Hukum Menggunakan Obat Kuat

Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra

Hukum Menggunakan Obat Kuat

Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra
Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra


Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ
Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ


Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;
Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;


Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;

Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ?

Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua

Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ?

Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua
Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua


Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya?

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya?

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid
Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1344155671&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  
Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  


Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  

Khotbah Jumat: Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ
Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ


Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz?

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz?

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 QRIS donasi Yufid
Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587385&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Donasi Tebar Ifthar Sunnah Awal Dzulhijjah 1443 / 2022

Di antara hari-hari yang siangnya penuh dengan keutamaan, adalah 10 hari awal bulan Dzulhijjah. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah berkata,أنّ العشر الأيام الأوّل من شهر ذي الحجة هي خير أيام السنة على الإطلاق ، والعشر الليالي الأخيرة من شهر رمضان هي خير ليالي السنة على الإطلاق.“Sepuluh siang hari pertama bulan Dzulhijjah lebih baik dari hari-hari setahun secara mutlak dan sepuluh malam akhir bulan Ramadhan lebih baik dari malam setahun secara mutlak”.Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”Amalan shalih apapun, nilai keutamaannya lebih besar apabila dilakukan di waktu-waktu ini. DI antara amal shalih yang bisa digiatkan, adalah berpuasa.Oleh karena itu, Peduli Muslim bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari berinisiatif untuk memberikan support terhadap masjid-masjid atau komunitas yang ingin menghidupkan sunnah berpuasa di awal bulan Dzulhijjah ini, dengan menyediakan ifthar bagi yang jamaah yang berpuasa. Alhamdulillah, sudah terdapat beberapa masjid yang bersedia bermitra untuk menyediakan ifthar bagi jamaah yang berpuasa.Anda yang ingin membantu donasi untuk penyediaan menu ifthar ini, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening:BSI no: 1442-0000-34 a.n. Peduli Muslim• Wajib konfirmasi ke: bit.ly/PuasaDzulhijjah2022 ( Tidak ingin dana donasi dipotong operasional? Jangan khawatir, silakan sampaikan dalam konfirmasi di atas )• Batas akhir donasi: Jumat, 8 Juli 2022, pukul 13.00 WIB.Semoga Allah ta’ala memberikan balasan kebaikan yang berlipat, pada setiap hamba-hamba-Nya yang ikhlas beramal shalih di waktu mulia ini. Baarakallah fiikum.🔍 Rukun Shalat, Shalat Setelah Subuh, Larangan Tidur Setelah Subuh Dan Ashar, Keuntungan Shalat Berjamaah, Doa Menghancurkan Orang DholimTags: dzulhijjahiftharPuasa

Donasi Tebar Ifthar Sunnah Awal Dzulhijjah 1443 / 2022

Di antara hari-hari yang siangnya penuh dengan keutamaan, adalah 10 hari awal bulan Dzulhijjah. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah berkata,أنّ العشر الأيام الأوّل من شهر ذي الحجة هي خير أيام السنة على الإطلاق ، والعشر الليالي الأخيرة من شهر رمضان هي خير ليالي السنة على الإطلاق.“Sepuluh siang hari pertama bulan Dzulhijjah lebih baik dari hari-hari setahun secara mutlak dan sepuluh malam akhir bulan Ramadhan lebih baik dari malam setahun secara mutlak”.Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”Amalan shalih apapun, nilai keutamaannya lebih besar apabila dilakukan di waktu-waktu ini. DI antara amal shalih yang bisa digiatkan, adalah berpuasa.Oleh karena itu, Peduli Muslim bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari berinisiatif untuk memberikan support terhadap masjid-masjid atau komunitas yang ingin menghidupkan sunnah berpuasa di awal bulan Dzulhijjah ini, dengan menyediakan ifthar bagi yang jamaah yang berpuasa. Alhamdulillah, sudah terdapat beberapa masjid yang bersedia bermitra untuk menyediakan ifthar bagi jamaah yang berpuasa.Anda yang ingin membantu donasi untuk penyediaan menu ifthar ini, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening:BSI no: 1442-0000-34 a.n. Peduli Muslim• Wajib konfirmasi ke: bit.ly/PuasaDzulhijjah2022 ( Tidak ingin dana donasi dipotong operasional? Jangan khawatir, silakan sampaikan dalam konfirmasi di atas )• Batas akhir donasi: Jumat, 8 Juli 2022, pukul 13.00 WIB.Semoga Allah ta’ala memberikan balasan kebaikan yang berlipat, pada setiap hamba-hamba-Nya yang ikhlas beramal shalih di waktu mulia ini. Baarakallah fiikum.🔍 Rukun Shalat, Shalat Setelah Subuh, Larangan Tidur Setelah Subuh Dan Ashar, Keuntungan Shalat Berjamaah, Doa Menghancurkan Orang DholimTags: dzulhijjahiftharPuasa
Di antara hari-hari yang siangnya penuh dengan keutamaan, adalah 10 hari awal bulan Dzulhijjah. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah berkata,أنّ العشر الأيام الأوّل من شهر ذي الحجة هي خير أيام السنة على الإطلاق ، والعشر الليالي الأخيرة من شهر رمضان هي خير ليالي السنة على الإطلاق.“Sepuluh siang hari pertama bulan Dzulhijjah lebih baik dari hari-hari setahun secara mutlak dan sepuluh malam akhir bulan Ramadhan lebih baik dari malam setahun secara mutlak”.Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”Amalan shalih apapun, nilai keutamaannya lebih besar apabila dilakukan di waktu-waktu ini. DI antara amal shalih yang bisa digiatkan, adalah berpuasa.Oleh karena itu, Peduli Muslim bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari berinisiatif untuk memberikan support terhadap masjid-masjid atau komunitas yang ingin menghidupkan sunnah berpuasa di awal bulan Dzulhijjah ini, dengan menyediakan ifthar bagi yang jamaah yang berpuasa. Alhamdulillah, sudah terdapat beberapa masjid yang bersedia bermitra untuk menyediakan ifthar bagi jamaah yang berpuasa.Anda yang ingin membantu donasi untuk penyediaan menu ifthar ini, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening:BSI no: 1442-0000-34 a.n. Peduli Muslim• Wajib konfirmasi ke: bit.ly/PuasaDzulhijjah2022 ( Tidak ingin dana donasi dipotong operasional? Jangan khawatir, silakan sampaikan dalam konfirmasi di atas )• Batas akhir donasi: Jumat, 8 Juli 2022, pukul 13.00 WIB.Semoga Allah ta’ala memberikan balasan kebaikan yang berlipat, pada setiap hamba-hamba-Nya yang ikhlas beramal shalih di waktu mulia ini. Baarakallah fiikum.🔍 Rukun Shalat, Shalat Setelah Subuh, Larangan Tidur Setelah Subuh Dan Ashar, Keuntungan Shalat Berjamaah, Doa Menghancurkan Orang DholimTags: dzulhijjahiftharPuasa


Di antara hari-hari yang siangnya penuh dengan keutamaan, adalah 10 hari awal bulan Dzulhijjah. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah berkata,أنّ العشر الأيام الأوّل من شهر ذي الحجة هي خير أيام السنة على الإطلاق ، والعشر الليالي الأخيرة من شهر رمضان هي خير ليالي السنة على الإطلاق.“Sepuluh siang hari pertama bulan Dzulhijjah lebih baik dari hari-hari setahun secara mutlak dan sepuluh malam akhir bulan Ramadhan lebih baik dari malam setahun secara mutlak”.Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”Amalan shalih apapun, nilai keutamaannya lebih besar apabila dilakukan di waktu-waktu ini. DI antara amal shalih yang bisa digiatkan, adalah berpuasa.Oleh karena itu, Peduli Muslim bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari berinisiatif untuk memberikan support terhadap masjid-masjid atau komunitas yang ingin menghidupkan sunnah berpuasa di awal bulan Dzulhijjah ini, dengan menyediakan ifthar bagi yang jamaah yang berpuasa. Alhamdulillah, sudah terdapat beberapa masjid yang bersedia bermitra untuk menyediakan ifthar bagi jamaah yang berpuasa.Anda yang ingin membantu donasi untuk penyediaan menu ifthar ini, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening:BSI no: 1442-0000-34 a.n. Peduli Muslim• Wajib konfirmasi ke: bit.ly/PuasaDzulhijjah2022 ( Tidak ingin dana donasi dipotong operasional? Jangan khawatir, silakan sampaikan dalam konfirmasi di atas )• Batas akhir donasi: Jumat, 8 Juli 2022, pukul 13.00 WIB.Semoga Allah ta’ala memberikan balasan kebaikan yang berlipat, pada setiap hamba-hamba-Nya yang ikhlas beramal shalih di waktu mulia ini. Baarakallah fiikum.🔍 Rukun Shalat, Shalat Setelah Subuh, Larangan Tidur Setelah Subuh Dan Ashar, Keuntungan Shalat Berjamaah, Doa Menghancurkan Orang DholimTags: dzulhijjahiftharPuasa

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya, “Apa makna takwa?” Takwa yaitu kamu membuat pelindung antara dirimu dengan neraka. Yakni sesuatu yang melindungimu dari neraka. Ada yang mengatakan, takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu —seperti yang dikatakan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud— Dengan menjadikan Allah diingat sehingga tak terlupakan, disyukuri sehingga tak dikufuri, dan ditaati sehingga tak dimaksiati. Inilah takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud dan diriwayatkan juga dari Umar serta Ubay bin Ka’ab, bahwa ia berkata kepada seorang lelaki, “Bagaimana menurutmu, jika kamu melewati jalan yang penuh duri, apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku akan menyingsingkan pakaianku dan berhati-hati agar tidak terkena duri.” Ibnu Mas’ud berkata, “Inilah makna takwa!” Bersiaga dengan ketaatan dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Sebagian ulama juga mengatakan takwa adalah dengan kamu beribadah kepada Allah dengan cahaya dari Allah, demi mengharap pahala Allah; dan dengan meninggalkan maksiat kepada Allah dengan cahaya dari Allah, karena takut dari azab Allah Tabaraka wa Ta’ala. ====================================================================================================== يَقُولُ مَا مَعْنَى التَّقْوَى؟ التَّقْوَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّارِ وِقَايَةً أَيْ شَيْئًا يَقِيْكَ النَّارَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنْ يُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى وَأَنْ يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى هَذِه تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَيْضًا جَاءَتْ عَنْ عُمَرَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتَ إِلَى طَرِيقٍ فِيهِ شَوْكٌ مَاذَا تَفْعَلُ؟ قَال شَمَّرْتُ أَيْ رَفَعْتُ ثِيَابِي وَحَذَرْتُ حَتَّى لَا أَقَعَ فِي الشَّوْكِ قَالَ هَذِهِ التَّقْوَى التَّشْمِيرُ بِالطَّاعَةِ وَالْحَذَرُ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي الْمَعَاصِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ التَّقْوَى أَنْ تَعْبُدَ اللهَ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ خَوْفَ عَذَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى  

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya, “Apa makna takwa?” Takwa yaitu kamu membuat pelindung antara dirimu dengan neraka. Yakni sesuatu yang melindungimu dari neraka. Ada yang mengatakan, takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu —seperti yang dikatakan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud— Dengan menjadikan Allah diingat sehingga tak terlupakan, disyukuri sehingga tak dikufuri, dan ditaati sehingga tak dimaksiati. Inilah takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud dan diriwayatkan juga dari Umar serta Ubay bin Ka’ab, bahwa ia berkata kepada seorang lelaki, “Bagaimana menurutmu, jika kamu melewati jalan yang penuh duri, apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku akan menyingsingkan pakaianku dan berhati-hati agar tidak terkena duri.” Ibnu Mas’ud berkata, “Inilah makna takwa!” Bersiaga dengan ketaatan dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Sebagian ulama juga mengatakan takwa adalah dengan kamu beribadah kepada Allah dengan cahaya dari Allah, demi mengharap pahala Allah; dan dengan meninggalkan maksiat kepada Allah dengan cahaya dari Allah, karena takut dari azab Allah Tabaraka wa Ta’ala. ====================================================================================================== يَقُولُ مَا مَعْنَى التَّقْوَى؟ التَّقْوَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّارِ وِقَايَةً أَيْ شَيْئًا يَقِيْكَ النَّارَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنْ يُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى وَأَنْ يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى هَذِه تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَيْضًا جَاءَتْ عَنْ عُمَرَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتَ إِلَى طَرِيقٍ فِيهِ شَوْكٌ مَاذَا تَفْعَلُ؟ قَال شَمَّرْتُ أَيْ رَفَعْتُ ثِيَابِي وَحَذَرْتُ حَتَّى لَا أَقَعَ فِي الشَّوْكِ قَالَ هَذِهِ التَّقْوَى التَّشْمِيرُ بِالطَّاعَةِ وَالْحَذَرُ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي الْمَعَاصِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ التَّقْوَى أَنْ تَعْبُدَ اللهَ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ خَوْفَ عَذَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى  
Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya, “Apa makna takwa?” Takwa yaitu kamu membuat pelindung antara dirimu dengan neraka. Yakni sesuatu yang melindungimu dari neraka. Ada yang mengatakan, takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu —seperti yang dikatakan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud— Dengan menjadikan Allah diingat sehingga tak terlupakan, disyukuri sehingga tak dikufuri, dan ditaati sehingga tak dimaksiati. Inilah takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud dan diriwayatkan juga dari Umar serta Ubay bin Ka’ab, bahwa ia berkata kepada seorang lelaki, “Bagaimana menurutmu, jika kamu melewati jalan yang penuh duri, apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku akan menyingsingkan pakaianku dan berhati-hati agar tidak terkena duri.” Ibnu Mas’ud berkata, “Inilah makna takwa!” Bersiaga dengan ketaatan dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Sebagian ulama juga mengatakan takwa adalah dengan kamu beribadah kepada Allah dengan cahaya dari Allah, demi mengharap pahala Allah; dan dengan meninggalkan maksiat kepada Allah dengan cahaya dari Allah, karena takut dari azab Allah Tabaraka wa Ta’ala. ====================================================================================================== يَقُولُ مَا مَعْنَى التَّقْوَى؟ التَّقْوَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّارِ وِقَايَةً أَيْ شَيْئًا يَقِيْكَ النَّارَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنْ يُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى وَأَنْ يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى هَذِه تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَيْضًا جَاءَتْ عَنْ عُمَرَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتَ إِلَى طَرِيقٍ فِيهِ شَوْكٌ مَاذَا تَفْعَلُ؟ قَال شَمَّرْتُ أَيْ رَفَعْتُ ثِيَابِي وَحَذَرْتُ حَتَّى لَا أَقَعَ فِي الشَّوْكِ قَالَ هَذِهِ التَّقْوَى التَّشْمِيرُ بِالطَّاعَةِ وَالْحَذَرُ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي الْمَعَاصِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ التَّقْوَى أَنْ تَعْبُدَ اللهَ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ خَوْفَ عَذَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى  


Apa Makna Takwa? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya, “Apa makna takwa?” Takwa yaitu kamu membuat pelindung antara dirimu dengan neraka. Yakni sesuatu yang melindungimu dari neraka. Ada yang mengatakan, takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala yaitu —seperti yang dikatakan Ali radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud— Dengan menjadikan Allah diingat sehingga tak terlupakan, disyukuri sehingga tak dikufuri, dan ditaati sehingga tak dimaksiati. Inilah takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Takwa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud dan diriwayatkan juga dari Umar serta Ubay bin Ka’ab, bahwa ia berkata kepada seorang lelaki, “Bagaimana menurutmu, jika kamu melewati jalan yang penuh duri, apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku akan menyingsingkan pakaianku dan berhati-hati agar tidak terkena duri.” Ibnu Mas’ud berkata, “Inilah makna takwa!” Bersiaga dengan ketaatan dan berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Sebagian ulama juga mengatakan takwa adalah dengan kamu beribadah kepada Allah dengan cahaya dari Allah, demi mengharap pahala Allah; dan dengan meninggalkan maksiat kepada Allah dengan cahaya dari Allah, karena takut dari azab Allah Tabaraka wa Ta’ala. ====================================================================================================== يَقُولُ مَا مَعْنَى التَّقْوَى؟ التَّقْوَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّارِ وِقَايَةً أَيْ شَيْئًا يَقِيْكَ النَّارَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنْ يُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى وَأَنْ يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرَ وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى هَذِه تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَقْوَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَيْضًا جَاءَتْ عَنْ عُمَرَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتَ إِلَى طَرِيقٍ فِيهِ شَوْكٌ مَاذَا تَفْعَلُ؟ قَال شَمَّرْتُ أَيْ رَفَعْتُ ثِيَابِي وَحَذَرْتُ حَتَّى لَا أَقَعَ فِي الشَّوْكِ قَالَ هَذِهِ التَّقْوَى التَّشْمِيرُ بِالطَّاعَةِ وَالْحَذَرُ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي الْمَعَاصِي وَقَالَ بَعْضُهُمْ التَّقْوَى أَنْ تَعْبُدَ اللهَ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ خَوْفَ عَذَابِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى  

Bahaya Salah Niat dalam Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah ibadah yang agung. Kemuliaan ilmu janganlah dinodai dengan niat yang salah ketika mempelajarinya. Di antara penghalang penuntut ilmu adalah salah niat, yaitu menuntut ilmu karena selain Allah. Salah niat dalam belajar akan menyebabkan seorang terhalang dari mendapatkan ilmu, bahkan bisa menyebabkan dosa dan kerugian bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya ikhlas dalam belajar agama 2. Bahaya salah niat dalam belajar agama 3. Hati-hati dengan syirik niat Pentingnya ikhlas dalam belajar agamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti tentang pentingnya niat yang ikhlas. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم  صلى الله عليه وسلم  يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك“Seandainya para ahli ilmu menjaga ilmu dan memberikannya kepada yang berhak, maka niscaya mereka akan berkuasa pada waktu tersebut dengan ilmu mereka. Akan tetapi, mereka telah memberikannya kepada pecinta dunia untuk mendapatkan dunia mereka, maka mereka menjadi hina di hadapan para pecinta dunia tersebut. Aku telah mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan cita-citanya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan mencukupkan baginya dunianya. Barangsiapa cita-citanya hanya untuk mencari dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana dia akan binasa.’“  (HR. Ibnu Majah, shahih)Baca Juga: Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan KebodohanBahaya salah niat dalam belajar agamaSesungguhnya yang paling penting untuk diperhatikan para penuntut ilmu adalah perkara niat serta berusaha untuk terus memperbaikinya dan menjaganya dari hal-hal yang merusak niat. Hal ini karena ilmu hanyalah menjadi mulia ketika niat mempelajarinya ditujukan ikhlas karena Allah. Adapun ketika ditujukan untuk selain-Nya, maka tidak ada lagi keutamaan di dalamnya, bahkan akan menjadi fitnah dan malapetaka, serta akan berakibat buruk bagi pelakunya. Telah kita ketahui bersama bahwa diterimanya amal adalah sesuai dengan keikhlasan dan benarnya amal sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. “ (QS. Al Bayyinah: 5)Apabila penuntut ilmu menuntut ilmu untuk tujuan mendapat dunia, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, merusak dirinya sendiri, mendapatkan dosa, dan tidak akan mendapatkan bagian dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,من طلب العلمَ ابتغاء الآخرة أدركَها، ومن طلب العلمَ ابتغاء الدنيا فهي حظُّه منه“Barangsiapa mencari ilmu karena akhirat, maka dia akan mendapatkannya. Sedangkan barangsiapa mencari ilmu karena ingin mendapatkan dunia, maka dia hanya akan mendapat jatah dunianya saja.“Lebih jelas dalam masalah ini adalah penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia justru mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, shahih)Yusuf bin Al-Husain berkata, “Aku mendengar Dzun Nuun Al-Mishri berkata, ‘Dahulu para ulama saling nasihat-menasihati di antara mereka mengenai tiga perkara:Pertama: Barangsiapa berbuat baik ketika sendirian, maka Allah akan menjadikan dirinya baik di hadapan manusia.Kedua: Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.Ketiga: Barangsiapa yang memperbaiki urusan akhiratnya, maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.'”Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,أول العلم النية، ثم الاستماع، ثم الفهم، ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر“Permulaan ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, dan kemudian menyebarkan.”Niat adalah perkara yang hendaknya menjadi perhatian. Banyak para ulama salaf mengatakan,كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَجَرَّنَا إلى الآخرة“Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, namun ia menuntun kami kepada akhirat.”Sebagian yang lain mengucapkan,طلبنا هذا الأمر وليس فيه نية ثم جاءت النية بعد“Kami menuntut ilmu tanpa disertai niat yang benar, kemudian niat datang setelah kami mempelajarinya.“Ada juga yang mengatakan,و من طلب العلم لغير اللّه يأ بى عليه حتى يصيره إلى اللّه“Barangsiapa menuntut ilmu untuk selain Allah, maka niscaya ilmu akan enggan, sampai (niatnya) menuju Allah.“Dan ungkapan yang semisal ini sangatlah banyak, yang menunjukkan pentingnya niat dalam mempelajari ilmu.Demikian juga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ada seorang laki-laki yang hendak melamar seorang wanita yang memiliki nasab baik dan cantik jelita. Wanita itu menolak karena lelaki tersebut miskin dan kurang baik nasabnya. Lelaki tersebut memikirkan dua di antara yang akan dia raih apakah harta ataukah kemuliaan. Maka, dia memilih kemuliaan, sehingga dia menuntut ilmu sampai akhirnya dia menjadi orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kemudian wanita tersebut mengirim utusan kepada lelaki tersebut dalam rangka untuk menawarkan dirinya agar dinikahi. Maka lelaki tersebut kemudian mengatakan, “Aku tidak akan mendahulukan ilmu di atas apapun.“ Demikianlah, ilmu menjadi petunjuk baginya untuk membenarkan niat dan amal saleh, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” (QS. Fathir: 28)Maka, dia bersikap wara’ dengan meninggalkan wanita tersebut karena dulu dia menuntut ilmu karena dirinya. Hal ini dilakukan sebagai tanda jujur niatnya dan lurus tujuannya dalam menuntut ilmu.Baca Juga: Selektif Dalam Menuntut Ilmu AgamaHati-hati dengan syirik niatBerhati-hatilah dengan syirik dalam niat, karena Allah Ta’ala mengingatkan dalam sebuah hadis qudsi,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku tidaklah butuh adanya persekutuan dalam bentuk apapun. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan persekutuannya tersebut.” (HR. Muslim)Kebinasaan akan terjadi jika kondisi jiwa seseorang kosong dan tidak terjalin hubungan antara dirinya dengan Allah. Dalam kondisi demikian, maka setan akan mengisi kekosongan tersebut dan membuka cabang menuju jalan kesesatan sehingga mengantarkannya ke jalan neraka.Hamdan bin Salamah rahimahullah berkata ,مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadis bukan karena Allah, maka akan dibuat makar kepadanya.”Jika seseorang benar niatnya dalam menuntut ilmu, maka akan semakin besar pertolongan untuk mendapatkannya sebagaimana perkataan Abu ‘Abdillah Ar-Rudabari,العلم موقوف على العمل والعمل موقوف على الإخلاص والإخلاص لله يورث الفهم عن الله تعالى“Ilmu itu terhenti pada amal, amal itu terhenti pada ikhlas, dan ikhlas itu mewariskan pemahaman dari Allah Ta’ala.”Disebutkan dalam Sunan Ad-Darimi dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa dia berkata,من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله عز وجل، أتاه الله منه ما يكفيه“Barangsiapa yang mencari ilmu dalam rangka mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan ilmu baginya.“Semoga menjadi renungan bagi kita untuk terus menata niat dalam belajar agama.Baca Juga:Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:‘Awaaiqu At-Thalib karya Syekh ‘Abdus Salam bin Barjas Alu ‘Abdul Karim rahimahullah.🔍 Tawakal, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Etika Berbusana Dalam Islam, Diet Dalam Islam, Portal IslamiTags: adabAkhlakAqidahbelajar agamaibadahilmu agamamuamalahnasihatnasihat islamniatniat menuntut ilmu agamapenuntut ilmu

Bahaya Salah Niat dalam Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah ibadah yang agung. Kemuliaan ilmu janganlah dinodai dengan niat yang salah ketika mempelajarinya. Di antara penghalang penuntut ilmu adalah salah niat, yaitu menuntut ilmu karena selain Allah. Salah niat dalam belajar akan menyebabkan seorang terhalang dari mendapatkan ilmu, bahkan bisa menyebabkan dosa dan kerugian bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya ikhlas dalam belajar agama 2. Bahaya salah niat dalam belajar agama 3. Hati-hati dengan syirik niat Pentingnya ikhlas dalam belajar agamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti tentang pentingnya niat yang ikhlas. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم  صلى الله عليه وسلم  يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك“Seandainya para ahli ilmu menjaga ilmu dan memberikannya kepada yang berhak, maka niscaya mereka akan berkuasa pada waktu tersebut dengan ilmu mereka. Akan tetapi, mereka telah memberikannya kepada pecinta dunia untuk mendapatkan dunia mereka, maka mereka menjadi hina di hadapan para pecinta dunia tersebut. Aku telah mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan cita-citanya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan mencukupkan baginya dunianya. Barangsiapa cita-citanya hanya untuk mencari dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana dia akan binasa.’“  (HR. Ibnu Majah, shahih)Baca Juga: Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan KebodohanBahaya salah niat dalam belajar agamaSesungguhnya yang paling penting untuk diperhatikan para penuntut ilmu adalah perkara niat serta berusaha untuk terus memperbaikinya dan menjaganya dari hal-hal yang merusak niat. Hal ini karena ilmu hanyalah menjadi mulia ketika niat mempelajarinya ditujukan ikhlas karena Allah. Adapun ketika ditujukan untuk selain-Nya, maka tidak ada lagi keutamaan di dalamnya, bahkan akan menjadi fitnah dan malapetaka, serta akan berakibat buruk bagi pelakunya. Telah kita ketahui bersama bahwa diterimanya amal adalah sesuai dengan keikhlasan dan benarnya amal sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. “ (QS. Al Bayyinah: 5)Apabila penuntut ilmu menuntut ilmu untuk tujuan mendapat dunia, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, merusak dirinya sendiri, mendapatkan dosa, dan tidak akan mendapatkan bagian dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,من طلب العلمَ ابتغاء الآخرة أدركَها، ومن طلب العلمَ ابتغاء الدنيا فهي حظُّه منه“Barangsiapa mencari ilmu karena akhirat, maka dia akan mendapatkannya. Sedangkan barangsiapa mencari ilmu karena ingin mendapatkan dunia, maka dia hanya akan mendapat jatah dunianya saja.“Lebih jelas dalam masalah ini adalah penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia justru mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, shahih)Yusuf bin Al-Husain berkata, “Aku mendengar Dzun Nuun Al-Mishri berkata, ‘Dahulu para ulama saling nasihat-menasihati di antara mereka mengenai tiga perkara:Pertama: Barangsiapa berbuat baik ketika sendirian, maka Allah akan menjadikan dirinya baik di hadapan manusia.Kedua: Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.Ketiga: Barangsiapa yang memperbaiki urusan akhiratnya, maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.'”Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,أول العلم النية، ثم الاستماع، ثم الفهم، ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر“Permulaan ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, dan kemudian menyebarkan.”Niat adalah perkara yang hendaknya menjadi perhatian. Banyak para ulama salaf mengatakan,كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَجَرَّنَا إلى الآخرة“Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, namun ia menuntun kami kepada akhirat.”Sebagian yang lain mengucapkan,طلبنا هذا الأمر وليس فيه نية ثم جاءت النية بعد“Kami menuntut ilmu tanpa disertai niat yang benar, kemudian niat datang setelah kami mempelajarinya.“Ada juga yang mengatakan,و من طلب العلم لغير اللّه يأ بى عليه حتى يصيره إلى اللّه“Barangsiapa menuntut ilmu untuk selain Allah, maka niscaya ilmu akan enggan, sampai (niatnya) menuju Allah.“Dan ungkapan yang semisal ini sangatlah banyak, yang menunjukkan pentingnya niat dalam mempelajari ilmu.Demikian juga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ada seorang laki-laki yang hendak melamar seorang wanita yang memiliki nasab baik dan cantik jelita. Wanita itu menolak karena lelaki tersebut miskin dan kurang baik nasabnya. Lelaki tersebut memikirkan dua di antara yang akan dia raih apakah harta ataukah kemuliaan. Maka, dia memilih kemuliaan, sehingga dia menuntut ilmu sampai akhirnya dia menjadi orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kemudian wanita tersebut mengirim utusan kepada lelaki tersebut dalam rangka untuk menawarkan dirinya agar dinikahi. Maka lelaki tersebut kemudian mengatakan, “Aku tidak akan mendahulukan ilmu di atas apapun.“ Demikianlah, ilmu menjadi petunjuk baginya untuk membenarkan niat dan amal saleh, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” (QS. Fathir: 28)Maka, dia bersikap wara’ dengan meninggalkan wanita tersebut karena dulu dia menuntut ilmu karena dirinya. Hal ini dilakukan sebagai tanda jujur niatnya dan lurus tujuannya dalam menuntut ilmu.Baca Juga: Selektif Dalam Menuntut Ilmu AgamaHati-hati dengan syirik niatBerhati-hatilah dengan syirik dalam niat, karena Allah Ta’ala mengingatkan dalam sebuah hadis qudsi,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku tidaklah butuh adanya persekutuan dalam bentuk apapun. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan persekutuannya tersebut.” (HR. Muslim)Kebinasaan akan terjadi jika kondisi jiwa seseorang kosong dan tidak terjalin hubungan antara dirinya dengan Allah. Dalam kondisi demikian, maka setan akan mengisi kekosongan tersebut dan membuka cabang menuju jalan kesesatan sehingga mengantarkannya ke jalan neraka.Hamdan bin Salamah rahimahullah berkata ,مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadis bukan karena Allah, maka akan dibuat makar kepadanya.”Jika seseorang benar niatnya dalam menuntut ilmu, maka akan semakin besar pertolongan untuk mendapatkannya sebagaimana perkataan Abu ‘Abdillah Ar-Rudabari,العلم موقوف على العمل والعمل موقوف على الإخلاص والإخلاص لله يورث الفهم عن الله تعالى“Ilmu itu terhenti pada amal, amal itu terhenti pada ikhlas, dan ikhlas itu mewariskan pemahaman dari Allah Ta’ala.”Disebutkan dalam Sunan Ad-Darimi dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa dia berkata,من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله عز وجل، أتاه الله منه ما يكفيه“Barangsiapa yang mencari ilmu dalam rangka mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan ilmu baginya.“Semoga menjadi renungan bagi kita untuk terus menata niat dalam belajar agama.Baca Juga:Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:‘Awaaiqu At-Thalib karya Syekh ‘Abdus Salam bin Barjas Alu ‘Abdul Karim rahimahullah.🔍 Tawakal, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Etika Berbusana Dalam Islam, Diet Dalam Islam, Portal IslamiTags: adabAkhlakAqidahbelajar agamaibadahilmu agamamuamalahnasihatnasihat islamniatniat menuntut ilmu agamapenuntut ilmu
Menuntut ilmu adalah ibadah yang agung. Kemuliaan ilmu janganlah dinodai dengan niat yang salah ketika mempelajarinya. Di antara penghalang penuntut ilmu adalah salah niat, yaitu menuntut ilmu karena selain Allah. Salah niat dalam belajar akan menyebabkan seorang terhalang dari mendapatkan ilmu, bahkan bisa menyebabkan dosa dan kerugian bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya ikhlas dalam belajar agama 2. Bahaya salah niat dalam belajar agama 3. Hati-hati dengan syirik niat Pentingnya ikhlas dalam belajar agamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti tentang pentingnya niat yang ikhlas. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم  صلى الله عليه وسلم  يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك“Seandainya para ahli ilmu menjaga ilmu dan memberikannya kepada yang berhak, maka niscaya mereka akan berkuasa pada waktu tersebut dengan ilmu mereka. Akan tetapi, mereka telah memberikannya kepada pecinta dunia untuk mendapatkan dunia mereka, maka mereka menjadi hina di hadapan para pecinta dunia tersebut. Aku telah mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan cita-citanya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan mencukupkan baginya dunianya. Barangsiapa cita-citanya hanya untuk mencari dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana dia akan binasa.’“  (HR. Ibnu Majah, shahih)Baca Juga: Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan KebodohanBahaya salah niat dalam belajar agamaSesungguhnya yang paling penting untuk diperhatikan para penuntut ilmu adalah perkara niat serta berusaha untuk terus memperbaikinya dan menjaganya dari hal-hal yang merusak niat. Hal ini karena ilmu hanyalah menjadi mulia ketika niat mempelajarinya ditujukan ikhlas karena Allah. Adapun ketika ditujukan untuk selain-Nya, maka tidak ada lagi keutamaan di dalamnya, bahkan akan menjadi fitnah dan malapetaka, serta akan berakibat buruk bagi pelakunya. Telah kita ketahui bersama bahwa diterimanya amal adalah sesuai dengan keikhlasan dan benarnya amal sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. “ (QS. Al Bayyinah: 5)Apabila penuntut ilmu menuntut ilmu untuk tujuan mendapat dunia, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, merusak dirinya sendiri, mendapatkan dosa, dan tidak akan mendapatkan bagian dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,من طلب العلمَ ابتغاء الآخرة أدركَها، ومن طلب العلمَ ابتغاء الدنيا فهي حظُّه منه“Barangsiapa mencari ilmu karena akhirat, maka dia akan mendapatkannya. Sedangkan barangsiapa mencari ilmu karena ingin mendapatkan dunia, maka dia hanya akan mendapat jatah dunianya saja.“Lebih jelas dalam masalah ini adalah penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia justru mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, shahih)Yusuf bin Al-Husain berkata, “Aku mendengar Dzun Nuun Al-Mishri berkata, ‘Dahulu para ulama saling nasihat-menasihati di antara mereka mengenai tiga perkara:Pertama: Barangsiapa berbuat baik ketika sendirian, maka Allah akan menjadikan dirinya baik di hadapan manusia.Kedua: Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.Ketiga: Barangsiapa yang memperbaiki urusan akhiratnya, maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.'”Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,أول العلم النية، ثم الاستماع، ثم الفهم، ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر“Permulaan ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, dan kemudian menyebarkan.”Niat adalah perkara yang hendaknya menjadi perhatian. Banyak para ulama salaf mengatakan,كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَجَرَّنَا إلى الآخرة“Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, namun ia menuntun kami kepada akhirat.”Sebagian yang lain mengucapkan,طلبنا هذا الأمر وليس فيه نية ثم جاءت النية بعد“Kami menuntut ilmu tanpa disertai niat yang benar, kemudian niat datang setelah kami mempelajarinya.“Ada juga yang mengatakan,و من طلب العلم لغير اللّه يأ بى عليه حتى يصيره إلى اللّه“Barangsiapa menuntut ilmu untuk selain Allah, maka niscaya ilmu akan enggan, sampai (niatnya) menuju Allah.“Dan ungkapan yang semisal ini sangatlah banyak, yang menunjukkan pentingnya niat dalam mempelajari ilmu.Demikian juga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ada seorang laki-laki yang hendak melamar seorang wanita yang memiliki nasab baik dan cantik jelita. Wanita itu menolak karena lelaki tersebut miskin dan kurang baik nasabnya. Lelaki tersebut memikirkan dua di antara yang akan dia raih apakah harta ataukah kemuliaan. Maka, dia memilih kemuliaan, sehingga dia menuntut ilmu sampai akhirnya dia menjadi orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kemudian wanita tersebut mengirim utusan kepada lelaki tersebut dalam rangka untuk menawarkan dirinya agar dinikahi. Maka lelaki tersebut kemudian mengatakan, “Aku tidak akan mendahulukan ilmu di atas apapun.“ Demikianlah, ilmu menjadi petunjuk baginya untuk membenarkan niat dan amal saleh, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” (QS. Fathir: 28)Maka, dia bersikap wara’ dengan meninggalkan wanita tersebut karena dulu dia menuntut ilmu karena dirinya. Hal ini dilakukan sebagai tanda jujur niatnya dan lurus tujuannya dalam menuntut ilmu.Baca Juga: Selektif Dalam Menuntut Ilmu AgamaHati-hati dengan syirik niatBerhati-hatilah dengan syirik dalam niat, karena Allah Ta’ala mengingatkan dalam sebuah hadis qudsi,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku tidaklah butuh adanya persekutuan dalam bentuk apapun. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan persekutuannya tersebut.” (HR. Muslim)Kebinasaan akan terjadi jika kondisi jiwa seseorang kosong dan tidak terjalin hubungan antara dirinya dengan Allah. Dalam kondisi demikian, maka setan akan mengisi kekosongan tersebut dan membuka cabang menuju jalan kesesatan sehingga mengantarkannya ke jalan neraka.Hamdan bin Salamah rahimahullah berkata ,مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadis bukan karena Allah, maka akan dibuat makar kepadanya.”Jika seseorang benar niatnya dalam menuntut ilmu, maka akan semakin besar pertolongan untuk mendapatkannya sebagaimana perkataan Abu ‘Abdillah Ar-Rudabari,العلم موقوف على العمل والعمل موقوف على الإخلاص والإخلاص لله يورث الفهم عن الله تعالى“Ilmu itu terhenti pada amal, amal itu terhenti pada ikhlas, dan ikhlas itu mewariskan pemahaman dari Allah Ta’ala.”Disebutkan dalam Sunan Ad-Darimi dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa dia berkata,من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله عز وجل، أتاه الله منه ما يكفيه“Barangsiapa yang mencari ilmu dalam rangka mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan ilmu baginya.“Semoga menjadi renungan bagi kita untuk terus menata niat dalam belajar agama.Baca Juga:Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:‘Awaaiqu At-Thalib karya Syekh ‘Abdus Salam bin Barjas Alu ‘Abdul Karim rahimahullah.🔍 Tawakal, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Etika Berbusana Dalam Islam, Diet Dalam Islam, Portal IslamiTags: adabAkhlakAqidahbelajar agamaibadahilmu agamamuamalahnasihatnasihat islamniatniat menuntut ilmu agamapenuntut ilmu


Menuntut ilmu adalah ibadah yang agung. Kemuliaan ilmu janganlah dinodai dengan niat yang salah ketika mempelajarinya. Di antara penghalang penuntut ilmu adalah salah niat, yaitu menuntut ilmu karena selain Allah. Salah niat dalam belajar akan menyebabkan seorang terhalang dari mendapatkan ilmu, bahkan bisa menyebabkan dosa dan kerugian bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Daftar Isi sembunyikan 1. Pentingnya ikhlas dalam belajar agama 2. Bahaya salah niat dalam belajar agama 3. Hati-hati dengan syirik niat Pentingnya ikhlas dalam belajar agamaRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti tentang pentingnya niat yang ikhlas. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,لو أن أهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند أهله لسادوا به أهل زمانهم ولكنهم بذلوه لأهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم سمعت نبيكم  صلى الله عليه وسلم  يقول من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته كفاه الله هم دنياه ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا لم يبال الله في أي أوديتها هلك“Seandainya para ahli ilmu menjaga ilmu dan memberikannya kepada yang berhak, maka niscaya mereka akan berkuasa pada waktu tersebut dengan ilmu mereka. Akan tetapi, mereka telah memberikannya kepada pecinta dunia untuk mendapatkan dunia mereka, maka mereka menjadi hina di hadapan para pecinta dunia tersebut. Aku telah mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan cita-citanya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan mencukupkan baginya dunianya. Barangsiapa cita-citanya hanya untuk mencari dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana dia akan binasa.’“  (HR. Ibnu Majah, shahih)Baca Juga: Menuntut Ilmu untuk Menghilangkan KebodohanBahaya salah niat dalam belajar agamaSesungguhnya yang paling penting untuk diperhatikan para penuntut ilmu adalah perkara niat serta berusaha untuk terus memperbaikinya dan menjaganya dari hal-hal yang merusak niat. Hal ini karena ilmu hanyalah menjadi mulia ketika niat mempelajarinya ditujukan ikhlas karena Allah. Adapun ketika ditujukan untuk selain-Nya, maka tidak ada lagi keutamaan di dalamnya, bahkan akan menjadi fitnah dan malapetaka, serta akan berakibat buruk bagi pelakunya. Telah kita ketahui bersama bahwa diterimanya amal adalah sesuai dengan keikhlasan dan benarnya amal sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya,وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. “ (QS. Al Bayyinah: 5)Apabila penuntut ilmu menuntut ilmu untuk tujuan mendapat dunia, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah, merusak dirinya sendiri, mendapatkan dosa, dan tidak akan mendapatkan bagian dunia, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,من طلب العلمَ ابتغاء الآخرة أدركَها، ومن طلب العلمَ ابتغاء الدنيا فهي حظُّه منه“Barangsiapa mencari ilmu karena akhirat, maka dia akan mendapatkannya. Sedangkan barangsiapa mencari ilmu karena ingin mendapatkan dunia, maka dia hanya akan mendapat jatah dunianya saja.“Lebih jelas dalam masalah ini adalah penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia justru mempelajarinya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, shahih)Yusuf bin Al-Husain berkata, “Aku mendengar Dzun Nuun Al-Mishri berkata, ‘Dahulu para ulama saling nasihat-menasihati di antara mereka mengenai tiga perkara:Pertama: Barangsiapa berbuat baik ketika sendirian, maka Allah akan menjadikan dirinya baik di hadapan manusia.Kedua: Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.Ketiga: Barangsiapa yang memperbaiki urusan akhiratnya, maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.'”Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,أول العلم النية، ثم الاستماع، ثم الفهم، ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر“Permulaan ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, dan kemudian menyebarkan.”Niat adalah perkara yang hendaknya menjadi perhatian. Banyak para ulama salaf mengatakan,كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَجَرَّنَا إلى الآخرة“Dahulu kami menuntut ilmu karena dunia, namun ia menuntun kami kepada akhirat.”Sebagian yang lain mengucapkan,طلبنا هذا الأمر وليس فيه نية ثم جاءت النية بعد“Kami menuntut ilmu tanpa disertai niat yang benar, kemudian niat datang setelah kami mempelajarinya.“Ada juga yang mengatakan,و من طلب العلم لغير اللّه يأ بى عليه حتى يصيره إلى اللّه“Barangsiapa menuntut ilmu untuk selain Allah, maka niscaya ilmu akan enggan, sampai (niatnya) menuju Allah.“Dan ungkapan yang semisal ini sangatlah banyak, yang menunjukkan pentingnya niat dalam mempelajari ilmu.Demikian juga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ada seorang laki-laki yang hendak melamar seorang wanita yang memiliki nasab baik dan cantik jelita. Wanita itu menolak karena lelaki tersebut miskin dan kurang baik nasabnya. Lelaki tersebut memikirkan dua di antara yang akan dia raih apakah harta ataukah kemuliaan. Maka, dia memilih kemuliaan, sehingga dia menuntut ilmu sampai akhirnya dia menjadi orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kemudian wanita tersebut mengirim utusan kepada lelaki tersebut dalam rangka untuk menawarkan dirinya agar dinikahi. Maka lelaki tersebut kemudian mengatakan, “Aku tidak akan mendahulukan ilmu di atas apapun.“ Demikianlah, ilmu menjadi petunjuk baginya untuk membenarkan niat dan amal saleh, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun.” (QS. Fathir: 28)Maka, dia bersikap wara’ dengan meninggalkan wanita tersebut karena dulu dia menuntut ilmu karena dirinya. Hal ini dilakukan sebagai tanda jujur niatnya dan lurus tujuannya dalam menuntut ilmu.Baca Juga: Selektif Dalam Menuntut Ilmu AgamaHati-hati dengan syirik niatBerhati-hatilah dengan syirik dalam niat, karena Allah Ta’ala mengingatkan dalam sebuah hadis qudsi,أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ“Aku tidaklah butuh adanya persekutuan dalam bentuk apapun. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan persekutuannya tersebut.” (HR. Muslim)Kebinasaan akan terjadi jika kondisi jiwa seseorang kosong dan tidak terjalin hubungan antara dirinya dengan Allah. Dalam kondisi demikian, maka setan akan mengisi kekosongan tersebut dan membuka cabang menuju jalan kesesatan sehingga mengantarkannya ke jalan neraka.Hamdan bin Salamah rahimahullah berkata ,مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadis bukan karena Allah, maka akan dibuat makar kepadanya.”Jika seseorang benar niatnya dalam menuntut ilmu, maka akan semakin besar pertolongan untuk mendapatkannya sebagaimana perkataan Abu ‘Abdillah Ar-Rudabari,العلم موقوف على العمل والعمل موقوف على الإخلاص والإخلاص لله يورث الفهم عن الله تعالى“Ilmu itu terhenti pada amal, amal itu terhenti pada ikhlas, dan ikhlas itu mewariskan pemahaman dari Allah Ta’ala.”Disebutkan dalam Sunan Ad-Darimi dari Ibrahim An-Nakha’i bahwa dia berkata,من ابتغى شيئًا من العلم يبتغي به وجه الله عز وجل، أتاه الله منه ما يكفيه“Barangsiapa yang mencari ilmu dalam rangka mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan ilmu baginya.“Semoga menjadi renungan bagi kita untuk terus menata niat dalam belajar agama.Baca Juga:Berkorban Harta Untuk Menuntut Ilmu60 Adab Dalam Menuntut Ilmu***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:‘Awaaiqu At-Thalib karya Syekh ‘Abdus Salam bin Barjas Alu ‘Abdul Karim rahimahullah.🔍 Tawakal, Hukum Mengusap Wajah Setelah Salam, Etika Berbusana Dalam Islam, Diet Dalam Islam, Portal IslamiTags: adabAkhlakAqidahbelajar agamaibadahilmu agamamuamalahnasihatnasihat islamniatniat menuntut ilmu agamapenuntut ilmu

Cara Shalat ketika Pulang Kerja

Cara Shalat ketika Pulang Kerja Pertanyaan: Kami para pekerja kantoran di kota besar, biasanya keluar dari kantor pukul 5 sore. Kemudian harus menempuh perjalanan menggunakan bus dan KRL yang memakan waktu sekitar 2 jam-an. Sehingga biasanya kami sampai di rumah pukul 7 malam, yang mana ketika itu sudah masuk waktu Isya. Bolehkah kami menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban untuk masalah ini perlu kita rinci: Jika terjadi secara insidental. Andaikan kejadian seperti ini terjadi secara insidental, tidak terencana, dan tidak bermaksud melalaikan shalat. Namun karena terjebak di tengah jalan atau terjebak kemacetan dan tidak bisa turun dari kendaraan untuk mengerjakan shalat, maka dibolehkan untuk menjamak shalat Maghrib dan Isya di waktu Isya, yang disebut dengan jamak ta’khir.  Karena menjamak shalat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu beliau mengatakan: جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, dan menjamak shalat Maghrib dan Isya di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no.705). Para ulama mengatakan alasan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak karena ada masyaqqah (kesulitan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر “Dibolehkannya men-qashar shalat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak shalat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan udzur” (Majmu’ al-Fatawa, 22/293). Maka, orang yang dalam kondisi demikian ia berada dalam kesulitan untuk shalat pada waktunya masing-masing, dibolehkan baginya untuk menjamak shalat. Cara mengerjakannya adalah dengan mengerjakan shalat Maghrib terlebih dahulu, baru kemudian shalat Isya. Karena wajib at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat. Dengan rakaat yang sempurna, yaitu shalat Maghrib sebanyak tiga rakaat dan shalat Isya sebanyak empat rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tentang wajibnya at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat: “Dipersyaratkan untuk tartib (berurutan) ketika menjamak shalat. Sehingga memulai dengan shalat yang pertama dahulu kemudian yang kedua. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana melihatku shalat”. Dan karena syariat datang menetapkan urutan waktu-waktu shalat. Namun andaikan seseorang lupa atau tidak tahu, atau datang sekelompok orang untuk shalat Isya, dan orang ini niat untuk jamak ta’khir, lalu ia shalat bersama sekelompok orang ini mengerjakan shalat Isya, baru setelah itu ia mengerjakan shalat Maghrib. Apakah gugur kewajiban tartib dalam keadaan seperti ini? Pendapat yang masyhur, tidaklah gugur kewajibannya. Oleh karena itu, orang yang melakukan demikian karena lupa atau tidak tahu atau karena mengikuti jama’ah yang ada, atau karena sebab lainnya, maka jamak-nya tidak sah.  Lalu apa yang perlu ia lakukan ketika itu? Jawabnya, shalat yang pertama tidaklah sah sebagai shalat wajib, ia harus mengulangnya” (Asy-Syarhul Mumthi’, 4 /401-402). Jika terjadi terus-menerus atau bersengaja. Jika kejadian seperti ini terjadi terus menerus, yaitu setiap hari dengan sengaja menunda shalat Maghrib sampai waktu shalat Isya padahal tidak dalam kondisi safar, maka kami khawatirkan ini termasuk melalaikan shalat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu telah diwajibkan bagi kaum Mukminin pada waktu masing-masing” (QS. an-Nisa: 103). Sehingga tidak boleh mengerjakan shalat di luar waktunya tanpa udzur syar’i. Allah ta’ala berfirman: فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ “Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. al-Ma’un: 4–5). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: إما عن فعلها بالكلية ، كما قاله ابن عباس ، وإما عن فعلها في الوقت المقدر لها شرعا ، فيخرجها عن وقتها بالكلية ، كما قاله مسروق وأبو الضحى “(Orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya sama sekali, ini tafsiran Ibnu Abbas. Atau bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya pada waktunya yang ditentukan syariat, sehingga ia kerjakan di luar waktunya secara menyeluruh. Ini tafsiran Masruq dan Abu ad-Dhuha” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Beliau melanjutkan: وإما عن وقتها الأول فيؤخرونها إلى آخره دائما أو غالبا . وإما عن أدائها بأركانها وشروطها على الوجه المأمور به . وإما عن الخشوع فيها والتدبر لمعانيها ، فاللفظ يشمل هذا كله “Dan (orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang menunda shalat dari awal waktu ke akhir waktu secara terus-menerus atau secara umum. Atau bisa jadi orang yang lalai terhadap rukun dan syarat shalatnya, tidak melakukan sebagaimana yang diperintahkan syariat. Atau bisa jadi lalai dari kekhusyukan dan mentadabburi maknanya. Lafadz ayat mencakup semua bentuk kelalaian ini” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: الجمع بين الصلاتين من غير عذر من الكبائر “Menjamak dua shalat tanpa udzur termasuk dosa besar” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf [2/346], dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu). Masalah ini pernah kami ditanyakan kepada Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti, salah seorang ulama Yordania yang merupakan murid Syaikh al-Albani. Dengan teks pertanyaan sebagai berikut, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada seorang yang keluar dari rumahnya setiap hari untuk bekerja di tempat yang jauh namun belum termasuk perjalanan safar. Waktu kerja berakhir 1 jam sebelum Maghrib, kemudian ia naik bus atau kereta, dan sampai di rumah sudah masuk waktu Isya. Dan dia tidak bisa shalat di bus/kereta karena di sana berdesakan. Maka bolehkah ia menjamak shalat Maghrib dan Isya setiap hari? Ataukah dia harus menunggu waktu Maghrib, baru setelah itu pulang?”. Lalu Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti hafizhahullah menjawab: ”Dia hendaknya shalat di atas kendaraan, jika tidak bisa turun dulu (di waktu Maghrib), dengan posisi shalat yang memungkinkan baginya di sana. Maka wajib shalat pada waktunya dan tidak menunda sampai keluar waktu dan juga tidak menjamak shalat” [selesai nukilan]. Sehingga tidak boleh bersengaja terus-menerus menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya. Namun sebaiknya ia mengatur waktunya dan mengatur perjalanannya dengan baik agar bisa tetap shalat Maghrib pada waktunya. Semisal dengan menunggu waktu shalat Maghrib di stasiun kereta atau di perhentian KRL, atau terminal bus, lalu setelah selesai menunaikan shalat Maghrib baru melanjutkan perjalanannya kembali.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Bacaan Meluruskan Shaf, Cara Mengobati Orang Kesurupan, Hukum Mengeluarkan Air Mani Dengan Sengaja Menurut Islam, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Panduan Ziarah Kubur, Telinga Sebelah Kiri Berdenging Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid

Cara Shalat ketika Pulang Kerja

Cara Shalat ketika Pulang Kerja Pertanyaan: Kami para pekerja kantoran di kota besar, biasanya keluar dari kantor pukul 5 sore. Kemudian harus menempuh perjalanan menggunakan bus dan KRL yang memakan waktu sekitar 2 jam-an. Sehingga biasanya kami sampai di rumah pukul 7 malam, yang mana ketika itu sudah masuk waktu Isya. Bolehkah kami menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban untuk masalah ini perlu kita rinci: Jika terjadi secara insidental. Andaikan kejadian seperti ini terjadi secara insidental, tidak terencana, dan tidak bermaksud melalaikan shalat. Namun karena terjebak di tengah jalan atau terjebak kemacetan dan tidak bisa turun dari kendaraan untuk mengerjakan shalat, maka dibolehkan untuk menjamak shalat Maghrib dan Isya di waktu Isya, yang disebut dengan jamak ta’khir.  Karena menjamak shalat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu beliau mengatakan: جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, dan menjamak shalat Maghrib dan Isya di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no.705). Para ulama mengatakan alasan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak karena ada masyaqqah (kesulitan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر “Dibolehkannya men-qashar shalat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak shalat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan udzur” (Majmu’ al-Fatawa, 22/293). Maka, orang yang dalam kondisi demikian ia berada dalam kesulitan untuk shalat pada waktunya masing-masing, dibolehkan baginya untuk menjamak shalat. Cara mengerjakannya adalah dengan mengerjakan shalat Maghrib terlebih dahulu, baru kemudian shalat Isya. Karena wajib at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat. Dengan rakaat yang sempurna, yaitu shalat Maghrib sebanyak tiga rakaat dan shalat Isya sebanyak empat rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tentang wajibnya at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat: “Dipersyaratkan untuk tartib (berurutan) ketika menjamak shalat. Sehingga memulai dengan shalat yang pertama dahulu kemudian yang kedua. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana melihatku shalat”. Dan karena syariat datang menetapkan urutan waktu-waktu shalat. Namun andaikan seseorang lupa atau tidak tahu, atau datang sekelompok orang untuk shalat Isya, dan orang ini niat untuk jamak ta’khir, lalu ia shalat bersama sekelompok orang ini mengerjakan shalat Isya, baru setelah itu ia mengerjakan shalat Maghrib. Apakah gugur kewajiban tartib dalam keadaan seperti ini? Pendapat yang masyhur, tidaklah gugur kewajibannya. Oleh karena itu, orang yang melakukan demikian karena lupa atau tidak tahu atau karena mengikuti jama’ah yang ada, atau karena sebab lainnya, maka jamak-nya tidak sah.  Lalu apa yang perlu ia lakukan ketika itu? Jawabnya, shalat yang pertama tidaklah sah sebagai shalat wajib, ia harus mengulangnya” (Asy-Syarhul Mumthi’, 4 /401-402). Jika terjadi terus-menerus atau bersengaja. Jika kejadian seperti ini terjadi terus menerus, yaitu setiap hari dengan sengaja menunda shalat Maghrib sampai waktu shalat Isya padahal tidak dalam kondisi safar, maka kami khawatirkan ini termasuk melalaikan shalat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu telah diwajibkan bagi kaum Mukminin pada waktu masing-masing” (QS. an-Nisa: 103). Sehingga tidak boleh mengerjakan shalat di luar waktunya tanpa udzur syar’i. Allah ta’ala berfirman: فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ “Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. al-Ma’un: 4–5). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: إما عن فعلها بالكلية ، كما قاله ابن عباس ، وإما عن فعلها في الوقت المقدر لها شرعا ، فيخرجها عن وقتها بالكلية ، كما قاله مسروق وأبو الضحى “(Orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya sama sekali, ini tafsiran Ibnu Abbas. Atau bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya pada waktunya yang ditentukan syariat, sehingga ia kerjakan di luar waktunya secara menyeluruh. Ini tafsiran Masruq dan Abu ad-Dhuha” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Beliau melanjutkan: وإما عن وقتها الأول فيؤخرونها إلى آخره دائما أو غالبا . وإما عن أدائها بأركانها وشروطها على الوجه المأمور به . وإما عن الخشوع فيها والتدبر لمعانيها ، فاللفظ يشمل هذا كله “Dan (orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang menunda shalat dari awal waktu ke akhir waktu secara terus-menerus atau secara umum. Atau bisa jadi orang yang lalai terhadap rukun dan syarat shalatnya, tidak melakukan sebagaimana yang diperintahkan syariat. Atau bisa jadi lalai dari kekhusyukan dan mentadabburi maknanya. Lafadz ayat mencakup semua bentuk kelalaian ini” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: الجمع بين الصلاتين من غير عذر من الكبائر “Menjamak dua shalat tanpa udzur termasuk dosa besar” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf [2/346], dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu). Masalah ini pernah kami ditanyakan kepada Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti, salah seorang ulama Yordania yang merupakan murid Syaikh al-Albani. Dengan teks pertanyaan sebagai berikut, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada seorang yang keluar dari rumahnya setiap hari untuk bekerja di tempat yang jauh namun belum termasuk perjalanan safar. Waktu kerja berakhir 1 jam sebelum Maghrib, kemudian ia naik bus atau kereta, dan sampai di rumah sudah masuk waktu Isya. Dan dia tidak bisa shalat di bus/kereta karena di sana berdesakan. Maka bolehkah ia menjamak shalat Maghrib dan Isya setiap hari? Ataukah dia harus menunggu waktu Maghrib, baru setelah itu pulang?”. Lalu Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti hafizhahullah menjawab: ”Dia hendaknya shalat di atas kendaraan, jika tidak bisa turun dulu (di waktu Maghrib), dengan posisi shalat yang memungkinkan baginya di sana. Maka wajib shalat pada waktunya dan tidak menunda sampai keluar waktu dan juga tidak menjamak shalat” [selesai nukilan]. Sehingga tidak boleh bersengaja terus-menerus menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya. Namun sebaiknya ia mengatur waktunya dan mengatur perjalanannya dengan baik agar bisa tetap shalat Maghrib pada waktunya. Semisal dengan menunggu waktu shalat Maghrib di stasiun kereta atau di perhentian KRL, atau terminal bus, lalu setelah selesai menunaikan shalat Maghrib baru melanjutkan perjalanannya kembali.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Bacaan Meluruskan Shaf, Cara Mengobati Orang Kesurupan, Hukum Mengeluarkan Air Mani Dengan Sengaja Menurut Islam, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Panduan Ziarah Kubur, Telinga Sebelah Kiri Berdenging Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid
Cara Shalat ketika Pulang Kerja Pertanyaan: Kami para pekerja kantoran di kota besar, biasanya keluar dari kantor pukul 5 sore. Kemudian harus menempuh perjalanan menggunakan bus dan KRL yang memakan waktu sekitar 2 jam-an. Sehingga biasanya kami sampai di rumah pukul 7 malam, yang mana ketika itu sudah masuk waktu Isya. Bolehkah kami menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban untuk masalah ini perlu kita rinci: Jika terjadi secara insidental. Andaikan kejadian seperti ini terjadi secara insidental, tidak terencana, dan tidak bermaksud melalaikan shalat. Namun karena terjebak di tengah jalan atau terjebak kemacetan dan tidak bisa turun dari kendaraan untuk mengerjakan shalat, maka dibolehkan untuk menjamak shalat Maghrib dan Isya di waktu Isya, yang disebut dengan jamak ta’khir.  Karena menjamak shalat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu beliau mengatakan: جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, dan menjamak shalat Maghrib dan Isya di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no.705). Para ulama mengatakan alasan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak karena ada masyaqqah (kesulitan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر “Dibolehkannya men-qashar shalat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak shalat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan udzur” (Majmu’ al-Fatawa, 22/293). Maka, orang yang dalam kondisi demikian ia berada dalam kesulitan untuk shalat pada waktunya masing-masing, dibolehkan baginya untuk menjamak shalat. Cara mengerjakannya adalah dengan mengerjakan shalat Maghrib terlebih dahulu, baru kemudian shalat Isya. Karena wajib at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat. Dengan rakaat yang sempurna, yaitu shalat Maghrib sebanyak tiga rakaat dan shalat Isya sebanyak empat rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tentang wajibnya at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat: “Dipersyaratkan untuk tartib (berurutan) ketika menjamak shalat. Sehingga memulai dengan shalat yang pertama dahulu kemudian yang kedua. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana melihatku shalat”. Dan karena syariat datang menetapkan urutan waktu-waktu shalat. Namun andaikan seseorang lupa atau tidak tahu, atau datang sekelompok orang untuk shalat Isya, dan orang ini niat untuk jamak ta’khir, lalu ia shalat bersama sekelompok orang ini mengerjakan shalat Isya, baru setelah itu ia mengerjakan shalat Maghrib. Apakah gugur kewajiban tartib dalam keadaan seperti ini? Pendapat yang masyhur, tidaklah gugur kewajibannya. Oleh karena itu, orang yang melakukan demikian karena lupa atau tidak tahu atau karena mengikuti jama’ah yang ada, atau karena sebab lainnya, maka jamak-nya tidak sah.  Lalu apa yang perlu ia lakukan ketika itu? Jawabnya, shalat yang pertama tidaklah sah sebagai shalat wajib, ia harus mengulangnya” (Asy-Syarhul Mumthi’, 4 /401-402). Jika terjadi terus-menerus atau bersengaja. Jika kejadian seperti ini terjadi terus menerus, yaitu setiap hari dengan sengaja menunda shalat Maghrib sampai waktu shalat Isya padahal tidak dalam kondisi safar, maka kami khawatirkan ini termasuk melalaikan shalat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu telah diwajibkan bagi kaum Mukminin pada waktu masing-masing” (QS. an-Nisa: 103). Sehingga tidak boleh mengerjakan shalat di luar waktunya tanpa udzur syar’i. Allah ta’ala berfirman: فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ “Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. al-Ma’un: 4–5). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: إما عن فعلها بالكلية ، كما قاله ابن عباس ، وإما عن فعلها في الوقت المقدر لها شرعا ، فيخرجها عن وقتها بالكلية ، كما قاله مسروق وأبو الضحى “(Orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya sama sekali, ini tafsiran Ibnu Abbas. Atau bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya pada waktunya yang ditentukan syariat, sehingga ia kerjakan di luar waktunya secara menyeluruh. Ini tafsiran Masruq dan Abu ad-Dhuha” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Beliau melanjutkan: وإما عن وقتها الأول فيؤخرونها إلى آخره دائما أو غالبا . وإما عن أدائها بأركانها وشروطها على الوجه المأمور به . وإما عن الخشوع فيها والتدبر لمعانيها ، فاللفظ يشمل هذا كله “Dan (orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang menunda shalat dari awal waktu ke akhir waktu secara terus-menerus atau secara umum. Atau bisa jadi orang yang lalai terhadap rukun dan syarat shalatnya, tidak melakukan sebagaimana yang diperintahkan syariat. Atau bisa jadi lalai dari kekhusyukan dan mentadabburi maknanya. Lafadz ayat mencakup semua bentuk kelalaian ini” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: الجمع بين الصلاتين من غير عذر من الكبائر “Menjamak dua shalat tanpa udzur termasuk dosa besar” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf [2/346], dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu). Masalah ini pernah kami ditanyakan kepada Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti, salah seorang ulama Yordania yang merupakan murid Syaikh al-Albani. Dengan teks pertanyaan sebagai berikut, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada seorang yang keluar dari rumahnya setiap hari untuk bekerja di tempat yang jauh namun belum termasuk perjalanan safar. Waktu kerja berakhir 1 jam sebelum Maghrib, kemudian ia naik bus atau kereta, dan sampai di rumah sudah masuk waktu Isya. Dan dia tidak bisa shalat di bus/kereta karena di sana berdesakan. Maka bolehkah ia menjamak shalat Maghrib dan Isya setiap hari? Ataukah dia harus menunggu waktu Maghrib, baru setelah itu pulang?”. Lalu Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti hafizhahullah menjawab: ”Dia hendaknya shalat di atas kendaraan, jika tidak bisa turun dulu (di waktu Maghrib), dengan posisi shalat yang memungkinkan baginya di sana. Maka wajib shalat pada waktunya dan tidak menunda sampai keluar waktu dan juga tidak menjamak shalat” [selesai nukilan]. Sehingga tidak boleh bersengaja terus-menerus menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya. Namun sebaiknya ia mengatur waktunya dan mengatur perjalanannya dengan baik agar bisa tetap shalat Maghrib pada waktunya. Semisal dengan menunggu waktu shalat Maghrib di stasiun kereta atau di perhentian KRL, atau terminal bus, lalu setelah selesai menunaikan shalat Maghrib baru melanjutkan perjalanannya kembali.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Bacaan Meluruskan Shaf, Cara Mengobati Orang Kesurupan, Hukum Mengeluarkan Air Mani Dengan Sengaja Menurut Islam, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Panduan Ziarah Kubur, Telinga Sebelah Kiri Berdenging Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1390823782&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Cara Shalat ketika Pulang Kerja Pertanyaan: Kami para pekerja kantoran di kota besar, biasanya keluar dari kantor pukul 5 sore. Kemudian harus menempuh perjalanan menggunakan bus dan KRL yang memakan waktu sekitar 2 jam-an. Sehingga biasanya kami sampai di rumah pukul 7 malam, yang mana ketika itu sudah masuk waktu Isya. Bolehkah kami menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban untuk masalah ini perlu kita rinci: Jika terjadi secara insidental. Andaikan kejadian seperti ini terjadi secara insidental, tidak terencana, dan tidak bermaksud melalaikan shalat. Namun karena terjebak di tengah jalan atau terjebak kemacetan dan tidak bisa turun dari kendaraan untuk mengerjakan shalat, maka dibolehkan untuk menjamak shalat Maghrib dan Isya di waktu Isya, yang disebut dengan jamak ta’khir.  Karena menjamak shalat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu beliau mengatakan: جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, dan menjamak shalat Maghrib dan Isya di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no.705). Para ulama mengatakan alasan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjamak karena ada masyaqqah (kesulitan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر “Dibolehkannya men-qashar shalat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak shalat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan udzur” (Majmu’ al-Fatawa, 22/293). Maka, orang yang dalam kondisi demikian ia berada dalam kesulitan untuk shalat pada waktunya masing-masing, dibolehkan baginya untuk menjamak shalat. Cara mengerjakannya adalah dengan mengerjakan shalat Maghrib terlebih dahulu, baru kemudian shalat Isya. Karena wajib at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat. Dengan rakaat yang sempurna, yaitu shalat Maghrib sebanyak tiga rakaat dan shalat Isya sebanyak empat rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tentang wajibnya at-tartib (berurutan) dalam menjamak shalat: “Dipersyaratkan untuk tartib (berurutan) ketika menjamak shalat. Sehingga memulai dengan shalat yang pertama dahulu kemudian yang kedua. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana melihatku shalat”. Dan karena syariat datang menetapkan urutan waktu-waktu shalat. Namun andaikan seseorang lupa atau tidak tahu, atau datang sekelompok orang untuk shalat Isya, dan orang ini niat untuk jamak ta’khir, lalu ia shalat bersama sekelompok orang ini mengerjakan shalat Isya, baru setelah itu ia mengerjakan shalat Maghrib. Apakah gugur kewajiban tartib dalam keadaan seperti ini? Pendapat yang masyhur, tidaklah gugur kewajibannya. Oleh karena itu, orang yang melakukan demikian karena lupa atau tidak tahu atau karena mengikuti jama’ah yang ada, atau karena sebab lainnya, maka jamak-nya tidak sah.  Lalu apa yang perlu ia lakukan ketika itu? Jawabnya, shalat yang pertama tidaklah sah sebagai shalat wajib, ia harus mengulangnya” (Asy-Syarhul Mumthi’, 4 /401-402). Jika terjadi terus-menerus atau bersengaja. Jika kejadian seperti ini terjadi terus menerus, yaitu setiap hari dengan sengaja menunda shalat Maghrib sampai waktu shalat Isya padahal tidak dalam kondisi safar, maka kami khawatirkan ini termasuk melalaikan shalat. Allah ta’ala berfirman: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu telah diwajibkan bagi kaum Mukminin pada waktu masing-masing” (QS. an-Nisa: 103). Sehingga tidak boleh mengerjakan shalat di luar waktunya tanpa udzur syar’i. Allah ta’ala berfirman: فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ “Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. al-Ma’un: 4–5). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini: إما عن فعلها بالكلية ، كما قاله ابن عباس ، وإما عن فعلها في الوقت المقدر لها شرعا ، فيخرجها عن وقتها بالكلية ، كما قاله مسروق وأبو الضحى “(Orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya sama sekali, ini tafsiran Ibnu Abbas. Atau bisa jadi orang yang tidak mengerjakannya pada waktunya yang ditentukan syariat, sehingga ia kerjakan di luar waktunya secara menyeluruh. Ini tafsiran Masruq dan Abu ad-Dhuha” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Beliau melanjutkan: وإما عن وقتها الأول فيؤخرونها إلى آخره دائما أو غالبا . وإما عن أدائها بأركانها وشروطها على الوجه المأمور به . وإما عن الخشوع فيها والتدبر لمعانيها ، فاللفظ يشمل هذا كله “Dan (orang yang lalai dalam shalat adalah) bisa jadi orang yang menunda shalat dari awal waktu ke akhir waktu secara terus-menerus atau secara umum. Atau bisa jadi orang yang lalai terhadap rukun dan syarat shalatnya, tidak melakukan sebagaimana yang diperintahkan syariat. Atau bisa jadi lalai dari kekhusyukan dan mentadabburi maknanya. Lafadz ayat mencakup semua bentuk kelalaian ini” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493). Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: الجمع بين الصلاتين من غير عذر من الكبائر “Menjamak dua shalat tanpa udzur termasuk dosa besar” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf [2/346], dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu). Masalah ini pernah kami ditanyakan kepada Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti, salah seorang ulama Yordania yang merupakan murid Syaikh al-Albani. Dengan teks pertanyaan sebagai berikut, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada seorang yang keluar dari rumahnya setiap hari untuk bekerja di tempat yang jauh namun belum termasuk perjalanan safar. Waktu kerja berakhir 1 jam sebelum Maghrib, kemudian ia naik bus atau kereta, dan sampai di rumah sudah masuk waktu Isya. Dan dia tidak bisa shalat di bus/kereta karena di sana berdesakan. Maka bolehkah ia menjamak shalat Maghrib dan Isya setiap hari? Ataukah dia harus menunggu waktu Maghrib, baru setelah itu pulang?”. Lalu Syaikh Dr. Ashim al-Qaryuti hafizhahullah menjawab: ”Dia hendaknya shalat di atas kendaraan, jika tidak bisa turun dulu (di waktu Maghrib), dengan posisi shalat yang memungkinkan baginya di sana. Maka wajib shalat pada waktunya dan tidak menunda sampai keluar waktu dan juga tidak menjamak shalat” [selesai nukilan]. Sehingga tidak boleh bersengaja terus-menerus menunda shalat Maghrib hingga waktu Isya. Namun sebaiknya ia mengatur waktunya dan mengatur perjalanannya dengan baik agar bisa tetap shalat Maghrib pada waktunya. Semisal dengan menunggu waktu shalat Maghrib di stasiun kereta atau di perhentian KRL, atau terminal bus, lalu setelah selesai menunaikan shalat Maghrib baru melanjutkan perjalanannya kembali.  Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Bacaan Meluruskan Shaf, Cara Mengobati Orang Kesurupan, Hukum Mengeluarkan Air Mani Dengan Sengaja Menurut Islam, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Panduan Ziarah Kubur, Telinga Sebelah Kiri Berdenging Visited 118 times, 1 visit(s) today Post Views: 324 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next