama Ibnu ‘Asyur, beliau menyebutkan hal ini, sekaligus menyebutkan dalil yang menjadi landasan para ulama bahasa. Tentu bukan disebutkan dalam pembahasan hadits ini, namun hadits lain. Berdasarkan hal ini, sebagian sahabat memahami berdasarkan salah satu dialek orang Arab ini, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa beliau akan segera wafat, karena doa ini diungkapkan untuk orang yang wafat, sebab hal ini memiliki dua dialek dalam bahasa Arab. =============================================================================== ذَكَرَ بَعْضُ عُلَمَاءِ اللُّغَةِ وَالْبَلَاغَةِ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَ الدُّعَاءِ بِالرَّحْمَةِ لِلْحَيِّ وَالْمَيِّتِ بِأَنَّ الْمَيِّتَ يُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ وَأَمَّا الْحَيُّ فَيُدْعَى لَهُ بِصِيغَةِ الْحَاضِرِ فَيُقَالُ يَرْحَمُهُ اللهُ وَهَذِهِ لُغَةٌ وَيَجُوزُ أَنْ يُدْعَى لِلْحَيِّ بِصِيغَةِ الْمَاضِي فَيُقَالُ رَحِمَهُ اللهُ كَذَلِكَ نَبَّهَ عَلَى ذَلِكَ جَمْعٌ مِنَ اللُّغَوِيِّينَ وَمِمَّنْ نَبَّهَ عَلَى هَذِهِ صَاحِبُ كَشْفِ المُغَطَّى عَلَى شَرْحِ الْمُوَطَّأ وَهُوَ ابْنُ عَاشُورٍ ذَكَرَ هَذَا وَذَكَرَ مُسْتَنَدَ أَهْلِ اللُّغَةِ فِيهَا طَبْعًا فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ وَإِنَّمَا فِي حَدِيثٍ آخَرَ وَبِنَاءً عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ فَهِمَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ مِنْ إِحْدَى لُغَاتِ الْعَرَبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَمُوتُ لِأَنَّ هَذَا الدُّعَاءَ إِنَّمَا يَكُونُ لِمَيِّتٍ لِأَنَّ فِيهَا وَجْهَانِ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ  

Fatwa Ulama: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan: Apakah hikmah diwajibkannya puasa Ramadan?Jawaban:Kalau kita membaca firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)kita mengetahui apa hikmah dari kewajiban berpuasa (Ramadan). Hikmahnya adalah (untuk meraih) ketakwaan dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Takwa adalah meninggalkan hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan. Kalau disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan apapun, pent.), istilah “takwa” mencakup melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi perkara-perkara yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji (kotor), Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 1903)Oleh karena itu, sangat ditekankan bagi orang yang berpuasa untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Maka, janganlah orang yang sedang berpuasa itu melakukan gibah terhadap orang lain, berdusta, tidak melakukan namimah (adu domba) di antara mereka, tidak melakukan jual beli yang haram, dan menjauhi seluruh perbuatan yang diharamkan. Jika seseorang melakukan hal itu selama sebulan penuh (di bulan Ramadan), maka dirinya akan terus-menerus melakukan hal itu di bulan-bulan sisanya di tahun itu.Akan tetapi, sangat disayangkan, banyak di antara orang yang berpuasa itu tidak ada bedanya antara hari ketika mereka berpuasa (yaitu selama bulan Ramadan, pent.) dan hari ketika mereka tidak berpuasa (yaitu di luar bulan Ramadan, pent.). Mereka tetap berada pada kebiasaan mereka, yaitu meninggalkan kewajiban dan melakukan hal-hal yang dilarang. Tidak ada pengaruhnya bagi mereka kemuliaan puasa (Ramadan). Perbuatan-perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa, akan tetapi mengurangi pahala puasa. Dan terkadang ketika ditimbang, dosa tersebut lebih besar daripada pahala puasa yang didapatkan, sehingga sia-sialah pahala puasanya.Baca Juga:Merindukan RamadanHukum Menggunakan Pasta Gigi, Obat Tetes Telinga dan Tetes Mata saat Puasa ***@Rumah Kasongan, 16 Sya’ban 1443/ 19 Maret 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 541-542, pertanyaan no. 392.🔍 Muslim, Hadits Tentang Qanaah, Amalan Masuk Surga Tanpa Dihisab, Bahaya Pacaran Dalam Islam, Foto PenyakitTags: amalan bulan ramadhanbulan ramadhanfatwaFatwa Ulamafikih puasa ramadhanfikih ramadhanhikmah puasakeutamaan puasanasihatnasihat islamPuasapuasa ramadhanRamadhan

Fatwa Ulama: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan: Apakah hikmah diwajibkannya puasa Ramadan?Jawaban:Kalau kita membaca firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)kita mengetahui apa hikmah dari kewajiban berpuasa (Ramadan). Hikmahnya adalah (untuk meraih) ketakwaan dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Takwa adalah meninggalkan hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan. Kalau disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan apapun, pent.), istilah “takwa” mencakup melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi perkara-perkara yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji (kotor), Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 1903)Oleh karena itu, sangat ditekankan bagi orang yang berpuasa untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Maka, janganlah orang yang sedang berpuasa itu melakukan gibah terhadap orang lain, berdusta, tidak melakukan namimah (adu domba) di antara mereka, tidak melakukan jual beli yang haram, dan menjauhi seluruh perbuatan yang diharamkan. Jika seseorang melakukan hal itu selama sebulan penuh (di bulan Ramadan), maka dirinya akan terus-menerus melakukan hal itu di bulan-bulan sisanya di tahun itu.Akan tetapi, sangat disayangkan, banyak di antara orang yang berpuasa itu tidak ada bedanya antara hari ketika mereka berpuasa (yaitu selama bulan Ramadan, pent.) dan hari ketika mereka tidak berpuasa (yaitu di luar bulan Ramadan, pent.). Mereka tetap berada pada kebiasaan mereka, yaitu meninggalkan kewajiban dan melakukan hal-hal yang dilarang. Tidak ada pengaruhnya bagi mereka kemuliaan puasa (Ramadan). Perbuatan-perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa, akan tetapi mengurangi pahala puasa. Dan terkadang ketika ditimbang, dosa tersebut lebih besar daripada pahala puasa yang didapatkan, sehingga sia-sialah pahala puasanya.Baca Juga:Merindukan RamadanHukum Menggunakan Pasta Gigi, Obat Tetes Telinga dan Tetes Mata saat Puasa ***@Rumah Kasongan, 16 Sya’ban 1443/ 19 Maret 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 541-542, pertanyaan no. 392.🔍 Muslim, Hadits Tentang Qanaah, Amalan Masuk Surga Tanpa Dihisab, Bahaya Pacaran Dalam Islam, Foto PenyakitTags: amalan bulan ramadhanbulan ramadhanfatwaFatwa Ulamafikih puasa ramadhanfikih ramadhanhikmah puasakeutamaan puasanasihatnasihat islamPuasapuasa ramadhanRamadhan
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan: Apakah hikmah diwajibkannya puasa Ramadan?Jawaban:Kalau kita membaca firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)kita mengetahui apa hikmah dari kewajiban berpuasa (Ramadan). Hikmahnya adalah (untuk meraih) ketakwaan dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Takwa adalah meninggalkan hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan. Kalau disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan apapun, pent.), istilah “takwa” mencakup melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi perkara-perkara yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji (kotor), Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 1903)Oleh karena itu, sangat ditekankan bagi orang yang berpuasa untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Maka, janganlah orang yang sedang berpuasa itu melakukan gibah terhadap orang lain, berdusta, tidak melakukan namimah (adu domba) di antara mereka, tidak melakukan jual beli yang haram, dan menjauhi seluruh perbuatan yang diharamkan. Jika seseorang melakukan hal itu selama sebulan penuh (di bulan Ramadan), maka dirinya akan terus-menerus melakukan hal itu di bulan-bulan sisanya di tahun itu.Akan tetapi, sangat disayangkan, banyak di antara orang yang berpuasa itu tidak ada bedanya antara hari ketika mereka berpuasa (yaitu selama bulan Ramadan, pent.) dan hari ketika mereka tidak berpuasa (yaitu di luar bulan Ramadan, pent.). Mereka tetap berada pada kebiasaan mereka, yaitu meninggalkan kewajiban dan melakukan hal-hal yang dilarang. Tidak ada pengaruhnya bagi mereka kemuliaan puasa (Ramadan). Perbuatan-perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa, akan tetapi mengurangi pahala puasa. Dan terkadang ketika ditimbang, dosa tersebut lebih besar daripada pahala puasa yang didapatkan, sehingga sia-sialah pahala puasanya.Baca Juga:Merindukan RamadanHukum Menggunakan Pasta Gigi, Obat Tetes Telinga dan Tetes Mata saat Puasa ***@Rumah Kasongan, 16 Sya’ban 1443/ 19 Maret 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 541-542, pertanyaan no. 392.🔍 Muslim, Hadits Tentang Qanaah, Amalan Masuk Surga Tanpa Dihisab, Bahaya Pacaran Dalam Islam, Foto PenyakitTags: amalan bulan ramadhanbulan ramadhanfatwaFatwa Ulamafikih puasa ramadhanfikih ramadhanhikmah puasakeutamaan puasanasihatnasihat islamPuasapuasa ramadhanRamadhan


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘UtsaiminPertanyaan: Apakah hikmah diwajibkannya puasa Ramadan?Jawaban:Kalau kita membaca firman Allah Ta’ala,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)kita mengetahui apa hikmah dari kewajiban berpuasa (Ramadan). Hikmahnya adalah (untuk meraih) ketakwaan dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Takwa adalah meninggalkan hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan. Kalau disebutkan secara mutlak (tidak ada tambahan keterangan apapun, pent.), istilah “takwa” mencakup melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi perkara-perkara yang dilarang.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji (kotor), Allah tidak butuh orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 1903)Oleh karena itu, sangat ditekankan bagi orang yang berpuasa untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Maka, janganlah orang yang sedang berpuasa itu melakukan gibah terhadap orang lain, berdusta, tidak melakukan namimah (adu domba) di antara mereka, tidak melakukan jual beli yang haram, dan menjauhi seluruh perbuatan yang diharamkan. Jika seseorang melakukan hal itu selama sebulan penuh (di bulan Ramadan), maka dirinya akan terus-menerus melakukan hal itu di bulan-bulan sisanya di tahun itu.Akan tetapi, sangat disayangkan, banyak di antara orang yang berpuasa itu tidak ada bedanya antara hari ketika mereka berpuasa (yaitu selama bulan Ramadan, pent.) dan hari ketika mereka tidak berpuasa (yaitu di luar bulan Ramadan, pent.). Mereka tetap berada pada kebiasaan mereka, yaitu meninggalkan kewajiban dan melakukan hal-hal yang dilarang. Tidak ada pengaruhnya bagi mereka kemuliaan puasa (Ramadan). Perbuatan-perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa, akan tetapi mengurangi pahala puasa. Dan terkadang ketika ditimbang, dosa tersebut lebih besar daripada pahala puasa yang didapatkan, sehingga sia-sialah pahala puasanya.Baca Juga:Merindukan RamadanHukum Menggunakan Pasta Gigi, Obat Tetes Telinga dan Tetes Mata saat Puasa ***@Rumah Kasongan, 16 Sya’ban 1443/ 19 Maret 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 541-542, pertanyaan no. 392.🔍 Muslim, Hadits Tentang Qanaah, Amalan Masuk Surga Tanpa Dihisab, Bahaya Pacaran Dalam Islam, Foto PenyakitTags: amalan bulan ramadhanbulan ramadhanfatwaFatwa Ulamafikih puasa ramadhanfikih ramadhanhikmah puasakeutamaan puasanasihatnasihat islamPuasapuasa ramadhanRamadhan

Bahagianya Allah Saat Kamu Tobat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Bahagianya Allah Saat Kamu Tobat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Allah senang memberi maaf dan ampunan, dan mencintai taubat dari hamba-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) Oleh sebab itulah, Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sifat, bentuk, dan keadaan, yang menjadikan mereka harus bertaubat kepada-Nya, dan mengharuskan mereka beristighfar, serta meminta maaf dan ampunan-Nya. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Allah akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampunan kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim) Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan taubat adalah salah satu ketaatan yang paling Allah cintai. Dan cukuplah sebagai tanda kecintaan-Nya, Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya. Dalam hadis shahih diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya saat ia menyebut-Ku. Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya daripada salah satu dari kalian yang menemukan hewannya yang hilang di padang pasir. … …’” (HR. Bukhari & Muslim) Lalu setelah seorang mukmin bertawasul kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-Nya, serta dengan amalan dan segala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai, maka hendaklah ia meminta kepada Allah agar mengampuninya, sehingga Allah tidak menyiksanya akibat dosa yang ia perbuat dan membalas keburukan yang telah ia lakukan. Dan tidaklah seorang hamba berdoa dengan doa tersebut, kecuali dirinya telah mengakui atas kelalaian dan kealpaannya, dan mengakui bahwa ia layak untuk dihukum, serta tidak ada permintaan yang lebih besar selain ampunan. Hendaklah seorang hamba memandang amalannya tidak seberapa, meskipun ia telah banyak beramal. Sehingga puncak permintaannya pada Allah adalah ampunan dan pemberian maaf atas kesalahan dan kelalaiannya. ============================================================================== إِذِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الْعَفْوَ وَالْمَغْفِرَةَ وَيُحِبُّ التَّوْبَةَ مِنْ عِبَادِهِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَلِذَلِكَ خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقَهُ عَلَى صِفَاتٍ وَهَيْئَاتٍ وَأَحْوَالٍ تَقْتَضِي تَوْبَتَهُم إِلَيْهِ وَتَسْتَلْزِمُ اسْتِغْفَارَهُمْ وَطَلَبَهُمْ عَفْوَهُ وَمَغْفِرَتَهُ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَالتَّوْبَةُ مِنْ أَحَبِّ الطَّاعَاتِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَيَكْفِي فِي مَحَبَّتِهَا شِدَّةُ فَرَحِهِ بِهَا فِي الصِّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي وَاللهِ لَلهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ فِي الْفَلَاةِ ثُمَّ إِنَّ الْمُؤْمِنَ بَعْدَ أَنْ يَتَوَسَّلَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِاسْمِهِ وَإِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِفِعْلِه وَمَا يُحِبُّهُ فَإِنَّهُ يَسْأَلِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُ فَلَا يُعَاقِبُهُ بِذَنْبِهِ وَلَا يَجْزِيْهِ جَزَاءَ مَا اقْتَرَفَتْ يَدَاهُ فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ إِلَّا وَقَدِ اعْتَرَفَتْ نَفْسُهُ بِأَنَّهَا مُقَصِّرَةٌ مُفَرِّطَةٌ وَأَنَّهَا مُسْتَحِقَّةٌ لِلْعُقُوبَةِ وَلَيْسَ لَهَا مَطْلَبٌ إِلَّا الْعَفْوَ فَالْعَبْدُ عَلَيْهِ أَنْ يَحْتَقِرَ عَمَلَهُ وَلَوْ كَانَ كَثِيرًا فَيَكُونُ مُنْتَهَى طَلَبِهِ الْمَغْفِرَةَ وَالْعَفْوَ عَنِ الْخَطَأِ وَعَنِ التَّقْصِيرِ  

Bahagianya Allah Saat Kamu Tobat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Bahagianya Allah Saat Kamu Tobat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Allah senang memberi maaf dan ampunan, dan mencintai taubat dari hamba-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) Oleh sebab itulah, Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sifat, bentuk, dan keadaan, yang menjadikan mereka harus bertaubat kepada-Nya, dan mengharuskan mereka beristighfar, serta meminta maaf dan ampunan-Nya. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Allah akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampunan kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim) Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan taubat adalah salah satu ketaatan yang paling Allah cintai. Dan cukuplah sebagai tanda kecintaan-Nya, Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya. Dalam hadis shahih diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya saat ia menyebut-Ku. Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya daripada salah satu dari kalian yang menemukan hewannya yang hilang di padang pasir. … …’” (HR. Bukhari & Muslim) Lalu setelah seorang mukmin bertawasul kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-Nya, serta dengan amalan dan segala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai, maka hendaklah ia meminta kepada Allah agar mengampuninya, sehingga Allah tidak menyiksanya akibat dosa yang ia perbuat dan membalas keburukan yang telah ia lakukan. Dan tidaklah seorang hamba berdoa dengan doa tersebut, kecuali dirinya telah mengakui atas kelalaian dan kealpaannya, dan mengakui bahwa ia layak untuk dihukum, serta tidak ada permintaan yang lebih besar selain ampunan. Hendaklah seorang hamba memandang amalannya tidak seberapa, meskipun ia telah banyak beramal. Sehingga puncak permintaannya pada Allah adalah ampunan dan pemberian maaf atas kesalahan dan kelalaiannya. ============================================================================== إِذِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الْعَفْوَ وَالْمَغْفِرَةَ وَيُحِبُّ التَّوْبَةَ مِنْ عِبَادِهِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَلِذَلِكَ خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقَهُ عَلَى صِفَاتٍ وَهَيْئَاتٍ وَأَحْوَالٍ تَقْتَضِي تَوْبَتَهُم إِلَيْهِ وَتَسْتَلْزِمُ اسْتِغْفَارَهُمْ وَطَلَبَهُمْ عَفْوَهُ وَمَغْفِرَتَهُ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَالتَّوْبَةُ مِنْ أَحَبِّ الطَّاعَاتِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَيَكْفِي فِي مَحَبَّتِهَا شِدَّةُ فَرَحِهِ بِهَا فِي الصِّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي وَاللهِ لَلهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ فِي الْفَلَاةِ ثُمَّ إِنَّ الْمُؤْمِنَ بَعْدَ أَنْ يَتَوَسَّلَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِاسْمِهِ وَإِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِفِعْلِه وَمَا يُحِبُّهُ فَإِنَّهُ يَسْأَلِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُ فَلَا يُعَاقِبُهُ بِذَنْبِهِ وَلَا يَجْزِيْهِ جَزَاءَ مَا اقْتَرَفَتْ يَدَاهُ فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ إِلَّا وَقَدِ اعْتَرَفَتْ نَفْسُهُ بِأَنَّهَا مُقَصِّرَةٌ مُفَرِّطَةٌ وَأَنَّهَا مُسْتَحِقَّةٌ لِلْعُقُوبَةِ وَلَيْسَ لَهَا مَطْلَبٌ إِلَّا الْعَفْوَ فَالْعَبْدُ عَلَيْهِ أَنْ يَحْتَقِرَ عَمَلَهُ وَلَوْ كَانَ كَثِيرًا فَيَكُونُ مُنْتَهَى طَلَبِهِ الْمَغْفِرَةَ وَالْعَفْوَ عَنِ الْخَطَأِ وَعَنِ التَّقْصِيرِ  
Bahagianya Allah Saat Kamu Tobat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Allah senang memberi maaf dan ampunan, dan mencintai taubat dari hamba-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) Oleh sebab itulah, Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sifat, bentuk, dan keadaan, yang menjadikan mereka harus bertaubat kepada-Nya, dan mengharuskan mereka beristighfar, serta meminta maaf dan ampunan-Nya. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Allah akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampunan kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim) Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan taubat adalah salah satu ketaatan yang paling Allah cintai. Dan cukuplah sebagai tanda kecintaan-Nya, Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya. Dalam hadis shahih diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya saat ia menyebut-Ku. Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya daripada salah satu dari kalian yang menemukan hewannya yang hilang di padang pasir. … …’” (HR. Bukhari & Muslim) Lalu setelah seorang mukmin bertawasul kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-Nya, serta dengan amalan dan segala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai, maka hendaklah ia meminta kepada Allah agar mengampuninya, sehingga Allah tidak menyiksanya akibat dosa yang ia perbuat dan membalas keburukan yang telah ia lakukan. Dan tidaklah seorang hamba berdoa dengan doa tersebut, kecuali dirinya telah mengakui atas kelalaian dan kealpaannya, dan mengakui bahwa ia layak untuk dihukum, serta tidak ada permintaan yang lebih besar selain ampunan. Hendaklah seorang hamba memandang amalannya tidak seberapa, meskipun ia telah banyak beramal. Sehingga puncak permintaannya pada Allah adalah ampunan dan pemberian maaf atas kesalahan dan kelalaiannya. ============================================================================== إِذِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الْعَفْوَ وَالْمَغْفِرَةَ وَيُحِبُّ التَّوْبَةَ مِنْ عِبَادِهِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَلِذَلِكَ خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقَهُ عَلَى صِفَاتٍ وَهَيْئَاتٍ وَأَحْوَالٍ تَقْتَضِي تَوْبَتَهُم إِلَيْهِ وَتَسْتَلْزِمُ اسْتِغْفَارَهُمْ وَطَلَبَهُمْ عَفْوَهُ وَمَغْفِرَتَهُ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَالتَّوْبَةُ مِنْ أَحَبِّ الطَّاعَاتِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَيَكْفِي فِي مَحَبَّتِهَا شِدَّةُ فَرَحِهِ بِهَا فِي الصِّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي وَاللهِ لَلهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ فِي الْفَلَاةِ ثُمَّ إِنَّ الْمُؤْمِنَ بَعْدَ أَنْ يَتَوَسَّلَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِاسْمِهِ وَإِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِفِعْلِه وَمَا يُحِبُّهُ فَإِنَّهُ يَسْأَلِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُ فَلَا يُعَاقِبُهُ بِذَنْبِهِ وَلَا يَجْزِيْهِ جَزَاءَ مَا اقْتَرَفَتْ يَدَاهُ فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ إِلَّا وَقَدِ اعْتَرَفَتْ نَفْسُهُ بِأَنَّهَا مُقَصِّرَةٌ مُفَرِّطَةٌ وَأَنَّهَا مُسْتَحِقَّةٌ لِلْعُقُوبَةِ وَلَيْسَ لَهَا مَطْلَبٌ إِلَّا الْعَفْوَ فَالْعَبْدُ عَلَيْهِ أَنْ يَحْتَقِرَ عَمَلَهُ وَلَوْ كَانَ كَثِيرًا فَيَكُونُ مُنْتَهَى طَلَبِهِ الْمَغْفِرَةَ وَالْعَفْوَ عَنِ الْخَطَأِ وَعَنِ التَّقْصِيرِ  


Bahagianya Allah Saat Kamu Tobat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Allah senang memberi maaf dan ampunan, dan mencintai taubat dari hamba-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) Oleh sebab itulah, Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sifat, bentuk, dan keadaan, yang menjadikan mereka harus bertaubat kepada-Nya, dan mengharuskan mereka beristighfar, serta meminta maaf dan ampunan-Nya. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Allah akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampunan kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim) Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan taubat adalah salah satu ketaatan yang paling Allah cintai. Dan cukuplah sebagai tanda kecintaan-Nya, Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya. Dalam hadis shahih diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya saat ia menyebut-Ku. Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya daripada salah satu dari kalian yang menemukan hewannya yang hilang di padang pasir. … …’” (HR. Bukhari & Muslim) Lalu setelah seorang mukmin bertawasul kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan nama-Nya, serta dengan amalan dan segala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai, maka hendaklah ia meminta kepada Allah agar mengampuninya, sehingga Allah tidak menyiksanya akibat dosa yang ia perbuat dan membalas keburukan yang telah ia lakukan. Dan tidaklah seorang hamba berdoa dengan doa tersebut, kecuali dirinya telah mengakui atas kelalaian dan kealpaannya, dan mengakui bahwa ia layak untuk dihukum, serta tidak ada permintaan yang lebih besar selain ampunan. Hendaklah seorang hamba memandang amalannya tidak seberapa, meskipun ia telah banyak beramal. Sehingga puncak permintaannya pada Allah adalah ampunan dan pemberian maaf atas kesalahan dan kelalaiannya. ============================================================================== إِذِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الْعَفْوَ وَالْمَغْفِرَةَ وَيُحِبُّ التَّوْبَةَ مِنْ عِبَادِهِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَلِذَلِكَ خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقَهُ عَلَى صِفَاتٍ وَهَيْئَاتٍ وَأَحْوَالٍ تَقْتَضِي تَوْبَتَهُم إِلَيْهِ وَتَسْتَلْزِمُ اسْتِغْفَارَهُمْ وَطَلَبَهُمْ عَفْوَهُ وَمَغْفِرَتَهُ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَالتَّوْبَةُ مِنْ أَحَبِّ الطَّاعَاتِ إِلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا وَيَكْفِي فِي مَحَبَّتِهَا شِدَّةُ فَرَحِهِ بِهَا فِي الصِّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي وَاللهِ لَلهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ فِي الْفَلَاةِ ثُمَّ إِنَّ الْمُؤْمِنَ بَعْدَ أَنْ يَتَوَسَّلَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا بِاسْمِهِ وَإِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِفِعْلِه وَمَا يُحِبُّهُ فَإِنَّهُ يَسْأَلِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُ فَلَا يُعَاقِبُهُ بِذَنْبِهِ وَلَا يَجْزِيْهِ جَزَاءَ مَا اقْتَرَفَتْ يَدَاهُ فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ إِلَّا وَقَدِ اعْتَرَفَتْ نَفْسُهُ بِأَنَّهَا مُقَصِّرَةٌ مُفَرِّطَةٌ وَأَنَّهَا مُسْتَحِقَّةٌ لِلْعُقُوبَةِ وَلَيْسَ لَهَا مَطْلَبٌ إِلَّا الْعَفْوَ فَالْعَبْدُ عَلَيْهِ أَنْ يَحْتَقِرَ عَمَلَهُ وَلَوْ كَانَ كَثِيرًا فَيَكُونُ مُنْتَهَى طَلَبِهِ الْمَغْفِرَةَ وَالْعَفْوَ عَنِ الْخَطَأِ وَعَنِ التَّقْصِيرِ  

Apakah Wajib Taat kepada Kakak? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Apakah Wajib Taat kepada Kakak? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Apakah wajib hukumnya menaati kakak laki-laki dan perempuan? Dan apakah wajib menaati kakak yang bersikap semena-mena? Tidak wajib, yang wajib adalah taat kepada kedua orang tua. Namun, taat kepada kakak termasuk adab yang baik. Bagian dari adab adalah yang muda taat kepada orang yang lebih tua. “Bukan termasuk golongan kami: orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengenal kemuliaan yang tua.” (HR. Tirmidzi) Terlebih lagi jika ia adalah saudara sendiri. Seorang adik menaati kakak laki-laki atau perempuannya, merupakan bagian dari adab. ============================================================================== هَلْ طَاعَةُ الْأَخِ الْكَبِيرِ وَالْأُخْتِ الْكَبِيرَةِ وَاجِبَةٌ؟ وَهَلْ إِذَا كَانَ الْأَخُ مُتَسَلِّطًا تَجِبُ طَاعَتُهُ؟ لَا الطَّاعَةُ لِلْوَالِدَيْنِ لَكِنَّ هَذَا مِنَ الْأَدَبِ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ الصَّغِيرُ الْكَبِيرَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا فَطَاعَةُ الْكَبِيرِ خَاصَّةً إِذَا كَانَ أَخًا هَذَا مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ أَخَاهُ الْأَكْبَرَ أَوْ أُخْتَهُ الْكُبْرَى  

Apakah Wajib Taat kepada Kakak? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Apakah Wajib Taat kepada Kakak? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Apakah wajib hukumnya menaati kakak laki-laki dan perempuan? Dan apakah wajib menaati kakak yang bersikap semena-mena? Tidak wajib, yang wajib adalah taat kepada kedua orang tua. Namun, taat kepada kakak termasuk adab yang baik. Bagian dari adab adalah yang muda taat kepada orang yang lebih tua. “Bukan termasuk golongan kami: orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengenal kemuliaan yang tua.” (HR. Tirmidzi) Terlebih lagi jika ia adalah saudara sendiri. Seorang adik menaati kakak laki-laki atau perempuannya, merupakan bagian dari adab. ============================================================================== هَلْ طَاعَةُ الْأَخِ الْكَبِيرِ وَالْأُخْتِ الْكَبِيرَةِ وَاجِبَةٌ؟ وَهَلْ إِذَا كَانَ الْأَخُ مُتَسَلِّطًا تَجِبُ طَاعَتُهُ؟ لَا الطَّاعَةُ لِلْوَالِدَيْنِ لَكِنَّ هَذَا مِنَ الْأَدَبِ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ الصَّغِيرُ الْكَبِيرَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا فَطَاعَةُ الْكَبِيرِ خَاصَّةً إِذَا كَانَ أَخًا هَذَا مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ أَخَاهُ الْأَكْبَرَ أَوْ أُخْتَهُ الْكُبْرَى  
Apakah Wajib Taat kepada Kakak? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Apakah wajib hukumnya menaati kakak laki-laki dan perempuan? Dan apakah wajib menaati kakak yang bersikap semena-mena? Tidak wajib, yang wajib adalah taat kepada kedua orang tua. Namun, taat kepada kakak termasuk adab yang baik. Bagian dari adab adalah yang muda taat kepada orang yang lebih tua. “Bukan termasuk golongan kami: orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengenal kemuliaan yang tua.” (HR. Tirmidzi) Terlebih lagi jika ia adalah saudara sendiri. Seorang adik menaati kakak laki-laki atau perempuannya, merupakan bagian dari adab. ============================================================================== هَلْ طَاعَةُ الْأَخِ الْكَبِيرِ وَالْأُخْتِ الْكَبِيرَةِ وَاجِبَةٌ؟ وَهَلْ إِذَا كَانَ الْأَخُ مُتَسَلِّطًا تَجِبُ طَاعَتُهُ؟ لَا الطَّاعَةُ لِلْوَالِدَيْنِ لَكِنَّ هَذَا مِنَ الْأَدَبِ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ الصَّغِيرُ الْكَبِيرَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا فَطَاعَةُ الْكَبِيرِ خَاصَّةً إِذَا كَانَ أَخًا هَذَا مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ أَخَاهُ الْأَكْبَرَ أَوْ أُخْتَهُ الْكُبْرَى  


Apakah Wajib Taat kepada Kakak? – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Apakah wajib hukumnya menaati kakak laki-laki dan perempuan? Dan apakah wajib menaati kakak yang bersikap semena-mena? Tidak wajib, yang wajib adalah taat kepada kedua orang tua. Namun, taat kepada kakak termasuk adab yang baik. Bagian dari adab adalah yang muda taat kepada orang yang lebih tua. “Bukan termasuk golongan kami: orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengenal kemuliaan yang tua.” (HR. Tirmidzi) Terlebih lagi jika ia adalah saudara sendiri. Seorang adik menaati kakak laki-laki atau perempuannya, merupakan bagian dari adab. ============================================================================== هَلْ طَاعَةُ الْأَخِ الْكَبِيرِ وَالْأُخْتِ الْكَبِيرَةِ وَاجِبَةٌ؟ وَهَلْ إِذَا كَانَ الْأَخُ مُتَسَلِّطًا تَجِبُ طَاعَتُهُ؟ لَا الطَّاعَةُ لِلْوَالِدَيْنِ لَكِنَّ هَذَا مِنَ الْأَدَبِ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ الصَّغِيرُ الْكَبِيرَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا فَطَاعَةُ الْكَبِيرِ خَاصَّةً إِذَا كَانَ أَخًا هَذَا مِنَ الْأَدَبِ أَنْ يُطِيعَ أَخَاهُ الْأَكْبَرَ أَوْ أُخْتَهُ الْكُبْرَى  

Apakah Pelaku Dosa Besar Masuk Surga – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Apakah Pelaku Dosa Besar Masuk Surga – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Tidaklah Allah mengampuni pendosa kecuali karena Dia mengetahui adanya iman dalam hatinya. Akan tetapi, pendosa itu adalah orang yang lalai, sebagaimana keadaan banyak kaum muslimin sekarang. Para pelaku dosa besar, secara umum, adalah orang-orang yang lalai. Namun, pelaku dosa besar tetap orang yang bertauhid, di antara mereka ada yang tidak masuk neraka, ada di antara mereka juga yang Allah beri syafaat melalui keluarganya, atau melalui para Nabi, atau melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau melalui hal lain, sehingga mereka sama sekali tidak masuk neraka, padahal mereka pelaku dosa besar. Allah mengampuni mereka. Di antara mereka, juga ada yang masuk neraka beberapa saat terlebih dahulu, kemudian ia masuk surga. Ada hadits tentang orang yang mendapat 99 buku catatan amal buruknya, yang Allah memerintahkan agar buku catatan itu dihamparkan di hadapannya. Saat buku itu dihamparkan di hadapannya, ia yakin akan binasa. Allah berfirman, “Kamu masih punya satu kebaikan di sisi Kami.” Ia berkata, “Apa yang dapat dilakukan satu kebaikan itu?” Maka didatangkan pahala kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Kalimat ini diletakkan di satu sisi timbangan, dan 99 buku itu diletakkan di sisi lainnya. Ternyata buku-buku ini kalah berat. =============================================================================== اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا غَفَرَ لِلْمُذْنِبِ إِلَّا عَلِمَ مَا فِي قَلْبِهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ مُقَصِّرٌ كَمَا هُوَ حَالُ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْيَوْمَ يُقَصِّرُ أَهْلُ الْكَبَائِرِ بِشَكْلٍ عَامٍّ أَهْلُ الْكَبَائِرِ مُوَحِّدُوْنَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مِنْهُمْ أَنْ يُشَفِّعَ اللهُ بِهِ أَهْلَهُ أَوِ الْأَنْبِيَاءَ أَوِ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ وَلَا يَدْخُلُونَ النَّارَ أَصْلًا وَهُمْ أَهْلُ الْكَبَائِرِ يَغْفِرُ اللهُ لَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُونَ النَّارَ فَتْرَةً ثُمَّ يَعُودُونَ إِلَى الْجَنَّةِ وَحَدِيْثُ صَاحِبِ التِّسْعَةِ وَتِسْعِيْنَ سِجِلًّا الَّذِي أَمَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُبْسَطَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَلَمَّا بُسِطَتْ لَه وَأَوْشَكَ الْهَلَاكَ قَالَ إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً قَالَ وَمَا تَفْعَلُ هَذِهِ الْحَسَنَةُ؟ فَجِيءَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَوُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالسِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ          

Apakah Pelaku Dosa Besar Masuk Surga – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Apakah Pelaku Dosa Besar Masuk Surga – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Tidaklah Allah mengampuni pendosa kecuali karena Dia mengetahui adanya iman dalam hatinya. Akan tetapi, pendosa itu adalah orang yang lalai, sebagaimana keadaan banyak kaum muslimin sekarang. Para pelaku dosa besar, secara umum, adalah orang-orang yang lalai. Namun, pelaku dosa besar tetap orang yang bertauhid, di antara mereka ada yang tidak masuk neraka, ada di antara mereka juga yang Allah beri syafaat melalui keluarganya, atau melalui para Nabi, atau melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau melalui hal lain, sehingga mereka sama sekali tidak masuk neraka, padahal mereka pelaku dosa besar. Allah mengampuni mereka. Di antara mereka, juga ada yang masuk neraka beberapa saat terlebih dahulu, kemudian ia masuk surga. Ada hadits tentang orang yang mendapat 99 buku catatan amal buruknya, yang Allah memerintahkan agar buku catatan itu dihamparkan di hadapannya. Saat buku itu dihamparkan di hadapannya, ia yakin akan binasa. Allah berfirman, “Kamu masih punya satu kebaikan di sisi Kami.” Ia berkata, “Apa yang dapat dilakukan satu kebaikan itu?” Maka didatangkan pahala kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Kalimat ini diletakkan di satu sisi timbangan, dan 99 buku itu diletakkan di sisi lainnya. Ternyata buku-buku ini kalah berat. =============================================================================== اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا غَفَرَ لِلْمُذْنِبِ إِلَّا عَلِمَ مَا فِي قَلْبِهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ مُقَصِّرٌ كَمَا هُوَ حَالُ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْيَوْمَ يُقَصِّرُ أَهْلُ الْكَبَائِرِ بِشَكْلٍ عَامٍّ أَهْلُ الْكَبَائِرِ مُوَحِّدُوْنَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مِنْهُمْ أَنْ يُشَفِّعَ اللهُ بِهِ أَهْلَهُ أَوِ الْأَنْبِيَاءَ أَوِ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ وَلَا يَدْخُلُونَ النَّارَ أَصْلًا وَهُمْ أَهْلُ الْكَبَائِرِ يَغْفِرُ اللهُ لَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُونَ النَّارَ فَتْرَةً ثُمَّ يَعُودُونَ إِلَى الْجَنَّةِ وَحَدِيْثُ صَاحِبِ التِّسْعَةِ وَتِسْعِيْنَ سِجِلًّا الَّذِي أَمَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُبْسَطَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَلَمَّا بُسِطَتْ لَه وَأَوْشَكَ الْهَلَاكَ قَالَ إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً قَالَ وَمَا تَفْعَلُ هَذِهِ الْحَسَنَةُ؟ فَجِيءَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَوُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالسِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ          
Apakah Pelaku Dosa Besar Masuk Surga – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Tidaklah Allah mengampuni pendosa kecuali karena Dia mengetahui adanya iman dalam hatinya. Akan tetapi, pendosa itu adalah orang yang lalai, sebagaimana keadaan banyak kaum muslimin sekarang. Para pelaku dosa besar, secara umum, adalah orang-orang yang lalai. Namun, pelaku dosa besar tetap orang yang bertauhid, di antara mereka ada yang tidak masuk neraka, ada di antara mereka juga yang Allah beri syafaat melalui keluarganya, atau melalui para Nabi, atau melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau melalui hal lain, sehingga mereka sama sekali tidak masuk neraka, padahal mereka pelaku dosa besar. Allah mengampuni mereka. Di antara mereka, juga ada yang masuk neraka beberapa saat terlebih dahulu, kemudian ia masuk surga. Ada hadits tentang orang yang mendapat 99 buku catatan amal buruknya, yang Allah memerintahkan agar buku catatan itu dihamparkan di hadapannya. Saat buku itu dihamparkan di hadapannya, ia yakin akan binasa. Allah berfirman, “Kamu masih punya satu kebaikan di sisi Kami.” Ia berkata, “Apa yang dapat dilakukan satu kebaikan itu?” Maka didatangkan pahala kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Kalimat ini diletakkan di satu sisi timbangan, dan 99 buku itu diletakkan di sisi lainnya. Ternyata buku-buku ini kalah berat. =============================================================================== اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا غَفَرَ لِلْمُذْنِبِ إِلَّا عَلِمَ مَا فِي قَلْبِهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ مُقَصِّرٌ كَمَا هُوَ حَالُ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْيَوْمَ يُقَصِّرُ أَهْلُ الْكَبَائِرِ بِشَكْلٍ عَامٍّ أَهْلُ الْكَبَائِرِ مُوَحِّدُوْنَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مِنْهُمْ أَنْ يُشَفِّعَ اللهُ بِهِ أَهْلَهُ أَوِ الْأَنْبِيَاءَ أَوِ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ وَلَا يَدْخُلُونَ النَّارَ أَصْلًا وَهُمْ أَهْلُ الْكَبَائِرِ يَغْفِرُ اللهُ لَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُونَ النَّارَ فَتْرَةً ثُمَّ يَعُودُونَ إِلَى الْجَنَّةِ وَحَدِيْثُ صَاحِبِ التِّسْعَةِ وَتِسْعِيْنَ سِجِلًّا الَّذِي أَمَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُبْسَطَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَلَمَّا بُسِطَتْ لَه وَأَوْشَكَ الْهَلَاكَ قَالَ إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً قَالَ وَمَا تَفْعَلُ هَذِهِ الْحَسَنَةُ؟ فَجِيءَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَوُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالسِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ          


Apakah Pelaku Dosa Besar Masuk Surga – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Tidaklah Allah mengampuni pendosa kecuali karena Dia mengetahui adanya iman dalam hatinya. Akan tetapi, pendosa itu adalah orang yang lalai, sebagaimana keadaan banyak kaum muslimin sekarang. Para pelaku dosa besar, secara umum, adalah orang-orang yang lalai. Namun, pelaku dosa besar tetap orang yang bertauhid, di antara mereka ada yang tidak masuk neraka, ada di antara mereka juga yang Allah beri syafaat melalui keluarganya, atau melalui para Nabi, atau melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau melalui hal lain, sehingga mereka sama sekali tidak masuk neraka, padahal mereka pelaku dosa besar. Allah mengampuni mereka. Di antara mereka, juga ada yang masuk neraka beberapa saat terlebih dahulu, kemudian ia masuk surga. Ada hadits tentang orang yang mendapat 99 buku catatan amal buruknya, yang Allah memerintahkan agar buku catatan itu dihamparkan di hadapannya. Saat buku itu dihamparkan di hadapannya, ia yakin akan binasa. Allah berfirman, “Kamu masih punya satu kebaikan di sisi Kami.” Ia berkata, “Apa yang dapat dilakukan satu kebaikan itu?” Maka didatangkan pahala kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Kalimat ini diletakkan di satu sisi timbangan, dan 99 buku itu diletakkan di sisi lainnya. Ternyata buku-buku ini kalah berat. =============================================================================== اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَا غَفَرَ لِلْمُذْنِبِ إِلَّا عَلِمَ مَا فِي قَلْبِهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَلَكِنَّهُ مُقَصِّرٌ كَمَا هُوَ حَالُ كَثِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْيَوْمَ يُقَصِّرُ أَهْلُ الْكَبَائِرِ بِشَكْلٍ عَامٍّ أَهْلُ الْكَبَائِرِ مُوَحِّدُوْنَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مِنْهُمْ أَنْ يُشَفِّعَ اللهُ بِهِ أَهْلَهُ أَوِ الْأَنْبِيَاءَ أَوِ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ وَلَا يَدْخُلُونَ النَّارَ أَصْلًا وَهُمْ أَهْلُ الْكَبَائِرِ يَغْفِرُ اللهُ لَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُونَ النَّارَ فَتْرَةً ثُمَّ يَعُودُونَ إِلَى الْجَنَّةِ وَحَدِيْثُ صَاحِبِ التِّسْعَةِ وَتِسْعِيْنَ سِجِلًّا الَّذِي أَمَرَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا أَنْ تُبْسَطَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَلَمَّا بُسِطَتْ لَه وَأَوْشَكَ الْهَلَاكَ قَالَ إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً قَالَ وَمَا تَفْعَلُ هَذِهِ الْحَسَنَةُ؟ فَجِيءَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَوُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالسِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ          

Cara Rujuk dengan Istri yang Sudah Ditalak – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Cara Rujuk dengan Istri yang Sudah Ditalak – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Aku telah menalak istriku, dengan talak satu, dan aku ingin rujuk kembali, bagaimana caranya? Jika istri itu masih dalam masa iddahnya—yakni masa iddahnya belum berakhir—dan suami telah berhubungan badan di masa itu, maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujuk kamu kembali.” Itu saja. Dan ia mendatangkan dua saksi laki-laki, baik itu dari saudara suami, saudara istri, atau teman yang mengenal suami atau istri. Jadi, kamu katakan, “Aku mentalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya kembali pada tanggal sekian.” Dan jika suami tidak berhubungan intim dengan istri (dalam masa iddahnya), yakni ia mentalaknya hingga akhir iddah, maka istrinya tidak halal baginya, kecuali harus dilakukan akad nikah yang baru, dengan mahar baru, kerelaan, dan wali, persis seperti akad pertama. Suami tidak boleh merujuknya jika ia tidak berhubungan badan dengan istrinya itu (di masa iddah). Dan jika iddahnya telah berakhir, baik itu dengan melahirkan, atau hitungan bulan jika wanita itu sudah tua dan tidak lagi haid, atau dengan hitungan haid, atau hitungan qur’u secara umum, baik itu qur’u dengan makna masa haid atau masa suci. Jadi, rujuknya harus sebelum masa iddah ini selesai. Karena setelah masa iddah selesai, maka ia tidak boleh merujuknya, kecuali dengan akad yang baru. Adapun jika rujuk dilakukan sebelum selesai masa iddah—dan ini yang sepertinya ditanyakan—maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujukmu sebagai istriku.” Dan ia mencatat, begitu juga dengan istrinya, bahwa ia menalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya pada tanggal sekian. Karena banyak orang yang lupa. Ia berkata, “Aku mentalak istriku, tapi aku tak tahu ini yang pertama atau kedua?!” “Ini talak dua atau talak tiga?!” “Aku tak tahu, ini yang kedua atau yang ketiga?!” Banyak orang yang lupa, sehingga hal-hal seperti ini harus ditulis. Ia harus menulis, “Aku menalaknya pada tanggal sekian, dan merujukkan pada tanggal sekian.” Wallahu a’lam. =============================================================================== طَلَّقْتُ زَوْجَتِي الطَّلْقَةَ الْأُولَى أُرِيدُ أَنْ أَرْجِعَهَا كَيْفَ الطَّرِيقَةُ؟ إِذَا كَانَتْ فِي عِدَّتِهَا يَعْنِي لَمْ تَنْقَضِ عِدَّتُهَا وَكَانَ قَدْ دَخَلَ بِهَا فَيَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ فَقَطْ وَيُشْهِدُ رَجُلَيْنِ أَخَوَيْنِ لَهُ أَوْ أَخَوَيْنِ لَهَا أَوْ صَدِيْقَيْنِ يَعْرِفُونَهُ وَيَعْرِفُوْنَهَا تَقُولُ فُلَانَةٌ طَلَّقْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجَعْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَإِذَا كَانَتْ غَيْرَ مَدْخُولٍ بِهَا يَعْنِي مَا دَخَلَ بِهَا طَلَّقَهَا هَذِهِ لَا تَحِلُّ لَهُ إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ مَهْرٌ وَرِضًى وَوَلِيٌّ مِثْلُ الْعَقْدِ الْأَوَّلِ تَمَامًا لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِذَا كَانَ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَإِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا سَوَاءً بِوِلَادَةٍ أَوْ بِالْأَشْهُرِ إِذَا كَانَتْ كَبِيرَةً مَا تَحِيْضُ أَوْ بِالْحِيَاضِ أَوِالقُرْءِ بِشَكْلٍ عَامٍّ سَوَاءٌ قُلْنَا حَيْضٌ أَوْ طُهْرٌ مِنَ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لِأَنَّهُ بَعْدَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ أَمَّا قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ وَهَذَا الَّذِي يَظْهَرُ مِنَ السَّائِلِ فَإِنَّهُ فَقَطْ يَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ إِلَى ذِمَّتِي وَيَكْتُبُ هُوَ وَتَكْتُبُ هِيَ أَنَّهُ طَلَّقَ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجِعُ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ لِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْسَوْنَ يَقُولُ أَنَا طَلَّقْتُ زَوْجَتِي بَسْ مَا أَدْرِي مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاث … مَا أَدْرِي هَذِهِ الثَّانِيَةَ أَوْ الثَّالِثَةَ يَنْسَوْنَ لِذَلِكَ لاَ بُدَّ أَنْ تُكْتَبَ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ يَكْتُبُ طَلَّقْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا أَرْجَعْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ  

Cara Rujuk dengan Istri yang Sudah Ditalak – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama

Cara Rujuk dengan Istri yang Sudah Ditalak – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Aku telah menalak istriku, dengan talak satu, dan aku ingin rujuk kembali, bagaimana caranya? Jika istri itu masih dalam masa iddahnya—yakni masa iddahnya belum berakhir—dan suami telah berhubungan badan di masa itu, maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujuk kamu kembali.” Itu saja. Dan ia mendatangkan dua saksi laki-laki, baik itu dari saudara suami, saudara istri, atau teman yang mengenal suami atau istri. Jadi, kamu katakan, “Aku mentalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya kembali pada tanggal sekian.” Dan jika suami tidak berhubungan intim dengan istri (dalam masa iddahnya), yakni ia mentalaknya hingga akhir iddah, maka istrinya tidak halal baginya, kecuali harus dilakukan akad nikah yang baru, dengan mahar baru, kerelaan, dan wali, persis seperti akad pertama. Suami tidak boleh merujuknya jika ia tidak berhubungan badan dengan istrinya itu (di masa iddah). Dan jika iddahnya telah berakhir, baik itu dengan melahirkan, atau hitungan bulan jika wanita itu sudah tua dan tidak lagi haid, atau dengan hitungan haid, atau hitungan qur’u secara umum, baik itu qur’u dengan makna masa haid atau masa suci. Jadi, rujuknya harus sebelum masa iddah ini selesai. Karena setelah masa iddah selesai, maka ia tidak boleh merujuknya, kecuali dengan akad yang baru. Adapun jika rujuk dilakukan sebelum selesai masa iddah—dan ini yang sepertinya ditanyakan—maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujukmu sebagai istriku.” Dan ia mencatat, begitu juga dengan istrinya, bahwa ia menalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya pada tanggal sekian. Karena banyak orang yang lupa. Ia berkata, “Aku mentalak istriku, tapi aku tak tahu ini yang pertama atau kedua?!” “Ini talak dua atau talak tiga?!” “Aku tak tahu, ini yang kedua atau yang ketiga?!” Banyak orang yang lupa, sehingga hal-hal seperti ini harus ditulis. Ia harus menulis, “Aku menalaknya pada tanggal sekian, dan merujukkan pada tanggal sekian.” Wallahu a’lam. =============================================================================== طَلَّقْتُ زَوْجَتِي الطَّلْقَةَ الْأُولَى أُرِيدُ أَنْ أَرْجِعَهَا كَيْفَ الطَّرِيقَةُ؟ إِذَا كَانَتْ فِي عِدَّتِهَا يَعْنِي لَمْ تَنْقَضِ عِدَّتُهَا وَكَانَ قَدْ دَخَلَ بِهَا فَيَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ فَقَطْ وَيُشْهِدُ رَجُلَيْنِ أَخَوَيْنِ لَهُ أَوْ أَخَوَيْنِ لَهَا أَوْ صَدِيْقَيْنِ يَعْرِفُونَهُ وَيَعْرِفُوْنَهَا تَقُولُ فُلَانَةٌ طَلَّقْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجَعْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَإِذَا كَانَتْ غَيْرَ مَدْخُولٍ بِهَا يَعْنِي مَا دَخَلَ بِهَا طَلَّقَهَا هَذِهِ لَا تَحِلُّ لَهُ إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ مَهْرٌ وَرِضًى وَوَلِيٌّ مِثْلُ الْعَقْدِ الْأَوَّلِ تَمَامًا لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِذَا كَانَ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَإِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا سَوَاءً بِوِلَادَةٍ أَوْ بِالْأَشْهُرِ إِذَا كَانَتْ كَبِيرَةً مَا تَحِيْضُ أَوْ بِالْحِيَاضِ أَوِالقُرْءِ بِشَكْلٍ عَامٍّ سَوَاءٌ قُلْنَا حَيْضٌ أَوْ طُهْرٌ مِنَ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لِأَنَّهُ بَعْدَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ أَمَّا قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ وَهَذَا الَّذِي يَظْهَرُ مِنَ السَّائِلِ فَإِنَّهُ فَقَطْ يَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ إِلَى ذِمَّتِي وَيَكْتُبُ هُوَ وَتَكْتُبُ هِيَ أَنَّهُ طَلَّقَ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجِعُ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ لِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْسَوْنَ يَقُولُ أَنَا طَلَّقْتُ زَوْجَتِي بَسْ مَا أَدْرِي مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاث … مَا أَدْرِي هَذِهِ الثَّانِيَةَ أَوْ الثَّالِثَةَ يَنْسَوْنَ لِذَلِكَ لاَ بُدَّ أَنْ تُكْتَبَ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ يَكْتُبُ طَلَّقْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا أَرْجَعْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ  
Cara Rujuk dengan Istri yang Sudah Ditalak – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Aku telah menalak istriku, dengan talak satu, dan aku ingin rujuk kembali, bagaimana caranya? Jika istri itu masih dalam masa iddahnya—yakni masa iddahnya belum berakhir—dan suami telah berhubungan badan di masa itu, maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujuk kamu kembali.” Itu saja. Dan ia mendatangkan dua saksi laki-laki, baik itu dari saudara suami, saudara istri, atau teman yang mengenal suami atau istri. Jadi, kamu katakan, “Aku mentalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya kembali pada tanggal sekian.” Dan jika suami tidak berhubungan intim dengan istri (dalam masa iddahnya), yakni ia mentalaknya hingga akhir iddah, maka istrinya tidak halal baginya, kecuali harus dilakukan akad nikah yang baru, dengan mahar baru, kerelaan, dan wali, persis seperti akad pertama. Suami tidak boleh merujuknya jika ia tidak berhubungan badan dengan istrinya itu (di masa iddah). Dan jika iddahnya telah berakhir, baik itu dengan melahirkan, atau hitungan bulan jika wanita itu sudah tua dan tidak lagi haid, atau dengan hitungan haid, atau hitungan qur’u secara umum, baik itu qur’u dengan makna masa haid atau masa suci. Jadi, rujuknya harus sebelum masa iddah ini selesai. Karena setelah masa iddah selesai, maka ia tidak boleh merujuknya, kecuali dengan akad yang baru. Adapun jika rujuk dilakukan sebelum selesai masa iddah—dan ini yang sepertinya ditanyakan—maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujukmu sebagai istriku.” Dan ia mencatat, begitu juga dengan istrinya, bahwa ia menalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya pada tanggal sekian. Karena banyak orang yang lupa. Ia berkata, “Aku mentalak istriku, tapi aku tak tahu ini yang pertama atau kedua?!” “Ini talak dua atau talak tiga?!” “Aku tak tahu, ini yang kedua atau yang ketiga?!” Banyak orang yang lupa, sehingga hal-hal seperti ini harus ditulis. Ia harus menulis, “Aku menalaknya pada tanggal sekian, dan merujukkan pada tanggal sekian.” Wallahu a’lam. =============================================================================== طَلَّقْتُ زَوْجَتِي الطَّلْقَةَ الْأُولَى أُرِيدُ أَنْ أَرْجِعَهَا كَيْفَ الطَّرِيقَةُ؟ إِذَا كَانَتْ فِي عِدَّتِهَا يَعْنِي لَمْ تَنْقَضِ عِدَّتُهَا وَكَانَ قَدْ دَخَلَ بِهَا فَيَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ فَقَطْ وَيُشْهِدُ رَجُلَيْنِ أَخَوَيْنِ لَهُ أَوْ أَخَوَيْنِ لَهَا أَوْ صَدِيْقَيْنِ يَعْرِفُونَهُ وَيَعْرِفُوْنَهَا تَقُولُ فُلَانَةٌ طَلَّقْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجَعْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَإِذَا كَانَتْ غَيْرَ مَدْخُولٍ بِهَا يَعْنِي مَا دَخَلَ بِهَا طَلَّقَهَا هَذِهِ لَا تَحِلُّ لَهُ إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ مَهْرٌ وَرِضًى وَوَلِيٌّ مِثْلُ الْعَقْدِ الْأَوَّلِ تَمَامًا لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِذَا كَانَ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَإِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا سَوَاءً بِوِلَادَةٍ أَوْ بِالْأَشْهُرِ إِذَا كَانَتْ كَبِيرَةً مَا تَحِيْضُ أَوْ بِالْحِيَاضِ أَوِالقُرْءِ بِشَكْلٍ عَامٍّ سَوَاءٌ قُلْنَا حَيْضٌ أَوْ طُهْرٌ مِنَ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لِأَنَّهُ بَعْدَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ أَمَّا قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ وَهَذَا الَّذِي يَظْهَرُ مِنَ السَّائِلِ فَإِنَّهُ فَقَطْ يَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ إِلَى ذِمَّتِي وَيَكْتُبُ هُوَ وَتَكْتُبُ هِيَ أَنَّهُ طَلَّقَ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجِعُ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ لِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْسَوْنَ يَقُولُ أَنَا طَلَّقْتُ زَوْجَتِي بَسْ مَا أَدْرِي مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاث … مَا أَدْرِي هَذِهِ الثَّانِيَةَ أَوْ الثَّالِثَةَ يَنْسَوْنَ لِذَلِكَ لاَ بُدَّ أَنْ تُكْتَبَ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ يَكْتُبُ طَلَّقْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا أَرْجَعْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ  


Cara Rujuk dengan Istri yang Sudah Ditalak – Syaikh Utsman Khamis #NasehatUlama Aku telah menalak istriku, dengan talak satu, dan aku ingin rujuk kembali, bagaimana caranya? Jika istri itu masih dalam masa iddahnya—yakni masa iddahnya belum berakhir—dan suami telah berhubungan badan di masa itu, maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujuk kamu kembali.” Itu saja. Dan ia mendatangkan dua saksi laki-laki, baik itu dari saudara suami, saudara istri, atau teman yang mengenal suami atau istri. Jadi, kamu katakan, “Aku mentalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya kembali pada tanggal sekian.” Dan jika suami tidak berhubungan intim dengan istri (dalam masa iddahnya), yakni ia mentalaknya hingga akhir iddah, maka istrinya tidak halal baginya, kecuali harus dilakukan akad nikah yang baru, dengan mahar baru, kerelaan, dan wali, persis seperti akad pertama. Suami tidak boleh merujuknya jika ia tidak berhubungan badan dengan istrinya itu (di masa iddah). Dan jika iddahnya telah berakhir, baik itu dengan melahirkan, atau hitungan bulan jika wanita itu sudah tua dan tidak lagi haid, atau dengan hitungan haid, atau hitungan qur’u secara umum, baik itu qur’u dengan makna masa haid atau masa suci. Jadi, rujuknya harus sebelum masa iddah ini selesai. Karena setelah masa iddah selesai, maka ia tidak boleh merujuknya, kecuali dengan akad yang baru. Adapun jika rujuk dilakukan sebelum selesai masa iddah—dan ini yang sepertinya ditanyakan—maka ia hanya perlu berkata pada istrinya, “Aku merujukmu sebagai istriku.” Dan ia mencatat, begitu juga dengan istrinya, bahwa ia menalaknya pada tanggal sekian, dan merujuknya pada tanggal sekian. Karena banyak orang yang lupa. Ia berkata, “Aku mentalak istriku, tapi aku tak tahu ini yang pertama atau kedua?!” “Ini talak dua atau talak tiga?!” “Aku tak tahu, ini yang kedua atau yang ketiga?!” Banyak orang yang lupa, sehingga hal-hal seperti ini harus ditulis. Ia harus menulis, “Aku menalaknya pada tanggal sekian, dan merujukkan pada tanggal sekian.” Wallahu a’lam. =============================================================================== طَلَّقْتُ زَوْجَتِي الطَّلْقَةَ الْأُولَى أُرِيدُ أَنْ أَرْجِعَهَا كَيْفَ الطَّرِيقَةُ؟ إِذَا كَانَتْ فِي عِدَّتِهَا يَعْنِي لَمْ تَنْقَضِ عِدَّتُهَا وَكَانَ قَدْ دَخَلَ بِهَا فَيَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ فَقَطْ وَيُشْهِدُ رَجُلَيْنِ أَخَوَيْنِ لَهُ أَوْ أَخَوَيْنِ لَهَا أَوْ صَدِيْقَيْنِ يَعْرِفُونَهُ وَيَعْرِفُوْنَهَا تَقُولُ فُلَانَةٌ طَلَّقْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجَعْتُهَا بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَإِذَا كَانَتْ غَيْرَ مَدْخُولٍ بِهَا يَعْنِي مَا دَخَلَ بِهَا طَلَّقَهَا هَذِهِ لَا تَحِلُّ لَهُ إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ مَهْرٌ وَرِضًى وَوَلِيٌّ مِثْلُ الْعَقْدِ الْأَوَّلِ تَمَامًا لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِذَا كَانَ لَمْ يَدْخُلْ بِهَا وَإِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا سَوَاءً بِوِلَادَةٍ أَوْ بِالْأَشْهُرِ إِذَا كَانَتْ كَبِيرَةً مَا تَحِيْضُ أَوْ بِالْحِيَاضِ أَوِالقُرْءِ بِشَكْلٍ عَامٍّ سَوَاءٌ قُلْنَا حَيْضٌ أَوْ طُهْرٌ مِنَ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ يَكُونُ قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لِأَنَّهُ بَعْدَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا إِلَّا بِعَقْدٍ جَدِيدٍ أَمَّا قَبْلَ انْتِهَاءِ الْعِدَّةِ وَهَذَا الَّذِي يَظْهَرُ مِنَ السَّائِلِ فَإِنَّهُ فَقَطْ يَقُولُ لَهَا أَرْجَعْتُكِ إِلَى ذِمَّتِي وَيَكْتُبُ هُوَ وَتَكْتُبُ هِيَ أَنَّهُ طَلَّقَ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ وَأَرْجِعُ بِالتَّارِيخِ الْفُلَانِيِّ لِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ يَنْسَوْنَ يَقُولُ أَنَا طَلَّقْتُ زَوْجَتِي بَسْ مَا أَدْرِي مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاث … مَا أَدْرِي هَذِهِ الثَّانِيَةَ أَوْ الثَّالِثَةَ يَنْسَوْنَ لِذَلِكَ لاَ بُدَّ أَنْ تُكْتَبَ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ يَكْتُبُ طَلَّقْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا أَرْجَعْتُهَا بِتَارِيخِ كَذَا وَاللهُ أَعْلَمُ  

Istimewanya Al-Fatihah di Keseharian Muslim – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Istimewanya Al-Fatihah di Keseharian Muslim – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Salah satu bentuk keagungan derajat surat al-Fatihah, dan ketinggian kedudukannya, adalah Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan para hamba-Nya untuk membaca surat ini dalam sehari semalam sebanyak 17 kali, yaitu dalam salat wajib 5 waktu, karena surat ini wajib dibaca di setiap rakaat salat. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam, bahwa beliau bersabda, “Tidak sah salat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (HR. Bukhari) Dan beliau shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi juga bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat, tetapi ia tidak membaca surat al-Fatihah di dalamnya, maka salat itu tidak sempurna.” (HR. Ibnu Majah) Jika seorang hamba senantiasa mendirikan salat-salat wajib dan sunnah, maka ia akan membaca surat al-Fatihah dalam sehari semalam berkali-kali. Dan ia akan membacanya dalam beberapa bulan akan lebih banyak, dan dalam beberapa tahun lebih banyak lagi. Terlebih lagi dalam sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu—subhanallah!—surat al-Fatihah memiliki keistimewaan besar dalam kehidupan seorang muslim, dari sisi pembacaannya, dan pengulangannya berkali-kali, dalam sehari semalamnya. ================================================================================ وَسُورَةُ الْفَاتِحَةِ مِنْ عَظِيمِ شَأْنِهَا وَرَفِيْعِ مَكانَتِهَا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اِفْتَرَضَ عَلَى الْعِبَادِ قِرَاءَتَهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً فِي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَكْتُوبَةِ لِأَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ قِرَاءَتِهَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ رَكَعَاتِ الصَّلَاةِ قَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقَالَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ أَيْ غَيْرُ تَمَامٍ وَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ يُحَافِظُ عَلَى الرَّوَاتِبِ وَالنَّوَافِلِ فَإِنَّهُ سَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ كَثِيْرَةً وَقِرَاءَتُهُ لَهَا فِي الشُّهُورِ كَثِيرَةٌ فِي السَّنَوَاتِ أَكْثَرُ وَأَكْثَرُ فِي عُمُرِهِ وَلِهَذَا سُبْحَانَ اللهِ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ لَهَا خُصُوصِيَّةٌ عَظِيمَةٌ فِي حَيَاةِ الْمُسْلِمِ قِرَاءَةً لَهَا وَتَكَرُّرًا لِقِرَاءَتِهَا الْمَرَّاتِ الْكَثِيرَةِ فِي أَيَّامِهِ وَلَيَالِيْهِ      

Istimewanya Al-Fatihah di Keseharian Muslim – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Istimewanya Al-Fatihah di Keseharian Muslim – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Salah satu bentuk keagungan derajat surat al-Fatihah, dan ketinggian kedudukannya, adalah Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan para hamba-Nya untuk membaca surat ini dalam sehari semalam sebanyak 17 kali, yaitu dalam salat wajib 5 waktu, karena surat ini wajib dibaca di setiap rakaat salat. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam, bahwa beliau bersabda, “Tidak sah salat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (HR. Bukhari) Dan beliau shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi juga bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat, tetapi ia tidak membaca surat al-Fatihah di dalamnya, maka salat itu tidak sempurna.” (HR. Ibnu Majah) Jika seorang hamba senantiasa mendirikan salat-salat wajib dan sunnah, maka ia akan membaca surat al-Fatihah dalam sehari semalam berkali-kali. Dan ia akan membacanya dalam beberapa bulan akan lebih banyak, dan dalam beberapa tahun lebih banyak lagi. Terlebih lagi dalam sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu—subhanallah!—surat al-Fatihah memiliki keistimewaan besar dalam kehidupan seorang muslim, dari sisi pembacaannya, dan pengulangannya berkali-kali, dalam sehari semalamnya. ================================================================================ وَسُورَةُ الْفَاتِحَةِ مِنْ عَظِيمِ شَأْنِهَا وَرَفِيْعِ مَكانَتِهَا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اِفْتَرَضَ عَلَى الْعِبَادِ قِرَاءَتَهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً فِي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَكْتُوبَةِ لِأَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ قِرَاءَتِهَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ رَكَعَاتِ الصَّلَاةِ قَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقَالَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ أَيْ غَيْرُ تَمَامٍ وَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ يُحَافِظُ عَلَى الرَّوَاتِبِ وَالنَّوَافِلِ فَإِنَّهُ سَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ كَثِيْرَةً وَقِرَاءَتُهُ لَهَا فِي الشُّهُورِ كَثِيرَةٌ فِي السَّنَوَاتِ أَكْثَرُ وَأَكْثَرُ فِي عُمُرِهِ وَلِهَذَا سُبْحَانَ اللهِ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ لَهَا خُصُوصِيَّةٌ عَظِيمَةٌ فِي حَيَاةِ الْمُسْلِمِ قِرَاءَةً لَهَا وَتَكَرُّرًا لِقِرَاءَتِهَا الْمَرَّاتِ الْكَثِيرَةِ فِي أَيَّامِهِ وَلَيَالِيْهِ      
Istimewanya Al-Fatihah di Keseharian Muslim – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Salah satu bentuk keagungan derajat surat al-Fatihah, dan ketinggian kedudukannya, adalah Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan para hamba-Nya untuk membaca surat ini dalam sehari semalam sebanyak 17 kali, yaitu dalam salat wajib 5 waktu, karena surat ini wajib dibaca di setiap rakaat salat. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam, bahwa beliau bersabda, “Tidak sah salat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (HR. Bukhari) Dan beliau shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi juga bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat, tetapi ia tidak membaca surat al-Fatihah di dalamnya, maka salat itu tidak sempurna.” (HR. Ibnu Majah) Jika seorang hamba senantiasa mendirikan salat-salat wajib dan sunnah, maka ia akan membaca surat al-Fatihah dalam sehari semalam berkali-kali. Dan ia akan membacanya dalam beberapa bulan akan lebih banyak, dan dalam beberapa tahun lebih banyak lagi. Terlebih lagi dalam sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu—subhanallah!—surat al-Fatihah memiliki keistimewaan besar dalam kehidupan seorang muslim, dari sisi pembacaannya, dan pengulangannya berkali-kali, dalam sehari semalamnya. ================================================================================ وَسُورَةُ الْفَاتِحَةِ مِنْ عَظِيمِ شَأْنِهَا وَرَفِيْعِ مَكانَتِهَا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اِفْتَرَضَ عَلَى الْعِبَادِ قِرَاءَتَهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً فِي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَكْتُوبَةِ لِأَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ قِرَاءَتِهَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ رَكَعَاتِ الصَّلَاةِ قَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقَالَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ أَيْ غَيْرُ تَمَامٍ وَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ يُحَافِظُ عَلَى الرَّوَاتِبِ وَالنَّوَافِلِ فَإِنَّهُ سَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ كَثِيْرَةً وَقِرَاءَتُهُ لَهَا فِي الشُّهُورِ كَثِيرَةٌ فِي السَّنَوَاتِ أَكْثَرُ وَأَكْثَرُ فِي عُمُرِهِ وَلِهَذَا سُبْحَانَ اللهِ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ لَهَا خُصُوصِيَّةٌ عَظِيمَةٌ فِي حَيَاةِ الْمُسْلِمِ قِرَاءَةً لَهَا وَتَكَرُّرًا لِقِرَاءَتِهَا الْمَرَّاتِ الْكَثِيرَةِ فِي أَيَّامِهِ وَلَيَالِيْهِ      


Istimewanya Al-Fatihah di Keseharian Muslim – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Salah satu bentuk keagungan derajat surat al-Fatihah, dan ketinggian kedudukannya, adalah Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan para hamba-Nya untuk membaca surat ini dalam sehari semalam sebanyak 17 kali, yaitu dalam salat wajib 5 waktu, karena surat ini wajib dibaca di setiap rakaat salat. Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihis shalatu wassalam, bahwa beliau bersabda, “Tidak sah salat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (HR. Bukhari) Dan beliau shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi juga bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan salat, tetapi ia tidak membaca surat al-Fatihah di dalamnya, maka salat itu tidak sempurna.” (HR. Ibnu Majah) Jika seorang hamba senantiasa mendirikan salat-salat wajib dan sunnah, maka ia akan membaca surat al-Fatihah dalam sehari semalam berkali-kali. Dan ia akan membacanya dalam beberapa bulan akan lebih banyak, dan dalam beberapa tahun lebih banyak lagi. Terlebih lagi dalam sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu—subhanallah!—surat al-Fatihah memiliki keistimewaan besar dalam kehidupan seorang muslim, dari sisi pembacaannya, dan pengulangannya berkali-kali, dalam sehari semalamnya. ================================================================================ وَسُورَةُ الْفَاتِحَةِ مِنْ عَظِيمِ شَأْنِهَا وَرَفِيْعِ مَكانَتِهَا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اِفْتَرَضَ عَلَى الْعِبَادِ قِرَاءَتَهَا فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً فِي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَكْتُوبَةِ لِأَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ قِرَاءَتِهَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ رَكَعَاتِ الصَّلَاةِ قَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقَالَ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ أَيْ غَيْرُ تَمَامٍ وَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ يُحَافِظُ عَلَى الرَّوَاتِبِ وَالنَّوَافِلِ فَإِنَّهُ سَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّاتٍ كَثِيْرَةً وَقِرَاءَتُهُ لَهَا فِي الشُّهُورِ كَثِيرَةٌ فِي السَّنَوَاتِ أَكْثَرُ وَأَكْثَرُ فِي عُمُرِهِ وَلِهَذَا سُبْحَانَ اللهِ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ لَهَا خُصُوصِيَّةٌ عَظِيمَةٌ فِي حَيَاةِ الْمُسْلِمِ قِرَاءَةً لَهَا وَتَكَرُّرًا لِقِرَاءَتِهَا الْمَرَّاتِ الْكَثِيرَةِ فِي أَيَّامِهِ وَلَيَالِيْهِ      

Jangan Sangka Kau Kekal di Dunia – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jangan Sangka Kau Kekal di Dunia – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama وَلِهَذَا لَمَّا حَذَّرَنَا مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ذَكَّرَنَا بِحَقِيقَتِهَا وَمَا الْوَاجِبُ عَلَيْنَا فِيهَا قَالَ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ نَعِيْشُ الدُّنْيَا يَخْلُفُ بَعْضُنَا بَعْضًا – مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا يَعْنِي: جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى جَعَلَكُمْ خَلَفًا يَخْلُفُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتُخَلَّدُ فِي الدُّنْيَا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَتَمَتَّعُ بِمَا تَشَاءُ فِي الدُّنْيَا لَا سَتَعِيشُ سَنَوَاتٍ وَتَمُوتُ يَخْلُفُكَ غَيْرُكَ وَيَمُوتُ وَهَكَذَا وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا لِمَاذَا؟ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ إِذَنْ هِيَ دَارُ ابْتِلَاءٍ دَارُ عَمَلٍ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ تَعَالَى كَمَا مَرَّ إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِمَاذَا؟ لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ هَلْ تُفْتَتَنُ بِالدُّنْيَا أَوْ تُقْبِلُ عَلَى الْآخِرَةِ فَلَا بُدَّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ هَذِهِ الْحَقِيقَةَ دَائِمًا حَتَّى لَا يُفْتَتَنَ خَلْفَ الدُّنْيَا وَمَا أَكْثَرَ النَّاسِ الَّذِينَ افْتُتِنُوا بِالدُّنْيَا الْيَومَ اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ قَالَ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ تَسْأَلُ بَعْضَ النَّاسِ لِمَاذَا لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ لِمَاذَا مَا تَحْرِصُ عَلَى الصَّلَاةِ؟ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ عَلَى الصِّيَامِ يَقُولُ لَكَ: مَشْغُولٌ مَشْغُولٌ بِمَاذَا ؟ مَشْغُولٌ بِعَمَلِهِ بِجَمْعِ رِزْقِهِ مَشْغُولٌ بِمَشَارِيعِهِ مَشْغُولٌ بِسَفَرَاتِهِ مَشْغُولٌ بِأَهْلِهِ مَشْغُولٌ بِنُزُوَاتِهِ كُلٌّ لِأَجْلِ الدُّنْيَا يُرِيدُ أَنْ يَتَمَتَّعَ يَلْهُو وَيَلْعَبُ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَنْظُرُ يَذَهَبُ يَمِينًا وَشِمَالًا وَهَكَذَا لِأَجْلِ الدُّنْيَا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا خُذْ مِنَ الدُّنْيَا مَا يَكْفِيكَ وَيُغْنِيكَ يَسُدُّ حَاجَتَكَ ثُمَّ أَقْبِلْ عَلَى الْآخِرَةِ  

Jangan Sangka Kau Kekal di Dunia – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jangan Sangka Kau Kekal di Dunia – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama وَلِهَذَا لَمَّا حَذَّرَنَا مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ذَكَّرَنَا بِحَقِيقَتِهَا وَمَا الْوَاجِبُ عَلَيْنَا فِيهَا قَالَ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ نَعِيْشُ الدُّنْيَا يَخْلُفُ بَعْضُنَا بَعْضًا – مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا يَعْنِي: جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى جَعَلَكُمْ خَلَفًا يَخْلُفُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتُخَلَّدُ فِي الدُّنْيَا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَتَمَتَّعُ بِمَا تَشَاءُ فِي الدُّنْيَا لَا سَتَعِيشُ سَنَوَاتٍ وَتَمُوتُ يَخْلُفُكَ غَيْرُكَ وَيَمُوتُ وَهَكَذَا وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا لِمَاذَا؟ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ إِذَنْ هِيَ دَارُ ابْتِلَاءٍ دَارُ عَمَلٍ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ تَعَالَى كَمَا مَرَّ إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِمَاذَا؟ لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ هَلْ تُفْتَتَنُ بِالدُّنْيَا أَوْ تُقْبِلُ عَلَى الْآخِرَةِ فَلَا بُدَّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ هَذِهِ الْحَقِيقَةَ دَائِمًا حَتَّى لَا يُفْتَتَنَ خَلْفَ الدُّنْيَا وَمَا أَكْثَرَ النَّاسِ الَّذِينَ افْتُتِنُوا بِالدُّنْيَا الْيَومَ اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ قَالَ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ تَسْأَلُ بَعْضَ النَّاسِ لِمَاذَا لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ لِمَاذَا مَا تَحْرِصُ عَلَى الصَّلَاةِ؟ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ عَلَى الصِّيَامِ يَقُولُ لَكَ: مَشْغُولٌ مَشْغُولٌ بِمَاذَا ؟ مَشْغُولٌ بِعَمَلِهِ بِجَمْعِ رِزْقِهِ مَشْغُولٌ بِمَشَارِيعِهِ مَشْغُولٌ بِسَفَرَاتِهِ مَشْغُولٌ بِأَهْلِهِ مَشْغُولٌ بِنُزُوَاتِهِ كُلٌّ لِأَجْلِ الدُّنْيَا يُرِيدُ أَنْ يَتَمَتَّعَ يَلْهُو وَيَلْعَبُ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَنْظُرُ يَذَهَبُ يَمِينًا وَشِمَالًا وَهَكَذَا لِأَجْلِ الدُّنْيَا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا خُذْ مِنَ الدُّنْيَا مَا يَكْفِيكَ وَيُغْنِيكَ يَسُدُّ حَاجَتَكَ ثُمَّ أَقْبِلْ عَلَى الْآخِرَةِ  
Jangan Sangka Kau Kekal di Dunia – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama وَلِهَذَا لَمَّا حَذَّرَنَا مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ذَكَّرَنَا بِحَقِيقَتِهَا وَمَا الْوَاجِبُ عَلَيْنَا فِيهَا قَالَ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ نَعِيْشُ الدُّنْيَا يَخْلُفُ بَعْضُنَا بَعْضًا – مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا يَعْنِي: جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى جَعَلَكُمْ خَلَفًا يَخْلُفُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتُخَلَّدُ فِي الدُّنْيَا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَتَمَتَّعُ بِمَا تَشَاءُ فِي الدُّنْيَا لَا سَتَعِيشُ سَنَوَاتٍ وَتَمُوتُ يَخْلُفُكَ غَيْرُكَ وَيَمُوتُ وَهَكَذَا وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا لِمَاذَا؟ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ إِذَنْ هِيَ دَارُ ابْتِلَاءٍ دَارُ عَمَلٍ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ تَعَالَى كَمَا مَرَّ إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِمَاذَا؟ لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ هَلْ تُفْتَتَنُ بِالدُّنْيَا أَوْ تُقْبِلُ عَلَى الْآخِرَةِ فَلَا بُدَّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ هَذِهِ الْحَقِيقَةَ دَائِمًا حَتَّى لَا يُفْتَتَنَ خَلْفَ الدُّنْيَا وَمَا أَكْثَرَ النَّاسِ الَّذِينَ افْتُتِنُوا بِالدُّنْيَا الْيَومَ اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ قَالَ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ تَسْأَلُ بَعْضَ النَّاسِ لِمَاذَا لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ لِمَاذَا مَا تَحْرِصُ عَلَى الصَّلَاةِ؟ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ عَلَى الصِّيَامِ يَقُولُ لَكَ: مَشْغُولٌ مَشْغُولٌ بِمَاذَا ؟ مَشْغُولٌ بِعَمَلِهِ بِجَمْعِ رِزْقِهِ مَشْغُولٌ بِمَشَارِيعِهِ مَشْغُولٌ بِسَفَرَاتِهِ مَشْغُولٌ بِأَهْلِهِ مَشْغُولٌ بِنُزُوَاتِهِ كُلٌّ لِأَجْلِ الدُّنْيَا يُرِيدُ أَنْ يَتَمَتَّعَ يَلْهُو وَيَلْعَبُ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَنْظُرُ يَذَهَبُ يَمِينًا وَشِمَالًا وَهَكَذَا لِأَجْلِ الدُّنْيَا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا خُذْ مِنَ الدُّنْيَا مَا يَكْفِيكَ وَيُغْنِيكَ يَسُدُّ حَاجَتَكَ ثُمَّ أَقْبِلْ عَلَى الْآخِرَةِ  


Jangan Sangka Kau Kekal di Dunia – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama وَلِهَذَا لَمَّا حَذَّرَنَا مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ذَكَّرَنَا بِحَقِيقَتِهَا وَمَا الْوَاجِبُ عَلَيْنَا فِيهَا قَالَ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ نَعِيْشُ الدُّنْيَا يَخْلُفُ بَعْضُنَا بَعْضًا – مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا يَعْنِي: جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى جَعَلَكُمْ خَلَفًا يَخْلُفُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتُخَلَّدُ فِي الدُّنْيَا لَا تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَتَمَتَّعُ بِمَا تَشَاءُ فِي الدُّنْيَا لَا سَتَعِيشُ سَنَوَاتٍ وَتَمُوتُ يَخْلُفُكَ غَيْرُكَ وَيَمُوتُ وَهَكَذَا وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا لِمَاذَا؟ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ إِذَنْ هِيَ دَارُ ابْتِلَاءٍ دَارُ عَمَلٍ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ وَلِهَذَا قَالَ اللهُ تَعَالَى كَمَا مَرَّ إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِمَاذَا؟ لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ هَلْ تُفْتَتَنُ بِالدُّنْيَا أَوْ تُقْبِلُ عَلَى الْآخِرَةِ فَلَا بُدَّ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَتَذَكَّرَ هَذِهِ الْحَقِيقَةَ دَائِمًا حَتَّى لَا يُفْتَتَنَ خَلْفَ الدُّنْيَا وَمَا أَكْثَرَ النَّاسِ الَّذِينَ افْتُتِنُوا بِالدُّنْيَا الْيَومَ اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ قَالَ: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ تَسْأَلُ بَعْضَ النَّاسِ لِمَاذَا لَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ لِمَاذَا مَا تَحْرِصُ عَلَى الصَّلَاةِ؟ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ عَلَى الصِّيَامِ يَقُولُ لَكَ: مَشْغُولٌ مَشْغُولٌ بِمَاذَا ؟ مَشْغُولٌ بِعَمَلِهِ بِجَمْعِ رِزْقِهِ مَشْغُولٌ بِمَشَارِيعِهِ مَشْغُولٌ بِسَفَرَاتِهِ مَشْغُولٌ بِأَهْلِهِ مَشْغُولٌ بِنُزُوَاتِهِ كُلٌّ لِأَجْلِ الدُّنْيَا يُرِيدُ أَنْ يَتَمَتَّعَ يَلْهُو وَيَلْعَبُ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَنْظُرُ يَذَهَبُ يَمِينًا وَشِمَالًا وَهَكَذَا لِأَجْلِ الدُّنْيَا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا خُذْ مِنَ الدُّنْيَا مَا يَكْفِيكَ وَيُغْنِيكَ يَسُدُّ حَاجَتَكَ ثُمَّ أَقْبِلْ عَلَى الْآخِرَةِ  

Jadilah Hartawan, Gapailah Kemuliaan!

Saudaraku, menjadi seorang hartawan adalah impian setiap orang. Apalagi impian itu disertai dengan tekad untuk menggapai rida Allah Ta’ala. Kita bertekad dengan harta tersebut kita dapat menebar manfaat, merawat orang tua, membiayai keluarga, dan membantu kerabat.Harta yang banyak itu juga kiranya diniatkan untuk disedekahkan di jalan Allah Ta’ala. Memanfaatkan harta tersebut untuk menunaikan ibadah haji, membangun pusat pendidikan Islam, membangun masjid, dan berbagai amal saleh lainnya yang membutuhkan biaya besar.Salah kaprah terhadap qana’ahSebagian dari kaum muslimin masih salah kaprah tentang memahami qana’ah terhadap kekayaan. Diriwayatkan dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga, dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadis ini hasan ghorib).Berdasarkan hadis di atas, qana’ah adalah mensyukuri apa yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Itulah kebahagiaan yang hakiki. Semakin banyak kita bersyukur, semakin bertambah pula nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'” (QS. Ibrahim: 7).Syariat tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha mengubah hidup dari yang sebelumnya pas-pasan menjadi seorang muslim yang hartawan. Justru Allah Ta’ala menegaskan bahwa keadaan kita sejatinya tergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita punya keinginan, tekad, dan ikhtiar yang maksimal dalam mencari kehidupan yang lebih baik? Ikhtiar tentu saja akan selaras dengan hasil yang diperoleh, insyaallah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).Baca Juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?Mencari jalan menyempurnakan rukun IslamSebuah niat mulia kiranya terpatri dalam diri kita untuk menggapai cita-cita kesejahteraan, yaitu agar memiliki kemampuan untuk menunaikan zakat dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Tanpa karunia harta dari Allah Ta’ala, akan sulit bagi kita untuk menyempurnakan kedua rukun Islam tersebut.Banyak ayat dan hadis yang memerintahkan kita untuk menunaikan zakat dengan syarat harta yang kita miliki telah sampai haul dan nisab. Apabila sampai hari ini kita belum menunaikan zakat, maka sampai kapankah kita berlepas diri dari membayar zakat dengan alasan ketiadaan harta?Allah Ta’ala berfirman,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah: 43).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah: 103).Saudaraku, dua ayat di atas dikhususkan bagi orang-orang yang berharta. Sehingga jika saat ini kita belum memiliki harta yang berlebih, tidakkah kita punya keinginan suatu saat kita memiliki kelebihan harta untuk dizakatkan?Begitu pun dengan haji, Allah Ta’ala berfirman,وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj: 27).Saudaraku, Allah Ta’ala memanggil kita untuk melaksanakan ibadah haji. Dahulu manusia bisa berangkat haji dengan biaya yang relatif murah, seperti berjalan kaki atau naik kapal untuk menuju Ka’bah. Sekarang cara itu sulit untuk ditempuh. Oleh karena itu, sarana yang paling memungkinkan adalah dengan menaiki pesawat terbang yang memerlukan biaya besar.Semestinya kita tidak menyerah agar dapat melaksanakan ibadah yang mulia ini. Meskipun saat ini kita belum mampu, tapi bertekadlah dan berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk mencari sumber pendapatan yang halal dan banyak agar dapat melaksanakan ibadah haji. Sampai kapan kita selalu beralasan tidak cukup harta untuk menunaikan haji ke baitullah? Tidakkah kita terdorong untuk lebih giat mencari rezeki yang halal agar dapat menyempurnakan rukun Islam kita?Baca Juga: Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidHarta untuk kebahagian orang-orang tercintaSaudaraku, sampai kapan pula kita tidak mampu memberikan manfaat dari sisi harta kepada orang tua, anak, istri, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan? Tidakkah kita menginginkan untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Allah Ta’ala yang dapat berbuat kebajikan dengan harta kepada sesama?Allah Ta’ala berfirman,لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 177).Pada zaman yang penuh dengan cobaan dan terpaan ekonomi, maka hal yang dibutuhkan oleh umat manusia adalah perbaikan ekonomi. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang memiliki kecerdasan akal dan tubuh yang sehat, selayaknya kita meningkatkan ikhtiar untuk menggapai rezeki Allah Ta’ala dengan kesungguhan dan cara yang sesuai syariat.Lihatlah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat Radhiallahu ‘anhum. Lihat bagaimana mereka berjuang untuk mencari harta dengan cara yang sesuai syariat demi menegakkan kalimat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, selayaknya kita sebagai umatnya meniru para sahabat dengan cara mencari harta untuk kemuliaan kaum muslimin.Apabila kaum muslimin memiliki banyak harta, maka harta tersebut dapat digunakan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan Islam, membuka lapangan pekerjaan, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, serta berbagai amal saleh lainnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. An-Nahl: 128).Peluang untuk berbuat kebaikan sangat banyak. Tapi sekali lagi, dalam situasi krisis ekonomi seperti saat ini, berbuat kebaikan dengan berbagi manfaat dari harta yang banyak kiranya banyak dibutuhkan oleh kaum muslimin. Dengan demikian, mari kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dan berikhtiar semaksimal mungkin untuk memperoleh harta sesuai dengan syariat. Mari kita berbagi kepada sesama dalam rangka menggapai predikat khairunnaas dengan menjadi hartawan yang mendapatkan kemuliaan.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruquthni. Hadis ini di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’  no. 3289).Wallahu a’lam.Baca Juga:Salah Kaprah: Jika Suami Meninggal, Semua Hartanya Jadi Milik IstriPenjelasan Hadits “Kemuliaan Bagi Penduduk Dunia adalah Harta”*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id🔍 Sombong Kepada Orang Sombong, Hadist Tentang Orang Yang Sombong, Dalil Alquran Tentang Bentuk Bumi, Ayat Alquran Tentang Anak Durhaka Kepada Orang Tua, Dalil WakafTags: adabAkhlakAqidahfitnah hartahartaibadahkeutamaan sedekahmotivasimotivasi Islammuamalahnasihatnasihat islamSedekah

Jadilah Hartawan, Gapailah Kemuliaan!

Saudaraku, menjadi seorang hartawan adalah impian setiap orang. Apalagi impian itu disertai dengan tekad untuk menggapai rida Allah Ta’ala. Kita bertekad dengan harta tersebut kita dapat menebar manfaat, merawat orang tua, membiayai keluarga, dan membantu kerabat.Harta yang banyak itu juga kiranya diniatkan untuk disedekahkan di jalan Allah Ta’ala. Memanfaatkan harta tersebut untuk menunaikan ibadah haji, membangun pusat pendidikan Islam, membangun masjid, dan berbagai amal saleh lainnya yang membutuhkan biaya besar.Salah kaprah terhadap qana’ahSebagian dari kaum muslimin masih salah kaprah tentang memahami qana’ah terhadap kekayaan. Diriwayatkan dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga, dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadis ini hasan ghorib).Berdasarkan hadis di atas, qana’ah adalah mensyukuri apa yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Itulah kebahagiaan yang hakiki. Semakin banyak kita bersyukur, semakin bertambah pula nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'” (QS. Ibrahim: 7).Syariat tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha mengubah hidup dari yang sebelumnya pas-pasan menjadi seorang muslim yang hartawan. Justru Allah Ta’ala menegaskan bahwa keadaan kita sejatinya tergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita punya keinginan, tekad, dan ikhtiar yang maksimal dalam mencari kehidupan yang lebih baik? Ikhtiar tentu saja akan selaras dengan hasil yang diperoleh, insyaallah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).Baca Juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?Mencari jalan menyempurnakan rukun IslamSebuah niat mulia kiranya terpatri dalam diri kita untuk menggapai cita-cita kesejahteraan, yaitu agar memiliki kemampuan untuk menunaikan zakat dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Tanpa karunia harta dari Allah Ta’ala, akan sulit bagi kita untuk menyempurnakan kedua rukun Islam tersebut.Banyak ayat dan hadis yang memerintahkan kita untuk menunaikan zakat dengan syarat harta yang kita miliki telah sampai haul dan nisab. Apabila sampai hari ini kita belum menunaikan zakat, maka sampai kapankah kita berlepas diri dari membayar zakat dengan alasan ketiadaan harta?Allah Ta’ala berfirman,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah: 43).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah: 103).Saudaraku, dua ayat di atas dikhususkan bagi orang-orang yang berharta. Sehingga jika saat ini kita belum memiliki harta yang berlebih, tidakkah kita punya keinginan suatu saat kita memiliki kelebihan harta untuk dizakatkan?Begitu pun dengan haji, Allah Ta’ala berfirman,وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj: 27).Saudaraku, Allah Ta’ala memanggil kita untuk melaksanakan ibadah haji. Dahulu manusia bisa berangkat haji dengan biaya yang relatif murah, seperti berjalan kaki atau naik kapal untuk menuju Ka’bah. Sekarang cara itu sulit untuk ditempuh. Oleh karena itu, sarana yang paling memungkinkan adalah dengan menaiki pesawat terbang yang memerlukan biaya besar.Semestinya kita tidak menyerah agar dapat melaksanakan ibadah yang mulia ini. Meskipun saat ini kita belum mampu, tapi bertekadlah dan berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk mencari sumber pendapatan yang halal dan banyak agar dapat melaksanakan ibadah haji. Sampai kapan kita selalu beralasan tidak cukup harta untuk menunaikan haji ke baitullah? Tidakkah kita terdorong untuk lebih giat mencari rezeki yang halal agar dapat menyempurnakan rukun Islam kita?Baca Juga: Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidHarta untuk kebahagian orang-orang tercintaSaudaraku, sampai kapan pula kita tidak mampu memberikan manfaat dari sisi harta kepada orang tua, anak, istri, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan? Tidakkah kita menginginkan untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Allah Ta’ala yang dapat berbuat kebajikan dengan harta kepada sesama?Allah Ta’ala berfirman,لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 177).Pada zaman yang penuh dengan cobaan dan terpaan ekonomi, maka hal yang dibutuhkan oleh umat manusia adalah perbaikan ekonomi. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang memiliki kecerdasan akal dan tubuh yang sehat, selayaknya kita meningkatkan ikhtiar untuk menggapai rezeki Allah Ta’ala dengan kesungguhan dan cara yang sesuai syariat.Lihatlah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat Radhiallahu ‘anhum. Lihat bagaimana mereka berjuang untuk mencari harta dengan cara yang sesuai syariat demi menegakkan kalimat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, selayaknya kita sebagai umatnya meniru para sahabat dengan cara mencari harta untuk kemuliaan kaum muslimin.Apabila kaum muslimin memiliki banyak harta, maka harta tersebut dapat digunakan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan Islam, membuka lapangan pekerjaan, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, serta berbagai amal saleh lainnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. An-Nahl: 128).Peluang untuk berbuat kebaikan sangat banyak. Tapi sekali lagi, dalam situasi krisis ekonomi seperti saat ini, berbuat kebaikan dengan berbagi manfaat dari harta yang banyak kiranya banyak dibutuhkan oleh kaum muslimin. Dengan demikian, mari kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dan berikhtiar semaksimal mungkin untuk memperoleh harta sesuai dengan syariat. Mari kita berbagi kepada sesama dalam rangka menggapai predikat khairunnaas dengan menjadi hartawan yang mendapatkan kemuliaan.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruquthni. Hadis ini di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’  no. 3289).Wallahu a’lam.Baca Juga:Salah Kaprah: Jika Suami Meninggal, Semua Hartanya Jadi Milik IstriPenjelasan Hadits “Kemuliaan Bagi Penduduk Dunia adalah Harta”*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id🔍 Sombong Kepada Orang Sombong, Hadist Tentang Orang Yang Sombong, Dalil Alquran Tentang Bentuk Bumi, Ayat Alquran Tentang Anak Durhaka Kepada Orang Tua, Dalil WakafTags: adabAkhlakAqidahfitnah hartahartaibadahkeutamaan sedekahmotivasimotivasi Islammuamalahnasihatnasihat islamSedekah
Saudaraku, menjadi seorang hartawan adalah impian setiap orang. Apalagi impian itu disertai dengan tekad untuk menggapai rida Allah Ta’ala. Kita bertekad dengan harta tersebut kita dapat menebar manfaat, merawat orang tua, membiayai keluarga, dan membantu kerabat.Harta yang banyak itu juga kiranya diniatkan untuk disedekahkan di jalan Allah Ta’ala. Memanfaatkan harta tersebut untuk menunaikan ibadah haji, membangun pusat pendidikan Islam, membangun masjid, dan berbagai amal saleh lainnya yang membutuhkan biaya besar.Salah kaprah terhadap qana’ahSebagian dari kaum muslimin masih salah kaprah tentang memahami qana’ah terhadap kekayaan. Diriwayatkan dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga, dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadis ini hasan ghorib).Berdasarkan hadis di atas, qana’ah adalah mensyukuri apa yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Itulah kebahagiaan yang hakiki. Semakin banyak kita bersyukur, semakin bertambah pula nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'” (QS. Ibrahim: 7).Syariat tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha mengubah hidup dari yang sebelumnya pas-pasan menjadi seorang muslim yang hartawan. Justru Allah Ta’ala menegaskan bahwa keadaan kita sejatinya tergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita punya keinginan, tekad, dan ikhtiar yang maksimal dalam mencari kehidupan yang lebih baik? Ikhtiar tentu saja akan selaras dengan hasil yang diperoleh, insyaallah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).Baca Juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?Mencari jalan menyempurnakan rukun IslamSebuah niat mulia kiranya terpatri dalam diri kita untuk menggapai cita-cita kesejahteraan, yaitu agar memiliki kemampuan untuk menunaikan zakat dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Tanpa karunia harta dari Allah Ta’ala, akan sulit bagi kita untuk menyempurnakan kedua rukun Islam tersebut.Banyak ayat dan hadis yang memerintahkan kita untuk menunaikan zakat dengan syarat harta yang kita miliki telah sampai haul dan nisab. Apabila sampai hari ini kita belum menunaikan zakat, maka sampai kapankah kita berlepas diri dari membayar zakat dengan alasan ketiadaan harta?Allah Ta’ala berfirman,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah: 43).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah: 103).Saudaraku, dua ayat di atas dikhususkan bagi orang-orang yang berharta. Sehingga jika saat ini kita belum memiliki harta yang berlebih, tidakkah kita punya keinginan suatu saat kita memiliki kelebihan harta untuk dizakatkan?Begitu pun dengan haji, Allah Ta’ala berfirman,وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj: 27).Saudaraku, Allah Ta’ala memanggil kita untuk melaksanakan ibadah haji. Dahulu manusia bisa berangkat haji dengan biaya yang relatif murah, seperti berjalan kaki atau naik kapal untuk menuju Ka’bah. Sekarang cara itu sulit untuk ditempuh. Oleh karena itu, sarana yang paling memungkinkan adalah dengan menaiki pesawat terbang yang memerlukan biaya besar.Semestinya kita tidak menyerah agar dapat melaksanakan ibadah yang mulia ini. Meskipun saat ini kita belum mampu, tapi bertekadlah dan berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk mencari sumber pendapatan yang halal dan banyak agar dapat melaksanakan ibadah haji. Sampai kapan kita selalu beralasan tidak cukup harta untuk menunaikan haji ke baitullah? Tidakkah kita terdorong untuk lebih giat mencari rezeki yang halal agar dapat menyempurnakan rukun Islam kita?Baca Juga: Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidHarta untuk kebahagian orang-orang tercintaSaudaraku, sampai kapan pula kita tidak mampu memberikan manfaat dari sisi harta kepada orang tua, anak, istri, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan? Tidakkah kita menginginkan untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Allah Ta’ala yang dapat berbuat kebajikan dengan harta kepada sesama?Allah Ta’ala berfirman,لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 177).Pada zaman yang penuh dengan cobaan dan terpaan ekonomi, maka hal yang dibutuhkan oleh umat manusia adalah perbaikan ekonomi. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang memiliki kecerdasan akal dan tubuh yang sehat, selayaknya kita meningkatkan ikhtiar untuk menggapai rezeki Allah Ta’ala dengan kesungguhan dan cara yang sesuai syariat.Lihatlah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat Radhiallahu ‘anhum. Lihat bagaimana mereka berjuang untuk mencari harta dengan cara yang sesuai syariat demi menegakkan kalimat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, selayaknya kita sebagai umatnya meniru para sahabat dengan cara mencari harta untuk kemuliaan kaum muslimin.Apabila kaum muslimin memiliki banyak harta, maka harta tersebut dapat digunakan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan Islam, membuka lapangan pekerjaan, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, serta berbagai amal saleh lainnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. An-Nahl: 128).Peluang untuk berbuat kebaikan sangat banyak. Tapi sekali lagi, dalam situasi krisis ekonomi seperti saat ini, berbuat kebaikan dengan berbagi manfaat dari harta yang banyak kiranya banyak dibutuhkan oleh kaum muslimin. Dengan demikian, mari kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dan berikhtiar semaksimal mungkin untuk memperoleh harta sesuai dengan syariat. Mari kita berbagi kepada sesama dalam rangka menggapai predikat khairunnaas dengan menjadi hartawan yang mendapatkan kemuliaan.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruquthni. Hadis ini di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’  no. 3289).Wallahu a’lam.Baca Juga:Salah Kaprah: Jika Suami Meninggal, Semua Hartanya Jadi Milik IstriPenjelasan Hadits “Kemuliaan Bagi Penduduk Dunia adalah Harta”*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id🔍 Sombong Kepada Orang Sombong, Hadist Tentang Orang Yang Sombong, Dalil Alquran Tentang Bentuk Bumi, Ayat Alquran Tentang Anak Durhaka Kepada Orang Tua, Dalil WakafTags: adabAkhlakAqidahfitnah hartahartaibadahkeutamaan sedekahmotivasimotivasi Islammuamalahnasihatnasihat islamSedekah


Saudaraku, menjadi seorang hartawan adalah impian setiap orang. Apalagi impian itu disertai dengan tekad untuk menggapai rida Allah Ta’ala. Kita bertekad dengan harta tersebut kita dapat menebar manfaat, merawat orang tua, membiayai keluarga, dan membantu kerabat.Harta yang banyak itu juga kiranya diniatkan untuk disedekahkan di jalan Allah Ta’ala. Memanfaatkan harta tersebut untuk menunaikan ibadah haji, membangun pusat pendidikan Islam, membangun masjid, dan berbagai amal saleh lainnya yang membutuhkan biaya besar.Salah kaprah terhadap qana’ahSebagian dari kaum muslimin masih salah kaprah tentang memahami qana’ah terhadap kekayaan. Diriwayatkan dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga, dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadis ini hasan ghorib).Berdasarkan hadis di atas, qana’ah adalah mensyukuri apa yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Itulah kebahagiaan yang hakiki. Semakin banyak kita bersyukur, semakin bertambah pula nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'” (QS. Ibrahim: 7).Syariat tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha mengubah hidup dari yang sebelumnya pas-pasan menjadi seorang muslim yang hartawan. Justru Allah Ta’ala menegaskan bahwa keadaan kita sejatinya tergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita punya keinginan, tekad, dan ikhtiar yang maksimal dalam mencari kehidupan yang lebih baik? Ikhtiar tentu saja akan selaras dengan hasil yang diperoleh, insyaallah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).Baca Juga: Benarkah Sedekah Harta Pasti akan Dibalas 10x Lipat di Dunia?Mencari jalan menyempurnakan rukun IslamSebuah niat mulia kiranya terpatri dalam diri kita untuk menggapai cita-cita kesejahteraan, yaitu agar memiliki kemampuan untuk menunaikan zakat dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah. Tanpa karunia harta dari Allah Ta’ala, akan sulit bagi kita untuk menyempurnakan kedua rukun Islam tersebut.Banyak ayat dan hadis yang memerintahkan kita untuk menunaikan zakat dengan syarat harta yang kita miliki telah sampai haul dan nisab. Apabila sampai hari ini kita belum menunaikan zakat, maka sampai kapankah kita berlepas diri dari membayar zakat dengan alasan ketiadaan harta?Allah Ta’ala berfirman,وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah: 43).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At-Taubah: 103).Saudaraku, dua ayat di atas dikhususkan bagi orang-orang yang berharta. Sehingga jika saat ini kita belum memiliki harta yang berlebih, tidakkah kita punya keinginan suatu saat kita memiliki kelebihan harta untuk dizakatkan?Begitu pun dengan haji, Allah Ta’ala berfirman,وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196).Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ“Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj: 27).Saudaraku, Allah Ta’ala memanggil kita untuk melaksanakan ibadah haji. Dahulu manusia bisa berangkat haji dengan biaya yang relatif murah, seperti berjalan kaki atau naik kapal untuk menuju Ka’bah. Sekarang cara itu sulit untuk ditempuh. Oleh karena itu, sarana yang paling memungkinkan adalah dengan menaiki pesawat terbang yang memerlukan biaya besar.Semestinya kita tidak menyerah agar dapat melaksanakan ibadah yang mulia ini. Meskipun saat ini kita belum mampu, tapi bertekadlah dan berikhtiarlah semaksimal mungkin untuk mencari sumber pendapatan yang halal dan banyak agar dapat melaksanakan ibadah haji. Sampai kapan kita selalu beralasan tidak cukup harta untuk menunaikan haji ke baitullah? Tidakkah kita terdorong untuk lebih giat mencari rezeki yang halal agar dapat menyempurnakan rukun Islam kita?Baca Juga: Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidHarta untuk kebahagian orang-orang tercintaSaudaraku, sampai kapan pula kita tidak mampu memberikan manfaat dari sisi harta kepada orang tua, anak, istri, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan? Tidakkah kita menginginkan untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Allah Ta’ala yang dapat berbuat kebajikan dengan harta kepada sesama?Allah Ta’ala berfirman,لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 177).Pada zaman yang penuh dengan cobaan dan terpaan ekonomi, maka hal yang dibutuhkan oleh umat manusia adalah perbaikan ekonomi. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang memiliki kecerdasan akal dan tubuh yang sehat, selayaknya kita meningkatkan ikhtiar untuk menggapai rezeki Allah Ta’ala dengan kesungguhan dan cara yang sesuai syariat.Lihatlah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat Radhiallahu ‘anhum. Lihat bagaimana mereka berjuang untuk mencari harta dengan cara yang sesuai syariat demi menegakkan kalimat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, selayaknya kita sebagai umatnya meniru para sahabat dengan cara mencari harta untuk kemuliaan kaum muslimin.Apabila kaum muslimin memiliki banyak harta, maka harta tersebut dapat digunakan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan Islam, membuka lapangan pekerjaan, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, serta berbagai amal saleh lainnya.Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. An-Nahl: 128).Peluang untuk berbuat kebaikan sangat banyak. Tapi sekali lagi, dalam situasi krisis ekonomi seperti saat ini, berbuat kebaikan dengan berbagi manfaat dari harta yang banyak kiranya banyak dibutuhkan oleh kaum muslimin. Dengan demikian, mari kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dan berikhtiar semaksimal mungkin untuk memperoleh harta sesuai dengan syariat. Mari kita berbagi kepada sesama dalam rangka menggapai predikat khairunnaas dengan menjadi hartawan yang mendapatkan kemuliaan.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruquthni. Hadis ini di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’  no. 3289).Wallahu a’lam.Baca Juga:Salah Kaprah: Jika Suami Meninggal, Semua Hartanya Jadi Milik IstriPenjelasan Hadits “Kemuliaan Bagi Penduduk Dunia adalah Harta”*** Penulis: Fauzan HidayatArtikel: Muslim.or.id🔍 Sombong Kepada Orang Sombong, Hadist Tentang Orang Yang Sombong, Dalil Alquran Tentang Bentuk Bumi, Ayat Alquran Tentang Anak Durhaka Kepada Orang Tua, Dalil WakafTags: adabAkhlakAqidahfitnah hartahartaibadahkeutamaan sedekahmotivasimotivasi Islammuamalahnasihatnasihat islamSedekah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Baca pembahasan sebelumnya Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 2)Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita Sendiri 1.1. Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”? 2. Buah Makrifatullah yang Terpenting 3. Apa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya? 3.1. Penjelasan dari definisi tersebut adalah: 3.2. Contoh penerapan tauhid nama dan sifat: 4. Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan Makhluk 5. Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah Dengannya Jangan Sampai Kita Melupakan Allah Jika Tidak Ingin Dijadikan Lupa Akan Diri Kita SendiriAllah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 19,وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”Allah Ta’ala melarang kita menjadi orang-orang yang lupa kepada Allah. Dan Allah mengancam orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri!Bagaimana maksud “lupa akan diri sendiri”?Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan ayat yang mulia ini. Maksudnya adalah Allah menghukum orang-orang yang lupa kepada Allah dengan menjadikan ia lupa akan perkara yang bermanfaat baginya, lupa akan memperbaiki aibnya, serta lupa akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Inilah hakikat “lupa akan diri sendiri”.Beda halnya dengan orang yang ingat Allah, maka Allah akan ganjar dengan menjadikannya ingat akan perkara yang bermanfaat baginya, dan ingat akan aibnya. Sehingga Allah jadikan ia sibuk memperbaiki aibnya, dan ingat akan kebutuhan jiwanya yang paling bermanfaat, yaitu mengingat Allah, mencintai-Nya, dan mensyukuri-Nya dengan taat kepada-Nya. Allah takdirkan sebab dan akibat kebaikan untuknya. Inilah hakikat “ingat terhadap diri sendiri”.Itulah beberapa alasan urgensi makrifatullah. Dan sebenarnya masih banyak alasan lainnya dari pentingnya kita mempelajari makrifatullah, seperti: agar kita dicintai Allah, agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya, agar doa kita terkabul, serta agar kita mudah meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Makrifatullah adalah asas perbaikan hati dan jasad.Buah Makrifatullah yang TerpentingBuah makrifatullah yang terpenting adalah mengesakan Allah (tauhidullah). Karena dari mengenal nama dan sifat Allah dapat disimpulkan bahwa Allah Mahaesa dalam kekhususan ketuhanan-Nya, maka kita wajib mengesakan-Nya.Maksud mengesakan Allah (Tauhid) adalah mengesakan-Nya dalam kekhususan ketuhanan-Nya, yaitu dalam perbuatan-Nya (Ar-Rububiyyah), hak untuk diibadahi (Al-Uluhiyyah), serta nama dan sifat-Nya (Al-Asma’ wash Shifat). Sehingga di antara bentuk mengesakan Allah adalah mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan Tauhidul Asma’ wash Shifat (Tauhid nama dan sifat).Baca Juga: Mengenal Allah Hanya di Bulan Ramadhan SajaApa Itu Tauhid “Nama dan Sifat” dan Bagaimana Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya?Tauhid nama dan sifat adalah, “Mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia, yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan beriman terhadap nama, sifat, dan tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk.”Penjelasan dari definisi tersebut adalah:Mengesakan Allah, adalah meyakini dalam hati dan melaksanakan tuntutan ucapan maupun perbuatan bahwa Allah Mahaesa dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia.Ciri khas nama Allah adalah “Husna” (Terindah), yaitu tidak ada nama yang sama atau lebih indah dari nama-Nya karena nama-Nya mengandung sifat termulia.Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula (A’la)” (Termulia), yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya itu sempurna. Tidak ada aib sedikit pun dari sisi mana pun.Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah“, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam itsbat (penetapan kesempurnaan bagi Allah), maupun dalam nafi (peniadaan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah). Oleh karena itu, kita tidak boleh menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.Beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama Allah dan sifat-Nya. Yang dimaksud tuntutan di sini adalah konsekuensi hukum dan tuntutan peribadatan, serta pengaruhnya pada keimanan.Tanpa menolak maupun menyamakan-Nya dengan makhluk. Maksudnya adalah tidak menolak penetapan nama dan sifat Allah, namun menetapkan keduanya dengan benar, yaitu tanpa menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam nama maupun sifat-Nya.Contoh penerapan tauhid nama dan sifat:Di antara nama Allah adalah السميع (Yang Mahamendengar), maka berdasarkan definisi tauhid nama dan sifat, barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan benar, jika meyakini:Pertama, penetapan nama Allah السميع (Yang Maha Mendengar).Kedua, penetapan makna, yaitu sifat Allah yang terkandung di dalam nama-Nya, yaitu sifat السمع (Mendengar). Dan setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.Ketiga, beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya. Allah mendengar seluruh suara yang keras maupun pelan, jauh maupun dekat, suara seorang hamba sedang beribadah maupun suaranya saat bermaksiat. Semua itu membuahkan keyakinan tentang adanya janji Allah dan ancaman-Nya.Dengan beriman terhadap tuntutan yang terkandung dalam nama dan sifat-Nya, maka akan muncul pengaruh berupa: 1) takut kepada Allah Ta’ala yang didasari ilmu tentang-Nya; 2) yakin diawasi oleh Allah Ta’ala; 3) malu kepada Allah Ta’ala; 4) berhati-hati dalam berucap, dengan berusaha mengucapkan ucapan yang diridai oleh Allah dan menjauhi ucapan kemaksiatan bahkan ucapan yang makruh.Baca Juga: Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?Dan dalam setiap nama Allah dan sifat-Nya pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya.Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Menyamakan Allah dengan MakhlukAllah berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya. Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. Asy-Syura: 11)Ayat ini mengandung kaidah tauhidul asma` wash shifat yang agung, mencakup nafi dan itsbat, menunjukkan bahwa keimanan terhadap nama dan sifat Allah terbangun atas nafi dan itsbat.Nafi (peniadaan)Meniadakan seluruh yang ditiadakan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dari Allah, berupa aib dan kekurangsempurnaan, berarti meniadakan aib dan kekurangsempurnaan dari Allah Ta’ala.Itsbat (penetapan)Menetapkan seluruh yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bagi Allah, berupa nama yang husna dan sifat yang ‘ula.Di dalam ayat yang telah disebutkan di atas terdapat terdapat nafi (peniadaan) kesamaan Allah dengan makhluk-Nya, yaitu dalam firman Allah,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya.”Oleh karena itu, tidak boleh menyamakan Allah dengan selain-Nya, baik dalam nama maupun sifat-Nya.Dalam ayat tersebut juga terdapat pula penetapan (itsbat), yaitu dalam firman Allah, و هو السميع البصير “Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.”Yaitu penetapan dua nama maupun dua sifat Allah, Pertama, nama Allah السَّمِيعُ (Yang Mahamendengar) dan nama البَصِيرُ (Yang Mahamelihat).Kedua, sifat  السَمْع (mendengar) dan sifat البَصَر  (melihat).Masuk Surga dengan Menghapal Al-Asma’ul Husna, Mempelajarinya, dan Berdoa kepada Allah DengannyaAllah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 180,وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ “Dan Allah memiliki al-asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari sikap wajib terhadap nama-nama-Nya, mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”Hakikatnya dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menyeru hamba-hamba-Nya untuk mengenal-Nya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya, serta menyeru mereka untuk memuji-Nya dengannya, dan melaksanakan tuntutan ibadah yang terkandung di dalam nama dan sifat-Nya.Maksud “berdoa kepada Allah dengan asma’ul husna” adalah:Pertama, berdoa dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan isi doa.Kedua, berdoa dengan memuji Allah dengan menyebut nama-Nya.Ketiga, berdoa dengan beribadah kepada Allah dengan ibadah selain doa dan pujian, yaitu dengan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung di dalam asma’ul husna.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam Shahihul Bukhari,إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلَّا واحِدًا، مَن أحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa yang meng-ihsho’-nya, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan:Pertama, 99 nama Allah ini dikenal dengan asma’ul husna. Namun ini bukan batasan jumlah asma’ul husna, karena dalam dalil lain menunjukkan bahwa nama Allah tidak dibatasi dengan bilangan tertentu. Bahkan, banyak nama-nama Allah yang tidak Allah beritahukan kepada kita, dan hanya Allah yang mengetahuinya.Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ما أصاب أحدًا قط همٌّ و لا حزنٌ ، فقال : اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي ، إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan dan tidak pula kesedihan lalu mengucapkan,‘Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu pria maupun wanita, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu pastilah berlaku atas diriku, keputusan-Mu selalu adil, saya memohon dengan setiap nama-Mu yang Engkau beri nama diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkannya kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkannya dalam Kitab-Mu, atau Engkau khususkan diri-Mu (dalam mengetahuinya) di ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai air kehidupan bagi hatiku, cahaya kelapangan dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.’ Melainkan Allah akan hilangkan kegelisahan dan kesedihannya, serta Allah akan gantikannya dengan kegembiraan.”Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita tertuntut untuk mempelajarinya?”, lalu beliau bersabda, “Tentu! Selayaknya orang yang mendengarnya itu mempelajarinya!” (HR. Imam Ahmad dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Kedua, makna “ihsho’” yang dijanjikan surga bagi pelakunya, yaitu: menghapal 99 asma’ul husna tersebut, mempelajari maknanya, dan mengamalkan tuntutannya. Wallahu Ta’ala a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin IbadahMengenal Nama Allah “Ash-Shamad”***Penulis: Sa’id Abu ‘UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Referensi :Fiqih Al-Asma’ul Husna, Syekh Abdur Razzaq hafizhahullahMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Syekh Khalifah At-Tamimi hafizhahullahTafsir Ibnul Qoyyim hafizhahullah (https://tafsir.app/ibn-alqayyim/59/18)https://www.alukah.net/sharia/0/72089/https://www.alukah.net/sharia/0/114103/🔍 Ipar Adalah Maut, Hukum Sunat, Perintah Berpuasa, Arti Surat Al Fatiha, Merk Kuas Yang HalalTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al Ikhlash

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid

Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al Ikhlash

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin RahimahullahPertanyaan:Mengapa surah “qul huwallāhu ahad” dinamakan dengan surah Al-Ikhlas? Apa sisi pendalilannya? Mengapa surah ini dikatakan mencakup tiga jenis tauhid? Saya mohon penjelasan akan hal tersebut.Jawaban:Surah Al-Ikhlas adalah firman Allah Ta’ala,﴿قلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَد ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ُ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).Dinamakan surah Al-Ikhlas karena dua hal, yaitu:Pertama, Allah Ta’ala menjadikan surah tersebut murni untuk diri-Nya. Tidak ada di dalamnya perkataan kecuali tentang Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.Kedua, untuk seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan, jika dia membacanya dengan meyakini apa yang ditunjukkan surah tersebut.Adapun sisi pendalilan nama tersebut mencakup tiga bentuk tauhid, yaitu:Pertama, tauhid rububiyah;Kedua, tauhid uluhiyah; danKetiga, tauhid al-asmaa’ was shifaat.Dalil yang berhubungan dengan tauhid uluhiyah adalah ayat,(قل هو الله)“Katakanlah Dialah Allah” (QS. Al-Ikhlas: 1).Allah Ta’ala satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Inilah pendalilan tauhid uluhiyyah.Sedangkan dalil yang berhubungan dengan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asmaa’ was shifat ada dalam firman-Nya,(الله الصمد)“Allah-lah Ash-Shamad (Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)” (QS. Al-Ikhlas: 2).Firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang Mahasempurna dalam sifat-sifat-Nya dan semua ciptaan-Nya bergantung kepada Allah Ta’ala. Kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala berkaitan dengan tauhid al-asma’ was shifat. Kebutuhan dan kebergantungan semua makhluk kepada-Nya merupakan dalil bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang menjadi tujuan manusia. Tujuannya untuk menghindarkan seorang hamba dari segala kesusahan dan hal-hal yang dibenci, serta tercapainya keinginan-keinginan dan segala kebutuhan.Pada firman-Nya,(أحد) “… Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).memiliki kandungan tiga perkara tauhid. Allah Subhanahu wa ta’ala satu-satunya yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan di atas, yaitu secara uluhiyah (pengesaaan Allah dalam beribadah) dan kebergantungan para makhluk kepada-Nya. Allah Ta’ala melanjutkan surah tersebut dengan firman-Nya,(لم يلد ولم يولد)“Tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 3).Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan, “Sesungguhnya Isa Al-Masih adalah anak Allah.” Ayat ini juga membantah kaum Yahudi yang mengatakan, “‘Uzair adalah anak Allah.” Dan juga membantah kaum musyrikin yang mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.” Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,(لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد)“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 3-4)Allah Ta’ala berfirman,(ولم يكن له كفواً أحد)“Dan tidak ada seorang pun yang setara bagi-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 4).Ayat ini bertujuan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu pun yang setara dengan Allah Ta’ala dan tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Menggabungkan Pendapat Para Ahli TafsirTafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.id Referensi:https://binothaimeen.net/content/7980🔍 Nadzor, Tuma Ninah Dalam Sholat, Hikmah Shalat Subuh Berjamaah, Apa Yang Dimaksud Dalil Naqli, Ramadhan PsdTags: alquranAqidahaqidah islamfaidah Surat Al Ikhlashkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamSurat Al IkhlashTafsirtafsir alqurantafsir Surat Al IkhlashTauhid

Fatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid

Fatwa Ulama: Perbedaan Makna Iman, Tauhid, dan Akidah

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid
Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid


Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Iman, tauhid, dan akidah adalah nama-nama dan istilah-istilah yang tersendiri. Apakah masing-masing berbeda  maknanya?Jawaban:Iya, ketiganya berbeda tetapi kembali pada satu hal. At-tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Al-imān adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala yang berhak untuk diibadahi semata dan meyakini semua yang difirmankan-Nya. Iman memiliki makna lebih luas dibanding makna tauhid. Tauhid merupakan mashdar dari wahhada – yuwahhidu, yang maknanya mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah dan mengkhususkan-Nya dengannya. Tauhid maknanya meyakini bahwa Allah Ta’ala semata yang berhak disembah. Allah adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta), Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rizqi), yang Mahasempurna dalam segala nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah Ta’ala adalah Maha Pengatur, yang mengatur segala urusan hambanya. Allah Ta’ala semata adalah yang berhak diibadahi.Tauhid artinya mengesakan Allah dalam ibadah dan menafikan semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Iman memiliki makna lebih luas daripada tauhid. Iman di dalamnya mencakup makna tauhid. Iman bentuknya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Makna iman mencakup juga menerima dan membenarkan semua yang disampaikan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.Akidah memiliki makna yang mencakup dua perkara. Makna akidah mencakup makna tauhid dan makna iman. Makna iman yang tercakup dalam makna akidah antara lain: iman kepada Allah, iman kepada kabar yang datang dari Allah, iman kepada kabar dari Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan iman kepada asma wa shifat-Nya.Akidah adalah sesuatu yang diyakini seorang manusia dengan hatinya. Dia beragama dengan akidah tersebut dan menyembah Allah Ta’ala dengan akidah tersebut. Makna akidah mencakup semua yang diyakini terkait perkara tauhid. Akidah juga mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah Al-Khāliq, Ar-Rāziq, dan pemilik al-asmaa’ al-husnaa (nama-nama yang indah) dan ash-shifaat al-’ulaa (sifat-sifat yang tinggi). Selain itu, akidah mencakup mengimani bahwa suatu ibadah tidak sah jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Makna akidah juga mencakup beriman kepada perintah Allah Ta’ala berupa pengharaman, penghalalan, dan syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, akidah memiliki makna lebih luas dibandingkan iman dan tauhid [1]. Baca Juga: Faktor Eksternal Perusak ImanFatwa Syekh Utsaimin Rahimahullahu Ta’alaPertanyaan:Apakah makna iman sama dengan tauhid?Jawaban:Tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla dalam hal yang menjadi kekhususan Allah Ta’ala dan hal yang wajib untuk-Nya. Sedangkan iman adalah membenarkan dengan disertai al-qabuul (menerima dengan lapang dada) dan al-idz’aan (taat).Keduanya memiliki keumuman dan kekhususan. Setiap orang yang bertauhid adalah orang yang beriman (mukmin) dan setiap mukmin secara umum adalah orang yang bertauhid. Akan tetapi, terkadang makna tauhid lebih khusus dari makna iman, dan terkadang makna iman lebih khusus dari makna tauhid. Wallahu a’lam [2].***Penerjemah: Muhammad FadliArtikel: Muslim.or.idBaca Juga:Definisi Iman Menurut Ahlus SunnahBagaimana Seharusnya Toleransi Beragama antar Negara Islam? Referensi:[1] Majmu’ Fatawa Wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibn Baaz (6/ 277) (https://binbaz.org.sa/fatwas/1656/اختلاف-مدلولات-الايمان-والتوحيد-والعقيدة).[2] Majmu’ Fatawa Wa Rasaa-il Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, Jilid Pertama, Bab At-Tauhid (http://iswy.co/e3jnq).🔍 Doa Iftitah Sesuai Sunnah, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Shaum Syawal, Buku Agama Islam Pdf, Sejarah Nabi ZulkarnainTags: Aqidahaqidah islamfatwaFatwa Ulamaimanislamnasihatnasihat islamrukun imanTauhid

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Makrifatullah dan Urgensinya (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dua Tujuan Penciptaan Manusia 2. Definisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-Macamnya Dua Tujuan Penciptaan Manusia Pertama, makrifatullah (mengenal Allah), yaitu agar kita mengenal siapa Rabb kita, dapat melalui mempelajari nama, sifat, dan perbuatan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ”Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah (berulangkali) turun pada keduanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS.Ath-Thalaaq: 12)Pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan langit, bumi, serta apa yang terdapat pada keduanya dan apa yang ada di antara keduanya. Allah Ta’ala pun menurunkan perintah-Nya, baik perintah yang syar’i, yaitu agama-Nya, maupun perintah yang kauni qodari, yaitu takdir-Nya yang dengan itu Allah Ta’ala mengatur hamba-hamba-Nya.Sungguh semua itu tujuannya adalah agar kita mengetahui tentang-Nya, mengetahui bahwa kekuasaan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa kita diciptakan untuk mengenal Rabb kita, mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah salah satu tujuan hidup kita terlahir di dunia ini, yaitu makrifatullah (mengenal Allah Ta’ala melalui mengenal nama, sifat, dan perbuatan-Nya).Kedua, ‘ibadatullah semata (tauhid), yaitu agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja).” (QS. Az-Zariyat: 56)Adapun pada ayat ini, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya saja, atau dengan kata lain mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadatan yang kemudian dikenal dengan istilah tauhidul uluhiyyah.Kesimpulan:Dari kedua ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hidup kita di muka bumi ini untuk mengenal Allah Ta’ala dan beribadah serta taat kepada-Nya semata, dengan jenis peribadatan yang terbangun atas makrifatullah. Tidak masuk akal sehat orang menyembah Allah semata, namun tidak mau mengenal siapa Allah dengan baik.Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaDefinisi Makrifatullah (Mengenal Allah) dan Macam-MacamnyaDefinisi makrifatullah adalah mengenal Allah Ta’ala dengan cara mengenal nama, sifat, maupun perbuatan-Nya.Terdapat dua macam makrifatullah, yaitu:Pertama, makrifatullah global, yaitu mengenal Allah Ta’ala yang merupakan dasar iman sehingga menyebabkan selamat dari kekufuran akbar dan kesyirikan akbar, serta terjaga kesahan keimanan. Makrifatullah jenis ini diketahui oleh kaum muslimin secara umum. Tidak hanya diketahui oleh ulama dan muslim yang taat saja, bahkan muslim yang awam dan pelaku maksiat pun tahu.Contoh makrifatullah global diantaranya mengenal bahwa Allah Ta’ala itu Esa, tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Wajib beribadah kepada Allah Ta’ala semata, tidak boleh beribadah kepada selain-Nya. Mengenal bahwa tauhid itu wajib dan syirik itu haram sebagaimana dalam surah Al-Ikhlas.Kedua, makrifatullah terperinci, yaitu mempelajari nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala secara rinci berdasarkan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadis disertai penjelasannya sehingga terbangun keyakinan tentang Allah Ta’ala atas dasar dalil dan membuahkan cinta dan iman kepada Allah yang semakin meningkat.Makrifatullah jenis ini biasanya hanya dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar dan bersungguh-sunguh dalam mencintai Allah Ta’ala. Mereka membuktikan bahwa dengan berusaha mengenal Allah Ta’ala dengan terperinci. Bukan hanya mempelajari tiap nama, sifat, maupun perbuatan Allah Ta’ala beserta dengan dalilnya, tetapi juga mempelajari penjelasan ulama tentang dalil-dalil sehingga ia mendapatkan kaidah ilmiah maupun faedah keimanan yang menambah rasa takut, harap, dan cintanya kepada Allah Ta’ala. Semua ini membuahkan ketakwaan yang meningkat sehingga bertambah baik keyakinannya, ucapannya, perbuatannya baik zahir maupun batin. Begitu pula bertambah baik akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya. Mudah untuk husnuzan kepada Allah Ta’ala. Bertambah kuat kepercayaannya kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Hatinya tawakal hanya kepada Allah. Merasakan kelezatan iman dan kemanisan ibadah kepada Allah semata. Mengagungkan Allah dan syariat-Nya. Serta rindu berjumpa dengan Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Tauhid, Pelajaran Al Qur An, Sunnah Qurban, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Agar Ikhlas Melepaskan SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidManhajmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Prev     Next