Tidur yang Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tidur yang Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Ada hadis sahih dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mata adalah pengikat dubur, barang siapa tertidur hendaknya dia berwudu.” (HR. Ahmad) Ini menunjukkan bahwa tidur membatalkan wudu. Baiklah, tidur termasuk dalam makna ‘segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran’, sebagaimana gila dan pingsan. Begitu juga yang semakna dengan keduanya, seperti mabuk, mabuk dan pengaruh anestesi total. Begitu juga epilepsi. Semuanya termasuk pembatal-pembatal wudu. Karena jika seseorang kehilangan kesadarannya, maka dia tidak bisa mengontrol tempat keluarnya kentut (dubur), sehingga barangkali dia sudah kentut. Sehingga, saat inilah “prasangka” didudukkan pada posisi “yakin”. Syariat ini memposisikan prasangka pada tingkat yakin dalam beberapa masalah, dan ini salah satunya. Hilangnya kesadaran ini membatalkan wudu, sebagaimana terdapat dalam banyak hadis, walaupun ada pengecualian berdasarkan dalil sahih, bahwa para sahabat—semoga Allah meridai mereka semua— dahulu mereka di masjid menunggu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga tertunduk kepala mereka (terlelap sejenak karena mengantuk), namun, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam datang, mereka berdiri dan salat bersama Nabi, tanpa mengulangi wudu mereka. Ini menunjukkan pada kita, bahwa terlelap sejenak tidak membatalkan wudu. Bagaimana kita membedakan antara terlelap sejenak dengan tidur nyenyak? Para ulama berkata, “Prinsipnya, bahwa perbedaan antara keduanya adalah adanya kesadaran atau tidak.” Dari sisi maknanya, inilah standar dasarnya. Tapi pengertian ini sulit diterapkan, kenapa? Karena sebagian orang mungkin tidur berjam-jam, namun ia tidak menyadari bahwa dia telah tidur selama itu. Aku ingat seseorang yang selalu aku ceritakan kisahnya, dan dia mendapat ganjaran pahala, karena kisahnya diceritakan. Dia pernah tertidur, kemudian bangun, dan menyangka bahwa dia hanya tidur selama beberapa menit saja. Bahkan ketika melihat jam, dia berkata, “Aku hanya tidur kurang dari lima menit.” Dia berkata, “Aku tidak terbangun dari tidur, kecuali karena satu hal, yaitu karena aku lapar.” Dia berkata, “Ketika aku beranjak dan masuk rumah menemui ibuku, aku menyadari, ternyata aku tertidur sehari lebih lima menit.” Seperti ini kebanyakan dialami anak muda yang masih belia umurnya, mereka yang mampu tidur nyenyak selama itu. Adapun orang yang sudah tua, tidak akan bisa nyenyak seperti itu. Intinya, apa yang disebutkan oleh sebagian ulama, bahwa yang membatalkan wudu adalah ketika dia benar-benar kehilangan kesadarannya, sehingga tidak mengetahui apa pun, tapi seseorang terkadang tidak tahu, dia menyangka bahwa dia masih dalam keadaan sadar, padahal telah hilang kesadarannya. Oleh sebab itu, yang mudah diterapkan adalah perkataan ulama, bahwa kita melihat posisi tidurnya: (1) jika dia tidur dalam posisi berbaring, atau duduk bertelekan pada sesuatu, atau dalam posisi sujud, maka posisi tidur seperti ini menyebabkan wudunya batal. Adapun jika dia tidur dalam keadaan berdiri, atau posisi semisalnya yang tidak memungkinkan baginya untuk tidur nyenyak, karena jika nyenyak pasti terjatuh, maka ini tidak membatalkan wudu, karena jika dia tidur nyenyak pasti terjatuh. Jika tidak jatuh, itu menandakan kalau tidurnya tidak membatalkan wudu. ==== وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ نَاقِضٌ لِلْوُضُوءِ طَيِّبٌ النَّوْمُ فِيهِ مَعْنَى كُلُّ زَوَالِ الْعَقْلِ كَالْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَمِثْلُهُ أَيْضًا نَحْوُ مُلْحَقٌ بِأَحَدِهِمَا كَالسُّكْرِ فَإِنَّ السُّكْرَ وَالْبَنْجَ الْمُذْهَبَ بِالْعَقْلِ … وَمِثْلُهُ الصَّرْعُ كُلُّهَا تَكُونُ مِنْ نَوَاقِضِ الْوُضُوءِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا ذَهَبَ عَقْلُهُ لَمْ يَتَحَكَّمْ بِمَخْرَجِ الرِّيحِ مِنْهُ فَرُبَّمَا خَرَجَتِ الرِّيْحُ مِنْهُ وَحِيْنَئِذٍ نُزِّلَتِ الْمَظِنَّةُ مَنْزِلَةَ الْمَئِنَّةِ وَالشَّرْعُ يُنَزِّلُ الْمَظِنَّةَ مَنْزَلَةَ الْمَئِنَّةِ فِي مَسَائِلَ وَمِنْهَا هَذَا هَذَا زَوَالُ الْعَقْلِ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّرِيحَةُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ بِهِ إِلَّا أَنَّ هُنَاكَ اِسْتِثْنَاءً فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَخْفِقُ رُؤُوسُهُمْ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا حَضَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامُوا فَصَلَّوْا مَعَهُ وَلَمْ يُعِيدُوا وُضُوءَهُمْ فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ النَّوْمَ الْيَسِيرَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ وَكَيْفَ نُفَرِّقُ بَيْنَ النَّوْمِ الْيَسِيرِ وَالنَّوْمِ الْكَثِيرِ؟ وَقَالُوا: الْأَصْلُ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِالْإِدْرَاكِ وَعَدَمِهِ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى وَلَكِنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُنْضَبِطٍ لِمَ؟ لِأَنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ يَنَامُ سَاعَاتٍ طِوَالًا وَلَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ نَامَ فِي تِلْكَ السَّاعَاتِ الطِّوَالِ وَأَذْكُرُ شَخْصًا وَدَائِمًا أُخْبِرُ بِقِصَّتِهِ وَلَهُ الْأَجْرُ بِذِكْرِ قِصَّتِهِ أَنَّهُ نَامَ فَاسْتَيْقَظَ فَظَنَّ أَنَّهُ لَمْ يَنَمْ إِلَّا دَقَائِقَ مَعْدُودَةً حَتَّى أَنَّهُ نَظَرَ فِي السَّاعَةِ فَيَقُولُ: مَا نِمْتُ إِلَّا أَقَلَّ مِنْ خَمْسِ دَقَائِقَ يَقُولُ: لَمْ أَسْتَيْقِظْ مِنْ نَفْسِيْ إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا أَنَّنِي قَدْ جُعْتُ يَقُولُ: فَلَمَّا ذَهَبْتُ وَدَخَلْتُ الدَّارَ عِنْدَ وَالِدَتِي فَإِذَا بِي قَدْ نِمْتُ يَوْمًا وَخَمْسَ دَقَائِقَ وَهَذَا غَالِبًا فِي الشَّبَابِ صِغَارِ السِّنِّ هُمُ الَّذِينَ يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يَنَامُوا هَذَا النَّوْمَ الطَوِيْلَ كِبَارُ السِّنِّ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْاِسْتِغْرَاقَ فِي النَّوْمِ فَالْمَقْصُودُ أَنَّ مَا ذَكَرَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِأَنَّ النَّاقِضَ هُوَ الَّذِي يَغِيبُ الْمَرْءُ فِيهِ عَنْ وَعْيِهِ تَمَامًا وَلَا يُدْرِكُ هُوَ قَدْ لَا يَعْلَمُ هُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَمْ يَغِبْ عَقْلُهُ وَقَدْ غَابَ عَقْلُهُ وَلِذَا فَإِنَّ الْمَضْبُوطَ كَلَامُ فُقَهَاءِنَا أَنَّنَا نَنْظُرُ لِلْهَيْئَةِ فَإِنْ كَانَ قَدْ نَامَ مُضْطَجِعًا أَوْ مُتَّكِئًا بِأَنْ يَكُونَ مُسْتَنِدًا عَلَى شَيْءٍ أَوْ سَاجِدًا فَإِنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا وَأَمَّا إِنْ نَامَ وَاقِفًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْهَيْئَاتِ الَّتِي لَا يَكُونُ فِيهَا النَّوْمُ مُتَمَكِّنًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ سَقَطَ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ نَاقِضًا لِأَنَّهُ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّوْمِ سَقَطَ وَلَمْ يَسْقُطْ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِنَاقِضٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2) Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dalil-dalil tentang cinta 1.1. Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta? 1.2. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram? 1.3. Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai? 1.4. Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadah 1.5. Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat Dalil-dalil tentang cinta Dalil pertama: Apakah patokan syirik besar dalam cinta?Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Dalam surah Al-Baqarah ayat 165 ini terdapat patokan syirik besar dalam cinta, yaitu mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Yang dimaksud adalah cinta yang mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri. Inilah cinta ibadah. Ini berarti mencintai selain Allah dengan jenis cinta ibadah. Dalil kedua: Apakah patokan cinta yang haram?Allah Ta’ala  berfirman,قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah: 24)Surah At-Taubah ayat 24 ini menunjukkan wajibnya mendahulukan kecintaan kepada Allah dan kepada segala yang dicintai oleh Allah di atas kecintaan kepada selain itu semua. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk (yaitu cinta tabiat/ naluri, cinta karena kasih sayang atau yang didasari rasa hormat, dan cinta kepada hobi/ kegemaran/ kesukaan yang halal) ini berubah menjadi haram jika mengakibatkan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.Baca Juga: Rasa Cinta, Takut dan Berharap kepada Allah Ta’ala Dalil ketiga: Siapakah makhluk yang tertuntut untuk paling dicintai?Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah berikut ini menunjukkan bahwa yang wajib dicintai tertinggi di antara seluruh makhluk adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين“Tidak sempurna keimanan wajib salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orangtunya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang melebihi seluruh makhluk lainnya adalah bagian dari kesempurnaan keimanan yang wajib. Konsekuensinya adalah jika seseorang mencintai diri sendiri/ anak/ orang tua melebihi kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berdosa, namun tidak sampai kafir. Adapun jika tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali, maka ini kekafiran karena tidak ada dasar keimanan pada pelakunya.Dalil keempat: Buah cinta kepada Allah yang benar adalah lezatnya iman dan ibadahDiriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار“Ada tiga perkara yang barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara tersebut, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis riwayat Bukhari dan Muslim rahimahumallah ini menunjukkan bahwa barangsiapa terpenuhi tiga perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut, maka akan merasakan lezatnya iman dan ibadah ketaatan kepada Allah sehingga tegar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dalam ketaatan kepada Allah.Tiga perkara itu adalah:Pertama: Mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi selain keduanya.Kedua: Mencintai manusia hanya karena Allah.Ketiga: Benci terjatuh ke dalam kedalam kekafiran.Dalil kelima: Kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhiratAllah Ta’ala  berfirman,اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.” (QS. Al-Baqarah: 166)Surah Al-Baqarah ayat 166 menunjukkan kecintaan bukan karena Allah (karena kemaksiatan) akan terputus di akhirat. Sebaliknya, kecintaan karena Allah akan langgeng dari dunia sampai akhirat. Dalilnya adalah surah Az-Zukhruf ayat 67.Allah Ta’ala  berfirman,اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ “Teman-teman yang sangat dicintai pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Perekat Terkuat Antara Suami Dan Isteri Bukanlah Cinta, Tapi AgamaBeberapa Bentuk Cinta dan Loyalitas (Wala’) kepada Orang Kafir yang Terlarang***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Tundukan Pandanganmu, Teks Renungan Malam Tentang Kematian, Sholat Sunah Sebelum Magrib, Risalah Puasa RamadhanTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Cinta: Antara yang Syar’i, Haram dan Mubah (Bag. 1)Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam cinta 2. Jenis pertama: cinta yang syar’i 2.1. Mahabbatullah (mencintai Allah) 2.2. Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallam 2.3. Mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah 3. Jenis kedua: cinta yang haram 3.1. Syirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah) 3.2. Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya) 4. Jenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk Macam-macam cintaTerdapat tiga macam cinta, yaitu cinta yang syar’i, cinta yang haram, dan cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk.Jenis pertama: cinta yang syar’iMahabbatullah (mencintai Allah)Mahabbatullah (mencintai Allah) merupakan kewajiban yang paling wajib. Kedudukan mahabbatullah adalah sebagai dasar agama Islam. Hal ini bisa ditinjau dari:Pertama, pendorong segala bentuk amal ibadah seorang hamba adalah cinta Allah Ta’ala, cinta pahala-Nya, dan cinta (ingin) selamat dari neraka. Bahkan, dua rukun ibadah hati yang lainnya, yaitu takut dan harap, dasarnya adalah cinta kepada Allah. Karena orang yang berharap kepada Allah saat beribadah, hakikatnya berharap sesuatu yang dicintainya, berupa keridaan-Nya dan pahala-Nya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah, hakikatnya adalah takut kepada Tuhan yang dicintainya dengan puncak kecintaan, dan takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, berupa keselamatan dari siksa-Nya.Tawakal, inabah, tobat, dan ibadah lainnya, sumbernya adalah cinta kepada Allah Ta’ala dan tuntutannya, yaitu cinta kepada rida-Nya dan cinta kepada pahala-Nya, serta ingin selamat dari siksa-Nya.Kedua, setiap peribadahan pastilah dipersembahkan kepada Tuhan yang paling dicintainya dengan puncak kesempurnaan sehingga Dia diagungkan dan ditaati secara mutlak.Mahabbatur rasulillah (cinta Rasul) shallallahu ‘alaihi wasallamDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini hukumnya wajib. Tidak sempurna keimanan wajib seorang hamba tanpa mencintai beliau melebihi mencintai diri sendiri dan seluruh makhluk.Mencintai seluruh yang dicintai oleh AllahDi antara bentuk cinta syar’i adalah mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, yaitu mencintai para rasul dan nabi lainnya ‘alaihimush shalatu was-salamu, orang saleh, dan mencintai seluruh yang dicintai oleh Allah, baik berupa syari’at Allah, ucapan baik, perbuatan baik (amalan saleh), orang saleh, waktu dan tempat baik, dan seluruh yang dicintai-Nya.Cinta syar’i berupa mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah adalah al-hubbu fillah (cinta di jalan ketaatan kepada Allah) dan al-hubbu lillah (cinta karena Allah). Atau disebut juga mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai segala yang dicintai Allah).Cinta syar’i mencintai Rasul dan mencintai yang dicintai Allah ini mengikuti “dasar dari seluruh cinta”, yaitu mahabbatullah. Sehingga mahabbatullah adalah sebagai dasar dari seluruh cinta lainnya.Kecintaan kita terhadap sesuatu selain Allah mengikuti kecintaan Allah terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar kecintaan Allah kepada sesuatu, maka tertuntut semakin besar pula kecintaan kita kepada sesuatu tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin besar kebencian Allah kepada sesuatu, maka semakin besar pula kebencian kita kepada sesuatu tersebut.Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata dalam Jami’ul Ulum wal-Hikam, karya Ibnu Rajab rahimahullah,لو رأيت رجلا يظهر خيرا ، ويسر شرا ، أحببته عليه ، آجرك الله على حبك الخير ، ولو رأيت رجلا يظهر شرا ، ويسر خيرا بغضته عليه ، آجرك الله على بغضك الشر“Seandainya anda melihat seseorang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, lalu anda mencintainya karena kebaikannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kecintaanmu kepada kebaikannya.Sebaliknya, seandainya anda melihat seseorang menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, lalu anda membencinya karena keburukannya tersebut, niscaya Allah akan memberi pahala kepadamu atas dasar kebencianmu kepada keburukannya.”Jenis kedua: cinta yang haramSyirik besar yang menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang (al-mahabbah ma’allah)Ini adalah cinta ibadah yang ditujukan kepada selain Allah, atau disebut juga al-mahabbah ma’allah. Mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah adalah syirik dalam cinta. Jadi, patokan syirik besar dalam ibadah cinta adalah mencintai selain Allah sebagaimana mencintai Allah. Allah Ta’ala  berfirman,وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)Cinta jenis syirik besar ini menghancurkan dasar tauhid dan dasar iman seseorang, sehingga pelakunya kafir. Karena jika masuk dalam kategori cinta ibadah, lalu cinta tersebut ditujukan kepada Allah saja, maka bernilai tauhid. Dan jika ditujukan selain Allah, maka bernilai syirik besar. Ciri cinta yang merupakan ibadah adalah mengandung puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) dan puncak ketundukan dan ketaatan kepada yang disembah, diibadahi, dan dicintai.Haram, namun tidak sampai syirik besar (atau setingkatnya)Cinta yang haram ini merusak kesempurnaan iman/ tauhid yang wajib sehingga berdosa. Namun, tidak sampai derajat kafir karena tidak menghancurkan dasar tauhid dan iman seseorang. Patokan cinta yang haram adalah mencintai selain Allah yang tidak sampai tingkatan syirik besar (atau setingkatnya), namun berakibat meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman, baik karena asal cintanya itu diharamkan atau asal cintanya itu mubah, namun menjerumuskan ke dalam dosa.Baca Juga: Doa Terbaik untuk Anak TercintaJenis ketiga: cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhlukTerdapat beberapa contoh cinta yang diperbolehkan ditujukan kepada makhluk, misalnya:Pertama, cinta tabiat atau naluri, seperti suka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semacamnya.Kedua, cinta karena kasih sayang atau didasari rasa hormat, seperti cinta kepada orangtua, guru, anak, dan semacamnya,Ketiga, cinta kepada hobi, kegemaran, atau kesukaan yang halal. Contohnya, cinta kepada pekerjaan, bisnis, hobi, dan semacamnya.Cinta yang diperbolehkan ini bisa berubah menjadi haram jika mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.[Bersambung]Baca Juga:Cinta Tanah Air adalah Tabiat dan Fitrah ManusiaKumpulan Artikel Tentang Cinta dan Pernikahan***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id🔍 Situs Islam, Nabi Danial, Jalan Hijrah, Hadits Tentang Silaturrahim, Muslimah QuranTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Tanda Akhir Zaman: Ilmu Agama Hilang karena Ulama Wafat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Tanda Akhir Zaman: Ilmu Agama Hilang karena Ulama Wafat – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, pengetahuan tentang baca tulis akan semakin banyak, dan buku (tulisan) juga semakin banyak. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, bahwa di akhir zaman, al-Quran tidak akan diangkat, namun ia akan tetap ada menyertai manusia. Akan tetapi, Nabi menjelaskan, bahwa ilmu agama (tentang al-Quran dan Sunnah) akan semakin berkurang. Ilmu agama akan semakin berkurang, karena hilangnya ilmu agama disebabkan wafatnya orang yang berilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan diwafatkannya para ulama, sehingga manusia mengangkat orang-orang bodoh yang mereka kira sebagai para ulama, padahal mereka sebenarnya bukan ulama. Lalu orang-orang bodoh itu memberi fatwa, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan, karena tidak berilmu. ==== بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ مَعْرِفَةُ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ وَتَكْثُرُ الْكُتُبُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَن يُرْفَعَ سَيَبْقَى الْقُرْآنُ مَوْجُودًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ وَلَكِنَّهُ بَيَّنَ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ أَنَّ الْعِلْمَ سَيَقِلُّ لِأَنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَكُونُ ذَهَابُهُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ وَلِذَلِكَ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُقْبَضُ الْعِلْمُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَيَتَّخِذُ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ عُلَمَاءُ وَلَيْسُوا كَذَلِكَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ بِغَيْرِ عِلْمٍ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ikut Asuransi yang Dibayarkan Perusahaan

Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 QRIS donasi Yufid

Ikut Asuransi yang Dibayarkan Perusahaan

Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340607271&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Apakah boleh BPJS dibayarkan oleh perusahaan dari gaji karyawan? (Alfan Zain) Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Dalam fatwa ringkas berikut ini Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan rincian mengenai hukum mengikuti asuransi kesehatan. Beliau menjelaskan rinciannya sebagai berikut: Pertama, jika tujuan perusahaan asuransi adalah untuk mencari untung, maka ini ta’min tijari (asuransi komersial) yang hukumnya haram. Karena termasuk memakan harta orang lain secara batil dan juga termasuk gharar. Tidak boleh ikut serta di dalamnya, kecuali: 1. Asuransi yang dipaksakan oleh pemerintah. Maka boleh mendaftar karena terpaksa, dan boleh membayar. Namun haram bagi pemerintah untuk melakukan pemaksaan. Dan bagi nasabah, ia hanya boleh mengambil biaya asuransi sebatas jumlah premi yang sudah pernah disetorkan saja. 2. Asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan. Maka boleh bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas berobat dengannya, karena ia tidak melakukan asuransi karena perusahaan yang melakukannya. Sedangkan karyawan hanya menuntut hak berupa tunjangan kesehatan. 3. Ketika biaya pengobatan terlalu besar, dan seorang yang sakit tidak sanggup membayarnya kecuali dengan asuransi. Dan dalam keadaan ini hendaknya ia niatkan membayar sesuai dengan jumlah premi yang sudah pernah disetorkan. Jika jumlah yang pernah disetorkan lebih kecil dari biaya pengobatannya, maka ia niatkan setoran-setoran premi bulan selanjutnya untuk menutupi biaya pengobatannya. Kedua, jika perusahaan asuransi tidak bermaksud mencari keuntungan sama sekali namun berniat untuk saling membantu satu sama lain, maka ini ta’min ta’awuni (asuransi tolong-menolong). Ini hukumnya boleh. Penjelasan lengkapnya bisa disimak di video berikut: <iframe title="حكم التأمين الطبي ( تفصيل جميل جدا) / فضيلة الشيخ سليمان الرحيلي حفظه الله" width="616" height="347" src="https://www.youtube.com/embed/_RGixoLpEp0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe> Berdasarkan penjelasan di atas, maka boleh mengikuti dan menggunakan dana asuransi yang preminya dibayarkan oleh perusahaan. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Mimpi Setelah Shalat Istikharah, Baca Alquran Saat Haid, Tidur Arah Kiblat, Menghisap Zakar Suami, Dzikir Petang Sesuai Sunnah, Pakai Celana Ketat Visited 261 times, 1 visit(s) today Post Views: 332 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Basmalah Termasuk al-Fatihah atau Bukan?

Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 QRIS donasi Yufid

Basmalah Termasuk al-Fatihah atau Bukan?

Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1340606653&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, mohon dijelaskan tentang lafadz ‘basmalah’ dalam awal surah al-Fatihah, ada ulama yang tidak memakai dan ada yang memakai. Ana bingung, apakah bismillah ayat pertama dalam al-Fatihah atau tidak? Syukron Jawab: Alhamdulillah anda sudah bersikap benar dalam hal ini, karena ketika bingung segera bertanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Sesungguhnya obatnya tidak tahu adalah bertanya.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan ibnu Majah) Mengenai masalah basmalah apakah termasuk surat al-Fatihah atau tidak, para ulama bersilang pendapat. Sebagiannya memasukkannya dalam surat al-Fatihah dan sebagian lain tidak memasukkannya. Menurut pendapat yang rojih menurut syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam risalah beliau berjudul “Ushulun fi at-Tafsir” adalah pendapat yang tidak memasukkannya kedalam surat al-Fatihah berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Aku membagi sholat (al-Fatihah) menjadi dua bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan semua yang diminta.  Apabila hamba menyatakan: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ), Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuja-Ku. Apabila hamba menyatakan: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) , Allah subhanahu wata’alaa berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Apabila menyatakan: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) , maka Allah subhanahu wata’alaa befirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku Apabila menyatakan: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) maka Allah berfirman: Ini adalah antara-Ku dan hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatakan semua yang dimintanya.  Apabila hamba menyatakan:  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) maka Allah subhanahu wata’alaa berfirman: ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak mendapatkan semua yang dimintanya. (HR Muslim) Adapun berdasarkan rangkaian ayat dalam surat ini, hal tersebut ditinjau dari sisi maknanya. Ulama telah menyepakati bahwa surat al-Fatihah berisi tujuh ayat. Jika kita ingin membagi surat al-Fatihah menjadi tujuh bagian maka engkau dapati bahwa ayat pertengahannya adalah: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Pada ayat inilah Allah menjawab bacaan hamba-Nya: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.” Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Jadi, ada tiga ayat untuk Allah, yaitu ayat pertama, kedua, dan ketiga. Tiga ayat untuk hamba, yaitu tiga ayat terakhir dan satu ayat pertengahan yaitu ayat keempat untuk Allah dan untuk hamba. Pendapat syeikh Muhammad bin shalih al-Utsaimin ini juga didukung oleh hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku pernah shalat bermakmum di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca: ‘Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin’ dan tidak membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.” (HR. Muslim) Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.  Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah. Dan juga ditinjau dari sisi lafalnya, apabila kita katakan bahwa basmalah termasuk salah satu ayat dalam surat al-Fatihah berarti ayat ketujuh menjadi sangat panjang, hampir setara dengan dua ayat. Padahal sebagaimana dimaklumi, pada dasarnya panjang pendek ayat-ayat dalam sebuah surat hampir seragam satu sama lainnya. Maka pendapat yang rojih adalah basmalah tidak termasuk dalam surat al-Fatihah, sebagaimana halnya basmalah juga tidak termasuk dalam surat-surat lainnya. Wallahu a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Tulisan Insyaallah Yang Benar, Sholatnya Syiah, Bolehkah Menjilat Kemaluan Suami, Contoh Ceramah Tarawih, Hadits Kebersihan, Puasa Awal Tahun Visited 431 times, 1 visit(s) today Post Views: 547 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Apa Perbedaan Antara Hadits, Khabar, dan Atsar?

Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid

Apa Perbedaan Antara Hadits, Khabar, dan Atsar?

Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1348834861&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Pertanyaan: Saya ingin tanya, apa perbedaan antara hadits, atsar, dan khabar? Karena saya sering membaca tulisan para ustadz yang menyebutkan hadits dengan istilah khabar. Mohon penjelasannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Yang pertama, kami akan jelaskan dahulu definisi hadis. Al-hadits secara bahasa Arab artinya baru. Secara istilah, hadis adalah semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Dengan kata lain, riwayat yang bercerita tentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu disebut hadis. Demikian juga riwayat yang bicara tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabat, atau tentang karakteristik beliau, maka ini semua termasuk hadis. Istilah “hadits” ini disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: نضَّرَ اللَّهُ امرأً سمعَ منَّا حديثًا فحفظَهُ حتَّى يبلِّغَهُ فربَّ حاملِ فقْهٍ إلى من هوَ أفقَهُ منْهُ وربَّ حاملِ فقْهٍ ليسَ بفقيهٍ “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar hadis dariku, kemudian ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia menyampaikannya kepada orang yang lebih memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu namun ia tidak memahami ilmu.” (HR. Abu Daud no.3660, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis, atsar, dan khabar maknanya sama, yaitu semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat. Sehingga boleh saja seseorang menyebut hadis dengan istilah khabar atau atsar. Namun, istilah khabar maknanya berbeda dengan hadis atau lebih umum. Istilah khabar juga digunakan untuk: a. Semua riwayat yang datang dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari beliau, maka disebut dengan khabar. b. Semua riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun dari selain beliau. Sehingga makna khabar di sini lebih umum dari hadis (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 14). Bahkan istilah “khabar” juga digunakan untuk semua kabar dari orang-orang setelah masa salaf sampai zaman sekarang. Syaikh ‘Amr bin Abdil Mun’im Salim menjelaskan: الخبر هو ما نسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحد من الصحابة, أو من التابعين, أو من تابعيهم, إلى عصرنا هذا. فكل حديث خبر, وليس كل خبر حديث “Khabar adalah semua (riwayat) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat Nabi, atau tabi’in, atau tabi’ut tabi’in, dan seterusnya sampai orang-orang di zaman kita. Maka setiap hadis adalah khabar, namun tidak semua khabar adalah hadis.” (Maa Laa Yasa’a al-Muhadditsu Jahluhu, hal. 26) Demikian juga istilah atsar, terkadang juga digunakan untuk menyebutkan riwayat dari sahabat Nabi atau dari tabi’in. Sehingga jika riwayat tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebut dengan hadis. Adapun jika selain dari sahabat atau tabi’in, maka disebut dengan atsar (Taisir Musthalahul Hadits, Mahmud ath-Thahhan, hal. 15). Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: الحديث ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم يقال له: حديث، والأثر يطلق على ما ينسب إلى الرسول صلى الله عليه وسلم، وعلى ما ينسب إلى الصحابة والتابعين، يقال له: أثر، والغالب أن الأثر ما يروى عن الصحابة والتابعين، يسمى أثراً، وما يطلق عليه حديث هو ما ينسب إلى النبي صلى الله عليه وسلم “Hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu semua disebut hadis. Dan atsar adalah apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada para sahabat serta tabi’in. Namun dalam penggunaan secara umum, atsar adalah riwayat dari sahabat dan tabi’in, sedangkan hadis adalah apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, jilid 28, no. 12) Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 🔍 Arti Baiat, Hukum Mengeluarkan Air Mani Di Luar Faraj Isteri, Hukum Puasa 1 Suro, Alam Ghaib Jin, Rubrik Tentang Kesehatan, Mimpi Dikasih Alquran Visited 779 times, 3 visit(s) today Post Views: 600 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Khutbah Jumat: Ajaklah Keluarga untuk Menjaga Shalat, Menutup Aurat, dan Memakai Jilbab

Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat

Khutbah Jumat: Ajaklah Keluarga untuk Menjaga Shalat, Menutup Aurat, dan Memakai Jilbab

Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat
Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat


Ajaklah keluarga kita untuk menjaga shalat, menutup aurat, dan memakai jilbab.   Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Khutbah Kedua 3. Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF:   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Amma ba’du. Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, pemberi segala macam nikmat kepada kita sekalian yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya dengan bertakwa. Shalawat dan salam semoga tercurah pada suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di khutbah Jumat kali ini, kami ingin ingatkan kepada para jamaah sekalian mengenai firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai ayat tersebut, أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ. “Ajarilah adab dan agama kepada mereka”. Adh-Dhahak dan Maqatil rahimahumallah berkata, حَقٌّ عَلَى المسْلِمِ أَنْ يُعَلِّمَ أَهْلَهُ، مِنْ قُرَابَتِهِ وَإِمَائِهِ وَعَبِيْدِهِ، مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَمَا نَهَاهُمُ اللهُ عَنْهُ “Seorang muslim wajib mengajarkan kewajiban kepada Allah dan mengingatkan larangan-Nya kepada kerabat, budak wanita, dan budak laki-lakinya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah). Tentu kewajiban yang mesti diingatkan adalah untuk beriman dan mentauhidkan Allah. Di samping itu, kepala keluarga mesti menjalankan shalat dan mengajak keluarga kita juga untuk shalat. Allah Ta’ala berfirman, وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55) “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55). Kepala keluarga hendaklah juga menjaga anggota keluarga dari berbagai maksiat. Sifat suami yang baik adalah bertanggung jawab pada anggota keluarganya. Karena ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Ingatlah, setiap kalian itu punya tanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya.” (HR. Bukhari, no. 2554 dan Muslim, no. 1829) Kepala keluarga yang tidak memperhatikan keluarganya hingga istri dan anak-anaknya bermaksiat disebut DAYYUTS. Lelaki semacam ini sangat merugi di akhirat. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui anggota keluarganya berbuat dosa.” (HR. Ahmad, 2:69. Hadits ini sahih dilihat dari jalur lain). Di antara yang kurang diperhatikan oleh suami sebagai kepala keluarga adalah memerintahkan istrinya berjilbab. Padahal dalam ayat Al-Qur’an telah diperintahkan, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59) Jangan sampai wanita muslimah menampakkan perhiasan dirinya sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Keterangan mengenai surah An-Nuur ayat 31, silakan perhatikan perkataan ulama Syafiiyyah berikut ini. Imam Ibrahim bin Ahmad Al-Baajuuri rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa dilarang wanita membuka wajahnya. Memandang wanita dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan godaan. … Yang baik dalam syariat ini adalah menutup jalan agar tidak terjerumus dalam keharaman. Sebagaimana berdua-duaan dengan yang bukan mahram juga dilarang karena menutup jalan agar tidak terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Namun, ulama Syafiiyah lainnya berpandangan bahwa membuka wajah tidaklah haram. Karena hal itu masih masuk dalam ayat “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya”. Yang dimaksudkan yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan, menurut ulama yang lain. Adapun yang menjadi pendapat resmi madzhab (pendapat mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa wajah itu ditutup, terkhusus lagi zaman ini dengan banyakan wanita yang keluar di berbagai jalan dan pasar. Namun, taklid pada pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah tak masalah.” (Hasyiyah Al-Baajuuri, 3:332-333) Kalau kita memakai pendapat kedua yang membolehkan membuka wajah dan telapak tangan, berarti rambut kepala dan leher tak boleh terlihat. Ancaman bagi wanita yang membuka aurat, di antara bentuknya berpakaian tetapi telanjang sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا “Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128) Kesimpulannya, jangan sampai kita membiarkan istri, anak putra, dan anak putri kita bermaksiat. Marilah mengajak mereka untuk shalat dan mengenakan jilbab, yaitu berpakaian yang menutupi aurat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Semoga Allah beri taufik dan hidayah kepada kita semua. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ   Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Jumat Siang, 29 Dzulhijjah 1443 H, 29 Juli 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Baca Juga: Manfaatkah Dzikir Pagi Petang Bagi Keluarga? Shalat Malam Bersama Keluarga Silakan unduh Khutbah Jumat dalam bentuk PDF: Download Tagsaurat wanita buka aurat jilbab jilbab muslimah keutamaan shalat khutbah jumat meninggalkan shalat menjaga shalat menutup aurat

Ayo Berkarya dan Berjuang Bersama Yufid

Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Ayo Berkarya dan Berjuang Bersama Yufid

Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Saudaraku, sepanjang perjalanan hijrahmu di jalan sunah, mungkin selama itu pula Yufid menemani hari-harimu. Sekarang, Yufid ingin mengajakmu ikut serta berjuang membuat konten dakwah. Tujuan kita satu, yaitu dakwah ilallah. Kita ingin menyentuh saudara-saudara kita yang lainnya, agar mereka mengenal islam dan ikut berjalan bersama kita di jalan sunah. Bagi Anda yang belum mengenal Yufid: Yufid adalah tim kreatif yang berada di bawah naungan Yayasan Yufid Network, sebuah yayasan non-profit yang berkhidmat membuat dan membagikan konten dakwah dan pendidikan secara gratis.Yufid berdiri sejak tahun 2009. Yufid sudah 12 tahun berkarya untuk dakwah dan pendidikan islam.Yufid sudah membuat lebih dari 16.000 video dakwah dan pendidikan. Semua video tersebut sudah dibagikan secara gratis melalui beberapa media dakwah Yufid: channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, Yufid KIDS, dan lain-lain.Setiap bulan, Yufid membuat lebih dari 100 video dakwah dan pendidikan.Total subscribers dari channel YouTube Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids lebih dari 4 juta subscribers, dan seluruh video di channel-channel tersebut telah ditonton lebih dari 633 juta kali.Yufid sudah membuat dan mempublikasikan lebih dari 20.000 mp3 kajian islam di website Kajian.Net.Yufid telah menulis hampir 10.000 artikel. Semua artikel sudah dipublikasikan di beberapa website Yufid: KonsultasiSyariah.com, KisahMuslim.com, KhotbahJumat.com, Yufidia.com, PengusahaMuslim.com, Nasehat.Net, dan lain-lain.Sejak 2018, Yufid memulai project penerjemahan video dan artikel berbahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 1 juta lebih kata, dengan rata-rata produksi perbulan 37 ribu kata.Yufid mengelola 7 server dakwah yang menampung 107 website dakwah, yang terdiri dari website para ulama, para ustadz, pondok pesantren, dan juga streaming radio dakwah.Tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang.Biaya operasional dakwah Yufid setiap bulan lebih dari Rp 200 juta. Saudaraku, tim Yufid saat ini terdiri dari 50 orang, dengan biaya operasional lebih dari Rp 200 juta setiap bulan, yang di antaranya untuk: gaji seluruh anggota tim, listrik, internet, berlangganan software, transportasi, peralatan, perlengkapan, sewa server, domain, dan lain-lain. Dakwah ini adalah pekerjaan besar, butuh perjuangan besar, dan butuh dana yang besar. Dengan izin Allah, perjuangan menolong agama Allah ini dapat kita menangkan jika kita saling tolong-menolong, karena dakwah ini tanggung jawab kita bersama. Ini adalah peluang Anda untuk beramal jariyah. Setiap harta yang Anda sumbangkan adalah investasi yang insya Allah Anda panen di dunia dan di akhirat. Ini adalah perdagangan yang pasti untung, tidak akan merugi, karena Anda berjual beli dengan Allah. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29 – 30) DONASI DAPAT ANDA SALURKAN KE REKENING BERIKUT: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451(tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) Paypal: [email protected] LAPORAN DONASI Laporan pemasukan donasi. Laporan pemanfaatan donasi. KONTAK DONASI+62877-3839-4989 EMAIL KONTAK YUFID[email protected] LAPORAN PRODUKSI TIM YUFID Laporan produktivitas tim Yufid *** YUFID NETWORK Berikut ini adalah daftar media utama yang dikelola oleh Yufid: YOUTUBE CHANNEL: Yufid.TV: https://www.youtube.com/yufidYufid EDU: https://www.youtube.com/yufideduYufid KIDS: https://www.youtube.com/yufidkids INSTAGRAM: Yufid.TV: https://www.instagram.com/yufid.tv/ FACEBOOK: Yufid.TV: https://www.facebook.com/yufid.tv WEBSITE: www.Yufid.com (mesin pencari khusus konten islam)www.KonsultasiSyariah.com (tanya jawab islam)www.PengusahaMuslim.com (Fikih Muamalah)www.KhotbahJumat.com (materi Khutbah Jumat pilihan)www.Kajian.net (kumpulan audio MP3 kajian islam)www.KisahMuslim.com (kisah dan sejarah islam)www.Mukadimah.com (belajar islam secara bertahap)www.CaraSholat.com (kumpulan video tutorial tata cara shalat Nabi yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Nasehat.Net (kumpulan video nasehat ulama yang dipublikasikan di channel YouTube Yufid.TV)www.Yufidia.com (artikel islam umum)www.Syaria.com (kumpulan artikel Fiqih Muamalah dalam bahasa Inggris)www.WhatisQuran.com (kumpulan artikel islam umum dalam bahasa Inggris)www.YufidStore.com (semua hasil penjualan YufidStore.com adalah untuk operasional dakwah Yufid)www.DonasiYufid.com (info donasi Yufid)www.Yufid.org (rilis informasi resmi Yufid) *** Pembaruan mutakhir: 27 Juli 2022 KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kerabat yang Wajib Disambung Silaturahim – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Kerabat yang Wajib Disambung Silaturahim – Syaikh Shalih al-Luhaidan #NasehatUlama

Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda. Penanya berkata, “Wahai Guru kami yang terhormat, apa batasan kerabatyang wajib disambung silaturahminya dengan mereka?” Kerabat adalah semua orang yang bertemu hubungan darahnya dengan Anda. Jika Anda dan mereka punya kekerabatan dari jalur kedua orang tua Anda,maka mereka termasuk kerabat. Namun sebagian kerabat lebih dekat dari sebagian lainnya. Saudara kandung lebih dekat daripada sepupu,dan sepupu lebih dekat daripada cucunya paman,atau pamannya ayah, begitu seterusnya, sebagaimana telah dikenal dalam syariat kita. Semakin seseorang dekat pertaliannyadengan ayah atau ibu Anda dalam jalur kekerabatannya,maka dia termasuk kerabat. Kerabat tidak memiliki batasan terjauh. Jika seseorang luas kelebihannya dan merata kedermawanannya,hendaknya dia berusaha untuk menjangkau sejauh mungkin kerabatnyayang membutuhkan bantuannya yang masih termasuk kerabatnya. ==== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ يَقُولُ: شَيْخُنَا الْفَاضِلُ مَا هُوَ حُدُودٌ… مَا هِيَ حُدُودُ الْأَقَارِبِ الَّتِي يَجِبُ صِلَتُهُمْ… أَوِ الَّتِي تَجِبُ صِلَتُهُمْ؟ اَلْأَقَارِبُ كُلُّ مَنْ تَجْمَعُ مَعَكَ أَنْتُمْ وَإِيَّاهُمْ قَرَابَةٌ لِوَالِدَيْكَ فَهُمْ مِنْ ذَوِي الْقُرْبَى وَبَعْضُهُمْ أَقْرَبُ مِنْ بَعْضٍ الْإِخْوَةُ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَمِّ وَأَبْنَاءُ الْعَمِّ أَقْرَبُ مِنْ أَبْنَاءِ أَبْنَاءِهِ أَوْ عَمِّ الْأَبِ وَهَكَذَا… كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ مِنْ شَرِيعَتِنَا فَكُلَّمَا كَانَ الْوَاحِدُ أَقْرَبُ إِلَى أَبِيكَ أَوْ أُمِّكَ قَرَابَةً فَهُوَ مِنْ أَقَارِبَ وَلَا حَدَّ لِأَقْصَاهَا مَنْ كَانَ لَهُ … نَقُولُ… فَضْلُهُ وَاسِعٌ وَجُودُهُ فِيهِ شُمُولٌ فَلْيَحْرِصْ عَلَى أَنْ يَشْمَلَ أَقْصَى الْأَقَارِبِ مِمَّنْ يَحْتَاجُونَ إِلَى بِرِّهِ مِنْ ذَوِي قَرَابَتِهِ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Khotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Begitu Cepat Waktu Ini Berlalu

Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena dengan ketakwaan inilah, kita bisa meraih rida Rabb kita dan dengannya pula kita akan mendapatkan kehidupan yang mulia. Orang yang bertakwa dicap oleh Allah Ta’ala sebagai makhluk-Nya yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)Sungguh, waktu ini sangatlah cepat berlalu. Rasanya belum lama kita bertemu dengan tahun 1443 Hijriyyah. Namun, ternyata tahun 1443 sudah hampir usai dan tak akan kembali. Berlalu juga semua kesempatan ibadah di dalamnya. Ramadan yang telah kita lewati, musim haji, dan bulan Zulhijah telah usai yang ditandai dengan jemaah haji yang mulai berdatangan dari tanah suci Makkah, kembali ke tanah air ini. Sungguh, waktu sangatlah cepat berlalu, dan itu tidaklah mengherankan, karena cepatnya waktu adalah salah satu karakteristik kehidupan di akhir zaman.Singkatnya waktu yang kita rasakan merupakan salah satu tanda-tanda kecil dekatnya hari kiamat sebagaimana yang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ“Tidak akan terjadi kiamat hingga zaman berdekatan. Setahun bagaikan sebulan. Sebulan bagaikan sepekan. Sepekan bagaikan sehari. Sehari bagaikan sejam. Dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Ahmad no. 10943 di dalam Musnad-nya)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Alangkah bahagianya bagi siapa saja yang telah memperbanyak ketaatan, berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha mengangkat derajat pahalanya, dan berusaha agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya pada tahun ini, serta bisa mengambil pelajaran dari setiap hal yang telah Allah takdirkan. Allah Ta’ala berfirman,يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).” (QS. An-Nisa’: 44)Alangkah senangnya bagi siapa saja yang mengisi hari-harinya dengan mengerjakan perintah Allah, memenuhi bulan-bulannya dengan menjawab panggilan salat, dan mengorbankan tahun-tahun kehidupannya di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala disertai dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa inilah tujuan diciptakannya manusia di bumi ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)Dan firman-Nya juga,وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5Ma’asyiral Mu’minin, yang dirahmati Allah Ta’ala.Di antara hak Allah Ta’ala atas hamba-Nya yang telah Allah berikan begitu banyak kenikmatan, yang telah Allah berikan kesempatan hidup hingga detik ini dalam keadaan yang baik adalah mensyukuri segala nikmat-Nya serta memuji-Nya atas segala kemulian-Nya. Karena rasa syukur menyebabkan bertambahnya kenikmatan dan mencegah dari penderitaan. Alangkah baiknya manusia selalu meresapi dan mematri dengan kuat di dalam hatinya firman Allah Ta’ala,وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)Saat seorang muslim bersyukur, maka kebaikannya akan kembali ke dirinya sendiri. Dan saat ia kufur terhadap nikmat Allah, maka bahayanya pun akan kembali ke dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apapun dari seluruh alam ini. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ“Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.Tidak ada yang menjadi tugas kita, kecuali memuji Allah atas apa yang telah diberikan kepada kita. Pujian kita kepada-Nya menandakan keridaan kita atas limpahan rezeki-Nya, dan tidak ada balasan dari keridaan seseorang kepada Allah, kecuali kemenangan yang besar. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk rida kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memuji-Nya atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Bahkan, terhadap makanan dan minuman yang kita makan setiap harinya.إنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا“Sesungguhnya Allah rida kepada hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim no. 2734)Ma’asyiral Mu’minin, yang semoga diridai oleh Allah Ta’ala.Sesungguhnya di antara kemuliaan seseorang, saat ia sudah di penghujung sebuah waktu adalah meluangkan waktunya seorang diri, untuk mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya atas amalan apa yang telah diperbuat dan amalan apa yang telah terlewat. Demikian juga dengan waktu yang telah Allah berikan, sudahkah ia manfaatkan ataukah ia sia-siakan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan,الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2459, beliau mengatakan hadis ini ‘hasan’)Imam Tirmidzi mengatakan, “Maksud sabda Nabi ‘Orang yang mempersiapkan diri’ adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum dihisab pada hari kiamat.”أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيمُ. Baca Juga: Khotbah Jumat: Menggali Makna dari Surah Al-Jumu’ahKhotbah keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.Wahai orang-orang yang beriman.Ketahuilah, sesungguhnya kunci kesuksesan orang-orang terdahulu maupun untuk generasi yang akan datang adalah tidak menunda-nunda dalam beramal. Apa yang bisa kita kerjakan di hari tersebut, maka tidak kita tinggalkan untuk dikerjakan esok harinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا“Tidak ada satu pun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ: شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan dengan baik lima perkara sebelum (datangnya) 5 perkara, yaitu: (1) Masa mudamu sebelum (datang) masa tua. (2) Masa sehatmu, sebelum (datang) masa sakit. (3) Masa mampumu sebelum datang masa fakir. (4) Masa luangmu, sebelum datang masa sibuk. (5) Masa hidupmu sebelum (datang) kematian.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 10248 dengan sanad yang sahih)Beliau juga bersabda,بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)Jemaah salat Jumat yang berbahagia.Di antara kunci sukses dalam beramal yang lainnya adalah membuat perencanaan untuk waktu yang akan datang, bagaimana rencana beramal kita pada tahun depan, sehingga kehidupan kita lebih tertata dan lebih tertib.Orang yang berakal adalah yang bisa menambah intensitas ibadahnya setiap harinya. Ada sebuah ungkapan yang sangat indah,مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ كَنَدَمِي عَلَى يَوْمٍ نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزْدَدْ فِيهِ عَمَلِي“Sungguh aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku pada hari di mana umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”Peningkatan sesuatu itu tidak hanya dalam kuantitasnya saja, akan tetapi bisa saja berupa peningkatan dalam kualitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إِنَّ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyukai jika salah seorang kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh (profesional).” (HR. Thabrani no. 275 dan As-Suyuti no. 1855, dihasankan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jaami’.)Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah yang dikerjakan secara konsisten walaupun jumlahnya sedikit. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa agama kita lebih mengutamakan kualitas sebuah amalan daripada kuantitasnya.Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Mengusahakan amalan agar sesuai sunah Nabi itu lebih utama dari memperbanyak amalan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا“Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala tidak berfirman, ‘yang paling banyak amalannya’.”Semoga Allah menuliskan kita sebagai salah satu hamba-Nya yang dapat bersyukur, mengisi hari-hari kita dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, konsisten di dalamnya dan tidak menunda-nundanya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang lebih mengutamakan kualitas amal daripada kuantitasnya, yaitu beramal dengan ikhlas mengharap rida Allah dan sesuai dengan tuntunan serta petunjuk dari Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُBaca Juga:Khotbah Jumat: Sepenting Apakah Menuntut Ilmu Syar’i dalam Kehidupan Kita?Khotbah Iduladha: Memetik Hikmah dari Haji Wadak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Nikmat Bersyukur, Hewan Haram Dimakan, Bayi Meninggal Menurut Islam, 3 Doa Yang Dikabulkan AllahTags: fikih shalat jumatkhutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatshalat jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Cinta: Antara yang Syar’i, Haram, dan Mubah (Bag. 1)

Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid
Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid


Bismillah wal-hamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du, Daftar Isi sembunyikan 1. Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukan 2. ‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullah 3. Macam-macam orang beriman dalam masalah cinta 4. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahi Dasar setiap amal adalah cinta, baik amalan saleh maupun amalan keburukanSeseorang yang melakukan sebuah amal baik atau buruk dengan sadar dan tanpa paksaan, pastilah ada rasa cinta yang mendasari perbuatannya tersebut, entah mencintai amal itu sendiri ataupun mencintai buah (konsekuensi) dari amal. Syaikhul Islam rahimahullah berkata,محبَّة الله وَرَسُوله من أعظم وَاجِبَات الإيمان وأكبر أصوله وَأجل قَوَاعِده، بل هِيَ أصل كل عمل من أَعمال الْإِيمَان وَالدّين“Mencintai Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban iman yang teragung dan dasar serta pondasi iman yang terbesar. Bahkan, itu adalah dasar setiap amal keimanan dan dasar agama Islam ini.”‘Ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadatullahDasar penghambaan seseorang dan dasar ibadahnya kepada Allah Ta’ala adalah rasa cinta kepada Allah, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah cinta. Oleh karena itu, tidaklah seorang hamba mencintai dengan bentuk cinta ibadah, kecuali cinta kepada Allah semata, dan dia mencintai sesuatu yang dicintai-Nya, ikhlas karena-Nya dan di jalan-Nya. Inilah hakikat ibadah dan rahasia dari ibadah. Ketika penghambaan seseorang kepada Allah berdasarkan cinta kepada-Nya semata, melahirkan kecintaan kepada segala yang dicintai-Nya sehingga mengamalkannya, dan melahirkan kebencian kepada segala yang dibenci-Nya sehingga meninggalkannya.Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah,لا ريب أن كمال العبودية تابع لكمال المحبة ، وكمال المحبة تابع لكمال المحبوب في نفسه ، والله سبحانه له الكمال المطلق التام في كل وجه ، الذي لا يعتريه توهم نقص أصلا ، ومَن هذا شأنه فإن القلوب لا يكون شيء أحب إليها منه ، ما دامت فطرها وعقولها سليمة ، وإذا كانت أحب الأشياء إليها فلا محالة أن محبته توجب عبوديته وطاعته ، وتتبع مرضاته واستفراغ الجهد في التعبد له ، والإنابة إليه“Tidak diragukan lagi, bahwa kesempurnaan peribadahan mengikuti kesempurnaan cinta. Dan kesempurnaan cinta mengikuti kesempurnaan sesuatu yang dicintainya. Dan Allah Subhanahu memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala segala sisi yang tidak terkotori dengan sangkaan kekurangsempurnaan sama sekali. Oleh karena itulah, apabila fitrah itu lurus dan akal juga sehat, maka tidak ada sesuatu yang paling dicintai oleh hati manusia melebihi mencintai-Nya. Dan jika demikian halnya, maka kecintaan kepada-Nya mengharuskan ia menyembah-Nya, taat kepada-Nya, mengikuti keridaan-Nya, dan mengerahkan segala daya upaya dalam beribadah menghamba kepada-Nya, serta dalam kembali kepada-Nya.”Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,فمحبة الله ورسوله وعباده المتقين تقتضي فعل محبوباته وترك مكروهاته“Maka kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa bekonsekuensi melakukan perkara yang dicintai-Nya dan meninggalkan perkara yang dibenci-Nya.”Cinta kepada Allah itu membuahkan cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, serta cinta kepada segala perkara yang dicintai Allah. Hal ini akan menuntut melaksanakan segala yang dicintai-Nya dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya.Macam-macam orang beriman dalam masalah cintaDalam masalah cinta, orang yang beriman itu terbagi menjadi tiga golongan:PertamaGolongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan amalan sunah, serta meninggalkan keharaman dan kemakruhan, serta meninggalkan sebagian yang halal. Ini adalah golongan para rasul dan nabi ‘alaihimush shalatu was-salamu, serta orang-orang yang sempurna keimanannya dari “sabiqun bil khairat”.KeduaGolongan yang tengah-tengah cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman dengan meninggalkan syirik dan setingkatnya, bid’ah, dan maksiat. Ini adalah golongan “muqtashid”, golongan pada umumnya orang-orang saleh.KetigaGolongan yang teledor dan kurang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala, yaitu golongan yang teledor dalam melaksanakan kewajiban dan melakukan keharaman. Ini adalah golongan orang yang menzalimi diri sendiri (zholimun linafsih) dan golongan pelaku maksiat yang mengikuti hawa nafsu dari kaum muslimin. [1]Tiga golongan ini, yakni (1) Sabiqun bil khairat (orang yang lebih dahulu dalam kebaikan), yaitu golongan yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala; (2) muqtashid (orang yang pertengahan), yaitu golongan yang pertengahan cintanya kepada Allah Ta’ala); dan (3) zholimun linafsih (orang yang menzalimi diri sendiri), yaitu golongan yang kurang cintanya kepada Allah Ta’ala, telah disebutkan dalam surah Fathir ayat 32.Karena ‘ibadatullah terbangun atas dasar cinta kepada Allah, bahkan cinta kepada Allah adalah hakikat ibadah, sedangkan cinta kepada Allah mendorong seseorang melaksanakan segala perkara yang dicintai-Nya. Pantas saja ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikan ibadah, bahwa ditinjau dari sisi zatnya, ibadah adalah setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala. Dalam kitab beliau Al-‘Ubudiyyah, beliau mengatakan,الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zahir (anggota tubuh yang nampak).”Dalam definisi ini mengandung makna bahwa ‘ibadatullah itu adalah segala perkara yang dicintai dan diridai oleh Allah Ta’ala, baik berupa cinta kepada Allah maupun tuntutannya, yaitu cinta kepada segala yang dicintai-Nya dan pelaksanaan konsekuensinya. Kandungan dan dasar ibadah itu adalah puncak cinta dan puncak perendahan diri (puncak pengagungan) kepada yang disembah/ diibadahiIbnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,العبادة تجمع أصلين: غاية الحب بغاية الذل والخضوع“Ibadah itu menggabungkan dua dasar, yaitu: puncak kecintaan dan puncak perendahan diri dan ketundukan.”Puncak cinta ini membuahkan pelaksanaan perintah dari yang dicintai dan disembah. Sedangkan puncak perendahan diri itu membuahkan sikap menghindari larangan yang diagungkan (yang disembah). Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin,فمن أحببته ولم تكن خاضعا له لم تكن عابدا له، ومن خضعت له بلا محبة لم تكن عابدا له، حتى تكون محبا خاضعا“Barangsiapa yang anda cintai, namun anda tidak tunduk kepadanya, maka anda bukan menghamba kepadanya. Dan barangsiapa yang anda tunduk kepadanya tanpa cinta, maka anda bukan menghamba kepadanya. Barulah anda dikatakan menghamba kepadanya sampai anda mencintainya dan tunduk kepadanya.”Oleh karena itu, Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ibadah ditinjau dari sisi perbuatan hamba sebagai berikut,التذلل لله – عز وجل – بفعل أوامره واجتناب نواهيه؛ محبة وتعظيماً“Merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, didasari cinta dan pengagungan.”[Bersambung]***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: www.muslim.or.id Catatan kaki:[1] http://iswy.co/e12isr🔍 Artikel Islam, Hukum Membaca Yasin Fadhilah, Istiqomah Dalam Kebaikan, Keseharian Rasulullah, Dunia Fana AdalahTags: adabadab IslamAkhlakAqidahaqidah islambentuk cintacintacinta yang haramcinta yang mubahcinta yang syar'ifikih cintanasihatnasihat islamTauhid

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Musim Semi Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Anda, wahai para pengemban al-Qur’an, Anda perlu untuk mendatangi al-Qur’an. Benar, wahai Saudara-saudara, untuk menyirami kegalauan, apa? Kegalauan hati Anda. Inilah kenapa Allah menyamakan al-Qur’an dengan hujan dalam beberapa ayat. Allah berfirman: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras, dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16) Bagaimana ayat setelahnya, Saudara-saudara? “Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS. Al-Hadid: 17) Apa hubungan antara menghidupkan bumi dengan al-Qur’an yang mulia, dan antara ayat-ayat dalam al-Quran dengan hidup Anda? Saudara-saudara, ini adalah metode tafsir. Lihat apa sebelumnya, dan konteks apa yang ada sebelum dan sesudahnya. Apa hubungan antara suburnya kembali bumi setelah tandus dan al-Qur’an serta hati mereka yang khusyuk? Kita punya al-Qur’an, hati, hujan, dan bumi, apa hubungannya? Ini adalah penyerupaan, wahai Saudara-saudara, yang oleh para ahli bahasa disebut dengan Tasybīh Ḍimnī (simile implisit), di mana Tuhan kita ʿAzza wa Jalla menyerupakan antara datangnya al-Qur’an ke dalam hati dan pengaruhnya terhadap hati dengan turunnya hujan di atas tanah yang tandus dan pengaruhnya terhadap tanah tersebut. Itulah mengapa salah satu sifat al-Qur’an yang tersebut dalam doa yang Maʾtsūr “… (Ya Allah) jadikanlah al-Qur’an yang agung sebagai …” apa? “… musim semi hati kami.” Saudara-saudara, sisi keserupaan antara al-Quran dengan musim semi, bahwa musim semi memiliki dua ciri khas, apakah itu? Maksudnya musim semi secara hakikatnya. Pertama, cuacanya yang sedang. sejuk cuacanya, dengan kehendak Allah, cuacanya sedang, tidak dingin atau panas. Kedua, adanya tetumbuhan, bunga-bunga, pepohonan, burung-burung, dan hal-hal indah lainnya di musim itu. Begitulah al-Qur’an yang menjadi musim semi bagi hati, karena memberikan dalam hati rasa lapang, tenang, dan tentram. “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Wahai Saudara-saudara, juga karena al-Qur’an akan menyemai dalam hati dan menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan keyakinan, dan juga bermacam-macam ilmu dan pengetahuan. Inilah sebabnya al-Qur’an diserupakan dengan hujan, sebagaimana dalam ayat ini. Salah seorang guru kami—semoga Allah merahmatinya—bercerita kepadaku, dia mengatakan bahwa di negerinya ada seorang non-muslim, dia orang Nasrani yang ketika itu sedang bimbang hidup di tengah masyarakatnya, tinggal di negerinya atau di salah satu negara Nasrani. Pada suatu hari—beliau menceritakannya dengan menyebut namanya— dia singgah lalu naik taksi. Sopir taksi itu memutar qari yang melantunkan al-Qur’an dari siaran radio atau rekaman, karena ini cerita lama, Saudara-saudara. Lalu, dia mendengarkan firman Allah Jalla wa ʿAlā: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwa ada sekumpulan jin yang menyimak (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun.’” (QS. Al-Jin: 1 – 2) Orang ini termasuk pendakwah kepada agamanya, seorang pendeta atau apalah namanya. Ayat ini membuatnya merenung, dan dia berkata, “Jin itu berkata bahwa al-Qur’an seperti itu, sedangkan kita anak manusia bahkan tidak mau mendengarkannya?” Lalu dia berkata, “Setelah kejadian itu Allah menganugerahiku hidayah lalu aku masuk Islam.” Sebabnya apa, Saudara-saudara? Demi Allah, satu ayat bisa mengubah kehidupan manusia, Saudara-saudara. Hidup seseorang bisa berubah karena satu ayat dalam kitab Allah ʿAzza wa Jalla, jika kita membaca al-Qur’an, merenungkan dan menadaburkannya. Karena beda antara nasihat dari seorang manusia yang dia buat sendiri, dengan nasihat yang datang dari Tuhan seluruh manusia. Dua hal ini berbeda, wahai Saudara-saudara. Maka beri hati Anda nasihat dari al-Qur’an, karena itu adalah nasihat yang paling agung. “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57) “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) … bergembira … wahai Saudara-saudara. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58) ==== وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ الْقُرْآنِ تَحْتَاجُ أَنْ تَرِدَ علَى الْقُرْآنِ نَعَمْ لِتُرْوِيَ غَمَّاءَ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ غَمَّاءَ قَلْبِكَ وَلِهَذَا شَبَّهَ اللهُ الْقُرْآنَ بِالْمَطَرِ فِي آيَاتٍ فَقَالَ: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ أَيشْ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ؟ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا مَا عَلَاقَةُ حَيَاةِ الْأَرْضِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ الْآيَاتُ فيِ الْقُرْآنِ بِحَيَاتِكَ؟ فَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ طَرِيقَةُ التَّفْسِيرِ انْظُرْ إِلَى مَا قَبْلَهَا وَالسِّيَاقُ الَّذِي قَبْلَهَا وَالَّذِي بَعْدَهَا مَا الْعَلَاقَةُ بَيْنَ إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا وَالْقُرْآنُ وَأَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ؟ لَدَيْنَا الْقُرْآنُ وَالْقُلُوبُ وَلَدَيْنَا الْمَطَرُ وَالْأَرْضُ أَيشْ الْعَلَاقَةُ؟ فِيهِ تَشْبِيهٌ يَا إِخْوَانُ مَا يُسَمِّيهِ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ التَّشْبِيهَ الضِّمْنِيَّ حَيْثُ شَبَّهَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وُرُودَ الْقُرْآنِ عَلَى الْقُلُوبِ وَتَأْثِيرَهُ فِيهَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ عَلَى الْأَرْضِ الْمُجْذِبَةِ وَتَأْثِيرِهِ فِيهِ وَلِهَذَا كَانَ مِنْ أَوْصَافِ الْقُرْآنِ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ… أَيشْ؟ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَجْهُ تَشْبيْهِ الْقُرْآنِ بِالرَّبِيعِ يَا إِخْوَانُ فَفَصْلُ الرَّبِيعِ يَتَّسِمُ بِصِفَتَيْنِ مَا هُمَا؟ الرَّبِيعُ الْحَقِيقِيُّ يَعْنِي الرَّبِيعُ… أَوَّلًا اعْتِدَالُ الْجَوِّ اعْتِدَالُ الْجَوِّ الْجَوُّ مُعْتَدِلٌ مَا شَاءَ اللهُ لَا بَارِدَ وَلَا حَارَّ الْاِثْنَيْنِ النَّبَاتَاتُ وَالْأَزْهَارُ وَالْأَشْجَارُ وَالْأَطْيَارُ وَالْأَشْيَاءُ الْجَمِيلَةُ فِيهِ فَهَكَذَا الْقُرْآنُ رَبِيعُ الْقُلُوبِ مَا يُورِثُهُ فِي الْقَلْبِ مِنْ رَاحَةٍ وَسَكِينَةٍ وَطُمَأْنِينَةٍ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ يَا إِخْوَانُ وَمَا يُنْبِتُهُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ مَعَانِي الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ وَأَنْوَاعِ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ أَيْضًا وَلِهَذَا شُبِّهَ بِالْغَيْثِ كَمَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ يَذْكُرُ لِي أَحَدُ أَسَاتِذَتِنَا يَرْحَمُهُ اللهُ يَقُولُ: كَانَ فِي بِلَادِهِ رَجُلٌ غَيْرُ مُسْلِمٍ نَصْرَانِيٌّ وَكَانَ لَمَّا كَانَ عِنْدَ قَوْمِهِ وَكَانَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ بَلَدِهِ وَبَيْنَ إِحْدَى بِلَادِ النَّصَارَى فَالْيَوْمُ مِنَ الْأَيَّامِ ذَكَرَهُ بِاسْمِهِ نَزَلَ وَرَكِبَ تَكْسِي سَيَّارَةً وَكَانَ مَعَ صَاحِبِ السَّيَّارَةِ الْأُجْرَةِ قَارِئٌ يَقْرَأُ فِي إِذَاعَةٍ وَتَسْجِيلٍ كَانَ ذَاكَ قَدِيمًا يَا إِخْوَانُ قَالَ فَمَرَّ عَلَى قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ اُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا الرَّجُلُ يَعْنِي مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى دِينِهِ قِسِّيسٌ أَوْ لَمَا كَانَ فَاسْتَوْقَفَتْهُ الْآيَةُ وَقَالَ: هَؤُلَاءِ الْجِنُّ يَقُولُونَ أَنَّ الْقُرْآنَ هَكَذَا وَنَحْنُ بَنِي الْبَشَرِ لَا نُرِيدُ أَنْ نَسْمَعَ حَتَّى قَالَ: فَمَا هُوَ إِلَّا مَنَّ اللهُ عَلَيَّ بِالْهِدَايَةِ وَأَسْلَمْتُ بِسَبَبِ أَيشْ يَا إِخْوَانُ؟ واللهِ آيَةٌ تُغَيِّرُ حَيَاةَ الْبَشَرِ يَا إِخْوَانُ تُغَيِّرُ حَيَاةَ بَشَرٍ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَوْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ وَتَأَمَّلْنَا فِيهِ وَتَدَبَّرْنَاهُ فَرْقٌ بَيْنَ مَوْعِظَةٍ يَكُونُ مِنْ وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ صَادِرَةٌ عَنْهُ وَبَيْنَ مَوْعِظَةٍ تَأْتِي مِنْ رَبِّ النَّاسِ شَتَّانَ بَيْنَ هَذِهِ وَهَذِهِ يَا إِخْوَانُ فَعِظُوا قُلُوبَكُمْ فِي الْقُرْآنِ فَهُوَ أَعْظَمُ مَوْعِظَةٍ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ فَلْيَفْرَحُوْا يَا إِخْوَانُ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28


Jika Nasrani Menanyakan Dalil – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Dia berkata, “Ini tentang tafsir surah al-Fatihah, Anda menyebutkan bahwa makna “ghoiril maghdhuubi ‘alaihim” (bukan orang yang dimurkai), mereka adalah Yahudi dan “waladh-dhoollin” (bukan pula orang yang sesat), mereka adalah Nasrani. Seorang Nasrani bertanya kepadaku, “Apa dalil Anda bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Orang Nasrani tidak mau menerima agama Anda (Islam), lantas bagaimana dia akan menerima dalil Anda?! Jangan sia-siakan diri Anda! Perhatikan diri Anda sendiri dan pelajarilah agama Anda! ===== يَقُولُ هَذَا فِي تَفْسِيرِ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ ذَكَرْتُمْ أَنَّ مَعْنَى غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ هُمُ الْيَهُودُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ – هُمُ النَّصَارَى سَأََلَنِي نَصْرَانِيٌّ وَمَا الدَّليلُ عِنْدَكُمْ عَلَى أَنَّ الْمَعْنَى الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ هُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ كَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ النَّصْرَانِيُّ مَا قَبِلَ دِينَكَ فَكَيْفَ يَقْبَلُ دَلِيلَكَ؟ فَلَا تُضَيِّعُ نَفْسَكَ فَاحْرِصْ عَلَى نَفْسِكَ أَنْتَ وَتَعَلَّمْ دِينَكَ KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28
Prev     Next