Kenapa Kita Harus Menjaga Rahasia?

Kenapa kita harus menjaga rahasia? Seberapa pentingnya? Dalil-dalil berikut akan jadi penjelas, kenapa kita harus menjaga rahasia.   Dalil pertama: Allah Ta’ala berfirman, وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً “Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” (QS. Al Isra’: 34)   Dalil kedua: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59) Baca juga: Lima Tanda Munafik   Dalil ketiga:  Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ “Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.” (HR. Abu Daud, no. 4868; Tirmidzi, no. 1959; Ahmad, 14514. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Dalil keempat: Dari Sufyan bin Asid Al-Hadhrami radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ ”Khianat terbesar adalah ketika engkau membicarakan saudaramu perkara yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, padahal baginya dirimu adalah pembohong.” (HR. Abu Daud, no. 4971. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).   Dalil kelima:  Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim, no. 1437). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata menjelaskan maksud rahasia di sini adalah, ُمَا يَكُوْنُ مِنْ عُيُوْبِ البَدَنِ البَاطِنَةِ، وَذَاكَ كَالأَمَانَةِ فَلِزَمَ كِتْمَانَه “Yang dimaksud dengan rahasia dalam hadits ini adalah aib atau cacat yang ada pada badan yang tak terlihat. Ini adalah amanah yang harus dijaga.” (Kasyf Al-Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 3:174) Baca juga: Aturan Dalam Hubungan Intim, Jangan Menyebar Rahasia Hubungan Ranjang   Dalil keenam: Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أتَى عَلَيَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَأنَا ألْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ ، فَسَلمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثَني إِلَى حاجَةٍ ، فَأبْطَأتُ عَلَى أُمِّي . فَلَمَّا جِئْتُ ، قالت : مَا حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لِحَاجَةٍ ، قالت : مَا حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ : إنَّهاَ سرٌّ . قالت : لا تُخْبِرَنَّ بِسرِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحَداً ، قَالَ أنَسٌ : وَاللهِ لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أحَداً لَحَدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثَابِتُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’” Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sesuatu keperluannya.” Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?” Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.” Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut kepada siapa pun juga.” Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, no. 2482)   Dalil ketujuh: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Kami semua, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisi beliau pada saat itu. Kemudian menghadaplah putri beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha dengan berjalan dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menyambutnya dengan baik dan bersabda, “Marhaban hai putriku.” Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau -menurut riwayat lain- di sebelah kirinya. Seterusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membisikinya, lalu Fathimah menangis dengan tangisnya yang keras sekali. Setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kegelisahan putrinya lalu dibisikinya sekali lagi. Fathimah pun tertawa.” Aku berkata kepada Fathimah, “Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekalian istri-istrinya dengan dibisiki, kemudian engkau menangis.” Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari tempatnya, lalu aku bertanya kepada Fathimah, “Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padamu itu?” Fathimah menjawab, مَا كُنْتُ لأُفْشِي عَلَى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سِرَّهُ “Aku tidak akan menyebarkan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku pun berkata kepada Fathimah, “Aku sengaja hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau memberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Fathimah menjawab, “Sekarang aku akan memberitahumu. Adapun yang dibisikkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pertama kalinya, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada aku bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari Al-Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui tentang datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertakwalah engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” Karena itu lalu aku menangis sebagaimana tangisku yang engkau lihat dulu itu. Selanjutnya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat betapa kegelisahan hatiku, lalu aku dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi penghulu dari seluruh wanita dari kalangan kaum mukminin atau penghulu dari seluruh wanita dari kalangan umat ini?” Oleh karena itu, maka aku pun tertawa sebagaimana yang dulu engkau lihat.” (Muttafaq ‘alaih, dan Ini adalah lafazh Muslim)   Dalil kedelapan: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah menceritakan bahwa ketika saudari perempuannya Hafshah bintu Umar menjanda,  Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu menawarkan Hafshah kepada Utsman. Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu menolak tawaran Umar. Umar kemudian menawarkan Hafshah kepada sahabat yang lain, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr hanya terdiam, tidak memberi jawaban. Umar pun menjadi marah kepada Abu Bakr. Setelah beberapa hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata datang meminang Hafshah. Umar pun lantas menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah tetapi aku tidak memberikan jawaban?” Umar berkata, “Ya.” Abu Bakar lalu berkata, فإنه لم يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجَعَ إليك فيما عرضْتَ عليَّ إلا أني كنتُ علمْتُ أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قد ذكرَها ، فلم أَكُنْ لأُفْشِي سرَّ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، ولو تركَها رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قبلْتُهَا. “Sebenarnya tidak ada yang menghalangi diriku untuk memberi jawaban atas tawaranmu, hanya saja sebelumnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut-nyebut nama Hafshah. Oleh karena itu aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, sungguh akulah yang akan menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122) Baca juga: Istri Nabi Hafshah binti ‘Umar Kesimpulannya: Marilah jaga rahasia orang lain, itu adalah amanah. Jika memang kita tidak bisa menjaga amanah, jangan mau dititipkan suatu rahasia pada kita. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   – Selesai disusun Kamis Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 14 Juli 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanah amanat menjaga amanat menjaga rahasia munafik rahasia

Kenapa Kita Harus Menjaga Rahasia?

Kenapa kita harus menjaga rahasia? Seberapa pentingnya? Dalil-dalil berikut akan jadi penjelas, kenapa kita harus menjaga rahasia.   Dalil pertama: Allah Ta’ala berfirman, وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً “Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” (QS. Al Isra’: 34)   Dalil kedua: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59) Baca juga: Lima Tanda Munafik   Dalil ketiga:  Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ “Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.” (HR. Abu Daud, no. 4868; Tirmidzi, no. 1959; Ahmad, 14514. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Dalil keempat: Dari Sufyan bin Asid Al-Hadhrami radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ ”Khianat terbesar adalah ketika engkau membicarakan saudaramu perkara yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, padahal baginya dirimu adalah pembohong.” (HR. Abu Daud, no. 4971. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).   Dalil kelima:  Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim, no. 1437). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata menjelaskan maksud rahasia di sini adalah, ُمَا يَكُوْنُ مِنْ عُيُوْبِ البَدَنِ البَاطِنَةِ، وَذَاكَ كَالأَمَانَةِ فَلِزَمَ كِتْمَانَه “Yang dimaksud dengan rahasia dalam hadits ini adalah aib atau cacat yang ada pada badan yang tak terlihat. Ini adalah amanah yang harus dijaga.” (Kasyf Al-Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 3:174) Baca juga: Aturan Dalam Hubungan Intim, Jangan Menyebar Rahasia Hubungan Ranjang   Dalil keenam: Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أتَى عَلَيَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَأنَا ألْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ ، فَسَلمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثَني إِلَى حاجَةٍ ، فَأبْطَأتُ عَلَى أُمِّي . فَلَمَّا جِئْتُ ، قالت : مَا حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لِحَاجَةٍ ، قالت : مَا حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ : إنَّهاَ سرٌّ . قالت : لا تُخْبِرَنَّ بِسرِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحَداً ، قَالَ أنَسٌ : وَاللهِ لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أحَداً لَحَدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثَابِتُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’” Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sesuatu keperluannya.” Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?” Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.” Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut kepada siapa pun juga.” Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, no. 2482)   Dalil ketujuh: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Kami semua, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisi beliau pada saat itu. Kemudian menghadaplah putri beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha dengan berjalan dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menyambutnya dengan baik dan bersabda, “Marhaban hai putriku.” Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau -menurut riwayat lain- di sebelah kirinya. Seterusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membisikinya, lalu Fathimah menangis dengan tangisnya yang keras sekali. Setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kegelisahan putrinya lalu dibisikinya sekali lagi. Fathimah pun tertawa.” Aku berkata kepada Fathimah, “Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekalian istri-istrinya dengan dibisiki, kemudian engkau menangis.” Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari tempatnya, lalu aku bertanya kepada Fathimah, “Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padamu itu?” Fathimah menjawab, مَا كُنْتُ لأُفْشِي عَلَى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سِرَّهُ “Aku tidak akan menyebarkan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku pun berkata kepada Fathimah, “Aku sengaja hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau memberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Fathimah menjawab, “Sekarang aku akan memberitahumu. Adapun yang dibisikkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pertama kalinya, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada aku bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari Al-Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui tentang datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertakwalah engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” Karena itu lalu aku menangis sebagaimana tangisku yang engkau lihat dulu itu. Selanjutnya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat betapa kegelisahan hatiku, lalu aku dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi penghulu dari seluruh wanita dari kalangan kaum mukminin atau penghulu dari seluruh wanita dari kalangan umat ini?” Oleh karena itu, maka aku pun tertawa sebagaimana yang dulu engkau lihat.” (Muttafaq ‘alaih, dan Ini adalah lafazh Muslim)   Dalil kedelapan: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah menceritakan bahwa ketika saudari perempuannya Hafshah bintu Umar menjanda,  Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu menawarkan Hafshah kepada Utsman. Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu menolak tawaran Umar. Umar kemudian menawarkan Hafshah kepada sahabat yang lain, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr hanya terdiam, tidak memberi jawaban. Umar pun menjadi marah kepada Abu Bakr. Setelah beberapa hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata datang meminang Hafshah. Umar pun lantas menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah tetapi aku tidak memberikan jawaban?” Umar berkata, “Ya.” Abu Bakar lalu berkata, فإنه لم يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجَعَ إليك فيما عرضْتَ عليَّ إلا أني كنتُ علمْتُ أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قد ذكرَها ، فلم أَكُنْ لأُفْشِي سرَّ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، ولو تركَها رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قبلْتُهَا. “Sebenarnya tidak ada yang menghalangi diriku untuk memberi jawaban atas tawaranmu, hanya saja sebelumnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut-nyebut nama Hafshah. Oleh karena itu aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, sungguh akulah yang akan menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122) Baca juga: Istri Nabi Hafshah binti ‘Umar Kesimpulannya: Marilah jaga rahasia orang lain, itu adalah amanah. Jika memang kita tidak bisa menjaga amanah, jangan mau dititipkan suatu rahasia pada kita. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   – Selesai disusun Kamis Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 14 Juli 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanah amanat menjaga amanat menjaga rahasia munafik rahasia
Kenapa kita harus menjaga rahasia? Seberapa pentingnya? Dalil-dalil berikut akan jadi penjelas, kenapa kita harus menjaga rahasia.   Dalil pertama: Allah Ta’ala berfirman, وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً “Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” (QS. Al Isra’: 34)   Dalil kedua: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59) Baca juga: Lima Tanda Munafik   Dalil ketiga:  Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ “Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.” (HR. Abu Daud, no. 4868; Tirmidzi, no. 1959; Ahmad, 14514. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Dalil keempat: Dari Sufyan bin Asid Al-Hadhrami radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ ”Khianat terbesar adalah ketika engkau membicarakan saudaramu perkara yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, padahal baginya dirimu adalah pembohong.” (HR. Abu Daud, no. 4971. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).   Dalil kelima:  Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim, no. 1437). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata menjelaskan maksud rahasia di sini adalah, ُمَا يَكُوْنُ مِنْ عُيُوْبِ البَدَنِ البَاطِنَةِ، وَذَاكَ كَالأَمَانَةِ فَلِزَمَ كِتْمَانَه “Yang dimaksud dengan rahasia dalam hadits ini adalah aib atau cacat yang ada pada badan yang tak terlihat. Ini adalah amanah yang harus dijaga.” (Kasyf Al-Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 3:174) Baca juga: Aturan Dalam Hubungan Intim, Jangan Menyebar Rahasia Hubungan Ranjang   Dalil keenam: Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أتَى عَلَيَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَأنَا ألْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ ، فَسَلمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثَني إِلَى حاجَةٍ ، فَأبْطَأتُ عَلَى أُمِّي . فَلَمَّا جِئْتُ ، قالت : مَا حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لِحَاجَةٍ ، قالت : مَا حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ : إنَّهاَ سرٌّ . قالت : لا تُخْبِرَنَّ بِسرِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحَداً ، قَالَ أنَسٌ : وَاللهِ لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أحَداً لَحَدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثَابِتُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’” Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sesuatu keperluannya.” Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?” Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.” Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut kepada siapa pun juga.” Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, no. 2482)   Dalil ketujuh: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Kami semua, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisi beliau pada saat itu. Kemudian menghadaplah putri beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha dengan berjalan dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menyambutnya dengan baik dan bersabda, “Marhaban hai putriku.” Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau -menurut riwayat lain- di sebelah kirinya. Seterusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membisikinya, lalu Fathimah menangis dengan tangisnya yang keras sekali. Setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kegelisahan putrinya lalu dibisikinya sekali lagi. Fathimah pun tertawa.” Aku berkata kepada Fathimah, “Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekalian istri-istrinya dengan dibisiki, kemudian engkau menangis.” Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari tempatnya, lalu aku bertanya kepada Fathimah, “Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padamu itu?” Fathimah menjawab, مَا كُنْتُ لأُفْشِي عَلَى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سِرَّهُ “Aku tidak akan menyebarkan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku pun berkata kepada Fathimah, “Aku sengaja hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau memberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Fathimah menjawab, “Sekarang aku akan memberitahumu. Adapun yang dibisikkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pertama kalinya, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada aku bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari Al-Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui tentang datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertakwalah engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” Karena itu lalu aku menangis sebagaimana tangisku yang engkau lihat dulu itu. Selanjutnya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat betapa kegelisahan hatiku, lalu aku dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi penghulu dari seluruh wanita dari kalangan kaum mukminin atau penghulu dari seluruh wanita dari kalangan umat ini?” Oleh karena itu, maka aku pun tertawa sebagaimana yang dulu engkau lihat.” (Muttafaq ‘alaih, dan Ini adalah lafazh Muslim)   Dalil kedelapan: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah menceritakan bahwa ketika saudari perempuannya Hafshah bintu Umar menjanda,  Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu menawarkan Hafshah kepada Utsman. Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu menolak tawaran Umar. Umar kemudian menawarkan Hafshah kepada sahabat yang lain, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr hanya terdiam, tidak memberi jawaban. Umar pun menjadi marah kepada Abu Bakr. Setelah beberapa hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata datang meminang Hafshah. Umar pun lantas menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah tetapi aku tidak memberikan jawaban?” Umar berkata, “Ya.” Abu Bakar lalu berkata, فإنه لم يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجَعَ إليك فيما عرضْتَ عليَّ إلا أني كنتُ علمْتُ أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قد ذكرَها ، فلم أَكُنْ لأُفْشِي سرَّ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، ولو تركَها رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قبلْتُهَا. “Sebenarnya tidak ada yang menghalangi diriku untuk memberi jawaban atas tawaranmu, hanya saja sebelumnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut-nyebut nama Hafshah. Oleh karena itu aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, sungguh akulah yang akan menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122) Baca juga: Istri Nabi Hafshah binti ‘Umar Kesimpulannya: Marilah jaga rahasia orang lain, itu adalah amanah. Jika memang kita tidak bisa menjaga amanah, jangan mau dititipkan suatu rahasia pada kita. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   – Selesai disusun Kamis Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 14 Juli 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanah amanat menjaga amanat menjaga rahasia munafik rahasia


Kenapa kita harus menjaga rahasia? Seberapa pentingnya? Dalil-dalil berikut akan jadi penjelas, kenapa kita harus menjaga rahasia.   Dalil pertama: Allah Ta’ala berfirman, وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً “Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” (QS. Al Isra’: 34)   Dalil kedua: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59) Baca juga: Lima Tanda Munafik   Dalil ketiga:  Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ “Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.” (HR. Abu Daud, no. 4868; Tirmidzi, no. 1959; Ahmad, 14514. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Dalil keempat: Dari Sufyan bin Asid Al-Hadhrami radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ ”Khianat terbesar adalah ketika engkau membicarakan saudaramu perkara yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, padahal baginya dirimu adalah pembohong.” (HR. Abu Daud, no. 4971. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).   Dalil kelima:  Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim, no. 1437). Ibnul Jauzi rahimahullah berkata menjelaskan maksud rahasia di sini adalah, ُمَا يَكُوْنُ مِنْ عُيُوْبِ البَدَنِ البَاطِنَةِ، وَذَاكَ كَالأَمَانَةِ فَلِزَمَ كِتْمَانَه “Yang dimaksud dengan rahasia dalam hadits ini adalah aib atau cacat yang ada pada badan yang tak terlihat. Ini adalah amanah yang harus dijaga.” (Kasyf Al-Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 3:174) Baca juga: Aturan Dalam Hubungan Intim, Jangan Menyebar Rahasia Hubungan Ranjang   Dalil keenam: Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, أتَى عَلَيَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وَأنَا ألْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ ، فَسَلمَ عَلَيْنَا ، فَبَعَثَني إِلَى حاجَةٍ ، فَأبْطَأتُ عَلَى أُمِّي . فَلَمَّا جِئْتُ ، قالت : مَا حَبَسَكَ ؟ فقلتُ : بَعَثَني رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – لِحَاجَةٍ ، قالت : مَا حَاجَتُهُ ؟ قُلْتُ : إنَّهاَ سرٌّ . قالت : لا تُخْبِرَنَّ بِسرِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحَداً ، قَالَ أنَسٌ : وَاللهِ لَوْ حَدَّثْتُ بِهِ أحَداً لَحَدَّثْتُكَ بِهِ يَا ثَابِتُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’” Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sesuatu keperluannya.” Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?” Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.” Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut kepada siapa pun juga.” Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, no. 2482)   Dalil ketujuh: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Kami semua, para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisi beliau pada saat itu. Kemudian menghadaplah putri beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha dengan berjalan dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menyambutnya dengan baik dan bersabda, “Marhaban hai putriku.” Fathimah disuruhnya duduk di sebelah kanannya atau -menurut riwayat lain- di sebelah kirinya. Seterusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membisikinya, lalu Fathimah menangis dengan tangisnya yang keras sekali. Setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kegelisahan putrinya lalu dibisikinya sekali lagi. Fathimah pun tertawa.” Aku berkata kepada Fathimah, “Engkau telah diistimewakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekalian istri-istrinya dengan dibisiki, kemudian engkau menangis.” Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari tempatnya, lalu aku bertanya kepada Fathimah, “Apakah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padamu itu?” Fathimah menjawab, مَا كُنْتُ لأُفْشِي عَلَى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سِرَّهُ “Aku tidak akan menyebarkan apa yang dirahasiakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku pun berkata kepada Fathimah, “Aku sengaja hendak bertanya kepadamu dengan cara yang sebenarnya, supaya engkau memberitahukan kepadaku apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ Fathimah menjawab, “Sekarang aku akan memberitahumu. Adapun yang dibisikkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pertama kalinya, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada aku bahwasanya Jibril dahulunya memberikan kepadanya wahyu dari Al-Quran itu dalam setahun sekali, sedang sekarang dalam setahun diberikan dua kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui tentang datangnya ajalku itu, melainkan tentu sudah dekat. Maka dari itu bertakwalah engkau dan bersabarlah, sesungguhnya saja sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” Karena itu lalu aku menangis sebagaimana tangisku yang engkau lihat dulu itu. Selanjutnya setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat betapa kegelisahan hatiku, lalu aku dibisikinya untuk kedua kalinya, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau suka jikalau engkau menjadi penghulu dari seluruh wanita dari kalangan kaum mukminin atau penghulu dari seluruh wanita dari kalangan umat ini?” Oleh karena itu, maka aku pun tertawa sebagaimana yang dulu engkau lihat.” (Muttafaq ‘alaih, dan Ini adalah lafazh Muslim)   Dalil kedelapan: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah menceritakan bahwa ketika saudari perempuannya Hafshah bintu Umar menjanda,  Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu menawarkan Hafshah kepada Utsman. Utsman radhiyallahu ‘anhu lalu menolak tawaran Umar. Umar kemudian menawarkan Hafshah kepada sahabat yang lain, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr hanya terdiam, tidak memberi jawaban. Umar pun menjadi marah kepada Abu Bakr. Setelah beberapa hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata datang meminang Hafshah. Umar pun lantas menikahkan putrinya itu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata, “Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah tetapi aku tidak memberikan jawaban?” Umar berkata, “Ya.” Abu Bakar lalu berkata, فإنه لم يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجَعَ إليك فيما عرضْتَ عليَّ إلا أني كنتُ علمْتُ أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قد ذكرَها ، فلم أَكُنْ لأُفْشِي سرَّ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، ولو تركَها رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قبلْتُهَا. “Sebenarnya tidak ada yang menghalangi diriku untuk memberi jawaban atas tawaranmu, hanya saja sebelumnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut-nyebut nama Hafshah. Oleh karena itu aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, sungguh akulah yang akan menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122) Baca juga: Istri Nabi Hafshah binti ‘Umar Kesimpulannya: Marilah jaga rahasia orang lain, itu adalah amanah. Jika memang kita tidak bisa menjaga amanah, jangan mau dititipkan suatu rahasia pada kita. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   – Selesai disusun Kamis Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 14 Juli 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanah amanat menjaga amanat menjaga rahasia munafik rahasia

Amalan Berlindung dari Sihir – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Amalan Berlindung dari Sihir – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Apakah membaca surat-surat al-Mu’awwidzat cukup untuk melindungi diri dari penyakit ‘ain dan sihir? Surat-surat al-Mu’awwidzat (al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas) serta zikir-zikir pagi dan petang lainnya, saya berharap Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya dapat melindungi seseorang dari hal-hal tersebut. ====================================================================================================== هَلْ يَكْفِي قِرَاءَةُ الْمُعَوِّذَاتِ لِلْوِقَايَةِ مِنَ الْعَيْنِ وَالسِّحْرِ؟ يَعْنِي الْمُعَوِّذَاتُ وَغَيْرُهَا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَسْأَلُ اللهَ تَبَارَكَ أَنْ يَجْعَلَهَا يَعْنِي تَقِي الْإِنْسَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ

Amalan Berlindung dari Sihir – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Amalan Berlindung dari Sihir – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Apakah membaca surat-surat al-Mu’awwidzat cukup untuk melindungi diri dari penyakit ‘ain dan sihir? Surat-surat al-Mu’awwidzat (al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas) serta zikir-zikir pagi dan petang lainnya, saya berharap Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya dapat melindungi seseorang dari hal-hal tersebut. ====================================================================================================== هَلْ يَكْفِي قِرَاءَةُ الْمُعَوِّذَاتِ لِلْوِقَايَةِ مِنَ الْعَيْنِ وَالسِّحْرِ؟ يَعْنِي الْمُعَوِّذَاتُ وَغَيْرُهَا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَسْأَلُ اللهَ تَبَارَكَ أَنْ يَجْعَلَهَا يَعْنِي تَقِي الْإِنْسَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ
Amalan Berlindung dari Sihir – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Apakah membaca surat-surat al-Mu’awwidzat cukup untuk melindungi diri dari penyakit ‘ain dan sihir? Surat-surat al-Mu’awwidzat (al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas) serta zikir-zikir pagi dan petang lainnya, saya berharap Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya dapat melindungi seseorang dari hal-hal tersebut. ====================================================================================================== هَلْ يَكْفِي قِرَاءَةُ الْمُعَوِّذَاتِ لِلْوِقَايَةِ مِنَ الْعَيْنِ وَالسِّحْرِ؟ يَعْنِي الْمُعَوِّذَاتُ وَغَيْرُهَا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَسْأَلُ اللهَ تَبَارَكَ أَنْ يَجْعَلَهَا يَعْنِي تَقِي الْإِنْسَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ


Amalan Berlindung dari Sihir – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Apakah membaca surat-surat al-Mu’awwidzat cukup untuk melindungi diri dari penyakit ‘ain dan sihir? Surat-surat al-Mu’awwidzat (al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas) serta zikir-zikir pagi dan petang lainnya, saya berharap Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikannya dapat melindungi seseorang dari hal-hal tersebut. ====================================================================================================== هَلْ يَكْفِي قِرَاءَةُ الْمُعَوِّذَاتِ لِلْوِقَايَةِ مِنَ الْعَيْنِ وَالسِّحْرِ؟ يَعْنِي الْمُعَوِّذَاتُ وَغَيْرُهَا مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ أَسْأَلُ اللهَ تَبَارَكَ أَنْ يَجْعَلَهَا يَعْنِي تَقِي الْإِنْسَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ

Cara Tidur Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Cara Tidur Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Apakah ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara beliau tidur?” Ya, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kanan. Terkadang saat tidur, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di pipi kanannya. Namun jika beliau hanya tidur ringan, seperti tidur setelah Shalat Sunah Subuh, sebelum menunaikan Shalat Subuh, maka beliau tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kiri. Sholawatu robbi wa salamuhu ‘alaihi. ====================================================================================================== يَقُولُ هَلْ وَرَدَ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ نَامَ؟ نَعَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ عَلَى يَعْنِي جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْيَانًا يَضَعُ يَدَهُ عَلَى خَدِّهِ الْأَيْمَنِ إِذَا نَامَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ إِذَا كَانَ نَوْمُهُ خَفِيفًا كَالنَّوْمِ بَعْدَ سُنَّةِ الْفَجْرِ قُبَيْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَإِنَّهُ كَانَ يَنَامُ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْسَرِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

Cara Tidur Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Cara Tidur Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Apakah ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara beliau tidur?” Ya, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kanan. Terkadang saat tidur, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di pipi kanannya. Namun jika beliau hanya tidur ringan, seperti tidur setelah Shalat Sunah Subuh, sebelum menunaikan Shalat Subuh, maka beliau tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kiri. Sholawatu robbi wa salamuhu ‘alaihi. ====================================================================================================== يَقُولُ هَلْ وَرَدَ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ نَامَ؟ نَعَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ عَلَى يَعْنِي جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْيَانًا يَضَعُ يَدَهُ عَلَى خَدِّهِ الْأَيْمَنِ إِذَا نَامَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ إِذَا كَانَ نَوْمُهُ خَفِيفًا كَالنَّوْمِ بَعْدَ سُنَّةِ الْفَجْرِ قُبَيْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَإِنَّهُ كَانَ يَنَامُ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْسَرِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ
Cara Tidur Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Apakah ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara beliau tidur?” Ya, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kanan. Terkadang saat tidur, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di pipi kanannya. Namun jika beliau hanya tidur ringan, seperti tidur setelah Shalat Sunah Subuh, sebelum menunaikan Shalat Subuh, maka beliau tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kiri. Sholawatu robbi wa salamuhu ‘alaihi. ====================================================================================================== يَقُولُ هَلْ وَرَدَ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ نَامَ؟ نَعَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ عَلَى يَعْنِي جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْيَانًا يَضَعُ يَدَهُ عَلَى خَدِّهِ الْأَيْمَنِ إِذَا نَامَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ إِذَا كَانَ نَوْمُهُ خَفِيفًا كَالنَّوْمِ بَعْدَ سُنَّةِ الْفَجْرِ قُبَيْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَإِنَّهُ كَانَ يَنَامُ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْسَرِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ


Cara Tidur Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Apakah ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara beliau tidur?” Ya, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kanan. Terkadang saat tidur, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di pipi kanannya. Namun jika beliau hanya tidur ringan, seperti tidur setelah Shalat Sunah Subuh, sebelum menunaikan Shalat Subuh, maka beliau tidur dengan berbaring di atas tubuh bagian kiri. Sholawatu robbi wa salamuhu ‘alaihi. ====================================================================================================== يَقُولُ هَلْ وَرَدَ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ نَامَ؟ نَعَمْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ عَلَى يَعْنِي جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْيَانًا يَضَعُ يَدَهُ عَلَى خَدِّهِ الْأَيْمَنِ إِذَا نَامَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنْ إِذَا كَانَ نَوْمُهُ خَفِيفًا كَالنَّوْمِ بَعْدَ سُنَّةِ الْفَجْرِ قُبَيْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَإِنَّهُ كَانَ يَنَامُ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْسَرِ صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran Penting di Dalamnya

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi dibawakan oleh Rumaysho kali ini. Di samping dibawakan kisah, semoga banyak pelajaran bisa digali di dalamnya. Allahumma yassir wa a’in.   Daftar Isi tutup 1. Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah 2. Kisah Mereka Secara Global 3. Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya 4. Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang 5. Rincian Kisah Ashabul Kahfi 6. Hati Mereka Dikuatkan 7. Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya 8. Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka 9. Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua 10. Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua 11. Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang 12. Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda 13. Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? 14. Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi 14.1. Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. 14.2. Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. 14.3. Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. 14.4. Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. 14.5. Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. 14.5.1. Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) 14.5.2. Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat 14.5.3. Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? 14.5.4. Bergaul itu Sesuai Hajat 14.5.5. Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain 14.5.6. Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: 14.6. Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. 14.7. Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. 14.8. Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat 14.9. Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. 14.10. Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). 14.11. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. 14.12. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. 14.13. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita. 14.14. Referensi:   Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah Allah Ta’ala berfirman, أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9) Mereka adalah salah satu dari sekian ayat-ayat Allah yang luar biasa. Al-Kahfi adalah gua di gunung. Nama gua tersebut adalah Hizam (Haizam). Sedangkan Ar-Raqiim adalah papan yang tertulis nama-nama Ashabul Kahfi dan kejadian yang mereka alami, ditulis setelah masa mereka. Versi lain, Ar-Raqiim adalah nama gunung yang terdapat gua. Ada yang berpendapat, itu adalah nama lembah yang terdapat padanya sebuah gua. Nama anjing mereka adalah Humron. Kisah Ashabul Kahfi itu setelah masanya Nabi Isa Al-Masih. Mereka itu Nashrani. Kaum mereka itu adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Ashabul Kahfi itu di masa raja Diqyaanus. Ashabul Kahfi itu sendiri adalah pemuda-pemuda yang merupakan putra dari para raja (tokoh). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:563. Para ulama juga berselisih pendapat mengenai letak gua ini. Ada yang berkata di negeri Aylah. Ada yang berpendapat di negeri Niinawa. Ada yang mengatakan di Balqa’. Ada juga yang berpendapat di negeri Ar-Ruum (Romawi). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566.   Kisah Mereka Secara Global Allah Ta’ala berfirman, إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.” (QS. Al-Kahfi: 10) Allah Ta’ala memberitakan tentang para pemuda yang melarikan diri menyelamatkan agama mereka dari kaum mereka, agar tidak terfitnah, mereka menjauh dari kaumnya dan menuju sebuah gua di gunung bersembunyi dari kejaran kaumnya. Mereka mengatakan ketika memasuki gua seraya memohon kepada Allah rahmat dan kelembutan-Nya kepada mereka, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu”, yaitu berikan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dengan mengasihani kami dan melindungi kami dari kaum kami. “Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, yaitu jadikan petunjuk sebagai hasil akhir bagi kami. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Husain bin Arthah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ “ALLOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUNYAA WA ‘ADZAABIL AAKHIROH. (artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat).” (HR. Ahmad, 4:181. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa periwayat hadits ini tsiqqah atau terpercaya kecuali Ayyub bin Maysaroh. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dan ia mensahihkannya, begitu pula Imam Adz-Dzahabi. Lihat Al-Mustadrak, 3:591. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:181, menyatakan bahwa perawinya tsiqqah. Lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:139). Baca juga: Doa Agar Baik dalam Urusan   Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al-Kahfi: 11) Maksudnya, Allah jadikan telinga mereka tabir yang menghalangi mereka dari mendengar, yaitu, Kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat pulas yang tidak bisa dibangunkan oleh suara-suara, seperti yang terjadi pada orang yang sangat kantuk dan lelap dalam tidurnya, sekalipun diterikai di telinganya, ia tidak mendengar dan tidak terbangun. “beberapa tahun” artinya tahun-tahun yang berbilang, banyak, dan lama. Baca juga: Mesti Fokus dan Mendengarkan dalam Belajar   Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).” (QS. Al-Kahfi: 12) Kemudian Allah bangunkan mereka dari tidur seperti membangkitkan orang mati dari kubur mereka, agar diketahui dua golongan yang berselisih pendapat mengenai berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Dengan perhitungan yang sangat teliti, yaitu lebih meliputi berapa lama mereka tinggal dalam gua, sehingga mereka akan mengetahui selang waktu yang Allah menjaga mereka di dalam gua tanpa makan dan minum, serta memberikan mereka rasa aman dari musuh, dengan begitu sempurnalah petunjuk mereka untuk bersyukur kepada Allah, dan hal itu menjadi tanda kekuasaan bagi mereka yang akan membuat mereka giat untuk beribadah kepada Allah.   Rincian Kisah Ashabul Kahfi Allah Ta’ala berfirman, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Ayat ini merupakan permulaan rincian kisah dan keterangannya. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka” yakni mengakui keesaan Allah dan mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. “dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”, maksudnya adalah dengan taufik (hidayah) dan tatsbit (pemantapan dan keteguhan). Baca juga: Empat Tingkatan Hidayah Menurut Ibnul Qayyim   Hati Mereka Dikuatkan Allah Ta’ala berfirman, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14) Maksudnya adalah mereka dikuatkan dengan kesabaran, mereka meninggalkan kampung halaman mereka serta meninggalkan berbagai kenikmatan demi menyelamatkan agama mereka. Mereka berdiri di hadapan raja mereka dan menyatakan kebenaran dengan tegas di hadapannya ketika kabar mereka terdengar oleh raja dan mereka diminta hadir menghadap raja. Raja bertanya kepada mereka tentang agama dan keyakinan yang mereka Yakini, maka mereka menjawab dengan benar dan bahkan mengajak raja tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena itulah dalam ayat disebutkan, “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.” Mereka tidak menyembah Rabb selain Allah. Sebab jika mereka berbuat demikian, berarti mereka telah berbuat kebatilan, kedustaan, dan kebohongan.   Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya Allah Ta’ala berfirman, هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15) Hal ini adalah isyarat bahwa orang kafir itu tidak mampu mendatangkan bukti atas apa yang mereka lakukan, yaitu beribadah kepada selain Allah, berbuat syirik. Jadi, mereka itulah orang-orang yang zalim yang menzalimi hak Allah karena mereka berdusta dan berbohong terhadap Allah. Kalau memang Allah itu Mahatinggi, maka tidak pantas bagi selain Allah punya kedudukan tinggi yang sama.   Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka Allah Ta’ala berfirman, وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Yakni, jika kamu semua menyelisihi mereka denagn agama kalian, karena mereka menyembah selain Allah, maka selisihi pula (berpisahlah, tinggalkanlah mereka) dengan badan kalian. “maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu”, yakni, Allah akan membentangkan rahmat-Nya kepada kalian yang menutupi kalian dari kaum kalian yang kafir. “dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” yang sedang kalian hadapi. Pada saat itulah, mereka keluar menghindar dari kaum mereka menuju sebuah gua kemudian tinggal di dalamnya.   Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) Yakni, jika matahari meninggi di tempat terbitnya, maka ia condong dari gua (sinar matahari tidak mengenai mereka), yaitu dari pintu gua sebelah kanan. Jika matahari terbenam, maka ia melewati mereka di sebelah kiri, yakni tidak mendekati mereka tetapi melewati. “Sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”, kata fajwah artinya tempat yang luas dan lega dalam gua, sehingga cukup tersedia udara yang datang dari segala penjuru tanpa tersengat matahari. “Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah“, yakni urusan mereka dan petunjuk Allah kepada mereka hingga ke gua tersebut dengan menjadikan mereka tetap hidup, serta apa yang Allah perbuat kepada mereka dari mulai matahari yang condong dan tidak mendekat sejak terbit hingga terbenam, semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan perhatian dan penjagaan Allah kepada mereka, serta petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berada dalam gua bertahun-tahun dan tetap seperti itu, mereka tidak makan, tidak minum, tidak ada asupan makanan yang masuk dalam waktu yang sangat lama, itulah yang menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565) “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk”, yakni siapa yang ditunjukkan kepada kebenaran oleh Allah, maka ialah orang yang mendapat hidayah. Dalam hal ini terdapat pujian bagi para pemuda mukmin tersebut, yang telah berjihad di jalan Allah, kemudian menyerahkan diri mereka kepada-Nya, sehingga Allah bersikap lembut dan menolong mereka, menunjuki mereka untuk mencapai kemuliaan dan kekhususan dengan ayat-ayat yang luar biasa. Sesungguhnya setiap orang yang menempuh jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, maka ia akan mendapatkan keberuntungan. “Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”, yakni siapa yang disesatkan oleh Allah, maka pasti kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya yang menjaganya dari kesesatan, atau memberi petunjuk kepada jalan kebenaran dan keberuntungan. Catatan: Hikmah masuknya matahari dalam gua pada beberapa keadaan adalah agar udara di dalam gua itu tetap baik. Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565.   Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) “Dan kamu mengira mereka itu” adalah pembicaraan untuk setiap orang, maksudnya, kamu mengira “mereka itu bangun” karena mata mereka terbuka. Karena kalau tidur dalam keadaan mata mereka tertutup lama itu akan berdampak jelek. Demikian kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565. “Padahal mereka tidur” sangat lelap dan pulas dalam tidurnya hingga tidak ada suara yang bisa membangunkan mereka, “dan Kami bolak-balikkan mereka” yakni dalam tidur mereka “ke kanan dan ke kiri” agar tanah tidak merusak badan mereka, “sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka pintu gua” yakni di halaman gua atau pintu gua. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa anjing tersebut tidak masuk dalam gua, hanya meletakkan kakinya di pintu gua. Inilah bentuk adab dari anjing tersebut. Para pemuda kahfi juga sangat memuliakan anjing tersebut. Anjing itu tidak berada dalam gua sebab malaikat tidak mau masuk dalam rumah yang ada anjing di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566. Keberkahan pemuda mukmin ini melingkupi hingga anjing mereka, ia juga mengalami seperti yang mereka alami, yaitu tidur panjang dalam keadaan seperti itu. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah manfaat dari menemani orang-orang baik. Lihatlah hingga anjing ini pun selalu diingat dan memiliki kedudukan tersendiri. Karena siapa saja yang mencintai suatu kaum, ia akan bahagia bersama mereka. Kalau pada anjing saja bisa seperti itu, maka pasti berlaku pula bagi siapa saja yang mengikuti orang yang berbuat baik yang pantas dimuliakan.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566) “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, yakni jika kamu melihat mereka sekalipun begitu kuatnya kamu dalam melawan agar tidak lari, pasti kamu akan kalah dan lari dengan penuh ketakutan, yaitu hatimu dipenuhi rasa takut karena merkea para pemuda itu dilingkupi aura kewibawaan, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka kecuali akan ketakutan kemudian berpaling dan melarikan diri menjauh. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Agar tidak ada seorang pun yang mendekati atau menyentuh mereka hingga ketentuan itu sampai pada masanya, masa tidur mereka habis sesuai kehendak Allah Ta’ala, mengingat hal ini mengandung hikmah, hujjah yang kuat, dan rahmat yang luas.” Pelajaran penting dari ayat “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. Ibnu Katsir rahimahullah lantas berkata, ِأَنَّ الخَبَرَ لَيْسَ كَالمُعَايَنَة “Berita itu tidak sama dengan melihat langsung.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567)   Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Yakni, sebagaimana kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat panjang, maka kami bangunkan mereka denagn keadaan segar bugar tubuh mereka, sehat, begitu pula dengan rambut dan kulit mereka tidak ada yang berubah dari keadaan dan bentuk mereka. Hal ini sebagai pengingat akan kemahakuasaan Allah untuk menidurkan dan mematikan serta membangkitkan kembali. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka bangun setelah 309 tahun.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567) “Agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri” yakni, agar sebagian bertanya kepada yang lain dan mengetahui keadaan mereka serta apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sehingga mereka bisa mengambil pelajaran lalu berhujjah dengan itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala, maka bertambah yakin dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka. “Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)” yakni berapa lama kamu tidur di sini. “Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”, karena saat mereka masuk gua waktu itu di permulaan siang (pagi), dan Allah bangunkan mereka di akhir sore. Karena itulah mereka mengatakan sebagian hari. “Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)” yakni, Allah yang Maha Mengetahui urusan kalian. Sepertinya muncul keraguan pada mereka dalam hal lama tidaknya tertidur, kemudian dalam diri mereka ada bisikan (ilham) dari Allah, atau dengan indikasi-indikasi yang mereka saksikan dari keadaan mereka yang menunjukkan bahwa mereka tertidur panjang, dan berapa lamanya tidak diketahui, maka mereka serahkan kebenarannya kepada Allah. Mereka berkata, “Rabb kalian lebih mengetahui berapa lama kalian di sini.” Setelah itu mereka kembali kepada yang paling penting dalam urusan mereka, yaitu kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Mereka berkata, “Suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini” yakni ke kota tempat mereka keluar darinya, “dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik” yakni yang paling enak. “Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut” yakni dalam keluar dan membeli makanan serta saat kembali, maksudnya hendaknya merahasiakan dirinya sebisa mungkin, “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun” yakni, jangan melakukan tanpa ia sadari, apa yang bisa membuka rahasia dan keberadaan kita. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.” (QS. Al-Kahfi: 20). Jika kalian kembali kepada agama mereka, maka pasti kalian tidak akan beruntung selamanya. Catatan: Mereka menyangka bahwa mereka hanya tidur sehari atau sebagian hari atau lebih dari itu. Padahal mereka telah tidur lebih dari 300 tahun. Selama itu telah berganti pemerintahan dan negeri sudah berubah. Orang-orang yang dulu sudah tiada dan berganti. Mereka menjadi terasing karena keadaan mereka berbeda dengan penduduk saat mereka bangun dan mata uang dirham yang dibawa pun berbeda. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:568. Lamanya ashabul kahfi tertidur dalam gua disebutkan dalam ayat, وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al-Kahfi: 25). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mengenai begitu lamanya pemuda ashabul kahfi tertidur dalam gua ada faedah yang besar.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:571)   Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا “Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.” (QS. Al-Kahfi: 21) “Demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka” yakni, sebagaimana Kami tidurkan mereka kemudian kami bangunkan dalam keadaan dan bentuk semula, begitu pula Kami perlihatkan kepada mereka manusia di waktu itu, “agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya” yakni, orang-orang yang Kami berikan kesempatan melihat mereka (ashabul kahfi) yang Kami bangunkan kembali keadaan mereka sebelumnya (tidak ada yang berubah), agar mereka mengetahui bahwa janji Allah dengan hari kebangkitan setelah kematian itu benar adanya, karena keadaan para pemuda dalam tidur panjang mereka dan keadaan mereka saat terjaga, keadaan mereka tidak ubahnya adalah keadaan orang yang mati kemudian dibangkitkan lagi. “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka” yakni, Kami pertemukan manusia di zaman itu dengan para pemuda Al-Kahfi, ketika mereka berselisih di antara mereka tentang urusan agama mereka, dan berbeda pendapat dalam hal kebangkitan, sebagian ada yang mengatakan, “Yang dibangkitkan hanyalah ruh, bukan jasad.” Sebagian lagi mengatakan, “Yang dibangkitkan adalah jasad dan ruh sekaligus. Maka Allah membangkitkan ashabul kahfi dari tidur mereka, sebagai bukti bahwa Allah membangkitkan orang-orang mati dengan jasad dan ruh mereka sekaligus. “Orang-orang itu berkata” yakni, manusia setelah melihat ashabul kahfi, mereka berbicara kepada para pemuda itu dan mereka pun menceritakan keadaan mereka yang tertidur. Setelah menceritakan itu, para pemuda ashabul kahfi itu pun meninggal dunia. “Dirikankah sebuah bangunan di atas gua mereka” yakni, di atas pintu gua, maksudnya tutuplah pintu gua itu dan biarkanlah mereka seperti keadaan semula. “Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” sebuah ungkapan dari orang-orang yang tadi berselisih pendapat, seakan-akan mereka ingat urusan mereka (para pemuda), kemudian saling menyampaikan tentang nasab dan hal ihwal mereka serta lamanya mereka tinggal di dalam gua. Ketika mereka tidak bisa mengetahui hakikat sebenarnya, mereka mengatakan, “Rabb mereka lebih mengetahui urusan mereka”. Atau kemungkinan ini merupakan pernyataan Allah untuk membantah orang-orang yang terlalu jauh dalam membicarakan urusan pemuda ini, dari mereka yang berselisih pendapat. “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” yakni, mereka yang menang ketika berselisih pendapat itu, dan mereka adalah orang-orang kuat dan berpengaruh, kami akan mendirikan rumah ibadah, yakni kami akan shalat di sana untuk mendapatkan keberkahan dari para pemuda dan kedudukan mereka. Inilah syariat sebelum syariat Nabi Muhammad. Adapun pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ “Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi dan orang saleh dari mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari, no. 1390 dan Muslim, no. 529) Di sini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, tidak boleh membangun masjid di atas kuburan berdasarkan larangan yang sangat jelas yang ada dalam masalah ini.   Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? Allah Ta’ala berfirman, سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22) Allah menyebutkan tiga pendapat mengenai berapakah jumlah para pemuda penghuni gua tersebut. Allah menyebutkan pendapat ketiga lalu mendiamkannya. Hal itu menunjukkan bahwa pendapat ketiga itu yang benar. Pendapat pertama: tiga orang, yang keempat adalah anjingnya. Pendapat kedua: lima orang, yang keenam adalah anjingnya. Pendapat ketiga: tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. Pendapat pertama dan kedua disebutkan selanjutnya “sebagai terkaan terhadap barang yang gaib” menunjukkan bahwa pendapat ini tidak berdasar pada ilmu. Kemudian Allah memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak ada manfaatnya, sehingga dalam masalah ini hendaklah kita berkata, “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“, yakni tidak ada yang mengetahui jumlah para pemuda penghuni gua kecuali sedikit orang yang diberitahukan oleh Allah. “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja” yakni, jangan mendebat ahli kitab tentang ashabul kahfi kecuali perdebatan seperlunya yang tidak terlalu jauh dalam mempermasalahkannya, yaitu kisahkan saja kepada mereka apa yang Allah wahyukan kepadamu, cukup seperti itu, jangan kau tambah. “Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka” yakni jangan bertanya kepada seorang pun dari mereka (ahli kitab) tentang kisah mereka, pertanyaan yang mengandung pengingkaran, hingga mengatakan sesuatu kemudian kamu bantah dan kamu palsukan apa yang ada padanya. Tidak pula pertanyaan orang yang minta petunjuk karena Allah telah memberikan petunjuk kepadamu dengan menurunkan wahyu kepadamu tentang kisah mereka dan apa yang berhubungan dengan jumlah serta urusan mereka. Hal ini sudah cukup bagi orang yang hendak mengetahui perihal para pemuda penghuni gua, serta mengambil pelajaran dan nasihat dari kisah mereka.   Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan Ashabul Kahfi, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan bahwa mereka penghuni gua adalah para pemuda. Mereka adalah orang yang paling cepat menerima kebenaran, paling lurus dalam menempuh jalan, dibanding para sepuh yang telah banyak salah dan jauh terjerumus dalam agama yang batil. Oleh karena itu,  kebanyakan yang menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun para sepuh dari Quraisy, pada umumnya tetap dalam agama nenek moyang dan tidak mau masuk Islam kecuali sedikit. Demikianlah Allah memberitahukan kepada kita tentang ashabul kahfi, bahwa mereka itu adalah anak-anak muda.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:140) Maka para dai harus memperbanyak cara dan pendekatan kepada para pemuda agar dakwah sampai kepada mereka. Para pemuda itu memiliki kekuatan, semangat, hati yang bening, dan memiliki sesuatu yang sangat diperlukan dalam dakwah. Para pemuda bisa dimotivasi dengan kisah-kisah, termasuk kisah agar para pemuda jauh dari maksiat seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Baca juga: Kisah Nabi Yusuf Ketika Digoda dan 14 Cobaan Berat Beliau   Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. Dalilnya adalah, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Dalil lainnya yang menunjukkan iman itu bisa bertambah adalah: وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124) هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4) Iman itu bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah, beramal saleh, dan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan jihad fii sabilillah. Yang termasuk jihad di jalan Allah adalah berdakwah dengan ucapan, tulisan, dan berbagai sarana dakwah. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أيُّ الأعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ قال : « الإِيْمَانُ بِاللَّهِ ، وَالجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ » “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim, no. 84) Baca juga:  Iman itu Berupa Perkataan dan Perbuatan Amal dan Sahnya Iman (Syarhus Sunnah) Level Orang Beriman itu Berbeda-Beda   Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. Termasuk kisah para pemuda penghuni gua seperti yang dijelaskan oleh ulama tafsir bahwa para pemuda itu adalah putra dan anak-anak pembesar kaumnya, mereka keluar suatu hari pada hari raya kaumnya. Kaum mereka punya acara pertemuan besar dalam setahun. Kaum tersebut bertemu di pusat kota, menyembah shonam (patung yang memiliki bentuk seperti makhluk) yang telah disiapkan, menyembelih qurban untuk patung-patung tersebut. Kaum tersebut dipimpin oleh seorang raja yang kafir yang bengis (yaitu Diqyanus) yang memerintahkan manusia untuk melakukan kesyirikan dan mengajak kaumnya bersama-sama melakukan itu. Ketika para pemuda ini hendak bertemu dalam majelis mereka, para pemuda ini keluar bersama orang tua dan kaum mereka, kemudian para pemuda ini melihat perbuatan kaumnya dengan mata kepala mereka sendiri. Para pemuda ini mengetahui perbuatan kaumnya, mulai dari sujud dan menyembelih kepada shonam. Padahal hal ini adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi.  Para pemuda ini berlepas diri dari kaumnya, berpisah, dan duduk jauh dari mereka. Yang pertama kali duduk dan menjauh adalah satu dari pemuda tersebut, ia duduk berteduh di bawah pohon, lalu datang pemuda lain, terus berdatangan, dan akhirnya mereka berkumpul. Yang menyatukan mereka di bawah pohon adalah hati mereka yang beriman kepada Allah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185) Masing-masing dari pemuda itu merahasiakan apa yang ada dalam hatinya, karena takut kepada yang lainnya, mereka tidak tahu bahwa mereka sama-sama beriman. Mereka kemudian saling mengungkapkan pendapat mereka. Mereka semua ternyata sama-sama sepakat untuk mengingkari perbuatan kaumnya. Mereka sama-sama meyakini bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah. Lalu mereka sama-sama beribadah kepada Allah di suatu tempat. Keadaan para pemuda ini pun diketahui oleh kaumnya dan dilaporkan kepada raja mereka. Para pemuda ini pun dipanggil oleh raja dan ditanya, lantas mereka mengungkapkan kebenaran yang mereka yakini di hadapan raja. Dalam ayat disebutkan, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 5:140-141. Pelajaran yang dapat diambil adalah para dai harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama dai, saling tolong menolong dalam kebaikan.   Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. Setelah pemuda dalam kisah ini saling kenal dan saling mengetahui rahasia masing-masing, dan menjadi jelas bahwa akidah mereka itu satu, tujuan mereka satu, dan dakwah mereka satu, maka mereka membangun tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah. Mereka pun mengajak rajanya ketika berdialog untuk beribadah kepada Allah. Namun, dakwah para pemuda ini ditolak bahkan mendapatkan ancaman. Keterusterangan pemuda ini dalam menyatakan diri mereka beriman dan mendakwahkannya patut dicontoh. Dari sini kita dapat ambil pelajaran, para dai harus berterusterang dalam menyampaikan kebenaran, mengumumkan dakwah mereka di hadapan para penguasa sombong dan zalim, agar mental mereka terhinakan, sebaliknya kekuatan kaum mukminin bertambah kuat, dan membuat mereka berani untuk berhadapan dengan orang-orang zalim dari para penguasa. Sikap para dai seperti yang kami sebutkan ini, jika mereka menyaksikan dengan mata kepala atau dengan indikasi bahwa keterusterangan mereka dalam menyampaikan kebenaran serta menghadapi para penguasa zalim dengan kebenaran dakwahnya, lebih baik daripada sikap diam di hadapan mereka atau daripada mereka memilih untuk mengambil keringanan (yaitu pura-pura). Sesungguhnya seorang mukmin melihat dengan cahaya Allah, dan seukuran iman dalam dirinya serta dalamnya iman tersebut dan keikhlasan kepada Rabbnya, maka demikianlah kekuatan cahaya seharusnya ia pilih. Sekalipun sikap itu akan menyebabkannya mati dibunuh secara syahid, karena dai itu adalah mujahid (pejuang). Jihad dalam dakwah ini adalah mempersembahkan jiwa raga di jalan Allah. Hal ini tidak termasuk melemparkan diri dalam kebinasaan, selama orang mukmin, dai, mengharapkan dari perbuatannya itu untuk merealisasikan maslahat syariyyah bagi dakwah dan kaum muslimin.   Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. Namun, dianjurkan untuk tetap tinggal jika dipandang ada maslahat besar semisal untuk berdakwah.   Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) Banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk ‘uzlah (mengasingkan diri) demi menyelamatkan diri atau menghindari masyarakat yang banyak terjadi maksiat, kebid’ahan, dan pelanggaran agama. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, خَيْرُ الناسِ في الفِتَنِ رجلٌ آخِذٌ بِعِنانِ فَرَسِه أوْ قال بِرَسَنِ فَرَسِه خلفَ أَعْدَاءِ اللهِ يُخِيفُهُمْ و يُخِيفُونَهُ ، أوْ رجلٌ مُعْتَزِلٌ في بادِيَتِه ، يُؤَدِّي حقَّ اللهِ تَعالَى الذي عليهِ “Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan hal yang merusak (fitnah) adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah. Ia menakuti-nakuti mereka, dan mereka pun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah.” (HR. Al-Hakim, 4: 446. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 698). Sebagaimana juga dalam hadits Abu Sa’id, قَالَ رَجُلٌ أَىُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ ». “Seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Siapakan manusia yang paling afdal wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Nabi menjawab, ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat.’” (HR. Muslim, no. 1888). Bahkan andai satu-satunya jalan supaya selamat dari kerusakan adalah dengan mengasingkan diri ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung, maka itu lebih baik daripada agama kita terancam hancur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ “Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari kerusakan.” (HR. Bukhari, no. 19)   Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat Sebagian dalil yang lain menganjurkan kita untuk bergaul di tengah masyarakat walaupun bobrok keadaannya, dalam rangka berdakwah dan amar makruf nahi munkar di dalamnya. Di antaranya firman Allah Ta’ala, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2). Juga firman Allah Ta’ala, وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾ “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Juga dalilnya dari hadits tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib berikut. Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khoibar, لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di mana ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa ‘Ali sedang sakit mata. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendo’akan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hinggakalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407). Dalam sebuah nasehat berharga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar disebutkan, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? Pendapat yang paling tepat dalam hal ini seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, “Siapa yang mampu untuk bergaul dengan masyarakat dengan tetap melakukan pengingkaran pada kemungkaran, maka wajib baginya untuk bergaul, bisa jadi berlaku hukum baginya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Ini juga berlaku bagi yang yakin dapat selamat dengan ia tetap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Namun, jika terjadi kerusakan menimpa dirinya, maka baiknya ia melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri) agar tidak terjatuh dalam keharaman. Dan ingat kerusakan itu bukan hanya menimpa mereka yang maksiat namun bisa menimpa secara umum, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfaal: 25) Baca juga: Faedah Sirah Nabi, Nabi Menyendiri    Bergaul itu Sesuai Hajat Penjelasan sebelumnya, bukan berarti kita tidak boleh bergaul. Namun, bergaul yang tepat adalah sesuai hajat atau kebutuhan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فُضُوْلُ المخَالَطَةِ فِيْهِ خَسَرَاةُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَإِنَّمَا لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ المخَالَطَةِ بِمِقْدَارِ الحَاجَةِ “Banyak bergaul itu dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Selaku hamba seharusnya bergaul sesuai kadar hajat saja.” (Badaai’ Al-Fawaid, 2:821) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim rahimahullah yaitu: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid (2:821-823). Baca juga: Langkah Setan dalam Menyesatkan Manusia, Banyak Bergaul   Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain Jika memang bisa memberikan manfaat pada orang lain seperti orang berilmu, maka ia bergaul karena maksud baik tersebut. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, الْمُؤْمِنُ يُخَالِطُ لِيَعْلَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ “Orang yang beriman itu bergaul untuk menambah ilmu, memilih untuk diam agar selamat dari dosa, berbicara untuk mendapat pemahaman, dan menyendiri agar mendapat keberuntungan.” (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al-‘Uzlah dan Al-Infirad) Baca juga: Berilah Manfaat untuk Orang Banyak   Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: Yang bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, silakan ia bergaul karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain. Yang tidak bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, hendaklah ia bergaul dengan teman yang sifatnya bisa memberikan kebaikan ibaratnya seperti membutuhkan makanan yang jadi kebutuhan darurat, atau membutuhkan obat yang diperlukan jika ada hajat. Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul, Makin Banyak Dosa   Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. Para dai harus mengambil manfaat dan belajar dari kisah ashabul kahfi mengenai pentingnya mengambil sebab-sebab yang diperintahkan (masyru’ah, disyariatkan), mereka harus tahu bahwa mengambil sebab tidak merusak iman dan membatalkan tawakal kepada Allah. Bukti bahwa pemuda Al-Kahfi mencari sebab: – Para pemuda bersembunyi dalam gua, menjadikannya sebagai tempat berlindung dan bersembunyi dari kaumnya. Allah tidak mengingkari apa yang mereka lakukan ini dan apa yang mereka teguhkan niat untuk melakukannya. وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Pemuda-pemuda ini menyelematkan diri dari kaumnya yang kafir, dengan percaya serta tawakal kepada Allah. Mereka pun pergi ke gua dan bersembunyi di dalamnya. – Allah menjadikan empat sebab agar mereka selamat dari panas matahari dan selamat dari hancur dimakan tanah dengan cara (1) cahaya matahari menjauh dari mereka; (2) badan mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri. Di samping itu, (3) gua tersebut dalam keadaan luas sehingga bisa dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri, lalu (4) mata mereka dalam keadaan terbuka sehingga mata tersebut selama 309 tahun tidaklah rusak. Dalam ayat disebutkan, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) – Uang dirham tetap dibawa untuk digunakan untuk keperluan serta bekal bagi mereka. Mereka bawa uang itu ketika masuk gua. Uang itu ternyata dibutuhkan ketika mereka mengutus salah satu dari mereka untuk membeli makanan dengan uang dirham tersebut di kota. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan sebab dengan membawa bekal berupa uang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19)   Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. Pelajaran ini diambil dari ayat 19 di atas, وَلْيَتَلَطَّفْ “dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut”, yaitu ketika keluar, pergi, membeli makanan, kemudian kembali, mereka mengatakan, rahasiakan segala sesuatu yang mungkin. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Para pemuda ini telah mengambil sebab untuk waspada. Pemuda yang diutus untuk membeli makanan diminta agar waspada dengan cara bersembunyi sebisa mungkin hingga tidak dikenal. Karena jika dikenal, maka kaumnya nantinya mengetahui keberadaan mereka, lalu mereka akan dibunuh dengan cara dilempari batu, atau dipaksa untuk kembali kepada agama mereka. Kalau sampai murtad, tentu pemuda-pemuda ini tidak akan beruntung selamanya. Ingat, orang beriman itu memiliki sifat selalu berhati-hati, tidak tergesa-gesa.   Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat Ketika mereka bangun, pemuda-pemuda ini saling bertanya berapa lama mereka tinggal di dalam gua. Ada yang menjawab sehari atau setengah hari. Lalu ada yang mengatakan, رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).” Daripada lama berdebat yang tak manfaat, maka diperintahkan untuk mencari makan. فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” Ini namanya beralih dari debat ke hal yang lebih penting yaitu butuh pada makanan. Sebagian dai kadang terjerumus dalam debat kusir yang tidak manfaat, baiknya beralih kepada hal manfaat dan membicarakan seputar dakwah.   Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. Dalam ayat disebutkan, وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Maksud ayat ini adalah janganlah membuka rahasia. Baca juga: Kenapa Kita Harus Menjaga Rahasia?   Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). Dalam ayat disebutkan, فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” (QS. Al-Kahfi: 19). Mereka makan yang enak-enak karena mereka adalah anak tokoh (raja) yang sudah terbiasa makan enak. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 496. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita.   Tiga belas faedah ini diambil dari Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’, hlm. 380-388 dan Tafsir As-Sa’di, hlm. 496.   Semoga bermanfaat dan mendapatkan berkah dari kisah pemuda Al-Kahfi ini.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Al-Imam Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Baca Juga: 24 Kandungan Penting dari Surat Al-Kahfi Kisah Maryam Hingga Nabi Isa Lahir — Diperbaharui pada Kamis sore, 13 Syakban 1443 H, 17 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsashabul kahfi keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi pemuda pemuda al kahfi riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah surat al kahfi

Kisah Ashabul Kahfi dan Pelajaran Penting di Dalamnya

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi dibawakan oleh Rumaysho kali ini. Di samping dibawakan kisah, semoga banyak pelajaran bisa digali di dalamnya. Allahumma yassir wa a’in.   Daftar Isi tutup 1. Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah 2. Kisah Mereka Secara Global 3. Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya 4. Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang 5. Rincian Kisah Ashabul Kahfi 6. Hati Mereka Dikuatkan 7. Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya 8. Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka 9. Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua 10. Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua 11. Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang 12. Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda 13. Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? 14. Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi 14.1. Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. 14.2. Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. 14.3. Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. 14.4. Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. 14.5. Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. 14.5.1. Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) 14.5.2. Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat 14.5.3. Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? 14.5.4. Bergaul itu Sesuai Hajat 14.5.5. Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain 14.5.6. Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: 14.6. Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. 14.7. Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. 14.8. Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat 14.9. Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. 14.10. Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). 14.11. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. 14.12. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. 14.13. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita. 14.14. Referensi:   Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah Allah Ta’ala berfirman, أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9) Mereka adalah salah satu dari sekian ayat-ayat Allah yang luar biasa. Al-Kahfi adalah gua di gunung. Nama gua tersebut adalah Hizam (Haizam). Sedangkan Ar-Raqiim adalah papan yang tertulis nama-nama Ashabul Kahfi dan kejadian yang mereka alami, ditulis setelah masa mereka. Versi lain, Ar-Raqiim adalah nama gunung yang terdapat gua. Ada yang berpendapat, itu adalah nama lembah yang terdapat padanya sebuah gua. Nama anjing mereka adalah Humron. Kisah Ashabul Kahfi itu setelah masanya Nabi Isa Al-Masih. Mereka itu Nashrani. Kaum mereka itu adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Ashabul Kahfi itu di masa raja Diqyaanus. Ashabul Kahfi itu sendiri adalah pemuda-pemuda yang merupakan putra dari para raja (tokoh). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:563. Para ulama juga berselisih pendapat mengenai letak gua ini. Ada yang berkata di negeri Aylah. Ada yang berpendapat di negeri Niinawa. Ada yang mengatakan di Balqa’. Ada juga yang berpendapat di negeri Ar-Ruum (Romawi). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566.   Kisah Mereka Secara Global Allah Ta’ala berfirman, إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.” (QS. Al-Kahfi: 10) Allah Ta’ala memberitakan tentang para pemuda yang melarikan diri menyelamatkan agama mereka dari kaum mereka, agar tidak terfitnah, mereka menjauh dari kaumnya dan menuju sebuah gua di gunung bersembunyi dari kejaran kaumnya. Mereka mengatakan ketika memasuki gua seraya memohon kepada Allah rahmat dan kelembutan-Nya kepada mereka, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu”, yaitu berikan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dengan mengasihani kami dan melindungi kami dari kaum kami. “Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, yaitu jadikan petunjuk sebagai hasil akhir bagi kami. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Husain bin Arthah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ “ALLOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUNYAA WA ‘ADZAABIL AAKHIROH. (artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat).” (HR. Ahmad, 4:181. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa periwayat hadits ini tsiqqah atau terpercaya kecuali Ayyub bin Maysaroh. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dan ia mensahihkannya, begitu pula Imam Adz-Dzahabi. Lihat Al-Mustadrak, 3:591. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:181, menyatakan bahwa perawinya tsiqqah. Lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:139). Baca juga: Doa Agar Baik dalam Urusan   Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al-Kahfi: 11) Maksudnya, Allah jadikan telinga mereka tabir yang menghalangi mereka dari mendengar, yaitu, Kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat pulas yang tidak bisa dibangunkan oleh suara-suara, seperti yang terjadi pada orang yang sangat kantuk dan lelap dalam tidurnya, sekalipun diterikai di telinganya, ia tidak mendengar dan tidak terbangun. “beberapa tahun” artinya tahun-tahun yang berbilang, banyak, dan lama. Baca juga: Mesti Fokus dan Mendengarkan dalam Belajar   Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).” (QS. Al-Kahfi: 12) Kemudian Allah bangunkan mereka dari tidur seperti membangkitkan orang mati dari kubur mereka, agar diketahui dua golongan yang berselisih pendapat mengenai berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Dengan perhitungan yang sangat teliti, yaitu lebih meliputi berapa lama mereka tinggal dalam gua, sehingga mereka akan mengetahui selang waktu yang Allah menjaga mereka di dalam gua tanpa makan dan minum, serta memberikan mereka rasa aman dari musuh, dengan begitu sempurnalah petunjuk mereka untuk bersyukur kepada Allah, dan hal itu menjadi tanda kekuasaan bagi mereka yang akan membuat mereka giat untuk beribadah kepada Allah.   Rincian Kisah Ashabul Kahfi Allah Ta’ala berfirman, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Ayat ini merupakan permulaan rincian kisah dan keterangannya. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka” yakni mengakui keesaan Allah dan mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. “dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”, maksudnya adalah dengan taufik (hidayah) dan tatsbit (pemantapan dan keteguhan). Baca juga: Empat Tingkatan Hidayah Menurut Ibnul Qayyim   Hati Mereka Dikuatkan Allah Ta’ala berfirman, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14) Maksudnya adalah mereka dikuatkan dengan kesabaran, mereka meninggalkan kampung halaman mereka serta meninggalkan berbagai kenikmatan demi menyelamatkan agama mereka. Mereka berdiri di hadapan raja mereka dan menyatakan kebenaran dengan tegas di hadapannya ketika kabar mereka terdengar oleh raja dan mereka diminta hadir menghadap raja. Raja bertanya kepada mereka tentang agama dan keyakinan yang mereka Yakini, maka mereka menjawab dengan benar dan bahkan mengajak raja tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena itulah dalam ayat disebutkan, “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.” Mereka tidak menyembah Rabb selain Allah. Sebab jika mereka berbuat demikian, berarti mereka telah berbuat kebatilan, kedustaan, dan kebohongan.   Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya Allah Ta’ala berfirman, هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15) Hal ini adalah isyarat bahwa orang kafir itu tidak mampu mendatangkan bukti atas apa yang mereka lakukan, yaitu beribadah kepada selain Allah, berbuat syirik. Jadi, mereka itulah orang-orang yang zalim yang menzalimi hak Allah karena mereka berdusta dan berbohong terhadap Allah. Kalau memang Allah itu Mahatinggi, maka tidak pantas bagi selain Allah punya kedudukan tinggi yang sama.   Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka Allah Ta’ala berfirman, وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Yakni, jika kamu semua menyelisihi mereka denagn agama kalian, karena mereka menyembah selain Allah, maka selisihi pula (berpisahlah, tinggalkanlah mereka) dengan badan kalian. “maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu”, yakni, Allah akan membentangkan rahmat-Nya kepada kalian yang menutupi kalian dari kaum kalian yang kafir. “dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” yang sedang kalian hadapi. Pada saat itulah, mereka keluar menghindar dari kaum mereka menuju sebuah gua kemudian tinggal di dalamnya.   Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) Yakni, jika matahari meninggi di tempat terbitnya, maka ia condong dari gua (sinar matahari tidak mengenai mereka), yaitu dari pintu gua sebelah kanan. Jika matahari terbenam, maka ia melewati mereka di sebelah kiri, yakni tidak mendekati mereka tetapi melewati. “Sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”, kata fajwah artinya tempat yang luas dan lega dalam gua, sehingga cukup tersedia udara yang datang dari segala penjuru tanpa tersengat matahari. “Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah“, yakni urusan mereka dan petunjuk Allah kepada mereka hingga ke gua tersebut dengan menjadikan mereka tetap hidup, serta apa yang Allah perbuat kepada mereka dari mulai matahari yang condong dan tidak mendekat sejak terbit hingga terbenam, semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan perhatian dan penjagaan Allah kepada mereka, serta petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berada dalam gua bertahun-tahun dan tetap seperti itu, mereka tidak makan, tidak minum, tidak ada asupan makanan yang masuk dalam waktu yang sangat lama, itulah yang menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565) “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk”, yakni siapa yang ditunjukkan kepada kebenaran oleh Allah, maka ialah orang yang mendapat hidayah. Dalam hal ini terdapat pujian bagi para pemuda mukmin tersebut, yang telah berjihad di jalan Allah, kemudian menyerahkan diri mereka kepada-Nya, sehingga Allah bersikap lembut dan menolong mereka, menunjuki mereka untuk mencapai kemuliaan dan kekhususan dengan ayat-ayat yang luar biasa. Sesungguhnya setiap orang yang menempuh jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, maka ia akan mendapatkan keberuntungan. “Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”, yakni siapa yang disesatkan oleh Allah, maka pasti kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya yang menjaganya dari kesesatan, atau memberi petunjuk kepada jalan kebenaran dan keberuntungan. Catatan: Hikmah masuknya matahari dalam gua pada beberapa keadaan adalah agar udara di dalam gua itu tetap baik. Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565.   Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) “Dan kamu mengira mereka itu” adalah pembicaraan untuk setiap orang, maksudnya, kamu mengira “mereka itu bangun” karena mata mereka terbuka. Karena kalau tidur dalam keadaan mata mereka tertutup lama itu akan berdampak jelek. Demikian kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565. “Padahal mereka tidur” sangat lelap dan pulas dalam tidurnya hingga tidak ada suara yang bisa membangunkan mereka, “dan Kami bolak-balikkan mereka” yakni dalam tidur mereka “ke kanan dan ke kiri” agar tanah tidak merusak badan mereka, “sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka pintu gua” yakni di halaman gua atau pintu gua. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa anjing tersebut tidak masuk dalam gua, hanya meletakkan kakinya di pintu gua. Inilah bentuk adab dari anjing tersebut. Para pemuda kahfi juga sangat memuliakan anjing tersebut. Anjing itu tidak berada dalam gua sebab malaikat tidak mau masuk dalam rumah yang ada anjing di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566. Keberkahan pemuda mukmin ini melingkupi hingga anjing mereka, ia juga mengalami seperti yang mereka alami, yaitu tidur panjang dalam keadaan seperti itu. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah manfaat dari menemani orang-orang baik. Lihatlah hingga anjing ini pun selalu diingat dan memiliki kedudukan tersendiri. Karena siapa saja yang mencintai suatu kaum, ia akan bahagia bersama mereka. Kalau pada anjing saja bisa seperti itu, maka pasti berlaku pula bagi siapa saja yang mengikuti orang yang berbuat baik yang pantas dimuliakan.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566) “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, yakni jika kamu melihat mereka sekalipun begitu kuatnya kamu dalam melawan agar tidak lari, pasti kamu akan kalah dan lari dengan penuh ketakutan, yaitu hatimu dipenuhi rasa takut karena merkea para pemuda itu dilingkupi aura kewibawaan, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka kecuali akan ketakutan kemudian berpaling dan melarikan diri menjauh. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Agar tidak ada seorang pun yang mendekati atau menyentuh mereka hingga ketentuan itu sampai pada masanya, masa tidur mereka habis sesuai kehendak Allah Ta’ala, mengingat hal ini mengandung hikmah, hujjah yang kuat, dan rahmat yang luas.” Pelajaran penting dari ayat “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. Ibnu Katsir rahimahullah lantas berkata, ِأَنَّ الخَبَرَ لَيْسَ كَالمُعَايَنَة “Berita itu tidak sama dengan melihat langsung.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567)   Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Yakni, sebagaimana kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat panjang, maka kami bangunkan mereka denagn keadaan segar bugar tubuh mereka, sehat, begitu pula dengan rambut dan kulit mereka tidak ada yang berubah dari keadaan dan bentuk mereka. Hal ini sebagai pengingat akan kemahakuasaan Allah untuk menidurkan dan mematikan serta membangkitkan kembali. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka bangun setelah 309 tahun.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567) “Agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri” yakni, agar sebagian bertanya kepada yang lain dan mengetahui keadaan mereka serta apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sehingga mereka bisa mengambil pelajaran lalu berhujjah dengan itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala, maka bertambah yakin dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka. “Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)” yakni berapa lama kamu tidur di sini. “Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”, karena saat mereka masuk gua waktu itu di permulaan siang (pagi), dan Allah bangunkan mereka di akhir sore. Karena itulah mereka mengatakan sebagian hari. “Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)” yakni, Allah yang Maha Mengetahui urusan kalian. Sepertinya muncul keraguan pada mereka dalam hal lama tidaknya tertidur, kemudian dalam diri mereka ada bisikan (ilham) dari Allah, atau dengan indikasi-indikasi yang mereka saksikan dari keadaan mereka yang menunjukkan bahwa mereka tertidur panjang, dan berapa lamanya tidak diketahui, maka mereka serahkan kebenarannya kepada Allah. Mereka berkata, “Rabb kalian lebih mengetahui berapa lama kalian di sini.” Setelah itu mereka kembali kepada yang paling penting dalam urusan mereka, yaitu kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Mereka berkata, “Suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini” yakni ke kota tempat mereka keluar darinya, “dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik” yakni yang paling enak. “Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut” yakni dalam keluar dan membeli makanan serta saat kembali, maksudnya hendaknya merahasiakan dirinya sebisa mungkin, “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun” yakni, jangan melakukan tanpa ia sadari, apa yang bisa membuka rahasia dan keberadaan kita. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.” (QS. Al-Kahfi: 20). Jika kalian kembali kepada agama mereka, maka pasti kalian tidak akan beruntung selamanya. Catatan: Mereka menyangka bahwa mereka hanya tidur sehari atau sebagian hari atau lebih dari itu. Padahal mereka telah tidur lebih dari 300 tahun. Selama itu telah berganti pemerintahan dan negeri sudah berubah. Orang-orang yang dulu sudah tiada dan berganti. Mereka menjadi terasing karena keadaan mereka berbeda dengan penduduk saat mereka bangun dan mata uang dirham yang dibawa pun berbeda. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:568. Lamanya ashabul kahfi tertidur dalam gua disebutkan dalam ayat, وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al-Kahfi: 25). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mengenai begitu lamanya pemuda ashabul kahfi tertidur dalam gua ada faedah yang besar.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:571)   Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا “Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.” (QS. Al-Kahfi: 21) “Demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka” yakni, sebagaimana Kami tidurkan mereka kemudian kami bangunkan dalam keadaan dan bentuk semula, begitu pula Kami perlihatkan kepada mereka manusia di waktu itu, “agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya” yakni, orang-orang yang Kami berikan kesempatan melihat mereka (ashabul kahfi) yang Kami bangunkan kembali keadaan mereka sebelumnya (tidak ada yang berubah), agar mereka mengetahui bahwa janji Allah dengan hari kebangkitan setelah kematian itu benar adanya, karena keadaan para pemuda dalam tidur panjang mereka dan keadaan mereka saat terjaga, keadaan mereka tidak ubahnya adalah keadaan orang yang mati kemudian dibangkitkan lagi. “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka” yakni, Kami pertemukan manusia di zaman itu dengan para pemuda Al-Kahfi, ketika mereka berselisih di antara mereka tentang urusan agama mereka, dan berbeda pendapat dalam hal kebangkitan, sebagian ada yang mengatakan, “Yang dibangkitkan hanyalah ruh, bukan jasad.” Sebagian lagi mengatakan, “Yang dibangkitkan adalah jasad dan ruh sekaligus. Maka Allah membangkitkan ashabul kahfi dari tidur mereka, sebagai bukti bahwa Allah membangkitkan orang-orang mati dengan jasad dan ruh mereka sekaligus. “Orang-orang itu berkata” yakni, manusia setelah melihat ashabul kahfi, mereka berbicara kepada para pemuda itu dan mereka pun menceritakan keadaan mereka yang tertidur. Setelah menceritakan itu, para pemuda ashabul kahfi itu pun meninggal dunia. “Dirikankah sebuah bangunan di atas gua mereka” yakni, di atas pintu gua, maksudnya tutuplah pintu gua itu dan biarkanlah mereka seperti keadaan semula. “Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” sebuah ungkapan dari orang-orang yang tadi berselisih pendapat, seakan-akan mereka ingat urusan mereka (para pemuda), kemudian saling menyampaikan tentang nasab dan hal ihwal mereka serta lamanya mereka tinggal di dalam gua. Ketika mereka tidak bisa mengetahui hakikat sebenarnya, mereka mengatakan, “Rabb mereka lebih mengetahui urusan mereka”. Atau kemungkinan ini merupakan pernyataan Allah untuk membantah orang-orang yang terlalu jauh dalam membicarakan urusan pemuda ini, dari mereka yang berselisih pendapat. “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” yakni, mereka yang menang ketika berselisih pendapat itu, dan mereka adalah orang-orang kuat dan berpengaruh, kami akan mendirikan rumah ibadah, yakni kami akan shalat di sana untuk mendapatkan keberkahan dari para pemuda dan kedudukan mereka. Inilah syariat sebelum syariat Nabi Muhammad. Adapun pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ “Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi dan orang saleh dari mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari, no. 1390 dan Muslim, no. 529) Di sini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, tidak boleh membangun masjid di atas kuburan berdasarkan larangan yang sangat jelas yang ada dalam masalah ini.   Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? Allah Ta’ala berfirman, سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22) Allah menyebutkan tiga pendapat mengenai berapakah jumlah para pemuda penghuni gua tersebut. Allah menyebutkan pendapat ketiga lalu mendiamkannya. Hal itu menunjukkan bahwa pendapat ketiga itu yang benar. Pendapat pertama: tiga orang, yang keempat adalah anjingnya. Pendapat kedua: lima orang, yang keenam adalah anjingnya. Pendapat ketiga: tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. Pendapat pertama dan kedua disebutkan selanjutnya “sebagai terkaan terhadap barang yang gaib” menunjukkan bahwa pendapat ini tidak berdasar pada ilmu. Kemudian Allah memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak ada manfaatnya, sehingga dalam masalah ini hendaklah kita berkata, “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“, yakni tidak ada yang mengetahui jumlah para pemuda penghuni gua kecuali sedikit orang yang diberitahukan oleh Allah. “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja” yakni, jangan mendebat ahli kitab tentang ashabul kahfi kecuali perdebatan seperlunya yang tidak terlalu jauh dalam mempermasalahkannya, yaitu kisahkan saja kepada mereka apa yang Allah wahyukan kepadamu, cukup seperti itu, jangan kau tambah. “Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka” yakni jangan bertanya kepada seorang pun dari mereka (ahli kitab) tentang kisah mereka, pertanyaan yang mengandung pengingkaran, hingga mengatakan sesuatu kemudian kamu bantah dan kamu palsukan apa yang ada padanya. Tidak pula pertanyaan orang yang minta petunjuk karena Allah telah memberikan petunjuk kepadamu dengan menurunkan wahyu kepadamu tentang kisah mereka dan apa yang berhubungan dengan jumlah serta urusan mereka. Hal ini sudah cukup bagi orang yang hendak mengetahui perihal para pemuda penghuni gua, serta mengambil pelajaran dan nasihat dari kisah mereka.   Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan Ashabul Kahfi, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan bahwa mereka penghuni gua adalah para pemuda. Mereka adalah orang yang paling cepat menerima kebenaran, paling lurus dalam menempuh jalan, dibanding para sepuh yang telah banyak salah dan jauh terjerumus dalam agama yang batil. Oleh karena itu,  kebanyakan yang menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun para sepuh dari Quraisy, pada umumnya tetap dalam agama nenek moyang dan tidak mau masuk Islam kecuali sedikit. Demikianlah Allah memberitahukan kepada kita tentang ashabul kahfi, bahwa mereka itu adalah anak-anak muda.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:140) Maka para dai harus memperbanyak cara dan pendekatan kepada para pemuda agar dakwah sampai kepada mereka. Para pemuda itu memiliki kekuatan, semangat, hati yang bening, dan memiliki sesuatu yang sangat diperlukan dalam dakwah. Para pemuda bisa dimotivasi dengan kisah-kisah, termasuk kisah agar para pemuda jauh dari maksiat seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Baca juga: Kisah Nabi Yusuf Ketika Digoda dan 14 Cobaan Berat Beliau   Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. Dalilnya adalah, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Dalil lainnya yang menunjukkan iman itu bisa bertambah adalah: وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124) هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4) Iman itu bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah, beramal saleh, dan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan jihad fii sabilillah. Yang termasuk jihad di jalan Allah adalah berdakwah dengan ucapan, tulisan, dan berbagai sarana dakwah. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أيُّ الأعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ قال : « الإِيْمَانُ بِاللَّهِ ، وَالجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ » “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim, no. 84) Baca juga:  Iman itu Berupa Perkataan dan Perbuatan Amal dan Sahnya Iman (Syarhus Sunnah) Level Orang Beriman itu Berbeda-Beda   Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. Termasuk kisah para pemuda penghuni gua seperti yang dijelaskan oleh ulama tafsir bahwa para pemuda itu adalah putra dan anak-anak pembesar kaumnya, mereka keluar suatu hari pada hari raya kaumnya. Kaum mereka punya acara pertemuan besar dalam setahun. Kaum tersebut bertemu di pusat kota, menyembah shonam (patung yang memiliki bentuk seperti makhluk) yang telah disiapkan, menyembelih qurban untuk patung-patung tersebut. Kaum tersebut dipimpin oleh seorang raja yang kafir yang bengis (yaitu Diqyanus) yang memerintahkan manusia untuk melakukan kesyirikan dan mengajak kaumnya bersama-sama melakukan itu. Ketika para pemuda ini hendak bertemu dalam majelis mereka, para pemuda ini keluar bersama orang tua dan kaum mereka, kemudian para pemuda ini melihat perbuatan kaumnya dengan mata kepala mereka sendiri. Para pemuda ini mengetahui perbuatan kaumnya, mulai dari sujud dan menyembelih kepada shonam. Padahal hal ini adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi.  Para pemuda ini berlepas diri dari kaumnya, berpisah, dan duduk jauh dari mereka. Yang pertama kali duduk dan menjauh adalah satu dari pemuda tersebut, ia duduk berteduh di bawah pohon, lalu datang pemuda lain, terus berdatangan, dan akhirnya mereka berkumpul. Yang menyatukan mereka di bawah pohon adalah hati mereka yang beriman kepada Allah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185) Masing-masing dari pemuda itu merahasiakan apa yang ada dalam hatinya, karena takut kepada yang lainnya, mereka tidak tahu bahwa mereka sama-sama beriman. Mereka kemudian saling mengungkapkan pendapat mereka. Mereka semua ternyata sama-sama sepakat untuk mengingkari perbuatan kaumnya. Mereka sama-sama meyakini bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah. Lalu mereka sama-sama beribadah kepada Allah di suatu tempat. Keadaan para pemuda ini pun diketahui oleh kaumnya dan dilaporkan kepada raja mereka. Para pemuda ini pun dipanggil oleh raja dan ditanya, lantas mereka mengungkapkan kebenaran yang mereka yakini di hadapan raja. Dalam ayat disebutkan, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 5:140-141. Pelajaran yang dapat diambil adalah para dai harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama dai, saling tolong menolong dalam kebaikan.   Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. Setelah pemuda dalam kisah ini saling kenal dan saling mengetahui rahasia masing-masing, dan menjadi jelas bahwa akidah mereka itu satu, tujuan mereka satu, dan dakwah mereka satu, maka mereka membangun tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah. Mereka pun mengajak rajanya ketika berdialog untuk beribadah kepada Allah. Namun, dakwah para pemuda ini ditolak bahkan mendapatkan ancaman. Keterusterangan pemuda ini dalam menyatakan diri mereka beriman dan mendakwahkannya patut dicontoh. Dari sini kita dapat ambil pelajaran, para dai harus berterusterang dalam menyampaikan kebenaran, mengumumkan dakwah mereka di hadapan para penguasa sombong dan zalim, agar mental mereka terhinakan, sebaliknya kekuatan kaum mukminin bertambah kuat, dan membuat mereka berani untuk berhadapan dengan orang-orang zalim dari para penguasa. Sikap para dai seperti yang kami sebutkan ini, jika mereka menyaksikan dengan mata kepala atau dengan indikasi bahwa keterusterangan mereka dalam menyampaikan kebenaran serta menghadapi para penguasa zalim dengan kebenaran dakwahnya, lebih baik daripada sikap diam di hadapan mereka atau daripada mereka memilih untuk mengambil keringanan (yaitu pura-pura). Sesungguhnya seorang mukmin melihat dengan cahaya Allah, dan seukuran iman dalam dirinya serta dalamnya iman tersebut dan keikhlasan kepada Rabbnya, maka demikianlah kekuatan cahaya seharusnya ia pilih. Sekalipun sikap itu akan menyebabkannya mati dibunuh secara syahid, karena dai itu adalah mujahid (pejuang). Jihad dalam dakwah ini adalah mempersembahkan jiwa raga di jalan Allah. Hal ini tidak termasuk melemparkan diri dalam kebinasaan, selama orang mukmin, dai, mengharapkan dari perbuatannya itu untuk merealisasikan maslahat syariyyah bagi dakwah dan kaum muslimin.   Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. Namun, dianjurkan untuk tetap tinggal jika dipandang ada maslahat besar semisal untuk berdakwah.   Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) Banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk ‘uzlah (mengasingkan diri) demi menyelamatkan diri atau menghindari masyarakat yang banyak terjadi maksiat, kebid’ahan, dan pelanggaran agama. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, خَيْرُ الناسِ في الفِتَنِ رجلٌ آخِذٌ بِعِنانِ فَرَسِه أوْ قال بِرَسَنِ فَرَسِه خلفَ أَعْدَاءِ اللهِ يُخِيفُهُمْ و يُخِيفُونَهُ ، أوْ رجلٌ مُعْتَزِلٌ في بادِيَتِه ، يُؤَدِّي حقَّ اللهِ تَعالَى الذي عليهِ “Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan hal yang merusak (fitnah) adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah. Ia menakuti-nakuti mereka, dan mereka pun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah.” (HR. Al-Hakim, 4: 446. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 698). Sebagaimana juga dalam hadits Abu Sa’id, قَالَ رَجُلٌ أَىُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ ». “Seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Siapakan manusia yang paling afdal wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Nabi menjawab, ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat.’” (HR. Muslim, no. 1888). Bahkan andai satu-satunya jalan supaya selamat dari kerusakan adalah dengan mengasingkan diri ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung, maka itu lebih baik daripada agama kita terancam hancur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ “Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari kerusakan.” (HR. Bukhari, no. 19)   Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat Sebagian dalil yang lain menganjurkan kita untuk bergaul di tengah masyarakat walaupun bobrok keadaannya, dalam rangka berdakwah dan amar makruf nahi munkar di dalamnya. Di antaranya firman Allah Ta’ala, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2). Juga firman Allah Ta’ala, وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾ “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Juga dalilnya dari hadits tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib berikut. Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khoibar, لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di mana ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa ‘Ali sedang sakit mata. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendo’akan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hinggakalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407). Dalam sebuah nasehat berharga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar disebutkan, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? Pendapat yang paling tepat dalam hal ini seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, “Siapa yang mampu untuk bergaul dengan masyarakat dengan tetap melakukan pengingkaran pada kemungkaran, maka wajib baginya untuk bergaul, bisa jadi berlaku hukum baginya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Ini juga berlaku bagi yang yakin dapat selamat dengan ia tetap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Namun, jika terjadi kerusakan menimpa dirinya, maka baiknya ia melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri) agar tidak terjatuh dalam keharaman. Dan ingat kerusakan itu bukan hanya menimpa mereka yang maksiat namun bisa menimpa secara umum, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfaal: 25) Baca juga: Faedah Sirah Nabi, Nabi Menyendiri    Bergaul itu Sesuai Hajat Penjelasan sebelumnya, bukan berarti kita tidak boleh bergaul. Namun, bergaul yang tepat adalah sesuai hajat atau kebutuhan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فُضُوْلُ المخَالَطَةِ فِيْهِ خَسَرَاةُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَإِنَّمَا لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ المخَالَطَةِ بِمِقْدَارِ الحَاجَةِ “Banyak bergaul itu dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Selaku hamba seharusnya bergaul sesuai kadar hajat saja.” (Badaai’ Al-Fawaid, 2:821) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim rahimahullah yaitu: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid (2:821-823). Baca juga: Langkah Setan dalam Menyesatkan Manusia, Banyak Bergaul   Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain Jika memang bisa memberikan manfaat pada orang lain seperti orang berilmu, maka ia bergaul karena maksud baik tersebut. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, الْمُؤْمِنُ يُخَالِطُ لِيَعْلَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ “Orang yang beriman itu bergaul untuk menambah ilmu, memilih untuk diam agar selamat dari dosa, berbicara untuk mendapat pemahaman, dan menyendiri agar mendapat keberuntungan.” (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al-‘Uzlah dan Al-Infirad) Baca juga: Berilah Manfaat untuk Orang Banyak   Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: Yang bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, silakan ia bergaul karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain. Yang tidak bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, hendaklah ia bergaul dengan teman yang sifatnya bisa memberikan kebaikan ibaratnya seperti membutuhkan makanan yang jadi kebutuhan darurat, atau membutuhkan obat yang diperlukan jika ada hajat. Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul, Makin Banyak Dosa   Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. Para dai harus mengambil manfaat dan belajar dari kisah ashabul kahfi mengenai pentingnya mengambil sebab-sebab yang diperintahkan (masyru’ah, disyariatkan), mereka harus tahu bahwa mengambil sebab tidak merusak iman dan membatalkan tawakal kepada Allah. Bukti bahwa pemuda Al-Kahfi mencari sebab: – Para pemuda bersembunyi dalam gua, menjadikannya sebagai tempat berlindung dan bersembunyi dari kaumnya. Allah tidak mengingkari apa yang mereka lakukan ini dan apa yang mereka teguhkan niat untuk melakukannya. وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Pemuda-pemuda ini menyelematkan diri dari kaumnya yang kafir, dengan percaya serta tawakal kepada Allah. Mereka pun pergi ke gua dan bersembunyi di dalamnya. – Allah menjadikan empat sebab agar mereka selamat dari panas matahari dan selamat dari hancur dimakan tanah dengan cara (1) cahaya matahari menjauh dari mereka; (2) badan mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri. Di samping itu, (3) gua tersebut dalam keadaan luas sehingga bisa dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri, lalu (4) mata mereka dalam keadaan terbuka sehingga mata tersebut selama 309 tahun tidaklah rusak. Dalam ayat disebutkan, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) – Uang dirham tetap dibawa untuk digunakan untuk keperluan serta bekal bagi mereka. Mereka bawa uang itu ketika masuk gua. Uang itu ternyata dibutuhkan ketika mereka mengutus salah satu dari mereka untuk membeli makanan dengan uang dirham tersebut di kota. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan sebab dengan membawa bekal berupa uang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19)   Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. Pelajaran ini diambil dari ayat 19 di atas, وَلْيَتَلَطَّفْ “dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut”, yaitu ketika keluar, pergi, membeli makanan, kemudian kembali, mereka mengatakan, rahasiakan segala sesuatu yang mungkin. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Para pemuda ini telah mengambil sebab untuk waspada. Pemuda yang diutus untuk membeli makanan diminta agar waspada dengan cara bersembunyi sebisa mungkin hingga tidak dikenal. Karena jika dikenal, maka kaumnya nantinya mengetahui keberadaan mereka, lalu mereka akan dibunuh dengan cara dilempari batu, atau dipaksa untuk kembali kepada agama mereka. Kalau sampai murtad, tentu pemuda-pemuda ini tidak akan beruntung selamanya. Ingat, orang beriman itu memiliki sifat selalu berhati-hati, tidak tergesa-gesa.   Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat Ketika mereka bangun, pemuda-pemuda ini saling bertanya berapa lama mereka tinggal di dalam gua. Ada yang menjawab sehari atau setengah hari. Lalu ada yang mengatakan, رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).” Daripada lama berdebat yang tak manfaat, maka diperintahkan untuk mencari makan. فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” Ini namanya beralih dari debat ke hal yang lebih penting yaitu butuh pada makanan. Sebagian dai kadang terjerumus dalam debat kusir yang tidak manfaat, baiknya beralih kepada hal manfaat dan membicarakan seputar dakwah.   Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. Dalam ayat disebutkan, وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Maksud ayat ini adalah janganlah membuka rahasia. Baca juga: Kenapa Kita Harus Menjaga Rahasia?   Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). Dalam ayat disebutkan, فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” (QS. Al-Kahfi: 19). Mereka makan yang enak-enak karena mereka adalah anak tokoh (raja) yang sudah terbiasa makan enak. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 496. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita.   Tiga belas faedah ini diambil dari Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’, hlm. 380-388 dan Tafsir As-Sa’di, hlm. 496.   Semoga bermanfaat dan mendapatkan berkah dari kisah pemuda Al-Kahfi ini.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Al-Imam Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Baca Juga: 24 Kandungan Penting dari Surat Al-Kahfi Kisah Maryam Hingga Nabi Isa Lahir — Diperbaharui pada Kamis sore, 13 Syakban 1443 H, 17 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsashabul kahfi keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi pemuda pemuda al kahfi riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah surat al kahfi
Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi dibawakan oleh Rumaysho kali ini. Di samping dibawakan kisah, semoga banyak pelajaran bisa digali di dalamnya. Allahumma yassir wa a’in.   Daftar Isi tutup 1. Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah 2. Kisah Mereka Secara Global 3. Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya 4. Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang 5. Rincian Kisah Ashabul Kahfi 6. Hati Mereka Dikuatkan 7. Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya 8. Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka 9. Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua 10. Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua 11. Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang 12. Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda 13. Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? 14. Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi 14.1. Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. 14.2. Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. 14.3. Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. 14.4. Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. 14.5. Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. 14.5.1. Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) 14.5.2. Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat 14.5.3. Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? 14.5.4. Bergaul itu Sesuai Hajat 14.5.5. Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain 14.5.6. Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: 14.6. Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. 14.7. Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. 14.8. Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat 14.9. Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. 14.10. Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). 14.11. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. 14.12. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. 14.13. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita. 14.14. Referensi:   Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah Allah Ta’ala berfirman, أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9) Mereka adalah salah satu dari sekian ayat-ayat Allah yang luar biasa. Al-Kahfi adalah gua di gunung. Nama gua tersebut adalah Hizam (Haizam). Sedangkan Ar-Raqiim adalah papan yang tertulis nama-nama Ashabul Kahfi dan kejadian yang mereka alami, ditulis setelah masa mereka. Versi lain, Ar-Raqiim adalah nama gunung yang terdapat gua. Ada yang berpendapat, itu adalah nama lembah yang terdapat padanya sebuah gua. Nama anjing mereka adalah Humron. Kisah Ashabul Kahfi itu setelah masanya Nabi Isa Al-Masih. Mereka itu Nashrani. Kaum mereka itu adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Ashabul Kahfi itu di masa raja Diqyaanus. Ashabul Kahfi itu sendiri adalah pemuda-pemuda yang merupakan putra dari para raja (tokoh). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:563. Para ulama juga berselisih pendapat mengenai letak gua ini. Ada yang berkata di negeri Aylah. Ada yang berpendapat di negeri Niinawa. Ada yang mengatakan di Balqa’. Ada juga yang berpendapat di negeri Ar-Ruum (Romawi). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566.   Kisah Mereka Secara Global Allah Ta’ala berfirman, إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.” (QS. Al-Kahfi: 10) Allah Ta’ala memberitakan tentang para pemuda yang melarikan diri menyelamatkan agama mereka dari kaum mereka, agar tidak terfitnah, mereka menjauh dari kaumnya dan menuju sebuah gua di gunung bersembunyi dari kejaran kaumnya. Mereka mengatakan ketika memasuki gua seraya memohon kepada Allah rahmat dan kelembutan-Nya kepada mereka, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu”, yaitu berikan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dengan mengasihani kami dan melindungi kami dari kaum kami. “Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, yaitu jadikan petunjuk sebagai hasil akhir bagi kami. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Husain bin Arthah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ “ALLOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUNYAA WA ‘ADZAABIL AAKHIROH. (artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat).” (HR. Ahmad, 4:181. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa periwayat hadits ini tsiqqah atau terpercaya kecuali Ayyub bin Maysaroh. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dan ia mensahihkannya, begitu pula Imam Adz-Dzahabi. Lihat Al-Mustadrak, 3:591. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:181, menyatakan bahwa perawinya tsiqqah. Lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:139). Baca juga: Doa Agar Baik dalam Urusan   Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al-Kahfi: 11) Maksudnya, Allah jadikan telinga mereka tabir yang menghalangi mereka dari mendengar, yaitu, Kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat pulas yang tidak bisa dibangunkan oleh suara-suara, seperti yang terjadi pada orang yang sangat kantuk dan lelap dalam tidurnya, sekalipun diterikai di telinganya, ia tidak mendengar dan tidak terbangun. “beberapa tahun” artinya tahun-tahun yang berbilang, banyak, dan lama. Baca juga: Mesti Fokus dan Mendengarkan dalam Belajar   Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).” (QS. Al-Kahfi: 12) Kemudian Allah bangunkan mereka dari tidur seperti membangkitkan orang mati dari kubur mereka, agar diketahui dua golongan yang berselisih pendapat mengenai berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Dengan perhitungan yang sangat teliti, yaitu lebih meliputi berapa lama mereka tinggal dalam gua, sehingga mereka akan mengetahui selang waktu yang Allah menjaga mereka di dalam gua tanpa makan dan minum, serta memberikan mereka rasa aman dari musuh, dengan begitu sempurnalah petunjuk mereka untuk bersyukur kepada Allah, dan hal itu menjadi tanda kekuasaan bagi mereka yang akan membuat mereka giat untuk beribadah kepada Allah.   Rincian Kisah Ashabul Kahfi Allah Ta’ala berfirman, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Ayat ini merupakan permulaan rincian kisah dan keterangannya. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka” yakni mengakui keesaan Allah dan mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. “dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”, maksudnya adalah dengan taufik (hidayah) dan tatsbit (pemantapan dan keteguhan). Baca juga: Empat Tingkatan Hidayah Menurut Ibnul Qayyim   Hati Mereka Dikuatkan Allah Ta’ala berfirman, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14) Maksudnya adalah mereka dikuatkan dengan kesabaran, mereka meninggalkan kampung halaman mereka serta meninggalkan berbagai kenikmatan demi menyelamatkan agama mereka. Mereka berdiri di hadapan raja mereka dan menyatakan kebenaran dengan tegas di hadapannya ketika kabar mereka terdengar oleh raja dan mereka diminta hadir menghadap raja. Raja bertanya kepada mereka tentang agama dan keyakinan yang mereka Yakini, maka mereka menjawab dengan benar dan bahkan mengajak raja tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena itulah dalam ayat disebutkan, “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.” Mereka tidak menyembah Rabb selain Allah. Sebab jika mereka berbuat demikian, berarti mereka telah berbuat kebatilan, kedustaan, dan kebohongan.   Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya Allah Ta’ala berfirman, هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15) Hal ini adalah isyarat bahwa orang kafir itu tidak mampu mendatangkan bukti atas apa yang mereka lakukan, yaitu beribadah kepada selain Allah, berbuat syirik. Jadi, mereka itulah orang-orang yang zalim yang menzalimi hak Allah karena mereka berdusta dan berbohong terhadap Allah. Kalau memang Allah itu Mahatinggi, maka tidak pantas bagi selain Allah punya kedudukan tinggi yang sama.   Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka Allah Ta’ala berfirman, وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Yakni, jika kamu semua menyelisihi mereka denagn agama kalian, karena mereka menyembah selain Allah, maka selisihi pula (berpisahlah, tinggalkanlah mereka) dengan badan kalian. “maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu”, yakni, Allah akan membentangkan rahmat-Nya kepada kalian yang menutupi kalian dari kaum kalian yang kafir. “dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” yang sedang kalian hadapi. Pada saat itulah, mereka keluar menghindar dari kaum mereka menuju sebuah gua kemudian tinggal di dalamnya.   Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) Yakni, jika matahari meninggi di tempat terbitnya, maka ia condong dari gua (sinar matahari tidak mengenai mereka), yaitu dari pintu gua sebelah kanan. Jika matahari terbenam, maka ia melewati mereka di sebelah kiri, yakni tidak mendekati mereka tetapi melewati. “Sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”, kata fajwah artinya tempat yang luas dan lega dalam gua, sehingga cukup tersedia udara yang datang dari segala penjuru tanpa tersengat matahari. “Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah“, yakni urusan mereka dan petunjuk Allah kepada mereka hingga ke gua tersebut dengan menjadikan mereka tetap hidup, serta apa yang Allah perbuat kepada mereka dari mulai matahari yang condong dan tidak mendekat sejak terbit hingga terbenam, semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan perhatian dan penjagaan Allah kepada mereka, serta petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berada dalam gua bertahun-tahun dan tetap seperti itu, mereka tidak makan, tidak minum, tidak ada asupan makanan yang masuk dalam waktu yang sangat lama, itulah yang menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565) “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk”, yakni siapa yang ditunjukkan kepada kebenaran oleh Allah, maka ialah orang yang mendapat hidayah. Dalam hal ini terdapat pujian bagi para pemuda mukmin tersebut, yang telah berjihad di jalan Allah, kemudian menyerahkan diri mereka kepada-Nya, sehingga Allah bersikap lembut dan menolong mereka, menunjuki mereka untuk mencapai kemuliaan dan kekhususan dengan ayat-ayat yang luar biasa. Sesungguhnya setiap orang yang menempuh jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, maka ia akan mendapatkan keberuntungan. “Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”, yakni siapa yang disesatkan oleh Allah, maka pasti kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya yang menjaganya dari kesesatan, atau memberi petunjuk kepada jalan kebenaran dan keberuntungan. Catatan: Hikmah masuknya matahari dalam gua pada beberapa keadaan adalah agar udara di dalam gua itu tetap baik. Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565.   Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) “Dan kamu mengira mereka itu” adalah pembicaraan untuk setiap orang, maksudnya, kamu mengira “mereka itu bangun” karena mata mereka terbuka. Karena kalau tidur dalam keadaan mata mereka tertutup lama itu akan berdampak jelek. Demikian kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565. “Padahal mereka tidur” sangat lelap dan pulas dalam tidurnya hingga tidak ada suara yang bisa membangunkan mereka, “dan Kami bolak-balikkan mereka” yakni dalam tidur mereka “ke kanan dan ke kiri” agar tanah tidak merusak badan mereka, “sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka pintu gua” yakni di halaman gua atau pintu gua. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa anjing tersebut tidak masuk dalam gua, hanya meletakkan kakinya di pintu gua. Inilah bentuk adab dari anjing tersebut. Para pemuda kahfi juga sangat memuliakan anjing tersebut. Anjing itu tidak berada dalam gua sebab malaikat tidak mau masuk dalam rumah yang ada anjing di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566. Keberkahan pemuda mukmin ini melingkupi hingga anjing mereka, ia juga mengalami seperti yang mereka alami, yaitu tidur panjang dalam keadaan seperti itu. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah manfaat dari menemani orang-orang baik. Lihatlah hingga anjing ini pun selalu diingat dan memiliki kedudukan tersendiri. Karena siapa saja yang mencintai suatu kaum, ia akan bahagia bersama mereka. Kalau pada anjing saja bisa seperti itu, maka pasti berlaku pula bagi siapa saja yang mengikuti orang yang berbuat baik yang pantas dimuliakan.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566) “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, yakni jika kamu melihat mereka sekalipun begitu kuatnya kamu dalam melawan agar tidak lari, pasti kamu akan kalah dan lari dengan penuh ketakutan, yaitu hatimu dipenuhi rasa takut karena merkea para pemuda itu dilingkupi aura kewibawaan, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka kecuali akan ketakutan kemudian berpaling dan melarikan diri menjauh. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Agar tidak ada seorang pun yang mendekati atau menyentuh mereka hingga ketentuan itu sampai pada masanya, masa tidur mereka habis sesuai kehendak Allah Ta’ala, mengingat hal ini mengandung hikmah, hujjah yang kuat, dan rahmat yang luas.” Pelajaran penting dari ayat “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. Ibnu Katsir rahimahullah lantas berkata, ِأَنَّ الخَبَرَ لَيْسَ كَالمُعَايَنَة “Berita itu tidak sama dengan melihat langsung.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567)   Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Yakni, sebagaimana kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat panjang, maka kami bangunkan mereka denagn keadaan segar bugar tubuh mereka, sehat, begitu pula dengan rambut dan kulit mereka tidak ada yang berubah dari keadaan dan bentuk mereka. Hal ini sebagai pengingat akan kemahakuasaan Allah untuk menidurkan dan mematikan serta membangkitkan kembali. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka bangun setelah 309 tahun.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567) “Agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri” yakni, agar sebagian bertanya kepada yang lain dan mengetahui keadaan mereka serta apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sehingga mereka bisa mengambil pelajaran lalu berhujjah dengan itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala, maka bertambah yakin dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka. “Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)” yakni berapa lama kamu tidur di sini. “Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”, karena saat mereka masuk gua waktu itu di permulaan siang (pagi), dan Allah bangunkan mereka di akhir sore. Karena itulah mereka mengatakan sebagian hari. “Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)” yakni, Allah yang Maha Mengetahui urusan kalian. Sepertinya muncul keraguan pada mereka dalam hal lama tidaknya tertidur, kemudian dalam diri mereka ada bisikan (ilham) dari Allah, atau dengan indikasi-indikasi yang mereka saksikan dari keadaan mereka yang menunjukkan bahwa mereka tertidur panjang, dan berapa lamanya tidak diketahui, maka mereka serahkan kebenarannya kepada Allah. Mereka berkata, “Rabb kalian lebih mengetahui berapa lama kalian di sini.” Setelah itu mereka kembali kepada yang paling penting dalam urusan mereka, yaitu kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Mereka berkata, “Suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini” yakni ke kota tempat mereka keluar darinya, “dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik” yakni yang paling enak. “Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut” yakni dalam keluar dan membeli makanan serta saat kembali, maksudnya hendaknya merahasiakan dirinya sebisa mungkin, “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun” yakni, jangan melakukan tanpa ia sadari, apa yang bisa membuka rahasia dan keberadaan kita. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.” (QS. Al-Kahfi: 20). Jika kalian kembali kepada agama mereka, maka pasti kalian tidak akan beruntung selamanya. Catatan: Mereka menyangka bahwa mereka hanya tidur sehari atau sebagian hari atau lebih dari itu. Padahal mereka telah tidur lebih dari 300 tahun. Selama itu telah berganti pemerintahan dan negeri sudah berubah. Orang-orang yang dulu sudah tiada dan berganti. Mereka menjadi terasing karena keadaan mereka berbeda dengan penduduk saat mereka bangun dan mata uang dirham yang dibawa pun berbeda. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:568. Lamanya ashabul kahfi tertidur dalam gua disebutkan dalam ayat, وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al-Kahfi: 25). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mengenai begitu lamanya pemuda ashabul kahfi tertidur dalam gua ada faedah yang besar.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:571)   Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا “Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.” (QS. Al-Kahfi: 21) “Demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka” yakni, sebagaimana Kami tidurkan mereka kemudian kami bangunkan dalam keadaan dan bentuk semula, begitu pula Kami perlihatkan kepada mereka manusia di waktu itu, “agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya” yakni, orang-orang yang Kami berikan kesempatan melihat mereka (ashabul kahfi) yang Kami bangunkan kembali keadaan mereka sebelumnya (tidak ada yang berubah), agar mereka mengetahui bahwa janji Allah dengan hari kebangkitan setelah kematian itu benar adanya, karena keadaan para pemuda dalam tidur panjang mereka dan keadaan mereka saat terjaga, keadaan mereka tidak ubahnya adalah keadaan orang yang mati kemudian dibangkitkan lagi. “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka” yakni, Kami pertemukan manusia di zaman itu dengan para pemuda Al-Kahfi, ketika mereka berselisih di antara mereka tentang urusan agama mereka, dan berbeda pendapat dalam hal kebangkitan, sebagian ada yang mengatakan, “Yang dibangkitkan hanyalah ruh, bukan jasad.” Sebagian lagi mengatakan, “Yang dibangkitkan adalah jasad dan ruh sekaligus. Maka Allah membangkitkan ashabul kahfi dari tidur mereka, sebagai bukti bahwa Allah membangkitkan orang-orang mati dengan jasad dan ruh mereka sekaligus. “Orang-orang itu berkata” yakni, manusia setelah melihat ashabul kahfi, mereka berbicara kepada para pemuda itu dan mereka pun menceritakan keadaan mereka yang tertidur. Setelah menceritakan itu, para pemuda ashabul kahfi itu pun meninggal dunia. “Dirikankah sebuah bangunan di atas gua mereka” yakni, di atas pintu gua, maksudnya tutuplah pintu gua itu dan biarkanlah mereka seperti keadaan semula. “Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” sebuah ungkapan dari orang-orang yang tadi berselisih pendapat, seakan-akan mereka ingat urusan mereka (para pemuda), kemudian saling menyampaikan tentang nasab dan hal ihwal mereka serta lamanya mereka tinggal di dalam gua. Ketika mereka tidak bisa mengetahui hakikat sebenarnya, mereka mengatakan, “Rabb mereka lebih mengetahui urusan mereka”. Atau kemungkinan ini merupakan pernyataan Allah untuk membantah orang-orang yang terlalu jauh dalam membicarakan urusan pemuda ini, dari mereka yang berselisih pendapat. “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” yakni, mereka yang menang ketika berselisih pendapat itu, dan mereka adalah orang-orang kuat dan berpengaruh, kami akan mendirikan rumah ibadah, yakni kami akan shalat di sana untuk mendapatkan keberkahan dari para pemuda dan kedudukan mereka. Inilah syariat sebelum syariat Nabi Muhammad. Adapun pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ “Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi dan orang saleh dari mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari, no. 1390 dan Muslim, no. 529) Di sini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, tidak boleh membangun masjid di atas kuburan berdasarkan larangan yang sangat jelas yang ada dalam masalah ini.   Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? Allah Ta’ala berfirman, سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22) Allah menyebutkan tiga pendapat mengenai berapakah jumlah para pemuda penghuni gua tersebut. Allah menyebutkan pendapat ketiga lalu mendiamkannya. Hal itu menunjukkan bahwa pendapat ketiga itu yang benar. Pendapat pertama: tiga orang, yang keempat adalah anjingnya. Pendapat kedua: lima orang, yang keenam adalah anjingnya. Pendapat ketiga: tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. Pendapat pertama dan kedua disebutkan selanjutnya “sebagai terkaan terhadap barang yang gaib” menunjukkan bahwa pendapat ini tidak berdasar pada ilmu. Kemudian Allah memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak ada manfaatnya, sehingga dalam masalah ini hendaklah kita berkata, “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“, yakni tidak ada yang mengetahui jumlah para pemuda penghuni gua kecuali sedikit orang yang diberitahukan oleh Allah. “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja” yakni, jangan mendebat ahli kitab tentang ashabul kahfi kecuali perdebatan seperlunya yang tidak terlalu jauh dalam mempermasalahkannya, yaitu kisahkan saja kepada mereka apa yang Allah wahyukan kepadamu, cukup seperti itu, jangan kau tambah. “Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka” yakni jangan bertanya kepada seorang pun dari mereka (ahli kitab) tentang kisah mereka, pertanyaan yang mengandung pengingkaran, hingga mengatakan sesuatu kemudian kamu bantah dan kamu palsukan apa yang ada padanya. Tidak pula pertanyaan orang yang minta petunjuk karena Allah telah memberikan petunjuk kepadamu dengan menurunkan wahyu kepadamu tentang kisah mereka dan apa yang berhubungan dengan jumlah serta urusan mereka. Hal ini sudah cukup bagi orang yang hendak mengetahui perihal para pemuda penghuni gua, serta mengambil pelajaran dan nasihat dari kisah mereka.   Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan Ashabul Kahfi, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan bahwa mereka penghuni gua adalah para pemuda. Mereka adalah orang yang paling cepat menerima kebenaran, paling lurus dalam menempuh jalan, dibanding para sepuh yang telah banyak salah dan jauh terjerumus dalam agama yang batil. Oleh karena itu,  kebanyakan yang menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun para sepuh dari Quraisy, pada umumnya tetap dalam agama nenek moyang dan tidak mau masuk Islam kecuali sedikit. Demikianlah Allah memberitahukan kepada kita tentang ashabul kahfi, bahwa mereka itu adalah anak-anak muda.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:140) Maka para dai harus memperbanyak cara dan pendekatan kepada para pemuda agar dakwah sampai kepada mereka. Para pemuda itu memiliki kekuatan, semangat, hati yang bening, dan memiliki sesuatu yang sangat diperlukan dalam dakwah. Para pemuda bisa dimotivasi dengan kisah-kisah, termasuk kisah agar para pemuda jauh dari maksiat seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Baca juga: Kisah Nabi Yusuf Ketika Digoda dan 14 Cobaan Berat Beliau   Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. Dalilnya adalah, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Dalil lainnya yang menunjukkan iman itu bisa bertambah adalah: وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124) هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4) Iman itu bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah, beramal saleh, dan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan jihad fii sabilillah. Yang termasuk jihad di jalan Allah adalah berdakwah dengan ucapan, tulisan, dan berbagai sarana dakwah. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أيُّ الأعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ قال : « الإِيْمَانُ بِاللَّهِ ، وَالجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ » “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim, no. 84) Baca juga:  Iman itu Berupa Perkataan dan Perbuatan Amal dan Sahnya Iman (Syarhus Sunnah) Level Orang Beriman itu Berbeda-Beda   Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. Termasuk kisah para pemuda penghuni gua seperti yang dijelaskan oleh ulama tafsir bahwa para pemuda itu adalah putra dan anak-anak pembesar kaumnya, mereka keluar suatu hari pada hari raya kaumnya. Kaum mereka punya acara pertemuan besar dalam setahun. Kaum tersebut bertemu di pusat kota, menyembah shonam (patung yang memiliki bentuk seperti makhluk) yang telah disiapkan, menyembelih qurban untuk patung-patung tersebut. Kaum tersebut dipimpin oleh seorang raja yang kafir yang bengis (yaitu Diqyanus) yang memerintahkan manusia untuk melakukan kesyirikan dan mengajak kaumnya bersama-sama melakukan itu. Ketika para pemuda ini hendak bertemu dalam majelis mereka, para pemuda ini keluar bersama orang tua dan kaum mereka, kemudian para pemuda ini melihat perbuatan kaumnya dengan mata kepala mereka sendiri. Para pemuda ini mengetahui perbuatan kaumnya, mulai dari sujud dan menyembelih kepada shonam. Padahal hal ini adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi.  Para pemuda ini berlepas diri dari kaumnya, berpisah, dan duduk jauh dari mereka. Yang pertama kali duduk dan menjauh adalah satu dari pemuda tersebut, ia duduk berteduh di bawah pohon, lalu datang pemuda lain, terus berdatangan, dan akhirnya mereka berkumpul. Yang menyatukan mereka di bawah pohon adalah hati mereka yang beriman kepada Allah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185) Masing-masing dari pemuda itu merahasiakan apa yang ada dalam hatinya, karena takut kepada yang lainnya, mereka tidak tahu bahwa mereka sama-sama beriman. Mereka kemudian saling mengungkapkan pendapat mereka. Mereka semua ternyata sama-sama sepakat untuk mengingkari perbuatan kaumnya. Mereka sama-sama meyakini bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah. Lalu mereka sama-sama beribadah kepada Allah di suatu tempat. Keadaan para pemuda ini pun diketahui oleh kaumnya dan dilaporkan kepada raja mereka. Para pemuda ini pun dipanggil oleh raja dan ditanya, lantas mereka mengungkapkan kebenaran yang mereka yakini di hadapan raja. Dalam ayat disebutkan, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 5:140-141. Pelajaran yang dapat diambil adalah para dai harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama dai, saling tolong menolong dalam kebaikan.   Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. Setelah pemuda dalam kisah ini saling kenal dan saling mengetahui rahasia masing-masing, dan menjadi jelas bahwa akidah mereka itu satu, tujuan mereka satu, dan dakwah mereka satu, maka mereka membangun tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah. Mereka pun mengajak rajanya ketika berdialog untuk beribadah kepada Allah. Namun, dakwah para pemuda ini ditolak bahkan mendapatkan ancaman. Keterusterangan pemuda ini dalam menyatakan diri mereka beriman dan mendakwahkannya patut dicontoh. Dari sini kita dapat ambil pelajaran, para dai harus berterusterang dalam menyampaikan kebenaran, mengumumkan dakwah mereka di hadapan para penguasa sombong dan zalim, agar mental mereka terhinakan, sebaliknya kekuatan kaum mukminin bertambah kuat, dan membuat mereka berani untuk berhadapan dengan orang-orang zalim dari para penguasa. Sikap para dai seperti yang kami sebutkan ini, jika mereka menyaksikan dengan mata kepala atau dengan indikasi bahwa keterusterangan mereka dalam menyampaikan kebenaran serta menghadapi para penguasa zalim dengan kebenaran dakwahnya, lebih baik daripada sikap diam di hadapan mereka atau daripada mereka memilih untuk mengambil keringanan (yaitu pura-pura). Sesungguhnya seorang mukmin melihat dengan cahaya Allah, dan seukuran iman dalam dirinya serta dalamnya iman tersebut dan keikhlasan kepada Rabbnya, maka demikianlah kekuatan cahaya seharusnya ia pilih. Sekalipun sikap itu akan menyebabkannya mati dibunuh secara syahid, karena dai itu adalah mujahid (pejuang). Jihad dalam dakwah ini adalah mempersembahkan jiwa raga di jalan Allah. Hal ini tidak termasuk melemparkan diri dalam kebinasaan, selama orang mukmin, dai, mengharapkan dari perbuatannya itu untuk merealisasikan maslahat syariyyah bagi dakwah dan kaum muslimin.   Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. Namun, dianjurkan untuk tetap tinggal jika dipandang ada maslahat besar semisal untuk berdakwah.   Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) Banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk ‘uzlah (mengasingkan diri) demi menyelamatkan diri atau menghindari masyarakat yang banyak terjadi maksiat, kebid’ahan, dan pelanggaran agama. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, خَيْرُ الناسِ في الفِتَنِ رجلٌ آخِذٌ بِعِنانِ فَرَسِه أوْ قال بِرَسَنِ فَرَسِه خلفَ أَعْدَاءِ اللهِ يُخِيفُهُمْ و يُخِيفُونَهُ ، أوْ رجلٌ مُعْتَزِلٌ في بادِيَتِه ، يُؤَدِّي حقَّ اللهِ تَعالَى الذي عليهِ “Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan hal yang merusak (fitnah) adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah. Ia menakuti-nakuti mereka, dan mereka pun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah.” (HR. Al-Hakim, 4: 446. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 698). Sebagaimana juga dalam hadits Abu Sa’id, قَالَ رَجُلٌ أَىُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ ». “Seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Siapakan manusia yang paling afdal wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Nabi menjawab, ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat.’” (HR. Muslim, no. 1888). Bahkan andai satu-satunya jalan supaya selamat dari kerusakan adalah dengan mengasingkan diri ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung, maka itu lebih baik daripada agama kita terancam hancur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ “Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari kerusakan.” (HR. Bukhari, no. 19)   Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat Sebagian dalil yang lain menganjurkan kita untuk bergaul di tengah masyarakat walaupun bobrok keadaannya, dalam rangka berdakwah dan amar makruf nahi munkar di dalamnya. Di antaranya firman Allah Ta’ala, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2). Juga firman Allah Ta’ala, وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾ “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Juga dalilnya dari hadits tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib berikut. Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khoibar, لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di mana ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa ‘Ali sedang sakit mata. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendo’akan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hinggakalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407). Dalam sebuah nasehat berharga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar disebutkan, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? Pendapat yang paling tepat dalam hal ini seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, “Siapa yang mampu untuk bergaul dengan masyarakat dengan tetap melakukan pengingkaran pada kemungkaran, maka wajib baginya untuk bergaul, bisa jadi berlaku hukum baginya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Ini juga berlaku bagi yang yakin dapat selamat dengan ia tetap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Namun, jika terjadi kerusakan menimpa dirinya, maka baiknya ia melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri) agar tidak terjatuh dalam keharaman. Dan ingat kerusakan itu bukan hanya menimpa mereka yang maksiat namun bisa menimpa secara umum, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfaal: 25) Baca juga: Faedah Sirah Nabi, Nabi Menyendiri    Bergaul itu Sesuai Hajat Penjelasan sebelumnya, bukan berarti kita tidak boleh bergaul. Namun, bergaul yang tepat adalah sesuai hajat atau kebutuhan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فُضُوْلُ المخَالَطَةِ فِيْهِ خَسَرَاةُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَإِنَّمَا لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ المخَالَطَةِ بِمِقْدَارِ الحَاجَةِ “Banyak bergaul itu dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Selaku hamba seharusnya bergaul sesuai kadar hajat saja.” (Badaai’ Al-Fawaid, 2:821) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim rahimahullah yaitu: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid (2:821-823). Baca juga: Langkah Setan dalam Menyesatkan Manusia, Banyak Bergaul   Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain Jika memang bisa memberikan manfaat pada orang lain seperti orang berilmu, maka ia bergaul karena maksud baik tersebut. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, الْمُؤْمِنُ يُخَالِطُ لِيَعْلَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ “Orang yang beriman itu bergaul untuk menambah ilmu, memilih untuk diam agar selamat dari dosa, berbicara untuk mendapat pemahaman, dan menyendiri agar mendapat keberuntungan.” (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al-‘Uzlah dan Al-Infirad) Baca juga: Berilah Manfaat untuk Orang Banyak   Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: Yang bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, silakan ia bergaul karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain. Yang tidak bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, hendaklah ia bergaul dengan teman yang sifatnya bisa memberikan kebaikan ibaratnya seperti membutuhkan makanan yang jadi kebutuhan darurat, atau membutuhkan obat yang diperlukan jika ada hajat. Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul, Makin Banyak Dosa   Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. Para dai harus mengambil manfaat dan belajar dari kisah ashabul kahfi mengenai pentingnya mengambil sebab-sebab yang diperintahkan (masyru’ah, disyariatkan), mereka harus tahu bahwa mengambil sebab tidak merusak iman dan membatalkan tawakal kepada Allah. Bukti bahwa pemuda Al-Kahfi mencari sebab: – Para pemuda bersembunyi dalam gua, menjadikannya sebagai tempat berlindung dan bersembunyi dari kaumnya. Allah tidak mengingkari apa yang mereka lakukan ini dan apa yang mereka teguhkan niat untuk melakukannya. وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Pemuda-pemuda ini menyelematkan diri dari kaumnya yang kafir, dengan percaya serta tawakal kepada Allah. Mereka pun pergi ke gua dan bersembunyi di dalamnya. – Allah menjadikan empat sebab agar mereka selamat dari panas matahari dan selamat dari hancur dimakan tanah dengan cara (1) cahaya matahari menjauh dari mereka; (2) badan mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri. Di samping itu, (3) gua tersebut dalam keadaan luas sehingga bisa dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri, lalu (4) mata mereka dalam keadaan terbuka sehingga mata tersebut selama 309 tahun tidaklah rusak. Dalam ayat disebutkan, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) – Uang dirham tetap dibawa untuk digunakan untuk keperluan serta bekal bagi mereka. Mereka bawa uang itu ketika masuk gua. Uang itu ternyata dibutuhkan ketika mereka mengutus salah satu dari mereka untuk membeli makanan dengan uang dirham tersebut di kota. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan sebab dengan membawa bekal berupa uang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19)   Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. Pelajaran ini diambil dari ayat 19 di atas, وَلْيَتَلَطَّفْ “dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut”, yaitu ketika keluar, pergi, membeli makanan, kemudian kembali, mereka mengatakan, rahasiakan segala sesuatu yang mungkin. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Para pemuda ini telah mengambil sebab untuk waspada. Pemuda yang diutus untuk membeli makanan diminta agar waspada dengan cara bersembunyi sebisa mungkin hingga tidak dikenal. Karena jika dikenal, maka kaumnya nantinya mengetahui keberadaan mereka, lalu mereka akan dibunuh dengan cara dilempari batu, atau dipaksa untuk kembali kepada agama mereka. Kalau sampai murtad, tentu pemuda-pemuda ini tidak akan beruntung selamanya. Ingat, orang beriman itu memiliki sifat selalu berhati-hati, tidak tergesa-gesa.   Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat Ketika mereka bangun, pemuda-pemuda ini saling bertanya berapa lama mereka tinggal di dalam gua. Ada yang menjawab sehari atau setengah hari. Lalu ada yang mengatakan, رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).” Daripada lama berdebat yang tak manfaat, maka diperintahkan untuk mencari makan. فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” Ini namanya beralih dari debat ke hal yang lebih penting yaitu butuh pada makanan. Sebagian dai kadang terjerumus dalam debat kusir yang tidak manfaat, baiknya beralih kepada hal manfaat dan membicarakan seputar dakwah.   Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. Dalam ayat disebutkan, وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Maksud ayat ini adalah janganlah membuka rahasia. Baca juga: Kenapa Kita Harus Menjaga Rahasia?   Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). Dalam ayat disebutkan, فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” (QS. Al-Kahfi: 19). Mereka makan yang enak-enak karena mereka adalah anak tokoh (raja) yang sudah terbiasa makan enak. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 496. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita.   Tiga belas faedah ini diambil dari Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’, hlm. 380-388 dan Tafsir As-Sa’di, hlm. 496.   Semoga bermanfaat dan mendapatkan berkah dari kisah pemuda Al-Kahfi ini.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Al-Imam Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Baca Juga: 24 Kandungan Penting dari Surat Al-Kahfi Kisah Maryam Hingga Nabi Isa Lahir — Diperbaharui pada Kamis sore, 13 Syakban 1443 H, 17 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsashabul kahfi keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi pemuda pemuda al kahfi riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah surat al kahfi


Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi dibawakan oleh Rumaysho kali ini. Di samping dibawakan kisah, semoga banyak pelajaran bisa digali di dalamnya. Allahumma yassir wa a’in.   Daftar Isi tutup 1. Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah 2. Kisah Mereka Secara Global 3. Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya 4. Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang 5. Rincian Kisah Ashabul Kahfi 6. Hati Mereka Dikuatkan 7. Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya 8. Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka 9. Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua 10. Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua 11. Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang 12. Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda 13. Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? 14. Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi 14.1. Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. 14.2. Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. 14.3. Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. 14.4. Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. 14.5. Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. 14.5.1. Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) 14.5.2. Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat 14.5.3. Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? 14.5.4. Bergaul itu Sesuai Hajat 14.5.5. Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain 14.5.6. Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: 14.6. Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. 14.7. Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. 14.8. Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat 14.9. Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. 14.10. Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). 14.11. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. 14.12. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. 14.13. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita. 14.14. Referensi:   Kisah Ashabul Kahfi adalah Tanda Kekuasaan Allah Allah Ta’ala berfirman, أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (QS. Al-Kahfi: 9) Mereka adalah salah satu dari sekian ayat-ayat Allah yang luar biasa. Al-Kahfi adalah gua di gunung. Nama gua tersebut adalah Hizam (Haizam). Sedangkan Ar-Raqiim adalah papan yang tertulis nama-nama Ashabul Kahfi dan kejadian yang mereka alami, ditulis setelah masa mereka. Versi lain, Ar-Raqiim adalah nama gunung yang terdapat gua. Ada yang berpendapat, itu adalah nama lembah yang terdapat padanya sebuah gua. Nama anjing mereka adalah Humron. Kisah Ashabul Kahfi itu setelah masanya Nabi Isa Al-Masih. Mereka itu Nashrani. Kaum mereka itu adalah orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Ashabul Kahfi itu di masa raja Diqyaanus. Ashabul Kahfi itu sendiri adalah pemuda-pemuda yang merupakan putra dari para raja (tokoh). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:563. Para ulama juga berselisih pendapat mengenai letak gua ini. Ada yang berkata di negeri Aylah. Ada yang berpendapat di negeri Niinawa. Ada yang mengatakan di Balqa’. Ada juga yang berpendapat di negeri Ar-Ruum (Romawi). Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566.   Kisah Mereka Secara Global Allah Ta’ala berfirman, إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.” (QS. Al-Kahfi: 10) Allah Ta’ala memberitakan tentang para pemuda yang melarikan diri menyelamatkan agama mereka dari kaum mereka, agar tidak terfitnah, mereka menjauh dari kaumnya dan menuju sebuah gua di gunung bersembunyi dari kejaran kaumnya. Mereka mengatakan ketika memasuki gua seraya memohon kepada Allah rahmat dan kelembutan-Nya kepada mereka, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu”, yaitu berikan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dengan mengasihani kami dan melindungi kami dari kaum kami. “Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, yaitu jadikan petunjuk sebagai hasil akhir bagi kami. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Husain bin Arthah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ “ALLOHUMMA AHSIN ‘AAQIBATANAA FIL UMUURI KULLIHAA, WA AJIRNAA MIN KHIZYID DUNYAA WA ‘ADZAABIL AAKHIROH. (artinya: Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat).” (HR. Ahmad, 4:181. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa periwayat hadits ini tsiqqah atau terpercaya kecuali Ayyub bin Maysaroh. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Hakim dan ia mensahihkannya, begitu pula Imam Adz-Dzahabi. Lihat Al-Mustadrak, 3:591. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:181, menyatakan bahwa perawinya tsiqqah. Lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:139). Baca juga: Doa Agar Baik dalam Urusan   Ditidurkan dalam Gua Sekian Tahun Lamanya Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al-Kahfi: 11) Maksudnya, Allah jadikan telinga mereka tabir yang menghalangi mereka dari mendengar, yaitu, Kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat pulas yang tidak bisa dibangunkan oleh suara-suara, seperti yang terjadi pada orang yang sangat kantuk dan lelap dalam tidurnya, sekalipun diterikai di telinganya, ia tidak mendengar dan tidak terbangun. “beberapa tahun” artinya tahun-tahun yang berbilang, banyak, dan lama. Baca juga: Mesti Fokus dan Mendengarkan dalam Belajar   Dibangunkan Setelah Tidur Sangat Panjang Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).” (QS. Al-Kahfi: 12) Kemudian Allah bangunkan mereka dari tidur seperti membangkitkan orang mati dari kubur mereka, agar diketahui dua golongan yang berselisih pendapat mengenai berapa lama mereka tertidur di dalam gua. Dengan perhitungan yang sangat teliti, yaitu lebih meliputi berapa lama mereka tinggal dalam gua, sehingga mereka akan mengetahui selang waktu yang Allah menjaga mereka di dalam gua tanpa makan dan minum, serta memberikan mereka rasa aman dari musuh, dengan begitu sempurnalah petunjuk mereka untuk bersyukur kepada Allah, dan hal itu menjadi tanda kekuasaan bagi mereka yang akan membuat mereka giat untuk beribadah kepada Allah.   Rincian Kisah Ashabul Kahfi Allah Ta’ala berfirman, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Ayat ini merupakan permulaan rincian kisah dan keterangannya. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka” yakni mengakui keesaan Allah dan mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. “dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”, maksudnya adalah dengan taufik (hidayah) dan tatsbit (pemantapan dan keteguhan). Baca juga: Empat Tingkatan Hidayah Menurut Ibnul Qayyim   Hati Mereka Dikuatkan Allah Ta’ala berfirman, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14) Maksudnya adalah mereka dikuatkan dengan kesabaran, mereka meninggalkan kampung halaman mereka serta meninggalkan berbagai kenikmatan demi menyelamatkan agama mereka. Mereka berdiri di hadapan raja mereka dan menyatakan kebenaran dengan tegas di hadapannya ketika kabar mereka terdengar oleh raja dan mereka diminta hadir menghadap raja. Raja bertanya kepada mereka tentang agama dan keyakinan yang mereka Yakini, maka mereka menjawab dengan benar dan bahkan mengajak raja tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena itulah dalam ayat disebutkan, “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.” Mereka tidak menyembah Rabb selain Allah. Sebab jika mereka berbuat demikian, berarti mereka telah berbuat kebatilan, kedustaan, dan kebohongan.   Pengingkaran pada Kesyirikan Kaumnya Allah Ta’ala berfirman, هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 15) Hal ini adalah isyarat bahwa orang kafir itu tidak mampu mendatangkan bukti atas apa yang mereka lakukan, yaitu beribadah kepada selain Allah, berbuat syirik. Jadi, mereka itulah orang-orang yang zalim yang menzalimi hak Allah karena mereka berdusta dan berbohong terhadap Allah. Kalau memang Allah itu Mahatinggi, maka tidak pantas bagi selain Allah punya kedudukan tinggi yang sama.   Akhirnya Mereka Mengasingkan Diri Demi Menyelamatkan Agama Mereka Allah Ta’ala berfirman, وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Yakni, jika kamu semua menyelisihi mereka denagn agama kalian, karena mereka menyembah selain Allah, maka selisihi pula (berpisahlah, tinggalkanlah mereka) dengan badan kalian. “maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu”, yakni, Allah akan membentangkan rahmat-Nya kepada kalian yang menutupi kalian dari kaum kalian yang kafir. “dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” yang sedang kalian hadapi. Pada saat itulah, mereka keluar menghindar dari kaum mereka menuju sebuah gua kemudian tinggal di dalamnya.   Perlindungan Allah Terhadap Para Pemuda di dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) Yakni, jika matahari meninggi di tempat terbitnya, maka ia condong dari gua (sinar matahari tidak mengenai mereka), yaitu dari pintu gua sebelah kanan. Jika matahari terbenam, maka ia melewati mereka di sebelah kiri, yakni tidak mendekati mereka tetapi melewati. “Sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”, kata fajwah artinya tempat yang luas dan lega dalam gua, sehingga cukup tersedia udara yang datang dari segala penjuru tanpa tersengat matahari. “Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah“, yakni urusan mereka dan petunjuk Allah kepada mereka hingga ke gua tersebut dengan menjadikan mereka tetap hidup, serta apa yang Allah perbuat kepada mereka dari mulai matahari yang condong dan tidak mendekat sejak terbit hingga terbenam, semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan perhatian dan penjagaan Allah kepada mereka, serta petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berada dalam gua bertahun-tahun dan tetap seperti itu, mereka tidak makan, tidak minum, tidak ada asupan makanan yang masuk dalam waktu yang sangat lama, itulah yang menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565) “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk”, yakni siapa yang ditunjukkan kepada kebenaran oleh Allah, maka ialah orang yang mendapat hidayah. Dalam hal ini terdapat pujian bagi para pemuda mukmin tersebut, yang telah berjihad di jalan Allah, kemudian menyerahkan diri mereka kepada-Nya, sehingga Allah bersikap lembut dan menolong mereka, menunjuki mereka untuk mencapai kemuliaan dan kekhususan dengan ayat-ayat yang luar biasa. Sesungguhnya setiap orang yang menempuh jalan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, maka ia akan mendapatkan keberuntungan. “Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”, yakni siapa yang disesatkan oleh Allah, maka pasti kamu tidak akan mendapatkan penolong baginya yang menjaganya dari kesesatan, atau memberi petunjuk kepada jalan kebenaran dan keberuntungan. Catatan: Hikmah masuknya matahari dalam gua pada beberapa keadaan adalah agar udara di dalam gua itu tetap baik. Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565.   Perhatian dan Perawatan Allah terhadap Para Pemuda di Dalam Gua Allah Ta’ala berfirman, وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) “Dan kamu mengira mereka itu” adalah pembicaraan untuk setiap orang, maksudnya, kamu mengira “mereka itu bangun” karena mata mereka terbuka. Karena kalau tidur dalam keadaan mata mereka tertutup lama itu akan berdampak jelek. Demikian kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:565. “Padahal mereka tidur” sangat lelap dan pulas dalam tidurnya hingga tidak ada suara yang bisa membangunkan mereka, “dan Kami bolak-balikkan mereka” yakni dalam tidur mereka “ke kanan dan ke kiri” agar tanah tidak merusak badan mereka, “sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka pintu gua” yakni di halaman gua atau pintu gua. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa anjing tersebut tidak masuk dalam gua, hanya meletakkan kakinya di pintu gua. Inilah bentuk adab dari anjing tersebut. Para pemuda kahfi juga sangat memuliakan anjing tersebut. Anjing itu tidak berada dalam gua sebab malaikat tidak mau masuk dalam rumah yang ada anjing di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566. Keberkahan pemuda mukmin ini melingkupi hingga anjing mereka, ia juga mengalami seperti yang mereka alami, yaitu tidur panjang dalam keadaan seperti itu. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah manfaat dari menemani orang-orang baik. Lihatlah hingga anjing ini pun selalu diingat dan memiliki kedudukan tersendiri. Karena siapa saja yang mencintai suatu kaum, ia akan bahagia bersama mereka. Kalau pada anjing saja bisa seperti itu, maka pasti berlaku pula bagi siapa saja yang mengikuti orang yang berbuat baik yang pantas dimuliakan.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:566) “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”, yakni jika kamu melihat mereka sekalipun begitu kuatnya kamu dalam melawan agar tidak lari, pasti kamu akan kalah dan lari dengan penuh ketakutan, yaitu hatimu dipenuhi rasa takut karena merkea para pemuda itu dilingkupi aura kewibawaan, sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka kecuali akan ketakutan kemudian berpaling dan melarikan diri menjauh. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Agar tidak ada seorang pun yang mendekati atau menyentuh mereka hingga ketentuan itu sampai pada masanya, masa tidur mereka habis sesuai kehendak Allah Ta’ala, mengingat hal ini mengandung hikmah, hujjah yang kuat, dan rahmat yang luas.” Pelajaran penting dari ayat “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. Ibnu Katsir rahimahullah lantas berkata, ِأَنَّ الخَبَرَ لَيْسَ كَالمُعَايَنَة “Berita itu tidak sama dengan melihat langsung.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567)   Kebangkitan Mereka Setelah Tidur Panjang Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Yakni, sebagaimana kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat panjang, maka kami bangunkan mereka denagn keadaan segar bugar tubuh mereka, sehat, begitu pula dengan rambut dan kulit mereka tidak ada yang berubah dari keadaan dan bentuk mereka. Hal ini sebagai pengingat akan kemahakuasaan Allah untuk menidurkan dan mematikan serta membangkitkan kembali. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka bangun setelah 309 tahun.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:567) “Agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri” yakni, agar sebagian bertanya kepada yang lain dan mengetahui keadaan mereka serta apa yang diperbuat Allah terhadap mereka, sehingga mereka bisa mengambil pelajaran lalu berhujjah dengan itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala, maka bertambah yakin dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada mereka. “Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)” yakni berapa lama kamu tidur di sini. “Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”, karena saat mereka masuk gua waktu itu di permulaan siang (pagi), dan Allah bangunkan mereka di akhir sore. Karena itulah mereka mengatakan sebagian hari. “Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)” yakni, Allah yang Maha Mengetahui urusan kalian. Sepertinya muncul keraguan pada mereka dalam hal lama tidaknya tertidur, kemudian dalam diri mereka ada bisikan (ilham) dari Allah, atau dengan indikasi-indikasi yang mereka saksikan dari keadaan mereka yang menunjukkan bahwa mereka tertidur panjang, dan berapa lamanya tidak diketahui, maka mereka serahkan kebenarannya kepada Allah. Mereka berkata, “Rabb kalian lebih mengetahui berapa lama kalian di sini.” Setelah itu mereka kembali kepada yang paling penting dalam urusan mereka, yaitu kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Mereka berkata, “Suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini” yakni ke kota tempat mereka keluar darinya, “dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik” yakni yang paling enak. “Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut” yakni dalam keluar dan membeli makanan serta saat kembali, maksudnya hendaknya merahasiakan dirinya sebisa mungkin, “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun” yakni, jangan melakukan tanpa ia sadari, apa yang bisa membuka rahasia dan keberadaan kita. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.” (QS. Al-Kahfi: 20). Jika kalian kembali kepada agama mereka, maka pasti kalian tidak akan beruntung selamanya. Catatan: Mereka menyangka bahwa mereka hanya tidur sehari atau sebagian hari atau lebih dari itu. Padahal mereka telah tidur lebih dari 300 tahun. Selama itu telah berganti pemerintahan dan negeri sudah berubah. Orang-orang yang dulu sudah tiada dan berganti. Mereka menjadi terasing karena keadaan mereka berbeda dengan penduduk saat mereka bangun dan mata uang dirham yang dibawa pun berbeda. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:568. Lamanya ashabul kahfi tertidur dalam gua disebutkan dalam ayat, وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al-Kahfi: 25). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mengenai begitu lamanya pemuda ashabul kahfi tertidur dalam gua ada faedah yang besar.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2:571)   Terbongkarnya Rahasia Para Pemuda Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا “Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.” (QS. Al-Kahfi: 21) “Demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka” yakni, sebagaimana Kami tidurkan mereka kemudian kami bangunkan dalam keadaan dan bentuk semula, begitu pula Kami perlihatkan kepada mereka manusia di waktu itu, “agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya” yakni, orang-orang yang Kami berikan kesempatan melihat mereka (ashabul kahfi) yang Kami bangunkan kembali keadaan mereka sebelumnya (tidak ada yang berubah), agar mereka mengetahui bahwa janji Allah dengan hari kebangkitan setelah kematian itu benar adanya, karena keadaan para pemuda dalam tidur panjang mereka dan keadaan mereka saat terjaga, keadaan mereka tidak ubahnya adalah keadaan orang yang mati kemudian dibangkitkan lagi. “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka” yakni, Kami pertemukan manusia di zaman itu dengan para pemuda Al-Kahfi, ketika mereka berselisih di antara mereka tentang urusan agama mereka, dan berbeda pendapat dalam hal kebangkitan, sebagian ada yang mengatakan, “Yang dibangkitkan hanyalah ruh, bukan jasad.” Sebagian lagi mengatakan, “Yang dibangkitkan adalah jasad dan ruh sekaligus. Maka Allah membangkitkan ashabul kahfi dari tidur mereka, sebagai bukti bahwa Allah membangkitkan orang-orang mati dengan jasad dan ruh mereka sekaligus. “Orang-orang itu berkata” yakni, manusia setelah melihat ashabul kahfi, mereka berbicara kepada para pemuda itu dan mereka pun menceritakan keadaan mereka yang tertidur. Setelah menceritakan itu, para pemuda ashabul kahfi itu pun meninggal dunia. “Dirikankah sebuah bangunan di atas gua mereka” yakni, di atas pintu gua, maksudnya tutuplah pintu gua itu dan biarkanlah mereka seperti keadaan semula. “Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” sebuah ungkapan dari orang-orang yang tadi berselisih pendapat, seakan-akan mereka ingat urusan mereka (para pemuda), kemudian saling menyampaikan tentang nasab dan hal ihwal mereka serta lamanya mereka tinggal di dalam gua. Ketika mereka tidak bisa mengetahui hakikat sebenarnya, mereka mengatakan, “Rabb mereka lebih mengetahui urusan mereka”. Atau kemungkinan ini merupakan pernyataan Allah untuk membantah orang-orang yang terlalu jauh dalam membicarakan urusan pemuda ini, dari mereka yang berselisih pendapat. “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” yakni, mereka yang menang ketika berselisih pendapat itu, dan mereka adalah orang-orang kuat dan berpengaruh, kami akan mendirikan rumah ibadah, yakni kami akan shalat di sana untuk mendapatkan keberkahan dari para pemuda dan kedudukan mereka. Inilah syariat sebelum syariat Nabi Muhammad. Adapun pada syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ “Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi dan orang saleh dari mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari, no. 1390 dan Muslim, no. 529) Di sini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, tidak boleh membangun masjid di atas kuburan berdasarkan larangan yang sangat jelas yang ada dalam masalah ini.   Berapakah Jumlah Pemuda Penghuni Gua? Allah Ta’ala berfirman, سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. Al-Kahfi: 22) Allah menyebutkan tiga pendapat mengenai berapakah jumlah para pemuda penghuni gua tersebut. Allah menyebutkan pendapat ketiga lalu mendiamkannya. Hal itu menunjukkan bahwa pendapat ketiga itu yang benar. Pendapat pertama: tiga orang, yang keempat adalah anjingnya. Pendapat kedua: lima orang, yang keenam adalah anjingnya. Pendapat ketiga: tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. Pendapat pertama dan kedua disebutkan selanjutnya “sebagai terkaan terhadap barang yang gaib” menunjukkan bahwa pendapat ini tidak berdasar pada ilmu. Kemudian Allah memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak ada manfaatnya, sehingga dalam masalah ini hendaklah kita berkata, “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“, yakni tidak ada yang mengetahui jumlah para pemuda penghuni gua kecuali sedikit orang yang diberitahukan oleh Allah. “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja” yakni, jangan mendebat ahli kitab tentang ashabul kahfi kecuali perdebatan seperlunya yang tidak terlalu jauh dalam mempermasalahkannya, yaitu kisahkan saja kepada mereka apa yang Allah wahyukan kepadamu, cukup seperti itu, jangan kau tambah. “Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka” yakni jangan bertanya kepada seorang pun dari mereka (ahli kitab) tentang kisah mereka, pertanyaan yang mengandung pengingkaran, hingga mengatakan sesuatu kemudian kamu bantah dan kamu palsukan apa yang ada padanya. Tidak pula pertanyaan orang yang minta petunjuk karena Allah telah memberikan petunjuk kepadamu dengan menurunkan wahyu kepadamu tentang kisah mereka dan apa yang berhubungan dengan jumlah serta urusan mereka. Hal ini sudah cukup bagi orang yang hendak mengetahui perihal para pemuda penghuni gua, serta mengambil pelajaran dan nasihat dari kisah mereka.   Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi Pertama: Pemuda lebih cepat menerima dakwah daripada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan Ashabul Kahfi, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah menyebutkan bahwa mereka penghuni gua adalah para pemuda. Mereka adalah orang yang paling cepat menerima kebenaran, paling lurus dalam menempuh jalan, dibanding para sepuh yang telah banyak salah dan jauh terjerumus dalam agama yang batil. Oleh karena itu,  kebanyakan yang menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun para sepuh dari Quraisy, pada umumnya tetap dalam agama nenek moyang dan tidak mau masuk Islam kecuali sedikit. Demikianlah Allah memberitahukan kepada kita tentang ashabul kahfi, bahwa mereka itu adalah anak-anak muda.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:140) Maka para dai harus memperbanyak cara dan pendekatan kepada para pemuda agar dakwah sampai kepada mereka. Para pemuda itu memiliki kekuatan, semangat, hati yang bening, dan memiliki sesuatu yang sangat diperlukan dalam dakwah. Para pemuda bisa dimotivasi dengan kisah-kisah, termasuk kisah agar para pemuda jauh dari maksiat seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Baca juga: Kisah Nabi Yusuf Ketika Digoda dan 14 Cobaan Berat Beliau   Kedua: Iman itu bertambah dan berkurang. Dalilnya adalah, نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13) Dalil lainnya yang menunjukkan iman itu bisa bertambah adalah: وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 17) وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124) هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4) Iman itu bisa bertambah dengan ketaatan kepada Allah, beramal saleh, dan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan jihad fii sabilillah. Yang termasuk jihad di jalan Allah adalah berdakwah dengan ucapan, tulisan, dan berbagai sarana dakwah. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أيُّ الأعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ قال : « الإِيْمَانُ بِاللَّهِ ، وَالجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ » “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim, no. 84) Baca juga:  Iman itu Berupa Perkataan dan Perbuatan Amal dan Sahnya Iman (Syarhus Sunnah) Level Orang Beriman itu Berbeda-Beda   Ketiga: Hati yang beriman akan berkumpul dengan yang sama-sama beriman. Termasuk kisah para pemuda penghuni gua seperti yang dijelaskan oleh ulama tafsir bahwa para pemuda itu adalah putra dan anak-anak pembesar kaumnya, mereka keluar suatu hari pada hari raya kaumnya. Kaum mereka punya acara pertemuan besar dalam setahun. Kaum tersebut bertemu di pusat kota, menyembah shonam (patung yang memiliki bentuk seperti makhluk) yang telah disiapkan, menyembelih qurban untuk patung-patung tersebut. Kaum tersebut dipimpin oleh seorang raja yang kafir yang bengis (yaitu Diqyanus) yang memerintahkan manusia untuk melakukan kesyirikan dan mengajak kaumnya bersama-sama melakukan itu. Ketika para pemuda ini hendak bertemu dalam majelis mereka, para pemuda ini keluar bersama orang tua dan kaum mereka, kemudian para pemuda ini melihat perbuatan kaumnya dengan mata kepala mereka sendiri. Para pemuda ini mengetahui perbuatan kaumnya, mulai dari sujud dan menyembelih kepada shonam. Padahal hal ini adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi.  Para pemuda ini berlepas diri dari kaumnya, berpisah, dan duduk jauh dari mereka. Yang pertama kali duduk dan menjauh adalah satu dari pemuda tersebut, ia duduk berteduh di bawah pohon, lalu datang pemuda lain, terus berdatangan, dan akhirnya mereka berkumpul. Yang menyatukan mereka di bawah pohon adalah hati mereka yang beriman kepada Allah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ “Arwah itu adalah bala tentara yang berlimpah dan bermacam (masing-masing ada kesesuaian dalam hal kebaikan dan keburukan). Yang sudah saling kenal (cocok), maka akan menyatu. Yang tidak saling kenal (tidak cocok), pasti akan berpisah.” (HR. Bukhari, no. 3158 dan Muslim, no. 2638). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini, فَيَمِيل الْأَخْيَار إِلَى الْأَخْيَار ، وَالْأَشْرَار إِلَى الْأَشْرَار “Orang baik akan cenderung berkumpul dengan orang baik. Orang jelek pun demikian akan berkumpul dengan orang jelek.” (Syarh Shahih Muslim, 16:185) Masing-masing dari pemuda itu merahasiakan apa yang ada dalam hatinya, karena takut kepada yang lainnya, mereka tidak tahu bahwa mereka sama-sama beriman. Mereka kemudian saling mengungkapkan pendapat mereka. Mereka semua ternyata sama-sama sepakat untuk mengingkari perbuatan kaumnya. Mereka sama-sama meyakini bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah. Lalu mereka sama-sama beribadah kepada Allah di suatu tempat. Keadaan para pemuda ini pun diketahui oleh kaumnya dan dilaporkan kepada raja mereka. Para pemuda ini pun dipanggil oleh raja dan ditanya, lantas mereka mengungkapkan kebenaran yang mereka yakini di hadapan raja. Dalam ayat disebutkan, وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا “Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.” (QS. Al-Kahfi: 14). Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 5:140-141. Pelajaran yang dapat diambil adalah para dai harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama dai, saling tolong menolong dalam kebaikan.   Keempat: Harus berani membela kebenaran dan mengungkapkannya. Setelah pemuda dalam kisah ini saling kenal dan saling mengetahui rahasia masing-masing, dan menjadi jelas bahwa akidah mereka itu satu, tujuan mereka satu, dan dakwah mereka satu, maka mereka membangun tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah. Mereka pun mengajak rajanya ketika berdialog untuk beribadah kepada Allah. Namun, dakwah para pemuda ini ditolak bahkan mendapatkan ancaman. Keterusterangan pemuda ini dalam menyatakan diri mereka beriman dan mendakwahkannya patut dicontoh. Dari sini kita dapat ambil pelajaran, para dai harus berterusterang dalam menyampaikan kebenaran, mengumumkan dakwah mereka di hadapan para penguasa sombong dan zalim, agar mental mereka terhinakan, sebaliknya kekuatan kaum mukminin bertambah kuat, dan membuat mereka berani untuk berhadapan dengan orang-orang zalim dari para penguasa. Sikap para dai seperti yang kami sebutkan ini, jika mereka menyaksikan dengan mata kepala atau dengan indikasi bahwa keterusterangan mereka dalam menyampaikan kebenaran serta menghadapi para penguasa zalim dengan kebenaran dakwahnya, lebih baik daripada sikap diam di hadapan mereka atau daripada mereka memilih untuk mengambil keringanan (yaitu pura-pura). Sesungguhnya seorang mukmin melihat dengan cahaya Allah, dan seukuran iman dalam dirinya serta dalamnya iman tersebut dan keikhlasan kepada Rabbnya, maka demikianlah kekuatan cahaya seharusnya ia pilih. Sekalipun sikap itu akan menyebabkannya mati dibunuh secara syahid, karena dai itu adalah mujahid (pejuang). Jihad dalam dakwah ini adalah mempersembahkan jiwa raga di jalan Allah. Hal ini tidak termasuk melemparkan diri dalam kebinasaan, selama orang mukmin, dai, mengharapkan dari perbuatannya itu untuk merealisasikan maslahat syariyyah bagi dakwah dan kaum muslimin.   Kelima: Diperintahkan mengasingkan diri dan berhijrah demi menyelamatkan agamanya. Namun, dianjurkan untuk tetap tinggal jika dipandang ada maslahat besar semisal untuk berdakwah.   Perintah ‘Uzlah (Mengasingkan Diri) Banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk ‘uzlah (mengasingkan diri) demi menyelamatkan diri atau menghindari masyarakat yang banyak terjadi maksiat, kebid’ahan, dan pelanggaran agama. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, خَيْرُ الناسِ في الفِتَنِ رجلٌ آخِذٌ بِعِنانِ فَرَسِه أوْ قال بِرَسَنِ فَرَسِه خلفَ أَعْدَاءِ اللهِ يُخِيفُهُمْ و يُخِيفُونَهُ ، أوْ رجلٌ مُعْتَزِلٌ في بادِيَتِه ، يُؤَدِّي حقَّ اللهِ تَعالَى الذي عليهِ “Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan hal yang merusak (fitnah) adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah. Ia menakuti-nakuti mereka, dan mereka pun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah.” (HR. Al-Hakim, 4: 446. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 698). Sebagaimana juga dalam hadits Abu Sa’id, قَالَ رَجُلٌ أَىُّ النَّاسِ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ ». “Seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Siapakan manusia yang paling afdal wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Nabi menjawab, ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat.’” (HR. Muslim, no. 1888). Bahkan andai satu-satunya jalan supaya selamat dari kerusakan adalah dengan mengasingkan diri ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung, maka itu lebih baik daripada agama kita terancam hancur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ “Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari kerusakan.” (HR. Bukhari, no. 19)   Perintah untuk Tetap Bergaul dengan Masyarakat Sebagian dalil yang lain menganjurkan kita untuk bergaul di tengah masyarakat walaupun bobrok keadaannya, dalam rangka berdakwah dan amar makruf nahi munkar di dalamnya. Di antaranya firman Allah Ta’ala, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2). Juga firman Allah Ta’ala, وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾ “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3) Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Juga dalilnya dari hadits tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib berikut. Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat perang Khoibar, لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ » .فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ « أَيْنَ عَلِىٌّ » . فَقِيلَ يَشْتَكِى عَيْنَيْهِ ، فَبَصَقَ فِى عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ ، فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ ، فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا . فَقَالَ « انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ “Sungguh akan diberikan bendera (yang biasa dibawa oleh pemimpin pasukan, pen.) besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya.” Lalu kemudian para sahabat bermalam dan mendiskusikan siapakah di antara mereka yang nanti akan diberi bendera tersebut. Tiba waktu pagi, mereka semua berharap-harap bisa mendapatkan bendera itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah bertanya, “Di mana ‘Ali?” Ada yang menjawab bahwa ‘Ali sedang sakit mata. (Lalu ‘Ali dibawa ke hadapan Nabi, pen.), lantas beliau mengusap kedua matanya dan mendo’akan kebaikan untuknya. Lantas ia pun sembuh seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Lantas bendera tersebut diberikan kepada ‘Ali dan ia berkata, “Aku akan memerangi mereka hingga mereka bisa seperti kita.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hinggakalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari, no. 3009 dan Muslim, no. 2407). Dalam sebuah nasehat berharga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar disebutkan, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Memilih Mengasingkan Diri atau Tetap Bergaul? Pendapat yang paling tepat dalam hal ini seperti dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, “Siapa yang mampu untuk bergaul dengan masyarakat dengan tetap melakukan pengingkaran pada kemungkaran, maka wajib baginya untuk bergaul, bisa jadi berlaku hukum baginya fardhu ‘ain atau fardhu kifayah sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Ini juga berlaku bagi yang yakin dapat selamat dengan ia tetap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Namun, jika terjadi kerusakan menimpa dirinya, maka baiknya ia melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri) agar tidak terjatuh dalam keharaman. Dan ingat kerusakan itu bukan hanya menimpa mereka yang maksiat namun bisa menimpa secara umum, sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfaal: 25) Baca juga: Faedah Sirah Nabi, Nabi Menyendiri    Bergaul itu Sesuai Hajat Penjelasan sebelumnya, bukan berarti kita tidak boleh bergaul. Namun, bergaul yang tepat adalah sesuai hajat atau kebutuhan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, فُضُوْلُ المخَالَطَةِ فِيْهِ خَسَرَاةُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَإِنَّمَا لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ المخَالَطَةِ بِمِقْدَارِ الحَاجَةِ “Banyak bergaul itu dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Selaku hamba seharusnya bergaul sesuai kadar hajat saja.” (Badaai’ Al-Fawaid, 2:821) Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim rahimahullah yaitu: Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit. Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid (2:821-823). Baca juga: Langkah Setan dalam Menyesatkan Manusia, Banyak Bergaul   Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain Jika memang bisa memberikan manfaat pada orang lain seperti orang berilmu, maka ia bergaul karena maksud baik tersebut. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, الْمُؤْمِنُ يُخَالِطُ لِيَعْلَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ “Orang yang beriman itu bergaul untuk menambah ilmu, memilih untuk diam agar selamat dari dosa, berbicara untuk mendapat pemahaman, dan menyendiri agar mendapat keberuntungan.” (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al-‘Uzlah dan Al-Infirad) Baca juga: Berilah Manfaat untuk Orang Banyak   Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua: Yang bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, silakan ia bergaul karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain. Yang tidak bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, hendaklah ia bergaul dengan teman yang sifatnya bisa memberikan kebaikan ibaratnya seperti membutuhkan makanan yang jadi kebutuhan darurat, atau membutuhkan obat yang diperlukan jika ada hajat. Baca juga: Benarkah Banyak Bergaul, Makin Banyak Dosa   Keenam: Kita diperintahkan mengambil sebab atau melakukan usaha. Para dai harus mengambil manfaat dan belajar dari kisah ashabul kahfi mengenai pentingnya mengambil sebab-sebab yang diperintahkan (masyru’ah, disyariatkan), mereka harus tahu bahwa mengambil sebab tidak merusak iman dan membatalkan tawakal kepada Allah. Bukti bahwa pemuda Al-Kahfi mencari sebab: – Para pemuda bersembunyi dalam gua, menjadikannya sebagai tempat berlindung dan bersembunyi dari kaumnya. Allah tidak mengingkari apa yang mereka lakukan ini dan apa yang mereka teguhkan niat untuk melakukannya. وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16) Pemuda-pemuda ini menyelematkan diri dari kaumnya yang kafir, dengan percaya serta tawakal kepada Allah. Mereka pun pergi ke gua dan bersembunyi di dalamnya. – Allah menjadikan empat sebab agar mereka selamat dari panas matahari dan selamat dari hancur dimakan tanah dengan cara (1) cahaya matahari menjauh dari mereka; (2) badan mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri. Di samping itu, (3) gua tersebut dalam keadaan luas sehingga bisa dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri, lalu (4) mata mereka dalam keadaan terbuka sehingga mata tersebut selama 309 tahun tidaklah rusak. Dalam ayat disebutkan, وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17) وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 18) – Uang dirham tetap dibawa untuk digunakan untuk keperluan serta bekal bagi mereka. Mereka bawa uang itu ketika masuk gua. Uang itu ternyata dibutuhkan ketika mereka mengutus salah satu dari mereka untuk membeli makanan dengan uang dirham tersebut di kota. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan sebab dengan membawa bekal berupa uang. Allah Ta’ala berfirman, وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19)   Ketujuh: Kita dituntut bersikap hati-hati dan waspada. Pelajaran ini diambil dari ayat 19 di atas, وَلْيَتَلَطَّفْ “dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut”, yaitu ketika keluar, pergi, membeli makanan, kemudian kembali, mereka mengatakan, rahasiakan segala sesuatu yang mungkin. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Para pemuda ini telah mengambil sebab untuk waspada. Pemuda yang diutus untuk membeli makanan diminta agar waspada dengan cara bersembunyi sebisa mungkin hingga tidak dikenal. Karena jika dikenal, maka kaumnya nantinya mengetahui keberadaan mereka, lalu mereka akan dibunuh dengan cara dilempari batu, atau dipaksa untuk kembali kepada agama mereka. Kalau sampai murtad, tentu pemuda-pemuda ini tidak akan beruntung selamanya. Ingat, orang beriman itu memiliki sifat selalu berhati-hati, tidak tergesa-gesa.   Kedelapan: Hendaklah sibuk dengan hal yang penting saja dan menghindari debat yang tidak manfaat Ketika mereka bangun, pemuda-pemuda ini saling bertanya berapa lama mereka tinggal di dalam gua. Ada yang menjawab sehari atau setengah hari. Lalu ada yang mengatakan, رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ “Rabb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).” Daripada lama berdebat yang tak manfaat, maka diperintahkan untuk mencari makan. فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” Ini namanya beralih dari debat ke hal yang lebih penting yaitu butuh pada makanan. Sebagian dai kadang terjerumus dalam debat kusir yang tidak manfaat, baiknya beralih kepada hal manfaat dan membicarakan seputar dakwah.   Kesembilan: Tidak boleh menyingkap rahasia. Dalam ayat disebutkan, وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا “dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 19) Maksud ayat ini adalah janganlah membuka rahasia. Baca juga: Kenapa Kita Harus Menjaga Rahasia?   Kesepuluh: Tidak mengapa memilih makanan yang paling enak dan lezat selama tidak israf (boros atau berlebih-lebihan). Dalam ayat disebutkan, فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا “Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.” (QS. Al-Kahfi: 19). Mereka makan yang enak-enak karena mereka adalah anak tokoh (raja) yang sudah terbiasa makan enak. Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 496. Kesebelas: Dorongan untuk terus belajar dan mengkaji ilmu. Kedua belas: Adab ketika ada ilmu yang masih samar atau masih rancu, maka diserahkan kepada yang berilmu dan berhenti pada batasannya. Ketiga belas: Dampak bahaya berusaha dicegah agar tidak mengenai kita.   Tiga belas faedah ini diambil dari Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’, hlm. 380-388 dan Tafsir As-Sa’di, hlm. 496.   Semoga bermanfaat dan mendapatkan berkah dari kisah pemuda Al-Kahfi ini.   Referensi: Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan Pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an li Ad-Da’wah wa Ad-Du’aa’. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Dr. ‘Abdul Karim Zaidan. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Al-Imam Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.   Baca Juga: 24 Kandungan Penting dari Surat Al-Kahfi Kisah Maryam Hingga Nabi Isa Lahir — Diperbaharui pada Kamis sore, 13 Syakban 1443 H, 17 Maret 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsashabul kahfi keutamaan surat al kahfi kisah ashabul kahfi pemuda pemuda al kahfi riyadhus sholihin karamah wali Allah riyadhus sholihin wali Allah surat al kahfi

Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Bab ke-16: Tempat-tempat untuk mengokohkan dasar ilmu. Pengokohan dasar-dasar ilmu yang kita sebutkan ini memiliki tempat-tempat yang menjadi pusatnya, yang disebut juga dengan lingkungannya. Secara umum, lingkungan ini adalah setiap tempat yang digunakan untuk pengokohan dasar-dasar ilmu, dan ia terbagi menjadi dua jenis: Yang pertama disebut dengan tempat primer, dan yang kedua disebut dengan tempat sekunder. Adapun tempat utamanya adalah masjid, karena ia adalah tempat pertama yang dipakai Nabi untuk mengajarkan ilmu. Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan riwayat al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca al-Qur’an dan saling mempelajarinya …” Sedangkan jenis kedua (tempat sekunder) yaitu tempat yang dalam perkembangannya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, seperti sekolah-sekolah, universitas-universitas, pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah tinggi, dan rumah. Semua ini adalah tempat-tempat untuk memperdalam ilmu. Lalu akhir-akhir ini muncul tempat yang ketiga, yaitu dunia maya. Dunia maya yang ada di jaringan internet dengan berbagai macam platform yang menjadi penyedianya, baik itu twitter, facebook, dan lain sebagainya. Ini merupakan dunia tersendiri yang menurut saya adalah tempat yang sangat lemah (untuk menuntut ilmu). Pendalaman dasar-dasar ilmu dengan jarak jauh melalui majelis online memiliki kelemahan, meskipun ada manfaatnya juga. Namun orang yang bisa mendalami ilmu di tempat jenis pertama, maka hendaklah ia mendahulukan itu. Jika tidak bisa, maka di tempat jenis kedua. Adapun jenis ketiga, maka seperti perkara darurat (hanya dipakai saat yang lain tidak bisa), karena mendalami ilmu harus dengan bertemu langsung dengan guru. ====================================================================================================== الْمَنَارَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ مَحَاضِنُ التَّأْصِيْلِ إِنَّ هَذَا التَّأْصِيلَ الَّذِي نَذْكُرُهُ لَهُ مَحَاضِنُ هِيَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا بِالْبِيْئَةِ وَهَذِه الْبِيئَةُ مِنْ مُجْمَلَاتِهَا الْمَوْضِعُ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ التَّأْصِيلُ وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا مَوْضِعٌ أَصْلِيٌّ وَالْآخَرُ مَوْضِعٌ فَرْعِيٌّ فَالْمَوْضِعُ الْأَصْلِيُّ هُوَ الْمَسْجِدُ فَإِنَّهُ ابْتِدَاءُ التَّعْلِيمِ النَّبَوِيِّ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي وَهُوَ مَا صَارَ بَعْدَ ذَلِكَ مَحَلًّا لِلْعِلْمِ مِثْلُ الْمَدَارِسِ وَالْجَامِعَاتِ وَالْمَعَاهِدِ وَالْكُلِّيَّاتِ وَالْبُيُوتِ كُلُّ هَذِهِ مَحَاضِنُ لَهُ وَنَشَأَ مُتَأَخِّرًا مَحْضَنٌ ثَالِثٌ وَهُوَ يَعْنِي الْعَالَمُ الْاِفْتِرَاضِيُّ الْعَالَمُ الاِفْتِرَاضِيُّ فِي شَبَكَةِ الْإِنْتِرْنِت عَلَى اخْتِلَافِ الْقَنَوَاتِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَيْهَا سَوَاءً كَانَ تُوِيْتِر أَوْ فِيسْبُوك أَوْ غَيْرَهَا وَهَذَا عَالَمٌ خَاصٌّ هُوَ عِنْدِي أَوْهَنُ مِنْ بَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ فَالْبِنَاءُ الشَّبَكِيُّ عَبْرَ الْإِلْقَاءِ بِالْغَيْبِ فِيهِ ضَعْفٌ لَكِنَّهُ فِيهِ نَفْعٌ لَكِنْ مَنْ قَدِرَ عَلَى الْأَوَّلِ فَهُوَ يُقَدِّمُهُ ثُمَّ بَعْدَهُ الثَّانِي وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهَذَا بِمَنْزِلَةِ الضَّرُورَةِ إِذْ لاَ بُدَّ مِنْ تَلَقٍّ مُبَاشِرٍ  

Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Bab ke-16: Tempat-tempat untuk mengokohkan dasar ilmu. Pengokohan dasar-dasar ilmu yang kita sebutkan ini memiliki tempat-tempat yang menjadi pusatnya, yang disebut juga dengan lingkungannya. Secara umum, lingkungan ini adalah setiap tempat yang digunakan untuk pengokohan dasar-dasar ilmu, dan ia terbagi menjadi dua jenis: Yang pertama disebut dengan tempat primer, dan yang kedua disebut dengan tempat sekunder. Adapun tempat utamanya adalah masjid, karena ia adalah tempat pertama yang dipakai Nabi untuk mengajarkan ilmu. Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan riwayat al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca al-Qur’an dan saling mempelajarinya …” Sedangkan jenis kedua (tempat sekunder) yaitu tempat yang dalam perkembangannya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, seperti sekolah-sekolah, universitas-universitas, pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah tinggi, dan rumah. Semua ini adalah tempat-tempat untuk memperdalam ilmu. Lalu akhir-akhir ini muncul tempat yang ketiga, yaitu dunia maya. Dunia maya yang ada di jaringan internet dengan berbagai macam platform yang menjadi penyedianya, baik itu twitter, facebook, dan lain sebagainya. Ini merupakan dunia tersendiri yang menurut saya adalah tempat yang sangat lemah (untuk menuntut ilmu). Pendalaman dasar-dasar ilmu dengan jarak jauh melalui majelis online memiliki kelemahan, meskipun ada manfaatnya juga. Namun orang yang bisa mendalami ilmu di tempat jenis pertama, maka hendaklah ia mendahulukan itu. Jika tidak bisa, maka di tempat jenis kedua. Adapun jenis ketiga, maka seperti perkara darurat (hanya dipakai saat yang lain tidak bisa), karena mendalami ilmu harus dengan bertemu langsung dengan guru. ====================================================================================================== الْمَنَارَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ مَحَاضِنُ التَّأْصِيْلِ إِنَّ هَذَا التَّأْصِيلَ الَّذِي نَذْكُرُهُ لَهُ مَحَاضِنُ هِيَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا بِالْبِيْئَةِ وَهَذِه الْبِيئَةُ مِنْ مُجْمَلَاتِهَا الْمَوْضِعُ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ التَّأْصِيلُ وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا مَوْضِعٌ أَصْلِيٌّ وَالْآخَرُ مَوْضِعٌ فَرْعِيٌّ فَالْمَوْضِعُ الْأَصْلِيُّ هُوَ الْمَسْجِدُ فَإِنَّهُ ابْتِدَاءُ التَّعْلِيمِ النَّبَوِيِّ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي وَهُوَ مَا صَارَ بَعْدَ ذَلِكَ مَحَلًّا لِلْعِلْمِ مِثْلُ الْمَدَارِسِ وَالْجَامِعَاتِ وَالْمَعَاهِدِ وَالْكُلِّيَّاتِ وَالْبُيُوتِ كُلُّ هَذِهِ مَحَاضِنُ لَهُ وَنَشَأَ مُتَأَخِّرًا مَحْضَنٌ ثَالِثٌ وَهُوَ يَعْنِي الْعَالَمُ الْاِفْتِرَاضِيُّ الْعَالَمُ الاِفْتِرَاضِيُّ فِي شَبَكَةِ الْإِنْتِرْنِت عَلَى اخْتِلَافِ الْقَنَوَاتِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَيْهَا سَوَاءً كَانَ تُوِيْتِر أَوْ فِيسْبُوك أَوْ غَيْرَهَا وَهَذَا عَالَمٌ خَاصٌّ هُوَ عِنْدِي أَوْهَنُ مِنْ بَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ فَالْبِنَاءُ الشَّبَكِيُّ عَبْرَ الْإِلْقَاءِ بِالْغَيْبِ فِيهِ ضَعْفٌ لَكِنَّهُ فِيهِ نَفْعٌ لَكِنْ مَنْ قَدِرَ عَلَى الْأَوَّلِ فَهُوَ يُقَدِّمُهُ ثُمَّ بَعْدَهُ الثَّانِي وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهَذَا بِمَنْزِلَةِ الضَّرُورَةِ إِذْ لاَ بُدَّ مِنْ تَلَقٍّ مُبَاشِرٍ  
Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Bab ke-16: Tempat-tempat untuk mengokohkan dasar ilmu. Pengokohan dasar-dasar ilmu yang kita sebutkan ini memiliki tempat-tempat yang menjadi pusatnya, yang disebut juga dengan lingkungannya. Secara umum, lingkungan ini adalah setiap tempat yang digunakan untuk pengokohan dasar-dasar ilmu, dan ia terbagi menjadi dua jenis: Yang pertama disebut dengan tempat primer, dan yang kedua disebut dengan tempat sekunder. Adapun tempat utamanya adalah masjid, karena ia adalah tempat pertama yang dipakai Nabi untuk mengajarkan ilmu. Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan riwayat al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca al-Qur’an dan saling mempelajarinya …” Sedangkan jenis kedua (tempat sekunder) yaitu tempat yang dalam perkembangannya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, seperti sekolah-sekolah, universitas-universitas, pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah tinggi, dan rumah. Semua ini adalah tempat-tempat untuk memperdalam ilmu. Lalu akhir-akhir ini muncul tempat yang ketiga, yaitu dunia maya. Dunia maya yang ada di jaringan internet dengan berbagai macam platform yang menjadi penyedianya, baik itu twitter, facebook, dan lain sebagainya. Ini merupakan dunia tersendiri yang menurut saya adalah tempat yang sangat lemah (untuk menuntut ilmu). Pendalaman dasar-dasar ilmu dengan jarak jauh melalui majelis online memiliki kelemahan, meskipun ada manfaatnya juga. Namun orang yang bisa mendalami ilmu di tempat jenis pertama, maka hendaklah ia mendahulukan itu. Jika tidak bisa, maka di tempat jenis kedua. Adapun jenis ketiga, maka seperti perkara darurat (hanya dipakai saat yang lain tidak bisa), karena mendalami ilmu harus dengan bertemu langsung dengan guru. ====================================================================================================== الْمَنَارَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ مَحَاضِنُ التَّأْصِيْلِ إِنَّ هَذَا التَّأْصِيلَ الَّذِي نَذْكُرُهُ لَهُ مَحَاضِنُ هِيَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا بِالْبِيْئَةِ وَهَذِه الْبِيئَةُ مِنْ مُجْمَلَاتِهَا الْمَوْضِعُ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ التَّأْصِيلُ وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا مَوْضِعٌ أَصْلِيٌّ وَالْآخَرُ مَوْضِعٌ فَرْعِيٌّ فَالْمَوْضِعُ الْأَصْلِيُّ هُوَ الْمَسْجِدُ فَإِنَّهُ ابْتِدَاءُ التَّعْلِيمِ النَّبَوِيِّ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي وَهُوَ مَا صَارَ بَعْدَ ذَلِكَ مَحَلًّا لِلْعِلْمِ مِثْلُ الْمَدَارِسِ وَالْجَامِعَاتِ وَالْمَعَاهِدِ وَالْكُلِّيَّاتِ وَالْبُيُوتِ كُلُّ هَذِهِ مَحَاضِنُ لَهُ وَنَشَأَ مُتَأَخِّرًا مَحْضَنٌ ثَالِثٌ وَهُوَ يَعْنِي الْعَالَمُ الْاِفْتِرَاضِيُّ الْعَالَمُ الاِفْتِرَاضِيُّ فِي شَبَكَةِ الْإِنْتِرْنِت عَلَى اخْتِلَافِ الْقَنَوَاتِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَيْهَا سَوَاءً كَانَ تُوِيْتِر أَوْ فِيسْبُوك أَوْ غَيْرَهَا وَهَذَا عَالَمٌ خَاصٌّ هُوَ عِنْدِي أَوْهَنُ مِنْ بَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ فَالْبِنَاءُ الشَّبَكِيُّ عَبْرَ الْإِلْقَاءِ بِالْغَيْبِ فِيهِ ضَعْفٌ لَكِنَّهُ فِيهِ نَفْعٌ لَكِنْ مَنْ قَدِرَ عَلَى الْأَوَّلِ فَهُوَ يُقَدِّمُهُ ثُمَّ بَعْدَهُ الثَّانِي وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهَذَا بِمَنْزِلَةِ الضَّرُورَةِ إِذْ لاَ بُدَّ مِنْ تَلَقٍّ مُبَاشِرٍ  


Bolehkah Belajar Online? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Bab ke-16: Tempat-tempat untuk mengokohkan dasar ilmu. Pengokohan dasar-dasar ilmu yang kita sebutkan ini memiliki tempat-tempat yang menjadi pusatnya, yang disebut juga dengan lingkungannya. Secara umum, lingkungan ini adalah setiap tempat yang digunakan untuk pengokohan dasar-dasar ilmu, dan ia terbagi menjadi dua jenis: Yang pertama disebut dengan tempat primer, dan yang kedua disebut dengan tempat sekunder. Adapun tempat utamanya adalah masjid, karena ia adalah tempat pertama yang dipakai Nabi untuk mengajarkan ilmu. Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan riwayat al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca al-Qur’an dan saling mempelajarinya …” Sedangkan jenis kedua (tempat sekunder) yaitu tempat yang dalam perkembangannya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, seperti sekolah-sekolah, universitas-universitas, pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah tinggi, dan rumah. Semua ini adalah tempat-tempat untuk memperdalam ilmu. Lalu akhir-akhir ini muncul tempat yang ketiga, yaitu dunia maya. Dunia maya yang ada di jaringan internet dengan berbagai macam platform yang menjadi penyedianya, baik itu twitter, facebook, dan lain sebagainya. Ini merupakan dunia tersendiri yang menurut saya adalah tempat yang sangat lemah (untuk menuntut ilmu). Pendalaman dasar-dasar ilmu dengan jarak jauh melalui majelis online memiliki kelemahan, meskipun ada manfaatnya juga. Namun orang yang bisa mendalami ilmu di tempat jenis pertama, maka hendaklah ia mendahulukan itu. Jika tidak bisa, maka di tempat jenis kedua. Adapun jenis ketiga, maka seperti perkara darurat (hanya dipakai saat yang lain tidak bisa), karena mendalami ilmu harus dengan bertemu langsung dengan guru. ====================================================================================================== الْمَنَارَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ مَحَاضِنُ التَّأْصِيْلِ إِنَّ هَذَا التَّأْصِيلَ الَّذِي نَذْكُرُهُ لَهُ مَحَاضِنُ هِيَ الَّتِي يُسَمُّونَهَا بِالْبِيْئَةِ وَهَذِه الْبِيئَةُ مِنْ مُجْمَلَاتِهَا الْمَوْضِعُ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ التَّأْصِيلُ وَهُوَ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا مَوْضِعٌ أَصْلِيٌّ وَالْآخَرُ مَوْضِعٌ فَرْعِيٌّ فَالْمَوْضِعُ الْأَصْلِيُّ هُوَ الْمَسْجِدُ فَإِنَّهُ ابْتِدَاءُ التَّعْلِيمِ النَّبَوِيِّ وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي وَهُوَ مَا صَارَ بَعْدَ ذَلِكَ مَحَلًّا لِلْعِلْمِ مِثْلُ الْمَدَارِسِ وَالْجَامِعَاتِ وَالْمَعَاهِدِ وَالْكُلِّيَّاتِ وَالْبُيُوتِ كُلُّ هَذِهِ مَحَاضِنُ لَهُ وَنَشَأَ مُتَأَخِّرًا مَحْضَنٌ ثَالِثٌ وَهُوَ يَعْنِي الْعَالَمُ الْاِفْتِرَاضِيُّ الْعَالَمُ الاِفْتِرَاضِيُّ فِي شَبَكَةِ الْإِنْتِرْنِت عَلَى اخْتِلَافِ الْقَنَوَاتِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَيْهَا سَوَاءً كَانَ تُوِيْتِر أَوْ فِيسْبُوك أَوْ غَيْرَهَا وَهَذَا عَالَمٌ خَاصٌّ هُوَ عِنْدِي أَوْهَنُ مِنْ بَيْتِ الْعَنْكَبُوتِ فَالْبِنَاءُ الشَّبَكِيُّ عَبْرَ الْإِلْقَاءِ بِالْغَيْبِ فِيهِ ضَعْفٌ لَكِنَّهُ فِيهِ نَفْعٌ لَكِنْ مَنْ قَدِرَ عَلَى الْأَوَّلِ فَهُوَ يُقَدِّمُهُ ثُمَّ بَعْدَهُ الثَّانِي وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهَذَا بِمَنْزِلَةِ الضَّرُورَةِ إِذْ لاَ بُدَّ مِنْ تَلَقٍّ مُبَاشِرٍ  

Serial Fikih Muamalah (Bag. 4): 9 Aturan Penting dalam Berinvestasi

Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 3): Sumber Harta dan Ajakan untuk MenginvestasikannyaPada pembahasan sebelumnya, telah kita ketahui bahwa agama Islam telah mengajarkan dan membimbing umatnya agar cerdas di dalam mengatur keuangan dan harta, serta mengajak mereka untuk menabung dan berinvestasi. Hanya saja, pastinya ada beberapa aturan dan beberapa hal penting yang harus diketahui seorang muslim saat menginvestasikan hartanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasi 2. Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalan 3. Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada Allah 4. Keempat: Berusaha jujur dan amanah 5. Kelima: Tidak curang dalam takaran 6. Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haram 7. Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnya 8. Kedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnya 9. Kesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasiSaat seorang muslim ingin mengembangkan dan menginvestasikan hartanya, tentu saja ia perlu untuk mempelajari hukum-hukum syar’i yang berhubungan dengan investasi, baik itu dalam bentuk perdagangan, produksi, pertanian, ataupun kerajinan tangan. Sehingga ia terhindar dari segala bentuk investasi yang diharamkan dan investasi yang mengandung syubhat (masih abu-abu hukumnya). Misalnya, mereka yang terjun langsung ke dalam dunia perdagangan, maka wajib mempelajari hukum jual beli, hukum utang piutang, hukum sewa menyewa, mempelajari juga apa-apa yang dapat merusak sebuah transaksi, baik itu riba, judi, rekayasa ataupun kedustaan dan janji palsu. Ada sebuah ungkapan,ويل للتاجر من بلى والله ولا والله وويل للصانع من عدو بعد غد“Celakalah seorang pedagang yang mengatakan, ‘Iya, demi Allah’ dan ‘Tidak, demi Allah.’ Dan celakalah seorang pekerja yang selalu mengatakan, ‘Besok dan besok’.”Bahkan, khalifah kedua, Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,لا يبعْ في سوقِنا إلا من تفقَّه في الدينِ“Tidak boleh berniaga di pasar kami ini, kecuali mereka yang telah mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum agama.” (HR. Tirmidzi no. 487)Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalanIslam mengajak manusia untuk berpikir dan menggunakan akal di dalam mengelola sumber daya yang ada, memanfaatkan dan memaksimalkan sumber daya manusia, sumber energi, hewan, dan hasil tambang dengan cerdas dan cermat. Allah Ta’ala berfirman,وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mau berpikir.” (QS. Al-Jasiyah: 13)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَأَنزَلْنَا ٱلْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu).” (QS. Al-Hadid: 25)Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa investasi yang selamat dan bijak adalah yang berdiri di atas asas pemikiran, ilmu, dan pemanfaatan akal sehat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ إذا عمِلَ أحدُكمْ عملًا أنْ يُتقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’)Baca Juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada AllahTidak mendahulukan investasi dan mencari harta dari ketaatan dan menjalankan kewajiban kepada Allah Ta’ala. Tidak terburu-buru di dalam beramal hingga mengurangi kesempurnaannya hanya karena ia terlalu bersemangat ingin bekerja kembali. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إذا تبايعتُم بالعِينةِ وأخذتم أذنابَ البقرِ ، ورضيتُم بالزرعِ ، وتركتمُ الجهادَ ، سلَّطَ اللهُ عليكم ذُلًّا لا ينزعُه حتى ترجعوا إلى دِينِكم“Jika kalian berdagang dengan sistem riba, kalian rida dengan peternakan, kalian rida dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462 dan Al-Bazzar no. 5887)Keempat: Berusaha jujur dan amanahMenjauhi dusta, curang, dan berkhianat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,البَيِّعانِ بالخِيارِ ما لَمْ يَتَفَرَّقا، فإنْ صَدَقا وبَيَّنا بُورِكَ لهما في بَيْعِهِما، وإنْ كَذَبا وكَتَما مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِما“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan pada transaksi mereka berdua.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)Kedustaan terburuk adalah yang menyertakan sumpah atas nama Allah Ta’ala. Di masa sekarang, banyak sekali pedagang dan pengusaha yang berinovasi dan menciptakan ide-ide baru untuk melariskan dagangan mereka, yang mana ide tersebut lebih memikat dan lebih ampuh dari hanya bersumpah.Spanduk-spanduk, flyer, poster, serta iklan-iklan di media sosial, mayoritasnya menipu konsumen dengan deskripsi yang indah dan gaya yang menarik. Terkadang dengan tulisan dan kata yang indah, terkadang juga dengan backsound audio dan ilustrasi, serta penggambaran yang berlebihan. Pada akhirnya, yang merugi dan tertipu adalah konsumen. Iklan-iklan tersebut membangkitkan nafsu konsumtif mereka dan membuat mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan.Yang lebih parah lagi, iklan-iklan tersebut membujuk dan merayu kita untuk membeli barang yang kita tidak mampu membayarnya! Sehingga seorang konsumen dibujuk untuk menggunakan sistem kredit dan cicilan, dengan berbagai macam istilah yang digunakan, seperti cicilan, angsuran, atau yang sedang ngetren digunakan ‘paylater’, dan berbagai macam bentuk transaksi yang pada akhirnya membuat seorang konsumen menyesal dan terbebani utang.Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan bagaimanakah karakteristik seorang pedagang yang benar dan saleh,“Sesungguhnya mereka itu ketika berjualan tidak pernah menipu dengan ucapan yang indah dan ketika membeli tidak pernah mencemooh.”Baca Juga: Syubhat Maulid Nabi: “Ini Hanya Sekedar Muamalah Bukan Ibadah”Kelima: Tidak curang dalam takaranAllah Ta’ala mengancam mereka yang curang dalam takaran. Dan hal ini merupakan penyebab hancurnya umat-umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ  الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ  وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haramBaik itu riba, praktik judi, ataupun menimbun barang dagangan. Karena semuanya itu sebab kehancuran dan kerusakan. Bahkan, transaksi-transaksi tersebut juga menghilangkan keberkahan di dalam harta.Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnyaKedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnyaKesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakatMelihat kebutuhan masyarakat, berusaha memenuhinya dengan mengembangkan usaha yang sejalan dengannya. Semua itu akan mengantarkan kepada keseimbangan dan stabilitas ekonomi pada sebuah masyarakat. Tidak hanya terfokus pada satu komoditas lalu meninggalkan dan mengacuhkan yang lainnya.Islam sedari dulu sudah mengajak umatnya untuk menginvestasikan dan mengembangkan hartanya pada semua sektor dan komoditas. Pada sektor pertanian, Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ  يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10-11)Pada sektor kelautan, Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)Pada sektor pertambangan, Allah Ta’ala berfirman,اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ  فَمَا اسْطَاعُوْٓا اَنْ يَّظْهَرُوْهُ وَمَا اسْتَطَاعُوْا لَهٗ نَقْبًا“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 96-97)Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Sahkah Haji Dan Muamalah Yang Menggunakan Harta Haram?Tanya Jawab Fiqih Muamalah Bersama Ustadz Aris Munandar (2***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal ilaa Fiqhi Al-Mu’aamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Dukhan, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Al Fatihah Untuk Arwah, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Akhlak, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim

Serial Fikih Muamalah (Bag. 4): 9 Aturan Penting dalam Berinvestasi

Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 3): Sumber Harta dan Ajakan untuk MenginvestasikannyaPada pembahasan sebelumnya, telah kita ketahui bahwa agama Islam telah mengajarkan dan membimbing umatnya agar cerdas di dalam mengatur keuangan dan harta, serta mengajak mereka untuk menabung dan berinvestasi. Hanya saja, pastinya ada beberapa aturan dan beberapa hal penting yang harus diketahui seorang muslim saat menginvestasikan hartanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasi 2. Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalan 3. Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada Allah 4. Keempat: Berusaha jujur dan amanah 5. Kelima: Tidak curang dalam takaran 6. Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haram 7. Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnya 8. Kedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnya 9. Kesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasiSaat seorang muslim ingin mengembangkan dan menginvestasikan hartanya, tentu saja ia perlu untuk mempelajari hukum-hukum syar’i yang berhubungan dengan investasi, baik itu dalam bentuk perdagangan, produksi, pertanian, ataupun kerajinan tangan. Sehingga ia terhindar dari segala bentuk investasi yang diharamkan dan investasi yang mengandung syubhat (masih abu-abu hukumnya). Misalnya, mereka yang terjun langsung ke dalam dunia perdagangan, maka wajib mempelajari hukum jual beli, hukum utang piutang, hukum sewa menyewa, mempelajari juga apa-apa yang dapat merusak sebuah transaksi, baik itu riba, judi, rekayasa ataupun kedustaan dan janji palsu. Ada sebuah ungkapan,ويل للتاجر من بلى والله ولا والله وويل للصانع من عدو بعد غد“Celakalah seorang pedagang yang mengatakan, ‘Iya, demi Allah’ dan ‘Tidak, demi Allah.’ Dan celakalah seorang pekerja yang selalu mengatakan, ‘Besok dan besok’.”Bahkan, khalifah kedua, Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,لا يبعْ في سوقِنا إلا من تفقَّه في الدينِ“Tidak boleh berniaga di pasar kami ini, kecuali mereka yang telah mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum agama.” (HR. Tirmidzi no. 487)Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalanIslam mengajak manusia untuk berpikir dan menggunakan akal di dalam mengelola sumber daya yang ada, memanfaatkan dan memaksimalkan sumber daya manusia, sumber energi, hewan, dan hasil tambang dengan cerdas dan cermat. Allah Ta’ala berfirman,وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mau berpikir.” (QS. Al-Jasiyah: 13)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَأَنزَلْنَا ٱلْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu).” (QS. Al-Hadid: 25)Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa investasi yang selamat dan bijak adalah yang berdiri di atas asas pemikiran, ilmu, dan pemanfaatan akal sehat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ إذا عمِلَ أحدُكمْ عملًا أنْ يُتقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’)Baca Juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada AllahTidak mendahulukan investasi dan mencari harta dari ketaatan dan menjalankan kewajiban kepada Allah Ta’ala. Tidak terburu-buru di dalam beramal hingga mengurangi kesempurnaannya hanya karena ia terlalu bersemangat ingin bekerja kembali. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إذا تبايعتُم بالعِينةِ وأخذتم أذنابَ البقرِ ، ورضيتُم بالزرعِ ، وتركتمُ الجهادَ ، سلَّطَ اللهُ عليكم ذُلًّا لا ينزعُه حتى ترجعوا إلى دِينِكم“Jika kalian berdagang dengan sistem riba, kalian rida dengan peternakan, kalian rida dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462 dan Al-Bazzar no. 5887)Keempat: Berusaha jujur dan amanahMenjauhi dusta, curang, dan berkhianat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,البَيِّعانِ بالخِيارِ ما لَمْ يَتَفَرَّقا، فإنْ صَدَقا وبَيَّنا بُورِكَ لهما في بَيْعِهِما، وإنْ كَذَبا وكَتَما مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِما“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan pada transaksi mereka berdua.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)Kedustaan terburuk adalah yang menyertakan sumpah atas nama Allah Ta’ala. Di masa sekarang, banyak sekali pedagang dan pengusaha yang berinovasi dan menciptakan ide-ide baru untuk melariskan dagangan mereka, yang mana ide tersebut lebih memikat dan lebih ampuh dari hanya bersumpah.Spanduk-spanduk, flyer, poster, serta iklan-iklan di media sosial, mayoritasnya menipu konsumen dengan deskripsi yang indah dan gaya yang menarik. Terkadang dengan tulisan dan kata yang indah, terkadang juga dengan backsound audio dan ilustrasi, serta penggambaran yang berlebihan. Pada akhirnya, yang merugi dan tertipu adalah konsumen. Iklan-iklan tersebut membangkitkan nafsu konsumtif mereka dan membuat mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan.Yang lebih parah lagi, iklan-iklan tersebut membujuk dan merayu kita untuk membeli barang yang kita tidak mampu membayarnya! Sehingga seorang konsumen dibujuk untuk menggunakan sistem kredit dan cicilan, dengan berbagai macam istilah yang digunakan, seperti cicilan, angsuran, atau yang sedang ngetren digunakan ‘paylater’, dan berbagai macam bentuk transaksi yang pada akhirnya membuat seorang konsumen menyesal dan terbebani utang.Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan bagaimanakah karakteristik seorang pedagang yang benar dan saleh,“Sesungguhnya mereka itu ketika berjualan tidak pernah menipu dengan ucapan yang indah dan ketika membeli tidak pernah mencemooh.”Baca Juga: Syubhat Maulid Nabi: “Ini Hanya Sekedar Muamalah Bukan Ibadah”Kelima: Tidak curang dalam takaranAllah Ta’ala mengancam mereka yang curang dalam takaran. Dan hal ini merupakan penyebab hancurnya umat-umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ  الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ  وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haramBaik itu riba, praktik judi, ataupun menimbun barang dagangan. Karena semuanya itu sebab kehancuran dan kerusakan. Bahkan, transaksi-transaksi tersebut juga menghilangkan keberkahan di dalam harta.Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnyaKedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnyaKesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakatMelihat kebutuhan masyarakat, berusaha memenuhinya dengan mengembangkan usaha yang sejalan dengannya. Semua itu akan mengantarkan kepada keseimbangan dan stabilitas ekonomi pada sebuah masyarakat. Tidak hanya terfokus pada satu komoditas lalu meninggalkan dan mengacuhkan yang lainnya.Islam sedari dulu sudah mengajak umatnya untuk menginvestasikan dan mengembangkan hartanya pada semua sektor dan komoditas. Pada sektor pertanian, Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ  يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10-11)Pada sektor kelautan, Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)Pada sektor pertambangan, Allah Ta’ala berfirman,اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ  فَمَا اسْطَاعُوْٓا اَنْ يَّظْهَرُوْهُ وَمَا اسْتَطَاعُوْا لَهٗ نَقْبًا“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 96-97)Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Sahkah Haji Dan Muamalah Yang Menggunakan Harta Haram?Tanya Jawab Fiqih Muamalah Bersama Ustadz Aris Munandar (2***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal ilaa Fiqhi Al-Mu’aamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Dukhan, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Al Fatihah Untuk Arwah, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Akhlak, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim
Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 3): Sumber Harta dan Ajakan untuk MenginvestasikannyaPada pembahasan sebelumnya, telah kita ketahui bahwa agama Islam telah mengajarkan dan membimbing umatnya agar cerdas di dalam mengatur keuangan dan harta, serta mengajak mereka untuk menabung dan berinvestasi. Hanya saja, pastinya ada beberapa aturan dan beberapa hal penting yang harus diketahui seorang muslim saat menginvestasikan hartanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasi 2. Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalan 3. Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada Allah 4. Keempat: Berusaha jujur dan amanah 5. Kelima: Tidak curang dalam takaran 6. Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haram 7. Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnya 8. Kedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnya 9. Kesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasiSaat seorang muslim ingin mengembangkan dan menginvestasikan hartanya, tentu saja ia perlu untuk mempelajari hukum-hukum syar’i yang berhubungan dengan investasi, baik itu dalam bentuk perdagangan, produksi, pertanian, ataupun kerajinan tangan. Sehingga ia terhindar dari segala bentuk investasi yang diharamkan dan investasi yang mengandung syubhat (masih abu-abu hukumnya). Misalnya, mereka yang terjun langsung ke dalam dunia perdagangan, maka wajib mempelajari hukum jual beli, hukum utang piutang, hukum sewa menyewa, mempelajari juga apa-apa yang dapat merusak sebuah transaksi, baik itu riba, judi, rekayasa ataupun kedustaan dan janji palsu. Ada sebuah ungkapan,ويل للتاجر من بلى والله ولا والله وويل للصانع من عدو بعد غد“Celakalah seorang pedagang yang mengatakan, ‘Iya, demi Allah’ dan ‘Tidak, demi Allah.’ Dan celakalah seorang pekerja yang selalu mengatakan, ‘Besok dan besok’.”Bahkan, khalifah kedua, Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,لا يبعْ في سوقِنا إلا من تفقَّه في الدينِ“Tidak boleh berniaga di pasar kami ini, kecuali mereka yang telah mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum agama.” (HR. Tirmidzi no. 487)Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalanIslam mengajak manusia untuk berpikir dan menggunakan akal di dalam mengelola sumber daya yang ada, memanfaatkan dan memaksimalkan sumber daya manusia, sumber energi, hewan, dan hasil tambang dengan cerdas dan cermat. Allah Ta’ala berfirman,وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mau berpikir.” (QS. Al-Jasiyah: 13)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَأَنزَلْنَا ٱلْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu).” (QS. Al-Hadid: 25)Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa investasi yang selamat dan bijak adalah yang berdiri di atas asas pemikiran, ilmu, dan pemanfaatan akal sehat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ إذا عمِلَ أحدُكمْ عملًا أنْ يُتقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’)Baca Juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada AllahTidak mendahulukan investasi dan mencari harta dari ketaatan dan menjalankan kewajiban kepada Allah Ta’ala. Tidak terburu-buru di dalam beramal hingga mengurangi kesempurnaannya hanya karena ia terlalu bersemangat ingin bekerja kembali. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إذا تبايعتُم بالعِينةِ وأخذتم أذنابَ البقرِ ، ورضيتُم بالزرعِ ، وتركتمُ الجهادَ ، سلَّطَ اللهُ عليكم ذُلًّا لا ينزعُه حتى ترجعوا إلى دِينِكم“Jika kalian berdagang dengan sistem riba, kalian rida dengan peternakan, kalian rida dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462 dan Al-Bazzar no. 5887)Keempat: Berusaha jujur dan amanahMenjauhi dusta, curang, dan berkhianat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,البَيِّعانِ بالخِيارِ ما لَمْ يَتَفَرَّقا، فإنْ صَدَقا وبَيَّنا بُورِكَ لهما في بَيْعِهِما، وإنْ كَذَبا وكَتَما مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِما“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan pada transaksi mereka berdua.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)Kedustaan terburuk adalah yang menyertakan sumpah atas nama Allah Ta’ala. Di masa sekarang, banyak sekali pedagang dan pengusaha yang berinovasi dan menciptakan ide-ide baru untuk melariskan dagangan mereka, yang mana ide tersebut lebih memikat dan lebih ampuh dari hanya bersumpah.Spanduk-spanduk, flyer, poster, serta iklan-iklan di media sosial, mayoritasnya menipu konsumen dengan deskripsi yang indah dan gaya yang menarik. Terkadang dengan tulisan dan kata yang indah, terkadang juga dengan backsound audio dan ilustrasi, serta penggambaran yang berlebihan. Pada akhirnya, yang merugi dan tertipu adalah konsumen. Iklan-iklan tersebut membangkitkan nafsu konsumtif mereka dan membuat mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan.Yang lebih parah lagi, iklan-iklan tersebut membujuk dan merayu kita untuk membeli barang yang kita tidak mampu membayarnya! Sehingga seorang konsumen dibujuk untuk menggunakan sistem kredit dan cicilan, dengan berbagai macam istilah yang digunakan, seperti cicilan, angsuran, atau yang sedang ngetren digunakan ‘paylater’, dan berbagai macam bentuk transaksi yang pada akhirnya membuat seorang konsumen menyesal dan terbebani utang.Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan bagaimanakah karakteristik seorang pedagang yang benar dan saleh,“Sesungguhnya mereka itu ketika berjualan tidak pernah menipu dengan ucapan yang indah dan ketika membeli tidak pernah mencemooh.”Baca Juga: Syubhat Maulid Nabi: “Ini Hanya Sekedar Muamalah Bukan Ibadah”Kelima: Tidak curang dalam takaranAllah Ta’ala mengancam mereka yang curang dalam takaran. Dan hal ini merupakan penyebab hancurnya umat-umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ  الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ  وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haramBaik itu riba, praktik judi, ataupun menimbun barang dagangan. Karena semuanya itu sebab kehancuran dan kerusakan. Bahkan, transaksi-transaksi tersebut juga menghilangkan keberkahan di dalam harta.Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnyaKedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnyaKesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakatMelihat kebutuhan masyarakat, berusaha memenuhinya dengan mengembangkan usaha yang sejalan dengannya. Semua itu akan mengantarkan kepada keseimbangan dan stabilitas ekonomi pada sebuah masyarakat. Tidak hanya terfokus pada satu komoditas lalu meninggalkan dan mengacuhkan yang lainnya.Islam sedari dulu sudah mengajak umatnya untuk menginvestasikan dan mengembangkan hartanya pada semua sektor dan komoditas. Pada sektor pertanian, Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ  يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10-11)Pada sektor kelautan, Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)Pada sektor pertambangan, Allah Ta’ala berfirman,اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ  فَمَا اسْطَاعُوْٓا اَنْ يَّظْهَرُوْهُ وَمَا اسْتَطَاعُوْا لَهٗ نَقْبًا“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 96-97)Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Sahkah Haji Dan Muamalah Yang Menggunakan Harta Haram?Tanya Jawab Fiqih Muamalah Bersama Ustadz Aris Munandar (2***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal ilaa Fiqhi Al-Mu’aamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Dukhan, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Al Fatihah Untuk Arwah, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Akhlak, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim


Baca pembahasan sebelumnya Serial Fikih Muamalah (Bag. 3): Sumber Harta dan Ajakan untuk MenginvestasikannyaPada pembahasan sebelumnya, telah kita ketahui bahwa agama Islam telah mengajarkan dan membimbing umatnya agar cerdas di dalam mengatur keuangan dan harta, serta mengajak mereka untuk menabung dan berinvestasi. Hanya saja, pastinya ada beberapa aturan dan beberapa hal penting yang harus diketahui seorang muslim saat menginvestasikan hartanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasi 2. Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalan 3. Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada Allah 4. Keempat: Berusaha jujur dan amanah 5. Kelima: Tidak curang dalam takaran 6. Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haram 7. Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnya 8. Kedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnya 9. Kesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat Pertama: Hendaknya mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan investasiSaat seorang muslim ingin mengembangkan dan menginvestasikan hartanya, tentu saja ia perlu untuk mempelajari hukum-hukum syar’i yang berhubungan dengan investasi, baik itu dalam bentuk perdagangan, produksi, pertanian, ataupun kerajinan tangan. Sehingga ia terhindar dari segala bentuk investasi yang diharamkan dan investasi yang mengandung syubhat (masih abu-abu hukumnya). Misalnya, mereka yang terjun langsung ke dalam dunia perdagangan, maka wajib mempelajari hukum jual beli, hukum utang piutang, hukum sewa menyewa, mempelajari juga apa-apa yang dapat merusak sebuah transaksi, baik itu riba, judi, rekayasa ataupun kedustaan dan janji palsu. Ada sebuah ungkapan,ويل للتاجر من بلى والله ولا والله وويل للصانع من عدو بعد غد“Celakalah seorang pedagang yang mengatakan, ‘Iya, demi Allah’ dan ‘Tidak, demi Allah.’ Dan celakalah seorang pekerja yang selalu mengatakan, ‘Besok dan besok’.”Bahkan, khalifah kedua, Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,لا يبعْ في سوقِنا إلا من تفقَّه في الدينِ“Tidak boleh berniaga di pasar kami ini, kecuali mereka yang telah mempelajari terlebih dahulu hukum-hukum agama.” (HR. Tirmidzi no. 487)Kedua: Berinvestasi secara profesional dan tidak asal-asalanIslam mengajak manusia untuk berpikir dan menggunakan akal di dalam mengelola sumber daya yang ada, memanfaatkan dan memaksimalkan sumber daya manusia, sumber energi, hewan, dan hasil tambang dengan cerdas dan cermat. Allah Ta’ala berfirman,وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mau berpikir.” (QS. Al-Jasiyah: 13)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,وَأَنزَلْنَا ٱلْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu).” (QS. Al-Hadid: 25)Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa investasi yang selamat dan bijak adalah yang berdiri di atas asas pemikiran, ilmu, dan pemanfaatan akal sehat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ إذا عمِلَ أحدُكمْ عملًا أنْ يُتقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’)Baca Juga: Bagaimana Bermuamalah Dengan Orang-Orang Yang Menyimpang?Ketiga: Menjaga kewajiban dan ketaatannya kepada AllahTidak mendahulukan investasi dan mencari harta dari ketaatan dan menjalankan kewajiban kepada Allah Ta’ala. Tidak terburu-buru di dalam beramal hingga mengurangi kesempurnaannya hanya karena ia terlalu bersemangat ingin bekerja kembali. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,إذا تبايعتُم بالعِينةِ وأخذتم أذنابَ البقرِ ، ورضيتُم بالزرعِ ، وتركتمُ الجهادَ ، سلَّطَ اللهُ عليكم ذُلًّا لا ينزعُه حتى ترجعوا إلى دِينِكم“Jika kalian berdagang dengan sistem riba, kalian rida dengan peternakan, kalian rida dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud no. 3462 dan Al-Bazzar no. 5887)Keempat: Berusaha jujur dan amanahMenjauhi dusta, curang, dan berkhianat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,البَيِّعانِ بالخِيارِ ما لَمْ يَتَفَرَّقا، فإنْ صَدَقا وبَيَّنا بُورِكَ لهما في بَيْعِهِما، وإنْ كَذَبا وكَتَما مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِما“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan pada transaksi mereka berdua.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)Kedustaan terburuk adalah yang menyertakan sumpah atas nama Allah Ta’ala. Di masa sekarang, banyak sekali pedagang dan pengusaha yang berinovasi dan menciptakan ide-ide baru untuk melariskan dagangan mereka, yang mana ide tersebut lebih memikat dan lebih ampuh dari hanya bersumpah.Spanduk-spanduk, flyer, poster, serta iklan-iklan di media sosial, mayoritasnya menipu konsumen dengan deskripsi yang indah dan gaya yang menarik. Terkadang dengan tulisan dan kata yang indah, terkadang juga dengan backsound audio dan ilustrasi, serta penggambaran yang berlebihan. Pada akhirnya, yang merugi dan tertipu adalah konsumen. Iklan-iklan tersebut membangkitkan nafsu konsumtif mereka dan membuat mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan.Yang lebih parah lagi, iklan-iklan tersebut membujuk dan merayu kita untuk membeli barang yang kita tidak mampu membayarnya! Sehingga seorang konsumen dibujuk untuk menggunakan sistem kredit dan cicilan, dengan berbagai macam istilah yang digunakan, seperti cicilan, angsuran, atau yang sedang ngetren digunakan ‘paylater’, dan berbagai macam bentuk transaksi yang pada akhirnya membuat seorang konsumen menyesal dan terbebani utang.Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan bagaimanakah karakteristik seorang pedagang yang benar dan saleh,“Sesungguhnya mereka itu ketika berjualan tidak pernah menipu dengan ucapan yang indah dan ketika membeli tidak pernah mencemooh.”Baca Juga: Syubhat Maulid Nabi: “Ini Hanya Sekedar Muamalah Bukan Ibadah”Kelima: Tidak curang dalam takaranAllah Ta’ala mengancam mereka yang curang dalam takaran. Dan hal ini merupakan penyebab hancurnya umat-umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ  الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ  وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)Keenam: Menjauhkan diri dari transaksi yang haramBaik itu riba, praktik judi, ataupun menimbun barang dagangan. Karena semuanya itu sebab kehancuran dan kerusakan. Bahkan, transaksi-transaksi tersebut juga menghilangkan keberkahan di dalam harta.Ketujuh: Menunaikan kewajiban yang ada pada hartanya, baik Itu zakat ataupun selainnyaKedelapan: Memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam bertransaksi, serta memperhatikan persyaratan dan Undang-Undang yang berlaku di dalamnyaKesembilan: Memprioritaskan dan mengarahkan pengembangan serta investasi hartanya pada komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakatMelihat kebutuhan masyarakat, berusaha memenuhinya dengan mengembangkan usaha yang sejalan dengannya. Semua itu akan mengantarkan kepada keseimbangan dan stabilitas ekonomi pada sebuah masyarakat. Tidak hanya terfokus pada satu komoditas lalu meninggalkan dan mengacuhkan yang lainnya.Islam sedari dulu sudah mengajak umatnya untuk menginvestasikan dan mengembangkan hartanya pada semua sektor dan komoditas. Pada sektor pertanian, Allah Ta’ala berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ  يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10-11)Pada sektor kelautan, Allah Ta’ala berfirman,وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)Pada sektor pertambangan, Allah Ta’ala berfirman,اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ  فَمَا اسْطَاعُوْٓا اَنْ يَّظْهَرُوْهُ وَمَا اسْتَطَاعُوْا لَهٗ نَقْبًا“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahfi: 96-97)Wallahu A’lam Bisshowaab.[Bersambung]Baca Juga:Fatwa Ulama: Sahkah Haji Dan Muamalah Yang Menggunakan Harta Haram?Tanya Jawab Fiqih Muamalah Bersama Ustadz Aris Munandar (2***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Kitab Al-Madkhal ilaa Fiqhi Al-Mu’aamalaat Al-Maaliyyah karya Prof. Dr. Muhammad Utsman Syubair dengan beberapa penyesuaian.🔍 Dukhan, Tanggal Nabi Muhammad Lahir, Al Fatihah Untuk Arwah, Teks Ceramah Agama Islam Tentang Akhlak, Profil Ustadz Firanda AndirjaTags: bisnisfatwaFatwa Ulamafikihfikih jual belifikih muamalahislamJual Belijual beli dalam islammuamalahmuamalah dalam Islamnaishatpedagangpengusaha muslim

Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Jika aku shalat di belakang imam dan aku juga membaca surat al-Fatihah pada shalat jahriyah( shalat yang bacaannya dikeraskan.), lalu imam sudah sampai pada akhir surat al-Fatihah, maka aku mengucapkan “aamiin” bersama imam. Apakah aku harus mengulang al-Fatihah atau melanjutkan ayat yang sudah aku baca tadi? Tidak, cukup melanjutkan pada ayat yang kamu berhenti tadi. Tidak perlu mengulang dari awal. Namun jika kamu mengucapkan “aamiin” bersama imam, dan misalnya kamu sudah sampai ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, maka cukup kembali melanjutkan dari ayat “ihdinash shirothol mustaqim …” Kamu tidak perlu mengulangi bacaan al-Fatihah dari awal. Ia masih bertanya lagi: “Bagaimana makmum bacaannya sampai pada pertengahan al-Fatihah, itu berarti ia tidak mendengarkan bacaan imam?” Benar begitu pertanyaannya? Itu berarti makmum tidak mendengar bacaan imamnya. Intinya, ini terjadi jika makmum membaca al-Fatihah saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat. Terkadang makmum dapat membaca saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat, seperti yang dikatakan Ibnu al-Mundzir. Sebagai contoh jika imam membaca surat al-Fatihah dengan tenang sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Dahulu beliau membaca satu ayat satu ayat, dan berhenti di setiap akhir ayat. Yakni membaca seperti ini, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” “Iyyaka na’budu …” Beliau tidak menyambung bacaan dua ayat sekaligus. Namun beliau memisahkannya satu ayat satu ayat. Di sini jika makmum membaca al-Fatihah di belakang imam, maka ia membaca perayat juga. Yakni jika imam membaca, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” Maka makmum juga membaca “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” Makmum juga membaca, “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” Makmum juga membaca, “Maliki yaumiddin.” Begitu seterusnya. Jika imam sampai pada kalimat, “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhollin”, lalu langsung mengucapkan “aamiin”, maka makmum tidak terus menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya, akan tetapi mengucapkan “aamiin” dulu, lalu kembali menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya. ====================================================================================================== يَقُولُ إِذَا كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ الْإِمَامِ وَأَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فَوَصَلَ الْإِمَامُ إِلَى نِهَايَةِ الْفَاتِحَةِ فَقُلْتُ مَعَهُ آمِينَ هَلْ أَرْجِعُ وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنَ الْأَوَّلِ أَوْ أُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتُ لَا، تُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُهَا مِنْ أَوَّلٍ وَلَكِنْ لَوْ قُلْتَ مَعَهُ آمِينَ وَأَنْتَ وَصَلْتَ مَثَلًا إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَرْجِعُ مَرَّةً ثَانِيَةً تُكْمِلُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنْ أَوَّلِهَا وَيَسْتَشْكِلُ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ وَصَلَ إِلَى مُنْتَصَفِ الْفَاتِحَة مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ هَكَذَا السُّؤَالُ؟ أَيْ نَعَمْ أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ الْمُهِمُّ هَذَا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ أَحْيَانًا يَقْرَأُ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْإِمَامُ مَثَلًا الْفَاتِحَةَ مُتَأَنِّيًا كَمَا كَانَ يَقْرَأُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُهَا آيَةً آيَةً وَيَقِفُ عَلَى رُؤُوسِ الْآيَةِ يَعْنِي يَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ مَا يَصِلُ آيَتَيْنِ مَعًا وَإِنَّمَا آيَةً آيَةً يُفَصِّلُهَا آيَةً آيَةً فَهُنَا لَوْ قَرَأَ الْمَأْمُومُ مَعَ الْإِمَامِ آيَةً آيَةً أَيْضًا يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ الْمَأْمُومُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ وَهَكَذَا فَإِذَا وَصَلَ إِلَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ وَقَال آمِينَ مُبَاشَرَةً مَا يَمْضِي الْمَأْمُومُ مِمَّا يَقُولُهَا فَيَقُولُ آمِينَ مَعَهُ ثُمَّ يُعِيدُ وَيُكْمِلُ      

Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Jika aku shalat di belakang imam dan aku juga membaca surat al-Fatihah pada shalat jahriyah( shalat yang bacaannya dikeraskan.), lalu imam sudah sampai pada akhir surat al-Fatihah, maka aku mengucapkan “aamiin” bersama imam. Apakah aku harus mengulang al-Fatihah atau melanjutkan ayat yang sudah aku baca tadi? Tidak, cukup melanjutkan pada ayat yang kamu berhenti tadi. Tidak perlu mengulang dari awal. Namun jika kamu mengucapkan “aamiin” bersama imam, dan misalnya kamu sudah sampai ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, maka cukup kembali melanjutkan dari ayat “ihdinash shirothol mustaqim …” Kamu tidak perlu mengulangi bacaan al-Fatihah dari awal. Ia masih bertanya lagi: “Bagaimana makmum bacaannya sampai pada pertengahan al-Fatihah, itu berarti ia tidak mendengarkan bacaan imam?” Benar begitu pertanyaannya? Itu berarti makmum tidak mendengar bacaan imamnya. Intinya, ini terjadi jika makmum membaca al-Fatihah saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat. Terkadang makmum dapat membaca saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat, seperti yang dikatakan Ibnu al-Mundzir. Sebagai contoh jika imam membaca surat al-Fatihah dengan tenang sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Dahulu beliau membaca satu ayat satu ayat, dan berhenti di setiap akhir ayat. Yakni membaca seperti ini, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” “Iyyaka na’budu …” Beliau tidak menyambung bacaan dua ayat sekaligus. Namun beliau memisahkannya satu ayat satu ayat. Di sini jika makmum membaca al-Fatihah di belakang imam, maka ia membaca perayat juga. Yakni jika imam membaca, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” Maka makmum juga membaca “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” Makmum juga membaca, “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” Makmum juga membaca, “Maliki yaumiddin.” Begitu seterusnya. Jika imam sampai pada kalimat, “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhollin”, lalu langsung mengucapkan “aamiin”, maka makmum tidak terus menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya, akan tetapi mengucapkan “aamiin” dulu, lalu kembali menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya. ====================================================================================================== يَقُولُ إِذَا كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ الْإِمَامِ وَأَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فَوَصَلَ الْإِمَامُ إِلَى نِهَايَةِ الْفَاتِحَةِ فَقُلْتُ مَعَهُ آمِينَ هَلْ أَرْجِعُ وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنَ الْأَوَّلِ أَوْ أُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتُ لَا، تُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُهَا مِنْ أَوَّلٍ وَلَكِنْ لَوْ قُلْتَ مَعَهُ آمِينَ وَأَنْتَ وَصَلْتَ مَثَلًا إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَرْجِعُ مَرَّةً ثَانِيَةً تُكْمِلُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنْ أَوَّلِهَا وَيَسْتَشْكِلُ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ وَصَلَ إِلَى مُنْتَصَفِ الْفَاتِحَة مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ هَكَذَا السُّؤَالُ؟ أَيْ نَعَمْ أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ الْمُهِمُّ هَذَا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ أَحْيَانًا يَقْرَأُ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْإِمَامُ مَثَلًا الْفَاتِحَةَ مُتَأَنِّيًا كَمَا كَانَ يَقْرَأُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُهَا آيَةً آيَةً وَيَقِفُ عَلَى رُؤُوسِ الْآيَةِ يَعْنِي يَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ مَا يَصِلُ آيَتَيْنِ مَعًا وَإِنَّمَا آيَةً آيَةً يُفَصِّلُهَا آيَةً آيَةً فَهُنَا لَوْ قَرَأَ الْمَأْمُومُ مَعَ الْإِمَامِ آيَةً آيَةً أَيْضًا يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ الْمَأْمُومُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ وَهَكَذَا فَإِذَا وَصَلَ إِلَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ وَقَال آمِينَ مُبَاشَرَةً مَا يَمْضِي الْمَأْمُومُ مِمَّا يَقُولُهَا فَيَقُولُ آمِينَ مَعَهُ ثُمَّ يُعِيدُ وَيُكْمِلُ      
Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Jika aku shalat di belakang imam dan aku juga membaca surat al-Fatihah pada shalat jahriyah( shalat yang bacaannya dikeraskan.), lalu imam sudah sampai pada akhir surat al-Fatihah, maka aku mengucapkan “aamiin” bersama imam. Apakah aku harus mengulang al-Fatihah atau melanjutkan ayat yang sudah aku baca tadi? Tidak, cukup melanjutkan pada ayat yang kamu berhenti tadi. Tidak perlu mengulang dari awal. Namun jika kamu mengucapkan “aamiin” bersama imam, dan misalnya kamu sudah sampai ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, maka cukup kembali melanjutkan dari ayat “ihdinash shirothol mustaqim …” Kamu tidak perlu mengulangi bacaan al-Fatihah dari awal. Ia masih bertanya lagi: “Bagaimana makmum bacaannya sampai pada pertengahan al-Fatihah, itu berarti ia tidak mendengarkan bacaan imam?” Benar begitu pertanyaannya? Itu berarti makmum tidak mendengar bacaan imamnya. Intinya, ini terjadi jika makmum membaca al-Fatihah saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat. Terkadang makmum dapat membaca saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat, seperti yang dikatakan Ibnu al-Mundzir. Sebagai contoh jika imam membaca surat al-Fatihah dengan tenang sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Dahulu beliau membaca satu ayat satu ayat, dan berhenti di setiap akhir ayat. Yakni membaca seperti ini, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” “Iyyaka na’budu …” Beliau tidak menyambung bacaan dua ayat sekaligus. Namun beliau memisahkannya satu ayat satu ayat. Di sini jika makmum membaca al-Fatihah di belakang imam, maka ia membaca perayat juga. Yakni jika imam membaca, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” Maka makmum juga membaca “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” Makmum juga membaca, “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” Makmum juga membaca, “Maliki yaumiddin.” Begitu seterusnya. Jika imam sampai pada kalimat, “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhollin”, lalu langsung mengucapkan “aamiin”, maka makmum tidak terus menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya, akan tetapi mengucapkan “aamiin” dulu, lalu kembali menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya. ====================================================================================================== يَقُولُ إِذَا كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ الْإِمَامِ وَأَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فَوَصَلَ الْإِمَامُ إِلَى نِهَايَةِ الْفَاتِحَةِ فَقُلْتُ مَعَهُ آمِينَ هَلْ أَرْجِعُ وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنَ الْأَوَّلِ أَوْ أُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتُ لَا، تُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُهَا مِنْ أَوَّلٍ وَلَكِنْ لَوْ قُلْتَ مَعَهُ آمِينَ وَأَنْتَ وَصَلْتَ مَثَلًا إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَرْجِعُ مَرَّةً ثَانِيَةً تُكْمِلُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنْ أَوَّلِهَا وَيَسْتَشْكِلُ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ وَصَلَ إِلَى مُنْتَصَفِ الْفَاتِحَة مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ هَكَذَا السُّؤَالُ؟ أَيْ نَعَمْ أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ الْمُهِمُّ هَذَا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ أَحْيَانًا يَقْرَأُ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْإِمَامُ مَثَلًا الْفَاتِحَةَ مُتَأَنِّيًا كَمَا كَانَ يَقْرَأُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُهَا آيَةً آيَةً وَيَقِفُ عَلَى رُؤُوسِ الْآيَةِ يَعْنِي يَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ مَا يَصِلُ آيَتَيْنِ مَعًا وَإِنَّمَا آيَةً آيَةً يُفَصِّلُهَا آيَةً آيَةً فَهُنَا لَوْ قَرَأَ الْمَأْمُومُ مَعَ الْإِمَامِ آيَةً آيَةً أَيْضًا يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ الْمَأْمُومُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ وَهَكَذَا فَإِذَا وَصَلَ إِلَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ وَقَال آمِينَ مُبَاشَرَةً مَا يَمْضِي الْمَأْمُومُ مِمَّا يَقُولُهَا فَيَقُولُ آمِينَ مَعَهُ ثُمَّ يُعِيدُ وَيُكْمِلُ      


Cara Makmum Membaca al-Fatihah – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Ia bertanya: “Jika aku shalat di belakang imam dan aku juga membaca surat al-Fatihah pada shalat jahriyah( shalat yang bacaannya dikeraskan.), lalu imam sudah sampai pada akhir surat al-Fatihah, maka aku mengucapkan “aamiin” bersama imam. Apakah aku harus mengulang al-Fatihah atau melanjutkan ayat yang sudah aku baca tadi? Tidak, cukup melanjutkan pada ayat yang kamu berhenti tadi. Tidak perlu mengulang dari awal. Namun jika kamu mengucapkan “aamiin” bersama imam, dan misalnya kamu sudah sampai ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, maka cukup kembali melanjutkan dari ayat “ihdinash shirothol mustaqim …” Kamu tidak perlu mengulangi bacaan al-Fatihah dari awal. Ia masih bertanya lagi: “Bagaimana makmum bacaannya sampai pada pertengahan al-Fatihah, itu berarti ia tidak mendengarkan bacaan imam?” Benar begitu pertanyaannya? Itu berarti makmum tidak mendengar bacaan imamnya. Intinya, ini terjadi jika makmum membaca al-Fatihah saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat. Terkadang makmum dapat membaca saat imam berhenti membaca di antara tiap ayat, seperti yang dikatakan Ibnu al-Mundzir. Sebagai contoh jika imam membaca surat al-Fatihah dengan tenang sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Dahulu beliau membaca satu ayat satu ayat, dan berhenti di setiap akhir ayat. Yakni membaca seperti ini, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” “Iyyaka na’budu …” Beliau tidak menyambung bacaan dua ayat sekaligus. Namun beliau memisahkannya satu ayat satu ayat. Di sini jika makmum membaca al-Fatihah di belakang imam, maka ia membaca perayat juga. Yakni jika imam membaca, “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” Maka makmum juga membaca “Alhamdulillahi robbil ‘alamin.” “Arrohmanirrohim.” Makmum juga membaca, “Arrohmanirrohim.” “Maliki yaumiddin.” Makmum juga membaca, “Maliki yaumiddin.” Begitu seterusnya. Jika imam sampai pada kalimat, “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhollin”, lalu langsung mengucapkan “aamiin”, maka makmum tidak terus menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya, akan tetapi mengucapkan “aamiin” dulu, lalu kembali menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya. ====================================================================================================== يَقُولُ إِذَا كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ الْإِمَامِ وَأَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فَوَصَلَ الْإِمَامُ إِلَى نِهَايَةِ الْفَاتِحَةِ فَقُلْتُ مَعَهُ آمِينَ هَلْ أَرْجِعُ وَأُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنَ الْأَوَّلِ أَوْ أُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتُ لَا، تُكْمِلُهَا مِنْ حَيْثُ وَقَفْتَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُهَا مِنْ أَوَّلٍ وَلَكِنْ لَوْ قُلْتَ مَعَهُ آمِينَ وَأَنْتَ وَصَلْتَ مَثَلًا إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَرْجِعُ مَرَّةً ثَانِيَةً تُكْمِلُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ مَا يَحْتَاجُ تُعِيدُ الْفَاتِحَةَ مِنْ أَوَّلِهَا وَيَسْتَشْكِلُ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ وَصَلَ إِلَى مُنْتَصَفِ الْفَاتِحَة مَعْنَى هَذَا أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ هَكَذَا السُّؤَالُ؟ أَيْ نَعَمْ أَنَّهُ مَا كَانَ يَسْتَمِعُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ الْمُهِمُّ هَذَا إِذَا كَانَ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ أَحْيَانًا يَقْرَأُ كَمَا قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ يَقْرَأُ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْإِمَامُ مَثَلًا الْفَاتِحَةَ مُتَأَنِّيًا كَمَا كَانَ يَقْرَأُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُهَا آيَةً آيَةً وَيَقِفُ عَلَى رُؤُوسِ الْآيَةِ يَعْنِي يَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ مَا يَصِلُ آيَتَيْنِ مَعًا وَإِنَّمَا آيَةً آيَةً يُفَصِّلُهَا آيَةً آيَةً فَهُنَا لَوْ قَرَأَ الْمَأْمُومُ مَعَ الْإِمَامِ آيَةً آيَةً أَيْضًا يَعْنِي إِذَا قَرَأَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ الْمَأْمُومُ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ وَهَكَذَا فَإِذَا وَصَلَ إِلَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ وَقَال آمِينَ مُبَاشَرَةً مَا يَمْضِي الْمَأْمُومُ مِمَّا يَقُولُهَا فَيَقُولُ آمِينَ مَعَهُ ثُمَّ يُعِيدُ وَيُكْمِلُ      

Azan di Telinga Bayi yang Baru Lahir

Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang apa hukum azan di telinga bayi yang baru lahir. Sebagian ulama lagi merinci, yaitu azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri. Ada ulama yang menyatakan bahwa itu disyariatkan dan ada ulama yang menyatakan hal tersebut tidak disyariatkan. Dalam hal ini, kami memegang pendapat ulama yang menyatakan bahwa azan di telinga bayi baru lahir itu tidak disyariatkan. Akan tetapi, kami menyakini bahwa perbedaan pendapat terkait hal ini adalah ikhtilaf mu’tabar. Sehingga kita perlu saling menghormati dan berlapang-lapang terkait hal ini.Berikut sedikit pembahasannya.Perbedaan pendapat ulama terkait hal ini berdasarkan perbedaan menilai derajat hadis mengenai azan di telinga bayi. Ada beberapa hadis yang terkait. Dalam pembahasan singkat ini, kami bawakan satu hadis, yaitu hadis dari sahabat Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ .“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan di telinga Husain bin Ali ketika Fatimah melahirkannya, dengan azan untuk salat.” (HR. Tirmidzi)At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan sahih setelah membawakan hadis tersebut. Sedangkan beberapa ulama lainnya menyatakan hadis tersebut dha’if. Bahkan, riwayat-riwayat mengenai azan di telinga bayi semuanya tidak sampai derajat sahih.Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianIbnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan lemahnya hadis di atas. Beliau rahimahullah berkata,مداره على عاصم بن عبيد الله ، وهو ضعيف“Sebab lemahnya hadis adalah ‘Ashim bin Abdullah. Ia adalah perawi dha’if.” (At-Talkhis Al-Habir, 4: 149)Demikian juga, Syekh Al-Albani rahimahullah yang juga melemahkan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata,فحسنت حديث أبي رافع به في “الإرواء” (4/400/1173) ، والآن وقد طبع – والحمد لله – كتاب البيهقي: “الشعب “، ووقفت فيه على إسناده، وتبين لي شدة ضعفه؛ فقد رجعت عن التحسين المذكور،“Aku pernah menghasankan hadis Abu Rafi’ di dalam kitab Al-Irwa’ (4: 400, 1173). Sekarang, kitab Al-Baihaqi Asy-Syu’b telah dicetak -alhamdulilah-. Aku periksa sanadnya dalam kitab tersebut dan nampak jelas bagiku bahwa hadis tersebut parah kelemahannya. Aku pun menyatakan rujuk dari menghasankan hadis tersebut.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 13: 272)Berikut beberapa pendapat ulama terkait hal ini. Ulama yang menyatakan disyariatkan seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau rahimahullah berkata,“وسر التأذين ـ والله أعلم ـ أن يكون أول ما يقرع سمع الإنسان كلماته المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الإسلام فكان ذلك كالتلقين له شعار الإسلام عند دخوله إلى الدنيا كما يلقن كلمة التوحيد عند خروجه منها“Rahasia (hikmah) azan di telinga bayi adalah agar yang pertama kali terdengar oleh bayi adalah kalimat yang mengandung kebesaran dan keagungan Allah serta kalimat syahadat yang merupakan kalimat yang pertama kali diucapkan ketika masuk Islam. Hal tersebut (azan di telinga bayi) seperti menalqinkan syiar-syiar Islam padanya ketika ia pertama kali masuk ke alam dunia sebagaimana ditalqin juga ketika ia akan keluar dari dunia (wafat).” (Tuhfatul Maulud, hal. 31)Demikian juga An-Nawawi menyatakan hukumnya sunah. Beliau rahimahullah berkata,السنة أن يؤذن في أذن المولود عند ولادته ذكرا كان أو أنثى، ويكون الأذان بلفظ أذان الصلاة، لحديث أبي رافع الذي ذكره المصنف قال جماعة من أصحابنا: يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى، ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى“Termasuk sunah mengazankan bayi yang baru lahir baik itu laki-laki maupun perempuan. Azannya dengan lafaz azan untuk panggilan salat berdasarkan hadis Abu Rafi’ yang disebutkan penulis. Ulama mazhab kami berpendapat disunahkan azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri.” (Al-Majmu‘, 8: 442)Baca Juga: Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag 10): Adzan dan IqamahSyekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menilai disyariatkan hal ini. Beliau rahimahullah berkata,هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن فحسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف وله شواهد“Azan di telinga bayi adalah disyariatkan menurut beberapa ulama. Terdapat beberapa hadis yang membahas hal tersebut, namun pada sanadnya ada pembahasan. Akan tetapi, jika seorang mukmin melakukannya, maka ini adalah kebaikan. Karena hal ini masuk bab sunah dan tathawu’. Hadis tersebut di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khattab. Dan padanya terdapat ke-dha’if-an dan syawahid (penguat).” (sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7045)Yang melarang hal ini adalah semisal Imam Malik rahimahullah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid,وكره مالك أن يؤذَّن في أذن الصبي المولود“Imam Malik membenci azan pada bayi yang baru lahir.” (Lihat Mukhtashar Al-Khalil, 2: 86)Adapun beberapa ulama yang menyatakan tidak disyariatkan ikamah di telinga kiri, adapun azannya adalah sunah, seperti Syekh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin. Beliau rahimahullah berkata,الآذان عند ولادة المولود سنة. وأما الإقامة فحديثه ضعيف فليست بسنة“Azan ketika bayi baru lagi adalah sunah. Adapun ikamah (di telinga kiri), maka hadisnya dhaif dan bukan termasuk sunah.” (Nur ‘Alad Darb, kaset no. 307)Sebagaimana penjelasan di awal, kami cenderung terhadap pendapat yang menyatakan tidak disyariatkan azan di telinga bayi yang baru lahir dengan alasan:Pertama: Hadis-hadis terkait tidak sampai derajat sahih.Kedua: Lebih bebas dari perselisihan ulama. Jika tidak melakukan, maka kita terlepas dari melakukan ibadah yang tidak disyariatkan.Ketiga: Mengingat hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang menyatakan disyariatkannya,الأصل في العبادة التحريم“Hukum asal ibadah adalah haram.”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Cara Sholat Agar Khusyu, Zakat Perhiasan Emas, Sejarah Natal Menurut Islam, Taubat AdalahTags: adzanadzan di telinga bayifikih adzanhikmah adzanKeluargakeutamaankeutamaan adzannasihatnasihat islampanduan adzanrumah tanggasunnah ketika adzansyariat adzan

Azan di Telinga Bayi yang Baru Lahir

Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang apa hukum azan di telinga bayi yang baru lahir. Sebagian ulama lagi merinci, yaitu azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri. Ada ulama yang menyatakan bahwa itu disyariatkan dan ada ulama yang menyatakan hal tersebut tidak disyariatkan. Dalam hal ini, kami memegang pendapat ulama yang menyatakan bahwa azan di telinga bayi baru lahir itu tidak disyariatkan. Akan tetapi, kami menyakini bahwa perbedaan pendapat terkait hal ini adalah ikhtilaf mu’tabar. Sehingga kita perlu saling menghormati dan berlapang-lapang terkait hal ini.Berikut sedikit pembahasannya.Perbedaan pendapat ulama terkait hal ini berdasarkan perbedaan menilai derajat hadis mengenai azan di telinga bayi. Ada beberapa hadis yang terkait. Dalam pembahasan singkat ini, kami bawakan satu hadis, yaitu hadis dari sahabat Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ .“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan di telinga Husain bin Ali ketika Fatimah melahirkannya, dengan azan untuk salat.” (HR. Tirmidzi)At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan sahih setelah membawakan hadis tersebut. Sedangkan beberapa ulama lainnya menyatakan hadis tersebut dha’if. Bahkan, riwayat-riwayat mengenai azan di telinga bayi semuanya tidak sampai derajat sahih.Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianIbnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan lemahnya hadis di atas. Beliau rahimahullah berkata,مداره على عاصم بن عبيد الله ، وهو ضعيف“Sebab lemahnya hadis adalah ‘Ashim bin Abdullah. Ia adalah perawi dha’if.” (At-Talkhis Al-Habir, 4: 149)Demikian juga, Syekh Al-Albani rahimahullah yang juga melemahkan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata,فحسنت حديث أبي رافع به في “الإرواء” (4/400/1173) ، والآن وقد طبع – والحمد لله – كتاب البيهقي: “الشعب “، ووقفت فيه على إسناده، وتبين لي شدة ضعفه؛ فقد رجعت عن التحسين المذكور،“Aku pernah menghasankan hadis Abu Rafi’ di dalam kitab Al-Irwa’ (4: 400, 1173). Sekarang, kitab Al-Baihaqi Asy-Syu’b telah dicetak -alhamdulilah-. Aku periksa sanadnya dalam kitab tersebut dan nampak jelas bagiku bahwa hadis tersebut parah kelemahannya. Aku pun menyatakan rujuk dari menghasankan hadis tersebut.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 13: 272)Berikut beberapa pendapat ulama terkait hal ini. Ulama yang menyatakan disyariatkan seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau rahimahullah berkata,“وسر التأذين ـ والله أعلم ـ أن يكون أول ما يقرع سمع الإنسان كلماته المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الإسلام فكان ذلك كالتلقين له شعار الإسلام عند دخوله إلى الدنيا كما يلقن كلمة التوحيد عند خروجه منها“Rahasia (hikmah) azan di telinga bayi adalah agar yang pertama kali terdengar oleh bayi adalah kalimat yang mengandung kebesaran dan keagungan Allah serta kalimat syahadat yang merupakan kalimat yang pertama kali diucapkan ketika masuk Islam. Hal tersebut (azan di telinga bayi) seperti menalqinkan syiar-syiar Islam padanya ketika ia pertama kali masuk ke alam dunia sebagaimana ditalqin juga ketika ia akan keluar dari dunia (wafat).” (Tuhfatul Maulud, hal. 31)Demikian juga An-Nawawi menyatakan hukumnya sunah. Beliau rahimahullah berkata,السنة أن يؤذن في أذن المولود عند ولادته ذكرا كان أو أنثى، ويكون الأذان بلفظ أذان الصلاة، لحديث أبي رافع الذي ذكره المصنف قال جماعة من أصحابنا: يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى، ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى“Termasuk sunah mengazankan bayi yang baru lahir baik itu laki-laki maupun perempuan. Azannya dengan lafaz azan untuk panggilan salat berdasarkan hadis Abu Rafi’ yang disebutkan penulis. Ulama mazhab kami berpendapat disunahkan azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri.” (Al-Majmu‘, 8: 442)Baca Juga: Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag 10): Adzan dan IqamahSyekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menilai disyariatkan hal ini. Beliau rahimahullah berkata,هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن فحسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف وله شواهد“Azan di telinga bayi adalah disyariatkan menurut beberapa ulama. Terdapat beberapa hadis yang membahas hal tersebut, namun pada sanadnya ada pembahasan. Akan tetapi, jika seorang mukmin melakukannya, maka ini adalah kebaikan. Karena hal ini masuk bab sunah dan tathawu’. Hadis tersebut di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khattab. Dan padanya terdapat ke-dha’if-an dan syawahid (penguat).” (sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7045)Yang melarang hal ini adalah semisal Imam Malik rahimahullah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid,وكره مالك أن يؤذَّن في أذن الصبي المولود“Imam Malik membenci azan pada bayi yang baru lahir.” (Lihat Mukhtashar Al-Khalil, 2: 86)Adapun beberapa ulama yang menyatakan tidak disyariatkan ikamah di telinga kiri, adapun azannya adalah sunah, seperti Syekh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin. Beliau rahimahullah berkata,الآذان عند ولادة المولود سنة. وأما الإقامة فحديثه ضعيف فليست بسنة“Azan ketika bayi baru lagi adalah sunah. Adapun ikamah (di telinga kiri), maka hadisnya dhaif dan bukan termasuk sunah.” (Nur ‘Alad Darb, kaset no. 307)Sebagaimana penjelasan di awal, kami cenderung terhadap pendapat yang menyatakan tidak disyariatkan azan di telinga bayi yang baru lahir dengan alasan:Pertama: Hadis-hadis terkait tidak sampai derajat sahih.Kedua: Lebih bebas dari perselisihan ulama. Jika tidak melakukan, maka kita terlepas dari melakukan ibadah yang tidak disyariatkan.Ketiga: Mengingat hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang menyatakan disyariatkannya,الأصل في العبادة التحريم“Hukum asal ibadah adalah haram.”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Cara Sholat Agar Khusyu, Zakat Perhiasan Emas, Sejarah Natal Menurut Islam, Taubat AdalahTags: adzanadzan di telinga bayifikih adzanhikmah adzanKeluargakeutamaankeutamaan adzannasihatnasihat islampanduan adzanrumah tanggasunnah ketika adzansyariat adzan
Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang apa hukum azan di telinga bayi yang baru lahir. Sebagian ulama lagi merinci, yaitu azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri. Ada ulama yang menyatakan bahwa itu disyariatkan dan ada ulama yang menyatakan hal tersebut tidak disyariatkan. Dalam hal ini, kami memegang pendapat ulama yang menyatakan bahwa azan di telinga bayi baru lahir itu tidak disyariatkan. Akan tetapi, kami menyakini bahwa perbedaan pendapat terkait hal ini adalah ikhtilaf mu’tabar. Sehingga kita perlu saling menghormati dan berlapang-lapang terkait hal ini.Berikut sedikit pembahasannya.Perbedaan pendapat ulama terkait hal ini berdasarkan perbedaan menilai derajat hadis mengenai azan di telinga bayi. Ada beberapa hadis yang terkait. Dalam pembahasan singkat ini, kami bawakan satu hadis, yaitu hadis dari sahabat Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ .“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan di telinga Husain bin Ali ketika Fatimah melahirkannya, dengan azan untuk salat.” (HR. Tirmidzi)At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan sahih setelah membawakan hadis tersebut. Sedangkan beberapa ulama lainnya menyatakan hadis tersebut dha’if. Bahkan, riwayat-riwayat mengenai azan di telinga bayi semuanya tidak sampai derajat sahih.Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianIbnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan lemahnya hadis di atas. Beliau rahimahullah berkata,مداره على عاصم بن عبيد الله ، وهو ضعيف“Sebab lemahnya hadis adalah ‘Ashim bin Abdullah. Ia adalah perawi dha’if.” (At-Talkhis Al-Habir, 4: 149)Demikian juga, Syekh Al-Albani rahimahullah yang juga melemahkan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata,فحسنت حديث أبي رافع به في “الإرواء” (4/400/1173) ، والآن وقد طبع – والحمد لله – كتاب البيهقي: “الشعب “، ووقفت فيه على إسناده، وتبين لي شدة ضعفه؛ فقد رجعت عن التحسين المذكور،“Aku pernah menghasankan hadis Abu Rafi’ di dalam kitab Al-Irwa’ (4: 400, 1173). Sekarang, kitab Al-Baihaqi Asy-Syu’b telah dicetak -alhamdulilah-. Aku periksa sanadnya dalam kitab tersebut dan nampak jelas bagiku bahwa hadis tersebut parah kelemahannya. Aku pun menyatakan rujuk dari menghasankan hadis tersebut.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 13: 272)Berikut beberapa pendapat ulama terkait hal ini. Ulama yang menyatakan disyariatkan seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau rahimahullah berkata,“وسر التأذين ـ والله أعلم ـ أن يكون أول ما يقرع سمع الإنسان كلماته المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الإسلام فكان ذلك كالتلقين له شعار الإسلام عند دخوله إلى الدنيا كما يلقن كلمة التوحيد عند خروجه منها“Rahasia (hikmah) azan di telinga bayi adalah agar yang pertama kali terdengar oleh bayi adalah kalimat yang mengandung kebesaran dan keagungan Allah serta kalimat syahadat yang merupakan kalimat yang pertama kali diucapkan ketika masuk Islam. Hal tersebut (azan di telinga bayi) seperti menalqinkan syiar-syiar Islam padanya ketika ia pertama kali masuk ke alam dunia sebagaimana ditalqin juga ketika ia akan keluar dari dunia (wafat).” (Tuhfatul Maulud, hal. 31)Demikian juga An-Nawawi menyatakan hukumnya sunah. Beliau rahimahullah berkata,السنة أن يؤذن في أذن المولود عند ولادته ذكرا كان أو أنثى، ويكون الأذان بلفظ أذان الصلاة، لحديث أبي رافع الذي ذكره المصنف قال جماعة من أصحابنا: يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى، ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى“Termasuk sunah mengazankan bayi yang baru lahir baik itu laki-laki maupun perempuan. Azannya dengan lafaz azan untuk panggilan salat berdasarkan hadis Abu Rafi’ yang disebutkan penulis. Ulama mazhab kami berpendapat disunahkan azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri.” (Al-Majmu‘, 8: 442)Baca Juga: Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag 10): Adzan dan IqamahSyekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menilai disyariatkan hal ini. Beliau rahimahullah berkata,هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن فحسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف وله شواهد“Azan di telinga bayi adalah disyariatkan menurut beberapa ulama. Terdapat beberapa hadis yang membahas hal tersebut, namun pada sanadnya ada pembahasan. Akan tetapi, jika seorang mukmin melakukannya, maka ini adalah kebaikan. Karena hal ini masuk bab sunah dan tathawu’. Hadis tersebut di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khattab. Dan padanya terdapat ke-dha’if-an dan syawahid (penguat).” (sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7045)Yang melarang hal ini adalah semisal Imam Malik rahimahullah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid,وكره مالك أن يؤذَّن في أذن الصبي المولود“Imam Malik membenci azan pada bayi yang baru lahir.” (Lihat Mukhtashar Al-Khalil, 2: 86)Adapun beberapa ulama yang menyatakan tidak disyariatkan ikamah di telinga kiri, adapun azannya adalah sunah, seperti Syekh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin. Beliau rahimahullah berkata,الآذان عند ولادة المولود سنة. وأما الإقامة فحديثه ضعيف فليست بسنة“Azan ketika bayi baru lagi adalah sunah. Adapun ikamah (di telinga kiri), maka hadisnya dhaif dan bukan termasuk sunah.” (Nur ‘Alad Darb, kaset no. 307)Sebagaimana penjelasan di awal, kami cenderung terhadap pendapat yang menyatakan tidak disyariatkan azan di telinga bayi yang baru lahir dengan alasan:Pertama: Hadis-hadis terkait tidak sampai derajat sahih.Kedua: Lebih bebas dari perselisihan ulama. Jika tidak melakukan, maka kita terlepas dari melakukan ibadah yang tidak disyariatkan.Ketiga: Mengingat hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang menyatakan disyariatkannya,الأصل في العبادة التحريم“Hukum asal ibadah adalah haram.”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Cara Sholat Agar Khusyu, Zakat Perhiasan Emas, Sejarah Natal Menurut Islam, Taubat AdalahTags: adzanadzan di telinga bayifikih adzanhikmah adzanKeluargakeutamaankeutamaan adzannasihatnasihat islampanduan adzanrumah tanggasunnah ketika adzansyariat adzan


Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang apa hukum azan di telinga bayi yang baru lahir. Sebagian ulama lagi merinci, yaitu azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri. Ada ulama yang menyatakan bahwa itu disyariatkan dan ada ulama yang menyatakan hal tersebut tidak disyariatkan. Dalam hal ini, kami memegang pendapat ulama yang menyatakan bahwa azan di telinga bayi baru lahir itu tidak disyariatkan. Akan tetapi, kami menyakini bahwa perbedaan pendapat terkait hal ini adalah ikhtilaf mu’tabar. Sehingga kita perlu saling menghormati dan berlapang-lapang terkait hal ini.Berikut sedikit pembahasannya.Perbedaan pendapat ulama terkait hal ini berdasarkan perbedaan menilai derajat hadis mengenai azan di telinga bayi. Ada beberapa hadis yang terkait. Dalam pembahasan singkat ini, kami bawakan satu hadis, yaitu hadis dari sahabat Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ .“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan di telinga Husain bin Ali ketika Fatimah melahirkannya, dengan azan untuk salat.” (HR. Tirmidzi)At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadis ini hasan sahih setelah membawakan hadis tersebut. Sedangkan beberapa ulama lainnya menyatakan hadis tersebut dha’if. Bahkan, riwayat-riwayat mengenai azan di telinga bayi semuanya tidak sampai derajat sahih.Baca Juga: Hukum Adzan dan Iqamah untuk Orang yang Shalat SendirianIbnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan lemahnya hadis di atas. Beliau rahimahullah berkata,مداره على عاصم بن عبيد الله ، وهو ضعيف“Sebab lemahnya hadis adalah ‘Ashim bin Abdullah. Ia adalah perawi dha’if.” (At-Talkhis Al-Habir, 4: 149)Demikian juga, Syekh Al-Albani rahimahullah yang juga melemahkan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata,فحسنت حديث أبي رافع به في “الإرواء” (4/400/1173) ، والآن وقد طبع – والحمد لله – كتاب البيهقي: “الشعب “، ووقفت فيه على إسناده، وتبين لي شدة ضعفه؛ فقد رجعت عن التحسين المذكور،“Aku pernah menghasankan hadis Abu Rafi’ di dalam kitab Al-Irwa’ (4: 400, 1173). Sekarang, kitab Al-Baihaqi Asy-Syu’b telah dicetak -alhamdulilah-. Aku periksa sanadnya dalam kitab tersebut dan nampak jelas bagiku bahwa hadis tersebut parah kelemahannya. Aku pun menyatakan rujuk dari menghasankan hadis tersebut.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 13: 272)Berikut beberapa pendapat ulama terkait hal ini. Ulama yang menyatakan disyariatkan seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau rahimahullah berkata,“وسر التأذين ـ والله أعلم ـ أن يكون أول ما يقرع سمع الإنسان كلماته المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الإسلام فكان ذلك كالتلقين له شعار الإسلام عند دخوله إلى الدنيا كما يلقن كلمة التوحيد عند خروجه منها“Rahasia (hikmah) azan di telinga bayi adalah agar yang pertama kali terdengar oleh bayi adalah kalimat yang mengandung kebesaran dan keagungan Allah serta kalimat syahadat yang merupakan kalimat yang pertama kali diucapkan ketika masuk Islam. Hal tersebut (azan di telinga bayi) seperti menalqinkan syiar-syiar Islam padanya ketika ia pertama kali masuk ke alam dunia sebagaimana ditalqin juga ketika ia akan keluar dari dunia (wafat).” (Tuhfatul Maulud, hal. 31)Demikian juga An-Nawawi menyatakan hukumnya sunah. Beliau rahimahullah berkata,السنة أن يؤذن في أذن المولود عند ولادته ذكرا كان أو أنثى، ويكون الأذان بلفظ أذان الصلاة، لحديث أبي رافع الذي ذكره المصنف قال جماعة من أصحابنا: يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى، ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى“Termasuk sunah mengazankan bayi yang baru lahir baik itu laki-laki maupun perempuan. Azannya dengan lafaz azan untuk panggilan salat berdasarkan hadis Abu Rafi’ yang disebutkan penulis. Ulama mazhab kami berpendapat disunahkan azan di telinga kanan dan ikamah di telinga kiri.” (Al-Majmu‘, 8: 442)Baca Juga: Menuju Kesempurnaan Ibadah Shalat (Bag 10): Adzan dan IqamahSyekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menilai disyariatkan hal ini. Beliau rahimahullah berkata,هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن فحسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات، والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف وله شواهد“Azan di telinga bayi adalah disyariatkan menurut beberapa ulama. Terdapat beberapa hadis yang membahas hal tersebut, namun pada sanadnya ada pembahasan. Akan tetapi, jika seorang mukmin melakukannya, maka ini adalah kebaikan. Karena hal ini masuk bab sunah dan tathawu’. Hadis tersebut di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khattab. Dan padanya terdapat ke-dha’if-an dan syawahid (penguat).” (sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7045)Yang melarang hal ini adalah semisal Imam Malik rahimahullah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid,وكره مالك أن يؤذَّن في أذن الصبي المولود“Imam Malik membenci azan pada bayi yang baru lahir.” (Lihat Mukhtashar Al-Khalil, 2: 86)Adapun beberapa ulama yang menyatakan tidak disyariatkan ikamah di telinga kiri, adapun azannya adalah sunah, seperti Syekh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin. Beliau rahimahullah berkata,الآذان عند ولادة المولود سنة. وأما الإقامة فحديثه ضعيف فليست بسنة“Azan ketika bayi baru lagi adalah sunah. Adapun ikamah (di telinga kiri), maka hadisnya dhaif dan bukan termasuk sunah.” (Nur ‘Alad Darb, kaset no. 307)Sebagaimana penjelasan di awal, kami cenderung terhadap pendapat yang menyatakan tidak disyariatkan azan di telinga bayi yang baru lahir dengan alasan:Pertama: Hadis-hadis terkait tidak sampai derajat sahih.Kedua: Lebih bebas dari perselisihan ulama. Jika tidak melakukan, maka kita terlepas dari melakukan ibadah yang tidak disyariatkan.Ketiga: Mengingat hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang menyatakan disyariatkannya,الأصل في العبادة التحريم“Hukum asal ibadah adalah haram.”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Berdoa Antara Adzan dan IqamahLarangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Cara Sholat Agar Khusyu, Zakat Perhiasan Emas, Sejarah Natal Menurut Islam, Taubat AdalahTags: adzanadzan di telinga bayifikih adzanhikmah adzanKeluargakeutamaankeutamaan adzannasihatnasihat islampanduan adzanrumah tanggasunnah ketika adzansyariat adzan

Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Jika ada yang bertanya kepada Anda, “Bagaimana cara menghitung dengan jari-jari ketika bertasbih?” Siapa yang menjawab? Bagaimana menghitungnya? Bagaimana menghitung dengan jari-jari? Silakan. Anda katakan begini? Bagaimana? Itu menggenggam (ʿaqdun) atau mengulurkan (hallun)? Mengulurkan. Jadi, jawaban Anda bukan mengulurkan. Al-ʿAqdu (menggenggam) adalah melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Ini yang disebut al-ʿAqdu (menggenggam), sambil Anda mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, kemudian Anda mengulurkannya sambil mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, sampai Anda menyelesaikan hitungannya. Inilah sunah Nabi, ini yang disebut dengan al-ʿAqdu (menggenggam). Jika seorang hamba mengombinasikan antara menggenggam dan mengulurkan, bagaimanapun caranya, maka hal itu diperbolehkan. Begitu juga jika dia hanya menghitung dengan lipatan-lipatan jari, melakukan itu sambil mengatakan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Seperti ini juga boleh. Intinya bahwa sunah Nabi adalah al-ʿAqdu (dengan menggenggam), yaitu dengan melipat atau menekuk jari ke telapak bagian dalam. ====================================================================================================== يَقُولُ لَكَ مَا هِيَ صِفَةُ عَقْدِ الْأَصَابِعِ عِنْدَ التَّسْبِيحِ؟ مَنْ يُجِيبُ؟ كَيْفَ الْعَقْدُ؟ كَيْفَ عَقْدُ الْأَصَابِعِ؟ نَعَمْ أَنْتَ قُلْتَ هَكَذَا هَا؟ هَذَا عَقْدٌ أَمْ حَلٌّ؟ حَلٌّ فَجَوَابُكَ لَيْسَ حَلًّا نَعَمْ الْعَقْدُ هُوَ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ هَذَا يُسَمَّى عَقْدًا فَتَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ تَحُلُّهَا ثُمَّ تَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ حَتَّى تَتِمُّ بِذَلِكَ هَذَا هُوَ السُّنَّةُ هَذَا الَّذِي يُسَمَّى عَقْدًا فَإِنْ جَمَعَ الْعَبْدُ بَيْنَ الْعَقْدِ وَالْحَلِّ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ ذَلِكَ جَائِزًا وَكَذَا لَوْ أَنَّهُ اقْتَصَرَ عَلَى مَثَانِي الْأَصَابِعِ فَفَعَلَ هَكَذَا قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ فَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا وَالْمَقْصُودُ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْعَقْدُ بِرَدِّ الْإِصْبَعِ وَثَنْيِهِ إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ

Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Jika ada yang bertanya kepada Anda, “Bagaimana cara menghitung dengan jari-jari ketika bertasbih?” Siapa yang menjawab? Bagaimana menghitungnya? Bagaimana menghitung dengan jari-jari? Silakan. Anda katakan begini? Bagaimana? Itu menggenggam (ʿaqdun) atau mengulurkan (hallun)? Mengulurkan. Jadi, jawaban Anda bukan mengulurkan. Al-ʿAqdu (menggenggam) adalah melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Ini yang disebut al-ʿAqdu (menggenggam), sambil Anda mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, kemudian Anda mengulurkannya sambil mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, sampai Anda menyelesaikan hitungannya. Inilah sunah Nabi, ini yang disebut dengan al-ʿAqdu (menggenggam). Jika seorang hamba mengombinasikan antara menggenggam dan mengulurkan, bagaimanapun caranya, maka hal itu diperbolehkan. Begitu juga jika dia hanya menghitung dengan lipatan-lipatan jari, melakukan itu sambil mengatakan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Seperti ini juga boleh. Intinya bahwa sunah Nabi adalah al-ʿAqdu (dengan menggenggam), yaitu dengan melipat atau menekuk jari ke telapak bagian dalam. ====================================================================================================== يَقُولُ لَكَ مَا هِيَ صِفَةُ عَقْدِ الْأَصَابِعِ عِنْدَ التَّسْبِيحِ؟ مَنْ يُجِيبُ؟ كَيْفَ الْعَقْدُ؟ كَيْفَ عَقْدُ الْأَصَابِعِ؟ نَعَمْ أَنْتَ قُلْتَ هَكَذَا هَا؟ هَذَا عَقْدٌ أَمْ حَلٌّ؟ حَلٌّ فَجَوَابُكَ لَيْسَ حَلًّا نَعَمْ الْعَقْدُ هُوَ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ هَذَا يُسَمَّى عَقْدًا فَتَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ تَحُلُّهَا ثُمَّ تَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ حَتَّى تَتِمُّ بِذَلِكَ هَذَا هُوَ السُّنَّةُ هَذَا الَّذِي يُسَمَّى عَقْدًا فَإِنْ جَمَعَ الْعَبْدُ بَيْنَ الْعَقْدِ وَالْحَلِّ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ ذَلِكَ جَائِزًا وَكَذَا لَوْ أَنَّهُ اقْتَصَرَ عَلَى مَثَانِي الْأَصَابِعِ فَفَعَلَ هَكَذَا قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ فَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا وَالْمَقْصُودُ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْعَقْدُ بِرَدِّ الْإِصْبَعِ وَثَنْيِهِ إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ
Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Jika ada yang bertanya kepada Anda, “Bagaimana cara menghitung dengan jari-jari ketika bertasbih?” Siapa yang menjawab? Bagaimana menghitungnya? Bagaimana menghitung dengan jari-jari? Silakan. Anda katakan begini? Bagaimana? Itu menggenggam (ʿaqdun) atau mengulurkan (hallun)? Mengulurkan. Jadi, jawaban Anda bukan mengulurkan. Al-ʿAqdu (menggenggam) adalah melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Ini yang disebut al-ʿAqdu (menggenggam), sambil Anda mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, kemudian Anda mengulurkannya sambil mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, sampai Anda menyelesaikan hitungannya. Inilah sunah Nabi, ini yang disebut dengan al-ʿAqdu (menggenggam). Jika seorang hamba mengombinasikan antara menggenggam dan mengulurkan, bagaimanapun caranya, maka hal itu diperbolehkan. Begitu juga jika dia hanya menghitung dengan lipatan-lipatan jari, melakukan itu sambil mengatakan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Seperti ini juga boleh. Intinya bahwa sunah Nabi adalah al-ʿAqdu (dengan menggenggam), yaitu dengan melipat atau menekuk jari ke telapak bagian dalam. ====================================================================================================== يَقُولُ لَكَ مَا هِيَ صِفَةُ عَقْدِ الْأَصَابِعِ عِنْدَ التَّسْبِيحِ؟ مَنْ يُجِيبُ؟ كَيْفَ الْعَقْدُ؟ كَيْفَ عَقْدُ الْأَصَابِعِ؟ نَعَمْ أَنْتَ قُلْتَ هَكَذَا هَا؟ هَذَا عَقْدٌ أَمْ حَلٌّ؟ حَلٌّ فَجَوَابُكَ لَيْسَ حَلًّا نَعَمْ الْعَقْدُ هُوَ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ هَذَا يُسَمَّى عَقْدًا فَتَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ تَحُلُّهَا ثُمَّ تَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ حَتَّى تَتِمُّ بِذَلِكَ هَذَا هُوَ السُّنَّةُ هَذَا الَّذِي يُسَمَّى عَقْدًا فَإِنْ جَمَعَ الْعَبْدُ بَيْنَ الْعَقْدِ وَالْحَلِّ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ ذَلِكَ جَائِزًا وَكَذَا لَوْ أَنَّهُ اقْتَصَرَ عَلَى مَثَانِي الْأَصَابِعِ فَفَعَلَ هَكَذَا قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ فَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا وَالْمَقْصُودُ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْعَقْدُ بِرَدِّ الْإِصْبَعِ وَثَنْيِهِ إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ


Cara Menghitung Zikir Sesuai Sunnah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Jika ada yang bertanya kepada Anda, “Bagaimana cara menghitung dengan jari-jari ketika bertasbih?” Siapa yang menjawab? Bagaimana menghitungnya? Bagaimana menghitung dengan jari-jari? Silakan. Anda katakan begini? Bagaimana? Itu menggenggam (ʿaqdun) atau mengulurkan (hallun)? Mengulurkan. Jadi, jawaban Anda bukan mengulurkan. Al-ʿAqdu (menggenggam) adalah melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Melipat jari ke telapak tangan bagian dalam. Ini yang disebut al-ʿAqdu (menggenggam), sambil Anda mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, kemudian Anda mengulurkannya sambil mengucapkan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar, sampai Anda menyelesaikan hitungannya. Inilah sunah Nabi, ini yang disebut dengan al-ʿAqdu (menggenggam). Jika seorang hamba mengombinasikan antara menggenggam dan mengulurkan, bagaimanapun caranya, maka hal itu diperbolehkan. Begitu juga jika dia hanya menghitung dengan lipatan-lipatan jari, melakukan itu sambil mengatakan: Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Subẖānallāh wal ẖamdulillāh wallāhu akbar. Seperti ini juga boleh. Intinya bahwa sunah Nabi adalah al-ʿAqdu (dengan menggenggam), yaitu dengan melipat atau menekuk jari ke telapak bagian dalam. ====================================================================================================== يَقُولُ لَكَ مَا هِيَ صِفَةُ عَقْدِ الْأَصَابِعِ عِنْدَ التَّسْبِيحِ؟ مَنْ يُجِيبُ؟ كَيْفَ الْعَقْدُ؟ كَيْفَ عَقْدُ الْأَصَابِعِ؟ نَعَمْ أَنْتَ قُلْتَ هَكَذَا هَا؟ هَذَا عَقْدٌ أَمْ حَلٌّ؟ حَلٌّ فَجَوَابُكَ لَيْسَ حَلًّا نَعَمْ الْعَقْدُ هُوَ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ ثَنْيُ الْإِصْبَعِ إِلَى بَاطِنِ الْيَدِ هَذَا يُسَمَّى عَقْدًا فَتَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ثُمَّ تَحُلُّهَا ثُمَّ تَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ حَتَّى تَتِمُّ بِذَلِكَ هَذَا هُوَ السُّنَّةُ هَذَا الَّذِي يُسَمَّى عَقْدًا فَإِنْ جَمَعَ الْعَبْدُ بَيْنَ الْعَقْدِ وَالْحَلِّ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ ذَلِكَ جَائِزًا وَكَذَا لَوْ أَنَّهُ اقْتَصَرَ عَلَى مَثَانِي الْأَصَابِعِ فَفَعَلَ هَكَذَا قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ فَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا وَالْمَقْصُودُ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْعَقْدُ بِرَدِّ الْإِصْبَعِ وَثَنْيِهِ إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ

Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Pertanyaan: “Apa hikmah di balik gugurnya kewajiban Shalat Jum’at bagi musafir, di lain sisi kewajiban shalat jamaah tidak gugur darinya?” Seorang musafir, gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur juga darinya kewajiban puasa, dan ia boleh menjamak dua shalat sekaligus, serta boleh meng-qasar shalat (shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat). Semua ini untuk memberi kemudahan bagi musafir. Adapun pendapat tidak gugurnya kewajiban shalat jamaah darinya, maka jika ia berkelompok, yakni ada para musafir lain yang pergi bersamanya, maka wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah. Sedangkan jika ia melakukan safar sendirian, maka tidak wajib baginya shalat berjamaah. Sebagaimana gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur pula kewajiban shalat berjamaah darinya. Wallahu a’lam. ====================================================================================================== مَا الْحِكْمَةُ مِنْ سُقُوطِ الْجُمُعَةِ لِلْمُسَافِر وَعَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ؟ الْمُسَافِرُ تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ الصَّوْمُ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ وَيَقْصُرُ الصَّلَاةَ كُلَّهَا مِنْ بَابِ التَّخْفِيفِ عَلَى الْمُسَافِرِ أَمَّا قَوْلُ عَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً يَعْنِي كَانَ مَعَهُ آخَرُوْنَ مُسَافِرُونَ مَعَهُ فَهَذَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ أَمَّا إِذَا سَافَرَ وَحْدَهُ فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ كَمَا تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ تَسْقُطُ عَنْهُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ وَاللهُ أَعْلَمُ

Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Pertanyaan: “Apa hikmah di balik gugurnya kewajiban Shalat Jum’at bagi musafir, di lain sisi kewajiban shalat jamaah tidak gugur darinya?” Seorang musafir, gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur juga darinya kewajiban puasa, dan ia boleh menjamak dua shalat sekaligus, serta boleh meng-qasar shalat (shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat). Semua ini untuk memberi kemudahan bagi musafir. Adapun pendapat tidak gugurnya kewajiban shalat jamaah darinya, maka jika ia berkelompok, yakni ada para musafir lain yang pergi bersamanya, maka wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah. Sedangkan jika ia melakukan safar sendirian, maka tidak wajib baginya shalat berjamaah. Sebagaimana gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur pula kewajiban shalat berjamaah darinya. Wallahu a’lam. ====================================================================================================== مَا الْحِكْمَةُ مِنْ سُقُوطِ الْجُمُعَةِ لِلْمُسَافِر وَعَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ؟ الْمُسَافِرُ تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ الصَّوْمُ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ وَيَقْصُرُ الصَّلَاةَ كُلَّهَا مِنْ بَابِ التَّخْفِيفِ عَلَى الْمُسَافِرِ أَمَّا قَوْلُ عَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً يَعْنِي كَانَ مَعَهُ آخَرُوْنَ مُسَافِرُونَ مَعَهُ فَهَذَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ أَمَّا إِذَا سَافَرَ وَحْدَهُ فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ كَمَا تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ تَسْقُطُ عَنْهُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ وَاللهُ أَعْلَمُ
Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Pertanyaan: “Apa hikmah di balik gugurnya kewajiban Shalat Jum’at bagi musafir, di lain sisi kewajiban shalat jamaah tidak gugur darinya?” Seorang musafir, gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur juga darinya kewajiban puasa, dan ia boleh menjamak dua shalat sekaligus, serta boleh meng-qasar shalat (shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat). Semua ini untuk memberi kemudahan bagi musafir. Adapun pendapat tidak gugurnya kewajiban shalat jamaah darinya, maka jika ia berkelompok, yakni ada para musafir lain yang pergi bersamanya, maka wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah. Sedangkan jika ia melakukan safar sendirian, maka tidak wajib baginya shalat berjamaah. Sebagaimana gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur pula kewajiban shalat berjamaah darinya. Wallahu a’lam. ====================================================================================================== مَا الْحِكْمَةُ مِنْ سُقُوطِ الْجُمُعَةِ لِلْمُسَافِر وَعَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ؟ الْمُسَافِرُ تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ الصَّوْمُ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ وَيَقْصُرُ الصَّلَاةَ كُلَّهَا مِنْ بَابِ التَّخْفِيفِ عَلَى الْمُسَافِرِ أَمَّا قَوْلُ عَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً يَعْنِي كَانَ مَعَهُ آخَرُوْنَ مُسَافِرُونَ مَعَهُ فَهَذَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ أَمَّا إِذَا سَافَرَ وَحْدَهُ فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ كَمَا تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ تَسْقُطُ عَنْهُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ وَاللهُ أَعْلَمُ


Musafir Wajibkah Shalat Berjamaah? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Pertanyaan: “Apa hikmah di balik gugurnya kewajiban Shalat Jum’at bagi musafir, di lain sisi kewajiban shalat jamaah tidak gugur darinya?” Seorang musafir, gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur juga darinya kewajiban puasa, dan ia boleh menjamak dua shalat sekaligus, serta boleh meng-qasar shalat (shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat). Semua ini untuk memberi kemudahan bagi musafir. Adapun pendapat tidak gugurnya kewajiban shalat jamaah darinya, maka jika ia berkelompok, yakni ada para musafir lain yang pergi bersamanya, maka wajib bagi mereka untuk shalat berjamaah. Sedangkan jika ia melakukan safar sendirian, maka tidak wajib baginya shalat berjamaah. Sebagaimana gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at, gugur pula kewajiban shalat berjamaah darinya. Wallahu a’lam. ====================================================================================================== مَا الْحِكْمَةُ مِنْ سُقُوطِ الْجُمُعَةِ لِلْمُسَافِر وَعَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ؟ الْمُسَافِرُ تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ الصَّوْمُ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ وَيَقْصُرُ الصَّلَاةَ كُلَّهَا مِنْ بَابِ التَّخْفِيفِ عَلَى الْمُسَافِرِ أَمَّا قَوْلُ عَدَمِ سُقُوطِ الْجَمَاعَةِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً يَعْنِي كَانَ مَعَهُ آخَرُوْنَ مُسَافِرُونَ مَعَهُ فَهَذَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ أَمَّا إِذَا سَافَرَ وَحْدَهُ فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِمُ الْجَمَاعَةُ كَمَا تَسْقُطُ عَنْهُ الْجُمُعَةُ تَسْقُطُ عَنْهُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ وَاللهُ أَعْلَمُ

Perbanyak Zikir di Waktu Utama

Bismillah.Musim-musim terbaik untuk beramal di antaranya adalah 10 hari pertama Zulhijah. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر فقالوا يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء“Tidak ada amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini (yaitu 10 hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga tidak bisa mengalahkan keutamaan beramal pada hari-hari itu?” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali bagi orang yang berangkat jihad dengan membawa jiwanya dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirDalam riwayat Bukhari, hadis ini dibawakan dengan redaksi,ما العَمَلُ في أيَّامٍ أفْضَلَ منها في هذه قالوا ولا الجِهادُ؟ قالَ ولا الجِهادُ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخاطِرُ بنَفْسِه ومالِه، فلَمْ يَرْجِعْ بشَيءٍ“Tidak ada amal yang lebih utama daripada beramal pada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah jihad (di waktu lain) juga kalah keutamaannya dengan beramal pada hari-hari itu?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali bagi orang yang berangkat perang dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa-apa/alias meninggal dalam keadaan syahid dan hartanya habis.”Hadis ini menunjukkan kepada kita betapa besar keutamaan amal saleh yang dilakukan pada hari-hari di antara 10 hari pertama bulan Zulhijah. Sebagaimana kita ketahui, di bulan itulah ditunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Sebagaimana juga disyariatkan ibadah kurban dan salat Iduladha. Sebagaimana juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Zulhijah atau puasa Arafah. Selain itu, secara umum beramal pada sepuluh hari itu sejak tanggal 1 Zulhijah sampai 10 Zulhijah merupakan amal-amal yang paling utama.Sungguh, ini merupakan nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada umat ini, kalaulah mereka mau menyadarinya. Sebagaimana kaum muslimin bersemangat untuk mengejar keutamaan Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, maka sudah semestinya mereka pun bersemangat untuk menabung pahala kebaikan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah.Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atKeutamaan zikirMu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari azab Allah, selain berzikir kepada Allah.” (lihat Sunan Tirmidzi tahqiq Syekh Ahmad Syakir, 5: 459)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu (zikir) adalah ruh dalam amal-amal saleh. Apabila suatu amal tidak disertai dengan zikir, maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij As-Salikin, 2: 441)Berzikir kepada Allah merupakan jalan untuk meraih kehidupan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari) (lihat Al-‘Ibadat Al-Qalbiyah, hal. 49)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu, zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala merupakan hakikat kehidupan hati. Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat Fawa’id Adz-Dzikri Wa Tsamaratuhu, hal. 16)Zikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Suatu saat, ada seorang lelaki yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.” Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan zikir.” (lihat Tazkiyatun Nufus Wa Tarbiyatuha oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya zikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi, dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah zikirnya kepada Allah, niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat At-Taudhih Wa Al-Bayan Li Syajarat Al-Iman, hal. 57)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak di antara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan zikir pada masa-masa permulaan daripada membaca (ilmu). Karena zikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan Al-Qur’an memberikan pasokan ilmu. Namun, terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada pasokan ilmu dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya jauh lebih utama dengan kesepakatan (para ulama).” (lihat Qawa’id Wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 202)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi zikir dan begitu besar faedah darinya. Sebab, zikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah telah memerintahkan berzikir di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar, 1: 11)Tsabit Al-Bunani rahimahullah berkata, “Apakah susahnya bagi salah seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap harinya untuk berzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 346)‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah rahimahullah berkata, “Majelis-majelis zikir adalah obat bagi hati.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)‘Atha’ bin Maisarah Al-Khurasani rahimahullah mengatakan, “Majelis-majelis zikir adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram (majelis ilmu, pent).” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)Makhul rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan zikir kepada Allah, niscaya pada pagi harinya dia akan berada dalam keadaan suci seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat al-Auliya’, hal. 347)Semoga kumpulan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Barakallahu` fiikum.Baca Juga:Dzikir-Dzikir Yang Shahih Setelah Shalat (Bag.2)Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Kemewahan Dunia, Jimak Islam, Bacaan Ibadah Umroh, Jadwal Kajian Masjid IstiqlalTags: doa dan dzikirDzikirdzikir sesuai sunnahfikih dzikirkeutamaan dzikirnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikirwaktu dzikir

Perbanyak Zikir di Waktu Utama

Bismillah.Musim-musim terbaik untuk beramal di antaranya adalah 10 hari pertama Zulhijah. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر فقالوا يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء“Tidak ada amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini (yaitu 10 hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga tidak bisa mengalahkan keutamaan beramal pada hari-hari itu?” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali bagi orang yang berangkat jihad dengan membawa jiwanya dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirDalam riwayat Bukhari, hadis ini dibawakan dengan redaksi,ما العَمَلُ في أيَّامٍ أفْضَلَ منها في هذه قالوا ولا الجِهادُ؟ قالَ ولا الجِهادُ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخاطِرُ بنَفْسِه ومالِه، فلَمْ يَرْجِعْ بشَيءٍ“Tidak ada amal yang lebih utama daripada beramal pada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah jihad (di waktu lain) juga kalah keutamaannya dengan beramal pada hari-hari itu?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali bagi orang yang berangkat perang dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa-apa/alias meninggal dalam keadaan syahid dan hartanya habis.”Hadis ini menunjukkan kepada kita betapa besar keutamaan amal saleh yang dilakukan pada hari-hari di antara 10 hari pertama bulan Zulhijah. Sebagaimana kita ketahui, di bulan itulah ditunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Sebagaimana juga disyariatkan ibadah kurban dan salat Iduladha. Sebagaimana juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Zulhijah atau puasa Arafah. Selain itu, secara umum beramal pada sepuluh hari itu sejak tanggal 1 Zulhijah sampai 10 Zulhijah merupakan amal-amal yang paling utama.Sungguh, ini merupakan nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada umat ini, kalaulah mereka mau menyadarinya. Sebagaimana kaum muslimin bersemangat untuk mengejar keutamaan Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, maka sudah semestinya mereka pun bersemangat untuk menabung pahala kebaikan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah.Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atKeutamaan zikirMu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari azab Allah, selain berzikir kepada Allah.” (lihat Sunan Tirmidzi tahqiq Syekh Ahmad Syakir, 5: 459)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu (zikir) adalah ruh dalam amal-amal saleh. Apabila suatu amal tidak disertai dengan zikir, maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij As-Salikin, 2: 441)Berzikir kepada Allah merupakan jalan untuk meraih kehidupan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari) (lihat Al-‘Ibadat Al-Qalbiyah, hal. 49)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu, zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala merupakan hakikat kehidupan hati. Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat Fawa’id Adz-Dzikri Wa Tsamaratuhu, hal. 16)Zikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Suatu saat, ada seorang lelaki yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.” Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan zikir.” (lihat Tazkiyatun Nufus Wa Tarbiyatuha oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya zikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi, dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah zikirnya kepada Allah, niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat At-Taudhih Wa Al-Bayan Li Syajarat Al-Iman, hal. 57)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak di antara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan zikir pada masa-masa permulaan daripada membaca (ilmu). Karena zikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan Al-Qur’an memberikan pasokan ilmu. Namun, terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada pasokan ilmu dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya jauh lebih utama dengan kesepakatan (para ulama).” (lihat Qawa’id Wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 202)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi zikir dan begitu besar faedah darinya. Sebab, zikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah telah memerintahkan berzikir di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar, 1: 11)Tsabit Al-Bunani rahimahullah berkata, “Apakah susahnya bagi salah seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap harinya untuk berzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 346)‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah rahimahullah berkata, “Majelis-majelis zikir adalah obat bagi hati.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)‘Atha’ bin Maisarah Al-Khurasani rahimahullah mengatakan, “Majelis-majelis zikir adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram (majelis ilmu, pent).” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)Makhul rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan zikir kepada Allah, niscaya pada pagi harinya dia akan berada dalam keadaan suci seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat al-Auliya’, hal. 347)Semoga kumpulan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Barakallahu` fiikum.Baca Juga:Dzikir-Dzikir Yang Shahih Setelah Shalat (Bag.2)Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Kemewahan Dunia, Jimak Islam, Bacaan Ibadah Umroh, Jadwal Kajian Masjid IstiqlalTags: doa dan dzikirDzikirdzikir sesuai sunnahfikih dzikirkeutamaan dzikirnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikirwaktu dzikir
Bismillah.Musim-musim terbaik untuk beramal di antaranya adalah 10 hari pertama Zulhijah. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر فقالوا يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء“Tidak ada amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini (yaitu 10 hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga tidak bisa mengalahkan keutamaan beramal pada hari-hari itu?” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali bagi orang yang berangkat jihad dengan membawa jiwanya dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirDalam riwayat Bukhari, hadis ini dibawakan dengan redaksi,ما العَمَلُ في أيَّامٍ أفْضَلَ منها في هذه قالوا ولا الجِهادُ؟ قالَ ولا الجِهادُ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخاطِرُ بنَفْسِه ومالِه، فلَمْ يَرْجِعْ بشَيءٍ“Tidak ada amal yang lebih utama daripada beramal pada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah jihad (di waktu lain) juga kalah keutamaannya dengan beramal pada hari-hari itu?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali bagi orang yang berangkat perang dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa-apa/alias meninggal dalam keadaan syahid dan hartanya habis.”Hadis ini menunjukkan kepada kita betapa besar keutamaan amal saleh yang dilakukan pada hari-hari di antara 10 hari pertama bulan Zulhijah. Sebagaimana kita ketahui, di bulan itulah ditunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Sebagaimana juga disyariatkan ibadah kurban dan salat Iduladha. Sebagaimana juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Zulhijah atau puasa Arafah. Selain itu, secara umum beramal pada sepuluh hari itu sejak tanggal 1 Zulhijah sampai 10 Zulhijah merupakan amal-amal yang paling utama.Sungguh, ini merupakan nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada umat ini, kalaulah mereka mau menyadarinya. Sebagaimana kaum muslimin bersemangat untuk mengejar keutamaan Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, maka sudah semestinya mereka pun bersemangat untuk menabung pahala kebaikan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah.Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atKeutamaan zikirMu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari azab Allah, selain berzikir kepada Allah.” (lihat Sunan Tirmidzi tahqiq Syekh Ahmad Syakir, 5: 459)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu (zikir) adalah ruh dalam amal-amal saleh. Apabila suatu amal tidak disertai dengan zikir, maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij As-Salikin, 2: 441)Berzikir kepada Allah merupakan jalan untuk meraih kehidupan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari) (lihat Al-‘Ibadat Al-Qalbiyah, hal. 49)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu, zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala merupakan hakikat kehidupan hati. Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat Fawa’id Adz-Dzikri Wa Tsamaratuhu, hal. 16)Zikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Suatu saat, ada seorang lelaki yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.” Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan zikir.” (lihat Tazkiyatun Nufus Wa Tarbiyatuha oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya zikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi, dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah zikirnya kepada Allah, niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat At-Taudhih Wa Al-Bayan Li Syajarat Al-Iman, hal. 57)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak di antara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan zikir pada masa-masa permulaan daripada membaca (ilmu). Karena zikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan Al-Qur’an memberikan pasokan ilmu. Namun, terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada pasokan ilmu dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya jauh lebih utama dengan kesepakatan (para ulama).” (lihat Qawa’id Wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 202)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi zikir dan begitu besar faedah darinya. Sebab, zikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah telah memerintahkan berzikir di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar, 1: 11)Tsabit Al-Bunani rahimahullah berkata, “Apakah susahnya bagi salah seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap harinya untuk berzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 346)‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah rahimahullah berkata, “Majelis-majelis zikir adalah obat bagi hati.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)‘Atha’ bin Maisarah Al-Khurasani rahimahullah mengatakan, “Majelis-majelis zikir adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram (majelis ilmu, pent).” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)Makhul rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan zikir kepada Allah, niscaya pada pagi harinya dia akan berada dalam keadaan suci seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat al-Auliya’, hal. 347)Semoga kumpulan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Barakallahu` fiikum.Baca Juga:Dzikir-Dzikir Yang Shahih Setelah Shalat (Bag.2)Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Kemewahan Dunia, Jimak Islam, Bacaan Ibadah Umroh, Jadwal Kajian Masjid IstiqlalTags: doa dan dzikirDzikirdzikir sesuai sunnahfikih dzikirkeutamaan dzikirnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikirwaktu dzikir


Bismillah.Musim-musim terbaik untuk beramal di antaranya adalah 10 hari pertama Zulhijah. Sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر فقالوا يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء“Tidak ada amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah daripada beramal pada sepuluh hari ini (yaitu 10 hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga tidak bisa mengalahkan keutamaan beramal pada hari-hari itu?” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali bagi orang yang berangkat jihad dengan membawa jiwanya dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma)Baca Juga: Hikmah dari Variasi Bacaan Doa dan DzikirDalam riwayat Bukhari, hadis ini dibawakan dengan redaksi,ما العَمَلُ في أيَّامٍ أفْضَلَ منها في هذه قالوا ولا الجِهادُ؟ قالَ ولا الجِهادُ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخاطِرُ بنَفْسِه ومالِه، فلَمْ يَرْجِعْ بشَيءٍ“Tidak ada amal yang lebih utama daripada beramal pada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari awal Zulhijah).” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah jihad (di waktu lain) juga kalah keutamaannya dengan beramal pada hari-hari itu?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali bagi orang yang berangkat perang dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa-apa/alias meninggal dalam keadaan syahid dan hartanya habis.”Hadis ini menunjukkan kepada kita betapa besar keutamaan amal saleh yang dilakukan pada hari-hari di antara 10 hari pertama bulan Zulhijah. Sebagaimana kita ketahui, di bulan itulah ditunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Sebagaimana juga disyariatkan ibadah kurban dan salat Iduladha. Sebagaimana juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Zulhijah atau puasa Arafah. Selain itu, secara umum beramal pada sepuluh hari itu sejak tanggal 1 Zulhijah sampai 10 Zulhijah merupakan amal-amal yang paling utama.Sungguh, ini merupakan nikmat dan anugerah yang Allah berikan kepada umat ini, kalaulah mereka mau menyadarinya. Sebagaimana kaum muslimin bersemangat untuk mengejar keutamaan Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, maka sudah semestinya mereka pun bersemangat untuk menabung pahala kebaikan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah.Baca Juga: Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’atKeutamaan zikirMu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari azab Allah, selain berzikir kepada Allah.” (lihat Sunan Tirmidzi tahqiq Syekh Ahmad Syakir, 5: 459)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu (zikir) adalah ruh dalam amal-amal saleh. Apabila suatu amal tidak disertai dengan zikir, maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij As-Salikin, 2: 441)Berzikir kepada Allah merupakan jalan untuk meraih kehidupan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari) (lihat Al-‘Ibadat Al-Qalbiyah, hal. 49)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu, zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala merupakan hakikat kehidupan hati. Tanpanya, hati pasti menjadi mati.” (lihat Fawa’id Adz-Dzikri Wa Tsamaratuhu, hal. 16)Zikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Suatu saat, ada seorang lelaki yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.” Maka beliau berkata, “Lunakkanlah ia dengan zikir.” (lihat Tazkiyatun Nufus Wa Tarbiyatuha oleh Dr. Ahmad Farid, hal. 46)Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya zikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi, dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah zikirnya kepada Allah, niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat At-Taudhih Wa Al-Bayan Li Syajarat Al-Iman, hal. 57)Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak di antara hamba yang lebih mendapatkan manfaat dengan zikir pada masa-masa permulaan daripada membaca (ilmu). Karena zikir akan memberikan pasokan keimanan baginya, sedangkan Al-Qur’an memberikan pasokan ilmu. Namun, terkadang ilmu itu tidak bisa dia pahami. Sementara dirinya lebih membutuhkan pasokan iman daripada pasokan ilmu dikarenakan ia masih berada pada jenjang permulaan. Meskipun demikian, membaca Al-Qur’an dengan disertai pemahaman bagi orang yang cukup mapan imannya jauh lebih utama dengan kesepakatan (para ulama).” (lihat Qawa’id Wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘Inda Syaikhil Islam, hal. 202)Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berkata, “Tidaklah samar bagi setiap muslim tentang urgensi zikir dan begitu besar faedah darinya. Sebab, zikir merupakan salah satu tujuan termulia dan tergolong amal yang paling bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah telah memerintahkan berzikir di dalam Al-Qur’an Al-Karim pada banyak kesempatan. Allah memberikan dorongan untuk itu. Allah memuji orang yang tekun melakukannya dan menyanjung mereka dengan sanjungan terbaik dan terindah.” (lihat dalam Fiqh Al-Ad’iyah Wa Al-Adzkar, 1: 11)Tsabit Al-Bunani rahimahullah berkata, “Apakah susahnya bagi salah seorang dari kalian jika dia hendak memanfaatkan waktu satu jam setiap harinya untuk berzikir kepada Allah sehingga dengan sebab itu sepanjang hari yang dilaluinya dia akan meraih keberuntungan.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 346)‘Aun bin Abdullah bin ‘Utbah rahimahullah berkata, “Majelis-majelis zikir adalah obat bagi hati.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)‘Atha’ bin Maisarah Al-Khurasani rahimahullah mengatakan, “Majelis-majelis zikir adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram (majelis ilmu, pent).” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat Al-Auliya’, hal. 348)Makhul rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan zikir kepada Allah, niscaya pada pagi harinya dia akan berada dalam keadaan suci seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i Li Hilyat al-Auliya’, hal. 347)Semoga kumpulan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Barakallahu` fiikum.Baca Juga:Dzikir-Dzikir Yang Shahih Setelah Shalat (Bag.2)Bolehkah Orang Junub Berdzikir dari Al Quran?***Penulis: Ari Wahyudi, S.SiArtikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Kemewahan Dunia, Jimak Islam, Bacaan Ibadah Umroh, Jadwal Kajian Masjid IstiqlalTags: doa dan dzikirDzikirdzikir sesuai sunnahfikih dzikirkeutamaan dzikirnasihatnasihat islampanduan dzikirtata cara dzikirtuntunan dzikirwaktu dzikir

Laporan Produksi Yufid: Mei 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Nama “Yufid” sendiri terinspirasi dari kata dalam bahasa Arab “يفيد” yang artinya “memberi faedah atau manfaat”. Dalam bahasa Arab, kata “يفيد” merupakan kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang sedang dikerjakan sekarang dan atau akan dilakukan di masa mendatang. Hal ini selaras dengan cita-cita dan tujuan Yufid, yaitu bekerja pada masa sekarang, dan insya Allah akan terus bekerja pada masa depan, serta terus berkarya memberikan manfaat untuk manusia. Yufid berdiri sejak tahun 2009 dan hingga saat ini telah berkarya selama 12 tahun lebih. Bermula dari sekelompok pemuda yang memiliki perhatian dalam bidang dakwah islam serta memiliki harapan yang tinggi untuk memberikan manfaat kepada banyak orang, atas izin dan pertolongan Allah azza wa jalla Yufid masih bertahan hingga saat ini dengan tetap mempertahankan visi dan misinya yaitu “menjadi tim kreatif kelas dunia dengan membuat konten pendidikan islam yang berkualitas dan bermanfaat, yang dibutuhkan oleh siapa saja yang ingin belajar Islam, serta sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia”. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari keempat channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 3,9 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 626 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai dari bulan Maret 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.802Jumlah Subscribers :  3.438.912Total Tayangan Video (Total Views) :  541.076.839Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 9,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1 Juta JamPenambahan Subscribers Perbulan : 46.807 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.531Jumlah Subscribers :  265.609Total Tayangan Video (Total Views) :  17.760.080Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 128 ribu Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 6 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.579 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 68Jumlah Subscribers :  262.642Total Tayangan Video (Total Views) :  68.957.609Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 132 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 4.980 4. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.696Total Pengikut : 1.120.794Rata-Rata Produksi : 43 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 1.865  Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. 5. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.782Total Pengikut : 481.000Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 3.433 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  6. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. 7. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. 8. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4686 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1494 audio dan rata-rata menghasilkan 27 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  9. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1043 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. 10. Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1149 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  11.  Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2458 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  12. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Mei 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Mei 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 13. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 35 ribu kata. 🔍 Hujan Meteor Menurut Islam, Amalan Memikat Wanita, Doa Mustajab Di Hari Jumat, Macan Remba, Contoh Hadits Abu Hurairah, Shalat Rawatib Subuh Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 246 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid: Mei 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Nama “Yufid” sendiri terinspirasi dari kata dalam bahasa Arab “يفيد” yang artinya “memberi faedah atau manfaat”. Dalam bahasa Arab, kata “يفيد” merupakan kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang sedang dikerjakan sekarang dan atau akan dilakukan di masa mendatang. Hal ini selaras dengan cita-cita dan tujuan Yufid, yaitu bekerja pada masa sekarang, dan insya Allah akan terus bekerja pada masa depan, serta terus berkarya memberikan manfaat untuk manusia. Yufid berdiri sejak tahun 2009 dan hingga saat ini telah berkarya selama 12 tahun lebih. Bermula dari sekelompok pemuda yang memiliki perhatian dalam bidang dakwah islam serta memiliki harapan yang tinggi untuk memberikan manfaat kepada banyak orang, atas izin dan pertolongan Allah azza wa jalla Yufid masih bertahan hingga saat ini dengan tetap mempertahankan visi dan misinya yaitu “menjadi tim kreatif kelas dunia dengan membuat konten pendidikan islam yang berkualitas dan bermanfaat, yang dibutuhkan oleh siapa saja yang ingin belajar Islam, serta sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia”. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari keempat channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 3,9 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 626 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai dari bulan Maret 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.802Jumlah Subscribers :  3.438.912Total Tayangan Video (Total Views) :  541.076.839Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 9,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1 Juta JamPenambahan Subscribers Perbulan : 46.807 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.531Jumlah Subscribers :  265.609Total Tayangan Video (Total Views) :  17.760.080Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 128 ribu Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 6 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.579 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 68Jumlah Subscribers :  262.642Total Tayangan Video (Total Views) :  68.957.609Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 132 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 4.980 4. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.696Total Pengikut : 1.120.794Rata-Rata Produksi : 43 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 1.865  Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. 5. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.782Total Pengikut : 481.000Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 3.433 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  6. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. 7. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. 8. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4686 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1494 audio dan rata-rata menghasilkan 27 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  9. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1043 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. 10. Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1149 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  11.  Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2458 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  12. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Mei 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Mei 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 13. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 35 ribu kata. 🔍 Hujan Meteor Menurut Islam, Amalan Memikat Wanita, Doa Mustajab Di Hari Jumat, Macan Remba, Contoh Hadits Abu Hurairah, Shalat Rawatib Subuh Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 246 QRIS donasi Yufid
Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Nama “Yufid” sendiri terinspirasi dari kata dalam bahasa Arab “يفيد” yang artinya “memberi faedah atau manfaat”. Dalam bahasa Arab, kata “يفيد” merupakan kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang sedang dikerjakan sekarang dan atau akan dilakukan di masa mendatang. Hal ini selaras dengan cita-cita dan tujuan Yufid, yaitu bekerja pada masa sekarang, dan insya Allah akan terus bekerja pada masa depan, serta terus berkarya memberikan manfaat untuk manusia. Yufid berdiri sejak tahun 2009 dan hingga saat ini telah berkarya selama 12 tahun lebih. Bermula dari sekelompok pemuda yang memiliki perhatian dalam bidang dakwah islam serta memiliki harapan yang tinggi untuk memberikan manfaat kepada banyak orang, atas izin dan pertolongan Allah azza wa jalla Yufid masih bertahan hingga saat ini dengan tetap mempertahankan visi dan misinya yaitu “menjadi tim kreatif kelas dunia dengan membuat konten pendidikan islam yang berkualitas dan bermanfaat, yang dibutuhkan oleh siapa saja yang ingin belajar Islam, serta sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia”. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari keempat channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 3,9 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 626 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai dari bulan Maret 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.802Jumlah Subscribers :  3.438.912Total Tayangan Video (Total Views) :  541.076.839Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 9,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1 Juta JamPenambahan Subscribers Perbulan : 46.807 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.531Jumlah Subscribers :  265.609Total Tayangan Video (Total Views) :  17.760.080Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 128 ribu Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 6 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.579 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 68Jumlah Subscribers :  262.642Total Tayangan Video (Total Views) :  68.957.609Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 132 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 4.980 4. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.696Total Pengikut : 1.120.794Rata-Rata Produksi : 43 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 1.865  Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. 5. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.782Total Pengikut : 481.000Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 3.433 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  6. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. 7. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. 8. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4686 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1494 audio dan rata-rata menghasilkan 27 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  9. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1043 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. 10. Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1149 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  11.  Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2458 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  12. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Mei 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Mei 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 13. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 35 ribu kata. 🔍 Hujan Meteor Menurut Islam, Amalan Memikat Wanita, Doa Mustajab Di Hari Jumat, Macan Remba, Contoh Hadits Abu Hurairah, Shalat Rawatib Subuh Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 246 QRIS donasi Yufid


Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Nama “Yufid” sendiri terinspirasi dari kata dalam bahasa Arab “يفيد” yang artinya “memberi faedah atau manfaat”. Dalam bahasa Arab, kata “يفيد” merupakan kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang sedang dikerjakan sekarang dan atau akan dilakukan di masa mendatang. Hal ini selaras dengan cita-cita dan tujuan Yufid, yaitu bekerja pada masa sekarang, dan insya Allah akan terus bekerja pada masa depan, serta terus berkarya memberikan manfaat untuk manusia. Yufid berdiri sejak tahun 2009 dan hingga saat ini telah berkarya selama 12 tahun lebih. Bermula dari sekelompok pemuda yang memiliki perhatian dalam bidang dakwah islam serta memiliki harapan yang tinggi untuk memberikan manfaat kepada banyak orang, atas izin dan pertolongan Allah azza wa jalla Yufid masih bertahan hingga saat ini dengan tetap mempertahankan visi dan misinya yaitu “menjadi tim kreatif kelas dunia dengan membuat konten pendidikan islam yang berkualitas dan bermanfaat, yang dibutuhkan oleh siapa saja yang ingin belajar Islam, serta sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia”. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari keempat channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 3,9 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 626 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai dari bulan Maret 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.802Jumlah Subscribers :  3.438.912Total Tayangan Video (Total Views) :  541.076.839Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 9,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1 Juta JamPenambahan Subscribers Perbulan : 46.807 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/22FlHbV7Jf3NEm73V4M57z_65IiGtOMwRw6W6OXGmTXBDVx1X6oP0qGjFpE5tg3y6p67x8q0B07ae4e5yTmDPYuViMdpSE9GBF2Hnh-NlQPgbAgTg-hcqPY7jDlDt5IiM5E5EC3C_84fV5-acQ" alt=""/> 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.531Jumlah Subscribers :  265.609Total Tayangan Video (Total Views) :  17.760.080Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 128 ribu Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 6 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.579 <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/68GQju41KganfEy1QLhLV023ENK8oPcqveFXhmeA-FuagpB5n01Eu0OcqBCYArLB7hE1tS4dH5oZUp4y8w6TxDEhS3k80T_01KuSgATcZFWsCOQsqs4yYivA-fi7vqQH6Xf1QqWBgWZZY_XaZw" alt=""/> 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 68Jumlah Subscribers :  262.642Total Tayangan Video (Total Views) :  68.957.609Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2,2 Juta Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 132 ribu JamPenambahan Subscribers Perbulan : 4.980 <img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/3Bg3fejDdFiTkDl45MS6gd3FyYoflHcX5kETG4DTG-eA8eARrFhwj_LGPPI77debCzxLRIBqp-di8AtzC4YvlKIt9bkr-bv9WexZSCMDEdQTZBq-lTpqIn0jI8qSXQJsIRwFY993-R0W2kmN2w" alt=""/> 4. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.696Total Pengikut : 1.120.794Rata-Rata Produksi : 43 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 1.865  Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/EKUYpvsL2q68kW_Ky5jOHj9qgHPVgVHcw9AXCrMR9KIfiEOYI0XTmAFLFQEzpq_7G3KfnzKyEhONwNRrRHzuMLJYg9w6Le_S8l5HtZRqdgvDjYcjhtBoTPvLUq4-xFWabU396UyVtpq_fl6t7w" alt=""/> 5. Instagram Yufid Network (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.782Total Pengikut : 481.000Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 3.433 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  6. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/eag5R6ts2EjE2bFqv7fLw64vTJ3sEW5sYu6uU-p7f_N52ANeMbNHscSQPVSz06MI-FWfjLkzmj1dhIB2plD8uEOvwjTZxJjscgNpaJveS5eox0bGoscE6o5YGUJ-IWBMsETVbduthmRvi2thug" alt=""/> 7. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/FeAwA-Woacil3CzaFeplj_lbzdR1-iLXjvxEv1pQP3jckDKpup706GU7-lC9-PFfgZg_AkLvAf2oHwsKsOb0NWjL_gckh7UcmIgxfq032QDDxouqqU_rR0IevAb7h-6XAXO1xoMLv3cPMCRfig" alt=""/> 8. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4686 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1494 audio dan rata-rata menghasilkan 27 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube.  9. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1043 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. 10. Website KhotbahJumat.com (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1149 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  11.  Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2458 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat.  12. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Mei 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Mei 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 13. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 35 ribu kata. 🔍 Hujan Meteor Menurut Islam, Amalan Memikat Wanita, Doa Mustajab Di Hari Jumat, Macan Remba, Contoh Hadits Abu Hurairah, Shalat Rawatib Subuh Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 246 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Laporan Produksi Yufid: Juni 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.951Jumlah Subscribers :  3.506.344Total Tayangan Video (Total Views) :  554.831.778Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 10.998.414Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1.390.279 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 51.065 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 149 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.562Jumlah Subscribers :  267.818Total Tayangan Video (Total Views) :  17.932.337Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 138.754Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 7.758 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.744 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 31 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 69Jumlah Subscribers :  268.017Total Tayangan Video (Total Views) :  71.649.959Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.244.078Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 135.663 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 5.569 Untuk video dalam channel Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.049Total Tayangan Video (Total Views) : 407.214Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.869Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 486 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 25.900Total Tayangan Video (Total Views) : 1.063.524Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 23.417Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 600 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.766Total Pengikut : 1.124.338Rata-Rata Produksi : 45 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 10.992 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 42 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 487.185Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 804 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 video nasehat ulama telah dipublikasikan sebanyak 29 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Untuk video Motion Graphic dan Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4731 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1566 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 11 artikel. 11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1048 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. 12. Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1161 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 1 artikel. 13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2465 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 7 artikel. 14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juni 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 37 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 44.559 kata. 16. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Qorin Adalah, Hadits Tentang Lamaran, Penciptaan Alam Semesta Menurut Alquran, Ikrar Ijab Qobul, Hukum Tirakat Menurut Islam, Haid Sebulan 2 Kali Setelah Lepas Kb Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid: Juni 2022

Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.951Jumlah Subscribers :  3.506.344Total Tayangan Video (Total Views) :  554.831.778Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 10.998.414Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1.390.279 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 51.065 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 149 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.562Jumlah Subscribers :  267.818Total Tayangan Video (Total Views) :  17.932.337Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 138.754Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 7.758 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.744 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 31 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 69Jumlah Subscribers :  268.017Total Tayangan Video (Total Views) :  71.649.959Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.244.078Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 135.663 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 5.569 Untuk video dalam channel Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.049Total Tayangan Video (Total Views) : 407.214Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.869Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 486 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 25.900Total Tayangan Video (Total Views) : 1.063.524Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 23.417Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 600 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.766Total Pengikut : 1.124.338Rata-Rata Produksi : 45 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 10.992 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 42 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 487.185Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 804 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 video nasehat ulama telah dipublikasikan sebanyak 29 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Untuk video Motion Graphic dan Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4731 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1566 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 11 artikel. 11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1048 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. 12. Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1161 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 1 artikel. 13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2465 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 7 artikel. 14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juni 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 37 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 44.559 kata. 16. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Qorin Adalah, Hadits Tentang Lamaran, Penciptaan Alam Semesta Menurut Alquran, Ikrar Ijab Qobul, Hukum Tirakat Menurut Islam, Haid Sebulan 2 Kali Setelah Lepas Kb Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid
Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.951Jumlah Subscribers :  3.506.344Total Tayangan Video (Total Views) :  554.831.778Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 10.998.414Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1.390.279 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 51.065 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 149 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.562Jumlah Subscribers :  267.818Total Tayangan Video (Total Views) :  17.932.337Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 138.754Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 7.758 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.744 Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 31 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 69Jumlah Subscribers :  268.017Total Tayangan Video (Total Views) :  71.649.959Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.244.078Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 135.663 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 5.569 Untuk video dalam channel Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.049Total Tayangan Video (Total Views) : 407.214Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.869Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 486 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 25.900Total Tayangan Video (Total Views) : 1.063.524Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 23.417Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 600 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.766Total Pengikut : 1.124.338Rata-Rata Produksi : 45 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 10.992 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 42 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 487.185Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 804 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 video nasehat ulama telah dipublikasikan sebanyak 29 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Untuk video Motion Graphic dan Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4731 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1566 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 11 artikel. 11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1048 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. 12. Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1161 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 1 artikel. 13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2465 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 7 artikel. 14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juni 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 37 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 44.559 kata. 16. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Qorin Adalah, Hadits Tentang Lamaran, Penciptaan Alam Semesta Menurut Alquran, Ikrar Ijab Qobul, Hukum Tirakat Menurut Islam, Haid Sebulan 2 Kali Setelah Lepas Kb Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid


Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang memiliki misi membuat dan menyediakan konten pendidikan dan dakwah secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Selama lebih dari 12 tahun, dengan izin Allah, Yufid telah ikut andil dalam perkembangan dakwah Islam, terutama di dunia digital. Yufid mempunyai beberapa channel di YouTube, yaitu Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids, yang hingga saat ini sudah ada lebih dari 16.000 (enam belas ribu) video yang sudah dipublikasikan dan dapat dinikmati oleh seluruh umat muslim di dunia secara GRATIS. Total subscribers dari channel-channel tersebut juga telah mencapai lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video yang ada telah ditonton sebanyak 633 juta kali.  Selain di YouTube, Yufid juga memiliki beberapa website yang telah menyediakan hampir 10.000 (sepuluh ribu) artikel yang tersebar di berbagai website yang berada di bawah naungan Yufid, seperti konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com, khotbahjumat.com, kajian.net, dll. Semua pencapaian ini adalah karunia dari Allah. Mulai awal tahun 2022, kami Tim Yufid mencoba memberikan sebuah laporan produktivitas bulanan agar para pemirsa dapat mengetahui berbagai project dan perkembangan produksi dari Yufid itu sendiri, karena sejatinya Yufid merupakan sebuah wadah kreativitas yang dimiliki bersama.  1. Channel YouTube YUFID.TV (https://www.youtube.com/yufid) Jumlah Video : 14.951Jumlah Subscribers :  3.506.344Total Tayangan Video (Total Views) :  554.831.778Rata-rata Produksi Perbulan : 109 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 10.998.414Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 1.390.279 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 51.065 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/AGuJ1dUYIHFhOSxmwMq99J68Yk6qEIupMd7t0iYbrSZG1vTmcs57XHnAHKOg-y3HNHASIL_bwdhIRTMekmpL24EFqMGlcA51pToiXAvNprEUIhYloie6DQABchKROBdaKU0CvsSyLAcRlf8QqaFkleU" alt=""/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid.TV telah mempublikasikan 149 video. 2. Channel YouTube YUFID EDU  (https://www.youtube.com/yufidedu) Jumlah Video : 1.562Jumlah Subscribers :  267.818Total Tayangan Video (Total Views) :  17.932.337Rata-rata Produksi Perbulan : 15 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 138.754Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 7.758 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 1.744 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/u2g_-xq9XyBoeN1Sl2P-Emyn9uhUNVFwrYe89_hLR98GPV2GfvT7qzJQr7kgU0i1_8sDoy0VS91as5hXdb1X5xfYVnGAqBkNmyA9rMBJwsCgv1YDids1hp90zsVUSiCGMkgL7_gaBog-sj5Les--6AA" alt=""/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 channel Yufid EDU telah mempublikasikan 31 video. 3. Channel YouTube YUFID KIDS  (https://www.youtube.com/yufidkids) Jumlah Video : 69Jumlah Subscribers :  268.017Total Tayangan Video (Total Views) :  71.649.959Rata-rata Produksi Perbulan : 1 videoTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.244.078Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 135.663 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 5.569 <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/faRc9fAeTbuQwRPFvUq0S-Df2VRHA5-fs2vXDyZc_QooryH7ofUQscmBLqT2UZYYjb9YqrPAD-iGrVIW8hcTI83qBG4c5VNIoPetdMLVU4aQ3w5qdmy_Syt1Ha0Z2zP9KL4ofBQdrugHtEacRktTiCM" alt=""/>Untuk video dalam channel Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  4. Channel YouTube Dunia Mengaji  (https://www.youtube.com/channel/UCY17jHxhMDhFhBYKNr7aCew) Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Jumlah Video : 272Jumlah Subscribers : 4.049Total Tayangan Video (Total Views) : 407.214Rata-rata Produksi Perbulan : 3 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 2.869Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) : 486 JamPenambahan Subscribers Perbulan : 36 5. Channel YouTube العلم نور (https://www.youtube.com/channel/UCLFxhG3-8bloS720P9YXKcQ) Jumlah Video : 339Jumlah Subscribers : 25.900Total Tayangan Video (Total Views) : 1.063.524Rata-rata Produksi Perbulan : 7 video/bulanTayangan Video Perbulan (Views/Month) : 23.417Jam Tayang Video Perbulan (Watch time/Month) :  JamPenambahan Subscribers Perbulan : 600 6. Instagram Yufid TV  (https://www.instagram.com/yufid.tv/) Total Konten : 2.766Total Pengikut : 1.124.338Rata-Rata Produksi : 45 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 10.992 Yufid TV mulai memanfaatkan media instagram sejak tahun 2015. Sejak tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten perbulannya. <img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/radsGArCJJOKm_aSrOEds1O6vyi77tH_IE1GBCVvYCex-yS03GaEvR_yKLoRRhmvK-TcCeio4dPyppKbFWRbWjc2QMgNdHKete-PYI_pniUleoSD7vf86dF9608Dydj8OE5Kgq37dd6jzFZDhXscUGk" alt=""/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 akun Instagram Yufid TV telah memposting 42 konten. 7. Instagram Yufid Network  (https://www.instagram.com/yufid/) Total Konten : 2.853Total Pengikut : 487.185Rata-Rata Produksi : 26 Konten/bulanPenambahan Follower Perbulan : 804 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV. Mulai tahun 2022, instagram Yufid.TV dan Yufid Network insya Allah akan memposting konten setiap hari minimal 2 postingan, jadi rata-rata dari kedua akun tersebut dapat memproduksi yaitu 60 konten per bulannya.  8. Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/ZKEk7oEihhB30zbNEoiTVDMRyc2eDZd4qRpUbSUejTQIvNV6WY_MgQOaYpEgfyyMyaMcbuucW7PIcGDxDGuXio6lTfDxiwUHF0IIvdknljeKjK73kt7rAODliWRm_HMABXioU9ELna4Xjm8Wjp1cKPA" alt=""/>Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022 video nasehat ulama telah dipublikasikan sebanyak 29 video. 9. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/bHf_2Sky2X10_LOmb9tOyefEH5ibYiiG-6vYGYC-MXV94pFR_pbh5MwxnLR_N24OwQgA3UmgUzfzBsbJ-QQ7ZzT-YGTMedxsXbdSfLPGfihuKkzWDyOTsoagIeeNNRqngYIaEK-XLQz97kCXgxrpYf0" alt=""/>Untuk video Motion Graphic dan Yufid Kids di bulan Juni 2022 masih dalam proses produksi, untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya.  10. Website KonsultasiSyariah.com  (https://konsultasisyariah.com/) KonsultasiSyariah.com adalah sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 4731 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website konsultasisyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 1566 audio dan rata-rata menghasilkan 28 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV di YouTube. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 11 artikel. 11. Website KisahMuslim.com  (https://kisahmuslim.com/) KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1048 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 2 artikel. 12. Website KhotbahJumat.com  (https://khotbahjumat.com/) KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah Shalat Jumat, terdapat 1161 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat.  Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 1 artikel. 13. Website PengusahaMuslim.com  (https://pengusahamuslim.com/) PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2465 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 7 artikel. 14. Website Kajian.net  (https://kajian.net/) Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar. Total audio yang tersedia dalam website kajian.net hingga bulan Juni 2022 yaitu 22.001 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juni 2022 ini saja telah didengar 36.454 kali dan telah di download sebanyak 2.004 file audio. 15. Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website.  Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata dengan rata-rata produksi per bulan 37 ribu kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juni 2022, project terjemahan ini telah memproduksi 44.559 kata. 16. Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu berjumlah 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. 🔍 Qorin Adalah, Hadits Tentang Lamaran, Penciptaan Alam Semesta Menurut Alquran, Ikrar Ijab Qobul, Hukum Tirakat Menurut Islam, Haid Sebulan 2 Kali Setelah Lepas Kb Visited 1 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Memberi Hadiah Daging Kurban kepada Tukang Jagal

Terdapat kesalahpahaman pada sebagian kaum muslimin bahwa tukang jagal hewan kurban itu benar-benar tidak boleh mendapatkan daging sama sekali. Hal ini berdasarkan hadis adanya larangan memberikan upah kepada tukang jagal dari daging atau bagian lainnya (semisal kulit). Akan tetapi, penjelasan ulama akan hadis tersebut adalah dilarang apabila diberikan dengan akad sebagai upah. Adapun jika daging kurban diberikan kepada tukang jagal sebagai hadiah atau sedekah, maka hukumnya boleh.Berikut hadis yang melarang memberikan upah kepada tukang jagal dari bagian kurban, baik itu dagingnya atau kulitnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,أن نبي الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يقوم على بدنة وأمره أن يقسم بدنه كلها لحومها وجلودها وجلالها في المساكين ولا يعطي في جزارتها منها شيئا”Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mengurusi penyembelihan unta kurbannya dan juga membagikan semua kulit bagian tubuh dan kulit punggungnya untuk orang miskin. Aku diperintahkan agar tidak memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Dalam riwayat lainnya,نَحْنُ نُعْطِيهِ الأَجْرَ مِنْ عِنْدِنَا”Kami mengupahnya dari uang pribadi kami.” (HR. Muslim).Para ulama menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah larangan memberikan daging kurban sebagai upah. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,وهذا إذا أعطاه على معنى الأجرة، فأما أن يتصدق عليه بشيء منه فلا بأس به، هذا قول أكثر أهل العلم“Maksud hadis ini adalah jika diberikan sebagai upah. Adapun memberikan sedekah dengan bagian kurban tidaklah mengapa. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” (Syarhus Sunnah, 7: 188)Maksud sebagai upah adalah transaksinya itu sebagai pengganti tenaganya. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan,أن المراد منع عطية الجزار من الهدي عوضًا عن أجرته“Maksudnya adalah larangan memberikan tukang jagal dari bagian kurban adalah sebagai pengganti/kompensasi upahnya.” (Fathul Bari, 3: 556)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa tukang jagal boleh diberikan karena statusnya sama seperti kaum muslimin yang berhak mendapatkan daging kurban, baik itu sebagai hadiah bagi orang kaya atau sedekah bagi orang miskin. Beliau rahimahullah berkata,ويجوز أن يعطيه منهما شيئًا لفقره، أو يطعمه إن كان غنيًا.. ويجوز تمليك الفقراء منهما، ليتصرفوا فيه بالبيع وغيره“Boleh diberikan kepada tukang jagal sebagai sedekah jika ia miskin atau diberikan sebagian hadiah jika kaya. Boleh diberikan kepada orang miskin, lalu orang miskin terebut menjualnya.” (Raudhatut Thalibin, 3: 222)Hal ini berdasarkan hadis agar daging kurban itu sebagiannya dimakan, disimpan, dan disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,فَكُلوا وادَّخِرُوا وتَصدَّقُوا“Namun sekarang silakan makanlah (daging sembelihan tersebut), simpanlah, dan bersedekahlah.” (HR. Muslim)Demikian juga pendapat ulama kontemporer Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,أما إعطاء الجزار أجرته منها فلا يجوز. وأما إعطاؤه هدية منها فلا بأس“Adapun memberikan upah tukang jagal dari sebagian kurban, maka tidak boleh. Namun, memberikannya sebagai hadiah, itu tidaklah mengapa.” (Majmu’ Fatawa, 25: 110)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@Lombok, Pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Pelajaran Al Qur An, Nabi Muhammad Saw Menikah Dengan Siti Khadijah Pada Usia, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Dalil Naqli Tentang ShalatTags: daging qurbanfikih qurbanidul adhapahala qurbanpanduan qurbanqurbantata cara qurban

Hukum Memberi Hadiah Daging Kurban kepada Tukang Jagal

Terdapat kesalahpahaman pada sebagian kaum muslimin bahwa tukang jagal hewan kurban itu benar-benar tidak boleh mendapatkan daging sama sekali. Hal ini berdasarkan hadis adanya larangan memberikan upah kepada tukang jagal dari daging atau bagian lainnya (semisal kulit). Akan tetapi, penjelasan ulama akan hadis tersebut adalah dilarang apabila diberikan dengan akad sebagai upah. Adapun jika daging kurban diberikan kepada tukang jagal sebagai hadiah atau sedekah, maka hukumnya boleh.Berikut hadis yang melarang memberikan upah kepada tukang jagal dari bagian kurban, baik itu dagingnya atau kulitnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,أن نبي الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يقوم على بدنة وأمره أن يقسم بدنه كلها لحومها وجلودها وجلالها في المساكين ولا يعطي في جزارتها منها شيئا”Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mengurusi penyembelihan unta kurbannya dan juga membagikan semua kulit bagian tubuh dan kulit punggungnya untuk orang miskin. Aku diperintahkan agar tidak memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Dalam riwayat lainnya,نَحْنُ نُعْطِيهِ الأَجْرَ مِنْ عِنْدِنَا”Kami mengupahnya dari uang pribadi kami.” (HR. Muslim).Para ulama menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah larangan memberikan daging kurban sebagai upah. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,وهذا إذا أعطاه على معنى الأجرة، فأما أن يتصدق عليه بشيء منه فلا بأس به، هذا قول أكثر أهل العلم“Maksud hadis ini adalah jika diberikan sebagai upah. Adapun memberikan sedekah dengan bagian kurban tidaklah mengapa. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” (Syarhus Sunnah, 7: 188)Maksud sebagai upah adalah transaksinya itu sebagai pengganti tenaganya. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan,أن المراد منع عطية الجزار من الهدي عوضًا عن أجرته“Maksudnya adalah larangan memberikan tukang jagal dari bagian kurban adalah sebagai pengganti/kompensasi upahnya.” (Fathul Bari, 3: 556)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa tukang jagal boleh diberikan karena statusnya sama seperti kaum muslimin yang berhak mendapatkan daging kurban, baik itu sebagai hadiah bagi orang kaya atau sedekah bagi orang miskin. Beliau rahimahullah berkata,ويجوز أن يعطيه منهما شيئًا لفقره، أو يطعمه إن كان غنيًا.. ويجوز تمليك الفقراء منهما، ليتصرفوا فيه بالبيع وغيره“Boleh diberikan kepada tukang jagal sebagai sedekah jika ia miskin atau diberikan sebagian hadiah jika kaya. Boleh diberikan kepada orang miskin, lalu orang miskin terebut menjualnya.” (Raudhatut Thalibin, 3: 222)Hal ini berdasarkan hadis agar daging kurban itu sebagiannya dimakan, disimpan, dan disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,فَكُلوا وادَّخِرُوا وتَصدَّقُوا“Namun sekarang silakan makanlah (daging sembelihan tersebut), simpanlah, dan bersedekahlah.” (HR. Muslim)Demikian juga pendapat ulama kontemporer Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,أما إعطاء الجزار أجرته منها فلا يجوز. وأما إعطاؤه هدية منها فلا بأس“Adapun memberikan upah tukang jagal dari sebagian kurban, maka tidak boleh. Namun, memberikannya sebagai hadiah, itu tidaklah mengapa.” (Majmu’ Fatawa, 25: 110)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@Lombok, Pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Pelajaran Al Qur An, Nabi Muhammad Saw Menikah Dengan Siti Khadijah Pada Usia, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Dalil Naqli Tentang ShalatTags: daging qurbanfikih qurbanidul adhapahala qurbanpanduan qurbanqurbantata cara qurban
Terdapat kesalahpahaman pada sebagian kaum muslimin bahwa tukang jagal hewan kurban itu benar-benar tidak boleh mendapatkan daging sama sekali. Hal ini berdasarkan hadis adanya larangan memberikan upah kepada tukang jagal dari daging atau bagian lainnya (semisal kulit). Akan tetapi, penjelasan ulama akan hadis tersebut adalah dilarang apabila diberikan dengan akad sebagai upah. Adapun jika daging kurban diberikan kepada tukang jagal sebagai hadiah atau sedekah, maka hukumnya boleh.Berikut hadis yang melarang memberikan upah kepada tukang jagal dari bagian kurban, baik itu dagingnya atau kulitnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,أن نبي الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يقوم على بدنة وأمره أن يقسم بدنه كلها لحومها وجلودها وجلالها في المساكين ولا يعطي في جزارتها منها شيئا”Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mengurusi penyembelihan unta kurbannya dan juga membagikan semua kulit bagian tubuh dan kulit punggungnya untuk orang miskin. Aku diperintahkan agar tidak memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Dalam riwayat lainnya,نَحْنُ نُعْطِيهِ الأَجْرَ مِنْ عِنْدِنَا”Kami mengupahnya dari uang pribadi kami.” (HR. Muslim).Para ulama menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah larangan memberikan daging kurban sebagai upah. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,وهذا إذا أعطاه على معنى الأجرة، فأما أن يتصدق عليه بشيء منه فلا بأس به، هذا قول أكثر أهل العلم“Maksud hadis ini adalah jika diberikan sebagai upah. Adapun memberikan sedekah dengan bagian kurban tidaklah mengapa. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” (Syarhus Sunnah, 7: 188)Maksud sebagai upah adalah transaksinya itu sebagai pengganti tenaganya. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan,أن المراد منع عطية الجزار من الهدي عوضًا عن أجرته“Maksudnya adalah larangan memberikan tukang jagal dari bagian kurban adalah sebagai pengganti/kompensasi upahnya.” (Fathul Bari, 3: 556)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa tukang jagal boleh diberikan karena statusnya sama seperti kaum muslimin yang berhak mendapatkan daging kurban, baik itu sebagai hadiah bagi orang kaya atau sedekah bagi orang miskin. Beliau rahimahullah berkata,ويجوز أن يعطيه منهما شيئًا لفقره، أو يطعمه إن كان غنيًا.. ويجوز تمليك الفقراء منهما، ليتصرفوا فيه بالبيع وغيره“Boleh diberikan kepada tukang jagal sebagai sedekah jika ia miskin atau diberikan sebagian hadiah jika kaya. Boleh diberikan kepada orang miskin, lalu orang miskin terebut menjualnya.” (Raudhatut Thalibin, 3: 222)Hal ini berdasarkan hadis agar daging kurban itu sebagiannya dimakan, disimpan, dan disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,فَكُلوا وادَّخِرُوا وتَصدَّقُوا“Namun sekarang silakan makanlah (daging sembelihan tersebut), simpanlah, dan bersedekahlah.” (HR. Muslim)Demikian juga pendapat ulama kontemporer Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,أما إعطاء الجزار أجرته منها فلا يجوز. وأما إعطاؤه هدية منها فلا بأس“Adapun memberikan upah tukang jagal dari sebagian kurban, maka tidak boleh. Namun, memberikannya sebagai hadiah, itu tidaklah mengapa.” (Majmu’ Fatawa, 25: 110)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@Lombok, Pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Pelajaran Al Qur An, Nabi Muhammad Saw Menikah Dengan Siti Khadijah Pada Usia, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Dalil Naqli Tentang ShalatTags: daging qurbanfikih qurbanidul adhapahala qurbanpanduan qurbanqurbantata cara qurban


Terdapat kesalahpahaman pada sebagian kaum muslimin bahwa tukang jagal hewan kurban itu benar-benar tidak boleh mendapatkan daging sama sekali. Hal ini berdasarkan hadis adanya larangan memberikan upah kepada tukang jagal dari daging atau bagian lainnya (semisal kulit). Akan tetapi, penjelasan ulama akan hadis tersebut adalah dilarang apabila diberikan dengan akad sebagai upah. Adapun jika daging kurban diberikan kepada tukang jagal sebagai hadiah atau sedekah, maka hukumnya boleh.Berikut hadis yang melarang memberikan upah kepada tukang jagal dari bagian kurban, baik itu dagingnya atau kulitnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,أن نبي الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يقوم على بدنة وأمره أن يقسم بدنه كلها لحومها وجلودها وجلالها في المساكين ولا يعطي في جزارتها منها شيئا”Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mengurusi penyembelihan unta kurbannya dan juga membagikan semua kulit bagian tubuh dan kulit punggungnya untuk orang miskin. Aku diperintahkan agar tidak memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim)Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Dalam riwayat lainnya,نَحْنُ نُعْطِيهِ الأَجْرَ مِنْ عِنْدِنَا”Kami mengupahnya dari uang pribadi kami.” (HR. Muslim).Para ulama menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah larangan memberikan daging kurban sebagai upah. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,وهذا إذا أعطاه على معنى الأجرة، فأما أن يتصدق عليه بشيء منه فلا بأس به، هذا قول أكثر أهل العلم“Maksud hadis ini adalah jika diberikan sebagai upah. Adapun memberikan sedekah dengan bagian kurban tidaklah mengapa. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.” (Syarhus Sunnah, 7: 188)Maksud sebagai upah adalah transaksinya itu sebagai pengganti tenaganya. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan,أن المراد منع عطية الجزار من الهدي عوضًا عن أجرته“Maksudnya adalah larangan memberikan tukang jagal dari bagian kurban adalah sebagai pengganti/kompensasi upahnya.” (Fathul Bari, 3: 556)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa tukang jagal boleh diberikan karena statusnya sama seperti kaum muslimin yang berhak mendapatkan daging kurban, baik itu sebagai hadiah bagi orang kaya atau sedekah bagi orang miskin. Beliau rahimahullah berkata,ويجوز أن يعطيه منهما شيئًا لفقره، أو يطعمه إن كان غنيًا.. ويجوز تمليك الفقراء منهما، ليتصرفوا فيه بالبيع وغيره“Boleh diberikan kepada tukang jagal sebagai sedekah jika ia miskin atau diberikan sebagian hadiah jika kaya. Boleh diberikan kepada orang miskin, lalu orang miskin terebut menjualnya.” (Raudhatut Thalibin, 3: 222)Hal ini berdasarkan hadis agar daging kurban itu sebagiannya dimakan, disimpan, dan disedekahkan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,فَكُلوا وادَّخِرُوا وتَصدَّقُوا“Namun sekarang silakan makanlah (daging sembelihan tersebut), simpanlah, dan bersedekahlah.” (HR. Muslim)Demikian juga pendapat ulama kontemporer Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,أما إعطاء الجزار أجرته منها فلا يجوز. وأما إعطاؤه هدية منها فلا بأس“Adapun memberikan upah tukang jagal dari sebagian kurban, maka tidak boleh. Namun, memberikannya sebagai hadiah, itu tidaklah mengapa.” (Majmu’ Fatawa, 25: 110)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@Lombok, Pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Pelajaran Al Qur An, Nabi Muhammad Saw Menikah Dengan Siti Khadijah Pada Usia, Malaikat Yang Meniup Sangkakala, Dalil Naqli Tentang ShalatTags: daging qurbanfikih qurbanidul adhapahala qurbanpanduan qurbanqurbantata cara qurban
Prev     Next