6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Para ulama fiqih mengatakan bahwa ada pengecualian dalam menyampaikan informasi dengan gibah dan namimah. Ada enam bentuk gibah yang dibolehkan, yang dihimpun dalam bait syair oleh al-Ghazzi. Beliau adalah penulis kitab an-Najm al-Wahhaj. Oh bukan, tapi penulis kitab an-Nujum as-Sairah fi Tarajim Ulama al-Mi’ah al-Asyirah. Ya, nama beliau adalah al-Ghazzi; Najmuddin al-Ghazzi. Beliau menghimpunnya dalam dua bait syair dengan berkata, “Celaan …” Yakni celaan yang tidak tercela. “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: Celaan dari orang yang terzalimi, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan, orang yang menyingkap kefasikan, orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” Enam bentuk keadaan ini saja, seseorang dibolehkan melakukan gibah, dan dibolehkan meneruskan perkataan orang lain. Adapun selain dari enam itu adalah hal terlarang dan tercela. Coba ulangi. Beliau berkata, “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: (1) Celaan dari orang yang terzalimi, (2) orang yang mengenalkan, (3) dan orang yang memperingatkan …” Orang yang terzalimi yakni orang yang mendapat perlakuan zalim. Orang yang mengenalkan yakni yang mengenalkan orang lain. Misal: si Fulan tinggi, pendek, botak, dst. Adapun orang yang memperingatkan, yakni seperti “Hati-hati dengan si Fulan!” “… (4) orang yang menyingkap kefasikan, (5) orang yang meminta fatwa, (6) dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” ====================================================================================================== وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ نَقْلِ الْخَبَرِ فِي الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ سِتَّةُ مَوَاضِعَ جَمَعَهَا النَّاظِمُ وَهُوَ الْغَزِّيُّ لَا بَلْ هُوَ صَاحِبُ النَّجْمِ الْوَهَّاجِ لَا صَاحِبُ النُّجُومِ السَّائِرَةِ فِي تَرَاجِمَ عُلَمَاءِ الْمِئَةِ الْعَاشِرَةِ نَعَمْ الْغَزِّيُّ نَعَمْ نَجْمُ الدِّينِ الْغَزِّيُّ جَمَعَهَا فِي بَيْتَيْنِ حِينَمَا قَالَ الذَّمُّ يَعْنِي لَيْسَ مَذْمُومًا الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ هَذِهِ الصُّوَرُ السِّتُّ هِيَ الَّتِي وَحْدَهَا يَجُوزُ فِيهَا الْغِيبَةُ وَيَجُوزُ فِيهَا نَقْلُ الْكَلَامِ مَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَنْهِيًّا عَنْهُ مَذْمُومًا أَعِدْهَا يَقُولُ الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ مُتَظَلِّمٌ يَعْنِي عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ وَمُعَرِّفٌ يُعَرِّفُ وَاحِدًا الطَّوِيلُ الْقَصِيرُ الْأَقْرَعُ وَمُحَذِّرِ انْتَبِهْ مِنْ فُلَانٍ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ  

6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Para ulama fiqih mengatakan bahwa ada pengecualian dalam menyampaikan informasi dengan gibah dan namimah. Ada enam bentuk gibah yang dibolehkan, yang dihimpun dalam bait syair oleh al-Ghazzi. Beliau adalah penulis kitab an-Najm al-Wahhaj. Oh bukan, tapi penulis kitab an-Nujum as-Sairah fi Tarajim Ulama al-Mi’ah al-Asyirah. Ya, nama beliau adalah al-Ghazzi; Najmuddin al-Ghazzi. Beliau menghimpunnya dalam dua bait syair dengan berkata, “Celaan …” Yakni celaan yang tidak tercela. “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: Celaan dari orang yang terzalimi, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan, orang yang menyingkap kefasikan, orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” Enam bentuk keadaan ini saja, seseorang dibolehkan melakukan gibah, dan dibolehkan meneruskan perkataan orang lain. Adapun selain dari enam itu adalah hal terlarang dan tercela. Coba ulangi. Beliau berkata, “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: (1) Celaan dari orang yang terzalimi, (2) orang yang mengenalkan, (3) dan orang yang memperingatkan …” Orang yang terzalimi yakni orang yang mendapat perlakuan zalim. Orang yang mengenalkan yakni yang mengenalkan orang lain. Misal: si Fulan tinggi, pendek, botak, dst. Adapun orang yang memperingatkan, yakni seperti “Hati-hati dengan si Fulan!” “… (4) orang yang menyingkap kefasikan, (5) orang yang meminta fatwa, (6) dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” ====================================================================================================== وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ نَقْلِ الْخَبَرِ فِي الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ سِتَّةُ مَوَاضِعَ جَمَعَهَا النَّاظِمُ وَهُوَ الْغَزِّيُّ لَا بَلْ هُوَ صَاحِبُ النَّجْمِ الْوَهَّاجِ لَا صَاحِبُ النُّجُومِ السَّائِرَةِ فِي تَرَاجِمَ عُلَمَاءِ الْمِئَةِ الْعَاشِرَةِ نَعَمْ الْغَزِّيُّ نَعَمْ نَجْمُ الدِّينِ الْغَزِّيُّ جَمَعَهَا فِي بَيْتَيْنِ حِينَمَا قَالَ الذَّمُّ يَعْنِي لَيْسَ مَذْمُومًا الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ هَذِهِ الصُّوَرُ السِّتُّ هِيَ الَّتِي وَحْدَهَا يَجُوزُ فِيهَا الْغِيبَةُ وَيَجُوزُ فِيهَا نَقْلُ الْكَلَامِ مَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَنْهِيًّا عَنْهُ مَذْمُومًا أَعِدْهَا يَقُولُ الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ مُتَظَلِّمٌ يَعْنِي عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ وَمُعَرِّفٌ يُعَرِّفُ وَاحِدًا الطَّوِيلُ الْقَصِيرُ الْأَقْرَعُ وَمُحَذِّرِ انْتَبِهْ مِنْ فُلَانٍ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ  
6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Para ulama fiqih mengatakan bahwa ada pengecualian dalam menyampaikan informasi dengan gibah dan namimah. Ada enam bentuk gibah yang dibolehkan, yang dihimpun dalam bait syair oleh al-Ghazzi. Beliau adalah penulis kitab an-Najm al-Wahhaj. Oh bukan, tapi penulis kitab an-Nujum as-Sairah fi Tarajim Ulama al-Mi’ah al-Asyirah. Ya, nama beliau adalah al-Ghazzi; Najmuddin al-Ghazzi. Beliau menghimpunnya dalam dua bait syair dengan berkata, “Celaan …” Yakni celaan yang tidak tercela. “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: Celaan dari orang yang terzalimi, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan, orang yang menyingkap kefasikan, orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” Enam bentuk keadaan ini saja, seseorang dibolehkan melakukan gibah, dan dibolehkan meneruskan perkataan orang lain. Adapun selain dari enam itu adalah hal terlarang dan tercela. Coba ulangi. Beliau berkata, “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: (1) Celaan dari orang yang terzalimi, (2) orang yang mengenalkan, (3) dan orang yang memperingatkan …” Orang yang terzalimi yakni orang yang mendapat perlakuan zalim. Orang yang mengenalkan yakni yang mengenalkan orang lain. Misal: si Fulan tinggi, pendek, botak, dst. Adapun orang yang memperingatkan, yakni seperti “Hati-hati dengan si Fulan!” “… (4) orang yang menyingkap kefasikan, (5) orang yang meminta fatwa, (6) dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” ====================================================================================================== وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ نَقْلِ الْخَبَرِ فِي الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ سِتَّةُ مَوَاضِعَ جَمَعَهَا النَّاظِمُ وَهُوَ الْغَزِّيُّ لَا بَلْ هُوَ صَاحِبُ النَّجْمِ الْوَهَّاجِ لَا صَاحِبُ النُّجُومِ السَّائِرَةِ فِي تَرَاجِمَ عُلَمَاءِ الْمِئَةِ الْعَاشِرَةِ نَعَمْ الْغَزِّيُّ نَعَمْ نَجْمُ الدِّينِ الْغَزِّيُّ جَمَعَهَا فِي بَيْتَيْنِ حِينَمَا قَالَ الذَّمُّ يَعْنِي لَيْسَ مَذْمُومًا الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ هَذِهِ الصُّوَرُ السِّتُّ هِيَ الَّتِي وَحْدَهَا يَجُوزُ فِيهَا الْغِيبَةُ وَيَجُوزُ فِيهَا نَقْلُ الْكَلَامِ مَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَنْهِيًّا عَنْهُ مَذْمُومًا أَعِدْهَا يَقُولُ الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ مُتَظَلِّمٌ يَعْنِي عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ وَمُعَرِّفٌ يُعَرِّفُ وَاحِدًا الطَّوِيلُ الْقَصِيرُ الْأَقْرَعُ وَمُحَذِّرِ انْتَبِهْ مِنْ فُلَانٍ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ  


6 Gibah yang Dibolehkan – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Para ulama fiqih mengatakan bahwa ada pengecualian dalam menyampaikan informasi dengan gibah dan namimah. Ada enam bentuk gibah yang dibolehkan, yang dihimpun dalam bait syair oleh al-Ghazzi. Beliau adalah penulis kitab an-Najm al-Wahhaj. Oh bukan, tapi penulis kitab an-Nujum as-Sairah fi Tarajim Ulama al-Mi’ah al-Asyirah. Ya, nama beliau adalah al-Ghazzi; Najmuddin al-Ghazzi. Beliau menghimpunnya dalam dua bait syair dengan berkata, “Celaan …” Yakni celaan yang tidak tercela. “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: Celaan dari orang yang terzalimi, orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan, orang yang menyingkap kefasikan, orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” Enam bentuk keadaan ini saja, seseorang dibolehkan melakukan gibah, dan dibolehkan meneruskan perkataan orang lain. Adapun selain dari enam itu adalah hal terlarang dan tercela. Coba ulangi. Beliau berkata, “Celaan yang tidak termasuk gibah ada enam: (1) Celaan dari orang yang terzalimi, (2) orang yang mengenalkan, (3) dan orang yang memperingatkan …” Orang yang terzalimi yakni orang yang mendapat perlakuan zalim. Orang yang mengenalkan yakni yang mengenalkan orang lain. Misal: si Fulan tinggi, pendek, botak, dst. Adapun orang yang memperingatkan, yakni seperti “Hati-hati dengan si Fulan!” “… (4) orang yang menyingkap kefasikan, (5) orang yang meminta fatwa, (6) dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran.” ====================================================================================================== وَلِذَلِكَ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ إِنَّهُ يُسْتَثْنَى مِنْ نَقْلِ الْخَبَرِ فِي الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ سِتَّةُ مَوَاضِعَ جَمَعَهَا النَّاظِمُ وَهُوَ الْغَزِّيُّ لَا بَلْ هُوَ صَاحِبُ النَّجْمِ الْوَهَّاجِ لَا صَاحِبُ النُّجُومِ السَّائِرَةِ فِي تَرَاجِمَ عُلَمَاءِ الْمِئَةِ الْعَاشِرَةِ نَعَمْ الْغَزِّيُّ نَعَمْ نَجْمُ الدِّينِ الْغَزِّيُّ جَمَعَهَا فِي بَيْتَيْنِ حِينَمَا قَالَ الذَّمُّ يَعْنِي لَيْسَ مَذْمُومًا الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ هَذِهِ الصُّوَرُ السِّتُّ هِيَ الَّتِي وَحْدَهَا يَجُوزُ فِيهَا الْغِيبَةُ وَيَجُوزُ فِيهَا نَقْلُ الْكَلَامِ مَا عَدَا ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَنْهِيًّا عَنْهُ مَذْمُومًا أَعِدْهَا يَقُولُ الذَّمُّ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ مُتَظَلِّمٌ وَمُعَرِّفٌ وَمُحَذِّرِ مُتَظَلِّمٌ يَعْنِي عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ وَمُعَرِّفٌ يُعَرِّفُ وَاحِدًا الطَّوِيلُ الْقَصِيرُ الْأَقْرَعُ وَمُحَذِّرِ انْتَبِهْ مِنْ فُلَانٍ وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ  

Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala, beliau meninggal dunia tahun 204 H. Imam asy-Syafi’i dijuluki dengan “Nashirul Hadits” (penolong hadits) dan “Nashirus Sunnah” (penolong sunnah), padahal beliau tidak memiliki banyak riwayat hadits. Kitab Musnad asy-Syafi’i yang sudah tercetak sekarang, hanya mengandung jumlah hadits yang tidak seberapa. Namun, mengapa (beliau mendapat julukan ini)? Dahulu, para ulama hadits di zaman beliau memiliki banyak perbendaharaan hadits, sedangkan para ulama Irak dikenal memiliki kemampuan qiyas, pemahaman dan pemikiran yang detail. Perguruan Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala yang melayani sunnah dari sisi ini; yakni dari sisi pemahaman as-Sunnah, qiyas, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hadits yang tidak mereka ketahui, dan ada beberapa hadits yang belum sampai kepada mereka. Ditambah pula, mereka sangat ketat dalam menerima riwayat hadits, karena banyaknya kedustaan dalam periwayatan di Irak. Dahulu para ulama hadits menjadi ‘mainan’ di hadapan para ulama ra’yi (perguruan Abu Hanifah), hingga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Dahulu, Ilmu Fiqih terkunci, hingga Allah membukanya melalui Imam asy-Syafi’i.” Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengkolaborasikan dua perguruan. Beliau belajar kepada Imam Malik (ulama hadits), dan belajar juga kepada Muhammad bin al-Hasan, murid Abu Hanifah. Beliau juga tumbuh di lingkungan badui, di suku Hudzail (sehingga lisannya fasih) Ucapan beliau adalah hujjah dalam bahasa Arab, pemahaman beliau tajam, dirinya dihiasi dengan ketakwaan dan keikhlasan. Sehingga hal ini semua, menjadikan beliau mampu meletakkan asas-asas dalam memahami sunnah yang disebut dengan Ilmu Ushul Fiqih. Diskusi-diskusi mulai terjadi di Irak, dan penegakan hujjah dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang mendalam, sehingga Qutaibah bin Said berkata, “Aku melihat Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah) di hadapan Imam asy-Syafi’i seperti bola yang beliau mainkan sesuka hati.” Subhanallah! Namun, mereka semua rahimahumullahu Ta’ala adalah Imam-imam besar. Oleh sebab itu, Imam Ahmad berkata —ketika beliau ditanya tentang Imam asy-Syafi’i— beliau berkata, “Imam asy-Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.” beliau menambahkan, “Dan tidaklah aku mendirikan shalat, melainkan aku mendoakan Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam shalatku.” Demikianlah para imam dalam ilmu hadits. ============================================================ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تُوُفِّيَ سَنَةَ مِائَتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ لُقِّبَ بِنَاصِرِ الْحَدِيثِ نَاصِرِ السُّنَّةِ مَعَ أَنَّ مَا عِنْدَهُ رِوَايَةً كَثِيرَةً الْأَحَادِيثَ مُسْنَدُ الشَّافِعِيِّ المَطْبُوعُ الْآنَ فِيهِ يَعْنِي قَدْرٌ يَسِيرٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ لَكِنْ لِمَاذَا؟ كَانَ أَهْلُ الْحَدِيثِ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ عِنْدَهُمُ الْكُنُوزُ عِنْدَهُمُ الْأَحَادِيثُ لَكِنْ أَهْلُ الْعِرَاقِ اُشْتُهِرُوا بِالْقِيَاسِ وَدِقَّةِ الْفَهْمِ وَالرَّأْيِ مَدْرَسَةُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الَّذِي خَدَمَ السُّنَّةَ مِنْ هَذِهِ النَّاحِيَةِ فِي فِقْهِ السُّنَّةِ وَالْقِيَاسِ وَ لَكِنْ تَخْفَى بَعْضَ الْأَحَادِيثِ مَا تَصِلُ إِلَيْهِمْ بَعْضُ الْأَحَادِيثِ يَتَشَدَّدُوْنَ فِي قَبُولِ الْأَحَادِيثِ لِمَا ظَهَرَ مِنَ الْكَذِبِ الْكَثِيرِ فِي الْعِرَاقِ فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ لُعْبَةً فِي يَدِ أَهْلِ الرَّأْيِ حَتَّى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ كَانَ الْفِقْهُ قُفْلًا حَتَّى فَتَحَهُ اللهُ بِالشَّافِعِيِّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَدْرَسَتَيْنِ دَرَسَ عِنْدَ الْإِمَامِ مَالِكٍ وَدَرَسَ عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ تِلْمِيذِ أَبِي حَنِيفَةَ وَتَرَبَّى فِي الْبَادِيَةِ عِنْدَ هُذَيْلٍ كَلَامُهُ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ فَهْمُهُ ثَاقِبٌ مَعَ تَقْوَى وَإِخْلَاصٍ فَنَتَجَ عَنْ ذَلِكَ أَنَّهُ وَضَعَ الضَّوَابِطَ فِي فَهْمِ السُّنَّةِ وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِأُصُولِ الْفِقْهِ وَبَدَأَتِ الْمُنَاظَرَاتُ فِي الْعِرَاقِ وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَهْمِ الثَّاقِبِ حَتَّى قَالَ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ بَيْنَ يَدَيْ الشَّافِعِيّ كَالْكُرَةِ يُدِيْرُهَا أَيْنَمَا دَارَتْ سُبْحَانَ اللهِ وَكُلُّهُم رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَئِمَّةٌ وَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ قَالَ لَمَّا سُئِلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ قَالَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلنَّاسِ وَالْعَافِيَةِ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ قَالَ وَلَا أُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا وَأَدْعُو فِيهَا لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَهَكَذَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ              

Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala, beliau meninggal dunia tahun 204 H. Imam asy-Syafi’i dijuluki dengan “Nashirul Hadits” (penolong hadits) dan “Nashirus Sunnah” (penolong sunnah), padahal beliau tidak memiliki banyak riwayat hadits. Kitab Musnad asy-Syafi’i yang sudah tercetak sekarang, hanya mengandung jumlah hadits yang tidak seberapa. Namun, mengapa (beliau mendapat julukan ini)? Dahulu, para ulama hadits di zaman beliau memiliki banyak perbendaharaan hadits, sedangkan para ulama Irak dikenal memiliki kemampuan qiyas, pemahaman dan pemikiran yang detail. Perguruan Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala yang melayani sunnah dari sisi ini; yakni dari sisi pemahaman as-Sunnah, qiyas, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hadits yang tidak mereka ketahui, dan ada beberapa hadits yang belum sampai kepada mereka. Ditambah pula, mereka sangat ketat dalam menerima riwayat hadits, karena banyaknya kedustaan dalam periwayatan di Irak. Dahulu para ulama hadits menjadi ‘mainan’ di hadapan para ulama ra’yi (perguruan Abu Hanifah), hingga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Dahulu, Ilmu Fiqih terkunci, hingga Allah membukanya melalui Imam asy-Syafi’i.” Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengkolaborasikan dua perguruan. Beliau belajar kepada Imam Malik (ulama hadits), dan belajar juga kepada Muhammad bin al-Hasan, murid Abu Hanifah. Beliau juga tumbuh di lingkungan badui, di suku Hudzail (sehingga lisannya fasih) Ucapan beliau adalah hujjah dalam bahasa Arab, pemahaman beliau tajam, dirinya dihiasi dengan ketakwaan dan keikhlasan. Sehingga hal ini semua, menjadikan beliau mampu meletakkan asas-asas dalam memahami sunnah yang disebut dengan Ilmu Ushul Fiqih. Diskusi-diskusi mulai terjadi di Irak, dan penegakan hujjah dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang mendalam, sehingga Qutaibah bin Said berkata, “Aku melihat Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah) di hadapan Imam asy-Syafi’i seperti bola yang beliau mainkan sesuka hati.” Subhanallah! Namun, mereka semua rahimahumullahu Ta’ala adalah Imam-imam besar. Oleh sebab itu, Imam Ahmad berkata —ketika beliau ditanya tentang Imam asy-Syafi’i— beliau berkata, “Imam asy-Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.” beliau menambahkan, “Dan tidaklah aku mendirikan shalat, melainkan aku mendoakan Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam shalatku.” Demikianlah para imam dalam ilmu hadits. ============================================================ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تُوُفِّيَ سَنَةَ مِائَتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ لُقِّبَ بِنَاصِرِ الْحَدِيثِ نَاصِرِ السُّنَّةِ مَعَ أَنَّ مَا عِنْدَهُ رِوَايَةً كَثِيرَةً الْأَحَادِيثَ مُسْنَدُ الشَّافِعِيِّ المَطْبُوعُ الْآنَ فِيهِ يَعْنِي قَدْرٌ يَسِيرٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ لَكِنْ لِمَاذَا؟ كَانَ أَهْلُ الْحَدِيثِ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ عِنْدَهُمُ الْكُنُوزُ عِنْدَهُمُ الْأَحَادِيثُ لَكِنْ أَهْلُ الْعِرَاقِ اُشْتُهِرُوا بِالْقِيَاسِ وَدِقَّةِ الْفَهْمِ وَالرَّأْيِ مَدْرَسَةُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الَّذِي خَدَمَ السُّنَّةَ مِنْ هَذِهِ النَّاحِيَةِ فِي فِقْهِ السُّنَّةِ وَالْقِيَاسِ وَ لَكِنْ تَخْفَى بَعْضَ الْأَحَادِيثِ مَا تَصِلُ إِلَيْهِمْ بَعْضُ الْأَحَادِيثِ يَتَشَدَّدُوْنَ فِي قَبُولِ الْأَحَادِيثِ لِمَا ظَهَرَ مِنَ الْكَذِبِ الْكَثِيرِ فِي الْعِرَاقِ فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ لُعْبَةً فِي يَدِ أَهْلِ الرَّأْيِ حَتَّى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ كَانَ الْفِقْهُ قُفْلًا حَتَّى فَتَحَهُ اللهُ بِالشَّافِعِيِّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَدْرَسَتَيْنِ دَرَسَ عِنْدَ الْإِمَامِ مَالِكٍ وَدَرَسَ عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ تِلْمِيذِ أَبِي حَنِيفَةَ وَتَرَبَّى فِي الْبَادِيَةِ عِنْدَ هُذَيْلٍ كَلَامُهُ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ فَهْمُهُ ثَاقِبٌ مَعَ تَقْوَى وَإِخْلَاصٍ فَنَتَجَ عَنْ ذَلِكَ أَنَّهُ وَضَعَ الضَّوَابِطَ فِي فَهْمِ السُّنَّةِ وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِأُصُولِ الْفِقْهِ وَبَدَأَتِ الْمُنَاظَرَاتُ فِي الْعِرَاقِ وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَهْمِ الثَّاقِبِ حَتَّى قَالَ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ بَيْنَ يَدَيْ الشَّافِعِيّ كَالْكُرَةِ يُدِيْرُهَا أَيْنَمَا دَارَتْ سُبْحَانَ اللهِ وَكُلُّهُم رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَئِمَّةٌ وَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ قَالَ لَمَّا سُئِلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ قَالَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلنَّاسِ وَالْعَافِيَةِ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ قَالَ وَلَا أُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا وَأَدْعُو فِيهَا لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَهَكَذَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ              
Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala, beliau meninggal dunia tahun 204 H. Imam asy-Syafi’i dijuluki dengan “Nashirul Hadits” (penolong hadits) dan “Nashirus Sunnah” (penolong sunnah), padahal beliau tidak memiliki banyak riwayat hadits. Kitab Musnad asy-Syafi’i yang sudah tercetak sekarang, hanya mengandung jumlah hadits yang tidak seberapa. Namun, mengapa (beliau mendapat julukan ini)? Dahulu, para ulama hadits di zaman beliau memiliki banyak perbendaharaan hadits, sedangkan para ulama Irak dikenal memiliki kemampuan qiyas, pemahaman dan pemikiran yang detail. Perguruan Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala yang melayani sunnah dari sisi ini; yakni dari sisi pemahaman as-Sunnah, qiyas, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hadits yang tidak mereka ketahui, dan ada beberapa hadits yang belum sampai kepada mereka. Ditambah pula, mereka sangat ketat dalam menerima riwayat hadits, karena banyaknya kedustaan dalam periwayatan di Irak. Dahulu para ulama hadits menjadi ‘mainan’ di hadapan para ulama ra’yi (perguruan Abu Hanifah), hingga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Dahulu, Ilmu Fiqih terkunci, hingga Allah membukanya melalui Imam asy-Syafi’i.” Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengkolaborasikan dua perguruan. Beliau belajar kepada Imam Malik (ulama hadits), dan belajar juga kepada Muhammad bin al-Hasan, murid Abu Hanifah. Beliau juga tumbuh di lingkungan badui, di suku Hudzail (sehingga lisannya fasih) Ucapan beliau adalah hujjah dalam bahasa Arab, pemahaman beliau tajam, dirinya dihiasi dengan ketakwaan dan keikhlasan. Sehingga hal ini semua, menjadikan beliau mampu meletakkan asas-asas dalam memahami sunnah yang disebut dengan Ilmu Ushul Fiqih. Diskusi-diskusi mulai terjadi di Irak, dan penegakan hujjah dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang mendalam, sehingga Qutaibah bin Said berkata, “Aku melihat Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah) di hadapan Imam asy-Syafi’i seperti bola yang beliau mainkan sesuka hati.” Subhanallah! Namun, mereka semua rahimahumullahu Ta’ala adalah Imam-imam besar. Oleh sebab itu, Imam Ahmad berkata —ketika beliau ditanya tentang Imam asy-Syafi’i— beliau berkata, “Imam asy-Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.” beliau menambahkan, “Dan tidaklah aku mendirikan shalat, melainkan aku mendoakan Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam shalatku.” Demikianlah para imam dalam ilmu hadits. ============================================================ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تُوُفِّيَ سَنَةَ مِائَتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ لُقِّبَ بِنَاصِرِ الْحَدِيثِ نَاصِرِ السُّنَّةِ مَعَ أَنَّ مَا عِنْدَهُ رِوَايَةً كَثِيرَةً الْأَحَادِيثَ مُسْنَدُ الشَّافِعِيِّ المَطْبُوعُ الْآنَ فِيهِ يَعْنِي قَدْرٌ يَسِيرٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ لَكِنْ لِمَاذَا؟ كَانَ أَهْلُ الْحَدِيثِ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ عِنْدَهُمُ الْكُنُوزُ عِنْدَهُمُ الْأَحَادِيثُ لَكِنْ أَهْلُ الْعِرَاقِ اُشْتُهِرُوا بِالْقِيَاسِ وَدِقَّةِ الْفَهْمِ وَالرَّأْيِ مَدْرَسَةُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الَّذِي خَدَمَ السُّنَّةَ مِنْ هَذِهِ النَّاحِيَةِ فِي فِقْهِ السُّنَّةِ وَالْقِيَاسِ وَ لَكِنْ تَخْفَى بَعْضَ الْأَحَادِيثِ مَا تَصِلُ إِلَيْهِمْ بَعْضُ الْأَحَادِيثِ يَتَشَدَّدُوْنَ فِي قَبُولِ الْأَحَادِيثِ لِمَا ظَهَرَ مِنَ الْكَذِبِ الْكَثِيرِ فِي الْعِرَاقِ فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ لُعْبَةً فِي يَدِ أَهْلِ الرَّأْيِ حَتَّى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ كَانَ الْفِقْهُ قُفْلًا حَتَّى فَتَحَهُ اللهُ بِالشَّافِعِيِّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَدْرَسَتَيْنِ دَرَسَ عِنْدَ الْإِمَامِ مَالِكٍ وَدَرَسَ عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ تِلْمِيذِ أَبِي حَنِيفَةَ وَتَرَبَّى فِي الْبَادِيَةِ عِنْدَ هُذَيْلٍ كَلَامُهُ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ فَهْمُهُ ثَاقِبٌ مَعَ تَقْوَى وَإِخْلَاصٍ فَنَتَجَ عَنْ ذَلِكَ أَنَّهُ وَضَعَ الضَّوَابِطَ فِي فَهْمِ السُّنَّةِ وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِأُصُولِ الْفِقْهِ وَبَدَأَتِ الْمُنَاظَرَاتُ فِي الْعِرَاقِ وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَهْمِ الثَّاقِبِ حَتَّى قَالَ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ بَيْنَ يَدَيْ الشَّافِعِيّ كَالْكُرَةِ يُدِيْرُهَا أَيْنَمَا دَارَتْ سُبْحَانَ اللهِ وَكُلُّهُم رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَئِمَّةٌ وَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ قَالَ لَمَّا سُئِلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ قَالَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلنَّاسِ وَالْعَافِيَةِ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ قَالَ وَلَا أُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا وَأَدْعُو فِيهَا لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَهَكَذَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ              


Kisah Mengapa Imam Syafi’i Disebut Penolong Sunnah – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala, beliau meninggal dunia tahun 204 H. Imam asy-Syafi’i dijuluki dengan “Nashirul Hadits” (penolong hadits) dan “Nashirus Sunnah” (penolong sunnah), padahal beliau tidak memiliki banyak riwayat hadits. Kitab Musnad asy-Syafi’i yang sudah tercetak sekarang, hanya mengandung jumlah hadits yang tidak seberapa. Namun, mengapa (beliau mendapat julukan ini)? Dahulu, para ulama hadits di zaman beliau memiliki banyak perbendaharaan hadits, sedangkan para ulama Irak dikenal memiliki kemampuan qiyas, pemahaman dan pemikiran yang detail. Perguruan Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala yang melayani sunnah dari sisi ini; yakni dari sisi pemahaman as-Sunnah, qiyas, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hadits yang tidak mereka ketahui, dan ada beberapa hadits yang belum sampai kepada mereka. Ditambah pula, mereka sangat ketat dalam menerima riwayat hadits, karena banyaknya kedustaan dalam periwayatan di Irak. Dahulu para ulama hadits menjadi ‘mainan’ di hadapan para ulama ra’yi (perguruan Abu Hanifah), hingga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Dahulu, Ilmu Fiqih terkunci, hingga Allah membukanya melalui Imam asy-Syafi’i.” Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengkolaborasikan dua perguruan. Beliau belajar kepada Imam Malik (ulama hadits), dan belajar juga kepada Muhammad bin al-Hasan, murid Abu Hanifah. Beliau juga tumbuh di lingkungan badui, di suku Hudzail (sehingga lisannya fasih) Ucapan beliau adalah hujjah dalam bahasa Arab, pemahaman beliau tajam, dirinya dihiasi dengan ketakwaan dan keikhlasan. Sehingga hal ini semua, menjadikan beliau mampu meletakkan asas-asas dalam memahami sunnah yang disebut dengan Ilmu Ushul Fiqih. Diskusi-diskusi mulai terjadi di Irak, dan penegakan hujjah dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang mendalam, sehingga Qutaibah bin Said berkata, “Aku melihat Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah) di hadapan Imam asy-Syafi’i seperti bola yang beliau mainkan sesuka hati.” Subhanallah! Namun, mereka semua rahimahumullahu Ta’ala adalah Imam-imam besar. Oleh sebab itu, Imam Ahmad berkata —ketika beliau ditanya tentang Imam asy-Syafi’i— beliau berkata, “Imam asy-Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.” beliau menambahkan, “Dan tidaklah aku mendirikan shalat, melainkan aku mendoakan Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam shalatku.” Demikianlah para imam dalam ilmu hadits. ============================================================ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى تُوُفِّيَ سَنَةَ مِائَتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ لُقِّبَ بِنَاصِرِ الْحَدِيثِ نَاصِرِ السُّنَّةِ مَعَ أَنَّ مَا عِنْدَهُ رِوَايَةً كَثِيرَةً الْأَحَادِيثَ مُسْنَدُ الشَّافِعِيِّ المَطْبُوعُ الْآنَ فِيهِ يَعْنِي قَدْرٌ يَسِيرٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ لَكِنْ لِمَاذَا؟ كَانَ أَهْلُ الْحَدِيثِ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ عِنْدَهُمُ الْكُنُوزُ عِنْدَهُمُ الْأَحَادِيثُ لَكِنْ أَهْلُ الْعِرَاقِ اُشْتُهِرُوا بِالْقِيَاسِ وَدِقَّةِ الْفَهْمِ وَالرَّأْيِ مَدْرَسَةُ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الَّذِي خَدَمَ السُّنَّةَ مِنْ هَذِهِ النَّاحِيَةِ فِي فِقْهِ السُّنَّةِ وَالْقِيَاسِ وَ لَكِنْ تَخْفَى بَعْضَ الْأَحَادِيثِ مَا تَصِلُ إِلَيْهِمْ بَعْضُ الْأَحَادِيثِ يَتَشَدَّدُوْنَ فِي قَبُولِ الْأَحَادِيثِ لِمَا ظَهَرَ مِنَ الْكَذِبِ الْكَثِيرِ فِي الْعِرَاقِ فَكَانَ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ لُعْبَةً فِي يَدِ أَهْلِ الرَّأْيِ حَتَّى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ كَانَ الْفِقْهُ قُفْلًا حَتَّى فَتَحَهُ اللهُ بِالشَّافِعِيِّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَدْرَسَتَيْنِ دَرَسَ عِنْدَ الْإِمَامِ مَالِكٍ وَدَرَسَ عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ تِلْمِيذِ أَبِي حَنِيفَةَ وَتَرَبَّى فِي الْبَادِيَةِ عِنْدَ هُذَيْلٍ كَلَامُهُ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ فَهْمُهُ ثَاقِبٌ مَعَ تَقْوَى وَإِخْلَاصٍ فَنَتَجَ عَنْ ذَلِكَ أَنَّهُ وَضَعَ الضَّوَابِطَ فِي فَهْمِ السُّنَّةِ وَهُوَ مَا يُسَمَّى بِأُصُولِ الْفِقْهِ وَبَدَأَتِ الْمُنَاظَرَاتُ فِي الْعِرَاقِ وَإِقَامَةُ الْحُجَّةِ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَهْمِ الثَّاقِبِ حَتَّى قَالَ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ رَأَيْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ بَيْنَ يَدَيْ الشَّافِعِيّ كَالْكُرَةِ يُدِيْرُهَا أَيْنَمَا دَارَتْ سُبْحَانَ اللهِ وَكُلُّهُم رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَئِمَّةٌ وَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ قَالَ لَمَّا سُئِلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ قَالَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلنَّاسِ وَالْعَافِيَةِ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا وَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ قَالَ وَلَا أُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا وَأَدْعُو فِيهَا لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ وَهَكَذَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ              

Hukum Menggantungkan Diri kepada Sebab

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa hukum menggantungkan diri kepada sebab?Jawaban:Menggantungkan diri kepada sebab itu ada beberapa macam:Pertama, yang menafikan tauhid secara total. Yaitu ketika seseorang menggantungkan diri kepada sesuatu (sebab), padahal sesuatu tersebut tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Dia menggantungkan diri secara total dan berpaling dari Allah sama sekali. Misalnya, penyembah kubur yang menggantungkan dirinya kepada si mayit untuk melepaskan diri dari musibah. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hukum untuk pelakunya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaKedua, seseorang bersandar kepada sebab-sebab yang dibenarkan secara syariat, akan tetapi dia melupakan pencipta sebab tersebut, yaitu Allah Ta’ala. Maka, ada unsur kesyirikan di sini, meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama (Islam). Hal ini karena dia bergantung kepada sebab yang benar, namun melupakan Allah sebagai pencipta sebab.Ketiga, seseorang menggantungkan diri kepada sebab, namun semata-mata hanya sebagai sebab saja, dia tetap menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala. Dia meyakini bahwa sebab tersebut berasal dari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah bisa memutusnya (sebab tersebut menjadi tidak memiliki efek, pent.). Dan jika Allah berkehendak, Allah bisa melanggengkannya (sebab tersebut berhasil, pent.). Hal ini karena sebab itu tidaklah berpengaruh di luar kehendak Allah Ta’ala. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tauhid, baik pokok maupun penyempurna tauhid.Dengan adanya sebab-sebab yang diijinkan oleh syariat, hendaknya seseorang tidak menggantungkan dirinya kepada sebab tersebut. Bahkan, dia tetap bergantung kepada Allah. Seorang karyawan yang menyandarkan hatinya kepada gaji secara totalitas dan melalaikan Allah, maka ada unsur kesyirikan di dalamnya. Adapun jika dia meyakini bahwa gaji itu hanya sebagai sebab saja, sedangkan pencipta sebab adalah Allah, maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tawakal. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengambil sebab (berusaha), namun tetap menggantungkan hatinya kepada pencipta sebab, yaitu Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijah 1443/ 11 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 71-72, pertanyaan no. 24.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Doa Untuk Saudara Muslim, Pamflet Buku, Akhlak BaikTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyyah

Hukum Menggantungkan Diri kepada Sebab

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa hukum menggantungkan diri kepada sebab?Jawaban:Menggantungkan diri kepada sebab itu ada beberapa macam:Pertama, yang menafikan tauhid secara total. Yaitu ketika seseorang menggantungkan diri kepada sesuatu (sebab), padahal sesuatu tersebut tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Dia menggantungkan diri secara total dan berpaling dari Allah sama sekali. Misalnya, penyembah kubur yang menggantungkan dirinya kepada si mayit untuk melepaskan diri dari musibah. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hukum untuk pelakunya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaKedua, seseorang bersandar kepada sebab-sebab yang dibenarkan secara syariat, akan tetapi dia melupakan pencipta sebab tersebut, yaitu Allah Ta’ala. Maka, ada unsur kesyirikan di sini, meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama (Islam). Hal ini karena dia bergantung kepada sebab yang benar, namun melupakan Allah sebagai pencipta sebab.Ketiga, seseorang menggantungkan diri kepada sebab, namun semata-mata hanya sebagai sebab saja, dia tetap menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala. Dia meyakini bahwa sebab tersebut berasal dari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah bisa memutusnya (sebab tersebut menjadi tidak memiliki efek, pent.). Dan jika Allah berkehendak, Allah bisa melanggengkannya (sebab tersebut berhasil, pent.). Hal ini karena sebab itu tidaklah berpengaruh di luar kehendak Allah Ta’ala. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tauhid, baik pokok maupun penyempurna tauhid.Dengan adanya sebab-sebab yang diijinkan oleh syariat, hendaknya seseorang tidak menggantungkan dirinya kepada sebab tersebut. Bahkan, dia tetap bergantung kepada Allah. Seorang karyawan yang menyandarkan hatinya kepada gaji secara totalitas dan melalaikan Allah, maka ada unsur kesyirikan di dalamnya. Adapun jika dia meyakini bahwa gaji itu hanya sebagai sebab saja, sedangkan pencipta sebab adalah Allah, maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tawakal. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengambil sebab (berusaha), namun tetap menggantungkan hatinya kepada pencipta sebab, yaitu Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijah 1443/ 11 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 71-72, pertanyaan no. 24.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Doa Untuk Saudara Muslim, Pamflet Buku, Akhlak BaikTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyyah
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa hukum menggantungkan diri kepada sebab?Jawaban:Menggantungkan diri kepada sebab itu ada beberapa macam:Pertama, yang menafikan tauhid secara total. Yaitu ketika seseorang menggantungkan diri kepada sesuatu (sebab), padahal sesuatu tersebut tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Dia menggantungkan diri secara total dan berpaling dari Allah sama sekali. Misalnya, penyembah kubur yang menggantungkan dirinya kepada si mayit untuk melepaskan diri dari musibah. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hukum untuk pelakunya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaKedua, seseorang bersandar kepada sebab-sebab yang dibenarkan secara syariat, akan tetapi dia melupakan pencipta sebab tersebut, yaitu Allah Ta’ala. Maka, ada unsur kesyirikan di sini, meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama (Islam). Hal ini karena dia bergantung kepada sebab yang benar, namun melupakan Allah sebagai pencipta sebab.Ketiga, seseorang menggantungkan diri kepada sebab, namun semata-mata hanya sebagai sebab saja, dia tetap menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala. Dia meyakini bahwa sebab tersebut berasal dari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah bisa memutusnya (sebab tersebut menjadi tidak memiliki efek, pent.). Dan jika Allah berkehendak, Allah bisa melanggengkannya (sebab tersebut berhasil, pent.). Hal ini karena sebab itu tidaklah berpengaruh di luar kehendak Allah Ta’ala. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tauhid, baik pokok maupun penyempurna tauhid.Dengan adanya sebab-sebab yang diijinkan oleh syariat, hendaknya seseorang tidak menggantungkan dirinya kepada sebab tersebut. Bahkan, dia tetap bergantung kepada Allah. Seorang karyawan yang menyandarkan hatinya kepada gaji secara totalitas dan melalaikan Allah, maka ada unsur kesyirikan di dalamnya. Adapun jika dia meyakini bahwa gaji itu hanya sebagai sebab saja, sedangkan pencipta sebab adalah Allah, maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tawakal. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengambil sebab (berusaha), namun tetap menggantungkan hatinya kepada pencipta sebab, yaitu Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijah 1443/ 11 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 71-72, pertanyaan no. 24.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Doa Untuk Saudara Muslim, Pamflet Buku, Akhlak BaikTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyyah


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa hukum menggantungkan diri kepada sebab?Jawaban:Menggantungkan diri kepada sebab itu ada beberapa macam:Pertama, yang menafikan tauhid secara total. Yaitu ketika seseorang menggantungkan diri kepada sesuatu (sebab), padahal sesuatu tersebut tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Dia menggantungkan diri secara total dan berpaling dari Allah sama sekali. Misalnya, penyembah kubur yang menggantungkan dirinya kepada si mayit untuk melepaskan diri dari musibah. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hukum untuk pelakunya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaKedua, seseorang bersandar kepada sebab-sebab yang dibenarkan secara syariat, akan tetapi dia melupakan pencipta sebab tersebut, yaitu Allah Ta’ala. Maka, ada unsur kesyirikan di sini, meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama (Islam). Hal ini karena dia bergantung kepada sebab yang benar, namun melupakan Allah sebagai pencipta sebab.Ketiga, seseorang menggantungkan diri kepada sebab, namun semata-mata hanya sebagai sebab saja, dia tetap menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala. Dia meyakini bahwa sebab tersebut berasal dari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah bisa memutusnya (sebab tersebut menjadi tidak memiliki efek, pent.). Dan jika Allah berkehendak, Allah bisa melanggengkannya (sebab tersebut berhasil, pent.). Hal ini karena sebab itu tidaklah berpengaruh di luar kehendak Allah Ta’ala. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tauhid, baik pokok maupun penyempurna tauhid.Dengan adanya sebab-sebab yang diijinkan oleh syariat, hendaknya seseorang tidak menggantungkan dirinya kepada sebab tersebut. Bahkan, dia tetap bergantung kepada Allah. Seorang karyawan yang menyandarkan hatinya kepada gaji secara totalitas dan melalaikan Allah, maka ada unsur kesyirikan di dalamnya. Adapun jika dia meyakini bahwa gaji itu hanya sebagai sebab saja, sedangkan pencipta sebab adalah Allah, maka hal ini tidaklah bertentangan dengan tawakal. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengambil sebab (berusaha), namun tetap menggantungkan hatinya kepada pencipta sebab, yaitu Allah Ta’ala.Baca Juga:Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan Makruh***@Rumah Kasongan, 11 Dzulhijah 1443/ 11 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 71-72, pertanyaan no. 24.🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Doa Dalam Al Quran Dan Hadist, Doa Untuk Saudara Muslim, Pamflet Buku, Akhlak BaikTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyyah

Jenis-Jenis Iradah (Kehendak) Allah

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa saja jenis iradah (kehendak) Allah?Jawaban:Iradah (kehendak) Allah itu terbagi menjadi dua macam,Pertama, iradah kauniyah.Kedua, iradah syar’iyyah.Yang sejenis dengan istilah al-masyi’ah (kehendak) adalah iradah kauniyyah. Adapun yang sejenis dengan istilah al-mahabbah (mencintai) adalah iradah syar’iyyah. Di antara contoh iradah syar’iyyah adalah firman Allah Ta’ala,وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ“Dan Allah hendak menerima tobatmu.” (QS. An-Nisa’: 27)Kata (يُرِيدُ) bermakna “mencintai”, dan bukan bermakna “al-masyi’ah”. Jika dimaknai dengan al-masyi’ah, konsekuensinya adalah semua hamba Allah (manusia) akan bertobat. Ini sesuatu yang tidak terjadi karena mayoritas manusia berada di atas kekafiran. Sehingga makna ayat tersebut adalah, “Allah suka (mencintai) menerima taubatmu.” Adanya kecintaan Allah terhadap sesuatu tidak mengharuskan sesuatu tersebut terjadi. Hal ini karena ada hikmah ilahiyah yang sempurna yang menuntut tidak terjadinya sesuatu yang Allah cintai tersebut.Adapun contoh iradah kauniyah adalah firman Allah Ta’ala,إِن كَانَ اللّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ“ … sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu …” (QS. Huud: 34)Hal ini karena Allah Ta’ala tidak suka untuk menyesatkan manusia. Sehingga tidak tepat jika ayat tersebut dimaknai, “Sekiranya Allah suka menyesatkan kamu.” Akan tetapi, makna yang tepat adalah, “Sekiranya Allah berkehendak (dengan iradah kauniyah, pent.) menyesatkan kamu.”Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidAkan tetapi, masih tersisa pertanyaan, “Lalu, apa perbedaan antara iradah kauniyah dan iradah syar’iyyah ditinjau dari sisi terjadinya sesuatu yang dikehendaki?”Kami katakan, sesuatu yang dikehendaki dengan iradah kauniyah itu pasti terjadi. Jika Allah menghendaki sesuatu secara kauni, maka pasti akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,إنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)Adapun iradah syar’iyyah, bisa saja terjadi, dan bisa juga tidak terjadi. Terkadang Allah menghendaki sesuatu secara syar’i dan mencintai sesuatu tersebut, akan tetapi sesuatu tersebut tidak terjadi. Karena perkara yang dicintai itu bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi.Jika ada seseorang yang bertanya, “Apakah Allah menghendaki terjadinya maksiat?”Kita katakan, Allah menghendakinya secara kauni, namun tidak secara syar’i. Hal ini karena iradah syar’iyyah itu bermakna al-mahabbah, dan Allah tidak mencintai kemaksiatan. Akan tetapi, Allah menghendakinya secara kauni, atau al-masyi’ah. Semua (kejadian) yang ada di langit dan di bumi ini sesuai dengan masyi’ah Allah Ta’ala.Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidPenyimpangan dalam Tauhid Asma’ wa Shifat***@Rumah Kasongan, 12 Dzulhijah 1443/ 12 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 103-104, pertanyaan no. 36. 🔍 Artikel Islam, Hadist Tentang Berjilbab, Ilmu Malaikat Jibril, Puasa Sunnah Bulan Syawal, Keseimbangan Hidup Dunia Dan AkhiratTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Jenis-Jenis Iradah (Kehendak) Allah

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa saja jenis iradah (kehendak) Allah?Jawaban:Iradah (kehendak) Allah itu terbagi menjadi dua macam,Pertama, iradah kauniyah.Kedua, iradah syar’iyyah.Yang sejenis dengan istilah al-masyi’ah (kehendak) adalah iradah kauniyyah. Adapun yang sejenis dengan istilah al-mahabbah (mencintai) adalah iradah syar’iyyah. Di antara contoh iradah syar’iyyah adalah firman Allah Ta’ala,وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ“Dan Allah hendak menerima tobatmu.” (QS. An-Nisa’: 27)Kata (يُرِيدُ) bermakna “mencintai”, dan bukan bermakna “al-masyi’ah”. Jika dimaknai dengan al-masyi’ah, konsekuensinya adalah semua hamba Allah (manusia) akan bertobat. Ini sesuatu yang tidak terjadi karena mayoritas manusia berada di atas kekafiran. Sehingga makna ayat tersebut adalah, “Allah suka (mencintai) menerima taubatmu.” Adanya kecintaan Allah terhadap sesuatu tidak mengharuskan sesuatu tersebut terjadi. Hal ini karena ada hikmah ilahiyah yang sempurna yang menuntut tidak terjadinya sesuatu yang Allah cintai tersebut.Adapun contoh iradah kauniyah adalah firman Allah Ta’ala,إِن كَانَ اللّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ“ … sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu …” (QS. Huud: 34)Hal ini karena Allah Ta’ala tidak suka untuk menyesatkan manusia. Sehingga tidak tepat jika ayat tersebut dimaknai, “Sekiranya Allah suka menyesatkan kamu.” Akan tetapi, makna yang tepat adalah, “Sekiranya Allah berkehendak (dengan iradah kauniyah, pent.) menyesatkan kamu.”Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidAkan tetapi, masih tersisa pertanyaan, “Lalu, apa perbedaan antara iradah kauniyah dan iradah syar’iyyah ditinjau dari sisi terjadinya sesuatu yang dikehendaki?”Kami katakan, sesuatu yang dikehendaki dengan iradah kauniyah itu pasti terjadi. Jika Allah menghendaki sesuatu secara kauni, maka pasti akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,إنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)Adapun iradah syar’iyyah, bisa saja terjadi, dan bisa juga tidak terjadi. Terkadang Allah menghendaki sesuatu secara syar’i dan mencintai sesuatu tersebut, akan tetapi sesuatu tersebut tidak terjadi. Karena perkara yang dicintai itu bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi.Jika ada seseorang yang bertanya, “Apakah Allah menghendaki terjadinya maksiat?”Kita katakan, Allah menghendakinya secara kauni, namun tidak secara syar’i. Hal ini karena iradah syar’iyyah itu bermakna al-mahabbah, dan Allah tidak mencintai kemaksiatan. Akan tetapi, Allah menghendakinya secara kauni, atau al-masyi’ah. Semua (kejadian) yang ada di langit dan di bumi ini sesuai dengan masyi’ah Allah Ta’ala.Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidPenyimpangan dalam Tauhid Asma’ wa Shifat***@Rumah Kasongan, 12 Dzulhijah 1443/ 12 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 103-104, pertanyaan no. 36. 🔍 Artikel Islam, Hadist Tentang Berjilbab, Ilmu Malaikat Jibril, Puasa Sunnah Bulan Syawal, Keseimbangan Hidup Dunia Dan AkhiratTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa saja jenis iradah (kehendak) Allah?Jawaban:Iradah (kehendak) Allah itu terbagi menjadi dua macam,Pertama, iradah kauniyah.Kedua, iradah syar’iyyah.Yang sejenis dengan istilah al-masyi’ah (kehendak) adalah iradah kauniyyah. Adapun yang sejenis dengan istilah al-mahabbah (mencintai) adalah iradah syar’iyyah. Di antara contoh iradah syar’iyyah adalah firman Allah Ta’ala,وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ“Dan Allah hendak menerima tobatmu.” (QS. An-Nisa’: 27)Kata (يُرِيدُ) bermakna “mencintai”, dan bukan bermakna “al-masyi’ah”. Jika dimaknai dengan al-masyi’ah, konsekuensinya adalah semua hamba Allah (manusia) akan bertobat. Ini sesuatu yang tidak terjadi karena mayoritas manusia berada di atas kekafiran. Sehingga makna ayat tersebut adalah, “Allah suka (mencintai) menerima taubatmu.” Adanya kecintaan Allah terhadap sesuatu tidak mengharuskan sesuatu tersebut terjadi. Hal ini karena ada hikmah ilahiyah yang sempurna yang menuntut tidak terjadinya sesuatu yang Allah cintai tersebut.Adapun contoh iradah kauniyah adalah firman Allah Ta’ala,إِن كَانَ اللّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ“ … sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu …” (QS. Huud: 34)Hal ini karena Allah Ta’ala tidak suka untuk menyesatkan manusia. Sehingga tidak tepat jika ayat tersebut dimaknai, “Sekiranya Allah suka menyesatkan kamu.” Akan tetapi, makna yang tepat adalah, “Sekiranya Allah berkehendak (dengan iradah kauniyah, pent.) menyesatkan kamu.”Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidAkan tetapi, masih tersisa pertanyaan, “Lalu, apa perbedaan antara iradah kauniyah dan iradah syar’iyyah ditinjau dari sisi terjadinya sesuatu yang dikehendaki?”Kami katakan, sesuatu yang dikehendaki dengan iradah kauniyah itu pasti terjadi. Jika Allah menghendaki sesuatu secara kauni, maka pasti akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,إنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)Adapun iradah syar’iyyah, bisa saja terjadi, dan bisa juga tidak terjadi. Terkadang Allah menghendaki sesuatu secara syar’i dan mencintai sesuatu tersebut, akan tetapi sesuatu tersebut tidak terjadi. Karena perkara yang dicintai itu bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi.Jika ada seseorang yang bertanya, “Apakah Allah menghendaki terjadinya maksiat?”Kita katakan, Allah menghendakinya secara kauni, namun tidak secara syar’i. Hal ini karena iradah syar’iyyah itu bermakna al-mahabbah, dan Allah tidak mencintai kemaksiatan. Akan tetapi, Allah menghendakinya secara kauni, atau al-masyi’ah. Semua (kejadian) yang ada di langit dan di bumi ini sesuai dengan masyi’ah Allah Ta’ala.Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidPenyimpangan dalam Tauhid Asma’ wa Shifat***@Rumah Kasongan, 12 Dzulhijah 1443/ 12 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 103-104, pertanyaan no. 36. 🔍 Artikel Islam, Hadist Tentang Berjilbab, Ilmu Malaikat Jibril, Puasa Sunnah Bulan Syawal, Keseimbangan Hidup Dunia Dan AkhiratTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Pertanyaan:Apa saja jenis iradah (kehendak) Allah?Jawaban:Iradah (kehendak) Allah itu terbagi menjadi dua macam,Pertama, iradah kauniyah.Kedua, iradah syar’iyyah.Yang sejenis dengan istilah al-masyi’ah (kehendak) adalah iradah kauniyyah. Adapun yang sejenis dengan istilah al-mahabbah (mencintai) adalah iradah syar’iyyah. Di antara contoh iradah syar’iyyah adalah firman Allah Ta’ala,وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ“Dan Allah hendak menerima tobatmu.” (QS. An-Nisa’: 27)Kata (يُرِيدُ) bermakna “mencintai”, dan bukan bermakna “al-masyi’ah”. Jika dimaknai dengan al-masyi’ah, konsekuensinya adalah semua hamba Allah (manusia) akan bertobat. Ini sesuatu yang tidak terjadi karena mayoritas manusia berada di atas kekafiran. Sehingga makna ayat tersebut adalah, “Allah suka (mencintai) menerima taubatmu.” Adanya kecintaan Allah terhadap sesuatu tidak mengharuskan sesuatu tersebut terjadi. Hal ini karena ada hikmah ilahiyah yang sempurna yang menuntut tidak terjadinya sesuatu yang Allah cintai tersebut.Adapun contoh iradah kauniyah adalah firman Allah Ta’ala,إِن كَانَ اللّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ“ … sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu …” (QS. Huud: 34)Hal ini karena Allah Ta’ala tidak suka untuk menyesatkan manusia. Sehingga tidak tepat jika ayat tersebut dimaknai, “Sekiranya Allah suka menyesatkan kamu.” Akan tetapi, makna yang tepat adalah, “Sekiranya Allah berkehendak (dengan iradah kauniyah, pent.) menyesatkan kamu.”Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidAkan tetapi, masih tersisa pertanyaan, “Lalu, apa perbedaan antara iradah kauniyah dan iradah syar’iyyah ditinjau dari sisi terjadinya sesuatu yang dikehendaki?”Kami katakan, sesuatu yang dikehendaki dengan iradah kauniyah itu pasti terjadi. Jika Allah menghendaki sesuatu secara kauni, maka pasti akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,إنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)Adapun iradah syar’iyyah, bisa saja terjadi, dan bisa juga tidak terjadi. Terkadang Allah menghendaki sesuatu secara syar’i dan mencintai sesuatu tersebut, akan tetapi sesuatu tersebut tidak terjadi. Karena perkara yang dicintai itu bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi.Jika ada seseorang yang bertanya, “Apakah Allah menghendaki terjadinya maksiat?”Kita katakan, Allah menghendakinya secara kauni, namun tidak secara syar’i. Hal ini karena iradah syar’iyyah itu bermakna al-mahabbah, dan Allah tidak mencintai kemaksiatan. Akan tetapi, Allah menghendakinya secara kauni, atau al-masyi’ah. Semua (kejadian) yang ada di langit dan di bumi ini sesuai dengan masyi’ah Allah Ta’ala.Baca Juga:Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidPenyimpangan dalam Tauhid Asma’ wa Shifat***@Rumah Kasongan, 12 Dzulhijah 1443/ 12 Juli 2022Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Fataawa Arkaanil Islaam, hal. 103-104, pertanyaan no. 36. 🔍 Artikel Islam, Hadist Tentang Berjilbab, Ilmu Malaikat Jibril, Puasa Sunnah Bulan Syawal, Keseimbangan Hidup Dunia Dan AkhiratTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidmanhaj salafmengenal Allahnasihatnasihat islamTauhidtauhid asma wa shifattauhid rububiyahtauhid uluhiyah

Jauhi Sifat Panjang Angan-angan

Jauhi Sifat Panjang Angan-angan Di antara akhlak yang tercela adalah panjang angan-angan. Panjang angan-angan disebut juga thulul amal atau thulul amad, adalah terlalu banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia.  Definisi thulul amal dijelaskan para ulama: وقال المناويّ: الأمل: توقّع حصول الشّيء، وأكثر ما يستعمل فيما يستبعد حصوله أمّا طول الأمل: فهو الاستمرار في الحرص على الدّنيا ومداومة الانكباب عليها مع كثرة الإعراض عن الآخرة “Al-Munawi mengatakan: al-amal artinya mengangankan terjadinya sesuatu. Namun istilah ini lebih sering digunakan untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk diraih. Adapun thulul amal artinya: terus-menerus bersemangat mencari dunia dan mencurahkan segala hal untuk dunia, dan di sisi lain, banyak berpaling dari urusan akhirat” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Al-amal (angan-angan) berbeda dengan ath-tham’u (tamak) dan ar-raja’ (cita-cita). Al-amal adalah perkara yang kemungkinannya kecil untuk diraih, sedangkan tamak adalah berlebihan menginginkan perkara yang mudah diraih, adapun cita-cita adalah mengharapkan sesuatu yang mungkin diraih. Ini digambarkan oleh al-Munawi: من عزم على سفر إلى بلد بعيد يقول أملت الوصول ولا يقول طمعت، لأنّ الطّمع لا يكون إلّا فى القريب، والأمل في البعيد، والرّجاء بينهما، لأنّ الرّاجي يخاف ألّا يحصّل مأموله “Seseorang yang ingin pergi safar ke tempat yang sangat jauh, maka ia akan mengatakan: aamaltul wushul bukan thama’tul wushul. Karena tamak itu tidak dilakukan kecuali kepada yang dekat. Sedangkan al-amal hanya kepada yang jauh saja. Adapun ar-raja’, di antara keduanya. Karena orang yang raja’ (bercita-cita) ia khawatir apa yang diangankan itu tidak tercapai” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Celaan terhadap sifat thulul amal Allah dan Rasul-Nya mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ta’ala berfirman: وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ “Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16). Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ “Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan” (HR. al-Bukhari no. 6420). Manusia cenderung memiliki angan-angan terhadap dunia yang panjang, banyak dan berlebihan. Ini digambarkan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik berikut ini. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَطَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وخَطَّ خَطًّا في الوَسَطِ خَارِجًا منه، وخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إلى هذا الذي في الوَسَطِ مِن جَانِبِهِ الذي في الوَسَطِ، وقَالَ: هذا الإنْسَانُ، وهذا أجَلُهُ مُحِيطٌ به – أوْ: قدْ أحَاطَ به – وهذا الذي هو خَارِجٌ أمَلُهُ، وهذِه الخُطَطُ الصِّغَارُ الأعْرَاضُ، فإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا، وإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat garis lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, “Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu” (HR. Bukhari no.6417). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هذا ابنُ آدمَ وهذا أجلُه ؛ ووضع يدَه عند قَفَاهُ ، ثمَّ بسطَها فقال : وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ “Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan” (HR. at-Tirmidzi no.2334, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi). Para salafus shalih juga mencela sifat panjang angan-angan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ “Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan: لا يطولنّ عليكم الأمد ولا يلهينّكم الأمل فإنّ كلّ ما هو آت قريب، ألا وإنّ البعيد ما ليس آتيا “Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah no. 3 secara marfu‘, namun yang shahih adalah mauquf dari Ibnu Mas’ud. Disebutkan Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid, hal. 200). Sikap yang benar terhadap dunia Sikap yang benar, persedikit angan-angan dalam urusan dunia, lebih banyak fokus dan perhatian pada urusan akhirat.  Seperti orang yang mampir untuk singgah, maka sedikit sekali urusannya dengan tempat singgahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, ia berkata: أخَذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمَنكِبي فقال : ( كُنْ في الدنيا كأنك غريبٌ أو عابرُ سبيلٍ ) . وكان ابنُ عُمرَ يقولُ : إذا أمسيْتَ فلا تنتَظِرِ الصباحَ، وإذا أصبحْتَ فلا تنتظِرِ المساءَ، وخُذْ من صحتِك لمرضِك، ومن حياتِك لموتِك “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416). Bahaya panjang angan-angan Orang yang panjang angan-angan akan lupa terhadap akhirat dan lupa terhadap nikmat-nikmat yang Allah janjikan bagi orang yang taat kepada-Nya. Serta akan lupa akan kerasnya azab Allah di akhirat bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya. Orang yang panjang angan-angan akan kurang kesabarannya untuk menahan diri terhadap syahwat dan akan sering lalai dari melakukan ketaatan. Panjang angan-angan akan membuat orang mati-matian mengusahakan kebahagiaan lahiriyah di dunia dan ia akan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana. Orang yang panjang angan-angan hatinya akan keras dan air matanya akan mengering, serta akan berambisi tinggi terhadap dunia. Orang yang panjang angan-angan akan mudah melakukan maksiat dan jauh dari ketaatan. Orang yang panjang angan-angan akan cenderung mudah menzalimi orang lain dan melanggar hak-hak orang lain. (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4867). Demikian uraian yang ringkas ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat panjang angan-angan dan menjadikan kita para hamba yang berambisi pada akhirat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apa Itu Ldii, Bacaan Salam Dalam Shalat, Mencari Barang Hilang Dalam Islam, Cerita Dari Mantan Wanita Syiah, Pomade Halal, Perbedaan Tupperware Asli Dan Palsu Visited 2,416 times, 13 visit(s) today Post Views: 734 QRIS donasi Yufid

Jauhi Sifat Panjang Angan-angan

Jauhi Sifat Panjang Angan-angan Di antara akhlak yang tercela adalah panjang angan-angan. Panjang angan-angan disebut juga thulul amal atau thulul amad, adalah terlalu banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia.  Definisi thulul amal dijelaskan para ulama: وقال المناويّ: الأمل: توقّع حصول الشّيء، وأكثر ما يستعمل فيما يستبعد حصوله أمّا طول الأمل: فهو الاستمرار في الحرص على الدّنيا ومداومة الانكباب عليها مع كثرة الإعراض عن الآخرة “Al-Munawi mengatakan: al-amal artinya mengangankan terjadinya sesuatu. Namun istilah ini lebih sering digunakan untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk diraih. Adapun thulul amal artinya: terus-menerus bersemangat mencari dunia dan mencurahkan segala hal untuk dunia, dan di sisi lain, banyak berpaling dari urusan akhirat” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Al-amal (angan-angan) berbeda dengan ath-tham’u (tamak) dan ar-raja’ (cita-cita). Al-amal adalah perkara yang kemungkinannya kecil untuk diraih, sedangkan tamak adalah berlebihan menginginkan perkara yang mudah diraih, adapun cita-cita adalah mengharapkan sesuatu yang mungkin diraih. Ini digambarkan oleh al-Munawi: من عزم على سفر إلى بلد بعيد يقول أملت الوصول ولا يقول طمعت، لأنّ الطّمع لا يكون إلّا فى القريب، والأمل في البعيد، والرّجاء بينهما، لأنّ الرّاجي يخاف ألّا يحصّل مأموله “Seseorang yang ingin pergi safar ke tempat yang sangat jauh, maka ia akan mengatakan: aamaltul wushul bukan thama’tul wushul. Karena tamak itu tidak dilakukan kecuali kepada yang dekat. Sedangkan al-amal hanya kepada yang jauh saja. Adapun ar-raja’, di antara keduanya. Karena orang yang raja’ (bercita-cita) ia khawatir apa yang diangankan itu tidak tercapai” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Celaan terhadap sifat thulul amal Allah dan Rasul-Nya mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ta’ala berfirman: وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ “Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16). Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ “Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan” (HR. al-Bukhari no. 6420). Manusia cenderung memiliki angan-angan terhadap dunia yang panjang, banyak dan berlebihan. Ini digambarkan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik berikut ini. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَطَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وخَطَّ خَطًّا في الوَسَطِ خَارِجًا منه، وخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إلى هذا الذي في الوَسَطِ مِن جَانِبِهِ الذي في الوَسَطِ، وقَالَ: هذا الإنْسَانُ، وهذا أجَلُهُ مُحِيطٌ به – أوْ: قدْ أحَاطَ به – وهذا الذي هو خَارِجٌ أمَلُهُ، وهذِه الخُطَطُ الصِّغَارُ الأعْرَاضُ، فإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا، وإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat garis lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, “Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu” (HR. Bukhari no.6417). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هذا ابنُ آدمَ وهذا أجلُه ؛ ووضع يدَه عند قَفَاهُ ، ثمَّ بسطَها فقال : وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ “Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan” (HR. at-Tirmidzi no.2334, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi). Para salafus shalih juga mencela sifat panjang angan-angan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ “Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan: لا يطولنّ عليكم الأمد ولا يلهينّكم الأمل فإنّ كلّ ما هو آت قريب، ألا وإنّ البعيد ما ليس آتيا “Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah no. 3 secara marfu‘, namun yang shahih adalah mauquf dari Ibnu Mas’ud. Disebutkan Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid, hal. 200). Sikap yang benar terhadap dunia Sikap yang benar, persedikit angan-angan dalam urusan dunia, lebih banyak fokus dan perhatian pada urusan akhirat.  Seperti orang yang mampir untuk singgah, maka sedikit sekali urusannya dengan tempat singgahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, ia berkata: أخَذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمَنكِبي فقال : ( كُنْ في الدنيا كأنك غريبٌ أو عابرُ سبيلٍ ) . وكان ابنُ عُمرَ يقولُ : إذا أمسيْتَ فلا تنتَظِرِ الصباحَ، وإذا أصبحْتَ فلا تنتظِرِ المساءَ، وخُذْ من صحتِك لمرضِك، ومن حياتِك لموتِك “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416). Bahaya panjang angan-angan Orang yang panjang angan-angan akan lupa terhadap akhirat dan lupa terhadap nikmat-nikmat yang Allah janjikan bagi orang yang taat kepada-Nya. Serta akan lupa akan kerasnya azab Allah di akhirat bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya. Orang yang panjang angan-angan akan kurang kesabarannya untuk menahan diri terhadap syahwat dan akan sering lalai dari melakukan ketaatan. Panjang angan-angan akan membuat orang mati-matian mengusahakan kebahagiaan lahiriyah di dunia dan ia akan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana. Orang yang panjang angan-angan hatinya akan keras dan air matanya akan mengering, serta akan berambisi tinggi terhadap dunia. Orang yang panjang angan-angan akan mudah melakukan maksiat dan jauh dari ketaatan. Orang yang panjang angan-angan akan cenderung mudah menzalimi orang lain dan melanggar hak-hak orang lain. (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4867). Demikian uraian yang ringkas ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat panjang angan-angan dan menjadikan kita para hamba yang berambisi pada akhirat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apa Itu Ldii, Bacaan Salam Dalam Shalat, Mencari Barang Hilang Dalam Islam, Cerita Dari Mantan Wanita Syiah, Pomade Halal, Perbedaan Tupperware Asli Dan Palsu Visited 2,416 times, 13 visit(s) today Post Views: 734 QRIS donasi Yufid
Jauhi Sifat Panjang Angan-angan Di antara akhlak yang tercela adalah panjang angan-angan. Panjang angan-angan disebut juga thulul amal atau thulul amad, adalah terlalu banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia.  Definisi thulul amal dijelaskan para ulama: وقال المناويّ: الأمل: توقّع حصول الشّيء، وأكثر ما يستعمل فيما يستبعد حصوله أمّا طول الأمل: فهو الاستمرار في الحرص على الدّنيا ومداومة الانكباب عليها مع كثرة الإعراض عن الآخرة “Al-Munawi mengatakan: al-amal artinya mengangankan terjadinya sesuatu. Namun istilah ini lebih sering digunakan untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk diraih. Adapun thulul amal artinya: terus-menerus bersemangat mencari dunia dan mencurahkan segala hal untuk dunia, dan di sisi lain, banyak berpaling dari urusan akhirat” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Al-amal (angan-angan) berbeda dengan ath-tham’u (tamak) dan ar-raja’ (cita-cita). Al-amal adalah perkara yang kemungkinannya kecil untuk diraih, sedangkan tamak adalah berlebihan menginginkan perkara yang mudah diraih, adapun cita-cita adalah mengharapkan sesuatu yang mungkin diraih. Ini digambarkan oleh al-Munawi: من عزم على سفر إلى بلد بعيد يقول أملت الوصول ولا يقول طمعت، لأنّ الطّمع لا يكون إلّا فى القريب، والأمل في البعيد، والرّجاء بينهما، لأنّ الرّاجي يخاف ألّا يحصّل مأموله “Seseorang yang ingin pergi safar ke tempat yang sangat jauh, maka ia akan mengatakan: aamaltul wushul bukan thama’tul wushul. Karena tamak itu tidak dilakukan kecuali kepada yang dekat. Sedangkan al-amal hanya kepada yang jauh saja. Adapun ar-raja’, di antara keduanya. Karena orang yang raja’ (bercita-cita) ia khawatir apa yang diangankan itu tidak tercapai” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Celaan terhadap sifat thulul amal Allah dan Rasul-Nya mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ta’ala berfirman: وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ “Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16). Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ “Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan” (HR. al-Bukhari no. 6420). Manusia cenderung memiliki angan-angan terhadap dunia yang panjang, banyak dan berlebihan. Ini digambarkan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik berikut ini. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَطَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وخَطَّ خَطًّا في الوَسَطِ خَارِجًا منه، وخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إلى هذا الذي في الوَسَطِ مِن جَانِبِهِ الذي في الوَسَطِ، وقَالَ: هذا الإنْسَانُ، وهذا أجَلُهُ مُحِيطٌ به – أوْ: قدْ أحَاطَ به – وهذا الذي هو خَارِجٌ أمَلُهُ، وهذِه الخُطَطُ الصِّغَارُ الأعْرَاضُ، فإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا، وإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat garis lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, “Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu” (HR. Bukhari no.6417). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هذا ابنُ آدمَ وهذا أجلُه ؛ ووضع يدَه عند قَفَاهُ ، ثمَّ بسطَها فقال : وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ “Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan” (HR. at-Tirmidzi no.2334, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi). Para salafus shalih juga mencela sifat panjang angan-angan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ “Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan: لا يطولنّ عليكم الأمد ولا يلهينّكم الأمل فإنّ كلّ ما هو آت قريب، ألا وإنّ البعيد ما ليس آتيا “Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah no. 3 secara marfu‘, namun yang shahih adalah mauquf dari Ibnu Mas’ud. Disebutkan Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid, hal. 200). Sikap yang benar terhadap dunia Sikap yang benar, persedikit angan-angan dalam urusan dunia, lebih banyak fokus dan perhatian pada urusan akhirat.  Seperti orang yang mampir untuk singgah, maka sedikit sekali urusannya dengan tempat singgahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, ia berkata: أخَذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمَنكِبي فقال : ( كُنْ في الدنيا كأنك غريبٌ أو عابرُ سبيلٍ ) . وكان ابنُ عُمرَ يقولُ : إذا أمسيْتَ فلا تنتَظِرِ الصباحَ، وإذا أصبحْتَ فلا تنتظِرِ المساءَ، وخُذْ من صحتِك لمرضِك، ومن حياتِك لموتِك “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416). Bahaya panjang angan-angan Orang yang panjang angan-angan akan lupa terhadap akhirat dan lupa terhadap nikmat-nikmat yang Allah janjikan bagi orang yang taat kepada-Nya. Serta akan lupa akan kerasnya azab Allah di akhirat bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya. Orang yang panjang angan-angan akan kurang kesabarannya untuk menahan diri terhadap syahwat dan akan sering lalai dari melakukan ketaatan. Panjang angan-angan akan membuat orang mati-matian mengusahakan kebahagiaan lahiriyah di dunia dan ia akan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana. Orang yang panjang angan-angan hatinya akan keras dan air matanya akan mengering, serta akan berambisi tinggi terhadap dunia. Orang yang panjang angan-angan akan mudah melakukan maksiat dan jauh dari ketaatan. Orang yang panjang angan-angan akan cenderung mudah menzalimi orang lain dan melanggar hak-hak orang lain. (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4867). Demikian uraian yang ringkas ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat panjang angan-angan dan menjadikan kita para hamba yang berambisi pada akhirat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apa Itu Ldii, Bacaan Salam Dalam Shalat, Mencari Barang Hilang Dalam Islam, Cerita Dari Mantan Wanita Syiah, Pomade Halal, Perbedaan Tupperware Asli Dan Palsu Visited 2,416 times, 13 visit(s) today Post Views: 734 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1338603160&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Jauhi Sifat Panjang Angan-angan Di antara akhlak yang tercela adalah panjang angan-angan. Panjang angan-angan disebut juga thulul amal atau thulul amad, adalah terlalu banyak mengangankan perkara dunia dan cinta dunia.  Definisi thulul amal dijelaskan para ulama: وقال المناويّ: الأمل: توقّع حصول الشّيء، وأكثر ما يستعمل فيما يستبعد حصوله أمّا طول الأمل: فهو الاستمرار في الحرص على الدّنيا ومداومة الانكباب عليها مع كثرة الإعراض عن الآخرة “Al-Munawi mengatakan: al-amal artinya mengangankan terjadinya sesuatu. Namun istilah ini lebih sering digunakan untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil untuk diraih. Adapun thulul amal artinya: terus-menerus bersemangat mencari dunia dan mencurahkan segala hal untuk dunia, dan di sisi lain, banyak berpaling dari urusan akhirat” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Al-amal (angan-angan) berbeda dengan ath-tham’u (tamak) dan ar-raja’ (cita-cita). Al-amal adalah perkara yang kemungkinannya kecil untuk diraih, sedangkan tamak adalah berlebihan menginginkan perkara yang mudah diraih, adapun cita-cita adalah mengharapkan sesuatu yang mungkin diraih. Ini digambarkan oleh al-Munawi: من عزم على سفر إلى بلد بعيد يقول أملت الوصول ولا يقول طمعت، لأنّ الطّمع لا يكون إلّا فى القريب، والأمل في البعيد، والرّجاء بينهما، لأنّ الرّاجي يخاف ألّا يحصّل مأموله “Seseorang yang ingin pergi safar ke tempat yang sangat jauh, maka ia akan mengatakan: aamaltul wushul bukan thama’tul wushul. Karena tamak itu tidak dilakukan kecuali kepada yang dekat. Sedangkan al-amal hanya kepada yang jauh saja. Adapun ar-raja’, di antara keduanya. Karena orang yang raja’ (bercita-cita) ia khawatir apa yang diangankan itu tidak tercapai” (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4857). Celaan terhadap sifat thulul amal Allah dan Rasul-Nya mencela sifat panjang angan-angan. Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah ta’ala berfirman: وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ “Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. al-Hadid: 16). Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ “Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan” (HR. al-Bukhari no. 6420). Manusia cenderung memiliki angan-angan terhadap dunia yang panjang, banyak dan berlebihan. Ini digambarkan dalam hadis Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik berikut ini. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَطَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وخَطَّ خَطًّا في الوَسَطِ خَارِجًا منه، وخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إلى هذا الذي في الوَسَطِ مِن جَانِبِهِ الذي في الوَسَطِ، وقَالَ: هذا الإنْسَانُ، وهذا أجَلُهُ مُحِيطٌ به – أوْ: قدْ أحَاطَ به – وهذا الذي هو خَارِجٌ أمَلُهُ، وهذِه الخُطَطُ الصِّغَارُ الأعْرَاضُ، فإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا، وإنْ أخْطَأَهُ هذا نَهَشَهُ هذا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat garis lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, “Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu” (HR. Bukhari no.6417). Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هذا ابنُ آدمَ وهذا أجلُه ؛ ووضع يدَه عند قَفَاهُ ، ثمَّ بسطَها فقال : وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ وثَمَّ أمَلُهُ “Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan” (HR. at-Tirmidzi no.2334, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi). Para salafus shalih juga mencela sifat panjang angan-angan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ “Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/76). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan: لا يطولنّ عليكم الأمد ولا يلهينّكم الأمل فإنّ كلّ ما هو آت قريب، ألا وإنّ البعيد ما ليس آتيا “Janganlah kalian panjang angan-angan, dan jangan sampai kalian terlena oleh panjang angan-angan. Sesungguhnya semua yang sedang terjadi itu yang dekat. Dan sesuatu yang jauh adalah yang belum datang” (HR. Ibnu Majah no. 3 secara marfu‘, namun yang shahih adalah mauquf dari Ibnu Mas’ud. Disebutkan Ibnul Qayyim dalam al-Fawaid, hal. 200). Sikap yang benar terhadap dunia Sikap yang benar, persedikit angan-angan dalam urusan dunia, lebih banyak fokus dan perhatian pada urusan akhirat.  Seperti orang yang mampir untuk singgah, maka sedikit sekali urusannya dengan tempat singgahnya. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu, ia berkata: أخَذ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بمَنكِبي فقال : ( كُنْ في الدنيا كأنك غريبٌ أو عابرُ سبيلٍ ) . وكان ابنُ عُمرَ يقولُ : إذا أمسيْتَ فلا تنتَظِرِ الصباحَ، وإذا أصبحْتَ فلا تنتظِرِ المساءَ، وخُذْ من صحتِك لمرضِك، ومن حياتِك لموتِك “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’” (HR. al-Bukhari no. 6416). Bahaya panjang angan-angan Orang yang panjang angan-angan akan lupa terhadap akhirat dan lupa terhadap nikmat-nikmat yang Allah janjikan bagi orang yang taat kepada-Nya. Serta akan lupa akan kerasnya azab Allah di akhirat bagi orang yang bermaksiat kepada-Nya. Orang yang panjang angan-angan akan kurang kesabarannya untuk menahan diri terhadap syahwat dan akan sering lalai dari melakukan ketaatan. Panjang angan-angan akan membuat orang mati-matian mengusahakan kebahagiaan lahiriyah di dunia dan ia akan tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana. Orang yang panjang angan-angan hatinya akan keras dan air matanya akan mengering, serta akan berambisi tinggi terhadap dunia. Orang yang panjang angan-angan akan mudah melakukan maksiat dan jauh dari ketaatan. Orang yang panjang angan-angan akan cenderung mudah menzalimi orang lain dan melanggar hak-hak orang lain. (Nudhratun Na’im fi Makarimil Akhlaq, 10/4867). Demikian uraian yang ringkas ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat panjang angan-angan dan menjadikan kita para hamba yang berambisi pada akhirat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apa Itu Ldii, Bacaan Salam Dalam Shalat, Mencari Barang Hilang Dalam Islam, Cerita Dari Mantan Wanita Syiah, Pomade Halal, Perbedaan Tupperware Asli Dan Palsu Visited 2,416 times, 13 visit(s) today Post Views: 734 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Duduk Makmum Masbuk ketika Imam Tasyahud Akhir

Cara Duduk Makmum Masbuk ketika Imam Tasyahud Akhir Pertanyaan: Jika imam duduk tawarruk ketika tasyahud akhir, makmum masbuk duduk tawarruk atau iftirasy? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Nabiyyina Muhammadin al-amin, wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Makmum masbuk adalah makmum yang tidak mendapat seluruh rakaat shalat bersama imam dalam shalat jama’ah. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (3/353) disebutkan: أَمَّا الْمَسْبُوقُ ، فَهُوَ مَنْ سَبَقَهُ الإِمَامُ بِكُلِّ الرَّكَعَاتِ أَوْ بَعْضِهَا “Adapun masbuk adalah orang yang terlambat mengikuti imam dalam semua rakaatnya atau sebagiannya”. Oleh karena itu, ketika imam salam, maka makmum berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana posisi duduk makmum masbuk ketika imam tasyahud akhir? Pertama, mengenai tata cara duduk dalam shalat, apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini semua hukumnya sunah tidak sampai wajib.  Yang wajib adalah duduknya, namun cara duduknya apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini mustahab. Sehingga andaikan seseorang cara duduknya tidak sesuai tuntunan maka tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalatnya. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan: قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء بل كيف وجد أجزأه، سواء تورك، أو افترش، أو مد رجليه، أو نصب ركبتيه أو أحدهما أو غير ذلك “Para ulama mazhab kami tidak mewajibkan tata cara duduk tertentu di posisi-posisi tersebut, tidak dianggap sebagai hal yang dipersyaratkan dalam shalat. Bahkan bagaimanapun cara duduknya, itu sudah mencukupi. Apakah tawarruk, iftirasy, menjulurkan kedua kaki, menegakkan kedua lutut, atau menegakkan salah satunya, atau cara duduk yang lainnya, (itu semua sah)”. (Al-Majmu’, 3/450). Kedua, ulama khilaf tentang yang disunahkan bagi makmum masbuk ketika imam sudah tasyahud akhir.  Ulama Hambali mengatakan makmum masbuk duduk sebagaimana duduknya imam. Jika imam tawarruk, maka makmum masbuq juga tawarruk walaupun dia belum tasyahud akhir. Berdasarkan hadis: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه “Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (HR. al-Bukhari no.722). Al-Mardawi mengatakan: والصحيح من المذهب أنه يتورك مع إمامه على الرواية الأولى كما يتورك إذا قضى  “Pendapat yang shahih dalam mazhab Hambali adalah bahwa makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam sebagaimana tawarruk-nya imam ketika imam ada di akhir shalat” (AlInshaf, 2/222). Al-Buhuti dalam kitab al-Iqna’ mengatakan: ويتورك مسبوق معه في تشهد أخير من رباعية ومغرب تبعا له “Makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam jika imam tasyahud akhir dalam shalat ruba’iyah (4 rakaat) dan shalat maghrib, dalam rangka mengikuti imam”. Demikian juga jika imam duduk iftirasy dalam shalat subuh atau shalat yang dua rakaat lainnya, dalam mazhab Hambali, makmum masbuk duduk iftirasy, dalam rangka mengikuti imam. Ulama Syafi’iyyah memiliki kaidah bahwa duduk tawarruk adalah duduk pada tempatnya salam. Sehingga jika makmum masbuk belum salam walaupun imam sudah salam, maka makmum masbuk tidak duduk tawarruk, namun iftirasy. Berdasarkan keumuman hadis Abu Humaid as-Sa’idi tentang duduk tawarruk ketika rakaat terakhir. Dalam hadis Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika duduk dalam shalat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226). Dalam riwayat lain: حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir shalat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). An-Nawawi rahimahullah mengatakan: المسبوق إذا جلس مع الإمام في آخر صلاة الإمام فيه وجهان . الصحيح المنصوص في الأم ، وبه قطع الشيخ أبو حامد والبندنيجي والقاضي أبو الطيب والغزالي والجمهور : يجلس مفترشا ; لأنه ليس بآخر صلاته “Makmum masbuk jika ia duduk bersama imam di akhir shalat, maka ada dua pendapat. Pendapat yang shahih sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Umm, juga dinyatakan oleh asy-Syaikh Abu Hamid, al-Bandaniji, al-Qadhi Abu Thayyib, al-Ghazali, dan jumhur ulama (Syafi’iyyah) adalah bahwa makmum masbuk duduk iftirasy, karena itu bukan akhir shalat” (Al-Majmu’, 3/431). Wallahu a’lam, yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ adalah pendapat pertama. Bahwa makmum masbuk mengikuti cara duduk imam.  Namun sekali lagi tata cara duduk ini hukumnya sunah, andaikan makmum masbuk menyelisihi imam dalam masalah ini pun tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalat. Wallahu a’lam. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Waktu Terlarang Shalat, Doa Untuk Anak Perempuan Yang Baru Lahir, Keadaan Roh Setelah Meninggal, Khutbah Idul Fitri 2010, Tanda Tanda Orang Terkena Lintrik, Cara Mengatasi Santet Visited 987 times, 1 visit(s) today Post Views: 551 QRIS donasi Yufid

Cara Duduk Makmum Masbuk ketika Imam Tasyahud Akhir

Cara Duduk Makmum Masbuk ketika Imam Tasyahud Akhir Pertanyaan: Jika imam duduk tawarruk ketika tasyahud akhir, makmum masbuk duduk tawarruk atau iftirasy? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Nabiyyina Muhammadin al-amin, wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Makmum masbuk adalah makmum yang tidak mendapat seluruh rakaat shalat bersama imam dalam shalat jama’ah. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (3/353) disebutkan: أَمَّا الْمَسْبُوقُ ، فَهُوَ مَنْ سَبَقَهُ الإِمَامُ بِكُلِّ الرَّكَعَاتِ أَوْ بَعْضِهَا “Adapun masbuk adalah orang yang terlambat mengikuti imam dalam semua rakaatnya atau sebagiannya”. Oleh karena itu, ketika imam salam, maka makmum berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana posisi duduk makmum masbuk ketika imam tasyahud akhir? Pertama, mengenai tata cara duduk dalam shalat, apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini semua hukumnya sunah tidak sampai wajib.  Yang wajib adalah duduknya, namun cara duduknya apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini mustahab. Sehingga andaikan seseorang cara duduknya tidak sesuai tuntunan maka tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalatnya. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan: قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء بل كيف وجد أجزأه، سواء تورك، أو افترش، أو مد رجليه، أو نصب ركبتيه أو أحدهما أو غير ذلك “Para ulama mazhab kami tidak mewajibkan tata cara duduk tertentu di posisi-posisi tersebut, tidak dianggap sebagai hal yang dipersyaratkan dalam shalat. Bahkan bagaimanapun cara duduknya, itu sudah mencukupi. Apakah tawarruk, iftirasy, menjulurkan kedua kaki, menegakkan kedua lutut, atau menegakkan salah satunya, atau cara duduk yang lainnya, (itu semua sah)”. (Al-Majmu’, 3/450). Kedua, ulama khilaf tentang yang disunahkan bagi makmum masbuk ketika imam sudah tasyahud akhir.  Ulama Hambali mengatakan makmum masbuk duduk sebagaimana duduknya imam. Jika imam tawarruk, maka makmum masbuq juga tawarruk walaupun dia belum tasyahud akhir. Berdasarkan hadis: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه “Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (HR. al-Bukhari no.722). Al-Mardawi mengatakan: والصحيح من المذهب أنه يتورك مع إمامه على الرواية الأولى كما يتورك إذا قضى  “Pendapat yang shahih dalam mazhab Hambali adalah bahwa makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam sebagaimana tawarruk-nya imam ketika imam ada di akhir shalat” (AlInshaf, 2/222). Al-Buhuti dalam kitab al-Iqna’ mengatakan: ويتورك مسبوق معه في تشهد أخير من رباعية ومغرب تبعا له “Makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam jika imam tasyahud akhir dalam shalat ruba’iyah (4 rakaat) dan shalat maghrib, dalam rangka mengikuti imam”. Demikian juga jika imam duduk iftirasy dalam shalat subuh atau shalat yang dua rakaat lainnya, dalam mazhab Hambali, makmum masbuk duduk iftirasy, dalam rangka mengikuti imam. Ulama Syafi’iyyah memiliki kaidah bahwa duduk tawarruk adalah duduk pada tempatnya salam. Sehingga jika makmum masbuk belum salam walaupun imam sudah salam, maka makmum masbuk tidak duduk tawarruk, namun iftirasy. Berdasarkan keumuman hadis Abu Humaid as-Sa’idi tentang duduk tawarruk ketika rakaat terakhir. Dalam hadis Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika duduk dalam shalat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226). Dalam riwayat lain: حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir shalat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). An-Nawawi rahimahullah mengatakan: المسبوق إذا جلس مع الإمام في آخر صلاة الإمام فيه وجهان . الصحيح المنصوص في الأم ، وبه قطع الشيخ أبو حامد والبندنيجي والقاضي أبو الطيب والغزالي والجمهور : يجلس مفترشا ; لأنه ليس بآخر صلاته “Makmum masbuk jika ia duduk bersama imam di akhir shalat, maka ada dua pendapat. Pendapat yang shahih sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Umm, juga dinyatakan oleh asy-Syaikh Abu Hamid, al-Bandaniji, al-Qadhi Abu Thayyib, al-Ghazali, dan jumhur ulama (Syafi’iyyah) adalah bahwa makmum masbuk duduk iftirasy, karena itu bukan akhir shalat” (Al-Majmu’, 3/431). Wallahu a’lam, yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ adalah pendapat pertama. Bahwa makmum masbuk mengikuti cara duduk imam.  Namun sekali lagi tata cara duduk ini hukumnya sunah, andaikan makmum masbuk menyelisihi imam dalam masalah ini pun tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalat. Wallahu a’lam. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Waktu Terlarang Shalat, Doa Untuk Anak Perempuan Yang Baru Lahir, Keadaan Roh Setelah Meninggal, Khutbah Idul Fitri 2010, Tanda Tanda Orang Terkena Lintrik, Cara Mengatasi Santet Visited 987 times, 1 visit(s) today Post Views: 551 QRIS donasi Yufid
Cara Duduk Makmum Masbuk ketika Imam Tasyahud Akhir Pertanyaan: Jika imam duduk tawarruk ketika tasyahud akhir, makmum masbuk duduk tawarruk atau iftirasy? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Nabiyyina Muhammadin al-amin, wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Makmum masbuk adalah makmum yang tidak mendapat seluruh rakaat shalat bersama imam dalam shalat jama’ah. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (3/353) disebutkan: أَمَّا الْمَسْبُوقُ ، فَهُوَ مَنْ سَبَقَهُ الإِمَامُ بِكُلِّ الرَّكَعَاتِ أَوْ بَعْضِهَا “Adapun masbuk adalah orang yang terlambat mengikuti imam dalam semua rakaatnya atau sebagiannya”. Oleh karena itu, ketika imam salam, maka makmum berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana posisi duduk makmum masbuk ketika imam tasyahud akhir? Pertama, mengenai tata cara duduk dalam shalat, apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini semua hukumnya sunah tidak sampai wajib.  Yang wajib adalah duduknya, namun cara duduknya apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini mustahab. Sehingga andaikan seseorang cara duduknya tidak sesuai tuntunan maka tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalatnya. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan: قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء بل كيف وجد أجزأه، سواء تورك، أو افترش، أو مد رجليه، أو نصب ركبتيه أو أحدهما أو غير ذلك “Para ulama mazhab kami tidak mewajibkan tata cara duduk tertentu di posisi-posisi tersebut, tidak dianggap sebagai hal yang dipersyaratkan dalam shalat. Bahkan bagaimanapun cara duduknya, itu sudah mencukupi. Apakah tawarruk, iftirasy, menjulurkan kedua kaki, menegakkan kedua lutut, atau menegakkan salah satunya, atau cara duduk yang lainnya, (itu semua sah)”. (Al-Majmu’, 3/450). Kedua, ulama khilaf tentang yang disunahkan bagi makmum masbuk ketika imam sudah tasyahud akhir.  Ulama Hambali mengatakan makmum masbuk duduk sebagaimana duduknya imam. Jika imam tawarruk, maka makmum masbuq juga tawarruk walaupun dia belum tasyahud akhir. Berdasarkan hadis: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه “Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (HR. al-Bukhari no.722). Al-Mardawi mengatakan: والصحيح من المذهب أنه يتورك مع إمامه على الرواية الأولى كما يتورك إذا قضى  “Pendapat yang shahih dalam mazhab Hambali adalah bahwa makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam sebagaimana tawarruk-nya imam ketika imam ada di akhir shalat” (AlInshaf, 2/222). Al-Buhuti dalam kitab al-Iqna’ mengatakan: ويتورك مسبوق معه في تشهد أخير من رباعية ومغرب تبعا له “Makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam jika imam tasyahud akhir dalam shalat ruba’iyah (4 rakaat) dan shalat maghrib, dalam rangka mengikuti imam”. Demikian juga jika imam duduk iftirasy dalam shalat subuh atau shalat yang dua rakaat lainnya, dalam mazhab Hambali, makmum masbuk duduk iftirasy, dalam rangka mengikuti imam. Ulama Syafi’iyyah memiliki kaidah bahwa duduk tawarruk adalah duduk pada tempatnya salam. Sehingga jika makmum masbuk belum salam walaupun imam sudah salam, maka makmum masbuk tidak duduk tawarruk, namun iftirasy. Berdasarkan keumuman hadis Abu Humaid as-Sa’idi tentang duduk tawarruk ketika rakaat terakhir. Dalam hadis Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika duduk dalam shalat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226). Dalam riwayat lain: حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir shalat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). An-Nawawi rahimahullah mengatakan: المسبوق إذا جلس مع الإمام في آخر صلاة الإمام فيه وجهان . الصحيح المنصوص في الأم ، وبه قطع الشيخ أبو حامد والبندنيجي والقاضي أبو الطيب والغزالي والجمهور : يجلس مفترشا ; لأنه ليس بآخر صلاته “Makmum masbuk jika ia duduk bersama imam di akhir shalat, maka ada dua pendapat. Pendapat yang shahih sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Umm, juga dinyatakan oleh asy-Syaikh Abu Hamid, al-Bandaniji, al-Qadhi Abu Thayyib, al-Ghazali, dan jumhur ulama (Syafi’iyyah) adalah bahwa makmum masbuk duduk iftirasy, karena itu bukan akhir shalat” (Al-Majmu’, 3/431). Wallahu a’lam, yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ adalah pendapat pertama. Bahwa makmum masbuk mengikuti cara duduk imam.  Namun sekali lagi tata cara duduk ini hukumnya sunah, andaikan makmum masbuk menyelisihi imam dalam masalah ini pun tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalat. Wallahu a’lam. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Waktu Terlarang Shalat, Doa Untuk Anak Perempuan Yang Baru Lahir, Keadaan Roh Setelah Meninggal, Khutbah Idul Fitri 2010, Tanda Tanda Orang Terkena Lintrik, Cara Mengatasi Santet Visited 987 times, 1 visit(s) today Post Views: 551 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340606974&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Cara Duduk Makmum Masbuk ketika Imam Tasyahud Akhir Pertanyaan: Jika imam duduk tawarruk ketika tasyahud akhir, makmum masbuk duduk tawarruk atau iftirasy? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala sayyidil mursalin, Nabiyyina Muhammadin al-amin, wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Makmum masbuk adalah makmum yang tidak mendapat seluruh rakaat shalat bersama imam dalam shalat jama’ah. Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah (3/353) disebutkan: أَمَّا الْمَسْبُوقُ ، فَهُوَ مَنْ سَبَقَهُ الإِمَامُ بِكُلِّ الرَّكَعَاتِ أَوْ بَعْضِهَا “Adapun masbuk adalah orang yang terlambat mengikuti imam dalam semua rakaatnya atau sebagiannya”. Oleh karena itu, ketika imam salam, maka makmum berdiri kembali untuk menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana posisi duduk makmum masbuk ketika imam tasyahud akhir? Pertama, mengenai tata cara duduk dalam shalat, apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini semua hukumnya sunah tidak sampai wajib.  Yang wajib adalah duduknya, namun cara duduknya apakah tawarruk, iftirasy atau iq’a, ini mustahab. Sehingga andaikan seseorang cara duduknya tidak sesuai tuntunan maka tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalatnya. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan: قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء بل كيف وجد أجزأه، سواء تورك، أو افترش، أو مد رجليه، أو نصب ركبتيه أو أحدهما أو غير ذلك “Para ulama mazhab kami tidak mewajibkan tata cara duduk tertentu di posisi-posisi tersebut, tidak dianggap sebagai hal yang dipersyaratkan dalam shalat. Bahkan bagaimanapun cara duduknya, itu sudah mencukupi. Apakah tawarruk, iftirasy, menjulurkan kedua kaki, menegakkan kedua lutut, atau menegakkan salah satunya, atau cara duduk yang lainnya, (itu semua sah)”. (Al-Majmu’, 3/450). Kedua, ulama khilaf tentang yang disunahkan bagi makmum masbuk ketika imam sudah tasyahud akhir.  Ulama Hambali mengatakan makmum masbuk duduk sebagaimana duduknya imam. Jika imam tawarruk, maka makmum masbuq juga tawarruk walaupun dia belum tasyahud akhir. Berdasarkan hadis: إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه “Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (HR. al-Bukhari no.722). Al-Mardawi mengatakan: والصحيح من المذهب أنه يتورك مع إمامه على الرواية الأولى كما يتورك إذا قضى  “Pendapat yang shahih dalam mazhab Hambali adalah bahwa makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam sebagaimana tawarruk-nya imam ketika imam ada di akhir shalat” (AlInshaf, 2/222). Al-Buhuti dalam kitab al-Iqna’ mengatakan: ويتورك مسبوق معه في تشهد أخير من رباعية ومغرب تبعا له “Makmum masbuk duduk tawarruk bersama imam jika imam tasyahud akhir dalam shalat ruba’iyah (4 rakaat) dan shalat maghrib, dalam rangka mengikuti imam”. Demikian juga jika imam duduk iftirasy dalam shalat subuh atau shalat yang dua rakaat lainnya, dalam mazhab Hambali, makmum masbuk duduk iftirasy, dalam rangka mengikuti imam. Ulama Syafi’iyyah memiliki kaidah bahwa duduk tawarruk adalah duduk pada tempatnya salam. Sehingga jika makmum masbuk belum salam walaupun imam sudah salam, maka makmum masbuk tidak duduk tawarruk, namun iftirasy. Berdasarkan keumuman hadis Abu Humaid as-Sa’idi tentang duduk tawarruk ketika rakaat terakhir. Dalam hadis Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika duduk dalam shalat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226). Dalam riwayat lain: حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir shalat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud). An-Nawawi rahimahullah mengatakan: المسبوق إذا جلس مع الإمام في آخر صلاة الإمام فيه وجهان . الصحيح المنصوص في الأم ، وبه قطع الشيخ أبو حامد والبندنيجي والقاضي أبو الطيب والغزالي والجمهور : يجلس مفترشا ; لأنه ليس بآخر صلاته “Makmum masbuk jika ia duduk bersama imam di akhir shalat, maka ada dua pendapat. Pendapat yang shahih sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Umm, juga dinyatakan oleh asy-Syaikh Abu Hamid, al-Bandaniji, al-Qadhi Abu Thayyib, al-Ghazali, dan jumhur ulama (Syafi’iyyah) adalah bahwa makmum masbuk duduk iftirasy, karena itu bukan akhir shalat” (Al-Majmu’, 3/431). Wallahu a’lam, yang dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ adalah pendapat pertama. Bahwa makmum masbuk mengikuti cara duduk imam.  Namun sekali lagi tata cara duduk ini hukumnya sunah, andaikan makmum masbuk menyelisihi imam dalam masalah ini pun tidak sampai berdosa dan tidak sampai membatalkan shalat. Wallahu a’lam. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Waktu Terlarang Shalat, Doa Untuk Anak Perempuan Yang Baru Lahir, Keadaan Roh Setelah Meninggal, Khutbah Idul Fitri 2010, Tanda Tanda Orang Terkena Lintrik, Cara Mengatasi Santet Visited 987 times, 1 visit(s) today Post Views: 551 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tertib & Berkesinambungan dalam Mandi Wajib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tertib & Berkesinambungan dalam Mandi Wajib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Karena sebagaimana pembahasan sebelumnya dalam al-Muqaddimah al-Fiqhiyyah aṣ-Ṣughrā, bahwa berkesinambungan dan tertib tidak diwajibkan ketika mandi, kecuali wudu. Jadi jika seseorang berbuat demikian, maka boleh baginya. Di antara hal bermanfaat yang banyak orang butuhkan dalam masalah ini, terutama bagi wanita di musim dingin, bahwa barang siapa yang ingin mandi karena terkena kewajiban melakukannya, lalu mendahulukan membasuh kepalanya, kemudian menggulungnya untuk mengeringkannya, lalu tidur, baru di pagi hari dia menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, maka mandinya sah baginya, karena dia telah mandi dengan mandi yang sempurna, karena tertib dan berkesinambungan tidak menjadi syarat dalam mandi. =============================================================================== لِأَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْمُقَدَّمَةِ الْفِقْهِيَّةِ الصُّغْرَى أَنَّ الْمُوَالَاةَ وَالتَّرْتِيبَ يَسْقُطَانِ فِي الْغُسْلِ إِلَّا الْوُضُوءَ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ أَجْزَأَهُ وَمِنَ النَّافِعِ الَّذِي يَحْتَاجُهُ النَّاسُ فِي هَذَا الْبَابِ وَلَا سِيَّمَا النِّسَاءُ فِي الشِّتَاءِ وَهُوَ أَنَّ مَنِ احْتَاجَ الْغُسْلَ لِلْوُجُوبِهِ عَلَيْهِ ثُمَّ قَدَّمَ غَسْلَ رَأْسِهِ وَلَفَّهُ لِيَجُفَّ وَنَامَ ثُمَّ أَصْبَحَ فَأَفَاضَ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ فَإِنَّهُ يُجْزِئُ عَنْهُ لِأَنَّهُ اغْتَسَلَ غُسْلًا كَامِلًا فَلَا يُشْتَرَطُ تَرْتِيبٌ وَلَا مُوَالَاةٌ فِي الْغُسْلِ    

Tertib & Berkesinambungan dalam Mandi Wajib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tertib & Berkesinambungan dalam Mandi Wajib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Karena sebagaimana pembahasan sebelumnya dalam al-Muqaddimah al-Fiqhiyyah aṣ-Ṣughrā, bahwa berkesinambungan dan tertib tidak diwajibkan ketika mandi, kecuali wudu. Jadi jika seseorang berbuat demikian, maka boleh baginya. Di antara hal bermanfaat yang banyak orang butuhkan dalam masalah ini, terutama bagi wanita di musim dingin, bahwa barang siapa yang ingin mandi karena terkena kewajiban melakukannya, lalu mendahulukan membasuh kepalanya, kemudian menggulungnya untuk mengeringkannya, lalu tidur, baru di pagi hari dia menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, maka mandinya sah baginya, karena dia telah mandi dengan mandi yang sempurna, karena tertib dan berkesinambungan tidak menjadi syarat dalam mandi. =============================================================================== لِأَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْمُقَدَّمَةِ الْفِقْهِيَّةِ الصُّغْرَى أَنَّ الْمُوَالَاةَ وَالتَّرْتِيبَ يَسْقُطَانِ فِي الْغُسْلِ إِلَّا الْوُضُوءَ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ أَجْزَأَهُ وَمِنَ النَّافِعِ الَّذِي يَحْتَاجُهُ النَّاسُ فِي هَذَا الْبَابِ وَلَا سِيَّمَا النِّسَاءُ فِي الشِّتَاءِ وَهُوَ أَنَّ مَنِ احْتَاجَ الْغُسْلَ لِلْوُجُوبِهِ عَلَيْهِ ثُمَّ قَدَّمَ غَسْلَ رَأْسِهِ وَلَفَّهُ لِيَجُفَّ وَنَامَ ثُمَّ أَصْبَحَ فَأَفَاضَ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ فَإِنَّهُ يُجْزِئُ عَنْهُ لِأَنَّهُ اغْتَسَلَ غُسْلًا كَامِلًا فَلَا يُشْتَرَطُ تَرْتِيبٌ وَلَا مُوَالَاةٌ فِي الْغُسْلِ    
Tertib & Berkesinambungan dalam Mandi Wajib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Karena sebagaimana pembahasan sebelumnya dalam al-Muqaddimah al-Fiqhiyyah aṣ-Ṣughrā, bahwa berkesinambungan dan tertib tidak diwajibkan ketika mandi, kecuali wudu. Jadi jika seseorang berbuat demikian, maka boleh baginya. Di antara hal bermanfaat yang banyak orang butuhkan dalam masalah ini, terutama bagi wanita di musim dingin, bahwa barang siapa yang ingin mandi karena terkena kewajiban melakukannya, lalu mendahulukan membasuh kepalanya, kemudian menggulungnya untuk mengeringkannya, lalu tidur, baru di pagi hari dia menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, maka mandinya sah baginya, karena dia telah mandi dengan mandi yang sempurna, karena tertib dan berkesinambungan tidak menjadi syarat dalam mandi. =============================================================================== لِأَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْمُقَدَّمَةِ الْفِقْهِيَّةِ الصُّغْرَى أَنَّ الْمُوَالَاةَ وَالتَّرْتِيبَ يَسْقُطَانِ فِي الْغُسْلِ إِلَّا الْوُضُوءَ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ أَجْزَأَهُ وَمِنَ النَّافِعِ الَّذِي يَحْتَاجُهُ النَّاسُ فِي هَذَا الْبَابِ وَلَا سِيَّمَا النِّسَاءُ فِي الشِّتَاءِ وَهُوَ أَنَّ مَنِ احْتَاجَ الْغُسْلَ لِلْوُجُوبِهِ عَلَيْهِ ثُمَّ قَدَّمَ غَسْلَ رَأْسِهِ وَلَفَّهُ لِيَجُفَّ وَنَامَ ثُمَّ أَصْبَحَ فَأَفَاضَ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ فَإِنَّهُ يُجْزِئُ عَنْهُ لِأَنَّهُ اغْتَسَلَ غُسْلًا كَامِلًا فَلَا يُشْتَرَطُ تَرْتِيبٌ وَلَا مُوَالَاةٌ فِي الْغُسْلِ    


Tertib & Berkesinambungan dalam Mandi Wajib – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Karena sebagaimana pembahasan sebelumnya dalam al-Muqaddimah al-Fiqhiyyah aṣ-Ṣughrā, bahwa berkesinambungan dan tertib tidak diwajibkan ketika mandi, kecuali wudu. Jadi jika seseorang berbuat demikian, maka boleh baginya. Di antara hal bermanfaat yang banyak orang butuhkan dalam masalah ini, terutama bagi wanita di musim dingin, bahwa barang siapa yang ingin mandi karena terkena kewajiban melakukannya, lalu mendahulukan membasuh kepalanya, kemudian menggulungnya untuk mengeringkannya, lalu tidur, baru di pagi hari dia menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, maka mandinya sah baginya, karena dia telah mandi dengan mandi yang sempurna, karena tertib dan berkesinambungan tidak menjadi syarat dalam mandi. =============================================================================== لِأَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا فِي الْمُقَدَّمَةِ الْفِقْهِيَّةِ الصُّغْرَى أَنَّ الْمُوَالَاةَ وَالتَّرْتِيبَ يَسْقُطَانِ فِي الْغُسْلِ إِلَّا الْوُضُوءَ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ أَجْزَأَهُ وَمِنَ النَّافِعِ الَّذِي يَحْتَاجُهُ النَّاسُ فِي هَذَا الْبَابِ وَلَا سِيَّمَا النِّسَاءُ فِي الشِّتَاءِ وَهُوَ أَنَّ مَنِ احْتَاجَ الْغُسْلَ لِلْوُجُوبِهِ عَلَيْهِ ثُمَّ قَدَّمَ غَسْلَ رَأْسِهِ وَلَفَّهُ لِيَجُفَّ وَنَامَ ثُمَّ أَصْبَحَ فَأَفَاضَ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ فَإِنَّهُ يُجْزِئُ عَنْهُ لِأَنَّهُ اغْتَسَلَ غُسْلًا كَامِلًا فَلَا يُشْتَرَطُ تَرْتِيبٌ وَلَا مُوَالَاةٌ فِي الْغُسْلِ    

Kau Harus Waspada Terhadap 2 Fitnah Ini – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Kau Harus Waspada Terhadap 2 Fitnah Ini – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama Fitnah terus bertambah variasinya, dan berubah bentuknya, sesuai zamannya. Di zaman kita ini, fitnah ada banyak. Lā ẖaula walā quwwata illā billāh. Fitnah bisa berupa: (1) Fitnah Syubhat dalam akidah, dan (2) Fitnah Syahwat dalam urusan dunia dan kesenangannya, serta masalah perilaku dan moral. Ini syahwat. Jadi, fitnah ada dua jenis: PERTAMA: Fitnah Syubhat—kita berlindung kepada Allah dari tersebarnya fitnah ini. KEDUA: Fitnah Syahwat. Sebagian orang berjalan mengikuti hawa nafsunya; dengan berzina, mencuri, atau meminum minuman keras. Syahwat dipertontonkan, dipopulerkan, dan dimudahkan cara mendapatkannya, sehingga manusia terjatuh dalam fitnah itu. Sementara itu, sebagian orang dijaga oleh Allah, sehingga teguh di atas agamanya, dan sabar di atas agamanya, dan tidak berpaling mengikuti syahwatnya, karena dia tahu nikmatnya syahwat hanya sementara, namun siksanya akan terus ada. Dia juga tahu bahwa ketaatan, walaupun menimbulkan kesulitan dan kelelahan untuk sementara waktu, namun mendatangkan kesudahan yang baik. Sehingga dia teguh di atas agamanya dan akhlaknya yang terpuji, serta teguh di jalan-Nya yang lurus, sehingga dia mendapatkan kesudahan yang baik. ====================================================================================================== الْفِتَنُ تَتَنَوَّعُ وتَتَجَدَّدُ فِي كُلِّ زَمَانٍ بِحَسَبِهِ فِي زَمَانِنَا هَذَا الْفِتَنُ كَثِيرَةٌ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْفِتَنُ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ فِي الْعَقِيدَةِ وَ فِتَنُ الشَّهَوَاتِ فِي الدُّنْيَا وَمَلَذَّاتِهَا وَفِي السُّلُوكِ وَالْأَخْلَاقِ شَهَوَاتٌ فَالْفِتَنُ عَلَى قِسْمَيْنِ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ وَالْعِيَاذُ بِالله أَنْ يُشِعَّ وَالثَّانِي فِتَنُ الشَّهَوَاتِ بَعْضُ النَّاسِ يَمْشِي مَعَ شَهَوَاتِهِ مِنَ الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَتُعْرَضُ عَلَيْهِ الشَّهَوَاتُ وَتُرَوَّجُ وَيُيَسَّرُ الْحُصُولُ عَلَيْهَا فَيَنْفَتِنُ فِيهَا بَيْنَمَا بَعْضُ النَّاسِ يَعْصِمُهُ اللهُ وَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَيَصْبِرُ عَلَى دِينِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَى شَهَوَاتٍ لِعِلْمِهِ أَنَّهَا زَائِلَةٌ وَأَنَّ عَذَابَهَا بَاقٍ وَأَنَّ الطَّاعَاتِ وَإِنْ حَصَلَ عَلَيْهِ مَشَقَّةٌ وَتَعَبٌ مُؤَقَّتًا إِلَّا أَنَّ عَقِيبَتَهَا حَمِيدَةٌ فَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَعَلَى أَخْلَاقِهِ طَيِّبَةٍ وَعَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَكُونُ الْعَقِيبَةُ لَهُ نَعَمْ  

Kau Harus Waspada Terhadap 2 Fitnah Ini – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Kau Harus Waspada Terhadap 2 Fitnah Ini – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama Fitnah terus bertambah variasinya, dan berubah bentuknya, sesuai zamannya. Di zaman kita ini, fitnah ada banyak. Lā ẖaula walā quwwata illā billāh. Fitnah bisa berupa: (1) Fitnah Syubhat dalam akidah, dan (2) Fitnah Syahwat dalam urusan dunia dan kesenangannya, serta masalah perilaku dan moral. Ini syahwat. Jadi, fitnah ada dua jenis: PERTAMA: Fitnah Syubhat—kita berlindung kepada Allah dari tersebarnya fitnah ini. KEDUA: Fitnah Syahwat. Sebagian orang berjalan mengikuti hawa nafsunya; dengan berzina, mencuri, atau meminum minuman keras. Syahwat dipertontonkan, dipopulerkan, dan dimudahkan cara mendapatkannya, sehingga manusia terjatuh dalam fitnah itu. Sementara itu, sebagian orang dijaga oleh Allah, sehingga teguh di atas agamanya, dan sabar di atas agamanya, dan tidak berpaling mengikuti syahwatnya, karena dia tahu nikmatnya syahwat hanya sementara, namun siksanya akan terus ada. Dia juga tahu bahwa ketaatan, walaupun menimbulkan kesulitan dan kelelahan untuk sementara waktu, namun mendatangkan kesudahan yang baik. Sehingga dia teguh di atas agamanya dan akhlaknya yang terpuji, serta teguh di jalan-Nya yang lurus, sehingga dia mendapatkan kesudahan yang baik. ====================================================================================================== الْفِتَنُ تَتَنَوَّعُ وتَتَجَدَّدُ فِي كُلِّ زَمَانٍ بِحَسَبِهِ فِي زَمَانِنَا هَذَا الْفِتَنُ كَثِيرَةٌ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْفِتَنُ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ فِي الْعَقِيدَةِ وَ فِتَنُ الشَّهَوَاتِ فِي الدُّنْيَا وَمَلَذَّاتِهَا وَفِي السُّلُوكِ وَالْأَخْلَاقِ شَهَوَاتٌ فَالْفِتَنُ عَلَى قِسْمَيْنِ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ وَالْعِيَاذُ بِالله أَنْ يُشِعَّ وَالثَّانِي فِتَنُ الشَّهَوَاتِ بَعْضُ النَّاسِ يَمْشِي مَعَ شَهَوَاتِهِ مِنَ الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَتُعْرَضُ عَلَيْهِ الشَّهَوَاتُ وَتُرَوَّجُ وَيُيَسَّرُ الْحُصُولُ عَلَيْهَا فَيَنْفَتِنُ فِيهَا بَيْنَمَا بَعْضُ النَّاسِ يَعْصِمُهُ اللهُ وَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَيَصْبِرُ عَلَى دِينِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَى شَهَوَاتٍ لِعِلْمِهِ أَنَّهَا زَائِلَةٌ وَأَنَّ عَذَابَهَا بَاقٍ وَأَنَّ الطَّاعَاتِ وَإِنْ حَصَلَ عَلَيْهِ مَشَقَّةٌ وَتَعَبٌ مُؤَقَّتًا إِلَّا أَنَّ عَقِيبَتَهَا حَمِيدَةٌ فَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَعَلَى أَخْلَاقِهِ طَيِّبَةٍ وَعَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَكُونُ الْعَقِيبَةُ لَهُ نَعَمْ  
Kau Harus Waspada Terhadap 2 Fitnah Ini – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama Fitnah terus bertambah variasinya, dan berubah bentuknya, sesuai zamannya. Di zaman kita ini, fitnah ada banyak. Lā ẖaula walā quwwata illā billāh. Fitnah bisa berupa: (1) Fitnah Syubhat dalam akidah, dan (2) Fitnah Syahwat dalam urusan dunia dan kesenangannya, serta masalah perilaku dan moral. Ini syahwat. Jadi, fitnah ada dua jenis: PERTAMA: Fitnah Syubhat—kita berlindung kepada Allah dari tersebarnya fitnah ini. KEDUA: Fitnah Syahwat. Sebagian orang berjalan mengikuti hawa nafsunya; dengan berzina, mencuri, atau meminum minuman keras. Syahwat dipertontonkan, dipopulerkan, dan dimudahkan cara mendapatkannya, sehingga manusia terjatuh dalam fitnah itu. Sementara itu, sebagian orang dijaga oleh Allah, sehingga teguh di atas agamanya, dan sabar di atas agamanya, dan tidak berpaling mengikuti syahwatnya, karena dia tahu nikmatnya syahwat hanya sementara, namun siksanya akan terus ada. Dia juga tahu bahwa ketaatan, walaupun menimbulkan kesulitan dan kelelahan untuk sementara waktu, namun mendatangkan kesudahan yang baik. Sehingga dia teguh di atas agamanya dan akhlaknya yang terpuji, serta teguh di jalan-Nya yang lurus, sehingga dia mendapatkan kesudahan yang baik. ====================================================================================================== الْفِتَنُ تَتَنَوَّعُ وتَتَجَدَّدُ فِي كُلِّ زَمَانٍ بِحَسَبِهِ فِي زَمَانِنَا هَذَا الْفِتَنُ كَثِيرَةٌ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْفِتَنُ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ فِي الْعَقِيدَةِ وَ فِتَنُ الشَّهَوَاتِ فِي الدُّنْيَا وَمَلَذَّاتِهَا وَفِي السُّلُوكِ وَالْأَخْلَاقِ شَهَوَاتٌ فَالْفِتَنُ عَلَى قِسْمَيْنِ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ وَالْعِيَاذُ بِالله أَنْ يُشِعَّ وَالثَّانِي فِتَنُ الشَّهَوَاتِ بَعْضُ النَّاسِ يَمْشِي مَعَ شَهَوَاتِهِ مِنَ الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَتُعْرَضُ عَلَيْهِ الشَّهَوَاتُ وَتُرَوَّجُ وَيُيَسَّرُ الْحُصُولُ عَلَيْهَا فَيَنْفَتِنُ فِيهَا بَيْنَمَا بَعْضُ النَّاسِ يَعْصِمُهُ اللهُ وَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَيَصْبِرُ عَلَى دِينِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَى شَهَوَاتٍ لِعِلْمِهِ أَنَّهَا زَائِلَةٌ وَأَنَّ عَذَابَهَا بَاقٍ وَأَنَّ الطَّاعَاتِ وَإِنْ حَصَلَ عَلَيْهِ مَشَقَّةٌ وَتَعَبٌ مُؤَقَّتًا إِلَّا أَنَّ عَقِيبَتَهَا حَمِيدَةٌ فَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَعَلَى أَخْلَاقِهِ طَيِّبَةٍ وَعَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَكُونُ الْعَقِيبَةُ لَهُ نَعَمْ  


Kau Harus Waspada Terhadap 2 Fitnah Ini – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama Fitnah terus bertambah variasinya, dan berubah bentuknya, sesuai zamannya. Di zaman kita ini, fitnah ada banyak. Lā ẖaula walā quwwata illā billāh. Fitnah bisa berupa: (1) Fitnah Syubhat dalam akidah, dan (2) Fitnah Syahwat dalam urusan dunia dan kesenangannya, serta masalah perilaku dan moral. Ini syahwat. Jadi, fitnah ada dua jenis: PERTAMA: Fitnah Syubhat—kita berlindung kepada Allah dari tersebarnya fitnah ini. KEDUA: Fitnah Syahwat. Sebagian orang berjalan mengikuti hawa nafsunya; dengan berzina, mencuri, atau meminum minuman keras. Syahwat dipertontonkan, dipopulerkan, dan dimudahkan cara mendapatkannya, sehingga manusia terjatuh dalam fitnah itu. Sementara itu, sebagian orang dijaga oleh Allah, sehingga teguh di atas agamanya, dan sabar di atas agamanya, dan tidak berpaling mengikuti syahwatnya, karena dia tahu nikmatnya syahwat hanya sementara, namun siksanya akan terus ada. Dia juga tahu bahwa ketaatan, walaupun menimbulkan kesulitan dan kelelahan untuk sementara waktu, namun mendatangkan kesudahan yang baik. Sehingga dia teguh di atas agamanya dan akhlaknya yang terpuji, serta teguh di jalan-Nya yang lurus, sehingga dia mendapatkan kesudahan yang baik. ====================================================================================================== الْفِتَنُ تَتَنَوَّعُ وتَتَجَدَّدُ فِي كُلِّ زَمَانٍ بِحَسَبِهِ فِي زَمَانِنَا هَذَا الْفِتَنُ كَثِيرَةٌ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ وَالْفِتَنُ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ فِي الْعَقِيدَةِ وَ فِتَنُ الشَّهَوَاتِ فِي الدُّنْيَا وَمَلَذَّاتِهَا وَفِي السُّلُوكِ وَالْأَخْلَاقِ شَهَوَاتٌ فَالْفِتَنُ عَلَى قِسْمَيْنِ فِتَنُ الشُّبُهَاتِ وَالْعِيَاذُ بِالله أَنْ يُشِعَّ وَالثَّانِي فِتَنُ الشَّهَوَاتِ بَعْضُ النَّاسِ يَمْشِي مَعَ شَهَوَاتِهِ مِنَ الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَتُعْرَضُ عَلَيْهِ الشَّهَوَاتُ وَتُرَوَّجُ وَيُيَسَّرُ الْحُصُولُ عَلَيْهَا فَيَنْفَتِنُ فِيهَا بَيْنَمَا بَعْضُ النَّاسِ يَعْصِمُهُ اللهُ وَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَيَصْبِرُ عَلَى دِينِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَى شَهَوَاتٍ لِعِلْمِهِ أَنَّهَا زَائِلَةٌ وَأَنَّ عَذَابَهَا بَاقٍ وَأَنَّ الطَّاعَاتِ وَإِنْ حَصَلَ عَلَيْهِ مَشَقَّةٌ وَتَعَبٌ مُؤَقَّتًا إِلَّا أَنَّ عَقِيبَتَهَا حَمِيدَةٌ فَيَثْبُتُ عَلَى دِينِهِ وَعَلَى أَخْلَاقِهِ طَيِّبَةٍ وَعَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ تَكُونُ الْعَقِيبَةُ لَهُ نَعَمْ  

Khutbah Jumat: Nasihat Bagi yang Masih Meremehkan Shalat

Ini adalah nasihat bagi yang masih meremehkan shalat lima waktu.   Daftar Isi tutup 1. Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat” 2. Khutbah Pertama 2.1. Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. 2.2. Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. 2.3. Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. 2.4. Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. 3. Khutbah Kedua 4. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat”    Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi akhir zaman, suri tauladan kita, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada khutbah Jumat kali ini, pentingnya kiranya kami membahas perkara shalat. Sebagian kita, kadang memperhatikan ibadah lain, tetapi melupakan shalat lima waktu. Di bulan Ramadhan, sebagian kita berpuasa sebulan penuh, tetapi tidak shalat atau shalatnya bolong-bolong. Ketika datang Iduladha, yang malas shalat pun ikut berqurban. Yang punya rezeki banyak, rajin sedekah dalam keadaan meremehkan shalat. Bahkan ada yang menyatakan, “Yang penting saya sudah berbuat baik, sering bantu orang.” Padahal orang yang menyatakan seperti ini adalah orang yang kurang dalam memperhatikan shalat. Kita akan lihat bagaimana kedudukan shalat dalam Islam agar kita semakin sadar akan pentingnya shalat sehingga bisa terus menjaganya.   Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. Dalam hadits Mu’adz radhiyallahu ‘anhu disebutkan, رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” (HR. At-Tirmiżī no. 2616, hasan). Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam.   Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut terdapat amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lain, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, no. 864; Ahmad, 2:425; Hakim, 1:262; Al-Baihaqi, 2:386. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, -pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا  “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495, sahih) Karena shalat begitu penting dan punya kedudukan dalam Islam. Yang meninggalkannya pun diancam dengan ghayya. Allah Ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ‘ghayya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. Dalam hadits, orang yang meninggalkan shalat diancam keras. Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, sahih). Biasanya orang yang meninggalkan shalat adalah karena kemalasan dengan berbagai macam alasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari, di mana beliau bersabda, مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ “Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nanti di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, hasan) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: Siapa yang sibuk dengan harta sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun. Siapa yang sibuk dengan kekuasaan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun). Siapa yang sibuk dengan perdagangan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf. Jangan remehkan shalat. Jangan remehkan shalat. Ibnul Qayyim sampai-sampai mengatakan bahwa meninggalkan shalat itu lebih parah dari melakukan dosa besar lainnya (mabuk, zina, selingkuh, membunuh). Jagalah shalat. Jika kita dalam keadaan sibuk bagaimana pun, shalat tetap ditunaikan. Bahkan jika dalam keadaan lupa atau tertidur, lantas ingat, maka shalatlah ketika ingat dan sadar, walau waktu shalat telah habis, asalkan bukan sengaja dan bukan dijadikan rutinitas. Semoga Allah memberikan kita taufik agar rutin menjaga shalat lima waktu. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 15 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsdosa meninggalkan shalat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat

Khutbah Jumat: Nasihat Bagi yang Masih Meremehkan Shalat

Ini adalah nasihat bagi yang masih meremehkan shalat lima waktu.   Daftar Isi tutup 1. Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat” 2. Khutbah Pertama 2.1. Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. 2.2. Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. 2.3. Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. 2.4. Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. 3. Khutbah Kedua 4. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat”    Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi akhir zaman, suri tauladan kita, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada khutbah Jumat kali ini, pentingnya kiranya kami membahas perkara shalat. Sebagian kita, kadang memperhatikan ibadah lain, tetapi melupakan shalat lima waktu. Di bulan Ramadhan, sebagian kita berpuasa sebulan penuh, tetapi tidak shalat atau shalatnya bolong-bolong. Ketika datang Iduladha, yang malas shalat pun ikut berqurban. Yang punya rezeki banyak, rajin sedekah dalam keadaan meremehkan shalat. Bahkan ada yang menyatakan, “Yang penting saya sudah berbuat baik, sering bantu orang.” Padahal orang yang menyatakan seperti ini adalah orang yang kurang dalam memperhatikan shalat. Kita akan lihat bagaimana kedudukan shalat dalam Islam agar kita semakin sadar akan pentingnya shalat sehingga bisa terus menjaganya.   Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. Dalam hadits Mu’adz radhiyallahu ‘anhu disebutkan, رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” (HR. At-Tirmiżī no. 2616, hasan). Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam.   Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut terdapat amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lain, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, no. 864; Ahmad, 2:425; Hakim, 1:262; Al-Baihaqi, 2:386. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, -pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا  “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495, sahih) Karena shalat begitu penting dan punya kedudukan dalam Islam. Yang meninggalkannya pun diancam dengan ghayya. Allah Ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ‘ghayya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. Dalam hadits, orang yang meninggalkan shalat diancam keras. Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, sahih). Biasanya orang yang meninggalkan shalat adalah karena kemalasan dengan berbagai macam alasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari, di mana beliau bersabda, مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ “Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nanti di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, hasan) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: Siapa yang sibuk dengan harta sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun. Siapa yang sibuk dengan kekuasaan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun). Siapa yang sibuk dengan perdagangan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf. Jangan remehkan shalat. Jangan remehkan shalat. Ibnul Qayyim sampai-sampai mengatakan bahwa meninggalkan shalat itu lebih parah dari melakukan dosa besar lainnya (mabuk, zina, selingkuh, membunuh). Jagalah shalat. Jika kita dalam keadaan sibuk bagaimana pun, shalat tetap ditunaikan. Bahkan jika dalam keadaan lupa atau tertidur, lantas ingat, maka shalatlah ketika ingat dan sadar, walau waktu shalat telah habis, asalkan bukan sengaja dan bukan dijadikan rutinitas. Semoga Allah memberikan kita taufik agar rutin menjaga shalat lima waktu. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 15 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsdosa meninggalkan shalat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat
Ini adalah nasihat bagi yang masih meremehkan shalat lima waktu.   Daftar Isi tutup 1. Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat” 2. Khutbah Pertama 2.1. Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. 2.2. Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. 2.3. Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. 2.4. Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. 3. Khutbah Kedua 4. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat”    Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi akhir zaman, suri tauladan kita, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada khutbah Jumat kali ini, pentingnya kiranya kami membahas perkara shalat. Sebagian kita, kadang memperhatikan ibadah lain, tetapi melupakan shalat lima waktu. Di bulan Ramadhan, sebagian kita berpuasa sebulan penuh, tetapi tidak shalat atau shalatnya bolong-bolong. Ketika datang Iduladha, yang malas shalat pun ikut berqurban. Yang punya rezeki banyak, rajin sedekah dalam keadaan meremehkan shalat. Bahkan ada yang menyatakan, “Yang penting saya sudah berbuat baik, sering bantu orang.” Padahal orang yang menyatakan seperti ini adalah orang yang kurang dalam memperhatikan shalat. Kita akan lihat bagaimana kedudukan shalat dalam Islam agar kita semakin sadar akan pentingnya shalat sehingga bisa terus menjaganya.   Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. Dalam hadits Mu’adz radhiyallahu ‘anhu disebutkan, رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” (HR. At-Tirmiżī no. 2616, hasan). Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam.   Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut terdapat amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lain, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, no. 864; Ahmad, 2:425; Hakim, 1:262; Al-Baihaqi, 2:386. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, -pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا  “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495, sahih) Karena shalat begitu penting dan punya kedudukan dalam Islam. Yang meninggalkannya pun diancam dengan ghayya. Allah Ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ‘ghayya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. Dalam hadits, orang yang meninggalkan shalat diancam keras. Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, sahih). Biasanya orang yang meninggalkan shalat adalah karena kemalasan dengan berbagai macam alasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari, di mana beliau bersabda, مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ “Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nanti di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, hasan) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: Siapa yang sibuk dengan harta sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun. Siapa yang sibuk dengan kekuasaan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun). Siapa yang sibuk dengan perdagangan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf. Jangan remehkan shalat. Jangan remehkan shalat. Ibnul Qayyim sampai-sampai mengatakan bahwa meninggalkan shalat itu lebih parah dari melakukan dosa besar lainnya (mabuk, zina, selingkuh, membunuh). Jagalah shalat. Jika kita dalam keadaan sibuk bagaimana pun, shalat tetap ditunaikan. Bahkan jika dalam keadaan lupa atau tertidur, lantas ingat, maka shalatlah ketika ingat dan sadar, walau waktu shalat telah habis, asalkan bukan sengaja dan bukan dijadikan rutinitas. Semoga Allah memberikan kita taufik agar rutin menjaga shalat lima waktu. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 15 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsdosa meninggalkan shalat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat


Ini adalah nasihat bagi yang masih meremehkan shalat lima waktu.   Daftar Isi tutup 1. Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat” 2. Khutbah Pertama 2.1. Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. 2.2. Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. 2.3. Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. 2.4. Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. 3. Khutbah Kedua 4. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Tonton Video Khutbah Jumat “Bagi yang Masih Meremehkan Shalat” <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span>   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi akhir zaman, suri tauladan kita, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada khutbah Jumat kali ini, pentingnya kiranya kami membahas perkara shalat. Sebagian kita, kadang memperhatikan ibadah lain, tetapi melupakan shalat lima waktu. Di bulan Ramadhan, sebagian kita berpuasa sebulan penuh, tetapi tidak shalat atau shalatnya bolong-bolong. Ketika datang Iduladha, yang malas shalat pun ikut berqurban. Yang punya rezeki banyak, rajin sedekah dalam keadaan meremehkan shalat. Bahkan ada yang menyatakan, “Yang penting saya sudah berbuat baik, sering bantu orang.” Padahal orang yang menyatakan seperti ini adalah orang yang kurang dalam memperhatikan shalat. Kita akan lihat bagaimana kedudukan shalat dalam Islam agar kita semakin sadar akan pentingnya shalat sehingga bisa terus menjaganya.   Pertama, shalat adalah tiangnya Islam. Dalam hadits Mu’adz radhiyallahu ‘anhu disebutkan, رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad.” (HR. At-Tirmiżī no. 2616, hasan). Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam.   Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut terdapat amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lain, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, no. 864; Ahmad, 2:425; Hakim, 1:262; Al-Baihaqi, 2:386. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).   Ketiga, shalat adalah bagian dari rukun Islam. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, -pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Keempat, saking pentingnya shalat, keluarga pun diajak untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا  “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495, sahih) Karena shalat begitu penting dan punya kedudukan dalam Islam. Yang meninggalkannya pun diancam dengan ghayya. Allah Ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ‘ghayya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. Dalam hadits, orang yang meninggalkan shalat diancam keras. Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, sahih). Biasanya orang yang meninggalkan shalat adalah karena kemalasan dengan berbagai macam alasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari, di mana beliau bersabda, مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ “Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nanti di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, hasan) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: Siapa yang sibuk dengan harta sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun. Siapa yang sibuk dengan kekuasaan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun). Siapa yang sibuk dengan perdagangan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf. Jangan remehkan shalat. Jangan remehkan shalat. Ibnul Qayyim sampai-sampai mengatakan bahwa meninggalkan shalat itu lebih parah dari melakukan dosa besar lainnya (mabuk, zina, selingkuh, membunuh). Jagalah shalat. Jika kita dalam keadaan sibuk bagaimana pun, shalat tetap ditunaikan. Bahkan jika dalam keadaan lupa atau tertidur, lantas ingat, maka shalatlah ketika ingat dan sadar, walau waktu shalat telah habis, asalkan bukan sengaja dan bukan dijadikan rutinitas. Semoga Allah memberikan kita taufik agar rutin menjaga shalat lima waktu. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 14 Dzulhijjah 1443 H, 15 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsdosa meninggalkan shalat meninggalkan shalat meninggalkan shalat jumat

Disunahkan Membuat Acara Makan-Makan di Hari Id dan Tasyrik

Hari Iduladha adalah hari kebahagiaan bagi kaum muslimin. Bahagia dengan berhari raya dan bahagia dengan berlimpahnya daging kurban. Ternyata, kebahagiaan ini bisa disempurnakan dengan berkumpul bersama, mengadakan acara kumpul makan-makan di hari raya Id dan hari Tasyrik (11,12, dan 13 Zulhijah). Mengumpulkan manusia, baik itu keluarga jauh dan dekat, sahabat, serta kolega, untuk makan-makan hukumnya adalah sunah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,جمع الناس للطعام في العيدين وأيام التشريق سنة، وهو من شعائر الإسلام التي سنها رسول الله“Mengumpulkan manusia untuk makan-makan pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dan hari Tasyrik adalah sunah, termasuk syiar Islam yang disunahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 25: 298)Acara kumpul makan-makan tentu akan menambah kebahagiaan dengan bertemu keluarga dan kawan dalam keceriaan dan suasana kebahagiaan. Dalam acara ini pun kita bisa menerapkan sunah menampakkan dan berbagi kebahagiaan pada saat hari raya.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,إظهار السُّرور في العيد مِن شعائر الدِّين“Menampakkan kegembiraan di hari raya Id termasuk dari syiar agama.” (Fathul Bari, 2: 443)Perintah berbahagia apabila mendapatkan karunia dan keutamaan dari Allah adalah perintah umum dan lebih dikhususkan dan ditekankan lagi ketika hari raya.Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Allah Ta’ala berfirman,قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)Acara berkumpul makan-makan juga disunahkan ngobrol-ngorol ringan dan berbincang hangat dalam rangka menyambung ukhuwah dan menghilangkan hasad dan kedengkian sesama kaum muslimin di waktu gembira. Berbincang-bincang ketika makan bersama termasuk hal yang disunahkan. Tentu saja disertai dengan adab, misalnya makanan ditelan dulu baru berbicara.Perhatikan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,ﺃُﺗِﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺑِﻠَﺤْﻢٍ ، ﻓَﺮُﻓِﻊَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉُ ، ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗُﻌْﺠِﺒُﻪُ ، ﻓَﻨَﻬَﺲَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻧَﻬْﺴَﺔً ﻓَﻘَﺎﻝَ : ‏( ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﻭَﻫَﻞْ ﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﺑِﻢَ ﺫَﺍﻙَ … ‏) ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﻄﻮﻳﻞ .“Suatu hari, beberapa daging dihidangkan untuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu ditawarkan kepada beliau bagian kaki depan, bagian yang beliau suka. Beliau pun menggigitnya dengan satu gigitan kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku adalah penghulu seluruh manusia di hari kiamat kelak. Tidakkah kalian tahu mengapa demikian?” Kemudian beliau menyebutkan hadis yang panjang tentang syafa’at (sambil makan). (HR. Bukhari no. 3340 dan Muslim no. 194)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa berdasarkan hadis ini, terdapat sunah berbincang-bincang ketika makan. Beliau rahimahullah berkata,ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺍِﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﻛْﻞ ﺗَﺄْﻧِﻴﺴًﺎ ﻟِﻠْﺂﻛِﻠِﻴﻦَ“Hadis ini menunjukkan anjuran berbincang-bincang ketika makan, agar lebih menyenangkan.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 14)Demikian pembahasan ringkas ini. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Hadist Tentang Jamaah, Keturunan Nabi Nuh, Do A Malam Hari, Mengenal Asmaul HusnaTags: fikih idul adhahari raya idul adhahari tasyrikidul adhakeutamaan hari tasyrikqurbansunnah di hari tasyriksyiar islamtasyrik

Disunahkan Membuat Acara Makan-Makan di Hari Id dan Tasyrik

Hari Iduladha adalah hari kebahagiaan bagi kaum muslimin. Bahagia dengan berhari raya dan bahagia dengan berlimpahnya daging kurban. Ternyata, kebahagiaan ini bisa disempurnakan dengan berkumpul bersama, mengadakan acara kumpul makan-makan di hari raya Id dan hari Tasyrik (11,12, dan 13 Zulhijah). Mengumpulkan manusia, baik itu keluarga jauh dan dekat, sahabat, serta kolega, untuk makan-makan hukumnya adalah sunah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,جمع الناس للطعام في العيدين وأيام التشريق سنة، وهو من شعائر الإسلام التي سنها رسول الله“Mengumpulkan manusia untuk makan-makan pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dan hari Tasyrik adalah sunah, termasuk syiar Islam yang disunahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 25: 298)Acara kumpul makan-makan tentu akan menambah kebahagiaan dengan bertemu keluarga dan kawan dalam keceriaan dan suasana kebahagiaan. Dalam acara ini pun kita bisa menerapkan sunah menampakkan dan berbagi kebahagiaan pada saat hari raya.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,إظهار السُّرور في العيد مِن شعائر الدِّين“Menampakkan kegembiraan di hari raya Id termasuk dari syiar agama.” (Fathul Bari, 2: 443)Perintah berbahagia apabila mendapatkan karunia dan keutamaan dari Allah adalah perintah umum dan lebih dikhususkan dan ditekankan lagi ketika hari raya.Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Allah Ta’ala berfirman,قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)Acara berkumpul makan-makan juga disunahkan ngobrol-ngorol ringan dan berbincang hangat dalam rangka menyambung ukhuwah dan menghilangkan hasad dan kedengkian sesama kaum muslimin di waktu gembira. Berbincang-bincang ketika makan bersama termasuk hal yang disunahkan. Tentu saja disertai dengan adab, misalnya makanan ditelan dulu baru berbicara.Perhatikan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,ﺃُﺗِﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺑِﻠَﺤْﻢٍ ، ﻓَﺮُﻓِﻊَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉُ ، ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗُﻌْﺠِﺒُﻪُ ، ﻓَﻨَﻬَﺲَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻧَﻬْﺴَﺔً ﻓَﻘَﺎﻝَ : ‏( ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﻭَﻫَﻞْ ﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﺑِﻢَ ﺫَﺍﻙَ … ‏) ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﻄﻮﻳﻞ .“Suatu hari, beberapa daging dihidangkan untuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu ditawarkan kepada beliau bagian kaki depan, bagian yang beliau suka. Beliau pun menggigitnya dengan satu gigitan kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku adalah penghulu seluruh manusia di hari kiamat kelak. Tidakkah kalian tahu mengapa demikian?” Kemudian beliau menyebutkan hadis yang panjang tentang syafa’at (sambil makan). (HR. Bukhari no. 3340 dan Muslim no. 194)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa berdasarkan hadis ini, terdapat sunah berbincang-bincang ketika makan. Beliau rahimahullah berkata,ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺍِﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﻛْﻞ ﺗَﺄْﻧِﻴﺴًﺎ ﻟِﻠْﺂﻛِﻠِﻴﻦَ“Hadis ini menunjukkan anjuran berbincang-bincang ketika makan, agar lebih menyenangkan.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 14)Demikian pembahasan ringkas ini. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Hadist Tentang Jamaah, Keturunan Nabi Nuh, Do A Malam Hari, Mengenal Asmaul HusnaTags: fikih idul adhahari raya idul adhahari tasyrikidul adhakeutamaan hari tasyrikqurbansunnah di hari tasyriksyiar islamtasyrik
Hari Iduladha adalah hari kebahagiaan bagi kaum muslimin. Bahagia dengan berhari raya dan bahagia dengan berlimpahnya daging kurban. Ternyata, kebahagiaan ini bisa disempurnakan dengan berkumpul bersama, mengadakan acara kumpul makan-makan di hari raya Id dan hari Tasyrik (11,12, dan 13 Zulhijah). Mengumpulkan manusia, baik itu keluarga jauh dan dekat, sahabat, serta kolega, untuk makan-makan hukumnya adalah sunah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,جمع الناس للطعام في العيدين وأيام التشريق سنة، وهو من شعائر الإسلام التي سنها رسول الله“Mengumpulkan manusia untuk makan-makan pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dan hari Tasyrik adalah sunah, termasuk syiar Islam yang disunahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 25: 298)Acara kumpul makan-makan tentu akan menambah kebahagiaan dengan bertemu keluarga dan kawan dalam keceriaan dan suasana kebahagiaan. Dalam acara ini pun kita bisa menerapkan sunah menampakkan dan berbagi kebahagiaan pada saat hari raya.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,إظهار السُّرور في العيد مِن شعائر الدِّين“Menampakkan kegembiraan di hari raya Id termasuk dari syiar agama.” (Fathul Bari, 2: 443)Perintah berbahagia apabila mendapatkan karunia dan keutamaan dari Allah adalah perintah umum dan lebih dikhususkan dan ditekankan lagi ketika hari raya.Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Allah Ta’ala berfirman,قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)Acara berkumpul makan-makan juga disunahkan ngobrol-ngorol ringan dan berbincang hangat dalam rangka menyambung ukhuwah dan menghilangkan hasad dan kedengkian sesama kaum muslimin di waktu gembira. Berbincang-bincang ketika makan bersama termasuk hal yang disunahkan. Tentu saja disertai dengan adab, misalnya makanan ditelan dulu baru berbicara.Perhatikan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,ﺃُﺗِﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺑِﻠَﺤْﻢٍ ، ﻓَﺮُﻓِﻊَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉُ ، ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗُﻌْﺠِﺒُﻪُ ، ﻓَﻨَﻬَﺲَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻧَﻬْﺴَﺔً ﻓَﻘَﺎﻝَ : ‏( ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﻭَﻫَﻞْ ﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﺑِﻢَ ﺫَﺍﻙَ … ‏) ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﻄﻮﻳﻞ .“Suatu hari, beberapa daging dihidangkan untuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu ditawarkan kepada beliau bagian kaki depan, bagian yang beliau suka. Beliau pun menggigitnya dengan satu gigitan kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku adalah penghulu seluruh manusia di hari kiamat kelak. Tidakkah kalian tahu mengapa demikian?” Kemudian beliau menyebutkan hadis yang panjang tentang syafa’at (sambil makan). (HR. Bukhari no. 3340 dan Muslim no. 194)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa berdasarkan hadis ini, terdapat sunah berbincang-bincang ketika makan. Beliau rahimahullah berkata,ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺍِﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﻛْﻞ ﺗَﺄْﻧِﻴﺴًﺎ ﻟِﻠْﺂﻛِﻠِﻴﻦَ“Hadis ini menunjukkan anjuran berbincang-bincang ketika makan, agar lebih menyenangkan.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 14)Demikian pembahasan ringkas ini. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Hadist Tentang Jamaah, Keturunan Nabi Nuh, Do A Malam Hari, Mengenal Asmaul HusnaTags: fikih idul adhahari raya idul adhahari tasyrikidul adhakeutamaan hari tasyrikqurbansunnah di hari tasyriksyiar islamtasyrik


Hari Iduladha adalah hari kebahagiaan bagi kaum muslimin. Bahagia dengan berhari raya dan bahagia dengan berlimpahnya daging kurban. Ternyata, kebahagiaan ini bisa disempurnakan dengan berkumpul bersama, mengadakan acara kumpul makan-makan di hari raya Id dan hari Tasyrik (11,12, dan 13 Zulhijah). Mengumpulkan manusia, baik itu keluarga jauh dan dekat, sahabat, serta kolega, untuk makan-makan hukumnya adalah sunah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,جمع الناس للطعام في العيدين وأيام التشريق سنة، وهو من شعائر الإسلام التي سنها رسول الله“Mengumpulkan manusia untuk makan-makan pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) dan hari Tasyrik adalah sunah, termasuk syiar Islam yang disunahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Al-Fatawa, 25: 298)Acara kumpul makan-makan tentu akan menambah kebahagiaan dengan bertemu keluarga dan kawan dalam keceriaan dan suasana kebahagiaan. Dalam acara ini pun kita bisa menerapkan sunah menampakkan dan berbagi kebahagiaan pada saat hari raya.Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,إظهار السُّرور في العيد مِن شعائر الدِّين“Menampakkan kegembiraan di hari raya Id termasuk dari syiar agama.” (Fathul Bari, 2: 443)Perintah berbahagia apabila mendapatkan karunia dan keutamaan dari Allah adalah perintah umum dan lebih dikhususkan dan ditekankan lagi ketika hari raya.Baca Juga: Bagaimana Cara Qurban yang Terbaik?Allah Ta’ala berfirman,قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. (Karunia Allah dan rahmat-Nya) itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)Acara berkumpul makan-makan juga disunahkan ngobrol-ngorol ringan dan berbincang hangat dalam rangka menyambung ukhuwah dan menghilangkan hasad dan kedengkian sesama kaum muslimin di waktu gembira. Berbincang-bincang ketika makan bersama termasuk hal yang disunahkan. Tentu saja disertai dengan adab, misalnya makanan ditelan dulu baru berbicara.Perhatikan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,ﺃُﺗِﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺑِﻠَﺤْﻢٍ ، ﻓَﺮُﻓِﻊَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉُ ، ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗُﻌْﺠِﺒُﻪُ ، ﻓَﻨَﻬَﺲَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻧَﻬْﺴَﺔً ﻓَﻘَﺎﻝَ : ‏( ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﻭَﻫَﻞْ ﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﺑِﻢَ ﺫَﺍﻙَ … ‏) ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﻄﻮﻳﻞ .“Suatu hari, beberapa daging dihidangkan untuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu ditawarkan kepada beliau bagian kaki depan, bagian yang beliau suka. Beliau pun menggigitnya dengan satu gigitan kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku adalah penghulu seluruh manusia di hari kiamat kelak. Tidakkah kalian tahu mengapa demikian?” Kemudian beliau menyebutkan hadis yang panjang tentang syafa’at (sambil makan). (HR. Bukhari no. 3340 dan Muslim no. 194)An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa berdasarkan hadis ini, terdapat sunah berbincang-bincang ketika makan. Beliau rahimahullah berkata,ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺍِﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﻛْﻞ ﺗَﺄْﻧِﻴﺴًﺎ ﻟِﻠْﺂﻛِﻠِﻴﻦَ“Hadis ini menunjukkan anjuran berbincang-bincang ketika makan, agar lebih menyenangkan.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 14)Demikian pembahasan ringkas ini. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Yang Dilarang Potong Rambut Dan Kuku Adalah Hewan Qurban?Hukum Qurban Bergilir Antar Anggota Keluarga***@ Lombok, pulau seribu masjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Hadist Tentang Jamaah, Keturunan Nabi Nuh, Do A Malam Hari, Mengenal Asmaul HusnaTags: fikih idul adhahari raya idul adhahari tasyrikidul adhakeutamaan hari tasyrikqurbansunnah di hari tasyriksyiar islamtasyrik

Siapa yang Pantas Menjadi Imam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Siapa yang Pantas Menjadi Imam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku pernah berselisih pendapat dengan beberapa jamaah shalat di mushalla: Siapakah yang paling berhak menjadi imam: orang yang mukim atau musafir? Siapa yang paling berhak? Yang paling berhak adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an.” Baik itu ia seorang musafir atau mukim. “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an. Jika mereka setara dalam penguasaan al-Qur’annya, maka yang paling menguasai sunah. Jika mereka setara dalam penguasaan sunah, maka yang paling tua.” Yang lebih dulu masuk Islam, yakni yang lebih tua umurnya. Yang lebih tua didahulukan. Jadi urutannya adalah: (1) al-Qur’an, (2) kemudian sunah, (3) kemudian yang lebih tua. Demikian. ====================================================================================================== اخْتَلَفْتُ مَعَ عَدَدٍ مِنَ الْمُصَلِّينَ فِي مُصَلَّى مَنِ الْأَولَى فِي الْإِمَامَةِ الْمُقِيمُ أَوِ الْمُسَافِرُ فَمَنْ هُوَ الْأَوْلَى؟ الْأَوْلَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ سَوَاءٌ كَانَ مُسَافِرًا أَوْ مُقِيمًا يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً أَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا بِالسُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَكْبَرُهُمْ سِنًّا قِدَمُهُم أَوَّلُهُم سِلْمًا يَعْنِي أَكْبَرُهُمْ سِنًّا قَدَّمَ الْكَبِيرَ فَالْقُرْآنُ ثُمَّ السُّنَّةُ ثُمَّ الْأَكْبَرُ سِنًّا نَعَم  

Siapa yang Pantas Menjadi Imam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama

Siapa yang Pantas Menjadi Imam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku pernah berselisih pendapat dengan beberapa jamaah shalat di mushalla: Siapakah yang paling berhak menjadi imam: orang yang mukim atau musafir? Siapa yang paling berhak? Yang paling berhak adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an.” Baik itu ia seorang musafir atau mukim. “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an. Jika mereka setara dalam penguasaan al-Qur’annya, maka yang paling menguasai sunah. Jika mereka setara dalam penguasaan sunah, maka yang paling tua.” Yang lebih dulu masuk Islam, yakni yang lebih tua umurnya. Yang lebih tua didahulukan. Jadi urutannya adalah: (1) al-Qur’an, (2) kemudian sunah, (3) kemudian yang lebih tua. Demikian. ====================================================================================================== اخْتَلَفْتُ مَعَ عَدَدٍ مِنَ الْمُصَلِّينَ فِي مُصَلَّى مَنِ الْأَولَى فِي الْإِمَامَةِ الْمُقِيمُ أَوِ الْمُسَافِرُ فَمَنْ هُوَ الْأَوْلَى؟ الْأَوْلَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ سَوَاءٌ كَانَ مُسَافِرًا أَوْ مُقِيمًا يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً أَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا بِالسُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَكْبَرُهُمْ سِنًّا قِدَمُهُم أَوَّلُهُم سِلْمًا يَعْنِي أَكْبَرُهُمْ سِنًّا قَدَّمَ الْكَبِيرَ فَالْقُرْآنُ ثُمَّ السُّنَّةُ ثُمَّ الْأَكْبَرُ سِنًّا نَعَم  
Siapa yang Pantas Menjadi Imam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku pernah berselisih pendapat dengan beberapa jamaah shalat di mushalla: Siapakah yang paling berhak menjadi imam: orang yang mukim atau musafir? Siapa yang paling berhak? Yang paling berhak adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an.” Baik itu ia seorang musafir atau mukim. “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an. Jika mereka setara dalam penguasaan al-Qur’annya, maka yang paling menguasai sunah. Jika mereka setara dalam penguasaan sunah, maka yang paling tua.” Yang lebih dulu masuk Islam, yakni yang lebih tua umurnya. Yang lebih tua didahulukan. Jadi urutannya adalah: (1) al-Qur’an, (2) kemudian sunah, (3) kemudian yang lebih tua. Demikian. ====================================================================================================== اخْتَلَفْتُ مَعَ عَدَدٍ مِنَ الْمُصَلِّينَ فِي مُصَلَّى مَنِ الْأَولَى فِي الْإِمَامَةِ الْمُقِيمُ أَوِ الْمُسَافِرُ فَمَنْ هُوَ الْأَوْلَى؟ الْأَوْلَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ سَوَاءٌ كَانَ مُسَافِرًا أَوْ مُقِيمًا يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً أَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا بِالسُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَكْبَرُهُمْ سِنًّا قِدَمُهُم أَوَّلُهُم سِلْمًا يَعْنِي أَكْبَرُهُمْ سِنًّا قَدَّمَ الْكَبِيرَ فَالْقُرْآنُ ثُمَّ السُّنَّةُ ثُمَّ الْأَكْبَرُ سِنًّا نَعَم  


Siapa yang Pantas Menjadi Imam? – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama Aku pernah berselisih pendapat dengan beberapa jamaah shalat di mushalla: Siapakah yang paling berhak menjadi imam: orang yang mukim atau musafir? Siapa yang paling berhak? Yang paling berhak adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an.” Baik itu ia seorang musafir atau mukim. “Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling menguasai al-Qur’an. Jika mereka setara dalam penguasaan al-Qur’annya, maka yang paling menguasai sunah. Jika mereka setara dalam penguasaan sunah, maka yang paling tua.” Yang lebih dulu masuk Islam, yakni yang lebih tua umurnya. Yang lebih tua didahulukan. Jadi urutannya adalah: (1) al-Qur’an, (2) kemudian sunah, (3) kemudian yang lebih tua. Demikian. ====================================================================================================== اخْتَلَفْتُ مَعَ عَدَدٍ مِنَ الْمُصَلِّينَ فِي مُصَلَّى مَنِ الْأَولَى فِي الْإِمَامَةِ الْمُقِيمُ أَوِ الْمُسَافِرُ فَمَنْ هُوَ الْأَوْلَى؟ الْأَوْلَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ سَوَاءٌ كَانَ مُسَافِرًا أَوْ مُقِيمًا يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً أَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا بِالسُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَكْبَرُهُمْ سِنًّا قِدَمُهُم أَوَّلُهُم سِلْمًا يَعْنِي أَكْبَرُهُمْ سِنًّا قَدَّمَ الْكَبِيرَ فَالْقُرْآنُ ثُمَّ السُّنَّةُ ثُمَّ الْأَكْبَرُ سِنًّا نَعَم  

Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan sebaik-baik bekal yang bisa disiapkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam menuntut ilmu syar’i dan mengajarkannya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Dan keduanya sangatlah penting bagi kehidupan seorang muslim. Dengan kedua hal tersebut, seorang muslim bisa meraih banyak sekali kebaikan dan keutamaan.Dalam proses menuntut ilmu dan mempelajarinya, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan tambahan ilmu. Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta diberikan kelebihan sesuatu, kecuali ilmu syar’i. Sungguh, hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus diutamakan dari yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Ayat ini penuh dengan kemuliaan. Menggembirakan mereka yang menuntut ilmu. Memecut kembali semangat yang melemah saat sedang malas dan membangkitkan kembali usaha serta kerja keras di dalam mempelajarinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa dan menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia saja, masih dan senantiasa diperintahkan untuk berdoa meminta diberikan tambahan ilmu. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang tentu sangat jauh sekali keutamaan dan kedudukannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa orang yang berilmu selangkah lebih dekat kepada Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa orang berilmu lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada orang yang tidak berilmu. Dan kedudukan mereka tentu saja lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Mujadalah, Allah Ta’ala berfirman,يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan ilmu syar’i ini terhadap semua hal duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألا إن الدنيا ملعونةٌ، ملعونٌ ما فيها، إلا ذكرُ الله، وما والاه، وعالمٌ أو متعلمٌ“Ketauhilah, dunia itu terlaknat. Segala yang terkandung di dalamnya terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi no. 2322. Dalam Shohihul Jami’, Syekh Al-Albani mengatakan hadis ini hasan).Imam Syafi’i rahimahullah bahkan mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu. Beliau rahimahullah berkata,مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2: 139)Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia,Ketahuilah, bahwa menuntut ilmu lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما“Sesungguhnya berdirinya salah seorang dari kalian di jalan Allah (medan jihad) lebih utama daripada salat (sunah) di rumahnya selama 70 tahun.” (HR. Tirimidzi no. 1650)Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang paling mulia. Karena hanya dengan ilmulah, agama ini tegak dan tersebar di muka bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ“Barang siapa yang keluar dalam rangka untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (Hadis hasan ghariib, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2647 dan Al-Bazzar no. 6520)Menuntut ilmu adalah tanda Allah Ta’ala menginginkan kebaikan untuk diri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.” (HR. Bukhari no. 3116 dan Muslim no. 1037)Sebaliknya, saat seseorang bermalas-malasan di dalam mempelajari ilmu syar’i, bahkan meremehkannya, maka ia harus waspada, bisa jadi ini pertanda Allah Ta’ala tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hendaknya ia segera bertobat dan menyibukkan diri kembali di dalam belajar dan menuntut ilmu, sehingga nantinya Allah Ta’ala bukakan kembali pintu-pintu kebaikan untuk dirinya.Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Pentingnya menuntut ilmu syar’i dan mempelajarinya bukan semata-mata karena banyaknya keutamaan yang akan diperoleh. Lebih dari itu semua, Allah Ta’ala telah menjadikan tholibul ilmi/ menuntut ilmu sebagai salah satu fitrah dan bawaan semua orang saat ia dilahirkan ke dunia ini. Di mana Allah Ta’ala telah menciptakan serta membekali setiap jiwa yang ada dengan wasilah dan berbagai sarana untuk mendulang ilmu ini. Allah Ta’ala berfirman,وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana-sarana memperoleh dan mempelajari ilmu syar’i. Allah Ta’ala telah melimpahkan nikmat ini semenjak kita masih di dalam kandungan. Maka, sudah menjadi kewajiban dan keharusan kita untuk mensyukurinya dan memanfaatkan semua kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya.Berusaha untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan agama Islam kita, mempelajari apa-apa yang menjadi kewajiban kita, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk terus menerus duduk di majelis ilmu.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tentu saja, semua keutamaan yang telah kita sebutkan tidak akan bisa diraih, kecuali oleh mereka yang ikhlas dan mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Hanya berilmu dan semangat belajar saja tidak cukup. Semuanya harus dibarengi dengan keikhlasan dan realisasi atas apa yang telah kita pelajari. Karena di akhirat nantipun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang telah kita pelajari.لا تزولُ قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسألَ عن عمرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن علمِه؛ فيمَ فعل؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه؛ فيمَ أبلاه؟“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (ke surga atau ke neraka), hingga ia ditanya mengenai hidupnya. Untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Untuk apa ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537 dan Al-Baihaqi no. 494)أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah salat Jumat yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ilmu syar’i ini tidak akan sampai kepada kita dan tidak akan bisa kita pahami, kecuali karena peran penting dan andil besar para ulama, asatidzah, dan guru-guru yang telah mengabdikan kehidupannya untuk membela ilmu syar’i, mendakwahkannya, dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.Sungguh, mereka itulah sebenar-benarnya pewaris para nabi, pemikul ajarannya, dan pembela kitab sucinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لم يورِّثوا دينارًا ولا درْهمًا إنَّما ورَّثوا العلمَ فمَن أخذَ بِهِ فقد أخذَ بحظٍّ وافرٍ“Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)Bagi mereka yang menyebarkan, mengajarkan, dan mendakwahkan ilmu ini, maka Allah Ta’ala menjanjikan balasan yang sangat agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)Jemaah yang berbahagia.Mengajarkan ilmu merupakan bentuk keberkahan dan tanda bahwa ilmunya tersebut bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Dari hadis ini kita belajar, bahwa salah satu investasi amal yang akan berguna di saat kita telah meninggal dunia dan pahalanya tidak akan terputus adalah mengajarkan ilmu syar’i yang sudah pernah kita pelajari.Sedangkan mereka yang sudah mempelajari sebuah ilmu, lalu menyembunyikan ilmu tersebut dan tidak mau mengajarkannya, maka ancamannya sangatlah keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ“Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud no. 3658, Tirmidzi no. 2649 dan Ahmad no. 10420)Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثلُ الَّذي يتعلَّمُ العلمَ ثمَّ لا يحدِّثُ بِهِ كمثلِ الَّذي يَكْنزُ الكنزَ ثمَّ لا ينفقُ منهُ“Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak menyampaikannya, seperti orang yang menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 689)Marilah kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar, memberikan kita rasa semangat dan antusias di dalam mendalami dan mempelajari ilmu syar’i yang mulia ini. Kita semua juga berdoa, semoga Allah Ta’ala menghindarkan diri kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menyampaikan kebenaran yang telah kita pelajari dan tidak menyembunyikannya.اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadis ini sahih).فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Kesesatan Syiah Rafidhah, Jumlah Rukun Shalat, Dosa Orang Munafik, Lc Singkatan DariTags: ilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmu syar'ikhutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatpenuntut ilmuPenuntut Ilmu Agamapenuntut ilmu syar'iteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan sebaik-baik bekal yang bisa disiapkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam menuntut ilmu syar’i dan mengajarkannya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Dan keduanya sangatlah penting bagi kehidupan seorang muslim. Dengan kedua hal tersebut, seorang muslim bisa meraih banyak sekali kebaikan dan keutamaan.Dalam proses menuntut ilmu dan mempelajarinya, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan tambahan ilmu. Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta diberikan kelebihan sesuatu, kecuali ilmu syar’i. Sungguh, hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus diutamakan dari yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Ayat ini penuh dengan kemuliaan. Menggembirakan mereka yang menuntut ilmu. Memecut kembali semangat yang melemah saat sedang malas dan membangkitkan kembali usaha serta kerja keras di dalam mempelajarinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa dan menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia saja, masih dan senantiasa diperintahkan untuk berdoa meminta diberikan tambahan ilmu. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang tentu sangat jauh sekali keutamaan dan kedudukannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa orang yang berilmu selangkah lebih dekat kepada Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa orang berilmu lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada orang yang tidak berilmu. Dan kedudukan mereka tentu saja lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Mujadalah, Allah Ta’ala berfirman,يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan ilmu syar’i ini terhadap semua hal duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألا إن الدنيا ملعونةٌ، ملعونٌ ما فيها، إلا ذكرُ الله، وما والاه، وعالمٌ أو متعلمٌ“Ketauhilah, dunia itu terlaknat. Segala yang terkandung di dalamnya terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi no. 2322. Dalam Shohihul Jami’, Syekh Al-Albani mengatakan hadis ini hasan).Imam Syafi’i rahimahullah bahkan mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu. Beliau rahimahullah berkata,مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2: 139)Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia,Ketahuilah, bahwa menuntut ilmu lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما“Sesungguhnya berdirinya salah seorang dari kalian di jalan Allah (medan jihad) lebih utama daripada salat (sunah) di rumahnya selama 70 tahun.” (HR. Tirimidzi no. 1650)Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang paling mulia. Karena hanya dengan ilmulah, agama ini tegak dan tersebar di muka bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ“Barang siapa yang keluar dalam rangka untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (Hadis hasan ghariib, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2647 dan Al-Bazzar no. 6520)Menuntut ilmu adalah tanda Allah Ta’ala menginginkan kebaikan untuk diri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.” (HR. Bukhari no. 3116 dan Muslim no. 1037)Sebaliknya, saat seseorang bermalas-malasan di dalam mempelajari ilmu syar’i, bahkan meremehkannya, maka ia harus waspada, bisa jadi ini pertanda Allah Ta’ala tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hendaknya ia segera bertobat dan menyibukkan diri kembali di dalam belajar dan menuntut ilmu, sehingga nantinya Allah Ta’ala bukakan kembali pintu-pintu kebaikan untuk dirinya.Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Pentingnya menuntut ilmu syar’i dan mempelajarinya bukan semata-mata karena banyaknya keutamaan yang akan diperoleh. Lebih dari itu semua, Allah Ta’ala telah menjadikan tholibul ilmi/ menuntut ilmu sebagai salah satu fitrah dan bawaan semua orang saat ia dilahirkan ke dunia ini. Di mana Allah Ta’ala telah menciptakan serta membekali setiap jiwa yang ada dengan wasilah dan berbagai sarana untuk mendulang ilmu ini. Allah Ta’ala berfirman,وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana-sarana memperoleh dan mempelajari ilmu syar’i. Allah Ta’ala telah melimpahkan nikmat ini semenjak kita masih di dalam kandungan. Maka, sudah menjadi kewajiban dan keharusan kita untuk mensyukurinya dan memanfaatkan semua kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya.Berusaha untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan agama Islam kita, mempelajari apa-apa yang menjadi kewajiban kita, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk terus menerus duduk di majelis ilmu.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tentu saja, semua keutamaan yang telah kita sebutkan tidak akan bisa diraih, kecuali oleh mereka yang ikhlas dan mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Hanya berilmu dan semangat belajar saja tidak cukup. Semuanya harus dibarengi dengan keikhlasan dan realisasi atas apa yang telah kita pelajari. Karena di akhirat nantipun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang telah kita pelajari.لا تزولُ قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسألَ عن عمرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن علمِه؛ فيمَ فعل؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه؛ فيمَ أبلاه؟“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (ke surga atau ke neraka), hingga ia ditanya mengenai hidupnya. Untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Untuk apa ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537 dan Al-Baihaqi no. 494)أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah salat Jumat yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ilmu syar’i ini tidak akan sampai kepada kita dan tidak akan bisa kita pahami, kecuali karena peran penting dan andil besar para ulama, asatidzah, dan guru-guru yang telah mengabdikan kehidupannya untuk membela ilmu syar’i, mendakwahkannya, dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.Sungguh, mereka itulah sebenar-benarnya pewaris para nabi, pemikul ajarannya, dan pembela kitab sucinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لم يورِّثوا دينارًا ولا درْهمًا إنَّما ورَّثوا العلمَ فمَن أخذَ بِهِ فقد أخذَ بحظٍّ وافرٍ“Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)Bagi mereka yang menyebarkan, mengajarkan, dan mendakwahkan ilmu ini, maka Allah Ta’ala menjanjikan balasan yang sangat agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)Jemaah yang berbahagia.Mengajarkan ilmu merupakan bentuk keberkahan dan tanda bahwa ilmunya tersebut bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Dari hadis ini kita belajar, bahwa salah satu investasi amal yang akan berguna di saat kita telah meninggal dunia dan pahalanya tidak akan terputus adalah mengajarkan ilmu syar’i yang sudah pernah kita pelajari.Sedangkan mereka yang sudah mempelajari sebuah ilmu, lalu menyembunyikan ilmu tersebut dan tidak mau mengajarkannya, maka ancamannya sangatlah keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ“Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud no. 3658, Tirmidzi no. 2649 dan Ahmad no. 10420)Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثلُ الَّذي يتعلَّمُ العلمَ ثمَّ لا يحدِّثُ بِهِ كمثلِ الَّذي يَكْنزُ الكنزَ ثمَّ لا ينفقُ منهُ“Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak menyampaikannya, seperti orang yang menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 689)Marilah kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar, memberikan kita rasa semangat dan antusias di dalam mendalami dan mempelajari ilmu syar’i yang mulia ini. Kita semua juga berdoa, semoga Allah Ta’ala menghindarkan diri kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menyampaikan kebenaran yang telah kita pelajari dan tidak menyembunyikannya.اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadis ini sahih).فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Kesesatan Syiah Rafidhah, Jumlah Rukun Shalat, Dosa Orang Munafik, Lc Singkatan DariTags: ilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmu syar'ikhutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatpenuntut ilmuPenuntut Ilmu Agamapenuntut ilmu syar'iteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan sebaik-baik bekal yang bisa disiapkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam menuntut ilmu syar’i dan mengajarkannya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Dan keduanya sangatlah penting bagi kehidupan seorang muslim. Dengan kedua hal tersebut, seorang muslim bisa meraih banyak sekali kebaikan dan keutamaan.Dalam proses menuntut ilmu dan mempelajarinya, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan tambahan ilmu. Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta diberikan kelebihan sesuatu, kecuali ilmu syar’i. Sungguh, hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus diutamakan dari yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Ayat ini penuh dengan kemuliaan. Menggembirakan mereka yang menuntut ilmu. Memecut kembali semangat yang melemah saat sedang malas dan membangkitkan kembali usaha serta kerja keras di dalam mempelajarinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa dan menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia saja, masih dan senantiasa diperintahkan untuk berdoa meminta diberikan tambahan ilmu. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang tentu sangat jauh sekali keutamaan dan kedudukannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa orang yang berilmu selangkah lebih dekat kepada Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa orang berilmu lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada orang yang tidak berilmu. Dan kedudukan mereka tentu saja lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Mujadalah, Allah Ta’ala berfirman,يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan ilmu syar’i ini terhadap semua hal duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألا إن الدنيا ملعونةٌ، ملعونٌ ما فيها، إلا ذكرُ الله، وما والاه، وعالمٌ أو متعلمٌ“Ketauhilah, dunia itu terlaknat. Segala yang terkandung di dalamnya terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi no. 2322. Dalam Shohihul Jami’, Syekh Al-Albani mengatakan hadis ini hasan).Imam Syafi’i rahimahullah bahkan mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu. Beliau rahimahullah berkata,مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2: 139)Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia,Ketahuilah, bahwa menuntut ilmu lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما“Sesungguhnya berdirinya salah seorang dari kalian di jalan Allah (medan jihad) lebih utama daripada salat (sunah) di rumahnya selama 70 tahun.” (HR. Tirimidzi no. 1650)Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang paling mulia. Karena hanya dengan ilmulah, agama ini tegak dan tersebar di muka bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ“Barang siapa yang keluar dalam rangka untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (Hadis hasan ghariib, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2647 dan Al-Bazzar no. 6520)Menuntut ilmu adalah tanda Allah Ta’ala menginginkan kebaikan untuk diri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.” (HR. Bukhari no. 3116 dan Muslim no. 1037)Sebaliknya, saat seseorang bermalas-malasan di dalam mempelajari ilmu syar’i, bahkan meremehkannya, maka ia harus waspada, bisa jadi ini pertanda Allah Ta’ala tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hendaknya ia segera bertobat dan menyibukkan diri kembali di dalam belajar dan menuntut ilmu, sehingga nantinya Allah Ta’ala bukakan kembali pintu-pintu kebaikan untuk dirinya.Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Pentingnya menuntut ilmu syar’i dan mempelajarinya bukan semata-mata karena banyaknya keutamaan yang akan diperoleh. Lebih dari itu semua, Allah Ta’ala telah menjadikan tholibul ilmi/ menuntut ilmu sebagai salah satu fitrah dan bawaan semua orang saat ia dilahirkan ke dunia ini. Di mana Allah Ta’ala telah menciptakan serta membekali setiap jiwa yang ada dengan wasilah dan berbagai sarana untuk mendulang ilmu ini. Allah Ta’ala berfirman,وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana-sarana memperoleh dan mempelajari ilmu syar’i. Allah Ta’ala telah melimpahkan nikmat ini semenjak kita masih di dalam kandungan. Maka, sudah menjadi kewajiban dan keharusan kita untuk mensyukurinya dan memanfaatkan semua kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya.Berusaha untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan agama Islam kita, mempelajari apa-apa yang menjadi kewajiban kita, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk terus menerus duduk di majelis ilmu.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tentu saja, semua keutamaan yang telah kita sebutkan tidak akan bisa diraih, kecuali oleh mereka yang ikhlas dan mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Hanya berilmu dan semangat belajar saja tidak cukup. Semuanya harus dibarengi dengan keikhlasan dan realisasi atas apa yang telah kita pelajari. Karena di akhirat nantipun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang telah kita pelajari.لا تزولُ قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسألَ عن عمرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن علمِه؛ فيمَ فعل؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه؛ فيمَ أبلاه؟“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (ke surga atau ke neraka), hingga ia ditanya mengenai hidupnya. Untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Untuk apa ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537 dan Al-Baihaqi no. 494)أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah salat Jumat yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ilmu syar’i ini tidak akan sampai kepada kita dan tidak akan bisa kita pahami, kecuali karena peran penting dan andil besar para ulama, asatidzah, dan guru-guru yang telah mengabdikan kehidupannya untuk membela ilmu syar’i, mendakwahkannya, dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.Sungguh, mereka itulah sebenar-benarnya pewaris para nabi, pemikul ajarannya, dan pembela kitab sucinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لم يورِّثوا دينارًا ولا درْهمًا إنَّما ورَّثوا العلمَ فمَن أخذَ بِهِ فقد أخذَ بحظٍّ وافرٍ“Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)Bagi mereka yang menyebarkan, mengajarkan, dan mendakwahkan ilmu ini, maka Allah Ta’ala menjanjikan balasan yang sangat agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)Jemaah yang berbahagia.Mengajarkan ilmu merupakan bentuk keberkahan dan tanda bahwa ilmunya tersebut bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Dari hadis ini kita belajar, bahwa salah satu investasi amal yang akan berguna di saat kita telah meninggal dunia dan pahalanya tidak akan terputus adalah mengajarkan ilmu syar’i yang sudah pernah kita pelajari.Sedangkan mereka yang sudah mempelajari sebuah ilmu, lalu menyembunyikan ilmu tersebut dan tidak mau mengajarkannya, maka ancamannya sangatlah keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ“Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud no. 3658, Tirmidzi no. 2649 dan Ahmad no. 10420)Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثلُ الَّذي يتعلَّمُ العلمَ ثمَّ لا يحدِّثُ بِهِ كمثلِ الَّذي يَكْنزُ الكنزَ ثمَّ لا ينفقُ منهُ“Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak menyampaikannya, seperti orang yang menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 689)Marilah kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar, memberikan kita rasa semangat dan antusias di dalam mendalami dan mempelajari ilmu syar’i yang mulia ini. Kita semua juga berdoa, semoga Allah Ta’ala menghindarkan diri kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menyampaikan kebenaran yang telah kita pelajari dan tidak menyembunyikannya.اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadis ini sahih).فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Kesesatan Syiah Rafidhah, Jumlah Rukun Shalat, Dosa Orang Munafik, Lc Singkatan DariTags: ilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmu syar'ikhutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatpenuntut ilmuPenuntut Ilmu Agamapenuntut ilmu syar'iteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan sebaik-baik bekal yang bisa disiapkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam menuntut ilmu syar’i dan mengajarkannya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Dan keduanya sangatlah penting bagi kehidupan seorang muslim. Dengan kedua hal tersebut, seorang muslim bisa meraih banyak sekali kebaikan dan keutamaan.Dalam proses menuntut ilmu dan mempelajarinya, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan tambahan ilmu. Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta diberikan kelebihan sesuatu, kecuali ilmu syar’i. Sungguh, hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus diutamakan dari yang selainnya. Allah Ta’ala berfirman,وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha: 114)Ayat ini penuh dengan kemuliaan. Menggembirakan mereka yang menuntut ilmu. Memecut kembali semangat yang melemah saat sedang malas dan membangkitkan kembali usaha serta kerja keras di dalam mempelajarinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa dan menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia saja, masih dan senantiasa diperintahkan untuk berdoa meminta diberikan tambahan ilmu. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang tentu sangat jauh sekali keutamaan dan kedudukannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?!Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa orang yang berilmu selangkah lebih dekat kepada Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman,اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa orang berilmu lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada orang yang tidak berilmu. Dan kedudukan mereka tentu saja lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Mujadalah, Allah Ta’ala berfirman,يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)Di dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan ilmu syar’i ini terhadap semua hal duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ألا إن الدنيا ملعونةٌ، ملعونٌ ما فيها، إلا ذكرُ الله، وما والاه، وعالمٌ أو متعلمٌ“Ketauhilah, dunia itu terlaknat. Segala yang terkandung di dalamnya terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi no. 2322. Dalam Shohihul Jami’, Syekh Al-Albani mengatakan hadis ini hasan).Imam Syafi’i rahimahullah bahkan mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu. Beliau rahimahullah berkata,مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2: 139)Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia,Ketahuilah, bahwa menuntut ilmu lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,إن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما“Sesungguhnya berdirinya salah seorang dari kalian di jalan Allah (medan jihad) lebih utama daripada salat (sunah) di rumahnya selama 70 tahun.” (HR. Tirimidzi no. 1650)Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang paling mulia. Karena hanya dengan ilmulah, agama ini tegak dan tersebar di muka bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ“Barang siapa yang keluar dalam rangka untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (Hadis hasan ghariib, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2647 dan Al-Bazzar no. 6520)Menuntut ilmu adalah tanda Allah Ta’ala menginginkan kebaikan untuk diri kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.” (HR. Bukhari no. 3116 dan Muslim no. 1037)Sebaliknya, saat seseorang bermalas-malasan di dalam mempelajari ilmu syar’i, bahkan meremehkannya, maka ia harus waspada, bisa jadi ini pertanda Allah Ta’ala tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hendaknya ia segera bertobat dan menyibukkan diri kembali di dalam belajar dan menuntut ilmu, sehingga nantinya Allah Ta’ala bukakan kembali pintu-pintu kebaikan untuk dirinya.Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Pentingnya menuntut ilmu syar’i dan mempelajarinya bukan semata-mata karena banyaknya keutamaan yang akan diperoleh. Lebih dari itu semua, Allah Ta’ala telah menjadikan tholibul ilmi/ menuntut ilmu sebagai salah satu fitrah dan bawaan semua orang saat ia dilahirkan ke dunia ini. Di mana Allah Ta’ala telah menciptakan serta membekali setiap jiwa yang ada dengan wasilah dan berbagai sarana untuk mendulang ilmu ini. Allah Ta’ala berfirman,وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana-sarana memperoleh dan mempelajari ilmu syar’i. Allah Ta’ala telah melimpahkan nikmat ini semenjak kita masih di dalam kandungan. Maka, sudah menjadi kewajiban dan keharusan kita untuk mensyukurinya dan memanfaatkan semua kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya.Berusaha untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan agama Islam kita, mempelajari apa-apa yang menjadi kewajiban kita, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk terus menerus duduk di majelis ilmu.Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.Tentu saja, semua keutamaan yang telah kita sebutkan tidak akan bisa diraih, kecuali oleh mereka yang ikhlas dan mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Hanya berilmu dan semangat belajar saja tidak cukup. Semuanya harus dibarengi dengan keikhlasan dan realisasi atas apa yang telah kita pelajari. Karena di akhirat nantipun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang telah kita pelajari.لا تزولُ قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسألَ عن عمرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن علمِه؛ فيمَ فعل؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه؛ فيمَ أبلاه؟“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (ke surga atau ke neraka), hingga ia ditanya mengenai hidupnya. Untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Untuk apa ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537 dan Al-Baihaqi no. 494)أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Jemaah salat Jumat yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah Ta’ala.Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ilmu syar’i ini tidak akan sampai kepada kita dan tidak akan bisa kita pahami, kecuali karena peran penting dan andil besar para ulama, asatidzah, dan guru-guru yang telah mengabdikan kehidupannya untuk membela ilmu syar’i, mendakwahkannya, dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.Sungguh, mereka itulah sebenar-benarnya pewaris para nabi, pemikul ajarannya, dan pembela kitab sucinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لم يورِّثوا دينارًا ولا درْهمًا إنَّما ورَّثوا العلمَ فمَن أخذَ بِهِ فقد أخذَ بحظٍّ وافرٍ“Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” (HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)Bagi mereka yang menyebarkan, mengajarkan, dan mendakwahkan ilmu ini, maka Allah Ta’ala menjanjikan balasan yang sangat agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)Jemaah yang berbahagia.Mengajarkan ilmu merupakan bentuk keberkahan dan tanda bahwa ilmunya tersebut bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)Dari hadis ini kita belajar, bahwa salah satu investasi amal yang akan berguna di saat kita telah meninggal dunia dan pahalanya tidak akan terputus adalah mengajarkan ilmu syar’i yang sudah pernah kita pelajari.Sedangkan mereka yang sudah mempelajari sebuah ilmu, lalu menyembunyikan ilmu tersebut dan tidak mau mengajarkannya, maka ancamannya sangatlah keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ“Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud no. 3658, Tirmidzi no. 2649 dan Ahmad no. 10420)Di hadis yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مثلُ الَّذي يتعلَّمُ العلمَ ثمَّ لا يحدِّثُ بِهِ كمثلِ الَّذي يَكْنزُ الكنزَ ثمَّ لا ينفقُ منهُ“Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak menyampaikannya, seperti orang yang menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakatnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 689)Marilah kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar, memberikan kita rasa semangat dan antusias di dalam mendalami dan mempelajari ilmu syar’i yang mulia ini. Kita semua juga berdoa, semoga Allah Ta’ala menghindarkan diri kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menyampaikan kebenaran yang telah kita pelajari dan tidak menyembunyikannya.اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadis ini sahih).فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Kesesatan Syiah Rafidhah, Jumlah Rukun Shalat, Dosa Orang Munafik, Lc Singkatan DariTags: ilmu agamailmu syar'ikeutamaan ilmu syar'ikhutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatpenuntut ilmuPenuntut Ilmu Agamapenuntut ilmu syar'iteks khutbah jumattema khutbah jumat

2 Menit Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

2 Menit Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, di antara perkara yang yang membantu dalam upaya mujahadah adalah dengan muhasabah diri, dengan melihat apa yang telah berlalu dan merenungkan tahun-tahun yang telah terlewati. Apa yang telah Anda lakukan, wahai hamba Allah? Itulah tahun-tahun yang berharga, wahai hamba Allah, sungguh Anda hanyalah waktu dan amal. Jika waktunya berlalu, akan tetapi amalannya lemah dan sedikit, apa yang seseorang rasakan? Dia akan menyesal, Saudara-saudara, ketika umurnya terus berkurang, dia akan merasa rugi, bersedih, dan berharap seandainya hari-hari yang telah berlalu itu bisa kembali lagi untuk menjauhkannya dari sekedar makan, minum, dan tidur, tentu semuanya itu akan hilang dan kelezatannya akan lenyap dari hidupnya. Sesungguhnya kelezatan terbesar adalah kelezatan dalam hati, wahai Saudara-saudaraku, dengan menaati Allah ʿAzza wa Jalla. Seseorang akan menyesal dan seolah-olah lisannya berkata, “Sungguh celaka wahai diri, usia berkurang dan hari-hari terus berjalan dalam rendahnya kelemahan dan kemalasan padahal orang-orang sudah menempuh jalan keselamatan dan telah berjalan di tempat yang tinggi dalam kebaikan.” Yakni, ketika dia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang pernah dia temui dari kalangan orang-orang sebelum kita, karena para Salaf terdahulu—semoga Allah merahmati mereka— sungguh mengerti kerugian ini, menyadari betul kekurangan diri, dan memahami betul penyesalan ini. Saat itulah semangat mujahadah dalam dirinya meningkat, kemudian memohon pertolongan kepada Tuhannya Subẖānahu wa Ta’ālā dalam melawan nafsunya dan menjaga dirinya. Saat itulah dia akan melawan nafsunya untuk beramal saleh, yang dia anggap sebagai “Kapal Keselamatan” dalam hidup ini, yang dengannya dia berlayar menuju Allah ʿAzza wa Jalla dan menuju negeri akhirat, yang kemudian mendorongnya untuk berbekal dengan bekal yang hakiki, yaitu bekal hati, bukan sekedar bekal untuk mengganjal perut. “Bawalah bekal, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang cendekia, mereka menceraikan dunia karena takut celaka, mereka melihat dunia lalu mengerti hakikatnya, bahwa dunia bukan tempat menetap bagi manusia, mereka memandangnya laksana samudra, dan menjadikan amal saleh sebagai kapal untuk mengarunginya. ====================================================================================================== مِنَ الْأُمُورِ الْمُعِينَةِ عَلَى الْمُجَاهِدَةِ يَا إِخْوَانُ مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ النَّظَرُ فِي الْمَاضِي النَّظَرُ فِي السِّنِيْنَ الْمُنْصَرِمَةِ الْمَاضِيَةِ مَاذَا عَمِلْتَهَا فِيهَا يَا عَبْدَ اللهِ؟ هِيَ سِنُوْنَ غَالِيَةٌ وَإِنَّمَا أَنْتَ يَا عَبْدَ اللهِ وَقْتٌ وَعَمَلٌ فَإِذَا ذَهَبَ الْوَقْتُ وَالْعَمَلُ ضَعِيفٌ وَقَلِيلٌ فَمَا حَالُ الْإِنْسَانِ؟ يَنْدَمُ الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي عِنْدَمَا… يَتَقَدَّمُ بِهِ الْعُمْرُ وَيَتَحَسَّرُ وَيَتَأَسَّفُ وَيَتَمَنَّى أَنْ لَوْ عَادَتْ تِلْكَ الْأَيَّامُ الْمَوَاضِي لِكَيْ يُضِيعَهَا أَكْلًا وَشُرْبًا وَنَوْمًا لَذَهَبَتْ هَذِهِ كُلُّهَا وَذَهَبَتْ لَذَّاتُهَا فِي حِينِهَا وَإِنَّمَا اللَّذَّةُ الْكُبْرَى لَذَّةُ الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانِي بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَتَحَسَّرُ الْإِنْسَانُ وَيَقُولُ.. وَلِسَانُ حَالِهِ يَا حَسْرَتَاهُ تَقَدَّمَ الْعُمْرُ وَانْصَرَمَتْ أَيَّامُهُ بَيْنَ ذُلِّ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْقَوْمُ قَدْ أَخَذُوا دَرْبَ النَّجَاةِ وَقَدْ سَارُوا عَلَى الْمَطْلَبِ الْأَعْلَى عَلَى مَهَلِ عِنْدَمَا يُقَارِنُ نَفْسَهُ بِمَنْ أَدْرَكَهُمْ مِنْ سَلَفِنَا الْقَرِيبِ وَالسَّلَفِ الْأَوَّلِينَ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يَعْرِفُ حَسْرَتَهُ وَيَعْرِفُ تَقْصِيرَهُ وَيَعْرِفُ نَدَامَتَهُ فَحِينَهَا تَنْشِطُ الْمُجَاهَدَةُ عِنْدَهُ فَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي مُجَاهِدَةِ نَفْسِهِ وَصِيَانَتِهِ بِهِ فَحِينَهَا يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَرَاهُ سَفِينَةَ النَّجَاةِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالَّتِي يَسِيرُ بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى دَارِ الْآخِرَةِ وَحِينَهَا يَتَزَوَّدُ بِالزَّادِ الْحَقِيقِيِّ زَادِ الْقُلُوبِ لَا زَادُ إِقْطَاعِ الْبُطُونِ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَكَنَا جَعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنَا  

2 Menit Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

2 Menit Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, di antara perkara yang yang membantu dalam upaya mujahadah adalah dengan muhasabah diri, dengan melihat apa yang telah berlalu dan merenungkan tahun-tahun yang telah terlewati. Apa yang telah Anda lakukan, wahai hamba Allah? Itulah tahun-tahun yang berharga, wahai hamba Allah, sungguh Anda hanyalah waktu dan amal. Jika waktunya berlalu, akan tetapi amalannya lemah dan sedikit, apa yang seseorang rasakan? Dia akan menyesal, Saudara-saudara, ketika umurnya terus berkurang, dia akan merasa rugi, bersedih, dan berharap seandainya hari-hari yang telah berlalu itu bisa kembali lagi untuk menjauhkannya dari sekedar makan, minum, dan tidur, tentu semuanya itu akan hilang dan kelezatannya akan lenyap dari hidupnya. Sesungguhnya kelezatan terbesar adalah kelezatan dalam hati, wahai Saudara-saudaraku, dengan menaati Allah ʿAzza wa Jalla. Seseorang akan menyesal dan seolah-olah lisannya berkata, “Sungguh celaka wahai diri, usia berkurang dan hari-hari terus berjalan dalam rendahnya kelemahan dan kemalasan padahal orang-orang sudah menempuh jalan keselamatan dan telah berjalan di tempat yang tinggi dalam kebaikan.” Yakni, ketika dia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang pernah dia temui dari kalangan orang-orang sebelum kita, karena para Salaf terdahulu—semoga Allah merahmati mereka— sungguh mengerti kerugian ini, menyadari betul kekurangan diri, dan memahami betul penyesalan ini. Saat itulah semangat mujahadah dalam dirinya meningkat, kemudian memohon pertolongan kepada Tuhannya Subẖānahu wa Ta’ālā dalam melawan nafsunya dan menjaga dirinya. Saat itulah dia akan melawan nafsunya untuk beramal saleh, yang dia anggap sebagai “Kapal Keselamatan” dalam hidup ini, yang dengannya dia berlayar menuju Allah ʿAzza wa Jalla dan menuju negeri akhirat, yang kemudian mendorongnya untuk berbekal dengan bekal yang hakiki, yaitu bekal hati, bukan sekedar bekal untuk mengganjal perut. “Bawalah bekal, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang cendekia, mereka menceraikan dunia karena takut celaka, mereka melihat dunia lalu mengerti hakikatnya, bahwa dunia bukan tempat menetap bagi manusia, mereka memandangnya laksana samudra, dan menjadikan amal saleh sebagai kapal untuk mengarunginya. ====================================================================================================== مِنَ الْأُمُورِ الْمُعِينَةِ عَلَى الْمُجَاهِدَةِ يَا إِخْوَانُ مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ النَّظَرُ فِي الْمَاضِي النَّظَرُ فِي السِّنِيْنَ الْمُنْصَرِمَةِ الْمَاضِيَةِ مَاذَا عَمِلْتَهَا فِيهَا يَا عَبْدَ اللهِ؟ هِيَ سِنُوْنَ غَالِيَةٌ وَإِنَّمَا أَنْتَ يَا عَبْدَ اللهِ وَقْتٌ وَعَمَلٌ فَإِذَا ذَهَبَ الْوَقْتُ وَالْعَمَلُ ضَعِيفٌ وَقَلِيلٌ فَمَا حَالُ الْإِنْسَانِ؟ يَنْدَمُ الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي عِنْدَمَا… يَتَقَدَّمُ بِهِ الْعُمْرُ وَيَتَحَسَّرُ وَيَتَأَسَّفُ وَيَتَمَنَّى أَنْ لَوْ عَادَتْ تِلْكَ الْأَيَّامُ الْمَوَاضِي لِكَيْ يُضِيعَهَا أَكْلًا وَشُرْبًا وَنَوْمًا لَذَهَبَتْ هَذِهِ كُلُّهَا وَذَهَبَتْ لَذَّاتُهَا فِي حِينِهَا وَإِنَّمَا اللَّذَّةُ الْكُبْرَى لَذَّةُ الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانِي بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَتَحَسَّرُ الْإِنْسَانُ وَيَقُولُ.. وَلِسَانُ حَالِهِ يَا حَسْرَتَاهُ تَقَدَّمَ الْعُمْرُ وَانْصَرَمَتْ أَيَّامُهُ بَيْنَ ذُلِّ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْقَوْمُ قَدْ أَخَذُوا دَرْبَ النَّجَاةِ وَقَدْ سَارُوا عَلَى الْمَطْلَبِ الْأَعْلَى عَلَى مَهَلِ عِنْدَمَا يُقَارِنُ نَفْسَهُ بِمَنْ أَدْرَكَهُمْ مِنْ سَلَفِنَا الْقَرِيبِ وَالسَّلَفِ الْأَوَّلِينَ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يَعْرِفُ حَسْرَتَهُ وَيَعْرِفُ تَقْصِيرَهُ وَيَعْرِفُ نَدَامَتَهُ فَحِينَهَا تَنْشِطُ الْمُجَاهَدَةُ عِنْدَهُ فَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي مُجَاهِدَةِ نَفْسِهِ وَصِيَانَتِهِ بِهِ فَحِينَهَا يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَرَاهُ سَفِينَةَ النَّجَاةِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالَّتِي يَسِيرُ بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى دَارِ الْآخِرَةِ وَحِينَهَا يَتَزَوَّدُ بِالزَّادِ الْحَقِيقِيِّ زَادِ الْقُلُوبِ لَا زَادُ إِقْطَاعِ الْبُطُونِ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَكَنَا جَعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنَا  
2 Menit Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, di antara perkara yang yang membantu dalam upaya mujahadah adalah dengan muhasabah diri, dengan melihat apa yang telah berlalu dan merenungkan tahun-tahun yang telah terlewati. Apa yang telah Anda lakukan, wahai hamba Allah? Itulah tahun-tahun yang berharga, wahai hamba Allah, sungguh Anda hanyalah waktu dan amal. Jika waktunya berlalu, akan tetapi amalannya lemah dan sedikit, apa yang seseorang rasakan? Dia akan menyesal, Saudara-saudara, ketika umurnya terus berkurang, dia akan merasa rugi, bersedih, dan berharap seandainya hari-hari yang telah berlalu itu bisa kembali lagi untuk menjauhkannya dari sekedar makan, minum, dan tidur, tentu semuanya itu akan hilang dan kelezatannya akan lenyap dari hidupnya. Sesungguhnya kelezatan terbesar adalah kelezatan dalam hati, wahai Saudara-saudaraku, dengan menaati Allah ʿAzza wa Jalla. Seseorang akan menyesal dan seolah-olah lisannya berkata, “Sungguh celaka wahai diri, usia berkurang dan hari-hari terus berjalan dalam rendahnya kelemahan dan kemalasan padahal orang-orang sudah menempuh jalan keselamatan dan telah berjalan di tempat yang tinggi dalam kebaikan.” Yakni, ketika dia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang pernah dia temui dari kalangan orang-orang sebelum kita, karena para Salaf terdahulu—semoga Allah merahmati mereka— sungguh mengerti kerugian ini, menyadari betul kekurangan diri, dan memahami betul penyesalan ini. Saat itulah semangat mujahadah dalam dirinya meningkat, kemudian memohon pertolongan kepada Tuhannya Subẖānahu wa Ta’ālā dalam melawan nafsunya dan menjaga dirinya. Saat itulah dia akan melawan nafsunya untuk beramal saleh, yang dia anggap sebagai “Kapal Keselamatan” dalam hidup ini, yang dengannya dia berlayar menuju Allah ʿAzza wa Jalla dan menuju negeri akhirat, yang kemudian mendorongnya untuk berbekal dengan bekal yang hakiki, yaitu bekal hati, bukan sekedar bekal untuk mengganjal perut. “Bawalah bekal, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang cendekia, mereka menceraikan dunia karena takut celaka, mereka melihat dunia lalu mengerti hakikatnya, bahwa dunia bukan tempat menetap bagi manusia, mereka memandangnya laksana samudra, dan menjadikan amal saleh sebagai kapal untuk mengarunginya. ====================================================================================================== مِنَ الْأُمُورِ الْمُعِينَةِ عَلَى الْمُجَاهِدَةِ يَا إِخْوَانُ مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ النَّظَرُ فِي الْمَاضِي النَّظَرُ فِي السِّنِيْنَ الْمُنْصَرِمَةِ الْمَاضِيَةِ مَاذَا عَمِلْتَهَا فِيهَا يَا عَبْدَ اللهِ؟ هِيَ سِنُوْنَ غَالِيَةٌ وَإِنَّمَا أَنْتَ يَا عَبْدَ اللهِ وَقْتٌ وَعَمَلٌ فَإِذَا ذَهَبَ الْوَقْتُ وَالْعَمَلُ ضَعِيفٌ وَقَلِيلٌ فَمَا حَالُ الْإِنْسَانِ؟ يَنْدَمُ الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي عِنْدَمَا… يَتَقَدَّمُ بِهِ الْعُمْرُ وَيَتَحَسَّرُ وَيَتَأَسَّفُ وَيَتَمَنَّى أَنْ لَوْ عَادَتْ تِلْكَ الْأَيَّامُ الْمَوَاضِي لِكَيْ يُضِيعَهَا أَكْلًا وَشُرْبًا وَنَوْمًا لَذَهَبَتْ هَذِهِ كُلُّهَا وَذَهَبَتْ لَذَّاتُهَا فِي حِينِهَا وَإِنَّمَا اللَّذَّةُ الْكُبْرَى لَذَّةُ الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانِي بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَتَحَسَّرُ الْإِنْسَانُ وَيَقُولُ.. وَلِسَانُ حَالِهِ يَا حَسْرَتَاهُ تَقَدَّمَ الْعُمْرُ وَانْصَرَمَتْ أَيَّامُهُ بَيْنَ ذُلِّ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْقَوْمُ قَدْ أَخَذُوا دَرْبَ النَّجَاةِ وَقَدْ سَارُوا عَلَى الْمَطْلَبِ الْأَعْلَى عَلَى مَهَلِ عِنْدَمَا يُقَارِنُ نَفْسَهُ بِمَنْ أَدْرَكَهُمْ مِنْ سَلَفِنَا الْقَرِيبِ وَالسَّلَفِ الْأَوَّلِينَ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يَعْرِفُ حَسْرَتَهُ وَيَعْرِفُ تَقْصِيرَهُ وَيَعْرِفُ نَدَامَتَهُ فَحِينَهَا تَنْشِطُ الْمُجَاهَدَةُ عِنْدَهُ فَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي مُجَاهِدَةِ نَفْسِهِ وَصِيَانَتِهِ بِهِ فَحِينَهَا يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَرَاهُ سَفِينَةَ النَّجَاةِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالَّتِي يَسِيرُ بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى دَارِ الْآخِرَةِ وَحِينَهَا يَتَزَوَّدُ بِالزَّادِ الْحَقِيقِيِّ زَادِ الْقُلُوبِ لَا زَادُ إِقْطَاعِ الْبُطُونِ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَكَنَا جَعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنَا  


2 Menit Renungi Dirimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Saudara-saudara, di antara perkara yang yang membantu dalam upaya mujahadah adalah dengan muhasabah diri, dengan melihat apa yang telah berlalu dan merenungkan tahun-tahun yang telah terlewati. Apa yang telah Anda lakukan, wahai hamba Allah? Itulah tahun-tahun yang berharga, wahai hamba Allah, sungguh Anda hanyalah waktu dan amal. Jika waktunya berlalu, akan tetapi amalannya lemah dan sedikit, apa yang seseorang rasakan? Dia akan menyesal, Saudara-saudara, ketika umurnya terus berkurang, dia akan merasa rugi, bersedih, dan berharap seandainya hari-hari yang telah berlalu itu bisa kembali lagi untuk menjauhkannya dari sekedar makan, minum, dan tidur, tentu semuanya itu akan hilang dan kelezatannya akan lenyap dari hidupnya. Sesungguhnya kelezatan terbesar adalah kelezatan dalam hati, wahai Saudara-saudaraku, dengan menaati Allah ʿAzza wa Jalla. Seseorang akan menyesal dan seolah-olah lisannya berkata, “Sungguh celaka wahai diri, usia berkurang dan hari-hari terus berjalan dalam rendahnya kelemahan dan kemalasan padahal orang-orang sudah menempuh jalan keselamatan dan telah berjalan di tempat yang tinggi dalam kebaikan.” Yakni, ketika dia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang pernah dia temui dari kalangan orang-orang sebelum kita, karena para Salaf terdahulu—semoga Allah merahmati mereka— sungguh mengerti kerugian ini, menyadari betul kekurangan diri, dan memahami betul penyesalan ini. Saat itulah semangat mujahadah dalam dirinya meningkat, kemudian memohon pertolongan kepada Tuhannya Subẖānahu wa Ta’ālā dalam melawan nafsunya dan menjaga dirinya. Saat itulah dia akan melawan nafsunya untuk beramal saleh, yang dia anggap sebagai “Kapal Keselamatan” dalam hidup ini, yang dengannya dia berlayar menuju Allah ʿAzza wa Jalla dan menuju negeri akhirat, yang kemudian mendorongnya untuk berbekal dengan bekal yang hakiki, yaitu bekal hati, bukan sekedar bekal untuk mengganjal perut. “Bawalah bekal, karena sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang cendekia, mereka menceraikan dunia karena takut celaka, mereka melihat dunia lalu mengerti hakikatnya, bahwa dunia bukan tempat menetap bagi manusia, mereka memandangnya laksana samudra, dan menjadikan amal saleh sebagai kapal untuk mengarunginya. ====================================================================================================== مِنَ الْأُمُورِ الْمُعِينَةِ عَلَى الْمُجَاهِدَةِ يَا إِخْوَانُ مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ النَّظَرُ فِي الْمَاضِي النَّظَرُ فِي السِّنِيْنَ الْمُنْصَرِمَةِ الْمَاضِيَةِ مَاذَا عَمِلْتَهَا فِيهَا يَا عَبْدَ اللهِ؟ هِيَ سِنُوْنَ غَالِيَةٌ وَإِنَّمَا أَنْتَ يَا عَبْدَ اللهِ وَقْتٌ وَعَمَلٌ فَإِذَا ذَهَبَ الْوَقْتُ وَالْعَمَلُ ضَعِيفٌ وَقَلِيلٌ فَمَا حَالُ الْإِنْسَانِ؟ يَنْدَمُ الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي عِنْدَمَا… يَتَقَدَّمُ بِهِ الْعُمْرُ وَيَتَحَسَّرُ وَيَتَأَسَّفُ وَيَتَمَنَّى أَنْ لَوْ عَادَتْ تِلْكَ الْأَيَّامُ الْمَوَاضِي لِكَيْ يُضِيعَهَا أَكْلًا وَشُرْبًا وَنَوْمًا لَذَهَبَتْ هَذِهِ كُلُّهَا وَذَهَبَتْ لَذَّاتُهَا فِي حِينِهَا وَإِنَّمَا اللَّذَّةُ الْكُبْرَى لَذَّةُ الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانِي بِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَتَحَسَّرُ الْإِنْسَانُ وَيَقُولُ.. وَلِسَانُ حَالِهِ يَا حَسْرَتَاهُ تَقَدَّمَ الْعُمْرُ وَانْصَرَمَتْ أَيَّامُهُ بَيْنَ ذُلِّ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْقَوْمُ قَدْ أَخَذُوا دَرْبَ النَّجَاةِ وَقَدْ سَارُوا عَلَى الْمَطْلَبِ الْأَعْلَى عَلَى مَهَلِ عِنْدَمَا يُقَارِنُ نَفْسَهُ بِمَنْ أَدْرَكَهُمْ مِنْ سَلَفِنَا الْقَرِيبِ وَالسَّلَفِ الْأَوَّلِينَ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يَعْرِفُ حَسْرَتَهُ وَيَعْرِفُ تَقْصِيرَهُ وَيَعْرِفُ نَدَامَتَهُ فَحِينَهَا تَنْشِطُ الْمُجَاهَدَةُ عِنْدَهُ فَيَسْتَعِينُ بِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي مُجَاهِدَةِ نَفْسِهِ وَصِيَانَتِهِ بِهِ فَحِينَهَا يُجَاهِدُ نَفْسَهُ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ الَّذِي يَرَاهُ سَفِينَةَ النَّجَاةِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ وَالَّتِي يَسِيرُ بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى دَارِ الْآخِرَةِ وَحِينَهَا يَتَزَوَّدُ بِالزَّادِ الْحَقِيقِيِّ زَادِ الْقُلُوبِ لَا زَادُ إِقْطَاعِ الْبُطُونِ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا نَظَرُوا فِيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ سَكَنَا جَعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوا صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنَا  

5 Faedah Seputar Memaafkan

5 Faedah Seputar Memaafkan Faedah 1: Memaafkan itu lebih utama dan merupakan akhlak mulia Di antara akhlak yang mulia adalah seseorang memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. Allah ta’ala berfirman: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134). Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى “Dan jika kamu memaafkan itu lebih dekat kepada takwa” (QS. al-Baqarah: 237). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Di antara bentuk bermuamalah dengan akhlak mulia kepada orang lain adalah jika anda dizalimi atau diperlakukan dengan buruk oleh seseorang, maka anda memaafkannya. Karena Allah ta’ala telah memuji orang-orang yang suka memaafkan orang lain” (Makarimul Akhlak, hal. 25). Dan membalas kezaliman dengan pemaafan itu merupakan bentuk membalas dengan kebaikan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat: 34). Orang yang memaafkan juga dianggap melakukan sedekah. Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا مِنْ رَجُلٍ يُجْرَحُ فِي جَسَدِهِ جِرَاحَةً فَيَتَصَدَّقُ بِهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَا تَصَدَّقَ بِهِ “Tidaklah seseorang yang badannya dilukai oleh orang lain, kemudian ia bersedekah dengan memaafkannya (tidak menuntut diyat), kecuali Allah akan hapuskan dosanya sebanding dengan pemaafan yang yang ia sedekahkan” (HR. Ahmad no.22701, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.2273). Oleh karena itu, sifat suka memaafkan adalah sifat yang seharusnya menjadi tabiat seseorang dan sifat yang seharusnya dipaksakan oleh seseorang kepada dirinya ketika ia dizalimi.  Faedah 2: Memaafkan itu tidak wajib, namun mustahab (dianjurkan) Para ulama mengatakan bahwa memaafkan itu hukumnya tidak wajib. Seorang yang dizalimi boleh saja tidak memaafkan orang menzaliminya. Allah ta’ala berfirman: وَٱلَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ . وَجَزَاء سَيّئَةٍ سَيّئَةٌ مّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. asy-Syura: 39-40). Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya menjelaskan: فشرع العدل وهو القصاص ، وندب إلى الفضل وهو العفو “maka disyariatkan untuk berbuat adil, yaitu qishash. Dan disunnahkan berbuat fadhl (utama) yaitu memaafkan”. Sehingga orang yang dizalimi oleh orang lain, punya tiga pilihan sikap: Membalas dan menghukum orang yang dizaliminya sesuai ketentuan syariat. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, namun tidak memaafkan. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, serta memaafkan orang yang menzaliminya. Namun perlu diketahui bahwa kezaliman yang tidak dimaafkan, kelak akan dibalas di akhirat! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن كَانَتْ له مَظْلَمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449). Maka orang yang berbuat zalim hendaknya berusaha untuk meminta maaf dan meminta kehalalan dari orang yang dizaliminya. Jangan sampai urusannya dituntut di akhirat yang tentunya lebih berat dan lebih sulit daripada urusan di dunia. Faedah 3: Boleh membalas keburukan dengan yang semisal Hal ini berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Allah ta’ala juga berfirman: فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى “Barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu” (QS. al-Baqarah: 194). Allah ta’ala juga berfirman: وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Balasan untuk keburukan adalah keburukan yang semisal” (QS. asy-Syura: 40). Demikian juga sebagaimana hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: وما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه، إلَّا أن تُنْـتَهَك حُرْمَة الله، فينتقم لله بها “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas keburukan terhadap dirinya, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas karena Allah” (HR. Bukhari no.3560, Muslim no.2327). Namun bolehnya membalas keburukan yang dilakukan oleh orang lain, harus memenuhi dua syarat: Pembalasan harus sama dan setara, tidak boleh lebih dari setara. Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan: هذا الانتصار مشروط بالاقتصار على ما جعله الله له وعدم مجاوزته، كما بينه سبحانه عقب هذا بقوله: وجزاء سيئة سيئة مثلها ـ فبين سبحانه أن العدل في الانتصار هو الاقتصار على المساواة “Pembalasan ini disyaratkan hanya mencukupkan diri pada batasan yang Allah tetapkan dan tidak boleh melebihi batasan tersebut. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam ayat (yang artinya): “Dan balasan bagi keburukan adalah keburukan semisalnya” (QS. asy-Syura: 40). Maka di sini Allah menjelaskan bahwa sikap adil dalam membalas adalah mencukupkan diri dengan balasan yang setara”. Tidak boleh membalas pada perbuatan yang ada hukuman hadd-nya. Al-Absyihi rahimahullah mengatakan: والذي يجب على العاقل إذا أَمْكَنه الله تعالى أن لا يجعل العقوبة شيمته، وإن كان ولا بدَّ مِن الانتِقَام، فليرفق في انتقامه، إلَّا أن يكون حدًّا مِن حدود الله تعالى “Yang wajib menjadi pegangan orang yang berakal selama masih memungkinkan adalah tidak menjadikan sifat suka membalas sebagai tabiatnya. Dan jika memang harus membalas maka balaslah dengan lemah lembut. Kecuali jika pada perbuatan yang terhadap hukuman hadd-nya” (Al-Mustathraf, hal. 197). Maka perbuatan yang ada hukuman hadd-nya seperti zina, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lainnya, wajib diserahkan kepada ulil amri mengenai eksekusi hukumannya.  Faedah 4: Lebih utama memaafkan orang yang tergelincir Orang baik yang melakukan kesalahan atau kezaliman karena tergelincir bukan orang yang dikenal suka melakukan keburukan, maka lebih utama untuk dimaafkan daripada dihukum atau dilaporkan kepada ulil amri. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ “Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik” (HR. Ibnu Hibban no.94, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638) Dalam riwayat lain: أقيلوا ذوي الهيئات عثراتهم ، إلا الحدود “Maafkanlah ketergelinciran dzawil haiah (orang-orang yang baik namanya), kecuali jika terkena hadd” (HR. Abu Daud no.4375, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638). Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُشْرَعُ إقَالَةَ أَرْبَابِ الْهَيْئَاتِ إنْ وَقَعَتْ مِنْهُمْ الزَّلَّةُ نَادِرًا وَالْهَيْئَةُ صُورَةُ الشَّيْءِ وَشَكْلُهُ وَحَالَتُهُ، وَمُرَادُهُ أَهْلُ الْهَيْئَاتِ الْحَسَنَةِ “Dalam hadis Aisyah ini terdapat dalil bahwa disyariatkan memaafkan orang yang memiliki nama baik jika mereka tergelincir sedikit dalam kesalahan. Dan haiah artinya bentuk dan keadaan dari sesuatu. Maksudnya adalah orang yang memiliki keadaan yang baik (agamanya)” (Nailul Authar, 7/163). Adapun orang yang memang dikenal melakukan keburukan maka tidak ada anjuran untuk memaafkannya. An-Nawawi mengatakan: الْمُرَادُ بِهِ السَّتْرُ عَلَى ذَوِي الْهَيْئَاتِ وَنَحْوِهِمْ مِمَّنْ لَيْسَ هُوَ مَعْرُوفًا بِالْأَذَى وَالْفَسَادِ فَأَمَّا المعروف بذلك فيستحب أن لا يُسْتَرَ عَلَيْهِ بَلْ تُرْفَعَ قَضِيَّتَهُ إِلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْ ذَلِكَ مَفْسَدَةً “Maksudnya adalah menutupi kesalahan orang yang memiliki nama baik dan semisal mereka yang tidak dikenal gemar melakukan gangguan dan kerusakan. Adapun orang yang gemar melakukan gangguan dan kerusakan maka dianjurkan untuk tidak ditutup-tutupi kesalahannya bahkan dianjurkan untuk diajukan perkaranya kepada waliyul amri, jika tidak dikhawatirkan terjadi mafsadah” (Syarah Shahih Muslim, 16/135). Ulil amri atau hakim pun boleh memaafkan atau membatalkan hukuman ta’zir, bagi orang yang baik yang melakukan kesalahan karena tergelincir. Al-Khathabi mengatakan: وفيه دليل على أن الإمام مخير في التعزير إن شاء عزر وإن شاء ترك ولو كان التعزير واجبا كالحد لكان ذو الهيئة وغيره في ذلك سواء “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa imam (penguasa) boleh memilih untuk memberikan hukuman ta’zir atau tidak memberikannya. Andaikan ta’zir itu wajib maka antara orang yang baik namanya dengan yang bukan akan sama kedudukannya” (Ma’alim as-Sunan, 3/300). Faedah 5: Terkadang menghukum lebih utama dari memaafkan Walaupun memaafkan itu lebih utama, namun ini tidak dalam semua keadaan. Ada keadaan di mana tidak memaafkan itu lebih utama. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Dalam ayat ini Allah menggandengkan pemaafan dengan ishlah (perbaikan). Maka pemaafan itu terkadang tidak memberikan perbaikan. Terkadang orang yang berbuat jahat pada anda adalah orang yang bejat, yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang buruk dan rusak. Jika anda memaafkannya, maka ia akan semakin menjadi-jadi dalam melakukan keburukannya dan semakin rusak. Maka yang lebih utama dalam kondisi ini, anda hukum orang ini atas perbuatan jahat yang ia lakukan. Karena dengan demikian akan terjadi ishlah (perbaikan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: الإصلاح واجب والعفو مندوب, فإذا في العفو فوات الإصلاح فمعنى ذلك أننا قدمنا مندوبا على الواجب. هذا لا تأتي به الشريعة “Ishlah (perbaikan) itu wajib, sedangkan memaafkan itu sunnah. Jika dengan memaafkan malah membuat tidak terjadi perbaikan, maka ini berarti kita mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib. Yang seperti ini tidak ada dalam syari’at” Sungguh benar apa yang beliau sebutkan, rahimahullah” (Makarimul Akhlak, hal. 27). Demikian beberapa faedah seputar memaafkan, semoga bermanfaat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 La Ilaha Illallah, Cara Menghilangkan Bisikan Setan Dalam Hati, Semut Wallpaper, Dalil Tentang Kb, Subhan Allah, Sholat Pagi Visited 220 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid

5 Faedah Seputar Memaafkan

5 Faedah Seputar Memaafkan Faedah 1: Memaafkan itu lebih utama dan merupakan akhlak mulia Di antara akhlak yang mulia adalah seseorang memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. Allah ta’ala berfirman: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134). Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى “Dan jika kamu memaafkan itu lebih dekat kepada takwa” (QS. al-Baqarah: 237). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Di antara bentuk bermuamalah dengan akhlak mulia kepada orang lain adalah jika anda dizalimi atau diperlakukan dengan buruk oleh seseorang, maka anda memaafkannya. Karena Allah ta’ala telah memuji orang-orang yang suka memaafkan orang lain” (Makarimul Akhlak, hal. 25). Dan membalas kezaliman dengan pemaafan itu merupakan bentuk membalas dengan kebaikan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat: 34). Orang yang memaafkan juga dianggap melakukan sedekah. Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا مِنْ رَجُلٍ يُجْرَحُ فِي جَسَدِهِ جِرَاحَةً فَيَتَصَدَّقُ بِهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَا تَصَدَّقَ بِهِ “Tidaklah seseorang yang badannya dilukai oleh orang lain, kemudian ia bersedekah dengan memaafkannya (tidak menuntut diyat), kecuali Allah akan hapuskan dosanya sebanding dengan pemaafan yang yang ia sedekahkan” (HR. Ahmad no.22701, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.2273). Oleh karena itu, sifat suka memaafkan adalah sifat yang seharusnya menjadi tabiat seseorang dan sifat yang seharusnya dipaksakan oleh seseorang kepada dirinya ketika ia dizalimi.  Faedah 2: Memaafkan itu tidak wajib, namun mustahab (dianjurkan) Para ulama mengatakan bahwa memaafkan itu hukumnya tidak wajib. Seorang yang dizalimi boleh saja tidak memaafkan orang menzaliminya. Allah ta’ala berfirman: وَٱلَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ . وَجَزَاء سَيّئَةٍ سَيّئَةٌ مّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. asy-Syura: 39-40). Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya menjelaskan: فشرع العدل وهو القصاص ، وندب إلى الفضل وهو العفو “maka disyariatkan untuk berbuat adil, yaitu qishash. Dan disunnahkan berbuat fadhl (utama) yaitu memaafkan”. Sehingga orang yang dizalimi oleh orang lain, punya tiga pilihan sikap: Membalas dan menghukum orang yang dizaliminya sesuai ketentuan syariat. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, namun tidak memaafkan. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, serta memaafkan orang yang menzaliminya. Namun perlu diketahui bahwa kezaliman yang tidak dimaafkan, kelak akan dibalas di akhirat! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن كَانَتْ له مَظْلَمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449). Maka orang yang berbuat zalim hendaknya berusaha untuk meminta maaf dan meminta kehalalan dari orang yang dizaliminya. Jangan sampai urusannya dituntut di akhirat yang tentunya lebih berat dan lebih sulit daripada urusan di dunia. Faedah 3: Boleh membalas keburukan dengan yang semisal Hal ini berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Allah ta’ala juga berfirman: فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى “Barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu” (QS. al-Baqarah: 194). Allah ta’ala juga berfirman: وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Balasan untuk keburukan adalah keburukan yang semisal” (QS. asy-Syura: 40). Demikian juga sebagaimana hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: وما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه، إلَّا أن تُنْـتَهَك حُرْمَة الله، فينتقم لله بها “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas keburukan terhadap dirinya, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas karena Allah” (HR. Bukhari no.3560, Muslim no.2327). Namun bolehnya membalas keburukan yang dilakukan oleh orang lain, harus memenuhi dua syarat: Pembalasan harus sama dan setara, tidak boleh lebih dari setara. Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan: هذا الانتصار مشروط بالاقتصار على ما جعله الله له وعدم مجاوزته، كما بينه سبحانه عقب هذا بقوله: وجزاء سيئة سيئة مثلها ـ فبين سبحانه أن العدل في الانتصار هو الاقتصار على المساواة “Pembalasan ini disyaratkan hanya mencukupkan diri pada batasan yang Allah tetapkan dan tidak boleh melebihi batasan tersebut. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam ayat (yang artinya): “Dan balasan bagi keburukan adalah keburukan semisalnya” (QS. asy-Syura: 40). Maka di sini Allah menjelaskan bahwa sikap adil dalam membalas adalah mencukupkan diri dengan balasan yang setara”. Tidak boleh membalas pada perbuatan yang ada hukuman hadd-nya. Al-Absyihi rahimahullah mengatakan: والذي يجب على العاقل إذا أَمْكَنه الله تعالى أن لا يجعل العقوبة شيمته، وإن كان ولا بدَّ مِن الانتِقَام، فليرفق في انتقامه، إلَّا أن يكون حدًّا مِن حدود الله تعالى “Yang wajib menjadi pegangan orang yang berakal selama masih memungkinkan adalah tidak menjadikan sifat suka membalas sebagai tabiatnya. Dan jika memang harus membalas maka balaslah dengan lemah lembut. Kecuali jika pada perbuatan yang terhadap hukuman hadd-nya” (Al-Mustathraf, hal. 197). Maka perbuatan yang ada hukuman hadd-nya seperti zina, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lainnya, wajib diserahkan kepada ulil amri mengenai eksekusi hukumannya.  Faedah 4: Lebih utama memaafkan orang yang tergelincir Orang baik yang melakukan kesalahan atau kezaliman karena tergelincir bukan orang yang dikenal suka melakukan keburukan, maka lebih utama untuk dimaafkan daripada dihukum atau dilaporkan kepada ulil amri. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ “Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik” (HR. Ibnu Hibban no.94, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638) Dalam riwayat lain: أقيلوا ذوي الهيئات عثراتهم ، إلا الحدود “Maafkanlah ketergelinciran dzawil haiah (orang-orang yang baik namanya), kecuali jika terkena hadd” (HR. Abu Daud no.4375, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638). Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُشْرَعُ إقَالَةَ أَرْبَابِ الْهَيْئَاتِ إنْ وَقَعَتْ مِنْهُمْ الزَّلَّةُ نَادِرًا وَالْهَيْئَةُ صُورَةُ الشَّيْءِ وَشَكْلُهُ وَحَالَتُهُ، وَمُرَادُهُ أَهْلُ الْهَيْئَاتِ الْحَسَنَةِ “Dalam hadis Aisyah ini terdapat dalil bahwa disyariatkan memaafkan orang yang memiliki nama baik jika mereka tergelincir sedikit dalam kesalahan. Dan haiah artinya bentuk dan keadaan dari sesuatu. Maksudnya adalah orang yang memiliki keadaan yang baik (agamanya)” (Nailul Authar, 7/163). Adapun orang yang memang dikenal melakukan keburukan maka tidak ada anjuran untuk memaafkannya. An-Nawawi mengatakan: الْمُرَادُ بِهِ السَّتْرُ عَلَى ذَوِي الْهَيْئَاتِ وَنَحْوِهِمْ مِمَّنْ لَيْسَ هُوَ مَعْرُوفًا بِالْأَذَى وَالْفَسَادِ فَأَمَّا المعروف بذلك فيستحب أن لا يُسْتَرَ عَلَيْهِ بَلْ تُرْفَعَ قَضِيَّتَهُ إِلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْ ذَلِكَ مَفْسَدَةً “Maksudnya adalah menutupi kesalahan orang yang memiliki nama baik dan semisal mereka yang tidak dikenal gemar melakukan gangguan dan kerusakan. Adapun orang yang gemar melakukan gangguan dan kerusakan maka dianjurkan untuk tidak ditutup-tutupi kesalahannya bahkan dianjurkan untuk diajukan perkaranya kepada waliyul amri, jika tidak dikhawatirkan terjadi mafsadah” (Syarah Shahih Muslim, 16/135). Ulil amri atau hakim pun boleh memaafkan atau membatalkan hukuman ta’zir, bagi orang yang baik yang melakukan kesalahan karena tergelincir. Al-Khathabi mengatakan: وفيه دليل على أن الإمام مخير في التعزير إن شاء عزر وإن شاء ترك ولو كان التعزير واجبا كالحد لكان ذو الهيئة وغيره في ذلك سواء “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa imam (penguasa) boleh memilih untuk memberikan hukuman ta’zir atau tidak memberikannya. Andaikan ta’zir itu wajib maka antara orang yang baik namanya dengan yang bukan akan sama kedudukannya” (Ma’alim as-Sunan, 3/300). Faedah 5: Terkadang menghukum lebih utama dari memaafkan Walaupun memaafkan itu lebih utama, namun ini tidak dalam semua keadaan. Ada keadaan di mana tidak memaafkan itu lebih utama. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Dalam ayat ini Allah menggandengkan pemaafan dengan ishlah (perbaikan). Maka pemaafan itu terkadang tidak memberikan perbaikan. Terkadang orang yang berbuat jahat pada anda adalah orang yang bejat, yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang buruk dan rusak. Jika anda memaafkannya, maka ia akan semakin menjadi-jadi dalam melakukan keburukannya dan semakin rusak. Maka yang lebih utama dalam kondisi ini, anda hukum orang ini atas perbuatan jahat yang ia lakukan. Karena dengan demikian akan terjadi ishlah (perbaikan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: الإصلاح واجب والعفو مندوب, فإذا في العفو فوات الإصلاح فمعنى ذلك أننا قدمنا مندوبا على الواجب. هذا لا تأتي به الشريعة “Ishlah (perbaikan) itu wajib, sedangkan memaafkan itu sunnah. Jika dengan memaafkan malah membuat tidak terjadi perbaikan, maka ini berarti kita mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib. Yang seperti ini tidak ada dalam syari’at” Sungguh benar apa yang beliau sebutkan, rahimahullah” (Makarimul Akhlak, hal. 27). Demikian beberapa faedah seputar memaafkan, semoga bermanfaat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 La Ilaha Illallah, Cara Menghilangkan Bisikan Setan Dalam Hati, Semut Wallpaper, Dalil Tentang Kb, Subhan Allah, Sholat Pagi Visited 220 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid
5 Faedah Seputar Memaafkan Faedah 1: Memaafkan itu lebih utama dan merupakan akhlak mulia Di antara akhlak yang mulia adalah seseorang memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. Allah ta’ala berfirman: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134). Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى “Dan jika kamu memaafkan itu lebih dekat kepada takwa” (QS. al-Baqarah: 237). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Di antara bentuk bermuamalah dengan akhlak mulia kepada orang lain adalah jika anda dizalimi atau diperlakukan dengan buruk oleh seseorang, maka anda memaafkannya. Karena Allah ta’ala telah memuji orang-orang yang suka memaafkan orang lain” (Makarimul Akhlak, hal. 25). Dan membalas kezaliman dengan pemaafan itu merupakan bentuk membalas dengan kebaikan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat: 34). Orang yang memaafkan juga dianggap melakukan sedekah. Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا مِنْ رَجُلٍ يُجْرَحُ فِي جَسَدِهِ جِرَاحَةً فَيَتَصَدَّقُ بِهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَا تَصَدَّقَ بِهِ “Tidaklah seseorang yang badannya dilukai oleh orang lain, kemudian ia bersedekah dengan memaafkannya (tidak menuntut diyat), kecuali Allah akan hapuskan dosanya sebanding dengan pemaafan yang yang ia sedekahkan” (HR. Ahmad no.22701, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.2273). Oleh karena itu, sifat suka memaafkan adalah sifat yang seharusnya menjadi tabiat seseorang dan sifat yang seharusnya dipaksakan oleh seseorang kepada dirinya ketika ia dizalimi.  Faedah 2: Memaafkan itu tidak wajib, namun mustahab (dianjurkan) Para ulama mengatakan bahwa memaafkan itu hukumnya tidak wajib. Seorang yang dizalimi boleh saja tidak memaafkan orang menzaliminya. Allah ta’ala berfirman: وَٱلَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ . وَجَزَاء سَيّئَةٍ سَيّئَةٌ مّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. asy-Syura: 39-40). Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya menjelaskan: فشرع العدل وهو القصاص ، وندب إلى الفضل وهو العفو “maka disyariatkan untuk berbuat adil, yaitu qishash. Dan disunnahkan berbuat fadhl (utama) yaitu memaafkan”. Sehingga orang yang dizalimi oleh orang lain, punya tiga pilihan sikap: Membalas dan menghukum orang yang dizaliminya sesuai ketentuan syariat. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, namun tidak memaafkan. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, serta memaafkan orang yang menzaliminya. Namun perlu diketahui bahwa kezaliman yang tidak dimaafkan, kelak akan dibalas di akhirat! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن كَانَتْ له مَظْلَمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449). Maka orang yang berbuat zalim hendaknya berusaha untuk meminta maaf dan meminta kehalalan dari orang yang dizaliminya. Jangan sampai urusannya dituntut di akhirat yang tentunya lebih berat dan lebih sulit daripada urusan di dunia. Faedah 3: Boleh membalas keburukan dengan yang semisal Hal ini berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Allah ta’ala juga berfirman: فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى “Barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu” (QS. al-Baqarah: 194). Allah ta’ala juga berfirman: وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Balasan untuk keburukan adalah keburukan yang semisal” (QS. asy-Syura: 40). Demikian juga sebagaimana hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: وما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه، إلَّا أن تُنْـتَهَك حُرْمَة الله، فينتقم لله بها “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas keburukan terhadap dirinya, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas karena Allah” (HR. Bukhari no.3560, Muslim no.2327). Namun bolehnya membalas keburukan yang dilakukan oleh orang lain, harus memenuhi dua syarat: Pembalasan harus sama dan setara, tidak boleh lebih dari setara. Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan: هذا الانتصار مشروط بالاقتصار على ما جعله الله له وعدم مجاوزته، كما بينه سبحانه عقب هذا بقوله: وجزاء سيئة سيئة مثلها ـ فبين سبحانه أن العدل في الانتصار هو الاقتصار على المساواة “Pembalasan ini disyaratkan hanya mencukupkan diri pada batasan yang Allah tetapkan dan tidak boleh melebihi batasan tersebut. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam ayat (yang artinya): “Dan balasan bagi keburukan adalah keburukan semisalnya” (QS. asy-Syura: 40). Maka di sini Allah menjelaskan bahwa sikap adil dalam membalas adalah mencukupkan diri dengan balasan yang setara”. Tidak boleh membalas pada perbuatan yang ada hukuman hadd-nya. Al-Absyihi rahimahullah mengatakan: والذي يجب على العاقل إذا أَمْكَنه الله تعالى أن لا يجعل العقوبة شيمته، وإن كان ولا بدَّ مِن الانتِقَام، فليرفق في انتقامه، إلَّا أن يكون حدًّا مِن حدود الله تعالى “Yang wajib menjadi pegangan orang yang berakal selama masih memungkinkan adalah tidak menjadikan sifat suka membalas sebagai tabiatnya. Dan jika memang harus membalas maka balaslah dengan lemah lembut. Kecuali jika pada perbuatan yang terhadap hukuman hadd-nya” (Al-Mustathraf, hal. 197). Maka perbuatan yang ada hukuman hadd-nya seperti zina, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lainnya, wajib diserahkan kepada ulil amri mengenai eksekusi hukumannya.  Faedah 4: Lebih utama memaafkan orang yang tergelincir Orang baik yang melakukan kesalahan atau kezaliman karena tergelincir bukan orang yang dikenal suka melakukan keburukan, maka lebih utama untuk dimaafkan daripada dihukum atau dilaporkan kepada ulil amri. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ “Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik” (HR. Ibnu Hibban no.94, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638) Dalam riwayat lain: أقيلوا ذوي الهيئات عثراتهم ، إلا الحدود “Maafkanlah ketergelinciran dzawil haiah (orang-orang yang baik namanya), kecuali jika terkena hadd” (HR. Abu Daud no.4375, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638). Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُشْرَعُ إقَالَةَ أَرْبَابِ الْهَيْئَاتِ إنْ وَقَعَتْ مِنْهُمْ الزَّلَّةُ نَادِرًا وَالْهَيْئَةُ صُورَةُ الشَّيْءِ وَشَكْلُهُ وَحَالَتُهُ، وَمُرَادُهُ أَهْلُ الْهَيْئَاتِ الْحَسَنَةِ “Dalam hadis Aisyah ini terdapat dalil bahwa disyariatkan memaafkan orang yang memiliki nama baik jika mereka tergelincir sedikit dalam kesalahan. Dan haiah artinya bentuk dan keadaan dari sesuatu. Maksudnya adalah orang yang memiliki keadaan yang baik (agamanya)” (Nailul Authar, 7/163). Adapun orang yang memang dikenal melakukan keburukan maka tidak ada anjuran untuk memaafkannya. An-Nawawi mengatakan: الْمُرَادُ بِهِ السَّتْرُ عَلَى ذَوِي الْهَيْئَاتِ وَنَحْوِهِمْ مِمَّنْ لَيْسَ هُوَ مَعْرُوفًا بِالْأَذَى وَالْفَسَادِ فَأَمَّا المعروف بذلك فيستحب أن لا يُسْتَرَ عَلَيْهِ بَلْ تُرْفَعَ قَضِيَّتَهُ إِلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْ ذَلِكَ مَفْسَدَةً “Maksudnya adalah menutupi kesalahan orang yang memiliki nama baik dan semisal mereka yang tidak dikenal gemar melakukan gangguan dan kerusakan. Adapun orang yang gemar melakukan gangguan dan kerusakan maka dianjurkan untuk tidak ditutup-tutupi kesalahannya bahkan dianjurkan untuk diajukan perkaranya kepada waliyul amri, jika tidak dikhawatirkan terjadi mafsadah” (Syarah Shahih Muslim, 16/135). Ulil amri atau hakim pun boleh memaafkan atau membatalkan hukuman ta’zir, bagi orang yang baik yang melakukan kesalahan karena tergelincir. Al-Khathabi mengatakan: وفيه دليل على أن الإمام مخير في التعزير إن شاء عزر وإن شاء ترك ولو كان التعزير واجبا كالحد لكان ذو الهيئة وغيره في ذلك سواء “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa imam (penguasa) boleh memilih untuk memberikan hukuman ta’zir atau tidak memberikannya. Andaikan ta’zir itu wajib maka antara orang yang baik namanya dengan yang bukan akan sama kedudukannya” (Ma’alim as-Sunan, 3/300). Faedah 5: Terkadang menghukum lebih utama dari memaafkan Walaupun memaafkan itu lebih utama, namun ini tidak dalam semua keadaan. Ada keadaan di mana tidak memaafkan itu lebih utama. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Dalam ayat ini Allah menggandengkan pemaafan dengan ishlah (perbaikan). Maka pemaafan itu terkadang tidak memberikan perbaikan. Terkadang orang yang berbuat jahat pada anda adalah orang yang bejat, yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang buruk dan rusak. Jika anda memaafkannya, maka ia akan semakin menjadi-jadi dalam melakukan keburukannya dan semakin rusak. Maka yang lebih utama dalam kondisi ini, anda hukum orang ini atas perbuatan jahat yang ia lakukan. Karena dengan demikian akan terjadi ishlah (perbaikan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: الإصلاح واجب والعفو مندوب, فإذا في العفو فوات الإصلاح فمعنى ذلك أننا قدمنا مندوبا على الواجب. هذا لا تأتي به الشريعة “Ishlah (perbaikan) itu wajib, sedangkan memaafkan itu sunnah. Jika dengan memaafkan malah membuat tidak terjadi perbaikan, maka ini berarti kita mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib. Yang seperti ini tidak ada dalam syari’at” Sungguh benar apa yang beliau sebutkan, rahimahullah” (Makarimul Akhlak, hal. 27). Demikian beberapa faedah seputar memaafkan, semoga bermanfaat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 La Ilaha Illallah, Cara Menghilangkan Bisikan Setan Dalam Hati, Semut Wallpaper, Dalil Tentang Kb, Subhan Allah, Sholat Pagi Visited 220 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1354177945&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> 5 Faedah Seputar Memaafkan Faedah 1: Memaafkan itu lebih utama dan merupakan akhlak mulia Di antara akhlak yang mulia adalah seseorang memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. Allah ta’ala berfirman: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134). Allah ta’ala juga berfirman: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى “Dan jika kamu memaafkan itu lebih dekat kepada takwa” (QS. al-Baqarah: 237). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Di antara bentuk bermuamalah dengan akhlak mulia kepada orang lain adalah jika anda dizalimi atau diperlakukan dengan buruk oleh seseorang, maka anda memaafkannya. Karena Allah ta’ala telah memuji orang-orang yang suka memaafkan orang lain” (Makarimul Akhlak, hal. 25). Dan membalas kezaliman dengan pemaafan itu merupakan bentuk membalas dengan kebaikan yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Balaslah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat: 34). Orang yang memaafkan juga dianggap melakukan sedekah. Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا مِنْ رَجُلٍ يُجْرَحُ فِي جَسَدِهِ جِرَاحَةً فَيَتَصَدَّقُ بِهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَا تَصَدَّقَ بِهِ “Tidaklah seseorang yang badannya dilukai oleh orang lain, kemudian ia bersedekah dengan memaafkannya (tidak menuntut diyat), kecuali Allah akan hapuskan dosanya sebanding dengan pemaafan yang yang ia sedekahkan” (HR. Ahmad no.22701, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.2273). Oleh karena itu, sifat suka memaafkan adalah sifat yang seharusnya menjadi tabiat seseorang dan sifat yang seharusnya dipaksakan oleh seseorang kepada dirinya ketika ia dizalimi.  Faedah 2: Memaafkan itu tidak wajib, namun mustahab (dianjurkan) Para ulama mengatakan bahwa memaafkan itu hukumnya tidak wajib. Seorang yang dizalimi boleh saja tidak memaafkan orang menzaliminya. Allah ta’ala berfirman: وَٱلَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ . وَجَزَاء سَيّئَةٍ سَيّئَةٌ مّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. asy-Syura: 39-40). Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya menjelaskan: فشرع العدل وهو القصاص ، وندب إلى الفضل وهو العفو “maka disyariatkan untuk berbuat adil, yaitu qishash. Dan disunnahkan berbuat fadhl (utama) yaitu memaafkan”. Sehingga orang yang dizalimi oleh orang lain, punya tiga pilihan sikap: Membalas dan menghukum orang yang dizaliminya sesuai ketentuan syariat. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, namun tidak memaafkan. Bersabar, tidak membalas dan tidak menghukum, serta memaafkan orang yang menzaliminya. Namun perlu diketahui bahwa kezaliman yang tidak dimaafkan, kelak akan dibalas di akhirat! Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن كَانَتْ له مَظْلَمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449). Maka orang yang berbuat zalim hendaknya berusaha untuk meminta maaf dan meminta kehalalan dari orang yang dizaliminya. Jangan sampai urusannya dituntut di akhirat yang tentunya lebih berat dan lebih sulit daripada urusan di dunia. Faedah 3: Boleh membalas keburukan dengan yang semisal Hal ini berdasarkan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Allah ta’ala juga berfirman: فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى “Barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu” (QS. al-Baqarah: 194). Allah ta’ala juga berfirman: وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا “Balasan untuk keburukan adalah keburukan yang semisal” (QS. asy-Syura: 40). Demikian juga sebagaimana hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: وما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه، إلَّا أن تُنْـتَهَك حُرْمَة الله، فينتقم لله بها “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas keburukan terhadap dirinya, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas karena Allah” (HR. Bukhari no.3560, Muslim no.2327). Namun bolehnya membalas keburukan yang dilakukan oleh orang lain, harus memenuhi dua syarat: Pembalasan harus sama dan setara, tidak boleh lebih dari setara. Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir mengatakan: هذا الانتصار مشروط بالاقتصار على ما جعله الله له وعدم مجاوزته، كما بينه سبحانه عقب هذا بقوله: وجزاء سيئة سيئة مثلها ـ فبين سبحانه أن العدل في الانتصار هو الاقتصار على المساواة “Pembalasan ini disyaratkan hanya mencukupkan diri pada batasan yang Allah tetapkan dan tidak boleh melebihi batasan tersebut. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam ayat (yang artinya): “Dan balasan bagi keburukan adalah keburukan semisalnya” (QS. asy-Syura: 40). Maka di sini Allah menjelaskan bahwa sikap adil dalam membalas adalah mencukupkan diri dengan balasan yang setara”. Tidak boleh membalas pada perbuatan yang ada hukuman hadd-nya. Al-Absyihi rahimahullah mengatakan: والذي يجب على العاقل إذا أَمْكَنه الله تعالى أن لا يجعل العقوبة شيمته، وإن كان ولا بدَّ مِن الانتِقَام، فليرفق في انتقامه، إلَّا أن يكون حدًّا مِن حدود الله تعالى “Yang wajib menjadi pegangan orang yang berakal selama masih memungkinkan adalah tidak menjadikan sifat suka membalas sebagai tabiatnya. Dan jika memang harus membalas maka balaslah dengan lemah lembut. Kecuali jika pada perbuatan yang terhadap hukuman hadd-nya” (Al-Mustathraf, hal. 197). Maka perbuatan yang ada hukuman hadd-nya seperti zina, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lainnya, wajib diserahkan kepada ulil amri mengenai eksekusi hukumannya.  Faedah 4: Lebih utama memaafkan orang yang tergelincir Orang baik yang melakukan kesalahan atau kezaliman karena tergelincir bukan orang yang dikenal suka melakukan keburukan, maka lebih utama untuk dimaafkan daripada dihukum atau dilaporkan kepada ulil amri. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ “Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik” (HR. Ibnu Hibban no.94, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638) Dalam riwayat lain: أقيلوا ذوي الهيئات عثراتهم ، إلا الحدود “Maafkanlah ketergelinciran dzawil haiah (orang-orang yang baik namanya), kecuali jika terkena hadd” (HR. Abu Daud no.4375, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no.638). Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: وَحَدِيثُ عَائِشَةَ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُشْرَعُ إقَالَةَ أَرْبَابِ الْهَيْئَاتِ إنْ وَقَعَتْ مِنْهُمْ الزَّلَّةُ نَادِرًا وَالْهَيْئَةُ صُورَةُ الشَّيْءِ وَشَكْلُهُ وَحَالَتُهُ، وَمُرَادُهُ أَهْلُ الْهَيْئَاتِ الْحَسَنَةِ “Dalam hadis Aisyah ini terdapat dalil bahwa disyariatkan memaafkan orang yang memiliki nama baik jika mereka tergelincir sedikit dalam kesalahan. Dan haiah artinya bentuk dan keadaan dari sesuatu. Maksudnya adalah orang yang memiliki keadaan yang baik (agamanya)” (Nailul Authar, 7/163). Adapun orang yang memang dikenal melakukan keburukan maka tidak ada anjuran untuk memaafkannya. An-Nawawi mengatakan: الْمُرَادُ بِهِ السَّتْرُ عَلَى ذَوِي الْهَيْئَاتِ وَنَحْوِهِمْ مِمَّنْ لَيْسَ هُوَ مَعْرُوفًا بِالْأَذَى وَالْفَسَادِ فَأَمَّا المعروف بذلك فيستحب أن لا يُسْتَرَ عَلَيْهِ بَلْ تُرْفَعَ قَضِيَّتَهُ إِلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْ ذَلِكَ مَفْسَدَةً “Maksudnya adalah menutupi kesalahan orang yang memiliki nama baik dan semisal mereka yang tidak dikenal gemar melakukan gangguan dan kerusakan. Adapun orang yang gemar melakukan gangguan dan kerusakan maka dianjurkan untuk tidak ditutup-tutupi kesalahannya bahkan dianjurkan untuk diajukan perkaranya kepada waliyul amri, jika tidak dikhawatirkan terjadi mafsadah” (Syarah Shahih Muslim, 16/135). Ulil amri atau hakim pun boleh memaafkan atau membatalkan hukuman ta’zir, bagi orang yang baik yang melakukan kesalahan karena tergelincir. Al-Khathabi mengatakan: وفيه دليل على أن الإمام مخير في التعزير إن شاء عزر وإن شاء ترك ولو كان التعزير واجبا كالحد لكان ذو الهيئة وغيره في ذلك سواء “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa imam (penguasa) boleh memilih untuk memberikan hukuman ta’zir atau tidak memberikannya. Andaikan ta’zir itu wajib maka antara orang yang baik namanya dengan yang bukan akan sama kedudukannya” (Ma’alim as-Sunan, 3/300). Faedah 5: Terkadang menghukum lebih utama dari memaafkan Walaupun memaafkan itu lebih utama, namun ini tidak dalam semua keadaan. Ada keadaan di mana tidak memaafkan itu lebih utama. Allah ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. asy-Syura: 40). Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: “Dalam ayat ini Allah menggandengkan pemaafan dengan ishlah (perbaikan). Maka pemaafan itu terkadang tidak memberikan perbaikan. Terkadang orang yang berbuat jahat pada anda adalah orang yang bejat, yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang buruk dan rusak. Jika anda memaafkannya, maka ia akan semakin menjadi-jadi dalam melakukan keburukannya dan semakin rusak. Maka yang lebih utama dalam kondisi ini, anda hukum orang ini atas perbuatan jahat yang ia lakukan. Karena dengan demikian akan terjadi ishlah (perbaikan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: الإصلاح واجب والعفو مندوب, فإذا في العفو فوات الإصلاح فمعنى ذلك أننا قدمنا مندوبا على الواجب. هذا لا تأتي به الشريعة “Ishlah (perbaikan) itu wajib, sedangkan memaafkan itu sunnah. Jika dengan memaafkan malah membuat tidak terjadi perbaikan, maka ini berarti kita mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib. Yang seperti ini tidak ada dalam syari’at” Sungguh benar apa yang beliau sebutkan, rahimahullah” (Makarimul Akhlak, hal. 27). Demikian beberapa faedah seputar memaafkan, semoga bermanfaat. *** Oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 La Ilaha Illallah, Cara Menghilangkan Bisikan Setan Dalam Hati, Semut Wallpaper, Dalil Tentang Kb, Subhan Allah, Sholat Pagi Visited 220 times, 1 visit(s) today Post Views: 328 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next