Khutbah Jumat: Prinsip Akidah Seorang Muslim Terkait Natal

Inilah prinsip akidah seorang muslim terkait natal. Semoga bisa diambil pelajaran dari Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Ingatlah prinsip akidah kita 1.2. Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii 1.3. Kesimpulan 2. Khutbah Kedua 2.1. Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ (التوبة: ١١٩ Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia. Di kesempatan kali ini, di momen akhir tahun, sebagian kaum muslimin goyah pendirian imannya, tak paham akan prinsip akidah. Sangat baik sekali, kami selaku khatib mengingatkan kembali nasihat bijak dari Imam Al-Mujaddid, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau mengatakan dalam kitabnya Tsalatsah Al-Ushul, أَنَّ مَن أَطَاعَ الرَّسُولَ وَوَحَّدَ اللَّهَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُوَالَاةُ مَن حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَو كَانَ أَقرَبَ قَرِيبٍ Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (berkasih sayang) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ، أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)   Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Paham maksud prinsip dalam ayat yang baru disebutkan? Itulah prinsip al-wala’ wa al-bara’. Wala’ artinya setia dan bara’ artinya berlepas diri. Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212) Dalam ayat, yang dimaksud “walau itu bapak mereka” adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat Perang Badar. “Walau itu anaknya” yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh oleh bapak kandungnya dalam peperangan. “Walau itu saudaranya” yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair sewaktu ia membunuh saudaranya, ‘Ubaid bin ‘Umair. “Walau itu kerabatnya” yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya. Begitu pula kisah Hamzah, Ali, dan ‘Ubaidah bin Al-Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212-213) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘Ash; ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang, أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang saleh yang beriman.” (HR. Muslim, no. 215) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang saleh; itulah yang dijadikan kekasih dan teman setia walau hubungan nasabnya jauh (bukan kerabat dekat). Yang dijadikan kekasih bukanlah orang yang tidak saleh walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menyatakan bahwa hadits ini mengajarkan (orang muslim) untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan untuk setia kepada orang saleh. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan, selama tidak timbul kerusakan. (Syarh Shahih Muslim, 3:77) Contoh penerapan prinsip al-wala’ dan al-bara’ adalah tidak tasyabbuh dengan non-muslim, tidak meniru-niru gaya dan peribadatan non-muslim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3:30). Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1:549). Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Termasuk dalam prinsip wala’ dan bara’ adalah tidak memberikan dukungan untuk perayaan orang kafir. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بَشِعَائِرِ الكُفْرِ المخْتَصَةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالاتِّفَاقِ “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Ahkam Ahli Adz Dzimmah, hlm. 154). Perhartikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim, no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim. Sungguh aneh jika ada seorang muslim mengucapkan selamat natal padahal diketahui bahwa itu memperingati kelahiran Nabi Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Padahal prinsip Nashrani sudah diingkari dalam Al-Qur’an, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah: 72-75).   Ingatlah prinsip akidah kita لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6) قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84) أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ “Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)   Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii Al-Hafiz Ibnu Hajar Asy-Syafii setelah menyebutkan hadits dari Anas tentang mencukupkan diri dengan dua hari raya yaitu Idulfitri dan Iduladha, lalu mengatakan bahwa sanad hadits tersebut berkualitas shahih. Haditsnya adalah Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. Ahmad, 3:178, sanadnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Ibnu Hajar rahimahullah lantas mengatakan, “Bisa disimpulkan dari hadits tersebut larangan merasa gembira saat hari raya orang musyrik dan larangan menyerupai orang musyrik ketika itu. Bahkan Syaikh Abu Hafsh Al-Kabir An-Nasafi, seorang ulama mazhab Hanafi sampai berlebih-lebihan dalam masalah ini dengan mengatakan, ‘Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari itu karena mengagungkan hari tersebut maka dia telah kafir kepada Allah” (Fath Al-Bari, 2:442).   Kesimpulan Seorang muslim itu tidak mencintai dan mendukung agama non-muslim karena prinsip wala dan bara’ (setia dan benci) yang mesti dijalankan. Seorang muslim tidak boleh mendukung perayaan non-muslim baik ikut serta dan mengucapkan selamat perayaan. Seorang muslim dilarang tasyabbuh, tidak boleh menyerupai dalam hal yang menjadi ciri khas non-muslim. Prinsip muslim adalah membiarkan orang kafir beribadah tanpa mengganggu dan mendukung karena prinsip kita adalah LAKUM DIINUKUM WA LIYA DIIN.   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 19 Jumadal Ula 1443 H (24 Desember 2021) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Baca Juga: Hukum Menghadiri Undangan Natal Menerima Orderan Natal Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL   Download   Tagsbelajar loyal khutbah jumat lakum diinukum loyal loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal

Khutbah Jumat: Prinsip Akidah Seorang Muslim Terkait Natal

Inilah prinsip akidah seorang muslim terkait natal. Semoga bisa diambil pelajaran dari Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Ingatlah prinsip akidah kita 1.2. Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii 1.3. Kesimpulan 2. Khutbah Kedua 2.1. Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ (التوبة: ١١٩ Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia. Di kesempatan kali ini, di momen akhir tahun, sebagian kaum muslimin goyah pendirian imannya, tak paham akan prinsip akidah. Sangat baik sekali, kami selaku khatib mengingatkan kembali nasihat bijak dari Imam Al-Mujaddid, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau mengatakan dalam kitabnya Tsalatsah Al-Ushul, أَنَّ مَن أَطَاعَ الرَّسُولَ وَوَحَّدَ اللَّهَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُوَالَاةُ مَن حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَو كَانَ أَقرَبَ قَرِيبٍ Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (berkasih sayang) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ، أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)   Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Paham maksud prinsip dalam ayat yang baru disebutkan? Itulah prinsip al-wala’ wa al-bara’. Wala’ artinya setia dan bara’ artinya berlepas diri. Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212) Dalam ayat, yang dimaksud “walau itu bapak mereka” adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat Perang Badar. “Walau itu anaknya” yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh oleh bapak kandungnya dalam peperangan. “Walau itu saudaranya” yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair sewaktu ia membunuh saudaranya, ‘Ubaid bin ‘Umair. “Walau itu kerabatnya” yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya. Begitu pula kisah Hamzah, Ali, dan ‘Ubaidah bin Al-Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212-213) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘Ash; ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang, أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang saleh yang beriman.” (HR. Muslim, no. 215) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang saleh; itulah yang dijadikan kekasih dan teman setia walau hubungan nasabnya jauh (bukan kerabat dekat). Yang dijadikan kekasih bukanlah orang yang tidak saleh walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menyatakan bahwa hadits ini mengajarkan (orang muslim) untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan untuk setia kepada orang saleh. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan, selama tidak timbul kerusakan. (Syarh Shahih Muslim, 3:77) Contoh penerapan prinsip al-wala’ dan al-bara’ adalah tidak tasyabbuh dengan non-muslim, tidak meniru-niru gaya dan peribadatan non-muslim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3:30). Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1:549). Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Termasuk dalam prinsip wala’ dan bara’ adalah tidak memberikan dukungan untuk perayaan orang kafir. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بَشِعَائِرِ الكُفْرِ المخْتَصَةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالاتِّفَاقِ “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Ahkam Ahli Adz Dzimmah, hlm. 154). Perhartikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim, no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim. Sungguh aneh jika ada seorang muslim mengucapkan selamat natal padahal diketahui bahwa itu memperingati kelahiran Nabi Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Padahal prinsip Nashrani sudah diingkari dalam Al-Qur’an, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah: 72-75).   Ingatlah prinsip akidah kita لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6) قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84) أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ “Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)   Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii Al-Hafiz Ibnu Hajar Asy-Syafii setelah menyebutkan hadits dari Anas tentang mencukupkan diri dengan dua hari raya yaitu Idulfitri dan Iduladha, lalu mengatakan bahwa sanad hadits tersebut berkualitas shahih. Haditsnya adalah Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. Ahmad, 3:178, sanadnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Ibnu Hajar rahimahullah lantas mengatakan, “Bisa disimpulkan dari hadits tersebut larangan merasa gembira saat hari raya orang musyrik dan larangan menyerupai orang musyrik ketika itu. Bahkan Syaikh Abu Hafsh Al-Kabir An-Nasafi, seorang ulama mazhab Hanafi sampai berlebih-lebihan dalam masalah ini dengan mengatakan, ‘Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari itu karena mengagungkan hari tersebut maka dia telah kafir kepada Allah” (Fath Al-Bari, 2:442).   Kesimpulan Seorang muslim itu tidak mencintai dan mendukung agama non-muslim karena prinsip wala dan bara’ (setia dan benci) yang mesti dijalankan. Seorang muslim tidak boleh mendukung perayaan non-muslim baik ikut serta dan mengucapkan selamat perayaan. Seorang muslim dilarang tasyabbuh, tidak boleh menyerupai dalam hal yang menjadi ciri khas non-muslim. Prinsip muslim adalah membiarkan orang kafir beribadah tanpa mengganggu dan mendukung karena prinsip kita adalah LAKUM DIINUKUM WA LIYA DIIN.   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 19 Jumadal Ula 1443 H (24 Desember 2021) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Baca Juga: Hukum Menghadiri Undangan Natal Menerima Orderan Natal Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL   Download   Tagsbelajar loyal khutbah jumat lakum diinukum loyal loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal
Inilah prinsip akidah seorang muslim terkait natal. Semoga bisa diambil pelajaran dari Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Ingatlah prinsip akidah kita 1.2. Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii 1.3. Kesimpulan 2. Khutbah Kedua 2.1. Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ (التوبة: ١١٩ Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia. Di kesempatan kali ini, di momen akhir tahun, sebagian kaum muslimin goyah pendirian imannya, tak paham akan prinsip akidah. Sangat baik sekali, kami selaku khatib mengingatkan kembali nasihat bijak dari Imam Al-Mujaddid, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau mengatakan dalam kitabnya Tsalatsah Al-Ushul, أَنَّ مَن أَطَاعَ الرَّسُولَ وَوَحَّدَ اللَّهَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُوَالَاةُ مَن حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَو كَانَ أَقرَبَ قَرِيبٍ Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (berkasih sayang) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ، أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)   Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Paham maksud prinsip dalam ayat yang baru disebutkan? Itulah prinsip al-wala’ wa al-bara’. Wala’ artinya setia dan bara’ artinya berlepas diri. Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212) Dalam ayat, yang dimaksud “walau itu bapak mereka” adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat Perang Badar. “Walau itu anaknya” yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh oleh bapak kandungnya dalam peperangan. “Walau itu saudaranya” yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair sewaktu ia membunuh saudaranya, ‘Ubaid bin ‘Umair. “Walau itu kerabatnya” yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya. Begitu pula kisah Hamzah, Ali, dan ‘Ubaidah bin Al-Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212-213) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘Ash; ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang, أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang saleh yang beriman.” (HR. Muslim, no. 215) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang saleh; itulah yang dijadikan kekasih dan teman setia walau hubungan nasabnya jauh (bukan kerabat dekat). Yang dijadikan kekasih bukanlah orang yang tidak saleh walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menyatakan bahwa hadits ini mengajarkan (orang muslim) untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan untuk setia kepada orang saleh. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan, selama tidak timbul kerusakan. (Syarh Shahih Muslim, 3:77) Contoh penerapan prinsip al-wala’ dan al-bara’ adalah tidak tasyabbuh dengan non-muslim, tidak meniru-niru gaya dan peribadatan non-muslim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3:30). Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1:549). Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Termasuk dalam prinsip wala’ dan bara’ adalah tidak memberikan dukungan untuk perayaan orang kafir. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بَشِعَائِرِ الكُفْرِ المخْتَصَةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالاتِّفَاقِ “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Ahkam Ahli Adz Dzimmah, hlm. 154). Perhartikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim, no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim. Sungguh aneh jika ada seorang muslim mengucapkan selamat natal padahal diketahui bahwa itu memperingati kelahiran Nabi Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Padahal prinsip Nashrani sudah diingkari dalam Al-Qur’an, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah: 72-75).   Ingatlah prinsip akidah kita لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6) قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84) أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ “Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)   Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii Al-Hafiz Ibnu Hajar Asy-Syafii setelah menyebutkan hadits dari Anas tentang mencukupkan diri dengan dua hari raya yaitu Idulfitri dan Iduladha, lalu mengatakan bahwa sanad hadits tersebut berkualitas shahih. Haditsnya adalah Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. Ahmad, 3:178, sanadnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Ibnu Hajar rahimahullah lantas mengatakan, “Bisa disimpulkan dari hadits tersebut larangan merasa gembira saat hari raya orang musyrik dan larangan menyerupai orang musyrik ketika itu. Bahkan Syaikh Abu Hafsh Al-Kabir An-Nasafi, seorang ulama mazhab Hanafi sampai berlebih-lebihan dalam masalah ini dengan mengatakan, ‘Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari itu karena mengagungkan hari tersebut maka dia telah kafir kepada Allah” (Fath Al-Bari, 2:442).   Kesimpulan Seorang muslim itu tidak mencintai dan mendukung agama non-muslim karena prinsip wala dan bara’ (setia dan benci) yang mesti dijalankan. Seorang muslim tidak boleh mendukung perayaan non-muslim baik ikut serta dan mengucapkan selamat perayaan. Seorang muslim dilarang tasyabbuh, tidak boleh menyerupai dalam hal yang menjadi ciri khas non-muslim. Prinsip muslim adalah membiarkan orang kafir beribadah tanpa mengganggu dan mendukung karena prinsip kita adalah LAKUM DIINUKUM WA LIYA DIIN.   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 19 Jumadal Ula 1443 H (24 Desember 2021) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Baca Juga: Hukum Menghadiri Undangan Natal Menerima Orderan Natal Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL   Download   Tagsbelajar loyal khutbah jumat lakum diinukum loyal loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal


Inilah prinsip akidah seorang muslim terkait natal. Semoga bisa diambil pelajaran dari Khutbah Jumat berikut ini.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 1.1. Ingatlah prinsip akidah kita 1.2. Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii 1.3. Kesimpulan 2. Khutbah Kedua 2.1. Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ (التوبة: ١١٩ Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia. Di kesempatan kali ini, di momen akhir tahun, sebagian kaum muslimin goyah pendirian imannya, tak paham akan prinsip akidah. Sangat baik sekali, kami selaku khatib mengingatkan kembali nasihat bijak dari Imam Al-Mujaddid, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau mengatakan dalam kitabnya Tsalatsah Al-Ushul, أَنَّ مَن أَطَاعَ الرَّسُولَ وَوَحَّدَ اللَّهَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُوَالَاةُ مَن حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَو كَانَ أَقرَبَ قَرِيبٍ Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (berkasih sayang) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ﴿لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ، أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)   Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Paham maksud prinsip dalam ayat yang baru disebutkan? Itulah prinsip al-wala’ wa al-bara’. Wala’ artinya setia dan bara’ artinya berlepas diri. Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212) Dalam ayat, yang dimaksud “walau itu bapak mereka” adalah kisah Abu ‘Ubaidah yang membunuh ayahnya saat Perang Badar. “Walau itu anaknya” yaitu kisah seorang putra yang bernama ‘Abdurrahman yang dibunuh oleh bapak kandungnya dalam peperangan. “Walau itu saudaranya” yaitu kisah Mush’ab bin ‘Umair sewaktu ia membunuh saudaranya, ‘Ubaid bin ‘Umair. “Walau itu kerabatnya” yaitu kisah ‘Umar yang membunuh keluarga dekatnya. Begitu pula kisah Hamzah, Ali, dan ‘Ubaidah bin Al-Harits yang membunuh kerabatnya, yaitu ‘Utbah, Syaibah, dan Al-Walid bin ‘Utbah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:212-213) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan prinsip wala’ dan bara’. Diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘Ash; ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lantang, أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ “Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukanlah kekasihku. Sesungguhnya kekasih setiaku adalah orang saleh yang beriman.” (HR. Muslim, no. 215) Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud “waliyyiya” adalah orang saleh; itulah yang dijadikan kekasih dan teman setia walau hubungan nasabnya jauh (bukan kerabat dekat). Yang dijadikan kekasih bukanlah orang yang tidak saleh walaupun nasabnya dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Nawawi juga menyatakan bahwa hadits ini mengajarkan (orang muslim) untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dan untuk setia kepada orang saleh. Kesetiaan atau keloyalan semacam itu boleh dinyatakan terang-terangan, selama tidak timbul kerusakan. (Syarh Shahih Muslim, 3:77) Contoh penerapan prinsip al-wala’ dan al-bara’ adalah tidak tasyabbuh dengan non-muslim, tidak meniru-niru gaya dan peribadatan non-muslim. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3:30). Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1:549). Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Termasuk dalam prinsip wala’ dan bara’ adalah tidak memberikan dukungan untuk perayaan orang kafir. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بَشِعَائِرِ الكُفْرِ المخْتَصَةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالاتِّفَاقِ “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Ahkam Ahli Adz Dzimmah, hlm. 154). Perhartikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim, no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim. Sungguh aneh jika ada seorang muslim mengucapkan selamat natal padahal diketahui bahwa itu memperingati kelahiran Nabi Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Padahal prinsip Nashrani sudah diingkari dalam Al-Qur’an, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah: 72-75).   Ingatlah prinsip akidah kita لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6) قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84) أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ “Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41) لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)   Perkataan Imam Ibnu Hajar Asy-Syafii Al-Hafiz Ibnu Hajar Asy-Syafii setelah menyebutkan hadits dari Anas tentang mencukupkan diri dengan dua hari raya yaitu Idulfitri dan Iduladha, lalu mengatakan bahwa sanad hadits tersebut berkualitas shahih. Haditsnya adalah Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. Ahmad, 3:178, sanadnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Ibnu Hajar rahimahullah lantas mengatakan, “Bisa disimpulkan dari hadits tersebut larangan merasa gembira saat hari raya orang musyrik dan larangan menyerupai orang musyrik ketika itu. Bahkan Syaikh Abu Hafsh Al-Kabir An-Nasafi, seorang ulama mazhab Hanafi sampai berlebih-lebihan dalam masalah ini dengan mengatakan, ‘Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari itu karena mengagungkan hari tersebut maka dia telah kafir kepada Allah” (Fath Al-Bari, 2:442).   Kesimpulan Seorang muslim itu tidak mencintai dan mendukung agama non-muslim karena prinsip wala dan bara’ (setia dan benci) yang mesti dijalankan. Seorang muslim tidak boleh mendukung perayaan non-muslim baik ikut serta dan mengucapkan selamat perayaan. Seorang muslim dilarang tasyabbuh, tidak boleh menyerupai dalam hal yang menjadi ciri khas non-muslim. Prinsip muslim adalah membiarkan orang kafir beribadah tanpa mengganggu dan mendukung karena prinsip kita adalah LAKUM DIINUKUM WA LIYA DIIN.   أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 19 Jumadal Ula 1443 H (24 Desember 2021) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Baca Juga: Hukum Menghadiri Undangan Natal Menerima Orderan Natal Silakan Unduh Khutbah Jumat: PRINSIP AKIDAH SEORANG MUSLIM TERKAIT NATAL   Download   Tagsbelajar loyal khutbah jumat lakum diinukum loyal loyal non muslim loyal pada non muslim natal natal bersama selamat natal

Allah Al Ahad – Yang Maha Esa

Asmaul Husna Nama Allah ﷻ اَلْوَاحِدُ\اَلْأَحَدُ (Maha Tunggal/Maha Esa)Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Lafal Al-Ahad hanya datang pada surah Al-Ikhlas, Allah ﷻ berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas:1)Adapun lafal Al-Wahid datang pada banyak ayat.Al-Ahad maknanya Maha Esa dalam:Rububiyah-Nya:Secara dzat-Nya Allah ﷻ maha tunggal. Allah ﷻ tidak butuh kepada pasangan maka Allah ﷻ tidak memiliki anak, bukan satu yang tiga, dan Allah ﷻ tidak bersatu dengan yang lain. Allah ﷻ berfirman,لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا“dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS. An-Nisa’: 171)Konsekuensi dari Allah ﷻ Maha Esa adalah Allah ﷻ tidak menerima trinitas dan memiliki anak.Dari sisi: penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan alam semesta. Hanya Allah ﷻ yang menciptakan, mengatur, dan memiliki alam semesta ini. Tidak ada yang bersama Allah ﷻ dalam penciptaan, pemilikan, dan pengaturan. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ. رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.” (QS. As-Saffat: 4-5)Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya Allah ﷻ maha Esa maka Dia bersendiri dalam rububiyah-Nya.Uluhiyah-Nya.Allah ﷻ berfirman,وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)Barang siapa yang menyembah selain Allah ﷻ seperti menyembah makhluk, malaikat, jin, manusia, batu, pohon, wali yang telah meninggal, nabi, sapi, tikus, dan yang lainnya maka dia tidak mengesakan Allah ﷻ dan ini membatalkan keesaan Allah ﷻ.Nama-nama dan sifat-sifatnyaAllah ﷻ berfirman,يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)Allah ﷻ Maha Melihat tidak ada yang menyamai penglihatan-Nya. Allah ﷻ Maha Mendengar tidak ada yang menyamai pendengaran-Nya. Allah ﷻ Maha Menciptakan tidak ada yang menyamai ciptaan-Nya. Allah ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang menyamai ketinggian-Nya. Allah ﷻ Maha Agung tidak ada yang menyamai keagungan-Nya. Allah ﷻ Maha berilmu mengetahui hal yang gaib tidak ada yang menyamai keilmuan-Nya. Allah ﷻ berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)Inilah makna dari Al-Wahid Al-Ahad yang artinya Allah ﷻ Maha Esa dalam segala hal. 

Allah Al Ahad – Yang Maha Esa

Asmaul Husna Nama Allah ﷻ اَلْوَاحِدُ\اَلْأَحَدُ (Maha Tunggal/Maha Esa)Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Lafal Al-Ahad hanya datang pada surah Al-Ikhlas, Allah ﷻ berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas:1)Adapun lafal Al-Wahid datang pada banyak ayat.Al-Ahad maknanya Maha Esa dalam:Rububiyah-Nya:Secara dzat-Nya Allah ﷻ maha tunggal. Allah ﷻ tidak butuh kepada pasangan maka Allah ﷻ tidak memiliki anak, bukan satu yang tiga, dan Allah ﷻ tidak bersatu dengan yang lain. Allah ﷻ berfirman,لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا“dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS. An-Nisa’: 171)Konsekuensi dari Allah ﷻ Maha Esa adalah Allah ﷻ tidak menerima trinitas dan memiliki anak.Dari sisi: penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan alam semesta. Hanya Allah ﷻ yang menciptakan, mengatur, dan memiliki alam semesta ini. Tidak ada yang bersama Allah ﷻ dalam penciptaan, pemilikan, dan pengaturan. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ. رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.” (QS. As-Saffat: 4-5)Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya Allah ﷻ maha Esa maka Dia bersendiri dalam rububiyah-Nya.Uluhiyah-Nya.Allah ﷻ berfirman,وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)Barang siapa yang menyembah selain Allah ﷻ seperti menyembah makhluk, malaikat, jin, manusia, batu, pohon, wali yang telah meninggal, nabi, sapi, tikus, dan yang lainnya maka dia tidak mengesakan Allah ﷻ dan ini membatalkan keesaan Allah ﷻ.Nama-nama dan sifat-sifatnyaAllah ﷻ berfirman,يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)Allah ﷻ Maha Melihat tidak ada yang menyamai penglihatan-Nya. Allah ﷻ Maha Mendengar tidak ada yang menyamai pendengaran-Nya. Allah ﷻ Maha Menciptakan tidak ada yang menyamai ciptaan-Nya. Allah ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang menyamai ketinggian-Nya. Allah ﷻ Maha Agung tidak ada yang menyamai keagungan-Nya. Allah ﷻ Maha berilmu mengetahui hal yang gaib tidak ada yang menyamai keilmuan-Nya. Allah ﷻ berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)Inilah makna dari Al-Wahid Al-Ahad yang artinya Allah ﷻ Maha Esa dalam segala hal. 
Asmaul Husna Nama Allah ﷻ اَلْوَاحِدُ\اَلْأَحَدُ (Maha Tunggal/Maha Esa)Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Lafal Al-Ahad hanya datang pada surah Al-Ikhlas, Allah ﷻ berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas:1)Adapun lafal Al-Wahid datang pada banyak ayat.Al-Ahad maknanya Maha Esa dalam:Rububiyah-Nya:Secara dzat-Nya Allah ﷻ maha tunggal. Allah ﷻ tidak butuh kepada pasangan maka Allah ﷻ tidak memiliki anak, bukan satu yang tiga, dan Allah ﷻ tidak bersatu dengan yang lain. Allah ﷻ berfirman,لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا“dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS. An-Nisa’: 171)Konsekuensi dari Allah ﷻ Maha Esa adalah Allah ﷻ tidak menerima trinitas dan memiliki anak.Dari sisi: penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan alam semesta. Hanya Allah ﷻ yang menciptakan, mengatur, dan memiliki alam semesta ini. Tidak ada yang bersama Allah ﷻ dalam penciptaan, pemilikan, dan pengaturan. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ. رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.” (QS. As-Saffat: 4-5)Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya Allah ﷻ maha Esa maka Dia bersendiri dalam rububiyah-Nya.Uluhiyah-Nya.Allah ﷻ berfirman,وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)Barang siapa yang menyembah selain Allah ﷻ seperti menyembah makhluk, malaikat, jin, manusia, batu, pohon, wali yang telah meninggal, nabi, sapi, tikus, dan yang lainnya maka dia tidak mengesakan Allah ﷻ dan ini membatalkan keesaan Allah ﷻ.Nama-nama dan sifat-sifatnyaAllah ﷻ berfirman,يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)Allah ﷻ Maha Melihat tidak ada yang menyamai penglihatan-Nya. Allah ﷻ Maha Mendengar tidak ada yang menyamai pendengaran-Nya. Allah ﷻ Maha Menciptakan tidak ada yang menyamai ciptaan-Nya. Allah ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang menyamai ketinggian-Nya. Allah ﷻ Maha Agung tidak ada yang menyamai keagungan-Nya. Allah ﷻ Maha berilmu mengetahui hal yang gaib tidak ada yang menyamai keilmuan-Nya. Allah ﷻ berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)Inilah makna dari Al-Wahid Al-Ahad yang artinya Allah ﷻ Maha Esa dalam segala hal. 


Asmaul Husna Nama Allah ﷻ اَلْوَاحِدُ\اَلْأَحَدُ (Maha Tunggal/Maha Esa)Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Lafal Al-Ahad hanya datang pada surah Al-Ikhlas, Allah ﷻ berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas:1)Adapun lafal Al-Wahid datang pada banyak ayat.Al-Ahad maknanya Maha Esa dalam:Rububiyah-Nya:Secara dzat-Nya Allah ﷻ maha tunggal. Allah ﷻ tidak butuh kepada pasangan maka Allah ﷻ tidak memiliki anak, bukan satu yang tiga, dan Allah ﷻ tidak bersatu dengan yang lain. Allah ﷻ berfirman,لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)Allah ﷻ berfirman,وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا“dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS. An-Nisa’: 171)Konsekuensi dari Allah ﷻ Maha Esa adalah Allah ﷻ tidak menerima trinitas dan memiliki anak.Dari sisi: penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan alam semesta. Hanya Allah ﷻ yang menciptakan, mengatur, dan memiliki alam semesta ini. Tidak ada yang bersama Allah ﷻ dalam penciptaan, pemilikan, dan pengaturan. Allah ﷻ berfirman,إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ. رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.” (QS. As-Saffat: 4-5)Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya Allah ﷻ maha Esa maka Dia bersendiri dalam rububiyah-Nya.Uluhiyah-Nya.Allah ﷻ berfirman,وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)Barang siapa yang menyembah selain Allah ﷻ seperti menyembah makhluk, malaikat, jin, manusia, batu, pohon, wali yang telah meninggal, nabi, sapi, tikus, dan yang lainnya maka dia tidak mengesakan Allah ﷻ dan ini membatalkan keesaan Allah ﷻ.Nama-nama dan sifat-sifatnyaAllah ﷻ berfirman,يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)Allah ﷻ Maha Melihat tidak ada yang menyamai penglihatan-Nya. Allah ﷻ Maha Mendengar tidak ada yang menyamai pendengaran-Nya. Allah ﷻ Maha Menciptakan tidak ada yang menyamai ciptaan-Nya. Allah ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang menyamai ketinggian-Nya. Allah ﷻ Maha Agung tidak ada yang menyamai keagungan-Nya. Allah ﷻ Maha berilmu mengetahui hal yang gaib tidak ada yang menyamai keilmuan-Nya. Allah ﷻ berfirman,قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)Inilah makna dari Al-Wahid Al-Ahad yang artinya Allah ﷻ Maha Esa dalam segala hal. 

Iman Itu Bertambah dan Berkurang

Pertanyaan:Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan sahabat tentang iman, bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang? Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan?Jawaban:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعدDalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah banyak menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. Inilah yang menjadi landasan para sahabat dan jumhur salaf. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat berkurang dan bertambah.” [Jami’ al-Masa’il] Beliau juga berkata, “Oleh karena itu, pendapat Ahlussunnah dan Ahlul Hadits bahwa iman itu bertingkat-tingkat. Jumhur mereka berkata, ‘(Iman itu) bertambah dan berkurang.’ Sebagian mereka mengatakan bahwa iman itu bertambah, namun tidak berkurang sebagaimana riwayat dari Malik dalam salah satu dari dua riwayat. Sebagian mereka menggunakan istilah tafadhul (bertingkat-tingkat) sebagaimana pendapat Abdullah bin Mubarak. Adapun istilah “yazid wa yanqus” (bertambah dan berkurang) telah sahih dari para sahabat serta diketahui tidak ada yang mengingkari dari mereka.” [Majmu’ Al-Fataawa] Dalam penjelasan Kitab At-Thohawiyah karya Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah dijelaskan bahwa dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat salaf yang sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (Q.S. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Q.S. Maryam: 76)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Q.S. Al-Mudatsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Q.S. Al-Fath: 4)ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.'” (Q.S. Ali ‘Imran: 173)Baca Juga: Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap IstriAllah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنًا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَزَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَٰفِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (Q.S At-Taubah: 124-125)Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim no. 44, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Maksud dari “tidak beriman” adalah tidak sempurna imannya. Dan hadis semisal ini cukup banyak seperti hadis tentang “cabang iman”, hadis tentang “syafa’at”. Di mana maksud dari hadis-hadis tersebut adalah bahwa orang yang dalam hatinya ada iman meskipun lebih kecil dari atom akan keluar dari neraka (masuk surga).Maka, bagaimana mungkin bisa kita benarkan perkataan, “Iman semua penduduk langit dan bumi adalah sama, yang berbeda adalah hal-hal yang lain, namun bukan imannya”? Ini perkataan batil.Begitu pula, perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum tentang masalah iman ini juga banyak.Di antaranya adalah perkataan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu,من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما نقص منه، ومن فقه العبد أن يعلم أيزداد هو أم ينقص“Di antara tanda kefakihan seorang adalah ia senantiasa memperhatikan imannya dan segala hal yang dapat menguranginya. Dan di antara tanda kefakihan seseorang adalah mengetahui kondisi imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sahabat-sahabatnya,هلموا نزدد إيمانًا، فيذكرون الله عز وجل“Mari kita tambah iman dengan berzikir kepada Allah.”Sedangkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata dalam doanya,اللهم زدنا إيمانًا، ويقينًا، وفقهًا“Ya Allah tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, dan kefahaman.”(HR. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal [As-Sunnah, 1: 368], lihat kitab Syarhu At-Thahawiyyah, hal. 290)Juga Mu’adz bin Jabal juga berkata kepada seseorang,اجلس بنا نؤمن ساعة“Mari duduk bersama kami, untuk menambah iman sesaat saja.”Demikian Ammar bin Yasir berkata,ثلاث من كن فيه، فقد استكمل الإيمان: إنصاف من نفسه، والإنفاق من إقتار، وبذل السلام للعالم“Tiga hal bila dimiliki seseorang maka ia telah menyempurnakan imannya, yaitu adil terhadap diri sendiri, berinfak ketika sempit, dan memberi salam kepada semua orang.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)Maka, tidak ada keraguan bahwa para sahabat belajar tentang perkara agama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara ilmu yang mereka pelajari itu adalah yang berkaitan dengan bertambah dan berkurangnya keimanan. Wallahua’lam.Sumber : https://www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/432355Baca Juga:***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Bpjs, Ilmu Dan Amal, Malaikat Menurut Islam, Doa Mohon Hidayah Allah, Surat Az Zariyat Ayat 56-58

Iman Itu Bertambah dan Berkurang

Pertanyaan:Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan sahabat tentang iman, bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang? Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan?Jawaban:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعدDalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah banyak menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. Inilah yang menjadi landasan para sahabat dan jumhur salaf. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat berkurang dan bertambah.” [Jami’ al-Masa’il] Beliau juga berkata, “Oleh karena itu, pendapat Ahlussunnah dan Ahlul Hadits bahwa iman itu bertingkat-tingkat. Jumhur mereka berkata, ‘(Iman itu) bertambah dan berkurang.’ Sebagian mereka mengatakan bahwa iman itu bertambah, namun tidak berkurang sebagaimana riwayat dari Malik dalam salah satu dari dua riwayat. Sebagian mereka menggunakan istilah tafadhul (bertingkat-tingkat) sebagaimana pendapat Abdullah bin Mubarak. Adapun istilah “yazid wa yanqus” (bertambah dan berkurang) telah sahih dari para sahabat serta diketahui tidak ada yang mengingkari dari mereka.” [Majmu’ Al-Fataawa] Dalam penjelasan Kitab At-Thohawiyah karya Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah dijelaskan bahwa dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat salaf yang sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (Q.S. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Q.S. Maryam: 76)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Q.S. Al-Mudatsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Q.S. Al-Fath: 4)ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.'” (Q.S. Ali ‘Imran: 173)Baca Juga: Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap IstriAllah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنًا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَزَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَٰفِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (Q.S At-Taubah: 124-125)Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim no. 44, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Maksud dari “tidak beriman” adalah tidak sempurna imannya. Dan hadis semisal ini cukup banyak seperti hadis tentang “cabang iman”, hadis tentang “syafa’at”. Di mana maksud dari hadis-hadis tersebut adalah bahwa orang yang dalam hatinya ada iman meskipun lebih kecil dari atom akan keluar dari neraka (masuk surga).Maka, bagaimana mungkin bisa kita benarkan perkataan, “Iman semua penduduk langit dan bumi adalah sama, yang berbeda adalah hal-hal yang lain, namun bukan imannya”? Ini perkataan batil.Begitu pula, perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum tentang masalah iman ini juga banyak.Di antaranya adalah perkataan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu,من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما نقص منه، ومن فقه العبد أن يعلم أيزداد هو أم ينقص“Di antara tanda kefakihan seorang adalah ia senantiasa memperhatikan imannya dan segala hal yang dapat menguranginya. Dan di antara tanda kefakihan seseorang adalah mengetahui kondisi imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sahabat-sahabatnya,هلموا نزدد إيمانًا، فيذكرون الله عز وجل“Mari kita tambah iman dengan berzikir kepada Allah.”Sedangkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata dalam doanya,اللهم زدنا إيمانًا، ويقينًا، وفقهًا“Ya Allah tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, dan kefahaman.”(HR. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal [As-Sunnah, 1: 368], lihat kitab Syarhu At-Thahawiyyah, hal. 290)Juga Mu’adz bin Jabal juga berkata kepada seseorang,اجلس بنا نؤمن ساعة“Mari duduk bersama kami, untuk menambah iman sesaat saja.”Demikian Ammar bin Yasir berkata,ثلاث من كن فيه، فقد استكمل الإيمان: إنصاف من نفسه، والإنفاق من إقتار، وبذل السلام للعالم“Tiga hal bila dimiliki seseorang maka ia telah menyempurnakan imannya, yaitu adil terhadap diri sendiri, berinfak ketika sempit, dan memberi salam kepada semua orang.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)Maka, tidak ada keraguan bahwa para sahabat belajar tentang perkara agama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara ilmu yang mereka pelajari itu adalah yang berkaitan dengan bertambah dan berkurangnya keimanan. Wallahua’lam.Sumber : https://www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/432355Baca Juga:***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Bpjs, Ilmu Dan Amal, Malaikat Menurut Islam, Doa Mohon Hidayah Allah, Surat Az Zariyat Ayat 56-58
Pertanyaan:Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan sahabat tentang iman, bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang? Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan?Jawaban:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعدDalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah banyak menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. Inilah yang menjadi landasan para sahabat dan jumhur salaf. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat berkurang dan bertambah.” [Jami’ al-Masa’il] Beliau juga berkata, “Oleh karena itu, pendapat Ahlussunnah dan Ahlul Hadits bahwa iman itu bertingkat-tingkat. Jumhur mereka berkata, ‘(Iman itu) bertambah dan berkurang.’ Sebagian mereka mengatakan bahwa iman itu bertambah, namun tidak berkurang sebagaimana riwayat dari Malik dalam salah satu dari dua riwayat. Sebagian mereka menggunakan istilah tafadhul (bertingkat-tingkat) sebagaimana pendapat Abdullah bin Mubarak. Adapun istilah “yazid wa yanqus” (bertambah dan berkurang) telah sahih dari para sahabat serta diketahui tidak ada yang mengingkari dari mereka.” [Majmu’ Al-Fataawa] Dalam penjelasan Kitab At-Thohawiyah karya Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah dijelaskan bahwa dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat salaf yang sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (Q.S. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Q.S. Maryam: 76)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Q.S. Al-Mudatsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Q.S. Al-Fath: 4)ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.'” (Q.S. Ali ‘Imran: 173)Baca Juga: Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap IstriAllah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنًا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَزَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَٰفِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (Q.S At-Taubah: 124-125)Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim no. 44, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Maksud dari “tidak beriman” adalah tidak sempurna imannya. Dan hadis semisal ini cukup banyak seperti hadis tentang “cabang iman”, hadis tentang “syafa’at”. Di mana maksud dari hadis-hadis tersebut adalah bahwa orang yang dalam hatinya ada iman meskipun lebih kecil dari atom akan keluar dari neraka (masuk surga).Maka, bagaimana mungkin bisa kita benarkan perkataan, “Iman semua penduduk langit dan bumi adalah sama, yang berbeda adalah hal-hal yang lain, namun bukan imannya”? Ini perkataan batil.Begitu pula, perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum tentang masalah iman ini juga banyak.Di antaranya adalah perkataan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu,من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما نقص منه، ومن فقه العبد أن يعلم أيزداد هو أم ينقص“Di antara tanda kefakihan seorang adalah ia senantiasa memperhatikan imannya dan segala hal yang dapat menguranginya. Dan di antara tanda kefakihan seseorang adalah mengetahui kondisi imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sahabat-sahabatnya,هلموا نزدد إيمانًا، فيذكرون الله عز وجل“Mari kita tambah iman dengan berzikir kepada Allah.”Sedangkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata dalam doanya,اللهم زدنا إيمانًا، ويقينًا، وفقهًا“Ya Allah tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, dan kefahaman.”(HR. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal [As-Sunnah, 1: 368], lihat kitab Syarhu At-Thahawiyyah, hal. 290)Juga Mu’adz bin Jabal juga berkata kepada seseorang,اجلس بنا نؤمن ساعة“Mari duduk bersama kami, untuk menambah iman sesaat saja.”Demikian Ammar bin Yasir berkata,ثلاث من كن فيه، فقد استكمل الإيمان: إنصاف من نفسه، والإنفاق من إقتار، وبذل السلام للعالم“Tiga hal bila dimiliki seseorang maka ia telah menyempurnakan imannya, yaitu adil terhadap diri sendiri, berinfak ketika sempit, dan memberi salam kepada semua orang.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)Maka, tidak ada keraguan bahwa para sahabat belajar tentang perkara agama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara ilmu yang mereka pelajari itu adalah yang berkaitan dengan bertambah dan berkurangnya keimanan. Wallahua’lam.Sumber : https://www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/432355Baca Juga:***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Bpjs, Ilmu Dan Amal, Malaikat Menurut Islam, Doa Mohon Hidayah Allah, Surat Az Zariyat Ayat 56-58


Pertanyaan:Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan sahabat tentang iman, bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang? Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan?Jawaban:الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعدDalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah banyak menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. Inilah yang menjadi landasan para sahabat dan jumhur salaf. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,الصحابة وجمهور السلف على أن الإيمان يزيد وينقص“Para sahabat dan jumhur salaf berada di atas pendapat bahwa iman itu dapat berkurang dan bertambah.” [Jami’ al-Masa’il] Beliau juga berkata, “Oleh karena itu, pendapat Ahlussunnah dan Ahlul Hadits bahwa iman itu bertingkat-tingkat. Jumhur mereka berkata, ‘(Iman itu) bertambah dan berkurang.’ Sebagian mereka mengatakan bahwa iman itu bertambah, namun tidak berkurang sebagaimana riwayat dari Malik dalam salah satu dari dua riwayat. Sebagian mereka menggunakan istilah tafadhul (bertingkat-tingkat) sebagaimana pendapat Abdullah bin Mubarak. Adapun istilah “yazid wa yanqus” (bertambah dan berkurang) telah sahih dari para sahabat serta diketahui tidak ada yang mengingkari dari mereka.” [Majmu’ Al-Fataawa] Dalam penjelasan Kitab At-Thohawiyah karya Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah dijelaskan bahwa dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat salaf yang sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya).” (Q.S. Al-Anfal: 2)وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ هُدًى“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Q.S. Maryam: 76)وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَٰنًا“Supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Q.S. Al-Mudatsir: 31)هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Q.S. Al-Fath: 4)ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.'” (Q.S. Ali ‘Imran: 173)Baca Juga: Letak Kesempurnaan Iman dalam Akhlak terhadap IstriAllah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنًا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَزَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَٰفِرُونَ“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (Q.S At-Taubah: 124-125)Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين”Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga menjadikan aku lebih dicintai melebihi kecintaannya kepada anaknya, bapaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim no. 44, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)Maksud dari “tidak beriman” adalah tidak sempurna imannya. Dan hadis semisal ini cukup banyak seperti hadis tentang “cabang iman”, hadis tentang “syafa’at”. Di mana maksud dari hadis-hadis tersebut adalah bahwa orang yang dalam hatinya ada iman meskipun lebih kecil dari atom akan keluar dari neraka (masuk surga).Maka, bagaimana mungkin bisa kita benarkan perkataan, “Iman semua penduduk langit dan bumi adalah sama, yang berbeda adalah hal-hal yang lain, namun bukan imannya”? Ini perkataan batil.Begitu pula, perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum tentang masalah iman ini juga banyak.Di antaranya adalah perkataan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu,من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما نقص منه، ومن فقه العبد أن يعلم أيزداد هو أم ينقص“Di antara tanda kefakihan seorang adalah ia senantiasa memperhatikan imannya dan segala hal yang dapat menguranginya. Dan di antara tanda kefakihan seseorang adalah mengetahui kondisi imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang.”Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada sahabat-sahabatnya,هلموا نزدد إيمانًا، فيذكرون الله عز وجل“Mari kita tambah iman dengan berzikir kepada Allah.”Sedangkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata dalam doanya,اللهم زدنا إيمانًا، ويقينًا، وفقهًا“Ya Allah tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, dan kefahaman.”(HR. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal [As-Sunnah, 1: 368], lihat kitab Syarhu At-Thahawiyyah, hal. 290)Juga Mu’adz bin Jabal juga berkata kepada seseorang,اجلس بنا نؤمن ساعة“Mari duduk bersama kami, untuk menambah iman sesaat saja.”Demikian Ammar bin Yasir berkata,ثلاث من كن فيه، فقد استكمل الإيمان: إنصاف من نفسه، والإنفاق من إقتار، وبذل السلام للعالم“Tiga hal bila dimiliki seseorang maka ia telah menyempurnakan imannya, yaitu adil terhadap diri sendiri, berinfak ketika sempit, dan memberi salam kepada semua orang.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya)Maka, tidak ada keraguan bahwa para sahabat belajar tentang perkara agama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara ilmu yang mereka pelajari itu adalah yang berkaitan dengan bertambah dan berkurangnya keimanan. Wallahua’lam.Sumber : https://www.islamweb.net/amp/ar/fatwa/432355Baca Juga:***Penerjemah: Fauzan HidayatArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Bpjs, Ilmu Dan Amal, Malaikat Menurut Islam, Doa Mohon Hidayah Allah, Surat Az Zariyat Ayat 56-58

Matan Taqrib: Rukun dan Sunnah Wudhu

Sekarang kita masuk bahasan rukun dan sunnah wudhu dari Matan Taqrib (Matan Abu Syuja).   الوضوء: فرائض الوضوء: وَفُرُوْضُ الوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ وَغَسْلُ الوَجْهِ وَغَسْلُ اليَدَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الكَعْبَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ. Rukun (fardhu) wudhu ada enam: Niat ketika membasuh muka. Membasuh muka. Membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap sebagian kepala. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Tertib (berurutan) sesuai dengan yang telah kami sebutkan.   Faedah dari Fathul Qorib: Al-wudhu menunjukkan perbuatan. Al-wadhu menunjukkan sesuatu yang digunakan untuk berwudhu.   Fardhu wudhu (rukun wudhu) Pertama: niat Niat adalah: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ “bermaksud mengerjakan sesuatu dibarengi dengan pekerjaannya.” Jika dilakukan sebelum pekerjaan disebut dengan ‘azam. Niat itu mesti ada ketika membasuh awal bagian dari wajah. Niat wudhu adalah: Niat menghilangkan hadats Niat istibahah (boleh) membutuhkan wudhu Niat fardhu wudhu Niat berwudhu Niat bersuci dari hadats (catatan: tidak cukup berniat bersuci saja). Jika niat di atas dibersamai dengan niat tanzhif (bersih-bersih) atau tabarrud (mendinginkan badan), wudhu tetap sah.   Kedua: membasuh muka. Yang dimaksud adalah membasuh seluruh wajah. Batasan wajah: Panjang (thuulan): antara tempat tumbuh rambut kepala (ghaliban, umumnya) dan ujung lahyayni (tulang tumbuh gigi bawah, mulai dari dagu hingga telinga). Lebar (‘ardhan): di antara kedua telinga. Jika di wajah ada rambut tipis atau tebal, air wajib sampai pada kulit di dasarnya. Adapun jenggot: yang tebal di mana ditandai dengan kulit yang tidak tampak dari sela-selanya saat berbicara, yang dicuci adalah bagian luar saja. yang tipis di mana ditandai dengan kulit yang tampak saat berbicara, air wajib mengenai kulit. Catatan: Jenggot pada wanita dan khuntsa (yang punya alat kemaluan ganda), air wajib mengenai kulit meskipun jenggot tersebut tebal. Ketika membasuh muka, wajib juga membasuh sebagian kepala, sebagian leher, dan sesuatu di bawah dagu.   Ketiga: membasuh kedua tangan sampai siku. Jika tidak memiliki siku, maka dikira-kira siku itu kadarnya sampai di mana. Termasuk yang dibasuh adalah bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, serta kuku. Kotoran yang mencegah masuknya air harus dihilangkan.   Keempat: mengusap sebagian kepala. Mengusap kepala ini berlaku bagi laki-laki, perempuan, atau khuntsa. Mengusap sebagian kepala ini bisa dengan mengusap sebagian rambut yang ada pada batasan kepala. Mengusap di sini bisa jadi tidak dengan tangan, bisa dengan kain. Membasuh kepala sebagai ganti dari mengusap, itu sah. Meletakkan tangan yang basah tanpa menggerakkannya, sah wudhunya.   Kelima: membasuh kaki hingga mata kaki. Jika yang berwudhu memakai khuf, maka ia wajib mengusap khufnya atau mencuci kedua kakinya. Membasuh kedua kaki ini mencakup membasuh bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, sebagaimana penjelasan pada membasuh tangan.   Keenam: tertib (berurutan) Yang harus berurutan adalah pada fardhu wudhu. Jika lupa urutan, tidaklah cukup. Wudhu harus diulang sesuai urutan. Jika membasuh empat anggota wudhu sekaligus dengan izin orang yang berwudhu, maka dianggap baru membasuh wajah saja.   Ayat yang membicarakan tentang wudhu يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah: 6)   Catatan tambahan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syarat wudhu ada lima: Islam Tamyiz, wudhu orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidaklah sah karena niatnya tidak dianggap sah. Sucinya air, wudhu dengan air yang tidak thohur (suci dan menyucikan) tidaklah sah. Tidak ada penghalang hissi maupun syari. Penghalang hissi yaitu adanya kotoran yang menghalangi air terkena anggota wudhu. Penghalang syari yaitu haidh dan nifas. Masuknya waktu shalat untuk orang yang memiliki keadaan darurat yaitu pada daimul hadats yaitu wanita haidh dan orang yang keluar angin terus menerus. Letak niat adalah di hati, berdasarkan ijmak. Melafazkan niat di lisan tidaklah wajib berdasarkan ijmak. Namun, niat dengan hati saja tidak cukup. Batasan kepala dari sisi thulan (panjang): tumbuhnya rambut kepala dari batasan wajah hingga akhir tengkuk. Batasan kepala dari sisi ‘ardhan (lebar): antara dua shudghoin, batasan rambut yang merupakan tambahan ke kepala. Mash (mengusap) itu tidak mesti menyeluruh, sehingga mengusap sebagian kepala saja sudah sah. Karena mengusap seluruh kepala dan ada yang tidak terkena usapan, tetap sah.   سنن الوضوء: وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَّةُ وَغَسْلُ الكَفَّيْنِ قَبْلِ إِدْخِالِهِمَا الإِنَاءَ وَالمضْمَضَةُ والاِسْتِنْشَاقُ وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ وَمَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيْدٍ وَتَخْلِيْلُ اللِّحْيَةِ الكَثَّةِ وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ اليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَتَقْدِيْمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى وَالطَّهَارَةُ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَالموَلاَةُ.   Sunnah wudhu ada sepuluh: Mengucap basmalah. Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Mengusap seluruh kepala. Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Bersuci masing-masing tiga kali. Muwalah, tanpa ada jeda.   Faedah dari Fathul Qorib: Pertama: Mengucap basmalah Minimalnya adalah membaca BISMILLAH. Yang lebih sempurna adalah membaca BISMILLAHIRROHMAANIR-ROHIIM. Jika lupa membaca basmalah di awal, lalu ingat di tengah-tengah, maka membaca saat itu. Namun, jika wudhu telah selesai, tak perlu lagi membaca basmalah.   Kedua: Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Yaitu membasuh kedua tangan sampai kuu’aini (pergelangan tangan) sebelum memasukkan air ke mulut (madh-madhah). Membasuh tangan itu sebanyak tiga kali jika ragu akan sucinya sebelum tangan dimasukkan ke dalam wadah dan air tersebut kurang dari dua qullah. Jika tidak membasuh keduanya saat itu, berarti makruh mencelupkan tangan tersebut ke dalam wadah berisi air. Jika yakin kedua tangan dalam keadaan suci, maka tidak makruh mencelupkannya ke dalam wadah berisi air. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: “إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ ، ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ. وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَليُوْتِرْ. وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاَثًا؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam hidung lalu ia menghembuskan keluar. Siapa saja yang beristijmar (membersihkan kotoran saat buang hajat dengan menggunakan batu), hendaklah ia menggunakan batu berjumlah ganjil. Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia cuci tangannya sebelum ia celupkan ke dalam bejana, mencucinya sebanyak tiga kali dahulu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam semalam.” (HR. Bukhari, no. 162 dan Muslim, no. 278) Mencuci tangan itu alasannya karena ragu akan sucinya kedua tangan, bukan karena bangun dari tidur.   Ketiga: Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Setelah mencuci tangan, dilanjutkan dengan madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik air tersebut diputar di dalam mulutnya atau membuangnya ataukah tidak membuangnya. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan.   Keempat: Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Istinsyaq dilakukan setelah madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik dihirup dengan sendirinya hingga ke batang hidungnya dan mengeluarkannya (istintsar) ataukah tidak dikeluarkan. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan. Yang dianjurkan adalah mubaalaghoh (berlebihan) dalam madhmadhah dan istinsyaq. Yang lebih utama adalah menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq dengan tiga cidukan. Madhmadhah dilakukan sebagian dari tiap cidukan tadi, lalu dilanjutkan dengan istinsyaq. Menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq lebih utama daripada memisahnya. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Mubalaghah ketika madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut dan memutar-mutarnya di dalamnya. Mubalaghah ketika istinsyaq adalah memasukkan air hingga ke batang hidung.   Kelima: Mengusap seluruh kepala. Adapun mengusap sebagian kepala itu termasuk fardhu wudhu. Jika tidak ingin melepaskan sesuatu yang ada di atas kepalanya seperti surban dan lainnya, maka ia menyempurnakan usapannya dengan mengusap di atas surban. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Cara mengusap kepala yang sempurna adalah: Meletakkan tangan di bagian depan kepala, lalu menempelkan jari telunjuk dengan lainnya dan jari jempol pada shudghoin, kemudian mengusap hingga tengkuk, kemudian kembali mengusap lagi ke depan (tempat memulainya).   Keenam: Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Yaitu mengusapnya bukan dengan air yang basah dari kepala. Cara mengusap telinga adalah memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam dua lubang telinganya, memutar kedua telunjuknya di atas sela-sela dan menjalankan kedua jempolnya di atas bagian luar kedua telinganya, lalu menempelkan kedua telapak tangan dan kedua telapak tangannya yang basah pada kedua telinga untuk memperjelas. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan ulama membolehkan mengusap telinga dengan air dari mengusap kepala karena hal ini ada dalam praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedandainya kepala diusap dengan sebagian jari dan telinga dengan sebagian jari, maka dihukumi sah.   Ketujuh: Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Menyela-nyela jenggot laki-laki yang tebal itu hukumnya sunnah. Sedangkan menyela-nyela jenggot yang tipis, jenggot wanita, dan jenggot khuntsa dihukumi wajib. Cara menyela-nyela jenggot laki-laki adalah memasukkan jari dari bagian bawah jenggot. Jika air itu sampai pada cela jari tanpa menyela-nyelanya, maka sah. Jika air itu sampai pada jari yang harus dibelah (multaffah), maka wajib menyela-nyela jari tersebut. Namun, jika tidak mudah membelahnya, haram membelah jarinya untuk menyela-nyela. Cara menyela-nyela jari adalah dengan melakukan tasybik. Sedangkan cara menyela-nyela jari kaki adalah dengan memulai pada jari kelingking tangannya yang kiri dari ujung bawah kaki dimulai dari jari kelingking kaki yang kanan dan berakhir pada jari kelingking yang kiri. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada cincin, lalu air sampai pada kulit jari, maka sah. Jika air tidak sampai melainkan harus dengan memutar-mutar cincin, maka wajib dilakukan seperti itu.   Kedelapan: Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Ini berlaku pada tangan dan kaki. Adapun bagian anggota wudhu yang bisa dicuci berbarengan seperti kedua pipi, tidak perlu mendahulukan yang kanan dari yang kiri, keduanya disucikan sekaligus saja. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada yang memulai dari kiri lalu kanan, maka wudhunya sah. Karena penyebutan tangan atau kaki kanan dan kiri dalam Al-Qur’an dianggap satu.   Kesembilan: Bersuci masing-masing tiga kali. Ini berlaku bagi anggota tubuh yang dibasuh dan diusap. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan hadits menyebutkan membasuh tiga kali tiga kali. Boleh juga membasuh dua kali dua kali. Boleh juga membasuh hanya sekali. Boleh juga membasuh sebagian anggota wudhu tiga kali, yang lain dua kali, atau yang lain sekali. Boleh mengusap kepala tiga kali karena Utsman mencontohkan mengusap kepala itu tiga kali. Tidak disyariatkan membasuh lebih dari tiga kali.   Kesepuluh: Muwalah, tanpa ada jeda. Muwalah disebut juga dengan tataabu’ (berturut-turut), yaitu antara dua anggota tidak ada pemisah yang lama. Anggota wudhu yang satu dibasuh lalu yang lainnya lagi tidak sampai anggota wudhu sebelumnya itu kering dalam keadaan cuaca, pembawaan tubuh, dan waktu yang normal. Jika membasuh tiga kali, yang dijadikan patokan untuk muwalah adalah basuhan terakhir. Muwalah ini berlaku untuk orang yang tidak dalam keadaan darurat (daimul hadats). Orang yang dalam keadaan darurat (daimul hadats) diwajibkan muwalah.   Sunnah wudhu lainnya: Bersiwak Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuh. Membaca doa bakda wudhu. Adapun dzikir yang dibaca ketika membasuh setiap anggota wudhu tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengerjakan shalat dua rakaat bakda wudhu.   Doa bakda wudhu أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMMAJ’ALNII MINATTAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN. SUBHANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA, ASTAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK. Artinya: Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci. Mahasuci Engkau Ya Allah dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.   Dalil shalat sunnah wudhu Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   — Kamis sore, 18 Jumadal Ula 1443 H, 23 Desember 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu fardhu wudhu matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah rukun wudhu sunnah wudhu

Matan Taqrib: Rukun dan Sunnah Wudhu

Sekarang kita masuk bahasan rukun dan sunnah wudhu dari Matan Taqrib (Matan Abu Syuja).   الوضوء: فرائض الوضوء: وَفُرُوْضُ الوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ وَغَسْلُ الوَجْهِ وَغَسْلُ اليَدَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الكَعْبَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ. Rukun (fardhu) wudhu ada enam: Niat ketika membasuh muka. Membasuh muka. Membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap sebagian kepala. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Tertib (berurutan) sesuai dengan yang telah kami sebutkan.   Faedah dari Fathul Qorib: Al-wudhu menunjukkan perbuatan. Al-wadhu menunjukkan sesuatu yang digunakan untuk berwudhu.   Fardhu wudhu (rukun wudhu) Pertama: niat Niat adalah: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ “bermaksud mengerjakan sesuatu dibarengi dengan pekerjaannya.” Jika dilakukan sebelum pekerjaan disebut dengan ‘azam. Niat itu mesti ada ketika membasuh awal bagian dari wajah. Niat wudhu adalah: Niat menghilangkan hadats Niat istibahah (boleh) membutuhkan wudhu Niat fardhu wudhu Niat berwudhu Niat bersuci dari hadats (catatan: tidak cukup berniat bersuci saja). Jika niat di atas dibersamai dengan niat tanzhif (bersih-bersih) atau tabarrud (mendinginkan badan), wudhu tetap sah.   Kedua: membasuh muka. Yang dimaksud adalah membasuh seluruh wajah. Batasan wajah: Panjang (thuulan): antara tempat tumbuh rambut kepala (ghaliban, umumnya) dan ujung lahyayni (tulang tumbuh gigi bawah, mulai dari dagu hingga telinga). Lebar (‘ardhan): di antara kedua telinga. Jika di wajah ada rambut tipis atau tebal, air wajib sampai pada kulit di dasarnya. Adapun jenggot: yang tebal di mana ditandai dengan kulit yang tidak tampak dari sela-selanya saat berbicara, yang dicuci adalah bagian luar saja. yang tipis di mana ditandai dengan kulit yang tampak saat berbicara, air wajib mengenai kulit. Catatan: Jenggot pada wanita dan khuntsa (yang punya alat kemaluan ganda), air wajib mengenai kulit meskipun jenggot tersebut tebal. Ketika membasuh muka, wajib juga membasuh sebagian kepala, sebagian leher, dan sesuatu di bawah dagu.   Ketiga: membasuh kedua tangan sampai siku. Jika tidak memiliki siku, maka dikira-kira siku itu kadarnya sampai di mana. Termasuk yang dibasuh adalah bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, serta kuku. Kotoran yang mencegah masuknya air harus dihilangkan.   Keempat: mengusap sebagian kepala. Mengusap kepala ini berlaku bagi laki-laki, perempuan, atau khuntsa. Mengusap sebagian kepala ini bisa dengan mengusap sebagian rambut yang ada pada batasan kepala. Mengusap di sini bisa jadi tidak dengan tangan, bisa dengan kain. Membasuh kepala sebagai ganti dari mengusap, itu sah. Meletakkan tangan yang basah tanpa menggerakkannya, sah wudhunya.   Kelima: membasuh kaki hingga mata kaki. Jika yang berwudhu memakai khuf, maka ia wajib mengusap khufnya atau mencuci kedua kakinya. Membasuh kedua kaki ini mencakup membasuh bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, sebagaimana penjelasan pada membasuh tangan.   Keenam: tertib (berurutan) Yang harus berurutan adalah pada fardhu wudhu. Jika lupa urutan, tidaklah cukup. Wudhu harus diulang sesuai urutan. Jika membasuh empat anggota wudhu sekaligus dengan izin orang yang berwudhu, maka dianggap baru membasuh wajah saja.   Ayat yang membicarakan tentang wudhu يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah: 6)   Catatan tambahan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syarat wudhu ada lima: Islam Tamyiz, wudhu orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidaklah sah karena niatnya tidak dianggap sah. Sucinya air, wudhu dengan air yang tidak thohur (suci dan menyucikan) tidaklah sah. Tidak ada penghalang hissi maupun syari. Penghalang hissi yaitu adanya kotoran yang menghalangi air terkena anggota wudhu. Penghalang syari yaitu haidh dan nifas. Masuknya waktu shalat untuk orang yang memiliki keadaan darurat yaitu pada daimul hadats yaitu wanita haidh dan orang yang keluar angin terus menerus. Letak niat adalah di hati, berdasarkan ijmak. Melafazkan niat di lisan tidaklah wajib berdasarkan ijmak. Namun, niat dengan hati saja tidak cukup. Batasan kepala dari sisi thulan (panjang): tumbuhnya rambut kepala dari batasan wajah hingga akhir tengkuk. Batasan kepala dari sisi ‘ardhan (lebar): antara dua shudghoin, batasan rambut yang merupakan tambahan ke kepala. Mash (mengusap) itu tidak mesti menyeluruh, sehingga mengusap sebagian kepala saja sudah sah. Karena mengusap seluruh kepala dan ada yang tidak terkena usapan, tetap sah.   سنن الوضوء: وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَّةُ وَغَسْلُ الكَفَّيْنِ قَبْلِ إِدْخِالِهِمَا الإِنَاءَ وَالمضْمَضَةُ والاِسْتِنْشَاقُ وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ وَمَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيْدٍ وَتَخْلِيْلُ اللِّحْيَةِ الكَثَّةِ وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ اليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَتَقْدِيْمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى وَالطَّهَارَةُ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَالموَلاَةُ.   Sunnah wudhu ada sepuluh: Mengucap basmalah. Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Mengusap seluruh kepala. Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Bersuci masing-masing tiga kali. Muwalah, tanpa ada jeda.   Faedah dari Fathul Qorib: Pertama: Mengucap basmalah Minimalnya adalah membaca BISMILLAH. Yang lebih sempurna adalah membaca BISMILLAHIRROHMAANIR-ROHIIM. Jika lupa membaca basmalah di awal, lalu ingat di tengah-tengah, maka membaca saat itu. Namun, jika wudhu telah selesai, tak perlu lagi membaca basmalah.   Kedua: Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Yaitu membasuh kedua tangan sampai kuu’aini (pergelangan tangan) sebelum memasukkan air ke mulut (madh-madhah). Membasuh tangan itu sebanyak tiga kali jika ragu akan sucinya sebelum tangan dimasukkan ke dalam wadah dan air tersebut kurang dari dua qullah. Jika tidak membasuh keduanya saat itu, berarti makruh mencelupkan tangan tersebut ke dalam wadah berisi air. Jika yakin kedua tangan dalam keadaan suci, maka tidak makruh mencelupkannya ke dalam wadah berisi air. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: “إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ ، ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ. وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَليُوْتِرْ. وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاَثًا؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam hidung lalu ia menghembuskan keluar. Siapa saja yang beristijmar (membersihkan kotoran saat buang hajat dengan menggunakan batu), hendaklah ia menggunakan batu berjumlah ganjil. Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia cuci tangannya sebelum ia celupkan ke dalam bejana, mencucinya sebanyak tiga kali dahulu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam semalam.” (HR. Bukhari, no. 162 dan Muslim, no. 278) Mencuci tangan itu alasannya karena ragu akan sucinya kedua tangan, bukan karena bangun dari tidur.   Ketiga: Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Setelah mencuci tangan, dilanjutkan dengan madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik air tersebut diputar di dalam mulutnya atau membuangnya ataukah tidak membuangnya. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan.   Keempat: Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Istinsyaq dilakukan setelah madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik dihirup dengan sendirinya hingga ke batang hidungnya dan mengeluarkannya (istintsar) ataukah tidak dikeluarkan. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan. Yang dianjurkan adalah mubaalaghoh (berlebihan) dalam madhmadhah dan istinsyaq. Yang lebih utama adalah menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq dengan tiga cidukan. Madhmadhah dilakukan sebagian dari tiap cidukan tadi, lalu dilanjutkan dengan istinsyaq. Menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq lebih utama daripada memisahnya. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Mubalaghah ketika madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut dan memutar-mutarnya di dalamnya. Mubalaghah ketika istinsyaq adalah memasukkan air hingga ke batang hidung.   Kelima: Mengusap seluruh kepala. Adapun mengusap sebagian kepala itu termasuk fardhu wudhu. Jika tidak ingin melepaskan sesuatu yang ada di atas kepalanya seperti surban dan lainnya, maka ia menyempurnakan usapannya dengan mengusap di atas surban. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Cara mengusap kepala yang sempurna adalah: Meletakkan tangan di bagian depan kepala, lalu menempelkan jari telunjuk dengan lainnya dan jari jempol pada shudghoin, kemudian mengusap hingga tengkuk, kemudian kembali mengusap lagi ke depan (tempat memulainya).   Keenam: Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Yaitu mengusapnya bukan dengan air yang basah dari kepala. Cara mengusap telinga adalah memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam dua lubang telinganya, memutar kedua telunjuknya di atas sela-sela dan menjalankan kedua jempolnya di atas bagian luar kedua telinganya, lalu menempelkan kedua telapak tangan dan kedua telapak tangannya yang basah pada kedua telinga untuk memperjelas. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan ulama membolehkan mengusap telinga dengan air dari mengusap kepala karena hal ini ada dalam praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedandainya kepala diusap dengan sebagian jari dan telinga dengan sebagian jari, maka dihukumi sah.   Ketujuh: Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Menyela-nyela jenggot laki-laki yang tebal itu hukumnya sunnah. Sedangkan menyela-nyela jenggot yang tipis, jenggot wanita, dan jenggot khuntsa dihukumi wajib. Cara menyela-nyela jenggot laki-laki adalah memasukkan jari dari bagian bawah jenggot. Jika air itu sampai pada cela jari tanpa menyela-nyelanya, maka sah. Jika air itu sampai pada jari yang harus dibelah (multaffah), maka wajib menyela-nyela jari tersebut. Namun, jika tidak mudah membelahnya, haram membelah jarinya untuk menyela-nyela. Cara menyela-nyela jari adalah dengan melakukan tasybik. Sedangkan cara menyela-nyela jari kaki adalah dengan memulai pada jari kelingking tangannya yang kiri dari ujung bawah kaki dimulai dari jari kelingking kaki yang kanan dan berakhir pada jari kelingking yang kiri. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada cincin, lalu air sampai pada kulit jari, maka sah. Jika air tidak sampai melainkan harus dengan memutar-mutar cincin, maka wajib dilakukan seperti itu.   Kedelapan: Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Ini berlaku pada tangan dan kaki. Adapun bagian anggota wudhu yang bisa dicuci berbarengan seperti kedua pipi, tidak perlu mendahulukan yang kanan dari yang kiri, keduanya disucikan sekaligus saja. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada yang memulai dari kiri lalu kanan, maka wudhunya sah. Karena penyebutan tangan atau kaki kanan dan kiri dalam Al-Qur’an dianggap satu.   Kesembilan: Bersuci masing-masing tiga kali. Ini berlaku bagi anggota tubuh yang dibasuh dan diusap. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan hadits menyebutkan membasuh tiga kali tiga kali. Boleh juga membasuh dua kali dua kali. Boleh juga membasuh hanya sekali. Boleh juga membasuh sebagian anggota wudhu tiga kali, yang lain dua kali, atau yang lain sekali. Boleh mengusap kepala tiga kali karena Utsman mencontohkan mengusap kepala itu tiga kali. Tidak disyariatkan membasuh lebih dari tiga kali.   Kesepuluh: Muwalah, tanpa ada jeda. Muwalah disebut juga dengan tataabu’ (berturut-turut), yaitu antara dua anggota tidak ada pemisah yang lama. Anggota wudhu yang satu dibasuh lalu yang lainnya lagi tidak sampai anggota wudhu sebelumnya itu kering dalam keadaan cuaca, pembawaan tubuh, dan waktu yang normal. Jika membasuh tiga kali, yang dijadikan patokan untuk muwalah adalah basuhan terakhir. Muwalah ini berlaku untuk orang yang tidak dalam keadaan darurat (daimul hadats). Orang yang dalam keadaan darurat (daimul hadats) diwajibkan muwalah.   Sunnah wudhu lainnya: Bersiwak Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuh. Membaca doa bakda wudhu. Adapun dzikir yang dibaca ketika membasuh setiap anggota wudhu tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengerjakan shalat dua rakaat bakda wudhu.   Doa bakda wudhu أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMMAJ’ALNII MINATTAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN. SUBHANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA, ASTAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK. Artinya: Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci. Mahasuci Engkau Ya Allah dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.   Dalil shalat sunnah wudhu Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   — Kamis sore, 18 Jumadal Ula 1443 H, 23 Desember 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu fardhu wudhu matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah rukun wudhu sunnah wudhu
Sekarang kita masuk bahasan rukun dan sunnah wudhu dari Matan Taqrib (Matan Abu Syuja).   الوضوء: فرائض الوضوء: وَفُرُوْضُ الوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ وَغَسْلُ الوَجْهِ وَغَسْلُ اليَدَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الكَعْبَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ. Rukun (fardhu) wudhu ada enam: Niat ketika membasuh muka. Membasuh muka. Membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap sebagian kepala. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Tertib (berurutan) sesuai dengan yang telah kami sebutkan.   Faedah dari Fathul Qorib: Al-wudhu menunjukkan perbuatan. Al-wadhu menunjukkan sesuatu yang digunakan untuk berwudhu.   Fardhu wudhu (rukun wudhu) Pertama: niat Niat adalah: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ “bermaksud mengerjakan sesuatu dibarengi dengan pekerjaannya.” Jika dilakukan sebelum pekerjaan disebut dengan ‘azam. Niat itu mesti ada ketika membasuh awal bagian dari wajah. Niat wudhu adalah: Niat menghilangkan hadats Niat istibahah (boleh) membutuhkan wudhu Niat fardhu wudhu Niat berwudhu Niat bersuci dari hadats (catatan: tidak cukup berniat bersuci saja). Jika niat di atas dibersamai dengan niat tanzhif (bersih-bersih) atau tabarrud (mendinginkan badan), wudhu tetap sah.   Kedua: membasuh muka. Yang dimaksud adalah membasuh seluruh wajah. Batasan wajah: Panjang (thuulan): antara tempat tumbuh rambut kepala (ghaliban, umumnya) dan ujung lahyayni (tulang tumbuh gigi bawah, mulai dari dagu hingga telinga). Lebar (‘ardhan): di antara kedua telinga. Jika di wajah ada rambut tipis atau tebal, air wajib sampai pada kulit di dasarnya. Adapun jenggot: yang tebal di mana ditandai dengan kulit yang tidak tampak dari sela-selanya saat berbicara, yang dicuci adalah bagian luar saja. yang tipis di mana ditandai dengan kulit yang tampak saat berbicara, air wajib mengenai kulit. Catatan: Jenggot pada wanita dan khuntsa (yang punya alat kemaluan ganda), air wajib mengenai kulit meskipun jenggot tersebut tebal. Ketika membasuh muka, wajib juga membasuh sebagian kepala, sebagian leher, dan sesuatu di bawah dagu.   Ketiga: membasuh kedua tangan sampai siku. Jika tidak memiliki siku, maka dikira-kira siku itu kadarnya sampai di mana. Termasuk yang dibasuh adalah bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, serta kuku. Kotoran yang mencegah masuknya air harus dihilangkan.   Keempat: mengusap sebagian kepala. Mengusap kepala ini berlaku bagi laki-laki, perempuan, atau khuntsa. Mengusap sebagian kepala ini bisa dengan mengusap sebagian rambut yang ada pada batasan kepala. Mengusap di sini bisa jadi tidak dengan tangan, bisa dengan kain. Membasuh kepala sebagai ganti dari mengusap, itu sah. Meletakkan tangan yang basah tanpa menggerakkannya, sah wudhunya.   Kelima: membasuh kaki hingga mata kaki. Jika yang berwudhu memakai khuf, maka ia wajib mengusap khufnya atau mencuci kedua kakinya. Membasuh kedua kaki ini mencakup membasuh bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, sebagaimana penjelasan pada membasuh tangan.   Keenam: tertib (berurutan) Yang harus berurutan adalah pada fardhu wudhu. Jika lupa urutan, tidaklah cukup. Wudhu harus diulang sesuai urutan. Jika membasuh empat anggota wudhu sekaligus dengan izin orang yang berwudhu, maka dianggap baru membasuh wajah saja.   Ayat yang membicarakan tentang wudhu يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah: 6)   Catatan tambahan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syarat wudhu ada lima: Islam Tamyiz, wudhu orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidaklah sah karena niatnya tidak dianggap sah. Sucinya air, wudhu dengan air yang tidak thohur (suci dan menyucikan) tidaklah sah. Tidak ada penghalang hissi maupun syari. Penghalang hissi yaitu adanya kotoran yang menghalangi air terkena anggota wudhu. Penghalang syari yaitu haidh dan nifas. Masuknya waktu shalat untuk orang yang memiliki keadaan darurat yaitu pada daimul hadats yaitu wanita haidh dan orang yang keluar angin terus menerus. Letak niat adalah di hati, berdasarkan ijmak. Melafazkan niat di lisan tidaklah wajib berdasarkan ijmak. Namun, niat dengan hati saja tidak cukup. Batasan kepala dari sisi thulan (panjang): tumbuhnya rambut kepala dari batasan wajah hingga akhir tengkuk. Batasan kepala dari sisi ‘ardhan (lebar): antara dua shudghoin, batasan rambut yang merupakan tambahan ke kepala. Mash (mengusap) itu tidak mesti menyeluruh, sehingga mengusap sebagian kepala saja sudah sah. Karena mengusap seluruh kepala dan ada yang tidak terkena usapan, tetap sah.   سنن الوضوء: وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَّةُ وَغَسْلُ الكَفَّيْنِ قَبْلِ إِدْخِالِهِمَا الإِنَاءَ وَالمضْمَضَةُ والاِسْتِنْشَاقُ وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ وَمَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيْدٍ وَتَخْلِيْلُ اللِّحْيَةِ الكَثَّةِ وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ اليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَتَقْدِيْمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى وَالطَّهَارَةُ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَالموَلاَةُ.   Sunnah wudhu ada sepuluh: Mengucap basmalah. Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Mengusap seluruh kepala. Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Bersuci masing-masing tiga kali. Muwalah, tanpa ada jeda.   Faedah dari Fathul Qorib: Pertama: Mengucap basmalah Minimalnya adalah membaca BISMILLAH. Yang lebih sempurna adalah membaca BISMILLAHIRROHMAANIR-ROHIIM. Jika lupa membaca basmalah di awal, lalu ingat di tengah-tengah, maka membaca saat itu. Namun, jika wudhu telah selesai, tak perlu lagi membaca basmalah.   Kedua: Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Yaitu membasuh kedua tangan sampai kuu’aini (pergelangan tangan) sebelum memasukkan air ke mulut (madh-madhah). Membasuh tangan itu sebanyak tiga kali jika ragu akan sucinya sebelum tangan dimasukkan ke dalam wadah dan air tersebut kurang dari dua qullah. Jika tidak membasuh keduanya saat itu, berarti makruh mencelupkan tangan tersebut ke dalam wadah berisi air. Jika yakin kedua tangan dalam keadaan suci, maka tidak makruh mencelupkannya ke dalam wadah berisi air. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: “إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ ، ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ. وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَليُوْتِرْ. وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاَثًا؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam hidung lalu ia menghembuskan keluar. Siapa saja yang beristijmar (membersihkan kotoran saat buang hajat dengan menggunakan batu), hendaklah ia menggunakan batu berjumlah ganjil. Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia cuci tangannya sebelum ia celupkan ke dalam bejana, mencucinya sebanyak tiga kali dahulu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam semalam.” (HR. Bukhari, no. 162 dan Muslim, no. 278) Mencuci tangan itu alasannya karena ragu akan sucinya kedua tangan, bukan karena bangun dari tidur.   Ketiga: Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Setelah mencuci tangan, dilanjutkan dengan madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik air tersebut diputar di dalam mulutnya atau membuangnya ataukah tidak membuangnya. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan.   Keempat: Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Istinsyaq dilakukan setelah madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik dihirup dengan sendirinya hingga ke batang hidungnya dan mengeluarkannya (istintsar) ataukah tidak dikeluarkan. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan. Yang dianjurkan adalah mubaalaghoh (berlebihan) dalam madhmadhah dan istinsyaq. Yang lebih utama adalah menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq dengan tiga cidukan. Madhmadhah dilakukan sebagian dari tiap cidukan tadi, lalu dilanjutkan dengan istinsyaq. Menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq lebih utama daripada memisahnya. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Mubalaghah ketika madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut dan memutar-mutarnya di dalamnya. Mubalaghah ketika istinsyaq adalah memasukkan air hingga ke batang hidung.   Kelima: Mengusap seluruh kepala. Adapun mengusap sebagian kepala itu termasuk fardhu wudhu. Jika tidak ingin melepaskan sesuatu yang ada di atas kepalanya seperti surban dan lainnya, maka ia menyempurnakan usapannya dengan mengusap di atas surban. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Cara mengusap kepala yang sempurna adalah: Meletakkan tangan di bagian depan kepala, lalu menempelkan jari telunjuk dengan lainnya dan jari jempol pada shudghoin, kemudian mengusap hingga tengkuk, kemudian kembali mengusap lagi ke depan (tempat memulainya).   Keenam: Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Yaitu mengusapnya bukan dengan air yang basah dari kepala. Cara mengusap telinga adalah memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam dua lubang telinganya, memutar kedua telunjuknya di atas sela-sela dan menjalankan kedua jempolnya di atas bagian luar kedua telinganya, lalu menempelkan kedua telapak tangan dan kedua telapak tangannya yang basah pada kedua telinga untuk memperjelas. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan ulama membolehkan mengusap telinga dengan air dari mengusap kepala karena hal ini ada dalam praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedandainya kepala diusap dengan sebagian jari dan telinga dengan sebagian jari, maka dihukumi sah.   Ketujuh: Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Menyela-nyela jenggot laki-laki yang tebal itu hukumnya sunnah. Sedangkan menyela-nyela jenggot yang tipis, jenggot wanita, dan jenggot khuntsa dihukumi wajib. Cara menyela-nyela jenggot laki-laki adalah memasukkan jari dari bagian bawah jenggot. Jika air itu sampai pada cela jari tanpa menyela-nyelanya, maka sah. Jika air itu sampai pada jari yang harus dibelah (multaffah), maka wajib menyela-nyela jari tersebut. Namun, jika tidak mudah membelahnya, haram membelah jarinya untuk menyela-nyela. Cara menyela-nyela jari adalah dengan melakukan tasybik. Sedangkan cara menyela-nyela jari kaki adalah dengan memulai pada jari kelingking tangannya yang kiri dari ujung bawah kaki dimulai dari jari kelingking kaki yang kanan dan berakhir pada jari kelingking yang kiri. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada cincin, lalu air sampai pada kulit jari, maka sah. Jika air tidak sampai melainkan harus dengan memutar-mutar cincin, maka wajib dilakukan seperti itu.   Kedelapan: Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Ini berlaku pada tangan dan kaki. Adapun bagian anggota wudhu yang bisa dicuci berbarengan seperti kedua pipi, tidak perlu mendahulukan yang kanan dari yang kiri, keduanya disucikan sekaligus saja. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada yang memulai dari kiri lalu kanan, maka wudhunya sah. Karena penyebutan tangan atau kaki kanan dan kiri dalam Al-Qur’an dianggap satu.   Kesembilan: Bersuci masing-masing tiga kali. Ini berlaku bagi anggota tubuh yang dibasuh dan diusap. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan hadits menyebutkan membasuh tiga kali tiga kali. Boleh juga membasuh dua kali dua kali. Boleh juga membasuh hanya sekali. Boleh juga membasuh sebagian anggota wudhu tiga kali, yang lain dua kali, atau yang lain sekali. Boleh mengusap kepala tiga kali karena Utsman mencontohkan mengusap kepala itu tiga kali. Tidak disyariatkan membasuh lebih dari tiga kali.   Kesepuluh: Muwalah, tanpa ada jeda. Muwalah disebut juga dengan tataabu’ (berturut-turut), yaitu antara dua anggota tidak ada pemisah yang lama. Anggota wudhu yang satu dibasuh lalu yang lainnya lagi tidak sampai anggota wudhu sebelumnya itu kering dalam keadaan cuaca, pembawaan tubuh, dan waktu yang normal. Jika membasuh tiga kali, yang dijadikan patokan untuk muwalah adalah basuhan terakhir. Muwalah ini berlaku untuk orang yang tidak dalam keadaan darurat (daimul hadats). Orang yang dalam keadaan darurat (daimul hadats) diwajibkan muwalah.   Sunnah wudhu lainnya: Bersiwak Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuh. Membaca doa bakda wudhu. Adapun dzikir yang dibaca ketika membasuh setiap anggota wudhu tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengerjakan shalat dua rakaat bakda wudhu.   Doa bakda wudhu أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMMAJ’ALNII MINATTAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN. SUBHANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA, ASTAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK. Artinya: Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci. Mahasuci Engkau Ya Allah dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.   Dalil shalat sunnah wudhu Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   — Kamis sore, 18 Jumadal Ula 1443 H, 23 Desember 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu fardhu wudhu matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah rukun wudhu sunnah wudhu


Sekarang kita masuk bahasan rukun dan sunnah wudhu dari Matan Taqrib (Matan Abu Syuja).   الوضوء: فرائض الوضوء: وَفُرُوْضُ الوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ وَغَسْلُ الوَجْهِ وَغَسْلُ اليَدَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الكَعْبَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ. Rukun (fardhu) wudhu ada enam: Niat ketika membasuh muka. Membasuh muka. Membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap sebagian kepala. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Tertib (berurutan) sesuai dengan yang telah kami sebutkan.   Faedah dari Fathul Qorib: Al-wudhu menunjukkan perbuatan. Al-wadhu menunjukkan sesuatu yang digunakan untuk berwudhu.   Fardhu wudhu (rukun wudhu) Pertama: niat Niat adalah: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ “bermaksud mengerjakan sesuatu dibarengi dengan pekerjaannya.” Jika dilakukan sebelum pekerjaan disebut dengan ‘azam. Niat itu mesti ada ketika membasuh awal bagian dari wajah. Niat wudhu adalah: Niat menghilangkan hadats Niat istibahah (boleh) membutuhkan wudhu Niat fardhu wudhu Niat berwudhu Niat bersuci dari hadats (catatan: tidak cukup berniat bersuci saja). Jika niat di atas dibersamai dengan niat tanzhif (bersih-bersih) atau tabarrud (mendinginkan badan), wudhu tetap sah.   Kedua: membasuh muka. Yang dimaksud adalah membasuh seluruh wajah. Batasan wajah: Panjang (thuulan): antara tempat tumbuh rambut kepala (ghaliban, umumnya) dan ujung lahyayni (tulang tumbuh gigi bawah, mulai dari dagu hingga telinga). Lebar (‘ardhan): di antara kedua telinga. Jika di wajah ada rambut tipis atau tebal, air wajib sampai pada kulit di dasarnya. Adapun jenggot: yang tebal di mana ditandai dengan kulit yang tidak tampak dari sela-selanya saat berbicara, yang dicuci adalah bagian luar saja. yang tipis di mana ditandai dengan kulit yang tampak saat berbicara, air wajib mengenai kulit. Catatan: Jenggot pada wanita dan khuntsa (yang punya alat kemaluan ganda), air wajib mengenai kulit meskipun jenggot tersebut tebal. Ketika membasuh muka, wajib juga membasuh sebagian kepala, sebagian leher, dan sesuatu di bawah dagu.   Ketiga: membasuh kedua tangan sampai siku. Jika tidak memiliki siku, maka dikira-kira siku itu kadarnya sampai di mana. Termasuk yang dibasuh adalah bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, serta kuku. Kotoran yang mencegah masuknya air harus dihilangkan.   Keempat: mengusap sebagian kepala. Mengusap kepala ini berlaku bagi laki-laki, perempuan, atau khuntsa. Mengusap sebagian kepala ini bisa dengan mengusap sebagian rambut yang ada pada batasan kepala. Mengusap di sini bisa jadi tidak dengan tangan, bisa dengan kain. Membasuh kepala sebagai ganti dari mengusap, itu sah. Meletakkan tangan yang basah tanpa menggerakkannya, sah wudhunya.   Kelima: membasuh kaki hingga mata kaki. Jika yang berwudhu memakai khuf, maka ia wajib mengusap khufnya atau mencuci kedua kakinya. Membasuh kedua kaki ini mencakup membasuh bulu (rambut) hingga sil’atin (kelenjar atau beguk antara kulit dan daging), juga jari yang lebih, sebagaimana penjelasan pada membasuh tangan.   Keenam: tertib (berurutan) Yang harus berurutan adalah pada fardhu wudhu. Jika lupa urutan, tidaklah cukup. Wudhu harus diulang sesuai urutan. Jika membasuh empat anggota wudhu sekaligus dengan izin orang yang berwudhu, maka dianggap baru membasuh wajah saja.   Ayat yang membicarakan tentang wudhu يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah: 6)   Catatan tambahan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj. Syarat wudhu ada lima: Islam Tamyiz, wudhu orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz tidaklah sah karena niatnya tidak dianggap sah. Sucinya air, wudhu dengan air yang tidak thohur (suci dan menyucikan) tidaklah sah. Tidak ada penghalang hissi maupun syari. Penghalang hissi yaitu adanya kotoran yang menghalangi air terkena anggota wudhu. Penghalang syari yaitu haidh dan nifas. Masuknya waktu shalat untuk orang yang memiliki keadaan darurat yaitu pada daimul hadats yaitu wanita haidh dan orang yang keluar angin terus menerus. Letak niat adalah di hati, berdasarkan ijmak. Melafazkan niat di lisan tidaklah wajib berdasarkan ijmak. Namun, niat dengan hati saja tidak cukup. Batasan kepala dari sisi thulan (panjang): tumbuhnya rambut kepala dari batasan wajah hingga akhir tengkuk. Batasan kepala dari sisi ‘ardhan (lebar): antara dua shudghoin, batasan rambut yang merupakan tambahan ke kepala. Mash (mengusap) itu tidak mesti menyeluruh, sehingga mengusap sebagian kepala saja sudah sah. Karena mengusap seluruh kepala dan ada yang tidak terkena usapan, tetap sah.   سنن الوضوء: وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَّةُ وَغَسْلُ الكَفَّيْنِ قَبْلِ إِدْخِالِهِمَا الإِنَاءَ وَالمضْمَضَةُ والاِسْتِنْشَاقُ وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ وَمَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيْدٍ وَتَخْلِيْلُ اللِّحْيَةِ الكَثَّةِ وَتَخْلِيْلُ أَصَابِعِ اليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ وَتَقْدِيْمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى وَالطَّهَارَةُ ثَلاَثًا ثَلاَثًا وَالموَلاَةُ.   Sunnah wudhu ada sepuluh: Mengucap basmalah. Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Mengusap seluruh kepala. Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Bersuci masing-masing tiga kali. Muwalah, tanpa ada jeda.   Faedah dari Fathul Qorib: Pertama: Mengucap basmalah Minimalnya adalah membaca BISMILLAH. Yang lebih sempurna adalah membaca BISMILLAHIRROHMAANIR-ROHIIM. Jika lupa membaca basmalah di awal, lalu ingat di tengah-tengah, maka membaca saat itu. Namun, jika wudhu telah selesai, tak perlu lagi membaca basmalah.   Kedua: Mencuci kedua tangan sebelum memasukkan tangan tersebut ke dalam wadah. Yaitu membasuh kedua tangan sampai kuu’aini (pergelangan tangan) sebelum memasukkan air ke mulut (madh-madhah). Membasuh tangan itu sebanyak tiga kali jika ragu akan sucinya sebelum tangan dimasukkan ke dalam wadah dan air tersebut kurang dari dua qullah. Jika tidak membasuh keduanya saat itu, berarti makruh mencelupkan tangan tersebut ke dalam wadah berisi air. Jika yakin kedua tangan dalam keadaan suci, maka tidak makruh mencelupkannya ke dalam wadah berisi air. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: “إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ ، ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ. وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَليُوْتِرْ. وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاَثًا؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam hidung lalu ia menghembuskan keluar. Siapa saja yang beristijmar (membersihkan kotoran saat buang hajat dengan menggunakan batu), hendaklah ia menggunakan batu berjumlah ganjil. Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia cuci tangannya sebelum ia celupkan ke dalam bejana, mencucinya sebanyak tiga kali dahulu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam semalam.” (HR. Bukhari, no. 162 dan Muslim, no. 278) Mencuci tangan itu alasannya karena ragu akan sucinya kedua tangan, bukan karena bangun dari tidur.   Ketiga: Memasukkan air ke mulut (madhmadhah). Setelah mencuci tangan, dilanjutkan dengan madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik air tersebut diputar di dalam mulutnya atau membuangnya ataukah tidak membuangnya. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan.   Keempat: Memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaq). Istinsyaq dilakukan setelah madh-madhah. Asal sunnah sudah tercapai dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik dihirup dengan sendirinya hingga ke batang hidungnya dan mengeluarkannya (istintsar) ataukah tidak dikeluarkan. Jika mau yang lebih sempurna, air tersebut dikeluarkan. Yang dianjurkan adalah mubaalaghoh (berlebihan) dalam madhmadhah dan istinsyaq. Yang lebih utama adalah menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq dengan tiga cidukan. Madhmadhah dilakukan sebagian dari tiap cidukan tadi, lalu dilanjutkan dengan istinsyaq. Menggabungkan antara madhmadhah dan istinsyaq lebih utama daripada memisahnya. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Mubalaghah ketika madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut dan memutar-mutarnya di dalamnya. Mubalaghah ketika istinsyaq adalah memasukkan air hingga ke batang hidung.   Kelima: Mengusap seluruh kepala. Adapun mengusap sebagian kepala itu termasuk fardhu wudhu. Jika tidak ingin melepaskan sesuatu yang ada di atas kepalanya seperti surban dan lainnya, maka ia menyempurnakan usapannya dengan mengusap di atas surban. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Cara mengusap kepala yang sempurna adalah: Meletakkan tangan di bagian depan kepala, lalu menempelkan jari telunjuk dengan lainnya dan jari jempol pada shudghoin, kemudian mengusap hingga tengkuk, kemudian kembali mengusap lagi ke depan (tempat memulainya).   Keenam: Mengusap kedua telinga luar maupun bagian dalamnya dengan air yang baru. Yaitu mengusapnya bukan dengan air yang basah dari kepala. Cara mengusap telinga adalah memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam dua lubang telinganya, memutar kedua telunjuknya di atas sela-sela dan menjalankan kedua jempolnya di atas bagian luar kedua telinganya, lalu menempelkan kedua telapak tangan dan kedua telapak tangannya yang basah pada kedua telinga untuk memperjelas. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan ulama membolehkan mengusap telinga dengan air dari mengusap kepala karena hal ini ada dalam praktik wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedandainya kepala diusap dengan sebagian jari dan telinga dengan sebagian jari, maka dihukumi sah.   Ketujuh: Menyela-nyela jenggot yang tebal, serta menyela-nyela jari tangan dan kaki. Menyela-nyela jenggot laki-laki yang tebal itu hukumnya sunnah. Sedangkan menyela-nyela jenggot yang tipis, jenggot wanita, dan jenggot khuntsa dihukumi wajib. Cara menyela-nyela jenggot laki-laki adalah memasukkan jari dari bagian bawah jenggot. Jika air itu sampai pada cela jari tanpa menyela-nyelanya, maka sah. Jika air itu sampai pada jari yang harus dibelah (multaffah), maka wajib menyela-nyela jari tersebut. Namun, jika tidak mudah membelahnya, haram membelah jarinya untuk menyela-nyela. Cara menyela-nyela jari adalah dengan melakukan tasybik. Sedangkan cara menyela-nyela jari kaki adalah dengan memulai pada jari kelingking tangannya yang kiri dari ujung bawah kaki dimulai dari jari kelingking kaki yang kanan dan berakhir pada jari kelingking yang kiri. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada cincin, lalu air sampai pada kulit jari, maka sah. Jika air tidak sampai melainkan harus dengan memutar-mutar cincin, maka wajib dilakukan seperti itu.   Kedelapan: Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Ini berlaku pada tangan dan kaki. Adapun bagian anggota wudhu yang bisa dicuci berbarengan seperti kedua pipi, tidak perlu mendahulukan yang kanan dari yang kiri, keduanya disucikan sekaligus saja. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Jika ada yang memulai dari kiri lalu kanan, maka wudhunya sah. Karena penyebutan tangan atau kaki kanan dan kiri dalam Al-Qur’an dianggap satu.   Kesembilan: Bersuci masing-masing tiga kali. Ini berlaku bagi anggota tubuh yang dibasuh dan diusap. Catatan dari Tashil Al-Intifa’ bi Matn Abi Syuja’ wa Syai’ mimma Ta’allaqa bihi min Dalilin wa Ijma’ min Ath-Thaharah ila Al-Hajj: Kebanyakan hadits menyebutkan membasuh tiga kali tiga kali. Boleh juga membasuh dua kali dua kali. Boleh juga membasuh hanya sekali. Boleh juga membasuh sebagian anggota wudhu tiga kali, yang lain dua kali, atau yang lain sekali. Boleh mengusap kepala tiga kali karena Utsman mencontohkan mengusap kepala itu tiga kali. Tidak disyariatkan membasuh lebih dari tiga kali.   Kesepuluh: Muwalah, tanpa ada jeda. Muwalah disebut juga dengan tataabu’ (berturut-turut), yaitu antara dua anggota tidak ada pemisah yang lama. Anggota wudhu yang satu dibasuh lalu yang lainnya lagi tidak sampai anggota wudhu sebelumnya itu kering dalam keadaan cuaca, pembawaan tubuh, dan waktu yang normal. Jika membasuh tiga kali, yang dijadikan patokan untuk muwalah adalah basuhan terakhir. Muwalah ini berlaku untuk orang yang tidak dalam keadaan darurat (daimul hadats). Orang yang dalam keadaan darurat (daimul hadats) diwajibkan muwalah.   Sunnah wudhu lainnya: Bersiwak Menggosok-gosok anggota wudhu ketika membasuh. Membaca doa bakda wudhu. Adapun dzikir yang dibaca ketika membasuh setiap anggota wudhu tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengerjakan shalat dua rakaat bakda wudhu.   Doa bakda wudhu أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMMAJ’ALNII MINATTAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN. SUBHANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLA ANTA, ASTAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK. Artinya: Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci. Mahasuci Engkau Ya Allah dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.   Dalil shalat sunnah wudhu Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   — Kamis sore, 18 Jumadal Ula 1443 H, 23 Desember 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu fardhu wudhu matan abu syuja matan taqrib matan taqrib thaharah rukun wudhu sunnah wudhu

10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Rasa lapang dada adalah sebuah tujuan yang sangat besar dan mulia, yang mana setiap hamba pasti ingin memilikinya. Bagaimana tidak? Rasa lapang dada adalah salah satu sebab paling utama agar kita selalu mensyukuri semua yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Rasa lapang dada juga merupakan kunci utama agar selalu bersabar. Sabar merupakan pintu kesuksesan kita di kehidupan dunia ini.Jika Allah Ta’ala telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah Ta’ala telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.Adapun jika Allah Ta’ala menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.Makna lapang dadaSyekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah menyebutkan di dalam karyanya,“Maksud dari lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.”Maka bisa diambil kesimpulan bahwasannya lapang dada adalah sebab terbesar yang dapat menolong seorang hamba di dalam mencapai tujuan dan meraih semua keinginan. Maka ketika Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Musa ‘Alaihissalam untuk pergi menemui Fir’aun dalam rangka mendakwahi dan memberi peringatan kepadanya akan konsekuensi dari kecongkakannya, Nabi Musa ‘Alahissalam mengangkat wajahnya ke langit seraya berdoa,رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي“Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku” (QS. Thaha: 25).Dan Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?” (QS. Asy-Syarh: 1).Dari kedua ayat ini bisa kita ketahui bahwa hakikat lapang dada yang sebenarnya adalah yang bersumber dari Allah Ta’ala semata. Itu merupakan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, orang yang memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berpeluang besar mendapatkan hidayah.Sedangkan orang yang menyia-nyiakan nikmat lapang dada yang Allah Ta’ala berikan, maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam kesesatan. Sebagaimana lapangnya dada adalah kenikmatan yang paling utama, maka menyia-nyiakannya adalah seberat-beratnya ujian.Baca Juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiHal-hal yang harus diperhatikan untuk meraih rasa lapang dadaSyekh Abdurrazzaq Hafidzhohullah menjelaskan, “Tidaklah mungkin kita memperoleh kedudukan yang agung ini, kecuali dengan memperhatikan agama kita dengan sebenar-benarnya, serta menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali seorang hamba bersemangat istikamah menjalankan agama ini, serta berkomitmen dengan apa yang datang dengannya, maka ia layak mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan apa yang dia perbuat.”Oleh karena itu, seluruh sebab yang akan mengarahkan kita untuk mendapatkan kelapangan dada bermuara pada dua hal yang saling berkaitan, sebagai berikut:Pertama, lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah Ta’ala, dan pertolongan dari-Nya.Kedua, pemberian dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.Maka kedua hal ini merupakan intisari dari pembahasan lapang dada. Karena sejatinya hati kita berada di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Allah dapat membolak-balik hati kita sesuai kehendak-Nya. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ  ۖ  وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya hidayah, maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatan baginya, Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit ” (QS. Al-An’am: 125).Satu-satunya cara meraih kelapangan dada adalah dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita hanya meminta kepada-Nya dengan cara yang sesuai syariat dan wahyu dari-Nya. Hal yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk meraih kelapangan dada adalah dengan berdoa kepada Allah Ta’ala dan menyandarkan semua urusan hanya kepada-Nya. Kemudian diikuti dengan menjalankan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya untuk meraih tujuan mulia ini. Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah menyebutkan,أن حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر نعيما وعذابا، وسجنا وانطلاقا“Keadaan seorang hamba di alam kubur itu sebagaimana keadaan hati di dalam dada, baik itu merasakan kenikmatan atau kesengsaraan, rasa terkekang maupun kebebasan.”Barangsiapa yang dadanya terasa sempit dan sesak karena menjalankan agama ini, begitu pula-lah keadaan kuburnya; akan sempit dan sesak pula. Barangsiapa yang dadanya lapang serta menerima agama ini, maka Allah Ta’ala akan lapangkan kuburnya.Baca Juga: Mengobati KegalauanCiri-ciri hamba yang Allah Ta’ala lapangkan dadanyaKelapangan dada itu tanda-tandanya sangat jelas, serta nampak pada seorang mukmin dan itu terangkum pada tiga hal.Pertama, menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian.Kedua, menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini.Ketiga, menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya.Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,… كما في الأثر المشهور: إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح، قيل : ومت علامة ذلك ؟ قال: التجافي عن دار الغرور، والإنابة إلى دار الخلود، والإستعداد للموت قبل نزوله“Disebutkan di dalam sebuah atsar yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.'”Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dadaPertama, mengesakan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.Kedua, cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan ke dalam hati hamba-Nya.Ketiga, menuntut ilmu yang bermanfaat.Keempat, kembali kepada Allah Ta’ala dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi.Kelima, konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah Ta’ala).Keenam, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah Ta’ala.Ketujuh, keberanian dan kuatnya hati.Kedelapan, menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya.Kesembilan, meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan.Kesepuluh, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya.Baca Juga:[Bersambung]***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Daftar Pustaka:Bersumber dari Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Imam Muslim, Brosur Kajian Islam, Kultum Wanita, Keutamaan Sholat Wajib, Riwayat Panas Api Neraka

10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 1)

Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Rasa lapang dada adalah sebuah tujuan yang sangat besar dan mulia, yang mana setiap hamba pasti ingin memilikinya. Bagaimana tidak? Rasa lapang dada adalah salah satu sebab paling utama agar kita selalu mensyukuri semua yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Rasa lapang dada juga merupakan kunci utama agar selalu bersabar. Sabar merupakan pintu kesuksesan kita di kehidupan dunia ini.Jika Allah Ta’ala telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah Ta’ala telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.Adapun jika Allah Ta’ala menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.Makna lapang dadaSyekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah menyebutkan di dalam karyanya,“Maksud dari lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.”Maka bisa diambil kesimpulan bahwasannya lapang dada adalah sebab terbesar yang dapat menolong seorang hamba di dalam mencapai tujuan dan meraih semua keinginan. Maka ketika Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Musa ‘Alaihissalam untuk pergi menemui Fir’aun dalam rangka mendakwahi dan memberi peringatan kepadanya akan konsekuensi dari kecongkakannya, Nabi Musa ‘Alahissalam mengangkat wajahnya ke langit seraya berdoa,رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي“Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku” (QS. Thaha: 25).Dan Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?” (QS. Asy-Syarh: 1).Dari kedua ayat ini bisa kita ketahui bahwa hakikat lapang dada yang sebenarnya adalah yang bersumber dari Allah Ta’ala semata. Itu merupakan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, orang yang memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berpeluang besar mendapatkan hidayah.Sedangkan orang yang menyia-nyiakan nikmat lapang dada yang Allah Ta’ala berikan, maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam kesesatan. Sebagaimana lapangnya dada adalah kenikmatan yang paling utama, maka menyia-nyiakannya adalah seberat-beratnya ujian.Baca Juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiHal-hal yang harus diperhatikan untuk meraih rasa lapang dadaSyekh Abdurrazzaq Hafidzhohullah menjelaskan, “Tidaklah mungkin kita memperoleh kedudukan yang agung ini, kecuali dengan memperhatikan agama kita dengan sebenar-benarnya, serta menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali seorang hamba bersemangat istikamah menjalankan agama ini, serta berkomitmen dengan apa yang datang dengannya, maka ia layak mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan apa yang dia perbuat.”Oleh karena itu, seluruh sebab yang akan mengarahkan kita untuk mendapatkan kelapangan dada bermuara pada dua hal yang saling berkaitan, sebagai berikut:Pertama, lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah Ta’ala, dan pertolongan dari-Nya.Kedua, pemberian dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.Maka kedua hal ini merupakan intisari dari pembahasan lapang dada. Karena sejatinya hati kita berada di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Allah dapat membolak-balik hati kita sesuai kehendak-Nya. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ  ۖ  وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya hidayah, maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatan baginya, Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit ” (QS. Al-An’am: 125).Satu-satunya cara meraih kelapangan dada adalah dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita hanya meminta kepada-Nya dengan cara yang sesuai syariat dan wahyu dari-Nya. Hal yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk meraih kelapangan dada adalah dengan berdoa kepada Allah Ta’ala dan menyandarkan semua urusan hanya kepada-Nya. Kemudian diikuti dengan menjalankan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya untuk meraih tujuan mulia ini. Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah menyebutkan,أن حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر نعيما وعذابا، وسجنا وانطلاقا“Keadaan seorang hamba di alam kubur itu sebagaimana keadaan hati di dalam dada, baik itu merasakan kenikmatan atau kesengsaraan, rasa terkekang maupun kebebasan.”Barangsiapa yang dadanya terasa sempit dan sesak karena menjalankan agama ini, begitu pula-lah keadaan kuburnya; akan sempit dan sesak pula. Barangsiapa yang dadanya lapang serta menerima agama ini, maka Allah Ta’ala akan lapangkan kuburnya.Baca Juga: Mengobati KegalauanCiri-ciri hamba yang Allah Ta’ala lapangkan dadanyaKelapangan dada itu tanda-tandanya sangat jelas, serta nampak pada seorang mukmin dan itu terangkum pada tiga hal.Pertama, menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian.Kedua, menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini.Ketiga, menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya.Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,… كما في الأثر المشهور: إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح، قيل : ومت علامة ذلك ؟ قال: التجافي عن دار الغرور، والإنابة إلى دار الخلود، والإستعداد للموت قبل نزوله“Disebutkan di dalam sebuah atsar yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.'”Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dadaPertama, mengesakan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.Kedua, cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan ke dalam hati hamba-Nya.Ketiga, menuntut ilmu yang bermanfaat.Keempat, kembali kepada Allah Ta’ala dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi.Kelima, konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah Ta’ala).Keenam, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah Ta’ala.Ketujuh, keberanian dan kuatnya hati.Kedelapan, menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya.Kesembilan, meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan.Kesepuluh, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya.Baca Juga:[Bersambung]***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Daftar Pustaka:Bersumber dari Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Imam Muslim, Brosur Kajian Islam, Kultum Wanita, Keutamaan Sholat Wajib, Riwayat Panas Api Neraka
Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Rasa lapang dada adalah sebuah tujuan yang sangat besar dan mulia, yang mana setiap hamba pasti ingin memilikinya. Bagaimana tidak? Rasa lapang dada adalah salah satu sebab paling utama agar kita selalu mensyukuri semua yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Rasa lapang dada juga merupakan kunci utama agar selalu bersabar. Sabar merupakan pintu kesuksesan kita di kehidupan dunia ini.Jika Allah Ta’ala telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah Ta’ala telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.Adapun jika Allah Ta’ala menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.Makna lapang dadaSyekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah menyebutkan di dalam karyanya,“Maksud dari lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.”Maka bisa diambil kesimpulan bahwasannya lapang dada adalah sebab terbesar yang dapat menolong seorang hamba di dalam mencapai tujuan dan meraih semua keinginan. Maka ketika Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Musa ‘Alaihissalam untuk pergi menemui Fir’aun dalam rangka mendakwahi dan memberi peringatan kepadanya akan konsekuensi dari kecongkakannya, Nabi Musa ‘Alahissalam mengangkat wajahnya ke langit seraya berdoa,رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي“Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku” (QS. Thaha: 25).Dan Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?” (QS. Asy-Syarh: 1).Dari kedua ayat ini bisa kita ketahui bahwa hakikat lapang dada yang sebenarnya adalah yang bersumber dari Allah Ta’ala semata. Itu merupakan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, orang yang memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berpeluang besar mendapatkan hidayah.Sedangkan orang yang menyia-nyiakan nikmat lapang dada yang Allah Ta’ala berikan, maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam kesesatan. Sebagaimana lapangnya dada adalah kenikmatan yang paling utama, maka menyia-nyiakannya adalah seberat-beratnya ujian.Baca Juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiHal-hal yang harus diperhatikan untuk meraih rasa lapang dadaSyekh Abdurrazzaq Hafidzhohullah menjelaskan, “Tidaklah mungkin kita memperoleh kedudukan yang agung ini, kecuali dengan memperhatikan agama kita dengan sebenar-benarnya, serta menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali seorang hamba bersemangat istikamah menjalankan agama ini, serta berkomitmen dengan apa yang datang dengannya, maka ia layak mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan apa yang dia perbuat.”Oleh karena itu, seluruh sebab yang akan mengarahkan kita untuk mendapatkan kelapangan dada bermuara pada dua hal yang saling berkaitan, sebagai berikut:Pertama, lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah Ta’ala, dan pertolongan dari-Nya.Kedua, pemberian dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.Maka kedua hal ini merupakan intisari dari pembahasan lapang dada. Karena sejatinya hati kita berada di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Allah dapat membolak-balik hati kita sesuai kehendak-Nya. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ  ۖ  وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya hidayah, maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatan baginya, Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit ” (QS. Al-An’am: 125).Satu-satunya cara meraih kelapangan dada adalah dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita hanya meminta kepada-Nya dengan cara yang sesuai syariat dan wahyu dari-Nya. Hal yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk meraih kelapangan dada adalah dengan berdoa kepada Allah Ta’ala dan menyandarkan semua urusan hanya kepada-Nya. Kemudian diikuti dengan menjalankan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya untuk meraih tujuan mulia ini. Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah menyebutkan,أن حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر نعيما وعذابا، وسجنا وانطلاقا“Keadaan seorang hamba di alam kubur itu sebagaimana keadaan hati di dalam dada, baik itu merasakan kenikmatan atau kesengsaraan, rasa terkekang maupun kebebasan.”Barangsiapa yang dadanya terasa sempit dan sesak karena menjalankan agama ini, begitu pula-lah keadaan kuburnya; akan sempit dan sesak pula. Barangsiapa yang dadanya lapang serta menerima agama ini, maka Allah Ta’ala akan lapangkan kuburnya.Baca Juga: Mengobati KegalauanCiri-ciri hamba yang Allah Ta’ala lapangkan dadanyaKelapangan dada itu tanda-tandanya sangat jelas, serta nampak pada seorang mukmin dan itu terangkum pada tiga hal.Pertama, menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian.Kedua, menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini.Ketiga, menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya.Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,… كما في الأثر المشهور: إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح، قيل : ومت علامة ذلك ؟ قال: التجافي عن دار الغرور، والإنابة إلى دار الخلود، والإستعداد للموت قبل نزوله“Disebutkan di dalam sebuah atsar yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.'”Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dadaPertama, mengesakan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.Kedua, cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan ke dalam hati hamba-Nya.Ketiga, menuntut ilmu yang bermanfaat.Keempat, kembali kepada Allah Ta’ala dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi.Kelima, konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah Ta’ala).Keenam, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah Ta’ala.Ketujuh, keberanian dan kuatnya hati.Kedelapan, menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya.Kesembilan, meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan.Kesepuluh, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya.Baca Juga:[Bersambung]***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Daftar Pustaka:Bersumber dari Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Imam Muslim, Brosur Kajian Islam, Kultum Wanita, Keutamaan Sholat Wajib, Riwayat Panas Api Neraka


Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Rasa lapang dada adalah sebuah tujuan yang sangat besar dan mulia, yang mana setiap hamba pasti ingin memilikinya. Bagaimana tidak? Rasa lapang dada adalah salah satu sebab paling utama agar kita selalu mensyukuri semua yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Rasa lapang dada juga merupakan kunci utama agar selalu bersabar. Sabar merupakan pintu kesuksesan kita di kehidupan dunia ini.Jika Allah Ta’ala telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah Ta’ala telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.Adapun jika Allah Ta’ala menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.Makna lapang dadaSyekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah menyebutkan di dalam karyanya,“Maksud dari lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.”Maka bisa diambil kesimpulan bahwasannya lapang dada adalah sebab terbesar yang dapat menolong seorang hamba di dalam mencapai tujuan dan meraih semua keinginan. Maka ketika Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Musa ‘Alaihissalam untuk pergi menemui Fir’aun dalam rangka mendakwahi dan memberi peringatan kepadanya akan konsekuensi dari kecongkakannya, Nabi Musa ‘Alahissalam mengangkat wajahnya ke langit seraya berdoa,رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي“Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku” (QS. Thaha: 25).Dan Allah Ta’ala juga berfirman,أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?” (QS. Asy-Syarh: 1).Dari kedua ayat ini bisa kita ketahui bahwa hakikat lapang dada yang sebenarnya adalah yang bersumber dari Allah Ta’ala semata. Itu merupakan karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, orang yang memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berpeluang besar mendapatkan hidayah.Sedangkan orang yang menyia-nyiakan nikmat lapang dada yang Allah Ta’ala berikan, maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam kesesatan. Sebagaimana lapangnya dada adalah kenikmatan yang paling utama, maka menyia-nyiakannya adalah seberat-beratnya ujian.Baca Juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan DepresiHal-hal yang harus diperhatikan untuk meraih rasa lapang dadaSyekh Abdurrazzaq Hafidzhohullah menjelaskan, “Tidaklah mungkin kita memperoleh kedudukan yang agung ini, kecuali dengan memperhatikan agama kita dengan sebenar-benarnya, serta menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali seorang hamba bersemangat istikamah menjalankan agama ini, serta berkomitmen dengan apa yang datang dengannya, maka ia layak mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan apa yang dia perbuat.”Oleh karena itu, seluruh sebab yang akan mengarahkan kita untuk mendapatkan kelapangan dada bermuara pada dua hal yang saling berkaitan, sebagai berikut:Pertama, lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah Ta’ala, dan pertolongan dari-Nya.Kedua, pemberian dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.Maka kedua hal ini merupakan intisari dari pembahasan lapang dada. Karena sejatinya hati kita berada di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Allah dapat membolak-balik hati kita sesuai kehendak-Nya. Apa yang Allah Ta’ala kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Allah Ta’ala kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ  ۖ  وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya hidayah, maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatan baginya, Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit ” (QS. Al-An’am: 125).Satu-satunya cara meraih kelapangan dada adalah dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita hanya meminta kepada-Nya dengan cara yang sesuai syariat dan wahyu dari-Nya. Hal yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk meraih kelapangan dada adalah dengan berdoa kepada Allah Ta’ala dan menyandarkan semua urusan hanya kepada-Nya. Kemudian diikuti dengan menjalankan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya untuk meraih tujuan mulia ini. Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah menyebutkan,أن حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر نعيما وعذابا، وسجنا وانطلاقا“Keadaan seorang hamba di alam kubur itu sebagaimana keadaan hati di dalam dada, baik itu merasakan kenikmatan atau kesengsaraan, rasa terkekang maupun kebebasan.”Barangsiapa yang dadanya terasa sempit dan sesak karena menjalankan agama ini, begitu pula-lah keadaan kuburnya; akan sempit dan sesak pula. Barangsiapa yang dadanya lapang serta menerima agama ini, maka Allah Ta’ala akan lapangkan kuburnya.Baca Juga: Mengobati KegalauanCiri-ciri hamba yang Allah Ta’ala lapangkan dadanyaKelapangan dada itu tanda-tandanya sangat jelas, serta nampak pada seorang mukmin dan itu terangkum pada tiga hal.Pertama, menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian.Kedua, menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini.Ketiga, menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya.Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,… كما في الأثر المشهور: إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح، قيل : ومت علامة ذلك ؟ قال: التجافي عن دار الغرور، والإنابة إلى دار الخلود، والإستعداد للموت قبل نزوله“Disebutkan di dalam sebuah atsar yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.'”Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dadaPertama, mengesakan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.Kedua, cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan ke dalam hati hamba-Nya.Ketiga, menuntut ilmu yang bermanfaat.Keempat, kembali kepada Allah Ta’ala dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi.Kelima, konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah Ta’ala).Keenam, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah Ta’ala.Ketujuh, keberanian dan kuatnya hati.Kedelapan, menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya.Kesembilan, meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan.Kesepuluh, mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya.Baca Juga:[Bersambung]***Penulis: Muhammad IdrisArtikel: Muslim.or.id Daftar Pustaka:Bersumber dari Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Imam Muslim, Brosur Kajian Islam, Kultum Wanita, Keutamaan Sholat Wajib, Riwayat Panas Api Neraka

Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan Tauhid

Cukup banyak kaum muslimin yang bertanya buku-buku apa yang perlu dipelajari untuk memahami dasar-dasar tauhid dan aqidah. Alhamdulillah, dakwah tauhid dan aqidah mulai gencar dan banyak kaum muslimin yang mulai menerimanya karena memang dakwah tauhid dan aqidah yang lurus itu sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia.Ada beberapa buku-buku dasar tentang tauhid dan aqidah yang cocok bagi pemula. Berikut kami sebutkan beberapa buku dasar tauhid dan aqidah. Buku-buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Perlu kami tekankan bahwa buku-buku yang kami sebutkan, ini bukanlah pembatasan, masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik, tetapi belum kami sebutkan.Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaBerikut buku-buku tersebut: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal. Syarhu As-Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahariy  Al Waajibaat karya Syaikh Abdullah Al-Qar’awiy  Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ath-Thahawi Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat  karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Ushul As-Sittah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Sekali lagi masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik dan lebih berkualitas. Kelebihan buku-buku yang kami sebutkan ini adalah buku yang ringkas, to the point, yang tidak berpanjang lebar sehingga cocok bagi pemula.Hendaknya kita bersemangat mempelajari agama ini dari dasarnya dan pelajaran dasar dari agama ini adalah tauhid dan aqidah. Dengan mempelajari dasar ilmu kita akan mudah mempelajari ilmu selanjutnya dan lebih kokoh. Sebagaimana ungkapan dari ulama, من حرم الأصول حرم الوصول“Barangsiapa yang tidak menguasai hal-hal dasar, maka ia tidak akan bisa mencapai (pemahaman yang benar dan utuh)”Ketika kita akan belajar dan mengajarkan, hendaknya kita memulai dari dasar, inilah yang disebut dengan “rabbaniy”.Allah Ta’ala berfirman,ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﺭَﺑَّﺎﻧِﻴِّﻴﻦَ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻌَﻠِّﻤُﻮﻥَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺪْﺭُﺳُﻮﻥ“… Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Al-Imran : 79)Syaikh As-Sa’diy menjelaskan makna Rabbaniy,علماء حكماء حلماء معلمين للناس ومربيهم، بصغار العلم قبل كباره، عاملين بذلك“Ulama, hakim, orang yang sabar/lembut yang mengajarkan dan membimbing manusia dengan ilmu-ilmu dasar dahulu sebelum ilmu-ilmu lanjutan (advanced)” (Lihat Tafsir As-Sa’diy)Semoga kita dimudahkan mempelajari dasar-dasar ilmu agama yaitu tauhid dan aqidah yang benar.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rapatkan Shaf, Pakaian Dalam Islam, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Suami Istri Sholat Berjamaah, Youtube Kajian Islam

Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan Tauhid

Cukup banyak kaum muslimin yang bertanya buku-buku apa yang perlu dipelajari untuk memahami dasar-dasar tauhid dan aqidah. Alhamdulillah, dakwah tauhid dan aqidah mulai gencar dan banyak kaum muslimin yang mulai menerimanya karena memang dakwah tauhid dan aqidah yang lurus itu sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia.Ada beberapa buku-buku dasar tentang tauhid dan aqidah yang cocok bagi pemula. Berikut kami sebutkan beberapa buku dasar tauhid dan aqidah. Buku-buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Perlu kami tekankan bahwa buku-buku yang kami sebutkan, ini bukanlah pembatasan, masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik, tetapi belum kami sebutkan.Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaBerikut buku-buku tersebut: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal. Syarhu As-Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahariy  Al Waajibaat karya Syaikh Abdullah Al-Qar’awiy  Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ath-Thahawi Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat  karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Ushul As-Sittah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Sekali lagi masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik dan lebih berkualitas. Kelebihan buku-buku yang kami sebutkan ini adalah buku yang ringkas, to the point, yang tidak berpanjang lebar sehingga cocok bagi pemula.Hendaknya kita bersemangat mempelajari agama ini dari dasarnya dan pelajaran dasar dari agama ini adalah tauhid dan aqidah. Dengan mempelajari dasar ilmu kita akan mudah mempelajari ilmu selanjutnya dan lebih kokoh. Sebagaimana ungkapan dari ulama, من حرم الأصول حرم الوصول“Barangsiapa yang tidak menguasai hal-hal dasar, maka ia tidak akan bisa mencapai (pemahaman yang benar dan utuh)”Ketika kita akan belajar dan mengajarkan, hendaknya kita memulai dari dasar, inilah yang disebut dengan “rabbaniy”.Allah Ta’ala berfirman,ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﺭَﺑَّﺎﻧِﻴِّﻴﻦَ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻌَﻠِّﻤُﻮﻥَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺪْﺭُﺳُﻮﻥ“… Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Al-Imran : 79)Syaikh As-Sa’diy menjelaskan makna Rabbaniy,علماء حكماء حلماء معلمين للناس ومربيهم، بصغار العلم قبل كباره، عاملين بذلك“Ulama, hakim, orang yang sabar/lembut yang mengajarkan dan membimbing manusia dengan ilmu-ilmu dasar dahulu sebelum ilmu-ilmu lanjutan (advanced)” (Lihat Tafsir As-Sa’diy)Semoga kita dimudahkan mempelajari dasar-dasar ilmu agama yaitu tauhid dan aqidah yang benar.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rapatkan Shaf, Pakaian Dalam Islam, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Suami Istri Sholat Berjamaah, Youtube Kajian Islam
Cukup banyak kaum muslimin yang bertanya buku-buku apa yang perlu dipelajari untuk memahami dasar-dasar tauhid dan aqidah. Alhamdulillah, dakwah tauhid dan aqidah mulai gencar dan banyak kaum muslimin yang mulai menerimanya karena memang dakwah tauhid dan aqidah yang lurus itu sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia.Ada beberapa buku-buku dasar tentang tauhid dan aqidah yang cocok bagi pemula. Berikut kami sebutkan beberapa buku dasar tauhid dan aqidah. Buku-buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Perlu kami tekankan bahwa buku-buku yang kami sebutkan, ini bukanlah pembatasan, masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik, tetapi belum kami sebutkan.Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaBerikut buku-buku tersebut: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal. Syarhu As-Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahariy  Al Waajibaat karya Syaikh Abdullah Al-Qar’awiy  Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ath-Thahawi Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat  karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Ushul As-Sittah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Sekali lagi masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik dan lebih berkualitas. Kelebihan buku-buku yang kami sebutkan ini adalah buku yang ringkas, to the point, yang tidak berpanjang lebar sehingga cocok bagi pemula.Hendaknya kita bersemangat mempelajari agama ini dari dasarnya dan pelajaran dasar dari agama ini adalah tauhid dan aqidah. Dengan mempelajari dasar ilmu kita akan mudah mempelajari ilmu selanjutnya dan lebih kokoh. Sebagaimana ungkapan dari ulama, من حرم الأصول حرم الوصول“Barangsiapa yang tidak menguasai hal-hal dasar, maka ia tidak akan bisa mencapai (pemahaman yang benar dan utuh)”Ketika kita akan belajar dan mengajarkan, hendaknya kita memulai dari dasar, inilah yang disebut dengan “rabbaniy”.Allah Ta’ala berfirman,ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﺭَﺑَّﺎﻧِﻴِّﻴﻦَ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻌَﻠِّﻤُﻮﻥَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺪْﺭُﺳُﻮﻥ“… Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Al-Imran : 79)Syaikh As-Sa’diy menjelaskan makna Rabbaniy,علماء حكماء حلماء معلمين للناس ومربيهم، بصغار العلم قبل كباره، عاملين بذلك“Ulama, hakim, orang yang sabar/lembut yang mengajarkan dan membimbing manusia dengan ilmu-ilmu dasar dahulu sebelum ilmu-ilmu lanjutan (advanced)” (Lihat Tafsir As-Sa’diy)Semoga kita dimudahkan mempelajari dasar-dasar ilmu agama yaitu tauhid dan aqidah yang benar.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rapatkan Shaf, Pakaian Dalam Islam, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Suami Istri Sholat Berjamaah, Youtube Kajian Islam


Cukup banyak kaum muslimin yang bertanya buku-buku apa yang perlu dipelajari untuk memahami dasar-dasar tauhid dan aqidah. Alhamdulillah, dakwah tauhid dan aqidah mulai gencar dan banyak kaum muslimin yang mulai menerimanya karena memang dakwah tauhid dan aqidah yang lurus itu sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia.Ada beberapa buku-buku dasar tentang tauhid dan aqidah yang cocok bagi pemula. Berikut kami sebutkan beberapa buku dasar tauhid dan aqidah. Buku-buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Perlu kami tekankan bahwa buku-buku yang kami sebutkan, ini bukanlah pembatasan, masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik, tetapi belum kami sebutkan.Baca Juga: Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid SepenuhnyaBerikut buku-buku tersebut: Tsalatsah Al-Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Qawa’id Al-Arba’ (Empat Kaedah Memahami Tauhid dan Syirik) karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah. Ushul As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal. Syarhu As-Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahariy  Al Waajibaat karya Syaikh Abdullah Al-Qar’awiy  Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ath-Thahawi Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Kasyfu Asy-Syubuhaat  karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Ushul As-Sittah karya Syaikh Muhammad At-Tamimi. Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan. Sekali lagi masih banyak buku-buku lainnya yang lebih baik dan lebih berkualitas. Kelebihan buku-buku yang kami sebutkan ini adalah buku yang ringkas, to the point, yang tidak berpanjang lebar sehingga cocok bagi pemula.Hendaknya kita bersemangat mempelajari agama ini dari dasarnya dan pelajaran dasar dari agama ini adalah tauhid dan aqidah. Dengan mempelajari dasar ilmu kita akan mudah mempelajari ilmu selanjutnya dan lebih kokoh. Sebagaimana ungkapan dari ulama, من حرم الأصول حرم الوصول“Barangsiapa yang tidak menguasai hal-hal dasar, maka ia tidak akan bisa mencapai (pemahaman yang benar dan utuh)”Ketika kita akan belajar dan mengajarkan, hendaknya kita memulai dari dasar, inilah yang disebut dengan “rabbaniy”.Allah Ta’ala berfirman,ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﺭَﺑَّﺎﻧِﻴِّﻴﻦَ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻌَﻠِّﻤُﻮﻥَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺪْﺭُﺳُﻮﻥ“… Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Al-Imran : 79)Syaikh As-Sa’diy menjelaskan makna Rabbaniy,علماء حكماء حلماء معلمين للناس ومربيهم، بصغار العلم قبل كباره، عاملين بذلك“Ulama, hakim, orang yang sabar/lembut yang mengajarkan dan membimbing manusia dengan ilmu-ilmu dasar dahulu sebelum ilmu-ilmu lanjutan (advanced)” (Lihat Tafsir As-Sa’diy)Semoga kita dimudahkan mempelajari dasar-dasar ilmu agama yaitu tauhid dan aqidah yang benar.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Rapatkan Shaf, Pakaian Dalam Islam, Arti Islam Rahmatan Lil Alamin, Suami Istri Sholat Berjamaah, Youtube Kajian Islam

Pendaftaran Santri Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi

Kamu Masih Bisa Daftar…Bismillah.Buat teman-teman mahasiswa pecinta al-Qur’an yang berdomisili di Yogyakarta. Kini telah hadir program Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi. Program menghafal al-Qur’an khusus untuk mahasiswa. Full beasiswa. Gratis tempat tinggal, biaya pendidikan dan kebutuhan makan sehari-hari.Tempatnya di Dipowinatan MG 1 no 270 Keparakan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Daya tampungnya bisa untuk 8 santri. Ini khusus untuk putra/ikhwan nggih. Syaratnya apa? Muslim, mahasiswa S-1 max semester 4, bisa membaca al-Qur’an, belum menikah, diizinkan oleh orang tua/wali. Batas akhir pendaftaran diperpanjang sampai 5 Januari 2022.Pengumuman hasil seleksi tanggal 7 Januari 2022 dan wawancara pada tanggal 8 Januari 2022. Daurah pembukaan insya Allah pada hari Ahad, 9 Januari 2022 (jadwal lebih rinci menyusul). Oiya, selain menghafal al-Qur’an juga ada suplemen kajian diniyah yaitu aqidah, fikih dan tazkiyatun nufus. Selain itu juga ada program dakwah masyarakat seperti membantu kegiatan TPA, menjadi imam, bakti sosial, dsb. Ada juga daurah ilmiah pada waktu liburan atau di akhir pekan.Tenaga pengajar bersanad. Penasihat program antara lain : Ust. Arif Syarifuddin, Lc., Ust. Afifi Abdul Wadud, B.A., Ust. Dokter Agung Panji Widiyanto hafizhahumullah. Tenaga pengajar materi diniyah antara lain : Ust. Dr. Aris Munandar, S.S. M.PI, Ust. Faharudin, S.Pd.I dll. hafizhahumullah. Ini kesempatan buat kamu belajar agama di luar waktu-waktu kuliah. Jarang lho program semacam ini… Apalagi gratis… Benar-benar nikmat besar yang harus kita syukuri!Yuk, buat kamu yang pingin menggembleng diri untuk menjadi lebih baik. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pingin tahu apa saja syarat dan berkas yang harus dipenuhi untuk mendaftar Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi?Silahkan hubungi panitia penerimaan di nomor : 0819 9555 5431 (mas Rama).Semoga Allah beri kemudahan bagi kita dalam menempuh jalan ilmu dan menebar manfaat bagi umat.Penyelenggara : – Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari – Yayasan Pengeran Diponegoro🔍 Tauhid Adalah, Bacaan Isti'adzah, Tulisan Ya Allah, Said Aqil Siradj Muda, Peristiwa Yang Menggambarkan Takdir Allah

Pendaftaran Santri Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi

Kamu Masih Bisa Daftar…Bismillah.Buat teman-teman mahasiswa pecinta al-Qur’an yang berdomisili di Yogyakarta. Kini telah hadir program Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi. Program menghafal al-Qur’an khusus untuk mahasiswa. Full beasiswa. Gratis tempat tinggal, biaya pendidikan dan kebutuhan makan sehari-hari.Tempatnya di Dipowinatan MG 1 no 270 Keparakan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Daya tampungnya bisa untuk 8 santri. Ini khusus untuk putra/ikhwan nggih. Syaratnya apa? Muslim, mahasiswa S-1 max semester 4, bisa membaca al-Qur’an, belum menikah, diizinkan oleh orang tua/wali. Batas akhir pendaftaran diperpanjang sampai 5 Januari 2022.Pengumuman hasil seleksi tanggal 7 Januari 2022 dan wawancara pada tanggal 8 Januari 2022. Daurah pembukaan insya Allah pada hari Ahad, 9 Januari 2022 (jadwal lebih rinci menyusul). Oiya, selain menghafal al-Qur’an juga ada suplemen kajian diniyah yaitu aqidah, fikih dan tazkiyatun nufus. Selain itu juga ada program dakwah masyarakat seperti membantu kegiatan TPA, menjadi imam, bakti sosial, dsb. Ada juga daurah ilmiah pada waktu liburan atau di akhir pekan.Tenaga pengajar bersanad. Penasihat program antara lain : Ust. Arif Syarifuddin, Lc., Ust. Afifi Abdul Wadud, B.A., Ust. Dokter Agung Panji Widiyanto hafizhahumullah. Tenaga pengajar materi diniyah antara lain : Ust. Dr. Aris Munandar, S.S. M.PI, Ust. Faharudin, S.Pd.I dll. hafizhahumullah. Ini kesempatan buat kamu belajar agama di luar waktu-waktu kuliah. Jarang lho program semacam ini… Apalagi gratis… Benar-benar nikmat besar yang harus kita syukuri!Yuk, buat kamu yang pingin menggembleng diri untuk menjadi lebih baik. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pingin tahu apa saja syarat dan berkas yang harus dipenuhi untuk mendaftar Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi?Silahkan hubungi panitia penerimaan di nomor : 0819 9555 5431 (mas Rama).Semoga Allah beri kemudahan bagi kita dalam menempuh jalan ilmu dan menebar manfaat bagi umat.Penyelenggara : – Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari – Yayasan Pengeran Diponegoro🔍 Tauhid Adalah, Bacaan Isti'adzah, Tulisan Ya Allah, Said Aqil Siradj Muda, Peristiwa Yang Menggambarkan Takdir Allah
Kamu Masih Bisa Daftar…Bismillah.Buat teman-teman mahasiswa pecinta al-Qur’an yang berdomisili di Yogyakarta. Kini telah hadir program Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi. Program menghafal al-Qur’an khusus untuk mahasiswa. Full beasiswa. Gratis tempat tinggal, biaya pendidikan dan kebutuhan makan sehari-hari.Tempatnya di Dipowinatan MG 1 no 270 Keparakan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Daya tampungnya bisa untuk 8 santri. Ini khusus untuk putra/ikhwan nggih. Syaratnya apa? Muslim, mahasiswa S-1 max semester 4, bisa membaca al-Qur’an, belum menikah, diizinkan oleh orang tua/wali. Batas akhir pendaftaran diperpanjang sampai 5 Januari 2022.Pengumuman hasil seleksi tanggal 7 Januari 2022 dan wawancara pada tanggal 8 Januari 2022. Daurah pembukaan insya Allah pada hari Ahad, 9 Januari 2022 (jadwal lebih rinci menyusul). Oiya, selain menghafal al-Qur’an juga ada suplemen kajian diniyah yaitu aqidah, fikih dan tazkiyatun nufus. Selain itu juga ada program dakwah masyarakat seperti membantu kegiatan TPA, menjadi imam, bakti sosial, dsb. Ada juga daurah ilmiah pada waktu liburan atau di akhir pekan.Tenaga pengajar bersanad. Penasihat program antara lain : Ust. Arif Syarifuddin, Lc., Ust. Afifi Abdul Wadud, B.A., Ust. Dokter Agung Panji Widiyanto hafizhahumullah. Tenaga pengajar materi diniyah antara lain : Ust. Dr. Aris Munandar, S.S. M.PI, Ust. Faharudin, S.Pd.I dll. hafizhahumullah. Ini kesempatan buat kamu belajar agama di luar waktu-waktu kuliah. Jarang lho program semacam ini… Apalagi gratis… Benar-benar nikmat besar yang harus kita syukuri!Yuk, buat kamu yang pingin menggembleng diri untuk menjadi lebih baik. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pingin tahu apa saja syarat dan berkas yang harus dipenuhi untuk mendaftar Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi?Silahkan hubungi panitia penerimaan di nomor : 0819 9555 5431 (mas Rama).Semoga Allah beri kemudahan bagi kita dalam menempuh jalan ilmu dan menebar manfaat bagi umat.Penyelenggara : – Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari – Yayasan Pengeran Diponegoro🔍 Tauhid Adalah, Bacaan Isti'adzah, Tulisan Ya Allah, Said Aqil Siradj Muda, Peristiwa Yang Menggambarkan Takdir Allah


Kamu Masih Bisa Daftar…Bismillah.Buat teman-teman mahasiswa pecinta al-Qur’an yang berdomisili di Yogyakarta. Kini telah hadir program Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi. Program menghafal al-Qur’an khusus untuk mahasiswa. Full beasiswa. Gratis tempat tinggal, biaya pendidikan dan kebutuhan makan sehari-hari.Tempatnya di Dipowinatan MG 1 no 270 Keparakan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta. Daya tampungnya bisa untuk 8 santri. Ini khusus untuk putra/ikhwan nggih. Syaratnya apa? Muslim, mahasiswa S-1 max semester 4, bisa membaca al-Qur’an, belum menikah, diizinkan oleh orang tua/wali. Batas akhir pendaftaran diperpanjang sampai 5 Januari 2022.Pengumuman hasil seleksi tanggal 7 Januari 2022 dan wawancara pada tanggal 8 Januari 2022. Daurah pembukaan insya Allah pada hari Ahad, 9 Januari 2022 (jadwal lebih rinci menyusul). Oiya, selain menghafal al-Qur’an juga ada suplemen kajian diniyah yaitu aqidah, fikih dan tazkiyatun nufus. Selain itu juga ada program dakwah masyarakat seperti membantu kegiatan TPA, menjadi imam, bakti sosial, dsb. Ada juga daurah ilmiah pada waktu liburan atau di akhir pekan.Tenaga pengajar bersanad. Penasihat program antara lain : Ust. Arif Syarifuddin, Lc., Ust. Afifi Abdul Wadud, B.A., Ust. Dokter Agung Panji Widiyanto hafizhahumullah. Tenaga pengajar materi diniyah antara lain : Ust. Dr. Aris Munandar, S.S. M.PI, Ust. Faharudin, S.Pd.I dll. hafizhahumullah. Ini kesempatan buat kamu belajar agama di luar waktu-waktu kuliah. Jarang lho program semacam ini… Apalagi gratis… Benar-benar nikmat besar yang harus kita syukuri!Yuk, buat kamu yang pingin menggembleng diri untuk menjadi lebih baik. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pingin tahu apa saja syarat dan berkas yang harus dipenuhi untuk mendaftar Rumah Tahfizh Ashabul Kahfi?Silahkan hubungi panitia penerimaan di nomor : 0819 9555 5431 (mas Rama).Semoga Allah beri kemudahan bagi kita dalam menempuh jalan ilmu dan menebar manfaat bagi umat.Penyelenggara : – Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari – Yayasan Pengeran Diponegoro🔍 Tauhid Adalah, Bacaan Isti'adzah, Tulisan Ya Allah, Said Aqil Siradj Muda, Peristiwa Yang Menggambarkan Takdir Allah

Safinatun Naja: Waktu Shalat dan Waktu Terlarang untuk Shalat

Apa saja waktu shalat dan waktu terlarang untuk shalat? Berikut keterangan lanjutan dari Safinah An-Naja. Daftar Isi tutup 1. [KITAB SHALAT] 1.1. [Pembagian Waktu Shalat] 1.2. [Pembagian Mega] 1.3. [Waktu Larangan Shalat] [KITAB SHALAT] [Pembagian Waktu Shalat]   أَوْقَاتُ الصَّلاَةِ خَمْسَةٌ: 1- أَوَّلُ وَقْتِ الظُّهْرِ: زَوَالُ الشَّمْسِ.  وَآخِرُهُ: مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ، غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِوَاءِ. وَ2- أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ: إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ وَزَادَ قَلِيْلاً. وَآخِرُهُ: عِنْدَ غُرُبُ الشَّمْسِ. وَ3- أَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ: غُرُوْبُ الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَ4- أَوَّلُ وَقْتِ العِشَاءِ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَآخِرُهُ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَ5- أَوَّلُ وَقْتِ الصُّبْحِ: طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَأَخِرُهُ: طُلُوْعُ الشَّمْسِ.   Fasal: Waktu-waktu shalat ada 5 yaitu [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’, [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari, [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah, [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq, dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. — Shalat lima waktu ada lima macam, dan setiap macam mempunyai waktu tersendiri. [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’. Zhuhur secara bahasa adalah maa ba’da az-zawaal, waktu setelah tergelincir matahari. Secara istilah, Zhuhur adalah nama shalat yang dikerjakan di waktu tersebut, yaitu shalat yang dikerjakan setelah tergelincirnya matahari. Makna zawal adalah tergelincirnya matahari (ke barat) dari atas langit. Istiwa’ adalah matahari berada di tengah langit. Waktu Zhuhur secara keseluruhan masuk dengan tergelincirnya matahari menuju arah barat, dan berakhir hingga bayangan sesuatu menyerupainya, selain bayangan yang ada ketika matahari istiwa’ yaitu berada di tengah langit. Waktu Zhuhur dibagi menjadi enam waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. dan 3. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat), yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat secara sempurna. Hal ini disebut pula waktu ikhtiyar (pilihan), keduanya bergabung dalam waktu yang sama. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu, jika penghalang telah hilang (haidh atau gila) dan tersisa waktu hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram. Waktu uzur, yaitu waktu ‘Ashar bagi orang yang ingin menjamak takhir.   [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari. Ashar secara bahasa berarti ad-dahru (masa). Secara istilah, Ashar adalah shalat tertentu. Waktu Ashar secara keseluruhan masuk bila bayangan sesuatu menyerupainya dengan ditambah sedikit, dan keluar waktu Ashar dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Waktu ‘Ashar dibagi menjadi tujuh waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga bayangan sesuatu menyerupai dua kalinya, selain bayangan yang ada di waktu istiwa’. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh (bi laa karohah), yaitu hingga langit menguning (al-ish-firor). Waktu jawaz dan makruh, yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu uzur yaitu waktu Zhuhur bagi orang yang ingin menjamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu jika penghalang shalat telah tiada dan tersisa waktu yang hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram.   [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah Maghrib secara bahasa berarti waktu terbenamnya matahari. Secara istilah, Maghrib adalah shalat tertentu yang dilakukan setelah terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Syafaq adalah kemerahan. Al-ahmar di sini adalah penegasan dari maksud syafaq yaitu kemerahan. Waktu Maghrib secara keseluruhan adalah dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari, dan keluar waktunya dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah). Catatan: Waktu maghrib itu ada awal dan akhir, tidak hanya satu waktu.   Waktu Maghrib terbagi menjadi tujuh waktu yaitu: 1, 2, dan 3. Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu, yaitu inilah waktu ikhtiyar (pilihan) dan jawaz yang tidak makruh. Waktu jawaz dan makruh. Waktu haram Waktu uzur, yaitu Maghrib ditunda untuk jamak takhir. Waktu dhoruroh (darurat), penjelasannya seperti sebelumnya.   [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq Isya’ secara bahasa berarti nama dari awal waktu gelap. Secara istilah, Isya adalah shalat tertentu. Makna fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya) adalah fajar yang sinarnya melebar (horizontal) dari arah timur yang merata dari selatan ke utara. Sedangkan fajar kadzib (fajar bohong) adalah fajar yang muncul sebelum fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya), sinarnya memanjang (vertikal) yang bagian atasnya lebih terang dari yang lainnya, dan biasanya gelap setelah itu. Waktu Isya’ secara keseluruhan masuk dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah) dan berakhir dengan terbitnya fajar shodiq. Waktu Isya‘ terbagi menjadi tujuh waktu, yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga akhir sepertiga malam pertama. Waktu jawaz (boleh) dan tidak makruh yaitu hingga fajar kadzib. Waktu jawaz dan makruh yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram. Waktu uzur yaitu waktu Magrib jika dilakukan jamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat)   Catatan: Akhir waktu shalat Isya’ lebih baik hingga pertengahan malam saja, sekitar jam 11 agar selamat dari perselisihan para ulama dalam penentuan akhir waktu shalat Isya.   dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. Shubuh secara bahasa adalah awwalun nahaar (awal siang). Secara istilah, Shubuh adalah shalat tertentu. Waktu Shubuh secara keseluruhan masuk dengan terbitnya fajar shodiq dan berakhir dengan terbitnya matahari. Waktu Shubuh terbagi menjadi enam waktu yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga waktu isfaar di mana seseorang dapat membedakan sesuatu yang dekat dengannya. Isfaar dapat disebut sudah semakin terang. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh, yaitu dari awal waktu hingga terbitnya warna kemerahan. Sehingga ketiga waktu di atas masuk secara bersamaan dan keluar secara berurutan. Waktu jawaz dan makruh yaitu dari terbitnya warna kemerahan hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat dengan sempurna. Waktu haram. Waktu dhoruroh (darurat).   [Pembagian Mega] الأَشْفَاقُ ثَلاَثَةٌ: 1- أَحْمَرُ . وَ2- أَصْفَرُ. وَ3- أَبْيَضُ. الأَحْمَرُ: مَغْرِبٌ. والأَصْفَرُ وَالأَبْيَضْ: عِشَاءٌ. وَيُنْدَبُ تَأْخِيْرُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ الأَصْفَر والأَبْيَضُ. Mega ada 3, yaitu mega merah, kuning, dan putih. Mega merah tanda Maghrib, sementara kuning dan putih tanda Isya. Disunnahkan mengakhirkan shalat Isya hingga hilangnya mega merah dan putih.   [Waktu Larangan Shalat] تَحْرُمُ الصَّلاَةُ الَّتِيْ لَيْسَ لَهَا سَبَبُ مُتَقَدِّمٌ وَلاَ مُقَارِنٌ فِيْ خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ: 1- عِنْدَ طُلُوْعِ الشِّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ. وَ2- عِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِيْ غَيْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُوْلَ. وَ3- عِنْدَ الإِصْفِرَارِ حَتْى تَغْرُبَ. وَ4- بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. وَ5- بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتْى تَغْرُبَ. Fasal: Shalat yang diharamkan yang tidak memiliki sebab  yang mendahuluinya atau menyertainya ada 5 waktu, yaitu [1] saat matahari terbit hingga meninggi sekitar ujung tombak, [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) selain hari Jum’at hingga bergeser, [3] saat kekuning-kuningan hingga matahari terbenam, [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.   Catatan: Shalat dibagi tiga berdasarkan adanya sebab: Shalat yang mempunyai sebab awal (lahaa sababun muqaddimun), seperti: shalat yang luput, shalat nadzar, shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah thawaf. Shalat muqarinun, yaitu yang mempunyai sebab bersamaan, seperti: shalat kusuf (gerhana) dan shalat istisqa’. Shalat muta’akkhirun, yaitu shalat yang mempunyai sebab belakangan, seperti: shalat istikharah dan shalat ihram. Shalat yang tidak mempunyai sebab awal dan sebab yang berbarengan yaitu shalat yang tidak punya sebab seperti shalat sunnah mutlak atau mempunyai sebab akhir yaitu shalat istikhoroh dan shalat ihram. Hal itu diharamkan dan tidak sah bila dilakukan pada lima waktu, tiga di antaranya berkaitan dengan waktu, itulah yang disebut di bagian awal, sedangkan dua lainnya berkaitan dengan perbuatan, itulah yang disebut di bagian terakhir. *Semua larangan itu hanya berlaku di luar tanah haram Makkah, sedangkan di Makkah tidak ada waktu yang dilarang secara mutlak.   [1] saat matahari terbit hingga matahari setinggi tombak, Hingga matahari setinggi kira-kira tujuh hasta menurut pandangan mata kita. *Waktunya setinggi tombak: kira-kira 15 menit setelah matahari terbit. **Waktu awal Dhuha dimulai dari matahari setinggi tombak, berarti dimulai dari 15 menit setelah matahari terbit.   [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) hingga bergeser selain hari Jumat, Pengecualian di waktu istiwa pada hari Jumat. Tidak ada larangan shalat pada waktu istiwa hari Jumat, termasuk bagi yang tidak menghadiri shalat Jumat.   [3] saat kekuning-kuningan (ishfirar) hingga matahari terbenam, Waktu langit menguning, walaupun bagi orang yang belum shalat Ashar dan larangan itu berlangsung hingga terbenamnya matahari.   [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, Setelah mengerjakan shalat shubuh yang sah yang tidak perlu diqadha hingga matahari terbit. Artinya: Setelah shalat Shubuh tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab. *Shalat tahiyatul masjid karena punya sebab, maka masih boleh dilakukan bakda Shubuh.   dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam. Setelah mengerjakan shalat Ashar yang sah yang tidak perlu diqadha walaupun shalat Ashar itu dilakukan di waktu Zhuhur melalui jamak takdim dan berlangsung larangan itu hingga terbenamnya matahari. Artinya: Setelah shalat Ashar tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab, walaupun shalat Asharnya di waktu Zhuhur (dengan jamak takdim). *Shalat tahiyatul masjid bakda Ashar masih dibolehkan karena punya sebab.   Catatan: Wanita yang suci dari haidh di waktu shalat, maka ia hanya mengerjakan shalat yang ada pada waktu tersebut. Misal: Suci di waktu Zhuhur, berarti hanya mengerjakan shalat Zhuhur saja. Suci di waktu Ashar, hanya mengerjakan shalat Ashar saja.   Referensi: Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja. Cetakan pertama, Tahun 1439 H. Al-‘Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syatiri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Mengejar Shaf Pertama —   Catatan 28-10-2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskitab shalat safinatun naja safinatun najah waktu shalat waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh

Safinatun Naja: Waktu Shalat dan Waktu Terlarang untuk Shalat

Apa saja waktu shalat dan waktu terlarang untuk shalat? Berikut keterangan lanjutan dari Safinah An-Naja. Daftar Isi tutup 1. [KITAB SHALAT] 1.1. [Pembagian Waktu Shalat] 1.2. [Pembagian Mega] 1.3. [Waktu Larangan Shalat] [KITAB SHALAT] [Pembagian Waktu Shalat]   أَوْقَاتُ الصَّلاَةِ خَمْسَةٌ: 1- أَوَّلُ وَقْتِ الظُّهْرِ: زَوَالُ الشَّمْسِ.  وَآخِرُهُ: مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ، غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِوَاءِ. وَ2- أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ: إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ وَزَادَ قَلِيْلاً. وَآخِرُهُ: عِنْدَ غُرُبُ الشَّمْسِ. وَ3- أَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ: غُرُوْبُ الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَ4- أَوَّلُ وَقْتِ العِشَاءِ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَآخِرُهُ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَ5- أَوَّلُ وَقْتِ الصُّبْحِ: طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَأَخِرُهُ: طُلُوْعُ الشَّمْسِ.   Fasal: Waktu-waktu shalat ada 5 yaitu [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’, [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari, [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah, [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq, dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. — Shalat lima waktu ada lima macam, dan setiap macam mempunyai waktu tersendiri. [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’. Zhuhur secara bahasa adalah maa ba’da az-zawaal, waktu setelah tergelincir matahari. Secara istilah, Zhuhur adalah nama shalat yang dikerjakan di waktu tersebut, yaitu shalat yang dikerjakan setelah tergelincirnya matahari. Makna zawal adalah tergelincirnya matahari (ke barat) dari atas langit. Istiwa’ adalah matahari berada di tengah langit. Waktu Zhuhur secara keseluruhan masuk dengan tergelincirnya matahari menuju arah barat, dan berakhir hingga bayangan sesuatu menyerupainya, selain bayangan yang ada ketika matahari istiwa’ yaitu berada di tengah langit. Waktu Zhuhur dibagi menjadi enam waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. dan 3. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat), yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat secara sempurna. Hal ini disebut pula waktu ikhtiyar (pilihan), keduanya bergabung dalam waktu yang sama. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu, jika penghalang telah hilang (haidh atau gila) dan tersisa waktu hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram. Waktu uzur, yaitu waktu ‘Ashar bagi orang yang ingin menjamak takhir.   [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari. Ashar secara bahasa berarti ad-dahru (masa). Secara istilah, Ashar adalah shalat tertentu. Waktu Ashar secara keseluruhan masuk bila bayangan sesuatu menyerupainya dengan ditambah sedikit, dan keluar waktu Ashar dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Waktu ‘Ashar dibagi menjadi tujuh waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga bayangan sesuatu menyerupai dua kalinya, selain bayangan yang ada di waktu istiwa’. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh (bi laa karohah), yaitu hingga langit menguning (al-ish-firor). Waktu jawaz dan makruh, yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu uzur yaitu waktu Zhuhur bagi orang yang ingin menjamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu jika penghalang shalat telah tiada dan tersisa waktu yang hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram.   [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah Maghrib secara bahasa berarti waktu terbenamnya matahari. Secara istilah, Maghrib adalah shalat tertentu yang dilakukan setelah terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Syafaq adalah kemerahan. Al-ahmar di sini adalah penegasan dari maksud syafaq yaitu kemerahan. Waktu Maghrib secara keseluruhan adalah dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari, dan keluar waktunya dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah). Catatan: Waktu maghrib itu ada awal dan akhir, tidak hanya satu waktu.   Waktu Maghrib terbagi menjadi tujuh waktu yaitu: 1, 2, dan 3. Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu, yaitu inilah waktu ikhtiyar (pilihan) dan jawaz yang tidak makruh. Waktu jawaz dan makruh. Waktu haram Waktu uzur, yaitu Maghrib ditunda untuk jamak takhir. Waktu dhoruroh (darurat), penjelasannya seperti sebelumnya.   [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq Isya’ secara bahasa berarti nama dari awal waktu gelap. Secara istilah, Isya adalah shalat tertentu. Makna fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya) adalah fajar yang sinarnya melebar (horizontal) dari arah timur yang merata dari selatan ke utara. Sedangkan fajar kadzib (fajar bohong) adalah fajar yang muncul sebelum fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya), sinarnya memanjang (vertikal) yang bagian atasnya lebih terang dari yang lainnya, dan biasanya gelap setelah itu. Waktu Isya’ secara keseluruhan masuk dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah) dan berakhir dengan terbitnya fajar shodiq. Waktu Isya‘ terbagi menjadi tujuh waktu, yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga akhir sepertiga malam pertama. Waktu jawaz (boleh) dan tidak makruh yaitu hingga fajar kadzib. Waktu jawaz dan makruh yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram. Waktu uzur yaitu waktu Magrib jika dilakukan jamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat)   Catatan: Akhir waktu shalat Isya’ lebih baik hingga pertengahan malam saja, sekitar jam 11 agar selamat dari perselisihan para ulama dalam penentuan akhir waktu shalat Isya.   dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. Shubuh secara bahasa adalah awwalun nahaar (awal siang). Secara istilah, Shubuh adalah shalat tertentu. Waktu Shubuh secara keseluruhan masuk dengan terbitnya fajar shodiq dan berakhir dengan terbitnya matahari. Waktu Shubuh terbagi menjadi enam waktu yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga waktu isfaar di mana seseorang dapat membedakan sesuatu yang dekat dengannya. Isfaar dapat disebut sudah semakin terang. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh, yaitu dari awal waktu hingga terbitnya warna kemerahan. Sehingga ketiga waktu di atas masuk secara bersamaan dan keluar secara berurutan. Waktu jawaz dan makruh yaitu dari terbitnya warna kemerahan hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat dengan sempurna. Waktu haram. Waktu dhoruroh (darurat).   [Pembagian Mega] الأَشْفَاقُ ثَلاَثَةٌ: 1- أَحْمَرُ . وَ2- أَصْفَرُ. وَ3- أَبْيَضُ. الأَحْمَرُ: مَغْرِبٌ. والأَصْفَرُ وَالأَبْيَضْ: عِشَاءٌ. وَيُنْدَبُ تَأْخِيْرُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ الأَصْفَر والأَبْيَضُ. Mega ada 3, yaitu mega merah, kuning, dan putih. Mega merah tanda Maghrib, sementara kuning dan putih tanda Isya. Disunnahkan mengakhirkan shalat Isya hingga hilangnya mega merah dan putih.   [Waktu Larangan Shalat] تَحْرُمُ الصَّلاَةُ الَّتِيْ لَيْسَ لَهَا سَبَبُ مُتَقَدِّمٌ وَلاَ مُقَارِنٌ فِيْ خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ: 1- عِنْدَ طُلُوْعِ الشِّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ. وَ2- عِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِيْ غَيْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُوْلَ. وَ3- عِنْدَ الإِصْفِرَارِ حَتْى تَغْرُبَ. وَ4- بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. وَ5- بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتْى تَغْرُبَ. Fasal: Shalat yang diharamkan yang tidak memiliki sebab  yang mendahuluinya atau menyertainya ada 5 waktu, yaitu [1] saat matahari terbit hingga meninggi sekitar ujung tombak, [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) selain hari Jum’at hingga bergeser, [3] saat kekuning-kuningan hingga matahari terbenam, [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.   Catatan: Shalat dibagi tiga berdasarkan adanya sebab: Shalat yang mempunyai sebab awal (lahaa sababun muqaddimun), seperti: shalat yang luput, shalat nadzar, shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah thawaf. Shalat muqarinun, yaitu yang mempunyai sebab bersamaan, seperti: shalat kusuf (gerhana) dan shalat istisqa’. Shalat muta’akkhirun, yaitu shalat yang mempunyai sebab belakangan, seperti: shalat istikharah dan shalat ihram. Shalat yang tidak mempunyai sebab awal dan sebab yang berbarengan yaitu shalat yang tidak punya sebab seperti shalat sunnah mutlak atau mempunyai sebab akhir yaitu shalat istikhoroh dan shalat ihram. Hal itu diharamkan dan tidak sah bila dilakukan pada lima waktu, tiga di antaranya berkaitan dengan waktu, itulah yang disebut di bagian awal, sedangkan dua lainnya berkaitan dengan perbuatan, itulah yang disebut di bagian terakhir. *Semua larangan itu hanya berlaku di luar tanah haram Makkah, sedangkan di Makkah tidak ada waktu yang dilarang secara mutlak.   [1] saat matahari terbit hingga matahari setinggi tombak, Hingga matahari setinggi kira-kira tujuh hasta menurut pandangan mata kita. *Waktunya setinggi tombak: kira-kira 15 menit setelah matahari terbit. **Waktu awal Dhuha dimulai dari matahari setinggi tombak, berarti dimulai dari 15 menit setelah matahari terbit.   [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) hingga bergeser selain hari Jumat, Pengecualian di waktu istiwa pada hari Jumat. Tidak ada larangan shalat pada waktu istiwa hari Jumat, termasuk bagi yang tidak menghadiri shalat Jumat.   [3] saat kekuning-kuningan (ishfirar) hingga matahari terbenam, Waktu langit menguning, walaupun bagi orang yang belum shalat Ashar dan larangan itu berlangsung hingga terbenamnya matahari.   [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, Setelah mengerjakan shalat shubuh yang sah yang tidak perlu diqadha hingga matahari terbit. Artinya: Setelah shalat Shubuh tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab. *Shalat tahiyatul masjid karena punya sebab, maka masih boleh dilakukan bakda Shubuh.   dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam. Setelah mengerjakan shalat Ashar yang sah yang tidak perlu diqadha walaupun shalat Ashar itu dilakukan di waktu Zhuhur melalui jamak takdim dan berlangsung larangan itu hingga terbenamnya matahari. Artinya: Setelah shalat Ashar tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab, walaupun shalat Asharnya di waktu Zhuhur (dengan jamak takdim). *Shalat tahiyatul masjid bakda Ashar masih dibolehkan karena punya sebab.   Catatan: Wanita yang suci dari haidh di waktu shalat, maka ia hanya mengerjakan shalat yang ada pada waktu tersebut. Misal: Suci di waktu Zhuhur, berarti hanya mengerjakan shalat Zhuhur saja. Suci di waktu Ashar, hanya mengerjakan shalat Ashar saja.   Referensi: Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja. Cetakan pertama, Tahun 1439 H. Al-‘Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syatiri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Mengejar Shaf Pertama —   Catatan 28-10-2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskitab shalat safinatun naja safinatun najah waktu shalat waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh
Apa saja waktu shalat dan waktu terlarang untuk shalat? Berikut keterangan lanjutan dari Safinah An-Naja. Daftar Isi tutup 1. [KITAB SHALAT] 1.1. [Pembagian Waktu Shalat] 1.2. [Pembagian Mega] 1.3. [Waktu Larangan Shalat] [KITAB SHALAT] [Pembagian Waktu Shalat]   أَوْقَاتُ الصَّلاَةِ خَمْسَةٌ: 1- أَوَّلُ وَقْتِ الظُّهْرِ: زَوَالُ الشَّمْسِ.  وَآخِرُهُ: مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ، غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِوَاءِ. وَ2- أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ: إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ وَزَادَ قَلِيْلاً. وَآخِرُهُ: عِنْدَ غُرُبُ الشَّمْسِ. وَ3- أَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ: غُرُوْبُ الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَ4- أَوَّلُ وَقْتِ العِشَاءِ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَآخِرُهُ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَ5- أَوَّلُ وَقْتِ الصُّبْحِ: طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَأَخِرُهُ: طُلُوْعُ الشَّمْسِ.   Fasal: Waktu-waktu shalat ada 5 yaitu [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’, [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari, [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah, [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq, dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. — Shalat lima waktu ada lima macam, dan setiap macam mempunyai waktu tersendiri. [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’. Zhuhur secara bahasa adalah maa ba’da az-zawaal, waktu setelah tergelincir matahari. Secara istilah, Zhuhur adalah nama shalat yang dikerjakan di waktu tersebut, yaitu shalat yang dikerjakan setelah tergelincirnya matahari. Makna zawal adalah tergelincirnya matahari (ke barat) dari atas langit. Istiwa’ adalah matahari berada di tengah langit. Waktu Zhuhur secara keseluruhan masuk dengan tergelincirnya matahari menuju arah barat, dan berakhir hingga bayangan sesuatu menyerupainya, selain bayangan yang ada ketika matahari istiwa’ yaitu berada di tengah langit. Waktu Zhuhur dibagi menjadi enam waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. dan 3. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat), yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat secara sempurna. Hal ini disebut pula waktu ikhtiyar (pilihan), keduanya bergabung dalam waktu yang sama. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu, jika penghalang telah hilang (haidh atau gila) dan tersisa waktu hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram. Waktu uzur, yaitu waktu ‘Ashar bagi orang yang ingin menjamak takhir.   [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari. Ashar secara bahasa berarti ad-dahru (masa). Secara istilah, Ashar adalah shalat tertentu. Waktu Ashar secara keseluruhan masuk bila bayangan sesuatu menyerupainya dengan ditambah sedikit, dan keluar waktu Ashar dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Waktu ‘Ashar dibagi menjadi tujuh waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga bayangan sesuatu menyerupai dua kalinya, selain bayangan yang ada di waktu istiwa’. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh (bi laa karohah), yaitu hingga langit menguning (al-ish-firor). Waktu jawaz dan makruh, yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu uzur yaitu waktu Zhuhur bagi orang yang ingin menjamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu jika penghalang shalat telah tiada dan tersisa waktu yang hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram.   [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah Maghrib secara bahasa berarti waktu terbenamnya matahari. Secara istilah, Maghrib adalah shalat tertentu yang dilakukan setelah terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Syafaq adalah kemerahan. Al-ahmar di sini adalah penegasan dari maksud syafaq yaitu kemerahan. Waktu Maghrib secara keseluruhan adalah dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari, dan keluar waktunya dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah). Catatan: Waktu maghrib itu ada awal dan akhir, tidak hanya satu waktu.   Waktu Maghrib terbagi menjadi tujuh waktu yaitu: 1, 2, dan 3. Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu, yaitu inilah waktu ikhtiyar (pilihan) dan jawaz yang tidak makruh. Waktu jawaz dan makruh. Waktu haram Waktu uzur, yaitu Maghrib ditunda untuk jamak takhir. Waktu dhoruroh (darurat), penjelasannya seperti sebelumnya.   [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq Isya’ secara bahasa berarti nama dari awal waktu gelap. Secara istilah, Isya adalah shalat tertentu. Makna fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya) adalah fajar yang sinarnya melebar (horizontal) dari arah timur yang merata dari selatan ke utara. Sedangkan fajar kadzib (fajar bohong) adalah fajar yang muncul sebelum fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya), sinarnya memanjang (vertikal) yang bagian atasnya lebih terang dari yang lainnya, dan biasanya gelap setelah itu. Waktu Isya’ secara keseluruhan masuk dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah) dan berakhir dengan terbitnya fajar shodiq. Waktu Isya‘ terbagi menjadi tujuh waktu, yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga akhir sepertiga malam pertama. Waktu jawaz (boleh) dan tidak makruh yaitu hingga fajar kadzib. Waktu jawaz dan makruh yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram. Waktu uzur yaitu waktu Magrib jika dilakukan jamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat)   Catatan: Akhir waktu shalat Isya’ lebih baik hingga pertengahan malam saja, sekitar jam 11 agar selamat dari perselisihan para ulama dalam penentuan akhir waktu shalat Isya.   dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. Shubuh secara bahasa adalah awwalun nahaar (awal siang). Secara istilah, Shubuh adalah shalat tertentu. Waktu Shubuh secara keseluruhan masuk dengan terbitnya fajar shodiq dan berakhir dengan terbitnya matahari. Waktu Shubuh terbagi menjadi enam waktu yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga waktu isfaar di mana seseorang dapat membedakan sesuatu yang dekat dengannya. Isfaar dapat disebut sudah semakin terang. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh, yaitu dari awal waktu hingga terbitnya warna kemerahan. Sehingga ketiga waktu di atas masuk secara bersamaan dan keluar secara berurutan. Waktu jawaz dan makruh yaitu dari terbitnya warna kemerahan hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat dengan sempurna. Waktu haram. Waktu dhoruroh (darurat).   [Pembagian Mega] الأَشْفَاقُ ثَلاَثَةٌ: 1- أَحْمَرُ . وَ2- أَصْفَرُ. وَ3- أَبْيَضُ. الأَحْمَرُ: مَغْرِبٌ. والأَصْفَرُ وَالأَبْيَضْ: عِشَاءٌ. وَيُنْدَبُ تَأْخِيْرُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ الأَصْفَر والأَبْيَضُ. Mega ada 3, yaitu mega merah, kuning, dan putih. Mega merah tanda Maghrib, sementara kuning dan putih tanda Isya. Disunnahkan mengakhirkan shalat Isya hingga hilangnya mega merah dan putih.   [Waktu Larangan Shalat] تَحْرُمُ الصَّلاَةُ الَّتِيْ لَيْسَ لَهَا سَبَبُ مُتَقَدِّمٌ وَلاَ مُقَارِنٌ فِيْ خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ: 1- عِنْدَ طُلُوْعِ الشِّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ. وَ2- عِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِيْ غَيْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُوْلَ. وَ3- عِنْدَ الإِصْفِرَارِ حَتْى تَغْرُبَ. وَ4- بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. وَ5- بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتْى تَغْرُبَ. Fasal: Shalat yang diharamkan yang tidak memiliki sebab  yang mendahuluinya atau menyertainya ada 5 waktu, yaitu [1] saat matahari terbit hingga meninggi sekitar ujung tombak, [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) selain hari Jum’at hingga bergeser, [3] saat kekuning-kuningan hingga matahari terbenam, [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.   Catatan: Shalat dibagi tiga berdasarkan adanya sebab: Shalat yang mempunyai sebab awal (lahaa sababun muqaddimun), seperti: shalat yang luput, shalat nadzar, shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah thawaf. Shalat muqarinun, yaitu yang mempunyai sebab bersamaan, seperti: shalat kusuf (gerhana) dan shalat istisqa’. Shalat muta’akkhirun, yaitu shalat yang mempunyai sebab belakangan, seperti: shalat istikharah dan shalat ihram. Shalat yang tidak mempunyai sebab awal dan sebab yang berbarengan yaitu shalat yang tidak punya sebab seperti shalat sunnah mutlak atau mempunyai sebab akhir yaitu shalat istikhoroh dan shalat ihram. Hal itu diharamkan dan tidak sah bila dilakukan pada lima waktu, tiga di antaranya berkaitan dengan waktu, itulah yang disebut di bagian awal, sedangkan dua lainnya berkaitan dengan perbuatan, itulah yang disebut di bagian terakhir. *Semua larangan itu hanya berlaku di luar tanah haram Makkah, sedangkan di Makkah tidak ada waktu yang dilarang secara mutlak.   [1] saat matahari terbit hingga matahari setinggi tombak, Hingga matahari setinggi kira-kira tujuh hasta menurut pandangan mata kita. *Waktunya setinggi tombak: kira-kira 15 menit setelah matahari terbit. **Waktu awal Dhuha dimulai dari matahari setinggi tombak, berarti dimulai dari 15 menit setelah matahari terbit.   [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) hingga bergeser selain hari Jumat, Pengecualian di waktu istiwa pada hari Jumat. Tidak ada larangan shalat pada waktu istiwa hari Jumat, termasuk bagi yang tidak menghadiri shalat Jumat.   [3] saat kekuning-kuningan (ishfirar) hingga matahari terbenam, Waktu langit menguning, walaupun bagi orang yang belum shalat Ashar dan larangan itu berlangsung hingga terbenamnya matahari.   [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, Setelah mengerjakan shalat shubuh yang sah yang tidak perlu diqadha hingga matahari terbit. Artinya: Setelah shalat Shubuh tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab. *Shalat tahiyatul masjid karena punya sebab, maka masih boleh dilakukan bakda Shubuh.   dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam. Setelah mengerjakan shalat Ashar yang sah yang tidak perlu diqadha walaupun shalat Ashar itu dilakukan di waktu Zhuhur melalui jamak takdim dan berlangsung larangan itu hingga terbenamnya matahari. Artinya: Setelah shalat Ashar tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab, walaupun shalat Asharnya di waktu Zhuhur (dengan jamak takdim). *Shalat tahiyatul masjid bakda Ashar masih dibolehkan karena punya sebab.   Catatan: Wanita yang suci dari haidh di waktu shalat, maka ia hanya mengerjakan shalat yang ada pada waktu tersebut. Misal: Suci di waktu Zhuhur, berarti hanya mengerjakan shalat Zhuhur saja. Suci di waktu Ashar, hanya mengerjakan shalat Ashar saja.   Referensi: Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja. Cetakan pertama, Tahun 1439 H. Al-‘Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syatiri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Mengejar Shaf Pertama —   Catatan 28-10-2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskitab shalat safinatun naja safinatun najah waktu shalat waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh


Apa saja waktu shalat dan waktu terlarang untuk shalat? Berikut keterangan lanjutan dari Safinah An-Naja. Daftar Isi tutup 1. [KITAB SHALAT] 1.1. [Pembagian Waktu Shalat] 1.2. [Pembagian Mega] 1.3. [Waktu Larangan Shalat] [KITAB SHALAT] [Pembagian Waktu Shalat]   أَوْقَاتُ الصَّلاَةِ خَمْسَةٌ: 1- أَوَّلُ وَقْتِ الظُّهْرِ: زَوَالُ الشَّمْسِ.  وَآخِرُهُ: مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ، غَيْرَ ظِلِّ الاسْتِوَاءِ. وَ2- أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ: إِذَا صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ وَزَادَ قَلِيْلاً. وَآخِرُهُ: عِنْدَ غُرُبُ الشَّمْسِ. وَ3- أَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ: غُرُوْبُ الشَّمْسِ. وَآخِرُهُ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَ4- أَوَّلُ وَقْتِ العِشَاءِ: غُرُوْبُ الشَّفَقِ الأَحْمَرِ. وَآخِرُهُ طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَ5- أَوَّلُ وَقْتِ الصُّبْحِ: طُلُوْعُ الْفَجْرِ الصَّادِقِ. وَأَخِرُهُ: طُلُوْعُ الشَّمْسِ.   Fasal: Waktu-waktu shalat ada 5 yaitu [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’, [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari, [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah, [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq, dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. — Shalat lima waktu ada lima macam, dan setiap macam mempunyai waktu tersendiri. [1] awal waktu Zhuhur adalah tergelincirnya matahari dan akhir waktunya adalah jika bayang-bayang sesuatu panjangnya sama dengan bendanya selain bayangan ketika istiwa’. Zhuhur secara bahasa adalah maa ba’da az-zawaal, waktu setelah tergelincir matahari. Secara istilah, Zhuhur adalah nama shalat yang dikerjakan di waktu tersebut, yaitu shalat yang dikerjakan setelah tergelincirnya matahari. Makna zawal adalah tergelincirnya matahari (ke barat) dari atas langit. Istiwa’ adalah matahari berada di tengah langit. Waktu Zhuhur secara keseluruhan masuk dengan tergelincirnya matahari menuju arah barat, dan berakhir hingga bayangan sesuatu menyerupainya, selain bayangan yang ada ketika matahari istiwa’ yaitu berada di tengah langit. Waktu Zhuhur dibagi menjadi enam waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. dan 3. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat), yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat secara sempurna. Hal ini disebut pula waktu ikhtiyar (pilihan), keduanya bergabung dalam waktu yang sama. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu, jika penghalang telah hilang (haidh atau gila) dan tersisa waktu hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram. Waktu uzur, yaitu waktu ‘Ashar bagi orang yang ingin menjamak takhir.   [2] awal waktu Ashar adalah jika bayang-bayang sesuatu sama panjangnya dengan bendanya dan lebih sedikit, dan akhir waktunya adalah terbenamnya matahari. Ashar secara bahasa berarti ad-dahru (masa). Secara istilah, Ashar adalah shalat tertentu. Waktu Ashar secara keseluruhan masuk bila bayangan sesuatu menyerupainya dengan ditambah sedikit, dan keluar waktu Ashar dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Waktu ‘Ashar dibagi menjadi tujuh waktu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga bayangan sesuatu menyerupai dua kalinya, selain bayangan yang ada di waktu istiwa’. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh (bi laa karohah), yaitu hingga langit menguning (al-ish-firor). Waktu jawaz dan makruh, yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengerjakan shalat yang paling ringan dilakukan oleh dirinya sendiri. Waktu uzur yaitu waktu Zhuhur bagi orang yang ingin menjamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat) yaitu akhir waktu jika penghalang shalat telah tiada dan tersisa waktu yang hanya cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram.   [3] awal waktu Maghrib adalah terbenamnya matahari dan akhir waktunya adalah hilangnya mega merah Maghrib secara bahasa berarti waktu terbenamnya matahari. Secara istilah, Maghrib adalah shalat tertentu yang dilakukan setelah terbenamnya seluruh lingkaran matahari. Syafaq adalah kemerahan. Al-ahmar di sini adalah penegasan dari maksud syafaq yaitu kemerahan. Waktu Maghrib secara keseluruhan adalah dengan terbenamnya seluruh lingkaran matahari, dan keluar waktunya dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah). Catatan: Waktu maghrib itu ada awal dan akhir, tidak hanya satu waktu.   Waktu Maghrib terbagi menjadi tujuh waktu yaitu: 1, 2, dan 3. Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu, yaitu inilah waktu ikhtiyar (pilihan) dan jawaz yang tidak makruh. Waktu jawaz dan makruh. Waktu haram Waktu uzur, yaitu Maghrib ditunda untuk jamak takhir. Waktu dhoruroh (darurat), penjelasannya seperti sebelumnya.   [4] awal waktu Isya adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah munculnya fajar shodiq Isya’ secara bahasa berarti nama dari awal waktu gelap. Secara istilah, Isya adalah shalat tertentu. Makna fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya) adalah fajar yang sinarnya melebar (horizontal) dari arah timur yang merata dari selatan ke utara. Sedangkan fajar kadzib (fajar bohong) adalah fajar yang muncul sebelum fajar shodiq (fajar yang sesungguhnya), sinarnya memanjang (vertikal) yang bagian atasnya lebih terang dari yang lainnya, dan biasanya gelap setelah itu. Waktu Isya’ secara keseluruhan masuk dengan terbenamnya syafaq ahmar (mega merah) dan berakhir dengan terbitnya fajar shodiq. Waktu Isya‘ terbagi menjadi tujuh waktu, yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga akhir sepertiga malam pertama. Waktu jawaz (boleh) dan tidak makruh yaitu hingga fajar kadzib. Waktu jawaz dan makruh yaitu hingga tersisa waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat tersebut dengan sempurna. Waktu haram. Waktu uzur yaitu waktu Magrib jika dilakukan jamak takdim. Waktu dhoruroh (darurat)   Catatan: Akhir waktu shalat Isya’ lebih baik hingga pertengahan malam saja, sekitar jam 11 agar selamat dari perselisihan para ulama dalam penentuan akhir waktu shalat Isya.   dan [5] awal waktu Shubuh adalah munculnya fajar shodiq dan akhir waktunya adalah terbitnya matahari. Shubuh secara bahasa adalah awwalun nahaar (awal siang). Secara istilah, Shubuh adalah shalat tertentu. Waktu Shubuh secara keseluruhan masuk dengan terbitnya fajar shodiq dan berakhir dengan terbitnya matahari. Waktu Shubuh terbagi menjadi enam waktu yaitu: Waktu fadhilah (utama) adalah pada awal waktu. Waktu ikhtiyar (pilihan) yaitu hingga waktu isfaar di mana seseorang dapat membedakan sesuatu yang dekat dengannya. Isfaar dapat disebut sudah semakin terang. Waktu jawaz (diperbolehkan shalat) dan tidak makruh, yaitu dari awal waktu hingga terbitnya warna kemerahan. Sehingga ketiga waktu di atas masuk secara bersamaan dan keluar secara berurutan. Waktu jawaz dan makruh yaitu dari terbitnya warna kemerahan hingga tersisa waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat dengan sempurna. Waktu haram. Waktu dhoruroh (darurat).   [Pembagian Mega] الأَشْفَاقُ ثَلاَثَةٌ: 1- أَحْمَرُ . وَ2- أَصْفَرُ. وَ3- أَبْيَضُ. الأَحْمَرُ: مَغْرِبٌ. والأَصْفَرُ وَالأَبْيَضْ: عِشَاءٌ. وَيُنْدَبُ تَأْخِيْرُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَغِيْبَ الشَّفَقُ الأَصْفَر والأَبْيَضُ. Mega ada 3, yaitu mega merah, kuning, dan putih. Mega merah tanda Maghrib, sementara kuning dan putih tanda Isya. Disunnahkan mengakhirkan shalat Isya hingga hilangnya mega merah dan putih.   [Waktu Larangan Shalat] تَحْرُمُ الصَّلاَةُ الَّتِيْ لَيْسَ لَهَا سَبَبُ مُتَقَدِّمٌ وَلاَ مُقَارِنٌ فِيْ خَمْسَةِ أَوْقَاتٍ: 1- عِنْدَ طُلُوْعِ الشِّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ. وَ2- عِنْدَ الاسْتِوَاءِ فِيْ غَيْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ حَتَّى تَزُوْلَ. وَ3- عِنْدَ الإِصْفِرَارِ حَتْى تَغْرُبَ. وَ4- بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. وَ5- بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتْى تَغْرُبَ. Fasal: Shalat yang diharamkan yang tidak memiliki sebab  yang mendahuluinya atau menyertainya ada 5 waktu, yaitu [1] saat matahari terbit hingga meninggi sekitar ujung tombak, [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) selain hari Jum’at hingga bergeser, [3] saat kekuning-kuningan hingga matahari terbenam, [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.   Catatan: Shalat dibagi tiga berdasarkan adanya sebab: Shalat yang mempunyai sebab awal (lahaa sababun muqaddimun), seperti: shalat yang luput, shalat nadzar, shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah thawaf. Shalat muqarinun, yaitu yang mempunyai sebab bersamaan, seperti: shalat kusuf (gerhana) dan shalat istisqa’. Shalat muta’akkhirun, yaitu shalat yang mempunyai sebab belakangan, seperti: shalat istikharah dan shalat ihram. Shalat yang tidak mempunyai sebab awal dan sebab yang berbarengan yaitu shalat yang tidak punya sebab seperti shalat sunnah mutlak atau mempunyai sebab akhir yaitu shalat istikhoroh dan shalat ihram. Hal itu diharamkan dan tidak sah bila dilakukan pada lima waktu, tiga di antaranya berkaitan dengan waktu, itulah yang disebut di bagian awal, sedangkan dua lainnya berkaitan dengan perbuatan, itulah yang disebut di bagian terakhir. *Semua larangan itu hanya berlaku di luar tanah haram Makkah, sedangkan di Makkah tidak ada waktu yang dilarang secara mutlak.   [1] saat matahari terbit hingga matahari setinggi tombak, Hingga matahari setinggi kira-kira tujuh hasta menurut pandangan mata kita. *Waktunya setinggi tombak: kira-kira 15 menit setelah matahari terbit. **Waktu awal Dhuha dimulai dari matahari setinggi tombak, berarti dimulai dari 15 menit setelah matahari terbit.   [2] saat waktu istiwa (matahari di tengah-tengah) hingga bergeser selain hari Jumat, Pengecualian di waktu istiwa pada hari Jumat. Tidak ada larangan shalat pada waktu istiwa hari Jumat, termasuk bagi yang tidak menghadiri shalat Jumat.   [3] saat kekuning-kuningan (ishfirar) hingga matahari terbenam, Waktu langit menguning, walaupun bagi orang yang belum shalat Ashar dan larangan itu berlangsung hingga terbenamnya matahari.   [4] setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit, Setelah mengerjakan shalat shubuh yang sah yang tidak perlu diqadha hingga matahari terbit. Artinya: Setelah shalat Shubuh tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab. *Shalat tahiyatul masjid karena punya sebab, maka masih boleh dilakukan bakda Shubuh.   dan [5] setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam. Setelah mengerjakan shalat Ashar yang sah yang tidak perlu diqadha walaupun shalat Ashar itu dilakukan di waktu Zhuhur melalui jamak takdim dan berlangsung larangan itu hingga terbenamnya matahari. Artinya: Setelah shalat Ashar tidak ada lagi shalat sunnah yang tidak punya sebab, walaupun shalat Asharnya di waktu Zhuhur (dengan jamak takdim). *Shalat tahiyatul masjid bakda Ashar masih dibolehkan karena punya sebab.   Catatan: Wanita yang suci dari haidh di waktu shalat, maka ia hanya mengerjakan shalat yang ada pada waktu tersebut. Misal: Suci di waktu Zhuhur, berarti hanya mengerjakan shalat Zhuhur saja. Suci di waktu Ashar, hanya mengerjakan shalat Ashar saja.   Referensi: Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Naja. Cetakan pertama, Tahun 1439 H. Al-‘Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syatiri. Penerbit Dar Al-Minhaj. Baca Juga: Mengejar Shaf Pertama —   Catatan 28-10-2021 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskitab shalat safinatun naja safinatun najah waktu shalat waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh

Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP Angkatan 2

🪙 KESEMPATAN EMAS DIBUKA 🪙 DAFTAR Segera.. KAMI SIAP Angkatan 2Jalan telah dibuka Mengarah indah menuju hal yang muliaJalan yang bila kau tempuh Kelak berbagai kebaikan kan direngkuhJalan yang menjadikan pikiran lapang, hati tenang, dan pandangan makin gamblangTentang apa visi misi langkah besar kita di umur yang terbatas ini, di dunia ini.Persiapkan bekal sebaik mungkin kawan… Mari awali dengan menuntut ilmu, ngaji.Kita gali cari secara bersama-sama, Kita buat berbagai momen istimewa, Walau kesibukan lain menghadang Bila niat matang, prioritas mapan Kelak jalan kan Allah mudahkan…Kami mengajakmu berjalan bersama Siapapun engkau kawan… Entah sedang menempuh jenjang akademik, sedang berusaha sungguh² mencari rezeki atau yang telah memiliki berbagai amanah bahkan yang sudah berubanYuk, ini saatnya…. KAMI SIAP— — — — —🔖 KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi penuntut ilmu pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester). Penjelasan lengkap baca poster📲 Buruan Daftar: 1. Sebar info ini ke 3 grup Anda 2. Masuk group WA sementara : http://linktr.ee/KAMISIAP 3. Tes Seleksi 4. Peserta yang lolos akan dimasukkan ke dalam group WA Santri📞 Contact Person: CP Ikhwan : 0895-6304-48042 CP Akhwat : 0895-32308-5374Yuk manfaatkan peluang ini. Ajak pula keluarga dan teman-teman lainnya untuk belajar bersama di KAMI SIAP. Barakallahu fiikum… ___Kesibukanku Tak Menghalangiku Dari Menuntut Ilmu#SelaluAdaJalan🔍 Ushul Fiqh, Hukum Membawa Anak Ke Masjid, Hadits Tentang Menyempurnakan Akhlak, Surga Itu Indah, Doa Untuk Orang Yang Membenci Kita Dalam Islam

Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP Angkatan 2

🪙 KESEMPATAN EMAS DIBUKA 🪙 DAFTAR Segera.. KAMI SIAP Angkatan 2Jalan telah dibuka Mengarah indah menuju hal yang muliaJalan yang bila kau tempuh Kelak berbagai kebaikan kan direngkuhJalan yang menjadikan pikiran lapang, hati tenang, dan pandangan makin gamblangTentang apa visi misi langkah besar kita di umur yang terbatas ini, di dunia ini.Persiapkan bekal sebaik mungkin kawan… Mari awali dengan menuntut ilmu, ngaji.Kita gali cari secara bersama-sama, Kita buat berbagai momen istimewa, Walau kesibukan lain menghadang Bila niat matang, prioritas mapan Kelak jalan kan Allah mudahkan…Kami mengajakmu berjalan bersama Siapapun engkau kawan… Entah sedang menempuh jenjang akademik, sedang berusaha sungguh² mencari rezeki atau yang telah memiliki berbagai amanah bahkan yang sudah berubanYuk, ini saatnya…. KAMI SIAP— — — — —🔖 KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi penuntut ilmu pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester). Penjelasan lengkap baca poster📲 Buruan Daftar: 1. Sebar info ini ke 3 grup Anda 2. Masuk group WA sementara : http://linktr.ee/KAMISIAP 3. Tes Seleksi 4. Peserta yang lolos akan dimasukkan ke dalam group WA Santri📞 Contact Person: CP Ikhwan : 0895-6304-48042 CP Akhwat : 0895-32308-5374Yuk manfaatkan peluang ini. Ajak pula keluarga dan teman-teman lainnya untuk belajar bersama di KAMI SIAP. Barakallahu fiikum… ___Kesibukanku Tak Menghalangiku Dari Menuntut Ilmu#SelaluAdaJalan🔍 Ushul Fiqh, Hukum Membawa Anak Ke Masjid, Hadits Tentang Menyempurnakan Akhlak, Surga Itu Indah, Doa Untuk Orang Yang Membenci Kita Dalam Islam
🪙 KESEMPATAN EMAS DIBUKA 🪙 DAFTAR Segera.. KAMI SIAP Angkatan 2Jalan telah dibuka Mengarah indah menuju hal yang muliaJalan yang bila kau tempuh Kelak berbagai kebaikan kan direngkuhJalan yang menjadikan pikiran lapang, hati tenang, dan pandangan makin gamblangTentang apa visi misi langkah besar kita di umur yang terbatas ini, di dunia ini.Persiapkan bekal sebaik mungkin kawan… Mari awali dengan menuntut ilmu, ngaji.Kita gali cari secara bersama-sama, Kita buat berbagai momen istimewa, Walau kesibukan lain menghadang Bila niat matang, prioritas mapan Kelak jalan kan Allah mudahkan…Kami mengajakmu berjalan bersama Siapapun engkau kawan… Entah sedang menempuh jenjang akademik, sedang berusaha sungguh² mencari rezeki atau yang telah memiliki berbagai amanah bahkan yang sudah berubanYuk, ini saatnya…. KAMI SIAP— — — — —🔖 KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi penuntut ilmu pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester). Penjelasan lengkap baca poster📲 Buruan Daftar: 1. Sebar info ini ke 3 grup Anda 2. Masuk group WA sementara : http://linktr.ee/KAMISIAP 3. Tes Seleksi 4. Peserta yang lolos akan dimasukkan ke dalam group WA Santri📞 Contact Person: CP Ikhwan : 0895-6304-48042 CP Akhwat : 0895-32308-5374Yuk manfaatkan peluang ini. Ajak pula keluarga dan teman-teman lainnya untuk belajar bersama di KAMI SIAP. Barakallahu fiikum… ___Kesibukanku Tak Menghalangiku Dari Menuntut Ilmu#SelaluAdaJalan🔍 Ushul Fiqh, Hukum Membawa Anak Ke Masjid, Hadits Tentang Menyempurnakan Akhlak, Surga Itu Indah, Doa Untuk Orang Yang Membenci Kita Dalam Islam


🪙 KESEMPATAN EMAS DIBUKA 🪙 DAFTAR Segera.. KAMI SIAP Angkatan 2Jalan telah dibuka Mengarah indah menuju hal yang muliaJalan yang bila kau tempuh Kelak berbagai kebaikan kan direngkuhJalan yang menjadikan pikiran lapang, hati tenang, dan pandangan makin gamblangTentang apa visi misi langkah besar kita di umur yang terbatas ini, di dunia ini.Persiapkan bekal sebaik mungkin kawan… Mari awali dengan menuntut ilmu, ngaji.Kita gali cari secara bersama-sama, Kita buat berbagai momen istimewa, Walau kesibukan lain menghadang Bila niat matang, prioritas mapan Kelak jalan kan Allah mudahkan…Kami mengajakmu berjalan bersama Siapapun engkau kawan… Entah sedang menempuh jenjang akademik, sedang berusaha sungguh² mencari rezeki atau yang telah memiliki berbagai amanah bahkan yang sudah berubanYuk, ini saatnya…. KAMI SIAP— — — — —🔖 KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi penuntut ilmu pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester). Penjelasan lengkap baca poster📲 Buruan Daftar: 1. Sebar info ini ke 3 grup Anda 2. Masuk group WA sementara : http://linktr.ee/KAMISIAP 3. Tes Seleksi 4. Peserta yang lolos akan dimasukkan ke dalam group WA Santri📞 Contact Person: CP Ikhwan : 0895-6304-48042 CP Akhwat : 0895-32308-5374Yuk manfaatkan peluang ini. Ajak pula keluarga dan teman-teman lainnya untuk belajar bersama di KAMI SIAP. Barakallahu fiikum… ___Kesibukanku Tak Menghalangiku Dari Menuntut Ilmu#SelaluAdaJalan🔍 Ushul Fiqh, Hukum Membawa Anak Ke Masjid, Hadits Tentang Menyempurnakan Akhlak, Surga Itu Indah, Doa Untuk Orang Yang Membenci Kita Dalam Islam

10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 7)

Baca seri sebelumnya: 10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 6)SEBAB KEDELAPAN :Menjauhkan Diri dari Penyakit Hati maupun RacunnyaPenyakit hati dan racunnya serta hal-hal yang dapat merusaknya sangatlah banyak. Sungguh hati ini bisa sakit sebagaimana anggota badan lainnya. Bahkan, penyakit-penyakit hati memiliki pengaruh buruk yang sangat besar terhadap pemiliknya, seperti hasad, iri, dan dengki, dan penyakit-penyakit lainnya yang menimpa hati. Sifat-sifat tercela dan penyakit-penyakit buruk apabila masuk ke dalam hati, maka akan merusaknya. Dan apabila telah sampai ke dalam dada, maka ia akan membuatnya gelap dan akan membuat dada menjadi sempit serta membuat keadaannya menjadi suram bahkan akan memperburuk tempat kembalinya, yaitu akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألَا وإن في الجسد مضغةً، إذا صلَحت صلَح الجسد كلُّه، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب“Sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka menjadi baiklah seluruh anggota badan. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh anggota badan. Sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dengan gamblang akan bahayanya hati yang rusak karena penyakit dan racun yang masuk ke dalamnya. Apabila hati ini sudah rusak, maka rusak pula anggota tubuh lainnya. Adapun orang-orang yang selamat dari penyakit-penyakit ini dan hatinya dipenuhi dengan sifat-sifat yang bertolak belakang dari penyakit-penyakit hati, seperti amanah, memenuhi janji, kejujuran, dan mengutamakan orang lain, maka sifat-sifat tersebut akan membuat pemiliknya merasa lapang dada, membuat nyaman hatinya, dan memberikan ketenangan pada jiwanya.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meminta diberikan hati yang selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebuah hadis,أسألك قلبًا سليمًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu untuk diberikan hati yang lurus dan selamat.” (HR. Nasa’i)Yaitu hati yang selamat dari rasa ragu terhadap keesaan Allah Ta’ala dan keberadaan kehidupan setelah kematian. Karena sejatinya, hati yang telah dipenuhi keimanan pun jika setan membisikkan dan membuatnya was-was, maka sangat mungkin akan terjatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan. Namun, jika diri kita terbiasa berdoa meminta hati yang selamat, setidaknya hati ini mudah kembali dan cepat di dalam menyadari bahwa ia telah terjatuh dalam kesalahan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dalam kitabnya (penyakit hati serta obatnya),“Al-Qur’an adalah obat bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada, baik itu penyakit syubhat maupun syahwat. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan mengenai kebenaran yang dapat menghapus kebatilan yang mana penyakit syubhat ini dapat terobati dengan ilmu, penjabaran, dan pengetahuan. Dan dengan berbekal semua hal itu ia dapat melihat segala hal sebagaimana mestinya.Dan di dalam Al-Qur’an terdapat pula hikmah maupun mauizah hasanah (nasehat dengan cara yang baik) baik itu dengan iming-iming imbalan maupun dengan cara menakuti, serta terdapat juga cerita-cerita yang terkandung di dalamnya ibrah dan contoh yang memberikan dampak pada sehatnya hati. Sehingga (dengan Al-Qur’an ini) hati  mencintai hal-hal yang bermanfaat baginya, membenci apa-apa yang membahayakannya, mencintai kebenaran, dan membenci kesesatan yang sebelumnya ingin ia lakukan. Maka, Al-Quran adalah penghapus penyakit-penyakit yang membuat hati menginginkan kerusakan dan merupakan wasilah untuk memperbaiki hati. Seiring dengan semua itu, keinginan hati pun ikut membaik, dan kembali kepada fitrah penciptaannya sebagaimana kembalinya tubuh ini ke keadaan yang sehat. Hati pun tersuplai dengan keimanan yang bersumber dari Al-Qur’an yang  menyucikannya dan membantunya sebagaimana tubuh ini terpenuhi gizinya dengan apa yang membantu pertumbuhannya dan menguatkannya. Dari sini bisa kita ketahui bahwa hakikat bersihnya dan sucinya hati itu layaknya pertumbuhan badan.”Allah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)Zakaah di dalam bahasa artinya adalah tumbuh dan berkembang di dalam kebaikan. Dikatakan (zakaa asy-syai) jikalau ia berkembang di dalam kebaikan. Agar hati ini tumbuh dan berkembang, maka ia membutuhkan pemeliharaan dari pemiliknya, sehingga ia tumbuh dengan sempurna dan baik layaknya tubuh kita membutuhkan gizi yang mendukung kesehatannya.Bersama semua hal itu, hati ini tidak boleh lepas dari menghindarkan diri terhadap hal-hal yang membahayakannya. Layaknya badan yang mana tidak tumbuh, kecuali dengan memenuhi apa-apa yang bermanfaat baginya dan menghindar dari hal-hal yang membahayakannya. Begitu pula dengan hati, tidaklah ia menjadi suci, bertumbuh dan menjadi baik, kecuali jika terpenuhi semua yang bermanfaat baginya lalu diiringi dengan penolakan terhadap hal-hal yang berbahaya baginya.SEBAB KESEMBILAN :Meninggalkan Hal-hal yang Tidak BermanfaatTermasuk salah satu sebab lapangnya dada adalah menjaga lidah dari banyak bicara, menjaga telinga dari mendengarkan yang tidak bermanfaat baginya, dan menjaga mata dari melihat yang tidak berguna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmizi)Menyibukkan jiwa dan hati dengan sesuatu yang dapat memalingkan kita dari hal-hal yang urgen, yang dapat membahagiakan, serta menyukseskan kehidupan kita di dunia dan di akhirat memiliki pengaruh buruk dalam kehidupan manusia. Di mana hal tersebut akan menyempitkan dan menyusahkan hidup. Bahkan tidak menjaga pendengaran, penglihatan dan ucapan dari hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebab datangnya kesedihan dan kegalauan, serta mengakibatkan terjadinya hal-hal yang membebani. Di mana hal tersebut sangat tidak diinginkan manusia di kehidupan dunia ini maupun di akhirat kelak. Begitu pula, tidak menjaga pandangan dan pembicaraan dari hal-hal yang tidak bermanfaat akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kesengsaraan dan kesedihan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah hadis setelah menjabarkan pintu-pintu kebaikan,ألاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ “Maukah aku beritahu tentang sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Nabi Allah.’ Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memegang lisannya (lidahnya) dan bersabda, ‘Tahanlah(jagalah) ini!’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?’” (HR. At-Tirmdzi)Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh di dalam mendisiplinkan diri dan menghiasinya dengan perilaku terpuji, menjaga adab, menjaga jiwa, dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat membahayakan dan menghancurkannya.Syekh menutup sebab kesembilan ini dengan memberikan nasehat perihal bahaya terus menerus bermain handphone, “Dan salah satu ujian yang menimpa manusia pada zaman ini, yang mana dengannya  terbuka lebar pintu-pintu masuk bagi  hal-hal yang tidak bermanfaat adalah asiknya diri kita saat melihat hape, berpindah aplikasi, berseluncur di dunia maya hanya untuk menikmati hal-hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan kadang yang kita lakukan itu merupakan keburukan dan suatu hal yang tercela. Maka, semua itu berimbas buruk dan membahayakan agama dan akhlak kaum muslimin, menyia-menyiakan waktu mereka, membuat mereka terperosok ke dalam berbagai macam dan ragam kesedihan dan kegalauan serta rasa sempit di dalam dada.”[Bersambung]***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Asyratu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) Karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Ain, Arti Salamun Alaikum, Kasiat Surat Alfatehah, Syarat Jadi Imam, Arti Muslimin Dan Muslimat

10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 7)

Baca seri sebelumnya: 10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 6)SEBAB KEDELAPAN :Menjauhkan Diri dari Penyakit Hati maupun RacunnyaPenyakit hati dan racunnya serta hal-hal yang dapat merusaknya sangatlah banyak. Sungguh hati ini bisa sakit sebagaimana anggota badan lainnya. Bahkan, penyakit-penyakit hati memiliki pengaruh buruk yang sangat besar terhadap pemiliknya, seperti hasad, iri, dan dengki, dan penyakit-penyakit lainnya yang menimpa hati. Sifat-sifat tercela dan penyakit-penyakit buruk apabila masuk ke dalam hati, maka akan merusaknya. Dan apabila telah sampai ke dalam dada, maka ia akan membuatnya gelap dan akan membuat dada menjadi sempit serta membuat keadaannya menjadi suram bahkan akan memperburuk tempat kembalinya, yaitu akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألَا وإن في الجسد مضغةً، إذا صلَحت صلَح الجسد كلُّه، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب“Sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka menjadi baiklah seluruh anggota badan. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh anggota badan. Sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dengan gamblang akan bahayanya hati yang rusak karena penyakit dan racun yang masuk ke dalamnya. Apabila hati ini sudah rusak, maka rusak pula anggota tubuh lainnya. Adapun orang-orang yang selamat dari penyakit-penyakit ini dan hatinya dipenuhi dengan sifat-sifat yang bertolak belakang dari penyakit-penyakit hati, seperti amanah, memenuhi janji, kejujuran, dan mengutamakan orang lain, maka sifat-sifat tersebut akan membuat pemiliknya merasa lapang dada, membuat nyaman hatinya, dan memberikan ketenangan pada jiwanya.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meminta diberikan hati yang selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebuah hadis,أسألك قلبًا سليمًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu untuk diberikan hati yang lurus dan selamat.” (HR. Nasa’i)Yaitu hati yang selamat dari rasa ragu terhadap keesaan Allah Ta’ala dan keberadaan kehidupan setelah kematian. Karena sejatinya, hati yang telah dipenuhi keimanan pun jika setan membisikkan dan membuatnya was-was, maka sangat mungkin akan terjatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan. Namun, jika diri kita terbiasa berdoa meminta hati yang selamat, setidaknya hati ini mudah kembali dan cepat di dalam menyadari bahwa ia telah terjatuh dalam kesalahan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dalam kitabnya (penyakit hati serta obatnya),“Al-Qur’an adalah obat bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada, baik itu penyakit syubhat maupun syahwat. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan mengenai kebenaran yang dapat menghapus kebatilan yang mana penyakit syubhat ini dapat terobati dengan ilmu, penjabaran, dan pengetahuan. Dan dengan berbekal semua hal itu ia dapat melihat segala hal sebagaimana mestinya.Dan di dalam Al-Qur’an terdapat pula hikmah maupun mauizah hasanah (nasehat dengan cara yang baik) baik itu dengan iming-iming imbalan maupun dengan cara menakuti, serta terdapat juga cerita-cerita yang terkandung di dalamnya ibrah dan contoh yang memberikan dampak pada sehatnya hati. Sehingga (dengan Al-Qur’an ini) hati  mencintai hal-hal yang bermanfaat baginya, membenci apa-apa yang membahayakannya, mencintai kebenaran, dan membenci kesesatan yang sebelumnya ingin ia lakukan. Maka, Al-Quran adalah penghapus penyakit-penyakit yang membuat hati menginginkan kerusakan dan merupakan wasilah untuk memperbaiki hati. Seiring dengan semua itu, keinginan hati pun ikut membaik, dan kembali kepada fitrah penciptaannya sebagaimana kembalinya tubuh ini ke keadaan yang sehat. Hati pun tersuplai dengan keimanan yang bersumber dari Al-Qur’an yang  menyucikannya dan membantunya sebagaimana tubuh ini terpenuhi gizinya dengan apa yang membantu pertumbuhannya dan menguatkannya. Dari sini bisa kita ketahui bahwa hakikat bersihnya dan sucinya hati itu layaknya pertumbuhan badan.”Allah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)Zakaah di dalam bahasa artinya adalah tumbuh dan berkembang di dalam kebaikan. Dikatakan (zakaa asy-syai) jikalau ia berkembang di dalam kebaikan. Agar hati ini tumbuh dan berkembang, maka ia membutuhkan pemeliharaan dari pemiliknya, sehingga ia tumbuh dengan sempurna dan baik layaknya tubuh kita membutuhkan gizi yang mendukung kesehatannya.Bersama semua hal itu, hati ini tidak boleh lepas dari menghindarkan diri terhadap hal-hal yang membahayakannya. Layaknya badan yang mana tidak tumbuh, kecuali dengan memenuhi apa-apa yang bermanfaat baginya dan menghindar dari hal-hal yang membahayakannya. Begitu pula dengan hati, tidaklah ia menjadi suci, bertumbuh dan menjadi baik, kecuali jika terpenuhi semua yang bermanfaat baginya lalu diiringi dengan penolakan terhadap hal-hal yang berbahaya baginya.SEBAB KESEMBILAN :Meninggalkan Hal-hal yang Tidak BermanfaatTermasuk salah satu sebab lapangnya dada adalah menjaga lidah dari banyak bicara, menjaga telinga dari mendengarkan yang tidak bermanfaat baginya, dan menjaga mata dari melihat yang tidak berguna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmizi)Menyibukkan jiwa dan hati dengan sesuatu yang dapat memalingkan kita dari hal-hal yang urgen, yang dapat membahagiakan, serta menyukseskan kehidupan kita di dunia dan di akhirat memiliki pengaruh buruk dalam kehidupan manusia. Di mana hal tersebut akan menyempitkan dan menyusahkan hidup. Bahkan tidak menjaga pendengaran, penglihatan dan ucapan dari hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebab datangnya kesedihan dan kegalauan, serta mengakibatkan terjadinya hal-hal yang membebani. Di mana hal tersebut sangat tidak diinginkan manusia di kehidupan dunia ini maupun di akhirat kelak. Begitu pula, tidak menjaga pandangan dan pembicaraan dari hal-hal yang tidak bermanfaat akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kesengsaraan dan kesedihan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah hadis setelah menjabarkan pintu-pintu kebaikan,ألاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ “Maukah aku beritahu tentang sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Nabi Allah.’ Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memegang lisannya (lidahnya) dan bersabda, ‘Tahanlah(jagalah) ini!’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?’” (HR. At-Tirmdzi)Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh di dalam mendisiplinkan diri dan menghiasinya dengan perilaku terpuji, menjaga adab, menjaga jiwa, dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat membahayakan dan menghancurkannya.Syekh menutup sebab kesembilan ini dengan memberikan nasehat perihal bahaya terus menerus bermain handphone, “Dan salah satu ujian yang menimpa manusia pada zaman ini, yang mana dengannya  terbuka lebar pintu-pintu masuk bagi  hal-hal yang tidak bermanfaat adalah asiknya diri kita saat melihat hape, berpindah aplikasi, berseluncur di dunia maya hanya untuk menikmati hal-hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan kadang yang kita lakukan itu merupakan keburukan dan suatu hal yang tercela. Maka, semua itu berimbas buruk dan membahayakan agama dan akhlak kaum muslimin, menyia-menyiakan waktu mereka, membuat mereka terperosok ke dalam berbagai macam dan ragam kesedihan dan kegalauan serta rasa sempit di dalam dada.”[Bersambung]***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Asyratu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) Karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Ain, Arti Salamun Alaikum, Kasiat Surat Alfatehah, Syarat Jadi Imam, Arti Muslimin Dan Muslimat
Baca seri sebelumnya: 10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 6)SEBAB KEDELAPAN :Menjauhkan Diri dari Penyakit Hati maupun RacunnyaPenyakit hati dan racunnya serta hal-hal yang dapat merusaknya sangatlah banyak. Sungguh hati ini bisa sakit sebagaimana anggota badan lainnya. Bahkan, penyakit-penyakit hati memiliki pengaruh buruk yang sangat besar terhadap pemiliknya, seperti hasad, iri, dan dengki, dan penyakit-penyakit lainnya yang menimpa hati. Sifat-sifat tercela dan penyakit-penyakit buruk apabila masuk ke dalam hati, maka akan merusaknya. Dan apabila telah sampai ke dalam dada, maka ia akan membuatnya gelap dan akan membuat dada menjadi sempit serta membuat keadaannya menjadi suram bahkan akan memperburuk tempat kembalinya, yaitu akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألَا وإن في الجسد مضغةً، إذا صلَحت صلَح الجسد كلُّه، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب“Sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka menjadi baiklah seluruh anggota badan. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh anggota badan. Sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dengan gamblang akan bahayanya hati yang rusak karena penyakit dan racun yang masuk ke dalamnya. Apabila hati ini sudah rusak, maka rusak pula anggota tubuh lainnya. Adapun orang-orang yang selamat dari penyakit-penyakit ini dan hatinya dipenuhi dengan sifat-sifat yang bertolak belakang dari penyakit-penyakit hati, seperti amanah, memenuhi janji, kejujuran, dan mengutamakan orang lain, maka sifat-sifat tersebut akan membuat pemiliknya merasa lapang dada, membuat nyaman hatinya, dan memberikan ketenangan pada jiwanya.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meminta diberikan hati yang selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebuah hadis,أسألك قلبًا سليمًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu untuk diberikan hati yang lurus dan selamat.” (HR. Nasa’i)Yaitu hati yang selamat dari rasa ragu terhadap keesaan Allah Ta’ala dan keberadaan kehidupan setelah kematian. Karena sejatinya, hati yang telah dipenuhi keimanan pun jika setan membisikkan dan membuatnya was-was, maka sangat mungkin akan terjatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan. Namun, jika diri kita terbiasa berdoa meminta hati yang selamat, setidaknya hati ini mudah kembali dan cepat di dalam menyadari bahwa ia telah terjatuh dalam kesalahan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dalam kitabnya (penyakit hati serta obatnya),“Al-Qur’an adalah obat bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada, baik itu penyakit syubhat maupun syahwat. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan mengenai kebenaran yang dapat menghapus kebatilan yang mana penyakit syubhat ini dapat terobati dengan ilmu, penjabaran, dan pengetahuan. Dan dengan berbekal semua hal itu ia dapat melihat segala hal sebagaimana mestinya.Dan di dalam Al-Qur’an terdapat pula hikmah maupun mauizah hasanah (nasehat dengan cara yang baik) baik itu dengan iming-iming imbalan maupun dengan cara menakuti, serta terdapat juga cerita-cerita yang terkandung di dalamnya ibrah dan contoh yang memberikan dampak pada sehatnya hati. Sehingga (dengan Al-Qur’an ini) hati  mencintai hal-hal yang bermanfaat baginya, membenci apa-apa yang membahayakannya, mencintai kebenaran, dan membenci kesesatan yang sebelumnya ingin ia lakukan. Maka, Al-Quran adalah penghapus penyakit-penyakit yang membuat hati menginginkan kerusakan dan merupakan wasilah untuk memperbaiki hati. Seiring dengan semua itu, keinginan hati pun ikut membaik, dan kembali kepada fitrah penciptaannya sebagaimana kembalinya tubuh ini ke keadaan yang sehat. Hati pun tersuplai dengan keimanan yang bersumber dari Al-Qur’an yang  menyucikannya dan membantunya sebagaimana tubuh ini terpenuhi gizinya dengan apa yang membantu pertumbuhannya dan menguatkannya. Dari sini bisa kita ketahui bahwa hakikat bersihnya dan sucinya hati itu layaknya pertumbuhan badan.”Allah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)Zakaah di dalam bahasa artinya adalah tumbuh dan berkembang di dalam kebaikan. Dikatakan (zakaa asy-syai) jikalau ia berkembang di dalam kebaikan. Agar hati ini tumbuh dan berkembang, maka ia membutuhkan pemeliharaan dari pemiliknya, sehingga ia tumbuh dengan sempurna dan baik layaknya tubuh kita membutuhkan gizi yang mendukung kesehatannya.Bersama semua hal itu, hati ini tidak boleh lepas dari menghindarkan diri terhadap hal-hal yang membahayakannya. Layaknya badan yang mana tidak tumbuh, kecuali dengan memenuhi apa-apa yang bermanfaat baginya dan menghindar dari hal-hal yang membahayakannya. Begitu pula dengan hati, tidaklah ia menjadi suci, bertumbuh dan menjadi baik, kecuali jika terpenuhi semua yang bermanfaat baginya lalu diiringi dengan penolakan terhadap hal-hal yang berbahaya baginya.SEBAB KESEMBILAN :Meninggalkan Hal-hal yang Tidak BermanfaatTermasuk salah satu sebab lapangnya dada adalah menjaga lidah dari banyak bicara, menjaga telinga dari mendengarkan yang tidak bermanfaat baginya, dan menjaga mata dari melihat yang tidak berguna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmizi)Menyibukkan jiwa dan hati dengan sesuatu yang dapat memalingkan kita dari hal-hal yang urgen, yang dapat membahagiakan, serta menyukseskan kehidupan kita di dunia dan di akhirat memiliki pengaruh buruk dalam kehidupan manusia. Di mana hal tersebut akan menyempitkan dan menyusahkan hidup. Bahkan tidak menjaga pendengaran, penglihatan dan ucapan dari hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebab datangnya kesedihan dan kegalauan, serta mengakibatkan terjadinya hal-hal yang membebani. Di mana hal tersebut sangat tidak diinginkan manusia di kehidupan dunia ini maupun di akhirat kelak. Begitu pula, tidak menjaga pandangan dan pembicaraan dari hal-hal yang tidak bermanfaat akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kesengsaraan dan kesedihan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah hadis setelah menjabarkan pintu-pintu kebaikan,ألاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ “Maukah aku beritahu tentang sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Nabi Allah.’ Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memegang lisannya (lidahnya) dan bersabda, ‘Tahanlah(jagalah) ini!’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?’” (HR. At-Tirmdzi)Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh di dalam mendisiplinkan diri dan menghiasinya dengan perilaku terpuji, menjaga adab, menjaga jiwa, dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat membahayakan dan menghancurkannya.Syekh menutup sebab kesembilan ini dengan memberikan nasehat perihal bahaya terus menerus bermain handphone, “Dan salah satu ujian yang menimpa manusia pada zaman ini, yang mana dengannya  terbuka lebar pintu-pintu masuk bagi  hal-hal yang tidak bermanfaat adalah asiknya diri kita saat melihat hape, berpindah aplikasi, berseluncur di dunia maya hanya untuk menikmati hal-hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan kadang yang kita lakukan itu merupakan keburukan dan suatu hal yang tercela. Maka, semua itu berimbas buruk dan membahayakan agama dan akhlak kaum muslimin, menyia-menyiakan waktu mereka, membuat mereka terperosok ke dalam berbagai macam dan ragam kesedihan dan kegalauan serta rasa sempit di dalam dada.”[Bersambung]***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Asyratu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) Karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Ain, Arti Salamun Alaikum, Kasiat Surat Alfatehah, Syarat Jadi Imam, Arti Muslimin Dan Muslimat


Baca seri sebelumnya: 10 Kunci Meraih Rasa Lapang Dada (Bag. 6)SEBAB KEDELAPAN :Menjauhkan Diri dari Penyakit Hati maupun RacunnyaPenyakit hati dan racunnya serta hal-hal yang dapat merusaknya sangatlah banyak. Sungguh hati ini bisa sakit sebagaimana anggota badan lainnya. Bahkan, penyakit-penyakit hati memiliki pengaruh buruk yang sangat besar terhadap pemiliknya, seperti hasad, iri, dan dengki, dan penyakit-penyakit lainnya yang menimpa hati. Sifat-sifat tercela dan penyakit-penyakit buruk apabila masuk ke dalam hati, maka akan merusaknya. Dan apabila telah sampai ke dalam dada, maka ia akan membuatnya gelap dan akan membuat dada menjadi sempit serta membuat keadaannya menjadi suram bahkan akan memperburuk tempat kembalinya, yaitu akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألَا وإن في الجسد مضغةً، إذا صلَحت صلَح الجسد كلُّه، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب“Sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka menjadi baiklah seluruh anggota badan. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh anggota badan. Sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dengan gamblang akan bahayanya hati yang rusak karena penyakit dan racun yang masuk ke dalamnya. Apabila hati ini sudah rusak, maka rusak pula anggota tubuh lainnya. Adapun orang-orang yang selamat dari penyakit-penyakit ini dan hatinya dipenuhi dengan sifat-sifat yang bertolak belakang dari penyakit-penyakit hati, seperti amanah, memenuhi janji, kejujuran, dan mengutamakan orang lain, maka sifat-sifat tersebut akan membuat pemiliknya merasa lapang dada, membuat nyaman hatinya, dan memberikan ketenangan pada jiwanya.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meminta diberikan hati yang selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa di dalam sebuah hadis,أسألك قلبًا سليمًا“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu untuk diberikan hati yang lurus dan selamat.” (HR. Nasa’i)Yaitu hati yang selamat dari rasa ragu terhadap keesaan Allah Ta’ala dan keberadaan kehidupan setelah kematian. Karena sejatinya, hati yang telah dipenuhi keimanan pun jika setan membisikkan dan membuatnya was-was, maka sangat mungkin akan terjatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan. Namun, jika diri kita terbiasa berdoa meminta hati yang selamat, setidaknya hati ini mudah kembali dan cepat di dalam menyadari bahwa ia telah terjatuh dalam kesalahan.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata di dalam kitabnya (penyakit hati serta obatnya),“Al-Qur’an adalah obat bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada, baik itu penyakit syubhat maupun syahwat. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan mengenai kebenaran yang dapat menghapus kebatilan yang mana penyakit syubhat ini dapat terobati dengan ilmu, penjabaran, dan pengetahuan. Dan dengan berbekal semua hal itu ia dapat melihat segala hal sebagaimana mestinya.Dan di dalam Al-Qur’an terdapat pula hikmah maupun mauizah hasanah (nasehat dengan cara yang baik) baik itu dengan iming-iming imbalan maupun dengan cara menakuti, serta terdapat juga cerita-cerita yang terkandung di dalamnya ibrah dan contoh yang memberikan dampak pada sehatnya hati. Sehingga (dengan Al-Qur’an ini) hati  mencintai hal-hal yang bermanfaat baginya, membenci apa-apa yang membahayakannya, mencintai kebenaran, dan membenci kesesatan yang sebelumnya ingin ia lakukan. Maka, Al-Quran adalah penghapus penyakit-penyakit yang membuat hati menginginkan kerusakan dan merupakan wasilah untuk memperbaiki hati. Seiring dengan semua itu, keinginan hati pun ikut membaik, dan kembali kepada fitrah penciptaannya sebagaimana kembalinya tubuh ini ke keadaan yang sehat. Hati pun tersuplai dengan keimanan yang bersumber dari Al-Qur’an yang  menyucikannya dan membantunya sebagaimana tubuh ini terpenuhi gizinya dengan apa yang membantu pertumbuhannya dan menguatkannya. Dari sini bisa kita ketahui bahwa hakikat bersihnya dan sucinya hati itu layaknya pertumbuhan badan.”Allah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)Zakaah di dalam bahasa artinya adalah tumbuh dan berkembang di dalam kebaikan. Dikatakan (zakaa asy-syai) jikalau ia berkembang di dalam kebaikan. Agar hati ini tumbuh dan berkembang, maka ia membutuhkan pemeliharaan dari pemiliknya, sehingga ia tumbuh dengan sempurna dan baik layaknya tubuh kita membutuhkan gizi yang mendukung kesehatannya.Bersama semua hal itu, hati ini tidak boleh lepas dari menghindarkan diri terhadap hal-hal yang membahayakannya. Layaknya badan yang mana tidak tumbuh, kecuali dengan memenuhi apa-apa yang bermanfaat baginya dan menghindar dari hal-hal yang membahayakannya. Begitu pula dengan hati, tidaklah ia menjadi suci, bertumbuh dan menjadi baik, kecuali jika terpenuhi semua yang bermanfaat baginya lalu diiringi dengan penolakan terhadap hal-hal yang berbahaya baginya.SEBAB KESEMBILAN :Meninggalkan Hal-hal yang Tidak BermanfaatTermasuk salah satu sebab lapangnya dada adalah menjaga lidah dari banyak bicara, menjaga telinga dari mendengarkan yang tidak bermanfaat baginya, dan menjaga mata dari melihat yang tidak berguna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmizi)Menyibukkan jiwa dan hati dengan sesuatu yang dapat memalingkan kita dari hal-hal yang urgen, yang dapat membahagiakan, serta menyukseskan kehidupan kita di dunia dan di akhirat memiliki pengaruh buruk dalam kehidupan manusia. Di mana hal tersebut akan menyempitkan dan menyusahkan hidup. Bahkan tidak menjaga pendengaran, penglihatan dan ucapan dari hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan sebab datangnya kesedihan dan kegalauan, serta mengakibatkan terjadinya hal-hal yang membebani. Di mana hal tersebut sangat tidak diinginkan manusia di kehidupan dunia ini maupun di akhirat kelak. Begitu pula, tidak menjaga pandangan dan pembicaraan dari hal-hal yang tidak bermanfaat akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kesengsaraan dan kesedihan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam sebuah hadis setelah menjabarkan pintu-pintu kebaikan,ألاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ “Maukah aku beritahu tentang sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Nabi Allah.’ Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memegang lisannya (lidahnya) dan bersabda, ‘Tahanlah(jagalah) ini!’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Alangkah sedihnya ibumu kehilanganmu wahai Muadz, bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?’” (HR. At-Tirmdzi)Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh di dalam mendisiplinkan diri dan menghiasinya dengan perilaku terpuji, menjaga adab, menjaga jiwa, dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dapat membahayakan dan menghancurkannya.Syekh menutup sebab kesembilan ini dengan memberikan nasehat perihal bahaya terus menerus bermain handphone, “Dan salah satu ujian yang menimpa manusia pada zaman ini, yang mana dengannya  terbuka lebar pintu-pintu masuk bagi  hal-hal yang tidak bermanfaat adalah asiknya diri kita saat melihat hape, berpindah aplikasi, berseluncur di dunia maya hanya untuk menikmati hal-hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan kadang yang kita lakukan itu merupakan keburukan dan suatu hal yang tercela. Maka, semua itu berimbas buruk dan membahayakan agama dan akhlak kaum muslimin, menyia-menyiakan waktu mereka, membuat mereka terperosok ke dalam berbagai macam dan ragam kesedihan dan kegalauan serta rasa sempit di dalam dada.”[Bersambung]***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.idSumber:Asyratu Asbabin Linsyirahi As-sadr (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) Karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzhohullah dengan beberapa perubahan.🔍 Ain, Arti Salamun Alaikum, Kasiat Surat Alfatehah, Syarat Jadi Imam, Arti Muslimin Dan Muslimat

Apakah Jodoh Pasti Bertemu? – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Apakah Jodoh Pasti Bertemu? – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama Saudari kita berkata, “Hati saya bimbang, saya jaga kehormatan saya dengan yang halal,namun justru saya terlambat menikah, berikan kami beberapa nasihat, dan semoga Tuhan kita mempermudah semua urusan.” Baiklah, yang pertama, memohon pertolongan kepada Allah adalah perkara yang paling penting. Kemudian, meminta rezeki kepada Allah, termasuk di dalamnya meminta pasangan yang baik. Jadi, sesuatu yang dibutuhkan oleh wanita ini, dinanti-dinanti oleh gadis ini, yaitu bermimpi untuk memiliki suami, anak keturunan, rumah, dan keluarga yang mandiri, yang dia merasa tentram di dalamnya, dan hidup di dalamnya. Ini adalah keinginan yang manusiawi bagi para wanita. Allah yang menciptakan mereka dan menjadikan keinginan ini ada dalam fitrah mereka. Dan juga, wanita ini harus melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan syariat. Yaitu, hendaknya dia tidak mencari suami dengan cara menjalin hubungan terlarang, namun dengan doa, hendaknya dia memohon kepada Allah, dan hendaknya walinya berusaha mencarikan pasangan untuknya, yaitu ayahnya atau saudaranya. Begitu juga, kawan-kawannya yang salihah, hendaknya ada rekomendasi dari salah seorang di antara mereka untuknya, yaitu laki-laki yang saleh dari kerabatnya, dia kabarkan kepadanya perihal wanita ini, dengan mengatakan, “Ada seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik agamanya, bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Jangan berkata, “Ini nomornya, bicaralah dengan dia!” Jangan! “Bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Begitu seharusnya. Jadi, ada sebab-sebab yang boleh secara syariat untuk ditempuh. Dan yang paling penting, wanita ini harus mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada-Nya! Sebagian dari mereka berkata, “Sudah! Aku akan membuka internet dan mencari pasangan, aku akan menjalin hubungan, ngobrol dengan lelaki sampai aku mendapat jodoh, aku akan menghubungi ini dan itu, aku akan menjalin hubungan dengan ini dan itu.” Dan begitu seterusnya. Maka kami katakan “Tidak, apa yang ada di sisi Allah berupa rezeki, tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada Allah, tapi didapatkan dengan menaati-Nya.” Dengan dia meminta kepada Tuhan-Nya dan para walinya berupaya mencarikan jodoh untuknya, dan wanita-wanita yang baik di sekitar dia hendaknya mencarikan jodoh untuknya. Dan jalur yang syar’i adalah seorang pelamar datang dari pintunya, yaitu melalui walinya. Dan hendaknya dia ingat doa Nabi Musa ‘alaihis salam, “Sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Ketika Nabis Musa berteduh, apa yang dia katakan? “Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Aku sangat membutuhkan kebaikan dari-Mu, wahai Tuhanku! Kemudian Allah nikahkan beliau. Lalu Allah nikahkan beliau, “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata: ‘Sesungguhnya bapakku memanggilmu, …'” (QS. Al-Qashas: 25) “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, dan ia berkata, …” “Dia berjalan malu-malu, …” Dia malu, baik ketika berkata, ataupun ketika berjalan. ================================================================================ تَقُولُ الْأُخْتُ أَنَا مَهْمُومَةٌ نَفْسِي نَفْسِي أَنَا عَفَّةٌ بِالْحَلَالِ لَكِنْ تَأَخَّرَ زَوَاجِيْ أَوْصِنَا بِأُمُورٍ رَبَّنَا يُسَهِّلُ الْأَمْرَ طَيِّبٌ أَوَّلًا اللُّجُوءُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرٌ فِي غَايَةِ الْأَهَمِّيَّةِ وَطَلَبُ الرِّزْقِ مِنَ اللهِ يَشْمَلُ أَنْ يَرْزُقَهَا زَوْجًا صَالِحًا إِذَنْ هَذَا الشَّيْءُ الَّذِي تَحْتَاجُهُ الْمَرْأَةُ تَنْتَظِرُهُ الْفَتَاةُ وَهِيَ تَحْلُمُ بِزَوْجٍ وَأَوْلاَدٍ وَبَيْتٍ وَأُسْرَةٍ مُسْتَقِلَّةٍ تَهْدَأُ فِيهَا تَعِيشُ فِيهَا هَذَا مَطْلَبٌ طَبِيعِيٌّ لِلْمَرْأَةِ اللهُ خَلَقَهَا وَجَعَلَ هَذَا فِي فِطْرَتِهَا وَكَذَلِكَ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ تَتَّخِذُ الْأَسْبَابَ الْمَشْرُوعَةَ فَهِيَ لَا تَبْحَثُ عَنِ الزَّوْجِ عَبْرَ إِقَامَةِ عَلَقَاتٍ مُحَرَّمَةٍ لَكِنْ بِالدُّعَاءِ سُؤَالِ اللهِ بِتَحَرُّكِ أَوْلِيَائِهَا يَبْحَثُونَ لَهَا أَبُوهَا أَخُوهَا كَذَلِكَ صَاحِبَاتُهَا الصَّالِحَاتُ تَدُلُّ الْوَاحِدَةُ مِنْهُنَّ عَلَيهَا مَنْ يَكُونُ صَالِحًا مِنْ أَقَارِبِهَا فَتَذْكُرُهُ فَتَذْكُرَهَا لَهُ تَقُوْلُ يُوجَدُ فَتَاةٌ فِي أُسْرَةٍ صَاحِبَةِ الدِّيْنِ مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ مَا تَقُولُ خُذْ رَقْمَهَا وَكَلِّمْهَا لَا مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ وَهَكَذَا إِذَنْ هُنَاكَ أَسْبَابٌ جَائِزَةٌ شَرْعًا تُتَّخَذُ أَهَّمُ شَيْءٍ أَنْ تُدْرِكَ الْمَرْأَةُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَتِهِ بَعْضُهُنَّ تَقُولُ خَلَاص أَنَا سَأَفْتَحُ الْإِنْتِرْنِت وَأَبْحَثُ عَنْ زَوْجٍ وَأُقِيمُ عَلاَقَاتٍ وَأُكَلِّمُ الرِّجَالَ حَتَّى أَحْصُلَ عَلَى زَوْجٍ وَأُكَلِّمُ هَذَا وَهَذَا وَهَذَا وَأُقِيمُ عَلَاقَاتٍ مَعَ هَذَا وَهَذَا وَهَكَذَا فَنَقُولُ لَا مَا عِنْدَ اللهِ يَعْنِي مِنَ الرِّزْقِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ يُنَالُ بِطَاعَتِهِ تَسْأَلُ رَبَّهَا يَتَحَرَّكُ أَوْلِيَاؤُهَا مَنْ حَوْلَهَا مِنَ النِّسَاءِ الطَّيِّبَاتِ يَبْحَثْنَ لَهَا وَالطَّرِيقُ الشَّرْعِيُّ يَعْنِي الْخَاطِبُ يَجِيءُ مِنَ الْبَابِ عَنْ طَرِيقِ وَلِيِّهَا وَهِيَ تَتَذَكَّرُ دُعَاءَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 فَلَمَّا تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ مَاذَا قَالَ؟ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 أَنَا مُحْتَاجٌ إِلَى خَيْرِكَ يا رَبِّ فَزَوَّجَهُ اللهُ فَزَوَّجَهُ اللهُ – فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 الْحَيَاءُ فِي كَلَامِهَا وَفِي مِشْيَتِهَا  

Apakah Jodoh Pasti Bertemu? – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Apakah Jodoh Pasti Bertemu? – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama Saudari kita berkata, “Hati saya bimbang, saya jaga kehormatan saya dengan yang halal,namun justru saya terlambat menikah, berikan kami beberapa nasihat, dan semoga Tuhan kita mempermudah semua urusan.” Baiklah, yang pertama, memohon pertolongan kepada Allah adalah perkara yang paling penting. Kemudian, meminta rezeki kepada Allah, termasuk di dalamnya meminta pasangan yang baik. Jadi, sesuatu yang dibutuhkan oleh wanita ini, dinanti-dinanti oleh gadis ini, yaitu bermimpi untuk memiliki suami, anak keturunan, rumah, dan keluarga yang mandiri, yang dia merasa tentram di dalamnya, dan hidup di dalamnya. Ini adalah keinginan yang manusiawi bagi para wanita. Allah yang menciptakan mereka dan menjadikan keinginan ini ada dalam fitrah mereka. Dan juga, wanita ini harus melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan syariat. Yaitu, hendaknya dia tidak mencari suami dengan cara menjalin hubungan terlarang, namun dengan doa, hendaknya dia memohon kepada Allah, dan hendaknya walinya berusaha mencarikan pasangan untuknya, yaitu ayahnya atau saudaranya. Begitu juga, kawan-kawannya yang salihah, hendaknya ada rekomendasi dari salah seorang di antara mereka untuknya, yaitu laki-laki yang saleh dari kerabatnya, dia kabarkan kepadanya perihal wanita ini, dengan mengatakan, “Ada seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik agamanya, bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Jangan berkata, “Ini nomornya, bicaralah dengan dia!” Jangan! “Bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Begitu seharusnya. Jadi, ada sebab-sebab yang boleh secara syariat untuk ditempuh. Dan yang paling penting, wanita ini harus mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada-Nya! Sebagian dari mereka berkata, “Sudah! Aku akan membuka internet dan mencari pasangan, aku akan menjalin hubungan, ngobrol dengan lelaki sampai aku mendapat jodoh, aku akan menghubungi ini dan itu, aku akan menjalin hubungan dengan ini dan itu.” Dan begitu seterusnya. Maka kami katakan “Tidak, apa yang ada di sisi Allah berupa rezeki, tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada Allah, tapi didapatkan dengan menaati-Nya.” Dengan dia meminta kepada Tuhan-Nya dan para walinya berupaya mencarikan jodoh untuknya, dan wanita-wanita yang baik di sekitar dia hendaknya mencarikan jodoh untuknya. Dan jalur yang syar’i adalah seorang pelamar datang dari pintunya, yaitu melalui walinya. Dan hendaknya dia ingat doa Nabi Musa ‘alaihis salam, “Sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Ketika Nabis Musa berteduh, apa yang dia katakan? “Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Aku sangat membutuhkan kebaikan dari-Mu, wahai Tuhanku! Kemudian Allah nikahkan beliau. Lalu Allah nikahkan beliau, “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata: ‘Sesungguhnya bapakku memanggilmu, …'” (QS. Al-Qashas: 25) “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, dan ia berkata, …” “Dia berjalan malu-malu, …” Dia malu, baik ketika berkata, ataupun ketika berjalan. ================================================================================ تَقُولُ الْأُخْتُ أَنَا مَهْمُومَةٌ نَفْسِي نَفْسِي أَنَا عَفَّةٌ بِالْحَلَالِ لَكِنْ تَأَخَّرَ زَوَاجِيْ أَوْصِنَا بِأُمُورٍ رَبَّنَا يُسَهِّلُ الْأَمْرَ طَيِّبٌ أَوَّلًا اللُّجُوءُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرٌ فِي غَايَةِ الْأَهَمِّيَّةِ وَطَلَبُ الرِّزْقِ مِنَ اللهِ يَشْمَلُ أَنْ يَرْزُقَهَا زَوْجًا صَالِحًا إِذَنْ هَذَا الشَّيْءُ الَّذِي تَحْتَاجُهُ الْمَرْأَةُ تَنْتَظِرُهُ الْفَتَاةُ وَهِيَ تَحْلُمُ بِزَوْجٍ وَأَوْلاَدٍ وَبَيْتٍ وَأُسْرَةٍ مُسْتَقِلَّةٍ تَهْدَأُ فِيهَا تَعِيشُ فِيهَا هَذَا مَطْلَبٌ طَبِيعِيٌّ لِلْمَرْأَةِ اللهُ خَلَقَهَا وَجَعَلَ هَذَا فِي فِطْرَتِهَا وَكَذَلِكَ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ تَتَّخِذُ الْأَسْبَابَ الْمَشْرُوعَةَ فَهِيَ لَا تَبْحَثُ عَنِ الزَّوْجِ عَبْرَ إِقَامَةِ عَلَقَاتٍ مُحَرَّمَةٍ لَكِنْ بِالدُّعَاءِ سُؤَالِ اللهِ بِتَحَرُّكِ أَوْلِيَائِهَا يَبْحَثُونَ لَهَا أَبُوهَا أَخُوهَا كَذَلِكَ صَاحِبَاتُهَا الصَّالِحَاتُ تَدُلُّ الْوَاحِدَةُ مِنْهُنَّ عَلَيهَا مَنْ يَكُونُ صَالِحًا مِنْ أَقَارِبِهَا فَتَذْكُرُهُ فَتَذْكُرَهَا لَهُ تَقُوْلُ يُوجَدُ فَتَاةٌ فِي أُسْرَةٍ صَاحِبَةِ الدِّيْنِ مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ مَا تَقُولُ خُذْ رَقْمَهَا وَكَلِّمْهَا لَا مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ وَهَكَذَا إِذَنْ هُنَاكَ أَسْبَابٌ جَائِزَةٌ شَرْعًا تُتَّخَذُ أَهَّمُ شَيْءٍ أَنْ تُدْرِكَ الْمَرْأَةُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَتِهِ بَعْضُهُنَّ تَقُولُ خَلَاص أَنَا سَأَفْتَحُ الْإِنْتِرْنِت وَأَبْحَثُ عَنْ زَوْجٍ وَأُقِيمُ عَلاَقَاتٍ وَأُكَلِّمُ الرِّجَالَ حَتَّى أَحْصُلَ عَلَى زَوْجٍ وَأُكَلِّمُ هَذَا وَهَذَا وَهَذَا وَأُقِيمُ عَلَاقَاتٍ مَعَ هَذَا وَهَذَا وَهَكَذَا فَنَقُولُ لَا مَا عِنْدَ اللهِ يَعْنِي مِنَ الرِّزْقِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ يُنَالُ بِطَاعَتِهِ تَسْأَلُ رَبَّهَا يَتَحَرَّكُ أَوْلِيَاؤُهَا مَنْ حَوْلَهَا مِنَ النِّسَاءِ الطَّيِّبَاتِ يَبْحَثْنَ لَهَا وَالطَّرِيقُ الشَّرْعِيُّ يَعْنِي الْخَاطِبُ يَجِيءُ مِنَ الْبَابِ عَنْ طَرِيقِ وَلِيِّهَا وَهِيَ تَتَذَكَّرُ دُعَاءَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 فَلَمَّا تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ مَاذَا قَالَ؟ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 أَنَا مُحْتَاجٌ إِلَى خَيْرِكَ يا رَبِّ فَزَوَّجَهُ اللهُ فَزَوَّجَهُ اللهُ – فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 الْحَيَاءُ فِي كَلَامِهَا وَفِي مِشْيَتِهَا  
Apakah Jodoh Pasti Bertemu? – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama Saudari kita berkata, “Hati saya bimbang, saya jaga kehormatan saya dengan yang halal,namun justru saya terlambat menikah, berikan kami beberapa nasihat, dan semoga Tuhan kita mempermudah semua urusan.” Baiklah, yang pertama, memohon pertolongan kepada Allah adalah perkara yang paling penting. Kemudian, meminta rezeki kepada Allah, termasuk di dalamnya meminta pasangan yang baik. Jadi, sesuatu yang dibutuhkan oleh wanita ini, dinanti-dinanti oleh gadis ini, yaitu bermimpi untuk memiliki suami, anak keturunan, rumah, dan keluarga yang mandiri, yang dia merasa tentram di dalamnya, dan hidup di dalamnya. Ini adalah keinginan yang manusiawi bagi para wanita. Allah yang menciptakan mereka dan menjadikan keinginan ini ada dalam fitrah mereka. Dan juga, wanita ini harus melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan syariat. Yaitu, hendaknya dia tidak mencari suami dengan cara menjalin hubungan terlarang, namun dengan doa, hendaknya dia memohon kepada Allah, dan hendaknya walinya berusaha mencarikan pasangan untuknya, yaitu ayahnya atau saudaranya. Begitu juga, kawan-kawannya yang salihah, hendaknya ada rekomendasi dari salah seorang di antara mereka untuknya, yaitu laki-laki yang saleh dari kerabatnya, dia kabarkan kepadanya perihal wanita ini, dengan mengatakan, “Ada seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik agamanya, bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Jangan berkata, “Ini nomornya, bicaralah dengan dia!” Jangan! “Bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Begitu seharusnya. Jadi, ada sebab-sebab yang boleh secara syariat untuk ditempuh. Dan yang paling penting, wanita ini harus mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada-Nya! Sebagian dari mereka berkata, “Sudah! Aku akan membuka internet dan mencari pasangan, aku akan menjalin hubungan, ngobrol dengan lelaki sampai aku mendapat jodoh, aku akan menghubungi ini dan itu, aku akan menjalin hubungan dengan ini dan itu.” Dan begitu seterusnya. Maka kami katakan “Tidak, apa yang ada di sisi Allah berupa rezeki, tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada Allah, tapi didapatkan dengan menaati-Nya.” Dengan dia meminta kepada Tuhan-Nya dan para walinya berupaya mencarikan jodoh untuknya, dan wanita-wanita yang baik di sekitar dia hendaknya mencarikan jodoh untuknya. Dan jalur yang syar’i adalah seorang pelamar datang dari pintunya, yaitu melalui walinya. Dan hendaknya dia ingat doa Nabi Musa ‘alaihis salam, “Sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Ketika Nabis Musa berteduh, apa yang dia katakan? “Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Aku sangat membutuhkan kebaikan dari-Mu, wahai Tuhanku! Kemudian Allah nikahkan beliau. Lalu Allah nikahkan beliau, “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata: ‘Sesungguhnya bapakku memanggilmu, …'” (QS. Al-Qashas: 25) “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, dan ia berkata, …” “Dia berjalan malu-malu, …” Dia malu, baik ketika berkata, ataupun ketika berjalan. ================================================================================ تَقُولُ الْأُخْتُ أَنَا مَهْمُومَةٌ نَفْسِي نَفْسِي أَنَا عَفَّةٌ بِالْحَلَالِ لَكِنْ تَأَخَّرَ زَوَاجِيْ أَوْصِنَا بِأُمُورٍ رَبَّنَا يُسَهِّلُ الْأَمْرَ طَيِّبٌ أَوَّلًا اللُّجُوءُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرٌ فِي غَايَةِ الْأَهَمِّيَّةِ وَطَلَبُ الرِّزْقِ مِنَ اللهِ يَشْمَلُ أَنْ يَرْزُقَهَا زَوْجًا صَالِحًا إِذَنْ هَذَا الشَّيْءُ الَّذِي تَحْتَاجُهُ الْمَرْأَةُ تَنْتَظِرُهُ الْفَتَاةُ وَهِيَ تَحْلُمُ بِزَوْجٍ وَأَوْلاَدٍ وَبَيْتٍ وَأُسْرَةٍ مُسْتَقِلَّةٍ تَهْدَأُ فِيهَا تَعِيشُ فِيهَا هَذَا مَطْلَبٌ طَبِيعِيٌّ لِلْمَرْأَةِ اللهُ خَلَقَهَا وَجَعَلَ هَذَا فِي فِطْرَتِهَا وَكَذَلِكَ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ تَتَّخِذُ الْأَسْبَابَ الْمَشْرُوعَةَ فَهِيَ لَا تَبْحَثُ عَنِ الزَّوْجِ عَبْرَ إِقَامَةِ عَلَقَاتٍ مُحَرَّمَةٍ لَكِنْ بِالدُّعَاءِ سُؤَالِ اللهِ بِتَحَرُّكِ أَوْلِيَائِهَا يَبْحَثُونَ لَهَا أَبُوهَا أَخُوهَا كَذَلِكَ صَاحِبَاتُهَا الصَّالِحَاتُ تَدُلُّ الْوَاحِدَةُ مِنْهُنَّ عَلَيهَا مَنْ يَكُونُ صَالِحًا مِنْ أَقَارِبِهَا فَتَذْكُرُهُ فَتَذْكُرَهَا لَهُ تَقُوْلُ يُوجَدُ فَتَاةٌ فِي أُسْرَةٍ صَاحِبَةِ الدِّيْنِ مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ مَا تَقُولُ خُذْ رَقْمَهَا وَكَلِّمْهَا لَا مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ وَهَكَذَا إِذَنْ هُنَاكَ أَسْبَابٌ جَائِزَةٌ شَرْعًا تُتَّخَذُ أَهَّمُ شَيْءٍ أَنْ تُدْرِكَ الْمَرْأَةُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَتِهِ بَعْضُهُنَّ تَقُولُ خَلَاص أَنَا سَأَفْتَحُ الْإِنْتِرْنِت وَأَبْحَثُ عَنْ زَوْجٍ وَأُقِيمُ عَلاَقَاتٍ وَأُكَلِّمُ الرِّجَالَ حَتَّى أَحْصُلَ عَلَى زَوْجٍ وَأُكَلِّمُ هَذَا وَهَذَا وَهَذَا وَأُقِيمُ عَلَاقَاتٍ مَعَ هَذَا وَهَذَا وَهَكَذَا فَنَقُولُ لَا مَا عِنْدَ اللهِ يَعْنِي مِنَ الرِّزْقِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ يُنَالُ بِطَاعَتِهِ تَسْأَلُ رَبَّهَا يَتَحَرَّكُ أَوْلِيَاؤُهَا مَنْ حَوْلَهَا مِنَ النِّسَاءِ الطَّيِّبَاتِ يَبْحَثْنَ لَهَا وَالطَّرِيقُ الشَّرْعِيُّ يَعْنِي الْخَاطِبُ يَجِيءُ مِنَ الْبَابِ عَنْ طَرِيقِ وَلِيِّهَا وَهِيَ تَتَذَكَّرُ دُعَاءَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 فَلَمَّا تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ مَاذَا قَالَ؟ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 أَنَا مُحْتَاجٌ إِلَى خَيْرِكَ يا رَبِّ فَزَوَّجَهُ اللهُ فَزَوَّجَهُ اللهُ – فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 الْحَيَاءُ فِي كَلَامِهَا وَفِي مِشْيَتِهَا  


Apakah Jodoh Pasti Bertemu? – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama Saudari kita berkata, “Hati saya bimbang, saya jaga kehormatan saya dengan yang halal,namun justru saya terlambat menikah, berikan kami beberapa nasihat, dan semoga Tuhan kita mempermudah semua urusan.” Baiklah, yang pertama, memohon pertolongan kepada Allah adalah perkara yang paling penting. Kemudian, meminta rezeki kepada Allah, termasuk di dalamnya meminta pasangan yang baik. Jadi, sesuatu yang dibutuhkan oleh wanita ini, dinanti-dinanti oleh gadis ini, yaitu bermimpi untuk memiliki suami, anak keturunan, rumah, dan keluarga yang mandiri, yang dia merasa tentram di dalamnya, dan hidup di dalamnya. Ini adalah keinginan yang manusiawi bagi para wanita. Allah yang menciptakan mereka dan menjadikan keinginan ini ada dalam fitrah mereka. Dan juga, wanita ini harus melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan syariat. Yaitu, hendaknya dia tidak mencari suami dengan cara menjalin hubungan terlarang, namun dengan doa, hendaknya dia memohon kepada Allah, dan hendaknya walinya berusaha mencarikan pasangan untuknya, yaitu ayahnya atau saudaranya. Begitu juga, kawan-kawannya yang salihah, hendaknya ada rekomendasi dari salah seorang di antara mereka untuknya, yaitu laki-laki yang saleh dari kerabatnya, dia kabarkan kepadanya perihal wanita ini, dengan mengatakan, “Ada seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik agamanya, bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Jangan berkata, “Ini nomornya, bicaralah dengan dia!” Jangan! “Bagaimana jika kami melamar dia untukmu?” Begitu seharusnya. Jadi, ada sebab-sebab yang boleh secara syariat untuk ditempuh. Dan yang paling penting, wanita ini harus mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada-Nya! Sebagian dari mereka berkata, “Sudah! Aku akan membuka internet dan mencari pasangan, aku akan menjalin hubungan, ngobrol dengan lelaki sampai aku mendapat jodoh, aku akan menghubungi ini dan itu, aku akan menjalin hubungan dengan ini dan itu.” Dan begitu seterusnya. Maka kami katakan “Tidak, apa yang ada di sisi Allah berupa rezeki, tidak akan didapatkan dengan bermaksiat kepada Allah, tapi didapatkan dengan menaati-Nya.” Dengan dia meminta kepada Tuhan-Nya dan para walinya berupaya mencarikan jodoh untuknya, dan wanita-wanita yang baik di sekitar dia hendaknya mencarikan jodoh untuknya. Dan jalur yang syar’i adalah seorang pelamar datang dari pintunya, yaitu melalui walinya. Dan hendaknya dia ingat doa Nabi Musa ‘alaihis salam, “Sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Ketika Nabis Musa berteduh, apa yang dia katakan? “Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24) Aku sangat membutuhkan kebaikan dari-Mu, wahai Tuhanku! Kemudian Allah nikahkan beliau. Lalu Allah nikahkan beliau, “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata: ‘Sesungguhnya bapakku memanggilmu, …'” (QS. Al-Qashas: 25) “Kemudian datanglah kepada Musa salah satu dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, dan ia berkata, …” “Dia berjalan malu-malu, …” Dia malu, baik ketika berkata, ataupun ketika berjalan. ================================================================================ تَقُولُ الْأُخْتُ أَنَا مَهْمُومَةٌ نَفْسِي نَفْسِي أَنَا عَفَّةٌ بِالْحَلَالِ لَكِنْ تَأَخَّرَ زَوَاجِيْ أَوْصِنَا بِأُمُورٍ رَبَّنَا يُسَهِّلُ الْأَمْرَ طَيِّبٌ أَوَّلًا اللُّجُوءُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَمْرٌ فِي غَايَةِ الْأَهَمِّيَّةِ وَطَلَبُ الرِّزْقِ مِنَ اللهِ يَشْمَلُ أَنْ يَرْزُقَهَا زَوْجًا صَالِحًا إِذَنْ هَذَا الشَّيْءُ الَّذِي تَحْتَاجُهُ الْمَرْأَةُ تَنْتَظِرُهُ الْفَتَاةُ وَهِيَ تَحْلُمُ بِزَوْجٍ وَأَوْلاَدٍ وَبَيْتٍ وَأُسْرَةٍ مُسْتَقِلَّةٍ تَهْدَأُ فِيهَا تَعِيشُ فِيهَا هَذَا مَطْلَبٌ طَبِيعِيٌّ لِلْمَرْأَةِ اللهُ خَلَقَهَا وَجَعَلَ هَذَا فِي فِطْرَتِهَا وَكَذَلِكَ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ تَتَّخِذُ الْأَسْبَابَ الْمَشْرُوعَةَ فَهِيَ لَا تَبْحَثُ عَنِ الزَّوْجِ عَبْرَ إِقَامَةِ عَلَقَاتٍ مُحَرَّمَةٍ لَكِنْ بِالدُّعَاءِ سُؤَالِ اللهِ بِتَحَرُّكِ أَوْلِيَائِهَا يَبْحَثُونَ لَهَا أَبُوهَا أَخُوهَا كَذَلِكَ صَاحِبَاتُهَا الصَّالِحَاتُ تَدُلُّ الْوَاحِدَةُ مِنْهُنَّ عَلَيهَا مَنْ يَكُونُ صَالِحًا مِنْ أَقَارِبِهَا فَتَذْكُرُهُ فَتَذْكُرَهَا لَهُ تَقُوْلُ يُوجَدُ فَتَاةٌ فِي أُسْرَةٍ صَاحِبَةِ الدِّيْنِ مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ مَا تَقُولُ خُذْ رَقْمَهَا وَكَلِّمْهَا لَا مَا رَأْيُكَ أَنْ نَخْطُبَهَا لَكَ؟ وَهَكَذَا إِذَنْ هُنَاكَ أَسْبَابٌ جَائِزَةٌ شَرْعًا تُتَّخَذُ أَهَّمُ شَيْءٍ أَنْ تُدْرِكَ الْمَرْأَةُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَتِهِ بَعْضُهُنَّ تَقُولُ خَلَاص أَنَا سَأَفْتَحُ الْإِنْتِرْنِت وَأَبْحَثُ عَنْ زَوْجٍ وَأُقِيمُ عَلاَقَاتٍ وَأُكَلِّمُ الرِّجَالَ حَتَّى أَحْصُلَ عَلَى زَوْجٍ وَأُكَلِّمُ هَذَا وَهَذَا وَهَذَا وَأُقِيمُ عَلَاقَاتٍ مَعَ هَذَا وَهَذَا وَهَكَذَا فَنَقُولُ لَا مَا عِنْدَ اللهِ يَعْنِي مِنَ الرِّزْقِ لَا يُنَالُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ يُنَالُ بِطَاعَتِهِ تَسْأَلُ رَبَّهَا يَتَحَرَّكُ أَوْلِيَاؤُهَا مَنْ حَوْلَهَا مِنَ النِّسَاءِ الطَّيِّبَاتِ يَبْحَثْنَ لَهَا وَالطَّرِيقُ الشَّرْعِيُّ يَعْنِي الْخَاطِبُ يَجِيءُ مِنَ الْبَابِ عَنْ طَرِيقِ وَلِيِّهَا وَهِيَ تَتَذَكَّرُ دُعَاءَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 فَلَمَّا تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ مَاذَا قَالَ؟ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ- الْقَصَصُ الْآيَةُ 24 أَنَا مُحْتَاجٌ إِلَى خَيْرِكَ يا رَبِّ فَزَوَّجَهُ اللهُ فَزَوَّجَهُ اللهُ – فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ – الْقَصَصُ الْآيَةُ 25 الْحَيَاءُ فِي كَلَامِهَا وَفِي مِشْيَتِهَا  

“Masya Allah” Kapan Diucapkan?

Bismillahirrahmanirrahim.Kesempurnaan Islam sangat terasa manakala kita dapati di setiap keadaan ada doa atau zikir yang dianjurkan untuk dibaca. Salah satunya adalah ungkapan yang sangat populer, yaitu “masyaallah”.Di dalam Al-Qur’an ungkapan ini banyak disebutkan. Seperti pada ayat berikut,وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا“Mengapa ketika Engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah), sekalipun Engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini bercerita tentang nasihat seorang pemilik kebun kepada temannya yang sama-sama mempunyai kebun, namun ia kafir. Saat masuk ke kebunnya, dengan penuh kesombongan pemilik kebun yang kafir ini mengatakan, “Menurutku, kebun ini akan abadi. Dan kiamat itu tidak akan terjadi. Kalau pun aku diambil oleh Tuhanku, aku pasti akan dapat tempat tinggal yang lebih baik dari ini.”Mendengar ucapan itu, sang pemilik kebun yang mukmin menasihati temannya itu, “Apa kamu berani ingkar kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah dan setetes air mani, kemudian kamu menjadi laki-laki yang matang?!”(Percakapan mereka ada di surah Al-Kahfi, ayat 35 – 38)Kemudian, pemilik kebun yang mukmin itu melanjutkan nasihat yang terekam pada ayat 39 surah Al-Kahfi di atas.Baca Juga:  Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirKapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Ayat di atas mengandung tuntunan, kapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Bila dilihat dari latar belakang munculnya nasihat itu, yaitu di saat menegur saudaranya yang sombong atau takjub melihat kebunnya yang indah dan menawan, maka ucapan “masyaallah” dituntunkan untuk diucapkan pada saat melihat hal-hal yang menakjubkan, baik pada rezeki kita atau milik orang lain.Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya terhadap ayat ini,أي هلا إذ أعجبتك حين دخلتها ونظرت إليها، حمدت الله ما أنعم به عليك وأعطاك من المال والولد ما لم يعطه غيرك، وقلت ما شاء الله لا قوة إلا بالله، ولهذا قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله أو ماله أو ولده، فليقل: ما شاء الله لا قوة إلا بالله، وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة.“Maksud ayat ini, tidakkah Anda memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan kepadamu yang tidak diberikan kepada orang lain berupa harta dan keturunan dengan mengucapkan ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh (masyaallah, tidak ada kekuatan, kecuali milik Allah, pent)’, saat Anda masuk ke kebun itu dan memandangnya? Oleh karenanya, sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Jika kalian takjub dengan sesuatu, entah itu berupa keadaan, harta atau anaknya, hendaknya kalian mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ Pesan ini diambil dari ayat di atas.”Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Al-Wabil As-Shoyyib (hal. 371) menulis sebuah bab dengan judul “Zikir yang Diucapkan saat Melihat Sesuatu yang Menakjubkan dan Dia Khawatir dengan ‘Ain.” Kemudian, beliau menyertakan ayat 39 surah Al-Kahfi di atas dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,العين حق، ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين“Ain itu benar adanya. Andai ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka itu adalah ‘ain.” (HR. Muslim)Wallahua’lam bishshowab.Baca Juga:***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Yajuj Majuj, Cara Menghancurkan Rumah Tangga Orang, Brosur Tahfidz, Makmum Membaca Alfatihah Setelah Amin, Hadits Keutamaan Memberi

“Masya Allah” Kapan Diucapkan?

Bismillahirrahmanirrahim.Kesempurnaan Islam sangat terasa manakala kita dapati di setiap keadaan ada doa atau zikir yang dianjurkan untuk dibaca. Salah satunya adalah ungkapan yang sangat populer, yaitu “masyaallah”.Di dalam Al-Qur’an ungkapan ini banyak disebutkan. Seperti pada ayat berikut,وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا“Mengapa ketika Engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah), sekalipun Engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini bercerita tentang nasihat seorang pemilik kebun kepada temannya yang sama-sama mempunyai kebun, namun ia kafir. Saat masuk ke kebunnya, dengan penuh kesombongan pemilik kebun yang kafir ini mengatakan, “Menurutku, kebun ini akan abadi. Dan kiamat itu tidak akan terjadi. Kalau pun aku diambil oleh Tuhanku, aku pasti akan dapat tempat tinggal yang lebih baik dari ini.”Mendengar ucapan itu, sang pemilik kebun yang mukmin menasihati temannya itu, “Apa kamu berani ingkar kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah dan setetes air mani, kemudian kamu menjadi laki-laki yang matang?!”(Percakapan mereka ada di surah Al-Kahfi, ayat 35 – 38)Kemudian, pemilik kebun yang mukmin itu melanjutkan nasihat yang terekam pada ayat 39 surah Al-Kahfi di atas.Baca Juga:  Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirKapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Ayat di atas mengandung tuntunan, kapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Bila dilihat dari latar belakang munculnya nasihat itu, yaitu di saat menegur saudaranya yang sombong atau takjub melihat kebunnya yang indah dan menawan, maka ucapan “masyaallah” dituntunkan untuk diucapkan pada saat melihat hal-hal yang menakjubkan, baik pada rezeki kita atau milik orang lain.Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya terhadap ayat ini,أي هلا إذ أعجبتك حين دخلتها ونظرت إليها، حمدت الله ما أنعم به عليك وأعطاك من المال والولد ما لم يعطه غيرك، وقلت ما شاء الله لا قوة إلا بالله، ولهذا قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله أو ماله أو ولده، فليقل: ما شاء الله لا قوة إلا بالله، وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة.“Maksud ayat ini, tidakkah Anda memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan kepadamu yang tidak diberikan kepada orang lain berupa harta dan keturunan dengan mengucapkan ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh (masyaallah, tidak ada kekuatan, kecuali milik Allah, pent)’, saat Anda masuk ke kebun itu dan memandangnya? Oleh karenanya, sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Jika kalian takjub dengan sesuatu, entah itu berupa keadaan, harta atau anaknya, hendaknya kalian mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ Pesan ini diambil dari ayat di atas.”Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Al-Wabil As-Shoyyib (hal. 371) menulis sebuah bab dengan judul “Zikir yang Diucapkan saat Melihat Sesuatu yang Menakjubkan dan Dia Khawatir dengan ‘Ain.” Kemudian, beliau menyertakan ayat 39 surah Al-Kahfi di atas dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,العين حق، ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين“Ain itu benar adanya. Andai ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka itu adalah ‘ain.” (HR. Muslim)Wallahua’lam bishshowab.Baca Juga:***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Yajuj Majuj, Cara Menghancurkan Rumah Tangga Orang, Brosur Tahfidz, Makmum Membaca Alfatihah Setelah Amin, Hadits Keutamaan Memberi
Bismillahirrahmanirrahim.Kesempurnaan Islam sangat terasa manakala kita dapati di setiap keadaan ada doa atau zikir yang dianjurkan untuk dibaca. Salah satunya adalah ungkapan yang sangat populer, yaitu “masyaallah”.Di dalam Al-Qur’an ungkapan ini banyak disebutkan. Seperti pada ayat berikut,وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا“Mengapa ketika Engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah), sekalipun Engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini bercerita tentang nasihat seorang pemilik kebun kepada temannya yang sama-sama mempunyai kebun, namun ia kafir. Saat masuk ke kebunnya, dengan penuh kesombongan pemilik kebun yang kafir ini mengatakan, “Menurutku, kebun ini akan abadi. Dan kiamat itu tidak akan terjadi. Kalau pun aku diambil oleh Tuhanku, aku pasti akan dapat tempat tinggal yang lebih baik dari ini.”Mendengar ucapan itu, sang pemilik kebun yang mukmin menasihati temannya itu, “Apa kamu berani ingkar kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah dan setetes air mani, kemudian kamu menjadi laki-laki yang matang?!”(Percakapan mereka ada di surah Al-Kahfi, ayat 35 – 38)Kemudian, pemilik kebun yang mukmin itu melanjutkan nasihat yang terekam pada ayat 39 surah Al-Kahfi di atas.Baca Juga:  Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirKapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Ayat di atas mengandung tuntunan, kapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Bila dilihat dari latar belakang munculnya nasihat itu, yaitu di saat menegur saudaranya yang sombong atau takjub melihat kebunnya yang indah dan menawan, maka ucapan “masyaallah” dituntunkan untuk diucapkan pada saat melihat hal-hal yang menakjubkan, baik pada rezeki kita atau milik orang lain.Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya terhadap ayat ini,أي هلا إذ أعجبتك حين دخلتها ونظرت إليها، حمدت الله ما أنعم به عليك وأعطاك من المال والولد ما لم يعطه غيرك، وقلت ما شاء الله لا قوة إلا بالله، ولهذا قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله أو ماله أو ولده، فليقل: ما شاء الله لا قوة إلا بالله، وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة.“Maksud ayat ini, tidakkah Anda memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan kepadamu yang tidak diberikan kepada orang lain berupa harta dan keturunan dengan mengucapkan ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh (masyaallah, tidak ada kekuatan, kecuali milik Allah, pent)’, saat Anda masuk ke kebun itu dan memandangnya? Oleh karenanya, sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Jika kalian takjub dengan sesuatu, entah itu berupa keadaan, harta atau anaknya, hendaknya kalian mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ Pesan ini diambil dari ayat di atas.”Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Al-Wabil As-Shoyyib (hal. 371) menulis sebuah bab dengan judul “Zikir yang Diucapkan saat Melihat Sesuatu yang Menakjubkan dan Dia Khawatir dengan ‘Ain.” Kemudian, beliau menyertakan ayat 39 surah Al-Kahfi di atas dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,العين حق، ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين“Ain itu benar adanya. Andai ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka itu adalah ‘ain.” (HR. Muslim)Wallahua’lam bishshowab.Baca Juga:***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Yajuj Majuj, Cara Menghancurkan Rumah Tangga Orang, Brosur Tahfidz, Makmum Membaca Alfatihah Setelah Amin, Hadits Keutamaan Memberi


Bismillahirrahmanirrahim.Kesempurnaan Islam sangat terasa manakala kita dapati di setiap keadaan ada doa atau zikir yang dianjurkan untuk dibaca. Salah satunya adalah ungkapan yang sangat populer, yaitu “masyaallah”.Di dalam Al-Qur’an ungkapan ini banyak disebutkan. Seperti pada ayat berikut,وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا“Mengapa ketika Engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah), sekalipun Engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.” (QS. Al-Kahfi: 39)Ayat ini bercerita tentang nasihat seorang pemilik kebun kepada temannya yang sama-sama mempunyai kebun, namun ia kafir. Saat masuk ke kebunnya, dengan penuh kesombongan pemilik kebun yang kafir ini mengatakan, “Menurutku, kebun ini akan abadi. Dan kiamat itu tidak akan terjadi. Kalau pun aku diambil oleh Tuhanku, aku pasti akan dapat tempat tinggal yang lebih baik dari ini.”Mendengar ucapan itu, sang pemilik kebun yang mukmin menasihati temannya itu, “Apa kamu berani ingkar kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah dan setetes air mani, kemudian kamu menjadi laki-laki yang matang?!”(Percakapan mereka ada di surah Al-Kahfi, ayat 35 – 38)Kemudian, pemilik kebun yang mukmin itu melanjutkan nasihat yang terekam pada ayat 39 surah Al-Kahfi di atas.Baca Juga:  Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirKapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Ayat di atas mengandung tuntunan, kapan ungkapan “masyaallah” diucapkan?Bila dilihat dari latar belakang munculnya nasihat itu, yaitu di saat menegur saudaranya yang sombong atau takjub melihat kebunnya yang indah dan menawan, maka ucapan “masyaallah” dituntunkan untuk diucapkan pada saat melihat hal-hal yang menakjubkan, baik pada rezeki kita atau milik orang lain.Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya terhadap ayat ini,أي هلا إذ أعجبتك حين دخلتها ونظرت إليها، حمدت الله ما أنعم به عليك وأعطاك من المال والولد ما لم يعطه غيرك، وقلت ما شاء الله لا قوة إلا بالله، ولهذا قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله أو ماله أو ولده، فليقل: ما شاء الله لا قوة إلا بالله، وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة.“Maksud ayat ini, tidakkah Anda memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan kepadamu yang tidak diberikan kepada orang lain berupa harta dan keturunan dengan mengucapkan ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh (masyaallah, tidak ada kekuatan, kecuali milik Allah, pent)’, saat Anda masuk ke kebun itu dan memandangnya? Oleh karenanya, sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Jika kalian takjub dengan sesuatu, entah itu berupa keadaan, harta atau anaknya, hendaknya kalian mengucapkan, ‘Māsyā Allāh, lā quwwata illā billāh.’ Pesan ini diambil dari ayat di atas.”Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Al-Wabil As-Shoyyib (hal. 371) menulis sebuah bab dengan judul “Zikir yang Diucapkan saat Melihat Sesuatu yang Menakjubkan dan Dia Khawatir dengan ‘Ain.” Kemudian, beliau menyertakan ayat 39 surah Al-Kahfi di atas dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,العين حق، ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين“Ain itu benar adanya. Andai ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka itu adalah ‘ain.” (HR. Muslim)Wallahua’lam bishshowab.Baca Juga:***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Yajuj Majuj, Cara Menghancurkan Rumah Tangga Orang, Brosur Tahfidz, Makmum Membaca Alfatihah Setelah Amin, Hadits Keutamaan Memberi

Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 3)

Baca seri sebelumnya: Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 2)Apakah maksiat bisa jadi lebih berbahaya daripada bid’ah?Dalam serial sebelumnya telah kami paparkan bahwa ditinjau dari jenisnya, bid’ah itu lebih berbahaya daripada maksiat. Di antara sebabnya, karena fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh bid’ah itu terkait dengan pokok agama, sedangkan kerusakan yang ditimbulkan oleh maksiat itu berkaitan dengan syahwat. Akan tetapi, kaidah ini berlaku jika tidak ada indikasi-indikasi lain yang bisa mengubah kondisi suatu maksiat dan bid’ah tersebut.Di antara perkara yang bisa memperberat dosa maksiat atau bid’ah adalah jika pelakunya melakukannya secara terus-menerus atau bersikap meremehkan atau menganggap boleh (halal) perbuatan tersebut atau melakukannya secara terang-terangan atau mengajak orang lain dan mendakwahkannya. Sehingga, dengan faktor-faktor ini maksiat bisa menjadi lebih berbahaya dan lebih besar dosanya dari bid’ah.Sebaliknya, di antara perkara yang bisa memperingan suatu maksiat atau bid’ah adalah ketika pelakunya mengerjakan perbuatan tersebut secara sembunyi-bunyi tidak terus-menerus melakukannya atau menyesal atau kemudian bertaubat darinya.Demikian pula, berat ringannya suatu bid’ah atau maksiat tergantung dari dampak kerusakan yang ditimbulkan. Jika dampak suatu bid’ah itu pada mayoritas (atau bahkan keseluruhan) aspek agama, maka bid’ah tersebut lebih berat dosanya dibandingkan dengan bid’ah yang dampak kerusakan tidak meluas seperti itu. Misalnya, ada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa semua hadits ahad itu tidak boleh dipakai dalam bab aqidah. Maka dampak dari bid’ah semacam ini sangat besar kerusakannya. Banyak bab dalam agama yang rusak jika aqidah yang menyimpang itu diterapkan. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 31-32)Oleh karena itu, dalam membandingkan antara bid’ah dan maksiat, kita perlu melihat dan mengkaji kasus per kasus secara lebih dalam manakah yang lebih fatal dan lebih besar bahayanya. Tidak bisa digeneralisir bahwa semua bid’ah apapun itu lebih berat atau lebih besar dosanya dibandingkan maksiat apapun itu. Sehingga, ungkapan “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat” adalah ungkapan yang bersifat umum (general), dan tidak bisa diterapkan untuk membandingkan secara langsung satu per satu bid’ah dan maksiat.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaContoh, seseorang berbuat zina dengan ibu kandungnya sendiri. Kemudian dibandingkan dengan bid’ah melafazkan niat (ushalli). Manakah yang lebih besar dosanya? Dalam kasus ini, kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa bid’ah ushalli itu lebih besar dosanya dibandingkan dosa berzina dengan ibu kandung sendiri.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Manakah yang lebih besar dosanya, durhaka kepada kedua orang tua ataukah bid’ah?”Maka, beliau hafizahullah menjawab bahwa durhaka kepada orangtua itu lebih besar dosanya daripada bid’ah. Hal ini karena Allah Ta’ala menyebutkan dosa durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar setelah syirik. Juga dalam berbagai hadis disebutkan bahwa dosa besar yang paling besar setelah kesyirikan ialah durhaka kepada orangtua. (Sumber ada di sini)Oleh karena itu, pernyataan ulama “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat” adalah perkataan yang perlu diperinci. Perkataan ini tidak bisa dibawa secara mutlak ke dalam setiap contoh kasus maksiat dan bid’ah. Akan tetapi, semua tergantung pada kadar bid’ah atau maksiat tersebut dan juga indikasi (keadaan) yang menyertainya. Apalagi bid’ah juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada bid’ah yang bisa menyebabkan pelakunya kafir, seperti bid’ah dalam masalah aqidah. Namun, ada bid’ah yang tidak sampai seperti itu, seperti bid’ah dalam amaliyah tertentu. Misalnya, membunuh seorang muslim, apalagi membunuh orang tua sendiri, zina dengan ibu kandung, atau bunuh diri, perkara ini jelas lebih besar dosanya dibandingkan dengan bid’ah bersalam-salaman selepas salat berjamaah.Perbuatan bid’ah akan mengantarkan kepada maksiat, termasuk kekafiran dan kemusyrikanDari sisi yang lain, seandainya kita mencermati berbagai jenis bid’ah, kita bisa melihat bahwa bid’ah itu seperti penyakit yang merusak jasad seseorang. Bid’ah bisa merusak agama seseorang, bisa merusak akhlak, merusak harta dan kekayaan, dan juga bisa merusak kedudukan ilmiah dan martabat seseorang.Contoh, salah satu jenis kebid’ahan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin adalah upacara peringatan tanggal kematian seorang wali (orang saleh) yang terkenal, yang disebut dengan acara haul. Meskipun wali tersebut sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, sebagian orang masih rutin mengadakan acara haul untuk memperingati tanggal kematiannya. Kita bisa melihat bahwa acara-acara tersebut kemudian terdapat campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan ini adalah kemaksiatan. Juga bisa mengantarkan kepada maksiat yang lain berupa kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.Demikian pula, bid’ah berupa perayaan-perayaan yang tidak ada tuntunan dari agama. Kita bisa melihat dalam bid’ah tersebut kemudian terdapat kemaksiatan berupa musik, joget-jogetan, campur baur antara laki-laki dan perempuan, dan berbagai kemaksiatan yang lainnya.Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanOleh karena itu, tidaklah heran jika sebagian ulama mengatakan,البدع دهليز الكفر و النفاف“Bid’ah itu gerbang atau pagar menuju kekafiran dan kemunafikan.” (Majmu’ Al-Fataawa, 3: 230) (Lihat Ilmu Ushuul Bida’, hal. 219-220)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والخلاصة: أن البدعة سبب للكفر ولا يرد على هذا قول بعض أهل العلم: إن المعاصي بريد الكفر; لأنه لا مانع من تعدد الأسباب.“Ringkasnya, bid’ah adalah sebab menuju kekafiran. Dan hal ini tidaklah bertentangan dengan perkataan sebagian ulama bahwa sesungguhnya maksiat itu adalah pos menuju kekafiran. Hal ini karena boleh saja sebab kekafiran itu banyak (tidak hanya satu, pent.).” (Al-Qaulul Mufiid, 1: 385).Kapan suatu maksiat dapat menjadi bid’ah?Suatu maksiat bisa menjadi bid’ah ketika orang yang melakukan maksiat tersebut meyakini bahwa perbuatannya itu bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Contoh pertama, ada orang yang memiliki keyakinan bahwa merampok harta kaum muslimin yang lainnya adalah bagian dari jihad fii sabilillah, yang dengannya dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ditinjau dari asal perbuatannya, merampok adalah maksiat atau dosa besar. Karena dia merampas harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Namun, ditinjau dari keyakinan pelakunya bahwa dengan merampok itu lebih dekat kepada Allah Ta’ala, maka ini termasuk perbuatan bid’ah.Contoh kedua, seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mendengarkan atau memainkan alat-alat musik, atau menari-nari dan berjoget sambil mengiringi alat musik.Contoh ketiga, seseorang yang beribadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara tasyabbuh dengan orang-orang kafir.Contoh-contoh di atas termasuk maksiat sekaligus bid’ah, karena telah masuk ke dalam definisi bid’ah. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi, yaitu:Pertama, perbuatan tersebut adalah bid’ah karena pelakunya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tata cara yang tidak Allah Ta’ala syariatkan. Bahkan, dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan perbuatan yang Allah Ta’ala larang dalam syariat.Kedua, dari sisi bahwa perbuatan tersebut keluar dari tata cara baku (nizom) dalam beragama.Ketiga, dari sisi hal itu bisa menjadi sarana menuju keyakinan bahwa perbuatan tersebut termasuk bagian dari ajaran agama. Apalagi jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang tampak saleh atau orang yang ditokohkan dalam agama. Sehingga, orang-orang awam pun menjadi tertipu. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 111-112)Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Setiap ibadah (perbuatan) yang dilarang, maka hal itu bukanlah ibadah. Karena, jika itu betul termasuk ibadah (yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, pent.), pasti tidak akan dilarang. Maka, orang yang melakukannya berarti mengamalkan sesuatu yang tidak disyariatkan. Jika dia meyakini hal itu sebagai bentuk ibadah, padahal perbuatan tersebut dilarang, maka dia adalah seorang mubtadi’.” (Al-I’tisham, 2: 34)Syekh Muhammad bin Husain Al-Jizani hafizhahullah berkata, “Bid’ah berbeda dengan maksiat dari sisi (bahwa bid’ah itu) mirip atau menyerupai syariat. Karena, bid’ah itu disandarkan dan dilekatkan kepada agama. Hal ini berbeda dengan maksiat karena maksiat itu bertentangan dengan perkara yang disyariatkan. Sehingga, maksiat itu adalah keluar (dari aturan) agama dan tidak disandarkan kepada agama. Kecuali, jika perbuatan maksiat tersebut dilakukan dalam bentuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala). Maka, terkumpul di dalamnya -dari dua sisi yang berbeda- bid’ah dan maksiat dalam satu perbuatan yang sama.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 29)Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 7 Jumadil Ula 1443/12 Desember 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idReferensi:Ilmu Ushuul Bida’, karya Syekh Ali Hasan Al-Atsari, penerbit Daar Ar-Rayah, Riyadh KSA, cetakan kedua tahun 1417, hal. 217-224.Qawaa’idu Ma’rifatil Bida’, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, cetakan keenam tahun 1433, hal. 28-32 dan 111-112.

Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 3)

Baca seri sebelumnya: Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 2)Apakah maksiat bisa jadi lebih berbahaya daripada bid’ah?Dalam serial sebelumnya telah kami paparkan bahwa ditinjau dari jenisnya, bid’ah itu lebih berbahaya daripada maksiat. Di antara sebabnya, karena fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh bid’ah itu terkait dengan pokok agama, sedangkan kerusakan yang ditimbulkan oleh maksiat itu berkaitan dengan syahwat. Akan tetapi, kaidah ini berlaku jika tidak ada indikasi-indikasi lain yang bisa mengubah kondisi suatu maksiat dan bid’ah tersebut.Di antara perkara yang bisa memperberat dosa maksiat atau bid’ah adalah jika pelakunya melakukannya secara terus-menerus atau bersikap meremehkan atau menganggap boleh (halal) perbuatan tersebut atau melakukannya secara terang-terangan atau mengajak orang lain dan mendakwahkannya. Sehingga, dengan faktor-faktor ini maksiat bisa menjadi lebih berbahaya dan lebih besar dosanya dari bid’ah.Sebaliknya, di antara perkara yang bisa memperingan suatu maksiat atau bid’ah adalah ketika pelakunya mengerjakan perbuatan tersebut secara sembunyi-bunyi tidak terus-menerus melakukannya atau menyesal atau kemudian bertaubat darinya.Demikian pula, berat ringannya suatu bid’ah atau maksiat tergantung dari dampak kerusakan yang ditimbulkan. Jika dampak suatu bid’ah itu pada mayoritas (atau bahkan keseluruhan) aspek agama, maka bid’ah tersebut lebih berat dosanya dibandingkan dengan bid’ah yang dampak kerusakan tidak meluas seperti itu. Misalnya, ada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa semua hadits ahad itu tidak boleh dipakai dalam bab aqidah. Maka dampak dari bid’ah semacam ini sangat besar kerusakannya. Banyak bab dalam agama yang rusak jika aqidah yang menyimpang itu diterapkan. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 31-32)Oleh karena itu, dalam membandingkan antara bid’ah dan maksiat, kita perlu melihat dan mengkaji kasus per kasus secara lebih dalam manakah yang lebih fatal dan lebih besar bahayanya. Tidak bisa digeneralisir bahwa semua bid’ah apapun itu lebih berat atau lebih besar dosanya dibandingkan maksiat apapun itu. Sehingga, ungkapan “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat” adalah ungkapan yang bersifat umum (general), dan tidak bisa diterapkan untuk membandingkan secara langsung satu per satu bid’ah dan maksiat.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaContoh, seseorang berbuat zina dengan ibu kandungnya sendiri. Kemudian dibandingkan dengan bid’ah melafazkan niat (ushalli). Manakah yang lebih besar dosanya? Dalam kasus ini, kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa bid’ah ushalli itu lebih besar dosanya dibandingkan dosa berzina dengan ibu kandung sendiri.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Manakah yang lebih besar dosanya, durhaka kepada kedua orang tua ataukah bid’ah?”Maka, beliau hafizahullah menjawab bahwa durhaka kepada orangtua itu lebih besar dosanya daripada bid’ah. Hal ini karena Allah Ta’ala menyebutkan dosa durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar setelah syirik. Juga dalam berbagai hadis disebutkan bahwa dosa besar yang paling besar setelah kesyirikan ialah durhaka kepada orangtua. (Sumber ada di sini)Oleh karena itu, pernyataan ulama “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat” adalah perkataan yang perlu diperinci. Perkataan ini tidak bisa dibawa secara mutlak ke dalam setiap contoh kasus maksiat dan bid’ah. Akan tetapi, semua tergantung pada kadar bid’ah atau maksiat tersebut dan juga indikasi (keadaan) yang menyertainya. Apalagi bid’ah juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada bid’ah yang bisa menyebabkan pelakunya kafir, seperti bid’ah dalam masalah aqidah. Namun, ada bid’ah yang tidak sampai seperti itu, seperti bid’ah dalam amaliyah tertentu. Misalnya, membunuh seorang muslim, apalagi membunuh orang tua sendiri, zina dengan ibu kandung, atau bunuh diri, perkara ini jelas lebih besar dosanya dibandingkan dengan bid’ah bersalam-salaman selepas salat berjamaah.Perbuatan bid’ah akan mengantarkan kepada maksiat, termasuk kekafiran dan kemusyrikanDari sisi yang lain, seandainya kita mencermati berbagai jenis bid’ah, kita bisa melihat bahwa bid’ah itu seperti penyakit yang merusak jasad seseorang. Bid’ah bisa merusak agama seseorang, bisa merusak akhlak, merusak harta dan kekayaan, dan juga bisa merusak kedudukan ilmiah dan martabat seseorang.Contoh, salah satu jenis kebid’ahan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin adalah upacara peringatan tanggal kematian seorang wali (orang saleh) yang terkenal, yang disebut dengan acara haul. Meskipun wali tersebut sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, sebagian orang masih rutin mengadakan acara haul untuk memperingati tanggal kematiannya. Kita bisa melihat bahwa acara-acara tersebut kemudian terdapat campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan ini adalah kemaksiatan. Juga bisa mengantarkan kepada maksiat yang lain berupa kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.Demikian pula, bid’ah berupa perayaan-perayaan yang tidak ada tuntunan dari agama. Kita bisa melihat dalam bid’ah tersebut kemudian terdapat kemaksiatan berupa musik, joget-jogetan, campur baur antara laki-laki dan perempuan, dan berbagai kemaksiatan yang lainnya.Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanOleh karena itu, tidaklah heran jika sebagian ulama mengatakan,البدع دهليز الكفر و النفاف“Bid’ah itu gerbang atau pagar menuju kekafiran dan kemunafikan.” (Majmu’ Al-Fataawa, 3: 230) (Lihat Ilmu Ushuul Bida’, hal. 219-220)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والخلاصة: أن البدعة سبب للكفر ولا يرد على هذا قول بعض أهل العلم: إن المعاصي بريد الكفر; لأنه لا مانع من تعدد الأسباب.“Ringkasnya, bid’ah adalah sebab menuju kekafiran. Dan hal ini tidaklah bertentangan dengan perkataan sebagian ulama bahwa sesungguhnya maksiat itu adalah pos menuju kekafiran. Hal ini karena boleh saja sebab kekafiran itu banyak (tidak hanya satu, pent.).” (Al-Qaulul Mufiid, 1: 385).Kapan suatu maksiat dapat menjadi bid’ah?Suatu maksiat bisa menjadi bid’ah ketika orang yang melakukan maksiat tersebut meyakini bahwa perbuatannya itu bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Contoh pertama, ada orang yang memiliki keyakinan bahwa merampok harta kaum muslimin yang lainnya adalah bagian dari jihad fii sabilillah, yang dengannya dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ditinjau dari asal perbuatannya, merampok adalah maksiat atau dosa besar. Karena dia merampas harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Namun, ditinjau dari keyakinan pelakunya bahwa dengan merampok itu lebih dekat kepada Allah Ta’ala, maka ini termasuk perbuatan bid’ah.Contoh kedua, seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mendengarkan atau memainkan alat-alat musik, atau menari-nari dan berjoget sambil mengiringi alat musik.Contoh ketiga, seseorang yang beribadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara tasyabbuh dengan orang-orang kafir.Contoh-contoh di atas termasuk maksiat sekaligus bid’ah, karena telah masuk ke dalam definisi bid’ah. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi, yaitu:Pertama, perbuatan tersebut adalah bid’ah karena pelakunya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tata cara yang tidak Allah Ta’ala syariatkan. Bahkan, dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan perbuatan yang Allah Ta’ala larang dalam syariat.Kedua, dari sisi bahwa perbuatan tersebut keluar dari tata cara baku (nizom) dalam beragama.Ketiga, dari sisi hal itu bisa menjadi sarana menuju keyakinan bahwa perbuatan tersebut termasuk bagian dari ajaran agama. Apalagi jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang tampak saleh atau orang yang ditokohkan dalam agama. Sehingga, orang-orang awam pun menjadi tertipu. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 111-112)Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Setiap ibadah (perbuatan) yang dilarang, maka hal itu bukanlah ibadah. Karena, jika itu betul termasuk ibadah (yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, pent.), pasti tidak akan dilarang. Maka, orang yang melakukannya berarti mengamalkan sesuatu yang tidak disyariatkan. Jika dia meyakini hal itu sebagai bentuk ibadah, padahal perbuatan tersebut dilarang, maka dia adalah seorang mubtadi’.” (Al-I’tisham, 2: 34)Syekh Muhammad bin Husain Al-Jizani hafizhahullah berkata, “Bid’ah berbeda dengan maksiat dari sisi (bahwa bid’ah itu) mirip atau menyerupai syariat. Karena, bid’ah itu disandarkan dan dilekatkan kepada agama. Hal ini berbeda dengan maksiat karena maksiat itu bertentangan dengan perkara yang disyariatkan. Sehingga, maksiat itu adalah keluar (dari aturan) agama dan tidak disandarkan kepada agama. Kecuali, jika perbuatan maksiat tersebut dilakukan dalam bentuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala). Maka, terkumpul di dalamnya -dari dua sisi yang berbeda- bid’ah dan maksiat dalam satu perbuatan yang sama.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 29)Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 7 Jumadil Ula 1443/12 Desember 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idReferensi:Ilmu Ushuul Bida’, karya Syekh Ali Hasan Al-Atsari, penerbit Daar Ar-Rayah, Riyadh KSA, cetakan kedua tahun 1417, hal. 217-224.Qawaa’idu Ma’rifatil Bida’, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, cetakan keenam tahun 1433, hal. 28-32 dan 111-112.
Baca seri sebelumnya: Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 2)Apakah maksiat bisa jadi lebih berbahaya daripada bid’ah?Dalam serial sebelumnya telah kami paparkan bahwa ditinjau dari jenisnya, bid’ah itu lebih berbahaya daripada maksiat. Di antara sebabnya, karena fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh bid’ah itu terkait dengan pokok agama, sedangkan kerusakan yang ditimbulkan oleh maksiat itu berkaitan dengan syahwat. Akan tetapi, kaidah ini berlaku jika tidak ada indikasi-indikasi lain yang bisa mengubah kondisi suatu maksiat dan bid’ah tersebut.Di antara perkara yang bisa memperberat dosa maksiat atau bid’ah adalah jika pelakunya melakukannya secara terus-menerus atau bersikap meremehkan atau menganggap boleh (halal) perbuatan tersebut atau melakukannya secara terang-terangan atau mengajak orang lain dan mendakwahkannya. Sehingga, dengan faktor-faktor ini maksiat bisa menjadi lebih berbahaya dan lebih besar dosanya dari bid’ah.Sebaliknya, di antara perkara yang bisa memperingan suatu maksiat atau bid’ah adalah ketika pelakunya mengerjakan perbuatan tersebut secara sembunyi-bunyi tidak terus-menerus melakukannya atau menyesal atau kemudian bertaubat darinya.Demikian pula, berat ringannya suatu bid’ah atau maksiat tergantung dari dampak kerusakan yang ditimbulkan. Jika dampak suatu bid’ah itu pada mayoritas (atau bahkan keseluruhan) aspek agama, maka bid’ah tersebut lebih berat dosanya dibandingkan dengan bid’ah yang dampak kerusakan tidak meluas seperti itu. Misalnya, ada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa semua hadits ahad itu tidak boleh dipakai dalam bab aqidah. Maka dampak dari bid’ah semacam ini sangat besar kerusakannya. Banyak bab dalam agama yang rusak jika aqidah yang menyimpang itu diterapkan. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 31-32)Oleh karena itu, dalam membandingkan antara bid’ah dan maksiat, kita perlu melihat dan mengkaji kasus per kasus secara lebih dalam manakah yang lebih fatal dan lebih besar bahayanya. Tidak bisa digeneralisir bahwa semua bid’ah apapun itu lebih berat atau lebih besar dosanya dibandingkan maksiat apapun itu. Sehingga, ungkapan “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat” adalah ungkapan yang bersifat umum (general), dan tidak bisa diterapkan untuk membandingkan secara langsung satu per satu bid’ah dan maksiat.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaContoh, seseorang berbuat zina dengan ibu kandungnya sendiri. Kemudian dibandingkan dengan bid’ah melafazkan niat (ushalli). Manakah yang lebih besar dosanya? Dalam kasus ini, kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa bid’ah ushalli itu lebih besar dosanya dibandingkan dosa berzina dengan ibu kandung sendiri.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Manakah yang lebih besar dosanya, durhaka kepada kedua orang tua ataukah bid’ah?”Maka, beliau hafizahullah menjawab bahwa durhaka kepada orangtua itu lebih besar dosanya daripada bid’ah. Hal ini karena Allah Ta’ala menyebutkan dosa durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar setelah syirik. Juga dalam berbagai hadis disebutkan bahwa dosa besar yang paling besar setelah kesyirikan ialah durhaka kepada orangtua. (Sumber ada di sini)Oleh karena itu, pernyataan ulama “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat” adalah perkataan yang perlu diperinci. Perkataan ini tidak bisa dibawa secara mutlak ke dalam setiap contoh kasus maksiat dan bid’ah. Akan tetapi, semua tergantung pada kadar bid’ah atau maksiat tersebut dan juga indikasi (keadaan) yang menyertainya. Apalagi bid’ah juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada bid’ah yang bisa menyebabkan pelakunya kafir, seperti bid’ah dalam masalah aqidah. Namun, ada bid’ah yang tidak sampai seperti itu, seperti bid’ah dalam amaliyah tertentu. Misalnya, membunuh seorang muslim, apalagi membunuh orang tua sendiri, zina dengan ibu kandung, atau bunuh diri, perkara ini jelas lebih besar dosanya dibandingkan dengan bid’ah bersalam-salaman selepas salat berjamaah.Perbuatan bid’ah akan mengantarkan kepada maksiat, termasuk kekafiran dan kemusyrikanDari sisi yang lain, seandainya kita mencermati berbagai jenis bid’ah, kita bisa melihat bahwa bid’ah itu seperti penyakit yang merusak jasad seseorang. Bid’ah bisa merusak agama seseorang, bisa merusak akhlak, merusak harta dan kekayaan, dan juga bisa merusak kedudukan ilmiah dan martabat seseorang.Contoh, salah satu jenis kebid’ahan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin adalah upacara peringatan tanggal kematian seorang wali (orang saleh) yang terkenal, yang disebut dengan acara haul. Meskipun wali tersebut sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, sebagian orang masih rutin mengadakan acara haul untuk memperingati tanggal kematiannya. Kita bisa melihat bahwa acara-acara tersebut kemudian terdapat campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan ini adalah kemaksiatan. Juga bisa mengantarkan kepada maksiat yang lain berupa kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.Demikian pula, bid’ah berupa perayaan-perayaan yang tidak ada tuntunan dari agama. Kita bisa melihat dalam bid’ah tersebut kemudian terdapat kemaksiatan berupa musik, joget-jogetan, campur baur antara laki-laki dan perempuan, dan berbagai kemaksiatan yang lainnya.Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanOleh karena itu, tidaklah heran jika sebagian ulama mengatakan,البدع دهليز الكفر و النفاف“Bid’ah itu gerbang atau pagar menuju kekafiran dan kemunafikan.” (Majmu’ Al-Fataawa, 3: 230) (Lihat Ilmu Ushuul Bida’, hal. 219-220)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والخلاصة: أن البدعة سبب للكفر ولا يرد على هذا قول بعض أهل العلم: إن المعاصي بريد الكفر; لأنه لا مانع من تعدد الأسباب.“Ringkasnya, bid’ah adalah sebab menuju kekafiran. Dan hal ini tidaklah bertentangan dengan perkataan sebagian ulama bahwa sesungguhnya maksiat itu adalah pos menuju kekafiran. Hal ini karena boleh saja sebab kekafiran itu banyak (tidak hanya satu, pent.).” (Al-Qaulul Mufiid, 1: 385).Kapan suatu maksiat dapat menjadi bid’ah?Suatu maksiat bisa menjadi bid’ah ketika orang yang melakukan maksiat tersebut meyakini bahwa perbuatannya itu bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Contoh pertama, ada orang yang memiliki keyakinan bahwa merampok harta kaum muslimin yang lainnya adalah bagian dari jihad fii sabilillah, yang dengannya dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ditinjau dari asal perbuatannya, merampok adalah maksiat atau dosa besar. Karena dia merampas harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Namun, ditinjau dari keyakinan pelakunya bahwa dengan merampok itu lebih dekat kepada Allah Ta’ala, maka ini termasuk perbuatan bid’ah.Contoh kedua, seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mendengarkan atau memainkan alat-alat musik, atau menari-nari dan berjoget sambil mengiringi alat musik.Contoh ketiga, seseorang yang beribadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara tasyabbuh dengan orang-orang kafir.Contoh-contoh di atas termasuk maksiat sekaligus bid’ah, karena telah masuk ke dalam definisi bid’ah. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi, yaitu:Pertama, perbuatan tersebut adalah bid’ah karena pelakunya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tata cara yang tidak Allah Ta’ala syariatkan. Bahkan, dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan perbuatan yang Allah Ta’ala larang dalam syariat.Kedua, dari sisi bahwa perbuatan tersebut keluar dari tata cara baku (nizom) dalam beragama.Ketiga, dari sisi hal itu bisa menjadi sarana menuju keyakinan bahwa perbuatan tersebut termasuk bagian dari ajaran agama. Apalagi jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang tampak saleh atau orang yang ditokohkan dalam agama. Sehingga, orang-orang awam pun menjadi tertipu. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 111-112)Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Setiap ibadah (perbuatan) yang dilarang, maka hal itu bukanlah ibadah. Karena, jika itu betul termasuk ibadah (yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, pent.), pasti tidak akan dilarang. Maka, orang yang melakukannya berarti mengamalkan sesuatu yang tidak disyariatkan. Jika dia meyakini hal itu sebagai bentuk ibadah, padahal perbuatan tersebut dilarang, maka dia adalah seorang mubtadi’.” (Al-I’tisham, 2: 34)Syekh Muhammad bin Husain Al-Jizani hafizhahullah berkata, “Bid’ah berbeda dengan maksiat dari sisi (bahwa bid’ah itu) mirip atau menyerupai syariat. Karena, bid’ah itu disandarkan dan dilekatkan kepada agama. Hal ini berbeda dengan maksiat karena maksiat itu bertentangan dengan perkara yang disyariatkan. Sehingga, maksiat itu adalah keluar (dari aturan) agama dan tidak disandarkan kepada agama. Kecuali, jika perbuatan maksiat tersebut dilakukan dalam bentuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala). Maka, terkumpul di dalamnya -dari dua sisi yang berbeda- bid’ah dan maksiat dalam satu perbuatan yang sama.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 29)Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 7 Jumadil Ula 1443/12 Desember 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idReferensi:Ilmu Ushuul Bida’, karya Syekh Ali Hasan Al-Atsari, penerbit Daar Ar-Rayah, Riyadh KSA, cetakan kedua tahun 1417, hal. 217-224.Qawaa’idu Ma’rifatil Bida’, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, cetakan keenam tahun 1433, hal. 28-32 dan 111-112.


Baca seri sebelumnya: Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 2)Apakah maksiat bisa jadi lebih berbahaya daripada bid’ah?Dalam serial sebelumnya telah kami paparkan bahwa ditinjau dari jenisnya, bid’ah itu lebih berbahaya daripada maksiat. Di antara sebabnya, karena fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh bid’ah itu terkait dengan pokok agama, sedangkan kerusakan yang ditimbulkan oleh maksiat itu berkaitan dengan syahwat. Akan tetapi, kaidah ini berlaku jika tidak ada indikasi-indikasi lain yang bisa mengubah kondisi suatu maksiat dan bid’ah tersebut.Di antara perkara yang bisa memperberat dosa maksiat atau bid’ah adalah jika pelakunya melakukannya secara terus-menerus atau bersikap meremehkan atau menganggap boleh (halal) perbuatan tersebut atau melakukannya secara terang-terangan atau mengajak orang lain dan mendakwahkannya. Sehingga, dengan faktor-faktor ini maksiat bisa menjadi lebih berbahaya dan lebih besar dosanya dari bid’ah.Sebaliknya, di antara perkara yang bisa memperingan suatu maksiat atau bid’ah adalah ketika pelakunya mengerjakan perbuatan tersebut secara sembunyi-bunyi tidak terus-menerus melakukannya atau menyesal atau kemudian bertaubat darinya.Demikian pula, berat ringannya suatu bid’ah atau maksiat tergantung dari dampak kerusakan yang ditimbulkan. Jika dampak suatu bid’ah itu pada mayoritas (atau bahkan keseluruhan) aspek agama, maka bid’ah tersebut lebih berat dosanya dibandingkan dengan bid’ah yang dampak kerusakan tidak meluas seperti itu. Misalnya, ada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa semua hadits ahad itu tidak boleh dipakai dalam bab aqidah. Maka dampak dari bid’ah semacam ini sangat besar kerusakannya. Banyak bab dalam agama yang rusak jika aqidah yang menyimpang itu diterapkan. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 31-32)Oleh karena itu, dalam membandingkan antara bid’ah dan maksiat, kita perlu melihat dan mengkaji kasus per kasus secara lebih dalam manakah yang lebih fatal dan lebih besar bahayanya. Tidak bisa digeneralisir bahwa semua bid’ah apapun itu lebih berat atau lebih besar dosanya dibandingkan maksiat apapun itu. Sehingga, ungkapan “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat” adalah ungkapan yang bersifat umum (general), dan tidak bisa diterapkan untuk membandingkan secara langsung satu per satu bid’ah dan maksiat.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaContoh, seseorang berbuat zina dengan ibu kandungnya sendiri. Kemudian dibandingkan dengan bid’ah melafazkan niat (ushalli). Manakah yang lebih besar dosanya? Dalam kasus ini, kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa bid’ah ushalli itu lebih besar dosanya dibandingkan dosa berzina dengan ibu kandung sendiri.Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Manakah yang lebih besar dosanya, durhaka kepada kedua orang tua ataukah bid’ah?”Maka, beliau hafizahullah menjawab bahwa durhaka kepada orangtua itu lebih besar dosanya daripada bid’ah. Hal ini karena Allah Ta’ala menyebutkan dosa durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar setelah syirik. Juga dalam berbagai hadis disebutkan bahwa dosa besar yang paling besar setelah kesyirikan ialah durhaka kepada orangtua. (Sumber ada di sini)Oleh karena itu, pernyataan ulama “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat” adalah perkataan yang perlu diperinci. Perkataan ini tidak bisa dibawa secara mutlak ke dalam setiap contoh kasus maksiat dan bid’ah. Akan tetapi, semua tergantung pada kadar bid’ah atau maksiat tersebut dan juga indikasi (keadaan) yang menyertainya. Apalagi bid’ah juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada bid’ah yang bisa menyebabkan pelakunya kafir, seperti bid’ah dalam masalah aqidah. Namun, ada bid’ah yang tidak sampai seperti itu, seperti bid’ah dalam amaliyah tertentu. Misalnya, membunuh seorang muslim, apalagi membunuh orang tua sendiri, zina dengan ibu kandung, atau bunuh diri, perkara ini jelas lebih besar dosanya dibandingkan dengan bid’ah bersalam-salaman selepas salat berjamaah.Perbuatan bid’ah akan mengantarkan kepada maksiat, termasuk kekafiran dan kemusyrikanDari sisi yang lain, seandainya kita mencermati berbagai jenis bid’ah, kita bisa melihat bahwa bid’ah itu seperti penyakit yang merusak jasad seseorang. Bid’ah bisa merusak agama seseorang, bisa merusak akhlak, merusak harta dan kekayaan, dan juga bisa merusak kedudukan ilmiah dan martabat seseorang.Contoh, salah satu jenis kebid’ahan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin adalah upacara peringatan tanggal kematian seorang wali (orang saleh) yang terkenal, yang disebut dengan acara haul. Meskipun wali tersebut sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, sebagian orang masih rutin mengadakan acara haul untuk memperingati tanggal kematiannya. Kita bisa melihat bahwa acara-acara tersebut kemudian terdapat campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan ini adalah kemaksiatan. Juga bisa mengantarkan kepada maksiat yang lain berupa kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.Demikian pula, bid’ah berupa perayaan-perayaan yang tidak ada tuntunan dari agama. Kita bisa melihat dalam bid’ah tersebut kemudian terdapat kemaksiatan berupa musik, joget-jogetan, campur baur antara laki-laki dan perempuan, dan berbagai kemaksiatan yang lainnya.Baca Juga: Sisi Lain Amalan Bid’ah Yang Sering DilupakanOleh karena itu, tidaklah heran jika sebagian ulama mengatakan,البدع دهليز الكفر و النفاف“Bid’ah itu gerbang atau pagar menuju kekafiran dan kemunafikan.” (Majmu’ Al-Fataawa, 3: 230) (Lihat Ilmu Ushuul Bida’, hal. 219-220)Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,والخلاصة: أن البدعة سبب للكفر ولا يرد على هذا قول بعض أهل العلم: إن المعاصي بريد الكفر; لأنه لا مانع من تعدد الأسباب.“Ringkasnya, bid’ah adalah sebab menuju kekafiran. Dan hal ini tidaklah bertentangan dengan perkataan sebagian ulama bahwa sesungguhnya maksiat itu adalah pos menuju kekafiran. Hal ini karena boleh saja sebab kekafiran itu banyak (tidak hanya satu, pent.).” (Al-Qaulul Mufiid, 1: 385).Kapan suatu maksiat dapat menjadi bid’ah?Suatu maksiat bisa menjadi bid’ah ketika orang yang melakukan maksiat tersebut meyakini bahwa perbuatannya itu bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Contoh pertama, ada orang yang memiliki keyakinan bahwa merampok harta kaum muslimin yang lainnya adalah bagian dari jihad fii sabilillah, yang dengannya dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ditinjau dari asal perbuatannya, merampok adalah maksiat atau dosa besar. Karena dia merampas harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Namun, ditinjau dari keyakinan pelakunya bahwa dengan merampok itu lebih dekat kepada Allah Ta’ala, maka ini termasuk perbuatan bid’ah.Contoh kedua, seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mendengarkan atau memainkan alat-alat musik, atau menari-nari dan berjoget sambil mengiringi alat musik.Contoh ketiga, seseorang yang beribadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara tasyabbuh dengan orang-orang kafir.Contoh-contoh di atas termasuk maksiat sekaligus bid’ah, karena telah masuk ke dalam definisi bid’ah. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai sisi, yaitu:Pertama, perbuatan tersebut adalah bid’ah karena pelakunya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tata cara yang tidak Allah Ta’ala syariatkan. Bahkan, dia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan perbuatan yang Allah Ta’ala larang dalam syariat.Kedua, dari sisi bahwa perbuatan tersebut keluar dari tata cara baku (nizom) dalam beragama.Ketiga, dari sisi hal itu bisa menjadi sarana menuju keyakinan bahwa perbuatan tersebut termasuk bagian dari ajaran agama. Apalagi jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang tampak saleh atau orang yang ditokohkan dalam agama. Sehingga, orang-orang awam pun menjadi tertipu. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 111-112)Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Setiap ibadah (perbuatan) yang dilarang, maka hal itu bukanlah ibadah. Karena, jika itu betul termasuk ibadah (yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, pent.), pasti tidak akan dilarang. Maka, orang yang melakukannya berarti mengamalkan sesuatu yang tidak disyariatkan. Jika dia meyakini hal itu sebagai bentuk ibadah, padahal perbuatan tersebut dilarang, maka dia adalah seorang mubtadi’.” (Al-I’tisham, 2: 34)Syekh Muhammad bin Husain Al-Jizani hafizhahullah berkata, “Bid’ah berbeda dengan maksiat dari sisi (bahwa bid’ah itu) mirip atau menyerupai syariat. Karena, bid’ah itu disandarkan dan dilekatkan kepada agama. Hal ini berbeda dengan maksiat karena maksiat itu bertentangan dengan perkara yang disyariatkan. Sehingga, maksiat itu adalah keluar (dari aturan) agama dan tidak disandarkan kepada agama. Kecuali, jika perbuatan maksiat tersebut dilakukan dalam bentuk taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala). Maka, terkumpul di dalamnya -dari dua sisi yang berbeda- bid’ah dan maksiat dalam satu perbuatan yang sama.” (Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 29)Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Kasongan, 7 Jumadil Ula 1443/12 Desember 2021Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.idReferensi:Ilmu Ushuul Bida’, karya Syekh Ali Hasan Al-Atsari, penerbit Daar Ar-Rayah, Riyadh KSA, cetakan kedua tahun 1417, hal. 217-224.Qawaa’idu Ma’rifatil Bida’, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA, cetakan keenam tahun 1433, hal. 28-32 dan 111-112.

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah Kekufuran

Mohon dimaklumi sebelumnya, mungkin ada pembaca yang “merasa tidak nyaman” dengan pembahasan “kafir” dan “mengkafirkan”, akan tetapi ternyata pembahasan ini dibahas lengkap dan detail oleh ulama kita dalam pembahasan aqidah tauhid, di mana seorang muslim wajib mengetahuinya karena merupakan aqidah dasar kita.Bisa jadi merasa tidak nyaman atau bahkan ada yang “alergi” dengan pembahasan ini, karena selama ini pembahasn “kafir” dan “mengkafirkan” adalah adalah pembahasan yang seolah-olah seram, menakutkan serta merusak persaudaraan dan toleransi. Anggapan ini TIDAK BENAR, pembahasan mengenai hal ini apabila dipelajari secara benar dan berdasarkan dalil (bukan berdasarkan perasaan dan sangkaan semata), maka dalam pembahasan ini didapatkan:1. Ketegasan dalam agama Islam, tidak ada yang “abu-abu”, apabila ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka disebut kafir sesuai nash dan dalil2. Indah dan lembutnya ajaran Islam, pembahasan “mengkafirkan” tidak diterapkan serampangan dan langsung memvonis saja, tetapi ada prosesnya dan rinciannya. Tidak dibenarkan seseorang langsung memvonis saudara se-Islam dengan “kafir” tanpa kaidah yang benar, terlebih lagi ada pembahasan “takfir mutlak” dan “takfir mu’ayyan”.Pembaca yang semoga dirahmati Allah, belakangan ini ada wacana yang dihembuskan cukup masif bahwa:“Non-muslim tidak boleh dipanggil kafir”Mereka beralasan bawa kata-kata “kafir” adalah kata-kata yang kasar dan menunjukkan intoleransi. Tentu pendapat ini TIDAK BENAR dan PERLU DILURUSKAN.Sebagai orang indonesia kita perlu kembali pada pengertian “kafir” pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):“Kafir: Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”Jadi, sangat tepat apabila kita katakan dan kita sebut non-muslim dengan sebutan “kafir”Sebuah ungkapan yang bijak:لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَال“Setiap tempat ada ucapan yang layak”Tentu kita TIDAK memanggil orang yang tidak beriman atau non-muslim dengan panggilan seperti ini:“Hai kafir, mau ke mana?” “Perkenalkan ini tetanggaku yg kafir”Tentu kata-kata “kafir” kita posisikan sesuai dengan tempatnya, BUKAN DIHAPUS ATAU TIDAK DIGUNAKAN SAMA SEKALI dengan alasan perasaan semata atau alasan yang dibuat-buat.Menghapus atau tidak menggunakan kata-kata kafir bertentangan dengan aqidah dasar Islam. Agama Islam adalah agama yang tegas dan tidak abu-abu. Salah satu aqidah Islam adalah mengkafirkan orang kafir dan menyebut mereka dengan “kafir”, sebagaimana Allah Ta’ala menyebut mereka langsung dalam Al-Quran,لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍSesungguhnya TELAH KAFIRLAH orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan juga Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah: 72)Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan,ولهذا نكفِّر كل من دان بغير ملة المسلمين من الملل ، أو وقف فيهم، أو شك ، أو صحَّح مذهبهم“Oleh karena itu, kita mengkafirkan semua orang yang beragama selain agama kaum muslimin atau orang yang sejalan dengan mereka atau ragu-ragu (dengan agama) atau membenarkan agama mereka.” [Asy-Syifa Bita’rif huquqil Musthafa 2/1071]Salah satu aqidah kita adalah apabila tidak mengkafirkan orang kafir, maka ini adalah bentuk kekufuran. Sebagaimana salah satu pembatal keIslaman, yaituالثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” [Nawaqidul Islam poin ke-3]Sangat banyak dalil dan nash yang menunjukkan bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang disebut dengan sebutan “kafir”Salah satu dalil yang paling nyata dan hampir mayoritas muslim tahu adalah surat Al-Kafirun, sangat jelas mereka yanh tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dipanggil dengan sebutan “kafir”Allah Ta’ala berfirman:قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا  عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” [QS. Al-Kafirun: 1-6]Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang KAFIR yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6)Dalil-dalil di atas sudah sangat jelas dan sangat nyata bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya pantas disebut “kafir”, hanya saja penyebutan ini tentu sesuai keadaannya yang layak sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.Adapun beralasan dengan “intoleransi”, maka ini alasan yang dibuat-buat saja. Agama Islam adalah agama yang indah, toleransi dan memerintahkan berlaku adil kepada orang kafir sekalipun.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ“Allah tiada melarang kamu untuk BERBUAT BAIK dan berlaku ADIL terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk BERBUAT BAIK, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan ,berbuat ADIL kepada orang-orang MUSYRIK baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]Demikian semoga bermanfaatBaca Juga: Non Muslim ya Kafir—@ Di antara langit dan bumi Allah, pesawat Garuda Lombok – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Ilmu Tanpa Akhlak Bagaikan, Apa Itu Hawa Nafsu, Apakah Biawak Haram, Gambar Tawakkal, Surah Makkiyah Dan Madaniyah

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah Kekufuran

Mohon dimaklumi sebelumnya, mungkin ada pembaca yang “merasa tidak nyaman” dengan pembahasan “kafir” dan “mengkafirkan”, akan tetapi ternyata pembahasan ini dibahas lengkap dan detail oleh ulama kita dalam pembahasan aqidah tauhid, di mana seorang muslim wajib mengetahuinya karena merupakan aqidah dasar kita.Bisa jadi merasa tidak nyaman atau bahkan ada yang “alergi” dengan pembahasan ini, karena selama ini pembahasn “kafir” dan “mengkafirkan” adalah adalah pembahasan yang seolah-olah seram, menakutkan serta merusak persaudaraan dan toleransi. Anggapan ini TIDAK BENAR, pembahasan mengenai hal ini apabila dipelajari secara benar dan berdasarkan dalil (bukan berdasarkan perasaan dan sangkaan semata), maka dalam pembahasan ini didapatkan:1. Ketegasan dalam agama Islam, tidak ada yang “abu-abu”, apabila ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka disebut kafir sesuai nash dan dalil2. Indah dan lembutnya ajaran Islam, pembahasan “mengkafirkan” tidak diterapkan serampangan dan langsung memvonis saja, tetapi ada prosesnya dan rinciannya. Tidak dibenarkan seseorang langsung memvonis saudara se-Islam dengan “kafir” tanpa kaidah yang benar, terlebih lagi ada pembahasan “takfir mutlak” dan “takfir mu’ayyan”.Pembaca yang semoga dirahmati Allah, belakangan ini ada wacana yang dihembuskan cukup masif bahwa:“Non-muslim tidak boleh dipanggil kafir”Mereka beralasan bawa kata-kata “kafir” adalah kata-kata yang kasar dan menunjukkan intoleransi. Tentu pendapat ini TIDAK BENAR dan PERLU DILURUSKAN.Sebagai orang indonesia kita perlu kembali pada pengertian “kafir” pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):“Kafir: Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”Jadi, sangat tepat apabila kita katakan dan kita sebut non-muslim dengan sebutan “kafir”Sebuah ungkapan yang bijak:لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَال“Setiap tempat ada ucapan yang layak”Tentu kita TIDAK memanggil orang yang tidak beriman atau non-muslim dengan panggilan seperti ini:“Hai kafir, mau ke mana?” “Perkenalkan ini tetanggaku yg kafir”Tentu kata-kata “kafir” kita posisikan sesuai dengan tempatnya, BUKAN DIHAPUS ATAU TIDAK DIGUNAKAN SAMA SEKALI dengan alasan perasaan semata atau alasan yang dibuat-buat.Menghapus atau tidak menggunakan kata-kata kafir bertentangan dengan aqidah dasar Islam. Agama Islam adalah agama yang tegas dan tidak abu-abu. Salah satu aqidah Islam adalah mengkafirkan orang kafir dan menyebut mereka dengan “kafir”, sebagaimana Allah Ta’ala menyebut mereka langsung dalam Al-Quran,لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍSesungguhnya TELAH KAFIRLAH orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan juga Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah: 72)Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan,ولهذا نكفِّر كل من دان بغير ملة المسلمين من الملل ، أو وقف فيهم، أو شك ، أو صحَّح مذهبهم“Oleh karena itu, kita mengkafirkan semua orang yang beragama selain agama kaum muslimin atau orang yang sejalan dengan mereka atau ragu-ragu (dengan agama) atau membenarkan agama mereka.” [Asy-Syifa Bita’rif huquqil Musthafa 2/1071]Salah satu aqidah kita adalah apabila tidak mengkafirkan orang kafir, maka ini adalah bentuk kekufuran. Sebagaimana salah satu pembatal keIslaman, yaituالثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” [Nawaqidul Islam poin ke-3]Sangat banyak dalil dan nash yang menunjukkan bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang disebut dengan sebutan “kafir”Salah satu dalil yang paling nyata dan hampir mayoritas muslim tahu adalah surat Al-Kafirun, sangat jelas mereka yanh tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dipanggil dengan sebutan “kafir”Allah Ta’ala berfirman:قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا  عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” [QS. Al-Kafirun: 1-6]Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang KAFIR yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6)Dalil-dalil di atas sudah sangat jelas dan sangat nyata bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya pantas disebut “kafir”, hanya saja penyebutan ini tentu sesuai keadaannya yang layak sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.Adapun beralasan dengan “intoleransi”, maka ini alasan yang dibuat-buat saja. Agama Islam adalah agama yang indah, toleransi dan memerintahkan berlaku adil kepada orang kafir sekalipun.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ“Allah tiada melarang kamu untuk BERBUAT BAIK dan berlaku ADIL terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk BERBUAT BAIK, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan ,berbuat ADIL kepada orang-orang MUSYRIK baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]Demikian semoga bermanfaatBaca Juga: Non Muslim ya Kafir—@ Di antara langit dan bumi Allah, pesawat Garuda Lombok – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Ilmu Tanpa Akhlak Bagaikan, Apa Itu Hawa Nafsu, Apakah Biawak Haram, Gambar Tawakkal, Surah Makkiyah Dan Madaniyah
Mohon dimaklumi sebelumnya, mungkin ada pembaca yang “merasa tidak nyaman” dengan pembahasan “kafir” dan “mengkafirkan”, akan tetapi ternyata pembahasan ini dibahas lengkap dan detail oleh ulama kita dalam pembahasan aqidah tauhid, di mana seorang muslim wajib mengetahuinya karena merupakan aqidah dasar kita.Bisa jadi merasa tidak nyaman atau bahkan ada yang “alergi” dengan pembahasan ini, karena selama ini pembahasn “kafir” dan “mengkafirkan” adalah adalah pembahasan yang seolah-olah seram, menakutkan serta merusak persaudaraan dan toleransi. Anggapan ini TIDAK BENAR, pembahasan mengenai hal ini apabila dipelajari secara benar dan berdasarkan dalil (bukan berdasarkan perasaan dan sangkaan semata), maka dalam pembahasan ini didapatkan:1. Ketegasan dalam agama Islam, tidak ada yang “abu-abu”, apabila ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka disebut kafir sesuai nash dan dalil2. Indah dan lembutnya ajaran Islam, pembahasan “mengkafirkan” tidak diterapkan serampangan dan langsung memvonis saja, tetapi ada prosesnya dan rinciannya. Tidak dibenarkan seseorang langsung memvonis saudara se-Islam dengan “kafir” tanpa kaidah yang benar, terlebih lagi ada pembahasan “takfir mutlak” dan “takfir mu’ayyan”.Pembaca yang semoga dirahmati Allah, belakangan ini ada wacana yang dihembuskan cukup masif bahwa:“Non-muslim tidak boleh dipanggil kafir”Mereka beralasan bawa kata-kata “kafir” adalah kata-kata yang kasar dan menunjukkan intoleransi. Tentu pendapat ini TIDAK BENAR dan PERLU DILURUSKAN.Sebagai orang indonesia kita perlu kembali pada pengertian “kafir” pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):“Kafir: Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”Jadi, sangat tepat apabila kita katakan dan kita sebut non-muslim dengan sebutan “kafir”Sebuah ungkapan yang bijak:لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَال“Setiap tempat ada ucapan yang layak”Tentu kita TIDAK memanggil orang yang tidak beriman atau non-muslim dengan panggilan seperti ini:“Hai kafir, mau ke mana?” “Perkenalkan ini tetanggaku yg kafir”Tentu kata-kata “kafir” kita posisikan sesuai dengan tempatnya, BUKAN DIHAPUS ATAU TIDAK DIGUNAKAN SAMA SEKALI dengan alasan perasaan semata atau alasan yang dibuat-buat.Menghapus atau tidak menggunakan kata-kata kafir bertentangan dengan aqidah dasar Islam. Agama Islam adalah agama yang tegas dan tidak abu-abu. Salah satu aqidah Islam adalah mengkafirkan orang kafir dan menyebut mereka dengan “kafir”, sebagaimana Allah Ta’ala menyebut mereka langsung dalam Al-Quran,لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍSesungguhnya TELAH KAFIRLAH orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan juga Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah: 72)Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan,ولهذا نكفِّر كل من دان بغير ملة المسلمين من الملل ، أو وقف فيهم، أو شك ، أو صحَّح مذهبهم“Oleh karena itu, kita mengkafirkan semua orang yang beragama selain agama kaum muslimin atau orang yang sejalan dengan mereka atau ragu-ragu (dengan agama) atau membenarkan agama mereka.” [Asy-Syifa Bita’rif huquqil Musthafa 2/1071]Salah satu aqidah kita adalah apabila tidak mengkafirkan orang kafir, maka ini adalah bentuk kekufuran. Sebagaimana salah satu pembatal keIslaman, yaituالثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” [Nawaqidul Islam poin ke-3]Sangat banyak dalil dan nash yang menunjukkan bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang disebut dengan sebutan “kafir”Salah satu dalil yang paling nyata dan hampir mayoritas muslim tahu adalah surat Al-Kafirun, sangat jelas mereka yanh tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dipanggil dengan sebutan “kafir”Allah Ta’ala berfirman:قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا  عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” [QS. Al-Kafirun: 1-6]Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang KAFIR yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6)Dalil-dalil di atas sudah sangat jelas dan sangat nyata bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya pantas disebut “kafir”, hanya saja penyebutan ini tentu sesuai keadaannya yang layak sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.Adapun beralasan dengan “intoleransi”, maka ini alasan yang dibuat-buat saja. Agama Islam adalah agama yang indah, toleransi dan memerintahkan berlaku adil kepada orang kafir sekalipun.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ“Allah tiada melarang kamu untuk BERBUAT BAIK dan berlaku ADIL terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk BERBUAT BAIK, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan ,berbuat ADIL kepada orang-orang MUSYRIK baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]Demikian semoga bermanfaatBaca Juga: Non Muslim ya Kafir—@ Di antara langit dan bumi Allah, pesawat Garuda Lombok – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Ilmu Tanpa Akhlak Bagaikan, Apa Itu Hawa Nafsu, Apakah Biawak Haram, Gambar Tawakkal, Surah Makkiyah Dan Madaniyah


Mohon dimaklumi sebelumnya, mungkin ada pembaca yang “merasa tidak nyaman” dengan pembahasan “kafir” dan “mengkafirkan”, akan tetapi ternyata pembahasan ini dibahas lengkap dan detail oleh ulama kita dalam pembahasan aqidah tauhid, di mana seorang muslim wajib mengetahuinya karena merupakan aqidah dasar kita.Bisa jadi merasa tidak nyaman atau bahkan ada yang “alergi” dengan pembahasan ini, karena selama ini pembahasn “kafir” dan “mengkafirkan” adalah adalah pembahasan yang seolah-olah seram, menakutkan serta merusak persaudaraan dan toleransi. Anggapan ini TIDAK BENAR, pembahasan mengenai hal ini apabila dipelajari secara benar dan berdasarkan dalil (bukan berdasarkan perasaan dan sangkaan semata), maka dalam pembahasan ini didapatkan:1. Ketegasan dalam agama Islam, tidak ada yang “abu-abu”, apabila ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka disebut kafir sesuai nash dan dalil2. Indah dan lembutnya ajaran Islam, pembahasan “mengkafirkan” tidak diterapkan serampangan dan langsung memvonis saja, tetapi ada prosesnya dan rinciannya. Tidak dibenarkan seseorang langsung memvonis saudara se-Islam dengan “kafir” tanpa kaidah yang benar, terlebih lagi ada pembahasan “takfir mutlak” dan “takfir mu’ayyan”.Pembaca yang semoga dirahmati Allah, belakangan ini ada wacana yang dihembuskan cukup masif bahwa:“Non-muslim tidak boleh dipanggil kafir”Mereka beralasan bawa kata-kata “kafir” adalah kata-kata yang kasar dan menunjukkan intoleransi. Tentu pendapat ini TIDAK BENAR dan PERLU DILURUSKAN.Sebagai orang indonesia kita perlu kembali pada pengertian “kafir” pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):“Kafir: Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”Jadi, sangat tepat apabila kita katakan dan kita sebut non-muslim dengan sebutan “kafir”Sebuah ungkapan yang bijak:لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَال“Setiap tempat ada ucapan yang layak”Tentu kita TIDAK memanggil orang yang tidak beriman atau non-muslim dengan panggilan seperti ini:“Hai kafir, mau ke mana?” “Perkenalkan ini tetanggaku yg kafir”Tentu kata-kata “kafir” kita posisikan sesuai dengan tempatnya, BUKAN DIHAPUS ATAU TIDAK DIGUNAKAN SAMA SEKALI dengan alasan perasaan semata atau alasan yang dibuat-buat.Menghapus atau tidak menggunakan kata-kata kafir bertentangan dengan aqidah dasar Islam. Agama Islam adalah agama yang tegas dan tidak abu-abu. Salah satu aqidah Islam adalah mengkafirkan orang kafir dan menyebut mereka dengan “kafir”, sebagaimana Allah Ta’ala menyebut mereka langsung dalam Al-Quran,لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍSesungguhnya TELAH KAFIRLAH orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan juga Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah: 72)Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan,ولهذا نكفِّر كل من دان بغير ملة المسلمين من الملل ، أو وقف فيهم، أو شك ، أو صحَّح مذهبهم“Oleh karena itu, kita mengkafirkan semua orang yang beragama selain agama kaum muslimin atau orang yang sejalan dengan mereka atau ragu-ragu (dengan agama) atau membenarkan agama mereka.” [Asy-Syifa Bita’rif huquqil Musthafa 2/1071]Salah satu aqidah kita adalah apabila tidak mengkafirkan orang kafir, maka ini adalah bentuk kekufuran. Sebagaimana salah satu pembatal keIslaman, yaituالثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijma’.” [Nawaqidul Islam poin ke-3]Sangat banyak dalil dan nash yang menunjukkan bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang disebut dengan sebutan “kafir”Salah satu dalil yang paling nyata dan hampir mayoritas muslim tahu adalah surat Al-Kafirun, sangat jelas mereka yanh tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dipanggil dengan sebutan “kafir”Allah Ta’ala berfirman:قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا  عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.” [QS. Al-Kafirun: 1-6]Allah Ta’ala juga berfirman,إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ“Sesungguhnya orang-orang yang KAFIR yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6)Dalil-dalil di atas sudah sangat jelas dan sangat nyata bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya pantas disebut “kafir”, hanya saja penyebutan ini tentu sesuai keadaannya yang layak sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.Adapun beralasan dengan “intoleransi”, maka ini alasan yang dibuat-buat saja. Agama Islam adalah agama yang indah, toleransi dan memerintahkan berlaku adil kepada orang kafir sekalipun.Allah Ta’ala berfirman,لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ“Allah tiada melarang kamu untuk BERBUAT BAIK dan berlaku ADIL terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahah: 8)Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة“Allah tidak melarang kalian untuk BERBUAT BAIK, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan ,berbuat ADIL kepada orang-orang MUSYRIK baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]Demikian semoga bermanfaatBaca Juga: Non Muslim ya Kafir—@ Di antara langit dan bumi Allah, pesawat Garuda Lombok – JakartaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel muslim.or.id🔍 Ilmu Tanpa Akhlak Bagaikan, Apa Itu Hawa Nafsu, Apakah Biawak Haram, Gambar Tawakkal, Surah Makkiyah Dan Madaniyah
Prev     Next