Sembuh Sakit karena Bersedekah

Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 QRIS donasi Yufid

Sembuh Sakit karena Bersedekah

Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 QRIS donasi Yufid
Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1353212983&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Sembuh Sakit karena Bersedekah Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh Ustadz. Saya beberapa kali mendengar cerita orang sakit setelah berobat kemana-mana buntu, kemudian dengan sedekah tiba-tiba ada keajaiban dia bisa sembuh. Apa benar ada hadisnya ya Ustadz? Mohon penjelasannya nggih. Terimakasih pak Ustadz. Jawaban: Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Islam memerintahkan kita untuk berikhtiar mencari obat dari penyakit yang diderita. Semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua atau kematian. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, تداووا عباد الله فإن الله تعالى لم يضع داء إلا وضع له دواء غير داء واحد: الهرم “Berobatlah hai para hamba Allah. Sungguh Allah ta’ala tidaklah ciptakan penyakit melainkan Allah ciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dan obat penyakit tidak selamanya berupa obat-obat jasmani, seperti herbal, medis, dll. Ada jenis obat yang secara kasat mata tidak berkaitan dengan jasmani, namun ia adalah obat yang sangat manjur bisa mengungguli semua obat medis, herbal, dan yang sejenisnya. Karena Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesembuhan penyakit ada keterkaitan erat dengan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan (aqidah) dan tawakal yang baik. Allah berfirman, وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80) Pesan ini yang tidak boleh luput dari setiap muslim yang sakit. Bahwa dokter dan segala upaya pengobatan medis atau herbal, hanyalah sarana ikhtiar untuk mengikuti sunnatullah yang Allah tetapkan di bumi ini. Namun yang menentukan kesembuhan, bukan ikhtiar kita, tapi Allah Tuhan alam semesta yang mampu menyembuhkan. Salah satu ikhtiar berobat yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berobat melalui sedekah. Disebutkan di dalam hadis dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit -semoga Allah meridhoi keduanya-, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, وداوُوا مرضاكم بالصدقة “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai Hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ dan Shahih At Targhib) Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadis ini, فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه “Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala’ (termasuk penyakit). Bahkan sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, dzolim, bahkan orang kafir sekalipun, melalui sedekah yang mereka lakukan Allah angkat bala’. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al Fiqh, 3/7) Jika ahli maksiat atau bahkan orang kafir sekalipun, sedekah untuk menolak bala’ atau menyembuhkan penyakit, itu bisa Allah kabulkan, terlebih jika yang melakukan adalah seorang muslim yang bertauhid dan taat kepada agama. Hadis tentang khasiat sedekah dapat menyembuhkan penyakit di atas kebenarannya dikuatkan oleh keterangan berikut. Pertama, banyak hadis shahih menerangkan bahwa sedekah dapat menolak bala’. Di antaranya yang paling shahih adalah hadis yang tertulis di Shahih Bukhari dan Muslim tentang sholat gerhana (kusuf), فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, sholat dan bersedekahlah. Ibnu Daqiq Al-‘id rahimahullah, وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور “Hadis ini dalil anjuran bersedekah di saat dalam susana menakutkan, untuk menolak bala’ yang dikhawatirkan.” Kedua, sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam hadis, إن الصدقة لتطفئ غضب الرب وتدفع ميتة السوء  “Sesungguhnya sedekah dapat meredam kemarahan Tuhan dan mencegah kematian yang buruk.” Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di Jami’ As-Shahih, pada bab zakat, nomor hadis 644. Beliau menilai bahwa hadis ini derajatnya hasan gharib. Demikian pula Imam Thabrani di dalam Mu’jam Al-Kabir nomor 1018 dan 8014 menilai sanad hadis ini hasan. Dan sejumlah ulama hadis lainnya juga menilainya hasan. Kesimpulan status hasan-nya hadis ini diamini oleh lembaga fatwa Lajnah Da-imah (KSA), فالحديث روي بطرق متعددة بنحو اللفظ المذكور مطولاً ومختصرًا عن عبد الله بن جعفر وأبي سعيد الخدري وعبد الله بن عباس وعمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود وأبي أمامة وأنس بن مالك ومعاوية بن حيدة ، وهي طرق لا تخلو من ضعف كما ذكره أئمة الحديث، لكن الحديث له شواهد تقويه وكثرة طرقه تجعله لا يقل عن مرتبة الحسن لغيره. “Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur sanad, ada yang dengan redaksi panjang ada yang ringkas. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudriy, Abdullah bin Abbas, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah, Anas bin Malik, dan Muawiyah bin Haidah. Semua sanad tersebut tidak terhindar dhoif, sebagaimana keterangan para Imam hadis. Namun hadis ini memiliki riwayat penguat dan banyak sanadnya, sehingga statusnya dari lemah naik menjadi hasan lighoirihi.” (Fatawa Lajnah Da-imah no. 18860) Makna hadis di atas adalah, sedekah dapat menghapus dosa. Di antara penyebab datangnya musibah adalah karena dosa kita. Melalui musibah Allah ingin menghapus dosa kita. Allah berfirman, وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ Musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30) Maka dengan sedekah, dosa dapat terhapus sehingga akan meringankan musibah bahkan menghilangkan dengan izin Allah. Ketiga, salah satu sebab doa menjadi mustajab adalah ketika diiringi tawassul dengan amal shalih, di antaranya seperti sedekah. Dalilnya adalah hadis yang mengisahkan tentang tiga orang yang terkunci di dalam gua. Lalu ketiganya berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Ada yang bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tua. Ada yang bertawasul dengan takwanya saat diajak berzina oleh wanita cantik. Ada yang bertawasul dengan amanahnya mengelola harta orang lain. Kemudian Allah pun kabulkan doa mereka. Selengkapnya hadis tentang tiga orang yang terkunci di dalam goa, bisa anda baca di sini: https://rumaysho.com/3390-kisah-tiga-orang-yang-tertutup-batu-dalam-goa.html Meniatkan sedekah agar Allah memberikan kesembuhan, adalah bentuk tawasul dengan amal shalih. Agar Sedekah Manjur Menyembuhkan Penyakit -dengan izin Allah- Beberapa hal berikut wajib dilakukan agar sedekah benar-benar berkhasiat menyembuhkan penyakit: Lakukan dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Karena sedekah adalah ibadah yang agung nilai pahalanya, maka agar sedekah dapat berbuah maksimal harus disertai keikhlasan yang tinggi dan tentu saja memperhatikan tutunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam pelaksanaannya. Layaknya syarat yang berlaku pada semua ibadah. Sedekahlah dengan harta yang baik dan anda cintai. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “Allah itu maha baik, dan Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang baik-baik saja.” Disertai rasa yakin dan pasrah kepada Allah, bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة، واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه “Berdoalah dalam keadaan anda yakin Allah akan kabulkan doa anda. Ingat, Allah itu tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi) Hindari keinginan tergesa-gesa minta dikabulkan. Karena prasangka seperti itu dapat menghalangi terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, يُسْتجَابُ لأَحَدِكُم مَا لَم يعْجلْ: يقُولُ قَد دَعوتُ رَبِّي، فَلم يسْتَجبْ لِي. متفقٌ عَلَيْهِ. “Doa kalian akan dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa, seperti orang mengatakan, “Aku berdoa terus, tapi kok Tuhan tidak mengabulkan?!” (Muttafaqun ‘alaih) Tepat sasaran. Sebuah pemberian bernilai sedekah ketika diberikan kepada fakir miskin dengan tujuan membantu mereka memenuhi kebutuhan. Adapun jika diberikan kepada orang yang berkecukupan, maka pemberian menjadi bernilai hadiah. Karena hadiah adalah pemberian kepada orang kaya dan miskin dengan niat bukan memenuhi kebutuhan tapi pemuliaan. (Lihat: Syarah Al Mumti’ Ibnu ‘Utsaimin, 7/481) Wallahu a’lam bish shawab. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Suami Menyuruh Istri Mencari Lelaki Lain, Shalat Raghaib, Dalil Shalat Hajat, Kapan Makmum Membaca Al Fatihah, Pasrah Kepada Allah Tentang Jodoh, Asal Usul Syekh Siti Jenar Visited 238 times, 1 visit(s) today Post Views: 282 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya

Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal

Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya

Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal
Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal


Bagaimanakah pensyariatan zakat dalam Islam? Apakah sekaligus langsung ataukah secara bertahap?   Daftar Isi tutup 1. Sejarah Pensyariatan Zakat 2. Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat 2.1. Referensi: 2.2. Silakan unduh buku: Sejarah Pensyariatan Zakat Zakat sebenarnya ibadah yang sudah dikenal dari wahyu-wahyu langit sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman, وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 73). Allah berbicara mengenai perkataan Nabi Isa ketika ia masih dalam buaian, وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا “dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31). Baca juga: Nabi Isa Juga Seorang Muslim Zakat dalam Islam ada dua tahapan yaitu fase Makkah dan Madinah. Fase Makkah telah membicarakan tentang zakat seperti pada ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.” (QS. Al-Muzammil: 20). وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ , الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fussilat: 6-7). Ayat-ayat di atas membicarakan tentang zakat dengan syariat yang umum, belum dijelaskan mengenai kewajiban atau batasan harta yang wajib dikeluarkan, hingga siapa yang berhak diberikan zakat. Baca juga: Panduan Singkat Zakat Maal dan Zakat Fitrah Fase Madinah lebih menjelaskan mengenai batasannya yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Pada bulan Syawal turun pensyariatan zakat dan tata caranya dijelaskan dalam hadits, lalu dijadikan sebagai rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11). Baca juga: Tata Cara Bayar Zakat Fitrah Secara Lengkap dan Mudah Lalu Al-Qur’an menjelaskan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah ayat 60. Baca juga: Golongan Penerima Zakat   Pelajaran dari Sejarah Pensyariatan Zakat   Pertama: Sebagaimana puasa, zakat disyariatkan secara bertahap, tidak diwajibkan sekaligus dengan aturan-aturannya. Kedua: Zakat merupakan wujud dari rasa kemanusiaan dan manifestasi dari kesempurnaan dan ketinggian akhlak. Islam menerapkannya dengan mewajibkan zakat. Allah Ta’ala berfirman, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Doakanlah kebaikan untuk mereka, yaitu kepada kaum mukminin secara umum, juga secara khusus kepada yang mengeluarkan zakat dari harta mereka kepadamu. Karena doa tersebut adalah ketenangan untuk hati mereka dan memberikan kabar gembira untuk mereka. Allah itu Maha Mendengar doa baikmu dan Allah yang mengabulkannya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 363) Ketiga: Zakat berfungsi untuk menolong orang-orang fakir dan membantu orang-orang yang membutuhkan sebagai wujud dari rasa persaudaraan, realisasi dari akhlak yang terpuji, dan untuk menghilangkan rasa hasad dan buruk sangka dari orang-orang miskin. Pastinya jika orang kaya menunaikan zakat, orang-orang miskin akan mendoakan baik kepada mereka agar mendapatkan berkah dan juga hartanya terus berlimpah. Keempat: Zakat juga berfungsi menghapus dosa-dosa dan menghilangkan dari bala. Allah Ta’ala berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156). Kelima: Menunaikan zakat merupakan wujud dari syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat lahir dan batin. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7) Keenam: Zakat juga berfungsi sebagai sarana untuk berdakwah. Allah telah menjadikan muallaf sebagai orang yang berhak menerima zakat, dengan tujuan untuk membujuk hati mereka kepada Islam dan agar keimanan mereka semakin kuat kepada Allah. Baca juga: 13 Keutamaan Menunaikan Zakat   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Mulakhash Ahkam Az-Zakaah. Muhammad Faruq Asy-Syaikh. Eslah Khairia. (PDF)   Silakan unduh buku: Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer – @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara bayar zakat faedah sirah faedah sirah nabi sejarah pensyariatan zakat sejarah zakat yang berhak menerima zakat Zakat zakat maal

Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)

PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama

Kisah Teladan dari Para Ulama Hebat di Bulan Ramadan (Bag. 1)

PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama
PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama


PendahuluanBismillahSelalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang saleh terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah Ta’ala yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum, mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kita pun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘Azza wa jalla.Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan. Menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana. Sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.Tidak berlebihan apabila sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم“Siapa yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling anti berlebihan dalam tindakan.Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Demi menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, akuilah keutamaan mereka dan ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budi pekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.” (Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).Lebih-lebih, di bulan mulia seperti Ramadan, saat pahala dilipatgandakan lebih daripada bulan-bulan yang lain. Kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Pada artikel yang ringkas ini, akan dipaparkan beberapa ibadah yang sangat istimewa bila mengisi bulan Ramadan kita dan ditambahkan keteladaan ibadah para salaf di bulan Ramadan.Baca Juga: Tangisan Ulama Tersentuh oleh Al-QuranPuasa itu sangat istimewaAllah Ta’ala mengabarkan bahwa kitab suci yang mulia; Al-Quran, diturunkan di bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).Ditambah lagi, banyak keistimewaan yang Allah Ta’ala tetapkan di bulan suci ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, bau mulut orang yang puasa, di sisi Allah Ta’ala itu lebih harum dari kasturi.Kedua, para malaikat mendoakan ampunan untuk orang yang berpuasa hingga tiba waktu berbuka.Ketiga, setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala memperindah surga-Nya, seraya mengatakan,يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المئونة والأذى ثم يصير إليك“Hamba-hambaku yang saleh hampir saja memikul beban berat dan kesusahan. Kemudian mereka menuju kepadamu wahai surga.”Keempat, setan-setan dibelenggu.Kelima, pintu-pintu surga dibuka.Keenam, ada malam lailatul qadr yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang tak beruntung bertemu dengan malam itu, sungguh dia telah terhalang dari kebaikan yang dahsyat.Ketujuh, orang-orang yang puasa mendapatkan ampunan di malam akhir Ramadan.Kedelapan, setiap malam puasa, Allah Ta’ala membebaskan orang-orang yang akan masuk neraka.Mengingat keistimewaan Ramadan yang demikian dahsyat, kira-kira bagaimana sikap yang tepat dalam menyambutnya? Apakah pantas direspon dengan aktivitas tak bermanfaat, bahkan mengandung dosa? Atau begadang bukan untuk amal kebaikan dan bermalas-malasan? Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap-sikap buruk itu.Hamba yang saleh akan menyambut Ramadan dengan taubat yang jujur dan tulus. Selain itu, diiringi tekad yang kuat untuk mengisinya dengan amal-amal saleh. Seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi pertolongan untuk bisa beribadah dengan baik.Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Ibadah puasaRasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كل عمل بن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، يقول عز: إلا الصيام فانه لي و أنا أجزى به ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلى للصائم فرحتان فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه و لخلوف فمالصائم أطيب عند الله من ريح المسك الصيام جنة فإذا كان صوم يوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب فان سابه أحد أو قاتله فليقل إني صائم“Seluruh amal baik anak Adam pahalanya akan dilipatkan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Kata Allah, sungguh puasa itu untuk-Ku. Aku memberi ganjaran puasa. Karena orang yang puasa telah meninggalkan syahawatnya, makanan, dan minumannya. Orang yang puasa mendapatkan dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa Rabbnya. Dan bau mulut orang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR. Bukhari dan Muslim).Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Siapa yang melakukan puasa Ramadan karena motif keimanan dan harapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).Namun ingat, bahwa pahala besar di atas tidak cukup diraih hanya dengan tidak makan tidak minum saja. Akan tetapi, harus disertai pengamalan terhadap pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhari).Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,الصوم جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يفسق ولا يجهل، فإن سابّه أحد فليقل: إني امرؤ صائم“Puasa adalah perisai. Jika kalian sedang puasa janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, jangan berbuat bodoh (dosa). Bila ada yang menghinanya, responlah dengan ucapan ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).Memperbanyak salat malamNabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه”Barang siapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).Al-Qur’an juga mengandung motivasi salat malam. Allah Ta’ala berfirman,وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ‎﴿٦٣﴾‏ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).Melakukan salat malam adalah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ibnunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berpesan,لا تدع قيام الليل فإن رسول الله كان لا يدعه وكان إذا مرض أو كسل صلى راقدا“Jangan kalian tinggalkan salat malam. Karena Rasulullah tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika beliau sakit atau sedang tidak fit, beliau salat malam dengan duduk.”Umar bin Khotob Radhiyallahu ’anhu menghidupkan malam Ramadan dengan salat sampai batas akhir kemampuan beliau. Kemudian bila telah tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan solat. Saat membangunkan, biasanya Umar berkata,“Salat… salat…“Baca Juga:Doa Sepanjang RamadhanHukum Tadarusan di Bulan RamadhanSeraya membaca ayat,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Taha: 132).Suatu hari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca ayat,أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az Zumar: 9).Kata Ibnu Umar, yang dimaksud ayat ini adalah Ustman bin ‘Affan Radhiyallahu ’anhu. Kemudian Ibnu Abi Hatim menerangkan ucapan Ibnu Umar,وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan salat malam dan banyak membaca Al-Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu rakaat.”Kemudian kisah tentang salat malamnya sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu yang diceritakan oleh Alqamah bin Qais,بت مع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ليلة فقام أول الليل، ثم قام يصلي فكان يقرأ قرائة الإمام في مسجد حيه يرتل ولا يراجع، يسمع من حوله ولا يرجع صوته حتى لم يبق من الغلس إلا كما بين أذان المغرب إلى الانصراف منها ثم أوتر“Aku pernah menginap bersama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu. Di awal malam beliau salat. Beliau membaca ayat-ayat yang dibaca imam masjid kampung beliau. Beliau membaca dengan tartil dan pada rakaat berikutnya, beliau tidak mengulang kembali ayat yang beliau baca. Orang-orang yang berada di sekitar beliau malam itu mendengar bacaan beliau. Beliau terus salat hingga malam hanya tersisa sedikit, seukuran jarak waktu antara azan magrib sampai selesai salat magrib. Lalu beliau menutup salat malam dengan witir.”Di dalam hadis dari sahabat Said bin Zaid diceritakan, ”Imam salat malam (di masa sahabat, pent.) membaca ratusan ayat. Hingga kami para makmum harus bertumpu pada tongkat karena saking lamanya salat.” Beliau menambahkan, “Para sahabat Nabi biasanya tidak selesai salat malam kecuali di saat waktu subuh tiba.” Catatan penting:Diusahakan mengikuti salat tarawih bersama imam sampai selesai. Agar mendapat pahala seperti orang-orang yang rajin salat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,من قام  مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة“Siapa yang salat Tarawih bersama imam, maka akan dicatat untuknya salat malam satu malam penuh” (HR. Ahlus Sunan).[Bersambung]Baca Juga: ***Penulis: Ahmad Anshori, Lc.Artikel: Muslim.or.id🔍 Qonaah, Gambar Allah Dan Muhammad, Contoh Bacaan Tasbih, Dimanakah Dajjal Bersembunyi, Hadits At TirmidziTags: bulan ramadhanfikih bulan ramadhankeutamaan bulan ramadhankisah ulamamotibasinasihatnasihat islamnasihat ulamateladan ulamaulama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  
Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  


Rahasia Berkahnya Sahur – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Ya, ini adalah hadis Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari) Saẖūr adalah makanan, yang dimakan. Adapun Suẖūr—dengan Ḍammah—adalah perbuatannya, seperti Waḍūʾ dan Wuḍūʾ. Waḍūʾ adalah air yang dipakai untuk wudu, dengan dibawa dalam sebuah wadah yang berisi Waḍūʾ atau air. Adapun Wuḍūʾ adalah perbuatannya. Jadi, sahur yang dikabarkan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam terdapat keberkahan adalah makanan sahur, makanan sahurnya. Baiklah. Sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah, …” artinya makanlah makanan sahur. Kita ambil dua faedah dari kalimat ini: Pertama, disunahkannya makan sahur. Ini sangat jelas dan gamblang, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan perintah di sini adalah perintah yang sifatnya sunah. Dalil yang menunjukkan bahwa ini adalah perintah sunah, karena beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasanya (Wishāl). Namun beliau melarang puasa Wishāl. Beliau telah melarangnya. Sehingga, perbuatan Wishāl beliau Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa sahur tidaklah wajib. Namun, puasa Wishāl dilarang oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dengan yang lainnya. Faedah kedua, kita bisa mengetahui kapan waktu makan sahur, bahwa waktu sahur dalam bahasa Arab bermakna separuh malam yang terakhir. Oleh sebab itu, para ulama mengatakan bahwa makanan yang dimakan setelah berlalunya separuh malam disebut makanan sahur. Maka, waktu makan sahur adalah setelah separuh malam. Adapun sebelum berlalu separuh malam, maka tidak disebut sahur. Adapun sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “… karena dalam makanan sahur ada keberkahan.” artinya bahwa dalam makanan sahur terdapat keberkahan, karena keberkahan artinya sesuatu yang sedikit namun berkembang dan diambil manfaatnya secara sempurna. Sudah diketahui bahwa seseorang jika makan, kemudian berhenti makan, maka apa yang dia makan paling akhir akan menjadi tenaga bagi tubuhnya, dan menetap di dalamnya. Jika dia makan sesuatu, kemudian memakan sesuatu yang lain, maka makanan yang pertama bisa saja hilang, dan yang kedua yang tersisa, sehingga apa yang dia makan terakhir, itulah yang akan tetap ada. Inilah yang lebih tepat dalam memaknai keberkahan di sini, bahwa yang berkah adalah makanannya, karena beliau bersabda, “… Saẖūr…” yaitu dalam makanannya. Oleh sebab itulah, Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar bersahur dengan dua perkara: (1) beliau mewasiatkan agar bersahur dengan kurma, (2) dan menyuruh agar bersahur dengan tegukan air putih, karena dua perkara ini adalah beberapa di antara asupan yang mana tubuh sangat bergantung kepada manfaat-manfaat dari keduanya. Oleh sebab itu, Imam an-Nawawi menguatkan pendapat bahwa keberkahan terdapat pada makanannya saja, bukan pada perbuatannya, melainkan pada makanannya, agar bisa menguatkan badan untuk beribadah. ================================================================================ نَعَمْ هَذَا حَدِيثُ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً السَّحُورُ هُوَ الطَّعَامُ الَّذِي يُؤْكَلُ وَأَمَّا السُّحُورُ بِالضَّمِّ فَهُوَ الْفِعْلُ مِثْلُ الْوَضُوءِ وَالْوُضُوءِ الْوَضُوءُ الْمَاءُ الَّذِي تُوَضَّأَ فَأُوتِيَ بِتَوْرٍ فِيهِ مَاءٌ فِيهِ الْوَضُوءُ وَأَمَّا الْوُضُوءُ فَإِنَّهُ الْفِعْلُ فَالسَّحُورُ الَّذِي جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ بَرَكَةٌ هُوَ طَعَامُ السَّحُورِ طَعَامُ السَّحُورِ طَيِّبٌ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا أَيْ كُلُوا أَكْلَةَ السَّحَرِ نَسْتَفِيدُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ أَمْرَانِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ اسْتِحْبَابُ السَّحُورِ وَهَذَا وَاضِجٌ وَبَيِّنٌ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ وَالْأَمْرُ هُنَا أَمْرُ نَدْبٍ وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ أَمْرُ نَدْبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصِلُ وَلَكِنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ أَنَّهُ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فَفِعْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَصْلِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ لَيْسَ وَاجِبًا لَكِنَّ الْوِصَالَ هُوَ الَّذِي نَهَى عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ مَا عَدَا الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّنَا نَعْرِفُ مَتَى يَكُونُ وَقْتُ أَكْلَةِ السَّحُورِ فَإِنَّ السَّحَرَ يُطْلَقُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ عَلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَخِيرِ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَقُولُونَ إِنَّ كُلَّ أَكْلَةٍ تَكُونُ بَعْدَ نِصْفٍ… بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ تَكُونُ سَحُورًا فَلِذَلِكَ وَقْتُهَا بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ قَبْلَ نِصْفِ اللَّيْلِ لَا يُسَمَّى تَسَحُّرًا وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً أَيْ إِنَّ فِي طَعَامِ السَّحُورِ بَرَكَةً إِذِ الْبَرَكَةُ الشَّيْءُ الْقَلِيلُ يَنْمُو فَتُؤْخَذُ فَائِدَتُهُ كَامِلَةً فَمَعْلُومٌ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا أَكَلَ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ انْقَطَعَ عَنِ الْأَكْلِ فَإِنَّ آخِرَ مَا يَأْكُلُهُ يَكُونُ يَعْنِي… مُغَذِّيًا لِلْجَسَدِ بَاقٍ فِيهِ لَوْ أَكَلَ شَيْئًا ثُمَّ أَكَلَ بَعْدَهُ شَيْئًا آخَرَ الشَّيْءُ الْأَوَّلُ قَدْ يَذْهَبُ الدَّفْعُ الثَّانِي لَهُ لَكِنْ آخِرُ مَا يَأْكُلُ هُوَ الَّذِي يَبْقَى وَهَذَا هُوَ الْأَقْرَبُ فِي مَعْنَى الْبَرَكَةِ هُنَا أَنَّ الْبَرَكَةَ فِي الطَّعَامِ لِأَنَّهُ قَالَ: (فِي) السَّحُورِ = فِي الطَّعَامِ وَلِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى بِأَمْرَيْنِ تَسَحَّرَ بِهِمَا أَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ عَلَى تَمْرٍ وَأَوْصَى بِأَنْ يُتَسَحَّرَ بِجُرْعَةِ الْمَاءِ هَذَانِ الْأَمْرَانِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَا غِنَى لِلْبَدَنِ عَنْهَا فِي فَوَائِدِهَا وَذَلِكَ رَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِي الطَّعَامِ لَيْسَ فِي الْفِعْلِ وَإِنَّمَا فِي الطَّعَامِ لِيَتَقَوَّى بِهَا بَعْدَ ذَلِكَ جَسَدُهُ عَلَى الْعِبَادَةِ  

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  
Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  


Tiga Sumber Kekuatan Agar Semangat Ibadah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun, pada keduanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan kau lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki,’karena ucapan ‘andai saja’ dapat membuka amalan setan.” (HR. Muslim) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita menuju tiga asas agung yang menjadi sumber kekuatan yang sangat kita butuhkan di bulan Ramadan. YANG PERTAMA: adalah bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat. Seseorang hendaklah bersungguh-sungguh di bulan Ramadan dalam hal yang bermanfaat baginya. Dan betapa banyak perkara—bagaikan buih—yang tidak berguna di bulan Ramadan. YANG KEDUA: Hendaklah setiap kita memohon pertolongan kepada Allah dalam memperbaiki ketaatan yang ia kehendaki, dan tidak bersikap lemah dalam menjalankannya. Karena memohon pertolongan kepada Allah dapat memberi kita kekuatan yang besar. DAN YANG KETIGA: Janganlah kita sibuk mencela qadar, serta merasa sedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Namun, hendaklah ia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jika kamu tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,’ akan tetapi katakanlah, ‘Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.’” Tiga asas agung ini termasuk hal paling besar yang seharusnya bersama kita, untuk mempersiapkan diri dalam menambah kekuatan, dalam rangka menyambut Ramadan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan lemah! Dan jika kamu tertimpa sesuatu, jangan katakan, “Andai saja aku tadi lakukan seperti ini, pasti yang terjadi akan seperti ini dan itu,” akan tetapi katakanlah, “Ini telah menjadi ketetapan Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” ============================================================================= فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ فَأَرْشَدَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ عَظِيمَةٍ تُسْتَمَدُّ مِنْهَا الْقُوَّةُ نَحْنُ أَحْوَجُ مَا نَكُونُ إِلَيْهَا فِي رَمَضَانَ أَوَّلُهَا الْحِرْصُ عَلَى مَا يَنْفَعُ أَنْ يَحْرِصَ الْمَرْءُ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُ وَمَا أَكْثَرَ الْغُثَاءَ الَّذِي لَا يَنْفَعُ فِي رَمَضَانَ وَثَانِيهَا أَنْ يَسْتَعِينَ أَحَدُنَا بِاللهِ فِي تَحْسِينِ مَطَالِبِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ وَأَلَّا يَعْجِزَ عَنِ الْقِيَامِ بِهَا فَإِنَّ الِاسْتِعَانَةَ بِاللهِ تُمِدُّ أَحَدَنَا بِقُوَّةٍ عَظِيمَةٍ وَثَالِثُهَا أَلَّا يَشْتَغِلَ أَحَدُنَا بِلَوْمِ الْقَدَرِ وَالتَّأَسُّفِ مُتَحَسِّرًا عَلَى حُصُولِ مَا حَصَلَ بَلْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ وَهَذِهِ الْأُصُولُ الثَّلَاثَةُ الْعَظِيمَةُ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَعَنَا اسْتِعْدَادًا لِزِيَادَةِ قُوَّتِنَا فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ لِيَقُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  
Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  


Niat yang Mengurangi Pahala Puasa – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Bentuk menggabungkan niat dalam puasa. Ulama menyebutkan bahwa menggabungkan niat ini ada banyak bentuk. Di antara bentuk-bentuk ini: seseorang berpuasa karena Allah ʿAzza wa Jalla untuk menjalankan perintah-Nya, namun disertai niat untuk menyehatkan badan, dan untuk menjaga fisiknya, dengan menahan diri dari makan dan minum. Niat seperti ini akan menjadi salah satu sebab berkurang dan tidak sempurnanya pahala puasa baginya. Karena pahala puasa yang sempurna hanyalah bagi orang yang tujuannya murni menjalankan perintah Allah, dan berniat seutuhnya menaati perintah-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā. Mengapa aku katakan demikian? Karena sebagian ulama ketika membahas tentang maksud-maksud dalam puasa, mereka menyebutkan bahwa salah satu maksud puasa adalah untuk menyehatkan tubuh, menjaganya, dan menguatkannya. Padahal, sebenarnya ini adalah dampaknya, bukan maksudnya. Jika ini menjadi maksud puasanya, yaitu seseorang berniat seperti itu, maka ketika itu dia sedang menggabungkan niatnya, yang dengan hal itu pahalanya berkurang, sehingga tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Perlu disampaikan maksud ini untuk menegasikannya, bahwa itu bukanlah maksud yang ditetapkan oleh Pembuat syariat (Allah) dalam niat menjalankan syiar yang agung ini, dan perintah yang mulia ini, yang merupakan ibadah yang dicintai oleh Allah Jalla wa ʿAlā. =============================================================================== وَصُورَةُ التَّشْرِيكِ فِي الصِّيَامِ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَهَا صُوَرًا مُتَعَدِّدَةً وَمِنْ هَذِهِ الصُّوَرِ أَنْ ذَكَرُوا أَنْ يَقُوْمَ الْمَرْءُ بِالصِّيَامِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ اِمْتِثَالًا لِأَمْرِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ صِحَّةَ بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَاصِدًا مَعَ ذَلِكَ سَلَامَةَ جَسَدِهِ بِالْحِمْيَةِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابِ نَقْصِ أَجْرِهِ وَعَدَمِ تَمَامِهِ وَإِنَّمَا يَكُونُ التَّمَامُ لِمَنْ قَصَدَ كَمَالَ الْاِمْتِثَالِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَالَ الطَّاعَةِ لِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْتُ ذَلِكَ لِمَا؟ لِأَنَّ بَعْضًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمَّا تَكَلَّمُوا عَنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ ذَكَرُوا أَنَّ مِنْ مَقَاصِدِ الصِّيَامِ صِحَّةُ الْبَدَنِ وَسَلَامَةُ الْجَسَدِ وَقُوَّتُهُ وَهَذَا ثَمَرَةٌ وَلَيْسَتْ المَقْصِدَ فَلَوْ كَانَ الْمَقْصِدَ مِنَ الصِّيَامِ يَقْصِدُهُ الْآدَمِيُّ بِفِعْلِهِ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ شَرَّكَ فِي نِيَّتِهِ وَيَكُونُ حِيْنَئِذٍ قَدْ نَقَصَ أَجْرُهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كَمَالُ إِثَابَتِهِ تَنَاسَبَ ذِكْرُ هَذَا الْمَقْصِدِ لِنَفْيِهِ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْمَقَاصِدِ الَّتِي شَرَعَهَا الشَّارِعُ لِقَصْدِ هَذِهِ الشَّعِيرَةِ الْعَظِيمَةِ وَالنَّسِيكَةِ الْجَلِيلَةِ وَالْعِبَادَةِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ جَلَّ وَعَلَا  

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  
Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  


Niat Puasa yang Sempurna Pahalanya – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara hal yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala yang besar dan ganjaran yang sempurna, jika dia menyempurnakan ikhlasnya kepada Allah ʿAzza wa Jalla. Adapun niat puasa Ramadan ada dua macam: (1) Niat yang menentukan keabsahan puasanya, inilah niat yang dijelaskan oleh Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya “Tidak ada puasa bagi orang yang tidak menetapkan niat dari malam hari.” (HR. Ad-Darimi) Inilah niat yang berupa niat untuk menahan diri. (2) Dan di sana ada niat yang akan menyempurnakan pahala seseorang, dan membuatnya diganjar dengan ganjaran yang sempurna. Jika seseorang menyadari bahwa perbuatan ini merupakan ibadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, amalan yang akan mendekatkannya kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, Allah ʿAzza wa Jalla akan memberi balasan orang yang melakukan amalan puasa ini dengan pahala yang besar, dan Allah juga mencintainya, Allah sendiri yang secara khusus akan memberinya pahala, sehingga tidak menyebutkan kepada kita kadar pahala bagi orang yang berpuasa. “… kecuali puasa, sungguh itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seorang mukmin menyadari hal itu, membenarkannya, dan meyakininya, kemudian selalu menghadirkannya dalam dirinya ketika puasa, niscaya pahalanya akan lebih besar daripada pahala orang selain dia. Ketentuan ini berlaku juga untuk semua amalan, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa orang yang melakukan ibadah, mereka yang melakukan ibadah tidaklah sama rata. Disebutkan dalam al-Musnad, bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh seorang hamba salat namun tidak mendapatkan pahala salatnya, kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, …” hingga beliau menyebut sepersepuluhnya. (HR. Ahmad) Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang dalam salatnya tidaklah mendapat pahala yang sama, begitu pula dalam puasa. Hal ini karena apa yang ada dalam hati mereka, berupa: (1) ikhlas kepada Allah dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. ================================================================================ مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ الشَّخْصَ إِنَّمَا يَعْظُمُ أَجْرُهُ وَيَكْمُلُ مَثُوبَتُهُ بِإِكْمَالِ إِخْلَاصِهِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنِّيَّةُ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ نَوْعَانِ نِيَّةٌ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا صِحَّةُ الصَّوْمِ وَهِيَ الَّتِي بَيَّنَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَهَذِهِ نِيَّةٌ وَهِيَ نِيَّةُ الْإِمْسَاكِ وَهُنَاكَ نِيَّةٌ تُكَمِّلُ لِلْمَرْءِ الْأَجْرَ وَتُثِيبُهُ عَلَيْهِ تَمَامَ الْإِثَابَةِ فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا اسْتَشْعَرَ أَنَّ هَذَا الْفِعْلَ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ مُقَرِّبٌ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُجَازِي مَنْ فَعَلَ هَذَا الْفِعْلَ وَهُوَ الصَّوْمُ جَزَاءً عَظِيمًا وَأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّهُ وَقَدِ اخْتَصَّ سُبْحَانَهُ وَتُعَالَى بِإِثَابَتِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ لَنَا مِقْدَارَ إِثَابَةِ الصَّائِمِ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِذَا اسْتَشْعَرَ الْمُؤْمِنُ ذَلِكَ وَصَدَّقَهُ وَأَيْقَنَ بِهِ ثُمَّ اسْتَحْضَرَهُ عِنْدَ الصَّوْمِ فَإِنَّ أَجْرَهُ يَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا مُسَلَّمٌ فِي الْأَحْكَامِ كُلِّهَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَيَّنَ أَنَّ مَنْ يُؤَدِّي الْعِبَادَةَ أَنَّ الَّذِينَ يُؤَدُّونَ الْعِبَادَاتِ لَيْسُوْا سَوَاءً فَفِي الْمُسْنَدِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي وَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا نِصْفُهَا إِلَّا ثُلُثُهَا إِلَّا رُبُعُهَا إِلَّا خُمُسُهَا… حَتَّى عَدَّ عُشْرَهَا مِمَّا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ النَّاسَ فِي الصَّلَاةِ لَيْسَ أَجْرُهُمْ سَوَاءً وَكَذَلِكَ فِي الصَّوْمِ وَذَلِكَ بِمَا وَقَرَ فِي قُلُوبِهِمْ مِنَ الْإِخْلَاصِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنَ الْمُتَابَعَةِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  
Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  


Jika Kau Ingin Puasa Mengubahmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Jika kamu ingin puasa dapat mengubahmu, dan Ramadan menjadi pendorongmu untuk berbuat baik, serta menambah imanmu, maka puasalah dengan puasa yang berlandaskan iman. Puasa yang berlandaskan penghambaan dan ketakwaan. Bukan sekadar puasa sebagai kebiasaan saja. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagaimana pengaruh iman dalam puasa! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan…” maka apa? Beliau tidak langsung bersabda, “…maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” tidak! Tapi, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena landasan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hendaklah kamu puasa Ramadan dengan landasan iman. Selalu hadirkanlah perasaan bahwa Allah sedang melihatku, dan aku sedang berpuasa. Setiap orang dari kita dapat bersembunyi di dalam kamar, lalu makan dan minum, kemudian ia keluar dan berkata di hadapan orang banyak, “Aku berpuasa!” tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kamu berpuasa atau tidak, kecuali Allah! Jadi, puasa dapat melatih jiwamu, bahwa kamu selalu diawasi oleh Allah. Mengapa kita tidak merasakan pengawasan ini setiap saat dalam kehidupan kita? Bahwa Allah sedang melihat kita, Allah sedang mendengar kita, saat kita sedang sendiri dan di keramaian. Perasaan bahwa di setiap ucapan dan setiap pandangan, Allah melihatku. Ini menjadikan puasamu puasa yang berlandaskan takwa, karena inilah hakikat takwa, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz. Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu!” Yakni di setiap tempat. Di saat kamu bekerja, atau saat bertugas, kamu tidak curang. Kamu menjalankan amanah, tidak lari dari kewajiban, tidak terlambat, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena kamu takut kepada Allah, karena kamu merasa diawasi Allah, tidak perlu ada orang yang mengawasimu. =============================================================================== إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُغَيِّرَكَ الصِّيَامُ وَيَكُونُ رَمَضَانُ دَافِعًا لَكَ لِلْخَيْرِ وَيَزِيْدَكَ فِي الْإِيمَانِ صُمْ صِيَامَ إِيمَانٍ صِيَامَ عُبُودِيَّةٍ صِيَامَ تَقْوَى لَيْسَ صِيَامَ عَادَةٍ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأَمَّلُوا كَيْفَ أَثَرُ الْإِيمَانِ فِي الصِّيَامِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ مَاذَا؟ مَا قَالَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ مُبَاشَرَةً لَا مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَصُومُ رَمَضَانَ صِيَامَ إِيمَانٍ دَائِمًا تَسْتَشْعِرُ أَنَّ اللهَ يَرَانِي وَأَنَا صَائِمٌ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا الْإِخْوَةُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَخْتَفِيَ فِي غُرْفَةٍ وَيَأْكُلُ وَيَشْرَبُ وَيَخْرُجُ أَمَامَ النَّاسِ يَقُولُ أَنَا صَائِمٌ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ مَا أَحَدٌ يَعْرِفُ أَنَّكَ صَائِمٌ إِلَّا اللهُ إِذًا الصِّيَامُ يُرَبِّي فِي نَفْسِكَ مُرَاقَبَةَ اللهِ لِمَاذَا مَا نَسْتَشْعِرُ هَذِهِ الْمُرَاقَبَةَ دَائِمًا فِي حَيَاتِنَا؟ إِنَّ اللهَ يَرَانَا إِنَّ اللهَ يَسْمَعُنَا فِي خَلْوَتِنَا فِي عَلَانِيَتِنَا فِي كُلِّ كَلِمَةٍ فِي كُلِّ نَظْرَةٍ اللهُ يَرَانِي هَذَا يَجْعَلُ صِيَامَكَ صِيَامَ تَقْوَى لِأَنَّ هَذِهِ حَقِيقَةَ التَّقْوَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتُ فِي أَيِّ مَكَانٍ فِي عَمَلِكَ فِي وَظِيْفَتِكَ لَا تَغُشُّ تُؤَدِّي الْأَمَانَةَ مَا تَتَهَرَّبُ مِنَ الْوَاجِبِ أَوْ تَتَأَخَّرُ أَوْ لِمَاذَا؟ لِأَنَّكَ تَخَافُ اللهَ لِأَنَّكَ تُرَاقِبُ اللهَ مَا يَحْتَاجُ أَحَدٌ يُرَاقِبُكَ  

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  
Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  


Cerita Rakaat Shalat Tarawih – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Terdapat riwayat dari para sahabat—ridwanullahi ‘alaihim— bahwa mereka menetapkan jumlah rakaat Salat Tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda. Imam Malik meriwayatkan dari hadis as-Saib bin Yazid, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab, untuk menjadi imam (Salat Tarawih) bagi orang-orang, dan ia salat bersama mereka sebanyak 21 rakaat. Ada juga riwayat dari hadis Yazid bin Ruman, bahwa dahulu orang-orang mendirikan Salat Tarawih pada zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebanyak 23 rakaat. Dan ini menunjukkan, bahwa dahulu, para sahabat mendirikan Salat Tarawih dengan 21 atau 23 rakaat. Dan diriwayatkan juga bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 36 rakaat. Dan diriwayatkan dalam beberapa riwayat juga, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih dengan 11 rakaat. Para ulama telah mencoba menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini. Di antaranya adalah penyelarasan yang dilakukan oleh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullahu Ta’ala. Beliau menyelaraskan antara riwayat-riwayat ini, dengan mengatakan, bahwa awal mulanya Umar memerintahkan agar orang-orang ketika itu Salat Tarawih 11 rakaat. Kemudian, Umar memerintahkan untuk menambah rakaat ini, sesuai dengan semangat orang-orang dalam beribadah, hingga jumlah rakaatnya mencapai 23 atau 36 rakaat. Kemudian kaum Muslimin terus berlanjut mengamalkan jumlah rakaat ini. Bahkan Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa ini adalah ijmak amalan dari kaum Muslimin, ini sebagaimana tercantum dalam Masa’il Ishaq bin Manshur al-Kausaj yang diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih. Ishaq bin Manshur meriwayatkan ijmak para penduduk Makkah dan Madinah, bahwa mereka mendirikan Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan mereka di beberapa waktu menambah rakaat lebih dari itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Utbiyah, bahwa Imam Malik rahimahullahu Ta’ala melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah rakaat Salat Tarawih kurang dari 36 rakaat. Maksud dari semua ini adalah, bahwa jumlah rakaat Salat Tarawih diriwayatkan dengan 11 rakaat, dan salat ini dilakukan dengan jumlah rakaatnya hingga 36 rakaat, juga dilakukan kurang dari itu, seperti 21 atau 23 rakaat, atau lainnya. Dan yang mana saja dari semua jumlah ini—alhamdulillah—boleh dilakukan. Dan tidak benar jika katakan bahwa sunnahnya hanya dilakukan dengan 11 rakaat, tanpa boleh ditambah. Karena Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang lain menambahnya (lebih dari 11 rakaat). Sebabnya adalah—seperti yang telah saya jelaskan di awal—karena ada perbedaan antara Salat Witir yang disunnahkan untuk dikerjakan tidak lebih dari 11 rakaat, dan antara Salat Tarawih yang dikerjakan dengan 20 rakaat, atau dikerjakan dengan lebih dari itu, seperti 36 rakaat dan lainnya. Maksud dari semua ini adalah, agar kita mengetahui, bahwa perkara jumlah rakaat Salat Tarawih merupakan perkara yang mudah dan sederhana, dan ini berbeda-beda, sesuai dengan tinggi dan rendahnya semangat orang-orang dalam ibadah. Dan berbeda-beda pula, sesuai dengan panjang dan pendeknya surat yang dibaca. Karena jika seseorang membaca surat yang panjang, maka hendaklah ia mengurangi jumlah rakaatnya. Dan jika ia membaca surat yang pendek, maka hendaklah ia menambah banyak jumlah rakaatnya. Dan tidak boleh seorang pun mengingkari orang lain yang menambah rakaatnya hingga jumlah tertentu. Bahkan seorang Imam Malik yang merupakan Imam Darul Hijrah (kota Madinah), yang seseorang rela menempuh perjalanan jauh demi dapat menemui ulama kota Madinah ini. Ketika membahas tentang perkara ini, beliau melarang pemimpin kota Madinah untuk mengurangi jumlah tertentu Salat Tarawih. Maka ini menunjukkan bahwa beliau memandang pada maslahat terbesarnya dan semua jumlah rakaat itu dibolehkan. ================================================================================ وَقَدْ جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّرُونَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ بِعَدَدٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ فَقَدْ رَوَى مَالِكٌ مِنْ حَدِيثِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَ أُبَيًّا أَنْ يَقُومَ بِالنَّاسِ فَيُصَلِّي بِهِمْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةً وَجَاءَ مِنْ حَدِيثِ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الصَّحَابَةَ صَلَّوْا وَاحِدًا وَعِشْرِينَ وَصَلَّوْا ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ وَجَاءَ أَنَّهُمْ صَلَّوْا سِتًّا وَثَلَاثِينَ كَذَلِكَ وَرُوِيَ فِي بَعْضِ أَخْبَارٍ أَنَّهُمْ صَلَّوْا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَهَذَا جَمْعُ أَبِي عُمَرَ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى جَمَعَ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ بِأَنَّ أَوَّلَ الْأَمْرِ أَمَرَ عُمَرُ أَنَّ يُصَلُّوا إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ زَادَهَا بِحَسَبِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ حَتَّى وَصَلَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ أَوْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ وَاسْتَمَرَّ عَمَلُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى هَذِهِ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ مِنَ الرَّكَعَاتِ حَتَّى حَكَى إِجْمَاعَهَمُ الْفِعْلِيَّ وَالْعَمَلِيَّ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِي مَسَائِلِ إِسْحَاقِ بْنِ مَنْصُورٍ الكَوْسَج عَنْهُ فَقَدْ نَقَلَ إِجْمَاعَ أَهْلِ الْحَرَمَيْنِ عَلَى أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَقَدْ كَانُوا فِي بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ يَزِيدُونَ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْعُتْبِيَّةِ أَنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُنْقِصَ صَلَاةَ التَّرَاوِيحِ عَنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ عَدَدَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ وَرَدَ أَنَّهَا تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَوَصَلَ صَلَاتُهَا إِلَى سِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَدُونَ ذَلِكَ صُلِّيَتْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَثَلَاثًا وَعِشْرِيْنَ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَكُلُّ ذَلِكَ جَائِزٌ بِحَمْدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَقُولَ إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تُصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ وَلَا يُزَادُ عَلَيْهَا إِذْ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَالصَّحَابَةُ زَادُوا وَالسَّبَبُ فِي ذَلِكَ أَنَّ هُنَاكَ فَرْقًا كَمَا ذَكَرْتُ فِي أَوَّلِ حَدِيثِي بَيْنَ الْوِتْرِ الَّذِي يُسْتَحَبُّ عَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَبَيْنَ صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ الَّتِي تُصَلَّى عِشْرِينَ أَوْ تُصَلَّى أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ كَسِتٍّ وَثَلَاثِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّنَا نَعْلَمُ أَنَّ عَدَدَ الرَّكَعَاتِ أَمْرُهَا سَهْلٌ وَيَسِيرٌ وَهَذَا يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِبَادَةِ أَوِ انْشِغَالِهِمْ عَنْهَا وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِاعْتِبَارِ طُوْلِ الْقِرَاءَةِ وَقِصَرِهَا فَإِنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَطَالَ الْقِرَاءَةَ قَلَّلَ الرَّكَعَاتِ وَإِذَا قَصَّرَ الْقِرَاءَةَ أَكْثَرَ وَأَزَادَ فِي الرَّكَعَاتِ وَلَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُنْكِرَ عَلَى مَنْ زَادَ عَلَى عَدَدٍ مُعَيَّنٍ مِنَ الرَّكَعَاتِ بَلْ إِنَّ الْإِمَامَ مَالِكًا وَهُوَ إِمَامُ دَارِ الْهِجْرَةِ الَّذِي تَكَادُ تُضْرَبُ لَهُ أَكْبَادُ الْإِبِلِ يُبْحَثُ عَنْ عَالِمِ الْمَدِينَةِ وَنُزِّلَ عَلَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ نَهَى أَمِيرَ الْمَدِينَةِ أَنْ يَنْقُصَ عَنْ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ فَدَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ نَظَرَ إِلَى الْأَصْلَحِ وَأَنَّ كُلَّ ذَلِكَ جَائِزٌ  

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud

Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid
Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1331523286&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Puasa Sunnah Paling Afdhol adalah Puasa Dawud Pertanyaan: Mohon penjelasannya Ustadz, tentang keutamaan puasa Dawud, matur nuwun terima kasih… Jawaban: Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ba’du. Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling afdhol. Dasarnya adalah hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام “Puasalah tiga hari dalam sebulan.” Abdullah bin Amr merespon, “Saya sungguh masih mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu ya Nabi.” Nabi menanggapi, صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام “Puasalah sehari berbukalah sehari, itu adalah puasa yang paling afdhol (puasa Dawud).” Abdullah bin Amr kembali menanggapi, “Aku mampu lebih dari itu ya Rasulullah.” لا أفضلَ من ذلك “Tak ada puasa (sunnah) yang lebih afdhol dari itu.” Jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan, قوله: ( وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ) يقتضي ثبوت الأفضلية مطلقا، ورواه الترمذي من وجه آخر عن أبي العباس عن عبد الله بن عمرو بلفظ: ( أفضل الصيام صيام داود )، وكذلك رواه مسلم من طريق أبي عياض عن عبد الله، ومقتضاه أن تكون الزيادة على ذلك من الصوم مفضولة “Hadis yang menyatakan, “Puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud” menunjukkan bahwa puasa Dawud secara mutlak adalah puasa (sunnah) yang paling afdhol. Pada riwayat yang lain; yaitu riwayat Tirmidzi, dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amr dinyatakan dengan, “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud.” Keterangan yang sama juga ada dalam hadis riwayat Muslim dari jalur Abu ‘Iyadh dari Abdullah. Ini menunjukkan bahwa puasa tambahan dari rutinitas puasa Dawud, statusnya sebagai puasa yang mafdhul (kurang afdhol).” (Fathul Bari jilid 4, hal. 220-221) Sekian. Wallahul muwafiq. *** Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Jogjakarta, dan Pengasuh Thehumairo.com) Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Puasa Isra Mi Raj, Simbol Islam, Cara Mengirim Al Fatihah Pada Orang Yang Masih Hidup, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah Menurut Islam, Niat Mandi Bersih Setelah Berhubungan Visited 70 times, 1 visit(s) today Post Views: 391 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Laa Ilaha Illallah Bakda Shalat, Penting Diamalkan

Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi

Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Laa Ilaha Illallah Bakda Shalat, Penting Diamalkan

Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi
Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi


Yuk amalkan bacaan “laa ilaha illallah” bakda shalat, penting sekali diamalkan. Berikut juga penjelasan kandungan maknaya. Baca juga: 7 Catatan Mengenai Dzikir   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #321 2. Faedah hadits 2.1. Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat 2.2. Referensi:   Hadits #321 عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap selesai shalat fardhu biasa membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 844 dan Muslim, no. 593] Baca juga: Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah   Faedah hadits Allah itu yang menguasai segala sesuatu. Allah yang mencipta dan mengatur. Segala sesuatu di muka bumi ini hanyalah dalam kuasa Allah. Itulah makna dari LAHUL MULKU. Makna LAHUL HAMDU adalah Allah memiliki sifat yang sempurna. Allah pantas dipuji karena rasa cinta dan pengagungan. Allah dipuji karena sifat-Nya yang Mahatinggi dan pemberian Allah yang amat banyak. WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR, artinya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada kelemahan. Segala sesuatu ini mencakup langit dan bumi. Langit dan bumi berarti berada dalam kuasa Allah. ALLAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOYTA WA LAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WA LAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. Maksudnya: Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Takdir Allah itu pasti terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir Allah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal salehnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. Bacaan ini menunjukkan bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah, pengakuan keesaan Allah, lalu semua daya, kekuatan, dan kebaikan adalah dari Allah. Anjuran membaca dzikir ini bakda shalat sebanyak sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama sepakat akan sunnahnya membaca dzikir bakda shalat. Ada hadits yang banyak yang sahih dengan berbagai variasi begitu banyak membicarakannya. (Al-Adzkar, hlm. 66) Bakda shalat merupakan waktu untuk berdzikir. Istighfar, dzikir, dan doa bakda shalat adalah sesuatu yang disunnahkan. Sunnah ini hendaklah dilakukan oleh imam, makmum, maupun munfarid, begitu pula bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi musafir dan lainnya. Baca juga: Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah yang Harus Dipenuhi   Bacaan laa ilaha illallah yang lain bakda shalat لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH. LAA ILAHA ILLALLAH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MAH WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAAUL HASAN. LAA ILAHA ILLALLAH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAW KARIHAL KAAFIRUUN. Artinya: “Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir begitu benci.” Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat (dubur shalat). (HR. Muslim, no. 594) Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:520-521. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:181-184.   — Kamis siang, 19 Ramadhan 1443 H, 21 April 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbacaan dzikir bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi dzikir bada shalat dzikir bakda shalat dzikir setelah shalat laa ilaha illallah tata cara shalat tata cara shalat nabi

Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan yang Tepat, Simpanan 6 Juta Rupiah Sudah Kena Zakat

Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi

Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan yang Tepat, Simpanan 6 Juta Rupiah Sudah Kena Zakat

Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi
Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi


Enam juta rupiah simpanan Anda sudah terkena zakat. Bagaimana bisa?   Daftar Isi tutup 1. Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan 2. Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat 3. Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang 3.1. Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: 3.2. Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF):   Begini perhitungannya? *Harga perak: Rp.10.000,-/ gram. Nishab perak = 595 gram = hampir 6 juta rupiah. *Ini tergantung dengan harga perak ter-update. Setiap simpanan mata uang dan nilai stok barang dagangan yang telah mencapai 6 juta rupiah dan bertahan selama setahun hijriah (HAUL), maka terkena zakat 2,5%.    Contoh Perhitungan Zakat Penghasilan Misalnya, harta yang tersimpan sejak mulai usaha atau mulai bekerja: − Tahun 1442 H, Muharram: Rp2.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, 6 juta rupiah) Berarti yang dijadikan awal haul adalah bulan Rabiuts Tsani. Jadinya, perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1442 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat. − Jumadal Ula: Rp1.000.000,- − Jumadal Akhir: Rp2.000.000,- − Rajab: Rp1.000.000,- − Syakban: Rp1.000.000,-  − Ramadhan: Rp2.000.000,- − Syawal: Rp2.000.000,- − Dzulqadah: Rp3.000.000,- − Dzulhijjah: Rp2.000.000,-  − Pada tahun 1443 H, Muharram: Rp3.000.000,- − Safar: Rp2.000.000,- − Rabiul Awwal: Rp1.000.000,- − Rabiuts Tsani: Rp2.000.000,- Pada awal Rabi’uts Tsani 1443 H, total harta simpanan =  Rp28.000.000,- Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp28.000.000,- = Rp700.000,-   Alasan Menggunakan Nishab Perak Sudah Terkena Zakat *Menggunakan standar nishab perak karena itulah yang lebih maslahat untuk orang miskin. Demikian fatwa dari beberapa lembaga fikih seperti: Al-Lajnah Ad-Daimah Kerajaan Saudi Arabia,  Hay’ah Kibaar Al-‘Ulama di Kerajaan Saudi Arabia,  Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islamiy At-Taabi’ li Raabith Al-‘Aalam Al-Islamiy. Nishab mata uang adalah nishab yang terendah dari emas atau perak.  Nishab perak itu 595 gram perak (sekitar 6 juta rupiah), sedangkan nishab emas adalah 85 gram emas murni (sekitar 85 juta rupiah). Nishab terendah adalah nishab perak, itulah yang digunakan sebagai nishab mata uang. Baca juga: Kenapa Zakat Mata Uang dengan Menggunakan Nishab Perak?   Kaidah Penting Terkait Zakat Berupa Uang Zakat itu dikeluarkan ketika memenuhi dua syarat penting: (1) telah mencapai nishab, (2) telah bertahan dari nishab selama haul (setahun hijriyah). Kalau di tengah tahun, harta turun dari nilai nishab, maka dihitung lagi haul awal ketika nishab tercapai. Zakat uang itu dihitung dari yang tersimpan, bukan dari pemasukan dan pengeluaran. Biasakan tentukan bulan tertentu untuk bayar zakat (sebagai haul), misalnya SYAKBAN (karena zakat itu tidak mesti menunggu Ramadhan), maka semua harta tersimpan baik yang sudah mencapai haul atau ada yang baru masuk terhitung zakatnya pada bulan Syakban. JANGAN LUPA BAYAR ZAKAT YAH!   Ulasan lengkap tentang zakat di Rumaysho: Hukum Islam – Zakat   Silakan unduh buku terbaru (dalam bentukPDF): Panduan Praktis Zakat Maal Kontemporer   Info zakat #rumayshopeduli: 0811267791   – Diselesaikan Rabu sore, 18 Ramadhan 1443 H, 20 April 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscara bayar zakat dosa enggan bayar zakat harta yang dizakati harta zakat konsultasi zakat qadha zakat Zakat zakat emas zakat harta simpanan zakat mata uang zakat penghasilan zakat perak zakat profesi

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan?

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 QRIS donasi Yufid

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan?

Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 QRIS donasi Yufid
Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1339257904&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Perlukah Membuat Papan Sutrah Buatan? Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah ini. Mayoritas ulama kontemporer melarangnya. Berikut kami bawakan fatawa para ulama dalam masalah ini. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Pertanyaan: Di zaman kita ini banyak dibuat papan yang terbuat dari kayu, agar orang yang shalat atau orang yang membuat jama’ah kedua menjadikannya sutrah di masjid. Apakah ini termasuk bid’ah dan perkara baru dalam agama?  Beliau Menjawab: Ketika tidak ada sesuatu untuk dijadikan sutrah, dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak membuat benda semisal ini. Yang mereka lakukan adalah bergegas mencari tiang-tiang untuk dijadikan sutrah. Maka hendaknya seseorang yang shalat ia menghadap kepada tiang-tiang atau kepada dinding. Adapun membuat benda seperti ini, yaitu kayu yang dibuat khusus untuk sutrah, justru akan menimbulkan kekacauan karena saling meletakkan sutrah di hadapan yang lain.  (Video youtube: https://www.youtube.com/watch?v=W6_d_WcDn4Y, diakses 26 Dzulqa’dah 1442). Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Pertanyaan: Apa hukum meletakkan sutrah di depan orang yang shalat? Jawaban: Menghadap sutrah ketika shalat hukumnya sunnah ketika tidak safar maupun ketika safar, baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah, baik di masjid maupun di tempat lainnya. Berdasarkan keumuman hadis: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا “Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud no. 698, Ibnu Majah no. 954, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 2875, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud). Dan juga berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadisnya Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, ia berkata: رُكِزَتْ له عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، يَمُرُّ بيْنَ يَدَيْهِ الحِمَارُ والْكَلْبُ، لا يُمْنَعُ “Aku menancapkan ‘anazah (sejenis tombak) untuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian beliau maju untuk mengimami shalat zhuhur dua rakaat. Dan ketika itu keledai serta anjing lewat di depan beliau, dan beliau tidak mencegahnya” (HR. Al Bukhari no.3566, Muslim no. 503). Demikian juga hadis riwayat Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, ia berkata: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: إذا وضَعَ أحَدُكُمْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، ولا يُبالِ مَن مَرَّ وراءَ ذلكَ “Jika salah seorang di antara kalian meletakkan benda yang tingginya seperti mu’khiratur rahl di depannya, maka silakan shalat dan tidak perlu memedulikan apa yang lewat di luar dari benda tersebut” (HR. Muslim no.499). Dan dianjurkan untuk mendekat kepada sutrah sebagaimana diperintahkan dalam hadis. Dan dahulu para sahabat bergegas mencari tiang-tiang masjid agar bisa shalat sunnah menghadap kepadanya. Dan hal itu terjadi pada waktu hadhar (tidak sedang safar) di dalam masjid. Dan tidak dikenal dari mereka, bahwa mereka meletakkan papan kayu di hadapan mereka papan untuk menjadi sutrah ketika shalat di dalam masjid. Yang mereka lakukan adalah shalat menghadap ke tembok masjid atau ke tiang-tiangnya. Maka semestinya tidak takalluf (memberat-beratkan diri) dalam hal ini. Syariat Islam itu longgar dan tidak ada seorang pun yang berlebihan dalam beragama ini kecuali ia terkalahkan sendiri.  Dan perintah shalat menghadap sutrah adalah perintah yang bersifat anjuran bukan kewajiban. Berdasarkan hadis yang shahih: رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم يُصَلِّي بمِنًى إلى غيرِ جِدارٍ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di Mina tanpa menghadap ke tembok” (HR. Al Bukhari no. 76, 493, 861). Tidak disebutkan dalam hadis ini bahwa beliau menghadap sutrah. Dan juga dalam hadis riwayat imam Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ia berkata: أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى في فضاءٍ ليسَ بينَ يدَيهِ شيءٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad 3/297, Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/273. Hadis hasan). Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, ditanda-tangani oleh: Ketua : Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah Wakil ketua : Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Afifi rahimahullah Anggota: Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud rahimahumallah (Fatawa Al Lajnah, edisi 1 juz 7 halaman 77). Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Pertanyaan: Sebagian kaum Muslimin di masjid-masjid mereka membuat sutrah dengan papan kayu bagi jama’ah gelombang kedua yang datang belakangan. Bagaimana hukumnya? Jawaban: هذا تشجيع عن التأخر عن الصلاة ما تحط لهم شيء يشجعهم نعم ، هذا تكلف أيضا , نعم “Ini justru akan memotivasi orang untuk datang terlambat shalat ke masjid. Janganlah membuat sesuatu yang dapat memotivasi orang untuk datang terlambat. Dan ini juga merupakan takalluf (memberat-beratkan diri). Demikian”. (Rekaman tanya-jawab kajian kitab Al Muntaqa min Akhbar Sayyidil Mursalin, tanggal 27 Rabi’uts Tsani 1434) Syaikh Ubaid Al-Jabiri Pertanyaan: Apa hukum membuat kotak kayu dalam untuk sutrah shalat di dalam masjid? Kami mendengar fatwa sebagian ulama bahwa itu adalah takalluf, dan ada sebagian penuntut ilmu yang mengatakan hal tersebut bid’ah. Jawaban: بل هِيَ بدعة، ما كان الصحابة يصنعون هذا في عهد رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم وما عُرِفت في العقود السلفية المُفَضَّلة، القرون المُفَضَّلة أبدًا، هذه أُحدثت، فالسُّترة الذي تَرَجَّح لدينا أنَّها سُنَّة وليست واجبة، والمُصَلِّي لهُ مَوْضِع سجوده، فَهِي بدعةٌ وتكلُّف “Yang benar, hal tersebut adalah bid’ah. Para sahabat tidak pernah membuat hal demikian di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan tidak dikenal di masa generasi terbaik umat Islam, sama sekali. Ini perbuatan yang diada-adakan. Menghadap sutrah ketika shalat, pendapat yang kami kuatkan adalah sunnah, tidak wajib. Dan orang yang shalat, ia tidak boleh dilewati di area sujudnya (ketika tidak pakai sutrah). Maka perbuatan seperti ini adalah bid’ah dan takalluf”. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ixRQucVHX0c, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul Pertanyaan: Papan kayu untuk digunakan untuk sutrah bagi orang yang shalat sendirian, yang kita dapati di sebagian masjid, apakah itu termasuk maslahah mursalah? Jawaban: Papan kayu tersebut yang diletakkan di sebagian masjid untuk menjadi sutrah shalat, faktor pendorong untuk membuat benda seperti ini sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Namun ternyata Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya dan tidak pernah memerintahkannya. Yang dilakukan oleh para sahabat adalah bergegas menuju tiang-tiang masjid, tidak terdapat riwayat bahwa mereka membuat suatu benda dari kayu untuk sutrah. Maka membuat benda seperti ini termasuk khilafus sunnah. Dan ini tidak termasuk maslahah mursalah. Bahkan seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan para salaf dan meninggalkan apa yang ditinggalkan para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh kita untuk melakukan ketaatan. Pertanyaan: Bagaimana dengan menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah? Jawaban: Menjadikan kursi yang ada di masjid sebagai sutrah, hukumnya tidak mengapa. Pertanyaan: Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh kami yang mulia, tentang ‘anazah (semacam tombak). Apakah bisa berdalil dengan hadis-hadis tentang ‘anazah untuk membolehkan sutrah papan kayu? Semoga Allah memberi anda keberkahan. Jawaban: ‘Anazah itu digunakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika safar, beliau gunakan dalam shalatnya di luar masjid. (Dikutip dari forum Al Amin As Salafiyyah: https://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=15912&p=31536, diakses 28 Dzulqa’dah 1442). *** Diterjemahkan oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Lintasan Hati Murtad, Sholat Sunnah Setelah Sholat Subuh, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Jilbab Di Wc, Catur Haram, Gigi Renggang Di Tengah Visited 221 times, 1 visit(s) today Post Views: 330 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 3)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid

Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 3)

Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid
Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid


Baca penjelasan sebelumnya pada artikel Ya Allah, Aku Tidak Kuasa Menjalani Ramadhan tanpa Pertolongan-Mu (Bag. 2).Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.Prinsip keempat: hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolonganAllah Ta’ala berfirman,اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5).Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting, yakni:Pertama, tujuan yang paling mulia, yaitu ibadah kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).Kedua, sarana yang paling mulia, yaitu isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah Ta’ala semata.Faedah penghayatan ayat kelima: keutamaan tawakal kepada Allah semataHakikat hidup kita adalah beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak bisa tercapai hal itu kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Memohon pertolongan kepada Allah semata itu termasuk tanda bagusnya tawakal kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath-Thalaq: 3).Siapa saja yang bertawakal kepada Allah semata dalam urusan agama dan dunianya, maka akan mencukupi seluruh keperluan dan urusannya, baik agamanya maupun dunianya. Dengan demikian, dia tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Dia bersandar kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya. Dia percaya kepada-Nya bahwa Allah Ta’ala Maha Mampu memudahkan hal itu.Tawakal kepada Allah itu terbangun atas dua perkara, yakni:Pertama, seorang hamba meyakini bahwa pada hakekatnya, dia tidak memiliki apapun; danKedua, bahwa semua makhluk dan seluruh urusannya berada di tangan Allah semata. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Sempurna seluruh sifat-sifat-Nya.Seorang hamba yang didalam hatinya terdapat dua keyakinan ini akan merasa tidak lepas dari membutuhkan kepada Allah Ta’ala. Mereka memiliki harapan besar kepada-Nya dan husnuzan kepada Allah Ta’ala dalam setiap aturan dan takdir dari-Nya. Sehingga dirinya merasa pasrah kepada aturan dan takdir-Nya dengan diiringi usaha yang bermanfaat secara sungguh-sungguh.Tidak ada iman, ibadah, dan Islam seorang hamba kecuali dengan hatinya tergantung dan bersandar kepada Allah semata. Pusat Agama Islam ini terbangun atas ketergantungan dan bersandarnya hati kepada Rabbul ‘alamin, baik dari sisi tauhid rububiyyah maupun uluhiyyah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Majmu’ul Fatawa (1: 39) [1] menyatakan bahwa setiap kali seorang hamba lebih merendahkan diri, lebih tunduk, dan lebih merasa butuh kepada Allah Ta’ala, maka ia lebih dekat kepada-Nya, lebih mengagungkan-Nya, dan lebih bahagia. Manusia yang paling bahagia adalah orang yang paling besar penghambaannya kepada Allah Ta’ala.Sebaliknya, orang yang paling mulia dan paling terhormat di sisi manusia adalah orang yang tidak membutuhkan kepada makhluk dan tidak merendahkan diri kepadanya diiringi dengan ia berbuat baik kepada mereka. Namun, tatkala seseorang butuh kepada manusia meski hanya seteguk air, maka akan berkurang kadarnya di mata manusia. Ini adalah kebijaksanaan Allah, agar seluruh ketaatan dan penghambaan itu hanya untuk Allah Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,الْفَرَجُ يَأتِي عند انقطاع الرجاء عن الخلق“Solusi akan datang saat terputusnya harapan kepada makhluk” (Majmu’ul Fatawa, 10: 331).Alasannya, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah [2],سبب هذا تحقيق التوحيد‏:‏ ‏توحيد الربوبية‏ و‏توحيد الإلهية‏‏‏‏“Penyebabnya adalah karena merealisasikan tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah.”Baca Juga: Berpuasa Ramadhan Selama 28 Atau 31 Hari, Apa Yang Harus Dilakukan?Prinsip kelima: memahami tarbiyah Allah yang khusus untuk para hamba-Nya yang beriman dalam berbagai peristiwa yang dialaminyaTarbiyah (pemeliharaan) Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu ada dua, yaitu:Tarbiyah umum,  yaitu pemeliharaan Allah terhadap seluruh makhluk dalam bentuk menciptakan, memberi rezeki, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa hidup di dunia ini. Sehingga tarbiyyah Allah Ta’ala jenis umum ini terkait dengan kenikmatan duniawi.Tarbiyah khusus, yaitu pendidikan dan pemeliharaan-Nya terhadap seorang mukmin [3], dalam bentuk memberi taufik kepada setiap kebaikan, dan menolak berbagai keburukan serta hal yang merusak keimanan mereka.Barangkali inilah rahasia mayoritas doa para Nabi ‘Alaihis shalatu was salamu yang diungkapkan dengan lafaz “Ar-Rabb” karena semua permintaan mereka terkait rububiyyah dan tarbiyyah-Nya yang khusus. Inti tarbiyyah khusus ini adalah Allah Ta’ala mendidik seorang mukmin agar terjaga dan sempurna imannya.Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ“Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11).Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya. Allah itu tuhan yang Maha Sempurna. Sedangkan makhluk itu penuh kekurangan dan kelemahan.Pengaturan Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya jauh lebih bagus dari pengaturan hamba atas dirinya sendiri. Kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar dari kasih sayang hamba-Nya kepada dirinya sendiri.Allah Ta’ala paling tahu apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya. Allah Ta’ala paling mampu mewujudkan kemaslahatan untuk hamba-Nya. Allah Ta’ala paling baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan paling bijak serta adil dalam memberikan takdir kepada hamba-Nya. Setiap takdir-Nya tidak keluar dari kasih sayang, kebaikan, karunia, hikmah, atau keadilan-Nya.Oleh karena itu, ketika Allah Allah Ta’ala mentakdirkan seorang mukmin dan mengaturnya dengan berbagai kejadian yang tidak ia inginkannya saat melakukan berbagai macam amal ibadah, maka yakinilah bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan hal itu bagian dari tarbiyyah Allah Ta’ala atas keimanannya.Simak beberapa renungan tarbiyyah Allah yang khusus berikut ini.Baca Juga: Apakah di hati kita ada kecintaan kepada selain Allah yang mengotori tauhid kita dan menjauhkan kita dari beribadah kepada Allah dengan baik di bulan Ramadan?Berlebihan dalam menyukai kuliner saat Ramadan, berburu baju baru sehingga lupa waktu ibadah, sibuk dengan bisnis sampai mengorbankan ibadah wajib, atau berlebihan sampai terluput berbagai pahala besar amalan-amalan bulan Ramadan, menyebabkan bukan mustahil Allah Ta’ala akan menegur hamba-Nya yang terjatuh ke dalamnya dengan berbagai kejadian sebagai bentuk tarbiyyah-Nya kepadanya.Allah men-tarbiyah Nabi Adam dan Rasulullah Ibrahim ‘Alaihimas salam [4]Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa di antara bentuk cemburu Allah adalah Dia cemburu kepada hamba-Nya yang dicintai-Nya, yaitu Adam ‘Alaihis salam, saat kelezatan surga mengisi relung hatinya dengan kuat dan ia begitu semangatnya tinggal kekal di dalamnya, maka Allah-pun mengeluarkannya dari surga. Tarbiyyah Allah untuk Nabi Adam ‘Alaihis salam dalam bentuk Allah biarkan Adam ‘Alaihis salam berbuat dosa, sehingga Allah keluarkan beliau dari surga. Sehingga nantinya ibadah berupa cintanya kepada Allah tetap terjaga dan steril dari semua kotoran.Demikian pula, tatkala masuk ke dalam hati salah satu dari hamba yang paling dicintai-Nya, Khalilullah Ibrahim ‘Alahis salam, kecintaan yang besar kepada Isma’il, maka Allah-pun memerintahkan beliau untuk menyembelihnya sehingga keluar rasa cinta kepada selain Allah tersebut dari hatinya. Apabila tidak demikian, maka cinta tersebut berpotensi mendominasi dan mengotori kecintaannya kepada Allah Allah Ta’ala.Semua itu karena Allah tidak ridho hati hamba yang dicintai-Nya berpaling kepada selain-Nya, karena Allah mencintai tauhid dan tidak ridho terhadap syirik. Serta agar ibadah cinta, takut, dan harap tetap dan terus untuk Allah semata, tidak mendua dalam hati hamba-Nya!Tarbiyyah Allah ini pun juga melahirkan sikap bersegera kepada keridhoan Allah dengan lebih baik sampai mencapai derajat tauhid dan iman yang lebih tinggi dari sebelumnya.Sebagaimana hal ini terbukti pada diri Nabi Adam ‘alaihis salam saat terjatuh dalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ke-121 dari surah Tha-Ha:فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى“Kemudian keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Dan Adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, maka tersesatlah dia (dari jalan kebenaran).”Namun, justru itu menjadi pelajaran besar bagi beliau untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah-pun dalam ayat setelahnya (ayat ke-122) berfirman:ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”Jadilah Adam ‘alaihis salam sebagai hamba yang Allah pilih sebagai nabi-Nya, Allah terima taubatnya dan Allah sempurnakan hidayah-Nya untuknya dan sempurnakan pula keimanannya, setelah sebelumnya disebut bermaksiat dan tersesat dari jalan kebenaran. [5]Apakah kita suka mengingat-ingat amal ibadah kita saat bulan Ramadan dengan pandangan kekaguman dan membangga-bangakannya?Di bulan Ramadan, banyak terdapat janji pahala Allah, seperti pahala puasa Ramadan, pahala salat lima wajib lima waktu, pahala salat tarawih, pahala melakukan ibadah pada malam lailatul qadr, pahala memberi ifthar orang yang berpuasa, pahala menjadi panitia Ramadan, dan lain-lain. Semua ini akan berpotensi terbukanya pintu ujub bahkan sombong, khususnya bagi orang yang tidak berhati-hati memonitor hatinya.Di antara bentuk tarbiyyah Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah Allah jadikan seseorang memandang remeh dan sedikit amal-amal yang telah diperbuatnya serta menghadirkan dalam hatinya bahwa amal saleh tersebut tidaklah bisa memenuhi hak Rabb-nya yang demikian agung atas dirinya.Demikian pula Allah terkadang jadikan hamba tersebut lupa akan amal-amal saleh yang telah ia lakukan dalam bentuk pikirannya sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan serta memikirkan dosa-dosa dirinya. Sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk memuji, mengagumi, dan membanggakan amal salehnya. Jadilah hamba itu suka bertaubat dan beristighfar serta terus semangat beramal saleh, karena ia lupa terhadap amal salehnya dan merasa amal salehnya masih sangat sedikit.Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebutkan,وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك“Dan tanda diterimanya amal salehmu adalah Engkau memandang remeh, sedikit, dan kecil amalan saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2: 62) [6]Apakah kita pernah di bulan Ramadan saat bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah, lalu masih saja terjatuh ke dalam dosa?Di zaman medsos ini, pintu-pintu kemaksiatan terbuka luas, Allahul Musta’aan. Dengan mudah kemaksiatan hati maupun zhahir bisa terjadi via medsos. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita semua.Salah satu bentuk tarbiyah Rabbani yang sangat bermanfaat untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan membanggakannya adalah membiarkan hamba melakukan dosa, membiarkan ia bersama kelemahannya, dan menyerahkannya kepada nafsunya yang banyak menyuruh kepada keburukan, sehingga rasa percaya dirinya pun goyah, dan ketika itulah ia kembali menyadari hakekat dirinya.Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia mengungkit-ungkit amalan kebaikannya tersebut di hadapan Rabb-nya, ia menyombongkan diri, memandang dirinya besar, membangga-banggakannya, dan meninggikan dirinya serta berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu”, sehingga melahirkan sikap ujub, sombong dan memuji diri, tinggi hati yang menghantarkan kepada kebinasaan.” (Al-Wabilush Shoyyib, hal. 8)Beliau Rahimahullah juga menjelaskan,“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka Ia akan mencampakkan hamba itu ke dalam dosa, yang meremukkan hati nuraninya, mengenalkan kadar dirinya pada dirinya, menjadikan hal itu pelajaran baginya untuk tidak berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan memaksanya untuk menundukkan kepala serta menarik keluar dari dirinya penyakit ujub, sombong, dan menyebut-nyebut amal kebaikannya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Dengan demikian, dosa teresebut lebih ampuh untuk mengobati penyakit ini daripada berbagai ketaatan yang banyak. Jadi, dosa tersebut tidak ubahnya seperti obat pahit yang dapat mengeluarkan penyakit yang kronis.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 170)Sebuah kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah diri dan keluluhan hati lebih mending daripada ketaatan yang melahirkan ujub dan kesombongan. Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Siapakah hamba yang paling taat?” Beliau pun menjawab “Seorang yang hatinya terluka lantaran dosa-dosa yang diperbuatnya. Setiap kali ia mengingat dosanya, iapun akan memandang hina dirinya.”Dari keterangan tersebut jelaslah bagi kita, salah satu bentuk tarbiyah Allah terhadap hamba-Nya yaitu dengan membiarkan dan tidak menjaganya dari terjatuh dalam dosa sehingga dengan demikian ia terpaksa menundukkan kepala dan goyahlah ke-aku-an dirinya. Dan ini lebih dicintai oleh Allah daripada berbuat banyak ketaatan tapi ujub. Sebab, senantiasa berada dalam ketaatan dan tidak pernah terjatuh ke dalam lumpur dosa, bisa jadi menimbulkan sikap ujub.Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata,لو أنَّ ابن آدم كلَّما قالَ أصاب، وكلَّما عملَ أحسَن، أوشكَ أن يجنَّ من العُجب“Kalau seandainya manusia setiap kali bicara selalu benar, dan setiap kali beramal selalu bagus, maka dikhawatirkan ia akan gila karena ujub.” (Lathaif Ma’arif, hal. 18)Hikmah kesalahan seorang mukmin adalah penyesalan. Hikmah dari dosanya adalah permohonan maafnya. Hikmah kebengkokannya adalah kelurusan setelahnya. Serta hikmah keterlambatan adalah kesegeraannya setelahnya.Perhatian!Tarbiyah Allah atas seorang mukmin yang terjatuh ke dalam dosa, bukan dimaksudkan agar seorang hamba menyengaja berbuat dosa, bahkan suka terjatuh ke dalam dosa. Hal ini karena setiap dosa itu wajib dihindari, dan jika dilakukan akan berdampak keburukan dan pelakunya terancam adzab. Obat pahit ini tidak patut sengaja dicari oleh seorang hamba, meski dengan alasan ingin mendapatkan khasiatnya. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui siapa yang cocok mendapatkan obat pahit ini!Baca Juga: Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan RamadhanPernahkah kita gagal mencapai target-target ibadah kepada Allah semata di bulan Ramadan?Mungkin gagal meraih target membaca Al-Qur’an, dzikrullah, birrul walidain, atau target salat di shaf pertama?Ketahuilah di antara bentuk tarbiyyah Rabbani yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin adalah menutup pintu ketaatan untuk melindungi dan memeliharanya dari sikap sombong, ujub, mengagumi dan menyanjung dirinya sendiri, atau “silau” terhadap prestasi ibadahnya kepada Allah Ta’ala. Ini pada hakekatnya adalah bentuk rahmat dan penjagaan dari Allah Ta’ala. Dan Allah Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang jika dibukakan pintu ketaatan menjadi ujub dan sombong.Seorang pria bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Mengapa ketika aku meminta sesuatu kepada Allah Ta’ala, Dia mencegahku dari memperolehnya?”Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menjawab, “Allah mencegahmu untuk memperolehnya itu hakikatnya merupakan anugerah.Sebab, Allah bukan mencegahmu karena kikir atau tidak punya apa yang kamu minta, dan bukan pula karena Dia sendiri memerlukannya atau membutuhkannya, tapi Dia mencegahmu tidak lain karena kasih sayang-Nya kepadamu.”Jika demikian halnya, maka pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik bagi seorang hamba, apakah lebih baik, misalnya, ia mendirikan salat malam lalu dipagi hari ia kagum dan membanggakan dirinya, ataukah lebih baik ia tidur dan di pagi hari menyesali kelalaiannya?Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,“Anda tidur di malam hari (sehingga tidak salat malam) dan menyesal di pagi harinya adalah lebih baik daripada Anda salat malam dan di paginya Anda ‘ujub. Sebab seorang yang ujub tidak naik amalnya. Anda tertawa tetapi Anda mengakui dosa itu lebih baik daripada Anda menangis untuk memamerkannya. Rintihan orang-orang yang berdosa sesungguhnya lebih dicintai Allah daripada lantunan dzikir dari orang-orang yang bertasbih namun memamerkannya.” (Tahdzib Madarijus Salikin, hal. 120)Di sisi yang lain, Allah bisa jadi juga mentarbiyah seseorang dengan ditutupnya pintu ketaatan baginya, akibat dosa yang dia lakukan sehingga Allah beri kesempatan kepadanya untuk bertaubat darinya. Karena ketaatan kepada Allah Ta’ala itu tidaklah terealisasi kecuali dengan taufik dari Allah Ta’ala. Sedangkan kemaksiatan itu adalah sebab penghalang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sebagian penukilan dari salaf saleh mengaitkan dosa dengan ketidakberhasilan melakukan ketaatan.Pernahkah di antara kita terkena musibah di bulan Ramadan berhari-hari, bahkan sebulan penuh, dan tidak segera mendapatkan pertolongan Allah?Di antara bentuk tarbiyah Allah atas seorang mukmin adalah Allah tidak segera menolongnya dan tidak segera mengangkat musibah yang menimpanya. Tarbiyyah Ilahi ini memiliki banyak faedah, di antaranya si hamba akan menemukan hakikat kelemahan dirinya dan ketergantungan yang amat sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menyadari sesungguhnya dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya.Faedah lainnya, ia akan segera meruntuhkan arogansi dan rasa ke-aku-an dalam kepemilikan seolah-olah semua kemampuan, ilmu, harta, dan fisik yang dimilikinya itu selalu bisa dia kerahkan sekehendak hatinya. Hal ini mengakibatkan kadar merendahkan diri, merasa butuh, serta rasa harapnya kepada Allah Ta’ala menjadi melemah, karena ke-aku-annya dan silau dengan kehebatannya selama ini serta arogansinya.Tarbiyah Allah ini menuntun diri hamba tersebut agar tetap selalu merasa tidak bisa terlepas dari membutuhkan pertolongan Allah, meski sekejap pandangan mata. Sehingga ibadah harapnya, takutnya, dan cintanya hanya untuk Allah Ta’ala semata serta hatinya bergantung kepada Allah semata. Barangsiapa yang ada hal ini semua dalam dirinya, maka akan meyakini bahwa saat Allah tidak segera mengangkat musibah dari dirinya dan tidak segera menolongnya, pada hakekatnya Allah menyayangi dirinya!Nasehat besar bagi diri dan seluruh pendakwah dan aktifis dakwah sunnahDi antara bentuk tarbiyah Allah jenis ini adalah Allah menunjukkan keberlangsungan dakwah sunah ini sama sekali tidaklah tergantung kepada orang atau person tertentu, termasuk kita. Apabila kita tidak berada dalam barisan pembela dan pemakmur dakwah sunah, maka Allah Maha Mampu memilih orang lain yang akan menunaikan dakwah sunah dalam bentuk yang lebih sempurna dan jauh lebih baik daripada apa yang telah kita lakukan.Bukan dakwah sunah yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan dakwah sunah!Itulah lima prinsip yang penting kita terapkan, dan semua prinsip tersebut adalah masalah keyakinan dan penghayatan hati. Mengapa? Karena memperhatikan hati adalah dasar kebaikan, obyek penilaian Allah, dan sebab terbesar untuk mendapatkan pertolongan Allah. Di sisi yang lain, target akhir seorang hamba di akherat adalah seorang hamba membawa hati yang salim (selamat) ketika menghadap Sang Penciptanya!Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan dan Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhKesimpulanPertama, kita tertuntut untuk bersungguh-sungguh dalam meraih ketakwaan kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, apalagi di bulan Ramadan yang merupakan bulan ibadah kepada Allah Ta’ala semata.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al-‘Ankabut: 69)Maksudnya adalah orang-orang yang berjihad melawan hawa nafsu buruknya dalam bertaubat kepada Allah dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dengan mengharap pahala-Nya dan takut siksa-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka untuk melaksanakan agama Islam, diberi petunjuk perkara yang tidak mereka ketahuinya, serta Allah jadikan mereka ikhlas niatnya dalam sedekah, salat, puasa, dan ibadah-ibadah mereka serta sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua, di antara bentuk bersungguh-sungguh meraih ketakwaan kepada Allah di bulan Ramadan dan bulan selainnya adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala semata dengan banyak berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أعجز الناس من عجَز عن الدعاء“Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah berdoa kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarani rahimahullah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)Ketiga, jika masih gagal setelah berusaha maksimal, maka jangan putus asa dari rahmat Allah, husnuzh zhonlah kepada Allah, karena pada hakekatnya itu adalah bentuk tarbiyah-Nya.Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ“Bersemangatlah untuk mendapatkan perkara yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah Engkau lemah!” (HR. Muslim) .Dalam Shahih Bukhari, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي“Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama-Nya jika ia mengingat-Ku.” Wallahu a’lam.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ[Selesai]Baca Juga:Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan RamadhanTanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima***Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:[1] http://iswy.co/e2661g[2] http://iswy.co/e3rhc[3] Mughnil Murid Al-Jami’i lisyuruhi Kitabit Tauhid, hal. 2066 , https://bit.ly/3Inf2Jc[4]  Dibahasakan secara bebas dari Madarijus Salikin (3: 44 dan 308)[5] Diringkas dari Adwa’ul Bayan, Asy-Syinqthi rahimahullah saat menafsirkan surah Tha Ha ayat 121[6] https://al-badr.net/muqolat/4220🔍 Dimana Allah, Hadits Tentang Membayar Hutang, Riya', Gambar Menepati Janji, Sapi Kambing QurbanTags: Aqidahbulan ramadhankeutamaan ramadhannasihatnasihat islamnasihat ramadhanRamadhanTauhid
Prev     Next